P. 1
Dasar Dasar Pendidikan

Dasar Dasar Pendidikan

|Views: 61|Likes:

More info:

Published by: Umie Kalsum Salpidata on Jan 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2013

pdf

text

original

A.

Karakteristik Pendidikan di Indonesia Pendidikan di Indonesia apabila merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan iman dan akhlak mulia, serta memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Idealnya pendidikan di Indonesia adalah mengedepankan pembentukan sikap peserta didik agar siap untuk belajar baru menguasai IPTEK. Pola pendidikan di Indonesia juga diarahkan pada penanaman nilai-nilai luhur pancasila yang meliputi ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan. Dengan konsentrasi pada penanaman nilai-nilai tersebut diharapkan peserta didik mampu menghayati apa yang terkandung di dalam pancasila dan mengaktualisasikanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara baik dalam ruang lingkup nasional maupun multinasional. Pendidikan di Indonesia mencoba untuk menggunakan student center learning atau pembelajaran berpusat pada siswa, sehingga menuntut siswa untuk bergerak aktif dalam memperkaya sendiri ilmu pengetahuanya, sedangkan posisi guru hanya sebagai fasilitator. B. Kualitas Pendidikan di Indonesia Secara terus terang, memang harus kita akui kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, bagaimana tidak ?. Tiga dekade lalu Negara Malaysia belajar ke Indonesia tentang masalah kependidikan namun kini terbalik, kita yang harus banyak belajar dari mereka tentang kependidikan. Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia tentunya bukan tanpa sebab. Hampir seluruh faktor pendukung pendidikan di Indonesia mengalami kemunduran atau apabila tidak mau disebut kemunduran, faktor-faktor tersebut mengalami stagnasi, sedangakan tuntutan zaman begitu keras dan cepat dan seluruh bangsa-bangsa lain di dunia telah bergerak ekstra cepat untuk menjadi yang terbaik, akan tetapi bangsa kita masih terus-menerus dihadapkan pada permasalahan klasik yang entah kapan baru bias berakhir. Berikut ini beberapa faktor yang paling dominant mempengaruhi permasalahan pendidikan di Indonesia : 1. Rendahnya kualitas infrastruktur fisik. Di Indonesia dapat kita jumpai dengan sangat mudah sekolah-sekolah yang atapnya hamper jebol, dindingnya hamper roboh, dan kerusakan fisik lainya. Hal ini terjadi secara hamper menyeluruh yaitu dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, selain kondisi bangunan yang memprihatinkan masih banyak kita jumpai sekolah-sekolah yang belum memilki sarana pendukung pembelajaran seperti perpustakaan, laboratorium bahkan gedung sekolah didirikan diatas lahan orang lain atau lahan sengketa sehingga menganggu kenyamanan KBM siswa apabila sampai terjadi konflik. Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut, sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62 mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Keadaan yang serupa juga terjadi pada MI, SMP, MTS, SMA, dan SMK. 2. Rendahnya kualitas guru

Yang menjadi permasalahan pokok adalah rendahnya profesionalitas seorang guru dan kemampuanya dalam marencanakan, melakasanakan, dan menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, pelatihan, penelitian, dan pengabdian masyarakat sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2003. Ada yang lebih miris lagi, bahwa berdasarkan penelitian banyak guru di Indonesia yang dikatakan tidak layak mengajar pada tahun 2003 untuk guru SD yang layak mengajar hanya 21,07 % (negeri) dan 29,84 % swasta. Untuk SMP 54,12 % (Negeri) dan 60,99 (swasta), untuk SMA 65,29 % (negeri) dan 64,73 % (swasta). Tidak mengherankan melihat angka tersebut apabila menilik pada riwayat pendidikan sang guru, karena rata-rata pndidikan mereka adalah D II, masih jarang guru yang memiliki pendidikan S1(khususnya guru SD) apalagi S2 atau S3. 3. Dampak positif dan negatif sertifikasi. Program sertifikasi bagi guru dan dosen yang digulirkan oleh kementrian pendidikan nasional baru-baru ini adalah salah satu upaya untuk meningkatkan profesioanlitas guru serta meningkatkan kesejahteraan mereka, memang bagi beberapa kalangan program ini cukup berhasil karena benar-benar mampu meningkatkan kompetensi dan profesionalitas guru, namun tidak dapat kita pungkiri, banyak sekali oknum-oknum guru yang memperoleh sertifikasi dengan cara-cara yang tidak halal, bukan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, alih-alih justru menciptakan masalah baru. Pengeluaran Negara untuk membayar sertifikasi terasa sangat sia-sia apabila hanya untuk mebayar guru bersertifikasi dengan ijazah atau sertifikat palsu. Sedangkan kinerja mereka tidak mengalami peningkatan sama sekali, karena orientasi hanya pada materi (uang). 4. Rendahnya prestasi siswa Peserta didik di Indonesia pada umumnya memiliki daya kompetisi yang rendah, secara umum pencapaian nilai para siswa Indonesia kalah jauh apabila dibandingkan dengan pelajarpelajar Malaysia dan Singapura yang notabene masih sau wilayah regional. Dalam hal pembangunan kualitas sumber daya manusia United Nation For Development Program ( UNDP) mencatat Indonesia selalu menduduku posisi dibawah 100 dari 177 negara hingga tahun 2011. Dalam hal kemampuan membaca siswa-siswi kita juga termasuk kategori yang memprihatinkan, rata-rata skor kemampuan untuk membaca bagi siswa kelas IV SD diberbagai Negara adalah sebagai berikut : Negara Hongkong Singapura Thailand Filipina Indonesia 75,5 74,0 65,1 52,6 51,7 Tabel : Skor kemampuan membaca beberapa negara Skor

Peringkat Indonesia yang terseok-seok juga bukan hanya pada tataran pendidikan dasar, akan tetapi menyeluruh hingga perguruan tinggi Indonesia juga berada pada rangking yang tidak begitu baik, padahal potensi yang sangat besar sebenarnya ada pada diri bangsa kita. 5. Kurangnya pemerataan pendidikan Pemerataan pendidikan didukung dengan lokasi yang strategis serta kemauan yang kuat dari pemerintah untuk memeratakan pendidikan di Indonesia, merupakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa di Indonesia khusunya wilayah terpencil atau pedalaman tidak terdapat sekolah, apabila ada sekolah juga dengan kondisi yang sangat memprihatinkan dengan ketiadaan tenaga pengajar serta buku-buku pelajaran. Sementara di kota-kota besar dapat dengan mudah kita jumpai sekolah-sekolah yang ber kelas internasional dengan segala fasilitas yang mendukung, maka tidak mengherankan apabila banyak anak-anak kota yang berhasil menyabet medali emas pada ajang olimpiade SAINS tingkat dunia, maka secara positive thinking dapat kita bayangkan tidak menutup kemungkinan anak-anak kita yang berada di pedalaman memiliki potensi yang lebih besar dari mereka yang berada dikota senadainya didukung dengan segala infrastruktur pendidikan yang memadai. 6. Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan Indikasi permasalahan ini dapat kita lihat dengan tingginya angka pengangguran di Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi yang tidak mampu menembus bursa kerja, baik karma faktor rendahnya kompetensi maupun faktor lain yang mengindikasikan pendidikan tidak mampu menjamin atau minimal meberi harapan yang terang bagi para lulusan sekolah atau perguruan tinggi. 7. Mahalnya Biaya Pendidikan Pendidikan yang murah dan berkualitas tentunya menjadi harapan semua orang, sebenarnya pendidikan di Indonesia apabila dibanding dengan Negara-negara maju yang tidak memakai system free cost education termasuk murah akan tetapi karena rendahnya pengahsilan masyarakat yang memperkuat asumsi kemahalan itu. Memang semenjak digulirkanya program Bantuan Operasional Sekolah(BOS) pada tahun 2009, pembayaran SPP bagi siswa/siswi SD,SMP kecuali RSBI dan SBI telah digratiskan, namun mereka masih harus membeli buku yang mahal untuk bahan penunjang pendidikan, apalagi sekolah RSBI dan SBI yang masih harus membayar pendidikan yang mahal ditambah buku pendidikan yang mahal pula, maka tidak mengherankan apabila muncul opini yang semakin hari semakin banyak di amini oleh masyarakat bahwa pendidikan berkualitas hanya bias dijangkau oleh golongan yang mampu. 8. Beban mata pelajaran yang terlalu berat Kurikulum di Indonesia terlalu memaksakan siswa untuk menguasai banyak pelajaran secara sekaligus, hal ini tentunya sangat memberatkan siswa karena mereka akan mengalami sebuah fenomena yang kurang menyenangkan, apabila mereka menyukai sebuah mata pelajaran, mereka akan secara intensif mempelajarinya, namun apabila mereka tidak menyukai pelajarn tersebut, mereka akan apatis sehingga nilai mereka anjlok di mata pelajaran tersebut. 9. Ujian Nasional

Setiap tahun siswa-siswi untuk jenjang SD,SMP/MTS,dan SMA/SMK dihadapkan pada sebuah momok yang dianggap menakutkan, banyak diantara mereka yang stress dibuatnya, momok ini adalah ujian nasional, Ujian yang akan menentukan lulus atau tidaknya siswa ini memang sudah dipadukan dengan Ujian Sekolah dengan porsi 60% untuk UN dan 40% Untuk ujian sekolah, akan tetapi, hal ini tetap masih memberatkan siswa yang memiliki fasilitas pendidikan serba terbatas, karena standar pendidikan yang mereka poleh tentu sangat berbeda dengan sekolah yang memiliki fasilitas lengkap. Maka tidak mengherankan apabila banyak sekolah atau oknum pendidkan yang melakukan kecurangan dengan mencari bocoran-bocoran soal atau jawaban UN, hal ini akan semakin memperburuk citra pendidikan di Indonesia. 10. Standarisasi Pendidikan di Indonesia. Dalam upayanya mewujudkan pendidikan yang berkualitas kementrian pendidikan nasional menggulirkan program akreditasi dan standarisasi sekolah di Indonesia, namun pada pelaksanaanya program ini juga tidak sepi dari masalah yang tak kunjung ada penyelesainya, barangkali masalah ini tidak disadari oleh si empunya gagasan, berdasarkan pengalaman penulis apabila guru-guru disuatu sekolah tengah disibukkan oleh aktifitas untuk mempersiapkan akreditasi, mereka sering sekali meninggalkan tugas utamanya yaitu mengajar, memang system yang digunakan guru untuk mensiasati masalah ini sudah cukup baik untuk menuntut kemandirian siswa, akan tetapi budaya “disuapi” masih tumbuh subur dikalangan siswa/siswi kita. Kelas dibiarkan kosong melompong dan aktifitas belajar siswa tidak diawasi, bukan kemajuan pendidikan yang didapatkan namun penurunan kualitas pendidikan tidak bias ditutup-tutupi terjadi dibeberapa sekolah yang mengalami proses akreditasi ketat. C. SOLUSI PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA. Begitu pelik dan rumitnya permasalah pendidikan di Indonesia, dibutuhkan keseriusan penanganan dari semua pihak, beberapa langkah yang dapat dilakukan pihak yang berkait dengan masalah pendidikan di Indonesia adalah : Meningkatkan terus anggaran APBN dan APBD sesuai dengan amanah UUD yaitu minimal 20% dari anggaran pemerintah sehingga perlahan namun pasti akan terjadi peningkatan kualitas fisik maupun alat penunjang lainya yang mendukung berjalanya proses KBM. Menggulirkan program sertifikasi guru yang benar-benar selektif dengan penugasanpenugasan yang terpantau, bahwa guru-guru tersebut berhak memperoleh gelar guru professional. Selain itu juga hendaknya mulai dirintis penerapan system reward and punishment bagi seluruh tenaga pendidik, agar daya kompetisi mereka dalam meningkatkan kompetensi tetap terjaga dengan baik. Memperhatikan pemenuhan gizi anak-anak Indonesia sejak balita dengan meningkatkan anggaran kesehatan dan program kesehatan masyarakat seperti posyandu, karena dengan pemenuhan gizi yang baik, niscaya akan meningkatkan kecerdasan anak yang nantinya bermuara pada kemampuan anak mengikuti pembelajaran disekolah, selain itu dunia pendidikan di Indonesia hendaknya menumbuhkan minat baca yang besar bagi anak-anak

dengan berbagai varian cara, sehingga kompetensi membaca anak Indonesia makin meningkat. Pemrintah melalaui KEMDIKNAS hendaknya juga mulai meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak yang berada didaerah terpencil, dengan memberikan stimulus bagi para guru dan siswa didaerah terpencil agar mau menyelenggarakan KBM dengan optimak dan giat. Stimulus ini sifatnya juga harus diawasi dan akan dihentikan apabila ada pihak-pihak yang kurang bertanggungjawab. Sistem pendidikan nasional juga diarahkan bukan hanya untuk mencetak siswa yang memiliki kemampuan kognitif tinggi, akan tetapi juga untuk mencetak generasi yang tangguh terhadap tantangan global, materi kewirausahaan dirasa sangat perlu diajarkan sejak dini, agar jutaan ide kreatif yang dihasilkan putra-putri bangsa bias tersalurkan dengan baik, dengan harapan tidak ada lagi pengangguran dimasa mendatang. Pemerintah juga seyogyanya meningkatkan penyediaan beasiswa berkeadilan bagi pelajar yang berprestasi dan kurang mampu sehingga mereka dapat menikmati pendidikan dengan baik tanpa harus dipusingkan dengan masalah biaya, agar mereka bias semakin produktif menyumbangkan pemikiranya untuk bangsa dan negara. Kurikulum pendidikan di Indonesia sebaiknya juga jangan membebani siswa dengan beban yang terlalu berat, yaitu dengan banyaknya mata pelajaran yang harus ditempuh, nampaknya bijak kiranya apabila siswa diberikan kesempatan untuk memilih beberapa mata pelajaran yang sesuai dengan minat dan bakatnya agar lebih optimal dalam mengikuti pembelajaran disekolah. Ujian Nasional memang masih menjadi momok yang menakutkan bagi pelajar SD,SMP dan SMA di Indonesia, namun penulis memiliki saran, sebaiknya ujian nasional cukup dilaksanakan bagi siswa SMP dan SMA saja, karena pemerintah telah menggalakan program wajib belajar 9 tahun, akan menjadi sebuah ironi apabila pemerintah menyuarakan warganya agar berseklolah hingga SMP, namun banyak yang putus ditengah jalan karena tidak lulus Ujian Nasional di Sekolah Dasar. Program akreditasi sekolah hendaknya juga dirancang sedemikian rupa agar jangan sampai mengganggu aktivitas KBM siswa, karena tujuan pendidikan utamanya adalah mencetak generasi baru yang unggul bukan sekolah yang unggulan, dimana terlahir generasi yang unggul disuatu sekolah, maka sekolah tersebut pasti akan menjadi sekolah unggulan.

BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN Pendidikan di Indonesia mau tidak mau harus kita akui masih sangat tertinggal dari negaranegara lain di dunia, di wilayah regional saja seperti ASEAN Indonesia tertinggal dari Malaysia dan Singapura hal ini diakibatkan beberapa faktor yang sangat kompleks dan harus segera ditangani secara serius agar mimpi mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas dapat segera terwujud.

B. SARAN Pemerintah khususnya kementrian pendidikan nasional harus segera menata den berbenah diri untuk mengejar ketertinggalan ini, dengan berupaya terus meningkatkan kualitas fisik sekolah maupun kualitas tenaga pengajar dan memformulasikan kurikulum yang tepat bagi pelajar Indonesia. II

Memahami konseP PenDiDikan nonformal berbasis masyarakat Kesulitan dan tantangan dalam kehidupan manusia baik yang diakibatkan oleh ling- kungan maupun alam yang kurang ber- sahabat, sering memaksa manusia untuk mencari cara yang memungkinkan mereka untuk keluar dari kesulitan yang dialaminya. Masih ba- nyak warga yang tidak melanjutkan pendidikan ke taraf yang memungkinkan mereka menggeluti pro- fesi tertentu, menuntut upaya-upaya untuk mem- bantu mereka dalam mewujudkan potensi yang dimilikinya agar dapat bermanfaat bagi pembangunan bangsa. Sejauh ini, anggaran yang berkaitan dengan pen- didikan mereka masih terbatas, sehingga berbagai upaya untuk dapat terus mendorong keterlibatan ma- syarakat dalam membangun pendidikan terus dilaku- kan oleh pemerintah. Hal ini dimaksudkan agar ma- kin tumbuh kesadaran akan pentingnya pendidikan dan mendorong masyarakat untuk terus berpartisipasi aktif di dalamnya. Bertitik tolak dari permasalahan yang dihadapi, pendidikan luar sekolah berusaha mencari jawaban dengan menelusuri pola-pola pendidikan yang ada, seperti pesantren, dan pendidikan keagamaan lain- nya yang keberadaannya sudah jauh sebelum Indo- nesia merdeka, bertahan hidup sampai sekarang dan dicintai, dihargai dan diminati serta berakar dalam masyarakat. Kelanggengan lembaga-lembaga tersebut karena tumbuh dan berkembang, dibiayai dan dikelola oleh dan untuk kepentingan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat merasakan adanya kebermak- naan dari program program belajar yang disajikan bagi kehidupannya, karena pendidikan yang diseleng- garakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata masyarakat. Dalam hubungan ini pendidikan termasuk pendidikan nonformal yang berbasis kepentingan masya- rakat lainnya, perlu mencermati hal tersebut, agar keberadaannya dapat diterima dan dikembangkan sejalan dengan tuntutan masyarakat berkaitan de- ngan kepentingan hidup mereka dalam mengisi upaya pembangunan di masyarakatnya. Ini berarti bahwa pendidikan nonformal perlu menjadikan masyarakat sebagai sumber atau rujukan dalam penyelenggaaraan program pendidikannya.

Hasil kajian Tim reformasi pendidikan dalam konteks Otonomi daerah (Fasli Jalal, Dedi Supriadi. 2001) dapat disimpulkan bahwa apabila pendidikan luar se- kolah (pendidikan nonformal) ingin melayani, dicin- tai, dan dicari masyarakat, maka mereka harus berani meniru apa yang baik dari apa yang tumbuh di masya- rakat dan kemudian diperkaya dengan sentuhan-sen- tuhan yang sistematis dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan lingkungan masyarakat- nya. Strategi itulah yang perlu terus dikembangkan dan dilaksanakan oleh pendidikan luar sekolah dalam membantu menyediakan pendidikan bagi masyarakat yang karena berbagai hal tidak terlayani oleh jalur for- mal/sekolah. Bagi masyarakat yang tidak mampu, apa yang me- reka pikirkan adalah bagaimana hidup hari ini, karena itu mereka belajar untuk kehidupan; mereka tidak mau belajar hanya untuk belajar, untuk itu masyara- kat perlu didorong untuk mengembangkannya mela- lui Pendidikan nonformal berbasis masyarakat, yakni pendidikan nonformal dari, oleh dan untuk kepentingan masyarakat konSeP Pendidikan beRbaSiS maSyaRakat Pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwu- judan demokratisasi pendidikan melalui perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyara- kat. Pendidikan berbasis masyarakat menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam mengisi tantangan kehidupan yang berubah-ubah. Secara konseptual, pendidikan berbasis masyara- kat adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip “dari masyarakat, oleh masya- rakat dan untuk masyarakat”. Pendidikan dari ma- syarakat artinya pendidik memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat. Pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subyek/pe- laku pendidikan, bukan objek pendidikan. Pada kon- teks ini, masyarakat dituntut peran dan partisipasi aktifnya dalam setiap program pendidikan. Adapun pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya ma- syarakat diikutsertakan dalam semua program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan mereka. Se- cara singkat dikatakan, masyarakat perlu diberdaya- kan, diberi Peluang dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik di dalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri. Di dalam Undang-undang no 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 16, arti dari pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan po- tensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Dengan demikian nampak bahwa pendidikan berbasis masyarakat pada dasarnya merupakan suatu pendidikan yang memberikan kemandirian dan kebebasan pada masyarakat untuk menentukan bidang pendidikan yang sesuai dengan keinginan masyarakat itu sendiri. Sementara itu dilingkungan akademik para ahli juga memberikan batasan pendidikan berba- sis masyarakat. Menurut Michael W. Galbraith sebagai berikut: “community-based education could be defined as an educational

process by which individuals (in this case adults) become more corrtpetent in their skills, attitudes, and concepts in an effort to live in and gain more control over local aspects of their communities through democratic participation.” Artinya, pendidikan berbasis masvarakat dapat di- artikan sebagai proses pendidikan di mana individu- individu atau orang dewasa menjadi lebih berkom- peten dalam keterampilan, sikap, dan konsep mereka dalam upaya untuk hidup dan mengontrol aspek- aspek lokal dari masyarakatnya melalui partisipasi demokratis.

Pendapat lebih luas tentang pendidikan berba- sis masyarakat dikemukakan oleh Mark K. Smith sebagai berikut: “… as a process designed to enrich the lives of individ- uals and groups by engaging with people living within a geographical area, or sharing a common interest, to develop voluntarily a range of learning, action, and reflection opportunities, determined by their personal, social, econornic and political need.” Artinya adalah bahwa pendidikan berbasis ma- syarakat adalah sebuah proses yang didesain untuk memperkaya kehidupan individual dan kelompok dengan mengikutsertakan orangorang dalam wi- layah geografi, atau berbagi mengenai kepentingan umum, untuk mengembangkan dengan sukarela tem- pat pembelajaran, tindakan, dan kesempatan refleksi yang ditentukan oleh pribadi, sosial, ekonomi, dan ke- butuhan politik mereka. Dengan demikian, pendekatan pendidikan berbasis masyarakat adalah salah satu pendekatan yang meng- anggap masyarakat sebagai agen sekaligus tujuan, me- lihat pendidikan sebagai proses dan menganggap ma- syarakat sebagai fasilitator yang dapat menyebabkan perubahan menjadi lebih balk. Dari sini dapat ditarik pemahaman bahwa pendidikan dianggap berbasis ma- syarakat jika tanggung jawab perencanaan hingga pe- laksanaan berada di tangan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat bekerja atas asumsi bahwa setiap masyarakat secara fitrah telah dibekali potensi untuk mengatasi masalahnya sendiri. Baik masyarakat kota ataupun desa, mereka telah memiliki potensi untuk mengatasi masalah mereka sendiri berdasarkan sum- ber daya yang mereka miliki serta dengan memobil- isasi aksi bersama untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. Pendidikan nonfoRmaL beRbaSiS maSyaRakat Model pendidikan berbasis masyarakat untuk kon- teks Indonesia kini semakin diakui keberadaannya pasca pemberlakuan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Keberadaan lembaga ini diatur pada 26 ayat 1 s/d 7 jalur yang digunakan bisa formal dan atau nonformal. Dalam hubungan ini, pendidikan nonformal ber- basis masyarakat adalah pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan dan berfungsi se- bagai pengganti, penambah dan pelengkap pendi- dikan

formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan pene III

Konsep Dasar Pendidikan
Pendidikan merupakan faktor penting, strategis dan determinatif bagi masyarakat. Majumundurnya kualitas peradaban suatu masyarakat/bangsa sangat bergantung pada bagaimana kualitas pendidikan diselenggarakan oleh masyarakat. Pada minggu lalau sudah saya paparkan beberapa pengertian pendidikan, tapi tidak ada salahnya kita bahas lagi disini mengingat begitu pentingnya pendidikan bagi kehidupan kita. Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan (Ngalim Purwanto, 2002:11). Rumusan tentang pendidikan, lebih jauh termuat dalam UU. No. 20 Tahun 2003, bahwa pendidikan Indonesia bertujuan agar masyarakat Indonesia mempunyai pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Artinya, arah dari proses pendidikan nasional mencakup berbagai aspek kehidupan diri manusia dan masyarakat untuk survive dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

IV
Tiga Teori yang Melandasi Pendidikan (a) Teori Tabularasa (John Locke dan Francis Bacon) Teori ini mengatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi (a sheet ot white paper avoid of all characters). Jadi, sejak lahir anak itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa. Anak dapat dibentuk sekehendak pendidiknya. Di sini kekuatan ada pada pendidik. Pendidikan dan lingkungan berkuasa atas pembentukan anak. Pendapat John Locke seperti di atas dapat disebut juga empirisme, yaitu suatu aliran atau paham yang berpendapat bahwa segala kecakapan dan pengetahuan manusia itu timbul dari pengalaman (empiri) yang masuk melalui alat indera. Kaum behavioris juga berpendapat senada dengan teori tabularasa itu. Behaviorisme tidak mengakui adanya pembawaan dan keturunan, atau sifat-sifat yang turun-temurun. Semua Pendidikan, menurut behaviorisme, adalah pembentukan kebiasaan, yaitu menurut kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di dalam lingkungan seorang anak.

(b) Teori Navitisme (Schopenhauer)

Lawan dari empirisme ialah nativisme. Nativus (latin) berarti karena kelahiran. Aliran nativisme berpendapat bahwa tiap-tiap anak sejak dilahirkan sudah mempunyai berbagai pembawaan yang akan berkembang sendiri menurut arahnya masing-masing. Pembawaan anak-anak itu ada baik dan ada yang buruk. Pendidikan tidak perlu dan tidak berkuasa apa-apa. Aliran Pendidikan yang menganut paham nativisme ini disebut aliran pesimisme. Sedangkan yang menganut empirisme dan teori tabularasa disebut aliran optimisme. Kedua teori tersebut ternyata berat sebelah. Kedua teori tersebut ada benarnya dan ada pula yang tidak benarnya. Maka dari itu, untuk mengambil kebenaran dari keduanya, William Stern, ahli ilmu jiwa bangsa Jerman, telah memadukan kedua teori itu menjadi satu teori yang disebut teori konvergensi.

(c) Teori Konvergensi (William Stern) Menurut teori konvergensi hasil pendidikan anak dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pembawaan dan lingkungan. Diakui bahwa anak lahir telah memiliki potensi yang berupa pembawaan. Namun pembawaan yang sifatnya potensial itu harus dikembangkan melalui pengaruh lingkungan, termasuk lingkungan pendidikan, oleh sebab itu tugas pendidik adalah menghantarkan perkembangan semaksimal mungkin potensi anak sehingga kelak menjadi orang yang berguna bagi diri, keluarga, masyarakat, nusa, dan bangsanya. Hak negara terhadap pengajaran dan pendidikan juga diterimanya dari Tuhan (bukan negara polisi atau totaliter), seperti hak orang tua terhadap anaknya. Tetapi, hak itu bukan karena kedudukannya sebagai orang tua, melainkan karena gezag atau kekuasaan yang menjadi milik negara untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan bangsanya, yang sudah menjadi tujuan negara itu sendiri. Negara mempunyai hak dan kewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran bagi warga negaranya, sesuai dengan dasar-dasar dan tujuan negara itu sendiri, yaitu mengatur kehidupan umum menurut ukuran-ukuran yang sehat sehingga menjadi bantuan bagi pendidikan keluarga dan dapat mencegah apa-apa yang merugikan perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya. Apabila keluarga tidak mungkin lagi melaksanakan pendidikan seluruhnya (misalnya pendidikan kecerdasan, pengajaran, dan sebagian dari pendidikan sosial ; perkumpulan anak-anak), disitulah negara, sesuai dengan tujuannya, harus membantu orang tua dengan jalan mendirikan sekolahsekolah dan badan-badan sosial lainnya. Demikian juga, negara berhak dan berkewajiban melindungi anak-anak, bila kekuatan orang tua – baik material maupun moral – tidak dapat mencukupi, misalnya karena kurang mampu, tidak sanggup, atau lalai. Jadi, jelas di sini bahwa hak orang-orang itu tidak mutlak. Hak itu terikat oleh hukum alam dan hukum Tuhan, dan pendidikan itu harus pula sesuai dengan kesejahteraan umum. Tetapi, hak negara yang demikian (turut campur tangan) tidak untuk menduduki tempat orang tua, namun hanya untuk

menambah yang kurang saja. Apabila perlu – misalnya, hak orang tua itu dicabut (gila dan sebagainya) – negara harus berusaha memberikan pendidikan kepada si anak, yang sedapatdapatnya mendekati pendidikan keluarga si anak atau menyerahkan anak itu pada keluarga lain, tidak perlu menjadikan anak milik negara. Lebih lanjut, negara harus berusaha dan memberi kesempatan agar semua warga negara mempunyai pengetahuan cukup tentang kewajiban-kewajiban sebagai warga negara dan sebagai anggota bangsa yang mempunyai tingkat perkembangan jasmani dan rohani yang cukup, yang diperlukan untuk kesejahteraan umum (pendidikan kewarganegaraan), dan tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan yang berlaku di negara yang bersangkutan. Negara berhak memiliki sendiri apa yang perlu untuk pemerintahan dan untuk menjamin keamanan, juga untuk memimpin dan mendirikan sekolah-sekolah yang diperlukan untuk mendidik pegawaipegawai dan tentaranya, asal pemimpin ini tidak mengurangi hak-hak orang tua. V

ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN
1. ESENSIALISME
Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman Tokoh-tokoh Esensialisme

1. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831)

Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual.

2. George Santayana

George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa

dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan

1. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar

Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri.

2.Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum

Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat

2. PROGRESIVISME
Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, William O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff. Progravisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi maslah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri (Barnadib, 1994:28). Oleh karena kemajuan atau progres ini menjadi suatu statemen progrevisme, maka beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang merupakan bagian utama dari kebudayaan yang meliputi ilmuilmu hayat, antropologi, psikologi dan ilmu alam. Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar "naturalistik", hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya

Tokoh-tokoh Progresivisme

1. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910)

James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.

2. John Dewey (1859 - 1952)
Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah "Child Centered Curiculum", dan "Child Centered School". Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas

3. Hans Vaihinger (1852 - 1933)
Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata; jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja. Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab, pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik. filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya.Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek. Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu problem solving. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. 3. PERENIALISM Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai nilai atau prinsip prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.

Pandangan perenialisme tentang pendidikan Kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta mambahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta

kestabilan dalam perilaku pendidik. Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal. Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan: 1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato) 2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles) 3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas) Tokoh-tokoh Perenialisme

1. Plato. Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan
melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan

2. Aristoteles. Ia menganggap penting pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda
dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral

3. Thomas Aquinas. Thomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang
masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugad untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata

4. REKONSTRUKSIONISME
Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme, pada prinsipnya, sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Kedua aliran tersebut, aliran rekonstruksionisme dan perenialisme, memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk mencapai tujuan utama tersebut memerlukan kerjasama antar ummat manusia.

Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi

generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.

Diposkan oleh sri wahyuni di 21:40

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->