Laporan Kasus Bedah III Di Rumah Sakit Prof. Dr.

Tabrani

I.

Identitas pasien No rekam medik Tanggal masuk RS Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Alamat Agama Status perkawinan : 07.96.16 : 17 Desember 2012 : Ny.M : 28 tahun : Perempuan : Ibu Rumah Tangga :: Islam : Menikah

II.

Anamnesis Keluhan Utama : Pasien mengeluhkan adanya benjolan di leher sudah 3 tahun. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) : Pasien mengeluhkan adanya benjolan di leher sejak kira-kira 3 tahun yang lalu, awalnya benjolan berukuran kecil, namun benjolan semakin lama semakin membesar, dan dirasakan menyesak. Pasien mengeluhkan jantung berdebar-debar, gelisah berkeringat banyak, nafsu makan menurun, tidak tahan cuaca dingin. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) : Pasien menyatakan belum pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya. Riwayat penyakit jantung, darah tinggi, penyakit gula disangkal. Riwayat Penyakit Keluarga (RPK) : Pasien menyatakan bahwa tidak ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang sama. Pasien menyangkal adanya riwayat DM, hipertensi, asma, dan penyakit jantung. Riwayat Pribadi dan Sosial Ekonomi (RSE) : Pasien adalah seorang perempuan sudah menikah. Pasien mempunyai status ekonomi menengah ke atas.

tidak terdapat deformitas : terletak ditengah dan simetris : tidak hiperemis : tidak ada tanda perdarahan Telinga      Daun telinga Liang telinga Membrana timpani : normal : lapang : intake Nyeri tekan mastoid : tidak nyeri tekan Sekret : tidak ada Mulut dan tenggorokan    Bibir Gigi geligi Palatum : tidak pucat dan tidak sianosis : lengkap.5° C Hidung     Bagian luar Septum Mukosa hidung Cavum nasi : normal. ada karies : tidak ditemukan torus .III. Pemeriksaan fisik Keadan umum : tampak sakit sedang Kesadaran Vital sign : Compos mentis : Tekanan Darah : 110/70mmHg Nadi Pernafasan Suhu Status general Kepala   Mata     Tidak terdapat ptosis pada palpebra dan tidak terdapat oedem Conjunctiva tidak anemis Sklera tidak tampak ikterik Pupil: isokor Normochepali Tidak tampak adanya deformitas : : 80x/menit : 20x/menit : 36.

ICS 5 Perkusi : Batas atas Batas kanan Batas kiri : ICS 2 linea parasternalis sinistra : ICS 3-4 linea sternalis dextra : ICS 5. murmur (-). gallop (-) : sesak nafas (+) : vocal fremitus sama pada kedua paru : sonor pada seluruh lapangan paru : suara nafas vesikuler di kedua paru. 1 cm lateral linea midclavicularis sinistra Auskultasi  Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi   Ekstremitas atas : datar. odema -/: S1 S2 reguler. benjolan (-) : akral hangat +/+. odema -/- . ronkhi -/-. whezing -/- Ekstremitas Bawah : akral hangat +/+. nyeri ketok (-).   Leher    Lidah Tonsil Faring : normoglosia : T1/T1 tenang : tidak hiperemis JVP Kelenjar tiroid Trakea : (5+2) cm H2O : teraba membesar : letak di tengah Thorax  Paru-Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi  Jantung Inspeksi Palpasi : ictus cordis terlihat : ictus cordis teraba 1 jari linea midclavicularis sinistra. tidak terdapat pelebaran vena : bising usus 3x/menit : timpani. shifting dullnes (-) : nyeri tekan (-). nyeri lepas (-).

IV.2 % : 11.Ht .GDS : 14.6 mg/dL  Kimia darah . Status Lokalis Regio Inspeksi : colli anterior : tampak massa ukuran diameter ± 3 cm. warna sama dengan sekitarnya. nyeri tekan (-). karsinoma tiroid .Eritrosit .55 uIU/mL Hematologi . Diagnosa Banding Tiroiditis.000 μ/L : 5. Pemeriksaan Penunjang   USG tiroid Profil tiroid  T3 T4 TSH : 1. mobil. konsistensi kenyal.08 jt/mm3 : 68 mg/dL : 15 μ/L : 12 μ/L : 39 mg/dL : 0. pembesaran KGB (-) Auskultasi : bruit (-) V. Diagnosa kerja Struma nodosa nontoksik VII.33 mmol/L : 6.Trombosit .5 mg% : 47.Leukosit .19 mmol/L : 1.Kreatinin VI. ikut bergerak waktu menelan Palpasi : massa ikut bergerak waktu menelan.SGOT .Ureum .SGPT .LED .Hb .400/mm3 : 10 mm/jam : 362.

VIII. Prognosis Ad vitam Ad sanationam Ad fungsionam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam . Penatalaksanaan   Operatif : lobectomy Edukatif post operatif : bed rest total IX.

penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium. Hiperplasi dan involusi kelenjar tiroid. Defisiensi iodium Pada umumnya. dengan beberapa bagian kelenjar tumbuh namun bagian yang lain rusak akibat tiroiditis. diduga tiroiditis ini menyebabkan hipotiroidisme ringan. sulfonylurea dan litium). Keadaan inilah yang dapat menjelaskan mengapa kelenjar ini biasanya nodular. yang selanjutnya menyebabkan peningkatan sekresi TSH (thyroid stimulating hormone) dan pertumbuhan yang progresif dari bagian kelenjar yang tidak meradang. Definisi Struma adalah pembesaran pada kelenjar tiroid yang biasanya terjadi karena folikelfolikel terisi koloid secara berlebihan. c. namun sebagian besar penderita menunjukkan gejala-gejala tiroiditis ringan. lobak. 2.1 Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid yang merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain : 1.1 2. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol. misalnya daerah pegunungan. Etiologi Penyebab pasti pembesaran kelenjar tiroid pada struma nodosa tidak diketahui.TINJAUAN PUSTAKA 1. Setelah berahun-tahun sebagian folikel tumbuh semakin besar dengan membentuk kista dan kelenjar tersbut menjadi noduler.3 . b. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid. kacang kedelai). a. Struma nodosa nontoksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme. oleh karena itu. Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya: thiocarbamide.

Klasifikasi Berdasarkan American Society for Study of Goiter. terdapat 4 macam klasifikasi struma. inborn errors metabolisme yang menyebabkan kerusakan dalam biosintesis hormon tiroid. d. resistensi hipofisis terhadap hormon tiroid. resistensi hormon tiroid. masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. Struma nontoksik difusa Penyebab dari penyakit ini bermacam-macam. terpapar radiasi. dan penyakit granulomatosa parasit. misalnya defisiensi iodium. autoimun thyroiditis. misalnya: kekurangan atau kelebihan iodium yang terjadi pada pasien dengan preexisting penyakit tiroid autoimun. hashimoto atau postpartum thyroiditis. b.3 4. litium. fungal. aktivasi reseptor TSH. c. Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis. yaitu: a. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diiodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul iodotironin (T3). Mutasi somatik reseptor TSH dan protein Gα. riwayat radiasi kepala dan leher. sedangkan tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. phenolic). agen-agen infeksi.3. Bahan yang mengandung iodium diserap usus. makanan: kubis. Struma nontoksik nodusa Penyebab dari penyakit ini.dan agen lingkungan: resorsinol. gonadotropin dan/atau tiroid stimulating immunoglobulin. suppuratif akut: bakterial. kronik: myobacteria. kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Patofisiologi Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. goitrogenik (obat-obatan: propiltiourasil. yang merupakan penyakit autoimun yang masih belum diketahui penyebab pastinya. Struma toksik nodusa Defisiensi iodium yang mengakibatkan penurunan level T4. stimulasi reseptor TSH oleh TSH dari tumor hipofisis. Beberapa obat dan keadaan . Struma toksik difusa Termasuk penyebab dalam struma toksik difusa adalah Grave’s disease. keganasan tiroid. lobak. Dalam kelenjar tiroid. iodium dioksidasi menjadi bentuk yang aktif yang distimulsi oleh Tiroid Stimulating Hormon.

Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid. lunak. pubertas. Struma nodosa yang terjadi pada peningkatan kebutuhan terhadap tiroksin saat masa pertumbuhan. menstruasi. tidak tahan cuaca dingin. Diagnosis banding 1. peningkatan simpatis seperti: jantung menjadi berdebardebar. Pembesaran kelenjar getah bening di sekitar tiroid: ada atau tidak ada. 5.1 6. Struma endemix 5. ada atau tidak ada. Penatalasanaan Pilihan terapi nodul tiroid: 1. Simple goiter 4. kista degenrasi 6. Manifestasi klinis Pada penyakit struma nodosa nontoksik tyroid membesar dengan lambat. kehamilan. berkeringat.3 7. Jika struma cukup besar. Terapi supresi dengan hormon levotirosin . satu (soliter) atau lebih dari satu (multipel) 2. keras atau sangat keras 3. laktasi. diare. Tiroiditis akut/subakut/kronis 3. Konsistensi. menopause.dapat mempengaruhi sintesis. Karsinoma tiroid primer. dibedakan dalam hal: 1. gelisah. infeksi. Pada penyakit ini tidak ditemukan keluhan karena tidak ada hipo atau hipertirodisme. Adenoma 7. ada atau tidak ada 4.2 5. dan kelelahan. stres 2. Perlekatan dengan sekitarnya. metastasis 8. pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. gemetar. Pada pemeriksaan status lokalis struma nodosa. Limfoma. Peningkatan metabolisme karena adanya hiperaktif dengan meningkatnya denyut nadi. Jumlah nodul. kistik. Kista tiroid. akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan. Nyeri pada penekanan. Awalnya kelenjar ini membesar secara difus dan permukaan licin.

struma dengan gangguan tekanan d. struma besar yang melekat erat ke jaringan leher sehingga sulit digerakkan yang biasanya karena karsinoma. struma yang disertai dengan sindrom vena kava superior. struma dengan dekompensasi kordis dan penyakit sistemik yang lain yang belum terkontrol b.1 9. c.2. Suntikan etanol 5. dan bila dipaksakan akan memberikan mortalitas yang tinggi dan sering hasilnya tidak radikal. Biasanya karena metastase luas ke mediastinum. Observasi. Prognosis Prognosis tergantung pada jenis nodul dan tipe histologisnya.1 8. Iodium radioaktif 4. bila yakin nodul tidak ganas. tetapi perlekatan dengan jaringan lunak leher yang luas sulit dilakukan eksisi yang baik. Karsinoma yang demikian biasanya sering dari tipe anaplastik yang jelek prognosanya. struma difus toksik yang gagal dengan terapi medikamentosa b. US Guided Laser Therapy 6. lesi n. Kontraindikassi operasi pada struma: struma toksika yang belum dipersiapkan sebelumnya a. struma uni atau multinodosa dengan kemungkinan keganasan c. kosmetik.laringeus superior. sukar eksisinya biarpun telah dilakukan sternotomi. kerusakan n. Pembedahan 3.1 . Komplikasi  Komplikasi yang dapat terjadi adalah perubahan kearah keganasan (karsinoma tiroid)  Komplikasi post operasi: perdarahan. Indikasi operasi pada struma adalah: a.rekuren. Perlekatan pada trakea ataupun laring dapat sekaligus dilakukan reseksi trakea atau laringektomi.

1997. . Edisi ke-2. dalam MKB Volume 29 No 4. Pisi Lukitto. dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. hal 757-761. Sri Hartini.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jilid I. Penerbit FKUI. Buku Ajar Ilmu Bedah. Frekuensi Tumor Ganas Tiroid pada Kasus Struma Nodosa yang Dirawat di Bagian Bedah RSUP Dr. Jakarta 1996. Sjamsuhidrajat R. Hasan Sadikin Bandung Tahun 1992-1994. Struma Nodosa Non Toksik. De Jong Wim. 3. Hal 265-266. KS. 2004 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful