Essay Penerimaan Beasiswa Karya Salemba Empat Arti Seorang Sarjana Pertanian Pertama kali saya mendengar nama

Institut Pertanian Bogor, reaksi pertama saya adalah bertanya, apakah bertani juga memerlukan keahlian khusus untuk menghasilkan produk bermutu? Semenjak kecil, saya dan beberapa anak sepantaran saya diajarkan bahwa pertanian tidak jauh dari berangkat pagi-pagi sebelum ayam berkokok dan pulang ketika hari sudah menjelang senja. Figur seorang Pak Tani dan Ibu Tani sebagai pasangan yang selalu setia terus mengiringi pandangan saya tentang paradigma pertanian. Ketika Indonesia lalu berubah menjadi negara agraris namun pengimpor beras paling besar, yang saya pertanyakan adalah kemana para petani yang tidak pernah lelah mencangkul itu? Orang tua saya lalu menerangkan bahwa lahan pertanian kini sudah diubah menjadi perumahan dan hilanglah petani-petani menjadi kuli bangunan. Setelah saya lulus SMA, keinginan untuk mengembalikan masa kejayaan Indonesia sebagai negara agraris muncul lagi, namun kali ini saya tidak mau menjadi petani. Saya lebih memilih menjadi seorang insinyur yang menyiapkan alat-alat pertanian untuk mereka. Saya tidak menampik keinginan saya memang tidak realistis di jaman globalisasi sekarang ini, namun dengan perkembangan teknologi yang tak kalah drastis, apakah tidak ada inovasi teknologi yang bisa difungsikan menjadi berbasis pertanian dan biosistem? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah yang menggiring saya untuk memilih Teknik Mesin dan Biosistem menjadi pilihan jurusan saya ketika mendaftar di Institut Pertanian Bogor, dan Alhamdulillah saya resmi menjadi mahasiswa tahun lalu. Setelah menjadi mahasiswa dan terjaring mengikuti beberapa organisasi, saya sadar dukungan finansial dari orang tua saya tidak akan bisa seterusnya mendukung pendidikan saya. Saya sadar ayah saya tidak bekerja lagi, dan ibu saya bukanlah orang yang sungguh berpendidikan. Ibu saya hanya lulus SMA dan tidak mungkin melanjutkan sekolahnya karena umurnya yang sudah kepala empat. Sementara segalanya menjadi semakin mahal dan tidak tentu, apalagi dengan isuisu kenaikan harga bahan bakar yang tidak bisa dipastikan kapan naik dan berapa

dan pelan-pelan membuat mesin pertanian yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan sekitar. Rosari Prabawati F14110025 . Saya ingin merintis sebuah bengkel mesin pertanian yang mesinnya murah dan terjangkau di daerah pedesaan. apalagi informasi yang saya dapat sangat dekat dengan batas waktu pengumpulannya. Walaupun lulusan Institut Pertanian Bogor sering dikatakan lulusan yang fleksibel dan bisa diterima di berbagai macam jenis pekerjaan. Permainan kenaikan harga bahan bakar ini semakin meningkatkan keinginan saya untuk mencari beasiswa. sehingga saya akan membutuhkan jaringan yang luas dan kerja sama di berbagai bidang.kisaran naiknya. Nantinya kita akan merasa semakin tercekik tanpa paham alasan apa yang berada dibelakangnya. dan saya mendengar ada beasiswa yang bisa diajukan oleh mahasiswa semester II yaitu beasiswa Karya Salemba Empat (KSE). Pelan-pelan bengkel sederhana itu akan diperbesar dan dapat melayani daerah yang lebih luas lagi. Saya berharap jaringan itu saya temukan di sesama alumni Beasiswa KSE kelak jika saya diterima menjadi salah satu penerima beasiswa. Namun saya berharap segala usaha saya dapat berbuah manis di akhirnya. Usaha akan saya mulai dengan membuat bengkel sederhana yang bisa memperbaiki segala mesin di sekitar pedesaan. Saya sadar menjadi sarjana pertanian tidak semenarik sarjana hukum atau sarjana kedokteran. saya tetap berharap bisa bekerja di bidang yang memang saya pelajari di bangku kuliah. Rencana ini tidak akan terlaksana jika saya tidak punya cukup donatur dan jaringan. Dengan begitu mesin yang dibuat akan sesuai dengan permintaan para petani yang membutuhkan. Pengajuan beasiswa ini merupakan pengajuan saya yang pertama dan saya merasakan betul betapa rumitnya mengajukan beasiswa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful