28 BAB III METODE PENELITIAN A.

Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian adalah kualitatif dengan metode deskripsi analisis

menggunakan rancangan study restrospektif. Peneliti mengamati dokumentasi rekam medik kematian pasien > 48 jam untuk mengetahui penyimpangan kinerja struktur input dan struktur proses dari luaran pelayanan kesehatan rawat inap. Dalam struktur input dan proses peneliti mengamati area penyimpangan menajemen dari set rekam medik pasien pulang mati > 48 jam dari tahun 2002-2005 dengan menggunakan “Daftar Tilik Analisis Penyimpangan Mortalitas” yang menyebabkan peningkatan angka kematian > 48 jam di RSKA. B. Materi Penelitian Materi penelitian ini adalah set rekam medik pesien meninggal > 48 jam dari tahun 2002-2005 yang tersimpan di Urusan Rekam Medik RSKA. Set rekam medik pasien seharusnya memuat segala informasi medis dan kesehatan sejak pasien berinteraksi dengan tenaga profesional di rumahsakit, didalamnya seharusnya terdapat catatan dokter dan catatan perawat dalam melaksanakan standar pelayanan medis dan standar asuhan keperawatan secara profesional dan institusional, pemberian terapi tindakan dan obat-obatan dan perkembangan kondisi kesehatan pasien. C. Alat Penelitian Untuk mendapatkan 5 kriteria alasan-alasan dari penyimpangan mortalitas > 48 jam dari tahun 2002-2005 yang tersimpan di Urusan Rekam Medik RSKA, digunakan “Daftar Tilik Penyimpangan Mortalitas di Rumahsakit”. Daftar tilik memuat 17 pertanyaan yang dijadikan pedoman peneliti untuk meneliti materi penelitian (Format terlampir). Daftar tilik merupakan materi ajar dari Clinical Audit Training – PMPK/IKM FK – UGM dan diadaptasi untuk mengetahui catatan medik dan catatan keperawatan di dalam set rekam medik yang berhubungan dengan kematian pasien > 48 jam di rumahsakit.

29 D. Variabel Penelitian Gambar 4. Variabel Penelitian dalam Struktur Manajemen INPUT 1. 2. 3. 4. 5. PROSEDUR TETAP STANDAR ASUHAN OBAT PERALATAN ANGGARAN PROSES KELUARAN ANGKA KEMATIAN > 48 JAM RSKA KOL. ABUNDJANI BANGKO

TINDAKAN MEDIS TINDAKAN KEPERAWATAN TINDAKAN PENUNJANG

Dari gambar di atas dan dari tujuan pelaksanaan audit dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 496 tahun 2005 maka variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah salah satu unsur dari struktur manajemen pelayanan yaitu: Struktur proses pelayanan kesehatan instalasi rawat inap, sedangkan struktur input akan diketahui jawabannya dari penyebab utama dan penyebab pendukung dalam area penyimpangan manajemen, dan untuk struktur luaran telah diketahui berupa adanya peningkatan angka kematian dan adanya rujukan pasien dari instalasi rawat inap setelah beberapa hari dirawat di RSKA. E. Definisi Operasional 1. Prosedur tetap adalah: prosedur pelayanan teknis dan administrasi dari bidang medis dan keperawatan yang telah disusun dan diberlakukan dan dipedomani dalam pemberian pelayanan kepada pasien di instalasi Instalasi raawat inap RSKA; 2. Standar asuhan adalah: standar pelayanan profesi secara teknis medis dan keperawatan yang telah disusun dan diberlakukan dan dipedomani dalam pemberian pelayanan kepada pasien di instalasi Instalasi raawat inap RSKA; 3. Obat adalah: pemberian obat-obatan baik oral dan atau parenteral, tablet dan atau cair kepada pasien sesuai dengan resep yang dituliskan dokter di lembar catatan medik dan lembar catatan perawat; 4. Peralatan adalah: peralatan kesehatan dengan standar peralatan pelayanan rawat inap secara umum dan spesialistik minimal yang digunakan dalam

30 memberikan pelayanan kesehatan di instalasi Instalasi rawat inap RSKA, seperti: suction pump, ventilator, devibrilator, regulator oksigen dan lain-lain. 5. Anggaran adalah: jumlah dana dari APBD dan DEKON yang peruntukannya untuk pendidikan dan pelatihan tenaga profesional, pembelian peralatan kesehatan dan obat serta bahan gizi yang berhubungan dengan kegiatan pelayanan pasien di instalasi Instalasi rawat inap RSKA; 6. Kebijakan adalah: kebijakan-kebijakan Direktur RSKA Kol Abundjani yang telah memberlakukan Visi dan Misi Pelayanan Kesehatan Paripurna dalam

mendukung pelayanan kesehatan bagi peningkatan pembangunan agro bisnis dan agro industri di Kabupaten Merangin tahun 2008; 7. SDM adalah: tenaga perawat, bidan dan dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang terlibat dalam pemberian pelayanan kesehatan di instalasi Instalasi rawat inap RSKA; 8. Tindakan medis adalah: pelaksanaan tahapan kegiatan-kegiatan dalam upaya menegakkan diagnosa kerja dan diagnosa utama, pengobatan, saran diet, saran perawatan dan pengawasan perkembangan penyakit yang bertujuan mengurangi keluhan dan mengatasi penyebab penyakit pada pasien termasuk didalamnya pelaksanaan standar medis dan prosedur pelayanan medis di saat pasien dalam masa kritis dan kegawatan medik selama di rawat di instalasi Instalasi rawat inap RSKA; 9. Tindakan keperawatan adalah: pelaksanaan asuhan keperawatan dalam upaya pemenuhan 14 kebutuhan dasar manusia dalam dan tindakan mandiri serta kolaborasi dalam upaya memberikan asuhan kepada pasien selama di rawat di instalasi Instalasi rawat inap RSKA; 10. Tindakan penunjang adalah: tindakan pemeriksaan laboratorium, pelayanan radiologi, pelayanan USG, pelayanan EKG dan pelayanan fisioterapi termasuk tindakan operasi yang dilakukan kepada pasien Instalasi rawat inap selama di RSKA; 11. Angka Kematian RSKA KOL. ABUNDJANI 2005 adalah: jumlah kematian > 48 jam dari pasien rawat inap di RSKA dari Januari - Juni 2005 .

31 F. Jalannya Penelitian 1. Tahap Persiapan Tahap awal dimulai dengan penelusuran literatur, penyusunan proposal dibawah bimbingan dosen pembimbing sampai proposal penelitian disetujui, dilanjutkan dengan penyelesaian perijinan penelitian dari Minat Magister Manajemen Rumahsakit PS 2 IKM FK-Universitas Gadjah Mada. Peneliti mengikuti pelatihan Penggunaan Daftar Tilik Penyimpangan Mortalitas dari Dosen Pembimbing II. Kegiatan-kegiatan penelitian tidak sesuai lagi rencana kegiatan dalam proposal penelitian. 2. Tahap Pelaksanaan Setelah mendapatkan ijin penelitian dari tempat lokasi penelitian, proses penelitian diawali dengan sosialisasi materi “Audit Kematian, Kepmenkes 496 tahun 2005, Undang-undang Perlindungan Konsumen, Standarisasi Pelayanan Minimal Rumah Sakit” dan pelatihan penggunaan “Daftar Tilik Penyimpangan Mortalitas“. Kegiatan diawali dengan mengumpulkan set rm pasien meninggal dari tahun 20012005, mengidentifikasi lamanya pasien dirawat dan keadaan keluar pada lembar MR.1 dan mengelompokkannya dalam tahun kejadian kematian, dalam kelompok spesialistik dan kematian < atau > 48 jam. Sesuai tujuan penelitian maka set rm pasien meninggal < 48 jam dikembalikan karena tidak digunakan dalam penelitian. Seratus Enam Puluh Tujuh set rm digunakan untuk penelitian setelah mendapatkan ijin penggunaan informasi set rekam medik pasien dari direktur dan Kasubbag Kesekretariatan dan Rekam Medik RSKA, kegiatan dalam pelaksanaan diantaranya adalah : transkripsi informasi dari setiap set rm, penyisihan rm dimana dokternya tidak berada lagi di RSKA, membantu petugas rm dalam penyimpanan dan pengolahan data. Audit kematian dilakukan dengan menggunakan “Daftar Tilik Penyimpangan Kematian” (Daftar Tilik) terlampir). Peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tertera di daftar tilik dan dokter yang merawat pasien memeriksa rm pasien yang dirawatnya dan memberikan jawaban sesuai seperti informasi yang tertulis di dalam rm tersebut. Peneliti menerakan jawaban dokter pada kolom daftar tilik yang tersedia dengan tanda “rumput”, “silang” dan “lingkaran”, kemudian dilanjutkan

32 dengan mengali alasan-alasan mengapa dokter menjawab “ya” atau “tidak” pada setiap jawaban dimana sampai suatu keputusan kematian “beralasan” dan “tidak beralasan” diterima sebagai alasan yang dibenarkan. Alasan-alasan yang disampaikan didokumentasikan dalam lembaran daftar tilik. Audit dihentikan jika jawaban dokter ada di kolom “ya” atau “tidak” pada huruf (B) “beralasan” dan audit dilanjutkan dengan diskusi alasan-alasan yang dikemukakan, jika jawaban dokter berhenti pada kolom “ya” atau “tidak” pada tanda tanya (?) “tidak dibenarkan”. 3. Tahap Akhir Tahap akhir adalah pengolahan data hasil penelitian dari daftar tilik penyimpangan mortalitas dengan bimbingan dosen pembimbing tesis dalam upaya penyelesaian penyusunan hasil penelitian sebelum diseminarkan di lingkungan universitas. 4. Hambatan Penelitian Hambatan penelitian diantaranya adalah penolakan sementara dari dokter spesialis dengan beberapa pernyataan diantaranya, “bukankah akan terlihat bagaimana mutu pelayanan rawat inap?”, “mengapa kematian yang jadi topik penelitian?”, “akan terlihat siapa dokter yang paling banyak menyebabkan kematian?”. Pengetahuan perihal mutu pelayanan, patient safety dan audit mungkin menjadi penyebab adanya pernyataan seperti ini. Dibutuhkan upaya sosialisasi, Bahwa audit tidak dianggap untuk mencari-cari kesalahan tetapi bertujuan untuk bagaimana mencegah terjadinya kesalahan dalam pelayanan dimasa yang akan datang dan menata kinerja profesi untuk lebih bertanggungjawab secara ilmiah terhadap tugas dan tuntutan pasien akan mutu pelayanan. Dengan sosialisasi diharapkan terjadi perubahan pengetahuan dan sikap responden. Dalam komunikasi dinyatakan bahwa frekuensi penyampaian informasi memberikan pengaruh pada proses persepsi sehinga perubahan pengetahuan dapat menyebabkan perubahan sikap komunikan. Audit juga mengalami hambatan proses dimana dokter yang merawat pergi melaksanakan ibadah haji dan studi banding ke Jepang bersama DPRD Merangin.

33 G. Analisis Unit analisis (atau dapat pula disebut sebagai tingkat analisis) menunjukkan apa yang ingin dipelajari dalam suatu penelitian (Yin, 1994, Cit. Utarini, 2004). Dalam proposal ini yang menjadi unit analisis adalah set rekam medik pasien pulang meninggal > 48 jam dari tahun 2002-2005 yang tersimpan di ruang Urusan Rekam Medik RSKA . Penggunaan daftar tilik penyimpangan mortalitas, analisis dilakukan untuk menemui alasan-alasan membenarkan atau tidak membenarkan penyimpangan kematian dalam salah satu dari 5 (lima) kriteria di berikut: 1. keadaan atau perjalanan penyakit pasien pada waktu masuk rumahsakit sudah sedemikian lanjut, sehingga metoda-metoda medis yang efektif tidak ada (tidak diinginkan oleh pasien dan atau oleh anggota keluarganya yang bertanggung jawab), dan kematian merupakan akibat yang sudah diperkirakan sebelumnya. 2. hasil pemeriksaan catatan medik menunjukkan bahwa kematian jelas merupakan akibat langsung dari campur tangan dokter yang merawatnya, dari kegagalan untuk mendiagnosis dengan tepat atau pada waktunya, atau ada faktor dari Struktur Input, struktur Proses dan struktur Luaran pelayanan RSKA. 3. catatan medik memperlihatkan bahwa kejadian penyebab yang mengakibatkan kematian sewajarnya tidak dapat diperkirakan. 4. sebab kematian sedemikian rupa sehingga sewajarnya dapat diperkirakan sebelumnya dan apa yang ditulis (tertulis) dalam lembar catatan medik membuktikannya. Meskipun kejadian penyebab sebenarnya dapat diperkirakan sebelumnya dan usaha-usaha pencegahan yang diketahui sudah dilakukan dengan tepat dan pada waktunya (kecuali apabila ada bukti bahwa usaha itu tidak diingini), kejadian penyebab tetap terjadi juga. 5. kejadian penyebab sewajarnya dapat diperkirakan hanya dengan pengertian bahwa mereka yang bertanggung jawab terhadap perawatan pasien harus waspada dan mengamati tanda-tanda serta gejala-gejala awal dari kemungkinan permulaan komplikasi-komplikasi atau kegagalan-kegagalan, supaya dapat sembuh secara normal. Pembenaran pembenaran dalam kategori ini dapat

34 berdasarkan atas apa yang tertulis dalam cacatan dokter (catatan medik) dan atau catatan perawat, yaitu: a. pengamatan profesional dengan atau tanpa menggunakan peralatan kesehatan yang tersedia yang dilakukan terus menerus sehingga permulaan penyakit dapat dikenal pada waktunya, ada komunikasi pada waktunya, diagnosis dan usaha usaha responsif tampaknya tepat, tetapi kematian terjadi juga. b. Walaupun pengamatan profesional yang terus menerus dilakukan dan tepat seperti yang tertulis dalam catatan medik, kejadian penyebab timbul dalam keadaan tanda-tanda serangan awal tidak ada atau menyesatkan, sehingga kegagalan dari usaha apa saja yang diberikan dapat dibenarkan. Terhadap informasi dari jawaban dokter yang merawat sebagai hasil penggunaan daftar tilik penulis triangulasi dengan perawat-perawat ruangan dan terhadap hasil transkripsi ytang penulis lakukan yang datanya belum digunakan dalam laporan ini. Atas kematian beralasan hasil audit dijelaskan dengan penggunaan beberapa bukti mutakhir, sedangkan untuk kematian tidak beralasan dilakukan analisa berdasarkan penelusuran penyebab masalah sampai

ditemukannya alasan penyimpangan dalam 10 area penyimpangan manajemen pelayanan kesehatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful