P. 1
AmartyaSen Filsafat Apa

AmartyaSen Filsafat Apa

|Views: 3|Likes:
Published by Bunsa Bunda Sasa

More info:

Published by: Bunsa Bunda Sasa on Jan 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/20/2014

pdf

text

original

PERSAMAAN MENGENAI APA?

* Amartya Sen Diskusi filsafat moral memberikan kita pilihan yang luas dalam menjawab pertanyaan: persamaan mengenai apa? Dalam kuliah ini, saya akan memusatkan perhatian pada tiga tipe khusus persamaan, (i) persamaan utilitarian, (ii) persamaan utilitas total dan (iii) persamaan Rawlsian. Saya akan membuktikan bahwa ketiga teori ini memiliki kelemahan serius, dan sementara ketiganya gagal dalam cara yang agak berbeda dan kontras, sebuah teori yang memadai tidak dapat disusun bahkan dengan cara menggabungkan ketiganya. Pada akhir bab, saya akan berusaha menyajikan rumusan alternatif persamaan yang menurut saya berhak mendapatkan lebih banyak perhatian, dibandingkan dengan yang telah diterimanya, dan saya tidak akan berhenti untuk melakukan sejumlah propaganda atas nama rumusan alternatif persamaan ini. Pertama adalah pertanyaan metodologis: ketika dikatakan bahwa prinsip moral tertentu memiliki keterbatasan, apa yang dapat menjadi dasar dari dugaan semacam ini? Nampaknya, paling tidak, terdapat dua cara yang berbeda untuk mendasari kritik semacam ini, terlepas dari hanya memeriksa pengaruh langsungnya terhadap intuisi moral. Pertama adalah dengan mengambil kasus khusus yang hasil dari penerapan prinsip tersebut dapat dilihat dengan cara yang agak jelas, lalu meneliti implikasinya terhadap intuisi kita. Saya menyebut kritik semacam ini sebagai ‘kritik implikasi kasus’ (case–implication critique). Kedua adalah dengan bergerak bukan dari umum ke khusus, tetapi dari umum ke lebih umum. Orang dapat memeriksa konsistensi satu prinsip dengan prinsip lainnya yang diakui lebih fundamental. Kedua prinsip di atas biasanya diformulasikan pada tingkat yang agak abstrak dan seringkali mengambil bentuk yang sebangun dengan sejumlah prosedur umum. Misalnya, apa yang secara masuk akal dapat diasumsikan dari memilih dengan ‘pengandaian’ ketidaktahuan ‘posisi asali’ Rawlsian, sebuah keadaan primodial hipotetis ketika orang memutuskan peraturan apa yang diadopsi tanpa mengetahui mereka akan menjadi apa, seolah-olah mereka bisa menjadi salah satu di antara orang dalam masyarakat1. Atau aturan apa yang akan memuaskan persyaratan Richard Hare tentang “universalisabilitas” dan yang akan konsisten dengan “memberikan bobot yang sama kepada kepentingan yang sama untuk pengisi semua peranan”2. Saya akan menyebut kritik yang didasarkan pada pendekatan semacam itu sebagai ‘kritik prinsip sebelumnya’ (prior–principle critique). Kedua pendekatan ini dapat dipergunakan dalam menilai klaim moral setiap tipe persamaan dan memang akan dipergunakan di sini.
*

Diterjemahkan oleh Agus Wahyudi dari Amartya Sen, “Equality of What?”, Contemporary Political Philosophy: An Anthology, Robert E. Goodin and Philip Pettit (eds), Oxford, Blackwell, 1997, pp. 476-486 1 Rawl, A Theory of Justice (Cambridge: Haward University Press, 1971), PP. 17-22. Lihat pula W. Vickrey, “Measuring Marginal Utility by Reactions to Risk,” Econometrica 13 (1945), dan J.C. Harsanyi, “Cardinal Welfare Industrialistic Ethics, and Interpersonal Comparisons of Utility,” Journal of Political economy 63 (1955). 2 R.M. Hare, The Language of Morals (Oxford: Clarendon Press, 1952); “Ethical Theory and Utilitarianism,” dalam H.D. Lewis (ed.), Contemporary British Philosophy (London: Allen dan Unwin, 1976), pp. 116-17.

2

I. Persamaan Utilitarian Persamaan utilitarian merupakan persamaan yang kemungkinan diturunkan dari konsep kebaikan utilitarian yang diterapkan pada masalah distribusi. Kasus paling sederhana barangkali adalah “masalah distribusi murni”: masalah pembagian sebuah kue serbasama yang telah tersedia diantara kelompok orang3. Setiap orang mendapatkan lebih banyak utilitas jika kue yang menjadi bagiannya lebih besar, dan hanya mendapatkan utilitas dari bagiannya atas kue; utilitas seseorang meningkat pada tingkat yang semakin berkurang seiring peningkatan jumlah bagiannya. Tujuan utilitarian adalah memaksimalkan jumlah total utilitas terlepas dari distribusi, tetapi hal ini membutuhkan persamaan dari utilitas marginal setiap orang: utilitas marginal merupakan utilitas tambahan yang akan didapatkan setiap orang dari unit tambahan kue tersebut4. Menurut salah satu interpretasi, persamaan utilitas marginal ini mengandung perlakuan yang sama terhadap kepentingan setiap orang5. Posisi tersebut sedikit lebih rumit bila ukuran total kue tidak bebas dari pengaruh distribusinya. Akan tetapi kemudian, maksimalisasi jumlah utilitas total mensyaratkan bahwa transfer dikembangkan dengan maksud bahwa perolehan utilitas marginal dari mereka yang mendapatkannya sebanding dengan kehilangan utilitas marginal dari mereka yang tidak mendapatkannya, setelah mempertimbangkan pengaruh transfer pada ukuran dan distribusi kue tersebut6. Dalam konteks yang lebih luas inilah tipe khusus persamaan yang dipaksakan oleh utilitarianisme menjadi terbedakan secara tegas. Richard Hare telah menyatakan bahwa “memberikan bobot yang sama terhadap berbagai kepentingan yang sama dari semua pihak” akan “mengarahkan pada utilitarinisme” sehingga memuaskan persyaratan prinsip sebelumnya (prior–principle) akan universalizabilitas7. Mirip dengan ini, John Harsanyi menolak sama sekali gagasan non-utilitarian (termasuk kuliah ini--harus segera saya tambahkan), dengan mengklaim utilitarianisme memiliki kemampuan eksklusif untuk menghindari “diskriminasi tidak fair” antara

3

Saya telah mencoba menggunakan format ini untuk perbedaan aksiomatik antara kriteria Rawlsian dan kriteria Utilitarian dalam “Rawls Versus Bentham: An Axiomatic Examination of the Pure Distribution Problem,” dalam Theory and Decision 4 (1974); dicetak ulang dalam N. Daniels (ed.), Reading Rawls (Oxford: Blackwell, 1975). Lihat pula L. Kern, “Comparative Distribive Ethics; An Extention of Sen’s Examination of the Pure Distribution Problem,” dalam H.W. Gottinger dan W. Leinfellner (eds), Decision Theory and Social Ethics (Dordrecht: Reidel, 1978), dan J.P. Griffin, “Equality: On Sen’s Equity Axiom,” Keble College, Oxford, 1978, dalam bentuk stensil. 4 Kondisi persamaan harus diubah dengan kombinasi yang terkait persyaratan ketimpangan ketika “kontinuitas” properti yang tepat tidak berlaku. Kesulitan yang lebih dalam ditimbulkan oleh “Non Convexities” (misalnya peningkatan utilitas maginal). 5 J. Harsanyi, “Can the Maximin Principle Serve as a Basis for Morality ? A Critique of John Rawls’ Theory,” American Political Science Review 64 (1975). 6 Seperti disinggung pada catatan no 4, kondisi persamaan memerlukan modifikasi karena ketiadaan kontinuitas dari tipe yang tepat. Tranfer harus dilakukan sampai titik ketika perolehan utilitas marginal dari mereka yang mendapatkan dari transfer selanjutnya tidak lebih dari hilangnya utilitas marginal dari mereka yang tidak mendapatkan. 7 Hare (1976), pp. 116-17

3

“kebutuhan manusiawi yang sama-sama mendesak diantara satu orang dengan orang lain”8. Kepentingan moral dari kebutuhan, menurut interpretasi ini, hanya didasarkan pada pengertian utilitas. Hal ini dapat dibantah, dan karena telah membantahnya dalam sejumlah kesempatan sebelumnya9, saya tidak akan mencoba menghindar untuk membantahnya pada konteks khusus ini. Tetapi sambil menuju pada pembahasan ini kemudian, saya akan meneliti lebih dulu hakikat persamaan utilitarian tanpa –sementara waktu– mempertanyakan sepenuhnya dasar-dasar dari kepentingan moral pada utilitas. Bahkan ketika utilitas merupakan dasar satusatunya kepentingan, masih tetap terdapat pertanyaan apakah ukuran utilitas marginal, terlepas dari utilitas total yang dinikmati oleh orang-per orang, merupakan indeks yang memadai dari kepentingan moral. Tentu saja ada kemungkinan untuk menentukan matrik dari ciri-ciri utilitas sedemikian rupa sehingga skala utilitas tiaptiap orang diserasikan dengan utilitas orang lain dengan cara bahwa kepentingan sosial yang sama hanya di ‘ukur’ (scaled) sebagai utilitas marginal yang sama. Bila perbandingan utilitas interpersonal dianggap tidak memiliki isi deskriptif, maka perbandingan ini memang bisa dianggap sebagai pendekatan alami. Tidak peduli bagaimana kepentingan sosial ini dicapai, utilitas marginal yang melekat pada setiap orang tetap akan mencerminkan nilai-nilai ini. Perbandingan ini dapat dilakukan secara eksplisit dengan skala interpersonal yang tepat10, atau secara implisit dengan membuat penomoran utilitas yang mencerminkan pilihan situasi dari ‘pengandaian’ ketidakmenentuan yang diasosiasikan dengan “posisi asali” berdasarkan asumsi tambahan bahwa ketidaktahuan diartikan sebagai probabilitas yang sama untuk menjadi setiap orang11. Tidaklah pada tempatnya untuk memasuki detail teknis dari tipe latihan ini, tetapi esensinya mengandung penggunaan prosedur skala seperti halnya perhitungan utilitas marginal secara otomatis diidentifikasi sebagai indikator dari kepentingan sosial. Jalan yang ditempuh menuju utilitarianisme ini mungkin mengalami sedikit resistensi, tetapi rute ini bersifat non-kontroversial terutama karena sedikit yang dikatakannya. Persoalan timbul saat perbandingan interpersonal dan utilitas yang baru disebutkan itu dianggap memiliki sejumlah isi deskriptif yang berdiri sendiri, sebagaimana kaum utilitarian secara tradisional telah bersikeras bahwa mereka melakukannya. Maka kemudian dapat terjadi konflik antara utilitas deskriptif ini dengan utilitas yang di ‘ukur’ secara tepat, yang pada dasarnya normatif, yang dengan pengertian ini seseorang ‘dipaksa’ menjadi utilitarian. Pada bagian selanjutnya, saya tidak lagi membicarakan utilitarianisme melalui skala
John Harsanyi, “Non–Linear Social Welfare Functions: A Rejoinder to Profesor Sen”, dalam R.E. Butts dan J. Hintikka (eds), Foundational Problems in the Special Sciences (Dordrecht : Reidel, 1977), pp. 294-95. 9 Collective Choice and Social Welfare (San Fransisco: Holden–Day, 1970), bab 6 dan bagian 11.4; “On Weights and Meansures: Informational Contraints in social Welfare Analysis“, Econometrica 45 (1977). Lihat pula argumentasi T.M. Scanlon yang menentang pengidentifikasian utilitas dengan “urgensi” dalam tulisannya “Preference and Urgency”, Journal of Philosophy 72 (1975). 10 Untuk kedua contoh yang sangat kreatif dari percobaan semacam ini, lihat Peter Hammond, “Dual Interpersonal Comparisons of Utility and the Welfare Economics of Income distribution”. Journal of Public Economics 6 (1977): 51-57; dan Menahem Yaari, “Rawls, Edgeworth, Shapley and Nash: Theories of Distributine Justice Re–examined,” Research Memorandum No. 33, Center for Research in Mathematical Ekonomic and Game Theory, Universitas Hebrew, Yerusalem, 1978. 11 Lihat Harsanyi (1955, 1975, 1977)
8

4

interpersonal yang tepat, dan akan kembali mengamati posisi utilitarian tradisional, yang menganggap utilitas memiliki isi deskriptif yang dapat diperbandingkan secara interpersonal. Maka, bagaimana kepentingan moral seharusnya berhubungan dengan ciri-ciri deskriptif ini kemudian harus dihadapi secara eksplisit. Posisi tersebut dapat diamati dari perspektif ‘prinsip sebelumnya’ (priorprinciple) dan juga dari sudut pandang ‘implikasi kasus’ (case-implication). Kritik John Rawls sebagai awal untuk menyajikan konsepsi alternatifnya sendiri tentang keadilan sebagian besar mengambil bentuk ‘prinsip sebelumnya’. Hal ini terlihat terutama pada istilah akseptabilitas “posisi asali”, menyatakan bahwa dalam situasi yang didalilkan dari pengandaian ketidaktahuan orang tidak akan memilih untuk memaksimalkan jumlah utilitas. Tetapi, Rawls juga membahas kekerasan yang dilakukan utilitarianisme pada pengertian kita tentang kebebasan dan kesetaraan. Sejumlah jawaban untuk argumentasi Rawls telah menegaskan kembali perlunya menjadi utilitarian dengan mengambil rute “skala” yang dibahas sebelumnya, dan yang menurut saya, tidak tepat untuk menyentuh kritik Rawls. Tetapi saya harus mengakui bahwa menurut saya daya tarik “posisi asali” jelas dapat dilawan karena nampak sangat jelas apa yang justru akan dipilih dalam situasi demikian. Demikian juga sama sekali tidak jelas bahwa pilihan yang bijaksana dalam ketidakmenentuan yang diandaikan memberikan dasar yang memadai bagi pertimbangan moral dalam posisi, yaitu, kehidupan nyata, yang tidak asali (unoriginal)12. Namun saya percaya kritik Rawls yang lebih langsung dalam hal kebebasan dan persamaan tetap memiliki kekuatan. Sejauh orang peduli dengan distribusi utilitas, maka akan segera nampak bahwa utilitarianisme secara umum akan memberikan pada seseorang sedikit rasa nyaman. Bahkan perolehan sangat kecil dalam jumlah utilitas total akan dianggap melebihi bentuk ketimpangan distribusi yang paling mencolok mata. Masalah ini akan dapat dihindari dengan asumsi tertentu, yakni apabila setiap orang memiliki fungsi utilitas yang sama. Dalam masalah distribusi murni, dengan asumsi ini, utilitarian terbaik akan memerlukan persamaan absolut dari utilitas total setiap orang13. Hal ini karena bila utilitas marginal dihitung, maka akan dihitung pula utilitas total jika setiap orang memiliki fungsi utilitas yang sama. Namun, hal ini merupakan egalitarianisme yang bersifat kebetulan; hanya merupakan hasil tidak sengaja dari kelompok marginal yang lebih besar dengan melakukan sesuatu untuk memuaskan secara total kelompok yang kecil. Yang lebih penting, asumsi tersebut seringkali dilanggar, karena banyak variasi antar manusia yang sedemikian jelas dan telah didiskusikan. John mungkin mudah merasa puas, tetapi tidak demikian dengan Jeremy. Bila hal ini dianggap sebagai ‘prinsip sebelumnya’ (prior-principle) bahwa persamaan distribusi dari utilitas total memiliki sejumlah nilai, maka konsepsi persamaan utilitarian—marginal sebagaimana adanya—harus tetap disalahkan. Pengakuan atas perbedaan fundamental manusia benar-benar memiliki konsekuensi yang sangat dalam, yang mempengaruhi tidak hanya konsepsi utilitarian tentang kebaikan sosial, tetapi juga yang lain, termasuk (yang akan saya
12

Perihal hal ini, lihat Thomas Nagel, “Rawls on Justice”, Philosophical Review 83 (1973), dan “Equality” dalam bukunya Mortal Questions (Cambridge : Cambridge University Press, 1979). 13 Masalahnya akan semakin rumit jika total kue tidak menentu dan ketika pemaksimalan jumlah utilitas tidak harus mengarah pada persamaan total utilitas, kecuali sejumlah asumsi tambahan dibuat, misalnya, tidak adanya argumentasi pendukung untuk ketimpangan.

5

bantah berikut ini) bahkan konsepsi Rawlsian tentang persamaan. Bila manusia dianggap identik, maka aplikasi prinsip sebelumnya (prior–principle) dari universalibilitas dalam bentuk “memberikan bobot yang sama kepada kepentingan yang sama dari semua pihak” sangat disederhanakan. Utilitas marginal yang sama dari semua orang—mencerminkan sebuah interpretasi tentang perlakuan yang sama atas kebutuhan—bertepatan dengan utilitas total yang sama--mencerminkan sebuah interpretasi dari pelayanan keseluruhan kepentingan mereka yang sama baiknya. Dengan keragaman, keduanya dapat bergerak ke arah yang saling berlawanan dan sangat tidak jelas bahwa “memberikan bobot yang sama kepada kepentingan yang sama dari semua pihak” akan meminta kita memusatkan perhatian hanya pada salah satu dari dua parameter, dan mengabaikan yang lainnya. Perspektif implikasi kasus (case–implication) dapat pula digunakan untuk mengembangkan kritik terkait, dan saya telah berusaha menghadirkan kritik tersebut pada berbagai tulisan saya14. Contohnya, jika si A sebagai orang cacat mendapatkan setengah utilitas yang dilakukan oleh si B sebagai ahli-kesenangan dari tingkat pendapatan apapun yang ada, maka dalam masalah distribusi murni antara si A dan si B, utilitarian tidak lagi akan memberikan si ahli-kesenangan B lebih banyak pendapatan daripada A. Si A dua kali lebih jelek: karena ia mendapatkan utilitas kurang dari tingkat pendapatan yang sama, dan, karena ia juga akan mendapat pendapatan lebih sedikit. Utilitarianisme pasti mengarahkan pada hal ini berkat kepeduliannya yang sangat kuat dengan pemaksimalan jumlah utilitas. Efisiensi yang lebih unggul dari pencari kesenangan dalam menghasilkan utilitas akan menjauhkan pendapatan dan menyingkirkan orang cacat yang kurang efisien. Karena contoh ini seringkali dibahas15, saya akan menjelaskan apa yang ditegaskan ulang dan apa yang tidak. Pertama, orang yang memiliki utilitas total rendah (misalnya orang cacat) pada tingkat pendapatan apapun yang ada tidak berarti harus memiliki utilitas marginal rendah pula. Pada tingkat pendapatan tertentu mungkin bisa terjadi, tapi tidak perlu pada tingkat lainnya. Bahkan mungkin sebaliknyalah yang terjadi manakala pendapatan terdistribusi secara sama. Bila demikian kasusnya, utilitarisme akan memberikan pendapatan lebih banyak kepada penderita cacat daripada orang sehat, karena orang cacat pada titik itu akan menjadi penghasil utilitas yang lebih efisien. Pokok pandangan saya adalah tidak ada jaminan bahwa hal inilah yang menjadi kasusnya, dan lebih khusus lagi, jikapun terjadi kasus bahwa orang cacat tidak hanya paling tidak beruntung dalam pengertian utilitas total tetapi dapat merubah pendapatan ke dalam utilitas yang kurang efisien di mana pun (atau bahkan pada titik pembagian pendapatan yang sama), lalu utilitarianisme akan memperburuk ketidakberuntungannya dengan menyetujui memberikan pendapatan yang lebih rendah pada tingkat atas dari efisiensi yang lebih rendah dalam menciptakan utilitas yang tidak melibatkan pendapatan. Poinnya, tentu saja, tidak berkenaan dengan orang cacat secara umum, tidak pula tentang semua orang dengan kerugian utilitas total, tetapi berkenaan dengan orang, termasuk yang cacat, dengan ketidakberuntungan dalam pengertian baik utilitas total dan utilitas marginal pada titik yang relevan.
14 15

On Economic Inequality (Oxford: Clarendon Press, 1973), pp. 16-20 Lihat John Harsanyi, “Non–Linear Social Welfare Functions”, Theory and Decision 6 (1976): 31112; Harsanyi (1977); Kern (1978); Griffin (1978); Richard B. Brandt, A Theory of the Good and the Right (Oxford: Clarendon Press, 1979), bab 16.

6

Kedua, isi utilitas deskriptif agak penting pada konteks kali ini. Jelas bahwa jika utilitas diukur untuk mencerminkan kepentingan moral, maka berharap untuk memberikan prioritas pada pendapatan bagi penderita cacat hanya akan membuat terjadinya “utilitas marginal” yang lebih tinggi pada pendapatan yang cacat, akan tetapi hal ini--seperti yang telah kita bahas-- merupakan pengertian yang sangat khusus tentang utilitas—tidak cukup mengandung isi deskriptif. Dalam pengertian ciri deskriptif, apa yang diasumsikan dalam contoh kita adalah bahwa orang cacat dapat ditolong dengan memberi mereka pendapatan, tetapi peningkatan dalam utilitasnya sebagai akibat dari peningkatan marginal pendapatan akan berkurang-dalam pengertian kriteria deskriptif yang diterima– daripada memberikan unit pendapatan tersebut pada ahli-kesenangan, ketika keduanya memiliki pendapatan yang sama sejak awal. Pada akhirnya, masalah bagi utilitarianisme dalam argumen kasus implikasi (case–implication) ini tidak tergantung pada asumsi implisit bahwa klaim pada pendapatan lebih banyak yang muncul dari yang tidak beruntung harus lebih mendominasi klaim yang muncul dari utilitas marginal yang tinggi16. Sebuah sistem yang memberikan semacam bobot pada kedua klaim tersebut masih gagal memenuhi rumusan utilitarian akan kebaikan sosial, yang meminta perhatian khusus pada klaim kedua. Kedangkalan inilah yang menyebabkan konsepsi persamaan utilitarian menjadi terbatas. Bahkan bila utilitas diterima sebagi satu-satunya basis kepentingan moral, utilitarianisme tetap masih gagal menangkap relevansi dari semua keuntungan bagi persyaratan persamaan. Kritik prinsip sebelumnya (prior– principle) dapat lebih dilengkapi dengan kritik kasus implikasi (case-implication), dengan menggunakan kurangnya perhatian utilitarian pada pertanyaan distribusional ini kecuali pada tingkat marginal sama sekali. 2. Persamaan Utilitas Total Welfarisme adalah pandangan bahwa kebaikan dari suatu keadaan dapat sepenuhnya dinilai dengan kebaikan utilitas pada keadaan tersebut17. Ini merupakan pandangan yang kurang menuntut dibandingkan dengan utilitarianisme, karena — sebagai tambahan— welfarisme memang tidak menuntut bahwa kebaikan dari utilitas harus dinilai dengan jumlah total. Dalam pengertian ini, utilitarianisme merupakan kasus spesial dari welfarisme dan memberikan sebuah ilustrasi tentang welfarisme. Kasus pembeda lainnya adalah kriteria dalam menilai kebaikan suatu keadaan dengan tingkat utilitas dari orang yang paling tidak beruntung dalam keadaan tersebut--sebuah kriteria yang sering dihubungkan dengan John Rawls. (Kecuali oleh John Rawls! Ia menggunakan barang-barang utama sosial [social primary goods] daripada utilitas sebagai indeks keuntungan, seperti yang akan kita diskusikan). Kita juga dapat menerima fungsi lain dari utilitas yang berbeda dari jumlah total atau elemen minimal.

Asumsi demikian telah ada dalam buku tulisan saya “Week Equity Axiom”, diusulkan dalam Sen (1973), tetapi asumsi ini merupakan tuntutan yang tidak perlu untuk menolak utilitarianisme. Lihat Griffin (1978) yang mengkritik “Week Equity Axiom” dalam bentuk yang tepat. 17 Lihat Sen (1977) juga buku saya berjudul “Welfarism and Utilitarianism”, Journal of Philosophy 76 (1979).

16

7

Persamaan utilitarian merupakan sebuah tipe persamaan welfaris. Tetapi ada yang lainnya lagi, misalnya persamaan utilitas total. Hal ini menarik untuk dibayangkan sebagai semacam analog mengenai pergeseran fokus utilitarianisme dari utilitas marginal ke utilitas total. Penyamaan ini, bagaimanapun, agak kurang mirip dari yang mungkin nampak pada awalnya. Pertama, ketika para ekonom seringkali menganggap marginal dan total sebagai termasuk dalam taraf diskursus yang sama, terdapat perbedaan yang penting diantara keduanya. Marginal pada dasarnya merupakan gagasan yang bertentangan dengan kenyataan (counter– factual); utilitas marginal adalah utilitas tambahan yang kemungkinan akan ditingkatkan bila orang tersebut memiliki satu lagi unit pendapatan tambahan. Ini membandingkan antara apa yang diamati dengan apa yang dianggap akan diamati bila sesuatu yang lain berbeda: dalam kasus ini bila pendapatan tersebut telah menjadi lebih besar satu unit. Total, bagaimanapun, bukan merupakan konsep yang secara inheren counter–factual; apakah total merupakan konsep yang secara inheren counter–factual atau tidak, akan tergantung pada variabel yang sedang ditotal. Pada kasus utilitas, jika hal itu dianggap sebagai fakta yang teramati, utilitas total tidak akan menjadi counter– factual. Jadi persamaan utilitas total adalah masalah observasi langsung sedangkan persamaan utilitarian sebaliknya, karena persamaan utilitarian membutuhkan hipotesa tentang apa yang terjadi pada hal-hal dibawah perbedaan keadaaan yang didalilkan. Perbedaan ini dapat dengan mudah ditelusuri pada kenyataan bahwa persamaan utilitarian sebenarnya merupakan akibat maximasi jumlah, yang dalam dirinya sendiri merupakan pengertian yang counter–factual, sedangkan persamaan utilitas total merupakan persamaan dari sejumlah besaran yang teramati secara langsung. Kedua, utilitarianisme memberikan urutan sempurna semua distribusi utilitas– sistem rangking yang mencerminkan urutan jumlah utilitas individual – tetapi sejauh yang ditentukan selama ini, persamaan utilitas total hanya menunjuk pada kasus persamaan absolut. Untuk menangani dua kasus distribusi yang tidak setara, penjelasan lain perlu ditambahkan agar bisa diranking. Sistem rangking ini dapat dilengkapi dengan banyak cara. Salah satu cara untuk melengkapinya diberikan oleh versi penulisan kamus (lexicographic) dalam aturan maximin yang dihubungkan dengan Prinsip Perbedaan (Difference Principle) Rawlsian, tetapi ditafsirkan dalam pengertian utilitas sebagai lawan dari barang-barang utama. Di sini kebaikan suatu keadaan dinilai menurut tingkat utilitas dari orang yang paling tidak beruntung pada keadaan tersebut; tetapi bila orang-orang yang paling tidak beruntung pada dua keadaan secara berturut-turut memiliki tingkat utilitas yang sama, maka keadaan tersebut akan dirangking sesuai dengan tingkat utilitas orang kedua yang paling tidak beruntung. Bila mereka sangat berhubungan erat, lalu dirangking berdasarkan tingkat utilitas dari orang ketiga yang paling tidak beruntung dan seterusnya. Selanjutnya, bila dua distribusi utilitas sesuai sama sekali pada setiap tingkatan dari yang paling tidak beruntung hingga pada yang paling beruntung, barulah kedua distribusi tersebut sama-sama baik. Mengikuti kebiasaan yang telah ditentukan dalam teori pilihan sosial, saya akan menyebutnya leximin. Bagaimana persamaan utilitas total menjadi “Leximin”? Hal ini terjadi bila dikombinasikan dengan beberapa aksioma lain, dan ternyata analisis ini sangat sejajar dengan derivasi aksiomatik akhir-akhir ini mengenai prinsip perbedaan

(Difference Principle) oleh sejumlah penulis . Pertimbangkan empat tingkat utilitas a, b, c, dan d, dalam urutan besaran yang menurun. Kita dapat menyatakan bahwa dalam arti yang sangat jelas pasangan titik ekstrem (a, d) menyajikan ketimpangan yang lebih besar dibandingkan dengan titik pasangan menengah (b, c). Perhatikan bahwa ini merupakan perbandingan ordinal murni, berdasarkan rangking saja dan besaran pasti a, b, c, dan d sama sekali tidak merubah perbandingan yang dipersoalkan. Bila seseorang hanya berpatokan pada persamaan, maka akan dapat diargumentasikan bahwa (b, c) lebih superior—atau setidaknya tidak inferior-daripada (a, b). Persyaratan ini mungkin dilihat sebagai versi kuat memilih persamaan distribusi utilitas, dan mungkin disebut sebagai “Preferensi Persamaan Utilitas”. Ada kemungkinan untuk menggabungkan hal ini dengan sebuah aksioma yang diperlihatkan Patrick Suppes yang menangkap gagasan dominasi satu distribusi utilitas terhadap lainnya, dalam arti masing-masing elemen dari sebuah distribusi paling tidak menjadi sebesar elemen yang mirip pada distribusi lainnya19. Dalam kasus dua orang, hal ini mensyaratkan bahwa keadaan x harus paling tidak dianggap sebaik y, baik ketika setiap orang pada keadaan x memiliki setidaknya utilitas sebagaimana dirinya sendiri pada keadaan y, maupun ketika setiap orang pada keadaan x memiliki utilitas setidaknya sebanyak orang lain pada keadaan y. Jika, sebagai tambahan, salah satunya lebih terbatas, tentu saja x dapat dinyatakan jauh lebih baik (dan bukan paling tidak baik belaka). Bila prinsip Suppes dan ‘Preferensi Persamaan Utilitas’ ini dikombinasikan, maka kita didorong menuju Leximin. Sesungguhnya, Leximin dapat sepenuhnya diturunkan dari dua prinsip ini dengan syarat bahwa pendekatan harus memberikan urutan yang sempurna dari semua kemungkinan keadaan tanpa memperdulikan apapun yang mungkin terjadi pada utilitas individu yang dapat diperbandingkan secara interpersonal (disebut ‘domain tanpa batas’ [unrestricted domain]) dan bahwa ranking dari dua keadaan harus tergantung pada informasi utilitas yang berkaitan hanya dengan keadaan tersebut (disebut ‘kebebasan’ [independence]). Sejauh persyaratan yang berbeda dari preferensi persamaan utilitas (yakni prinsip Suppes, domain tanpa batas dan kebebasan) dianggap dapat diterima,--dan persyaratan tersebut memang telah banyak dipergunakan dalam literatur pilihan sosial (social choice literature)-- leximin dapat dilihat sebagai kecocokan alamiah tentang pemberian prioritas terhadap konsepsi persamaan yang berfokus pada utilitas total. Akan tetapi, kiranya jelas bahwa leximin sangat mudah dikritik dari perspektif prinsip sebelumnya (prior–principle perspective) maupun dari perspektif implikasi kasus (case–implication prespective). Begitu utilitarianisme tidak
18

18

8

Lihat P.J. Hammond, “Equity, Arrow’s Conditions and Rawls’ Difference Principle”, Econometrica 44 (1976); S. Strasnick, “Social Choice Theory and the Derivation of Rawls’ Difference Principle”, Journal of Philosophy 73 (1976); C. d’Aspremont and L. Gevers, “Equity and Informational basis of Collective Choice,” Review of Economic Studies 44 (1977); K.J. Arrow, “Extended Sympathy and the Possibility of Social Choice, ” American Economic Review 67 (1977); A.K. Sen, “On Weights and Measures: Informational Constraints in Social Welfare Analysis,” Econometrica 45 (1977); R. Deschamps and L. Gevers, “Leximin and Utilitarian Rules: A Joint Characterization,” Jurnal of Economic Theory (1978); K.W.S. Roberts, “Possibility Theorems with Interpersonally Comparable Welfare Levels,” Review of Economic Studies 47 (1980); P.J. Hammond, “Two Person Equity,” Econometrica 47 (1979). 19 P. Suppes, “Some Formal Models of Grading Principles,”Syntheses 6 (1966).

9

memperhatikan desakan klaim seseorang yang muncul dari kerugian orang lain, leximin mengabaikan klaim yang muncul dari intensitas kebutuhan seseorang. Ciri ordinal yang ditunjuk sambil menyajikan aksioma preferensi persamaan utilitas membuat pendekatan ini tidak sensitif terhadap besaran dari potensi keuntungan dan kerugian utilitas. Sementara dalam kritik utilitarianisme yang sudah saya bahas di muka, saya tidak setuju dengan memperlakukan potensi keuntungan dan kerugian ini sebagai satu-satunya basis pertimbangan moral, hal ini tentu saja bukan berarti tidak memiliki relevansi moral sama sekali. Lihat perbandingan (a, d) dalam hubungannya dengan (b, c) yang sudah dibahas di muka dan biarkan (b, c) mewakili (3, 2). Preferensi persamaan utilitas akan menegaskan superioritas (3,2) atas (10, 1) dan juga (y, 1). Memang, hal ini sama sekali tidak akan membedakan antara dua kasus. Tidak adanya perhatian terhadap pertanyaan “seberapa besar” inilah yang menyebabkan leximin agak mudah dikritik baik dengan menunjukkan kegagalannya dalam mematuhi ‘prinsip sebelumnya’ (prior–principle) seperti “memberikan bobot yang sama pada kepentingan yang sama dari semua pihak” maupun dengan memerinci implikasinya secara agak cermat dalam kasus yang khusus. Selain tidakpeduli dengan pertanyaan “seberapa besar”, leximin juga tidak terlalu tertarik dengan pertanyaan “seberapa banyak”—tidak memperhatikan sama sekali jumlah orang yang kepentingannya dikesampingkan dalam mengejar kepentingan yang paling tidak diuntungkan. Posisi yang paling tidak diuntungkan memegang seluruh keputusan, dan tidak menjadi masalah apakah hal ini dilakukan dengan cara yang berlawanan terhadap kepentingan salah seorang yang lain, atau terhadap jutaan atau milyaran orang yang lain. Kadang leximin diklaim tidak akan menjadi kriteria ekstrem jika dapat dimodifikasikan sehingga masalahketidakmampuan berhitung ini dapat dihindari, dan jika kepentingan posisi seseorang yang paling tidak beruntung diberikan prioritas daripada kepentingan seorang yang benar-benar beruntung, tetapi tidak harus bertentangan dengan kepentingan lebih dari satu posisi yang paling beruntung. Dalam kenyataannya, orang dapat menentukan versi leximin yang lebih lunak, yang dapat dinamakan leximin 2, yang berbentuk penerapan prinsip-prinsip leximin jika semua orang selain dua tidak peduli terhadap alternatif-alternatif yang diberikan tetapi bukan sebaliknya. Leximin 2, sebagai sebuah kompromi, masih tidak peduli dengan pertanyaan “seberapa besar” pada besaran utilitas dari dua orang yang bukan tidak peduli, tetapi tidak perlu dikaburkan dengan pertanyaan “seberapa banyak” dalam hubungannya dengan jumlah orang: prioritas berlaku pada satu orang justru berkaitan dengan orang lain20. Yang menarik, masalah konsistensi ikut terlibat di sini. Dapat dibuktikan bahwa mengingat kondisi yang beraturan, persisnya, domain tanpa batas dan kebebasan, leximin-2 secara logis mengandung leximin pada umumnya21. Yaitu, mengingat kondisi yang beraturan ini, tidak ada cara untuk mempertahankan kepekaan moral sejumlah orang di tiap-tiap sisi dengan memilih persyaratan leximin-2 yang terbatas, tanpa meninggalkan sama sekali leximin itu sendiri.
20

Leximin dan maximin membahas konflik antara prioritas posisional, yakni antara peringkat (seperti “posisi terburuk”, “posisi terburuk kedua,” dst,) dan bukan dengan prioritas interpersonal. Jika posisi memiliki kesamaan dengan orang (misalnya, orang yang sama dirugikan dalam setiap keadaan), lalu konflik posisional diterjemahkan secara langsung sebagai konflik personal. 21 Theorem 8, Sen (1977). Lihat pula Hammond (1979) sebagai perluasan dari hasil ini.

10

Kelihatannya, ketidakpedulian pada pernyataan seberapa besar berkenaan dengan utilitas mengimplikasikan ketidakpedulian pada pertanyaan seberapa banyak berkenaan dengan jumlah orang pada sisi yang berbeda. Ketidakmampuan berhitung seseorang menyebabkan ketidakmampuan berhitung yang lain. Mengingat hakikat kritik persamaan utilitarian dan persamaan utilitas total secara berturut-turut ini, kiranya wajar untuk mempertanyakan apakah kombinasi keduanya tidak harus memenuhi kedua rangkain keberatan. Bila utilitarianisme diserang karena ketidakpeduliannya terhadap ketimpangan distribusi utilitas dan leximin dikritik karena ketiadaan ketertarikan pada besaran keuntungan dan kerugian utilitas, dan bahkan menyangkut jumlah, maka apakah tidak akan menjadi jalan keluar yang tepat untuk memilih campuran dari keduanya? Pada titik inilah pertanyaan yang lama tertunda tentang hubungan antara utilitas dan arti penting moral menjadi krusial. Meskipun utilitarianisme dan leximin berbeda secara tajam satu dengan lainnya dalam penggunaan yang secara berturut-turut mereka buat berkenaan dengan informasi utilitas, keduanya sama-sama menunjukkan perhatian ekslusif pada data utilitas. Jika pertimbangan non–utilitas memiliki peran tertentu dalam masing-masing pendekatan, hal ini muncul dari bagian yang mereka mainkan dalam penentuan utilitas, atau mungkin sebagai pengganti informasi utilitas ketika tidak ada data utilitas yang memadai. Kombinasi utilitarianisme dan leximin masih akan terbatas pada kotak Welfarisme dan masih belum jelas apakah welfarisme sebagai pendekatan umum dengan sendirinya cukup memadai. Salah satu aspek kebodohan welfarisme dibahas dengan jelas oleh John Rawls. Dalam menghitung keseimbangan terbesar atas kepuasan, tidaklah dipersoalkan untuk apa keinginan, kecuali secara tidak langsung. Kita harus merancang institusi sedemikian rupa sehingga mendapatkan jumlah kepuasaan terbesar; kita tidak mengajukan pertanyaan tentang kualitas atau sumbernya, tetapi hanya mempertanyakan bagaimana institusi yang memuaskan akan mempengaruhi keseluruhan kesejahteraan…jadi jika manusia merasa senang dalam membedakan satu orang dengan yang lainnya, dalam mengurangi kebebasan orang lain yang merupakan sarana meningkatkan harga diri mereka, maka kepuasan keinginan ini harus ditimbang dalam deliberasi (pertimbangan serius) kita sesuai dengan intensitasnya, atau sesuatu yang lain, bersama dengan keinginan yang lain… Dalam keadilan sebagai fairness, di pihak lain, orang menerima sebelumnya prinsip kebebasan yang sama, dan mereka menerimanya tanpa pengetahuan tentang tujuan khusus mereka…Seorang individu yang menemukan bahwa ia menikmati melihat orang dalam posisi kebebasan yang semakin berkurang memahami bahwa ia tidak memiliki klaim apapun pada kenikmatan ini. Kenikmatan yang ia terima dari kehilangan orang lain sudah dengan sendirinya salah; kepuasan ini akan mengharuskan pelanggaran atas sebuah prinsip yang mestinya ia sepakati dalam posisi asali22. Sangat mudah dilihat bahwa argumentasi ini tidak semata-mata menentang utilitarianisme, tetapi menentang ketidakcukupan informasi utilitas untuk pertimbangan moral suatu keadaan, dan dengan demikian merupakan serangan
22

Rawls (1971), pp. 30-31

11

terhadap welfarianisme secara umum. Kedua, jelas bahwa sebagai kritik atas welfarisme--dan a fortiori sebagai kritik atas utilitarianisme, argumentasinya menggunakan prinsip yang kuat secara tidak perlu. Jika masalahnya adalah bahwa kesenangan yang diambil dari “penderitaan orang lain” dalam dirinya sendiri tidak dianggap sebagai sesuatu yang salah, tetapi hanya sekedar tidak dianggap, penolakan atas welfarisme akan tetap muncul. Lagipula, bahkan seandainya kesenangan demikian dianggap bernilai, tapi kurang bernilai dibandingkan dengan kesenangan yang muncul dari sumber lain (misalnya menikmati makanan, pekerjaan atau waktu senggang) welfarisme akan tetap ditolak. Masalahnya, seperti yang dicatat John Stuart Mill, adalah karena kurangnya “keseimbangan” (parity) antara satu sumber dengan lainnya23. Welfarisme membutuhkan dukungan bukan hanya dari intuisi yang diterima luas bahwa kesenangan apapun memiliki semacam nilai-dan orang akan menjadi sedikit tidak suka dengan kesenangan yang dirasakan orang lain untuk berbeda pendapat dengan kesenangan ini--, tetapi juga proposisi yang lebih meragukan bahwa kesenangan ditimbang secara relatif hanya menurut intensitas masing-masing, mengesampingkan sumber kesenangan dan aktivitas yang menyertai. Akhirnya argumentasi Rawls mengambil bentuk pertimbangan pada prinsip sebelumnya (prior–principle) untuk menyamakan kebenaran moral dengan penerimaan yang hati-hati dalam posisi asali. Bahkan mereka yang tidak menerima prinsip sebelumnya dapat menolak kaum welfaris tanpa perhitungan yang berbasabasi atas utilitas, apapun informasi lainnya dengan rujukan prinsip sebelumnya (prior-principle) yang lain, misalnya ketetapan nilai kebebasan. Relevansi informasi non–utilitas terhadap pertimbangan moral merupakan masalah pokok yang terkait dalam memperdebatkan welfarisme. Pertimbangan kaum Libertarian menunjuk ke arah kelas informasi non–utilitas tertentu dan saya telah membantahnya di tempat lain bahwa hal ini mungkin membutuhkan penolakan atas apa yang disebut prinsip Pareto berdasarkan dominasi utilitas24. Tetapi juga ada tipe lain informasi non–utilitas yang telah dianggap secara instrinsik penting. Tim Scanlon belakangan ini telah membahas kontras antara “urgensi” dan utilitas (atau intensitas preferensi). Ia juga membantah “kriteria kesejahteraan yang sesungguhnya kita terapkan pada pertimbangan moral adalah objektif” dan tingkat kesejahteraan seseorang dianggap menjadi “bebas dari kepentingan dan selera orang itu”25. Pertimbangan moral ini dengan demikian bisa bertentangan dengan moralitas utilitarian– dan secara umum lagi (Scanlon dapat menyatakan) dengan moralitas kaum welfaris- tidak peduli apakah utilitas diartikan sebagai kesenangan, atau sebagaimana akhir-akhir ini semakin umum, sebagai pemenuhan hasrat. Akan tetapi, mengakui relevansi faktor-faktor objektif tidak mensyaratkan bahwa kesejahteraan dianggap bebas dari selera, dan kategori Scanlon terlalu murni. Misalnya, tidak adanya ‘keseimbangan’ (parity) antara utilitas dari tindakan yang mempertimbangkan diri sendiri dan dari tindakan yang mempertimbangkan orang lain akan mengatasi utilitas sebagai indeks kesejahteraan dan bisa fatal bagi welfarisme, tapi perbedaan ini tentu saja tidak bebas dari selera dan ciri-ciri objektif. Pertimbangan “objektif“ dapat dihitung bersama selera seseorang. Yang diperlukan adalah penolakan bahwa kesejahteraan seseorang ditentukan secara eksklusif oleh
23 24

John Stuart Mill, On Liberty (1859), p. 140 Sen (1970), khususnya bab 6. Juga Sen (1979) 25 T.M. Scanlon (1975), pp. 658-59

12

utilitasnya saja. Jika pertimbangan semacam itu memperhatikan kesenangan dan pemenuhan hasrat seseorang, dan faktor objektif tertentu, misalnya apakah orang itu lapar, kedinginan, atau tertekan, rumusan yang dihasilkan masih tetap saja non welfaris. Welfarisme adalah posisi paling ekstrim dan penolakannya dapat mengambil berbagai bentuk – murni dan campuran – sejauh pengabaian informassi non utilitas total dihindari. Kedua, jelas pula bahwa pengertian tentang urgensi tidak perlu terjadi hanya dengan faktor penentu kesejahteraan personal, betapapun luasnya penerimaan atas pandangan ini. Misalnya, klaim bahwa seseorang tidak boleh dieksploitasi di tempat kerjanya tidak didasarkan pada penciptaan eksploitasi sebagai parameter tambahan dalam rangka mengkhususkan kesejahteraan diatas faktor-faktor seperti pendapatan (income) dan usaha, tetapi didasarkan pada pandangan moral bahwa setiap orang pantas mendapatkan apa yang ia kerjakan menurut salah satu karakteristik produksi. Mirip dengan hal ini, urgensi yang diturunkan dari prinsip seperti “bayaran yang sesuai dengan pekerjaan” secara langsung menyerang diskriminasi tanpa harus mendefinisikan kembali pengertian kesejahteraan personal guna memperhatikan diskriminasi semacam itu. Seseorang bisa saja mengatakan: “wanita harus dibayar sebanyak yang dibayarkan pada pekerjaan yang dilakukan laki-laki, bukan karena bila tidak demikian ia akan memiliki tingkat kesejahteraan lebih rendah daripada orang lain, tetapi karena ia melakukan pekerjaan yang sama dengan pria tersebut, jadi kenapa ia dibayar agak kurang? Klaim moral ini– berdasarkan konsepsi persamaan non-welfaris– memiliki peranan penting dalam pergerakan sosial dan agaknya sulit untuk mendukung hipotesis bahwa klaim diatas murni “instrumental”, sama sekali dibenarkan oleh dampak tidak langsungnya pada pemenuhan kaum welfaris atau tujuan lainnya yang didasarkan pada kesejahteraan. Jadi pemisahan urgensi dari utilitas dapat muncul dari dua sumber berbeda. Pertama, memisahkan pengertian kesejahteraan personal dari utilitas dan kedua, menjadikan urgensi bukan hanya sebagai fungsi kesejahteraan. Akan tetapi pada saat bersamaan, yang pertama tidak mensyaratkan bahwa kesejahteraan bebas dari utilitas dan yang kedua tidak membutuhkan pengertian urgensi yang bebas dari kesejahteraan personal. Welfarisme merupakan posisi paling murni dan harus menghindari kontaminasi dari kedua sumber di atas. 3. Persamaan Rawlsian “Dua prinsip keadilan” Rawlsian menggolongkan kebutuhan tentang persamaan dalam pengertian—apa yang disebutnya-- “barang-barang sosial utama” (primary social goods)26. Barang-barang sosial utama adalah “hal-hal yang diinginkan oleh setiap manusia yang rasional”, termasuk “hak, kebebasan dan kesempatan, pendapatan dan kekayaan, dan basis sosial dari kehormatan diri.” Kebebasan dasar dipisahkan dari prioritas pemilikan atas barang-brang utama yang lain, dan karena itu prioritas diberikan pada prinsip kebebasan yang menyatakan bahwa “setiap orang memiliki hak sama terhadap kebebasan dasar paling hakiki sesuai dengan kebebasan serupa bagi yang lain.” Prinsip kedua melengkapi kebebasan ini, menutunt efesiensi dan persamaan, menilai keuntungan dalam pengertian indeks barang-barang utama. Ketimpangan dikutuk kecuali jika hal ini
26

Rawls (1971), pp. 60-65

13

bekerja demi keuntungan setiap orang. Prinsip kedua ini memasukkan “Prinsip Perbedaan” (the difference principle) yang memberikan prioritas untuk yang palin tidak diuntungkan mengejar kepentingannya. Dan hal ini akan mengarahkan pada maximin atau leximin, yang ditetapkan tidak pada utilitas individu tetapi pada indeks barang-barang utama. Tetapi mengingat prioritas prinsip kebebasan, tidak boleh ada pertukaran antara kebebasan dasar, ekonomi dan perolehan sosial. Herbert Hart secara persuasif telah membantah argumentasi Rawls tentang prioritas kebebasan27 dengan sebuah pertanyaan yang tidak akan saya bahas pada kuliah kali ini. Masalah yang krusial untuk dibahas adalah konsentrasi pada sekumpulan barang-barang sosial utama ini. Beberapa kesulitan welfarisme yang pernah saya coba bahas tidak akan diterapkan untuk memperoleh persamaan Rawlsian. Kriteria objektif kesejahteraan dapat secara langsung diakomodir dalam indeks barang-barang utama. Hal ini juga berlaku untuk penolakan Mill tentang keseimbangan (parity) antara kesenangan dari berbagai sumber, karena sumbersumber tersebut dapat dibedakan berdasarkan sifat barang-barangnya. Selanjutnya, meskipun prinsip perbedaan dianggap egaliter seperti halnya leximin, prinsip ini menghindari ciri leximin yang banyak dikritik dengan memberi lebih banyak pendapatan pada orang-orang yang sulit dipuaskan dan yang harus dibanjiri Champagne dan dipendam dalam Caviar untuk membawa mereka pada level utilitas normal yang bagi saya dan anda cukup didapat dari sandwich dan bir. Karena keuntungan dinilai sama sekali bukan dalam arti utilitas, melainkan dengan indeks barang-barang utama, selera yang mahal tidak lagi memberikan dasar untuk mendapatkan pendapatan yang lebih banyak. Rawl menjustifikasi hal ini dalam pengertian tanggung jawab orang perorang atas tujuannya sendiri. Tapi bagaimana dengan orang yang cacat dengan kerugian utilitas yang kita bahas sebelumnya? Leximin akan memberinya lebih banyak pendapatan pada masalah distribusi murni, sedangkan utilitarianisme akan memberinya pendapatan kurang. Prinsip Perbedaan tidak akan menambah atau mengurangi pendapatannya berdasarkan keadaannya yang cacat. Keuntungan utilitas orang yang cacat akan tidak relevan untuk Prinsip Perbedaan. Ini merupakan hal yang nampak sulit, dan memang demikianlah kenyataannya. Rawl menjustifikasi hal ini dengan menunjukkan bahwa “kasus-kasus sulit” dapat “mengacaukan persepsi moral kita dengan membawa kita pada pemikiran tentang orang yang jauh jaraknya dari diri kita yang nasibnya membangkitkan keprihatinan dan kecemasan”28. Hal ini mungkin terjadi, tetapi kasus-kasus yang sulit benar-benar ada, dan menganggap penyandang cacat, atau kebutuhan perawatan khusus, atau cacat mental dan fisik, sebagai tidak relevan secara moral, atau mengesampingkan mereka karena kekhawatiran akan membuat kesalahan, mungkin menjamin bahwa kesalahan sebaliknya akan dilakukan. Dan masalahnya tidak berhenti pada kasus yang sulit. Pendekatan barangbarang utama nampaknya kurang memperhatikan perbedaan di antara manusia. Dalam konteks menilai persamaan utilitarian, telah dinyatakan bahwa jika manusia secara fundamental serupa dalam hal fungsi utilitas, maka perhatian utilitarian dengan memaksimalkan jumlah total utilitas akan mendorong kita secara serempak
H.L.A. Hart, “Rawls on Libery and its Priority,” University of Chicago Law Review 40 (1973); dicetak ulang dalam N. Daniels, (ed)., Reading Rawls (Oxford : Blacwell, 1975). 28 John Rawls, “A Kantian Concept of Equality,” Cambridge Review (February 1975), p. 96.
27

14

ke arah persamaan tingkat utilitas. Jadi utilitarianisme dapat dibuat jauh lebih menarik jika orang memang sungguh-sungguh serupa. Komentar yang sama dapat dibuat tentang Prinsip Perbedaan Rawlsian. Jika orang pada dasarnya serupa, maka indeks barang-barang utama mungkin bisa menjadi cara yang cukup baik untuk menilai keuntungan. Tetapi, dalam kenyatannya, orang nampak memiliki kebutuhan yang sangat berbeda, yang berubah karena kesehatan, usia lanjut, kondisi musim, lokasi, kondisi kerja, temperamen, dan bahkan ukuran tumbuh (mempengaruhi kebutuhan makan dan pakaian). Jadi apa yang terlibat bukan hanya sekedar mengabaikan beberapa kasus yang sulit, tetapi mengabaikan banyak perbedaan yang nyata dan bersifat meluas. Menilai keuntungan hanya dalam arti barang-barang utama mengarah pada moralitas yang sebagian buta. Sesungguhnya, dapat dinyatakan bahwa dalam kenyataannya terdapat elemen “pemujaan” yang berlebihan dalam kerangka pemikiran Rawlsian. Rawls menganggap barang-barang utama sebagai perwujudan dari keuntungan, bukan menganggap keuntungan sebagai hubungan antar orang dan barang. Utilitarianisme, atau leximin atau--pada umumnya-- welfarisme tidak mempunyai “pemujaan” ini karena utilitas adalah cerminan dari satu tipe hubungan antara orang dan barang. Misalnya, pendapatan dan kekayaan tidak dinilai oleh utilitarianisme sebagai unit fisik, tetapi dalam pengertian kapasitasnya untuk menciptakan kebahagiaan manusia atau untuk memuaskan keinginan mereka. Bahkan seandainya utilitas tidak dianggap sehingga fokus yang tepat untuk hubungan orang dan barang, maka untuk memiliki kerangka pemikiran sepenuhnya yang berorientasi pada barang memberikan cara yang aneh dalam menilai keuntungan. Dapat juga dinyatakan bahwa sementara utilitas dalam bentuk kebahagiaan atau pemenuhan keinginan mungkin menjadi panduan yang tidak memadai untuk urgensi, kerangka pemikiran Rawlsian menegaskan bahwa utilitas tidak relevan bagi urgensi. Pembedaan ini telah dibahas sebelumnya dalam konteks menilai wefarisme, dan telah ditunjukkan bahwa penolakan terhadap welfarisme tidak perlu membawa kita pada kesimpulan bahwa utilitas tidak diberikan peranan sama sekali. Bahwa kepentingan seseorang tidak berhubungan secara langsung dengan kebahagiaan atau pemenuhan keinginannya nampaknya sulit untuk dibenarkan. Bahkan dalam arti prinsip sebelumnya dari penerimaan secara hati-hati dalam “posisi asali”, sama sekali tidak jelas mengapa orang dalam keadaan primodial harus dianggap sedemikian tidak peduli pada kesenangan dan penderitaan dalam menjalani posisi tertentu, atau jika mereka tidak demikian, kenapa perhatian mereka terhadap kesenangan dan penderitaan ini harus dianggap sebagai tidak relevan secara moral. 4. Persamaan Kemampuan Dasar Hal itu membawa pada pertanyaan selanjutnya: tidak bisakah kita mengembangkan sebuah teori persamaan dengan dasar perpaduan (kombinasi) dari persamaan Rawlsian dan persamaan dari dua konsepsi kaum welfaris, dengan beberapa pertukaran di antara mereka? Saya sekarang ingin menyatakan secara ringkas kenapa saya percaya kombinasi ini juga mungkin terbukti tidak banyak membantu. Hal ini tentu saja dapat dengan mudah ditegaskan jika klaim yang muncul dari pertimbangan selain kesejahteraan diakui sebagai absah. Noneksploitasi atau non diskriminasi membutuhkan penggunaan informasi yang tidak

15

sepenuhnya ditangkap oleh utilitas atau oleh barang-barang utama. Konsepsi hak pemilikan (entitlements) yang lain juga dapat diperkenalkan untuk mengatasi pemberian perhatian hanya pada kesejahteraan personal. Namun, dalam uraian berikut ini saya tidak akan memperkenalkan konsep tersebut. Pokok pendapat saya adalah bahwa konsep kebutuhan bahkan tidak mendapatkan ulasan yang memadai melalui informasi barang-barang utama dan utilitas. Saya akan menggunakan argumen kasus implikasi (case-implication arguments). Pertimbangkan kembali orang yang cacat dengan ketidakberuntungan utilitas marginal. Kita telah melihat utilitarianisme tidak akan melakukan apapun untuk orang; kenyataannya utilitarianisme memberinya pendapatan kurang daripada yang didapat oleh orang sehat secara fisik. Prinsip Perbedaan juga tidak menolongnya; prinsip perbedaan akan membiarkannya merana sendirian. Akan tetapi, orang cacat itu mendapatkan perlakuan prefensial dengan leximin, dan secara umum, dengan kriteria yang memperkuat persamaan total. Ia mendapatkan perlakuan ini karena rendahnya tingkat utilitas yang dimiliki. Tetapi sekarang anggap saja ia tidak dirugikan dalam arti utilitas, meskipun secara fisik ia memiliki rintangan karena ciri-ciri utilitas tertentu. Hal ini dapat terjadi karena ia mempunyai watak selalu bergembira. Atau karena ia memiliki tingkat aspirasi rendah dan hatinya berjingkrak jika melihat pelangi di langit. Atau karena ia agamis dan merasa bahwa akan mendapat ganjaran dalam kehidupan setelah mati, atau dengan riang menerima apa yang dianggapnya sebagai hukuman yang adil untuk kelakuan buruk dalam inkarnasi di masa lalu. Poin pentingnya, meskipun ia tidak diuntungkan dari utilitas marginal, ia tidak lagi mengalami deprivasi utilitas total. Sekarang bahkan leximin atau pengertian persamaan lainnya yang terfokus pada utilitas total tidak akan berbuat banyak untuk dirinya. Jika kita masih berpikir bahwa ia memiliki kebutuhan sebagaimana seorang yang cacat, yang harus dipuaskan, maka basis klaim itu jelas bersandar tidak pada utilitas marginal yang tinggi, tidak juga pada utilitas total yang rendah, dan tentu saja tidak pada deprivasi dalam pengertian barang-barang utama. Dapat dinyatakan bahwa apa yang hilang dalam semua kerangka pemikiran ini adalah sejumlah pengertian tentang “kemampuan dasar” (basic capabilities); seseorang menjadi mampu melakukan hal-hal dasar tertentu. Kemampuan untuk berpindah adalah relevan di sini, tetapi orang dapat mempertimbangkan lainnya, misalnya: kemampuan memenuhi kebutuhan gizi, kebutuhan pakaian dan perumahan (pangan, sandang dan papan) dan kemampuan berpartisiasi dalam kehidupan sosial masyarakat. Pengertian urgensi yang terkait dengan kemampuan ini tidak sepenuhnya ditangkap oleh utilitas atau barang-barang utama, atau gabungan dari keduanya. Barang-barang utama terbebani oleh rintangan ‘pemujaan’ (fetihist) dengan memperhatikan barang-barang, dan meskipun daftar barang ditentukan dengan cara umum dan inklusif, mencakup hak, kebebasan, kesempatan, kekayaan, pendapatan dan basis sosial kehormatan diri, ketentuan ini masih menaruh perhatian pada hal-hal yang baik, daripada apa yang dilakukan hal-hal yang baik ini pada manusia. Utilitas, di pihak lain, menaruh perhatian pada apa yang dilakukan hal-hal ini pada manusia, tetapi menggunakan sebuah matrik yang memusatkan perhatian bukan pada kemampuan seseorang, tetapi pada reaksi mentalnya. Masih tetap terdapat sesuatu yang hilang pada kombinasi daftar barang-barang utama dan utilitas. Jika dikatakan bahwa sumberdaya harus dicurahkan untuk menghilangkan

16

atau mengurangi secara substansial rintangan dari penderita cacat, walaupun di sini tidak ada argumen utilitas marginal (karena mahal), dan tidak ada argumen utilitas total (karena ia sangat terpuaskan), dan tidak ada kekurangan barang-barang utama (karena ia memiliki barang-barang sebagaimana orang lain), masalahnya pasti terletak pada sesuatu yang lain. Saya percaya bahwa apa yang menjadi persoalan adalah interpretasi tentang kebutuhan dalam bentuk kemampuan dasar. Interpretasi tentang kebutuhan dan kepentingan ini seringkali implisit dalam menuntut persamaan. Tipe persamaan inilah yang saya sebut sebagai “persamaan kemampuan dasar” (basic capability equality). Fokus pada kemampuan dasar dapat dilihat sebagai perluasan alami dari perhatian Rawl terhadap barang-barang utama, dengan menggeser perhatian dari barang-barang menjadi apa yang dilakukan barang-barang pada manusia. Rawls sendiri terdorong menilai keuntungan dalam arti barang-barang utama dengan merujuk pada kemampuan, walaupun kriterianya berujung dengan fokus pada barang-barang seperti: pada pendapatan daripada apa yang dilakukan dengan pendapatan, pada “basis sosial kehormatan diri” daripada kehormatan diri itu sendiri, dan sebagainya. Jika manusia sangat serupa satu sama lain, hal ini bukan masalah besar, tetapi ada bukti bahwa konversi dari barang-barang menjadi kemampuan berbeda secara substansial dari satu orang ke orang lainnya, dan persamaan dalam hal barang-barang mungkin masih jauh dari persamaan dalam hal kemampuan. Tentu saja, pengertian “persamaan kemampuan dasar” memiliki banyak kesulitan. Secara khusus masalah pengindekan (indexing) bundel kemampuan dasar merupakan masalah yang serius. Masalah ini, bagaimanapun, dapat diperbandingkan dengan pengindekan bundel barang-barang utama dalam konteks persamaan Rawlsian. Tidak pada tempatnya di sini untuk masuk ke dalam masalah teknis yang terlibat dalam pengindekan di atas, tetapi jelaslah bahwa apapun urutan parsial yang dapat dilakukan atas dasar keseragaman preferensi personal harus dilengkapi dengan konvensi tertentu yang telah mapan dari arti penting relatifnya. Ide tentang kepentingan relatif ini tentu saja tergantung pada sifat masyarakat. Pengertian tentang persamaan kemampuan dasar ini sangat umum, tetapi aplikasinya pasti tergantung pada kebudayaan (culture-dependent), khususnya dalam menilai perbedaan kemampuan. Sementara persamaan Rawlsian mengandung ciri sebagai gabungan antara ketergantungan-budaya dan pemujaan (fetishist), persamaan kemampuan dasar menghindari pemujaan, tapi tetap mempertahankan ketergantungan-budaya. Sesungguhnya, persamaan kemampuan dasar pada dasarnya dapat dilihat sebagai perluasan dari pendekatan Rawlsian dalam arah yang tidakmengandung pemujaan (non-fetishist). 5. Komentar Kesimpulan Saya mengakhiri kuliah ini dengan tiga komentar akhir. Pertama, bukanlah pendapat saya bahwa persamaan kemampuan dasar dapat menjadi satu-satunya petunjuk bagi kebaikan moral. Salah satu sebabnya adalah moralitas tidak hanya berhubungan dengan persamaan. Sebab yang lain, meskipun saya berpendirian bahwa persamaan kemampuan dasar memiliki keuntungan tertentu yang jelas atas

17

tipe persamaan lainnya, saya tidak menyatakan bahwa tipe yang lain tidak relevan secara moral. Persamaan kemampuan dasar merupakan petunjuk parsial pada bagian dari kebaikan moral yang diasosiasikan dengan ide persamaan. Saya telah mencoba mengajukan pandangan bahwa sebagai petunjuk parsial hal ini memiliki kebajikan yang tidak dimiliki oleh ciri-ciri persamaan lainnya. Kedua, indeks kemampuan dasar, seperti halnya utilitas, dapat dipergunakan dengan berbagai cara. Persamaan kemampuan dasar sesuai dengan persamaan utilitas total, dan dapat diperluas pada arah yang berbeda, misalnya, pada leximin kemampuan dasar. Di pihak lain, indeks dapat juga dipergunakan dengan cara yang sama seperti halnya utilitarianisme, dengan menilai kekuatan klaim dalam arti tambahan kontribusi untuk meningkatkan nilai indeks tersebut. Titik tolak pentingnya adalah dalam memusatkan perhatian pada besaran (magnitude) yang berbeda dengan utilitas dan juga dengan indeks barang-barang utama. Dimensi baru dapat digunakan dengan cara yang berbeda, dan dengan dimensi baru ini persamaan kemampuan dasar merupakan satu-satunya. Terakhir, sebagian besar kuliah ini menaruh perhatian pada penolakan klaim persamaan utilitarian, persamaan utilitas total, dan persamaan Rawlsian untuk memberikan basis yang mencukupi bagi aspek persamaan dari moralitas--dan memang sebagian dari kuliah ini menaruh perhatian pada kebutuhan daripada kualitas kepentingan (deserts). Saya telah menyatakan bahwa tidak ada satupun dari ketiga teori ini mencukupi, begitu pula kombinasi ketiganya. Inilah tesis utama saya. Saya juga telah membuat klaim konstruktif bahwa kesenjangan ini dapat dipersempit dengan gagasan persamaan kemampuan dasar, dan secara umum dengan menggunakan kemampuan dasar sebagai dimensi yang relevan secara moral yang membawa kita mengatasi utilitas dan barang-barang utama. Saya harus mengakhiri kuliah ini dengan menunjukkan bahwa validitas dari tesis utama tidak tergantung pada penerimaan klaim konstruktif ini. ***

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->