Jangan Pernah Berhenti!

By harris | Sep 9, 2008 | 397 views Sejumlah sejarahwan yakin, bahwa pidato Winston Churchill yang paling berpengaruh adalah ketika beliau berpidato di wisuda Universitas Oxford. Churchill mempersiapkan pidato ini selama berjam-jam. Dan ketika saat pidatonya tiba, Churchill hanya mengucapkan tiga kata : ‘never give up’ (jangan pernah berhenti). Sejenak saya merasa ini biasa-biasa saja. Tetapi ketika ada orang yang bertanya ke saya, bagaimana saya bisa berpresentasi di depan publik dengan cara yang demikian menguasai, saya teringat lagi pidato Churchill ini. Banyak orang berfikir kalau saya bisa berbicara di depan publik seperti sekarang sudah sejak awal. Tentu saja semua itu tidak benar. Awalnya, saya adalah seorang pemalu, mudah tersinggung, takut bergaul dan minder. Dan ketika memulai profesi pembicara publik, sering sekali saya dihina, dilecehkan dan direndahkan orang. Dari lafal ‘T’ yang tidak pernah lempeng, kaki seperti cacing kepanasan, tidak bisa membuat orang tertawa, pembicaraan yang terlalu teoritis, istilah-istilah canggih yang tidak perlu, serta segudang kelemahan lainnya. Tidak bisa tidur beberapa minggu, stres atau jatuh sakit, itu sudah biasa. Pernah bahkan oleh murid dianjurkan agar saya dipecat saja menjadi dosen di tempat saya mengajar. Pengalaman serupa juga pernah dialami oleh banyak agen asuransi jempolan. Ditolak, dibanting pintu, dihina, dicurigai orang, sampai dengan dilecehkan mungkin sudah kebal. Pejuang kemanusiaan seperti Nelson Mandela dan Kim Dae Jung juga demikian. Tabungan kesulitan yang mereka miliki demikian menggunung. Dari dipenjara, hampir dibunuh, disiksa, dikencingin, tetapi toh tidak berhenti berjuang. Apa yang ada di balik semua pengalaman ini, rupanya di balik sikap ulet untuk tidak pernah berhenti ini, sering bersembunyi banyak kesempurnaan hidup. Mirip dengan air yang menetesi batu yang sama berulang-ulang, hanya karena sikap tidak pernah berhentilah yang membuat batu berlobang. Besi hanya menjadi pisau setelah ditempa palu besar berulang-ulang, dan dibakar api panas ratusan derajat celsius. Pohon beringin besar yang berumur ratusan tahun, berhasil melewati ribuan angin ribut, jutaan hujan, dan berbagai godaan yang meruntuhkan. Di satu kesempatan di awal Juni 1999, sambil menemani istri dan anak-anak, saya sempat makan malam di salah satu restoran di depan hotel Hyatt Sanur Bali. Yang membuat kejadian ini demikian terkenang, karena di restoran ini saya dan istri bertemu dengan seorang penyanyi penghibur yang demikian menghibur. Pria dengan wajah biasa-biasa ini, hanya memainkan musik dan bernyanyi seorang diri. Modalnya, hanya sebuah gitar dan sebuah organ. Akan tetapi, ramuan musik yang dihasilkan demikian mengagumkan. Saya dan istri telah masuk banyak restoran dan kafe. Namun, ramuan musik yang dihadirkan penyanyi dan pemusik solo ini demikian menyentuh. Hampir setiap lagu yang ia nyanyikan mengundang kagum saya, istri dan banyak turis lainnya. Rasanya susah sekali melupakan kenangan manis bersama penyanyi ini. Sejumlah uang tip serta ucapan terimakasih saya yang dalam, tampaknya belum cukup untuk membayar keterhiburan saya dan istri. Di satu kesempatan menginap di salah satu guest house Caltex Pacific Indonesia di Pekan Baru, sekali lagi saya bertemu seorang manusia mengagumkan. House boy (baca : pembantu) yang bertanggungjawab terhadap guest house yang saya tempati demikian menyentuh hati saya. Setiap gerakan kerjanya dilakukan sambil bersiul. Atau setidaknya sambil bergembira dan tersenyum kecil. Hampir semua hal yang ada di kepala, tanpa perlu diterjemahkan ke dalam perintah, ia laksanakan

jangan-jangan tingkatan sosial dan penghasilan yang lebih tinggi. supir.sebagaimana dikutip di awal . pedagang bakso. melakoni profesinya dengan tanpa keluhan. satpam. dan tukang kebunlah guru-guru sejati kita. ia tidak diikuti oleh kebosanan yang kemudian disertai oleh keinginan untuk berhenti. Purwanto.dengan sempurna. orang-orang bawah seperti pembantu. tanpa perlu menggurui. Anda boleh mengagumi tulisan ini. Bayangkan. seakan-akan faham betul dengan pidato Winston Churchill : never give up. Jangan-jangan pidato inspiratif Winston Churchill .justru diperoleh dari guru-guru terakhir. Di tengah demikian menyesakkannya rutinitas. ada godaan politicking kotor di kantor yang diikuti keinginan ego untuk berhenti. tanpa perlu menulis. pembicara publik dan direktur sebuah perusahaan swasta. kedua orang di atas. Kadang saya sempat berfikir. Tanpa banyak teori. demikian nama pegawai kecil ini. sebagai onsultan. Kalau ini benar. saya malu dengan penyanyi Sanur dan house boy di atas. atau juga mengagumi saya. tentu saja saya berada pada status sosial yang lebih tinggi dan berpenghasilan lebih besar dibandingkan mereka. demikian monotonnya kehidupan. atau jenuh menulis. semakin lama dan semakin rutinnya pekerjaan dilakukan. Bedanya penyanyi Sanur di atas serta Purwanto dengan manusia kebanyakan. sumber/penulis :Gede Prama . tidak membuat mental never give up semakin kuat. penyanyi rendahan. mereka memiliki mental never give up yang lebih mengagumkan. Ketika timbul rasa bosan dalam mengajar. Akan tetapi. Saya kerap merasa rendah dan hina di depan manusia seperti penyanyi dan pembantu di atas. tetapi Anda sebenarnya lebih layak kagum pada penyanyi Sanur dan house boy di atas. mereka sedang melaksanakan profesinya dengan prinsip sederhana : jangan pernah berhenti.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful