You are on page 1of 9

HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN Didalam mendapatkan layanan kesehatan, pasien mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana Surat

edaran DirJen Yan Medik No: YM.02.04.3.5.2504 Tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter dan Rumah Sakit, th.1997; UU.Republik Indonesia No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran dan Pernyataan/SK PB. IDI, sebagai berikut : HAK PASIEN Hak pasien adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien:: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Hak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit. Hak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur Hak untuk mendapatkan pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar profesi kedokteran/kedokteran gigi dan tanpa diskriminasi Hak memperoleh asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi keperawatan Hak untuk memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit Hak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinik dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar Hak atas 'second opinion' / meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain Hak atas ”privacy” dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya kecuali apabila ditentukan berbeda menurut peraturan yang berlaku Hak untuk memperoleh informasi /penjelasan secara lengkap tentang tindakan medik yg akan dilakukan thd dirinya. Hak untuk memberikan persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan oleh dokter sehubungan dengan penyakit yang dideritanya Hak untuk menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya. Hak didampingi keluarga dan atau penasehatnya dalam beribad dan atau masalah lainya (dalam keadaan kritis atau menjelang kematian). Hak beribadat menurut agama dan kepercayaannya selama tidak mengganggu ketertiban & ketenangan umum/pasien lainya. Hak atas keamanan dan keselamatan selama dalam perawatan di rumah sakit Hak untuk mengajukan usul, saran, perbaikan atas pelayanan rumah sakit terhadap dirinya Hak menerima atau menolak bimbingan moril maupun spiritual Hak transparansi biaya pengobatan/tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya (memeriksa dan mendapatkan penjelasan pembayaran) Hak akses /'inzage' kepada rekam medis/ hak atas kandungan ISI rekam medis miliknya

KEWAJIBAN PASIEN 1. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya kepada dokter yang merawat 2. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi dan perawat dalam pengobatanya. 3. Mematuhi ketentuan/peraturan dan tata-tertib yang berlaku di rumah sakit 4. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima. Berkewajiban memenuhi hal-hal yang telah disepakati/perjanjian yang telah dibuatnya HAK DAN KEWAJIBAN RUMAH SAKIT Didalam memberikan pelayanan kepada pasien dan bermitra dengan dokter rumah sakit memiliki hak dan kewajiban yang diatur sesuai dengan Kode Etik Rumah Sakit (KODERSI), Surat Edaran Dirjen Yan Med No: YM 02.04.3.5.2504 tentang Pedoman Hak & Kewajiban Pasien, Dokter dan Rumah Sakit

pihak ketiga. Memberikan pertolongan pengobatan di Unit Gawat Darurat tanpa meminta jaminan materi terlebih dahulu 6. Mengadakan perjanjian tertulis dengan para dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut 12. sarana dan prasarana pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana 10.HAK RUMAH SAKIT Hak rumah sakit adalah kekuasaan/kewenangan yang dimiliki rumah sakit untuk mendapatkan atau memutuskan untuk berbuat sesuatu 1. prasarana. Menyediakan sarana dan peralatan umum yang dibutuhkan 7. seperti pada informed consent. aspek etik seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya. penunjang medik. yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu. Bahkan di dalam praktek kedokteran. peralatan dan tenaga yang diperlukan 9. Memasyarakatkan bahwa pasien harus mentaati segala peraturan RS 3. wajib simpan rahasia kedokteran. maupun non medik. Hak untuk mendapatkan imbalan jasa pelayanan yang telah diberikan kepada pasien KEWAJIBAN RIMAH SAKIT 1. Memasyarakatkan bahwa pasien harus mentaati segala instruksi yang diberikan dokter kepadanya 4. Mematuhi peraturan dan perundangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah 2. Merujuk pasien ke RS lain apabila tidak memiliki sarana. dll) 6. 13. Menyediakan sarana dan peralatan medik sesuai dengan standar yang berlaku Menjaga agar semua sarana dan peralatan senantiasa dalam keadaan siap pakai 8. Memberikan pelayanan pada pasien tanpa membedakan golongan dan status pasien 3. Mendapat jaminan dan perlindungan hukum 7.nya sesuai dengan kondisi/keadaan yang ada di RS tersebut 2. Menuntut pihak-pihak yang telah melakukan wanprestasi (termasuk pasien. melalui panitia kredential 5. Mematuhi Kode Etik Rumah Sakit (KODERSI) Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang sangat luas. oleh karena banyaknya norma etik yang telah diangkat menjadi norma hukum. Memilih tenaga dokter yang akan bekerja di RS. Membuat standar dan prosedur tetap untuk pelayanan medik. Merawat pasien sebaik-baiknya dengan tidak memebedakan kelas perawatan (Duty of Care) 4. atau sebaliknya norma hukum yang mengandung nilai-nilai etika. Membuat peraturan-peraturan yang berlaku di RS. . Mengusahakan adanya sistem. dll. profesionalisme. Menjaga mutu perawatan tanpa membedakan kelas perawatan (Quality of Care) 5. Melindungi dokter dan memberikan bantuan administrasi dan hukum bilamana dalam melaksanakan tugas dokter tersebut mendapatkan perlakuan tidak wajar atau tuntutan hukum dari pasien atau keluarganya 11.

atau semacam code of conduct bagi dokter. World Medical Association dalam Deklarasi Geneva pada tahun 1968 menelorkan sumpah dokter (dunia) dan Kode Etik Kedokteran Internasional. praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsip-prinsip moral kedokteran. Kode Etik Kedokteran Internasional berisikan tentang kewajiban umum. yaitu dalam bentuk sumpah dokter yang bunyinya bermacam-macam. non maleficence (tidak . dan (d) provokasi oleh ahli hukum dan oleh tenaga kesehatan sendiri.[1] Selain Kode Etik Profesi di atas. Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus dapat dibendung dengan memberikan latihan dan teladan yang menunjukkan sikap etis dan profesional dokter. Keadaan menjadi semakin sulit sejak para ahli hukum menganggap bahwa standar prosedur dan standar pelayanan medis dianggap sebagai domain hukum. Kemungkinan terjadinya peningkatan ketidakpuasan pasien terhadap layanan dokter atau rumah sakit atau tenaga kesehatan lainnya dapat terjadi sebagai akibat dari (a) semakin tinggi pendidikan rata-rata masyarakat sehingga membuat mereka lebih tahu tentang haknya dan lebih asertif. Selanjutnya. Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian disebut sebagai etika biomedis. (c) komersialisasi dan tingginya biaya layanan kedokteran dan kesehatan sehingga masyarakat semakin tidak toleran terhadap layanan yang tidak sempurna. Selanjutnya etik kedokteran muncul dalam bentuk lain. arahan dalam menilai baik-buruknya atau benarsalahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moral. kewajiban terhadap pasien. seperti autonomy (menghormati hak pasien. Dengan demikian pelanggaran standar profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran etik dan juga sekaligus pelanggaran hukum. padahal selama ini profesi menganggap bahwa memenuhi standar profesi adalah bagian dari sikap etis dan sikap profesional. terutama hak dalam memperoleh informasi dan hak membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan terhadap dirinya). Sumpah tersebut berisikan kewajiban-kewajiban dokter dalam berperilaku dan bersikap. Etika biomedis memberi pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics) dan pedoman dalam melakukan penelitian di bidang medis. beneficence (melakukan tindakan untuk kebaikan pasien). Etik yang memiliki sanksi moral dipaksa berbaur dengan keprofesian yang memiliki sanksi disiplin profesi yang bersifat administratif. kewajiban terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. tetapi yang paling banyak dikenal adalah sumpah Hippocrates yang hidup sekitar 460-370 tahun SM. Etik Profesi Kedokteran Etik profesi kedokteran mulai dikenal sejak 1800 tahun sebelum Masehi dalam bentuk Code of Hammurabi dan Code of Hittites.Aspek etik kedokteran yang mencantumkan juga kewajiban memenuhi standar profesi mengakibatkan penilaian perilaku etik seseorang dokter yang diadukan tidak dapat dipisahkan dengan penilaian perilaku profesinya. Kode Etik Kedokteran Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional. (b) semakin tingginya harapan masyarakat kepada layanan kedokteran sebagai hasil dari luasnya arus informasi. prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat keputusan dan bertindak. yang penegakannya dilaksanakan oleh penguasa pada waktu itu.

di tingkat sarana kesehatan (rumah sakit) didirikan Komite Medis dengan Panitia Etik di dalamnya. Namun suatu pelanggaran etik profesi dapat dikenai sanksi disiplin profesi. Saat ini MKEK menjadi satu-satunya majelis profesi yang menyidangkan kasus dugaan pelanggaran etik dan/atau disiplin profesi di kalangan kedokteran. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa melanggar norma hukum). yang mengajarkan tentang etik profesi dan prinsip moral kedokteran. sedangkan gugatan perdata dan tuntutan pidana dilaksanakan di lembaga pengadilan di lingkungan . dan lebih banyak dipaparkan dalam berbagai situasi-kondisi etik-klinik tertentu (clinical ethics). maka ia akan dipanggil dan disidang oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk dimintai pertanggung-jawaban (etik dan disiplin profesi)nya. yaitu permasalahan yang timbul sebagai akibat dari pelanggaran seorang profesional atas peraturan internal profesinya. serta sikap altruisme (pengabdian profesi). wilayah dan cabang. Selain itu. Di kemudian hari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI). Domain atau yurisdiksi MKDKI adalah “disiplin profesi”. maka MKDKI akan meneruskan kasus tersebut kepada MKEK. profesionalisme dan keluhuran profesi. Sanksi tersebut diberikan oleh MKEK setelah dalam rapat/sidangnya dibuktikan bahwa dokter tersebut melanggar etik (profesi) kedokteran. serta lembaga MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) di tingkat pusat. dianjurkan dimulai dini sejak tahun pertama pendidikan kedokteran. yang menyimpangi apa yang diharapkan akan dilakukan oleh orang (profesional) dengan pengetahuan dan ketrampilan yang rata-rata. dengan memberikan lebih ke arah tools dalam membuat keputusan etik. Bahkan di tingkat perhimpunan rumah sakit didirikan pula Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit (Makersi). Pendidikan etik kedokteran. sehingga cara berpikir etis tersebut diharapkan menjadi bagian pertimbangan dari pembuatan keputusan medis sehari-hari. dalam bentuk peringatan hingga ke bentuk yang lebih berat seperti kewajiban menjalani pendidikan / pelatihan tertentu (bila akibat kurang kompeten) dan pencabutan haknya berpraktik profesi. wilayah dan cabang. yaitu melalui lembaga kepengurusan pusat. Pada dasarnya. suatu norma etik adalah norma yang apabila dilanggar “hanya” akan membawa akibat sanksi moral bagi pelanggarnya. akan menjadi majelis yang menyidangkan dugaan pelanggaran disiplin profesi kedokteran. lembaga yang dimandatkan untuk didirikan oleh UU No 29 / 2004. Tentu saja kita pahami bahwa pendidikan etik belum tentu dapat mengubah perilaku etis seseorang. terutama apabila teladan yang diberikan para seniornya bertolak belakang dengan situasi ideal dalam pendidikan. Persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan oleh MKEK IDI. memberikan banyak latihan.melakukan perbuatan yang memperburuk pasien) dan justice (bersikap adil dan jujur). IDI (Ikatan Dokter Indonesia) memiliki sistem pengawasan dan penilaian pelaksanaan etik profesi. Persidangan MKEK bertujuan untuk mempertahankan akuntabilitas. Proses persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan terpisah dari proses persidangan gugatan perdata atau tuntutan pidana oleh karena domain dan jurisdiksinya berbeda. yang akan mengawasi pelaksanaan etik dan standar profesi di rumah sakit. MKDKI bertujuan menegakkan disiplin dokter / dokter gigi dalam penyelenggaraan praktik kedokteran. Dalam hal MKDKI dalam sidangnya menemukan adanya pelanggaran etika.

dan pada bukti keterangan diakhiri dengan pernyataan kebenaran keterangan dan tandatangan (affidavit). Di Australia. hospital bylaws. teradu. Majelis berwenang memperoleh : 1. unsatisfactory professional conduct. Seseorang yang telah diputus melanggar etik oleh MKEK belum tentu dinyatakan bersalah oleh pengadilan.peradilan umum. seperti bukti kompetensi dalam bentuk berbagai ijasah/ brevet dan pengalaman. Dokter tersangka pelaku pelanggaran standar profesi (kasus kelalaian medik) dapat diperiksa oleh MKEK. Namun demikian tidak ada penjelasan yang mantap tentang istilah-istilah tersebut. Dalam persidangan majelis etik dan disiplin. meskipun umumnya memasukkan dua . professional misconduct dan infamous conduct in professional respect. Memang bukti-bukti tersebut tidak harus memiliki standard of proof seperti pada hukum acara pidana. yaitu Majelis (ketua dan anggota) bersikap aktif melakukan pemeriksaan. Keterangan. Pada beyond reasonable doubt tingkat kepastiannya dianggap melebihi 90%. Di Australia digunakan berbagai istilah seperti unacceptable conduct. Dalam melakukan pemeriksaannya. Persidangan MKEK bersifat inkuisitorial khas profesi. bukti kewenangan berupa Surat Ijin Praktek Tenaga Medis.5 Perkara yang dapat diputuskan di majelis ini sangat bervariasi jenisnya. 2. tetapi ada pula yang tidak mengharuskannya. langsung dari pihak-pihak terkait (pengadu. demikian pula sebaliknya. misalnya. putusan diambil berdasarkan buktibukti yang dianggap cukup kuat. Banyak ahli menyatakan bahwa tingkat kepastian pada perkara etik dan disiplin bergantung kepada sifat masalah yang diajukan. yang disusun dalam beberapa tingkat berdasarkan derajat pelanggarannya. tetapi harus disumpah pada formal hearing (jenis persidangan yang lebih tinggi daripada yang informal). Semakin serius dugaan pelanggaran yang dilakukan semakin tinggi tingkat kepastian yang dibutuhkan. unprofessional conduct. pihak lain yang terkait) dan peer-group / para ahli di bidangnya yang dibutuhkan Dokumen yang terkait. rekam medis. Majelis etik ataupun disiplin umumnya tidak memiliki syarat-syarat bukti seketat pada hukum pidana ataupun perdata. baik lisan maupun tertulis (affidavit). tanpa adanya badan atau perorangan sebagai penuntut. namun demikian tetap berupaya melakukan pembuktian mendekati ketentuan-ketentuan pembuktian yang lazim. Bar’s Disciplinary Tribunal Regulation. bukti hubungan dokter dengan rumah sakit. Persidangan MKEK secara formiel tidak menggunakan sistem pembuktian sebagaimana lazimnya di dalam hukum acara pidana ataupun perdata. dapat pula diperiksa di pengadilan – tanpa adanya keharusan saling berhubungan di antara keduanya. membolehkan adanya bukti yang bersifat hearsay dan bukti tentang perilaku teradu di masa lampau. SOP dan SPM setempat.[2] Sedangkan bukti berupa dokumen umumnya di”sah”kan dengan tandatangan dan/atau stempel institusi terkait. Perijinan rumah sakit tempat kejadian. yaitu setinggi beyond reasonable doubt. bukti keanggotaan profesi. dan surat-surat lain yang berkaitan dengan kasusnya. Di MKEK IDI Wilayah DKI Jakarta diputus perkara-perkara pelanggaran etik dan pelanggaran disiplin profesi. sedangkan pada preponderance of evidence dianggap cukup bila telah 51% ke atas. yaitu preponderance of evidence. saksi tidak perlu disumpah pada informal hearing. namun juga tidak serendah pada hukum acara perdata. Cara pemberian keterangan juga ada yang mengharuskan didahului dengan pengangkatan sumpah.

dan mungkin masih banyak pula kasus pelanggaran etik dan profesi yang tidak diadukan pasien (fenomena gunung es). juga karena beberapa hal. Dari 74 kasus yang eligible tersebut ternyata sidang MKEK menyimpulkan bahwa pada 24 kasus diantaranya (32. Sekali lagi. dan pasal 12 yang berbunyi “Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien. Selain itu MKEK juga menolak 14 kasus (14 %). bukan yurisdiksi MKEK (bukan etik-disiplin. sebagian besar diputus telah melanggar pasal 2 yang berbunyi “Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi”. kecuali atas perintah pengadilan dalam bentuk permintaan keterangan ahli. etik RS. Apabila eksekusi telah dijalankan maka dokter teradu menerima keterangan telah menjalankan putusan. bahkan juga setelah pasien itu meninggal”. Salah seorang anggota MKEK dapat memberikan kesaksian ahli di pemeriksaan penyidik. kejaksaan ataupun di persidangan. dll). oleh karenanya tidak dapat dipergunakan sebagai bukti di pengadilan. 13 kasus (13 %) tidak jadi dilanjutkan karena berbagai hal – sebagian karena telah tercapai kesepakatan antara pengadu dengan teradu untuk menyelesaikan masalahnya di luar institusi.4 % dari kasus yang eligible atau 24 % dari seluruh kasus pengaduan) memang telah terjadi pelanggaran etik dan atau pelanggaran disiplin profesi. menjelaskan tentang jalannya persidangan dan putusan MKEK. Tahun Jumlah Pengaduan 1997 1998 10 11 Dicabut Ditolak Tidak terdapatTerjadi pelanggaran pelanggaran etik / etik / profesi profesi 4 3 1 3 3 2 2 3 .istilah terakhir sebagai pelanggaran yang serius hingga dapat dikenai sanksi skorsing ataupun pencabutan ijin praktik. bukan wilayah DKI Jakarta. sudah menjadi sengketa hukum sehingga sidang MKEK dihentikan. Pengalaman MKEK IDI Wilayah DKI Jakarta 1997-2004 (8 tahun) Dari 99 kasus yang diajukan ke MKEK. [3] Putusan MKEK tidak ditujukan untuk kepentingan peradilan. Dengan demikian hanya 74 kasus (75 %) yang eligible sebagai kasus MKEK IDI Wilayah DKI Jakarta. Eksekusi Putusan MKEK Wilayah dilaksanakan oleh Pengurus IDI Wilayah dan/atau Pengurus Cabang Perhimpunan Profesi yang bersangkutan. seperti : pengadu tidak jelas (surat kaleng). Namun perlu diingat bahwa pada kasus-kasus yang dicabut atau ditolak oleh MKEK terdapat pula kasus-kasus pelanggaran etik. Khusus untuk SIP. Dari 24 kasus yang dinyatakan melanggar etik kedokteran. pasal 7 yang berbunyi “Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya”. Pasal lain dari Kodeki yang dilanggar adalah pasal 4 yang berbunyi “Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri”. hakim pengadilan tidak terikat untuk sepaham dengan putusan MKEK. eksekusinya diserahkan kepada Dinas Kesehatan setempat.

DU (14). SpPD (10). SpAn (7). Tidak ada yang memperoleh sanksi skorsing ataupun pencabutan ijin praktek. dapat dikemukakan bahwa menduduki tempat teratas adalah komunikasi yang tidak memadai antara dokter dengan pasien dan keluarganya. Dari sekian banyak yang ditolak oleh MKEK terdapat kasus-kasus sengketa antar dokter. SpTHT (4). Dan apabila dilihat dari sisi pengadunya. Kesimpulan Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa masalah yang paling sering menjadi pokok sengketa adalah kelemahan komunikasi antara dokter dengan pasien atau antara rumah sakit dengan pasien. sedangkan mereka yang mencabut kasusnya umumnya tidak diketahui alasannya. hanya sebagian yang menyatakan sebagai akibat dari upaya damai. SpS dan SpU. SpM (2). Mereka pada umumnya bekerja di rumah sakit atau klinik ( 90 % ).1999 2000 2001 2002 2003 2004 18 14 10 13 14 9* 2 2 3 1 - 5 1 1 1 1 7 8 5 6 10 1 4 3 1 5 3 4 24 Jumlah 99 * 13 14 44 * sisanya (4 kasus) belum selesai diproses Apabila dilihat dari cabang keahlian apa yang paling sering diadukan oleh pasiennya adalah : SpOG (24). maka terlihat bahwa pada umumnya pengadu adalah pasien atau keluarganya. . tetapi terdapat pula kasus-kasus yang diajukan oleh rumah sakit tempat dokter bekerja dan oleh masyarakat (termasuk media masa). Ditinjau dari sisi sanksi yang diberikan dapat dikemukakan bahwa pada umumnya diberikan sanksi berupa teguran lisan atau teguran tertulis. SpA (4). dan surat kaleng. SpR (2) kemudian masing-masing satu kasus adalah SpBO. SpF. baik dalam bentuk komunikasi sehari-hari yang diharapkan mempererat hubungan antar manusia maupun dalam bentuk pemberian informasi sebelum dilakukannya tindakan dan sesudah terjadinya risiko atau komplikasi. SpKJ (3). Kelemahan komunikasi tersebut muncul dalam bentuk : kurangnya penjelasan dokter kepada pasien – baik pada waktu sebelum peristiwa maupun sesudah peristiwa. sengketa dokter dengan rumah sakit. SpKK. SpB (17). Dari sisi issue yang dijadikan pokok pengaduan. SpBP. komunikasi antara staf rumah sakit dengan pasien. atau setidaknya terungkap di dalam persidangan. SpRM. SpP (2). Terdapat dua kasus diberi sanksi reschooling. kurangnya waktu yang disediakan dokter untuk dipakai berkomunikasi dengan pasien. bukan di tempat praktek pribadi. SpJP (2). SpBS.

To Err is Human. 1998. Medical Negligence Litigation. Pozgar GD. Law and Medical Practice. 8th ed. 1996 Elliot C and Quinn F. Ethics. Medical Assessment of Claims. Corrigan JM. Undang-Undang No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan Undang-Undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. McNair T. Schutte JE. Breen K. 3rd ed. Washington: National Academy Press. Jackson JP (ed). Bioethics on Anthology. 1989. Statement on Medical Malpractice. Pustaka lanjutan Beauchamp TL and Childress JF. 2nd ed. LeBlang TR. 5th ed. London: Cavendish Publ Ltd. Australia: Butterworth-Heinemann. A Primer for Health Care Ethics. Plueckhahn V. Marbella. September 1992 . Nicholson K. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Kode Etik Kedokteran Indonesia Kohn LT. Oxford: Blackwell Publ. BBC Health. Harpwood V. 1997 Carroll R (ed). building a safer health system. Firestone MH. Singapore: Medico-legal Annual Seminar. 4th ed. Errington M. Modern Tort Law. Preventing Medical Malpractice Suits. Gaithersburg: An Aspen Publication. Tjiong R. 2000 Kuhse H and Singer P. WMA. Gibofsky A. The Medical Protection Society Experience Worldwide. 1995 Tan SY. Singapore: Medico-legal Annual Seminar. Principles of Biomedical Ethics. termasuk kode etik profesi yang harus dijadikan pedoman berperilaku profesi (professional code of conduct). The Rights of Patients in Europe. Essex: Pearson Education Limited. Seattle: Hogrefe & Huber Publ. Pinet G. 1991 Jones MA. 28 January 2002. serta pemberian bekal buku Kodeki bagi setiap dokter lulusan Indonesia (termasuk adaptasi). 1991. 1996. 1999. St Louis : American College of Legal Medicine. Spain. pemberian mata ajaran etik dan hukum kedokteran bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran sejak dini dan bersifat student-active. Medical Negligence. 1993 Mann A. 2001 Dix A. O’Rourke K. San Fransisco: Jossey-Bass. 1989. Second ed. 2002 Sanbar SS. Washington DC: Gergetown University Press. 1999. Powe R. Legal Medicine & Forensic Pathology. 2000. Plueckhahn VD and Cordner SM. 27-28 October 2001. Melbourne : Melbourne University Press. 27-28 October 2001. Leenen H. Redfern: International Business Communications Pty Ltd. Risk Management Handbook for health care organizations. Ethics.Pelajaran lain adalah bahwa sosialisasi nilai-nilai etika kedokteran. New York: Oxford University Press. Legal Aspects of Health Care Administration. adopted by the 4th World Medical Assembly. St Leonard NSW: Allen & Unwin. Law for the medical profession in Australia. The Medical Malpractice Epidemic in Singapore: Thoughts From Across the Sea. Tort Law. Second edition. Singapore: Medico-legal Annual Seminar. kepada para dokter yang bekerja di Indonesia belumlah cukup memadai. Donaldson MS (eds). sehingga diperlukan crash-program berupa pendidikan kedokteran berkelanjutan yang agresif di bidang etik dan hukum kedokteran. 2003. Legal Medicine. Cordner SM. 27-28 October 2001. London: Springer-Verlag. Deventer : Kluwer Law and Taxation Publ. A Practical Guide to Medicine and the Law. London: Sweet & Maxwell. Medical Negligence. Gevers S. Hickey J. Worldwide trends of medical negligence claims and implications for Singapore from UMP perspective.

Ethics. Law for the medical profession in Australia. 1997 [3] Dix A. 1996 . Plueckhahn V.[1] Lebih lanjut agar dibaca buku “Kode Etik Kedokteran Indonesia” [2] Breen K. St Leonard NSW: Allen & Unwin. Nicholson K. Errington M. Powe R. Australia: Butterworth-Heinemann. Cordner SM. Second ed. Law and Medical Practice.