P. 1
Kesehatan Reproduksi(Beban Ganda)

Kesehatan Reproduksi(Beban Ganda)

|Views: 277|Likes:
Published by Andhyka Prasetya
Kesehatan Masyarakat
Kesehatan Masyarakat

More info:

Published by: Andhyka Prasetya on Jan 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2015

pdf

text

original

Diterbitkan oleh Andhyka Prasetya Blog : http://andhykaprasetya.wordpress.

com/ Fb : Andhyka Prasetya Instagram : andhyka_prasetya

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pembicaraan mengenai gender akhir-akhir ini semakin hangat dalam perbincangan mengenai kemajuan perkembangan kaum perempuan maupun posisi dan status perempuan dalam kesetaraan dengan kaum pria. Pada

satu sisi hubungan gender menjadi suatu persoalan tersendiri, padahal secara fakta persoalan emansipasi kaum perempuan masih belum mendapat tempat yang sepenuhnya bisa diterima. Secara konsep diterima akan emansipasi telah

tetapi konsekuensi dari pelaksanaan emansipasi itu

sendiri masih belumlah seideal yang diharapkan. Kaum perempuan diberi kebebasan untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan untuk bekerja tetapi mereka tetap saja diikat dengan norma-norma patriarkhi yang relatif menghambat dan memberikan kondisi yang dilematis terhadap posisi mereka. Kaum perempuan dibolehkan bekerja dengan catatan hanya sebagai penambah pencari nafkah keluarga sehingga mereka bekerja dianggap hanya sebagai “working for lipstic” belum lagi kewajiban utama mengasuh

anak dibebankan sepenuhnya kepada perempuan. Secara kenyataan saja emansipasi masih menemukan persoalan tersendiri, apalagi gender yang merupakan konsepsi yang sangat mengharapkan kesetaraan hubungan yang serasi dan harmonis antara kaum perempuan dengan kaum pria. Dalam hal ini tentu saja sebelum gender itu diterima sebagai suatu konsep yang memasyarakat emansipasi dan terlebih dahulu hak haruslah dipahami untuk permasalahan memperoleh

kesetaraan

perempuan

kesempatan dalam memperoleh pendidikan maupun dalam lingkungan dunia kerja. Ketidakadilan gender muncul karena adanya ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan. Struktur sosial budaya yang kental dengan nuansa patriarkhi sering menempatkan relasi gender secara timpang dan berujung pada ketidakadilan gender. Analisis gender mengenalkan lima bentuk

Diterbitkan oleh Andhyka Prasetya Blog : http://andhykaprasetya.wordpress.com/ Fb : Andhyka Prasetya Instagram : andhyka_prasetya

ketidakadilan, yaitu subordinasi, marjinalisasi, beban ganda, kekerasan dan stereotipe.

Perempuan bekerja adalah fenomena yang mengalami kecenderungan meningkat setiap tahunnya. Meskipun tanpa melalui penelitian saya yakin bahwa asumsi ini tidak (terlalu) salah. Kalau kita cermati saat ini semakin banyak perempuan yang menduduki jabatan politik, pemerintahan,

perusahaan, sampai pada perempuan yang bekerja di pabrik-pabrik. Juga semakin banyak perempuan yang bekerja pada sector-sektor swasta dan informal seperti pedagang, pembantu rumah tangga dan lain-lain. Adanya kecenderungan meningkatnya perempuan bekerja ini sejalan dengan lebih terbukanya akses pendidikan untuk perempuan sehingga semakin banyak perempuan yang berpendidikan. Yang kemudian ingin mengaktualisasikan dirinya. Selain itu, dalam konteks Indonesia sebagai negara miskin, perempuan bekerja ini juga didorong untuk ikut mencukupi kebutuhan keluarga. Perempuan bekerja seperti di atas adalah perempuan yang melakukan kerja-kerja produktif yaitu kerja yang berfungsi untuk pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti sandang, papan dan pangan.

1.2. Tujuan Memahami tentang ketidak adilan gender, khususnya pada beban ganda serta mengetahuinya dengan menganalisis contoh kasus beban ganda yang ada di Indonesia.

Diterbitkan oleh Andhyka Prasetya Blog : http://andhykaprasetya.wordpress.com/ Fb : Andhyka Prasetya Instagram : andhyka_prasetya

BAB II PEMBAHASAN

Ketidakadilan gender muncul karena adanya ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan. Struktur sosial budaya yang kental dengan nuansa patriarkhi sering menempatkan relasi gender secara timpang dan berujung pada ketidakadilan gender. Analisis gender mengenalkan lima bentuk ketidakadilan, yaitu subordinasi, marjinalisasi, beban ganda, kekerasan dan stereotipe. 2.1. Fakta-Fakta Ketidakadilan Gender Gender sebagai suatu keyakinan dan konstruksi sosial yang berkembang di dalam masyarakat diinternalisasi melalui proses sosialisasi secara turuntemurun. Dalam perkembangannya konstruksi gender ini menghasilkan ketidakadilan gender yang dialami oleh perempuan. Relasi laki-laki dan perempuan yang dipayungi konstruksi sosial, nilai-nilai, dan adat istiadat secara faktual menghasilkan ketidakadilan yang terlihat pada fakta-fakta sebagai berikut: Sejak lahir adanya penghargaan yang berbeda terhadap anak yang lahir tersebut laki-laki atau perempuan. Anak laki-laki akan dianggap sebagai penerus marga dan ada penyambutan yang meriah. Begitu pula dalam simbolsimbol sosial, bila anak laki-laki digunakan simbol warna biru, jika anak perempuan digunakan simbol warna merah jambu. Hal ini juga berlanjut seterusnya kepada sosialisasi dari balita, anak-anak dan remaja. Anak perempuan diinternalisasi sebagai pengabdi dan pelayan, mengalah mundur dalam pendidikan kalau masih ada saudara laki-lakinya yang mau melanjutkan sekolah bila ada keterbatasan biaya. Di dalam pembagian wilayah kerja antara suami dan istri, suami mencari nafkah di luar rumah (sektor publik), sedangkan istri melakukan pekerjaan di dalam rumah tangga (sektor domestik). Pembagian kerja ini tidak melahirkan penghargaan sosial yang sama, karena suami sebagai pihak yang memperoleh uang dan mempunyai kekuatan ekonomi, maka kerap kali istri hanya

Diterbitkan oleh Andhyka Prasetya Blog : http://andhykaprasetya.wordpress.com/ Fb : Andhyka Prasetya Instagram : andhyka_prasetya

dianggap sebagai pendamping, bukan mitra sejajar yang telah mewakili suami di sector publik. Hal ini tercermin dalam ungkapan, “istri yang hanya menghabiskan uang suami”, “Pekerjaan rumah tangga yang lebih ringan dibandingkan pekerjaan di kantor” dan sebagainya. Bila istri ikut membantu mencari nafkah di sektor publik, berarti istri telah melakukan perluasan dari sektor domestik, tetapi beban domestik tidaklah berkurang, suami tidak serta merta ikut berpartisipasi di sektor domestik. Tanggung jawab istri menjadi berganda, kalaupun ia dibantu itu akan dilakukan oleh perempuan lain yang ia bayar.

2.2. Definisi Beban Ganda Double garden atau yang biasanya disebut beban ganda, merujuk kepada kenyataan bahwa perempuan cenderung bekerja lebih lama dan lebih sedikit harinya dibandingkan laki-laki sebagaimana biasanya mereka terlibat dalam tiga peran gender yang berbeda-reproduksi, produksi dan dan peran di masyarakat. Beban ganda perempuan merupakan salah satu bentuk ketidakadilan gender yang tidak hanya terjadi di lapisasn sosial kelas atas dan menengah saja. Beban ganda juga terjadi pada lapisan sosial kelas bawah, seperti dalam sebuah komunitas marginal. Komunitas marginal merupakan sebuah bagian masyarakat yang memiliki lokalitas di wilayah tertentu, memiliki batas-batas tertentu, memiliki interaksi sosial yang lebih besar diantara para anggotanya bila dibandingkan dengan anggota di luar kelompoknya, dan memiliki ciri yang sama. Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja diwilayah public, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domestic. Upaya maksimal yang dilakukan mereka adalah mensubstitusikan pekerjaan tersebut kepada perempuan lain, seperti pembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan lainnya. Namun

Diterbitkan oleh Andhyka Prasetya Blog : http://andhykaprasetya.wordpress.com/ Fb : Andhyka Prasetya Instagram : andhyka_prasetya

demikian, tanggung jawabnya masih tetap berada di pundak perempuan. Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda. Perempuan yang melakukan pekerjaan di luar rumah seperti bertani, berdagang, membuat emping atau kesed juga tetap harus melakukan kerjakerja reproduksi. Sehingga dalam sehari semalam, sebagian besar waktu perempuan dicurahkan untuk keluarganya. Berbagai observasi menunjukkan bahwa perempuan mengerjakan hampir 90 persen dari pekerjaan dalam rumah tangga. Karena itu, bagi perempuan yang bekerja di luar rumah, selain bekerja di wilayah publik, mereka juga masih harus mengerjakan pekerjaan domestic. Berbagai bentuk diskriminasi merupakan hambatan untuk tercapainya keadilan dan kesetaraan gender atau kemitrasejajaran yang harmonis antara perempuan dan laki-laki, karena dapat menimbulkan: a) Konflik b) Stres pada salah satu pihak c) Relasi gender yang kurang harmonis Perempuan harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan, membersihkan rumah dan dapur, mengasuh anak kemudian melakukan pekerjaannya sampai tengah hari untuk istirahat sejenak. repotnya, ketika istirahatpun perempuan masih dibebani dengan pekerjaan di rumah; menyiapkan makan siang, mengasuh anak. Setelah itu baru melanjutkan pekerjaannya sampai sore. Untuk kembali melakukan pekerjaan reproduktif sampai malam. Di sela-sela waktu ini, beberapa perempuan masih menyibukkan diri untuk mengerjakan pekerjaannya seperti membuat kesed, mengupas kulit mlinjo, dan lainnya. Bandingkan dengan laki-laki yang bangun paginya sedikit lebih siang itupun hanya untuk menikmati minuman pagi dan sarapan, baru kemudian berangkat kerja sampai tengah hari. Lalu istirahat dan makan siang, melanjutkan pekerjaannya sampai sore, istirahat, makan dan bersantai sampai melam hari. Di malam hari, paling mereka melakukan aktivitas social

Diterbitkan oleh Andhyka Prasetya Blog : http://andhykaprasetya.wordpress.com/ Fb : Andhyka Prasetya Instagram : andhyka_prasetya

seperti ngendong ke tetangga, kumpulan RT, tahlilan dan lain-lain yang biasanya hanya beberapa hari sekali. Dari contoh di atas, sangat terlihat adanya beban ganda perempuan, di satu sisi mereka harus mengerjakan pekerjaan reproduktif, di sisi lain, baik karena aktualisasi diri atau tuntutan ekonomi mereka melakukan kerja-kerja produktif. Tanpa adanya pembagian kerja-kerja reproduktif secara lebih seimbang. Beban ganda yang dialami oleh perempuan sampai saat ini masih dianggap sebagai kewajaran dalam masyarakat kita. Padahal beban ganda yang dialami oleh perempuan adalah salah satu bentuk kekerasan domestik sebagai dampak dari pembagian peran yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan. Contoh kasus penelitian, beban ganda ini memberikan gambarangambaran yang jelas tentang ketimpangan gender pada perempuan di sektor home industri. Informan wanita memilih bekerja di Home Industry dikarenakan dekat dengan rumah, sehingga mudah bila ada keperluan mendadak seperti anak yang menangis wanita ini dapat pulang dan mengurus urusan rumah tangga, dan setelah urusan rumah tangga selesai kaum wanita ini kembali bekerja, dan faktor lain dari kamu wanita ini bekerja di home industri dekat rumah adanya keterbatasan pendidikan yang dimiliki. Dari contoh kasus ini, bisa dilihat bahwa perempuan mempunyai beban ganda yang ditanggunganya. Beban ganda yang pertama adalah sebuah kewajiban untuk mengurus rumah tangga beserta suami dan anak. Beban ganda yang kedua adalah membantu mencari nafkah untuk keluarga. Beban ganda yang secara langsung dilimpahkan dari laki-laki ke perempuan bila laki-laki tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Dengan beban ganda ini, perempuan tidak dihormati, tetapi tetap saja mengalami ketimpangan gender. Perempuan tetap menjadi subordinat dan selalu menjadi korban. Padahal niat mereka hanya ingin membantu perekonomian keluarga, tidak ingin lebih tinggi dari laki-laki hanya ingin dipandang sama.

Diterbitkan oleh Andhyka Prasetya Blog : http://andhykaprasetya.wordpress.com/ Fb : Andhyka Prasetya Instagram : andhyka_prasetya

Perempuan mempunyai ranah pekerjaan ganda, yaitu ranah domestik dan publik. Pada ranah domestik, perempuan mempunyai peran sebagai ibu rumah tangga, sedangkan ranah publik perempuan juga bekerja dan mencari nafkah. Dua ranah tersebut menyebabkan perempuan mempunyai beban ganda, misalnya tatkala perempuan diperbolehkan masuk di arena publik atau kerja kantoran, maka yang terjadi perempuan tetap mengerjakan pekerjaan domestik seperti masak, menyapu dan sebagainya. Tidak ada upaya suami untuk memahami bahwa itu adalah pekerjaan bersama, tidak ada upaya pembagian pekerjaan secara adil dalam keluarga. Melihat berbagai persoalan yang dihadapi perempuan, pemberdayaan perempuan (women empowerment) menjadi langkah awal pemecahan masalah. Pemberdayaan secara sederhana diartikan sebagai proses

penyadaran agar perempuan mau ikut serta mengidentifikasi masalahnya kemudian menyelesaikannya sendiri. Biasanya didampingi oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) . Terjadinya penindasan, kekerasan,

keterbelakangan yang berimplikasi pada kemiskinan, disebabkan oleh kurangnya kesadaran dan pengetahuan perempuan tentang apa masalahnya dan bagaimana menyelesaikannya. Perberdayaan di sini meliputi segala hal, yakni pemberdayaan ekonomi, politik dan hukum. Pertama, pemberdayaan ekonomi, misalnya mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam potensial yang ada di daerahnya masing-masing, kerakyatan). Kedua, pemberdayaan hukum dimaksudkan untuk memberi dan meningkatkan perekonomian mikro (berbasis

pengetahuan kepada perempuan atas hak dan kewajibannya sebagai warga negara dalam hukum. Bagaimana cara-cara (prosedur) serta strategi yang harus dilakukan dalam pelaksanaannya. Ketiga, pemberdayaan politik. Masih banyak perempuan yang tidak tahu bagaimana cara berpolitik. Sementara untuk mengatasi persoalanpersoalan di atas, tak pelak lagi perjuangan harus memasuki kancah politik. Diharapkan dengan semakin banyaknya perempuan yang duduk di

Diterbitkan oleh Andhyka Prasetya Blog : http://andhykaprasetya.wordpress.com/ Fb : Andhyka Prasetya Instagram : andhyka_prasetya

pemerintahan, semakin besar pula kontrol untuk memengaruhi kebijakankebijakan pemerintah. Semua itu tentu harus didukung oleh semua pihak. Baik Pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan Masyarakat seluruhnya. Ini hanya salah satu solusi, saya yakin masih banyak cara yang dapat kita lakukan. Oleh karena itu, menjadi tangungjawab kita bersama untuk terus memperjuangkan nasib kaum perempuan.

Diterbitkan oleh Andhyka Prasetya Blog : http://andhykaprasetya.wordpress.com/ Fb : Andhyka Prasetya Instagram : andhyka_prasetya

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat dimimpulkan bahwa, Ketidakadilan gender muncul karena adanya ketimpangan relasi antara lakilaki dan perempuan. Struktur sosial budaya yang kental dengan nuansa patriarkhi sering menempatkan relasi gender secara timpang dan berujung pada ketidakadilan gender. Beban ganda perempuan merupakan salah satu bentuk ketidakadilan gender yang tidak hanya terjadi di lapisasn sosial kelas atas dan menengah saja. Beban ganda juga terjadi pada lapisan sosial kelas bawah, seperti dalam sebuah komunitas marginal. Pemberdayaan perempuan (women empowerment) menjadi langkah awal pemecahan masalah. Pemberdayaan secara sederhana diartikan sebagai proses penyadaran agar perempuan mau ikut serta mengidentifikasi masalahnya kemudian menyelesaikannya sendiri.

3.2 Saran Perlu adanya kesepakatan dalam hal pembagian peran, sehingga lakilaki dan perempuan dapat menjadi mitra yang setara dan seimbang dalam

kehidupan di keluarga, masyarakat, dan pemerintahan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->