ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DM

OLEH:

MUHAMMAD LATTIIFUR ROOFII

AKADEMI KEPERAWATAN PERINTAH KABUPATEN PONOROGO 2009
1

Diabetes tipe I: a. b. tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Faktor-faktor imunologi Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi 2 . A.DIABETES MELLITUS A. Pengertian Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya 4. 2002). 2002). Diabetes mellitus gestasional (GDM) B. Faktor genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri. (Brunner dan Suddarth. Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo. Klasifikasi Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut : 1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM) 2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM) 3. Etiologi 1.

terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Riwayat keluarga 3 . Diabetes Tipe II Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. 2. Obesitas c. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th) b. c. Faktor-faktor resiko : a. Faktor lingkungan Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.

Penglihatan Ggn Integritas Kulit Resiko Injury Gagal Ginjal 4 . Patofisiologi/Pathways Defisiensi Insulin glukagon↑ penurunan pemakaian glukosa oleh sel glukoneogenesis lemak ketogenesis ketonemia Mual muntah ↓ pH Asidosis   Koma Kematian protein BUN↑ Nitrogen urine ↑ hiperglikemia glycosuria Osmotic Diuresis Dehidrasi Hemokonsentrasi Trombosis Aterosklerosis Kekurangan volume cairan Resti Ggn Nutrisi Kurang dari kebutuhan Makrovaskuler Mikrovaskuler Retina Ginjal Nefropati Jantung Miokard Infark Serebral Stroke Ekstremitas Gangren Retinopati diabetik Ggn.B.

Katarak 2. sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas.C. Tanda dan Gejala Keluhan umum pasien DM seperti poliuria. polidipsia. Penyakit koroner 16. Menurut Supartondo. Penyakit pembuluh darah perifer 15. polifagia pada DM umumnya tidak ada. Amiotropi 12. Neuropati viseral 11. Retinopati 4. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua. Penyakit ginjal 14. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak. Dermatopati 9. gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah : 1. rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim. Ulkus Neurotropik 13. Gatal seluruh badan 5. Neuropati perifer 10. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Glaukoma 3. Pruritus Vulvae 6. Infeksi bakteri kulit 7. Penyakit pembuluh darah otak 5 . Infeksi jamur di kulit 8.

17. Hipertensi 6 .

Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi. Kadar glukosa darah puasa 3. Glukosa darah sewaktu 2. dehidrasi dan ketonemia. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak. menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Tes toleransi glukosa Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl) Bukan DM Kadar glukosa darah sewaktu Plasma vena Darah kapiler Plasma vena Darah kapiler <110 <90 110-120 90-110 >126 >110 < 100 <80 100-200 80-200 >200 >200 Belum pasti DM DM Kadar glukosa darah puasa - 7 . Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut. Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. apabila pasien mengalami infeksi akut. akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. kesadaran menurun dengan hiperglikemia. D. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan. atau bahkan inkontinensia urin. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas. Pemeriksaan Penunjang 1. dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur.

Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl E. bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak. Sulit Bergerak / berjalan. Pendidikan C. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7. Diet 2.8 mmol/L) 3. mendapat terapi insulin jenis apa. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11.  Aktivitas/ Istirahat : Letih.Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan : 1.1 mmol/L) 2. 8 . Pemantauan 4. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal. Latihan 3. Pengkajian  Riwayat Kesehatan Keluarga Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?  Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya Berapa lama klien menderita DM. Penatalaksanaan Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya. kram otot. bagaimana penanganannya. Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes : 1. Lemah. tonus otot menurun. Terapi (jika diperlukan) 5.

ulkus kulit. nokturia. perubahan tekanan darah Integritas Ego Stress. Resiko terjadi injury 9 . kebas kelemahan pada otot. mual muntah. Neurosensori Pusing. parestesia. Kekurangan volume cairan 3. Masalah Keperawatan 1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan 2. takikardi. sakit kepala. ansietas Eliminasi Perubahan pola berkemih ( poliuria. penurunan berat badan. penggunaan diuretik. tidak mengikuti diet. haus. kesemutan pada ekstremitas. anuria ). Nyeri / Kenyamanan Abdomen tegang. klaudikasi. ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama. kesemutan. Sirkulasi Adakah riwayat hipertensi.gangguan penglihatan. Gangguan integritas kulit 4. diare Makanan / Cairan Anoreksia. nyeri (sedang / berat) Pernapasan Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak) Keamanan Kulit kering.        D. kebas.AMI. gatal.

Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien. mual. mual. lapar. Intervensi 1. peka rangsang. peningkatan metabolisme protein. denyut nadi cepat. Intervensi :   2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.    Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah. anoreksia. pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi. catat adanya nyeri abdomen / perut kembung.E. Kolaborasi dengan ahli diet. lemak. Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi Kriteria Hasil :   Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.  Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral. Kolaborasi pemberian pengobatan insulin. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral. Tujuan : kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi Kriteria Hasil : 10 . cemas. sakit kepala.  Auskultasi bising usus.  Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran.  Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi. kulit lembab/dingin. muntahan makanan yang belum sempat dicerna.

Observasi adanya kelelahan yang meningkat. Na. edema. turgor kulit dan membran mukosa   Pantau masukan dan pengeluaran Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung   Catat hal-hal seperti mual. BUN. muntah dan distensi lambung. turgor kulit dan pengisian kapiler baik. catat adanya perubahan TD ortostatik Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan. 11 . edema. nadi tidak teratur  Kolaborasi : berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa. Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan. adanya epitelisasi. penggunaan otot bantu nafas  Kaji nadi perifer. peningkatan BB. dan discharge. K) 3.Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil. Kriteria Hasil : Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi Intervensi :  Kaji luka. perubahan warna. nadi perifer dapat diraba. Intervensi :    Pantau tanda-tanda vital. frekuensi ganti balut. haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer). pantau pemeriksaan laboratorium (Ht. pengisian kapiler.

     Kaji tanda vital Kaji adanya nyeri Lakukan perawatan luka Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi 12 . Gunakan bed yang rendah. Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan Tujuan : pasien tidak mengalami injury Kriteria Hasil : pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injury Intervensi :      Hindarkan lantai yang licin. Orientasikan klien dengan ruangan. 4.

Annette Geisler. 1999. Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani. Lynda Juall. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa. 1997. Monica Ester. Doenges. Jakarta : EGC. Yasmin asih.Cet 2. Ainal. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga. Jakarta : EGC.DAFTAR PUSTAKA http://4askep. Kuncara. Jakarta : FKUI. Ni Made Sumarwati. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Carpenito. 2002 13 . Smeltzer. Arjatmo Tjokronegoro.com/ Luecknote. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih. 1996. Andry Hartono. Brenda G bare. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Suzanne C. 2002. Jakarta:EGC.blogspot. Marilyn E. Jakarta : EGC. Y. Ikram. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 1997.

14 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful