Makalah Farmakologi Klinik Obat- Obat Khusus

VITAMIN DAN MULTIVITAMIN

Disusun oleh : Kelompok G-11 Mutiara Nur Dzikrina (09613064) Yola Alfiana (09613167) Praptiwi (09613202)

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2012

VITAMIN
Vitamin adalah kelompok nutrien organik yang dibutuhkan dalam jumlah kecil untuk berbagai fungsi biokim dan umumnya tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus dipasok dari makanan. Vitamin merupakan zat yang harus ada pada diet dalam jumlah kecil untuk mempertahankan integritas metabolik normal(1). Vitamin terbagi ke dalam 2 kelompok besar, yaitu : a. Vitamin larut lemak Vitamin larut lemak merupakan senyawa hidrofobik yang dapat diserap secara efisien hanya jika penyerapan lemak berlangsung normal. Seperti lipid, vitamin ini diangkut dalam darah dalam bentuk lipiprotein atau melekat pada protein pengikat spesifik. Contoh vitamin dalam kelompok ini adalah vitamin A, D, E dan K. Selain diet yang tidak adekuat, penyakit yang mempengaruhi pencernaan dan penyerapan vitamin larut lemak, misalnya steatore dan penyakit sistem empedu dapat menyebabkan sindrom defisiensi vitamin. b. Vitamin larut air Vitamin larut air terdiri dari vitamin B dan C, keduanya terutama berfungsi sebagai kofaktor enzim(2). Pada orang dewasa yang sehat jarang terjadi defisiensi karena jumlah vitamin yang dibutuhkan sangat sedikit. Oleh karena itu pemberian vitamin hanya dibutuhkan jika : 1. Pasokan vitamin yang tak mencukupi. 2. Peningkatan kebutuhan vitamin (misalnya pada bayi, selama hamil dan menyusui)
3. Kurangnya absopsi vitamin (misalnya jika tidak ada faktor intrinsik, pengobatan

dengan antibiotik spektrum luas yang merusak flora usus)(2). Defisiensi vitamin menyebabkan penyakit spesifik yang dapat disembuhkan atau dicegah hanya dengan memperbaiki kandungan vitamin yang bersangkutan dalam diet. Namun untuk vitamin D dibentuk di kulit setelah pajanan oleh sinar matahari, dan niasin dapat dibentuk dari asam amino esensial triptofan(2). Adapun penjelasan untuk masing-masing vitamin dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Vitamin

Sumber Vitamin

Fungsi

Penyakit akibat defisiensi vitamin

Kebutuh an harian rata-rata (mg)

Keterangan

Sediaan yang beredar di Indonesia

A Axeroftol Retinol Betha karoten

Vitamin Larut Lemak Pigmen Buta senja, 1,5-2 penglihatan di xeroftalmia retina, regulasi , ekspresi dan diferensiasi sel, suatu antioksidan betha karoten adalah gen keratinisasi kulit

Intake berlebihan dapat menyebabkan teratogenik, hepar, peminum alkohol, penyakit hiperlipidemia dan malnutrisi protein efek dari penggunaan vitamin A dapat negatif meningkatkan

Acevit-kaplet Symbion-tablet Beta kapsul Nicaro-kapsul kapsul Vitalene-kaplet Seleca-kapsul hati, Progencetablet C-E-

toxic terhadap Vita-vision-

D Kalsiferol Vitamin antirakhitis

Memelihara keseimbangan kalsium, meningkatkan penyerapan kalsium usus mineral tulang, regulasi ekspresi dan gen di dan

Rakhitis, osteomalasi a

0,01

berlebih. Intake berlebih Bon One-tablet dapat menyebabkan hiperkalsemia, VitaminD dengan kombinasi Adikalk-tablet Everost-tablet Samcalvittablet kunyah Vitacal-Dtablet kunyah

memobilisasi

E Tokoferol tokotrienol

diferensiasi sel Antioksidan Sangat terutama berperan di jarangsaraf serius membran sel, disfungsi

(30)

Intake berlebih Bio dapat menyebabkan perdarahan, lunak

E-kapsul

Natur-EKapsul

Keterangan : ( ) = kebutuhan harian hanya dapat dikira-kira(1,2,3,4). Pada pembahasan ini hanya fokus mengenai vitamin A, C dan E, dimana vitaminvitamin ini sering dikonsumsi oleh masyarakat yang tidak hanya bertujuan untuk menjaga kesehatan tetapi juga untuk tujuan kecantikan. I. VITAMIN A Vitamin A merupakan diterpen alkohol yang peka terhadap cahaya dan oksigen, yang terbentuk pada dinding usus akibat pemecahan oksidatif karotin dengan bantuan molekul oksigen. Provitamin yang penting yaiti betha karotin, yang dapat membentuk dua molekul vitamin A. a. Sumber vitamin A Karotin terdapat pada semua tanaman yang hijau dan sebagian besar yang kuning, misalnya pada tanaman jenis kol, bayam dan wortel. Selain itu vitamin A dapat ditemukan dalamminyak ikan, dalam hati, mentega, susu, telur. Saat ini vitamin A dapat diperoleh dari sintesis.

(5)

b. Peran fisiologi vitamin A 1. Penting untuk pertumbuhan epitel (fungsi pertumbuhan) 2. Melindungi mukosa dari keratinisasi (fungsi pelindung epitel) 3. Meninggikan daya tahan mukosa terhadap infeksi dengan menutup epitel (fungsi anti infeksi) 4. Merupakan komponen rodopsin untuk proses melihat. Fthenakis (1991) menyatakakan bahwa kosmetik yang mengandung vitamin A palmitat dapat meningkatkan elastisitas kulit, sedangkan pelembab sederhana tidak berpengaruh pada parameter ini. Vitamin A topikal dapat memberikan perbedaan nyata pada kulit. Studi medis menunjukkan penurunan garis dan keriput, kontrol jerawat yang baik, dan beberapa kelegaan psoriasis, semua dari menggunakan krim yang mengandung nutrisi ini. Misalnya, dalam penelitian yang dipresentasikan pada Pertemuan Tahunan American Academy of Dermatology pada tahun 2003, peneliti dari Perancis menyatakan bahwa penggunaan retinol plus vitamin C menunjukkan perbaikan dari perubahan kulit yang disebabkan oleh kronologis penuaan dan photoaging. Dalam studi lain yang diterbitkan dalam British Journal of Dermatology, dokter menemukan bahwa makanan tinggi beta-cartotene-bentuk vitamin A dapat mengurangi risiko psoriasis(6). c. Defisiensi vitamin A Defisiensi vitamin A mula-mula terlihat dengan adanya gangguan adaptasi terhadap terang-gelap dan buta ayam. Jika defisiensi ini tidak ditangani dapat menimbulkan gejala lebih lanjut seperti : a. Penebalan, pengeringan dan keratinisasi konjungtiva mata (xeroftalmia) b. Terjadinya kekeruhan dan tukak pada kornea (keratitis), kelopak mata melekat, infeksi mata (keratomalasia) c. Pengeringan dan keratinisasi mukosa yang disertai hilangnya kemampuan mencium, akhilia, diare
d. Pengeringan kulit, keriput dan pembentukan sisik (hiperkeratosis).

d. Dosis Vitamin A

(5)

II.

VITAMIN C Vitamin C atau asam askorbat adalah bentuk gamma lakton dari asam 2-keto-L-

gulonat yang ada dalam bentuk enol.Gugus endiolnya menyebabkan senyawa ini mempunyai kemampuan reduksi yang kuat, sedangkan sifat asamnya ditentukan oleh gugus hidroksil pada C-3 (vinilog asam karbonat). a. Sumber vitamin C Asam askorbat terdapat dalam seluruh sel mahluk hidup, terutama pada buah segar (tomat, pepaya, jeruk, sitrun) dan kentang. Dari organ hewani yang paling banyak mengandung vitamin C adalah korteks adrenal, hipofise anterior, hati dan korpus luteum. Asam askorbat disintesis sendiri tidak hanya oleh tumbuhan tetapi juga hewan. Namun hanya manusia, kera dan marmot yang tidak dapat membentuk senyawa ini. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya suatu flavoprotein yaitu L-gulonolakton oksidase yang mengoksidasi gulonolakton secara aerob menjadi asam askorbat.

(7)

b. Peran fisiologi vitamin C 1. Hidroksilasi hormon korteks adrenal 2. Hindroksilasi dopamin menjadi nor adrenalin dan triptofan menjadi 5-hidroksi triptofan 3. Hidroksilasi prolin menjadi hidroksiprolin, yang mutlak perlu untuk pembentukan kolagen 4. Penguraian asam amino siklik
5. Perubahan asam folat menjadi asam folinat

6. Penutupan kapiler (efek antihialuronidase) 7. Pengaktifan trombin (mempercepat pembekuan darah) 8. Meningkatkan proses kekebalan dan meningkatkan absopsi besi. Adapun beberapa penelitian terkait vitamin C adalah sebagai berikut :
1. Sang-Yeon Suh (2012) menyatakan bahwa pemberian vitamin C secara intravena

dapat mengurangi kelelahan selama dua jam, dan efeknya berlangsung selama satu hari. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada efek samping di antara dua kelompok. Dosis tinggi intravena vitamin C terbukti aman dan efektif terhadap kelelahan dalam penelitian ini(8).
2. Siems (2008) menyatakan bahwa penggunaan vitamin C mampu meningkatkan

stabilitas kolagen di kulit(9).

3. Michael (2002) menyatakan bahwa Vitamin C ditoleransi dengan baik sebagai

suplemen yang dapat mencegah flu dan memperpendek durasi gejala sehingga dapat pulih lebih cepat(10). Akhilender (2003) dalam penelitiannya yang menguji vitamin C setelah gejala flu terjadi, ada beberapa bukti yang menunjukkan manfaat lebih besar pada penggunaan vitamin C dengan dosis tinggi dibandingkan dengan dosis yang lebih rendah(11). c. Defisiensi vitamin C Penyakit kekurangan vitamin C yang klasik yang terjadi pada orang dewasa adalah skorbut. Penyakit ini ditandai dengan kelelahan abnormal, kelelahan otot, perdarahan, gigi menjadi goyah dan mudah tanggal, dan mudah terkena penyakit infeksi. Sedangkan penyakit pada anak-anak yaitu Muller-Ballow (yang sekarang juga jarang terjadi). d. Dosis Vitamin C

(7)

Penggunaan vitamin C yang meningkat terjadi pada kondisi : a. Aktivitas tubuh yang berat (misalnya olahraga berat) b. Tumor ganas c. Penyinaran dengan sinar rontgen d. Penyakit infeksi akut dan kronis e. Penyakit metabolisme (misalnya diabetes) f. Selama kehamilan dan menyusui.

III.

VITAMIN E Vitamin E atau tokoferol adalah berbagai turunan kroman, yang pada posisi 2

mengandung rantai samping dengan 16 atom C. Vitamin E dapat dianggap produk kondensasi hidrokuinon termetilasi dengan fitol, yang mempunyai kerja paling kuat yaitu alfa-tokoferol. a. Sumber vitamin E Sampai saat ini diketahui bahwa tokoferol hanya disintesis pada tanaman. Sumber vitamin E yang terbesar terdapat pada kecambah, padi-padian dan minyak tanaman. Juga sayur-sayuran mempunyai kandungan vitamin E yang tinggi.

(12)

b. Peran fisiologi vitamin E Vitamin E bekerja pada metabolisme yaitu pada proses oksidasi-reduksi dan sebagai penangkap radikal bebas, menghambat pembentukan peroksida oleh asam lemak tinggi tak jenuh pada lipid membran serta menghambat oksidasi zat tubuh lainnya. Theresa (2006) menyatakan bahwa Sirkulasi awal dan akhir dari konsentrasi α-tocopherol secara positif berhubungan dengan pertumbuhan janin. Menurut American Academy of Dermatology, Vitamin E digunakan dalam krim, lotion, atau bentuk serum, vitamin E dapat memperbaiki kulit kering, kulit kasar(13).

c. Defisiensi vitamin E Kekurangan vitamin E dapat mempengaruhi sistem saraf dan mata. Hal ini juga dapat menyebabkan terjadinya anemia hemolitik. Kekurangan vitamin E sangat jarang, tetapi dapat berkembang di orang-orang yang tidak bisa menyerap lemak secara normal. Hal ini karena vitamin E merupakan vitamin yang larut dalam lemak dan membutuhkan lemak untuk diserap. Orang yang tidak mendapatkan cukup vitamin E memiliki kemungkinan yang lebih tinggi terhadap risiko penyakit jantung dan kanker. d. Dosis Vitamin E

(12)

MULTIVITAMIN Multivitamin adalah suatu sediaan yang ditujukan untuk menambah kebutuhan akan vitamin, mineral dan unsur nutrisi lainnya. Dalam multivitamin terdiri dari berbagai mikronutrien seperti vitamin dan mineral. Penggunaan multivitamin hanya dibenarkan pada saat kebutuhannya meningkat, atau selama minum obat-obatan tertentu. A. Fungsi fisiologis multivitamin 1. Multivitamin dapat digunakan untuk menggantikan vitamin alami (yang diperoleh dari makanan). 2. Bayi baru lahir perlu tambahan vitamin dan mineral untuk membantu proses pertumbuhannya. 3. Multivitamin yang dikonsumsi setiap hari dapat menyelesaikan semua masalah pada anak yang susah makan. Suplemen vitamin sebaiknya diberikan kepada anak semenjak anak masih kecil. B. Penelitian terkait multivitamin
1. Vitamin C dan E merupakan

vitamin yang digunakan untuk melawan efek

paparan sinar matahari. Dalam penelitian yang dipresentasikan pada tahun 2002 Annual Meeting of the American Academy of Dermatology, Duke University researcher Sheldon Pinnell and colleagues menunjukkkan bahwa Fotoproteksi yang cukup dapat diperoleh dari vitamin C dan E yang diberikan secara topikal. Vitamin C topikal dapat mencegah penuaan akibat paparan cahaya matahari berkepanjangan yang dapat menyebabkan kanker kulit. Karen E. Burke, MD, dalam rilis berita, menyatakan bahwa Suplementasi dengan Vitamin E alami dalam 400 mg per hari telah dicatat dapat mengurangi photodamage, keriput dan memperbaiki tekstur kulit. Penelitian ini telah didukung oleh penelitian yang lebih baru. The Journal of Investigative Dermatology yang melaporkan pada Februari 2005 bahwa orang-orang yang menggunakan vitamin C dan E dalam jangka panjang mengurangi sunburns dari paparan radiasi UVB radiasi. Selanjutnya, para peneliti melihat penurunan faktor terkait dengan kerusakan DNA dalam sel kulit, sehingga mereka menyimpulkan bahwa vitamin antioksidan membantu melindungi terhadap kerusakan DNA(14).

2. Segger (2004) menyatakan bahwa vitamin C dan E, karotenoid, selenium, seng,

asam amino dan glukosaminoglikan, ekstrak blueberry dan Pycnogenol®mampu memperbaiki elastisitas dan kehalusan kulit (memperbaiki tanda-tanda penuaan kulit)(15).
3. Gaia (2009) menyatakan bahwa terjadi penurunan angka kematian total terkait

dengan penggunaan suplemen vitamin C dan E, hal ini berhubungan dengan penurunan risiko mortalitas akibat CVD (Cardiovascular Disease(16).
4. Mirela (2012) menyatakan bahwa Retinil palmitat bekerja pada epitelisasi kulit

yang kering dan kasar, serta pada peningkatan keratinisasi yang abnormal. Ascorbyl tetraisopalmitate, prekursor vitamin C dapat mengurangi kerusakan sel yang dipicu oleh UVB dan efektif menekan UVB yang menginduksi pigmentasi. Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari turunan vitamin C dalam peningkatan hidrasi kulit, yang sangat penting untuk metabolisme kulit normal, pencegahan perubahan kulit dan penuaan dini. Tokoferil asetat merupakan penetral radikal bebas yang dapat mengurangi kerusakan DNA dan tingkat kematian pada keratinosit. Selain itu, dapat meningkatkan stratum korneum hidrasi dan mengurangi kekasaran kulit(17). Adapun contoh sediaan multivitamin yang beredar di Indonesia antara lain adalah Redoxon, Durol, Curcuma Plus, Stimuno, Sakatonik, Curvit CL, Biolysin, Fitkom, Feroglobin, Vidoran smart, Cerebrofort, dan Scott’s emulsion(4).

PEMBAHASAN JURNAL
(Terkait vitamin A, C dan E) Jurnal 1

A randomized, controlled comparative study of the wrinkle reduction benefits of a cosmetic niacinamide⁄peptide⁄retinyl propionate product regimen vs. a prescription 0.02% tretinoin product regimen
HPM Smedts, JH de Vries, M Rakhshandehroo, MF Wildhagen, AC Verkleij-Hagoort, EA Steegers, RPM Steegers-Theunissen Tujuan :Membandingkan efektivitas produk kosmetik regimen niacinamide/peptida/retinyl propionate dengan produk kosmetik regimen 0.02% tretionin dalam mengurangi kerutan halus pada wajah. Metode :Dilakukan dalam waktu 8 minggu secara randomized pada 196 wanita denga range usia 40-65 tahun. Subyek yang memenuhi syarat adalah yang memiliki keriput cukup parah pada kedua sisi wajah mereka. Tingkat keparahan keriput dinilai menggunakan skala dari grade 0 hingga 5. Sebelum diberikan regimen dosis, wajah subyek di prekondisikan selama 2 minggu dengan diberikan pembersih wajah serta pelembab wajah sebanyak 2x sehari. Setelah itu subjek secara acak diberikan regimen NPP (niacinamide/peptida/retininyl propionate) atau tretionin selama 8 minggu. Subjek yang diberikan NPP regimen, diberikan krim SPF 30 pada pagi hari dan krim malam pada malam hari merata di seluruh wajah, dimana sebelumnya diberikan pengobatan untuk mengatasi keriput (Olay Professional Pro-X Deep Wrinkle Treatment; Procter & Gamble Company) 2x sehari pada pagi dan malam hari. Pada krim SPF 30 mengandung niacinamide 5% dan peptide. Kemudian subjek secara acak diberikan 0.02% tretionin dalam basis emollient secara merata ke seluruh wajah setiap malam, selain itu direkomendasikan juga penggunaan pelembab SPF 30 pada setiap pagi selama 2 minggu pertama pengobatan. Setelah diawali pengobatan 2 minggu pertama, subjek diberikan 0.02% tretionin setiap malam. Toleransi produk dinilai melalui eritema klinis dan kekeringan grading, subjek penilaian diri, dan penentuan integritas kulit penghalang (kehilangan air transepidermal) dan perubahan protein stratum korneum.

Peningkatan garis halus dan kerutan pada wajah diukur oleh seorang ahli visual dengan mengunakan Rapid Evaluation of Anti aging Leads (REAL 3.0) system. Hasil : Setelah 8 minggu pengobatan, munculnya garis-garis halus dan kerutan wajah membaik pada kedua kelompok yang diukur dengan penilaian visual yang ahli dengan REAL (P = 0.05), tretinoin rejimen, P <0.01, NPP rejimen. Regimen NPP memberikan peningkatan secara signifikan lebih besar daripada rejimen tretinoin (P <0.01). Sebuah persentase yang signifikan lebih tinggi pada rejimen NPP (58%) dinilai terlihat lebih baik setelah 8 minggu pengobatan, menghasilkan perbaikan yang diberi nilai positif minimal +1 pada setiap sisi wajah mereka dengan setidaknya dua dari tiga grade , dibandingkan dengan regimen tretinoin (41%). Setelah 4 minggu pengobatan, eritema secara signifikan meningkat pada kelompok rejimen tretinoin dan secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dari regimen kelompok NPP (P = 0.01). Eritema pada rejimen kelompok NPP lebih rendah pada 4, 6 dan 8 minggu dibandingkan dengan 2 minggu dan tidak lagi secara signifikan berbeda dari awal. Di 6 dan 8 minggu, eritema memang menurun dalam rejimen tretinoin tetapi tetap jauh lebih tinggi dari pada awal. Kesimpulan : Keberhasilan suatu produk yang diresepkan untuk memperbaiki penampilan garis-garis halus dan kerutan wajah dapat dicapai dengan rejimen kosmetik yang sudah tepat, yang juga memberikan manfaat tambahan dalam estetika, toleransi kulit dan kepatuhan pasien. Regimen dosis NPP lebih baik dalam memperbaiki kerutan halus pada kulit dan juga memiliki efek eritema yang lebih rendah bila dibandingkan dengan regimen dosis tretionin 0.02%(18).

Jurnal 2

Intravenous Vitamin C administration reduces fatigue in office workers: a double-blind randomized controlled trial
Sang-Yeon Suh, Woo Kyung Bae, Hong-Yup Ahn, Sung-Eun Choi, Gyou-Chul Jung6and Chang Hwan Yeom Tujuan : Untuk menentukan kemanjuran dosis tinggi injeksi vitamin C pada kelelahan (fatigue) peda pekerja sehat dalam penelitian terkontrol acak (a randomized controlled trial) Metode : Double-blind, random allocated, placebo controlled trial yang dilakukan pada dua perusahaan di Republik Korea. Peserta direkrut antara Maret dan April 2008. Di acak 73 peserta untuk kelompok vitamin C, dan 74 peserta untuk kelompok plasebo. Para peserta menerima pengobatan tunggal intravena baik vitamin C (10 g) atau normal saline. Kriteria inklusi sbb:
1. umur 20 - 49 tahun

2. pekerja tetap di perusahaan 3. terlihat sehat
4. tidak ada asupan suplemen vitamin selama dua

hari sebelum

pendaftaran
5. berpartisipasi secara sukarela.

Kriteria eksklusi sbb :
1. Penyakit akut (seperti common cold atau gastroenteritis akut) 2. Penyakit kronis (seperti diabetes, hipertensi, penyakit hati atau

penyakit ginjal) 3. riwayat batu ginjal atau gout sebelumnya 4. sedang hamil atau menyusui
5. hipersensitivitas terhadap vitamin atau injeksi intravena.

Hasil : Skor kelelahan yang diukur dua jam setelah intervensi dan satu hari setelah intervensi berbeda secara signifikan antara kedua kelompok (p = 0,004), skor kelelahan menurun pada kelompok vitamin C setelah dua jam dan tetap rendah selama satu hari. Percobaan juga menyebabkan kadar vitamin C lebih

tinggi dan kadar plasma stres oksidatif rendah dibandingkan dengan kelompok plasebo (p <0,001, p <0,001, masing-masing). Ketika analisis data disempurnakan dengan pembagian setiap kelompok menjadi subkelompok high-baseline dan low-baseline, teramati bahwa kelelahan berkurang pada kelompok vitamin C level baseline rendah setelah dua jam dan setelah satu hari (p = 0,004). Kesimpulan : Peneliti menunjukkan bahwa pemberian dosis tinggi intravena vitamin C mengurangi kelelahan secara signifikan dibandingkan dengan plasebo pada pekerja kantoran. Selain itu, efek intervensi terkuat terdapat pada subyek dengan kadar vitamin C lower baseline dan menariknya, efeknya berlangsung sampai hari berikutnya. Temuan ini memiliki potensi implikasi klinis. Pasien dengan kelelahan yang parah, seperti pasien kanker yang rawat inap, dan pasien dengan resiko deficiency vitamin C, akan menunjukkan respon yang lebih baik. Dengan demikian, injeksi IV vitamin C mengurangi kelelahan selama dua jam dan efeknya berlangsung selama satu hari. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada efek samping antara dua kelompok. Dosis tinggi intravena vitamin C terbukti aman dan efektif terhadap kelelahan dalam penelitian ini(8). Jurnal 3

Effect of vitamin C on collagen biosynthesis and degree of birefringence in polarization sensitive optical coherence tomography (PS-OCT)
S. R. Sharma, R. Poddar, P. Sen, and J. T. Andrews Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian vitamin C pada biosintesis kolagen dan derajat birefringence dengan pengukuran kerusakan jaringan menggunakan polarization sensitive optical coherence tomography (PS-OCT). Metode : Penelitian ini menggunakan 10 responden yang dibagi ke dalam 2 kelompok. kelompok 1 (plasebo) dan kelompok 2 (perlakuan). Pada kelompok 1 menerima emulsi plasebo sedangkan kelompok 2 menerima emulsi yang mengandung 5% asam askorbat (vitamin C). Kedua kelompok ini memperoleh perlakuan setiap hari selama 6 bulan, kemudian mRNA masing-masing responden di uji dengan PS-OTC

Hasil : Telah terbukti bahwa dengan pemberian vitamin C dapat meningkatkan sintesis kolagen dan peningkatan kolagen ini sesuai dengan adanya peningkatan birefringence. Pemberian vitamin C akan meningkatkan mRNA kolagen dan dengan demikian ada peningkatan yang jelas di birefringence, yang akan memungkinkan PS-OCT untuk mendiagnosis kerusakan jaringan dengan sensitif. Oleh karena itu, Vitamin C dapat digunakan dalam penyembuhan luka bakar karena meningkatkan biosintesis kolagen. PS-OCT dapat digunakan untuk mengukur perubahan birefringence. Seperti vitamin C yang terlibat dalam biosintesis kolagen akan ada peningkatan asimetris kolagen yang akan mengakibatkan peningkatan birefringence tersebut. Kesimpulan : Birefringence merupakan kunci yang terlibat dalam biosintesis kolagen untuk mendiagnosis kerusakan jaringan bila digunakan dengan PS-OCT. Ditemukan peningkatan sebanyak delapan kali lipat biosintesis kolagen dalam pemberian vitamin C(19). Jurnal 4

High maternal vitamin E intake by diet or supplements is associated with congenital heart defects in the offspring
HPM Smedts, JH de Vries, M Rakhshandehroo,MF Wildhagen, AC Verkleij-Hagoort, EA Steegers, RPM Steegers-Theunissen Tujuan : Untuk mengkaji hubungan antara diet ibu hamil dan asupan suplemen antioksidan vitamin E, retinol, dan terjadinya cacat jantung bawaan(CHDs). Metode : Kuesioner frekuensi makanan yang meliputi asupan 4 minggu sebelumnya diisi pada 16 bulan setelah indeks masa kehamilan. Data dibandingkan antara kasus dan control menggunakan Mann-Whitney U test. Perkiraan resiko untuk hubungan antara CHD dan diet assupan vitamin E, retinol diperkirakan dalam suatu model regresi logistic multivariabel. Hasil : Diet asupan tinggi vitamin E pada kelompok kontrol yang menerima vitamin E 13,3 (8,1-20,4) mg/hari memiliki resiko penyakit cacat jantung bawaan lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok kontrol yang menerima vitamin E 12,6

(8,5-19,8) mg / hari (P =0,05). Risiko Penyakit cacat jantung bawaan meningkat dengan meningkatnya diet asupan vitamin E (P-trend = 0,01). Periconception penggunaan suplemen vitamin E di atas 14,9 mg / hari terkait dengan menyebabkan peningkatan sembilan kali lipat risiko penyakit cacat jantung bawaan. Sedangkan Intake retinol tidak secara signifikan Resiko Penyakit cacat jantung bawaan. Kesimpulan : Diet tinggi vitamin E pada ibu hamil berhubungan dengan peningkatan resiko penyakit cacat jantung bawaan(20). Jurnal 5

Vitamin E effect on controlled ovarian stimulation of unexplained infertile women
Nedim Cicek, Ozlem Gun Eryilma, Esma Sarikaya, Cavidan Gulerman, Yasemin Genc Tujuan : Untuk menentukan efek pemberian vitamin E terhadap hasil pengobatan wanita dengan infertilitas yang dijelaskan dengan adanya stimulasi ovarium dan inseminasi intrauterine (IUI). Metode : Penelitian ini dilakukan secara prospektif dengan ramdomize control trial, uji klinis untuk menilai dampak pemberian Vitamin E pada wanita infertil yang menjalani induksi ovulasi dan IUI. Penelitian ini dilakukan antara Juni 2011 dan Desember 2011 di Pelatihan Zekai Tahir Burak Perempuan dan Penelitian Rumah Sakit, Endokrinologi Reproduksi dan Infertilitas Departemen, Ankara, Turki. Penelitian ini melibatkan dua kelompok yaitu kelompok plasebo dan kelompok kontrol. kelompok kontrol diberi perlakuan atau ovarium stimulasi dengan klomifen sitrat dengan Vit E 400 IU / hari p.o. sedangkan kelompok plasebo menjalani induksi ovulasi tanpa Vitamin E dan hasil Pengobatan dibandingkan antar kelompok. Hasil : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara dua kelompok sehubungan dengan hasil demografis. Namun terdapat perbedaan ketebalan endometrium yang signifikan pada pemberian hCG antara kedua kelompok (p00.001). Pemberian Vitamin E tidak memiliki efek yang bermakna terkait dengan implantasi dan tingkat kehamilan yang sedang berlangsung. Namun hasil penting dari penelitian ini adalah semakin tinggi implantasi dan angka kehamilan yang

sedang berlangsung diamati pada pemberian Vit E meskipun perbedaan itu tidak signifikan. Kesimpulan : Administrasi vitamin E dapat meningkatkan respon endometrium pada wanita infertil yang dijelaskan melalui kemungkinan antioksidan dan efek antikoagulan. Hal ini juga dapat memodulasi efek antiestrogenik klomifen sitrat dan masalah pada endometrium yang tipis dalam siklus (21).

DAFTAR PUSTAKA
(1) Bender, David A.,Mayes Peter A., 2009, Biokimia Harper, edisi 27, EGC, Jakarta. (2) Mutschler Ernst, 1991, Dinamika Obat Farmakologi dan Toksikologi, Penerbit ITB,

Bandung.
(3) Katherine Hammond Chessman And Vanessa J. Kumpf, 2008, Assessment Of

Nutrition 2349.

Status

And

Nutrition

Requirements

In

Pharmacotherapy

A

Pathophysiologic Approach, 7th Edition, Mc Graw Hill, United State Of America,
(4) Anonim, 2010, ISO Informasi Spesialite Obat Indonesia, Ikatan Sarjana Farmasi

Indonesia, Jakarta.
(5) Nan C. Jensen and Linda B. Bobroff, 2009, Facts about Vitamin A, IFAS Extension,

University of Florida
(6) C. G. Fthenakis, D. H. Maes, And W. P. Smith, Esteel Auder., 1991, In Vivo

Assessment Of Skin Elasticity Using Ballistometry , J. Soc.Cosmect. Hem., 4 (2) : 211-222.
(7) Linda B. Bobroff and Isabel Valentín-Oguendo, 2010, Facts about Vitamin C, IFAS

Extension, University of Florida
(8) Sang-Yeon Suh, Woo Kyung Bae, Hong-Yup Ahn, Sung-Eun Choi, Gyou-Chul Jung

and Chang Hwan Yeom., Suh et al. 2012, Intravenous Vitamin C administration reduces fatigue in office workers: a double-blind randomized controlled trial, Nutrition Journal, 11 (7).
(9) W. Siems, R. Brenke, S. Sattler, C. Christ, A. Daser, 2008, Improvement in skin

elasticity and dermal revitalization in the treatment of cellulite and connective tissue weakness by means of Extracorporeal Pulse Activation Therapy: EPAT, Aesthetic Surgery Journal_ New York.
(10)

Michael Van Straten., Peter Josling, B.Sc. Hons., Advances In Therapy®,

2002, Preventing the Common Cold With a Vitamin C Supplement: A Double-Blind, Placebo Controlled Survey, Nutrition Journal, 19 (3).
(11)

K Akhilender Naidu, 2003, Vitamin C in human health and disease is still a

mystery ? An overview, Nutrition Journal, 2 (7). (12) Jennifer Hillan, 2006, Facts about Vitamin E, IFAS Extension, University of Florida
(13)

Theresa O Scholl, Xinhua Chen, Melissa Sims, and T Peter Stein ., 2006,

Vitamin E: maternal concentrations are associated with fetal growth, Am J Clin Nutr, 84 (8): 1442–1448.

(14)

Charlotte Grayson Mathis, 2005, Nutrients for Healthy Skin: Inside and Out;

Vitamins, minerals, and other nutrients can give your skin the youthful glow of good health, WebMD Inc, United Stated.
(15)

D Segger and F Scho¨nlau, 2004, Supplementation with Evelle1 improves skin

smoothness and elasticity in a double-blind, placebo-controlled study with 62 women, Journal of Dermatological Treatment, 15 : 222–226.
(16)

Gaia Pocobelli, Ulrike Peters, Alan R. Kristal, and Emily White., 2009, Use of

Supplements of Multivitamins, Vitamin C, and Vitamin E in Relation to Mortality, American Journal of Epidemiology, 170 (4).
(17)

Mirela Donato Gianeti, Lorena Rigo Gaspar, Flávio Bueno de Camargo Júnior

and Patrícia Maria Berardo Gonçalves Maia Campos., 2012, Benefits of Combinations of Vitamin A, C and E Derivatives in the Stability of Cosmetic Formulations, Molecules article, 17 : 2219-2230.
(18)

J.J.J. Fu, G. G. Hillebrand, P. Raleigh, J. Li, M. J. Marmor, et. al., 2009, A

randomized, controlled comparative study of the wrinkle reduction benefits of a cosmetic niacinamide⁄peptide⁄retinyl propionate product regimen vs. a prescription 0Æ02% tretinoin product regimen, British Journal of Dermatology, 10 : 1365-2133.
(19)

S. R. Sharma, R. Poddar, P. Sen, and J. T. Andrews, 2007, Effect of vitamin C

on collagen biosynthesis and degree of birefringence in polarization sensitive optical coherence tomography (PS-OCT), African Journal of Biotechnology, 7 (12): 20492054.
(20)

HPM Smedts, JH de Vries, M Rakhshandehroo,MF Wildhagen, AC Verkleij-

Hagoort, 2009, High maternal vitamin E intake by diet or supplements is associated with congenital heart defects in the offspring, BJOG, 116:416–423.
(21)

Nedim Cicek, Ozlem Gun Eryilma, Esma Sarikaya, Cavidan Gulerman,

Yasemin Genc, 2012, Vitamin E effect on controlled ovarian stimulation of unexplained infertile women, J Assist Reprod Genet, 29:325–328.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful