Performa Pertumbuhan Benih Ikan Mas Hasil Persilangan Strain Rajadanu, Subang, Majalaya, Dan Kuningan (Full Paper) Final

PERFORMA PERTUMBUHAN BENIH IKAN MAS HASIL PERSILANGAN STRAIN RAJADANU, SUBANG, MAJALAYA, DAN KUNINGAN

MH. Fariduddin Ath-thar*, Vitas Atmadi Prakoso, Fajar Gilang Pandawa, dan Sidi Asih Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor *email : mhfariduddinaththar@yahoo.co.id Abstrak Ikan mas merupakan salah satu komoditas potensial untuk mendukung peningkatan produksi perikanan budidaya, yaitu dengan menghasilkan ikan mas yang unggul dalam aspek pertumbuhan. Salah satu cara untuk menghasilkan ikan mas yang unggul dalam pertumbuhan adalah dengan cara persilangan atau hibridisasi. Dalam penelitian ini, persilangan dilakukan secara resiprok dari 4 strain ikan mas (Rajadanu, Subang, Majalaya dan Kuningan) sehingga didapatkan 16 kandidat strain baru. Selanjutnya dilakukan uji pertumbuhan hasil persilangan 4 strain ikan mas. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan panjang dan bobot, pertambahan biomass, dan sintasan. Dari hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa pertambahan biomass, pertumbuhan panjang, dan pertumbuhan bobot tertinggi didapatkan oleh hasil persilangan Subang dan Rajadanu, sedangkan sintasan terbaik dimiliki oleh hasil persilangan Kuningan dan Subang. Kata kunci : Ikan Mas, Hibridisasi, Pertumbuhan panjang, Pertumbuhan bobot

Pendahuluan Indonesia memiliki potensi lahan perikanan budidaya yang besar. Potensi inilah yang dapat dimanfaatkan secara optimal untul mendukung peningkatan produksi perikanan Indonesia sebesar 353% hingga tahun 2014 mendatang. Target peningkatan produksi ini harus didukung oleh berbagai aspek perikanan, salah satunya adalah perikanan budidaya. Salah satu aspek perikanan budidaya yang ikut berpengaruh terhadap peningkatan produksi tersebut adalah aspek genetik dan pengembangbiakan ikan. Hal yang dapat dilakukan dari aspek genetik adalah pembentukan strain unggul melalui pemuliaan yang mempunyai pertumbuhan lebih cepat dibanding strain yang sudah ada sebelumnya. Menurut Nugroho et al. (2001) terdapat dua teknologi pemuliaan untuk mendapatkan strain berkualitas yaitu secara konvensional dan inkonvensional. Salah satu cara konvensional yang tidak membutuhkan waktu yang lama, terutama untuk ikan mas adalah dengan hibridisasi. Hibridisasi adalah memanfaatkan sifat heterosis karena sifat dominan dan heterozigot pada banyak lokus (Tave, 1995). Hibridisasi dirasa cukup efektif untuk ikan mas dibandingkan seleksi famili karena membutuhkan waktu yang lebih singkat tanpa mengesampingkan teknologi transgenesis yang sedang dikembangkan di Indonesia. Beberapa penelitian tentang hibridisasi ikan mas telah dilakukan di Vietnam (Thien, 1993) yang menghasilkan ikan mas hibrid dengan

00. Majalaya dan Kuningan. laju pertumbuhan dan penampilan lebih baik serta di China (Wu. Majalaya dan Kuningan).sintasan. dengan FR 5% (sampai pemeliharaan berakhir). Persilangan dilakukan secara resiprokal terhadap 4 strain ikan mas yang kekerabatan genetiknya jauh yaitu ikan mas strain Rajadanu. dengan feeding time pukul 08. 1993) yang menghasilkan ikan mas hibrid dengan pertumbuhan lebih cepat dibanding tetuanya dan ikan mas di alam. Setelah diperoleh data biomassa setiap wadah dilakukan penghitungan kebutuhan pakan. Sebagai langkah awal program hibridisasi ikan mas. Subang. dan pukul 18. Ikan yang digunakan adalah ikan mas berukuran 3-5 cm hasil persilangan 4 strain berbeda. maka diperlukan induk yang unggul pula. Dengan hibridisasi diharapkan terdapat peningkatan mutu genetik dari hybride vigoure (H) yang langsung dapat dirasakan dalam budidaya pembesaran oleh petani. Metodologi Penelitian ini dilakukan di Instalasi Riset Plasma Nutfah Cijeruk. Untuk menghasilkan benih unggul tersebut. Hasil sampling kemudian dihitung untuk melihat keragaan pertumbuhan baik panjang maupun bobot dari 16 kandidat ikan hasil persilangan. baik dari segi pertumbuhan maupun dari kelangsungan hidupnya. benih ikan yang dihasilkan juga harus memiliki keunggulan. Pakan yang diberikan berupa pakan pelet komersil dengan komposisi yang sama . Selain ketersediaan benih yang unggul. feeding frekuensi 3 kali sehari.00. BRPBAT Bogor pada bulan Agustus sampai September 2010. pada penelitian ini dilakukan pengamatan performa pertumbuhan terhadap ikan hasil persilangan 4 strain ikan mas (Rajadanu. pukul 13.00. Ikan dipelihara di akuarium berukuran 100 x 80 x 60 cm. Perbaikan mutu benih ikan air tawar di Indonesia merupakan program sistem pembenihan nasional yang melibatkan petani pembenih untuk memproduksi benih sebar hasil dari induk pokok varietas unggul. Parameter yang digunakan dalam uji pertumbuhan ini adalah pertumbuhan panjang dan pertumbuhan bobot. Ketersediaan induk unggul memiliki kontribusi dalam perbaikan mutu benih melalui perbaikan mutu genetik ikan air tawar khususnya program seleksi dan hibridisasi menempatkan varietas unggul ikan merupakan komoditas strategis. Subang.

56 ± 0. dan aktivitas fisik (Weatherly and Gill. Majalaya. sehingga pakan yang diberikan dapat dioptimalkan untuk proses pertumbuhan.017 0.47 ± 0.036 0. 2005).159 0. suhu dan aktivitas fisik. yaitu makanan. Tabel 1.112 0.67 ± 0. sehingga persilangan Subang dan Rajadanu mampu beradaptasi terhadap ruang dan suhu air di akuarium.165 0.52 ± 0.020 Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor. salinitas.80 ± 0.223 0. . dimungkinkan faktor yang berperan dalam pertumbuhan adalah faktor ruang.50 ± 0.121 0.100 0.32 ± 0. Nilai pertambahan mutlak panjang yang diperoleh hasil persilangan Subang dan Rajadanu tidak berbeda nyata dengan persilangan Majalaya dan Majalaya.080 K 0.087 0. ruang.Hasil dan Pembahasan Hasil yang diperoleh pada tabel 1 menunjukkan bahwa pertambahan mutlak panjang tertinggi didapatkan oleh hasil persilangan Subang dan Rajadanu sedangkan terendah pada persilangan Rajadanu dan Subang.090 0.66 ± 0.51 ± 0.36 ± 0.52 ± 0.44 ± 0.45 ± 0. musim. 1987 dalam M. Pertambahan panjang hasil persilangan 4 strain ikan mas (Rajadanu.072 M 0.57 ± 0.145 Betina S 0. Subang. Kuningan) Pertambahan Panjang (cm) Jenis Indukan R R M Jantan S K 0. Benih ikan mas hasil persilangan Subang dan Rajadanu diduga memiliki tingkat adaptasi yang lebih tinggi dibandingkan benih hasil persilangan lainnya. suhu.159 0. Dari hasil ini.026 0. namun berbeda nyata dengan persilangan lainnya.53 ± 0. Ali et al.57 ± 0.

Namun nilai pertumbuhan bobot mutlaknya tidak berbeda nyata dengan sebagian besar hasil persilangan lainnya. 2004). . Sama halnya dengan pertambahan panjang mutlak. Rajadanu x Kuningan. faktor ruang sangat berpengaruh pada pertumbuhan ikan mas. dan Subang x Kuningan. Grafik Panjang Rata-Rata Benih Ikan Mas Hasil Persilangan Selama 40 hari Hasil yang diperoleh pada tabel 2 menunjukkan bahwa pertumbuhan mutlak bobot tertinggi didapatkan oleh hasil persilangan Subang dan Rajadanu sedangkan terendah pada persilangan Rajadanu dan Kuningan. Subang x Kuningan. Terbatasnya ruang gerak benih ikan mas yang dipelihara di akuarium membuat pertumbuhan benih ikan mas menjadi tidak optimal dan cenderung lebih lambat dibandingkan apabila dipelihara di akuarium.4 % dari total bobot tubuhnya (Flajshans and Hulata. benih hasil persilangan Subang dan Rajadanu juga unggul dalam pertumbuhan bobot mutlak dibandingkan dengan hasil persilangan lainnya. Subang x Subang.Gambar 1. Pertumbuhan harian ikan mas dapat mencapai 2 . Nilai pertumbuhan bobot mutlak Subang dan Rajadanu berbeda nyata dengan persilangan Rajadanu x Subang. Akan tetapi pada penelitian ini. Majalaya x Rajadanu.

57 ± 0.157 0.42 ± 0. Kuningan) Pertumbuhan Bobot (gr) Jenis Indukan R R M Jantan S K 0.090 0.59 ± 0.53 ± 0.121 K 0. menunjukkan bahwa pertumbuhan biomass mutlak tertinggi didapatkan oleh hasil persilangan Subang dan Rajadanu sedangkan terendah pada persilangan Rajadanu dan Kuningan.26 ± 0.50 ± 0.099 0.47 ± 0.277 0.228 0. sesuai dengan .459 0.017 0. Majalaya. Grafik Bobot Rata-Rata Benih Ikan Mas Hasil Persilangan Selama 40 hari Jika dilihat dari aspek pertambahan biomass.172 0.55 ± 0.321 0.167 Betina S 0.34 ± 0.33 ± 0.371 0.45 ± 0.156 0.081 0.47 ± 0.59 ± 0.55 ± 0.145 M 0.79 ± 0.104 Gambar 2.59 ± 0. Hal ini membuktikan bahwa persilangan mampu menghasilkan benih yang memiliki keunggulan dari segi pertumbuhan dibandingkan dengan galur murninya. Pertumbuhan bobot hasil persilangan 4 strain ikan mas (Rajadanu. Subang.Tabel 2.

855 18.75 ± 6. Hal ini sejalan dengan pernyataan Lemarie (2001) bahwa peningkatan heterozigositas pada perkawinan beda kerabat diduga dapat menghasilkan perbaikan dan peningkatan kelangsungan hidup.819 84.849 K 76.333 48.15 ± 3.67 ± 8.547 88.85 ± 1.89 ± 13.pernyataan Kurniasih dan Gustiano (2007) bahwa hibridisasi mempunyai tujuan untuk memperbaiki kualitas benih.508 10.21 ± 0.389 Dari aspek sintasan.70 ± 2.00 ± 6.927 K 15. Subang.979 16.836 19. sedangkan yang terendah yaitu Rajadanu dengan Rajadanu.849 94.321 56.53 ± 4.292 14.89 ± 3. Sintasan hasil persilangan 4 strain ikan mas (Rajadanu.37 ± 12.00 ± 12.44 ± 6.019 84. nilai tertinggi ada pada persilangan Kuningan dengan Rajadanu. Majalaya.184 82.939 74.792 15. .22 ± 3.53 ± 0.89 ± 1.150 9.44 ± 10.753 Tabel 4. Adanya hibridisasi ini dapat membuat tingkat kelangsungan hidup benih menjadi lebih baik.74 ± 3.620 72. Pertambahan biomass hasil persilangan 4 strain ikan mas (Rajadanu. Subang.96 ± 10.666 15.98 ± 8. Tabel 3.907 M 12.255 16.00 ± 3.849 90.607 16.44 ± 1.11 ± 3.00 ± 17.667 50.67 ± 11.773 13.44 ± 12.22 ± 8. seperti perbaikan terhadap laju pertumbuhan.39 ± 8.17 ± 2.22 ± 5.472 72.51 ± 1. Majalaya.51 ± 3.092 81.925 60. Kuningan) Pertambahan Biomass (gr) Jenis Indukan R R M Jantan S K 17. Kuningan) Sintasan (%) Jenis Indukan R R M Jantan S K M Betina S 70.456 14.659 Betina S 24.

Dengan peningkatan suhu air.288 1. karena air di tempat pemeliharaan memiliki suhu yang rendah.26 ± 0.48 ± 0.85 ± 0.248 1.377 1.009 untuk SGR panjang dan 1. Pertumbuhan spesifik harian/ Specific Growth Rate (SGR) panjang dan bobot hasil persilangan 4 strain ikan mas (Rajadanu.85 ± 0.33 ± 0.Tabel 5.476 1. Subang.079 0.103 0.49 ± 0.185 0. pertumbuhan panjang.31 ± 0.605 1.61 ± 0.015 0.288 untuk SGR Bobot. sedangkan sintasan terbaik dimiliki oleh hasil persilangan Kuningan dan Subang.62 ± 0.86 ± 0. 1977.46 ± 0.20 ± 0. 2006).47 ± 0. nilai SGR yang tertinggi ada pada persilangan Subang dan Rajadanu.768 1.356 1.064 0.038 0.14 ± 0.46 ± 0.667 1.583 1.47 ± 0.54 ± 0.43 ± 0.59 ± 0.068 0.76 ± 0.62 ± 0. diduga faktor suhu yang paling berperan terhadap nilai SGR benih hasil persilangan 4 strain ini. yaitu dengan nilai sebesar 0. 1988 dalam Tiwari et al.781 0.136 0.363 1.061 Jika dilihat dari Tabel 5 di atas.025 0. nilai SGR akan meningkat pada level yang lebih tinggi dan menurun pada level yang lebih rendah (Wurtsbaugh and Davis. Kuningan) Persilangan RD X RD RD X MJ RD X SB RD X KN MJ X MJ MJ X RD MJ X SB MJ X KN SB X SB SB X RD SB X MJ SB X KN KN X KN KN X RD KN X MJ KN X SB SGR Panjang (%/hari) 0.43 ± 0.40 ± 1.57 ± 0.44 ± 0.42 ± 0. Majalaya.09 ± 0.063 0.009 0.370 1. Kesimpulan Dari hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa pertambahan biomass. dan pertumbuhan bobot tertinggi didapatkan oleh hasil persilangan Subang dan Rajadanu. Cui and Wootton.132 0. . Dari hasil yang diperoleh.36 ± 0.222 1.37 ± 0.124 0.096 SGR Bobot (%/hari) 1.41 ± 0.085 0.068 0.134 0.44 ± 0.426 1.38 ± 0.19 ± 0.39 ± 0.

1993. Vol. 229-232. H. 352. T dan Gustiano. and E.. In : Main K. Nugroho. In : Main K. Proceeding of A Workshop in Honolulu.Daftar Pustaka Flajshans. 2007. And G. p. Hibridisasi sebagai alternatif untuk penyediaan ikan unggul. 1995. 1993. Hawaii. and E.L. D. Manuscript FP 05 019. T. No. J. p. R. C. 1993. G. B. Selective Breeding of Fishes in Asia and The United States. 2. Vol 2 : 37-40. Sci. Hawaii. et al. Selective Breeding of Fishes in Asia and The United States. 1993. A Review of the Fish Breeding Research and Practises in Indonesia. 190-197 Wu. Ghosh. May 3-7. 1993. Reynolds. FAO Fisheries Technical Paper. M. Gjedrem. p. 18-23 G. Selective breeding programmes for medium-sized fish farms. May 3-7. Ali. May 3-7. 3. Proceeding of A Workshop in Honolulu. Rome. No. International Selective Breeding Programs: Constraints and Future Prospect. Pemuliaan dan Prospek Perbenihan. A Review of Traditional Fish Selective Breeding Research and Practises in China with Emphasis on the use of Genetic Markers. Comparative study of body composition of different fish species from brackish water pond. Warta Penelitian Perikanan indonesia 7 (4): 18-23 Tave.L. 2005. Hulata. T. Vol. Tech.Palavas. 1993. A simple test to evaluate the salinity tolerance of Oreochromis niloticus. Tiwari. Genimpact Final Scientific Report.M. 2004. 2001. Proceeding of A Workshop in Honolulu. Environ. FAO Thien. May. M. 2001 (in press). P : 32-39. saotherodon melanotheron and their hybrids. Common Carp – Cyprinus carpio. Sarkar and L. Lemarie.IFREMER. Amarulloh dan F. Media Aquaculture. Comparative Int. Selective Breeding of Fishes in Asia and The United States. Hawaii. 2006. Kurniasih.VIII. © Autumn 2005. and E. Reynolds. pp. “Observation of Common Carp (Cyprinus carpio) FryFingerlings Rearing in a Greenhouse during Winter Period”. Reynolds. 206-213 . Sukadi. Agricultural Engineering International: the CIGR Ejournal. E. In : Main K.L.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful