P. 1
Karakteristik Ilmuwan Muslim

Karakteristik Ilmuwan Muslim

|Views: 1|Likes:
Published by Muhammad Mukhlis

More info:

Published by: Muhammad Mukhlis on Jan 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

pdf

text

original

1

BAB I
PENDAHULUAN

Menghadapi era globalisasi dan abad ilmu pengetahuan modern,
perkembangan dunia akan diramaikan dengan berbagai perubahan dalam
aspek-aspek kehidupan. Peradaban dunia dewasa ini akan semakin bebas
dan terbuka, sehingga persinggungan peradaban antara budaya dan
bangsa akan meluas tanpa mengenal batas wilayah ataupun negara.
Berbagai peradaban yang dibentuk oleh bangsa-bangsa di dunia akan
menimbulkan pergumulan, saling mempengaruhi satu dengan lainnya,
yang terkadang bisa menimbulkan bentrokan yang merugikan dan
persaingan yang tidak sehat. Akibat pergumulan peradaban dunia itu,
langsung atapun tidak langsung akan menimbulkan berbagai perubahan
norma dan nilai dalam suatu masyarakat. Perubahan norma dan nilai itu
sering berbeda atau bahkan bertentangan dengan ajaran agama.
Mengamati kenyataan itu, maka peran ilmuwan muslim sangat
dominan dalam mengantisipasi berbagai perkembangan dan benturan
budaya antar etnis dan bangsa di dunia. Kaum ilmuwan muslim
seharusnya menjadi pelopor dalam membentuk masyarakat yang religius
di masa depan. Mereka seharusnya mengarahkan perkembangan sains
dan teknologi serta pendayagunaan fungsinya untuk membentuk suatu
peradaban yang luhur, sesuai dengan pesan-pesan Islam. dengan ilmu
yang dimiliki, kemampuan menganalisis masa depan dan kemampuan
lain yang terus melaju, ilmuwan muslim akan menjadi peletak dasar bagi
pembentukan budaya umat manusia pada masa yang akan datang.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dalam
pembahasan kali ini pemakalah akan membahasa mengenai bagaimana
karateristik seorang Ilmuwan Muslim itu.

2

BAB II
PEMBAHASAN
KARAKTERISTIK ILMUWAN MUSLIM DALAM PERSPEKTIF
FALSAFAH PENDIDIKAN ISLAM

A. Pengertian Pendidikan Islam
Istilah pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai
usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-
nilai yang terdapat di dalam masyarakat dan bangsa. Dengan
demikian, makna pendidikan Islam dapat diartikan sebagai usaha
manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan ajaran-ajaran
Islam
1

Hasan Langgulung merumuskan pendidikan Islam sebagai
suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan,
memindahkan kemampuan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang
diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal dan memetik
hasilnya kelak di akhirat.
2

Dengan demikian pendidikan Islam adalah suatu proses
pembentukan individu atau pembentukan kepribadian muslim
berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah SWT Kepada
Muhammad SAW. Ajaran Islam tidak memisahkan antara iman dan
amal saleh. Oleh karena itu, pendidikan Islam merupakan pendidikan
iman dan pendidikan amal. Karena ajaran Islam berisi ajaran tentang
sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat menuju kesejahteraan

1
Djumransjah, dkk, Pendidikan Islam ; Menggali “Tradisi”, Meneguhkan
Eksistensi, (Malang : UIN-Malang Press, 2007), hlm 1
2
Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam (Bandung: al
Ma‟arif, 1980), hlm 6.
3

hidup perorangan dan bersama, maka pendidikan Islam adalah
pendidikan individu dan pendidikan masyarakat.
3


B. Pengertian Karakteristik Ilmuwan Muslim
Istilah karakteristik diambil dari bahasa Inggris yakni
characteristic, yang artinya mengandung sifat khas. Ia mengungkapkan
sifat-sifat yang khas dari sesuatu.
Dalam kamus lengkap psikologi karya Chaplin, dijelaskan bahwa
karakteristik merupakan sinonim dari kata karakter, watak, dan sifat yang
memiliki pengertian di antaranya:
1. Suatu kualitas atau sifat yang tetap terus-menerus dan kekal yang
dapat dijadikan cirri untuk mengidentifikasikan seorang pribadi, suatu
objek, suatu kejadian.
2. Intergrasi atau sintese dari sifat-sifat individual dalam bentuk suatu
untas atau kesatuan.
3. Kepribadian seeorang, dipertimbangkan dari titik pandangan etis atau
moral.
Jadi di antara pengertian-pengertian di atas sebagaimana yang
telah dikemukakan oleh Chaplin, dapat disimpulkan bahwa karakteristik
itu adalah suatu sifat yang khas, yang melekat pada seseorang atau suatu
objek.
Ilmuwan adalah orang yang bekerja dan mendalami ilmu
pengetahuan dengan tekun dan sungguh-sungguh, orang yang ahli atau
banyak pengetahuannya atau orang yang berkecimpung di ilmu
pengetahuan.
4


3
Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1992), hlm 28.
4
Wikipedia, Ilmuwan, diakses pada tanggal 11 Oktober 2012 melalui situs :
http://id.m.wikipedia.org/wiki/ilmuwan
4

Muslim (Arab: مل س م, Muslim) adalah secara harfiah berarti
"seseorang yang berserah diri (kepada Allah)", termasuk segala makhluk
yang ada di langit dan bumi. Kata muslim kini merujuk kepada penganut
agama Islam saja, kemudian pemeluk pria disebut dengan Muslimin
(نومل س م) dan pemeluk wanita disebut Muslimah (ةمل س م ) adalah sebutan
untuk wanita Islam.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bawah
karakteristik ilmuwan muslim adalah ciri atau sifat khas seseorang yang
bekerja dan mendalami ilmu pengetahuan dengan tekun dan sungguh-
sungguh dan beragama Islam.

C. Karakteristik Ilmuwan Muslim
Tanda-tanda seorang ilmuwan yang muslim (cendekiawan
muslim/intelektual Islam) haruslah memiliki karakteristik sebagai
berikut:
1. Bersungguh-sungguh belajar (QS 3/7). Firman Allah :
4O¬- -Og~-.- 4·4O^Ò¡ El^OÞU4N
=U4-´¯^¯- +OuLg` ¬e4C-47
7eE©·¯^4O` O}¬- O¯q¡
´U4-´¯^¯- NOE=q¡4Ò
¬eE_)l4=4N` W E`Ò··
4ׯg~-.- O)× ¯¦)_)O¬U¬~
[uuCEe 4pON¬):4©41·· 4`
4O4l4=·> +OuLg` 47.4¯g-¯-
gO4Lu-g¼^¯- 47.4¯g-¯-4Ò
·g¡)-CjÒ··> ¯ 4`4Ò NªÞUu¬4C
¼N¡·-CjÒ··> ·º)³ +.- ¯
4pONC´c·O¯-4Ò O)× ´¦·Ug¬^¯-
5

4pO7¯O¬³4C EL4`-47 ·gO) 7
;}g)` g³LgN 4L)Þ4O ¯ 4`4Ò
NO-OO4C ·º)³ W-O7¯Òq¡
´U4:^¯·- ^_÷
Artinya:
Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi)
nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan
yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam
hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-
ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk
mencari-cari ta'wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya
melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami
beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan
kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-
orang yang berakal.
Seorang muslim sangat menyadari akan hakikat semua aktifitas
hidupnya adalah dalam rangka pengabdiannya kepada Allah SWT,
sehingga dirinya haruslah mengoptimalkan semua potensi yang
dimilikinya untuk sebesar-besarnya digunakan meningkatkan taraf
hidup kaum muslimin.

2. Berpihak pada kebenaran (QS 5/100). Firman Allah :
¬~ ·º O÷O4-¯OEC ÷+1)l·C^¯-
CUj´O-C¯-4Ò ¯O·¯4Ò
El4lE×;NÒ¡ 7E4O^4E
g+1)l·C^¯- _ W-O¬³E>··
-.- Oj¯Òq^4C ´U4:^¯·-
¯ª7¯+UE¬·¯ ¬]O÷·)U^¼¬> ^¯´´÷
Artinya:
6

Katakanlah: "tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya
yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-
orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan."
Seorang muslim sangat menyadari bahwa ilmu yang bermanfaat
yang didapatnya itu kesemuanya dari sisi Allah SWT. Allah-lah yang
telah mengajarinya dan membuatnya bisa mengenal alam semesta ini.
Sehingga sebagai konsekuensinya, maka ia haruslah berpihak kepada
kebenaran yang telah diturunkan Allah SWT, tidak peduli ia harus
berhadapan dengan para oportunis, dan tidak peduli walaupun yang
berpihak kepada kebenaran itu sangat sedikit. Karena ia tahu bahwa
saat menghadap Allah SWT kelak, masing-masing akan
mempertanggungjawab kan perbuatannya sendiri-sendiri dan Allah
SWT tidak akan menyia-nyiakan setiap perbuatan walaupun kecil (QS
99/7-8). Firman Allah :
}E©·· ¯E©u¬4C 4··³u1g` ·E·O·O
-6O^OE= +Þ4O4C ^_÷ }4`4Ò
¯E©u¬4C 4··³u1g` ±E·O·O -+OE-
+Þ4O4C ^g÷
Artinya:
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia
akan melihat (balasan)nya. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan
sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.

3. Kritis dalam belajar (QS 39/18). Firman Allah :
4ׯg~-.- 4pON¬g©4¯OEC
4·¯O·³^¯- 4pON¬):+4O··
¼+O4L=O;OÒ¡ _ Elj·^·¯Òq¡
4ׯg~-.- Nª÷_.E³E- +.- W
7

Elj·^·¯Òq¡4Ò ¯ª¬- W-O7¯Òq¡
´U4l^¯·- ^¯g÷
Artinya:
yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di
antaranya. mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan
mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.
Setiap muslim mengetahui bahwa kebenaran yang terkandung
dalam ilmu pengetahuan yang dipelajarinya bersifat relatif dan tidak
tetap. Sehingga ia selalu berusaha bersifat kritis dan tidak menelan
bulat2 apa yang dipelajarinya dari berbagai ilmu pengetahuan modern
tanpa melakukan suatu pengujian dan eksperimen. Bisa saja suatu saat
nanti teori yang saat ini dianggap benar akan ditinggalkan, karena
kebenaran teori bersifat akumulatif, sehingga dengan semakin
berlalunya waktu maka akan semakin mengalami penyempurnaan.
Hal ini berbeda dengan kebenaran al-Qur‟an yang bersifat absolut
karena ia diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui akan kebenaran.

4. Menyampaikan ilmu (QS 14/52).
-EOE- [uÞU4 +EELUg¢¯
W-Ò+OEOLN1g¯4Ò ·gO)
W-EO÷©ÞUu¬4Og¯4Ò E©^^Ò¡ 4O¬-
¬O·¯)³ /³gÞ4Ò 4O-OO41g¯4Ò
W-O7¯Òq¡ ´U4:^¯·- ^)g÷
Artinya:
(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya
mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui
bahwasanya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar orang-orang yang
berakal mengambil pelajaran.
8

Sifat kaum muslimin yang keempat adalah berusaha
mengamalkan ilmu yang sudah didapatnya dengan berusaha
menyampaikannya sedapat mungkin kepada orang lain. Karena
pahala ilmu yang telah dipelajari akan menjadi suatu amal yang tidak
pernah putus walaupun ia telah tiada, jika telah menjadi suatu ilmu
yang bermanfaat.

5. Sangat takut pd Allah SWT (QS 65/10).
O³4NÒ¡ +.- ¯ª+¤O± 6-EO4N
-4³Cg³E- W W-O¬³E>·· -.-
Oj¯Òq^4C ´U4l^¯·-
4ׯg~-.- W-ONL4`-47 _ ;³·~
4·4O^Ò¡ +.- ¯¦7¯¯O·¯)³ -wO^gO
^¯´÷
Artinya:
Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, Maka bertakwalah kepada
Allah Hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang
beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu
Sifat yang kelima dari seorang ilmuwan muslim adalah bahwa
dengan semakin bertambahnya ilmu pengetahuan yang didapatnya
maka ia merasa semakin takut kepada Allah SWT. Hal ini disebabkan
karena dengan semakin banyaknya ilmunya, maka semakin banyak
rahasia alam semesta ini yang diketahuinya dan semakin yakinlah ia
akan kebenaran firman Allah SWT dalam kitab-Nya. Bukan
sebaliknya, semakin pandai maka semakin jauh ia kepada Allah SWT.

6. Bangun diwaktu malam (QS 39/9).
9

;}E`Ò¡ 4O¬- 7egL·~ 47.4^-47
÷^O-¯- -4³´}Ec
V©j*.·~4Ò +OEO^4·©
ÞE4O´=E- W-ON_¯O4C4Ò ·O4·uO4O
·gO)Þ4O ¯ ¯¬~ ¯E- O÷O4-¯OEC
4ׯg~-.- 4pO+···;¬4C
4ׯg~-.-4Ò ºº 4pO÷©ÞU;¬4C ¯
E©^^)³ NO-EO4-4C W-O7¯Òq¡
´U4l^¯·- ^_÷
Artinya:
(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang
beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut
kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah:
"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran.
Ciri seorang ilmuwan muslim yang keenam sebagai konsekuensi
dari ciri kelima diatas adalah bahwa dengan semakin yakinnya ia
kepada penciptanya maka akan semakin banyak ia beribadah kepada-
Nya dan sebaik-baik ibadah adalah ibadah yang dilakukan diwaktu
malam (QS 32/16).
5

_OÞ×E×4·> ¯ª÷_+ONLN_ ^}4N
;7´_º_E©^¯- 4pONN;³4C
¯ª×g4±4O +·¯OE= 4¬E©·C4Ò
O©g`4Ò ¯ª÷_4L^~Ee4O
4pO¬³g¼LNC ^¯g÷

5
Yordan Gunawan, Tanda-Tanda Ilmuwan Muslim (Ulil Albab) diakses pada
tanggal 10 Oktober 2012 melalui situs : http://yordangunawan.staff.umy.ac.id/ Tanda-
Tanda Ilmuwan Muslim (Ulil Albab).htm
10

Artinya:
lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada
Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa
apa rezki yang Kami berikan.
Para ulama khususnya ulama hadis, telah merumuskan syarat
apakah seseorang bisa diterima transfer ilmunya. Salah satunya adalah
tsiqah, Memang pembahasan ini banyak dijumpai dalam ilmu hadis. Tapi
bukan berarti predikat tsiqah mutlak dimiliki oleh para ahli hadis semata.
Hal ini juga dapat diterpakan bagi para pakar di segala bidang. Menurut
hemat penulis, tsiqah adalah sebuah syarat yang harus dimiliki oleh setiap
ilmuwan muslim.
Islam sangat anti dengan sekularisme. Keberadaan manusia
sebagai pemakmur bumi juga demikian. Islam memiliki pedoman cara
pandang dan cara hidup di dunia dan itu datang dari Yang Menciptakan
Yang Maha Tahu. Maka memisahkan agama dari kehidupan dunia sangat
tidak menjanjikan. Begitu juga dengan memisahkannya dengan ilmu.
Seorang ilmuwan tanpa dilandasi dengan aqidah yang kuat akan bertekuk
lutut dihadapan thâghût
6
yang memaksanya menggunakan ilmu di jalan
yang salah, seperti mengebor minyak dihiasi dengan sikap pura-pura
tidak tahu dengan akibatnya terhadap lingkungan sekitar. Orientasi hidup
juga berubah menjadi materi atau dunia an sich. Tanpa akhlak Islami,
segala cara akan dilakukan utnuk meraih tujuan dan kejayaannya di
dunia. Pemanfaatan nuklir yang semestinya bisa menjadi sumber energi
dialihkan untuk menjadi senjata pemusnah massal.
Dhâbith merupakan bentuk kehati-hatian dalam mengemban
amanah ilmiah. Apabila dikaitkan dengan materi pelajaran, maka dhâbith
adalah hafal dan paham 100%. Tidak hanya itu, Mushthafa Abu al-Khair,

6
Segala hal yang diberikan hak ketuhanan seperti disembah, dipuja, dan ditaati
selain Allah dan dia rela untuk diperlakukan seperti itu
11

seorang dosen hadis Universitas al-Azhar di depan mahasiswanya
menyatakan bahwa dhâbith adalah mampu mengeluarkan hafalan secara
sempurna dalam keadaan apapun tanpa persiapan. Bisa juga berarti lebih
banyak benar daripada salah atau lalai (ghaflah) nya, karena tidak
mungkin manusia lepas dari salah dan lupa. Dengan lebih praktis, Ibnu
Shalah mendefinisikan dhâbith sebagai „sadar, tidak lalai, dan sempurna
apabila ia meriwayatkan berdasarkan hafalannya maupun catatannya‟.
Selain hafal, seseorang juga harus memahami apa yang ia pelajari dan
sampaikan. Salah satu syarat rawi menurut Ibnu Abdi al-Barr adalah
memahami apa yang ia riwayatkan.
Dari sini dapat dipahami bahwa Islam tidak menginginkan
seseorang untuk menjadi setengah ilmuwan atau sepersekian ilmuwan.
Dalam tradisi keilmuan Islam, sangat diperhatikan masalah penguasaan
materi, tidak sekedar pandai beretorika tapi hanya di kulitnya, tidak
menguasai sebuah ilmu sampai mendalam.
Berangkat dari sini, maka selain menguasai materi di kepala,
seorang pelajar hendaknya menjaga catatan dan buku-buku yang
menunjang studinya. Karena memang memori di otak terkadang
ketelingsut sehingga membutuhkan catatan atau buku untuk
mengembalikannya. Imam Ahmad bin Hanbal terkenal selalu menjaga
validitas materi yang ia sampaikan. Ia selalu merujuk pada buku
pegangannya ketika ada orang yang bertanya. Ada beberapa syarat
dhâbith:
1. Sadar ketika menerima ilmu, memperhatikan, dan tidak tidur ketika
pelajaran.
2. Tidak lalai (al-Ghaflah), meskipun pandangan mengarah kepada guru,
apalah artinya apabila pikiran mengarah ke tempat lain?
12

3. Selalu menjaga hafalan, penguasaan materi, dan catatannya.
7


D. Syarat-Syarat Seorang Ilmuwan
Beberapa syarat seorang ilmuwan adalah :
1. Kejujuran Intelektual
2. Emtode ilmiah
3. Prosedur ilmiah
4. Adanya suatu gelar yang berdasarkan pendidikan formal yang
ditempuh
5. Menyatakan pendapat argumentatif
6. Berani surut kalau keliru
7. Terbuka dan menerima kebenaran yang baru dikenalnya

E. Tokoh-Tokoh Ilmuwan Muslim dan Peranannya
Peranan cendekiawan muslim sangatlah besar dalam
mewujudkan ilmu pengetahuan, cendekiawan adalah sekelompok kaum
terpelajar atau intelektual dari golongan islam yang mencurahkan seluruh
kemampuannya dalam bidang ilmu pengetahuan.
Islam mengajarkan kepada kita untuk bekerja keras dan rajin
dalam menuntut ilmu, karena dengan ilmulah kita akan mendapat derajat
yang tinggi baik di sisi Allah atau menusia.
8
Berikut ini beberapa ilmuwan
dalam islam adalah sebagai berikut :
1. Ibnu Rushd (Averroes)
Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol)
pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd

7
Azhar Musa, „Âdil + Dhâbith = Tsiqah; Karakter Ilmuwan Muslim, diakses pada
tanggal 10 Oktober 2012 melalui situs : http://www.kompasiana.com/azharmusa „Âdil
+ Dhâbith = Tsiqah%3b Karakter Ilmuwan Muslim.htm
8
Ardhi, Tokoh-Tokoh Ilmuwan Muslim dan Peranannya, diakses pada tanggal 10
Oktober 2012 melalui situs : http://emolist988.blogspot.com/2010/03/tokoh-tokoh-
muslim-dan-perananya.html
13

adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri
adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia
mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan
filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja‟far Harun dan Ibnu
Baja.
Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia
dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar
diberikan untuk mengabdi sebagai “Kadi” (hakim) dan fisikawan. Di
dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator
terbesar atas filsafat Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen di
abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas.
Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan
masalah kedokteran dan masalah hukum.Pemikiran Ibnu Rusyd
Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan
fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua
karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan
Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya
sudah tidak ada.
Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti
yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat
Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.Karya :
- Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)
- Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran)
- Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari‟at (filsafat
dalam Islam dan menolak segala paham yang bertentangan dengan
filsafat)


2. Ibnu Sina / Avicenna
14

Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat
adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia
(sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Beliau juga seorang
penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah
tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah
“Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya
yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang
kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang
merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.
Karya Ibnu Sina, fisikawan terbesar Persia abad pertengahan ,
memainkan peranan penting pada Pembangunan kembali Eropa. Dia
adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar.
Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia
dianggap oleh banyak orang sebagai “bapak kedokteran modern.”
George Sarton menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling terkenal dari
Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat,
dan waktu.” pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of
Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai
Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).
Kehidupannya dikenal lewat sumber – sumber berkuasa. Suatu
autobiografi membahas tiga puluh tahun pertama kehidupannya, dan
sisanya didokumentasikan oleh muridnya al-Juzajani, yang juga
sekretarisnya dan temannya.
Ibnu Sina lahir pada tahun 370 (H) / 980 (M) di rumah ibunya
Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari
Persia). Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh
Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur
suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur, sekarang
15

wilayah Afghanistan (dan juga Persia). Dia menginginkan putranya
dididik dengan baik di Bukhara.
Meskipun secara tradisional dipengaruhi oleh cabang Islam
Ismaili, pemikiran Ibnu Sina independen dengan memiliki kepintaran
dan ingatan luar biasa, yang mengizinkannya menyusul para gurunya
pada usia 14 tahun.
Ibn Sina dididik dibawah tanggung jawab seorang guru, dan
kepandaiannya segera membuatnya menjadi kekaguman diantara para
tetangganya; dia menampilkan suatu pengecualian sikap intellectual
dan seorang anak yang luar biasa kepandaiannya / Child prodigy
yang telah menghafal Al-Quran pada usia 5 tahun dan juga seorang
ahli puisi Persia. Dari seorang pedagan sayur dia mempelajari
aritmatika, dan dia memulai untuk belajar yang lain dari seorang
sarjana yang memperoleh suatu mata pencaharian dari merawat orang
sakit dan mengajar anak muda.
Meskipun bermasalah besar pada masalah – masalah metafisika
dan pada beberapa tulisan Aristoteles. Sehingga, untuk satu setengah
tahun berikutnya, dia juga mempelajari filosofi, dimana dia
menghadapi banyak rintangan. pada beberapa penyelidikan yang
membingungkan, dia akan meninggalkan buku – bukunya, mengambil
air wudhu, lalu pergi ke masjid, dan terus sholat sampai hidayah
menyelesaikan kesulitan – kesulitannya. Pada larut malam dia akan
melanjutkan kegiatan belajarnya, menstimulasi perasaannya dengan
kadangkala segelas susu kambing, dan meskipun dalam mimpinya
masalah akan mengikutinya dan memberikan solusinya. Empat puluh
kali, dikatakan, dia membaca Metaphysics dari Aristoteles, sampai
kata – katanya tertulis dalam ingatannya; tetapi artinya tak dikenal,
sampai suatu hari mereka menemukan pencerahan, dari uraian singkat
oleh Farabi, yang dibelinya di suatu bookstall seharga tiga dirham.
16

Yang sangat mengagumkan adalah kesenangannya pada penemuan,
yang dibuat dengan bantuan yang dia harapkan hanya misteri, yang
mempercepat untuk berterima kasih kepada Allah SWT, dan
memberikan sedekah atas orang miskin.
Dia mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar
teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui
perhitungannya sendiri, menemukan metode – metode baru dari
perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang
fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa “Kedokteran
tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika
dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya
menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien,
menggunakan obat – obat yang sesuai.” Kemasyuran sang fisikawan
muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa
meminta bayaran.







BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Filsafat berarti berfikir secara mendalam, sistematik, radikal dan
universal dalam rangka mencari kebenaran mengenai segala sesuatu yang
ada, baik abstrak maupun konkret. Pendidikan Islam adalah suatu proses
17

pembentukan individu atau pembentukan kepribadian muslim
berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah SWT Kepada
Muhammad SAW.
Ilmuwan adalah orang yang bekerja dan mendalami ilmu
pengetahuan dengan tekun dan sungguh-sungguh. Tanda-tanda seorang
ilmuwan yang muslim (cendekiawan muslim/intelektual Islam) haruslah
memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Bersungguh-sungguh belajar
- Berpihak pada kebenaran
- Kritis dalam belajar
- Menyampaikan ilmu
- Sangat takut pd Allah SWT
- Bangun diwaktu malam
- tsiqah








DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. 1996. Filsafat Pendidikan Islam 1. Jakarta: Logos

Syadali, Ahmad dan Mudzakir. 1999. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka
Setia

Djumransjah, dkk. 2007. Pendidikan Islam ; Menggali “Tradisi”, Meneguhkan
Eksistensi, Malang : UIN-Malang Press
18


Langgulung, Hasan. 1980. Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam
Bandung: al Ma‟arif

Daradjat, Zakiah. 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara

http://id.m.wikipedia.org/wiki/ilmuwan

http://yordangunawan.staff.umy.ac.id/ Tanda-Tanda Ilmuwan Muslim
(Ulil Albab).htm

http://www.kompasiana.com/azharmusa „Âdil + Dhâbith = Tsiqah%3b
Karakter Ilmuwan Muslim.htm

http://emolist988.blogspot.com/2010/03/tokoh-tokoh-muslim-dan-
perananya.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->