REFRAT KWASHIORKOR

PENDAHULUAN Malnutrisi energi protein (MEP) merupakan salah satu dari empat masalah gizi utama di Indonesia. Prevalensi yang tinggi terdapat pada anak di bawah umur lima tahun (balita) serta pada ibu hamil dan menyusui. Berdasarkan Riskesdas 2007, 13% balita menderita gizi kurang dan 5,4% balita menderita gizi buruk. Pada Risdesdas 2010, 13% balita menderita gizi kurang sedangkan angka gizi buruk turun menjadi 4,9% 1,2. Berdasarkan lama dan beratnya kekurangan energi protein, MEP diklasifikasikan menjadi MEP derajat ringan-sedang (gizi kurang) dan MEP derajat berat (gizi buruk). Gizi kurang belum menunjukkan gejala klinis yang khas, hanya dijumpai gangguan pertumbuhan dan anak tampak kurus. Pada gizi buruk, di samping gejala klinis didapatkan kelainan biokimia sesuai dengan bentuk klinis. Pada gizi buruk didapatkan 3 bentuk klinis yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmik kwashiorkor, walaupun demikian penatalaksanaannya sama 2. Kwashiorkor adalah sindrom klinis yang diakibatkan dari defisiensi protein berat dan asupan kalori yang tidak adekuat. Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang berlangsung kronis. Anak penderita kwashiorkor secara umum mempunyai ciri-ciri pucat, kurus, atrofi pada ekstremitas, adanya edema pedis dan pretibial serta asites 3,4. Pentingnya memperhatikan asupan makanan bagi anak harus disadari oleh semua orang tua agar tidak terjadi defisit kronis yang menyebabkan kwashiorkor. Di sisi lain orang tua tidak semua paham akan nutrisi yang diperlukan bagi pertumbuhan anak. Orang tua juga perlu mengetahui ciri-ciri bila anak menderita kwashorkor dan memerlukan tindakan kuratif 3,4. Klasifikasi MEP berdasarkan WHO-NCHS Menurut pengukuran berat badan: a. MEP Ringan  (BB/U) 70-80% atau (BB/TB) 80-90% b. MEP Sedang  (BB/U) 60-70% atau (BB/TB) 70-80%

1

c. MEP Berat  (BB/U) <60% atau (BB/TB) <70% Menurut bentuk klinis: a. Marasmus b. Kwashiorkor c. Marasmus-Kwashiorkor Tanpa melihat berat badan bila disertai edema yang bukan karena penyakit lain adalah MEP berat/ gizi buruk tipe Kwashiorkor.

Klasifikasi menurut McLarren Gejala klinis/laboratoris Edema Dermatosis Edema disertai dermatosis Perubahan pada rambut Hepatomegali Albumin serum atau prot total serum <1.00 1-1.49 1.50-1.99 2.00-2.49 2.50-2.99 3.00-3.49 3.50-3.99 >4.00 <3.25 3.25-3.99 4.00-4.75 4.75-5.49 5.50-6.24 6.25-6.99 7.00-7.74 >7.75

Angka 3 2 6 1 1 7 6 5 4 3 2 1 0

Keterangan: 0-3 4-8 9-15 = marasmus = marasmik kwashiorkor = kwashiorkor

DEFINISI Kwashiorkor adalah sindrom klinis yang diakibatkan dari defisiensi protein berat dan asupan kalori yang tidak adekuat. Dari kekurangan masukan atau dari kehilangan yang berlebihan atau kenaikan angka metabolik yang disebabkan oleh infeksi kronik, akibat defisiensi vitamin dan mineral dapat turut menimbulkan tanda-tanda dan gejala-gejala tersebut. Kwashiorkor berarti “anak tersingkirkan”, yaitu anak yang tidak lagi menghisap, dapat menjadi jelas sejak masa bayi awal sampai sekitar usia 5 tahun, biasanya sudah menyapih dari ASI.

2

keju. Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang berlangsung kronis. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup. Pola makan Protein (asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang.Walaupun pertambahan tinggi dan berat dipercepat dengan pengobatan. terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap terjadi kwashiorkhor. Faktor yang dapat menyebabkan hal tersebut antara lain 8: 1.4. Gangguan penyerapan protein pada diare kronik 3. tidak semua makanan mengandung protein / asam amino yang memadai. ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dan sudah berlangsung turun temurun dapat menjadi hal yang menyebabkan terjadinya kwashiorkor. ukuran ini tidak pernah sama dengan tinggi dan berat badan anak yang secara tetap bergizi baik 3. namun bagi yang tidak memperoleh ASI protein dari sumbersumber lain (susu. 2. Gangguan sintesis protein seperti pada penyakit hati kronis. tahu dll) sangatlah dibutuhkan. Kekurangan intake protein 2. Faktor sosial Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Kehilangan protein secara berlebihan seperti pada proteinuria dan infeksi kronik 4. Bayi yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari ASI yang diberikan ibunya. telur. ETIOLOGI Etiologi dari kwashiorkor adalah 1. 3 . keadaan sosial dan politik tidak stabil.

Seperti gejala malnutrisi protein disebabkan oleh gangguan penyerapan protein. dalam makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG). Faktor ekonomi Kemiskinan keluarga / penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi. misalnya yang dijumpai pada keadaan diare kronis. dan biasanya juga diserta adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya 9. infeksi saluran pencernaan.3. PATOFISIOLOGI MEP adalah manifestasi dari kurangnya asupan protein dan energi. Malnutrisi sekunder bila kondisi masalah nutrisi seperti di atas disebabkan karena adanya penyakit utama. yang pada umumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi. kehilangan protein secara tidak normal pada proteinuria (nefrosis). Disebut malnutrisi primer bila kejadian MEP akibat kekurangan asupan nutrisi. Kalau terjadi stress katabolik (infeksi) maka kebutuhan protein akan meningkat. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. infeksi kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik. kalau kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih di atas -3 SD (-2SD. saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya. Dan sebaliknya MEP. maka terjadilah kwashiorkor (malnutrisi akut /”decompensated 4 . 4. penyerapan nutrisi yang turun dan/meningkatnya kehilangan nutrisi 10. yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi meningkat. walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas tubuh terhadap infeksi.-3SD). seperti kelainan bawaan. pendidikan serta rendahnya pengetahuan di bidang gizi. sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif. Faktor infeksi dan penyakit lain Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. serta kegagalan mensintesis protein akibat penyakit hati yang kronis. Makanan yang tidak adekuat. dimulai dengan pembakaran cadangan karbonhidrat kemudian cadangan lemak serta protein dengan melalui proses katabolik. akan menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup.

makin kurangnya asam amino dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya produksi albumin oleh hepar yang kemudian berakibat timbulnya odema. penurunan berbagai sintesis enzim 9. PATOLOGI Pada defisiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam dietnya.malnutrition”). penurunan kadar albumin serum.8. maka akan terjadilah marasmik-kwashiorkor. Pada kondisi ini penting peranan radikal bebas dan anti oksidan. sehingga transport lemak dari hati terganggu dengan akibat terjadinya penimbunan lemak dalam hati 6. penurunan sistem kekebalan tubuh. 5 . Bila stres katabolik ini terjadi pada saat status gizi di bawah -3 SD. penurunan hemoglobin. Kalau kondisi kekurangan ini terus dapat teradaptasi sampai di bawah -3 SD maka akan terjadilah marasmik (malnutrisi kronik / compensated malnutrition) 11. Dengan demikian pada MEP dapat terjadi: gangguan pertumbuhan. atrofi otot. Karena kekurangan protein dalam diet akan terjadi kekurangan berbagai asam amino dalam serum yang jumlahnya yang sudah kurang tersebut akan disalurkan ke jaringan otot.11. Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan beta liprotein. Kelainan yang mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang disebabkan edema dan perlemakan hati.

3. Selain berat badan. Wujud Umum Secara umumnya penderita kwashiorkor tampak pucat. kurus. Kesadarannya juga bisa menurun. Perubahan Mental Biasanya penderita cengeng. Retardasi Pertumbuhan Gejala penting ialah pertumbuhan yang terganggu. dan anak menjadi pasif. Mekanisme edema pada kwashiorkor MANIFESTASI KLINIS Tanda atau gejala yang dapat dilihat pada anak dengan malnutrisi energi protein kwashiorkor.6: 1. Penampilan anak kwashiorkor seperti anak gemuk (sugar baby). Terdapat dua hipotesis yang menjelaskan hal tersebut: karakteristik perilaku anak yang gizinya kurang 6 . Muka penderita ada tanda moon face dari akibat terjadinya edema. Gizi buruk dapat mempengaruhi perkembangan mental anak. tinggi badan juga kurang dibandingkan dengan anak sehat. Perubahan mental bisa menjadi tanda anak mengalami dehidrasi. hilang nafsu makan dan rewel. 2. adanya edema pedis dan pretibial serta asites. atrofi pada ekstremitas. antara lain 5. Pada stadium lanjut bisa menjadi apatis.Gambar 1.

Edema pada kwashiokor 5. jarang dan berubah warna menjadi putih. gangguan dinding kapiler. Rambut terdiri dari keratin (senyawa protein) sehingga kurangnya protein akan menyebabkan 7 . Gambar 1. hipotesis lain mengatakan bahwa keadaan gizi buruk mengakibatkan perubahan struktural dan fungsional pada otak.menyebabkan penurunan interaksi dengan lingkungannya dan keadaan ini selanjutnya akan menimbulkan outcome perkembangan yang buruk. Sering bulu mata menjadi panjang. kering. dan hormonal akibat dari gangguan eliminasi ADH. maupun warnanya. baik mengenai bangunnya (texture). Edema Pada sebagian besar penderita ditemukan edema baik ringan maupun berat. Rambut yang mudah dicabut di daerah temporal (Signo de la bandera) terjadi karena kurangnya protein menyebabkan degenerasi pada rambut dan kutikula rambut yang rusak. rambut akan tampak kusam. Pada penderita kwashiorkor lanjut. Edemanya bersifat pitting. Edema terjadi bisa disebabkan hipoalbuminemia. 4. halus. Kelainan Rambut Perubahan rambut sering dijumpai. Sangat khas untuk penderita kwashiorkor ialah rambut kepala yang mudah tercabut tanpa rasa sakit.

buku kaki. Gambar 2. E. yaitu crazy pavement dermatosis yang merupakan bercak-bercak putih atau merah muda dengan tepi hitam ditemukan pada bagian tubuh yang sering mendapat tekanan. Terutama bila tekanan itu terus-menerus dan disertai kelembapan oleh keringat atau ekskreta. Kelainan Kulit Kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih mendalam dan lebar. Pada sebagian besar penderita dtemukan perubahan kulit yang khas untuk penyakit kwashiorkor.kelainan pada rambut. lipat paha. Kelainan rambut pada kwashiorkor 6. seperti pada bokong. C. Pada suatu saat mengelupas dan memperlihatkan bagian-bagian yang tidak mengandung pigmen. dibatasi oleh tepi yang masih hitam oleh hiperpigmentasi. Perubahan kulit demikian dimulai dengan bercakbercak kecil merah yang dalam waktu singkat bertambah dan berpadu untuk menjadi hitam. lutut. Sering ditemukan hiperpigmentasi dan persisikan kulit karena habisnya cadangan energi maupun protein. dan sebagainya. fosa poplitea. 8 . Kurangnya nicotinamide dan tryptophan menyebabkan gampang terjadi radang pada kulit. paha. Warna rambut yang merah (seperti jagung) dapat diakibatkan karena kekurangan vitamin A.

Kelainan Darah dan Sumsum Tulang Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita kwashiorkor. 9. vitamin B kompleks (B12. Perlemakan hati terjadi akibat defisiensi faktor lipotropik. dan gangguan sistem komplimen. amoebiasis) maka dapat dijumpai anemia berat. dan hambatan pertumbuhan. Bila disertai penyakit lain. folat. nekrosis. 8. Sering juga ditemukan caries pada gigi penderita. osteoporosis. Sering juga ditemukan tanda fibrosis. Anemia juga terjadi disebabkan kurangnya nutrien yang penting untuk pembentukan darah seperti Ferum.Gambar 3. Defisiensi protein juga menyebabkan gangguan pembentukan sistem kekebalan tubuh. dan infiltrasi sel mononukleus. Crazy pavement dermatosis 7. B6). Kelainan Gigi dan Tulang Pada tulang penderita kwashiorkor didapatkan dekalsifikasi. Kelainan Hati Pada biopsi hati ditemukan perlemakan. Kelainan dari pembentukan darah dari hipoplasia atau aplasia sumsum tulang disebabkan defisiensi protein dan infeksi menahun. Akibatnya terjadi defek umunitas seluler. 9 . terutama infestasi parasit (ankilostomiasis. bisa juga ditemukan biopsi hati yang hampir semua sela hati mengandung vakuol lemak besar.

11. 12. lakrimal. sehingga segala pemberian makanan ditolak dan makanan hanya dapat diberikan dengan sonde lambung. Hal ini terjadi karena 3 masalah utama yaitu berupa infeksi atau infestasi usus. Kelainan Gastrointestinal Gejala gastrointestinal merupakan gejala yang penting. intoleransi laktosa. Anoreksia kadangkadang demikian hebatnya. dan atrofi villi mukosa usus halus. Atrofi Otot Massa otot berkurang karena kurangnya protein. dan malabsorbsi lemak. 13. Diare terdapat pada sebagian besar penderita. konjugasi hati. defisiensi lipase pankreas. Protein juga dibakar untuk dijadikan kalori demi penyelamatan hidup. Kelainan Pankreas dan Kelenjar Lain Di pankreas dan kebanyakan kelenjar lain seperti parotis. 14.10. Intoleransi laktosa disebabkan defisiensi laktase. Pada pankreas terjadi atrofi sel asinus sehingga menurunkan produksi enzim pankreas terutama lipase. Pada anak dengan gizi buruk dapat terjadi disakaridase. defisiensi enzim 10 . saliva dan usus halus terjadi perlemakan. Kelainan Jantung Bisa terjadi miodegenerasi jantung dan gangguan fungsi jantung disebabkan hipokalemi dan hipomagnesemia. Kelainan Ginjal Malnutrisi energi protein dapat mengakibatkan terjadi atrofi glomerulus sehingga GFR menurun. Malabsorbsi lemak terjadi akibat defisiensi garam empedu.

7. Perubahan mental sampai apatis 2. kadang sampai seluruh tubuh 6. atau berat badannya kurang. Manifestasi klinis kwashiorkor pada anak DIAGNOSIS Anamnesis Keluhan yang sering ditemukan adalah pertumbuhan yang kurang. Anemia 11 . sering menderita sakit yang berulang atau timbulnya bengkak pada kedua kaki.Gambar 3. Selain itu ada keluhan anak kurang/tidak mau makan. Pemeriksaan Fisik 1. anak kurus.

Kondisi III Jika ditemukan: muntah dan atau diare atau dehidrasi 4. Pembesaran hati 6. Letargis c. cengeng. Hasil pemeriksaan pada anak dengan MEP: 1. Renjatan (Shock) b. Kondisi IV Jika ditemukan letargis 5. Atrofi otot 8. Perubahan kulit (dermatosis) 7.3. dapat sampai seluruh tubuh Marasmus: Marasmik-kwashiorkor: terdapat tanda dan gejala klinis marasmus dan kwashiorkor secara bersamaan. Otot atrofi sehingga kontur tulang terlihat jelas. Gejala klinis marasmus antara lain: Penampilan wajah seperti orang tua. Kadangkadang terdapat bradikardi. terlihat sangat kurus. Tekanan darah lebih rendah dibandingkan anak sehat yang sebaya. Gangguan sistem gastrointestinal 5. Kondisi V 12 . keriput. Perubahan warna dan tekstur rambut. Kondisi II Jika ditemukan: a. Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit berkurang. Letargis b. Kulit kering. Muntah dan atau diare atau dehidrasi 3. Perubahan mental. Muntah dan atau diare atau dehidrasi 2. mudah dicabut / rontok 4. dingin dan mengendor. Kondisi I Jika ditemukan: a. Edema simetris pada kedua punggung kaki.

Sindroma nefrotik 3. Payah jantung kongestif 4. Renjatan (Shock) b. Pemeriksaan laboratorium: kadar gula darah. Anemia berat 5. Letargis c. Diare persisten 4. feses lengkap. Malaria 8. globulin). elektrolit serum. Trauma 2.Jika tidak ditemukan: a. Gangguan mata 2. anemia selalu ditemukan terutama jenis normositik normokrom karena adanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis sumsum tulang di samping karena asupan zat besi yang 13 . Muntah/diare/dehidrasi Penyakit penyerta yang sering ditemui pada MEP: 1. Pada pemeriksaan laboratorium. darah tepi lengkap. protein serum (albumin. Tuberkulosis 7. Gangguan kulit 3. feritin. Parasit/cacing 6. Pellagra infantil PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang diperlukan: 1. HIV DIAGNOSIS BANDING Adanya edema serta ascites pada bentuk kwashiorkor perlu dibedakan dengan 4: 1.

dan hipomagnesemia. Hal ini terjadi sebagai akibat perubahan sumber energi utama metabolisme tubuh. Hipoglikemia. Secara klinis pasien dapat mengalami disritmia. Diare karena terjadi atrofi epitel usus 6. Tes mantoux 4. 3. Defisiensi zat besi 2. gagal napas akut. dari lemak pada saat kelaparan menjadi karbonhidrat yang diberikan sebagai bagian dari dukungan nutrisi. 14 . nefropati. hipokalemia. Komplikasi lain yang dapat ditimbulkan dari kwashiorkor adalah 4. koma paralisis.6: 1. Hiperpigmentasi kulit 3. AP dan lateral) juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada paru. EKG KOMPLIKASI Anak dengan kwashiorkor akan lebih mudah untuk terkena infeksi dikarenakan lemahnya sistem imun. gagal jantung. sehingga terjadi peningkatan kadar insulin serta perpindahan elektrolit yang diperlukan untuk metabolism intraseluler. Imunitas menurun sehingga mudah infeksi 5. Pemeriksaan radiologi (dada. 2. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yang menurun 4. Oleh sebab itu dalam pemberian dukungan nutrisi pada pasien malnutrisi berat perlu diberikan secara bertahap 6. Edema anasarka 4. hipomagnesemia Refeeding syndrome adalah salah satu komplikasi metabolik dari dukungan nutrisi pada pasien malnutrisi berat yang ditandai oleh hipofosfatemia. Bukti secara statistik mengemukakan bahwa kwashiorkor yang terjadi pada awal kehidupan (bayi dan anak-anak) dapat menurunkan IQ secara permanen. kerusakan hati dan gangguan absorbsi. Tinggi maksimal dan kempuan potensial untuk tumbuh tidak akan pernah dapat dicapai oleh anak dengan riwayat kwashiorkor. dan disfungsi hati.kurang dalam makanan.

6. 3.TATA LAKSANA MEP berat ditata laksana melalui 3 fase (stabilisasi.11: Tabel 1. Hipoglikemia Hipotermia Dehidrasi Elektrolit Infeksi Mulai Pemberian Makanan (F-75) 7. transisi dan rehabilitasi) dengan 10 langkah tindakan seperti tabel di bawah ini 10. Mikronutrien Stimulasi Tanpa Fe Dengan Fe Hari ke 2-7 Transisi Minggu ke-2 Rehabilitasi Minggu ke 3-7 10. Pemberian Makanan untuk Tumbuh Kejar (F100) 8. Tindak Lanjut 15 . 9. Sepuluh langkah tata laksana MEP berat No Fase Stabilisasi Hari ke 1-2 1. 5. 4. 2.

5 5 36 413 1000 29 42 59 19 7. Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan volume menjadi 1000 ml.3 23 2.3 20 2. aduk sampai kalis dan berbentuk gel. F-100. Masak selama 4 menit. Komposisi F-75. kemudian masukkan susu skim sedikit demi sedikit.5 12 53 419 1350 33 48 63 22 8 30 3. dan F-135 beserta nilai gizi masing-masing formula Bahan makanan Per 1000 ml F-75 F-100 F-135 Formula WHO Susu skim bubuk Gula pasir Minyak sayur Larutan elektrolit Air sampai Nilai gizi Energi Protein Laktosa Kalium Natrium Magnesium Seng Tembaga (Cu) % Energi protein % Energi lemak Osmolaritas Kkal g g mmol mmol mmol mg mg mosm/l 750 9 13 36 6 4. aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix.Tabel 2.4 10 57 508 g g g ml ml 25 100 30 20 1000 85 50 60 20 1000 90 65 75 27 1000 Cara membuat formula WHO Formula WHO 75 Campurkan gula dan minyak sayur. 16 . Larutan ini bisa langsung diminum. bagi anak yang disentri atau diare persisten.

cairan 130 ml/hari 17 . berikan kotrimoksasol selama 5 hari b. pernafasan. Antibiotika sebagai pengobatan pencegahan infeksi: a. Mulai pemberian makanan Fase awal  faali hemostasis kurang jadi harus hati-hati Pemberian porsi kecil. sering. Bila tidak jelas ada infeksi. Cairan resomal peroral 5 ml/kgbb 5. Atasi/cegah hipoglikemi GDA < 50 mg/dl 50 ml D10% bolus IV  evaluasi tiap 2 jam beri makanan tiap 2 jam 3. kemudian masukkan susu skim sedikit demi sedikit. Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan volume menjadi 1000 ml. air mata. aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix. Bila infeksi nyata: Ampisilin IV selama 2 hari. dilanjutkan dengan oral sampai 7 hari. ditambah dengan gentamisin IM selama 7 hari 7. Atasi gangguan elektrolit Beri cairan rendah Na (resomal) Makanan rendah garam 4. secara parenteral hanya pada dehidrasi berat atau syok 2.Formula WHO 100 Campurkan gula dan minyak sayur. berikan makanan tiap 2 jam 6. rendah laktosa  oral nasogastrik Kalori 80-100 kal?Kgbb/ hari. frekuensi kencing. Pengobatan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit Rehidrasi secara oral dengan Resomal. Atasi/cegah hipotermi Suhu < 36°  hangatkan. Medikamentosa 1. Atasi/cegah dehidrasi Penilaian dehidrasi  denyut nadi. aduk sampai kalis dan berbentuk gel. Larutan ini bisa langsung diminum atau dimasak dulu selama 4 menit.

Umumnya terdapat defisiensi seng (Zn): beri preparat Zn peroral c.5 mg/kgBB setiap 8 jam selama 7 hari. Kompres bagian kulit yang terkena dengan larutan KmnO (kalium-permanganat) 1% selama 10 menit ii. Tetes mata chloramphenicol atau salep mata tetracycline. atau preparat antelmintik. menyerupai luka bakar. lakukan pemeriksaan tinja mikroskopik. antara lain oleh Candida. Diare melanjut Diobati bila hanya diare berlanjut dan tidak ada perbaikan keadaan umum. deskwamasi (kulit mengelupas). Parasit/cacing Beri Mebendazole 100 mg oral. Beri: Metronidazole 7. 1 tetes 3 kali sehari selama 3-5 hari iii. Atasi penyakit penyerta yang ada sesuai pedoman a. 18 . Tatalaksana: i. d. Bila ada ulkus di mata diberikan: i. Teteskan tetes mata atropin. Sering kerusakan mukosa usus dan Giardiasis merupakan penyebab lain dari melanjutnya diare.8. lesi ulcerasi eksudatif. Beri salep atau krim (Zn dengan minyak katsor) iii. sering disertai infeksi sekunder. 2 kali sehari selama 3 hari. Bila mungkin. Dermatosis Dermatosis ditandai adanya hipo/hiperpigmentasi. Tutup mata dengan kasa yang dibasahi larutan garam faali b. setiap 2-3 jam selama 7-10 hari ii. Berikan formula bebas/rendah lactosa. Usahakan agar daerah perineum tetap kering iv.

9.000 SI. yaitu <6 bulan : 50. >1 tahun : 200. selanjutnya mulai berikan formula khusus (75/pengganti). selanjutnya 1 mg per hari. Multivitamin-mineral. Dalam hal ini. Bila tidak ada perbaikan klinis maka anak menderita syok septik. khusus asam folat hari pertama 5 mg. diobati sesuai pedoman pengobatan TB. 11.9% (1:1) atau larutan ringer dengan kadar dextrosa 5% sebanyak 15 ml/KgBB dalam satu jam pertama. Bila positif atau sangat mungkin TB. Tuberkulosis Pada setiap kasus gizi buruk. Bila ada perbaikan klinis (kesadaran. Vitamin A (dosis sesuai usia. 10 ml/kgBB/jam selama 10 jam. Ulangi pemberian cairan seperti di atas untuk 1 jam berikutnya. lakukan tes tuberkulin/mantoux (seringkali alergi) dan Ro-foto toraks.000 SI.e. 6-12 bulan : 100. frekuensi nadi dan pernafasan) dan status hidrasi. kemudian lanjutkan dengan pemberian Resomal/penggantil. per oral/nasogastrik. Syok (renjatan) Syok karena dehidrasi atau sepsis sering menyertai KEP berat dan sulit membedakan keduanya secara klinis saja.000 SI) pada awal perawatan dan hari ke-15 atau sebelum pulang 10. Pedoman pemberian cairan: Berikan larutan dextrosa 5% : NaCl 0. Tindakan kegawatan a. berikan cairan rumat sebanyak 4 19 . maka syok disebabkan dehidrasi. sedangkan pada sepsis tanpa dehidrasi tidak akan membaik dengan cepat. Evaluasi setelah 1 jam: i. Syok karena dehidrasi akan membaik dengan cepat pada pemberian cairan intravena. Hati-hati terhadap terjadinya overhidrasi. ii.

syok). Berikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional Kasih sayang. ii.v pada saat transfusi dimulai. gunakan „packed red cells‟ untuk transfusi dengan jumlah yang sama. bermain 13. Hb < 4 g/dl Hb 4-6 g/dl disertai distress pernafasan atau tanda gagal jantung Tranfusi darah: 1. Tindak lanjut di rumah Beri makanan sering  energi dan protein padat 20 . Anemia berat Tranfusi darah diperlukan bila: i. b. Hb-uria. lingkungan yang ceria. gatal. Kemudian mulailah pemberian formula (F-75/pengganti). Berikan darah segar 10 ml/kgBB dalam 3 jam Bila ada tanda gagal jantung. Beri furosemid 1 mg/kgBB secara i. 2. jangan ulangi pemberian darah 4. 12. Perhatikan adanya reaksi tranfusi (demam.ml/kgBB/jam dan berikan transfusi darah sebanyak 10 ml/kgBB secara perlahan-lahan (dalam 3 jam). Bila pada anak dengan distres nafas setelah transfusi Hb tetap < 4 g/dl atau antara 4-6 g/dl.

5 mEq Mg *Bubuk WHO-ORS untuk 1 liter mengandung 2.Tabel 3. 2.5 mEq Na.4 g 30.9 g trisodium citrat sesuai formula baru.3 g 0.56 g 10 mg 5 mg 1000 ml Suportif / Dietetik 1. Tabel 4. 1. Oral (enteral): sesuai kebutuhan energi.5 gram glukosa. dan 1. protein dan cairan sesuai fase-fase tata laksana gizi buruk 2.5 g 3. Komposisi larutan mineral mix Kandungan Kalium klorida Trikalium sitrat Magnesium klorida (MgCl2.5 g KCl dan 13.5 g 32. Cara membuat Resomal Terdiri dari: Bubuk WHO-ORS* /Oralit untuk 200 ml Gula pasir Larutan elektrolit/mineral mix** Ditambah air sampai larutan menjadi : 1 pak : 10 gram : 8 ml : 400 ml Setiap 1 liter cairan Resomal ini mengandung 37.6 g NaCl. 40 mEq. **Lihat Tabel 4.6H2O) Seng asetat Tembaga sulfat Natrium selenate Kalium iodide Air sampai volume mencapai Jumlah 89. Intravena (parenteral): hanya atas indikasi tepat 21 .

5 g/kgbb/hr 100-130 ml/kgbb/hr Bila ada edema berat: 100 ml/kgbb/hr 100-150 kkal/kgbb/hr 2-3 g/kgbb/hr Bebas sesuai kebutuhan energi 15-220/kgbb/hr 4-6 g/kgbb/hr Hal penting yang harus diperhatikan: 1. Kriteria Pemulangan Balita Gizi Buruk dari Ruang Rawat Inap 1.Tabel 5. Aktifitas Fisik segera setelah sembuh 5. dl) 4. Jangan beri infus albumin pada kwashiorkor Memberikan Stimulasi Sensorik dan Dukungan Emosional Pada anak gizi buruk terjadi perkembangan mental dan perilaku karenanya harus diberikan: 1. makanan yang diberikan dapat dihabiskan b. memandikan. Keterlibatan ibu (memberi makan. Ada perbaikan kondisi mental 22 . Jangan beri protein terlalu tinggi 4. Kasih sayang 2. bermain dan sebagainya. kecuali syok atau dehidrasi berat 3. Lingkungan yang ceria 3. Balita: a. Selera makan sudah bagus. Jangan beri diuretik pada kwashiorkor 5. Kebutuhan energi. protein dan cairan sesuai fase-fase tata laksana gizi buruk Stabilisasi (F75) Transisi (F75 F100) Rehabilitasi (F100) Energi Protein Cairan 80-100 kkal/kgbb/hr 1-1. Jangan berikan cairan IV. Jangan beri Fe sebelum minggu ke-2 2. Terapi bermain terstuktur selama 15 – 30 menit/hari (permainan ci luk ba.

berdiri atau berjalan. Sudah dapat membuat makanan yang diperlukan untuk tumbuh kejar di rumah b. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan 23 . Ibu / Pengasuh: a. Suhu tubuh berkisar antara 36. duduk.5 – 37. Sudah berada di kondisi gizi kurang (sudah tidak gizi buruk) 2. Tidak ada edema g. Memantau perkembangan psikomotor 3. Edukasi Memberikan pengetahuan pada orang tua tentang: a.5 °C e. merangkak. Memantau status gizi secara rutin dan berkala b.c. Terdapat kenaikan berat badan > 5 g/kgBB/hr selama 3 hari berturut-turut atau kenaikan sekitar 50 g/kgBB/minggu selama 2 minggu berturut-turut h. Tidak ada muntah atau diare f. Pemantauan 1. Pengetahuan gizi b. sesuai dengan umurnya d. Ibu sudah mampu merawat serta memberikan makan dengan benar kepada balita 3. Tumbuh Kembang: a. Institusi Lapangan: Institusi lapangan telah siap untuk menerima rujukan pasca perawatan. Balita sudah dapat tersenyum. Kriteria Sembuh: BB/TB > -2 SD 2. Melatih ketaatan dalam pemberian diet c.

Tindak Lanjut di Rumah Bagi Anak Gizi Buruk 1. vitamin dan mineral berdasarkan umur dan berat badan) b. Bila gejala klinis dan BB/TB-PB ≥-2 SD dapat dikatakan anak sembuh 2. sesuai dengan umur. Tindakan pencegahan bertujuan untuk mengurangi insidens dan menurunkan angka kematian. Memberikan makanan dengan porsi kecil dan sering. Menu dan cara membuat makanan dengan kandungan energi dan zat gizi yang padat. Pemberian vitamin A dosis tinggi setiap 6 bulan sekali (dosis sesuai umur) Langkah Promotif/Preventif Malnutrisi energi protein merupakan masalah gizi yang multifaktorial. lemak. Oleh karena ada beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya masalah tersebut. Pola Makan Penyuluhan pada masyarakat mengenai gizi seimbang (perbandingan jumlah karbonhidrat. berat badan anak. Pemantauan tumbuh kembang dan penentuan status gizi secara berkala (sebulan sekali pada tahun pertama) 24 . Pemberian suntikan/imunisasi dasar dan ulangan (booster) 4. 2. Terapi bermain terstuktur Sarankan: 1. sesuai dengan umur anak 2. protein. Membawa anaknya kembali untuk kontrol secara teratur: Bulan I Bulan II : 1x/minggu : 1x/2 minggu Bulan III-IV : 1x/bulan 3. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjukan di rumah setelah penderita dipulangkan Beri contoh kepada orang tua: 1. antara lain 6: a. maka untuk mencegahnya dapat dilakukan beberapa langkah.

c. Ditekankan pula perlunya bahan makanan yang bergizi baik di samping kuantitasnya. walaupun dalam derajat ringan. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan status gizi. Faktor sosial Mencari kemungkinan adanya pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah berlangsung secara turun-temurun dan dapat menyebabkan terjadinya MEP. e. menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Faktor infeksi Telah lama diketahui adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. 25 . sedangkan kemiskinan penduduk merupakan akibat lanjutannya. MEP. Faktor ekonomi Dalam World Food Conference di Roma tahun 1974 telah dikemukakan bahwa meningkatnya jumlah penduduk yang cepat tanpa diimbangi dengan bertambahnya persediaan bahan makanan setempat yang memadai merupakan sebab utama krisis pangan. d.

Petunjuk Teknis Tata Laksana Anak Gizi Buruk: Buku II.. Puone T. 2009.H. Jakarta: WHO Indonesia. Afr Med J 22: 137-141. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Hidajat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Management of Severe Malnutrition: a Manual for Physicians and Other Senior Health Workers. Hegar. Dalam: (Golden MHN ed). Jakarta: EGC 3. 26 . Handryastuti dkk.php?title=RISKESDAS%202010 2. Severe Malnutrition. Jakarta: EGC 9. Surabaya: RSU dr. Sanders D. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. WHO. Rudolph. 2006. 4. 2003. dkk. Jakarta: EGC 10. Irawan dan Hidajati. Golden M. Pedoman Klinis Pediatri. Pedoman Diagnosis dan Terapi: Bag/SMF Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Departemen Kesehatan. 5. Jakarta: IDAI 7. Behrman. www. WHO Indonesia. Evaluating the Clinical Management of Severely Malnourished Children.diskes. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional 2010. Soetomo. 8. Geneva: World Health Organization 11.. 1278-1296. William. 6. 2010. Richard dkk. Chopra M. University of Sheffielob UK. 2010.jabarprov. Pudjiadi.DAFTAR PUSTAKA 1. Sebelas Maret University and the Centre for Human Nutrition. Pedoman Pelayanan Medis.N. 2004. A Study of Two Rural District Hospital. M. 2001. Buku Ajar Pediatrik Rudolph. 2001. Abraham M. Childhood Malnutrition: Its consequences and mangement. go.id/download. 1999. What is the etiology of kwashiorkor? Surakarta: Joint symposium between Departement of Nutrition & Departement of Paediatrics Faculty of Medicine. 1999. L.