Ketersediaan hayati merupakan kecepatan dan jumlah obat yang mencapai sirkulasi sistemik secara keseluruhan menunjukkan kinetic

dan perbandingan zat aktif yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang diberikan.Ketersediaan hayati obat yang diformulasikan menjadi sediaan farmasi merupakan bagian dari salah satu tujuan rancangan bentuk sediaan dan yang terpenting untuk keefektifan obat tersebut.Pengkajian terhadap ketersediaan hayati ini tergantung pada absorbsi obat ke dalam sirkulasi umum serta pengukuran dari obat yang terabsorbsi tersebut. Dalam menaksir ketersediaan hayati ada 3 parameter yang biasanya diukur yang menggambarkan profil konsentrasi obat dalam darah dan waktu dari obat yang diberikan. Konsentrasi puncak ( Cmaxs ) menggambarkan konsentrasi obat tertinggi dalam sirkulasi sistemik. Konsentrasi ini tergantung pada konstanta absorbsi, dosis , volume distibusi dan waktu pencapaian konsentrasi obat maksimum dalam darah. Konsentrasi puncak seringkali dikaitkan dengan intensitas respon biologis dan harus diatas konsentrasi efektif minimum dan tidak melebihi konsentrasi toksik minimum. Waktu untuk konsentrasi puncak ( t maks ), menggambarkan lamanya waktu teredia untuk mencapai konsentrasi puncak dari obat dalam sirkulasi sistemik. Parameter ini tergantung pada konstanta absorbs yang menggambarkan permulaan dari level puncak dari respon biologis dan bias digunakan sebagai perkiraan kasar untuk laju absorbsi. Luas daerah dibawah kurva ( AUC ), merupakan total area di bawah kurva konsentrasi vs waktu yang menggambarkan perkiraan jumlah obat yang berada dalam sirkulasi sistemik. Bila membandingkan suatu formulasi untuk acuan, parameter ini menggambarkan jumlah ketersediaan hayati dan bias digunakan sebagai perkiraan kasar jumlah obat diabsorbsi. Ketersediaan hayati merupakan suatu penerapan baru yang kegunaannya tidak perlu diragukan lagi.Penerapan ketersediaan hayati berkembang dalam dua arah yaitu : 1. Farmasi Klinik yang berkaitan dengan rasionalisasi keadaan individu penderita, artinya penyesuaian pasologi yang tepat pada setiap penderita, dengan mempertimbangkan perubahan farmakokinetika in vivo, baik karena interaksi obat maupun karena perubahan fungsi fisiologik. 2. Farmasetika yang berkaitan dengan rasionalisasi pengembangan suatu obat, yaitu penyesuaian optimal jalur pemberian obat dan bentuk sediaan terhadapkarakteristik farmakokinetika zat aktif. Kedua arah pengembangan tersebut tercakup dalam lingkup penelitian biofarmasetika dan berkaitan dengan penyesuaian pada profil kadar zat aktif alam darah penderita dan efek yang diteliti. Data ketersediaan hayati digunakan untuk menentukan : 1. Banyaknya obat yang diabsorbsi dari formulasi atau sediaan. 2. Kecepatan obat diabsorbsi. 3. Lama obat berada dalam cairan biologi atau jaringan dan dikorelasikan dengan respon pasien.

Ikatan ini disebut solvate. Seringkali yang aktif atau lebih aktif hanya satu saja misal : d. Kristal bentuk A bersifat tidak aktif. Hubungan antara kadar obat dalam darah dan efikasi klinis serta toksisitas. kadang.4. sehingga pemakaian peroral akan memberikan blood level lebih tinggi. Hodrate dan solvate . Data efek farmakologis 4. Jika cara validitas analisi belum diketahui dapat digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologik yang timbul dapat diukur secara kuntitatif. Ampisillin anhidrat lebih mudah larut daripada ampisillin trihidrat.faktor patofisiologik yang tidak diketahui. Namun. Pemadatan yang tidak tepat atas bahan baku ini sebaliknya dapat menimbulkan persoalan sidolusi dan ketersediaan hayati. Metode menggunakan data darah 2.kadang beberapa obat cenderung untuk mengikat beberapa molekul pelarut. sedangkan stearatnya tidak. Tapi sifat fisik eritromisin stearat mempersulit pengisian daam jumlah yang cukup kedalam kapsul berukuran wajar. Polimorfose . lkloramfenikol. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan hayati obat yang digunakan secara oral : a. bahan baku Pinisillin yang tidak murni bisa mengandung mikrokontaminan berupa hasil degradasi pinisillin sendiri. Data urin 3. alkaloid – alkaloid dan steroid – steroid terdapat dalam beberapa bentuk isomer datau l. dan kalau pelarutnya adalah air maka ikatan ini disebut hidrat. seperti efek pada kecepatan denytu jantung atau tekanan darah yang dapat digunakan sebagai indeks dari ketersediaan hayati obat. METODE PENILAIAN KETERSEDIAAN HAYATI Penilaian ketersediaan hayati pada sukeralawan dapat dilakukan dengan beberapa metode : 1. metode analisis utntuk penetapan kadar obat dan sifat produk obat. interaksi obat. sehingga obat akan cepat melarut dan diabsorbsi. Data darah dan data urin lazim digunakan untuk menilai ketersediaan hayati sedian obat yang metode analisis zat berkhasiatnya telah diketahui cara dan validitasnya. bahan inferior ini yang dapat menyebabkan alergi.missal kloramfenikol mempunyai 2 bentuk polimofi A dan B . bila ukuran partikel lebih kecil luas permukaan akan besar. dan faktor.d-amfetamin. bentuk Kristal yang kurang stabil lebih mudah larut dan kemudian cepat terabsorbsi daripada bentuk kristalnya yang stabil. Sifat fisiko kimia zat aktif Bentuk isomer . Ukuran partikel. Untuk evaluasi ketersediaan hayati menggunakan data respons klinik dapat mengalami perbedaan antar individu akibat farmakokinetika dan farmakodinamik obat yang berbeda. d-propoksifen. Ester dan lainnya. Faktor farmakodinamik yang mempengaruhi meliputi : umur. Bentuk garam. Kemurnian. Data respon klinis Pemilihan metode bergantung pada tujuan studi. gugusan estolat dri eritromisin estolat dapat menyebabkan hepatotoksisitas. toleransi obat. meskipun telah menggunakan bahan baku murni kalau cara dan kondisi produksi .etambutol.

kelembaban. Hal ini menjadi masalah kritis apabila digunakan untuk memproduksi tablet. dan kelembaban kurang baik. seperti meningkatnya toksisitas fenitoin setelah bahan pembantu yng semula dipakai CaSO4 diganti dengan laktosa. hepatoksik. c.tablet dengan kadar zat khasiat yang rendah seperto digoksin 0.tanaga yang kompeten.cara prosesing Formulasi obat yang sudah baik dalam suatu pabrik bias sama sekali berubah bila dibuat oleh pabrik lain dengan penggunaan alat-alat yang berbeda. Ruangan dan kondisi. bahan pinisillin ini akan menimbulkan efek samping yang sama.banyak obat. Misalnya pada pembuatan sediaan tetrasiklin yang merupakan bahan baku yang kurang stabil pada kondisi tertentu sehingga dapat mengakibatkan penguraian tetrasiklin menjadi non aktif. Cara. .obatan dimana pengaruh bahan – bahan pembantu dapat merubah secara drastic pola absorbsinya dan oleh karena itu efek terapi dan toksisitasnya juga berpengaruh.dalam hal ini kebersihan. Tenaga.persyaratan Good Manufacturing Practises ( GMP ) menjadi penting. temperature. Dalam hal ini persyaratan. dan sebagainya ) yang memenuhi syarat. Dikerjakan dengan system produksi dan system control yang baik. b. Bahan.bahan pembantu. dan nefrotoksik. penerangan .kondisinya ( temperature.25 mg/tablet 200mg.