You are on page 1of 98

Psikologi Sosial | 2012

1

DAFTAR ISI
Definisi dan ruang lingkup psikologi sosial (Khoirul Umaroh) -4Hakekat Manusia ( M.Darul Ma’arif ) -13TEeori Psikologi Sosial Part 1 ( Nafisah ) -26Teori Psikologi Sosial Part 2 ( Muhlisin ) -29Persepsi,Atribusi dan Kognisi Sosial Part 1 ( Eka Nur A.R ) -30Persepsi,Atribusi dan Kognisi Sosial Part 2 ( Khofifah ) -34Diri Pribadi dan Sosial Part 1( Khoirur Rozikin ) -41Diri Pribadi dan Sosial Part 2(M, Ali Nafiq ) -53Hubungan Antar Pribadi Part 1 ( Khoiruddin ) -58Hubungan Antar Pribadi Part 2 (Lestri Nurratu )

-64-68-

Sikap dan Prasangka Part 1 ( Muhammad Ainun Najib ) Sikap dan Prasangka Part 2 ( Noorfuat Aristiana ) Sikap dan Prasangka Part 3 (MAS’ULA )

-70-

-76-

Agresi dan Altruisme Part 1 (Ni’matul A.) -81Agresi dan Altruisme Part 2 ( lILI Qurotul A.S) -89Agresi dan Altruisme Part 3 ( Kholisotul Isnainu )

-95-

2

Psikologi Sosial | 2012

Psikologi Sosial | 2012

3

Definisi Psikologi Sosial Psikologi sosial atau ilmu jiwa sosial merupakan sedikit pengetahuan pendahuluan. Psikolgi sosial adalah cabang dari ilmu A. pengetahuan psikologi. Psikologi dapat dibagi kedalam psikologi umum dan psikologi khusus. Diantara psikologi umum bermaksud untuk menyelidiki dan menerangkan kegiatan- kegiatan manusia pada umumnya, sedangkan psikolgi khusus bermaksud untuk menerangkan dan menyelidiki segi- segi khusus dari kegiatan jiwanya.Diantara beberapa cabang psikologi khusus terdapat psikilogi sosial yang menguraikan dan menerangkan kegiatan- kegiatan manusi, dan khususnya kegiatankegiatannya di dalam hubungan dengan situasi- situasi sosial. Dan situasi sosial itu adalah situasi dimana terdapat interaksi (hubungan timbal balik) antar orang ataupun antara orang dan hasil kebudayaan orang.1 Psikologi sosial adalah suatu study ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku individu- individu dalam hubungannya dengan situasi sosial. Pengertian yang lain adalah ilmu yang mempelajari individu sebagai anggota kelompok. Psikologi sosial yaitu psikologi yang khusus membicarakan tentang perilaku atau aktivitas manusia dalam kaitannya dengan situasi sosial. Untuk memberikan gambaran mengenai hal ini diberikan beberapa definisi yang diajukan oleh sementara ahli. Hartley dan Hartley (1961: 1) memberikan definisi mengenai psikologi sosial sebagai berikut: “Social psychology is that branch f the social sciences which seek tu understand individual behavior in the context of social interaction”. Dari pengertian ini dapat dikemukakan bahwa Hartley dan Hartley ingin melihat perilaku individu dalam konteks interaksi sosial.Interaksi sosial adalah dimana adanya hubungan antara individu satu dengan yang lain, atau adanya situasi sosial. Demikian juga yang dikemukakan oleh sherif dan sheriff (1956:4) bahwa, social psychology is the scientific study of the experience and behavior of the individu in relation to social stimulus situation. Dari definisi ininjuga dapat dikemukakan bahwa sheriff dan sheriff melihat perilaku individu dikaitkan dengan situasi sosial.2 B. Sejarah Psikologi Sosial

4

1 2

Gerungan, Psikologi Sosial, Jakarta: Refika Aditama, 2002, hal 28 Bimo Walgito, Psikologi Sosial, Yogyakarta: andi, 2003, hal 7

Psikologi Sosial | 2012

Gabriel tarde (1842-1904) ia adalah seorang sosiologi dan kriminologi prancis yang di anggap pula sebagai bapak psikologi sosial (social interaction) tarde berpendapat bahwa semua hubungan sosial selalu berkisar pada proses imitasi, bahkan semua pergaulan antar manusia hanyalah semata-mata berdasarkan atas proses imitasi itu Kata imitasi berasal dari bahasa inggris to imitate yang berarti mencontoh, mengikuti suatu pola, istilah imitasi ini secara populer di artikan secara meniru. Menurut tarde masyarakat tidak lain dari pengelompokan manusia. Di mana individu mengimitasi individu yang lain dan sebaliknya. Pendapar tarde tersebut ternyata banyak mendapatkan kritikan seperti yang di kemukakan chorus, yang antara lain mengatakan bahwa teori tarde ternyata berat sebelah. Walaupun tarde tidak di terima secara mutlak namun olehnya telah di kemukakan suatu factor yang memegang peranan penting pergaulan sosial antara lain manusia. Gustav le bon (1841-192) ia terkenal karena sumbangannya psikologi massa yang di maksud dengan massa adalah kumpulan orang-orang untuk sementara waktu karena minat dan kepentingan bersama. Ia juga mengatakan bahwa massa itu punya jiwa tersendiri yang berlainan sifatnya dengan sifat-sifat jiw individu Jadi seorang individu yang tergabung dalam massa itu akan bertingkah laku secar berlainan di banding dengan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari sebagai individu Pendapat le bon ini juga menimbulkan banyak kritik terutama pandangannya terhadap massa. Jiwa massa dianggapnya banyak menimbulkan sifat-sifat negative padahal anggapan tersebut tidak selalu benar seutuhnya, sebab massa dapat membangun secara konstruktif serta dapat mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang positif Emile durkheim (1858-1917) sebagai seorang tokoh sosiologi ia berpendapat bahwa • Gejala-gejala sosial yang terdapat dalam masyarakat tidak dapat di bahas oleh psikologi, melainkan hanya oleh sosiologi adapun alasannya ialah bahwa yang mendasari gejala-gejal sosial itu suatu ksadaran kolektif dan bukan kesadarn individual • Masyarakat itu terdiri dari kelompok-kelompok manusia yang hidup secara kolektif dengan pengertian-pengertian dan tanggapan-tanggapam\n yang kolektif pula dan hanya dengan kehidupan kolektif itulah yang dapat menerangkan gejala-gejala sosial

Psikologi Sosial | 2012

5

• Bahwa pada manusia terdapat dua macam jiwa seperti yang di katakana oleh le bon yaitu jiwa kelompok (group mind) dan jiwa individu (individual mind) • Durkheim pun mendapat beragam kritikan yaitu berat sebelah artinya menitik beratkan pada peranan jiwa kolektif dan fantastis artinya pendapat mengenai jiwa kolektif hanya suatu lamunan, khayalan saja yang sukar di buktikan oleh kehidupan nyata. Psikologi sosial modern mulai dikembangkan pada saat pergantian abad ke 19 menuju abad 20. Tripplet (1898) memulai sebuah eksperimen perdana dalam bidang psikologi sosial dengan meneliti pengaruh kehadiran orang lain terhadap peningkatan performance seseorang dalam mengerjakan suatu tugas, topic yang di telitinya sering di sebut “fasilitas sosial” (social fasititation) yang sampai saat ini masih banyak di minati oleh para ahli psikologi sosial. Selain itu, buku yang berjudul Social Psychology diterbitkan pada tahun 1908 (McDougall, 1908; Ross, 1908). Menjamurnya penelitian-penelitian di bidang psikologi sosial barangkali dimulai periode 1920-1940. Beberapa topik penelitian sengaja difokuskan pada isu-isu tertentu yang sedang booming pada masa itu. Contohnya, pada awal 1900an, yang pada masa itu terjadi imigrasi besar-besaran penduduk Eropa Barat menuju Amerika Utara. Tentunya bukanlah hal yang mengejutkan bila penelitian-penelitian yang banyak dilakukan berbicara tentang sikap, kebangsaan, dan kelompok-kelompok etnis (Pancer, 1997). TAHAP ATAU MASA KELAHIRAN PSIKOLOGI SOSIAL Selain itu perkembangan jurnal-jurnal psikologi sosial, juga dapat mencerminkan psikologi sosial itu sendiri, khususnya khususnya di amerika serikat dimana jurnal-jurnal itu di terbitkan • Masa prakelahiran. Psikologi di kokohkan sebagai ilmu yang berdiri sendiri dengan didirikannya laboratorium pertama di dunia di leipzing oleh wuntdt pada tahun 1879, bibit-bibit psikologi sosial mulai tumbuh. Yaitu ketika lazarus & steindhal pada tahun 1860 mempelajari bahasa, tradisi dan institusi masyarakat untuk menemukan jiwa ummat manusia (human mind).

Upaya lazarus masih sangat di pengaruhi oleh antropologi, kemudian di kembangkan oleh wundt pada tahun 1880 mulai mempelajari psikologi rakyat

6

Masa awal kelahirn psikologi sosial di tandai dengan lahirnya dua buah buku ber-

Psikologi Sosial | 2012

judul sama yaitu psikologi sosial pada tahun 1908 yang di tulis oleh dua ilmuwan dari disiplin ilmu yang berdeda, yaitu w. mcdougall (psikologi) dan ross adalah seorang sosiolog yang berpendapat bahwa perilaku sosial di sebabkan oleh imitasi atau sugesti. Serta juga tertarik mendalami topic-topik yang berhubungan psikologi massa dan perilaku kolekti. Kerja ross ini mengembangkan studi psikologi sosial dalam sosiologi. Sementara buku ke dua yang di tulis mc dougall menekankan pada sifat instink pada tingkah laku sosial sebagai focus pembahasan yang juga menjadi topic utama pada tahun-tahun awal kemunculan bidang psikologi sosial. • Masa perang dunia 1 & 2. di masa-masa perang dunia pertama dan berkuasanya nazi di jerman selama perang dunia ke dua. Perhatian psikoogi sosial berkembang ke arah studi tentang otoritarianisme (kekuasan), setelah perang dunia selesai perhatian psikologiu beralih ke proses individual dan psikologi sosial mulai mempelajari proses interaksi sosial masa mutakhir proses pendewasan psikologi sosial mencapai puncaknya antara tahun 1970 sampai tahun 1980 dengan berbagai penelitian mengenai atribusi, sikap (attitude), perbedaan jenis kelamin (gender), diskriminasi seksual psikologi lingkungan , psikologi massa dan sebagainya . Tahap inipun ditandai dengan berkembangnya penelitian-penelitian psikologi sosial terapan (Baron & Byrne , 1994) seperti psikologi kesehatan , psikologi hokum , psikologi lingkungan kerja , psikologi kepolisian , dan psikologi lingkungan . • Masa yang akan datang perkembangan psikologi sosial masih akan berlanjut di masa-masa yang akan datang (pasca tahun 19990-an) . cirinya adalah penelitian kognisi dan penerapan psikologi sosial yan makin canggih , yang menggunakan perspektif cultural yang multidi-mensional (psikologi lintas budaya ) dan kemajemukan sosial . Jurnal-jurnal psikologi sosial jurnal adalah media pertukaran informasi dan hasilhasil penelitian ilmiah di bidang ilmu pengetahuan tertentu. Judul-judul jurnal menggambarkan isi jurnal itu dan karenanya dengan memperhatikan perkembangan dan perubahan judul-judul jurnal dari suatu ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui perkembangan pemikiran para penelti dari bidang ilmu bersangkutan . dalam bidang psikologi sosial, sebagaimana yang tercatat dalam buku karangan Shaver (1997) , jurnal yang pertama di terbitkan pada tahun 1922 oleh Morton

Psikologi Sosial | 2012

7

prince yang ketika itu berpendapat bawa psikologi tentang perilakuu menyimpang .ada kaitannya dengan prilaku sosial.3 C. Ruang Lingkup Psikologi Sosial Ruang lingkup psikologi sosial ada 2 yaitu: 1) Objek Materia Objek ini meliputi fakta- fakta, gejala atau pokok- pokok yang nyata dipelajari dan diselidiki oleh ilmu pengetahuan. Seperti yang diterangkan, objek material dari psikologi sosial adalah gejala- gejala sosial. Ilmu pengetahuan ternyata belum mampu untuk membedakan objek material dari ilmu dengan ilmu yang lain. Contoh objek material dari sosiologi adalah gejala- gejala sosial, dan objek material dari ilmu hukum juga gejala- gejala sosial, begitu pula halnya dengan objek material ilmu ekonomi dan ilmu sosial lainnya. 2)Objek Formal Objek formal suatu ilmu pengetahuan justru ditunjukkan oleh rumusan atau definisi ilmu pengetahuan tersebut.Diantara rumusan- rumusan tersebut adalah:  Tingkah laku manusia (Hubbert Bonner Social Psychology)  Tingkah laku individu manusia sebagai anggota suatu masyarakat (A.M. Chorus Grondslagen der Sociale Psychology)  Pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam hubungannya dengan situasisituasi perangsang sosial  Segi- segi psikologis dari tingkah laku manusia yang dipengruhi oleh interaksi social  Gejala psikis dan cara manusia berlaku seperti yang ditimbulkan atau dipengaruhi oleh hubungan antara manusia dengan manusia.  Individu manusia dalam kelompoknya, dan hubungan antara kelompok yang satu dengan yang lain.

8

3

Abu Ahmadi, Psikologi Sosial,Jakarta, Rineka Cipta : 1991, hal 5-12

Psikologi Sosial | 2012

 Tingkah laku individu manusia dalam kelompok khusus dan dalam lingkungan sosiokoltural pada umumnya. D. Penelitian Psikologi Sosial 1) Metode Survey Metode ini merupakan metode dimana penyelidik mengumpulkan keterangan- keterangan seluas- luasnya mengenai kelompok tertentu yang ingin ia selidiki. Biasanya survey itu diadakan dengan menggunakan wawancara, observasi, dan angket sebagai alat untuk mengumpulkan keterangan- keterangan. Contoh dapat diselidiki sikap- sikap para pemimipin perusahaan diseluruh jawa barat yang berjumlah ratusan bahkan ribuan, dengan memilih suatu sampel terbatas diantaranya, yang mewakili semua kelompok pemimipin perusahaan tersebut, Dan pada sempel yang terbatas itu lalu diselidiki dengan cermat sikap- sikapnya yang ingin diketahui. Apabila cara- cara memilih sampel ini memenuhi syarat- syaratnya, maka hasil yang diperoleh pada penyelidikan itu dapar dianggap sama dengan hasil yang akan diperoleh apabila diselidiki seluruh kelompok pemimpin perusahaan di jawa barat. 2) Metode Diagnostis- psikis Dalam mengumpulkan keterangan- keterangan empiris mengenai objek- objek penelitian psikologi yang dapat menggambarkan segi-segi psikologis dengan lebih mendalam untuk memperoleh keterangan mengenai pendapat- pendapat orang, cukuplah dirumuskan sebuah daftar pertanyaan (angket) yang lalu disebarkan dengan permintaan supaya pertanyaan- pertanyaan itu dijawab dengan sejujur- jujurnya. Tetapi untuk memperoleh keterangan yang lebih mendalam mengenai sikap perasaan dan kecenderungan- kecenderungan pribadi orang, diperlukan alat- alat yang lebih halus daripada sebuah daftar pertanyaan. 3) Metode Sosiometris Metode ini ditemukan oleh Moreno, merupakan metode baru dikalangan ilmu sosial, dan bermaksud untuk meneliti intra-group-relations atau saling hubungan antara anggota kelompok di dalam suatu kelompok. Untuk memperoleh keterangan mengenai saling bubungan antar anggota sekelom-

Psikologi Sosial | 2012

9

pok itu, diajukan sebuah daftar pertanyaan kepada semua anggota kelompok yang ingin diselidiki, misalnya sebuah kelas di sekolah. Daftar pertanyaan itu merupakan ajakan untuk menentukan sikap anggota kelompok lainnya, yang ia kenal. Ia, misalnya, ajakan untuk memilih antara kawannya sekelompok kelas, siapa yang menurut pendapatnya paling memenuhi syarat- syarat tertentu, missal: kawan yang paling cakap sebagai pemimpin kelompok, atau kawan yang paling cocok sebagai kawan sebagai kerja, dan lain- lain, bergantung kepada sifat- sifat saling hubungan yang ingin kita selidiki dengan metode ini. Pertanyaan untuk memilih kawan sekelompok yang mempunyai sifat- sifat tertentu itu dapat juga berlaku bagi pilihan lebih dari satu orang, bergantung kepada tujuan penelitian itu. Misalnya pertanyaan itu dapat berbunya sebagai berikut: “pilihlah tiga orang kawan sekelompok yang menurut pendapat saudara adalah orang yang paling cocok sebagai rekan sekerja (kawan untuk kerja sama). Yang paling cocok hendaknya disebut pertama”, dan sebagainya. E. Hubungan Psikologi Sosial dengan ilmu lainnya

• Hubungan psikologi social dengan sosiologi Ilmu yang dapat mempengaruhi pada Psikologi Sosial adalah Sosiologi dan Antropologi,(Bonner-1953) Sosiologi : Suatu bidang ilmu yang terkait dengan perilaku hubungan antar individu, atau antara individu dengan kelompok, atau antar kelompok (interaksionisme) dalam perilaku sosialnya. Antropologi : lebih memfokuskan pada perilaku sosial dalam suprastruktur budaya tertentu, jd lebih ke bidang budayanya. Psikologi Sosial : jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial lainnya atau mempelajari perilaku individu yang bermakna dalam hubungan dengan lingkungan atau rangsang sosialnya. Perbedaan antara Psikologi Sosial dengan Sosiologi adalah lebih terfokus studinya. Fokus perhatian studi psikologi social lebih dominan ke perilaku individu. Berbeda dengan Sosiologi yang lebih terfokus pada sistem dan struktur sosial yang dapat berubah tanpa bergantung pada individu tersebut.Sosiologi lebih memfokuskan

10

Psikologi Sosial | 2012

pada masyarakat dan budaya yang melingkupi individu. • Hubungan psikologi social dengan antropologi Tiga masalah yang menjadi fokus perhatian antropologi: 1. 2. 3. 4. ‘kepribadian bangsa’ Peranan individu dalam proses perubahan adat istiadat Nilai universal dalam Persoalan ‘kepribadian bangsa’ sesudah perang Dunia ke-1 hubungan antar bangsa kian intensif, perhatian penjajah terhadap kepribadian bangsa jajahan

Fokus studi antropologi awal tahun 1920-an : Ahli antropologi tertarik pada lingkungan dan kebudayaan dari bayi dan anak-anak, masa itu sangat dianggap penting bagi pembentukan kepribadian dewasa yang khas dalam suatu masyarakat. Karena pembentukan kepribadian adalah sesuatu yang patut dipelajari dan di tanam dalam diri masyarakat, agar da batasan dan norma-norma yang berlaku. Hampir semua penelitian yang mendalami “kepribadian bangsa” menyimpulkan bahwa ciri-ciri kepribadian yang tampak berbeda pada bangsa-bangsa di dunia ini bersumber pada cara pengasuhan pada masa kanak-kanak. Karena pada masa kanakkanak adalah masa yang paling penting untuk menngatur dan melihat jati diri, masa kanak-kanak yang bisa di ajarkan berperilaku baik sesuai norma dan adat dan masa kanak-kanalah yang pandai meniru. Misalnya: orang jepang yang dewasa menjadi bersifat memaksakan kehendaknya, karena ketatnya latihan mengenai cara membuang air pada masa kanak-kanak perkembangannya, saat ini kesimpulan di atas tidak bisa diandalkan lagi. Dalam perkembangannya, fokus pendekatan psikologis pada keanekaragaman kebudayaan, berubah. Minat terhadap hubungan pengasuhan semasa anak-anak dan kepribadian setelah dewasa, tetap dipertahankan, namun beberapa ahli antropologi mulai meneliti faktor-faktor determinan yang mungkin jadi penyebab dari kebiasaan pengasuhan anak yang beragamKebudayaan tertentu menghasilkan karakteristik psikologi tertentu menimbulkan ciri budaya lainnya Kesimpulan mengenai pendekatan psikologis dalam antropologi budaya: dengan menghubungkan variasi dalam pola budaya dengan masa pengasuhan anak, kepribadian, kebiasaan, dan kepercayaan yang mungkin menjadi konsekuensi dari faktor psikologis

Psikologi Sosial | 2012

11

dan prosesnya Anthropology in mental health: memfokuskan diri pada aspek sosial budaya yang mempengaruhi kondisi/ gangguan mental pada diri individu • Hubungan psikologi social dengan ilmu politik

Psikologi merupakan ilmu yang mempunyai peranan penting dalam bidang polotik, “massa psikologi” Penting bagi politisi untuk menyelami gerakan jiwa dari rakyat pada umumnya, golongan tertentu pada khususnya. Psikologi sosial dapat menjelaskan bagaimana sikap dan harapan masyarakat dapat melahirkan tindakan serta tingkahlaku yang berpegang teguh pada tuntutan masyarakat Hubungan psikologi social dengan ilmu komunikasi Banyak disiplin ilmu yang terlibat dalam studi komunikasi. Dalam perkembangannya ilmu komunikasi melakukan “perkawinan’ dengan berbagai ilmu lain. Subdisiplin : komunikasi politik, sosiologi komunikasi masa, psikologi komunikasi.Psikologi komunikasi : ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengndalikan peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi. Hubungan psikologi social dengan ilmu pendidikan Ilmu Pendidikan: bertujuan memberikan bimbingan hidup manusia sejak lahir sampai mati Pendidikan tidak akan berhasil dengan baik bilamana tidak didasarkan pada psikologi perkembangan Hubungan kedua disiplin ilmu ini melahirkan Psikologi Pendidikan

DAFTAR PUSTAKA

 Gerungan, Psikologi Sosial, Jakarta: Refika Aditama, 2002  Walgito Bimo, Psikologi Sosial, Yogyakarta: andi, 2003

12

 Ahmadi Adi, Psikologi Sosial,Jakarta, Rineka Cipta : 1991 Abu

Psikologi Sosial | 2012

Hakikat Manusia

A. HAKIKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL ·Pengertian manusia sebagai makhluk individu Manusia, mahluk dan individu secara etimologi diartikan sebagai berikut: 1. Manusia berarti mahluk yang berakal budi dan mampu menguasai mahluk lain. 2. Mahluk yaitu sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan. 3. Individu mengandung arti orang seorang, pribadi, organisme yang hidupnya berdiri sendiri. Secara fisiologis ia bersifat bebas, tidak mempunyai hubungan organik dengan sesama. Kata manusia berasal dari kata manu (Sansekerta) atau mens(Latin) yang berarti berpikir, berakal budi, atau homo (Latin) yang berarti manusia. Istilah individu berasal dari bahasa Latin, yaituindividum, yang artinya sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi lagi atau suatu kesatuan yang terkecil dan terbatas. Secara kodrati, manusia merupakan mahluk monodualis. Artinya selain sebagai mahluk individu, manusia berperan juga sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk individu, manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri atas unsur jasmani (raga) dan rohani (jiwa) yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Jiwa dan raga inilah yang membentuk individu. Manusia juga diberi kemampuan (akal, pikiran, dan perasaan) sehingga sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya. Disadari atau tidak, setiap manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi hakikat individualitasnya (dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya). Hal terpenting yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah bahwa manusia dilengkapi dengan akal pikiran, perasaan dan keyakinan untuk mempertinggi kualitas hidupnya. Manusia adalah ciptaan Tuhan dengan derajat paling tinggi di antara ciptaan-ciptaan yang lain. KONSEKUENSI MANUSIA SEBAGAI MAHLUK INDIVIDU Dalam keadaan status manusia sebagai mahluk individu, segala sesuatu yang menyangkut pribadinya sangat ditentukan oleh dirinya sendiri, sedangkan orang lain lebih banyak berfungsi sebagai pendukung. Kesuksesan seseorang misalnya sangat tergantung kepada niat, semangat, dan usahanya yang disertai dengan doa kepada Tuhan

Psikologi Sosial | 2012

13

secara pribadi. Demikian juga mengenai baik atau buruknya seseorang di hadapan Tuhan dan dihadapan sesama manusia, itu semua sangat dipengaruhi oleh sikap dan perilaku manusia itu sendiri. Jika iman dan takwanya mantap maka dihadapan Tuhan menjadi baik, tetapi jika sebaliknya, maka dihadapan Tuhan menjadi jelek. Jika sikap dan perilaku individunya baik terhadap orang lain, tentu orang lain akan baik pula terhadap orang tersebut. Konsekuensi (akibat) lainnya, masing-masing individu juga harus mempertanggung jawabkan segala perilakunya secara moral kepada dirinya sendiri dan kepada Tuhan. Jika perilaku individu itu baik dan benar maka akan dinikmati akibatnya, tetapi jika sebaliknya, akan diderita akibatnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia sebagai individu yang sudah dewasa memiliki konsekuensi tertentu, antara lain: 1. Merawat diri bersih, rapi, sehat dan kuat 2. Hidup mandiri 3. Berkepribadian baik dan luhur 4. Mempertanggungjawabkan perbuatannya Supaya konsekuensi tersebut di atas dapat direalisasikan dalam suatu kenyataan, maka masing-masing individu harus senantiasa: 1. Selalu bersih, rapi, sehat, dan kuat 2. Berhati nurani yang bersih 3. Memiliki semangat hidup yang tinggi 4. Memiliki prinsip hidup yang tangguh 5. Memiliki cita-cita yang tinggi 6. Kreatif dan gesit dalam memanfaatkan potensi alam 7. Berjiwa besar dan penuh optimis 8. Mengembangkan rasa perikemanusiaan 9. Selalu berniat baik dalam hati 10. Menghindari sikap statis, pesimis, pasif, maupun egois ·Manusia sebagai makhluk sosial Plato mengatakan, mahluk hidup yang disebut manusia merupakan mahluk sosial dan mahluk yang senang bergaul/berkawan (animal society = hewan yang bernaluri untuk hidup bersama). Status mahluk sosial selalu melekat pada diri manusia. Manusia tidak bisa bertahan hidup secara utuh hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri saja. Sejak lahir sampai meninggal dunia, manusia memerlukan bantuan atau kerjasama dengan orang lain.

14

Psikologi Sosial | 2012

Ciri utama mahluk sosial adalah hidup berbudaya. Dengan kata lain hidup menggunakan akal budi dalam suatu sistem nilai yang berlaku dalam kurun waktu tertentu. Hidup berbudaya tersebut meliputi filsafat yang terdiri atas pandangan hidup, politik, teknologi, komunikasi, ekonomi, sosial, budaya dan keamanan. Menurut Aristoteles (384 – 322 SM), manusia adalah mahluk yang pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama manusia lainnya (zoon politicon yang artinya mahluk yang selalu hidup bermasyarakat). Pada diri manusia sejak dilahirkan sudah memiliki hasrat/bakat/naluri yang kuat untuk berhubungan atau hidup di tengah-tengah manusia lainnya. Naluri manusia untuk hidup bersama dengan manusia lainnya disebut gregoriousness. Manusia berperan sebagai mahluk individu dan mahluk sosial yang dapat dibedakan melalui hak dan kewajibannya. Namun keduanya tidak dapat dipisahkan karena manusia merupakan bagian dari masyarakat. Hubungan manusia sebagai individu dengan masyarakatnya terjalin dalam keselarasan, keserasian, dan keseimbangan. Oleh karena itu harkat dan martabat setiap individu diakui secara penuh dalam mencapai kebahagiaan bersama. Masyarakat merupakan wadah bagi para individu untuk mengadakan interaksi sosial dan interelasi sosial. Interaksi merupakan aktivitas timbal balik antarindividu dalam suatu pergaulan hidup bersama. Interaksi dimaksud, berproses sesuai dengan perkembangan jiwa dan fisik manusia masing-masing serta sesuai dengan masanya. Pada masa bayi, mereka berinteraksi dengan keluarganya melalui berbagai kasih sayang. Ketika sudah bisa berbicara dan berjalan, interaksi mereka meningkat lebih luas lagi dengan teman-teman sebayanya melalui berbagai permainan anak-anak atau aktivitas lainnya. Proses interaksi mereka terus berlanjut sesuai dengan lingkungan dan tingkat usianya, dari mulai interaksi non formal seperti berteman dan bermasyarakat sampai interaksi formal seperti berorganisasi, dan lain-lain. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi manusia hidup bermasyarakat, yaitu: 1. Faktor alamiah atau kodrat Tuhan 2. Faktor saling memenuhi kebutuhan 3. Faktor saling ketergantungan Keberadaan semua faktor tersebut dapat diterima oleh akal sehat setiap manusia, sehingga manusia itu benar-benar bermasyarakat, sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Khaldun bahwa hidup bermasyarakat itu bukan hanya sekadar kodrat Tuhan melainkan juga merupakan suatu kebutuhan bagi jenis manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.

Psikologi Sosial | 2012

15

Jika tingkah laku timbal balik (interaksi sosial) itu berlangsung berulang kali dan terus menerus, maka interaksi ini akan berkembang menjadi interelasi sosial. Interelasi sosial dalam masyarakat akan tampak dalam bentuk sense of belonging yaitu suatu perasaan hidup bersama, sepergaulan, dan selingkungan yang dilandasi oleh rasa kemanusiaan yang beradab, kekeluargaan yang harmonis dan kebersatuan yang mantap. Dengan demikian tidak setiap kumpulan individu merupakan masyarakat. Dalam kehidupan sosial terjadi bermacam-macam hubungan atau kerjasama, antara lain hubungan antarstatus, persahabatan, kepentingan, dan hubungan kekeluargaan. Sebagai mahluk sosial, manusia dikaruniai oleh Sang Pencipta antara lain sifat rukun sesama manusia.

B. PERANAN MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL Sebagai mahluk hidup yang berada di muka bumi ini keberadaan manusia adalah sebagai mahluk individu dan mahluk sosial, dalam asrti manusia senantiasa tergantung dan atau berinteraksi dengan sesamanya. Dengan demikian, maka dalam kehidupan lingkungan sosial manusia senantiasa terkait dengan interaksi antara individu manusia, interaksi antar kelompok, kehidupan sosial manusia dengan lingkungan hidup dan alam sekitarnya, berbagai proses sosial dan interaksi sosial, dan berbagai hal yang timbul akibat aktivitas manusia seperti perubahan sosial. Secara sosial sebenarnya manusia merupakan mahluk individu dan sosial yang mempunyai kesempatan yang sama dalam berbagai hidup dan kehidupan dalam masyarakat. Artinya setiap individu manusia memiliki hak, kewajiban dan kesempatan yang sama dalam menguasai sesuatu, misalnya bersekolah, melakukan pekerjaan, bertanggung jawab dalam keluarga serta berbagai aktivitas ekonomi, politik dan bahkan beragama. Namun demikian, kenyataannya setiap individu tidak dapat menguasai atau mempunyai kesempatan yang sama. AKibatnya, masing-masing individu mempunyai peran dan kedudukan yang tidak sama atau berbeda. Banyak faktor yang menyebabkan itu bisa terjadi, misalnya kondisi ekonomi (ada si miskin dan si kaya), sosial (warga biasa dengan pak RT, dll), politik (aktivis partai dengan rakyat biasa), budaya (jago tari daerah dengan tidak) bahkan individu atau sekelompok manusia itu sendiri. Dengan kata lain, stratifikasi sosial mulai muncul dan tampak dalam kehidupan masyarakat tersebut.

16

Psikologi Sosial | 2012

C. DINAMIKA INTERAKSI SOSIAL Interaksi sosial merupakan faktor utama dalam kehidupan sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan timbal balik antarindividu, antarkelompok manusia, maupun antara orang dengan kelompok manusia. Bentuk interaksi sosial adalah akomodasi, kerja sama, persaingan, dan pertikaian. Apabila dua orang atau lebih bertemu akan terjadi interaksi sosial. Interaksi sosial tersebut bisa dalam situasi persahabatan ataupun permusuhan, bsia dengan tutur kata, jabat tangan, bahasa dahsyat, atau tanpa kontak fisik. Bahkan, hanya dengan bau keringat sudah terjadiinteraksi sosial karena telah mengubah perasaan atau saraf orang yang bersangkutan untuk menentukan tindakan. Interaksi sosial hanya dapat berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi dari kedua belah pihak. Interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila manusia mengadakan hubungan yang langsung dengan sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh terhadp sistem sarafnya sebagai akibat hubungan yang di maksud Ciri-ciri interaksi sosial adalah sebagai berikut. 1. Pelakunya lebih dari satu orang 2. Adanya komunikasi antar pelaku melalui kontak sosial 3. Mempunyai maksud dan tujuan, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebiut dengan yang diperkirakan pelaku. 4. Ada dimensi waktu yang akan menentukan sikap aksi yang sedang berlangsung Syarat terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial (social contact) dan komunikasi. Kontak sosial berasal dari kata con atau cun yang artinya bersamasama, dan tango yang artinya menyentuh. Namun, kontak sosial tidak hanya secara harfiah bersentuhan badan, tetapi bisa lewat bicara, melalui telepon, telegram, surat radio, dan sebagainya. Kontak dapat bersifat primer dan sekunder. Kontak primer terjadi apabila ada kontak langsung dengan cara berbicara, jabat tangan, tersenyum, dan sebagainya. Kontak sekunder terjadi dengan perantara. Kontak sekunder langsung, misalnya melalui telepon, radio, TV, dan sebagainya. Kontak sosial dapat terjadi dalam tiga bentuk, yaitu 1. Kontak antar individu, misalnya seorang siswa baru mempelajari tata tertib dan budaya sekolah 2. Kontak antarindividu, dengan suatu kelompok, misalnya seorang guru mengajar di suatu kelas tentang suatu poko bahasan.

Psikologi Sosial | 2012

17

3. Kontak antarkelompok dengan kelompok lain, misalnya class meeting antarkelas. Komunikasi adalah proses memberikan tafsiran pada perilaku orang lain yang berwujud pembicaraan, gerak-gerik badaniah atau sikap, atau perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan orang tersebut. Dengan tafsiran pada orang lain, seseorang memberi reaksi berupa tindakan terhadap maksud orang lain tersebut. Misalnya, jika anda melambaikan tangan dipinggir jalan atau halte bus maka salah satu bus yang lewat pasti akan berhenti, jadi, komunikasi merupakan proses saling memberi penafsiran terhadap tindakan atau perilaku orang lain. Berlangsungnya interaksi sosial didasarkan tas berbagai faktor, antara lain faktor imitasi, sugesti, identifikasi, simpati, motivasi, dan empati, imitasi adalah proses atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain baik sikap, perbuatan, penampilan, dan gaya hidup. Sugeti adalah rangsangan, pengaruh, atau stimulus yang diberikan individu kepada individu lain sehingga orang yang diberi sugesti itu melaksanakan apa yang disegestikan tanpa sikap kritis dan rasional, identifikasi adalah upaya yang dilakukan individu untuk menjadi sama (identik) dengan individu yang ditirunya. Proses identifikasi erat kaitannya dengan imitasi. Simpati adala prose kejiwaan seseorang individu yang merasa tertarik dengan individu atau kelompok karena sikap, penampilan, atau perbuatannya. Motivasi merupakan dorongan, rangsangan, pengaruh, atau stimulasi yang diberikan individu kepada individu lain sehingga orang yang diberi motivasi melaksankannya dengan secara kritis, rasional, dan tanggung jawab. Empati adalah proses kejiwaan seorang individu untuk larut dalam perasaan orang lain baik suka maupun duka. Seperti telah dikemukakan diatas, bentuk-bentuk interaksi sosial adalah akomodasi, kerja sama, persaingan, dan pertikaian. Secara luas, dapat dikatakan ada interaksi sosial yang sifatnya positif, yaitu mengarah pada kerjasama antrindividu atau antarkelompok. Interaksi sosial yng dimaksud interaksi soial yang bersifat asosiatif. Adapula interaksi sosial yang mengarah pada bentuk-bentuk pertikaian tau konflik. Interaksi sosial dimasud disebut dengan interaksi sosial yang bersifat disosiatif. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif, seperti kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi. Interaksi sosial yang bersifat disasosiatif mencakup persaingan, kontroversi, dn permusuhan. Dengn demikian, dinamika interaksi sosial yang terjadi dala kehidupan sosial dapt beragam. Dilihat dari jenisnya ada interaksi antarindividu, interaksi individu dengan kelompok, dan interaksi antar kelompok. Dilihat dari faktor penyebabnya, ada

18

Psikologi Sosial | 2012

interaksi yang disebabkan oleh faktor imitasi, sugesti, identifikasi, simpati, motivsi, dan empati. Ada interaksi yang berbentuk pertentangan. Sedangkan jika dilihat dari sifat interaksinya, da interaksi yang asosiatif, interaksi disasosiatif. Interaksi sosial merupakan kunci dri semua kehidupan sosial, karena tanpa interaksi sosial tidak mungkin ada kehidupan bersama. Manusia sebagai mkhluk sosial pastilah melkukan intraksi sosial dalam rngka hidup bersama. D. DILEMA ANTARA KEPENTINGAN INDIVIDU DAN KEPENTINGAN MASYARAKAT Setiap yang disebut manusia selalu terdiri dari dua kepentingan, yaitu kepentingan individu yang termasuk kepentingan keluarga, kelompok atau golongan dan kepentingan masyarakat yang termasuk kepentingan rakyat . Dalam diri manusia, kedua kepentingan itu satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satu kepentingan tersebut hilang dari diri manusia, akan terdapat satu manusia yang tidak bisa membedakan suatu kepentingan, jika kepentingan individu yang hilang dia menjadi lupa pada keluarganya, jika kepentingan masyarakat yang dihilangkan dari diri manusia banyak timbul masalah kemasyarakatan contohnya korupsi. Inilah yang menyebabkan kebingungan atau dilema manusia jika mereka tidak bisa membagi kepentingan individu dan kepentingan masyarakat. Dilema anatara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat adalah pada pertanyaan mana yang harus diutamakan, kepentingan manusia selaku individu atau kepentingan masyarakat tempat saya hidup bersama? Persoalan pengutamaan kepentingan individu atau masyarakat ini memunculkan dua pandangan yang berkembang menjadi paham/aliran bahkan ideologi yang dipegang oleh suatu kelompok masyarakat. 1. Pandangan Individualisme Individualisme berpangkal dari konsep bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk individu yang bebas. Paham ini memandang manusia sebagai makhluk pribadi yang utuh dan lengkap terlepas dari manusia yang lain. Pandangan individualisme berpendapat bahwa kepentingan individulah yang harus diutamakan. Yang menjadi sentral individualisme adalah kebebasan seorang individu untuk mereal-

Psikologi Sosial | 2012

19

isasikan dirinya. Paham individualisme menghasilkan ideologi liberalisme. Paham ini bisa disebut juga ideologi individualisme liberal. Paham individualisme liberal muncul di Eropa Barat (bersama paham sosialisme) pada abad ke 18-19. Yang dipelopori oleh Jeremy Betham, John Stuart Mill, Thomas Hobben, John Locke, Rousseau, dan Montesquieu. Beberapa prinsip yang dikembangkan ideologi liberalisme adalah sebagai berikut. Penjaminan hak milik perorangan. Menurut paham ini , pemilikan sepenuhnya berada pada pribadi dan tidak berlaku hak milik berfungsi sosial, Mementingkan diri sendiri atau kepentingan individu yang bersangkutan. Pemberian kebebasan penuh pada individu Persaingan bebas untuk mencapai kepentingannya masing-masing. Kebebasan dalam rangka pemenuhan kebutuhan diri bisa menimbulkan persaingan dan dinamika kebebasan antar individu. Menurut paham liberalisme, kebebasan antar individu tersebut bisa diatur melalui penerapan hukum. Jadi, negara yang menjamin keadilan dan kepastian hukum mutlak diperlukan dalam rangka mengelola kebebasan agar tetap menciptakan tertibnya penyelenggaraan hidup bersama. 2. Pandangan Sosialisme Paham sosialisme ditokohi oleh Robert Owen dari Inggris (1771-1858), Lousi Blanc, dan Proudhon. Pandangan ini menyatakan bahwa kepentingan masyarakatlah yang diutamakan. Kedudukan individu hanyalah objek dari masyarakat. Menurut pandangan sosialis, hak-hak individu sebagai hak dasar hilang. Hak-hak individu timbul karena keanggotaannya dalam suatu komunitas atau kelompok. Sosialisme adalah paham yang mengharapkan terbentuknya masyarakat yang adil, selaras, bebas, dan sejahtera bebas dari penguasaan individu atas hak milik dan alat-alat produksi. Sosialisme muncul dengan maksud kepentingan masyarakat secara keseluruhan terutama yang tersisih oleh system liberalisme, mendapat keadilan, kebebasan, dan kesejahteraan. Untuk meraih hal tersebut, sosialisme berpandangan bahwa hak-hak individu harus diletakkan dalam kerangka kepentingan masyarakat yang lebih luas. Dalam sosialisme yang radikal/ekstem (marxisme/ komunisme) cara untuk meraih hal itu adalah dengan menghilangkan hak pemilikan

20

Psikologi Sosial | 2012

dan penguasaan alat-alat produksi oleh perorangan. Paham marxisme/komunisme dipelopori oleh Karl Marx (1818-1883). Paham individualisme liberal dan sosialisme saling bertolak belakang dalam memandang hakikat manusia. Dalam Declaration of Independent Amerika Serikat 1776, orientasinya lebih ditekankan pada hakikat manusia sebagai makhluk individu yang bebas merdeka, manusia adalah pribadi yang memiliki harkat dan martabat yang luhur. Sedangkan dalam Manifesto Komunisme Karl Marx dan Engels, orientasinya sangat menekankan pada hakikat manusia sebagai makhluk sosial semata. Menurut paham ini manusia sebagai makhluk pribadi yang tidak dihargai. Pribadi dikorbankan untuk kepentingan negara. Dari kedua paham tersebut terdapat kelemahannya masing-masing. Individualisme liberal dapat menimbulkan ketidakadilan, berbagai bentuk tindakan tidak manusiawi, imperialisme, dan kolonialisme, liberalisme mungkin membawa manfaat bagi kehidupan politik, tetapi tidak dalam lapangan ekonomi dan sosial. Sosialisme dalam bentuk yang ekstrem, tidak menghargai manusia sebagai pribadi sehingga bisa merendahkan sisi kemanusiaan. Dalam negara komunis mungkin terjadi kemakmuran, tetapi kepuasan rohani manusia belum tentu terjamin. Makhluk Realigius. Salah satu realitas manusia sepanjang sejarah yang tidak bisa dihapuskan adalah bahwa manusia mempunyai rasa keberagamaan (religiousity) dalam dirinya atau kebutuhan dasar kerohanian (basic spiritual needs)., dalam arti manusia adalah mahkluk beragama dan selalu merindukan untuk beragama sebagai media berhubungan dengan Sang Penciptanya. Bahkan para ahli sepakat bahwa agama sangat berpengaruh kuat terhadap tabiat personal dan sosial manusia dalam hidupnya, dan kehidupan manusia tidak bisa lepas dari agama untuk mencapai kebahagiaan hidupnya. Apa religiusitas itu? Secara bahasa, kata religiusitas adalah kata kerja yang berasal dari kata benda religion. Religi itu sendiri berasal dari kata re dan ligare artinya menghubungkan kembali yang telah putus, yaitu menghubungkan kembali tali hubungan antara Tuhan dan manusia yang telah terputus oleh dosa-dosanya. Gazalba (1985) mengartikan kata religi berasal dari bahasa latin religio yang berasal dari akar kata religare yang berarti mengikat. Maksudnya adalah ikatan manusia dengan suatu tenaga yaitu tenaga gaib yang kudus. Religi adalah kecenderungan rohani manusia

Psikologi Sosial | 2012

21

untuk berhubungan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna yang terakhir, dan hakekat dari semuanya. Islam sebagai sebuah sistem yang menyeluruh, mendorong pemeluknya untuk beragama secara menyeluruh (totalitas) (QS 2: 208); baik dalam berpikir, bersikap, merasa maupun bertindak, harus didasarkan pada prinsip penyerahan diri dan pengabdian secara total kepada Alloh, kapan, dimana dan dalam keadaan bagaimanapun. Karena itu, keberagamaan dalam Islam bukan hanya sekedar diwujudkan dalam bentuk ibadah ritual saja, tapi juga dalam aktivitas-aktivitas lain dalam hidup layaknya manusia sebagai makhluk sosial. Bahkan dalam setiap sholat seorang muslim selalu berjanji dalam sholatnya: “ Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya dipersembahkan kepada Alloh Tuhan semesta alam”. Berarti adanya penyerahan diri secara totalitas untuk selalu beribadah kepada Alloh, sehingga apapun yang dikerjakan seorang manusia dalam hidupnya wajib berlandaskan niat untuk beribadah kepada Alloh swt. Permasalahanpun timbul “ mengapa sering terjadi orang yang pemahaman keberagamaannya bagus, bahkan sering memberikan pencerahan dan penerangan agama kepada orang lain tapi perilakunya menyimpang?”. Sering terdengar dalam berita seorang yang pendidikan agamanya cukup bagus dan bahkan berasal dari keluarga ulama tapi melakukan korupsi atau manipulasi. Ahli ibadah yang setiap hari pergi ke mesjid tapi perilakunya tidak mencerminkan keagungan dan keindahan ibadah yang dilakukannya, dan berbagai contoh lain dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa ini bisa terjadi? Kepribadian seorang manusia sangat komplek dan tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja, melainkan berbagai factor akan mempengaruhi tingkah lakunya. Sebagai makhluk yang dinamis bisa jadi ketaatan beragama yang diperlihatkan dalam kesehariannya tidak memenuhi unsur ibadah sebagaimana disyariatkan Islam, sehingga mereka hanya taat dalam hal ritual saja tanpa penghayatan makna yang mendalam dibalik semua ajaran agama yang dilakukannya. Ditambah dengan berbagai pengaruh lingkungan sosial, media cetak atau elektronik yang merangsang manusia untuk mengumbar nafsu hewaninya, atau mungkin akibat kelemahan legal formal berupa aturan hukum yang kurang berpihak kepada kebaikan. Indikasi ini bisa dilihat ketika ketahanan diri seseorang dalam menghadapi realitas kehidupan kurang kuat, sehingga menjadi stress ditambah ada kesempatan yang mempermudah seseorang melakukan berbagai penyimpangan perilaku, maka akan terjadilah berbagai perbuatan dosa yang dicegah oleh agama. Pembuktian ilmiah

22

Psikologi Sosial | 2012

sebagaimana dilakukan Clinebell (1980) mengatakan bahwa pada setiap diri manusia terdapat kebutuhan dasar kerohanian (basic spiritual needs). Dari penelitiannya ditemukan bahwa kebutuhan ini jika tidak terpenuhi, mereka mencari kebutuhan dasar tersebut dan salah satu bentuk pelampiasannya malah dengan jalan menyalahgunakan NAPZA. (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya). Penelitian lain dilakukan Larson dkk (1990) menemukan bahwa remaja yang komitmen agamanya lemah, mempunyai resiko empat kali lebih besar untuk menyalahgunakan NAPZA dibanding para remaja yang kuat komitmen agamanya. Bukti ini sesuai dengan yang dikemukakan Dadang Hawari (1990) dan Juwana (1994) bahwa ketaatan beribadah pada kelompok penyalahguna NAPZA jauh lebih rendah dibandingkan dengan kelompok bukan penyalahguna NAPZA, dan perbedaan ini sangat signifikan. Seorang ahli sosiologi yaitu Hirschi & Gottfretson (dalam Blackburn, 1993) membenarkan pandangan bahwa tidak ada alasan khusus yang diperlukan untuk menjelaskan terjadinya suatu kejahatan karena kecenderungan adanya dorongan manusia yang tidak dapat ditunda untuk mencari atau mencapai kenikmatan dan menghindari sesuatu yang menyakitkan. Disinilah fungsi kontrol diri sebagai wawasan melekat, berupa kekuatan iman yang tertancap kuat dalam hati manusia. Adalah benar bahwa setiap manusia mempunyai nafsu seperti disinyalir dalam salah satu ayat al-Qur’an, ”Fa`alhamahâ fujûrahâ wa taqwâhâ” . tapi permasalahannya adalah apakah ia bisa mengontrol fujûr atau potensi buruknya itu atau tidak. Ini bukan hal yang mudah melainkan perlu latihan dan pembelajaran yang lama dan memerlukan waktu panjang sehingga menjadi terpolakan dan mendarah daging dalam karakter dan pribadinya. Maka pendidikan dan pembinaan serta peran keluarga terutama dalam menanamkan ajaran agama sejak usia dini sangat penting. Dasar ajaran agama yang ditanamkan sedini mungkin akan melahirkan sebuah komitmen keberagamaan yang didasari oleh kesadaran bahwa agama memang penting dan sangat diperlukan serta bermanfaat bagi kebahagiaan dirinya. Sehingga akhirnya proses pembiasaan dalam melaksanakan agama yang ditanam dalam waktu yang lama ini menjadi sebuah keterampilan yang mendarah daging dalam hidupnya. Sebagaimana diisyaratkan Rosululloh saw: “ Suruhlah anakmu yang berusia tujuh tahun untuk shalat, dan jika usia sepuluh tahun tidak mau mengerjakan shalat, maka pukullah ”. Proses pendidikan dengan membiasakan anak melaksanakan sholat sejak kecil, merupakan suatu keharusan agar ketika menginjak dewasa dia terbiasa melakukannya. Apa yang seharusnya dipersiapkan oleh setiap keluarga muslim bagi kebaikan

Psikologi Sosial | 2012

23

anak-anaknya di masa mendatang? Diantara upaya yang harus dilakukan oleh setiap keluarga muslim adalah: Pertama, bentengi diri dengan keimanan dan ketaqwaan sehingga kita merasa dekat dan merasa diawasi oleh Alloh Swt. Bahkan Rosululloh saw menyuruh untuk selalu memperbaharui iman kita dengan selalu memperbanyak dzikrulloh. Mengapa? Karena dengan selalu ingat kepada Alloh (Dzikrullah), hati sebagai raja atau kepala nakhoda hidup manusia akan selalu mengontrol dari perbuatan maksiat setiap saat dalam seluruh aspek kehidupannya. Jika baik hatinya, maka akan selalu baiklah seluruh perbuatannya, sebaliknya jika hatinya jelek (tidak ingat kepada Alloh) maka akan jeleklah seluruh perbuatannya. Dan sesorang berani melakukan suatu perbuatan dosa itu akibat hatinya lupa kepada Alloh. Kedua, pupuk dan kembangkan nilai-nilai keagamaan dalam keluarga sebagai lingkungan terdekat yang membentuk dan mempengaruhi pribadi dan budi pekerti seseorang. Berbagai kasus penyalahgunaan NAPZA sering dikaitkan dengan masalah kehidupan beragama dalam keluarga dan ketaatannya dalam menjalankan perintah agama. Semakin baik kehidupan beragama dan ketaatannya dalam melaksanakan ibadah dalam suatu keluarga, maka semakin baiklah pertahanan mental spiritual anggota keluarga tersebut walaupun menghadapi berbagai permasalahan pelik. Pendidikan agama sejak dini akan memperkuat komitmen agama seorang anak kelak ketika menginjak remaja dan dewasa, sehingga mampu memperkecil resiko terkena penyalahgunaan NAPZA. Ini penting sekali diketahui dan dilaksanakan oleh setiap keluarga muslim, baik bagi upaya prevensi, terapi, maupun rehabilitasi pada penyalahgunaan NAPZA, dimana pendekatan keagamaan merupakan suatu kewajiban dan harus diikutsertakan didalamnya. Ketiga, Ciptakan lingkungan keluarga yang harmonis berlandaskan agama serta selektif dalam memilih teman atau lingkungan. Kalau kita tidak bisa merubah lingkungan yang bisa merusak perilaku kita maka lebih baik menghindarinya. Bahkan perlu menciptakan lingkungan keluarga yang baik dan harmonis dilandasi ajaran agama, sehingga anak betah di rumah dan komitmen melaksanakan agamanya. Salah satu aspek psiko-sosial yang merupakan factor kontribusi pada terjadinya penyalahgunaan NAPZA, adalah faktor keluarga berupa: keutuhan keluarga, kesibukan keluarga,dan hubungan antar pribadi anggota keluarga. Kondisi keluarga yang tidak baik (disfungsi keluarga) merupakan faktor kontribusi utama terjadinya penyalahgunaan NAPZA, seperti akibat: kematian keluarga (broken home by death), kedua orang-tua bercerai atau pisah (broken home by divorce/ separation), hubungan orang-tua (ayah dan ibu)

24

Psikologi Sosial | 2012

tidak harmonis (poor marriage), hubungan antara orang-tua dan anak tidak baik (poor parent dan child relationship), suasana rumah tangga yang tegang (high tension), suasana rumah tangga tanpa kehangatan (low warmth), orang-tua sibuk dan jarang di rumah (absence), atau diakibatkan oleh orang-tua yang mempunyai kelainan kepribadian dalam hidupnya (personality disorder). Tidak kalah pentingya adalah pengaruh teman kelompok sebaya atau peer group sebagai pencetus dan pendorong penyalahgunaan NAPZA, dimana dalam banyak kasus justru perkenalan pertama dengan NAPZA ini adalah dari mereka. Pengaruh teman kelompok sebaya ini dapat menciptakan keterikatan dan kebersamaan, sehingga yang bersangkutan sukar melepaskan diri, baik diakibatkan ketidakmampuan untuk berinteraksi maupun adanya intimidasi dari temannya.. Pengaruh teman kelompok ini tidak hanya pada saat perkenalan pertama dengan NAPZA, melainkan dapat menyebabkan seseorang tetap ketergantungan dan kekambuhan setiap waktu dimanapun berada. Di Inabah seorang yang ketergantungan kepada NAPZA dianggap orang yang telah melakukan dosa, solusinya adalah orang itu diajak bertaubat dari dosanya dengan selalu membersihkan dirinya dan berusaha dikembalikan hatinya kepada Alloh untuk meningkatkan kualitas jiwa dengan selalu berdzikir kepada-Nya. Dzikrulloh atau ta’alluq pada Tuhan, yaitu berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Alloh. Di manapun seorang mukmin berada, dia tidak boleh lepas dari berdzikir untuk Tuhannya (QS. 3:191). Dari dzikir ini meningkat sampai maqam takhalluq, yaitu, secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. Proses ini bisa juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadits Nabi yang berbunyi, “Takhallaqu bi akhlaq-i Alloh.”. Selanjutnya menuju tahaqquq. yaitu suatu kemampuan untuk mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas dirinya sebagai seorang mukmin yang dirinya sudah “didominasi” sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia. Maqam tahaqquq ini sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa bagi seorang mukmin yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya dengan Tuhan maka Tuhan akan melihat kedekatan hamba-Nya, bahkan mampu melihat dengan mata-Nya, mendengar dengan telinga-Nya, dan berbuat dengan tangan-Nya, dalam arti berakhlakul karimah; baik kepada Alloh, baik kepada semua makhluk Alloh, serta mampu menjadi rahmatan lil-alamin

Psikologi Sosial | 2012

25

TEORI PSIKOLOGI SOSIAL PSIKOANALISA
TOKOH Lahir :

Sigmund Freud

: 6 Mei 1856, Freiberg, Moravia, Austria–Hungary, now the Czech Republic

Meninggal Tempat tinggal Bidang

: 23 September 1939 (umur 83)London, England, U.K. : Austria, U.K. : Neurology,Filosofi, Psikiatri, Psikologi, Psikoterapi, Psikoanalisis Institusi University of Vienna Alma mater University of Vienna

bapak psikologi modern sebab beliau yang mengembangkan
teori psikoanalisis dalam pengobatan penyakit mental pada manusia. tidak hanya itu, Freud juga mencetuskan teori yang sempat menggemparkan dunia dan bahkan menjadi kontroversi. Inilah profil singkat dari Sigmund Freud. Lahir di Freiberg, Moravia, salah satu kota di Republik Ceko pada tanggal 6 Juni 1856 kemudian ketika berumur 4 tahun, keluarganya pindah ke Wina. Di Wina, Freud termasuk anak yang jempolan. terbukti dia mendapatkan gelar sarjana kedokteran dari Universitas Wina di tahun 1881. Teori dari Freud yang amat terkenal adalah ketika dia membagi wilayah kesadaran manusia menjadi conscious mind, subconscious mind, dan unconscious mind, yani 3 tahapan kesadaran pada manusia. Consicous mind adalah pikiran sadar dan mengendalikan hampir semua kegiatan sadar manusia. Tetapi yang paling kontroversi adalah teorinya merujuk bahwa pikiran bawah sadar (subconscious mind) mengendalikan sebagian besar perilaku manusia.

Variable-variable interpersonal dan aparat-aparat psikos.
Libido

26

Psikologi Sosial | 2012

Libido adalah energi vital. Energi ini sepenuhnya bersifat kejiwaan dan tidak boleh dicampurkan dengan energi fisik yang bersumber pada kebutuhan-kebutuhan biologis seperti lapar dan haus. Freud mengemukakan bahwa manusia terlahir dengan sejumlah insting (naluri). Insting dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu insting hidup (life insting) dalah naluri untuk mempertahankan hidup dan keturunan dan Insting mati (death insting) adalah naluri yang menyatakan bahwa suatu saat orang itu akan mati insting mati ini menyebabkan perilaku-perilaku agresif. Sifat, kekuatan dan cara penyaluran dari libido pada masa kanak-kanak sangat menentukan kehidupan kejiwaan dan kepribadian orang yang bersangkutan. Karena itu masa kanak-kanak dipandang freud sebagai masa kritis yang penting sekali artinya. Struktur kejiwaan Jiwa oleh freud dibagi dalam 3 bagian yaitu; Kesadaran (consciousness) adalah bagian kejiwaan yang berisi hal-hal yang disadarinya, diketahuinya. Prakesadaran (preconsciousness) adalah bagian kejiwaan yang bersikan hal-hal yang sewaktu-waktu dapat dipanggil ke kesadaran melalui asosiasi-asosiasi. Ketidaksdaran 9uncosciousness) adalah proses-proses yang tidak disadari, akan tetapi tetap berpengaruh pada tingkah laku orang yang bersangkutan. STRUKTUR KEPRIBADIAN Id adalah segala sumber energi psikis, sistem yang tidak disadari, maka semua ciri ketidak moralan berlaku buat id : amoral, tidak terpengaruh oleh waktu, tidak memperpedulikan realitas, tidak menyensor diri sendiri dan bekerja atas dasar prinsip kesenangan. EGO bekerja atas dasar prinsip realitas, ego juga beroperasi atas dasar proses berfikir sejunder, jadi dalam menginterpretasikan realitas ego menggunakan logika. SUPEREGO adalah sistem moral dari kepribadian. Sistem ini berisi normanorma budaya, nilai-nilai sosial dan tata cara yang sudah di serap dalam jiwa

PENDEKATAN BIOLOGIS  Manusia dilahirkan dengan berbagai karakteristik biologis yang membedakannya dengan hewan dan sesamanya

Psikologi Sosial | 2012

27

 Dalam tingkat paling sederhana, karakteristik ini dapat membatasi kemungkinan perilaku manusia dan rangsangan yang muncul.  Daftar karakteristik bawaaan dapat diperbanyak, dan sifat-sifat ini mempengaruhi bagaimana kita dan perilaku sosial kita. Naluri dan Perbedaan Genetik  manusia memiliki naluri untuk menjadi agresif.  KONRAD LORENZ dan juga ahli lain mengemukakan pendapat bahwa dorongan agresif ada di dalam diri manusia sejak lahir dan tidak dapat diubah.  Pandangan biologis juga memusatkan perhatiaannya bagaimana perbedaan genetik menimbulkan perbedaan perilaku.  sebagian orang tumbuh lebih kuat, lebih cerdas dari yang lain, sebagian wanita ( dapat melahirkan) dan sebagian lagi laki-laki (tidak dapat melahirkan) dsb,  Orang yang memiliki susunan susunan genetik tertentu ( khususnya kromosom XYY dan bukannya kromosom XY atau XX yang lebih lazim) lebih besar kemungkinan menjadi penjahat. Meskipun sampai sekarang ini baru terdapat sedikit bukti yang mendukung pemikiran tsb. Jelas perkiraan itu merupakan sebagian penjelasan mengenai perilaku kriminal.  Pemikiran yang umum adalah bahwa penyebab semua perilaku, termasuk perilaku sosial, dapat di ketahui dari sifat biologis seseorang—dari susunan genetik, dari karakteristik bawaan, dari karakteristik fisik yang berkembang sejak lahir, atau dari pertumbuhan fisik sementara seperti yang disebabkan oleh produksi hormon atau perangsangan otak. DAFTAR PUSTAKA Wirawan Salito. 1983. Teori-teori Psikologi Sosial,(Jakarta : Radar Jaya Offset) Gerungan,W.A.2010.Psikologi Sosial. (Bandung : PT Refika Aditam)

28

Psikologi Sosial | 2012

TEORI ENVIROMENTALIS DAN KOGNITIF 1. Teori Enviromentalis Environmentalis mengatakan bahwa tingkah laku manusia dibentuk oleh lingkugan. Dalam istilah filsafat dan psikologi, kita mengenal ‘’tabula rasa’’ yang artinya bahwa manusia di dilahirkan dalam keadaan yang polos, dan tingkah laku manusia di bentuk oleh lingkungannya. Sejarah environmentalis Environmentalis muncul setelah revolusi industri di perancis yang menimbulkan pencemaran lingkungan modern yang umum terjadi saat ini. Munculnya pabrik – pabrik besar dan exploitasi dalam jumlah besar dari batubara yang menimbulkan polusi udara . 2. TEORI KOGNITIF Psikologi kognitif menempatkan manusia sebagai mahluk yang bereaksi secara aktif terhadap lingkungan dengan cara berfikir. Psikologi kognitif mempelajari bagaimana arus informasi yang di tangkap oleh indra di proses dalam jiwa seseorang sebelum diendapkan dalam kesadaran atau di wujudkan tingkah laku.

Psikologi Sosial | 2012

29

PERSEPSI dan Atribusi A. Persepsi Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh pengindraan. Pengindraan adalah proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra. Stimulus tersebut diteruskan oleh syaraf ke otak sebagai pusat susunan syaraf, dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi. Stimulus yang mengenai individu itu kemudian diorganisasikan, diinterpretasikan, sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderanya itu. Persepsi stimulus dapat datang dari luar individu dan juga dari dalam individu itu sendiri. Bila yang dipersepsi dirinya sendiri sebagai objek persepsi, inilah yang disebut persepsi diri. Karena dalam persepsi itu merupakan aktivitas yang intergrated. Maka seluruh apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan, pengalaman, kemampuan berfikir, kerangka acuan, dan aspek-aspek lain yang ada dalam diri individu akan ikut berperan dalam persepsi tersebut. Atas dasar itu dapat dikemukakan bahwa dalam persepsi itu sekalipun stimulusnya sama, tetapi karena pengalaman tidak sama, kemampuan berfikir tidak sama, kerangka acuan tidak sama, adanya kemungkinan hasil persepsi antara individu satu dengan individu yang lainnya tidaklah sama. Keadaan tersebut memberikan gambaran bahwa persepsi itu bersifat individual (Davidoff, 1981).4 B. Persepsi Sosial Obyek persepsi ada yang bersifat intern dan ekstern. Dalam mempersepsi diri sendiri orang dapat melihat bagaimana keadaan dirinya sendiri. Orang akan dapat mengerti bagaimana keadaan dirinya sendiri. Orang dapat mengevaluasi tentang dirinya sendiri. Bila obyek persepsi terletak di luar orang yang mempersepsi, maka obyek persepsi dapat bermacam-macam, yaitu dapat berwujud benda-benda, situasi dan juga manusia. Bila obyek persepsi berwujud benda-benda disebut persepsi benda (things perception) atau non-social perception, Sedangkan bila obyek persepsi berwujud manusia atau orang disebut dengan persepsi sosial atau social perception (Heider,

30

4 Bimo Walgito, Psikologi Sosial, (Yogyakarta: Andi Offset, 1978), hlm. 53-54 Psikologi Sosial | 2012

1958). Persepsi Sosial merupakan suatu proses seseorang untuk mengetahui, menginterpretasikan dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, tentang sifat-sifatnya, kualitasnya dan keadaan yang lain yang ada dalam diri orang yang dipersepsi. Sehingga terbentuklah gambaran mengenai orang yang dipersepsi (Tagiuri dalam Lindzey dan Aranson. 1975). Ada beberapa faktor yang ikut berperan dan mempengaruhi dalam mempersepsi manusia, yaitu diantaranya: (1) keadaan stimulus, dalam hal ini berwujud manusia yang akan dipersepsi; (2) situasi dan keadaan sosial yang melatarbelakangi stimulus; (3) keadaan orang yang mempersepsi. Pikiran, perasan, kerangka acuan, pengalaman atau dengan kata lain keadaan pribadi orang yang mempersepsi akan berpengaruh dalam seseorang mempersepsi orang lain. Demikian pula situasi sosial yang melatarbelakangi stimulus person juga akan ikut berperan dalam hal mempersepsi seseorang. Orang yang biasa bersikap keras, tetapi karena situasi sosialnya tidak memungkinkan untuk menunjukkan kekerasannya hal tersebut akan mempengaruhi dalam seseorang berperan sebagai stimulus person. Keadaan tersebut dapat mempengaruhi orang yang mempersepsinya. Karena itu situasi sosial yang melatarbelakangi stimulus person mempunyai peran yang penting dalam persepsi sosial.5 C. Antribusi Sosial Atribusi adalah memperkirakan apa yang menyebabkan orang lain itu berperilaku tertentu. Menurut Myers (1996), kecenderungan memberi atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu, termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain. Attribution theory (teori sifat) merupakan posisi tanpa perlu disadari pada saat melakukan sesuatu menyebabkan orang-orang yang sedang menjalani sejumlah tes bisa memastikan apakah perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan orang lain dapat merefleksikan sifat-sifat karakteristik yang tersembunyi dalam dirinya, atau hanya berupa reaksi-reaksi yang dipaksakan terhadap situasi tertentu.6

5 6

Ibid. hlm 55-57 http://susisitisapaah.blogspot.com/2011/09/atribusi-sosial.html Psikologi Sosial | 2012

31

Teori ini merupakan teori yang ingin menjelaskan tentang perilaku seseorang. Teori ini dikemukakan oleh Frith Heider, yang menurutnya perilku manusia itu dapat disebabkan oleh faktor internal, dan ini disebut atribusi internal atau disebabkan oleh faktor eksternal, disebut dengan atribusi eksternal. Untuk mengetahui orang-orang disekitar kita dapat melalui beberapa macam, yaitu: (1) Dengan melihat seseorang itu secara fisik. Seperti cara berpakaian dan cara berpenampilan. (2) Langsung bertanya kepada orang yang bersangkutan, misal tentang pemikirannya, tentang motifnya. (3) Dari perilaku seseorang. Menurut Kelley, perilaku manusia itu dapat disebabkan oleh faktor internal, faktor eksternal dan faktor internal-eksternal. Untuk menentukan suatu perilaku apakah internal, eksternal dan internal-eksternal , Kelley menggunakan 3 determinan untuk menentukan hal tersebut, yaitu consensus, konsistensi dan distinctiveness. Konsensus yaitu bagaimana seseorang bereaksi bila dibandingkan dengan orang-orang lain terhadap stimulus tertentu. Konsisten yaitu bagaimana seseorang bereaksi terhadap stimulus yang sama dalam situasi berbeda. Distinctiveness yaitu bagaimana seseorang bereaksi terhadap stimulus atau situasi yang berbeda-beda.7 D. • Beberapa Sumber Kesesatan Atribusi Kesalahan atribusi mendasar Kita cenderung memandang orang lain bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas segenap perilakunya. Contonya, menyalahkan korban saat tidak mengetahui siapakah sesungguhnya yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi, Kita kerap mengatakan bahwa bencana yang dialami seseorang adalah kesalahannya sendiri. “Itu memang salahnya” dan “Dia sendirilah yang menyebabkan terjadinya semua itu” • Efek pengamat actor Kita cenderung melimpahkan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar atas segala sesuatu yang kita lakukan. Seperti pembelaan diri seoran anak kecil saat mendapat nilai merah, “Saya sebenarnya ingin belajar dengan rajin tapi teman-temanlah yang mengganggu saya.” Dengan kata lain kita sering menyalahkan orang

32

7

Op.cit, Bimo Walgio. Hlm. 60-61

Psikologi Sosial | 2012

lain saat terjadi kegagalan. • Menyalahkan atau membanggakan diri sendiri Bila mengalami keberhasilan, kita sering berfikir bahwa diri kitalah satu-satunya penyebabnya. Tapi jika mengalami kegagalan , kita mengganggapnya sebagai kehendak Tuhan atau karena orang lain. • Hipotesis dunia yang adil Ini merupaan gagasan bahwa setiap orang akan mendapat balasan setimpal atas perbuatannya. Gagasan ini memang tidak sepenuhnya salah tapi akan bermasalah jika seseorang membalik rangkaian logikanya: Bila mengalami sessuatu yang baik pasti karena seseorang itu melakukan kebaikan, sebaliknya jika mengalami sesuatu yang buruk, artinya seseorang telah melakukan dosa atau kejahatan. Hal ini menimbulkan gagasan konyol. Seperti rasa bersalah jika mengalami sesuatu yang buruk. Sebaliknya kita cenderung menganggap orang yang beruntung sebagai orang yang baik, padahal tidak selamanya demikian.8

DAFTAR PUSTAKA Walgito Bimo, Psikologi Sosial, Yogyakarta: Andi Offset, 1978 Boere George, Psikologi Sosial, Jogjakarta: Prismashopie, 2011 http://susisitisapaah.blogspot.com/2011/09/atribusi-sosial.html

8 George Boere, Psikologi Sosial, (Jogjakarta: Prismashopie, 2011), hlm. 65-66 Psikologi Sosial | 2012

33

PEMBUATAN KEPUTUSAN, AFEK DAN KOGNISI A. PEMBUATAN KEPUTUSAN Pembuatan keputusan digunakan untuk menyeleksi dari antara pilihan- pilihan atau untuk mengevaluasi kesempatan- kesempatan. Pembuatan keputusan diinformasikan sepenuhnya terkait dengan semua pilihan yang memungkinkan bagi keputusan mereka dan tentang semua hasil yang memungkinkan dari pilihan- pilihan keputusan mereka. Mereka sepenuhnya rasional terkait dengan pilihan terhadap opsi-opsi. Asumsi tentang rasionalitas berarti manusia bisa membuat pilihan untuk memaksimalkan nilai, apapun bentuknya. Melakukan pembuatan keputusan merupakan ciri yang memainkan suatu peran penting dalam kehidupan setiap manusia. Setiap tindakan yang diambil oleh individu memiliki latar belakang yang mendalam dari sebuah proses keputusan itu sendiri. Bahwa keputusan otonom bergantung pada individu. Justru batasan-batasan sosiallah yang mempengaruhi pembuatan keputusan seseorang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan erat kaitannyadengan pemilihan suatu alternatif untuk menyelesaikan atau memecahkanmasalah serta memperoleh kesempatan. Herbert Simon, ahli teori keputusan dan organisasi mengonseptualisasikan tiga tahap utama dalam proses pengambilan keputusan yaitu : 1. Aktivitas intelegensi yakni penelusuran kondisi lingkungan yang memerlukan pengambilan keputusan. 2. Aktivitas desain yakni terjadi tindakan penemuan, pengembangandan analisis masalah. 3. Aktivitas memilih yakni memilih tindakan tertentu dari yang tersedia. Fungsi dan tujuan pengambilan keputusan Fungsi pengambilan keputusan yaitu Pengambilan keputusan sebagai suatu kelanjutan dari cara pemecahan masalah mempunyai fungsi antara lain sebagai berikut:

34

Psikologi Sosial | 2012

 angkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang P s a d a r d a n terarah baik secara individual maupun secara k e l o m p o k , b a i k secara institusional maupun secara organisasional.  esuatu yang bersifat futuristik, artinya menyangkut S d e n g a n h a r i depan/masa yang akan datang,dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama. Tujuan pengambilan keputusan dapat dibedakan atas dua yaitu: 1 . Tu j u a n b e r s i f a t t u n g g a l y a i t u t u j u a n p e n g a m b i l a n k e p u t us a n y a n g bersifat tunggal terjadi apabila yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah artinya setelah diputuskan tidak ada kaitannya lagi. 2.Tujuan bersifat ganda yaitu tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keput u s a n y a n g d i h a s i l k a n i t u menyangkut lebih dari satu masalah, artinya bahwa satu keputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua masalah atau lebih yang bersifat kontradiktif atau bersifat tidak kontradiktif. Langkah dalam pengambilan keputusan Mintzberg mengungkapkan bahwa langkah-langkah dalam p e n g a m b i l a n keputusan yaitu: 1 . T a h a p i d e n t i f i k a s i Tahap ini adalah tahap pengenalan masalah atau kesempatan muncul d a n d i a g n o s i s d i b u a t . S e b a b t i n g k a t d i a g n o s i s t e r g a n t u n g d a r i kompleksitas masalah yang dihadapi. 2 . T a h a p p e n g e m b a n g a n Tahap ini merupakan aktivitas pencarian prosedur atau solusi standar y a n g a d a a t a u m e n d e s a i n s o l u si yang baru. Proses desain inimerupakan proses p e n c a r i a n d a n p e r c o b a a n d i m a n a p e m b u a t a n keputusan hanya mempunyai ide solusi ideal yang tidak jelas. B. PENGERTIAN AFEK

Psikologi Sosial | 2012

35

Afek adalah perubahan perasaan karena tanggapan dari kesadaran seseorang (terutama apabila tanggapan itu datangnya mendadak dan berlangsung tidak lama). Contoh orang yang sedang marah mengambil, melempar, dan membanting benda dari sekitarnya, disertai mukanya merah, TD meningkat, dan gemeter. Domain afektif adalah mengenai sikap, minat, emosi, nilai hidup dan operasiasi siswa. Menurut Krathwol (1964) klasifikasi tujuan domain afektif terbagi lima kategori : a. Penerimaan (recerving) Mengacu kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif. b. Pemberian respon atau partisipasi (responding) Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara afektif, menjadi peserta dan tertarik. c. Penilaian atau penentuan sikap (valung) Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap dan opresiasi”. d. Organisasi (organization) Mengacu kepada penyatuan nilai, sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup. e. Karakterisasi/pembentukan pola hidup (characterization by a value or value complex) Mengacu kepada karakter dan daya hidup seseorang. Nilai-nilai sangat

36

Psikologi Sosial | 2012

berkembang nilai teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan keteraturan pribadi, sosial dan emosi jiwa. Variable-variabel di atas juga telah memberikan kejelasan bagi proses pemahaman taksonomi afektif ini, berlangsungnya proses afektif adalah akibat perjalanan kognitif terlebih dahulu seperti pernah diungkapkan bahwa: “Semua sikap bersumber pada organisasi kognitif pada informasi dan pengatahuan yang kita miliki. Sikap selalu diarahkan pada objek, kelompok atau orang hubungan kita dengan mereka pasti di dasarkan pada informasi yanag kita peroleh tentang sifat-sifat mereka.” Bidang afektif dalam psikologi akan memberi peran tersendiri untuk dapat menyimpan menginternalisasikan sebuah nilai yang diperoleh lewat kognitif dan kemampuan organisasi afektif itu sendiri. Jadi eksistensi afektif dalam dunia psikologi pengajaran adalah sangat urgen untuk dijadikan pola pengajaran yang lebih baik tentunya. C. PENGERTIAN KOGNISI Istilah kognisi berasal dari bahasa Latin cognoscere yang artinya mengetahui. Kognisi dapat pula diartikan sebagai pemahaman terhadap pengetahuan atau kemampuan untuk memperoleh pengetahuan. Istilah ini digunakan oleh filsuf untuk mencari pemahaman terhadap cara manusia berpikir Karya Plato dan Aristotle telah memuat topik tentang kognisi karena salah satu tujuan filsafat adalah memahami segala gejala alam melalui pemahaman dari manusia itu sendiri. Kognisi dipahami sebagai proses mental karena kognisi mencerminkan pemikiran dan tidak dapat diamati secara langsung. Oleh karena itu kognisi tidak dapat diukur secara langsung, namun melalui perilaku yang ditampilkan dan dapat diamati. Misalnya kemampuan anak untuk mengingat angka dari 1-20, atau kemampuan untuk menyelesaikan teka-teki, kemampuan menilai perilaku yang patut dan tidak untuk diimitasi. Contohnya, saat kita melihat seseorang dari suatu ras tertentu (Cina, misalnya), kita seringkali secara otomatis langsung berasumsi bahwa orang tersebut memiliki ciri/

Psikologi Sosial | 2012

37

sifat tertentu. Kapasitas kognitif kita juga terbatas. Selain itu, terdapat suatu hubungan antara kognisi dan afeksi (bagaimana kita berpikir dan bagaimana kita merasa). Aspek kognitif adalah kemampuan intelektual siswa dalam berpikir, menegtahui dan memecahkan masalah. Menurut Bloom (1956) tujuan domain kognitif terdiri atas enam bagian : a. Pengetahuan (knowledge) mengacu kepada kemampuan mengenal materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar. b. Pemahaman (comprehension) Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berfikir yang rendah. c. Penerapan (application) Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan dan prinsip. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada pemahaman. d. Analisis (analysis) Mengacu kepada kemampun menguraikan materi ke dalam komponenkomponen atau faktor-faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti. Analisis merupakan tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi daripada aspek pemahaman maupun penerapan. e. Sintesa (evaluation) Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponenkomponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini memerlukan tingkah laku yang kreatif. Sintesis merupakan kemampuan tingkat

38

Psikologi Sosial | 2012

berfikir yang lebih tinggi daripada kemampuan sebelumnya. f. Evaluasi (evaluation) Mengacu kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berfikir yang tinggi.Urutan-urutan seperti yang dikemukakan di atas, seperti ini sebenarnya masih mempunyai bagian-bagian lebih spesifik lagi. DI INDONESIA Musyawarah berasal dari kata Syawara yaitu berasal dari Bahasa Arab yang berarti berunding, urun rembuk atau mengatakan dan mengajukan sesuatu.Istilah-istilah lain dalam tata Negara Indonesia dan kehidupan modern tentang musyawarah dikenal dengan sebutan “syuro”, “rembug desa”, “kerapatan nagari” bahkan “demokrasi”. Kewajiban musyawarah hanya untuk urusan keduniawian. Jadi musyawarah adalah merupakan suatu upaya bersama dengan sikap rendah hati untuk memecahkan persoalan (mencari jalan keluar) guna mengambil keputusan bersama dalam penyelesaian atau pemecahan masalah yang menyangkut urusan keduniawian. Saat ini musyawarah selalu dikait-kaitkan dengan dunia politik, demokrasi. Bahkan hal tersebut tidak dapat dipisahkan , pada prinsipnya musyawarah adalah bagian dari demokrasi, dalam demokrasi pancasila penentuan hasil dilakukan dengan cara musyawarah mufakat dan jika terjadi kebuntuan yang berkepanjangan barulah dilakukan votting, jadi demokrasi tidaklah sama dengan votting. Cara votting cenderung dipilih oleh sebagian besar negara demokrasi karena lebih praktis, menghemat waktu dan lebih simpel daripada musyawarah yang berbelit-belit itulah sebabnya votting cenderung identik dengan demokrasi padahal votting sebenarnya adalah salah satu cara dalam mekanisme penentuan pendapat dalam sistem demokrasi Di indonesia hukum islam yang merupakan formulasi dari syari’ah dan fiqh sekaligus. Hukum islam adalah peraturan-peraturan yang dirumuskan berdasar wahyu allah dan sunnah rasul-Nya tentang tingkah laku mukallaf yang diakui dan diyakini berlaku mengikat bagi semua pemeluk islam. “Konsep hukum menurut ahli fiqh pada dasarnya terletak di atas ide bahwa hukum itu bersifat keagamaan. Sejak periode awal hukum telah dipandang se-

Psikologi Sosial | 2012

39

bagai keluar dan merupakan bagian dari syari’ah. Konsep hukum seperti itu sejalan dengan pandangan bahwa hukum itu harus bersumber langsung atau tidak langsung dari wahyu tuhan, yaitu al-quran dan al-sunnah.  Ciri-ciri hukum islam:  Hukum islam itu bersifat keagamaan, berlandaskan pada keimanan dan akhlak mulia.  Hukum islam itu merupakan aturan-aturan yang ditarik atau yang merupakan hasil pemahaman dan deduksi dari ketentuan-ketentuan yang diwahyukan tuhan kepada nabi muhammad saw.  Hukum islam itu tidak memaksa sebagian bersifat korektif dan persuasif.

40

Psikologi Sosial | 2012

DIRI PRIBADI DAN SOSIAL

A. KONSEP DIRI 1. Pengertian konsep diri

Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan. Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan, melainkan berkembang dari pengalaman yang terus menerus dan terdiferensiasi. Dasar dari konsep diri individu ditanamkan pada saat-saat dini kehidupan anak dan menjadi dasar yang mempengaruhi tingkah lakunya dikemudian hari. William H. Fitts (1971) mengemukakan bahwa konsep diri merupakan aspek penting dalam diri seseorang, karena konsep diri seseorang merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam berinteraksi dengan lingkungan. Fitts juga mengatakan bahwa konsep diri berpengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang. Dengan mengtahui konsep diri seseorang. Dengan mengetahui konsep diri seseorang, kita akan lebih mudah meramalkan dan memahami tingkah laku orang tersebut. Pada umumnya tingkah laku individu berkaitan dengan gagasangagasan tentang dirinya sendiri. Jika seseorang mempersepsikan dirinya sebagai orang yang inferior dibandingkan dengan orang lain, walaupun hal ini belum tentu benar, biasanya tingkah laku yang ia tampilkan akan berhubungan dengan kekurangan yang dipersepsinya secara subjektif tersebut. konsep diri seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut (Fitts, 1971):  Pengalaman, terutama pengalaman interpersonal, yang memunculkan perasaan positif dan perasaan berharga.  Kompetensi dalam area yang dihargai oleh individu dan orang lain.  Aktualisasi diri, atau implementasi dan realisasi dari potensi pribadi yang sebenarnya.

Psikologi Sosial | 2012

41

2.

Dimensi-dimensi dalam Konsep Diri

Fitts (1971) membagi konsep diri dalam dua dimensi pokok, yaitu sebagai berikut : 1) Dimensi Internal Dimensi internal atau yang disebut juga kerangka acuaninternal (internal frame of reference) adalah penilaian yang dilakukan individu yakni pernilaian yang dilakukan individu terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia didalam dirinya. Dimensi ini terdiri dari tiga bentuk : a. Diri identitas Bagian dari ini merupakan aspek yang paling mendasar pada konsep diri dan mengacu pada pertanyaan, siapakah saya? Dalam pertanyaan tersebut dalam pertanyaan tersebut tercakup label-label dan simbol-simbol yang diberikan pada diri oleh individu-individu yang bersangkutan untuk menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya, misalnya “saya ita”. b. Diri pelaku Diri pelaku merupakan persepsi individu tentang tingkah lakunya, yang berisikan segala kesadaran mengenai “apa yang dilakukan oleh diri”. c. Diri penerimaan/penilai Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penentu standar, dan evaluator. Kedudukannya adalh sebagai perantara (mediator) antara diri identitas dan diri pelaku. Manusia cenderung memberikan penilaian terhadap apa yang dipersepsikannya. Oleh karena itu, label-label yang dikenakan pada dirinya bukanlah semata-mata menggambarkan dirinya, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai. Selanjutnya penilaian ini lebih berperan dalam menentukan tindakan yang akan ditampilkannya. 2) Dimensi eksternal Pada dimensi eksternal, individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal lain diluar dirinya. Dimensi ini merupakan suatu hal yang luas, misalnya diri yang berkaitan dengan sekolah, organisasi, agama dan sebagainya. Namun, dimensi yang dikemukakan oleh Fitts adalah dimensi eksternal yang bersifat umum bagi semua orang, dan

42

Psikologi Sosial | 2012

dibedakan atas lima bentuk, yaitu: a. Diri fisik Diri fisik menyangkut persepsi seseorang terhadap keadaan dirinya secara fisik. Dalam hal ini terlihat persepsi seseorang mengenai kesehatan dirinya, penapilan dirinya (cantik, jelek, menarik, tidak menarik) dan keadaan tubuhnya (tinggi, pendek, gemuk, kurus). b. Diri etik moral Bagian ini merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya terlihat dari standar pertimbangan nilai moral dan etika. Hal ini menyangkut persepsi seseorang menngenai hubungan dengan Tuhan, kepuasan seseorang akan kehidupan keagamaannya dan nilai-nilai moral yang dipegangnya, yang meliputi batasa baik dan buruk. c. Diri pribadi Diri pribadi merupakan perasaan atau persepsi seseorang tentang keadaan pribadinya. Hal ini tidak dipengaruhi oleh kondisi fisik atau hubungan dengan orang lain, tetapi dipengaruhi oleh sejauh mana individu merasa puas terhadap pribadinya atau sejauh mana ia merasa dirinya sebagai pribadi yang tepat. d. Diri keluarga Diri keluarga menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga. Bagian ini menunjukkan seberapa jauh seseorang merasakuat terhadap dirinya sebagai anggota keluarga, serta terhadap peran maupun fungsi yang dijalankan sebagai anggota dari suatu keluarga. e. Diri sosial Bagian ini merupakan penilaian individu terhadap interaksi dirinya dengan orang lain maupun di sekitarnya. Pembentukan penilaian individu terhadap bagian-bagian dirinya dalam dimensi eksternal ini dapat dipengaruhi oleh penilaian dan interaksinya dengan orang lain. Seseorang tidak dapat begitu saja menilai bahwa ia memiliki fisik yang baik tanpa adanya reaksi dari orang lain yang memperlihatkan bahwa secara fisik ia memang menarik. Demikian pula seseorang tidak dapat mengatakan bahwa ia memiliki diri pribadi yang baik tanpa adanya tanggapan atau reaksi orang lain

Psikologi Sosial | 2012

43

disekitarnya yang menunjukkan bahwa ia memang memiliki pribadi yang baik. 9 C. Aku, Aku adalah suatu hal tentang kesempurnaan atau hasil dari totalitas pada diri manusia yang terletak dalam dimensi internal yaitu diri identitas, diri pelaku, dan diri penilai.

3.

Kepribadian 1. Pengertian Kepribadian

Kepribadian adalah satu totalitas terorganisir dari disposisi-disposisi psikis manusia yang individual, yang memberi kemungkinan untuk memperbedakan ciri-cirinya yang umum dengan pribadi yang lainnya. Satu totalitas itu bukan hanya merupakan satu penjumlahan melulu dari bagianbagian , tapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagikan dan tidak dapat dipisah-pisahkan satu dengan lainnya. Kepribadian ini merupakan satu struktur totalitas yang mempunyai aspek-aspek yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Disposisi itu ialah kesediaan kecenderungan-kecenderungan untuk bertingkahlaku tertentu, yang sifatnya lebih kurang , tetap/konstan, dan terarah pada tujuan tertentu (bahasa latin dispositio = ketentuan, ketetapan; beschikking, gestheldheid). Sungguhpun didalam konteknya kepribadian itu akan selalu berkembang dan bersifat dinamis, namun da disposisi-disposisi psikis pokok/dasar yang sifatnya tetap konstan. Individual, ini berarti, bahwa setiap orang itu mempunyai kepribadiannya sendiri yang khas, yang tidak identik dengan orang lain. Yang tidak dapat diganti atau disubtitusikan oleh orang lain. Jadi ada ciri-ciri atau sifat-sifat individual pada aspekaspek psikisnya, yang bisa membedakan dirinya dengan orang lain. GORDON W. ALLPORT Hendriani Agustiani,, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT Refika Aditama, 2006). Hlm. 138-139

9

44

Psikologi Sosial | 2012

Kepribadian itu adalah kesatuan organisasi yang dinamis sifatnya dari sistem psikofisis individu yang menentukan kemampuan penyesuaian diri yang unik sifatnya terhadap lingkungannya. MORTON PRINCE Kepribadian adalah jumlah total dari semua disposisi pembawaan, impuls-impuls, kecenderungan-kecenderungan, selera-selera nafsu-nasfu, insting-insting individual, disposisi-disposisi dan tendensi-tendensi yang diperoleh melalui pengalaman. H.C. WARPEN Kepribadian adalah segenap organisasi mental dari manusia pada semua tingkat dari perkembangannya.10

2.

Ekspresi Kepribadian

Diatas telah dikatakan bahwa arti kepribadian itu sangat luas. Karena itu kala kita hendak menggambarkan atau menguraikan kepribadian seseorang, kita harus membagi-bagi kepribadian tersebut dalam beberapa karakteristik yang dapat dilihat atau diukur. Dengan perkataan lain, kepribadian seseorang itu diekspresikan kedalam beberapa karakteristik , sehingga dengan mengerti karakteristik-karakteristik tersebut, kita dapat mengerti pula kepribadian orang yang bersngkutan. Sekalipun tidak semua sarjana sependapat, tetapi karakteristik-karakteristik yang saya anggap terpenting untuk mengenali kepribadian adalah: a. Penampilan fisik: tubuh yang besar, wajah yang tampan, pakaian yang rapi, atau tubuh yang kurang sehat, wajah yang kuyu, pakaian kusut, semuanya menggambarkan kepribadian dari orang yang bersangkutan, apakah ia berwibawa dan percaya pada diri sendiri atau kurang semangat dan mepunyai perasaan yag rendah diri. b. Temperamen: yaitu suasana hati yang menetap dan khas pada orang yang ber-

10 Kartini Kartono, Teori Kepribadian, (Bandung: Mandar Maju, 2005). Hlm. 10-12

Psikologi Sosial | 2012

45

sangkutan. Misalnya pemurung, pemarah, dan sebagainya. c. Kecerdasan dan kemampuan d. Arah minat dan pandangan mengenai nilai-nilai e. Sikap sosial f. Kecenderungan-kecenderungan dalam motivasinya g. Cara-cara pembawaan diri, misalnya sopansantun, banyak bicara, kritis, mudah bergaul dan sebagiaya. Cara pembawaan diri ini terlepas dari isi atau materi yang dibawakan. Seseorang dapat bercerita tentang berita kematian atau soal-soal perdagangan atau mengundang seseorng ke suatu perjamuan, atau menegur kesalahan seseorang, tetapi semuanya dilakukan dengan cara sopansantun. h. Kecenderungan patologis : yaitu tanda-tanda adanya kelainan kepribadian seperti reaksi-reaksi yang skizofrenis dan sebagainya.11

3.

Tipe-Tipe Kepribadian

Menurut Galenus Tipe sanginikus Stemming dasarnya atau suasana perasaan dasarnya riang, optimis. Tidak takut akan masa depan. Percaya akan diri sendiri. Sikap batinnya positif, tapi “oppervlakkig” datar: berkecenderungan lekas merasa puas. Tidak begitu terbuka pada nilai-nilai yang dalam, bersifat dangkal. Perasaannya sangat peka, tapi tidak terlalu lama melekatnya.12 Tipe Melankholis Stemming dasarnya ialah sedih. Kebalikan dari tipe sanguinikus. Menilai segala sesuatu didunia ini dengan stemming sedih atau negatif. Ia selalu tertekan oleh pengalamanpengalaman yang lama. Sangat hati-hati. Masa dahulu sangat menekan pundaknya, sedang masa depan tampak menakutkan, karena dianngap berwarnakan gelap. Ada rasa

11 Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1996). Hlm. 90-91 12 Ibid, Kartini Kartono, Hlm. 24-25

46

Psikologi Sosial | 2012

ketakutan yang fundamental.13 Tipe Kholerikus Stemming dasarnya selalu merasa kurang puas . selalu bereaksi negatif dan agresif. Selalu ada saja hal-hal yang menyinggung hati, walaupun soal-soal kecil atau detail. Stemming dasarnya tak pernah seimbang tenang. Lekas menjadi eksplosif. Ada disposisi-disposisi yang cenderung jadi kemarahan. Perasaannya mudah tersinggung atau terkena. Perasaannya agak kuat, sesuai dengan stemming dasarnya. Mudah jadi emosional, karena ada antisipasi untuk affek yang kuat. Mencari perlawanan, supaya timbul agresivitasnya. Suka membuat provokasi.14 Tipe flegmatikus Lawan dari tipe koleris. Stemming dasarnya tenang, netral, tidak ada warna perasaan yang jelas. Biasanya sedikit positif, sedang, dan stabil. Pada umumnya tidak banyak ketegangan-ketegangan perasaan. Merasa cukup puas, sebab segala sesuatu itu sudah dianggap baik. Sikapnya acuh tak acuh, sering tidak perdulian. Tidak mempunyai harapan-harapan yang intens atau kuat. Dunia ini tidak menimbulkan emosi padanya. Dia berpendapat: tidak perlu menampilkan emosi. Perasaannya tidak begitu peka, agak lemah; tidak mudah terharu, dan dingin hati. Tidak pernah menjadi sangat enthousiast. Ia adalah seorang peminat yang tenang. Ekspresi ketenangan mewarnai perasaannya. Dia tidk pernah dalam keadaan panik. 15 Menurut Carl G. Jung Sarjana swiss ini berdasarkan penggolongannya pada tingkah laku atau karakteristik yang psikologis: a. Jenis introvert : terutama dalm keadaan emosionil atau konflik orang dengan kepribadian ini cenderung untuk menarik diri dan menyendiri. Ia pemalu dan lebih suka bekerja sendiri di laboratori-

13 14 15

Ibid, Kartini Kartono, Hlm. 25 Ibid, Kartini Kartono, Hlm. 26 Ibid, Kartini Kartono, Hlm. 27-28 Psikologi Sosial | 2012

47

um atau perpustakaan daripada bekerja ditengah orang-orang banyak. b. Jenis ekstravert: orang dengan kepribadian ini kalau merasa tertekan akan menggabungkan diri diantara orang-orang banyak sehingga individualitasnya berkurang. Ia peramah dan memilih pekerjaan-pekerjaan seperti pedadang, pekerja sosial, juru bicara dan semacamnya, yaitu pekerjaan-pekerjaan yang banyak melibatkan orang-orang. c. Jenis ambivert : yaitu orang-orang yang tidak masuk kedalam introvert maupun ekstravert. Ciri kepribadiannya memiliki campuran dari kedua jenis diatas.16

4.

Tanda- tanda kematangan pribadi

Mengenai tanda-tanda dari kepribadian yang matang itu banyak ditukliskan orang dengan nuansa dan versi yang berbeda-beda. Pendapat beberapa tokoh masalah kepribadian saya kemukakan dibawah ini: Marie Jahoda membuat statement mengenai pribadi yang matang sebagai berikut: a. Pribadi yang matang adalah individu yang dapat menguasai lingkungannya secara aktif. b. Dia memperlihatkan satu totalitas dari segenap kepribadiannya. c. Dia sanggup menerima secara tepat dunia lingkungannya dan dirinya sendiri. d. Ia mampu berdiri sendiri diatas kedua belah kakinya, tanpa banyak menuntut kepada orang lain. Mengenai kematangan pribadi ini Abraham Maslow dalam tulisannya “ holistic dynamic theory”, mengenai teori yang organismik menulis: 1. Pada kematangan pribadi itu ada aktualisasi diri; memiliki kemampuan efisiensi dalam menerima realitas. Orientaas-

48

16

Ibid, Sarlito Wirawan Sarwono, Hlm. 93

Psikologi Sosial | 2012

inya realistik. Mempunyai relasi yang baik dengan lingkungannya; dan tidak takut dengan hal-hal yang belum dialami. 2. Dia mampu meneria diri sendiri, orang lain dan alam dunia ini tanpa rasa kebencian atau rasa malu. Ia bisa mengapresiasi terhadap kualitas-kualitas yang lebih tinggi, yang dipergunakan sebagai sarana untuk membangun kepribadiannya. 3. Dia memiliki banyak spontanitas dalam mengapresiasi duni dan kebudayaan. Dapat mempergunakan waktu dengan baik; dan mempunyai hidup yang positif. Ia dapat memperoleh puncak-puncak pengalaman dari kehidupan ini dengan mudah. 4. Dia tidak egoistis, akan tetapi lebih suka memusatkan perhatian dan usahanya untuk memecahkan berbagai problem dengan cara yang efaktif. Dia bersifat tabah dan ulet pada tugasnya.17 4. Teori-Teori Kepribadian

1. Teori kepribadian psikoanalisa Dalam teori psikoanalisa, kepribadian dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yakni id, ego, dan superego. Meskipun ketiga sistem tersebut memiliki fungsi, kelengkapan, prinsip-prinsip operasi, dinamisme, dan mekanismenya masing-masing, ketiga sistem kepribadian itu satu sama lain saling berkaitan serta membentuk suatu totalitas. Untuk mempermudah pembahasan kita mengenai kepribadian dalam kerangka psikoanalisa, marilah kita uraikan ketiga sistem kepribadian itu satu perstu. a. Id, yaitu sistem kepribadian yang paling dasar, sistem yang didalamnya terdapat naluri-naluri bawaan. Untuk dua sistem yang lainnya, id adalah sistem yang bertindak sebagai penyedia atau penyalur energi yang dibutuhkan oleh sistem-sistem tersebut untuk kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Dalam soal energi ini , id tidak bisa mentoleransi penumpukan energi yang bisa menyebabkan meningginya taraf tegangan organisme atau individu secara keseluruhan. Dan bagaimanapun, bagi individu meningginya tegangan itu akan merupakan

17

Ibid, Kartini Kartono, Hlm. 133-134 Psikologi Sosial | 2012

49

suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Karena itu, apabila tegangan pada organisme meningkat, baik karena adanya stimulasi dari luar (suhu, cahaya, dan bunyi yang intensitasnya tinggi) maupun karena adanya stimulasi dari dalam (lapar, haus, kekurangan oksigen), maka id akan berusha meredakan dan mengurangi tegangan yang meninggi itu serta mengembalikannya kepada taraf semula. Dari sini bisa diperoleh gambaran bahwa id, dalam menjalankan fungsi dan operasinya dilandasi oleh maksud mempertahankann konstansi yang ditujukan untuk menghindari keadaan tidak menyenangkan dan mencapai keadaan yang menyenangkan. b. Ego,sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada dunia obyek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan. Apabila dikaitkan dengan contoh orang yang sedang lapar, maka bisa diterapkan bahwa ego bertindak sebagai penunjuk atau pengarah kepada orang yang sedang lapar ini kepada makanan. Artinya, menurut petunjuk ego, orang yang sedang lapar tersebut akan berpikir bahwa tegangan yang dirasakan kibat keutuhan akan makanan (lapar) hanya bisa diatasi dengan jalan memakan makanan. Superego, sistem kepribadian berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik-buruk). Menurut freud, superego terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan oleh individu dari sejumlah figur yang berperan, berpengaruh, atau berarti bagi individu tersebut seperti orang tua dan guru. Adapun fungsi utama dari superego adalah:  Sebagai pengendali dorongan-dorongan atau impuls-impuls naluri agar impulsimpuls tersebut disalurkan dalam cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat.  Mengarahkan ego pada tujuan yang sesuai dengan moral ketimbang dengan kenyataan.  Mendorong individu kepada kesempurnaan.18

c.

18 E. Kuswara, Teori-Teori Kepribadian, (Bandung: Eresco, 1991). Hlm. 32-

50

34

Psikologi Sosial | 2012

2.

Teori kepribaian behaviorisme

Skinner tidak menerima gagasan mengenai kepribadian (personality) atau diri (self) sebagai pendorong atau pengarah tingkah laku ia menyebut gagasan itu sebagai sisa dari animsme primitif. Skinner juga menolak dengan apa yang disebut penguraian jalan buntu mengenai tingkah laku, seperti : mengapa abu nidal bersama pengikutnya melakukan aksi teror tanpa pilih bulu? Karena dia mengalami gangguan emosional. Dari perspektif behaviorisme skinner, studi tentang kepribadian melibatkan pengujian yang sistematis dan pasti atas sejarah hidup atau pengalaman belajar dan atarbelakang genetik atau faktor bawaan yang khas dari individu. Menurut skinner, individu adalah organisme yang memperoleh pembendaharaan tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku, melainkan tempat kedudukan atau suatu point dimana faktor-faktor lingkungan dan bawaan yang khas secara bersama menghasilkan akibat (tingkah laku) yang khas pula pada individu tersebut. Selanjutnya bagi skinner studi tentang kepribadian itu ditujukan kepada penemuan pola yang khas dari kaitan antara tingkah laku organisme dan konsekuensikonsekuensi yang diperkuatnya.19

3.

Teori kepribadian Humanistik

Psikologi humanistik sesungguhnya bukan suatu organisasi tunggal dari teori atau sistem, melainkan lebih tepat jika disebut sebagai gerakan. Maslow sendiri menyebut psikologi humanistik yang dipimpinnya sebagai kekuatan ketiga. Dan meskipun tokoh-tokoh gerakan ini memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi mereka berpijak pada konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang berakar pada salah satu aliran filsafat modern, yakni ekistensialisme. Manusia, menurut eksistensialisme, adalah hal yang mengada dalam dunia dan menyadari penuh akan keberadaannya. Eksistensialisme menolak paham yang menempatkan manusia semata-mata sebagai hasil bawaan atau lingkungan. Sebaliknya, para filsuf eksistensialis percaya bahwa

19

Ibid, E. Kuswara, Hlm. 77 Psikologi Sosial | 2012

51

setiap individu mempunyai kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaannya, serta bertanggungjawab atas pilihan dan keberadaannya itu. Pendek kata, meminjam, ungkapan sartre: aku adalah pilihanku. Eksistensialis menekankan tentang kesadaran manusia , perasaan subyektif, dan pengalaman-pengalaman personal yang berkaitan dengan keberadaan individu dalam dunia bersama dengan individu-individu yang lainnya. Pandangan ini disebut juga perspektif fenomenologis. Para eksistenlis dan para ahli psikologi yang berorientasi kepada humanistik sama-sama memperhatikan pengalaman subyektif sebagai fenomena yang utama dalam studi tentang tingkah laku manusia. Menurutnya, keterangan teoretis dan tingkah laku yang nampak adalah sekunder ketimbang pengalaman subyektif. Dengan konsep-konsep yang bersumber pada ajaran-ajaran eksistensialis itu, nampak bahwa psikologi dan teori kepribadian humanistik berbeda secara tajam dengan teori-teori lain yang dominan pada abad ke-20, dalam hal ini psikoanalisa dan behaviorisme.20

DAFTAR PUSTAKA Agustiani, Hendriani, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT Refika Aditama, 2006. Kartono, Kartini, Teori Kepribadian, Bandung: Mandar Maju, 2005. Kuswara, E., Teori-Teori Kepribadian, Bandung: Eresco, 1991. Sarwono, Sarlito Wirawan, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1996.

52

20

Ibid, E. Kuswara, Hlm. 112-113

Psikologi Sosial | 2012

TEORI KOGNITIF DAN PSIKOSEKSUAL 1. TEORI-TEORI KOGNITIF

Teori kognitif adalah teori yang menitik beratkan pada proses sentral ,seperti : sikap, ide, harapan Dua teori kognitif yang penting ialah teori perkembangan kognitif Piaget dan teori pemrosesan informasi Teori Piaget Pakar psikologi Swiss terkenal, Jean Piaget (1896-1980) menekankan bahwa anakanak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri; informasi tidak sekadar dituangkan kedalam pikiran mereka dari lingkungan. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan pemikiran mereka untuk mencakup gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan memajukan pemahaman. Dalam pandangan Piaget, dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu ialah pengorganisasian dan penyesuaian. Piaget (1954) yakin bahwa kita menyesuaikan diri dalam dua cara asimilasi dan akomodasi. 1. Asimilasi (assimilation) Terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru kedalam pengetahuan mereka ang sudah ada. Akomodasi (accomodation) Terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru.

2.

Piaget juga yakin bahwa kita melampaui empat tahap dalam memahami dunia. Masing-masing tahap terkait dengan usia dan terdiri dari cara berpikir yang khas/berbeda. 1. Tahap sensorimotor (sensorimotor stage), yang berlangsung dari kelahiran hingga usia 2 tahun, merupakan ahap pertama Piaget. Pada tahap ini, bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensor (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindakan motorik fisik-oleh karena itulah istilahnya sensorimotor.

Psikologi Sosial | 2012

53

2. Tahap praoperasional (preoperational stage), yang berlangsung kira-kira dari usia 2 hingga 7 tahun, merupakan tahap kedua Piaget. Pada tahap ini, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. 3. Tahap operasional konkret (concrete operational stage), yang berlangsung kira-kira dari usia 7 hingga 11 tahun, merupakan tahap ketiga Piaget. Pada tahap ini, anakanak dapat melaksanakan operasi, dan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan kedalam contoh-contoh yang spesifik atau konkret. 4. Tahap operasional formal (formal operational stage), yang tampak dari usia 11 hingga 15 tahun, merupakan tahap keempat dan terakhir Piaget. Pada tahap ini, individu melampaui dunia nyata, pengalaman-pengalaman konkret dan berpikir secara abstrak dan lebih logis. Karakteristik Teori Kognitif Teori belajar kognitiv lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. 2. PSIKOSEKSUAL Hasrat seksual atau yang umum juga disebut dengan libido bukanlah istilah asing bagi kebanyakan orang. Libido adalah istilah yang biasa digunakan oleh pendiri psikoanalis, Sigmund Freud, untuk menamakan hasrat atau dorongan seksual. Ia mengatakan bahwa dorongan ini dikarakteristikkan dengan bertumbuhnya secara bertahap sampai puncak intensitas, diikuti dengan penurunan tiba-tiba dari rangsangan (Alexander, 1949).

Tidak terdapat definisi yang dapat diterima secara universal mengenai hasrat seksual (sexual desire) . Seringkali definisi hasrat seksual dibingungkan dengan aspek lain dari seksualitas manusia. Pada kenyataannya, hasrat seksual dapat diasosiasikan dengan perilaku seksual (sexual behavior) tapi pada dasarnya hasrat seksual terpisah dengan perilaku seksual (DeLamater dan Morgan Sill, 2005).

54

Psikologi Sosial | 2012

Pada permulaan tahun 1886, Von Krafft-Ebing (dalam, DeLamater dan Morgan Sill, 2005) mendefinisikan hasrat seksual sebagai kekuatan “hukum fisiologis- physiological law” yang muncul bersama aktifitas otak (cerebral) (mengunakan imajinasi) dan sensasi- sensasi fisikal yang menyenangkan serta berasosiasi dengan aktifitas cerebral. Sependapat dengan Krafft-Ebing, Freud (dalam, DeLamater dan Morgan Sill, 2005) menerima pendapat hasrat seksual sebagai fakta biologis, alami, dorongan motivasional (motivational force).Kaplan (dalam, DeLamater dan Morgan Sill, 2005) juga sependapat dengan definisi hasrat seksual diatas. Menurut Kaplan, hasrat seksual adalah keinginan yang besar (appetite) atau dorongan yang memotivasi kita untuk berperilaku seksual. Ditambahkan oleh Kaplan, seperti dorongan lainnya, seperti lapar, hasrat seksual diatur oleh pencegahan terhadap rasa sakit dan mencari kepuasan dan hasrat seksual diproduksi oleh pengaktifan sistem neural yang spesifik di otak. Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud adalah salah satu teori yang paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang paling kontroversial. Freud percaya kepribadian yang berkembang melalui serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari kesenangan-energi dari id menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu. Energi psikoseksual, atau libido , digambarkan sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku. Menurut Sigmund Freud, kepribadian sebagian besar dibentuk oleh usia lima tahun. Awal perkembangan berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian hari. Jika tahapan pesikoseksual selesai dengan sukses, hasilnya adalah kepribadian yang sehat. Jika masalah tertentu tidak diselesaikan pada tahap yang tepat, fiksasi dapat terjadi. fiksasi adalah fokus yang gigih pada tahap awal psikoseksual. Sampai konflik ini diselesaikan, individu akan tetap “terjebak” dalam tahap ini. Misalnya, seseorang yang terpaku pada tahap oral mungkin terlalu bergantung pada orang lain dan dapat mencari rangsangan oral melalui merokok, minum, atau makan. Beberapa tahap yang ada dalam psikoseksual:l Sigmund Freud 1. Fase Oral Pada tahap oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan refleks mengisap adalah sangat penting. Mulut sangat penting untuk makan,

Psikologi Sosial | 2012

55

dan bayi berasal kesenangan dari rangsangan oral melalui kegiatan memuaskan seperti mencicipi dan mengisap. Karena bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh (yang bertanggung jawab untuk memberi makan anak), bayi juga mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi oral. Konflik utama pada tahap ini adalah proses penyapihan, anak harus menjadi kurang bergantung pada para pengasuh. Jika fiksasi terjadi pada tahap ini, Freud percaya individu akan memiliki masalah dengan ketergantungan atau agresi. fiksasi oral dapat mengakibatkan masalah dengan minum, merokok makan, atau menggigit kuku. 2. Fase Anal Pada tahap anal, Freud percaya bahwa fokus utama dari libido adalah pada pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Konflik utama pada tahap ini adalah pelatihan toilet – anak harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya. Mengembangkan kontrol ini menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian. Menurut Sigmund Freud, keberhasilan pada tahap ini tergantung pada cara di mana orang tua pendekatan pelatihan toilet. Orang tua yang memanfaatkan pujian dan penghargaan untuk menggunakan toilet pada saat yang tepat mendorong hasil positif dan membantu anak-anak merasa mampu dan produktif. Freud percaya bahwa pengalaman positif selama tahap ini menjabat sebagai dasar orang untuk menjadi orang dewasa yang kompeten, produktif dan kreatif. Namun, tidak semua orang tua memberikan dukungan dan dorongan bahwa anakanak perlukan selama tahap ini. Beberapa orang tua ‘bukan menghukum, mengejek atau malu seorang anak untuk kecelakaan. Menurut Freud, respon orangtua tidak sesuai dapat mengakibatkan hasil negatif. Jika orangtua mengambil pendekatan yang terlalu longgar, Freud menyarankan bahwa-yg mengusir kepribadian dubur dapat berkembang di mana individu memiliki, boros atau merusak kepribadian berantakan. Jika orang tua terlalu ketat atau mulai toilet training terlalu dini, Freud percaya bahwa kepribadian kuat-analberkembang di mana individu tersebut ketat, tertib, kaku dan obsesif. 3. Fase Phalic Pada tahap phallic , fokus utama dari libido adalah pada alat kelamin. Anak-anak juga menemukan perbedaan antara pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa anak

56

Psikologi Sosial | 2012

laki-laki mulai melihat ayah mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu. Kompleks Oedipusmenggambarkan perasaan ini ingin memiliki ibu dan keinginan untuk menggantikan ayah.Namun, anak juga kekhawatiran bahwa ia akan dihukum oleh ayah untuk perasaan ini, takut Freud disebut pengebirian kecemasan. Istilah Electra kompleks telah digunakan untuk menggambarkan satu set sama perasaan yang dialami oleh gadis-gadis muda. Freud, bagaimanapun, percaya bahwa gadisgadis bukan iri pengalaman penis. Akhirnya, anak menyadari mulai mengidentifikasi dengan induk yang sama-seks sebagai alat vicariously memiliki orang tua lainnya. Untuk anak perempuan, Namun, Freud percaya bahwa penis iri tidak pernah sepenuhnya terselesaikan dan bahwa semua wanita tetap agak terpaku pada tahap ini. Psikolog seperti Karen Horney sengketa teori ini, menyebutnya baik tidak akurat dan merendahkan perempuan. Sebaliknya, Horney mengusulkan bahwa laki-laki mengalami perasaan rendah diri karena mereka tidak bisa melahirkan anak-anak. 4. Fase Latent Periode laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan ke daerah lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan kepercayaan diri. Freud menggambarkan fase latens sebagai salah satu yang relatif stabil. Tidak ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak membayar banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak selalu disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi sebagai suatu periode terpisah. 5. Fase Genital Pada tahap akhir perkembangan psikoseksual individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis. Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan individu, kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika tahap lainnya telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus seimbang, hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan antara berbagai bidang kehidupan.

Psikologi Sosial | 2012

57

HUBUNGAN ANTAR PRIBADI

A. Pengertian Hubungan Antar Pribadi Hubungan antar pribadi adalah interaksi yang dilakukan oleh individu satu dengan individu lain yang bertujuan untuk memperoleh ataupun menyampaikan pesan dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera. Hubungan ini jika berlangsung secara baik akan menjadi hubungan kekerabatan yang sifatnya lebih lama dari pada berteman, hubungan ini bisa sampai pada persahabatan. Dalam hubungan antar pribadi tidak seperti komunikasi antar pribadi atau yang akrab disebut dengan KAP, meskipun didalam hubungan ini sangat membutuhkan komunikasi antar pribadi tersebut, karena tanpa komunikasi maka hubungan antar pribadi tidak akan mampu terjalin, karena tidak adanya unpan balik yang dilakukan oleh kedua orang itu. B. Tujuan Adanya Hubungan Antar Pribadi 1. Mengenal diri sendiri dan orang lain Hubungan antar pribadi memberikan kita kesempatan untuk memperbincangkan diri kita sendiri, belajar bagaimana dan sejauh mana terbuka pd orang lain serta mengetahui nilai, sikap dan perilaku orang lain sehingga kita dpt menanggapi dan memprediksi tindakan orang lain. 2. Mengetahui dunia luar Hubungan antar pribadi memungkinkan kita untuk memahami lingkungan kita baik objek, kejadian dan orang lain. Nilai, sikap keyakinan dan perilaku kita banyak dipengaruhi oleh komunikasi. 3. Menciptakan dan memelihara hubungan menjadi bermakna Hubungan ini banyak bertujuan untuk menciptakan dan memelihara hubungan yg baik dg orang lain. Hubungan tsb membantu mengurangi kesepian dan ket-

58

Psikologi Sosial | 2012

egangan serta membuat kita lebih positif ttg diri kita sendiri. 4. Mengubah sikap dan perilaku Dengan adanya Hubungan antar pribadi kita dapat mengubah sikap dan prilaku pada diri kita dan orang lain, tentunya disini dengan hubungan yang baik atau dalam bahasa lain dengan adanya emosional antar pribadi seseorang. 5. Bermain dan mencari hiburan, kejadian lucu merupakan kegiatan untuk memperoleh hiburan. Hal ini bisa memberi suasana yg lepas dari keseriusan, ketegangan, kejenuhan, dsb. 6. Membantu orang lain Psikiater, psikologi klinik dan ahli terapi adalah contoh profesi yg menggunakan hubungan antar pribadi untuk menolong orang lain. Memberikan nasihat dan saran kepada teman juga merupakan contoh tujuan proses hubungan antar pribadi untuk membantu orang lain.21 C. Konflik yang Terjadi Antar Pribadi dan strategi Untuk Mengatasi Konflik Robbins (1996) dalam “Organization Behavior” menjelaskan bahwa konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh atas pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Sedang menurut Luthans (1981) konflik adalah kondisi yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentengan.22 Kekuatan-kekuatan ini bersumber pada keinginan manusia. Istilah konflik sendiri diterjemahkan dalam beberapa istilah yaitu perbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan. Oleh karena konflik bersumber pada keinginan, maka perbedaan pendapat tidak selalu berarti konflik. Persaingan sangat erat hubungannya denga konflik karena dalam persaingan beberapa pihak menginginkan hal yang sama tetapi hanya

21

http://catatan-anakfikom.blogspot.com/2012/04/definisi-hakikat-ciri-ciridan-tujuan.html

22 http://andrie07.wordpress.com/2009/11/25/konflik-dalam-hubungan-antar-pribadimengelola-konflik-antar-pribadi-dan-strategi-mengatasi-konflik/

Psikologi Sosial | 2012

59

satu yang mungkin mendapatkannya. Persaingan tidak sama dengan konflik namun mudah menjurus kearah konflik, terutama bila ada persaingan yang menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan aturan yang disepakati. Permusuhan bukanlah konflik karena orang yang terlibat konflik bisa saja tidak memiliki rasa permusuhan. Sebaliknya orang yang saling bermusuhan bisa saja tidak berada dalam keadaan konflik. Konflik sendiri tidak selalu harus dihindari karena tidak selalu negatif akibatnya. Berbagai konflik yang ringan dan dapat dikendalikan (dikenal dan ditanggulangi) dapat berakibat positif bagi mereka yang terlibat maupun bagi kelompok. Orang sering menganggap konflik bersumber dari tindakan dan inti persoalan , namun sebenarnya konflik sering disebabkan oleh komunikasi yang buruk. Komunikasi dapat menjadi masalah besar.Banyak persoalan dapat diselesaikan jika komunikasi berjalan lancar. Komunikasi yang buruk memperparah persoalan karena setiap orang yang terlibat dalam konflik secara tidak sadar mereka – reka motivasi buruk pihak lain.Perbedaan antara pesan yang disampaikan dan pesan yang diterima akan menimbulkan masalah komunikasi ketika konflik berlangsung. Setiap hubungan antar pribadi mengandung unsur-unsur konflik, pertentangan pendapat atau perbedaan kepentingan. Yang dimaksud konflik adalah situasi dimana tindakan salah satu pihak berakibat menghalangi, menghambat atau mengganggu tindakan pihak lain ( Johnson,1981 ). Kendati unsur konflik selalu terdapat dalam setiap bentuk hubungan antar pribadi, pada umumnya individu memandang konflik sebagai keadaan yang buruk dan harus dihindarkan. Konflik dipandang sebagai faktor yang akan merusak hubungan, maka harus dicegah. Namun, kini banyak orang mulai sadar bahwa rusaknya suatu hubungan lebih disebabkan oleh kegagalan memecahkan konflik secara konstruktif, adil dan memuaskan kedua belah pihak bukan oleh munculnya konflik itu sendiri. Pengelolaan konflik secara konstruktif,konflik dapat memberikan manfaat positif bagi diri kita sendiri maupun bagi hubungan kita dengan orang lain. Beberapa contoh manfaat dari konflik adalah sebagai berikut ( Johnson, 1981 ) Konflik dapat membuat kita sadar bahwa ada masalah yang perlu diselesaikan dalam hubungan kita dengan orang lain. Konflik dapat memunculkan kesadaran dan memotivasi kita untuk melakukan berbagai perubahan dalam diri kita.

-

60

Psikologi Sosial | 2012

-

Konflik dapat memotivasi kita untuk segera memecahkan msalah yang selama ini tidak kita sadari dengan jelas. Konflik juga bisa membuat kehidupan menjadi lebih menarik. Munculnya konflik dalam ragam pendapat bisa membantu kita kearah pencapaian keputusan bersama yang lebih matang dan qualified. Konflik juga dapat menghilangkan ketegangan-ketegangan kecil yang sering terjadi dan muncul dalam hubungan kita dengan orang lain. Konflik juga dapat membuat diri kita sadar tentang dan bagaimana kita sebenarnya. Konflik bahkan dapat menjadi sumber hiburan. Konflik dapat mengakrabkan dan memperluas hubungan. Strategi untuk mengatasi konflik Jika kita terlibat dalam suatu konflik dengan orang lain, ada hal yang harus dipertimbangkan yaitu: a. Kepentingan pribadi kita b. Hubungan baik dengan pihak lain Lima gaya mengelola konflik antar pribadi, yaitu:

-

-

D.

a. • • • • b. • • •

Gaya Kura-kura Cenderung menghindari masalah Cenderung menghindari orang-orang yang berpotansi timbulkan konflik Ada keyakinan bahwa solusi konflik hanya sia-sia Lebih mudah menarik diri (fisik dan psikologis) daripada menghadapinya Gaya ikan hiu Tercapainya tujuan pribadi adalah hal utama Hubungan dengan pihak lain tidak terlalu penting Konflik harys diselesaikan dengan cara satu pihak menang dan pihak lainnya

Psikologi Sosial | 2012

61

kalah • c. • • • • • Mencari kemenangan dengan cara menyerang, mengungguli dan mengancam Gaya kancil Sangat mengutamakan hubungan Kurang mementingkan tujuan-tujuan pribadi Ingin diterima dan disukai orang lain Konflik harus dihindari, demi kerukunan Adanya keyakinan bahwa setiap konflik tidak mungkin dipecahkan tanpa merusak hubungan Konflik harus didamaikan bukan dipecahkan, agar hubungan tidak menjadi rusak Gaya rubah Senang mencari kompromi Tercapainya tujuan pribadi maupun terpeliharanya hubungan baik dengan pihak lain sama-sama penting • Mau mengorbankan sedikit tujuan dan hubungannya dengan pihgak lain demi tercapainmya kepentingan dan kebaikan bersama Gaya burung hantu Sangat mengutamakan tujuan pribadi sekaligus hubungannya dengan pihak lain Konflik merupakan masalah yang harus dicari solusinya Solusi konflik harus sejalan dengan tujuan pribadi lawan Konflik bermanfaat meningkatkan hubungan dengan cara mengurangi ketegangan yang terjadi antara dua pihak yang berhubungan

• d. • •

e. • • • •

62

Psikologi Sosial | 2012

• •

Selalu berusaha mancari penyelesaian yang memuaskan kedua pihak Berusaha menghilangkan ketegangan dan perasaan negatif lain yang mungkin muncul dalam diri kedua belah pihak. DAFTAR PUSTAKA

http://catatan-anakfikom.blogspot.com/2012/04/definisi-hakikat-ciri-ciri-dantujuan.html http://andrie07.wordpress.com/2009/11/25/konflik-dalam-hubungan-antar-pribadimengelola-konflik-antar-pribadi-dan-strategi-mengatasi-konflik/

Psikologi Sosial | 2012

63

kerabat, sahabat, pacar gangguan KEAKRABAN Keakraban dapat di asumsikan dengan mereka yang akrab dengan kita adalah mirip dengan kita sendiri. Pada tahap ini,kita mengikatkan diri lebih jauh pada orang ini. Kita mungkin membina hubungan primer. Dimana orang tersebut menjadi seseorang yang penting bagi kita. Komitmen ini bisa terwujud dalam berbagai bentuk: perkawinan, membantu orang tersbut, menceritakan rahasia kita. Hubungan akrab biyasanya di tandai dengan kebersamaan, saling bergantungan, rasa percaya, komitmen dan saling memperhatikan

DARI KERABAT, SAHABAT SAMPAI PACAR Kerabat Sebagian besar dari kehidupan manusia dihabiskan bersama sanak saudara dan kerabatnya. Akan tetapi, cukup mengherankan bahwa penelitian dalam bidang ini sangat kuramg. Beberapa penelitian yang ada, antara lain tentang hubungan dengan saudara sekandung yang terbukti dapat meningkatkan keterampilan sosiakl (Dunn, 1992). Selain itu, Galamabos (1992) menemukan bahwa kebanyakan orangtua cemas bahwa anak-anak mereka yang remaja tidak suka pada mereka, sementara anak-anak itu sendiri sebenarnya masih berpandangan positif kepada kedua orangtua mereka. Cinta kepada kedua orangtua terdiri dari 2 komponen dasar yaitu ketertarikan (attraction) dan kekaguman pada moral (virtue). Yang termasuk dalam ketertarikan adalah kekaguman, senang ditemani orangtua, kepercayaan, keakraban, kedekatan, dan kehangatan emosi, sedangkan yang dimaksud kekaguman moral adalah mau menolong dan memaafkan orangtua. Teman dekat Yang dinamakan teman dekat adalah teman yang banyak menghabiskan / melewatkan

64

Psikologi Sosial | 2012

waktu bersama-sama, cenderung menyisihkan orang lain daripada hubungan mereka, dan saling mendukung secara emosional (Hays, 1989). Teman dekat lebih akurat dalam menyimpulkan perasaan dan pikiran (Stinson & Ickes, 1992) dan kepribadian (Paulhus & Bruce, 1992). Teman dekat juga lebih murah hati, lebih peka dan lebih jujur daripada teman biasa (Urbanski, 1992). Hubungan Romantis Pasangan dalam hubungan romantis adalah orang yang dirasakan paling dekat. Jika hubungan sudah begitu dekatnya, orang dapat saling memmasukkan ke dalam dirinya masing-masing (Inclution of other in the self), dalam keadaan ini dua orang tidak dapat dipisahkan lagi. Ciri hubungan ini adalah cinta yang membara (passionate love). Cinta seperti ini ditandai oleh kecenderungan untuk terus menerus tidak dapat melupakan pasangannya. Cinta yang membara juga ditandai dengan hasrat seksual, mudah terangsang secara fisik, selalu ingin bersama, tidak mau memikirkan kalau harus berpisah dan selalu ingin berbalas cinta (Hatfield, 1988). Sebebetulnya tidak mudah untuk mendefinisikan tentang cinta, apalagi untuk mengukurnya. Menurut Hatfield & Walster (1981) tiga teori dari cinta. Mereka mengatakan bahwa cinta diukur berdasarkan latar belakang budaya, objek cinta dan ketergantungan. Kalau orang terangsang tetapi diiringi rasa takut atau rasa marah dan frustasi, itu bukan cibta membara yang sesungguhnya, melainkan rasanya saja seperti cinta, padahal bukan. Disisi lain, kalau cinta diiringin oleh hasrat seksual yang terlalu besar, bisa jadi cinta itu hanya pemberian labelpada nafsu seks saja agar terasa lebih dapat diterima, dan lebih span. Seakan-akan lebih manis kalau orang mengatakan “saya cinta kamu” daripada “saya mau senggama dengan kamu” (Hatfield & Rapson, 1987). Oleh karena itu cinta yang sesungguhnya adalah yang dapat diterima oleh latar belakang budaya pribadi masing-masing, yang menemukan objek cintanyatanpa diiringi rasa cemas, frustasi atau marah, dan yang tidak diiringi dengan hasrat seksual yang tidak terkendali. Penganut aliran sosiobiologik percaya bahwa laki-laki yang lebih tua dibutuhkan karena lebih mampu, lebih matang, secara ekonomi lebih dapat menghasilkan sehingga lebih dapat diharapkan sebagai pelindung dan pencari nafkah untuk anak-anak dan istrinya. Sebaliknya, laki-laki memilih wanita yang lebih muda berdasarkan kemampuan re-

Psikologi Sosial | 2012

65

produktifnya, yaitu yang muda sehat dan cantik, khususnya yang berumur 18-29 tahun (Broude, 1992; Dupre, 1992). Jenis-jenis Cinta Jenis Cinta Eros : Passionate love (cinta membara) Storge : Companionate love (cinta karib) Ludus : Cinta main-main Mania : Cinta posesif (menuntut) Pragma : Cinta logika Ciri-cirinya Saling tertarik bgeitu saling berjumpa Persahabatan yang mendalam, tidak emosional, tidak misterius Mempunyai 2 pacar atau lebih Tidak bisa kalau pacar pergi dengan orang lain Yang terbaik adala mencintai seseorang yang berlatar belakang sama Lebih baik saya yeng menderita daripada dia

Agape : Cinta yang tidak mementingkan diri sendiri Pacar

Perwujudan dari teman romantis adalah pacar. Gangguan terhadap Hubungan Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi. Tak bisa kita pungkiri, kita akan selalu mengalami gesekan-gesekan kecil maupun kompleks dalam hubungan kita dengan teman-teman, terutama teman yang hampir setiap hari bersama kita. Resiko itu muncul sebagian besar karena adanya perbedaan kebudayaan yang melekat pada masing-masing individu. Perbedaan kebudayaan tersebut adalah hambatan yang seringkali menimbulkan konflik. Kesalahan Atribusi Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab perilaku orang lain. Dalam usaha mengetahui orang lain,kita menggunakan beberapa sumber informasi. Misalnya, kita mengamati penampilan fisik mereka. Efek Halo

66

Psikologi Sosial | 2012

Kesalahan persepsi yang disebut halo effects merujuk pada fakta bahwa begituu kita membentuk kesan menyeluruh mengenai seseorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita akan sifat-sifatnya yang spesifik. Gagasan-gagasan yang dianggap biasa bahkan usang bila dikemukakan oleh orang awam boleh jadi akan dianggap brilian atau kreatif bila hal itu dikemukakan oleh tokoh nasional, sehingga cepat diliput oleh pers. Tindakan yang mungkin dianggap beresiko atau dungu bila dilakukan orang biasa boleh jadi akan dianggap berani jika hal itu dilakukan oleh selebritis. Kesulitan komunikasi akan muncul dari penstereotipan (stereotyping), yakni menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi orang-orang berdasarkan keanggotaan mereka dalam suatu kelompok. Dengan kata lain, penstereotipan adalah proses menempatkan orang-orang ke dalam kategori-kategori yang mapan, atau penilaian mengenai orang-orang atau objek-objek berdasarkan kategori-kategori yang sesuai, ketimbang berdasarkan karakteristik individual mereka. Prasangka Suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda adalah prasangka, suatu konsep yang sangat dekat dengan stereotip. Prasangka adalah sikap yang tidak adil terhadap seseorang atau suatu kelompok. Beberapa pakar cenderung menganggap bahwa stereotip itu identik dengan prasangka, seperti Donald Edgar dan Joe R. Fagi. Dapat dikatakan bahwa stereotip merupakan komponen kognitif (kepercayaan) dari prasangka, sedangkan prasangka juga berdimensi perilaku Gegar Budaya Menurut Kalvero Oberg Culture shock ditimbulkan oleh kecemasan karena hilangnya tanda-tanda yang sudah dikenal dan simbol-simbol hubungan sosial. Lundstedt mengatakan bahwa gegar budaya adalah suatu bentuk ketidakmampuan menyesuaikan diri yang merupakan reaksi terhadap upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang baru. Meskipun gegar budaya sering dikaitkan dengan fenomena memasuki suatu budaya (yang identik dengan negara) asing, lingkungan baru yang dimaksud disini sebenarnya juga bisa merujuk pada agama baru, lingkungan kkerja baru, atau keluarga besar baru yang dimasuki lewat perkawinan (mertua, ipar, dan sebagainya).

Psikologi Sosial | 2012

67

PengertIan sikap DAN PRASANGKA Thurstone memandang sikap sebagai suatu tingkatan afeksi baik yang bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis. Afeksi yang posistif, yaitu yang afeksi senang, sedangkan afeksi negative adalah afeksi yang tidak menyenangkan. • Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seeorang mengenai objek atau situasi yang relative ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar pada kepada orang tersebut untuk membuat respons atau berperilaku dalam cara yang tertentu yang dipilihnya Tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu:

Struktur sikap • Komponen kognitif (komponen perceptual). Yaitu komponen yang berkaitan denga pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap. • Komponen afektif (komponen emosional). Yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negative. Komponen ini menunjukkan arah sikap, yang positif dan negative. • Komponen konatif (komponen perilaku) Yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderunga bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjujkkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap23 Determinan sikap • Faktor fisiologis Faktor fisiologis seseorang akan ikut menentukan bagaimana sikap seseorang. Dengan demikian masalah umur akan berpengaruh pada sikap seseorang. Orang yang sering sakit lebih bersikap tergantung daripada orang yang tidak sakit.

68

23

Ibid hlm 13

Psikologi Sosial | 2012

Faktor pengalaman langsung terhadap objek sikap .Bagaimana sikap seseorang terhadap objek sikap akan dipengaruhi oleh pengalaman langsung orang yang bersangkutan denga objek sikap tersebut. Faktor kerangka acuan.Bila kerangka acuan tidak sesuai dengan objek sikap, maka orang akan mempunyai sikap yang negatif terhadap objek sikap tersebut. Faktor komunikasi sosial .Komunikasi sosial yang berwujud informasi dari seseorang kepada orang lain dapat menyebabkan perubahan sikap yang ada pada diri orang yang bersangkutan Daftar pustaka

Mar’at, sikap manusia perubahan dan pengukuranya, ghalia Indonesia. Bandung 1982

Psikologi Sosial | 2012

69

SIKAP DAN PRASANGKA 2 A. Meningkatkan Prasangka perilaku dari Sika

Prasangngka berasal dari kata pra yang berati sebelum, dan sangka yang berarti dugaan, pendapat yang didasarkan atas prasangka hati, syak, kesangsian, dan keraguan. Sehingga dapat diambil pengertian prasangka adalah anggapan dan pendapat yang kurang menyenangkan atau penilaian negatif yang tidak rasional, yang ditujukan pada suatu individu atau kelompok tertentu( yang menjadi objek prasangka), sebelum mengetahui, menyakskan, menyelidiki objek-objek prasangka tersebut. Prasangka juga dapat dikatakan sebagai attitude-attitude sosial negatif, yang ditunjukan pada individu atau golongan lain dalam hal ini mempengaruhi tingkah laku golongan individu yang berpasangan tersebut. Ada beberapa bentuk prasangka, yaitu: • Antikolisis: berupa gosip atau humor yang dimaksudkan untuk mengejek atau menyindir orang-orang yang menjadi objek prasangka. • Avoidance: jika prasangka intens maka individu yang berpasangan akan menghindari objek pasangan. Misalnya: menghindari kontak mata. Dalam hal ini tidak membahayakan objek prasangka, hanya merasa tidak nyaman jika berhubungan dengan objek prasangka. • Diskriminasi: individu yang berprasangka membuat perbedaan yang tegas dalam memperlakukan kelompok orang-orang yang disukainya dan orang-orang yang tidak disukainya ke dalam komunitas tertentu. Misal: pekerjaan, perumahan, sekolah, komunitas lain yang hanya untuk ingroup-nya saja. • Serangan fisik: dalam kondisi emosi fisik yang sangat tinggi orang-orang yang memiliki prasangka bisa melakukan serangan atau kekerasan fisik, baik langsung atau pun tidak langsung. • Pembantaian : jika prasangka sudah mencapai tingkat yang paling tinggi maka muncullah dorongan untuk melakukan pembantaian terhadap anggota outgroup. Misalnya: konflik agama di Maluku.

70

B.

Teori Reasoned Action

Psikologi Sosial | 2012

TRA (Theory Of Reasoned Action), adalah teori perilaku kesehatan yang menggunakan pendekatan psikologi sosial untuk melihat determinan dari perilaku sehat yang dikembangkan oleh Azen dan Fishbein menjelang tahun 1970-an. Menurut teori ini, kehendak atau niat seseorang untuk menampilkan sesuatu perilaku tertentu berkaitan erat dengan tingkah laku aktual itu sendiri. Ada dua asumsi pokok yang menjadi dasar teori ini yaitu: Bahwa perilaku ada dalam kendali si pelaku Bahwa manusia adalah makhluk rasional Menurut teori ini, kehendak atau niat seseorang untuk menampilkan sesuatu perilaku tertentu berkaitan erat dengan tingkah laku aktual itu sendiri.  Ada dua asumsi pokok yang menjadi dasar teori ini yaitu: Bahwa perilaku ada dalam kendali si pelaku Bahwa manusia adalah makhluk rasional TRA dijelaskan dalam rumus berikut: BI= A+SN Keterangan: BI= Behaviorat (dorongan untuk melakukan sesuatu) A= Attitude (sikap) SN= Subjective Norm (norma subjektif) Ini berarti dorongan seseorang untuk melakukan sesuatu dipengaruhi oleh sikap seseorang mengenai perilaku (tertentu) dan norma subjektif yang dianutnya. Pada akhirnya, dua hal ini yang akan memunculkan motivasi. Sikap itu sendiri adalah keyakinan mengenai konsekuensi melakukan suatu perilaku yang diperkuat oleh penilaian seseorang itu mengenai konsekuensinya. Norma Subjektif adalah persepsi seseorang tentang apa yang orang-orang (penting) disekitarnya pikirkan mengenai apa yang harus (atau tidak boleh) dia lakukan.

Psikologi Sosial | 2012

71

C.

Terbentuknya Sikap

Sikap dapat didefinisikan sebagai kesiapan pada seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu. Menurut para ahli mendefinisikann sikap yaitu: Stephen dan Timothy mendefinisikan Sikap (attitude) adalah pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan terhadap objek, individu, atau peristiwa. Menurut Ramdhani, sikap adalah cara menempatkan atau membawa diri, atau cara merasakan, jalan pikiran, dan perilaku. Menurut Kotler dan Armstrong, sikap adalah “Evaluasi,perasaan, dan kecenderungan dari individu terhadap suatu obyek yang relatif konsisten”. Sikap menempatkan orang dalam kerangka pemikiran mengenai menyukai atau tidak menyukai sesuatu, mengenai mendekati atau menjauhinya. Menurut Muchlas, sikap (attitudes) ialah sesuatu yang kompleks, yang dapat didefinisikan sebagai pernyatan-pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, atau penilaian mengenaiobjek, manusia, atau peristiwa-peristiwa. Sikap dapat terbentuk atau berubah melalui empat cara, yaitu: 1. Adopsi

Kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus menerus, lama kelamaan secara bertahap diserap ke dalam diri individu dan mempengaruhidan terbentuknyasuatu sikap. Misalnya: seseorang yang sejak lahir sampai ia dewasa tinggal dilingkungan yang fanatik islam, ia akan mempunyai sikap negatif terhadap daging babi. 2. Deferensiasi

72

Dengan berkembangannya intelegensi, bertambahnya pengalaman, sejalan dengan bertambahnya usia, maka ada hal-hal yang tadinya dianggap sejenis , sekarang dipandang tersendiri lepas dari jenisnya. Terhadap objek tersebut dapat terbentuk sikao tersendiri pula. Misalnya: seorang anak kecil yang mula-mula takut kepada tiap orang dewas yang

Psikologi Sosial | 2012

bukan ibunya, tetapi lama kelamaan dapat membeda-mbeadakan antara, ayah, paman, bibi, kakak yang disukainya dengan orang yang asing yang tidak disukainya. 3. Integrasi

Pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tertentu, sehinggaakhirnya terbentuk sikap mengenai hal tersebut. Misalnya seseorang di desa sering mendengar kehidupan kota, ia pun sering mebaca surat kabar yang diterbitkan di kota, kawan-kawan yang datang dari kota membawa barang-barang yang bagus dari kota dan bercerita tentang keindahan kota. Setelah beberapa waktu, maka dalam diri orang dewasa itu timbul sikap positif terhadap kota dan hal-hal yang berhubungan dengan kota, sehingga akhirnya ia terdorong untuk pergi ke kota. 4. Trauma

Trauma adalah pengalaman yangtiba-tiba, mengejutkan yang menimbulkan kesan mendalam pada jiwaorang yang bersangkutan. Pengalaman-pengalaman yang traumatis juga menyebabkan terbentuknya sikap. Misalnya, orang yang sekali jatuh dari sepedah montor, bisa jadi selamanya tidak suka lagi naik sepeda motor. Faktor-faktor yang mempengaruhi tebentuknya sikap, diantaranya yaitu: a. Faktor Intern.

Yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri seseorang yang bersangkutan sendiri, seperti selektivitas. Kita tidak dapat menangkap seluruh rangsang dari luar melalui persepsi dari kita, oleh karena itu kita harus memilih rangsang-rangsang mana yang akan kita dekati dan mana yang harus dijalani. Pilihan ini ditentukan oleh motif-motif dan kecendrungankecendrungan dalam diri kita. Karena harus memilih inilah kita menyusun sikap positif terhadap satu hal dan membentuk sikap negatif terhadap hal lain. Faktor interen ini misalnya: • Pengalaman Pribadi Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologis yang akan membentuk sikap positif dan sikap negatif. Pembentukan tang-

Psikologi Sosial | 2012

73

gapan terhadap obyek merupakan proses kompleks dalam diri individu yang melibatkan individu yang bersangkutan, situasi di mana tanggapan itu terbentuk, dan ciri-ciri obyektif yang dimiliki oleh stimulus. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. • . Pengaruh Faktor Emosional Terkadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap ini dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang. Akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang dapat bertahan lama. b. Faktor Ekstern

Selain faktor-faktor yang terdapat dalam dirisendiri, maka pembentukan sikap ditentukan pula oleh faktorfaktor yang berada di luar, yaitu: Sifat objek yang dijadikan sasaran sikap. Kewibawaan orang yang mengemukakan sikap. Sifat orang-orang atau kelompokyang mendukungsikap tersebut. Media komunikasi yang digunakan dalam menyampaikan sikap. Situasi pada saat sikap itu dibentuk.

Contoh dari faktor eksteren ini misalnya: 1. Pengaruh orang lain yang dianggap penting orang lain di sekitar kita merupakan salah satu di antara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita anggap penting akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Orang-orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau suami, dan lain-lain. 2. Pengaruh Kebudayaan Kebudayaan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita terutama kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan. Kebudayaan telah menanamkan garis pengarah sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaan pula-lah yang mem-

74

Psikologi Sosial | 2012

beri corak pengalaman-pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakatnya. Hanya kepribadian individu yang telah mapan dan kuatlah yang dapat memudarkan dominansi kebudayaan dalam pembentukan sikap individual. 3. Media Massa Berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Sebagai tugas pokoknya dalam menyampaikan informasi, media massa membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, bila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah sikap. Walaupun pengaruh media massa tidak sebesar pengaruh interaksi individual secara langsung, namun dalam proses pembentukan dan perubahan sikap, peranan media massa tidak kecil artinya. 4. Lembaga Pendidikan Dan Lembaga Agama Kedua lembaga di atas, mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan pusat keagamaan serta ajarannya.

Psikologi Sosial | 2012

75

PRASANGKA ( Arti Prasangka, Sumber Prasangka dan Cara Mengatasi Prasangka ) PRASANGKA 1. Pengertian Prasangka

Prasangka berasal dari kata pra (sebelum), sangka (dugaan), pendapat yang didasarkan pada hati, syak dan keraguan.Prasangka adalah anggapan dan pendapat yang kurang menyenangkan atau penilaian negative yang tidak rasional, yang ditujukan pada individu atau kelompok tertentu yang menjadi obyek prasangka sebelum mengetahui, menyaksikan,dan menyelidiki objek-objek prasangka tersebut. Prasangka juga dapat dikatakan sebagai attitude-attitude social negative, yang dirujukan kepada individu atau golongan lain dan hal ini mempengaruhi tingkah laku golongan individu yang berprasangka tersebut. Prasangka mulanya hanya merupakan sikap-sikap negative, tapi lama kelamaan akan memunculkan tindakan-tindakan yang menghambat, merugikan bahkan mengancam kehidupan pribadi golongan tertentu.24 Prasangka merupakan pernyataan atau kesimpulan tentang sesuatu berdasarkan perasaan atau pengalaman yang dangkal terhadap seseorang atau sekelompok orang tertentu (Amanda G, 2009). Johnson (1986) mendefinisikan prasangka sebagai sikap positif atau negatif berdasarkan keyakinan stereotip kita tentang anggota dari kelompok tertentu. Liliweri (1995) juga menyebut prasangka yang mengandung sikap, pikiran, keyakinan, kepercayaan dan bukan tindakan (tetap ada di pikiran). Sedangkan Daft (1999) memberikan definisi prasangka lebih spesifik yakni kecenderungan untuk menilai secara negatif orang yang memiliki perbedaan dari umumnya orang dalam hal seksualitas, ras, etnik, atau yang memiliki kekurangan kemampuan fisik. Sedangkan sherif and sherif (dalam Ahmadi, 2007: 196) mengemukakan prasangka adalah suatu sikap negatif para anggota suatu kelompok, berasal dari norma mereka

76

24

http://precounselor.wordpress.com/category/psikologi-sosial/

Psikologi Sosial | 2012

yang pasti, kepada kelompok lain beserta anggotanya. Jika kita melihat pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa prasangka sosial merupakan sikap perasaan orang-orang terhadap golongan manusia tertentu, golongan ras atau kebudayaan yang berbeda dengan golongan orang yang berprasangka itu.25 Di dalam sumber lain dijelaskan bahwa Prasangka sosial atau prejudice, ialah suatu sikap/attitude sosial yang negatif atau tindakan-tindakan yang diskriminatif terhadap golongan/kelompok lain (in-group terhadap out-group) yang kebenarannya belum dapat dipastikan maupun dipertanggungjawabkan.26 Secara sederhana proses prasangka sosial ini dapat digambarkan sebagai berikut: In-group adalah semua usaha dan orang-orang yang saling berinteraksi di dalam kelompoknya. Sedangkan out-group adalah semua usaha dan orang-orang yang tidak termasuk dalam in-group tadi. Sikap prasangka terhadap orang/anggota in-group adalah sikap perasaan terhadap orang dalam, demikian sebaliknya. Misalnya: seorang kelompok prajurit yang dalam peperangan menjalankan tugas berat dan sukar, telah mengalami pahit dan getirnya peperangan bersama, mempunyai cara-cara bersendagurau yang khusus yang ditujukan kepada teman-teman sepengalaman. Tetapi apabila pada waktu mereka sedang bergurau itu lalu datang orang luar (out-group) dan mencoba untuk ikut tertawa bersama dengan mereka, maka kelompok prajurit tadi akan diam karena ada seorang out-group yang ingin turut tertawa bersama mereka. Hal ini disebabkan adanya prasangka terhadap out-group tadi. Apabila anggota out-group tadi ingin menjadi anggota in-group haruslah membuktikan terlebih dahulu bahwa dia mau solidaritas dengan in-group berkorban bersama dengan in-group demi kemajuan bersama pula. Dengan demikian jelaslah bahwa timbulnya prasangka sosial itu pada taraf sadar atau tidak, dapat dinyatakan dirinya dalam 3 bentuk:

25 W.A Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung: Refika Aditama, 2010), Hlm 179. 26 Soelaiman Joesoef, Ilmu Jiwa Massa, (Surabaya: Usaha Nasional, 1979). Hlm 49 Psikologi Sosial | 2012

77

a) Di dalam jarak sosial (sosial distance) yang besar antara dua atau lebih golongan (ingroup dan out-group) b) Di dalam steriotip c) Di dalam tindakan yang diskriminatif dari golongan yang satu terhadap golongan yang lain. 1. Teori Tentang Prasangka Sosial

Ada empat teori utama prasangka antara lain:27  Teori Konflik Kelompok Realistis (Realistic Group Conflict Theories) Teori ini beranggapan bahwa prasangka timbul dari kenyataan adanya persaingan antarkelompok.  Teori Belajar Sosial (Sosial Learning Theories) Beranggapan bahwa prasangka timbul dari proses mempelajari norma sosial yang berlaku.  Teori Kognitif (Cognitive Theories) Beranggapan bahwa prasangka timbul dari faktor kognisi sosial yang sederhana seperti kategorisasi dan penonjolan.  Teori Psikodinamika (Psychodynamic Theories) Beranggapan bahwa prasangka timbul dari dinamika kepribadian individu yang khas.

Jika kita melihat pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa prasangka sosial merupakan sikap perasaan orang-orang terhadap golongan manusia tertentu, golongan ras atau kebudayaan yang berbeda dengan golongan

78

27 David O. Sears dkk , Psikologi Sosial, (Jakarta: Erlangga, 1994). Hlm 155 Psikologi Sosial | 2012

orang yang berprasangka itu.28 2. Sumber Prasangka Sosial Prasangka sosial, yang jelas tidak dibawa sejak seseorang diahirkan, melainkan terbentuk selama dia dalam perkembangan, baik dengan jalan dididik ataupun dengan jalan beridentifikasi dengan orang lain yang memang sudah berprasangka. 3. Sebab Terjadinya Prasangka Sosial Secara garis besarnya prasangka sosial dapat terjadi karena: a. Secara tidak sadar orang yang berprasangka ini kekurangan pengetahuan dan pengertian akan faktor-faktor kehidupan yang sebenarnya dari kelompok/golongan orang yang diprasangkai itu, sehingga dengan mudah memberikan stereotip tertentu pada mereka. b. Secara sadar orang menginginkan keuntungan (untuk dirinya/kelompok atau golongan), apabila memupuk prasanngka sosial itu. Misalnya: kaum penjajah berusaha memupuk prasangka sosial antara golongan yang mereka jajah demi keuntungan kelompoknya sendiri (devide et impera). c. Sifat pribadi seseorang yang sudah mendasar yang dapat cepat menimbulkan prasangka sosial, misalnya: kurang toleransi, kurang mengenal dirinya (instropeksi), agressip dll.29

4.

Usaha Mengurangi Prasangka Sosial

Sebagaimana telah dikemukakan didepan, bahwa prasangka sosial bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, tetapi ditumbuhkan dan dikembangkan selama proses pertumbuhan dan perkembangan itu berjalan (baik dengan jalan sugesti, imitasi, identifikasi maupun sympati). prasangka sosial itu timbul karena faktor dalam tapi juga luar dari seseorang. Karena itu faktor-faktor ini pula yang

28 29

Op Cit, W. A. Gerungan, Hlm 179. Op. Cit, David O. Sears dkk , Hlm 155 Psikologi Sosial | 2012

79

harus diperhatikan agar timbulnya prasangka sosial itu dapat dikurangi. Adapun usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi prasangka sosial antara lain:30 a. Diberikannya pendidikan yang intensip sejak mulai pendidikan di dalam keluarga, sekolah maupun dalam perkumpulan / organisasi pemuda ataupun masyarakat dengan menghindarkan ajaran-ajaran yang dapat menimbulkan prasangka sosial. b. Diberikan penerangan yang seluas-luasnya dengan mempergunakan komunikasi massa/media massa (radio, TV, surat kabar dll) terutama penerangan yang memberikan kesadaran tentang segi-segi negatif dari prasangka sosial itu. c. Diusahakan adanya interaksi yang intensip antar golongan / kelompok sehingga mampu melenyapkan stereotip dan prasangka sosial antar golongan atau pun kelompok.

DAFTAR PUSTAKA David O. Sears dkk , Psikologi Sosial, Jakarta: Erlangga, 1994 Gerungan, W.A, Psikologi Sosial, Bandung: Refika Aditama, 2010 Joesoef, Soelaiman, Ilmu Jiwa Massa, Surabaya: Usaha Nasional, 1979 http://precounselor.wordpress.com/category/psikologi-sosial/

80

30

Op. Cit, Soelaiman Joesoef, Hlm 56.

Psikologi Sosial | 2012

AGRESIVITAS PENGERTIAN AGRESIVITAS Manstead dan hewstone, 1996. Agresi adalah segala bentuk perilaku yang disengaja terhadap makhluk lain dengan tujuan untuk melukainya dan pihak yang dilukai tersebut berusaha untuk menghindarinya. Agresi adalah suatu gerakan yang dapat menyakiti orang lain baik dari yang verbal maupun non verbal. Dimana verbal adalah yang melalui lisan biasanya dengan menggunakan ucapan- ucapan yang dapat menyakiti hati orang lain. Misalnya, marah- marah dengan menggunakan kata- kata kasar dan sebagainya. Non verbal adalah dengan menggunakan gerakan atau aktivitas yang dapat menyakiti orang lain. Biasanya dengan menggunakan kekerasan. Misalnya, pukulan, hantaman dan semua gerakan yang dapat mengakibatkan orang lain terluka. Dari definisi tersebut terdapat empat masalah penting dalam agresi: 1. Agresi merupakan perilaku. Dimana segala aspek perilaku itu juga terdapat didalam agresi, terutama emosi. 2. Ada unsur kesengajaan. Seperti seorang korban kecelakaan pada umumnya tidak bisa dikatakan hasil dari agresi, terlebih lagi bila pengendara sebenarnya sudah berusaha menghindarinya. 3. Sasarannya adalah makhluk hidup, terutama manusia. Orang yang marah besar tetapi dilampiaskan pada sesuatu benda mati seperti bola yang kita tendang itu tidak termasuk agresif.31 Faktor- faktor yang mempengaruhi agresivitas 1. Provokasi

31

Michael Adriyanto, Psikologi Sosial:Erlangga,1985 Psikologi Sosial | 2012

81

Agresi sering terjadi sebagai usaha untuk membalas agresi. Sebagaimana dikemukakan pada penjelasan devinisi, dalam agresi ada usaha pihak calon korban untuk menghindari. Bentuk-bentuk penghindaran ini tidak saja sekedar menghindari, tetapi ada yang berusaha dengan jalan memberi perlawanan. Kemungkinan hal semacam ini dilakukan dengan dasar pemikiran bahwa cara bertahan paling baik adalah menyerang. Perlu dicatat bahwa todak selamanya agresi dan menyerang dalam bentuk fisik, tetapi juga meliputi penyerangan verbal. 2. Kondisi aversif Adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang ingin dihindari oleh seseorang. Menurut berkowitz 1983 keadaan yang tidak menyenangkan merupakan salah satu faktor penyebab agresi. Alasannya adalah orang akan selalu berusaha mencari keseimbangan. Maka dari itu orang akan mencoba membuat keseimbangan dengan jalan antara lain, berusaha menghilangkan atau mengubah situasi itu. Apabila situasi yang tidak menyenangkan adalah makhluk hidup atau orang, maka akan timbul agresi terhadap orang tersebut . 3. Isyarat agresi Adalah stimulus yang diasosiasikan dengan sumber frustasi yang menyebabkan agresi. Bentuknya bisa berupa senjata tajam atau bisa orang yang menyebabkan frustasi. Salah satu keadaan yang sering digunakan untuk menerangkan hal ini adalah konsep weapon effect. Pada prinsipnya konsep ini menerangkan bahwa kehadiran senjata tertentu yang sering digunakan untuk perbuatan agresif bisa membangkitkan agresi. Contoh, orang yang dekat dangan pistol atau senapan laras panjang, atau pedang akan lebih cepat menjadi agresif meskipun dengan sedikit stimulasi. Efek senjata ini hanya sebagai pemacu terjadinya agresi bukan penyebab utama. 4. Kehadiran orang lain Kehadiran orang, terutama orang diperkirakan agresif, berpotensi untuk menumbuhkan agresi. Diasumsikan bahwa kehadiran tersebut akan berpartisipasi ikut agresi. Dilain pihak, kehadiran orang lain justru sering menghambat agresi, terlebih lagi bila orang tersebut adalah pemegang otonomi yang

82

Psikologi Sosial | 2012

berwibawa seperti polisi. 5. Karakteristik Individu Berbagai penyebab diluar individu yang bersangkutan akan sulit mencetuskan perbuatan agresif tanpa ada faktor dari dalam. Fenomena yang paling sering terlihat adalah stimulasi dari beberapa faktor akan memperkuat potensi dalam diri individu yang kemudian menunculkan perilaku agresi Jenis kelamin, seperti disebutkan pada bagian terdahulu bahwa agresi berkaitan dengan hormon tertentu yaitu hormon yang ada pada pria. Hipotesis ini berangkat dari fakta bahwa ternyata lebih banyak lelaki yang melakukan perbuatan agresif daripada wanita. Secara statistik dapat ditunjukkan bahwa hampir semua data menunjukkan pria memang lebih banyak melakukan tindakan agersi yang bersifat fisik. Pada sisi lain, wanita pada umumnya lebih empati terhadap korban sehingga agresivitasnya rendah.32

TEORI PERILAKU AGRESIF

Teori tentang perilaku agresif banyak dikemukakan oleh para ahli, ada yang mengatakan bahwa perilaku agresif merupakan sifat bawaan, sedangkan ahli yang lain memandang karena adanya lingkungan. Berbagai pandangan tersebut diuraikan berdasarkan minat pada bidang yang ditekuninya. Dibawah ini akan dijelaskan dalam beberapa teori tentang perilaku agresif, yaitu: a. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Bawaan Freud (Barbara, 2005) dengan teorinya berpandangan bahwa perilaku individu didorong oleh dua kekuatan dasar yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sifat kemanusiaan, yaitu perilaku agresif itu berasal dari insting amkhluk hidup yang pada dasarnya pada diri manusia terdapat dua macam insting makhluk hidup yang pada dasarnya pada diri manusia terdapat dua macam inting, yaitu insting kehidupan (eros) dan insting kematian (thanatos).

32

Ibid Psikologi Sosial | 2012

83

Insting kehidupan terdiri atas insting reproduksi atau insting seksual dan insting- insting yang ditujukan untuk pemeliharaan hidup, sedangkan insting kematian memiliki tujuan untuk menghancurkan hidup individu (Hudaniyah dan Dayakisni, 2003). Dalam teori ini perilaku agresif merupakan ekspresi dari adanya insting kematian. Insting inilah yang menjadi patokan untuk menjelaskan adanya beberapa bentuk tingkah laku agresif seperti peperangan ataupun bunuh diri. Freud beranggapan bahwa insting mati yang dapat menjelaskan perilaku agresif mempunyai sifat katarsis atau pelepasan ketegangan yang dapat merugikan masyarakat. Senada dengan pendapat di atas Ardrey (dalam Hudaniyah dan Dayakisni, 2003) mendasarkan pada teori evolusi Darwin dalam penelitiannya tentang perilaku agresif, berpendapat manusia sejak kelahirannya telah membawa killing imperativ dan dengan killing imperative ini manusia dihinggapi obsesi untuk menciptakan senjata dan menggunakan senjatanya itu untuk membunuh apabila perlu. Tetapi manusia memiliki mekanisme pengendalian kognitif yang mengimbangi “keharusan” membunuh salah satunya yaitu nurani yang memainkan peranan dalam menghambat agresi. Manusia telah diprogram (melalui evolusi) untuk mengancam, berkelahi, bahkan membunuh jika perlu untuk mempertahankan teritorialnya. Oleh karena itu terdapat kecenderungan manusia bersifat damai hanya terhadap orang lain dalam kelompoknya saja. Sebaliknya memusuhi orang di luar kelompoknya dan ingin menghancurkannya untuk mempertahankan eksistensi kelompoknya. b. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Belajar Menurut teori belajar, kondisi dan tingkah laku agresif terhadap individu lain bukan bersifat instingtif, tetapi diperoleh melalui belajar. Sears, menyatakan melkanisme utama yang menentukan perilaku agresif manusia adalah proses belajar masa lampau. Bayi yang baru lahir menunjukkan perasaan agresif yang sangat impulsif. Bila keinginannya tidak terpenuhi dia akan menagis keras, memukul- mukul, mengahantam apa sajayang dijangkau.

84

Psikologi Sosial | 2012

Pada kehidupan bayi tidak menyadari kehadiran orang lain sehingga tidak akan dapat mengganggu mereka secara sengaja. Bila bayi ini menyadari kehadiran orang lain dia akan terus- menerus dia akan melepaskan amarahnya dan mungkin mengarahkan kepada mereka. Tetapi pada masa dewasa ia akan mengendalikan dorongan impuls agresifnya secara kuat dan hanya melakukan agresi dalam keadaan tertentu. Perkembangan ini disebabkan oleh proses belajar. Belajar melalui pengalaman coba-coba, pengajaran moral, instruksi khusus, pengalaman diri sendiri melalui pengamatan terhadap orang lain akan membantu mengajarkan cara merespon pada individu. Individu juga mempelajari bermacam- macam bentuk tingkah laku yang dapat diterima oleh masyarakat melalui cara mempelajari akibat penampilan dari respon tersebut. Salah seorang tokoh dalam teori belajar adalah Skinner, yang terkenal dengan teori operan conditioningnya. Menurut pendekatan pengkondisian operan ini bahwa perilaku apabila memberikan efek positif yang cenderung diulang dan sebaliknya jika memberikan efek negatif ditinggalkan. Salah satu mekanisme utama untuk memunculkan proses belajar adalah penguatan (reinforcement). Bila suatu perilaku tertentu diberi ganjaran atau hadiah (reward), kemungkinan besar individu akan cenderung mengulangi suatu perilaku tersebut di masa mendatang, tetapi jika perilaku tersebut mandapatkan hukuman (punishment) maka kecil kemungkinan akan mengulangi perilaku tersebut. Tindakan agresif biasanya merupakan reaksi yang dipelajari dan penguatan atau hadiah meningkatkan kemungkinan hal tersebut akan diulang kembali. c. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Belajar Sosial Teori belajar sosial menekankan kondisi lingkungan yang membuat seseorang memperoleh dan memelihara respon-respon agresif. Asumsi dasar teori ini adalah sebagian besar perilaku individu diperoleh sebagai hasil belajar melalui pengamatan (observasi) atas perilaku yang ditampilkan oleh individuindividu lain yang menjadi model. Motivasi individu untuk mengamati dan mengungkapkan atau men-

Psikologi Sosial | 2012

85

contoh tingkah laku model akan kuat apabila model memiliki daya tarik dan memiliki efek yang menyenangkan atau mendatangkan penguatan (reinforcement). Sebaliknya, individu pengamat kurang termotivasi untuk mencontoh perilaku agresi itu tidak memiliki daya tarik dan dengan agresi yang dilakukannya si model tidak menyenangkan, efeknya negatif atau hukuman. Proses modeling menjelaskan bahwa anak mempunyai kecenderungan kuat untuk berimitasi (meniru), mudah berimitasi terhadap figur tertentu, misalnya tokoh yang terkenal, orang-orang sukses dan orang yang sangat akrab serta sering mereka temui. Figur yang paling mungkin menjadi model bagi anak adalah orangtuanya sendiri, oleh sebab itu perilaku agresif anak sangat tergantung pada cara orangtua atau orang dekat dalam memperlakukan mereka, karena perilaku orang disekitarnya dapat dipakai sebagai model yang ditirunya. d. Perilaku Agresif sebagai Dorongan yang berasal dari Luar Pandangan tentang perilaku agresif tidak berhubungan dengan insting, namun ditentukan oleh kejadian-kejadian eksternal, di mana kondisi tersebut akan menimbulkan dorongan yang kuat pada seseorang untuk memicu kemunculan perilaku agresif. Salah satu teori dari kelompok ini adalah teori frustrasiagresi yang dipelopori oleh Dollard. Teori ini menyatakan bahwa frustrasi menyebabkan berbagai kecenderungan, yang salah satunya adalah kecenderungan agresi, dan agresi timbul karena adanya frustrasi Apabila frustrasi meningkat, maka kecenderungan perilaku agresifpun akan meningkat. Kekuatan dorongan agresi yang disebabkan oleh frustrasi, tergantung besarnya kepuasan yang 1) diharapkan dan 2) tidak dapat diperoleh. e. Perilaku Agresif sebagai Perilaku Katarsis Tujuan perilaku agresif menurut teori ini adalah dalam rangka katarsis (pelepasan ketegangan) terhadap kompleks-kompleks terdesak dalam artian perasaan marah dapat dikurangi melalui pengungkapan agresi. Inti dari dari gagasan katarsis adalah bila seseorang merasa agresif, tindakan agresi yang dilakukannya akan mengurangi intensitas perasaannya. Hal ini pada gilirannya

86

Psikologi Sosial | 2012

akan mengurangi kemungkinannya untuk bertindak agresif.33 Penyebab dan Penanganan Ada 4 faktor utama penyebab perilaku agresif, yaitu: 1. Gangguan biologis dan penyakit 2. Lingkungan keluarga 3. Lingkungn Sekolah 4. Pengaruh budaya yang negatif. Perlu diingat bahwa penyebab ini sifatnya komplek dan jamak. Jadi tidak mungkin hanya satu faktor saja yang menjadi penyebab timbulnya perilaku agresif. 1. Penanganan masalah perilaku agresif harus dilihat dan dilakukan secara menyeluruh, artinya semua pihak termasuk guru dan orang tua serta lingkungan sekitar. Karena kelemahan anak agresif adalah ketidak mampuan menguasai keterampilan sosial, maka diharapkan orang tua dan guru dapat mengajarkan bagaimana cara menanggapi perasan orang lain dan perasaan dirinya sendiri serta perilaku yang tepat dalam bertingkah laku dalam suatu lingkungan. Misalnya dengan cara melatih mengungkapkan perasaan yang dirasakan, senang, sedih, marah, gembira dan perilaku seperti apa yang harus dilakukan ketika ada teman yang mengambil barang tanpa minta izin. Bentuk pengajaran bisa berbentuk role play. Dengan demikian anak mendapatkan model perilaku yang positif dengan mengetahui bagaimana harus bersikap dalam situasi sosial tertentu. 2. Teknik lain adalah mengatasi agresivitas dengan menampilkan tingkah laku positif sebagai model dalam merespon perilaku agresif dan membantu anak berlatih menampilkan perilaku nonagresif.

33

http://indonesiaindonesia.com/f/63221-teori-perilaku-agresif/ Psikologi Sosial | 2012

87

3. Menerapkan hukuman juga merupakan pilihan mengatasi perilaku agresif yang terjadi. Guru dan orang tua harus memahami dan membantu anak yang menjadi korban. Dukungan yang paling baik adalah dengan mengembangkan perasaan bahwa anak yang menjadi korban perilaku agresif sebenarnya mampu mempertahankan mereka sendiri.34

DAFTAR PUSTAKA Adriyanto. Michael, Psikologi Sosial:Erlangga,1985 http://indonesiaindonesia.com/f/63221-teori-perilaku-agresif/ http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/11/16/perilaku-agresif-penyebabdan-penanganannya/

34 http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/11/16/ perilaku-agresif-penyebab-dan-penanganannya/

88

Psikologi Sosial | 2012

MENGURANGI AGRESI, ALTRUISME, MENGAPA ORANG MENOLONG

D. MENGURANGI AGRESI Adapun beberapa dibawah ini untuk mengurangi perilaku agresi, antara lain:35 a. Katarsis. Ingin memukul teman bisalnya, dialihkan pada memukul meja. Perilaku ini, oleh Freud disebut dengan katarsis. Isitilah ini mengalami perluasan istilah seperti hipotesis katarsis, yakni upaya untuk menurunkan rasa marah dan kebenciannya dengan cara yang lebih aman sehingga mengurangi bentuk agresi yang sekiranya akan muncul. Umumnya, katarsis berupa kegiatan fisik yang menguras tenaga. Ketika fisik lelah, diperkirakan tingkah laku agresif akan turun. b. Menampilkan tingkah laku yang memberi teladan yang baik. c. Mengurangi tayangan televisi yang menampilkan kekerasan. Mengurangi tayangan televisi yang menampilkan kekerasan misalnya, adalah hal yang dianggap penting untuk mengurangi perilaku agresi yang ada dalam masyarakat. 35 http://www.psychologymania.com/2012/04/cara-mengatasiagresi.html/04-12-2012 9:47 Psikologi Sosial | 2012

89

d.

Mengurangi tingkah laku budaya dan pendidikan yang menunjukan agresivitas. Melakukan aktivitas seperti olahraga, menonton film-film laga atau hal yang menarik.

e.

f.

Pelatihan ketrampilan sosial. Melakukan perilaku yang baik dan tingkah laku yang sopan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memaafkan atau memberi maaf. Bisa dibayangkan ketika seseorang berbuat kesalahan pada orang lain, maka tak ayal lagi orang yang dizalimi akan marah. Bagaimana jika ternyata orang yang dizalimi tadi ternyata memaafkan si pembuat kesalahan? Hal ini menjadi mungkin ketika kognisi orang yang dizalimi tadi diisi oleh informasi bahwa perlunya memaafkan orang yang menzalimi. Memaafkan tentunya denga rasa tulus dan ikhlas bahwa dirinya tidak merugi. Hal ini bisa mengurangi agresivitas, setidaknya agesivitas yang tampak. Memberinya hukuman. hukuman sebagai cara penanganan terhadap agresi. Hal ini bisa dilihat dari agresivitas yang dilakukan individu hingga yang dilakukan oleh institusi atau bahkan negara. Pada individu, para pelaku kekerasan seperti pemerkosa dan pembunuh akan dihukum penjara atau hukuman mati. Negara aggressor seperti Jepang saat menganeksasi Cina tahun 1930an, diberi sanksi oleh Liga Bangsa-Bangsa. Namun tetap saja agresivitas muncul. Hal yang paling penting dalam penggunaan hukuman adalah hukuman harus jelas dan sesegera mungkin mengikuti agresivitas yang dilakukan. Kedua, hukuman harus amat keras sehingga mengurangi kemungkinan pengulangan oleh pelaku.

g.

h.

E.

ALTRUISME Altruisme berasal dari bahasa Perancis yaitu autrui yang artinya “orang lain”turunan dari kata latin Alter. Secara epistimologis, altruisme

90

Psikologi Sosial | 2012

berarti:36 1) Loving others as oneself. 2) Behaviour that promotes the survival chances of others at a cost to ones own. 3) Self-sacrifice for the benefit of others. Istilah Altruisme diciptakan oleh Auguste Comte, Penggagas filsafat positivisme. Dalam karyanya, Catechisme Positiviste, Comte mengatakan bahwa setiap individu memiliki kehendak moral untuk melayani kepentingan orang lain atau melakukan kebaikan kemanusiaan tertinggi (“greater good” of humanity). Kehendak hidup untuk sesama merupakan bentuk pasti moralitas manusia, yang memberi arah suci dalam rupa naluri melayani, yang menjadi sumber kebahagiaan dan karya. Sebagai sebuah doktrin etis, altruisme berarti melayani orang lain dengan menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Dalam buku Psikologi Sosial karangan David O. Sears, altruisme adalah tindakan sukarela untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun atau disebut juga sebagai tindakan tanpa pamrih. Altruisme dapat juga didefinisikan tindakan memberi bantuan kepada orang lain tanpa adanya antisipasi akan reward atau hadiah dari orang yang ditolong. Definisi lain dari altruisme yaitu peduli dan membantu orang lain tanpa mengharap imbalan. Menurut Batson; 1991, altruisme adalah keadaan motivasional seseorang yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan orang lain.37 Altruisme adalah dorongan/tekanan dari diri, dan keprihatinan yang sangat (eksklusif) terhadap kesejahteraan orang lain. Ini adalah kebajikan tradisional di banyak budaya, dan aspek inti dari berbagai tradisi agama, meskipun konsep ‘orang lain’ terhadap siapa perhatian harus diarahkan dapat bervariasi antara agama satu dengan agama lainnya. Altruisme adalah kebalikan dari keegoisan. Altruisme dapat dibedakan dari perasaan kesetiaan dan tugas. Altruisme ada-

36 http://altruistikaltruisme.blogspot.com/07-12-2012 8:09 37 http://psychemate.blogspot.com/2007/12/altruisme-helpingwithout-selfish.html/30-11-2012 8:17 Psikologi Sosial | 2012

91

lah motivasi untuk memberi kepada pihak yang harus diberi, siapa pun kecuali diri sendiri. Sementara tugas berfokus pada kewajiban moral terhadap individu tertentu (misalnya, dewa, raja), atau kolektif (misalnya, pemerintah) . Beberapa orang mungkin merasa baik altruisme dan tugas, sementara yang lain tidak mungkin. Altruisme murni adalah menyerahkan nilai tanpa memperhatikan imbalan atau manfaat yang bisa menyebabkan pengakuan dari orang lain.38 Orang yang altruist adalah orang yang lebih mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri. Orang yang mau mengorbankan (kepentingan) dirinya sendiri demi kebaikan orang lain. Orang yang punya motivasi untuk menolong orang lain dan berbuat kebaikan tanpa pamrih. Lawan dari altruisme adalah egoisme.Altruisme termasuk sebuah dorongan untuk berkorban demi sebuah nilai yang lebih tinggi, entah bersifat manusiawi atau ketuhanan. Tindakan altruis dapat berupa loyalitas. Kehendak altruis berfokus pada motivasi untuk menolong sesama atau niat melakukan sesuatu tanpa pamrih, berupa ketetapan moral. Altruisme adalah perbuatan mengutamakan orang lain dibanding diri sendiri. Perilaku altruistik tidak hanya berhenti pada perbuatan itu sendiri. Sikap dan perilaku ini akan menjadi salah satu indikasi dari moralitas altruistik. Moralitas altruistik tidak sekadar mengandung kemurahan hati atau belas kasihan. Ia diresapi dan dijiwai oleh kesukaan memajukan sesama tanpa pamrih. Karena itu, tindakannya menuntut kesungguhan dan tanggung jawab yang berkualitas tinggi. F. MENGAPA ORANG MENOLONG Beberapa faktor-faktor dibawah ini yang mempengaruhi pemberian pertolongan (mengapa orang menolong), antara lain:39 a. Karena situasi sosial. Seseorang tidak akan mungkin menolong bila tidak tahu dan menyadari adanya situasi yang menyebabkan orang lain butuh ditolong. Namun terkadang di tahap ini sering terganggu oleh adanya hal lain seperti kesibukan, ketergesaan, kepentingan dan lain-lain. Menginterpretasikan situasi

92

38 http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/ presenting/2162724-altruisme-egoisme/07-12-2012 8:08 39 Dr. Faturochman, Pengantar Psikologi Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pinus), 2006. Hal.75-79 Psikologi Sosial | 2012

Jika seseorang menginterpretasikan situasi sebagai situasi darurat/situasi yang membutuhkan pertolongan maka ia akan memberi pertolongan. Semakin banyak orang yang melihat suatu kejadian yang memerlukan pertolongan maka semakin kecil pula munculnya pertolongan untuk menolong. b. Karena pengeluaran menolong. Dengan memberi pertolongan berarti akan ada cost yang harus dikeluarkan untuk menolong.bisa berupa materi tetapi lebih banyak pengeluaran psikologis. c. Karena norma. Bahwa memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan adalah suatu keharusan. Tanggung jawab berkaitan dengan kesadaran dalam diri seseorang bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah komunitas masyarakat yang mengharuskan dirinya untuk berkerja sama dengan orang lain. Apabila muncul perasaan bahwa peristiwa itu merupakan sebagian dari tanggung jawabnya, maka kemungkinan akan ada tindakan menolong.Yang kemudian akan ada norma yang tidak bisa diabaikan yaitu norma timbal balik (norm of reciprocity). Walster, Berscheid (Sears dkk,1994). Norma timbal balik mengharuskan orang melakukan perbuatan menolong atau membantu dikarenakan rasa balas jasa karena pernah di tolong. Faktor lain yang mempengaruhi seseorang untuk menolong sanggat tergantung dari penghayatan terhadap nilai-nilai agama dan moral yang mendorong seseorang dalam melakukan pertolongan. d. Karena kesamaan antara penolong dengan yang ditolong. Semakin banya kesamaan antara kedua belah pihak semakin banyak peluang untuk munculnya pemberian pertolongan. Feldman, Tucher (Sears dkk,1994). Dari pengalaman sehari-sehari kita lebih suka menolong teman dekat atau orang-orang yang satu kelompok dengan kita dari pada orang asing atau orang-orang yang baru kita temui. e. Karena kedekatan hubungan. Bahwa ada kecenderungan orang lebih senang memberi pertolongan pada orang yanng disukai. Disamping itu ada kecenderungan bahwa orang lebih suka memberi pertolongan pada orang yang memiliki daya tarik tinggi karena ada tujuan tertentu. Karena empati. Dinyatakan oleh Batson bahwa dengan menyaksikan orang lain yang sedang dalam keadaan membutuhkan akan menimbul-

f.

Psikologi Sosial | 2012

93

kan kesedihan atau kesukaran pada diri orang yang melihatnya seperti kecewa dan khawatir. g. Karena latar belakang keluarga dan Kepribadian. Campbell (Sears dkk,1994). Latar belakang keluarga juga sangat berpengaruh dalam terbentuknya perilaku menolong, seorang anak yang dibesarkan dalam sebuah keluarga yang altruistik tinggi, akan mempengaruhi anak–anak untuk berperilaku altruistik seperti yang didapat di keluarga. Individu yang mempunyai orientasi sosial tinggi cenderung lebih mudah memberi pertolongan demikian juga orang yang memiliki tanggung jawab sosial tinggi.

Ada 4 teori utama yang mencoba menjelaskan penyebab tingkah laku menolong:40 1. Hipotesis empati-altruisme (emphaty-altruism hypothesis): sebuah dugaan bahwa tingkah laku prososial hanya dimotivasi oleh keinginan untuk menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan. Hipotesis mengurangi afek negatif (negative-state relief hypothesis): penjelasan yang menyatakan bahwa perilaku prososial dimotivasi oleh keinginan bystander untuk mengurangi emosional negatifnya sendiri. Orang-orang kadang menolong karena mereka berada pada suasana hati yang jelek dan ingin membuat diri sendiri meresa lebih baik. 3. Hipotesis kesenangan empatik (emphatic joy hypothesis): penjelasan yang menyatakan bahwa perilaku prososial dimotivasi oleh emosi positif yang diantisipasi penolong untuk dimiliki sebagai hasil dari memiliki pengaruh menguntungkan pada hidup seseorang yang membutuhkan. Penolong berespons pada kebutuhan korban karena dia ingin merasa enak karena berhasil mencapai sesuatu. Hipotesis determinisme genetis (genetic determinism hypothesis): penjelasan yang menyatakan bahwa tingkah laku didorong oleh atribut genetis yang berevolusi karena atribut tersebut meningkatkan kemungkinan untuk mewariskan gen seeorang pada generasi berikkutnya.

2.

4.

94

40 http://annisaavianti.wordpress.com/2010/07/31/tingkah-lakuprososial-kenapa-orang-orang-menolong/4-12-2012 10:02 Psikologi Sosial | 2012

perilaku prososial  Tahap-tahap prilaku menolong Ketika seseorang memberi pertolongan, maka hal itu didahului oleh adanya proses psikologis hingga pada keputusan menolong. Latane & Darley (Baron & Byrne, 2003; Faturochman, 2006) menemukan bahwa respons individu dalam situasi darurat meliputi lima langkah penting, yang dapat menimbulkan perilaku prososial atau tindakan berdiam diri saja.

Tahap-tahap yang telah teruji beberapa kali dan sampai saat ini masih banyak digunakan meliputi:

a. Menyadari adanya keadaan darurat, atau tahap perhatian. pada perhatian terkadang sering terganggu oleh adanya hal-hal lain seperti kesibukan, ketergesaan, mendesaknya kepentingan lainnya b. Menginterpretasikan keadaan sebagai keadaan darurat. Bila pemerhati menginterpretasi suatu kejadian sebagai sesuatu yang membuat orang membutuhkan pertolongan, maka kemungkinan besar akan diinterpretasikan sebagai korban yang perlu pertolongan. c. Mengasumsikan bahwa adalah tanggung jawabnya untuk menolong. Ketika individu memberi perhatian kepada beberapa kejadian eksternal dan menginterpretasikannya sebagai suatu situasi darurat, perilaku prososial akan dilakukan hanya jika orang tersebut mengambil tanggung jawab untuk menolong. Apabila tidak muncul asumsi ini, maka korban akan dibiarkan saja, tanpa memberikan pertolongan. Baumeister dkk. menemukan ketika tanggung jawab tidak jelas, orang cenderung mengasumsikan bahwa siapa pun dengan peran pemimpin seharusnya bertanggung jawab. d. Mengambil keputusan untuk menolong. Meskipun sudah sampai ke tahap dimana individu merasa bertanggungjawab memberi pertolongan pada korban, masih ada kemungkinan ia memutuskan tidak memberi pertolongan. Berbagai kekhawatiran bisa timbul yang menghambat terlaksananya pemberian pertolon-

Psikologi Sosial | 2012

95

gan Pertolongan pada tahap akhir ini dapat dihambat oleh rasa takut (sering kali merupakan rasa takut yang realistis) terhadap adanya konsekuensi negatif yang potensial .

 Kapan orang menolong Menurut Cialldini (1982) anak adalah individu yang berusia antara 10-12 tahun, yang merupakan masa peralihan antara tahapan presosization (tahap dimana anak tidak peduli pada orang lain, mereka hanya akan menolong ketika diminta atau ditawari sesuatu agar mau melakukannya , tetapi menolong itu tidak membawa dampak positif bagi mereka). Tahap awareness (tahap dimana anak belajar bahwa anggota masyarakat dilingkungan tempat tinggal mereka saling membantu, mengakibatkan mereka menjadi lebih sensitif terhadap norma sosial dan tingkah laku prososial), dan tahap internalization (15-16 tahun), pada tahap ini prilaku menolong bisa memberikan kepuasan secara intrinsik dan membuat orang merasanyaman. Norma eksternal yang memotivasi menolong selama tahap ke-2 sudah diinternalisasi  Cara meningkatkan perilaku prososial antara lain : 1. Menyebarluaskan penayangan model perilaku prososial

Dalam mengembangkan perilaku-perilaku tertentu kita dapat melakukan melalui pendekatan behavioral dengan model belajar sosial. Pembentukan perilaku prososial dapat kita lakukan dengan sering memberikan stimulus tentang perilaku-perilaku baik (membantu orang yang kesulitan dan lain sebagainya). Semakin sering seseorang memperoleh stimulus, misalnya melalui media massa semakin mudah akan melakukan proses imitasi (meniru) terhadap perilaku tersebut. 2. Memberikan penekanan terhadap norma-norma prososial.

96

Norma-norma di masyarakat yang memberikan penekanan terhadap tanggungjawab sosial dapat dilakukan melalui lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat umum. Longgarnya sosialisasi dan pembelajaran terhadap norma-norma ini akan mendorong

Psikologi Sosial | 2012

munculnya prilaku anti-sosial atau tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan hal ini sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan psikologis dan sosial seseorang. Dengan adanya proses sosialisasi dan internalisasi tentang norma-norma prososial ini, maka perilaku prososial akan mudah dijumpai dimana-mana dan hal ini akan mengembangkan pranata sosial yang lebih baik. 3. Memberikan pemahaman tentang superordinate identity

Pandangan bahwa setiap orang merupakan bagian dari kelompok manusia secara keseluruhan adalah hal penting yang perlu dilakukan. Manakala seseorang merasa menjadi bagian dari suatu kelompok yang lebih besar, ia akan berusaha tetap berada di kelompok tersebut dan akan melakukan perbuatan yang menuntun ia dapat diterima oleh anggota kelompok yang lain, salah satu cara adalah senantiasa berbuat baik untuk orang lain. Ia akan menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak disenangi oleh kelompoknya, sehingga kondisi ini akan memberikan dorongan untuk senantiasa berbuat baik untuk orang lain. I. KESIMPULAN

 Tahap-tahap yang telah teruji beberapa kali dan sampai saat ini masih banyak digunakan meliputi: a. b. c. Menyadari adanya keadaan darurat, atau tahap perhatian. Menginterpretasikan keadaan sebagai keadaan darurat. Mengasumsikan bahwa adalah tanggung jawabnya untuk menolong.

 tahapan presosization, Tahap awareness, tahap internalization.  Cara meningkatkan perilaku prososial antara lain : 1. Menyebarluaskan penayangan model perilaku prososial 2. 3. Memberikan penekanan terhadap norma-norma prososial. Memberikan pemahaman tentang superordinate identity

Psikologi Sosial | 2012

97

98

Psikologi Sosial | 2012