BAB I PENDAHULUAN

Obat berperan penting dalam pelayanan kesehatan. Penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi. Berbagai pilihan obat saat ini tersedia, sehingga diperlukan pertimbangan yang cermat dalam pemilihan obat untuk suatu penyakit, dengan mempertimbangkan efektivitas, keamanan, efek samping, interaksi antar obat dan dari segi ekonomi.1 Intervensi farmakoterapi merupakan komponen yang tak terpisahkan dalam pelayanan kesehatan. Dengan demikian, diperlukan suatu komunikasi yang baik antara dokter dan penyedia obat agar pasien memperoleh pelayanan medik yang baik. Salah satu bentuk alat komunikasi tersebut adalah resep.1 2 Resep juga perwujudan hubungan profesi antara dokter, apoteker dan pasien. Selain itu, resep juga merupakan permintaan tertulis kepada apoteker untuk mengambilkan obat dan merupakan perwujudan akhir dari kompetensi, pengetahuan keahlian dokter dalam menerapkan pengetahuannya dalam bidang farmakologi dan terapi.3,4 Berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan resep mengharuskan dokter untuk lebih teliti dalam menulis resep. Penulisan resep dan penggunaan obat yang tidak rasional dapat menurunkan mutu pengobatan dan pelayanan kesehatan secara langsung maupun tidak langsung. Kerasionalan penulisan resep

adalah kesesuaian kombinasi obat dari sudut terjadinya interaksi antar obat dalam resep yang meliputi interaksi farmakodinamik dan/atau interaksi farmakokinetik.5

1.1.

Definisi dan Arti Resep

Definisi Menurut SK. Mes. Kes. No. 922/Men.Kes/ l.h menyebutkan bahwa resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada Apoteker Pengelola Apotek (APA) untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangan yang berlaku 3 Resep dalam arti yang sempit ialah suatu permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada apoteker untuk membuatkan obat dalam bentuk tertentu dan menyerahkannya kepada penderita 6

Arti Resep 1. Dari definisi tersebut

maka resep bisa diartikan/merupakan sarana komunikasi profesional antara dokter (penulis resep), APA (apoteker penyedia/pembuat obat), dan penderita (yang menggunakan obat). 2. Resep ditulis dalam

rangka memesan obat untuk pengobatan penderita, maka isi resep merupakan refleksi/pengejawantahan proses pengobatan. Agar pengobatan berhasil, resepnya harus benar dan rasional.3

Ukuran yang ideal ialah lebar 10-12 cm dan panjang 15-18 cm.1. Kertas resep harus disimpan. pemberian obat kepada penderita memang seharusnya dengan resep. diatur menurut urutan tanggal dan nomor urut pembuatan serta disimpan sekurang-kurangnya selama tiga tahun. antara lain dengan menuliskan resep palsu meminta obat bius. Blanko kertas resep hendaknya oleh dokter disimpan di tempat yang aman untuk menghindarkan dicuri atau disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Resep yang lengkap terdiri atas:6.2. permintaan obat melalui telepon hendaknya dihindarkan.3. Nama dan alamat dokter serta nomor surat izin praktek.7 a.270/MenKes/SK/V/1981 mengenai penyimpanan resep di apotek. singkatan dari Recipe yang berarti “harap diambil” (superscriptio).7 1. supaya dapat memenuhi syarat untuk dibuatkan obatnya di Apotek. dan dapat pula dilengkapi dengan nomor telepon. 6. Kertas Resep Resep dituliskan di atas suatu kertas resep. c. b. jam. Nama kota serta tanggal resep itu ditulis oleh dokter. dan hari praktek. Model Resep yang Lengkap Resep harus ditulis dengan lengkap. Setelah lewat tiga tahun. . resep-resep oleh apotek boleh dimusnahkan dengan membuat berita acara pemusnahan seperti diatur dalam SK Menkes RI no. Untuk dokumentasi. Tanda R/.

adjuvans tidak mutlak perlu ada dalam tiap resep. Jenis/bahan obat dalam resep terdiri dari : • Remedium cardinale atau obat pokok yang mutlak harus ada. seringkali perlu. terutama kalau resep berupa komposisi dokter sendiri dan bukan obat jadi.d.a. warna atau bau obat (corrigens saporis. Perlu diingat bahwa dengan menuliskan angka tanpa keterangan lain. liter). • Corrigens. coloris dan odoris) • Constituens atau vehikulum. yang dimaksud ialah “gram”. pulv = fac lege artis pulveres = buatlah sesuai aturan obat berupa puyer. milligram. hanya kalau diperlukan untuk memperbaiki rasa. Cara pembuatan atau bentuk sediaan yang dikehendaki (subscriptio) misalnya f. f. yaitu bahan yang membantu kerja obat pokok.l. tetapi juga dapat terdiri dari beberapa bahan. • Remedium adjuvans. milliliter. Nama setiap jenis atau bahan obat yang diberikan serta jumlahnya (inscriptio) e. Jumlah bahan obat dalam resep dinyatakan dalam suatu berat untuk bahan padat (mikrogram. g. Obat pokok ini dapat berupa bahan tunggal. . Misalnya konstituens obat minum air. gram) dan satuan isi untuk cairan (tetes.

dan sebaiknya dilengkapi dengan alamatnya yang akan memudahkan penelusuran bila terjadi sesuatu dengan obat pada penderita. j. Nama obat harus ditulis yang betul.h. biasanya disingkat S. diagnosis dan prognosis serta terapi yang akan diberikan. maupun variabel unsur obat dan kemungkinan kombinasi obat. Aturan pemakaian obat oleh penderita umumnya ditulis dengan singkatan bahasa Latin. Misalnya nama obatnya ditulis secara betul dan sempurna/lengkap. yaitu setelah menentukan anamnesis.3 Resep yang jelas adalah tulisannya terbaca. 1. karena begitu banyak variabel-variabel yang harus diperhatikan. i. simptomatik atau kausal. hal ini . Tanda tangan atau paraf dari dokter/dokter gigi/dokter hewan yang menuliskan resep tersebut yang menjadikan resep tersebut otentik. Resep obat suntik dari golongan Narkotika harus dibubuhi tanda tangan lengkap oleh dokter/dokter gigi/dokter hewan yang menulis resep. Aturan pakai ditandai dengan signatura. Seni dan Keahlian Menulis Resep yang Tepat dan Rasional Penulisan resep adalah “tindakan terakhir” dari dokter untuk penderitanya. Penulisan resep yang tepat dan rasional merupakan penerapan berbagai ilmu. Nama penderita di belakang kata Pro : merupakan identifikasi penderita.4. terapi dapat profilaktik. dan tidak cukup dengan paraf saja. ataupun variabel penderitanya secara individual.

diberikan pada waktu yang tepat dengan cara yang tepat untuk penderita yang tepat. ialah sebagai berikut : setelah diagnosanya tepat maka kemudian memilih obatnya tepat yang sesuai dengan penyakitnya diberikan dengan dosis yang tepat dalam bentuk sediaan yang tepat. .6 Resep yang tepat. dan rasional adalah resep yang memenuhi lima tepat.perlu mendapat perhatian karena banyak obat yang tulisannya atau bunyinya hampir sama. aman. sedangkan khasiatnya berbeda.6 Kekurangan pengetahuan dari ilmu mengenai obat dapat mengakibatkan hal-hal sebagai berikut:6  Bertambahnya toksisitas obat yang diberikan  Terjadi interaksi antara obat satu dengan obat lain  Terjadi interaksi antara obat dengan makanan atau minuman tertentu  Tidak tercapai efektivitas obat yang dikehendaki  Meningkatnya ongkos pengobatan bagi penderita yang sebetulnya dapat dihindarkan.

Resep Contoh Resep dari Poliklinik Mata A. Resep asli GAMBAR RESEP .1.BAB II ANALISA RESEP 2.

sehingga diharapkan tulisan pada kertas resep tidak akan hilang selama penyimpanan. Kelengkapan resep Klinik Tanggal : Poliklnik Mata : 9 Agustus 2011 Nama Pasien : Hj Asiah Umur No. Resep sudah ditulis dengan bahasa latin sehingga sudah memenuhi kriteria resep yang benar.B.1. Analisis Resep 2. Resep pada penulisan sudah ditulis dengan menggunakan tinta. . Penulisan resep Secara umum resep kurang jelas terbaca dan cukup sulit untuk dipahami. Seharusnya suatu resep harus jelas dibaca sehingga tidak menimbulkan kesalahan dalam pemberian obat-obatan. 2. Hal ini sesuai dengan aturan penulisan resep yang benar tulisan harus dapat dibaca dengan jelas agar tidak terjadi kesalahan dalam pemberian obat. RMK Alamat Pekerjaan Keluhan : 53 tahun : 67-62-67 : Jl Sultan Adam no 17 rt 25 :: Pasien datang dengan mata kemerahan semenjak 2 hari yang lalu Diagnosa RS : Konjungtivitis iritasi.2.2.

namun tanggal resep tersebut tercantum dari cap stempel tanggal. dan kota rumah sakit. dan pada nama obat yang bukan racikan. 2.2. Kelengkapan Resep 1. lebarnya dan panjang tidak ideal. Nama Kota serta Tanggal Pembuatan Resep Nama kota tidak dituliskan dokter. . Penulisan tanda R/ pada resep sudah sesuai dengan aturan penulisan. Tanda R/ (superscriptio). pada bagian atas tidak tercantum alamat lengkap rumah sakit.5 cm dan panjangnya ± 16 cm. 1. 2.Pada resep ini ukuran kertas yang digunakan lebarnya ± 21. Nama dan Alamat Dokter Pada bagian atas tidak tercantum nama rumah sakit. Nama dokter diketahui dari cap stempel yang ada di kanan atas dan kanan bawah resep. Namun. sedangkan terdapat nama bagian instansi Rumah Sakit tempat dokter tersebut bekerja.2. termasuk yang magistralis diakhiri oleh garis penutup namun penulisan paraf pada resep tidak ada. yaitu penulisan tanda R/ dicantumkan di depan nama obat pertama yang dibuat racikan. Setiap resep. Berdasarkan ketentuan tersebut. Ukuran kertas resep yang ideal adalah lebar 1012 cm dan panjang 15-18 cm2. yang merupakan kelengkapan suatu resep. ukuran kertas yang digunakan pada resep ini.

pulv yang berarti buatlah sesuai aturan obat berupa puyer. Signatura atau Transcriptio Signatura terdapat pada kedua obat. Constituens atau vehikulum tidak digunakan. 4.a.l.  Remedium Adjuvans atau obat tambahan yang mendukung digunakan vitamin B6. Inscriptio a) Jenis/bahan obat dalam resep ini terdiri dari :  Remedium Cardinale atau obat pokok yang digunakan adalah Isoniazid dan Rifampisin. a. b) Pada resep ini disebutkan jumlah bahan obat yaing dinyatakan dalam suatu berat sediaan padat yaitu tablet dan miligram. Cara penulisannya sudah sesuai yaitu menggunakan istilah f.3.   Remedium Corrigens tidak digunakan. hanya namun penulisan kurang jelas dan sulit dibaca sehingga sulit mengetahui berapa frekuensi penggunaan obat. 5. . akan tetapi penulisannya kurang jelas sehingga sulit dipahami. Subscriptio Pada resep ini sudah mencantumkan cara pembuatan atau bentuk sediaan yang dikehendaki (subscription). c) Resep ini sudah mencantumkan berapa jumlah obat yang ingin diberikan.

Dan hanya terdapat bagian/unit pelayanan Rumah Sakit. karena ada tanda tangan serta nama dokter yang menulis resep tersebut. • Dari penjelasan di atas maka resep ini bisa dikatakan sah.c atau p. 2. Seharusnya identitas pasien ditulis lengkap sehingga mudah menelusuri bila terjadi sesuatu dengan obat pada pasien.b. Waktu pemberian. Nama pasien tercantum pada pojok kanan atas resep sedangkan umur pasien. maka harus mencantumkan nama. Karena resep berasal dari Rumah Sakit. Untuk sahnya suatu resep harus tercantum hal-hal sebagai berikut : • • Nama dan tanda tangan dokter penulis resep sudah tercantum. bagian/unit pelayanan Rumah sakit tersebut. . ini menjadikan resep tersebut otentik. 6.2. Tanda tangan dokter yang menuliskan resep terdapat pada kanan bawah resep. Keabsahan Resep Kertas resep yang digunakan di sini adalah resep Askes. alamat.c.3. pada obat pokok tidak dicantumkan waktu pemberian misalnya : a. berat badan dan alamat tidak dicantumkan. 7.

10 . Untuk pencegahan dapat diberikan tunggal 8. Isoniazid masih tetap merupakan obat yang sangat penting untuk mengobati semua tipe tuberkulosis. Dosis Obat. Untuk tujuan terapi.2. baik pada tahap intensif maupun lanjutan. Mekanisme kerja isoniazid diduga menghambat biosintesis asam mikolat yang merupakan unsur penting dinding sel mikobakterium. Dalam tablet kadang-kadang telah ditambahkan vitamin B6. pirazinamid dan ethambutol dan 4 bulan fase lanjutan dengan obat isoniazid dan rifampisin. pengobatan yang dianjurkan adalah 2HRZE 4HR.10 Dosis Isoniazid untuk anak adalah 5-7mg/kgBB/hari. Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat pada fase awal/intensif (2 bulan pertama) dan dilanjutkan dengan 2 macam obat pada fase lanjutan (4 bulan. Isoniazid mudah diabsorpsi pada pemberian oral maupun parenteral. 300mg dan 400mg serta sirup 10mg/ml. streptomisin dan pirazinamid. Bentuk sediaan yang ada di masyarakat adalah tablet 50mg.2. Untuk kasus TB Kelenjar. Untuk pengobatan tuberkulosis dibagi menjadi 2 tahap yaitu tahap awal/intensif (2 bulan pertama) dan sisanya sebagai tahap lanjutan. etambutol. OAT pada anak diberikan setiap hari. artinya pengobatan 2 bulan pertama dengan obat isoniazid. Frekuensi. rifampisin.8. Lama dan Waktu Pemberian • Isoniazid Isoniazid merupakan obat tuberkulosis lini-pertama bersama dengan rifampisin. kecuali pada TB berat) 9.4. 100mg. obat ini harus digunakan bersama obat lain.

Tidak diberikan langsung untuk sebanyak 4 bulan (120 bungkus) agar dokter dapat mengontrol pemakaian obat oleh pasien sekalian untuk mengecek apakah ada perbaikan setelah penggunaan obat OAT. Frekuensi penggunaan obat sudah sesuai yaitu satu kali sehari. vitamin ini juga diberikan bersama vitamin B lainnya atau sebagai multivitamin untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin B kompleks. obat tersebut diubah dalam bentuk pulveres dan dikombinasikan dengan vitamin B6. Dari jumlah obat yang diberikan yaitu sebanyak 30 bungkus sudah rasional. masih rasional diberikan dalam bentuk puyer. dosis isoniazid yang diberikan untuk anak adalah sebesar 100 mg. Berdasarkan BB anak sebesar 19 kg. Indikasi lain adalah untuk mencegah atau mengobati neuritis perifer oleh obat misalnya . • Vitamin B6 Piridoksin tersedia sebagai tablet piridoksin HCL 10-100 mg dan sebagai larutan steril 100 mg/ml piridoksin hcl untuk injeksi. Untuk sediaan obat. Selain untuk mencegah dan mengobati defisiensi vitamin B6. maka dosis isoniazid pasien adalah 95-133 mg. karena kemungkinan anak masih belum bisa menelan pil.Pada resep ini. Pemberian dosis pada anak sudah sesuai. Berdasarkan usia anak yaitu 4 tahun. Piridoksin diindikasikan untuk anemia yang responsif terhadap piridoksin yang biasanya sideroblastik dan mungkin disebabkan kelaianan genetik.

Yang paling sering adalah ruam kulit. Selain itu terdapat pula tablet 450 mg dan 600 mg serta suspense yang mengandung 100 mg/5 ml rifampisin. Dosis untuk orang dewasa dengan berat badan kurang dari 50 kg ialah 450 mg/hari dan untuk berat . sikloserin. Pada resep ini tidak jelas berapa dosis yang diberikan untuk anak.8 Dosis yang diberikan untuk anak yang mengalami defisiensi piridoksin akibat obat-obatan lain adalah 10-50 mg/hari11.8 Rifampisin di Indonesia terdapat dalam bentuk kapsul 150 mg dan 300 mg. Rifampisin merupakan obat yang sangat efektif untuk pengobatan tuberkulosis dan sering digunakan bersama isoniazid untuk terapi tuberkulosis jangka pendek. Hanya dituliskan sebanyak 1 tablet.Tuberkulosis. tetapi tidak bersifat aditif terhadap etambutol. • Rifampisin Rifampisin adalah derivat semisintetik rifamisin B yaitu salah satu anggota kelompok antibiotik makrositik yang disebut rifamisin. Rifampisin meningkatkan aktivitas streptomisin dan isoniazid terhadap M. Rifampisin menghambat pertumbuhan berbagai kuman gram-positif dan gram-negatif. demam.isoniazid. Efek sampingnya beraneka macam. mual dan muntah. penisilamin yang bekerja sebagai antagonis piridoksin dan atau meningkatkan ekskresinya melalui urin. hidralazin. Frekuensi pemberian obat sudah sesuai yaitu satu kali sehari.

Frekuensi pemberian obat sudah sesuai yaitu satu kali sehari. Dihubungkan dengan kondisi penyakit sendiri yaitu pasien anak yang menderita TB kelenjar sudah beberapa bulan. Pemberian obat dalam bentuk puyer untuk anak usia 4 tahun sudah rasional.8 Dosis rifampisin yang sesuai pada kasus berdasarkan berat badannya 19 kg seharusnya antara 190-380 mg per hari.5.badan lebih dari 50 kg ialah 600 mg/hari. karena umur tersebut anak masih belum bisa menelan tablet atau kapsul apalagi dalam jumlah banyak. maka BSO ini sudah cukup rasional. Untuk anak-anak dosisnya 10-20 mg/kgBB per hari dengan dosis maksimum 600 mg/hari.. masih rasional diberikan dalam bentuk puyer.2. obat tersebut diubah dalam bentuk pulveres. Obat yang diracik menjadi puyer adalah isoniazid dengan vitamin B6 dan rifampisin. 2. karena kemungkinan anak masih belum bisa menelan pil. Untuk sediaan obat. . ketiga obat tersebut berbentuk tablet dan cocok untuk dijadikan puyer. Pemberian dosis pada kasus yaitu sebesar 200 mg sudah sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Berdasarkan usia anak yaitu 4 tahun. Bentuk Sediaan Obat Pada resep kali ini bentuk sediaan yang diberikan adalah bentuk sediaan puyer (pulveres).

Vitamin B6 sebagai multivitamin untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin B6.8 Interaksi antara isoniazid dengan rifampisin juga tidak ada dilaporkan.8 . obat ini harus digunakan bersama obat tuberkulosis lain. Untuk tujuan terapi. penggunaannya sering diberikan dalam kombinasi dengan isoniazid.2.2. Untuk isoniazid dan vitamin B6. Untuk puyer pertama terdiri dari kombinasi isoniazid dan vitamin B6. Sebaliknya. yaitu isoniazid. Interaksi Obat Obat yang diberikan pada kasus ini yaitu 3 jenis. pemberian vitamin B6 sangat dianjurkan pada pengobatan isoniazid karena isoniazid dapat menyebabkan anemia dan vitamin B6 yang diberikan dalam dosis besar dapat mengembalikan gambaran darah yang normal kembali. vitamin B6 dan rifampisin.Tuberkulosis. Ketiga obat tersebut diberikan secara oral dan dibuat dalam sediaan puyer. Isoniazid merupakan obat tuberkulosis lini-pertama bersama dengan rifampisin. Isoniazid bekerja menghambat biosintesis asam mikolat yang merupakan unsur penting dinding sel mikobakterium. Rifampisin meningkatkan aktivitas streptomisin dan isoniazid terhadap M. tidak ada dilaporkan memiliki interaksi yang saling menghambat diantara kedua obat tersebut. Sebaliknya.6.

Isoniazid Reaksi hipersensitivitas mengakibatkan demam. Vitamin B6 Piridoksin dapat menyebabkan neuropati sensorik atau sindrom neuropati dalam dosis antara 50 mg-2 gram per hari untuk jangka panjang.7 Efek Samping Obat a. rasa tertekan pada ulu hati. Selain itu isoniazid dapat menimbulkan ikterus dan kerusakan hati yang fatal akibat terjadinya nekrosis multilobular. makulopapular. Reaksi hematologik dapat juga terjadi seperti agranulusitosis.8 b. tinnitus dan retensi urin. Bila pasien sebelumnya telah mempunyai predisposisi defisiensi piridoksin. dan urtikaria. eosinofilia.2. Neuritis optik dengan atropi dapat juga terjadi. Isoniazid dapat mencetuskan terjadinya kejang pada pasien dengan riwayat kejang. Efek samping lainnya yang terjadi adalah mulut terasa kering. Gejala awal dapat berupa sikap yang tidak stabil dan rasa kebas di kaki. methemoglobinemia. Gejala berangsur-angsur hilang setelah beberapa bulan bila asupan piridoksin dihentikan. dan anemia. berbagai kelainan kulit berbentuk morbiliform. pemberian INH dapat menimbulkan anemia. trombositopenia. Penggunaan obat ini pada pasien yang menunjukkan adanya kelainan fungsi hati akan menyebabkan bertambah parahnya kerusakan hati.2. diikuti pada tangan dan sekitar mulut.8 .

2. Pada rekam medik diketahui keluhan pasien pertama kali datang ke RS ialah panas ±2 hari disertai sesak saat berbaring dan terdapat benjolan di daerah leher. Pada pemberian berselang dengan dosis lebih besar sering terjadi flu like syndrome.c. Yang menjadi masalah ialah ikterus. Trombositopenia. ataksia. pening. demam. isoniazid. sakit pada tangan dan kaki. nefritis interstisial. leukopenia sementara. Kemudian anak diberikan pengobatan selama 2 bulan dengan obat rifampisin. dan melemahnya otot dapat juga terjadi. Dan pada tanggal 6 juni . sakit kepala. Rifampisin Rifampisin jarang menimbulkan efek yang tidak diingini. sukar berkonsentrasi. Diagnosis sebelumnya dipuskesmas ialah acute tonsilitis. mengantuk.8 Analisis Diagnosis Anamnesis kasus di atas kurang lengkap dan sangat tidak jelas sehingga tidak dapat menerangkan gambaran secara tepat penyakit pasien tersebut. Kemudian dilakukan pemeriksaan FNAB di RS Ulin pada benjolan di leher dan didapatkan hasil bahwa pasien anak menderita limfadenitis TBC. nekrosis tubular akut dan trombositopenia. Yang paling sering ialah ruam kulit. Berbagai keluhan yang berhubungan dengan sistem saraf seperti rasa lelah. Hanya tertulis diagnosis RS ialah TB kelenjar. mual dan muntah. dan anemia dapat terjadi selama terapi berlangsung.8 2. vitamin B6 dan pirazinamid. bingung.

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah yang menonjol di Indonesia. Diperkirakan jumlah kasus TB anak pertahun adalah 5% sampai 6% dari seluruh kasus TB.2011 (pembuatan resep) pasien kontrol kembali dan diberikan obat lanjutan yaitu isonizid. Di Indonesia. Kelompok usia terbanyak adalah 12-60 bulan (42. Bahkan Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara dengan jumlah kasus terbanyak di dunia. Tuberkulosis pada anak berusia kurang dari 15 tahun di negara berkembang adalah sebesar 15% dari seluruh kasus TB. Jumlah seluruh kasus TB anak dari 7 Rumah Sakit Pusat Pendidikan di Indonesia selama 5 tahun (1998-2002) adalah 1086 penderita dengan angka kematian antara 0% sampai 14. TB juga merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di negara berkembang. vitamin B6 dan rifampisin. Laporan mengenai TB anak jarang didapatkan. tuberkulosis pada pemeriksaan sputum.5%. yaitu sedikitnya jumlah kuman dan sulitnya pengambilan spesimen (sputum).9%) sedangkan untuk bayi (usia kurang 12 bulan) sebanyak 16. 10% dari seluruh kasus terjadi pada anak di bawah usia 15 tahun.1%. Kesulitan menegakkan diagnosis pasti pada anak diakibatkan oleh dua hal. sedangkan di negara maju sekitar 5-7%.11 .11 Diagnosis pasti TB ditegakkan dengan ditemukannya M. Lebih dari 4000 orang meninggal perhari karena penyakit yang disebabkan oleh TB di seluruh dunia. bilasan lambung atau cairan dan biopsi jaringan tubuh lainnya.

Untuk kategori II pasien diberikan 2 bulan pertama dengan isoniazid. etambutol dan .Tabel 1. pirazinamid dan etambutol dan diikuti 4 bulan selanjutnya dengan isoniazid dan rifampisin (2HRZE 4HR). rifampisin. pirazinamid. rifampisin. Kategori klinis dan keadaan klinis pada pasien anak dengan tuberkulosis10 Pasien yang tergolong kategori I diberikan pengobatan selama 2 bulan dengan isoniazid. Pasien dengan Tuberkulosis CNS dan osteartikular tuberkulosis diberikan pengobatan dengan 2HRZE 10HR.

rifampisin dan etambutol (2SHRZE/1HRZE/5HR). yaitu:12 1. Pemakaian obat tunggal dalam pengobatan tuberkulosis 2. pirazinamid 25-30 mg/kgbb/hari. rifampisin. Pasien dengan kategori III diberikan pengobatan selama 2 bulan pertama dengan isoniazid. Dosis isoniazid yang diberikan adalah 5-7 mg/kgbb/hari.10 Ada beberapa hal penyebab terjadinya resitensi terhadap obat anti tuberkulosis. misalnya hanya dimakan dua atau tiga minggu lalu berhenti.streptomisin yang diikuti 1 bulan selanjutnya dengan isoniazid. setelah dua bulan berhenti kemudian berpindah dokter mendapat obat kembali selama dua tau tiga bulan lalu berhenti lagi. rifampisin. misalnya memberikan rifampisin dan INH saja pada daerah dengan resistensi terhadap kedua obat tersebut sudah cukup tinggi.lalu dilanjutkan dengan 5 bulan dengan isoniazid. Penggunaan paduan obat yang tidak adekuat. Pasien dengan kategori IV diberikan pengobatan setidaknya dengan tiga obat baru yang belum pernah digunakan sebelumnya oleh pasien. . pirazinamid dan etambutol. rifampisin 10-12 mg/kgbb/hari. etambutol 15-20 mg/kgbb/hari dan streptomisin 20 mg/kgbb/hari. Pemberian obat yang tidak teratur. 3. demikian seterusnya. yaitu jenis obatnya yang kurang atau di lingkungan tersebut telah terdapat resistensi yang tinggi terhadap obat yang digunakan. dan obat tersebut diteruskan selama 24 bulan. dan pirazinamid dan diikuti 4 bulan berikutnya dengan isoniazid dan rifampisin (2HRZ/4HR).

kadang-kadang terhenti pengirimannya sampai berbulan-bulan. 5. maka penambahan (addition) satu macam obat hanya akan menambah panjangnya daftar obat yang resisten saja. 6.4. Fenomena “addition syndrome” yaitu suatu obat ditambahkan dalam suatu paduan pengobatan yang tidak berhasil. Bila kegagalan itu terjadi karena kuman TB telah resisten pada paduan yang pertama. . Penggunaan obat kombinasi yang pencampurannya tidak dilakukan secara baik sehingga mengganggu bioavailabilitas obat. Penyediaan obat yang tidak regular.

Usulan Penulisan Resep (p= 10cm.05 Kecamatan Banjarmasin Tengah .l. L=15 cm) PROPINSI PEMERINTAH DAERAH TINGKAT I KALIMANTAN SELATAN RUMAH SAKIT UMUM “ULIN” BANJARMASIN Nama Dokter : dr.Adithya Dharmawan : 4 tahun : 19 kg : Gg.f. R.a pulv.XXX Pro Umur BB Alamat : M.A UPF/Bagian : Poli Tumbuh Kembang Tanda Tangan Dokter Kelas I/II/III/Utama Banjarmasin.d.d. II Rt.pulv I a. S.c. Sp.S.Wiken P.d. 100mg 200mg 10mg No.t. 6 Juni 2011 R / Isoniazid Rifampisin Vitamin B6 m. s.d.

2.BAB III PENUTUP 3. Tepat dosis Pada resep ini sudah tepat dosis. Mengenai waktu penggunaan obat tidak dituliskan dengan jelas kapan obat seharusnya diminum. hal ini sudah tepat sesuai dengan keadaan pasien yang masih bisa menelan obat. 5. . Berdasarkan analisis maka dapat disimpulkan bahwa resep tersebut masih ada beberapa kekurangan dan waktu pemberian juga tidak dicantumkan. Tepat penderita Penggunaan obat telah sesuai dengan keadaan pasien anak-anak. 3. 4. maka resep tersebut : 1.1 Kesimpulan Berdasarkan analisis resep diatas dan berdasarkan 5 tepat pada resep rasional. Tepat cara dan waktu penggunaan obat Pada resep ini obat diberikan per oral. Tepat obat Pemilihan obat dalam kasus ini sudah tepat sesuai dengan indikasi penyakit. Tepat bentuk sediaan Penulisan kurang jelas namun bentuk sediaan yang diberikan sudah tepat yaitu pemberian puyer (pulveres) cocok untuk anak-anak yang belum bisa menelan tablet.

Saran Pengobatan tuberkulosis pada anak sangat perlu diperhatikan karena pengobatan tuberkulosis itu sendiri harus rutin dan tidak boleh terputus. sehingga harus benar-benar diawasi dan terkontrol agar tidak terjadi resistensi terhadap obat-obatannya.2.selain itu pemberian dosis harus tepat sesuai dengan panduan tata laksana tuberkulosis pada anak.3. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful