P. 1
hilo

hilo

|Views: 8|Likes:
Published by Rezki Harisoe
hutyty
hutyty

More info:

Published by: Rezki Harisoe on Jan 15, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/01/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Dalam ilmu kedokteran pada umumnya kita mengenal suatu cara untuk memberikan nama penyakit dengan usaha menyusun kumpulan gejala menjadi sindroma dan dari sindroma menjadi diagnosa; kemudian dengan adanya diagnosa perlu diberikan nomenklatur dari penyakit tersebut yang disetujui bersama agar dapat berarti. Alam perasaan seseorang dapat berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi tertentu yang dialaminya. Suasana alam perasaan seseorang mungkin normal, meninggi atau bahkan terdepresi. Orang normal dapat mengalami berbagai macam suasana perasaan dan memiliki ekspresi afektif yang sama luasnya; mereka mampu mengendalikan suasana perasaan dan afeknya. Lain halnya dengan seseorang yang mengalami gangguan pada alam perasaannya. Olehsebab itu, sangat penting untuk mengetahui tentang gangguan alam perasaan tersebut. Gangguan alam perasaan adalah suatu kondisi klinis yang ditandai oleh hilangnya kendali perasaan akibat pengalaman subjektif yang berhubungan dengan penderitaan berat. Pasien dengan suasana perasaan yang meninggi (elevated) yaitu mania, menunjukkan sikap meluap-luap, gagasan yang meloncat-loncat (flight of ideas), penurunan kebutuhan tidur, peninggian harga diri, dan gagasan kebesaran. Pasien dengan suasana perasaan terdepresi (yaitu depresi) merasakan hilangnya energi dan minat, perasaan bersalah, kesulitan berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan dan fikiran tentang kematian atau bunuh diri. Tanda dan gejala lain dari gangguan susana perasaan adalah perubahan tingkat aktivitas, kemampuan kognitif, pembicaraan dan fungsi vegetatif (seperti tidur, nafsu makan, aktivitas seksual dan irama biologis lainnya). Perubahan tersebut hampir selalu menyebabkan gangguan fungsi interpersonal, sosial, dan pekerjaan. Sekelompok penyakit yang bervariasi antara berat dan gejala utamanya adalah perubahan mood yang secara periodic berganti-ganti antara mania dan depresi, biasanya diikuti oleh gejala-gejala lain yang khas. Tentang gangguan ini akan saya jelaskan pada bab berikutnya.

1

urin dan LCS pada pasien dengan gangguan bipolar. faktor genetika dan faktor psikososial. pola penurunan genetika adalah jelas melalui mekanisme yang kompleks. Penelitian Keluarga.rekuren B. Faktor Biologis Sejumlah besar penelitian telah melaporkan kelainan di dalam metabolit amin biogenik seperti 5-hydroxyndoleacetic acid (5-HIAA). Klasifikasi Bipolar I digolongkan ke dalam 2 tipe berdasarkan kriteria di bawah ini : . Disamping itu. tetapi faktor non genetik kemungkinan memainkan peranan kausatif dalam perkembangan gangguan suasana perasaan pada sekurangnya beberapa orang. Tetapi. Faktor penyebab dibagi menjadi 2 faktor biologis. b. Bukan saja tidak mungkin untuk menyingkirkan efek psikososial. Etiologi Banyak usaha untuk mengenali suatu penyebab untuk gangguan bipolar I. Penelitian keluarga telah secara berulang menemukan bahwa sanak saudara derajat pertama dari penderita gangguan bipolar I berkemungkinan 8 sampai 18 ali lebih besar dari pada sanak saudara derajat pertama subjek kontrol untuk menderita gangguan bipolar I sampai 10 kali lebih mungkin menderita gangguan depresi berat. terdapat komponen genetika yang lebih kuat untuk transmisi gangguan bipolar I.episode manik tunggal . Faktor Genetika Data genetik dengan kuat menyatakan bahwa suatu faktor penting di dalam perkembangan gangguan suasana perasaan adalah genetika.BAB II GANGGUAN BIPOLAR I A. a. homovanilic acid (HVA) dan 3-methoxy-4-hydroxyphenylglycol (MHPG) di dalam darah. Penelitian keluarga juga 2 .

terdapat kemungkinan 50% . kakak). Penelitian Kembar. Jika 1 orang tua menderita gangguan bipolar I. sanak saudara derajat kedua (sebagai contohnya. c.5 kali lebih besar daripada sanak saudara derajat pertama subjek kontrol untuk menderita gangguan bipolar I untuk menderita gangguan depresi berat. Satu pengamatan klinis yang telah lama yang telah direplikasi adalah bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan suasana 3 . angka kesesuaian pada kembar dizigotik adalah kira-kira 5%–25% untuk gangguan bipolar I. penelitian adopsi tersebut telah menemukan bahwa anak biologis dari orang tua yang menderita gangguan tetap berada dalam resiko menderita suatu gangguan mood. jika kedua orantua menderita gangguan bipolar I. bahkan jika mereka dibesarkan oleh keluarga angkat yang tidak menderita gangguan. Penelitian terhadap anak kembar telah menunjukkan bahwa angka kesesuaian untuk gangguan bipolar I pada kembar monozigotik adalah 33% sampai 90%. terdapat kemungkinan 25% bahwa anaknya menderita suatu gangguan mood. Penelitian keluarga telah menemukan bahwa kemungkinan menderita suatu gangguan suasana perasaan menurun saat derajat hubungan kekeluargaan melebar. Sebaliknya. Untuk gangguan depresi berat angka kesesuaian pada kembar monozigotik adalah kira-kira 50%.75% anaknya menderita suatu gangguan mood. Faktor Psikososial Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan.menemukan bahwa sanak saudara derajat pertama dari penderita gangguan depresi berat berkemungkinan 1. tergantung pada penelitian tertentu. Pada intinya. Penurunan gangguan bipolar I juga ditunjukkan oleh fakta bahwa kira-kira 50% semua pasien gangguan bipolar I memiliki sekurangnya 1 orang tua dengan 1 gangguan mood.5 sampai 2. Penelitian Adopsi. Sebagai contohnya. paling sering gangguan depresi berat. sepupu) lebih kecil kemungkinannya menderita dari pada sanak saudara derajat pertama (sebagai contohnya.

Ia mengerti siklus manik-depresif sebagai pencerminan kegagalan pada masa anak-anak untuk mendapatkan introjeksi mencintai. mereka berguna yang karakteristik untuk pasien depresi melebihi perasaan bahwa orang tua internal mereka yang baik telah ditransformasikan menjadi penyiksa karena khayalan dan impuls destruktif pasien. Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa adanya gangguan kepribadian tertentu adalah berhubungan dengan perkembangan gangguan bipolar I kemudian. 4 .perasaan daripada episode selanjutnya. Ia menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan pasien depresi diarahkan secara internal karena identifikasi dengan objek yang hilang. sedangkan orang yang berkabung tidak demikian.sebagai akibat dari destruksi yang dikhayalkan tersebut. Melanie Klein selanjutnya menghubungkan depresi dengan posisi depresif. pasien depresi menderita akibat permasalahan bahwa mereka mungkin memilki objek cinta yang dihancurkan melalui destruktivitas dan ketamakan mereka sendiri. menyangkal adanya agresi atau destruktivitas terhadap orang lain. Tetapi gangguan distimik dan gangguan sikotimik adalah berhubungan dengan perkembangan gangguan bipolar I kemudian. Dalam upaya untuk mengerti depresi. Sigmund Freud mendalilkan suatu hubungan antara kehilangan suatu objek dan melankolia. Faktor psikoanalitik dan psikodinamika. Di dalam pandangannya. Hubungan tersebut telah dilaporkan untuk pasien gangguan depresif berat dan gangguan bipolar I. Ia membedakan melankolia atau depresi dari duka cita atas dasar bahwa pasien terdepresi merasakan penurunan harga diri yang melanda dalam hubungan dengan perasaan bersalah dan mencela diri sendiri. Freud percaya bahwa introjeksi mungkin merupakan cara satu-satunya bagi ego untuk melepaskan suatu objek. Klien memandang mania sebagai kumpulan operasi defensif yang disusun untuk mengidealisasikan orang lain. dan mengembalikan objek cinta yang hilang.

sebagai akibatnya mereka putus asa dan sebagai akibatnya mereka merasa putus asa dan tidak berdaya. interpretasi yang keliru (misinterpretation) kognitif yang sering adalah melibatkan distorsi negatif. depresi dapat disimpulkan sebagai keruntuhan parsial atau lengkap dari harga diri di dalam ego. depresi dapat membaik jika klinisi mengisi pada pasien yang terdepresi suatu rasa pengendalian dan penguasaan lingkungan. Pada intinya. Teori kognitif. atau idealisasi tidak datang dari orang yang bermakna. Menurut teori kognitif. orang yang terdepresi merasakan suatu ketidaklengkapan dan putus asa karena tidak menerima respon yang diinginkan. dan keputusasaan. Ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness). Heinz Kohut mendefinisikan kembali depresi di dalam istilah psikologi diri. Di dalam percobaan dimana binatang secara berulang dipaparkan dengan kejutan listrik yang tidak dapat dihindarinya. Jika pasien terdepresi menyadari bahwa mereka tidak hidup sesuai dengan idealnya. Pandangan negatif yang dipelajaritersebut selanjutnya menyebabkan perasaan 5 . kita dapat menemukan keadaan ketidakberdayaan yang mirip. Mereka belajar bahwa mereka tidak berdaya. Pada manusia yang terdepresi. respon tertentu di dalam lingkungan adalah diperukan untuk mempertahankan harga diri dan perasaan kelengkapan.Bibring memandang depresi sebagai suatu keadaan afektif primer yang tidak dapat melakukan apa-apa terhadap agresi yang dihadapkan ke dalam. pengalaman hiup. Selain itu. Di dalam pengertian tersebut. binatang akhirnya menyerah dan tidak melakukan usaa sama sekali untuk menghindari kejutan selanjutnya. Jika objek diri yang diperlukan untuk bercermin. ia memandang depresi sebagai suatu afek yang berasal dari ketegangan di dalam ego antara aspirasi seseorang dan kenyataan seseorang. pesimisme. kekembaran. penilaian diri yang negatif. Menurut teori ketidakberdayaan yang dipelajari. Klinisi menggunakan teknik perilaku berupa dorongan yang menyenangkan dan positif di dalam usaha tersebu.

tetapi hal tersebut mungkin mencerminkan onset awal atau percekcokan perkawinan yang diakibatkannya yang karakteristik untuk gangguan tersebut. keluarganya dan masyarakat adalah cukup besar.depresi. C. Usia timbul sebelum 30 tahun. Secra luas 6 . pasien harus mengalami episode manik pertamanya untuk dapat memanuhi kriteria diagnostik gangguan bipolar I. Gangguan Bipolar I Suatu sindroma dengan kumpulan gejala mania yang lengkap selama perjalanan gangguan. Menurut PPDGJ II. Biasanya pasien dengan gangguan bipolar lebih sering bercerai dan hidup sendirian daripada orang yang menikah. episode manik tunggal (tabel 151-10). D. Gangguan bipolar mempunyai prevalensi yang sama pada laki-laki dan wanita. Logikanya terletak pada kenyataan bahwa pasien yang menderita episode depresi gangguan bipolar I pertamanya tidak dapat dibedakan dari pasien dengan gangguan depresif berat. seperti mencatat dan secara sadar memodifikasi pikiran pasien. dengan rata-rata usia adalah 30 tahun. Bahwa episode manik yang jelas dicetuskan oleh anti depresan adalah tidak indikatif untuk gangguan bipolar I. Epidemiologi Gangguan bipolar I mempunyai prevalensi seumur hidup sekitar dua persen. terentang dari masa anak-anak (usia 5 atau 6 tahun) sampai 50 tahun atau bahkan lebih lanjut pada kasus yang jarang. Seorang ahli terapi kognitif berusaha untuk mengidentifikasi negatif dengan menggunakan tugas perilaku. suatu suasana perasaan yang meluap-luap atau lekas marah merupakan tanda dari episode manik. Onset gangguan bipolar lebih awal. DSM IV memiliki suatu daftar kriteria untuk episode manik (tabel 151-7). Biaya gangguan bipolar I untuk pasien. Gangguan Bipolar I. sama dengan angka untuk skizofrenia. episode manik tunggal Menurut DSM IV.

jangka waktunya tidak ditentukan). yaitu perhatiannya terlalu cepat tertarik pada stimulus luar yang tidak penting atau yang tidak berarti. ekspansif atau iritabel. B. paling sedikit terdapat tiga gejala menetap dan cukup berari (atau apabila afeknya yang hanya iritabel. dengan peningkatan cepat dari gejalagejala dalam waktu beberapa hari. mudah teralih perhatian. peningkatan aktivitas (di tempat kerja.episode manik timbul secara mendadak. dalam hubungan sosial atau seksual) atau ketidaktenangan fisik 2. misalnya belanja berlebihan. Kriteria Diagnostik Menurut PPDGJ II Kriteria Diagnostik A. yang dapat bertaraf waham) 5. tingkah 7 . 7. lompat gagasan (flight of ideas) atau penghayatan subjektif bahwa pikirannya sedang berlomba. 4. paling sedikit terdapat empat gejala) dari yang berikut : 1. Episode-episodenya biasanya berlangsung selama beerapa hari hingga beberapa bulan dan berlangsung lebih singkat serta berakhir lebih mendadak. lebih banyak berbicara dari lazimnya atau adanya dorongan untuk berbicara terus menerus 3. Peningkatan atau iritabilitas afek (mood) itu harus merupakan bagian yang paling menonjol dari penyakit itu dan berlangsung secara relatif persisten. rasa harga diri yang melambung (grandiositas. Dalam jangka waktu paling sedikit satu minggu (atau apabila keadaan itu memerlukan perawatan. meskipun keadaan itu dapat silih berganti atau bercampur (intermingle) dengan afek depresif. Terdapat satu atau lebih periode yang jelas (kurun waktu) dimana yang secara predominan menonjol adalah afek (mood) yang meningkat. berkurangnya kebutuhan tidur 6. keterlibatan berlebih dalam aktivitas-aktivitas yang mengandung kemungkinan resiko tinggi dengan akibat yang merugikan apabila tidak diperhitungkan secara bijaksana.

gangguan bipolar I. campuran DSM-III-R mendefinisikan gangguan bipolar tipe campuran ditandai oleh keadaan depresif manik yang berganti-ganti dengan cepat atau oleh adanya gejala depresif atau manik bersama-sama. penanaman modal secara bodoh. gangguan skizofreniform (episode skizofrenia akut) atau gangguan paranoid. Preokupasi dengan waham atau halusinasi yang tidak serasi afek 2. seperti intoksikasi zat (catatan : suatu episode manik adalah gangguan patologik yang mirip tapi tidak seberat episode manik). Tidak disebabkan oleh suatu gangguan mental organik. episode dianggap terpisah jika mereka dipisahkan oleh sekurangnya dua bulan tanpa gejala penting mania atau hipomania. Tingkah laku aneh D. E. DSM IV menyebutkan kriteria diagnostik untuk gangguan bipolar I rekuren didasarkan pada gejala episode yang paling akhir. mengemudi kendaraan (ngebut) secara tidak bertanggungjawab dan tanpa perhitungan. Gangguan Bipolar I. Gangguan bipolar I. 8 . Dalam DSM IV. DSM IV mengklasifikasikan ulang kondisi yang berubah-ubah dengan cepat sebagai suatu penentu perjalanan penyakit. Apabila sindroma afektif (kriteria A dan B di atas) tidak ada (yaitu sebelum sindroma afektif timbul atau sesudah mereda/remisi) tidak terdapat satupun dari gejala berikut ini : 1. Rekuren Masalah tentang definisi akhir suatu episode depresi juga berlaku untuk definisi akhir suatu episode mania. episode terakhir. C.laku seksual secara terbuka. dengan demikian meninggalkan klasifikasi keadaan campuran untuk pasien gangguan bipolar I yang secara bersama-sama memenuhi kriteria diagnostik lengkap untuk suatu episode depresif berat dan kriteria diagnostik untuk suatu episode manik. Tidak bertumpang tindih (superimposed) pada (kelompok) skizofrenia.

Gangguan bipolar I dengan onset awal tersebut disertai prognosis buruk. Farmakoterapi Pengobatan gangguan bipolar I telah diubah oleh banyak penelitian yang telah membuktikan kemajuan dua dari anti konvulsan –karbamazepin dan valproat. obat lini kedua sekarang termasuk anti konvulsan lain (clonazepin).di dalam pengobatan episode manik dan depresif pada gangguan bipolar I. Beberapa pasien gangguan bipolar I mengalami episode yang berulang dengan cepat. Terapi Terapi pada gangguan bipolar ini adalah secara farmakoterapi dan psikoterapi i. Gangguan bipolar I dapat mengenai anak yang sangat muda maupun lanjut usia. kemungkinan hanya 50-60 persen pasien mencapai pengendalian bermakna atas gejalanya dengan litium.E. 67% pada laki-laki) dan gangguan yang rekuren. F. insidensi gangguan bipolar pada anak dan remaja adalah kira-kira satu persen dan onset awalnya pada usia delapan tahun. G. Bila litium dan kemungkinan karbamazepin dan valproat adalah obat lini pertama untuk pengobatan gangguan bipolar I. Episode manik biasanya memiliki onset yang cepat (beberapa jam atau beberapa hari). tetapi dapat berkembang lebih dari satu minggu. Prognosis Gangguan bipolar I mempunyai prognosis lebih buruk daripada bipolar II. Kira-kira 40-50 persen pasien gangguan bipolar I memiliki episode manik dalam waktu dua tahun setelah episode pertama. Walaupun profilaksis litium memperbaiki perjalanan penyakit dan prognosisnya. Sebagian besar pasien menjalani episode depresif maupun manik walaupun 10-20 persen hanya mengalami episode manik. suatu penghambat saluran 9 . Perjalanan Penyakit Gangguan bipolar I paling sering dimulai dengan depresi (75% pada wanita.

e. pasien belajar untuk berfungsi di dunia dengan cara tertentu dimana mereka mendapat dorongan positif dari lingkungan. Terapi interpersonal Memusatkan pada satu atau dua masalah interpersonal pasien yang sedang dialaminya sekarang.kalsium (verapamil) dan anti psikotik khususnya clozapin. juga melatih kembali respon kognitif dan pikiran yang baru. fleksibel dan positif. c. terapi elektrokonvulsif adalah terapi lini ke dua lainnya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan perubahan pada struktur atau karakter kepribadian pasien. d. 10 . mengembangkan cara berfikir alternatif. Terapi keluarga Diindikasikan jika gangguan membahayakan perkawinan atau fungsi keluarga pasien. b. Psikoterapi a. ii. Terapi perilaku Dengan memusatkan pada perilaku mal adaptif di dalam terapi. bukan untuk hilangkan gejala. Terapi kognitif Tujuan : menghilangkan episode depresif dan mencegah rekurennya dengan membantu pasien mengidentifikasi dan uji kognitif negatif. Terapi berorientasi psikoanalitik Pendekatan psikoanalitik didasarkan pada depresi dan mania.

pola musiman. Pada DSM IV. beberapa peneliti telah menghipotesiskan bahwa gangguan bipolar II berhubungan dengan gangguan kepribadian ambang. 11 . Epidemiologi gangguan bipolar II tidak diketahui secara tepat karena baru diketahuinya gangguan ini. Walaupun klasifikasi gangguan bipolar II dengan gangguan suasana perasaan mengesankan hubungan erat dengan gangguan alam perasaan. dikenal gangguan bipolar (Reccurent Major Depressive Episodes with Hipomanic Episodes). cyclothymic Disorder. menunjukkan suatu predisposisi genetik yang unik. Kriteria diagnostik untuk gangguan bipolar II menyebutkan perubahan.BAB III GANGGUAN BIPOLAR II Bipolar II untuk pasien yang mempunyai episode depresi mayor dengan hanya episode hipomanik. frekuensi dan durasi tertentu untuk gejala hipomanik. kondisi cenderung diturunkan sebagai gangguan bipolar II. gangguan unipolar depresi. tetapi perjalanan gangguan diselingi oleh episode gejala manik ringan (yaitu. dan dengan onset pasca persalinan. Pasien dengan bipolar II mungkin tumpang tindih dengan gangguan kepribadian. Bipolar Disorder NOS dan Other Mood Disorder (a. Menurut DSM-III-R bila pasien tidak memenuhi kriteria untuk siklotimik. Gambaran klinis gangguan bipolar II menunjukkan gambaran gangguan depresif berat dikombinasikan dengan gambaran episode hipomanik. yaitu dengan perputaran cepat. mereka didiagnosis mempunyai gangguan bipolar yang tidak khas. Gangguan tersebut dinamakan gangguan bipolar II karena gangguan tersebut berada di dalam spektrum gangguan bipolar DSM-IV mendiagnosis sebagai gangguan bipolar II. Beberapa data menyatakan bahwa gangguan bipoar II berhubungan dengan kepribadian ambang. DSM-IV memungkinkan penentu sifat perjalanan penyakit berikut ini. episode hipomanik).l Mood Disorder Due to General Medical condition). Klinisi telah lama melaporkan bahwa pada beberapa pasien gejala utama tampaknya adalah episode depresif.

perkawinan dan onset pada usia yang lebih awal daripada gangguan bipolar I. Perjalanan penyakit dan prognosis gangguan bipolar II baru diteliti.gangguan kepribadian ambang Perbedaan antara gangguan bipolar II pada satu pihak dan gangguan depresif berat dan gangguan bipolar I pada pihak lain terletak pada penelitian klinis episode mirip manik. Pengobatan gangguan bipolar II harus dilakukan secara berhati-hati karena pengobatan episode depresif dengan anti depresan sering sekali dapat mencetuskan suatu episode manik. Diagnosis banding untuk pasien yang sedang diperiksa untuk diagnosis gangguan bipolar II termasuk : . namun data pendahuluan menyatakan bahwa keadaan ini adalah diagnosis yang stabil.gangguan depresif berat. 12 .gangguan bipolar I . Bukti-bukti juga menyatakan bahwa pasien gangguan bipolar II berada pada resiko lebih besar untuk berusaha dan untuk melakukan bunuh diri dibandingkan pasien gangguan bipolar I dan gangguan depresif berat. seperti yang ditunjukkan oleh tingginya kemungkinan bahwa pasien dengan gangguan bipolar II akan tetap memiliki diagnosis yang sama pada masa lima tahun kemudian.Walaupun datanya terbatas. dan . beberapa penelitian menyatakan bahwa gangguan bipolar II berhubungan dengan perceraian.

BAB IV KESIMPULAN Gangguan bipolar (manik-depresif) adalah suatu keadaan yang menyebabkan seseorang mengalami perubahan suasana perasaan yang ekstrim secara bergantian antara depresi dan mania. GABA. Apabila kadarnya ada yang menurun atau berlebihan dapat menimbulkan gangguan ini. Biasanya di derita oleh masyarakat sosioekonomi tinggi. 13 . Senyawa kimiawi di otak yang disebut neurotransmitter juga berperan sebagai faktor biologis. Selain itu juga terdapat faktor psikososial. Neotransmitter yang berperan adalah dopamine. Bukti menunjukkan bahwa ada faktor genetik di dalam perkembangannya. Gangguan bipolar sangat umum di masyarakat dimana antara laki-laki dan wanita sama banyak prevalensinya. Gangguan ini bisa muncul tiba-tiba tanpa ada pencetusnya. serotonin. Penyebab gangguan bipolar belum diketahui pasti. norepinefrin. Onset dari gangguan ini sering muncul antara usia 15 sampai 19 tahun.

1984 2. 1993. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. 1994. PPDGJ II. Fourth Edition. Direktorat Jenderal Pelayanan Medis. Williams Wilkins.DAFTAR PUSTAKA 1. Kaplan and Sadock’s. Edisi II Departemen Kesehatan R. 350-363 14 . Synopsis of Psychiatry I: 7th ed..I. hal. page. 133-134 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->