FILSAFAT ISLAM DAN OBJEK FILSAFAT A. Definisi Filsafat dan Filsafat Islam 1.

Filsafat menurut bahasa Kata-kata filsafat diucapkan „falsafah‟ dalam bahasa Arab, dan berasal dari bahasa Yunani Philosophia yang berarti „cinta kepada pengetahuan‟, dan terdiri dari dua kata, yaitu Philos yang berarti cinta (loving) dan Sophia yang berarti pengetahuan (wisdom, hikmah). Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut “Philosophos” atau “Failasuf” dalam ucapan Arabnya. Mencintai pengetahuan adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya, atau dengan perkataan lain orang yang mengabdikan kepada pengetahuan.[1] Dalam buku Filsafat Umum karangan Dr. Ahmad Tafsir, dikatakan bahwa Philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri dari atas Philo dan Sopiha ; Philo berarti cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; Sophia artinya bijaksana yang artinya pandai, pengertian yang dalam. Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa dari segi bahasa, filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak.[2] Dari berbagai sumber yang penulis baca semua filosof sepakat bahwa filsafat atau philosophia terdiri dari dua kata seperti yang telah penulis uraikan di atas. Dengan demikian pengertian filsafat menurut bahasa ialah cinta pengetahuan atau kebijaksanaan. Perkataan “filsafat” memang berasal dari perkataan Yunani, yang digunakan oleh orang Arab dalam masa ke-emasan Islam, yang biasa dinamakan juga “zaman-terjemah”, yaitu antara tahun 878 – 950 M. Seperti yang dikatakan oleh al-Farabi seorang filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina, bahwa perkataan “filsafat” itu berasal dari bahasa Yunani, ia masuk dan digunakan sebagai bahasa Arab. Perkataan asal ialah Philosophia, yang terdiri dari dua perkataan yaitu Philo yang berarti cinta dan Sophia yang berarti hikma atau kebenaran.[3] Plato menyebut Socrates sebagai seorang Philosophos (filosof) dalam

Filsafat (philosophia) kemudian menjadi sama artinya dengan kebijaksanaan (kearifan). Secara bertahap kata “sophis” (sophis. yang mempunyai asal kata sama dalam bahasa Arab dengan kata Fatsathah dengan arti yang sama. pencinta kebijaksanaan. Begeerte adalah nama benda. philosophia ( filosof) sebagai satu istilah teknis tidak dipakaikan pada seorang segera setelahnya. . sophistes) kehilangan arti aslinya dan kemudian menjadi berarti seseorang yang menggunakan hujah-hujah yang keliru. Sebelum Socrates ada satu kelompok yang menyebut diri mereka Sophist (kaum sophis) yang berarti para cendekiawan. diceritakan bahwa Aristoteles sendiri tidak menggunakannya.[5] Socrates karena kerendahan hati dan kemungkinan juga keinginan untuk menghindarkan pengidentifikasian dengan kaum sophis . yang biasanya dinamakan “wijs” (orang yang bijaksana). hakikat) dan menggunakan hujah-hujah yang keliru dalam kesimpulankesimpulan mereka.[6] Oleh sebab itu. Istilah philosophia juga tidak mempunyai arti yang definitif pada zaman itu. kita mempunyai kata sophistry ( cara berfikir yang menyesatkan). Mereka menjadikan persepsi manusia sebagai ukuran realitas (kebenaran. Wijs berarti cakap. Dalam bahasa Belanda didapati perkataan “ Wijsbegeerte”. istilah “philosophi” pertama kali digunakan dalam sekolah Socrates. Dengan demikian.pengertian seorang pencinta kebijaksanaan. melarang orang menyebut dirinya seorang sophis . menggantikan sophistes yang berarti sarjana dan gelar yang terakhir ini merosot derajatnya menjadi seorang yang menggunakan penalaran yang salah. atau pekerjaan. kemudian Plato menanamkan suatu ilmu pengetahuan tentang kegiatan jiwa manusia. suatu masdar yang berarti kerja atau pencarian yang dilakukan oleh para filosof. pandai atau bijaksana. pencinta kebenaran. Begeren. Oleh karena itu kata falsafah merupakan hasil Arabisasi. Jadi “wijs begeerte” berarti “kemauan yang keras untuk mendapatkan kecakapan seseorang yang bijaksana”. mengandung arti “menghendaki sekali” atau “ingin sekali”. Ia menyebut dirinya seorang filosof (philosophos). seorang cendekiawan.[4] Menurut sejarah filsafat.

Belakangan. Filsafat Menurut Istilah Pengertian filsafat menurut istilah yang diberikan oleh beberapa ahli yang terkadang jauh lebih luas dibandingkan dengan arti menurut bahasa. Masehi). Harun Nasution bukan berasal dari kata Arab falsafah dan bukan pula dari bahasa Barat philosophy .[10] Dari definisi di atas dapat dilihat adanya perbedaan dalam mendefinisikan filsafat antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. penggunaan istilah philosophia (filsafat) dan philosophos (filosof) semakin meluas. Perbedaan itu juga dapat muncul karena perkembangan filsafat itu sendiri yang menyebabkan beberapa pengetahuan khusus memisahkan diri dari filsafat. menyatakan bahwa: Filsafat itu tidaklah lain daripada pengetahuan tentang segala yang ada. Plato (427 – 347 Seb. Selanjutnya kata filsafat yang banyak terpakai dalam bahasa Indonesia. Perbedaan definisi ini menurut Abu Bakar Atjeh disebabkan oleh berbedaan konotasi filsafat pada tokoh-tokoh itu karena perbedaan keyakinan hidup yang dianut mereka. menurut Prof. sehingga gabungan antara keduanya dan menimbulkan kata filsafat ?[7] 2. filsuf Yunani yang termashur murid Socrates. para ilmuwan dan filosof sepakat memberi arti yang sama tentang filsafat tersebut.[8] Sementara Al Farabi ( wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina berkata: “Filsafat itu ialah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya”. Secara etimologi kata filsafat berasal dari bahasa Yunani.[9] Sedangkan Thomas Hobbes (1588 – 1679 M).[11] Di sini dapat diambil . seorang filosof Inggris mengemukakan: “Filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menerangkan perhubungan hasil dan sebab atau sebab dari hasilnya. Di sini dipertanyakan tentang apakah fil diambil dari bahasa Barat dan safah dari kata Arab. Dr. dan oleh karena itu senantiasa adalah suatu perubahan”.

Ibn Sina dan lain-lain. pendapat serta pemikiran mereka. AlFarabi. tampillah beberapa filosof seperti Al-Kindi. mengikuti sebutan yang diberikan Syahrastani. seorang ahli masalah ketimuran (Orientalis) Prof. kadang-kadang disebut juga dengan ungkapan “para hikmah Islam” (Falasifatul-Islam. Ketika filsafat muncul dalam kehidupan Islam. atau Al-falasifatul Islamiyyin atau Hukuma’ul-Islam).[12] Seusai upacara pembukaan Universitas Mesir. Definisi Filsafat Islam Pembahasan mengenai hal tersebut ada masalah yang dihadapi yaitu apakah filsafat itu bercorak Islam atau bercorak Arab. Dalam kesempatan itu ia menampilkan tentang penamaan tersebut dan mengupas beberapa tesis yang dibicarakan para ahli filsafat Islam dari kedua belah pihak (yaitu yang memberi nama Filsafat Islam dan yang memberi nama Filsafat Arab). Antara lain ia mengatakan sebagai berikut: “Setiap pembicaraan mengenai masa jahiliyah. Para penulis buku itu menyebut mereka “kaum filosof Islam”. karena pemberian nama lain tidak dibenarkan dan tidak boleh dikisrukan: “Maka kami berpendapat perlu menamakan filsafat itu dengan nama yang telah diberikan oleh ahli filsafat itu sendiri yaitu Filsafat Islam dengan arti bahwa filsafat tersebut lahir di negeri Islam dan berada di bawah pengayoman negara Islam”. makna sesungguhnya dan yang wajar dari kata-kata “Arab” tidak . 3. kaum sejarawan banyak menulis berbagai buku tentang kehidupan. Nellinuo memberikan ceramah tentang sejarah Ilmu Falak (Astronomi) di kalangan orang Arab. kemudian berkembang sehingga banyak dibicarakan oleh orang-orang Arab. Oleh sebab itu Syaikh Musthafa „Abdurrazaq mengatakan dalam bukunya yang berjudul Pengantar Sejarah Islam bahwa para ahli filsafat telah sepakat memberi nama demikian. ada pula yang menamakan “para filosof beragama Islam”. Al-Baihaqi dan lain-lain.kesimpulan bahwa perbedaan definisi filsafat antara satu tokoh dengan tokoh lainnya disebabkan oleh perbedaan konotasi filsafat pada mereka masing-masing. Al-Qithi‟. atau masa awal kelahiran Islam.

Ia mengatakan : “Jika kita berpegang pada penamaan Filsafat Arab. Courban. maka pemikiran itu menjadi sempit bahkan keliru. Karena itu ia mengatakan ilmu tersebut (filsafat) oleh orang-orang Arab diartikan ilmu yang ditulis dalam bahasa Arab. Lagipula saya sendiri menolak mengkaitkan pengertian keagamaan dengan tanah air atau kebangsaan tertentu. Akan tetapi. Karena itu istilah yang paling tepat dan benar ialah Filsafat Dalam Islam atau Filsafat Islam atau Filsafat di Negeri-Negeri Islam . saya tetap menolak memberikan predikat „ muslimah „ (musulman) pada filsafat tersebut. misalnya atau pemikiran Afdhul Kasyani dan para ahli pikir Persia (Islam) lainnya yang hidup pada abad ke-11 hingga abad ke-13. yang pada umumnya menggunakan Bahasa Arab dalam menulis buku-buku ilmiah. Sebab penamaan itu masih tetap mencakup keyakinan pribadi filosof yang bersangkutan. pengertian itu tidak bisa membawa kita ke pangkalan ilmu atau sastra. karena Islam bukan hanya aqidah atau keyakinan semata-mata melainkan juga peradaban dan sikap peradaban mencakup segi-segi kehidupan . Saya lebih suka menyebut Filsafat Islam.diragukan lagi menunjuk pada suatu bangsa yang bermukim di daerah Semenanjung yang dikenal dengan nama „Jazirah Arabiah‟.[15] Demikian juga pendapat Dr. seorang orientalis Perancis ahli tentang Islam dan Iran mempertahankan istilah Filsafat Islam. sukar sekali untuk berbicara tentang Ilmu Falak. Jika tidak menyebut mereka dengan “Arab”. India. Suriah. Dengan demikian istilah “Arab” mencakup orang Persia. Ibrahim Madzakur dengan pernyataan bahwa penamaan filsafat Arab tidak berarti pemikiran filsafat itu hasil karya suatu ras atau suatu bangsa. sedang filsafat islam mencakup segala hal-akhwal”. Bagaimana kita bisa menempatkan pemikiran Nashir Khasru. Turki. mereka tidak menuliskan pemikirannya kecuali dalam bahasa Persia. Barbar (Barbar = penduduk Afrika Utara) Andalusia dan lain-lain. kalau penamaan yang terakhir disebutkan terasa terlampau panjang dan dianggap kurang baik untuk dijadikan istilah.[14] Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa Nellinou menitikberatkan pendapatnya pada bahasa. Mesir. Yaitu orang dari berbagai kebangsaan yang menulis buku-buku ilmiah dalam bahasa Arab. karena sangat sedikit putera Qathan dan „Adnan)[13] yang memiliki kecerdasan berpikir. jika pembicaraan itu beralih ke abadabad berikutnya mulai abad pertama Hijriyah kata “Arab” berubah menjadi suatu istilah yang maknanya ialah segala bangsa dan rakyat yang bermukim di seluruh wilayah kerajaan Islam. Jika sebutan „ Arab „ dalam zaman kita dewasa ini mencakup pengertian politik dan kebangsaan dapat dibenarkan.

pemikiran dan perasaan. dalam buku al-Milal wan-Nihal dari as-Syihrisaani. karena kegiatan pemikirannya bercorak Islam. seperti an-Najat dan as-Syifa dari Ibn Sina. Namun pemikiran-pemikiran filsafat pada kaum Muslimin lebih tepat disebut „Filsafat Islam„. Pemikiran filsafat sudah barang tentu terpengaruh oleh kebudayaan Islam tersebut. pengingat bahwa Islam bukan saja sekedar agama. Sedangkan kalau yang dimaksud dengan Filsafat Islam ialah bahwa tersebut adalah hasil pemikiran kaum Muslimin semata-mata juga berlawanan dengan sejarah. Nasrani ataupun Yahudi. meskipun pemikiran tersebut adalah Islam baik tentang problema-problemanya. Islam disini menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran.moral. sebab bagaimana pun hidup dan suburnya pemikiran tersebut (filsafat) adalah di bawah naungan Islam dan kebanyakan karyanya ditulis dalam bahasa Arab. material. dan kegiatan mereka dalam berilmu dan berfilsafat selalu berhubungan dengan orang-orang Masehi dan Yahudi yang ada pada masanya. baik penulisnya orang Muslim. Dan dalam pemakaian istilah „ Filsafat Islam „ lebih banyak dipahami dalam buku-buku filsafat. Jadi Filsafat Islam ialah segala studi filsafat yang dilukis di dalam dunia Islam. dalam buku Akhbar al-Hukuma dari al-Qafi dan Muqqadimah Ibni Khaldun. Kalau yang dimaksud dengan „ Filsafat Arab „ ialah bahwa filsafat tersebut adalah hasil umat Arab semata-mata tidak benar. karena Islam telah memadu dan menampung aneka kebudayaan serta pemikiran dalam satu kesatuan. tetapi juga kebudayaan. karena mereka pertama-tama berguru pada aliran Nestorius dan Jacobitas dari golongan Masehi. sebab kenyataan menunjukan bahwa Islam telah mempersatukan berbagai umat dan kesemuanya telah ikut serta dalam memberikan sumbangannya dalam filsafat tersebut.[16] Sebenarnya perbedaan istilah tersebut hanya perbedaan nama saja.[17] Dengan demikian disimpulkan bahwa filsafat yang muncul dalam kehidupan Islam yang banyak dibicarakan oleh orang-orang Arab adalah Filsafat Islam . motif pembinaannya maupun tujuannya. Yahudi dan penganut agama Sabi‟ah. .

maka antara satu dengan lainnya menjadi saling mengatasbawahi.[19] Jadi jelaslah apa yang dikatakan al-Akhwani dalam bukunya Filsafat Islam bahwa Filsafat Islam adalah pembahasan meliputi berbagai soal alam semesta dan bermacam masalah manusia atas dasar ajaran-ajaran keagamaan yang turun bersama lahirnya agama Islam. Filsafat Islam adalah aqal dan al-Quran dalam hubungan yang bersifat dialektis.Filsafat disebut Islami bukan karena yang melakukan aktivitas kefilsafatan itu orang yang beragama Islam. terbayang di sana bahwa aktivitas kefilsafatan Islam menjadi sempit karena objeknya hanya al-Quran. Jika al-Quran mengatasi aqal maka aqal menjadi kehilangan peran sebagai subjek filsafat yang menuntut otonomi penuh. Tidak dapat ditinggalkannya al-Quran dalam filsafat Islam adalah lebih bersifat spiritual. sehingga al-Quran tidak membatasi aqal bekerja. Aqal sebagai subjek berfungsi untuk memecahkan masalah. Sebaliknya jika aqal mengatasi al-Quran. Hubungan dialektika aqal dan al-Quran bersifat fungsional. aqal tetap bekerja dengan otonomi penuh. komitmen itu adalah wawasan moralitas yang bersumber pada alQuran. Filsafat Islam tidak mungkin tanpa aqal dan al-Quran. atau orang yang berkebangsaan Arab atau dari segi objeknya yang membahas mengenai pokok-pokok keislaman. sedangkan al-Quran memberikan wawasan moralitas atas pemecahan masalah yang diambil oleh aqal.[20] .[18] Aqal dan al-Quran di sini tidak dapat dipahami secara struktural. Aqal sebagai subjek. Aqal yang memungkinkan aktivitas itu menjadi aktivitas kefilsafatan dan al-Quran juga menjadi ciri keislamannya. baik aqal mengatasi al-Quran atau sebaliknya al-Quran mengatasi aqal. dan sebagai subjek ia mempunyai komitmen. karena jika aqal dan al-Quran dipahami secara struktural yang menyiratkan adanya hubungan atas bawah yang bersifat subordinatif dan reduktif. Aqal dengan otonomi penuh bekerja dengan semangat Quranik. Hakekat Filsafat Islam ialah aqal dan al-Quran. Oleh karena itu.

Hakekat Manusia. cenderung untuk mengetahui segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada menurut akal pikirannya. Jadi luas sekali. Objek forma filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalamdalamnya sampai ke akarnya) tentang objek materi filsafat (sarwa-yang-ada). b.B. filsafat menyelidiki objek itu juga.[24] Dalam buku Filsafat Agama. yang pada garis besarnya dapat dibagi atas tiga persoalan pokok: a. maka manusia sesuai dengan tabiatnya.[22] Sedang objek forma filsafat tiada lain ialah mencari keterangan yang sedalam-dalamnya tentang objek materi filsafat (yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada).[23] Dari uraian tertera di atas jelaslah. Hakekat Alam dan c. tentang objek materia ini banyak yang sama dengan objek materia sains. Jadi objek filsafat ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya. Sains memiliki objek materia yang empiris.[21] Oleh karena itu manusia memiliki pikiran atau akal yang aktif. . tetapi bukan bagian yang empiris melainkan bagian yang abstrak. Objek filsafat ada dua yaitu Objek Materia dan Objek Forma. tulis Louis Katt Soff. Titik Temu Akal dengan Wahyu karangan Dr. H. “Objek filsafat itu bukan main luasnya”. yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin diketahui manusia. Objek Filsafat Isi filsafat ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan. Objek materia filsafat ialah Sarwa-yang-ada. objek yang dipikirkan oleh filsafat ialah segala yang ada dan yang mungkin ada. bahwa: 1. Hamzah Ya‟qub dikatakan bahwa objek filsafat ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya. Hakekat Tuhan. 2.

manusia dan kebudayaan. Oleh karena itu dipersoalkan adakah manusia mempunyai akal budi dan dapatkah akal budi itu mencari kebenaran? Dengan segera timbul pula soal. Ada Umum yakni menyelidiki apa yang ditinjau secara umum. Apakah manusia itu sebenarnya. baik yang material maupun yang ghaib. Filsafat akal budi ini disebut Epistimologi dan adapula yang menyebut Critica. adapun yang menyelidiki isi berpikir disebut logica mayor. 6. 3. apakah kemampuan-kemampuannya dan apakah pendorong tindakannya? Semua ini diselidiki dan dibahas dalam Antropologia.[26] Dalam hubungan ini objek kajian Filsafat Islam dalam tema besar adalah Tuhan. Dalam realitanya terdapat bermacam-macam yang kesemuanya mungkin adanya. Tanpa kepastian tentang logika. apakah kebenaran itu dan sampai dimanakah kebenaran dapat ditangkap oleh akal budi manusia. Maka penyelidikan tentang akal budi itu disebut Filsafat Akal Budi atau Logika. Ini disebut orang “Tuhan” dalam Bahasa Yunani disebut “Theodicea” dan dalam Bahasa Arab disebut “Ilah” atau “Allah”. 2.Di sinilah diketahui bahwa sesuatu yang ada atau yang berwujud inilah yang menjadi penyelidikan dan menjadi pembagian filsafat menurut objeknya ialah: 1. Ia merupakan asal adanya segala sesuatu. 4. Cosmologia ini ialah filsafat alam yang menerangkan bahwa adanya alam adalah tidak mutlak. “Ada tidak mutlak”. alam. Comologia. Dalam bahasa Eropa. dalam Bahasa Arab sering menggunakan Untulujia dan Ilmu Kainat. Logika: filsafat akal budi dan biasanya juga disebut mantiq. karena adanya dengan pasti. Adanya tidak berpermulaan dan tidak berpenghabisan ia harus terus menerus ada. Tegasnya tanpa akal budi takkan ada penyelidikan. yaitu filsafat yang mencari hakekat alam dipelajari apakah sebenarnya alam dan bagaimanakah hubungannya dengan Ada Mutlak. maka semua penyelidikan tidak mempunyai kekuatan dasar. ADA UMUM ini disebut “Ontologia” yang berasal dari perkataan Yunani “Onontos” yang berarti “ada”. Penyelidikan tentang bahan dan aturan berpikir disebut logica minor. karena manusia termasuk “ada yang tidak mutlak” maka juga menjadi objek pembahasan. sebab akal yang menyelidiki akal. Antropologia (Filsafat Manusia). sehingga dapat ditarik benang merah dari . Betapakah tingkah laku manusia yang dipandang baik dan buruk serta tingkah laku manusia mana yang membedakannya dengan lain-lain makhluk.[25] Adapun objek Filsafat Islam ialah objek kajian filsafat pada umumnya yaitu realitas. Akal budi adalah akal yang terpenting dalam penyelidikan manusia untuk mengetahui kebenaran. Ada Mutlak. 5. Perbedaannya terletak pada subjek yang mempunyai komitmen Qur’anik. sesuatu yang ada secara mutlak yakni zat yang wajib adanya. mungkin “ada” dan mungkin “lenyep sewaktu-waktu” pada suatu masa. Etika: filsafat yang menyelidiki tingkah laku manusia. Tema besar itu hendaknya dapat dijabarkan lebih spesifik sesuai dengan perkembangan zaman. tidak tergantung kepada apa dan siapapun juga. alam dan isinya adanya itu karena dimungkinkan Allah.

Hamzah Ya‟qub. Akal Dan Hati Sejak Thales Sampai James. Ke9. ke-5. Hanafi. cet. Filsafat dan Agama. et. cet. Ahmad Tafsir. h. Bulan Bintang. [1] A. (Semarang. h. MA. Dr. ke-2. (Bandung. Op.. Ilmu. Pustaka Firdaus.. 4 [11] Dr. PT. 15 . op. Hanafi. 11 [18] Dr. H. Ke-6. h. h. (Yogyakarta. Filsafat Islam. Ramadhani. (Jakarta. manusia dan kebudayaan. [14] Ahmad Fu‟ad Al-Ahwani. cet. 82-83 [9] Ibid [10] Dr. Sedangkan objek kajian Filsafat Islam itu sendiri mencakup Tuhan. MA. 1992). Cit. h. 1982). Bina Ilmu. Bulan Bintang. Aksiologis. h. Filsafat Agama: Titik Temu Akal Dengan Wahyu. cit.perkembangan sejarah pemikiran kefilsafatan yang hingga sekarang. Filsafat Islam. Historis. Cet. op. Epistimologis. h. H. ke-1. 11 [17] A. Perspektif. 6 [13] Dua kabilah tertua di Semenanjung Arabia yang secara umum dapat dipandang sebagai cikal bakal Bangsa Arab. cet. (Surabaya.. Setiap zaman mempunyai semangatnya sendiri-sendiri. alam. Harun Nasution. 1987). Hamzah Ya‟qub. h. (Jakarta. 9 [12] Ahmad Fu‟ad Al-Ahwani. h. 1990). Sejarah Filsafat Islam. (Jakarta. ke-2. cet. Pengantar Filsafat Islam. ke-1. h. cit. Endang Saifuddin Anshari. h. Dari keterangan di atas dapat dikatakan bahwa objek filsafat itu sama dengan objek ilmu pengetahuan bila ditinjau secara materia dan berbeda bila secara forma. Musa Asy-Arie. Filsafat Agama. Lembaga studi Filsafat Islam. 1991). ke-1. 8 [3] Prof. 12 [6] Ibid [7] Prof.. 3 [2] Dr. Kajian Ontologis.. 1992). 3 [5] Ibid. 3 [4] Dr. 9-10 [16] Ibid. cet. h. h. Remaja Rosda Jarya. Ahmad Tafsir. MA. Dr. H.. cit. 3 [8] H. op. Abu Bakar Aceh. Pedoman ilmu Jaya. h. 6-7 [15] Ibid. Filsafat Umum. h. (Jakarta. 1990). 1988). Al. cet.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful