I.

Subjektive (Anamnesis) 1. Identitas a. Nama b. Umur d. Alamat : An. Reno Agustin Agustin Ardana : 2 tahun : Kampung Karang Mazelo, Masbagik, Lotim

c. Jenis kelamin : laki – laki e. Nama orang tua: i. Ayah : Hariadi ii. Ibu g. Agama h. Suku
2. Keluhan utama 3. RPS

: Liza Hamzar : wiraswasta : Islam : Sasak : Operasi tahap II atresia ani : pasien dibawa ke RSUP NTB untuk melakukan operasi tahap

f. Pekerjaan orang tua

II atresia ani setelah operasi tahap I dilakukan saat pasien berumur 2 hari. Awalnya pasien tidak bias BAB disertai muntah saat setelah minum ASI dan perut kembung. Kemudian pasien dibawa ke puskesmas dan dari puskesmas dirujuk ke Rumah Sakit R. Soedjono Selong dan diketahui pasien mengalami atresia ani. Dari RS R Soedjono pasien dirujuk ke RSUP NTB daan setelah satu malam disana pasien dioperasi tahap I untuk pembuatan lubang di perut sebagai jalan keluar BAB dan dijadwalkan operasi tahap II setelah pasien berusia 2 tahun. Setelah operasi tahap II BAB pasien dari lubang yang diperut setiap ± 5 jam dan BAK ± 25 kali/ hari dan berwarna kuning.
4. RPD

: setelah dilakukan operasi tahap I pasien sering mengalami : di keluarga pasien tidak ada yang mengalami penyakit serupa

BAB encer, cair, kadang seperti ingus
5. RPK

6. Riwayat pengobatan : Farmakologis : 1. Atropin Sulfat 2. Prortigman 3. Forelax 4. Strealid 5. Novalgin 6. Ceto 1

Vital Sign 2. Resume Seorang anak laki – laki usia 2 tahun dibawa oleh orang tuanya ke RSUP NTB untuk menjalani operasi tahap II atresia ani.4 2. pelebaran vena. Selama hamil ibu tidak pernah konsumsi alkohol d. Imunisasi lengkap 9. Riwayat persalinan : a. Perkusi 5. Auskultasi 4. Infus 7. Objektive (Pemeriksaan Fisik) : tidak dilakukan karena pasien tidak kooperatif : : anak tidak tamapak kesakitan (hanya rewel) : bentuk abdomen datar. masa. stria. maupun gerakan peristaltik usus 3. ETT King no. Riwayat social : pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara II. Selama hamil ibu tidak pernah konsumsi jamu 8. pemebesaran organ. Palpasi : tidak dilakukan karena anak tidak kooperatif : tidak dilakukan karena anak tidak kooperatif : tidak dilakuakan karena anak tidak kooperatif III. Anak lahir normal pervaginum b. Catheter dan urine bag 3. Ibu memeriksakkan kandungannya setiap satu bulan sekali c. Khusus operasi. Abocath 5. Sopsilk 4.Cairan : 1. Riwayat kehamilan : a. Selama hamil ibu tidak pernah konsumsi rokok e. 2 . tidak ditemukan adanya sikatrik. pulsasi arteri aorta abdominalis. terlihat adanaya luka bekas 1. Umur kehamilan normal (9 bulan) b. Umum b. Inspeksi a. Operasi tahap I dilakukan saat pasien berusia 2 hari. RL/NaCl Alat-alat : 1.

Hindgut meluas dari midgut hingga ke membrana kloaka.Setelah lahir. 1. Sedangkan pada bayi perempuan. saluran pencernaan berasal dari foregut. 1. Fistula rektouretra merupakan kelainan yang paling banyak ditemui pada bayi lakilaki. pasien tidak bias BAB disertai muntah setiap minum ASI dan perut kembung. diikuti oleh fistula perineal. cair kadang seperti ingus. Setelah operasi tahap II BAB pasien dari lubang yang diperut setiap ± 5 jam dan BAK ± 25 kali/ hari dan berwarna kuning.1 Definisi Atresia ani atau anus imperforata atau malformasi anorektal adalah suatu kelainan kongenital tanpa anus atau anus tidak sempurna. Pasien kemudian dibawa ke Puskesmas dan dari puskesmas pasien dirujuk ke RS. sekum. IV. Hasil penelitian Boocock dan Donna di Manchester menunjukkan bahwa malformasi anorektal letak rendah lebih banyak ditemukan dibandingkan malformasi anorektal letak tinggi. Foregut akan membentuk faring. agenesis rekti dan atresia rekti. Esofageal. appendik. Landasan Teori ATRESIA ANI 1. Setelah operasi tahap I pasien sering mengalami BAB encer. Limb). Midgut membentuk usus halus. membrana ini tersusun dari endoderm 3 . Insiden 1:5000 kelahiran yang dapat muncul sebagai sindroma VACTRERL (Vertebra. R Soedjono Selong pasien dirujuk ke RSUP NTB dan serelah sehari disana dilakukan operasi tahap I untuk pembuatan lubang di perut sebagai jalan keluarnya BAB dan operasi tahap II dijadwalkan setelah pasien berusia 2 tahun. Renal. malformasi anorektal lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada perempuan. Secara umum. Dari RS.3 Embriologi Secara embriologi. termasuk didalamnya agenesis ani. midgut dan hindgut. jenis malformasi anorektal yang paling banyak ditemui adalah anus imperforata diikuti fistula rektovestibular dan fistula perineal. lambung sebagian duodenum. Anal. hati dan sistem bilier serta pankreas. sistem pernafasan bagian bawah. esofagus. R Soedjono Selong dan diketahui pasien mengalami atresia ani. kolon asenden sampai pertengahan kolon transversum.2 Epidemiologi Angka kejadian rata-rata malformasi anorektal di seluruh dunia adalah 1 dalam 5000 kelahiran. sebagian duodenum. Cardial.

pada letak rendah fistula menuju ke uretra (rektouretralis). dan ektoderm dari protoderm/analpit . Pada keadaan ini biasanya akan terbentuk fistula antara rektum dengan organ sekitarnya. Apabila urin mengalir melalui fistel menuju rektum.kloaka. 1. Pada anomali letak tinggi. 90% dengan fistula ke vagina (rektovagina) atau perineum (rektovestibuler). Obstruksi ini mengakibatkan distensi abdomen. muntah dengan segala akibatnya. maka urin akan diabsorbsi sehingga terjadi asidosis hiperkloremia. Salah satunya adalah komponen genetik. didapatkan bahwa risiko malformasi meningkat pada bayi yang memiliki saudara dengan kelainan malformasi anorektal yakni 1 dalam 100 kelahiran. Pada perempuan.4 Patofisiologi Atresia ani terjadi akibat kegagalan penurunan septum anorektal pada kehidupan embrional. sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur 2) Gangguan organogenesis dalam kandungan 3) Berkaitan dengan sindrom down Malformasi anorektal memiliki etiologi yang multifaktorial. Sedangkan anomali letak rendah atau infra levator berasal dari defek perkembangan proktoderm dan lipatan genital. otot levator ani perkembangannya tidak normal. Pada tahun 1950an. Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa mutasi dari bermacam-macam 4 . dibandingkan dengan populasi umum sekitar 1 dalam 5000 kelahiran.5 Etiologi Atresia ani atau anus imperforata dapat disebabkan karena: 1) Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur. Sedangkan otot sfingter eksternus dan internus dapat tidak ada atau rudimenter. Usus terbentuk mulai minggu keempat disebut sebagai primitif gut. Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstruksi dan adanya fistula. Kegagalan perkembangan yang lengkap dari septum urorektalis menghasilkan anomali letak tinggi atau supra levator. Pada laki-laki umumnya fistula menuju ke vesika urinaria atau ke prostat (rektovesika) bila kelainan merupakan letak tinggi. sebaliknya feses mengalir kearah traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang. sekuestrasi cairan. 1. Penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara malformasi anorektal dengan pasien dengan trisomi 21 (Down's syndrome).

gen yang berbeda dapat menyebabkan malformasi anorektal atau dengan kata lain etiologi malformasi anorektal bersifat multigenik. Letak intermediet apabila akhiran rektum terletak di muskulus levator ani. Melbourne membagi berdasarkan garis pubokoksigeus dan garis yang melewati ischii kelainan disebut: a. Gejala itu dapat berupa: 1) Perut kembung 5 . c. Letak tinggi apabila rektum berakhir diatas muskulus levator ani (muskulus pubokoksigeus). intermedia dan letak rendah. Gambaran malformasi anorektal pada laki-laki Gambaran malformasi anorektal pada perempuan 1. Letak rendah apabila akhiran rektum berakhir bawah muskulus levator ani. Akan tetapi. b.7 Manifestasi klinis Gejala yang menunjukan terjadinya malformasi anorektal terjadi dalam waktu 24-48 jam. untuk tujuan terapi dan prognosis digunakan klasifikasi yang dibuat berdasarkan jenis.6 Klasifikasi Klasifikasi yang paling sering digunakan untuk malformasi anorektal adalah klasifikasi Wingspread yang membagi malformasi anorektal menjadi letak tinggi. 1.

Malformasi anorektal sangat bervariasi. Kelainan tulang belakang dan medulla spinalis Kelainan tulang belakang yang sering ditemukan adalah kelainan lumbosakral seperti hemivertebrae. Kebanyakan dari kelainan itu ditemukan secara kebetulan. diikuti oleh tetralogi of fallot dan vebtrikular septal defect. 2. dan teratoma intraspinal.2) Muntah 3) Tidak bisa buang air besar 4) Pada pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik dapat dilihat sampai dimana terdapat penyumbatan. Insidennya berkisar antara 50% . Makin tinggi letak abnormalitas berhubungan dengan malformasi yang lebih sering. obstruksi duodenum (1%-2%) 3.60%. Sebagian besar bayi dengan anus imperforata memiliki satu atau lebih abnormalitas yang mengenai sistem lain. butterfly vertebrae. malformasi anorektal intermedia dimana ujung dari rektum dekat ke uretra dan malformasi anorektal letak tinggi dimana anus sama sekali tidak ada. 6 . Kelainan kardiovaskuler Ditemukan pada sepertiga pasien dengan anus imperforata. skoliosis. meningocele. dan hemisacrum. Jenis kelainan yang paling banyak ditemui adalah atrial septal defect dan paten ductus arteriosus. Beberapa jenis kelainan yang sering ditemukan bersamaan dengan malformasi anorektal adalah: 1. Sedangkan kelainan spinal yang sering ditemukan adalah myelomeningocele. Kelainan gastrointestinal Kelainan yang ditemui berupa kelainan trakeoesofageal (10%). akan tetapi beberapa diantaranya dapat mengancam nyawa seperti kelainan kardiovaskuler. mulai dari anus imperforata letak rendah dimana rectum berada pada lokasi yang normal tapi terlalu sempit sehingga feses bayi tidak dapat melaluinya.

Akhiran rektum > 1 cm disebut letak tinggi. Tracheoesophageal and Renal abnormality) dan VACTERL (Vertebrae. Kelainan traktus genitourinarius Kelainan traktus urogenital kongenital paling banyak ditemukan pada malformasi anorektal. Anorectal. kemungkinan juga ditemukan adanya fistula c.4. Kelainan tersebut dapat berdiri sendiri ataupun muncul bersamaan sebagai VATER (Vertebrae. dengan malformasi anorektal letak rendah 15% sampai 20%. Renal and Limb abnormality). Pada anamnesis dapat ditemukan : a.3 1. Apabila pemeriksaan diatas meragukan dilakukan invertrogram. 7 . Tidak ditemukan anus. Pada laki-laki fistel dapat berupa rektovesikalis. Cardiovascular. Anorectal. Beberapa penelitian menunjukkan insiden kelainan urogeital dengan malformasi anorektal letak tinggi antara 50 % sampai 60%. Tracheoesophageal. Bila ada fistula pada perineum maka mekoneum (+) dan kemungkinan kelainan adalah letak rendah Pena menggunakan cara sebagai berikut: 1. rektouretralis dan rektoperinealis. Bila mekoneum (+) maka atresia letak tinggi dan dilakukan kolostomi terlebih dahulu. Bila akhiran rektum < 1 cm dari kulit maka disebut letak rendah. setelah 8 minggi kemudian dilakukan tindakan definitif.8 Diagnosis Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti. Pada bayi perempuan 90 % atresia ani disertai dengan fistel. Fistel perianal (+). anal stenosis atau anal membran berarti atresia letak rendah maka dilakukan minimal Postero Sagital Anorektoplasti (PSARP) tanpa kolostomi b. Bayi cepat kembung antara 4-8 jam setelah lahir b. bucket handle. Bayi laki-laki dilakukan pemeriksaan perineum dan urin bila : a. 2.

Mekonium biasanya tidak terlihat pada perineum pada bayi dengan fistula rektoperineal hingga 16-24 jam. Leape (1987) menyatakan bila mekonium didadapatkan pada perineum. Oleh karena itu. Flat "bottom" atau flat perineum. apabila akhiran > 1 cm dari kulit dilakukan kolostomi terlebih dahulu. Tanda ini berhubungan dengan malformasi anorektal letak tinggi dan harus dilakukan colostomy. Bila fistel (-) maka dilakukan invertrogram: apabila akhiran < 1 cm dari kulit dilakukan postero sagital anorektoplasti. diagnosis harus ditegakkan pada pemeriksaan klinis segera setelah lahir dengan inspeksi daerah perianal dan dengan memasukkan termometer melalui anus. ditandai dengan tidak adanya garis anus dan anal dimple mengindikasikan bahwa pasien memiliki otot-otot perineum yang sangat sedikit. Hal ini dikarenakan bagian distal rektum pada bayi tersebut dikelilingi struktur otot-otot volunter yang menjaga rektum tetap kolaps dan kosong. Bila fistel rektovaginal atau rektovestibuler dilakukan kolostomi terlebih dahulu. vestibulum atau fistel perianal maka kelainan adalah letak rendah . Distensi abdomen tidak ditemukan selama beberapa jam pertama setelah lahir dan mekonium harus dipaksa keluar melalui fistula rektoperineal atau fistula urinarius. Bila Pada pemeriksaan fistel (-) maka kelainan adalah letak tinggi atau rendah. Tekanan intrabdominal harus cukup tinggi untuk menandingi tonus otot yang mengelilingi rektum. Pemeriksaan foto abdomen setelah 18-24 jam setelah lahir agar usus terisis\ udara. Untuk itu.• • • Bila ditemukan fistel perineal (+) maka dilakukan minimal PSARP tanpa kolostomi. dengan cara Wangenstein Reis (kedua kaki dipegang posisi badan vertikal dengan kepala dibawah) atau knee chest position (sujud) dengan bertujuan agar udara berkumpul didaerah paling distal. Inspeksi perianal sangat penting. pasien malformasi anorektal tidak selalu menunjukkan gejala obstruksi saluran cerna. harus ditunggu selama 16-24 jam untuk menentukan jenis malformasi anorektal pada bayi untuk menentukan apakah akan dilakukan colostomy atau anoplasty. Bila terdapat fistula lakukan fistulografi. Pada pemeriksan klinis. 8 .

Hal ini dikarenakan bagian distal rektum pada bayi tersebut dikelilingi struktur otot-otot volunter yang menjaga rektum tetap kolaps dan kosong. Inspeksi perianal sangat penting. "bucket-handle" (skin tag yang terdapat pada anal dimple). Tekanan intrabdominal harus cukup tinggi untuk menandingi tonus otot yang mengelilingi rektum. Assesment Pada pemeriksan klinis. pasien malformasi anorektal tidak selalu menunjukkan gejala obstruksi saluran cerna. harus ditunggu selama 16-24 jam untuk menentukan jenis malformasi anorektal pada bayi untuk menentukan apakah akan dilakukan colostomy atau anoplasty. "bucket-handle" (skin tag yang terdapat pada anal dimple). Flat "bottom" atau flat perineum. Tanda pada perineum yang ditemukan pada pasien dengan malformasi anorektal letak rendah meliputi adanya mekonium pada perineum. 1.Tanda pada perineum yang ditemukan pada pasien dengan malformasi anorektal letak rendah meliputi adanya mekonium pada perineum. diagnosis harus ditegakkan pada pemeriksaan klinis segera setelah lahir dengan inspeksi daerah perianal dan dengan memasukkan termometer melalui anus. Tanda ini berhubungan dengan malformasi anorektal letak tinggi dan harus dilakukan colostomy. Untuk itu.9 Prognosis Hasil operasi kelainan anorektal meningkat dengan signifikan sejak ditemukannya metode PSARP. 9 . Oleh karena itu. dan adanya membran pada anus (tempat keluarnya mekonium). V. Distensi abdomen tidak ditemukan selama beberapa jam pertama setelah lahir dan mekonium harus dipaksa keluar melalui fistula rektoperineal atau fistula urinarius. dan adanya membran pada anus (tempat keluarnya mekonium). Mekonium biasanya tidak terlihat pada perineum pada bayi dengan fistula rektoperineal hingga 16-24 jam. ditandai dengan tidak adanya garis anus dan anal dimple mengindikasikan bahwa pasien memiliki otot-otot perineum yang sangat sedikit.

setelah 8 minggi kemudian dilakukan tindakan definitif. Bayi cepat kembung antara 4-8 jam setelah lahir b. apabila akhiran > 1 cm dari kulit dilakukan kolostomi terlebih dahulu. kemungkinan juga ditemukan adanya fistula c. Bila Pada pemeriksaan fistel (-) maka kelainan adalah letak tinggi atau rendah. Pemeriksaan foto abdomen setelah 18-24 jam setelah lahir agar usus terisis\ udara. Bayi laki-laki dilakukan pemeriksaan perineum dan urin bila : a. Tidak ditemukan anus. Apabila pemeriksaan diatas meragukan dilakukan invertrogram. Leape (1987) menyatakan bila mekonium didadapatkan pada perineum. vestibulum atau fistel perianal maka kelainan adalah letak rendah . Planning Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti. Bila akhiran rektum < 1 cm dari kulit maka disebut letak rendah. dari kulit dilakukan postero sagital anorektoplasti. Akhiran rektum > 1 cm disebut letak tinggi. dengan cara Wangenstein Reis (kedua kaki dipegang posisi badan vertikal dengan kepala dibawah) atau knee chest position (sujud) dengan bertujuan agar udara 10 . bucket handle. Bila ada fistula pada perineum maka mekoneum (+) dan kemungkinan kelainan adalah letak rendah Penegakan diagnosis menggunakan cara sebagai berikut: 1. terlebih dahulu. rektouretralis dan rektoperinealis.VI. anal stenosis atau anal membran berarti atresia letak rendah maka dilakukan minimal Postero Sagital Anorektoplasti (PSARP) tanpa kolostomi b. • • • Bila ditemukan fistel perineal (+) maka dilakukan minimal PSARP Bila fistel rektovaginal atau rektovestibuler dilakukan kolostomi Bila fistel (-) maka dilakukan invertrogram: apabila akhiran < 1 cm tanpa kolostomi. Pada anamnesis dapat ditemukan : a. Bila mekoneum (+) maka atresia letak tinggi dan dilakukan kolostomi terlebih dahulu. Fistel perianal (+). Pada lakilaki fistel dapat berupa rektovesikalis. 2. Pada bayi perempuan 90 % atresia ani disertai dengan fistel.

31 % Nilai Normal L : 11-18 P : 11.01 x 10^3 µL 0. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Darah Hb RBC HCT MCV MCH RDW-SD RDW-CV EO% BASO% NEUT% LYMPH% MONO% EO# BASO% NEUT% LYMPH% MONO% PLT PDW MPV P-LCR PCT Kimia Darah GDS Clotting Time Bilirubin Total Bilirubin Direct SGOT SGPT 27 10 Hasil 11.3 fl 44.00 x 10^3 µL 17.400 <160 4’ 00’’ <1.150-0.1 g/dL 4.36 x 10^3 µL 358 x 10^3 µL 8. Pada atresia ani letak tinggi harus dilakukan kolostomi terlebih dahulu. tapi metode ini banyak menimbulkan 11 .5% 0.0 % 0.6 fl 24.berkumpul didaerah paling distal.2-11.7 % 0.6 pg 32.1 15-25 0.5 L : 4.3 % 24.516.5-14.0 <0.5 % 6. Bila terdapat fistula lakukan fistulografi.48 x 10^3 µL 2.2 <40 <41 Penatalaksanaan Penatalaksanaan atresia ani tergantung klasifikasinya.0 % 10. Pada beberapa waktu lalu penanganan atresia ani menggunakan prosedur abdominoperineal pullthrough.0 % 10.5 0-1 0-1 50-70 25-33 3-8 Interpretasi 150-400 9-13 7.5 P : 4-5 L : 40-50 P : 37-45 82-92 27-31 35-47 11.7 fl 13.51 x 10^6 µl 76.3 fl 8.21 x 10^3 µL 1.5 % 0.5-5.

Untuk menangani secara tepat. dimana sebelumnya dahulu.inkontinen feses dan prolaps mukosa usus yang lebih tinggi. radiologis dan USG. Keberhasilan penatalaksanaan atresia ani dinilai dari fungsinya secara jangka panjang. serta ketrampilan operator yang kurang serta perawatan post operasi yang buruk. 12 . Bila terdapat fistula dilakukan cut back incicion Pada stenosis ani cukup dilakukan dilatasi rutin. Dari berbagai klasifikasi penatalaksanaannya berbeda tergantung pada letak ketinggian akhiran rektum dan ada tidaknya fistula. yaitu dengan cara membelah muskulus sfingter eksternus dan muskulus levator ani untuk memudahkan mobilisasi kantong rektum dan pemotongan fistel. Leape (1987) menganjurkan pada : a. baik minimal. Pena secara tegas menjelaskan bahwa pada atresia ani letak tinggi dan intermediet dilakukan kolostomi terlebih dahulu untuk dekompresi dan diversi. limited atau full postero sagital anorektoplasti. Atresia letak tinggi dan intermediet dilakukan sigmoid kolostomi atau TCD Atresia letak rendah dilakukan perineal anoplasti. harus ditentukankan ketinggian akhiran rektum yang dapat ditentukan dengan berbagai cara antara lain dengan pemeriksaan fisik. berbeda dengan Pena dimana dikerjakan minimal PSARP tanpa kolostomi. keterbatasan pengetahuan anatomi. Pena dan Defries pada tahun 1982 memperkenalkan metode operasi dengan pendekatan postero sagital anorektoplasti. dilakukan tes provokasi dengan stimulator otot untuk identifikasi batas otot sfingter ani ekternus c. dengan posisi pasien tengkurap dan pelvis ditinggikan. persiapan operasi yang tidak adekuat. Saat ini teknik yang paling banyak dipakai adalah posterosagital anorektoplasti. dengan intubasi endotrakeal. Komplikasi yang terjadi pasca operasi banyak disebabkan oleh karena kegagalan menentukan letak kolostomi. Teknik Operasi: a) Dilakukan dengan general anestesi. d. meliputi anatomisnya. setelah 6 –12 bulan baru dikerjakan tindakan definitif (PSARP) b. bentuk kosmetik serta antisipasi trauma psikis. fungsi fisiologisnya. Operasi definitif setelah 4 – 8 minggu.

Penatalaksanaan malformasi anorektal pada bayi perempuan (gambar 2) 13 . parasagital fiber dan muscle complex. anal dimple. dan muskulus levator Rektum dibebas dari jaringan sekitarnya. Rektum ditarik melewati levator. muscle complex dan parasagital fiber.b) Stimulasi perineum dengan alat Pena Muscle Stimulator untuk identifikasi Insisi bagian tengah sakrum kearah bawah melewati pusat spingter dan Dibelah jaringan subkutis. Dilakukan anoplasti dan dijaga jangan sampai tension. f) g) h) Penatalaksanaan malformasi anorektal (pada gambar 1) Gambar 1. Algoritma penatalaksanaan malformasi anorektal pada neonatus laki-laki Dengan inspeksi perineum dapat ditentukan adanya malformasi anorektal pada 95% kasus malformasi anorektal pada bayi perempuan. lemak. Prinsip penatalaksanaan malformasi anorektal pada bayi perempuan hampir sama dengan bayi laki-laki. d) e) dibelah tampak dinding belakang rektum. c) berhenti 2 cm didepannya. Os koksigeus dibelah sampai tampak muskulus levator.

Algoritma penatalaksanaan malformasi anorektal pada neonatus perempuan Anoplasty PSARP adalah metode yang ideal dalam penatalaksanaan kelainan anorektal. selain PSARP. secara bertahap frekuensi diturunkan. 2 minggu pasca operasi dilakukan anal dilatasi dengan heger dilatation. Demikian juga pada pasien kloaka persisten dengan saluran kloaka lebih dari 3 cm. Penatalaksanaan Post-operatif Perawatan Pasca Operasi PSARP1 a. Kontrindikasi dari PSARP adalah tidak adanya kolon. laparotomi atau laparoskopi diperlukan untuk menemukan memobilisasi rektum bagian distal.10 hari. Pada kasus fistula rektovesikal. 2 kali sehari dan tiap minggu dilakukan anal dilatasi dengan anal dilator yang dinaikan sampai mencapai ukuran yang sesuai dengan umurnya. Businasi dihentikan bila busi nomor 13-14 mudah masuk. Kalibrasi anus tercapai dan orang tua mengatakan mudah mengejakan serta tidak ada rasa nyeri bila dilakukan 2 kali sehari selama 3-4 minggu merupakan indikasi tutup kolostomi.Gambar 2. Jika bayi tumbuh dengan baik.salep antibiotik diberikan selama 8. b. Antibiotik intra vena diberikan selama 3 hari . 14 . operasi definitif dapat dilakukan pada usia 3 bulan.

Dilatasi anus dimulai 2 minggu setelah operasi. 15 . kateter foley dipasang hingga 10-14 hari. sekali seminggu dalam 1 bulan kemudian dan terakhir sekali sebulan selama tiga bulan. aloe. Untuk pertama kali dilakukan oleh ahli bedah. Drainase suprapubik diindikasikan pada pasien persisten kloaka dengan saluran lebih dari 3 cm. kemudian dilatasi dua kali sehari dilakukan oleh petugas kesehatan ataupun keluarga. Setiap minggu lebar dilator ditambah 1 mm tercapai ukuran yang diinginkan.Pada kasus fistula rektouretral. eritema popok sering terjadi karena kulit perineum bayi tidak pernah kontak dengan feses sebelumnya. neomycin dan desitin dapat digunakan untuk mengobati eritema popok ini. Setelah dilakukan penutupan kolostomi. Dilatasi harus dilanjutkan dua kali sehari sampai dilator dapat lewat dengan mudah. Setelah ukuran yang diinginkan tercapai. Kemudian dilatasi dilakukan sekali sehari selama sebulan diikuti dengan dua kali seminggu pada bulan berikutnya. Antibiotik intravena diberikan selama 2-3 hari. dilakukan penutupan kolostomi. Salep tipikal yang mengandung vitamin A. kateter foley dipasang hingga 5-7 hari. D. Sedangkan pada kasus kloaka persisten. dan antibiotik topikal berupa salep dapat digunakan pada luka.

16 .

Boocock G. Pediatric Surgery 6th edition. 2006.ojrd. University of Michigan.gov/picrender. Atresia Ani. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. http://www. Skinner M. Philadelphia: Mosby elseivier. Bedah UGM. [diakses 1 April 2009] 6. principles and Practice of Pediatric Surgery Vol. Fakultas Kedokteran Unversitas Islam Indonesia.2. 2006. Foglia R. Colombani P. Skinner M. 2:33. Oldham K. Departement of Surgery University of Michigan http://www.DAFTAR PUSTAKA 1. http://www.bedahugm. 1987.2.starship. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.medcyclopaedia. 1395-1434 4.com/content/2/1/33 [diakses 1 April 2009] 7. Levitt M.org. 3. Grosfeld J. Pena A. Atresia Ani. 2. Imperforate Anus.pubmedcentral. 2005. 2006. Anorectal Malformation. Archives of Disease in Childhood. 1566-99.nz/General %20Surgery%20PDFs/anorect. [diakses tanggal 1 April 2009]. FK UII. 62. Anonim. principles and Practice of Pediatric Surgery Vol. Departement of Paediatric Surgery Starship Hospital Auckland. 576-579. O’Neill J.net. Fonkalsrud E.pdf [diakses 1 April 2009] 9. http://www.com/library/topics/volume_vii/a/anorectalmalformati on [diakses 1 April 2009] 17 . Coran A. Donnai D. Anorectal Malformation A parent’s Guide. 1395-1434 8. Anorectal Malformation: Familial Aspects and Associated Anomalies.fcgi?artid=1778456&blobtype=pdf [diakses 1 April 2009] 5. Foglia R.nih. Oldham K. 2005. Orphanet Journal of Rare Diseases 2007. Colombani P. http://www.

Kella N. 151154 http://www. Latief SA.org/wjms/1(2)2006/20. 115. Muhiman M. Thaib M. 1989. Anestesi Peditrik dalam: Anestesiologi. Dahlan M (eds).pdf [diakses 1 April 2009] 11. Suntoro A.119. Memon S. 18 . Jakarta: Bagian Anestesi dan Terapi Intensif FKUI.10. World Journal of Medical Sciences 1 (2) 2006. Urogenital Anomalies Associated with Anorectal Malformation in Children. Sunatrio S.idosi. Qureshi G.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful