BAB I PENDAHULUAN Thalassemia adalah kelainan bawaan dari sintesis hemoglobin.

Presentasi klinisnya bervariasi dari asimtomatik sampai berat hingga mengancam jiwa. Dahulu dinamakan sebagai Mediterannian anemia, diusulkan oleh Whipple, namun kurang tepat karena sebenarnya kondisi ini dapat ditemukan di mana saja di seluruh dunia. Seperti yang akan dijelaskan selanjutnya, beberapa tipe berbeda dari thalassemia lebih endemik pada area geografis tertentu. Pada tahun 1925, Thomas Cooley, seorang spesialis anak dari Detroit, mendeskripsikan suatu tipe anemia berat pada anak-anak yang berasal dari Italia. Beliau menemukan adanya nukleasi sel darah merah yang masif pada sapuan apus darah tepi, yang mana awalnya beliau pikir sebagai anemia eritroblastik, suatu keadaan yang disebutkan oleh von Jaksh sebelumnya. Namun tak lama kemudian, Cooley menyadari bahwa eritroblastemia tidak spesifik dan esensial pada temuan ini sehingga istilah anemia eritroblastik tidak dapat dipakai. Meskipun Cooley curiga akan adanya pengaruh genetik dari kelainan ini, namun beliau gagal dalam menginvestigasi orangtua sehat pada anak-anak yang mengidap kelainan ini. Di Eropa, Riette mendeskripsikan mengenai adanya anemia mikrositik hipokromik ringan yang tak terjelaskan pada anak-anak keturunan Italia pada tahun yang sama saat Cooley melaporan adanya bentuk anemia berat yang akhirnya dinamakan mengikutinya namanya. Sebagi tambahan, Wintrobe di Amerika Serikat melaporkan adanya anemia ringan pada kedua orangtua dari anak yang mengidap anemia Cooley. Anemia ini sangat mirip dengan kelainan yang ditemukan Riette. Baru setelah itu anemia Cooley dinyatakan sebagai bentuk homozigot dari anemia hipokromik mikrositik ringan yang dideskripsikan oleh Riette dan Wintrobe. Bentuk

anemia berat ini kemudian dilabelisasi sebagai thalassemia mayor dan bentuk ringannya dinamakan sebagai thalassemia minor. Kata thalassemia berasal dari bahasa Yunani yaitu

thalassa yang berarti ‘laut’ (mengarah ke Mediterania), dan emia, yang berarti ‘berhubungan dengan darah’.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. FISIOLOGI HEMATOPOESIS

Maximow (1924) mengemukakan suatu dalil bahwa sel darah berasal dari satu sel induk. Hal ini kemudian dikembangkan oleh Downey (1938) yang membuat hipotesa dengan konsep hirarki dari sel pluripoten dan selanjutnya Till dan Mc Culloch (1961) menyimpulkan bahwa satu sel induk merupakan koloni yang memperlihatkan diferensiasi multilineage atau pluripoten menjadi eritroid, mieloid serta megakariosit. Dari penelitian-penelitian tersebut ditetapkan bahwa sel stem ada pada hematopoisis. Sistem hematopoitik mempunyai karakteristik berupa pergantian sel yang konstan untuk mempertahankan populasi leukosit, trombosit dan eritrosit.5 Sistem hematopoitik dibagi menjadi 3, yaitu: 1. Sel Stem (progenitor awal) yang menyokong hematopoiesis.
2. Colony forming unit (CFU) sebagai pelopor yang selanjutnya berkembang dan

berdiferensiasi dalam memproduksi sel.

3. Faktor regulator yang mengatur agar sistem berlangsung beraturan.

Sel Stem merupakan satu sel induk (klonal) yang mempunyai kemampuan berdiferensiasi menjadi beberapa turunan, memebelah diri dan memperbaharui populasi sel stem sendiri dibawah factor pertumbuhan hematopoietik. Hematopoitik membutuhkan perangsang untuk pertumbuhan koloni granulosit dan makrofag yang disebut "Colony Stimulating Factor" (CSF) yang merupakan glikoprotein. Dalam proses selanjutnya diketahui regulasi hematopoisis sangat kompleks dan faktor pertumbuhan yang berfungsi tumpang tindih serta banyak tempat untuk memproduksi faktorfaktor tersebut, termasuk organ hematopoitik. 5 Pembentukan dan asal darah Perkembangan sistem vaskuler dan hematopoisis dimulai pada awal kehidupan embrio dan berlangsung secara paralel / bersamaan sampai masa dewasa mempunyai hubungan dengan lokasi anatomi yang menyokong hematopoisis tersebut. Secara garis besar perkembangan hematopoisis dibagi dalam 3 periode: 1. Hematopoisis yolk sac (mesoblastik atau primitif ) 2. Hematopoisis hati (definitif ) 3. Hematopoisis medular

Mula-mula terbentuk dalam blood island yang merupakan pelopor dari sistem vaskuler dan hematopoisis.Gambar 1. Sel induk primitif hematopoisis berasal dari mesoderm mempunyai respons terhadap faktor pertumbuhan antara lain eritropoetin. produksi sitokin dan komponen merangsang adhesi dari matrik ekstraseluler dan ekspresi pada reseptor. Sel induk hematopoisis mulai berkelompok dalam hati janin pada masa gestasi 5-6 minggu dan pada masa gestasi 8 minggu blood island mengalami regresi. Perubahan empat hematopoisis dari yolk sac ke hati dan kemudian sumsum tulang mempunyai hubungan dengan regulasi perkembangan oleh lingkungan mikro. IL-3. Pada masa gestasi 9 minggu. IL-6 dan faktor sel stem. hematopoisis sudah terbentuk dalam hati. Selanjutnya eritrosit dan megakariosit dapat diidentifikasi dalam yolk sac pada masa gestasi 16 hari. Hematopoiesis prenatal dan postnatal Hematopoisis Yolk Sac (mesoblastik atau primitif) Sel darah dibuat dari jaringan mesenkim 2-3 minggu selelah fertilisasi.5 Hematopoisis hati (Definitif) Hematopoisis hati berasal dari sel stem pluripoten yang berpindah dari yolk sac. .

Hematopoisis dalam hati yang terutama adalah eritropoisis. 5 Sel mesenkim yang mempunyai kemampuan untuk membentuk sel darah menjadi . semua rongga sumsum tulang diisi jaringan hematopoitik yang aktif dan sumsum tulang penuh berisi sel darah. kelenjar limfe dan ginjal. Pada masa gestasi 32 minggu sampai lahir. walaupun masih ditemukan sirkulasi granulosit dan trombosit. Perkembangan embrional dan fetal serta ontogeni hematopoesis Hematopoisis medular Merupakan periode terakhir pembentukan sistem hematopoisis dan dimulai sejak masa gestasi ulan. thymus. Hematopoisis hati mencapai puncaknya pada masa gestasi 45 bulan kemudian mengalami regresi perlahan-lahan. Pada masa pertengahan kehamilan. Ruang medular terbentuk dalam tulang rawan dan tulang panjang dengan proses reabsorpsi.5 Gambar 3. sedangkan hepar tidak berfungsi membuat sel darah lagi. Dalam perkembangan selanjutnya fungsi pembuatan sel darah diambil alih oleh sumsum tulang. tampak pelopor hematopoetik terdapat di limpa.

Secara umum hematopoisis ekstra medular terutama pada organ perut. Sesuai dengan rangkaian hematopoisis yang dimulai dari yolk sac. tulang dada (sternum). tulang iga.kurang. janin. seperti eritroblastosis fetalis. hati dan sumsum tulang diikuti juga dengan variasi sintesis hemoglobin. thalasemia. terjadi akibat penyakit yang menyebabkan gangguan produksi satu atau lebih tipe sel darah. kelenjar getah bening dan dinding sus. limpa. Portland Hemoglobin fetal : Hb-F Hemoglobin dewasa : Hb-A1 dan Hb-A2 . hematopoisis terdapat pada tulang (skeletal) dan ekstraskeletal dan pada waktu lahir hematopoisis terutama pada skeletal. sfreositosis herediter dan variasi leukimia Hemoglobin Merupakan kompleks protein yang terdiri dari heme yang mengandung besi dan globin dengan interaksi diantara heme dan globin menyebabkan hemoglobin (Hb) merupakan perangkat yang ireversibel untuk mengangkut oksigen. Sejak masa embrio. Pada bayi dan anak. Hal ini berbeda dengan dewasa normal di mana hematopoisis terbatas pada vertebra (tulang belakang). skapula. anak dan dewasa sel darah merah mempunyai 6 hemoglobin antara lain: Hemoglobin embrional : Gower-1. hati. Selama masa intra uterin. skull (tulang tengkorak kepala) dan jarang yang berlokasi pada humerus dan femur. Gower-2. pelvis. dikenal sebagai sistem retikuloendotelial. hematopoisis yang aktif terutama pada sumsum tulang termasuk bagian distal tulang panjang. sickle cell anemia. limpa. tetapi tetap ada dalam sumsum tulang. anemia pernisiosa.

sintesis Hb-F menuurun secara cepat setelah bayi lahir dan setelah usia 6-12 bulan hanya sedikit ditemukan. Hemoglobin fetal(4) Migrasi pluripoten stem cell dari yolk sac ke hati.4%.Hemoglobin embrional Selama masa gestasi 2 minggu pertama. diikuti dengan sintesis hemoglobin fetal dan awal sintesis rantai β. yang akan membentuk Hb-Portland (Z2γ2) dan Gower-2 (α2ε2) Hemoglobin yang ditemukan terutama pada masa gestasi 4-8 minggu adalah Hb-Gower-1 dan Gower-2 yaitu kira-kira 75% dan merupakan hemoglobin yang disintesis di yolk sac. gen dan reseptor yang mempengaruhi eritroid dan dikontrol oleh factor .masa gestasi 6 bulan ditemukan 5-10% HbA. Selanjutnya mulai sintesis rantai α mengganti rantai zeta.Perubahan hemoglobin janin ke dewasa merupakan proses biologi berupa diferensiasi sel induk eritroid. tetapi akan menghilang pada masa gestasi 3 bulan. pada waktu lahir mencapai 30% dan pada usia 6-12 bulan sudah memperlihatkan gambaran hemoglobin dewasa. sel stem pluripoten. kemudian berkurang bertahap dan pada saat lahir ditemukan kira-kira 70% Hb-F. rantai γ mengganti rantai ε di yolk sac. Hemoglobin dewasa Pada masa embrio telah dapat dideteksi HbA (α2β2) karena telah terjadi perubahan sintesis rantai γ menjadi β dan selanjutnya globin β meningkat pada . dengan rasio normal antara HbA dan HbA 2 adalah 30:1. Setelah masa gestasi 8 minggu Hb-F paling dominan dan setelah janin berusai 6 bulan merupakan 90% dari keseluruhan hemoglobin. Hemoglobin dewasa minor (HbA2) ditemukan kira-kira 1% pada saat lahir dan pada usia 12 bulan mencapai 2-3. eritroblas primitif dalam yolk sac membentuk rantai globin-epsilon (ε) dan zeta (Z) yang akan membentuk hemoglobin primitive Gower-1 (Z2ε2).

5% pasien thalasemia β homozigot.3 b) Epidemiologi Penyebaran thalasemia meliputi daerah Mediterania. umur sel darah merah hanya 23 hari.humoral..2 . ditandai dengan kondisi sel darah merah yang mudah rusak. Di Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo sampai dengan akhir tahun 2008 terdapat 1442 pasien thalasemia mayor yang berobat jalan di Pusat Thalasemia Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM yang terdiri dari 52. Semenanjung Malaysia dan Indonesia. 2 Merupakan kelompok kelainan genetik heterogen yang timbul akibat berkurangnya kecepatan sintesis rantai alpha atau beta. 46. 3-4 kali lebih cepat dibanding sel darah merah normal.5 B.5% pasien thalasemia βHbE serta 1. Afrika. Timur Tengah. Sekitar 70-100 pasien baru datang setiap tahunnya. THALASEMIA a) Definisi Merupakan penyakit anemia hemolitik herediter yang disebabkan oleh defek genetik pada pembentukkan rantai globin. Asia Tenggara termasuk Cina.3% pasien thalasemia α.

Thalassemia-β mayor yang berat akan berakibat fatal bila tidak diterapi. dan semua janin yang terkena akan lahir dalam keadaan hydrops fetalis akibat anemia berat. sama dengan penderita thalassemia-β mayor. . Terdapat juga laporan kasus yang lebih jarang mengenai neonatus dengan thalassemia-α mayor yang lahir tanpa hydrops fetalis yang bertahan tanpa transfusi intrauterin.4 Mortalitas dan Morbiditas Thalassemia-α mayor adalah penyakit yang mematikan. Gagal jantung akibat anemia berat atau iron overload adalah penyebab tersering kematian pada penderita. diperkirakan sebagai penyebab kondisi klinis yang jarang tersebut. Penderita seperti ini membutuhkan perawatan medis yang ekstensif setelahnya. Beberapa laporan pernah mendeskripsikan adanya neonatus dengan thalassemia-α mayor yang bertahan setelah mendapat transfusi intrauterin. tingginya level Hb Portland. yang merupakan Hb fungsional embrionik. Daerah Penyebaran Thalassemia/Sabuk Thalassemia. termasuk transfusi darah teratur dan terapi khelasi.Gambar 1. Pada kasus ini. mortalitas dan morbiditas bervariasi sesuai tingkat keparahan dan kualitas perawatan. Pada pasien dengan berbagai tipe thalassemia-β.

tuli. Ras Meskipun thalassemia ditemukan pada semua ras dan etnik grup. Mortalitas dan morbiditas tidak terbatas hanya pada penderita yang tidak diterapi. dan Africa. atau infeksi.Penyakit hati. . ada beberapa tipe thalassemia yang sering ditemukan pada grup tertentu dibanding dengan yang lain. Karena alasan ini. α thalassemia trait di Afrika is biasanya bukan dari cis-delesi dari kromosom 16. dimana terjadi komplit absence dari α gene pada salah satu chromosome. infeksi berat yang kronis yang dicetuskan transfusi darah. meskipun juga ditemukan di bagian dunia yang lain. berbeda dengan di Asia Tenggara. Timur Tengah. hydops fetalis tidak beresiko tinggi oada rang Afrika tetapi beresiko tinggi pada Asia Tenggara. Pada kedua orang tua yang memiliki cis-delesi. bayinya bias saja mengalami hydrps fetalis. α thalassemia biasa ditemukan di Asia Tenggara. atau komplikasi lainnya yang dicetuskan oleh penyakit ini atau terapinya termasuk merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas pada bentuk thalassemia yang berat. infeksi fulminan. atau komplikasi dari terapi khelasi. Kerusakan organ akibat iron overload. Mutasi spesifik pada thalassemia sudah dapat discrenning dan didiagnostik kelainannya. merupakan komplikasi yang potensial. β thalassemia biasa ditemukan di Eropa Selatan. mereka yang mendapat terapi yang dirancang dengan baik tetap berisiko mengalami bermacam-macam komplikasi. India. seperti katarak.

Situasi ini biasanya terjadi jika pasien mengalami mutasi yang lebih ringan. bukti bahwa kedua orang tua terpengaruh) mungkin tidak menunjukkan gejala atau anemia yang signifikan selama beberapa tahun. Ditemukannya hipokromia dan mikrositosis yang tidak jelas penyebabnya pada neonatus. usia saat timbulnya gejala bervariasi secara signifikan.Sex Baik pria maupun wanita. produksi rantai globin γ dan penggabungannya ke Hb Fetal dapat menutupi gejala untuk sementara. hipokromasia. gejala mungkin tidak jelas sampai paruh kedua tahun pertama kehidupan. yaitu gabungan heterozygote for B+ dan B -0 thalssemia.keduanya memiliki kemungkinan yang sama Usia Meskipun thalassemia merupakan penyakit turunan (genetik). Bentuk thalassemia ringan sering ditemukan secara kebetulan pada berbagai usia. sampai waktu itu. elektroforesis negatif untuk Hb A. Hampir semua pasien dengan kondisi tersebut dikategorikan sebagai thalassemia-β intermedia. Banyak pasien dengan kondisi thalassemia-β homozigot yang jelas (yaitu. pada thalassemia-β berat.4 . Dalam talasemia. mikrositosis. kelainan klinis pada pasien dengan kasus-kasus yang parah dan temuan hematologik pada pembawa (carrier) tampak jelas pada saat lahir. Namun. atau gabungan dengan heterozygote yang lain.

yaitu sepasang rantai α dan sepasang rantai non alpha (β. sedangkan gen yang mensintesis rantai β. sedangkan rantai non α tersusun atas 146 asam amino. Hb F (2α2γ) kurang dari 2% dan Hb A2 (2α2δ) kurang dari 3%. Sintesis rantai α disandi oleh gen α1 dan gen α2 di kromosom 16. Kombinasi rantai polipeptida tersebut akan menentukan jenis hemoglobin.c) Patofisiologi Hemoglobin (Hb) tersusun atas heme yang merupakan cincin porfirin dalam ikatan dengan Fe dan globulin yang merupakan protein pendukung. Masing-masing sub-unit tersusun atas satu molekul globin dan satu molekul heme. Satu molekul hemoglobin mengandung 4 sub-unit. Hb A (2α2β) merupakan lebih dari 96 % Hb total.γ. Pada orang normal . Pada janin trisemester III kehamilan hampir 100% Hb adalah Hb F.δ). rantai γ dan rantai δ terletak di kromosom 11.5 Gambar 5. Setelah lahir. Globulin terdiri atas 2 pasang rantai polipeptida. Struktur hemoglobin Rantai polipeptida α tersusun atas 141 asam amino. sintesis globin γ makin menurun digantikan oleh globin δ.

Masing-masing polipeptida penyusun Hb berbeda dalam urutan asam aminonya.4 Lokus Genotip α β γ δ α/α Polipetida yang terbentuk α β/β β γ/γ γ δ/δ δ . masing-masing dengan satu tempat pegikatan oksigen. Hemoglobin memiliki struktur kuartener empat rantai polipeptida. Thalassemia akan terjadi bila sintesis salah satu rantai polipeptida menurun. Zat besi dalam molekul heme secara langsung berfungsi sebagai pengikat oksigen.sintesis rantai α sama dengan rantai non alpha. disintesis berdasarkan informasi genetik. Dengan demikian ada beberapa lokus gen terpisah dalam kromosom yang mengatur sintesis rantai polipeptida dari hemoglobin. Hemoglobin yang merupakan suatu protein. Sehingga satu molekul hemoglobin dapat mengikat 4 molekul oksigen. Struktur kimia hemoglobin memungkinkan molekul hemoglobin memiliki kemampuan untuk mengikat oksigen secara reversible.

sehingga terjadi ketidak seimbangan jumlah rantai globin yang terbentuk. Sintesis rantai γ bersama dengan sintesi rantai α menonjol selama masa kehidupan janin. Pada replikasi DNA dapat terjadi pergantian urutan asam basa dalam DNA. Bila terjadi crossing over pada kesalahan berpasangan itu. dan perubahan kode genetic akan diteruskan pada penurunan genetic berikutnya. Sebagian besar kelainan hemoglobin dan jenis thalassemia merupakan hasil kelaianan mutasi pada gamet yang terjadi pada replikasi DNA. Kelainan mutasi dapat pula terjadi pada keselahan berpasangan kromosom pada proses meiosis yang mengakibatkan perubahan susunan material genetic. sebagai hasil akhir peristiwa tadi akan terjjadi apa yang disebut . Rantai α akan terus disintesis sampai usia dewasa sedangkan rantai γ mulai menurun pada trisemester akhir dan dengan cepat menurun setelah kelahiran. Secara genetik. Lokus gen untuk α terletak pada kromosom 16 sedangkan lainnya (β. sedangkan β dan δ hanya memilki satu lokus gen.Hb yang terbentuk α2β2 α2γ2 α2δ2 Untuk pembentukan α dan γ sebenarnya terdapat 2 lokus gen untuk masing-masing. Mutasi ini dapat memperpendek rantai asam amino maupun memperpanjangnya. gangguan pembentukan protein globin dapat disebabkan karena kerusakan gen yang terdapat pada kromosom 11 atau 16 yang ditempati lokus gen globin.δ) terletak pada kromosom 11. Thalasemia merupakan salah satu bentuk kelainan genetik hemoglobin yang ditandai dengan kurangnya atau tidak adanya sintesis satu rantai globin atau lebih.γ.

sintesis β globin dapat mencapai nol. Karena adanya defisiensi yang berat pada rantai β. khususnya kekurangan sintesis rantai β akan menyebabkan kurangnya pembentukan Hb. sintesis β globin kurang lebih separuh dari nilai normalnya. sedangkan kerusakan pada kedua kromosom homolog menimbulkan keadaan homozigot. Ketidakseimbangan sintesis rantai alpha atau rantai non alpha. maka sintesis rantai γ menjadi teraktifasi sehingga hemoglobin pasien mengandung proporsi Hb F yang meningkat. Untuk menderita penyakit ini.4 Secara biokimia kelainan yang paling mendasar adalah menurunnya biosintesis dari unit β globin pada Hb A. sintesis rantai α tidak mengalami perubahan. Pada thalassemia homozigot sintesis rantai menurun atau tidak ada sintesis sama sekali. translokasi dan iversi.duplikasi. sintesis Hb A total menurun dengan sangat jelas atau bahkan tidak ada. seseorang harus memiliki 2 gen dari kedua orang tuanya. Rantai α bebas ini mudah teroksidasi. 4 Pada thalasemia β homozigot.delesi. yang diperlukan dalam pembentukan hemoglobin. maka orang tersebut hanya menjadi pembawa tetapi tidak menunjukkan gejala-gejala dari penyakit ini. Jika hanya 1 gen yang diturunkan. sehingga pasien dengan thalasemia β homozigot mengalami anemia berat. Pada thalasemia β homozigot. Mereka . Kerusakan pada salah satu kromosom homolog menimbulkan terjadinya keadaan heterozigot. pada thalasemia β heterozigot. Ketidakseimbangan dalam rantai protein globin alfa dan beta. Ketidakseimbangan sintesis dari rantai polipeptida ini mengakibatkan kelebihan adanya rantai α bebas di dalam sel darah merah yang berinti dan retikulosit. Sebagai respon kompensasi. disebabkan oleh sebuah gen cacat yang diturunkan. Namun sintesis rantai γ ini tidak efektif dan secara kuantitas tidak mencukupi.

mengalihkan sumber-sumber biokimia yang vital dari tempattempat yang membutuhkannya dan menempatkan suatu stress yang sangat besar pada jantung. menginvasi bagian kortikal dari tulang. Hasilnya adalah suatu ekspansi sumsum tulang yang masif yang memproduksi sel darah merah baru. Hal yang telah disebutkan diatas adalah gambaran dari Anemia Cooley: hipokromik. hepar. Namun mekanisme kompensasi ini tidak efektif karena adanya kematian yang prematur dari eritroblas. Sel darah merah yang sudah rusak tersebut akan dihancurkan oleh limpa.dapat beragregasi menjadi suatu inklusi protein (haeinz bodys). Sel darah merah yang mengandung jumlah Hb F yang lebih tinggi mempunyai umur yang lebih panjang. dipenuhi oleh inklusi α globin. dan mengandung komplemen hemoglobin yang menurun. mikrosisitk dan poikilositik. Eritropoetin meningkat sebagai respon adanya anemia. Sumsum tulang mengalami ekspansi secara masif. Sel darah merah yang beredar kecil. kegagalan jantung . sehingga sumsum-sumsum tulang dipacu untuk memproduksi eritroid prekusor yang lebih banyak. menyebabkan kerusakan membran pada sel darah merah dan destruksi dari sel darah merah imatur dalam sumsum tulang sehingga jumlah sel darah merah matur yang diproduksi menjadi berkurang. menggambarkan komponen hemolitik dari penyakit ini. Secara klinis terlihat sebagai kegalan dari pertumbuhan dan perkembangan. terdistorsi. menghabiskan sumber kalori yang sangat besar pada umur-umur yang kritis pada pertumbuhan dan perkembangan. dan sumsum tulang. Anemia yang berat terjadi akibat adanya penurunan oksigen carrying capacity dari setiap eritrosit dan tendensi dari sel darah merah matur (yang jumlahnya sedikit) mengalami hemolisa secara prematur.

Ferroportin diregulasi oleh jumlah penyimpanan besi dan jumlah hepsidin. kerentanan terhadap infeksi. Efek hepsidin terhadap siklus besi dilakukan melalui kerja hormon lain bernama ferroportin. fraktur patologis. meskipun keduanya memiliki jumlah besi yang sama. yang mentransportasikan besi dari enterosit dan makrofag menuju plasma dan menghantarkan besi dari plasenta menuju fetus. Sebagai contoh.4 Dengan pemberian transfusi darah. sehingga penyerapan besi akan berkurang dan makrofag akan mempertahankan kadar besi. deformitas dari tulang. Pada pasien dengan iron overload (misalnya hemokromatosis). penderita thalassemia-β intermedia yang tidak mendapatkan transfusi darah memiliki jumlah ferritin yang lebih rendah dibandngkan dengan penderita yang mendapatkan transfusi darah secara teratur. seperti pada thalassemia berat.high output. dan kematian di usia muda tanpa adanya terapi transfusi. Besi ini cukup berbahaya karena memiliki . Hubungan ini juga menjelaskan mengapa penderita dengan thalassemia-β yang memiliki jumlah besi yang sama memiliki jumlah ferritin yang berbeda sesuai dengan apakah mereka mendapat transfusi darah teratur atau tidak. hal ini tidak terjadi pada penderita thalassemia-β berat karena diduga faktor plasma menggantikan mekanisme tersebut dan mencegah terjadinya produksi hepsidin sehingga absorpsi besi terus berlangsung meskipun penderita dalam keadaan iron overload. Namun. absorpsi besi menurun akibat meningkatnya jumlah hepsidin. transferrin. Pada keadaan iron overload. eritropoesis yang inefektif dapat diperbaiki. transferrin tersaturasi. Kebanyakan besi non-heme pada individu yang sehat berikatan kuat dengan protein pembawanya. dan terjadi peningkatan jumlah hormon hepcidin. dan besi bebas ditemukan di plasma.

Abnormalitas genetic Thalassemia α Penghapusan 4 gen. dan hati. mengakibatkan terjadinya kerusakan pada organorgan tersebut (organ damage). Selain itu juga terdapat tipe thalassemia lain seperti thalassemia intermediate.material untuk memproduksi hidroksil radikal dan akhirnya akan terakumulasi pada organ-organ. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan produksi rantai globin. Sebagaimana telah disebutkan di atas. secara garis besar terdapat dua tipe utama thalassemia yaitu α thalassemia dan β thalassemia.hydrops fetalis Penghapusan 3 gen. seperti jantung. KLASIFIKASI Thalasemia adalah grup kelainan sintesis hemoglobin yang heterogen akibat pengurangan produksi satu atau lebih rantai globin.penyakit Hb H Penghapusan 2 gen ( trait thalasemia α° ) Penghapusan 1 gen ( trait thalasemia α+ ) Thalassemia β Homozigot – thalassemia mayor Anemia berat perlu transfusi darah Kematian in utero Anemia hemolitik Sediaan darah mikrositik hipokrom tetapi biasanya tanpa anemia Sindroma klinik . 5 4. kelenjar endokrin.

.trait thalassemia Sediaan darah mikrositik hipokrom tetapi biasanya dengan atau tanpa anemia Thalassemia intermediate Sindroma klinik yang disebabkan oleh Anemia hipokrom mikrositik. kelebihan beban besi. Delesi gen globin-α menyebabkan sebagian besar kelainan ini. dan semua empat gen ini. Talasemia diturunkan berdasarkan hukum Mendel.Heterzigot. Terdapat empat gen globin-α pada individu normal. resesif atau ko-dominan. Heterozigot biasanya tanpa gejala homozigot atau gabungan heterozigot gejalanya lebih berat dari talasemia α atau β. dan empat bentuk thalassemia-α yang berbeda telah diketahui sesuai dengan delesi satu. tiga. negara di daerah Mediterania. dua. hepatosejenis lesi genetik splenomegali. dan sebagian besar Asia.4 Thalassemia-α6 Anemia mikrositik yang disebabkan oleh defisiensi sintesis globin-α banyak ditemukan di Afrika.

- Pada tipe ini. Seperti telah dijelaskan sebelumnya. seringnya pada etnik Afro-Amerika. Hb = hemoglobin. hanya ditemukan adanya jumlah eritrosit (sel darah merah) yang rendah dalam beberapa pemeriksaan. - Pada tipe silent carrier. Hb Bart’s = γ4. Thalassemia-α Genotip Jumlah gen α Presentasi Klinis Hemoglobin Elektroforesis Saat Lahir > 6 bulan Normal N N Silent carrier 0-3 % Hb Barts N Trait thal-α 2-10% Hb Barts N Hb H - αα/αα 4 -α/αα 3 --/αα atau 2 –α/-α --/-α 1 Penyakit Hb H 15-30% Hb Bart --/-0 Hydrops fetalis >75% Hb Bart Ket : N = hasil normal. menyisakan hanya 3 dari 4 gen tersebut.Tabel 1.6 . salah satu gen α pada kromosom 16 menghilang. HbH = β4 a. terdapat 2 gen α yang terletak pada kromosom 16. Silent carrier thalassemia-α - Merupakan tipe thalassemia subklinik yang paling umum. sehingga harus dilakukan tes lain yang lebih canggih. Bisa juga dicari akan adanya kelainan hematologi pada anggota keluarga (misalnya orangtua) untuk mendukung diagnosis. biasanya ditemukan secara kebetulan diantara populasi. Pemeriksaan darah lengkap pada salah satu orangtua yang menunjukkan adanya hipokromia dan mikrositosis tanpa penyebab yang jelas merupakan bukti yang cukup kuat menuju diagnosis thalasemia. Penderita sehat secara hematologis. diagnosis tidak dapat dipastikan dengan pemeriksaan elektroforesis Hb.

- Pada bayi baru lahir yang terkena. Kelainan ini sering ditemukan di Asia Tenggara. Lewat umur satu bulan. Penyakit Hb H . Hb Barts tidak terlihat lagi. dan kadar Hb A2 dan HbF secara khas normal. 6 Gambar 7. Trait thalassemia-α - Trait ini dikarakterisasi dengan anemia ringan dan jumlah sel darah merah yang rendah. subbenua India. Kondisi ini disebabkan oleh hilangnya 2 gen α pada satu kromosom 16 atau satu gen α pada masing-masing kromosom.b. dan Timur Tengah. Thalassemia alpha menurut hukum Mendel7 c. sejumlah kecil Hb Barts (γ4) dapat ditemukan pada elektroforesis Hb.

sehingga menampilkan gambaran golf ball. Hb A. dan Hb A2 semuanya mengandung rantai α. Pewarnaan supravital pada sapuan apus darah tepi Penyakit Hb H yang menunjukkan Heinz-Bodies d. maka bayi-bayi itu mengalami hipoksia berat. dan karena γ4 memiliki afinitas oksigen yang tinggi. Pada sediaan apus darah tepi yang diwarnai dengan pewarnaan supravital akan tampak sel-sel darah merah yang diinklusi oleh rantai tetramer β (Hb H) yang tidak stabil dan terpresipitasi di dalam eritrosit.Kelainan disebabkan oleh hilangnya 3 gen globin α. disertai dengan tidak ada sintesis rantai α sama sekali. - Karena Hb F. 6 Gambar 8. dengan anemia sedang sampai berat. merepresentasikan thalassemia-α intermedia. ikterus. Hb Barts (γ4) mendominasi pada bayi yang menderita. Thalassemia-α mayor Bentuk thalassemia yang paling berat. . Badan inklusi ini dinamakan sebagai Heinz bodies. disebabkan oleh delesi semua gen globin-α. maka tidak satupun dari Hb ini terbentuk. dan jumlah sel darah merah yang abnormal. splenomegali.

Pada sekelompok kecil kasus.8 . dikenal beberapa bentuk klinis dari thalassemia-β. Bayi ini sangat hidropik. yang benar-benar khas. dengan gagal jantung kongestif dan edema anasarka berat.4%-7%). dijumpai Hb A2 normal dengan kadar HbF berkisar dari 5% sampai 15%. Hb F. dan kebanyakan dari bayi yang lahir hidup meninggal dalam waktu beberapa jam.Eritrositnya juga mengandung sejumlah kecil Hb embrional normal (Hb Portland = ζ 2γ2). yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen. - Kebanyakan dari bayi-bayi ini lahir mati. Lebih dari 90% individu dengan trait thalassemia-β mempunyai peningkatan Hb-A2 yang berarti (3. Yang dapat hidup dengan manajemen neonatus agresif juga nantinya akan sangat bergantung dengan transfusi. yang mewakili thalassemia tipe δβ. Kira-kira 50% individu ini juga mempunyai sedikit kenaikan HbF.6 Thalassemia-β 8 Sama dengan thalassemia-α. Individu dengan ciri (trait) thalassemia sering didiagnosis salah sebagai anemia defisiensi besi dan mungkin diberi terapi yang tidak tepat dengan preparat besi selama waktu yang panjang. dan elektroforesis Hb abnormal dimana didapatkan peningkatan jumlah Hb A2. Trait thalassemia-β+ heterozigot (Thalassemia minor) Penderita mengalami anemia ringan. atau keduanya. nilai eritrosit abnormal. antara lain : a. sekitar 2-6%.

Thalassemia beta menurut Hukum Mendel Gambar 10.Gambar 9. Transfusi darah yang reguler diperlukan pada penderita ini untuk mencegah kelemahan yang amat sangat dan gagal jantung yang disebabkan oleh anemia. - Thalassemia-β° homozigot (Anemia Cooley. . Thalassemia Mayor) Bergejala sebagai anemia hemolitik kronis yang progresif selama 6 bulan kedua kehidupan. 80% penderita meninggal pada 5 tahun pertama kehidupan. Tanpa transfusi. Sapuan darah tepi tampak sel target b.

. Pada penderita yang lebih tua. hemosiderosis. limpa mungkin sedemikian besarnya sehingga menimbulkan ketidaknyamanan mekanis dan hipersplenisme sekunder. Ekspansi masif sumsum tulang di wajah dan tengkorak menghasilkan bentuk wajah yang khas. Gambar 11. Tulang-tulang menjadi tipis dan fraktur patologis mungkin terjadi. Deformitas tulang pada thalassemia beta mayor (Facies Cooley) Pucat. terjadi hipertrofi jaringan eritropoetik disumsum tulang maupun di luar sumsum tulang. dan ikterus sama-sama memberi kesan coklat kekuningan.- Pada kasus yang tidak diterapi atau pada penderita yang jarang menerima transfusi pada waktu anemia berat. Limpa dan hati membesar karena hematopoesis ekstrameduler dan hemosiderosis.

Splenomegali pada thalassemia Pertumbuhan terganggu pada anak yang lebih tua. Kadar Hb turun secara cepat menjadi < 5 gr/dL kecuali mendapat transfusi. Sejumlah besar eritrosit yang berinti ada di darah tepi. 8 . yang merupakan presipitasi kelebihan rantai α. terutama setelah splenektomi. Kadar serum besi tinggi dengan saturasi kapasitas pengikat besi (iron binding capacity). juga terlihat pasca splenektomi. aneh (sel bizarre) dan sel target. Diabetes mellitus yang disebabkan oleh siderosis pankreas mungkin terjadi. pubertas terlambat atau tidak terjadi karena kelainan endokrin sekunder. banyak ditemukan poikilosit yang terfragmentasi.Gambar 12. Komplikasi jantung. Gambaran biokimiawi yang nyata adalah adanya kadar HbF yang sangat tinggi dalam eritrosit. Disamping hipokromia dan mikrositosis berat. Inklusi intraeritrositik. - Kelainan morfologi eritrosit pada penderita thalassemia-β° homozigot yang tidak ditransfusi adalah ekstrem. termasuk aritmia dan gagal jantung kongestif kronis yang disebabkan oleh siderosis miokardium sering merupakan kejadian terminal.

Gejala klinis biasa berupa tanda-tanda anemia seperti pucat. Pada pemeriksaan fisik didapatkan facies Cooley. Stadium I Merupakan mereka yang mendapat transfusi kurang dari 100 unit Packed Red Cells (PRC).5. GEJALA KLINIS (STADIUM THALASSEMIA) 9 Gejala klinis pada thalassemia hampir semua sama. gagal tumbuh. yang membedakan adalah tingkat keparahannya. infeksi berulang dan perubahan tulang. conjungtiva anemis. yaitu : 1.lesu. pada echokardiogram (ECG) hanya ditemukan sedikit penebalan pada dinding ventrikel kiri. dari ringan (asimptomatik) sampai parahnya gejala. pasien dibagi menjadi tiga kelompok. lemah. bentuk tulang yang abnormal.. Stadium II . 2. Pada sistem ini. Terdapat suatu sistem pembagian stadium thalassemia berdasarkan jumlah kumulatif transfusi darah yang diberikan pada penderita untuk menentukan tingkat gejala yang melibatkan kardiovaskuler dan untuk memutuskan kapan untuk memulai terapi khelasi pada pasien dengan thalassemia-β mayor atau intermedia. sering pula disertai dengan kesulitan makan.letih. Penderita biasanya asimtomatik. tidak aktif beraktifitas atau jarang bermain dengan teman seusianya. dan elektrokardiogram (EKG) dalam 24 jam normal. sesak nafas kurang konsentrasi. pembesarah lien dan atau hepar.

hal ini disebabkan oleh karena kemiripan gejala yang ditimbulkan. dan gambaran eritrosit mikrositik hipokrom. 6. Pada ECG ditemukan penebalan dan dilatasi pada dinding ventrikel kiri. Pada EKG dalam 24 jam ditemukan pulsasi prematur dari atrial dan ventrikular.Merupakan mereka yang mendapat transfusi antara 100-400 unit PRC dan memiliki keluhan lemah-lesu. Namun kedua penyakit ini dapat dibedakan. 3. Stadium III Gejala berkisar dari palpitasi hingga gagal jantung kongestif. menurunnya fraksi ejeksi pada ECG. karena pada anemia defisiensi Fe didapatkan : 10 Pucat tanpa organomegali SI rendah IBC meningkat Tidak tedapat besi dalam sumsum tulang Bereaksi baik dengan pengobatan dengan preparat besi . DIAGNOSIS BANDING Thalassemia sering kali didiagnosis salah sebagai anemia defisiensi Fe. Dapat ditemukan pulsasi atrial dan ventrikular abnormal pada EKG dalam 24 jam.

Apusan darah tepi defisiensi besi Anemia sideroblastik dimana didaptkan pula gambaran apusan darah tepi mikrositik hipokrom dan gejala-gejala anemia. PEMERIKSAAN PENUNJANG . dimana enzim ini bekerja untuk mencegah kerusakan eritrosit akibat oksidasi. yang memberi gambaran klinis yang sama. Thalassemia juga didiagnosis banding dengan jenis thalassemia lainnya.Gambar 13. Pada thalassemia α dengan HbH ditemukan jaundice dan splenomegali. Namun pada pemeriksaan elektroforesis hemoglobin dapat diketahui jenis thalassemia α atau thalassemia β. Dapat juga dibandingkan dengan anemia defisiensi G6PD. (9) 7. yang membedakan dengan thalassemia adalah kadar besi dalam darah tinggi. Merupakan salah satu anemia hemolitik juga. Dapat dibedakan dengan thalassemia dengan gambaran apusan darah tepi dimana pada defisiensi G6PD nomositik-normokrom dan pemeriksaan enzim G6PD. kadar TIBC (Total Iron Binding Capacity) normal atau meningkat sedangkan pada thalassemia kadar besi dan TIBC normal.

Pada gambaran sediaan darah tepi akan ditemukan retikulosit. tear drops sel dan target sel. . Darah 4 Pemeriksaan darah yang dilakukan pada pasien yang dicurigai menderita thalasemia adalah : Darah rutin Kadar hemoglobin menurun. Gambaran darah tepi Anemia pada thalassemia mayor mempunyai sifat mikrositik hipokrom. peningkatan jumlah lekosit.Pemeriksaan laboratorium yang perlu untuk menegakkan diagnosis thalassemia ialah: 1. Dapat ditemukan penurunan jumlah eritrosit. poikilositosis. Hitung retikulosit Hitung retikulosit meningkat antara 2-8 %. ditemukan pula peningkatan dari sel PMN. Bila terjadi hipersplenisme akan terjadi penurunan dari jumlah trombosit.

. Pemeriksaan sumsum tulang Pada sumsum tulang akan tampak suatu proses eritropoesis yang sangat aktif sekali. sedangkan TIBC akan meningkat. Pada thalassemia β kadar Hb F bervariasi antara 10-90%. bila angka tersebut sudah terlampaui maka harus dipikir adanya kemungkinan hepatitis. - Tes Fungsi Hepar Kadar unconjugated bilirubin akan meningkat sampai 2-4 mg%.Gambar 13. Petunjuk adanya thalassemia α adalah ditemukannya Hb Barts dan Hb H. sedangkan dalam keadaan normal kadarnya tidak melebihi 1%. Pemeriksaan ini untuk melihat jenis hemoglobin dan kadar HbA2. Serum SGOT dan SGPT akan meningkat dan menandakan adanya kerusakan hepar. Sapuan darah tepi pada thalassemia Serum Iron & Total Iron Binding Capacity Kedua pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan anemia terjadi karena defisiensi besi. 2. Pemeriksaan ini tidak hanya ditujukan pada penderita thalassemia saja. Elektroforesis Hb Diagnosis definitif ditegakkan dengan pemeriksaan eleltroforesis hemoglobin. Pada anemia defisiensi besi SI akan menurun. namun juga pada orang tua. Akibat dari kerusakan ini akan berakibat juga terjadi kelainan dalam faktor pembekuan darah. dan saudara sekandung jika ada. 3. obstruksi batu empedu dan cholangitis.

Ratio rata-rata antara myeloid dan eritroid adalah 0. Bila tidak mendapat tranfusi dijumpai osteopeni. pada keadaan normal biasanya nilai perbandingannya 10 : 3. Pemeriksaan rontgen 11 Ada hubungan erat antara metabolisme tulang dan eritropoesis. Gambar 14. resorbsi tulang meningkat. . Sapuan sumsum tulang 4. Trabekulasi memberi gambaran mozaik pada tulang. mineralisasi berkurang. dan dapat diperbaiki dengan pemberian tranfusi darah secara berkala. disebut dengan “hair on end” yaitu menyerupai rambut berdiri potongan pendek pada anak besar. Tulang terngkorak memberikan gambaran yang khas. Apabila tranfusi tidak optimal terjadi ekspansi rongga sumsum dan penipisan dari korteknya.8.

6. 7. Terapi preparat besi sebaiknya tidak diberikan kecuali memang dipastikan terdapat defisiensi besi dan harus segera dihentikan apabila nilai Hb yang potensial pada penderita tersebut telah tercapai. fungsi ginjal dan test darah rutin untuk memonitor efek terapi deferoxamine (DFO) dan shelating agent. 9 8. Pemeriksaan mata. Diperlukan konseling pada semua penderita dengan kelainan genetik. 5. Penderita thalassemia berat membutuhkan terapi medis. Transfusi darah harus dimulai pada usia dini ketika anak mulai mengalami gejala dan setelah periode pengamatan awal untuk menilai apakah anak dapat mempertahankan nilai Hb dalam batas normal tanpa transfusi. TERAPI Penderita trait thalassemia tidak memerlukan terapi ataupun perawatan lanjut setelah diagnosis awal dibuat. khususnya mereka yang memiliki anggota keluarga yang berisiko untuk terkena penyakit thalassemia berat. Gmabar rontgen kepala “Hair on end” dan tulang panjang yang terjadi penipisan korteks. pendengaran. Kadang ditemukan jantung yang kardiomegali akibat anemianya. EKG dan echocardiography untuk mengetahui dan memonitor keadaan jantungnya. dan regimen transfusi darah merupakan terapi awal untuk memperpanjang masa hidup. HLA typing untuk pasien yang akan di transplantasi sumsum tulang. a. Transfusi Darah 5 .Gambar 15.

25% pasien yang menerima transfusi terekspose virus hepatitis B. Pemeriksaan tersebut meliputi fenotip sel darah merah.5 gr/dL sepanjang waktu. Saat ini. - Darah yang akan ditransfusikan harus rendah leukosit. vaksinasi hepatitis B (bila perlu). Penderita thalassemia mayor biasanya lebih mudah untuk terkena infeksi dibanding anak normal. bahkan tanpa diberikan transfusi. Infeksi oleh organisme opurtunistik dapat menyebabkan demam dan enteriris pada penderita dengan iron overload. 10-15 mL/kg PRC dengan kecepatan 5 mL/kg/jam setiap 3-5 minggu biasanya merupakan regimen yang adekuat untuk mempertahankan nilai Hb yang diinginkan. dengan adanya imunisasi. dan pemeriksaan hepatitis. . insidens tersebut sudah jauh berkurang.- Transfusi darah bertujuan untuk mempertahankan nilai Hb tetap pada level 9-9. sebaiknya diterapi dengan Gentamisin dan TrimetoprimSulfametoksazol. - Pada pasien yang membutuhkan transfusi darah reguler. Komplikasi Transfusi Darah 5 Komplikasi utama dari transfusi adalah yang berkaitan dengan transmisi bahan infeksius ataupun terjadinya iron overload. - Pertimbangkan pemberikan asetaminofen dan difenhidramin sebelum transfusi untuk mencegah demam dan reaksi alergi. maka dibutuhkan suatu studi lengkap untuk keperluan pretransfusi. Beberapa tahun lalu. Virus Hepatitis C (HCV) merupakan penyebab utama hepatitis pada remaja usia di atas 15 tahun dengan thalassemia. Demam yang tidak jelas penyebabnya. khususnya mereka yang mendapat terapi khelasi dengan Deferoksamin (DFO).

- Dosis total yang diberikan adalah 30-40mg/kg/hari diinfuskan selama 8-12 jam saat pasien tidur selama 5 hari/minggu. Kemungkinan kanker setelah TSSH juga harus dipertimbangkan. pada beberapa pasien. yaitu untuk mencapai keseimbangan besi negatif (lebih banyak diekskresi dibanding yang diserap). fibrosis portal. Prognosis jangka panjang pasca transplantasi .b. - Chelating agent yang biasa dipakai adalah DFO yang merupakan kompleks hidroksilamin dengan afinitas tinggi terhadap besi. terapi khelasi dapat menunda onset dari kelainan jantung dan. tidak diketahui. sedangkan pada penderita yang tidak memiliki ketiganya adalah 90%. termasuk fertilitas. dan terapi khelasi yang inefektif sebelum transplantasi dilakukan. maka rute pemberiannya harus melalui parenteral (intravena. Prognosis bagi penderita yang memiliki ketiga karakteristik ini adalah 59%. Biaya jangka panjang terapi standar diketahui lebih tinggi daripada biaya transplantasi. Meskipun transfusi darah tidak diperlukan setelah transplantasi sukses dilakukan. Prognosis yang buruk pasca TSSH berhubungan dengan adanya hepatomegali. . intramuskular. Waktu yang optimal untuk memulai pengobatan tersebut adalah setahun setelah TSSH. atau subkutan). Karena DFO tidak diserap di usus. individu tertentu perlu terus mendapat terapi khelasi untuk menghilangkan zat besi yang berlebihan. bahkan dapat mencegah kelainan jantung tersebut. c. Transplantasi Sel Stem Hematopoetik (TSSH) 5 TSSH merupakan satu-satunya yang terapi kuratif untuk thalassemia yang saat ini diketahui. Terapi Khelasi (Pengikat Besi) 5 - Apabila diberikan sebagai kombinasi dengan transfusi. Rute pemberiannya sangat penting untuk mencapai tujuan terapi.

Dosis rendah Aspirin® setiap hari juga bermanfaat jika platelet meningkat menjadi lebih dari 600. prosedur ditunda bila memungkinkan sampai anak berusia 4-5 tahun atau lebih. fungsi penyimpanan). Limpa berfungsi sebagai penyimpanan untuk besi nontoksik. Faktafakta ini harus selalu dipertimbangkan sebelum memutuskan melakukan splenektomi. Transplantasi sumsum tulang5 .. Pengangkatan limpa yang terlalu dini dapat membahayakan.d. Terapi Bedah(4) Splenektomi merupakan prosedur pembedahan utama yang digunakan pada pasien dengan thalassemia. Pengobatan agresif dengan antibiotik harus selalu diberikan untuk setiap keluhan demam sambil menunggu hasil kultur. Sebaliknya.000 / μL pasca splenektomi. Limpa juga meningkatkan perusakan sel darah merah dan distribusi besi. menyebabkan penghancuran sel darah merah yang berlebihan dan dengan demikian meningkatkan kebutuhan transfusi darah. Limpa diketahui mengandung sejumlah besar besi nontoksik (yaitu. splenektomi dibenarkan apabila limpa menjadi hiperaktif. sehingga melindungi seluruh tubuh dari besi tersebut. dan banyak prosedur sekarang dilakukan dengan laparoskopi. Risiko yang terkait dengan splenektomi minimal. e. Biasanya. menghasilkan lebih banyak akumulasi besi. Splenektomi dapat bermanfaat pada pasien yang membutuhkan lebih dari 200-250 mL / kg PRC per tahun untuk mempertahankan tingkat Hb 10 gr / dL karena dapat menurunkan kebutuhan sel darah merah sampai 30%.

Kopi dan teh diketahui dapat membantu mengurangi penyerapan zat besi di usus. Jarang dilakukan karena mahal dan sulit. SKRINNING Ada 2 pendekatan untuk menghindari thalassemia: 1) Karena karier thalassemia β bisa diketahui dengan mudah. Vitamin E  200-400 IU setiap hari. Transplantasi sumsum tulang merupakan satu-satunya terapi definitive untuk talasemia. . f. Diet talasemia 11 Pasien dianjurkan menjalani diet normal. Bila heterozigot menikah. 1 dari 4 anak mereka bisa menjadi homozigot atau gabungan heterozigot. Sebaiknya zat besi tidak diberikan. Asam Folat  2-5 mg/hari untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat. 2) Bila ibu heterozigot sudah diketahui sebelum lahir. 9. pasangan tersebut ditawari diagnosis prenatal dan terminasi kehamilan pada fetus dengan thalassemia β berat. skrinning populasi dan koseling tentang pasangan bisa dilakukan. pasangannya bisa diperiksa dan bila termasuk karier. dan makanan yang kaya akan zat besi juga dihindari.Transplantasi sumsum tulang untuk talasemia pertama kali dilakukan tahun 1982. dengan suplemen sebagai berikut :    Vitamin C  100-250 mg/hari selama pemberian kelasi besi.

PROGNOSIS Prognosis bergantung pada tipe dan tingkat keparahan dari thalassemia. hepatosplenomegali. Kerusakan hepar yang disebabkan oleh besi yang berhubungan dengan komplikasi sekunder dari transfuse dan infeksi hepatitis C merupakan penyebab tersering hepatitis pada anak dengan thalassemia. KOMPLIKASI Splenomegali karena penimbunan besi dan eritrosit abnormal. Penting menyediakan program konseling verbal maupun tertulis mengenai skrinning. Hemosdierosis akibat pemberian transfuse. Alternatif lain bisa juga dilakukan pemeriksaan terhadap setiap wanita hamil berdasar ras. Thrombosis dan septikemia pada splenektomi Wanita dengan fetus α. 5 10. Seperti dijelaskan sebelumnya. 10 10. dilakukan skrinning premarital yang bisa dilakukan di sekolah anak. leukosit dan trombosit. - Congestive heart failure dan cardiac aritmia pada transfusi tanpa chelating agent.thalassemia meningkatkan komplikasi pada kehamilan karena toksikemia dan peradarahan post partum. kadar Hb A2 (meningkat pada thalassemia-β). Bila kadarnya normal. sehingga kadar serum besi yang berlebihan. melalui ukuran eritrosit.Bila populasi tersebut menghendaki pemilihan pasangan. kondisi klinis penderita thalassemia sangat bervariasi dari ringan bahkan . pasien dikirim ke pusat yang bisa menganalisis rantai α. penipisan cortex tulang dan mudah fraktur. Anak dengan β thalassemia mayor dengan transfuse yang tidak adekuat dapat menyebabkan pertumbuhan kurang dan mudah terinfeksi.

asimtomatik hingga berat dan mengancam jiwa. biasanya meninggal karena penimbunan besi. Bayi dengan thalassemia α mayor kebanyakn lahir mati atau lahir hidup dan meninggal dalam beberapa jam. tergantung pula pada terapi dan komplikasi yang terjadi. 9 . Anak dengan thalassemia dengan transfuse darah biasanya hanya bertahan sampai usia 20 tahun.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan facies Cooley. sesak nafas kurang konsentrasi. Heterozigot biasanya tanpa gejala. terapi pengikat besi (khelasi). India sampai Asia Tenggara. Gejala klinis biasa berupa tanda-tanda anemia seperti pucat.lesu. Timur Tengah. infeksi berulang dan perubahan tulang. sering pula disertai dengan kesulitan makan.BAB III KESIMPULAN Thalassemia adalah gangguan pembuatan hemoglobin yang diturunkan. pembesarah lien dan atau hepar. Thalassemia diturunkan berdasarkan hukum Mendel. bentuk tulang yang abnormal.letih. conjungtiva anemis. lemah. sedangkan homozigot atau gabungan heterozigot gejalanya lebih berat dari thalassemia α dan β. Thalassemia ditemukan tersebar di seluruh ras di Mediterania. resesif atau ko-dominan. Terapi thalassemia antara lain adalah terapi transfusi. dan transplantasi sumsum . gagal tumbuh. Thalassemia memiliki dua tipe utama berdasarkan rantai globin yang hilang pada hemoglobin individu yaitu Thalassemia-α dan thalassemia-β. tidak aktif beraktifitas atau jarang bermain dengan teman seusianya. splenektomi. yang nantinya akan dibagi lagi menjadi beberapa subtipe berdasarkan derajat mutasi (secara genetik) ataupun berat ringannya gejala.

Konseling mengenai thalassemia sangat diperlukan untuk skrining dan pemahaman terhadap penderita. Sampai saat ini. Masing-masing terapi memiliki kriteria dan efek samping tertentu sehingga perlu dipertimbangkan secara seksama. penderita thalassemia yang berat biasanya tidak dapat bertahan hingga mencapai usia dewasa normal meskipun kemungkinan ini tidak tertutup sama sekali. .tulang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful