BAB II

KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Kajian Teoritis

2.1.1. Minat Belajar Elektronika Dasar A. Belajar Beberapa ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsiran tentang ‘belajar’. sering kali rumusan dan tafsiran mereka berbeda satu sama lain. Menurut pendapat yang tradisional, belajar dianggap sebagai ; pengumpulan sejumlah ilmu saja, seperti yang diungkapkan oleh S.Nasution M.A di dalam buku “Asas-asas Kurikulum” sebagai berikut : “Menurut pendapat yang tradisional belajar itu hanya menambah dan mengumpulkan sejumlah ilmu pengetahuan”1. Pendapat ini sudah terlampau sempit dan hanya terpusat kepada mata pelajaran belaka. Belajar itu sendiri adalah suatu proses aktivitas yang dapat membawa perubahan pada individu. Seperti yang dikatakan oleh Hergenhehn dan Olson (1993:159) dalam bukun “Agus Mahendra” sebagai berikut : “Belajar adalah perubahan yang bersifat menetap dalam perilaku atau potensi perilaku yang merupakan hasil dan pengalaman dan tidak dicirikan oleh keadaankeadaan diri yang sifatnya sementara seperti yang disebabkan oleh sakit, kelelahan, atau obat-obatan. Belajar merupakan sesuatu yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman tertentu mendahului

perubahan perilaku, sehingga belajar hanya berstatus sebagai intervening variabel. Artinya suatu proses teoritis yang dianggap berlangsung diantara stimulus dan responnya.

1

Rostiyah, Masala-masalah Ilmu Keguruan, (Jakarta: Bina Aksara, 1989), h. 141.

[Type text]

Page 5

Hal ini yang di kemukakan oleh Crow bersaudara sebagai berikut : “ belajar adalah perubahan individu dalam kebiasaan, pengetahuan, dan sikap”2. Dalam definisi dikatakan bahwa seseorang belajar kalau ada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dalam menguasai ilmu pengetahuan. Belajar disini merupakan proses dimana guru terutama melihat apa yang terjadi selama murid menjalani pengalaman edukatif, untuk mencapai tujuan. Whiterington, dalam bukunya Educational Psychology, Belajar adalah suatu perubahan di dalam keperibadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian3. Beranjak dari pengertian diatas bahwa belajar itu adalah perubahan kelakuan, maka pendidik didalam proses mengajar akan menghadapi tiga hal4: 1. Ia harus menentukan, perilaku apakah yang diharapkan dari peserta didik. 2. Ia harus mengetahui sampai manakah perkembangan perilaku peserta didik. 3. Ia harus menyediakan kesempatan dan syarat-syarat yang sebaik-baiknya. B. Hasil Belajar Hasil belajar adalah suatu usaha pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditetapkan atau diharapkan pada diri siswa setelah melalui proses belajar mengajardalam bentuk tingkah laku atau pola sikap5, bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Perubahan tingkah laku atau pola waktu itu diwujudkan dalam bentuk , penguasaan,penggunaan, dan penilaian terhadap sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan kecakapan yang terdapat dalam bidang studi dan lebih luas lagi dalam aspek kehidupan.

2 3

Crow, Educational Phscology, terjemahan Z. Kasiyah, (Surabaya: Bina Ilmu, 1984), h.28. Whiterington, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Aksara Baru, 1984), h. 93 4 A. Tabrani Rustam, Pendekatan Proses Belajar Mengajar, (Bandung: CV. Remaja Karya, 1987), h.10. 5 Nana Sudjana, Penilitian Hasil Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992), h.2.

[Type text]

Page 6

Tujuan pengajaran pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan terjadi pada diri siswa. Pada tujuan pengajara terdapat deskripsi tentang penampilan tingkah laku ( performance ) siswa yang diharapkan setelah siswa menjalani proses belajar mengajar. Dengan merumuskan tujuan pengajaran guru dapat dapat mengorganisasikan kegiatankegiatan atau usaha-usaha dalam mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. Proses belajar mengajar di SMK meliputi pengajaran teori dan pengajaran praktek. Karena di SMK hasil belajar ditekankan pada aspek psikomotorik yaitu siswa diharapkan mampu dan terampil di dalam menggunakan suatu alat, salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa SMK Perguruan Cikini adalah penguasaan ilmu elektronika dasar. Sebagai mata pelajaran pokok dan wajib di berikan pada SMK Khususnya elektronika dasar, maka pelajaran elektronika adalah salah satu materi pokok dan penting bagi siswa dalam melangkah kearah penguasaan kelistrikan. Belajar elektronika dasar akan berlangsung dengan baik dan lancar bila mana

didorong tujuan tertentu. Dengan kata lain tujuan akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam pengajaran elktronika dasar tujuan yang hendak dicapai

dideskripsikan dalam bentuk perubahan sikap (kemampuan) setelah siswa mengalami proses belajar elktronika dasar. Adapun tujuan pembelajaran elektronika dasar sebagaimana yang terdapat dalam GBPP. Siswa mampu memahami dasar-dasar elektronika dan komponen –komponen elktronika
1. Macam – macam rangkian listrik

a. b.

Seri Paralel

2. Komponen-komponen elktronika a. Aktif

[Type text]

Page 7

b.

Pasif Dari praktek elktronika dasar siswa diharapkan dapat lebih mengerti dan memahami

konsep – konsep yang terdapat dalam elektronika dasar dan dapat menggunakan konsep – konsep elketronika dasar kedalam praktek elektonika 1, elektronika2 dan elektronika 3. Pada praktek elektonika dasar harus terlebih dahulu dapat merakit atau membuat rangkaian elektronika untuk itu, banyak faktor yang harus diperhatikan, antara lain : mampu membaca gambar, symbol, mampu menganilisa pekerjaan dan menetapkan langkah – langkah dari awal sampai akhir, bekerja sesuai aturan teknis dan keselamatan kerja, terampil dalam pemakaian alat dan bahan. Yang terpenting, siswa dapat menyimpulkan cara kerja rangkaian yang telah di buat, sehingga dalam proses belajar mengajar praktek elektronika dasar siswa dapat mengolah, menggunakan, menemukan, dan mengkomunikasikan yang di buatnya. Selain itu perlu diperhatikan bahwa kegiatan praktek hendaklah dirancang secara berjenjang dari yang mudah menuju yang lebih rumit sehinggga memberi motivasi belajar siswa. Dari kegiatan belajar mengajar praktek elektronika dasar akan didapat hasil yang tampak sebagai suatu prestasi yang ditunjukan oleh siswa terhadap apa yang telah dipraktekkanya itu melalui evaluasi berupa pertanyaan, tugas, atau instruksi yang tertera pada job sheel (Sumadi suryabrata).6 Dari kemampuannya di dalam menyelesaikan tugas – tugas yang terdapat pada job sheet dapat diukur seberapa kemampuan daya serap belajar siswa tersebut. Untuk memperoleh data pembuktian yang menjelaskan tingkat kemampuan siswa serta keberhasilannya dalam mencapai tujuan instruksional elektronika dasar, maka dilakukan evaluasi. Bloom mendefinisikan evaluasi adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya telah terjadi perubahan pada diri siswa dan menetapkan seberapa jauh tingkat perubahan terjadi di dalam diri pribadi siswa.7
6 7

M. Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1990), h. 3. Ibid . h.6.

[Type text]

Page 8

Evaluasi dalam pendidikan tidak dapat diukur secara langsung karena obyek yang diukur dan dinilai adalah aspek psikologis, untuk itu diperlukan suatu alat yang dapat digunakan untuk mengukurnya,yaitu tes. Alpa Cronbach mendefinisikan tes sebagai suatu prosedur sistematis untuk mengamati dan mencandrakan satu atau lebih karakteristik seorang dengan skala numerik atau sistem kategori.8 Untuk mendapatkan informasi tentang kemajuan prestasi belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar,dapat digunakan tes berikut : a. Tes lisan b. Tes tertulis yang meliputi tes essay dan tes objektif
c. Tes penampilan (Performance Test)

Untuk penilaian praktek elektronika dasar ditekankan pada aspek psikomotorik yang lebih menekankan pada gerakan tangan dan kemampuan otak menganilisa. Aspek psikomotorik antara lain berisi; menggunakan alat dan bahan secara tepat, ketelitian dan kecermatan dalam melakukan praktek dan penyambungan yang tepat pada terminal – terminalnya. Tes penampilan adalah satu –satunya evaluasi dalam penilaian skill, yaitu siswa yang hendak dinilai kemampuannya diharuskan menampilkan skill yang dimilikinya itu di bawah persyaratan kerja tertentu.Agar penilaian dapat seobyektif mungkin, maka masing – masing skill diuraiakan elemen skill. Elemen skill dapat berwujud:9 1. Kemampuan membaca dan menggunakan gambar,symbol dan lain – lain. 2. Kemampuan menganalisa pekerjaan dan menetapkan langkah. 3. Bekerja sesuai aturan teknis dan keselamatan kerja. 4. Keterampilan dalam pemakaian alat dan bahan.
8 9

Suke Silverus, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik,(Jakarta:Gramedia,1991),h.5. Soeharto,Desain Instruksional; sebuah pendekatan praktis untuk pendidikan teknologi dan kejuruan, (Jakarta: Departemen P dan K Direktoriat Pendidikan tinggi,1991), h.38

[Type text]

Page 9

5. Kualitas pekerjaan dan ketepatan waktu. Pada akhirnya tujuan dari hasil belajar instalasi tenaga listrik yang terpenting adalah sebagai berikut10 :
1. Siswa dapat memahami tentang prinsip – prinsip rangkaian seri 2. Siswa dapat memahami tentang prinsip – prinsip rangkaian paralel 3. Siswa dapat memahami tentang prinsip – prinsip komponen elektronika aktif

4. Siswa dapat memahami tentang prinsip – prinsip komponen elektronika pasif 5. Siswa dapat memahami dan mengenal macam – macam sakelar manual. 6. Siswa dapat menentukan alat – alat pengaman. 7. Siswa dapat memahami dan mengenal alat – alat bantu dan alat pengaman. 2.1.2 Motivasi Belajar Elektronika dasar Pada umumnya motivasi merupakan salah satu faktor pembawaan yang terdapat pada setiap diri siswa yang menjadi syarat untuk belajar. Motivasi adalah salah satu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan atau perangsang11. Menurut Hewitt (1968) mengemukakan bahwa “ attentional set “ merupakan dasar bagi perkembangan motivasi yakni yang bersifat sosial, artinya anak itu suka bekerja sama dengan anak-anak lain dan dengan guru, ia mengharapkan penghargaan dari teman-temannya dan mencegah celaan mereka, dan ingin mendapatkan harga dirinya dikalangan kawan sekelasnya12 Sedangkan menurut Ausubel bahwa motivasi yang dikaitkan dengan motivasi sosial tidak begitu penting dibandingkan dengan motivasi yang bertalian dengan penguasaan tugas

10 11

Kismet Fadillah, Instalasi Motor – motor Listrik, (Bandung:Angkasa, 1997), h.70. M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan. (Bandung : Remadja Karya CV.1986 ), h 70. 12 Prof.Dr.S.Nasution,MA, Berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar. (Jakarta : Bumi Aksara. 1982), h 181

[Type text]

Page 10

dan keberhasilan. Motivasi serupa ini bersifat intrinsik dan keberhasilannya akan memberi rasa kepuasan13. Motivasi berasal dari kata motif yang berarti daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu dalam mencapai suatu tujuan. Motif ini akan menjadi aktif bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak. Motivasi dapat diartikan daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motivasi murni apabila maksud cukup sehat dan dirasakan sebagai suatu kebutuhan, dan motivasi bukan lah suatu pemaksaan14. Ada dua macam bentuk motivasi : 1. Motivasi dari dalam diri (instrinsik) dilakukan dengan cara menggairahkan perasaan ingin tahu anak, keinginan untuk mencoba dan hasrat untuk belajar. 2. Motivasi dari luar diri (ekstrinsik) dilakukan dengan cara membangkitkan pujian dan memberikan ganjaran. Perwujudan motivasi belajar yang tinggi dalam bentuk tingkah laku yang bertujuan kepada pekerjaan yang padat menurut kemampuan dan taraf upaya yang tinggi serta peranan dalam membuat keputusan dan memecahkan masalah. Motivasi juga dapat dikatakan sebagai rangkaian usaha untuk menyediakan kondisikondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu dan bila ia tidak suka maka ia akan berusaha untuk menghilangkan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi dapat dirangsang faktor-faktor dari dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar motivasi tumbuh dari keseluruhan diri, karena pada umumnya daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh siswa tercapai.
13 14

Ibid. h. 181. H.C.Witherington, terjemahan M. Buchori Educational Psychology : Pengantar Psikologi Pendidikan. (Bandung : Jemmars,1977), h.69.

[Type text]

Page 11

Motif mempunyai arti kata keseluruhan, karena ada beberapa motif yang bersamasama menggerakkan siswa untuk belajar. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal pertumbuhan gairah, perasaan senang dan semangat untuk belajar. Winkel juga mengatakan bahwa motivasi belajar berfungsi sebagai pendorong usaha untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi 15. Hasil belajar seorang siswa akan menjadi optimal, jika siswa tersebut mempunyai motivasi yang tinggi. Dengan adanya usaha yang tekun dan dengan didasari oleh motivasi belajar maka seorang siswa akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi belajar seseorang akan sangat menentukan tingkat keberhasilan prestasi belajarnya. Motivasi interinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif bukan hanya dirangsang dari luar diri, tetapi dari dalam diri siswa dan sudah ada dorongan untuk belajar. Siswa yang bermotivasi interinsik mempunyai tujuan menjadi orang terdidik, berpengetahuan, ahli dalam bidang studi tertentu.satu-satunya jalan menuju kepada ketujuan yang ingin dicapai ialah belajar, karena tanpa belajar seseorang tidak mungkin menjadi ahli di dalam bidangnya. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya rangsangan dari luar diri. Sehingga belajar bukan hanya ingin mengetahui sesuatu tetapi ingi mendapatkan nilai yang baik, atau mendapatkan hadiah. Jadi bila dilihat dari tujuanya maka akan tampak perbedaan dengan siswa yang mempunyai motivasi intrinsik. Meskipun demikian bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak baik dan tidak penting, sebab ada kemungkinan keadaan siswa itu dinamis atau berubah-ubah dan juga ada komponen-komponen lain dalam proses belajar mengajar yang tidak menarik siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik. Siswa yang bermotivasi kuat belum tentu digerakkan oleh motif yang tergolong dalam motivasi intrinsik, maka “bermotivasi kuat” tidak sama dengan “ bermotivasi intrinsik”.
15

W.S Winkel, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar, (Jakarta : PT. Gramedia, 1984), h.45.

[Type text]

Page 12

Salah satu cara yang tergolong dalam motivasi intrinsik adalah achievement motivation (motivasi berperestasi) yaitu daya penggerak untuk mencapai taraf prestasi belajar yang tinggi demi penghargaan bagi dirinya sendiri. Demikian pula halnya dalam belajar elektronika dasar dibutuhkan motivasi dalam belajar elektronika dasar, karena bila bahan pelajaran yang akan dipelajari oleh siswa tidak di dasari oleh motivasi belajar elektronika dasar maka siswa tidak akan belajar elektronika dasar dengan sebaik-baiknya. Siswa merasa enggan untuk belajar elektronika dasar terlebih lagi pada pelajaran elektronika 2 dan 3 siswa tidak saja di tuntut pada aspek kognitif tetapi juga dituntut pada aspek psikomotorik. Siswa yang menaruh motivasi yang sangat besar terhadap pelajaran elektronika dasar, akan lebih mudah menguasai pelajaran tersebut. Karena dengan motivasi belajar elektronika dasar siswa akan berusaha sebaik mungkin sesuai apa yang menjadi tujuan dalam belajar elektronika dasar. Jika terdapat siswa yang kurang berminat terhadap pelajaran elektronika dapatlah diusahakan agar ia memiliki motivasi yang lebih besar dengan menjelaskan hal-hal yang menarik yang berhubungan dengan elektronika, menghubungkan pelajaran-pelajaran lain yang memiliki keterkaitan dengan elektronika dasar, menjelaskan pelajaran elektronika dasar didalam kehidupan sehari-hari, dan memenuhi-memenuhi kabutuhan pada diri siwa didalam belajar intalasi tenaga listrik. Yang terpenting dalam belajar elektronika dasar adalah tercipta kondisi belajar yang baik sehingga siswa akan termotivasi untuk mempelajari elektronika dasar. Untuk mendalami suatu kegiatan atau bidang tertentu perlu adanya motivasi yang menjadi sebab mengapa ia mendalami bidang itu, sehingga tujuan yang telah ditetapkan akan terwujud yaitu penguasaan bidang yang diinginkanya itu. 2.1.3 Mata Pelajaran Elektronika Dasar

[Type text]

Page 13

A. Rangkaian Seri Rangkaian seri terdiri dari dua atau lebih beban listrik yang dihubungkan ke catu daya lewat satu rangkaian. Rangkaian seri dapat berisi banyak beban listrik dalam satu rangkaian. Contoh yang baik dari beberapa beban rangkaian dihubung seri adalah lampu pohon Natal. ( kurang lebih 20 lampu dalam rangkaian seri ). Dua buah elemen berada dalam susunan seri jika mereka hanya memiliki sebuah titik utama yang tidak terhubung menuju elemen pembawa arus pada suatu jaringan. Karena semua elemen disusun seri, maka jaringan tersebut disebut rangkaian seri. Dalam rangkaian seri, arus yang lewat sama besar pada masing-masing elemen yang tersusun seri.
1. Sifat-sifat Rangkaian Seri

1. Arus yang mengalir pada masing beban adalah sama. 2. Tegangan sumber akan dibagi dengan jumlah tahanan seri jika besar tahanan sama. Jumlah penurunan tegangan dalam rangkaian seri dari

masing-masing tahanan seri adalah sama dengan tegangan total sumber tegangan. 3. Banyak beban listrik yang dihubungkan dalam rangkaian seri, tahanan total rangkaian menyebabkan naiknya penurunan arus yang mengalir dalam rangkaian. Arus yang mengalir tergantung pada jumlah besar tahanan beban dalam rangkaian. 4. Jika salah satu beban atau bagian dari rangkaian tidak terhubung atau putus, aliran arus terhenti. 2. Contoh paling sederhana penerapan rangkaian listrik seri dalam kehidupan sehari-hari (di rumah) : 1.Lampu hias pohon Natal model lama (yang baru pakai rangkaian elektronik & lampu LED) merupakan rangkaian seri beberapa lampu (12V di-seri 20 pcs) sehingga dapat menerima tegangan sesuai dengan jala-jala (220V). 2. Lampu TL (tube Lamp) atau orang bilang lampu neon, model lama yang
[Type text] Page 14

masih memakai ballast, di dalam box nya memakai rangkaian seri antara jala-jala dengan ballastnya. 3. Di dalam setrika listrik ada rangkaian seri dengan bimetal (temperatur kontrol), demikian juga kulkas. 4. Sakelar/switch merupakan penerapan rangkaian seri dengan beban.

B. Rangkaian paralel Rangkaian Paralel merupakan salah satu yang memiliki lebih dari satu bagian garis edar untuk mengalirkan arus. Dalam kendaraan bermotor, sebagian besar beban listrik dihubungkan secara parallel. Masing-masing rangkaian dapat dihubung-putuskan tanpa mempengaruhi rangkaian yang lain. Sifat-sifat Rangkaian Paralel 1. Tegangan pada masing-masing beban listrik sama dengan tegangan sumber. 2. Masing-masing cabang dalam rangkaian parallel adalah rangkaian individu. Arus masing-masing cabang adalah tergantung besar tahanan cabang. 3. Sebagaian besar tahanan dirangkai dalam rangkaian parallel, tahanan total rangkaian mengecil, oleh karena itu arus total lebih besar. (Tahanan total dari rangkaian parallel adalah lebih kecil dari tahanan yang terkecil dalam rangkaian.)

[Type text]

Page 15

4. Jika terjadi salah satu cabang tahanan parallel terputus, arus akan terputus hanya pada rangkaian tahanan tersebut. Rangkaian cabang yang lain tetap bekerja tanpa terganggu oleh rangkaian cabang yang terputus tersebut. Contoh paling sederhana penerapan rangkaian listrik paralel dalam kehidupan sehari-hari (di rumah) : 1) Distribusi Listrik PLN kerumah-rumah adalah paralel. 2) Stop contact merupakan rangkaian paralel dengan jala-jala.

Sambungan Parelel/ Jajar yaitu sambungan ujung kaki satu sama lain disambung dengan lainnya saling disatukan

C. Komponen Pasif 1.
Resistor

[Type text]

Page 16

Resistor disebut juga dengan tahanan atau hambatan, berfungsi untuk menghambat arus listrik yang melewatinya. Semakin besar nilai resistansi sebuah resistor yang dipasang, semakin kecil arus yang mengalir. Satuan nilai resistansi suatu resistor adalah Ohm ( Ω ) diberi lambang huruf R. Ada dua macam resistor yang dipakai pada teknik listrik dan elektronika, yaitu resistor tetap dan resistor variable. Resistor tetap adalah resistor yang mempunyai nilai hambatan yang tetap. Biasanya terbuat dari karbon, kawat atau paduan logam. Sebuah hambatan karbon dibentuk oleh pipa keramik dengan karbonnya diuapkan. Biasanya pada kedua ujungnya dipasang tutup, dimana kawat-kawat penghubungnya dipasang. Nilai hambatannya ditentukan oleh tebalnya dan panjangnya lintasan karbon. Panjang lintasan karbon tergantung dari kisarnya alur yang berbentuk spiral. Bentuk resistor karbon yang diuapkan aksial dan radial dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Hambatan Karbon yang diuapkan Aksial dan Radial
Tabel 1. Kode Warna pada Resistor 4 Gelang

Warna Hitam Coklat Merah Oranye Kuning Hijau Biru Ungu

Gelang 1 (Angka pertama) 1 2 3 4 5 6 7

Gelang 2 (Angka kedua) 0 1 2 3 4 5 6 7

Gelang 3 (Faktor pengali) 1 101 102 103 104 105 106 107

Gelang 4 (Toleransi) 1 2 3 4 5 6 7

[Type text]

Page 17

Abu-abu Putih Emas Perak Tanpa Warna

8 9 -

8 9 -

108 109 10-1 10-2 10-3

8 9 5 10 20

Arti kode warna pada resistor 5 gelang adalah: Gelang 1 = Angka pertama Gelang 2 = Angka kedua Gelang 3 = Angka ketiga Gelang 4 = Faktor pengali Gelang 5 = Toleransi

2.

Kondensator

Kondensator ialah suatu komponen listrik/elektronika yang dapat menyimpan muatan listrik. Kapasitas kondensator diukur dalam satuan Farad. 1 Farad = 10-3 mF (mili farad) = 10-6 µF (mikro farad) = 10-9 nF (nano farad) = 10-12 pF (piko farad). Kondensator eletrolit mempunyai dua kutub yaitu positif dan negatif (bipolar), sedangkan kondensator kering misalnya kondensator mika, kondensator kertas tidak membedakan kutub positif dan kutub negatif (non polar). Kode angka dan huruf yang terdapat pada sebuah kondensator menentukan nilai kapasitansi dan tegangan kerjanya. Tabel 2 Kode Angka dan Huruf pada Kondensator.
Kode Angka 0 Gelang 1 (Angka pertama) Gelang 2 (Angka kedua) 0 Gelang 3 (Faktor pengali) 1 Kode huruf (Toleransi %) F=1

[Type text]

Page 18

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 2 3 4 5 6 7 8 9

101 102 103 104 105 106 107 108 109 G=2 H=3 I=4 J=5 K = 10 M = 20

Contohnya: 1. Volt. 2. 5% Kapasitas sebuah kondensator adalah sebanding dengan luas pelat-pelat yang membentuk kondensator tersebut. Semakin luas pelat-pelatnya semakin besar nilai kapasitansinya. Nilai kapasitansi berbanding terbalik dengan jarak dari pelat-pelatnya. Semakin kecil jarak kedua plat itu, semakin besar nilai kapasitansinya. Sebaliknya semakin jauh jarak kedua plat itu, semakin kecil nilai kapasitansinya. Nilai kapasitansi sebuah kondensator juga sebanding dengan konstanta dielektrikum dari bahan isolator yang dipasang antara kedua plat itu. Jika nilai konstanta dielektrikumnya mempunyai nilai yang besar, maka nilai kapasitansinya besar. 3. Induktor
Induktor adalah komponen listrik/elektronika yang digunakan sebagai beban induktif. Simbol induktor dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Kode kapasitor 562 J 100 V, artinya besarnya kapasitansi 56 x

102pF, J: besarnya toleransi 5%, 100 V, kemampuan tegangan kerja 100 100 nJ, artinya besarnya kapasitansi 100 nF, J: besarnya toleransi

[Type text]

Page 19

Gambar 6. Simbol Induktor
Nilai induktansi sebuah induktor dinyatakan dalam satuan Henry. 1 Henry = 1000 mH (mili Henry). Induktor yang ideal terdiri dari kawat yang dililit, tanpa adanya nilai resistansi. Sifat-sifat elektrik dari sebuah induktor ditentukan oleh panjangnya induktor, diameter induktor, jumlah lilitan dan bahan yang mengelilinginya. Induktor dapat disamakan dengan kondensator, karena induktor dapat dipakai sebagai penampung energi listrik. Di dalam induktor disimpan energi, bila ada arus yang mengalir melalui induktor itu. Energi itu disimpan dalam bentuk medan magnit. Bila arusnya bertambah, banyaknya energi yang disimpan meningkat pula. Bila arusnya berkurang, maka induktor itu mengeluarkan energi.

4. Transformator
Transformator (trafo) ialah alat listrik/elektronika yang berfungsi memindahkan tenaga (daya) listrik dari input ke output atau dari sisi primer ke sisi sekunder. Pemindahan daya listrik dari primer ke sekunder disertai dengan perubahan tegangan baik naik maupun turun. Ada dua jenis trafo yaitu trafo penaik tegangan (step up transformer) dan trafo penurun tegangan (step down transformer). Jika tegangan primer lebih kecil dari tegangan sekunder, maka dinamakan trafo step up. Tetapi jika tegangan primer lebih besar dari tegangan sekunder, maka dinamakan trafo step down.

Gambar 9. Simbol Trafo
Pada setiap trafo mempunyai input yang dinamai gulungan primer dan output yang dinamai gulungan sekunder. Trafo mempunyai inti besi untuk frekuensi rendah dan inti ferrit untuk frekuensi tinggi atau ada juga yang tidak mempunyai inti (intinya udara).
Primer Sekunder

[Type text]

Page 20

Gambar 10. Bagan Trafo yang dilalui Arus Listrik
Bila pada lilitan primer diberi arus bolak-balik (AC), maka gulungan primer akan menjadi magnit yang arah medan magnitnya juga bolak-balik. Medan magnit ini akan menginduksi gulungan sekunder dan mengakibatkan pada gulungan sekunder mengalir arus bolak-balik (AC). Dimisalkan pada gulungan primer mengalir arus berfasa positip (+), maka pada gulungan sekundernya mengalir arus berfasa negatip (-). Karena arus yang mengalir digulungan primer bolak-balik, maka pada gulungan sekunderpun mengalir arus bolak-balik. Besarnya daya pada lilitan primer sama dengan daya yang diberikan pada lilitan sekunder.

D. Komponen Aktif
1. Diode

Dioda semi konduktor yang dipakai pada teknik elektronika pada umumnya digunakan untuk menyearahkan arus listrik AC menjadi DC. Dioda dibentuk oleh atom P dan atom N yang digabungkan menjadi satu, sehingga akan membentuk susunan seperti gambar dibawah ini.

Gambar 11. Susunan dan Simbol Dioda Semikonduktor
Dari gambar di atas atom P disebut sebagai anoda dan atom N sebagai katoda. Bila anoda diberi muatan positip dan katoda diberi muatan negatip, maka arus akan mengalir (lampu menyala), sebaliknya jika anoda diberi muatan negatip dan katoda diberi muatan positip, maka arus tidak mengalir. Dioda dapat digunakan untuk menyearahkan arus AC menjadi arus DC. Ada dua macam penyearah dioda yaitu penyearah setengah gelombang dan penyearah gelombang penuh. Gambar 13 memperlihatkan rangkaian penyearah setengah gelombang.

[Type text]

Page 21

Gambar 13. Rangkaian Penyearah Setengah Gelombang
Bila saklar S ditutup pada belitan sekunder akan diinduksikan tegangan bolak-balik. Pada saat t1 sampai t2 tegangan ujung A sedang positip sehingga pada setengah perioda ini dioda akan dilewati arus I. Arus ini akan melewati tahanan R L, sehingga antara ujung-ujung C dan D terjadi tegangan sebanding dengan besarnya arus. Pada saat t2 – t3 ujung A negatip, dioda menerima tegangan revers, pada tahanan R L akan mengalir arus revers, arus ini besarnya hanya beberapa mikroamper ( µA ), oleh karena itu diabaikan, sehingga pada ujung-ujung RL tidak ada tegangan.

[Type text]

Page 22

Rangkaian penyearah gelombang penuh diperlihatkan pada gambar 14 di bawah ini.

Gambar 14. Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh
Rangkaian penyearah gelombang penuh dengan sistim jembatan ini paling banyak digunakan sebagai sumber tenaga dari pesawat-pesawat elektronika. Penyearah sistim jembatan ini memerlukan empat buah dioda. Transformator yang digunakan tidak perlu mempunyai senter tap. 2. Transistor

Nama transistor diambil dari kata transfer dan resistor. Bahan semi konduktor ini berasal dari bahan atom germanium, Indium dan Arsenikum atau Silikon. Atom-atom ini sendiri termasuk bahan yang tidak mengalirkan arus listrik, jadi termasuk jenis bahan isolator atau resistor. Setelah mengalami proses peleburan, maka terbentuklah hasil campuran yang dinamai P-N junction. Bahan campuran ini mempunyai sifat setengah menghantarkan arus listrik atau semikonduktor. Itulah sebabnya hasil campuran ini sering dinamai semikonduktor. Jadi semikonduktor atau transistor ini hasil pencampuran lagi dari jenis P-N junction dan N-P junction. Bila dua jenis atom P dan N junction digabungkan, maka terbentuklah bahan baru yang dinamai transistor. Jadi transistor terbentuk dari bahan-bahan: • • • PN + NP menjadi PNP Np + PN menjadi NPN PN + PN menjadi PNPN

Gambar di bawah ini memperlihatkan simbol dari transistor PNP dan transistor NPN

[Type text]

Page 23

Gambar 15. Simbol Transistor PNP dan Transistor NPN
Macam-macam bentuk dan tipe transistor terlihat seperti gambar di bawah ini.

Gambar 16. Bermacam-Macam Bentuk Transistor dari Bermacam Tipe

3.

SCR ( Silicon Controlled Rectifier )

SCR disebut juga Thyristor dan dipakai sebagai pengatur daya dan saklar. Penggunaan SCR sebagai pengatur daya dan sebagai saklar sangat menguntungkan dibandingkan dengan saklar mekanik sebab tak ada kontak-kontak yang aus karena terbakar, tidak menjangkitkan busur api dan memerlukan sedikit komponenkomponen tambahan. SCR dapat dipakai untuk mengatur daya yang besar-besar sepertin mesin-mesin listrik, sedangkan SCR itu sendiri memerlukan daya yang kecil saja. Gambar 22 memperlihatkan bentuk dan simbol dari SCR.

[Type text]

Page 24

Gambar 22. Bentuk dan Simbol SCR
2.2 Kerangka Berpikir

Prestasi belajar tinggi atau tidak tinggi dari seseorang dalam mempelajari sesuatu pelajaran tidak lepas dari adanya motivasi belajar. Untuk mencapai hasil belajar yang baik, memuaskan, maka ditentukan pula oleh motivasi belajar yang merupakan keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa sehingga menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar dan memberi arah pada tujuan kegiatan belajar. Adapun proses belajar mengajar yang diberikan oleh guru merupakan kegiatan belajar yang menjembatani aktivitas siswa belajar dikelas. Selain motivasi belajar siswa dalam kegiatan belajar juga akan membantu meningkatkan kosentrasi terhadap sesuatu yang sedang di pelajari. Kosenterasi merupakan salah satu unsur pokok yang diperlukan untuk dapat belajar dengan baik sehingga keberhasilan belajar akan tercapai. Disamping itu siswa akan belajar lebih efektif dan berusaha meningkatkan usahanya apabila mempunyai motivasi belajar yang baik. Motivasi dapat timbul dari dalam diri dan dari luar diri. Motivasi intrinsik adalah faktor psikologis dalam belajar yang datang dari dalam diri. Apabila siswa mempunyai keinginan untuk meningkatkan prestasinya untuk mengembangkan kemampuannya maka ia akan terdorong untuk berusaha dengan berbagai cara baik melalui belajar sendri, bertanya, berdiskusi dengan teman atau guru, maupun belajar dari buku-buku untuk memenuhi keinginanya tersebut. Selain faktor-faktor diatas, faktor lainnya turut menentukan yakni kosentrasi, reaksi, organisasi, pemahaman dan ulangan. Dalam hal ini unsur motivasi sangat membantu dalam proses pemusatan dan perhatian. Begitu pula dalam proses belajar membutuhkan reaksi yang
[Type text] Page 25

melibatkan ketangkasan mental, kewaspadaan, perhitungan dan kecemasan untuk menangkap fakta-fakta dan ide-ide sebagaimana disampaikan oleh guru. Belajar juga dapat dikatakan sebagai kegiatan mengorgansasikan, menata atau menempatkan bagian-bagian bahan pelajaran kedalam suatu pengertian. Pemahaman bagi siswa dalam belajar dapat diartikan menguasai sesuatu dengan pikiranya. Oleh karena itu belajar harus mengerti secara makna didalam prinsipnya, maksud dan implikasi serta aplikasinya. Motivasi juga dapat terjadi dalam proses interaksi dengan lingkunganya. Dengan demikian motivasi belajar dapat memberikan dorongan dan bimbingan yang positif. Seorang siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi mempunyai dorongan yang kuat untuk segera mengetahui hasil dari usaha belajarnya. Hasil tersebut merupakan umpan balik yang dapat dijelaskan dalam buku rapot yang menjelaskan tentang sejauh mana keberhasilan atau prestasi yang dicapainya, dan jika gagal akan mendapatkan penjelasan dari faktor-faktor apa saja yang menjadi sebab dari kegagalan itu. Belajar dengan motivasi akan mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik dari pada belajar tanpa motivasi. Motivasi timbul apabila siswa tertarik akan sesuatu karena sesuai dengan kebutuhanya atau merasakan bahwa sesuatu yang dipelajarinya atau dikerjakan bermakna bagi dirinya. 2.3 Hipotesis Penelitian Berdasarkan uraian yang terdapat pada deskripsi teoritis dan kerangka berfikir, penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut : terdapat hubungan pisitif antara motivasi belajar instalasi tenaga listrik dengan hasil belajar elektronika dasar.

[Type text]

Page 26

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful