METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

5..1.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ... .4.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.. 5.......1.1..........5 Metodologi ………………………………………………… 5......1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5..2...1.....2.....2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah......2....6........4 Landasan Teori …………………………………………… 5......1.......6. 5.....2 Identifikasi Masalah ……………………………………….. 83 5.... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ...4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.. 5....3 Tujuan Penelitian ………………………………………….....3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4.4 Greimas …………………………………………….............2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.........6....

upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Selain itu. relevansi metode dan penelitian. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. hakikat. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. i .KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. sastra dalam penelitian ilmiah.

teori.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. Dengan demikian. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu.. Agustus 2007 Penyusun ii . dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra.

melalui. arah. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. strategi untuk memahami realitas. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Teknik berasal dari kata teknikos. sedangkan hodos berarti jalan. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . mengikuti. Dalam pengertian yang lebih luas. metode. 2. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. atau seni menggunakan alat.1 Pengertian. yang berarti alat. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. Metodologi berasal dari methodos dan logos. sesudah. Metode. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. metode dianggap sebagai cara-cara. cara.BAB I PENDAHULUAN 1. Hakikat Metodologi. 3.

munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. dan (3) sadar teknis. dan kerangka pemikiran penelitian. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. perumusan masalah. 2 .2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. (2) sadar teoritik. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. 1.

Dengan prosedur kerja yang baik. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. misalnya. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. komparasi. deskripsi. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. Klasifikasi. Sebagai alat. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. kuantitatif dan kualitatif. 3 . menganalisis data. eksplanasi dan interpretasi. mengadakan pengujian teori. membangun konsep dan model. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. merumuskan hipotesis dan permasalahan. dan akhirnya menarik kesimpulan. bukanlah karena perbedaan metode. sampling. menyusun proposal. induksi dan deduksi. sama dengan teori. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. termasuk ilmu humaniora. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain.

komparasi. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. Metode deskripsi. dokumen. tetapi dasar dan cara pemahamannya. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. melalui cara: 1. Sebagai instrumen penelitian. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan.Berbeda dengan metode. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. teknik dapat dideteksi secara inderawi. teknik bersifat paling kongkret. dan sebagainya. teknik berhubungan dengan data primer. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. Metode sering disebutkan sebagai teknik. Dengan demikian. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. misalnya: wawancara. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. Sebagai alat. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. jelas berbeda. rekaman. bahkan juga dengan teori. angket. teknik kartu data. struktural. kuesieoner. statistik. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Artinya.

2. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. metode dapat menjadi teori. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. metode. Jadi. metodologi. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. 5 . teori. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. dan teknik.Pada pembicaraan yang berbeda. Tetapi sebelumnya. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. 3. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. struktur disebut sebagai metode.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. d. yaitu sintesis itu sendiri. 9 .atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi.menerus.

yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. Sebagai akibatnya. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. dan kecerdasan yang memadai. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. ilmu dapat hidup. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. Jadi. 10 . kecermatan. Hubungannya dengan ilmu.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. atau pencarian kembali atas suatu objek.

Oleh karena itu.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. Pertama. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis.berkembang. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. Kedua. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. practicial objective. Oleh karena itu pula. Dalam menghadapi masalah. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. sistematis. terutama yang berkaitan 11 . yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. scientific objective. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. 1985: 9-15). penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda.

Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Urutan umum dari proses 12 . nalar. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. dan sesuai dengan objeknya. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. teori-teori.dengan pemanfaatan teori dan metode. yaitu penelitian sastra. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra.

Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. fakta. analisis data. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. manusia mencari tahu dan mencari makna. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. Oleh karena itu. Di samping itu. pengumpulan data. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. dan spiritual. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. social. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. emosional. penelaahan informasi. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. dan penyajian kesimpulan. Di samping masalah yang dihadapi. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data.

Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. intuasi. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. atau penelitian. 14 . penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. atau memperkaya teori yang sudah ada. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. kemudian melakukan proses penemuan. penyelidikan. melakukan kegiatan penemuan. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. atau pendapat umum. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. menggambarkan. otoritas. dan menafsirkan apa yang diamati. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini.

para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Dalam hal ini. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Kedua. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Oleh karena itu. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Pertama. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan.

serta membantu dalam menginterpretasi data. penyusunan design.berhubungan). rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. pengumpulan dan analisis data. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. Teori dapat membantu merumuskan problem. Penelitian akan menghasilkan teori.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. pengajuan hipotesis. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . pengembangan instrumen. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta.

menganalisis. dituntut langkah-langkah berturut-turut. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. komunikasi. 2. (3) mengadakan studi pustaka. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. ilmu-ilmu humaniora. (4) merumuskan hipotesis. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. (7) menganalisis dan 17 . bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. terorganisir. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. Dalam kerja penelitian. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. dan menyimpulkan. (5) mengumpulkan data. (3) menggunakan prinsip analisis. (6) mengolah data. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. 3. (2) bebas prasangka. menginterpretasi. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). yaitu: 1.ilmiah. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. Dalam penelitian ilmiah. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok.

menginterpretasi. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. 18 . juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Demikian pula. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. (9) menarik kesimpulan. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya.

2. didukung data empiris 19 . realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. d. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. sistematis 2. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. menghasilkan pengetahuan yang: a. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b.

Ratna. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. dan Whitney. 2. (bandingkan Nazir. yaitu : 1. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . 2004. 1885. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben.2. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. dan Muhadjir. Charters. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Berdasarkan desain metodologinya.

6. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. 3. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. content analysis. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. 5. 2. ethnography merupakan pendekatan penelitian. 4. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. Macam-macam 21 . Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau.

Immanuel kant. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. laporan. buku harian. buku teks. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. surat kabar. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. 2004: 47-49). dan majalah. Dalam ilmu sastra. lukisan.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. sesuai dengan hakikat objek. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. yaitu sebagai studi kultural. fotografi. 2. film. Dalam ilmu sosial. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. grafik. 2. 22 . Sejalan dengan uraian di atas.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. biografi. gambar. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah.

pandangan-pandangan. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif.3. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. 2. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. suatu objek. 5. gambaran atau lukisan secara sistematis. Menurut Whitney (dalam Nazir.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. Adakalanya peneliti 23 . penelitian bersifat alamiah. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. sikap-sikap. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. 4. suatu set kondisi. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat.

Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. Metode ini dinamakan juga studi status . kriteria umum: 1. masalah yang dirumuskan harus patut. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4.

memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. variabel dilihat sebagaimana adanya. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. 3. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. B.5. sifat penelitian adalah ex post facto. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . kriteria khusus 1. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status.

merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. membuat tabulasi serta analisis (statistik). memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10.3. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir.

kelompok. Dalam studi komparatif ini. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. maupun masyarakat. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. subjek penelitian dapat saja individu. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. 27 . lembaga.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Menurutnya. dan keagamaan. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. keberadaannya tidak merupakan keharusan.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Lotman. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. 29 . Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. Eliis. Riffaterre. Eagelton. dan Teeuw. Plark. ekonomi. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah.

Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. secondary modelling system. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. di antaranya dari sisi bahan. Melalui sistem sastralah. yaitu berupa bahasa. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Sebagai satu sistem. 30 . Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya.

Dengan demikian. Dalam hal ini.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. Dengan demikian. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. 3. yaitu pembacanya. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. kerja yang objektif. dari pembaca saja. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra.

seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. sejumlah peralatan diperlukan. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Dalam hal ini. 32 . Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri.perspektif. Namun. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik.

Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. Tanpa paradigma. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data.3. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. 2004: 21).3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. sebagai berikut: 1. unsur dalam diri sendiri 2. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. pola. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. model. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. Bagi ilmuwan. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek.

Selanjutnya. Contohnya. maka teori pun juga beraneka ragam. Di satu pihak.yang relatif sama. sebagai cara pandang. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. dan sebagainya. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. 34 . konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. Jadi. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. Di pihak lain. tersistem. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. imajinasi. Dalam penelitian sastra. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. bahkan khayalan.

35 . secara kualitatif. teori. faktor ontologis. khususnya sastra. faktor metodologis. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. Keempat faktor tersebut adalah: 1. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. dan teknik. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. penelitian adalah penilaian. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. faktor epistemologis. ke arah mana penelitian sastra diarahkan.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. Paradigma dengan demikian mendahului. periode. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. Pada gilirannya. faktor aksiologis. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. mengkondisikan ilmuwan sastra. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. keseluruhan proses penelitian. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. termasuk metode. dalam ilmu humaniora. teknik dan proses selanjutnya. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. metode. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan.

gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. aliran. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. psikologis. Keseluruhan unsur. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. 36 . Puisi. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. dan drama. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. puisi. kecuali referensi estetisnya. latar tempat dan waktu. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. novel psikologis. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. psikologis dan ilmu pengetahuan. termasuk tokoh-tokoh. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. Dengan kalimat lain. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya.generasi. dan berbagai paham yang lain. drama bersajak. Perbedaannya. Novel sejarah. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. novel.

menganalisis. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. 37 .4.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. approach. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. 2004: 5355). sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan.4 Pendekatan Sastra 3. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. dan menyajikan data. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. 3. Lebih lanjut. yaitu metode dan teknik. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian.1. pendekatan berasal dari kata appropio. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda.

Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. pragmatik. metode. 38 . Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. intrinsik dan ekstrinsik.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. 3. mimetik. Artinya.4. teori. Dalam hubungan inilah. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. kemudian diikuti dengan penentuan masalah.dan sebagainya. dasarnya. dan (4) pendekatan objektif. mitopoik. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. dan tekniknya. (3) pendekatan pragmatik. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. (2) pendekatan mimesis. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. ekspresif. pendekatan objektif. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. seperti pendekatan sosiologi sastra. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode.

1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. komunisme. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. persepsi. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi.3. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. nasionalisme. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. ucapan. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. feminisme. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang.4. pikiran-pikiran. (3) produk pandangan dunia pengarang. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. dan 39 . pikiran dan perasaan. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang.2. Secara metodis. dan hasil-hasil karyanya.

4. sesuai tujuan. dan sebagainya Luxemberg. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. 1958:8). seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. bentuk-bentuk kemasyarakatan. 40 .2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. pengalaman. pengalaman hidup. 3. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. 1989:15). secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. (2) memetakan sejumlah pikiran. perasaan. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak.2. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. Melalui pandangan ini. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). persepsi. dan ideologi pengarang.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. pikiran.

Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. Segers (2000. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. suatu copy. Menurut Baxter. Secara terminologis. suatu produk akhir. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. Menurutnya. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. suatu proses. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. Tiruan. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. menyiratkan sesuatu yang statis. tetapi penekanannya berbeda.

langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. Oleh karena itu. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. Secara metodis. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. sesuai tujuan. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. 42 . dsb. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis.. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. Melalui penjabaran di atas.

Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. (2) penerapan praktis estetika resepsi. Menurutnya.2. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. Dalam uraiannya. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. menikmati. menafsirkan. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama.4.3.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. pembacalah yang menilai. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Menurutnya. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Pembaca dalam 43 . dan memahami karya sastra.

Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. (3) nilai estetik. (5) rangkaian sastra. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . (6) perspektif sinkronik dan diakronik. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. dan (7) sejarah umum. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. (4) semangat zaman. Dalam hal ini. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. (2) horison harapan.

Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Teori menuntut 45 . Dengan kondisi tersebut. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Perihal semangat zaman.informasi. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca.

Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. satirik. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. diidealkan. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Fungsi sosial sastra 46 . berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu.

teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. dan literary strategies Implied reader merupakan model. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. 1987: 20 dan 54). Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. Konsep dialektika respon estetik (Iser. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . rol. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. historis. dan interaksinya. literary repertoire. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. pembaca. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. Konsekuansinya. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya.

pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Oleh karena itulah. dan totalitas. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. termasuk biografi.2. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. Dengan demikian. politis. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. 48 . Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. sosiologis. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. 3. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. antarhubungan.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. seperti aspekhistoris. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya.4. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra.

Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. Secara metodologis. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur.). Adapun terhadap prosa. konflik. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). alur. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. dan latar). Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. dan sarana cerita (pusat pengisahan. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. dll. gaya bahasa. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. 49 . fakta cerita (tokoh.

unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. 50 .Pada analisis prosa. Di dalam analisisnya. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra.

strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. dan Faruk: 1994: 17-18. Selain itu. Faruk. 1999: 1-9. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. 1978: 17-18. Artinya. dan Teeuw.BAB IV STRUKTURALISME 4. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. 1995: 4-12. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. melainkan rusak sama sekali. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. Hawkes. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. terlepas dari 51 . 1984: 120139). mekanisme sendiri. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. apabila suatu bagian dihilangkan. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. melainkan kualitatif. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya.

antarhubungan merupakan energi. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. Sebagai kualitas totalitas. otonom. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. sesuatu yang utuh. sesuatu yang berstruktur. Artinya. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. mengembangkan. Dengan kata lain. transformatif. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. dan self-regulatif. motivator terjadinya gejala baru. Karena itu.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. Aliran Kritik Baru di Amerika. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. Formalisme di Rusia. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. mekanisme yang baru. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi.

Dengan kata lain. latar. dan sebagainya. Analisis terhadap penokohan. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. misalnya. Di pihak lain. Namun demikian. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. 53 . penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Karya tidak dapat diisolasi. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. suatu masyarakat. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. Sejalan dengan uraian di atas. plot. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. seperti kejadian.sebagai sistem komunikasi.

asosiasi. Sebagai teori modern mengenai sastra. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. Metode yang digunakan metode formal. yaitu: 1. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. oposisi. 1985: 128-13. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. Dengan jalan demikian.4. sosiologi.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. dan sebagainya. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. Meskipun demikian. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. dan psikologi. reaksi terhadap studi biografis 2. puitika. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 .

2003: 88-96. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. masyarakat yang menghasilkannya.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. Muhadjir. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. (2) sebagai metode. fakta semiotik.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. Oleh karena itulah. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. 2002: 304). Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. struktur. dan nilai-nilai. Pradopo 2002: 46. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. dan pembaca sebagai penerima. karya sastra adalah proses komunikasi. 55 .semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. terdiri atas tanda. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. 4. melahirkan strukturalisme. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. dan (3) sebagai teori. 1985: 185-192. dan Ratna. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. Menurutnya.

Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. tujuan analisis di lain pihak. simbol.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. rima atau persajakan. misalnya mengarah pada tema. dan gaya bahasa. stilistika. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. di antaranya tema. Prosa. sudut pandang. penokohan. diksi atau pilihan kata. imajinasi. dialog. alur. alur. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. dan gaya bahasa. peristiwa. latar atau setting. puisi. ritme atau irama. puisi. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. Unsurunsur prosa. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. peristiwa atau kejadian. nada. penokohan. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. Unsur-unsur puisi. Artinya. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. latar. dan enjambemen.

Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). dan pendengar. yaitu pencerita. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. tidak semau-maunya. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. 57 . karya sastra. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Jadi. Dalam hubungan ini.

Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. Stout (dalam Makaryk. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra.4 Semiotik Secara padat Dolezel. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). Ada tiga jenis tanda yang pokok.4. yaitu ikon. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. antara penanda dan petanda. yang merupakan bentuk tanda. indeks. dan simbol. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. pengertian tanda ada dua prinsip. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Dalam lapangan semiotik. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Menurutnya. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. 1993: 183-189). arti bahasa dalam 58 . yaitu persamaan dan sebab akibat. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. latar belakang sejarah pertumbuhannya. aliran semiotik. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna.

perasaan. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Jadi. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 .sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Dalam sistem semiotik. intensitas. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Berhubungan dengan hal ini. arti tambahan (konotasi). Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Dalam kaya sastra. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. suasana. daya liris. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda.

baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. atau yang lain. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. (2) semantik semiotik. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. Menurut pandangan intertektualitas. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. termasuk sastra. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. terdapat (1) sintaksis semiotika. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. Sejalan dengan paham triadik peircean. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. Dilihat dari segi cara kerjanya. dan (3) pragmatik semiotik. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya.

Menurut Aart van Zoet (Ratna. b. 61 . yaitu apa yang diacu: a. 2004: 102) di antara ikon. simbol. tokens. 2. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. rheme. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. Di antara representamen. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. type. dan interpretant. object. b. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas.1. c. object (designatum. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. representamen. qualisigns. argument. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. c. sinsigns. c. dicent signs. ground. denotatum. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. interpretant. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. ikon. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. legisigns. b. referent). yang paling sering diulas adalah object.

4. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan.5. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). Alasannya. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. 1993: 340-341.indeks. dan simbol. Teks sastra kaya dengan ikon. (b) semestaan (mimetik). 1993: 95-99. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. 62 . sebagai struktur. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. dan (d) objektif (otonom). Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. Kellner dalam makaryk. yaitu (a) pengarang (ekspresif). Karena itu. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. (c) pembaca (pragmatik). termasuk karya sastra. di lain pihak. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. yang terpenting adalah ikon. dan Faruk. Sebagai strukturalisme.

Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Oleh karena itu. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . yaitu melakukan transformasi atas alam. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Menurut Marxis. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Untuk melakukan transformasi atas alam. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

melainkan kelas sosial. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Karena itu. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. 4. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri.5. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. Karya-karya kultural yang besar. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan.

Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. Karena itu. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. ras. Karena itu. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. dan sebagainya. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. Dalam pengertian strukturalisme genetik. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. seperti kelompok profesi. kelompok etnis. pendidikan. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial.

hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. Greimas. Dengan demikian. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. 4.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. seperti strukturalisme. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. bersifat mimetik. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . Todorov.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. dan sebagainya. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Namun. Hanya beberapa di antaranya. Dalam pandangan strukturalisme genetik. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis.5. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya.

Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme.semantik pula. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. menurut strukturalisme genetik. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Struktur yang demikian.

Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu.5.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. yang juga berstruktur. Menurut paham tersebut. 4. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Namun. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula.

Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. bukan 72 . Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik.dialektik. subjek secara linguistik. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. logos berarti ilmu. kisah.6. 4. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan.6 Naratologi 4. Narratio berarti cerita. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. sebagaimana hubungan antara subjek. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. perkataan. atau sebaliknya. hikayat. predikat. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. demikian juga dengan wacana dan teks. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. dan objek penderita. seperti model sintaksis. Dengan demikian.

dan wacana. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. politik. Revolusi. analisis naratif merupakan bagian ideologi. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. diceritakan oleh narator. restorasi. akrab dengan cerita Jaka Tarub. melainkan melalui bahasa. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks.person. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. sastra. dengan pertimbangan 73 . tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. misalnya. dan ekonomi. Pada pahan pascastruktural. bukan pengarang. semboyan. bukan pengarang. tetapi juga melalui kata-kata. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. Setiap orang. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama.

baik sebagai penulis. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. wacana. kebudayaan pun tidak ada.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. sudut pandang. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. tokoh-tokoh. latar. Tanpa plot. Dilihat dari media yang tersedia. cerita sebagai tulang punggung karya. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. novel juga merupakan objek yang paling memadai. dan teks. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. paling luas. Hampir keseluruhan genre sastra. 74 . tema. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. Dalam pembicaraan mengenai naratif. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. Tanpa cerita. Dalam karya sastra. Di pihak lain. dan gaya bahasa. yaitu dunia fiksional. pembaca. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua.

Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). yaitu: 1. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. juga roman. catatan harian. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. Mieke Bal (fabula. Tzvetan Todorov (historie dan discours). text). Forster (tokoh bundar dan datar). lelucon. puisi naratif. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. story. Gerald 75 . dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. Secara historis. gongeng. mitos. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. Para pelopornya. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. dan sebagainya. Percy Lubbock (teknik naratif). epik. cerpen. Claude Bremond (struktur dan fungsi). dan suara). frequensi. termasuk feminis dan psikoanalisis. narration). interdisipliner. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans).114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. Henry James (tokoh dan cerita). Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). durasi. modus. biografi. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). 1993: 110. text. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. fabula. Para pelopornya. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. Shlomith Rimmon-Kenan (story.

Umberto Eco (wacana dan kebohongan). sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Roland Barthes (Kernels dan satellits).2.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. unit terkecil yang membentuk tema. 4. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Oleh karena itu. Menurutnya. Jean-Francois Lyotard (metanarasi). melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi.6.Prince (struktur narratee).6. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. Propp 76 . Jacques Derrida (dekonstruksi).2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. Jonathan Culler (kompetensi sastra). Marry Louise Pratt (tindak kata). Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. pastiche). tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Artinya. Todorov. Seymoeur Chatman (struktur naratif). dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. yaitu Propp. Hayden White (wacana sejarah). Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. LeviStrauss. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi.

dan (7) pahlawan palsu. yaitu: (1) penjahat. persona bertindak sebagai variabel. (4) putri dan ayahnya. Motif dibedakan menjadi tiga macam. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). Dengan kalimat lain. Bremond. Menurutnya. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. dan Todorov.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. (3) penolong. yaitu: pelaku. (6) pahlawan. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. (5) orang yang menyuruh. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. Di sini. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). perbuatan. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. (2) donor. 77 . Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian.

Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. seperti laki-laki perempuan. Pendekatan antropologi sastra. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot.6. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. Di satu pihak. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. 78 . oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. baik secara bulat maupun fragmentasi. Menurutnya.4. mitos adalah naratif itu sendiri. Dengan kalimat lain. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. tabu. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. khususnya konsep-konsep oposisi biner. misalnya. dan harus direkonstruksi melaluinya. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. dan incest. melalui struktural. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. dan sebagainya. bumi langit.2. dilakukan terhadap mitos Oedipus. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu.

Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. meneliti tema. gaya bahasa. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. sebagai hubungan makna dan perlambangan. Menurutnya. Oleh karena itulah. dan sebagainya. dan latar. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. 4. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. dan (4) aspek verbal. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. berkaitan dengan makna dan lambang. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . tokoh. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis.6. dan partisipasi. dan sebaliknya. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. yaitu (1) aspek sintaksis. (2) aspek semantik.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. komunikasi. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama.2. secara berdampingan. yaitu: kehendak.

Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama.2. John dan Paul juga merupakan pengirim. 80 . dll.6. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. tetapi diperluas pada mitos.antarhubungan adalah kausalitas. Mary sebagai penerima. Greimas (dalam Abdullah. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. kritik fenomenologis. yaitu tata bahasa naratif universal. yaitu dongeng. sastra sebagai proyeksi. baik sebagai pengirim maupun penerima. 4. Yang ada hanyalah subjek. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. sosiologi sastra. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. seperti: psikologi sastra. 1999: 11-13. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. Apel adalah sebagai objek. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. Tidak ada subjek di balik wacana. studi biografi. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). acteurs merupakan kategori umum.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu.

Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. struktur yang bersifat penyelenggaraan. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. dan penolong dengan penentang. religi. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. dan plot.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Actans merupakan struktur dalam. dan ilmu sosial lainnya. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. Oleh karena itu. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. yaitu subjek dengan objek. Sebaliknya. tek. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. pelaku. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. dan struktur yang bersifat pemutusan. Cerita adalah bahan 81 . sedangkan acteurs merupakan struktur luar.

Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa .kasar. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. sebagai model kedua. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. 82 . sebagai model pertama. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. perangkat peristiwa.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

untuk memisahkan kemenduaan. dan fungsional. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena.1.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. (2) kemenduaan arti (ambiguity). Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. 5. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. sistematis. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. Karenanya. dan (c) peletak dasar 86 .

(4) masalah harus dapat duji. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. serta dana. 87 . Ciri kedua yang menyangkut fisible. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. waktu. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. Menurut Nazir (1985: 134-135). pikiran. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). (3) masalah harus merupakan hal penting.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti.

Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. Dengan demikian.1. mengembangkan (develop atau extention). tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. Berhubungan dengan penelitian sastra. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. hubungan antarunsur. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. topik penelitian atau judul penelitian. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. dan totalitas di dalamnya. 88 . Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5.

2001:2). berjumlah tertentu.1. 89 . di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. Secara ideal. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. sistematis. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. misalnya. 5. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. lingkup masalah.

diperlukan penerimaan positif. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. antarhubungan. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Teori adalah alat. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. teori tidak harus dipahami secara kaku. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Penerimaan yang dimaksud 90 . Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. misalnya. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. baik sebagai teori maupun metode. Sebagai suatu cara pemahaman. khususnya analisis fiksi. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. sebagai akumulasi konsep. Dalam kerangka strukturalisme. dan totalitasnya. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal.Dengan demikian. Dalam strukturalisme. Dalam uraian landasan teori.

dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku.mengarah kepada keteraturan. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . Atau dengan kalimat lain. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. 5.1. Sebaliknya. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya..

(4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. Dengan kata lain. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. ciri. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. padu. (3) kategori harus bebas dan terpisah. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. pemilihan. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. demi pemahaman identitas data penelitian. dsb. dan hubungan antarunsur. (2) kategori harus lengkap. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. sistematik. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. hubungan simetris 92 . Sejalan dengan uraian di atas.(pendekatan) linguistik. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. Penentuan data berdasarkan perilaku. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah.

kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. dan faktor kebetulan. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. hubungan saling mempengaruhi. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. Sejalan dengan uraian di atas. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . 2. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. 3.

kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. pemilahan. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. dan pengolahan data secara sistematis. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. pemilahan. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 .penelitiannya. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan.

Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya.dan tujuan penelitian. 5. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra.

Idealnya. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan.

mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik.. ciri.. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. Latar Belakang .. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. waktu pelaksanaan. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. dana yang tersedia. keberanian. dsb.1. . Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. pengembangan penelitian sejenis.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. Merujuk pada potensi teks tersebut. kepahlawanan dan petualangan. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. keinginan. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik.. referensi yang memadai..

tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. Namun demikian. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. 2. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. berpikir logis. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. tampak 98 . kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani.

alur. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. struktur cerita yang terbentuk. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. 4. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. keterjalinan antarunsur cerita. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. latar) 3. 99 . dan penelusuran tema dan amanat.

Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. 5. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya.Berdasarkan upaya tersebut.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. Dalam hal ini . mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. misalnya 100 . penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. Cermati contoh berikut: 1. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik.

Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. antar hubungan. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). 101 . misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. Struktur dinamik. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Oleh karena itu. alur. Penjabarannya menjadi. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Paham struktural objektif. menempatkan teks secara otonom.

(3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. dll. dan menyeluruh. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. dan analisis data. Dengan demikian.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. identifikasi masalah. pengolahan data. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. tempat. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. pemilihan data. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. padu. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. sosial).

Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. dan fungsional. kajian struktural objektif b. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). 5. kajian struktural genetik c. dan metode kajian. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya.tingkat kepekaan literer. teori. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. dan metodologis. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. sistematis. pada langkah penyusunan Landasan Teori. kajian struktural naratif d. teoretis.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 .

Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. dan tujuan penelitian tertentu. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. Berdasarkan contoh di atas. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. kurang memadai.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. seteliti. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. Uraian landasan teori tampak 104 . Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. semendetail. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. 2003:112). identifikasi masalah. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1.

5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. 5. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. Kelemahan lain. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian.

1. Dengan demikian. fenomena. tema. unsurunsur karya. mengklasifikasikan . dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. menyusun. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). sifat. 106 . Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. fakta. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. dan amanat dapat terungkap secara tepat.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. keterjalinan unsur. menganalisis. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. dan menginterpretasikan data (Winarno. sifat. 1980: 139). sejumlah data.

seteliti.b. dan latar. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. penyusun UP tersebut cukup 107 . Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. Dalam hal ini. dan (4) tema dan amanat. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. b dan c. semendetail. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. plot/alur. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. (2) struktur cerita. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural.

penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. plot/alur. Namun demikian. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. Kekuarang yang dimaksud adalah: a.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. Misalnya saja.

atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. kepadatan. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. kesatupaduan) sebagai instrumen. d. seperti pengeplotan. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. dan sosial? c. surrise. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. b. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. Pada unsur-unsur cerita lainnya. jumlah. suspense. Demikian pula pada pembicaraan latar. tempat. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis.

Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Adapun dalam penentuan amanat. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema.

Dengan demikian. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. ******* 111 .penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud.

1987.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Makaryk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. The Act of Reading.) 1993. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. W. Norton & Company Inc.H. ed. Abrams. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. Wlfgang. 1989. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . 2001. 1983. Toward an Aesthetic of reseption. Pengantar Ilmu Sastra. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia. Iser. “Sastra Lisan.W. M. Hans Robert. Pengantar Sosiologi Sastra. dkk. (ed. Luxemburg. Jauss. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press.” Makalah. 1999. 1999.). Minneapolis: University of Minnesotta Press. 1994. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. New York: The Norton Library. Imran T.DAFTAR PUSTAKA Abdullah.” Makalah. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Irena R. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. S. Jan van. “Strukturalisme-Genetik. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Chamamah.

Rien T. V. Segers. Zaimar. Sayuti. ed. Selangor: Sain Baru Sdn. Tata Sastra. 1993. Penelitian Sastra: Teori. dan Teknik. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. 1985. Sastra dan Ilmu sastra. Diterjemahkan oleh Suminto A. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. 1999. “Strukturalisme”. 1984. Nyoman Kutha. Jakarta: Gramedia Wuradji. Rachmat Djoko. 2001. 2004. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Metode. 2002. Noeng.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Yogyakarta: Gama Media Propp. 1987.).Bhd. 2000. Makalah. Moh. Rene & Austin Warren. Bandung: Eresco. Morfologi Cerita Rakyat. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Tzvetan.S. Jakarta: Pustaka Jaya T. Metode Penelitian Linguistik. Teori Pengkajian Fiksi. Wellek. Teori Kesusastraan. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Kritik Sastra Indonesia Modern. Fatimah Djajasudarma. Todorov. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. dkk. ------------------------------.Muhadjir. 2002. Evaluasi Teks Sastra. Jakarta: Djambatan. 1995. Burhan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Diterjemahkan oleh Okke K. Pradopo. Metodologi penelitian Kualitatif. 1985. 19. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. A. “Pengantar Penelitian.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful