INSTITUSI PENDIDIKAN DI ACEH Dalam memajukan ilmu pengehatuan di Aceh, telah dilakukan berbagai macam usaha dan upaya

demi mengembangkan pendidikan tesebut dengan mendirikan institusiinstitusi pendidikan Islam. Hal ini dapat kita temui daripada beraneka ragam tingkatantingkatan pengajian Islam di Aceh yang di mulai daripada tingkatan paling bawah sehingga tingkatan yang paling tinggi. Institusi dan struktur pengajian di Aceh dikatakan begitu tersusun rapi yang terdiri daripada beberapa peringkat pengajian, seperti pendidikan tingkat rendah, tingkat menengah dan tingkat tinggi. Hasymi dalam Bunga Rampai Revolusi dari Tanah Aceh, mengungkapkan pengajian pada masa itu di kelompokan kepada lima tingkatan, iaitu, meunasah, rangkang, dayah, dayah Tengku Cik, dan Jami’ah.1 Pengajian tafsir yang bermula dengan pengajaran baca al-Quran telah diajarkan pada pendidikan tingkat rendah yang dinamakan dengan meunasah2, mata pelajaran di meunasah ini terdiri dari mata pelajaran menulis, membaca huruf-huruf Arab, mengaji alQuran, latihan ibadah, akhlak, sejarah Islam serta diajarkan untuk menghafal rukun iman, rukun islam, zikir, tahlil dan lain-lain yang diajarkan dengan berirama. Selanjutkan dilanjutkan ke peringkat menengah yang dinamakan dengan rangkang, mata

pelajarannya terdiri daripada Bahasa Arab, ilmu Tauhid, ilmu fiqh, ilmu tasawwuf, sejarah Islam dan pelajaran-pelajaran lain seperti ilmu alam, ilmu hisab dan sejarah umum. Di samping itu diajarkan juga pada peringkat tinggi. Pengajian tafsir pada setiap

1

Abuddin Nata, ED (2001), “ Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia,” Jakarta:PT.Grasindo, h.41. 2 Meunasah di Malaysia disebut surau.

membaca al-Quran besar beserta dengan tajwidnya. pada umumnya pendidikan di meunasah ini terdiri daripada anak-anak laki-laki dan perempuan Pengajian di meunasah dipimpin oleh Teungku Meunasah. Biasanya pelajaran diawali dengan mengajarkan huruf hijaiyah. berdiskusi bagi masyarakat tempatan.Islam Di Nusantara Khususnya Di Tanah Melayu. Kemudian dilanjutkan kepada tingkatan yang lebih tinggi iaitu. kemudian merangkai huruf. MEUNASAH Muenasah berasal dari kata Arab iaitu Madrasah. Medan:Manora. materi pelajaran yang dimulai dengan membaca al-Qur’an yang dalam bahasa Aceh disebut Beut Qur’an. Setelah itu.peringkat tentunya berbeza-beza. dengan metode mengeja huruf. Pengajian untuk anak perumpuan di pimpin oleh Teungku perempuan yang disebut dengan Teungku Inong. Umumnya pengajian di meunasah berlangsung pada malam hari. dan sifat-sifat Tuhan. Teungku Meunasah dibantu oleh beberapa orang muridnya yang lebih mahir yang disebut sida. . h.100. sambil menghafal surat-surat pendek. desa). Meunasah merupakan satu bangunan yang terdapat di setiap gampong (kampung. Zakaria Ahmad (1972). 143. Dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anak. Disamping itu juga 3 4 Abdullah Ishak(1990). rukun Islam. meunasah merupakan lembaga pendidikan terendah . “Sekitar Kerajaan Aceh Dalam Tahun 1520-1675”. Selain itu pula pengajian di meunasah diajarkan pokok-pokok agama seperti rukun iman. dimana semakin tinggi tingkat pengajian semakin luas pula perbahasannya.h. seperti yang terdapat dalam buku Qaidah Baghdadiyah.3 A.4 Lama pendidikan di meunasah tidah di hadkan dengan masa tertentu. Sebagai institui pendidikan. dilanjutkan dengan membaca juz amma.Selangor:Al-Rahmaniah. Bangunan ini dijadikan sebagai salah satu tempat proses belajar-mengajar.

di Aceh hal ini disebut dengan dike.6 Istilah zawiyah dalam sejarah awal perkembangan lembaga-lembaga pendidikan Islam digunapakai untuk sejenis lembaga pendidikan yang selanjutnya berkembang menjadi madrasah. sudut. B.61. hal ini dikarenakan adanya pengahruh bahasa Aceh yang pada dasarnya tidak memiliki bunyi Z dan cenderung lebih memendekkan. . SH (Ed. Arab.diajarkan selawat dan zikir yang berhubungan dengan agama dalam bahasa Aceh disertai dengan nyanyian dan irama. “Perkembangan Pendidikan di Daerah Istimewa Aceh. 7 Ibid. bagian dari satu tempat/ bangunan. zawiyah (sudut) dan turbah.op.5 Kewujudan meunasah sebagai lembaga pendidikan tingkat dasar di Aceh memiliki pengaruh yang besar. ED (2001). h. DAYAH Istilah dayah berasal dari bahasa Arab zawiyah yang bererti pojok. Gujarat dan Malabar yang berdatangan ke Aceh Sejak masa pemerintahan kerajaan Pasai dan mengembangkan 5 6 Abuddin Nata.Badruzzaman Ismail. pengajian di dayah juga dilakukan di sudut-sudut mesjid sehingga muncullah institusi yang disebut dengan zawiyah.62. dengan erti kata meunasah merupakan madrasah wajib belajar bagi masyarkat Aceh masa lalu. Sebagai suatu lembaga pendidikan. Dalam bahasa Aceh istilah zawiyah ini berubah menjadi dayah. Mesir. Khanqah. George Makdisi menyatakan bahwa madrasah berawal daripada pengajian-pengajian yang pada umumya diistilahkan dengan ribath (ikatan). Mayoriti masyarakat di Aceh mewajibkan anak-anaknya masuk dan belajar di meunasah. h. Persia.44 H. ibid.7 Mula-mula istilah zawiyah dikembangkan oleh para ulamaulama Timur Tengah seperti .cit.” Banda Aceh : Majelis Pendidikan Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh.) (1995). h.

h. Namun dayah Cot Kala yang didirikan oleh Kerajaan Peureulak pada akhir abad ke-3H Merupakan pusat pendidikan pertama di Asia Tenggara yang tenaga pengajarnya di datangkan dari Arab. 225. Mengenai Dayah yang paling awal sekali muncul dan terkenal dalam sejarah pendidikan dayah di Aceh adalah Zawiyah Cot Kala. “ Ensiklopedi Islam”. h. (1993). Ibid. h.8 Ali Hasjmy mengatakan dayah yang pertama muncul di Indonesia dan Asia Tenggara adalah dayah Cot Kala di Aceh Timur.). Cot Kala yang kemudian menjadi raja Peureulak dengan gelar Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (310-334 H.pendidikan dayah di Aceh serta menggunakan isitilah zawiyah ini pada lembaga-lembaga pendidikan di Aceh sebagaimana pengajian-pengajian yang ada di Timur Tengah pada masa itu. Jakarta:Cv Anda Utama. menurut beliau ada bebapa dayah di Aceh yang terkenal. Dayah Manyang (didirikan pada masa pemerintahan Iskandar Muda dan berpusat di Mesjid Baiturahman).10 Hal 8 9 Ibid. Menurut A.9 Hal senada juga di katakan oleh Harun Nasution. J. atau 922-964 M). 255. Selain itu pula A. sekitar tahun 1016 H atau 1607 M. .3. 10 Harun Nasution (Ed.Hasjmy dayah Cot Kala merupakan dayah yang pertama di Aceh yang didirikan oleh Teungku Syik Muhammad Amin yang terkenal dengan nama Tgk. Persia dan India. Dayah Pantee Geulima ( didirikan oleh Teugku Chik Pantee Geulima pada masa kerajaan Aceh Darussalam). 740. Dayah Kan’an (didirikan oleh Syekh Abdullah Kan’an pada awal abad 7 H). di antaranya : Dayah Cot Kala. hasjmy mengatakan dalam bukunya Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah bahawa Dayah Rumpet dapat dikategorikan sebagai dayah yang paling awal di bahagian Barat Aceh yang didirikan oleh Teungku Muhammad Yusuf atau yang digelar dengan Teugku Syik di Rumpet.

Syiah Kuala. di Jeureula Kecamatan Suka Makmur. Kewujudan lembaga pendidikan dayah di Aceh dapat kita temui daripada pelbagai situs peninggalan sejarah. 74.) (1995). Situs-situs dayah itu bermacammacam bentuknya sesuai dengan sarana lembaga pendidikan dayah yang pernah di bangun pada masa itu. h. dan lain sebagainya. di kuala (muara) krueng Aceh. justeru pada sebahagian dayah tersebut dapat dijumpai peninggalan-peningalan sejarah yang telah berumur ratusan tahun. Pengajian dayah di Aceh yang di dikembangkan oleh para ulama-ulama Timur Tengah ini telah lama wujud. Sebahagian peninggalan dayah tersebut masih utuh dan terawat dengan baik seperti halnya makam Tgk. h. Syik Tanoh Abee di Seulimun Aceh Besar . Dayah Tanoh Mirah di kemukiman Bung Cala Kecamatan Kutabaro. 73.Badruzzaman Ismail. Ibid.cit. menunjukan bahawa dayah-dayah di Aceh telah ada sebelum terjadi peperangan yang di lakukan oleh kolonial Belanda di Aceh. Dayah Tgk. Ibid. . di Krueng Kalee. Di Anjong. SH (Ed. Dayah Tgk. 12 Memandang kepada sejarah dan fakta-fakta diatas pengajian di Aceh melalui sistem pendidikan dayah telah di kembang luaskan oleh ulama Aceh dan ulama yang datang dari luar Aceh. 11 Meskipun banyak juga ditemui peninggalan-peniggalan sejarah yang terbengakalai atau tidak terurus dengan baik. dayah Teungku Awee Geutah di Peusangan Aceh Utara. Pelanggahan Banda Aceh. 11 12 H. di Kuta Karang Kecamatan Darul Imarah.ini menunjukan bahwa pengajian Islam di Aceh telah lama wujud dan menjadi pusat pendidikan Islam di Asia Tenggara bahkan sebelum terjadi peperangan Belanda pada tahun 1873 pendidikan di Aceh pun telah ada. seperti peninggalan dayah yang dapat kita jumpai di wilayah kabupaten Aceh Besar. op. Kecamatan Darussalam.

yakni tingkat menengah dan tingkat tinggi. . Adapun buku yang digunapakai dalam lembaga pendidikan ini mayoritinya berbahasa melayu dan 13 14 A.op. namun dalam jumlah yang lebih sedikit dan kurang terurus. “ Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah. tauhid. 242.14 Rangkang merupakan lembaga pendidikan lanjutan menengah yang mengajarkan ilmu-ilmu mengenai fikih. h. hasjmy (1983). di peusangan Aceh Utara saat ini masih menjadi dayah popular dan banyak di didatangi oleh pelbagai jenis kalangan masyarakat samada daripada Aceh mahupun dari luar Aceh. Meskipun mayoritas pengajian di dayah tersebut dilaksanakan di mesjid-mesjid.cit. akhlak dan bahasa Arab. Aceh Besar dan Dayah Tgk Awee Geutah. h. Pendidikan dayah tingkat menengah disebut rangkang dan pendidikan tingkat tinggi disebut bale. didapati pula pengajian dayah yang menggunakan tempat proses belajarnya yang memiliki fungsi yang sama dengan mesjid. Pendidikan dayah mencakup dua tingkatan. Hal ini dikarenakan kedua dayah ini masih menyimpan banyak sekali naskah kitab-kitab ulama Aceh.” Jakarta : Beuna. Adapun dayah Tgk Di Awee Geutah juga dapat ditemui naskah-naskah lama itu.Dayah Tanoh Abee di Seulimun. dengan kata lain pengajian ini juga dilakukan terpisah dengan bangunan mesjid. Abuddin Nata. tradisi ini terus diterapkan sehingga sekarang. Pendidikan dayah di Aceh mewarisi sistem ulama Timur Tengah yang menjadikan Mesjid sebagai Pusat lembaga pendidikan. 46. ibid. 13 Oleh karena naskah itulah dayah-dayah tersebut dijadikan begitu penting dalam sejarah pendidikan di Aceh terutama dayah Tanoh Abee sehingga sekarang ini Sistem pengajian yang digunapakai dalam pengembangan lembaga pendidikan dayah mengikut model yang dikembangkan pada masa awal Islam iatu menjadikan Mesjid sebagai tempat atau sarana belajar. ED (2001).

Tingkatan pelajaran yang meraka pelajari lebih mendalami secara khusus bidang-bidang keagamaan seperti ilmu fikih. tafsir serta ilmu hadith dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi. Dengan demikian setiap pelajar boleh berpindah-pindah dan memilih bidang-bidang mana sahaja yang diminati untuk dipelajari daripada tengku di bale (guru yang mengajar di dayah tinggkat tinggi) sehingga melahirkan tengku-tengku yang ahli dalam bidangnya. Umumnya pelajar pada lembaga ini terdiri daripada murid-murid yang telah belajar di meunasah dan tidak ada persyaratan khusus bagi siapa yang berkeinginan belajar serta tidak dibatasi oleh masa dalam sistem pembelajarannya. . Pelajar yang mampu menyelesaikan pelajarannya dibolehkan mengikuti tahapan pendidikan selanjutnya ke dayah tingkat tinggi. hal ini berbeza dengan pembelajaran di rangkang yang mengajarkan secara umum.sebahagiannya buku berbahasa Arab. Pendidikan dayah tingkat tinggi dinamai juga pendidikan bale. pelajar pada tingkatan ini adalah mereka-mereka yang telah menyelesaikan belajarnya di rangkang. Pelajar pada tingkatan tinggi ini diperbolehkan menjadi guru di meunasah dan pada masa-masa tertentu bagi mereka yang mempunyai kemahiran yang mendalam dijadikan sebagai tenanga pengajar untuk menggantikan gurunya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful