Gambar 4.

Patofisiologi Nefritis Lupus 22 Respon autoantibodi pada LES tampaknya terarah terhadap nukleosom yang terbentuk dari sel apoptotik. Pasien dengan LES memiliki mekanisme klirens seluler yang buruk. Debris nuklear dari sel apoptotik menginduksi interferon-alfa melalui sel-sel dendritik plasmasitoid, yang merupakan induser sistem imun dan autoimunitas. Pada LES, limfosit B autoreaktif yang secara normal tidak aktif menjadi aktif karena malfungsi mekanisme homeostasis normal, sehingga autoantibodi diproduksi. Autoantibodi lain, termasuk anti-dsDNA terjadi lewat suatu proses penyebaran epitop. Autoantibodi ini akan bertambah banyak seiring waktu secara bertahap, beberapa bulan sampai tahun sebelum onset LES klinis. Lupus nefritis terkait dengan produksi autoantibodi nefritogenik dengan ciri-ciri sebagai berikut:22 1. Yang dianggap antigen secara spesifik adalah nukleosom atau dsDNA : beberapa antibodi dsDNA bereaksi silang dengan membran basal glomerulus. 2. Autoantibodi yang berafinitas tinggi dapat membentuk kompleks imun intravaskular, yang menumpuk dalam glomerulus. 3. Autoantibodi kationik memiliki afinitas yang lebih tinggi dengan membran basal glomerulus yang bersifat anionik. 4. Autoantibodi isotop tertentu (IgG1 dan IgG3 ) dapat mengaktivasi komplemen. Kompleks imun terbentuk intravaskular dan kemudian diendapkan dalam glomeruli. Selain itu, autoantibodi dapat berikatan langsung dengan protein pada membran basal glomerulus (yang kemungkinan adalah α-aktinin) dan membentuk kompleks imun in situ. Kompleks imun mencetuskan respons inflamasi dengan mengaktivasi komplemen dan menarik sel-sel radang, termasuk limfosit, makrofag dan netrofil. Tipe histologis dari nefritis lupus yang terjadi tergantung dari berbagai faktor, termasuk spesifisitas antigen dan sifat lain autoantibodi serta tipe respons inflamasi yang ditentukan oleh faktor-faktor host lainnya. Pada bentuk yang berat dari nefritis lupus, proliferasi sel endotel, mesangial dan epitel serta produksi matriks protein dapat berakhir pada fibrosis.23,24 Gejala nefritis aktif termasuk edema perifer sekunder terhadap hipertensi atau hipoalbuminemia. Edema perifer ekstrim lebih sering pada pasien dengan nefritis lupus difus proliferatif atau membranosa, karena kedua lesi renal ini terkait dengan proteinuria berat. Gejala lain yang terkait langsung dengan hipertensi akibat nefritis lupus proliferatif difus termasuk sakit kepala, pusing, gangguan visual dan tanda-tanda gagal jantung. 25

hyaline casts. granular casts.imunofluoresensi dan mikroskop elektron dari spesimen biopsi renal (lihat tabel 3). terutama tipe proliferatif lokal dan difus. proteinuria >1000 mg/hari dan temuan biopsi ginjal yang menunjukkan nefritis lupus aktif.C4 dan CH50 ) dan LED atau CRP. 26 Abnormal urinalysis findings (albuminuria. haematuria. Antibodi anti-nukleosom muncul dini pada perjalanan respons autoimun pada LES. Indikator klinis dari nefritis lupus aktif026 Klasifikasi patologis dari nefritis lupus direvisi oleh International Society of Pathology/Renal Pathology Society (ISN/RPS) tahun 2003 dan didasarkan pada pemeriksaan mikroskop cahaya. Aktivitas penyakit dapat dievaluasi dengan anti-dsDNA. leucocyturia. granular casts. Antibodi anti-C1q berkaitan erat dengan nefritis lupus.5 g/day of protein occurs in 13-26% of patients) Increased serum creatinine level Decreased glomerular filtration rate Rising anti-DNA antibody titre plus hyocomplementaemia. fatty casts. Nefritis lupus yang signifikan secara klinis biasanya terkait dengan penurunan klirens kreatinin 30%. indeks aktivitas dan kronisitas dapat dihitung berdasarkan patologi . 27 Tabel 2 . kecuali pasien terkena artritis yang signifikan atau infeksi. Level CRP umumnya tidak meningkat pada pasien LES walaupun dengan penyakit aktif. Umumnya LED dan anti-dsDNA yang meningkat dan level C3 dan C4 yang rendah berkaitan dengan nefritis aktif. Tabel 1 . oval fat bodies) Abnormal urinary sediment findings (leucocyturia. Hal ini berdasarkan klasifikasi terdahulu dari WHO tahun 1974 dan 1982. mereka memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi untuk diagnosis LES serta titernya berkorelasi dengan aktivitas penyakit. komplemen (C3. Klasifikasi patologis nefritis lupus menurut ISN/RPS tahun 2003 28 Selain klasifikasi patologis. hyaline casts) Proteinuriaa (nephrotic syndrome with excretion of >3. titer tinggi berkorelasi dengan penyakit ginjal aktif. especially low C3 levels Hypoalbuminaemia Hypercholesterolaemia Hyperuricaemia and renal tubular acidosis associated with tubulointerstitial injury a Proteinuria is not always a reliable indicator of active disease because some patients have persistent proteinuria in the absence of active immunological injury. red blood cell casts.Beberapa indikator klinis dari nefritis lupus aktif dapat dilihat pada tabel 3. haematuria.

Klasifikasi prognostik nefritis lupus menurut US National Institutes of Health 29 .29 Tabel 3 . sementara lesi renal dengan kronisitas tinggi cenderung tidak berespon. Indeks kronisitas mencerminkan jumlah parut dan fibrosis yang umumnya tidak respon terhadap terapi.sehingga prognosis (progresivitas) penyakit ginjal dapat diprediksi. Indeks aktivitas mencerminkan status inflamasi aktif yang dapat diamati dari biopsi yang mungkin dapat reversibel dengan pengobatan. Lesi renal dengan indeks aktivitas tinggi lebih cenderung berespon terhadap terapi agresif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful