You are on page 1of 259

LAPORAN AKHIR PENDAMPINGAN TEKNIS KM.

NAS

Disusun oleh: KM. Nas – P2DTK Jakarta, Juni 2012

Di Susun Oleh Tim KM. Nas P2DTK
PENGARAH: GAMAR ARIYANTO Team Leader | EKOPRANOTO Deputy Team

Leader I | ADE WAHID Deputy Team Leader II
PENULIS NASKAH/EDITOR EMILIANUS ELIP KONTRIBUTOR: DWIJO DARMONO Infrastructure Specialist | ISMAIL AHMAD

Education Specialist | SAHRUN NAZIL Health Specialist | M. TAUFIK Institution Specialist | DADANG SUDRAJAT PSS Specialist | JUNAIDI HARTONO Payroll & Dishbursment Specialist | GUSTAVA KI IRFANANGUN Financial Management Specialist | SUDADI Yunior Financial Management Specialist | UJANG HERYANA MIS Specialist | DAVID STEFANUS Yunior MIS Specialist | EMILIANUS ELIP Monitoring & Evaluation Specialist | MAKMUR SUMARSONO Yunior Monitoring & Evaluation Specialist | BINARIYANTO Training Specialist | SIPRIANUS FOUDUBUN HCU Specialist | ALAUDIN LATIEF Communication Specialist

ALAMAT NATIONAL MANAGEMENT CONSULTANT P2DTK Jl. Tanah Abang V. No. 37 B, Petojo Selatan Gambir, Jakarta Pusat 10130 Telp. (021) 351 0004 – 6; Fax: (021) 385 7287

Catatan editor: Pemuatan laporan ini di laman scrib ini semata-mata menjadi tanggungjawab editor.

Executive Summary
Program SPADA (The Support for Poor and Disadvantaged Areas Project) atau disebut dengan istilah lain P2DTK (Program Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus) diimplementasikan oleh Pemerintah Indonesia berlandaskan pada beberapa realitas pembangunan dan yang sekaligus menjadi keprihatinan pemerintah, yaitu: (1) Adanya disparitas ketersediaan infrastruktur dan kesejahteraan yang besar antara daerah-daerah maju dengan daerah-daerah tertinggal di Indonesia; (2) Munculnya konflik horisontal di Poso, Maluku, Aceh, dan daerah lain yang telah menghambat masyarakat mengembangkan kesejahteraan mereka dan mengganggu pemerintah daerah dalam pelaksanaan pembangunan bagi masyarakatnya; serta (3) Terjadinya berbagai bencana alam, khususnya yang paling parah adalah bencana Tsunami di Aceh, yang telah melumpuhkan pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kesejahteraan. Berlandaskan keprihatinan tersebut Pemerintah Indonesia melakukan kerja sama dengan pihak-pihak lain untuk mengimplementasikan P2DTK. Bentuk-bentuk kerja sama tersebut telah dituangkan dalam beberapa surat perjanjian kerja sama, yaitu antara lain surat perjanjian pinjaman yang dituangkan dalam Loan Agreement No. 4788-IND antara RI dengan IBRD dan Development Credit Agreement No. 4076 antara RI dengan IDA, yang diperkuat dengan Peraturan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor: 03/PER/MPDT/V/2006 tentang Penetapan Lokasi dan Alokasi Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) untuk P2DTK Nasional. Surat perjanjian hibah (grant agreement) Multi Donor Fund (MDF) nomor TF057955 dan diperkuat Surat Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) nomor S-5732/BRR.10/XII/2006 tentang Dana Alokasi Kabupaten (DAK) untuk P2DTK NAD-Nias. Berdasarkan pada dokumen-dokumen tersebut maka P2DTK dilaksanakan di 10 propinsi dan 51 kabupaten, termasuk di wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Dokumen-dokumen perjanjian kerja sama tersebut telah dituangkan kedalam suatu dokumen implementatif yang disebut Project Appraisal Document (PAD), dan kemudian menjadi acuan dalam penyusunan Manual Umum serta Manual Teknis Pelaksanaan P2DTK. Berdasarkan dokumen tersebut diketahui bahwa secara umum P2DTK bertujuan untuk memperbaiki tata pemerintahan (governance) dan mengurangi tingkat kemiskinan diwilayah-wilayah tertinggal dan bekas konflik, serta mengurangi potensi-potensi konflik yang ada di masyarakat. P2DTK menerapkan tiga strategi kegiatan dalam upaya mencapai tujuan tersebut, yaitu: (a) Mengembangkan partisipasi lokal dalam perencanaan pembangunan; (b) Mempromosikan pengembangan sektor swasta dan kesempatan kerja; serta (c) Meningkatkan pelayanan pendidikan, kesehatan, dan penyelesaian sengketa yang muncul di dalam masyarakat. P2DTK dimulai sejak Tahun 2006 ditandai dengan mobilisasi tenaga-tenaga ahli di tingkat KM. Prop dan KM. Kab di wilayah Aceh, kemudian setahun berikutnya 2007 dilaksanakan mobilisasi tenagatenaga ahli KM. Nas, KM. Prop, dan KM. Kab beserta para fasilitator di tingkat kecamatan di 8 propinsi lainnya. P2DTK Aceh-Sumut selesai pada akhir Tahun 2011 begitu pula P2DTK wilayah Nasional. Sementara P2DTK Optimalisasi (Kalimantan Barat dan Sulawesi tengah) selesai pada akhir Maret
Laporan Akhir KM. Nas | Hal - ii

2012. Hasil-hasil atau capaian dari pelaksanaan P2DTK di 10 propinsi, 51 kabupaten dan 186 kecamatan tersebut secara ringkas dipaparkan sebagai berikut. Sub Proyek Yang Diselesaikan: Palaksanaan P2DTK di Aceh-Sumut, di wilayah P2DTK Nasional termasuk wilayah Optimalisasi, telah berhasil mengimplementasikan 10.421 sub proyek, dimana 1.770 sub proyek dilaksanakan di Aceh-Sumut, 8.543 sub-proyek dilaksanakan di wilayah Nasional serta 108 paket proyek dilaksanakan di periode P2DTK Optimalisasi Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah. Sub proyek infrastruktur menjadi kebutuhan masyarakat yang paling banyak, yakni sebesar 46,03% atau sebanyak 4.796 sub proyek dari total sub-proyek yang ada. Sebagian besar infrastruktur tersebut berupa infrastruktur yang berkaitan dengan kemudahan masyarakat melakukan mobilisasi seperti jalan, jembatan, tambatan perahu, dermaga, dll. Sub proyek infrastruktur tersebut paling banyak didanai oleh Dana BLM Kecamatan.
Diagram Rekapitulasi Jumlah Sub-Proyek BLM Kabupaten dan Kecamatan TA. 2007 – 2010 dan TA. 2011 Optimalisasi
3,364

1,387 45
Paket Proyek Optimalisasi Sub proyek BLM Kec

1,585 1,026 32
Paket Proyek Optimalisasi Sub proyek BLM Kec Sub proyek BLM Kab Sub proyek BLM Kab Sub proyek BLM Kec

950

1,096 31
Paket Proyek Optimalisasi

905 0
Sub proyek BLM Kab Sub proyek BLM Kec

0
Paket Proyek Optimalisasi

Sub proyek BLM Kab

4.796 sub proyek (46,03%)

2.643 sub proyek (25,35%)

2.077 sub proyek (19,93%)

905 sub proyek (8,69%)

Sub-sub proyek yang menyangkut Infrastruktur Pendidikan Kesehatan Pemuda perbaikan di bidang pendidikan juga menjadi kebutuhan utama Sumber: KM. Nas-MIS- per 5 April 2012 nomor dua setelah kebutuhan- di bidang infrastruktur, dengan jumlah mencapai separoh dari jumlah sub proyek infrastruktur yaitu 25,35% (2.643 sub proyek). Akses terhadap pendidikan dan mutu pelayanan pendidikan, merupakan dua hal yang kiranya sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita di wilayah-wilayah tertinggal. Setelah bidang Pendidikan, sub-sub proyek bidang kesehatan menempati urutan terbanyak berikutnya sebesar 19,93% (2.077) dari total sub proyek P2DT. Berikut ini hendak diuraikan jumlah sub proyek dalam sumbangannya terhadap tujuan-tujuan di masing-masing kegiatan pelayanan dasar: 1. Sub-proyek infrastruktur pendukung “akses” masyarakat: Jalan dan jembatan adalah salah satu infrastruktur yang paling signifikan mendukung “akses” masyarakat terhadap kegiatan perekonomian, kesehatan, dan pendidikan. Dari 10.421 total sub proyek P2DTK, sebesar 22,15%-nya adalah subproyek berbagai jenis jalan dan jembatan, baik untuk internal desa maupun antar desa. Jalan dan jembatan yang menghubungkan “akses” antar desa (termasuk antar kecamatan) sebesar 18,47% dari total sub proyek. Panjang sub proyek jalan (baik berupa pembuatan jalan

Diagram Sub Proyek Infrastruktur Pendukung Akses Masyarakat

10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 -

10.421

2.306

1.923

Total Jalan & Jalan & Jembatan Jembatan [22,15%] Antar Desa [18,47%]

Total Sub Proyek

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - iii

baru, perbaikan badan dan perkerasan jalan) adalah 444.064 M (atau sekitar 445 KM), dengan serapan realisasi budget BLM Kabupaten maupun Kecamatan sebesar Rp. 96.001.203.483,- dan memunculkan swadaya Rp. 4.940.359.555,2. Sub-proyek peningkatan kualitas pelayanan pendidikan: Profil sub proyek bidang pendidikan ditandai dengan kebutuhan yang paling besar pada sub-sub proyek rehab fisik gedung dan penyediaan fasilitas belajar mengajar, yang besarnya mencapai 50,66% dari seluruh sub proyek dibidang pendidikan yang sebanyak 2.643 subDiagram Profile Sub-Proyek di Bidang Pendidikan proyek. Sub-sub proyek yang terkait dengan upaya peningkatan mutu pelayanan pendidikan Mutu Lain-lain pelayanan 714 melalui pelatihan-pelatihan kapasitas guru, pendidikan [27.01%] 590 pengadaan guru honorer, pelatihan manajemen [22,32%] Bangunan sekolah, dll hanya mencapai 22,32% atau 590 sub dan proyek dari total sub proyek pendidikan. Fasilitas sekolah Sementara kegiatan atau sub proyek lain-lain 1.339 seperti membuat lapangan olah raga, pagar [50.66%] sekolah, toilet sekolah, dan lain-lain mencapai 714 sub proyek (12,01%) 3. Sub-proyek peningkatan kualitas pelayanan kesehatan: Beberapa profil permasalahan utama bidang kesehatan di wilayah tertinggal antara lain: (1) Rendahnya jumlah dan kualitas SDM petugas pelayanan kesehatan; (2) Rendahnya akses air bersih; (3) Gizi buruk; dan (4) Masih banyaknya penyakitmenular. Hasil pelaksanaan sub-sub proyek P2DTK di bidang kesehatan dalam mengakomodir permasalahan-permasalahan kesehatan tersebut tergambar di dalam bagan berikut ini. Akses terhadap air bersih ternyata merupakan hal yang paling dibutuhkan masyarakat dan mempunyai sub proyek terbanyak, yakni 737 sub proyek (35,48)% dari total sub proyek sebanyak 2.077 yang berkaitan dengan kesehatan 1. Pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan penataan manajemen pelayanan kesehatan menempati urutan terbesar kedua dengan jumlah 3236 subproyek (11,36%), kemudian diikuti Diagram Profile Sub-Proyek di Bidang Kesehatan pengembangan kapasitas bagi para tenaga kesehatan yaitu sebanyak 210 346 kegiatan (10,11%). Termasuk di dalam Lain-lain [16,66%] 236 kegiatan manajemen kesehatan antara Manajemen kesehatan [11,36%] 76 lain sistem kupon, bantuan transportasi Berbagai pelayanan kesehatan [3,66%] 210 tenaga kesehatan, dan pengembangan Pelatihan tenaga kesehatan [10,11%] 107 737 Warga siaga [5,15%] kapasitas khusus bagi petugas-petugas Akses air bersih [35,48%] puskesmas, bidan desa, dan rumah sakit. 136 Penanganan gizi buruk [6,55%] Sementara pelatihan tenaga kesehatan 49 terutama mencakup pengembangan Pemberantasan penyakit menular [2,36%] 180 Rehab gedung + fasilitas [8,67%] kapasitas bagi berbagai jenis dan gugus tugas kader-kader yang ada di 400 800 1,200 1,600 masyarakat Sementara itu masalah-masalah kesehatan yang cukup mendasar untuk daerah tertinggan seperti penanganan gizi buruk dan pemberantasan penyakit menular, masih belum banyak mendapatkan perhatian di P2DTK. Penanganan gizi buruk hanya mencapai 6,55% kegiatan atau sebanyak 136

Sub proyek akses air bersih dikategorikan sebagai sub-proyek infrastruktur, yang dalam hal ini mendukung bidang kesehatan. Total sub-proyek bidang kesehatan sendiri sebanyak 2.075 sub proyek.

1

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - iv

sub proyek, dan pemberantasan penyakit menular hanya 2,36% kegiatan atau sebanyak 49 sub proyek. Capaian Pendanaan P2DTK: Total alokasi Dana BLM dan DOK program P2DTK mencapai Rp. 1.103.367.479.000,-, terdiri atas Dana BLM (kabupaten dan kecamatan) mencapai Rp. 940.235.758.000 (85,21%) sementara dana DOK mencapai Rp. 163.131.721.000,- Diagram Rekapitulasi Dana BLM dan DOK P2DTK (14,79%). Jika dilihat secara lebih ditail Total alokasi Rp. 1.103.367.479.000 mengenai pencairan dan penyalurannya, maka dapat dijelaskan bahwa dana yang mampu dicairkan sebesar Rp. 1.007.871.071.412,Total BLM/DAK (91,35%), dan dari jumlah pencairan tersebut (85.22%)/Rp. 940.235.758.000 tersalurkan untuk seluruh kegiatan sebesar Rp. 1.003.911.278.993,- atau sekitar 99,61% dari dana penyaluran. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa tingkat pemanfaatan dana Total DOK P2DTK adalah terserap dan tersalurkan secara (14,78%)/Rp. Sumber: KM Nas-Data MIS, FM,dan Disbursment 163.131.721.000 maksimal. Gambaran lebih ditail mengenai alokasi, realisasi, dan penyaluran baik untuk dana DOK dan BLM tersaji didalam diagram di bawah ini. Upaya pengendalian terhadap proses pencairan dan penyaluran dana untuk menumbuhkan akuntabilitas para pelaku P2DTK dan menegakkan transparansi dana pembangunan, dilaksanakan melalaui pelatihanpelatihan manajemen keuangan dan pembukuan bagi para pelaku P2DTK, penerapan mekanisme safeguard keuangan, quik-status financial-management khususnya untuk wilayah optimalisasi, supervisi KM. Nas ke lapangan, audit berkala oleh BPKP,dll.
Diagram Rekapitulasi Alokasi, Realisasi, dan Penyaluran Dana DOK dan BLM (Kabupaten dan Kecamatan) P2DTK
7,995,000,000 7,250,000,000 7,129,691,231 319,953,787,000 229,255,254,783 226,080,951,404 155,136,721,000 154,597,280,085 154,493,798,879 606,281,971,000 602,768,536,644 602,240,329,372 14,000,000,000 13,999,999,900 13,966,508,107 1,103,367,479,000

Alokasi

DOK

Pencairan Penyaluran Alokasi

ACEH-SUMUT

BLM

Pencairan Penyaluran Alokasi

DOK

Pencairan Penyaluran Alokasi

NASIONAL BLM

Pencairan Penyaluran

OPTIMALISASI

Alokasi BLM

BLM

Pencairan Penyaluran BLM

BLM DAN DOK

TOTAL P2DTK

Alokasi Pencairan (91,35%) Penyaluran (99,61%)
1,007,871,071,412 1,003,911,278,993

Sumber: KM. Nas-MIS

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - v

Kasus-kasus penyimpangan dana yang terjadi akan dipaparkan dalam bagian HCU (Handling Complain Unit=Pengaduan dan Penanganan Masalah) berikut ini. Pengaduan dan Penaganan Masalah: Unit Pengaduan dan Penanganan Masalah atau HCU dikembangkan di dalam program P2DTK dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah dan sengketa indikasi penyimpangan dana dalam proses pelaksanaan P2DTK sehingga pada saat program berakhir tidak meninggalkan sisa permasalahan yang berlarut-larut. Dalam jangka Diagram Rekapitulasi Penaganan dan Pengaduan Kasus panjang tujuan idealnya adalah 1978 1975 memperkuat akuntabilitas dan 1291 1289 transparansi dalam pelaksanaan 904 900 pembangunan di daerah.
216 214 2
Implementasi Pengaduan Manajerial Temuan supervisi

4
Temuan supervisi

1
Manajerial

5
Implementasi

Selama program P2DTK berlangsung mulai Siklus 1 (2007) s/d. Siklus 3 (2009), Siklus 3 (2010) dan Siklus 4 Optimalisasi (2011), ditemukan 2.195 kasus penyimpangan kuangan P2DTK baik yang bersumber dari pengaduan masyarakat dan pelaku-pelaku P2DTK, maupun yang bersumber dari temuan supervisi BPKP. Tabel Rekapitulasi Penaganan dan Penyelesaian Kasus

Implementasi

Pengaduan

Temuan supervisi

Pengaduan

Manajerial

Dari segi sumber kasus

Dari segi jenis kasus

Dari segi sumber kasus

Dari segi jenis kasus

Dari segi sumber kasus

Dari segi jenis kasus

Total 2.195 Kasus

Selesai 2.189 kasus (99,73%)

Dalam proses 6 kasus (0,27%)

menunjukkan bahwa sebagian besar Sumber: KM. Nas-HCU-per 30 Mei 2012 (99,73%) dari kasus-kasus tersebut sudah bisa diselesaikan. Data per akhir Mei 2012 tersebut menunjukkan tersisa 6 kasus (0,27%) yang masih dalam proses penyelesaian, dimana 1 kasus merupakan kasus manajerial dan 5 kasus adalah jenis kasus yang ditemukan dalam proses implementasi penggunaan dana. Dari sudut dana P2DTK maka dapat dipaparkan bahwa untuk wilayah Aceh-Sumut, ditemukan kasus awal penyimpangan dana sebesar Rp. 2.438.047.492,- atau 1,05% dari realisasi dana penyaluran yang sebesar Rp. 233.210.642.635,-. Sampai akhir Mei 2012 seluruh dana penyimpangan ini telah kembali ke Kas Negara.
Tabel Rekapitulasi Penyelesaian Kasus Berdasarkan Audit BPKP dan Pengaduan (Per Akhir Mei 2012)
No 1 Lokasi Aceh-Sumut Nasional (8propinsi) Optimalisasi Dana Penyaluran (BLM + DOK) 233.210.642.635 756.734.128.251 Nilai Penyimpangan 2.438.047.492 1,05 9.260.487.338 1,22 3 13.966.508.107 1.003.737.273.993 0 0 Total 11.698.534.830 1,17 Nilai Pengembalian 2.438.047.492 100,00 9.117.254.621 98,45 0 0 11.555.302.113 98,78 Sisa 0,00 143.232.717 1,55 0 0 143.232.717 1,22

2

Sumber: KM. Nas-Data HCU

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - vi

Proses pengaduan dan penanganan masalah P2DTK di wilayah Nasional (8 propinsi non Aceh-Sumut) menemukan penyimpangan dana sebesar Rp. 9.260.487.338,- atau 1,22% dari realisasi penyaluran dana yang sebesar Rp. 756.734.128.251,- (Dana DOK dan BLM). Sampai akhir Mei 2012 telah terjadi pengembalian dana sebesar Rp. 9.117.254.621,- (98,45%), dan tersisa dana penyimpangan yang belum kembali ke Kas Negara sebesar Rp. 143,232,717,- (1,55%). Sementara untuk wilayah Optimalisasi Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah dilaporkan tidak ada kasus penyimpangan dana 2. Secara keseluruhan wilayah P2DTK, dari seluruh siklus yaitu Siklus 1 (2007) s/d. Siklus 3 (2009), Siklus 3 (2010) dan Siklus 4 Optimalisasi (2011) ditemukan besar penyimpangan dana Rp. 11.698.534.830,- atau 1,17% dari total penyaluran BLM dan DOK sebesar Rp. 1.003.911.278.993,-. Sampai akhir Mei 2012 sudah kembali ke Kas Negara sebesar Rp. 11.555.302.113,-(98,78%) dari besarnya penyimpangan yang terjadi. Dana penyimpangan yang belum kembali dan masih dalam proses penyelesaian sebesar Rp. 143.232.717,- atau 1,22% dari total penyimpangan dana yang ditemukan. Pengembangan Kapasitas: Kegiatan pengembangan kapasitas di dalam program P2DTK mempunyai dua tujuan utama, yaitu: (1) Memampukan atau mengembangkan kapasitas pemerintah daerah dalam menyusun perencanaan pembangunan secara partisipatif sesuai dengan kebutuhan masyarakat, serta memiliki kemampuan mengelola kegiaatan-kegiatan pembangunan secara akuntabel; (2) Meningkatkan kemampuan para pelaku Program P2DTK agar dapat mengelola kegiatan secara lebih baik serta mampu meningkatkan mutu pelayanan, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan, kepada masyarakat. Implementasi untuk jenis pengembangan kapasitas bagi aparat pemerintah dan para pelaku pengelola program P2DTK di daerah di danai dari sumber Dana DOK/DAK dan atau sumber dana lain nonDOK/DAK. Sementara implementasi untuk jenis pengembangan kapasitas yang berkaitan dengan pengelolaan kegiatan bidang pelayanan dan peningkatan mutu pelayanan, didanai darisumber dana BLM baik BLM Kabupaten maupun BLM Kecamatan. 1. Pengembangan kapasitas aparat pemerintah: Berbagai bentuk pelatihan tentang perencanaan partisipatif khusus dalam tahapan kegiatan P2DTK yang diberikan kepada aparat pemerintah daerah umumnya dan para pelaku pengelolan program antara lain: Pelatihan perencanaan partisipatif; Lokalatih kajian teknis P2DTK; Pelatihan pembukuan keuangan; Pelatihan desain dan RAB; Pelatihan procurement; Pelatihan mediasi konflik; Pelatihan PSS; dll. Adapun pihakpihak atau institusi peserta pelatihan Diagram Rekapitulasi Jumlah Aparatur Yang antara lain: UPKD, UPK, TPK Mendapatkan Pelatihan Perencanaan Partisipatif Kabupaten, TKT Kabupaten, Satker, 40.262 41.320 Aparatur Pemda, Tim desain dan RAB 24,000 kecamatan, Badan Pemberdayaan 20,000 Perempuan, dll.
16,000 12,000 8,000 4,000 -

Total aparatur pemerintah daerah yang sudah dilatih mengenai perencanaan partisipatif dalam konteks tahapan pelaksanaan P2DTK sebanyak 41.320 orang. Serapan dana yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut mencapai Rp. 13.388.091.604,- yang bersumber dari Dana DOK/DAK.
2

1.058

Peserta Aceh

Peserta Nasional

Total Peserta

Dana terserap Rp. Dana terserap Rp. Dana terserap Rp. 612.087.534 12.776.004.070 13.388.091.604

Audit Administrasi dan Keuangan Proyek yang dilaksanakan oleh World Bank terhadap wilayah P2DTK Optimalisasi yang dipresentasikan pada pertemuan 5 April 2012 di PIU-KPDT menyatakan bahwa hasil audit adalah “Moderately Satisfactory” (Cukup Memuaskan).

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - vii

Peserta dari unsur masyarat yang terlibat di dalam pelaku-pelaku pengelola P2DTK di daerah dan yang sudah mendapatkan pelatihan mengenai perencanaan partisipatif dan pengelolan kegiatan P2DTK sebanyak 17.823 orang yang terdiri daripihak-pihak seperti fasilitator desa, fasilitator kecamatan, pendamping lokal, TPK Kecamatan, dll. 2. Pengembangan kapasitas bagi pelaku pelayanan bidang kegiatan: Yang dimaksud dengan pelaku pelayanan bidang kegiatan adalah para pelaksana kegiatan bidang program P2DTK, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan, yang terlibat langsung serta memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pelaksanaan program Diagram Rekapitulasi Jumlah Kegiatan dan Peserta dibidang kesehatan, telah melaksanakan Pelatihan Bidang Kesehatan dan Pendidikan sebanyak 310 event pelatihan baik pelatihan bertemakan peningkatan mutu pelayanan maupun manajemen kesehatan, dengan jumlah total peserta 12.494 orang. Para peserta tersebut terdiri dari petugas puskesmas, pegawai rumah sakit, bidan desa, berbagai gugus tugas kader tingkat desa, dll.
34.250
30050 25050 20050 15050 10050 5050 50

21.756 12.494 310 475 785

Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Kegiatan Peserta Kegiatan Peserta Kegiatan Peserta

Pelaksanaan program pendidikan telah Bidang Kesehatan Bidang Pendidikan Total Kesehatan + Pendidikan melakukan sebanyak 475 event pelatihan mutu pendidikan,manajemen pendidikan, maupun pelatihan lain-lain untuk para guru, dengan total jumlahpeserta mencapai 21.756 orang. Rekapitulasi untuk seluruh wilayah program P2DTK (Aceh-Sumut, Nasional, dan Optimalisasi) adalah 758 event pelatihan dengan total seluruh peserta 34.250 orang. 3. Partisipasi masyarakat di dalam forum-forum pengelolaan pembangunan: P2DTK mengembangkan paling tidak 15 (limabelas) forum musyawarah masyarakat 3 mulai dari tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten, dari tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan kegiatannya. Keterlibatan masyarakat tersebut selain berfungsi sebagai sasaran program dimana kebutuhan-kebutuhan masyarakat harus terakomodir di dalam pilihan kegiatan program, Diagram Pertumbuhan Perusahaan Baru Terdaftar mereka juga berperan sebagai 4,100 “kontrol” pengawasan pelaksanaan 3,600 3,100 kegiatan dari satu tahap ke tahap 2,600 2,100 1,600 berikutnya. Jumlah total partisipasi 1,100 600 100 masyarakat yang pernah Wil. Barat Wil. Timur Wil. Barat Wil. Timur Wil. Barat Wil.Timur Wil. Barat Wil. Timur menghadiri forum-forum tersebut sebanyak 222.598 orang, terdiri 2,754 4,775 5,556 6,381 atas laki-laki 164.282 orang 2007 2008 -- [42.32%] 2009 -- [14.06%] 2010 -- [12.93%] (73,80%) dan perempuan 58.316 Pertumbuhan per tahun orang (26,20%).
Rerata pertumbuhan 23,10%

Pengembangan Sektor Swasta (PSS): Total terdaftar 19.466 perusahaan Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khusus di wilayahwilayah tertinggal program P2DTK, maka dikembangkan kegiatan PSS. Ada tiga hal yang menjadi
3

Buku PTP P2DTK: Forum-Forum Musyawarah Masyarakat

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - viii

tujuan program PSS tersebut, yaitu: (1) Mendorong perubahan iklim udaha dan investasi di daerah melalui pengembangan dialogdan kerjasama antar sektor swasta dan antara sektor swasta dengan pemerintah daerah; (2) Menciptakan regulasi yang dapat memperbaiki iklim usaha dan investasi; (3) Pemulihan kondisi pelayanan usaha yang berorientasi pasar melalui pembangunan sarana dan prasaranayang mendukung perekonomian. Berikutinidisampaikan beberapa capaian pokok di dalam program PSS, yaitu antara lain: 1. Forum Sektor Swasta(FSS): Program PSS telah dilaksanakan di 29 kabupaten di 7 propinsi yaitu: Wilayah Barat, terdiri dari Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah; Wilayah Timur terdiri dari Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Maluku Utara. Forum Sektor Swasta sebagai media dialog multistakeholder para pelaku usaha dan pemerintah, telah terbentuk di 29 kabupaten tersebut. 2. Pertumbuhan Perusahaan/ Unit Usaha Baru: Program PSS telah berhasil mendorong tumbuhnya perusahaan/unit usaha baru sebanyak 19.466 buah dengan rata-rata pertumbuhan usaha baru per tahun sebesar 23,10%. Tahun dimana pertumbuhan usaha barutersebut paling signifikan adalah Tahun 2008, dimana pertumbuhannya mencapai 42,32%. Program PSS juga dilaksanakan di wilayah P2DTK Aceh-Sumut yang difasilitasi oleh TAF. Jumlah FSS yang terbentuk adalah 19 buah di 19 kabupaten sasaran Aceh-Sumut, sementara perusahaan/unit usaha baru yang terdaftar diwilayah ini sebanyak 19.466 buah dengan gambaran pertumbuhan pertahun seperti disajikan di dalam tabel berikut. Seperti juga yang terjadi pada program PSS di wilayah P2DTKNasional, bahwa tahun pertumbuhan jumlah perusahaan/unit usaha baru yang paling besar adalah padaTahun 2008, dimana di wilayah Aceh-Sumut terjadi pertumbuhan mencapai 73,38%. 3. Infrastruktur Pendukung PSS: Program PSS didukung dengan pembangunan infrastruktur sarana dan prasaran pendukung perekonomian masyarakat. Pembangunan infrastruktur dimaksud adalah seperti: Akses transportasi kegiatan ekonomi, berupa Jalan dan jembatan mencapai sentra produksi, jalan desa dan jalan antar desa; Bangunan pelindung kawasan seperti tanggul penahan tanah dan Tanggul penahan ombak; Diagram Penggunaan Dana BLM Pendukung PSS Tambatan Perahu dan Dermaga mencapai; Irigrasi dan bangunan; Bangunan fasilitas usaha seperti pasar, Tempat Pelelangan Ikan, gudang dan Total BLM Kab + Kec Rp. penggilingan padi, dan sherlter atau 813.004.737.613 terminal; sertakegiatan lain berkaitan Rp. Total Dana PSS 308.627.033.792 denganpengembangan ketrampilan Rp. usaha. Dana pendukung PSS yang bersumber Rp. dari BLM Kabupaten maupun 305.820.649.958 Infrastruktur Terkait PSS Kecamatan di wilayahag sasaran program PSS mencapai Rp.308.627.033.792,- atau sekitar Sumber: KM Nas-PSS 37,96% dari Dana BLM Kabupaten dan Kecamatan di kabupaten sasaran (Lihat Bagan Penggunaan Dana BLM Pendukung PSS). Sebagian besar dari dana tersebut terserab untuk membangun infrastruktur pendukung perekonomian masyarakat dalam kaitannya dengan PSS. 4. Advokasi Kebijakan Daerah: Kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan seperti FGD Kecamatan untuk menjaring aspirasi pengembangan ekonomi, Kajian-Kajian Teknis, Musyawarah Sektor Swasta I dan II, Usulan-usulan rekomendasi untuk kebiajakan daerah nampaknya belum begitu
Laporan Akhir KM. Nas | Hal - ix
Pelatihan Masyarakat 2.806.383.834

berhasil untuk mendorong munculnya regulasi-regulasi di daerah yang mendukung PSS. FSS sebagai wadah multistakeholder para pelaku usasa dan pemerintah, belum mampu berperan progresif dalam mendorong regulasi-regulasi tersebut. Gambaran di atas terbukti dengan sangat sedikit daerah/pemerintah kabupaten sasaran program PSS yang mempunyai inisiatif untuk mengembangkan regulasi daerah terkait dengan PSS. Hanya ada 2 FSS yang berhasil melakukan advokasi perbaikan peraturan daerah tetang pengembangan sektor swasta, yaitu di Kabupaten Alor dan Sumba Barat Provinsi NTT. Mediasi Penguatan Hukum Masyarakat (MPHM): Relevansi pelaksanaan komponen MPHM di dalam program P2DTK salah satunya karena wilayah sasaran P2DTK sebagian adalah wilayah bekas konflik. Relevansi berikutnya yaitu bahwa pelaksanaan pembangunan membutuhkan prasyarat kondisi sosial yang relatif kondusif. Berlandaskan hal tersebut maka komponen MPHM P2DTK difokuskan pada penciptaan suasana dimana pembangunan sosio-ekonomi dapat berjalan dengan lancar dan tujuan pelaksanaan P2DTK dapat tercapai. MPHM P2DTK difokuskan pada beberapa kegiatan sebagai berikut: (1) Penyuluhan/Pendidikan Hukum, Konsultasi Hukum, Penangangan Kasus dan kegiatan penguatan jaringan kerja posko; (2) Membangun koordinasi dan/atau jejaring kerja serta kegiatan sosialisasi Posko BHM (Bantuan Hukum Masyarakat) maupun koordinasi dengan komponen MPHM (Paralegal); dan (3) Pelayanan konsultasi hukum dan membangun koordinasi dan/atau peningkatan jejaring kerja posko BHM maupun peningkatan kapasitas komponen MPHM (Paralegal). Berikut ini dipaparkan capaian-capaian pokok yang sudah dihasilkan oleh komponen MPHM, antara lain yaitu:
Tabel Rekapitulasi Capaian-Capaian Kegiatan MPHM
Lokasi Pendidikan hukum masyarakat 300 3,470 3,770 LSM dan penegak hukum 70 120 190 Petugas MPHM tingkat "grassroots" Fas Posko -8 8 Mediator Desa -59 59 Pemanfaat unit mediasi/ konsultasi hukum 500 58 558 Pemanfaat lain dgn adanya MPHM -135,076 135,076 Kasus tertangani Pidana -35 35 Perdata -7 7

ACEH NASIONAL TOTAL

Sumber: KM.Nas-MPHM

a. Sudah dilakukan paling sedikit 214 kali pelatihan pendidikan hukum masyarakat kepada 3.770 orang dari berbagai unsur masyarakat dan aparat pemerintah, dengan rincian di Aceh 300 orang dan di P2DTK Nasional 3.470 orang. Tema-tema pelatihan antara lain Hak-hak masyarakat dalam hukum pidana, masalah perdata, KDRT dan hak-hak adat. b. Sudah dilakukan pelatihan mediasi konflik dan pelayanan hukum kepada LSM dan aparat penegak hukum (kepolisian dan pengacara) dengan jumlah peserta 190 orang, di mana di Aceh sebanyak 70 orang dan di P2DTK Nasional 120 orang. c. Sudah dilakukan pelatihan pelayanan hukum masyarakat kepada para petugas di tingkat grassroot yaitu Fasilitator Posko dan Mediator Desa sebanyak 67 orang (fasilitator posko 8 orang dan mediator desa 59 orang. d. Sebanyak 500 orang di Aceh dan 58 orang di wilayah P2DTK Nasional secara individual telah memanfaatkan unit konsultasi hukum yang sudah dibentuk. Sementara itu sebanyak 35 kasus pidana dan 7 kasus perdata telah tertangani.
Laporan Akhir KM. Nas | Hal - x

e. Total penerima manfaat dengan adanya pengembangan komponen MPHM, baik yang berkaitan dengan kasus korupsi, KDRT, waris, sengketa tanah, dan kasus perdata lainnya serta kasus kriminal diperkirakan sebanyak 135.076 orang. Angka ini menjadi besar karena banyak kasus bersifat komunal, sepertimisalnyadi Tual mengenai pengungsi dimana Bupati Tual menetapkan bahwa yang memperoleh manfaat sekitar 65.000 orang. Pemanfaat P2DTK: Program P2DTK yang dilaksanakan di 10 provinsi (51 kabupaten dan 186 kecamatan) ini telah bermanfaat paling tidak bagi 6.136.461 orang atau sebesar 46,94% dari total jumlah penduduk di kecamatan sasaran P2DTK 13.072.618 orang, sementara dari sudut sasaran KK Miskin, P2DTK telah bermanfaat bagi 2.775.865 KK Miskin (45%) dari seluruh total KK Miskin di sasaran P2DTK. Pemanfaat P2DTK di Aceh-Nias mencapai 1.364.561 orang (29,27%) dari total Diagram Rekapitulasi Jumlah Pemanfaat P2DTK penduduk. Sementara sasaran KK miskin 4.661.848 mencapai 783.930 KK Miskin atau sekitar 57% Total Penduduk total KK miskin wilayah P2DTK di Aceh783.930 Pemanfaat KK Miskin [57%] Sumut. Sasaran pemanfaat di wilayah P2DTK 1.364.561 Pemanfaat P2DTK [29,27%] Nasional mencapai 4.771.900 orang atau sekitar 56,74% total penduduk di wialayah 8.410.770 Total Penduduk P2DTKNasional. Sementara sasaran KK 1.991.935 Pemanfaat KK Miskin [42%] Miskin di wilayah nasional ini mencapai 4.771.900 Pemanfaat P2DTK [56,74%] 1.991935 KK Miskin.
Nasional Aceh-Nias

Mereka terdiri atas masyarakat bawah sampai para aparatur pemerintah tingkat kabupaten, baik yang memperoleh manfaat dari dibangunnya infrastrukur pelayanan dasar, pelayanan kesehatan, pendidikan, maupun dari pelatihan-pelatihan pengembangan kapasitas.

Total P2DTK

Total Penduduk Wil. P2DTK Pemanfaat KK Miskin [45%] Total Pemanfaat P2DTK [46,94%]
2.775.865 6.136.461

13.072.618

Sumber: KM Nas-MIS

Lesson Learned P2DTK: Banyak “pembelajaran” (lesson learned) yang dapat dipetik selama pelaksanaan P2DTK di wilayah-wilayah dengan konteks sosial, sumberdaya manusia, serta dinamika pemerintahan lokal yang beragam tersebut. pemaparan lesson learned tersebut akan dibagi dalam 3 (tiga) kategori, yaitu aspekimput program, aspek proses pelaksanaan, dan aspek hasil-hasil program. Aspek Input Program: (1) Perencanaan partisipasi dari bawah yang dikembangkan oleh P2DTK melalui mekanisme Musrenbang telah berhasil menumbuhkan kepercayaan dan harapan baru di masyarakat terhadap perencanaan dan implementasi pembangunan. Namun implikasi “negatif”-nya adalah bahwa perencanaan reguler yang dilakukan pemerintah daerah menjadi kurang mendapatkan response positif dan kurang dipercaya oleh masyarakat; (2) Masih banyak anggota legislatif dan aparatur di daerah yang rendah pemahamannya atas makna dan substansi perencanaan partisipatif. Hal inimenjadi salah satu sebab rendahnya perhatian legislatif untuk mendorong regulasi daerah terkait dengan perencanaan partisipatif dalam pembangunan; dan (3) Banyaknya pedoman-pedoman teknis yang berubah-ubah di saat proses program berjalan sangat menjadi kendala baik bagi para mitra pelaku P2DTK di tingkat kecamatan dan kabupaten, maupun para tim konsultan di daerah, karena sangat menyita waktu untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian; dan (4) Pengadaan konsultan ahli seyogyanya dilaksanakan sejakawal yang berbarengan dengan diimplementasikannya program P2DTK. Karena ketidaklengkapan konsultan berpengaruh besar kepada kualitas performance pendampingan P2DTK. Aspek Mekanisme Proses Pelaksanaan Program: (1) Intensitas pergantian (mutasi) para anggota lembaga-lembaga mitra pelaku P2DTK dari unsur pemerintah cukup tinggi, oleh karena itu Satker dan
Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xi

UPKD sering kali kurang optimal dalam melayani P2DTK; (2) Pelembagaan pelaku-pelaku, forumforum termasuk Tim Kajian Teknis belum terjadi karena tim-tim tersebut bersifat ad-hock (sementara), dan sangat besar keumungkinannya untuk tidak berfungsi setelah program selesai serta tidak didukung melalui pengembangan peraturandaerah agar terintegrasi kedalam sistem pemerintahan daerah; (3) Mekanisme pertanggungjawaban kegiatan sebuah sub-proyek melalui Musyawarah Pertanggungjawaban secara bertahap (40%, 80%, dan 100%) yang diterapkan di dalam program P2DTK sangat efektif untuk menumbuhkan dan mempromosikan munculnya proses transparansi implementasi proyek-proyek di pemerintah daerah, dimana masyarakat bisa berpartisipasi dalam mengontrol hasil kegiatan dan proses keuangan sebuah sub-proyek. Melalui mekanisme tahapan Musyawarah Pertanggungjawaban tersebut, para pelakusub-proyek, baik dari unsur pemerintah daerah maupun masyarakat, dipacu untuk menyelesaikan dokumen administrasi secara tepat waktu, lengkap, dan benar; dan (4) Mekanisme sinergi antar program belum maksimal terlaksana di daerah. Di beberapa daerah mekanisme koordinasi tersebut terwadahi melalui Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah, namun koordinasi tersebut belum bisa menjamin terwujudnya komitmen danMoU antara program (Misalnya PNPM) dengaan pemerintah daerah. Lesson Learned Aspek Hasil Program: (1) Sangat sedikitnya pemerintah daerah di wilayah program P2DTK mengadopsi model perencanaan P2DTK ke dalam sistem perencanaan reguler daerah, atau mengadopsi model P2DTK ke dalam peraturan daerah mengenai perencanaan pembangunan daerah, dikarenakan beberapa hal. Pertama, periodisasi waktu perencanaan P2DTK berbeda dengan periodisasi waktu perencanaan reguler pemerintah daerah; (2) Terkait dengan upaya-upaya keberlanjutan proyek-proyek P2DTK maka dapat diinformasikan bahwa pemerintah daerah sudah berencanaan untuk memelihara assest-asset tersebut, namun oleh karena keterlambatan penyerahan asses dimana asset dari Silus 1 sampai Siklus 3 (yang sudah dibangun 3 tahun) yang sesungguhnya telah memerlukan pemeliharaan terpaksa belum bisa didanai melalui APBD; dan (3) Pemeliharaan terhadap asset-assetP2DTK belum keterjaminan sustainalibitasnya karena sejauh ini beluma ada regulasi atau peraturan daerah yang mengakomodasi tentang permasalahan tersebut. Rekomendasi: Berikut ini adalah beberapa rekomendasi pokok untuk masukan terhadap P2DTK ke depan maupun program-program sejenis. Rekomendasi aspek input program: (1) Perlunya Memberikan pemahaman kepada kelompok masyarakat (secara lebih mendalam) akan dampak pembangunan dengan melepaskan ego daerah dan memilih kegiatan yang mempunyai dampak mulytifler effek yang lebih luas; (2) Rekrutmen konsultan perlu lebih mempertimbangkan kualitas sesuai dengan kompetensi keahlian yang dibutuhkan, dan hendaknya secara lengkap dimobilisasi sejakawalprogram; dan (3) DIPA diharapkan tepat waktu, dimana harus diterbitkan tepat pada awal tahun, sehingga mekanisme pengelolaan pelaksanaan kegiatanb bisa sesuai dengan Pedum. DIPA yang terlambat membuat seluruh mekanisme proyek seakan-akan hanya mengejar target waktu, sehingga berdampak pada kurang maksimalnya pelaksanaan pada setiap tahapkegiatan.

Rekomendasi mekanisme implementasi dan pengelolaan program: (1) Di Pedum perlu dibuatkan aturan perwakilan perempuan secara lebih spesifik kearah keterwakilan kelembagaan perempuan; (2) Perlu dipikirkan penyederhanaan proses, mekanisme termasuk struktur organisasi P2DTK; (3) Komimen daerah mengenai perencanaan partisipatif belum maksimal sehingga perlu dilakukan pendekatan kepada legislatif untuk mengkomunikasikan proses dan hasil kegiatan, serta melakukan pendekatan-pendekatan untuk penguatan peraturan daerah yang terkait dengan program P2DTK; dan (4) Perlunya dipikirkan sejak awal programu untuk menginternalisasi (pelembagaan) pelaku-pelaku dan forum-forum P2DTK dalammekanisme pembangunan pemerintahan daerah.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xii

Rekomendasi pasca program dan keberlanjutan: (1) Kiranya perlu dipikirkan secara matang untuk memberikan strategi baru di P2DTK dalam hal internalisasi berbagai kapasitas terkait dalam rangka menyiapkan sumberdaya manusia (khususnya aparatur pemerintah) secara terus menerus untuk menjaga keberlanjutan dapat berlangsungan pendekatan, nilai, dan prinsip P2DTK; (2) Penyerahan alih kelola asset P2DTK seyogyanya dilaksanakan setiap akhir tahun, sehingga asset-asset tersebut segera mendapatkan kepastian peraturan pengelolaan oleh daerah, serta mendapatkan kepastian keberlanjutan pemeliharaannya; dan (3) Model “pemaketan proyek” melaluipengalaman pelaksanaan optimalisasi dinilai lebih efektif dalam pengelolaannya danoleh karena itu model iniperlu dipertahankan, namun perlu dipertimbangan secara lebih matang dalam hal prosedur Kajian Teknis dan perancaan serta desain RAB-nya. Hal ini agar tujuan model ”paket proyek” tetap bisa tercapai yaitu komprehensif dan langsung dapat berfungsi.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xiii

Kata Pengantar
Dengan mengucapkan Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa serta berkat rahmat dan ridhoNya, kami dapat menyelesaikan Buku Laporan Akhir Pendampingan KM. Nas Dalam Program P2DTK (Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus ) 2007-2012 ini. Program yang dirancang untuk mengembangkan tingkat kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah tertinggal ini telah memberikan manfaat bagi masyarakat di 186 kecamatan sasaran P2DTK. Lebih dari 6.000.000 juta orang, laki-laki dan perempuan, telah mendapatkan manfaat dalam berbagai bentuk pelayanan dasar baik bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, pengembangan kapasitas, mediasi konflik dan pelayanan konsultasi hukum, serta manfaat mempermudah akses mobilitas masyarakat. Sebanyak 10.421 sub proyek telah dikelola melalui kerja sama sinergisitas antar pihak pelaku-pelaku P2DTK, mulai dari tingkat nasional sampai kecamatan. Perangkat-perangkat mekanisme pengendalian keuangan telah dikembangkan sedemikian rupa untuk mengelola total alokasi dana P2DTK (Dana DOK dan BLM) sebesar Rp. 1.103.367.479.000,-, pencairan dana Rp. 1.007.871.071.412,-, serta penyaluran dana yang mencapai Rp. 1.003.911.278.993,- (termasuk A/O). Melalui sistem pengedalian keuangan yang mengedepankan transparansi serta mekanisme HCU yang ketat maka hanya 1,17% (Rp. 11.698.534.830,-) temuan awal kasus penyimpangan dana, yang pada masa akhir program telah mencapai tingkat pengembalian dana yang signifikan sehingga menyisakan dana sisa penyimpangan hanya 1,22% (Rp. 143.232.717,-) per akhir Mei 2012. KM. Nas sebagai pendamping teknis P2DTK tingkat nasional, dengan tim tenaga ahli dari berbagai bidang yang ada di dalamnya, merasa terhormat terlibat dalam program untuk mengembangkan masyarakat di wilayah-wilayah tertinggal agar setara dengan wilayah lain yang lebih maju di Indonesia. Banyak pengalaman suka dan duka yang bisa dipetik, terlebih tidak terhitung lagi pengalaman yang dengan sendirinya memperkaya kapasitas tim ahli KM. Nas sebagai pelaku pemberdayaan masyarakat. Tim KM. Nas merasa masih banyak agenda yang harus dikembangkan dan dipertajam dalam hal pendampingan P2DTK tersebut, seperti misalnya dalam aspek-aspek: (a) Mendorong munculnya regulasi lokal yang akomodatif terhadap tujuan P2DTK; (b) Melakukan pendekatan dan mengadvokasi internalisasi kelembagaan pelaku-pelaku P2DTK di dalam mekanisme pembangunan pemerintah daerah; (c) Mendorong dikenalnya P2DTK kepada berbagai pihak secara lebih luas; (4) Mengembangkan kapasitas secara tersistem kepada mitra-mitra pelaku konsultan di daerah; (5) Melakukan pendekatan kepada pemerintah daerah untukmemastikan bentuk-bentuk dasar keberlanjutan P2DTK; dll. KM. Nas tentu saja merasa belum “puas” dalam memfasilitasi arah substansi program P2DTK. Lepas dari kelebihan maupun kekurangan yang ada, buku ini merupakan Laporan Akhir Final yang menggambarkan proses secara utuh fasilitasi KM Nas dalam mendampingi secara teknis P2DTK. Sebagai buku laporan teknis pendampingan, maka buku ini menekankan pada 3 (tiga) bagian mendasar, yaitu: (a) Gambaran proses dan hasil pendampingan teknis KM Nas terhadap P2DTKsesuai dengan peran dan tanggungjawab yang diberikan; (2) Gambaran hasil-hasil pendampingan sesuai bidang keahlian yang ada di KM. Nas seperti Bidang Infrastrktur, Bidang Pendidikan, Bidang Kesehatan,
Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xiv

MPHM, Pengembangan Sektor Swasta, melalui analisa-analisa terhadapmasing-masing bidang; dan (3) Paparan tentang lesson learn, best-practices, serta rekomendasi untuk pengembangan P2DTK ke depan maupun program-program serupa. Semoga laporan ini bermanfaat bagi seluruh pihak yang peduli terhadap pemberdayaan masyarakat di Indonesia. Harapan ideal lain dengan tersusunnya buku Laporan Akhir pendampingan teknis P2DTK tingkat nasional ini semoga dapat dipelajari untuk bisa diambil sisi-sisi positifnya begitu pula sisi “kekurangannya” oleh para pegiat pemberdayaan masyarakat secara individual, maupun pihak kelembagaan pemerintah dan non-pemerintah, yang hendak mengembangkan program pemberdayaan masyarakat di Indonesia. Sebagai rasa syukur, kami ingin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu tersusunnya Buku Laporan ini. Semoga inspirasi baru tentang pemberdayaan masyarakat, khususnya masyarakat di wilayah-wilayah tertinggaldi Indonesia, tumbuh di hati kita bersama.

Jakarta, Juni 2012 Tim KM. Nas – P2DTK

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xv

Daftar Isi
Halaman ii xiv xvi xix xxii xxiv xxvii

EXECUTIVE SUMMARY KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN DAFTAR ISTILAH DAFTAR BACAAN

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan dan Hasil Yang Diharapkan 1.2.1. Tujuan Penulisan Laporan 1.2.1. Hasil Yang Diharapkan I-1 I-4 I-4 I-4 I-4 I-5

1.3. Metode Penulisan 1.4. Sistematikan Laporan BAB 2. SEKILAS P2DTK DAN PERAN KM. NAS 2.1. Latar Belakang P2DTK 2.2. Tujuan Program P2DTK
2.2.1. Tujuan Umum 2.2.2. Tujuan Khusus

2.3. Sasaran P2DTK 2.4. Prinsip dan Pendekatakan P2DTK 2.5. Pelaku-Pelaku P2DTK

2.5.1. Pelaku P2DTK Tingkat Pusat 2.5.2. Pelaku P2DTK Tingkat Provinsi 2.5.3. Pelaku P2DTK Tingkat Kabupaten 2.5.4. Pelaku P2DTK Tingkat Kecamatan 2.5.5. Pelaku P2DTK Tingkat Desa 2.6.1. Mekanisme Sosialisasi 2.6.2. Mekanisme Perencanaan 2.6.3. Mekanisme Pelaksanaan 2.6.4. Mekanisme Pertanggungjawaban Kegiatan 2.7.1. Peran dan Tugas KM Nas 2.7.2. Organisasi KM Nas

2.6. Tahap Implementasi

2.7. Konsultan Manajemen Nasional

II - 1 II - 3 II - 3 II - 3 II - 4 II - 5 II - 7 II - 7 II - 8 II - 8 II - 10 II - 11 II - 12 II - 12 II - 14 II - 19 II - 21 II - 24 II - 24 II - 26

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xvi

BAB 3. CAPAIAN PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB KM. NAS 3.1. Fasilitasi Pengembangan Kapasitas
3.1.1. Penyusunan Materi Pelatihan Konsultan dan Pelaku P2DTK 3.1.2. Jenis-Jenis Kegiatan Pengembangan Kapasitas 3.1.3. Pengembangan Kapasitas di P2DTK Aceh-Sumut 3.1.4. Pengembangan Kapasitas di P2DTK Wilayah Nasional

3.2. Pengelolaan Dana P2DTK 3.3. Capaian Pendanaan P2DTK
3.3.1. Alokasi DOK dan BLM P2DTK 3.3.2. Pencairan dan Penyaluran Dana DOK dan BLM 3.3.3. Dana PAP

3.4. Pengadaan (Procurement) 3.5. Pengelolaan Management Information System (MIS) 3.6. Monitoring, Supervisi dan Evaluasi 3.7. Pengaduan dan Penyelesaian Masalah (HCU) 3.8. Capaian Realisasi Sub-Proyek 3.9. Pengakhiran Program: “BA Alih Kelola dan Penyerahan Aset 3.10. Pelaporan 3.11. Koordinasi BAB 4. MERETAS “KETERTINGGALAN” BERSAMA P2DTK 4.1. Capaian Performance-Indicator Aceh-Sumut 4.2. Capaian Performance-Indicator Wilayah P2DTK Nasional 4.3. Capaian Pendampingan Bidang Kegiatan
4.3.1. Capaian Pemanfaat P2DTK 4.3.2. Pengembangan Kapasitas Masyarakat Sasaran 4.3.3. Pembangunan Infrastruktur 4.3.4. Sumbangan Perbaikan Pelayanan Pendidikan 4.3.5. Sumbangan Perbaikan Pelayanan Kesehatan 4.3.6. Gender Mainstreaming (Pengarusutamaan Gender) 4.3.7. Pengembangan Sektor Swasta (PSS) 4.3.8. Pemberdayaan MPHM

III - 1 III - 2 III - 2 III - 5 III - 6 III - 8 III - 21 III - 21 III - 23 III - 26 III - 28 III - 36 III - 39 III - 42 III - 46 III - 56 III - 59 III - 60

IV - 1 IV - 8 IV - 11 IV - 11 IV - 12 IV - 15 IV - 19 IV - 24 IV - 29 IV - 32 IV - 37

BAB 5. MENARIK PEMBELAJARAN DARI PENDAMPINGAN P2DTK 5.1. Hambatan-Hambatan Implementasi P2DTK

5.1.1. Hambatan Dalam Tahap Sosialisasi 5.1.2. Hambatan Dalam Tahap Perencanaan 5.1.3. Hambatan Dalam Tahap Pelaksanaan Program 5.1.4. Hambatan Dalam Tahap Keberlanjutan Program

5.2.

Lesson Learned
5.2.1. Lesson Learned Aspek Imput Program 5.2.2. Lesson Learned Aspek Proses Program 5.2.3. Lesson Learned Aspek Hasil Program

5.3.

Belajar Dari “Best Practices” P2DTK

V-1 V-1 V-2 V-4 V-7 V-9 V-9 V -11 V -14 V -15

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xvii

BAB 6. REKOMENDASI DAN PENUTUP 6.1. Rekomendasi 6.1.1. Rekomendasi Terkait Dengan Mekanisme Perencanaan 6.1.2. Rekomendasi Terkait Dengan Implementasi Kegiatan 6.1.3. Rekomendasi Terkait Dengan Pengelolaan Dana 6.1.4. Rekomendasi Terkait Dengan Keberlanjutan Program 6.2. Penutup

VI - 1 VI - 1 VI - 2 VI - 2 VI - 2 VI - 3

LAMPIRAN

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xviii

Daftar Tabel

Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel

II.01. Nama Provinsi, Jumlah Kabupaten dan Kecamatan Sasaran P2DTK III.01. Peran dan Tugas KM. Nas dalam Kegiatan Capacity Building III.02. Kinerja Pengelolaan Keuangan TPK Kabupaten Per Juli 2010 III.03. Kinerja Pengelolaan Keuangan UPKD Infrastruktur, Pendidikan, Kesehatan III.04. Kinerja Pengelolaan Keuangan UPK Kecamatan III.05. III.06. Pemahaman, Personal dan Kondisi Pembukuan TPK Kabupaten Pemahaman, Keberadaan Personal dan Kondisi Pembukuan UPKD (Infrastruktur, Pendidikan dan Kesehatan)

II - 4 III - 3 III - 14 III - 14 III - 15 III - 15 III - 16 III - 16 III - 22 III - 28 III - 29 III - 30 III - 32 III - 35 III - 35 III - 39 III - 43 III - 43 III - 44 III - 44 III - 45 III - 45

III.07. Pemahaman, Personal dan Kondisi Pembukuan UPK Kecamatan III.08. Rekapitulasi Alokasi, Pencairan, dan Penyaluran Dana DOK dan BLM P2DTK III.09. Lokasi dan Jumlah Peserta Pelatihan Pratugas Konsultan Pengadaan (Tahun 2011) III.10. Jumlah dan Lokasi Konsultan Pengadaan Kabupaten (s.d. Juli 2011) III.11. Kegiatan Workshop Konsultan Pengadaan Tahun 2011 III.12. Jumlah Dokumen Hasil Review Dokumen Pengadaan (s.d. Juli 2011) III.13. Jumlah Sub Proyek Sesuai Procurement Plan Optimalisasi III.14. Jumlah Realisasi Sub Proyek Optimalisasi III.15. Rekapitulasi Monitoring Masyarakat Melalui Forum-Forum III.16. Rekap Penyimpangan dan Pengendalian Dana Provinsi Aceh-Sumut III.17. Rekap Pengaduan dan Penyelesaian Masalah di Aceh III.18. Rekap Pengaduan dan Penyelesaian Masalah di Sumut III.19. Rekap Pengaduan dan Penyelesaian Masalah di P2DTK Nasional III.20. Rekapitulasi Ditail Pengaduan dan Penyelesaian Masalah di Seluruh Wilayah P2DTK III.21. Persentase Penyelesaian Kasus Berdasarkan Audit BPKdan Pengaduan Sampai 30 Mei 2012

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xix

Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel

III.22. Jumlah Penyelesaian Sub Proyek Pendidikan Berdasarkan SPB Kabupaten, Aceh-Sumut III.23. Penyelesaian Sub Proyek Kesehatan Berdasarkan SPB Kabupaten (Aceh-Sumut) III.24. Penyelesaian Sub Proyek Infrastruktur Berdasarkan SPB Kabupaten, Aceh-Sumut III.25. Realisasi Sub Proyek Non-Fisik Bidang Pendidikan P2DTK Nasional III.26. Rekapitulasi Sub Proyek Non-Fisik Bidang Kesehatan P2DTK Nasional Berdasarkan SPB Kabupaten dan SPC Kecamatan III.27. Sebaran Realisasi Sub Proyek Fisik per Bidang P2DTK Nasional TA. 2007-2010 III.28. Sebaran Realisasi Sub Proyek Pemuda P2DTK TA. 2007-2010 III.29. Jenis, Jumlah, dan Kualitas Paket Sub Proyek P2DTK Program Optimalisasi TA. 2011 III.30. Rekapitulasi Jumlah Laporan Pelaku-Pelaku P2DTK TA. 2007 - 2012 IV.01. Perempuan Pemanfaat P2DTK, Aceh-Sumut IV.02. Pertumbuhan Jumlah SD Yang Mengadopsi MBS Pertahuan (20082010) IV.03. Persentase dan Jumlah Komite Sekolah Yang Aktif, Aceh-Nias IV.04. Jumlah Anak Tidak Sekolah di Aceh-Nias IV.05. Angka Partisipasi Sekolah SD dan SMP 2007-2010 di Aceh-Sumut IV.06. Pertumbuhan Usaha Baru di Aceh-Nias IV.07. Kegiatan Sumber Dana BLM Aceh-Sumut IV.08. Pelatihan Bidang Pendidikan Dana BLM P2DTK Aceh-Sumut Siklus 1 s/d. Siklus 3 IV.09. Kegiatan Sumber Dana BLM (Kabupaten dan Kecamatan) P2DTK Nasional IV.10. Kegiatan Pelatihan Bersumber Dana BLM Kabupaten dan Kecamatan di Wilayah P2DTK Nasional IV.11. Rekapitulasi Kegiatan Pelatihan Bidang Kesehatan dan Pendidikan Bersumber Dana BLM (Kabupaten dan Kecamatan) P2DTK Nasional Siklus 1 s/d. 3 IV.12. Sub Proyek Sarana Jalan dan Jembatan Pendukung Akses Pendidikan dan Kesehatan di Aceh-Sumut IV.13. Sub Proyek Sarana Jalan dan Jembatan Pendukung Akses Pendidikan dan Kesehatan di P2DTK Nasional IV.14. Indikator Kinerja Gender Mainstreaming IV.15. Jumlah Pemanfaat Perempuan Hasil Kegiatan P2DTK (per 15 September 2011) IV.16. Jumlah Partisipasi Perempuan Dalam Perencanaan IV.17. Jumlah Peserta Perempuan Pelatihan DOK P2DTK IV.18. Cakupan Wilayah Sasaran P2DTK

III - 47 III - 48 III - 49 III - 51 III - 52 III - 53 III - 54 III - 55 III - 60 IV - 3 IV - 4 IV - 4 IV - 5 IV - 5 IV - 6 IV - 13 IV - 13 IV - 14 IV - 15 IV - 15

Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel

IV-20 IV - 22 IV - 30 IV - 31 IV - 31 IV - 32 IV - 35

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xx

Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel

IV.19. Pertumbuhan Usaha Baru di Wilayah Barat dan Timur IV.20. Hasil Rekap Jumlah Dana dan Kegiatan PSS BLM Kabupaten dan BLM Kecamatan IV.21. Ruang Lingkup Kegiatan MPHM IV.22. Lokasi Kegiatan MPHM IV.23. Realisasi kegiatan MPHM s.d. Bulan November 2011

IV - 36 IV - 36 IV - 38 IV - 38 IV - 39

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xxi

Daftar Bagan Dan Diagram

Bagan Bagan Bagan Bagan Bagan Bagan Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram

II.01. Kronologi Proses Pelaksanaan P2DTK 2005- 2012 II.02. Struktur Organisasi P2DTK II.03. II.04. II.05. Mekanisme Pengelolaan P2DTK Alur Proses Kajian Teknis Kecamatan Alur Proses Kajian Teknis Kabupaten

II - 2 II - 9 II - 13 II - 16 II - 18 II - 25 III - 6 III - 7 III - 24 III - 25 III - 25 III - 33 III - 40 III - 47 III - 49 III - 50 III - 50 III - 51 III - 53 III - 54 III - 55 IV - 12 IV - 16 IV - 16 IV - 17 IV - 18

II.06. Struktur Keorganisasian KM. Nas III.01. Rekapitulasi Pelatihan Dengan Pembiayaan DOK Kabupaten dan DOK Kecamatan Siklus 1 s.d. Siklus 3, Aceh-Sumut III.02. III.03. III.04. III.05. III.06. III.07. III.08. III.09. III.10. III.11. III.12. III.13. III.14. III.15. IV.01. IV.02. IV.03. IV.04. IV.05. Rekapitulasi Pelatihan Dengan Pembiayaan DOK Kabupaten dan DOK Kecamatan Siklus 1 s.d. Siklus 3, P2DTK Nasional Dana PAP P2DTK Aceh-Sumut Realisasi 2006 - 2012 Dana PAP P2DTK Nasional Realisasi 2007 – 2012 (8 Propinsi) Rekapitulasi Dana PAP P2DTK Realisasi 2006 – 2012 (10 Propinsi) Persentase Dokumen Yang Direview Rekapitulasi Supervisi KM. Nas 2007-2012 Kualitas Penyelesaian Sub Prpyek Pendidikan Berdasarkan Hasil Sertifikasi (Aceh-Sumut) Kualitas Penyelesaian Sub Propyek Kesehatan Berdasarkan Hasil Sertifikasi (Aceh-Sumut) Kualitas Penyelesaian Sub Prpyek Infrastruktur Berdasarkan Hasil Sertifikasi (Aceh-Sumut) Rekapitulasi Kualitas Seluruh Proyek P2DTK Aceh-Sumut 2001-2010 Rekapitulasi Kualitas Sub Proyek Non-Fisik Bidang Pendidikan P2DTK Nasional dan Optimalisasi Rekapitulasi Kualitas Sub Proyek Non-Fisik Bidang Kesehatan P2DTK Nasional Berdasarkan SPB Kabupaten dan SPC Kecamatan Rekapitulasi Kualitas Sub Proyek Infrastruktur P2DTK Nasional TA. 2007-2010 Kualitas Sub Proyek Pemuda P2DTK TA. 2007-2010 Rekapitulasi Jumlah Pemanfaat P2DTK Sebaran Sub Proyek Infrastruktur Menurut Kewilayahan Jumlah Sub Proyek di Aceh Sumut Menurut Jenis Jumlah dan Jenis Sub Proyek P2DTK Nasional Jenis dan Jumlah Paket Proyek Infrastruktur P2DTK Optimalisasi

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xxii

Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram Diagram

IV.06. IV.07. IV.08. IV.09. IV.10. IV.11. IV.12.

HOK di Sub Proyek Infrastruktur P2DTK Gambaran Kebutuhan Bidang Pendidikan di P2DTK Aceh-Sumut Gambaran Kebutuhan Bidang Pendidikan P2DTK Nasional Paket Proyek (Non-Fisik) Bidang Pendidikan Wilayah Optimalisasi Jenis Kegiatan Bidang Kesehatan Berdasarkan BLM Kabupaten P2DTK Aceh-Sumut Jenis Kegiatan Bidang Kesehatan Berdasarkan BLM Kabupaten dan Kecamatan P2DTK Nasional Jenis Paket Proyek Kesehatan di Wilayah Optimalisasi

IV - 18 IV - 19 IV - 22 IV - 24 IV - 25 IV - 27 IV - 29

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xxiii

Daftar Istilah

ADD APBN APBD APF APH Bappenas Bawasda Bindes BLM BPD BPKP BS Depdagri DIPA DOK Dirjen Ditjen DPR DPRD EL FSS Gampong Gender

: Alokasi Dana Desa : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah : Aparat Pengawasan Fungsional : Aparat Penegak Hukum : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional : Badan Pengawas Daerah : Bidan Desa : Bantuan Langsung Masyarakat : Badan Permusyawaratan Desa : Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan : Bina Swadaya : Departemen Dalam Negeri : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran : Dana Operasional Kegiatan : Direktur Jenderal : Direktorat Jenderal : Dewan Perwakilan Rakyat : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah : Effective Loan : Forum Sektor Swasta : Nama atau sebutan lain dari “desa” di Aceh. Di beberapa wilayah disebut juga kampong. : Asumsi atau konsep masyarakat atas peran, tanggung-jawab serta perilaku laki-laki dan perempuan yang dipelajari dan dapat berubah dari waktu ke waktu, serta bervariasi menurut sosial dan budaya masyarakat. : Konsultan Manajemen Kabupaten (DMC=District Management Consultant) : Konsultan Manajemen Nasional (NMC=National Management Consultant) : Konsultan Manajemen Provinsi (PMC=Province Management Consultant) : Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara : Kementerian Daerah Tertinggal
Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xxiv

KM. Kab KM. Nas KM. Prov KPPN KPDT

LA LSM MAD MAK MBS MDGs MP MPHM Musrenbang PAD PAKEM PNPM P2DTK PJOK PPIP PPK PSS PU Renstra RKPD RPJM RPJMD RPJP SKPD

: Loan Agreement : Lembaga Swadaya Masyarakat : Musyawarah Antar Desa : Musyawarah Antar Kelurahan : Menejemen Berbasis Sekolah : Millennium Development Goals : Musyawarah Pertanggungjawaban : Mediasi dan Penguatan Hukum Masyarakat : Musyawarah Perencanan Pembangunan : Project Appraisal Document : Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat : Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus : Penanggung jawab Operasional Kegiatan : Program Pengembangan Infrastruktur Perdesaan : Program Pengembangan Kecamatan : Pengembangan Sektor Swasta : Pekerjaan Umum : Rencana Strategis : Rencana Kerja Pemerintah Daerah : Rencana Pembangunan Jangka Menengah : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah : Rencana Pembangunan Jangka Panjang : Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas pemerintahan di bidang tertentu di daerah provinsi, kabupaten, atau kota. : Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan : Support for Poor and Disadvantage Areas : Surat Perintah Kerja : Surat Perintah Pembayaran : Surat Perintah Pencairan Dana : Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional : Surat Perintah Membayar : Sistem Pengelolaan Pengaduan Masyarakat : Tahun Anggaran : Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan : Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah : Tim Kajian Teknis
Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xxv

PPKP (P2KP) : Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan

SNPK SPADA SPK SPP SP2D SPPN SPM SPPM TA. TKPK TKPKD TKT

Tomas UPK YBKM

: Tokoh masyarakat : Unit Pengelola Kegiatan : Yayasan Bina Karya Mandiri

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xxvi

Daftar Bacaan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21.

Aceh Dalam Angka 2010 (BPS Aceh, http://aceh.bps.go.id) Berita Resmi Statistik BPS Aceh, No. 029/07/11/Th.V, 1 Juli 2011 “Kisah-Kisah Inspiratif P2DTK”: Kementerian Pembangunan Daerah tertinggal, Jakarta 2011. “Knoco Stories: Lessons Learned Definition” (http://www.nickmilton.com/2010/05/lessonslearned-definition.html) Loan Agreement 34706/IND Year 2005 tentang Pelaksanaan Projek P2DTK. Kementrerian Pembangunan Daerah tertinggal dan World Bank.(non-published) Manual HCU P2DTK: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2007. Manual Kesehatan P2DTK: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2007. Manual Mediasi dan Penguatan Umum Masyarakat P2DTK: Kementerian Pembangunan Daerah tertinggal RI, 2007. Manual Monev: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2007 Manual Pendidikan P2DTK Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2007 Pedoman Umum P2DTK: Kementeraian Pembangunan Daerah Tertainggal, 2007 Pedoman Teknis Pelaksanaan P2DTK: Kementeraian Pembangunan Daerah Tertainggal, 2007. Pedoman Umum P2DTK,2007: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2007 Pedoman Teknis Pelaksanaan P2DTK, 2007: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2007 “Pendidikan Aceh Salah Urus” (PKS Net.,24 Maret 2011) “Peningkatan Akses Kesehatan Masyarakat Yang Lebih Berkualitas” (24 Maret 2012: www.bappenas.go.id/get-file-server/node/3349) “Project Management: Challenge and Lesson Learned”, Amalraj Joseph,dkk, Tahun 2007. Project Appraisal Document P2DTK: World Bank, 2003. Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2011. Sumut Dalam Angka 2008 (BPS Sumut 2008, http://sumut.go.id) Sumatera Utara Dalam Angka 2010 (BPS Sumatera Utara, http://sumut.bps.go.id)

Laporan Akhir KM. Nas | Hal - xxvii

Bab I. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang
Wilayah Indonesia yang begitu luas memiliki karakteristik budaya, sumberdaya manusia serta sumber daya alam yang berbeda antara daerah yang satu dengan daerah lainnya. Perbedaan-perbedaan tersebut telah menyebabkan terjadinya kesenjangan antar daerah dalam hal pertumbuhan pembangunan dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Sampai saat ini masih ada daerah atau kabupaten yang tergolong sebagai daerah tertinggal yang dihuni oleh komunitas-komunitas masyarakat dengan berbagai permasalahan sosial, ekonomi serta keterbatasan prasarana dan sarana infrastruktur. Kondisi tersebut pada umumnya terdapat di daerah yang secara geografis terisolir dan terpencil, seperti daerah perbatasan antar negara, pulau-pulau kecil, pedalaman, wilayah rawan bencana alam dan bencana sosial. Perbedaan-perbedaan pertumbuhan pembangunan dan kesejahteraan tersebut, jika kurang mendapatkan perhatian untuk dikembangkan menjadi daerah maju yang kualitas hidupnya relatif sama dengan masyarakat Indonesia lainnya, tentu akan berdampak pada aspek ketahanan dan keamanan masyarakat secara keseluruhan. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut maka Pemerintah Indonesia merasa perlu untuk mengembangkan sebuah program pembangunan yang lebih difokuskan pada upaya percepatan pembangunan di daerah-daerah yang kondisi kesejahteraan sosial, ekonomi, keuangan daerah, aksesibilitas dan ketersediaan infrastrukturnya masih tertinggal. Oleh karena itu dikembangkan sebuah program yang disebut Program Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK) untuk mempercepat tingkat kesejahteraan, mendorong pertumbuhan ekonomi, ketersediaan infrastruktur, dan sekaligus juga memampukan kapasitas pemerintan daerah dalam mengelola kegiatan pembangunan yang lebih transparan, memenuhi asas keadilan masyarakat, dan partisipatif. Program P2DTK ini diluncurkan berdasarkan pada RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Tahun 2004 – 2009 tentang Daerah Tertinggal, yang kemudian dijabarkan didalam kebijakan Strategi Nasional Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (Stranas-KPDT) tentang penetapan 199 kabupaten tertinggal yang perlu mendapatkan dukungan untuk mengatasi masalah ketertinggalannya. Sedangkan realisasi implementasi P2DTK
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. I - 1

Perbedaan pertumbuhan pembangunan dan kesejahteraan di daerah, jika kurang mendapatkan perhatian untuk dikembangkan menjadi daerah maju yang kualitas hidupnya relatif sama dengan masyarakat Indonesia lainnya, tentu akan berdampak pada aspek ketahanan dan keamanan masyarakat secara keseluruhan.

tersebut mengacu kepada dua dokumen kerja sama, yaitu: Pertama, dokumen surat perjanjian pinjaman dengan Bank Dunia yang dituangkan dalam Loan Agreement No. 4788-IND antara RI dengan IBRD dan Development Credit Agreement No. 4076 antara RI dengan IDA, yang diperkuat dengan Peraturan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor: 03/PER/MPDT/V/2006 tentang Penetapan Lokasi dan Alokasi Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) untuk P2DTK Nasional. Kedua, yaitu dokumen surat perjanjian hibah (grant agreement) Multi Donor Fund (MDF) nomor TF057955 dan diperkuat Surat Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) nomor S-5732/BRR.10/XII/2006 tentang Dana Alokasi Kabupaten (DAK) untuk P2DTK NAD-Nias. Berdasarkan pada dua dokumen perjanjian kerja sama tersebut maka P2DTK dilaksanakan di wilayah Aceh-Nias dan wilayah tertinggal lain di Indonesia yang kemudian disebut P2DTK Nasional. Program P2DTK dilaksanakan di 10 provinsi yang masuk dalam kategori Daerah Tertinggal dan Khusus, yaitu: (1) Bengkulu, (2) Lampung, (3) Kalimantan Barat, (4)Kalimantan Tengah, (5) Sulawesi Tengah, (6) Nusa Tenggara Timur, (7) Maluku, (8) Maluku Utara, (9) Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), dan (10) Sumatera Utara (Nias). Didalam ke-10 Provinsi tersebut mencakup 51 Kabupaten, dan didalamnya mencakup 186 Kecamatan. Program P2DTK diimplementasikan pertama kali di wilayah Aceh dimulai September 2006, mencakup 17 kabupaten. Setelah Aceh program ini dilanjutkan dengan implementasi di Nias dan Nias Selatan (Provinsi Sumatera Utara) pada Januari 2007. Sementara itu program P2DTK untuk Wilayah Nasional (8 provinsi non Aceh dan Sumut) dimulai pada bula Juni 2007 ditandai dengan mobilisasi 32 konsultan kabupaten dan 186 Fasilitator Kecamatan (FK). Seluruh Program P2DTK tersebut berakhir dengan ditandai demobilisasi KM. Kab (Konsultan Menejemen Kabupaten) pada Agustus 2011 dan demobilisasi KM. Prov (Konsultan Menejemen Provinsi) pada bulan September 2011. Hanya 2 provinsi yang KM. Kab dan KM. Prov masih dipertahankan, yaitu Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) dan Sulawesi Tengah (Sulteng), karena di 2 wilayah tersebut dilanjutkan dengan program P2DTK Optimalisasi yang mencakup 7 kabupaten dan berakhir pada Februari 2012. Konsultan Menejemen Nasional (KM. Nas) adalah “Pihak ke-III” yang ditunjuk menjadi salah satu pelaku P2DTK di tingkat Pusat, bertugas sebagai pendamping teknis tingkat Nasional (national technical assisstance) pelaksanaan P2DTK. Sementara penanggungjawab program P2DTK adalah pelaku di tingkat Pusat yang lain, yaitu Satker P2DTK Pusat dan Tim Koordinasi P2DTK Tingkat Pusat. Merujuk kepada manual Pedoman Teknis Pelaksanaan (PTP) P2DTK terdapat 12 tugas dan kewajiban KM. Nas didalam perannya sebagai pendamping teknis tingkat nasional, yang dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Peran pengembangan kapasitas: Tugas dan kewajiban yang harus dilakukan antara lain: (i) Mengembangkan manual-manual pelatihan; (ii) Menyiapkan rancangan kurikulum, dan bahan materi training; (iii) Melaksanakan berbagai pelatihan; dan (iv) Mengembangkan panduan-panduan teknis; dan (v) Mendorong
P2DTK dimaksudkan untuk mempercepat tingkat kesejahteraan, mendorong pertumbuhan ekonomi, ketersediaan infrastruktur, dan sekaligus juga memampukan kapasitas pemerintan daerah dalam mengelola kegiatan pembangunan dalam kerangka pendekatan transparansi, memenuhi asas keadilan masyarakat, dan partisipatif.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. I - 2

pengarusutamaan (mainstreaming) tentang isu gender, perencanaan partisipatif daerah, serta akuntabilitas dan transparansi pembangunan. 2. Peran pendampingan pelaksanaan program: Tugas dan kewajiban yang harus dilakukan antara lain: (i) Melaksanaan kegiatan mulai dari sosialisasi, persiapan, perencanaan, pelaksanaan, sampai upaya pelestarian program; (ii) Memberikan dukungan strategis penanganan pengaduan; (iii) Membantu proses rekrutmen dan rekomendasi penempatan konsultan; dan (iv) Melaksanakan seminar, lokakarya, workshop dalam rangka koordinasi perkembangan kegiatan P2DTK. 3. Peran koordinasi dan komunikasi antar pelaku: Tugas dan kewajiban yang harus dilakukan antara lain: (i) Mengikuti seminar, workshop, maupun lokakarya dalam rangka menyebarluaskan informasi mengenai P2DTK; (ii) Memberikan masukan kepada Satker P2DTK Pusat dan Tim Koordinasi P2DTK Tingkat Pusat untuk pengambilan keputusan dan kebijakan; (iii) Melakukan koordinasi dalam konteks pelaksanaan kegiatan kepada Satker P2DTK Pusat, Tim Koordinasi P2DTK Tingkat Pusat, Tim Koordinasi P2DTK Tingkat Provinsi dan Kabupaten. 4. Peran monitoring, evaluasi, dan pelaporan: Tugas dan kewajiban yang harus dilakukan antara lain: (i) Memantau pelaksanaan kegiatan mulai dari sosialisasi, persiapan, perencanaan, pelaksanaan, sampai upaya pelestarian program; (ii) Melakukan supervisi ke daerah-daerah; (iii) Melakukan evaluasi kinerja pelaku-pelaku P2DTK di daerah; (iv)Melakukan evaluasi kegiatan; dan (v) Menyusun dan menyampaikan laporan bulanan dan laporan akhir. Dengan berakhirnya seluruh program P2DTK, baik P2DTK di wilayah Nasional yang dibiayai melalui Loan (dana pinjaman), P2DTK di wilayah Aceh-Nias yang dibiayai melalui Grant (dana hibah), maka kiranya perlu untuk menyusun Laporan Akhir terhadap seluruh hasil keluaran pendampingan program P2DTK maupun gambaran proses pelaksanaannya, yang mencakup semua kegiatan yang sudah diimplementasikan oleh KM. Nas, termasuk didalamnya best practice, lesson learn, dan rekomendasi untuk perbaikan program P2DTK ke depan ataupun program lain sejenis. Laporan Akhir tidak hanya bermakna sebagai laporan administrasi pertanggungjawaban saja. Lebih dari itu Laporan Akhir ini diharapkan juga bermakna sebagai “laporan pembelajaran” atas sebuah proses pendampingan program dalam kurun waktu tertentu, dalam hal ini adalah program P2DTK. Dalam rangka memaknai proses pembelajaran tersebut, maka Laporan Akhir disusun ini berbasis pada Result Based Management (RBM) P2DTK yang telah diturunkan dalam bentuk log-frame program, serta berbasis pada Key Performance Indicator. Laporan-laporan bulanan maupun laporan-laporan kegiatan para mitra pelaku seperti KM. Kab, KM. Prov, UPKD, Tim Koordinasi Kabupaten (Satker), dll serta rumusan hasil workshop penggalian best practice dan lesson learn, menjadi bahan penyusunan Laporan Akhir ini.

Dengan selesainya program P2DTK 2007 – 2011, KM. Nas sebagai pendamping teknis P2DTK tingkat nasional berkewajiban membuat Laporan Akhir, yang tujuannya untuk: (1) Memberikan gambaran hasil pelaksanaan kegiatan program P2DTK; (2) Memberikan gambaran keluaran yang telah dicapai, proses pendampingan dan kendala-kendala yang dihadapi; dan (3) Memberikan masukan untuk bahan pertimbangan pelaksanaan program P2DTK selanjutnya, atau untuk masukan bagi program sejenis yang akan dilaksanakan.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. I - 3

1.2. Tujuan dan Hasil Yang Diharapkan
1.2.1. Tujuan Penulisan Laporan
Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk menyusun Laporan Akhir pertanggungjawaban KM. Nas sebagai pendamping teknis P2DTK tingkat nasional, yang isinya dimaksudkan untuk: (1) Memberikan gambaran hasil pelaksanaan kegiatan program P2DTK; (2) Memberikan gambaran keluaran yang telah dicapai, proses pendampingan dan kendala-kendala yang dihadapi pada pelaksanaan program P2DTK; dan (3) Memberikan masukan untuk bahan pertimbangan pelaksanaan program P2DTK selanjutnya, atau untuk masukan bagi program sejenis yang akan dilaksanakan.

1.2.2. Hasil Yang Diharapkan
Adapun hasil yang diharapkan antara lain: Tersusun Buku Laporan Akhir P2DTK yang berisi mengenai capaian Keluaran (Output) program P2DTK Fase-I tahun 2007 – 2011, yang didalam akan: (a) memberikan gambaran hasil pelaksanaan kegiatan program P2DTK; (b) Memberikan gambaran proses pendampingan dan kendala-kendala yang dihadapi pada pelaksanaan program P2DTK yang dilaksanakan oleh NMC; dan (c) Memberikan masukan untuk pertimbangan pelaksanaan pendampingan pada program sejenis
Laporan Akhir ini ingin memberikan gambaran pelaksanaan P2DTK, proses pelaksanaan dan kendala yang dihadapi, serta “pembelajaran” dan rekomendasi yang bermanfaat. Laporan ini disusun berbasiskan pada ranah “keluaran” (output) di dalam LogicalFramework dan Key Performance-Indicator. Analisa-analisa yang disajikan adalah pada koridor ranah output.

1.3. Metode Penulisan
Laporan yang ditulis ini merupakan Laporan Akhir dari pelaksanaan program P2DTK mulai tahun 2007 sampai tahun 2012 yang disusun oleh KM. Nas sebagai lembaga (perusahaan konsultan) yang berperan dalam mengimplementasi P2DTK tersebut. Berdasarkan ruang lingkup program P2DTK dan peran KM. Nas di dalam program P2DTK , maka perlu dipaparkan disini metode penulisan Laporan Akhir P2DTK, sebagai berikut:

(1) Ruang lingkup pendekatan penulisan. Sesuai dengan peran dan

tugas KM. Nas sebagai pendamping teknis P2DTK tingkat nasional, maka substansi dasar laporan ini adalah laporan keluaran (output) P2DTK. Pedoman dasar penulisannya akan berlandaskan pada rumusan-rumusan yang ada di dalam Log-Frame dan Performance Indicator. Ranah Laporan Akhir yang akan disusun oleh NMC adalah laporan pencapaian Keluaran (Output) selama program P2DTK Fase ke-1 (siklus 1, 2, dan 3) Tahun 2007 sampai tahun 2011.

(2) Penyusunan outline kerangka isi laporan. Tim KM. Nas sudah
melakukan diskusi-diskusi internal untuk menyusun dan mensekapati draf outline kerangka isi Laporan Akhir yang dipakai sebagai panduan penulisan isi oleh tenaga ahli bidang masing-masing. Ouline kerangka
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. I - 4

isi Laporan Akhir ini juga sudah dikomunikasikan kepada pihak-pihak lain, dalam hal ini PIU-KPDT dan World Bank untuk mendapatkan persetujuan.

(3) Kunjungan lapangan pengkayaan data dan studi kasus. Selama

bulan Februari 2012 sampai awal Maret 2012, tim KM. Nas melakukan kunjungan-kunjungan lapangan ke berbagai daerah dengan tujuan yaitu mengumpulkan kasus-kasus guna memperkaya gambaran capaian program P2DTK secara kualitatif, serta mempertajam pointpoint Best Practice dan Lesson Learn dalam berbagai bidang dan strategi di dalam pelaksanaan P2DTK.

(4) MIS sebagai basis sumber data. Salah satu sumber data yang akan dipakai sebagai acuan untuk menghitung atau mengukur keluarankeluaran yang sudah dicapai P2DTK adalah data MIS (Management Information System) yang ada di KM. Nas.

1.4. Sistimatika Laporan
Laporan Akhir Program P2DTK ini terbagi atas 3 bagian yaitu Executive Summary, Bagian isi laporan yang terdiri atas 6 bab, dan halaman lampiran. Secara ringkas sistematika laporan dapat digambarkan sebagai berikut. Executive Summary, berisi ringkasan terhadap seluruh bagian isi laporan, yang antara lain isinya meliputi: (a) Point-point utama hasil kegiatan dari KM. Nas sebagai pendamping teknis P2DTK nasional; (b) Capaian-capaian P2DTK; (c) Ringkasan hasil lesson learn program P2DTK; dan (d) Rekomendasi usulanuntuk program P2DTK tahap selanjutnya. Bab 1 Pendahuluan, memaparkan tentang latar belakang mengapa Laporan Akhir ini ditulis. Secara lebih lengkap bab ini juga menjelaskan tujuan dan keluaran penulisan Laporan Akhir ini serta kerangka acuan atau pendekatan proses penulisan Laporan Akhir program P2DTK tersebut. Bab 2 Sekilas P2DTK dan Peran KM. Nas. Bab ke-2 ingin menjelaskan secara ringkas apakah P2DTK itu, mulai dari latar belakang konsep munculnya P2DTK, tujuan, strategi dan pendekatan, para pelaku P2DT, sertamekanisme tahapantahapan implementasinya. Dalam bab ini juga akan dipaparkan tentang peran dan tugas KM. Nas sebagai national technical assisstance (pendamping teknis tingkat nasional) P2DTK. Bab 3 Capaian Pelaksanaan Tugas dan Tanggungjawab KM. Nas, merupakan bab yang akan menggambarkan proses kegiatan dan capaian-capaian KM. Nas sebagai lembaga pendamping teknis P2DTK di tingkat nasional. Capaiancapaian tersebut akan dipaparkan dalam sub-sub bab seperti: Peran fasilitasi pengembangan kapasitas; Pengelolaan dana P2DTK; Tahap pengakhiran proyek; Supervisi, Pengaduan dan Penyelesaian Masalah (HCU), Monitoring, dan Evaluasi; dll.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. I - 5

Bab 4 dengan judul Meretas Ketertinggalan Bersama P2DTK. Bab ini menyajikan paparan dalam bentuk analisa-analisa sederhana “sumbangan” P2DTK kepada isu-isu trategis yang diusung oleh P2DTK.. Bab ini terbagi dalam tiga bagian pembahasan. Pertama, menyajikan hasil-hasil implementasi P2DTK untuk Wilayah Aceh-Sumut dengan menggunakan ukuran PerformanceIndicator wilayah Aceh-Sumut. Penjelasan bagian Kedua, memaparkan hasil-hasil capaian P2DTK untuk wilayah nasional (8 provinsi non Aceh-Nias) dengan menggunakan Performance-Indicator untuk wilayah nasional. Paparan Ketiga, yaitu hendak menjelaskan proses dan capaian di beberapa bidang atau sektor implementasi P2DTK dengan level penggunaan data tingkat keseluruhan (10 provinsi P2DTK). Tidak seluruh bidang atau sektor akan dipaparkan di bagian ke tiga ini, namun hanya akan dipilih isu-isu strategis P2DTK seperti misalnya: (a) Isu keterisolasian; (b) Isu pengembangan kapasitas dan perencanaan pembangunan; (c) Isu promosi akuntabilitas dan transparansi; (d) Isu terbukanya akses sekolah dan kesehatan; Dll. Bab 5 Menarik Pembelajaran Dari Proses, berisi tiga sub-bab yaitu HambatanHambatan Program P2DTK, Lesson Learned, dan Best Practices. Bab ini merupakan bagian yang penting dalam rangka menarik “pembelajaran” selama proses pelaksanaan program P2DTK Tahun 2007 – 2012, demi perbaikan ke depan dalam design program, pengelolaan implementasi kegiatan, pengelolaan keuangan, monitoring dan supervisi, serta upaya-upaya untuk sustainabilitas program. Bab 6 Rekomendasi dan Penutup. Bab ini berisi point-point rekomendasi bagi perbaikan program P2DTK tahap selanjutnya atau bagi program-program lain serupa yang akan diimplementasikan di daerah-daerah. Penyajian poin-point rekomendasi dipilah-pilah ke dalam beberapa sub-tema yang berkaitan dengan mekanisme pengelolaan program.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. I - 6

Bab 2. Sekilas P2DTK dan Peran KM. Nas
2.1. Latar Belakang P2DTK
Program Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK) dikembangkan pada konteks permasalahan disparitas pembangunan, dimana terjadi ketimpangan tingkat kesejahteraan dan ketersediaan infrastruktur antara daerah-daerah tertinggal dengan daerah-daerah yang bisa disebut lebih maju. Disparitas pembangunan tersebut tentu akan menjadi hambatan dalam upaya membangun kesejahteraan yang merata dan setara di seluruh wilayah Indonesia. Disamping realitas ketimpangan pembangunan tersebut, P2DTK juga muncul dalam konteks untuk mengurangi dan mencegah persoalan-persoalan lain, khususnya masalah konflik sosial seperti yang terjadi di Poso, Aceh, dll. Lebih khusus lagi untuk wilayah Aceh dan Sumut, P2DTK diimplementasikan di wilayah tersebut guna menata dan memperbaiki kembali kondisi-kondisi sosial dan kesejahteraan masyarat akibat bencana Tsunami dan konflik yang terjadi. Berlandaskan pada latar belakang kondisi pembangunan dan sosial semacam itu maka P2DTK mengemban amanat untuk mewujudkan kondisi: Aman (peace), Adil (justice) dan Demokrasi (Democracy), serta Sejahtera (Prosperity), khususnya untuk mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah agar daerah-daerah tertinggal dan khusus dapat maju setara dengan daerah-daerah lainnya. Seperti sudah dijelaskan di bab sebelumnya bahwa implementasi P2DTK berlandaskan pada, Pertama, dokumen surat perjanjian pinjaman dengan Bank Dunia yang dituangkan dalam Loan Agreement No. 4788-IND antara RI dengan IBRD dan Development Credit Agreement No. 4076 antara RI dengan IDA, yang diperkuat dengan Peraturan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor: 03/PER/MPDT/V/2006 tentang Penetapan Lokasi dan Alokasi Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) untuk P2DTK Nasional. Kedua, yaitu dokumen surat perjanjian hibah (grant agreement) Multi Donor Fund (MDF) nomor TF057955 dan diperkuat Surat Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) nomor S-5732/BRR.10/XII/2006 tentang Dana Alokasi Kabupaten (DAK) untuk P2DTK NAD-Nias. Berdasarkan pada kedua dokumen tersebut makaP2DTK dilaksanakan di Aceh dan Sumatera, beserta 8 propinsi yang lain.
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -1

Bagan II.01. Kronologi Proses Pelaksanaan P2DTK 2006 -2012

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -2

P2DTK dilaksanakan secara tidak serempak dalam periodisasi yang sama. Bagan II.01 menggambarkan kronologi proses pelaksanaan P2DTK, dimana periode pertama adalah pelaksanaan P2DTK di Propinsi Aceh pada sekitar pertengahan Tahun 2006, yang sebelumnya pada 2005 dimulai dengan identifikasi permasalahan di Aceh. Periode berikutnya yaitu pada pertengahan Tahun 2007 dimulai pelaksanaan P2DTK untuk 8 propinsu non-Aceh, dan kemudian awal tahun 2008 dimulai program P2DTK di Sumatera Utara. KM. Nas mulai diserahi tugas oleh PIUKPDT untuk mendampingi P2DTK Aceh-Sumut sejak awal 2011. Program P2DTK Aceh-Sumut dan 6 propinsi P2DTK Nasional selesai sekitar akhir Tahun 2011 ditandai dengan demobilisasi KM. Prov dan KM. Kab, serta dimulainya kegiatan P2DTK Program Optimalisasi di 2 propinsi yaitu Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah. Kedua kabupaten P2DTK Program Optimalisasi tersebut berakhir pada Akhir Maret 2012. Perlu untuk diketahui pula bahwa mobilisasi dan demobilisasi beberapa tenaga ahli baik di tingkat nasional, tingkat propinsi, dan kabupaten juga terlaksana secara tidak seragam.

2.2. Tujuan Program P2DTK
2.2.1. Tujuan Umum
Berdasarkan Project Appraisal Document (PAD) tujuan P2DTK secara umum adalah untuk membantu Pemerintah Indonesia dalam memperbaiki tata pemerintahan (governance) dan mengurangi tingkat kemiskinan diwilayah-wilayah tertinggal dan bekas konflik, serta mengurangi potensipotensi konflik yang ada di masyarakat. P2DTK menerapkan tiga strategi kegiatan dalam upaya mencapai tujuan tersebut, yaitu: (a) Mengembangkan partisipasi lokal dalam perencanaan pembangunan; (b) Mempromosikan pengembangan sektor swasta dan kesempatan kerja; serta (c) Meningkatkan pelayanan pendidikan, kesehatan, dan penyelesaian sengketa yang muncul di dalam masyarakat.

2.2.2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus program P2DTK adalah: (1) Meningkatkan kapasitas Pemerintah Daerah dalam memfasilitasi pembangunan partisipatif. (2) Memberdayakan masyarakat dan lembaga-lembaga masyarakat dalam perencanaan pembangunan partisipatif terutama bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. (3) Melembagakan pelaksanaan pembangunan partisipatif untuk menjamin pemenuhan kebutuhan sosial dasar (pendidikan dan kesehatan), infrastruktur, penguatan hukum, capacity building, serta penciptaan iklim investasi dan iklim usaha. (4) Memperbesar akses masyarakat terhadap keadilan.
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -3

Tujuan P2DTK adalah meningkatkan kapasitas Pemerintah Daerah mengembangkan program yang partisipatif dalam rangka mempercepat pemulihan dan pertumbuhan sosial ekonomi dan serta pelayanan kesejahteraan dasar kepada masyarakat di daerah-daerah tertinggal dan khusus.

(5) Meningkatkan kemudahan hidup masyarakat terutama keluarga miskin melalui penyediaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana sosial ekonomi.

2.3. Sasaran P2DTK
Sasaran lokasi Program P2DTK adalah kabupaten wilayah tertinggal, yang telah ditetapkan dalam Strategi Nasional Pembangunan Daerah Tertinggal sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor: 001/Kep/M-PDT/ 02/2005, yang meliputi: (1) Daerah Tertinggal: Adalah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Secara terperinci daerah kabupaten tersebut memiliki ciri, yaitu: tertinggal secara ekonomi, sumberdaya manusia, prasarana/ infrastruktur, kemampuan keuangan lokal (celah fiskal), aksesibilitas, dan karakteristik daerah yang kurang mendukung. (2) Daerah Khusus dan Perbatasan: Adalah kabupaten yang mengalami bencana alam, bencana sosial serta daerah yang ada di perbatasan dengan Negara lain. Kelompok yang menjadi sasaran Program P2DTK meliputi: (1) Pemerintah Daerah; (2) Komunitas dan masyarakat; (3) Lembaga sosial kemasyarakatan. Program P2DTK telah dilaksanakan di 10 provinsi, yaitu Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Maluku, dan Maluku Utara. Dari 10 provinsi tersebut terdapat 51 kabupaten sasaran kegiatan, dan di dalam 51 kabupaten tersebut terdapat 186 kecamatan sasaran P2DTK. Khusus untuk wilayah Aceh dan Sumatera Utara tidak ada sasaran kewilayahan level kecamatan.
Tabel II.01. Nama Provinsi, Jumlah Kabupaten dan Kecamatan Sasaran P2DTK Jumlah Jumlah No. Provinsi Kabupatan Kecamatan 1. Aceh 17 0 2. Sumatera Utara 2 0 3. Bengkulu 3 18 4. Lampung 3 17 5. Nusa Tenggara Timur 6 29 6. Kalimantan Barat 3 28 7. Kalimantan Tengah 3 17 8. Sulawesi Tengah 4 25 9. Maluku 5 32 10. Maluku Utara 5 20 Total 51 186 Sumber: Data MIS-KM. Nas P2DTK dilaksanakan di 10 provinsi 51 kabupaten yang digolongkan sebagai daerah tertinggal dan khusus, serta 186 kecamatan

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -4

2.4. Prinsip dan Pendekatan P2DTK
Berbeda denga program-program lain yang serupa, program P2DTK berlandaskan pada asas pendekatan sebagai berikut 1: (1) Desentralisasi : Program P2DTK memberikan peluang kepada daerah untuk mengembangkan inisiatif lokal dan mendorong pemerintah daerah lebih bertanggung jawab atas pembangunan daerahnya. Otoritas daerah dalam mengelola sumberdaya bertumpu pada partisipasi masyarakat didalam semua tahapan proses pembangunan. Melalui forum-forum musyawarah di semua tingkatan, Program P2DTK memberi ruang bagi pemerintah daerah bersama masyarakat untuk merencanakan dan melaksanakan program sesuai dengan potensi daerah dan kebutuhan masyarakat. Demikian juga halnya dalam hal pengelolaan dana block grant kabupaten dan block grant kecamatan, daerah memperoleh kewenangan sepenuhnya dalam menyusun alokasi anggaran guna membiayai kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan (2) Perpaduan Antara Bottom-up Dengan Perencanaan Kabupaten : Konsep program P2DTK mempertemukan bottom-up planning yang merupakan kesepakatan forum Musyawarah Antar Kecamatan dengan perencanaan pemerintah Kabupaten berdasarkan input Kajian Tim Teknis Kabupaten. Perpaduan ini difasilitasi dengan penyediaan dana Block Grant Kecamatan dan block grant kabupaten. Khusus di provinsi NAD hanya diberikan block grant Kabupaten, sedangkan block grant Kecamatan dikembangkan melalui Program Pengembangan 2 Kecamatan (PPK) . Penetapan usulan kabupaten dilakukan oleh forum kabupaten yang beranggotakan perwakilan dari setiap kecamatan yang difasilitasi oleh Tim Koordinasi Kabupaten dan di dukung oleh Konsultan Manajemen Kabupaten setelah mendapat masukan dari Tim Kajian Teknis Kabupaten. Pemanfaatan dana block grant masyarakat pada level kecamatan dan kabupaten diatur melalui mekanisme perencanaan pembangunan secara partisipatif. Masyarakat akan difasilitasi untuk melakukan identifikasi masalah dan penggalian gagasan hingga menghasilkan proposal. Sedangkan pada level Kabupaten juga akan melakukan perencanaan dengan memperhatikan kebutuhan yang tidak dapat diatasi oleh masyarakat karena membutuhkan penanganan yang lebih khusus. Pada proses perencanaan ini masyarakat akan didampingi oleh konsultan dan juga tim ad hoc seperti tim kajian teknis, tim desain, dan verifikasi.

P2DTK dilaksanakan berlandaskan pada enam (6) prinsip pendekatan, yaitu: Desentralisasi; Perpaduan Bottom-up dan Regular planning; Multy-sector approach; Perencanaan partisipatif; Local government capacity building; dan Anti korupsi.

Pedoman Umum P2DTK: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal,2007. Pada tahun 2006 seluruh kecamatan di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam mendapatkan dana block grant dari Program Pengembangan Kecamatan.
2

1

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -5

(3) Multisector Approach: P2DTK dengan pola yang partisipatif mengintegrasikan berbagai sektor pembangunan dengan menitikberatkan pembiayaan untuk usulan-usulan di bidang pembangunan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi dan mediasi di bidang hukum. Pendekatan multisektor ini dikembangkan sejak tahapan perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi dan tahapan pemeliharaan-pelestarian. Melalui pendekatan ini memungkinkan untuk meningkatkan kualitas teknis, menghindari tumpang tindih pembiayaan dan mendukung keberlanjutan program. Pelibatan sektor-sektor terkait di tingkat kabupaten dilakukan melalui (1) Tim Kajian Teknis Kabupaten dan (2) Tim desain dari Tim Pengelola Kegiatan Kabupaten, dan (3) Tim Koordinasi (4) Unit Pengelola Kegiatan Dinas. (4) Perencanaan Partisipatif: Perencenaan kegiatan dalam P2DTK dilakukan secara partisipatif dalam proses pemberdayaan masyarakat. Perencanaan partisipatif ini memberi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk merencanakan pembangunan di daerahnya secara berkelanjutan. Secara operasional perencanaan dilakukan oleh tim kajian teknis dan tim desain setelah melalui forum musyawarah masyarakat yang menghadirkan perwakilan dari setiap desa dan kecamatan. (5) Peningkatan kapasitas pemerintah lokal (Local Government Capacity Building): Peningkatan kapasitas pemerintah lokal merupakan salah satu tujuan utama program yang akan berdampak pada pelestarian kegiatan yang didanai P2DTK. Sasaran yang dicapai adalah menguatnya peran aparat pemerintah sebagai fasilitator pembangunan yang demokratis dengan menghormati kearifan lokal (local wisdom) guna mengantisipasi dan meminimalisir terjadinya konflik. Selain kegiatan pelatihan dan pendampingan oleh konsultan, upaya pelibatan aparat pemda terkait dalam setiap tahapan proses dan mekanisme program merupakan bagian penting dalam peningkatan kapasitas yang diharapkan. (6) Strategi Anti Korupsi: Program P2DTK juga mengemban misi untuk mengedepankan pemberantasan korupsi yang tercermin dengan pengelolaan kegiatan secara transparan, partisipasitif dan akuntabel dalam setiap tahapan program. Keseriusan program terhadap sikap anti korupsi ini terlihat dengan penyediaan tenaga konsultan procurement dan konsultan financial managemen di Kabupaten untuk mendampingi Satker, Panitia lelang dan TPK Kabupaten. Selain itu juga adanya papan informasi, kotak pos pengaduan, penerapan prinsip transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas dalam seluruh tahapan proses , serta penerapan sanksi terhadap aparat, konsultan, dan pelaku masyarakat yang melakukan penyimpangan merupakan bagian dari sistem program untuk penanggulangan anti korupsi. (Pedum P2DTK)
Pengembangan Kapasitas di dalam P2DTK melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat, bersumber dana dari dana DOK, dengan total peserta pelatihan mencapai 41.320 orang. Pengembangan kapasitas ini diutamakan pada kemampuan perencanaan partisipastif dan manajemen prngelolaan program.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -6

Guna memenuhi asas pendekatan P2DTK serta tujuan pelaksanaan P2DTK seperti terpapar di atas, diperlukan prinsip-prinsip dasar yang melandasi proses implementasi P2DTK. Prinsip-porinsip tersebut yaitu 3: (1) Desentralisasi, artinya memberikan kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan Program P2DTK kepada Pemerintah Daerah khususnya Pemerintah Kabupaten, sesuai dengan UU No.32 Th 2004 dan UU No.33 Th 2004. (2) Partisipatif, artinya mendorong keterlibatan masyarakat secara luas dan aktif dalam proses pengambilan keputusan pada setiap tahapan: perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pembangunan. (3) Prioritas, artinya pengambilan keputusan mengutamakan kebutuhan masyarakat miskin dan membangun iklim perdamaian. (4) Non diskriminatif, artinya pelaku dan penerima manfaat program tidak dibedakan baik dari segi suku, agama, ras, maupun golongan masyarakat tertentu. (5) Terbuka, artinya informasi pengelolaan kegiatan dapat diakses dan diketahui oleh masyarakat luas dan semua pihak. (6) Kearifan Lokal, artinya memperhatikan adat istiadat dan budaya yang hidup dalam masyarakat. (7) Terpadu, artinya pengelolaan kegiatan dilakukan secara menyeluruh (holistik) dalam satu kesatuan sistem dengan kegiatan pembangunan lainnya.

2.5. Pelaku-Pelaku P2DTK
Program P2DTK salah satunya berlandaskan pada upaya memadukan antara buttom-up planning dan top-down planning dalam upaya mengembangkan kapasitas pemerintah daerah memfasilitasi peningkatan kesejahteraan dan mengurangi kesmiskinan masyarakat. Perpaduan kedua pendekatan perencanaan pembangunan tersebut membutuhkan sinergisitas kelembagaan (institusi) masyarakat dan pemerintah mulai dari level bawah (desa) sampai kepada tataran nasional. Pemerintah berperan sebagai penanggungjawab program. Sedangkan masyarakat berperan selain sebagai pelaku utama program juga sebagai penerima manfaat program. Pihak ketiga yang dibutuhkan, seperti misalnya konsultan, berperan sebagai pendamping teknis manajerial pelaksanaan kegiatan-kegiatan di dalam program P2DTK. Gambaran struktur organisasi pelaku P2DTK dapat digambarkan dalam bagan berikut. 2.5.1. Pelaku P2DTK Tingkat Pusat, terdiri dari : (a) Satker P2DTK Pusat, sebagai penanggungjawab penyelenggaraan operasional kegiatan dan keberhasilan seluruh kegiatan secara Nasional; (b) Tim Koordinasi Tingkat Pusat, bertugas sebagai penanggungjawab pembinaan dan pengendalian program secara nasional; dan (c) Konsultan Manajemen Nasional (KMNas), adalah pihak ke-III yang bertindak sebagai pendamping teknis tingkat
3

P2DTK dilaksanakan tidak hanya oleh jajaran pemerintah saja, atau hanya oleh masyarakat saja. Proses pelaksanaan P2DTK dan para pelaku P2DTK merupakan sinergi perpaduan antara masyarakat dan pemerintah.

Lihat “Pedoman Teknis Pelaksanaan P2DTK Umum”, cetakan 1, 2007.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -7

nasional, bertugas memberikan input kebijakan dan konsep program, serta membantu pengendalian pelaksanaan program secara nasional. 2.5.2. Pelaku P2DTK Tingkat Provinsi, terdiri dari: Unsur pemerintah yaitu (a) Gubernur, berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan dan pembina program P2DTK tingkat Provinsi; (b) DPRD Provinsi, berperan memberikan dukungan kebijakan dan pendanaan demi kelancaran pelaksanaan dan keberlanjutan program; (c)Tim Koordinasi Provinsi, bertugas melakukan pembinaan, dukungan koordinasi, serta pengendalian program P2DTK tingkat Provinsi; dan pihak ke-III sebagai pendamping teknis tingkat provinsi yaitu (d) Konsultan Manajemen Provinsi (KM-Prov), bertugas memberikan bantuan teknis kepada Tim Koordinasi provinsi, memberikan dukungan teknis dan manajerial kepada Konsultan Manajemen Kabupaten (KM-Kab). Selain KM. Prov ada lembaga-lembaga lain yang memberikan bantuan teknis di tingkat provinsi. Mereka antara lain: (i) Lembaga Primer MPHM, merupakan lembaga profesional yang bertugas melakukan kegiatan kajian dan penguatan hukum masyarakat, serta fasilitasi penanganan sengketa di lokasi program P2DTK. (ii) Lembaga Pelaksana Kegiatan Pengembangan Sektor Swasta (LPK-PSS), merupakan lembaga profesional yang bertugas melakukan kajian dan pendampingan kegiatan pengembangan sektor swasta di Provinsi. (iii) Lembaga Monitoring Independen (Provincial Based Monitoring), merupakan LSM yang bertugas melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi guna memberikan pandangan obyektif terhadap proses dan hasil kegiatan P2DTK. Juga terdapat lembaga pemantau lainnya dari unsur pers. 2.5.3. Pelaku P2DTK Tingkat Kabupaten, terdiri dari: Unsur pemerintah antara lain (a) Bupati, bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pembinaan program P2DTK di wilayah kerjanya; ( b) DPRD Kabupaten, berperan memberikan dukungan kebijakan untuk kelancaran pelaksanaan dan keberlanjutan kegiatan program P2DTK di Kabupaten; (c) Satuan Kerja (Satker) Kabupaten, berperan sebagai penanggung jawab operasional program, serta memfasilitasi pencairan dana P2DTK Kabupaten dari KPPN ke rekening program; dan pihak ke-III sebagai pendamping teknis tingkat kabupaten yaitu (d) Konsultan Manajemen Kabupaten (KM-Kab) yang bertugas memfasilitasi proses dan dukungan teknis pengelolaan program di kabupaten dan kecamatan sesuai dengan mekanisme dan prinsip-prinsip P2DTK. Sedangkan dari unsur pemerintah sebagai penerima manfaat khususnya dalam proses pengembangan kapasitas (capacity building) antara lain: (a) Unit Pengelola Kegiatan Dinas (UPKD) adalah Tim ad hoc program P2DTK yang beranggotakan dari unsur masyarakat dan dinas, dibentuk oleh masing-masing Kepala Dinas berdasarkan Surat Penetapan Bupati (SPB) dan Keputusan Forum Musyawarah Kabupaten, bertanggungjawab terhadap pelaksanaan kegiatan dan penggunaan dana sesuai SPPB-BLM Kabupaten; (b) Tim Koordinasi P2DTK Kabupaten, bertugas melakukan
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -8

pembinaan, dukungan koordinasi, dan pengendalian program P2DTK tingkat Kabupaten.
Bagan II.02. Struktur Organisasi P2DTK

Tenaga-tenaga ahli yang berperan sebagai pendamping teknis di tingkat kabupaten antara lain: (i) Konsultan Kabupaten Bidang Infrastruktur, bertugas memberikan pendampingan dan penguatan kapasitas kepada dinas, UPKD, TPK serta UPK kecamatan dalam mengelola kegiatan insfrastruktur; (ii) Konsultan Kabupaten Bidang Pendidikan; bertugas memberikan pendampingan dan penguatan kapasitas kepada dinas, UPKD, TPK kabupaten serta UPK kecamatan dalam mengelola kegiatan-kegiatan di bidang pendidikan; (iii) Konsultan Kabupaten Bidang Kesehatan, bertugas memberikan pendampingan dan penguatan kapasitas kepada dinas, UPKD, TPK kabupaten serta UPK kecamatan dalam mengelola kegiatan terkait bidang kesehatan; (iv) Koordinator PSS (Pengembangan Sektor Swasta) Kabupaten, bertugas memberikan pendampingan dan penguatan kapasitas kepada dinas , TPK kabupaten serta UPK kecamatan dalam mengelola kegiatan pengembangan investasi usaha sektor swasta; (v)
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -9

Konsultan Kabupaten Bidang Financial-Management (keuangan), bertugas memberikan pendampingan dan penguatan kapasitas kepada dinas, UPKD, TPK kabupaten serta UPK kecamatan dalam mengelola administrasi keuangan program;; (vi) Konsultan Pengadaan Kabupaten, bertugas memberikan pendampingan dan penguatan kapasitas kepada Panitia Pengadaan dalam pelaksanaan proses pengadaan di Kabupaten sesuai ketentuan yang berlaku; (vii) Pengacara Masyarakat, bertugas mendukung Fasilitator Posko dalam memfasilitasi persoalan hukum yang dihadapi masyarakat di tingkat kabupaten; dan (vii) Jurnalis Kabupaten, membantu menyebarluaskan informasi mengenai program-progran P2DTK di tingkat kabupaten. Pelaku-pelaku dari unsur masyarakat yang berperan di tingkat kabupaten meliputi: (i) Dewan Kesehatan Kabupaten, berperan sebagai mediator antara masyarakat dengan Dinas Kesehatan atau penyedia layanan kesehatan serta memberikan pertimbangan perumusan kebijakan pelaksanaan kesehatan P2DTK; (ii) Dewan Pendidikan Kabupaten, berperan sebagai mediator dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan P2DTK di Kabupaten; (iii) Tim Kajian Teknis (TKT) Kabupaten, bertugas melakukan analisis teknis untuk merumuskan usulan kabupaten guna dibahas dalam Musyawarah Kabupaten Pendanaan; (iv) Tim Pengelola Kegiatan (TPK) Kabupaten, merupakan Tim yang dipilih dalam forum Musyawarah Kabupaten sebagai pengelola kegiatan pada tahap perencanaan dan pengendali kualitas teknis kegiatan yang dilaksanakan pihak III maupun swakelola pada setiap UPKD. TPK-Kab juga bertanggungjawab mengadministrasikan dana DOK Kabupaten; (v) Ketua Forum Musyawrah Pembangunan Kabupaten; (vi) Tim Desain dan RAB Kabupaten, bertugas merancang dan menyusun detail teknis dan keuangan usulan kegiatan berdasarkan hasil Musyawarah Kabupaten Perangkingan. 2.5.4. Pelaku P2DTK di Tingkat Kecamatan, terdiri dari : unsur pemerintah antara lain (a) Camat, berperan melakukan pembinaan kegiatan P2DTK di wilayahnya; (b) Pejabat Pembuat Komitmen (PP-K) Kecamatan merupakan organ Satker Kabupaten yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan operasional program di tingkat Kecamatan, dan memfasilitasi proses pencairan dana P2DTK Kecamatan dari KPPN ke rekening program. Sementara itu pelaku dari unsur pemerintah namun juga sebagai penerima manfaat dalam pengembangan kapasitas antara lain (c) Tim Koordinasi P2DTK Kecamatan, bertugas melakukan pembinaan, dukungan koordinasi serta pengendalian program P2DTK tingkat Kecamatan; (d) Tim Kajian Teknis Kecamatan, bertugas melakukan kajiankajian permasalahan dan kebutuhan masyarakat di tingkat kecamatan. Pada tingkat kecamatan tersedia tenaga-tenaga pendamping teknis antara lain: (i) Fasilitator Kecamatan (FK), bertugas memberikan bantuan teknis dan pelatihan peningkatan kapasitas pelaku masyarakat dan aparat pemerintah di tingkat kecamatan dan desa. Di setiap Kecamatan lokasi program terdapat satu atau dua tenaga FK; (ii) Enumerator PSS, bertugas melaksanakan kegiatan pengumpulan data kondisi sektor swasta di tingkat
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -10

desa; (iii) Fasilitator Posko BHM, bertugas menghubungkan paralegal dan masyarakat dengan aktor atau lembaga lain yang dianggap mampu menyelesaikan masalah baik melalui mekanisme hukum formal maupun mekanisme informal. Pelaku-pelaku dari unsur masyarakat yang berperan di kecamatan. Pelaku-pelaku di tingkat kecamatan ini selain berperan sebagai mitra pelaksana P2DTK di tingkat lokal, bisa juga dikatakan sebagai penerima manfaat P2DTK dalam hal pengembangan kapasitas. Mereka ini antara lain: (i) Pendamping lokal (Penlok), merupakan kader pembangunan di tingkat Kecamatan yang bekerjasama dengan FK dalam memfasilitasi seluruh tahapan kegiatan P2DTK. Setiap Pendamping lokal mendampingi 5-7 desa. (ii) Tim Kajian Teknis Kecamatan, bertugas melakukan analisis terhadap potensi, permasalahan, dan gagasan desa guna menghasilkan usulan kegiatan antar-desa atau desa untuk dibahas baik dalam Musyawarah Kecamatan Perangkingan maupun disampaikan kepada tim kajian teknis Kabupaten. (iii) Badan Penyantun Puskesmas (BPP), berperan sebagai mediator antara masyarakat dengan pemberi layanan kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan, serta sebagai anggota Tim Kajian Teknis Kecamatan untuk bidang kesehatan. (iv) Kelompok Kerja (Pokja) Pendidikan, berperan sebagai forum pengembangan pendidikan dasar di Kecamatan serta sebagai anggota Tim Kajian Teknis Kecamatan untuk bidang pendidikan. (v) Unit Pengelola Kegiatan Kecamatan (UPK), merupakan Pengelola kegiatan P2DTK tingkat Kecamatan yang dibentuk oleh forum Musyawarah Kecamatan dan bertanggung jawab atas pengelolaan administrasi dana P2DTK (BLM dan DOK) pada forum Musyawarah Kecamatan. (vi) Tim Desain dan RAB Kecamatan, bertugas merancang detail teknis dan menyusun RAB usulan kegiatan untuk dibahas dalam forum Musyawarah Kecamatan Pendanaan. (vii) Tim Pengamat, bertugas mengamati proses diskusi pada Musyawarah Kecamatan Perangkingan dan Pendanaan guna memastikan bahwa jalannya diskusi berlangsung secara partisipatif dan sesuai ketetuan P2DTK. 2.5.5. Pelaku P2DTK Tingkat Desa. Sebagian besar para pelaku di tingkat desa adalah unsur dari masyarakat, mereka antara lain : a. Kepala Desa, merupakan pembina atas kelancaran pelaksanaan program P2DTK di wilayahnya baik yang dilaksanakan oleh desa dan ataupun kerjasama antar desa. b. Badan Permusyawaratan Desa (BPD), berperan sebagai pengawas pelaksanaan kegiatan program P2DTK di tingkat desa maupun antar desa, serta mematikan tersalurnya aspirasi kebutuhan; (c) Fasilitator Desa (FD), bertugas memfasilitasi pengelolaan kegiatan P2DYK mulai dari sosialisasi sampai pelestarian kegiatan. (d) Tim Pelaksana Kegiatan (TPK), bertugas mengelola pelaksanaan kegiatan yang didanai P2DTK sesuai kesepakatan musyawarah desa/antar desa/pemuda; (e) Tim Penggerak Kesehatan Masyarakat (TPKM), bertugas melakukan proses identifikasi masalah pelayanan kesehatan masyarakat. (f) Komite Sekolah, bertugas melakukan proses identifikasi masalah pelayanan pendidikan di sekolah, serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pendidikan; (g) Pelaku Usaha, berperan sebagai partisipan pengambilan
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -11

keputusan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan PSS dalam program P2DTK. Ketua ataupun pengurus lainnya di tingkat TPK desa, TPK antar desa, TPK pemuda, UPK kecamatan, maupun TPK-Kab, dimungkinkan untuk dilakukan pergantian apabila yang bersangkutan dinilai tidak mampu atau lalai melaksanakan tugasnya atau mengundurkan diri. Pergantian ketua ataupun pengurus lainnya dilakukan melalui musyawarah di wilayah kerja masing-masing.

2.6. Tahap Implementasi
2.6.1. Mekanisme Sosialisasi
Ada 2 pendekatan sosialisasi program P2DTK yang dilakukan, yaitu Sosialisasi Formal dan Sosialisasi Informal. Sosialisasi formal antara lain: (1) Sosialisasi Tingkat Nasional: Peserta sasaran sosialisasi ini yaitu Tim Koordinasi P2DTK Pusat, Departemen terkait, lembaga-lembaga lain termasuk jurnalis dan anggota DPR-RI. Sosialisasi ini dilaksanakan oleh Tim Koordinasi P2DTK Pusat yang didukung oleh sekretariat P2DTK Pusat dan KM-Nas. Isi sosialisasi antara lain: orientasi program, pola kerja pembinaan program, mekanisme koordinasi dan kesepakatan Rencana Kerja Tindak Lanjut program tingkat Nasional. (2) Sosialisasi Tingkat Provinsi: Diselenggarakan oleh TK-P2DTK Provinsi yang didukung oleh KM-Prov. Isi antara lain orientasi program, pola kerja pencapaian tujuan program, mekanisme koordinasi, pembentukan Satker maupun pelaku lainnya baik di tingkat kabupaten maupun Kecamatan, dan penyusunan Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL). Peserta sosialisasi terdiri dari TK-Prov, perwakilan pemerintah kabupaten, TK-Kab, Perguruan Tinggi, LSM, DPRD Provinsi, Pers, dan lain-lain. (3) Sosialisasi Tingkat Kabupaten: Sosialisasi dilaksanakan oleh TKP2DTK Kabupaten didukung oleh KM-Kab, yang isinya : orientasi program, mekanisme pelaksanaan kegiatan, rencana pembentukan pelaku program baik di tingkat kabupaten maupun kecamatan, menyepakati penggunaan DOK Kabupaten, dan menyepakati Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL). Peserta sosialisasi terdiri dari Wakil masyarakat dari seluruh kecamatan sasaran P2DTK , TK-P2DTK Kab, instansi terkait, DPRD Kabupaten, LSM Perguruan Tinggi, Camat, PP-K Kecamatan, dan lainlain. (4) Sosialisasi Tingkat Kecamatan: Dilaksanakan di pada Forum Musyawarah Kecamatan yang diselenggarakan oleh PP-K Kecamatan dan Tim Koordinasi Kecamatan dengan dukungan fasilitasi oleh FK. Agenda sosialisasi meliputi penjelasan program, peran desa dalam program, pemilihan pelaku program, menyepakati rencana penggunaan DOK Kecamatan, serta kesepakatan jadwal pelaksanaan program. Pesertanya adalah wakil dari masing-masing desa, Tim
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -12 Sosialisasi P2DTK dilaksanakan dari tingkat Pusat, Propinsi, Kabupaten, Kecamatan, Desa, dan Dusun dengan porsi substansi yang berbeda-beda sesuai peran sasaran sosialisasi di masing-masing level. Sosialisasi bertujuan agar berbagai pihak termasuk masyarakat paham tujuan, sasaran, mekanisme, dan pendanaan P2DTK

koordinasi kecamatan, PP-K Kecamatan, tokoh masyarakat, pemuda dan organisasi lokal lainnya di tingkat kecamatan.
Bagan II.03. Mekanisme Pengelolaan P2DTK

(5) Sosialisasi Tingkat Desa: Sosialisasi di tingkat desa dilakukan dengan memanfaatkan forum musyawarah desa, diselenggarakan oleh aparat desa dengan didukung oleh PP-K Kecamatan dan Fasilitator Kecamatan. Agenda utama pada sosialisasi ini meliputi penjelasan program, sosialisasi hasil pertemuan kecamatan, peran desa dalam program, pemilihan pelaku-pelaku program, dan kesepakatan jadwal pelaksanaan program. Forum ini dihadiri oleh masyarakat desa yang mewakili seluruh unsur desa seperti kelompok pemuda, tani, dan perempuan serta Badan Permusyawaratan Desa. (6) Sosialisasi Tingkat Dusun: Sosialisasi ini dilakukan dalam kegiatan pemetaan sosial dan identifikasi potensi, masalah, dan gagasan, yang difasilitasi oleh FD, TPKM, Wakil komite sekolah bersama-sama aparat desa dan pengurus BPD. Pertemuan ini dihadiri oleh tokohtokoh masyarakat, warga dusun dan anggota masyarakat lainnya.
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -13

Selain sosialisasi formal dipaparkan di atas, juga dilakukan sosialisasi informal, di antaranya: (1) Kelembagaan lokal dan pertemuan informal masyarakat; (2) Jaringan informasi dengan tokoh informal dan lembaga masyarakat serta pemerintah; (3) Media cetak dan media elektronik; (4) Papan informasi.

2.6.2. Mekanisme Perencanaan
Asas transparansi pembangunan menjadi salah satu prinsip yang diterapkan di dalam program P2DTK. Asas transparansi tersebut diteapkan bukan saja dalam ranah dari masyarakat untuk masyarakat, tetapi juga antara masyarakat dengan jajaran pemerintah maupun antar jajaran pemerintah di berbegai level perencanaan mulai tingkat desa sampai kabupaten. (1) Perencanaan Tingkat Desa dan Kecamatan Forum-forum musyawarah masyarakat yang melibatkan unsure multipiha, menjadi media utama proses perencanaan di tingkat desa dan kecamatan. Terdapat tujuh forum musyawarah masyarakat perencanaan di level ini, yang gambaran prosesnya sebagai berikut. Pertama: Musyawarah Dusun Hasil yang ingin dicapai pada tahapan ini meliputi: teridentifikasinya potensi, masalah dan gagasan peningkatan kesejahteran masyarakat. Peserta musyawarah perencanaan ini adalah berbagai unsur masyarakat termasuk perempuan. Khusus untuk lokasi tertentu melibatkan enumerator LPK-PSS. Kedua : Musyawarah Desa Penetapan Kebutuhan Kegiatan ini dilakukan pada tingkat desa dengan menghadirkan seluruh wakil dusun/kelompok serta wakil perempuan, lembaga-lembaga lokal, aparat desa dan Badan Perwakilan Desa (BPD). Hasil yang ingin dicapai pada tahapan ini adalah daftar masalah, potensi dan gagasan desa yang akan diajukan ke Tim Kajian Teknis Kecamatan. Ketiga : Kajian Teknis Kecamatan Kebutuhan masyarakat hasil Musyawarah Desa tersebut selanjutnya dikaji dianalisis oleh Tim Kajian Teknis Kecamatan untuk merumuskan usulan kegiatan. Terdapat 8 (delapan) langkah kajian teknis agar masalah yang sudah disepakati dari desa maupun antar desa, bisa menjadi usulan kegiatan yang siap dibahas di tingkat kecamatan. Langkah atau tahapan tersebut yaitu: a. Pengumpulan data: Data yang dikumpulkan adalah masalah, potensi dan gagasan yang berasal dari hasil musyawarah penetapan kebutuhan seluruh desa . b. Penentuan kategori masalah level penanganan: Tidak semua usulan masalah dari desa maupun antar desa dengan sendirinya bisa didanai oleh P2DTK. Kumpulan masalah tersebut dianalisa ke dalam 2 (dua) kategori, yaitu kategori yang tidak dapat di kerjakan
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -14 Kajian Teknis (di tingkat kecamatan maupun kabupaten), merupakan salah satu instrumen yang terpenting dari mekanisme perencanaan P2DTK. Sinkronisasi kebutuhan desa dan antar desa dengan kebijakan pembangunan dan anggaran pemerintah, diawali dari proses Kajian Teknis ini.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

oleh masyarakat sendiri dan kategori yang dapat ditangani atau dipecahkan oleh masyarakat di tingkat kecamatan. Kelompok masalah kategori pertama akan diserahkan kepada Tim Kajian Teknis Kabupaten untuk proses perencanaan di tingkat Kabupaten. Pembuatan Rancangan Usulan Kegiatan: Rancangan kegiatan dibuat secara terpisah per-bidang dengan mempertimbangkan kebijakan teknis program P2DTK dan kebijakan Pemda. Selain mempertimbangkan pendekatan lokalitas (desa), rancangan ini juga hendak melihat kebutuhan cluster (antar desa). Jika sebuah usulan misalnya di bidang pendidikan hanya dilakukan di desa tertentu maka disebut Rancangan Usulan Desa Bidang Pendidikan, dan bila sebuah usulan kegiatan bidang pendidikan akan dilakukan di dua desa atau lebih, maka disebut Rancangan Usulan Antar Desa Bidang Pendidikan. Konfirmasi dan Konsultasi: Forum dengan melibatkan masyarakat ini dimaksudkan untuk mendapatkan masukan dari masyarakat guna menyempurnakan rancangan usulan kegiatan dari setiap bidang, memastikan relevansinya dengan kondisi masyarakat saat itu. Proses ini dilakukan melalui pertemuan di tingkat desa (Musyawarah Desa) maupun Antar Desa (Musyawarah Antar Desa Terkait) serta peninjauan ke lokasi calon kegiatan. Perumusan Usulan: Hasil dari konfirmasi dan konsultasi kemudian dibahas secara bersama oleh seluruh anggota Tim Kajian Teknis (seluruh bidang) untuk perumusan akhir usulan di tingkat kecamatan. Proses perumusan usulan tidak dimaksudkan untuk kompetisi antar bidang kegiatan tetapi dimaksudkan untuk menyempurnakan usulan, efisiensi teknis, maupun sinergi antar bidang kegiatan. Verifikasi Usulan: Proses verifikasi dilakukan oleh KM-Kab, dimaksudkan untuk memastikan proses perumusan usulan kegiatan sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan, sesuai dengan kaidahkaidah teknis, tidak terjadi tumpang tindih pembiayaan, serta sesuai dengan ketentuan lain yang dipersyaratkan. Pembuatan Rekomendasi dan Berita Acara Kajian Teknis: Rekomendasi usulan kegiatan dibuat untuk setiap usulan yang memuat catatan-catatan penting baik secara teknis maupun nonteknis. Rekomendasi ini digunakan sebagai acuan utama bagi masyarakat / perwakilan desa untuk menentukan urutan prioritas usulan pada saat pembahasan usulan dalam musyawarah kecamatan perangkingan. Catatan-catatan tersebut minimal memuat tentang: manfaat kegiatan, jumlah penerima manfaat (masyarakat miskin), kemendesakan, dan peluang keberlanjutan. Umpan balik hasil kajian teknis: Forum ini dilakukan di seluruh desa, dimaksudkan untuk menginformasikan hasil akhir kajian teknis kepada perwakilan desa sehingga cukup paham tentang usulan kegiatan tersebut sebelum mengikuti pertemuan Musyawarah Kecamatan Perangkingan.

Kegiatan-kegiatan P2DTK tidak hanya bersifat lokalitas (internal desa), tetapi juga mempertimbangkan kegiatan antar desa (cluster). Kegiatan yang bisa ditangani oleh masyarakat pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat. Sementara kegiatan antar desa dikelola di tingkat kabupaten

Keempat : Musyawarah Kecamatan Perangkingan, diselenggarakan oleh Pengurus Forum Musyawarah Kecamatan. Dalam musyawarah ini
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -15

yang berhak menentukan prioritas usulan kegiatan hanya wakil desa yang berjumlah 6 orang dari setiap desa, terdiri dari: Kades, BPD, 4 orang tokoh masyarakat yang dipilih melalui Musyawarah Desa. Minimal 3 orang dari 6 orang wakil desa tersebut adalah perempuan. Hasil Musyawarah ini berupa daftar urutan prioritas kegiatan Kecamatan.
Bagan II.04. Alur Proses Kajian Teknis Kecamatan
MUSYAWARAH DESA (Perancangan) MUSYAWARAH MUSYAWARAH DESA (Perancangan)

PENGUMPULAN/KOMPILASI DATA DARI SELURUH DESA

PENENTUAN LEVEL
PENANGANAN

KAJIAN TEKNIS KABUPATEN

PENYUSUAN RANCANGAN KEGIATAN
(Setiap Bidang Kegiatan)

Konsultasi/Konfirmasi (Musyawarah Desa)

Konsultasi/Konfirmasi (Musyawarah Desa)

Konsultasi/Konfirmasi (Musyawarah Desa)

Rumusan akhir : 1. Usulan Desa 2. Usulan Antar

Verifikasi KM-Kab

PENYUSUNAN REKOMENDASI

MUSYAWARAH KECAMATAN (Perangkingan)

Kelima : Pembuatan Desain dan RAB. Kegiatan prioritas yang telah ditetapkan selanjutnya dilengkapi dengan desain teknis dan rencana anggaran biaya. Pembuatan desain dan RAB mengacu pada ketentuan yang berlaku, diawali dengan kegiatan survey lapangan/lokasi dan diverifikasi oleh KM-Kab sebelum dibahas dan ditetapkan dalam Musyawarah Kecamatan Pendanaan. Keenam : Musyawarah Kecamatan Pendanaan (Penetapan alokasi dana Kegiatan), diselenggarakan oleh Pengurus Forum Musyawarah Kecamatan yang dihadiri oleh wakil-wakil desa dan Pemuda. Hasil Musyawarah berupa usulan kegiatan yang didanai termasuk kegiatan Pemuda, serta penentuan wilayah kerja TPK sesuai karakteristik usulan yang terdanai. Dalam musyawarah ini yang berhak menentukan alokasi dana kegiatan hanya wakil desa yang berjumlah 6 orang dari setiap desa, terdiri dari: Kades, BPD, 4 orang tokoh masyarakat yang dipilih melalui
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -16

Forum-Forum Musyawarah Masyarakat, baik dalam tahap sosialisasi, perencanaan, dan pertanggungjawaban-penyelesaian kegiatan, merupakan media “partisipasi” dan “kontrol” masyarakat (laki-laki dan perempuan) terhadap proses pembangunan di dalam P2DTK.

Musyawarah desa. Minimal 3 orang dari 6 orang wakil desa tersebut adalah perempuan. Hasil Keputusan berupa usulan kegiatan yang terdanai selanjutnya ditetapkan oleh Camat dengan menerbitkan Surat Penetapan Camat (SPC) tentang alokasi dana kegiatan P2DTK Kecamatan. Ketujuh : Sosialisasi Hasil Musyawarah Kecamatan Pendanaan Hasil keputusan Musyawarah Kecamatan Pendanaan berupa kegiatankegiatan yang didanai maupun yang tidak didanai, kemudian disosialisasikan kepada masyarakat secara luas pada forum musyawarah di desa /antar desa/pemuda. Tahap ini sekaligus merupakan tahap persiapan pelaksanaan kegiatan P2DTK Kecamatan khususnya untuk usulan kegiatan yang terdanai BLM-Kecamatan.

(2) Perencanaan Tingkat Kabupaten Perencanaan P2DTK tingkat kabupaten dilaksanakan setelah Sosialisasi Kabupaten dan Kajian Teknis Kecamatan. Ada empat tahapan Perencanaan kabupaten yaitu sebagai berikut: Pertama : Kajian Teknis Kabupaten. Kajian Teknis di tingkat Kabupaten adalah kegiatan analisis teknis terhadap permasalahan dan gagasan masyarakat dan atau dinas tentang kegiatan yang dibutuhkan untuk dapat dirumuskan menjadi usulan prioritas kabupaten. Keluaran kajian teknis kabupaten adalah daftar masalah dan kebutuhan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur yang harus ditangani segera, dan daftar prioritas usulan kegiatan kabupaten sebagai dasar untuk menentukan kegiatan-kegiatan yang akan didanai P2DTK Kabupaten. Kajian Teknis Kabupaten dilakukan melalui 4 (empat) tahap, yaitu: a. Pengumpulan data. Data yang dimaksud adalah gagasan, potensi, masalah yang berasal dari hasil analisis Tim Kajian Teknis Kecamatan, hasil Musyawarah Kecamatan non-P2DTK, hasil perencanaan dinas/lembaga/instansi terkait di tingkat Kabupaten. Analisis data. Kegiatan analisis dimulai dengan menentukan rancangan prioritas per bidang kegiatan program dengan mempertimbangkan kebijakan program P2DTK. Jika memungkinkan, dilakukan rancangan prioritas antar bidang kegiatan dengan mempertimbangkan rencana strategis pembangunan daerah. Hasil akhir kegiatan analisis berupa rancangan prioritas per bidang kegiatan kabupaten yang memuat uraian tentang jenis kegiatan, tujuan, sasaran, manfaat, dampak yang diinginkan, spesifikasi teknis kegiatan dan persyaratan yang diperlukan untuk masingmasing kegiatan Konfirmasi/konsultasi dengan masyarakat. Proses ini bertujuan untuk memastikan proses dan ketepatan rancangan kegiatan serta menerima masukan pelaksanaan kegiatan dari masyarakat, dilakukan pada pertemuan tingkat kecamatan.
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -17

b.

c.

d.

Perumusan usulan. Hasil perumusan usulan berupa daftar prioritas usulan kegiatan kabupaten yang disusun dalam bentuk proposal melalui rapat TKT Kabupaten antar bidang kegiatan. Agar hasil Tim Kajian dapat cukup memberikan pertimbangan bagi forum Musyawarah Kabupaten dalam menentukan prioritas pendanaan maka di dalam proposal usulan kegiatan tersebut diwajibkan memuat informasi sebagai berikut: manfaat, jumlah penerima manfaat bagi masyarakat miskin, mendesak untuk dilaksanakan, dan keberlanjutan kegiatan.

Bagan II.05. Alur Proses Kajian Teknis Kabupaten
Kategori A (Hasil Kajian Teknis Kecamatan) Pengembangan Sektor Swasta Program lain (Mis PPK)

KOMPILASI DATA

Analisis Bidang Kesehatan

Analisis Bidang Pendidikan

Analisis Bidang Infrastruktur

Analisis Bidang Lainnya

Rancangan Kegiatan

Rancangan Kegiatan

Rancangan Kegiatan

Rancangan Kegiatan

Konfirmasi/Konsultasi Ke masyarakat (Musyawarah Kecamatan)

Kajian Teknis Usulan kabupaten (gabungan semua bidang kegiatan) Usulan kabupaten/paket Kegiatan : - Stategis - Jangka Menengah - jangka Panjang

Feed back (Sosialisasi hasil akhir)

Musyawarah kabupaten Perangkingan Desain & RAB (berdasarkan Urutan prioritas) Musyawarah kabupaten Pendanaan

Kedua: Musyawarah Kabupaten Perangkingan. Musyawarah ini dihadiri oleh wakil-wakil Kecamatan, instansi terkait tingkat Kabupaten, LSM lokal, Perguruan Tinggi, wakil-wakil MSS. Hasil musyawarah berupa penetapan urutan prioritas usulan Kabupaten. Pengambilan keputusan urutan prioritas usulan kabupaten hanya boleh dilakukan oleh wakil-wakil kecamatan yang terdiri dari Ketua Forum, Wakil BPD dan 2 orang masyarakat (dipilih melalui Musyawarah Kecamatan), dimana minimal 1 orang dari 4 orang wakil kecamatan adalah perempuan. Kriteria yang dipakai untuk menentukan skala prioritas usulan kabupaten meliputi aspek manfaat, jumlah penerima manfaat khususnya orang miskin, mendesak, dan keberlanjutan kegiatan.
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -18

Ketiga : Pembuatan Desain dan RAB. Prioritas kegiatan kabupaten dilengkapi dengan pembuatan desain dan RAB oleh Tim Desain Kabupaten berdasarkan survey lapangan. Desain dan RAB selanjutnya diverifikasi oleh KM-Kab untuk disempurnakan oleh Tim Desain dan RAB. Keempat: Musyawarah Kabupaten Pendanaan (Penetapan Alokasi Dana Kegiatan). Musyawarah ini dihadiri oleh wakil-wakil Kecamatan, instansi terkait tingkat Kabupaten, LSM lokal, Perguruan Tinggi, wakilwakil MSS. Pengambilan keputusan penetapan alokasi dana kegiatan kabupaten dilakukan oleh wakil-wakil kecamatan yang berjumlah 4 orang per kecamatan (Ketua Forum Kecamatan, Wakil BPD dan 2 orang masyarakat yang dipilih dalam Musyawarah Kecamatan). Hasil musyawarah ini kemudian disahkan dalam Surat PenetapanBupati (SPB). Hasil musyawarah pendanaan harus disebarluaskan kepada masyarakat diseluruh kecamatan.

2.6.3. Mekanisme Pelaksanaan
Pelaksanaan P2DTK di tingkat Kecamatan pada prinsipnya dilakukan oleh masyarakat sendiri (swakelola), sedangkan pelaksanaan kegiatan P2DTK di tingkat Kabupaten dilakukan oleh pihak ketiga dan swakelola di bawah koordinasi UPKD masing-masing sesuai keputusan forum kabupaten. (1) Pelaksanaan Kegiatan P2DTK Kecamatan a. Persiapan Pelaksanaan. Setelah musyawarah Kecamatan pendanaan selesai kemudian segera dilakukan pertemuanpertemuan awal di tingkat Kecamatan untuk mempersiapkan pelaksanaan kegiatan di tingkat desa maupun antar desa. b. Rapat Koordinasi dan Konsolidasi Awal. Rapat ini difasilitasi oleh PP-Komitmen Kecamatan dan Tim Koordinasi P2DTK Kecamatan yang dibantu oleh FK dengan dihadiri oleh pengurus UPK Kecamatan, seluruh TPK (ketua atau yang mewakili), dan seluruh sub dinas teknis terkait Kecamatan. Rapat ini bertujuan membahas mekanisme pencairan dana dan pelaksanaan kegiatan, penyiapan berkas-berkas pencairan dana, koordinasi kegiatan, serta ketentuan-ketentuan pelaksanaan lain. c. Rapat Pra-Pelaksanaan TPK. Setelah mengikuti persiapan awal di tingkat Kecamatan, maka seluruh TPK yang usulannya terdanai secepatnya mengadakan rapat pra-pelaksanaan di wilayah kerja masing-masing. Rapat ini bertujuan untuk menyusun rencana pelaksanaan, menyusun kebutuhan pendanaan, menyusun rencana perekrutan tenaga dan melengkapi kepengurusan TPK. d. Pengadaan Bahan, Alat, Tenaga Kerja. Di dalam melaksanakan kegiatan, pertama-tama yang harus dilakukan oleh setiap TPK adalah mengumumkan secara terbuka tentang rencana pelaksanaan kegiatan, adanya kebutuhan bahan, alat, tenaga kerja serta upah,
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -19

hari kerja yang dibutuhkan, dan kemungkinan adanya sub-kegiatan atau material tertentu yang disediakan oleh pihak ketiga (misalnya pengadaan pipa dan lain sebagainya). Informasi tersebut harus bisa diakses oleh masyarakat sehingga setiap warga masyarakat tahu rencana pelaksanaan kegiatan tersebut. Proses pengadaan bahan, alat, tenaga kerja pada prinsipnya dilakukan secara terbuka, partisipatif, dan mengutamakan sumber daya lokal. e. Pencairan Dana. Pada prinsipnya pencairan dana bantuan P2DTK dari KPPN ke Kecamatan mengikuti proses dan prosedur yang sudah ditetapkan oleh peraturan pemerintah. Dana tersebut dicairkan secara bertahap (40, 40, 20 %) dari KPPN melalui Bank Operasional ke Rekening Kolektif Kecamatan pada Rekening Kolektif P2DTK Kecamatan dengan nama RKB-P2DTK Kecamatan. Rekening ini dibuka secara bersama-sama oleh Ketua UPK, Ketua TPK dan FK. Proses pencairan dana dari KPPN ke RK-P2DTK kecamatan dilakukan dengan Surat Perintah Membayar (SPM) dari Satker Kabupaten atas dasar pengajuan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) dari PP-K Kecamatan. Sedangkan penyaluran dana dari RKB-P2DTK Kecamatan kepada TPK dilakukan sesuai kebutuhan dan perkembangan/ kemajuan kegiatan atas dasar pengajuan Surat Permintaan Pembayaran Pekerjaan (SP3) kepada UPK. (2) Pelaksanaan Kegiatan P2DTK Kabupaten Kegiatan P2DTK Kabupaten dilaksanakan dengan tahap-tahap sebagai berikut. a. Persiapan Pelaksanaan. Persiapan ini bertujuan melengkapi susunan pengurus Tim Pengelola Kegiatan (TPK) Kabupaten yang berperan sebagai pengendali kualitas teknis terhadap pelaksanaan kegiatan UPKD. Selain itu juga mempersiapkan pembentukan panitia pengadaan, persiapan proses pengadaan pihak ketiga (penyedia barang dan jasa) serta membahas hal-hal penting terkait dengan mekanisme kerja dan ketentuan-ketentuan dalam pelaksanaan kegiatan. b. Pengadaan Penyedia Barang dan Jasa. Pada prinsipnya pengadaan barang dan jasa dilaksanakan oleh pihak III, namun dalam pekerjaan tertentu dapat dilakukan secara swakelola UPKD. Keputusan memilih pihak ke-III maupun swakelola dilakukan pada Forum Musyawarah Kabupaten. Proses penetapan penyedia barang dan jasa dilakukan oleh Panitia Pengadaan Kabupaten di setiap UPKD dengan didampingi oleh Konsultan Pengadaan. Proses tersebut harus mengedepankan transparansi, dan akuntabilitas dengan mengacu pada ketentuan pengadaan P2DTK. c. Rapat Persiapan Teknis. Setelah ditetapkan penyedia barang dan jasa, maka KM-Kab bersama PP-K Kabupaten dan TPK-Kab segera mengadakan rapat persiapan teknis dengan UPKD pengelola dana
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -20

BLM-Kab. Tujuan rapat ini untuk merumuskan rencana kerja tindak lanjut serta hal-hal lain terkait dengan persiapan pelaksanaan kegiatan di lapangan dari setiap UPKD yang ditetapkan oleh forum sebagai pengelola dana BLM-Kab. d. Pencairan Dana. Pencairan dana bantuan P2DTK mengikuti proses dan prosedur yang diatur dalam Peraturan Pemerintah dan Program P2DTK. Dana BLM-Kab dicairkan dari KPPN atas dasar SPM yang dikeluarkan Satker Kabupaten sesuai SPPB secara bertahap (4 tahap: 30%, 30%,30%,10%) langsung ke rekening masing-masing UPKD yang dibuka pada bank pemerintah setempat. Pengajuan dana program ke Satker Kabupaten melalui rekomendasi TPK Kabupaten dan sepengetahuan KM-Kab. Pengajuan dana tersebut bisa dilaksanakan setelah tahap sertifikasi selesai dilakukan oleh para pelakuprogram. 2.6.4. Mekanisme Pertanggungjawaban Pelaksanaan Tugas Kegiatan dan Pelaporan

(1) Pertanggungjawaban Kegiatan Tingkat Kecamatan Berikut ini adalah tahapan dan prosedur pertanggungjawaban kegiatan P2DTK di tingkat Kecamatan. a. Pertanggungjawaban TPK. TPK wajib menyampaikan Laporan Pertanggung-jawaban Dana (LPD) secara tertulis kepada masyarakat melalui forum musyawarah di wilayah kerja masingmasing. Untuk TPK desa dilakukan melalui musyawarah desa, TPK antar-desa melalui musyawarah antar desa, dan TPK pemuda melalui musyawarah pemuda. Pertanggungjawaban dilaksanakan pada saat TPK menyelesaikan Laporan Penggunaan Dana (LPD) tahap sebelumnya, untuk penarikan dana tahap berikutnya. Apabila laporan pertanggungjawaban TPK tidak diterima oleh forum musyawarah, maka penarikan dana tahap berikutnya ditunda sampai pertanggungjawaban tersebut dapat diterima oleh Forum. Pertanggungjawaban UPK. UPK wajib menyampaikan laporan pertanggung-jawaban pengelolaan kegiatan (termasuk rekapitulasi kegiatan TPK) secara tertulis kepada masyarakat melalui musyawarah Kecamatan. Laporan pertanggungjawaban UPK menjadi acuan untuk pengajuan pencairan dana dari KPPN ke rekening Kolektif. Sertifikasi. Sertifikasi adalah penerimaan hasil pekerjaan maupun bahan berdasarkan spesifikasi teknis oleh FK untuk mendorong peningkatan kualitas pekerjaan atau kegiatan. Dengan ini dimaksudkan agar fokus TPK dialihkan dari “mengejar target fisik” menjadi “mengejar target kualitas”. Penggunaan langkah sertifikasi tidak dimaksudkan untuk memperlambat pembayaran kepada TPK. FK dapat menyetujui pembayaran tanpa dinilai apabila TPK telah terbukti mampu mengerjakan tugas serupa. Sebaliknya, jika
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -21 Asas akuntabilitas dan transparansi pembangunan di P2DTK, salah satunya didorong melalui berbagai bentuk Musyawarah Pertanggungjawaban Kegiatan, dimana masyarakat bisa berpartisipasi menilai proses pembangunan yang sudah dilakukan.

b.

c.

bagian yang diusulkan TPK sering tidak sesuai persyaratan, maka langkah ini tidak boleh ditinggalkan.Hasil sertifikasi ditempel pada papan informasi agar seluruh masyarakat mengetahui hasil penilaian dan hasil kegiatan. d. Dokumentasi Kegiatan. Dokumentasi dalam bentuk foto untuk seluruh kegiatan P2DTK menjadi tanggungjawab Fasilitator Kecamatan, meskipun demikian untuk kepentingan arsip maka setiap TPK perlu membuat foto-foto dokumentasi. Penyelesaian Kegiatan. Penyelesaian kegiatan merupakan bagian dari pertanggungjawaban TPK. Terdapat beberapa prosedur yang harus dilaksanakan pada proses ini : (a) Pembuatan Laporan Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan (LP2K), (b) Pembuatan Realisasi Kegiatan dan Biaya (RKdB); (c) Pembuatan Surat Pernyataan Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan (SP3K). Serah Terima Pekerjaan dilaksanakan dalam Forum Musyawarah Desa /antar desa Serah Terima. Serah Terima Pekerjaan. Musyawarah ini merupakan forum pertanggungjawaban atas pelaksanaan kegiatan dan pengelolaan dana oleh TPK kepada masyarakat setelah pekerjaan/kegiatan diselesaikan (desa atau antar-desa sesuai dengan wilayah kerja TPK). PP-K Kecamatan bersama FK/FD memfasilitasi TPK untuk mengadakan pertemuan atau musyawarah dengan menghadirkan sebanyak mungkin masyarakat untuk penyampaian pertanggungjawaban akhir pelaksanaan kegiatan. SP3K disahkan setelah masyarakat menerima hasil pekerjaan/kegiatan dalam musyawarah serah terima. Pembuatan Dokumen Penyelesaian. Dokumen-dokueman Penyelesaian merupakan satu buku yang secara garis besar berisi tentang : SP3K, LP2K, RKdB dan lampiran pendukungnya. Dokumen tersebut harus diselesaikan oleh TPK bersama FD dan FK untuk didistribusikan oleh PP-K Kecamatan selambatlambatnya satu bulan sejak ditandatanganinya LP2K. Jika sampai batas waktu tersebut dokumen penyelesaian belum bisa dituntaskan maka Ketua TPK, FK dan PP-K Kecamatan membuat berita acara keterlambatan dan kesanggupan penyelesaiannya untuk disampaikan kepada TK-P2DTK Kab dan KM-Kab.

e.

f.

g.

h. Pembuatan Berita Acara Status Pelaksanaan Kegiatan (untuk kondisi khusus). Apabila sampai batas waktu penyelesaian ternyata kegiatan belum dapat diselesaikan, atau dana belum disalurkan seluruhnya, maka ketua TPK dan FK dengan diketahui oleh Kepala desa membuat Berita Acara Status Pelaksanaan Kegiatan (BASPK) sebagai pengganti LP2K, dilengkapi dengan lampiran yang sama dengan LP2K. Jika sudah dibuat BASPK maka tidak perlu lagi membuat LP2K, namun SP3K tetap harus dibuat setelah seluruh kegiatan selesai dilaksanakan (100 persen) sebagai bukti selesainya pekerjaan. Jika pada saat diterbitkan BASPK masih terdapat sisa dana yang belum terserap dari KPPN maka sisa dana tersebut harus dikembalikan ke kas Negara.
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -22

(2) Pertanggungjawaban Kegiatan Tingkat Kabupaten a. Pertanggungjawaban UPKD. Untuk mewujudkan prinsip transparansi dan akuntabilitas, UPKD yang ditetapkan oleh forum M-Kab (Musyawarah Kabupaten) pendanaan sebagai pengelola dana BLM-Kab wajib mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan secara berkala di forum M-Kab Pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban ini sebagai dasar bagi UPKD untuk pengajuan Surat Permintaan Pembayaran kepada Satker Kabupaten untuk pencairan dana tahap berikutnya. Apabila laporan pertanggungjawaban UPKD tidak diterima oleh forum M-Kab Pertanggungjawaban maka pencairan dana tahap berikutnya tidak bisa dilakukan. Sertifikasi. Sertifikasi adalah penerimaan hasil pekerjaan berdasarkan spesifikasi teknis oleh KM-Kab dan TPK-Kab untuk mendorong peningkatan kualitas pekerjaan atau kegiatan. Dengan dilakukan sertifikasi, diharapkan fokus pemikiran dari “mengejar target fisik” menjadi “mengejar target kualitas”. Jika pekerjaan yang dinilai oleh TPK dan KM-Kab kurang baik harus diperbaiki dulu. Kemajuan pekerjaan dilaporkanberdasarkan pekerjaan yang sudah selesai dan dinilai layak untuk dibayar. Penggunaan langkah sertifikasi ini tidak dimaksudkan untuk memperlambat pembayaran kepada penyedia barang dan jasa (pihak ketiga). Hasil sertifikasi harus diinformasikan kepada publik. Penyelesaian Kegiatan. UPKD selaku pengelola dana BLM-Kab bertanggungjawab kepada forum M-Kab Pertanggungjawaban / Serah Terima dan Satker Kabupaten atas penyelesaian setiap jenis kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak III maupun yang dilakukan secara swakelola. Penyelesaian kegiatan ditempuh dengan prosedur: (i) Serah Terima Pekerjaan. Setelah pekerjaan dinyatakan selesai dan pertangggungjawaban telah diterima, maka diselenggarakan Serah Terima Hasil Pekerjaan dibawah pengelolaan dinas dan mitra kerjanya untuk disampaikan pada forum M-Kab Serah Terima. Musyawarah ini bertujuan memastikan bahwa seluruh hasil pekerjaan sudah sesuai dengan Hasil Keputusan M-Kab-Pendanaan dan dapat diterima oleh forum M-Kab Serah Terima. M-Kab Serah Terima dihadiri oleh UPKD dan wakil-wakil dari kecamatan. (ii) Pembuatan Dokumen Penyelesaian. Dokumen penyelesaian merupakan satu buku yang secara garis besar berisi tentang Surat Pernyataan Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan (SP3K), Laporan Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan (LP2K), rincian realisasi penggunaan biaya dan lampiran pendukung lainnya. Dokumen tersebut harus sudah dapat diselesaikan oleh setiap UPKD untuk didistribusikan oleh Satker Kab selambatlambatnya satu bulan sejak tanggal ditandatanganinya LP2K.
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -23

b.

Sertifikasi dilaksanakan untuk menjamin bahwa sub-sub proyek P2DTK memenuhi standard kualitas yang sudah ditetapkan pemerintah. Seluruh sub-proyek P2DTK sejumlah 10.421 telah disertifikasi.

c.

(iii) Berita Acara Status Pelaksanaan Kegiatan (pada Kondisi Khusus). Apabila sampai batas waktu penyelesaian ternyata pelaksanaan pekerjaan belum dapat diselesaikan, atau dana belum disalurkan seluruhnya, maka UPKD dengan diketahui oleh Satker Kab membuat Berita Acara Status Pelaksanaan Kegiatan (BASPK) sebagai pengganti LP2K. BASPK menunjukkan kondisi hasil pelaksanaan kegiatan yang dicapai pada saat itu. Lampiran BASPK sama dengan LP2K, yaitu realisasi kegiatan dan biaya maupun gambar-gambar kegiatan. Jika pada saat BASPK masih terdapat sisa dana yang belum terserap dari KPPN maka sisa dana tersebut tidak dapat ditarik kembali dan harus dikembalikan ke kas negara. (iv) Revisi Kegiatan. Apabila dalam pelaksanaan diperlukan perubahan atau revisi, maka bisa dilakukan selama tidak menambah besarnya dana bantuan. Untuk kegiatan P2DTK Kecamatan, revisi dibuat oleh TPK desa/pemuda dan disetujui oleh PP-Komitmen Kecamatan dan FK. Untuk kegiatan P2DTK Kabupaten, revisi dibuat oleh UPKD dan disetujui oleh KM-Kab dan Satker Kab. Ketentuan dari revisi P2DTK antara lain : (a) Jumlah alokasi dana per-usulan tidak bisa dirubah, meskipun terdapat revisi kegiatan; (b) Tidak boleh memindahkan lokasi kegiatan; (c) Perubahan sampai batas 10 persen dari volume atau dana kegiatan yang bersangkutan, (d) Untuk P2DTK kecamatan : Ditetapkan melalui musyawarah pada wilayah kerja TPK; (e) Untuk P2DTK kabupaten : Atas persetujuan KM-Kab dan Satker; (f) Perubahan di atas 10 persen sampai dengan 20 persen dari volume atau dana kegiatan bersangkutan, ditetapkan melalui musyawarah Kecamatan untuk P2DTK Kecamatan, dan ditetapkan melalui musyawarah Kabupaten untuk P2DTK Kabupaten; (g) Perubahan diatas 20 persen dari volume atau dana kegiatan bersangkutan dapat mengakibatkan pembatalan kegiatan.

2.7. Konsultan Manajemen Nasional
2.7.1. Peran dan Tugas KM-Nas
KM. Nas (Konsultan Manajemen Nasional) atau sering disebut dengan istilah lain National Management Consultant (NMC), adalah Pihak ke-III yang ditunjuk menjadi salah satu pelaku P2DTK di tingkat Pusat, yang secara umum berperan sebagai pendamping teknis pelaksanaan P2DTK secara nasional.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -24

Bagan II.06. Struktur Keorganisasian KM. Nas (per Desember 2011)
Team Leader Gamar Ariyanto, S.Sos, M.Si

DTL - I Eko Pranoto

DTL - II Ade Wahid

Spesialis Gender tbn

Spesialis Pelatihan Bina

Spesialis Kelembagaan Muhammad Taufiq

Spesialis Monev Emilianus Elip

Spesialis HCU Siprianus Foudubun

Spesialis MIS Ujang Heryana

Spesialis Disbursement & Payroll

Spesialis Finansial Management Gustava Ki Irfanangun

Spesialis Komunikasi Alaudin

Spesialis Infrastuktur Dwijo Darmono

Spesialis Kesehatan Sahrun Nazil

Spesialis Pendidikan Ismail

Spesialis Pengembangan Sektor Swasta Dadang

Djunaedy

Pengurus Utamaan

Jr. Spesialis Monev Makmur Sumarsono

Jr. Spesialis MIS David Stevanus

Spesialis Bidang

Pengendalian

Secara lebih terperinci Buku Pedoman Teknis Pelaksanaan (PTP) P2DTK, pada bagian Tugas dan Tanggungjawab Pelaku, memerinci tugas-tugas KM-Nas adalah sebagai berikut: (1) Memantau dan memfasilitasi pelaksanaan P2DTK mulai dari sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pelestarian kegiatan sesuai dengan prinsip-prinsip dan ketentuan P2DTK; (2) Mengembangkan manual dan penjelasan teknis untuk meningkatkan strategi implementasi program; (3) Menyiapkan rancangan, bahan, materi, pelaksanaan Training of Trainer (ToT) dan pelaksanaan pelatihan kepada konsultan P2DTK dan pelaku-pelaku P2DTK lainnya; (4) Menyiapkan pelaksanaan penyebarluasan informasi melalui seminar dan/atau workshop; (5) Melakukan supervisi dan monitoring pelaksanaan P2DTK di lapangan dalam rangka memberikan dukungan mulai kecamatan sampai provinsi dalam aspek teknis dan manajemen serta memberikan panduan strategi pelatihan; (6) memberikan dukungan dan strategi penanganan pengaduan baik itu keluhan atau permasalahan yang berdampak luas pada masyarakat, serta tindak lanjut penanganannya; (7) Melakukan evaluasi program mencakup, pencapaian tujuan dan sasaran program, pencapaian sasaran fisik, sosial ekonomi yang dapat dijakngkau; (8) Menyusun dan menyampaikan sesuai standar yang sudah disepakati, laporan bulanan yang dokonsolidasikan dari laporan konsultan dan kegiatan supervisi, termasuk temuan-temuan dari pemantauan dan kegiatan supervisi; (9) Membantu dan memberikan masukan secara profesional, menyangkut teknis dan manajemen, dari mulai perencanaa, pelaksanaan, pemantauan dan pelaporannya, sehingga dapat digunakan sebagai landasan dalam pengambilan keputusan oleh Satker
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -25

P2DTK Pusatmaupun TK-P2DTK Nasional; (10) Melakukan koordinasi dan komunikasi dengan TK-P2DTK di tingkat provinsi maupun kabupaten; (11) Melakukan seleksi dan rekrutment serta mengusulkan penempatan sesuai dengan karakteristik dan latar belakang konsultan pendamping; dan (12) Melakukan evaluasi kinerja terhadap seluruh konsultan pendamping dalam rangka peningkatan kualitas konsultan.

2.7.2. Organisasi KM. Nas.
Organisasi KM. Nas (NMC), terdiri dari: seorang Team Leader, dibantu oleh 2 orang Deputi Team Leader. Disamping TL dan kedua DTL, KM.Nas didukung oleh ke-17 Tenaga Ahli (TA) dengan spesifikasi keahlian yang berbeda-beda, yang secara bersama-sama bersinergi melaksanakan tugas “Capacity Building” Pemerintah Daerah. Ke-17 tenaga ahli KM. Nas mencakup: (1) Pelatihan Partisipatif; (2) Kelembagaan; (3) Gender; (4) Pendidikan; (5) Kesehatan; (6) Infrastruktur; (7) MIS; (8) Monev; (9) Pengembangan Sektor Swasta (PSS); (10) Komunikasi; (11) Disbursement & Payroll; (12) HCU (Penanganan Pengaduan); (13) Financial Management yang bertanggung jawab kegiatan pengelolaan keuangan pasca pencairan. Tim tersebut didukung lagi oleh 1 orang asisten Monev, 1 orang asisten MIS, 1 orang asisten Financial Management, dan 1 orang TA Pengadaan Nasional. Dalam mengemban tugasnya mengendalikan program di 10 provinsi, KMNas didukung 10 Tim KM Prov yang ditempatkan di: 1. Di 8 Provinsi (Bengkulu, Lampung, Kalteng, Kalbar, Sulteng, Maluku, Maluku Utara, NTT), masing-masing terdiri dari 5 tenaga ahli (TA) dengan spesifikasi keahlian: (i) TA Infrastruktur; (ii) TA MIS; (iii) TA HCU (Penanganan Pengaduan); (iv). TA FM.; (v) TA Procurement; (vi) LPK PSS (Lembaga Pelaksana Kegiatan Pengembangan Sektor Swasta); dan (vii) TA MPHM (Mediasi Penguatan Hukum Masyarakat) 2. Provinsi Aceh memiliki 8 orang TA: (i) TA Infrastruktur; (ii) TA MIS.; (iii) TA HCU; (iv) TA Pendidikan; (v) TA Kesehatan; (vi) TA Pelatihan; (vii) TA FM; dan (viii) TA Procurement. Selain itu ada 2 lembaga yang juga membantu memberikan dukungan aistensi teknis yaitu LGSP (Local Government Support Program) yang mendampingi kegiatan pengembangan kapasitas, dan TAF (The Asia Foundation) yang membantu pelaksanaan PSS. 3. Provinsi Sumut terdapat 6 orang TA: (i) TA Infrastruktur; (ii) TA MIS.; (iii) TA HCU; (iv) TA Pelatihan; (v) TA FM; dan (vi) TA Procurement. Pada tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa pendampingan pelaksanaan P2DTK didukung dengan KM. Kab (Konsultan Manajemen Kabupaten), Fasilitator Kecamatan (FK), dan Fasilitator Desa (FD). Tim tenaga ahli di KM. Kab terdiri atas: (i) TA Infrastruktur; (ii) TA Pendidikan; (iii) TA
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -26

Kesehatan; (iv) TA MIS.; (iii) TA FM; (iv) TA Procurement; (v) Pengacara; (vi) LPK PSS; dan (vi) Para jurnalis di tingkat kabupaten. Sampai periode Bulan Oktober 2011 seluruh tim KM. Prov dan KM. Kab telah didemobilisasi seturut dengan berakhirnya program P2DTK, dan hanya KM Prov di Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah yang masih berlanjut kontrak kerjanya karena adanya kebijakan tentang program P2DTK Optimalisasi yang berakhir sampai akhir Februari 2012. Masa akhir tugas dan kontrak kerja KM. Nas adalah sampai April 2012.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. II -27

Bab 3. Capaian Pelaksanaan Tugas dan Tanggungjawab KM. Nas
Konsultan Menejemen Nasional (KM. Nas) adalah salah satu pelaku P2DTK di tingkat pusat, yang berperan atau bertugas sebagai pendamping teknis tingkat nasional pelaksanaan P2DTK. Seperti sudah dipaparkan di dalam bab sebelumnya, bahwa sebagai pendamping teknis implementasi KM. Nas mempunyai 12 kewajiban dalam rangka mengelola proses pelaksanaan P2DTK. Tugas dan kewajiban tersebut jika dikelompok maka terlihat adanya paling tidak enam peran utama, yaitu: (1) Peran pengembangan kapasitas; (2) Peran monitoring, supervisi dan evaluasi; (3) Perang pengendalian pengaduan dan penyelesaian masalah yangmuncul; (4) Peran koordinasi dan komunikasi antar pelaku P2DTK; (5) Peran mengkomunikasi proses perkembangan dan hasil kegiatan melalui penyusunan laporan; dan (6) Peran untuk menyiapkan dan mendorong keberlanjutan kegiatan-kegiatan P2DTK. Bab ini hendak memaparkan kegiatan dan hasil capaian dari sudut peran dan tugas yang sudah dilaksanakan oleh KM. Nas, dalam pendampingan teknis selama pelaksanaan P2DTK mulai dari Siklus 1, 2, dan 3 periode TA. 2007 -. 2010 dan TA. 2011. 3.1. Fasilitasi Pengembangan Kapasitas Salah satu strategi P2DTK dalam memampukan pemerintah daerah mengembangkan program-program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya adalah melalui strategi pengembangan kapasitas (capacity building). Pemerintah daerah sebagai pemegang otonomi pembangunan di daerah masing-masing, dilibatkan berperan penuh menjadi pihak yang mendengarkan permasalahan dan kebutuhan masyarakat, mengolah dan menganalisis berbagai potensi yang ada di masyarakat dan wilayahnya, agar menghasilkan program-program yang pro-rakyat dan mengentaskan mereka dari kemiskinan dan ketertinggalannya. KM-Nas sebagai bagian dari pelaku program P2DTK di tingkat nasional memiliki peran yang penting dalam pelaksanaan capacity building, selain bertugas membantu pengendalian fungsional dalam mengimplementasikan program sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan dalam P2DTK. Berdasarkan peran dan tugas KM. Nas maka dapat dipaparkan 2 peran utama KM. Nas dalam fasilitasi pengembangan kapasitas yang terkait dengan tahapan pengendalian program. Kedua peran tersebut yaitu: (1) Menyiapkan rancangan, bahan, materi, pelaksanaan Training of Trainer (ToT) dan pelaksanaan pelatihan kepada
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 1

konsultan P2DTK dan pelaku-pelaku P2DTK lainnya; dan (2) Mengembangkan manual dan penjelasan teknis untuk meningkatkan strategi implementasi program. 3.1.1. Penyusunan Materi Pelatihan Konsultan dan Pelaku P2DTK Awal dimulainya peran tenaga ahli KM. Nas dalam pengembangan kapasitas yaitu pada periode 2007 – 2008, dimana mobilisasi tenaga ahli KM. Nas sudah dilakukan tepatnya bulan Juli 2007 yang kemudian diikuti dengan dengan mobilisasi tenaga ahli KM. Prov dan KM. Kab, serta tenagatenaga pendamping lain seperti Fasilitator Desa dan Fasilitator Kecamatan. Di sisi lain mitra-mitra pelaku P2DTK di daerah, khususnya di wilayah P2DTK Nasional (8 provinsi non Aceh-Sumut), secara pararel juga sedang dalam proses pembentukan. Pada periode awal peran KM. Nas tersebut segala materi terkait dengan pengembangan kapasitas konsultan dan pelaku-pelaku P2DTK belum siap secara maksimal. KM. Nas berperan dalam membantu menyusun kurikulum ToT, modul-modul pelatihan beserta materi-materi pendukung, baik materi pelatihan untuk konsultan di daerah maupun untuk para pelaku P2DTK. Tenaga-tenaga ahli di KM. Nas setelah penyusunan berbagai modul maupun panduan tersebut, kemudian terlibat dalam pelaksanaan pelatihan baik yang dilaksanakan di Pusat maupun di daerah. Pada periode proses pelaksanaan P2DTK selanjutnya setelah periode-periode awal tersebut, KM. Nas terus melakukan upaya pengembangan kapasitas melalui penyediaan materi berupa Juklak dan Juknis. Materi-materi tersebut lebih mengarah kepada pengembangan kapasitas pelaku-pelaku P2DTK dalam hal mengendalikan kegiatan sub-proyek. Daftar manual, modul, pedoman, juklak dan juknis tersebut ada di dalam laporan ini.

Tenaga Ahli KM. Nas telah membantu dalam penyusunan kurimulum ToT, moduk pelatihan beserta materi-materi pendukung, serta melakukan fasilitasi berbagai pelatihan mulai dari tingkat Pusat sampai Daerah.

3.1.2. Jenis-Jenis Kegiatan Pengembangan Kapasitas Jenis kegiatan capacity building yang difasilitasi KM-Nas berdasarkan sumber pendanaannya bisa dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu sumber pendanaan yang berasal dari DOK, Non DOK dan sumber lainnya, sertas sumber dana BLM. Kegiatan capacity building bersumber dana dari DOK (juga dari Non DOK dan sumber dana lain) lebih berkaitan dengan perencanaan partisipatif dalam kegiatan forum-forum musyawarah, pelatihan dan workshop pelaku P2DTK yang bertujuan untuk memberikan pemahaman dan meningkatkan kapasitas pelaku terhadap mekanisme pelaksanaan program P2DTK. Peran KM-Nas dalam kegiatan perencanaan partisipatif (forum-forum musyawarah) hanya sebagai narasumber, sedangkan dalam kegiatan pelatihan dan workshop sebagai fasilitator. Sementara pengembangan kapasitas bersumber dana dari BLM lebih banyak ditujukan bagi pengembangan kapasitas yang terkait dengan kegiatan sub-proyek, yang akan dipaparkan lebih jauh di bagian lain dari laporan ini. Para peserta yang terlibat dalam kegiatan perencanaan partisipatif (forumforum musyawarah), pelatihan dan workshop adalah pelaku program
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 2

P2DTK dari tingkat provinsi sampai tingkat desa, baik dari unsur pemerintah, masyarakat dan konsultan. Dengan keterbatasan personil dan waktu, KM-Nas hanya memfasilitasi sampai tingkat kabupaten, namun tidak semua kabupaten bisa difasilitasi. Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan di tingkat kecamatan dan desa secara berjenjang difasilitasi oleh KM-Prov, KM-Kab dan FK. Project Appraisal Document menyebutkan bahwa salah satu performance indicator dalam bidang pengembangan kapasitas program P2DTK adalah “meningkatkan kualitas dan level partisipasi masyarakat di dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan perencanaan, pengambilan keputusan kegiatan program, dan implementasi kegiatan”. Dokumen Pedoman Teknis Pelaksanaan menterjemahkan tujuan tersebut ke dalam (6) enam ruang lingkup kegiatapan pengembangan kapasitas, yaitu: (1) Peningkatan kapasitas dalam ketrampilan fasilitasi perencanaan partisipatif; (2) Peningkatan kapasitas dalam mengidentifikasi masalah dan kebutuhan masyarakat; (3) Peningkatan kapasitas dalam pengintegrasian program pembangunan yang dilaksanakan oleh dinas dan pihak lain; (4) Peningkatan kapasitas pemerintahan daerah dalam penyusunan kebijakan yang mampu meningkatkan layanan sosial dasar; (5) Peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan masyarakat untuk mengelola program pembangunan secara partisipatif; dan (6) Peningkatan kapasitas masyarakat dalam melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan pembangunan.
Tabel III.01. Peran dan Tugas KM-Nas dalam Kegiatan Capacity Building
No DANA DOK Capacity Building Peran KM-Nas Bahan yang Diusun KM-Nas Keterangan

Perencanaan Partisipatif
Musyawarah Sosialisasi Musyawarah Pendanaan Musyawarah Persiapan Pelaksanaan 4 Musyawarah Pertanggung Jawaban 1 5 Musyawarah Pertanggung Jawaban 2 6 Musyawarah Pertanggung Jawaban 3 (Serah Terima) Workshop 7 Peningkatan Kapasitas Pelaku P2DTK 8 Peningkatan Kapasitas Konsultan, Fasilitator dan Pendamping Lokal 1 2 3 Narasumber Narasumber Narasumber Narasumber Narasumber Narasumber

-

• Panduan dan Modul Pelaksanaan Program P2DTK • Bahan dan Materi Peningkatan Kapasitas Konsultan, Fasilitator dan Pendamping Lokal

Bahan bersumber dari panduan, modul dan PTP program P2DTK yang disusun oleh Sekretariat KPDT

Fasilitator

-

Fasilitator

-

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 3

No Pelatihan 9 10

Capacity Building

Peran KM-Nas

Bahan yang Diusun KM-Nas • Panduan Kajian Teknis • Modul Pelatihan TPK Tingkat Kabupaten Tahun 2010 • Matrik Kurikulum Pelatihan Tim Pengelola Kegiatan Desa/Antar Desa/Pemuda (TPK Desa) Tahun 2010 • Bahan Pelatihan Unit Pengelola Kegiatan Dinas (UPKD) Program P2DTK Tahun 2010

Keterangan

Pelatihan Tim Kajian Teknis (Kabupaten, Kecamatan) Pelatihan TPK (Kabupaten, Kecamatan dan Desa)

Narasumber Narasumber

-

11

Pelatihan UPKD, UPK

Narasumber

-

DANA NON DOK Workshop 12 Workshop Sinergi dengan Program Lain Workshop Penyegaran Pelaku Program P2DTK Workshop Pengakhiran Program Peserta dan Narasumber Fasilitator Fasilitator • Bahan dan Materi Pelaksanaan Program P2DTK • Bahan Materi dan Penyegaran Tahun 2008 • Modul Pelatihan Penyegaran Pelaku Program P2DTK AcehNias Tahun 2011 • Panduan Pengadaan Barang/Jasa di Tingkat Kabupaten • Modul Pelatihan Pra Tugas • Bahan dan Materi Adminsitrasi dan Keuangan Tahun 2009 -

13 14

-

Pelatihan 15 Pelatihan Panitia Pengadaan Fasilitator -

16 17

Pelatihan Pra Tugas Konsultan Pelatihan Finansial dan Procurement

Fasilitator Fasilitator

-

Sumber: KM Nas-Dari berbagai sumber

Dalam kegiatan perencanaan partisipatif (forum-forum musyawarah), KMNas tidak berperan aktif dalam persiapan pelaksanaan kegiatan karena hanya sebagai narasumber kegiatan. Persiapan yang dilakukan KM-Nas berupa koordinasi dengan TK-Prov, TK-Kab, TPK, Konsultan dan Fasilitator sebagai pelaksana kegiatan forum-forum musyawarah untuk memastikan persiapan pelaksanaan berjalan dengan lancar. Bahan dan materi yang disampaikan dalam kegiatan forum-forum musyawarah sudah disiapkan oleh pelaksana daerah dengan fasilitasi konsultan yang bersumber dari buku-buku panduan dan modul program P2DTK. Sedangkan kegiatan capacity building yang berkaitan dengan pelatihan dan workshop pelaku program P2DTK baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, KM-Nas bertugas menyusun panduan, modul dan materi yang menjadi bahan utama dalam kegiatan pelatihan tersebut. Di samping melakukan koordinasi
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 4

dengan pelaksana kegiatan di daerah, KM-Nas dalam kegiatan pelatihan berperan aktif sebagai fasilitator pelatihan. 3.1.3. Pengembangan Kapasitas di P2DTK Aceh-Sumut 1. Sumber Dana Non-DOK Selama tahun 2006-2007 di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara belum ada pencairan BLM, sehingga kebijakan yang diambil Satker P2DTK Pusat adalah dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang fokusnya untuk penguatan kapasitas para pelaku P2DTK. Dalam periode dimulainya program di Aceh-Sumut tersebut beberapa panduan, modul dan petunjuk teknis bagi pelaksanaan program P2DTK sedang dalam proses penyusunan, seperti Manual Kajian Teknis, Panduan UPKD dan TPK, sehingga kegiatan penyusunan kurikulum, modul, dan berbagai pedoman lain disusun secara pararel dengan kegiatan-kegiatan pengembangan kapasita. Berikut disampaikan kegiatan capacity building yang sudah dilaksanakan untuk wilayah Aceh-Sumut.

Tabel Pelaksanaan Capacity Building Pelaku Program P2DTK Aceh-Nias Bersumber dari Dana Non DOK dan Sumber Lain (lihat lampiran) menggambarkan kegiatan-kegiatan pengembangan kapasitasdi Aceh-Sumut selama kurun waktu tahun 2006-2011 yang bersumber dari dana Non DOK. Ada sebanyak 21 kegiatan dengan lama pelaksanaan kegiatan selama 73 (tujuh puluh tiga) hari dan jumlah peserta sebanyak 1.502, dengan perincian 778 dari unsur pemerintah, 131 unsur masyarakat dan 499 unsur konsultan. Kegiatan capacity building yang sudah terlaksana terdiri dari 6 (enam) jenis kegiatan pokok, yaitu Pelatihan Pra Tugas, Presentasi Identifikasi Pendidikan dan Kesehatan, Deseminasi/Sosialiasi, Outbound, Pelatihan dan Workshop. Dari semua kegiatan tersebut sumber pendanaan tidak hanya berasal dari P2DTK, namun juga berasal dari pembiayaan lembaga/program lain yang bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Beberapa program lain yang berkolaborasi dengan program P2DTK adalah, Local Goverment Support Program (GSP)-USAID, NAD Education Strategic Program (NADESP), System Improvement Through Sector Wide Approach (SISWA)-World Bank, Aceh Public Expenditure Analysis (APEA)-World Bank, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, Sekretariat Pusat PNPM Mandiri dan PNPM Mandiri Perdesaan.

Selama kurun waktu 2006 – 2011, di Aceh-Sumut, terlaksana 21 kegiatan pelatihan bersumber dana Non DOK, diikuti 1.502 peserta (778 dari unsur pemerintah, 131 unsur masyarakat, dan 499 unsur konsultan

2. Pengembangan Kapasitas Sumber Dana DOK Pengembangan kapasitas untuk para pelaku P2DTK yang bersumber dari Dana DOK di wilayah Aceh-Sumut telah menyerap dana sebesar Rp. 612.087.534,- Dari sudut penyerapan dana ini maka dapat terlihat tiga (3) penyerapan yaitu untuk pengembangan aparat di bidang pendidikan mencapai 39,18%, peningkatan kapasitas TKT kecamatan mencapai 13,07% dan untuk TKT kabupaten mencapai 11,71%.
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 5

Diagram III.01. Rekapitulasi Pelatihan dengan Pembiayaan DOK Kabupaten dan DOK Kecamatan Siklus-1 s.d Siklus-3 Aceh-Sumut
UPK TPKM TPK Kabupaten TKT Kecamatan TKT Kabupaten TK Kab & Satker Kab Pelaksanaan Kegiatan Lain-lain di Kabupaten Kajian Teknis & Desain Bidang Pendidikan Aparatur Pemda 212 orang 35 orang
[Rp.45,669,500]

[Rp. 15,000,000] [Rp. 71,699,100] [Rp. 80,000,000] [Rp. 68,730,000]

149 orang 6 orang 203 orang 26 orang 20 orang

[Rp. 14,095,000]

Rp. 6,365,000 [Rp. 36,120,000]

127orang 43 orang

[Rp.17,825,000] [Rp. 239,823,934]

172 orang 65 orang
[Rp. 16,760,000]

Total peserta: 1.058 orang Total budget=Rp. 612.087.534

Sumber: Data MIS KM. Nas

Dari sudut jumlah peserta maka bahwa pengembangan kapasitas untuk UPK sebagai pengelola kegiatan secara langsung mendapatkan perhatian paling besar dengan jumlah peserta sebanyak 212 peserta atau 20% dari total peserta 1.058 orang yang didanai sumber Dana DOK, kemudian diikuti pengembangan kapasitas TKT kabupaten diikuti 203 peserta (19,19%), dan pengembangan kapasitas bagi aparat dibidang pendidikan yang diikuti 172 peserta (16,26%). 3.1.4. Pengembangan Kapasitas di P2DTK Wilayah Nasional 1. Sumber Dana Non DOK Sementara untuk wilayah Nasional di 10 Provinsi, kegiatan capacity building bersumber dana Non DOK terlaksana sebanyak 17 kegiatan dengan lama pelaksanaan kegiatan selama 281 (dua ratus delapan puluh satu) hari dan jumlah peserta sebanyak 3.753 orang. Pelaksanaan Capacity Building Pelaku Program P2DTK Nasional Bersumber dari Dana Non DOK dan Sumber Lain). Dari total jumlah peserta tersebut sebanyak 2.044 orang dari unsur pemerintah, 242 orang unsur masyarakat dan 1.467 orang unsur konsultan. Kegiatan capacity building yang sudah terlaksana terdiri dari 4 (empat) jenis kegiatan pokok, yaitu Pelatihan Pra Tugas, Deseminasi/Sosialiasi, Pelatihan dan Workshop. Berbeda dengan wilayah Aceh-Nias, sumber pendanaan capacity building untuk wilayah nasional berasal dari program P2DTK dengan pelaksana kegiatan oleh Perusahaan Jasa Konsultan Pelatihan. 2. Pengembangan Kapasitas Sumber Dana DOK Gambaran capaian pengembangan kapasitas di wilayah P2DTK Nasional sedikit berbeda dengan pengembangan kapasitas di Aceh-Sumut, dimana
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 6

Pengembangan Kapasitas di Aceh-Sumut Nasional menyerap Dana DOK Rp. 612.087.534,- untuk berbagai kegiatan dengan total peserta 1.058 orang.

di wilayah nasional penyerapan dana untuk pengembangan kapasitas para pelaku dan birokrasi pemerintah di tingkat bawah terlihat lebih besar. Hal ini bisa terjadi karena pendekatan pelaksanaan P2DTK di wilayah AcehSumut berbasis di kabupaten saja, sementara di wilayah Nasional pendekatan kegiatan berbasis di kabupaten dan kecamatan.
Diagram III.02. Rekapitulasi Pelatihan dengan Pembiayaan DOK Kabupaten dan DOK Kecamatan Siklus-1 s.d Siklus-3 P2DTK Nasional
Aparatur Pemda (173 orang) Aparatur Pemda Kec (381 orang) Bidang Kesehatan (1.586 orang) Bidang Pendidikan (2.125 orang) BPP (1.019 orang) Fasilitator Desa (4.186 orang) Fasilitator Kecamatan (40 orang) Kajian Teknis & Desain (264 orang) Keuangan (258 orang) Komite Ssekolah (3.889 orang) Lain-lain di Kabupaten (998 orang) Lain-lain di Kecamatan (2.881 orang) MPHM (34 orang) Pelaksanaan Kegiatan (301 orang) Pengadaan (123 orang) Penlok (614 orang) Penlok & FD (424 orang) Pokja Pendidikan (1.074 orang) PSS (504 orang) Tim Desain & RAB Kec (504 orang) TK Kab & Satker Kab (91 orang) TKT Kabupaten (898 orang) TKT Kecamatan (2.530 orang) TPK Kabupaten (1.045 orang) TPK Kecamatan (5.789 orang) TPKM (6.388 orang) UPK (2.369 orang)
Rp. 101,272,850 Rp. 175,207,000 Rp. 280,730,100 Rp. 648,987,500 Rp. 308,860,175 Rp. 18,700,000 Rp. 74,823,500 Rp. 278,644,900 287,471,200 Rp. 8,610,000 Rp. 82,627,250 Rp. 41,780,000 Rp. 359,217,160 Rp. 296,227,800 Rp. 220,297,825 Rp. 27,560,000 Rp. 34,218,700 Rp. 91,235,000 Rp. 425,855,700 Rp. 206,495,750

Rp. 1,504,720,390

Rp. 1,126,759,550 Rp. 1,111,530,650

Rp. 1,001,422,970 Rp. 1,549,958,900 Rp. 1,461,611,900 Rp. 1,051,177,300

Totalpeserta= 40.262 orang/Total budget=Rp. 12.776.004.070

Sumber: Data MISKM. Nas

Total dana DOK tersalurkan untuk pengembangan kapasitas di wilayah P2DTK Nasional sebesar Rp. 12.776.004.070,- dimana dana tersebut terserap di 3 (tiga) kegiatan terbesar yaitu pengembangan kapasitas untuk TPK Kecamatan mencapai serapan 12,13%, pengembangan kapasitas untuk TPKM 11,44%, pengembangan kapasitas FD mencapai 11,78%. Beberapa kegiatan berikutnya yang mencapai serapan cukup besar seperti pengembangan kapasitas untuk Komite Sekolan mencapai 8,82%, pengembangan kapasitas lain-lain di kecamatan mencapai 8,70%, dan untuk UPK mencapai 8,23%. Dari sudut jumlah peserta kegiatan pengembangan kapasitas diwilayah P2DTK bersumber Dana DOK yang sebanyak 40.262 orang, maka terlihat 4 (empat) kegiatan yang menyerap atau melibatkan peserta terbanyak. Kegiatan-kegiatan tersebut yaitu pengembangan kapasitas TPKM sebesar 6.388 orang (15,87%), TPK Kecamatan 5.789 orang (14,38%), FD 4.186 peserta (10,40%), dan pengembangan Komite Sekolah diikuti 3.889 atau peserta 9,66% dari total peserta pengembangan kapasitas yang didanai melalui DOK.

Pengembangan Kapasitas di wilayah P2DTK Nasional menyerap Dana DOK Rp. 12.776.004.070 untuk berbagai kegiatan dengan total peserta 40.262 orang.

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 7

3.2. Pengelolaan Dana P2DTK Sebagai sebuah program pemberdayaan masyarakat dan penguatan kapasitas pemerintah daerah, maka program P2DTK menerapkan Manajemen Keuangan khususnya yang dijalankan para pelaku binaan seperti TPK (Tim Pelaksana Kegiatan) Kabupaten dan UPKD-UPKD (Unit Pengelola Kegiatan Dinas) dengan tujuan berikut. Tujuan umum sistem manajemen pengelolaan dana di dalam P2DTK adalah: (1) Menjamin seluruh sumberdaya organisasi (keuangan dan material) digunakan sebagaimana seharusnya sesuai program P2DTK; (2) Menentukan penanggung jawab pelaksanaan kebijakan keuangan; dan (3)Memudahkan monitoring dan pembaharuan atas kebijakan, prosedur akuntansi, dan manajemen keuangan secara umum. Sementara tujuan khususnya yaitu:  TPK sebagai Pengambil Keputusan, Pembuat Kebijakan Umum, Pengawas Keuangan atas dasar Musyawarah dan keberadaan organisasi.  Bendahara TPK/UPK Kec sebagai Pengelola DOK dan A/O serta Pengawas BLM.  UPKD/TPK Desa sebagai Pelaksana Kegiatan yang bersumber BLM dan A/O.  TKT sebagai pelaksana kajian atas keuangan dan kegiatan yang menjadi usulan.  UPK Kecamatan sebagai Pengambil Keputusan, Pembuat Kebijakan Umum, Pengawas Keuangan atas dasar musyawarah dan keberadaan organisasi.  TPK Desa/Antar Desa/Pemuda sebagai pelaksana kegiatan di Kecamatan dan Desa.  Panitia Swakelola/Pihak III sebagai pelaku kegiatan sub projek.  Panitia Lelang sebagai pelaksana dan penanggungjawab pengadaan barang/jasa.  Terlindunginya kepentingan masyarakat, perangkat operasional, Aset fisik dan administratif.  Berjalannya Sistem dan Prosedur Akuntansi Keuangan yang efektif , memadai, ditaati dan dijalankan secara baik.  Pembukuan dan pencatatan yang benar, real, lengkap dan tersaji up to date.  Berjalannya mekanisme Chek and Balance.  Berjalannya Monitoring Evaluasi untuk pengembangan. Dalam rangka memastikan berjalannya Sistem Pengendalian Internal (SPI) dilembaga-lembaga pelaku binaan program P2DTK seperti TPK Kabupaten, UPKD, dan UPK Kecamatan, maka telah tersusun Petunjuk Teknis Pelaku (PTP) khusus tentang Pendanaan yang merupakan Pedoman Umum kebijakan keuangan P2DTK. PTP ini mengacu pada Perdirjen Perbendaharaan Negara No.69 Th. 2007, tentang Petunjuk Pencairan Dana. PTP tersebut terutama berisi penjelasan dana P2DTK, mekanisme pencairan dan penyaluran dana, persentase alokasi maupun
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 8

tahapan penyerapan, dan musyawarah-musyawarah terkait dengan keuangan. Mengingat pengendalian keuangan adalah suatu mekanisme yang harus berjalan sistematis, konsisten dan berkelanjutan, maka Konsultan secara sendiri atau secara bersama dengan PIU P2DTK/KPDT melakukan hal-hal sebagai berikut : 1. Menyusun dan menerbitkan berbagai Panduan dan Petunjuk Teknis. a. Panduan Penilaian Kinerja Konsultan Keuangan Kabupaten dan DPC. Kapasitas dan kinerja personal konsultan pendamping jalannya Manajemen Keuangan menjadi hal utama dalam program P2DTK terutama untuk memastikan konsistensi pembukuan dan pengelolaan keuangan oleh para pelaku secara benar. b. Panduan Monitoring Pengelolaan Keuangan TPK dan UPKD (oleh Konsultan Keuangan Kab dan Konsultan Bidang). Pengendalian rutin dan sistematis oleh konsultan bidang keuangan menggunakan instrumen yang menilai tiap bulan tingkat kinerja pengelolaan keuangan pelaku, kebijakan keuangan, sistem akuntansi, monitoring dan pelaporan, serta transparansi. c. Petunjuk Teknis Penilaian Kinerja Pengelolaan Keuangan TPK dan UPKD (oleh KM Kab). Pengendalian rutin dan sistematis oleh konsultan bidang Infrastruktur, Pendidikan, dan Kesehatan menggunakan instrumen yang menilai tiap bulan tingkat kinerja pengelolaan keuangan para pelaku, seperti: kebijakan keuangan, sistem akuntansi, monitoring dan pelaporan, serta transparansi. d. Panduan Penyusunan Dana DOK 2010. Suatu panduan untuk menyusun RAB DOK termasuk didalamnya simulasi atau contoh nama akun biaya dan nilainya. e. Instrumen pengendalian kelengkapan pembukuan para pelaku. Untuk memastikan keberadaan dan kelengkapan pembukuan, bukti-bukti, pelaporan keuangan sebagai bagian dari pengendalian paling mendasar atas pengelolaan keuangan oleh para pelaku, sesuai format P2DTK. f. Panduan Teknis Safeguard Penyaluran Dana P2DTK (Th.2010) dan Revisi (Th.2011). Upaya memastikan bahwa dana yang telah cair dan mengendap di rekening pelaku dapat disalurkan dengan benar dan aman. Mekanisme yang dijalankan adalah penguatan mekanisme yang biasa dilakukan yakni dengan pelibatan lebih aktif pihak Satker atau Tim KoordiNasi Kabupaten dalam penyaluran dana subprojek ke pihak ke 3 dan panitia swakelola UPKD / UPK Kec. g. Panduan Penyusunan Pelaporan Bulanan Kosultan Financial Management Kabupaten dan Konsultan Financial Management Provinsi. Berisi seluruh capaian yang telah dijalankan baik
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 9

kuantitas dana yang dimanfaatkan maupun kualitas hasil pendampingan pengelolaan keuangan para pelaku. h. Instrumen Review Keuangan para TPK, UPKD dan UPK Kecamatan. Instrumen untuk memetakan kondisi pengelolaan keuangan terakhir para pelaku, pembukuan dan laporan, saldo dana di rekening DOK, A/O, dan RGB, serta prospek/kesiapan terjadinya penyaluran dana ke pihak ke 3 atau panitia swakelola. Instrumen ini digunakan DFMC PT. Amythas pada bulan April 2011 saat mulai dimobilisasi dengan tujuan memastikan dapat dihentikannya kebijakan penundaan penyaluran dana ke pihak ke 3 (suspend) yang diberlakukan KPDT sejak Januari 2011. i. Panduan Teknis Penggunaan Sisa dana BLM dan DOK. Berisi tentang arahan bagaimana mekanisme penggunaan, entry data, pelaporan dan pertanggungjawaban tentang sisa dana DOK maupun BLM baik bersumber dari suatu anggaran maupun dari beberapa tahun anggaran. j. Berbagai Form dan Tabel-Tabel untuk Pengendalian untuk Progres Pencairan dan Penyaluran Dana, Saldo Dana di Pelaku, Pengembalian ke kas Negara, dll. 2. Melakukan penguatan kapasitas konsultan dan pelaku dalam bentuk : a. Pelatihan, Coaching, dan OJT. Metode ini diterapkan dalam upaya memberi pemahaman atas kebijakan keuangan dan transaksi yang terjadi di program P2DTK serta memampukan pelaku untuk menyusun pembukuan dan pelaporan keuangan sesuai format P2DTK. Event yang pernah dilakukan untuk hal tersebut, antara lain: • Coaching untuk TPK dan UPKD Aceh Utara. Dilaksanakan 21-22 September 2010 di Banda Aceh, Aceh. • Coaching dan OJT untuk TPK dan UPKD Banggai. Dilaksanakan 2-4 Oktober 2010 di Banggai, Sulawesi Tengah. • Pelatihan Pratugas Konsultan Keuangan Kabupaten (DFMC). Dilaksanakan untuk para DFMC di Jakarta, 2010. • Pelatihan Pratugas Konsultan Keuangan Provinsi. Dilaksanakan untuk para DFMC dan PFMC sebanyak 9 orang di Jakarta, tanggal 27 Maret – 1 April 2011. • Pelatihan Pratugas Konsultan Keuangan Kabupaten. Dilaksanakan untuk para DFMC sebanyak 4 orang di Pontianak, Kalimantan Barat, tanggal 18–21 April 2011. • Pelatihan Pratugas Konsultan Keuangan Kabupaten. Dilaksanakan untuk para DFMC sebanyak 5 orang di Kupang, NTT, tanggal 18 – 21 April 2011. • Pelatihan Pratugas Konsultan Keuangan Kabupaten. Dilaksanakan untuk para DFMC sebanyak 16 orang di Banda Aceh, tanggal 24 – 27 April 2011.
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 10

• OJT untuk Konsultan Keuangan Kabupaten. Sebanyak 2 orang di Ternate, Maluku Utara, tanggal 25 – 26 Juli 2011. • Coaching untuk Konsultan Keuangan Kabupaten dan Provinsi. Sebanyak 4 orang di Pontianak, Kalimantan Barat, tanggal 21 Juni 2011. • Coaching untuk Konsultan Keuangan Kabupaten. Sebanyak 5 orang di Palu, Sulawesi Tengah, tanggal 28 Juni 2011. • Pelatihan penyegaran pelaku Program P2DTK Aceh-Nias TA 2011 Dilaksanakan di Medan, 10-15 Juli 2011 • Pelatihan TPK dan UPKD, pada th.2010 dan 2011. b. Workshop. Workshop Review Pelaksanaan Pengadaan dan Pengelolaan Keuangan program Optimalisasi P2DK pernah dilakukan pada: • Di Pontianak, Kalimantan Barat, tanggal 1-4 November 2011. • Di Poso, Sulawesi Tengah, tanggal 14-17 November 2011. • Di Palu, Sulawesi Tengah, tanggal 23-26 November 2011. • Workshop Optimalisasi Program P2DTK di Jakarta,9-10 April 2012. c. Rapat Koordinasi Nasional. Berbagai Rakornas yang diselengarakan di Jakarta dan luar Jakarta dalam kerangka pengendalian jalannya program, baik P2DTK reguler (DIPA 2007-2010) maupun P2DTK Optimalisasi (DIPA TA 2011). Rakoor KM. Nas – PIU – WB sangat tinggi frekwensinya di awal tahun 2011 terutama sehubungan diberlakukannya penundaan penyaluran dana P2DTK DIPA 2010 ke pihak ke 3 dan panitia swakelola (suspend) yang dicabut pemberlakuannya pada awal Juni 2011. Rakoor KM Nas dengan KM Provinsi juga sangat tinggi frekwensinya khususnya dengan KM Provinsi Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah sehubungan pengendalian program Optimalisasi di 2 provinsi tersebut, termasuk Rakoor terakhir mengenai konsolidasi progres keuangan dan kegiatan pada tanggal 11-13 April 2012 di Jakarta. d. Lokakarya Nasional Serahterima dan Alihkelola hasil Pelaksanaan Program P2DTK. Lokakarya ini dilaksanakan di Jakarta 13 Desember 2011. 3. Melakukan pengawasan dan pengendalian progres keuangan dalam bentuk: a. Supervisi TA KM. Nas. Supervisi ke semua wilayah program dilakukan oleh KM. Nas dan dimasing-masing wilayah / provinsi oleh KM. Prop, termasuk beberapa bulan oleh KM Keuangan Provinsi dan Kabupaten. Berikut adalah supervisi yang dilakukan TA FM KM. Nas sejak bulan Agustus 2010 hingga Desember 2011. Supervisi terutama dilakukan FM Sp dan Disburesement &
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 11

Payroll Sp KM. Nas sejak bulan Agustus 2010 hingga Februari 2012. Supervisi dilaksanakan secara khusus atau bersamaan dengan pendampingan kunjungan / supervise PIU, WB, atau bersamaan dengan Pelatihan dan OJT di wilayah tertentu. Beberapa Supervisi dilakukan oleh Senior FM KM. Nas (PT. Amythas). b. Surat dan Memorandum KM. Nas. KM. Nas melakukan pula pengendalian taktis dalam bentuk komunikasi langsung ke seluruh pihak dan menerbitkan berbagai surat ke PIU atau pihak eksternal serta menerbitkan memorandum-memorandum KM. Nas ke KM. Prop dan KM.Kab. Terlampir adalah sebagian besar Memorandum dan Surat KM. Nas sehubungan pengendalian keuangan (pencairan dan penyaluran) para pelaku P2DTK, yakni menyangkut BLM dan DOK. Terhitung sejak th. 2009 s/d Januari 2012 telah diterbitkan sekitar 90 buah Memorandum KM. Nas yang secara khusus dikirimkan ke KM. Prop dan KM. Kab sehubungan pengendalian keuangan (pencairan dan penyaluran) para pelaku P2DTK, yakni menyangkut BLM dan DOK. Sementara KM. Nas telah pula mengirimkan surat ke PIU dan pihak lain sebanyak 53 buah. Surat-surat ke PIU cenderung bersifat laporan, usulan, pengajuan draft / konsep, sehubungan posisi konsultan FM di kabupaten, dorongan tindaklanjut atas sesuatu hal keuangan, sehubungan verifikasi laporan para bupati, dll. c. Pelaporan dan Analisis. Pelaporan progres keuangan dilakukan berjenjang antar level konsultan ; FK, KM. Kab, KM. Prop, KM. Nas, dalam bentuk Laporan Bulanan (include keuangan) dan Laporan khusus, berdasarkan data capaian keuangan di para pelaku ; TPK, UPKD, UPK kecamatan, yang setiap bulan wajib menyusun Pembukuan dan Laporan Keuangan bulanan yakni Laporan Arus Dana (LAD) dan Laporan Penggunaan Dana (LPD) serta berdasarkan progress pencairan dan penyaluran dana ke pihak ke 3 / panitia swakelola. KM. Nas menyusun Laporan progress keuangan yang terangkum dalam Laporan Bulanan KM. NAS ke PIU, berdasarkan data MIS, Laporan Bulanan FM, Laporan 2 mingguan FM (optimalisasi), dan Laporan Hasil Supervisi. Pelaporan dan analisis tersebut berisi tentang : • Kuantitas data keuangan yang dicairkan dari KPPN dan data keuangan yang disalurkan / digunakan dalam kegiatankegiatan TPK dan UPK Kecamatan, maupun kegiatan subprojek oleh UPKD dan UPK Kecamatan.
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 12

Wilayah P2DTK AcehSumut masuk dalam sistem pengendalian keuangan yang dilakukan KM. Nas dimulai sejak Tahun 2010.

• Kualitas kinerja pengelolaan keuangan dan transparansi – akuntabilitas keuangan para pelaku.

tingkat

Pada masa tugasnya, pelaporan kepada KM Nas dilakukan konsultan keuangan PT.C Lotti selama 5 bulan di tahun 2011, dan konsultan keuangan PT. Amythas dan PT.Inacon selama 5 bulan di tahun 2011. 4. Pengukuran dan Pendampingan atas Kinerja Ppengelolaan Keuangan, Pemahaman Personal, Keberadaan Personal, dan Kelengkapan Pembukuan TPK Kabupaten, UPKD-UPKD, dan UPK Kecamatan 4.1. Capaian Capaian pengukuran pengelolaan keuangan TPK dan UPKD terbagi dalam 3 periode, yaitu: (a) Masa awal program tanpa didampingi DFMC hingga masa didampingi DFMC PT.C.Lotti, 2007-Juli 2010; (b) Masa didampingi KM. Nas tanpa DFMC, Agustus 2010 – Maret 2011 ; dan (c) Masa didampingi KM. Nas disertai PFMC dan DFMC PT.Amythas dan PT.Inacon / masa akhir program, April 2011 – Agustus 2011 Khusus Kalbar dan Sulteng didampingi hingga Maret 2012. Instrumen yang digunakan berdasarkan aspek-aspek yang dibuat PT. C.Lotti sebanyak 20 aspek yang sejak Juli 2010 disempurnakan lebih ringkas oleh KM. NAS (FM Sp) menjadi 15 aspek pengukuran. Aspekaspek tersebut menggambarkan kondisi Kebijakan Keuangan, Sistem Akuntansi, Pelaporan dan Monitoring serta penerapan prinsip Transparansi dan Akuntabilitas. Indikator tersebut menggunakan scoring dan hasilnya menjadi 3 kategori kinerja: “Sangat Memadai”; “Memadai”; dan “Tidak Memadai”. Pengukuran kinerja belum dapat dilakukan optimal sebab sangat terpengaruh oleh keberadaan KM Keuangan Kabupaten (DFMC) sebagai pendamping dan penilai kinerja keuangan TPK, UPKD, UPK Kecamatan, yang hanya beberapa bulan dilapangan. Masa tugas DFMC (PT.C.Lotti) efektif hanya selama 5 bulan di tahun 2010 yakni Februari – Juli 2010. Sementara masa tugas DFMC (PT. Amythas dan PT. Inacon) secara efektif juga hanya 5 bulan di tahun 2011, yakni April 2011 – Agustus 2011. Kalbar dan Sulteng secara khusus didampingi hingga Maret 2012. Dengan demikian pengukuran kinerja sekaligus pendampingan intensif secara efektif oleh para DFMC hanya dilaksanakan sekitar 10 bulan, padahal P2DTK berjalan sejak tahun 2007 hingga 2011. (khusus Kalbar dan Sulteng hingga awal 2012). Pada kurun waktu
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 13

Pengukuran kinerja keuangan terhadap pelaku-pelaku P2DTK di lapangan belum bisa optimal, karena pendeknya kontrak kerja para DFMC.

yang panjang pendampingan dan pengendalian FM bagi para TPK Kabupaten, UPKD, dan UPK Kecamatan secara kompetensi hanya dilakukan oleh FM Sp, Disburesement & Payroll Sp dari KM Nas. Masa penilaian adalah per Juli 2011 untuk 8 provinsi dan untuk Kalbar serta Sulteng per Maret 2012, sehingga tabel dibedakan dan diperjelas nilainya sebab berbeda masa pendampingan dan hasilnya. Berikut ini disajikan tabel-tabel yang menggambarkan tingkat kinerja dan pemahaman para pelaku P2DTK tersebut.
Tabel III.02. Kinerja Pengelolaan Keuangan TPK Kabupaten Per Juli 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Provinsi Bengkulu Lampung Kalteng Malut Maluku NTT Aceh Sumut Jumlah Kalbar Sulteng JUMLAH Jml TPK Kab 3 3 3 5 5 6 17 2 44 3 4 7 Tingkat Kinerja Pengelolaan Keuangan Baik/Sangat Cukup/Mema- Kurang/Tidak Memadai dai Memadai 0 1 2 0 2 1 0 0 3 0 0 5 0 1 4 0 0 6 4 7 6 0 1 1 4 12 28 9% 27% 64% 0 3 0 1 3 0 1 6 0 14% 86% 0%

1 2

Sumber: Data FM-KM. Nas

Tabel III.03. Kinerja Pengelolaan Keuangan UPKD Infrastruktur, Pendidikan, Kesehatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Provinsi Bengkulu Lampung Kalteng Malut Maluku NTT Aceh Sumut JUMLAH Kalbar Sulteng JUMLAH Jml UPKD Kab 9 9 9 15 15 18 51 6 132 9 12 21 Tingkat Kinerja Pengelolaan Keuangan Baik/Sangat Cukup/Memadai Memadai 0 0 0 0 0 0 9 0 9 7% 0 3 3 14% Sumber: Data FM-KM. Nas 4 4 2 3 3 6 23 4 49 37% 6 6 12 57% Tidak Memadai/ Kurang 5 5 7 12 12 12 19 2 74 56% 3 3 6 29%

1 2

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 14

Tabel III.04.

Kinerja Pengelolaan Keuangan Kinerja UPK Kecamatan
No 1 2 3 4 5 6 7 8 Provinsi Bengkulu Lampung Kalteng Malut Maluku NTT Aceh Sumut JUMLAH 1 2 Kalbar Sulteng JUMLAH Jml UPK Kec 18 17 16 20 32 29 0 0 132 28 26 54 Tingkat Kinerja Pengelolaan Keuangan Baik/Sangat Kurang/Tidak Cukup/Memadai Memadai Memadai 0 0 0 0 0 2 0 0 2 2% 3 6 9 17% 4 6 5 8 10 10 0 0 43 33% 8 9 17 31% 14 11 11 12 20 17 0 0 87 66% 17 11 28 52%

Sumber: Data FM-KM. Nas Ket: Khusus wilayah Aceh-Sumut tidak ada pendampingan kecamatan.

Tabel III.05. Pemahaman, Personal dan Kondisi Pembukuan TPK Kabupaten
Jml TPK Kab 3 3 3 5 5 6 17 2 44 3 4 7 Pemahaman & kemampuan Pelaku FM / Bendahara P 1 1 1 0 1 1 8 0 13 30% 2 3 5 71% KP 2 2 2 2 1 3 5 2 19 43% 1 1 2 29% TP 0 0 0 3 3 2 4 0 12 27% 0 0 0 0% Keberadaan Personal Pelaku FM / Bendahara Ada 2 3 3 4 4 5 17 2 40 91% 3 4 7 100% Tdk Ada 1 0 0 1 1 1 0 0 4 9% 0 0 0 0% Kelengkapan & Kebenaran Pembukuan Lengkap 1 1 1 1 2 3 14 1 24 55% 3 4 7 100% Tdk Lengkap 2 2 2 4 3 3 3 1 20 45% 0 0 0 0%

No

Provinsi

1 2 3 4 5 6 7 8

Bengkulu Lampung Kalteng Malut Maluku NTT Aceh Sumut JUMLAH Kalbar Sulteng JUMLAH

4 5

Sumber: Data FM-KM. Nas

Ket :

P = Paham, KP = Kurang Paham, TP = Tidak Paham.

Materi yang diukur tentang indikator pemahaman dan kemampuan adalah: Substansi PNPM DTK, Rangkaian Siklus P2DTK, Tupoksi masing-masing, Teknis Penyusunan Pembukuan dan Pelaporan Keuangan. Pembukuan dianggap Lengkap bila bukti transaksi, rekening koran, hingga format-format pembukuan ada dan terisi dengan benar.

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 15

Tabel .III.06.

Pemahaman, Keberadaan Personal dan Kondisi Pembukuan UPKD (Infrastruktur, Pendidikan dan Kesehatan)
No Provinsi Jml UPKD Kab Pemahaman & kemampuan Pelaku FM / Bendahara P KP TP Keberadaan Personal Pelaku FM / Bendahara Ada Tdk Ada Kelengkapan & Kebenaran Pembukuan Lengkap Tdk Lengkap

1 2 3 4 5 6 7 8

Bengkulu Lampung Kalteng Malut Maluku NTT Aceh Sumut JUMLAH Kalbar Sulteng JUMLAH

9 9 9
15 15 18 51 6 132 9 12 21

2 2 3
1 3 3 24 2 40 30% 5 8 13 62%

6 7 6
5 6 7 15 4 56 42% 4 4 8 38%

1 0 0
9 6 8 12 0 36 27% 0 0 0 0%

9 9 9
12 14 16 51 6 126 95% 9 12 21 100%

0 0 0
3 1 2 0 0 6 5% 0 0 0 0%

3 3 4
3 5 6 30 4 58 44% 7 9 16 76%

6 6 5
12 10 12 21 2 74 56% 2 3 5 24%

1 2

Sumber: Data FM-KM. Nas

Tabel III.07.

Pemahaman, Personal dan Kondisi Pembukuan UPK Kecamatan
No Provinsi Jml UPK Kec 18 17 16 20 32 29 0 0 132 28 26 54 Pemahaman & kemampuan Pelaku FM / Bendahara P 4 4 4 4 7 8 0 0 31 23% 10 10 20 37% KP 9 9 10 8 11 9 0 0 56 42% 12 8 20 37% TP 5 4 2 8 14 12 0 0 45 34% 6 8 14 26% Keberadaan Personal Pelaku FM / Bendahara Ada 17 15 13 19 29 27 0 0 120 91% 26 26 52 96% Tdk Ada 1 2 3 1 3 2 0 0 12 9% 2 0 2 4% Kelengkapan & Kebenaran Pembukuan Lengkap 9 6 5 8 14 12 0 0 54 41% 12 18 30 56% Tdk Lengkap 9 11 12 12 18 16 0 0 78 59% 16 8 24 44%

1 2 3 4 5 6 7 8

Bengkulu Lampung Kalteng Malut Maluku NTT Aceh Sumut JUMLAH Kalbar Sulteng JUMLAH

1 2

Sumber: Data FM-KM. Nas Ket: P = Paham, KP = Kurang Paham, TP = Tidak Paham. Materi yang diukur tentang indikator pemahaman dan kemampuan adalah: Substansi PNPM DTK, Rangkaian Siklus P2DTK, Tupoksi masing-masing, Teknis Penyusunan Pembukuan dan Pelaporan Keuangan. Pembukuan dianggap Lengkap bila bukti transaksi, rekening koran, hingga format-format pembukuan ada dan terisi dengan benar. Khusus wilayah Aceh-Sumut tidak ada pendampingan kecamatan.

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 16

4.2. Analisis a. Kinerja Pengelolaan Keuangan TPK Kabupaten, UPKD, dan UPK Kecamatan Tingkat kinerja pengelolaan keuangan TPK Kab, UPKD, dan UPK Kec di pada Masa Awal Program hingga Juli 2010, sebagian besar masih berkategori sedang/memadai dan kurang/tidak memadai. Hal ini karena pada periode tersebut instrumen sistem yang dikembangkan relatif belum lengkap, penguatan kapasitas pelaku yang tidak sistematis serta pola kerja Konsultan FM Kab. PT.C.Lotti yang tidak berperan sebagai pendamping (cenderung hanya menjadi supervisor). Hal lain adalah karena hingga akhir tahun 2009 wilayah Aceh dan Sumut masih dibawah pengendalian langsung PIU (belum menjadi wilayah dampingan KM Nas) yang tentu dari segi jumlah personal dan waktunya relatif terbatas. Pada masa awal, hal-hal negatif sehubungan kinerja keuangan terutama dari aspek kebijakan keuangan yang dijalankan adalah karena tahapan pencairan DIPA 2010 tidak sesuai Perdirjen no.69, instrumen RAB, RPD, dan kontrak dengan pihak ke III belum menjadi alat kontrol utama dalam pengambilan keputusan keuangan, langkah-langkah pengambilan kebijakan keuangan rutin di internal pelaku secara kolektif belum konsisten. Sisi positifnya adalah di sebagian besar wilayah nampak peran TPK dan PPKom (arahan PIU) cenderung pro aktif dalam proses penyaluran dana ke pihak ke 3 termasuk mengenai kelengkapan dokumen-dokumennya. Hal-hal sehubungan berjalannya sistem akuntansi dapat dilihat dengan indikasi banyaknya inkonsistensi pencatatan pada pembukuan harian, pembukuan belum up to date, format pembukuan belum lengkap, dana kas ditangan masih besar yaitu diatas batas maksimal Rp.500.000,-, Bukti-bukti transaksi dan rekening koran tidak lengkap, pengarsipan dokumen di lembaga pelaku belum baik. Pelaporan keuangan rutin bulanan belum berjalan baik. Pada sebagian organisasi pelaku terjadi inkonsistensi dan tidak tepat waktunya penyusunan laporan keuangan (LAD dan LPD) rutin tiap bulan. Pada aspek monitoring dan pengawasan yang dilakukan KM Kab dan Satker dalam bentuk cash opname atas dana dan kelengkapan pembukuan masih lemah dan belum rutin. Di internal organisasi pelaku juga masih nampak aspek pengawasan keuangan yang lemah terlihat dari banyaknya format pembukuan yang tidak ditandatangani Ketua. Rapat rutin evaluasi bidang keuangan tidak berjalan konsisten. Sisi positif pada aspek ini adalah bahwa Satker senantiasa menekankan berjalannya rapat rutin antar Satker dengan para pelaku TPK dan UPKD setiap bulan (minimal) terutama untuk hal-hal yang
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 17

menyangkut penyaluran ke pihak ke 3. Satker/Tim KoordiNasi cukup ketat monitoring dana dan kelengkapan dokumen untuk pencairan dan penyaluran. Pada aspek penegakan transparansi dan akuntabilitas berdasarkan indikator program dapat dianggap belum memuaskan. Mekanisme rutin penyebaran copy Laporan Keuangan ke berbagai stakeholder tidak berjalan, penempelan posisi keuangan bulanan di papan info (publik) tidak berjalan. Kecenderungan berbagai pihak hanya memandang cukup melalui penyampaian progres keuangan di musyawarah pertanggungjawaban. Pada masa ke 2 (Agustus 2010 - Maret 2011), tingkat kinerja relatif sama dengan masa awal dan pendampingan DFMC PT.C.Lotti . Bahkan pada masa ini KM. Nas cukup kesulitan mendapatkan informasi perkembangan kinerja keuangan pelaku dan hanya dapat merekam perkembangan dari beberapa kabupaten manakala dilakukan supervisi KM. Nas. Pelaporan KM. Prop dan upload data MIS dari berbagai wilayah pada masa ini cenderung sangat lambat ke KM. Nas sehingga sulit tergambar kondisi kinerja keuangan pelaku. Sebagai sebuah sistem pengawasan dan pengendalian, maka sangat terasa sulitnya berjalan sistem tersebut bila tanpa pelaku pendamping yang utama yakni para DFMC (kabupaten) dilapangan. Selanjutnya pada masa ke 3 (April 2011 – Agustus 2011 dan hingga Maret 2012 di Kalbar dan Sulteng). Pada masa ini diawali oleh langkah Review Keuangan dengan instrumen tertentu sehingga secara global dapat dipetakan kondisi pengelolaan keuangan, pembukuan dan laporan, saldo dana di rekening DOK, A/O, dan RGB, serta prospek / kesiapan terjadinya penyaluran dana ke pihak ke 3 atau panitia swakelola. Pada masa ini adalah masa penting dalam upaya mengakhiri kebijakan penundaan (suspend) penyaluran dana DIPA 2010 ke pihak ke 3 dan panitia swakelola dari UPKD, dan merupakan masa perbaikan berbagai kekurangan pendampingan selama ini. Pada masa ini diberlakukan pula secara serempak kebijakan khusus yakni safeguard penyaluran dana P2DTK 2010 Secara garis besar pada masa ini terjadi perubahan berarti dalam berbagai hal pengelolaan keuangan sebagai akibat intensivitas pendampingan DFMC PT.Amythas yang jauh lebih baik dibanding masa PT. C.Lotti, serta tingkat koordinasi PIU – KM. Nas – KM. Prop yang lebih kuat. Persentase tingkat kinerja terakhir dari para pelaku TPK Kab, UPKD, dan UPK kec dapata dilihat di tabel atas.
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 18

Indikator-indikator yang meningkat lebih baik adalah pada konsistensi penyusunan dan kelengkapan pembukuan, cash opname dan kelengkapan bukti rek bank, pengawasan atas saldo dana, dan monitoring internal pelaku yang semakin baik. Aspek pelaporan rutin bulanan dan laporan insidentiil yang dilakukan berjenjang mayoritas dilakukan cepat dan lengkap, termasuk informasi saldo kas dan bank tiap bulan. Sementara monitoring internal dan eksternal oleh konsultan menjadi lebih baik sebab pola kerja DFMC lebih intensif pada hari kerja berada dilokasi. Sebagian besar DFMC adalah warga kabupaten yang bersangkutan. b. Kelengkapan dan Kebenaran Pembukuan. Pada masa awal hingga Juli 2010, administrasi pembukuan dan laporan keuangan lembaga pelaku relatif disebagian besar belum lengkap sebagaimana format P2DTK. Beberapa perbedaan arahan dari pusat dan kurangnya intensivitas pendamping turut berpengaruh bagi hal ini. Beberapa kabupaten seringkali agak berbeda dalam penggunaan beberapa format yang seharusnya dapat seragam di semua wilayah. Kondisi negatif sehubungan indikator kelengkapan dan kebenaran pembukuan adalah adanya pembukuan yang tidak lengkap sejak awal program hingga saat bulan berjalan, belum semua format pembukuan diterapkan, Pembukuan dan Pelaporan keuangan beberapa bulan belum tersusun, saldo kas jauh lebih besar diatas Rp. 500.000,-, lemahnya control atas saldo dana bank maupun cash opname di bendahara, format pembukuan belum ditandatangani, pengarsipan bukti-bukti transaksi dan rekening koran belum baik dan lengkap, dll. Pada masa ke 2, awal Agustus 2010 – Maret 2011, administrasi pembukuan dan laporan keuangan lembaga pelaku relatif stagnan dari masa sebelumnya yakni disebagian besar belum lengkap sebagaimana format P2DTK. Ketiadaan DFMC sejak Juli 2010 dan adanya kebijakan percepatan pencairan DIPA 2010 telah menyita energi para TPK, UPKD, KM Kab dan Satker Kab sehingga tidak dapat berperan lebih intensif mendampingi pengelolaan pembukuan rutin di TPK Kab dan UPKD. Beberapa supervisi KM. Nas, PIU, Bank Dunia, masih menemukan masalah pembukuan yang tidak lengkap, belum semua format pembukuan diterapkan, Pembukuan dan Pelaporan keuangan beberapa bulan belum tersusun, saldo kas jauh lebih besar diatas Rp.500.000,-, format pembukuan belum ditandatangani, pengarsipan bukti-bukti transaksi dan rekening Koran belum baik dan lengkap, dll.
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 19

Selanjutnya pada masa awal April 2011 – Agustus 2011, administrasi pembukuan dan laporan keuangan lembaga pelaku semakin lengkap dan benar dan sebagaimana format P2DTK. Bahkan di wilayah Kalbar dan Sulteng hingga Maret 2012 menunjukan peningkatan positif sangat signifikan. Namun demikian harus diakui bahwa menjadi kesulitan tersendiri pula bagi para DFMC PT Amythas dan PT. Inacon, manakala pada awal tugasnya selama beberapa bulan terpaksa harus melakukan banyak koreksi atas pembukuan dan laporan keuangan sejak th.2007 hingga saat personal tersebut bertugas. Peranannya menjadi berubah bukan hanya Review Keuangan tapi berubah menjadi pendamping secara penuh segala hal menyangkut pengelolaan keuangan para TPK Kab, UPKD, dan UPK Kec termasuk masalah-masalah di masa Th. 2007-2010. Tingkat kelengkapan dan kebenaran pembukuan pada masa ini menglami perbaikan cukup signifikan dibanding masa sebelumnya, sebagaimana digambarkan dalam tabel-tabel diatas sebagai data capaian akhir. Pola pendampingan dilakukan dengan teknis ; OJT rutin secara bersama para bendahara berkumpul, kunjungan rutin mingguan DFMC ke pelaku, pengambilan copy rekening tepat akhir bulan, pencatatan di buku Kas yang tidak terlambat, target penyusunan laporan bulanan pelaku dibawah tanggal 3, koordinasi internal pelaku termasuk tandatangan Ketua, RAB DOK dan RPD BLM yang harus dioptimalkan manfaatnya, pengarsipan dokumen keuangan menggunakan cheklist kelengkapan dokumen , dll. c. Keberadaan dan kapasitas pelaku pengelola keuangan Hingga Agustus 2010, organisasi TPK Kab, UPKD, dan UPK Kec berjalan dengan personal bendahara lengkap 100%, sehingga walau sempit waktu dan tingkat pergantian seringkali berganti namun proses pencatatan pembukuan dan keberadaan dokumen keuangan relatif berjalan walau sangat tidak lengkap dan inkonsisten. Hingga Maret 2011, tercatat 10% organisasi TPK dan UPKD berjalan tanpa bendahara sehingga berpengaruh pada tingkat pengelolaan pembukuan dan keuangan. Hingga Agustus 2011 di 8 provinsi dan hingga Maret 2012 di Kalbar dan Sulteng, tercatat bahwa kelengkapan personal FM diats 90%, bahkan di Kalbar dan Sulteng lengkap 100% hingga akhir masa program. Keberadaan TPK Kab, UPKD, dan UPK Kec yang dilengkapi keberadaan seorang bendahara ternyata belum menjadi jaminan kinerja, kelengkapan – kebenaran pembukuan, pengelolaan keuangan menjadi baik. Hal ini karena ternyata kapasitas
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 20

sebagian besar personal bendahara dianggap masih belum memadai. Dapat disimpulkan bahwa yang sangat besar pengaruhnya adalah kekosongan pendamping keuangan (DFMC), tingginya tingkat pergantian pengurus, dan tersedianya waktu personal tersebut untuk P2DTK (personal tsb biasanya adalah PNS). Namun demikian, pada akhir masa program tercatat telah ada kemajuan untuk memahami substansi PNPM DTK, rangkaian siklus P2DTK, tupoksi yang bersangkutan, dan belum terampil melakukan pembukuan dan pelaporan keuangan. Indikator ini menunjukan tingkat kemajuan pelaku keuangan dalam kapasitasnya. 5. Bentuk-Bentuk Pengendalian Lain a. Dorongan Pelaksanaan Musyawarah Pendanaan dan Pertanggungjawaban Musyawarah yang sangat penting dalam program P2DTK dan menjadi momentum khusus, sebab musyawarah-musyawarah ini melahirkan keputusan tentang keuangan dan bagaimana penggunaannya. Lebih jauh hal ini dapat dipandang merupakan penguatan sesungguhnya atas tujuan program yakni terciptanya pembangunan partisipatif sejak perencanaan hingga pelaksanaan dan serahterima hasil. b. Koreksi Atas Kelengkapan Dokumen-Dokumen Keuangan. Dokumentasi keuangan diluar pembukuan dan laporan keuangan sesungguhnya cukup banyak dan merupakan arsip berharga sebab proses keuangan sejak tahap Pencairan; pemberkasan hingga terbit SP2D hingga tahap Penyaluran / Penyerapan dana oleh para pelaksana mensyaratkan dokumen-dokumen yang lengkap. c. Pelibatan Satker atau Tim Koordinasi Kabupaten dalam Pengawasan Administrasi Keuangan Keseluruhan (sesuai Tupoksi poin 2). Keberadaan Satker dan TKKabupaten yang ber SK Bupati terus didorong tidak hanya untuk proses pencairan dana ke rekening pelaku, tapi juga men-support administrasi keuangan dan penggunaannya

3.3. Capaian Pendanaan P2DTK
3.3.1. Alokasi DOK dan BLM P2DTK

Kebijakan pendanaan P2DTK menetapkan dua bentuk pendanaan yang bersumber dari 2 kategori pinjaman Bank Dunia kepada pemerintah Indonesia, yakni Dana DOK bersumber dari Planning Grant dan Dana BLM bersumber dari Block Grant. Dana DOK baik tingkat Kecamatan maupun Kabupaten dipergunakan untuk membiayai tahapan perencanaan mulai dari kegiatan sosialisasi sampai dengan Musyawarah Kecamatan
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 21

Pendanaan dan Musyawarah Kabupaten Pendanaan, serta sebagian dimanfaatkan untuk pengembangan kapasitas pelaku P2DTK didaerah termasuk didalamnya untuk Pelatihan Tim Pengelola dan Pemelihara. Sementara Dana BLM adalah dana untuk pembiayaan kegiatan sub proyek di 3 bidang utama : Infrastruktur, Pendidikan, dan Kesehatan, serta bidang penunjang lain yakni PSS dan Pemuda. Dana DOK dan BLM di seluruh wilayah P2DTK (10 Provinsi) dialokasikan berdasarkan DIPA TP TA. 2007–2011, Pencairannya berdasarkan SP2D dari KPPN, dan Penyaluran/Penggunaannya berdasarkan data MIS dan FM selama tahun 2007-2012, sebagaimana tersaji pada tabel berikut.
Tabel III.08 Rekapitulasi Alokasi, Pencairan, dan Penyaluran Dana DOK dan BLM P2DTK DESKRIPSI 1 2 3 4 5 ALOKASI (DIPA) PENCAIRAN (SP2D) SELISIH / SILPA PENYALURAN SELISIH PENCAIRAN DGN PENYALURAN setor ke kas negara DOK (TA 2007-2010) SUB PROJEK 163,131,721,000 161,847,280,085 1,284,440,915 161,623,490,110 223,789,975 152,530,578 100.0% 99.2% 0.8% 99.9% 0.14% 0.09% 803,894,196,335 940,235,758,000 846,023,791,327 94,211,966,673 95.0% 38,393,592,548 4.5% 99.6% 0.44% 0.41% 0.03% 0.03% -0.01% 1,003,911,278,993 3,959,792,419 3,611,567,180 220,622,000 348,225,239 (220,622,000) 842,287,788,883 3,736,002,444 3,459,036,602 BLM (TA 2007-2011) A/O % 100.0% 90.0% 10.0% 1,103,367,479,000 1,007,871,071,412 95,496,407,588 JUMLAH

dikonpensasi untuk BLM / 82,802,000 0.05% 137,820,000 DOK digunakan untuk 221,947,842 kegiatan optimalisasi 126,277,397 0.08% konpensasi dari BLM / (137,820,000) -0.09% (82,802,000) DOK Ket : Dana BLM diatas sudah termasuk khusus dana BLM TA 2011 untuk Kalbar dan Sulteng sebagai Optimalisasi Program P2DTK, namun tanpa mendapatkan dana DOK TA 2011 sehingga seluruh wilayah P2DTK sama hanya mendapatkan dana DOK TA 2007-2010.

Total dana alokasi DOK dan BLM untuk wilayah P2DTK TA. 2007 – 2011 adalah Rp.1.103.367.479.000,- yang terdiri dari alokasi dana DOK (Kabupaten dan Kecamatan) sebesar Rp.163.131.721.000,- (15%) dan alokasi dana BLM (Kabupaten dan Kecamatan) sebesar Rp. 940.235.758.000,- (85.%). Dana BLM terdiri dari dana kegiatan sub projek dan dana A/O. Seluruh dana tersebut dialokasikan untuk pembiayaan program yang dijalankan oleh 51 TPK Kabupaten, 153 UPK Dinas, dan 186 UPK Kecamatan yang tersebar di 10 Provinsi. Adapun dana untuk Optimalisasi Program P2DTK diberikan hanya kepada Provinsi Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah dalam bentuk BLM TA 2011 tanpa didampingi dana DOK-nya. Model kegiatan masih berbasis 3 bidang : infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan, namun berpola paket proyek dengan beberapa perubahan skema kebijakan pembiayaan dibanding pembiayaan yang bersumber TA 2007-2010.
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 22

Alokasi dana Optimalisasi Program P2DTK 2011 adalah sebesar Rp. 2.000.000.000,- per kabupaten sehingga alokasi untuk Kalimantan Barat (3 kabupaten) sebesar Rp. 6.000.000.000,- dan untuk Sulawesi Tengah (4 kabupaten) sebesar Rp. 8.000.000.000,-. Grand total alokasi dana untuk wilayah optimalisasi 2011 adalah Rp.14.000.000.000,-

3.3.2. Pencairan dan Penyaluran Dana DOK dan BLM Rekapitulasi Dari Seluruh Wilayah P2DTK Total dana DOK untuk seluruh wilayah P2DTK pada Siklus 1, 2, 3 yang bersumber dari DIPA TA. 2007-2010, telah terserap dari alokasi / pencairannya sebesar Rp.161.874.280.085,- (99,1%) dan mengakibatkan dana silpa 0,8%. Dari nilai pencairan tersebut telah dapat digunakan / penyaluran sebesar Rp. 161.623.490.110,- atau sebesar 99,9% dan terdapat sisa dana sebesar Rp.223.789.975,- . Dana yang tersisa tersebut sebagian tetap digunakan dalam kegiatan namun sebagian yakni sebesar Rp.152.530.578,- dikembalikan / setor ke kas negara melalui mekanisme SSBP yang dilakukan oleh wajib setor yakni bendahara Satker Kabupaten yang bersangkutan. Total dana BLM untuk seluruh wilayah P2DTK pada Siklus 1, 2, 3, dan optimalisasi yang bersumber dari DIPA TA. 2007-2011, telah terserap dari alokasi / pencairannya sebesar Rp. 846.023.791.327,- (90%) dan mengakibatkan dana silpa 10%. Dari nilai pencairan tersebut telah dapat digunakan / penyaluran sebesar Rp. 803.894.196.335,- atau sebesar 95% untuk pembiayaan subprojek 3 bidang ; infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan, dan digunakan untuk pembiayaan administrasi dan operasional (A.O) sebesar Rp.38.393.592.548,- atau (4,5%). Antara pencairan dengan penyaluran dana BLM telah menyisakan sisa dana yang sebagian digunakan kembali untuk kegiatan dan sebagian kembali disetor ke kas negara yakni sebesar Rp.3.459.036.602,- melalui mekanisme SSBP yang dilakukan oleh wajib setor yakni bendahara Satker Kabupaten yang bersangkutan. Dengan demikian, dari seluruh dana yang dicairkan atau berhasil diserap dalam kegiatan P2DTK, maka nilai yang kembali disetor ke kas Negara adalah Rp. 3.611.567.180,- atau hanya 0.36% dari dana tercairkan. Pencairan Dan Penyaluran Dana P2DTK Program Optimalisasi Mengenai dana kegiatan optimalisasi tahun 2011 telah termasuk didalam penjelasan diatas, namun secara khusus kami ulas mengingat kegiatan ini adalah optimalisasi P2DTK 2007-2010 dan sebagai model untuk P2DTK fase berikutnya.
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 23

Optimalisasi program P2DTK dilaksanakan mulai Juni 2011 di 2 (dua) propinsi yaitu Kalimaih lanjut sebab kegiatan ini hanya dilaksanakan di Kalimanan Barat dan Sulawesi Tengah dengan 7 kabupaten sasaran. Program ini dilaksanakan melalui model Paket Kegiatan, dimana setiap kabupaten diberikan dana sebesar Rp. 2.000.000.000,-. Tujuan diluncurkannya Program ini adalah: (a) Memberikan apresiasi kepada pelaksanaan kegiatan P2DTK di Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah yang dinilai menunjukkan performa yang bagus pada pelaksanaan P2DTK sebelumnya; dan (b) Pemantaun model intervensi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan wilayah tertinggal oleh pemerintah daerah. Alokasi DIPA TA. 2011 untuk 2 propinsi sasaran Optimalisasi sebesar Rp. 13.999.999.900,-, dimana Kalimantan Barat sebesar Rp. 6.000.000.000,(untuk 3 kabupaten) dan Sulawesi Tengah Rp. 7.999.999.900,- (untuk 4 kabupaten). Dana yang dapat tercairkan sebesar Rp 13.999.999.900,(100%), sementara dana yang tersalurkan sebesar Rp. 13.303.916.807,(95%) dan A/O sebesar Rp.662.591.300,- (4,7%). Pada kegiatan optimalisasi juga terjadi temuan-temuan BPKP yang mengakibatkan sebagian kecil dana harus disetor ke kas Negara, yakni Rp.33.491.743,- atau hanya 0.3%. 3.3.3. Dana PAP (Pendampingan dan Administrasi Program) Dana PAP adalah semacam “dana penyertaan” sebagai bentuk kontribusi pemerintah daerah provinsi dan kabupaten pada pelaksanaan Program P2DTK, yang besarnya sudah diatur di dalam ketentuan pelaksanaan P2DTK. Rincian ketentuan tersebut menyebutkan bahwa: (a) Pemerintah propinsi menyediakan Dana PAP 0,5 % dari total alokasi dana (DOK dan BLM) di wilayahnya yang menerima P2DTK; (b) Pemerintah Kabupaten menyediakan Dana PAP 2% dari total alokasi dana P2DTK di wilayahnya; dan (c) Pemerintah Kecamatan menyediakan 3% dari total alokasi dana DOK dan BLM kecamatan. Dana PAP dialokasikan dari APBD masingmasing. Berikut inidipaparkan Dana PAP yang menjadi komitmen pemerintah daerah dalam pelaksanaan P2DTK.
Diagram III.03. Dana PAP P2DTK Aceh-Sumut Realisasi 2006 - 2012
Rp. 327.948.787.000

Rp. 286.758.968.000

Rp. 17.936.875.000

Rp. 41.189.819.000 Rp. Rp. 16.599.705.000 1.337.170.000

Sumber: KM. Nas-Data MIS, FM, dan Disbursment

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 24

Gambaran komitmen pemerintah daerah Propinsi Aceh dan Sumut mengenai Dana PAP terterak seperti grafik di atas. Total realisasi PAP Aceh dan Sumut 2006 -2012 mencapai 5,47% dari total DIPA untuk AcehSumut. Sementara PAP untuk Propinsi Aceh sendiri mencapai 5,79% dari total DIPA untuk propinsi tersebut, sementara di Sumut PAP mencapai 3,25% dari DIPA yang ada.
Diagram III.04. Dana PAP untuk wilayah P2DTK Nasional (8 Propinsi) Realisasi 2007 -2012

Berdasarkan pada ketentuan prosentase Dana PAP yang berlaku, maka Dana PAP Kabupaten maupun PAP Propinsi di Aceh-Sumut sudah memenuhi ketentuan yang ada.

Rp. 761.418.692.000

Rp. 36.573.397.768

DIPA P2DTK Nasional Total PAP Nasional (4,80%)

Sumber: KM Nas-Data MIS, FM, dan Disbursment (per 30 April 2012)

Realisai Dana PAP di P2DTK wilayah Nasional mulai tahun 2007 sampai 2012 sebesar Rp. 36.573.397.768 atau sekitar 4,80% dari total DIPA P2DTK tahun 2007 -2010. Rekapitulasi dari seluruh wilayah P2DTK (10 propinsi) TA 2007 – 2010 dan TA. 2011, maka diperoleh angka bahwa total dana PAP sebagai komitmen pemerintah daerah mencapai 4,94% dari total dana alokasi DIPA P2DTK TA. 2007-2010 dan TA. 2011 (untuk wilayah Optimalisasi).
Diagram III.05. Rekapitulasi Dana PAP P2DTK (10 Propinsi) Realisasi 2007 - 2012

Rp. 1.103.937.702.900

Rp. 54.510.273.368

Total DIPA P2DTK Total PAP (4.94%)

Sumber: KM. Nas-Data MIS, FM, Payroll (per 1 Maret 2012)

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 25

3.4. Pengadaan (Procurement) Berdasarkan Keppres 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah disebutkan bahwa pengadaan barang dan jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai oleh pinjaman/hibah luar negeri dan dilakukan setelah penandatanganan Naskah Perjanjian Luar Negeri(NPLN), pelaksanaannya harus mengikuti ketentuan (guidelines) dari pemberi pinjaman atau ketentuan lain yang telah disepakati oleh pemerintah RI dengan pemberi pinjaman dalam NPLN/Loan/Grant Agreement. Dengan adanya ketentuan tersebut maka disusunlah Panduan Pengadaan Barang dan Jasa P2DTK. Keberadaan konsultan pengadaan diperlukan karena masih banyak pelaku program belum mengetahui dan belum berpengalaman dengan pembiayaan oleh lembaga asing (Bank Dunia), masih lemahnya kondisi pengadaan, dan ketidakpastian mengimplementasikan peraturan pengadaan. Untuk mengawal dan mendampingi pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dalam P2DTK maka dibutuhkan konsultan pengadaan, agar proses dan mekanisme pengadaan sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan. Konsultan pengadaan untuk program P2DTK dimobilisasi pada pada tahun 2010 dan pada tahun 2011. Pada tahun 2010 dilaksanakan dalam bulan April 2010 s.d bulan Juli 2010. Sedangkan pada tahun 2011 dilaksanakan sejak bulan Februari 2011 s.d April 2012. Dengan demikian sesungguhnya bahwa sejak dimulainya P2DTK di Aceh-Sumut sampai dilaksanakannya mobilisasi konsultan pengadaan per April 2010, kegiatan pengadaan di P2DTK belum dilakukan oleh KM. Nas namun dilaksanakan oleh interim-procurement di PIUKPDT. 1. Lingkup Tugas Secara umum kegiatan yang dilaksanakan oleh konsultan pengadaan adalah melakukan pendampingan dalam proses pengadaan barang dan jasa yang didasarkan pada Pedoman Pengadaan P2DTK – Keppres 80 tahun 2003, serta sejalan dengan Guideline Procurement Under IBRD Loan and IDA Credit 2004. Adapun ruang lingkup tugas konsultan pengadaan Nasional yaitu : 1) 2) Memberikan dukungan kepada Penanggungjawab Kegiatan P2DTK dalam melakukan seluruh proses pengadaan di tingkat nasional. Menyusun dan merumuskan draft konsepsi dan panduan pelaksanaan pengadaan untuk dijadikan acuan pelaksanaan pengadaan seluruh kegiatan P2DTK di tingkat propinsi dan kabupaten . Menyiapkan materi dan melakukan pelatihan pelaksanaan pengadaan bagi pelaku program di tingkat propinsi/kabupaten di seluruh kabupaten/kota lokasi sasaran P2DTK beserta rencana kerja yang akan dilakukan. Melakukan kunjungan lapangan dalam rangka monitoring dan evaluasi pelakasanaan pengadaan di lokasi P2DTK.
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 26

3)

4)

5) 6)

7) 8) 9)

Melakukan analisis atas hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan pengadaan dan menyusun rekomendasi kebijakan yang disampaikan ke pelaku program. Membantu dan memberikan masukan secara profesional menyangkut teknis dan manajemen mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pelaporan sehingga dapat digunakan sebagai landasan dalam pengambilan keputusan oleh Satker P2DTK Pusat maupun TK-P2DTK Nasional Memberikan dukungan dan strategi penanganan pengaduan atau masalah dalam pengadaan yang dapat berdampak luas pada masyarakat, dan rencana tindak lanjutnya. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan struktur manajemen P2DTK di setiap tingkatan. Membuat laporan bulanan secara berjenjang kepada Penanggungjawab P2DTK mengenai kegiatan pengadaan di setiap kabupaten.

Sedangkan lingkup tugas Konsutan Pengadaan Propinsi/Kabupaten adalah: 1) Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan konsultan manajemen (KM. Prov/KM. Kab) untuk memastikan kegiatan pengadaan dapat berjalan sesuai dengan panduan, tahap, dan mekanisme program; Memberikan pendampingan kepada Sakter/UPKD dalam mempersiapkan proses pengadaan sesuai ketentuan pengadaan P2DTK; Mendorong pelaku program untuk membentuk panita pengadaan sesuai jadwal pelaksanaan program; Mempersiapkan materi dan pelatihan pengadaan, serta melakukan pelatihan bagi panitia pengadaan, dan konsultan manajamen di daerah; Melakukan kunjungan lapangan dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan pengadaan di lokasi P2DTK; Melakukan analisis atas hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan pengadaan di sertai rekomendasi kebijakan pada Satker P2DTK dan konsultan manajemen nasional; Membuat laporan bulanan kepada penanggung jawab P2DTK mengenai kegiatan pengadaan di lokasi P2DTK, mendokumentasikan, dan memperbaharui informasi pengadaan P2DTK di kabupaten. Khusus pada bulan April 2011 s.d Agustus 2011, tugas konsultan pengadaan ialah melakukan review dokumen pengadaan subproyek, melakukan pendampingan perbaikan terhadap dokumen pengadaan pelaksanaan subproyek, menyiapkan semua dokumen pengadaan untuk pelaksanaan post review oleh Bank Dunia.

2) 3) 4) 5) 6) 7)

8)

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 27

2. Kegiatan Yang Dilakukan Kegiatan yang dilakukan oleh konsultan pengadaan adalah pelatihan, pendampingan, dan kegiatan workshop. a. Pelatihan Sebelum melakukan tugasnya konsultan pengadaan mengikuti pelatihan pratugas. Pelatihan konsultan pengadaan Pusat dan Propinsi dilakukan di Jakarta. Pelatihan konsultan pengadaan kabupaten dilakukan di ibukota propinsi, dan di ibukota kabupaten. Beberapa kabupaten melakukan pelatihan berupa magang (on job training). Hal disebabkan konsultan yang dimobilisasi hanya 1-2 orang, atau dimobilisasi setelah kegiatan pelatihan selesai dilaksanakan, atau dimobilisasi setelah kegiatan review dokumen pengadaan berjalan 1-2 bulan.
Tabel III.09. Lokasi dan Jumlah Peserta Pelatihan Pratugas Konsultan Pengadaan (Tahun 2011) No 1 2 Propinsi Pusat Aceh Aceh Aceh 3 4 5 6 Sumut Bengkulu Lampung Lampung Kalbar Waktu 29 Maret-1 April 2011 24-27 April 2011 5-6 Mei 2011 9-10 Juni 2011 4-5 Mei 2011 19-21 April 2011 19-21 April 2011 9 Juni 2011 19-21 April 2011 19-20 Mei 2011 7 8 9 10 11 Kalteng Sulteng Maluku Maluku Utara NTT 19-21 April 2011 19-21 April 2011 10-12 Mei 2011 19-21 April 2011 18-21 April 2011 Tempat Hotel, Jakarta Hotel, Banda Aceh Kantor PMC Aceh (OJT) Kantor PMC Aceh (OJT) Kantor PMC Sumut Medan (OJT) Kantor PMC Bengkulu Wisma Atlet Bandar Lampung Kantor PMC Lampung Kantor PMC Kalbar, Pontianak Kantor DMC Sambas (OJT) Kantor DMC Katingan (OJT) Kantor PMC Sulteng, Palu Kantor PMC Maluku Ambon Kantor PMC Maluku Utara Bapelkes NTT, Kupang Jumlah Sumber: Data Procurement-KM.Nas Peserta Hadir 10 13 2 1 1 2 1 1 2 1 1 4 5 3 6 53 2 3 3 3 3 4 5 5 6 61 Halteng, Halbar Kotim, Seruyan 17 Kuota 10 Aceh Barat Daya Nias Kepahiang Lampung Timur Kosong

Sampai akhir bulan Juli 2011, kondisi konsultan pengadaan ialah konsultan pengadaan pusat 2 orang, konsultan pengadaan propinsi 10 orang, konsultan pengadaan kabupaten sebanyak 42 orang. Sedangkan dalam program optimalisasi jumlah DPC sebanyak 7 orang, PPC 2 orang, 1 orang Spesialis Proc.Nasional.

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 28

Tabel III.10. Jumlah dan Lokasi Konsultan Pengadaan Kabupaten (s.d Juli 2011) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Propinsi Aceh Sumut Bengkulu Lampung Kalbar Kalteng Sulteng Maluku Maluku Utara NTT Jumlah Jumlah Seharusnya 17 2 3 3 3 3 4 5 5 6 51 Tersedia 16 1 2 2 3 1 3 5 3 6 42 Ket Kekosongan Aceh Barat Daya Nias Kepahiang, Lampung Timur Kotim, Seruyan Morowali Halteng, Halbar -

Sumber: Data Procurement-KM.Nas Keterangan: Penugasan awal Konsultan Pengadaan Kabupaten dari bulan Maret s.d Juli 2011.

Materi yang disampaikan dalam pelatihan pratugas konsultan pengadaan ialah mengenai: a. b. c. d. e. f. Konsep, kebijakan, dan program P2DTK; Ketentuan pengadaan dalam P2DTK; Review pelaksanaan pengadaan P2DTK; Lingkup tugas dan tanggung jawab konsultan pengadaan; Mekanisme pelaksanaan tugas konsultan pengadaan; Penyusunan RKTL, dan format pelaporan;

Sebagai narasumber atau penyampai materi dilakukan oleh PIU, NMC, dan PMC. Kegiatan on job training ini dilaksanakan karena mobilisasi konsultan tidak serentak dilakukan, atau mobilisasi konsultan dilakukan setelah kegiatan pelatihan pratugas selesai dilaksanakan. Pendampingan kegiatan OJT dilakukan oleh konsultan pengadaan propinsi (PPC) bertempat di kantor PMC, atau kantor DMC. Kegiatan on job training (OJT) bagi konsultan pengadaan kabupaten (DPC) ialah untuk: a. b. c. d. e. Kab.Simeulue, Singkil, dan Pidie, Propinsi Aceh. Kab. Nias Selatan Propinsi Sumut. Kab.Way Kanan Propinsi Lampung. Kab.Sambas Propinsi Kalbar. Kab.Katingan Propinsi Kalteng.

b. Workshop Kegiatan workshop yang diikuti dan dilaksanakan oleh konsultan pengadaan selama tahun 2011 ialah : Kegiatan workshop yang dilaksanakan dan diikuti oleh konsultan pengadaan Aceh dan Sumut ialah :
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 29

(1) Workshop dan Pelatihan Pengakhiran Program Aceh-Nias pada bulan Juli 2011 di Medan. Workshop ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang sertifikasi, standard pengakhiran subproyek, mekanisme serah terima dan alih kelola, kelembagaan, penanganan masalah, dan penyusunan laporan akhir. (2) Pelatihan Penguatan Kapasitas Pelaku Program P2DTK Kab. Nias Selatan (Khusus PPC dan DPC Sumut). Workshop ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang proses kegiatan pengadaan pada program P2DTK. (3) Workshop Review Proses Pengadaan Optimalisasi untuk 7 kabupaten penerima program optimalisasi di Propinsi Kalbar dan Sulteng. Workshop ini bertujuan untuk menginventarisasi kesesuian mekanisme pengadaan barang/jasa P2DTK dengan pelaksanaan di lapangan, menginventarisasi kemudahan dan kesulitan, memperoleh masukan untuk meningkatkan efektivitas proses pengadaan barang, memastikan telah dipahaminya bentuk pelaporan dan pendokumentasian kegiatan pengadaan, serta menyepakati standar pelaksanaan kegiatan pengadaan yang harus ditindaklanjuti oleh pelaku program.
Tabel III.11. Kegiatan Workshop Konsultan Pengadaan Tahun 2011 No 1. Propinsi Aceh & Sumut Waktu Juli 2011 Tempat Medan Peserta NMC,PMC,DMC Materi Workshop Workshop dan Pelatihan Pengakhiran Program; pemahaman tugas, standard pengakhiran & tindak lanjut dalam pengakhiran tugas. Pelatihan Penguatan Kapasitas Pelaku Program P2DTK Kab.Nias Selatan & Kab.Nias; memberikan pemahaman proses pelaksanaan kegiatan pengadaan pada program P2DTK Review Proses Pengadaan Optimalisasi: • Review Panduan Pengadaan P2DTK & Perpres 54/2010 • Kesesuaian Mekanisme Pengadaan P2DTK, Kemudahan dan Kesulitan Penerapan Panduan • Pelaporan dan dokumentasi Pengadaan • Standard Pelaksanaan Kegiatan Pengadaan

2.

Sumut

Mei 2011

Kab.Nias Selatan

TK,UPKD, PMC,DMC

3.

Kalbar

Nov 2011

Pontianak

4.

Sulteng

Nov 2011 Nov 2011

Poso

5.

Sulteng

Palu

Pelaku Program: Kab.Sanggau, Kab.Bengkayang, Kab.Sambas Pelaku Program: Kab.Poso & Kab.Morowali Pelaku Program: Kab.Tojo Una-una & Kab.Banggai

c. Pendampingan Pendampingan yang dilakukan oleh konsultan pengadaan ialah pada tahap perencanaan, pelaksanaan pelelangan, dan pelaksanaan kontrak. Pada tahap perencanaan yang meliputi kegiatan kajian teknis, musyawarah perangkingan, musyawarah pendanaan, dan musyawarah persiapan, kegiatan pendampingan konsultan pengadaan ialah: (1) Memberi masukan pada TKT terhadap ketentuan kegiatan yang akan dilaksanakan dengan swakelola atau pihak III;
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 30

(2) Memberikan penjelasan dalam musyawarah perangkingan tentang ketentuan jenis kegiatan yang dapat diswakelolakan atau melalui pihak III; (3) Membantu tim desain dan RAB dalam menjelaskan alasan-alasan serta pertimbangan bentuk pengadaan; (4) Menjadi pelatih/nara sumber pada UPKD atau panitia lelang; (5) Memberikan saran terhadap pemaketan kegiatan; Pada tahap pelaksanaan lelang atau swakelola, kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh konsultan pengadaan ialah: (1) Mendampingi UPKD dalam menyusun persiapan-persiapan pelelangan; (2) Membantu panitia lelang memberikan penjelasan kepada pihak III; (3) Bersama-sama panitia lelang melakukan evaluasi terhadap penawaran pihak III (4) Memberikan pertimbangan, saran, dan solusi atas permasalahan yang ditemui dalam proses pelelangan; (5) Mendampingi UPKD dan panitia dalam penyusunan dokumen kontrak; (6) Membantu panitia swakelola dalam menyusun KAK dan RAB; (7) Mendampingi proses perbandingan harga dan evaluasi harga Pada tahap pelaksanaan kontrak, kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh konsultan pengadaan ialah: (1) Melakukan monitoring pelaksanaan kontrak pihak III; (2) Melakukan evaluasi dan review terhadap kontrak; (3) Memberikan masukan dan saran pada UPKD terhadap adanya perubahan kontrak; (4) Melakukan evaluasi terhadap permintaan amandemen kontrak; (5) Melakukan pengawasan terhadap kesesuaian pelaksanaan kontrak. Kegiatan pendampingan ini termasuk kegiatan pada program Optimalisasi di 7 kabupaten. Pada kegiatan optimalisasi, jumlah DPC lengkap sebanyak 7 orang, dan 2 orang PPC. Namun masa tugas DPC hanya sampai bulan Desember 2011. Sedangkan kegiatan pendampingan khusus pada awal bulan Maret 2011 sampai bulan Agustus 2011, ialah : (1) Melakukan review dokumen pengadaan subproyek pada program P2DTK, terutama siklus 3/2010 (2) Melakukan pendampingan perbaikan dokumen pengadaan (3) Membantu menyiapkan perbaikan dokumen (4) Melakukan monitoring perbaikan dokumen dan mendorong pelaku program untuk melengkapi/memperbaiki dokumen pengadaan. d. Hasil Kegiatan Hasil kegiatan dalam bahasan ini akan difokuskan pada kegiatan review dokumen pengadaan, dan pendampingan proses pengadaan dalam kegiatan optimalisasi. Kegiatan pada mobilisasi awal (April 2010-Juli
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 31

2010), tidak banyak teridentifikasi, namun pada intinya kegiatan yang dilakukan juga melakukan dua kegiatan yaitu review dan pendampingan pengadaan pada sebagian siklus 3. (1) Review Dokumen Pengadaan Dokumen yang berhasil diidentifikasi sebesar 2.015 dokumen pengadaan kabupaten,dan yang berhasil direview sebesar 1.899 dokumen (93,7%), dan menyisakan sebesar 6,3% dokumen yang belum direview. Dari dokumen pengadaan tersebut teridentifikasi sebanyak 56% berupa kegiatan swakelola, dan 44% dilakukan melalui pihak III. Provinsi yang belum seluruhnya melakukan review ialah Provinsi Aceh (Kab.Aceh Barat Daya), Provinsi Sumut (Kab.Nias), Provinsi Kalbar (Kab.Sambas), Provinsi Maluku (beberapa dokumen siklus 1,2), dan Provinsi Maluku Utara (Kab.Halbar, dan Halteng). Provinsi Aceh, Provinsi Malut, dan Provinsi NTT hanya mereview siklus 3, sedangkan yang sebagian siklus 1,2 dilakukan oleh Provinsi Maluku. Dokumen siklus 3 ialah dokumen yang mudah diperoleh karena kegiatan relatif masih baru dan masih tersimpan di UPKD maupun kantor DMC. Belum dilakukannya review sampai akhir penugasan DPC antara lain karena dokumen belum ditemukan, dokumen belum diperoleh dari UPKD, UPKD tidak terbuka untuk memberikan dokumen, dan tidak adanya personil DPC yang melakukan review. Hasil review dokumen pengadaan dapat diperoleh data bahwa Provinsi Kalteng mempunyai persentase dokumen lengkap terbanyak. Sedangkan Propoinsi Maluku Utara mempunyai,
Tabel III.12. Jumlah dokumen Hasil Review Dokumen Pengadaan (s.d Juli 2011) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Propinsi Aceh1 Sumut
2

Jumlah Dokumen 646 133 140 123 88 112 262 293 93 129 2015

Review Lengkap 642 116 140 123 68 112 262 238 59 129 1889 % 100% 87% 100% 100% 77% 100% 100% 81% 63% 100% 94% Lengkap 503 111 57 98 48 103 189 228 14 101 1667

Hasil Review % 78% 83% 41% 80% 55% 92% 72% 78% 15% 78% 72% Tidak Lengkap 139 5 83 25 20 9 73 10 45 28 431 % 22% 4% 59% 20% 23% 8% 28% 3% 48% 22% 22%

Bengkulu Lampung Kalbar Kalteng Sulteng Malut
5 3

Maluku NTT Jumlah

Keterangan: 1:.Aceh 16 kabupaten Banggai. 5:Kab Sula, Halut, Halsel

2: Kab. Nias Selatan 3: Kab.Touna,Poso, Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 32

Diagram III.06. Persentase Dokumen Yang Direview

100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10%
Belum Direview

0%

Tdk Lengkap Lengkap

Dari hasil review dokumen pengadaan dapat diidentifikasi hal-hal sebagai berikut: Dokumen pengadaan hilang; Dokumen pengadaan tercecer; Salah satu surat/dokumen hasil lelang tidak ada Terjadi perbedaan nama subproyek sehingga sulit diidentifikas; Terjadi pengalihan metode pengadaan tanpa adanya musyawarah khusus; f. Adanya pemecahan kegiatan untuk menghindari pelelangan; g. Tidak adanya SK Panitia Lelang dan/atau SK Panitia Swakelola; h. Dokumen desain dan RAB tidak ditandatangani oleh yang bekompeten; i. Perpanjangan waktu tidak dilengkapi amandemen kontrak j. Pakta integritas belum lengkap. Seluruh hasil review, baik lengkap atau tidak lengkap dibuat BA hasil review, yang kemudian dibuatkan BA kesepakatan perbaikan, dan BA hasil perbaikan. Dokumen ini disimpan kembali dalam arsip UPKD. Pengembangan kapasitas pelaku program dalam bidang pengadaan diperoleh hal-hal sebagai berikut: a. Penerapan panduan pengadaan P2DTK masih belum optimal. Pelaku di tingkat kabupaten lebih sering menggunakan Keppres 80 tahun 2003 dalam proses pengadaan. b. Pemahaman pelaku di kabupaten terhadap Panduan Pengadaan P2DTK atau Keppres 80 tahun 2003 masih perlu ditingkatkan. Hal ini mengakibatkan banyak tahapan dalam pengadaan tidak dilakukan.
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 33

a. b. c. d. e.

c. Panitia pelelangan lebih berhati-hati dalam melakukan proses pelelangan dan menerapkan panduan atau aturan yang ada. d. Kegiatan pengarsipan dokumen di dinas/UPKD belum baik. Beberapa dokumen tidak diketahui keberadaannya, sedangkan dokumen pengadaan yang ada masih terdapat lembar dokumen hilang atau tercecer. e. Keterlibatan pelaku program dalam proses review dokumen pengadaan kurang aktif. Sehingga hal-hal yang perlu diperbaiki belum dapat tersampaikan. f. Proses, dan administrasi kegiatan swakelola belum baik. Banyak proses pengadaan dalam kegiatan swakelola tidak dilakukan. Pengadaan bahan atau sewa alat sering tidak dilakukkan melalui pelelangan atau perbandingan harga, namun lebih sering dilakukan melalui pembelian langsung. (2) Pengadaan Dalam P2DTK Optimalisasi Proses pengadaan dalam kegiatan optimalisasi dimulai setelah procurement plan diterbitkan dan telah adanya kepastian turunnya DIPA. Hal ini yang menjadi dasar bagi UPKD, dan panitia lelang untuk mulai bekerja. Sebelum penerbitan procurement plan, maka dilakukan penyusunan desain dan RAB, musyawarah perangkingan,dan musyarawah pendanaan. Procurement plan atau rencana pengadaan memuat nama/ jenis subproyek, nilai rencana anggaran biaya, metode pengadaan, pelaksana kegiatan, dan rencana pelaksanaan. Sesuai data awal procurement plan maka jumlah sub proyek pada 7 kabupaten program Optimalisasi sebesar 108 sub proyek. Kegiatan ini terbagi atas bidang kesehatan, bidang pendidikan, dan bidang infrastruktur. Lebih dari 64,4% kegiatan dilakukan melalui pihak III yang berupa kegiatan pengadaan barang dan pekerjaan konstruksi. Sedangkan kegiatan swakelola berupa kegiatan pelatihan. Dengan diberlakukannya Perpres 54 tahun 2010, maka hampir seluruh kabupaten penerima program Optimalisasi menggunakan perpres tersebut. Namun masih terdapat dualisme dalam penerapannya. Di satu sisi menggunakan Perpres 54 tahun 2010, dan di satu sisi menggunakan Panduan Pengadaan P2DTK. Konsisten mengikuti Panduan Pengadaan P2DTK yang didasarkan oleh Keppres 80 tahun 2003, maka jika terjadi perbedaan dalam proses pengadaan akan mengikuti aturan dari pemberi pinjaman. Sedangkan dalam Perpres 54 tahun 2010 jika terjadi perbedaan maka dilakukan kesepakatan. Namun untuk mewadahi pelaksanaan pengadaan di kabupaten di 7 kabupaten optimalisasi, maka KPDT mengeluarkan surat No.B.144/Dep-V-PDT/VI/2011 tgl 22 Juni 2011 tentang Penegasan Proses Pengadaan Program P2DTK yang pada initinya menyatakan bahwa pedoman yang digunakan ialah pedoman pengadaan P2DTK dengan memperhatikan beberapa perubahan yang terdapat pada Perpres No.54 tahun 2010.
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 34

Tabel III.13. Jumlah Sub-Proyek Sesuai Procurement Plan Optimalisasi No I 1 2 3 II 1 2 3 4 Lokasi Provinsi Kalbar Kab.Sanggau Kab.Bengkayang Kab.Sambas Jumlah Provinsi Sulteng Kab.Poso Kab.Tojo Una-una Kab.Morowali Kab.Banggai Jumlah Jumlah Subproyek 7 6 9 22 14 17 21 2 54 Metode Pengadaan Pihak keIII 3 6 8 17 4 8 17 2 31 Swakelola 4 0 1 5 10 9 4 0 23

Dalam perkembangannya, realisasi kegiatan subproyek optimalisasi berubah menjadi 108 subproyek. Penambahan kegiatan ini berasal dari pemanfaatan dana sisa, dana temuan BPKP, dan dana sisa siklus sebelumnya.
Tabel III.14. Jumlah Realisasi Subproyek Optimalisasi No I Lokasi Jumlah Subproyek Metode Pengadaan Pihak ke-III 0 3 30 33 9 10 8 27 Swakelola 16 13 2 31 7 5 5 17

Provinsi Kalbar 1 Pendidikan 16 2 Kesehatan 16 3 Infrastruktur 32 Jumlah 64 II Provinsi Sulteng 1 Pendidikan 16 2 Kesehatan 15 3 Infrastruktur 13 Jumlah 44 Keterangan: Data terakhir s.d bulan Februari 2012.

(3) Permasalahan Yang Dihadapi Permasalahan yang sering dihadapi oleh konsultan pengadaan dalam review dokumen ialah: 1) 2) 3) Perbedaan jumlah subproyek dalam SPB dan dokumen pengadaan, sehingga menyulitkan dalam proses identifikasi awal dan review dokumen. Perbedaan pemahaman pengadaan dalam P2DTK sehingga perlu penjelasan mendalam, dan tidak mudah untuk menerima penjelasan baru sedangkan kegiatan telah berakhir. Adanya penggantian personil (TK, UPKD) dan tidak adanya serah terima dokumen menyulitkan dalam memperoleh dokumen pengadaan, maupun saat penandatanganan BA.
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 35

4) 5) 6) 7) 8)

Pelaku program tidak bersedia memberikan dokumen pengadaan. Pelaku program (UPKD, Satker) masih sulit dan tidak berani melakukan perbaikan dokumen karena dianggap bertentangan dengan peraturan yang ada. Pelaku program enggan melakukan perbaikan dokumen dengan anggapan program/proyek telah berakhir, dan sudah tidak ada DOK untuk melakukan perbaikan dokumen. Dokumen yang perlu diperbaiki dan BA acara belum mendapat tanggapan dan belum ditandatangani. Penyimpanan dan pengarsipan dokumen pengadaan kurang baik, sehingga kesulitan untuk memperoleh data dan harus mengumpulkan kembali dokumen tersebut.

Sedangkan permasalahan yang dihadapi oleh konsultan pengadaan dalam pendampingan optimalisasi ialah: Proses penyusunan procurement plan lambat yang disebabkan adanya perubahan desain dan RAB, sehingga kegiatan pengadaan/pelelangan tidak dapat dilaksanakan segera; 2) Adanya perbedaan jumlah subproyek antara data procurement plan/SPB dengan jumlah realisasi subproyek; 3) Pelaku program (Satker,UPKD, panitia lelang) belum mau melaksanakan pelelangan sebelum DIPA diterima langsung di kabupaten; 4) Hampir seluruh proses pengadaan menggunakan ketentuan dalam Perpres 54 tahun 2010, yang sedikit berbeda dengan Panduan Pengadaan P2DTK; 5) Akibat penggunaan Perpres 54/2010, maka jadwal pelelangan, dan tahapan kegiatan relatif lebih lama dibandingkan Panduan Pengadaan P2DTK. 6) Adanya pelelangan ulang yang mengakibatkan proses penandatanganan kontrak dan pelaksanaan subproyek terhambat. 7) Adanya metode pengadaan barang yang tidak dikenal dalam Panduan Pengadaan P2DTK, yaitu pengadaan langsung, dan pelelangan sederhana. 8) Adanya keterkaitan antar subproyek, sehingga bila salah satu subproyek belum selesai, maka subproyek yang lainnya tidak dapat diselesaikan/dikerjakan. 9) Panitia lelang belum independen, masih dipengaruhi oleh pihak lain (atasan, pihak III), sehingga keputusan panitia sangat lemah. 10) Kegiatan pengadaan dalam swakelola belum dipahami oleh pelaku program. 1) 3.5. Pengelolaan Management Informasi System (MIS) 1. Penerapan Aplikasi MIS KM. Nas Penerapan aplikasi MIS sudah berjalan dengan baik di 10 provinsi wilayah Program P2DTK. Progres data MIS SPADA sampai dengan periode bulan 15 Januari 2012 untuk data pencairan Aceh – Sumut
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 36

masih dilakukan rekonsiliasi dengan data pembanding SAI dan Reksus. Secara umum beberapa kendala yang dihadapi selama penerapan aplikasi MIS adalah sebagai berikut: • Pelaporan Aceh – Sumut sejak tahun 2007 sampai dengan Mei 2010 dibawah kendali langsung PIU P2DTK – KPDT. Aplikasi MIS diserahkan ke KM. Nas mulai awal September 2010 dengan kondisi data MIS tidak lengkap; • Pengendalian atas demobilisasi FK dan KM-Kab yang secara kontraktual addendum perusahaan tidak terkoordiNasikan dengan KM. Nas dan KM. Prov, sehingga pelaporan akhir FK dan KM-Kab termasuk didalamnya terkait data MIS menjadi kurang terpantau; dan • Belum adanya bentuk pemberlakuan tindakan kepada FK/KM. KAB/KM. Prof atas kinerja MIS sebagai wujud reward and punishment. Adapun gambaran hasil pemetaan terhadap progres penerapan aplikasi MIS SPADA per Provinsi sampai dengan periode bulan 15 Januari 2012 dapat digambarkan sebagai berikut: 3. Penetapan Data MIS Sebagai Basis Penyusunan Laporan Latar belakang diberlakukannya system pelaporan berbasis MIS adalah tidak lengkapnya data – data pada aplikasi MIS P2DTK yang di input, kurang disiplinnya pengimputan data dan pengiriman data dari daerah ke pusat, serta banyaknya data – data yang tidak tervalidasi dan tidak singkron pada aplikasi MIS, sedangkan dilain pihak, bahwa pelaporan harus bersipat cepat, lengkap, dan valid. Hal tersebut tidak dapat dilakukan tanpa menggunaka system database yang dijalankan oleh sebuah program aplikasi (Aplikasi MIS P2DTK versi 4.0). Untuk merubah beberapa hal seperti tersebut diaatas, maka di berlakukanlah mekanisme system pelaporan berbasis MIS yang mana didalamnya berisi bahwa semua laporan (termasuk laporan bulanan) yang berhubungan dengan 8 formulir MIS, baik di KM. Kab, di KM. Prov dan di KM. Nas harus bersumber dari Aplikasi MIS P2DTK versi 4.0. 4. Petunjuk Teknis Verifikasi Data Beberapa memorandum yang berhubungan dengan petunjuk teknis verifikasi data di atas bertujuan untuk meningkatkan kwalitas data MIS P2DTK (8 form MIS) dalam jaminan terverifiktasi, valid, lengkap, up to date, dan terkirim tepat waktu. Adapun ruang lingkup yang dilakukan mencakup pengumpulan data manual, proses pelaksanaan verifikasi dan validasi data, proses entry data dan proses pengiriman data. Hasil pelaksanaan dari beberapa petunjuk teknis di atas adalah didapatkannya hasil data yang cukup lengkap dan valid untuk semua form MIS (8 Form), serta ter entrynya semua kegiatan yang bersumber dari sisa dana lelang.
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 37

5. Pelatihan Operator MIS Pelatihan operator ditujukan dalam rangka meningkatkan pemahaman dan pengetahuan dari operator – operator komputer KM. Kab, terhadap tekhnik dan tatacara penggunaan Aplikasi MIS P2DTK. Hal tersebut terus dilakukan secara berjenjang oleh MIS KM. Nas dan MIS KM. Prov baik melalui pelatihan secara terpusat yang dilakukan di kantor KM. Prov, maupun pelatihan langsung melalui supervise MIS di daerah. Kurangnya pengetahuan operator atas program aplikasi MIS, serta tingginya pergantian dari operator di tingkat daerah menyebabkan perlunya secara intensif untuk dilakukan pelatihan. Hasil dari pelaksanaan pelatihan operator yag dilakukan secara terus menuerus maka data – data yang dikirim melalui aplikasi MIS relative lancer dan dapat terisi dengan lengkap pada aplikasi MIS P2DTK (8 Form) 6. Manual Entry Data MIS Pada bulan Desember 2008 telah diperoleh surat persetujuan (NOL) dari Bank Dunia untuk satu set manual formulir laporan untuk merekam kegiatan P2DTK / PNPM Mandiri DTK yang terdiri dari 8 buah formulir standar, antara lain : Formulir Pelaku, Formulir Realisasi Pelatihan, Rencana Implementasi dan Realisasi Penggunaan Dana BLM, Formulir Pencairan DOK dan BLM, Formulir Monitoring Penyelenggaraan Kegiatan dan Forum, Formulir MPHM, Formulir PSS, dan Formulir HCU ). Manual ini menjelaskan secara ringkas penggunaan 8 buah formulir standar tersebut. Pada manual ini diberikan penjelasan makna dari masing-masing kolom yang terdapat pada tiap formulir. Tujuan dari adanya manual ini adalah agar diperoleh kesepakatan dan kesamaan pandang dalam mengartikan dan mengisi kolom-kolom pada tiap formulir. Sumber data untuk mengisi formulir tersebut bisa berupa formulir lain sebagai pendahulunya, namun bisa juga harus diramu dari berbagai dokumen terpisah. Dari formulir tersebut kemudian dibuat program aplikasi untuk memudahkan penggunaannya dan merekam datanya sehingga terbentuk database yang dijalankan oleh Aplikasi MIS Versi 4.0. Aplikasi MIS Versi 4.0 di jalankan mulai bulan vebruari 2010 Selain Aplikasi MIS, untuk memudahkan dalam penggunaan aplikasi tersebut maka di buat juga Petunjuk penggunaan program aplikasi MIS. Aplikasi MIS yang di bangun, di lengkapi juga dengan fasilitas atau menu pengiriman data dari daerah (KM. Kab ke KM. Prov, dan dari KM. Prov ke KM. Nas) yang di beri nama menu Export Data Aplikasi MIS Versi 4.0. Sehingga pengiriman data dapat dilakukan secra otomatis dan cepat oleh seluruh pengguna aplikasi MIS tersebut.

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 38

3.6. Monitoring, Supervisi dan Evaluasi Monitoring pada prinsipnya adalah kegiatan pengumpulan data dan informasi secara berkelanjutan sesuai alur tahapan program untuk memastikan apakah suatu kegiatan sudah dilaksanakan sesuai rencana. Hasil monitoring sangat berguna sebagai input proses evaluasi kegiatan. Sementara itu evaluasi adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk melihat sejauh mana manfaat dan dampak dari program. Penjelasan di dalam PAD (Project Appraisal Document) menyebutkan bahwa unsur dari “Monitoring” antara lain: (a) Monitoring partisipatif dari masyarakat; (b) Supervisi rutin dan laporan bulanan; (c) Pelaksanaan MIS; (d) Monitoring independen oleh kelompok masyarakat dan atau LSM; (e) Studi kasus; dan (f) Pelaksanaan HCU. Unsur-unsur kegiatan di dalam “evaluasi” antara lain: (a) Impact study; (b) Studi khusus sektoral/bidang; (c) Asessment PSS; (d) Pemetaan konflik; (e) Asessment hasil training; dan (f) Audit keuangan. Sub bab ini akan memaparkan point-point tentang: Monitoring partisipatif dari masyarakat; Kegiatan supervisi rutin; Monitoring independen oleh kelompok masyarakat dan atau LSM; Studi kasus; Impact study; dan Studi khusus sektoral/bidang. Sementara Laporan bulanan; Pelaksanaan HCU; Pemetaan konflik; Audit Keuangan; Pelaksanaan MIS; Asessment PSS; dan Asessment hasil training dipaparkan dalam sub-bab tersendiri. 1. Monitoring partisipatif masyarakat. Monitoring partisipatif oleh masyarakat sesungguhnya terlaksana secara inherent di dalam prosedur pelaksanaan P2DTK mulai dari tahap perencanaan sampai pertanggungjawaban kegiatan sebuah sub-proyek melalui media Musyawarah Masyarakat. Setidaknya ada 6 jenis forum musyawarah masyarakat seperti: (a) Forum Musyawarah Perangkingan; (b) Forum Musyawarah Pendanaan; (c) Forum Musyawarah Pertanggungjawaban. Ketiga forum tersebut dilaksanakan di tingkat kecamatan. P2DTK wilayah Aceh-Sumut tidak memakai ketiga jenis forum tersebut karena pendekatan programnya hanya di tingkat kabupaten; (d) Forum Musyawarah Perangkingan; (e) Forum Musyawarah Pendanaan; dan (f)Forum Musyawarah Pertanggungjawaban, dimana ketiga forum yang disebut terakhir dilaksanakan pada tingkat kabupaten dan berlaku diseluruh wilayah program P2DTK. Peran dan fungsi masing-masing forum ini sudah dipaparkan di Bab 2 laporan ini. Berikut ini dipaparkan jumlah forum-forum partisipasi masyarakat tersebut, kuantitas pelaksanaannya serta kualitas forum dalam rangka memberikan monitoring terhadap proses pelaksanaan kegiatan.
Tabel III.15. Rekapitulasi Monitoring Masyarakat Melalui Forum-Forum
Provinsi Aceh Sumatra Utara Bengkulu Lampung Nusa Tenggara Timur Perempuan 5.472 576 5.184 4.896 1.728 Laki - Laki 12.768 1.344 12.096 11.424 23.654 Total 18.240 1.920 17.280 16.320 25.382

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 39

Provinsi Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Maluku Maluku Utara Total Sumber: KM Nas

Perempuan 9.745 6.398 9.341 9.216 5.760 58.316 26,20%

Laki - Laki 29.872 21.894 16.286 21.504 13.440 164.282 73,80%

Total 39.617 28.292 25.627 30.720 19.200 222.598 100,00

2. Kegiatan supervisi KM. Nas. Kegiatan supervisi atau kunjungan pemeriksaan kelapangan, dilaksanakan dengan tujuan menjaga kualitas pelaksanaan kegiatan dan sebagai langkah antisipatif terhadap upaya penyimpangan atau penyelewengan. Hasil pemeriksaan digunakan pula sebagai dasar untuk pembinaan dan pemberian dukungan teknis kepada pelaku P2DTK dan masyarakat. Point-point yang menjadi sasaran supervisi antara lain: (a) Proses pelaksanaan kegiatan, ketersediaan dan kualitas bahan/material; (b) Jumlah angkatan kerja yang menunjang kelancaran pekerjaan, administrasi dan rencana kerja TPK; (c) Tingkat partisipasi masyarakat, realisasi swadaya masyarakat; (d) Perkembangan pencairan dan penyaluran dana serta kesesuaiannya dengan perkembangan fisik sub-proyek; (e) Kesesuaian progress kegiatan dengan master plan kegiatan; dll.
Diagram III.07. Rekapitulasi Frekuensi Supervisi KM. Nas 2007 - 2012

1712

488 170 81
6 127 67

421

198

82

98

Prop Kab

Sumber: KM. Nas-Data Monev

Periode 2007 -2008 frekuensi supevisi KM.Nas bisa dikatakan belum banyak dilakukan karena beberapa sebab, seperti: (a) Tenaga ahli KM. Nas masih dalam fase awal penyesesuaian karena baru saja dilakukan mobilisasi; (b) KM. Nas terlibat dengan penyiapan materi dan kurikulum pelatihan untuk para pelaku P2DTK bersama PIU-KPDT; dan (c) Internal KM. Nas sendiri harus mempersiapkan mekanismeLaporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 40

mekanisme kerja antar tenaga ahli dan perencanaan-perencanaan yang terkait dengan langkah “pengendalian” program. Frekuensi kunjungan supervisi KM.Nas tersebut semakin meningkat mulai periode 2008 sejalan dengan kegiatan-kegiatan di lapangan yang semakin padat dan menyangkut berbagai aspek. Periode 2009 sampai 2011 merupakan periode frekuansi kunjungan supervisi yang paling padat, dan bahkan di tahun 2011 frekuensi supervisi mencapai 1.712 HOK (Hari Orang Kerja) 1 atau mencapai angka 100% dari kuota jatah hari supervisi. Tingginya tingkat supervisi tersebut disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: (a) Periode tersebut merupakan periode dimana jumlah sub-proyek sudah sangat banyak (mencapai sekitar 10.000 sub-proyek) yang tersebar di 10 provinsi; (b) Periode tersebut, khususnya antara 2010 – 2011 merupakan periode pengakhiran P2DTK di wilayah Aceh-Sumut dan wilayah Nasional, yang memerlukan monitoring dan supervisi secara intens; dan (c) Adanya kebijakan Optimalisasi untuk Provinsi Sulawesi Tengah dan Kalimantan Barat, sehingga memerlukan supervisi dan penyiapan lapangan secara maksimal. Ukuran mengenai sejauh mana kualitas seorang tenaga ahli melakukan supervisi di lapangan memang tidak diketahui. Namun kualitas supervisi bisa digambarkan melalui sejauh mana kegiatan supervisi direncanakan di internal KM. Nas dan sejauh mana pula hasil-hasil supervisi lapangan tersebut menjadi masukan kebijakan program di internal KM. Nas. Dari laporan bulanan KM. Nas sejak 2007 sampai Maret 2012 bisa digambarkan mengenai kegiatan supervisi tersebut, yaitu bahwa: (a) Perencanaan supervisi selalu dibahas di dalam pertemuan rutin KM. Nas dengan mempertimbangkan paling tidak beberapa hal seperti isu di lapangan yang sedang atau paling urgent, kemendesakan untuk diselesaikan, keseuaian jadual kegiatan dengan master plann, dll; (b) Plotting tenaga ahli disesuaikan dengan kebutuhan supervisi lapangan; dan (c) Hasil supervisi dilaporkan dalam bentuk laporan supervisi dan selalu menjadi bahan diskusi dalam menentukan kebiajakan-kebijakan srtategis pendampingan/pengendalian lapangan pada bulan atau tahapberikutnya. 3. Pelaksanaan Studi-Studi Studi-studi tematik di dalam P2DTK sesungguhnya merupakan bagian dari proses kegiatan evaluasi, yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kualitas program telah dilaksanakan, baik dari aspek teknis manajemen program maupun arah capaian-capaian program sebagaimana telah ditetapkan dalam Key Performance Indicator maupun dokumen-dokumen lain mengenai kinerja program.
1 HOK kunjungan supervisi dihitung berdasarkan perhitungan rata-rata jumlah tenaga ahli yang melakukan supervisi per bulan (yaitu 10 orang), jumlah kuota jatah hari supervisi per bulan (yaitu 15 hari dikalikan 10 orang tenaga ahli). Dalam satu tahun kerja diperkirakan jumlah kuota hari kunjungan supervisi adalah 1.800 HOK.

Frekuensi kunjungan supervisi KM. Nas sangat meningkat sejak 2008 seiring dengan semakin banyaknya subsub proyek yang harus disupervisi.

Studi-studi tematik di dalam program P2DTK belum banyak yang dilaksanakan. Sejauh ini hanya Output Study yang sudah erealisasi.

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 41

PAD dan Pedoman Teknis Pelaksanaan P2DTK telah mengamanatkan bahwa di dalam mekanisme monitoring-evaluasi P2DTK harus dilaksanakan beberapa studi seperti Studi Kasus; Impact Study, dan Studi khusus sektoral/bidang. Sejauh ini hanya Studi Output yang sudah dilaksanakan baik untuk wilayah P2DTK Aceh-Sumut maupun P2DTK Nasional. Hasil dari kedua studi tersebut dipergunakan untuk melengkapi dan menjawab KPI P2DTK, dan di dalam bagian lain laporan ini penjelasan tentang KPI tersebut juga dipaparkan. 3.7. Pengaduan dan Penyelesaian Masalah (HCU) Pengaduan dan Penyelesaian Masalaha (Handling Complaint Unit) adalah sebuah mekanisme instrumen program yang dikembangan P2DTK untuk menyelesaikan masalah dan sengketa yang berkaitan dengan indikasi penyimpangan dana P2DTK, baik dari pelaksana program di tingkat masyarakat sampai pelaksana di tingkat kabupaten, baik dari unsur masyarakat, Pihak ke-III, maupun unsur pemerintah. Tujuan praktis jangka pendek dikembangkannya HCU ini adalah agar semua masalah berkaitan dengan manajemen keuangan P2DTK segera selesai pada saat periode program berakhir, sehingga tidak meninggalkan sisa permasalahan yang berlarut-larut. Sementara tujuan ideal jangka panjang adalah memperkuat budaya akuntabilitas dan transparansi dalam pelaksanaan proyek-proyek di daerah. Dalam mengimplementasikan mekanisme HCU ini P2DTK telah menempatkan satu orang Konsultan HCU dan MPHM di KM. Nas, satu orang Konsultan HCU dan MPHM di setiap KM. Prov, serta didukung oleh seorang pengacara di setiap KM. Kab dan petugas pendamping di setiap kecamatan. Penanganan terhadap kasus-kasus yang muncul telah berakhir pada akhir Mei 2012 seiring dengan selesainya program P2DTK. Sampai dengan akhir Mei 2012 capaian secara umum adalah ditemukan total penyimpangan dana di P2DTK sebsar Rp. 11.698.534.830,-, dana yang sudah dikembalikan (selesai) Rp. 11.555.302.113,- (98,78%), sisa dana yang belum kembali ke negara Rp. 143.232.717,- (1,22%). Sebagai gambaran proses durasi penyelesaian sebuah kasus temuan, bisa dikatakan bahwa kasus yang satu sangat berbeda percepatan penyelesaiannya dengan kasus yang lain. Tindak lanjut yang dilakukan terkait hasil audit BPKP dan kasus pengaduan dapat di gambarkan sebagai berikut : • Terhadap hasil audit BPKP telah dilakukan workshop dengan tujuan adanya klarifikasi dan tindak lanjut penyelesaian antara satker kabupaten dengan perwakilan BPKP di antaranya workshop Bandung Agustus 2009, Surabaya Oktober 2010, Lombok Juni 2011 dan di Bandung Oktober 2011, namun untuk kabupaten Kepahiang belum ada tindak lanjut penyelesaian oleh satker, kabupaten Tojo Una-una terkendala dengan penyelesaian temuan
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 42

PPh 21 dimana satker sulit menemukan nara sumber karenah merekah sudah pinda lokasi tugas. • Hasil audit BPKP TA 2010 terkiat dengan temuan pajak PPN di kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh Timur, KPDT telah mengirim surat kepada Bupati agar temuan tersebut merupakan tanggung jawab daerah untuk menyelesaikan dengan pihak Perwakilan BPKP Banda Aceh seiring dengan telah dilakukan serah terimah aset P2DTK dari menteri PDT kepada bupati pada bulan Desember 2011. • Terhadap kasus penyimpangan dana (non audit BPKP) proses penyelesaian menggunakan pola dan mekanisme program yang termuat dalam manual penyelesaian masalah dengan mengedepankan transparansi dan keterlibatan masyarakat dalam penyelesaian. • Terhadap kasus penyimpangan dana yang dilakukan oleh pelaku program dan konsultan, empat kasus diantaranya dapat di selesaikan lewat jalur hukum (litigasi) sampai pada putusan pengadialan dimana 9 orang pelaku program dan 1 orang konsultan kabupaten harus menerima hukuman penjara dan mengembalikan uang ke kas negara dan rekening program.

3.7.1. HCU Wilayah Aceh-Sumut a. Status Pengaduan Masalah Status penyelesaian masalah di Aceh dan Sumatera Utara sampai akhir Mei 2012 seluruhnya 289 kasus (216 di Aceh dan 73 di Sumut) sudah selesai. Total penyimpangan dana yang terjadi di Aceh-Sumut sebesar Rp. 2.438.047.492,-. Sampai akhir Mei 2012 seluruhnya telah kembali ke kas negara sebesar Rp. 2.438.047.492,-.
Tabel III.16. Rekap Penyimpangan dan Pengembalian Dana Aceh dan Sumut
Jumlah Kasus Awal Nilai Peyimpangan Rp Jumlah Kasus Selesai Nilai Pengembalian Rp Sisa Kasus Belum Selesai Sisa Dana Belum Dikembalikan Rp

289

2.438.047.492 100 %

289

2.438.047.492 100%

0 --

0 0%

Sumber: Data HCU-per akhir Mei 2012 Tabel III.17. Rekap Pengaduan dan Penyelesaian Masalah di Aceh Klasifikasi Masalah Temuan /upervisi Kasus Implementasi Kategori 1 40 40 2 115 115 168 3 12 12 4 1 1 216 216 Jumlah Kasus Manajerial Laporan /Pengaduan

Uraian

No

1 2

Selesai Proses Jumlah

11 11 216

205 205

48 48

Sumber: Data HCU-KM. NAS, per 30 Mei 2012 Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 43

Status penyelesaian masalah di Aceh dan Sumut adalah bahwa sampai akhir Mei 2012 dari semua kasus di Aceh yang sebanyak 216 kasus, sudah terselesaikan 216 kasus (100%), terdiri atas 48 kasus manajerial dan 168 kasus implementasi. Sementara itu di Sumatera dari 73 temuan kasus juga sudah terselesaikan 100%, terdiri atas 58 kasus manajerial dan 15 kasus implementasi.

Tabel III.18. Rekap Pengaduan dan Penyelesaian Masalah di Sumut Klasifikasi Masalah Temuan /upervisi Kasus Implementasi Kategori 1 13 13 2 2 2 15 3 4 73 73 Jumlah Kasus Manajerial Laporan /Pengaduan Uraian

No

1 2

Selesai Proses Jumlah

73

73 73

58 58

Sumber: Data HCU-KM. NAS, per 30 Mei 2012 Keterangan: Kategori 1 : Penyimpangan prinsip dan prosedur; Kategori 2 : Penyalagunaan atau penyelewengan dana; Kategori 3 : Intervensi yang merugikan masyarakat maupun kepentingan program; Kategori 4 : Force majeure (suatu keadaan yang terjadi diluar kemampuan manusia seperti : bencana alam, kerusuhan masal

3.7. 2. HCU Nasional dan Seluruh Wilayah P2DTK Sampai dengan 30 Mei 2012 di wilayah P2DTK Nasional (8 propinsi non Aceh dan Sumut), dari 1.906 kasus yang ditemukan telah terselesaikan 1.900 kasus dan masih menyisakan 6 kasus yang masih dalam proses. Dari 6 kasus tersebut, sebanyak 1 kasus adalah kasus manajerial dan 5 kasus implementasi. Sementara dari 1.900 kasus yang sudah selesai dapat dirinci terdiri dari 1.185 kasus manajerial, 240 kasus kategori I implementasi, 445 kasus kategori II implementasi, 24 kasus kategori III implementasi, dan 12 kasus kategori IV implementasi.
Tabel III.19. Rekap Pengaduan dan Penyelesaian Masalah di P2DTK Nasional Klasifikasi Masalah Temuan /upervisi Kasus Implementasi Kategori 1 240 240 2 440 5 445 721 3 24 24 4 12 12 1.900 6 1.906 Jumlah Kasus Manajerial Laporan /Pengaduan Total penyimpangan dana P2DTK di wilayah Nasional ditemukan sebanyak Rp. 9.260.487.388,-. Sebesar 97,81%-nya telah kembali ke Kas Negara.

Uraian

No

1 2

Selesai Proses Jumlah

203 2 205

1.697 4 1.701 1.906

1.184 1 1.185

Sumber: Data HCU-KM. NAS, per 30 Mei 2012 Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 44

Sementara itu untuk kasus HCU dari seluruh wilayah P2DTK (10 provinsi) sampai akhir Mei 2012 ditemukan 2.195 kasus (pengaduan 12 kasus dan temuan 1.978 kasus). Darisudut klasifikasi kasus, maka bisa dipilah 1.290 kasus manajerial dan 905 kasus implementasi.di Ini berarti bahwa penyimpangan-penyimpangan dana yang ada cenderung terjadi dalam ranah kesalahan menejerial atau kesalahan pengelolaan oleh pelaku-pelaku P2DTK. Sementara kasus penyimpangan yang berkaitan dengan implementasi relatif lebih sedikit dibanding jenis kasus yang pertama.
Tabel III.20. Rekapitulasi Detail Pengaduan dan Masalah di Seluruh Wilayah P2DTK Klasifikasi Masalah Laporan/ Pengaduan Temuan / Supervisi No Kasus Implementasi Kategori 1 293 293 2 558 5 563 905 3 36 36 4 13 13 2.189 6 2.195 Jumlah Uraian Kasus Manajerial

1 2

Selesai Proses Jumlah

214 2 216 2.195

1.975 3 1.979

1.289 1 1.290

Sumber: Data HCU-KM. NAS, per 30 Mei 2012

Upaya penyelesaian terhadap kasus-kasus tersebut terus dilakukan baik melalui kunjungan supervisi ke lapangan, komunikasi, maupun melalui surat resmi atas nama PIU-KPDT. Dari 2.195 kasus yang ditemukan di seluruh wilayah P2DTK, sampai akhir Mei 2012 telah diselesaikan 2.189 kasus. Sampai akhir Mei masih menyisakan sebanyak 6 kasus terdiri atas 5 kasus implementasi dan 1 kasus manajerial. Progres penyelesaian masalah sampai akhir Mei 2012 masih fokus pada penyelesain masalah implementasi dan manajerial. Jika ditelaah secara keseluruhan dari semua wilayah P2DTK untuk dana BLM dan DOK mulai dari Siklus 1, 2 dan 3 TA 2009 s.d 2010 dan TA. 2011 baik hasil audit BPKP dan pengaduan, ditemukan besar penyimpangan dana mencapai Rp. 11.698.534.830,- atau 1,17% dari total penyaluran BLM dan DOK yang sebesar Rp. 1.003.911.278.993,-. Dari total besarnya penyimpangan dana tersebut, yang sudah dikembalikan sampai akhir Mei 2012 sebesar Rp. 11.555.302.113,- (98,78%) dari besarnya penyimpangan yang terjadi, sementara sampai posisi akhir Mei 2012 sisa dana yang belum dikembalikan Rp. 143.232.717,- (1,22%).
Tabel III.21. Presentase Penyelesaian Kasus Berdasarkan Audit BPKP dan Pengaduan, per 30 Mei 2012
No 1 Uraian Audit BPKP Nasional Presentase (%) Nilai Penyimpangan 5.425.290.074 100% Nilai Pengembalian 5.349.552.357 98,60% Sisa 75.737.717 1,40%

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 45

No 2 3 4

Uraian Audit BPKP Aceh, Sumut Presentase (%) Laporan pengaduan (HCU) Aceh Presentase (%) Laporan/Pengaduan (HCU) Nasional Presentase (%) Total BPKP + Pengaduan Presentase (%)

Nilai Penyimpangan 2.313.082.492 100% 124.965.000 100% 3.835.197.264 100% 11.698.534.830 100%

Nilai Pengembalian 2.313.082.492 100% 124.965.000 100% 3.767.702.264 98,24% 11.555.302.113 99,78%

Sisa 67.495.000 1,76% 143.232.717 1,22%

Sumber: Data HCU-KM Nas, per 30 Mei2012

KM Nas. tentu saja tidak bisa melakukan fasilitasi terus menerus terhadap semua kasus yang ada sampai pada penyelesaiannya. Terbatasnya kontrak kerja KM. Nas sebagai konsultan pendamping teknis tingkat Pusat untuk program P2DTK telah berakhir . Sementara itu, mengingat sudah dilakukan serah terima dan alih kelola kegiatan dari Menteri Negara PDT ke Bupati, maka semua masalah penyimpangan dana yang belum selesai, proses penyelesaian diserahkan dan akan dilakukan oleh kabupaten masing-masing. KM. Nas akan berperan memberikan dukungan penanganan.

3.8. Capaian Realisasi Sub-Proyek 3.8.1. Realisasi Sub-Proyek P2DTK Aceh-Sumut Sub bab ini ingin memaparkan secara ringkas tentang jumlah sub-proyek yang dilaksanakan di Aceh-Sumut dan gambaran kondisi tentang kualitas proyek-proyek yang sudah dilaksanakan tersebut berdasarkan hasil sertifikasi. Melalui pemparan tersebut diharapkan tergambar efektifitas dari proyek-proyek yang telah dilaksanakan oleh P2DTK. 1. Bidang Pendidikan a. Realisasi Sub Proyek Bidang Pendidikan Dari hasil kegiatan sub project pendidikan, terutama kegiatan non-fisik, yang dilaksanakan di propinsi Aceh dan Sumatera Utara ( Nias dan Nias Selatan ), total jumlah kegiatan yang teralisasi untuk propinsi Aceh sebanyak 441 jenis kegiatan, dan yang terbanyak adalah dilakukan di siklus 2 sebanyak 204 kegiatan. Dari Jumlah total kegiatan Pendidikan di Aceh, sekitar 59% adalah kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan (sebanyak 191 kegiatan ) sedangkan kegiatan yang berkaitan dengan akses pendidikan sebesar 37% dan yang berkaitan dengan manajemen pendidikan sebesar 4%. Total realisasi pengunaan dana BLM Kabupaten kegiatan pendidikansebesar Rp 49.849.003.205,Dari dana tersebut terserap paling besar pada kegiatan peningkatan
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 46 Sebagian besar P2DTK di Aceh fokus untuk mutu pendidikan (59%), menyerap 62% dana BLM untuk pendidikan yang disediakan. Sementara akses pendidikan menyerap 35% dana tersedia.

mutu pendidikan, yakni sebesar Rp 30.980.042.666,- (62%), untuk akses pendidikan terserap 35% dan manajemen pendidikan sebesar 3%.
Tabel III.22. Jumlah Penyelesaian Sub Proyek Pendidikan Berdasarkan SPB Kabupaten (Aceh-Sumut) No 1 2 Propinsi Aceh Sumut Total Siklus 1 75 5 80 Siklus 2 204 17 221 Siklus 3 (2009) ---Siklus 3 ( 2010 ) 198 21 219 Jumlah 477 43 520

Sumber: Data MIS - KM. NAS

Sementara itu kegiatan pendidikan di propinsi Sumatera Utara (Sumut) untuk Kabupaten Nias dan Nias Selatan berjumlah 43 kegiatan, dimana untuk akses pendidikan sebesar 58 % (26 kegiatan akses) dan sisanya adalah kegiatan mutu pendidikan 42% ( 17 kegiatan ). Dari total anggaran BLM Kabupaten sebesar Rp 5.101.457.515,- kegiatan Mutu pendidikan menyerap Rp 2.902.421.315 atau 57%, sedangkan 43% lainnya adalah untuk akses pendidikan sebesar Rp 2.101.457.515,b. Kualitas Sub Proyek Bidang Pendidikan Kualitas pelaksanaaan kegiatan Sub Project bidang pendidikan bila ditinjau dari pelaksanaan kegiatan dari siklus 1 sampai siklus 3, realisasinya sudah baik sesuai dengan harapan P2DTK. Sub proyek bidang pendidikan di Propinsi Aceh yang berkreteria baik sebanyak 396 (83,02%) dan yang berkriteria cukup 81 sub proyek (16,98%) dari total 477 sub proyek. Sementara di Kabupaten Nias dari total 43 sub proyek semuanya (100%) bekriteria baik.
Diagram III.08. Kualitas Penyelesaian Sub Proyek Pendidikan Berdasarkan Hasil Sertifikasi (Aceh-Sumut)
477 396

Sementara di Sumut (untuk Nias dan Nias Selatan), akses akan pendidikan lebih menjadi kegiatan utama, yakni 58% dari seluruh kegiatan pendidikan yang ada, dan menyerap 57% dana BLM bidang Pendidikan

81

43

43

Kualitas inftrastruktur bidang pendidikan ini dinilai berdasarkan standard “sertifikasi” pada proses pelaksanaan pembangunannya. Ratarata di Aceh 83% dinyatakan baik, dan di Sumut 100% baik

Total Sub Proyek Aceh

Aceh Baik (83.02%)

Aceh Cukup (16.98%)

Total Sub Proyek Sumut

Sumut Baik (100%)

Sumber: Data MIS - KM. Nas Keterangan: Kualitas pekerjaan ini diukur berdasarkan kreteria sertifikasi yang dilakukan pada proses dan pelaksanaan kegiatan.

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 47

Dengan demikian secara umum di Wilayah P2DTK Aceh-Sumut dapat dikatakan bahwa sebagian besar sub proyek yang telah dilaksanakan, dapat digolongkan dalam kriteria baik dari segi sertfikasi sub proyek. 2. Bidang Kesehatan a. Realisasi Sub Proyek Bidang Kesehatan Secara keseluruhan jumlah kegiatan sub projek bidang kesehatan di 17 Kabupaten di propinsi Aceh dan 2 kabupaten di propinsi Sumatra Utara dari seluruh Siklus 1, 2, 3 (2009) dan 3 (2010) berjumlah 469 kegiatan non fisik. Dari total kegiatan tersebut, sebanyak 441 kegiatan dilaksanakan di Provinsi Aceh dan 28 kegiatan dilaksanakan di Sumatera Utara. Adapun siklus yang paling banyak jumlah kegiatannya adalah pada Siklus 2.
Tabel III.23. Penyelesaian Sub-Proyek Berdasarkan SPB Kabupaten (Aceh-Sumut) Bidang Kesehatan No 1 2 Propinsi Aceh Sumut Total Siklus 1 92 5 97 Siklus 2 177 13 190 Siklus 3 (2009) Siklus 3 (2010) 172 10 182 441 28 469 Jumlah Sebagian besar kegiatan bidang kesehatan nonfisik di Aceh-Sumut terfokus untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan, yaitu sebesar 72,80% dari seluruh sub-proyek. Sebesar 95% sub-sub proyek tersebut diklasifikan “baik”.

Sumber: Data MIS - KM. NAS

Dari 469 kegiatan yang dilaksanakan di Aceh-Sumut, sebanyak 313 subproyek (72,80%) adalah sub-proyek yang berkaitan dengan peningkatan mutu penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Kecenderungan yang sama juga terjadi di kabupaten lain di luar Aceh-Sumut. Misalnya saja kegiatan Penyiapan Desa Siaga, menjadi salah satu kegiatan terbesar di hampir semua kabupaten P2DTK. Dari sudut pengalokasian anggaran BLM kabupaten untuk bidang kesehatan, sebesar 30% dana yang ada diperuntukkan bagi kegiatan non-fisik tentang peningkatan mutu dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Kegiatan bidang kesehatan di Aceh yang menyangkut peningkatan mutu pelayanan kesehatan mencapai angka realisasi Rp. 26.699.436.827 atau sebesar 70% dari alokasi yang disediakan Rp. 38.285.446.946,Sementara untuk pelayanan dan akses hanya 23% dan 17%. Berbeda dengan Sumatera Utara, sebagian besar dana terserap untuk peningkatakan pelayanan kesehatan mencapai dana realisasi Rp. 3.301.155.296, atau 53% dari dana alokasi kesehatan Rp. 6.196.941.170,-.

b. Kualitas Sub Proyek Bidang Kesehatan Sub-sub proyek bidang kesehatan yang dilaksanakan di Aceh dan Sumatera Utara, berdasarkan pandauan sertifikasi memiliki kualitas lebih sebagian besar dinilai baik. Sub proyek kesehatan non fisik yang
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 48

dilaksanakan di Aceh sebesar 85,71% dikategorikan baik. Sebesar 14.29% sub-proyek dinilai cukup. Sementara di Sumatera Utara 100% dinilai berkualitas baik.
Diagram III.09. Kualitas Penyelesaian Sub Proyek Bidang Kesehatan Berdasarkan Hasil Sertifikasi Kabupaten (Aceh-Sumut)
441 378

63

28

28

Total Sub Proyek Aceh

Aceh Baik (85.71%)

Aceh Cukup (14.29%)

Total Sub Proyek Sumut

Sumut Baik (100%)

Sumber: KM. Nas-TA Kesehatan

3. Bidang Infrastruktur a. Realisasi Sub Proyek Bidang Infrastruktur Sub proyek bidang infrastruktur yang dimaksud di sini adalah sub-sub proyek fisik baik yang dilaksanakan untuk bidang pendidikan, kesehatan maupun bidang infrastruktur sendiri. Total sub-proyek fisik yang terlaksana di Aceh-Sumut sebanyak 781 sub-proyek
Tabel III.24. Penyelesaian Kegiatan Infrastruktur Kabupaten (Aceh-Sumut) Bidang Infrastruktur No 1 2 Propinsi Aceh Sumut Siklus 1 139 0 Siklus 2 343 30 373 Siklus 3 (2009) 0 0 0 Siklus 3 (2010) 250 19 269 Jumlah 732 49 781

Total 139 Sumber: Data MIS – KM. Nas

Sebanyak 732 sub-proyek dilaksanakan di Propinsi Aceh dan sebanyak 49 sub-proyek dilaksanakan di Sumatera Utara. b. Kualitas Sub Proyek Bidang Infrastruktur Dari 732 proyek infrastruktur yang dilaksanakan di Aceh, bisa dikatakan bahwa sebesar 76,50% atau sebanyak 560 proyek dikategorikan “baik”. Sebanyak 171 proyek atau sebesar 23,36% dikategorikan “cukup baik”, dan hanya 1 proyek yang dikategorikan kurang. Sementara itu di Sumatera Utara (Kabupaten Nias dan Nias Selatan), dari 49 proyek
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 49

infrastruktur yang dilaksanakan semuanya atau sebesar 100% dikategorikan sebagai “baik”.
Diagram III.10. Kualitas Penyelesaian Sub Proyek Bidang Infrastruktur Berdasarkan Hasil Sertifikasi Kabupaten (Aceh-Sumut)
732 560

171 1 49 49

Total Sub Proyek Aceh

Aceh Baik (76.50%)

Aceh Cukup (23.36%)

Aceh Kurang (0.14%)

Total Sub Proyek Sumut

Sumut Baik (100%)

Sumber: Data MIS – KM. Nas

Rekapitulasi dari tabel-tabel capaian sub-sub proyek di atas maka menunjukkan bahwa jumlah total sub-proyek yang dilaksanakan P2DTK di Aceh dan Sumut adalah sebanyak 1.770 sub proyek, dimana sebanyak 1.454 sub-proyek atau sebesar 82,15% dikategorikan sebagai “baik”. Sebanyak 315 sub proyek atau sebesar 17,80% dikategorikan “cukup”, dan hanya satu sub proyek yang dinilai atau dikategorikan sebagai “kurang”.
Diagram III.11. Rekapitulasi Kualitas Seluruh Sub Proyek P2DTK Aceh-Sumut TA. 2007 - 2010
Total sub-proyek di Aceh-Sumut= 1.770 sub-proyek

Sub Proyek "Baik"= 1.454 (82.15%) Sub Proyek "Cukup"= 315 (17.80%) Sub Proyek "Kurang"= 1 (0.06%)

Sumber: Data MIS-KM.Nas

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 50

3.8.2. Capaian Realisasi Sub-Proyek P2DTK Nasional 1. Bidang Pendidikan a. Realisasi Sub Proyek Bidang Pendidikan Jumlah total sub-proyek pendidikan non-fisik di wilayah P2DTK Nasional adalah 2.091 sub-proyek yang tersebar di 8 propinsi. Siklus 1 dan Siklus 2 merupakan Siklus dimana kegiatan sub-proyek tersebut paling banyak dilakukan yakni sebanyak 606 dan 607 sub proyek. Dari sebaran sub-sub proyek tersebut di daerah-daerah, maka Propinsi Maluku dan Sulawesi Tengah memiliki sub-proyek jumlah yang jauh lebih banyak dari 6 propinsi yang lain.
Tabel III.25. Rekapitulasi Sub-Proyek Non-Fisik Bidang Pendidikan P2DTK Nasional No 1 2 3 4 5 6 7 8 Propinsi Siklus 1 (2007) 48 33 57 47 122 58 185 56 606 Siklus 2 (2008) 37 39 70 39 113 81 181 77 637 Siklus 3 (2009) 21 17 25 23 68 27 157 41 379 Siklus 3 (2010) 13 22 38 19 114 60 140 63 469 Jumlah 119 111 190 128 417 226 663 237 2,091

Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Maluku Maluku Utara Sulawesi Tengah NTT Total Sumber: KM. Nas – MIS

b. Kualitas Sub Proyek Bidang Pendidikan Dari sejumlah 2.091 sub proyek non-fisik bidang pendidikan yang sudah dilaksanakan tersebut, menurut penilaian sertifikasi pada saat pelaksanaan sub-proyek maka diperoleh hasil bahwa kurang dari 3% sub-sub proyek terasebut dikategorikan ”cukup” (2,39%) dan ”kurang” (0,05%). Sebagian besar sub-proyek (97,56%) dikategorikan ”baik”.
Diagram III.12. Rekapitulasi Kualitas Sub-Proyek Bidang Pendidikan P2DTK Nasional
2,091 2,040

50

1

Total subproyek non fisik

Kategori "Baik" (97,56%)

Kategori "Cukup" (2,39%)

Kategori "Kurang" (0,05%)

Sumber: KM. Nas - MIS

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 51

Propinsi-propinsi seperti Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku memiliki jumlah sub-proyek yang berkategori baik cukup tinggi dibanding 5 propinsi yang lain, yaitu berturut-turut 178 sub-proyek, 399 sub-proyek, dan Sulawesi Tengah 690 sub-proyek. Data ditail sebaran penilaian sertifikasi per daerah tersaji di Lampiran 34 Tabel 47. Rekapitulasi Kualitas Sub Proyek Bidang Pendidikan P2DTK Nasional. 2. Bidang Kesehatan a. Realisasi Sub Proyek Bidang Kesehatan (Non-Fisik) Total sub-proyek non-fisik bidang Kesehatan yang dilaksanakan di wilayah P2DTK Nasional (tidak termasuk Program Optimalisasi) adalah sebanyak 1.577 sub proyek. Dari sebaran sub-proyek tersebut dapat dilihat bahwa Sulawesi Tengah memiliki sub-proyek yang paling banyak, diikuti oleh Propinsi Maluku dan Nusa Tenggara Timur.
Tabel III.26. Rekapitulasi Sub Proyek Non-Fisik Bidang Kesehatan P2DTK Nasional Berdasarkan SPB Kabupaten dan SPC Kecamatan Siklus 1 (2007) 37 17 24 42 163 87 35 71 476 Siklus 2 (2008) 41 33 35 37 125 75 61 74 481 Siklus 3 (2009) 17 12 22 32 153 61 23 38 358 Siklus 3 (2010) 24 11 11 31 57 51 42 35 262

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Propinsi Lampung Bengkulu Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Sulawesi Tengah Maluku Maluku Utara Nusa Tenggara Timur

Jumlah 119 73 92 142 498 274 161 218 1,577

Total Sumber: KM Nas-MIS

b. Kualitas Sub Proyek Bidang Kesehatan (Non-Fisik) Berdasarkan proses sertifikasi terhadap sub-proyek pada saat pelaksanaan maka diperoleh gambaran bahwa sebagian besar subproyek bidang kesehatan tersebut dikategorikan ”baik”, yaitu mencapai 95,62% dari total 1.577 sub proyek. Sub proyek yang dikategorikan ”cukupbaik” sebesar 4,31% atau sebanyak1.508 sub proyek. Hanya satu sub-proyek yang dikategorikan sebagai ”kurang” memuaskan.

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 52

Diagram III.13. Rekapitulasi Kualitas Sub-Proyek Non-Fisik Bidang Kesehatan P2DTK Nasional Berdasarkan SPB Kabupaten dan SPC Kecamatan
1.577 1.508

68

1

Total sub proyek

Kategori "Baik" (95,62%)

Kategori "Cukup" (4,31%)

Kategori "Kurang" (0,06%)

Sumber: KM.Nas-MIS dan TA Bidang

3. Bidang Fisik dan Infrastruktur a. Realisasi Sub-Proyek Infrastruktur Jumlah sub-proyek yang dipaparkan di dalam sub-bab ini tidak hanya sub-proyek fisik di bidang infrstruktur, namun juga digabung dengan semua sub-sub proyek fisik dari bidang pendidikan dan kesehatan. Subsub proyek di wilayah P2DTK Nasional (8 kabupaten) telah terrealisasi sebanyak 3.970 sub proyek dimana sub-sub proyek fisik bidang infrastruktur mendominasi keinginan dan kebutuhan masyarakat. Siklus dimana kegiatan sub-proyek paling banyak terjadi di Sikulus 1 (2007) dan Siklus 3 (2010), masing-masing sebanyak 1.260 dan 1.009 sub proyek infrastruktur. Propinsi Maluku dan Sulawesi Tengah memiliki sub proyek terbanyak dibanding yang lain, yaitu masing-masing sebesar 623 dan 986 sub proyek infrastruktur.
Tabel III.27. Sebaran Realisasi Sub-Proyek Fisik Per Bidang P2DTK Nasional TA. 2007-2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Provinsi Bengkulu Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Lampung Maluku Maluku Utara Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tengah Siklus 1 144 102 98 158 171 143 114 330 Bidang Infrastruktur Siklus 3 Siklus 2 (2009) 128 103 122 131 176 110 123 298 1.191 56 24 45 40 92 69 54 130 510 Siklus 3 (2010) 80 103 77 121 184 131 85 228 1.009 Jumlah 408 332 342 450 623 453 376 986 3.970

1.260 Total Sumber: Data MIS-Data TA Bidang

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 53

b. Kualitas Sub-Proyek Infrastrukrut
Jumlah sub proyek infrastruktur baik daribidang pendidikan, kesehatan, maupun infrastruktur sendiri di P2DTK Nasional yang sebanyak 3.970 , sebesar 85,21%-nya atau sebanyak 3.385 sub proyek dikategorikan sebagai ”baik”, sebesar 14,71% atau sebanyak 548 dikategorikan sebagai ”cukup”, dan hanya 1 (satu) sub-proyek saja yang dikategorikan ”kurang”.
Diagram III.14. Rekapitulasi Kualitas Sub-Proyek Infrastruktur P2DTK Nasional TA. 2007-2010
3.970 3,385

584

1

Total Sub Proyek Nasional

Kategori "Baik" (85,21%)

Kategori "Cukup" (14,71%)

Kategori "Kurang" (0,03%)

Sumber: KM. Nas-MIS dan TA Bidang

4. Bidang Kepemudaan Sub proyek yang berkaitan dengan bidang kepemudaan di danai oleh BLM Kecamatan oleh karena itu kegiatan tersebut tidak ada untuk wilayah Aceh-Sumut. Total keseluruhan sub proyek pemudan adalah sebanyak 905 sub proyek yang tersebar di 8 propinsi wilayah Program P2DTK Nasional, seperti tertera di dalam tabel dibawah ini.
Tabel III.28. Sebaran Realisasi Sub Proyek Pemuda P2DTK TA. 2007 - 2010 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8 Bidang Pemuda Provinsi Bengkulu Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Lampung Maluku Maluku Utara Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tengah Total Siklus 1 27 55 24 28 40 10 41 42 267 Siklus 2 45 44 20 25 40 24 28 47 273 Siklus 3 (2009) 16 37 16 9 29 14 26 18 165 Siklus 3 (2010) 19 33 17 23 29 17 23 39 200 Jumlah 107 169 77 85 138 65 118 146 905

Sumber: KM. Nas-MIS Dari sudut kualitas sub proyek, bidang pemuda di dalam program P2DTK dapat digambarkan bahwa dari total keseluruhan sub proyek yang berjumlah 905 sub proyek, sebanyak 799 sub proyek (88,30%)
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 54

dikategorikan sebagai sub proyek yang berkualitas ”baik”. Sebanyak 105 sub proyek atau sebesar 11,60% dari total jumlah sub proyek, dikategorikan sebagai sub proyek berkualitas ”cukup”. Hanya terdapat 1 (satu) sub proyek bidang pemuda yang dinilai sebagai sub proyek yang kualitasnya ”kurang” baik.
Diagram III.15. Kualitas Sub Proyek Pemuda P2DTK TA. 2007 - 2010
905

799

105 1

Total sub proyek Pemuda

Baik (88,3%)

Cukup (11,6%)

Kurang (0,1%)

Sumber: KM. Nas-MIS

3.8.3. Capaian Realisasi Sub-Proyek P2DTK Optimalisasi P2DTK Program Optimalisasi adalah program tambahan (top-up) yang dikembangkan pada masa akhir program P2DTK Desember 2011, dengan latar belakang pemikiran yakni untuk memberikan semacam reward kepada dua propinsi yang kinerjanya baik pada masa pelaksanaan P2DTK TA. 2007-2011, yaitu Propinsi Kalimantan (3 kabupaten) Barat dan Sulawesi Tengah (sebanyak 4 kabupaten) 2. Program yang dikembangkan dengan model pemaketan subproyek, dimana satu paket sebesar Rp. 2.000.000.000,- ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan performa hasil yang telah diperoleh selama pelaksanaan P2DTK. Berikut ini dipaparkan capaian-capaian sub proyek diwilalayah Program P2DTK Optimalisasi tersebut.
Tabel III.29. Jenis, Jumlah dan Kualitas Paket Sub Proyek P2DTK Program Optimalisasi TA. 2011 Jumlah dan Kualitas Bidang Kegiatan No 1 2 3 4 5 6 7 Kabupaten Sambas Bengkayang Sanggau Banggai Morowali Poso Tojo Una-Una Total Sumber: KM. Nas-MIS Di Kalimantan Barat terdiri atas Kabupaten Sambas, Sanggau, dan Bengkayang. Di Sulawesi Tengah terdiri atas Kabupaten Poso, Banggai, Toju Una Una dan Morowali. Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 55
2

Infrastruktur 6 4 3 2 17 4 9 45 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 4 10 0 4 6 6 32

Pendidikan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 2 10 1 7 4 4 31

Kesehatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Jumlah 11 10 23 3 28 14 19 108

Baik Cukup Kurang Baik Cukup Kurang Baik Cukup Kurang

Jumlah keseluruhan sub proyek P2DTK Optimalisasi di 7 kabupaten di Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah sebesar 108 sub proyek, dengan perincian 45 sub proyek infrastruktur, 32 sub proyek pendidikan, dan 31 sub proyek bidang kesehatan. Keseluruhan sub proyek tersebut setelah memlalui proses sertifikasi proyek dinyatakan sebagai sub proyek berkualitas ”baik”. 3.9. Pengakhiran Program: ”BA Alih Kelola dan Penyerahan Aset” Pengakhiran proyek atau pengakhiran sub-proyek merupakan tahap yang sangat penting di dalam program P2DTK. Selain secara formal sebagai tahap pertanggungjawaban atas selesainya seluruh proses pelaksanaan proyek maupun sub-proyek, tahap pengakhiran proyek dipandang penting sebagai upaya untuk menumbuhkan rasa “kepemilikan program” oleh daerah (sustainabilitas) serta memunculkan atmosfir akuntabilitas dan transparansi bagi para pelaku pembangunan di daerah. Oleh karena itu P2DTK memiliki dua tahap pokok dalam rangka pengakhiran proyek maupun sub-proyek, yaitu tahap pengakhiran proyek dan tahap Berita Acara Alih Kelola kepada pemerintah daerah yang dalam hal ini oleh Bupati. 1. Langkah Pengakhiran Proyek Pengakhiran proyek (sub-proyek) di P2DTK Mengikuti Time Line pengakhiran yang telah disepakati berakhir secara keseluruhan pada Bulan Desember 2011 (untuk Provinsi Aceh, Provinsi Sumatera Utara dan Nasional non Optimalisasi), dan Bulan April 2012 untuk wilayah Optimalisasi Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Sulawesi Tengah). Dalam rangka pengakhiran tersebut para pelaku di daerah seperti Laporan TPK Kecamatan, TPK Kabupaten, UPK Kecamatan, UPKD, Satker dan Bupati, harus mempersiapkan Laporan Dokumen Sub-Proyek untuk tingkat kecamatan dan kabupaten sebagai kelengkapan pada acara Alih Kelola proyek. Semua langkah dan petunjuk pengakhiran proyek ini sudah ditetapkan di dalam Panduan Serah Terima dan Alih Kelola Pelaksanaan Kegiatan Program P2DTK. a. Mekanisme Serah Terima Hasil Pelaksanaan Kegiatan Program P2DTK di Tingkat Kecamatan :  Melaksanakan Musyawarah pertanggungjawaban dan serah terima TPK Antar Desa/Desa/Pemuda. Dalam pelaksanaan kegiatan musyawarah pertanggungjawaban ini TPK Antar Desa/Desa/Pemuda, berkewajiban membuat Laporan Akhir Kegiatan yang disesuaikan dengan standar Penyelesaian Kegiatan Sub Proyek Program P2DTK kepada UPK Kecamatan. Dengan kelengkapan dokumen : (a) SP3K; (b) LP2K; (c) RKdB; (d) Laporan Sertifikasi; (e) Berita Acara Revisi (bila ada); (f) Gambar Purnalaksana; dan (g) Foto 0%, 50% dan 100%. Sedangkan lampiran laporan akhir kegiatannya :
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 56 Dari 51 kabupaten sasaran program P2DTK, sampai akhir Mei 2012 semuabupati telah menyerahkan Laporan Akhir Bupati. Sebanyak 50 kabupaten telah melaksanakan dan menyerahkan dokumen Berita Acara Alih Kelola.

 Dokumen lap. Keuangan (Buku Kas/Bank/ Umum/Arus Kas/Nota Kwitansi dll).  SK Tim Pemelihara (Camat/Kades/Kepsek dll). i. Melaksanakan Musyawarah pertanggungjawaban dan serah terima UPK Kecamatan, dalam pelaksanaan kegiatan musyawarah pertanggungjawaban ini UPK Kecamatan berkewajiban membuat Laporan Pelaksanaan Kegiatan kepada Pejabat Pembuat Komitmen Kecamatan (PPKom Kecamatan). Dengan kelengkapan dokumen : a) Ringkasan Pelaksanaan (Resume) (2 s/d 3 halaman) :  Gambaran Umum tentang kondisi sebelum pelaksanaan, kependudukan, kondisi kemiskinan;  Hasil pelaksanaan, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan rencana pemeliharaan  Masalah yang belum tertangani b) Daftar hasil kegiatan c) Visualisasi d) Realisasi DOK dan A/O:  Dokumen LPD Rencana Anggaran Biaya  Realisasi Anggaran Biaya e) Laporan keuangan ii. Pejabat Pembuat Komitmen Kecamatan (PPKom Kec). Melaporkan hasil kegiatan P2DTK Kepada Satker Kabupaten dengan lampiran, yaitu: (a) BA. Serah Terima UPK Kec. Dan Satker Kecamatan; (b) BA. Serah Terima Satker Kec. Ke Satker Kabupaten; dan (c) Laporan Pelaksanaan Kegiatan UPK Kecamatan. iii. Satker P2DTK Kabupaten melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan Program P2DTK Kepada Bupati :  Menandatangani BA serah terima dokumen hasil pelaksanaan Program P2DTK dari masing-masing UPK dan UPKD sesuai dengan dokumen SPPB .  Menyusun laporan pelaksanaan DIPA TP kepada Bupati berdasarkan laporan pertanggungjawaban dan serah terima yang sudah dilaksanakan.  Membuat draft laporan Bupati kepada Kementerian PDT. iv. Bupati Melaporkan Seluruh Rangkaian Hasil Kegiatan Program P2DTK Kepada Menteri PDT, dalam bentuk pengantar pengiriman laporan tersebut sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan DIPA TP, dan memberikan tembusan kepada Gubernur dan Satker P2DTK Pusat.

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 57

b. Mekanisme Serah Terima Hasil Pelaksanaan Kegiatan Program P2DTK di Tingkat Kabupaten : i. Melaksanakan Musyawarah pertanggungjawaban dan serah terima UPKD, dalam pelaksanaan kegiatan musyawarah pertanggungjawaban ini UPKD berkewajiban membuat Laporan Akhir Kegiatan yang disesuaikan dengan standar Penyelesaian Kegiatan Sub Proyek Program P2DTK kepada TPK Kabupaten. Dengan kelengkapan dokumen : a) Laporan Ringkasan Pelaksanaan :  Gambaran Umum tentang kondisi sebelum pelaksanaan, kependudukan, kondisi kemiskinan, pemanfaat, tenaga kerja.  Hasil pelaksanaan, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan rencana pemeliharaan  Masalah yang belum tertangani b) c) d) e) Daftar hasil kegiatan. Daftar Visualisasi Realisasi A/O UPKD Laporan Keuangan (FM)

Sedangkan lampiran laporan akhir kegiatannya yaitu: (a) LP2K; (b) SP3K; (c) RKdB; (d) Laporan Sertifikasi; (e) Berita Acara Revisi (bila ada); (f) Gambar Purnalaksana; (g) Foto 0%, 50% dan 100%; (h) Dokumen laporan keuangan; dan (i) SK Tim Pemelihara ii. Melaksanakan Musyawarah pertanggungjawaban dan serah terima TPK Kabupaten, dalam pelaksanaan kegiatan musyawarah pertanggungjawaban ini TPK berkewajiban membuat Laporan Pelaksanaan Kegiatan TPK Kabupaten kepada PPKom Kabupaten dan Satker Kabupaten yang berisikan : a) Ringkasan Pelaksanaan (Resume) :  Gambaran Umum tentang kondisi sebelum pelaksanaan, kependudukan, kondisi kemiskinan;  Hasil pelaksanaan, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan rencana pemeliharaan  Masalah yang belum tertangani b) Daftar hasil kegiatan 3 bidang (Infrastruktur, Kesehatan dan Pendidikan) c) Visualisasi 3 bidang (Infrastruktur, Kesehatan dan Pendidikan) d) Realisasi DOK & A/O TPK Kab. e) Rencana Anggaran Biaya f) Realisasi Anggaran Biaya g) Dokumen LPD (Laporan Penggunaan Dana) h) Laporan Keuangan (FM)
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 58

iii. Satker P2DTK Kabupaten melaporkan hasil kegiatan P2DTK Kepada Bupati : a) Menandatangani BA serah terima dokumen hasil pelaksanaan Program P2DTK dari masing-masing UPK dan UPKD sesuai dengan dokumen SPPB . b) Menyusun laporan pelaksanaan DIPA TP kepada Bupati berdasarkan laporan pertanggungjawaban dan serah terima yang sudah dilaksanakan. c) Membuat draft laporan Bupati kepada Kementerian PDT. iv. Bupati Melaporkan Seluruh Rangkaian Hasil Kegiatan Program P2DTK Kepada Menteri PDT, dalam bentuk pengantar pengiriman laporan tersebut sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan DIPA TP, dan memberikan tembusan kepada Gubernur dan Satker P2DTK Pusat. v. Berita Acara Verifikasi Laporan Bupati dalam pelaksanaan kegiatan Program P2DTK . Tim KM. Nas bersama PIU-KPDT telah melakukan verifikasi terhadap semua (51 kabupaten) Berita Acara Laporan Bupati Pelaksanaan P2DTK tersebut. Semua hasil verifikasi tersebut sudah dikirim ke kabupaten untuk mendapatkan jawaban dan klarifikasi atas hasil-hasil verifikasi. Resume terhadap hasil verifikasi tersebut adalah sebagai berikut: Sampai akhir April 2012 seluruh kabupaten sudah mengirim ulang jawaban atas hasil verifikasi BA Laporan P2DTK Bupati.

2. Tahap Alih Kelola Dari 51 Berita Acara (BA) Alih Kelola kabupaten, telah terkumpul dan diterima kembali oleh KM. Nas 50 BA Alih Kelola. Hanya Kabupaten Nias yang belum menyerahkan dokumen ini.

3.10. Pelaporan Pelaporan merupakan proses penyampaian data dan/atau informasi mengenai perkembangan atau kemajuan setiap tahapan dari pelaksanaan program, kendala dan atau permasalahan yang terjadi selama pelaksanaan program, penerapan dan pencapaian dari sasaran atau tujuan P2DTK. Mengkomiunikasikan pelaporan kepada para pelaku P2DTK di tingkat Pusat merupakan salah satu tugas yang diberikan kepada KM. Nas dan jajaran fungsional program seperti KM. Prov, KM. Kab, FK, LKPSS, MPHM, dll. Pedoman tentang penulisan isi laporan tersebut merujuk kepada Petunjuk Teknis Pelaksanaan P2DTK Umum (Cetakan Pertama, November 2007) yang menjelaskan bahwa materi laporan minimal harus memperlihatkan beberapa hal
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 59

penting berikut: (1) Kegiatan yang diselesaikan pada bulan terakhir dan rencana kegiatan pada bulan selanjutnya; (2) Status kegiatan dalam siklus program menurut bidang kegiatan program; (3) Uraian kegiatan menurut bidang kegiatan program; (4) Informasi keuangan; (5) Tingkat partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan (diuraikan menurut kelompok gender, pemuda dsb); (6) Tingkat partisipasi aparat pemerintah sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dalam proses pelaksanaan program; (7) Tingkat partisipasi sektor swasta dalam pelaksanaan program P2DTK; (8) Jumlah penerima manfaat dari kegiatan program; (9) Diseminasi dan transparansi informasi; (10) Koordinasi kegiatan dengan TK-P2DTK di setiap tingkatan, DPRD, dan Dinas-dinas terkait; (11) Koordinasi dengan LSM, pers, atau kelompok masyarakat lainnya; (12) Status penanganan pengaduan; (13) Permasalahan yang ditemukan dan solusi yang ditawarkan; (14) Beberapa isu lain yang penting; dan (15) Lampiran-lampiran: format pelaporan, foto, pengaduan yang diterima, dll. Berikut ini digambarkan hasil kualitas dan kuantitas laporan pada setiap periode tahun pelaksanaan P2DTK dari berbagai tingkatan antara lain dari FK, KM. Kab, KM. Prov, KM. Nas, LPK-PSS, MPHM, FM dan Procurement, serta MMI.
Tabel III.30. Rekapitulasi Jumlah Laporan Pelaku-Pelaku P2DTK TA. 2007 - 2011 Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Total Sumber: KM Nas Jumlah Laporan Seharusnya 2.976 2.983 3.012 3.013 1.870 78 13.932 Jumlah Realisasi 2.976 2.983 3.012 3.013 1.870 78 13.932 Prosentase Kesesuaian 100 100 100 100 100 100

3.11. Koordinasi 3.11.1. Koordinasi Internal KM. Nas, KM. Prov, dan KM. Kab Koordinasi internal KM. Nas merupakan salah satu dari beberapa kegiatan pengendalian yang dilakukan oleh KM. Nas. Bentuk koordinasi ini ada 2 bentuk, yaitu Koordinasi Internal KM.Nas dengan KM Prop dan KM Kab serta Koordinasi KM. Nas dengan Pelaku-pelaku P2DT Ktingkat Pusat. Koordinasi Internal KM. Nas dilaksanakan dalam bentuk pertemuan rutin internal team KM. Nas yang diikuti oleh sebagian besar tenaga ahli yang ada di dalamnya. Mekanisme konsolidasi dan koordinasi internal KM-Nas ditetapkan menjadi 3 kelompok kerja, yaitu: Kelompok I (Kelembagaan), anggota: TA Gender, Komunikasi; Kelompok II (Sektor), anggota: TA Kesehatan, Pendidikan, Infrastruktur, dan PSS; Kelompok III (Pengendalian Pelaksanaan), anggota: TA Pelatihan Partisipatif, Monev,
Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 60

MIS, Disbursment & Payroll, Financial Management, dan HCU. Pembagian kelompok pengendalian program ini dimaksudkan untuk mempermudah pendalaman diskusi dan pemecahan masalah dari isu-isu yang meuncul. Sesuai dengan perkembangan perjalanan P2DTK maka mengenai koordinasi internal tersebut dapat dipilahkan menjadi dua bagian. Pertama, bahwa pada masa awal pelaksanaan P2DTK di wilayah Aceh-Sumut Tahun 2006-2007 kelembagaan KM. Nas belum banyak berperan, sehingga koorinasi internal pengendalian ini berada di mekanisme PIU-KPDT, yang dengan demikian tidak menjadi bagian dilaporan ini. Kedua, koordinasi internal yang dipaparkan dalam laporan ini adalah koordinasi internal kelembagaan KM. Nas yang secara periodisasi P2DTK baru berperan aktif dimulai Juli 2007, ditandai dengan mobilisasi para konsultan KM. Nas dan konsultan KM Prov dan KM Kab ke wilayah P2DTK nasional (8 provinsi non Aceh-Sumut). Berikut ini dipaparkan gambaran proses dan hasil koordinasi internal yang sudah dilakukan KM. Nas selama melaksanakan tugasnya sebagai pendamping teknis P2DTK tingkat nasional sejak 2007 – 2012, sebagai berikut: 1. Tujuan koordinasi internal: Tujuan dilaksanakan koordinasi ini sangat terkait dengan isu-isu terakhir yang berkembang baik di internal KM. Nas maupun yang berasal dari lapangan. Scara umum adalah untuk: (a) Memantau perkembangan capaian pengelolaan pelaksanaan kegiatan di internal KM. Nas maupun di lapangan sampai bulan sebelumnya; (b) Memantau kegiatan dan rencana kegiatan para tenaga ahli; (c) Memantau perkembangan data MIS; (d) Merencanakan berbagai tahap kegiatan untuk bulan-bulan berikutnya disesuaikan dengan Master Schedule P2DTK di tahu berjalan; dll. 2. Frekuensi koordinasi internal per bulan: Koordinasi internal biasanya dilaksanakan minimal satu bulan satu kali. Pada bulan-bulan padat kegiatan koordinasi internal ini dilaksanakan lebih dari satu kali, bahkan tidak jarang KM. Nas memberlakukan weekly meeting demi menyelesaikan berbagai agenda penting yang perlu perhatian dan langkah penyelesaikan kegiatan. Sementara itu koordinasi KM. Nas dengan KM. Prov dan KM. Kab juga merupakan salah satu bagian dari mekanisme pengendalian yang harus dilaksanakan secara rutin oleh KM. Nas, yang secara umum tujuannya untuk konsolidasi capaian kegiatan, jadual kegiatan, permasalahan yang timbul, serta memberikan petunjuk-petunjuk pelaksanaan kegiatan dan atau dalam rangka penyelesaikan masalah yang timbul. Bentuk-bentuk koordinasi dengan KM. Prov dan KM. Kab tersebut antara lain dilakukan melalui cara melalui: (a) Komunikasi via telpon; (2) Mengirinkam surat petunjuk dan atau memorandum; dan (3) Rakornas.

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 61

3.11.2. Koordinasi Dengan Pelaku P2DTK Tingkat Pusat Koordinasi dan komunikasi dengan para pelaku P2DTK Tingkat Pusat, yaitu dengan Tim Koordinasi Program P2DTK Pusat, PIU-KPDT, dan Bank Dunia, merupakan salah satu tugas KM. Nas untuk memberikan informasi dan masukan mengenai perkembangan proses pelaksanaan P2DTK. Koordinasi dengan pelaku-pelakuP2DTK Pusat ini terlaksana minimal satu bulan satu kali. Pada kesempatan-kesempatan tertentumisalnya persiapan Rakornas, persiapan pelatihan untuk pelakupelaku di provinsi maupun kabupaten, atau menjelang laporan akhir tahun, maka pertemuan koordinasi tersebut bisa dilakukan lebih dari satu kali.

Laporan Akhir KM. NAS | Hal. III - 62

Meretas “Ketertinggalan” Bersama P2DTK

Bab 4.

(Analisa Capaian Implementasi P2DTK)

Program P2DTK dirancang sebagai program yang melibatkan berbagai unsur pelaku baik dari unsur pemerintah daerah, lembaga-lembaga atau institusi masyarakat, dan masyarakat secara umum. Oleh sebab itu program P2DTK bukan program satu pihak saja, tetapi program dengan menggunakan salah satu basis pendekatan yang disebut pendekata multipihak (multistakeholders approach). Hasil dan capaian implementasi P2DTK dengan demikian sesungguhnya merupakan hasil bersama sinergi antar pihak. Ukuran-ukuran yang dipakai P2DTK dalam mengidentifikasi capaian program, ingin melihat berbagai sektor dan bidang, bahkan juga dari berbagai sudut pelaku yang terlibat dan segment-segment para penerima manfaat P2DTK. Bab ini hendak memaparkan capaian (output) dari implementasi P2DTK yang dipilah kedalam tiga bagian utama. Bagian Pertama, memaparkan capaian hasil implementasi P2DTK khusus Aceh-Sumut yang didukung melalui dana hibah (grant) dengan menggunakan Performance Indicator Wilayah Aceh-Sumut . Bagian Kedua, menjelaskan capaian-capaian P2DTK di wilayah P2DTK Nasional (8 provinsi non Aceh-Sumut) dengan memakai Performance Indicator wilayah P2DTK Nasional, yang implementasinya didukung melalui dana “pinjamaan” (Loan). Bagian Ketiga, berisi diskripsi mengenai capaian-capaian kegiatan di beberapa bidang/sektor yang ada di P2DTK.

Hasil capaian (output) implementasi P2DTK akan memakai ukuran Performance-Indicator P2DTK Wilayah Aceh-Nias dan PerformanceIndicator P2DTK Wilayah Nasional.

4.1. Capaian Performance-Indicator Wilayah P2DTK Aceh-Sumut
Sub bab ini akan menjelaskan mengenai capaian-capaian Performance Indicator (PI) program P2DTK di wilayah Aceh-Nias melalui ukuran yang sudah ditetapkan (terlampir Tabel PI Aceh-Nias). PI yang diterapkan untuk wilayah Aceh-Nias terdiri atas 25 point ukuran. Paparan terhadap ke-25 point tersebut akan dibagi kedalam 6 (enam) tema besar yang disesuaikan dengan tujuantujuan program P2DTK. Keenam tema besar tersebut antara lain: (1) Pengembangan kapasitas pemerintah daerah; (2) Sumbangan terhadap kemanfaatan dan kesejahteraan masyarakat; (3) Peningakatan pelayanan kesehatan dan pendidikan masyarakat; (4) Pengembangan sektor swasta (PSS); (5) Penguatan resolusi konflik; dan (6) Pengelolaan program dan penyaluran dana.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 1

4.1.1. Pengembangan Kapasitas Pemerintah Daerah Performance Indicator: 1. Minimal 80% kabupaten di Aceh dan Nias menggunakan proses perencanaan partisipatif melalui mekanisme Musrenbang untuk penganggaran dan pembiayaan aktivitas pembangunan daerah. Sudah tercapai 100% kabupaten dari sebanyak 19 kabupaten sasaran P2DTK di Aceh-Nias telah mempunyai dan melaksanakan Musrenbang di dalam perencanaan rutin tahunan pemerintah daerah. Selama 5 tahun, mulai tahun 2007 sampai tahun 2011, P2DTK mendorong perencanaan pembangunan yang lebih partisipatif dimulai dari Musrenbang Dusun sampai Musrenbang Kecamatan dan Kabupaten. 2. Sebanyak 19 kabupaten menerima pelatihan pengadaan dan manajemen keuangan yang tepat. P2DTK juga telah memberikan pengembangan kapasitas para pejabat pelaku procurement proyek dan pengadaan barang. Sebesar 100% kabupaten atau sebanyak 19 kabupaten di Aceh-Nias telah mendapatkan pelatihan dalam hal procurement dan pengadaan barang. Melalui pengembangan kapasitas ini, pemerintah daerah didorong dan diharapkan lebih termotivasi untuk melaksanakan proses pembangunan secara lebih transparan dan akuntabel. 3. Sebanyak 13 kabupaten melakukan perbaikan dalam mekanisme pembuatan peraturan daerah (baik di bidang iklim usaha, MPHM, pelayanan pubilk, maupun perencanaan partisipatif). Sampai berakhirnya P2DTK di wilayah Aceh-Nias, dicapai sebanyak 13 kabupaten (atau 100% dari angka ditetapkan) yang telah melakukan perbaikan dalam proses/mekanisme pembuatan peraturan daerahnya yang terinspirasi dari pelaksanaan P2DTK, baik yang terkait dengan pengembangan iklim usaha, MPHM, pelayanan pubilk, dan perencanaan partisipatif. 4.1.2. Sumbangan Pada Kemanfaatan dan Kesejahteraan Masyarakat Performance Indicator: 1. Minimal 30% penduduk miskin dari total populasi di Aceh-Nias menerima manfaat dari P2DTK. Pada periode 2007 - 2008 sebesar 293.484 penduduk miskin di Aceh-Nias telah mendapatkan manfaat dari P2DTK, dan pada tahun 2008 - 2009 sebesar 134.060 Jiwa, sementara pada tahun 2009 - 2010 sebanyak 356.386 penduduk miskin memperoleh manfaat dari P2DTK. Dengan demikian total penduduk miskin yang mendapatkan manfaat dari P2DTK Tahun 2006 – 2011 sebanyak 783.930 jiwa (Sumber data MIS). Ini berarti kira-kira sebesar 69,12% penduduk miskin Aceh-Nias yang totalnya 1.134.120 jiwa 1 telah tercover dan mendapatkan manfaat dari
1 Jumlah penduduk miskin Tahun 2008 Kab. Nias 110,600 jiwa dan Kab. Nias Selatan 65,820 jiwa (Sumut Dalam Angka 2008: BPS Sumut 2008, http://sumut.go.id), sementara jumlah penduduk miskin Aceh Tahun 2008 sebanyak 959,700 jiwa (Berita Resmi Statistik BPS Aceh, No. 029/07/11/Th.V, 1 Juli 2011).

Sebanyak 19 kabupaten di Aceh dan Nias telah melaksanakan Musrenbang dalam mekanisme sistem perencanaan pembangunan mereka.

Sebesar 69,12% penduduk miskin Aceh-Nias yang sebanyak 1.134.120 jiwa telah mendapatkan manfaat dari P2DTK.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 2

P2DTK. Angka ini telah melebihi target sekitar 2 kali lipat dari angka ambang performance indicator sebesar 30%. 2. Sebanyak 2.000 perempuan di Aceh-Nias yang rentan, pengungsi, dan atau mantan kombatan mendapatkan bantuan teknis dan dukungan keuangan untuk membangun kembali kehidupan mereka. Secara lebih khusus P2DTK telah memberikan perhatian kepada partisipasi kaum perempuan. Sebanyak 1.065.259 (40,86%) perempuan telah berpartisipasi dan mendapatkan manfaat dari program P2DTK, sementara jumlah kaum perempuan total AcehNias sebanyak 2.607.070 orang. Angka capaian tersebut melebihi batas ambang angka perempuan pemanfaat P2DTK dari Performance Indicator yang ditetapkan sebesar 2.000 orang Partisipasi perempuan, baik keterlibatannya di dalam proses perencanaan maupun pemanfaat program terukur dalam berbagai kegiatan, seperti: (a) Dalam hal proses implementasi, seperti perencanaan, peserta pelatihan, forum-forum musyawarah, dll.; (b) Sebagai pemanfaat program, antara lain: pengadaan air bersih, penampungan air hujan (PAH), kesehatan ibu anak, kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pendidikan, penguatan ekonomi, serta kegiatan lain yang secara tidak langsung bermanfaat bagi perempuan yaitu dalam hal infrastruktur jalan.
Tabel IV.01. Perempuan Pemanfaat P2DTK Aceh-Nias Sebesar 40,86% perempuan di Aceh-Nias (1.065.259 orang) mendapatkan manfaat dari P2DTK, termasuk di dalamnya perempuan miskin dan korban konflik.

Wilayah Aceh (2010) Nias (2008)

Jumlah Pemanfaat 1.037.012 28.283

Jumlah Penduduk Perempuan 2.242.992 226.000

Sumber: Data MIS-KM. NAS

3. Minimal 70% infrastruktur kabupaten yang dibangun P2DTK dapat digolongkan "memuaskan" dan “sangat baik ". Berdasarkan penilaian terhadap sub-sub proyek yang dibangun di Aceh-Nias yang sudah dipaparkan sebelumnya di laporan ini, dipeoleh data bahwa sebesar 83,50% (1.478 sub-oryek) dinyatakan “baik”. 4. Minimal 20% angka EIRR untuk infrastruktur yang dibangun P2DTK di Aceh-Nias. Hasil study output infrastruktur di Aceh-Nias menunjukkan angka EIRR ….. yang berarti di atas angka yang ditetapkan 20%. 4.1.3. Peningkatan Pelayanan Pendidikan dan Kesehatan Performance Indicator: 1. Jumlah guru desa yang telah menerima pelatihan guru. Program P2DTK diwilayah Aceh-Nias telah memberikan sumbangan besar terhadap aspek mutu tenaga pendidikan dalam meningkatkan kapasitasnya dibidang proses belajar mengajar 2, dimana telah
Pelatihan untuk pengembangan kapasitas guru ini menjadi sangat relevan karena akhir-akhir ini disinyalir bahwa di Aceh terlalu banyak guru, sementara kualitasnya atau kapasitasnya rendah (lihat PKS Net.,24 Maret 2011, “Pendidikan Aceh Salah Urus”). Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 3
2

EIRR (Economic Internal Rate of Return) infrastruktur yang dibangun P2DTK di AcehSumut mencapai angka 83,50% dari 1.478 subproyek yang dibangun.

diberikan pelatihan kepada tenaga kependidikan sejumlah 9.511 orang (sumber: MIS). 2. Minimal 30% sekolah dasar di kabupaten-kabupaten di Aceh-Nias mengadopsi manajemen berbasis sekolah. Dalam hal manajemen sekolah, sebanyak 972 Sekolah Dasar (SD) di Aceh-Nias telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), yang berarti baru mencapai 27,18% dari total jumlah SD yang sebanyak 3.576 SD 3.
Tabel IV.02. Pertumbuhan Jumlah SD yang Mengadopsi MBS Pertahun (2008-2010) Jumlah SD Tahun Mengadopsi MBS 2007 – 2008 208 2008 – 2009 362 2009 - 2010 402 TOTAL 972
Sumber: Data MIS – KM. NAS

3. Minimal 40% desa yang telah memiliki Komite Sekolah aktif (telah melaksanakan lebih dari 50% peran dan tugasnya). Pemberdayaan Komite Sekolah di level desa juga menjadi perhatian P2DTK dalam rangka meningkatkan manajemen pendidikan, dengan capaian sebanyak 1.921 desa telah memiliki Komite Manajemen Sekolah. Program P2DTK telah berhasil mencapai 58,83% desa yang memiliki Komite Sekolah dari total jumlah desa di Aceh-Nias (6.998 desa) 4. Namun dari desa-desa yang sudah mempunyai Komite Sekolah tersebut, lebih kurang 70%-nya berjalan sesuai tugas dan berfungsi sebagaimana mestinya.
Tabel IV.03. Jumlah Prosentase dan Komite Sekolah Yang Aktif Jumlah SD Tahun Mengadopsi MBS 2007 – 2008 2008 – 2009 2009 - 2010 549 (20%) 1.647 (60%) 1.921 (70%)

Sumber: Data MIS – KM. NAS

4. Terjadi prosentase penurunan anak usia SD 7-12 dan anak usia SMP 13-15 tahun tidak sekolah, jika diperbandingan antara tahun 2006 dan 2010 di Aceh dan Nias. Apakah intervensi yang sudah diberikan oleh P2DTK dibidang pendidikan wajib 9 tahun (SD dan SMP) dari tahun 2007 sampai tahun 2010, telah memberikan sumbangan
Jumlah SD di Aceh 3.140 (Aceh Dalam Angka 2010: BPS Aceh, http://aceh.bps.go.id). Jumlah SD di Nias tahun 2010 sebanyak 127 (BPS Sumatera Utara, http://sumut.bps.go.id), dan jumlah SD di Nias Selatan Sebanyak 309. 4 Jumlah Desa di Aceh menurut Aceh Dalam Angka 2010 (BPS Aceh 2010) sebanyak 6.423 desa, di Nias 119 dan Nias Selatan 356 desa (Sumatera Utara Dalam Angka 2010, BPS Sumatera Utara 2010). Berdasarkan angka ini maka sebesar 27,85% desa di Aceh-Nias telah mempunyai komite sekolah. (jika angka di IP diakumulasikan totalnya 4.117 desa, itupun baru mencapai 59,68%) Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 4
3

perubahan kepada “akses pendidikan” (kesempatan) yang lebih baik bagi anak usia SD dan usia SMP di Aceh-Nias? Usia Sekolah Dasar (SD): Angka Partisipasi Sekolah (APS) di Aceh tahun 2007 untuk anak usia SD sebesar 98,95%, APS yang sama tahun 2010 sebesar 99,19% atau naik sebanyak 0,24%. Sangat sulit mencari APS untuk tingkat kabupaten Nias dan Nias Selatan oleh karena itu yang digunakan adalah APS Provinsi Sumut. Terjadi peningkatan APS sebesar 0,53% antara 2007 sampai 2010. Jika kesempatan bersekolah ini dilihat dari sudut “ jumlah anak tidak sekolah”, maka diperoleh angka bahwa anak usia sekolah dasar di Aceh-Sumut yang tidak bersekolah tahun 2007/2008 dibandingkan tahun 2009/2010 mengalami peningkatan 0,04% atau sebanyak 46.694 anak.
Tabel IV.04. Jumlah Anak Tidak Sekolah di Aceh-Sumut
Usia SD 2007/ 2008 29,608 2008/ 2009 3,868 2009/ 2010 76,302 2007/ 2008 89,084 Usia SMP 2008/ 2009 79,143 2009/ 2010 99,865 0.18

Anak usia sekolah dasar di Aceh-Sumut yang tidak bersekolah tahun 2007/2008 dibandingkan tahun 2009/2010 mengalami peningkatan 0,04% atau sebanyak 46.694 anak.

0.03 0.0 0.07 0.17 0.15 Sumber: Kompilasi data dari Kementerian Pendidikan

Usia Sekolah Menengah Pertama (SMP): APS anak usia SMP perbandingan antara 2007 dan 2010 justru mengalamai penurunan 1,80%, artinya semakin banyak anak usia SMP yang tidak bersekolah. Seperti juga angka APS SD, angka APS SMP di Nias dan Nias Selatan sangat sulit diperoleh. Melalui APS Provinsi Sumut, diketahui ada penurunan APS SMP sebesar 1,53% antara tahun 2007 dan 2010. Kasus yang serupa juga sama jika dilihat dari “jumlah anak usia SMP yang tidak bersekolah. Jumlah anak usia SMP yang tidak sekolah juga mengalami peningkatan sebesar 0,01% atau sebanyak 10.781 anak antara tahun 2007/2008 dibanding 2009/2010.
Tabel IV.05. Angka Partisipasi Sekolah Usia SD dan SMP Tahun 2007 - 2010 di Aceh dan Nias
Keterangan ACEH Usia SD (7-12 thn) Usia SMP (13-15 thn) NIAS Usia SD (7-12 thn) Usia SMP (13-15 thn) NIAS SELATAN Usia SD (7-12 thn) APS SD 98,37 APS SMP 90,73 79.265 42.741 64.914 APS SD 98,90 APS SMP 92,26 78.174 43.765 60.902 98,95 94,06 436.097 252.464 99,19 92,26 500.128 233.444 Tahun 2007 APS (%) ∑ Anak Tahun 2010 APS (%) ∑ Anak

Usia SMP (13-15 thn) 11.836 15.491 Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber (APS yang digunakan adalah APS Provinsi Sumut. Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 5

5. Minimal 65% responden puas dengan tingkat pelayanan pendidikan yang diberikan melalui proyek P2DTK. Hasil studi output di AcehNias dalam bidang pelayanan pendidikan usia Sekolah Dasar (SD) yang diberikan P2DTK menunjukkan bahwa 52% masyarakat (responden) di 6 kabupaten studi (Kab. Pidie, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Selatan dan Nias Selatan) menyatakan “cukup memuskan”. Studi yang sama untuk usia SMP menunjukkan bahwa sebesar 47% masyarakat (responden) menyatakan “cukup memuaskan”. Rata-rata baru 49,5% masyarakat merasa puas dengan pelayanan pendidikan yang berarti masih dibawah angka yang ditetapkan yaitu 65% masyarakat menyataman “puas”. 6. Minimal 65% responden puas dengan tingkat pelayanan kesehatan yang diberikan melalui proyek P2DTK. Berdasarkan hasil studi di 6 kabupaten di Aceh tentang kesehatan,diperoleh angka kepuasan masyarakat (responden) terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan oleh P2DTK sebesar 67,75% menyatakan “memuaskan”. 4.1.4. Pengembangan Sektor Swasta Performance Indicator:

Hasil Studi Output di Aceh –Nias menunjukkan 52% masyarakat “cukup puas” dengan pelayanan bidang pendidikan tingkat SD dan 49,50% untuk tingkat SMP. Sementara di bidang kesehatan 67,75% masyarakat merasa “memuaskan”.

1. Sebanyak 19 FSS (Forum Sektor Swasta) terbentuk, berfungsi, dan menghasilkan produk/output. Hasil yang dicapai oleh program P2DTK adalah bahwa sampai akhir Januari 2011 telah terbentuk 19 FSS, yang berarti telah tercapai 100% berdasarkan target yang ditetapkan di dalam performance indicator. Total usaha baru yang 2. Lebih dari 5% terjadi peningkatan entitas usaha baru terdaftar formal di Aceh-Nias. Total usaha baru yang terdaftar formal di Aceh-Nias adalah sebanyak 19.466. Pada tahun pertama (2007) program PSS tumbuh usaha baru sebanyak 2.754 usaha. Sementara pada tahun 2010 tumbuh usaha baru sebanyak 6.381 usaha. Dengan demikian rata-rata angka prosentase pertumbuhan usaha baru adalah sebesar 34,86%. Semua angka-angka pertumbuhan tersebut melebihi target yang ditetapkan dalam performance indikator.
Tabel IV.06. Pertumbuhan Usaha Baru di Aceh dan Nias Daftar Perusahaan (Baru) Keterangan 2007 2008 2009 2010 Pertumbuhan bisnis per tahun Prosentase pertumbuhan (%) Rata-rata pertumbuhan (%)
Sumber: Data PSS-Program TAF

terdaftar di Aceh-Nias dari Tahun 2007 – 2010 sebanyak 19.466 buah, dengan rata-rata pertumbuhan 34,86%.

2.754 0

4.775 73,38

5.556 16,36

6.381 14,85

34,86

4.1.5. Penguatan Resolusi Konflik Performance Indicator: 1. Minimal 3 kabupaten di Aceh-Nias dimana penasehat hukum masyarakat, fasilitator kecamatan dan paralegal di desa yang ditunjuk telah memberikan bantuan hukum kepada masyarakat.
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 6

Sesungguhnya di Aceh-Nias tidak ada program Mediasi dan Penguatan Hukum Masyarakat, namun yang dikembangkan adalah penguatan kapasitas resolusi konflik. Sampai akhir Januari 2012 di Aceh-Nias sudah 3 kabupaten dimana fungsi-fungsi pelayanan hukum kepada masyarakat sudah berjalan. 2. Minimal 70 orang jumlah staf LSM dan aparat penegak hukum (hakim, polisi dan jaksa) yang sudah dilatih melakukan pelayanan peradilan dan memberikan pendidikan hukum kepada masyarakat. Hasil yang diperoleh adalah bahwa sebanyak 70 orang/personil telah melaksanakan tugas dan perannya untuk memberikan pelayanan dan pendidikan hukum kepada masyarakat. 3. Minimal sebanyak 300 orang di wilayah Aceh-Nias terdiri atas fasilitator, staf LSM, pejabat pemerintah daerah dan pemuda telah diberikan pelatihan dalam mediasi konflik, kepemimpinan dan pendidikan kewarganegaraan. P2DTK telah melakukan pelatihan dalam topik-topik dimaksud kepada 300 orang. 4. Minimal sebanyak 500 orang memanfaatkan bantuan hukum melalui proyek P2DTK. Hasil yang dicapai adalah sebanyak 500 orang telah mendapatkan manfaat bantuan hukum melalui program P2DTK. 4.1.6. Pengelolaan Program dan Penyaluran Dana Performance Indicator: 1. Minimal sebesar 75% pencairan dana grant (BLM dan DOK) kabupaten berdasarkan SP2D dan Form3 MIS. Hasil yang dicapai adalah bahwa sebesar 90,18% (Rp. 7.250.000.000,-) dana DOK dan 71,65% (Rp. 229.255.254.783,-) dana DAK telah tersalurkan di wilayah Aceh dan Nias. Rata-rata DOK dan DAK mencapai 80,92%. 2. Minimal 80% aparat pemerintah dan tim konsultan yang terlibat atau sudah direkrut disemua tingkatan berfungsi. Performance Indicator di akhir proyek menunjukkan bahwa sebesar 96,27% aparat pemerintah dan konsultan sudah direkrut. Sebesar 100% atau seluruh personil dari aparat pemerintah yang sudah direkrut tersebut berfungsi dengan baik, dan sebanyak 109 konsultan telah berfungsi. 3. Minimal 60% pengaduan permasalahan di wilayah Aceh-Nias terselesaikan. Capaian yang diperoleh adalah bahwa sebesar 100% kasus atau sebanyak 289 kasus yang muncul di Aceh-Nias sudah terselesaikan. 4. Minimal 80% temuan-temuan studi maupun proses monitoring dan evaluasi yang dilakukan, digunakan untuk pengambilan keputusan dalam manajemen proyek. Performance Indicator proyek menghasilkan bahwa 100% temuan-temuan tersebut digunakan dalam pengambilan kebijakan manajemen proyek, seperti misalnya: (i) Mekanisme dan Outline Lapbul KM. Nas, KM. Prop, KM. Kab; (ii) Outline LPD Panduan DOK 2010; (iii) Juknis Safeguard Penyaluran Kinerja Keuangan; (iv) Panduan Verifi-kasi dan Validasi MIS; (v) Juknis Standarisasi Penyelesaian Keg. Sub Proyek Program
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 7 Sebesar 100 % pengaduan permasalahan yang muncul di AcehSumut (289 kasus) bisa terselesaikan.

P2DTK; (vi) Juknis Serah Terima dan Alih Kelola Hasil Pelaksanaan Kegiatan Program P2DTK; (vii) Juknis Penggu-naan Sisa Dana DOK dan BLM P2DTK; dan (viii) Juknis Pengem-balian Sisa Dana ke Kas Negara. 5. Terlaksana 1 kali survei tentang dampak P2DTK. Survei telah dilaksanakan dan hasilnya masih dalam proses.

4.2. Capaian Performance-Indicator Wilayah P2DTK Nasional
Performance Indicator P2DTK untuk wilayah Nasional terdiri atas 20 point. Hasil capaian P2DTK terhadap ke-20 point tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 4.2.1. Capaian Proyek Secara Umum (Project Development Objectives) Performance Indicator: 1. Peningakatan akses terhadap biaya efektif infrastruktur pedesaan yang berkualitas tinggi dengan angka EIRR di atas 20% melalui proses perencanaan partisipatif. Hasil studi di wilayah P2DTK Nasional menunjukkan angka 2. Peningkatan langkah alternatif dalam penyelesaian sengketa beserta mekanisme hukumoleh masyarakat untuk menyelesaikan sengketa secara damai di Provinsi Maluku. Sudah dilakukan pelatihan pendidikan hukum kepada 3.622 orang, dan sebanyak 58 orang telah memanfaatkan media konsultasi hukum. Sampai 16 Januari 2012 ditangani sebanyak 32 kasus sengketa di tingkat masyarakat, dimana 25 kasus adalah kasus pidana dan 7 kasus adalah kasus perdata. 3. Peningkatan usaha baru yang terdaftar. Usaha baru terdaftar di wilayah Barat sebanyak 9.969 usaha yang difasilitasi oleh LPKPSS YBKM di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Bengkulu, dan Lampung. Sementara di Wilayah Timur terbentuk 9.497 usaha baru yang difasilitasi oleh LPK-PSS Bina Swadaya di wilayah Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan NTT. Total usaha baru yang terdaftar melalui PSS menjadi 19.466 denga rata-rata pertumbuhan usaha per tahun sebesar 23,10% dimana masih dibawah target PI yang sebesar minimal 50%. 4. Prosentae peningkatan jumlah pasien baru yang menggunakan pelayanan kesehatan. Sebanyak 1.500 orang petugas kesehatan telah mendapatkan pelatihan mengenai pelayanan kesehatan. Sebanyak 266 jenis pelatihan kesehatan telah dilakukan, yang diikuti total 6.808 anggota komite kesehatan dan tenaga kesehatan lainnya. 5. Prosentase kenaikan nilai ujian sekolah di kabupaten sasaran. Rata-rata nilai UN SD mengalami penurunan. Rata-rata nilai UN 2007-2008 yaitu 63, Tahun 2008-2009 yaitu 58, dan Tahun 2009-2010 yaitu 50. Pada Usia SMP terjadi kenaikan rata-rata
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 8 Sebanyak 3.622 orang memperoleh pendidikan hukum. Sebanyak 58 orang telah memanfaatkan unit konsultasi hkum. Sebanyak 32 kasus sengketa di tingkat masyarakat telah tertangani.

Rata-rata nilai UN SD di wilayah P2DTK mengalami penurunan . Sementara rata-rata nilai UN SMP mengalamikenaikan.

nilai UN dimana Tahun 2007-2008 yaitu 6,12, Tahun 20082009 yaitu 6,08, dan Tahun 2009-2010 yaitu 6,50. 5 6. Upaya untuk menurunkan jumlah konflik dan korban konflik. Sudah dilakukan pendidikan hukum pepada 3.470 orang, dan sebanyak 58 orang sudah memanfaatkan media konsultasi hukum (Data Mis Form-6).

42.2. Intermediate Outcome Indicators Komponen 1: Dana Kecamatan Performance-Indicator: 1. Minimal 70% terjadi pencairan pembiayaan tahunan yang direncanakan dihibahkan di tingkat kecamatan. Rata-rata Pencairan DOK Kecamatan dan BLM Kecamatan mencapai 99,74%, dengan perincian Pencairan DOK Kecamatan Rp. 133.868.035.320,- (99,49%) dan Pencairan BLM Kecamatan mencapai Rp. 341.529.709.000,- (99,99%). 2. Pada masa akhir program minimal 70% dari kualitas infrastrutur di tingkat kecamatan diklasifikasikan “memuaskan” dan “baik”. Sebanyak 3.364 sub-proyek infrastruktur yang dilaksanakan pada level kecamatan di wilayah P2DTK Nasional (non AcehSumut), sebesar 92% diklasifikasikan “memuaskan”. 3. Minimal 300 sekolah dasar di tingkat kecamatan telah terrehabilitasi . Dari seluruh wilayah P2DTK di 8 provinsi (186 kecamatan) sampai P2DTK berakhir telah direhabilitasi sebanyak 846 SD. 4. Sebanyak minimal 50 klinik kesehatan di tingkat kecamatan terehabilitasi. Sampai dengan akhir Desember 2011 kegiatan P2DTK telah melakukan rehabilitasi terhadap 385 klinik kesehatan. Komponen 2: Dana Kabupaten Performance-Indicator: 1. Minimal 70% terjadi pencairan pembiayaan tahunan yang direncanakan dihibahkan di tingkat kabupaten. Rata-rata sebesar 99,35% telah terealisasi Pencairan DOK Kabupaten dan BLM Kabupaten. Pencairan DOK Kabupaten sebesar Rp. 21.563.526.765,- (100%) dan Pencairan BLM Kabupaten Rp. 261.321.629.644,- (98,69%). 2. Pada masa akhir program minimal 70% dari kualitas infrastrutur di tingkat kecamatan diklasifikasikan “memuaskan” dan “baik”. Sebanyak 606 sub-proyek infrastruktur kabupaten telah dilaksanakan di P2DTK Nasional (non Aceh-Sumut), dan 88% dari jumlah tersebut diklasifikasikan “memuaskan”.
Sumber: Data Puspendik (Pusat Penilaian Pendidikan) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2011. Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 9
5

Sebesar 92% sub-sub proyek infrastruktur dinilai “memuaskan” dan “baik” menurut prosedur sertifikasi yang ada.

Komponen 3: Dana Kabupaten Performance-Indicator: 1. Minimal 500 orang mendapatkan manfaat dari kegiatan bantuan hukum dalam program P2DTK. MPHM di P2DTK khusus dilaksanakan di Provinsi Maluku. Dari data yang ada yang sudah mendapatkan manfaat sebanyak 135.076 orang. Angka ini menjadi besar karena banyak kasus bersifat komunal. Salah satunya kasus di Tual mengenai pengungsi dimana Bupati Tual menetapkan bahwa dengan terselesaikannya kasus tersebut yang memperoleh manfaat sekitar 65.000 orang. Minimal 35 Komite Kesehatan dan Komite Pendidikan sudah dibentuk serta mendapatkan pelatihan yang melibatkan berbagai unsur pemerintah. P2DTK telah berhasil membentuk 58 dewan terdiri atas 32 Dewan Pendidikan dan 26 Dewan Kesehatan di 8 provinsiwilayah P2DTK Nasional. Minimal 10.000 orang yang terdiri dari kepala sekolah, anggota Dewan Pendidikan dan tenaga kependidikan telah mendapatkan pelatihan. P2DTK telah berhasil melakukan berbagai pelatihan yang diikuti sebanyak 21.612 orang. Minimal 1.500 orang petugas kesehatan telah mendapatkan pelatihan mengenai pelayanan kesehatan. P2DTK telah melakukan sebanyak 266 jenis pelatihan kesehatan yang diikuti total 6.808 anggota komite kesehatan dan tenaga kesehatan lainnya. Penilaian dan hambatan Pengembangan Sektor Swasta yang sudah selesai dibentuk minimal di 20 kabupaten. P2DTK bidang PSS berhasil membentuk FSS di 27 kabupaten sasaran, yang berarti sudah melebihi dari angka yang ditetapkan. Semula PSS direncanakan dilaksanakan di 32 kabupaten, namun di 3 kabupaten yaitu Seruyan, Lampung Utara, dan Lampung Timur dibatalkan karena keterlambatan penempatan pendamping PSS di kabupaten bersangkutan. Beberapa kesimpulan penilaian dan hambatan terkait program PSS antara lain sebagai berikut: (a) Jadwal waktu penempatan pendamping tidak sesuai dengan jadwal siklus program, sehingga output kegiatan PSS tidak dapat masuk dalam proses perencanaan P2DTK; (b) Belum sinerginya hasil kegiatan PSS dengan proses kajian teknis; (c) Kurangnya waktu untuk pemahaman substansi pengembangan sektor swasta bagi para Koordinator PSS kabupaten; (d) Masih lemahnya koordinasi dan rentang kendali untuk memastikan proses pelaksanaan sesuai dengan ketentuan; dan (e) Kegiatan PSS, bisa diintegrasikan dengan kegiatan Inti P2DTK, melalui berbagai penguatan dan perbaikan proses dalam Tahapan Perencanaan P2DTK. Adanya rekomendasi dari FSS untuk perbaikan peraturan daerah yang terkait dengan pengembangan sektor swasta minimal di 7 kabupaten. Dari 27 FSS yang terbentuk, hanya 2
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 10 Terbentuk 32 Dewan Pendidikan dan 26 Dewan Kesehatan. Sebanyak 21.612 orang tenaga kependidikan dan kepala sekolah mendapatkan berbagai pelatihan.

2.

3.

4.

5.

6.

FSS yang berhasil melakukan advokasi perbaikan peraturan daerah tetang pengembangan sektor swasta, yaitu di Kabupaten Alor dan Sumba Barat Provinsi NTT. Komponen 4: Dukungan Implementasi Performance-Indicator: 1. Sebesar minimal 70% konsultan yang direncanakan berada di lokasi untuk memulai kegiatan awal siklus. Awal Januari 2012 (Pelaksanaan Optimalisasi P2DTK TA. 2011) sebesar 96,55 % konsultan di lapangan (56 Konsultan yang aktif, dari 58 konsultan yang seharusnya dikarenakan adanya kekosongan untuk Gender Sp. NMC dan Participative Training Sp. KM Nas). Sebanyak 56 konsultan tersebut dengan perincian: a. KM Kab 28 Orang dari 28 Orang seharusnya (100%) b. KM Prov 10 Orang dari 10 Orang seharusnya (100%) c. KM Nas 18 Orang dari 20 Orang seharusnya ( 90%), termasuk Senior FM Consultant dan Senior Procurement Consultant. Hal ini berarti di atas angka yang ditetapkan >70%.

Komponen 5: Monitoring dan Studi Kasus Performance-Indicator: 1. Berfungsinya sistem MIS di seluruh wilayah P2DTK Nasional (8 provinsi non Aceh-Sumut). MIS P2DTK telah berjalan optimal di 100% wilayah sasaran, yaitu: (a) Delapan provinsi untuk P2DTK Nasional yang mana per Desember 2011 sudah selesai dilaksanakan; dan (b) Dua provinsi wilayah Optimalisasi yang mana akan selesai per Fenruari 2012. 2. Baseline survei, studi dampak dan studi tematik yang sudah dilakukan. Sampai laporan ini ditulis hanya study output yang sudah dilaksanakan.

4.3. Capaian Pendampingan Bidang Kegiatan
Sub bab berikut ini memaparkan tentang hasil-hasil pendampingan dalam konteks pelayanan pemberdayaan sesuai dengan bidang-bidang kegiatan yang dilaksanakan melalui program P2DTK. 4.3.1. Capaian Pemanfaat P2DTK Total jumlah pendudukan di 186 kecamatan sasaran kegiatan P2DTK (di 51 kabupaten, 10 propinsi) sebanyak 13.072.618 orang. Program P2DTK dirasakan manfaatnya secara langsung oleh 6.136.461 orang atau sekitar 46,94% dari total penduduk. Mereka terdiri atas masyarakat bawah di tingkat desa sampai para aparatur pemerintah tingkat kabupaten, baik yang memperoleh manfaat dari dibangunnya infrastrukur pelayanan dasar,
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 11

Sebesar 46,94% masyarakat/penduduk di seluruh wilayah program P2DTK telah memperoleh manfaat dari P2P2DTK.

pelayanan kesehatan, pendidikan, maupun dari pelatihan-pelatihan pengembangan kapasitas yang diikuti.
Diagram IV.01. Rekapitulasi Jumlah Pemanfaat P2DTK
4.661.848 783.930 1.364.561 8.410.770 1.991.935 4.771.900 13.072.618 2.775.865 6.136.461

Aceh-Nias

Total Penduduk Pemanfaat KK Miskin [57%] Pemanfaat P2DTK [29,27%] Total Penduduk Pemanfaat KK Miskin [42%] Pemanfaat P2DTK [56,74%] Total Penduduk Wil. P2DTK Pemanfaat KK Miskin [45%] Total Pemanfaat P2DTK [46,94%]

Sumber: KM.Nas-MIS

Sedangkan dari cakupan pemanfaatan terhadap KK miskin, maka bisa dilihat bahwa secara keseluruhan program P2DTK telah bermanfaat bagi 2.775.865 KK miskin atau sekitar 45% dari jumlah KK miskin di sasaran wilayah P2DTK. KK miskin di Aceh-Sumut yang mendapatkan manfaat dari adanya P2DTK mencapai 57% (783.930). dari KK miskin yang ada di kabuaten-kabupaten sasaran P2DTK. Sementara di wilayah P2DTK Nasional sebanyak 42% KK miskin telah menjadi sasaran dari program P2DTK. 4.3.2. Pengembangan Kapasitas Masyarakat Sasaran Selain pengembangan kapasitas yang ditujukan untuk para pelaku P2DTK di daerah dalam hal kapasitas pengelolaan program, P2DTK juga melakukan pengembangan kapasitas kepada “masyarakat dan institusi yang menjadi sasaran program”, baik yang berkaitan dengan bidang kesehatan, pendidikan, infrastruktur, bidang pemuda, maupun kepada sasaran khusus lainnya yaitu kaum perempuan. Jika pengembangan kapasitas untuk para pelaku P2DTK terutama bersumber dana dari DOK, maka pengembangan kapasitas dalam kegiatan bidang pelayanan dasar tersebut terumata berumber dari dana BLM. Pengembangan kapasitas yang terkait dengan kegiatan pelayanan dasar tersebut dilandasi oleh 3 (tiga) srtategi, yaitu: (1) Pengembangan kapasitas terkait dengan sistem pelayanan dasar, yaitu yang berkaitan dengan “kebijakan” di dalam instusi pemberi pelayanan; (2) Pengembangan kapasitas dalam upaya meningkatkan kemampuan dan mutu “lembaga/institusi” dan SDM pelayanan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat; dan (3) Pengembangan kapasitas yang terkait dengan “daya jangkau” (akses) masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar yang dibutuhkan.
Pengembangan kapasitas untuk institusi dan masyarakat sasaran P2DTK, terutama terkait dengan bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan, telah melaksanakan 952 pelatihan dengan peserta 189.139 orang. Mereka terdiri atas masyarakat, Tomas, kader desa/gampong/kampung,Bindes, guru, dan unsur-unsur gugus tugas dalam pelayanan dasar kesehatan serta pendidikan.

Total P2DTK

Nasional

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 12

1. Pengembangan Kapasitas Masyarakat di Aceh-Sumut Dari data tabel mengenai jenis-jenis kegiatan yang di danai BLM di AcehSumut (tersedia di bagian lampiran), diketahui bahwa jumlah kegiatan pengembangan kapasitas sejumlah 501 kegiatan, terdiri atas pelatihan bidang pendidikan 200 kegiatan (MBS 75 kegiatan dan pelatihan lain-lain pendidikan 125 kegiatan) dan pelatihan di bidang kesehatan 301 kegiatan.
Tabel IV.07. Kegiatan Sumber Dana BLM Aceh-Sumut Name Health: Training Rehab Health Clinics Other (nutrition program, health information, books) Total Education: School-based management training Other training School Rehab Books, tools, furniture Scholarships Total Sumber: KM. Nas-MIS (SPADA Template) Jumlah Kegiatan 301 29 139 469 75 125 125 185 10 520

Dari sejumlah 200 kegiatan pelatihan bidang pendidikan tersebut, selama kurun waktu P2DTK di wilayah Aceh-Sumut (Siklus 1 s/d 3), telah dilatih sebanyak 55.161 peserta dari berbagai unsur dibidang pelayanan pendidikan. Pelatihan-pelatihan tersebut menyangkut pengembangan kapasitas meningkatkan kemampun guru dalam meningkatkan mutu proses pengajaran. Upaya pengembangan kapasitas “manajemen pendidikan” seperti monitoring pendidikan, mutu manajemen sekolah, pengelolaan sekolah melalui MBS, bahkan juga semacam “penyuluhan” kepada masyarakat mengenai pentingnya bersekolah.
Tabel IV.08. Pelatihan Bidang Pendidikan Dana BLM P2DTK Aceh-Sumut Siklus 1 s/d. 3 No. Jenis Kegiatan Jumlah 1. Pelatihan guru mengenai metode pengajaran (a.l. Pakem dan 1.205 CTL 2. Pelatihan guru mengenai mata pelajaran 794 3. Pelatihan guru mengenai pembuatan produk 72 4. Pelatihan guru mengenai olah raga dan kesenian 451 5. Pelatihan guru mengenai pengembangan potensi 106 6. Pelatihan untuk guru 6.923 7. Pelatihan Komite Sekolah 1.106 8. Pelatihan mengenai manajemen sekolah (a.l. MBS) 9.012 9. Pelatihan monitoring sekolah, masyarakat dan pengelola 869 pendidikan 10. Pelatihan tenaga kesehatan kader dan bidan 4.891 11. Pelatihan kesehatan masyarakat 7.277 12 Penyuluhan 22.455 Total Peserta Pelatihan 55.161 Sumber: KM. Nas-MIS Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 13

Di Aceh-Sumut sebanyak 55.161 orang dari berbagai unsur di bidang pendidikan sudah mendapatkan pelatihan.

Sementara itu, kegitan pengembangan kapasitas dalam pelayanan bidang kesehatan di P2DTK Aceh-Sumut Siklus 1 s/d. 3 (2007 -2010) mencapai jumlah 301 kegiatan pelatihan kesehatan. Total rekapitulasi peserta pelatihan sebanyak 4.891 peserta terdiri dari para kader di tingkat Gampong/Kampung, Bidan Desa, petugas-petuga Puskesmas dan Pustu, masyarakat sasaran, petugas rumah sakit, dokter, dll. Pelatihan-pelatihan untuk pengembangan kapasitas tersebut mengarah kepada tiga (3) hal pokok dalam stategi peningkatan kesehatan masyarakat, yaitu pengembangan kapasitas dalam aspek peningkatan mutu pelayanan kesehatan, pengembangan kapasitas aspek manajemen pelayanan institusi pelaku pelayanan kesehatan, dan aspek upaya meningkatkan jangkauan (akses) masyarakat memperoleh informasi dan tindak pelayanan kesehatan dasar. 2. Pengembangan Kapasitas Masyarakat di Wilayah Nasional Kegiatan-kegiatan di wilayah Nasional yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas untuk masyarakat bida dilihat dalam tabel berikut. Dari tabel tersebut diketahui bahwa ada sebanyak 226 kegiatapan pelatihan di bidang kesehatan, sementara di bidang pendidikan sebanyak 225 kegiatan pelatihan terdiri atas 86 pelatihan mengenai MBS dan 137 pelatihan lain-lain bidang pendidikan.
Tabel IV.09. Kegiatan Sumber Dana BLM (Kabupaten dan Kecamatan) Nasional Name Health: Training Rehab Health Clinics Other (nutrition program, health information, books) Total Education: School-based management training Other training School Rehab Books, tools, furniture Scholarships Total Sumber: KM. Nas-MIS (SPADA Template) Jumlah Kegiatan 226 385 966 1,577 86 137 846 883 139 2,091

Total peserta pelatihanpelatihan di bidang kesehatan di Aceh-Sumut 4.891 orang, terdiri atas berbagai “ujung tombang” pelayanan kesehatan

Khusus pelatihan yang berkaitan dengan bidang kesehatan (226 pelatihan) total peserta seluruh pelatihan berjumlah 6.808 orang, terdiri dari 1.245 orang peserta kegiatan pelatihan bersumber dana BLM kecamatan dan 5.563 peserta kegiatan yang bersumber dana dari BLM kabupaten (lihat lampiran). Berkaitan dengan pelatihan dibidang pendidikan, dari sebanyak 225 kegiatan pelatihan jumlah peserta totak yaitu 122.279 orang.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 14

Tabel IV.10. Kegiatan Pelatihan Bersumber Dana BLM Kabupaten dan Kecamatan di Wilayah P2DTK Nasional Name Pelatihan Guru mengenai Metoda Pengajaran (a.l. PAKEM dan CTL) Pelatihan Guru mengenai Mata Pelajaran Pelatihan Guru mengenai Pembuatan Produk Pelatihan Guru mengenai Olah Raga dan Kesenian Pelatihan Guru mengenai Pemulihan dari Krisis / Bencana Pelatihan Guru mengenai Pengembangan / Pemberdayaan Potensi Pelatihan Guru mengenai Pergaulan Anak (a.l. kekerasan antar anak di sekolah) Pelatihan Guru mengenai Kesehatan Pelatihan untuk Guru Pelatihan Komite Sekolah Pelatihan mengenai Manajemen Sekolah (a.l. MBS) Pelatihan Monitoring bagi Sekolah, Masyarakat & Pengelola Pendidikan Pelatihan Tenaga Kesehatan (Kader, Bidan) Pelatihan Kesehatan (Masyarakat) Penyuluhan Pelatihan Early Warning System Pelatihan mengenai Pemulihan dari Krisis/Bencana (trauma healing) Pelatihan mengenai Pembuatan Produk/ Pelatihan Kewirausahaan Pelatihan mengenai Olah Raga dan Kesenian Pelatihan mengenai Pengembangan / Pemberdayaan Potensi Total Peserta Pelatihan Sumber: KM. Nas-MIS (SPADA Template) Total (Peserta) 2,955 2,529 950 118 0 680 0 4,461 919 8,900 100 6,808 9,340 65,329 300 0 5,211 639 13,040 122,279

Rekalapitulasi dari seluruh kegiatan pelatihan yang di danai BLM Kabupaten dan BLM Kecamatan di P2DTK Nasional (Siklus 1 s/d. 3), terutama untuk bidang kesehatan dan pendidikan, tergambar di dalam tabel berikut.
Tabel IV.11. Rekapitulasi Kegiatan Pelatihan Bidang Kesehatan dan Pendidikan Bersumber Dana BLM (Kabupaten dan Kecamatan) P2DTK Nasional Siklus 1 s/d. 3 Aceh Bidang Pendidikan Kesehatan Total Jumlah Pelatihan 200 301 501 Nasional Jumlah Peserta 122,279 6,808 129,087 Total Jumlah Pelatihan 425 527 952 Jumlah Peserta 177,440 11,699 189,139 Jumlah Jumlah Peserta Pelatihan 55,161 4,891 60,052 225 226 451

Sumber: KM. Nas-(Diolah dari ) SPADA Template

4.3.3. Pembangunan Infrastruktur Seperti sudah disampaikan di dalam bab sebelumnya bahwa sub proyek infrastruktur diseluruh wilayah P2DTK adalah sebanyak 4.796 subproyek atau sekitar 46,03% dari sekuruh sub proyek P2DTK yang sebanyak 10.421 sub.proyek. Bagan berikut memperlihatkan sebaran sub proyek menurut
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 15

kwilayahan P2DTK Aceh-Sumut, P2DTK Nasional, dan wilayah Optimalisasi.
Diagram IV.02. Sebaran Sub Proyek Infrastruktur Menurut Kewilayahan
Total infrastruktur 4.796 sub proyek

Nasional 3,970 (82,78%)

Aceh-Sumut 781 (16,28%)

Optimalisasi 42 (0,94%)

Sumber: KM.Nas-MIS -

(1)Pembangunan Infrastruktur di Aceh-Sumut Sub proyek infrastruktur yang dibangun di Aceh-Sumut sebanyak 781 sub-proyek, yang didominasi oleh jumlah sub proyek jalan dan jembatan yang mencapai 431 sub proyek dengan jumlah unit terbangun 463 unit. Sub proyek drainase merupan sub proyek terbanyak kedua yang dibangun dan diinginkan masyarakat, dimana mencapai 108 sub-project dengan 192 unit terbangun.
Diagram IV.03. Jumlah Sub Proyek di Aceh-Sumut Menurut Jenis
431
450 375 300 225 150 75 0

Sub-sub proyek infrastruktur, terutama jalan dan jembatan, mempunyai multimanfaat bagi masyarakat, baik berkaitan dengan kebutuhan perekonomian, pendidikan, kesehatan, dan bermacam-macam kebutuhan sosial lainnya.

463 192 23 23 85 85

174 46 94 88

108

Sub proyek

Sub proyek

Sub proyek

Sub proyek

Sub proyek

Unit terbangun

Unit terbangun

Unit terbangun

Unit terbangun

Unit terbangun

Sub proyek

Pengadaan air bersih

Sanitasi

Jalan dan jembatan

Drainase

Irigasi

Lain-lain

Sumber: KM. Nas-MIS (file: Ditail sub proyek)

Yang menarik untuk dicermati lebih jauh adalah kemanfaatan subproyek jalan dan jembatan karena hal ini menyangkut kebutuhan yang paling diharapkan demi mempermudah mobilitas masyarakat. Jumlah panjang prasarana mobilitas masyarakat tersebut adalah 97.264 M (+ 97 KM). Hal ini tentu banyak mendukung mobilitas dan akses masyarakat ke berbagai tempat pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan, pasar, atau menuju sarana-sarana sosial lain. Sub proyek sanitasi dan drainase juga cukup signifikan jumlahnya. Sub proyek ini terdiri atas kegiatan seperti pembuangan air limbah rumah
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 16

Unit terbangun

tangga, gorong-gorong, dan saluran-saluran air yang sangat dekat dengan upaya peningkatan kesehatan masyarakat. (2)Pembangunan Infrastruktur di Wilayah Nasional Jumlah sub proyek infrastruktur di wilayah P2DTK nasional mencapai 3.970 sub-proyek (belum termasuk periode Program Optimalisasi). Diagram IV.04. dibawah ini menunjukkan bahwa sub proyek jalan dan jembatan, merupakan sub proyek yang paling banyak mencapai 1.868 buah. Ini berarti bahwa jalan dan jembatan merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat di wilayah-wilayah tertinggan di 8 propinsi sasaran P2DTK ini. Sementara pengadaan air bersih dan sanitasi (seperti MCK, jamban, pembuangan air limbah, dll) menempati urutan berikutnya dalam hal jumlah sub proyek.
Diagram IV. 04. Jumlah dan Jenis Sub Proyek P2DTK Nasional
5,319
4500 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0

2,996 1868 1,868

593

533

313

313

513 150 150

513

Sub proyek

Sub proyek

Sub proyek

Sub proyek

Sub proyek

Unit terbangun

Unit terbangun

Unit terbangun

Unit terbangun

Sub proyek

PENGADAAN AIR BERSIH

SANITASI

JALAN DAN JEMBATAN

DRAINASE

Unit terbangun

IRIGASI

LAIN-LAIN

Sumber: KM. Nas-MIS-file: spada template/data riska

Sub proyek jalan tersebut terdiri atas berbagai bentuk seperti jalan telfrod, jalan sirtu, jalan setapak, pembuatan badan jalan, serta berbagai jenis jembatan gantung) dengan panjang total 1.615.413 M (+ 1.600 KM), yang bermanfaat bagi lebih dari 10 juta orang. Swadaya yang muncul dari sub proyek jalan dan jembatan ini mencapai 1,70% (Rp. 10.774.691.821,-) dari total realisasi serapan dana Rp. 635.039.035.201,. Dengan panjang jalan seperti tersebut di atas tentu saja sangat mendukung mobilitas dan akses masyarakat terhadap berbagai keperluan seperti akses menuju selokah, puskesmas, pasar, atau ke tempat-tempat pelayanan publik yang lain. Sub proyek lain yang menjadi kebutuhan dan diinginkan oleh masyarakat di 8 provinsi P2DTK Nasional adalah subproyek air bersih dengan 593 sub proyek (2.996 unit) dan sanitasi dengan 533 sub proyek (5.319 unit terbangun).

Unit terbangun

Hasil Kalian Teknis yang kemudian berlanjut paada Forum Musyawarah Pendanaan, menunjukkan bahwa proyek infrastruktur jalan dan jembatan dalam berbagai jenis dan bentuknya, merupakan kebutuhan utama masyarakat.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 17

(3)Pembangunan Infrastruktur Periode Optimalisasi Sebanyak 45 paket proyek infrastruktur telah dilaksanakan di wilayah Optimalisasi Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah. Paket proyek yang jumlahnya cukup banyak adalah pengadaan listrik dan pembangunan serta rehab pendukung sarana kesehatan.
Diagram IV.05. Jenis dan Jumlah Paket Proyek Infrastruktur P2DTK Optimalisasi
Lain-lain (air bersih,pasar bahari) WC Gedung pendidikan (sekolah, lab komputer, asrama, dll) Pengadaan listrik Gedung kesehatan (posyandu, puskesmas, dll) Jalan Drainase
0 2

5 2 7 11 11 7 2
4 6 8 10 12

Sumber: KM. Nas-MIS

Rehab dan pembangunan gedung sarana pendidikan (seperti gedung sekolah, laboratorium komputer, asrama) dan rehab gedung pendukung kesehatan (seperti Puskesmas, Psoyandu, Pustu, dll), masing-masing mempunyai 7 paket proyek. Sementara yang lain mempunyai jumlah paket proyek yang kecil. (4) Jaring Pengaman Sosial Para pekerja di proyek-proyek infrastruktur tersebut sebagian besar adalah masyarakat sekitar dimana infrastruktur tersebut dibangun. Mereka memperoleh manfaat langsung berupa upah dengan bekerja di proyek-proyek tersebut dalam durasiwaktu yang berbeda-beda. Seluruh jumlah sub proyek infrastruktur yang sebesar 3.970 sub proyek telah melibatkan sebesar 738.817 HOK, dengan total upah yang dibayarkan sebanyak Rp. 37.155.850.000,Diagram IV.06. HOK Di Sub Proyek Infrastruktur P2DTK
OPTIMALI ACEH NASIONAL SASI [0,64%] [18,28%] [81,08%]
602.483
Rp. 30.124.150.000

Sebanyak 3.970 sub proyek infrastruktur di 10 propinsi P2DTK telah menghasilkan “cash from work” Rp 37.155.850.000,-, atau yang seringdisebut dengan “jaring pengaman sosial”.

HOK UPAH HOK UPAH HOK UPAH HOK UPAH

135.857 Rp. 6.792.850.000 477
Rp. 36.917.000.000

Sumber: KM.Nas – Mis: file/olahan editan data/chat HOK Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 18

TOTAL

738,817

Rp. 37.155.850.000

Jika dihitung rata-rata dengan dibagi jumlah pekerja maka upah yang diperoleh setiappekerja sebesar Rp. 87.828,-. Namun jika dihitung berdasarkan durasi hari kerja, meskipun durasi pekerjaan berbeda-beda antara satu sub proyek dengan sub proyek yang lain, maka kira-kira yang paling pendek yakni 5 hari dan yang paling lama mencapai 150 hari, atau yang paling kecil menerima upah sekitar Rp. 250.000,- sampai yang paling besar Rp. Rp. 750.000,4.3.4. Sumbangan Perbaikan Pelayanan Pendidikan Rendahnya akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan, kurangnya mutu pendidikan dan terbatasnya jumlah guru, merupakan profil permasalahan utama pendidikan di wilayah-wilayah tertinggal. Pada segi yang lain, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat tersebut dipengaruhi pula oleh rendahnya tingkat perekonomian. Program P2DTK telah memberikan sumbangan kepada perbaikan pelayanan pendidikan di wilayah-wilayah tertinggal dengan melaksanakan sebanyak 2.643 sub-sub proyek pendidikan terkait dengan aspek akses, mutu pendidikan, dan menejemen sekolah. (1) Pelayanan Pendidikan di Aceh-Sumut Sebelum membahas hasil-hasil capaian di bidang pendidikan secara lebih jauh, ingin dipaparkan sebelumnya gambaran kebutuhan kegiatan pendidikan di P2DTK Aceh-Sumut.
Diagram IV.07. Gambaran Kebutuhan Bidang Pendidikan di Aceh-Sumut

Aspek Manajemen Lain-Lain

Kegitan lain-lain Pagar Sekolah / Halaman Pelatihan Komite Sekolah Pelatihan dan pemantapan manajemen sekolah (a.l. MBS) Fisik/pengadaan dan rehab r. kelas, perpustakann, admin Perangkat Laboratorium / Alat Peraga Pelatihan Monitoring Sekolah, Masyarakat & Pengelola Pendidikan Pelatihan Guru mengenai Metoda Pengajaran (a.l. PAKEM dan CTL) Buku Paket Meubelair (Meja-Kursi Belajar) Pelatihan Guru mengenai Mata Pelajaran

Aspek Mutu

Aspek Akses

Perlengkapan Sekolah bagi Murid (Seragam, alat tulis, dsb) Subsidi / Layanan Transportasi ke/dari Sekolah Beasiswa / Subsidi Biaya Sekolah
0 20 40 60 80 100 120

Sumber: KM. Nas-MIS

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 19

Diagram di atas menggambarkan kebutuhan kegiatan bidang pendidikan di Aceh-Sumut, dimana terdapat 40 jenis kegiatan bidang pendidikan yang telah diimplementasikan di Aceh-Sumut dengan total sub proyek 520 sub proyek, baik berupa infrastruktur pendukung akses pendidikan, sub-proyek fisik pendidikan, dan kegiatan-kegiatan pengembangan kapasitas bidang pendidikan. Dari ke-40 jenis kegiatan tersebut, di dalam diagram di atas telah dilakukan pengelompokan-pengelompokan agar lebih mudah melihat kecenderungan kebutuhan, sehingga menjadi sekitar 13 jenis kegiatan. Dari 13 jenis kegiatan tersebut terpecah-pecah menjadi 520 sub kegiatan atau sub-proyek, dimana sebanyak 26 (5,00%) kegiatan berkaitan dengan aspek akses terhadap pendidikan, 232 (44,62%) kegiatan merupakan kegiatan-kegiatan dalam aspek peningkatan mutu pelayanan pendidikan, sebanyak 212 (40,77%) kegiatan terkait dengan upaya meningkatkan kapasitas manajemen pendidikan. Sebanyak 51 kegiatan lain-lain. a. Meningkatkan Akses Pendidikan Salah satu ukuran yang paling mudah untk melihat kemudahan masyarakat mengakses atau menjangkau tempat pelayanan pendidikan adalah melalui ketersediaan sarana jalan dan atau jembatan.
Tabel IV.12. Sub-Proyek Sarana Jalan dan Jembatan Pendukung Akses Pendidikan dan Kesehatan, Aceh-Sumut Keterangan Jumlah sub proyek Jumlah unit Panjang jalan (M) Pemanfaat laki-laki Pemanfaat perempuan Pembiayaan (Rp.) Swadya (Rp.) Sumber: KM. Nas-MIS Jumlah 431 463 97.264 M (+ 97 KM). 85.778 91.806 54.393.668.963 86.487.503

Sub-sub proyek di bidang pendidikan di Aceh-Sumut menitik beratkan pada aspek peningkatan mutu pelayanan pendidikan. Hal ini sejalan dengan indeks tingkat pendidikan Aceh yang berada pada kelompok posisi paling bawah di Indonesia.

P2DTK telah mendukung keterbukaan akses pendidikan melalui dibangunnya berbagai bentuk sarana jalan dan jembatan dengan total sub proyek 431 proyek, panjang selurunya sekitar 97 Km dan bermanfaat bagi lebih dari 300.000 orang termasuk anak-anak sekolah. Sementara aspek akses pendidikan dari segi noninfrastruktur jalan tercatat sebanyak 26 sub proyek terdiriatas bantuan untuk perlengkapan sekolah, bantuan dana transportasi untuk ke dan dari sekolah, serta biaya subsidi biaya sekolah. b. Upaya Memperbaiki Mutu Pendidikan Berdasarkan pada Diagram IV.07. maka kegiatan dibidang peningkatan mutu pelayanan pendidikan dan manajemen pendidikan (manajemen sekolah) dengan demikian merupakan fokus kegiatan
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 20

pengembangan pendidikan di Aceh-Sumut. Kegiatan-kegiatan pendidikan yang fokus kepada kedua tema tersebut diatas juga menjadi perhatian utama pemerintah Propinsi Aceh di bidang pendidikan, yang dewasa ini menekankan kepada aspek kualitas dan mutu pendidikan termasuk kualitas tenaga kependidikan. c. Manajemen Pendidikan Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya peningkatan aspek manajemen sekolah terdiri atas Pelatihan Komite Sekolah, Pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), dan perbaikan terhadap ruang kelas, ruang perpustakaan, rehab ruang administrasi, dll. Secara terperinci tersajidi Diagram IV.07. (2) Pelayanan Pendidikan di P2DTK Nasional Bagan berikut ini menggambarkan profil sub-sub proyek di bidang pendidikan di Wilayah P2DTK Nasional, yang sekaligus menggambarkan pula kebutuhan-kebutan masyarakat di 8 provinsi sasaran. Seluruh sub-proyek bidang pendidikan tersebut berjumlah 2.091 sub-proyek/kegiatan, sementara jenis kegiatannya terdiri atas lebih dari 40 jenis kegiatan. Secara sepintas bisa tergambarkan bahwa kegiatan-kegiatan yang bersifat non-pengembangan kapasitas untuk kualitas “belajarmengajar” dan pengelolaan sekolah, menjadi kegiatan yang diutamakan di wilayah P2DTK Nasional secara keseluruhan. Kegiatankegiatan tersebut seperti misalnya pengadaan perlengkapan sekolah, rehab fisik gedung (kelas, perpustakaan, ruang administrasi), pengadaan meubeleur, pembuatan lapangan olah raga/upacara, dll. Sementara kegiatan yang berkaitan dengan mutu pengajaran dan mutu manajemen sekolah, mendapat jumlah sub-proyek yang lebih sedikit . Diagram IV.08 menggambarkan bahwa bidang pendidikan di wilayah P2DTK Nasional mengarah pada upaya meningkatkan mutu pelayanan dengan total sub proyek 1.530 (73,2%), kemudian akses pendidikan menempati urutan sub proyek terbanyak dengan 268 sub proyek (12,8%), peningkatan manajemen sekolah diurutan berikutnya dengan 106 sub proyek (5,1%), dan sub proyek lain-lain sebanyak 187 buah (8,9%).
Kegiatan bidang pendidikan di wilayah P2DTK Nasional mengarah kepada upaya peningkatan mutu pengajaran, dengan 72,07% sub proyek dari total 1.507 sub proyek.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 21

Diagram IV.08. Gambaran Kebutuhan Bidang Pendidikan di Wilayah P2DTK Nasional

Lain-Lain (8,9%)

Lain-lain Kegiatan Pagar Sekolah / Halaman Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Pelatihan Komie Sekolah Pelatiahan MBS, pemantapan Manajemen, % monitoring sekolah Perangkat Laboratorium / Alat Peraga

Aspek Menejemen (5,1%)

Aspek Peningatan Mutu Pendidikan (73,2%)

Buku Paket Kelompok Kerja Guru (KKG)/Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pelatihan untuk guru: pemberdayaan potensi, olahraga & kesenian Pelatihan Guru mengenai Mata Pelajaran & mutu pendidikan Pelatihan Guru mengenai Metoda Pengajaran (a.l. PAKEM dan CTL) Pengadaan guru: guru honorere, guru kungjung Meubelair (Meja-Kursi Belajar) Lapangan Upacara/Olah Raga Fisik pengadaan & rehab:r. kelas, r. perpustakaan, r. admin Perlengkapan Sekolah bagi Murid (Seragam, alat tulis, dsb) Subsidi untuk siswa: Beasiswa, layanan transportasi dari/ke sekolah
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550

a. Meningkatkan Akses Pendikan Panjang jalan pendukung akses mobilitas masyarakat sasaran P2DTK di 8 propinsi Wilayah Nasional mencapai 1.600 KM dari 1.868 unit yang dibangun. Sarana infrastruktur berbagai jenis jalan dan jembatan tersebut bermanfaat langsung bagi masyarakat sekitarnya mencapai lebih dari 3 juta orang. Perempuan ternyata merupakan pemanfaat terbanyak dibanding laki-laki. Selain dari dukungan infrastruktur jalan, akses pendidikan juga bisa tergambarkan dari sejauh mana program telah memampukan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, dimudahkan untuk mendapatkan pelayanan pendidikan.
Tabel IV.13. Sub-Proyek Sarana Jalan dan Jembatan Pendukung Akses Pendidikan dan Kesehatan, P2DTK Nasional Keterangan Jumlah sub proyek Jumlah unit Panjang jalan (M) Pemanfaat laki-laki Pemanfaat perempuan Pembiayaan (Rp.) Swadya (Rp.) Sumber: KM. Nas-MIS Jumlah 1.868 1.868 1.615.413 (+ 1.600 KM) 1.735.581 2.036.411 635.039.035.201 10.774.691.821

Aspek Akses (12,8%)

Sumber: KM. Nas-MIS

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 22

b. Upaya Memperbaiki Mutu Pendidikan Pengertian paling sederhana mengenai perbaikan mutu pendidikan adalah upaya-upaya untuk tercapainya kualitas dalam proses “belajarmengajar” yang lebih baik. Kualitas tenaga pengajar dan ketersediaan fasilitas serta bahan ajar sekolah menjadi dua tolok ukur utama. Berkaitan dengan hal tersebut, P2DTK telah mendukung aspek peningkatan mutu pendidikan di wilayah Nasional dengan terlaksananya 1.530 sub proyek atau sebesar 73,2% dari seluruh jumlah sub proyek bidang pendidikan 2.091sub proyek. Dari jumlah sub proyek peningkatan mutu pendidikan sekolah tersebut di atas, sebanyak 506 sub proyek berupara rehabilitasi fisik gedung/ruang sekolah dan pengadaan meubeleur, serta sebanyak 578 sub proyek berupa kegiatan-kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas guru dalam mengajar. c. Manajemen Pendidikan Menejemen sekolah mendapatkan porsi sub proyek paling sedikit dari seluruh total sub proyek bidang pendidikan di P2DTK Nasional, yaitu sebesar 5,1% atau sebanyak 106 sub proyek. Dari jumlah tersebut 90 sub proyek berupa pelatihan MBS, 9 sub proyek pelatihan-pelatihan untuk Komite Sekolah, dan 7 sub proyek berkaitan dengan kelompok kerja kepala sekolah (K3S).

(3) Program Pendidikan Periode Optimalisasi P2DTK Optimalisasi dilaksanakan di 7 kabupaten di Kalimantan Barat dan Sulawesi Tengah, yang dilaksanakan sebagai kesinambungan dari P2DTK sebelumnya namun dengan pendekatan yang berbeda. Berkaitan dengan pelayanan bidang pendidikan, tercatat sebanyak 32 paket proyek pendidikan (non-fisik infrastruktur) dilaksanakan di wilayah optimalisasi tersebut. Dari jumlah 32 paket proyek pendidikan non-fisik tersebut, sebanyak 11 paket berkaitan dengan peningkatan kapasitas guru dan 21 paket lainnya bersifat sub proyek pengadaan baik pengadaan meubeleur, komputer, dan buku-buku penunjang.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 23

Diagram IV.09. Paket Proyek (Non-Fisik) Bidang Pendidikan Wilayah Optimalisasi
7
7 6 5 4 3 2 1 0

7 5 4

5

4

Mebeler

Pengadaan buku

Pengadaan sarana & peraga

mbs+pakem

PENGADAAN

MUTU

Sumber: KM.Nas-MIS

Khusus mengenai upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui pengembangan kapasitas guru diperiodeOptimalisasi, sudah sebanyak 72 tenaga pengajar mendapatkan pelatihan MBS dan Pakem. Sebanyak 96 guru memperoleh berbagai jenis belatihan seperti Diklat Strategi Peningkatan Hasil UN Bagi Guru-Guru SMP/MTs Tkt. Kabupaten, Diklat Tehnisi dan Guru TIK, Pelatihan dan Operasional Keaksaraan Fungsional, dan Diklat Strategi Peningkatan Hasil UN Bagi Guru-Guru SMP/MTs Tkt. Kabupaten. 4.3.5. Sumbangan Perbaikan Pelayanan Kesehatan Rendahnya derajat kesehatan masyarakat diwilayah-wilayah tertinggal, termasuk di dalam program P2DTK, disebabkan oleh beberapa hal 6 seperti: (a) Sulitnya masyarakat menjangkau atau menuju tempat pelayanan kesehatan karena ketiadaan atau keterbatasan sarana transportasi. Akibatnya biaya menuju tempat pelayanan menjadi mahal; (b) Lemahnya daya jangkau pemerataan pelayanan kesehatan dasar karena kurangnya kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan; (c) Lemahnya mutu pelayanan kesehatan; (d) Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap perilaku hidup sehat; (e) Lemahnya promosi kesehatan (khususnya di wilayah-wilayah terpencil) dan pemberdayaan masyarakat. Berbasis pada permasalahan-permasalahan tersebut, P2DTK bidang kesehatan dikembangkan dengan tujuan: (a) Mengembangkan kemampuan pemerintah daerah menjalankan fungsinya secara lebih baik dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan publik; (b) Meningkatkan kualitas SDM institusi pelayanan kesehatan publik serta mutu pelanayanannya; dan (c) Meningkatkan promosi kesehatan dan akses masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan secara lebih baik, dan Meningkatkan kapasitas managemen institusi pelayanan kesehatan publik.
“Peningkatan Akses Kesehatan Masyarakat Yang Lebih Berkualitas” (24 Maret 2012: www.bappenas.go.id/get-file-server/node/3349)
6

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 24

pelath mutu penddk

komputer

(1) Program Kesehatan di Aceh-Sumut Diagram berikut ini menggambarkan pola kebutuhan masyarakat yang tercermin ke dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di bidang kesehatan di Aceh-Sumut. Kegiatan yang berkaitan dengan pelayanan mutu kesehatan serta promosi kesehatan mecapai jumlah sub-kegiatan yang cukup banyak seperti penanggulangan gizi buruk, pengobatan dasar dan imunisasi, penyuluhan dan promosi kesehatan, pelatihan kesehatan masyarakat, dan pelatihan tenaga kesehatan (kader, bidan).
Diagram IV.10. Jenis-Jenis Kegiatan Bidang Kesehatan Berdasarkan BLM Kabupaten P2DTK Ace-Sumut.

REHAB & FASILITAS [6,61%]

Rehab Posyandu /Polindes Pengadaan Peralatan kesehatan Rehabilitasi fisik fasilitas kesehatan: Puskesmas, Pustu, Puskesling Warga Siaga Sanitasi Masyarakat (TSM) Penanggulangan gizi buruk: sweeping, PMT,Perbaikan Gizi Masyarakat Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) WC, Jamban, & air Bersih Kegiatan lain-lai

KESEHATAN MASY. [65,03%]

MUTU PELAYANAN [46,70%]

Penyemprotan Kesehatan Lingkungan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Pelayanan kesehatan ibu, tumbuh kembang anak (KIA), dan KB Pengobatan dasar umum dan imunisasi Pelatihan Tenaga Kesehatan (Kader, Bidan)

AKSES [28,36%]

Penyuluhan promosi kesehatan Pelatihan Kesehatan Masyarakat
0 100 200 300 400

Sumber: KM. Nas-MIS

Sumber: KM. Nas-MIS, TA. Bidang

Akses Kesehatan di Aceh-Sumut Pada Tabel IV.12. digambarkan bahwa di P2DTK wilayah AcehSumut telah terbangun sarana jalan dan jembatan yang bisa mendukung akses kesehatan dan pendidikan sepanjang + 97 KM dengan total pemanfaat sebanyak lebih dari 170.000 orang. Bermacam-macam keperluan dan kebutuhan mobilitas masyarakat tentu terdukung dengan pembangunan jalan tersebut, termasuk

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 25

keperluan menuju tempat-tempat pelayanan kesehatan seperti Pustu dan Puskesmas. Akses kesehatan ini juga bisa diukur dari kegiatan yang bersifat non-infrastruktur, yaitu dari kegiatan yang bersifat promosi kesehata atau penyuluhan pengauatan kesehatan masyarakat agar mereka paham sejauh mana pelayanan yang bisa diberikan oleh Puskesmas maupun Pustu. Dalam kaitannya dengan kegiatan penyuluhan dan promosi kesehatan kepada masyarakat sasaran, dapat disimak dalam grafik tentang jenis-jenis kegiatan di bidang kesehatanuntuk wilayah Aceh-Sumut, bahwa terdapat dua kegiatan utama dalam upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Kegiatan tersebut yakni Pelatihan Kesehatan Masyarakat dan Penguatan Kesehatan Masyarakat melalui kegiatan promosi dan penyuluhan kesehatan. Jumlah sub-kegiatannya sebanyak 156 (24,53%) pelatihan diikuti sekitar 560 orang. Kuantitas dan kualitas kegiatan dibidang akses kesehatan tersebut jauh dibawah kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada peningkatan mutu pelayanan jajaran petugas kesehatan. Mutu Pelayanan Kesehatan di Aceh-Sumut Kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat bisa digambarkan kedalam dua ranah. Pertama, yaitu kualitas pelayanan yang diberikan di Puskesmas, dan Kedua adalah kualitas pelayanan yang terkait dengan pemberdayaan kesehatan masyarakat. Ranah yang Kedua tersebutyarakat, Deteksi dan Penanggulangan Gizi Buruk. Grafik IV.10. memberikan gambaran bahwa di Aceh-Sumut sebanyak 219 (46,70%) sub-proyek telah mendukung kemampuan mutu Puskesmas dan Pustu dalam memberikan pelayanan, antara lain pengubatan dasar dan umum, pelayanan untuk ibu hamil, deteksi dini tumbuh kembang anak, UKS, pelatihan untuk tenaga kesehatan, dll. Sementara sub proyek untuk pemberdayaan atau penguatan kesehatan masyarakat mencapai 305 (65,03%) sub proyek, terdiri atas Pemberdayaan Warga Siaga (7 sub proyek), Pemberantasan Penyakit Menular (14 sub proyek), Penanggulangan Gizi Buruk (18 sub proyek), TSM (15 sub proyek), serta MCK dan Akses air bersih (251 sub proyek). Kelima kegiatan yang disebut terakhir merupakan saran kegiatan utama program Kementerian Kesehatan dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di wilayah-eilayah tertinggal. (2) Program Kesehatan P2DTK Nasional Gambaran kebutuhan masyarakat sasaran P2DTK tentang pelayanan kesehatan di wilayah P2DTK Nasional dapat digambarkan di dalam Diagram IV.11. di bawah ini. Terdapat
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 26

Sebesar 65,03% dari total 469 sub proyek kesehata di P2DTK Aceh-Sumut telah mengarah ke-5 (lima) isu utama kesehatan wilayah tertinggal

sekitar 40 jenis kegiatan bidang kesehatan di P2DTK Nasional, dimana di dalam grafik tersebut sudah diolah menjadi 16 jenis kegiatan yang mempunyai sub-sub proyek cukup banyak. Jenis-jenis kegiatan seperti penanggulangan gizi buruk, TSM, jambanisasi, MCK, serta akses air bersih, rehab posyandu, pengadaan meubeleur, pemberantasan penyakit menular, pelatihan tenaga kesehatan, dan promosi kesehatan kepada masyarakat, merupakan kegiatan-kegiatan dengan jumlah sub proyek yang cukup banyak.
Diagram IV.11. Jenis-Jenis Kegiatan Bidang Kesehatan Berdasarkan BLM Kabupaten dan Kecamatan P2DTK Nasional (8 provinsi)

LAIN-2 [3,74%]

Kegiatan lain-lain Penanggulangan gizi buruk: sweeping,PMT, perbaikan gizi masyarakat Total Sanitasi Masyarakat (TSM) Warga Siaga Pemberantasan Penyakit Menular Jamban, WC, Air bersih Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Honor Tenaga Kesehatan (Bukan PNS) Pelatihan Tenaga Kesehatan Lingkungan

15 67 73 62 25 612

KESEHATAN MASY. [53,20%]

27 31 37 28 36 19 112 121 12 67 115 118
0 40 80 120 160 200 240 280 320

MUTU PELAYANAN [31,07%]

Pengadaan Peralatan kesehatan (timbangan, dll) Pengobatan dasar, umum, dan imunisasi Pengadaan Obat-Obatan Rehabilitasi/pembangunan Posyandu /Polindes Meubelair (meja, kursi, lemari) Pelayanan Bumil, KB, Kesehatan Ibu dan tumbuh kembang anak,serta media KIA Pelatihan Tenaga Kesehatan (Kader, Bidan)

AKSES [14,17%]

Pelatihan Kesehatan (Masyarakat) Penyuluhan dan Promosi Kesehatan (Penguatan Kesehatan Masyarakat)

Sumber: KM. Nas-MIS

Jenis-jenis kegiatan tersebut yang secara mekanisme manajemen program merupakan hasil proses kajian teknis dan perencanaan partisipatif, bisa dikatakan sebagai gambaran kebutuhan masyarakat di wilayah-wilayah tertinggal sasaran P2DTK. Berbasis pada profil ciri permasalahan kesehatan di wilayah
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 27

tertinggal pada umumnya, maka jenis-jenis kegiatan di bidang kesehatan tersebut kiranya cukup relevan menjawab sebagian dari beberapa persoalan mendasar bidang kesehatan wilayah tertinggal. Akses Pelayanan Kesehatan Apabila pengertian dasar akses kesehatan adalah sejauh mana kemudahan masyarakat menjangkau dan mendapatkan pelayanan kesehatan, maka dalam upaya mendasar yang dibutuhkan untuk mengurangi persoalan akses kesehatan tersebut paling tidak adalah: (a) Perbaikan sarana transportasi menuju pusat/tempat pelayanan kesehatan masyarakat seperti Puskesmas dan atau Pustu (Puskesmas Pembantu); dan (b) Promosi kesehatan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman masyarakat berperilaku hidup sehat serta mengetahui cakupan pelayanan kesehatan yang bisa diberikan oleh pemerintah. Seperti juga sudah tersaji di Tabel IV.13. bahwa sarana jalan dan jembatan yang sudah dibangun di wilayah P2DTK Nasional adalah sepanjang 1.600 KM yang termanfaatkan oleh lebih dari 3 juta masyarakat di wilayah sasaran P2DTK. Jalan dan jembatan adalah sarana mobilitas yang tentu saja multi fungsi pemenuhan kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan untuk mengakses sarana pelayanan kesehatan. Sedangkan upaya peningkatan akses kesehatan di wilayah P2DTK Nasional telah terlaksana dalam dua jenis kegiatan yaitu penyuluhan dan promosi kesehatan masyarakat serta pelatihan kesehatan masyarakat dengan jumlah total sub proyek 233 sub proyek atau sekitar 14,17% dari total sub proyek yang berjumlah 1.577 sub proyek. Perbaikan Mutu Pelayanan Kesehatan Mutu pelayanan kesehatan diartikan sebagai kemampuan untuk mengurangi atau menyelesaikan persoalan-persoalan kesehatan yang ada di masyarakat. Dari Diagram IV.11. tergambar bahwa dalam hal mutu pelayanan kesehatan Puskesmas dan Pustu telah terlaksana 490 sub proyek (31,07% dari total sub proyek), dimana kegiatan seperti pengadaan meubeleur, rehab posyandu, puskesmas, dan Pustu, serta pelatihan tenaga kesehatan mempunyai jumlah sub proyek yang relatif besar. Sementara itu pelayanan kesehatan yang berupa penguatan kesehatan masyarakat yang menyangkut lima (5) isu pokok permasalahan kesehatan di wilayah tertinggal mempunyai 839 sub proyek (53,34%). Dari isu-isu pokok permasalahan kesehatan wilayah tertinggal tersebut, dapat tergambar bahwa rehab jamban, WC, dan akses air bersih merupakan kegiatan dengan sub proyek terbanyak mencapai 612 kegiatan sub proyek (38,81%), sementara kegiatan-kegiatan menyangkut
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 28 Di P2DTK Nasional sebanyak 19,34% sub proyek bidang kesehatan telah mendukung perbaikan 5 (lima) isu utama kesehatan wilayah tertinggal, dimana kegiatan jambaninsasi sangat dominan

penanggulangan gizi buruk berada jauh dibawahnya dengan 67 kegiatan atau sekitar 4,24% saja. (3) Pelayanan Kesehatan Periode Optimalisasi Sebanyak 31 paket proyek kesehatan terlaksana di wilayah Optimalisasi Kalimantan Barat dan Sulawesi tengah. Sebagian besar kegiatan berupa paket proyek pengadaan yaitu sebanyak 22 paket (70,97%), seperti: Pengadaan Alat Kesehatan Poskesdes; Pengadaan kulkas vaksin; Pengadaan Sarana Pelayanan Paripurna (Alat Permainan Anak); Pengadaan sarana Pelayanan Paripurna (Posyandu, BKB dan PAUD) Elektrikal dan Komputer);dll.
Diagram IV.12. Jenis Paket Proyek Kesehatan di Wilayah Optimalisasi
10 8 6 4 2 0

8 3 3

8 2 3 2 2

Desa Siaga

Pengadaan & Rehab (22 Keg/70,97%)

Sarana posyandu(poster,buku, dll)

Pelatihan Mutu Kesehatan (7 Keg/22,58%)

Pertemuan lintas program

Rehab/Pembangunan gedung

Kader BKD, PAUD

Alat kesehatan

Meubeleur

Lain2 (6,45%)

Sumber: KM.Nas-MIS

Kegiatan yang bersifat pengembangan kapasitas mutu pelayanan kesehatan hanya 7 paket kehiatan (22,58%), seperti misalnya: Pelatihan Bidang Kesehatan (Posyandu,BKB, PAUD); Pelatihan Kader Desa Siaga; Pelatihan Kader Posyandu PKM; Pelatihan Tenaga Kesehatan dan Badan Penyantun Puskesmas; dan Pertemuan Lintas Program Peningkatan Sumber Daya Kesehatan Tingkat Kabupaten 4.3.6. Gender Mainstreaming (Pengarusutamaan Gender) Kegiatan pengarusutamaan gender di dalam program P2DTK dapat dilihat di dalam 4 aspek. Pertama, aspek akses: yang dimaksud adalah “kemudahan perempuan mendapatkan segala sumber daya program”. Mengacu pada pedoman dan manual maka P2DTK telah memastikan bahwa perempuan memiliki akses yang sama pada sumberdaya program, yang meliputi: (a) akses pada informasi (perempuan hadir dalam setiap pertemuan); (b) akses pada kebijkan dimana perempuan menjadi utusan /perwakilan desa/kelompok untuk menetapkan kebijakan program di tingkat bawah; dan (3) akses dana dimana perempuan mendapat hak untuk ikut serta dalam penggunaan dana program.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 29

Lain-lain

Kedua, aspek partisipasi : aspek yang dimaksud adalah baru pada tingkat partisipasi “kehadiran” belum pada standart kualitatif dimana diharapkan partisipasi tidak hanya hadir tapi juga memberi kontribusi dan pengaruh pada hasil pertemuan. Mengacu pada indicator P2DTK, menyebutkan bahwa 30% perempuan hadir dalam forum perencanaan P2DTK. Partisipasi ini didukung oleh monitoring kehadiran Perempuan dalam Format SIM. Ketiga, aspek kontrol : Kontrol dimaksud adalah keterlibatan dalam pengawasan proses pelaksanaan program. P2DTK memastikan perempuan menjadi bagian dari tim monitoring untuk melakukan kontrol terhadap pelaksanaan program, baik dalam perannya sebagai pelaku kelembagaan P2DTK (UPK /UPKD/Pengurus Forum dll) atau sebagai warga penerima manfaat. Keempat, aspek manfaat : Manfaat dimaksud adalah manfaat yang bisa langsung dirasakan perempuan dan bisa meningkatkan kualitas hidup perempuan secara langsung. Secara umum, P2DTK telah memberikan manfaat pada perempuan terkait 3 aspek utama yaitu: kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Data jumlah total pemanfaat perepuan sudah dijadikan bagian dari monitoring regular melalui SIM. Ke empat aspek tersebut kemudian diuraikan secara teknis ke dalam indikator kinerja gender dan diintegrasikan ke system SIM NMC-P2DTK, sehingga jumlah pemanfaat, partisipasi dan peserta pelatihan perempuan bisa dipantau secara rutin.
Tabel IV.14. Indikator Kinerja Gender Mainstreaming P2DTK Partisipasi perempuan dalam kegiatan-kegiatan perencanaan P2DTK mencapai 24% atau sebanyak 60.509 perempuan.Sementara besarnya partisipasi perempuan dalam pelatihan-pelatihan bersumber Dana DOK mencapai 37% (16.939 orang).

Indikator Pemanfaat program

Performance Indicator 30% perempuan dan laki-laki seimbang mendapat manfaat dalam bidang utama baik di tingkat kabupaten maupun kecamatan 30% perempuan berpartisipasi dalam perencanaa 30% perempuan menjadi peserta dalam pelatihan

Partisipasi dalam Perencanaan Pelatihan
Sumber: Data MIS-Gender, KM. Nas

Capaian Keluaran (Output) gender mainstreaming di dalam pelaksanaan program P2DTK adalah sebagai berikut: 1. Sebanyak 6 provinsi dari 10 provinsi lokasi P2DTK memiliki angka partisipasi perempuan lebih dari 30 % diatas Indikator Kinerja yang ditetapkan NMC-P2DTK. 2. Total pemanfaat perempuan program P2DTK secara Nasional adalah 3.087.532 perempuan (21%) dengan angka pemanfaat tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Tengah (37%), dan angka pemanfaat terendah adalah Provinsi Maluku Utara (3%).

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 30

Tabel IV.15. Jumlah Pemanfaat Perempuan Kegiatan P2DTK Propinsi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Aceh Nias Bengkulu Lampung Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Sulawesi Tengah NTT Maluku Maluku Utara Pemanfaat 1.251.632 112.929 360.959 1.141.701 377.780 784.177 507.932 821.131 392.110 386110 Pemanfaat Perempuan 400.522 13.551 54.144 411.012 120.890 39.209 152.380 303.818 117.633 11.583 1.624.743 32% 12% 15% 36% 32% 5% 30% 37% 30% 3% 26% Pemanfaat Laki-Laki 851.110 99.378 306.815 730.689 256.890 744.968 355.552 517.313 274.477 374.527 4.511.718 68% 88% 85% 64% 68% 95% 70% 63% 70% 97% 74%

Total P2DTK 6.136.461 Sumber: Data MIS danberbagai sumber.

3. Sebanyak 4 provinsi dari 10 provinsi lokasi P2DTK memiliki angka partisipasi kehadiran perempuan di dalam forum dan pertemuanpertemuan perencanaan diatas 30% . 4. Total jumlah partisipasi perempuan dalam forum perencanaan adalah 24% atau sebanyak 60.509 orang dengan tingkat partisipasi tertingggi ada di NTT (37%) dan partisipasi terendah di Lampung (6%).
Tabel IV.16. Jumlah Partisipasi Perempuan dalam Perencanaan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Provinsi Aceh Sumatera Utara Bengkulu Lampung Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Maluku Maluku Utara Perempuan 4.080 510 1.560 1.447 10.728 9.745 6.398 9.341 12.420 4.280 30% 3% 13% 6% 26% 31% 28% 28% 40% 18% 24% Laki-Laki 9.520 14.410 10.890 23.654 29.872 21.894 16.286 24.324 18.880 18.880 188.610 70% 97% 87% 94% 74% 69% 72% 72% 60% 82% 76% Total 13.600 14.920 12.450 25.101 40.600 31.639 22.684 33.665 31.300 23.160 249.119

Total 60.509 Sumber: Data MIS-Gender-KM. Nas

5. Dalam hal partisipasi perempuan sebagai peserta pelatihan, keluaran P2DTK menunjukkan bahwa 9 provinsi dari 10 provinsi wilayah P2DTK memiliki angka partisipasi lebih dari 30%. Bahkan di Sulawesi Tengah angka partisipasi perempuan sebagai peserta pelatihan mencapai 41%. Hanya satu provinsi memiliki angka di bawah 30% yaitu Sumatera Utara 6. Total jumlah perempuan sebagai peserta pelatihan dana DOK P2DTK adalah sebesar 37%, dan provinsi dengan angka partisipasi tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Tengah yaitu 41% dan terendah ada di Provinsi Sumatera Utara yaitu 15%.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 31

Tabel IV.17. Jumlah Peserta Perempuan Pelatihan DOK P2DTK

No
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Provinsi

Perempuan
218 71 1.641 1.481 2.083 2.856 2.190 4.378 1.511 510 16.939 37%

Laki-Laki
382 393 2.671 2.393 3.499 6.232 3.589 6.181 2.856 946 29.142 63%

Total
600 464 4.312 3.874 5.582 9.088 5.779 10.559 4.367 1.456 46.081 100%

%
36% 15% 38% 38% 37% 31% 38% 41% 35% 35% 37%

Aceh Sumatera Utara Bengkulu Lampung Nusa Tenggara Timu Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Maluku Maluku Utara Total Prosentasi Sumber: Data MIS-Gender-KM. Nas

Selain capaian-capaian output bersifat kuantitatif di atas, berikut ini ingin dipaparkan beberapa capaian lain gender mainstreaming selama proses implementasi P2DTK. Hasil supervisi terhadap kegiatan-kegiatan P2DTK di daerah-daerah menemukan kegiatan-kegiatan nyata yang responsive gender yang cukup penting dan bermakna bagi peningkatan kualitas hidup perempuan. Kegiatan-kegiatan atau kasus responsive gender tersebut antara lain: (1) Memberi kemudahan akses pada kaum perempuan untuk mendapat air bersih; (2) Memberikan kemudahan akses kaum perempuan pada fasilitas layanan kesehatan ibu balita; (3) Memberi kesempatan partisipasi yang lebih besar pada perempuan untuk menambah wawasan dalam perencanaan pembangunan; (4) Memberi akses lebih luas pada perempuan untuk masuk MTs/sekolah lanjutan , karena sebelumnya jumlah kelas sangat terbatas; dan (5) Keterlibatan pekerja perempuan mendapatkan upah dalam proses pembuatan jalan. 4.3.7. Pengembangan Sektor Swasta (PSS) Salah satu bidang kegiatan dalam program P2DTK adalah Pengembangan Sektor Swasta (PSS) untuk menunjang pengembangan ekonomi daerah, sebagai salah satu upaya mengatasi permasalahan pokok dalam pengembangan ekonomi daerah, seperti: infrastruktur, jaringan pemasaran, sumberdaya manusia, akses terhadap modal, dan regulasi ekonomi. Tujuan dari bidang PSS ini adalah untuk membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam memulihkan kondisi pelayanan usaha, membangkitkan kembali iklim usaha dan investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Adapun fokus PSS-P2DTK adalah pada penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam memperbaiki iklim usaha agar lebih kondusif, peningkatan keterlibatan sektor swasta dalam perumusan kebijakan pengembangan ekonomi daerah dan strategi pengembangan ekonomi lokal, serta peningkatan kuantitas dan kualitas sarana pendukung kegiatan ekonomi.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 32

Dengan dilaksanakannya program PSS maka diharapkan akan terjadi: (1) Perubahan iklim usaha dan investasi yang lebih baik dengan mengembangkan mekanisme dialog, kerjasama antar sektor swasta dan pemerintah daerah serta menciptakan regulasi yang dapat memperbaiki iklim usaha dan investasi; (2) Pemulihan kondisi pelayanan usaha yang berorientasi pasar melalui pembangunan sarana dan prasarana, serta peningkatan kapasitas sektor swasta dan pemerintah daerah. Ada 5 cakupan strategi kegiatan PSS, yaitu: (1) Pengadaan dan perbaikan infrastruktur pendukung kegiatan usaha; (2) Pengembangan mekanisme dialog antara sektor swasta dan Pemerintah daerah dalam perumusan strategi pengembangan iklim usaha dan investasi; (3) Membangun jaringan kerjasama untuk pengembangan iklim usaha dan investasi; (4) Penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam perumusan regulasi/ kebijakan daerah; dan (5) Peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang terlibat dalam kegiatan usaha melalui kerjasama dengan program pelatihan dari lembaga-lembaga yang kompeten. Mekanisme pelaksanaan kegiatan Bidang PSS, dilaksanakan sejalan dan sinergi dengan mekanisme kegiatan perencanaan kegiatan P2DTK, hasil kegiatan bidang PSS yang dirumuskan di FGD kecamatan menjadi Input untuk TKT Kecamatan dan hasil Musyawarah Sektor Swasta di Kabupaten menjadi input TKT Kabupaten dalam merancang kegiatan P2DTK. Lima strategi kegiatan tersebut di atas dilaksanakan dalam 7 kegiatan, yaitu: (1) Sosialisasi P2DTK di tingkat provinsi dan kabupaten; (2) Baseline Survey; (3) Focus Grup Discussion di Kecamatan; (4) Studi kebijakan ekonomi daerah; (5) Musyawarah Khusus Sektor Swasta (MSS); (6) Pelaksanaan Forum Sektor Swasta (FSS) sebagai salah satu upaya keberlanjutan; dan (7) Musyawarah Khusus Sektor Swasta (MSS) 2 – Rencana Aksi. (1) Wilayah PSS dan Peran Pendampingan KM. Nas Program PSS di wilayah sasaran P2DTK dilaksanakan melalui dua bentuk kegiatan. Pertama, program PSS di wilayah Aceh-Sumut dilaksanakan oleh TAF-Asia Foundation. Pelaksanaan PSS di Aceh-Sumut tidak dibawah koordinasi KM. Nas. Sementara Kedua, program PSS di wilayah P2DTK (8 provinsi non Aceh-Sumut) diimplementasikan oleh dua lembaga pelaksana yang disebut LPK-PSS (Lembaga Pelaksana Kegiatan Pengembangan Sektor Swasta) namun tetap dibawah koordinasi KM. Nas. Pelaksanaan kegiatan pendampingan PSS di wilayah P2DTK Nasional adalah lembaga sebagai berikut: 1. LPK-PSS Wilayah Barat adalah Yayasan Bina Karya Mandiri (YBKM). Kegiatan bidang PSS, untuk wilayah Barat, dilaporkan dalam proses pendampingan FSS, Kegiatan Advokasi Kebijakan, dan Penyelesaian Laporan Studi Kebijakan, ada 2 kabupaten yang tidak ada pendampingan sejak November 2010, yaitu Kabupaten Way Kanan, Koord. PSS mengundurkan diri dan Kab. Kotawaringin

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 33

Timur, cuti melahirkan; sehingga di kedua kabupaten tersebut tidak dapat dilaksanakan kegiatan Pelatihan FSS ataupun kegiatan lainnya. 2. LPK-PSS (Lembaga Pelaksana Kegiatan Pengembangan Sektor Swasta) Wilayah Timur yang terdiri dari Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Maluku, Provinsi Maluku Utara, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan penanggung jawab Bina Swadaya (sudah habis kontrak konsultan). Kegiatan bidang PSS, untuk wilayah Timur sudah selesai sejak bulan Desember 2010, sejalan dengan selesainya masa kontrak LPK-PSS Bina Swadaya, sampai akhir Februari KM. Nas belum terima laporannya dari LPK-PSS.
Tabel IV.18. Cakupan Wilayah Sasaran Program PSS Wilayah Barat Provinsi 1. Bengkulu Kabupaten 1. Kepahiang 2. Seluma 3. Bengkulu Selatan Provinsi 1. Sulawesi Tengah

Wilayah Timur 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

Kabupaten Poso Morowali Banggai Tojo Una-una 2. Lampung 4. Way Kanan 2. Maluku Halmahera Utara 5. Lampung Utara *) Utara Halmahera Barat 6. Lampung Timur *) Halmahera Tengah Halmahera Selatan Kepulauan Sula 3. Kalimantan 7. Bengkayang 3. Maluku Buru Barat 8. Sambas Maluku Tengah 9. Sanggau Seram Bagian Timur Maluku Tenggara Maluku Tenggara Barat 4. Kalimantan 10. Katingan 4. Nusa 15. Timor Tengah Timur 11. Kotawaringin Timur Tenggara Selatan (TTS) Seruyan*) Timur 16. Belu 17. Sumba Barat 18. Flores Timur 19. Lembata 20. Alor * Keterangan: Penempatan Koord Kab PSS di batalkan, sehingga program PSS dilaksanakan hanya di 29 kabupaten Sumber: Data PSS

(2) Capaian Target Kegiatan a. Sosialisasi Provinsi: Sosialisasi PSS di level provinsi sudah di lakukan di 4 provinsi sasaran kegiatan. b. Sosialisasi Kabupaten: Sosialisasi PSS di level kabupaten sudah dilakukan di 100% kabupaten sasaran, yaitu 29 kabupaten. c. Pelatihan Enumerator dan Fasilitator: Sudah dilakukan di 9 kabupaten wilayah Barat (100%), dan di 20 kabupaten di wilayah Timur (100%). d. Pelaksanaan FGD Kecamatan: Sudah dilaksanakan di 69 kecamatan di wilayah Barat, atau sekitar 69% sebab 11 kecamatan di Lampung Timur dan Lampung Utara dibatalkan. Sementara di wilayah Timur sudah terlaksana 100%, yaitu di 109 kecamatan dan ada tambahan 3 kecamatan non wilayah program. Sebesar
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 34

81,5% hasil FGD dinyatakan bisa menjadi input bagi pemerintah daerah. e. Pelaksanaan Baseline Survei: Sudah 100% dilakukan untuk 9 kecamatan di wilayah Barat dan 20 kecamatan di wilayah Timur. f. Pelaksanaan Studi Kebijakan: Sudah dilaksanakan 100% baik di wilayah Barat mapun Timur. g. Terbentuknya Forum Sektor Swasta (FSS): Sebanyak 29 FSS sudah terbentuk di 29 kabupaten sasaran (100%). h. Musyawarah Sektor Swasta (MSS) Ke-1 dan MSS Ke-2: Kegiatan MSS-1 dan MSS-2 sudah terlaksana di seluruh wilayah kabupaten sasaran yaitu 29 kabupaten. Diperkirakan bahwa 75,80% hasil dari MSS tersebut bisa menjadi masukan bagi pengambilan kebijakan oleh pemerintah daerah di 22 kabupaten. i. Pertumbuhan Usaha Baru: Sejak tahun 2007 sampai tahun 2010 melalui PSS telah tumbuh 19.466 usaha baru di wilayah Barat dan Timur, dengan perincian sebagai berikut:
Tabel IV.19. Pertumbuhan Usaha Baru di Wilayah Barat dan Timur No Provinsi/Kabupaten WILAYAH BARAT Bengkulu 1 2 3 II 4 III 5 6 7 IV 8 9 Kepahiang Seluma Bengkulu Selatan Lampung Way Kanan Kalimantan Barat Bengkayang Sanggau Sambas Kalimantan Tengah Katingan Kotawaringin Timur Sub Total WILAYAH TIMUR Maluku Buru Maluku Tengah Seram Bagian Timur Maluku Tenggara Maluku Tenggara Barat Maluku Utara Halmahera Tengah (Gabung dg Kota Tidore Kepulauan Halmahera Selatan Kepulauan Sula Halmahera Barat Halmahera Utara Nusa Tenggara Timur Belu Lembata 88 166 183 126 124 198 200 180 237 266 346 55 366 1,972 113 147 2,007 154 253 404 407 107 415 4,007 137 272 164 377 436 460 127 470 2,443 462 783 2,390 624 867 1,350 1,557 410 1,526 9,969 Daftar Perusahaan (Baru) 2007 2008 2009 2010 Total

I

244 344 121 275 1,547

V 10 11 12 13 14 VI 15

105 143 380 -

168 195 69 78 -

147 213 36 113 -

202 773 65 188 -

622 1,324 170 759 -

471 48 50

206 473 58 29

107 397 90 72 44

70 373 85 68

383 1,714 90 263 191

16 17 18 19 VII 20 21

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 35

No 22 23 24 25

Provinsi/Kabupaten

Daftar Perusahaan (Baru) 2007 10 1,207 2,754 2008 1,475 52 2,803 4,775 42.32 2009 53 76 201 1,549 5,556 14.06 2010 1,619 105 198 192 3,938 6,381 12.93 23.10

Total 3,094 220 274 393 9,497 19,466

Alor Timor Tengah Selatan Flores Timur Sumba Barat Sub Total TOTAL Pertumbuhan per tahun Rata-rata pertumbuhan Sumber: Diolah dari data PSS

Total usaha baru yang terdaftar di Wilayah Barat sebanyak 9.969 usaha, sementara di Wilayah Timur 9.497 usaha. Total usaha baru yang terdaftar melalui PSS menjadi 19.466. Angka rata-rata pertumbuhan usaha per tahun sebesar 23,10%. (3) Dukungan Dana BLM: Kegiatan PSS yang dibiayai oleh BLM Kabupaten dan BLM Kecamatan terbatas pada kegiatan pembangunan infrastruktur yang mendukung sektor usaha swasta. Kegiatan-kegiatan infrastruktur yang mendukung sector swasta mencapai 37.96% dari total BLM Kab dan BLM Kec, yang terbagi dalam kegiatankegiatan sebagai berikut:  Akses transportasi kegiatan ekonomi, berupa Jalan dan jembatan mencapai 24%, yaitu seperti: jalan menuju sentra produksi, jalan desa dan jalan antar desa  Air bersih dan Sanitasi lingkungan permukiman, mencapai 4% , yaitu seperti: saluran drainase dan normalisasi sungai  Bangunan pelindung kawasan, mencapai 4% yang antara lain seperti tanggul penahan tanah dan Tanggul penahan ombak  Tambatan Perahu dan Dermaga mencapai hanya 0,4%  Irigrasi dan bangunan air, mencapai 4%  Bangunan fasilitas usaha hanya 0,9% dari Total BLM seperti pasar, Tempat Pelelangan Ikan, Gudang dan Bangunan produksi, Penggilingan padi, dan Sherlter atau terminal  Pelatihan Keterampilan usaha bagi masyarakat, hanya 0,35%
Tabel IV.20. Hasil Rekap Jumlah Dana dan Kegiatan PSS BLM Kabupaten dan BLM Kecamatan Bidang PSS % dari % dari Jumlah BLM Jumlah Komponen Kegiatan Total Total (Rp) Kegiatan BLM Kegiatan Infrastruktur 305.820.649.958 37,62% 2.462 23,45% Mendukung PSS Pelatihan Keterampilan 2.806.383.834 0,35% 121 1,15% Masy. Total 308.627.033.792 37,96% 2.583 24,60% Total BLM Kab + Kec Sumber: Data PSS-KM. NAS Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 36 813.004.737.613

4.3.8. Pemberdayaan MPHM Melalui komponen Mediasi dan Penguatan Hukum Masyarakat (MPHM) yang terdapat dalam P2DTK diharapkan akan memberikan dukungan dalam penyelesaian sengketa baik yang bersifat formal maupun informal dengan memanfaatkan berbagai peluang dan kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat di wilayah P2DTK. Dengan demikian, komponen MPHM difokuskan pada penciptaan suasana dimana pembangunan sosioekonomi dapat berjalan dengan lancar dan tujuan besar P2DTK dapat tercapai. Untuk menciptakan suasana tersebut, komponen MPHM secara khusus terdiri dari upaya-upaya sbb : Pertama, membangun struktur kegiatan yang mendukung kerjasama dan negosiasi sehingga dapat menghindari terjadinya polarisasi antar kelompok masyarakat yang bersengketa. Kedua, penyelesaian sengketa secara damai mengingat minimnya mekanisme penyelesaian sengketa yang ada di wilayah tertinggal dan khusus. Ketiga, komponen MPHM akan berusaha membuat mekanisme yang mampu mengidentifikasi dan menjawab persoalan yang disebabkan oleh sengketa yang tidak dapat dipecahkan di tingkat lokal. Keempat, menangani korupsi di dalam pelaksanaan P2DTK melalui sistem penanganan pengaduan di tingkat komunitas dengan prioritas utama pengembalian uang yang diselewengkan. Apabila dibutuhkan, pelaku komponen MPHM dapat membantu masyarakat melaporkan kasus korupsi (penggelapan dana) kepada pihak yang berwajib (sistem hukum). Pelaksanaan kegaiatan program difokuskan pada beberapa kegiatan sebagai berikut: (1) Penyuluhan/Pendidikan Hukum, Konsultasi Hukum, Penangangan Kasus dan kegiatan penguatan jaringan kerja posko; (2) Membangun koordinasi dan/atau jejaring kerja serta kegiatan sosialisasi Posko BHM (Bantuan Hukum Masyarakat) maupun koordinasi dengan komponen MPHM (Paralegal); dan (3) Pelayanan konsultasi hukum dan membangun koordinasi dan/atau peningkatan jejaring kerja posko BHM maupun peningkatan kapasitas komponen MPHM (Paralegal). (1) Tujuan dan Sasaran Kegiatan MPHM Tujuan umum kegiatan MPHM adalah Akses kehidupan yang keadilan bagi masyarakat miskin dan terpinggirkan. Sedangkan tujuan khusus kegiatan MPHM adalah: (1) Mediasi Lokal (Penguatan) yang ditujukan untuk: (a) Meningkatkan kapasitas lokal baik lembaga maupun perorangan ditingkat masyarakat dalam mengelola sengketa/konflik secara terbuka, independent, dan adil; dan (b) Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga hukum; (2) Formal Akses yang ditujukan untuk: (a) Meningkatkan akses masyarakat terhadap institusi dan aparat/penegak hukum; dan (b) Membantu fasilitasi penyelesaian sengketa yang menyangkut kepentingan masyarakat melalui penyelesaian sengketa alternatif.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 37

Ruang lingkup kegiatan MPHM dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel IV.21. Ruang Lingkup Kegiatan MPHM

Tingkat
Provinsi (Ambon)

Pelaku MPHM
Lembaga Primer (1 orang Team Leader) Pengacara Masyarakat (2 orang) Fasilitator Posko (8 orang)

Pelaku P2DTK
PMC

Kegiatan
Sosialisasi, Pelatihan Fasko, Penguatan Jaringan, Dokumentasi & Desiminasi Kasus, Koordinasi Sosialisasi, Pelatihan Paralegal, Penguatan Jaringan, Dokumentasi & Desiminasi Kasus, Koordinasi Sosialisasi, Penguatan Jaringan, Pendidikan/ penyadaran hukum spesifik, Pengorganisasian & pengelolaan Posko BHM, Dokumentasi & Desiminasi Kasus, Koordinasi Pendidikan/penyadaran hukum spesifik

Kabupaten (Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Maluku Tenggara dan Kota Tual) Kecamatan (Kec. Banda, Kec. Pulau Gorom, Kec. Saparua, Kec. Seram Timur, Kec. Kei Besar Kec. PP Kur, Kec. Pulau Dulah Selatan, Kec. Tayando Tam) 59 Desa

DMC

Fasilitator Kecamatan

Paralegal dan Mediator (118 Orang)

Fasilitator Desa

Sumber: Data MIS MPHM KM. Nas

(2) Lokasi Kegiatan dan Pelaksana MPHM Lokasi pelaksanaan MPHM hanya dilakukan di Provinsi Maluku dengan pelaksana pendamping adalah dari Center For Regional Resource Development And Community Empowerment (Crescent). Sasaran target wilayah adalah sebanyak 10 kabupaten dan 59 kecamatan. Sementara itu di wilayah Aceh-Sumut tidak dikembangkan program MPHM, namun dikembangkan penguatan-penguatan kepada masyarakat dan institusi terkait mengenai pelayanan hukum dan resolusi konflik berbasis masyarakat. Kegiatan di Aceh-Sumut ini tidak dibawah koordinasi technical assisstance KM. Nas P2DTK.
Tabel IV.22. Lokasi Kegiatan MPHM No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Kabupaten Lokasi Kecamatan Desa Sasaran 8 8 8 5 6 8 4 4 3 5 59 Maluku Tengah Banda Maluku Tengah Saparua Maluku Tenggara Kei Besar Selatan Kota Tual Dullah Selatan Kota Tual Tayando Tam Kota Tual Pulau-Pulau Kur Seram Bagian Timur Seram Timur Seram Bagian Timur Totuktolu* Seram Bagian Timur Pulau Gorom Seram Bagian Timur Wakate** Jumlah Desa / Negeri Sumber: MIS-MPHM KM. Nas Keterangan: * = Pemekaran dari Kecamatan Seram Timur ** = Pemekaran dari Kecamatan Pulau Gorom

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 38

(3) Capaian Kegiatan MPHM Berikut ini di sampaikan beberapa capaian yang sudah diperoleh melaluiprogram MPHM, antara lain:
a. Sudah dilaksanakan sosialisasimengenai MPHM di 218 instansi baik

formal maupun non formal, mulai tingkat provinsi s.d tingkat desa.

b. Melakukan pelatihan untuk peningkatan kapasitas sebanyak 3 kali bagi

2 orang Pengacara Masyarakat (PM) dan 8 orang Fasilitator Posko (Fasko);

c. Melakukan pendidikan atau Pemberdayaan Hukum sebanyak 214 kali

bagi 3.470 orang dengan 4 tema besar yaitu: Hak-hak masyarakat dalam hukum pidana, masalah perdata, KDRT dan hak-hak adat;

Tabel IV.23. Realisasi Kegiatan MPHM s.d Bulan November 2011
Kab. Maluku Tengah No. Kegiatan Kec. Kec. Banda Saparua 1. Pendidikan/ Penyuluhan Hukum Konsultasi Hukum Penanganan Kasus Kec. Gorom Kab. Seram Bagian Timur Kec. Seram Timur Kab. Maluku Tenggara Penerima Manfaat Kec. Kec. Kec. Kec. Dullah Kei Besar PP Kur Tayando Selatan Selatan Kota Tual

1 Desa 1 Desa 2 Desa 1 Desa 2 Desa 3 Desa 1 Desa 2 Desa 186 orang (Peserta (Peserta (Peserta (Peserta (peserta Peserta 21 (Peserta peserta 32 9 orang) 18 orang) 35 orang) 25 orang) 28 orang) orang) 18 orang) orang) 1 orang 1 orang 1 kasus hukum 1 kasus hukum 2 orang 65.721 orang

2. 3

Sumber: Data MPHM

d. Melakukan pelatihan untuk peningkatan kapasitas sebanyak 1 kali bagi

118 Paralegal dan 59 Mediator Desa;

e. Penanganan kasus yang terdiri dari kasus korupsi, KDRT, waris,

sengketa tanah, perdata lainnya dan criminal dengan total penerima manfaat sebanyak 135.076 orang.

(4) Kendala Kegiatan MPHM dan Rekomendasi Kendala dan Hambatan: a. Sulitnya mensinergikan kegiatan antar pelaku terutama FK dan Fasko(FasilitatorPosko) b. Kendala tingkat kesulitan geografis dimana terdapat Khusus, secara geografis jangkauan lokasi yang cukup (12 desa) yang relaif sulit dijakngkau dan 14 desa yang sangat sulit dijakngkau, sementara masing-masing Fasko bertanggungjawab atas 5-8 desa. c. Sosialisasi awal kegiatan MPHM tidak bersamaan dengan masuknya sosialisasi P2DTK, sehingga paralegal selalu mempertanyakan dukungan dana operesional, karenah anggapan mereka adalah program baru diluar P2DTK.
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 39

d. Pelaksanaan kegiatan pelatihan Fasilitator Posko (Fasko) baru di laksanakan secara menyeluruh pada bulan Oktober 2010, menyebabkan terjadinya sosialisasi di tingkat kecamatan dan desa mengalami keterlambatan. e. Sosialisasi awal tugas rangkap FD sebagai Paralegal tidak berjalan dengan baik sehingga FD merasa adanya kerja doble, apalagi tidak ditunjang dengan dana opersional yang cukup. f. FD/Paralegal harus melakukan sosialisasi kembali dari awal ke masyarakat apa sebenarnya MPHM, sehingga harus di cari forum musyawarah yang tepat. g. Dukungan dana operasional Paralegal dan Fasko sangat minim sehingga dapat mempengaruhi pelaksanaan sosialisasi di tingkat desa dan kecamatan belum berjalan dengan maksimal. h. Koordinasi awal antara Konsultan P2DTK (FK, KM Kab) dengan Pengacara Masyarakat (PM), Fasko belum maksimal termasuk dengan Tim Koordinasi, dan satker. Kesimpulan dan Rekomendasi: a. Pelaksanaan awal tahapan kegiatan MPHM mengalami keterlambatan, hal ini dikarenakan TL MPHM pertama tidak maksimal dalam pengendalian sehingga tahapan pelatihan pra tugas PM, Fasko dan Paralegal mengalami keterlambatan. b. Sosialisasi awal tugas FD merangkap Paralegal, tidak bersamaan sehingga anggapan paralegal bahwa MPHM adalah program baru dan memiliki dana operasional, kondisi ini sangat mempengaruhi aktifitas di desa. c. Dukungan dana operasional Fasko dan paralegal sangat minim sehingga sangat mempengaruhi kinerja mereka di kecamatan dan desa. d. Pelaksananaan kegiatan MPHM sejak Januari 2009 s.d September 2011, walaupun mengalami keterlambatan dan beberapa hambatan sebagaimana disebutkan di atas, namun sesuai eide memoire Bank Duni target pencapain jumlah pemanfaat adalah sebanyak 500 orang, jumlah tersebut sesuai hasil yang sudah di laksanakan telah melampaui target (3.205 orang). e. Setelah dilakukan sosialisasi oleh Fasko dan paraleagal, serta manfaat yang diberikan, maka masyarakat sudah mulai tertarik dengan hadirnya MPHM di Maluku, terutama masalah penyuluhan hukum, penanganan kasus. f. Masyarakat Maluku masih mengharapkan kahadiran program MPHM karenah sangat membantu masalah penguatan hukum, penanganan kasus, konsultasi hukum, mengingat rata masyarakat di desa belum paham tentan hukum, serta keterbatan dana untuk membiayai pengacara.

g. Kepada PIU-KPDT agar pelaksanaan P2DTK tahap dua, kegiatan
MPHM tetap di programkan, bahkan dikembangkan juga di provinsi lain lokasi paska konflik.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. IV - 40

Bab 5. Menarik Pembelajaran Dari Pendampingan P2DTK
Program P2DTK telah dilaksanakan sejak tahun 2007 s.d. 2012. Banyak sekali pengalaman-pengalaman lapangan maupun pengalaman yang bersifat manajemen pengelolaan yang sudah terjadi. Pengalaman-pengalaman tersebut perlu diidentifikasi dan direkonstruksi agar dapat menjadi bahan “pembejalaran” yang berguna, baik dari segi hambatan-hambatan yang terjadi, Lessons learned yang dapat dipetik, serta kasus-kasus best practices yang bisa dijadikan inspirasi di masa depan. Hambatan dan Lessons learned yang dipaparkan di bab ini dianalisa dari bahanbahan hasil workshop maupun rakornas yang berkaitan dengan implementasi program P2DTK. Sementara best practice dicuplik dan diedit seperlunya tanpamengurangi substansi dari cerita-cerita lapangan yang telah terkumpul dalam bentuk buku “Kisah Inspiratif” yang sudah dipublikasikan terbatas oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.

5.1. Hambatan-Hambatan Implementasi P2DTK
5.1.1. Hambatan Dalam Tahap Sosialisasi Kegiatan sosialisasi dirancang dilaksanakan disetiap awal siklus dari 3 siklus yang dilaksanakan. Sosialisasi pada awal pelaksanaan kegiatan (siklus-1), lebih banyak memberikan penjelasan tentang tujuan pelaksanaan program, mekanisme yang akan dilaksanakan, pelaku yang terlibat, waktu pelaksanaan kegiatan, dan dana yang disediakan. Sosialisasi pada awal pelaksanaan siklus-2, direncanakan akan dilaksanakan dengan proses yang didahului review dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pada siklus-1 dan memberikan penyampaian kembali penerapan mekanisme, peran pelaku, jadwal kegiatan dan dana yang disediakan termasuk pengorganisasian pelaksanaan kegiatan. Demikian juga dengan sosialisasi pada awal siklus-3 yang dijadwalkan menjadi sosialisasi terakhir. Sementara itu selama program berjalan akan dikembangkan berbagai media sosialisasi seperti penyediaan papan informasi untuk mensosialisasikan hasil musyawarahLaporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 1

Mekanisme sosialisasi di P2DTK belum terlaksana secara maksimal sesuai prosedur dan tahapan yang sudah ditetapkan dalam panduan P2DTK.

mustawarah, hasil pemenang tender sub-proyek, progres kegiatan, dll. Sosialisasi yang dilaksanakan secara rutin juga dikembangkan dengan pembuatan bulletin dan publikasi online melalui internet. Tidak semua kegiatan ini dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan. Beberapa permasalahan dan hambatan yang diperkirakan memberikan konstribusi terhadap kurang optimalnya aspek sosialisasi di dalam program P2DTK, diantaranya adalah : Media sosialisasi. Media sosialisasi yang digunakan cenderung kurang berkembang dan kurang maksimal dalam memanfaatkan jenis media. Variasi jenis media sangat penting untuk menarik perhatian dan memberikan berbagai perspektif sehingga memudahkan penerima informasi untuk menerima pesan-pesan yang disampaikan. b) Pendanaan kegiatan sosialisasi. Kegiatan sosialisasi perlu didukung dengan dana yang cukup serta tersedia sesuai dengan jadwal pelaksanaan kegiatan. Beberapa media sosialisasi kurang bisa berjalan secara rutin bahkan cenderung tidak berja c) Pengendalian. Kegiatan sosialisasi perlu dilakukan pengendalian, guna mengetahui sejauhmana dampak sosialisasi terhadap peningkatan pengetahuan, pemahaman dan ketrampillan pelaku program. Uji petik perlu dilakukan guna mengukur dan melakukan dasar untuk perubahan strategi sosialisasi agar lebih efektif. d) Pelaku pengendalian. Kegiatan sosialisasi perlu dikoordinasikan secara khusus. Secara keseluruhan, konsultan untuk pengelolaan kegiatan sosialisasi ini yang memiliki fungsi paling dekat hanya 1 orang, yaitu Spesialis Komunikasi. Strategi ini perlu dipertimbangkan untuk memastikan panduan-panduan yang dapat dengan mudah dilaksanakan di lapangan. a)

5.1.2. Hambatan Dalam Tahap Perencanaan: Proses perencanaan P2DTK diawali terlebih dahulu Need Assesment Bidang Pendidikan dan Bidang Kesehatan yang dilaksanakan diseluruh kabupaten sasaran untuk menghasilkan profil pendidikan dan profil kesehatan kabupaten. Dalam tahap awal ini dibentuk pula Tim Kajian Teknis yang bertugas melakukan analisis terhadap berbagai sumberdata, baik data rencana pembangunan jangka menengah kabupaten, rencana tata ruang dan wilayah, renstra dinas, hasil need asessment, hasil pelaksanaan musrenbang dan dokumen-dokumen lain yang mendukung pemahaman tentang kebutuhan yang perlu dipenuhi melalui program P2DTK. Hasil dari Kajian Teknis adalah rumusan-rumusan kebutuhan masyarakat yang paling mendesak untuk dipenuhi, dan sejalan dengan rencana program pemerintah. Dari kebutuhan tersebut, Tim Kajian Teknis akan merancang jenis kegiatan yang akan dilaksanakan, serta mempersiapkan berbagai
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 2

langkah seperti konsultasi publik, menyiapkan RAB dan Desain, dan persiaoan Musyawarah Pendanaan. Persoalan yang banyak ditemui adalah bahwa design mekanisme perencanaan partisipatif ini tidak semuanya bisa berjalan seperti diharapkan. Hambatan atau kendala yang banyak dihadapi dalam proses perencanaan ini diantaranya adalah; Persepsi yang belum sama atas metodologi: Metodologi yang digunakan untuk melakukan pengumpulan data, analisa/pembobotan dan pengambilan keputusan masih perlu disamakan persepsinya, termasuk lemahnya kelengkapan alat-alat untuk melakukan analisa, dan standar tahapan yang harus dilakukan. b) Sulitnya sinergi waktu: Proses perencanaan yang dilaksanakan oleh program P2DTK diharapkan dapat terhubung dengan proses perencanaan ditingkat kabupaten serta perencanaan yang dilaksanakan oleh program PNPM Mandiri Perdesaan. Pada umumnya rangkaian proses perencanaan ini tidak bisa terhubung, baik karena proses Musyawarah Antar Desa PNPM Mandiri Perdesaan yang ternyata belum dilaksanakan pada saat Kajian Teknis ini dilaksanakan, ataupun proses Kajian Teknis belum selesai ketika Musrenbang Kabupaten harus dilaksanakan. c) Latar belakang personil Tim Kajian Teknis yang sangat beragam: Tim Kajian Teknis ini terdiri dari unsur aparat pemerintah serta dari unsur masyarakat yang dipilih sesuai dengan pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki. Tim Kajian Teknis terdiri dari 3 kelompok, yaitu kelompok bidang Pendidikan, kelompok bidang Kesehatan dan kelompok bidang Infrastruktur. Faktor kesibukan anggota tim yang rata-rata memiliki pekerjaan yang sulit untuk ditinggalkan menjadi kendala terjadinya keterlambatan Kajian Teknis. d) Dominasi dari personil aparat pemerintah: Faktor sosial dan komunikasi juga menjadi hambatan di dalam Tim Kajian Teknis, karena selama ini sangat jarang terjadi dimana unsur masyarakat bekerja sama di dalam satu tim dengan unsur birokrat pemerintah. Para birokrat pemerintah menjadi sering mendominasi dalam proses pengambilan keputusan. e) Beberapa hambatan di tingkat konsultan pendamping: Konsultan Manajemen Kabupaten yang ditugaskan memberikan dampingan terdiri dari 3 jenis bidang spesialisasi, yaitu Bidang Kesehatan, Bidang Pendidikan, dan Bidang Infrastruktur. Masing-masing konsultan manajemen melakukan pendampingan terhadap masingmasing kelompok. Tantanggan dalam proses pendampingan pelaksanaan kajian teknis adalah kurangnya pemahaman konsultan manajemen kabupaten terhadap mekanisme yang akan dilaksanakan. Pelatihan hanya dilaksanakan 1 kali dan itupun tidak dilaksanakan dengan menggunakan praktek lapangan atau simulasi, menjadikan a)
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 3

Proses perencanaan Reguler, P2DTK, dan PNPM MPd belum bisa “terhubuung” dengan baik, karena tahapan dan mekanisme sangat berbeda satu sama lain.

Kesibukan aparatur pemerintah sebagai anggota Tim Kajian Teknis sering menjadi kendala keterlambatan pelaksanaan Kajian Teknis

f)

g)

pemahaman metode pendampingan yang berbeda-beda. Pada tingkat KM Prov dan KM. Nas yang bertugas melakukan supervisi terhadap seluruh proses pelaksanaan Kajian Teknis di wilayah tanggungjawabnya, belum terbangun sistem pengendalian yang permanen. Masih terjadinya perbedaan pemahaman tentang mekanisme Kajian Teknis diantara KM. Prov maupun KM. Nas. Keterlambatan penyediaan dana: Pendanaan Kajian Teknis disediakan melalui DOK, seperti yang sudah ditentukan dalam Panduan Penggunaan DOK yang diterbitkan oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. Tantangan yang dihadapi dalam pendanaan adalah keterlambatan penyediaan dana. Seperti misalnya saja yang terjadi di Aceh-Nias, dimana awalnya dana DOK ini akan disediakan melalui dana Hibah pada bulan Nopember 2006. Ternyata perkiraan ini meleset karena belum ditandatanganinya hibah untuk pelaksanaan program P2DTK di Aceh dan Nias. Keterlambatan ini menyebabkan mundurnya jadwal pelaksanaan kegiatan. Data kurang tersedia secara memadai: Data pada pelaksanaan perencanaan sangat penting. Dibutuhkan beberapa data terkait dengan kondisi sosial, ekonomi termasuk didalamnya adalah lingkungan. Data ini cukup sulit diperoleh, baik karena tidak adanya bank data atau pusat dokumentasi data di kabupaten, juga tidak adanya dokumen yang memuat berbagai informasi yang dibutuhkan. Kalaupun ada data tersebut banyak yang sudah tidak valid.

Kajian Teknis merupakan tahap yang mendasar dalam perencanaan P2DTK. Seringnya keterlambatan DIPA menyebabkan banyak Kajian Teknis tidakbisa dilaksanakan secara maksimal.

5.1.3. Hambatan Dalam Tahap Pelaksanaan Program Di dalam program P2DTK, pelaksanaan proyek diartikan sebagai pelaksanaan kegiatan dari jenis-jenis kegiatan yang diputuskan oleh masyarakat melalui Musyawarah Pendanaan yang ditetapkan oleh Bupati dengan Surat Penetapan Bupati, serta telah diberikan mandat pelaksanaanya kepada UPKD melalui penerbitan SPPB atau Surat Perjanjian Pemberian Bantuan. Program P2DTK adalah program yang dilaksanakan ditingkat kabupaten. Dengan demikian kegiatan-kegiatan yang akan dibiayai dirancang untuk dilakukan oleh pihak-III dan para profesional, walaupun untuk kegiatan-kegiatan tertentu akan dilaksanakan dengan swakelola. Berbagai prasarana, personil, dan tahapan harus dilakukan dalam melaksanaan pekerjaan tingkat kabupaten ini antara lain seperti: (i) Tersedianya Konsultan Manajemen Kabupaten Spesialis Pengadaan; (ii) dPanduan pengadaan barang dan jasa; (iii) Tim UPKD bidang masingmasing yang akan bertugas mjengelola kegiatan; (iv) Tahap sertifikasi; dsb. Beberapa kendala mendasar dalam tahap implementasi kegiatan antara lain sebagai berikut:

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 4

a)

Keterlambatan penempatan personil konsultan: Sampai dengan pelaksanaan program, konsultan yang ditempatkan di setiap kabupaten hanya konsultan bidang pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Konsultan bidang penguatan hukum masyarakat, pengembangan sektor swasta, financial manajemen, pengadaan dan pemberdayaan perempuan belum ditempatkan, dan bahkan hingga akhir pelaksanaan program hanya ditempatkan konsultan manajemen keuangan dan pengadaan. Kekurangan personil konsultan ini telah begitu banyak berpengaruh terhadap programprogram yang dijalankan. Penyelesaian terhadap masalah dan tahapan program terjadi secara tidak merata. Belum tersedia panduan yang berstandard: Panduan yang dirasakan sangat diperlukan untuk proses pelaksanaan kegiatan adalah panduan tentang standar-standar pelaksanaan kegiatan. Selama dalam pelaksanaan kegiatan, standar yang digunakan mengacu pada standar-standar yang digunakan oleh pemerintah daerah. Misalnya adalah standar pembangunan jalan, jembatan, bangunan gedung dan lain-lain, sementara itu tidak tersedia standar untuk pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas baik dalam bentuk penyuluhan, sosialisasi dan pelatihan. Selanjutnya secara proses hal-hal yang menjadi tantangan dan hambata adalah: • Perlunya keseragaman mekanisme presentasi awal berupa rencana kerja pelaksana yang akan dilaksanakan. • Perlunya keseragaman form pemeriksaan pada proses sertifikasi hasil pelaksanaan kegiatan sebelum dilakukan pembayaran sesuai dengan tahap yang ditetapkan. • Perlunya keseragaman form kelengkapan yang harus dipenuhi sebelum pelaksana mengakhiri seluruh perintah kerja yang dilaksanakan. • Dalam kaitan dengan administrasi keuangan yang dilaksanakan oleh UPKD dan TPK juga diperlukan panduan tentang proses pembukuan yang harus dilakukan oleh UPKD dalam mengelola keuangan dari alokasi yang diberikan, rekening dan proses pembayaran. Selain itu perlu juga diberikan panduan untuk membuat laporan yang jumlah dan waktu penyetorannya sudah ditentukan. • Perlunya ditambahkan tentang bagaimana mekanisme pertanggungjawaban pihak pelaksana, UPKD dan TPK secara lebih terinci.

Rekrutmen dan periodisasi penempatan konsultasn terlaksana secara tidak serempak, sehingga pendampingan berjalan secara timpang.

b)

c)

Lemahnya koordinasi: Kegiatan koordinasi adalah kegiatan yang sangat vital dalam proses pelaksanaan kegiatan. Kendala yang dialami dalam proses koordinasi ini adalah sulitnya penyesuaian waktu untuk berkoordinasi antar lembaga dan personal. Pergantian peserta pada setiap acara koordinasi juga menjadi penghambat kecepatan penyelesaian suatu masalah, apalagi jika dalam koordinasi tersebut tidak dihadiri oleh pelaku yang memiliki kapasitas dalam pengambilan keputusan/kebijakajn. Faktor lain adalah mekanisme
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 5

Koordinasi antar pelaku P2DTK, khususnya pelaku di tingkat Pusat, masih sangat lemah.

rapat koordinasi yang tidak secara seragam dilakukan oleh semua lokasi, akibatnya koordinasi sering tidak berhasil membuat rekomendasi pembagian tugas serta jadwal kegiatan tindak lanjut. d) Keterlambatan turunnya dana: Pelaksanaan kegiatan atas kegiatankegiatan yang sudah diputuskan oleh masyarakat dalam musyawarah, dibiayai oleh dana yang disalurkan melalui KPPN. Pada awalnya, penyediaan dana ini dilakukan dengan koordinasi dari BRR, namun sejak tahun 2009 penyediaan dana dilakukan oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. Permasalahan keterlambatan penyediaan dana adalah tantangan besar yang harus dipikirkan, karena keterlambatan dana akan mempengaruhi jadwal dan kinerja program secara keseluruhan. Keterlambatan pada awal kegiatan telah mengakibatkan terjadinya overlap kegiatan dimana pada saat yang sama dilaksanakan kegiatan 2 siklus secara bersamaan. Akibat dari kegiatan overlap ini adalah kurang terkendalinya pelaksanaan kegiatan dan diperlukannya penyesuaian-penyesuain mekanisme pelaksanaan kegiatan yang sangat mengganggu kualitas proses di setiap tahap kegiatan. Tantangan lain dalam permasalahan pendanaan kegiatan adalah adanya penyediaan dana A/O dan dana PAP. Dalama satu sisi dana tersebut memang sangat membantu dalam kelancaran pelaksanaan kegiatan dari sudut ketersediaan dana. Namun penyediaan dana ini perlu diatur dan dikelola secara lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengendalian keuangan terkait dengan penggunanaan dana PAP dan A/O tidak masuk kedalam sistem informasi manajemen sehingga cukup menyulitkan dalam pengendalian di lapangan. Sementara itu mekanisme pertanggungjawaban terhadap penggunaan dana secara keseluruhan perlu diatur secara lebih transparan sehingga dapat digunakan untuk mengendalikan penyalahgunaan dana yang sudah disediakan e) Hambatan medan kerja yang luas : Kegiatan P2DTK diharapkan memiliki cakupan layanan cukup luas yaitu lingkup kabupaten. Cakupan yang cukup luas, dengan personil pendamping yang hanya 3 orang disetiap kabupaten menjadi tantangan tersendiri untuk mengatur mekanisme yang lebih baik. Medan yang cukup luas ini menjadi cukup berat saat proses perencanaan, karena cukup sulit untuk menentukan jenis kegiatan yang mampu memenuhi kebutuhan untuk wilayah yang luas. Beragamnya pemahaman atas P2DTK: Partisipasi yang diharapkan dalam pelaksanaan program P2DTK adalah keterlibatan keseluruhan sumberdaya yang ada di masyarakat dalam tahapan pelaksanaan kegiatan, baik dari unsur aparat pemerintah daerah maupun masyarakat. Tantangan dalam menggerakkan keterlibatan ini adalah terkait dengan tingkat pemahaman terhadap program P2DTK yang berbeda-beda dan beragam. Lemahnya pengendalian, reward dan punihsment: Pengendalian adalah upaya untuk mengarahkan pelaksanaan kegiatan agar sesuai dengan koridor dan batasan yang sudah ditetapkan, baik dari sudut
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 6
Pengendalian keuangan terkait dengan penggunaan Dana PAP dan AO tidak masuk ke dalam MIS sehingga cukup menyulitkan dalam pengendalian keuangan di lapangan.

f)

g)

ketepatan meknisme teknis program maupun sisi akuntabilitas manajemen keuangan. Didalam pelaksanaan program P2DTK pengendalian ini perlu perencanaan yang matang, perlunya sosialisasi yang dilakukan secara terus menerus termasuk penegakan ketentuan baik melalui berbagai sanksi maupun reward. Kelemahan sistem pengendalian, reward dan punishment mengakibatkan sulitnya dilakukan pencapaian target-target yang sudah ditetapkan, baik dari sisi waktu, kualitas maupun pembiayaan. h) Pergantian stakeholder daerah: Seringnya pergantian pelaku juga sangat mempengaruhi capaian pelaksanaan kegiatan sesuai dengan standar yang diharapkan. Dalam koridor pelaksanaan kegiatan, hal yang paling harus dijaga adalah pergantian konsultan lapangan. Pergantian konsultan dengan tidak memiliki standar pelaksanaan yang sama mengakibatkan berbagai permasalahan dalam pelaksanaan program. Perubahan pengelolaan konsultan: Pelaksanaan program P2DTK secara nasional diatur dengan pengelompokan pendamping dalam beberapa bagian. Pengelolaan konsultan pendamping mengalami beberapa perubahan. Pada awal pelaksanaan pendampingan, KM. Prov dan KM. Kab dikelola oleh 1 perusahaan, khususnya untuk bidang pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Perkembangan selanjutnya dilakukan pembagian pengelola menjadi 2 pengelola. Selain 2 pengelola konsultan, khusus untuk kegiatan Pengembangan Sektor Swasta, MPHM serta pendampingan manajemen keuangan dan pengadaan dilakukan oleh 3 pengelola konsultan yang berbeda. Pengelompokan pengendalian kerja konsultan ini didesain dalam koridor untuk mengurangi kemungkinan konflik kepentingan. Namun dalam pelaksanaannya perlakuan dan fasilitas yang berbeda antar konsultan menjadikan permasalahan terdiri, apalagi dalam proses penempatan dilokasi tugas tidak terlaksana secara bersamaan.

i)

Pengelompokan pengendalian kerja konsultan ini didesain dalam koridor untuk mengurangi kemungkinan konflik kepentingan. Namun dalam pelaksanaannya perlakuan dan fasilitas yang berbeda antar konsultan menjadikan permasalahan terdiri, apalagi dalam proses penempatan dilokasi tugas tidak terlaksana secara bersamaan.

5.1.4. Hambatan Dalam Tahap Keberlanjutan Program Langkah akhir yang perlu dilakukan pada tahap ini yaitu melakukan post implementation review untuk mengetahui tingkat keberhasilan proyek dan mencatat setiap pelajaran yang diperoleh selama proyek berlangsung sebagai pelajaran dimasa yang akan datang. Program pemerintah yang menghasilkan barang baik dalam bentuk bangunan maupun peralatan pendukung pemenuhan kebutuhan masyarakat, sistem dan mekanisme pelaksanaan kegiatan hingga pengetahuan dan ketrampilan diharapkan dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang panjang. Beberapa tantangan yang dihadapi dalam upaya keberlanjutan ini diantaranya adalah: a. Lemahnya wacana regulasi: Salah satu hasil yang diharpkan dari program P2DTK adalah pemerintah daerah bersama unsur-unsur dalam masyarakat mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program-program yang dirancang dan dikembangkan
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 7

berbasis partisipasi masyarakat. Oleh karena itu maka pendekatan, sistem, dan mekanisme yang telah dikembangkan selama proses berjalannya program P2DTK diharapkan memberikan tata laksana baru dalam masyarakat yang dikuatkan dalam bentuk regulasi daerah, agar menjadi pedoman bersama baik bagi pemerintah maupun masyarakat. Pengarusutamaan dibidang regulasitersebut masih sangat lemah dilakukan di P2DTK sehingga sangat sedikit pengalaman selama proses pelaksanaan yang menjadi keputusan pemerintah daerah di bidang regulasi. b. Belum terwacanakann pendanaan pasca proyek P2DTK : Permasalahan pendanaan terhadap keberlanjutan hasil pelaksanaan kegiatan memang menjadi masalah yang sering dibicarakan. Pendanaan adalah hal yang sangat logis dibutuhkan untuk sebuah perubahan, dan tentunya tidak ada perubahan yang sebenarnya tidak akan terbiayai jika memang sudah menjadi kebutuhan. Seperti halnya aspek regulasi terpaparkan di atas, aspek pendanaan pasca proyek P2DTK, dalam beberapa kasus memang sudah terintegrasi melalui perencanaan dana tahunan SKPD-SKPD terkait, namun hal ini belum dikuatkan dalam bentuk regulasi pemerintah daerah. Belum optimalnya komitmen daerah: Tantangan dalam pelaksanaan program P2DTK ini dengan berbagai keterbatasan dalam fasilitas pendukungnya adalah bagaimana meyakinkan kepada pemerintah kabupaten dan masyarakat bahwa mekanisme yang dilaksanakan dalam program P2DTK adalah mekanisme yang akan menjamin terjadinya perubahan masyarakat menjadi lebih baik. Walaupun tidak seluruhnya berhasil, namun upaya ini terlihat mendapatkan respon yang cukup baik oleh pemerintah kabupaten dan masyarakat. Masih lemahnya internalisasi kelembagaan: Kelembagaan yang dimaksud dalam hal ini adalah bahwa sistem dan nilai yang sudah pernah dilaksanakan dalam program P2DTK menjadi bagian dalam tata laksana baik di pemerintah maupun masyarakat dalam melaksanakan pembangunan. Kelembagaan adalah pelaksanaan terhadap regulasi yang sudah ditetapkan, oleh karena itu tanpa adanya regulasi yang dibangun didaerah terkait dengan pendekatan, strategi, dan nilai-nilai dalam P2DTK, maka sangat sulit melaksanakan internalisasi kelembagaan yang berprinsip pada P2DTK. Lemahnya kontinuitas SDM: Tantangan keberlanjutan yang lain adalah masalah Sumber Daya Manusia sebagai pelaku. Seperti sudah dipaparkan sebelumnya, P2DTK melibatkan personil dari unsur pemerintah dan masyarakat dengan latar belakang pendidikan, pekerjaan dan ekonomi, bahkan status sosial yang amat bergam. Tingkat pemahaman mereka atas substansi dan filosofi P2DTK tentu juga berbeda-beda, belum lagi tingkat mutasi birokrasi di pemerintah yang sangat tinggi. Kondisi semacam ini tentu menjadi hambatan dalam menginternalisasi pendekatan, nilai dan prinsip P2DTK. Kiranya perlu dipikirkan secara matang untuk memberikan strategi baru di P2DTK dalam hal internalisasi berbagai kapasitas terkait
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 8
Aspek pendanaan pascaproyekP2DTK dalam beberapa kasus memang sudah terintegrasi melalui perencanaan dan penganggaran SKPS terkait, namun belum dikuatkan dalam bentukregulasi pemerintah daerah.

c.

d.

e.

dalam rangka menyiapkan sumberdaya manusia secara terus menerus untuk menjaga keberlanjutan dapat berlangsungan pendekatan, nilai, dan prinsip P2DTK.

5.2. Lessons Learned
Pembelajaran dari sebuah implementasi program merupakan langkah yang sangat perlu dilakukan untuk menguji konsep design program, teknis implementasi program, arah hasil yang diinginkan oleh program, keberlanjutan program, dll. Upaya untuk mereview kembali serta menarik point pembelajaran yang ada mempunyai dua ranah cakupan. Pertama, yaitu Lessons identified, adalah semacam rekomendasi yang berbasis dari analisa pengalaman lapangan baik, negatif maupun positif, dimana pihak-pihak lain ataupun para pelaksana program tersebut dapat belajar dalam rangka meningkatkan performa atau kinerja program mereka dimasa depan. Kedua, yaitu Lessons learned, adalah sebuah kondisi perubahan yang sedang terjadi atau sudah terjadi akibat dari kebijakan dan atau intervensi-intervensi tertentu yang diberikan ke dalam program yang juga berbasis dari pembelajaran sebelumnya1. Baik Lessons identified maupun Lessons learned bermaksud memberikan petunjuk agar P2DTK atau program lain serupa bisa dirancang dan diimplementasikan secara lebih baik, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama di kegiatan yang akan dikembangkan. Dalam laporan ini kedua ranah pembelajaran itu akan dipakai dan digabung ke dalam istilah Lessons learned (pembelajaran terpetik). Dalam upaya menggali Lessons-learned dari program P2DTK, telah dilakukan dua kali workshop mengenai Lessons learned, yaitu di Makasar dan Medan pada bulan Desember 2011. Tim KM Nas juga melakukan upaya menggali Lessons learned ini melalui pertemuan rutin mingguan, kegiatan supervisi, dan melakukan pembacaan terhadap laporan-laporan kegiatan KM. Kab, KM. Prov, dan laporan dari para mitra pelaku P2DTK di daerah-daerah. Perumusan terhadap hasil-hasil Lessons learned yang akan dipaparka berikut ini, dibagi ke dalam 3 kategori utama (Aspek Input, Aspek Proses dan Aspek Hasil ), dan di setiap aspek terdapat sub-sub aspek. Hasil seluruh Lessons learned tersebut adalah sebagai berikut: 5.2.1. Lessons Learned Aspek Input Program: (1) Perencanaan partisipatif a. Perencanaan partisipasi dari bawah yang dikembangkan oleh P2DTK melalui mekanisme Musrenbang telah berhasil menumbuhkan kepercayaan dan harapan baru di masyarakat terhadap perencanaan dan implementasi pembangunan. Hal ini terjadi karena apa yang diusulkan oleh masyarakat, melalui pendekatan tahapan dan mekanisme perencanaan yang diterapkan
Lihat http://www.nickmilton.com/2010/05/Lessonss-learned-definition.html: “Knoco Stories: Lessonss Learned Definition”; dan Amalraj Joseph,dkk. dalam “Project Management: Challenge and Lessons Learned”, Tahun 2007.
1

Lessons learned dimaksudkan untuk memberikan arahan dan masukan demi perbaikan program P2DTK ke depan atau program lain serupa, agar tidak mengurangi kesalahan yang sama serta meningkatkan performan kegiatan.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 9

P2DTK, masyarakat terakomodir untuk terlibat mulai dari perencanaan, mengawal proses prioritasi kegiatan termasuk musyawarah pendanaannya, dan langsung dapat merasakan implementasi kegiatan pada tahun yang sama. b. Kajian Teknis yang dikembangkan P2DTK sebagai salah satu tahap perencanaan partisipatif, telah menumbuhkan kapasitas para pelaku P2DTK baik dari unsur masyarakat maupun dari unsur pemerintah, dalam hal memahami dan menganalisa secara lebih “benar” permasalahan, kebutuhan dan merumuskan prioritas pembangunan di masyarakat. Namun banyak pula Tim Kajian Teknis yang belum mampu melaksanakan tugasnya secara maksimal. c. Bappeda sebagai SKPD leading-sector yang bertanggung jawab dibidang perencanaan serta meningkatkan kapasitas instansi terkait dalam hal perencanaan pembangunan daerah, merasa sangat terbantu dengan P2DTK karena melalui program P2DTK kapasitas dan pemahaman aparatur dan masyarakat mengenai perencanaan dan pembangunan relatif meningkat. d. Di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, telah tersusun Perda tentang Sistem Perencaan Pembangunan Daerah yang terinspirasi dan mengadopsi sistem perencanaan yang dilaksanakan di program P2DTK untuk digunakan di Musrenbang Reguler. e. Masih banyak anggota legislatif dan aparatur di daerah yang rendah pemahamannya atas makna dan substansi perencanaan partisipatif. Fasilitasi peningakatan mengenai perencanaan partisipatif kepada anggota legislatif tersebut secara pendekatan kurang terperhatikan di dalam proses program P2DTK. f. Pendidikan “demokratisasi” kepada masyarakat terkait dengan substansi dan filosofi perencanaan partisipatif antar daerah/kewilayahan, perlu ditingkatkan karena masih banyak terjadi ego daerah dan atau kelompok didalam penentuan perengkingan prioritas kegiatan. (2) Keterwakilan kelompok marginal dan perempuan a. Keterwakilan kelompok marginal, kelompok miskin, dan perempuan di daerah-daerah di dalam program P2DTK bisa dikatakan sudah memenuhi standard keterwakilan sebagai persyaratan program. Sistem perencanaan partisipatif dari bawah (dusun, desa, dan kecamatan) melalui model Musrenbang yang dipakai di dalam program P2DTK, mampu mengakomodir partisipasi maupun kebutuhan kelompok-kelompok tersebut. b. Keterwakilan perempuan di program P2DTK masih bersifat undividual, terutama sebagai penerima atau pemanfaat program. Secara kelembagaan keterwakilan perempuan tersebut masih dirasakan sangat kurang. c. Kontrol yang ketat terhadap keterwakilan kelompok-kelompok marginal, kelompok miskin, maupun kelompok masyarakat yang terisolir dalam proses perencanaan maupun sebagai sasaran
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 10

Masih banyak anggota legislatif di daerah yang kurang paham mengenai makna perencanaan partisipatif di dalam pembangunan. Pendekatan pengembangan kapasitas kepada mereka kurang terperhatikan oleh P2DTK.

program perlu lebih diperketat, karena di beberapa daerah masih terjadi mekanisme keterwakilan masyarakat hanya kepada tokoh masyarakat, tokoh adat, maupun tokoh agama, sementara kelompok yang termarginalkan justru sangat minim. (3) Pedoman teknis dan instrumen program a. Secara umum berbagai pedoman teknis maupun instrumen program yang diintrodusir oleh P2DTK selama proses implementasi dirasa cukup jelas dan lengkap sebagai rujukan para mitra pelaku P2DTK di daerah dalam menyelesaikan tugastugasnya. b. Banyaknya pedoman-pedoman teknis yang berubah-ubah di saat proses program berjalan sangat menjadi kendala baik bagi para mitra pelaku P2DTK di tingkat kecamatan dan kabupaten, maupun para tim konsultan di daerah, karena sangat menyita waktu untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian. Sementara pemahaman para personil terhadap pedoman-pedoman teknis tersebut bisa berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. c. Program P2DTK mengintrodusir sebuah instrumen yang disebut Dokumen Pengakhiran Program, dalam rangka untuk memperbaiki proses pelaporan pengakhiran program P2DTK, persiapan alih kelola kepada pemerintah daerah, serta memenuhi asas akuntabilitas program. Namun pelaksanaan tahapan ini di daerah kurang berjalan seperti diharapkan, misalnya kurangnya pemahaman atas rung-lingkup dan substansi materi dokumen serta pelaksanaan di daerah yang berbeda-beda dan tidak serempak. Hal ini terjadi karena: (1) Sejak awal program P2DTK dimulai belum ada Petunjuk Teknis yang baku mengenai hal ini; (2) Proses dokumen pengakhiran program tidak dilaksanakan setiap siklus tahun anggaran sehingga sebagian dokumen sub-proyek, visualisasi proyek, dll tidak terorganisir dengan baik, hilang dan sulit ditemukan kembali. 5.2.2. Lessons Learned Aspek Proses Program: (1) Penguatan kelembagaan pelaku P2DTK a. Ada kecenderungan yang positif bahwa masyarakat, sebagai salah satu kelompok pelaku P2DTK, semakin berani dalam mengemukakan pendapat dan cukup kritis dalam menyampaikan aspirasinya berkaitan dengan perencanaan maupun implementasi kegiatan karena sudah paham mekanisme perencanaan partisipatif. b. Intensitas pergantian para anggota lembaga-lembaga mitra pelaku P2DTK dari unsur pemerintah cukup tinggi, oleh karena Satker dan UPKD sering kali kurang optimal karena rata pejabat strukural yang memegang jabatan dimana tupoksinya cukup banyak dan tingkat mutasi ke instansi lain cukup tinggi.
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 11

Dokumen Pengakhiran dan Alih Kelola Program belum terfasilitasi secara maksimal karena belum tersedia Petunjuk Teknis sejak awal dan pelaksanaannya tidak dilakukan per akhir siklus.

c. Beberapa kelembagaan yang telah diintrodusir melalui program P2DTK seperti Tim Pemelihara, FSS, Tim Penggerak Kesehatan Masyarakat (TPKM), Komite Sekolah (KS), dan BPP belum maksimal tergarap dan dimanfaatkan peran dan fungsi oleh SKPD terkait. Akibatnya lembaga-lembaga tersebut seperti “mati suri”. (2) Pendanaan dan upaya transparansi a. Dukungan pendanaan dari Pemerintah Kabupaten melalui dana PAP sangat membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan P2DTK. Mekanisme ini perlu dipertahankan di program-program mendatang. b. Penyerapan dana sub-sub proyek di program P2DTK rata-rata mencapai angka 100%. Melalui kebijakan mekanisme Musyawarah Pertanggungjawaban kegiatan yang terbagi dalam 3 termin, yaitu Termin I-40%, Termin II-80%, dan Termin III-100%, telah cukup mampu mendorong tumbuhnya akuntabilitas dan transparansi keuang sub-sub proyek di P2DTK karena adanya kontrol bersama dari para pelaku P2DTK dan masyarakat. c. Sistem dan mekanisme procurement dan pengadaan barang sub-sub proyek P2DTK sudah memenuhi standard proyek sesuai yang sudah ditetapkan dalam peraturan pemerintah. Mekanisme tersebut di lakukan oleh Panitia Pelelangan dan Pengadaan Barang, yang personilnya berasal dan terintergrasi di dalam birokrasi pemerintah daerah. P2DTK telah memberikan pengembangan kapasitas dalam hal pelelangan dan pengadaan barang untuk anggota panita tersebut. d. Mekanisme pertanggungjawaban kegiatan sebuah sub-proyek melalui Musyawarah Pertanggungjawaban secara bertahap (40%, 80%, dan 100%) yang diterapkan di dalam program P2DTK sangat efektif untuk menumbuhkan dan mempromosikan munculnya proses transparansi implementasi proyek-proyek di pemerintah daerah, dimana masyarakat bisa berpartisipasi dalam mengontrol hasil kegiatan dan proses keuangan sebuah sub-proyek. Melalui mekanisme tahapan Musyawarah Pertanggungjawaban tersebut, para pelakusub-proyek, baik dari unsur pemerintah daerah maupun masyarakat, dipacu untuk menyelesaikan dokumen administrasi secara tepat waktu, lengkap, dan benar. e. Keterlibatan dan peran BPKP dalam temuan-temuan kasus penyimpangan keuangan di program P2DTK setidaknya telah mendorong ditegakkannya transparansi keuangan karena pelakupelaku P2DTK menjadi lebih hati-hati dan teliti dalam melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan yang berlaku. f. Keterlambatan DIPA menjadi salah satu kendala terpenting dalam mengawal dan menjaga kinerja implementasi program P2DTK. Akibat dari keterlambatan tersebut berdampak cukup jauh dalam proses implementasi, seperti misalnya: (a) Pemanfaatan dan penyaluran dana menjadi mundur dari jadual yang sudah
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 12

Mekanisme Pertanggungjawaban sedikit banyak telah mampu mendorong tumbuhnya akuntabilitas dan transparansi keuangan proyek P2DTK karena kontrol bersama dari para pelaku.

Diakui maupun tidak, suka maupun tidak suka, keterlambatan DIPA diamini bersama sebagai salah satu kendala utama yang mengganggu jadual kegiatan dan kualitas pendampingan program P2DTK.

direncanakan; (b) Perencanaan kegiatan, penyusunan dokumen persiapan sub-proyek, pelelangan, sampai pelaksanaan kegiatan sub proyek menjadi sangat tergesa-gesa sehingga terkesan mengejar target administrasi saja; dan (c) Secara keseluruhan jadual penyelesaian sub proyek dan pemenuhan administrasinya juga mundur dari rencana yang sudah ditetapkan. g. Masih terkait dengan upaya akuntabilitas dan transparansi keuangan sub-proyek, para pemangku atau pelaku P2DTK di tingkat kecamatan dirasakan masih sangat kurang kapasitasnya. Pemahaman Pelaku dikecamatan tentang pertanggungjawaban dan pengelolaan kegiatan belum optimal. Kondisi semacam ini diperparah oleh karena mobilisasi konsultan keuangan sangat terlambat. DIPA yang terlambat berdampak pada sangat tergesagesanya para pelaku tingkat kecamatan ini didalam melengkapi dokumen-dokumen kuangan proyek. h. Masih adanya intervensi dari Pemerintah Daerah dalam proses Barang dan Jasa khususnya penentuan pemenang. i. Penyediaan dana A/O dan PAP perlu diatur dan dikelola dengan lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. (3) Supervisi dan koordinasi antar pelaku a. Belum optimalnya koordinasi antar stake holder di daerah, sehingga jika ada masalah tidak bisa cepat diselesaikan. b. Dengan rentang wilayah yang cukup jauh dan relatif terpencil, banyak kegiatan monitoring dan evaluasi tidak optimal karena keterbatasan waktu dan biaya yang tersedia. (4) Kebutuhan dan Kualitas konsultan a. Lepas dari kekuarangan teknis pengadaan dan penempataran konsultan, kompetensi dan komimen konsultan P2DTK baik di tingkat provinsi (KM. Prov) maupun kabupaten (KM. Kab) dirasakan oleh mitra pelaku P2DTK di tingkat daerah sangat membantu menfasilitasi teknis-teknis implementasi program. b. Tingginya “mobilisasi” keluar-masuk konsultan sangat dirasakan mengganggu proses pendampingan di lapangan. Sementara itu kompetensi konsultan belum merata dan masih ada yang lemah dalam kapasitas pendampingan. Permasalahan yang lain adalah bahwa para konsultan tersebut kebanyakan berasal dari luar daerah kabupaten penempatan, sehingga seringkali tidak ada ditempat saat dibutuhkan oleh mitra-mitra pelaku P2DTK baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten c. Di Kecamatan tidak disediakan konsultan Teknik, sedangkan kegiatan dari Kajian teknis, RAB, sampai pelaksanaan memerlukan Konsultan teknik, sedangkan konsultan teknik kabupaten dan FK tidak sepenuhnya mampu membackupnya.
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 13
Mobilitas “keluar-masuk” konsultan yang sangat tinggi merugikan berprosesnya kegiatankegiatan. Sementara kompetensi dan kapasitas para konsultan tersebut tidakmerata

Kapasitas pengelolaan keuangan pelaku P2DTK tingkat kecamatan sangat lemah. Kondisi ini diperparah dengan terlambatnya penempatan konsultan keuangan dan terlambatnya DIPA

d. Para konsultan sebagian besar berasal dari berbagai proyek atau kegiatan PNPM di bidang lain, yang sangat mewarnai program P2DTK tersebut “tersimplifikasi” miripkonsep yang permah mereka lakukan sehingga tema-tema sub-proyek infrastruktur masih sangat kuat di P2DTK dibanding kegiatan capacity building. 5.2.3. Lessons Learned Aspek Hasil Program (1) Sinergisitas program a. Sangat sedikitnya pemerintah daerah di wilayah program P2DTK mengadopsi model perencanaan P2DTK ke dalam sistem perencanaan reguler daerah, atau mengadopsi model P2DTK ke dalam peraturan daerah mengenai perencanaan pembangunan daerah, dikarenakan beberapa hal. Pertama, periodisasi waktu perencanaan P2DTK berbeda dengan periodisasi waktu perencanaan reguler pemerintah daerah. Kedua, waktu implementasi perencanaan di P2DTK bisa terjadi di tahun yang sama, sementara di sistem perencanaan reguler pemerintah daerah terjadi baru di tahun berikutnya. Hal ini dikarenakan mekanisme penganggaran dan pendanaan yang berbeda. Jika periodisasi perencanaan dan peleksanaan kegiatan di program P2DTK bisa “didekatkan” dengan periodisasi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan reguler pemerintah daerah, maka sangat besar kemungkinanya bahwa “sinergisitas” program baik dari mekanisme reguler pemerintah daerah, P2DTK, atau program yang lain dapat saling bersinergi dengan lebih baik. b. Masih ada beberapa program yang melaksanakan musyawarah secara sendiri-sendiri sesuai mekanisme programnya yang telah menjadi pedoman teknis masing-masing. Oleh karena itu sinergisitas antar program yang masuk ke daerah (kabupaten) relatif cukup sulit dilakukan baik di tingkat perencanaan kegiatan maupun implementasinya. c. Ego-sektoral di jajaran instansi pemerintah daerah yang terkait dengan program P2DTK masih dirasakan cukup dominan sehingga sinergisitas antar program belum optimal, baik sinergisitas program antar bidang UPKD maupun dengan program-program lain yang masuk ke kabupaten. (2) Kemanfaatan dan keberlanjutan program P2DTK a. Dari sudut operasional pelaksanaan kegiatan-kegiatan P2DTK, tingkat partisipasi masyarakat dianggap sangat baik dalammendukung kegiatan-kegiatan program P2DTK b. Proyek-proyek yang dibangun P2DTK baik di bidang infrastrukrur, pendidikan, dan kesehatan dianggap memberikan kemanfaatan yang sangat baik kepada masyarakat dari sudut peruntukan, fungsi dan manfaatnya.
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 14

Jika periodisasi perencanaan Reguler bisa didekatkan dengan perencanaan P2DTK dan program-program lainnya, atau sebaliknya, maka banyak hal dalam perencanaan dan pembangunan di daerah bisa terlaksana secara lebih maksimal

Studi Output yang dilakukan dia Aceh dan wilayah P2DTK Nasional, menunjukkan penilaian masyarakat rata-rata menyatakan “Sukup Puas” dengan programprogram P2DTK.

c. Tingkat komitmen dan kompetensi aparat pemerintah dalam hal keterlibatan dan dukungannya kepada P2DTK dinilai baik, meski di beberapa hal komitmen dan kompetensi tersebut perlu dikembangkan lebih lanjut dalam bentuk regulasi daerah. d. Terkait dengan upaya-upaya keberlanjutan proyek-proyek P2DTK maka dapat diinformasikan bahwa pemerintah daerah sudah berencanaan untuk memelihara assest-asset tersebut, namun oleh karena keterlambatan penyerahan asses dimana asset dari Silus 1 sampai Siklus 3 (yang sudah dibangun 3 tahun) yang sesungguhnya telah memerlukan pemeliharaan terpaksa belum bisa didanai melalui APBD.
Alihkelola asest-aset P2DTK hampir selurunya belum mendapatkan keterjaminan pendanaan APBD karenamekanisme penyerahan aset yang belum maksimal.

5.3. Belajar Dari Best Practices P2DTK
Pelaksanaan Program P2DTK mulai Tahun 2007 – Tahun 2012 menghasilkan banyak pengalaman lapangan yang mungkin tidak sempat tercatat atau ter-cover melalui Management Information System yang dimiliki oleh program. Lepas dari segala kekuarangan secara teknis pendampingan KM. Nas terhadap seluruh proses pelaksanaan P2DTK, berikut ini dipaparkan tentang pengalaman dan pengamatan dari mitra-mitra pelaku di lapangan yang dapat dipakai sebagai gambaran best-pratices pelaksanaan P2DTK. Selain sisi-sisi teknis proses pendampingan maupun capaian kegiatan program, best-practices ini diharapkan juga menumbuhkan sisi inspiratif yang menggugah semangat keberpihakan sebagai pegiat pemberdayaan masyarakat. Pengalaman-pengalaman serta pengamatan lapangan ini sudah dikumpulkan dalam bentuk buku “Kisah Inspiratif”. Best-practices yang disajikan berikut ini diambil dan diedit tanpa mengurangi substansi cerita yang ada. Paparan bestpractice di bagi kedalam 7 (tujuh) kelompok dan memuat 13 cerita best-practices. Ketujuh kelompok cerita tersebut yaitu: Cerita mengenai pasca konflik; Cerita mengenai “lepas dari keterisolasian”; Cerita mengenai sukses usaha ekonomi; Cerita tentang isu peningkatan sarana pendidikan; Cerita yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan masyarakat; Cerita tentang kasus “penyimpangan dana” sebagai bagian dari HCU; Cerita tentang kapasitas perencanaan partisipatif; dan Cerita tentang “heroisme” seorang fasilitator perempuan di Maluku Utara dalam pendampingan lapangan. Cerita-cerita best-practise tersebut dipilih dengan beberapa pertimbangan mengenai keragaman wilayah asal cerita, keterkaitan hubungan dengan tujuan P2DTK, dan cakupan pengarauh atau manfaat dari kasus kegiatan/sub proyek yang diceritakan. Membangun Pasca Konflik Banyak konflik yang terjadi di masyarakat Indonesia seperti Konflik Poso, Konflik Sambas, Konflik Aceh, dan berbagai konflik antar masyarakat adat, menjadi salah satu pertimbangan dilaksanakan P2DTK. P2DTK bermaksud memperbaiki kesejahteraan masyarakat dan akses pelayanan dasar masyarakat bekas konflik, agar mereka mampu membangun kembali kehidupannya. BestLaporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 15

practices berikut ini menggambarkan bagaimana masyarakat di wilayah bekas konflik membangun kembali pelayanan pendidikan, melalui P2DTK.

“Pelangi di Perbatasan Lotas” Desa Lotas, Kecamatan Kokbaun, Kabupaten TTS, NTT Oleh : Benyamin Leu

Saban hari masyarakat Lotas diliputi keresahan. Saling curiga mewarnai hari-hari mereka. Pemerintah dua wilayah perbatasan sibuk saling klaim sebagai penguasa wilayah, namun tidak pernah duduk bersama mencari solusi. Ada apa dengan Desa Lotas? Mereka juga ingin hidup tenteram sama seperti masyarakat wilayah lainnya. Mereka juga ingin menikmati hasil pembangunan secara utuh. Desa Lotas merupakan bagian kecil dari kecamatan Kokbaun yang terletak di ujung timur Kabupaten TTS, berbatasan langsung dengan Kabupaten Belu. Adanya proses pemekaran wilayah menjadi beberapa desa pada tahun 1972 lalu, akhirnya memunculkan konflik karena tidak jelas desa ini masuk Belu atau TTS. Pada awalnya hanya ada satu desa, yaitu Desa Nai Usu (Lotas) sekarang menjadi tujuh (7) desa, tiga desa masuk Kabupaten Belu (Desa Lotas Belu, Nai Usu, dan Moke) dan empat desa lainnya masuk Kabupaten TTS (Desa Lotas TTS, Bunahi, Obaki, dan Coloto), dan daerah inilah yang disengketakan sampai sekarang. Sebagian besar masyarakat Desa Lotas bergantung kepada kekayaan alam. Sebanyak 80% penduduk adalah petani, selebihnya bekerja di pemerintahan, perdagangan dan bidang jasa. Ironisnya desa ini memiliki kekayaan alam yang melimpah namun sebagian besar masyarakat sekitarnya hidup sangat miskin. Konflik berkepanjangan di daerah ini menyebabkan rendahnya akses masyarakat terhadap pembangunan, baik dari segi kesehatan, pendidikan dan infrastuktur. Dalam bidang pendidikan, sejak 5 tahun terakhir sebesar 70% warga Lotas hanya tamat SD dan SMP. Hanya beberapa orang saja yang hijrah ke kota untuk sekolah lanjutan berikutnya. “Selama ini…jujur saja pak, buku yang kami miliki hanya buku pegangan guru, sehingga siswa harus mencatat semua mata pelajaran. Buku yang tersedia di perpustakaan sekolah jumlahnya sangat terbatas, sehingga harus bergantian”, ungkap kepala sekolah SD Lotas. Hingga awal tahun 2007, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Daerah Tertinggal dan Khusus melaksanakan program P2DTK menjangkau sampai ke Kabupaten TTS dengan berbagai kegiatan pembangunan partisipatif, terutama bidang pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Dalam rangka mendukung percepatan pembangunan dibidang pendidikan P2DTK memberikan bantuan kepada SDN dan SMP di Desa Lotas. SDN Lotas menerima bantuan 200 pasang seragam siswa dan 3 orang guru kontrak. Sementara SMPN Lotas menerima bantuan 1.250 exemplar buku pelajaran /buku bacaan dan 3 orang guru kontrak). Buku-buku tersebut disesuaikan dengan kurikulum agar benar-benar tepat guna sesuai dengan yang diperlukan. Bantuan buku dan pakaian sekolah ini disambut gembira oleh masyarakat Desa Lotas. Bapak Heriyana sambil menggandeng tangan anaknya yang masih bersekolah di SD Lotas, mengungkapkan kegembiraanya: “Makasi P2DTK ! Ketong Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 16

sangat senang atas bantuan ini karena sangat meringankan beban kami orang tua. Beta pung anak satu di SMP dan dua di SD sini. Jadi beta sangat terimakasih sekali, Biasanya kami menyisihkan uang belanja untuk kebutuhan buku dan sekolah anakanak kami, sekarang saya bisa sisihkan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari” “Bantuan yang nampaknya sederhana tersebut terbukti berdampak positif dalam pembangunan di bidang pendidikan, mengingat rakyat selama ini menjerit soal biaya pendidikan yang mahal. Selain untuk membantu meringankan beban ekonomi orang tua murid, juga sangat membantu dalam proses belajar mengajar serta meningkatkan minat dan budaya baca. Bukti keberhasilan itu adalah dengan prestasi kelulusan murid pada tahun ajaran 2010 sebanyak 100% meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 96%”, ungkap Benyamin Leu Konsultan Pendidikan P2DTK. Sebagai bagian dari percepatan pembangunan di bidang pendidikan, program ini juga melibatkan masyarakat dalam pembangunan dan penyelenggaraan sekolah, baik dalam konteks sebagai kontributor pemikiran, pembahasan program-program sekolah, evaluasi keberhasilan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan untuk siswa dan siswinya.

Inisiatif membangun masyarakat, misalnya saja membangun pelayanan pendidikan tidak harus dimulai oleh pemerintah atau program P2DTK. Cerita best-practices di Poso berikut ini menggambarkan hal itu, dimana inisiatif pembangunan pelayanan pendidikan melalui sekolah sudah dimulai oleh masyarakat. P2DTK “menyambut” inisatif tersebut dan mendorong pengembangannya

“Setelah Sembilan Tahun Terlelap” Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah Oleh : Aldito

Kerusuhan Poso beberapa tahun lalu mengakibatkan banyak anak-anak usia sekolah tidak dapat belajar disekolah lagi bahkan sampai putus sekolah. Rumah dan sekolah mereka telah terbakar. Dapat kita bayangkan jika hal ini terus terjadi, bagaimana keberlangsungan Bangsa dan Negara kita jika generasi penerusnya banyak yang tidak bersekolah ? Seiring dengan adanya kesepakatan perdamaian di Poso, stabilitas keamaan sudah mulai kondusif. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga pada 13 juli 2009, seolah terbangun dari mimpi selama kurang lebih 9 tahun sekolah SDN 26 Kabupaten Poso seakan tertidur lelap akibat kerusuhan. Dra. Rosmani K. Tabanal, berinisiatif manfaatkan sisa-sisa gedung sekolah meski dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Sejauh mata memandang, sekolah ini hanyalah sebuah ruang kosong, tanpa meja dan kursi. Menjelang tahun ajaran baru, pendaftaran sekolah kembali dibuka. Fasilitas yang digunakan adalah pinjaman dari orang tua siswa ditambah sumbangan dari guru-guru yang mengajar. “Meski demikian kami masih tidak dapat memenuhi segala kebutuhan siswa. Terkadang mereka harus duduk berhimpitan, atau menggunakan potongan kayu mirip kursi seadanya,” demikian kisah haru Rosmani (Juli 2011), yang kini menjabat sebagai kepala sekolah SDN 26 Kabupaten Poso. Perjuangan Rosmani menuai berbagai dukungan. Namun tidak sedikit juga yang mengkritik. Sekolah sederhana itu dipandang tidak layak dalam mendukung proses belajar mengajar. Tetapi di sisi lain kebutuhan keberadaan sekolah mendesak, mengingat jarak sekolah lain cukup jauh. Para orang tua masih menginginkan anakanaknya untuk belajar disekolah ini. Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 17

Berbagai upaya yang dilakukan untuk memperbaiki fasilitas sekolah yang rusak akibat kerusuhan akhirnya menemukan titik terang melalui Musyawarah Desa P2DTK di Kabupaten Poso. P2DTK memberikan meja-kursi untuk murid dan guru, lemari penyimpanan, papan tulis, serta pengadaan Toilet Sekolah. Semua itu telah memberikan semangat kepada guru dan harapan baru bagi anak-anak Poso. Para guru juga mendapatkan pelatihan-pelatihan dalam mendukung pengembangan sekolah. “Saat ini kami sudah menyusun rencana pengembangan sekolah hasil dari pelatihan yang diberikan P2DTK… Kini kami merasa lebih tenang mengajar dengan fasilitas bantuan yang diberikan. Begiutu juga para siswa…”, ungkap Rosmini yang mengakui bahwa P2DTK telah menjawab keresahan mereka.

Melalui P2DTK Lepas Dari Keterisolasian Wilayah-wilayah pelosok sebagian besar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, terlebih lagi Papua, tidak bisa disangkal lagi mengalami keterisolasian yang parah. Oleh karena kondisi itu maka kesejahteraan mereka relatif rendah (tertinggal) dalam berbagai konteks seperti rendahnya akses pendidikan, akses pelayanan kesehatan, akses ekonomi pasar, dan akses sosial lainnya. Dalam upaya untuk mengurangi permasalahan keterisolasian semacam itu maka P2DTK diluncurkan. Cerita best-practices berikut ini memaparkan bagaimana upaya masyarakat dan pemerintah setempat, melalui dukungan P2DTK, berupaya “menembus batas” keterisolasian antar desa, antar kecamatan, bahkan antar provinsi. Tergambar dengan jelas mulfier-effect intervensi satu jenis kegiatan berdampak luas kepada segi-segi kebutuhan masyarakat yang lain.

“Bebas Dari Keterisolasian” Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah Oleh : Amri (Konsultan Infrastruktur)

Kecamatan Katingan Hulu dan Kecamatan Bukit Raya adalah dua kecamatan di Kabupaten Katingan, dimana secara geografis wilayah ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup besar untuk dijangkau. Satu-satunya cara yang bisa ditempuh adalah melewati jalur Sungai Katingan dan Sungai Sanamang. Untuk menembus ke wilayah tersebut melalui akses jalan darat, diakui oleh Pemerintah Daerah Kab. Katingan, pembukaan jalan darat memiliki kendala teknis yang berat dalam hal mobilisasi alat dan material. Banyak Pihak ke-III yang menolak pekerjaan pembukaan jalan darat tersebut. Program yang dilaksanakan oleh Pemda untuk menjangkau daerah tersebut adalah dengan pembukaan jalan secaraa bertahap, dimulai dari hilir (ibu kota kabupaten) menuju ke kecamatan terdekat. Itupun kemungkinan besar akses jalan langsung menuju ke kedua kecamatan tersebut baru bisa terealisasi puluhan tahun mendatang. Sejak pemekaran Kabupaten Katingan tahun 2002 hingga tahun 2007, pembukaan jalan tersebut telah diusulkan oleh masyarakat melewati musrenbang namun tidak pernah terealisasikan. Beruntung dengan adanya program P2DTK yang masuk ke Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 18

Kabupaten Katingan dan terutama kedua wilayah kecamatan tersebut, masyarakat kembali menempatkan harapannya pada P2DTK untuk menjadi pelopor dalam membuka akses jalan ke daerah tersebut. Salah seorang tokoh pemuda dari Katingan Hulu menyampaikan kepasrahannya mewakili masyarakat atas usulan yang pernah disampaikan :“ Sudah berbuih mulut kami ini berbicara mengusulkan jalan di daerah kami agar bisa dibuat oleh Pemerintah Daerah. Tapi kelihatannya masih belum bisa dilaksanakan. Kapan lagi kami yang ada di daerah terpencil ini mudah membawa keluarga yang sakit untuk berobat atau mencari keperluan rumah tangga… Apakah harus terus menerus melewati riam dan batu…banyak terjadi kecelakaan dan membuang nyawa. Beruntung ada P2DTK ini yang bisa mempercepat keinginan dan kebutuhan kami karena sudah bisa melihat dan merasakan kemudahan dengan dibangun jalan darat disini” Diakui oleh Camat Katingan Hulu, bahwa kendala terberat terutama pada mobilisasi alat berat. Namun berkat kegigihan dan dukungan penuh Bupati Katingan Drs. Duwel Rawing akhirnya dapat diatasi walaupun dengan proses yang sangat melelahkan. Setelah melalui beberapa tahapan musyawarah, hingga akhirnya disepakati di Musyawarah Kabupaten Perankingan yang menempatkan pembukaan badan jalan di Kec. Katingan Hulu sebagai prioritas pertama di bidang infrastruktur. Akhirnya masyarakat Katingan Hulu menyambut lega keputusan bahwa ”jalan yang diimpikan” itu akan dibangun. Keterisolasian masyarakat di jalur Sungai Sanamang kini telah terbuka melalui pembukaan badan jalan yang terdanai oleh BLM Kabupaten sepanjang 12 Km. Jalur sungai yang merupakan akses satusatunya untuk mencapai desa-desa di sepanjang jalur Sungai Sanamang kini telah dapat ditembus dengan mudah melalui terbukanya jalan P2DTK ini P2DTK telah membuktikan bahwa hanya dengan dana Rp 539.960.000,yang dipihak ketigakan melalui anggaran Siklus 1, maka akses tersebut dapat menembus keterisolasian. Jalan sepanjang 12 Mm tersebut telah menembus 3 desa yaitu Desa Kiham Batang, Rangan Kawit dan Dehes Asem. Jalan yang dibangun oleh P2DTK sepanjang 12 Km, kemudian dilanjutkan dengan dana ADD sepanjang ± 32 Km sehingga keseluruhan jalan yang terbangun adalah 44 Km. Jalan sepanjang 44 km tersebut telah menembus 11 desa mencapai Tumbang Sanamang yang merupakan ibukota Kec. Katingan Hulu. Pembukaan jalan sepanjang 44 Km menembus 11 desa ini dimanfaatkan oleh sekitar 3.032 jiwa. Transportasi menuju kota menjadi lebih cepat. Hasil bumi dapat dikirim ke Tumbang Sanamang secara lebih singkat. Selain itu akses pendidikan dan kesehatan lebih mudah untuk menjangkau. Bagi desa-desa yang belummemiliki Pustu sangat terbantu, terutama dalam pelayanan pertolongan persalinan lebih cepat dilakukan tanpa harus melewati sungai. Harapan selanjutnya, dan bukan tidak mungkin, adalah meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat Katingan Hulu.

Cerita best practice berikut ini tidak kalah menggugah dari sudut pemberdayaan masyarakat. Banyak para teknokrat pembangunan sering tidak percaya, mungkinkah masyarakat melakukan sendiri pembangunannya. Dengan berlandaskan pada “kepercayaan”, dan dilandasi proses pendampingan yang
Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 19

tepat, terbukti bahwa masyarakat mampu melakukan sesuatu yang semula sepertinya mustahil. Mekanisme P2DTK ternyata memungkinkan hal itu semua, yang tergambar dalam cerita penuh semangat pemberdayaan berikut ini.

“Menembus Batas Lintas Provinsi” Desa Badangkaia, Kec. Lore Selatan, Kab. Poso Oleh : Anas (MIS Sulteng)

“Selama pembangunan jembatan ini saya susah tidur memikirkan apakah jembatan ini bisa selesai. Masalahnya masyarakat yang mengerjakan jembatan ini tidak ada yang punya pengalaman mengerjakan jembatan sebesar dan sepanjang ini. Mereka punya hanya modal semangat…yang saya syukuri semua masyarakat Desa Badangkaia turun tangan mengerjakan jembatan ini, perempuan maupun laki-laki” Begitulah ungkapan P. Towimba, mandor pembangunan jembatan, disela-sela suara gendang bertalu-talu mengiringi lagu Dero yang merdu, tenggelam dalam suka cita dan syukur peresmian jembatan Armon Desa Badangkaia, Kecamatan Lore Selatan, Kabupaten Poso. Masyarakat yang tengah bersyukur itu seakan tidak percaya kalau mereka mampu membangun jembatan sebesar itu. Desa Badangkaia terletak di Kecamatan Lore Selatan Kabupaten Poso berbatasan langsung dengan Kecamatan Rampi yang merupakan bagian dari kabupaten Luwu Utara, Propinsi Sulawesi Selatan. Kondisi ini menyebabkan ramainya jalur dari Kec. Rampi ke kecamatan Lore Selatan maupun sebaliknya. Jalan ini merupakan satusatunya akses bagi masyarakat untuk mendistribusikan barang dagangan maupun hasil perkebunan mereka, walaupun hanya berbentuk jalan setapak yang bisa dilalui oleh kuda dan motor modifikasi. Sebagian besar lahan perkebunan masyarakat Desa Badangkaia berada dibagian Selatan ibu kota Desa (perbatasan propinsi), yang dipisahkan sungai besar yaitu Sungai Badangkaia. Aktifitas sehari-hari masyarakat harus melewati sungai ini menuju kebun-kebun mereka. Selain itu jalan setapak ini adalah jalur utama yang menghubungkan Kecamatan Rampi (di Sulawesi Selatan) dan Kecamatan Lore (di selatan Sulawesi Tengah). Jika hujan deras datang dan sungai Bandangkaia yang lebarnya ± 100 M itu meluap, semua aktifitas terpaksa harus berhenti. Harapan masyarakat untuk mempunyai jembatan yang menghubungkan kedua jalan setapak itu mendapatkan titik terang setelah masuknya P2DTK Tahun 2007. Pada proses kajian teknis Tahun Anggaran 2007 dan 2008 pembangunan jembatan ini dijadikan usulan kategori A BLM kabupaten. Namun lagi-lagi masyarakat kecewa karena usulan mereka kandas. Masyarakat tidak putus asa. Tahun 2009 masyarakat Kecamatan Lore Selatan melakukan pertemuan yang dihadiri oleh unsur pemerintahan, pemuka adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, pelaku P2DTK serta FK untuk membicarakan pembangunan jembatan ini. Pertemuan mensepakati pembagian kelompok kerja berdasarkan tempat bermukim. Setiap kelompok anggotanya 10 orang, dan bekerja selama satu hari setiap minggunya. Semua ada tujuh kelompok kecuali untuk pekerjaan tertentu semua kelompok harus hadir. Pertemuan ini juga menetapkan koordinator penyedian pasir, bambu, dan material lokal lainnya, serta mendorong kaum perempuan mengurus konsumsi. Kegelisahan masyarakat belum berhenti dengan banyaknya kekhawatiran yang muncul diforum: “Sudah pastikah jembatan itu akan dibangun..?!!” Pada Musyawarah perangkingan berikutnya di kecamatan, tumpah ruah masyarakat Desa Badangkaia hadir. Alhasil akhirnya diumumkan bahwa pembangunan jembatan ini yang menjadi prioritas pertama, suara gemuruh sorak sorai masyarakat desa dari luar gedung meluapkan kegembiraan. Sebelum Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 20

pelaksanaan pembangunan jembatan gantung ini Konsultan Kabupaten bidang Infrastruktur (Hadi Susanto) melakukan pelatihan singkat tentang teknik dan cara pembangunan Jembatan Gantung. Setiap hari, dimulai jam 6 pagi, pekerja sudah mulai bekerja. Tidak ketinggalan kaum ibu menyiapkan air minum, kopi, dan makanan. Kondisi ini berjalan hingga jembatan tersebut selesai dibangun dan akhirnya diresmikan oleh Bapak Camat Lore Selatan pada tahun 2010. Sungguh luar biasa semangat dmasyarakat membangun jembatan ini. Peluh dan keringat berbaur dalam suka cita. Jembatan gantung Armon tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Badangkaia tetapi semua masyarakat Kecamatan Lore Selatan serta masyarakat Kecamatan Rampi Sulawesi Selatan. Jembatan itu kini telah berdiri kokoh menggantung menembus batas desa dan provinsi.

Keterisolasian dan keterpencilan bukan saja oleh karena medan daratan yang berpegunungan. Wilayah perairan laut di kepulauan-kepalauan di Indonesia selama ini sering luput dari perhatian pembangunan sarana dan prasarana mobilitas masyarakat. Banyak wilayah kepaluan ini menjadi “tertinggal” karena sangat terbatasnya sarana-sarana tersebut. Best practices berikutini adalah cerita mengenai upaya membuka keterisolasian salah satu wilayah kepalauan di Indonesia.

“Tambatan Perahu Memacu Transportasi Laut” Desa Guaeria, Kec. Jailolo, Kab. Halmahera Barat, Maluku Utara Oleh : Rieny H. Hardjono

Indonesia merupakan negara kepualauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau membentang sepanjang nusantara. Olehnya Indonesia kaya dengan hasil laut. Pemukiman pesisir merupakan salah satu lumbung hasil laut. Namun tidak sedikit pemukiman diantaranya yang masih merajut ketertinggalan karena akses yang terbatas. Salah satunya adalah Desa Guaeria. Desa Guaeria terletak di pesisir Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Akses satu-satunya menuju desa hanya bisa ditempuh lewat perjalanan laut selama kurang lebih 30 menit dari ibukota Kecamatan Jailolo. Jumlah penduduknya 139 jiwa. Sebanyak 70% mata pencaharian penduduk adalah nelayan dan penjual ikan, 20% bekerja di sektor perkebunan kopra, pala, dan cengkih, selebihnya bekerja di sektor swasta dan PNS (Th 2008). Menurut pengakuan kepala desa Guaeria, kebanyakan nelayan disini lebih banyak memasarkan hasil melaut langsung ke ibukota kecamatan. Masalah yang paling sering dihadapi adalah keterbatasan fasilitas tambatan perahu. Perahu nelayan dan perahu angkut transportasi masuk dan keluar harus berhati-hati melalui daerah berbatu yang dangkal. Perahu transportasi yang datang kedesa ini tidak bisa merapat ke daratan, apalagi bila air sedang surut. Kondisi ini membuat pedagang dari luar daerah kadang mengurungkan niatnya untuk merapat kedesa ini. inilah yang membuat desa kami terbelakang, tambahnya. Awal 2008 program P2DTK membawa angin segar kepada warga Desa Guaeria. Melalui serangkaian tahapan proses perencanaan, akhirnya dana BLM kecamatan Siklus 1 dikucurkan untuk membiayai pembangunan tambatan perahu. Besarnya dana adalah Rp. 126.929.074,- dengan waktu pengerjaan 90 hari. Panjang tambatan perahu + 70 M dengan konstruksi semi parmanen. Kini nelayan dan para pedagang tidak lagi mengalami kesulitan dalam melakukan mobilitas antar desa Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 21

dan kota kecamatan karena perahu, motor boat dan speed boat dapat langsung merapat ke dermaga. Hasil-hasil perkebunan dan barang dagangan dapat langsung dimuatkan ke perahu yang siap didermaga, dengan harga lebih murah.

Pengembangan Sektor Swasta Best practices dari seorang penjual Kue Bingka berikut ini memang tidak tepat benar dengan sasaran program PSS sesungguhnya. Namun ada baiknya cerita ini diangkat untuk memberikan gambaran sedikit pengaruh P2DTK dalam upaya pengembagan usaha baru, serta keterkaitannya dengan sektor-sektor yang lain.

“Akses Luas, Bingka Pun Laris” Desa Bagenda Hilir, Kec. Mentaya HilirUtara, Kalteng Oleh : Hasnah (Konsultan Gender)

Di jaman krisis ekonomi pendapatan keluarga semakin menurun, Alternatif membuka usaha merupakan jalan keluar yang paling pas. Dimana ada kemauan disitu ada jalan. Sebut saja Ibu Farida (35th), beliau seorang penjual kue Bingka asal Desa Bagenda Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kalimantan Tengah. Sejak tahun 2005, ibu dari 3 orang anak ini menekuni usaha kue basah yang dijajakan kepada pembeli sambil berkeliling desa. Bisnis yang ia tekuni awalnya hanya mengisi waktu sebagai ibu rumah tangga untuk membantu perekonomian keluarga. Namun sekarang telah mampu mengembangkan usaha meski dalam skala yang masih relative kecil. Beliau juga mampu membantu suaminya untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang lebih tinggi. Karena kegigihan usahanya terus bekembang. Awalnya kue buatan Bu Farida dijajakan berkeliling desa, tapi kemudian berkembang menjadi industri rumahan untuk didistribusikan ke pasarpasar dan toko-toko disekitarnya. Perubahan ini dirasakan oleh ibu Farida ketika Program P2DTK menjangkau Desa Baginda Hilir. Program ini membangun fasilitas Jalan yang memudahkan masyarakat dalam mengakses daerah sekitarnya. Dulunya beliau bisa menghabiskan waktu 30 menit untuk menuju ke pasar dan 1 jam lebih menuju ke desa tetangga. Tapi dengan adanya program P2DTK memfasilitasi pembangunan jalan itu dapat ditempuh dengan 20 menit saja dengan naik sepeda. Kue yang paling laris adalah jenis kue Bingka. Permintaan order kue bingka untuk di jual ke pasar dan warung-warung semakin meningkat tinggi. Terkadang Bu Farida sampai kehabisan stok untuk dikirim ke warung dan pasar yang menjual kue Bingka Bu Farida. Beberapa jenis kue khusus seperti Bingka bisa mendapatkan keuntungan besar 45%. Semakin tinggi untungnya jika dikemas menarik dan cantik. Hingga tahun 2011, usaha bu Farida terus berkembang dan kue khas Bu Farida menjadi favorit pembeli. Bu Farida juga berkisah, bahwa penjualan akan makin meningkat saat romadhon dan lebaran. Berkat Akses jalan yang semakin Luas, usaha kue saya makin maju. “Terima kasih untuk P2DTK“, ujar Bu Farida. Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 22

Perbaikan Pelayanan Pendidikan Konsep pemberdayaan P2DTK bidang pendidikan untuk wilayah tertinggal tidak saja terbatas pada mengubah sekolah yang dulunya buruk menjadi lebih baik, meskipun itu merupakan salah satu persoalan mendasar hampir di seluruh sekolah-sekolah di wilayah terpencil. Namun P2DTK mempunyai keinginan untuk meningkatkan kualitas mutupelayanan dan manajemen pendidikan melalui program-program pengembangan kapasitas untuk guru-guru. Dua best pratices berikut ini menggambarkan dua sisi ranah kegiatan P2DTK seperti terpaparkan di atas.

“Sekolah Untuk Calon Pemimpin Bangsa” Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara Oleh : Koswara

Pendidikan adalah modal utama bagi bangsa dalam upaya meningkatkan kualitas SDN meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tantangan bagi pengelola pendidikan saat ini, bahwa masih banyak sekolah-sekolah belum memenuhi pendidikan yang bermutu terkait peningkatan akses, kualitas, dan manajemen. Keadaan seperti ini sering kita temui di sekolah-sekolah di daerah pedalaman. Salah satunya SMP Negeri 12 Arame Kabupaten Nias Selatan. Sekolah ini sangat sederhana untuk tidak mengatakan “tidak layak”. Hanya ada 2 ruang permanen beratapkan rumbia, beralaskan tanah, tanpa plapon dan dinding, serta bangku yang terbuat dari bambu, berlubang-lubang di atap, serta berlantai tanah. Fasilitas yang ada pun benar-benar jauh dari kata memadai. Tapi sekolah ini tetap dipenuhi oleh para siswa yang kebetulan semuanya berdomisili di wilayah tersebut. Dengan sarana dan prasarana yang sederhana ini para siswa dan guru tetap mengikuti proses belajar mengajar seperti sekolah lainnya. Hanya jika hujan dan angin datang, terpaksa siswa diliburkan. Para guru takut bangunan sekolah roboh. Siapapun murid dan orang tua, pasti ingin bersekolah di tempat lain jika ada pilihan. Itulah kisah “pedih” beberapa tahun lalu sebelum P2DTK datang. Tahun 2010 P2DTK memberikan bantuan berupa meubiler 2 ruang yang terdiri dari 80 kursi, 40 meja, 1 papan tulis, 1 meja dan kursi guru serta 1 unit Lemari. Kepala sekolah mengatakan bahwa Jajaran Guru dan masyarakat sangat berterimakasih akan bantuan yang sudah lama dinantikan oleh mereka. Korprov P2DTK Sumatera Utara, Pak Koswara, mengakui bahwa bantuan yang diberikan sedikitnya telah mengobati kerinduan masyarakat khususnya siswa untuk mendapatkan pelayanan pendidikan secara lebih baik. Walaupun jumlahnya terbatas, karena disesuaikan dengan alokasi anggaran yang telah di sepakati dalam Musyawarah Kabupaten, namun telah memberikan dampak positif yang cukup signifikan dalam menunjang kegiatan sekolah. Jumlah kehadiran siswa dan tingkat kelulusan siswa 2010 – 2011 meningkat menjadi 100% dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata hanya Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 23

antara 70% - 90% setiap tahunnya. Sumbangan yang sedikit itu ternyata berdampak besar untuk membangun pendidikan yang lebih baik.

Penuturan Kepala Sekolah MIN Kilongan berikut ini ingin menyarankan bahwa sekolah-sekolah yang berada di pelosok pun perlu mengembangkan kapasitas dan model pelayanan pendidikannya. Keterbatasan fisik sekolah tidak berarti mereka tidak perlu mengejar kualitas mutu pengajaran.

”Kini Menjadi Salah Satu SD Favorit” MIN Kilongan (Kab. Banggai, Sulawesi Tengah) Oleh: Emilianus Elip

Tahun 2008 dan tahun-tahun sebelumnya MIN Kilongan hanyalah sekolah biasa yang tidak dikenal. Namun setelah tersentuh oleh program P2DTK dimana beberapa guru MIN Kilongan menjadi peserta pelatihan diantaranya pelatihan PAKEM, MBS, dan pengelolaan perpustakaan, kini MIN Kilongan setidaknya menjadi sekolah yang ”dilirik” oleh masyarakat disekitar Kilongan, bahkan kecamatan lain. Begitulah kira-kira yang ingin diungkapkan oleh Zainuddin, kepala sekolah MIN Kilongan yang juga anggota UPKD pendidikan sejak tahun 2008. Ada 4 guru yang awalnya mengikuti berbagai pelatihan di bidang pendidikan yang dilaksanakan P2DTK Kab. Banggai, seperti pelatihan PAKEM dan MBS antara tahun 2008 – 2010. MIN Kilongan juga pernah mendapatkan bantuan ”bedah kelas” dari P2DTK untuk 3 kelas. Bedah kelas adalah suatu kegiatan untuk merubah situasi kelas lengkap dengan bahan ajar dan fasilitas yang dibutuhkan agar murid-murid merasa lebih betah di dalam kelas. Dengan inisiatif bantuan P2DTK tersebut, MIN Kilongan terus menerus mengembangkan diri menjadi MIN (sekolah sederajat SD) yang lebih baik. Keempat guru yang telah dilatif tersebut sudah menularkan pengetahuan dan ketrampilannya kepada 17 guru lain di sekolahnya. Bahkan salah satu guru yaitu Ibu Isna, berkembang menjadi narasumber tentang PAKEM tidak hanya di lingkungan Kecamatan Kilongan tetapi juga di level Kabupaten Banggai. Kini seluruh kelas yang sebanyak 6 kelas telah tersentuh ”bedah kelas”. ”Tiga kelas yang lain dibiayai sendiri oleh MIN Kilongan, dengan biaya rata-rata per kelas dua juta rupiah sampai tiga juta. Diakuai oleh Zainudin dan para guru tersebut bahwa dampak dari pendekatan ”bedah kelas” tersebut terhadap tingkat kehadiran, kebetahan, dan perkembangan belajar murid sangat signifikan. Murid-murid semakin betah berada di lingkungan sekolah. Tingkat jumlah murid membolos di jam-jam belajar sekolah menurun drastis. Perhatian murid terhadap guru dan materi ajar semakin membaik karena metode pengajaran tidak konvensional lagi, tetapi model ”dialog”. Guru dituntut harus semakin kreatif mengembangkan bahan ajar dan metode mengajar yang menarik. Ketika ditanya sejauh mana sekolah-sekolah di Kabupaten Banggai menerapkan model ”bedah kelas” ini, Zainuddin memperkirakan bahwa sejauh pengamatannya sebagai Tim UPKD Pendidikan, kira-kira baru 4 sekolah SD dan sederajat yang menerapkannya. Tetapi kalau ditanya soal guru yang dilatih tentang PAKEM dan MBS, maka hampir seluruh sekolah telah mendapatkan pelatihan tersebut. Tentang penerapan belajar-mengajar model baru ”bedah kelas” tersebut akhirnya tergantung niatan kepala sekolah masing-masing. Setiap sekolah sesungguhnya mampu memulai dan menerapkan ”bedah kelas” secara bertahap di sekolah masing-masing. Bedah kelas dengan fasilitas sederhana biaya per kelasnya kira-kira bisa ditekan antara satu juta sampai satu setengah juta rupiah saja. Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 24

Para orang tua murid menyambut baik dengan apa yang sudah dilakukan di MIN Kilongan. Mereka sangat mendukung dan senang anak-anaknya betah disekolahan. Kini MI Kilongan menjadi salah satu sekolah yang ”diinginkan” oleh para orang tua di lingkungan Kecamatan Kilongan. Kepercayaan dan perhatian masyarakat ini memicu para guru selalu berupaya mengembangkan kapasitas diri. Mereka berencana melakukan ”studi banding” di Ujung Pandang berkunjung ke beberapa sekolah yang dikenal bagus model pengajarannya. Ditambahkan oleh Zainudin, jika tidak ada aral melintang tahun depan semua guru MIN Kilongan berencana studi banding model pengajaran ke Jawa.

Kegiatan Pemuda “Membangun Informasi” Kegiatan pemuda sering kali dikonotasikan hanya dengan kegiatan olah raga, kesenian, atau pelatihan ekonomi produktif. Best practices kegiatan kepemudaan berikut ini memberikan inspirasi bahwa dari kegiatan pemuda dapat dikembangkan menjadi kebutuhan dan kepentingan masyarakat luas, baik kegiatan terkait P2DTK, informasi-informasi penting seperti pertanian, pendidikan, informasi harga-harga, bahkan informasi lain seperti undangan pernikahan, rapat pertemuan, dll.

“Akses Informasi dan Hiburan” Kecamatan Negara Batin, Provinsi lampung Oleh : Tulus Wahyu S dan Andi Zuriat

Sadarkah kita bahwa akses informasi memegang peranan penting dalam pembangunan? Radio merupakan salah satu solusi untuk membuka akses informasi khususnya daerah-daerah tertinggal yang belum terjamah oleh pembangunan. Pembuatan pemancar radio FM, 600 Watt, dengan gelombang siar frekuensi 104,5 di Kecamatan Negara Batin merupakan kegiatan pemuda yang diprakarsai oleh program P2DTK. Keberadaan radio ini cukup efektif juga dalam mendiseminasikan informasi bagi masyarakat Negara Batin khususnya penyebarluasan informasi program P2DTK serta penyebaran informasi-informasi lain yang bermanfaat. Alhasil kegiatan ini masuk dalam salah satu kegiatan yang dapat dilaksanakan setelah melalui perengkingan. Surya Adi Suwito, salah satu penyiar radio Suara Mas Muda Bangsa, mengatakan bahwa informasi terkini dapat diakses di 104.5 FM, terkadang kami memberikan informasi tentang jadwal dan agenda pertemuan di desa, setelah itu kami juga memberikan informasi tentang hasil pertemuan yang dilaksanakan, membantu dalam mobilisasi khususnya pelaksanaan program P2DTK. Suryo mengakui meski kondisi fisik radio “Suara Mas Muda Bangsa” 104.5 FM Kecamatan Negara Batin sangat sederhana, dengan perakitan manual, dengan sistem penyiaran yang sederhana, dengan pendanaan yang terbatas dan berbagai kendala termasuk perijinan Hak Siar, namun dilihat dari manfaat sangat besar bagi perkembangan pemuda di Kecamatan Negara Batin. Pemuda dapat menyalurkan bakat dan Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 25

kreatifitasnya melalui radio komunitas ini. Selain sebagai media informasi juga sebagai media hiburan. Terkadang masyarakat sendiri yang datang kepada kami untuk memberikan informasi tentang undangan perkawinan ataupun berita duka. Tidak jarang juga ada yang minta request lagu sebagai pelipur lara. Selain sebagai media penyiaran, keberadaan radio komunitas ini membantu masyarakat sekitar dalam supply listrik hingga mencapai 40 KK (rumah). Aliran Genset yang digunakan radio masih memungkinkan untuk mensuplai listrik ke 40 KK yang bermukim disekitar stasiun Radio Pemancar yang belum dapat aliran listrik dari Pemerintah.

Pelayanan Kesehatan Masyarakat Best practices berikut ini menceritakan dua aspek pokok dari bidang kesehatan yang menjadi sasaran utama program Kementerian Kesehatan untuk wilayah tertinggal, yaitu penanggulangan gizi buruk dan akses terhadap air bersih.

“Pemberian PMT-Anak Sekolah” Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh Oleh : Mutia Nanda

Masa pertumbuhan secara fisik dan mental sangat diperlukan dalam menunjang peningkatan kualitas hidup di masa mendatang. Peningkatan status gizi diperlukan dalam membangun manusia yang sehat dan berprestasi. Menyadari pentingnya hal itu Pihak UPKD bekerjasama dengan Puskesmas Leuser, Bidan Desa, serta guru sekolah, mengusulkan pelaksanaan kegiatan PMT-AS (Pemberian Makanan Tambahan-Anak Sekolah) serta penyuluhan PHBS bagi 739 siswa di 7 Sekolah Dasar di Kabupaten Aceh Tenggara. Pemberian makanan tambahan dilakukan 3 kali seminggu selama 3 bulan dan biaya makan sebesar @Rp. 4000. Program ini selaras dengan program nasional Kementerian Kesehatan yang dimulai sejak tahun 1996/1997, yang dilaksanakan secara lintas sektoral di pusatkan pada daerah tertinggal dan terisolir. Kegiatan Program PMT-AS lahir dari hasil kajian teknis bidang kesehatan untuk didanai melalui proses Muskab pendanaan. Data Profil Kesehatan Kabupaten Tahun 2008 menemukan adanya sejumlah siswa dengan status gizi kurang. Jadi pemberiannya bukan berdasarkan permintaan, tapi berdasarkan kebutuhan, kata DMC Aceh Tenggara, Mutia Nanda. Tujuan PMT-AS adalah untuk meningkatkan ketahanan fisik anak sekolah melalui perbaikan status gizi dan pola hidup sehat yang diharapkan berdampak pada peningkatan minat belajar siswa dan mendorong prestasi belajar. Salah satu penyebab siswa yang gizinya kurang adalah perilaku pola makan yang tidak sehat. Hal senada juga dikatakan oleh Pihak UPKD Kabupaten Aceh Tanggara, bahwa kegiatan ini diawali Pemeriksaan Antropometri pada anak SD yang dilaksanakan UPKD Kesehatan dan bekerjasama dengan Pihak Puskesmas, kemudian

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 26

Pemeriksaan Tinggi Badan dan Berat Badan Anak Sekolah bersama dengan Petugas Puskesmas dan Guru di lokasi pemberian PMT AS. Kegiatan ini selain memperkenalkan makanan tambahan juga membiasakan pola makan sarapan pagi pada anak sekolah sehingga dapat mendorong semangat dari siswa dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai calon peminpin di generasi berikutnya. Program PMT ini merupakan program gizi pada kelompok anak sekolah memiliki dampak yang luas tidak hanya pada peningkatan status gizi, tetapi diharapkan mempengaruhi siswa untuk membawa pesan dalam keluarga untuk pola makan sehat yang dipraktekkan melalui PMT-AS di sekolah. Bila anak sekolah kekurangan Energi Protein, daya tahan tubuh akan lemah sehingga akhirnya dapat mengganggu konsentrasi belajar mengakibatkan menurunnya prestasi siswa. Kita harapkan dengan PMT AS melalui program P2DTK dapat meningkatkan status gizi yang menambah daya tahan fisik sehingga siswa bisa mengikuti proses belajar mengajar dalam kondisi yang prima. Ungkap UPKD Aceh Tenggara. Pola keterpaduan PMT ini dirangkaikan dengan penyuluhan reguler PHBS kepada sekolah yang mendapatkan program PMT. perilaku Hidup Bersih dan Sehat dimulai dari Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, mengkonsumsi makanan dan jajanan sehat, mengunakan jamban , olahraga , memberantas nyamuk, serta tidak membuang sampah di sembarang tempat. Kegiatan ini bersumber dari dana DAK tahun 2010, Kegiatan ini Berlangsung selama 3 bulan terhitung Oktober-Desember tahun 2010, dengan memantau perkembangan status gizi siswa. Meskipun perubahan dirasakan tidak signifikan, namun dapat memberikan kebiasaan kepada siswa tentang pentingnya asupan gizi dalam membantu proses belajar. Pola sarapan pagi yang diterapkan dalam PMT-AS diharapkan dapat dikembangkan oleh siswa dirumah.

Akses terhadap air bersih menjadi salah satu kegiatan/sub proyek yang cukup banyak dilaksanakan di bidang infrastruktur program P2DTK. Dengan kata lain sub proyek ini merupakan salah satu yang paling dibutuhkan oleh masyarakat. Bagi masyarakat di wilayah-wilayah kering di NTT seperti dikisahkan di dalam best practices berikut ini, ketersediaan air bersih memiliki keterkaitan yang kompleks tidak hanya mengenai kesehatan saja, tetapi juga berdampak pada perekonomian keluarga serta ketersediaan waktu anak-anak untukbersekolah.

“Sumber Air Su Dekat” Desa Niki-Niki Un, Kec. Oenino, Kab. TTS, NTT Oleh : Damianus Ola

Sekarang sumber air su dekat, beta sonde terlambat lagi.... Suara lugu anak laki-laki dengan aksen Timor yang begitu kental itu sangat menarik perhatian pemirsa televisi. Tidak sedikit pengguna ponsel yang sudah meng-up load suara anak itu menjadi nada panggilan di ponselnya. Iklan produk sebuah pabrik air minum kemasan itu diseting begitu cair dan komunikatif, melukiskan puncak kegembiraan warga Desa Suni di Kecamatan Noebana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), karena air bersih akhirnya masuk di perkampungan mereka. Ada ibu rumah tangga dan pria paruh baya yang tertawa lepas dengan bibir dan gigi kemerahan air sirih pinang. Juga sekelompok anak-anak sekolah berlarian sambil bernyanyi gembira menyambut datangnya air bersih di perkampungan mereka. Bagi kebanyakan anak-anak di kampung, mengambil air di sungai, di kali atau di sumber air lainnya --berapa pun jaraknya dari rumah-- adalah tugas wajib. Bahkan menjadi agenda pertama di pagi hari, sebelum ke sekolah. Tidak jarang, anak-anak dihukum orangtuanya karena belum melaksanakan "kewajibannya" itu. Itu sebabnya, masuknya air bersih ke kampung mereka, sama dengan datangnya Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 27

kebebasan dan kemerdekaan bagi anak-anak. Mereka lepas dari tugas yang wajib itu. Kebebasan macam itu jua yang selama ini dirindukan anak-anak di Desa Niki-Niki Un di Kecamatan Oenino. Di desa itu ada sekitar 50-an anak SD, belasan anak SMP dan empat orang anak SMA. Anak-anak SD harus berjalan kaki sekitar 30-45 menit baru tiba di sekolah. Belasan anak SMP dan SMA itu lebih jauh lagi jalan kaki, yaitu sekitar 8 Km (pergi pulang 16 Km) ke Niki-Niki, karena SMA dan SMP hanya ada di Niki-Niki. Sukar membayangkan anak-anak itu bisa masuk sekolah tepat waktu. Apalagi mereka masih harus ke kali untuk mengambil air membantu ibu di rumah. Sukar pula membayangkan bagaimana anak-anak itu tiba di sekolah dan mengikuti pelajaran dengan nyaman dalam kondisi mandi keringat. Tidak sedikit dari anakanakitu yang berangkat sekolah tanpa sarapan. Kini, anak-anak sekolah di kampung sudah terbantu karena jalan raya sudah dibuka ke desa mereka melalui P2DTK. Angkutan pedesaan memang belum masuk tapi setidaknya sepeda motor ojek sudah bisa melayani warga di sana, termasuk anakanak sekolah. Namun dengan tarif ojek yang berkisar antara Rp. 10.000, sampai Rp. 15.000,- ke Niki-Niki, orangtua anak- anak di kampung masih merasa terlalu berat, kecuali ada kebutuhan yang sangat mendesak seperti ujian dan lainnya. Penghasilan orang tua yang hanya mengandalkan Kemiri dan Asam yang harganya sekitar Rp 1.500/kg, memaksa para orangtua untuk mengekang belanja hanya untuk kebutuhan-kebutuhan pokok. "Kadang hasil jual Kemiri dan Asam itu dipakai untuk membeli air minum. Warga di sini sangat susah air. Letak sumber air lebih rendah dari pemukiman dan kini mulai kering," keluh Camat Oenino, Drs. Alex Nakamnanu. Begitulah nasib anak-anak di kampung itu, dan bahkan ribuan anak-anak di pedalaman TTS. Hidup di wilayah kering dan panas serta selalu kekurangan air, fisik kebanyakan anak-anak itu pun terlihat "kering". "Kami hidup di daerah yang kering dan keras. Karena itu wajah kami juga kering dan keras, sulit sekali tersenyum. Biar sedang nyanyi lagu gembira, kami sulit tersenyum. Alam menjadikan kami seperti ini," kata Bapak Camat Nakamnanu disambut tawa lepas hadirin. Dan para tokoh adat menitipkan pesan, "Kembalilah ke kota dan ceriterakan apa yang sudah dilihat di tanah kami ini”.

HCU dan Transparansi Pembangunan Fungsi komponen HCU di dalam P2DTK adalah untuk mendeteksi, mengidentifikasi kemungkinan akan munculnya penyalanggunaan dan P2DTK, sekaligus melakukan menegakkan hukum atas pelaku yang terbukti melakukan korupsi. Dibalik itu semua tujuan idealnya adalah mempromosikan akuntabilitas dan transparansi keuangan dalam pembangunan di daerah-daerah, yang selama ini disinyalir penuh korupsi. Best practices berikut ini merupakan salah satu contoh proses HCU berbasis pengaduan masyarakat yang terbukti efektif sebagai kontrol atas ditegakkannya transparansi pembangunan di P2DTK.

“Dari BLM ke Hotel Prodeo” Kec.Kayoa, Kab. Halmahera Utara, Maluku Utara Oleh : Bento Prahara (Konsultan Pendidikan)

Sudah cukup sering kita disuguhkan pemberitaan mengenai kasus korupsi , baik yang kini sedang menjalani proses penyidikan maupun yang tengah menunggu putusan pengadilan. Sebagian besar pelaku tergolong pemangku jabatan yang

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 28

diberikan kepercayaan oleh masyarakat. Salah satu kasus yang kemudian menggiring tersangka menuju “hotel prodeo” adalah pemangku jabatan Ketua UPK Kecamatan Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, Bapak Hairun Mailoa, dengan dakwaan Penyalahgunaan dana Bantuan Sosial Masyarakat (BLM) program P2DTK TA 2009. Hairun Mailoa adalah salah satu kandidat wakil masyarakat yang ikut dalam bursa pemelihan ketua UPK P2DTK di kecamatan Kayoa pada tahun 2008. Hairun akhirnnya terpilih dalam forum Musyawarah Kecamatan sebagai ketua UPK dan di tetapkan dalam Surat Keputusan Camat pada tanggal 27 Juli 2008 bersama dua teman lainnya Nujria Junaidi (sekretaris) dan Nurmia Idrus (bendahara). Perjalanan karirnya sebagai ketau UPK dari tahun 2008 s.d Desember 2009, dalam mengawal pelaksanaan program P2DTK di kecamatan Kayoa berjalan dengan baik dan lancar. Januari 2010, karir Hairun sebagai ketua UPK mulai diragukan dengan adanya pengaduan dari Pendamping Lokal dan masyarakat lewat SMS ke HCU PMC Maluku Utara (Lucky Sondakh) bahwa Hairun bersama Rahmad Samad (FK), diam-diam mencairkan dana BLM sebesar Rp. 159 Juta, alokasi untuk pakain seragam SD dan kegiatan rehabilitasi jembatan kayu di desa Guruapin. Setalah dilakukan investigasi oleh HCU PMC dan KM Kab. Halsel, ternyata dana tersebut sudah digunakan oleh saudara Hairun sebesar Rp. 67 Juta, dengan alasan dipinjamkan kepada orang lain. Sebelum kasus ini dilaporkan resmi ke PMC, hasil pantaun masyarakat Kayoa yang berdomisili di kota kabupaten (Labuha), Hairun Mailo hampir setiap malam bersenang-senang, minum-minum di tempat hiburan malam (karaoke), bahkan dia bertindak sebagai juragan bagi temantemannya. Selama mereka “bersenang-senang” dapat menghabiskan uang Rp 1 s.d 2 juta. Kondisi ini tentunya menimbulkan kecurigaan masyarakat, karenah Hairun tidak memiliki pekerjaan tetap, apalagi dia hanya sebagai warga masyarakat biasa di desanya. Pada bulan Pebruari 2010, kasus ini resmi dilaporkan dalam forum masyarakat yang difasilitasi oleh HCU PMC. Keputusan forum memberi kesempatan bagi Hairun segerah mengembalikan dana tersebut. Hingga bulan Agustus 2010, dana tersebut belum dikembalikan bahkan Hairun kabur dari Kayoa. Akhirnya pada tanggal 9 Agustus 2010 masyarakat resmi melaporkan kasus ini ke pihak Polsek Kayoa. Dengan upaya pihak Polsek, Hairun di tangkap dan diproses sesuai hukum formal, sampai pada persidangan di Pengadilan Negeri Labuha. Setelah melewati proses persidangan selama 5 kali dalam kurun waktu 1,5 bulan, maka pada tanggal 16 Pebruari 2011, Majelis Hakim yang dipimpin oleh M. Resa Latuconsina, SH dan didampingi dua hakim anggota masing-masing Lutfi Alzagi, SH dan Ferdilal, SH memutuskan bahwa Hairun Mailoa bersalah dan melangar pasal 374 KUHP tentang penggelapan dana, dan di vonis penjara selama 17 bulan dan denda Rp. 10.000.000. Amar putusan PN Nomor : 198/Pid.B/2010/PN.LBH. Selaku bagian dari warga negara, kita tentu saja memimpikan hukum yang berkeadilan dan mengayomi seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali seperti ini.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 29

Kapasitas Perencanaan Aparat Pemerintah Pengembangan kapasitas, khususnya kapasitas perencanaan dan pengelolaan pembagunan bagi aparat pemerintah didalam program P2DTK, dimaksudkan untuk paling tidak beberapa hal berikut: (1) Meningkatkan kemampuan perencanaan partisipatif sesuai kebutuhan masyarakat di kalangan instansi pemerintah; dan ke- (2) Mengintegrasikan model perencanaan dan pengelolaan kegiatan program P2DTK bisa diadopsi dalam sistem pengelolaan pembangunan pemerintah daerah. Best pratices mengenai sistem perencanaan berikut inimemaparkan bagaimana harapan-harapan tersebut di atas sudah terjadi di kalangan aparatur pemerinatahan dan apa saja tingkat kesulitan yang dihadapi.

”Perencanaan Reguler dan P2DTK: ”Belum Sinkron” Kab. Toju Una Una, Sulawesi Tengah Oleh: Emilianus Elip

Syaiffudin bergabung di P2DTK sejak 2010 dan Andiruslan bergabung sejak 2008. Mereka berdua, melalui P2DTK, pernah mengikuti pelatihan-pelatihan seperti pelatihan Tim Kegiatan Teknis, pelatihan Design dan RAB, serta Pelatihan Pengadaan Barang dan Jasa. Sebagai Tim UPKD Sfaifuddin dan Andi R. terlibat di seluruh proses-proses perencanaan, implementasi, dan pelaporan-pelaporan kegiatan di tim UPKD masing-masing. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap program P2DTK dinilai sangat baik oleh Syaifuddin dan Andi R karena adanya ”transparansi perencanaan pembangunan” yang dibangun oleh P2DTK. Ada beberapa hal yang menyebabkan kepercayaan masyarakat itu muncul. Pertama, apa yang diprioritaskan oleh masyarakat di Musrenbang Dusun-Desa sampai Kecamatan, sebagian besar bisa tertampung dan terealisasi oleh P2DTK. Kedua, masyarakat bisa ”mengontrol” proses perencanaannya sampai penilaian prioritas mana kegiatan yang didanai dan yang tidak melalui forum perencanaan pembangunan di tingkat kabupaten. Rata-rata 60-70% hasil Musrenbang dapat didanai oleh P2DTK. Begitu pula dalam hal pertanggungjawaban kegiatan, masyarakat bisa mengontrol dan memperoleh informasinya melalui forum musyawarah pertanggungjawaban. Proses transparansi perencanaan dan implementasi pembangunan di daerah melalui P2DTK ini yang sangat membedakan dengan model ”perencanaan reguler” yang biasanya dilakukan oleh Pemda. Namun di sisi lain hal yang perlu dicermati, menurut mereka berdua adalah, menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem perencanaan reguler daerah ketika disandingkan dengan sistem P2DTK. Dari sudut pengembangan kapasitas perencanaan pembangunan, Syaifuddin dan Andi R mengaku bahwa mereka saat ini mempunyai bekal kapasitas yang cukup dalam bidang perencanaan dengan belajar dari proses P2DTK. Mereka juga menilai bahwa anggota Tim-Tim UPK yang lain pun mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang relatif sama. Namun persoalannya sinkronisasi ataupun integrasi model perencanaan P2DTK kepada model perencanaan reguler di tingkat kabupaten tidak semudah seperti ”membalikkan telapak tangan”. Upaya sinkronisasi semacam itu membutuhkan kebijakan tertentu dari pimpinan pemerintah daerah untuk menerapkannya, dan di Kab. Toju Una Una belum mengarah ke upaya tersebut. Tingkat kesulitan sinkronisasi tersebut menurut analisa Syaifuddin dan Andi R disebabkan oleh satu hal pokok yaitu perbedaan waktu (periode) proses perencanaan. PNPM-P2DTK periodenya dimulai di bulan Juli, sementara perencanaan reguler biasanya di bulan Maret. Jika periodisasi Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 30

perencanaan ini bisa relatif sama maka ada beberapa keuntungan yang bisa dicapai, khususnya bagi upaya perbaikan sistem perencanaan daerah, yaitu antara lain: (1) Mutu penjaringan aspirasi dari bawah di perencanaan reguler kualitasnya bisa di tingkatkan karena bisa bersamaan dengan proses P2DTK ketika penjaringan di dusun-dusun/desa; (2) Proses prioritasi dan transparansi pembangunan dari perencanaan reguler juga bisa ditingkatkan; (3) Forum-forum musyawarah pertanggungjawaban bisa dimanfaatkan oleh pemda untuk ikut mempertanggungjawabkan proyek-proyek mereka. Pengaruh model perencanaan P2DTK di tingkat dinas dan sustainabiliatas kegiatan: Apakah kapasitas perencanaan yang sudah dimiliki oleh anggota Tim UPKD bisa ”mewarnai” proses perencanaan di dinas? Diakui oleh Andi R (staff PU) bahwa kapasitas perencanaan yang dimiliki anggota Tim UPKD infrastruktur belum mampu mewarnai model perencanaan di Dinas PU yang konvensional. Hanya saja data-data dari perencanaan P2DTK sangat bermanfaat bagi PU dalam hal untuk memilih proyek-proyek yang tidak tertampung di P2DTK mungkin bisa dimasukkan atau di danai oleh PU. Berbeda dengan di Dinas Kesehatan Kab. Toju Una Una. Menurut pengalaman Syaifuddin (staff Bagian Promosi Kesehatan), sejauh ini memang model perencanaan yang dilakukan P2DTK belum teradopsi ke tingkat sistem perencanaan Dinas Kesehatan. Namun Syaiffuddin memastikan bahwa di tingkat Unit Bagian-nya khususnya di Bagian Promosi Kesehatan model perencanaan P2DTK telah mempengaruhi cara penentuan dan penyusunan program di unit bagiannya. Meskipun pengaruh itu belum cukup kuat, namun Syaiffuddin mengungkapkan bahwa di unit/bidangnya saat ini telah terjadi dua hal penting: (1) Telah melakukan semacam musrenbang dan kajian teknis dalam perencanaan yang terkait isu-isu promosi kesehatan; (2) Sebagian besar satff di unit Bidang Promosi Kesehatan mulai berpikir kepada dampak yang diinginkan dalam merencanakan kegiatan. Pada Siklus 3 tahun 2010 Tim UPKD Kesehatan Kab. Toju Una Una melaksanakan pelatihan Pemantapan dan Pengembangan Model Desa Siaga, dengan dana Rp. 562.500,- (dipihak ketigakan). Target peserta adalah para kader kesehatan dari 8 desa. Pelatihan ini dalam rangka pengembangan program PHBS (Perilaku Hidup bersih dan sehat). Dana P2DTK, yang bisa dianggap sebagai ”dana inisiatif”, dimanfaatkan hanya sampai tingkat melatih para kader kesehatan di tingkat desa, dan belum sampai pada tingkat ”pelaksanaan” desa siaga di lapangan. Dinas Kesehatan melanjutkan kegiatan tersebut dalam perencanaan tahunan mereka dengan program kegiatan Pendampingan Penataan PHBS dan Pertemuan Lintas Sektor pada tahun-tahun berikutnya. Saat ini pengembangan desa siaga tersebut telah mencakup 14 desa. Program yang akhirnya dikembangkan ke 14 desa tersebut dikenal dengan nama program Desa Siaga ”Sivia Patuju”. Bedanya program desa siaga ini dengan program desa siaga sebelumnya, adalah bahwa program ini diawali dengan identifikasi masalah (semacam kajian teknis) mulai dari tingkat bawah yang dilakukan oleh para kader kesehatan di desa-desa. Meskipun model perencanaan P2DTK telah menambah wawasan dan kapasitas para aparatur pelaku P2DTK di Tim-Tim UPKD dalam hal perencanaan dan implementasi program yang mendukung tugas-tugas mereka, namun Syaiffuddin menyayangkan bahwa sudah lima tahun P2DTK berjalan kegiatan-kegiatan UPKD Kesehatan belum mampu terintegrasi dengan Tupoksi di Dinas Kesehatan. Jika ada tugas-tugas tertentu yang diperintahkan oleh Kepala Dinas, terpaksa dia harus meninggalkan kegiatannya UPKD meskipun banyak yang harus dikerjakan.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 31

Kegigihan Seorang Fasilitator Perempuan Lepas dari segala kekurangan teknis tentang kiprah fasilitator maupun konsultan P2DTK seperti dijelaskan di bab-bab sebelumnya, terdapat sisi-sisi “pribadi” yang kiranya perlu dipertimbagkan sebagai bagian dari kekuatan melakukan kerja-kerja pemberdayaan di wilayah-wilayah yang sangat beresiko. Kisah tentang “Yovita” berikut ini, mungkin hanya salah satu saja dari puluhan kisah serupa yang tidak terdeteksi dari sudut ukuran format kinerja maupun proses rekrutmen awal. Para “frontier” (ujung tombak) fasilitator dan konsultan P2DTK mungkin saja sebagian adalah orang-orang dengan komitmen pribadi yang tinggi.

“Keberanian Yang Mengharukan” Kecamatan Loloda, Provinsi Maluku Utara Oleh : Yovita

Apa yang bisa kita berikan kepada masyarakat atau seberapa kadar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keseluruhan perfomance kepribadian kita. Rasulullah SAW berkata: "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain” Tanggal 29 Januari 2009, hari menjelang siang, cakrawala diatas Pelabuhan TobeloLoloda, Provinsi Maluku Utara tidak seperti biasanya. Angin kencang menyisir permukaan laut, menggiring ombak bergulung menghempas dan siap menenggelamkan apa saja yang ditemui. Langit berselimut mendung tebal. Cuaca sebenarnya kurang mendukung bagi perjalanan laut, terutama untuk kapal kecil sekelas speed boat. Namun speed boat tetap berlayar menuju Kecamatan Loloda. Waktu tempuh diperhitungkan 6 - 7 jam. Enam orang penumpang dan seorang awak berada di dalam kabin. Salah satu penumpang adalah Yovita Dahlia Letor (30-an), FK P2DTK yang bertugas di Kecamatan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara. Yovita yang ditemani UPK Loloda Utara itu, baru saja mencairkan dana BLM senilai Rp. 60 juta dari BRI Cacang Tobelo, Halmahera Utara. Uang dikemas di sebuah kantung plastik dan disimpan di dalam kardus. Setelah empat jam berlayar, sekitar pukul 15.00 tampak ombak besar sedang bergulunggulung dengan suara menggelegar. Sebuah terjangan ombak membuat speed boat mendongak dan terbalik menumpahkan para penumpangnya ke laut. Semua penumpang berusaha keras agar tidak tenggelam dengan berpegangan bibir speed boat dan berupaya mempertahankan diri tetap mengambang. Tapi Yovita bertindak lain. Dia justru terjun kelaut dan langsung menyelam. Yang ada dalam kepala perempuan asal NTT ini adalah dana BLM Rp. 60 Juta yang tersimpan di dalam kardus. Seraya menahan arus bawah laut yang deras, sepasang mata Yovita yang mahir berenang ini menyapu sekeliling mencari kardus uang. Kardus itu melayang di bawah permukaan laut dipermainkan arus. Tanpa menghiraukan keselamatannya Yovita bergerak cepat menyambar bungkusan tersebut. Seraya Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 32

mendekap erat kardus, Yovita berenang melawan terjangan ombak balik ke speed boat yang masih terbalik dan digelayuti para penumpang. Seluruh penumpang berupaya keras membalikkan kembali speed boat berbahan fiberglass tersebut, dan satu persatu memanjat masuk ke dalam kabin. Setelah ditolong sejumlah nelayan, speed boat berhasil merapat di pantai. Untunglah pantai tempat Yovita dan kawan-kawan merapat merupakan bagian wilayah Kecamatan Loloda Utara. Dan di antara penduduk di situ ada yang mengenal Yovita. Setibanya di pantai bungkusan uang dibuka. Seluruh uang basah. Kemudian dibantu penduduk setempat uang dijemur di atas pasir. Setiap lembar uang yang dijemur ditindih batu agar tidak terbang. Setelah kering uang dikumpulkan kembali dan dihitung ulang: “Tetap utuh Rp. 60 Juta”. Yovita Dahlia Letor berhasil menyelamatkan dana bantuan untuk program P2DTK di Kecamatan Loloda Utara. Berkat keberanian Yovita itu warga Kecamatan Loloda Utara berhasil merealisasikan rencana kegiatan mereka. Yovita telah mempertaruhkan nyawanya, dan tidak hanya itu saja! Sungguh sebuah “semangat keberpihakan” yang dibayar mahal, mengapa? Sebab janin dalam rahimnya yang berumur dua bulan terpaksa keguguran.

Laporan Akhir KM. Nas | Hal. V - 33

Bab 6. Rekomendasi dan Penutup
Berlandaskan pada pemaparan mengenai hambatan-hambatan pelaksanaan P2DTK dan lesson learnded yang ditemukan, maka berikut ini disampaikan rumusan-rumusan rekomendasi. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat bermanfaat bagi persiapan penyusunan konsep maupun pelaksanaan P2DTK tahap selanjutnya, atau bermanfaat pula bagi pelaksanaan program-program pemberdayaan serupa. Rumusan rekomendasi tersebut dibagi ke dalam 3 (tiga) bagian yaitu: (1) Rekomendasi terkait dengan mekanisme pengendalian proyek; (2) Rekomendasi terkait dengan implementasi proyek; (3) Rekomendasi terkait dengan pengelolaan dana; dan (4) Rekomendasi terkait dengan keberlanjutan program.

6.1. Rekomendasi
6.1.1. Rekomendasi Terkait Dengan Mekanisme Perencanaan (1) Komimen daerah mengenai perencanaan partisipatif belum maksimal sehingga perlu dilakukan pendekatan kepada legislatif untuk mengkomunikasikan proses dan hasil kegiatan, serta melakukan pendekatan-pendekatan untuk penguatan peraturan daerah yang terkait dengan program P2DTK. (2) P2DTK seyogyanya memberikan porsi pendekatan dan waktu yang lebih optimal untuk mendorong legislatif di daerah membuat Perda perencanaan partisipatif sebagai pedoman bagi semua program yang masuk di daerah tersebut. (3) Proses dan pentahapan di P2DTK dirasakan sangat panjang sehingga perlu dilakukan penyederhanaan mekanisme termasuk struktur organisasinya. (4) Perlunya Memberikan pemahaman kepada kelompok masyarakat (secara lebih mendalam) akan dampak pembangunan dengan melepaskan ego daerah dan memilih kegiatan yang mempunyai dampak multifyer effect yang lebih luas. (5) Membuat Perda Perencanaan partisipatif sebagai pedoman semua program yang masuk di daerah tersebut.
Laporan Akhir KM.Nas | Hal. VI - 1
Komimen daerah terkait dengan adopsi pendekatan perencanaan P2DTK belum dibuktikan dengan adanya regulasi daerah mengenai perencanaan partisipstif. P2DTK perlu memberikan porsi waktu dan tenaga ahli untuk mengawal proses regulasi daerah

6.1.2. Rekomendasi Terkait Dengan Implementasi Proyek (1) Ditunjuk Satker dari tenaga fungsional/staf yang tidak menduduki Perlu dilakukan jabatan struktural agar tidak mudah terjadi mutasi yang sangat rekrutmen dan mobilisai konsultan secara mengganggu proses kegiatan di P2DTK. (2) Rekrutmen dan mobilisasi konsultan perlu dilaksanakan secara serempak waktu dan keahlian yang dan tepat waktu dari segi kebutuhan konsultan, sebab mobilisasi yang dibutuhkan. Jika hal ini tidak seragam akan meyembabkan kualitas pendampingan yang timpang. tidak bisa dipenuhi maka (3) Di Pedum perlu dibuatkan aturan perwakilan perempuan secara lebih pendampingan yang spesifik kearah keterwakilan kelembagaan perempuan. timpang dan tidak (4) Perlu dipikirkan penyederhanaan proses, mekanisme termasuk struktur seragam. organisasi P2DTK (5) Penyusunan Laporan Program sebaik dibuat setiap siklus/TA dengan format yang baku, sehingga saat Laporan akhir dan serah terima alih kelola akan lebih mudah dikompilasi. 6.1.3. Rekomendasi Terkait Dengan Pengelolaan Dana . (1) DIPA diharapkan tepat waktu, harus diterbitkan tepat pada awal tahun, sehingga mekanisme pengelolaan pelaksanaan kegiatanb bisa sesuai dengan Pedum. DIPA yang terlambat membuat seluruh mekanisme proyek seakan-akan hanya mengejar target waktu, sehingga berdampak pada kurang maksimalnya pelaksanaan pada setiap tahapkegiatan. (2) Diperlukan adanya standarisasi audit oleh BPKP terhadap temuan P2DTK antar daerah penerima bantuan, sebab sering terjadi pergantian personel auditor BPKP standard yang dipakai juga berbeda. (3) Dikembangkannya format laporan keuangan yang berstandard 6.1.4. Rekomendasi Terkait Dengan Keberlanjutan Program (1) Kiranya perlu dipikirkan secara matang untuk memberikan strategi baru di P2DTK dalam hal internalisasi berbagai kapasitas terkait dalam rangka menyiapkan sumberdaya manusia secara terus menerus untuk menjaga keberlanjutan dapat berlangsungan pendekatan, nilai, dan prinsip P2DTK. (2) Proses alih kelola aset-aset P2DTK perlu diadvokasikan kepada pemerintah daerah sejak awal program atau awal tahun siklus, sehingga setiap akhir tahun sudah dapat diakomodir oleh pemerintah daerah melalui peraturan daerah mengenai aset daerah. Dengan demikian kepastian keberlanjutan operasionalisasi pemeliharaan aset P2DTK lebih terjamin (3) Pelaku-pelaku P2DTK di daerah bersifat kepanitian ad-hock yang sangat rentan untuk keberlanjutannya setelah proyek atau program selesai. Oleh karena itu perlu diupayakan sebuah sistem atau mekanisme yang mampu mengintegrasikan pelaku-pelaku tersebut ke dalam mekanisme
Laporan Akhir KM.Nas | Hal. VI - 2
Proses alih kelola asetaset P2DTK perlu diadvokasi kepada pemrintah daerah dan dilakukan alih kelola setiap tahun, agar mendapatkan keterjaminan pemeliharaan aset pasca proyek. akan terjadi kualitas serempat baik dari segi

perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah, agar kapasitas yang sudah diberikan kepada personil-personil aparatur pemerintah daerah dapat terus bermanfaat.

6.2. P e n u t u p
Tim KM. Nas mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak pelaku-pelaku P2DTK di tingkat Pusat, pelaku di tingkat provinsi, dan kabupaten, juga kepada para konsultan di propinsi, kabupaten, serta jajaran mitra pelaksana P2DTK di tingkat masyarakat atas segala perhatian, bantuan, dan kerja sama yang baik selama proses pelaksanaan P2DTK 2007 – 2012. Segala kelemahan dan kekurangan dalam pendampingan teknis yang menjadi tanggung jawab KM. Nas tentu merupakan pembelajaran yang amat berharga bagi KM. Nas maupun para tenag ahli yang bergabung di dalamnya. Sementara capaiancapaian yang mungkin dinilai cukup baik, merupakan jerih payah bersama semua unsur pelaku P2DTK mulai dari tingkat Pusat sampai tingkat masyarakat. Capaiancapaian tersebut semoga terus menerus memicu upaya untuk selalu memberikan fasilitasi pemberdayaan yang terbaik kepada masyarakat di wilayah-wilayah yang masih tertinggal. Akhirnya dengan mengucapkan Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa serta berkat rahmat dan ridho-Nya, semoga Laporan Akhir Pendampingan Teknis KM. Nas Program P2DTK 2007 s.d. 2012 ini memberikan inspirasi baru bagi kerjakerja pemberdayaan masyarakat selanjutnya.

Laporan Akhir KM.Nas | Hal. VI - 3

LAMPIRAN

Peta Lokasi KegiatanP2DTK – Bagian 1

Laporan Akhir KM.Nas |Lampiran - 1

Wilayah Sasaran P2DTK – Bagian 2

Tabel 2.01. Nama Provinsi, Jumlah Kabupaten dan Kecamatan Sasaran P2DTK

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Aceh

Nama Provinsi

Jumlah Kabupaten 17 2 3 3 6 3 3 4 5 5 51 kabupaten

Jumlah Kecamatan
Tidak ada sasaran kecamatan Tidak ada sasaran kecamatan

Sumatera Utara Bengkulu Lampung Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Maluku Maluku Utara 10 Provinsi

18 17 29 28 17 25 32 20 186 kecamatan

Suber: KM Nas.

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 2

Jumlah Pemanfaat P2DTK - Bagian 3

Tabel 3.01. Daftar Jumlah Pemanfaat P2DTK Dibanding Jumlah Penduduk di Wilayah Masing-Masing % Pemanfaat Terhadap Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk

Kabupaten

Pemanfaat

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

SIMEULUE ACEH SINGKIL ACEH SELATAN ACEH TENGGARA ACEH TIMUR ACEH TENGAH ACEH BARAT ACEH BESAR PIDIE BIREUEN ACEH UTARA ACEH BARAT DAYA GAYO LUES ACEH TAMIANG NAGAN RAYA ACEH JAYA BENER MERIAH NIAS NIAS SELATAN Sub Total Aceh-Nias

P2DTK ACEH -NIAS 1. PROVINSI ACEH 45,088 76,393 92,526 36,285 68,820 19,127 63,533 98,532 105,592 146,212 74,811 86,134 45,945 132,519 55,562 61,961 42,592 2. PROVINSI SUMATERA UTARA 17,342 95,587 1,364,561 P2DTK NASIONAL

52.84% 73.13% 44.04% 17.24% 17.89% 10.28% 34.79% 29.02% 26.63% 35.96% 13.57% 68.52% 58.81% 51.33% 39.10% 78.88% 34.88% 3.89% 26.98% 29%

85,324 104,469 210,111 210,457 384,716 186,110 182,627 339,522 396,500 406,593 551,139 125,708 78,125 258,175 142,099 78,555 122,101 445,249 354,268 4,661,848

Kabupaten

Pemanfaat 3. PROV. BENGKULU 120,995 163,862 76,102 4. PROV. LAMPUNG 624,983 298,106 218,612

% Pemanfaat Terhadap Jumlah Penduduk 77.79% 86.20% 54.29% 65.79% 48.36% 51.75% 76.52% 32.20% 49.55% 48.67% 17.56% 48.64% 70.49%

Jumlah Penduduk 155,532 190,104 140,180 949,984 616,404 422,473 108,977 268,301 445,759 371,995 191,825 111,311 229,238

20 21 22 23 24 25

BENGKULU SELATAN SELUMA KEPAHIANG LAMPUNG TIMUR LAMPUNG UTARA WAY KANAN SUMBA BARAT SUMBA BARAT DAYA TIMOR TENGAH SELATAN BELU ALOR LEMBATA FLORES TIMUR

26 27 28 29 30 31

5. PROV. NUSA TENGGARA TIMUR 83,392 86,386 220,865 181,063 33,679 54,145 161,601 6. PROV. KALIMANTAN BARAT

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 3

Kabupaten
32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 SAMBAS BENGKAYANG SANGGAU KOTAWARINGIN TIMUR SERUYAN KATINGAN BANGGAI MOROWALI POSO TOJO UNA-UNA MALUKU TENGGARA BARAT MALUKU TENGGARA MALUKU TENGAH BURU SERAM BAGIAN TIMUR HALMAHERA BARAT HALMAHERA TENGAH KEPULAUAN SULA HALMAHERA SELATAN HALMAHERA UTARA Sub Total P2DTK Nasional

Pemanfaat

% Pemanfaat Terhadap Jumlah Penduduk
60.42% 61.22% 84.45% 82.51% 16.45% 56.90% 65.92% 55.57% 69.39% 46.11% 57.30% 55.98% 19.52% 59.10% 69.30% 52.95% 71.32% 52.92% 39.87% 66.36% 56.74% 46.94%

Jumlah Penduduk
535,164 219,963 386,245 334,564 134,504 139,885 312,820 192,192 194,284 130,391 170,704 102,543 383,642 160,234 97,145 103,989 37,043 148,193 211,203 213,979 8,410,770 13,072,618

323,340 134,652 326,185 7. PROV. KALIMANTAN TENGAH 276,056 22,126 79,598 8. PROV. SULAWESI TENGAH 206,197 106,805 134,806 60,124 9. PROV. MALUKU 97,817 57,406 74,875 94,695 67,317 10. PROV. MALUKU UTARA 55,061 26,418 78,423 84,203 142,005 4,771,900 6,136,461

Total Seluruh Wil P2DTK Sumber: KM Nas

Tabel 3.02. Jumlah Pemanfaat P2DTK Menurut KK Miskin No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Provinsi Aceh Sumatra Utara Bengkulu Lampung Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Maluku Maluku Utara Total
Sumber: KM Nas

Jumlah Penduduk 3,862,331 799,517 485,816 1,988,861 1,727,406 1,141,372 608,953 829,687 914,268 714,407 13,072,618

Jumlah Pemanfaat 1,251,632 112,929 360,959 1,141,701 821,131 784,177 377,780 507,932 392,110 386,110 6,136,461

% Pemanfaat Terhadap Populasi 32% 14% 74% 57% 48% 69% 62% 61% 43% 54% 47%

Jumlah KK Miskin 741,761 42,169 67,305 294,929 560,673 435,609 62,657 198,053 177,572 195,137 2,775,865

% KK Miskin Terhadap Pemanfaat 59% 37% 19% 26% 68% 56% 17% 39% 45% 51% 45%

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 4

Pengembangan Kapasitas Para Pelaku dan Masyarakat Sasaran P2DTK – Bagian 4
SUMBER DANA NON DOK Tabel 4.01. Pelaksanaan Capacity Building Pelaku Program P2DTK Aceh-Nias Bersumber dari Dana Non DOK dan Sumber Lain No Pra Tugas
1 Pelatihan Pra Tugas Konsultan Proram P2DTK Pelatihan Pratugas Pusat dan Provinsi Pelatihan Aceh Pratugas DPC 7 Brastagi Sumatera Utara Jakarta 56 0 54 110 Memberikan pemahaman tugas, mekanisme pelaksanaan review, & mekanisme pelaporan. Memberikan pemahaman tugas, mekanisme pelaksanaan review, & mekanisme pelaporan. Memberikan pemahaman tugas, mekanisme pelaksanaan review, & mekanisme pelaporan.
Memahami hasil identifikasi pendidikan untuk bahan proses perencanaan program P2DTK di masing-masing daerah Memahami hasil identifikasi kesehatan untuk bahan proses perencanaan program P2DTK di masing-masing daerah Memahami tujuan, disain dan konsep PNPM Mandiri, persamaan dan perbedaan antar program, serta perubahan mekanisme dan prosedur yang ada

Kegiatan

Durasi (Hari)

Lokasi

Unsur Peserta Pemerintah Masyarakat Konsultan Jumlah

Keterangan

2

3

0

0

10

10

3

DPC

3

Banda Aceh

0

0

17

17

Presentasi
4 Presentasi Hasil Pendidikan Identifikasi 5 Kabupaten 204 119 17

340

5

Presentasi Kesehatan

Hasil

Identifikasi

3

Banda Aceh

61

0

21

82

Deseminasi/Sosialisasi
6 Sosialisasi Mandiri Regional PNPM 1 Medan 2 0 2

4

Laporan Akkhir KM.Nas | Lampiran 5

No Outbound
7

Kegiatan

Durasi (Hari)

Lokasi

Unsur Peserta Pemerintah
49

Masyarakat
0

Konsultan
54

Jumlah
103

Keterangan

Outbound : Membangun Kolaborasi Satuan Kerja BRR Pelatihan Peningkatan Kemampuan Fasilitasi Pelaksanaan Program P2DTK Pelatihan Panitia Pengadaan Pelatihan Bagi PP-Kom

10

Medan

Membangun kembali team building dan komitmen pelaku P2DTK Meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri Konsultan dalam kegiatan pendampingan dan pelaksanaan program Memahami mekanisme dan prosedur pengadaan dalam program P2DTK Penjelasan tentang laporan keuangan serta menegaskan kembali peran PPKomitmen dalam pelaksanaan program P2DTK NAD Review pemahaman, peran, tugas dan tanggung jawab serta penjelasan administrasi dan pembuatan laporan keuangan Memahami sinergi dan kolaborasi program di antara pelaku untuk mengoptimalkan tujuan dan capaian program Sharing pengalaman pengaduan dan penanganan masalah yang terjadi di beberapa program WB Memahami prinsip pelaporan keuangan dalam program yang akuntabel dan transparan Memahami renstra pendidikan Aceh dan sejauh mana anggaran 2008 terdapat penyesuaian renstra provinsi

Pelatihan
8 4 Medan 17 0 54 91

9 10

3 1

Medan Banda Aceh

56 17

0 0

2 1

58 92

11

Pelatihan Finansial Procurement

dan

4

Banda Aceh

119

0

18

137

Workshop
12 Workshop Sinergi PPK-P2DTK 7 Banda Aceh, Meulaboh, Lhokseumawe, Takengon Banda Aceh 27 12 54 93

13

14

Workshop Penanganan Pengaduan dan Permasalahan dalam Pelaksanaan Program Workshop SPADA – APEA : Analisis Pengeluaran Publik Aceh Workshop Sinkronisasi Program Pendidikan kabupaten dan Provinsi Aceh - NADESP

3

0

0

2

2

3

15

1

Banda Aceh, Meulaboh, Lhokseumawe, Takengon Banda Aceh

44

0

13

57

0

0

1

1

Laporan Akkhir KM.Nas | Lampiran 6

No

Kegiatan

Durasi (Hari)
2

Lokasi

Unsur Peserta Pemerintah
17

Masyarakat
0

Konsultan
18

Jumlah
35

Keterangan
dan renstra kabupaten Memahami kebutuhan pendidikan masing-masing kabupaten dan sharing informasi kegiatan pendidikan yang sudah dilakukan program lain Berbagi pengalaman pelaksanaan dan hasil musrenbang Berbagi peran antara P2DTK-LGSP dalam mendorong penguatan perencanaan Pemda di NAD Memahami penyusunan renstra kesehatan berdasarkan kebutuhan Melakukan sinergi dan harmonisasi dengan proses perencanaan Pemda Pemahaman tugas, standard pengakhiran & tindak lanjut dalam pengakhiran tugas

16

Workshop Sistem Improvement Through Sector Wide Approach (SISWA) Workshop Evaluasi Musrenbang - LGSP Workshop Integrasi Program P2DTK-LGSP Workshop Penyusunan Renstra dan Renja Kesehatan - LGSP Workshop Integrasi P2DTK ke dalam Perencanaan Pemda Workshop dan Pelatihan Pengakhiran Program

Banda Aceh

17 18

3 1

Banda Aceh Banda Aceh

2 20

0 0

3 17

5 37

19 20 21

3 1 5

Medan Banda Aceh Medan

34 34 19

0 0 0

17 19 105

51 53 124

JUMLAH
Sumber: KM. Nas (dari berbagaisumber)

73

778

131

499

1.502

Laporan Akkhir KM.Nas | Lampiran 7

Tabel 4.02. Pelaksanaan Capacity Building Pelaku Program P2DTK Nasional Bersumber dari Dana Non DOK
Durasi (Hari) Unsur Peserta Pemerintah
0

No Pra Tugas
1

Kegiatan

Lokasi

Masyarakat
0

Konsultan
50

Jumlah
50

Keterangan

Pelatihan Pra Tugas NMC, PMC, TL Nasional Pelatihan Pra Tugas DMC Nasional Pelatihan Pra Tugas FK

6

Jakarta

2

8

Bogor

0

0

95

95

3

56

8 Provinsi

0

0

229

229

Memberikan pemahaman tugas dan tanggungjawab NMC, PMC, TL serta mekanisme pelaksanaan program P2DTK Memberikan pemahaman tugas dan tanggungjawab DMC serta mekanisme pelaksanaan program P2DTK Memberikan pemahaman tugas dan tanggungjawab FK serta mekanisme pelaksanaan program P2DTK Sosialisasi dan pemahaman pelaksanaan aplikasi MIS program P2DTK Pemahaman bagi Master Trainers dalam pelaksanaan pelatihan penyegaran bagi pelaku P2DTK Pemahaman bagi Facilitator Trainers dalam pelaksanaan pelatihan penyegaran bagi pelaku P2DTK Pemahaman tentang proses pengadaan dan manajemen keuangan dalam program P2DTK Memahami tujuan, mekanisme pelaksanaan program P2DTK Pemahaman tentang tugas dan tanggungjawab serta mekanisme pelaksanaan program P2DTK Pemahaman tentang tugas dan tanggungjawab serta mekanisme pelaksanaan

Deseminasi/Sosialisasi
4 5 Sosialisasi dan Pelatihan aplikasi MIS Konsolidasi Master Trainers (MT) Konsolidasi Fasilitator Trainers (FT) 3 4 Jakarta Jakarta 0 0 0 0 30 12 30 12

6

6

8 Provinsi

0

0

60

60

Pelatihan
7 Pelatihan pengadaan manajemen keuangan dan 5 Brastagi Utara 8 Provinsi 8 Provinsi Sumatera 90 0 0 90

8 9

Pelatihan Pelaku Program P2DTK Nasional Pelatihan Pelaku P2DTK Kabupaten Gelombang I dan II Pelatihan Pelaku P2DTK Kecamatan Gelombang I dan II

10 24

436 66

0 0

0 100

436 166

10

32

8 Provinsi

222

0

186

408

Laporan Akkhir KM.Nas | Lampiran 8

No

Kegiatan

Durasi (Hari)
5

Lokasi

Unsur Peserta Pemerintah
64

Masyarakat
32

Konsultan
32

Jumlah
128

Keterangan
program P2DTK Mempersiapkan tim pelatih yang akan memberikan pelatihan kepada Komite Sekolah di lokasi P2DTK Mempersiapkan tim pelatih yang akan memberikan pelatihan kepada Komite Sekolah di lokasi P2DTK Meningkatkan kapasitas para pelaku P2DTK bidang kesehatan di kabupaten dalam mendorong proses partisipasi masyarakat serta inisiatif pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Pemahaman, peran, tugas dan tanggung jawab serta penjelasan administrasi dan pembuatan laporan keuangan Pemahaman, peran, tugas dan tanggung jawab serta penjelasan administrasi dan pembuatan laporan keuangan Memahami mekanisme dan prosedur pengadaan dalam program P2DTK Review pemahaman, peran, tugas dan tanggung jawab Konsultan dan fasilitator dalam pelaksanaan program P2DTK

11

Pelatihan TOT kegiatan Komite Sekolah Pelatihan TOT kegiatan Komite Sekolah Pelatihan Tim Penggerak Kesehatan masyarakat (TPKM) Angkatan I dan II

Makassar

12

5

Bogor

64

32

32

128

13

10

Jakarta

128

32

32

192

Pelatihan Pengelolaan Administrasi Keuangan tingkat Kabupaten 15 Pelatihan Pengelolaan Administrasi Keuangan tingkat Kecamatan Angkatan I dan II 16 Pelatihan Pengadaan Barang/Jasa Workshop 17 Workshop Penyegaran Konsultan dan Fasilitator

14

18

9 provinsi

259

70

46

375

53

177 kecamatan

457

76

153

686

26

10 Provinsi

258

0

27

285

10

8 Provinsi

0

0

383

383

JUMLAH
Sumber: KM. Nas (dari berbagaisumber)

281

2.044

242

1.467

3.753

Laporan Akkhir KM.Nas | Lampiran 9

SUMBER DANA DOK
Tabel 4.03. Rekapitulasi Pelatihan dengan Pembiayaan DOK Kabupaten dan DOK Kecamatan Siklus-1 s.d Siklus-3 (DIPA 2010)

No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Name
Aparatur Pemda Aparatur Pemda Kec Bidang Kesehatan Bidang Pendidikan BPP FD FK Kajian Teknis & Desain Keuangan KS Lain-lain di Kabupaten Lain-lain di Kecamatan MPHM Pelaksanaan Kegiatan Pengadaan Penlok Penlok & FD Pokja Pendidikan PSS Tim Desain & RAB Kec TK Kab & Satker Kab TKT Kabupaten TKT Kecamatan TPK Kabupaten TPK Kecamatan TPKM UPK Total Keseluruhan

Aceh Sumut (Peserta)
65

Nasional (Peserta)
173 381 1.586 2.125 1.019 4.186 40 264 258 3.889 998 2.881 34 301 123 614 424 1.074 504 278 91 898 2.530 1.045 5.789 6.388 2.369 40.262

Total (Peserta Aceh Sumut & Nasional)
238 381 1.586 2.297 1.019 4.186 40 307 258 3.889 1.125 2.881 34 321 123 614 424 1.074 504 278 117 1.101 2.536 1.194 5.789 6.423 2.581 41.320

172

43

127

20

26 203 6 149 35 212 1.058

Sumber: KM Nas-MIS

Laporan Akkhir KM.Nas | Lampiran 10

SUMBER DANA BLM
Tabel 4.04. Rekapitulasi Pelatihan dengan Pembiayaan BLM Kabupaten dan BLM Kecamatan Siklus-1 s.d Siklus-3 (DIPA 2010) No. Kegiatan Aceh Sumut (Peserta) Nasional (Peserta) Total (Aceh-Sumut & Nasional)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Pelatihan Guru mengenai Metoda Pengajaran (a.l. PAKEM dan CTL) Pelatihan Guru mengenai Mata Pelajaran Pelatihan Guru mengenai Pembuatan Produk Pelatihan Guru mengenai Olah Raga dan Kesenian Pelatihan Guru mengenai Pengembangan / Pemberdayaan Potensi Pelatihan untuk Guru Pelatihan Komite Sekolah Pelatihan mengenai Manajemen Sekolah (a.l. MBS) Pelatihan Monitoring bagi Sekolah, Masyarakat & Pengelola Pendidikan Pelatihan Tenaga Kesehatan (Kader, Bidan) Pelatihan Kesehatan (Masyarakat) Penyuluhan Pelatihan mengenai Pembuatan Produk/ Pelatihan Kewirausahaan Pelatihan mengenai Olah Raga dan Kesenian Pelatihan mengenai Pengembangan / Pemberdayaan Potensi Total Peserta Pelatihan

862 959 72 321 106 7.952 1.055 7.696 1.159 14.677 9.498 21.372 0 0 0 65.729

2.955 2.529 950 118 710 4.742 949 8.492 100 14.965 10.523 66.037 5.141 639 13.650 132.500

3.817 3.488 1.022 439 816 12.694 2.004 16.188 1.259 29.642 20.021 87.409 5.141 639 13.650 198.229

Tabel 4.05. Kegiatan Pelatihan Bidang Kesehatan Bersumber Dana BLM Kabupaten P2DTK Nasional Siklus 1 s/d 3 (2007 -2010)
Kegiatan Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan Kader Warga Siaga Pelatihan Fasilitator Desa Pelatihan Juru Imunisasi Puskesmas Pelatihan Asfiksia untuk Bidan Pelatihan Petugas Gizi Puskesmas Pelatihan Manajemen Puskesmas Pelatihan Pewarnaan Slide Darah untuk Pemeriksaaan Malaria Pelatihan Kader Posyandu Peningkatan Kader Posyandu (1 hari x 10 Agk) Jumlah Peserta 32 13 60 20 20 22 22 40 20 60

Laporan Akkhir KM.Nas | Lampiran 11

Kegiatan Pelatihan Manajemen RR (Pencatatan dan Pelaporan) Program Kesehatan Pelatihan kader posyandu Pembentukan Gerakan terpadu TBC dan Pelatihan Kader Peduli TBC. Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan kader PHBS, Pembuatan bowel jamban dan pemberian stimulan kepada keluarga percontohan pembangunan Pelatihan kader desa siaga Pembinaan kader posyandu dan Polindes Pelatihan Kader Peduli TBC Pelatihan Satgas Penanggulangan dan Penanganan Masalah Pelatihan EKG Pelatihan Kader Kesehatan Lingkungan Pelatihan Manajemen Asfiksia Bay Baru Lahir Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan Teknik Pengorganisasian Jejaring Pelatihan Teknik Pengorganisasian Jejaring Pelatihan Kader untuk Pemantauan Jentik Berkala Pelatihan Kader Posyandu & Pelatihan Manajemen Promosi Kesehatan (Sisa Siklus 1dan 2) Pelatihan & Pembentukan TPKM ( 5 Kecamatan ) Pelatihan Pengelola serta pembentukan Pos Obat Desa Pelatihan TPKM Masyarakat Pelatihan Kader Posyandu Di Tingkat Kecamatan Pelatihan Pendekatan CLTS & MPA PHASP Pelatihan Dukun Tentang Perawatan Bayi,Balita Dan nifas P2M Untuk Malaria Melalui Pelatihan Kader Malaria Desa Pelatihan Antropometri bagi kader kesehatan di Posyandu Pelatihan Petugas Kusta Pelatihan pengelolaan cool cain dan juru imunisasi Pelatihan Antropometri bagi tenaga gizi di Puskesmas Pelatihan petugas kusta Pelatihan tenaga Pengelola PHBS Pelatihan tenaga Pengelola PHBS Pelatihan Asuhan Persalinan Normal Pelatihan Contrasptive Technology Update (CTU) Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat Obstetrik Neonatal (PPGDON) Pelatihan Kader Kesehatan Pelatihan Penatalaksanaan & Penanggulangan Gizi Buruk Bagi Petugas Gizi, PKK dan Kader / Masyarakat Se Kab. Bengkayang Pelatihan KIA bagi ibu hamil / Ibu yang mempunyai Bayi/Balita, PKK dan Kader / masyarakat dalam Penanggulangan AKI dan AKB Se Kab. Bengkayang Manajemen Pelayanan KIA Bagi Koordinator Bidan

Jumlah Peserta 77 75 24 12 11 46 75 40 18 36 30 50 60 30 30 72 1 13 21 50 50 20 40 20 8 15 40 50 30 13 13 40 20 20 150 73 17 87

Laporan Akkhir KM.Nas | Lampiran 12

Kegiatan Pelatihan Total Sanitasi Lingkungan Bagi Petugas Kesehatan Lingkungan dan Warga/Masyarakat Pelatihan Kader warga siaga sebagai pokja desa siaga Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru UKS Untuk SD, SLTP dan SLTA. Pelatihan Fasilitator bagi petugas kesehatan dalam pembentukan pelayanan kesehatan peduli remaja Pelatihan Peningkatan Mutu Manajemen Puskesmas Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan Kader Pelatihan Kader Kesehatan Pelatihan Kader Kesehatan Pelatihan Bidan Kampung Pelatihan Bidan Kampung Pelatihan Bidan Kampung Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan Dukun Bayi Pelatihan Tenaga Kesehatan Pelatihan Tokoh Masyarakat Dan Kader Dalam Rangka Persiapan/ Pelaksanaan Desa Siaga Pelatihan Kader kesehatan dalam penanggulangan dan pemberantasan penyakit diare Pelatihan Bidan Siaga untuk Pelaksanaan Desa Siaga Tingkat Kab. Pelatihan Kader dan Revitalisasi Posyandu Pelatihan Petugas Pustu/Polindes Dalam Rangka Pemeriksaan Laboratorium Sediaan Darah Malaria Pertemuan Kemitraan Bidan dan Dukun Tingkat Puskesmas (8 Kecamatan) Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan Kader Poyandu dalam mendu-kung Pengembangan DESA SIAGA Pelatihan P4K ( Pedoman Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi ) Pelatihan P4K (Progrm Persalinan & Pencegahan Komplikasi Kemitraan Bidan dan Dukun Pelatihan Kemitraan Bidan dan Dukun Pelatihan Kemitraan Bidan dan Dukun Pelatihan tenaga kesehatan ibu anak dan pengadaan KIT Pelatihan tenaga kesehatan ibu anak dan pengadaan KIT (Kader Posyandu) Pelatihan tenaga kesehatan ibu anak dan pengadaan KIT (Kader Poskesdes) Pelatihan tenaga kesehatan ibu anak dan pengadaan KIT (Bidan ) Pelatihan tenaga kesehatan ibu anak dan pengadaan KIT (Dukun Bayi) Pelatihan Bagi Kader Posyandu Pelatihan Pembuatan MP-ASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) Lokal bagi Kader Posyandu d Kursus Cepat Tenaga Laboratorium dan Pembelian Tes Kit (Instan) Pelatihan Stimulasi Dini Tumbuh Kembang Anak Bagi Bidan dan Petugas Gizi Pelatihan Petugas (PKM) Puskesmas di Tingkat Kabupaten Pelatihan Pelacakan Kasus TN Bagi Bidan dan Tenaga Surveilans Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu Pelatihan Kemitraan Bidan & Dukun Pelatihan SIM Puskesmas Kecamatan Pelatihan kemitraan Bidan & Dukun Pelatihan Kader Malaria

Jumlah Peserta 75 10 30 40 24 21 16 60 35 20 60 14 85 60 50 192 60 40 61 242 120 120 600 268 150 50 65 76 50 13 62 30 32 18 21 10 50 8 74 75 10 27 12 14

Laporan Akkhir KM.Nas | Lampiran 13

Kegiatan Pelatihan Kemitraan Bidan & Dukun Pelatihan Kader Sanitasi Pelatihan Kader Malaria Pengadaan Bidan Kid bagi Bidan Desa Pelatihan P4K Bagi Bidan dan Lintas Sektor se Kabupaten Kepulauan Sula Pelatihan Asuhan Persalinan Normal Pelatihan Mitra Bidan & Dukun Pelatihan Kader Malaria Pelatihan Kader Posyadu Pelatihan Bidan & Kader Kesehatan Desa Jumlah peserta Sumber: KM Nas-MIS

Jumlah Peserta 11 16 14 124 92 20 64 150 1 135 5.563

Tabel 4.06. Kegiatan Pelatihan Bidang Kesehatan Bersumber Dana BLM Kecamatan P2DTK Nasional Siklus 1 s/d 3 (2007 -2010)
Kegiatan Pelatihan Kemitraan Dukun Beranak Dan Bidan Desa Pelatihan kemitraan dukun dan bidan PEMBENTUKAN & PEMILIHAN KADER POSYANDU Pelatihan & Penyuluhan Kader Posyandu &PHBS Pelatihan Kader Kesehatan pelatihan Kader PHBS (50 Kader) Pelatihan Kader PHBS (50 kader) Balai Posyandu Percontohan & Pelatihan Kader Pel. kader posyandu lansia 2 Paket Pelatihan kader PHBS 2 Paket Pelatihan dukun bayi Pelatihan Kader PHBS Pelatihan Kader Kesehatan Lanjutan Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan Kader Lansia Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan Kader Posyandu (4 Rombongan Belajar) penyuluhan kesehatan lingkungan, pembentukan kader kesling, pelatihan pengolahan air bersih dan sampah keluarga penyuluhan kader kesehatan PELATIHAN KADER KESEHATAN LINGKUNGAN Jumlah Peserta 26 24 10 20 40 50 50 15 30 38 14 35 12 12 38 13 15 6 19 10

Laporan Akkhir KM.Nas | Lampiran 14

Kegiatan Pelatihan kader Posyandu Pelatihan Kader Gizi dan Kesehatan Lingkungan Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan kader desa siaga Pelatihan Kader Kesehatan Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan Kader Poskesdes Pelatihan Peningkatan Kualitas Pelayanan Kader Posyandu Pelatihan Bagi Kader Posyandu tentang Pentingnya Imunisasi Manula dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pelatihan kader Posyandu (1 Kali) Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan Bidan Kampung Pelatihan Pembinaan Dukun Kampung Pelatihan Pembinaan Dukun Kampung Pelatihan Dukun Bayi Pelatihan Dukun bayi Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan Kader Posyandu,Ds. Tual Pelatihan Dukun Terlatih Pelatihan Kader Poskesdes Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan Kader Kesehatan Pelatihan Kader Posyandu Pelatihan kader Kesehatan Pelatihan Kader Pos Yandu & Penyuluhan Kesehatan Jumlah Total Peserta Sumber: KM Nas-MIS

Jumlah Peserta 20 17 7 10 8 5 6 60 12 50 30 10 68 6 122 128 60 10 6 8 78 6 13 21 7 1.245

Laporan Akkhir KM.Nas | Lampiran 15

Daftar Manual, Panduan, dan Petunjuk Teknis – Bagian 5

Tabel 5.01. Jenis Manual, Panduan dan Petunjuk Teknis Dalam Pelaksanaan Program PNPM-DTK
No A 1 Jenis dan Produk Manual Pedoman Umum Tahun 2009 Keterangan Arah dan kebijakan umum, pendekatan, prinsip pengelolaan, mekanisme pengelolaan dan pendanaan program P2DTK Sebagai acuan pelaksanaan program P2DTK di masingmasing daerah serta digunakan sebagai dasar pembinaan pusat ke daerah. Bagian dari Petunjuk Teknis Pelaksanaan (PTP), memberikan gambaran tentang tugas–tugas dan tanggung jawab bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program P2DTK dari tingkat desa sampai dengan Nasional. Bagian dari Petunjuk Teknis Pelaksanaan (PTP), memberikan gambaran tentang pelaksanaan pertemuan masyarakat (M-Dus, M-Des, M-Kec, MKab) dalam hal perencanaan dan pelaksanaan program P2DTK. Bagian dari Petunjuk Teknis Pelaksanaan (PTP) tentang penjelasan pendanaan program P2DTK. Memberikan informasi tentang proses perencanaan partisipatif kegiatan bidang kesehatan dalam program P2DTK sehingga diharapkan masyarakat dapat lebih memiliki akses pelayanan kesehatan yang berkualitas. Memberikan informasi tentang proses perencanaan kegiatan bidang pendidikan secara partisipatif dalam program P2DTK. Memberikan informasi tentang pelaksanaan kegiatan P2DTK dalam membangun iklim investasi dan usaha. Memberikan informasi tentang fasilitasi penguatan kapasitas masyarakat dalam menangani berbagai sengketa dengan kemampuan mereka sendiri. Memberikan informasi tentang proses pelaksanaan kegiatan pemuda dalam P2DTK yang diharapkan dapat membangun kerjasama pemuda untuk menciptakan iklim perdamaian. Memberikan informasi tentang penanganan masalah dalam pelaksanaan program P2DTK dengan melibatkan partisipasi masyarakat dan kewenangan pemerintah daerah. Monotoring dan evaluasi bertujuan untuk mendapatkan gambaran kemajuan pelaksanaan Program P2DTK baik dari sisi implementasi masingmasing bidang, maupun dalam pencapaian hasil dan dampak program. Memberikan petunjuk langkah demi langkah cara Laporan Akhir KM.Nas | Lampiran - 16

2

Petunjuk Teknis Pelaksanaan (PTP) Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penjelasan 1 : Pelaku-Pelaku

2009

3

2009

4

Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penjelasan 2 : Forum-Forum

2009

5 6

Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penjelasan 3 : Pendanaan Manual Bidang Kesehatan

2009 2007

7

Manual Bidang Pendidikan

2007

8 9

10

Manual Bidang Pengembangan Sektor Swasta Manual Bidang Mediasi dan Penguatan Hukum Masyarakat Manual Bidang Pemuda

2007 2007

2007

11

Manual Pengaduan dan Penanganan Masalah

2007

12

Pedoman Monitoring dan Evaluasi P2DTK (Buku 1)

2009

13

Pengantar Monitoring dan

2009

No

Jenis dan Produk Evaluasi P2DTK (Buku 2)

Tahun

Keterangan penggunaan formulir dan kuesioner dalam sistem monev program P2DTK. Mendapatkan informasi capaian keluaran/output dan hasil/outcome yang telah diperoleh untuk masingmasing komponen keluaran/output dan hasil/outcome bidang peningkatan kapasitas. Mendapatkan informasi capaian keluaran/output dan hasil/outcome yang telah diperoleh untuk masingmasing komponen keluaran/output dan hasil/outcome bidang infrastruktur. Mendapatkan informasi capaian keluaran/output dan hasil/outcome yang telah diperoleh untuk masingmasing komponen keluaran/output dan hasil/outcome bidang kesehatan. Mendapatkan informasi capaian keluaran/output dan hasil/outcome yang telah diperoleh untuk masingmasing komponen keluaran/output dan hasil/outcome bidang pendidikan. Mendapatkan informasi capaian keluaran/output dan hasil/outcome yang telah diperoleh untuk masingmasing komponen keluaran/output dan hasil/outcome bidang pengembangan sektor swasta (PSS). Mendapatkan informasi capaian keluaran/output dan hasil/outcome yang telah diperoleh untuk masingmasing komponen keluaran/output dan hasil/outcome bidang Mediasi Penguatan Hukum Masyarakat. Mendapatkan informasi capaian keluaran/output dan hasil/outcome yang telah diperoleh untuk masingmasing komponen keluaran/output dan hasil/outcome bidang Pemuda. Mendapatkan informasi capaian keluaran/output dan hasil/outcome yang telah diperoleh untuk masingmasing komponen keluaran/output dan hasil/outcome bidang Manajemen Proyek. Menyediakan informasi secara padat dan ringkas bagi pemangku kepentingan program P2DTK, sehingga dapat memahami apa, mengapa, siapa, dimana dan bagaimana sistem Monev program P2DTK dibangun dan dioperasionalkan. Sebagai panduan atau tata cara serah terima dan alih kelola hasil pelaksanaan kegiatan Program PNPM-DTK dari pihak pemberi mandat Tugas Pembantuan (KPDT) kepada pihak penerima mandat Tugas Pembantuan dalam hal ini Bupati di Daerah lokasi Program PNPMDTK. Memastikan pelaksanaan kegiatan program PNPMDTK siklus 3 tahun 2010 berjalan sesuai dengan dokumen master schadule yang ditetapkan oleh PIU berdasarakan masukan dari National Management Consultant (NMC) dengan tetap mengedepankan kualitas hasil sub proyek, pengelolaan keuangan, serta pelaporannya. Pedoman bagi penyelenggaraan pelatihan Dewan Laporan Akhir KM.Nas | Lampiran - 17

14

Manual Monitoring dan Evaluasi Bidang Peningkatan Kapasitas (Buku 3) Manual Monitoring dan Evaluasi Bidang Infrastruktur (Buku 4) Manual Monitoring dan Evaluasi Bidang Kesehatan (Buku 5) Manual Monitoring dan Evaluasi Bidang Pendidikan (Buku 6) Manual Monitoring dan Evaluasi Bidang Pengembangan Sektor Swasta (Buku 7) Manual Monitoring dan Evaluasi Bidang Mediasi Penguatan Hukum Masyarakat (Buku 8) Manual Monitoring dan Evaluasi Bidang Pemuda (Buku 9) Manual Monitoring dan Evaluasi Bidang Manajemen Proyek (Buku 10) Ringkasan Eksekutif Monitoring dan Evaluasi P2DTK (Buku 11)

2009

15

2009

16

2009

17

2009

18

2009

19

2009

20

2009

21

2009

22

2009

B 1

Panduan Panduan Serah Terima dan Alih Kelola Hasil Pelaksanaan Kegiatan Program P2DTK

2011

2

Panduan Teknis Safeguard Penyaluran Dana P2DTK Siklus 3 Tahun 2010

2010

3

Panduan Pelatihan Dewan

2010

No

Jenis dan Produk Pendidikan dan Dewan Kesehatan Kabupaten Panduan Pelatihan Tim Penggerak Kesehatan Masyarakat dan Komite Sekolah Panduan Pelatihan Identifikasi Potensi Masalah dan Kebutuhan Bidang Kesehatan bagi Tim Penggerak Kesehatan Masyarakat Panduan Sertifikasi Kegiatan Kesehatan

Tahun

Keterangan Pendidikan dan Dewan Kesehatan dalam program P2DTK. Pedoman bagi penyelenggaraan pelatihan Tim Penggerak Kesehatan Masyarakat (TPKM) dan Komite Sekolah (KS) dalam program P2DTK. Pedoman bagi penyelenggaraan pelatihan Identifikasi Potensi Masalah dan Kebutuhan Bidang Kesehatan bagi Tim Penggerak Kesehatan Masyarakat dalam program P2DTK. Sertifikasi ini adalah adanya rekomendasi atas kelayakan (kualitas dan manfaat) dari kegiatan pembangunan tersebut sehingga pada akhirnya pihak pelaksana kegiatan layak dibayar sesuai tahapan pembayaran yang berlaku. Sertifikasi ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil pelaksanaan kegiatan pembangunan telah memenuhi persyaratan teknis (kualitas yang baik) sesuai spesifikasi disain dan dapat bermanfaat lebih lama (minimal 3 tahun). Memberikan panduan bagi pelaksana program P2DTK untuk mempersiapkan kelembagaan pengelolaan penggunaan dan pemeliharaan hasil pelaksanaan program PNPM-DTK. Pedoman dalam penyelenggaraan pelatihan Badan Penyantun Puskesmas (BPP) dalam program P2DTK. Pedoman bagi penyelenggaraan pelatihan Tim Penggerak Kesehatan Masyarakat (TPKM) dalam program P2DTK. Memastikan terlaksananya kegiatan program siklus-1 dan siklus-2 pada tahun 2008 secara efisien sesuai dengan prinsip dan ketentuan program PNPM-P2DTK. Memastikan tidak adanya pendanaan ganda (double cost) dalam satu kegiatan, dimana yang dimaksud pendanaan ganda adalah apabila satu kegiatan dengan satu sumber pendanaan dinyatakan diakui oleh sumber pendanaan lain. Mendapatkan informasi efektivitas pendekatan kajian teknis dalam mendukung pencapaian tujuan program Menjelaskan tentang jenis-jenis kegiatan dan persentase yang dapat dibiayai oleh sumber dana DOK program P2DTK. Memperoleh barang/jasa yang dibutuhkan dengan mutu dan harga termurah, dapat dipertanggungjawabkan dengan penyerahan tepat waktu pada saat dibutuhkan. Menjadi panduan bagi pelaksana pengadaan ditingkat kabupaten untuk dapat melaksanakan pengadaan barang/jasa dalam program PNPM-DTK sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Menjelaskan tentang peran dan tugas Tim Pengelola Kegiatan sebagai pengelola kegiatan Laporan Akhir KM.Nas | Lampiran - 18

4

2010

5

2010

6

2010

7

SOP Sertifikasi Kegiatan Sub Proyek

2009

8

9

Panduan Penggunaan dan Pemeliharaan Hasil Pelaksanaan Program PNPM Mandiri-DTK Panduan Pelatihan Badan Penyantun Puskesmas Panduan Pelatihan Tim Penggerak Kesehatan Masyarakat Panduan Pelaksanaan Optimalisasi Siklus-2 Program P2DTK Panduan Pengelolaan Kegiatan P2DTK di Lokasi Overlapping

2009

2009

10

2009

11

2008

12

-

13 14

Panduan Overview Proses Kajian Teknis Panduan Penggunaan DOK

-

15

Panduan Teknis Pengadaan Barang dan Alat di Kecamatan PNPM Mandiri-DTK Panduan Pengadaan Barang/Jasa di Tingkat Kabupaten Panduan Pelaksanaan Kerja Tim Pengelola Kegiatan

2008

16

-

17

-

No

Jenis dan Produk Kabupaten

Tahun

Keterangan pada tahap perencanaan dan pengendalian dari aspek teknis dan administrasi kegiatan yang dikelola oleh setiap UPKD Bagian spesifik dari panduan ini terdapat dalam kriteria dan proses pembentukan UPKD. Panduan ini menawarkan satu alternatif lain dalam proses pembentukan UPKD dengan tetap berpegang pada prinsip transparansi, partisipasi, desentralisasi dan akuntabilitas. Menjelaskan kegiatan-kegiatan yang menarik untuk dimunculkan dalam penulisan Best Practice bagi Tim Koordinasi Kabupaten.

18

Panduan Pembentukan Unit Pengelola Kegiatan Dinas (UPKD) Aceh-Nias

-

19

C 1

Panduan Adopsi Best Practice PNPM Mandiri Daerah Tertinggal dan Khusus Bagi Tim Koordinasi Kabupaten Petunjuk Teknis Petunjuk Teknis Penggunaan Sisa Dana DOK dan BLM P2DTK

-

2011

2

3

Petunjuk Teknis Pembentukan Unit Pengelola Kegiatan Dinas (UPKD) dan Pencairan Dana BLM Kabupaten Petunjuk Teknis Standarisasi Penyelesaian Kegiatan Sub Projek Program P2DTK Petunjuk Teknis Penyusunan Amandemen Kontrak pada Pelaksanaan Kegiatan Optimalisasi Program P2DTK Tahun 2011 Petunjuk Teknis Implementasi Program P2DTK Pada DaerahDaerah Pemekaran Petunjuk Teknis Pengarusutamaan Gender dalam Program PNPM Petunjuk Teknis Pelaksanaan Rapat Koordinasi Tingkat Kecamatan PNPM-DTK

2011

2010

4

2010

Memastikan seluruh dana Dana Operasional Kegiatan (DOK) dan Bantuan Langsung Masyarakat) BLM yang telah dicairkan dari Kantor Pembayaran dan Perbedaharaan Negara (KPPN) dapat disalurkan/ digunakan semaksimal mungkin sesuai peruntukannya, secara efisien dan akuntabel. Menjelaskan proses pengelolaan keuangan oleh dinas dengan pembentukan Unit Pengelola Kegiatan Dinas (UPKD) dan mekanisme pencairan dana BLM yang akan dikelola. Memastikan pelaksanaan penyelesaian kegiatan sub projek program PNPM-DTK yang telah dilaksanakan dapat dipertanggungjawaban oleh pelaku-pelaku program PNPM-DTK. Membantu konsultan di lapangan sebagai bahan masukan dalam proses penyusunan amandemen kontrak.

6

2008

7

2008

8

2008

9

10

Petunjuk Teknis Perencanaan Kegiatan Non Fisik Bidang Pendidikan dan Kesehatan Petunjuk Teknis Perencanaan Desain Tambatan Perahu Petunjuk Teknis Perencanaan

2008

2008

11

2008

Memastikan mekanisme program pada wilayah pemekaran dapat berjalan sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Memperjelas dan mempermudah tatalaksana strategi pengarusutamaan gender dalam proses sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring/evaluasi program. Memperoleh berbagai masukan yang komprehensif mengenai apa dan bagaimana kordinasi antar pelaku program di kecamatan, progres program, permasalahan yang dihadapi, strategi pelaksanaan program untuk mencapai hasil yang optimal serta adanya rencana kerja tindak lanjut yang disepakati oleh seluruh stakeholder di kecamatan. Sebagai acuan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan non fisik bagi para pelaku program P2DTK di daerah Petunjuk teknis ini diperuntukkan sebagai acuan dan pegangan bagi perencana dengan tujuan memperoleh bangunan yang memenuhi standar. Meningkatkan dan memberdayakan masyarakat Laporan Akhir KM.Nas | Lampiran - 19

No

Jenis dan Produk Desain Irigasi Perdesaan

Tahun

Keterangan desa dalam pembangunan jaringan irigasi pedesaan mulai dari penyiapan usulan, perencanaan, pelaksanaan phisik sampai dengan operasi dan pemeliharaan. Sebagai acuan dan peganganan bagi pelaksana pembangunan Penyediaan Air Bersih yang dimulai dari kegiatan penyiapan masyarakat, survey dan perencanaan. Tujuan petunjuk praktis pembangunan prasarana pendukung kegiatan usaha sektor swasta agar proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dan hasil pembangunan pasar sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. Tata cara ini mencakup pengertian ketentuanketentuan dan cara pelaksanaan survei sebagai dasar pemilihan sistem dan pembangunan MCK. Memberikan petunjuk dalam pelaksanaan pemeliharaan Tambatan Perahu sebagai sarana transportasi untuk penyeberangan sungai di daerah perdesaan. Ketentuan-ketentuan mengenai pengoperasian dan pemeliharaan serta cara pengerjaannya di lapangan. Mencakup pengertian, ketentuan umum, ketentuan teknis dan cara pengoperasian dan pemeliharaan penangkap mata air untuk penyediaan air bersih.

12

Petunjuk Teknis Perencanaan Desain Sarana Air Bersih Petunjuk Teknis Prasarana Pengembangan Sektor Swasta

2008

13

2008

14

Petunjuk Teknis Perencanaan Desain MCK Petunjuk Teknis Pemanfaatan dan Pemeliharaan Prasarana Tambatan Perahun di Perdesaaan Petunjuk Teknis Tata Cara Operasi dan Pemeliharaan Mandi Cuci Kakus (MCK) Petunjuk Teknis Tata Cara Operasi dan Pemeliharaan Penangkap Mata Air untuk Sarana Air Bersih

2008

15

2008

16

2008

17

2008

Sumber: KM Nas – Data Training

Laporan Akhir KM.Nas | Lampiran - 20

Rekapitulasi Alokasi, Pencairan dan Penyaluran Dana DOK Dan BLM P2DTK – Bagian 6

Tabel 6.01. Rekapitulasi Dana DOK Program P2DTK TA. 2007- 2010
No PROVINSI ALOKASI (DIPA) PENCAIRAN (SP2D) Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 ACEH SUMATERA UTARA BENGKULU LAMPUNG KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN BARAT SULAWESI TENGAH NUSA TENGGARA TIMUR MALUKU MALUKU UTARA T O T A L DOK Sumber: KM Nas-MIS, Finance, dan Disbursment 7,175,000,000 820,000,000 15,125,233,000 12,370,393,000 14,937,461,000 21,081,662,000 19,342,550,000 27,011,410,000 26,377,329,000 18,890,683,000 163,131,721,000 6,770,000,000 480,000,000 14,924,244,365 12,369,718,800 14,864,161,000 21,085,862,000 18,973,290,000 27,011,408,720 26,460,131,000 18,908,464,200 161,847,280,085 % 94.4% 58.5% 98.7% 100.0% 99.5% 100.0% 98.1% 100.0% 100.3% 100.1% 99.2% 405,000,000 340,000,000 200,988,635 674,200 73,300,000 (4,200,000) 369,260,000 1,280 (82,802,000) (17,781,200) 1,284,440,915 SELISIH / SILPA PENYALURAN Jumlah 6,662,623,583 467,067,648 14,924,244,365 12,369,718,800 14,864,161,000 21,085,862,000 18,847,012,603 26,980,765,077 26,375,750,834 19,046,284,200 161,623,490,110 % 98.4% 97.3% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 99.3% 99.9% 99.7% 100.7% 99.9% 126,277,397 30,643,643 84,380,166 (137,820,000) 223,789,975 107,376,417 12,932,352 0 0 0 0 Selisih Pencairan dan Penyaluran

Laporan Akhir KM. Nas |Lampiran - 21

Tabel 6.02. Rekapitulasi Dana BLM P2DTK Wilayah Aceh-Sumut, Nasional, dan Program Optimalisasi TA. 2007-2010
SELISIH / TIDAK TERSERAP di KPPN 69,292,660,797 21,405,871,420 (1,187) 90,130 3,389,849,999 4,202,901 9,380,000 101,308 88,454,200 17,847,004 94,211,966,573 Sisa / Selisih Pencairan dan Penyaluran 1,046,297,864 2,128,005,516 0 0 241,306,726 40,000,000 181,947,843 0 (72,867,297) 137,510,651 3,720,510,651

No

PROVINSI

ALOKASI (DIPA)

PENCAIRAN (SP2D) Jumlah % 75.2% 47.0% 100.0% 100.0% 92.7% 100.0% 100.0% 100.0% 99.9% 100.0% 89.8%

PENYALURAN (S 1,2,3) SUB PROJECT dan A/O BLM 200,084,018,223 16,190,834,492 49,971,672,614 71,415,936,565 40,474,257,055 78,275,822,517 73,801,541,551 104,138,689,933 85,766,233,754 70,471,272,823 790,590,279,528 A/O 9,160,991,116 645,107,572 2,080,328,573 3,454,973,305 2,239,076,219 3,677,974,582 3,731,130,606 5,148,179,759 4,062,179,343 3,531,060,173 37,731,001,248 % 4.4% 3.4% 4.0% 4.6% 5.2% 4.5% 4.8% 4.7% 4.5% 4.8% 4.5% TOTAL 209,245,009,340 16,835,942,064 52,052,001,187 74,870,909,870 42,713,333,274 81,953,797,099 77,532,672,157 109,286,869,692 89,828,413,097 74,002,332,996 828,321,280,776 % 99.5% 88.8% 100.0% 100.0% 99.4% 100.0% 99.8% 100.0% 100.0% 99.8% 99.6%

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

ACEH SUMATERA UTARA BENGKULU LAMPUNG KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN BARAT SULAWESI TENGAH NUSA TENGGARA TIMUR MALUKU MALUKU UTARA T O T A L BLM

279,583,968,000 40,369,819,000 52,052,000,000 74,871,000,000 46,348,000,000 81,998,000,000 77,724,000,000 109,286,971,000 89,844,000,000 74,158,000,000 926,235,758,000

210,291,307,203 18,963,947,580 52,052,001,187 74,870,909,870 42,954,640,000 81,993,797,099 77,714,620,000 109,286,869,692 89,755,545,800 74,140,152,996 832,023,791,427

Sumber: KM Nas-MIS, Finance, dan Disbursment

Laporan Akhir KM. Nas |Lampiran - 22

Tabel 6.03. Rekapitulasi Dana BLMProgram P2DTK Optimalisasi TA. 2011 Sisa / Selisih Pencairan dengan Penyaluran

No

KABUPATEN

ALOKASI DANA (DIPA)

PENCAIRAN Jumlah %

SELISIH / SILPA BLM Subprojek

PENYALURAN BLM A/O % TOTAL %

KALIMANTAN BARAT 1 2 3 Sambas Bengkayang Sanggau 2,000,000,000 2,000,000,000 2,000,000,000 6,000,000,000 2,000,000,000 2,000,000,000 2,000,000,000 6,000,000,000 100% 100% 100% 100% 1,884,423,200 1,937,500,000 1,882,085,007 5,704,008,207 100,000,000 62,500,000 100,000,000 262,500,000 5.0% 3.1% 5.0% 4.4% 1,984,423,200 2,000,000,000 1,982,085,007 5,966,508,207 99% 100% 99% 99% 15,576,800 0 17,914,993 33,491,793

Total Kalimantan Barat SULAWESI SELATAN 1 2 3 4 Poso Tojo Una-una Morowali Banggai

2,000,000,000 2,000,000,000 2,000,000,000 2,000,000,000 8,000,000,000 14.000.000.000

2,000,000,000 1,999,999,900 2,000,000,000 2,000,000,000 7,999,999,900 13.999.999.900

100% 100% 100% 100% 100% 100% 100 100 100

-

1,900,000,000 1,900,426,600

100,000,000 99,573,300 100,518,000 100,000,000 400,091,300 662,591,300

5.0% 5.0% 5.0% 5.0% 5.0% 4.7%

2,000,000,000 1,999,999,900 2,000,000,000 2,000,000,000 7,999,999,900 13.966.598.107

100% 100% 100% 100% 100% 100%

0 0 0 0

-

1,899,482,000 1,900,000,000 7,599,908,600 13,303,916,807

Total Sulawesi Tengah TOTAL WILAYAH OPTIMALISASI

33,491,793

Sumber: KM Nas-MIS, Finance, dan Disbursment

PAP PEMERINTAH DAERAH
Laporan Akhir KM. Nas |Lampiran - 23

Sebagai bentuk kontribusi pemerintah daerah provinsi dan kabupaten pada pelaksanaan Program P2DTK ditunjukkan dengan adanya pengalokasian Dana PAP (Pembinaan Administrasi Proyek/Program) dari APBD dengan rincian sebagai berikut: Tabel 6.04. Rekapitulasi PAP Kabupaten dan Provinsi Pelaksanaan P2DTK Wilayah Aceh-Sumut No 1 2 Prov. Aceh ( 17 Kab) Sumut (2 Kab) Jumlah Realisasi PAP 2006 2.207.743.500 2.207.743.500 Realisasi PAP 2007 3.165.959.500 2.853.568.500 Realisasi PAP 2008 2.734.357.000 596.290.000 3.330.647.000 Realisasi PAP 2009 4.460.018.600 233.000.000 4.693.018.600 Realisasi PAP 2010 3.584.342.000 507.880.000 4.092.222.000 Realisasi PAP 2011 209.075.000 209.075.000 Alokasi PAP 2012 238.210.000 238.210.000

Sumber: KM Nas-MIS, Finance, dan Disbursment

Catatan: Total PAP Aceh-Sumut 2006 – 2012 =Rp. 327.948.787.000,Tabel 6.05. Rekapitulasi PAP Kabupaten dan Provinsi Pelaksanaan P2DTK Wilayah Nasional (8 Propinsi) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Provinsi Lampung Bengkulu Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Total Realisasi PAP 2006 205,890,000 205,890,000 Realisasi PAP 2007 1,057,650,000 589,700,000 1,164,496,000 561,031,400 1,737,300,000 1,148,711,000 995,109,000 1,302,725,000 8,556,722,400 Realisasi PAP 2008 1,136,000,000 772,343,043 1,513,500,000 922,702,000 1,804,370,000 1,849,627,500 665,000,000 1,497,250,000 10,160,792,543 Realisasi PAP 2009 1,097,115,000 882,589,125 1,513,761,000 677,939,000 2,102,780,000 747,500,000 1,185,044,800 760,000,000 8,966,728,925 Realisasi PAP 2010 999,800,000 490,499,900 1,223,211,400 792,495,000 692,580,000 1,176,556,750 1,162,228,850 6,537,371,900 Realisasi PAP 2011 700,000,000 185,375,000 510,517,000 1,395,892,000 Alokasi PAP 2012 750,000,000 750,000,000

Sumber: KM Nas-MIS, Finance, dan Disbursment

Catatan: Total PAP 8 Propinsi P2DTK Nasional 2006 – 2012 =Rp. 761.418.552.000,-

Laporan Akhir KM. Nas |Lampiran - 24

Bentuk Kegiatan Responsive Gender – Bagian 7
Tabel 7.01 Bentuk-Bentuk Kegiatan Responsive Gender Dalam Program P2DTK Hasil
No. 1. Jenis Kegiatan Pembangunan PAH (Penambungan Air Hujan) Aspek Responsif Gender Memberi kemudahan akses pada kaum perempuan untuk mendapat air bersih . Sebelumnya, mereka harus berjalan lebih dari 2 jam tiap pagi hanya untuk mengambil air dari mata air terdekat. Memberikan kemudahan akses kaum perempuan pada fasilitas layanan kesehatan ibu balita. Sebelumnya harus pergi ke puskesmas kecamatan yang berjarak 15 Km dari desa dan tidak ada angkutan umum. 70% peserta pelatihan adalah perempuan. (Memberi kesempatan partisipasi yang lebih besar pada perempuan) Memishkan toilet untuk laki-laki dan perempuan karena perbedaan struktur biologis laki-laki dan perempuan Lokasi Ds. Pene Selatan, Kec. Kolbano, Kab. Timor Tengah Selatan (TTS) Prov.NTT Kec Kei Kecil Barat, Kab Maluku Tenggara, Prov.Maluku Tgl/Tahun Supervisi 18 – 21 Oktober 2010

2.

Pembangunan Gedung POLINDES

11 -15 nov 2010

3.

Pelatihan TPKMS dan komite sekolah

Kec. Teluk Kramat , Kab Sambas, Prov. Kalimantan Barat Kec. Weda Selatan , Kab. Halamahera Tengah, Prov. Maluku Utara Kec. Mongoli Timur, Kab. Kepulauan SULA, Prov. Maluku Utara

29 nop – 3 des 2010

4.

5.

Sanitasi sekolah – pembangunan WC/toilet yang memisahkan toilet lakilaki – perempuan Rehab Gedung Sekolah (MTs)

11 -15 Januari 2011

6.

Pembangunan Jalan Rabat Beton-

7.

Pembangunan PIPA AIR

8.

9.

Rehabilitasi Ruang Pertemuan perempuan dan PAUD dengan Toilet terpisah (laki-laki dan perempuan) Pembangunan Pompa Air untuk cuci –masak kaum perempuan

Memberi akses lebih luas pada perempuan untuk masuk MTs/sekolah lanjutan , karena sebelumnya jumlah kelas sangat terbatas. Terdapat lonjakan siswa perempuan sejak dibangun ruang kelas baru sebanyak 50%. Keterlibatan pekerja perempuan dalam proses pembuatan jalan. Hal ini membongkar stereotype bahwa hanya laki-laki yang mampu bekerja membangun jalan –selain itu juga memberi akes dan control bagi perempuan untuk pelaksanaan program. Memberi kemudahan perempuan mendapat air bersih. Sebelumnya harus naik gunung untuk mndapatkan air bersih sejauh 2 Km. Memisahkan toilet untuk laki-laki dan perempuan karena perbedaan struktur biologis laki-laki dan perempuan

25 – 29 Januari 2011

Desa Tulang Bawang, Kec. Bahuga, Kab. Way Kanan, Prov. Lampung

9 – 12 Februari 2011

Ds. Air Hitam, Kec. Ujan Mas, Kab. Kepahyang, Prov. Bengkulu Kec. Bengkayang , Kab. Bengkayang, Prov. Kalimantan Barat Ds. Karang, Kec. Namlea, Kab Buru, Prov. Maluku

20 -22 Februari 2011

7 – 11 Maret 2011

Peyediaan air untuk kebutuhan cuci masak bagi perempuan yang sebelumnya harus berjalan lebih dari 1 Km untuk mendapat air dari sumur umum

17 -24 Juli 2011

Sumber: Data MIS-Gender-NMC

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 25

Capaian Penyelesaian Sub Proyek P2DTK – Bagian 8

PENYELESAIAN SUB-PROYEK P2DTK ACEH-SUMUT a. Sub-Proyek Bidang Pendidikan (Non-Fisik)
Tabel 8.01. Jumlah Penyelesaian Sub Proyek Pendidikan Berdasarkan SPB Kabupaten (Aceh-Sumut)
No 1 2 Propinsi Aceh Sumut Total Siklus 1 75 5 80 Siklus 2 204 17 221 Siklus 3 (2009) ---Siklus 3 ( 2010 ) 198 21 219 Jumlah 477 43 520

Sumber: Data MIS - KM. Nas

Tabel 8.02. Kualitas Penyelesaian Sub Project Pendidikan Berdasarkan Hasil Sertifikasi (Aceh-Sumut)
No 1 2 Propinsi Aceh Sumut Total Siklus 1 Baik 75 5 80 Cukup ---Kurang ---Baik 204 17 221 Siklus 2 Cukup ---Kurang ---Baik ---Siklus 3 (2009) Cukup ---Kurang ---Baik 117 21 138 Siklus 3 (2010) Cukup 81 -81 Kurang ----

Sumber: Data MIS - KM. Nas

b. Sub-Proyek Kesehatan (Non-Fisik)
Tabel 8.03. Penyelesaian Sub-Proyek Berdasarkan SPB Kabupaten (Aceh-Sumut)
Bidang Kesehatan No 1 2 Propinsi Aceh Sumut Jumlah Siklus 1 92 5 97 Siklus 2 177 13 90 Siklus 3 (2009) Siklus 3 (2010) 172 10 182 Jumlah 441 28 469

Sumber: Data MIS - KM. NAS

Tabel 9.04. Kualitas Penyelesaian Sub Proyek Bidang Kesehatan Berdasarkan Hasil Sertifikasi Kabupaten (Aceh-Sumut)
No
1 2

Propinsi
Aceh Sumut Jumlah

Siklus 1
Baik 92 5 97 Cukup ---Kurang ---Baik 177 13 190

Siklus 2
Cukup ---Kurang ----

Siklus 3 (2009)
Baik ---Cukup ---Kurang ----

Siklus 3 (2010)
Baik 109 10 9 Cukup 63 -63 Kurang ----

Sumber: Data MIS – KM. Nas

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 26

c. Bidang Infrastruktur (Sub-Proyek Fisik)
Tabel 8.05. Penyelesaian Kegiatan Infrastruktur Kabupaten (Aceh-Sumut) No 1 2 Provinsi Aceh Sumut Jumlah Siklus 1 139 0 139 Siklus 2 393 30 373 Siklus 3 (2009) 0 0 0 Siklus 3 (2010) 250 19 269 Total 732 49 9781

Sumber: Data MIS – KM. Nas

Tabel 8.06. Kualitas Penyelesaian Sub Proyek Bidang Infrastruktur Berdasarkan Hasil Sertifikasi Kabupaten (Aceh-Sumut)
No 1 2 Provinsi Aceh Sumut Jumlah Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 (2009) Siklus 3 (2010) Baik Cukup Kurang Baik Cukup Kurang Baik Cukup Kurang Baik Cukup Kurang 119 0 119 20 0 20 0 0 0 343 30 373 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 98 19 117 151 0 151 1 0 1

Sumber: Data MIS – KM. Nas

PENYELESAIAN SUB-PROYEK P2DTK NASIONAL a. Sub-Proyek Bidang Pendidikan (Non-Fisik)
Tabel 8.07. Rekapitulasi Sebaran Sub-Proyek Non-Fisik Bidang Pendidikan P2DTK Nasional dan Optimalisasi Berdasarkan SPB Kabupaten dan SPC Kecamatan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Propinsi Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Maluku Maluku Utara Sulawesi Tengah NTT Jumlah Siklus 1 (2007) 48 33 57 47 122 58 185 56 606 Siklus 2 (2008) 37 39 70 39 113 81 181 77 637 Siklus 3 (2009) 21 17 25 23 68 27 157 41 379 Siklus 3 (2010) 13 22 38 19 114 60 140 63 469 Jumlah 119 111 190 128 417 226 663 237 2.091

Sumber: KM Nas-MIS dan TA Bidang

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 27

Tabel 8.08. Rekapitulasi Kualitas Sub-Proyek Non-Fisik Bidang Pendidikan P2DTK Nasional Berdasarkan SPB Kabupaten dan SPC Kecamatan
No. Propinsi SIKLUS 1 (2007)
Baik Cukup Kurang 0 0 13 3 0 0 0 0 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0

SIKLUS 2 (2008)
Baik 37 39 65 38 113 81 181 77 631 Cukup Kurang 0 0 5 1 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0

SIKLUS 3 (2009)
Baik 21 17 23 23 60 27 155 41 367 Cukup Kurang 0 0 2 0 8 0 1 0 11 0 0 0 0 0 0 1 0 1

SIKLUS 3 (2010)
Baik 13 22 38 19 105 60 139 56 452 Cukup 0 0 0 0 9 0 1 7 17 Kurang 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Baik 119 111 170 124 400 226 660 230 2,040

Jumlah
Cukup Kurang 0 0 20 4 17 0 2 7 50 0 0 0 0 0 0 1 0 1

1 2 3 4 5 6 7 8

Bengkulu Lampung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Maluku Maluku Utara Sulawesi Tengah NTT Jumlah

48 33 44 44 122 58 185 56 590

Sumber: KM Nas-MIS dan TA Bidang

b. Sub-Proyek Bidang Kesehatan (Non-Fisik)
Tabel 8.09. Rekapitulasi Sebaran Sub-Proyek Non-Fisik Bidang Kesehatan P2DTK Nasional Berdasarkan SPB Kabupaten dan SPC Kecamatan Siklus 1 (2007) 37 17 24 42 163 87 35 71 476 Siklus 2 (2008) 41 33 35 37 125 75 61 74 481 Siklus 3 (2009) 17 12 22 32 153 61 23 38 358 Siklus 3 (2010) 24 11 11 31 57 51 42 35 262

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Propinsi Lampung Bengkulu Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Sulawesi Tengah Maluku Maluku Utara Nusa Tenggara Timur Jumlah

Jumlah 119 73 92 142 498 274 161 218 1,577

Sumber: KM Nas-MIS dan TA Bidang

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 28

Tabel 8.10. Rekapitulasi Kualitas Sub-Proyek Non-Fisik Bidang Kesehatan P2DTK Nasional Berdasarkan SPB Kabupaten dan SPC Kecamatan
Siklus 1 (2007) No 1 2 3 4 5 6 7 8 Propinsi Baik Lampung Bengkulu Kalimantan Tengah Kalimantan Barat Sulawesi Tengah Maluku Maluku Utara Nusa Tenggara Timur Jumlah 37 17 22 26 163 87 35 71 458 Cukup Kurang 0 0 2 16 0 0 0 0 18 0 0 0 0 0 0 0 0 0 41 33 35 24 125 75 61 74 468 Siklus 2 (2008) Baik Cukup 0 0 0 13 0 0 0 0 13 Kurang 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Siklus 3 (2009) Baik 17 12 21 21 153 59 23 38 344 Cukup 0 0 0 11 0 2 0 0 13 Kurang 0 0 1 0 0 0 0 0 1 Siklus 3 (2010) Baik 24 11 11 20 57 41 42 32 238 Cukup Kurang 0 0 0 11 0 10 0 3 24 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jumlah Baik 119 73 89 91 498 262 161 215 1,508 Jumlah Cukup 0 0 2 51 0 12 0 3 68 Jumlah Kurang 0 0 1 0 0 0 0 0 1

Sumber: KM Nas-MIS dan TA Bidang

c. Rekapitulasi Sebaran Sub-Proyek Infrastruktur
Tabel 8.11. Rekapitulasi Sebaran Sub Proyek Infrastruktur P2DTK Nasional Berdasarkan SPB Kabupaten dan SPC Kecamatan Bidang Infrastruktur Siklus 3 Siklus 3 Siklus 2 (2009) (2010) 128 56 80 103 24 103 122 45 77 131 40 121 176 92 184 110 69 131 123 54 85 298 130 228 1.191 510 1.009

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Provinsi Bengkulu Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Lampung Maluku Maluku Utara Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tengah Jumlah

Siklus 1 144 102 98 158 171 143 114 330 1.260

Jumlah 408 332 342 450 623 453 376 986 3.970

Sumber: Data MIS-Data TA Bidang

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 29

Tabel 8.12. Rekapitulasi Kualitas Sub-Proyek Fisik/Infrastruktur P2DTK Nasional Berdasarkan SPB Kabupaten dan SPC Kecamatan
Kualitas Fisik Baik Cukup Kurang Jumlah Siklus 1 Jumlah 1,198 62 0 1,260 % 95.08 4.92 0 100.00 Siklus 2 Jumlah 1,124 67 0 1,191 % 94.37 5.63 0 100.00 Siklus 3 (2009) Jumlah 455 55 0 510 % 89.22 10.78 0 100.00 Siklus 3 (2010) Jumlah 608 400 1 1,009 % 60.26 39.64 0.10 100.00 Total Jumlah 3,385 584 1 3,970 % 85.26 14.71 0.03 100.00

Sumber: KM Nas-MIS dan TA Bidang

d. Rekapitulasi Sub Proyek Pemuda
Tabel 8.13. Sebaran Realisasi Sub Proyek Pemuda P2DTK TA. 2007 – 2010 Bidang Pemuda Siklus 3 Siklus 2 (2009) 45 16 44 37 20 16 25 9 40 29 24 14 28 26 47 18 273 165

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8

Provinsi Bengkulu Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Lampung Maluku Maluku Utara Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tengah Jumlah

Siklus 1 27 55 24 28 40 10 41 42 267

Siklus 3 (2010) 19 33 17 23 29 17 23 39 200

Jumlah 107 169 77 85 138 65 118 146 905

Sumber: KM. Nas-MIS

PENYELESAIAN SUB-PROYEK P2DTK PROGRAM OPTIMALISASI
Tabel 8.14. Jenis, Jumlah dan Kualitas Paket Sub Proyek P2DTK Program Optimalisasi TA. 2011
Jumlah dan Kualitas Bidang Kegiatan No 1 2 3 4 5 6 7 Kabupaten Baik Sambas Bengkayang Sanggau Banggai Morowali Poso Tojo Una-Una Jumlah Sumber: KM. Nas-MIS 6 4 3 2 17 4 9 45 Infrastruktur Cukup 0 0 0 0 0 0 0 0 Kurang 0 0 0 0 0 0 0 0 Baik 2 4 10 0 4 6 6 32 Pendidikan Cukup 0 0 0 0 0 0 0 0 Kurang 0 0 0 0 0 0 0 0 Baik 3 2 10 1 7 4 4 31 Kesehatan Cukup 0 0 0 0 0 0 0 0 Kurang 0 0 0 0 0 0 0 0 11 10 23 3 28 14 19 108 Jumlah

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 30

Capaian Penyelesaian Laporan Para Pelaku P2DTK – Bagian 9
Tabel 9.01. Kuantitas dan Kualitas Laporan Periode Tahun 2007 Tahun 2007 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 FK KM. KAB KM. PROV KM. NAS LPK-PSS Wilayah Timur (Juli ‘08 – Des ‘10) LPK-PSS Wilayah Barat (1 Des ‘08 – 31 Mei ‘11) MPHM (30 Des ‘08 – Agust ’11) MMI FM Kab FM Provinsi FM Nasional Procurement Kab Procurement Provinsi Procurement Nasional Konsultan Jmlah Seharusnya 186 x 12 bln 51 x 12 bln 120 12 Realisasi 186 x 12 bln 51 x 12 bln 120 12 Kualitas Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai -

Sumber: Data KM. Nas. Keterangan: Kualitas adalah kesesuaian outline dan isi laporan

Tabel 9.02. Kuantitas dan Kualitas Laporan Periode Tahun 2008 Tahun 2008 No. 1 2 3 4 FK Konsultan Jmlah Seharusnya 186 x 12 bln 51 x 12 bln 120 12 6 1 Realisasi 186 x 12 bln 51 x 12 bln 120 12 6 1 Kualitas Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai -

KM. KAB KM. PROV KM. NAS LPK-PSS Wilayah Timur 5 (Juli 2008 – Des 2010) LPK-PSS Wilayah Barat 6 (1 Des 2008–31 Mei 2011) MPHM 7 (30 Des 2008–Agust 2011) 8 MMI 9 FM Kab 10 FM Provinsi 11 FM Nasional 12 Procurement Kab 13 Procurement Provinsi 14 Procurement Nasional Sumber: Data KM. Nas

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 31

Tabel 9.03. Kuantitas dan Kualitas Laporan Periode Tahun 2009 Tahun 2009 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 FK KM. KAB KM. PROV KM. NAS LPK-PSS Wilayah Timur (Juli 2008 – Des 2010) LPK-PSS Wilayah Barat (1 Des 2008–31 Mei 2011) MPHM (30 Des 2008–Agust 2011) MMI FM Kab FM Provinsi FM Nasional Procurement Kab Procurement Provinsi Procurement Nasional Konsultan Jumlah Seharusnya 186 x 12 bln 51 x 12 bln 10 x 12 bln 1 x 12 bln 1 x 12 bln 1 x 12 bln 1 x 12 bln Realisasi 186 x 12 bln 51 x 12 bln 10 x 12 bln 1 x 12 bln 1 x 12 bln 1 x 12 bln 1 x 12 bln Kualitas Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai -

Sumber: Data KM. Nas

Tabel 9.04. Kuantitas dan kualitas laporan periode Tahun 2010 Tahun 2010 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 FK KM. KAB KM. PROV KM. NAS LPK-PSS Wilayah Timur (Juli 2008 – Des 2010) LPK-PSS Wilayah Barat (1 Des 2008–31 Mei 2011) MPHM (30 Des 2008–Agust 2011) MMI FM Kab FM Provinsi FM Nasional Procurement Kab Procurement Provinsi Procurement Nasional Konsultan Jumlah Seharusnya 186 x 12 bln 51 x 12 bln 10 x 12 bln 1 x 12 bln 1 Lap Tahunan 1 x 12 bln 1 x 12 bln 1 x 12 bln Realisasi 186 x 12 bln 51 x 12 bln 10 x 12 bln 1 x 12 bln 1 Lap Tahunan 1 x 12 bln 1 x 12 bln 1 x 12 bln Kualitas Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai -

Sumber: Data KM. Nas

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 32

Tabel 9.05. Kuantitas dan Kualitas Laporan Periode Tahun 2011 Tahun 2011 No. 1 2 Konsultan FK (s.d April 2011) KM. KAB (s.d September 2011) KM. KAB “Optimalisasi” KM. PROV (November 2011 demobilisasi) KM. PROV “Optimalisasi” KM. NAS LPK-PSS Wilayah Timur (Juli ‘08 – Des ‘10) LPK-PSS Wilayah Barat (1 Des ‘08 – 31 Mei ‘11) MPHM (30 Des ‘08 – Agust ’11) MMI FM Kab (4 bulan) FM Kab “Optimalisasi” (8 bulan) FM Provinsi (4 bulan) FM Prov “Optimalisasi” (8 bulan) FM Nasional (10 bulan) Procurement Kab (4 bulan) 12 Procurement Kab “Optimalisasi” (8 bulan s.d Des 2011) Procurement Provinsi (4 bulan) Procurement Prov “Optimalisasi” (8 bulan s.d Des 2011) Procurement Nasional (10 bulan) Jumlah Seharusnya 186 x 4 bln 44 x 9 bln 7 x 12 bln 8 x 11 bln 2 x 12 bln 1 x 12 bln 1 Lap Tahunan 1 x 5 bln 1 x 8 bln 1 x … bln 44 x 4 bln 7 x 8 bln 8 x 4 bln 2 x 8 bln 1 x 10 bln 44 x 4 bln 7 x 8 bln Realisasi 186 x 4 bln 44 x 9 bln 7 x 12 bln 8 x 11 bln 2 x 12 bln 1 x 11 bln 1 x 5 bln 1 x 8 bln 1 x … bln 44 x 4 bln 7 x 8 bln 8 x 4 bln 2 x 8 bln 1 x 10 bln 44 x 4 bln 7 x 8 bln Kualitas Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai

3

4 5 6 7 8 9

10 11

8 x 4 bln 2 x 8 bln

8 x 4 bln 2 x 8 bln

Sesuai Sesuai

13

14

1 x 10 bln

1 x 10 bln

Sesuai

Sumber: Data KM. Nas.

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 33

Tabel 9.06. Kuantitas dan Kualitas Laporan Periode Tahun 2012 (Hanya sampai April 2012) Tahun 2012 No. 1 Konsultan Jumlah Seharusnya 7 x 3 bln Realisasi Kualitas -

FK KM. KAB 2 “Optimalisasi” (s.d Maret 2012) KM. PROV 3 “Optimalisasi” (s.d April 2012) 4 KM. NAS (s.d April 2012) 5 LPK-PSS Wilayah Timur 6 LPK-PSS Wilayah Barat 7 MPHM 8 MMI FM Kab 9 “Optimalisasi” (s.d Maret 2012) FM Provinsi 10 “Optimalisasi” (s.d April 2012) 11 FM Nasional (s.d April 2012) 12 Procurement Kab Procurement Provinsi 13 “Optimalisasi” (s.d April 2012) Procurement Nasional 14 (s.d April 2012) Sumber: Data KM. Nas

2 x 4 bln

1 x 4 bln 7 x 3 bln

-

-

2 x 4 bln

1 x 4 bln 2 x 4 bln

-

-

1 x 4 bln

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 34

Capaian Performance Indicator P2DTK – Bagian 10
Tabel 10.1. Capaian Performance Indicator P2DTK Aceh-Sumut
INDICATOR 1. % hibah Kabupaten yang disalurkan untuk setiap siklus proyek 2006/ 2007 2007/ 2008 >75% 2008/ 2009 >75% 2009/ 2010 >75% OUPUT/ OUTCOME Output INTERPRESTASI Prosentase penyerapan & pencairan dana grant (BLM dan DOK) kabupaten berdasarkan SP2D dan Form3 MIS. CAPAIAN PER 1 MEI 2012 Rata-rata DOK & DAK (80,92%) berarti di atas angka yang ditetapkan >75% (Hasil Rekonsiliasi)
• Pencairan DOK Rp. 7.250.000.000,(90,18%) • Pencairan DAK Rp. 229.255.254.783,(71,65%)

(Sumber data MIS)
2. % Kabupaten yang menggunakan proses perencanaan partisipatif untuk penganggaran dan pembiayaan Aktivitas pembangunan Jumlah. survei dampak diselesaikan Prosentase penduduk miskin yang menerima manfaat dari total populasi >50% >60% >70% >80% Output Kabupaten yang telah mempunyai sistem perencanaan partisipatif sesuai dengan MUSRENBANG (seluruh lokasi kabupaten P2DTK hrs menerapkan mekanisme perencanaan yang telah diatur dalam PTP). Jumlah survey tentang dampak P2DTK yang telah selesai dilaksanakan. Prosentase penduduk miskin yang menerima manfaat (beneficiaries) di kabupaten lokasi P2DTK, dibandingkan populasi kabupaten keseluruhan. 100% berarti di atas angka yang ditetapkan >80%.

(Sumber data Kabupaten)

3.

1

1

Output

Sudah dilaksanakan 1 Kali.
Lokasi 6 Kabupaten: Pidie, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Selatan, dan Nias Selatan

4.

>20%

>25%

>30%

>30%

Output

69,12% berarti di atas angka yang ditetapkan >30%. • Jumlah Penduduk miskin Aceh-Nias sebanyak = 1.134.120 Jiwa • Penerima manfaat Penduduk miskin Aceh-Nias sebanyak = 783.930 jiwa dengan rincian:
2007/2008 = 293.484 Jiwa

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 35

INDICATOR

2006/ 2007

2007/ 2008

2008/ 2009

2009/ 2010

OUPUT/ OUTCOME

INTERPRESTASI

CAPAIAN PER 1 MEI 2012
2008/2009 = 134.060 Jiwa 2009/2010 = 356.386 Jiwa

(Sumber data MIS)
5. EIRR pada investasi infrastruktur pedesaan >20% >20% Output IRR=Internal Rate Return, diartikan sebagai tingkat pengembalian investasi di kabupaten. Diusulkan hanya fisik bidang infrastrutkur yg dihitung, contoh: jalan, dermaga, pasar Spesialis infrastruktur NMC telah mengembangkan criteria “good” dan ‘excellent”, segera diedarkan untuk tanggapan dan persetujuan EIRR menunjukkan angka ….. % yang berarti di atas angka yang ditetapkan >20%.
Hasil study output infrastruktur di AcehNias (Kab. Pidie, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Selatan dan Nias Selatan)

6.

% Infrastruktur Kabupaten yang digolongkan "memuaskan" dan sangat baik " % Dari sekolah dasar di kabupaten mengadopsi manajemen berbasis sekolah

>70%

>70%

Output

83,50% (1.478 kegiatan sub-proyek) yang berarti di atas angka yang ditetapkan >70%.
Hasil study output infrastruktur di AcehNias (Kab. Pidie, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Selatan dan Nias Selatan)

7.

>10%

>20%

>30%

Outcome

Prosentase jumlah SD/MI dan 27,18% yang berarti masih dibawah SMP/MTs di 19 kabupaten P2DTK angka yang ditetapkan >30%. yang sudah menerapkan MBS • Total Jumlah SD Aceh – Nias

sebanyak = 3.576 SD • Total Jumlah SD yg Adopsi MBS sebanyak = 972 SD yaitu:
2007/2008 = 208 SD 2008/2009 = 362 SD 2009/2010 = 402 SD 58,83% yang berarti di atas angka yang ditetapkan >40%.

8.

% Desa dengan partisipasi aktif dalam komite manajemen sekolah

>20%

>40%

>40%

Output

Prosentase desa yang mempunyai Komite Sekolah aktif (telah melaksanakan lebih dari 50% tugas dan perannya sesuai dengan uaraian tugasnya/ job desk-nya) di lokasi kec. P2DTK

• Total jumlah desa di Aceh-Nias sebanyak = 6.998 Desa • Total jumlah desa yang telah memiliki Komite Manajemen
Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 36

INDICATOR

2006/ 2007

2007/ 2008

2008/ 2009

2009/ 2010

OUPUT/ OUTCOME

INTERPRESTASI

CAPAIAN PER 1 MEI 2012

Sekolah sebanyak 4.117Desa:
2007/2008 = 549 2008/2009 = 1.647 2009/2010 = 1.921 9. Jumlah guru desa yang telah menerima pelatihan guru % Responden puas dengan tingkat pelayanan pendidikan yang diberikan melalui proyek >150 >300 >500 Output Jumlah guru di lokasi P2DTK yang 9.551 Guru yang mengikuti telah mengikuti pelatihan melalui Pelatihan yang berarti di atas angka proyek P2DTK. yang ditetapkan >500.

(Sumber data MIS)
10. >50 >65 Outcome Prosentase Responden yang merasa puas dengan pelayanan pendidikan melalui proyek P2DTK. Rata-rata 49,5% yang berarti masih dibawah angka yang ditetapkan >65%.

11.

% Penurunan anak usia 7-12 tidak sekolah di SD

Output

Prosentase anak umur 7 s/d 12 thn yang tidak bersekolah di SD

• 52% menyatakan “cukup memuaskan” untuk usia SD di 6 kabupaten lokasi studi output (Kab. Pidie, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Selatan dan Nias Selatan) • 47% menyatakan “cukup memuaskan” untuk usia SMP di 6 kabupaten lokasi studi output (Kab. Pidie, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Selatan dan Nias Selatan) (Sumber data Study Out Put) Terjadi prosentase penurunan anak usia SD 7-12 tidak sekolah, perbandingan antara tahun 2006 dan 2010 di Aceh dan Nias. Apakah intervensi yang sudah diberikan oleh P2DTK dibidang
Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 37

INDICATOR

2006/ 2007

2007/ 2008

2008/ 2009

2009/ 2010

OUPUT/ OUTCOME

INTERPRESTASI

CAPAIAN PER 1 MEI 2012

- Di Aceh

>7%

-

>13%

- Di Nias

>6%

-

>11%

pendidikan wajib 9 tahun (Khususnya SD) dari tahun 2007 sampai tahun 2010, telah memberikan sumbangan perubahan kepada “akses pendidikan” (kesempatan) yang lebih baik bagi anak usia SD di Aceh-Nias Angka Partisipasi Sekolah (APS) di Aceh tahun 2007 untuk anak usia SD sebesar 98,95%, APS yang sama tahun 2010 sebesar 99,19% atau naik sebanyak 0,24%. Sangat sulit mencari APS untuk tingkat kabupaten Nias dan Nias Selatan oleh karena itu yang digunakan adalah APS Provinsi Sumut. Terjadi peningkatan APS Usia SMP sebesar 0,53% antara 2007 sampai 2010. Dari sudut anak
usia SD tidak sekolah di Aceh-Sumut, terjadi peningkatan 0,04% atau sebanyak 46.694 anak.

12.

% Penurunan anak usia 13-15 tidak bersekolah di SMP

Output

Prosentase anak umur 13 s/d 15 thn yang tidak bersekolah di SMP.

Terjadi prosentase penurunan anak usia SMP 13-15 tidak sekolah, perbandingan antara tahun 2006 dan 2010 di Aceh dan Nias. Apakah intervensi yang sudah diberikan oleh P2DTK dibidang pendidikan wajib 9 tahun
Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 38

INDICATOR

2006/ 2007

2007/ 2008

2008/ 2009

2009/ 2010

OUPUT/ OUTCOME

INTERPRESTASI

CAPAIAN PER 1 MEI 2012

- Di Aceh

>7%

-

>13%

- Di Nias

>10%

-

>29%

13. % Responden puas dengan tingkat pelayanan kesehatan yang diberikan melalui proyek

>50%

>65%

Outcome

Prosentase Respondent yang merasa puas dengan pelayanan kesehatan melalui proyek P2DTK.

(Khususnya SMP) dari tahun 2007 sampai tahun 2010, telah memberikan sumbangan perubahan kepada “akses pendidikan” (kesempatan) yang lebih baik bagi anak usia SMP di Aceh-Nias APS anak usia SMP perbandingan antara 2007 dan 2010 justru mengalamai penurunan 1,80%. Seperti juga angka APS SD, angka APS SMP di Nias dan Nias Selatan sangat sulit diperoleh. Melalui APS Provinsi Sumut,diketahui ada penurunan APS SMP sebesar 1,53% antara tahun 2007 dan 2010. Dari angka usia SMP tidak sekolah di Aceh-Sumut, mengalami kenaikan 0,01% atau sebanyak 10.781 anak. 67,75% menyatakan “memuaskan” terhadap pelayanan kesehatan yang berarti
di atas angka yang ditetapkan >65%. Hal ini diperoleh dari hasil studi di 6

kabupaten (Kab. Pidie, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Selatan dan Nias Selatan)
Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 39

INDICATOR 14. Jumlah forum/kelompok usaha terbentuk dan berfungsi % Peningkatan pendaftaran bisnis baru

2006/ 2007 10

2007/ 2008 15

2008/ 2009 19

2009/ 2010 19

OUPUT/ OUTCOME Outcome

INTERPRESTASI Diusulkan: Jumlah FSS yang telah terbentuk, befungsi, dan telah menghasilkan produk/output.

CAPAIAN PER 1 MEI 2012

15.

>5%

>5%

Outcome

16.

Jumlah kabupaten mengadopsi setidaknya tiga rekomendasi untuk perbaikan peraturan daerah >3

5

10

13

Outcome

17.

Jumlah kabupaten di mana masyarakat penasihat hukum, fasilitator kecamatan dan paralegal tingkat desa diangkat, dilatih dan menyediakan bantuan hukum bagi masyarakat 18. Jumlah staf LSM dan pejabat peradilan formal (hakim, polisi dan jaksa) dilatih untuk melakukan pelayanan peradilan dan pendidikan hukum

>3

>3

>3

Output

>25

>50

>70

>70

Output

19 FSS yang berarti sama dengan angka yang ditetapkan 19. (Sumber data Lap. Hasil Vasilitasi PSS Oleh TAF) Diusulkan: Prosentase > 5% peningkatan entitas usaha baru peningkatan entitas usaha baru yang berarti sama dengan angka yang terdaftar formal. ditetapkan >5%. (Sumber data Lap. Hasil Vasilitasi PSS Oleh TAF) Jumlah kabupaten yang 13 Kabupaten (100%) yang melakukan melakukan perbaikan dalam perbaikan dalam proses/mekanisme proses/mekanisme pembuatan pembuatan peraturan daerah yang peraturan daerah (iklim usaha, berarti sama dengan angka yang MPHM, pelayanan pubilk, ditetapkan 13. perencanaan partisipatif). (Sumber data Lap. Hasil Vasilitasi PSS Oleh TAF) Jumlah kabupaten dimana 3 Kabupaten penasehat hukum penasehat hukum masyarakat, masyarakat, fasilitator kecamatan dan fasilitator kecamatan dan paralegal tingkat desa telah ditunjuk, paralegal tingkat desa telah dilatih dan memberikan bantuan ditunjuk, dilatih dan memberikan hukum kepada masyarakat. bantuan hukum kepada Hal ini berarti sama dengan angka masyarakat. yang ditetapkan >3%. (Sumber data Lap. Hasil Vasilitasi PSS Oleh TAF) Jumlah staff NGO dan aparat > 70 orang staff NGO dan aparat penegak hukum (hakim, polisi, penegak hukum (hakim, polisi, jaksa) jaksa) telah dilatih untuk telah dilatih untuk melakukan melakukan pelayanan hukum dan pelayanan hukum dan pendidikan pendidikan hukum). hukum).Hal ini berarti sama dengan angka yang ditetapkan >70. (Sumber Data WB) Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 40

INDICATOR 19. Jumlah pemanfaat bantuan hukum melalui proyek

2006/ 2007 >100

2007/ 2008 >200

2008/ 2009 >350

2009/ 2010 >500

OUPUT/ OUTCOME Output

INTERPRESTASI Jumlah orang yang mendapatkan manfaat dari bantuan hukum melalui program P2DTK.

CAPAIAN PER 1 MEI 2012

20. Jumlah fasilita-tor, staf LSM, pejabat pemerintah daerah dan pemuda yang terlatih dalam mediasi konflik, kepemimpinan dan pendidikan kewarganega-raan 21. Jumlah perempuan yang rentan, pengungsi, dan mantan kombatan memberikan bantuan teknis dan dukungan keuangan untuk membangun kembali kehidupan mereka 22. Jumlah Kabupaten yang menerima pelatihan pengadaan dan manajemen keuangan yang tepat

>75

>150

>300

>300

Output

> 500 orang yang mendapatkan manfaat dari bantuan hukum melalui program P2DTK.Hal ini berarti sama dengan angka yang ditetapkan >500. (Sumber Data WB) Jumlah fasilitator P2DTK, NGO > 300 orang fasilitator P2DTK, NGO staff, aparatur pemerintahan staff, aparatur pemerintahan setempat dan pemuda yang telah setempat dan pemuda yang telah dilatih dlm rangka mediasi dilatih dlm rangka mediasi konflik, konflik, kepemimpinan & kepemimpinan & pendidikan pendidikan kewarganegaraan. kewarganegaraan. Hal ini berarti sama dengan angka yang ditetapkan >300. (Sumber Data WB) Jumlah wanita yang rentan, pengungsi dalam negeri dan ex combatan yang telah memperoleh pendampingan dan dukungan keuangan untuk membangun kembali kehidupannya. > 2000 orang wanita yang rentan, pengungsi dalam negeri dan ex combatan yang telah memperoleh pendampingan dan dukungan keuangan untuk membangun kembali kehidupannya. Hal ini berarti sama dengan angka yang ditetapkan >2000. (Sumber Data WB) 19 Kabupaten (100%) yang telah menerima pelatihan pengadaan barang dan manajemen keuangan. Hal ini berarti sama dengan angka yang ditetapkan 19. (Sumber Data Laporan C. Lotti dan PT. Amythas)

>500

>1000

>1500

>2000

Output

17

19

19

19

Output

Jumlah kabupaten yang telah menerima pelatihan pengadaan barang dan manajemen keuangan.

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 41

INDICATOR 23. % Dari Pemerintah dan tim konsultan yang direkrut di semua tingkat dan berfungsi

2006/ 2007 >80%

2007/ 2008 >80%

2008/ 2009 >80%

2009/ 2010 >80%

OUPUT/ OUTCOME Output

INTERPRESTASI Prosentase aparat pemerintah dan tim konsultan di semua tingkatan telah direkrut dan berfungsi.

CAPAIAN PER 1 MEI 2012 96,27% (Aparat Pemerintah dan Konsultan); 100% Pelaku dari Aparat Pemerintahan; dan 109 Konsultan Hal ini berarti lebih dari angka yang ditetapkan >80%. 99,65% permasalahan yang telah diatasi/diselesaikan. Hal ini berarti lebih dari angka yg ditetapkan >60%. Total Kasus 289 Kasus Selesai 288 (99,65%) Kasus Proses 1 (0,35%) (Sumber Data HCU) 100% temuan studi dan monev yang digunakan untuk proses pengambilan keputusan dalam manajemen proyek. Hal ini berarti lebih dari angka yang ditetapkan >80%. Misalnya: 1. Mekanisme Pelaporan Berbasis MIS; 2. Outline Lapbul NMC, PMC, DMC; 3. Outline LPD; 4. Juknis Sertifikasi; 5. Panduan DOK 2010 dan Panduan DOK Revisi 2011; 6. Modul-Modul Pelatihan Pelaku; 7. Juknis Safeguard Penyaluran Dana DOK dan BLM; 8. Penilaian Kinerja Keuangan 9. Panduan Verifikasi dan Validasi Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 42

24.

% keluhan/pengaduan / permasalahan diselesaikan

>50%

>60%

>60%

Output

Prosentase permasalahan yang telah diatasi/diselesaikan.

25.

% M & E dan temuan penelitian yang digunakan dalam proyek proses pengambilan keputusan

>80 %

>80%

>80%

>80%

Output

Prosentase temuan studi dan monev yang digunakan untuk proses pengambilan keputusan dalam manajemen proyek

INDICATOR

2006/ 2007

2007/ 2008

2008/ 2009

2009/ 2010

OUPUT/ OUTCOME

INTERPRESTASI

CAPAIAN PER 1 MEI 2012 MIS; 10. Juknis Standarisasi Penyelesaian Keg. Sub Proyek Program P2DTK 11. Juknis Serah Terima dan Alih Kelola Hasil Pelaksanaan Kegiatan Program P2DTK; 12. Juknis Penggunaan Sisa Dana DOK dan BLM P2DTK; 13. Juknis Pengembalian Sisa Dana ke Kas Negara; dan 14. Outline Laporan Akhir NMC, PMC, DMC;

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 43

Tabel 10.02. Capaian Performance Indicator P2DTK Wilayah Nasional
PROJECT DEVELOPMENT OBJECTIVE Penguatan pemerintahan dalam mendukung pertumbuhan, dan meningkatkan penyediaan layanan di 32 kabupaten termiskin di Indonesia. OUTCOME INDICATORS Peningkatan akses terhadap biaya yang efektif, infrastruktur pedesaan yang kualitas tinggi (EIRR> 20%) melalui proses perencanaan partisipatif di 8 Provinsi. Peningkatan langkah alternatif dalam penyelesaian sengketa beserta mekanisme hukum oleh masyarakat untuk menyelesaikan sengketa secara damai di Propinsi Maluku. CAPAIAN PER 1 MEI 2012 Angka EIRR mencapai …. % yang berarti di atas angka yang ditetapkansebesar 20%. Total 32 Kasus • Pidana = 25 Kasus • Perdata = 7 Kasus • Sudah dilakukan pendidikan hukum kepada 3.622 orang dan sebanyak 58 orang sudah memanfaatkan media konsultasi hukum. (Sumber Data Form-6 MIS: Laporan MPHM, Juli 2011) 19.446 Daftar Usaha Baru yang terdaftar
a. Terdaftar 9.969 Usaha baru yang terdaftar untuk LPK-PSS (Lembaga Pelaksana Kegiatan Pengembangan Sektor Swasta) Wilayah Barat oleh YBKM di 4 Provinsi: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Bengkulu, dan Lampung b. Terdaftar 9.497 Usaha baru yang terdaftar untuk LPK-PSS (Lembaga Pelaksana Kegiatan Pengembangan Sektor Swasta) Wilayah Timur oleh Bina Swadaya di 4 Provinsi: Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan NTT

Peningkatan usaha baru yang terdaftar.

Peningkatan layanan kesehatan masyarakat (# pasien baru).

Kenaikan nilai ujian nasional di sekolah dasar di kabupaten sasaran.

1.500 orang petugas kesehatan telah mendapatkan pelatihan mengenai pelayanan kesehatan. 266 jenis pelatihan kesehatan yang diikuti total 6.808 anggota komite kesehatan dan tenaga kesehatan lainnya. (Sumber data MIS) Kenaikan nilai UN di SD di kabupaten sasaran:
• 2007 – 2008 rata-rata hasil UN sebesar 63 • 2008 – 2009 rata-rata hasil UN sebesar 58 • 2009 – 2010 rata-rata hasil UN sebesar 50

Kenaikan nilai UN di SMP di kabupaten sasaran:
• 2007 – 2008 rata-rata hasil UN sebesar 6,12 • 2008 – 2009 rata-rata hasil UN sebesar 6,08 • 2009 – 2010 rata-rata hasil UN sebesar 6,50

(Sumber data Puspendik “Pusat Penilaian Pendidikan” Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 44

PROJECT DEVELOPMENT OBJECTIVE

OUTCOME INDICATORS Berkurangnya/Penurunan Jumlah korban akibat konflik.

CAPAIAN PER 1 MEI 2012 Pendidikan Hukum = 3.470 org Konsultasi Hukum = 58 org (Sumber Data Form-6 MIS: Laporan MPHM)

Intermediate Outcomes Komponen Satu : Dana Grant Kecamatan Infrastruktur, Ekonomi, Kesehatan, Pendidikan, dan kegiatan sosial yang terkait dengan rekonsiliasi dan pembangunan yang diserahkan di tingkat kecamatan.

Intermediate Outcomes Indicators Komponen Satu : Pencairan 70% dari pembiayaan tahunan yang direncanakan dihibahkan di tingkat Kecamatan. Rata-Rata Pencairan DOK Kecamatan dan BLM Kecamatan sebesar 99,74% yang berarti di atas angka yang ditetapkan 70% • Pencairan DOK Kec.: Rp. 133.450.894.320,- (99,49%) • Pencairan BLM Kec.: Rp. 341.488.468.000,- (99,99%) (Sumber Data MIS) 92% kualitas infrastruktur di tingkat kecamatan klasifikasi 'memuaskan' menjadi 'axcellent‘. Hal ini berarti di atas angka yang ditetapkan 70%. (Sumber Data MIS) 846 sekolah dasar direhabilitasi yang berarti di atas angka yang ditetapkan 300 sekolah dasar direhabilitasi (Sumber Data MIS) 385 klinik kesehatan direhabilitasi yang berarti di atas angka yang ditetapkan 50 klinik kesehatan direhabilitasi (Sumber Data MIS) Rata-Rata Pencairan DOK Kabupaten dan BLM Kabupaten sebesar 99,35% yang berarti di atas angka yang ditetapkan 70% • Pencairan DOK Kab.: Rp. 21.146.385.765,- (100%) • Pencairan BLM Kab.: Rp. 261.280.388.644,- (98,69%) (Sumber Data MIS) 88 % kualitas infrastruktur di tingkat kabupaten klasifikasi 'memuaskan' menjadi 'axcellent‘. Hal ini berarti di atas angka yang ditetapkan 70%. (Sumber Data MIS)

70% dari kualitas infrastruktur di tingkat kecamatan klasifikasi 'memuaskan' menjadi 'axcellent‘. 300 sekolah dasar direhabilitasi.

50 klinik kesehatan direhabilitasi.

Komponen Dua : Dana Grant Kabupaten Infrastruktur, Ekonomi, Kesehatan, Pendidikan, dan kegiatan sosial yang terkait dengan rekonsiliasi dan pembangunan yang diserahkan di tingkat Kabupaten.

Komponen Dua : Pencairan 70% dari pembiayaan tahunan yang direncanakan dihibahkan kabupaten.

70% dari kualitas infrastruktur di tingkat kabupaten klasifikasi 'memuaskan' menjadi 'axcellent‘. Komponen Tiga : Dana Grant Kabupaten Komponen Tiga :

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 45

PROJECT DEVELOPMENT OBJECTIVE Bantuan Hukum & ADR, membentuk dan/atau diperkuat mekanisme formal dan informal bagi penyelesaian sengketa tingkat lokal.

OUTCOME INDICATORS 500 orang mendapatkan manfaat dan bantuan hukum dalam penanganan kasus melalui bantuan proyek.

CAPAIAN PER 1 MEI 2012 135.076 orang yang berarti di atas angka yang ditetapkan 500. Jumlah sangat besar karena Banyaknya kasus yang bersifat komunal (kelompok), sehingga jika: 1. Kasus selesai, maka penerima manfaatnya sejumlah orang pada komunal tersebut. 2. Terdapat 1 kasus di Tual mengenai pengungsi, yang mana bupati tual menetapkan bahwa 1 kasus tersebut memiliki jumlah pemanfaat sebesar 65.000 orang. (Sumber Data Form-6 MIS: Laporan MPHM) 58 dewan terdiri atas Dewan Kesehatan dan Dewan Pendidikan dilatih dan dibentuk melibatkan berbagai unsur pemerintah. Hal ini berarti di atas angka yang ditetapkan 35. • Terbentuk 26 Dewan Kesehatan; dan • Terbentuk 32 Dewan Pendidikan (Sumber Data dari Kabupaten) 21.612 Orang guru, kepala sekolah dan komite pendidikan anggota dilatih. Hal ini berarti di atas angka yang ditetapkan 10.0000. (Sumber Data MIS dan Rekap Pelaku Pendidikan ) 6.808 Orang petugas kesehatan menerima pelatihan dalam peningkatan layanan kesehatan. Hal ini berarti di atas angka yang ditetapkan 1.500. (Sumber Data MIS) Baru terbentuk 27 FSS (terdapat 7 FSS belum aktif). Hal ini berarti di atas angka yang ditetapkan 20 Kabupaten. (Sumber Data Laporan LPK-PSS) 2 Kabupaten di Provinsi NTT: (Kabupaten Alor dan Kabupaten Sumba Barat). Hal ini berarti di atas angka yang ditetapkan 7 Kabupaten. (Sumber Data Laporan PSS Sp. NMC SPADA) Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 46

Kesehatan dan Pendidikan Komite Kesehatan dan Pendidikan yang terbentuk terlibat dalam pelaksanaan perencanaan partisipatif dan penganggaran di wilayahnya (kabupaten).

35 komite kesehatan dan pendidikan dilatih dan dibentuk melibatkan berbagai unsur pemerintah

10.000 guru, kepala sekolah dan komite pendidikan anggota dilatih.

1.500 petugas kesehatan menerima pelatihan dalam peningkatan layanan kesehatan.

Mempromosikan Investasi Forum Usaha yang dibentuk oleh pemerintah dan berfungsi (Out put yang dikerjakan oleh FSS). Penilaian hambatan untuk pengembangan sektor swasta lokal selesai di 20 kabupaten. Rekomendasi forum usaha untuk perbaikan peraturan yang tersedia di tujuh kabupaten.

PROJECT DEVELOPMENT OBJECTIVE Komponen Empat : Dukungan implementasi Struktur Pelaksanaan dari pemerintah, pengadaan dan bantuan teknis untuk proyek yang telah ditetapkan dan berfungsi.

OUTCOME INDICATORS

CAPAIAN PER 1 MEI 2012

> 70% Konsultan yang direncanakan berada di awal siklus tahunan.

Komponen Lima : Monitoring dan Studi Khusus

Berfungsinya sistem MIS.

Baseline survei, studi dampak dan studi tematik yang telah selesai

Awal Januari 2012 (Pelaksanaan Optimalisasi P2DTK TA. 2011) 96,55 % konsultan di lapangan. (56 Konsultan yang aktif, dari 58 konsultan yang seharusnya dikarenakan adanya kekosongan untuk Gender Sp. NMC dan Participative Training Sp. NMC). a. DMC 28 Orang dari 28 Orang seharusnya (100%) b. PMC 10 Orang dari 10 Orang seharusnya (100%) c. NMC 18 Orang dari 20 Orang seharusnya ( 90%), termasuk Senior FM Consultant dan Senior Procurement Consultant Hal ini berarti di atas angka yang ditetapkan >70%. (Data NMC SPADA) 100% Aplikasi MIS sudah berjalan optimal untuk: a. 8 (Delapan) Provinsi untuk SPADA Nasional, yang mana per Desember 2011 sudah selesai dilaksanakan b. 2 (Dua) Provinsi wilayah Optimalisasi sedang berjalan dan berfungsi dengan baik (Data Lembar Pantau MIS SPADA) Sudah dilakukan Output Study yang dilaksanakan pada Maret 2012 – Mei 2012

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 47

Pembentukan PSS – Bagian 11

Tabel 11.01. Rekapitulasi Pembentukan FSS dan Kegiatan Lainnya Pembentukan FSS Bulan/Tahun Terbentuk Sudah, Okt 2010 Sudah, Okt 2010 Sudah, Okt 2010 Sudah, Mei 2011 Sudah, Okt 2009 Sudah, Okt 2009 Sudah, Okt 2009 Sudah, Des 2009 Sudah, Nov 2009 Sudah, Mei 2009 Sudah, Apr 2009 Sudah, Okt 2009 Sudah, Mei 2009 Sudah, Juni 2009 Sudah, Juli 2009 Sudah, Juni 2009 Sudah, Okt 2009 Sudah, Juni 2009 Sudah, Juli 2009 Sudah, Des 2009 Sudah, Juli 2009 Sudah, Juli 2009 Sudah, Mei 2009 Sudah, Juli 2009 Sudah, Nov 2009 Sudah, Okt 2009 Sudah, Okt 2009 Sudah, Okt 2009 Sudah, Juli 2009 100% Penilaian Permasalahan & Hambatan Usaha Sektor swasta FGD Kecamatan Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah 100% Baseline Survey Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah 100% Studi Kebijakan Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah 100%

Kabupaten Bengkulu Bengkulu Selatan Seluma Kepahiang Lampung Way Kanan Kalimantan Barat Bengkayang Sanggau Sambas Kalimantan Tengah Kotim Katingan NTT Belu Sumba Barat Timor Tengah Selatan Lembata Alor Flores Timur Sulawesi Tengah Poso Tojo Una-Una Morowali Banggai Maluku Maluku Tenggara Seram Bagian Timur Maluku Tengah Buru Maluku Tenggara Barat Maluku Utara Halmahera Utara Kepulauan Sula Halmahera Tengah Halmahera Barat Halmahera Selatan 29 Kabupaten
Sumber: Data PSS

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 48

Pengaduan dan Penanganan Masalah (HCU) – Bagian 12

Tabel 12.1. Rekap penyimpangan/penggunaan dana oleh konsultan dan pelaku Lain thn 2008 s.d April 2012
No
1

Kasus
PP Kom meminjamkan dana DOK untuk kepentingan probadi FK mengelola sebagian dana DOK utk biaya foto copy dan pembuatan cap (Dwi Astuti)

Lokasi Kec/Kab/Pr ov
Kab Halmahera Selatan, Maluku Utara Kec Kao, Kab Halut, Maluku Utara

Bln/Thn/ Kejadian
Maret 2008

Bln/Thn Selesai
April' 2009

Penyimpangan
5,000,000

Pengembalian
5,000,000

Sisa
0

Langka Penanganan
FK harus tetap mengawasi penggunaan dana DOK maupun BLM agar tidak terjadi penyalahgunaan dana lagi. Kepada KM kab, segerah melakukan fasilitasi pertemuan agar memintahkan pertanggung jawaban FK atas penggunaan dana tersebut, dan segerah mengembalikan Kepada DMC melakukan fasilitasi pertemuan bersama ketua dan sekretaris forum, agar pelaku segarah mengembalikan dana tersebut Dana DOK tidak boleh dipakai untuk membiayai kegiatan BLM , dan segarah di alokasikan untuk perencanaan

Status Selesai/Proses Progres
Selesai Di kembalikan oleh pelaku dgn bukti kwitansi dan BA Selesai Dekembalikan oleh pelaku dengan bukti kwitansi dan BA

2

Pebruari' 2008

Juli ' 2008

0 2,000,000 2,000,000

3

FK (sutikno haya) menggunakan dana DOK dan BLM dgn alasan pembuatan laporan bulanan program FK (halik shadin) dan PP Kom mencairkan dana DOK untuk kegiatan BLM, namun dana yg dicairkan tdk sesuai dgn realisasi di TPK Mantan FK (yano purwanto) melakukan kesalahan perencanaan dan mekanisme pengelolaan dana, sehingga terjadi penyimpangan DOK Kec Terjadi penyimpangan presedur dan mekanisme program dengan tidak adanya pembuktian dokumen administrasi pengelolaan BLM dan DOK

Kec Tobelo Selatan, Kab Halut, Maluku Utara Kec. Molselbar, Kab Halut, Maluku Utara Kec Kapuas, Kab sanggau, kalbar

Oktober' 2008

April, 2009

0 7,000,000 7,000,000

Selesai Danah di kembalikan oleh pelaku dengan bukti kwitansi dan BA Selesai Dana yang dipinjamkan sudah dikembalikan ke rekening. DOK dan telah di manfaatkan untuk pelaksanaan kegiatan. Selesai dikembalikan oleh pelaku, dengan bukti kwitansi dan pelaku di PHK

4

April' 2008

Oktober 2009

0 82,000,000 82,000,000

5

Pebruari 2008

Pebruari 2008

0 13,500,000 13,500,000

Kepada KM kab agar melakukan pembinaan kepada FK terkait dengan tupoksinya

6

Kec Kei Besar Selatan, Kab MalTeng

Juni 2008

Oktober 2009

0 1,500,000,000 1,500,000,000

DMC agar meningkatkan monitoreing dengan melakukan pemerikasaan dokumen secara rutin, sehingga tidak terjadi penyimpangan mekanisme .

Selesai semua dokumen pencairan telah dilengkapi dan telah di ferifikasi oleh KM Kab, PMC dan NMC

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 49

No
7

Kasus
FK menggunakan dana DOK Kec untuk kepentingan pribadi

Lokasi Kec/Kab/Pr ov
Kec Morselbar, Kab Halut, Maluku Utara Kec Kei Besar Selatan, Kab maluku tenggara, Maluku Kec Solabesi barat, Kab Sula, Maluku Utara Kec Kolbano, kab TTS, NTT

Bln/Thn/ Kejadian
Desember 2008

Bln/Thn Selesai
Juni 2099

Penyimpangan
7,000,000

Pengembalian
7,000,000

Sisa
0

Langka Penanganan
KM-Kab harus memfasilitasi penyelesaian permasalahan tsb dengan melibatkan semua pelaku di Tobelo Selatan DMC agar melakukan falitasi dengan menghadirkan pelaku, agar dana segrah di kembalikan

Status Selesai/Proses Progres
Selesai dikembalikan oleh perusahaan dengan bukti kwitansi dan BA

8

9

FK (karel marwanaja) menggunakan dana transport FD, dan dana AO UPK untuk kepentingan pribadi FK (abubakar rahman) menggunakan dana DOK untuk kepentingan pribadi mantan FK (johanis rajalanggo) menggunakan dana BLM kec untuk kepentingan pribadi Ketua UPK dan Satker Kec menggunakan dana DOK kec siklus 2, alokasi untuk pembayarn honor FD KM Kab Infra menggunakan dana BLM kab alokasi untuk 4 sub perojek

2008

Nopemb er 2009

0 13,975,000 13,975,000

Selesai digantikan oleh Perusahaan, bukti kwitansi dan BA dan pelaku di PHK

Septembe r 2008 Agustus 2008

April' 2009

0 16,000,000 16,000,000

10

Januari 2009

0 24,000,000 24,000,000

11

12

Kec Seruyan Hulu kab Seruyan, Kalteng Kab Bengkulu Selatan, Bengkulu

Juni 2008

Juli 2008

0 20,000,000 20,000,000

KM-Kab harus memfasilitasi penyelesaian permasalahan tsb , dengan pembahasan dalam forum, agar dana segrerah dikembalikan KM Kab, segerah melakukan infestigasih dan memfasilitasi forum khusus untuk membahas masalah tersebut dengan tujuan dana harus dikembalikan dan pelaku harus di PHK oleh Perusahan Dana DOK tidak boleh dipakai untuk membiayai honor pelaku, apabila dana BLM di cairkan segerah di kembalikan PMC Segerah melakukan infestigasi penggunaan dana tersebut, dan melakukan musyawrah khusus dan hasilnya dapat di bicarakan dengan pihak perudahan FK segerah segerah melakukan fasilitasi penyelesaian masalah ini dengan pelaku agar dana dikembalikan dengan batas waktu Km Kab memfasilitasi pertemuan dengan Satker, PP Kom, agar menjelaskan alokasi penggunaan dana DOK dan BLM

Selesai dikembalikan oleh pelaku dengan bukti kwitansi dan BA yang di ttd oleh Satker Kabupaten. Selesai pelaku mengembalikan ke UPK dengan bukti kwitasi dan BA

Selesai Honor FD sudah dibayarkan oleh UPK

2009

Pebruari 2011

0 150,200,000 150,200,000

Selesai dana di tanggulangi oleh perusahan dengan bukti setoran ke rek RGB, pelaku diberhentikan sebelum diketahui adanya penyimpangan Selesai dikembalikan oleh pelaku dengan bukti kwitansi dan BA Selesai Danah sudah di masukan kembali ke rekening program

13

Bendahara TPK munggunakan dana A/O untuk kepentingan pribadi TK Kab memerintahkan 5 TPK Desa agar menyetor sisa pembayaran honor FD ke kas negara

14

Kab Halmahera Tengah, Maluku Utara Kec Bahuga dan Kec negeri besar, Kab Way Kanan, Lampung

Juli 2009

Oktober 2009

0 25,000,000 25,000,000

Nopember 2009

Desemb er 2009

0 8,000,000 8,000,000

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 50

No
15

Kasus
Ketua TPK Pemuda menggunakan dana BLM alokasi utk pembelian alat olah raga Kesalahan perhitungan RAB sehingga terjadi kelebihan biaya dlm kontrak perbaikan jembatan desa KetuaTPK bekerja tdk sesuai dgn mekanisme program, sehingga terjadi penyimpangan dana Penyimpangan BLM kab oleh ketua UPKD Bid Kesehatan, alokasi untuk upah kerja TPK meminjamkan dana DOK ke pihak lain

Lokasi Kec/Kab/Pr ov
Kec Negeri Agung, kab Way Kanan, Lampung Ds Sekaru, Kec Teriak, kab Sambas, kalbar Ds Suka Gerundi, Kec Perindu, Kab Sanggau, Kalbar Kab Maluku Tenggara Barat, Maluku Kec Mongoli Barat, Kab Sula, Maluku Utara Kec Kao, Kab Halut, Maluku Utara Kec Tebet Karai, Kab kepahiang, Bengkulu Kec namlea, Kab Buru, maluku

Bln/Thn/ Kejadian
Maret 2009

Bln/Thn Selesai
Desemb er 2009 April' 2009

Penyimpangan
16,000,000

Pengembalian
16,000,000

Sisa
0

Langka Penanganan
Pelaku harus segera mengembalikan dana yang diseleweng-kan. Dgn mekanisme dilakukan fasilitasi oleh FK bersama pelaku di tingkat kecamatan Ketua UPKD Infrastruktur agar memerintahkan dan memastikan rekanan untuk melakukan pekerjaan tambahan senilai 20 Jt FK segera memfasilitasi penyelesaian masalah tersebut, agar dana segerah dikembalikan

Status Selesai/Proses Progres
Selesai Dana dikembalikan oleh pelaku dgn bukti kwitansi, BA di katahui oleh Camat (juga pembelian alat olah raga Selesia UPKD Bid Infra telah menandatangani surat keterangan terkait dengan kelebihan tersebut, sehingga RAB telah disesuaikan dengan alokasi dana Selesai dilakukan pendampingan oleh KM Kab, dan dana telah di salurkan sesuai dgn RAB, dan sudah direalisasikan dengan pembayaran honor FD Selesai dikembalikan dengan menyelesaikan pembayaran upah kerja Selesai Dana yang dipinjamkan sudah dikembalikan ke rekening. DOK dan telah di manfaatkan untuk pelaksanaan kegiatan. Selesai Dana dikembalikan oleh Perusahan (PT Artistika) dengan bukti kwitansi dan BA Selesai hasil putusan PN Kepahiang, masing-masing di hukum 2 thn penjara dan denda 50 juta dan 101 juta, bukti Amar Putusan PN Selesai ditanggulangi oleh TK Kab, dengan bukti transfer ke Rek BLM

16

Maret 2009

0 20,000,000 20,000,000

17

Januari 2009

januari 2009

0 20,000,000 20,000,000

18

Pebruari 2009 Januari 2009

Juli 2010 April' 2009

0 7,015,000 7,015,000 0 6,000,000 6,000,000

Pelaku harus mengembalikan Dana DOK.Kec.Kur, dan harus dikenakan kode etik Dana kegiatan tidak boleh dipinjamkan kepada siapapun TPK harus mengembalikan dana tsb HCU Malut bersama-sama KM-Kab akan turun kelokasi guna investigasi masalah ini. Fk, segerah memfilitasi forum musyawarah khusus untuk pembahasan masalah tersebut, agar TPK segerah mengembalikan dana yang sudah digunakan Fk, segerah memfilitasi forum musyawarah khusus untuk pembahasan masalah tersebut, agar UPK segerah mengembalikan dana yang sudah digunakan Kepada ketau TPK agar segerah mengembalikan dana tersebut, agar sisah pekerjaan segerah dilanjutkan

19

20

21

Mantan KM-Kab (halik sadin) mengambil dana BLM Kab bidang Pendidikan dari UPKD pendidikan Ketua dan Sekretaris TPK menggunakan dana BLM Kec, alokasi untuk kegiatan Drainase Bendahara UPK menggunakan dana BLM untuk kepentingan pribadi

April , 2009

Juni' 2009

0 13,975,000 13,975,000

Mei 2009

Pebruari 2011

0 151,951,840 151,951,840

22

2009

Pebruari 2010

0 30,746,962 30,746,962

23

Ketua TPK Menggunakan dana BLM alokasi utk kegiatan MCK

Ds Sawa, Kec Namlea, Kab Buru, Maluku

Juli ' 2009

Nopemb er 2009

0 4,000,000 4,000,000

Selesai diselesaikan dengan membelanjakan matrial (semen, closed, upah kerja)

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 51

No
24

Kasus
sisa dana BLM Kab, bid Pendd siklus 1 dan 2, tdk direalisasikan utk kegiatan pelatihan MBS, namun sudah dilaporkan bahwa kegiatan sudah 100% Mantan KM Kab Infra (ahmad hidayat) menggunakan dana A/O UPKD Pendd untuk kepentingan pribadi Mantan KM Kab Infra (Heru Alamwijaya) Menggunakan dana DOK Kec untuk kepentingan pribadi mantan FK (awaludin karim) mengelola dana DOK siklus 3 tahap 1 Ketua UPK menggunkana dana HOK alokasi untuk kegiatan pembanguna dua unit pos yandu (Ofinang Manu, ST) Bendahara UPK menggunakan dana BLM untuk kepentingan pribadi

Lokasi Kec/Kab/Pr ov
Kab Halmahera Selatan, Maluku Utara

Bln/Thn/ Kejadian
Desember 2009

Bln/Thn Selesai
Januari 2010

Penyimpangan
60,000,000

Pengembalian
60,000,000

Sisa
0

Langka Penanganan
Sisa dana segera dialokasikan untuk kegiatan siklus 3.

Status Selesai/Proses Progres
Selesai Sisa dana telah disetor dari mantan ketua UPKD ke ketua UPKD baru, dan kegiatan pelatihan sudah selesai dilaksanakan

25

Kab Halmahera Tengah, Maluku Utara Kec PP Kur, Kab Maluku Tenggara, Maluku Kec patani Utara, kab Halteng, Maluku Utara Kec Oenino, Kab TTS, NTT

Juni 2009

Agustus 2009

0 15,000,000 15,000,000

KM-Kab harus melakukan audit ke Bendahara UPKD pendidikan untuk memastikan penyalahgunaan dana tersebut Pelaku harus mengembalikan Dana DOK.Kec.Kur, dan harus dikenakan kode etik KM-Kab segera melakukan audit terhadap dana2 yang dikelola mantan FK tersebut untuk kemudian diminta pertanggungjawabannya. Kepada DMC segera proses baik hukum formal maupun non formal agar menyelamatkan dana tersebut.

Selesai dikembalikan oleh perusahaan, dengan bukti kwitansi dan BA

26

Desember 2009

Pebruari 2010

0 4,000,000 4,000,000

Selesai Di tanggulangi oleh pihak perusahan (PT Idikajang) , pelaku melarikan diri Selesai dana dikembalikan oleh pelaku degan bukti setoran kembali ke rekening DOK, dengan mekanisme tiga kali angsuran Selesai Dana dikembalikan oleh pelaku dengan cara menyicil dan menyetor ke UPK dengan bukti kwitansi dan BA Selesai, dana dikembalikan oleh pelaku dengan mekanisme di setor ke rekening BLM, (ada bukti setoran)

27

Desember 2009

Maret 2010

0 66,650,000 66,650,000

28

Septembe r 2009

Oktober' 2009

0 23,650,000 23,650,000

29

30

Kades mengambil alih perkerjaan pipanisasi dari TPK Desa termasuk sisa dana BLM Penyimpangan BLM kabupaten alokasi untuk pembukaan jalan baru sepanjang 12 km oleh pelaku program dan konsultan (ketua dan bendahara UPKD Infra, KM Kab Infra,

31

Kec Bahodapi, Kab Morowali, SulTeng Ds Tilong, Kec Bungku Utara, Kab Morowali, Sulteng Ds Tumbang Setawari kec Seruyan Hulu Kab Seruyan, Kalteng

Oktober 2009

Maret 2010

0 25,000,000 25,000,000

FK memfasilitasi pertemuan agar pelaku mengembalikan dana tersebut

Oktober 2009

Septemb er' 2010

0 12,500,000 12,500,000

Dikoordinasikan dengan pelaku-pelaku terkait untuk penyelesaiannya

Selesai Pekerjaan di selesaikan oleh TPK , dalam bentuk pembelian material (pipa, semen, kran air, pasir) dan upah kerja) Selesai Sudah ada putusan hukum tetap di Pengadilan Negeri Kotawaringin Timur, para pelaku (5 orang) di hukum 1 s.d 2 thn dengan denda berfariasi0

2009

Agustus 2009

0 308,778,075 308,778,075

PMC melakukan infestigasi dan melakukan fasilitasi penyelesaian bersama pihak penyidik

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 52

No

Kasus
Kontraktor dan pemilik perusahan.

Lokasi Kec/Kab/Pr ov

Bln/Thn/ Kejadian

Bln/Thn Selesai

Penyimpangan

Pengembalian

Sisa

Langka Penanganan

Status Selesai/Proses Progres

32

33

Admistrasi pembukuan di Satker belum lengkakap sehingga terindikasi penyimpangan dana (temuan wb) Penyimpangan dana BLM Kecamatan oleh ketua TPK (Erlansya) alokasi untuk kegiatan pembuatan Drainase 500 m

Kab Halmahera Utara, Maluku Utara Desa Tebet karai, Kecamatan Tebet karai, Kab Kepahiang, prov Bengkulu Desa Tebet karai, Kecamatan Tebet karai, Kab Kepahiang, prov Bengkulu Kab Halmahera Utara, Maluku Utara Kab Halmahera Utara, Maluku Utara Kab Halmahera Utara, Maluku Utara Kab Halmahera Utara, Maluku Utara

Maret 2009

Juni' 2010

0 46,826,772 46,826,772

Km Kab memfasilitasi perbaikan administrasi di Satker dan UPKD

Selesai dokumen pembukuan sda dilengkapi termasuk kwitansi

Mei 2009

Mei 2009

0 101,951,840 101,951,840

Kelurahan Tebat Karai sudah diberikan sanksi Kelurahan bermasalah dan tidak ikut serta dalam kegiatan siklus 3 dan saudara Erlansyah tetap harus menyelesaikan kegiatan sisa 20% dan diproses secara hukum sesuai dengan kesepakatan

Selesai Putusan Pengadilan Negeri Kepahian, tgl 8 Peb 2011, pelaku di hukum 2 thn penjara, dan denda 101.951.840

34

Penyimpangan dana BLM Kecamatan oleh Sekretaris TPK (Garda Tarmisi) alokasi untuk kegiatan pembuatan Drainase 500 m

Mei 2009

Mei 2009

50,000,000

50,000,000

-

Kelurahan Tebat Karai sudah diberikan sanksi Kelurahan bermasalah dan tidak ikut serta dalam kegiatan siklus 3 dan saudara Garda tetap harus menyelesaikan kegiatan sisa 20% dan diproses secara hukum sesuai dengan kesepakatan UPKD segera melengkapi dokumen administrasi sesuai dengan pengeluaran

Selesai Putusan Pengadilan Negeri Kepahian, tgl 8 Peb 2011, pelaku di hukum 2 thn penjara, dan denda 101.951.840

35

36

37

38

Pengeluaran dana BLM kab oleh UPKD Infra, tidak dilengkapi dengan bukti/kwitansi Pengeluaran dana BLM Kec oleh UPK, alokasi untuk pembelanjaan kaos FD tidak dilengkapi dgn bukti kwitansi pembelian UPKD Bid Kesehatan menggunakan dana BLM Kab untuk pembiayaan honor UPKD Pengeluaran dana DOK Kab, untuk kegiatan penyebaran undangan, ATK, Transport, tidak dibuktikan dgn bukti

Maret 2010

Agustus 2010

0 8,500,000 8,500,000

Selesai semua bukti telah dilengkapi dan telah di ferifikasi oleh KM Kab

Pebruari 2010

Agustus 2010

0 13,000,000 13,000,000

FK memfasilitasi UPK agar melengkapi bukti-bukti kwitansi yang belum lengkap

Selesai UPK sudah meindaklanjuti dengan melengkapi bukti pembelajaan

Pebruari 2010

Agustus 2010

0 6,250,000 6,250,000

Dana segera dikembalikan oleh UPKD dan dialokasikan untuk kegiatan fisik sesuai RAB TPK kab segera melengkapi bukti-bukti kwitansi sesuai dengan pengeluaran

Selesai dana sudah dikembalikan ke Rek RGB

Maret 2010

Agustus 2010

0 6,024,000 6,024,000

Selesai telah ditindaklanjuti oleh TPK kab dengan melengkapi bukti kwitansi

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 53

No
kwitansi

Kasus

Lokasi Kec/Kab/Pr ov

Bln/Thn/ Kejadian

Bln/Thn Selesai

Penyimpangan

Pengembalian

Sisa

Langka Penanganan

Status Selesai/Proses Progres

39

40

Pengeluaran dana BLM kab untk kegiatan pelatihan guru klaster 1 dan 2, serta dana A/O di serahkan ke kadis tidak ada bukti pengeluaran serta bukti infice hotel Ketua UPK menggunakan dana BLM Kec alokasi untuk pembelanjaan pakain seragam sekolah FK (Elisa R mesimaran) enggunakan dana BLM Kec, dgn cara meminjamkan dari suplayer Pendamping Lokal (PL) mengambil dana BLM Kec alokasi kegiatan jaringan listrik di desa Banjar Wangi, Kec Kota Bumi Utara, Kab Lampung Utara, lampung Mantan KM Kab Infra (Ir Gunawan) menerima dana BLM Kab dari ketua UPKD Bid Infra 6 tahap masingmasing tahap 6% pada saat penyaluran KM Kab Menggunakan dana BLM Kab untuk kegiatan studi banding di Makasar KM Kab Menggunakan dana BLM Kab untuk kegiatan studi banding di Makasar

Kab Halmahera Utara, Maluku Utara

Maret 2010

Juli 2010

0 44,280,000 44,280,000

TPK kab segera melengkapi bukti-bukti kwitansi sesuai dengan pengeluaran

Selesai KM Kab sudah melakukan verifikasi semua bukti pengeluaran/kwitansi, sudah dilengkapi oleh TPK kab

41

42

Kec kayoa kab Halmahera Selatan, Maluku Utara Kec, Wuarlabobar, Kab Maluku Tenggara barat, Maluku Kec Kota Bumi Utara, Kab lampung Utara, lampung kab Kepahiang, Bengkulu

Pebruari 2010

Pebruari 2011

0 10,000,000 10,000,000

FK memfasilitasi pertemuan bersama ketua UPK, segera mengembalikan dana tersebut

Selesai dana dikembalikan ke rekening BLM, dan pelaku di hukum 1,7 bulan sesuai hasil putusan PN Labuha Selesai dana di tanggulangi oleh perusahan (PT Idikajang) dengan buti setoran ke pihak ke 3

Pebruari 2010

Nopemb er 2010

0 3,000,000 3,000,000

FK diperintahkan mengembalikan Dana BLM kepada Suplayer

Oktober 2010

Pebruari 2011

0 71,500,000 71,500,000

Pelaku harus segera mengembalikan dana tersebut kepada TPK Jaringan Listrik Desa Banjar Wangi dan selanjutnya dibayarkan kepada Pihak Ketiga yang melaksanakan pekerjaan. PMC Melakukan infestigasi, dan mengaudit pembukuan dan tahapan pencairan

Selesai Dana sudah diserahkan 100% oleh TPK ke sdr Julius yang adalah perwakilan dari pihak ke 3, dan pihak ke 3 tetap menyelsaikan sisa pekerjaan Selesai Hasil investigasi PIU, NMC, PMC, tidak menemukan bukti yang kuat menyatakan bahwa dana tersebut digunakan oleh mantan KM Kab Selesai Dana sudah di setor ke rekening DOK oleh perusahan dan ada bukti BA Selesai Dana sudah di setor ke rekening DOK oleh perusahan (PT Prismeita) dan ada bukti BA

43

Januari 2010

Januari' 2010

0 96,425,517 96,425,517

44

Kab Seram Bagian Timur, Maluku Kab Seram Bagian Timur, Maluku

Nopember 2010

Januari 2011

0 7,550,000 7,550,000

45

Nopember 2010

Januari 2011

0 4,000,000 4,000,000

Pelaku segara mengembalikan dana tersebut, karenah dana BLM Kab tidak dialokasikan untuk kegiatan sudi banding kunsultan Pelaku segara mengembalikan dana tersebut, karenah dana BLM Kab tidak dialokasikan untuk kegiatan sudi banding kunsultan

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 54

No
46

Kasus
Ketua UPK menggunakan dana BLM Kec siklus 3 untuk kepentingan pribadi Sdr Ikhram FK tanjungbunga dan Ketua UPKD menggelapkan dana Program P2DTK Kec Tanjungbunga Kab Flores Timur (2011) Terdapat sisa dana DOK Kabupaten TA 2010 di rekening Terdapat sisa dana BLM Kabupaten UPKD Infra alokasi untuk pembayaran 20% pekerjaan talud penahan tanah

Lokasi Kec/Kab/Pr ov
Kec Saluma Barat, Kab Saluma, Bengkulu Kec Tanjungbung a Kab Flotim NTT

Bln/Thn/ Kejadian
Januari 2010

Bln/Thn Selesai
Januari 2010

Penyimpangan
50,000,000

Pengembalian
50,000,000

Sisa
0

Langka Penanganan
Segara dikoordinasikan dengan Ketua Forum, Camat/PPKom, Kades, BPD serta mengadakan pertemuan/musyawarah Kepada DMC segera membuat Musyawarah Khusus untuk meminta pertangjawaban FK, agar dana segera dikembalikan sebelum Agustus 2011

Status Selesai/Proses Progres
Selesai dikembalikan oleh pelaku dengan bukti transver rekening BLM dan ada BA Selesai 1. Di proses hukum (penyidikan oleh kepolisian) , dan dana akan dikembalikan ke kas negara 2. Penyelesaian kegiatan oleh masyarakat dengan swadaya Selesai satker meneyetor kembali sisa dana tersebut ke kas negara

47

Juni 2011

Juni' 2011

0 97,645,688 97,645,688

49

Kab Maluku Tengah Maluku Negeri Kobisonta, Kec Seram Utara, Kab Maluku Tengah Maluku Kel Ampera, Kecamatan Kota Masohi, Maluku Tengah, Maluku Kec. Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil. ACEH

Januari' 2011

Agustus' 2011

16,053,166

16,053,166

PMC melakukan koordinasi dengan Satker agar sisah dana tersebut segera di setor ke kas negara Mengingat DMC sudah di mobilisasi, maka PMC segera melakukan koordinasi dengan satker, dan dilakukan tinjauan lapangan untuk melihat pelaksanan fisik, agar dilakukan pembayaran sesuai nilai kontrak

50

Januari'20 11

Agustus' 2011

61,969,678

61,969,678

Selesai Dana digunakan untuk membayar sisa pekerjaan dan sisanya di setor ke kas negara

51

Ketua TPK menggunakan dana BLM untuk kepentingan pribadi

Juni' 2009

April' 2010

60,000,000

60,000,000

-

PMC dan DMC, agar secara rutin berkoordinasi dengan Tim Koordinasi, Satker, Lurah, menindak lanjuti hasil kesepakatan yang sudah di buat oleh pelaku PIU, NMC dan PMC melakukan koordinasi dengan pemda kab Singkil (Tk Kab, Satker, UPKD) agar sisa dana segera di kembalikan ke kas negara, mengingat batas waktu closing date program, dimana perkerjang tidak mungkin dilanjutkan lagi

Selesai : Dana di kembalikan oleh pelaku secara bertahap, dengan mekanisme di setor ke UPK dengan bukti kwitansi dan BA, sisanya Rp. 2 juta di setor ke kas negara. Selesai Pihak ke tiga sudah mengembalikan sisa ke satker dan satker sudah menyetor ke kas negara

52

Kualitas pembangunan jembatan gantung di desa Serasah, tidak sesuai dengan desain dan RAB

Oktober'2 010

Mei'201 1

247,904,083

247,904,083

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 55

No
53

Kasus
Terdapat sisa dana DOK Kabupaten alokasi untuk pelaksanaan pelatihan Tim Pemelihara

Lokasi Kec/Kab/Pr ov
Kab TTS, NTT

Bln/Thn/ Kejadian
Juli'2011

Bln/Thn Selesai
Oktober' 2011

Penyimpangan
30,643,643

Pengembalian
30,643,643

Sisa
-

Langka Penanganan
PMC melakukan koordinasi dengan Satker agar sisa dana tersebut segerah di setor kembali ke kas negara, mengingat semua kegiatan sudah closeng per Agustus 2011 sesuai surat Deputi V KPDT 1. UPKD Pendidikan akan membuat surat kepada CV pelaksana utk meminta pertanggung jawaban pelaksana pekerjaan atau sebagai tindakan terakhir pihak CV. KSU Bumoe Lestari mengembalikan uang muka 30% dan denda 5% dari total nilai kontrak dan black list perusahaan sesuai dengan ketentuan kontrak yang berlaku. 2. Mengingat langaka pertama tidak bisa terealisasi, maka PMC memfasilitasi forum musyawara khusus agar memutuskan kasus tersebut, apakah dilanjutkan ke jalur hukum (litigasi) atau di serahakan ke pemda

Status Selesai/Proses Progres
Selesai Satker sudah menyetor ke kas negara

54

Pihak ke III pada kegiatan Multi Media pada hingga saat ini belum dilaksanakan walaupun sebelumnya pihak tersebut (CV. KSU Bumoe Lestari) telah membuat surat Berita Acara kesanggupan melaksanakan kegiatan diminggu ke tiga bulan Desember 2009 kepada UPKD namun hingga saat ini Kegiatan tersebut belum terealisasi.

Kab, Pidie, Aceh

April' 2009

Mei 2009

124,965,000

124,965,000

-

Selesai Pihak ke tiga sudah mengembalikan sisa ke satker dan satker sudah menyetor ke kas negara

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 56

No
54

Kasus
PP Kom dan UPK menggunakan dana BLM siklus 1 dan 2 sehingga kegiatan belum bisa di selesaikan

Lokasi Kec/Kab/Pr ov
Kec.Morotai Selatan Barat Kab.Halmahe ra Utara

Bln/Thn/ Kejadian
Juni' 2009

Bln/Thn Selesai
Juli' 2009

Penyimpangan
64,840,000

Pengembalian
22,535,000

Sisa
42,305,000

Langka Penanganan
1. PMC berkoordinasi dengan TK Provinsi, dan Kab agar mendesak mantan PP Kom dan UPK segera melanjutkan sisa pekerjaan 2. Mengingat PP Kom sulit di temukan, maka PMC segerah memfasiltasi forum khusus agar dibahas kasus tersebut dengan tujuan di lakukan proses litigasi (hukum) atau di tindaklanjut oleh pemda

Status Selesai/Proses Progres
Proses 1. Progres terakhir Desember 2010, Beberapa kegiatan telah iselesaikan oleh UPK dan TPK dengan pengawasan FK. KM-Kab akan melakukan monitoring untuk memastikan pelaksanaan kegiatan tsb. 2. Pelaku sulit di hubungi, bahkan informasih pelaku sudah di luar daearh dan sulit di temukan 3. tgl 31 Oktober Hasil konfirmasih dengan PMC pelaku sulit di hubungi, dan pihak satker juga kesulitan menemuai pelaku. 4. Terhadap kasus ini, oleh Satker dan Tim koordinasi sudah sangat sulit di tindak lanjut, karenah pelaku juga sudah sulit ditemukan. Selesai 1. Tgl 17 Pebruari 2012, dilaksanakan forum khusus di kecamatan dengan hasil, diberikan kesempatan dengan batas waktu tgl 21 pebruari apabila pelaku tidak mengembalikan dana, maka tgl 22 pebruari kasus tersebut akan dilaporkan ke kepolisian. 2. Tgl 20 Pebruari 2012, keluarga Desem mengembalikan dana sebesar Rp. 37 juta, sisa 15 juta akan diselesaikan paling lambat tgl 28 Pebruari 2012 3. . Tanggal 15 April 2012, keluarga Desem engembalikan sisa dana Rp. 15 juta kepada UPK dengan bukti kwitansi dan BA, sisa dana tersebut digunakan untuk menyelesaikan sisa kegiatan, dan hasil monitoring kegiatan pembangunan jembatan sudah selesai 100%.

55

Sdr Desem FK Kec Oenino menggunakan dana BLM Kec 2010 alokasi kegiatan pembangunan jembatan (2011)

Kec Oenino Kab TTS NTT

Pebruari' 2011

Septemb er' 2011

52,701,000

52,701,000

-

HCU PMC segerah menyampaikan bukti-bukti penyimpangan dana kepada KM Provinsi PNPM-MP agar dilakukan tindaklanjut penangananan dengan melakukan hearing kode etik di PNPM MP

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 57

No
56

Kasus
Pihak ke 3 (CV Mitra Sejati Konstruksi) belum mengembalikan uang muka 10 % alokasi pembelain mesin diesel generator di desa Pulau Tiga

Lokasi Kec/Kab/Pr ov
Kab Morowali, Sulawesi Tengah

Bln/Thn/ Kejadian
Desember "2011

Bln/Thn Selesai
januari"2 012

Penyimpangan
25,190,000

Pengembalian

Sisa
25,190,000

Langka Penanganan
PMC melakukan koordinasi secara rutin dan mendorong Satker menyurati pihak ketiga agar segera mengembalikan dana tersebut ke kas negara, sesuai dengan perintah bupati pada saat pengresmian mesin genset di desa pulau tiga pada tanggal 20 maret 2012

Status Selesai/Proses Progres
Proses 1. Tanggal 21 Maret 2012, pertemuan NMC, PMC PP Kom, Ketua TK Kab dan UPKD, di saarankan agar Sarker secepatnya menyurati pihak ke tiga untuk mengembalikan dana tersebut 2. Tgl 28 maret 2012, auditor Perwakilan BPKP Prov Sulteng telah mengeluarkan Notisi hasil audit, agar pihak ketiga (CV Mitra Sejati Konstruksi) mengembalikan dana ke kas negara

Total

3.960.162.264

3.892.667.264

67.495.000

Sumber: KM Nas – HCU

Laporan Akhir KM. Nas | Lampiran - 58