Today Is My Birthday

"Hari ini bukan hari ulang tahunku." itu yang aku katakan pada mereka. Saat mengucapkan itu, aku sedang duduk bersama teman-teman baruku. Aku tidak tahu darimana mereka mendapatkan pemikiran kalau ini adalah hari ulang tahunku. Aku sangat sebal kalau hari ulang tahun tiba. Aku sebal mengingat umurku yang terus bertambah. Aku tidak mau umurku bertambah. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi didunia ini. Aku merasa sepertinya sudah cukup mengobrol dengan mereka. Aku mulai berdiri dan berpamitan. Secara bersamaan pula salah satu temanku juga ingin pulang. Santi, itu namanya. Kebetulan rumah kami satu arah. Secara otomatis kami pulang bersama. Dalam perjalanan kerumah aku terus berpikir, "Apa tadi mereka tahu ya kalau aku bohong?" Tiba-tiba Santi mengatakan sesuatu,"Kamu tadi bohong kan?". Mengagetkan memang, ada seorang teman yang tahu kalau temannya sedang berbohong padanya dan semua temannya. Aku berpikir lagi, "Darimana dia tahu kalau aku berbohong?". Dengan hati yang penuh keberanian aku bertanya tentang apa yang ia bicarakan tadi. "Apa kamu bilang? Aku bohong? Tahu dari mana kamu kalau aku berbohong?" aku membuat pertanyaan yang memojokkannya dan juga terkesan penuh emosi. Dengan santainya dia menjawab "Itu, tertulis di KTPmu. Tanggal lahir, 27 juli." "Arghhhh.........kenapa KTPku ada di dia?" Jeritku dalam hati. "Kamu lupa ya kalau aku ini guru copetmu?" lagi-lagi dia menjawab dengan santainya. aku membalas kata-katanya dengan hati yang miris " Oh..iya kamu itu guru copet ya? Huh! Aku sampai melupakan statusmu sebagai master copet" "Kenapa bohong?" dia menanyaiku dengan ekspresi yang menunjukan rasa ingin tahu sebesar bola dunia. "Aku hanya tidak mau mereka memberiku selamat karena aku masih hidup. Aku tidak mau mereka berharap yang macam padaku. Semoga tambah pintar, tambah kaya, tambah cantik lah.... Aku tidak mau itu." Sambil menahan tangis aku menjawab dengan tegas. "Oh...begitu ya? Harapan itu untuk masa depanmu kan? Tapi, bukannya kamu sudah divonis mati beberapa bulan lagi? apa gara-gara penyakitmu itu kamu tidak mau melihat kedepan?" dia memberiku pertanyaan yang sesungguhnya sudah terjawab dipikirannya. Mencoba santai dengan menjawab "Ya...kamu benar! Kamu dapat seratus deh." sambil berpikir apa yang ia tanyakan setelah aku berkata seperti ini. Aku tunggu sampai lima menit dia tidak menanyakan apapun. Dalam pikirku, pasti dia mengerti perasaanku sekarang. Tapi kenapa tiba-tiba aku merasa aneh? Aku merasa sudah berjalan selama satu jam, padahal rumahku hanya tiga puluh menit dari pos tadi. Aku juga tidak merasakan kelelahan dan kepanasahan, padahal hari itu mataharinya terlihat terik sekali. Aku melihat disampingku ada Sinta yang berwajah pucat seperti mayat. Aku mulai ketakutan saat itu, karena setiap kali memanggil nama Sinta mulutku tidak mengeluarkan suara. Dia terus berjalan begitu saja.

apakah aku ini mati? Apa Sinta tidak bohong? Apa yang sebenarnya terjadi? "Kamu pingsan ditengah perjalanan tadi.kalau disini ini kan truk-truk yang mengantarkan bahan pokok pasti akan dicuri beberapa isinya.. "Kenapa kamu bilang mati padaku? Padahal kamu sendiri tahu kan kalau aku ini paling tidak suka kata mati?" Tanyaku sambil menuntut. jasad kita terpanggang sampai gosong tak tersisa lagi kulitnya. Dia membantuku dengan menggendongmu. Tiba-tiba ada orang yang mencuri bahan yang diangkut truk tadi. Otakku terus menanyakan. Tapi bodohnya aku. cermin yang terlepas dari truk itu mengenai lehermu.. Kamu pasti tahu lah. Aku frustasi berat. Aku sudah mati. "Kamu itu memang bocah bodoh! Mati saja kamu tidak tahu. yaitu mati. ada truk yang membawa bahan yang mudah terbakar berhenti saat lampu merah menyala. aku sudah tidak hidup lagi. "Ah." Sinta menjelaskan dengan begitu detail. Lalu sopir truk itu melihatku membopong kamu yang pingsan. Di perempatan itu aku membopongmu. Aku mencoba untuk menjerit. Aku yang ada tidak jauh dari truk. Dalam otakku. Tapi sayang suaraku tak kunjung mengeluarkan bunyi. kenapa sampai bisa tidak tahu kalau aku ini telah mati? . tersambar begitu saja. Tapi aku menyelanya "Lalu kenapa aku dan kamu bisa mati?" "Truk tadi meledak." Dia menjawab sambil menegaskan kata "mati". ini aku anak bodoh" jawabnnya dengan wajah yang pucat dan cuek. Aku berinisial untuk kembali ke pos yang banyak orang disana. ada lempengan logam dari truk yang mengenai tepat di otakku dan cermin truk itu mengenai kulit dan mataku. kamu yang dalam keadaan pingsan juga pastinya tidak akan mungkin langsung siuman dan berlari. "Iya.. Dibagian kepalaku. Aku berlari secepat mungkin untuk mempersingkat waktu menuju pos tadi. Tapi sayangnya nasib kita yang penuh dengan kesialan. karena dia menjatuhkanmu dijalan saat ledakan itu terjadi. Tapi saat di perempatan dekat toko roti dan toko sepatu. Sopir itu juga ikut terbakar tapi dia tidak mati. Dan. Pada akhirnya. semua temanku berkumpul disitu dan menangis.. Sekarang ini kamu sudah mati. gara-gara pencuri itu menjatuhkan rokoknya saat dia dikejar oleh pengamen yang melihatnya. Lalu. Aku bingung dengan keadaan ini. Aku berjalan entah kemana arah yang kutuju. Aku tidak bisa lari secepat api ledakan yang menyambar tadi. aku berpikir seperti pernah mengenal orang ini. Tertancap tepat dibagian tenggorokanmu dan dibagian jantungmu juga tertancap logam yang tumpul.Aku merasa rumahku jauh sekali. Keadaanku juga sama sepertimu. Apalagi lampu lalulintas disini sangat lama sekali pindah warnanya.sinta?" sorakku dengan bahagia. Secepat mungkin aku memalingkan pandanganku kebelakang." Sinta menjelaskannya lagi secara detail dan mengerikan. Lalu aku akan melaporkan pada mereka tentang keaadaan Sinta yang pucat dan suaraku yang tidak berbunyi. "Dor! mati kau bodoh!" suara misterius terdengar dari arah belakang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful