PERSAMAAN DIFERENSIAL PARSIAL ORDE PERTAMA

BAB III
TEORI PERSAMAAN LINIER DAN KUASI LINIER ORDE PERTAMA

Pada bab ini akan kita pelajari persamaan kuasi linier (dan linier) orde pertama. Teori dan
metode dari solusi masalah nilai awal untuk persamaan tersebut didapatkan sebagai suatu
aplikasi langsung dari teori dan metode dalam kontruksi integral kurva dan permukaan dari
medan vektor yang dijelaskan pada Bab II.
Pada bagian 1, kita akan mendefinisikan apa yang dimaksud solusi dari persamaan orde
pertama dan kita klasifikasi/kelompokan persamaan orde pertama berdasarkan kelinieritasannya.
Pada bagian 2, kita definisikan integral umum dari persamaan kuasi linier orde pertama dan
metode untuk mendapatkannya. Integral umum adalah rumus yang sering menghasilkan solusi
dari persamaan. Pada bagian 3, kita akan mendeskripsikan masalah nilai awal untuk persamaan
kuasi linier orde pertama dan mendapatkan kondisi dimana terdapat solusi unik/tunggal untuk
masalah ini. Pada bagian 4, kita akan melihat bagaimana jika kondisi tidak dipenuhi yang
kemudian biasanya tidak terdapat solusi untuk masalah ini, dan pada kasus khusus dimana
terdapat solusi, terdapat tak terhingga solusi yang ada. Pada bagian 5, kita mengaplikasikan teori
umum untuk mempelajari hukum konservasi yang merupakan persamaan kuasi linier orde
pertama yang dibangkitkan pada berbagai bagian dari fisika. Solusi dari persamaan tersebut
biasanya mengembangkan diskontinuitas yang disebut shocks atau gelombang shock, yang
diketahui sebagai fenomena pada gas dinamik. Dua contoh yang ada adalah pada arus lalu lintas
dan gas dinamik, didiskusikan secara detail pada bagian 6. Terakhir, pada bagian 7, kita
perlihatkan aplikasi penting dari persamaan linier orde pertama untuk peluang, secara spesifik
untuk mempelajari proses stokastik. Kita diskusikan pada dua contoh yang detail, yaitu mengenai
masalah trunking sederhana pada jaringan telepon dan kontrol dari penyakit tropis. Berbagai
contoh lain juga dideskripsikan dalam soal-soal pada bagian ini.





1. Persamaan Diferensial Parsial Orde Pertama
Sebuah persamaan diferensial parsial orde pertama dalam dua variabel independen x,y dan
z yang tidak diketahui adalah persamaan yang dapat dibentuk dalam
(1.1)
(

)
Fungsi

didefinisikan pada suatu domain di

. digunakan sebagai
kordinat untuk titik-titik di

. Solusi persamaan (1.1) di domain adalah sebuah fungsi
yang terdefinisi dan

di sehingga dua kondisi di bawah ini harus dipenuhi:
i. Untuk setiap titik

terdapat pada domain di fungsi .
ii. Ketika disubstitusikan ke persamaan (1.1) menghasilkan sebuah persamaan
identitas di untuk setiap
Persamaan diferensial parsial orde pertama dapat dikelompokan berdasarkan bentuk
istimewa dari fungsi . Pengelompokan persamaan diferensial parsial adalah sebagai berikut:
1. Persamaan kuasi linier
Bentuk persamaan kuasi linier adalah
(1.2)

Pada persamaan di atas, fungsi adalah sebuah fungsi linier pada turunan

dan

dengan koefisien bergantung pada variabel independen seperti pada variable
yang tidak diketahui.
2. Persamaan hampir linier
Bentuk persamaan hampir linier adalah
(1.3)

Pada persamaan di atas, koefisien dari turunan

dan

adalah fungsi variabel independen
.
3. Persamaan linier
Bentuk persamaan linier adalah
(1.4)

Pada persamaan di atas, fungsi dari adalah linier pada

dan dengan semua
koefisien hanya bergantung kepada variabel independen dan y.
Apabila suatau persamaan tidak memenuhi bentuk di atas maka persamaan disebut persamaan
non-linier.
Untuk lebih memahami ketiga bentuk pengelompokan yang telah dijelaskan, akan
disajikan beberapa contoh bentuk persamaan serta pengelompokan sebagai berikut:
1. Persamaan diferensial parsial berikut
(1.6)

memiliki koefisien

berupa fungsi yang bergantung dengan variabel z. Persamaan
(1.6) merupakan persamaan kuasi linier.
2. Persamaan diferensial parsial yang disebut euler’s relation berikut
(1.7)

dapat kita tulis sebagai

sehingga memiliki bentuk fungsi F yang linier
pada

dan dengan koefisien-koefisien yang bergantung hanya pada variabel dan
. Sehingga, persamaan (1.7) merupakan persamaan linier.
3. Persamaan diferensial parsial berikut
(1.8)

memiliki koefisien

dan

yang bergantung hanya pada variabel dan , serta fungsi di
ruas kanan hanya bergantung pada variabel yaitu

. Sehingga, persamaan (1.8)
merupakan persamaan hampir linier.
4. Persamaan diferensial parsial berikut
(1.9)

tidak memenuhi ketiga pengelompokan persamaan diferensial yang ada. Sehingga,
persamaan (1.9) merupakan persamaan non-linier.

Pada bab ini, kita mempelajari persamaan diferensial parsial kuasi linier orde pertama.
Ingat bahwa persamaan linier dan hampir linier adalah kasus khusus dari persamaan kuasi linier.
Soal
1.1 Misalkan f merupakan fungsi C
1
pada R
2
dan perhatikan bahwa untuk beberapa bilangan
bulat n > 1, f memenuhi kondisi
(1.12)

Untuk semua tR
1
dan semua (x,y)R
2
. Maka fungsi tersebut dikatakan homogen pada
derajat n.
(a) Berikan contoh fungsi yang homogen pada derajat 1, 2, dan 3
- Contoh fungsi yang homogen pada derajat 1 adalah
f(x,y) = x+y
karena f(tx,ty)=tx+ty= t(x+y)=t
1
f(x,y)
- Contoh fungsi yang homogen pada derajat 2 adalah
f(x,y)=x
2
+y
2
karena f(tx,ty)=(tx)
2
+(ty)
2
=t
2
x
2
+t
2
y
2
=t
2
(x
2
+y
2
)=t
2
f(x,y)
- Contoh fungsi yang homogen pada derajat 3 adalah
f(x,y)=x
3
+y
3

karena f(tx,ty)=(tx)
3
+(ty)
3
=t
3
x
3
+t
3
y
3
=t
3
(x
3
+y
3
)=t
3
f(x,y)
(b) Buktikan bahwa jika f homogen pada derajat n maka z=f(x,y) memenuhi persamaan
diferensial parsial (1.7) [Petunjuk : Turunkan (1.12) terhadap t dan substitusi t=1.]
f homogen pada derajat n artinya f(tx,ty)=t
n
f(x,y), misalkan f(x,y)=z maka f(tx,ty)=t
n
z
apabila masing-masing ruas diturunkan terhadap t akan didapat

apabila disubstitusi t=1 maka akan didapat

1.2 Buktikan assertion pada contoh 1.4


2. Integral Umum dari Persamaan Kuasi Linier
Pada persamaan kuasi linier berikut
(2.1)

diasumsikan bahwa fungsi terdefinisi dan

pada suatu domain
̃
dari

dan tidak
terhubung secara simultan pada beberapa titik dalam domain. Suatu solusi dari persamaan (2.1)
pada domain O dari

adalah fungsi yang terdefinisi dan

terdapat pada O
sehingga dua kondisi berikut terpenuhi:
(i) Untuk setiap O, titik termasuk domain
̃
dari fungsi P, Q, R.
(ii) Saat z=f(x,y) disubstitusikan pada (2.1), hasilnya merupakan identitas pada untuk semua
O.
Suatu solusi
(2.2) O
dari persamaan (2.1) dapat dilihat sebagai suatu permukaan dari

, yang disebut solusi
permukaan dari persamaan (2.1). Vektor normal permukaan (2.2) dapat dihitung dengan
menggunakan gradien dari fungsi (2.2) pada titik yang hasilnya adalah (

)

. Apabila vektor normal

dikalikan dengan hasilnya akan
sama dengan nol, sehingga vektor ortogonal/ tegak lurus dengan vektor normal (

) di
setiap titik pada persamaan (2.2). Jadi, suatu permukaan S disebut suatu solusi permukaan dari
persamaan (2.1) jika S dapat dinyatakan sebagai persamaan (2.2) dan jika pada setiap titik dari S,
vektor adalah tangen/ vektor singgung dari S.
Suatu solusi permukaan dari persamaan (2.1) adalah integral permukaan dari medan vektor
yang dapat dinyatakan sebagai persamaan (2.2). Ini menyatakan bahwa untuk
mencari suatu solusi permukaan dari persamaan (2.1) perlu dicari integral permukaan terlebih
dahulu atau solusi permukaan dari persamaan diferensial parsial
(2.3)

yang dapat dinyatakan sebagai persamaan (2.2).
Solusi permukaan dari (2.3) merupakan permukaan ketinggian, yaitu
(2.4)
O
̃

dari suatu solusi dari (2.3). Jika persamaan (2.4) dapat diselesaikan untuk dalam
bentuk dan , maka hasil dari fungsinya adalah solusi dari persamaan (2.1). Sehingga
didapatkan Lemma berikut ini:

Bukti :
Dari teorema fungsi implisit, didapatkan

dan karena itu, didapat

Lemma 2.1 memperlihatkan bagaimana mendapatkan solusi persamaan (2.1) dari solusi
persamaan (2.3). Karena kita telah mengetahui solusi umum dari persamaan (2.3), Lemma 2.1
menghasilkan kelas yang lebih besar dari solusi persamaan (2.1).


Definisi 2.1
Persamaan (2.5) disebut integral umum dari persamaan (2.1) pada
̃

Teorema 2.1
Misalkan

dan

adalah dua solusi yang bebas fungsional dari persamaan
(2.3) pada domain
̃
pada R
3
. Misalkan

merupakan suatu fungsi C
1

dari dua variabel dan perhatikan permukaan ketinggian
(2.5)

Maka, setiap bagian dari permukaan ini memiliki vektor normal dengan
komponen tak nol z, persamaan (2.5) mendefinisikan z secara implisit sebagai
suatu fungsi dari x dan y dan fungsi ini adalah suatu solusi dari persamaan
(2.1)

Lemma 2.1
Misalkan ada pada

̃
dan perhatikan bahwa setiap titik pada ketinggian
permukaan (2.4) memenuhi dua kondisi berikut :
(i)

(ii)

=
kemudian persamaan (2.4) menyebabkan definisi sebagai fungsi dari dan
dan fungsi ini memenuhi persamaan diferensial parsial (2.1)


Telah diketahui bahwa tidak setiap solusi dari persamaan (2.1) dapat dihasilkan dari
integral umum (2.5) seperti yang dijelaskan pada Teorema (2.1). Oleh karena itu, persamaan
(2.5) tidak bisa disebut solusi umum dari persamaan (2.1).
Pada penggunaannya fungsi

dan

yang dihasilkan dari integral umum (2.5) diperoleh
dari penyelesaian yang berhubungan dengan sistem persamaan
(2.6)

seperti yang sudah dijelaskan pada BAB 2 bagian 2.
Untuk lebih memahami materi di atas, perhatikan beberapa contoh berikut:
Contoh 2.1
Carilah integral umum dari
(2.7)

Sistem yang berhubungan dengan persamaan di atas adalah

Dan dapat diambil

. Integral umumnya adalah
(2.8) (

)
dimana adalah sembarang fungsi 2 variabel pada

. Jika dipilih

, (2.8)
menjadi

Selesaikan sehingga didapatkan yang jelas merupakan solusi dari (2.7) pada

. Jika
dipilih


,
akan didapatkan solusi

yang terdefinisi pada domain
atau . Jika dipilih

maka persamaan (2.8) menjadi

Bagian dari permukaan dengan mendefinisikan z sebagai fungsi dari x dan y,

Ini adalah solusi dari (2.7) pada salah satu domain atau .
Perlu diperhatikan bahwa jika salah satu dari integral pertama yang bebas linier secara
fungsional, misalkan

, tidak bergantung pada z, maka secara umum, integral umum (2.5) dapat
ditulis dalam bentuk
(2.9)

Dimana adalah sembarang fungsi 1 variabel pada

.



Contoh 2.2
Perhatikan persamaan linier berikut:
(2.10)

Dimana dan adalah fungsi dari

dan tidak kosong secara silmultan. Integral umum dari
(2.10) adalah sebagai berikut
(2.11)
Dimana adalah sembarang fungsi 1 variabel pada

dan adalah solusi umum dari
persamaan diferensial biasa

Tentunya, sistem dari persamaan difernsial biasa yang berhubungan dengan (2.10) adalah

Dan dua integral pertama yang bebas linier secara fungsional dari sistem ini adalah fungsi
dan . Dapat ditunjukan bahwa (2.11) adalah solusi umum dari (2.10).










Soal
2.1. Untuk setiap persamaan berikut tentukan integral umum dan cari tiga solusi yang berbeda.
Jelaskan pada domain bidang (x,y) yang mana solusi tersebut terdefinisi?
(a)

(b)

Jawaban:
Dari persamaan di atas, nilai .
Untuk mencari

,dan

, selesaikan sistem persamaan berikut:

1. Pilih persamaan

∫ ∫

Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

Jadi,

, merupakan solusi.
2. Pilih persamaan




(

)

(

)

(

)
Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

(

) (

) (

)

(

)

Jadi,

, merupakan solusi.
3. Pilih persamaan







()

Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

Jadi,

, merupakan solusi.
Untuk membuat suatu integral umum, gunakan 2 buah solusi dari 3 solusi yang
tersedia, misalkan diambil

dan

. Lakukan pengecekan terlebih dahulu apakah

dan

bebas secara fungsional atau tidak. Cara melakukan pengecekan bebas secara
fungsional adalah dengan menghitung

, bila hasilnya bukan nol,
maka

dan

bebas secara fungsional.

|
|

|
|

|
|

|
|

(

)
(

)
Nilainya . Jadi,

dan

bebas secara fungsional.
Karena

dan

bebas secara fungsional, kita dapat membentuk suatu integral umum
dari

dan

. Integral umumnya adalah
(

)
dengan merupakan fungsi

dari dua variabel. Jika diambil

maka
(

)

sehingga didapatkan
(

)

yang merupakan solusi dari

di
seluruh

.
(c)

(d)

Jawaban:
Dari persamaan di atas, nilai

.
Untuk mencari

,dan

, selesaikan sistem persamaan berikut:

1. Pilih persamaan


Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

Jadi,

, merupakan solusi.
2. Pilih persamaan


Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

Jadi,

, merupakan solusi.
3. Pilih persamaan

Pilih

periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

Jadi,

merupakan solusi.
Untuk membuat suatu integral umum, gunakan 2 buah solusi dari 3 solusi yang
tersedia, misalkan diambil

dan

. Lakukan pengecekan terlebih dahulu apakah

dan

bebas secara fungsional atau tidak. Cara melakukan pengecekan bebas secara
fungsional adalah dengan menghitung

, bila hasilnya bukan nol,
maka

dan

bebas secara fungsional.

|
|

|
|

|

|

Nilainya . Jadi,

dan

bebas secara fungsional.
Karena

dan

bebas secara fungsional, kita dapat membentuk suatu integral umum
dari

dan

. Integral umumnya adalah

dengan merupakan fungsi

dari dua variabel. Jika diambil

maka

sehingga didapatkan

yang merupakan solusi dari

di seluruh

.
(e)

Jawaban:
Dari persamaan di atas, nilai .
Untuk mencari

,dan

selesaikan sistem persamaan berikut:

1. Pilih persamaan




Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

(

) (

) (

)

Jadi,

merupakan solusi.
2. Pilih persamaan

∫ ∫

Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

( ) ( )


Jadi,

, merupakan solusi.
3. Pilih persamaan

∫ ∫

Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

( )


Jadi,

merupakan solusi.
Untuk membuat suatu integral umum, gunakan 2 buah solusi dari 3 solusi yang
tersedia, misalkan diambil

dan

. Lakukan pengecekan terlebih dahulu apakah

dan

bebas secara fungsional atau tidak. Cara melakukan pengecekan bebas secara
fungsional adalah dengan menghitung

, bila hasilnya bukan nol,
maka

dan

bebas secara fungsional.

|
|

|
|

|



|
[ ]
[( )]
[ ]

)
Nilainya asalkan . Jadi,

dan

bebas secara fungsional.
Karena

dan

bebas secara fungsional, kita dapat membentuk suatu integral umum
dari

dan

. Integral umumnya adalah

dengan merupakan fungsi

dari dua variabel. Jika diambil

maka

sehingga didapatkan yang merupakan solusi dari

di seluruh

.
(f)

(g)

(h)

2.2. Perlihatkan bahwa integral umum dari relasi Euler (1.7) mengarahkan kita kepada solusi
dari bentuk

⁄ dimana merupakan fungsi dari satu variabel. Periksa bahwa
solusi tersebut merupakan fungsi homogen dengan derajat .
Jawaban:
Relasi Euler :

Dari persamaan di atas, didapat nilai .
Untuk mencari

, selesaikan sistem persamaan berikut:

1. Pilih persamaan

Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak? (Bila
bernilai nol, maka

adalah solusi.)

(

) (

)

Jadi,

merupakan solusi.
2. Pilih persamaan

Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak? (Bila
bernilai nol, maka

adalah solusi.)

(

) (

)

Jadi,

, merupakan solusi.
Untuk membuat suatu integral umum, gunakan 2 buah solusi yang tersedia, yaitu

dan

. Lakukan pengecekan terlebih dahulu apakah

dan

bebas secara fungsional atau
tidak. Cara melakukan pengecekan bebas secara fungsional adalah dengan menghitung

, bila hasilnya bukan nol, maka

dan

bebas secara fungsional.

|
|

|
|

|
|

|
|

(

)
Nilainya asalkan . Jadi,

dan

bebas secara fungsional.
Karena

dan

bebas secara fungsional, kita dapat membentuk suatu integral umum dari

dan

. Karena

, dapat kita lihat

bebas dari z, sehingga integral
umum dapat ditulis sebagai berikut

dengan adalah fungsi

dari satu variabel. Sehingga

(

)

(

)

(

)
( (

))

( (

))

Jadi, integral umumnya adalah

( (

))

. Akan diperiksa apakah

( (

))

merupakan fungsi yang homogen pada derajat atau tidak, artinya harus
diperiksa apakah

( (

))

memenuhi

untuk setiap

Ambil sebarang

( (

))

( (

))

Karena untuk sebarang

memenuhi

maka untuk setiap

memenuhi

. Jadi, merupakan fungsi yang homogen
pada derajat .

2.3. Tunjukan bahwa (2.11) adalah solusi umum dari (2.10). Lebih tepat lagi, buktikan
pernyataan berikut ini: Misalkan adalah solusi umum dari pada
domain di

, misalkan dari solusi umum (2.10) pada dan misalkan

merupakan suatu titik di . Maka terdapat suatu fungsi dari satu variabel sehingga
untuk semua pada suatu lingkungan dari

. [Petunjuk:
gunakan fakta bahwa dan memenuhi (2.10) dan fakta bahwa dan tidak kosong
secara simultan untuk menunjukan bahwa
c
c
= 0. Kemudian terapkan teorema V,
Bagian 9.6 dari Taylor.]

2.4. PDP kuasi linier

Cari satu integral pertamanya. Bukan pekerjaan mudah untuk mencari sebuah integral
pertama yang kedua.
Jawaban:
Dari persamaan di atas didapat nilai Untuk
mencari suatu integral pertama selesaikan sistem persamaan berikut:

Pilih persamaan

(

) (

)
∫(

) ∫(

)

Pilih

, periksa apakah merupakan integral pertama atau bukan?
Turunkan terhadap sehingga didapat

(

)

(

)

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak? (Bila
bernilai nol, maka

adalah integral pertama.)

(

) (

)
(

) (

)



Jadi,

merupakan integral pertama.

2.5. Anggap pdp kuasi linier oder pertama dalam variabel yang tak diketahui, , dan
variabel bebas

(2.12)

Dimana

. Diasumsikan bahwa fungsi

terdefinisi dan

pada
suatu domain O pada

dan tidak hilang secara simultan pada setiap titik

pada O.
(a) Definisikan apa yang dimaksud dari solusi (2.12) di suatu domain O pada

.
Untuk mencari solusi (2.12) kita mencari solusi

pada
(2.13)

Solusi ini adalah integral pertama dari bidang vektor atau dari sistem
PDB yang bersangkutan.
(2.14)

Dalam praktiknya, solusi bebas secara fungsional dari (2.13) diperoleh dengan
memecahkan sistem (2.14) menggunakan metode yang dijelaskan di bab II. Sebuah
tinggi permukaan solusi dari (2.13), mengatakan
(2.15)

menghasilkan sebuah solusi dari (2.12), jika (2.15) dapat diselesaikan dalam .
(b) Nyatakan dan buktikan perluasan Lemma 2.1 untuk dimensi.
(c) Nyatakan dan buktikan perluasan Teorema 2.1 yang dengan singkat mengatakan
bahwa integral umum dari (2.12) diberikan oleh
(2.16)
(

)
Di mana

adalah sebuah sembarang fungsi

dari variabel dan (16)
adalah integral pertama yang bebas fungsional dari (2.14). Integral umum (2.16)
mengimplikasikan sebagian besar solusi dari (2.12).
2.6. Untuk setiap persamaan yang diberikan, tentukan integral umum dan hitung tiga solusi
berbeda.
(a)

(b)

3. Masalah Nilai Awal untuk Persamaan Kuasi Linier Orde Pertama. Keberadaan dan
Keunikan Solusi.
Pada bagian ini, akan dibahas masalah nilai awal, atau masalah Cauchy, untuk persamaan
diferensial parsial kuasi linier orde pertama.
(3.1)

Ingat kembali bahwa masalah nilai awal untuk sebuah persamaan diferensial biasa orde pertama
menginginkan sebuah solusi dari persamaan yang diberikan pada sebuah titik di

. Masalah
nilai awal untuk persamaan diferensial parsial (3.1) menginginkan solusi dari (3.1) yang telah
diberi nilai pada suatu kurva yang diberikan pada

.

Masalah Nilai Awal
Misalkan sebuah kurva yang diberikan di

(3.2)

Di mana

berada pada

. Misalkan

adalah sebuah fungsi yang diberikan
pada

. Fungsi

dapat dianggap sebagai fungsi yang mendefinisikan pada kurva .
Masalah nilai awal untuk persamaan (3.1) menginginkan sebuah fungsi terdefinisi
pada sebuah domain O dari

memuat kurva dan sehingga:
(i) adalah sebuah solusi dari (3.1) pada O.
(ii) Pada kurva , sama dengan fungsi

yang diberikan, contohnya,
(3.3)
(

)

Kurva disebut kurva awal dari persoalan, sementara fungsi

disebut data awal. Persamaan
(3.3) disebut kondisi awal dari persoalan.

Gambar 3.1
Jika dipandang suatu solusi dari (3.1) sebagai solusi permukaan dari (3.1),
dapat diberikan suatu pernyataan geometri sederhana dari masalah di atas yaitu cari sebuah
solusi permukaan dari (3.1) yang memuat kurva
̃
di R
3
, dideskripsikan secara parametrik oleh
persamaan
(3.4)

e
Teorema di bawah menegaskan bahwa pada kondisi tertentu masalah dapat diselesaikan secara
lokal, yaitu dapat dicari solusi unik dari permasalahan di lingkungan pada suatu titik
̃
dimana
kondisi tertentu dipenuhi. Solusinya dapat dicari dengan menggunakan metode untuk
membentuk suatu integral permukaan dari medan vektor yang memuat kurva
yang diberikan.
Misalkan

merupakan suatu titik dari sebuah kurva
̃
yang bersesuaian dengan
nilai parameter

e ; sebagai contoh

. Misalkan
̃

merupakan domain di R
3
yang memuat

dan misalkan
(3.5)
merupakan suatu integral permukaan dari medan vektor , atau, secara ekuivalen,
solusi permukaan dari persamaan
(3.6)

dalam
̃
memuat bagian dari
̃
pada
̃
, sebagai contoh
(3.7)
(

)
Misalkan, selanjutnya,
(3.8)

Kemudian, oleh Lemma 2.1, persamaan (3.5) secara implisit mendefinisikan suatu fungsi
di lingkungan dari

, dan fungsi ini merupakan solusi dari masalah nilai
awal untuk (3.1) di (lihat Gambar 3.2).

Gambar 3.2
Dengan menggabungkan pengamatan di atas dengan teorema 4.2 bab II diperoleh teorema
dasar berikut.

Bukti:
Catat bahwa kondisi pertama (3.9) menyebabkan vektor tidak bersinggungan
dengan kurva
̃
pada titik

(mengapa?). Dengan teorema 4.2 bab II dikatakan bahwa
pada lingkungan dari

terdapat integral permukaan yang unik dari persamaan (3.6)
yang memuat bagian dari
̃
di lingkungan ini. Integral permukaan ini dapat ditulis dalam bentuk
(3.5). Untuk menunjukkan kondisi (3.8) terpenuhi dapat diselesaikan (3.5) untuk z. Kondisi (3.8)
dilanjutkan dari kondisi (3.9). Pada kenyataannya, pada titik

, grad u adalah ortogonal
terhadap (dari persamaan (3.6)) dan vektor singgung terhadap
̃
(dari persamaan (3.7)). Oleh
karena itu, grad sejajar dengan . Sekarang, persamaan sebelah kiri dari (3.9) merupakan
komponen dari pada

. Oleh karena itu, kondisi (3.9) menyiratkan bahwa
komponen dari grad berbeda dengan nol pada

, yang berarti bahwa kondisi (3.8)
terpenuhi.
Keunikan dari teorema dilanjukan dari fakta bahwa setiap kurva integral dari melewati
suatu titik dari
̃
harus berada pada solusi permukaan dari (3.1) yang memuat
̃
.
Secara geometri, kondisi (3.9) menyatakan bahwa proyeksi dari vektor

pada
bidang tidak bersinggungan dengan kurva awal pada

.
Metode konstruksi solusi untuk masalah nilai awal terdiri atas melihat kondisi awal sebagai
suatu kurva yang diberikan
̃
di R
3
dan membentuk, dengan metode bagian 4 bab II, permukaan
integral dari yang memuat kurva
̃
. Kondisi (3.9) dari teorema 3.1 menjamin
bahwa dapat diselesaikan persamaan (3.5) dari integral permukaan untuk dalam dan pada
lingkungan di titik

. Ukuran dari lingkungan tergantung pada persamaan diferensial,
Teorema 3.1.
Misalkan adalah kelas

dalam O
̃
dari

yang mengandung titik

dan misalkan bahwa
(3.9)

Maka pada lingkungan dari

terdapat solusi yang unik dari persamaan
(3.1) yang memenuhi kondisi awal (3.3) pada setiap titik yang termuat di U.
pada kurva awal
̃
dan data awal

. Dapat diilustrasikan metode solusi ini dalam contoh
berikut.
Contoh 3.1
Perhatikan persamaan kuasi linier
(3.10)

Misalkan kurva awal C diberikan oleh
(3.11)
Cari solusi dari persamaan (3.10) dimana kurva awal C mempunyai nilai
(3.12)
Pertama, nyatakan kondisi awal (3.11) dan (3.12) dalam bentuk parametrik. Kurva C
diberikan oleh
(3.13)
Dan pada C solusi harus memiliki nilai
(3.14)
Pada bentuk geometri masalah yang ada adalah mencari solusi permukaan dari
persamaan (3.10) yang berisi kurva
̃
yang diberikan oleh
(3.15)
Untuk persamaan (3.10), dimiliki

dan pada kurva
̃
,

Jadi, kondisi (3.9) terpenuhi pada setiap titik dari
̃
dan dengan teorema 3.1 diketahui bahwa ada
solusi unik/tunggal untuk masalah pada persekitaran dari setiap titik di C. Dengan menggunakan
metode yang telah dideskripsikan dalam bagian 4, bab II, untuk mencari solusi. Sistem
persamaan yang berkaitan dengan medan vektor adalah

Sistem ini diselesaikan dalam contoh 2.3 bab II dimana ditemukan dua buah integral pertama

Integral pertama ini terdefinisi dan bebas secara fungsional dalam domain yang memuat
kurva
̃
. Untuk mencari integral permukaan dari yang berisi
̃
dihitung

dan dengan mengeliminasi t diperoleh

Integral permukaan yang disyaratkan adalah

Persamaan ini memiliki dua solusi untuk dan untuk memilih satu yang diinginkan, gunakan
kondisi awal persamaan (3.11)-(3.12). Jadi, didapatkan
(3.17)

Ini diserahkan kepada pembaca untuk memeriksa bahwa persamaan (3.17) memenuhi persamaan
diferensial parsial (3.10) dan kondisi awal persamaan (3.11) dan (3.12) dan oleh karena itu,
solusi yang diisyaratkan pada masalah nilai awal. Catat bahwa solusi (3.17) didefinisikan dalam
domain .
Kita tutup subbab ini dengan aplikasi teorema 3.1 untuk menlanjutkan masalah nilai awal
khusus yang sering muncul dalam aplikasi,
(3.18)

(3.19)
dimana adalah fungsi yang terdefinisi untuk setiap

. Mudah diperiksa untuk kasus
itu, kondisi (3.9) selalu memenuhi setiap titik kurva awal, yang dalam kasus ini merupakan
sumbu . Untuk itu teorema 3.1 mengakibatkan adanya keberadaan dan keunikan solusi.





Akibat 3.1
Misalkan dan merupakan kelas

di

dan merupakan kelas

di

.
Maka dalam sebuah persekitaran pada setiap titik di sumbu terdapat solusi
unik masalah nilai awal (3.18), (3.19).

Soal
3.1. Selesaikan masalah nilai awal berikut. Deskripsikan dengan hati-hati domain dari solusi-
solusinya.
(a)

pada kurva awal C:
(b)

pada kurva awal C:
Jawaban:
Pertama nyatakan kondisi awal dari soal di atas pada bentuk parametrik.
Kurva C diberikan sebagai berikut

dan pada C, solusi harus memenuhi nilai

Pada bentuk geometri, permasalahannya adalah mencari solusi permukaan
, dari

yang memuat kurva C yang diberikan oleh

Dari persamaan di atas, kita memiliki

dan pada kurva C,

Karena

, maka terdapat solusi yang tunggal. Untuk mencari solusinya,
selesaikan sistem persamaan yang bersesuaian berikut:

1. Pilih persamaan

Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan

terhadap

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

(

)

(

)


Jadi,

merupakan solusi.
2. Pilih persamaan

Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

(

)

(

)


Jadi,

, merupakan solusi.
Lakukan pengecekan apakah

dan

bebas secara fungsional atau tidak. Cara
melakukan pengecekan bebas secara fungsional adalah dengan menghitung

, bila hasilnya bukan nol, maka

dan

bebas secara fungsional.

|
|

|
|

|
|

|
|

(

)
Nilainya asalkan . Jadi,

dan

bebas secara
fungsional.
Untuk mencari integral permukaan dari yang memuat C, kita hitung

dan

Lakukan eliminasi t, sehingga kita dapatkan

Integral permukaan yang disyaratkan adalah
(

) (

)
Selesaikan persamaan di atas

Jadi, solusinya adalah

yang terdefinisi di seluruh R kecuali di .

(c)

pada kurva awal C:



(d)

pada kurva awal C :
Jawaban:
Pertama nyatakan kondisi awal dari soal di atas pada bentuk parametrik.
Kurva C diberikan sebagai berikut

dan pada C, solusi harus memenuhi nilai

Pada bentuk geometri, permasalahannya adalah mencari solusi permukaan
, dari

yang memuat kurva C yang diberikan oleh

Dari persamaan di atas, kita memiliki

dan pada kurva C,

Karena

, maka terdapat solusi yang tunggal. Untuk mencari solusinya,
selesaikan sistem persamaan yang bersesuaian berikut:

1. Pilih persamaan

Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan

terhadap

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

Jadi,

merupakan solusi.
2. Pilih persamaan


Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

Jadi,

, merupakan solusi.
Lakukan pengecekan apakah

dan

bebas secara fungsional atau tidak. Cara
melakukan pengecekan bebas secara fungsional adalah dengan menghitung

, bila hasilnya bukan nol, maka

dan

bebas secara fungsional.

|
|

|
|

|



|

Nilainya asalkan . Jadi,

dan

bebas secara fungsional.
Untuk mencari integral permukaan dari yang memuat C, kita hitung

dan

Lakukan eliminasi t, sehingga kita dapatkan

Integral permukaan yang disyaratkan adalah

Bila persamaan di atas diselesaikan, maka akan didapatkan solusinya adalah

yang terdefinisi di seluruh

.

(e)

pada kurva awal C :
(f)

pada kurva awal C:

Jawaban:
Pertama nyatakan kondisi awal dari soal di atas pada bentuk parametrik.
Kurva C diberikan sebagai berikut

dan pada C, solusi harus memenuhi nilai

Pada bentuk geometri, permasalahannya adalah mencari solusi permukaan
, dari

yang memuat kurva C yang diberikan oleh

Dari persamaan di atas, kita memiliki

dan pada kurva C,

Karena

, maka terdapat solusi yang tunggal. Untuk mencari solusinya,
selesaikan sistem persamaan yang bersesuaian berikut:

1. Pilih persamaan

Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan

terhadap

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

(

) (

)

Jadi,

merupakan solusi.
2. Pilih persamaan

Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

(

) (

)

Jadi,

, merupakan solusi.
Lakukan pengecekan apakah

dan

bebas secara fungsional atau tidak. Cara
melakukan pengecekan bebas secara fungsional adalah dengan menghitung

, bila hasilnya bukan nol, maka

dan

bebas secara fungsional.

|
|

|
|

|
|

|
|

(

)
Nilainya asalkan . Jadi,

dan

bebas secara fungsional.
Untuk mencari integral permukaan dari yang memuat C, kita hitung

dan

Lakukan eliminasi t, sehingga kita dapatkan

Integral permukaan yang disyaratkan adalah

Selesaikan persamaan di atas,

Jadi, didapatkan solusinya adalah

yang terdefinisi di seluruh .
(g)

pada kurva awal C:
Jawaban:
Pada bentuk geometri, permasalahannya adalah mencari solusi permukaan
, dari

yang memuat kurva C yang diberikan oleh

Dari persamaan di atas, kita memiliki

dan pada kurva C,

Karena

, maka terdapat solusi yang tunggal. Untuk mencari solusinya,
selesaikan sistem persamaan yang bersesuaian berikut:

1. Pilih persamaan

∫ ∫

Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan

terhadap

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

Jadi,

merupakan solusi.
2. Pilih persamaan




Pilih

, periksa apakah

merupakan solusi?
Turunkan terhadap sehingga didapat

Substitusi pada

dan periksa apakah bernilai nol atau tidak?
(Bila bernilai nol, maka

adalah solusi.)

(

) (

) (

)

Jadi,

, merupakan solusi.
Lakukan pengecekan apakah

dan

bebas secara fungsional atau tidak. Cara
melakukan pengecekan bebas secara fungsional adalah dengan menghitung

, bila hasilnya bukan nol, maka

dan

bebas secara fungsional.

|
|

|
|

|

|
(

)
Nilainya asalkan . Jadi,

dan

bebas secara
fungsional.
Untuk mencari integral permukaan dari yang memuat C, kita hitung

dan

Lakukan eliminasi t, sehingga kita dapatkan

Integral permukaan yang disyaratkan adalah

(

)

Selesaikan persamaan di atas,

(

)

Jadi, didapatkan solusinya adalah

yang terdefinisi di seluruh .

3.2. Jawab “Mengapa?” dalam pembuktian teorema 3.1.
3.3. Periksa bahwa untuk masalah (3.18), (3.19), kondisi (3.9) selalu memenuhi pada setiap
titik garis awal y=0.
Jawaban:

Akan dibuktikan bahwa kondisi 3.9 selalu dipenuhi pada setiap titik pada garis awal
Dalam bentuk parametrik kurva diberikan


Berdasarkan teorema 3.9 maka diperoleh

(terbukti)

3.4. Untuk masing-masing dua masalah nilai awal berikut

Formulasikan dan buktikan hasil eksistensi dan keunikan analog dengan yang dinyatakan
dalam akibat 3.1.
Jawaban:

…(1)

…(2)
Akan dibuktikan dua masalah nilai awal di atas mempunyai penyelesaian dan unik.
Persamaan (1)

Pada kurva yang diberikan dengan persamaan parametrik

Berdasarkan teorema 3.9 maka diperoleh

Jadi,

mempunyai penyelesaian dan unik.
Persamaan (2)

…………………….(2)
Pada kurva yang diberikan dengan persamaan parametrik

Berdasarkan teorema 3.9 maka diperoleh

(Mempunyai penyelesaian dan unik)

4.Masalah Nilai Awal Untuk Persamaan Kuasi Linier Orde Pertama.
Tidak Ada Solusi dan Solusi Tidak Unik ( Banyak Solusi )
Dalam bagian sebelumnya, kita telah membuktikan bahwa solusi ada dan unik dari nilai masalah awal
pada persamaan (3.1)
P(x , y ,z )z
x
+ Q(x, y, z)z
y
= R(x, y, z)
dalam persekitaran dari titik (x
0
, y
0
) dari kurva awal C yang mana kondisi (3.9)

adalah terpenuhi. Dalam bahasa geometri, kondisi (3.9) berarti bahwa proyeksi dari vektor

dalam bidang (x, y) bukan gari singgung dari kurva C di (

. Dalam bagian ini, kita akan menunjukan
bahwa jika kondisi (3.9) tidak tepenuhi, yaitu jika
(4.1)

Maka tidak akan ada solusi untuk masalah nilai awal, dan dalam persamaan ini memiliki solusi yang tak
terhingga banyaknya.
Kita asumsikan bahwa P dan Q yang tidak berkurang secara simultan. Perhatikan bahwa kondisi (4.1)’
mengatakan bahwa komponen vector

,

adalah proporsional,
yaitu
(4.1)’

Dimana adalah konstanta proporsional.
Karena kondisi (4.1) tidak memiliki solusi masalah nilai awal, karena dengan menggunakan persamaan
differensial parsial (3.1) dan kondisi (4.1) kita akan mendapat informasi yang kita dapatkan dari kondisi
awal (3.3)
(

)

Kemudian persamaan differensial parsial dan masalah nilai awal mungkin akan kontradiksi.

[

]

Tentu, dari kondisi awal kita tahu bahwa titik (

adalah solusi turunan sepanjang kurva awal C harus
sama dengan

. Tetapi dari penjabaran diatas dan dengan menggunakan persamaan (4.1)
diperoleh

Terjadi kontradiksi dari turunan solusi masalah nilai awal, maka muncul teorema 4.1
Teorema 4.1
Menurut kondisi (4.1)’ dan (4.2), tidak memiliki solusi untuk masalah nilai awal (3.1) – (3.3) di
persekitaran titik (

Kami menegaskan bahwa dalam membuktikan teorema 4.1 , kami menunjukan bahwa menurut kondisi
(4.1), pada sisi kiri dari persamaan differensial parsial (3.1) ditaksir pada

adalah proporsional
untuk turunan dari z sepanjang kurva awal C. Karena turunan dapat diperoleh dari data awal, disana
tidak terdapat solusi untuk masalah nilai awal kecuali dua nilai sama.
Dalam menyatakan urutan kondisi dari teorema 4.1 secara geometri, misalkan V(t) dinotasikan
sebagai nilai dari vector V dalam kurva C,
V(t) =

Dan misalkan T(t) dinotasikan sebagai garis singgung vector untuk
̅

T(t) = (

Kondisi (4.1) berarti bahwa proyeksi dari

dalam bidang (x, y ) adalah garis singgung untuk
kurva awal C pada (

. Kondisi (4.1)’-(4.2) dari teorema 4.1 berarti bahwa vector

tidak kolinear mengingat proyeksi dalam bidang (x,y) adalah kolinear (lihat gambar 4.1).

Gambar 4.1
Secara alternative, kondisi dari teorema 4.1 berarti bahwa V bukan garis singgung untuk
̅
pada

saat proyeksi dalam bidang (x,y) adalah garis singgung untuk C pada (

.
Jika, berdasarkan kondisi dari teorema 4.1, kami mencoba untuk mencari solusi untuk masalah
nilai awal menggunakan metode pada bagian 3, kami akan mencari bahwa persamaan u(x, y, z) = 0 dari
permukaan integral yang memuat
̅
tidak memecahkan nilai z sejauh

karena u

=0.
Sekarang, kita misalkan bahwa kondisi (4.1) terpenuhi dan persamaan differensial parsial dari
kondisi awal juaga tidak kontradiksi, yaitu
(4.3)

atau
(4.3)’

Kita anggap hanya kondisi (4.3) terpenuhi di setiap titik dari
̅
, yaitu
(4.4) T(t)=, t
Kondisi (4.4) berarti bahwa V adalah setiap garis singgung pada
̅
atau bahwa
̅
adalah kurva
integral dari V. Kondisi awal (3.3) membutuhkan permukaan solusi dari (3.1) melewati

harus
memuat kurva integral V yang memuat

disini kita mendapat banyak solusi permukaan .
Teorema 4.2
Berdasarkan kondisi (4.4), masalah nilai awal (3.1)-(3.3) mempunyai banyak solusi dalam persekitaran
pada titik (

.
Contoh Soal ( Problem )
4.1 Berdasarkan persamaan

Dan kurva awal
C : x=t, y=t; t>0
Tentukan apakah persamaan diatas memiliki solusi tunggal, tidak memiliki solusi, atau memiliki banyak
solusi di persekitaran dari titik (1,1), unruk setiap masalah nilai awal dengan mengikuti data awal :
A. z = 2t di C
B. z = t di C
Jawab :

Dan kurva awal
C : x=t, y=t; t>0
Persamaan diatas mengakibatkan :
V(P, Q, R) = ( z, y, x )
Kita substitusikan nilai vector pada persamaan

Untuk :
A. z = 2t
Maka,

Karena

Maka bentuk persamaan

Dan kurva awal C : x=t, y=t; t>0
Memiliki tepat satu solusi.
B. z = t
Mengakibatkan

Menurut teorema 4.1, bentuk persamaan

Mempunyai dua kemungkinan yaitu tidak memiliki solusi atau punya solusi banyak.
Untuk menentukannya kita hitung :

Karena

maka menurut teorema 4.2, bentuk

Dan kurva awal C : x=t, y=t; t>0
Memiliki banyak solusi.

5. Masalah Nilai Awal untuk Hukum Konservasi.
Perkembangan dari Shocks
Hukum konservasi adalah order pertama persamaan differensial parsial kuasi linear yang timbul dalam
banyak aplikasi fisika (lihat bagian 6 untuk contoh). Mari kita perhatikan permasalahan nilai awal berikut
untuk hukum konservasi,

,
,
Dimana dan menghasilkan fungsi

. Berdasarkan akibat 3.1, masalah ini memiliki solusi yang
tunggal pada suatu persekitaran dari setiap titik pada garis awal . Dengan tujuan untuk
menemukan solusi kita perhatikan persamaan differensial biasa yang berhubungan dengan (5.1),

Dua integral pertama yang bebas secara fungsional dari sistim ini adalah

,

Dan kemudian,

Adalah suatu integral umum dari (5.1). Dengan tujuan untuk memenuhi kondisi awal (5.2) kita harus
gunakan . Kemudian, untuk || sekecil mungkin, solusi dari (5.1), (5.2) secara implisit
didefinisikan oleh persamaan
.
Menggunakan teorema fungsi implisit, mudah untuk menunjukkan (lihat soal 5.1) bahwa solusi dari(5.1),
(5.2) ada dan didefinisikan secara implisit dengan (5.3) asalkan kondisi

dipenuhi.Perhatikan bahwa (5.4) selalu dipenuhi jika || sekecil mungkin. Berdasarkan solusi dari
persamaan (5.1) kita artikan suatu fungsi turunan . Dari rumus pada soal (5.1) kita lihat bahwa
turunan

dan

cenderung tak terbatas sebagai sisi kiri dari (5.4) cenderung nol. Kenyataannya ketika
sisi kiri dari (5.4) menjadi nol, solusi berkembang secara diskontinu dikenal sebagai .
Perkembangan dari shock dikenal sebagi fenomena dalam dinamika gas.Analisis matematika dari shocks
memerlukan generalisasi dari konsep solusi dari persamaan differensial parsial memungkinkan untuk
diskontinu. (Pada dinamika gas, kondisi ini dikenal sebagai kondisi entropy dari peningkatan gas setelah
melalui garis diskontinu).Dalam buku ini kita tidak melanjutkan lebih jauh ke materi tentang
shock.Sebagai ganti kita mengacu kepada ketertarikan siswa untuk menyelidiki artikel oleh P.D Lax.

Dengan tujuan untuk melihat dan menghitung nilai dari solusi yang didefinisikan secara implisit oleh
(5.3) dan pada waktu yang sama meningkatkan pemahaman kita tentang perkembangan shock. Mari
kita perhatikan titik

pada sumbu aksis dan

. Maka himpunan dari titik-titik
memenuhi pasangan dari persamaan

,

,
Juga memenuhi persamaan (5.3).ini berarti bahwa garis lurus pada ruang didefinisikan dengan
pasangan dari persamaan (5.3) berada pada permukaan yang didefinisikan oleh persamaan (5.3). ini
memenuhi bahwa sepanjang garis

pada bidang melewati titik

, solusi dari masalah nilai awal (5.1), (5.2) adalah konstan dan
sama dengan

(lihat gambar 5.1). Dalam permasalahan fisika variabel menunjukkan waktu
dan kita biasanya kemudian tertarik reaksi dari solusi (setelah pasangan awal ). Jika tidak ada dua
garis pada (5.6) yang berpotongan pada setengah bidang kita simpulkan bahwa solusi ada sebagai
suatu fungsi turunan . Jika dua garis pada (5.6) berpotongan ketika , maka pada titik
perpotongan kita memiliki sebuah ketidakserasian karena solusi tidak bisa sama dengan dua nilai
berbeda. Sebagai contoh, misalkan

dan

adalah dua titik pada garis awal , misalkan

dan andaikan bahwa

. Maka garis-garis

Berpotongan pada titik

dimana

(lihat gambar 5.2). pada titik

kita memiliki sebuah ketidakserasian karena

dan tidak
sama dengan

dan

pada waktu yang sana. Jadi, solusi tidak ada sebagai fungsi turunan untuk

dan Shock berkembang.
Garis-garis pada sering disebut untuk masalah nilai awal . (lihat
Bab V, bagian 4.)
Contoh 5.1 solusi dari masalah nilai awal

,
,
Ada dan secara implisit didefinisikan oleh

Asalkan kondisi
,
Dipenuhi. Dalam kasus ini persamaan (5.9) dengan mudah dapat diselesaikan untuk ,

.
Jelas solusi terpecahkan dan shock berkembang ketika . Pada titik

dari sumbu ,

,
dan solusinya konstan dan sama dengan

sepanjang garis

Melewati titik

. Perhatikan semua garis melewati titik .



6. Aplikasi pada Arus Lalu Lintas dan Dinamika Gas
Disini ditampilkan dua buah aplikasi pada analisis mengenai MNA untuk hukum kekekalan.Hukum
kekekalan muncul dalam banyak topik di bidang fisika dan dalam topik mengenai fluida tidak ental yang
dapat dipadatkan.Aplikasi pertama yang berkaitan dengan hukum kekekalan adalah topik mengenai arus
lalu lintas pada sebuah jalan raya.Aplikasi kedua berkaitan dengan aliran bergantung waktu satu dimensi
pada fluida yang dapat dipadatkan dibawah asumsi tekanan yang konstan.
Arus Lalu Lintas pada Jalan Raya
Model arus lalu lintas yang didiskusikan saat ini didasarkan pada asumsi bahwa pergerakan sebuah
mobil dapat dianalogikan dengan arus pada fluida yang kontinyu. Dimisalkan sumbu adalah jalan raya
dan arus lalu lintas pada arah yang positif.
Misal adalah kepadatan (mobil per satuan jarak) pada posisi ke- di jalan raya dalam waktu
. Dan adalah kecepatan(rate) arus (mobil per satuan waktu) dimana arus mobil melewati
pada waktu .
Dapat diturunkan sebuah hubungan antara dan dibawah asumsi bahwa mobil tidak akan masuk atau
keluar dari jalan raya dan adalah fungsi

dari .
Misalkan [

] adalah ruas dari sebuah jalan raya. Jumlah total mobil pada ruas jalan ini didefinisikan
sebagai

dan perubahan waktu dari perubahan jumlah mobil pada ruas jalan ini adalah

Perubahan ini sama dengan

dimana ini dapat mengukur waktu mobil ketika masuk ruas jalan pada

dikurangi dengan waktu mobil
ketika keluar pada

. Sehingga

atau

(6.1) ∫ [

]

Karena integral pada (6.1) dan karena (6.1) ada pada setiap [

] maka jelas integralnya dapat hilang,
sehingga

Selajutnya, akan diperkenalkan asumsi tambahan yaitu validitas yang didukung oleh pertimbangan
teoritik sebagaimana data hasil eksperimen. Mengacu pada asumsi ini, kecepatan arus yang
bergantung pada dan dapat dipandang hanya dengan melihat , yaitu
( )
atau secara sederhana
(6.3)
untuk beberapa fungsi G. Asumsi ini terlihat beralasan karena kepadatan kendaraan di sekitar
kendaraan tertentu juga mengontrol kecepatan (speed) dari kendaraan tersebut. Hubungan antaras
dan bergantung pada banyak faktor seperti karakteristik jalan, kondisi cuaca, batas kecepatan, dan lain
sebagainya. Salah satu hubungan antara dan adalah
(6.4) (

)

dimana

merupakan kepadatan maksimum (mobil per satuan jarak ketika lalu lintas sangat padat,
hingga diibaratkan bumper bertemu bumper) dan adalah rata-rata kecepatan bebas dimana kecepatan
bebas adalah kecepatan dari sebuah kendaraan ketika kendaraan itu bergerak bebas dari interfensi
(pengaruh) kendaraan lain. Pada umumnya, dapat didekati oleh batas kecepatan dari sebuah jalan
raya. Ingat, berdasarkan persamaan (6.4) jika atau

.
Akan disubstitusikan (6.4) ke persamaan (6.2), yaitu sebagai berikut:

* (

)+

(

) (

)

(6.5)

(

)

Persamaan (6.5) dapat disederhanakan dengan membagi dengan

pada kedua ruas dan didefinisiskan
bahwa

untuk memperoleh
(6.6)

Persamaan (6.6) merupakan salah satu contoh hukum kekekalan. Jika diberikan kepadatan normal awal
(6.7)
maka, berdasarkan bagian 5, solusi MNA dari (6.6) dan (6.7) terdefinisi secara implisit, untuk yang
cukup kecil dengan persamaan
(6.8) ( )
Jika adalah fungsi

maka solusi ada dan berbentuk fumgsi

serta terdefinisi secara implisit oleh
(6.8) jika kondisi
(6.9)

( )
dipenuhi. Jika kondisi ini pernah tidak dipenuhi, shocks akan dihasilkan pada kondisi dimana turunan
dari kepadatan mobil menjadi tak berhingga dan kepadatan menghasilkan shock yang diskontinyu. Jika

kondisi (6.9) dipenuhi . Ini mengarah pada kesimpulan bahwa jika kepadatan mobil
awal adalah konstan atau turun pada arah arus lalu lintas maka shock tidak akan pernah dihasilkan dan
arus lalu linta s akan berjalan lancar secara kontinyu. Sebaliknya, jika ICD (Initial Card
Density=Kepadatan Mobil Awal) bertambah pada setiap jarak di jalan raya maka akibatnya shockakan
dihasilkan. Sebagai ilustrasi akan terlihat pada contoh dibawah ini.
Contoh
Misalkan ICD didefinisikan oleh fungsi dibawah ini, yaitu:

{

Grafik dari fungsi diatas terlihat pada gambar dibawah ini:

Turunan dari memiliki shock pada dan teori yang dimiliki tidak dapat diaplikasikan
karena bukan lah anggota

. Selanjutnya, dapat dihaluskan didekat dan dengan
mengganti setiap sudut pada grafik dengan kurva belok yang halus.Oleh karena itu, penghalusan
ini dapat menemui banyak kesulitan saat perhitungan solusi dari masalah ini.Untungnya, efek yang
dihasilkan oleh shock pada turunan dari data awal adalah jump pada turunan solusi yang melewati
sebuah garis di bidang solusi masih terdefinisi secara implisit untuk sebuah yang cukup kecil,
dengan menggunakan persamaan (6.8).untuk menghitunya akan digunakan informasi bahwa solusinya
konstan disepanjang garis pada bidang . Karena variabel selalu dikalikan oleh kecepatan bebas ,
maka selanjutnya akan digunakan untuk menggantikan tempat
Jika

dan

⁄ sepanjang

atau:
(6.11)

⁄ pada

(6.12)

⁄ pada

Sehingga, diperoleh

⁄ disepanjang garis dan

⁄ disepanjang garis .
Karena dua garis ini berpotongan pada titik (

⁄ ) maka shock muncul pada titik tersebut
seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini.

Jika

maka

sepanjang * (

)+

atau
(6.13)

sepanjang

(

)

Perhatikan bahwa garis pada persamaan (6.13) melewati

. Garis
membagi setengah atas bidang ke dalam empat bagian, yaitu bagian kiri

, bagian kanan

dan dalam bagian segitiga dengan (

) dan diperoleh dari persamaan (6.13).
Seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

Selanjutnya, mengeliminasi

dari persamaan (6.13) akan diperoleh:
(6.14)

Akibatnya, pada bagian shock solusinya memiliki jump diskontinyu san nilai dari solusi tidak dapat
dihitung dengan menggunakan analisis ini. Gambar di bawah ini menunjukkan grafik dari dan pada
empat macam nilai .



Kompresibel Aliran Fluida di Bawah Tekanan Konstan
Mari kita perhatikan aliran yang bergantung pada waktu dari fluida kompresibel berdimensi satu di
bawah asumsi p tekanan konstan. Jika u menunjukkan kecapatan fluida, ρ kecepatan dan e energi
internal per satuan volume, persamaan dasar dinamika gas :
(6.15)

+

= 0,
(6.16)

+

= 0,
(6.17)

+

+ (

= 0.
Kita ingin memecahkan persamaan hal ini ke persamaan / kondisi awal
(6.18) u( x, 0) = f(x)
(6.19) ρ( x, 0) = g(x)
(6.20) e( x, 0) = h(x)
dimanaf , g dan h diberikan fungsi

. Menurut bagian 5, solusi dari masalah nilai awal (6.15), (6.18)
selalu ada untuk t yang cukup kecil dan didefinisikan secara implisit oleh persamaan
(6.21) u = f (x – ut)
Jika

(x) 0 untuk semua x, solusiya ada sebagai fungsi

untuk semua t 0. Sebaliknya solusi
akhirnya berkembang secara diskontinuitas yang dikenal sebagai shocks, studi yang melibatkan
generalisasi konsep larutan (see Noh and

for details). Setelah u diketahui, dapat diganti atau
disubstitusikan ke dalam persamaan (6.16) dan masalah nilai awal (6.16), (6.19) kemudian dapat
diselesaikan untuk mendapatkan kepadatan ρ. Hal ini berguna untuk mendapatkan formula untuk ρ
dalam u (atau dipandang sebagai atau dari segi u). Untuk melakukan hal ini kita perhatikan bahwa

(dalam hal ini), muncul dalam persamaan (6.16) dan dari (6.21) kita peroleh/punya,
(6.22)

Ini menunjukkan bahwa fungsi dari bentuk
(6.23) ρ =

mungkin menjadi solusi dari persamaan (6.16) (lihat juga masalah 6.5). Agar (6.23) memenuhi kondisi
awal (6.19), fungsi G harus diambil untuk menjadi g. Itu kini tersisa sebagai latihan (masalah 6.6) untuk
menunjukkan bahwa
(6.24) ρ =

tidak hanya memenuhi kondisi awal (6.19) tetapi juga pdp (6.16) asalkan fungsi f adalah

. Dalam
pandangan teorema keunikan kita mengenai solusi dari masalah nilai awal (6.16), (6.19), kita
menyimpulkan bahwa solusi dari masalah ini harus diberikan oleh (6.24). Samahalnya dengan, solusi dari
masalah nilai awal (6.17), (6.20) yang diberikan oleh
(6.25)

7. Metode Fungsi Hasil Probabilitas.
Penggunaannya dalam Masalah Sambungan Jaringan Telepon dan Kontrol Penyakit Tropis
Pada bagian ini kita akan membahas penggunaan persamaan diferensial parsial linear orde satu untuk
menyelesaikan masalah probabilitas/kemungkinan, yaitu masalah yan timbul pada penyelidikan proses
tertentu seperti proses skolastik.
Masalah Sambungan pada Jaringan Telepon
Jaringan telepon yang ideal memiliki jumlah saluran tak terbatas, dan asumsinya awal mula dan akhir
panggilan berada dalam interval waktu *0, ∞+ berdasarkan hipotesis tertentu yang kita jabarkan di
bawah ini. Diketahui bilangan bulat non-negatif n, yang digunakan dalam waktu t, 0 < t <∞, dengan
probabilitas awal Pn(0), 0 ≤ n < ∞, carilah probabilitas Pn(t).
Dalam menyatakan hipotesis yang berkenaan dengan permulaan dan penghentian panggilan telepon
dalam jaringan, kita gunakan simbol o(h) untuk menunjukan kuantitas yang menghentikan lebih cepat
daripada h pada h=0; i.e.,

*

+ . Kelayakan dan validitas hipotesis ini dibahas dalam buku
Feller. Hipotesisnya adalah sebagai berikut:
(i) Bila sambungan terjadi pada waktu t, kemungkinan akhir percakapan selama interval waktu
(t, t + h) adalah µh + o(h), dimana µ konstan.
(ii) Kemungkinan awal percakapan selama interval waktu (t, t + h) adalah λh + o(h), dimana λ
konstan.
(iii) Kemungkinan dua atau lebih pergantian (awal atau akhir panggilan) selama interval waktu
(t, t + h) adalah o(h).
Langkah awal penentuan kemungkinan Pn(t) adalah memperoleh sistem persamaan diferensial biasa
yang dipenuhi oleh Pn(t). Nilai t adalah tetap dan probabilitas Pn(t) berlaku untuk semua n, 0 ≤ n < ∞,
dan mari kita tentukan Pn(t + h), probabilitas yang mana nilai n digunakan dalam waktu t + h. Misalkan n
≥ 1. Akan ada beberapa sambungan sebanyak n dalam waktu t + h hanya jika kondisi-kondisi berikut ini
terpenuhi:
(1) Dengan waktu t, sambungan n – 1 digunakan dan satu kali panggilan bermula selama interval
waktu (t,t + h).
(2) Dengan waktu t, sambungan n + 1 digunakan dan satu kali panggilan berakhir selama interval
waktu (t,t + h).
(3) Dengan waktu t, sambungan n digunakan dan tak ada pergantian yang terjadi dalam jaringan
selama interval waktu (t,t + h), dan
(4) Dua atau lebih pergantian terjadi selama interval waktu (t,t + h).
Berdasarkan hipotesis kami, probabilitas poin (4) adalah o(h) sedangkan probabilitas poin (1) adalah
[ ]

Probabilitas poin (2) yaitu
[ ]

Dan probabilitas poin (3) adalah
[ – – ]

Karena probabilitas poin (1), (2), dan (3) saling terpisah, jika di jumlahkan akan menjadi seperti ini
(7.1)

Dengan menggunakan rumus (7.1) untuk membentuk [Pn(t + h) – Pn(h)] / h dan memisalkan h  0, kita
dapatkan persamaan diferensial biasa
(7.2)

Yang mana berlaku untuk semua n ≥ 1 dan 0 < t < ∞. Akan muncul persamaan berikut ini jika n = 0
(7.3)

Karena probabilitas awal Pn(0), 0 ≤ n < ∞, diasumsikan telah diketahui, masalah menemukan
probabilitas Pn(t) untuk semua t > 0 telah berkurang menjadi seperti persamaan (7.2), (7.3). Pertanyaan
mengenai ada tidaknya dan keunikan dari masalah nilai awal ini tidaklah mudah. Sekarang, kita akan
menjabarkan metode menemukan solusi untuk masalah nilai awal dalam persamaan diferensial parsial
linear orde satu.
(7.4) ∑

Rumus diatas dikenal sebagai fungsi hasil probabilitas untuk probabilitas Pn(t). Sebagai konsekuensi
sistem o.d.e.’s (7.2), G(t,s) mesti memenuhi persamaan diferensial parsial linear orde satu. Dengan
mendiferensiasikan rumus (7.4), kita dapatkan rumus:
(7.5)

(7.6)

Substitusi rumus (7.2) dan (7.3) untuk Pn’(t) ke dalam rumus (7.6), diikuti dengan penyusunan ulang dan
identifikasi rumus (7.4) dan (7.5) menghasilkan p.d.e. untuk G
(7.7)

Di sisi lain, pengetahuan tentang probabilitas awal Pn(0) menyebabkan kondisi awal G sejalan dengan t =
0 dari bidang (t,s),
(7.8)
Dimana
(7.9) ∑

Untuk mendapatkan solusi masalah nilai awal rumus (7.7) dan (7.8). Sistem asosiasi o.d.e.’s dari rumus
(7.7) adalah

Dan dua rumus integral fungsional independen pertama yaitu
(7.10)

( – )

karenau
1
tidak bergantung dengan nilai G, integral umum untuk rumus (7.7) adalah
u
2
= f(u
1
)
dimanaf adalah fungsi C
1
dari variabel tunggal. Dengan mensubstitusikan rumus (7.10) dalam integral
umum dan penyelesaian nilai G, kita dapatkan solusi rumus (7.7),
(7.11)

Kondisi awal rumus (7.8) menentukan fungsi f. Dengan mengatur t = 0 dalam rumus (7.11) dan dengan
menggunakan rumus (7.8) menghasilkan

dan selanjutnya,
(7.12)

Terakhir, dengan mensubstitusikan rumus (7.12) ke dalam rumus (7.11) dan menyederhanakannya, kita
dapatkan solusi permasalahan nilai awal (7.7) dan (7.8)

(7.13) – *

+
Ketika fungsi hasil probabilitas G(t,s) telah ditemukan, probabilitas Pn(t) dapat ditemukan dari rumus
yang sudah lazim untuk koefisien Taylor (7.4)
(7.14)

*

+
Untuk mengilustrasikan metode fungsi hasil probabilitas (p.g.f.), digunakanlah t = 0 yang berarti seperti
berikut
(7.15)

Maka,
(7.16) ∑

Substitusi rumus (7.16) ke dalam (7.13) menghasilkan rumus p.g.f.
(7.17) [ – ] *

+
Probabilitas Pn(t) dapat ditentukan menggunakan rumus (7.14). Untuk nilai n = 0 dan n = 1 kita dapatkan
P0(t) = G(t,0) = (1 - e
-µt
) exp *

+
P1(t) =

= [

+

)
2
] exp *

+

Masalah Mengontrol Penyakit Tropis
Schistosomiasis adalah penyakit infeksi parasit yang diperkirakan menjangkiti lebih dari dua ratus juta
orang di negara tropis dan subtropis di dunia.Hal ini ditandai dengan kelemahan jangka panjang yang
dianggap oleh banyak kalangan, menjadi kendala yang signifikan untuk kemajuan negara-negara
terbelakang di mana banyak segmen besar penduduk kurang lebih terinfeksi secara
permanen.Persistensi infeksi di wilayah ini tergantung pada siklus kejadian yang kompleks yang
melibatkan manusia, cacing pipih parasit tertentu (schistosomes), dan spesies siput tertentu.Sebuah
penelitian tentang probabilitas dari siklus peristiwa telah dimuat dalam jurnal Nasell dan Hirsch.Hasil
dari penelitian ini memungkinkan adanya perbandingan keefektifan relatif dari berbagai prosedur yang
ditujukan untuk pengendalian atau pemberantasan penyakit.Di sini kami tunjukan masalah yang muncul
di banyak penelitian mengenai penentuan fungsi hasil probabilitas tertentu.
Fungsi hasil probabilitas G(t,s) harus memenuhi p.d.e.
(7.18)

Dan kondisi awalnya
(7.19)

dengan t = t0 dalam (t,s). Maka selanjutnya diberikan fungsi Y(t), dengan nilai µ dan v konstan dan m
adalah bilangan bulat nonnegatif. Ini latihan yang mudah untuk mendapatkan integral pertama dari
rumus (7.18),
(7.20) u
1
= e
-µt
(s – 1),

dimana

Sekarang, integral umum dari rumus (7.18) adalah
(7.21)

dimana f adalah nilai sembarang fungsi C
1
. Dengan menyelesaikan rumus (7.21) untuk G, kita dapatkan
penyelesaian rumus (7.18),
G(t,s) =

Kondisi awal rumus (7.19) menentukan fungsi f karena memerlukan persamaan
(7.22) s
m
=

Dimisalkan z =

, kita dapatkan s = 1 + z

dan rumus (7.23) menghasilkan
f(z) = (1 +

exp [

]
Maka,
(

) [

]

[

]
dan dengan substitusi rumus (7.22), kita dapatkan solusi masalah nilai awal (7.18)dan (7.19),
(7.24) G(t,s) = [

]
m
exp {

[

]


Deret Taylor, Fungsi Analitik
Misalkan sebuah fungsi

dari suatu variabel pada interval buka

dan misalkan

sembarang titik di I. Deret

disebut deret Taylor dari fungsi di sekitar titik

.

menyatakan turunan ke- dari . Untuk sembarang fungsi

, Deret Taylor (1.1) mungkin
tidak konvergen atau jika ia konvergen, belum tentu konvergen terhadap . Fungsi

khusus yang
memiliki deret Taylor yang konvergen terhadap untuk semua di sekitar

, disebut analitik pada

.
Definisi 1.1
Misalkan

dimana adalah interval terbuka dari

, dan misalkan

sembarang titik pada .
Jika deret Taylor (1.1) dari di sekitar

konvergen terhadap untuk setiap pada persekitaran

,
maka disebut analitik pada

. Jika analitik di setiap titik pada maka disebut fungsi analitik pada
interval .
Contoh
Deret Taylor dari fungsi

di sekitar titik asal adalah

Deret di atas konvergen terhadap

untuk setiap

. Maka, fungsi

analitik pada titik asal.
Selanjutnya, fungsi tersebut analitik di seluruh garis bilangan real

sehingga

Contoh lain
Fungsi dan analitik pada

dan

Misalkan sebuah fungsi

yang terdefinisi pada beberapa domain

dan misalkan

sembarang titik pada . Deret

disebut deret Taylor dari disekitar

.

, dan

bilangan bulat non-negatif,

Deret (1.2) dapat dituliskan dalam bentuk yang lebih singkat dengan notasi

||

maka deret Taylor (1.2) dari disekitar

dapat dituliskan dalam bentuk

||

Definisi 1.2
Misalkan

dimana adalah sebuah domain pada

dan misalkan

sembarang titik pada .
Jika deret Taylor (1.3) dari di sekitar

konvergen terhadap untuk semua dipersekitaran

,
maka disebut analitik pada

. Jika analitik pada setiap titik di maka suatu fungsi analitik di .
Teorema Cauchy Kovalensky
Misalkan fungsi analitik pada persekitaran titik asal dari

dan misalkan fungsi analitik pada
persekitaran titik (

) dari

Maka masalah
Cauchy (2.7)-(2.8) memiliki solusi

yang terdefinisi dan analitik pada persekitaran di titik
asal di

dan solusinya unik dalam kelas fungsi analitik.
Misalkan diketahui

adalah masalah nilai awal untuk persamaan diferensial biasa berorde satu dengan variabel yang tidak
diketahui dan variabel bebas .
Akan dicari solusi dari masalah (2.1)-(2.2) yang terdefinisi di beberapa interval pada sumbu- yang
memuat titik .
Asumsikan bahwa fungsi analitik pada persekitaran titik

, sehingga memiliki
deret Taylor yang konvergen terhadap untuk setiap titik pada persekitaran titik

Maka teorema Cauchy-Kovalevsky menunjukkan masalah nilai awal (2.1)-(2.2) memiliki solusi yang
terdefinisi dan analitik pada interval yang memuat titik .
Bagaimana mencari deret Taylor di sekitar titik ?
Selanjutnya, misalkan diketahui

(

)

adalah masalah nilai awal atau masalah Cauchy untuk
persamaan diferensial parsial berorde satu dengan variabel
tidak diketahui dan dua variabel bebas . Diberikan
fungsi yang terdefinisi pada beberapa interval dari
sumbu- yang memuat titik asal. Akan dicari suatu solusi
dari masalah Cauchy (2.4)-(2.5) yang terdefinisi
untuk di beberapa domain pada bidang- yang
memuat kurva awal .
Asumsikan bahwa fungsi yang diberikan, analitik pada
persekitaran titik asal di sumbu-. Maka, dari kondisi awal (2.5) dapat dihitung seluruh turunan parsial
dari terhadap pada titik asal,

Asumsikan juga bahwa fungsi analitik di persekitaran titik

di

. Maka teorema
Cauchy-Kovalevsky menyatakan bahwa masalah (2.4)-(2.5) memiliki solusi yang terdefinisi dan
analitik pada persekitaran titik asal dari bidang – .
Untuk mencari deret Taylor dari di sekitar titik asal, harus dihitung nilai dari semua
turunan parsial pada titik asal.
Turunan dari

dapat dihitung dari kondisi awal (2.5). Dengan mensubstitusikan pada
(2.4) nilai , dan nilai yang telah diperoleh sebelumnya. dan

pada (0,0), diperoleh nilai
turunan

pada titik asal.

(

)
untuk memperoleh nilai

, turunkan (2.4) terhadap sehingga diperoleh

kemudian substitusikan dan nilai

pada (0,0) yang telah diperoleh sebelumnya.
Selanjutnya, untuk mencari

, turunkan (2.4) terhadap ,

dan substitusikan dan nilai

dan

pada titik asal yang telah diperoleh
sebelumnya.
Dengan menurunkan (2.4) terhadap dan dan mensubstitusikan nilai dan turunannya, diperoleh
semua nilai turunan parsial dari pada titik asal.
Deret Taylor untuk di sekitar titik asal adalah

Teorema Cauchy-Kovalevsky menunjukkan bahwa deret ini konvergen untuk semua di beberapa
persekitaran dari domain asli dan mendefinisikan solusi

fungsi yang didefinisikan oleh (2.6) memenuhi p.d.p. (2.4) untuk setiap dan kondisi awal (2.5)
untuk setiap titik dari yang termuat di .
Misalkan diketahui

adalah masalah nilai awal (masalah Cauchy) yang melibatkan sebuah persamaan diferensial parsial orde
satu dalam satu variabel yang tidak diketahui dan variabel bebas

. Fungsi

adalah sebuah fungsi dari variabel.
Teorema (Cauchy-Kovalevsky)
Misalkan fungsi analitik pada persekitaran titik asal dari

dan misalkan fungsi analitik
pada persekitaran titik ( ( )

( )

( )) dari

.
Maka masalah Cauchy (2.7)-(2.8) memiliki solusi (

) yang terdefinisi dan analitik
pada persekitaran di titik asal di

dan solusinya unik dalam kelas fungsi analitik.
Teorema ini menyatakan 2 hal yaitu :
1. Terdapat solusi analitik di beberapa persekitaran titik asal
2. Solusi unik pada kelas fungsi analitik
Maksud dari keberadaan adalah terdapat sebuah fungsi (

) yang terdefinisi dan
analitik di persekitaran U dari titik asal di

sehingga pada setiap titik (

) dari
memenuhi (

) memenuhi (2.7) dan pada setiap titik (

) pada bagian yang
termuat di memenuhi (2.8) kondisi awal.

bukti keberadaan menunjukan bahwa koefisien deret taylor adalah

Contoh 2.1
Temukan semua suku yang berorde ≤ 3 dalam deret Taylor di sekitar titik asal dari solusi masalah nilai
awal
(2.10)

(2.11)

Pada masalah ini

dan fungsi adalah fungsi analitik pada persekitaran titik asal dari
sumbu-x (pada kenyataannya analitik di seluruh sumbu-x).

.
Selain itu, dan fungsi ini analitik di persekitaran dari (0,0,1,0) di

(pada kenyataannya
fungsi tersebut analitik di seluruh

). Oleh karena itu, dengan menggunakan teorema Cauchy-
Kovalevsky, masalah Cauchy (2.10)-(2.11) memiliki solusi analitik di persekitaran titik asal pada bidang
. . Kita harus menghitung semua turunan dari berorde ≤ 3 di titik asal.
Dari (2.11) kita memiliki

Oleh karena itu,

dari (2.10) kita mempunyai

dan dengan menggunakan nilai yang telah diperoleh sebelumnya kita diperoleh

dari (2.10) didapat

dan dengan menggunakan nilai yang telah dperoleh sebelumnya diperoleh

akhirnya dari (2.10) didapat

oleh karena itu

Deret Taylor untuk di sekitar titik asal adalah

BAB V
PERSAMAAN DIFERENSIAL PARSIAL LINEAR
KARAKTERISTIK, KLASIFIKASI DAN BENTUK KANONIK

1. Operator Parsial Diferensial Linear dan Kurva Karakteristik dan Permukaan
Karakteristiknya
Beberapa notasi yang perlu diingat:

merupakan sebuah titik di

merupakan operator parsial diferensial

Misalkan

merupakan -tuple bilangan bulat non-negatif. Kemudian kita
definisikan

dan

Misakan || menotasikan penjumlahan komponen-komponen dari , ||

.
Maka

adalah monomial dari orde || pada koordinat

, dan

adalah sebuah
operator parsial diferensial dari orde ||. Berdasarkan notasi sebelumnya, maka:

||

Contoh :
Jika = 3 dan = (2, 1, 3)
Maka: || = 2 + 1 + 3 = 6

adalah monomial dari orde 6

Persamaan diferensial parsial linear dari orde di

adalah persamaan dengan bentuk
(1.1)

||

Dimana
-

dan adalah fungsi dari

-

merupakan koefesien dari bentuk

- merupakan sisi kanan dari persamaan
Penjumlahan dari sisi kiri pada persamaan tersebut bernilai mungkin untuk indeks vector
dengan || . Jadi, adalah orde tertinggi dari turunan yang terlihat dalam persamaan.
Operator diferensial parsial linear dari sisi kiri pada persamaan (1.1) akan dinotasikan dengan
,
(1.2)

||

Jika koefesien

konstan, hanya ditulis .

Contoh 1.1
Diberikan persamaan di

(1.3)

merupakan persamaan diferensial parsial linear orde kedua.
Karena persamaan ini merupakan persamaan diferensial parsial linear di

dan merupakan
persamaan diferensial parsial linear orde kedua maka ||

. Kombinasi

yang mungkin adalah (0, 0); (0, 1); (0, 2); (1, 0); (1, 1); (2, 0). Maka diperoleh koefesien-
koefesian yaitu :

,

,

,

,

Operator dari persamaan (1.3) adalah
(1.4)

Contoh 1.2
Bentuk umum operator parsial diferensial linear orde pertama di

:

Sebagai contoh, bentuk umum operator orde pertama di

adalah
(1.5)

Contoh 1.3
Bentuk umum operator parsial diferensial linear orde kedua di

:

Beberapa contoh penting operator persamaan diferensial linear parsial dengan koefesien konstan
adalah operator Laplace di dua variabel
(1.6)

,
operator gelombang di satu variabel ruang
(1.7)

,
dan operator panas di satu variabel ruang
(1.8)

.
Dalam (1.7) dan (1.8),

adalah variabel ruang dan

adalah variabel waktu.

Contoh lainnya adalah operator Tricomi yang muncul dalam hidrodinamik,
(1.9)

.

Contoh 1.4
Bentuk umum operator parsial diferensial linear orde kedua di

:

Kasus khusus yang penting dengan koefisien konstan adalah operator Laplace dalam tiga
variabel
(1.10)

,
operator gelombang di dua variabel ruang
(1.11)

,
dan operator panas di dua variabel ruang
(1.12)

.
Dalam (1.10) dan (1.11),

dan

adalah variabel ruang dan

adalah variabel waktu.

Contoh 1.5
Operator biharmonik di

:
(1.13)

Adalah operator parsial diferensial linear orde ke-4 yang muncul dalam studi elastisitas.

Principal part
Principal part adalah solusi dari PDP linear yang hanya bergantung pada orde tertinggi
dari persamaan yang diberikan.
(1.14)
¿
s
=
m
D x a D x P
o
o o
). ( ) , (
Bentuk Persamaannya menjadi:
(1.15)
¿
=
=
m
m
D x a D x P
o
o o
). ( ) , (
Principal part untuk operator diferensial
1
2
2 1 2 1
2
2
2
2 2 1
2
1
) sin( ) , (
x
e D x D D x D x x D D x P + + ÷ + =
karena yang digunakan adalah orde tertinggi yaitu yang berorde 2 sehingga
1
2
2 1
x
e D x +
dihilangkan. Jadi, persamaannya menjadi:
2 1
2
2
2
2 2 1
2
1 2
) sin( ) , ( D D x D x x D D x P ÷ + =
Kemudian Untuk orde 1 dari persamaan ) ( ) ( ) ( ) , (
2 2 1 1
x c D x a D x a D x P + + = karena orde tertinggi
1 maka konstanta c dihilangkan. Sehingga persamaan menjadi:
(1.15)
2 2 1 1 1
) ( ) ( ) , ( D x a D x a D x P + =
Principal part untuk operator laplace dan operator gelombang akan sama dengan operator
sebelumnya. Sementara itu principal part untuk operator panas
2
2
1
) ( D D D P ÷ = adalah :
(1.16)
2
1 2
) ( D D P =
Terdapat vektor yang semuanya tak nol ) ,..., , (
2 1 n
ç ç ç ç =
n
R e . Jika terdapat ì 0,
vektor ç dan ìç arahnya sama. Arah yang di definisikan dari vektor tak nol ç di
n
R

adalah
karakteristik di titik

yang berhubungan dengan . Dengan persamaan karakteristik
yaitu:
(1.17)
0 ) , ( = ç x P
m

Persamaan karakteristik 0 ) , ( = ç x P
m
pada Sisi kiri pada operator parsial P(x,D) yaitu
) ,..., , (
2 1 n
D D D D = diganti oleh ) ,..., , (
2 1 n
ç ç ç ç = Sehingga persamaan karakteristik menjadi:
¿
=
= =
m
m
x a x P
o
o o
ç ç 0 ). ( ) , (
Sebagai contoh persamaan karakteristik dari operator (1.4) menjadi
0 ) sin(
2 1
2
2
2
2 2 1
2
1
= ÷ + ç ç ç ç x x x
Arah ) 1 , 0 ( ) , (
2 1
= ç ç adalak karakteristik di titik

cocok dengan operator diatas.
Kemudian untuk persamaan karakteristik untuk operator gelombang adalah
ç

ç

ç

Dengan arah (ç

ç

ç

) √ adalah karakteristik disetiap titik di

di

.
Secara umum, jika koefisien dari principal part adalah sebuah operator yang konstan kemudian
arah karakteristiknya juga bebas dari x di

.


Permukaan Karakteristik
Misalkan ada permukaan mulus S di
n
R dan
0
x adalah titik di S. Permukaan S dikatakan
karakteristik di
0
x yang bersesuaian dengan P(x,D). Jika vektor normal S di
0
x mendefinisikan
arah yang bersesuaian dengan P(x,D) dan jika permukaan S adalah karakterisiti yg bersesuaian
dengan P(x,D) di semua titik di S maka S disebut permukaan karakteristik. Kurva karakteristik
merupakan bagian dari permukaan karakteristik yang titik-titiknya berada di
2
R dan semua
titiknya karakteristik.
Sebuah garis di

di

adalah karakteristik di titik

yang
bersesuaian dengan operator
1
2
2 1 2 1
2
2
2
2 2 1
2
1
) sin( ) , (
x
e D x D D x D x x D D x P + + ÷ + = karena vektor
norlanya (0,1)pada garis

adalah sebuah arah karakteristik pada titik (

) yang bersesuain
dengan operator
1
2
2 1 2 1
2
2
2
2 2 1
2
1
) sin( ) , (
x
e D x D D x D x x D D x P + + ÷ + = .
Bidang

di

adalah permukaan karakteristik pada operator
gelombang. Karena √ pada bidang yang semua titiknya karakteristik yang bersesuain
dengan

Gambar 1.1

Gambar 1.2







Soal
Tuliskan principal part

untuk masing-masing operator parsial diferensial (1.6) – (1.13),
Jawab:
Principal part untuk masing-masing persamaan (1.6) – (1.13) adalah:
-

-

-

-

-

-

-

-

2. Metode untuk menentukan permukaan dan kurva karakteristik, Contoh-contoh
Langkah pertama untuk mencoba menemukan kurva atau permukaan karakteristik dari
sebuah operator differensial parsial linear adalah dengan menuliskan persamaan karakteristik.
Jika koefisien dari principal part dari operator adalah konstant kemudian persamaan
karakteristik adalah sebuah polinomial homogen dalan

dengan koefisien konstanta. Ini
memungkinkan untuk mendapatkan arah karakteristik dan menentukan permukaan karakteristik
dengan geometric reasoning sederhana. Berikut ini 5 contoh dalam

mengilustrasikan metode
ini.

Contoh 2.1
Dalam

misalkan

Dengan orde dan principal part adalah

.
Persamaan karakteristik adalah

Sehingga arah adalah arah karakteristik pada setiap titik pada

. Kurva karakteristik
adalah berupa garis

Contoh 2.2
Dalam

selesaikan operator Laplace

.
Persamaan karakteristik adalah

.
Yang cocok dengan

.
Maka akibatnya tidak terdapat arah karakteristik sehingga operator Laplace tidak memiliki
kurva karakteristik.

Contoh 2.3
Selesaikan operator Panas

pada

Principal Part adalah

.
Dan persamaan karakteristik adalah :

Seperti halnya dalam contoh 2.1, kurva karakteristik adalah garis

Contoh 2.4
Selesaikan operator gelombang

pada

.
Persamaan karakteristik adalah

Kurva tangent:
(

)
(

)

(

)




dan

Sehingga

. Kurva karakteristik adalah berupa garis lurus membentuk sudut 45
0
garis

dan

( lihat gambar 2.1). catatan bahwa setiap titik

melewati
tepat dua kurva karakteristik. Seperti pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1

Contoh 2.5
Persamaan

Dimana adalah konstanta disebut persamaan telegraph.disini kita gunakan dalam
menetapkan dari

. Principal part dari operator differensial parsial (p.d.o). persamaan
dapat ditulis :

Persamaan karakteristik :

Vektor yang tepat adalah vektor

.
Kurva karakteristik berupa garis lurus

dan

. Ambil setiap titik pada
bidang yang tepat melewati dua kurva karakteristik.

Contoh 2.6
Di

misalkan
) ( ) ( ) ( ) , (
2 2 1 1
x c D x a D x a D x P + + = .
Orde 1 = m , principal partnya adalah
2 2 1 1
) ( ) ( ) , ( D x a D x a D x P + =
dan persamaan karakteristiknya adalah
0 ) ( ) (
2 2 1 1
= + ç ç x a x a .
Misalkan, C adalah kurva karakteristik dengan parameter
) ( ), (
2 2 1 1
t f x t f x = = .
Garis singgung kurva ini ditentukan oleh |
.
|

\
|
dt
dx
dt
dx
2 1
, , maka |
.
|

\
|
÷
dt
dx
dt
dx
1 2
, adalah normal di C.
Oleh karena itu,
0 ) , ( ) , (
1
2 1 2
2
2 1 1
= ÷
dt
dx
x x a
dt
dx
x x a .
Jadi, kurva karakteristik bisa diperoleh dengan menyelesaikan persamaan diferensial
0
1 2 2 1
= ÷ dx a dx a .
Misalnya, kurva karakteristik dari
2 1
D D + adalah solusi dari persamaan
0
1 2
= ÷ dx dx
yaitu garis c x x + =
1 2
.
(1)

Kurva karakteristik dari
2 1 1
D x D + adalah solusi dari persamaan
0
1 1 2
= ÷ dx x dx
yaitu parabola c x x + = 2
2
1 2
.
(2)
(Lihat Gambar 2.2)

Gambar 2.2
Contoh 2.7
Di

operator
2
2
2
1 2
) , ( D D x D x P + =
disebut operator Tricomi dan muncul dalam hidrodinamika. Persamaan karakteristiknya adalah
0
2
2
2
1 2
= + ç ç x .
Di setengah bidang atas, 0
2
> x , tidak ada arah karakteristik sehingga tidak ada kurva
karakteristiknya. Untuk 0
2
s x , arah karakteristik di setiap titik ( )
2 1
, x x diberikan oleh vektor
( )
2
, 1 x ÷ ± . Seperti dalam contoh 2.6 kita menyimpulkan bahwa kurva karakteristik adalah
solusi dari persamaan

Solusi persamaan ini adalah

(3)

Jadi, kurva karakteristik dua parameter satu keluarga kurva diilustrasikan pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3

Sekarang kita beralih untuk contoh dalam dimensi yang lebih tinggi.

Contoh 2.8
Di

kita pandang operator Laplace

.
Persamaan karakteristiknya adalah

satu-satunya solusi yaitu

. Oleh karena itu, tidak ada arah karakteristik
dan permukaan karakteristiknya.

Contoh 2.9
Pandang operator panas di

,

dimana kita menggunakan t untuk variabel ke (n+1). Pricipal partnya adalah

dan persamaan karakteristiknya adalah

Satu-satunya arah karakteristik adalah

dan permukaan
karakteristiknya adalah bidang .

Contoh 2.10
Di

pandang operator gelombang

dimana kita menggunakan t untuk variabel ke (n+1). Persamaan karakteristiknya adalah

.
Untuk mencari panjang vektor unit yang memenuhi persamaan ini, kita harus memisalkan

maka kita harus punya

√ ⁄ . Karena komponen dari sebuah vektor yang membentuk
sudut terhadap koordinat axis-nya adalah cosinus dari sudut tersebut, maka arah karakteristiknya
membentuk sudut

terhadap sumbu t.
Setiap permukaan n dimensi yang normal di setiap titik yang membentuk sudut

terhadap
sumbu t adalah karakteristik.
Misalnya, bidang

dan

adalah karakteristik. Permukaan kerucut ganda

adalah permukaan karakteristik yg berperan penting dalam mempelajari operator gelombang,
atau disebut juga characteristic cones. Gambar 2.4 menunjukkan sebuah characteristic cones
dalam ruang tiga dimensi, dimana setiap titik

adalah puncak dari characteristic
cones-nya.
Umumnya, untuk menentukan permukaan karakteristik pada tiga dimensi atau lebih adalah hal
yang sulit.


Gambar 2.4

3. Bagian Terpenting pada Karakteristik. Sebuah Contoh yang Sangat Sederhana
Pada bagian ini kita akan mengilustrasikan bagian terpenting dari sebuah karakteristik
dengan mendiskusikan operator diperensial parsial yang paling sederhana yang mungkin,
operator

⁄ pada bidang . Seperti yang telah kita lihat pada bagian sebelumnya,
(0,1) hanya merupakan arah karakteristik dan karakteristiknya merupakan garis
konstanta.
Pertama – tama kita lihat bahwa karakteristik adalah pengecualian untuk masalah (nilai
awal) Cauchy. Masalah Cauchy untuk suatu persamaan diferensial parsial orde pertama pada dua
variabel bebas menginginkan suatu solusi u dari persamaan pada suatu domain yang memuat
kurva c pada nilai dari u yang diberikan. Kurva c dinamakan kurva awal (manifold awal) dari
permasalahan dan pemberia, nilai u pada C dinamakan data awal. Pertama perhatikan bahwa
kurva awal C bukan karakteristik terhadap

. Kemudian vector normal terhadap C pada setiap
titik harus memiliki komponen yang tidak nol pada arah x dan oleh karena itu C harus memenuhi
persamaan dengan bentuk

Misalkan masalah nilai awal

Dimana f(y) fungsi yang telah diberikan, persamaan diferensial (3.2) mengakibatkan sepanjang
garis y = konstanta, u(x,y) adalah konstan, bebas dari x. Oleh karena itu u(x,y) = dan
dari kondisi awal (3.3) kita lihat bahwa

Ini merupakan solusi tunggal (unik) dari masalah (3.2), (3.3) . Perhatikan bahwa sekarang kurva
awal c adalah kurva karakteristik, misalkan garis y = 0 dan anggap masalah Cauchy

Gambar 3.1

Andaikan kurva awal yang karakteristik, misalkan garis . Anggap masalah Cauchy
(3.2)

(3.4)
Dimana adalah fungsi yang diberikan. Jika merupakan fungsi yang tidak konstan maka
tidak dapat dijadikan sebagai solusi untuk masalah (3.2) dan (3.4) karena persamaan diferensial
pada (3.2) kontradiksi dengan kondisi awal (3.4) pada garis awal ( konstan,

, sedangkan ).
Jika untuk setiap maka untuk sebarang fungsi yang memenuhi kondisi ,
fungsi

adalah solusi untuk masalah (3.2) dan (3.4),
definisikan , dengan . dan , karena
jadi ini merupakan solusi. Karena jadi
memilikibanyaksolusi.Ketikakurvaawal adalah karakteristik maka solusi untuk masalah
Cauchy yang diberikan tidak akan ada solusi atau memiliki tak hingga banyaknya solusi.
Ciri penting karakteristik adalah karakteristik merupakan suatu solusi persamaan diferensial
parsial atau turunan fungsi yang tidak kontinu. Untuk kasus operator

. Jika fungsi dengan
variabel tunggal, maka adalah solusi dari persamaan diferensial

. Jika
memiliki fungsi yang tidak kontinu tangga di titik

maka solusi memiliki fungsi yang
tidak kontinu tangga di garis

yang merupakan garis karakteristik. Jika

memiliki
fungsi tidak kontinu tangga di titik

maka ⁄ memiliki fungsi tidak kontinu tangga di garis

yang merupakan garis karakteristik.
Karakteristik berperan penting dalam menyelesaikan persamaan diferensial parsial orde pertama.
Sebagai contoh, solusi dari persamaan
(3.5)

Diberikan oleh
(3.6)

Dimana integral tersebut merupakan integral garis yang menjadi kurva karakteristik
= konstanta. Perhatikan bahwa jika kurva karakteristik = konstanta maka persamaan
diferensial parsial (pdp) pada (3.5) sebenarnya merupakan persamaan diferensial biasa (pdb).
Fakta ini umumnya benar untuk semua pdp linear orde pertama dan untuk menyelesaikan
masalah nilai awal persamaan ini, dapat diselesaikan dengan menyelesaikan masalah nilai awal
untuk pdb.
Karakteristik dapat digunakan untuk mengenalkan koordinat baru dalam persamaan diferensial
yang memiliki bentuk yang sederhana yang disebut persamaan bentuk kanonik (bentuk
alternatif).


Soal
Anggap masalah nilai awal untuk persamaan

dengan kurva awal parabola

.
Perhatikan bahwa kurva ini karakteristik di tapi tidak karakteristik di titik lainnya.
Tunjukkan bahwa kecuali data awal yang memenuhi kondisi ini, masalah nilai awalnya tidak
memiliki solusi global. Bagaimanapun, jika sebarang titik dari kurva awal yang berbeda
dengan , tunjukkan bahwa masalah nilai awal selalu memiliki sebuah solusi dalam suatu
persekitaran (yang cukup kecil) dari . Apakah benar untuk ?
Jawab:

dengan konstanta memiliki kurva karakteristik konstanta
sehingga titik terletak di kurva tersebut.

maka

. Karena (dari titik maka yang memenuhi hanya untuk . Jadi kurva
karakteristik hanya di .
Misalkan , sedangkan

maka jelas bukan
merupakan solusi, jadi tidak memiliki solusi global.
Misalkan , karena terletak pada kurva

maka

, untuk
maka persekitaran

akan ada sebuah solusi yaitu yang memuat titik dan kurva

.
Untuk dan untuk maka persekitaran

akan ada sebuah solusi yaitu yang
memuat titik dan kurva

.

4. Masalah Nilai Awal untuk Persamaan Linear Orde Pertama dalam Dua Variabel
Bebas
Dalam subbab ini kita memandang masalah nilai awal untuk persamaan linear orde
pertama dalam dua variabel bebas secara umum. Karena persamaan linear adalah kasus khusus
dari persamaan quasi-linear, maka cara untuk menentukan keberadaan dan solusi tunggal yang
bisa didapat mengikuti cara dari bab sebelumnya, yakni tentang persamaan quasi-linear.
Masalah Nilai Awal
Misalkan diberikan kurva awal C secara parametris oleh persamaan :

Dimana

. Temukan suatu fungsi yang didefinisikan dalam
suatu domain yang memuat C, sedemikian sehingga:
i) solusi di untuk persamaan
(4.2)

ii) Pada kurva C,
(4.3) (

)
Untuk (4.2), kita asumsikan bahwa

, dan adalah koefisien dari principal part
dari (4.2) yang tidak nol secara bersamaan pada titik di .

Teorema 4.1
Misalkan

adalah titik dari kurva awal C, dan anggap C bukan karakteristik pada

yang mengacu pada persamaan (4.2). maka suatu persekitaran U dari

, adalah
suatu solusi tunggal dari (4.2), yang memenuhi (4.3) disetiap titik di C yang dimuat di U
Jika

nilai awal kurva parameter t sesuai dengan titik

, maka vector

(

) normal terhadap C pada

, dan C bukan karakteristik pada

artinya

tidak memenuhi persamaan karakteristik dari (4.2) pada

, yaitu

Ini memenuhi kondisi (3.9) pada Teorema 3.1 di BAB III khusus untuk menyajikan kasus linear.
Secara singkat, Teorema 4.1 menegaskan keberadaan dan ketunggalan solusi dari
masalah nilai awal (4.2), (4.3) di persekitaran dari setiap titik dari awal kurva C dimana C bukan
karakteristik sehubungan dengan persamaan.
Perbedaan antara kasus linear dan quasi-linear harus secara cermat dicatat. Pada kasus
quasi-linear, kondisi dasar (3.9) pada Teorema 3.1 pada BAB III tidak hanya melibatkan
persamaan diferensial dan kurva tetapi melibatkan juga data awal. Pada kasus linear, kondisi
awal (4.4) hanya melibatkan persamaan dan kurva awal dan tidak melibatkan data awal.
Kata “karakteristik” dapat digunakan (dan sering digunakan) pada kasus quasi-linear dan
nonlinear serta dalam kasus linear. Sehingga kondisi awal (3.9) pada Teorema 3.1 dapat
dinyatakan dengan mengatakan bahwa kurva awal C bukan karakteristik pada

sehubungan dengan persamaan diferensial dan diberikan data awal. Namun pada buku ini kita
telah memilih untuk menggunakan kata karakteristik hanya pada kasus linear.
Berikut ini masalah nilai awal khusus yang sering muncul dalam aplikasi:
(4.5)

(4.6)
Perhatikan bahwa kurva awal pada masalah ini adalah sumbu-x. Karena vector (0,1) normal
terhadap sumbu-x dan karena

Sumbu-x adalah bukan karakteristik sehubungan dengan persamaan (4.5).
Oleh sebab itu, Teorema 4.1 menghasilkan Akibat.

Akibat 4.1
Misalkan

adalah sebarang titik pada sumbu x dan misalkan a, c, dan f adalah dari
kelas

dalam suatu himpunan buka yang memuat

dan ϕ adalah dari kelas

dalam
suatu interval buka yang memuat

. Maka, dalam persekitaran

terdapat solusi tunggal
dari masalah nilai awal (4.5), (4.6).

Contoh 4.1
Selesaikan masalah nilai awal
(4.7)

(4.8)

Penyelesaian:
Persamaan (4.7) bersesuaian dengan persamaan (4.5)

dimana



dan persamaan (4.8) bersesuaian dengan persamaan (4.6)

dimana

Berdasarkan Akibat 4.1 maka, terdapat solusi tunggal dari masalah ini pada persekitaran di setiap
titik pada sumbu x. Akan dicari sebuah solusi umum yang valid pada bidang . Dengan
menggunakan sistem persamaan diferensial biasa yang berkaitan dengan persamaan diferensial
parsial (4.7), yaitu

dengan , maka
(4.9)

Misal dimulai dari persamaan diferensial biasa

∫ ∫

(4.10)

Jadi,

Apakah

solusi?
(Apakah

integral pertama dari (4.9)?)
Substitusi

ke

Jadi,

adalah integral pertama dari (4.9).
Jadi,

adalah solusi.

Misal

maka,

substitusi pada persamaan diferensial biasa

(

)
∫(

) ∫

Substitusi

ke

(

)

(4.11)

Jadi,

Apakah

solusi?
(Apakah

integral pertama dari (4.9)?)
Substitusi

ke

Jadi,

adalah integral pertama dari (4.9).
Jadi,

adalah solusi.

Apakah

dan

adalah solusi yang bebas linear
secara fungsional?

|


|
Jadi,

dan

adalah solusi yang bebas linear
secara fungsional.

Karena

tidak bergantung pada u, maka integral umum dari persamaan
diferensial parsial (4.7)

(4.12)

(

)
dimana F adalah fungsi

dengan variabel tunggal. Kondisi awal (4.8) menentukan F. Dengan
mensubstitusikan dan

ke (4.9), maka

(

)

(

)
(4.13)

Sehingga,

(

)

(

)

(4.14) (

)

Jadi, solusi tunggal dari (4.7) dan (4.8) adalah (

)

Kasus berikutnya dimana kurva awal C diberikan oleh (4.1) adalah karakteristik yang
bersesuaian dengan persamaan diferensial parsial (4.2) pada titik

(

).
Maka vektor normal

(

) harus memenuhi persamaan karakteristik dari (4.2)
di

, yaitu

atau
(4.15)

Teorema 4.2
Misalkan kurva awal C adalah karakteristik sehubungan dengan (4.2) di

dan
(4.16)

Dimana adalah nilai umum dari rasio di (4.15). maka tidak ada solusi untuk nilai awal masalah
(4.2),(4.3) di semua persekitaran dari titik

.

Teorema 4.3
Misalkan kondisi
(4.17)

Terpenuhi untuk semua t (atau setidaknya untuk semua t di persekitaran

). Maka
persekitaran dari

masalah nilai awal dari (4.2),(4.3) mempunyai solusi
yang tak berhingga.


5. Masalah Umum Cauchy. Teorema Cauchy-Kovalevsky dan Ketunggalan Teorema
Holmgren
Masalah Umum Cauchy
Dengan mempertimbangkan persamaan diferensial parsial berorder m,
(5.1) ∑
||

dimana koefisien

dan pada ruas kanan merupakan fungsi dari

. Diberikan
S adalah permukaan mulus di

dan menotasikan unit vector normal ke S di x.
Misalkan nilai u pada S dan semua turunan berarahnya pada arah n dan berorder lebih dari m-1
diberikan sebagai berikut.
(5.2) |

|

|

Dimana

adalah fungsi yang terdefinisi di S. Dengan menemukan solusi u pada
persamaan (5.1) yang terdefinisi pada domain yang memuat S dan memenuhi persamaan (5.2)
pada S.
Permukaan S disebut permukaan awal dan kondisi (5.2) disebut kondisi awal. Fungsi

yang terdefinisi pada S disebut data awal.
Teorema Cauchy-Kovalevsky mensyaratkan semua fungsi yang muncul pada pernyataan
masalah serta permukaan awal S haruslah analitik. Permukaan S di R
n
dikatakan analitik jika S
ketinggian permukaan pada fungsi analitik, yakni jika digamabarkan dengan persamaan berikut:

dimana F adalah fungsi analitik dengan gradien tidak nol.

Teorema 5.1 (Teorema Cauchy-Kovalevsky)
Misalkan

adalah titik pada permukaan awal S. Koefisien

,f pada ruas kanan, data
awal

dan permukaan awal S semuanya analitik di persekitaran

. Selanjutnya
permukaan awal S tidak karakteristik di

berhubungan dengan persamaan (5.1) yaitu:
(5.3) ∑

[

]

||

Maka masalah Cauchy (5.10)-(5.2) memiliki solusi u(x) yang terdefinisi dan analitik di
persekitaran

, dan solusinya tunggal di kelas fungsi analitik.

Teorema ini memiliki dua pernyataan yaitu:
1. Ada solusi analitik di persekitaran di

2. Solusinya tunggal di kelas fungsi analitik
Dengan kata lain pernyataan ini menjelaskan bahwa ada fungsi u yang terdefinisi dan analitik
di persekitaran U dari

dan setiap titik , u memenuhi persamaan (5.1) dan di setiap titik x
bagian S mengandung U, u memenuhi kondisi awal (5.2).
Pernyataan ketunggalan tersebut menyatakan bahwa dua solusi analitik pada persamaan
(2.7)

(2.8)

harus tepat berada di persekitaran x
0
. Pernyataan ketunggalan ini masih berlaku jika adanya
kemungkinan lebih dari satu solusi problem Cauchy, dimana solusinya belum tentu analitik.
Sebagai contoh misalkan ada dua atau lebih solusi yang berbeda dalam kelas fungsi dimana C
m

ada dalam persekitaran x
0
.

Teorema 5.2 (Teorema Ketunggalan Holmgren)
Asumsikan Teorema Cauchy-Kovalevsky terpenuhi., lalu ada 2 solusi Cauchy pada persamaan
(5.1)-(5.2) yang terdefinisi dan ada pada kelas s

pada persekitaran

, haruslah tepat sama
di persekitaran

.


6. Bentuk Kanonik dari Persamaan Diferensial Orde Pertama
Pertimbangkan bentuk umum persamaan diferensial parsial orde pertama dalam dua
variabel bebas:
(6.1)

Dimana koefisien-koefisien didefinisikan di beberapa daerah asal dari

. Kita
andaikan bahwa dan di

dan tidak nol secara simultan pada sebarang titik dari . Kita
akan menunjukkan bahwa di sebuah persekitaran pada sebarang titik

pada , kita
dapat mengenalkan koordinat- koordinat baru dan dalam istilah yang mana persamaan
diferensial parsial (6.1) mengambil bentuk sederhana
(6.2)

.
Sehingga, dalam koordinat-koordinat yang baru, persamaan diferensial parsial (6.1)
menjadi sebuah persamaan diferensial biasa dengan sebagai variabel bebas dan sebagai
sebuah parameter yang mungkin dipandang sebagai sebuah konstanta. Persamaan (6.2) disebut
bentuk kanonik (alternatif) dari persamaan (6.1). Kita juga katakan bahwa di , koordinat-
koordinat persamaan dalam bentuk kanonik (alternatif). Seringkali bentuk kanonik (6.2) dapat
secara mudah terintegralkan dan, setelah mengembalikan pada koordinat-koordinat awal yaitu
dan , solusi umum dari persamaan diferensial parsial (6.1) dapat dihasilkan. Contoh 6.1
mengilustrasikan tahap- tahap ini.
Misalkan koordinat- koordinat yang baru dan dihubungkan dengan koordinat-
koordinat awal oleh persamaan
(6.3)
Karena kita hanya tertarik dengan transformasi tak singular yang mulus dari koordinat-
koordinatnnya , kita harus menginginkan bahwa fungsi-fungsi di

dan
Jacobiannya tidak sama dengan nol, yaitu
(6.4)

Jika kondisi (6.4) dipenuhi pada titik

dari , maka kita ketahui bahwa di sebarang
persekitaran dari

kita juga memiliki hubungan invers :
(6.5) .
Sekarang dari aturan rantai, kita punya
(6.6)

Dan dengan mensubstitusikan (6.5) dan (6.6) ke persamaan (6.1) kita menghasilkan
persamaan
(6.7)

dimana
(6.8)

Dari (6.8) kita lihat jika adalah sebuah solusi dari persamaan diferensial orde
pertama
(6.9)

Persamaan (6.9) memiliki solusi-solusi tak hingga banyaknya. Kita dapat menemukan
salah satu dari mereka dengan menetapkan nilai awal pada kurva awal nonkarakteristik dan
menyelesaikan hasil masalah nilai awal mengikuti metode yang dijelaskan pada bab III atau sub
bab 4 di bab ini. Andaikan untuk contoh bahwa

, kita boleh menetapkan
(6.10)

.
Karena kurva awal

adalah bukan karakteristik dengan menghubungkan (6.9) pada

, terdapat sebuah solusi tunggal dari (6.9), (6.10) di sebuah persekitaran dari

.
[jika

kita sederhanakan ulang peran dari .]
Misalkan adalah solusi dari (6.9) dan (6.10) di sebuah persekitaran pada

.
Kita bebas mengambil fungsi hanya untuk kondisi (6.4) yaitu . Dari (6.10) kita
punya

dan jika kita ambil

kondisi (6.4) dipenuhi pada

. Sedemikian sehingga (dengan kekontinuan) itu jjuga
dipenuhi di sebuah persekitaran di

. Misalkan adalah sebuah persekitaran dari

yang mana terdefinisi dan pada waktu yang bersamaan . Maka . Untuk
jika pada beberapa titik dari , maka pada titik tersebut (karena juga ) persamaan
(6.8) akan membentuk sebuah sistem persamaan linear homogen di dan dengan secara jelas
merupakan determinan dari koefisien-koefisiennya. Karena , dan keduanya harus nol
pada titik tersebut, mengkontradiksi pengandaian awal kita bahwa dan tidak nol secara
simultan. Akhirnya, karena dan di kita dapat membagi persamaan (6.7) oleh
dan menghasilkan bentuk kanonik yang diinginkan (6.2).
Itu harus diperluas bahwa fungsi-fungsi dan menjelaskan transformasi
dari koordinat-koordinat (6.3) yang mana hasil dari bentuk kanonik (6.2) dapat dipilih secara
banyak (faktanya takhingga banyaknya) cara. Bagaimanapun, karena harus memenuhi
persamaan (6.9), tingkatan kurva-kurva , selalu kurva karakteristik dari
persamaan (6.1). sehingga, himpunan pertama dari kurva-kurva koordinat yang baru adalah
kurva karakteristik dari (6.1). himpunan kedua dari koordinat kurva-kurva
boleh diambil menjadi sebarang sebuah keluarga parameter dari kurva-kurva mulus yang mana
tempat bersinggungan dengan kurva-kurva karakteristik (lihat gambar 6.1). Dalam perbincangan
di atas ,himpunan kedua dari koordinat-koordinat kurva-kurva telah dipilih untuk menjadi
himpunan dari garis-garis paralel pada sumbu-y

Gambar 6.1

Contoh 6.1
Perhatikan persamaan
(6.11)

Tentukan bentuk kanonik dan solusi umum dari persamaan diferensial parsial (6.11).


Penyelesaian
Dimana , , , , dan

. Kita boleh mengambil

.
Fungsi harus memenuhi
(6.12)

dan kita boleh mengambik kondisi awal
(6.13)
Solusi umum dari

adalah

, dan berdasarkan contoh 2.2 dari Bab III, solusi
umum dari (6.12) adalah

. Untuk memenuhi (6.13) kita harus mengambil
dengan demikian kita memperoleh solusi dari (6.12), (6.13)
(6.14)

yang termuat dalam

. Jika kita ambil
(6.15)
kita lihat bahwa Jacobiannya adalah

Oleh karena (6.14), (6.15) memberi sebuah transformasi nonsingular dari koordinat dalam

dan hubungan inversnya
dan

Sekarang,

dan

Dan dalam koordinat baru persamaan diferensial parsial (6.11) menjadi
(6.16)

Solusi umum dari (6.16) adalah
(6.17)

dimana adalah sebuah fungsi dari . Kembalikan ke variabel dan kita peroleh solusi
umum dari (6.11)
(6.18)

Masalah
6.1 Gunakan solusi umum (6.18) dari (6.11) untuk mencari solusi dari masalah nilai awal dari
persamaan diferensial parsial (6.11) berikut
a)

Penyelesaian
Solusi umum (6.18)

Dalam kasus ini

Sehingga, solusi umum untuk masalah nilai awal

adalah

(

)

b)
Penyelesaian
Solusi umum (6.18)

Dalam kasus ini
Sehingga, solusi umum untuk masalah nilai awal

adalah

(

)

7. Klasifikasi dan Bentuk Kanonik Persamaan Orde Dua dalam Dua Variabel Bebas
Bentuk umum persamaan diferensial parsial linear orde dua dalam dua variabel bebas
adalah
(7.1)

dimana dan adalah fungsi dalam variabel . Pada bagian ini kita asumsikan
dan adalah anggota

dan tidak nol secara simultan.
Kita akan mempelajari persamaan (7.1) di domain

dengan diskriminannya
adalah
(7.2)

yang bernilai positif, negatif atau nol.
Persamaan (7.1) akan dibuat dalam koordinat baru dan pada suatu persekitaran
dari titik

sehingga memiliki bentuk principal part yang lebih sederhana atau yang
biasa disebut kanonik.
Misalkan koordinat baru dinotasikan oleh yang menggantikan koordinat lama
yaitu melalui persamaan
(7.3)
Misalkan dan merupakan fungsi-fungsi di

dan memiliki nilai
Jacobian yang tidak sama dengan nol
(7.4)

maka ada relasi invers dan .
Kemudian dengan menggunakan aturan rantai diperoleh,
(7.5)

dan
(7.6)

Pada persamaan diatas untuk turunan dari yang berorde kurang dari dua, dituliskan sebagai
titik-titik agar lebih sederhana. Dengan mensubstitusikan (7.4) dan (7.5) diperoleh
(7.7)

dimana

Persamaan (7.9) memiliki diskriminan

(

)

Berdasarkan (7.3) , maka tanda dari

sama dengan tanda dari . Dari hasil ini
menurunkan teorema berikut.

Teorema 7.1
Tanda dari diskriminan persamaan diferensial parsial linear orde dua dalam dua variabel
bebas akan sama (invariant) dalam transformasi koordinat baru.

Definisi 7.1
Misalkan adalah diskriminan dari persamaan diferensial parsial linear orde dua dalam
dua variabel bebas.
a) Jika pada

, maka persamaan disebut hiperbolik pada

b) Jika pada

, maka persamaan disebut parabolik pada

c) Jika pada

, maka persamaan disebut eliptik pada

Persamaan disebut hiperbolik, parabolik, atau eliptik pada domain di

jika berturut-turut
hiperbolik, parabolik, atau eliptik di setiap titik di .
Contoh 7.1
1) Persamaan gelombang

hiperbolik di

.
2) Persamaan kalor

parabolik di

.
3) Persamaan Laplace

eliptik di

.
Bentuk kanonik dari persamaan orde dua (7.1) akan diklasifikasi berdasarkan definisi 7.1
dan dijelaskan melalui teorema-teorema berikut.
Teorema 7.2
Misalkan persamaan (7.1) hiperbolik di domain . Maka pada persekitaran dari sebarang
titik

di , dalam koordinat baru dan bentuk kanonik dari persamaan tersebut adalah

di . Bentuk kanonik lain dari persamaan hiperbolik dapat dihasilkan dari bentuk (7.13) dengan
merotasi koordinat-koordinat baru. Bentuknya adalah

.
Jadi, pada persekitaran dari sebarang titik di , dengan koordinat baru, setiap persamaan
hiperbolik dalam dua variabel bebas dapat diubah dalam bentuk kanonik yang memiliki principal
part sama seperti persamaan gelombang.
Pembuktian:
Untuk mendapatkan bentuk persamaan kanonik (7.7) maka harus dipilih fungsi
dan sedemikian sehingga koefisien dan pada persamaan (7.6) nol secara
bersamaan.
Sekarang pandang persamaan kuadrat

memiliki nilai diskriminan

Karena ∆ > 0 akan memiliki 2 akar yang berbeda .

Kemudian persamaan di atas substitusikan ke persamaan (7.8). Akan di cek A = C = 0

Periksa Jacobiannya

0

Karena maka ia memiliki dua akar yang berbeda.

maka

dan

juga 0 , maka J 0
Contoh 7.2
Tentukan solusi persamaan gelombang

Jawab:
Berdasarkan contoh 7.1, persamaan gelombang di atas adalah hiperbolik di

Akibatnya
berdasarkan Teorema 7.2, bentuk kanoniknya adalah

. Namun harus dipilih terlebih
dahulu fungsi dan dari persamaan kuadrat

diperoleh

dan

, sehingga dipilih dari solusi persamaan diferensial

Untuk

diperoleh
Untuk ;

diperoleh
Ini berarti

dan

akibatnya titik-titik persamaan kanoniknya adalah 0, sehingga
diperoleh

Integralkan terhadap , diperoleh

Integralkan kembali terhadap , diperoleh

Lalu kembalikan ke dalam koordinat lama yaitu dan , maka diperoleh solusi dari persamaan
gelombang


Teorema 7.3
Andaikan persamaan (7.1) parabolik di domain . Maka di beberapa persekitaran dari
sebarang titik

pada , kita dapat memperkenalkan koordinat baru dan dan bentuk
kanonik dari persamaan tersebut adalah
(7.3)

di .
Jadi, pada persekitaran dari sebarang titik di dengan koordinat baru, setiap persamaan
parabolik dalam dua variabel bebas dapat diubah dalam bentuk kanonik yang memiliki principal
part sama seperti persamaan heat.
Pembuktian:
Sebelumnya kita lihat terlebih dahulu Persamaan heat : u
xx
+ u
y
= 0

konsep principal part orde tertinggi disini adalah orde 2 maka

bentuk
kanonik

sama dengan persamaan parabolik.
Misalkan

sebarang titik di O. Karena , kita bisa asumsikan a dan c tidak
hilang secara bersamaan di

. Di lain pihak b bisa saja hilang di

. Hal ini
kontradiksi dengan asumsi awal di (7.1) bahwa a,b,c tidak boleh hilang secara bersamaan.
Kita misalkan di persekitaran U dari

. Karena , maka dari
persamaan (7.15)

Mempunyai akar tunggal ì yaitu (

) (

)
Dan misalkan q(x,y) adalah solusi dari persamaan

(

)

Mengapa di pilih

?
karena

dan telah kita misalkan bahwa maka akan ditunjukan .
Dari persamaan (7.9) kita ingin menunjukan bahwa atau tidak.

dari persamaan (7.15)

Untuk kita dapat gunakan sembarang fungsi yang independen dari di U.
Untuk contoh kita ambil ,

(agar Jacobian
Kita akan menunjukan bahwa Jacobian ≠ 0

(7.11)

dari (7.12)

Dari persamaan (7.12)

diketahui dari perhitungan sebelumnya C = 0

Terbuti

persamaan parabolik
÷

Akhirnya dari persamaan pertama (7.9) kita mempunyai di U.
Karena di awal dikatakan A≠0 dan membagi (7.8) oleh A, kita dapatkan bentuk kanonik yang di
inginkan.
Diketahui C = 0 dan B = 0

Pers. Parabolik dari bentuk

diketahui di atas B=C=0

Maka teorema diatas terbukti.

Teorema 7.4
Andaikan bahwa persamaan (7.1) eliptik di domain . Maka di beberapa persekitaran
dari sebarang titik

pada , kita dapat memperkenalkan koordinat baru dan dan
bentuk kanonik dari persamaan tersebut adalah
(7.4)

di .
Jadi, pada persekitaran dari sebarang titik di , dengan koordinat baru, setiap persamaan
eliptik dalam dua variabel bebas dapat diubah dalam bentuk kanonik yang memiliki principal
part sama seperti persamaan Laplace.
Catatan:
Sebelumnya kita lihat terlebih dahulu Persamaan Laplace

konsep pricipal part adalah mengambil orde tertinggi, orde tertinggi disini adalah 2
Jadi

maka bentuk kanonik

sama dengan
persamaan eliptik.

Contoh Soal:
PERSAMAAN HIPERBOLIK
Contoh :

Secara lengkap di jabarkan:
Berdasarkan contoh 7.1, persamaan gelombang di atas adalah hiperbolik di

Akibatnya
berdasarkan Teorema 7.2, bentuk kanoniknya adalah

. Namun harus dipilih terlebih
dahulu fungsi dan dari persamaan kuadrat

diperoleh

dan

, sehingga dipilih dari solusi persamaan diferensial

Untuk

diperoleh
Untuk ;

diperoleh
Ini berarti

dan

akibatnya titik-titik persamaan kanoniknya adalah 0, sehingga
diperoleh

Integralkan terhadap , diperoleh

Integralkan kembali terhadap , diperoleh

Kembalikan ke dalam koordinat lama dan , maka diperoleh solusi dari persamaan gelombang


Contoh Soal
PERSAMAAN HEAT
Dengan cara yang sama seperti diatas, soalini pun dapat diselesaikan.

... (7.23) yang parabolik in

a = 1, b = 0, c = 0, e = -1
Dari persamaan

punya satu akar persamaan yaitu
Dari yang tadi kita peroleh

Dan kita punya

8. Persamaan Orde Dua dalam Dua atau Lebih Variabel Bebas
Bentuk umum persamaan diferensial parsial linear orde dua dalam variabel bebas
adalah
(8.1) ∑

(

)

(

)

dimana koefisien

dan adalah fungsi dalam variabel bebas

. Pada
persamaan dua variabel bebas (7.1), klasifikasi bentuk kanonik didasarkan diskriminaan

. Pandang koefisien dari principal part pada persamaan (7.1) sebagai matriks
(8.2) *


+
Nilai eigen dari matriks tersebut adalah akar-akar dari persamaan
|


|
atau
(8.3)

Misalkan

adalah solusi akar dari persamaan tersebut. Perhatikan bahwa
(8.4)

Sehingga dapat disimpulkan bahwa,
a) 

tak nol dan bertanda saling berlawanan.
b)  minimal salah satu dari

adalah nol.
c) 

tak nol dan bertanda sama.
Jadi, klasifikasi persamaan orde dua dalam dua variabel bebas dapat didasarkan
terhadap tanda dari nilai-nilai eigen koefisien matriks dari principal part-nya. Dari hasil
persamaan dalam dua variabel bebas ini, dapat digeneralisasi untuk persamaan dalam lebih
dari dua variabel bebas.
Nilai eigen koefisien matriks dari principal part persamaan yang lebih dari dua
variabel yang didefinisikan pada persamaan (8.1), didefinisikan sebagai akar-akar dari
persamaan
(8.5) |

|

Definisi 8.1
Misal

adalah nilai eigen dari koefisien matriks [

] untuk principal part pada
persamaan (8.1).
a) Jika

tidak nol dan memiliki tanda yang sama di titik

, maka persamaan
tersebut disebut elliptic di

.
b) Jika

tidak nol dan memiliki satu tanda yang berbeda di titik

, maka
persamaan tersebut disebut hyperbolic di

.
c) Jika

tidak nol dan setidaknya memiliki dua tanda positif dan dua tanda
negatif di titik

, maka persamaan tersebut disebut ultrahyperbolic di

.
d) Jika

bernilai noldi titik

, maka persamaan tersebut disebut parabolic di

.
Persamaan (8.1) disebut elliptic, hyperbolic, dsb. di domain Ω pada

apabila
persamaan tersebut elliptic, hyperbolic, dsb. secara berturut-turut pada setiap titik di Ω.

Contoh 8.1
Persamaan Laplace :

Persamaan ini disebut elliptic di

,
Karena memiliki nilai eigen, |

|
atau

yang artinya semua bertanda sama.
Persamaan Gelombang :

, dimana

adalah variabel waktu t.
Persamaan ini disebut hyperbolic di

,
Karena memiliki nilai eigen, |

|
yang artinya memiliki satu tanda yang berbeda.
Persamaan Kalor :

, dimana

adalah variabel waktu t.
Persamaan ini disebut parabolic di

,
Karena memiliki nilai eigen, |

|
atau

tetapi

.
dan persamaan dibawah ini disebut ultrahyperbolic di

(karena memiliki setidaknya dua
tanda positif dan dua tanda negatif)

Kita dapat melihat pada pembahasan sebelumnya, bahwa untuk membuat
transformasi koordinat, setiap persamaan diferensial parsial orde dua dengan dua variabel
bebas dapat direduksi menjadi bentuk kanonik pada setiap titik di persekitarannya.
Pada umumnya, hal ini tidak dapat dilakukan untuk persamaan dengan dua variabel
bebas. Tetapi, jika kita menggunakan teorema aljabar linear, hal itu dapat dilakukan.
Misalkan diberikan titik di

, maka ada transformasi linear
(8.6)

sedemikian sehingga dalam koordinat baru

, persamaan (8.1) memiliki bentuk
(8.7) ∑

dimana di titik , nilai dari koefisien

adalah

(8.8)

Teorema 8.1
Misalkan koefisien

pada persamaan (8.1) adalah konstan di beberapa domain

, maka terdapat suatu transformasi linear kooordinat dalam bentuk (8.6) dengan
matriks nonsingular[

] sedemikian sehingga dalam koordinat baru

persamaan (8.1) memiliki bentuk kanonik
(8.9) ∑

di , dimana

bernilai salah satu dari atau di . Khususnya, jika
persamaan (8.1) adalah elliptic di , persamaan tersebut dapat direduksi menjadi bentuk
kanonik
(8.10) ∑

di . Jika persamaan (8.1) adalah hyperbolic di , persamaan tersebut dapat direduksi
menjadi bentuk kanonik
(8.11) ∑

di .

Definisi 8.2
Misalkan [

] adalah matriks simetrik. Polynomial homogeny
berorde dua berikut pada variabel

(8.12) ∑

disebut bentuk kuadratik yang berasosiasi dengan matriks simetrik [

] Misalkan pula,

adalah titik-titik di

. Bentuk kuadratik (8.12) disebut definite positif jika

Sebuah teorema aljabar linear menyatakan bahwa nilai eigen dari matriks simetrik
[

] adalah positif jika dan hanya jika bentuk kuadratik yang berasosiasi dengan [

]
adalah positif definite. Dalam pandangan teorema tersebut, definisi eliptisitas tersebut pada
domain ekuivalen dengan definisi yang telah diberikan sebelumnya. Asumsikan bahwa
tanda di depan persamaan (8.1) telah dipilih sehingga

pada domain , persamaan
(8.1) dikatakan eliptik pada jika bentuk kuadrat
(8.14) ∑

definite positif .
Persamaan eliptik orde kedua biasanya muncul pada studi masalah-masalah fisika
yang berkaitan dengan fenomena keadaan tetap (steady state phenomena). Sebagai contoh,
jika adalah temperatur keadaan tetap (steady state temperature) pada titik dari
isotropic nonhomogen tubuh, maka pada tiap titik interior ke tubuh, haruslah memenuhi
persamaan eliptik orde dua
(8.15) ∑

*

+

Fungsi selalu positif dan disebut koefisien konduktivitas termal dari tubuh pada
titik . Jika tubuh homogeny, konstan, dan persamaan (8.15) menjadi persamaan
Laplace.
Fenomena perambatan gelombang (wave propagation phenomena) seperti rambatan dari
suara atau dari gelombang elektromagnetik dideskripsikan sebagai persamaan hiperbolik
orde kedua dari bentuk umum
(8.16)

Dimana titik-titik terdapat pada bentuk dari order kurang dari dua dan bentuk kuadrat
berasosiasi dengan matriks [

] adalah definite positif. Pada persamaan (8.16), terdapat
variabel bebas, n “ruang” variabel

dan satu variabel “waktu” . Untuk
menunjukkan bahwa persamaan (8.16) adalah hiperbolik sesuai dengan Definisi 8.1.
Fenomena seperti arus panas (flow of heat) atau difusi dari cairan melewati poros medium
biasanya dideskripsikan dengan persamaan parabolik orde dua
(8.17) ∑

dimana bentuk kuadrat berasosiasi dengan matriks [

] adalah definite positif. Pada
persamaan (8.17) terdapat variabel bebas. Perhatikan baik-baik peran khusus dari
variable waktu . Principal part dari persamaan tersebut tidak meliputi turunan yang
berkaitan dengan dan koefisien dari derivative orde pertama

⁄ adalah -1. Persamaan
(8.17) jelas parabolik menurut Definisi 8.1, dan karena karakter khususnya, terkadang
disebut juga parabolic in the narrow sense.
Kita tutup bahasan ini dengan beberapa catatan mengenai permukaan karakteristik
dari persamaan orde dua. Perhatikan bahwa jika persamaan (8.1) adalah eliptik, maka tidak
memiliki permukaan karakteristik. Nyatanya, vector tak nol

mendefinisikan arah yang karakteristik berkaitan dengan (8.1) jika
(8.18) ∑

Menggunakan definisi dari eliptisitas pada bentuk ke-definite positif-an dari bentuk
kuadrat berasosiasi dengan [

] dapat dilihat bahwa (8.18) tidak dapat dipenuhi oleh vector
tak nol . Oleh karena itu, persamaan eliptik orde dua tidak memiliki arah-arah
karakteristik. Oleh karena itu, tidak memiliki permukaan karakteristik. Sifat ketidak adaan
karakteristik ini biasanya mendefinisikan persamaan diferensial partial linear eliptik dengan
berorde banyak.
Perhatikan persamaan parabolic selanjutnya dalam bentuk (8.17). vector tak nol
(

)

mendefinisikan arah yang karakteristik berkaitan dengan (8.17)
jika (8.18) terpenuhi. Ke-definite positif-an dari bentuk kuadrat pada (8.18) mengakibatkan

. Oleh karena itu, (

) adalah satu-satunya arah
karakteristik dari (8.17). oleh karena itu, hyperplane adalah satu-satunya
permukaan karakteristik dari (8.17).
Karakteristik dari persamaan hiperbolik dari bentuk (8.16) lebih rumit lagi. Vector tak nol
(

)

mendefinisikan arah yang karakteristik berkaitan dengan (8.16)
jika

Terdapat tak hingga banyaknya arah yang memenuhi persamaan tersebut dan struktur dari
permukaan karakteristik lebih rumit lagi dengan kenyataan bahwa koefisien

mungkin
fungsi dari . Karena persamaan gelombang kasus khusus dari (8.16), pembaca harus
mengingat kembali diskusi dari karakteristiknya pada Contoh 10 Bahasan 2. Tiap titik di

adalah puncak kerucut karakteristik dari persamaan gelombang. Hal tersebut adalah
dua kerucut dengan parallel axis ke -axis dan generatornya membuat sudut dengan -
axis. Ini membagi ruang

dalam tiga domain (kecuali ketika ). Untuk persamaan
umum (8.16) lain, tiap titik di

adalah puncak dari “konoid” karakteristik. Ketika
koefisien

adalah variable, konoid karakteristik tidak terbangun (not generated) oleh
garis lurus, tapi tetap membagi

dalam tiga domain (kecuali ketika ).
Prinsip Superposisi

Misalkan adalah operator diferensial parsial linier orde di

,
(9.1) ∑

||

dimana

. Misalkan

dan

sebarang konstanta, maka
(9.2)

dan
(9.3) ∑

||

||

||

atau dapat ditulis
(9.4)

Fungsi

dan

merupakan dua buah fungsi yang cukup terdiferensialkan.
Dalam aljabar linear, dapat dinyatakan bahwa pada persamaan (9.4) bekerja pada fungsi
sebagai transformasi linear. Lebih tepatnya , jika kita hanya mempertimbangkan fungsi dalam
C
m
(), di mana adalah domain di R
n
, maka adalah transformasi linear dari ruang vektor C
m

() ke ruang vektor C
0
(). Sebagai konsekuensi dari properti linearitas (9.4) dari P, solusi
dari
persamaan homogen
(9.5)
Memiliki ciri superposisi, jika

dan

adalah sembarang dua solusi dari persamaan diferensial
homogen dan

dan

sebarang konstanta, maka kombinasi linearnya,

juga
merupakan solusi persamaan tersebut. Kombinasi tersebut disebut superposisi.
Prinsip superposisi dapat digenerlisasi untuk sebanyak solusi yang dibuat kombinasi linearnya,
yaitu jika

merupakan solusi persamaan diferensial (9.5), maka

(9.6)

juga merupakan solusi. Karena

dipilih secara sebarang.

Contoh 9.1
Persamaan Laplace

memiliki solusi

dan

. Berdasarkan
prinsip superposisi, maka

adalah solusi untuk persamaan laplace tersebut.
Untuk bentuk superposisi pada jumlah yang tak terbatas, misalkan

merupakan solusi
untuk

dan seterusnya.Misalkan deret

konvergen. Akan ditunjukkan
(∑

Perhatikan bahwa
(∑

(

= (

(

=

(

) +

(

) + …
=

= 0
Kita juga dapat membentuk superposisi keluarga satu-parameter solusi dari (9.5). Misalkan
untuk setiap nilai parameter λ pada interval I di R
1
, fungsi adalah solusi dari (9.5), yaitu
= 0 , untuk setiap
Lebih lanjut, g fungsi bernilai real yang terdefinisi pada I, Misalkan integral

konvergen. Maka fungsi

Juga merupakan solusi untuk (9.5) dengan ketentuan
*

+ =

Yaitu asalkan dapat ditukar. Kita juga dapat membentuk solusi superposisi untuk (9.5) yang
bergantung pada beberapa parameter.
Misalkan , merupakan keluarga satu-parameter untuk solusi (9.5), dan anggap
superposisi dari

[ ]
Yang merupakan solusi untuk (9.5) juga bergantung pada parameter h. Andaikan limit

ada. Maka fungsi

juga solusi untuk (9.5) asalkan
[

]

[ ]
Saat valid, semua metode superposisi memungkinkan kita untuk menambah koleksi solusi dari
persamaan homogen ke sebuah koleksi solusi yang lebih besar. Kita akan melihat banyak contoh
mengenai hal ini di bab selanjutnya.
Ini menunjukkan bahwa prinsip superposisi berlaku untuk persamaan diferensial parsial yang
linear dan tidak valid untuk persamaan diferensial parsial yang tidak linear.
Soal 9.1
Misalkan merupakan operator persamaan diferensial parsial nonlinear di R
2

(

)

Tunjukkan bahwa fungsi

dan

merupakan solusi persamaan
homogen dimana

+

bukan merupakan solusi.
Jawab :

,

,

Jadi,

dan

solusi.
Untuk

+

,

Jadi,

+

bukan solusi.

Pertanyaan-Pertanyaan:
- Mengapa kita tidak boleh mengasumsikan bahwa a,b,c tidak boleh hilang
secara bersamaan?
Karena di Teorema (7.1) sudah dijelaskan bahwa a,b,c tidak boleh hilang
hilang secara simultan secara bersama-sama. Pada klasifikasi bentuk
kanonik orde pertamapun sudah dijelaskan bahwa a,b,c tidak boleh hilang
secara bersamaan.
Menurut pendapat kami, jika a,b,c hilang secara bersama-sama maka
hasilnya akan tidak ada atau nol. Dan pengerjaan tidak dapat dilakukan.
- Mengapa Jacobian tidak boleh sama dengan nol?
Tujuannya agar persamaan yang di olah kedalam bentuk kanonik dapat di
balik atau dikembalikan seperti persamaan awal. Membuat persamaan
menjadi bentuk kanonik agar lebih mudah di selesaikan dibanding jika
persamaan masih dalam bentuk persamaan diferensial biasa










1

BAB VI
PERSAMAAN-PERSAMAAN FISIKA MATEMATIKA
Pada Bab ini kita akan membicarakan tiga dari banyaknya persamaan-
persamaan diferensial parsial orde dua yang paling pentingyang adadalam
fisikamatematika:persamaankalor/panas, persamaan Laplace,
danpersamaangelombang. Pada bagian 1 kita akan mengingat kembali
pernyataanteorema divergensidankitamemperolehdua integral identitas yang
berguna yang dikenalsebagaiIdentitas Green. Pada bagian 2, kita memperoleh
persamaan konduksi kalor/panas dan menggambarkan berbagai macam masalah
nilai batas awal yang dikaitkan dengannya. Pada bagian 3, kita
memaparkanfenomena yang berkaitan dengan fisika, dikenal sebagai fenomena
keadaan tetap, yang diatur dalam persamaan Laplace’s. Pada bagian 4, kita akan
memaparkan tentang fenomena fisika untuk satu, dua, dan tiga dimensi persamaan
gelombang. Terakhir, pada bagian 5 kita mendefinisikan apaitumasalahwell-
posedyang dikaitkandenganpersamaandiferensialparsial,dan diberikan contoh
yang well-poseddan yang tidak.
1. Teorema Divergensi dan Identitas Green
Teorema divergensi adalah salah satuteorema yang paling berguna dalam
persamaan diferensial parsial. Teorema Divergence ini biasanya dipelajari di
Kalkulus lanjutan. Pada bab ini kita mengingat kembalipernyataan teorema
Divergensi dan mencoba untuk mengaplikasikannya.
Misalkan Ω merupakan domain yang terbatas di

dengan
kondisisebagaiberikut :
(a) Pembatas dari Ω terdiri dari sejumlahpermukaanmulus yang
berhingga. (ingat lagi bahwa permukaan mulus adalah permukaanketinggian
dari fungsi di

dengan gradien yang taknol.)
(b) Sebarang garis lurus yangsejajarkesebarangsumbu-sumbukoordinat
memotong disejumlahtitik-titik yang berhinggaatau mempunyaiseluruh
interval yang bersamaan dengan .
2

Misalkan

merupakan vektor normal satuanterhadap
mengarah langsung ke bagian luar dari (lihat gambar 1.1).Misalkan












Gambar 1.1

( )
merupakanmedanvektor yang terdefinisipadapenutup
̅
dari sedemikian
sehingga setiap komponen-komponen fungsi berada di

dan

,
danandaikanbahwa integral dari

adalah konvergen.
Berdasarkanasumsi-asumsi diatas pada dan , teorema divergensi menyatakan
bahwa



3

∬(

)

dimana adalah bagian dari permukaan . Integran pada sebelah kiri dari
persamaan dikenal sebagai divergensi dari medanvektor dan dinotasikan
sebagai

Dimana

. Integranpada sebelah kanan dari
persamaan adalah komponen dari yang memberi arah dari bagian luar
untuk batas . Jika dinotasikan sebagai vektor maka persamaan bisa
dituliskan sebagai

atau, dalamnotasi yang lebihkompak,

Teoremadivergensimenyatakanbahwajika domain
danmedanvektormemenuhikondisi-kondisi di atas, maka integral atas dari
divergensi dari adalah sama dengan integral atas batas dari dari komponen
yang mengarah vektor normal luar terhadap .
Kondisi dan bukan merupakan kondisi yang paling umum pada
domain yang memenuhi teorema divergensi.Kondisi-kondisi yang lebih umum
dapat ditemukan, contohnya, dalambukuKellog.Domain-domain yang
memenuhikondisiumuminidisebut “normal”.Tentunyasemua domain
yangdipertimbangkandalambukuiniadalah normal.
4

DuapenerapandariteoremadivergensidikenaldenganIdentitas Green.Kita
gunakannotasibiasadarikalkulusvektor.
Jika

, maka gradien didefinisikan dengan
(

)
dan divergen gradien didefinisikan dengan

Operator differensial parsial

dikenal sebagai operator Laplace dan juga
disimbolkan oleh

.
Identitas differensial

.
Andaikan

dan

̅
dan integral

konvergen. Maka, pengintegralan dari persamaan (1.9) atas

∫ ∫


Pengaplikasian teorema divergensi untuk integral pertama (dengan medan vektor
) dan penggunaan fakta bahwa adalah turunan langsung

, maka
akan diperoleh identitas Green pertama




5

Pertukaran dengan (pada persaman 1.9) dan pengurangan kedua
persamaannya akan menghasilkan
(1.11)

.
Jika

dan

̅
dan integral

konvergen, maka pengintegralan persamaan (1.11) atas dan pengaplikasian
teorema divergensi akan menghasilkan identitas Green kedua
(1.12)

(

)

.
Identitas Green iniakandigunakandalammempelajaripersamaan Laplace (Bab VII).
Teoremadivergensidanidentitas Green benaruntukmedanvektordanfungsi-
fungsidarisebarangvariabel-variabelbebas.
Masalah-Masalah
1.1.Periksaidentitasdiferensial.
Solusi : Akan ditunjukkan

Perhatikanpersamaan di sisikiri
(

) ( (

))
(

) (

)

6

(

) (

)

kemudian,
(

)
(

)

karena

maka, terbuktibahwa

1.2. Misalkan berada di

dan di

, dimana adalah domain
terbatas yang normal di

, dan andaikan bahwa

di

dimana adalah batas dari . Tunjukkan bahwa di . [petunjuk: pada
identitas Green pertama atur juga gunakan fakta bahwa jika integral
atas dari fungsi kontinu yang nonnegatif sama dengan nol, maka fungsi
teridentifikasi di .
1.3. Misalkan berada di

dan di

, dimana adalah domain
terbatas yang normal di

, dan andaikan bahwa

di

7

Tunjukkanbahwa konstan di
̅

1.4. Misalkan

̅
menjadi solusi nontrivial dari

dimana adalah domain terbatas yang normal, dan adalah konstanta.
Tunjukkan bahwa .
2. PersamaanKonduksiKalor
Padabagianini, kitaperolehpersamaandiferensialparsial
yangharusdipenuhiolehsuatufungsi yang menggambarkandengan proses
konduksikalor
disebuahbenda.Kitakemudianakanmembicarakantentangkondisitambahanharusdip
enuhidalammenentukandistribusisuhupadabenda.
Misalkanmenotasikanbagiandalambendadanfungsi dinotasika
nsebagaisuhu di titik pada benda pada saat . Kita
asumsikanbahwa anggota di

fungsi yang bergantung padaa
variabel dan

denganfungsi yang bergantungpadavariabel.
Proses konduksikalormengikutihukumfisika. Misalkan permukaan mulus
di dan dinotasikanvektor normal pada. Jumlah kalor (energi termal) yang
keluarmenembus ke sisi vektor normal pada interval waktu

sampai

diberikan
∫ ∬

Pada (2.1) ⁄ dinotasikanturunan terhadap vektor normal di titik
pada dan pada saat .
Fungsi bernilaipositifdandisebutkonduktivitastermalpadabenda di
titik . Kita
asumsikankonduktivitastermal adalahfungsipadaposisi dantidakbe
rgantungterhadapvektor normal padapermukaan di titik ( . Jadi, suatu
8

benda dikatakan isotropik jika konduktivitas energi tidak bergantung terhadap
vektor normal .
Misalkan daerah bagian dibatasi permukaan tertutup dengan bagian
luar normal . Perubahan jumlah kalor pada daerah bagian dari

sampai

diberikanoleh
∭ [

]

(dipresentasikanolehAyu Indri Astuti)
Pada persamaan , adalah kalor jenis dan adalah kerapatan
suatu benda pada titik . Dengan mengikuti aturan konservasi energi
termal, perubahan kalor pada harus sama dengan jumlah kalor yang masuk ke
melalui batas pada interval waktu

sampai

, dan jumlah kalor
diberikan oleh
∫ ∬

Menyamakanjumlah persamaan dan , kita peroleh
∭ [

]

∫ ∬

Sekarang,

dan, karena ⁄ teorema divergensi diterapkan untuk medan vektor

9




Akibatnya, persamaan menjadi,
∫ ∭

∫ ∭

atau
∫ ∭[

]

Karena integran pada persamaan adalah kontinu dan karena persamaan
benar untuk daerahbagian dan pada setiap interval [

], (lihat dalam
masalah ), yaitu integran harus sama dengan nol untuk setiap di dan
untuk setiap . Kemudian,

atau

[

(

)

(

)

(

)]
Persamaan disebut persamaan konduksi panas pada suatu benda
isotropik. Disebut juga Persamaan kalor atau persamaan difusi. Jika benda adalah
isotropik homogen, maka dan adalah konstan dan persamaan
membentuk

(

)
Persamaan dapat disederhanakan dengan mengubah skala waktu : atur

⁄ dan kemudian membuangkoefisienutamapada menjadi
10

(

)
Kita simpulkan bahwa jika suatu fungsi menggambarkan
distribusi suhu pada tubuh isotropik homogen selama interval waktu yang
ditentukan, maka memenuhi persamaan untuk setiap
pada bagian dala tubuh dan untuk setiap pada interval waktu tersebut.
Bagaimana pun persamaan mempunyai takhingga banyak solusi. Untuk
memilih dari solusi yang takhingga ini, solusi khusus yang menggambarkan
distribusi suhu tubuh yang sebenarnya, kondisi tambahan harus dinyatakan
dengan jelas.
Dari pertimbangan fisika, cukup untuk mengharapkan bahwa
spesifikasidari distribusi suhu pada benda di suatu waktu

, bersama dengan
spesifikasi dari distribusi suhu pada batas dari benda untuk setiap

,
secara lengkap menentukan distribusi suhu pada benda untuk setiap

.
Kondisi

̅

Yang menentukan distribusi suhu pada saat

yang dikenal sebagai kondisi awal.
Fungsi adalah fungsi yang diberikan yang terdefinisi pada penutup
̅

dari . Kondisi

yang menentukan distribusi suhu pada batas dari benda untuk setiap

dikenal sebagai kondisi batas. Fungsi adalah fungsi yang diberikan yang
terdefinisi untuk pada batas dan untuk setiap

. Masalah mencari
solusi dari persamaan diferensial parsial yang memenuhi kondisi awal
dan kondisi batas dikenal sebagai masalah nilai awal batas. Dapat
ditunjukkan dibawah suatu asumsi tambahan, yaitu masalah ini mempunyai solusi
tunggal yang didefinisikan untuk setiap pada
̅
dan untuk
11

setiap

(Lihat pada bab IX). Fungsi ini menyatakan distribusi
suhusebelumnya pada bendauntuk setiap

.
Kondisi persamaan tidak hanya kondisi batas, yang bersama-sama
dengan kondisi awal , menentukan sebuah solusi tunggal dari persamaan
kalor. Terlebih dalam menentukan suhu pada batas dari tubuh, seseorang
mungkinberharapuntukmenentukankalorfluks yang
melaluibatas.Inimengarahkepadakondisibatas

Dimana ⁄ mennotasikan turunan berarah dari pada vektor normal
terhadap. Fungsi adalahfungsi yang
diberikanterdefinisiuntuk pada dan untuk

. Pada kasusbatas
yang terisolasi, Kondisi batas lain dapat dispesifikasikan. Pengetahuan
tentang suhu pada medium di sekitar benda dandari kalorfluksmelaluibatas
mengarah kepada kondisi

Fungsi dan diberikan dan terdefinisi pada , dan
diberikan danterdefinisi pada dan

.
Sekarang misalkan kita pertimbangkan lempengan dari ketebalan konstan
dengan dua permukaan bidang yang terisolasi. Jika distribusi suhu awal tidak
berbedamelalui ketebalan lempengan, maka setiap waktu berikutnya suhu pada
lempengan tidak berbedamelalui ketebalannya,dan jika kita memilih sistem
koordinat dengan sumbu-tegak lurus dengan lempengan, suhu pada
lempenganadalah fungsi yang hanya bergantung pada dan . Persamaan kalor
(2.8) untuk lempengan menjadi
12

(

)
Akhirnya, mari kita mempertimbangkan silinderbatang dengan permukaan
silindernya terisolasi dan suhu awal yang konstan di setiap bagian yang
bersebrangan. Jika kita memilih sistem koordinat dengan garis tengah pada batang
sepanjang sumbu-, maka suhu tidak berbedaatas bagian yang bersebrangan dan
hanya akan menjadi fungsi dari dan saja. Persamaan kalor untuk silinder ini

Pada penutupan bab ini, disebutkan bahwa persamaan (2.6) dan (2.8)
jugaterdapat pada materi difusi darifluidamelalui porous medium dandipelajaridari
proses difusi lain yang memuat cairan dan gas.
Masalah-Masalah
2.1. Misalkan

fungsi kontinu pada suatu domain dari

dan
andaikan bahwa untuk setiap daerah bagian di ,

Tunjukkanbahwa pasti nol secara identikdi . [Petunjuk: Andaikan
positif pada suatu titik dari . Karena kontinu, akan positif pada suatu
bola yang berpusat pada . Pertimbangkan ketika diambil untuk
menjadi bola tersebut.]
Solusi: Andaikan

positif, yaitu

maka

∫ ∫

13

inikontradiksidenganpernyataanpersamaan. Oleh karenanya, haruslah

.
2.2. Turunkanpersamaandari .
Solusi : Diketahui

(

)
Misalkan

, maka

Perhatikanbahwa

substitusikepersamaan (2.8) diperoleh

(

)

(

) (

)

(

)
kemudianganti

, diperoleh

(

)
14

2.3. Tulismasalahnilaiawalbatas yang
harusdiselesaikanuntukmengetahuidistribusisuhusebelumnyapadasilinderbat
ang yang panjangnya dengan permukaan silinder yang terisolasi,
diberikandistribusisuhuawaldaribatangpadasaat

dan suhu pada bagian
ujung batang untuk setiap

.



3. Persamaan Laplace
Persamaan Laplace

Berkembang dari studi tentang kelas besar dari fenomena fisika yang diketahui
sebagai fenomena keadaan tetap. Fenomena-fenomena ini dikarakterisasi oleh
kenyataan bahwa fenomena-fenomena tersebut tidak bergantung pada variabel
waktu . Mari kita pertimbangkan kasus fungsi distribusi suhu dalam keadaan
tetap yang homogen dan isotropik. Karena fungsi tidak bergantung pada
variabel waktu ,

dan persamaan konduksi kalor menjadi persamaan
laplace (3.1).Jika adalah notasi untuk bagian dalam benda, fungsi temperatur
keadaan tetap pasti memenuhi persamaan (3.1) pada setiap titik
pada .
Persamaan (3.1) memiliki banyak solusi tak terbatas. Untuk menentukan
solusi khusus yang mendeskripsikan distribusi temperatur yang sebenarnya pada
benda, kondisi tambahan harus dispesifikkan. Kenyataan ini sangat kontras
dengan persamaan kalor (2.8) yang mendeskripsikan fenomena yang bergantung
pada waktu, tidak ada kondisi awal yang dibutuhkan untuk menspesifikkan
persamaan (3.1). Formula yang tidak bergantung pada waktu pada kondisi terbatas
(2.10), (2.11) dan (2.12) adalah
15

Masalah mencari solusi dari Persamaan Laplace (3.1) yang memenuhi
salah satu dari kondisi batas (3.2), (3.3), atau (3.4) disebut Masalah Nilai Batas.
Lebih spesifiknya, masalah masalah mencari solusi dari (3.1) yang memenuhi
kondisi batas (3.2) dikenal sebagai Masalah Dirichlet. Masalah untuk
menyelesaikan subjek (3.1) terhadap kondisi batas (3.3) dikenal sebagai Masalah
Neumann. Terakhir, masalah untuk menyelesaikan subjek (3.1) terhadap kondisi
batas (3.4) dikenal sebagai Masalah Campuran atau Masalah Nilai Batas Ketiga.
Masalah-masalah ini akan lebih lanjut dipelajari pada Chapter VII.
Dalam kasus sebuah lempengan dengan ketebalan yang konstan,
temperatur keadaan tetap u adalah fungsi dengan hanya dua variabel dan
memenuhi Persamaan Laplace Dua Dimensi.


Persamaan Laplace dua dimensi mengatur bentuk dari sebuah selaput
lentur seperti contoh selaput drum. Selaput tersebut merupakan selaput yang
tahan akan segala jenis perentangan atau penarikan ke segala arah tanpa
mengubah bentuk aslinya .Misalkan selaput lentur tersebut menempati daerah
pada bidang (x,y) yang dibatasi oleh kurva mulus C, dan menyatakan interior
dari daerah tersebut. Sumbu u ortogonal ke bidang (x,y)(lihat Gambar 3.1).
Misalkan batas kurva mulus C diparametrikkan oleh persamaan

. ; ) ( , ) ( I s s y y s x x e = =
...(3.5) 0
2
2
2
2
=
c
c
+
c
c
y
u
x
u
16

Misalkan setiap titik di batas selaput dipindahkan sepanjang garis tegak
lurus bidang (x,y) dan batas tersebut terikat di sepanjang kurva .
Kurva memproyeksikan bidang (x,y) atas kurva C dan diberi persamaan

Selaput tersebut kemudian mengambil bentuk permukaan yang diberikan
oleh persamaan berbentuk

Sekarang kita membuat asumsi:
(a) Pada saat kita memindahkan selaput dari bidang (x,y) ke bentuk akhirnya
yaitu u = u(x, y), setiap titik di selaput bergerak hanya pada sepanjang garis
yang paralel ke sumbu u.
(b) Selaput bentuknya hanya berubah sedikit, oleh karena itu nilai turunan
dan adalah kecil.
Dari kedua asumsi (a) dan (b) dapat ditunjukkan bahwa fungsi u(x, y)
haruslah memenuhi Persamaan Laplace Dua Dimensi (3.5).Jadi, untuk
menentukan bentuk akhir dari selaput tersebut kita harus menyelesaikan Masalah
Dirichlet.







. ; ), ( , ) ( I s (s) u s y y s x x e = = = |
.
~
) , ( ; ) , ( O e = y x y x u u
x u c c y u c c
C
~
C
~
O e =
c
c
+
c
c
(x, y)
y
u
x
u
; 0
2
2
2
2
C (x, y) y x u(x, y) e = ; ) , ( |
17









Gambar 3.1
Persamaan Laplace juga muncul dalam pembelajaran medan gaya yang
“dapat diturunkan dari sebuah potensial”. Sebagai contoh misalakan F adalah
medan gaya yang disebabkan dari distribusi muatan listrik di ruangan. F(x, y, z)
adalah vektor gaya yang bertindak sebagai sebuah unit muatan yang ditempatkan
di titik (x, y, z). Dapat ditunjukkan bahwa F dapat diturunkan dari sebuah fungsi
potensial u; sebagai contoh, terdapat fungsi u sebagai berikut
F = - grad u.
Potensial u memenuhi Persamaan Laplace di setiap titik di ruangan yang
bebas dari muatan listrik. Medan gaya gravitasi oleh karena distribusi massa di
ruangan tersebut juga dapat diturunkan dari sebuah potensial dan fungsi potensial
itu sendiri memenuhi Persamaan Laplace di setiap titik di ruangan yang bebas dari
massa.








18

Bab VI
PERSAMAAN FISIKA MATEMATIKA

4. Persamaan Gelombang
Fenomena getaran dan perambatan gelombang dapat dibentuk sebuah
persamaan diferensial parsial yang dikenal sebagai persamaan gelombang.
Misalkan kita pertimbangkan getaran pertama pada sebuah bidang benang
atau dawai seperti dawai pada gitar. Andaikan panjang pada dawai adalah L dan
ketika dawai dalam keseimbangan, dawai tersebut menempati bagian dari sumbu
x dari x = 0 sampai x = L (lihat Gambar 4.1)

Kita asumsikan dawai tersebut bergetar pada sebuah bidang, bidang ,
dan setiap titik pada pergerakan dawai hanya sepanjang garis yang tegak lurus
dengan sumbu x (parallel dengan sumbu u). menotasikan perpindahan
pada saat dari titik pada ditempatkannya dawai di x (ketika dalam
keseimbangan). Dibawah penambahan asumsi

kecil (yaitu getaran pada dawai
memiliki amplitude yang kecil) dapat ditunjukan harus memenuhi
persamaan diferensial parsial

19

dimana adalah tegangan pada dawai dan adalah kepadatan linear. Persamaan
(4.1) dikenal dengan persamaan getaran dawai atau persamaan dawai. Ini juga
dikenal dengan persamaan gelombang satu dimensi. Dengan membuat (

)

,
persamaan (4.1) menjadi

Seperti yang akan kita lihat pada Bab VIII, adalah kecepatan rambatan
gelombang pada dawai. persamaan (4.2) dapat disederhanakan dengan mengganti
skala waktu. Atur

kemudian turunkan, (4.2) menjadi :
Dengan

, maka

(

)

atau
20

Sehingga

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

Sehingga persamaan

(

)

Misalkan kembali

sehingga,

Fungsi menggambarkan sejarah dari pergerakan pada dawai harus
memenuhi persamaan (4.3) untuk setiap titik pada interval terbuka
dan untuk setiap . Persamaan (4.3) memiliki tak terhingga banyaknya solusi dan
supaya memilih solusi khusus yang menggambarkan getaran yang sebenarnya
pada dawai kondisi tambahan harus ditentukan. Seperti dalam kasus persamaan
kalor, kondisi ini berada dalam dua kategori, kondisi awal dan kondisi batas.
21

Berbeda dengan persamaan kalor, dua kondisi awal perlu ditetapkan pada saat
awal

,

Kondisi (4.4) menentukan pemindahan awal pada dawai, sementara kondisi (4.5)
menentukan kecepatan awal. Beberapa jenis batasan kondisi pada ujung-ujung
dan pada dawai yang mungkin, tergantung pada cara dimana
ujungnya diikat atau dilepas. Kondisi ini menentukan nilai dari atau turunan

pada ujung-ujung dawai untuk semua

. Untuk contoh, jika kedua ujung
dawai tetap, maka

Masalah menemukan solusi dari persamaan gelombang (4.3) bergantung pada
kondisi awal (4.4), (4.5), dan untuk kondisi batas (4.6) adalah sebuah masalah
nilai awal terbatas.
Jika dawai tak terhingga tidak ada batas kondisi harus ditentukan, dan
masalah menemukan solusi dari persamaan gelombang (4.3) bergantung pada
kondisi awal

adalah sebuah masalah nilai awal atau masalah Cauchy (bandingkan dengan Bab
IV). Solusi dari masalah ini dapat diperoleh menggunakan solusi umum (7.22)
dari persamaan gelombang yang berasal di Bab V.

Persamaan Gelombang Dimensi 2
Salah satu contoh gelombang pada dimensi 2 adalah pada membrane yang
bergetar. Karena ketebalan nya sangat tipis maka diabaikan sehingga hanya ada
ukuran panjang dan lebar, maka persamaan gelombangnya ada pada dimensi 2.
Misalkan menunjuka perpindahan saat pada titik dalam membran yang
berlokasi pada lihat gambar berikut
22


Dengan asumsi lokasi pada bagian 3 (persamaan la place), dapat ditunjukan
bahwa harus memenuhi persamaan

Dimana

, adalah tegangan membrane dan adalah kerapatan
permukaan. Persamaan (4.9) dikenal sebagai persamaan dari getaran membrane
atau persamaan gelombang dua dimensi. Sebagaimana halnya pada getaran
dawai, 2 kondisi harus ditetapkan,

̅

̅

Juga batas-batas kondisi bermacam-macam dapat ditetapkan, tergantung
kecepatan menggetarkan membran. Untuk contoh, kondisi batas dipercepat
23

sepanjang kurva bidang saat melayang pada bidang , batas kondisi harus
ditetapkan sebagai

̅

Persamaan Gelombang Dimensi 3
Terakhir kita ingat kembali getaran dari gelombang suara atau bunyi. Ini
merupakan getaran yang kecil dari gas, seperti udara, menempati sebuah daerah
pada ruang dimensi tiga. Misalkan menotasikan bagian dalam dari daerah ini
dan misalkan menotasikan deviasi/penyimpangan dari tekanan
lingkungan (normal) dari gas pada titik dari dan saat . Dibawah
beberapa hipotesis, ini dapat ditunjukan bahwa harus memenuhi persamaan
differensial parsial,

Dimana adalah kecepatan merambat suara di udara.persamaan (4.13) dikenal
sebagai persamaan bunyi atau persamaan gelombang dimensi tiga. Kondisi awal
dan kondisi batas dihubungkan dengan persamaan (4.13) sama halnya pada kasusu
persamaan gelombang dimensi satu dan dua.
Getaran yang lain dan phenomena perambatan gelombang seperti pada getaran
gelombang elektromagnetik yang dapat digambarkan oleh persamaan gelombang.
Masalah 4.1
Pada bab V sub b 7, kita telah menunjukkan bahwa solusi umum dari persamaan
gelombang dimensi 1 (4.3) sebagai berikut:

Dimana F dan G adalah sembarang fungsi satu variabel.
a) Gunakan solusi umum ini untuk menentukan solusi dari masalah nilai awal
(4.3), (4.7), (4.8) dengan

24

[ ]

b) Tunjukkan dengan subtitusi langsung bahwa (4.14) memenuhi persamaan
gelombang (4.3) dan kondisi awal (4.7) dan (4.8) dengan t
0
= 0.
Jawab :
Persamaan gelombang:

Masalah nilai awalnya adalah

Solusi umum

Misalkan

Sehingga persamaan (1) dapat ditulis menjadi
Perhatikan bahwa

Akibatnya,

Dari persamaan (4.8) kita peroleh

. Dengan
mengintegralkan kedua ruas diperoleh


,
Dari (4.7) kita peroleh
Selesaikan persamaan (2) dam (3)
25

Sehingga diperoleh

Karena

*

+ *

+

( )

( )

Merupakan solusi khususnya.

( )

( )

()
, persamaan (4.7) terpenuhi.

() , persamaan (4.8) terpenuhi.

(

)

26

(

)

(

)

(

)

Sehingga

[

]
[

]

Persamaan (4.3) terpenuhi.

5. Masalah Well Posed
Pada pembahasan sebelumnya,kita telah melihat banyak fenomena fisika
yang mengandung Persamaan Diferensial Parsial. Sebagai contoh bisa kita lihat
pada dua permasalahan sederhana berikut. Jika merupakan distribusi
keadaan mantap temperatur dalam ruang yang dibatasi plat homogen isotropik dan
jika temperatur pada plat yang dibatasi itu diketahui, maka u haruslah solusi
masalah nilai terbatas.

27

Dimana adalah bagian dalam dari plat dan adalah batas. Jika u(x,t)
merupakan perpindahan dari dawai yang “tak hingga” dan jika perpindahan dan
kecepatannya diketahui pada t awal

, maka u haruslah solusi dari masalah
nilai awal

Hal ini masuk akal, untuk mengetahui temperatur pada batas plat untuk
menentukan temperatur pada setiap titik plat. Begitu juga, untuk permasalahan
selanjutnya, yaitu kita mengetahui perpindahan dan kecepatan pada dawai pada
waktu awal

untuk menentukan gerakan dawai untuk setiap

.

Definisi 5.1
Masalah yang melibatkan persamaan differensial parsial dikatakan masalah well-
posed jika memenuhi tiga syarat:
(a) Ada solusi
(b) Solusi tunggal
(c) Solusi tergantung pada kekontinuan data dari masalah
Mempelajari fenomena fisika dengan menjadikan masalah yang melibatkan
persamaan diferensial parsial, tidak cukup membuat masalah memiliki solusi
tunggal. Ini penting untuk mengetahui bahwa solusi tergantung pada kekontinuan
data dari masalah. Sebaliknya kita tidak yakin solusi dari masalah
menggambarkan fenomena fisika diperlukan tingkat ketelitian.
Tujuan mempelajari persamaan diferensial parsial adalah:
1. Menentukan kondisi masalah well-posed
2. Menggambarkan cara menemukan solusi atau pendekatan solusi dari masalah
well-posed
3. Menentukan sifat-sifat umum dari solusi
Kita akan menunjukkan pada Bab VIII bahwa memenuhi asumsi masalah nilai
batas (5.1), (5.2) adalah well-posed. Memenuhi asumsi, masalah nilai awal (5.3),
28

(5.4), (5.5) juga well-posed. Nyatanya kita sudah menentapkan solusi pada
masalah 4.1 karena (4.14) adalah solusi dari masalah. Pada bab VIII kita akan
menunjukkan solusi tunggal (4.14). Menggunakan rumus solusi, kita juga akan
menunjukkan solusi tergantung pada kekontinuan data.
Perlu ditekankan bahwa tidak setiap masalah dikatakan well-posed. Sebagian
besar fenomena fisika mengarah pada masalah nilai awal, atau batas, atau batas
awal yang well-posed.
Ternyata setiap persamaan diferensial parsial memiliki beberapa masalah yang
berkaitan dengan well-posed walaupun masalah lain tidak well-posed. Supaya
mengilustrasikan hal ini, kita perhatikan lagi masalah nilai batas (5.1), (5.2) dan
masalah nilai awal (5.3), (5.4), (5.5). Masalah ini well-posed, meskipun
persamaan Laplace dan persamaan gelombang hanya berbeda tanda. Periksa juga
masalah nilai awal (masalah Cauchy) untuk persamaan Laplace dan masalah nilai
batas (masalah Dirichlet) untuk persamaan gelombang. Ternyata masalah ini
bukan well-posed. Masalah nilai awal untuk persamaan Laplace bukan well-posed
yang ditunjukkan Hadamard (lihat masalah 5.2). Kita tahu dari teorema Cauchy-
Kovalevsky bahwa masalah memiliki solusi tunggal jika data awal diasumsikan
analitik. Tetapi, masalah tersebut bukan well-posed karena solusi tidak tergantung
pada kekontinuan data awal. Contohnya masalah nilai batas untuk persamaan
gelombang yang bukan well-posed digambarkan dalam masalah 5.3. Masalah ini
bukan well-posed karena memiliki solusi tak terhingga.

Masalah 5.3
Masalah Dirichlet untuk persamaan gelombang,

dimana rasio T/Ladalah bilangan rasional, katakan T/L = m/n dimana m dan n
adalah bilangan bulat positif.

29

adalah solusi dari permasalahan setiap konstan C yang berubah-ubah, dan selain
itu masalah ini memiliki solousi tak berhingga.

Masalah 5.2
Contoh Hadamard, bagian a dan c
a. Perhatikan masalah Cauchy untuk persamaan Laplace di R
2


{

dimana n bilangan bulat positif, tunjukkan bahwa

merupakan suatu solusi
c. Misal f dan g analitik, u
1
solusi dari masalah Cauchy

dan u
2
solusi dari masalah Cauchy

tunjukkan bahwa

Jawab :
a. Akan ditunjukkan

30

Jadi, terbukti bahwa

Akan ditunjukkan

Jadi, terbukti bahwa

Akan ditunjukkan

Dari pengerjaan sebelumnya didapat :

dengan demikian

Sedangkan untuk

Oleh karena itu

(

)
31

Jadi terbukti bahwa

Karena

memenuhi

maka terbukti bahwa

merupakan suatu solusi.

c. Diketahui :

solusi dari masalah Cauchy (5.8)

dari pengerjaan soal bagian a, kita dapatkan

merupakan solusi dari masalah Cauchy

Kita misalkan

sehingga

32

Akan dibuktikan

(

) (

)
Jadi terbukti bahwa

Akan dibuktikan

Jadi terbukti bahwa

Akan dibuktikan

Karena f dan g analitik maka u
2
haruslah sama dengan

Sehingga didapat

Jadi terbukti

LapLace’s Equation
33

Bab ini dikhususkan mempelajari persamaan Laplace. Persamaan ini mempunyai
ketertarikan yang sangat besar oleh matematikawan, insinyur, dan ilmuwan, karena
persamaan ini bangkit dalam pembelajaran banyak fenomena fisika. Dalam subbab 1,
fungsi harmonik didefinisikan sebagai solusi persamaan Laplace yang turunan keduanya
kontinu. Dalam subbab 2 dan 3, banyak fungsi harmonik yang diperoleh dengan
menggunakan metode pemisahan variabel, pergantian variabel dan invers yang bekerja
pada lingkaran dan bola. Pada subbab 4, masalah nilai batas yang berkaitan dengan
persamaan Laplace dijelaskan dan diilustrasikan dengan contoh fisika. Pada bab 5, ...
1. Fungsi Harmonik
Persamaan Laplace

Merupakan persamaan diferensial parsial dari elliptic type yang sangat
sederhana dan sangat penting.
Definisi 1.1
Misal merupakan domain di

. Sebuah fungsi

yang memenuhi
persamaan Laplace di disebut fungsi harmonik di .
Fungsi harmonik didefinisikan sebagai fungsi kontinu yang memenuhi
persamaan Laplace.
Teorema 1.1
Misal adalah solusi dari persamaan Laplace yang kontinu di domain . Maka
analitik di .
Problems 1.1
Buktikan bahwa semua fungsi linear

Adalah harmonik di

.

34

Karena fungsi linear kontinu di

dan dapat didiferensialkan dua kali serta
memenuhi persamaan Laplace, jadi adalah fungsi harmonik di

.
Problems 1.2 (a)
Tunjukkan bahwa dan

harmonik di

.
- •

2. Beberapa Fungsi Harmonik Dasar Metode Pemisahan Variabel
Telah Dibahas pada bab VI bahwa potensial elektrostatis pada sebarang titik
, berkaitan dengan sebuah unit charge pada titik asal di

,
adalah sebanding dengan

dengan

merupakan jarak
dari titik asal. Ini dikenal di Fisika dimana potensial berkaitan dengan
sebarang distribusi dari charges yang memenuhi persamaan Laplace pada
sebarang titik di space free from charge.

adalah sebuah fungsi harmonik di

kecuali di titik asalnya.
Fungsi (2.1) dibedakan oleh simetrinya pada titik asal, ini hanya bergantung
pada jarak radial dari titik asal dan tidak bergantung pada variabel sudut dan
.
35


36

adalah operator Laplace di

yang berkaitan dengan koordinat bola (koordinat polar
di

).
Di

,

(

)

Di

dengan ,

(

)

Dimana

adalah operator diferensial parsial orde kedua yang hanya berkenaan
dengan variabel sudut.
Karena fungsi harmonik hanya bergantung pada di

, fungsi harmonik harus
memenuhi persamaan

(

)
Fungsi
adalah dua solusi untuk persamaan di atas yang bebas linear dan solusi umumnya
mengandung seluruh kombinasi linear dari fungsi-fungsi di atas.
Di

, dengan fungsi harmonik harus memenuhi persamaan

(

)
dan dua solusi bebas linear untuk persamaan di atas adalah

.
Penggunaan metode pemisahan variabel atau fourier method untuk memperoleh
fungsi harmonik lainnya. Pada R
2
, metode ini dimulai dengan mencoba
menemukan fungsi harmonik u(r,θ) yang memiliki bentuk khusus
u(r,θ) = R(r)ϴ(θ) (2.9)
Asumsikan u(r,θ) adalah hasil perkalian dari fungsi r dan fungsi θ.
Substitusi (2.9) ke persamaan Laplace di koordinat polar, diperoleh
R”ϴ+ R’ϴ+ Rϴ” = 0
Dengan membagi persamaan dengan Rϴ dan mengalikan dengan r
2
, diperoleh

(2.10)
Sisi kiri persamaan 2.10 adalah fungsi dari r dan sisi kanan adalah fungsi dari .
Maka 2.10 adalah setara dengan

.
37

Atau dengan pasangan persamaan

Dimana konstan. Dapat disimpulkan bahwa untuk u(r,θ) dari bentuk (2.9) untuk
memenuhi persamaan Laplace, fungsi R dan φ harus memenuhi persamaan diferensial
biasa (2.11) dan (2.12). Persamaan 2.11 dikenal sebagai persamaan Euler dan memiliki
dua solusi bebas linear.

{

(2.13)
Dua solusi bebas linear dari (2.12) adalah

{





(2.14)
tidak dapat diasumsikan bahwa, untuk setiap nilai μ dan untuk fungsi (2.13) dan (2.14)
bentuk berikut

(2.15)
terdefinisi sebagai sebuah fungsi harmonik di setiap domain dari R
2
. Hal ini hanya
berlaku jika (2.15) adalah fungsi yang ‘well defined’ (C
2
) di .
Ini berarti bahwa agar (2.15) untuk menentukan fungsi ‘nilai tunggal’ di , fungsi

harus periodik dengan periode (misalkan) dan harus memenuhi kondisi berikut

(2.16)
Jika adalah domain yang berisi kurva mengelilingi titik asal, fungsi angular yang dapat
digunakan dalam (2.15) untuk menentukan fungsi harmonik di adalah

(2.17)
Fungsi radial yang sesuai

{

(2.18)

{

(2.19)
Jika tidak mengandung titik asal R
2
, semua fungsi di (2.19) harmonik di . Jika
mengandung titik asal, hanya fungsi pada baris pertama adalah harmonik di .
Misalkan adalah domain dari R
2
yang tidak mengandung titik asal. Maka
38

u(r,θ) = θ (2.20)
Pada koordinat segiempat, fungsi harmonik (2.20) adalah
(

) (2.21)

(

)
(2.22)
Menerapkan metode pemisahan variabel untuk mendapatkan fungsi harmonik dalam
domain dari R
3
. Dalam hal ini dicari fungsi harmonik u(r,θ,φ) dari bentuk
u(r,θ,φ) = R(r)Y(θ,φ) (2.23)
Dengan mensubstitusi (2.23) ke persamaan laplace, diperoleh

(2.24)

(2.25)
Dua solusi bebas linear dari (2.24) adalah

Dimana α1 dan α2 adalah akar dari persamaan

Persamaan (2.25) memiliki solusi nontrivial hanya ketika μ sama dengan salah satu dari
nilai
μ
n
= n(n+1), n=0,1,2,…
Untuk setiap μ
n
, ada 2n+1 solusi bebas linear dari (2.25), disimbolkan dengan
Solusi ini disebut harmonik Laplace bola, dimana μ=μ
n
, maka fungsi radial nya
r
n
, r
-n-1
; n=0,1,2,…
dan fungsi harmonik (2.23) adalah

39


3. Mengganti Variabel Untuk Menghasilkan Fungsi Harmonik Baru Invers Terhadap
Lingkaran dan Bola
Pada bagian sebelumnya kita memperoleh koleksi fungsi harmonik dengan metode
pemisahan variabel. Dengan prinsip superposisi semua kombinasi linear dari fungsi
ini juga harmonik. Dalam bagian ini dijelaskan cara untuk memperoleh fungsi
harmonik baru dari satu yang diketahui dengan merubah variabel.
Pertama-tama kita pertimbangkan fungsi harmonik di R
2
. Diberikan dan ’ adalah
domain di R
2
, misalkan ada pemetaan satu-satu dari ke ’ diberikan oleh :
x’ = x’(x,y) y’=y’(x,y), (3.1)
dengan pemetaan invers dari ’ ke diberikan oleh :
x=x(x’,y’) y=y(x’,y’) (3.2)
Kita asumsikan fungsi x’(x,y) dan y’(x,y) ada di C
2
(), sedangkan fungsi x(x’,y’) dan
y(x’,y’) ada di C
2
(’).
Diberikan u(x,y) adalah fungsi yang terdefinisi di dan u(x’,y’) adalah fungsi yang
terdefinisi di ’ dengan rumus :
u(x’,y’) = u(x(x’,y’) , y(x’,y’)) (3.3)
pemetaan (3.1), (3.2) dapat dikatakan sebagai transformasi koordinat atau
perubahan variabel.
Transformasi Dasar :
1. Translasi
x’ = x + x
0
, y’ = y + y
0
;
x = x’ – x
0
, y = y’ – y
0
,
dimana (x
0
, y
0
) adalah titik yang ditetapkan di R
2
.
2. Rotasi
x’ = (cos α)x + (sin α)y, y’ = -(sin α)x + (cos α)y;
x = (cos α)x’ – (sin α)y’, y = (sin α)x’ + (cos α)y’,
dimana α adalah sudut yang ditetapkan.
40

3. Refleksi : refleksi garis lurus di R
2

contoh :
x’ = x, y’ = -y; x = x’, y = -y’
merupakan refleksi terhadap sumbu-x
x’ = -x, y’ = y; x = -x’, y = y’,
merupakan refleksi terhadap sumbu-y
dan
x’ = y, y’ = x; x = y’, y = x’,
merupakan refleksi terhadap garis x = y.
4. Transformasi yang dilatasi
x’ = λx, y’ = λy; x = (1/ λ)x’, y = (1/ λ)y’,
dimana λ adalah konstanta yang tak nol.
Contoh 3.2
Dengan rotasi bentuk (2.19) menjadi

Fungsi pada baris pertama harmonik di R
2
. Dimana, fungsi pada baris kedua juga
harmonik di R
2
kecuali di titik (0,0).


Pada transformasi dasar yang telah kita definisikan di R
2
memiliki analog yang jelas
dalam R
3
dan dalam ruang dimensi yang lebih tinggi. Contoh,
(x
2
+ y
2
+ z
2
)
-1/2

fungsi ini harmonik dalam R
3
kecuali di titik asal dan dengan translasi
[(x-x
0
)
2
+(y-y
0
)
2
+(z-z
0
)
2
]
-1/2

fungsi ini harmonik dalam R
3
kecuali titik (x
0
, y
0
, z
0
).
Pada notasi vector, r =(x,y,z), r
0
=(x
0
,y
0
,z
0
), fungsi tersebut dapat ditulis menjadi
41

|r-r
0
|
-1
(3.8)
Dan fungsi ini harmonic di R
3
dengan titik awal r
0
.
Kecuali untuk translasi, semua transformasi dasar di R
n
diberikan oleh persamaan
dengan bentuk
x
i
= i=1,…,n (3.9)
Atau dalam notasi matriks x=Ax’ (3.10)



Dan A = [a
ij
] adalah matiks non singular nxn dengan invers A
-1
oleh karena itu
x’=A
-1
x (3.11)
Sebuah transformasi pada bentuk (3.10), (3.11) disebut transformasi linear dari
koordinat di R
n
dan apabila diberikan sebuah matriks A.
Pertanyaan : mana transformasi linear dari koordinat yang dapat mempertahankan
keharmonikan dari sebuah fungsi?
Jawaban atas pertanyaan ini diberikan dalam teorema berikut.
Teorema 3.1
Sebuah transformasi linear dari koordinat mempertahankan keharmonikan dari
setiap fungsi harmonik jika dan hanya jika diberikan oleh matriks A dari bentuk
A=λB (3.12)
B adalah sebuah matriks orthogonal dan λ positif konstan. B dikatakan orthogonal
jika

{



(3.12) dapat ditulis dengan
Dimana I adalah matriks kesatuan dan λI mendefinisikan transformasi kesamaan.
Teorema 3.1 menegaskan bahwa transformasi linear yang mempertahankan
keharmonikan adalah komposisi dari transformasi kesamaan, rotasi dan refleksi.
Sekarang beralih ke diskusi lain, transformasi penting dan berguna untuk R
2
dikenal
sebagai inversi sehubungan dengan lingkaran.
42

Misalkan S (0,a) menunjukkan batas lingkaran di R
2
dengan pusat (0,0) dan jari-jari a.
Dalam koordinat polar, titik (r,θ) dan (r,θ*) dikatakan inversi sehubungan dengan
S(0,a) jika

(3.13)
Perhatikan bahwa dua titik inversi sehubungan dengan S(0,a) terletak pada garis
radial yang sama. Pemetaan yang memetakan titik (r, θ) ke (r*,θ*) diberikan oleh

(3.14)
Dengan pemetaan invers yang diberikan oleh
`

(3.15)

Pemetaan (3.14) didefinisikan untuk semua titik (r,θ) dalam R
2
kecuali titik (0,0). Peta
dari titik di luar lingkaran S(0,a) ke titik dalam S(0,a) dan sebaliknya, sementara poin
yang terletak pada lingkaran S(0,a) telah ditetapkan. Sebuah adalah domain yang
terletak di luar S(0,a) dipetakan ke domain * dalam S(0,a).
Misalkan berupa domain dalam R
2
yang tidak mengandung titik (0,0) dan u(r,θ)
harmonik di . Kemudian u(r*,θ*) fungsi yang diperoleh dari u(r,θ) dengan
mengganti r dengan a
2
/r* dan θ dengan θ*, adalah harmonik dalam *.
Inversi sehubungan dengan bola dalam R
3
didefinisikan dengan cara yang sama.
Misalkan S(0,a) adalah permukaan bola dengan pusat (0,0) dan jari-jari a.
Dalam koordinat bola, titik (r,θ,φ) dan (r*,θ*,φ*) dikatakan Inversi sehubungan
dengan S(0,a) jika

(3.16)
Misalkan menjadi domain dalam R
3
yang tidak memuat titik (0,0) dan u(r,θ,φ)
fungsi harmonik di . Misalkan * menjadi citra omega berdasarkan inversi (3.16)
dan menentukan fungsi u*(r*,θ*,φ*) di * oleh rumus

(3.17)
43

Maka u* harmonic di * yang tergantung pada variabel r*,θ*,φ*.
Dalam invers, itu sering menggunakan notasi vektor. Jika r dan r* merupakan vektor
posisi dari dua titik Inversi sehubungan dengan S(0,a) maka

|| |

|

(3.18)
dan karenanya,

(3.19)
sehingga,

(3.20)
Dalam R
2
, jika u(r) adalah harmonik dalam domain , maka

(3.21)
harmonik di *. Dalam R
3
, jika u(r) adalah harmonik dalam domain , maka u

(3.22)
harmonik di *.

4. Masalah Nilai Batas yang Terkait dengan Persamaan Laplace
Persamaan laplace muncul dalam banyak fenomena fisika. Contohnya, jika
fungsi u menyatakan distribui temperatur keadaan tetap, dalam tubuh isotropik
homogen, maka pada setiap titik interior untuk tubuh, u harus memenuhi
persamaan Laplace. Tentu saja, fakta ini saja tidak cukup untuk menentukan u
karena ada solusi tak terhingga dari persamaan laplace. Jika kita mempunyai
informasi tambahan sehingga distribusi temperatur pada batas tubuh atau fluks
panas diseluruh batas, maka u harus memenuhi kondisi pada batas disebut
kondisi batas. Masalah dalam menentukan fungsi u yang memenuhi persamaan
laplace di interior tubuh dan kondisi batas disebut masalah nilai batas. Dalam
sesi ini kita menetapkan tiga dasar masalah nilai batas yang terkait dengan
persamaan laplace.

Masalah Dirichlet atau masalah nilai batas pertama
Diberikan omega domain terbatas di

dengan batas mulus di , dan
f fungsi yang diberikan terdefinisi dan kontinu di . Cari fungsi u yang
terdefinisi dan kontinu di akhir(penutup)
̅
pada sehingga u harmonik di
dan u sama dengan f di . Lebih eksplisitnya, cari fungsi u dimana dalam

dan dalam

dan memenuhi
(4.1)
(4.2)
44

Persamaan (4.2) disebut kondisi batas dari masalah dan f fungsi yg diberikan
disebut sebagai data batas.
Dalam definisi masalah Dirichlet, kondisi yang kita telah kenakan pada
, dan f terlalu ketat. kita melakukan ini dalam rangka untuk membuat
diskusi, setidaknya pada awalnya sesederhana mungkin. Nanti kita akan
mempertimbangkan masalah dimana domain dapat tak terbatas, batas
mungkin memiliki sudut dan fungsi f mungkin diskontinu. Ketika adalah bagian
luar dari daerah dibatasi, maka masalah ini disebut masalah Dirichlet eksterior.
Itu selalu berguna untuk diingat contoh fisika. diberikan fungsi u
menggambarkan distribusi temperatur steady state dalam tubuh isotropik
homogen interior yang merupakan domain. Dan biarkan f fungsi yang
diberikan menggambarkan distribusi temperatur pada permukaan tubuh. Dalam
rangka untuk mencari u distribusi temperatur kita harus memecahkan masalah
Dirichlet.
Dimana adalah domain terbatas di

. Dan c adalah konstanta yang
diberikan.
Dalam masalah ini f (x) = c. Hal ini jelas bahwa fungsi konstan u(x) = c adalah
solusi untuk masalah ini. Kami akan lihat nanti dalam bab ini bahwa ini adalah
satu-satunya solusi untuk masalah ini. Dalam hal contoh fisika kita, ini berarti
bahwa jika permukaan tubuh yang terbatas disimpan pada suhu c konstan, suhu
steady state di setiap titik di dalam tubuh juga sama dengan c.

Masalah Neumann atau masalah nilai batas kedua
Diberikan menjadi domain terbatas di

dengan batas halus , dan
biarkan n = n (x) menjadi vektor satuan luar normal doomega pada titik x.
Biarkan f menjadi fungsi terdefinisi dan kontinu pada doomega. Cari fungsi u
didefinisikan dan kontinu di
̅
sehingga u harmonik di dan sedemikian rupa
sehingga luar biasa derivatif ⁄ pada sama dengan f.
(4.3)

(4.4)
Sebuah contoh fisik yang terkait dengan masalah Neumann ini, cari
distribusi temperatur steady state yang stabil dalam tubuh isotropik homogen
jika hukum fluks panas di permukaannya dikenal. Jika misalnya permukaan
tubuh disekat , fungsi f di kondisi batas Neumann (4.4) adalah nol.
Contoh 4.3 Selesaikan masalah Neumann

Dimana domain terbatas di

dan jelas di semua fungsi konstan

45

Dimana c adalah setiap konstan, merupakan solusi dari masalah. Dengan
demikian, masalah ini memiliki takterhingga banyaknya solusi. Dalam hal contoh
fisika kita ini berarti bahwa distribusi temperatur steady state dalam tubuh
dengan permukaan yang disekat adalah konstan. Dalam rangka untuk
menentukan suhu konstan ini cukup untuk mengetahui suhu tubuh pada satu
titik.
Kombinasi kondisi batas Dirichlet dan Neumann juga muncul dalam
masalah konduksi panas dan menyebabkan masalah nilai batas.

Masalah Mixed (campuran) atau masalah nilai batas ketiga
Diberikan menjadi domain terbatas di

dengan batas halus , dan
biarkan n = n (x) menjadi vektor satuan luar normal pada x. Biarkan , , dan
menjadi fungsi yang diberikan didefinisikan dan terus menerus pada . Cari u
fungsi yang ditetapkan dan kontinu dalam
̅
.
Tiga tujuan utama dari bab ini adalah sebagai berikut;
1. Untuk menentukan kondisi di mana masalah nilai batas well-posed, yakni,
masalah memiliki solusi unik yang tergantung terus menerus pada data batas.
2. Untuk menggambarkan metode untuk menemukan solusi dari masalah well-
posed/
3. Untuk menentukan sifat umum dari solusi.
Perlu ditekankan bahwa tidak setiap masalah yang kelihatannya masuk
akal well-posed Kita akan lihat misalnya bahwa Neumaan tidak memiliki solusi
kecuali fungsi f adalah sedemikian rupa sehingga terpisahkan selama sama
dengan nol. Bahkan saat ini kondisi yang diperlukan keberadaan solusi dipenuhi,
masalahnya mungkin memiliki solusi tak terhingga banyaknya seperti dalam
kasus dengan masalah contoh 4.3. Sebagai contoh lain, masalah Dirichlet
eksterior dalam dua variabel saling bebas memiliki takterhingga banyaknya
solusi kecuali kita memaksakan kondisi bahwa solusi tersebut harus dibatasi.
Setelah kita tahu bahwa masalah well-posed kita dapat mencoba untuk
menemukan solusinya. Kecuali bila masalahnya adalah khusus sederhana, kita
tidak bisa berharap untuk menemukan rumus sederhana untuk solusi. Namun,
kami selalu dapat menemukan pendekatan numerik untuk solusi, mungkin
dengan bantuan komputer.
Dalam studi masalah batas nilai yang berkaitan dengan persamaan
Laplace ini linearitas operator Laplacian memainkan peran yang sangat penting.
Misalkan misalnya bahwa

merupakan solusi dari masalah Dirichlet

Dan

merupakan solusi dari masalah Dirichlet

Kemudian untuk setiap

dan

konstan dan kombinasi linear

merupakan solusi dari masalah Dirichlet
46

Secara khusus, jika

dan

merupakan solusi dari masalah Dirichlet yang
sama maka perbedaan

merupakan solusi dari masalah Dirichlet
dengan data batas nol.
(4.7)
Dengan demikian, untuk membuktikan keunikan solusi dari masalah Dirichlet
(4.1), (4.2) itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa satu-satunya solusi untuk
(4.7) adalah fungsi yang identik dengan nol.
















47






Sign up to vote on this title
UsefulNot useful