Kanker Serviks

Posted on April 5, 2012 by rizqadias

Kanker leher rahim (serviks) atau Karsinoma serviks uterus merupakan kanker pembunuh wanita nomer dua di dunia setelah kanker payudara. Di Indonesia kanker rahim menduduki urutan pertama, yang menyebabkan kematian dalam waktu relatif singkat, dan dalam Pembelajaran Aktif kita akan mengetahuinya. Kanker ini disebabkan oleh virus bernama Human Papilloma Virus – atau yang lebih dikenal virus HPV. rahim merupakan bagian ujung bawah rahim yang menonjol ke liang Vagina. Kanker ini berkembang secara progresif. Proses terjadinya kanker rahim ini sel yang mengalami mutasi lalu berkembang menjadi sel displastik sehinggan terjadi kelainan epitel yang disebut displasia. Dari displasia ringan, displasia sedang, displasia berat, dan akhirnya menjadi karsinoma in-situ (KIS), kemudian berkembang lagi menjadi karsinoma invasif.tingkat displasia dan KIS dikenal sebagai tingkat pra-kanker. Dari displasia menjadi karsinoma in-situ diperlukan waktu 1-7 tahun, sedangkan karsinoma in-situ menjadi karsinoma invasif berkisar 3-20 tahun, maka dari itu dalam Pembelajaran Aktif kita akan mempelajarinya faktor atau tanda-tandanya. Faktor risiko untuk kanker serviks:
     

Berhubungan seks pada usia dini Semakin banyak pasangan seksual Situasi ekonomi yang buruk (mungkin tidak mampu membayar smear) Pasangan seksual yang memiliki banyak pasangan atau yang berpartisipasi dalam kegiatan berisiko tinggi seksual Wanita yang ibunya mengambil ‘(DES) selama kehamilan obat DES di tahun 1960 awal untuk mencegah keguguran Sistim imun yang melemah

atau kanker yang telah kembali. Histerektomi radikal. timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum). berbau dan dapat bercampur dengan darah 5. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina 2. Ini dapat dilakukan pada wanita yang telah mengulangi prosedur LEEP. Terapi radiasi baik eksternal maupun internal. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah. terbentuknya vistel vesikovaginal atau rektovaginal. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis 6. merupakan tipe ekstrim operasi di mana semua organorgan panggul. dihapus. badan menjadi kurus kering karena kurang gizi. Cryotherapy – pembekuan sel-sel abnormal 3. Radiasi dapat digunakan untuk mengobati kanker yang telah menyebar ke luar panggul. Loop eksisi electrosurgical prosedur (LEEP) – menggunakan listrik untuk menghilangkan jaringan abnormal 2. termasuk kandung kemih dan rektum. Jenis operasi untuk kanker serviks dini meliputi: 1. Terapi laser – menggunakan cahaya untuk membakar jaringan abnormal 4. Pengobatan untuk kanker serviks lebih maju mungkin termasuk: 1. atau timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh. Pada stadium lanjut. Selain itu. Perangkat ini dihapus ketika dia pulang. bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya. Terapi radiasi internal menggunakan perangkat diisi dengan bahan radioaktif. 2. . 3. kemungkinan terjadi hidronefrosis. Pendarahan setelah sanggama yang kemudian berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal 3. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan. termasuk kelenjar getah bening dan bagian atas vagina. Timbulnya perdarahan setelah masa menopouse 4. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau diperut bagian bawah bila ada radang panggul. yang ditempatkan di dalam vagina wanita di samping kanker serviks. edema kaki. 7.  Merokok Defisiensi zat gizi Tanda-tanda Knker Serviks 1. Exenteration panggul. yang menghilangkan uterus dan banyak jaringan sekitarnya. Sebuah histerektomi (pengangkatan rahim tetapi bukan indung telur) ini biasanya jarang dilakukan untuk kanker serviks yang belum menyebar. 4.

5. dan cyclophosphamide. paclitaxel. 6. Hal ini mirip dengan sinar-x. carboplatin. cisplatin. Terapi radiasi eksternal balok radiasi dari sebuah mesin besar ke tubuh dimana kanker berada. ifosfamid. Beberapa obat yang digunakan untuk kemoterapi kanker serviks termasuk 5-FU. . Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh kanker. Terkadang radiasi dan kemoterapi digunakan sebelum atau setelah operasi.

kondisi inilah penyebab terjadinya perdarahan . Perdarahan rahim yang bisa terjadi pada pertengahan menstruasi maupun bersamaan dengan waktu menstruasi.2 Siklus Menstruasi Normal Menstruasi normal terjadi akibat turunnya kadar progesteron dari endometrium yang kaya esterogen. Nah. karena gangguan fungsi mekanisme pengaturan hormon (hipotalamushipofisis-ovarium-endometrium). kehamilan atau gangguan perdarahan umum.1 Pengertian Dysfunctional uterine bleeding (DUP) atau perdarahan uterus disfungsional adalah perdarahan abnormal yang dapat terjadi di dalam siklus maupun di luar siklus menstruasi.3 Patogenesis Secara garis besar. misalnya pada wanita premenopause (folikel persisten). Akibatnya dinding rahim (endometrium) mengalami penebalan berlebihan (hiperplasi) tanpa diikuti penyangga (kaya pembuluh darah dan kelenjar) yang memadai. Pada siklus tanpa ovulasi (anovulation) Perdarahan rahim yang sering terjadi pada masa pre-menopause dan masa reproduksi. 2. tanpa kelainan organ. Siklus menstruasi yang menimbulkan ovulasi disebabkan interaksi kompleks antara berbagai organ. biasanya berjumlah banyak hingga hari kedua dan selanjutnya berkurang sampai menstruasi berakhir. Perdarahan ini terjadi karena rendahnya kadar hormon estrogen. Hal ini karena tidak terjadi ovulasi. tanpa ovulasi maupun keadaan lain. 2. sehingga kadar hormon estrogen berlebihan sedangkan hormon progesteron rendah. Pada siklus ovulasi. Pada saat menstruasi. Sekitar 90% perdarahan uterus difungsional (perdarahan rahim) terjadi tanpa ovulasi (anovulation) dan 10% terjadi dalam siklus ovulasi. sementara hormon progesteron tetap terbentuk. kondisi di atas dapat terjadi pada siklus ovulasi (pengeluaran sel telur/ovum dari indung telur). Perdarahan ini juga didefinisikan sebagai menstruasi yang banyak dan / atau tidak teratur tanpa adanya patologi pelvik yang diketahui.BAB II PEMBAHASAN 2. Siklus menstruasi normal terjadi setiap 21-35 hari dan berlangsung sekitar 2-7 hari. jumlah darah yang hilang diperkirakan 35-150 ml. Disfungsi pada tingkat manapun dapat mengganggu ovulasi dan siklus menstruasi.

Kejadian tersering pada menarche (atau menarke: masa awal seorang wanita mengalami menstruasi) atau masa pre-menopause. 2Pada tipe ini berhubungan dengan fluktuasi kadar estrogen dan jumlah folikel yang pada suatu waktu fungsional aktif. Jadilah perdarahan rahim berkepanjangan. Pada siklus tanpa ovulasi (anovulation) Perdarahan tidak terjadi bersamaan. Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa ada sebab organik. maka harus dipikirkan sebagai etiologi : 1. Dasarnya ialah kurangnya produksi progesteron disebabkan oleh gangguan LH releasing faktor. Permukaan dinding rahim di satu bagian baru sembuh lantas diikuti perdarahan di permukaan lainnya. apabila hasil biopsi endometrial dalam fase luteal tidak cocok dengan gambaran endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus yang bersangkutan. Endometrium dibawah pengaruh estrogen akan tumbuh terus. 2. Jika karena perdarahan yang lama dan tidak teratur sehingga siklus haid tidal lagi dikenali maka kadang-kadang bentuk kurve suhu badan basal dapat menolong.4 Gejala Klinik Perdarahan rahim yang dapat terjadi tiap saat dalam siklus menstruasi. Di lain pihak. Permukaan dinding rahim di satu bagian baru sembuh lantas diikuti perdarahan di permukaan lainnya. Folikel-folike ini mengeluarkan estrogen sebelum mengalami atresia dan kemudian diganti oelh folikel-folikel baru . menoragia atau polimenorea. hingga spotting atau perdarahan yang terus menerus. Untuk menegakan diagnosis perlu dilakukan kerokan pada masa mendekati haid. Apopleksia uteri: pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya pembuluh darah dalam uterus 4. mulai dari perdarahan banyak tapi jarang.rahim karena dinding rahim yang rapuh. 3. Dapat juga menyebabkan pelepasan endometrium tidak teratur. dan dari endometrium . Pada siklus ovulasi Karakteristik DUB bervariasi. korpus luteum persistens : dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang kadang bersamaan dengan ovarium membesar. Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10% dari perdarahan disfungsionalndengan siklus pendek (polimenorea) atau panjang (oligomenorea). 2. Diagnosis dibuat. purpura trombositopenik dan gangguan dalam mekanisme pembekuan darah. Jadilah perdarahan rahim berkepanjangan. Insufisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting. Jumlah perdarahan bisa sedikit-sedikit dan terus menerus atau banyak dan berulang. Kelainan darah seperti anemia. perdarahan tidak terjadi bersamaan.

dan lain-lain • Walaupun jarang. 2. Jika gambaran ini diperoleh pada saat kerokan dapat diambil kesimpulan bahwa perdarahan bersifat anovulatoar. misalnya: trombositopenia (kekurangan trombosit atau faktor pembekuan darah). Sedangkan pada wanita dewasa dan terutama dalam masa pramenopause dengan perdarahan tidak teratur mutlak diperlukan kerokan untuk menentukan ada tidaknya tumor ganas. Diagnosis DUB setelah eksklusi penyakit organik traktus genitalia. dan lain lain. atau kram abdomen ) lebih cenderung bersifat ovulatori. Kencing Manis (diabetus mellitus).6 C ). Abnormalitas pada pemeriksaan pelvis harus diperiksa dengan USG dan laparoskopi jika diperlukan. terkadang menimbulkan kesulitan karena tergantung pada apa yang dianggap sebagai . Sedangkan. Jika anamnesis dan pemeriksaan fisik menunjukkan adanya penyakit sistemik. 2. Beberapa kondisi yang dikaitkan dengan perdarahan rahim disfungsional. kista ovarium (polycystic ovary disease). Peningkatan suhu basal tubuh ( 0. Biasanya perdarahan disfungsional ini terjadi pada masa pubertas dan masa pramenopause. kenaikan berat badan karena meningkatnya cairan tubuh. Pada masa pubertas terjadi sesudah menarche.5 Faktor Penyebab Hingga saat ini penyebab pasti perdarahan rahim disfungsional (DUB) belum diketahui secara pasti. Pada wanita dalam masa pramenopause proses terhentinya fungsi ovarium tidak selalu berjalan lancar. Perdarahan siklik (reguler) didahului oleh tanda premenstruasi (mastalgia.6 Diagnosis Anamnesis dan pemeriksaan klinis yang lengkap harus dilakukan dalam pemeriksaan pasien. dengan akibat bahwa pembuatan Releasing factor dan hormon gonadotropin tidak sempurna. semuannya merupakan bukti ovulasi.3 – 0. infeksi vagina. perdarahan lama yang terjadi dengan interval tidak teratur setelah mengalami amenore berbulan – bulan. antara lain : • Kegemukan (obesitas) • Faktor kejiwaan • Alat kontrasepsi hormonal • Alat kontrasepsi dalam rahim (intra uterine devices) • Beberapa penyakit dihubungkan dengan perdarahan rahim (DUB). perdarahan rahim dapat terjadi karena: tumor organ reproduksi.yang mula-mula proliperatif dapat terjadi endometrium hiperplastik kistik. Bila pada masa pubertas kemungkinan keganasan kecil sekali dan ada harapan bahwa lambat laun keadaan menjadi normal dan siklus haid menjadi ovulatoar. peningkatan kadar progesteron serum ( > 3 ng/ ml ) dan atau perubahan sekretorik pada endometrium yang terlihat pada biopsi yang dilakukan saat onset perdarahan. perdarahan tidak normal disebabkan oleh gangguan atau terlambatnya proses maturasi pada hipotalamus. perubahan mood. kemungkinan bersifat anovulatori. maka penyelidikan lebih jauh mungkin diperlukan.

dan tergantung pada sejauh mana penyelidikan dilakukan untuk menyingkirkan penyakit traktus genitalia. Wanita tua dengan gangguan menstruasi. histeroskopi lebih sensitif dibandingkan dilatasi dan kuretase dalam mendeteksi abnormalitas endometrium. FSH. Jadi. Transfusi jika kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 8 gr%. uji fungsi thiroid . 3. Deteksi patologi endometrium melalui (a) dilatasi dan kuretase dan (b) histeroskopi. Maka penting untuk melakukan kuretase ulang dan investigasi lain yang sesuai pada seluruh kasus perdarahan uterus abnormal berulang atau berat. Golongan estrogen. jadi pemeriksaan patologi endometrium tidaklah merupakan keharusan. Menghentikan perdarahan. dan kadar HCG. Pasien berusia dibawah 40 tahun memiliki resiko yang sangat rendah mengalami karsinoma endometrium. Penyakit organik traktus genitalia mungkin terlewatkan bahkan saat kuretase. Pemeriksaan penunjang: 1. wanita muda dengan perdarahan tidak teratur atau wanita muda ( < 40 tahun ) yang gagal berespon terhadap pengobatan harus menjalani sejumlah pemeriksaan endometrium. LH. Prolaktin dan androgen serum jika ada indikasi atau skrining gangguan perdarahan jika ada tampilan yang mengarah kesana. teryata tidak ditemukan penyakit lainnya. Pemeriksaan darah : Hemoglobin. 2.7 Pengobatan Setelah menegakkan diagnosa dan setelah menyingkirkan berbagai kemungkinan kelainan organ. Pada umumnya dipakai estrogen alamiah. Menghentikan perdarahan. Mengatur menstruasi agar kembali normal 3. Langkah-langkah upaya menghentikan perdarahan adalah sebagai berikut: Kuret (curettage). misalnya: estradiol valerat (nama generik) . 2. maka langkah selanjutnya adalah melakukan prinsip-prinsip pengobatan sebagai berikut: 1. Resiko karsinoma endometerium pada pasien DUB perimenopause adalah sekitar 1 persen. Hanya untuk wanita yang sudah menikah.penyakit organik. Laparoskopi : Laparoskopi bermanfaat pada wanita yang tidak berhasil dalam uji coba terapeutik. pengambilan sampel endometrium penting dilakukan. O b a t (medikamentosa) 1. 2. Tidak bagi gadis dan tidak bagi wanita menikah tapi “belum sempat berhubungan intim”. Pada wanita yang memerlukan investigasi. Pengobatan medis dapat digunakan sebagai pengobatan lini pertama dimana penyelidikan secara invasif dilakukan hanya jika simptom menetap.

dapat diulang tiap 3-4 jam. Dua hingga empat pil diberikan setiap hari setiap enam hingga duabelas jam . dianjurkan nginap di RS (opname). Terapi estrogen bermanfaat menghentikan perdarahan khususnya pada kasus endometerium atrofik atau inadekuat. penghentian obat akan menimbulkan perdarahan berat. Cara lain. sehingga tidak responsif terhadap progestin. Kombinasi kontrasepsi oral menginduksi atrofi endometrium. tapi obat ini dapat menimbulkan gangguan fungsi liver. dan diberikan Estrogen konyugasi (estradiol valerat): 25 mg secara intravenus (suntikan lewat selang infus) perlahan-lahan (10-15 menit). Estrogen juga diindikasikan pada kasus DUB sekunder akibat depot progestogen ( Depo Provera ). • • Benzoas estradiol: 20 mg disuntikkan intramuskuler. Jenis lain. Pengobatan medis ditujukan pada pasien dengan perdarahan yang banyak atau perdarahan yang terjadi setelah beberapa bulan amenore. perdarahan timbul lagi. Kombinasi ini berguna untuk tatalaksana DUB jangka panjang pada pasien tanpa kontraindikasi dengan manfaat tambahan yaitu mencegah kehamilan. Banyak pasien yang mengalami anovulasi kronik dan pengobatan berkelanjutan diperlukan. dosis pil kombinasi dapat diturunkan bertahap ( 4 kali sehari. Formula ini biasanya mengontrol perdarahan akut dalam 24 hingga 48 jam . termasuk peningkatan fibrinogen dan agregasi trombosit. Keberatan terapi ini ialah bahwa setelah suntikan dihentikan. Khususnya untuk pasien perimenarche. perdarahan berat yang lama dapat mengelupaskan endometrium basal. obat ini dapat dihentikan setelah 3 – 6 bulan dan dilakukan observasi untuk melihat apakah telah timbul pola menstruasi yang normal. Kuretase untuk mengontrol perdarahan . Paparan estrogen kronik dapat menimbulkan endometrium yang berdarah banyak selama penarikan progestin . Obat Kombinasi Terapi siklik merupakan terapi yang paling banyak digunakan dan paling efektif. mulai diberikan kontrasepsi oral siklik dosis rendah dan diulangi selama 3 siklus agar terjadi regresi teratur endometrium yang berproliferasi berlebihan. Dosis dan cara pemberian: • • Estrogen konyugasi (estradiol valerat): 2. kemudian 3 kali sehari. Tidak boleh lebih 4 kali sehari. (melalui bokong) • • Jika perdarahannya banyak. Speroff menganjurkan pengobatan dengan menggunakan kombinasi kontrasepsi oral dengan regimen menurun secara bertahap. misalnya: etinil estradiol. Cara terbaik adalah memberikan kontrasepsi oral . kemudian 2 kali sehari ) selama 3 hingga 6 hari. Estrogen intravena dosis tinggi ( estrogen konjugasi 25 mg setiap 4 jam sampai perdarahan berhenti ) akan mengontrol secara akut melalui perbaikan proliferatif endometrium dan melalui efek langsung terhadap koagulasi. dan kemudian dilanjutkan sekali setiap hari. karena paparan estrogen progestin kronik akan menekan gonadotropin pituitari dan menghambat steroidogenesis endogen. Pada hari ke 5 perdarahan ini. selama 5 sampai 7 hari untuk mengontrol perdarahan akut.5 mg diminum selama 7-10 hari. 2.yang relatif menguntungkan karena tidak membebani kinerja liver dan tidak menimbulkan gangguan pembekuan darah.

langkah selanjutnya adalah pengobatan untuk mengatur siklus menstruasi. Terapi yang ini diharuskan pasiennya untuk menginap di Rumah Sakit atau klinik.75 gr%. tidak merokok. Golongan progesterone Pertimbangan di sini ialah bahwa sebagian besar perdarahan fungsional bersifat anovulatoar.dikontraindikasikan karena tingginya resiko terjadinya sinekia intrauterin ( sindroma Asherman ) jika endometrium basal dikuret. Ini berarti. tetapi umumnya dimulai pada onset menstruasi dan dilanjutkan selama espisode perdarahan dan berhasil baik. Minum obat dimulai pada hari ke 14-15 menstruasi. • • Kaproas hidroksi-progesteron 125 mg secara intramuskular 4.2 Mengatur menstruasi agar kembali normal Setelah perdarahan berhenti. Sekantong darah (250 cc) diperkirakan dapat menaikkan kadar hemoglobin (Hb) 0. Obat ini mengurangi kehilangan darah selama menstruasi ( mensturual blood loss / MBL ) dan manfaatnya paling besar pada DUB ovulatori dimana jumlah pelepasan prostanoid paling tinggi. Transfusi jika kadar hemoglobin kurang dari 8 gr%. diminum selama 7 10 hari. • • Norethisteron: 3×1 tablet. Fraser dan Shearman membuktikan bahwa OAINS paling efektif jika diberikan selama 7 hingga 10 hari sebelum onset menstruasi yang diharapkan pada pasien DUB ovulatori. dan tidak hipertensi. OC aman pada wanita hingga usia 40 dan diatasnya yang tidak obes. . 3. Obat untuk jenis ini. misalnya dengan pemberian: Golongan progesteron: 2×1 tablet diminum selama 10 hari.8 Prognosis Hasil pengobatan bergantung kepada proses perjalanan penyakit (patofisiologi) • Penegakan diagnosa yang tepat dan regulasi hormonal secara dini dapat memberikan angka kesembuhan hingga 90 %. sehingga pemberian obat progesterone mengimbangi pengaruh estrogen terhadap endometrium. antara lain: • • Medroksi progesteron asetat (MPA): 10-20 mg per hari. diminum selama 7-10 hari. jika kadar Hb ingin dinaikkan menjadi 10 gr% maka kira-kira perlu sekitar 4 kantong darah 2. OAINS Menorragia dapat dikurangi dengan obat anti inflamasi non steroid.

dapat diobati dengan hasil baik.• Pada wanita muda. . yang sebagian besar terjadi dalam siklus anovulasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful