TINJAUAN ATAS CACING TAMBANG PENYEBAB ANEMIA

I. PENDAHULUAN i. LATAR BELAKANG SKENARIO : KENAPA SAYA DIARE? Seorang pria, petani, berumur 43 tahun, datang dengan keluhan sakit perut dan diare lendir, kadang berdarah, selama kurang lebih 1 bulan. Pasien juga mengeluh cepat lelah setelah beraktivitas, sering berkunang-kunang dan dada berdebar-debar, serta kadang tubuh terasa gatal. Pada pemeriksaa fisik ditemukan : pecah-pecah di tepi mulut, konjungtiva pucat. Nyeri tekan lepas daerah Mc Burney (-). Auskultasi didapatkan takikardi, bising sistolik dan ronki basah basal paru. Kondisi rumah pasien berlantai tanah, sumber air minum dari sumur yang berjarak 2 meter dari ‘jumbleng/sumuran terbuka’ (tempat BAB tradisional). Beberapa tetangganya juga mempunyai keluhan yang mirip (diare). Pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia berat dan eosinofilia. Pemeriksaan mikroskopis tinja didapatkan telur cacing, protozoa dan bakteri. Anemia adalah penurunan konsentrasi eritrosit atau hemoglobin dalam darah di bawah normal, terjadi ketika keseimbangan antara kehilangan darah dan produksi terganggu (Anderson, 2002). Anemia dapat diakibatkan oleh berbagai hal, salah satunya infestasi parasit dalam tubuh. Manifestasi parasit juga mengakibatkan eosinofilia. Eosinofil dalam darah naik untuk mengatasi infestasi parasit. Tergantung dari mekanisme pertahanan tubuh apakah mampu mengeliminasi parasit atau tidak mampu mengeliminasi seluruh parasit sehingga mengakibatkan infeksi kronis. ii. RUMUSAN MASALAH 1. Mekanisme anemia yang ditimbulkan parasit 2. Gejala klinis pada infestasi parasit 3. Tinjauan mengenai diare yang diakibatkan oleh parasit iii. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN 1. Mengetahui daur hidup parasit 2. Mengetahui gejala dan tanda yang menyertai 3. Mengetahui pengobatan yang tepat pada kasus II. STUDI PUSTAKA

Penyakit cacing tambang paling sering disebabkan oleh Necator americanus, Ancylostoma duodenale. Penyakit ini tersebar di daerah tropis maupun subtropis. Di Indonesia penyakit ini lebih banyak disebabkan oleh Necator americanus (Pohan, 1996). Cacing tambang ditularkan melalui tanah yang terkontaminasi tinja yang mengandung larva infektif. Telur dihasilkan cacing betina dan keluar melalui tinja. Bila telur tersebut jatuh di tempat yang hangat, lembab dan basah, maka telur berpotensi menetas. Telur cacing yang ditemukan dalam tinja akan menetas menjadi larva rhabditiform dalam 1-2 hari atau setelah 3 minggu. Larva rhabditiform kemudian berubah menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit manusia. Bila larva filariform menembus kulit manusia maka terjadi ground itch pada kulit. Jika larva filariformis kontak dengan kulit, maka ia akan mengadakan penetrasi melalui kulit, kemudian menuju jantung kanan, bermigrasi sampai paru-paru dan kemudian turun ke usus halus (Mansjoer, 2005). Gejala klinis yang muncul adalah rasa gatal di kaki, pruritus, dermatitis dan kadang makulopapula sampai vesikel merupakan gejala pertama yang disebabkan invasi larva cacing tambang. Selama larva ini berada di dalam paru-paru dapat menyebabkan gejala batuk darah, yang disebabkan pecahnya kapiler dalam alveoli paru, dan berat ringannya keadaan ini bergantung pada banyaknya jumlah larva cacing yang melakukan penetrasi ke dalam kulit (Pohan, 1996). Pada paru-paru larva memasuki alveoli dan dibawa menuju glottis dengan gerakan silia pada traktus respiratorius. Pada migrasi ini larva ini berganti kulit dua kali, membentuk kapsula bukalis dan menjadi bentuk dewasa. Menggunakan kapsula bukalis ini menempelkan dirinya pada kelenjar mukosa duodenum sebelah bawah, jejunum dan bagian proksimal dari ileum. Rasa tak enak pada perut, kembung, sering mengeluarkan gas (flatus), diare merupakan gejala iritasi cacing terhadap usus halus yang terjadi lebih kurang dua minggu setelah larva mengadakan penetrasi ke dalam kulit (Pohan, 1996). Dapat terjadi kerusakan pada kulit yang disebabkan oleh dermatitis berat jika pasien sensitif. Anemia berat yang terjadi juga sering menyebabkan gangguan pertumbuhan, perkembangan mental dan payah jantung (Pohan, 1996). Anemia akan terjadi 10-20 minggu setelah infestasi cacing dan walaupun diperlukan lebih dari 500 cacing dewasa untuk menimbulkan gejala anemia tersebut tentunya juga bergantung pada kondisi gizi pasien (Pohan, 1996). Necator americanus dan Ancylostoma duodenale dapat menyebabkan anemia mikrositik hipokromik. Tiap cacing N.americanus menyebabkan kehilangan darah 0,0050,100 ml sehari dan A.duodenale 0,08-0,34 ml sehari. Keadaan ini tidak menyebabkan kematian tetapi dapat menurunkan daya tahan tubuh dan prestasi kerja. Enzim proteolitik chatepsin D pada cacing tambang memainkan peranan dalam mendigesti hemoglobin (Loukas, 2002). Pada ibu yang masih menyusui bayi dapat terjadi penularan kepada bayi karena cacing tambang dapat menular melalui ASI dan colostrum. Pada pemeriksaan mikroskopis, N.americanus dan A.duodenale dapat dibedakan dengan melihat bagian gigi pada cacing. III. DISKUSI / BAHASAN

Diare pada kasus skenario dapat diakibatkan infeksi cacing tambang pada daerah usus. pirantel pamoat dan mebendazol. Yang juga harus dilakukan adalah mengatasi anemianya. Pertama keadaan umum penderita harus diperbaiki dengan memberikan cukup protein dan makanan yang baik. 2002). Diare sebenarnya juga bisa disebabkan amebiasis. 1996). sering berkunang-kunang. Enzim proteolitik chatepsin D yang dimiliki oleh cacing tambang dapat digunakan untuk menghancurkan makromolekul kulit. Mebendazol adalah obat antelmintik yang paling luas spektrumnya. Apendisitis juga mungkin terjadi pada kasus infeksi oleh cacing tambang. tidak larut dalam air. sedangkan pada skenario pasien tidak menderita demam. Pengobatan diberikan bergantung pada kondisi umum penderita. Diare pada amebiasis juga mengakibatkan tinja bercampur darah dan lendir. Diare merupakan gejala iritasi cacing terhadap usus halus yang terjadi kurang lebih dua minggu setelah larva mengadakan penetrasi ke dalam kulit (Pohan. Mebendazol berupa bubuk berwarna putih kekuningan. Schistosomiasis juga dapat menyebabkan diare. perut sakit dan tenesmus . Bila terdapat anemia megaloblastik dapat diberikan asam folat. Disentri juga merupakan salah satu penyebab diare. cacing gelang. Saat cacing menempel pada tunika mukosa dia juga mengeluarkan antikoagulan yang langsung mencegah kerja dari antikoagulan Xa dan faktor jaringan VIIa untuk mencegah koagulasi. Obat ini juga menimbulkan sterilitas pada telur cacing T. dan T. tetrakloetilen. . bisa dengan pemberian sulfas ferosus. Kemudian berikan obat cacing seperti alkopar.trichiura. Secara klinis mengakibatkan diare berlendir disertai darah. dada berdebardebar dan konjungtiva pucat merupakan tanda-tanda anemia. Anemia yang disebabkan oleh cacing tambang disebabkan enzim protease chatepsin D.histolytica. Obat ini juga mengahambat ambilan glukosa secara ireversibel sehingga terjadi pengosongan glikogen pada cacing. Disentri atau shigellosis adalah suatu radang akut disebabkan oleh kuman genus Shigella. Daerah Mc Burney terletak pada 1/3 lateral garis khayal antara SIAS dan umbilikus. Cacing mendisgesti darah yang keluar dari usus degan kaskade multienzim metalohemoglobinase. Namun pada skenario tanda nyeri tekan lepas daerah Mc Burney negatif yang menandakan tidak adanya apendisitis. cacing kremi. hal ini mengakibatkan perdarahan. Mebendazol menyebabkan kerusakan struktur subselular dan menghambat sekresi asetikolinesterase cacing. Gigi yang terdapat pada cacing tambang digunakan untuk menempel pada tunika mukosa. Cacing akan mati perlahan-lahan dan hasil terapi yang memuaskan baru nampak setelah tiga hari pemberian obat. Dengan jalan demikian cacing dapat masuk melalui kulit dan juga migrasi jaringan (Loukas. Mebendazol sangat efektif untuk mengobati infestasi cacing tambang. cacing tambang. maka berguna untuk infestasi cacing tersebut. Pada keadaan berat dengan kondisi umum yang buruk dapat diberikan transfusi darah dan preparat besi. dan askaris sehingga telur ini gagal berkembang menjadi larva (Ganiswara.trichiura. Namun pada amebiasis terjadi demam. tidak bersifat higrokopis sehingga stabil dalam keadaan terbuka dan rasanya enak. Gejala-gejala seperti cepat lelah setelah beraktivitas. 1995). yang merupakan infeksi usus besar oleh E.

DAFTAR PUSTAKA Dorland.fj/pws/Resources/1. Gaya Baru. p : 418 Pohan. jika perlu gunakan PAM 2. et al. pp : 526-527 Mansjoer.umi.ac. telur cacing dan protozoa. Gunakan alas kaki saat bekerja 4. http://www.A Newman. Jakarta. Common Intestinal Parasites. Kamus Kedokteran Dorland. Namun pada kasus ini gejala epidemiologi dan gejala klinis mengarah ke infeksi cacing tambang. 1995. pp : 92 Ganiswara. pp : 515-516 American Family Physician . 2004. 2006. W.com/pqdweb?index=3&did=1401800551&SrchMode=1&sid=1&Fmt=6&VInst=P ROD&VType=PQD&RQT=309&VName=PQD&TS=1214835042&clientId=44698 (31 Juni 2008) Brindley. Banyak orang di daerah tempat tinggalnya juga terinfeksi cacing tambang SARAN 1. Jakarta .fsm. KESIMPULAN 1.Pada kasus ini terlihat pasien mengalami infeksi multipel. 29th ed. EGC. Heriman T. 3thed. Gaya Baru. 2002. Pasien mengalami anemia karena infestasi cacing tambang 2. Arif. 3th ed. Pasien terinfeksi karena rumahnya berlantai tanah. Loukas. Jakarta. 4th ed. http://proquest. Necatoriasis dan Ancylostomiasis. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Penyakit Cacing yang Ditularkan Melalui Tanah.pdf (1 Juli 2008) . Williamson. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta . Farmakologi dan Terapi. 1996. IV. Berikan lantai keramik atau paling tidak alas pada tanah rumah V. Perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastika diagnosis 3.05-Anemia/Hookworm%20adv%20NEJM. juga profesinya sebagai petani yang sering terpapar dengan tanah 4. 2002. Perbaikan lokasi BAB dan sumber air minum 3. Terdapat bakteri. Media Aesculapius. Hookworm cathepsin D aspartic proteases : contributing roles in the host-specific degradation of serum proteins and skin macromolecules. Perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat bakteri dan protozoa apa yang terdapat pada feses tersebut. Perbaikan higiene air minum. Sulistia.

dan (4) respons daripada hospes. Parasit yang mengambil makanannya dari manusia secara langsung maupun tidak langsung dapat mengakibatkan kelainan pada tubuh manusia sebagai hospes. Toxocara (yang menyebabkan visceral larva migrans). Gangguan darah antara lain dapat dilihat pada leukosit dan pada eritrosit. poliarteritis nodosa. Strongyloides stercoralis.Dalam tahun 1932 Loeffler menghubungkan sindrom ini dengan infeksi cacing Ascaris. Etiologi.dr. Jakarta PENDAHULUAN Di negara-negara yang beriklim panas yang sedang giat membangun. Sering-sering leukositosis ini tidak bersifat absolut. masih banyak penduduk yang dihinggapi parasit. eosinofilia tropis. Berat ringannya kelainan darah ini tergantung pada : (1) species parasit. antara lain Trichinella spiralis. Schistosoma. Universitas Indonesia. sesak napas menyerupai asma dan jumlah sel eosinofil dalam darah dan sputum meningkat. Faktor-faktor yang menguntungkan untuk berkembangnya parasit adalah :(I) kurang pengetahuan tentang kebersihan. reaksi alergi terhadap penisilin. batuk. (2) keadaan sosiaI ekonomi rendah. (2) jumlah parasit yang masuk dalam tubuh. Filaria. Ancylostoma braziliense (yang menyebabkan cutaneous larva migrans). terutama yang terdapat dalam jaringan tubuh. PAS. PENGARUH PADA LEUKOSIT Infeksi cacing kadang-kadang menyebabkan leukositosis ringan. Parasit cacing. dan lain-lain telah dilaporkan se- . Kelainan inilah yang disebut eosinofilia atau hipereosinofilia seperti yang terdapat pada sindrom Loeffler dan eosinofilia tropis. infeksi jamur. preparat arsen organik. Sindrom Loeffler Sindrom ini adalah sekumpulan gejala yang terdiri dari infiltrasi sel eosinofil dalam paru-paru yang bersifat sementara. sulfonamida. (3) lamanya infeksi. Zat anti ini dapat dihubungkan dengan meningkatnya jumlah sel eosinofil dalam darah. mempunyai kutikula dan ekskreta yang bersifat antigenik dan membentuk zat anti dari golongan IgE. termasuk kelainan pada darah. -. Peninggian jumlah leukosit pada infeksi cacing disebabkan oleh meningkatnya salah satu komponen daripada sel darah putih yaitu sel eosinofil. Kemudian penyakit infeksi parasit lain. Wita Pribadi Bagian Parasitologi dan Ilmu Penyakit Umum Fakultas Kedokteran.

Telah dibuktikan bahwa satu macam eosinofilia tropis disebabkan oleh cacing filaria manusia atau binatang yang tersembunyi dalam tubuh hospes. Disamping itu reaksi serologi dapat menunjang diagnosis ini. Keadaan ini disebut filariasis occult. batuk keras dan serangan asma. tetapi kadang-kadang terdapat larva dalam sputum penderita. Bercak-bercak tidak teratur dengan diameter beberapa milimeter sampai 5 cm tersebar di seluruh paru-paru. Penyakit ini biasanya sembuh dengan sendirinya dalam waktu kurang lebih tiga minggu. limfosit dan sel raksasa. tetapi gejalanya lebih berat dan berlangsung lebih lama. Walaupun larva cacing tetap berada dalam kulit ataupun dalam paru-paru. Sindrom ini merupakan suatu fenomen hipersensitivitas yang dapat disebabkan oleh migrasi larva Ascaris dalam paru-paru atau migrasi larva dari kulit ke paru-paru dan kemudian mati dan tidak berhasil mencapai usus. reaksinya tetap sama.90% (4000 per mm 3 atau lebih). Patogenesis yang pasti masih belum jelas. akan tetapi pada banyak kasus dilaporkan adanya asma bronkial. • Gejalanya pada umumnya ringan. • Diagnosis sindrom Loeffler sulit ditegakkan dengan pasti. ini sesuai dengan meningginya kadar IgE dalam serum. karena mikrofilarianya tidak dapat ditemukan . bila penyebabnya adalah cacing. terdiri dari jaringan kolagen yang di antara sel-selnya terdapat sel eosinofil. Infiltrat dalam paruparu dan eosinofilia dalam darah merupakan suatu reaksi alergik terhadap larva.bagai penyebab sindrom ini (Knowles. 1970). sel plasma. Istilah "PIE syndrome" (Pulmonary Infiltration with Eosinophilia) digunakan untuk gejala infiltrasi paru-paru dan eosinofilia dalam darah yang dihubungkan dengan penyakit-penyakit lain. Jumlah sel eosinofil dalam darah meninggi. Sering tidak ditemukan telur dalam tinja. Gambaran klasik menunjukkan gambaran Rontgen dengan bayangan infiltrat dalam paru-paru yang cepat meluas untuk kemudian menghilang dalam waktu kurang lebih tiga minggu. 1979). Eosinofilia tropis merupakan suatu respons alergik terhadap berbagai parasit cacing yang berhubungan erat dengan jaringan hospes. Pada 50% kasus terdapat splenomegali (Fine. Eosinofilia tropis Eosinofilia tropis adalah suatu sindrom yang menyerupai sindrom Loeffler. Sindrom ini juga bersifat alergik. ditandai dengan hipereosinofilia antara 20 -. dalam sputum ditemukan sel eosinofiI dan kadang-kadang ditemukan larva cacing.

terutama yang berasal dari mikrofilaria yang memegang peranan penting dalam etiologi filariasis occult. 1969) Filariasis occult (tersembunyi).2 mm tersebar di seluruh jaringan kelenjar dan mengandung gumpalan sel eosinofil. • Diagnosis pasti filariasis occult dapat dibuat bila ditemukan mikrofilaria dalam benda Meyers-Kouwenaar di alat-alat dalam. Brazil. Benjolan-benjolan kecil berwarna kuning-kelabu dengan diameter 1 -. Hipereosinofilia dan serangan asma merupakan gejala alergi yang timbul pada orang-orang yang hipersensitif.Filariasis occult untuk pertama kali dilaporkan oleh Meyers dan Kouwenaar (I939) dan Bonne (I939) di Indonesia. Kelainan patologik sangat khas. Menurut Ottisen (1979) eosinofilia tropis pada filariasis occult merupakan reaksi imunologik hiperresponsif terhadap cacing tersebut.bukan pada larva atau cacing dewasanya -.melihat spesifitas zat anti IgE -. Gejala klinik dan hasil Iaboratorium menunjukkan adanya peranan respons hipersensitivitas segera (immediate hypersensitivity): Penderita ini -. Zat antifilaria dari semua jenis dan kelas meninggi. Di tengah gumpalan tersebut kadang-kadang tampak mikrofilaria atau sisa-sisa mikrofilaria yang diliputi sel hialin.dalam darah tepi (Lie dan Sandosham. batuk-batuk dan asma. Sebaliknya. Vietnam. Bila limpa. Muangthai. India. Gejala kliniknya terutama adalah hipereosinofilia. kelenjar limfe tidak selalu membesar. Hipereosinofilia yang hampir selalu ditemukan pada penyakit ini sangat tinggi (2000 -. Gambaran ini disebut benda Meyers-Kouwenaar. Kemudian dilaporkan dari Afrika. Titer IgE yang tinggl dan penyembuhan dengan obat dietilkarbamazin terhadap cacing filarianya merupakan indikasi kuat bahwa ini adalah suatu filariasis occult. benjolan-benjolannya lebih besar (sampai 5 mm).4000 per mm 3 ).sehingga mikrofilaria dihancurkan dalam alat-alat dalam (limpa. paru-paru atau hati terkena. -. Reaksi alergi pada filariasis occult ditujukan pada mikrofilaria -.telah disensitisasi secara alergik terhadap semua antigen filaria. Gambaran Rontgen paru-paru menunjukkan bercak-bercak milier yang khas untuk eosinofilia tropis. paru-paru atau kelenjar limfe). kadar IgE dan jumlah sel eosinofil meningkat. . Filipina. Singapore dan Curacao. Batuk-batuk kronis dapat dihubungkan dengan serangan asma yang biasanya pada malam hari. pembesaran kelenjar limfe. Kelenjar limfe yang membesar menunjukkan suatu hiperplasia folikel limfe dan sel retikular.

Cacing dewasa berpindah-pindah tempat di daerah usus halus dan tempat lama yang ditinggalkan mengalami perdarahan lokal. " lamanya penyakit dan keadaan gizi penderita.5 ml setiap hari untuk mengambil oksigen yang dibutuhkannya. (2) species cacing : seekor A. Infeksi cacing tambang Penyakit cacing tambang disebabkan oleh infeksi cacing lncylostoma duodenale atau Necator americanus. tiap cacing dapat mengisap darah dari mukosa sus halus sebanyak 0. antaza lain umur. walaupun penderita mempunyai daya tahan yang menurun terhadap penyakit lain. Infeksi ringan dengan kehilangan darah yang dapat diatasi tanpa gejala. americanus mengisap 5 x lebih banyak darah. Penyakit cacing tambang menahun dapat dibagi dalam tiga golongan : (I). Beratnya penyakit cacing tambang tergantung pada beberapa faktor. Gejala klinik penyakit cacing tambang berupa anemia yang diakibatkan oleh kehilangan darah pada usus halus secara kronik. Anemia dapat disebabkan antara lain oleh (I) defisiensi zat besi karena kehiangan darah menahun yang terjadi pada infeksi cacing tambang.05 -. (3) lamanya infeksi. Terjadinya anemia tergantung pada keseimbangan zat besi dan protein yang hilang dalam usus dan yang diserap dari makanan. Jumlah darah yang hiIang setiap hari tergantung pada (1) jumlah cacing. mempunyai keluhan pencernaan. duodenale yang lebih besar daripada N. infeksi sedang dengan kehilangan darah yang tidak dapat dikompensasi dan penderita kekurangan gizi. fisik dan mentaI kurang baik. Kekurangan gizi dapat menurunkan daya tahan terhadap infeksi parasit. anemia. Walaupun acing-cacing ini panjangnya hanya 1 cm dan halusnya seperti benang jahit.PENGARUH PADA ERITROSIT Beberapa parasit mempunyai peranan penting sebagai penyebab kelainan darah yang berupa anemia. (II). terutama yang secara kebetulan melekat pada mukosa yang berdekatan dengan kapiler arteri. . dan (2) penghancuran eritrosit pada penyakit malaria. lemah.0. " wormload.

malariae menyebabkan malaria malariae atau quartana. pirantel pamoat dan mebendazol. P. anemia dan splenomegali. ovale menyebabkan malaria ovale yang ringan dan jazang dijumpai. Bila cacing tambang telah dikeluarkan. Eritrosit dihancurkan pada saat sporulasi. Penyelidikan terhadap infeksi cacing tambang pada pekerja-pekerja di beberapa tempat di Jawa Barat dan di pinggir kota Jakarta. Reksodipoetro dkk. Akhir-akhir ini dilaporkan bahwa beberapa species malaria pada kera dapat ditularkan kepada manusia dan sebaliknya parasit malaria pada manusia dapat ditularkan kepada kera. Malaria Malaria adalah penyaklt protozoa yang ditularkan melalui tusukan nyamuk Anopheles. perdarahan akan berhenti. P. Eritrosit yang dihinggapi parasit dapat dihancurkan oleh fagosit yang berusaha untuk . menunjukkan bahwa mereka semua tennasuk goIongan I(Kazyadi dkk.. • Diagnosis penyakit cacing tambang dapat dilakukan dengan menemukan telur cacing tambang dalam tinja. Diketahui empat species yang dapat menginfeksi manusia. defisiensi zat besi terdapat pada semua penderita yang anemia.5 -. 1973).. Penyakit malaria disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium. yaitu pada saat schizont malaria pecah dan merozoit keluar dari eritrosit untuk menyerang eritrosit lain.(III). Di samping itu keadaan gizi diperbaiki dengan diet protein tinggi. (1973) telah memeriksa 20 penderita cacing tambang dengan infeksi berat. hemoglobin berkisar antara 2. vfvax menyebabkan malaria vivax atau tertiana. infeksi berat yang dapat menyebabkan keadaan fisik buruk dan payah jantung dengan segala akibatnya. tetraldoretilen. falciparum menyebabkan malaria falciparum atau tropica. panas. • Pengobatan penyakit cacing tambang dapat dilakukan dengan berbagai macam anthelmintik. tetapi pengobatan dengan preparat besi (sulfas ferrosus) per os dalam jangka waktu panjang dibutuhkan untuk memulihkan kekurangan zat besinya. antara lain befenium hidroksinaftoat.10. ditandai dengan menggigil. P. B 12 dan/atau asam folat.Og % pada 17 penderita. Parasit malaria hidup dalam-sel di sel hati dan di dalam eritrosit. Disamping itu terdapat kelainan pada leukosit yaitu hipersegmentasi sel neutrofil pada sebagian besar penderita yang diperiksa. Perubahan tersebut disebabkan oleh defisiensi vit. P.

Hipotesa ketiga rupanya memegang peranan penting. vivax lebih suka menyerang eritrosit muda (retikulosit). -. P. hemoglobinuria. tetapi juga dengan eritrosit normal sehingga terjadi hemolisis. dan lain-lain. kolaps dan kadang-kadang insufisiensi ginjal dan uremia. Ada tiga hipotesa yang dikemukakan oleh WHO (1968) :(1) adanya zat hemolitik yang dihasilkan oleh parasit sendiri atau yang dikeluazkan oleh jaringan. sedangkan P. Pembatasan ini perlu untuk mencegah timbulnya resistensi P. Penyakit malaria dapat diobati dengan klorokuin. (2) hipersplenisme yang menyertai malaria menyebabkan meningkatnya eritrofagositosis dan (3) peranan zat anti. Oleh karena penghancuran ini maka timbul anemia. ikterus.Blackwater fever merupakan komplikasi malaria falciparum yang berbahaya. Blackwater fever (febris icterohemoglobinuria). . Diagnosis penyakit malaria dilakukan dengan pemeriksaan dazah tepi untuk menemukan pazasitnya dalam eritrosit. primakuin. Eritrosit yang dihinggapi parasit dan eritrosit nonnal dihancurkan. klorproguanil . 1968). Di samping itu. Peranan kompleks-imun yang beredar dalam darah dan reaksi hipersensitivitas yang berhubungan dengan obat (kina) yang dapat menghancurkan eritrosit perlu diselidiki lebih lanjirt (WH0.mengatasi infeksi pazasit ini. falciparum dapat menyerang eritrosit muda maupun tua.1975). falciparum terhadap obat kombinasi ini yang masih diperlukan sebagai pertahanan kedua bila terjadi resistensi terhadap obat klorokuin. pirimetamin. Derajat anemia pada malaria tidak sesuai dengan derajat parasitemianya (WHO. Mungkin zat anti bereaksi tidak hanya dengan eritrosit yang dihinggapi pazasit. hemolisis intravaskular hebat. panas. Hingga sekarang di Indonesia klorokuin tetap merupakan obat pilihan pertama. falciparum sendiri dan obat kina merupakan faktor utama. proguanil. 1975). Penggunaan obat kombinasi sulfadoksin dan pirimetamin (Fansidaz) sebaiknya terbatas pada malaria falciparum yang resisten terhadap klorokuin. Mekanismenya belum jelas. Patogenesis hemolisis intravaskular ini masih belum jelas. auto-antibodi eritrosit juga terlibat dalam proses ini (WHO. Kemungkinan pazasit P. amodiakuin. Gejalanya ialah menggigil .

laboratorium. Gejala khas masing-masing anemia 3. Mata : ikterus. sesak waktu kerja. iritabel. perubahan pada fundus d. angina pectoris. konjugtiva pucat. Sistem urogenital Gangguan haid dan libido menurun d. pusing. Riwayat penyakit keluarga juaga ditanya untuk mengetahui apakah ada faktor keturunan. apakah ada paparan terhadap bahan kilia atau fisik serta riwayat pemakaian obat. kelemahan otot. riwayat gizi. pemeriksaan fisik. cepat lelah. hipertrofi gusi. Anamnesis Pada anamnesis ditanya mengenai riwayat penyakit sekarang dan riwayat penyakit dahulu. Gejala penyakit dasar yang menyebabkan anemia Diagnostik Pendekatan diagnostic untuk penderita anemia yaitu berdasarkan anamnesis. elastisitas kulit menurun. rambut tupis dan halus 2. 2. Epitel Warna pucat pada kulit dan mukosa. dan pemeriksaan penunjang lainnya. atrofi papil lidah . anamnesis mengenai lingkungan fisik sekitar. telinga mendenging. ikterus. mata berkunang-kunang. takikardi. Mulut : ulserasi. perasaan dingin pada ekstremitas c. Sistem kardiovaskuler Lesu.Gejala Anemia Gejala anemia dapat dibagi menjadi 3 golongan besar : 1. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan dilakukan secara sistematik dan menyeluruh Perhatian khusus diberikan pada a. dan gagal jantung b. 1. Kuku : koilonychias (kuku sendok) c. sianosis. palpitasi. lesu. Gejala Umum anemia atau sindrom anemia a. kulit telapak tangan kuning seperti jerami b. Warna kulit : pucat. Sistem saraf Sakit kepala.

Hitung deferensial 3. Anemia defesiensi besi : serum iron.e. Tes penyaring 1. kultur bakteri 5. Anemia hemolitik : tes Coomb. Pemeriksaan penunjang lainnya a. hati. TIBC. Kadar hemoglobin 2. dan MCHC) 3. Indeks eritrosit (MCV. Pemeriksaan atas indikasi khusus 1. endokrin. Anemia dengan payah jantung b. splenomegali 3. Laju endap darah 2. Hitung retikulosit c. Biopsy kelenjar à PA b. Pemeriksaan laboratorium non hematologi Pemeriksaan faal ginjal. Radiologi : Foto Thoraks. Terapi untuk mengatasi keadaan gawat darurat a. Limfadenopati. Sebaiknya diambil dulu specimen untuk pemeriksaan sebelum terapi atau transfuse diberikan . hepatomegali. vitamin B12 3. Anemia megaloblastik : asam folat darah/eritrosit. saturasi transferin 2. Hapusan darah tepi b. Pemeriksaan rutin 1. asam urat. Diatesa hemoragik : tes faal hemostasis 4. USG.MCH. Pemeriksaan laboratorium hematologi a. Pemeriksaan sumsum tulang d. bone survey. CT-Scan Penatalaksanaan Pada prinsipnya terapi anemia terdiri dari : 1. elektroforesis Hb 4. Leukemia akut : pemeriksaan sitokimia 5.

Terapi ex juvantivus : terapi yang terpaksa diberikan sebelum diagnosis dapat dipastikan.htm last update : January 19.2007 accessed : December 19. Terapi untuk mengobati penyakit dasar 5.I Made. Bakta. available at: http://www. Sumber : 1.FK Unud.com/med/topic132. Terapi hanya dilakukan jika tidak tersedia fasilitas diagnosis yang mencukupi dan harus diawasi dengan ketat.emedicine.2000.RS Sanglah: Denpasar 2. Conrad.2007 . Terapi khas untuk masing-masing anemia.Catatan Kuliah Hematologi Klinik (lecture Notes on Clinical Hematology). misalnya besi untuk anemia defesiensi besi 4. Terapi suportif : memperkuat daya tahun tubuh 3.E Marcel. jika terapi ini berhasil berarti diagnosis dapat dikuatkan. Anemia.2.

sel epitel. Indikasi dilakukan pemeriksaan feses a. Kecurigaan penyakit gastrointestinal .BAB I LATAR BELAKANG Pemeriksaan feses ( tinja ) adalah salah satu pemeriksaan laboratorium yang telah lama dikenal untuk membantu klinisi menegakkan diagnosis suatu penyakit. dalam beberapa kasus pemeriksaan feses masih diperlukan dan tidak dapat digantikan oleh pemeriksaan lain. Adanya gangguan pencernaan f. Pemeriksaan 1. B. Jenis makanan serta gerak peristaltik mempengaruhi bentuk. Adanya lendir dalam tinja d. makanan tidak tercerna. Adanya ikterus e. mampu melaksanakan pemeriksaan sampel feses dengan baik. memahami cara pengumpulan sampel untuk pemeriksaan feses secara benar. celulosa. Adanya darah dalam tinja c. Terdiri dari air. dan pada akhirnya mampu membuat interpretasi hasil pemeriksaan feses dengan benar. Meskipun saat ini telah berkembang berbagai pemeriksaan laboratorium yang modern . Hal yang melatar belakangi penulis menyusun sebuah makalah dengan judul “pemeriksaan laboratorium pada feses sebagai pemeriksaan penunjang dalam penegakan diagnosa berbagai penyakit”. Pengetahuan mengenai berbagai macam penyakit yang memerlukan pemeriksaan feses . bakteri dan bahan patologis. Adanya diare dan konstipasi b. Agar para tenaga teknis laboratorium patologi klinik serta para mahasiswa dari berbagai program studi kesehatan khususnya mahasiswa analis kesehatan dapat meningkatkan kemampuan dan mengerti bermacam-macam penyakit yang memerlukan sampel feses. jumlah maupun konsistensinya dengan frekuensi defekasi normal 3x per-hari sampai 3x per-minggu. BAB II PEMBAHASAN A.Jumlah normal produksi 100 – 200 gram / hari. Definisi Feses adalah sisa hasil pencernaan dan absorbsi dari makanan yang kita makan yang dikeluarkan lewat anus dari saluran cerna. cara pengumpulan sampel yang benar serta pemeriksan dan interpretasi yang benar akan menentukan ketepatan diagnosis yang dilakukan oleh klinisi. Pendahuluan 1. debris.

Macam pemeriksaan a. kalau dibiarkan mungkin sekali unsure-unsur dalam tinja itu menjadi rusak. b) Tinja yang berwarna hijau dapat disebabkan oleh sayuran yang mengandung khlorofil atau pada bayi yang baru lahir disebabkan oleh biliverdin dan porphyrin dalam mekonium. lemak dan obat santonin. 2) Pemeriksaan Warna a) Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan terbentuknya urobilin lebih banyak.dos karton berlapis paraffin juga boleh dipakai. Wadah harus bermulut lebar 9) Oleh karena unsure-unsur patologik biasanya tidak dapat merata. Tinja hendaknya diperiksa dalam keadaan segar. darah. 1) Pemeriksaan Jumlah Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250gram per hari. bismuth dan minyak 5 hari sebelum pemeriksaan 4) Diambil dari bagian yang paling mungkin memberi kelainan. wadah yang baik ialah yang terbuat dari kaca atau sari bahan lain yang tidak dapat ditembus seperti plastic. cukup diberi tanda – (negatif).jagung. kelainan dalam saluran pencernaan dan obat yang dimakan. lendir dan parasit.berhati-hatilah saat bekerja. Makroskopis Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan jumlah. bebas dari urine 2) Harus diperiksa 30 – 40 menit sejak dikeluarkan jika ada penundaan simpan di almari es 3) Tidak boleh menelan barium. Kalau konsistensi tinja keras. Banyaknya tinja dipengaruhi jenis makanan bila banyak makan sayur jumlah tinja meningkat. .(+++) saja Berikut adalah uraian tentang berbagai macam pemeriksaan secara makroskopis dengan sampel feses.(+).boleh juga sampel tinja di ambil dengan jari bersarung dari rectum. bau. jarang diperlukan tinja 24 jam untuk pemeriksaan tertentu. Selain urobilin warna tinja dipengaruhi oleh berbagai jenis makanan. Jika pemeriksaan sangat diperlukan. 2 Dibawah ini merupakan syarat dalam pengumpulan sampel untuk pemeriksaan feses : 1) Wadah sampel bersih. warna. Untuk pemeriksaan biasa dipakai tinja sewaktu. maka hasil pemeriksaan mikroskopi tidak dapat dinilai derajat kepositifannya dengan tepat.2. Warna kuning juga dapat disebabkan karena susu. kedap. misalnya bagian yang bercampur darah atai lendir 5) Paling baik dari defekasi spontan atau Rectal Toucher sebagai pemeriksaan tinja sewaktu.Feses untuk pemeriksaan sebaiknya yang berasal dari defekasi spontan.(++). 6) Pasien konstipasi dapat diberikan saline cathartic terlebih dahulu 7) Pada Kasus Oxyuris dapat digunakan metode schoth tape & object glass 8) Untuk mengirim tinja. Bahan ini harus dianggap bahan yang mungkin mendatangkan infeksi.

Konsumsi makanan dengan rempah-rempah dapat mengakibatkan rempah-rempah yang tercerna menambah bau tinja. Warna coklat tua disebabkan urobilin yang berlebihan seperti pada anemia hemolitik.c) Warna kelabu mungkin disebabkan karena tidak ada urobilinogen dalam saluran pencernaan yang didapat pada ikterus obstruktif. Reaksi tinja pada keadaan itu menjadi asam.Reaksi tinja menjadi lindi oleh pembusukan semacam itu. feses yang sangat besar dan berminyak menunjukkan alabsorpsi usus 5) Pemeriksaan Lendir Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja. Sedangkan bila lendir bercampur baur dengan tinja mungkin sekali iritasi terjadi pada usus halus. Terdapatnya lendir yang banyak berarti ada rangsangan atau radang pada dinding usus. e) Warna coklat mungkin disebabkan adanya perdarahan dibagian proksimal saluran pencernaan atau karena makanan seperti coklat. kopi dan lain-lain. intususepsi dan ileokolitis bisa didapatkan lendir saja tanpa tinja. 3) Pemeriksaan Bau Indol. a) Lendir yang terdapat di bagian luar tinja.coklat atau hitam. d) Tinja yang berwarna merah muda dapat disebabkan oleh perdarahan yang segar dibagian distal. divertikulitis ulceratif. Peragian karbohidrat dalam usus menghasilkan tinja yang lunak dan bercampur gas. intestinal tbc. Sedangkan warna hitam dapat disebabkan obat yang yang mengandung besi. c) Lendir transparan yang menempel pada luar feces diakibatkan spastik kolitis. Tinja yang berbau tengik atau asam disebabkan oleh peragian gula yang tidak dicerna seperti pada diare. d) Tinja dengan lendir dan bercampur darah terjadi pada keganasan serta peradangan rektal anal. skatol dan asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja. f) Tinja dengan lendir yang sangat banyak dikarenakan adanya vilous adenoma colon. Keadaan tersebut mungkin didapat pada defisiensi enzim pankreas seperti pada steatorrhoe yang menyebabkan makanan mengandung banyak lemak yang tidak dapat dicerna dan juga setelah pemberian garam barium setelah pemeriksaan radiologik. Bau busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan dirombak oleh kuman. b) Pada disentri. disentri basiler. Konsistensi tinja berbentuk pita ditemukan pada penyakit hisprung. mungkin pula oleh makanan seperti bit atau tomat. lokalisasi iritasi itu mungkin terletak pada usus besar. Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair. Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda. e) Tinja dengan lendir bercampur nanah dan darah dikarenakan adanya ulseratif kolitis. Darah itu mungkin . mucous colitis pada anxietas. 4) Pemeriksaan Konsistensi Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan bebentuk. tinja tersebut disebut akholis. 6) Pemeriksaan Darah. arang atau bismuth dan mungkin juga oleh melena. sedangkan sebaliknya tinja yang keras atau skibala didapatkan pada konstipasi.

a) Pada perdarahan proksimal saluran pencernaan darah akan bercampur dengan tinja dan warna menjadi hitam.Sedangkan pada penyakit disentri basiler tidak didapatkan nanah dalam jumlah yang banyak. Strongyloides stercoralis dan sebagainya. 9) Pemeriksaan adanya sisa makanan Hampir selalu dapat ditemukan sisa makana yang tidak tercerna. Lokal abses. Semakin proksimal sumber perdarahan semakin hitam warnanya. leukosit. sel epitel. 7) Pemeriksaan Nanah Pada pemeriksaan feses dapat ditemukan nanah. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing. makrofag dan sel ragi. ini disebut melena seperti pada tukak lambung atau varices dalam oesophagus.terdapat di bagian luar tinja atau bercampur baur dengan tinja. Untuk identifikasi lebih lanjut emulsi tinja dicampur dengan larutan Lugol maka pati (amylum) yang tidak sempurna dicerna nampak seperti butir-butir biru atau merah. eritosit. Hal ini terdapat pada pada penyakit Kronik ulseratif Kolon . Trichuris trichiura. . seperti serta otot. 1) Protozoa Biasanya didapati dalam bentuk kista. bila konsistensi tinja cair baru didapatkan bentuk trofozoit. serat elastic dan zat-zat lainnya. telur cacing. Sisa makanan itu sebagian berasal dari makanan daun-daunan dan sebagian lagi makanan berasal dari hewan. 2) Telur cacing Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides. kristal. b) Pada perdarahan di bagian distal saluran pencernaan darah terdapat di bagian luar tinja yang berwarna merah muda yang dijumpai pada hemoroid atau karsinoma rektum. Enterobius vermicularis. anylostoma dan spesies cacing lainnya yang mungkin didapatkan dalam feses. Penambahan larutan jenuh Sudan III atau Sudan IV dalam alkohol 70% menjadikan lemak netral terlihat sebagai tetes-tetes merah atau jingga. bukan keberadaannya yang mengindikasikan kelainan melainkan jumlahnya yang dalam keadaan tertentu dihubungkan dengan sesuatu hal yang abnormal. 8) Pemeriksaan Parasit Diperiksa pula adanya cacing ascaris. Mikroskopis Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa. Necator americanus. b. Fistula colon sigmoid.

Pada disentri basiler. Timbulnya kandidiasis juga dapat dipermudah dengan adanya faktor risiko seperti diabetes melitus. 7) Makrofag Sel besar berinti satu dengan daya fagositosis. Pada perdarahan saluran pencernaan mungkin didapatkan kristal hematoidin. kolitis ulserosa dan peradangan didapatkan peningkatan jumlah leukosit. Pentingnya mengenal strukturnya ialah supaya jangan dianggap kista amoeba 9) Jamur a. 6) Kristal Kristal dalam tinja tidak banyak artinya.Bentuknya menyerupai amuba tetapi tidak bergerak. 4) Eritrosit Eritrosit hanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon. Jumlah sel epitel bertambah banyak kalau ada perangsangan atau peradangan dinding usus bagian distal. Eosinofil mungkin ditemukan pada bagian tinja yang berlendir pada penderita dengan alergi saluran pencenaan. Sedangkan bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur. sedangkan kristal asam lemak didapatkan setelah banyak makan lemak. selain gejala kandidiasis. Sel epitel yang berasal dari bagian proksimal jarang terlihat karena sel inibiasanya telah rusak. Kristal tripel fosfat dan kalsium oksalat didapatkan setelah memakan bayam atau strawberi. dalam sitoplasmanya sering dapat dilihat bakteri selain eritrosit. 5) Epitel Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epite lyaitu yang berasal dari dinding usus bagian distal. 8) Sel ragi Khusus Blastocystis hominis jarang didapat. Sebagai kelainan mungkin dijumpai kristal Charcoat Leyden Tinja. sedangkan pemeriksaan tinja rutin adalah pemeriksaan tinja yang biasa dilakukan dengan menggunakan lugol.3) Leukosit Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal tripel fosfat. Butir-butir amilum dan kristal hematoidin. . Kristal Charcoat Leyden didapat pada ulkus saluran pencernaan seperti yang disebabkan amubiasis. kalsium oksalat dan asam lemak. Untuk mempermudah pengamatan leukosit dapat ditambah 1 tetes asam acetat 10% pada 1 tetes emulsi feces pada obyek glass. rektum atau anus. lekosit . Pemeriksaan KOH Pemeriksaan KOH adalah pemeriksaan tinja dengan menggunakan larutan KOH (kalium hidroksida) untuk mendeteksi adanya jamur. Untuk membedakan antara Candida dalam keadaan normal dengan Kandidiasis adalah pada kandidiasis. Adanya eritrosit dalam tinja selalu berarti abnormal. dari hasil pemeriksaan dapat ditemukan bentuk pseudohifa yang merupakan bentuk invasif dari Candida pada sediaan tinja.

tetapi tentu saja bila ada faktor risiko juga harus diatasi. orthodinisidine. Swap adalah mengusap mukosa atau selaput lendir atau pseudomembran kemudian hasil usapan diperiksa secara mikroskopik. c) Cara Guajac . campur.) tidak ada perubahan warna atau samar-samar hijau  Positif ( +) hijau  Positif (2+) biru bercampur hijau  Positif (3+) biru  Positif (4+) biru tua b) Metode Benzidine Dihidrochlorida Jika hendak memakai benzidine dihirochlorida sebagai pengganti benzidine basa dengan maksud supaya test menjadi kurang peka dan mengurangi hasil positif palsu. Tambahkan 3 ml asam acetat glacial.5 – 2 ml / hari. ii. iv. c. Pada keadaan normal tubuh kehilangan darah 0. sedangkan biopsi adalah pengambilan jaringan atau sel untuk dilakukan pemeriksaan secara mikroskopik juga. vi. orthotoluidine. dan penggunaan antibiotika jangka panjang. campur. Kalau memang positif kandidiasis dan terdapat gejala kandidiasis. maka biasanya dapat sembuh total dengan obat jamur seperti fluconazole. maka caranya sama seperti diterangkan diatas. Hasil dibaca dalam waktu 5 menit ( jangan lebih lama ) Catatan : Hasil dinilai dengan cara :  Negative ( . Bubuhilah 2ml filtrate emulsi tinja.AIDS. Adanya darah dalam tinja selalau abnormal. benzidin tes berdasarkan penentuan aktivitas peroksidase / oksiperoksidase dari eritrosit (Hb) a) Metode benzidine basa i. Tes terhadap darah samar dilakukan untuk mengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopik atau mikroskopik. Kimia 1) Darah samar Pemeriksaan kimia tinja yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap darah samar. vii. Buatlah emulsi tinja dengan air atau dengan larutan garam kira-kira 10 ml dan panasilah hingga mendidih. pengobatan antikanker. iii. Saringlah emulsi yang masih panas itu dan biarkan filtrat sampai menjadi dingin kembali. Ke dalam tabung reaksi lain dimasukkan benzidine basa sebanyak sepucuk pisau. kocoklah sampai benzidine itu v. Berilah 1ml larutan hydrogen peroksida 3 %. Pada keadaan abnormal dengan tes darah samar positif (+) tubuh kehilangan darah > 2 ml/ hari Macam-macam metode tes darah samar yang sering dilakukan adalah guajac tes.

karena bilirubin dalam usus akan berubah menjadi urobilinogen dan kemudian oleh udara akan teroksidasi menjadi urobilin. Buatlah emulsi tinja sebanyak 5ml dalam tabung reaksi dan tambahkan 1ml asam acetat glacial. campur. Prosedur kerja : 1. Taruhlah beberapa gram tinja dalam sebuah mortir dan campurlah dengan larutan mercurichlorida 10 % dengan volume sama dengan volume tinja 2. Dalam tabung reaksi lain dimasukkan sepucuk pisau serbuk guajac dan 2ml alcohol 95 %. Reaksi mungkin menjadi positif pada diare dan pada keadaan yang menghalangi perubahan bilirubin menjadi urobilinogen. karena itu jarang dilakukan di laboratorium. chlorofil. Tuanglah bahan itu ke dalam cawan datar agar lebih mudah menguap dan biarkan selama 6-24 jam 4. Hasil positif kelihatan dari warna biru yang terjadi pada batas kedua lapisan itu. ii. iii. tinja dengan warna kelabu disebut akholik. Adanya urobilin dapat dilihat dengan timbulnya warna merah 2) Urobilinogen Penetapan kuantitatif urobilinogen dalam tinja memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan terhadap tes urobilin. seperti pengobatan jangka panjang dengan antibiotik yang diberikan peroral.karena dapat menjelaskan dengan angka mutlak jumlah urobilinogen yang diekskresilkan per 24 jam sehingga bermakna dalam keadaan seperti anemia hemolitik dan ikterus obstruktif. Derajat kepositifan dinilai dari warna itu. Bila masih diinginkan penilaian ekskresi urobilin dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan urobilin urin. cupri oksida. 3) Bilirubin Pemeriksaan bilirubin akan beraksi negatif pada tinja normal. pada kasus obstruktif total hasil tes menjadi negatif. Campurlah baik-baik dengan memakai alunya 3. Tetapi pelaksanaan untuk tes tersebut sangat rumit dan sulit. Vitamin C dosis tinggi dan anti oxidant dapat menyebabkan hasil negatif (-) palsu. senyawa merkuri. Jumlah urobilin akan berkurang pada ikterus obstruktif. iv. sedangkan Lekosit.Prosedur Kerja : i. jodium dan asam nitrat dapat menyebabkan positif (+) palsu 10) Urobilin Dalam tinja normal selalu ada urobilin. Zat yang mengganggu pada pemeriksaan darah samar diantara lain adalah preparat Fe. extract daging.Untuk mengetahui adanya bilrubin dapat digunakan metode pemeriksaan Fouchet . campur. formalin. Tuang hati-hati isi tabung kedua dalam tabung yang berisi emulsi tinja sehingga kedua jenis campuran tetap sebagai lapisan terpisah. mungkin memusnakan flora usus yang menyelenggarakan perubahan tadi.

pemeriksaan warna.id/consultation/14/apa-itu-pemeriksaan-tinja-dg-koh-dan-bedanya . eritrosit. pemeriksaan kimia meliputi pemeriksaan Darah samar. pemeriksaan darah. 1. mikroskopis dan kimia. Pemeriksaan feses adalah salah satu parameter yang digunakan untuk membantu dalam penegakan diagnosis suatu penyakit serta menyelidiki suatu penyakit secara lebih mendalam. kristal. pemeriksaan lendir. (Halaman 180-185) Corwin. 3.sel ragi. leukosit.Penuntun Laboratorium Klinik. Pemeriksaan feses dibagi menjadi 3 macam pemeriksaan yaitu pemeriksaan makroskopis.R. 2. urobilinogen dan bilirubin. pemeriksaan parasit dan pemeriksaan adanya sisa makanan. dan bagaimana menginterprestasikan hasil pemeriksaan sehingga dapat mengeluarkan hasil yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan. dan jamur.BAB III KESIMPULAN Pemeriksaan feses masih sering dilakukan pada laboratorium-laboratorium klinik maupun laboratorium di rumah sakit. pemeriksaan bau.1999. Pemeriksaan mikroskopis feses terdiri dari pemeriksaan terhadap Protozoa.kalbe.2001. DAFTAR PUSTAKA Gandasoebrata.makrofag. telur cacing.Buku Saku Patofisiologi.pemeriksaan nanah.(Halaman 518-519) http://www. Hal tersebut sangat penting karena dari hasil pemeriksaan tersebut digunakan untuk menentukan tindakan lebih lanjut seperti tindakan pengobatan.Jakarta: PT Dian Rakyat.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC. memeriksa sampel yang sesuai dengan prosedur.co. urobilin. Dalam pemeriksaan feses perlu diperhatikan tahapan-tahapan pemeriksaan mulai dari bagaimana pengumpulan sampel yang benar. epitel. Elisabeth J. pemeriksaan konsistensi. Pemeriksaan makroskopis terdiri dari Pemeriksaan jumlah.

pemeriksaan-tinja-rutin. pukul 16.com/bila-feses-berwarna-hitam (Diakses 25 Maret 2011.jatimprov.45) . Pukul 16. pukul 17.30 ) http://health.id/pelatihan-pemeriksaan-feses (Diakses pada 28 Maret 2011.go.htm ( Diakses pada 28 Maret 2011.detik.00) http://rsudrsoetomo.