LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM GEOFISIKA 3

Metode Elektromagnetik Very Low Frequensy Radio ( VLF-R)

Nama NPM Hari/Tanggal Waktu Dosen

: Jaenudin : 140310090026 : Senin, 22 Oktober 2012 : 15.00 – 17.00 WIB : Dr. Asep Hardja

Laboratorium Geofisika Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam. Bumi Indonesia dianggap sebagai laboratoium kebumian yang paling habat untuk dapat mengeksplorasi sumber-sumber alam yang ada di Indonesia. Namun keterbatasan ilmu untuk mengelola sumber daya alam tersebut menjadi kendala untuk melangkah lebih lanjut. Sehingga kita perlu untuk mempelajari cara atau metode untuk mengungkap suatu informasi yang terdapat didalam perut bumi. Salah satu caraadalah cabang ilmu fisika yang mempelajari bidang bumi khususnya perut bumi berdasarkan konsep fisika.Di dalamnya termasuk juga meteorology, elektrisitas atmosfer dan fisika ionesfer. Penelitian feofisika untuk mengetahui kondisi dibawah permukaan bumi melibatkan pengukuran diatas permukaan bumi dari parameter-parameter fisikayang dimiliki oleh batuan di dalam bumi. Dari pengukuran ini dapat ditapsirkan bagaimana sifat-sifat dan kondisi di bawah permukaan bumi baik itu secara vertical maupun horizontal. Dalam skalayang berbeda, metode geofisika dapat diterapkan secara global yaitu untuk menentukan struktur bumi, secara local yaitu untuk eksplorasi mineral dan pertambangan termasuk minyak bumi dan dalam skala kecil yaitu untuk aplikasi geoteknik (penentuan pondasi bangunan dll). Survey geofisika yang sering dilakukan selama ini antara lain metode elektromagnetik Metode elektromagnetik biasanya digunakan untuk eksplorasi benda-benda konduktif. Perubahan komponen medan akibat variasi konduktivitas dimanfaatkan untuk menentukan struktur bawa permukaan. Medan elektromagnetik yang digunakan dapat diperoleh dengan sengaja membangkitkan medan elektromagnetik di sekitar daerah observasi. Pengukuran semacam ini disebu tteknik pengukuran aktif. Metode ini kurang praktis dan daerah observasi dibatasi oleh besarannya sumber yang dibuat. Teknik pengukuran lain adalah teknik pengukuran pasif. Tenik ini

memanfaatkan medan elektromagnetik yang berasal dari sumber yang tidak sengaja dibangkitkan. Gelombang elektromagnetik seperti ini berasal dari alam dan dari pemancar frekuensi rendah (15-30 kHz) adalah yang biasa disebut VLF (Very Low Frequency). Teknik ini lebih praktis dan mempunyai jangkauan daerah pengamatan yang luas. B. Tujuan Tujuan dari praktikum ini ialah : 1. Memahami konsep metode elektromagnetik VLF-R ini sebagai metode untuk mengukur harga daya konduktivitas batuan berdasarkan pengukuran gelombang elektormagnetik skunder. 2. Mempelajari Software 2LAYINV untuk pengolahan data VLF-R.

BAB II TEORI DASAR

A. Elektromagnetik Teori elektromagnetik merupakan suatu teori yang menjelaskan hubungan antara medan listrik dan medan magnet, yang menimbulkan rambatan gelombang elektromagnet. Teori ini dikemukakan oleh James clark Maxwell pada tahun 1865.menurut Maxwell, medan listrik yang berubah akan menimbulkan medan magnet, sementara itu, Faraday berpendapat bahwa perubahan medan magnet menimbulkan medan listrik. Jadi sifat saling terkait dan berkelanjutan antara medan listrik danmedan magnet inilah yang menyebabkan timbulnya gelombang elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik adalah gelombang padauan antara medan listrik dengan medan magnet, disebabkan oleh muatan listrik bergerak dipercepat.

Figure 1. Gelombang elektromagnetik Kemudaian Maxwell menurnkan persamaan rambatan gelombang elektromagnetik itu dalam ruang hampa sebesar : √ Keterangan : permitivitas listrik ruang hampa ( 8.85 x 10-12 C/ Nm2 ) = permeabilitas magnetic ruang hampa (12,6 x 10-7 Wb/Am) ⁄

c = kecepatan gelombang elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik memiliki sifat-sifat sebagai berikut: 1. Gelombang elektromagnetik dapat merambat dalam ruang tanpa medium 2. Gelombang Elektromagnetik merupakan gelombang transversal. 3. Gelombang elektromagnetik tidak memiliki muatan listrik sehingga bergerak lurus dalam medan magnet maupun medan listrik. 4. Gelombang (refleksi), elektromagnetik pembiasan dapat mengalami perpaduan pemantulan (interferensi),

(refraksi),

pelenturan (difraksi), pengutuban (polarisasi). 5. Perubahan medan listrik dan medan magnet terjadi secara bersamaan, sehingga medan listrik dan medan magnet sefase dan berbanding lurus. Pada pembicaraan kita mengenai gelombang elektromagnetik, kita batasi pada gelombang elektromagnetik yang mempunyai medan listrik ⃗ sejajar sumbu Y, induksi magnetik ⃗ sejajar sumbu Z dan ⃗ tegak lurus ⃗ , sedangkan sumbu x adalah arah rambat.
Y+ A E B dx D dy C
Vektor medan listrik dar gelombang elektromegnetik sejajar sumbu y Sumbu x merupakan arah rambatgelombang elektromagnetik

x+ Z+

Ambil kontur : ABCDA pada medan listrik, maka: ∮ ⃗⃗⃗ ⃗⃗⃗ ∫ ⃗ ⃗⃗⃗ ∫ ⃗ ⃗⃗⃗ ∫ ⃗ ⃗⃗⃗ ∫ ⃗ ⃗⃗⃗

(

)

⃗ ⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗

∮ ⃗ ⃗⃗⃗⃗⃗

Menurut hukum Henry Farady ∮ ⃗⃗⃗ ⃗⃗⃗ ∮ ⃗⃗⃗ ⃗⃗⃗⃗⃗

Lihat kontur PQRSP pada bidang X-Z (medan magnet) pada gambar di atas. ∮ ⃗⃗⃗ ⃗⃗⃗ ∫ ⃗ ⃗⃗⃗ ∫ ⃗ ⃗⃗⃗ ∫ ⃗ ⃗⃗⃗ ∫ ⃗ ⃗⃗⃗

⃗ ⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗

Menurut hukum Ampere- Maxwell: ∮ ⃗⃗⃗ ⃗⃗⃗ ∮ ⃗⃗⃗ ⃗⃗⃗⃗⃗

(

)

Jika (pers.1) kita turunkan terhadap x: ( ) ( )

Dan (pers.2) kita turunkan tehadap t: ( ) ( )

Kita peroleh:

(Pers.3) menunjukkan bahwa medan listrik merambat sepanjang sumbu x dengan kecepatan:

√ Jika (pers.1) kita turunkan terhadap t: ( ) ( )

Dan (pers.2)kita turunkan terhadap x: ( ) ( )

B. Metode Elektromagnetik Metode elektromagnetik biasanya digunakan untuk eksplorasi benda-benda konduktif. Perubahan komponen medan akibat variasi konduktivitas dimanfaatkan untuk menentukan struktur bawa permukaan. Medan elektromagnetik yang digunakan dapat diperoleh dengan sengaja membangkitkan medan elektromagnetik di sekitar daerah observasi. Pengukuran semacam ini disebu tteknik pengukuran aktif. Metode ini kurang praktis dan daerah observasi dibatasi oleh besarannya sumber yang dibuat. Teknik pengukuran lain adalah teknik pengukuran pasif. Tenik ini memanfaatkan medan elektromagnetik yang berasal dari sumber yang tidak sengaja dibangkitkan. Gelombang elektromagnetik seperti ini berasal dari alam dan dari pemancar frekuensi rendah (15-30 kHz) adalah yang biasa disebut VLF (Very Low Frequency). Teknik ini lebih praktis dan mempunyai jangkauan daerah pengamatan yang luas. Metode elektromagnetik VLF ini bertujuan untuk mengukur harga daya konduktivitas batuan berdasarkan pengukuran gelombang

elektormagnetik skunder. Metode ini memanfaatkan gelombang hasil induksi elektomagnetik yang berfrekuensi sangat rendah. Karena frekuensinya yang cukup rendah, gelombang ini memiliki penetrasi yang cukup dalam. Gelombang ini juga menjalar ke seluruh dunia dengan atenuasi yang kecil dalam pandu gelombang antara permukaan bumi dan ionosfer. Karena induksi gelombang tersebut, maka di dalam medium oleh batuanakan timbul arus induksi. Arus induksi inilah yang menimbulkan medan skunder yang dapat ditangkap di permukaan bumi. Besarnya kuat medan elektromagnetik skunder ini sebanding dengan besarnya daya hantar listrik batuan (rho), sehingga dengan mengukur kuat medan pada arah tertentu, maka secara tidak langsung kita dapat mendeteksi daya hantar listrik batuan di bawahnya. Adapun parameter elektromagnet VLF yang penting adalah : 1. Pemancar

Pemancar ini mulai dibangun sejak Perang Dunia I, digunakan untuk komunikasi jarak jauh karena kemampuannya untuk komunikasi gelombang dengan pelemahan yang sangat kecil pada gelombang bumi ionesfer.Penetrasinya cukup efektif hingga dapat menembus laut dalam. 2. Pengaruh Atmosfer Sumber nois yang utama adalah radiasi medan elektromagnetik akibat kilat atmosfer baik di tempat dekat atau jauh dari lokasi pengukuran. Pada frekwensi VLF radiasi medan ini cukup dapat melemahkan sinyal yang dipancarkan oleh pemancar. Daerah yang cukup banyak badai tersebut adalah Afrika tengah dan Asia tenggara termasuk Indonesia. Noise kedua adalah variasi diurnal medan elektromagnetik bumi di mana terjadi pergerakan badai dari arah timur ke barat yang terjadi mulai siang hingga sore hampir malam. 3. Rambatan Gelombang Elektromagnetik Pada elektromagnetik VLF dengan frekuensi <100 KHz, arus pergeseran akan lebih kecil dari arus konduksi karena permitivitas dieletrik batuan rata-rata cukup kecil dan konduktivitas target biasanya > 10-2 S/m. Hal ini menunjukkan efek medan akibat arus konduksi memegang peranan penting ketika terjadi perubahan konduktivitas batuan. 4. Pelemahan (Atenuasi) Medan Pelemahan medan ini mempengaruhi kedalaman. Kedalaman pada saat amplitudo menjadi 1/e (kira-kira 37%) dikenal sebagai skin depth atau kedalaman kulit. Kedalaman ini dalam metode

elektromagnetik disebut sebagai kedalaman penetrasi gelombang. C. Metode Elektromagnetik VLF Radio Dalam metoda Very Low Frequency (VLF), medan primer yang dipancarkan dengan frekuensi sangat rendah (15-30 kHz) ketika mengenai benda konduktif akan membangkitkan medan sekunder, resultan dari

medan primer dan medan sekunder ini yang diterima oleh alat VLF, dan besarnya resultan ini tergantung dari medan sekunder. Identifikasi adanya pencemaran di lokasi TPA ditandai tingginya harga Daya Hantar Listrik (DHL) dan Padatan Terlarut Total (TDS), dan rendahnya harga resistivitas semu. Very Low Frequency sangat baik untuk penyelidikan kualitas air pada medium berpori (Benson et al., 1997). Benson et al. (1997) menunjukan bahwa air yang tercemar hidrokarbon akan memiliki nilai resistivitas tinggi, tetapi akan memiliki resistivitas yang rendah untuk air yang tercemar material inorganik. Sinyal yang dibangkitkan oleh antena pemancar terdiri atas medan magnet dan medan listrik yang berosilasi dalam frekuensi yang dipilih antena Akibat interaksi dengan benda konduktif di dalam bumi maka komponen horisontal magnetik medan primer membangkitkan komponen horisontal medan listrik dalam arah penjalarannya. Pada suatu daerah tak homogen, komponen vertikal magnetik dibangkitkan untuk beberapa variasi konduktivitas. Medan elektromagnetik primer akan menginduksi benda konduktif ketika melewatinya sehingga akan terbentuk arus listrik dan terbentuk medan magnetic sekunder (Hs), medan yang terekam adalah medan resultan yang disebut Polarisasi ellip. Komponen yang diukur dalam VLF adalah tilt angle α yaitu sudut utama polarisasi ellip dari horizontal (dalam derajat atau persen), dan eliptisitas ε adalah perbandingan antara sumbu kecil terhadap sumbu besarnya (dalam persen). Tilt angle α dan eliptisitas ε, berkaitan dengan komponen medan magnetik horizontal, vertical dan fasanya Secara matematis dapat diperlihatkan bahwa tilt angle α mirip dengan bagian in phase (komponen real) dari komponen vertikal dan eliptisitas ε mirip dengan bagian quadrature (komponen imaginer) dari komponen vertikal. Kedua parameter tersebut diukur dalam prosentase terhadap medan primer horizontal (Karous and Hjelt, 1983): Komponen Real (%) = 100 α (α radian) Komponen Imaginer = 100 ε

Harga rapat

arus terhadap kedalaman dapat

ditentukan dengan

menggunakan filter dari Karous dan Hjelt (1983). Untuk dapat memperkirakan harga resistivitas dan fasanya, maka harus diketahui hubungan dari medan listrik Ex dan medan magnetic Hy dan resistivitas semu ρa. Hubungan ini biasa dituliskan dalam bentuk dibawah ini (Cardiard, 1953 dalam Gharibi, 1999). | Dimana : = resistivitas semu = permeabilitas magnetic = frekuensi sudut ( phasa) D. Software 2LAYINV Program 2LAYINV digunakan untuk menafsirkan geofisika, data elektromagnetik VLF-R ( resistivitas semu dan fasa) diukur sepanjang satu profil pada satu frekuensi. Inversi dibuat secara terpisah untuk setiap titik data menggunakan penampang model bumi 1D dan 2D. Dengan demikian program ini cocok juga untuk penafsiran ketebalan dan resistivitas yang relatif tipis (tanah) lapisan resistif dan variasi resistivitas batuan dasar. Perhatikan bahwa model inversi masih hanya 1D dan bahwa interpretasi hasil sebenarnya menghasilkan pseudosection dari 2-D distribusi resistivitas. Mulai dari inversi model awal linearized dengan adaptif redaman digunakan untuk mengoptimalkan ketebalan dan resistivitas dari lapisan overburden dan resistivitas dari ruang bawah tanah sehingga model meminimalkan kesalahan antara diukur dan dihitung VLF-R data. Lateral inversi dibatasi diperoleh dengan meminimalkan kekasaran model yang merupakan variasi parameter model antara titik tetangga, bersama-sama dengan kesalahan data. Sebagai akibatnya seorang lancar bervariasi |

(Occam inversi) model diperoleh. Kekasaran dan / atau status memperbaiki / bebas parameter dapat diatur secara manual untuk memungkinkan diskontinuitas dan untuk memasukkan data priori dalam model. 1. Memulai Program 2LAYINV Program 2LAYINV yang sudah terinstall, kemudian dijalankan program tersebut dengan mengklik icon 2LAYINV.EXE. Setelah diklik, maka program akan meriquest file berextensi .DAT. Untuk pembuatan file.DAT ada aturan-aturan penulisan sebagai berikut : a. Untuk baris pertama ialah Nama Pengukuran b. Baris kedua dikosongkan c. Baris ketiga berupa bilangan, untuk bilangan pertama ialah umlah data (N), bilangan kedua ialah mode tampilan ( 1, 2, 3,4 ), bilangan ketiga ialah jumlah kolom data, dan bilangan keempat ialah ICO =0 d. Baris keempat ialah table, untuk kolom pertama ialah jarak (x), kolom kedua ialah nilai resistivitas semu dan kolom ketiga ialah nilai fasa. Contoh

Perhatikan gambar file sebagai berikut :

Gambar 2. File.DAT dibukan dengan WordPad 2. Tampilan dari Pembacaan File.DAT File.DAT yang telah dibuat kemudian di baca oleh program 2LAYINV dan kemudian tampilannya sebagai berikut :

Menu dalam tampilan di atas ialah : a. File Di dalam menu file dan submenu yaitu :  Read VLF-R data Membukan dan membaca data VLF-R dari file.DAT  Save VLF-R data Menyimpan data VLF-R dengan file.OUT  Save 2-Layer model Menyimpan model 2-Layer dalam file.LAY  Read 2-Layer model Membaca model 2-Layer file.LAY yang sudah tersimpan  Read Display Membaca parameter baru dari grafik dengan file.DIS  Save Graph as PS Menyimpan grafik ke dalam file. PS ( PhotoShop)  Save Graph as EPS  Save Graph as PDF  Save Graph as WMF  Save Graph as GIF b. 2-Layer Dalam menu 2-Layer terdapat submenu yaitu :

 Weight in/out Untuk mengaktifkan atau tidak data weight  Label in/out Untuk mendisplay atau tidak nilai resistivitas pada penampang kedalaman lapisan.  Color Scale Untuk memberikan tampilan warna pada lapisan yang disesuaikan dengan distribusi nilai resistivitas. Pada submenu ini terdapat submenu pilihan yaitu : Rainbow, Inverse Rainbow, Grayscale, Inverse Grayscale, dan Redscale.

Penampang Lapisan

Gambar 4. Tampilan Rainbow

Gambar 5. Tampilan Inv.Rainbow

Gambar 6. Tampilan Grayscale

Gambar 7. Tampilan Redscale

c. Exit Untuk mengakhiri program. Dalam tampilan 2LAYINV terdapat control, yaitu : a. Frequency (kHz) Nilai frekuensi di sini ialah nilai frekuensi sumber yang digunakan. Untuk pengukuran di Indonesia biasanya menggunakan frekuensi dari Australia yaitu 16000 Hz atau 16 kHz, 23400 Hz atau 23,4 kHz dari Eropa, 16400 Hz atau 16,4 kHz dari JXN dan 15100 Hz atau 15,1 kHz dari FUO. b. R-1 Mean ( Ohmm) Control ini merupakan nilai resistivitas rata-rata dari sejumlah data. Nilai resistivitas rata-rata ini nilainya berubah apabila diinterpolasi. c. 2-Layer Control ini digunakan untuk memulai interpolasi yang akibatnya terdapat garis kurva pada sebaran data.

Gambar 8. Tampilan setelah diklik control 2-layer d. Update Control ini digunakan apabila nilai-nilai pada control dirubah, maka dengan mengklik control update ini akan menampilkan tampilan sesuai nilai yang dirubah tersebut. e. Lagsca Control Lagsca merupakan multiplier yang disebut Lagrange (L), yang menentukan apakah inversi mencoba untuk meminimalkan kesalahan data bukan kekasaran model. Jika L> 1, maka model akan menjadi sangat halus dan cocok akan menjadi kasar. Jika L <1, maka akan cocok baik tetapi model akan menjadi kasar. Biasanya nilai-nilai berkisar antara 0,1 dan 10. Perhatikan bahwa kedua data dan model parameter skala menggunakan variasi data maksimum dan variasi parameter maksimum (batas skala resistivitas dan batas kedalaman). Oleh karena itu nilai default (L = 1) menyediakan cukup baik kompromi antara fit data dan kelancaran model. Namun, scaler Lagrange adalah Parameter yang paling penting dalam penafsiran, karena sangat mempengaruhi model akhir. f. R 1 wght, TH wght , R 2 wght Mendefinisikan skala terpisah Lagrange untuk setiap parameter lapisan. Jika salah satu nilai-nilai yang lebih besar dibandingkan dengan dua lainnya, maka parameter yang akan menjadi lebih halus daripada yang lain. Begitu juga sebaliknya, jika beberapa parameter berat badan lebih

kecil dari yang lain maka akan diizinkan untuk lebih bervariasi. Jika salah satu bobot yang sama dengan nol, maka parameter yang sesuai akan diperbaiki dalam setiap titik. Karena parameter skala juga, nilai-nilai default = 1, cukup baik kompromi. Seringkali berguna untuk meningkatkan berat lapisan overburden jika dapat dianggap untuk mewakili serupa materi. g. F-Length h. Optimize Tombol melakukan sejumlah tertentu iterasi invers. Inversi ini didasarkan pada linearized skema inversi. Matriks sensitivitas dibangun secara numerik menggunakan perbedaan maju. Sistem linear diselesaikan untuk langkah-langkah parameter menggunakan dekomposisi nilai singular (SVD) bersama dengan redaman adaptif dan otomatis.

Gambar 9. Tampilan setelah diklik control optimize sebanyak 5 kali i. Edit Thic Tombol ini digunakan untuk memberikan ketebalan bervariasi secara manual untuk lapisan overburden dengan menggunakan mouse. Setelah menekan tombol Edit thic perubahan kursor mouse ke sebuah crosshair kursor di atas grafik. Pengguna kemudian mulai untu mengambil nilainilai mendalam dengan menekan kiri mouse tombol. Modus editing berakhir setelah menekan tombol kanan mouse. Program kemudian

interpolates nilai ketebalan overburden antara pertama dan titik kedalaman terakhir dan membuat meneruskan perhitungan. Jumlah maksimum titik yang dipilih sama dengan jumlah asli datum poin. Perhatikan bahwa titik harus diambil dalam urutan menaik, yaitu, dari awal profil menjelang akhir. j. R-min (ohm ), R-max (ohmm), T-max (ohmm) Kontrol-kontrol ini menentukan minimum dan maksimum nilai skala resistivitas dan nilai kedalaman maksimum di pseudosections. Catatan bahwa pada skala warna sebenarnya logaritma 10-dasar nilai-nilai resistivitas ditampilkan. k. Edit Fix/Free Pada control ini terdapat subcontrol yaitu Rho 1, Thic dan Rho 2 yaitu Parameter tetap ditunjukkan dengan simbol salib kecil di atas pusat elemen terkait dalam pseudosection tersebut. Modus editing mirip dengan lapisan Ketebalan editing: kursor menjadi crosshair, tombol kiri mouse memilih poin, dan kanan mouse Tombol berhenti modus pengeditan. Namun, tidak ada interpolasi digunakan dan oleh karena itu setiap blok Model harus dipilih secara manual. Jika editing dibuat tanpa pilihan (klik kiri mouse), maka Parameter tertentu (Rho1, Thic, Rho2) diatur gratis di setiap titik. Untuk pengaturan tampilan grafik, maka dapat diatur dalam file.DIS, dimana dalam file.DIS tersebut seperti berikut ini :

Tampilan:

Gambar 10. Tampilan garfik 2LAYINV

BAB III KESIMPULAN Setelah melakukan praktikum VLF-R dan mengoperasikan program 2LAYINV untuk pengolahan data VLF-R, maka kita dapat menyimpulkan bahwa data-data yang didapat pada metode VLF-R ialah Jarak , Medan Listrik Ex, Medan Magnet Hy , Resistivitas semu, dan Fasa. Dari kelima data tersebut dibuat file.DAT sesuai aturan-aturan program 2LAYINV untuk mendapatkan tampilan penampang 2D nya. Tampilan tersebut dapat diatur dengan mengklik control-control yang terdapat pada tampilan program tersebut. Control yang paling utama ialah control optimize untuk iterasi pada interpolasi data-data VLF-R sehingga diperoleh harga RMS d yang sangat kecil.

DAFTAR PUSTAKA 1. Eunhice Skyce, 2010. Metode Elektromagnetik VLF. Jakarta 2. Scrib.com/Metode Elektromagnetik VLF by Dwinnat diakses tanggal 06 Oktober 2012. 3. Dimasain.blogspot.com/Metode VLF by Pemuda Upil/ diakses tanggal 06 Oktober 2012.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful