PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPA DI SMP MELALUI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Anak Agung Oka
Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Metro

Abstract: The aims of this research was: 1) to increase to activity of student in the instructional; 2) to increase remember of student to the lesson; 3) to increase of teacher make decision instructional to active, creative, effective and enjoy. To reach the aims, this study uses Classroom Action Research (CAR). In the research made two circles. First circle of three actions and second circle of three actions. To know of activity of student by observation of activity in the instructional. Inside of activity of student observation too teacher of teach. The research result was: by instructional Contextual Teaching and Learning (CTL) by model Jigsaw in the instructional Science at Junior High School can Increase learning activity and remember capacity of student. The activity in the list observation was: activity of questions; 2) activity to answer question from teacher or friends; 3) activity of work; 4) activity attention of lesson; 5) make of problem; 6) activity to observation; 7) capacity to explanation something; 8) record something to important; 9) capacity to collection and analysis of something, and capacity of recovering the lesson to 15 days. Based on the result of the research, it suggested: 1) the teacher must always teach by strategy instructional which active, creative and enjoy; 2) the teacher science must always to increase them skill in the teach, because science always growths; 3) the teacher of science must always give to students for participation in the instructional; (4) the teacher of science must always to improve of knowledge or skill; 5) the teacher of science must always make the instructional of innovative. PENDAHULUAN Dalam Kurikulun Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk pendidikan dasar dan menengah disebutkan bahwa Sains berfungsi untuk mengembangkan keterampilan wawasan, dan kesadaran teknologi dalam kaitan dengan pemanfaatannya bagi kehidupan seharihari. Hal ini berarti, melalui pembelajaran Sains di sekolah, semestinya dapat digunakan untuk membentuk kemampuan manusia yang utuh, dalam arti mempunyai sikap, kemampuan kognitif dan keterampilan memecahkan permasalahan yang dihadapi. Berdasarkan pengamatan peneliti ketika guru Sains (IPA) mengajar di kelas terlihat bahwa aktivitas belajar siswa sangat rendah, hal ini terlihat dari minimnya siswa yang mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru maupun temannya sendiri, bahkan sebagian siswa mengantuk tak bersemangat dan ketika ditanya oleh guru dari 30 orang kelas 1 yang mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan guru hanya satu dua orang saja, itupun jawabannya terkadang jauh melenceng dari pertanyaan. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut peneliti kemudian melakukan diskusi dengan guru Sains terungkap bahwa siswa memiliki aktivitas belajar yang sangat rendah dan sangat cepat melupakan materi yang dipelajarinya. Diskusi menghasilkan kesimpulan bahwa penyebab rendahnya aktivitas siswa dan mudahnya siswa melupakan materi yang diajarkan adalah desain dan strategi yang diterapkan terlalu menoton, kurang menarik, kurang menarik dan metode pembelajarannya juga kurang kontekstual. Dari hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran Sains di kelas dan

BIOEDUKASI VOLUME 2, NOMOR 1, MEI 2011

81

dan bagaimana mencapainya. aktivitas mengikuti pelajaran. kreatif. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. NOMOR 1. Pemilihan desain dan strategi pembelajaran Contexual Teaching and Learning (CTL) didasari oleh pertimbangan bahwa sarana dan prasarana laboratorium cukup memadai. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. siswa perlu mengerti apa makna belajar. Dari hasil diskusi diputuskan bahwa tindakan yang akan dilakukan yaitu mengubah desain dan strategi pembelajaran dari yang bersifat menoton kepada pembelajaran yang efektif yaitu dengan ciri prosesnya adalah pembelaran aktif. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. menguraikan/menjelaskan. mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. efektif dan menyenangkan serta kontekstual yang disingkat dengan PAKEM C. dalam status apa mereka. aktivitas mengerjakan tugas. Dengan konsep ini. maka dapat dibuat rumusan masalah yaitu “apakah dengan pembelajaran Contexual Teaching and Learning (CTL). Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Adapun penyebab masalahnya adalah desain dan strategi pembelajaran kurang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak serta kurang kontekstual. Dalam konteks itu. mengumpulkan dan menganalisis data. mencatat halhal yang dianggap penting. maka diambil langkah bersama antara peneliti dan guru mata pelajaran untuk menetapkan tindakan yang akan dilakukan. mengamati. Dalam upaya itu. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan bekerja dan mengalami. agar dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah-masalah yang disimulasikan. aktivitas menjawab pertanyaan guru atau teman. BIOEDUKASI VOLUME 2. merumuskan problema. Dari uraian yang terdapat pada latar belakang di atas. apa manfaatnya. bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. MEI 2011 82 . dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah. Disamping kedua hal di atas bahwa pembelajaran kontekstual memungkinkan para siswa mampu menguatkan. lingkungan sekolah yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sangat memadai. Dalam pembelajaran Sains di SMP dapat meningkatkan aktivitas belajar dan memperkuat daya ingat siswa? Rumusan masalah di atas dapat dijelaskan secara operasional mengenai aktivitas yaitu: aktivitas bertanya. memperluas. dalam hal ini dipilih yaitu pembelajaran Contexual Teaching and Learning (CTL). Setelah dilakukan diskusi secara bersama-sama mengenai masalah yang ada dan penyebabnya. hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Adapun tentang kemampuan mengingat pelajaran yaitu apabila diberikan tes/quis setelah pelajaran berlangsung sampai dengan 1 minggu atau lebih.diskusi dengan guru mata pelajaran maka peneliti bersama tiga guru mata pelajaran Sains maka dapat ditetapkan masalah pembelajaran yang ada di kelas yaitu rendahnya aktivitas belajar siswa dan rendahnya partisipasi siswa dalam pembelajaran.

MEI 2011 . orang lain. Bertanya (Questioning). Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.Dalam kelas kontekstual. c. memperluas. Maksudnya. Pembelajaran berbasis usaha/teori pertumbuhan kecerdasan (EffortBased Learning/Incremental Theory of Intellegence) – Peningkatan usaha seseorang untuk menghasilkan peningkatan kemampuan. Bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar akan memotivasi seseorang terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan komitmen untuk belajar. tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. d. e. agar dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah-masalah yang disimulasikan. Pembelajaran kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang telah ada. Selanjutnya Nur dalam Enoh (2004) mengemukakan bahwa terdapat tujuh kunci dalam pembelajaran CTL yaitu: a. Sosialisasi (Socialization) – Anakanak mempelajari standar. bukan dari „apa kata guru‟. membimbing. Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang memungkinkan para siswa mampu menguatkan. c. Konstruktivisme berbasis pengetahuan (Knowledge-Based Construktivism) – Baik instruksi langsung maupun kegiatan kontruktivis dapat sesuai dan efektif di dalam pencapaian tujuan belajar siswa. guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. pembenaran pemikiran mereka. nilai-nilai. b. NOMOR 1. Sesuatu yang baru (baca: pengetahuan dan keterampilan) datang dari „menemukan sendiri‟. Tugas guru mengelola kelas sebagai tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). antara lain: a. kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. membangun pemahaman oleh diri sendiri dari pengalaman-pengalaman 83 BIOEDUKASI VOLUME 2. digunakan oleh guru untuk mendorong. dan pengetahuan kemasyarakatan dengan mengajukan berbagai pertanyaan dan menerima tantangan untuk menemukan solusi yang tidak segera terlihat. dan menilai kemampuan berfikir siswa. dan berbagai benda (artifacts) seperti alatalat fisik dan alat-alat simbolis. Pembelajaran distribusi (Distributed Learning) – Pengetahuan mungkin dipandang sebagai pendistribusian dan penyebaran individu. Seperti halnya strategi pembelajaran yang lain. Konstruktivisme (Contructivism). Teori ini berlawanan dengan gagasan bahwa kecerdasan seseorang tidak dapat diubah. dan pencarian informasi. Anonim (2002) mengemukakan bahwa apabila dikaji lebih lanjut. b. Pembelajaran situasi (Situated Learning) – pengetahuan dan belajar dikondisikan dalam fisik tertentu dan konteks sosial. diawali dengan kegiatan pengamatan dalam rangka memahami suatu konsep. kita akan tiba pada kesimpulan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsep yang didukung oleh berbagai penelitian aktual di dalam ilmu kognitif (cognitif science) dan teori-teori tentang tingkah laku (behaviour theories) yang secara bersama-sama mendasari konsepsi dan proses pembelajaran kontekstual. Kontekstual hanya sebuah strategi pemebelajaran. Inquiri (Inquiry). dan penerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah. dan bukan semata-mata sebagai suatu kekayaan individual. bersama-sama dengan penjelasan konsep.

Minangkabau. Penilaian autentik (Authentic Assessment). Walaupun demikian mereka bergaul dengan akrab tanpa menonjol suku bangsa mereka masing-masing. Adapun tahapan-tahapan yang dilalui dalam pelaksanaan penelitian ini adalah: konsolidasi tim peneliti. Selanjutnya. Waktu penelitian dimulai dari bulan Juli sampai dengan bulan Desember 2010. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIA SMP Negeri 4 Metro. menyusun perangkat/skenario pembelajaran dan pembagian tugas masing-masing tim. Latar belakang ekonomi orang tua cukup beragam yaitu ada yang berprofesi sebagai PNS. d. wiraswasta. Nur dalam Enoh (2004) mengemukakan bahwa: Pengajaran dan pembelajaran kontekstual atau contexual teaching and learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan isi matapelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN Lokasi penelitian ini yaitu di SMP Negeri 4 Metro yang berlokasi di Jalan Kemiri 15A Metro Timur Kota Metro. NOMOR 1. Sedangkan Yulaelawati (2004) mengemukakan bahwa: “Pembelajaran kontekstual adalah kaidah yang menggabungkan isi kandungan dengan pengalaman harian individu. dan ada pula yang bermata pencaharian sebagai buruh. Lampung. Palembang. warga negara. kemudian tanggal 20 Januari sampai dengan 20 September 2010 dilakukan pembelajaran sesuai dengan disain yang telah ditetapkan. Pemodelan (Modelling). 4. f. Dilihat dari latar belakang suku bangsa juga cukup beragam yaitu terdiri dari suku Jawa. masyarakat. Mata pelajaran yang dijadikan sebagai objek penelitian adalah mata pelajaran Sains (IPA) Terpadu. TNI/Polri. Masyarakat belajar (Learning Community). pedagang. CTL merupakan suatu perpaduan dari banyak praktik pengajaran yang baik. Jumlah siswa secara keseluruhan adalah sebanyak 24 orang. mengukut pengetahuan dan keterampilan siswa. 3. membuat instrumen penelitian secara bersamasama. Mereka merasa satu yaitu sebagai siswa SMP Negeri 4 Metro dan sebagai bangsa Indonesia. Refleksi (Reflection). 2. Tak pernah keributan 84 BIOEDUKASI VOLUME 2. dan alam pekerjaan. Pelaksanaan tindakan untuk siklus I dilakukan mulai tanggal 18 Juli 2010 yang diawali dengan melakukan pre-test. MEI 2011 . dan beberapa pendekatan reformasi pendidikan yang dimaksudkan untuk memperkaya relevansi dan fungsionalisasi pendidikan untuk semua siswa. dan tenaga kerja.baru berdasarkan pada pengalaman awal. dan g. Adapun karakteristik siswa yang dijadikan sebagai dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga. dilanjutkan dengan post-test. subjek penelitian berdasarkan buku induk siswa adalah sebagai berikut: 1. e. yang terdiri dari 10 orang siswa laki-laki dan 14 orang siswa perempuan. Kemampuan akademik siswa kelas VIIA secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lainnya karena sebelum pembagian kelas terlebih dahulu diadakan tes penempatan (place man test). Kaidah ini menyediakan pembelajaran secara konkret yang melibatkan hands-on dan mindson”.

Dalam kegiatan dilakukan oleh guru. tindakan. Secara keseluruhan langkah-langkah secara bersama oleh dosen maupun yang dilakukan dalam pembelajaran oleh guru dengan senantiasa Sains dengan pembelajaran Contexual mengutamakan musyawarah dan Teaching and Learning (CTL) adalah kebersamaan. dilakukan dalam penelitian ini dapat c. Membuat desain pembelajaran Contexual Teaching and Learning Pelaksanaan Tindakan (CTL). memuaskan. NOMOR 1. Proses Penelitian Tindakan (Mc. dan masing-masing implementasi/observasi dan reflekasi. Kemen. 1999) paham dengan apa yang akan Dalam hal ini prosedur yang dilakukan. ini penyiapan perangkat dilakukan d. Kemen dalam Depdikbud. Prosedur Penelitian Subjek penelitian adalah siswa SMP Negeri 4 Metro. instrumen observasi. MEI 2011 . Menyiapan lembar observasi. Dilihat dari partisipasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dapat dikatagorikan sangat baik. Metode penelitian tindakan yang diterapkan dalam penelitian ini me ngikuti model Mc. Dalam model tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: 4 3 Siklus Kedua 1 2 4 3 Siklus Pertama 1 2 Gambar 1. mata pelajaran yang dijadikan objek adalah Sains (IPA). Pembuatan desain Siklus I pembelajaran dilakukan secara Pada siklus pertama bersama-sama antara dosen dengan dikembangkan proses mulai dari guru sehingga diperoleh hasil yang perencanaan. lama tindakan yaitu 2 siklus. siswa dan kegiatan pembelajaran yang evaluasi. dengan masingmasing siklus I 6 jam pelajaran atau 6 x 45 menit dengan 3 kali pertemuan. 5. sebagai berikut: b. Menyiapkan perangkat pembelajaran berlangsung selama proses berupa skenario pembelajaran. seluruh siswa sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran Sains. Dalam dijelaskan langkah-langkahnya sebagai hal ini konsep disusun oleh dosen berikut: (ketua peneliti) kemudian didiskusikan dengan guru sehingga timbul persamaan persepsi. Kompetensi dasar yang akan dikaji pada 85 BIOEDUKASI VOLUME 2. Lembar observasi Perencanaan Tindakan Perencanaan tindakan yang ada dua macam yaitu untuk dilaksanakan dalam penelitian ini adalah: mengobservasi seluruh kejadian yang a. siklus II 6 jam pertemuan atau 6 x 45 menit dengan 3 kali pertemuan.terdengar yang bersumber dari perbedaan suku bangsa. dan refleksi. pembelajaran yaitu untuk aktivitas bahan dan alat. Terlebih lagi strategi pembelajaran yang digunakan yaitu Contextual Teaching and Learning mereka sangat antusias mengikuti kegiatan baik kegiatan di lapangan maupun kegiatan pembelajaran kelas. media.

3) Kegiatan laboratorium kemudian dilanjutkan dengan pengamatan di lingkungan sekolah oleh kelompok masing-masing kelompok ahli. Lembar Observasi Siswa. b) Ciri-ciri makhluk hidup (Bernapas dan Makan). Kartu Tugas Siswa. 8) Pengukuran kualitas pembelajaran Sains dengan menggunakan instrumen penelitian : (a) Catatan Lapangan. untuk mencatat segala sesuatu yang terjadi baik yang menyangkut guru maupun hal-hal yang terjadi (b) (c) (d) (e) (f) (g) pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. 2) Penjelasan oleh guru mengenai: a) Gejala Hidup pada Hewan dan Tumbuhan. 5) Anggota yang berkumpul dalam kelompok ahli kembali ke dalam kelompok asalnya untuk menjelaskan kepada kelompoknya tentang hasil yang diperoleh dari pengamatan di laboratorium maupun di lapangan. Lembar observsi Guru. digunakan untuk mendata aktivitas siswa di kelas selama proses pembelajaran berlangsung. maka hasilnya diimplementasikan dalam bentuk penerapan kepada siswa dalam pembelajaran di sekolah oleh guru yang bersangkutan. digunakian untuk mencatat segala sesuatu yang berkaitan dengan kesulitan guru dalam pelaksnaan kegiatan pembelajaran. Setelah berakhirnya siklus I diadakan post-test untuk mengetahui kemajuan belajar siswa. NOMOR 1. Pedoman wawancara guru. merupakan kartu pemandu kegiatan siswa yang berisi tugas-tugas pemecahan masalah yang harus dikerjakan secara kelompok. 4) Diskusi kelompok ahli mengenai hasil pengamatan di laborotorium maupun yang diperoleh di lapangan.siklus I adalah mendiskripsikan gejala hidup pada hewan dan tumbuhan dan ciriciri makhluk hidup dengan alokasi waktu 6 jam pertemuan atau 6 x 45 menit. Rancangan pembelajaran Sains yang dikembangkan pada siklus I menekankan pada pengorganisasian pembelajaran Sains dengan Pendekatan Contexual Teaching and Learning (CTL). Proses pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Pembentukan kelompok. Pedoman Wawancara Siswa. MEI 2011 86 . 6) Masing-masing kelompok ahli jika diperlukan dapat menyampaikan atau mempresentasikan hasil pengamatan timnya kepada forum dalam bentuk diskusi kelas. Observasi/Monitoring Dari perencanaan tindakan yang dikemukakan di atas. digunakan untuk memperoleh data sejauh mana konsep yang disampaikan oleh guru diserap siswa. digunakan untuk mencatat keluhan-keluhan atau kesulitankesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam menangkap konsep yang disampaikan guru. maka dimonitor secara khusus menggunakan instrumen pengamatan aktivitas siswa dalam pembelarjaran sebagaimana terlampir. untuk. digunakan untuk mendata langkah-langkah pendekatan guru dalam kelas selama pembelajaran berlangsung. 7) Kegiatan selanjutnya adalah mengadakan tes atau quis guna melakukan skoring individu maupun kelompok. Instrumen ini dalam rangka BIOEDUKASI VOLUME 2. Untuk memperoleh gambaran kesesuaian antara perencanaan tindakan dengan pelaksanaannya. untuk tiga kali pertemuan. Lembar Tes Kemajuan Belajar.

Pelaksanaan tindakan siklus kedua pada dasarnya adalah untuk memperbaiki kelemahan yang dirasakan masih ada pada pelaksanaan siklus I. Pada akhir dari siklus I ini sebagian indikator telah tercapai. Evaluasi kemampuan siswa mengingat materi yang dipelajarinya setelah belalu antara 3 hari sampai dengan 15 hari. Evaluasi terhadap kualitas desain pembelajaran yang dikembangkan guru. guru juga dipersiapkan oleh dosen (ketua peneliti) untuk melakukan tindakan dan/atau melaksanakan observasi proses (perekam kegiatan pembelajaran) dan hasil. b. Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran Sains dinilai dan dicatat dengan lembar observasi/pengamatan aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Monitoring dilaksanakan secara terus-menerus selama kegiatan penelitian berlangsung. Namun jika hasil yang diperoleh dari implementasi sesuai dengan yang diharapkan. Siklus II Berdasarkan evaluasi siklus I terhadap berbagai kelemahan yang dirasakan maka dikembangkan tindakan siklus kedua. akan ditempuh dengan melakukan perbaikan-perbaikan seperti yang digambarkan dalam siklus penelitian tindakan di atas. BIOEDUKASI VOLUME 2. Jika implementasi tindakan hasil tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hasil pengamatan setiap pertemuan kemudian dibuat rekapitulasi. maka dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran Sains menggunakan pembelajaran Contexual Teaching and Learning (CTL) yang dilakukan dengan model Jigsaw.mendapatkan trianggulasi dan saturari (kecukupan data) untuk menjamin validasi data. yaitu satu orang khusus melakukan proses pembelajaran yaitu Bapak Samadi dan orang guru bertindak sebagai observer yaitu Bapak Sutarno dan Ibu Maria Woro Pantiningsih. Setiap akhir siklus kita adakan evalausi. Langkah-langkah yang ditempuh pada siklus II sama dengan pada siklus I yaitu meliputi perencanaan. Disamping dosen sebagai observer. monitoring dan refleksi HASIL Sesui dengan tujuan penelitian dan indikator keberhasilan maka hasil penelitian ini ada macam hal yang sangat penting yaitu: 1) terjadinya peningkatan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran Sains. Dalam hal ini peran guru terbagi. NOMOR 1. Evaluasi terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran c. Untuk mengetahui indikator-indikator yang mana yang telah tercapai dari aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut ini. pelaksanaan tindakan. Evaluasi Hasil Tindakan Evaluasi hasil tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi: a. Reflekasi dan Pengambilan Keputusan dalam Rangka Pengembangan Lanjut Berdasarkan implementasi tindakan dan monitoring yang direncanakan dalam pemelitian ini maka hasilnya digunakan di dalam mengambil keputusan untuk menilai kualitas pembelajaran Sains. MEI 2011 87 .

Tabel 2. Selisih hasil post-test dengan hasil pre-test menggambarkan kemajuan belajar siswa.73 % Bl Akhir dari siklus I juga dilakukan tes untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengingat pelajaran dan untuk mengetahui kemajuan belajar siswa. No.84 % 78.21 % 94.94 % 86.Tabel 1 Ketercapaian Indikator Keberhasilan untuk Beberapa Jenis Aktivitas pada akhir Siklus I.16 88 BIOEDUKASI VOLUME 2. Indikator Ketercapaian Targer ( % ) Ktc pd Siklus I Ket. 1 kemampuan 95 94. Keadaan Nilai Pre-test Post-tes akhir Siklus I Nilai Tertinggi 55 95 Nilai Terendah 20 70 Nilai Rata-rata 40. Adapun hasilnya terlihat pada tabel berikut ini.39 83.47 % Ket.73 % 92. serta kemampuan mengingat pelajaran yang dilakukan menggunakan metode tes. Ketercapaian Indikator Keberhasilan untuk Beberapa Jenis Aktivitas pada akhir Siklus I melalui hasil pengamatan dan tes. Selain itu pada akhir siklus I juga dilakukan tes guna mengenai kemajuan siswa pada indikator lainnya yaitu kemampuan menguraikan/menjelaskan. Tabel 3 No 1 2 3 Hasil post-test yang dilakukan setelah mempelajari materi pelajaran lebih dari satu minggu dapat dilihat pada tabel berikut ini. 1 2 3 4 5 6 7 Indikator Ketercapaian aktivitas bertanya aktivitas menjawab pertanyaan guru atau teman aktivitas mengerjakan tugas aktivitas mengikuti pelajaran (mendengarkan penjelasan guru) kemampuan merumuskan problema aktivitas melakukan pengamatan kemauan mencatat hal-hal yang dianggap penting Target ( % ) 60 – 80 55 – 75 90 95 95 95 95 Siklus I 86.73 % Bl menguraikan/menjelaskan 2 kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data 97 94. Perbandingan hasil pre-test dan post-test setelah berakhirnya siklus I untuk mengetes daya ingat dan kemajuan belajar siswa. No.10 % 89. kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data yang dilakukan melalui pengamatan dan tes. MEI 2011 . NOMOR 1. Untuk indikator kemampuan menguraikan/menjelaskan dan kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data. TCP TCP Bl Bl Bl Bl Bl Berdasarkan tabel di atas maka ada dua indikator keberhasilan penelitian yang telah tercapai pada siklus I yaitu indikator aktivitas bertanya dan menjawab pertanyaaan teman atau guru.84 % 84.

Selain itu pada akhir siklus II juga dilakukan tes guna mengenai kemajuan siswa pada indikator lainnya yaitu kemampuan menguraikan/menjelaskan. Hal tersebut terlihat dari nilai tertinggi. Untuk indikator kemampuan menguraikan/menjelaskan dan kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data. Setelah berakhirnya siklus I dan dilakukan post-test maka dilanjutkan ke siklus II. Indikator Ketercapaian 1 2 kemampuan menguraikan/menjelaskan kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data BIOEDUKASI VOLUME 2. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan dalam indikator yang telah ditetapkan pada akhir siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini. kemampuan Tabel 5 mengumpulkan dan menganalisis data.Berdasarkan nilai pre-test dan post-test di atas. Tabel 4 Tingkat Ketercapaian Indikator Keberhasilan untuk Tujuh Jenis Aktivitas yang teramati pada akhir Siklus II. 1 2 3 4 5 6 7 Indikator Ketercapaian aktivitas bertanya aktivitas menjawab pertanyaan guru atau teman aktivitas mengerjakan tugas aktivitas mengikuti pelajaran (mendengarkan penjelasan guru) kemampuan merumuskan problema aktivitas melakukan pengamatan kemauan mencatat hal-hal yang dianggap penting Targer ( % ) 60 – 80 55 – 75 90 95 95 95 95 Ktc pada Akhir Siklus II 97. TCP TCP No. No. terendah dan rata-tata hasil tersebut. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut: Tingkat Ketercapaian Indikator Keberhasilan untuk Jenis Aktivitas yang Terobservasi dan Yang Perlu Dites pada akhir Siklus II. MEI 2011 89 . Setelah berakhirnya tindakan ketiga pada siklus II maka dilakukan evaluasi terhadap kemajuan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran baik di dalam kelas maupun di laboratorium/di lapangan.36 % 100 % 97. Targer ( % ) 95 97 Ktc pd Siklus I 97.36 % 100 % 100 % 100 % Ket.36 % 97. serta kemampuan mengingat pelajaran yang dilakukan menggunakan metode tes. maka terlihat secara jelas mengenai kemajuan belajar yang sangat pesat.36 % 97.36 % Ket. TCP TCP TCP TCP TCP TCP TCP Berdasarkan tabel di atas maka seluruh indikator keberhasilan penelitian yang telah tercapai pada siklus II yaitu indikator aktivitas yang dilihat dari berdasarkan observasi secara langsung. NOMOR 1. Evaluasi dilakukan juga untuk mengetahui ketercapaian indikator yang telah ditetapkan.

Hasil tersebut lebih membanggakan karena post-test diadakan lebih kurang 15 hari setelah pertemuan. 2. PENTUP Simpulan 1. Tabel 6 Perbandingan hasil pre-tes dan post pada akhir siklus II. haHal tersebut terlihat dari nilai tertinggi. terendah dan rata-rata yang terus meningkat sampai pada akhir siklus II. Hal tersebut disebabkan pada pendekatan kontekstual siswa dijadikan pelaku utama dalam proses pembelajaran. Seorang guru Sains harus senantiasa meningkatkan keterampilannya dalam mengajar.39 Nilai Ahir Siklus II 100 80 87. BIOEDUKASI VOLUME 2. No. karena Sains senantiasa berkembang setiap saat. Akhir dari siklus II juga dilakukan post-test untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengingat pelajaran dan untuk mengetahui kemajuan belajar siswa. Selisih hasil post-test dengan hasil pre-test menggambarkan kemajuan belajar siswa. Hasil post-test yang dilakukan setelah mempelajari materi pelajaran lebih dari satu minggu dapat dilihat pada tabel berikut ini. Disamping itu juga siswa mengalami secara tentang-tentang apa yang dipelajarinya. Keadaan Nilai Nilai Tertinggi Nilai Terendah Nilai Rata-rata Pre-test 55 20 40. Saran-saran Sehubungan dengan hasil penelitian ini maka dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut: 1.78 PEMBAHASAN Berdasarkan nilai pre-test dan post-test di atas. 2. 2. dan yang terpenting adalah bahwa dalam pendekatan kontekstual siswa mempelajari materi yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya sehari-hari. NOMOR 1. kreatif dan menyenangkan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas maka jelaslah bahwa pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan daya ingat siswa juga semakin baik. MEI 2011 90 . 1. Sehingga dapat dikatakan bahwa bahwa daya ingat siswa sangat baik. Dengan pembelajaran Contexual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran Sains di SMP Negeri 4 Metro dapat memperkuat daya ingat siswa terhadap materi pelajaran yang dipelajarinya. diperoleh gambaran bahwa seluruh jenis indikator keberhasilan telah tercapai pada akhir siklus II. Dengan pembelajaran Contexual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran Sains kelas VII di SMP Negeri 4 Metro dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Seorang guru harus senantiasa dapat mengajar dengan menggunakan strategi pembelajaran yang aktif.Dari tabel rekapitulasi hasil observasi terhadap beberapa jenis aktivitas dan yang harus diperkuat dengan tes di atas. Hal tersebut dari semakin tingginya kemampuan siswa mengingat materi yang dipelajarinya yang semula hanya 1-3 hari menjadi 5 hari sampai dengan 15 hari. 3. maka terlihat secara jelas mengenai kemajuan belajar yang sangat pesat.

(2002).htm). Seorang guru Sains harus senantiasa dapat mengembangkan diri baik pengetahuan maupun keterampilan. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Jakarta: Rineka Cipta.geocities. Amien. (2005). Ibrahim. (2004). (2004). Pengembangan Model Pembelajaran Kontekstual dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Kualitas Pembelajaran Fisika di SMA. 4. Mochamad. Muslimin dkk. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro. (2005). Nur. Widowati. Belajar dan pembelajaran.go. Wahyudi. Proses Belajar Mengajar. (2000). Pembelajaran Kooperatif.depdiknas. NOMOR 1. BIOEDUKASI VOLUME 2. (2002) Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL).htm. Learning Science Process Skills. http://www. (2004). (2001). Buku 5 Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual. Disampaikan dalam rangka “Pelatihan Merancang Pelatihan” TOT Guru-guru Inti SLTP Swasta Local Education Centre (LEC) di Jakarta 7 Januari – 1 Februari 2002. (2002). Jurnal Portal Informasi Pendidikan di Indonesia Edisi 45 (www.id/jurnal/45/p erdy_karuru. Marsudi.online/tripod. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. 5. Labschool. Bandung: Pakar Raya. (2003).com/KBM . Dimyati dan Mudjiono (1999). Pendekatan Proses dalam Proses Pembelajaran di Sekolah. Depdiknas. James H. Mengajar science dengan menggunakan metode discovery-Inquiry. Jurnal Ilmu Pendidikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Moh (1978).com/ramanuj an_asasno/koperatif. Muslim. Pembelajaran Kooperatif. Ella. Funk. (2004) Pembelajaran Kooperatif.3. Yulaelawati. Lampung: Universitas Lampung. (2004). Mohammad. Jurnal Portal Informasi Pendidikan di Indonesia. Seorang guru Sains harus senantiasa mengembangkan pembelajaran yang inovatif. Tingkatkan Pemahaman Siswa Terhadap Materi Pembelajaran IPA. Enoh. Seorang guru Sains harus senantiasa memberikan kesempatan sebesarsebesarnya kepada para siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran. http://labs. Surabaya: UNESA University Press. MEI 2011 91 . Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dalam Seting Pembelajaran Kooperatif Tife STAD untuk Meningkatkan Kualitas Belajar IPA Siswa SLTP. Ramunujan. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual (Contexual Teaching and Learning). Kurikulum dan Pembelajaran. Jurnal Fortal Informasi Pendidikan Depdiknas Jakarta. Filosofi teori dan Aplikasi. Yogyakarta: FKIE IKIP. Pebruari 2004 Jilid 11 Nomor 1. Budijastuti. Perdy. Iowa: Kendal/Hunt Publishing Company. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Karuru. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Volume 3 Nomor 2 September 2005. dkk (1985).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful