You are on page 1of 1

Teori sinkronis

Secara harfiyah Sinkronik berasal dari Bahasa Yunani (dengan akar kata syn = bersama dan khronos = waktu) yang artinya mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu saja misalnya, nama kota Djember pada masa zaman Nippon (sekarang menjadi Jember) Sedangkan Diakronis (yang juga berasal dari Bahasa Yunani dia = melalui dan khronos = waktu) pengertiannya adalah mempelajari suatu bahasa sepanjang masa, artinya selama bahasa itu masih digunakan oleh penuturnya, seperti contoh bahasa melayu klasik yang menggunakan imbuhan Mer sekarang sudah diganti Me dan Ber Melihat definisi kedua teori ini maka bisa disimpulkan bahwa untuk mempelajari bahasa jauh lebih sulit menggunakan teori diakronik sebab harus mengetahui asal mula sebuah akar kata, terlebih hal ini nantinya berhubungan dengan dialek Akan tetapi sebagai pengamat tentunya kita bisa mengambil sisi plus dan minus dari dua teori yang dimuat dalam buku Course de Linguistique Generale karya Ferdinand de Saussure. Misalnya sisi plus minus tersebut dalam meneliti Bahasa Indonesia dengan teori sinkronis di era Jepang, maka kemudahan peneliti adalah spesifik pada masa tersebut tanpa harus melihat Bahasa Indonesia pada kurun waktu di jajah Belanda atau pasca merdeka. Nah, sisi minus meneliti Bahasa Indonesia dengan teori diakronis adalah sangat rumit karena harus mengetahui perkembangan bahasa sejak zaman Sriwijaya, sebab harus mengetahui sebab-musabbab adanya sebuah bahasa tersebut sehingga dituturkan menjadi kata.