P. 1
Tonny, Konstruksi Teknologi Layar dan Teknologi Global (Skripsi S1)

Tonny, Konstruksi Teknologi Layar dan Teknologi Global (Skripsi S1)

|Views: 311|Likes:
Published by Tonny

Tulisan ini merupakan skripsi S1 Psikologi Sosial yang membahas mengenai bagaimana wacana budaya populer dan teknologi berperan dalam pembentukandunia global. Lahirnya generasi budaya populer pada awal era 1960-an, sekaligus merupakan periode awal teknologi informasi berbasis massa muncul sebagai konsumsi publik. Hal ini menimbulkan suatu ciri massal yang secara kontradiktif digambarkan oleh Kobo Abé (1967) sebagai “keseragaman dalam ketidakseragaman” dan dirasakan oleh Gong (1993) dalam “kebersamaan” di depan layar. Dengan menggunakan istilah teknologi layar dan teknologi global, penulis mengkaji fenomena tersebut dengan analisis diskursus melalui pendekatan fenomenologis. Unit analisis dalam tulisan ini adalah “pusat-pusat lokal” dan “skema transformasi” yang dikaji dengan empat kadiah metode yang disesuaikan dari Foucault (1997), antara lain; Kaidah imanensi, Kaidah perubahan berkelanjutan, Kaidah pengkondisian ganda dan Kaidah taktik polivalensi dalam berbagai diskursus. Sedangkan dalam menerapkan tiga strategi analisis umum, yaitu; strategi pertama: analisis teks; analisis digital; dan analisis institusi. Dalam hal ini, fenomenologi merupakan cara penjabaran bagi keseluruhan alur. Sedangkan kaidah metode maupun strategi analisis merupakan kecenderungan utama dalam tulisan ini. Secara keseluruhan, tulisan ini menyajikan cara kerja teknologi layar. Keseluruhan hasil analisis ini dapat diikuti secara holistik pada bagian tubuh teks, catatan kaki, Apendiks maupun catatan akhir. Keseluruhan bagian ini muncul sebagai keadaan sejajar yang meliputi kajian diskursus-diskursus yang sejajar pula secara sinkronis. Dalam hal ini teknologi layar muncul sebagai fokus perhatian di mana terjadi sinkronisasi antara “subyek” dan “obyek” dan juga sebagai arus penyusutan kesadaran. Sedangkan teknologi global hadir secara bersamaan dalam pola-pola ini sebagai pemrograman terhadap ketidaksadaran serta perlebaran arus kesadaran akan bersamaan sebagai “warga dunia”. Dalam dua modus tersebut, teknologi direpoduksi dalam jalinan di mana “subyek” automaton semakin mendekati ciri otomatisme, sedangkan “obyek” otomat semakin berevolusi menuju ciri automaton. Ciri meka[orga]nik ini merupakan model diduga penulis merupakan dasar bagi terwujudnya massa “warga dunia” yang dalam banyak hal memiliki kesamaan sekaligus perbedaan yang menjurang dengan crowd yang ditulis Gustave Le Bon.

Tulisan ini merupakan skripsi S1 Psikologi Sosial yang membahas mengenai bagaimana wacana budaya populer dan teknologi berperan dalam pembentukandunia global. Lahirnya generasi budaya populer pada awal era 1960-an, sekaligus merupakan periode awal teknologi informasi berbasis massa muncul sebagai konsumsi publik. Hal ini menimbulkan suatu ciri massal yang secara kontradiktif digambarkan oleh Kobo Abé (1967) sebagai “keseragaman dalam ketidakseragaman” dan dirasakan oleh Gong (1993) dalam “kebersamaan” di depan layar. Dengan menggunakan istilah teknologi layar dan teknologi global, penulis mengkaji fenomena tersebut dengan analisis diskursus melalui pendekatan fenomenologis. Unit analisis dalam tulisan ini adalah “pusat-pusat lokal” dan “skema transformasi” yang dikaji dengan empat kadiah metode yang disesuaikan dari Foucault (1997), antara lain; Kaidah imanensi, Kaidah perubahan berkelanjutan, Kaidah pengkondisian ganda dan Kaidah taktik polivalensi dalam berbagai diskursus. Sedangkan dalam menerapkan tiga strategi analisis umum, yaitu; strategi pertama: analisis teks; analisis digital; dan analisis institusi. Dalam hal ini, fenomenologi merupakan cara penjabaran bagi keseluruhan alur. Sedangkan kaidah metode maupun strategi analisis merupakan kecenderungan utama dalam tulisan ini. Secara keseluruhan, tulisan ini menyajikan cara kerja teknologi layar. Keseluruhan hasil analisis ini dapat diikuti secara holistik pada bagian tubuh teks, catatan kaki, Apendiks maupun catatan akhir. Keseluruhan bagian ini muncul sebagai keadaan sejajar yang meliputi kajian diskursus-diskursus yang sejajar pula secara sinkronis. Dalam hal ini teknologi layar muncul sebagai fokus perhatian di mana terjadi sinkronisasi antara “subyek” dan “obyek” dan juga sebagai arus penyusutan kesadaran. Sedangkan teknologi global hadir secara bersamaan dalam pola-pola ini sebagai pemrograman terhadap ketidaksadaran serta perlebaran arus kesadaran akan bersamaan sebagai “warga dunia”. Dalam dua modus tersebut, teknologi direpoduksi dalam jalinan di mana “subyek” automaton semakin mendekati ciri otomatisme, sedangkan “obyek” otomat semakin berevolusi menuju ciri automaton. Ciri meka[orga]nik ini merupakan model diduga penulis merupakan dasar bagi terwujudnya massa “warga dunia” yang dalam banyak hal memiliki kesamaan sekaligus perbedaan yang menjurang dengan crowd yang ditulis Gustave Le Bon.

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Tonny on Jan 25, 2013
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/01/2015

pdf

text

original

Sections

“Di atas bukit nan jauh, Teletubbies bermain-main,” demikian bunyi

kalimat pembuka yang diulang terus menerus oleh narator pada tiap

episode. Sebagai kalimat pembuka acara dan perkenalan diri,

pernyataan ini merupakan sebuah cara membawa penonton pada dunia

layar dalam Teletubbies. Terutama, seperti dalam cerita-cerita lainnya,

kalimat pembuka menentukan bagaimana suatu cerita di mulai dan

menunjukkan bagaimana cara penulis menyajikan konstruksi dunianya ke

hadapan perhatian publik.

Teletubbies memulai cerita dengan memposisikan dirinya “di

atas” dan “jauh” dari penonton. Dia membuat jarak yang renggang

antara tubbyland (dunia dalam Teletubbies) dengan penonton yang

menyaksikannya lewat layar televisi. Pada jarak “tinggi” dan “jauh”,

penonton diajak melihat tubbyland sebagai “obyek penglihatan”.246

Penonton melihat tubbyland jika ada jarak yang “jauh” dan “tinggi”,

bukan ketika pada jarak “rendah” dan “dekat”.

Teletubbies mengarahkan penonton merubah ide umum yang

mengatakan semakin “rendah” dan “dekat”, obyek akan semakin jelas.

246

Tubbyland adalah perwujudan unitas dari keseluruhan formasi “obyek-obyek” yang ada
dalam Teletubbies. Lihat catatan kaki no. 230. Dalam hal ini, tubbyland dapat bermakna
juga sebagai “suatu tempat luas yang berada ditempat yang berjarak jauh” atau “tempat
atau daerah yang berada dalam tabung atau saluran televisi”. Untuk perbandingan dengan
ScreenLand lihat juga catatan kaki no. 190. Dalam kesempatan ini, tubbyland memiliki
makna yang mendekati definisi ScreenLand, sekaligus memiliki arti yang mandiri sebagai
sebuah formasi simbol-simbol yang muncul dalam acara Teletubbies.

147

Tapi ini bukan penolakan atas “fakta” tersebut, melainkan Teletubbies

membaliknya dengan pengalaman baru yang berbeda dari biasanya,

penonton melihat tubbyland justru dalam posisi fisik yang “tinggi” dan

“jauh” dari Teletubbies ber[ada].

Keber[ada]an tersebut ditekankan oleh narator, “Inilah

Teletubbies, Inilah Teletubbies.” Bersamaan dengan itu, penonton

dikenalkan dan ditunjukkan pada keber[ada]an yang lengkap dalam

satuan. Mulai dari Tinky Winky yang berwarna ungu dan tertinggi

kemudian berlanjut pada tubbies lainnya sesuai dengan warna dan tinggi

badan masing-masing; Dipsy dengan warna hijau, Laa-laa yang kuning

dan terakhir adalah Po yang berwarna merah. Keber[ada]an tubbyland

ditekankan dengan “obyek-obyek” di dalamnya. Keber[ada]an satuan

“obyek” memperkuat pemunculan tubbyland yang “sebenarnya” berada

di sebuah dunia yang “jauh”.

Tiap pertengahan episode Teletubbies selalu ada bagian wajib, di

mana “kincir angin”247

tubbyland akan berbunyi dan berputar kencang,

menyebarkan pecahan-pecahan gelombang sinar ke seluruh tubbyland.

Ketika itu antena di kepala tubbies dan layar-layar kelabu pada perut

mereka menyala bergiliran. Akan ada salah satu dari layar di perut

tubby menampilkan acara “lain” yang “jauh” dari tubbyland, suatu

247

Lebih lengkap tentang “kincir angin ajaib” (the magic windmail), baca pada pembahasan di
bawah. Dalam beberapa hal “kincir angin ajaib” adalah suatu model simetris sirkular dengan
sebuah pusat dan cabang-cabangnya yang dapat saling menggantikan satu sama lainnya jika
berputar. Cabang-cabang mengikuti pusat yang berputar sebagai fokus. Mirip dengan keadaan
ini hubungan antara tubbies yang satu dengan lainnya saling sejajar dan dapat digantikan
yang satu oleh lainnya tanpa ada perbedaan berarti. Mereka secara acak dan bergiliran
ditentukan oleg gelombang yang dipancarkan. Layar siapapun yang menyala bukan masalah
penting. Di sini antara tubbies yang satu dengan lainnya bersifat simetris sirkular terhadap
“kincir angin ajaib”.

148

“dunia nyata” yang mirip dengan dunia penonton Teletubbies.248

Isinya

mengkisahkan sekelompok atau seorang anak dari beragam etnis yang

menikmati permainan atau kesenangan bersama orang tua mereka. Di

sini, Teletubbies bukan lagi acara di mana memunculkan sebuah dunia

jauh yang berdiri sendiri, tapi sekaligus juga perantara penonton dengan

dunia lain di permukaan bumi yang berbeda. Dan hal ini dilakukan

melalui layar di perut tubbies.

Ketika acara di layar perut para tubbies tiba-tiba melebar dan

menutupi seluruh layar televisi, penglihatan yang satu diganti dengan

penglihatan lainnya. Saat itu, tubbyland dan para tubbies sekonyong-

konyong lenyap dari pandangan penonton. Sebenarnya para tubbies tidak

hilang atau lenyap, karena acara Teletubbies dan tubbyland serta isinya

akan muncul kembali ke pandangan penonton setelah televisi perut usai

diputar. Lebih tepatnya yang terjadi adalah para tubbies mengikuti pola

perilaku penonton lainnya yaitu menonton pada layar di perut teman

mereka, begitu juga tubby yang perutnya dijadikan medium bagi acara

tersebut, ikut memperhatikan layar di perutnya sendiri. Dapat

dikatakan, penonton dan para tubbies menonton bersama. Dunia

Teletubbies dibuat seolah-olah muncul di sekitar dunia penonton.

“Bersama” penonton lainnya, mereka memfokuskan perhatiannya pada

layar. Kehadirannya yang awalnya sebagai “obyek” kini juga menjadi

sama “subyek” nya dengan penontonnya. Sehingga para tubbies tidak

248

Bagian ini disebut dengan istilah insert. Insert dibuat terpisah dari program Teletubbies itu
sendiri. Para kreator Teletubbies memanfaat sejumlah tenaga specialist insert director yang
tersebar di banyak tempat untuk menyuting kebiasaan-kebiasaan anak-anak yang unik dan
menarik. Insert diputar ditengah-tengah acara sebagai bagian program (online document:
http://www.bbc.co.uk/education/teletubbies/information/faq/).

149

disaksikan lagi oleh “subyek” lainnya (penonton), tapi dia “hadir”

bersama-sama di antara “subyek”. Keber[ada]nya tidak lagi disadari

oleh “subyek” sebagai “obyek” seperti yang ditonjolkan di awal

pembukaan acara.

Pada awal acara jarak “jauh” antara tubbyland dan penonton

sangat ditekankan, karena itu keber[ada]an tubbyland sebagai “obyek”

terlihat dan terus diperkuat. Pada keber[ada]annya yang kedua, jarak

antara penonton dan tubbyland di-“tiada”-kan. Pada keber[ada]an

terakhir, posisi para tubbies menjadi sama sebagai penonton atau

“subyek”, bukan lagi “obyek” pada keber[ada]annya yang pertama.

Dengan demikian tubbyland bukan hanya tontonan tapi juga penonton.

“Obyek” sekaligus “subyek”, “jauh” sekaligus “dekat”, “disadari” pada

satu saat, namun pada saat berbeda “tidak disadari” keber[ada]annya.

Dia menjadi isi acara tapi mengantarai penonton pada acara lainnya

melalui layar pada perutnya. Selanjutnya timbul pertanyaan, bagaimana

mendeskripsikan pola interaktif yang rumit dalam Teletubbies tersebut,

sebagai tontonan halmana adalah “obyek” perhatian penonton atau

justru merupakan program pendampingan yang berdiri sejajar dengan

penonton?

Kenyataan kontradiktif dalam tubbyland memberikan pemahaman

bagaimana medium bekerja. Di sini, tubbyland bisa dianggap sebagai

medium yang mengantarai “penglihatan” dengan “obyek”-nya,

selayaknya cara kerja sebuah layar televisi. Namun, tubbyland memiliki

peran yang berbeda dengan medium biasa. Pada medium umumnya,

150

ketika kontak “subyek” dan “obyek” berlangsung, selalu kurang disadari

atau tidak pernah muncul sebagai “obyek” tersendiri bagi “subyek”.

Antara apa yang disajikan di “dalam” layar, berbeda dengan medium itu

sendiri. Sebuah medium tanpa sesuatu yang disampaikan tidak akan

menarik perhatian. Tidak ada orang yang rela menatap sebuah layar

televisi atau komputer selama berjam-jam tanpa ada “sesuatu” yang

bisa diberi perhatian. Dalam keseharian, bahasa adalah medium yang

tidak disadari. Ketika sesorang menyinggung tentang seekor sapi, bukan

bunyi kata “sapi” (sebagai sebuah fonem dalam Bahasa Indonesia) itu

sendiri yang menjadi menjadi fokus perhatian melainkan, sebuah konsep

dalam batasan pikirannya yang berinteraksi dengan hasil pencerapan

plus persepsinya yang dituju. Sedangkan bunyi kata “sapi” tidak

memiliki kaitan langsung dengan sapi itu sendiri sebagai sebuah wujud

penglihatan atau short-term memory.

Bahasa sebagai medium berada di antara fokus tersebut, tidak

menjadi sebuah “obyek” mandiri dan disadari, melainkan merupakan

“dunia antara”. Demikianlah pula hal yang berlaku bagi medium lainnya

seperti halnya layar. Namun melalui serangkaian “subyektivikasi” dan

“obyektivikasi” tubbyland dapat dihadirkan sebagai “medium kedua”

setelah layar televisi atau “medium pertama”, di mana merupakan

pemunculan medium dari ketidaksadaran menuju sebuah medium baru

yang disadari namun tetap berfungsi seperti “medium pertama”. Sebagai

“medium kedua”, Teletubbies muncul sebagai “obyek” yang terkesan

terlepas dari “medium pertama” dan terlepas tetapi tetap merupakan

kelanjutan fungsi darinya. Singkatnya, tubbyland adala h “obyek” untuk

151

“medium pertama”, dan sebaliknya merupakan “subyek” sekaligus

“medium kedua” untuk dunia lainnya yang diperantarai oleh tubbyland.

Tubbyland bukan sekadar berfungsi sebagai panggung pertunjukkan,

namun juga menjalankan tugas sebagai alat komunikasi. Dalam hal ini,

tubbyland memberikan kesan kepada penontonnya suatu hubungan

reaktif dan timbal balik tanpa adanya two way communication langsung

maupun tidak langsung.

Sebagai “medium kedua”, tubbyland menggabungkan pencerapan

dan fokus dari “subyek” penonton dengan “obyek-obyek” di dalamnya

pada satu medium bersama. Para tubbies hadir bersama penonton

sebagai “subyek”, sedangkan penonton “hadir” di dalam tubbyland

melalui fokus kesadaran pada indera-inderanya yang tersinkronisasi

dengan “medium pertama”, untuk kemudian diberi penguatan lagi

melalui kontak “medium kedua” dengan dunia seberang (insert).

Teletubbies memberikan peran setara antara “indera -indera” dengan

“tubbyland” melalui proses “muncul” sebagai kesadaran dan “hilang”

dalam ketidaksadaran pada arus “medium kedua”. Karena itu tubbyland

adalah “dunia antara”, bilamana indera terjadi sinkronisasi dengan

layar.

Pada Teletubbies yang disiarkan melalui layar televisi, terdapat

dua indera yang diarahkan untuk terfokus atau aktif bekerja m enerima

sinyal-sinyal dari televisi dan Teletubbies, pertama adalah indera

penglihatan, dan kedua adalah indera pendengaran. Pembahasan

dilanjutkan dengan mengkaji Teletubbies sebagai bagian dari indera

152

penglihatan dan indera pendengaran. Sebelumnya perlu dibahas juga

topik bagaimana “obyek-obyek” dalam Teletubbies muncul dan

dikuatkan sebagai sebuah fokus meng[ada]. Antara “dunia materi”

dengan Teletubbies sebagai “dunia virtual”, indera-indera meng[ada]

bersama dengan dunia “obyek”. Relasi antara “subyek” dan “obyek”

diproduksi kembali dengan cara-cara paling primitif, yaitu ketika bayi

yang baru lahir mulai berhadapan dengan ibunya terdiskrit di luar

kesatuannya dengan kandungan sehingga terpaksa mencari interaksi baru

dalam pola relasi “subyek” dan “obyek”249

.

2. Cara “obyek” eksis: penyesuaian struktur “inti” dari
meraban menuju “bahasa narator”

Saat bayi lahir, apa yang paling dinantikan oleh orang tua, bidan

ataupun dokter adalah tangisan si bayi yang menandakan fungsi paru-

paru telah bekerja, artinya bayi itu akan hidup. Tapi bagi si bayi

tangisan mewakili perasaan tidak nyaman akibat “kehilangan” karena

berpisah dengan rahim Ibu.

249

Erich Fromm dalam bukunya Masyarakat yang Sehat (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995,
hal. 28) pernah menulis: “Nyatalah bahwa kelahiran manusia pada dasarnya adalah suatu
tindakan negatif, bahwa ia terlempar dari kesatuan aslinya dengan alam, bahwa ia tidak
dapat kembali pada asalnya, mengimplikasikan bahwa proses kelahiran umat manusia sama
sekali bukan perkara gampang. Setiap langkah eksistensinya yang baru sungguh menakutkan,
karena selalu harus mengorbankan keadaan rasa aman yang relatif sedang dihayati, di mana
dunia eksistensinya belum dikuasai... Seorang ibu yang penuh cinta melindungi kita dari
kepanikan awal ini...Kita takkan pernah lepas dari dua kecenderungan yang saling
berlawanan: pertama, kecenderungan keluar dari rahim, dari bentuk eksistensi hewani ke
dalam eksistensi yang lebih manusiawi, dari perhambaan menuju kebebasan; kedua,
kecenderungan kembali ke rahim, ke alam, kepada kepastian dan rasa aman.” Walaupun
untuk sementara ini dikotomi “individu” dengan “alam” tidak kita gunakan, namun dengan
penjabaran berbeda dikotomi serupa hadir di tulisan ini sebagai “subyek” dan “obyek” dalam
pengertian tanpa batas yang tetap dan tegas.

153

Berbeda dengan tangisan yang merupakan wujud perasaan tidak

nyaman, meraban atau mengoceh merupakan letupan rasa senang dan

kepuasan dari bayi kurang lebih tiga bulan setelah kelahirannya, setelah

melewati satu fase di mana dipenuhi reaksi tangisan atau diam. Konsep

meraban seperti dimaksudkan adalah fase pra-bahasa yang tidak

mengenal struktur bahasa jelas atau morfologi yang lengkap.

Kesemenaan bunyi tidak dalam batas-batas aturan tata bahasa, tetapi

lebih bekerja sesuai tatanan impuls-impuls ketidaksadaran.

Antara “subyek” atau bayi dengan orang lain sebagai “obyek”

yang baginya terasa samar, belum terjadi penjembatan satu tataran

batas-batas “umum” yang dipahami bersama dan dapat digunakan untuk

berkomunikasi. Jadi, antara “orang dewasa” dengan “bayi” terjadi

perbedaan dalam pembahasaan. Dikotomi inilah diadopsi oleh

Teletubbies ke dalam sebuah metode pembelajaran bahasa yang

berlandaskan pada kontruksi multilingual. “Adults speak like adults,

children speak like children and Teletubbies speak like Teletubbies,”250

ujar Davenport. Antara anak-anak, orang dewasa dan Teletubbies

memiliki cara bicaranya sendiri. Walaupun seolah-olah terpisah secara

multilingual, pembedaan ini tidak mengandaikan pemisahan hingga

terputusnya komunikasi sama sekali antara anak-anak dan orang dewasa.

Karena menurut Davenport, “children understand a lot more about

language that we credit them for.” 251

Hal ini disebabkan oleh karena

kemampuan mandiri dari anak-anak: “children learn different voices

from different sources.” Melalui berbagai sumber yang berbeda, anak-

250

Online document: http://www.ragdoll.co.uk/teletubbies/progr_teletubbies16.html

251

Ibid., loc. cit.

154

anak memperluas gudang kosakatanya sendiri tanpa ketergantungan

pada satu sumber. Anak-anak yang “aktif” untuk memfokuskan

perhatian, memahami, meniru dan memasukkan kata-kata sebagai

bagian dari struktur bahasanya sendiri. Dikotomi struktur bahasa bukan

suatu pemisahan mutlak, melainkan perbedaan yang dapat diatasi

dengan proses penyesuaian struktur antara bahasa anak-anak dengan

struktur lain disekitarnya.

Penyesuaian struktural ini terjadi karena anak-anak aktif

menirukan kembali ucapan-ucapan yang didengar dari “orang lain”.

Peniruan yang mengandaikan tidak ada pengaruh perbedaan struktur

bahasa terhadap kemampuan aktif belajar bahasa. Sehingga, di antara

struktur bahasa berbeda, dibangun anggapan anak-anak memiliki

kemampuan bawaan mandiri, suatu struktur bahasa universal organis.

Pada struktur “permukaan” terdapat garis persamaan universal yang

memungkinkan anak-anak belajar cara bicara orang dewasa di “dunia

nyata”, maupun Teletubbies di “dunia virtual”. Ketiganya bukan lagi

kelompok bahasa yang terpisah, tapi diikat transformasi “inti” bahasa

satu menuju “inti” lainnya melalui proses peniruan.252

Menurut Karl Bühler ada dua cara anak-anak menirukan bahasa

orang dewasa; pertama, melalui peniruan spontan bahasa orang lain,

kedua, peniruan yang dilakukan anak sesudah didikte.253

Dalam

Teletubbies, perbedaan kedua metode menjadi ambigu. Tidak ada upaya

252

Klasifikasi model bahasa dalam dua struktur; “inti” dan “permukaan”, banyak dianut oleh
paham Linguistik Nativis yang meyakini adanya sebuah tata bahasa universal yang berlaku
secara neural dalam pikiran manusia.

253

F.J. Mönks, A.M.P. Knoers, Siti Rahayu Haditono, Psikologi Perkembangan: pengantar dalam
berbagai bagiannya
, cet. 10 (Yogyakarta: Gajahmada University Press, 1996., hal. 162).

155

memunculkan peniruan kata-kata, tapi anak-anak dialihkan fokusnya

untuk merespon secara sukarela. Representasi keberadaan peniru dari

dalam layar diwakili oleh para tubbies. Para tubbies memiliki kosakata

yang terbatas seperti anak-anak, kemiripan ini adalah jembatan pada

pembandingan: “Children enjoy the antics of the Teletubbies - they see

their own world reflected in the stories.” Anak-anak merasakan dunia

pengalamannya direproduksi dalam Teletubbies berupa “kemiripan”

(resemblance)254

. Kemiripan ini mempermudah proses pendekatan yang

lebih pribadi kepada/oleh anak-anak terhadap dunia yang dikontruksi

dalam Teletubbies. Selanjutnya, seperti anak-anak masa awal belajar

bahasa, para tubbies akan berbicara dengan meniru segala sesuatu yang

didengar dari sekitarnya.

Berbeda dengan proses penyesuaian struktur bahasa di “dunia

fisik”, Teletubbies menawarkan kepada anak-anak bentuk “asimilasi”

yang lebih ramah. Dalam Teletubbies, semua hal yang “mirip” dengan

kehidupan sehari-hari dikontruksi ulang dalam suatu tatanan yang

berbeda. Tidak ada tangisan tidak nyaman dalam Teletubbies, hanya ada

suara meraban, tawa dan suara yang stabil dari bahasa seorang dewasa

sebagai narator. Maka jadilah sarana bantu anak-anak yang

mengasimilasikan suatu pembentukan “isi” bahasa secara halus dan

lebih bersahabat: “Children learn language in the real world. Thus as

an audience they want to listen, to pay attention, but what they are

254

Kemiripan sebagai peniruan pada suatu model. Jadi dalam Teletubbies, peniruan bukan
hanya dilakukan oleh anak-anak terhadap suatu model. Tapi model sendiri adalah suatu
pendekatan pada kemiripan yang ditiru dari anak-anak. Hal ini disebabkan Teletubbies dibuat
berdasarkan pengamatan pada perilaku anak-anak. Dikotomi anak sebagai peniru dan model
yang berperan sebagai pihak yang ditiru seperti yang ditunjukkan oleh teori belajar sosial
(social learning theory) dari Albert Bandura tidak berlaku di dalam Teletubbies.

156

lacking, away from Teletubbies, is information laid out in a form they

can assimilate.”255

Berbeda dengan anak-anak yang mengikuti percakapan orang

dewasa disertai kehadiran fisik, para tubbies meniru pembicaraan dari

“subyek” kasat mata seperti narator atau suara dari corong. “Suara”

yang ditiru tampil dalam bentuk tanpa kehadiran “subyek” secara

lengkap. Tidak ada ajakan untuk para tubbies dan penonton mengulang

pesan darinya. Namun, ada suara meraban dan tawa gembira dari

tubbies mengikuti setiap narasi. Sifatnya ramah dan sukarela, serta

memberikan kenyamanan daripada ancaman. Dari karakteristik ini,

sebuah keakraban ditawarkan.

Walaupun peniruan anak-anak terhadap yang diucapkan para

tubbies dan narator sepintas terjadi pada struktur bahasa “permukaan”

saja, namun proses yang terjadi tidak hanya itu. Peniruan bukan sekedar

pada fonem, melainkan dalam ikatan struktur morfeem, dimana

menyertakan kehadiran struktur inti. Di bawah, kasus ini akan

diperjelas.

Contohnya, ketika narator berkata, “Suatu hari di taman tubby

muncul lah sesuatu.” Mengikuti perkataan tersebut, akan ada “sesuatu”

yang memang muncul di tubbyland. Kemudian, seorang tubby, yaitu Po256

lewat di tempat itu dengan sepedanya. Segera dia berhenti, dan

mengamati “sesuatu” tersebut dengan heran dan bertanya-tanya, “A-Oh,

apa itu?” Ujarnya seolah-olah bertanya pada seseorang yang tak terlihat,

255

Ibid., loc. cit.

256

Tentang “Po”, baca lebih lanjut di tabel 4.1

157

tatapannya di arahkan ke depan layar, tempat para penonton ber[ada].

“Itu bendera,” jawab narator.

“Oh..., bendera! Bendera!” Seru Po riang mengeliling benda yang

baru dikenalnya. Po tidak mengenal benda yang baru diterimanya, hanya

dari narator dia mendengarnya bernama “bendera”. Bersamaan dengan

mengenali nama tersebut, Po mendadak “mengenal” benda yang

ditunjukkan oleh narator. Seperti benda yang mendadak muncul di

tubbyland oleh perintah narator, konsep tentang benda itu tiba-tiba

berada dalam pikiran Po. Karena itu, saat narator bertanya kepada Po,

“Siapa yang harus kibarkan bendera?” Po segera mencabut bendera itu.

Kemudian narator meneruskan arahannya, “Bagaimana mengibarkan

bendera itu?” Po secara otomatis mengangkat bendera di depannya dan

membawanya di tangan lalu menggoyang-goyangkannya. Berjalan sambil

menyanyikan lagu yang hanya berbunyi kalimat, “Kibar-kibar bendera!”

secara berulang-ulang.257

Antara narator dengan Po seolah ada jembatan

penghubung. Dari pengucapan narator, Po belajar menamai benda yang

ditemuinya. Tapi, yang membantu Po memahami konsep tentang

“bendera” tidak pada bahasa yang digunakan narator, melainkan pada

“obyek” yang muncul dan hadir secara empirik baginya. Kehadiran

“obyek” seperti “bendera” juga berarti pemusatan seluruh makna dan

fungsi bendera ke dalam sistem pengetahuan. Kata kerja seperti “kibar”

ikut menjadi pengetahuan Po saat narator memunculkan “bendera”

dalam tubbyland dan memberinya nama, dan Po tahu cara mengibarkan

257

Kasus ini bisa ditemukan pada episode pertama Teletubbies.

158

“bendera”” dalam waktu sesaat. Tidak dibutuhkan meniru pengucapan

fonem secara tepat untuk memahami ide tentang “bendera”. Sebab,

“obyek-obyek” tidak eksis dalam fonem, melainkan, dalam Teletubbies

dipahami sebagai rangkaian struktur empiris yang diturunkan tanpa

melibatkan kejelasan fonem. “Obyek” dan bunyi bahasa menjadi satuan

yang terpisah satu sama lain.

Po saat itu juga mengenali “bendera” dalam struktur bahasanya.

Dia akan menjawab, “Oh, bendera, bendera,” ketika tubby lainnya

bertanya padanya, “Apa itu?” Mereka mendapat jawaban pengulangan

kata narator oleh Po, serentak mereka mengikuti kata-kata tersebut,

“Oh, bendera. Bendera.” Secara kilat “bendera” menjadi bagian dari

struktur bahasa para tubbies, dan seluruh pengetahuan yang berkaitan

dengan “bendera” segera dipahami tanpa melewati proses lebih lanjut,

namun saat itu juga hadir dalam pengertian mereka. Mereka pun

kemudian tahu bagaimana “mengibarkan: bendera di tempat yang

“wajar”, seperti di tempat tinggi dan bisa disaksikan bersama-sama,

pengetahuan tersebut diperoleh secara otomatis begitu mereka

mengenal istilah “bendera”.

Kasus serupa terjadi juga pada episode lain di Teletubbies. Ketika

narator berkata, “Suatu hari di dunia tubby, Teletubbies melihat awan

bergerak,” maka ada awan yang bergerak sebagai koeksistensi dari

ucapan sang narator. Awan sebagai “obyek” pada awalnya bukan suatu

wujud mandiri, tetapi merupakan keber[ada]an yang mengikuti kata-

kata narator dalam bentuk yang dapat diobservasi. “Obyek-obyek”

159

penerjemahan ulang dari struktur bahasa narator tidak terikat pada

“struktur permukaan”, tapi merupakan “struktur inti” dari bahasa

narator. Seluruh “benda”, “peristiwa”, “waktu” dan “aksi” muncul

mengikuti kata-kata narator yang mendahuluinya. Pada awalnya,

“obyek-obyek” dalam Teletubbies muncul sebagai materialisasi ide-ide

narator menuju suatu bentuk kongkret yang dapat diamati secara

langsung.

Keber[ada]an obyek-obyek mengalami perubahan, ketika tubbies

meniru ucapan sang narator: “Eih, awan bergerak.” Kini, “awan

bergerak” bukan hanya sebagai keber[ada]an sampingan. Dia mendapat

penegasan keber[ada]annya dari para tubbies melalui peniruan ucapan

narator. Sebagai “obyek” yang mendahului ucapan tubbies, kehadiran

“awan” adalah keber[ada]an yang lebih mutlak daripada pengulangan

ucapan itu sendiri. Dari suatu “obyek” imanen, “awan bergerak”

bertransformasi menjadi “obyek” transenden yang mendahului ide dan

bahasa para tubbies. Karena itu letak ide “awan bergerak” bukan lagi

pada struktur permukaan bahasa narator maupun para tubbies, tetapi

sekarang merupakan “obyek” empiris. Dengan kata lain, kini “obyek”

dalam Teletubbies menjadi mandiri mengatasi bentuk struktural bahasa.

Sehingga, tranformasi struktur bahasa dari narator ke para tubbies

bukan pada suara atau permukaan luar bahasa itu, tetapi lebih terfokus

pada “struktur inti” bahasa sebagai “kebenaran empiris” dan

“universal” yang dialami oleh indera penglihatan.

160

Keber[ada]an obyektif “obyek-obyek” dalam Teletubbies bukanlah

keadaan yang menetap, tapi berlangsung dalam kesinambungan antara

narator sebagai kreator “obyek-obyek” dengan para tubbies sebagai

penguat keber[ada]an “obyek-obyek”. Jika narator melanjutkan

narasinya dengan menyebut, “Awan kecil tapi tebal bergerak.” Maka

kedudukan “obyek-obyek” sekali lagi mengalami pendefinisian ulang

sebagai ide “subyektif” yang merupakan arahan skenario narator, untuk

kemudian diikuti oleh para tubbies: “Awan kecil tapi tebal,” yang sekali

lagi menegaskan keber[ada]an “obyek”. Proses serupa akan berulang

kembali dan dijawab dengan cara yang sama oleh para tubby, “obyek-

obyek” yang sebelumnya dikuatkan keber[ada]annya akan kembali

dinisbikan oleh narator, dan kembali dikuatkan secara empiris oleh para

tubbies untuk kemudian disubyektifikasi narator lagi dan seterusnya.

Antara narator dan para tubbies keduanya memiliki kedudukan

berbeda dalam posisinya terhadap kehadiran “obyek”, walaupun

keduanya adalah “subyek” dalam hubungan oposisi terhadapnya. Jika

narator melakukan subyektifikasi terhadap “obyek”, maka para tubbies

melakukan obyektifikasi terhadapnya. Baik subyektifikasi dan

obyektifikasi, keduanya tidak merupakan esensi yang berdiri sendiri-

sendiri. Dalam melakukan subyektifikasi terhadap obyek, narator

memberikan batasan bunyi bahasa yang jelas untuk mendefinisikan

keber[ada]an obyek, hal mana tidak dilakukan oleh para tubbies. Para

tubbies tidak mengucapkan dengan tepat kata-kata narator, tapi

mengulangnya dengan kata-kata yang mirip tapi terdengar agak berbeda

dalam pengucapan. Deviasi ini muncul sebagai bentuk dari periode

161

meraban yang merupakan identifikasi para tubbies dengan bayi. Ketika

narator berkata, “Ucapkan Halo!” diverbalisasi ulang oleh para tubbies

bukan sebagai “Halo”, tapi “Ah-Oh”. Begitu juga ketika dengan

pengucapan kata “bendera”, yang muncul dalam mulut para tubbies

adalah: “bendelya”258

.

Sedangkan untuk “obyek” itu sendiri, fokus perhatian

transformasi struktural tidak hanya sampai pada keber[ada]an

penampakan saja. Namun, melewati suatu jangka, “obyek” akan

menghilang dari permukaan perhatian penonton, para tubbies maupun

narator. Jika saat itu sang narator berkata , “Lalu bendera itu

menghilang” diikuti oleh para tubbies yang meniru, “Ah, menghilang.”

Bendera itu secara fisik akan lenyap dari pandangan. Kini “obyek” tidak

memiliki kehadiran fisik lagi, tapi dia hadir sebagai sebuah rangkai

pengetahuan di dalam pikiran. “Bendera” sebagai sebuah morfeem dan

seluruh ide yang berkaitan dengannya tidak memiliki bentuk fisik lagi,

namun meninggalkan jejak dalam memori penonton. Di sinilah

“asimilasi” bahasa terjadi bukan hanya dalam penyesuaian pola fonem,

tapi lebih kepada penyesuaian morfeem, atau ide dengan terlebih

dahulu memperoleh penguatan keber[ada]an melalui obyektifikasi dan

subyektifikasi.

Kenyataan ini yang menyebabkan kenapa para kreator Teletubbies

tidak pernah keberatan acara ini di-dubbing dengan bahasa yang

258

Di sini Teletubbies sebagai program belajar bahasa banyak mendapatkan kritikan dikarenakan
tidak memberi contoh ucapan bunyi kata yang tepat, namun cenderung kabur dan pelat
dalam pengucapannya.

162

beragam di setiap negara yang berbeda pula. Semua ide dan fokus dalam

Teletubbies tidak terikat pada struktur permukaan bahasa yang

termanifestasi dalam perbedaan bunyi vokal. Teletubbies sendiri

memberikan jawaban atas permasalahan ini: “Teletubbies is for all

children, many of whom grow up speaking more than one language.”259

Sebagai misal, Po bisa berbicara dalam bahasa Kanton dan

mengucapkannya dengan baik layaknya bahasa ibunya. Dia menyanyikan

lagu dalam kata: "Fi-dit, fi-dit, fi-dit!" (bahasa Kanton untuk “cepat”)

dan "Mar, mar, man!" (artinya: “lambat”). Uniknya lagi, Po seringkali

juga berhitung dalam Bahasa Kanton: "Ya, yi, sam, sae, mmm,"

(1,2,3,4,5).

Sehingga akhirnya, Teletubbies mengikat sejumlah struktur

bahasa dengan pola-pola beragam dalam sebuah jalinan yang lebih

universal. Belajar bahasa di dalam Teletubbies bukan berarti hanya

mengikuti dan meniru bunyi-bunyi bahasa yang berbeda, namun juga

berarti, sinkronisasi ide -ide yang ada dalam Teletubbies kepada

penonton. Bahasa tidak lagi mempun yai tubuh pada dirinya sendiri,

melainkan semuanya ber[ada] dalam penampakan maupun pendengaran:

Teletubbies is aimed for children at critical stages of language

development, so the programme concentrates on music, rhythms,

temporal and spatial relations, as well as real children talking in their

own words about their own experiences. This is what we found children

enjoyed watching” Karena itu, seperti sebuah penciptaan lagi atas

259

Online document: http://www.bbc.co.uk/education/teletubbies/information/faq/po.shtml

163

sebuah dunia baru, ide-ide dalam Teletubbies diterjemahkan ke dalam

satuan-satuan warna dan bunyi yang dicerap dan dialami bersama-sama

sebagai “realitas” empirik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->