KON STR UKS I MOD EL MEK ANI SME KER JA TEK NOL OGI LAY AR DAN TEK NOL

OGI GLO BAL
Analisis Diskursus Teknologi dan Warga Dunia Dengan Pendekatan Fenomenologi
SK RI PS I
PROGRAM G ELAR JENJANG SARJANA STRATA 1 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

OLEH: TO NN Y
N RP : 5970128 N IRM : 97.7.004.17000.13583

FA KU LT AS PS IK OL OG I UN IV ER SI TA S SU RA BA YA 2003

“Dewasa ini orang-orang bahkan tidak menyadari bahwa suatu gejala eksternal yang sama mengandung dua sikap internal yang benar-benar bertentangan. Ada dua jenis gelak-tawa, dan kita kekurangan kata-kata untuk membedakan keduanya.” Milan Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa (2000)

Unt uk Gen ma Tua dan Sho ryu Yang telah mengajak saya melihat secara langsung perubahan teknologi dari masa ke masa.

iv

KA TA PE NG AN TA R

Pada sekitar tahun 2001, saya pernah menulis sebuah artikel singkat berjudul Teletubbies: Antara Kekuasaan Teknologi dan Teknologi Kekuasaan. Titik berat analisis pada artikel tersebut berkisar sekitar persoalan munculnya diskursus kekuasaan yang muncul dalam acara TV populer anak-anak seperti Teletubbies, yang notabene dianggap “polos” dan “aman”. Dari artikel ringkas tersebut, saya memulai mengumpulkan literatur untuk memperdalam persoalan. Motivasi itu muncul sebagian karena banyaknya persoalan menarik yang secara tidak langsung berkaitan dengan Teletubbies, dan sebagian lagi karena ketidakpuasan pribadi atas analisis yang terlalu “dangkal” dan “penuh kutukan” pada artikel kecil tersebut. Butuh sekitar beberapa bulan sebelum saya menyadari bahwa perkembangan analisis tentang Teletubbies telah berkembang sedemikian luasnya, hingga meliputi persoalan yang lebih luas dan global. Sedangkan, Teletubbies sendiri semakin tenggelam di antara berbagai diskursus-diskursus baru yang pada awalnya ditemukan hanya sebagai pelengkap. Namun “pelengkap” itu akhirnya semakin lama semakin luas pembahasannya, sehingga muncul sebagai topik-topik yang sejajar dan tidak kalah pentingnya dengan yang tolak mulanya. Dari sini, penulis menemukan sebuah topik yang diputuskan sebagai penulisan skripsi ini. Adapun skripsi ini merupakan syarat kelulusan jenjang S1 dan memperoleh gelar Sarjana Psikologi. Adapun selama penulisan ini, banyak pihak yang telah membantu dan memberikan kontribusi kepada terwujudnya analisis ini dalam sebuah format yang lebih teratur dan sistematis. Untuk alasan ini, saya terutama mengucapkan terimakasih antara lain kepada Dr. Edy Suhardono yang memberikan masukan dan sumbangan dari beberapa ide vital di dalam tulisan ini, gaya bahasa, susunan sistematika teks, hingga masukan mengenai metode analisis; Sony Karsono, yang menawarkan beberapa tulisan sebagai contoh untuk melengkapi kekurangan format penulisan, melakukan editing pada beberapa bagian awal dan memberikan

v

dukungan metodis terhadap tulisan ini. Dan untuk keduanya, tidak terlupakan juga oleh penulis kesediannya untuk menjadi Dosen Pembimbing skripsi bagi penulisan secara sistematis analisis ini. Dan, saya juga patut bersyukur kepada Dede Oetomo, Evi Lina Sutrisno dan Ananta Yudiarso yang bersedia hadir menguji skripsi ini. Berkat mereka, skripsi ini mendapatkan banyak masukan dan feedback yang sangat berarti. Sedangkan untuk Billy dan Mike, saya juga harus berterimakasih atas kesediaannya meminjamkan komputer dan printernya selama persiapan ujian maupun masa revisi, sehingga akhirnya tulisan ini dapat tercetak sebagaimana dipersyaratkan dalam sebuah skripsi. Juga berkat dukungan moril dari temanteman Laboratorium Psikologi Sosial, antara lain: Yuli, Yudin, Aries, Neli, Dias, Cicil, Wiwik, Arfan, Mukti, Sugeng, Audifax dan masih banyak lagi yang tidak sempat disebutkan di sini namun telah memberikan inspirasi bagi saya selama masa-masa penulisan ini. Rekan-rekan Tata Usaha Fakultas Psikologi, juga merupakan pihak yang secara tidak langsung ikut menyumbangkan tenaganya untuk membantu skripsi ini terurus secara administratif. Begitu juga, dosen-dosen dan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Psikologi yang selama masa kuliah memberikan masukan pengetahuan bagi saya. Terutama secara khusus di sini, penulis mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Christopher Brown yang mengenalkan kepada penulis metode analisis diskursus dan semiologi, di mana banyak mempengaruhi analisis dalam tulisan ini. Dan terakhir, penulis tidak lupa untuk berterimakasih pada segenap jajaran Rektorat Universitas Ubaya, Dekan, PD I, PD II dan PD III Fakultas Psikologi yang memberikan kesempatan kepada saya untuk menjalankan studi di Kampus ini. Juga kepada keluarga penulis yang memberikan sponsorship dalam bentuk dana, semangat maupun doa, sehingga akhirnya tulisan ini dapat diselesaikan, yang dalam beberapa arti juga menandai berakhirnya masa studi penulis di jenjang S1 Psikologi. Dan terakhir, saya sadar bahwa ucapan terimakasih saja tidak cukup membalas jasa-jasa mereka di atas.

vi

DA FT AR IS I

HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAN GRAFIK DAFTAR BAGAN DAN GAMBAR ABSTRAK

i ii iii iv v vii x xi xiii 1 1 1 11 28 35 38 40 41

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG 1. Layar dan budaya pop 2. Ideologi budaya layar 3. Universalisasi layar B. RUMUSAN PERMASALAHAN C. TUJUAN D. MANFAAT E. SISTEMATIKA TEKS

BAB II PARADIGMA DAN METODE

A. PARADIGMA DAN KERANGKA ANALISIS 1. Antara “fiksi” dan “non-fisksi” 2. “Realitas” sebagai diskursus 3. Fenomenologi “realitas”: lahirnya “subyek” dan “obyek” B. PROPOSISI-PROPOSISI C. KONSTRUKSI METODE ANALISIS 1. Kaidah-kaidah metode 2. Artifak dan strategi analisis

48 48 48 50 54 59 66 67 70

BAB III KAJIAN TEORI

A. KESADARAN DAN KETIDAKSADARAN GLOBAL B. ARKEOLOGI BUMI: LAHIRNYA “WARGA DUNIA” C. TEKNOLOGI LAYAR DAN PENGAMATAN VIRTUAL

74 77 94 113

vii

BAB IV PEMBAHASAN

A. TELETUBBIES: BAYI TEKNOLOGI 1. Teletubbies sebagai budaya populer: pergulatan antara idealisme dan bisnis 2. Sinkronisasi antara “dunia anak-anak” dan “dunia layar” 3. Teletubbies di mata publik Indonesia: tarik ulur antara orang dewasa dan anak-anak B. “LAYAR” DALAM “LAYAR” 1. Antara “jarak”, “subyek” dan “obyek” 2. Cara “obyek” eksis: penyesuaian struktur “inti” dari meraban menuju “bahasa moderator” 3. Reproduksi kembali dunia penglihatan dalam layar 4. Teknologi bunyi-bunyi C. SEMESTA SIMBOL-SIMBOL 1. Tubbytronic Superdome sebagai Rahim Teknologi 2. Meka[orga]nik 3. Ikatan fokus dalam emosi wajah 4. “Tuhan” dalam tubbyland 5. Tubuh, psikis dan tingkah laku tubbies D. ELABORASI TEMUAN-TEMUAN

133 133 133 139 142 146 146 152 163 173 177 183 197 200 204 209 216 220 220 220 224 229 236 236 241 247 249 257 263 263 272 281 294 294 305

BAB V REFLEKSI
A. LAYAR-LAYAR MILIK NEGARA 1. Pemimpin “di dalam” layar dan “di belakang” layar 2. Diskursus [berbeda] tentang teknologi antara dua periode 3. Diskursus tentang teknologi dalam Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahun. B. ANTARA GLOBALISASI DAN IDENTITAS NASIONAL 1. Mimpi-mimpi yang terus berlanjut 2. Bahaya di bawah selimut dan “jimat” Wawasan Nusantara 3. Kesejajaran bersama “warga dunia” C. TEKNOLOGI SEBAGAI KEKUATAN “OBYEKTIF” PERADABAN D. PEMBAURAN ANTARA DISKURSUS “TEKNOLOGI” DAN DISKURSUS “ALAM” E. WARGA DUNIA DALAM MEKANISME KERJA TEKNOLOGI LAYAR DAN TEKNOLOGI GLOBAL 1. Institusi-institusi regulasi fokus massal 2. “Warga dunia” dan crowd 3. Teknologi layar dan teknologi global sebagai regulasi ledakan populasi

BAB VI PENUTUP
A. KESIMPULAN B. SARAN-SARAN

viii

DAFTAR PUSTAKA CATATAN AKHIR APENDIKS A APENDIKS B APENDIKS C

309 317 321 327 331

ix

DA FT AR TA BE L DA N GR AF IK
A. TA BE L
T A B E L 1 .1 T A B E L 3 .1 T A B E L 4 .1 T A B E L 5 .1 T A B E L 5 .2 T A B E L 5 .3 Proporsi kegiatan interaksi seorang anak dengan teknologi informasi dalam sehari Analogi antara tujuh pilar sistem pemrosesan informasi dengan kerja manusia. Matriks karakteristik perbedaan penampakan wujud fisik, kepribadian, kebiasaan dan pergaulan antara para tubbies Arus fluktuasi pertumbuhan populasi dengan pembagian menurut kohor/periodisasi di Amerika sebagai contoh kecenderungan pertumbuhan populasi Pertumbuhan penduduk dunia antara tahun 1960-2000 Kecenderungan jumlah populasi dengan perbandingan angka kelahiran dan angka kematian antara 1950-1990 di berbagai wilayah

15 121 212

282 284

285

B. GR AF IK
G R A F I K 1. 1 Sumber informasi primer dan sumber informasi lain yang digunakan di AS setelah serangan teroris 11 dan 12 September 2001. N= 4.610. Perbandingan antara indeks biaya penggunaan satelit Intelsat dengan indeks biaya hidup di Amerika Serikat, 1965-1985 Transformasi pemusatan tenaga kerja di Amerika antara 1800-2000.

30 287 292

G R A F I K 5. 1 G R A F I K 5. 2

x

DA FT AR BA GA N DA N GA MB AR
A. BA GA N
B A GA N 1. 1 Perbandingan sistematika isi dengan fungsi tekstual dilengkapi dengan keterangan urutan formal di tabel kanan. Formasi antara diskursus-diskursus dalam kesejajaran dengan “teknologi layar” dan “teknologi global” sebagai pola yang dibentuk. “Sinkronisasi” dan “Pemrograman ulang atas ketidaksadaran” dalam arus interaksi antara “realitas fisik” dengan “realitas virtual” Konstruksi model sistem kerja teknologi layar dan teknologi global sebagai penerapan politik internasional. Trikotomi domain sosial dalam pembagian: jurnalismepublik-masyarakat menurut Luhmann.

43

B A GA N 1. 2 B A GA N 3. 1

46 125 267 298

B A GA N 5. 1 B A GA N 6. 1

B. GA MB AR
GAMBAR 4.1 GAMBAR 4.2 Anak-anak dan Teletubbies, identifikasi melalui kostum Tinky Winky (kiri bawah), Dipsy (kiri atas), Laa-laa (kanan atas), Po (ka- nan bawah). Dalam tubbyland, serta komposisi warna yang muncul di dalamnya. Percampuran tiga warna dasar Kombinasi warna dalam Teletubbies dibandingkan dengan spektrum warna penglihatan Tubbytronic superdome (tampak luar) Bagian dalam kubah tubbytronic superdome Pola di dinding tubbytronic Pola kerangka kubah tubbytronic superdome dalam grafis datar. Kerangka bangunan tubbytronic superdome dalam grafis tiga dimensi Para tubbies berada dalam tempat tidur di dalam tubbytronic superdome yang berbentuk kapsul terbuka. Noo-Noo: konseptualisasi dari meka[orga]nik dalam 143

GAMBAR 4.3 GAMBAR 4.4 GAMBAR GAMBAR GAMBAR GAMBAR 4.5 4.6 4.7 4.8

164 165 169 185 186 188 189 193 196

GAMBAR 4.9 GAMBAR 4.10

GAMBAR 4.11

xi

GAMBAR 4.12 GAMBAR 4.13

sebuah “subyek” mandiri Matahari tubbyland Terompet dalam tubbyland

198 201 204

xii

Tonny (5970128). Konstruksi Model Mekanisme Kerja Teknologi Layar dan Teknologi Global. Analisis Diskursus Teknologi dan Warga Dunia Dengan Pendekatan Fenomenologi. Skripsi gelar janjang S1 Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya.

ABS TRAK
Lahirnya generasi budaya populer pada awal era 1960-an, sekaligus merupakan periode awa teknologi informasi berbasis massa muncul sebagai konsumsi publik. Halmana menimbulkan suatu ciri massal yang secara kontradiktif digambarkan oleh Kobo Abé (1967) sebagai “keseragaman dalam ketidakseragaman” dan dirasakan oleh Gong (1993) dalam “kebersamaan” di depan layar. Dengan menggunakan istilah teknologi layar dan teknologi global, penulis mengkaji fenomena tersebut dengan analisis diskursus melalui pendekatan fenomenologis. Unit analisis dalam tulisan ini adalah “pusat-pusat lokal” dan “skema transformasi” yang dikaji dengan empat kadiah metode yang disesuaikan dari Foucault (1997), antara lain; Kaidah imanensi, Kaidah perubahan berkelanjutan, Kaidah pengkondisian ganda dan Kaidah taktik polivalensi dalam berbagai diskursus. Sedangkan dalam menerapkan tiga strategi analisis umum, yaitu; strategi pertama: analisis teks; analisis digital; dan analisis institusi. Dalam hal ini, fenomenologi merupakan cara penjabaran bagi keseluruhan alur. Sedangkan kaidah metode maupun strategi analisis merupakan kecenderungan utama dalam tulisan ini. Secara keseluruhan, tulisan ini menyajikan cara kerja teknologi layar. Keseluruhan hasil analisis ini dapat diikuti secara holistik pada bagian tubuh teks, catatan kaki, Apendiks maupun catatan akhir. Keseluruhan bagian ini muncul sebagai keadaan sejajar yang meliputi kajian diskursus-diskursus yang sejajar pula secara sinkronis. Dalam hal ini teknologi layar muncul sebagai fokus perhatian di mana terjadi sinkronisasi antara “subyek” dan “obyek” dan juga sebagai arus penyusutan kesadaran. Sedangkan teknologi global hadir secara bersamaan dalam pola-pola ini sebagai pemrograman terhadap ketidaksadaran serta perlebaran arus kesadaran akan bersamaan sebagai “warga dunia”. Dalam dua modus tersebut, teknologi direpoduksi dalam jalinan di mana “subyek” automaton semakin mendekati ciri otomatisme, sedangkan “obyek” otomat semakin berevolusi menuju ciri automaton. Ciri meka[orga]nik ini merupakan model diduga penulis merupakan dasar bagi terwujudnya massa “warga dunia” yang dalam banyak hal memiliki kesamaan sekaligus perbedaan yang menjurang dengan crowd yang ditulis Gustave Le Bon. Kata kunci: teknologi layar, teknologi global, “warga dunia”, budaya massa.

xiii

1

BA B I PE ND AH UL UA N

A. LA TA R BE LA KA NG
1 . L ay a r d a n b u d a ya p op Di dal am ged ung bio sko p, saa t lam pu pad am per hat ian pen ont on

ter ali hka n. Sem uan ya ter kur ung dal am rua nga n gel ap ber -AC, ter pis ah dar i rua nga n lai nny a, cuk up dis ama ri cah aya min im. Keg ela pan mene lan sis i-sis i lai n dar i rua nga n, ter mas uk kon tak ant ar ind ivi du. Kem udi an, mun cul cahay a dar i pro yek tor men yor ot dar i bel aka ng men uju lay ar seb aga i fok us. Ada kea daa n kon tra s ant ara cah aya

pro yek tor yan g dit ang kap dan dip ant ulk an lay ar den gan rua ng sekit arn ya yan g gel ap. Lay ar itu “ot oma tis ” men jad i pus at per hat ian , sed ang kan pro yek tor ber put ar jau h di bel aka ng dan ter tut up dar i pen gli hat an, lep as dar i per hat ian pen ont on yan g men ung gu fil m mun cul di “da lam ” lay ar. Lal u sem uan ya dim ula i, dar i ikl an spo nso r, cup lik eks tra hin gga fil m uta ma usa i ber put ar di dep an mat a, kem udi an mer eka pul ang den gan pua s ata u bahka n tid ak pua s den gan fil m yan g mer eka ton ton . Sel ama fil m ber put ar, pen ont on dih ant ar ke “du nia ” yan g jau h dar i kes eha ria nny a. Ber bag ai dis tor si pen gli hat an dan pen den gar an yan g bis a men gac au pen gal ama n ses aat itu dia bai kan . Sel ama leb ih dar i sat u jam

2

di ten gah keg ela pan pen ont on mel upa kan sej ena k dun ia sek ita rny a, bah kan ter mas uk dir inya sen dir i. Kea daa n ini din ikm ati ole h pen ont on, wal aup un sat u saa t mer eka tid ak pua s den gan fil m yan g mer eka ton ton , mer eka aka n kem bal i lag i pad a saa t lai n sam bil ber har ap men emu kan yan g leb ih bai k. Seb ali kny a yan g mer asa kan kep uas an dar i lay ar tid ak per lu mer asa kan keh ila nga n, sel alu ter sed ia med ia lai n unt uk men go bat i ker ind uan nya . Pen gal ama n ini dal am ben tuk eks tri m dic ata t ole h Gol a Gon g 1 dal am seb uah buk u ber jud ul Per jal ana n Asi a mel alu i pen gga mba ran di seb uah bio sko p Ind ia:

“Suasana di gedung bioskop inilah yang membuatku selalu ingin nonton

film India. Merasakan kegelisahan, kegembiraan, dan kejengkelan penonton seiring dengan setiap babak film di layar. Sekali waktu aku pernah geleng-geleng kepala, ketika hampir sebagian penonton keluar gedung sebelum film bubar, karena sang jagoan —Tokoh si baik— mati 2 di ujung peluru.”

Pen gga mba ran ini dil eng kap i den gan ban din gan nya , yai tu seb uah bio sko p di Ind one sia :

“Suasana seperti ini tak pernah aku rasakan di Indonesia, apalagi 21.

Jangankan bersorak atau mengomentari film, ketawa ngakak sendirian 3 pun kadang diusili penonton sebelah.”

1

Gola Gong adalah nama dari seorang penulis novel remaja di Indonesia. Bukunya Perjalanan Asia adalah catatan perjalanannya mengelilingi delapan negara, yaitu; Malaysia, Thailand, Laos, India, Banglades, Myanmar, Nepal dan Pakistan, pada tahun 1991-1992. Sepanjang perjalanan ini Gong selalu menyempatkan diri menonton film di bioskop–bioskop negara pemberhentiannya. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Pembangunan Puspa Swara, Jakarta, tahun 1993. Sebelumnya, pernah diterbitkan secara berkala antara 1991-1992 oleh Majalah Anita Cemerlang. Ibid., op. cit., h. 178-179 Ibid., h. 178

2 3

3

Dar i Pem ban din gan di ata s, kit a bis a mel iha t pem bed aan yan g dib uat ole h Gon g ata s dua sua san a yan g kon tra s di dal am dua ged ung bio sko p ber bed a. Ant ara Ind ia yan g pen ont onn ya “be rso rak jik a san g jag oan men ang dan pen ont onn ya iku t be rny any i ber sam a men gik uti ade gan fil m”, den gan sua san a med ita tif mas sal di bio sko p 21 Ind one sia .4 Uni kny a, mes ki sua sana bio sko p di Ind ia ter asa ber bed a den gan yan g dir asa kan di Ind one sia , kea daa n ini tid ak men gha lan gin ya unt uk iku t “me ras aka n” sep ert i yan g dir asak an ole h pen ont on lai nny a. Dia

“me ras aka n”: “.. . keg eli sah an, keg emb ira an, dan kej eng kel an pen ont on sei rin g den gan set iap bab ak fil m di lay ar” . Di dep an lay ar bio sko p, bat as bud aya yan g bia san ya men jur ang ses aat men jad i tid ak ber art i. 5 Dal am kas us ini , “me ras aka n” yan g dia lam i ole h Gon g ber bed a den gan “me ras aka n” ber sif at sim pat ik ata u emp ati k dua ora ng yan g ber had ap-had apa n sec ara fis ik. “Me ras akan” di sin i sif atn ya tid ak mel iba tka n tah apa n-tah apa n kom uni kas i tat ap muk a yan g dik ena l sec ara umu m. Seb ali kny a, pen gal ama n “me ras aka n” jus tru ter jad i saa t fok us per hat ian di ara hka n pad a lay ar yan g ber dir i “di lua r” rel asi itu . Den gan kat a lai n, rel asi ter ban gun jus tru saa t kon tak “la ngs ung ” den gan ora ngora ng lai n di sek ita r ter ali hka n sel ama fil m ber lan gsu ng . Nam un,

4 5

Ibid. Pada buku yang sama, Gong memberikan komentar mengenai Holy Festival di kota Varnasi yang dirayakan secara nasional di India: “’Ini pesta homoseksual!’ kata sang supir jeep... Aku sering melihat orang yang mengeluarkan alat kemaluannya. Malah tidak malu-malu bertelanjang. Orang-orang pun sambil mabuk berdansa. Aku bergidik juga melihat cara dansa mereka. Lebih porno dari Salsa dan Dirty Dancing. Semua lelaki berdansa seperti itu, tua-muda atau anak kecil sekali pun... Tapi, di sudut lain yang berkelahi pun meramaikan suasana. Ada yang terjungkalnya dari motornya dan menabrak orang-orang. Polisi cuma menonton saja. Semua orang menjaga dirinya sendiri dari ancaman bahaya yang setiap saat datang.” Bandingkan sikap Gong terhadap tarian pada perayaan tradisional ini dengan sikapnya terhadap kebiasaan menari orang India di bioskop. (Ibid., hal. 131-132).

4

pen ont on sam a sek ali tid ak ter hal ang unt uk “me ras aka n” sep ert i apa yan g dir asa kan pen ont on -pen ont on lai nny a. Kin i, pus at dar i kon tak itu buk an lag i pad a mas ing -mas ing ind ivi du, di ant ara nya ada lay ar yan g men jem bat ani . 6 Lay ar men jad i fok us per hat ian mas sal , sek ali gus jem bat an ant ari ndi vid u. Fil m seb aga i kom odi tas bat as dan

yan g dit amp ilk an

mel alu i cah aya men uju lay ar, aka n sep enu hny a dit ang kap lay ar dan dip ant ulk an kem bal i pad a pen ont on yan g had ir. Dii mba ngi den gan per ala tan sou nd sys tem , mak a set iap det ik keh adi ran gam bar itu men jad i ber mak na bag i set iap pen ont on. Mak na itu ten tu aka n dit ang kap sec ara ber bed a ole h tia p ind ivi du pen onton ses uai den gan sel era nya mas ing -mas ing , kar ena itu hal ini buk an pen ent u bag i ban gki tny a kes ada ran mas sal . Set iap ora ng mem ili ki sel era yan g ber bed a, nam un lay ar yan g mer ang kul sem uan ya dal am sat u wuj ud pen amp ila n dan men gik at sem ua per hat ian dal am sat u alu r kes ada ran “me ras aka n” kol ekt if.

6

Seperti halnya sebuah televisi yang menjadi fokus dalam sebuah ruangan rumah (lihat catatan kaki no. 60), menurut Akhudiat, bioskop adalah bangunan dan tempat hiburan yang paling menonjol dari sebuah kota. Dalam kacamatanya, bioskop adalah: “...tempat hiburan dengan menonton negeri asing di belahan bumi timur atau barat” (Kompas, 4/4/03, h. J). Dalam sebuah kota, tempat sebuah bioskop berada juga merupakan pusat konsentrasi massal. Kata “bioskop” sendiri berasal dari bahasa Belanda yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “gambar hidup” (gambar idoep). Pertunjukkan film untuk massa di mana menarik tarif pertama kali muncul di Grand Cafe Boulevard de Capucines, Paris, Perancis, pada 28 Desember 1895. Awalnya tempat duduk sebuah bioskop dibagi menjadi beberapa klasifikasi menurut harga tiket. Di Indonesia, bioskop yang pertama kali dibangun pada masa Belanda (1901) menkhususkan sebuah kelas tempat duduk bagi “pribumi” yang biasanya disebut kelas “kambing”. Namun pada pembukaan dekade pertengahan 1900-an pembagian kelas ekonomi bioskop tidak lagi berdasar tempat duduk, melainkan lebih dibedakan pada pengklasifikasian bioskop-bioskop yang ada dalam beberapa kelas sesuai dengan kecanggihan teknologi, fasilitas, pelayanan atau kenyamanan gedung dan jenis film yang diputar. Baca: Victor C. Mambor, Satu Abad “Gambar Idoep” di Indonesia. Bagian I: 1900-1970 dan Bagian II: 1970-2000 (Solo: KUNCI Cultural Studies Center, 1999, 2000).

5

Ant ara sel era Gon g dan ora ng Ind ia ten tan g fil m bel um ten tu sam a, tap i Gon g “m era sak an” keb ers ama an den gan pen ont on lai nny a. Pad aha l, den gan men ont on fil m India di neg ara asa lny a tid ak ada tek s yan g men jel ask an isi cer ita unt uk pen ont on asi ng sep ert i Gon g.

Wal aup un beg itu , Gong yan g tid ak mem ahami bah asa Ind ia dan han ya mer eka -rek a jal ann ya cer ita mem aha mi per asa an pen ont on lai n yan g men gua sai bah asa India den gan bai k. Dal am hal ini uns ur yan g

mem ber ika n per an utama ada lah lay ar yan g mem ber ika n fok us uta ma pad a Gon g dan pen ont on Ind ia itu , dan pen amp aka n dal am lay ar leb ih ber per an sebag ai bat as -bat as kun cin ya. Saa t itu jug a, mun cul seb uah “ke sad ara n” lai n yan g men gga nti kan dan men gik at sem ua kes ada ran ind ivi du tan pa dih ala ngi bud aya mau pun keu nik an ind ivi du. Lay ar bek erj a seb aga i tek nol ogi yan g men gik at kes ada ran -

kes ada ran mer eka dal am aru s “me ras aka n” ber sam a. Mel upa kan “di ri” dan ten gge lam dal am sat u aru s kes ada ran ber sam a mer upa kan car a ker ja dar i tek nol ogi lay ar . Kar ena itu tek nol ogi lay ar ber ope ras i sec ara khu sus seb aga i jar ing an aru s psi kis mas sal . Jik a lay ar mem ili ki sif at kol ek tif , apa kah lay ar han ya mer upa kan pe nga lam an yan g ter ika t pad a tem pat sep ert i hal nya dal am ged ung bio sko p? Pad a con toh di ata s, pol a kes ada ran “be rsa ma” ber lan gsu ng dal am ged ung ter tut up di man a mer upa kan tem pat mas sa ber kum pul sec ara fis ik, ada kah mek ani sme yan g ber fun gsi sam a dal am lin gku p leb ih lua s? Ter dap at “la yar ” lai n den gan ben tuk ber bed a di lua r bio skop yan g mem enu hi keb utu han itu . Ada ber bag ai jen is lay ar bek erj a di lua r

6

bio sko p. “La yar ” dis aks ika n dan dir asa kan ber sam a-sam a pad a sat u tem pat mau pun wil aya h yan g ter pis ah jar akn ya rib uan , bah kan jut aan mil jau hny a. Tel evi si mer upa kan con toh palin g ses uai . Apa pun yan g di dal am lay ar bis a dip uta r kem bal i dal am jan gka wak tu yan g tak ter bat as dal am med ia aut o-fo cus . Ket imb ang lok al dan par sia l, saa t ini lay ar ada lah fen ome na unive rsa l den gan ika tan wak tu dan tem pat yan g ren gga ng. Seg i ke-uni ver sal-an lay ar mem ber iny a sebua h cir i dan fun gsi ter sen dir i. Pen eka nan nya pad a fok us mas sa ke lay ar, mel ahi rka n sif at mem ass al pad a mas yar aka t di man a lay ar had ir. Ka ren a sif atn ya itu , lay ar mem ban gun kec end eru nga n cor ak dan pol a bud aya bar u yan g leb ih mel uas bai k dal am ren tan g “ru ang ” maupu n “wa ktu ” dib and ing kan den gan bud aya seb elu mny a. Dan , ber kem ban g ter us men eru s den gan per tam bah an lay ar dar i mas a ke mas a, dal am h al lua sny a jan gka uan pen yeb ara n jum lah dan kes esu aia n bud aya , mau pun tek nik yan g

dig una kan . Lay ar mul ai mem ben tuk seb uah aru s bar u yan g ber lah an lah an dia ngg ap ter pisah dar i bud aya yan g sif atn ya lok al, ter uta ma dik are nak an mod el bud aya lay ar 7 yan g men onj olkan sif at uni ver sal dan pop ule r. Pol a-pol a bud aya lay ar ata u pop ula r leb ih sul it dia mat i di

keh idu pan seh ari -har i jik a dib and ing kan den gan fen ome na dal am ged ung bio sko p. Ket ika kel uar dar i rua nga n den gan fok us kon gkr et, uns ur
7

Lebih umum dikenal sebagai “budaya populer” (disingkat “budaya pop”) atau “budaya massa”. Walaupun sebagian orang membedakan budaya pop dari budaya massa, dalam alasan tersendiri yang akan dijelaskan di bawah, penulis menganggap keduanya berada dalam tataran mekanisme yang sama dalam teknologi layar.

7

ket era mat an “la yar ” men jad i sir na dan han ya men ing gal kan

pol a

per ila ku yan g sam ar nam un mas ih ter obs erv asi . Kob o Abé (19 66) , seo ran g nov eli s Jep ang , men cat at fen ome na ini :

“Furthermore, although the people walking along the streets were
strangers to each other, they formed a tight chain, like some organic composition, and I could not squeeze in. Could sharing ordinary, normal faces forge such a strong bond among them? Moreover, even the things they wore matched. The mass-produced pattern of today called 8 fashion.”

The mas s-pro duc ed pat ter n ata u pol a yan g dip rod uks i sec ara mas sal , seb uah jar ing an tip is kea daa n di man a set iap ora ng ter lih at “as ing ” sec ara jar ak ant ara sat u sam a lai n, nam un ber ger ak mel alu i sat u kec end eru nga n mas sal lay akn ya seb uah kom pos isi “or gan ik” dan

men jar ing merek a dal am “ik ata n” kas at mat a. Kob o Abé men gam ati pol a ini mun cul dal am dun ia fas hio n, di man a mer upa kan sal ah sat u jan tun g ger aka n aru s bud aya pop ula r. Pol a kes ada ran mas sal yan g man a mir ip den gan pen gal ama n Gon g di bio sko p dit emu kan ole h Abé mel alu i hi ruk pik uk dun ia fas hio n. Nam un ber bed a den gan Gon g, pen gal ama n Abé leb ih kab ur dan sul it did efi nis ika n den gan tep at: “Is tha t a neg ati on of uni for m, for hea ven ’s sak e, or sim ply a new kin d of uni for m? ”9 Abé ter jeb ak dal am seb uah kon tra dik si yan g mem bin gungka n kar ena per tan yaa nny a sen dir i. Ker uwe tan ini ber aka r pad a dua lis me yan g ber lak u dal am fas hio n. Pad a sud ut ter ten tu, fas hio n
8 9

Kobo Abé, The Face of Another, diterjemahkan dari Bahasa Jepang oleh E. Dale Saunders, (Tokyo: Charles E. Tuttle Company, 1967), hal. 66. Ibid., op. cit.

8

mem ili ki kar akt er “ti dak ser aga m”: set iap ora ng bis a ber pen amp ila n ses uai mod el ata u ran can gan yan g dip ili hny a. Tid ak ada ket ent uan yan g men eta pka n pil iha n sam a unt uk sem ua ind ivi du. Sem ua kel elu asa an ini dii mba ngi den gan mod el -mod el yan g rag amn ya lua s dan sel alu ber uba h dar i wak tu ke wak tu sec ara ber kes ina mbu nga n. Sec ara kon tra dik tif , sem ua ger ak per uba han dan per kem ban gan dal am duni a fas hio n mem ili ki kec end eru nga n kol ekt if. Dal am dun ia fas hio n mun cul aru s

kec end eru nga n mas sal di man a set iap mod e yan g mun cul dij adi kan pan uta n sec ara lua s ole h mas sa. Sif at ini mem ber ika n fas hio n seb uah

sen tuh an yan g “se rag am” di bal ik sem ua plu ral itas yan g dit awa rk ann ya. : “Fro m the sta ndp oin t of cou nti nuo us cha nge , it pro bab ly is the neg ati on of the uni for m, I sup pos e; but con sid eri ng tha t thi s neg ati on is bro ugh t abo ut col lec tiv ely , it may ind eed be con sid ere d ver y muc h a uni for m.” 10 Bag i Abé , wal aup un mem ber ika n ban yak pil iha n, fas hio n tet ap mem ili ki kar akt eri sti k yan g “me nga rah kan” dan “me nun tun ” mas sa dal am sua tu pol a “se rag am” . Pol a kes ada ran mas sal ini tid ak ber hen ti hin gga sat u “ke ser aga man ” bel aka , mel ain kan , “Per hap s it” s spi rit of tod ay,” tul isn ya, “And bec aus e I am aga ins t thi s spi rit , I am a her eti c. Alt hou gh my res ear che s bol ste red the par t of thi s fas hio n mad e wit h syn the tic fib ers , not eve n tha t wou ld per mit me to ass oci ate wit h the cro wd.” 11 Kep ada pem bac any a, Abé mem per ing atk an: wal aupu n tid ak mem ili ki kar akt er jel as, pol a mas sal ter seb ut mem ili ki mek ani sme

10 11

Ibid. Ibid.

9

map an yan g dap at meras uk dal am kes ada ran pub lik , ser ta mem ili ki efe k yan g “ri il” . Ses eor ang yan g tid ak men gik uti kec end eru nga n kol ekt if ter seb ut aka n men gal ami ket era sin gan , tan pa per kec ual ian . Tid ak ada per an akt or pel aku dib ali kny a yan g ber dir i “di lua r”, sem uan ya dal am sat u aru s kes ada ran ber sam a. Hal sam a aka n di ala mi Gon g dal am bio sko p 21 di Ind one sia . Jik a dia tid ak ber sik ap “di am” sep ert i pen ont on lai nny a, kem ung kin an

ter bes ar, pen ont on di seb ela h aka n men egu r aga r dia seg era dia m, nam un tid ak aka n mem aks any a unt uk mem fok usk an per hat ian nya pad a lay ar bio sko p. Beg itu jug a jik a hal itu ter jad i di bio sko p Ind ia, apa bil a Gon g men ang is kec ewa saa t sem ua pen ont on men ari gem bir a ata u seb ali kny a. Sin gka tnya, Gon g tid ak dip aks a unt uk mem fok usk an

per hat ian nya pad a lay ar. Fok us pad a lay ar, sif atn ya sel alu “su kar ela ”, men ola kny a han ya ber art i “me lep ask an” dir i dar i kec end eru nga n mas sal ter seb ut, sep ert i hal nya pen gas ing an “si jan gga l” dal am dun ia fas hio n. 12 Leb ih jau h kec end eru nga n mas sal dal am fas hio n dan lay ar per lu dib eda kan den gan “kese rag ama n” dal am art i yan g dik ena l sel ama ini , sep ert i yan g ser ing dip ert unj ukk an seb uah ger ak jal an, par ade pas uka n ata u upa car a sek ola h. Dal am mod el kes era gam an kon ven sio nal tun tut an unt uk mem enu hi sua tu per int ah seb aga i fok us per hat ian san gat

dit eka nka n. Sem ua per int ah har us dit afs irk an ser aga m dan dip aha mi

12

Karena itu fashion dan layar di bioskop memiliki suatu cara kerja yang sama. Kata “layar” untuk selanjutnya dipakai untuk pengertian yang lebih luas dari sekedar “layar” yang sifatnya material dan teramati, tapi lebih merupakan teknologi massal dalam jalinan fokus sebagai fenomen-fenomen. Untuk penjelasan lebih jauh, lihat juga Apendiks A dan pembahasan di Bab III.

10

dal am mak na sam a, uns ur kon tro l fis ik mau pun psi kis san gat dom ina n.

13

Kes ada ran ber sam a sep ert i yang dit unj ukk an Gon g dan Abé jus tru mun cul dal am sit uas i ber ten tan gan , yai tu kea daa n tan pa kon tro l

mem aks a. Tid ak har us ada kes esu aia n ant ara “ps iki s” dan “fi sik ”. Sem ua ora ng mem ber ika n per hat ian nya pad a fok us lay ar tan pa pak saa n, dan ter uta ma leb ih dir asa kan seb aga i “hi bur an” 14. Yan g pal ing uni k,

wal aup un tid ak ada pen afs ira n ser aga m ata s fok us per hat ian , hal ini tid ak men gur ang i kec end eru nga n mas sa unt uk ber ger ak “se ara h”. Kes ear aha n mas sal mem ili ki cir i kha s yan g dir asa kan sua tu Gon g, dan dia mat i Abé , pol a-pol a yan g

seb aga i

kec end eru nga n

ter ben tuk ole h fok us ber sam a dal am lay ar 15 . Kit a tid ak aka n men emu kan cir i ini pad a mas sa yan g ber kum pul di aca ra res mi, sep ert i pid ato pol iti k ata u upa car a wis uda . Dan sep ert i yan g tel ah dit unj ukk an Abé ,

13

“Aba-aba” atau “instruksi” dan penjabarannya dalam pengertian yang dipahami secara “benar” oleh massa memegang peranan dalam menciptakan keseragaman jenis ini. Keserasian antara “roh” dan “materi” merupakan wujud terbuktinya rasionalitas dalam realitas fisik. Pendapat yang sama datang dari Tetsuo Kogawa dalam artikelnya berjudul Toward a Reality of Reference: The Image and the Era of Virtual Reality. Kogawa menulis: “As a result, television has become a kind of counter-reality (which is to say, it blurs the real gravity of an event) and has come to be manipulated as an indeterminate cultural apparatus. When a medium so constituted becomes part of everyone's environment and seems natural to the point that it is no longer apparent as an instrument of control and indoctrination, to attack it with such cliched expressions as ‘colonization of the unconscious’ or ‘deprivation of the body’ is not much of an indictment at all.” (Documentary BOX, no.8, October 3, 1995, Published by the Yamagata International documentary Film Festival, Tokyo Office). Antara pengalaman Gong yang terikat dalam satu ruangan dengan fokus terpatri melalui diskriminasi terang-gelap dengan fokus tersamar dalam dunia fashion yang diceritakan Abé, terdapat juga contoh di mana kedua model pengalaman tersebut dikombinasikan seperti yang diceritakan oleh M.T. Zen: “Gambaran secara efisien, otomatis dan efektif dapat diperoleh dari suasana pelabuha-pelabuhan udara kota-kota besar di dunia seperti New York, Chicago, Dallas, Tokyo, London, Paris, Frankfurt dan lain-lain, Manusia berbondong-bondong digiring di atas ban berjalan melalui lorong-lorong tertentu menuju kamar tunggu; menunggu sambil melihat layar short circuit yang memberitahukan jadwal-jadwal penerbangan. Antara yang bepergian tidak ada yang bicara. Masing-masing baca koran, majalah, atau buku. Tidak ada yang mengumumkan sesuatu. Semua dapat dilihat pada layar TV. Jika ada barang yang hilang, yang berkepentingan disodori formulir tuntutan untuk diisi. Tunggu saja satu dua minggu lagi. Nanti diberi tahu oleh...Tuan Computer.” Sains, Teknologi dan Hari Depan Manusia, ditulis oleh M.T. Zen (Jakarta: Penerbit PT Gramedia, 1981), hal. 29.

14

15

11

kec end eru nga n ter seb ut jus tru ber ada pad a wil aya h yan g ter lih at kur ang “sa kra l”, sep ert i bud aya pop . 16 Kar ena itu , ada kes esu aia n yan g uni k ant ara kec end eru nga n mas sal dal am rua ng bio sko p den gan iko n bud aya pop lai nny a, wal aup un unt uk sem ent ara ini mas ih sul it mem ber ika n defi nis i yan g tep at bag iny a. Car a ker ja dar i tek nol ogi lay ar mas ih sul it dip aha mi. Unt uk mem aha mi pol a yan g dit emu kan Gon g dan Abé , per lu did ala mi ber bag ai mas ala h yan g ber san gku tan den gan lay ar dan bud aya pop pad a dim ens i ber bed a. Di baw ah aka n dit ela ah akar ide olo gis nya .

2 . I de o l o g i b u d a y a l a y a r Sep ert i hal nya Gon g dan Abé , Kur t Von neg ut jug a per nah men gal ami “ke ber sam aan ” dar i lay ar:

“ Pada masa-masa awal televisi, ketika paling banter hanya ada

setengah lusin saluran, sandiwara yang ditulis dengan baik di layar televisi masih dapat membuat kita merasa seperti anggota khalayak 17 yang penuh perhatian, sekalipun kita sendirian di rumah”

Leb ih lan jut lag i dia ber kat a,

16

Budaya pop seringkali dikenal karena karakternya yang meluas dan meliputi hampir semua kalangan. Sakralitas kerap menjadi humor satir untuk mengkritik lembaga-lembaga resmi yang disebutkan di atas. Budaya pop tidak menampilkan kedisiplinan fisik, sebaliknya dari segi penampilan, dia memberontak terhadap segala wujud yang kaku, frigid dan serius. Dalam gedung bioskop misalnya, sikap yang santai merupakan cara menikmati, daripada duduk dalam posisi yang benar dan teratur, walaupun tetap diatur untuk tidak mengganggu batas kesenangan orang lain. Oleh karena itu, dalam budaya pop sebenarnya berlaku regulasi terhadap kesenangan dan hiburan, sambil berusaha memproduksi kenikmatan baru. Kurt Vonnegut, Gempa Waktu, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia [KPG], 2001), hal. 26.

17

12

“ Pada masa itu hanya dengan beberapa tayangan yang dipilih, teman
dan tetangga menonton pertunjukkan yang sedang kita tonton...Kita bahkan dapat menelepon teman malam itu juga, dan mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah kita ketahui: “Apakah engkau 18 melihatnya? Wow!””

Nam un sek ara ng, bag iny a sem ua han ya tingg al ken ang an: “Ki ni tid ak dem iki an lag i.” Von neg ut tid ak han ya sek ada r men yan gka l pen gal ama n mas a lal u yan g men gga ira hka n den gan tel evi si. Mel alu i tok oh Kil gor e Tro ut, dia men gim aji nas ika n pla net “ke mba ran ” bum i yan g ber nam a Boo boo .19 Pla net itu mem ili ki pen ghu ni den gan kem amp uan “be rad apt asi ”: “Ini ber kat ota k mer eka yan g bes ar dan heb at, yan g dap at dip rog ram unt uk mel aku kan ata u tid ak mel aku kan , mer asa ata u tid ak mer asa , ham pir seg ala hal . Tin gga l and a seb ut saj a.” 20 Seb uah ver si sat ir dar i mod el pen did ika n kon ser vat if jug a mun cul pad a kis ah ini : “Pe mro gra man tid ak dil aku kan mel alu i pem bed aha n ata u pen gal ira n lis tri k, ata u den gan seg ala campu r tan gan neu rol ogi s.” Nam un, gay a “pe mro gra man ” ini ter jad i sec ara sos ial , “ha nya den gan bic ara , bic ara dan bicar a.” 21 Len gka pny a, pro ses “pemro gra man ” ini dil ukisk an seb aga i ber iku t:

“ Orang dewasa berbicara kepada anak-anak Booboo secara manis

tentang berbagai perasaan dan perbuatan yang dianggap pantas dan dikehendaki. Otak anak-anak itu otomatis akan merespons dengan jalan

18 19 20 21

Ibid., op. cit. Menurut Vonnengut, keduanya masih berada dalam satu galaksi yang sama. Sebenarnya Booboo tidak lain adalah gambar sinis dari imej tentang bumi sendiri. Ibid 17., op. cit., hal. 18. Ibid., op. cit.

13

menumbuhkan sirkuit-sirkuit yang menciptakan berbagai kesenangan 22 dan perilaku yang beradab. ”

Pla net Boo boo mul ai ber uba h, ket ika seo ran g gad is ber nam a Nim nim (di gam bar kan ber wat ak “ja hat ”) ber has il mem bua t kam era ,

pem anc ar dan pes awat tel evi si. Seb elu mny a, ana k-ana k Booboo han ya per lu sti mul us kec il unt uk mem ban gki tka n ima jin asi mer eka . Tap i ket ika tel evi si men gga nti kan pos isi ora ng tua : “An ak-ana k mud a Boo boo tak lag i mel iha t fae dah nya men gem ban gka n ima jin asi , seb ab yan g mer eka lak uka n han yal ah men ghi dup kan sak lar dan meli hat seg ala mac am

sam pah yan g men col ok mat a.” 23 Gen era si Boo boo kem udi an tum buh tan pa ima jin asi , sem ua sel era hib ura nny a ter gan tun g pad a apa yan g dib eri kan ole h Nim -nim: “Me rek a aka n men ata p sel emb ar hal ama n yan g dic eta k ata u seb uah luk isa n sam bil ber tan ya -tan ya bag aim ana mun gki n ora ng ber get ar mem and ang ben da -ben da yan g beg itu sed erh ana dan tak ber nya wa itu .” 24 Jar ak ant ara gen era si tua dan mud a Boo boo sem aki n men jur ang . Pen gga mba ran pes imi sti s ten tan g Boo boo , men and ai per uba han sik ap Von eng ut: dar i bag ian pub lik pen ikm at tel evi si men jad i seo ran g yan g men ola k tel evi si bis a mem ber ika n man faa t. Sik ap yan g sam a den gan Kob o Abé ket ika men gas ing kan dir i dar i fas hio n. Kur t men ola k unt uk men yam aka n dir i den gan gen era si mud a Boo boo , sam bil tet ap
22

Ibid., op. cit. Dalam penggambaran ini, “otomatisme” dan “sirkuit-sirkuit” adalah suatu program yang sudah ada secara “alami” sebagai bagian dari kemampuan generasi Booboo. Ketimbang “biologis”, penggambaran ini lebih mencerminkan karakter “teknologis”. Watak “teknik-teknik” sudah ada dan menjadi bagian dari watak pendidikan konservatif. 23 Ibid., op. cit., hal. 20-21.
24

Ibid., hal. 21

14

men gen ang ind ahn ya mas a-mas a awa l ket ika tel evi si mun cul seb aga i kea jai ban mat a. Seb uah pen ola kan yan g rag u -rag u sek ali gus kab ur, ket aku tan aka n keh ila nga n pem aha man pad a “bu day a lam a”, nam un tak ut ter asi ng jug a dar i gen era si mud a. Ket aku tan ini buk an sek ada r ang an-aga n, melai nka n mun cul dal am ber bag ai pub lik asi yan g

dij ust ifi kas i jaj ak pen dap at dar i pub lik . Seb uah sur vey di Ame rik a pad a akh ir tah un 199 9 men unj ukk an

ana k-ana k (us ia 7-10 tah un) ada lah kel omp ok yan g ant usi as dan nya man ter had ap kom put er dib and ing ora ng dew asa .25 Dil apo rka n jug a, bah wa 85% ana k-ana k men gik uti ter us per kem ban gan kom put er, dan han ya 14% yan g mer asa ter tin gga l. Kon tra sny a, 49% ora ng dew asa mer asa men gik uti dan 49% men gat aka n den gan bah wa ora ng mer eka ket ing gal an pen get ahu an. leb ih

Dib and ing kan

dew asa

(38 %),

ana k-ana k (56 %)

mem per cay ai inf orm asi dar i int ern et. Sur vey ini men gga mba rka n ana kana k ial ah kel omp ok yan g pal ing dek at den gan tek nol ogi bar u ket imb ang ora ng dew asa , kar ena ora ng dew asa leb ih ban yak dip enu hi ras a was -was aka n pen gar uh neg ati f da ri tek nol ogi . 26 Mel eng kap i dat a ini , dip erk ira kan

25

Marcus D. Rosenbaum (National Public Radio), Drew Altman (Kaiser Family Foundation) serta koleganya dari Harvard’s Kennedy School of Government dalam press released hasil survey yang berjudul Survey Shows Widespread Enthusiasm for High Technology (29 February 2000). Pengambilan data pada survey ini dilakukan dua tahap; melalui wawancara via telepon selama bulan November dan Desember 1999 di seluruh negara bagian Amerika Serikat. Populasi pada survey pertama adalah orang dewasa berusia di bawah 60 tahun sebanyak 1.506 orang (sampling error +/-3%). Sedangkan pada survey kedua tercatat 625 anak-anak (10-17 tahun) diwawancarai (sampling error +/-5%). 26 Menurut Hofsteede (1994: hal 72-80), pada desa di Indonesia masuknya televisi sejak tahun 1975 membawa pengaruh yang besar bagi anak-anak maupun orang dewasa. Dari laporannya, anak-anak mengalami perubahan kultural mendasar akibat televisi: “Akibat lain daripada masuknya televisi di pedesaan adalah banyaknya anak-anak yang meninggalkan pelajaran mengaji [...] sebagian anak-anak juga mengikuti acara-acara pertunjukkan televisi sampai larut malam yang menyebabkan mereka tidak lagi mempunyai waktu untuk belajar atau mengerjalan pekerjaan rumah.” Sedangkan pada orang dewasa, perubahan tidak terlalu mendasar. Walaupun masuknya televisi ke desa menambah sumber informasi baru, namun

15

3,8 jut a ana k-ana k di Ame rik a men dap atk an aks es ke web . 27 Kea daa n ini men yeb abk an tek nol ogi men jad i bag ian yan g tak ter pis ahk an dar i

kes eha ria n ana k-ana k, kal au tid ak mau dik ata kan men gua sai sec ara sep enu hny a. Sek ali gus mem ber i kes an kes enj ang an den gan ora ng dew asa yan g dik ata kan kur ang men gad ops i tek nol ogi inf orm asi seb aga i bag ian kes eha ria nny a. Seb aga i con toh , dal am pen eli tia n lai n yan g mel iba tka n 3.0 00 ana k usi a 2-18 tah un seb aga i sub yek , men gun gka pka n 64% ana kana k men gha bis kan wak tun ya leb ih dar i sat u jam unt uk men ont on tel evi si. 28 Unt uk per ban din gan leb ih det il, lih at tab el di baw ah.

TABEL 1.1 Proporsi kegiatan interaksi seorang anak dengan teknologi informasi dalam sehari

Menonton TV Membaca untuk hiburan Mendengar CD atau tape Mendengar radio Menggunakan komputer untuk hiburan Bermain video game Internet (Online) Bermain game komputer

64% 20% 19% 17% 9% 8% 3% 2%

sumber informasi secara langsung face to face masih menduduki peringkat teratas (59, 46%), sedangkan media massa menduduki posisi di bawahnya (40, 5 %). 27 Kathryn Montgomery, Children in the Digital Age, dalam sebuah artikel tak bertahun, Online document: http://www.prospect.org/print/V7/27/montgomery-k.html). Bagi Montgomery, anak-anak adalah figur yang akan segera berkembang menjadi dewasa pada masa mendatang dan mempengaruhi keadaan masa depan dibandingkan dengan orang dewasa yang akan segera mendekati usia senja.
28

Donalds F. Roberts, Ph.D., Ulla G. Foehr, Victoria J. Rideout, Mollyann Brodie, Ph.D., Kids& Media, @ the new millenium (A Kaiser Family Foundation Report, November 1999), hal. 9.

16

Sem ent ara seb any ak 36% ana k-ana k men gha bis kan wak tun ya sat u jam ata u kur ang dal am seh ari unt uk men ont on tel evi si. Sed ang kan yan g men ont on tel evi si sel ama sat u hin gga tig a jam dal am seh ari te rca tat sej uml ah 31% , tig a hingg a lim a jam seh ari seb any ak 16% , dan 17% unt uk men ont on tel evi si leb ih dar i lim a jam dal am seh ari ! 29 Det ail dat a di ata s tid ak sek ada r ber bic ara ten tan g dom ina si tel evi si dal am jad wal har ian dan ked eka tan ber leb iha n ana k-ana k ter had ap tek nol ogi , tet api jug a men yin ggu ng per soa lan leb ih men dal am, yai tu; kri sis ide nti tas , kri sis pen gal ama n bat in, kri sis bud aya yan g jug a men jad i anc ama n eks ist ens i seb uah keb uda yaa n sep ert i yan g dir asa kan Kur t Von neg ut. 30 Did uga kem udi an kea daa n in i mem anc ing lah irn ya sua tu ben tuk “bu day a bar u” : “Ma ka buk an tid ak mun gki n, ana k-ana k kita aka n sem aki n ter per ang kap pad a ben tuk kem aju an per ada ban yan g sal ah dii nte rpr eta sik an” 31. “Pe rad aba n sal ah taf sir ” ter seb ut dii den tif ika sik an ole h Mur sit o B.M . seb ag ai “bu day a pop ”. Bag i Mur sit o B.M ., 32 bud aya pop tid ak lai n sam a den gan hib ura n yan g tid ak mem ili ki nil ai ser ius . Dia men eta pka n bah wa bai k hib ura n, ata upu n bud aya pop , not abe ne mer upa kan “id eol ogi ” uta ma bag i

ind ust ri tel evi si. Ali h-ali h, Mur sit o men gan gga p bud aya pop seb aga i mod el keb uda yaa n yan g sif atn ya rin gan , ses aat , gam pan g dit eri ma ole h
29 30

Ibid., loc. cit.

Preli Oktosari, Menyoal Film Kekerasan Di Televisi, Harian Suara Karya, Sabtu, 18 April 1998, hal. v, kol. 3-8. Menurut Preli, hasil penelitian PMB LIPI pada Oktober 1996 menyebutkan bahwa rata-rata anak-anak/remaja mampu menghabiskan waktu sekitar 23 jam per minggu di depan televisi. 31 Ibid., loc. cit.
32

Mursito B.M., Budaya Televisi dan Determinisme Simbolik (Universitas Sebelas Maret, online document: http://psi.ut.ac.id/Jurnal/81mursito.htm).

17

mas yar aka t dan tid ak dib utu hka n seb uah kem amp uan kog nis i den gan dis ipl in ter ten tu unt uk men yer ap pes an-pes an yan g dib awa kan .33 Ali as, dal am kac ama ta ini , bud aya pop adala h pol a-pol a tin gka hla ku yan g sif atn ya mem ass al dan tid ak mem ili ki kec erd asa n ind ivi dua l: 34

“Dibandingkan dengan “kebudayaan tinggi” yang telah mapan,

kebudayaan pop lebih menekankan pada kemampuannya untuk mengkomunikasikan produk-produk dan segala aktivitasnya dibandingkan penilaian dan penghargaan kualitas. Ia lebih menyukai penghargaan pasar ketimbang penghargaan dari kritisi seni. Lebih menyukai memilih estetika persepsi daripada estetika kreasi. Kata 35 lainnya, ia lahir atas pesanan pasar.”

Den gan

mel eta kka n bud aya

pop

seb aga i opo sis i dar i seb uah

“ke bud aya an tin ggi ”, sec ara imp lis it, bud aya pop dia ngg ap seb aga i “ke bud aya an ren dah ”, seb aga i opo sis i dar i “bu day a kua lit as” , yai tu “bu day a kua nti tas ”. Bud aya yan g leb ih mem ent ing kan jum lah dar ipa da isi : “jej adi an” kap ita lis me. “Ke bud aya an tingg i” jug a had ir pad a tul isa n Her ber t Mar cus e 36 dal am ist ila h hig her cul tur e, di seb era ngn ya did udu ki bud aya “la in” , yan g lah ir dar i kem aju an ras ion ali tas tek nol ogi .

Ked uan ya ole h Mar cus e dig amb ark an seb aga i “in teg ras i yang sam a dal am

33

Hal ini didukung oleh fakta sebuah survei yang dilakukan oleh Harian Kompas terhadap 900 responden orang dewasa yang memiliki anak berusia 6-12 tahun dan 900 anak pada kelompok tersebut selama bulan Juli 1997 di lima kota Indonesia; Jakarta, Yogyakarta, Ujungpandang, Bukittinggi dan Madiun. Dalam survei tersebut menunjukkan bahwa acara televisi menjadi bahan obrolan sebanyak 77% anak bersama temannya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 86, 9% lebih suka membicarakan kelucuan atau serunya acara yang ditayangkan televisi daripada topik-topik lainnya (Kompas, 26 Agustus 1997, hal. 1&5, kol. 6-9 & 1-9). 34 Bandingkan kritik ini dengan serangan dari Neil Postman kepada budaya populer dalam bukunya, Menghibur Diri Sampai Mati. Mewaspadai media televisi (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995). Postman berpandangan bahwa tiap media yang berbeda akan mengakibatkan perubahan struktur budaya. Postman yakin bahwa dibandingkan budaya cetak-tulis, budaya gambar yang dibawa televisi merupakan dekadensi dalam intelijensi masyarakatnya (Ibid., op. cit., hal. 28-41) 35 Ibid 31., loc. cit.
36

Herbert Marcuse, Manusia Satu-Dimensi, Penerjemah Silverster G. Sukur dan Yusup Priyasudiarja (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, Desember 2000).

18

bid ang bud aya ”, ado psi hig her cul tur e ke dal am sat u str ukt ur ber sam a yan g dir ang kum ole h kem amp uan ras ion al tek nol ogi . Bed a den gan Mur sit o yan g mem bua t gar is teg as, Mar cus e

men gan gga p bud aya pop tid ak ben ar -ben ar ber opo sis i ter had ap hig her cul tur e. Ant ago nis me ant ara dua dim ens i yan g kel iha tan nya

ber ten tan gan ant ara hig her cul tur e dan “bu day a tek nol ogi s” dic air kan mel alu i pen gga bun gan dal am sat u tat ana n nil ai map an. Has iln ya ada lah bud aya lay ak jua l: “Ji ka kom uni kas i mas sa ber gab ung men jad i sat u sec ara ser asi , dan ser ing sec ara tak ken tara, sen i, pol iti k, aga ma dan fil saf at den gan ikl an, mer eka mem baw a bid ang -bid ang bud aya ini

kep ada den omi nat or mer eka yan g sam a—ben tuk kom odi tas .” 37 Mar cus e, wal aup un sec ara sam ar-sam ar men gan ut dik oto mi ant ara bud aya yan g

tek nol ogi s dan

bud aya

eks klu sif , men gak ui ada nya

kek uat an

men gik at sis i ber bed a itu dal am sat u “ik ata n”. For mul asi ini kem udi an dik ena l seb aga i bud aya mas sal , seb uah usaha mer ang kul sem ua wuj ud kul tur al dal am for mat bar u:

“Ketika kata-kata besar kebebasan dan pemenuhan dengan lantang

dipekikkan oleh para pemimpin dan politisi yang sedang berkampanye, pada layar kaca dan radio-radio dan panggung-panggung, mereka berubah menjadi suara-suara yang tanpa makna yang mendapat makna hanya dalam konteks propaganda, bisnis, disiplin, dan relaksasi. Asimilasi dari yang ideal ini dengan realitas menegaskan tingkat sejauh mana yang ideal telah dilampaui. Ia telah diturunkan dari alam jiwa atau roh atau manusia batin yang mahaluhur, dan diterjemahkan ke dalam istilah-istilah yang operasional. Di sinilah terdapat elemen38 elemen progresif dari budaya massa.”

37 38

Ibid., op. cit., hal. 86 Ibid., op. cit., hal. 86-87.

19

Sin tes is ini dit emu kan dal am “la yar kac a”, “ra dio -rad io” dan “pa ngg ung pan ggu ng” , di man a ant ago nis me ant ara “bu day a” dan “re ali tas sos ial ” did ama ika n mel alui kes ada ran bar u yan g dig ena pka n sec ara tek nol ogi s mel alu i reu nif ika si dal am dim ens i baru .39 Bai k Mar cus e, Mur sit o mau pun Kur t Von neg ut mas ing -mas ing men emu i sat u tit ik yan g sam a. Mel alu i kis ah pla net Boo boo , Von neg ut men gkh awa tir kan len yap nya kem amp uan ber ima jin asi gen era si mud a dan ket imp ang an pem aha man ant ara dua gen era si yan g dis eba bka n ole h tel evi si. Sed ang kan Mur sit o leb ih mel iha t bud aya pop seb aga i kon tra dik si dar i seb uah bud aya lai n yan g leb ih luh ur, mer upa kan “ag en” dar i tek nol ogi sep ert i tel evi si. Dan aga k ber bed a den gan lai n, Mar cus e men emu kan sin tes a per bed aan ant ara “hi ghe r cul tur e” den gan “bu day a mas sa” ket ika ked uan ya ber sen yaw a dal am tek nol ogi lay ar. Dar i ber aga m pen dap at ini , ked udu kan lay ar dal am bud aya pop men jad i tul ang pun ggu ng uta ma dar i kec end eru nga n mas sal yan g dis ebu t bud aya pop . Bag i Mur sit o, bud aya pop lah ir tid ak lai n kar ena ada nya bas is tek nol ogi tel evi si, unt uk Mar cus e, “bu day a mas sa” tid ak lai n ada lah ben tuk bar u dar i pen gon tro lan sos ial mel alu i tek nol ogi , dan Nim nim di pla net Boo boo mem bua t tel evi si dan per ala tan ele ktr oni s lai nny a yan g mer usa k kem amp uan ber ima jin asi kau m mud a. Pad a umu mny a, pen dap at-pen dap at ini ses uai den gan pah am bah wa tek nol ogi ada lah bas is mat eri al bag i per uba han kul tur al, yan g men gac u pad a ang gap an bahwa set iap per iod e kul tur al ber bed a mem ili ki var ian tek nol ogi

39

Ibid., hal. 85.

20

ber bed a pul a.

Sal ah

sat u con toh nya

adala h emp at

tah ap

evo lus i

per kem ban gan tek nol ogi med ia kom uni kas i mas sa ber iku t ini . 40 Tah ap per tam a dim ula i pad a per ten gah an 160 0-an, yai tu ket ika tek s ata u tulis an dik ena l dan dis eba rka n sec ara lua s, hal ini mer uba h ben tuk sos ial dar i “ke gel apa n” tul isa n men uju kom uni tas fil oso fis ala Boy le. Tah ap ked ua, ada lah ket ika lis tri k dim anf aat kan seb aga i sar ana kom uni kas i, ber sam aan den gan itu med ia mun cul dal am for mat hib ura n, yaitu dar i per ten gah an Aba d 19 hin gga awa l Aba d 20. Gel omb ang ket iga mul ai dar i mun cul nya tek nol ogi inf orm asi pad a sek ita r tah un 196 0-an 41. Gel omb ang emp at yan g dim ula i pad a dek ade 198 0-an hin gga kin i mas ih mer aba -rab a ke man a ara h vir tua l rea lit y dan cyb ers pac e aka n mer uba h ben tuk sos ial kit a. 42 Dek ade 196 0-an yan g dia ngk at seb aga i tit ik tol ak per kem ban gan tek nol ogi inf orm asi 43 ber jal an sei rin g den gan ger aka n bud aya tan din gan

40

Allucquère Rosanne Stone, Will the Real Body Please Stand Up?, pertama kali dipublikasikan dalam sebuah antologi yang berjudul Cyberspace; First Steps, ed. Michael Benedikt, (Cambridge: MIT Press, 1991, hal. 81-118). Menurut Roger Fidler (2003: hal.166), 77 juta anak di Amerika yang dilahirkan antara tahun 1946 dan 1964 merupakan “generasi televisi yang pertama”: “Bagi mereka yang dijuluki baby boomer, pesawat TV segera menjadi penghibur, pengasuh, guru dan kawan mereka. Kalau radio menyampaikan suara-suara dunia dengan seketika kepada telinga dan imajinasi generasi sebelumnya, maka TV membawa gambar-gambar homogen yang mendefinisikan rasa realitas dan jati diri generasi ini.” Dengan demikian garis embarkasi lahirnya suatu generasi, walaupun sangat kabur secara batasnya, bisa ditandai melalui perbedaan tipe teknologi dan model komunikasi yang muncul dan berpengaruh pada masanya. Kendati demikian, klasifikasi semacam ini tidak bermasalah, namun secara garis besar dapat digunakan untuk menyelidiki sejauh mana pola kultural berbeda juga muncul dari perubahan tersebut. Ibid 40., loc. cit. Sejak tahun 1948, teknologi televisi mulai dijadikan konsumsi publik luas, terutama di Amerika. Tahun 1953, TV berwarna standar diperkenalkan kepada publik Amerika Serikat. Bersamaan dengan itu di tahun 1951, Mauchly dan Eckert berhasil membuat UNIVAC, komputer komersial yang pertama (TIME 100, 29/3, 1999). Dari data ini, kita mengetahui bahwa sejak berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945 terjadi suatu ledakan baru penggunaan teknologi informasi oleh masyarakat luas (walaupun untuk komputer masih terbatas pada pengusaha, pemerintah dan militer saja). Bersamaan dengan itu, di Amerika dan negara Eropa lainnya (tempat ledakan teknologi massa terjadi) muncul suatu gerakan kultural baru. Gerakan itu semakin memuncak di pertengahan tahun 1960. T. Wolfe dalam The Me Decade and The Third Great Awakening menggambarkan gerakan kultural baru itu

41

42 43

21

(cou nte r-cul tur e) ter had ap mas yar aka t bud aya “la ma” yan g diang gap leb ih “map an” . Mod el ger aka n bud aya mul ai ber sem i dan dis aks ika n ole h Her ber t Mar cus e pad a 196 8. Nam un, Mar cus e leb ih sib uk

mem per mas ala han tek nol ogi dan eks es eti sny a, seh ing ga lup a pad a wuj ud -wuj ud pal ing kon kre t. Ala san ini men ega ska n pen tin gny a mel iha t bag aimana wuj ud kul tur al “ba ru” mun cul tid ak sek eda r mel alu i

pen afs ira n sep int as dan ban yak dip eng aru hi bia s per bed aan ge ner asi . Per lu unt uk mel iha t ger aka n kul tur al mel alu i pem aha man yan g dib ang un ole h “ag en-age n per uba han ” itu sen dir i. 44 Kit a kem bal i pad a pem ba has an sek ita r tah un 196 0-an, mas a res tor asi pas ca Per ang dun ia II, yai tu saa t di man a “pu bli k dun ia” mul ai men gen tal dal am usa ha -usa ha “me nja ga per dam aia n dun ia. ” Kit a mul ai den gan per jal ana n Soe Hok Gie 45 dal am law ata nny a di sej uml ah uni ver sit as Ame rik a Ser ika t pad a tah un 196 8. Saa t itu isu per ang vie tna m dan anc ama n per ang nuk lir mel and a Ame rik a. Di sel asel a aca ra yan g pad at, Soe sem pat ber jal an -jal an di Sal em, ket ika

sebagai: “We are now in the Me Decade--seeing the upward roll (and not yet the crest, by any-means) of the third great religious wave in American history, one that historians will very likely term the Third Great Awakening. Like the others it has begun in a flood of ecstasy, achieved through LSD and other psychedelics, orgy, dancing (the New Sufi and the Hare Krisha), meditation, and psychic frenzy (the marathon encounter).” (online document http://www.warwick.ac.uk/fac/arts/History/teaching/sem17/medec.html, tahun tidak tercantum). Amerika era 60-an adalah periode di mana munculnya budaya campu aduk.
44

Dalam banyak segi, dalam sebuah “perubahan”, yang disebut sebagai “agen” tidak lebih dari hanya pihak yang berdiri di suatu sudut dan merasa dirinya ikut dalam sebuah gelombang perubahan massal. Perasaan bahwa “ikut dalam perubahan” tidak lain hanya sebuah keikutsertaan dalam sebuah skenarion raksasa yang tidak jelas asal maupun arahnya. Mahasiswa Universitas Indonesia Angkatan 66, anggota KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan tokoh pergerakan perubahan politik di Indonesia selama 1965-1966. Catatan yang dikutip berasal dari catatan hariannya yang dibukukan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (Jakarta: PT. Pustaka LP3ES Indonesia, 1983), hal. 227-272.

45

22

mel ewa ti tok o mil ik Hip pie s46 dek at Uni ver sit as Wil lam ate , dia ber hen ti unt uk men catat isi seb uah pos ter sep ert i di baw ah ini ;

Reward, For information to the apphrenhension of Jesus Christ Wanted for seduction, criminal, anarchy, vagrancy, and conspiring to overthrow the established government. Dressed poorly, said to be a carpenter by trade, ill nourished, has visionary idea, associated with bums, allien, believed to be a Jew, Prince of Peace, Son of Man, light of the world. Professional agitator, red beard, marks of wound, and felt the result of injuries inflicted by an angry mob of 47 respectable citizen and legal authorities.

Tid ak dik eta hui apa yan g men ari k bag i Soe , nam un isi pos ter itu mem bua tny a ber hen ti dan mem bac any a. Bar ang kal i kar ena men yan gku t sos ok yan g san gat ber pen gar uh dal am “Ba rat ”, Yes us Kri stu s. Ata u jug a, sos ok lai n yan g sec ara sam ar ber dir i di bal ik sem uan ya, yai tu kau m Hip pie s —“pe nci pta ” pos ter ini . Ter uta ma, ked ua sos ok dal am pos ter ini had ir “se jaj ar” mel alu i des kri psi ter sel ubu ng. Yan g per tam a, sos ok Yes us dik ara kte rka n mir ip den gan kau m Hip pie s. Yes us ber pakai an “b uru k” dan “an eh” men yer upa i seo ran g

46

Hippies adalah gaya hidup yang banyak mendominasi generasi muda Amerika dan Eropa pada dasawarsa 1960 dan 1970. Muncul sebagai protes terhadap Perang Dingin yang terjadi sesaat setelah PD II berakhir. Masyarakat Eropa saat itu dihantui oleh kemungkinan terjadinya Perang Dunia yang lain. Menurut T Wolf, “Meanwhile, ordinary people in America were breaking off from conventional society, from family, neighborhood, and community, and creating worlds of their own. This had no parallel in history, certainly considering the scale of it. The hippies were merely the most flamboyant example. The New Left students of the late 1960's were another.” (Ibid 43., loc .cit.). Ibid 45., op. cit., hal. 241-242. Poster ini juga dikutip dalam sebuah artikel Soe Hok Gie, Agama dalam Tantangan, dalam kumpulan artikel berjudul Zaman Peralihan, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, cet keempat, 1999), hal. 203-204. Artikel serupa juga pernah dimuat dalam harian Sinar Harapan, 2 Februari 1969.

47

23

Hip pie s 48. Des kri psi Yes us ini ber bal ika n den gan ima ji res mi rel iji us; dig amb ark an ber jub ah dan ber jen ggo t rap i, ber sih , ser ta ter awa t; ata u seb aga i raj a den gan mah kot a; dan , wal aup un dal am pos isi di sal ib sel alu tam pak agun g. Den gan men uru nka n der aja tny a dar i “su rga ” hin gga sej aja r den gan pos isi kau m Hip pie s, Yes us men jad i tam pak tid ak leb ih dar i seo ran g man usi a. Kar ena itu Yes us, lay akn ya Hip pie s, dib enc i kar ena sem era wut an dar i pen amp ila nny a. Bai k Yes us mau pun Hip pie dari kac ama ta ini , han ya dik ena l seb aga i pih ak yan g sub ver sif ata u

ber seb era nga n den gan kek uas aan ked aul ata n sip il dan pem eri nta h. Pad a pen gga mba ran ked ua, res pec tab le cit ize n dan leg al

aut hor iti es seb aga i pih ak yan g jug a ber seb era nga n den gan kau m Hip pie s menj adi mar ah dan men ger oyo k “Sa ng Jur u Sel ama t” hin gga ter luk a. Yes us seb aga i pus at aga ma Kri ste n jus tru men jad i “bu ron an” bag i res pec tab le cit ize n dan leg al aut hor iti es, dal am kas us ini yan g dim aks ud buk an han ya ora ng Rom awi dan kau m Far isi . Kar ena , kau m Hip pie s yan g mem bua t pos ter ini sek ali lag i mel eta kka n pos isi nya sej aja r den gan Yes us, yai tu seb aga i kon tra dar i res pec tab le cit ize n dan leg al

aut hor iti es. Ini mer upa kan pen ega san kes eja jar an ant ara dua tok oh ini . Ked uan ya buk an han ya mem ili ki kar akt er tam pan g fis ik yan g sama, tap i

48

Soe Hok Gie, dalam artikelnya Hippies, Peace & Love, menggambarkan penampilan Hippies dalam narasi sebagai berikut: “Mereka mencoba menemukan dirinya dengan menolak nilainilai masyarakat yang menjerat manusia. Mereka tak peduli dengan norma-norma masyarakat tentang pakaian. Mereka berpakaian seperti yang mereka sukai. Kadang-kadang tambalan, kadang-kadang jorok, kadang-kadang artistik sekali dengan warna-warna yang kontras menyolok.” (Ibid 47, op. cit., hal. 219).

24

ber ada dal am sat u pih ak seb aga i kau m ter sin gki r dar i res pec tab le cit ize n dan leg al aut hor iti es 49. Jik a dul u Yes us ber had apa n den gan ora ng Yah udi kol ot dan Rom awi , kau m Hip pie s ber opo sis i pad a warga mas yar aka t fan atik dan pem eri nt aha n yan g gil a per ang . Den gan dem iki an pos ter ini buk an lag i per omb akk an sim bol -sim bol aga ma yang dip uja ole h pub lik ,

pen gum uma n ini ter ang -ter ang an men ant ang kek uas aan pem eri nta han dan leg iti mas i pub lik yan g men duk ung nya . aut hor iti es Den gan seb aga i men ega ska n pih ak yan g

res pec tab le

cit ize n

dan

leg al

ber ten tan gan den gan Yes us (=H ipp ies ), pos ter ini men jel ma men jad i seb uah pro vok asi unt uk mey aki nka n pih ak lua s pos isi kau m Hip pie s seb aga i law an dar i tat ana n mas yar aka t yan g ber dir i seb elu mny a 50. Kon sek uen sin ya, ket ika Yes us sej aja r den gan Hip pie s, Hip pie s men emp atk an dir iny a pad a pos isi set ara den gan Kri stu s seb aga i “ju ru sel ama t”. Yes us (=H ipp ies ) bar u yan g ber pen amp ila n kum al dan jor ok,
49

Bandingkan metafora ini dengan pembahasan Robert N. Bellah tetang civil religion di Amerika. Di mana George Washington disamakan dengan Moses dan Abraham Lincoln disejajarkan dengan Yesus Kristus, sedangkan Perayaan Thanksgiving Day dan Independence Day menjadi hari suci bagi warga Amerika . Analisa lengkap bisa diikuti di Robert N Bellah, Agama Sipil di Amerika, diterjemahkan dalam buku Menggugat Pendidikan; Fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis, disunting dan diterjemahkan oleh Omi Intan Naomi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999) Model kritikan kepada budaya mapan seperti ini sebenarnya bukan hanya dominasi dari kaum Hippies. Dr. Timothy Leary, seorang psychedelics yang disebut Presiden Nixon sebagai The Most Dangerous Man in America, membuat pernyataan yang jauh lebih sarkastik diberi judul The Declaration of Evolution. Dalam tulisan ini dia menyebut: “These old, white rulers have maintained a continuous war against other species of life, enslaving and destroying at whim fowl, fish, animals and spreading a lethal carpet of concrete and metal over the soft body of earth. They have maintained as well a continual state of war among themselves and against the colored races, the freedom-loving, the gentle, the young. Genocide is their habit ...“ Sedangkan untuk menggambarkan sifat-sifat dari ‘budaya mapan’ ini, Leary mengatakan: “They are bores. They hate beauty. They hate sex. They hate life.” Atau dengan kata lain, Leary memproklamirkan sebuah budaya baru yang lebih mencintai kehidupan, penuh gairah dan lebih bebas untuk mencari kebahagiaan.

50

25

sek ali gus “Pa nge ran Per dam aia n” (Pri nce of Pea ce), “An ak Man usi a” (Son of Man ) dan “Ca hay a bag i Dun ia” (lig ht of the wor ld). Pad a pem aha man ini , Hip pie s men jal ank an per an yan g ses uai den gan

pen gga mba ran ; seb aga i pec int a per dam aia n, keb ers ama an dan kes atu an dun ia. Nad a ser upa dap at dit emu kan dal am sal ah sat u lag u cip taa n Joh n Len non 51 ber jud ul Ima gin e . Pad a sal ah sat u bai t lag u hym ne waj ib kau m Hip pie s sed uni a ini , ter dap at cit a-cita kau m Hip pie s yan g dig amb ark an seb aga i ber iku t;

//Imagine no possessions/ I wonder if you can/ No need for greed or hunger/A brotherhood of man/Imagine all the people/Sharing all the world y-huh //You may say I’m a dreamer/but I”m not the only one/I 52 hope someday you will join us/ and the word will live as one///

Sep ert i Yes us, Joh n Len non dan Hip pie s men jad i “pa nge ran ” yan g mem iha k per dam aia n den gan meny eru kan “pe rsa uda raa n uma t

man usi a”. Seb aga ima na Yes us men gaj ak man usi a men jau hi jiw a ser aka h, mer eka jug a men gaj ak sel uru h uma t man usi a men uju dun ia bar u yan g

51

Salah seorang kelompok musik asal Inggris yaitu The Beatles. The Beatles adalah pelopor musik era tahun 1960-an yang dikenal memiliki ideologi sosial dan politik anti kemapanan. Dengan menggunakan musik rock, The Beatles menuntut kehidupan muda yang lebih bebas, yang membolehkan mereka bereksperimen dengan narkoba, dan seks bebas, yang tercakup dalam ideologi Summer of Love tahun 1967 (pandangan yang sangat berpengaruh pada kaum Hippies dan sejumlah grup musik rock lainnya seperti The Rolling Stone, Pink Floyd dll.). Lennon juga adalah pemusik pertama yang memasukkan isu pelestarian lingkungan hidup dan kesetaraan gender melalui lagunya yang berjudul Across The Universe dan Woman is The Nigger Of The World. John Lennon pernah mengatakan bahwa Yesus Kristus kalah populer dibanding dengan The Beatles. Dalam sebuah artikel berjudul F&N Strawberry Soda Pop (Harian Kompas, Senin, 29/4/2002), hal. 37. Lagu ini pertama kali dikenal publik ketika dirilis pertama kali pada tahun 1971 dalam album singel John Lennon. Versi teks lagu ini berasal dari J. S. Arkenberg, Dept. of History, Cal. State Fullerton. Teks ini telah mengalami editing oleh Arkenberg. Data ini ada pada website Internet Modern History Sourcebook <http://www.fordham.edu/hal sall/mod/modsbook.html>

52

26

beb as dar i pen der ita an. Dan Akh irn ya, seb aga i “te ran g dun ia” kau m Hip pie s men ubu atk an “du nia yang sat u” dan beb as dar i pen der ita an. Pos isi kau m Hip pie s seb aga i “bu ron ” mas yar aka t map an sek ali gus seb aga i “te ran g dun ia” yan g men yat uka n dun ia, sal ing ber kon tra dik si. Seb aga i “bu ron ”, Hip pie s ada lah kon tra dar i tat ana n mas yar aka t yan g ada . Seb ali kny a, hip pie s yan g “te ran g dun ia” buk an pen ent ang

mas yar aka t map an, nam un ada lah “ma rti r” yan g men yat uka n dun ia. Seh ing ga Hip pie s ber per an par ado ksa l, seb aga i “mu suh ” pub lik sek ali gus seb aga i Mes iah yan g mer ang kul mas sa pub lik seb aga i sat u kes atu an 53. Leb ih men arik lag i, per an par ado ks ini tid ak mem bat alk an kea daan sat u den gan lai nny a. Seb ali kny a dua per an yan g ber law ana n ini ber jal an sei rin g sep ert i jal ur baj a pad a rel ker eta api 54 . Per ana n Hip pie s mul ai sur ut pad a akh ir 70 -an, ket ika Hip pie s buk an lag i sua tu kel omp ok den gan tuj uan eks klu sif , nam un kel omp ok den gan imp ian dan tuj uan “mu lia ” yan g dip erj ual bel ika n seb aga i

kom odi tas . Kau m bis nis men gin car keu ntu nga n mel alu i ber bag ai per nik -

53

Pendapat ini didasarkan pada pendapat Soe Hok Gie dalam Agama dalam Tantangan (Ibid 47., op. cit., hal. 203-208) yang menyebutkan bahwa bukan hanya Hippies, sebagai pelopor, yang menyatakan kekecewaannya pada suatu bentuk agama konservatif. Pergolakan juga terjadi dalam tubuh-tubuh agama itu sendiri. Gereja Katholik dibanjir oleh gelombang protes yang menentang keputusan Paus yang melarang aborsi dan penggunaan alat kontrasepsi. Pastor-pastor ikut demostrasi sambil duduk di lobi hotel, bermain gitar dan bernyanyi. Hal yang sama juga menerpa kelompok Kristen, di mana terpaksa mengadopsi dan menyesuaikan pola-pola budaya populer baru dalam misa-misanya agar dapat bertahan. Hippies membutuhkan simbol-simbol relijius untuk mendekati warga pada umumnya, begitu juga warga umum memanfaatkan ideologi Hippies untuk melepaskan diri dari kekangan yang terlalu ketat dari agama dan tuntutan pekerjaan berat. Masyarakat populer mulai terbentuk dalam dikotomi permiabel antara kehidupan yang saklar dan serius di kantor dan tembat ibadah, dengan suasana hiburan di depan layar TV, bioskop, internet, dengan ditemani oleh mariyuana dan LSD. Untuk persoalan ini, pendapat Herbert Marcuse di atas sangat sesuai untuk menjelaskan keadaan peran paradoksal dari kaum Hippies.

54

27

per nik aks eso ris ber bau Hip pie s 55. Hip pie s men jad i bag ian dar i pan gs a pas ar, tid ak ber bed a den gan rum ah tan gga , pen gus aha , peg awa i

kan tor an dan seb aga iny a56. Nam un, cit a -cit a Hip pie s tel ah mel eta kka n pon das i unt uk bag i ben tuk kul tur al bar u, seb aga i bag ian dar i

kec end eru nga n bud aya pop . Di sin i, bud aya pop buk an sek eda r wad ah bis nis , namun jug a bar u”; mem ili ki yan g nil ai -nil ai leb ih yan g diu ngg ulk an seb aga i dan

“ke man usi aan

“be bas ”,

“me nya tuk an”

mem ber ika n “ke bah agi aan ” sep ert i yan g per nah dic ita -citak an ole h Hip pie s. Cit a-cit a, ini dia wet kan mel alu i ser ang kai an mod ifi kas i-

mod ifi kas i bar u mem ber iny a nil ai pro duk tif sec ara erk ono mis sek ali gus tet ap men gan dal kan ide ali sme fre e lov e-nya gen era si 196 0 -an seb aga i kek uat an ide olo gis sek ali gus ala t pem asa ran yan g efe kti f. Sis i

kon tra dik tif ini lah , di man a nil ai -nil ai pem ber ont aka n dil and asi sim b olsim bol keb eba san , keb aha gia an dan keb ers ama an ber sen yaw a den gan nil ai -nil ai eko nom is seb aga i kom odi tas , yang kem udi an dik ena li ole h

55

Ibid 43., op. cit., hal. 229: “Tapi setelah lama begitu lama kita sadar bahwa kita tidak berbahagia. Lalu generasi mudanya berontak, antara lain dengan Hippies. Mereka tak tahu apa yang mereka mau, tapi mereka tahu ada yang tidak baik. Tapi pemberontakan mereka (ribuan middle class younger generation) ini juga dikomersialkan dan dijadikan obyek propaganda, tourisme. Direktur filem-filem membuat filem dan lain-lainnya. Bahkan cita-cita kemerdekaan sekarang dikomersialkan dengan peace symbol yang dibuat di pabrik-pabrik.” 56 Dalam artikel Hippies, Peace & Love (Ibid 45, op. cit., hal. 221-222), Soe Hok Gie menulis dengan nada tak kurang sarkastiknya: “Betapa lucunya lencana perdamaian dan cinta diproduksi berjuta-juta buah. Mereka yang berontak dari masyrakat akhirnya menjadi obyek masyrakat mencari uang.” Kesimpulan ini muncul ketika dia berkunjung ke Sausalito di Francisco: “Keluar masuk ke toko-toko yang menjual barang-barang Hippies bersama orangorang lain yang juga berpiknik. Dalam hati saya berpikir ‘Mereka adalah orang-orang yang berontak terhadap masyarakat yang terlalu dikomersialkan. Tetapi akhirnya jadi korban komersialisasi...Biro-biro tourist mensponsori trip ke tempat-tempat Hippies, sebagai ‘binatang’ aneh yang patut dilihat...Mereka bicara tentang perdamaian dan cinta (peace and love) dan sekarang telah menjadi mode. Akhirnya timbul pabrik lencana dan poster perdamaian dan cinta.” Dan tentu gaya pakaian Hippies yang compang camping tidak lagi menjadi begitu aneh, namun menjadi bagian dari mode dunia fashion, seperti halnya celana jeans yang pada awalnya adalah simbol pemberontak mahasiswa Amerika terhadap perang Vietnam juga menjadi mode baru yang menentukan trend dunia.

28

Von neg ut, Mur sit o, sed ang kan Mar cus e men yeb utn ya seb aga i “bu day a mas sa tek nol ogi s”. Jik a men gik uti cit a-cita awa l yan g melan das iny a, tid ak dap at dib ena rka n ang gap an bah wa bud aya mas sa tek nol ogi s itu bud aya yan g sem pit , kua nti tat if, tid ak mem ili ki kua lit as sen i dan sif atn ya bis nis mel ulu . Seb ali kny a, ses uai den gan ide ali sme gen era si -gen era si

pem ber ont ak di era 196 0-an, bud aya pop mem ili ki nil ai -nil ai yan g kha s; “ke ber sam aan ”, “ke beb asa n” dan “ke bah agi aan ”. Nam un, tid ak ber art i pan dan gan pih ak yan g ber ang gap an bud aya mas sa tek nol ogi s mer upa kan pro yek bis nis kap ita lis me, gun a men jad ika n kem anu sia an seb aga i

kom odi tas keu ntu nga n dan ala t kon tro l sos ial iku t men jad i kel iru . Dal am bud aya mas sa tek nol ogi s, ked ua nil ai ter se but men dap atk an tem pat nya mas ing -mas ing , ber fun gsi ber sam a -sam a dal am sat u pol a mas sal . Dit ili k dar i sin i, bud aya pop tid ak dil iha t lag i seb aga i bud aya yan g ber dir i sen dir i dan terpi lah sec ara eks ak den gan “bu day a buk an pop ”. Pad a saa t ini , ham pir sem ua bud aya yan g ada tel ah dim ode rni sas ika n dan dir eko ntr uks i, kem udi an dis atu kan ke dal am bud aya pop . Dikot omi “bu day a pop ” dan “bu day a lok al” dal am hal ini tid ak ber lak u lag i.

3 . U n i v e rs a l i s as i l ay a r Men uru t Joh n Nai sbi tt (19 90) , bud aya yan g ber aka l pad a Nas ion ali sme lok al tid ak ber day a mem ben dun g sua tu aru s dom ina si glo bal isa si bud aya

29

yan g ban yak dim oto ri ole h tek nol ogi inf orm asi dan kap ita lis me glo bal . 57 “Ent ert ain men t thr oug h the med ium of lan gua ge and ima ge, cro sse s ove r the lin e of sup erfic ial exc han ge and ent er the dom ain of val ues ,” 58 ata u bag i Nai sbi tt, pen gar uh itu tel ah mer esa p dal am nil ai-nil ai pub lik . Ole h kar ena itu , pem bau ran sem aca m ini mem bua t kit a sul it untu k mem bed aka n ant ara “bu day a pop ” den gan “bu day a lok al” . 59 Mel alu i pem bau ran ini pul a, bud aya mas sa tek nol ogi s men gal ami pro ses uni ver sal isa si, bud aya pop had ir di man a-man a dan dap at dis era p ole h ber bag ai lap isa n dan pol a mas yar aka t yan g ada pad a ber ba gai bel aha n dun ia. Keb erh asi lan ini tid ak lep as dar i per ana n lay ar yan g had ir di set iap kot a dan pem uki man rum ah pri bad i unt uk men gha nga tka n kek elu arg aan . 60 Tid ak han ya ana k-ana k, sep ert i tel ah dis ing gun g di ata s, yan g mer asa kan ken ikmat an lay ar dal am ber ba gai per wuj uda nny a. Ora ng dew asa , yan g bia san ya men gel uhk an “ak iba t bur uk” ter hip not isn ya ana k57

John Naisbitt & Patricia Aburdene, Ten New Directions For the 1990’s. Megatrends 2000 (New York: Milliam Morrow and Company, Inc., 1990), Chapter 4, hal. 119-153. 58 Ibid., op. cit., hal. 139
59

Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa pada saat ini banyak “budaya lokal” yang mengalami kemasan ulang dalam bentuk “budaya pop” (Seperti Yoga, Meditasi, rokok dan lain-lain). Sebaliknya, “budaya pop” yang diterima sebagai budaya lokal juga cukup banyak. Sebagai contoh, banyak orang yang mengkritik pengaruh negatif “budaya pop”, tapi ternyata lebih suka memakai T-shirt, menonton acara sains ala Discovery Channel dan sekali-kali ikut menikmati musik pop. Tidak seperti sebuah bioskop yang menjadi bangunan sentral dalam sebuah kota (lihat catatan kaki no. 6), televisi lebih cenderung sebagai medium domestik dengan audiensnya yang tersusun sebagai keluarga (Wilson, 1993: 19 & 22; Miller, 1995: 283; Dalam Kris Budiman, Di depan Kotak Ajaib: Menonton Televisi Sebagai Praktik Konsumsi (Yogyakarta: Galang Press, 2002), hal. 29. Dalam kesempatan lain, televisi bukan lagi sekedar medium, seperti kata Garin Nugroho: “Televisi bagai anak pertama dalam keluarga, serba menjadi pusat perhatian” (Ibid., op. cit., hal. 35.). Namun, tidak berarti keluarga bisa dianggap sebagai “satuan” analisis. Kehadiran televisi dalam jalinan relasi dalam rumah, menunjukkan keberadaan “alami” bersama-sama sebagai bagian dari kesadaran individu di dalamnya. Dengan menonton televisi, individu dapat mempererat atau merenggangkan jalinan komunikasi antar individu dalam sebuah rumah (Ibid., hal. 130). Di luarnya, kehadiran televisi sebagai sebuah obyek netral dalam sebuah ruangan rumah merupakan titik fokus di mana semua penghuni rumah dapat berkumpul bersama (Ibid., hal 41-48). Karena itu, seringkali bukan keluarga secara keseluruhan yang mengaktifkan kerja layar, melainkan layar yang mengolah perhatian individu-individu dalam satu jalinan pola bersama.

60

30

ana k ole h lay ar, tid ak lai n ada lah pih ak yan g iku t ter lib at mem pro duk si, men ikm ati dan mem anf aat kan nya , wal aup un dal am kon tek s yan g leb ih “se riu s” dan ala san -ala s an “ra sio nal ” lai nny a. 61 Sur vey yan g dil aku kan e-Mar ket er men gun gka p sum ber-sum ber inf orm asi yan g dig una kan ora ng -ora ng dew asa di AS unt uk mem per ole h ber ita pas ca per ist iwa 11 Sep tem ber 200 1 mem per lih atk an tab el seb aga i ber iku t 62:
GRAFIK 1.1 Su mb er informasi pr ime r da n sumber informas i la in yang dig unakan di AS se tela h se ra ngan tero ri s 11 dan 12 Septem ber 20 01 . N= 4.61 0.

Televisi Radio Internet Bicara dengan orang lain Surat Kabar Other Sumber Primer

Semua Sumber

0

20

40

60

80

100

120

Dar i tab el di ata s, tel evi si ter cat at seb aga i sum ber inf orm asi pri mer mau pun sek und er ter tin ggi (78 % dan 97%) ; sed ang kan sum ber inf orm asi yan g men dud uki per ing kat ked ua ada lah rad io, kem udi an dii kut i ole h int ern et dan bic ara lan gsu ng den gan ora ng lai n men emp ati pos isi

61

Terlibatnya anak-anak secara intens dengan televisi tidak terlepas dari keyakinan orang tua yang positif terhadap televisi. 37,8% orang tua mengaku membebaskan anak-anaknya menonton televisi, 27,4% hanya sewaktu-waktu membatasi anak-anak menonton televisi, dan sekitar 34,8% mengatur anak-anaknya dalam menonton televisi. (Ibid 31., loc cit., hal. 4, kol. 3-7.) Dan yang paling penting, hingga saat ini para ahli media hampir-hampir luput mempermasalahkan kecanduan orang dewasa pada televisi dan media-media lainnya. Hans-Juergen Bucher, Crisis Comummunication dan internet. Risiko dan kepercayaan dalam suatu media global, dalam Lukas S Ispandriarno, Thomas Hanitzsch & Martin Loeffelholz (eds.) Media-Militer-Politik. Crisis Communication: Perspektif Indonesia dan Internasional, (Jogjakarta: Galang Press, 2002, hal. 313-314).

62

31

sel anj utn ya. Yan g men ari k ada lah fak ta ber upa “su rat kab ar” ber ada dal am pos isi yan g pal ing akhi r dar i daf tar inf orm asi di ata s. Hal ini , men unj ukk an bah wa ver si pop ule r dar i ber ita yan g dit awa rka n tel evi si, rad io, int ern et dan gos ip dar i mul ut ke mul ut jau h leb ih dim ina ti dar i pem ber ita an yan g ban yak did omi nas i tul isan dan ana lis a ilm iah . Jik a melen gka pi dat a ini den gan dat a seb elu mny a, ora ng dew asa wal aup un leb ih ber hat i-hat i men gha dap i tek nol ogi bar u dib and ing anak-ana k, nam un mud ah men jad i len gah ket ika men gha dap i tek nol ogi yan g sud ah dij ami n map an dan men jad i ter gan tun g ter had apn ya. 63 Sel ain fakt a bah wa tek nol ogi dan bud aya pop dit eri ma tan pa per bed aan bat as bai k ole h ana k-ana k mau pun dew asa , dal am wuj ud ter ten tu jug a men jad ika n bat as-bat as yang ada sel ama ini men jad i kab ur. Kon sep Vir tua l Rea lit y (VR ) ada lah con toh kon sep bud aya pop ule r pal ing sig nif ika n. Vir tua l Rea lit y mun cul dal am kon tek s yan g ber aga m dan san gat lua s: ind ust ri kom put er, mil ite r, NAS A, pen uli s fik si ilm iah mau pun dal am bud aya pop ule r seb aga i pem ber ont ak (cou nte rcu ltu re). 64 Ber kem ban g dar i dis kur sus mar jin al dan spe kul ati f yan g ban yak

did omi nas i fik si ilm iah di sek ita r tah un 198 4 65 hin gga 199 2 (at au bah kan

63

Hal ini memberikan alasan mengapa orang tua begitu mudah membiarkan anak-anak menonton televisi. Adapun alasan-alannya adalah sebagai berikut: televisi menghibur anak (40%), agar anak-anak betah di rumah (29%), televisi tidak berdampak buruk pada anak-anak (18,3%) dan anak-anak tidak bisa diawasi (10,9%). Dari data itu hampir tidak ada orang tua yang membiarkan anak-anak menonton televisi karena kepercayaannya pada anaknya, pertimbangan membiarkan anak-anak menonton televisi lebih dikarenakan mereka yakin televisi tidak berbahaya. (Ibid 31 dan 55.) Chris Chesher, Colonizing Virtual Reality. Construction of the Discourse of Virtual Reality, 1984-1992, online document: http://eserver.org/cultronix/chesher/ Tahun ini diambil berdasarkan novel William Gibson (1984) yang berjudul Neuromancer, di mana istilah cyberspace pertama kali muncul. Namun Chesher sendiri meragukan pernyataan ini, disebabkan bahwa pada 1950 ide serupa telah muncul pada karya Ray Bradbury yang berjudul The Veldt dan The happiness machine. Sebelum VR muncul, banyak tema-tema yang

64 65

32

hin gga kin i) ber uba h men jad i dis kur sus yan g dip aka i ole h mil ite r, pem eri nta h mau pun ilm uwa n dal am ber bag ai dis ipl in kaj ian . Bag i sim pat isa n bud aya pop ule r, mem ban gun rea lit as bar u di dal am seb uah lay ar adala h seb uah ben tuk bar u dar i cit a-cita mas a dep an ber bas is tek nol ogi .66 Ket ika men gal ami kes uli tan mer uba h rea lit as sos ial jau h dar i opt imi s, mak a alt ern ati f bar u den gan men gkr eas i rea lit as bar u tan din gan dil unc urk an. Par a pen ggag as ini kem udi an ber har ap tek nol ogi aka n men jad i sem aki n ber day a dan kem udi an mem aks a par a kon ser vat if mer uba h per sep si merek a ten tan g rea lit as. 67 Dal am dis kur sus sep ert i Vir tua l Rea lit y, bud aya pop men emu kan aks ele ras i mel alu i tek nol ogi dal am mem per jua ng kan kes atu an bum i yan g dam ai. Han ya saj a, “ka um pem bel ot” gag al men dom ina si tek nol ogi

ter seb ut unt uk sem ata -mat a unt uk per sep si pri bad iny a. Iro nis nya lag i, par a kon ser vat if yan g hen dak “di rom bak ” pik ira nny a jug a men gan gga p VR seb aga i tek nol ogi yan g dap at mem ban tu mil ite r unt uk tam pil leb ih gag ah. Pad a 198 2, AU Ame rik a mem per ken alk an, Vis ual ly Cou ple d Air bor ne Sys tem s Sim ula tor (VC ASS ), fas e ked ua pro yek “ko pki t dim ana mem ili ki Sed ang kan res olu si NAS A san gat tin ggi dan pro yek lay ar vir tua l yan g can ggi h 68. ( Vir tua l Env iro nme nt

melun cur k an

VIV ED

mendahuluinya seperti; virtual sex, virtual death, virtual education dan sebagainya. (Ibid., op. cit.)
66

Ibid. Chesher mengangkat kelompok seperti Cyberpunk yang muncul pada era 80-an sebagai contoh. Sedangkan di tangan Timothy Leary dan teman-teman, VR bersama-sama dengan LSD menjadi senjata utamakelanjutan pemberontakan kultural yang sudah eksis sejak tahu 60-an. Bagian ini akan dibahas lebih lengkap pada Bab II di tulisan ini. Ibid 55.

67 68

33

Dis pla y) pad a tah un

198 5. 69 Pad a per kem ban gan

ter akh ir,

mil ite r

Ame rik a bah kan men gka mpa nye kan per ang di Ira k pad a tah un 200 3 seb aga i tra nfo rma si men uju era per ang bar u yan g leb ih vir tua l dan ele ktr oni s dar i seb elu mny a. Sed ang kan pem eri nta h-pem eri nta h pad a per mul aan Aba d 21 gal ak men cip tak an jar ing an Sup er Hig hwa ys

Inf orm ati on yan g ber bas is VR. Ole h kar ena itu , bud aya pop den gan dis kur sus-dis kur sus yan g mun cul buk an han ya dia dop si ole h sek elo mpo k gen era si pem uda , Bil l

mel ain kan jug a ber bagai kal ang an lai n tan pa per bed aan gol ong an.

Cli nto n ber mai n sak sof on di MTV , Ton y Bla ir men yeb ut nam a “RE M” ata u pen yan yi Ann ie Len nox dan “Se al” seb aga i fav ori tny a 70, sed ang kan Rat u Eli zab eth II mem bag i per aya an pes ta ula ng tah unn ya di Ista na

Buc kin gha m dal am dua per aya an res mi: “Kl asi k” dan “Po pul er” . Dal am kas us lai n, mil ite r iku t men gam bil and il dom ina n dal am men yeb ark an bud aya pop ke wil aya h ter ten tu. Sel ama okupa si ter had ap Jep ang 194 5195 2 ole h pas uka n Ame rik a, bud aya pop ule r die dar kan ke kha lay ak Jep ang mel alu i rad io mil ik Ang kat an Lau t Ame rik a, yai tu Far Eas t Net wor k (FE N). 71 FEN sec ara tid ak lan gsu ng iku t mem ban tu dal am mel ahi rka n gen era si bar u di Jep ang , yan g dik ena l seb aga i “J -Pop ” (Jap ane se Pop Art ). 72 Di sin ila h, pan tas dir agu kan pen dap at bah wa

69 70 71 72

Ibid. Daya Tarik dan Empati Budaya Pop, Kompas [Minggu], 16 Maret 2001, halaman 11. Steve McClure, Nippon Pop (Tokyo: Tuttle publishing, 1998). Dalam sebuah film yang berjudul Good Morning Vietnam (1987), seorang deejay radio AFRS milik Angkatan Udara AS di Saigon pada era tahun 1965 bernama Adrian Cronauer membawa susana baru di barak-barak militer AS dengan memyiarkan lagu-lagu populer seperti; rock n’roll, jazz, R&B dan sebagainya. Film tersebut merupakan ejekan sarkastik terhadap perang, namun sekaligus menggambarkan sisi manusiawi tentara Amerika melalui lagu-lagu

34

bud aya pop dan tek nol ogi inf orm asi sem ata mer upa kan cir i kha s dar i seb uah gen era si yan g eks klu sif . “Fa kta -fak ta” di ata s men unu juk kan bud aya pop ule r mer upa kan tre n yan g sud ah men jad i mai nst ream dan cen der ung mas sal . Bud aya pop ule r tid ak ha nya kec end eru nga n yan g dit eri ma sat u pih ak bel aka ata u kon str uks i yan g ter bat as pad a sat u pen dir ian , mel ain kan men gat asi nya sem ua itu . Bud aya pop ule r

mer upa kan kar ya dar i era di man a ber sam aan den gan nya ban gkit jug a kon str uks i -kon str uks i kha s tek nol ogi lay ar. Dar i tit ik sin ila h ter buk a bag i unt uk men gka ji leb ih jau h den gan mem per tan yak an pol a -pol a yan g ber lak u ant ara dis kur sus -dis kur sus yan g sat u den gan lai nny a dan (un tuk sem ent ara ini leb ih) dik ena l seb aga i bud aya pop ule r den gan mek ani sme ker ja lay ar. Sif at mas sal kol ekt if dan uni ver sal ant ara tek nol ogi lay ar dan bud aya pop ule r ada lah seb uah per tem uan ked ua dis kur sus ter seb ut, sel ain “fa kta ” bah wa lay ar dal am ber bag ai wuj ud tam pak nya mer upa kan age n pro gre sif dan “al at” pro mos i dal am mem bap tis kan bud aya pop ule r pada rua ng -rua ng kon sen tra si per hat ian mas sa sec ara ima nen . Bai k seb aga i dis kur sus mau pun dal am wuj ud yan g dia kui leb ih “fi sik ” dar ipa dan ya, men jad i tid ak rel eva n lag i mem bah as tek nol ogi lay ar dar i seg i eks es -eks es pos iti f mau pun neg ati f dit imb ulk an. Seb aga i bud aya den gan kar akt er yan g men glo bal , tan pa wuj ud pas ti, mem ili ki pol a ada pta si dan dia dop si ole h pop ula si yan g kon tra dik tif , dik oto mi ten tan g pro -kon tra ber ada dal am sat u jal ina n met ode ker ja dis kur sus.

pop. Budaya pop di sini berperan sebagai kritik sekaligus memberikan wajah manusiawi pada militer.

35

B. RU MU SA N PE RM AS AL AH AN
Ole h kar ena itu , buka n per tan yaa n bag aim ana pen gar uh tek nol ogi inf orm asi dal am mas a ter ten tu ter had ap pe rke mba nga n bud aya pop ule r yan g aka n dia juk an pen uli s. Buk an jug a per tan yaa n, apa kah wuj udwuj ud ata u isi bud aya pop ule r mac am apa kah yan g mun cul pad a era tek nol ogi inf orm asi ; ata u fak tor-fak tor apa yan g iku t men yum ban gka n pen gar uhn ya dal am mem ben tuk bud aya mas sa ber bas is tek nol ogi .

Pen uli s jug a tid ak aka n men gam ati tek nol ogi mau pun bud aya pop ule r seb aga i fen ome na kul tur al, sos ial dan psi kol ogi s dal am pe nge rti an seb aga i sat uan-sat uan kon str uks i yan g ter pil ah -pil ah sec ara eks ak nam un sal ing ber int era ksi . Den gan dem iki an, pen uli s men ghi nda ri diri dar i pos isi ter jeb ak pad a pen ggo lon gan sem ena -men a ant ara fak tor-fak tor khu sus dan sam pin gan , ata u ant ara sua tu fak tor -fak tor dom ina n dan fak tor -fak tor mar jin al. Den gan mem per hat ika n kar akt er dis kur sus uni ver sal yan g mun cul pad a lay ar dan bud aya pop , per tan yaa n-per tan yaa n di ata s tid ak rel eva n. Seb ali kny a bai k bud aya pop ule r mau pun lay ar, ked uan ya ada lah dis kur sus tan pa kej el asa n bat asan kon sep tua l nam un mem ili ki eks es yan g dap at dio bse rva si mel alu i pol a-pol a mas sal yan g bek erj a di ala m tak -sad ar yan g mun cul dal am dis kur sus -dis kur sus , pro gra m lay ar mau pun keb ija kan ins tit usi ona l. Dal am hal ini tid ak ada cir i tam pak lai n yan g dap at dia mati dan did esk rip sik an dal am sat u kla sif ika si wuj ud-wuj ud yan g pas ti dan tet ap, mel ain kan dih ada pan han ya ada sua tu pol a-pol a yan g sec ara spe sif ik dal am sit uas i yan g lokal sif atn ya. Bud aya pop ule r

36

mau pun lay ar mem lik i kar akt eri sti k akt if, ber uba h-rub ah, ti dak men eta p dan sel alu mun cul den gan ino vas i bar u yan g tak ter dug a. 73 Pad a tah ap ini , men gha rap kan seb uah kat ego ri dan def ini si yan g eks ak dap at men jeb ak ana lis a pad a inf ere nsi kab ur dan men gad a-ada ten tan g seb uah art ifa k ber hal a yan g dib eri nam a “te kno log i lay ar” 74. Den gan dem iki an, dal am men yik api kea daa n ini per lu dir umu ska n per tan yaa n-per tan yaa n yan g leb ih koh ere n. Sec ara umu m, mun cul

per tan yaa n; Bag aim ana met ode ker ja tekno log i lay ar mem pro duk si kes ada ran -kes ada ran sub yek dal am sat u aru s glo bal dan mas s al?

Sed ang kan seb aga i sua tu pol a -pol a ket ida ksa dar an kol ekt if, bag aim ana ker ja tek nol ogi lay ar mun cul di per muk aan seb aga i seb uah aru s mas sal yan g sec ara sam ar -sam ar dap at dia mat i, nam un tid ak mem ili ki

kar akt eri sti k fis ik yan g “ny ata ” dan “ek sak ”? Leb ih spes ifi k, per tanya an yan g dia juk an ant ara lai n; pol a -pol a apa yan g men jad i sen tra l dal am dis kur sus -dis kur sus yan g mun cul ?

Bag aim ana per an dis kur sus ter seb ut mun cul dal am tit ik -tit ik lokal ita s

73 74

Karena itu metode penulisan diskursif dipilih sebagai cara yang sesuai untuk mengejar perubahan-perubahan aktif tersebut. “Teknologi layar” tidak mengacu pada sebuah obyek fisik yang tetap dan terikat secara pada hanya sebuah keberadaan waktu lokal dan ruang lokal yang spesifik. “Teknologi layar” adalah sebuah metonim (Inggris. Metonymy, berasal dari bahasa Yunani. Meta, “menyeberangi” dan onoma, “nama”) bagi konstruksi teknologi massal yang bekerja dengan memproduksi fokus tanpa memberikan sebuah fisik yang seragam pada massa. Karena itu sifatnya global sekaligus hadir dalam berbagai lokalitas yang plural. Kata “teknologi” dan “layar” sendiri adalah sebuah petanda dari sebuah penanda, yaitu mekanisme kerjanya yang diharapkan akan dideskrpsikan melalui kajian ini. Dia merupakan istilah yang diduga memiliki mekanisme sama sekaligus juga merupakan “pusat lokal” dari mekanisme yang bekerja sebagai kesatuan global. Ketimbang obyek riil, “teknologi layar” merupakan sebuah diskursus dan istilah yang digunakan penulis untuk menamai model yang akan dibangun oleh penulis. Sifat dari istilah “teknologi layar” tidak merupakan deskripsi belaka dari sederetan definisi tunggal ataupun jamak, melainkan merupakan istilah teknis yang analitis fungsional sifatnya. Halmana keterangan serupa juga diberikan untuk istilah seperti “teknologi global” yang digunakan terus secara berpasangan sepanjang kajian berikut ini. Penjelasan lebih jauh, baca Bab II dan lihat juga subjudul “Teknologi Layar dan Pengamatan Visual” pada Bab III.

37

yan g jam ak dan ber aga m ser ta mem ben tuk cir i psi kol ogi s mas yar aka t kon tem por er? Ter mas uk dal am per tan yaa n ini ada lah , bag aim ana tek nik tek nik lay ar mul ai dit eri ma seb aga i str ate gi lai nny a, yan g rel eva n unt uk tek nol ogi glo bal ?

mem fun gsi kan

mek ani sme

sej aja r

yai tu

Per tan yaa n ini tid ak dim aks udk an unt uk men ari k sua tu gar is rua ng dan wak tu pas ti, nam un leb ih ber kon sen tra si pad a pen elu sur an ant ara eve n lok ali tas yan g sat u den gan eve n lok ali tas lai nny a dal am per iod isa si yan g ber per an mel ahi rka n mod ifi kas i dis kur sus di sek ita r ide olo gi

“ke bah agi aan ”, “ke ber sam aan ” dan “pe rda mai an” di man a mun cul dal am tem a-tem a bud aya lay ar ata u pop . Sel anj utn ya, per lu

dip ert any aka n jug a bag aim ana tek nol ogi la yar dan glo bal had ir seb aga i mek ani sme yan g dia la mi seb aga i sat u kes atuan dal am wuj ud sem est a di dal am lay ar dan dal am kes eha ria n seb aga i keha dir an sej aja r den gan tek nol ogi glo bal ? Dan pad a akh ir tul isa n, aka n dij awa b jug a bag aim ana rel eva nsi tul isa n ini bag i kea daa n sos iop oli tik di Ind one sia dan keb ija kan

Int ern asi ona l, ter uta ma per tan yaa n yan g aka n dij awa b ada lah den gan rag am str ate gi apa saj a mek ani sme tek nol ogi lay ar dan tek nol ogi glo bal dit era pka n mel alu i dis kur sus kek uas aan yan g dik aji mel alu i ana lis is ter had ap tar ik ulu r ant ard isk urs us seh ing ga mel ahi rka n ins tit usi ?

38

C. TU JU AN
Den gan dem iki an, pen eli tia n ini ber tuj uan men gko nst ruk si seb uah mod el yan g men des kri psi kan str ate gi dan car a ker ja tek nol ogi lay ar ser ta tek nol ogi glo bal dal am mem pro duk si dis kur sus , rel asi , ins tit usi

pen duk ung mau pun pe ril aku-per ila ku yan g ber per an seb aga i sep era ngk at mek ani sme . Mod el ter seb ut tid ak aka n men jadi “pe dom an yan g ben ar” ten tan g sua tu “si tua si kin i”, kar ena mod el yan g dib ang un tid ak aka n dip aka i seb aga i ala t int erp ret ati f bag i sel uru h fen ome na-fen ome na yan g ber kai tan den gan tek nol ogi lay ar dan glo bal seb aga i pen gal ama n

kes eha ria n. Ole h kar ena itu bukan lah tug as dar i mod el yan g dik ons tru ksi unt uk men car i “ke ben ara n”, ata u men gun gka pka n rel asi ant ara dua dan leb ih var iab el, ata u men yin gka p “fa kta -fak ta” ter sem bun yi, mau pun men des kri psi kan seb uah “ke ben ara n” ter sel ubu ng di ten gah “ke ses ata n” rim ba var iabel -var iab el. Tuj uan dar i mod el ada lah men yia pkan kon str uks i yan g sec ara

mem ber ika n gam bar an bag aim ana

tek nol ogi

lay ar ber fun gsi

str ate gis dal am mem ban gun for mas i dis kur sus seb aga i tek ni k yan g sea rah den gan tek nol ogi glo bal . Den gan de mik ian , mod el aka n be rgu na mem ber ika n ker ang ka par adi gma tik bag i pen yel idi kan men gen ai pol apol a mas yar aka t kon tem por er seb aga i jal ina n mek ani sme sej alu r ant ara tek nol ogi lay ar dan tek nol ogi glo bal . Sel ain itu , den gan men gko ntr uks i mod el mas yar aka t tek nol ogi s yan g mun cul kit a bis a men det eks i pol a-pol a ser upa yan g had ir pad a “ar tif ak -art ifa k” bud aya kon tem por er lai n yan g mun cul , tan pa har us

39

mel aku kan gen era lis ir. Pen det eks ian , tid ak men cer min an sif at “ri il” dar i mod el, seb ali kny a mer upa kan kes emp ata n unt uk men guj i seb era pa jau h mod el bis a dif ung sik an sec ara str ate gis dan tek nis . Di sin i mod el ter seb ut sek ali gus ada lah hip ote sis yan g mem ili ki kar akt er tes tab ili ty dan fal sib ili ty . Den gan dem iki an kon str uks i mod el yan g ber has il

dih imp un di tul isa n ini buk an kes imp ula n akhir dan tu nta s dar i per soa lan yan g dik aji . Mod el aka n ter us ber kem ban g dan ber uba h dar i

per kem ban gan wak tu ke wak tu. Apa yang dij adi kan seb aga i “Ba b ten tan g Kes imp ula n” dal am tul isa n ini tid ak mem ili ki art i kes imp ula n dal am pen ger tia n pen ari kan kon gkl usi yan g ter ang kum sec ara jel as dan men eta p dal am sat u ata u beb era pa rum usan eks ak, mel ain kan sif atn ya tem por al dan han ya mem ber ika n mas uka n tah apa n ter had ap kes elu ruh an kaj ian . Des kri psi tenta ng mod el yan g men jel ask an car a bek erj a

tek nol ogi lay ar dan tek nol ogi glo bal tidak dap at han ya dip ero leh dal am kes imp ula n, mel ain kan ber ada sec ara int egr al dan glo bal dal am

kes elu ruh an nar asi . Kes imp ula n unt uk sua tu “ra ngk uma n” ata s sem ua dis kus i yan g dap at ber dir i sec ara man dir i, mel ain kan han ya mer upa kan bag ian dar i jal ina n int egr al ter mak sud . Den gan dem iki an, mod el yan g aka n dik ons tru ksi jug a ber tuj uan seb aga i ris et awa l bagi ris et-ris et ber iku tny a yan g sem aki n ter lokal isi r. Set iap pen gka jia n lan jut an yan g aka n dil aku kan ata s das ar kon str uks i ter seb ut, bis a jad i sem aki n “me mbe nar ka n” ata upu n “me nol ak” mod el, ter uta ma mod el yan g dik ons tru ksi sif atn ya tem por al dan ter gan tun g sek ali pad a per uba han sit uas i dan kea daa n.

40

D. MA NF AA T
Seb uah kon tru ksi mod el, mau pun dek ont ruk si ata s seb uah dis kur sus yan g dil emp ar ke pub lik dal am ben tuk tek s mau pun lis an set ida kny a dap at mem pen gar uhi kes ada ran pub lik ata s “re ali tas ”. Mas ih dal am keran gka pan dan gan pen uli s, “re ali tas ” ada lah kon tru ksi dis kur sus yan g ada , buk an seb aga i jaw aba n akh ir dar i tia p sol usi . 75 Seb aga i rai son d’ê tre, seb uah dis kur sus tid ak bis a dib iar kan ter kil ir sep ert i hal nya

per mas ala han mod ern ism e ten tan g “re ali tas ”. Kar ena itu , dal am men gga li ker ja seb uah dis kur sus pun per lu dip erh ati kan bah wa yan g dil aku kan buk an sek eda r men cip tak an

alt ern ati f bar u dal am ber pik ir. Nam un leb ih dar i itu , pen gga lia n ata s met ode ker ja seb uah dis kur sus jug a ber art i pen yus una n “re ali tas ” dal am seb uah kon str uks i. Tid ak ber art i kon str uks i bar u itu sel alu ber law ana n ata u mem bon gka r den gan ide olo gi, mit os mau pun dis kur sus seb elu mny a. Den gan dem iki an per soa lan men gen ai mek ani sme ker ja dis kur sus tek nol ogi lay ar dal am mel ahi rka n mas sa glo bal bis a did eka ti den gan seb uah car a ber pik ir yan g mem buk a leb ih ban yak kem ung kin an dar i seb elu mny a. Dih ara pka n den gan men gun gka p mas ala h ini , pen dek ata n ter had ap mas yar aka t popu ler glo bal di man a ter tut up ata u ber sif at pem isa han sec ara ese nsi dar i per soa lan leb ih “se riu s” lai nny a dap at dih ind ark an pad a mas a yan g aka n dat ang .

75

Mengenai paradigma tentang realitas, lihat pada pembahasan soal paradigma di Bab II.

41

Sel ain itu , unt uk Mah asi swa cal on Ilm uan Psi kol ogi , Ilm uan Psi kol ogi dan Psi kol og Ind one sia , ter uta ma Fak ult as Psi kol ogi Uni ver sit as Sur aba ya, pen gan gka tan top ik dan met ode yan g dip aka i dal am tul isa n ini mas ih ter gol ong ses uat u yan g bar u. Sel ain kel ak ten tun ya ber man faa t seb aga i ref era nsi mau pun lit era tur ban din gan dar i met ode seb elu mny a, wal aup un tid ak bisa dij adi kan seb aga i con toh skr ips i yan g sem pur na, tul isa n ini men awa rka n alt ern ati f bar u dal am kaj ian psi kol ogi ter uta ma dal am per spe kti f lin tas dis ipl in dan lin tas kul tur al den gan pen dek ata n gab ung an (fe nom eno log i dan ana lis is dis kur sus ). Dan ter leb ih la gi, bag i mer eka yan g mer asa ter bat asi ide dan kre ati fit asn ya ole h sejum lah atu ran ort odo ks dal am ris et, met ode dal am tul isa n ini dis ara nka n. Sed ang kan , unt uk pen uli s sen dir i, tul isa n ini mer upa kan

pen ump aha n ide dan kon sep tua lny a ten tan g met ode yan g sel am a ini bel um sem pat dit uan gka n sec ara ter tul is. Dan apa yan g dit uli s di sin i ada lah han ya mer upa kan stu di awa l bag i ser ang kai an ris et -ris et ber iku t nya ten tan g mek ani sme tek nol ogi lay ar dan glo bal yan g tel ah

dir enc ana kan pen uli s.

E. SI ST EM AT IK A TE KS
Tul isa n ini dib agi men jad i ena m bag ian den gan tem a sen tra lny a

mem bah as ten tan g bag aim ana fok us dio rga nis ir ole h tek nol ogi lay ar dan glo bal . Bag ian per tam a tul isa n ini , sep ert i yan g tel ah dii kut i di ata s men yor ot pad a pol a-pol a kha s yan g tam pak pad a per muk aan secara

42

kul tur al. Pad a bag ian ini , keh adi ran tek nol ogi lay ar dan glo bal ter ama ti seb aga i seb uah gej ala mas sal yan g tid ak mem ili ki ika tan fis ik, nam un had ir seb aga i sek ump ula n pol a-pol a yan g tek nik -tek nik kon str uks iny a mas ih men jad i tan da tan ya. Sem ent ara , seb elum men eru ska n kaj ian hin gga pok ok per soa lan , pad a bag ian dua , aka n dis ing gun g sep erl uny a per mas ala han par adi gma dan met ode yan g dig una kan pad a pen uli san ini unt uk men gga li inf orm asi -inf orm asi yan g ber ser aka n. Dal am hal ini , pen uli s aka n mer eko men das ika n suat u metod e ana lis a yan g seb ena rny a sud ah dik ena l cuk up lam a, nam un mas ih kur ang akr ab unt uk pen uli san skr ips i ilm iah . Sed ang kan pad a bag ian ket iga dik aji jug a teo ri -teo ri yan g mun cul seb aga i pro dus en dis kur sus dal am sua tu ren tan g wak tu ter ten tu. Bag ian ini jug a aka n men jel ask an per ges era n disku rsu s tek nol ogi lay ar dan glo bal yan g ter jad i dar i aba d rev olu si ind ust ri hin gga era cyb erc ult ure yan g diw arn ai sej uml ah teo rik us pop ule r. Sel anj utn ya, seb aga i kaj ian mik ro, dis amp ing ana lis is dis kur sus mak ro yan g tel ah pad a bag ian kee mpa t men dah ulu iny a,

pen uli s men ggu nak an Tel etu bbi es 76 seb aga i

kon sen tra si ana lis is. Pad a bag ian ini , tek nol ogi lay ar tid ak sek eda r had ir dal am kaj ian dis kur sus yan g men ggl oba l, tet api had ir seb aga i aca ra for mas i

pen gal ama n emp iri k tel evi si. Kes imp ula n

dal am pad a

tra dis i pop ule r, bab ini sem aki n

sep ert i seb uah men jel ask an

dis kur sus -dis kur sus yan g tel ah dik aji seb el umn ya, sel ain mem ber ika n pij aka n kon sep tua l untuk bag ian sel anj utn ya. 77

76

Ulasan ringkas pendahuluan tentang Teletubbies dan karakternya sebagai budaya populer bisa diikuti oleh pembaca pada bagian awal dari Bab IV. 77 Untuk kejelasan lihat bagan 1.1 di atas.

43

BAGA N 1.1 Perb an ding an sistemat ika is i de ng an fungsi tekstu al dile ngkapi dengan ketera ngan ur ut an formal di tabel ka na n.

Pad a bag ian “Re fle ksi ” (Ba b V), tek nol ogi lay ar dan glo bal buk an lag i sek eda r str ukt ura l sif atn ya, mel ain kan had ir dal am wuj ud reg ula si dan nor mal isa si yan g dij ala nka n oleh ins tit usi-ins tit usi yan g

mem ber day aka n dan mem bud ida ya seb uah sis tem ema nsi pas i mas sal . Tek nol ogi lay ar dan tek nol ogi glo bal ber ada dal am sel a-sel a jal ina n ins tit usi dan mem ber ika n per an-per an pad a mas ing -mas ing sat uan sat uan int era ksi di ant ara nya . Dan , seb aga i pija kan ke bab pen utu p bag ian ini men jel ask an tek nik lay ar dan glo bal men yat uka n kon tra dik sikon tra dik si yan g ada ke dal am sua tu gay a hid up ber sam a yan g nat ura l. Sed ang kan unt uk Bab VI yan g mer upa kan “Pe nut up” , fun gsi dar i

kes imp ula n tid ak ber dir i sec ara

ma ndi ri dan

len gka p mem ber ika n

44

des kri psi len gka p ten tan g mod el yan g dik ons tru ksi sep ert i yan g laz im dip aha mi pad a pol a pen uli san skr ips i umu mny a. Seb ali kny a mod el yan g sep ert i dim aks ud pad a bag ian “Tu jua n” di ata s, han ya dap at dii kut i sec ara pen uh mel alu i ke sel uru han dar i tek s yan g ada . Den gan dem iki an kes imp ula n tid ak ter jeb ak pad a ger ali sas i kon sep yan g men iad aka n sif at lok ali tas dar i dis kur sus -dis kur sus yan g dik aji . Ole h kar ena itu , tul isa n ini tid ak han ya ber fok us pad a

pem bah asa n sat u dis kur sus sec ara spe sif ik seb aga i uni t yan g tun gga l dan ber dir i sen dir i, mel ain kan ter dir i dar i ura ian beb era pa dis kur sus yan g

dib aha s ber sam aan dal am tat ana n aru s per mas ala han . Dar ipa da nar asi yan g ter atu r ura ian ant ara dis kur sus yan g sat u den gan lai nny a ber sif at dis kur sif . 78 Dis kur sus-disku rsu s ini mer upa kan kon str uks i pen and a sej aja r yan g dia nal isa unt uk mem per ole h gam bar an mek ani sme ker ja yan g ber lak u pad a tek nol ogi lay ar dan glo bal . Atu ran yan g sam a jug a ber lak u unt uk hub ung an ant ara Bab yan g sat u de nga n Bab lai nny a. Tidak ada sat upu n bab dar i tul isa n ini mer upa kan sua tu nar asi yan g man dir i. Rel asi ant ara tek s yan g sat u den gan lai nny a ter jal in dal am sat u aru s dis kur sif . Beg itu jug a kon sep ini ber lak u jug a unt uk cat ata n kak i dan bad an tek s sec ara umu m. cat ata n kak i buk an sekad ar “pe len gka p” bag i bad an tek s, nam un bad an tek s jug a ser ing kal i men jal ani fun gsi “pe len gka p” bag i cat ata n kak i. Bai k bad an tek s mau pun catat an kak i ada lah “sa lin g mel eng kap i” dan “di le ngk api ”. Den gan dem iki an catat an kak i buk an lag i sua tu bag ian yan g marj ina l ata u seb ali kny a. Pen tin gny a cat ata n kak i
78

Dalam Kamus Webster (lihat catatan kaki no. 88), diskursif atau discursive (Inggris) didefinisikan sebagai: “[1] wandering from one topic to another, skimming over many apparently unconnected subjects; rambling; desultory, digressive. [2] based on the concious use of reasoning rather than intuition.”

45

dal am tul isa n ini sama ber pen gar uhn ya den gan bad an tek s ter had ap gam bar an yan g aka n dik ons tru ksi sep anj ang kaj ian . Kar ena ala san di ata s, wal aup un men ggu nak an sis tem ati ka uru tan jud ul bag ian kla sik al sep erti; dan “Pe nda hul uan ”, seb aga iny a, “Ka jia n ini Teo ri” , mem ili ki

“Pe mba has an” ,

“Pe nut up”

tul isa n

sis tem ati ka yan g cen der ung sin kro nis di man a ant ara sat u Bab den gan lai nny a sal ing men def ini sik an, ket imb ang dia kro nis di man a

men gga mba rka n Bab yan g sat u den ga n lai nny a seb aga i bag ian yan g ter pis ah sec ara man dir i dal am uru tan pro sed ura l met odi s. Den gan pen dek ata n sin kro nis , ant ara Bab sat u den gan lai nny a tid ak ber lan gsu ng dal am alu r wak tu yang run tut dan ber jal an kon tin u dan seb ab-aki bat , mel ain kan mer upa kan lap isa n-lap isa n dis kur sus sej aja r yan g sal ing

men gua tka n dan men def ini sik an sat u sam a lai nny a. Dal am hal ini , Mic hel Fou cau lt per nah men uli s:

“Jadi, harus membicarakan peningkatan wacana itu bukan hanya
dalam aspek perluasan; lebih baik melihat di dalamnya suatu pemencaran dari bidang-bidang yang menghasilkan wacana-wacana itu, suatu diversifikasi bentuk bidang berikut pertumbuhan jaringan rumit 79 yang mengaitkan bidang-bidang itu.”

Dal am hal ini , kaj ian ten tan g Tel etu bbi es wal aup un dil eta kka n di baw ah sub -judu l “Pe mba has an” buk an sat u-sat uny a top ik sen tra l yan g dik aji sec ara eks klu sif . Beg itu jug a “bu day a pop ”, “te kno log i lay ar” dan “te kno log i glo bal ” buk an var iab el -var iab el dis kri t dan ter pil ah seb aga i oby ek-oby ek dal am seb uah kor ela sio nal . Hal ini ber lak u jug a unt uk
79

Michel Foucault, Seks & Kekuasaan. Sejarah Seksualitas (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1997), hal. 39.

46

dis kur sus -dis kur sus

lai n,

sep ert i;

wor ld

bra in ,

glo bal

bra in ,

“gl oba lis asi ”, dan vir tua l rea lit y. Tul isa n ini tid ak ber tuj uan mem bah as dis kur sus -dis kur sus terse but seb aga i sat uan uni t yan g man dir i den gan seg ala kek hus usa nny a. Seb ali kny a, dis kur sus-dis kur sus ter seb ut sal ing ber ela si sec ara uni lat era l seb aga i for mas i yan g men gge rak kan

mek ani sme ker ja mes in lay ar. Sel anj utn ya, tek nol ogi glo bal 80 mer upa kan seb uah tot ali tas “ke sad ara n sek und er” yan g mer ang kul sem ua for mas i ter seb ut seb aga i uni tas , sek alig us jug a ada lah bag ian dar i rel asi dal am for mas i ter seb ut (li hat bag an 1.2 ).
BAGA N 1.2 Fo rmas i antara diskursu s-diskur sus dala m kese ja jara n dengan “teknolo gi la yar” da n “t eknolo gi gl ob al ” se baga i pola ya ng dibe ntuk .

Mel alu i bag an ini , pem bah asa n pada bag ian Pen dah ulu an dit utu p den gan mel anj utk an kaj ian pad a bag ian ber iku tny a. Ter leb ih dah ulu
80

Untuk penggunaan istilah ‘teknologi global’ baca catatan kaki no. 69 dan Bab III.

47

aka n

dik aji

ker ang ka seb aga i

fil oso fis

par adi gma tik unt uk

dan

met odi k

yan g

ber man faa t

pen get ahu an

mem aha mi

pem bah asa n-

pem bah asa n sel anj utn ya. Seb aga i ker ang ka uta ma, bag ian ini aka n dii si den gan per deb ata n ten tan g “re ali tas ” fik si dan non fik si yan g aka n ban yak mew arn ai dis kus i pad a bag ian leb ih lan jut tul isa n ini .

48

BA B II PA RA DI GM A DA N ME TO DE

A. PA RA DI GM A DA N KE RA NG KA AN AL IS IS
1 . A n t a r a “ f i k s i ” d a n “ n o n -f i k s i ” Wen shi buf en [sa str a dan sej ara h tid ak ter pis ahk an] ada lah seb uah idi om tua dal am mas yar aka t Cin a 81. Mak sud nya , dal am dun ia

kes usa ste raa n Cin a ter dap at kes epa dan an ant ara fik si dan his tor iog raf i. Kar ena itu tid ak her an ban yak pen yai r Cin a sej ara h. Kej aya an dan ker unt uha n ju ga mem ili ki kes ada ran di Cin a ser ing

din ast i-din ast i

dis adu rka n dal am kar akt eri sti k fen ome na ala m 82. Kon tra dik sin ya, pad a pem aha man sas tra “ba rat ” kon tem por er, fik si dan his tor iog raf i ada lah dua ben tuk dis kur sus ber bed a, mal aha n ber law ana n. His tor iog raf i ser ing kal i dik ait kan den gan sej uml ah fak ta di man a mas ala h sep ert i val idi tas dan rel iab ili tas men jad i sya rat mut la k unt uk dip enu hi. Pen gan dai an ada nya seb uah dun ia oby ekt if yan g rii l dan

81

Iwan Fridolin, Cendekiawan & Sejarah Tradisi Kesusastraan Cina (Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1998), hal. 70. 82 Untuk jelasnya ikuti kutipan dari Shichi (The Record of Historian) karya Ssuma Ch’ien tentang awal berdirinya Dinasti Han [207 SM - 9 M] berikut ini; “Ketika Chang Ts’ang menjadi menteri perhitungan ia mulai menyusun kerja dan meralat kelender serta kunci nada yang sampai saat itu telah diabaikan. Sejak kan-Tsu pertama kali mencapai Pa-Shang dalam bulan ke-10, ia melanjutkan praktek Ch’in kuno untuk memulai tahun baru di bulan ke-10 dan tidak membuat perubahan. Menghitung putaran Lima Elemen [Wu Hsing], Chang Ts’ang memutuskan bahwa Han berhubungan dengan periode yang didominasi oleh elemen Air dan karenanya mendapat kehormatan warna hitam, warna air.” ( Dikutip oleh Andrey Ming dalam T’ung Shu. Almanak Cina Kuno (Jakarta: Abdi Tanur, 2000) .

49

ter ama ti seb aga i pem icu awa l dar i dis ipli n ini . Sed ang kan , dun ia sas tra fik si dia sos ias ika n de nga n sub yek tiv ita s yang ima jin ati f. Yan g per tam a, dis ebu t seb aga i “no nfi ksi ” den gan pen eka nan pad a kek uat an “re ali tas ”. Sed ang kan yan g ter akh ir ada lah “fi ksi ”, di man a ser ing dik ait kan den gan cir i denota tum , yai tu “re kaa n”. Aar t van Zoe st, seo ran g ahl i sem iot ika Bel and a, men gak ui sul it mem bed aka n ant ara fik si dan non fik si. 83 Wal aup un dem iki an, tet ap men gan gga p pem bau ran di ant ara nya seb aik nya tid ak ter jad i. Bil a fik si dia ngg ap non fik si, dap at men gak ib atk an man ipu las i ata s kesad ara n ter had ap seb uah rea lit as. Zoe st men gan gga p bah wa mit olo gi dan

ide olo gi tid ak dap at dig una kan seb aga i seb aga i uns ur str ukt ur dar i sua tu ken yat aan . Sin gka tny a bag i Zoe st, “Du nia buk an tek s, dan tek s buk an dun ia. ”84 Pen dap at Zoest ber seb era nga n den gan sej uml ah sem iol og 85

lai nny a yan g men gan gga p bah wa rea lit as dun ia did omi nas i ole h tek s dan dis kur sus . Nam un Zoe st tid ak sen dir i, seb ab umu mny a sej uml ah

pen gan ut sai ns pos iti vis dan sem iot ika -- -yan g dip eng aru hi Cha rle s

83 84 85

Aart van Zoest, Fiksi dan Nonfiksi dalam Kajian Semiotika (Jakarta: Intermasa, cet. 2, 1991, hal.1). Ibid., hal. 67 “Semiologi” berasal dari bahasa Yunani semeîonn, “tanda”, yang berarti “ilmu tentang tanda-tanda”. Begitu juga berlaku untuk “semiotika”. Antara semiologi dan semiotika tidak ada perbedaan etimologi yang penting. Namun, perbedaan digunakan untuk merujuk pada dua aliran teori yang sangat bertolak belakang. Semiologi merujuk pada “ilmu tentang tanda” milik Ferdinand de Saussure. Sedangkan, semiotika biasanya berlaku untuk teori yang dipelopori Charles Sander Pierces. Hal ini dijelaskan oleh Panuti Sudirman dan Aart van Zoest dalam Serba-Serbi Semiotika (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1996).

50

San der s Pei rce [18 39-191 4] --- tet ap men ari k gar is yan g ker as ant ara “fi ksi ” dan “no nfi ksi ” ata u “ti dak nya ta” dan “ny ata ” 86. Mas ala hny a, sej auh man a kad ar fik si dan non fik si sua tu

pen gal ama n bis a dib eda kan den gan jer nih tan pa dis tor si? Seb aga i con toh di ata s kit a tel ah m emb eri kan con toh dal am dun ia kes usa ste raa n Cin a yan g beb as dar i pem bed aan fik si dan non fik si. Apa kah hal sem acam ini han ya ber lak u di dun ia sas tra Cin a saj a? Bag aim ana den gan sas tra [po sit ivi s] “ba rat ” yan g dik lai m beb as dar i man ipu las i pem bau ran fik si dan non fik si? Lan tas , ada kah fik si dan non fik si yan g ber dir i sen dir i sen dir i seb aga i seb uah ent ita s yan g man dir i?

2 . “ Re a l i t a s ” s eb a ga i d i s k u r s u s Per deb ata n ten tan g fi ksi dan non fik si tid ak bis a lep as dar i per mas ala han lai n yan g men das ari nya , sep ert i soa l “rea lit as” . Ist ila h kat a “re ali tas ” dia dop si dar i bah asa Ing gri s: rea lit y, yan g kat a das arn ya ada lah rea l. Dal am kam us Oxf ord 87, rea l did efi nis ika n se bag ai “exi sti ng in fac t; not ima gin ed or sup pos ed; not mad e up or art ifi cia l”. Web ste r”s New Wor ld Dic tio nar y 88 mem akn ain ya seb aga i “exi sti ng or hap pen ing as or in fac t; act ual ; tru e; obj ect ive ly so etc .” Sed ang kan ist ila h fact yan g
86

dip aka i

Dalam Kasus ini, Pierce (Berger, 2000) membedakan antara Ikon, Indeks dan Simbol. Pembedaan itu didasarkan pada pandangan bahwa tanda-tanda berkaitan dengan obyekobyek yang menyerupainya (Ikon), hubungan sebab akibat dengan tanda-tanda (Indeks) atau karena ikatan konvensional (simbol). Klasifikasi tanda-tanda Pierce hanya bisa dibangun apabila peran “subyek” yang terpisah dari “obyek” diperhitungkan. A.S. Hornby, E. V. Gatenby and H. Wakefield, The advanced Learner’s Dictionary of Current English (London: Oxford University Press, Second Edition, 1963). Victoria Neufeldt and David B. Guralink, Webster’s New World Dictionary (New York: Prentice Hall, Third College Edition, 1991).

87 88

51

unt uk men def ins ika n rea l, dim akn ai ole h kamus Oxf ord seb aga i “[1 ] tha t has hap pen ed or bee n don e. [2] kno wn to be tru e or acce pte d as tru e. [3] rea lit y; wha t is tru e; wha t exi sts .” 89 Ber sam aan den gan itu , ist ila h tru e yan g dig una kan def ini si ini dia rti kan seb aga i “ in acc ord anc e or agr eem ent wit h fac t”90. Pre sen tas i sin gka t mel alu i ser ang kai an def ini si kat a rea l di ata s 91 ber usa ha men jel ask an bah wa kat a ter seb ut tid ak lep as dar i ker anc uan . Mel alu i pen elu sur an ini , kit a men emu kan dua kat a lai nny a yan g mun cul kem udi an seb aga i “su bti tus i”, yai tu fact dan tru e. Pad aha l fac t sen dir i bah kan did efi nis ika n ula ng seb aga i rea lit y ata u den gan dem iki an ter jad i def ini si tim bal bal ik. Hal yan g sam a den gan kat a tru e dip aka i unt uk men def ini sik an fac t, sem ent ara jug a did efi nik an ole h fac t. Ant ara rea l, fac t dan true ber sif at sal ing men def ini sik an. Ata u kit a bis a men gat aka n bah wa, unt uk men def ini sik an kat a rea l ter nya ta dig una kan ist ila h lai n yan g ter nya ta sej aja r den gan kat a seb elu mny a ser ta did efi nis ika n ole h kat a yan g men def ini sik an. Pad aha l, fun gsi def ini si ada lah mem bat asi [ def ini re.La tin ] seb uah kon sep . Def ini si ada lah man ife sta si log is mak na suat u kat a ata u ide 92. Dal am def ini si dit ega ska n pem bag ian dan pen ggo lon gan har us ben ar ben ar mem isa hka n sat u kon sep dar i kon sep lai nny a. Den gan kat a lai n,
89 90 91

Ibid 87., op. cit. Ibid. Telaah ini pernah disampaikan oleh DR. Edy Suhardono dalam sebuah kelas kuliah Psikologi Politik Universitas Surabaya di depan penulis. Namun, penjelasan pada kajian ini banyak dipersingkatdari yang pernah dikaji oleh Edy Suhardono tanpa mengulangi isi yang ingin disampaikan. FR. Manuel T Pinon, O.P., Ph.D., Fundamental Logic (Manila: Faculty of Phylosophy, University of Santo Thomas, 1973), hal. 65.

92

52

bag ian sat u tak bol eh mem uat bag ian yan g lai n. 93 Sya rat ini tid ak ter pen uhi ole h def ini si kat a rea l. Ditam bah den gan pen jel asa n di ata s, kit a bis a men yim pul kan bah wa bel um per nah ada def ini si yan g mem ada i unt uk men jel ask an kon sep rea l. 94 Sed ang kan def ini si yan g dit awa rka n han ya ber sif at tau tol ogi s sem ata . Kal au han ya unt uk men def inisi kan “re ali tas ” saj a tid ak ada kon sep yan g mem ada i, mun gki nka h ant ara fik si dan non fik si dap at dibed aka n sec ara teg as? Bah kan , dal am mas ala h ini jug a dip ert any aka n, seb ata s apa kah eks ist ens i “re ali tas ”? Jik a,

“re ali tas ” sen dir i ada lah seb uah ide yan g did apa t dib ata si den gan mak sim al, lal u ada kah lag i seb uah “re ali tas ” yan g par exc ell enc e?
95

Sed ang kan dar i sud ut ety mol ogi , kat a rea l ber asa l dar i res (La tin .), yan g sec ara har afi ah sam a den gan thi ng. Def ini si kat a thi ng sen dir i dal am kam us Web ste r tid ak kal ah rum itn ya den gan rea l. Mel ipu ti kat ego ri yan g lua s, ant ara lai n:

93 94

Irving M. Copi, Introduction to Logic (New York: Collier MacMillan International Editions, fifth edition, 1978), hal. 154-158.

Hal mana berlaku juga untuk konsep seperti virtual reality, tandingan bagi konsep realitas konservatif. Dalam virtual reality, realitas diproduksi dan dialami oleh subyek sebagai pengalaman setara dengan realitas keseharian. Karena itu seringkali, virtual reality dianggap sebagai realitas yang paradoksal. Walaupun demikian, virtual reality juga membuka kesempatan untuk mempertanyakan realitas transenden yang diakui ada, apakah dalam memproduksi realitas obyektif subyek ikut memberikan nuansa bagi suatu pengakuan sesuatu “di luar” dirinya? 95 Mengenai definisi tentang real yang lebih pragmatis bisa kita ikuti pada deskripsi yang dibuat seorang penulis berikut ini: “Dalam kehidupan nyata, alat penhisap debu membunuh labahlabah. Kalau menyeberang di lalu lintas ramai tanpa memperhatikan jalan, kau akan ditabrak mobil. Kalau kau jatuh dari pohon, beberapa tulangmu akan patah.” Sedangkan dalam buku cerita yang “tidak nyata”: “...para pahlawannya bisa melakukan kesalahan sebanyak yang mereka inginkan. Tidak masalah apa yang mereka lakukan, karena di akhir cerita semua akan beres.” Lihat: Darren Shan, Cirque du Freak. Mimpi buruk jadi kenyataan... (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), hal. 9-10. Pembedaan ini hanya berdasarkan pada “resiko” yang ditanggung oleh tokoh, dan menutup kemungkinan dari kisah fiktif yang dalam perancangannya se-“riil” mungkin dengan menyertakan resiko-resiko yang dianggap hanya ada pada karya nonfiktif. Sulit membedakan antara fiksi dan nonfiksi, tanpa suatu pernyataan eksplisit dari penulis sendiri. Kekaburan fiksi dan nonfiksi juga bisa terjadi pada suatu karya yang sengaja direkayasa untuk tujuan tertentu seperti layaknya yang terjadi dalam politik dan penyusunan sejarah untuk kepentingan sebuah rezim.

53

“[1] any matter, circumstance, affair, or concern [2] that which is done, has been done, or is to be done; happening, act, deed, incident, event, etc. [3] that which constitutes and end to be achieved, a step in a process, etc. [4] anything conceived of to be reffered to as existing as and individual, distinguishable entity [...] [5] a) personal belongings; also, clothes or clothing b) dress, garment, etc. [6] articles, devices, etc. use for some purporse [7] a person: used in expression of affection, pity, contempt, etc. [8] a being, object, or concept the exact term for which is not known or recalled or is avoided, as from 96 disdain [9] a point of contention; issue [...]”

Pad a def ini si per tam a dan ked ua, thi ng sejajar den gan def ini si rea l, yai tu seb aga i “se gal a ses uat u yan g ben ar-ben ar ter jad i”, dal am wuj ud per ist iwa , aks i, kej adi an dan seb aga iny a. Pad a def ini si ket iga , dit eka nka n kar akt er dar i thi ng seb aga i ent ita s yan g man dir i. Mel eng kap i pen jel asa n ter seb ut, pad a def ini si ke emp at thi ng mer upa kan seb uah ent ita s yan g dip ila h-pil ah seb aga i sat uan-sat uan tun gga l seb aga i

“ob yek -oby ek” yan g “ti dak ber ger ak” (li hat jug a cat ata n kak i no. 96) . Kon tra dik sin ya, seb aga i “ob yek -oby ek” ter pil ah sat u sam a lai n, thi ng men gan dai kan keh adi ran sub yek di dal amn ya: “the obj ect or con cep t ref err ed to or rep res ent by awo rd, a sym bol , or sig n; ref ere nt ”. Di sin i, thi ng dap at ber art i seb aga i seb uah “ob yek ” sek ali gus “ko nse p”.

Pem bau ran ini dip erk uat kem bal i pad a def ini si kee nam , ket uju h da n ked ela pan di man a keh adi ran sif at “su bye k” had ir jug a dal am thi ng. Pad a def ini si kes emb ila n, thi ng bah kan han ya dia rti kan seb aga i seb uah “is u” ata u “is i” dar i seb uah pem bic ara an. Dan pad a def ini si ked ela pan ,

96

Ibid 88., op. cit. Lihat item thing. Untuk spesifikasi definisi [4] antara lain diartikan sebagai berikut: “a) any single entity distinguished from all others. b) a tangible object, as distinghuised from a concept, quality, etc. c) an inanimate object. d) an item, detail, etc. e) the object or concept referred to or represent by aword, a symbol, or sign; referent. f) an object of thougth; idea.”

54

thi ng tid ak lai n mer upa kan sej aja r den gan pen gert ian “de fin isi ”, yai tu ber fun gsi mel aku kan pem bat asa n den gan asu msi bah wa apa pun yan g dib ata si tid ak aka n sal ing tum pah tin dih sat u sam a lai n. Jik a dem iki an, mak a “pe mba tas an” yan g awa lny a unt uk men cip tak an sua tu ket eta pan ant ara “ko nse p” dan “ob yek ”, juga mer upa kan fun gsi dar i “ko nse p” dan oby ek” itu sen dir i. Dal am hal ini , pen ul is tid ak men emu kan ada nya sua tu ket eta pan tra nse nde n yan g ber dir i mem isa hka n “ke ber ada an” seb aga i ses uat u yan g ber ada di lua r “su bye k”. Lan tas ada kah di sin i sua tu “ob yek ” ata u “sub yek ” yan g ter pis ah sec ara eks ak?

3 . F e n o m e n o l o g i “ re a l i t a s ” : la h i r n y a “ s u b ye k ” d a n “ o b ye k ” Sal ah sat u ist ila h yan g sem pat men cua t di ata s nam un bel um sem pat dib aha s ada lah : obj ect ive ly ata u obj ect ive 97. Dis amp ing rea l, kon sep ini jug a pen tin g dal am mem baha s per mas ala han fik si dan non fik si.

Oby ekt ivi tas ser ing men jad i uku ran unt uk mem bed aka n ant ara fik si dan non fik si. Sem aki n tin ggi nil ai oby ekt ivi tas sua tu kar ya dia ngg ap sem aki n ren dah pul a kad ar fik si di dal amn ya. Unt uk dis kus i leb ih jau h, ada bai kny a kit a men eng ok kem bal i kam us Web ste r, def ini si yan g dia juk an unt uk obj ect ive ada lah ,

“[1] of or having to do with a known or perceived object as

distinguished from something existing only in the mind of the subject, or person thinking. [2] being or regarded as being, independent of the mind; real; actual. [3] determined by and emphasizing the features and

97

Lihat halaman 50, baris kalimat paling bawah.

55

characteristics of the object, or thing dealt with, rather than thoughts 98 and feelings of the artist, writer, or speaker [..] ”

Dar i def ini si di ata s, dit ari k kes imp ula n bah wa oby ekt ivi tas han ya mun gki n mun cul apa bil a ada pem isa han tegas ant ara “su bye k” seb aga i keh adi ran -dal am -pik iran (min d) dan “ob yek ” seb aga i keh adi ran -di -lua rpik ira n (li hat def ini si per tam a). Ked ua, oby ekt ivi tas men gan dai kan ada nya oby ek yan g ber dir i sen dir i dan men det erm ina si keb era daa n sub yek ser ta dib eda kan den gan sub yek yan g men jad i det erm ina si oby ek (de fin isi ket iga ). Nam un, oby ekt ivi tas men gan dai kan keh adi ran sub yek per sep tif yan g net ral unt uk men eri ma keb era daa nny a (de fin isi ked ua) . Pad a def ini si ked ua, keh adi ran oby ekt ivi tas mem but uhk an keyak ina n ada nya sub yek yan g beb as kon tam ina si dar i kec end eru nga n dal am dir iny a sen dir i. Oby ektiv ita s ter gan tun g pad a keh adi ran sub yek . Dar i ser ang kai an def ini si ini , keh adi ran pen gal ama n oby ekt ivi ta s mun cul dar i int era ksi yan g int ens ant ara “su bye k” dan “ob yek ”.

Wal aup un,

sub yek dan oby ek sal ing men det erm ina si, pen def ini sia n

mas ing -mas ing tid ak per nah ter pis ah sec ara abs olu t. Sej ala n den gan teo ri per sep si psi kol ogi yan g dip erk ena lka n pak ar Ges tal t, meny ebu tka n inf orm asi tib a pad a sub yek dal am ran gka ian pro ses pen afs ira n,

pen gor gan isa sia n dan int erp ret asi 99. Sed ang kan inf orm asi “ap a ada nya ”

98 99

Ibid 88., hal. 86. Hal ini dibuktikan dalam phi phenomenon, yaitu ilusi gerakan yang diciptakan melalui penampilan stimuli visual secara cepat, oleh Max Wertheimer [1880-1943]. Uraian ini dirujuk berdasarkan kajian sederhana dan jelas dalam buku klasik pengantar Ilmu Psikologi karya Wayne Weiten, Psychology Themes & Variations, Third Edition (USA: Brook/Cole Publishing Company,1989), hal 141.

56

ber wuj ud sen sas i tid ak ban yak men yum ban gka n pem aha man “re ali tas ”. “Re ali tas ” jus tru lah ir dar i pem aha man int erp ret ati f sub yek . Sel ain arg ume n Ges tal t, dis kur sus ten tan g sub yek dan oby ek jug a dig elu ti ole h Edm und Hus sre l [18 59-193 8] mel alu i kon sep int ens ional ita s kes ada ran, di man a hub ung an ked uan ya ber sif at arb rit ras i: Tid ak ada sub yek tan pa oby ek, dan oby ek han ya ek sis seb ata s kes ada ran sub yek. Pem aha mn leb ih lan jut dap at dis ima k mel alu i kut ipa n di baw ah:

“ Immediate ‘seeing’ [Sehen], not merely the sensory seeing of

experience, but seeing in general as primodial dator conciousness [als ariginär gebendes Bewusstsein] af any kind whatsoever, is the ultimate 100 source of justification for all statements ”

Pen eka nan pad a pen yat uan “ke sad ara n” dan pen gal ama n ind era wi (Seh en ) men jad i cir i kha s dal am kon sep “fe nom eno n” ( pha ino men on, ata u “se gal a ses uat u yan g tam pak ”), sel ain int ens ion ali tas kes ada ran .

Bag iny a, “fe nom eno n” men amp akk an dir iny a sen dir i, ata u fen ome n ada lah rea lit as sen dir i yan g tam pak . Art iny a, rea lit as tid ak ter sel ubu ng dar i “di ri” , mel ain kan mer upa kan kea daa n yan g men yat u den gan

keb era daa n sub yek . Ber sam aan de nga n itu pul a sub yek mer upa kan “ke sad ara n yan g ber sif at int ens ion al” . Kes ada ran sel alu ber art i

100

Ideas, General introduction to pure phenomenology, diterjemahkan oleh W.R. Boyce Gibson, (London: 1976, hal. 84), seperti dikutip oleh K. Bertens dalam Filsafat barat Abad XX InggrisJerman (Jakarta: Penerbit PT Gramedia, 1983), hal. 99.

57

kes ada ran aka n... ses uat u 101. Keh adi ran “su bye k” sel alu men yer tak an “ob yek ”. 102 Ked ua pem aha man ini mer upa kan “du a sis i dar i uan g log am yan g sam a”. Mak a, ant ara “su bye k” dan “ob yek ” tid ak mun gki n ber pis ah sec ara ind epe nde n. Men gge nap iny a, Hus sre l men gen alk an kon sep yan g ket iga , yai tu: “ko nst itu si” (In ggr is: pad a con sti tut ion ), kes ada ran . yai tu pro ses ada lah

tam pak nya

fen ome n-fen ome n

Kon sti tus i

akt ivi tas kes ada ran yan g mem ung kin kan tampa kny a “re ali tas ”. Dar i sin i Hus sre l mem bua t kes imp ula n: dun ia “ rea l” dik ons tit usi ole h kes ada ran . Kar ena itu tid ak ada keb ena ran an sic h, ter pis ah dar i kes ada ran
103

. Dun ia

tid ak lag i ter pis ah dar i sub yek . Kes ada ran sub yek dan pen gal ama n inder awi men yat u dal am pro ses kon sti tus i. Kar ena itu , “re ali tas ” dal am pan dan gan fen ome nol ogi Hus sre lia n tid ak lai n han ya mer upa kan

“pe nil aia n” kes ada ran ata s pen gal ama n ind era wi, buk an dun ia oby ekoby ek yan g ter iso las i. 104 Jik a ide Hus sre l dij aba rka n, mak a “s uby ek” han ya bis a

did efi nis ika n mel alu i seg ala

ses uat u yan g “no n-oby ek” , seb ali kny a

101

Artinya, tidak ada yang dapat dipikiran atau diperbuat tanpa adanya “sesuatu” yang dipikirkan atau diperbuat. Berpikir (atau berbuat) selalu diikuti oleh sebuah obyek. Contohnya, “aku berpikir tentang...” Tidak mungkin terjadi bahwa “aku bepikir” tanpa adanya “sesuatu” yang dipikirkan. Kehadiran “aku” selalu diikuti oleh suatu konteks lain sebagai bagian yang menyatu. Ibid 101., op. cit, hal. 101 Ibid., hal. 102-103 Konsep ini berbeda dari pandangan Immanuel Kant di mana realitas tidak pernah dapat dikenal secara langsung, atau “realitas” yang dikenal bukanlah realitas itu sendiri [das Ding an sich]. Subyek dalam pandangan Kant terisolasi dari obyek. Sebaliknya “realitas” yang dimaksud Hussrel tidak lain adalah konstitusi dari kesadaran itu sendiri atau tidak ada lagi “realitas” di luar kesadaran (Ibid., hal. 100).

102 103 104

58

“ob yek ”

eks is

jik a

din ega sik an

den gan

“su bye k” 105.

Mir ip

den gan

gra mma r bah asa yan g utu h mem but uhk an “su bye k”, “pr edi kat ” dan “ob yek ”. Sin gka tny a, rel asi “su bye k-oby ek” mer upaka n dua kon sep yan g sal ing ter gan tun g sat u sam a lai n, ket imb ang dua rea lit as yan g ber dir i sen dir i-sen dir i. Tid ak mun gki n mem bic ara kan oby ek tan pa keh adi ran sub yek , beg itu jug a se bal ikn ya. Pan dan gan Hus sre l mem aha mi bag aim ana seb uah pen gal ama n yan g dib ang un ole h dis kur sus ter ten tu, ber lak u jug a seb aga i rea lit as bag i “di ri” . Jik a “fe nom eno n” ada lah rea lit as yan g had ir sek ali gus dik ons tit usi kan kes adara n, mak a “su bye k” ada lah buk an lag i seb uah bat asa n den gan keb era daa n dun ia dan tid ak per nah men jad i utu h dal am dir iny a sen dir i seb aga i sis tem yan g ter tut up. Kar ena itu yan g dik ena l seb aga i “di ri” buk an ses uat u yan g ter def ini sik an seb aga i sat u kes atu an dan ter pis ah sec ara sem pur na dar i ses uat u yan g “bu kan -dir i”. Kes ada ran buk an ber sif at “ro han iah ” ata u “ma ter ial ”, nam un ber ger ak di ant ara ked uan ya. Dal am kea daa n ini dis kur sus yan g ada dal am sua tu mas yar aka t ber per an dom ina n men ent uka n bat as-bat as bag i kes ada ran sekal igu s “re ali tas ”. 106 Dal am sat u kes emp ata n, dis kur sus -dis kur sus ter seb ut

105

Penjabaran ini berasal dari logika dialektis Hegelian yang menyatakan bahwa relasi dunia bukan hanya bisa dirumuskan sebagai X = X atau obyek adalah “obyek”. Tapi dalam dialektika X = ( -X) atau obyek adalah juga “bukan obyek” (subyek). Lihat penjelasan lebih rinci pada M.A.W. Brouwer, Alam Manusia dalam Cahaya Fenomenologi (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1988). Diskursus atau discourse (Inggris) berasal dari bahasa Latin, discursus. Penterjemahan lazim dalam Bahasa Indonesia-nya adalah “wacana”. Namun istilah “wacana” terlalu terbatas untuk menggantikan kata discursus maupun discourse, karena itu digunakan kata “diskursus” yang merupakan metamorfosis langsung dari bentuk Latinnya. Dalam Webster, discourse didefinisikan sebagai: “[1] communication of ideas, information, etc. [2] a long and formal treatment of a subject, in speech or writing; lecture; treatise; dissertation [3] ability to reason; rationality.” (Ibid 88., op. cit.) Penulis tidak akan hanya menggunakan salah satu definisi, melainkan mengasimilasikan ketiga pengertian di atas dalam pengertian integral. Sedangkan untuk mengaktifkan diskursus sebagai sebuah unit analisis, pengertian di atas

106

59

dis ebu t mit os ata u di lai n wak tu dis ebu t seb aga i ide olo gi, ata u bah kan ser ing jug a did apu k seb aga i fak ta.

B. PR OP OS IS I -PR OP OS IS I
Kes ada ran mer upa kan “fi ksi ” sek ali gus “no nfi ksi ”, dia men g[a da] kan sem ua “ob yek ”, sek ali gus men gan dai kan ada nya “ob yek ” yan g ber dir i di lua r kua san ya. Apa kah kes ada ran ber ger ak ter us men eru s di ant ara ked ua “du nia ” ini , seb aga i sua tu kel ang sun gan ger ak yan g tia da hen ti, ata u leb ih mer upa kan pot ens ial ita s yan g pad a sua tu saa t dua lit as ini dap at did ama ika n? Pad a pil iha n per tam a, kit a men uju sua tu re-kre asi pengal ama n dal am sua tu ben tuk per lua san ula ng dan ter us men eru s seb uah sem est a “ba ru” . Lal u unt uk pil iha n ked ua, kit a men yeb era ng mas uk pad a pah am ni hil ism e di man a kes ada ran men jad i “ko nse p” yan g tid ak dap at dis ada ri lag i. Han ya pad a pil iha n per tam a pen gal aman dia kui “ad a” dan bek erj a seb aga i kes atu an den gan aks i. Ken dat i

dem iki an kea daa n ini tid ak ada nya pem isa han sub yek dan oby ek yan g rad ika l. Seb ali kny a, sub yek dan oby ek ada lah dua kat ego ri yan g sal ing men gad aka n sat u sam a lai nny a seb uah pol a rep rod uks i ke ber [ad a]a n. Seb aga i ger ak rep rod uks i pen gal ama n, kes ada ran bek erj a sec ara tek nol ogi s. Kes ada ran ber sem aya m dal am ker ja itu sen dir i, ran gka ian

ditransformasikan lebih jauh sebagai “pusat lokal”, yaitu diskursus yang muncul dan bekerja dalam suatu lingkup modifikasi khas dari sebuah tema kontinum. Selain itu dari kata discursus, juga diturunkan satu istilah baru lagi yaitu discursive (Inggris) yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai “diskursif” (lihat catatan kaki no. 78.) Pertimbangan ini didasarkan semata-mata untuk membedakan pengertiannya sebagai strategi analisis dari diskursus yang berfungsi sebagai unit analisis.

60

pot ong an dar i “se ni” , “il mu pen get ahu an” mau pun “pe rtu kan gan ”. Den gan dem iki an, pem bed aan “di ri” dar i seg ala ses uat u yan g tid ak men yer tak an keh adi ran nya dia nda ika n ber dir i dan bek erj a man dir i; seb aga i hal “di lua r” pen get ahu an dan pe ker jaa nny a, seb aga i “ob yek ” tra nse nde n ala m(ia h) 107. di lua r “di ri” yan g ima nen , seb aga i pad a ses uat u suby ek yan g unt uk

Tek nol ogi

mem ber i

kes emp ata n

dil ahi rka n kem bal i seb aga i opo sis ion al arb rit er yan g dim ung kin kan ada kar ena keb era daa n “ob yek -oby ek” yan g (di ala mi) ter pis ah “di lua r dir iny a”. Den gan dem iki an sem ua “ob yek-oby ek” ala mia h dis aji kan di

dep an “su bye k” seb aga i ses uat u yan g ter pisah dan ter ama ti. Seb aga i fun gsi tek nol ogi , “su bye k” men jal ank an kon sti tus i den gan mem ila h, men gel omp okk an, memis ahk an, men ggo lon gka n sem ua pen gal ama nny a yan g aka n dik uat kan dan dis end iri kan dal am sat uan -sat uan “ob yek ’ pad at. Sat uan -sat uan itu kem udi an diacak, diu rai dan dic ern a unt uk kem bal i dib ang un, dis usu n, dit ata , dib eri lab el sis tem ati ka bar u seb aga i sen i, ilm u pen get ahu an mau pun ket era mpi lan bar u. Beg ini lah ker ja

107

“Alam sebagai ruang ialah segala hal yang dekat yang dapat didatangi langsung. Intimitas dari kamar kerja, isi saku, lemari, rumah. Juga kampung, kota, dan bagian dari tanah air. Bukan ruang yang diukur dengan meter atau derajat melainkan ruang dari kanan kiri, atas bawah dan muka belakang. Inti dari ruang alam ialah lokasi ‘di sini’. Alam muka berbeda dengan alam belakang. Muka ialah hal yang didatangi, yang menuju ke arah saya, hal yang akan datang, yang baru. Belakang ialah hal yang sudah, yang tidak bisa mengherankan, yang menjadi lantai.” Seperti yang diutarakan oleh M.A.W. Brouwer, Psikologi Fenomenologi (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1984), hal. 13. Dalam tulisan ini “alam” akan sering juga disebut sebagai “dunia” atau “semesta.” “Alam” dalam tulisan ini dapat dijelaskan sebagai dua hal, yaitu sebagai cara obyek-meng[ada]-dalam-subyek (konstitusi) dan cara subyek-meng[ada]-dalam-obyek (intensionalitas kesadaran). Yang pertama akan sering juga disebut sebagai “obyektivikasi”, sedangkan yang kedua disebut juga “subyektivikasi”. Karena itu “alam” tidak merujuk pada suatu eksistensi yang terlepas dari peng[alam]an. Selain itu, juga perlu dijelaskan bahwa ada perbedaan istilah “alam” yang akan digunakan pada Bab V, di mana dalam bagian tersebut, “alam” dikaji sebagai pembentukan diskursus yang didiskritkan dari keber[ada]an manusia dan teknologi. Jadi ada penggunaan istilan “alam” secara berbeda pada tulisan ini.

61

“su bye k” sec ara tek nol ogi s, mes in yan g ter us men eru s men gur ai sat uan sat uan “no nfi ksi ” menj adi ran gka ian “fi ksi ”, ran gka ian “fi ksi” yan g sud ah kad alu ars a ata u tid ak lag i sep aha m aka n dil ebu r dal am sat uan sat uan “no n-fik si” unt uk did aur ula ng seb aga i “fi ksi ” bar u, dan

set eru sny a. Dar i kon tek s pem aha man ini , mem ber ika n kes emp ata n men gka ji tek nolog i itu sen dir i tid ak dal am wuj udn ya seb aga i “ob yek ” tek nis mel ulu , ter uta ma dal am pem aha man yan g leb ih umu m ata u tau tol ogi s seb aga i “pe nam pak an emp iri k”. Unt uk itu tek nol ogi did efi nis ika n ant ara lai n seb aga i; “[1 ] the sci enc e or stu dy of the pra cti cal or indus tri al art s, app lie d sci enc e, etc. [2] the ter m use d in a sci enc e, etc ; tec hni cal ter min olo gy. [3] app lie d sci enc e. [4] a met hod , pro ces s, etc . For han dli ng a spe cif ic the nic al pro ble m. [5] the sys tem by whi ch a soc iet y pro vid es its mem ber wit h tho se thi ngs nee ded or des ire d.” 108 Mul ai def ini si per tam a hin gga kee mpa t, tek nol ogi men gha dir kan aks i “su bye k” bai k dal am pik ira n (sci enc e), per asa an (art s), mau pun aks i fis ik (ski ll), sua tu pen def ini sia n “su bye k” dal am sat uan -sat uan bar u, sek ali gus per lua san tekn olo gi seb aga i mes in “fi ksi ” hin gga pad a

“su bye k” itu sen dir i. Dan ket ika “su bye k” mas uk dal am jal ina n “fi ksi ” yan g dib ang unn ya sen dir i, tek nol ogi men jel ma men jad i “ob yek ” yan g ter pis ah dar i “su bye k”. Mes in “fi ksi ” kin i men yat u seb aga i ala m sem est a

108

Ibid 81., op. cit.

62

bar u yan g “ob yek tif ” dan dia lam i seb aga i (se sua tu) yan g (di yak ini ) ber dir i di lua r “su bye k” 109. Pad a tah ap ini tek nol ogi men gga mba rka n bag aim ana “fi ksi ”

(su bye kti vik asi ) dan “no nfi ksi ” (ob yek tiv ika si) dih adi rka n dal am wuj ud met afi sik a aks i-rea ksi . Fik si yan g did apu k seb aga i yan g oby ekt if

ser ing kal i dil awa nka n den gan non fik si yan g ber sif at sub yek tif , pad aha l “su bye k” mau pun “obye k” tid ak per nah dap at dip ila h sec ara abs olu t mau pun dis atu kan sec ara abs olu t. Di sat u sis i, seb aga i sen i, ilm u pen get ahu an sek ali gus ket e ram pil an, tek nol ogi ada lah pem imi kan yan g pal ing men dek ati “su bye k” sen dir i. Dia ada “di dal am sub yek ”, bek erj a seb aga ima na “su bye k” bek erj a dan ber fun gsi seb aga i bag ian dar i

ket ida ksa dar an dir i “su bye k” itu sen dir i. Kon tra sny a, seb aga i dun ia “ob yek ”, tek nolo gi ada lah pen gul ang an ben tuk “al am tra nse nde n” yan g ima jin er dal am ben tuk yan g leb ih “ny ata ” dan “ob yek tif ”. Dal am hal ini , “su bye k” dip ila h-pil ah dan dig olo ngk an kem bal i dal am sat uan psi kol ogi s. Seh ing ga rel asi ant ara “su bye k” dan “ob yek ” di tat a ula ng sec ara

tek nol ogi s, dip erl uas dal am ben tuk an sem est a bar u yan g leb ih nya man bai k di “da lam ” dir i “su bye k” mau pun “di lua rny a”. Dal am def ini si kel ima , tek nol ogi mun cul seb aga i sis tem yan g ber dir i “di lua r sub yek ”, sek ali gus seb aga i sis tem yan g men jad i bag ia n dar i keb utu han dan imp uls mas yar aka t. Seb aga i per wuj uda n sis tem
109

“Yang disebut ‘dunia’ ialah keseluruhan dari pengarahan dari alat-alat yang berdasarkan suatu ‘pengetahuan’ prasadar bisa menampakkan diri sebagai alat. Pengarahan ialah suatu kompleks seperti palu, paku lemari, dan seterusnya. Arah utama terdapat dalam hal yang disebut ‘tanda-tanda’. Zuhandenheit hanya mungkin karena ada dunia, yang cocok dengan tangan menampakkan dirinya, karena ada ‘hal-mengada-dalam-dunia’... Bagaimana dunia memungkinkan pertemuan tangan dan alat? Itu berdasarkan pengarahan yaitu gejala bahwa bahan dapat dipakai dan alat mengabdikan diri pada tangan.” (Ibid 105., op. cit., hal. 117).

63

“ob yek -oby ek” , tek nolog i jug a mer upa kan sis tem imp uls dan keb utu han nal uri ah (nee ded or des ire d). Seh ing ga, tek nol ogi dal am pen ger tia n pal ing akt if tid ak did apa tka n dar i keh adi ran tam pak , me lai nka n had ir seb aga i bag ian dar i ket ida ksa dar an. Kar ena itu , keb era daa n tek nol ogi yan g pal ing pri nsi pil tidak ter let ak pad a rag am ben tuk , bah an dan mod el sep ert i dal am pen amp aka n sad ar. Seb ali kny a, dia ter ika t dal am dir i “su bye k”, dir asa kan seb aga i bag ian dor ong an imp uls ket ida ksa dar an 110. Dar i gam bar an rin gka s di ata s, aka n dir umu ska n pre pos isi -

pro pos isi yan g ter us unt uk dip ert any aka n dal am men yus un tul isa n ini ; Pro pos isi per tam a : car a ker ja “su bye k” dan “ob yek ” ada lah sal in g men gad aka n dal am ger ak pro duk si mem bag i, mem isa hka n, men gur ai sel uru h “se mes ta” dan kem udi an men yus un dan men gko ntr uks i kem bal i sat uan -sat uan “ob yek ” dan “su bye k” dal am seb uah “al am sem est a bar u”. Sel uru h pro ses ini dap at kit a seb ut seb aga i “te kno log is” bai k seb aga i pol a-pol a, mek ani sme, pro ses ker ja, mau pun fun gsi . Pro pos isi “no nfi ksi ”, ked ua : tek nol ogi ada lah seb uah “fi ksi ” mau pun

“mi tos ”

sek ali gus

“fa kta ”.

Dia

mem ili ki

kar akt eri sti k

“se jar ah” mau pun “ar keo log i”. Tek nol ogi mem ban gun sua tu mas yar aka t seb aga i per ada ban , se kal igu s dig unak an seb aga i seb uah fak ta ark eol ogi s

110

Dalam bahasa Yunani dikenal istilah pragmaton, yaitu segala sesuatu yang digunakan untuk segi fungional yang dikenal sebagai “perkakas” atau “alat”, dan dalam tulisan ini kita kenal sebagai “teknologi”. Bagi. Brouwer, alat tidak merupakan proyek yang terpisah dari kehadiran “subyek”: “Bagaimana sifat dari alat dapat diterangkan? Peralatan tidak terjadi secara sadar. Memakai alat dan menciptakan benda tidak berdasarkan pengetahuanpengetahuan, tetapi justru suatu derivat dari situasi ini. Alat-alat dipakai dalam suatu kompleks dari alat-alat lain di mana setiap unsur ‘menunjukkan’ unsur lagi. Paku-paku almari, piring, makan. Dan lain-lain. Dengan tak sadar Dasein mengabdikan diri pada pengarahan dalam kompleks ini” (Ibid., op. cit.)

64

ten tan g str ukt ur, tat ana n, dan pol a kec erd asa n mau pun fis ik bio log is pad a sua tu mas yar aka t dal am sua tu per iod isa si. Den gan de mik ian , tek nol ogi mem ili ki nil ai pem bed a dal am dir iny a sen dir i. Di sin i tek nol ogi jug a mem ili ki kar akt er nor mal isa si mau pun reg ula si. Pro pos isi ket iga : tek nol ogi mem ili ki kar akt eri sti k glo bal dal am dir iny a sen dir i, dia mem ban gun sua tu met afi sik a aks i yan g men gad aka n “su bye k” dan “ob yek ” dal am “al am” -nya . Dal am hal ini , pem ila han tid ak lai n ada lah jal an men uju sua tu uni fik asi sem est a. Pro pos isi kee mpa t: keb era daa n yan g pal ing ber mak na dar i

tek nol ogi buk an pad a wuj ud pen gal ama nny a seb aga i sat uan wuj ud yan g ber dir i sen dir i, tap i mer upa kan bag ian dar i ket ida ksa dar an yan g

mem pro duk si pen gal ama n bag i “sub yek ”. Tek nol ogi ber sif at tid aks ada r mau pun pra-sad ar dal am rel asi nya den gan kes ada ran , mau pun ber sif at sad ar seb aga i seb uah ima jin asi ten tan g “ob yek -oby ek di lua r dir i”. Pro pos isi kel ima : ket ida ksa dar an ber ada dan ber uba h ber sam a pol a-pol a dar i “ob yek -obye k”, dia buk an sis tem yan g ter tut up dan sek ada r bio log is. Jik a dib and ing den gan kes ada ran , sif atn ya leb ih

men eta p tap i tid ak unt uk sel ama nya . Kar ena itu kes ada ran , dal am pem aha man ini , dil ihat seb aga i ger ak akt if fok us yan g sel alu ber uba h dan tid ak mem iliki ket eta pan pad a dir iny a, nam un dia jug a mer upa kan tem pat “ob yek ” men gad a ber sam a den gan keh adi ran seb uah “su bye k” di dal amn ya.

65

Mel alu i pro pos isi -pro pos isi ini kit a mel ang kah pad a pem bah asa n yan g kom pre hen sif dal am bab -bab sel anj utn ya. Nam un kit a aka n te rle bih dul u men jaw ab per nya taa n ahl i sem iot ika --- sep ert i Aar t Van Zoe st--yan g men gga ngg ap bah wa fik si [no n-rea l] ter pis ah dar i non fik si [rea l]. Sej ala n den gan pem aha man di ata s ten tan g car a “su bye k” dan “ob yek ” ber ela si mel alu i ika tan str ukt ura l tek no log is, kit a men ari k seb uah per nya taa n inf ere nsi al: bah wa “re ali tas ” dan “ob yek tiv ita s” tid ak lep as dar i eks ist ens iny a seb aga i seb uah dis kur sus yan g seb ena rny a ada lah pro duk sos ial dar i str ukt ur pem aha man ter ten tu, buk an tak dir mut lak ata s keb era daa n. Sep erti teo ri psi kol ogi ges tal t mau pun fen ome nol ogi , kon tru ksi keb era daa n “ob yek -oby ek” lah ir dar i kon sti tus i dan

int ens ion ali tas kes ada ran yan g jug a men yeb abk an keb era daa n “su bye k”. Den gan dem iki an, “re ali tas ” tid ak dap at dip aka i seb aga i pat oka n dal am ran gka mem bed aka n ant ara fik si dan non fik si, sep ert i tekno log i, ked ua kat ego ri ini ada pad a ker ja rep rod uks i. Tid ak ada lag i pem bed aan mut lak dan men eta p ant ara “fi ksi ” dan “no nfi ksi ”, ked uan ya “se jaj ar” dal am ger ak fok us pen gal ama n yan g ter us ber ger ak. Sek ara ng, tib ala h unt uk mem utu ska n bah wa dik oto mi sem aca m sub yek tif-oby ekt if, fik sinon fik si ata u rii l-tid ak rii l buk anl ah keb era daa n yan g tra nsend en. “Re ali tas ” seb aga i seb uah dis kur sus di man a ter str ukt ur dal am pol a met afi sik a aks i bis a men gga nti kan pol a dik oto mi ini . Wal aup un ten tu saj a hal ini dit ent ang ole h mer eka yan g mas ih men sak ral kan

“ob yek tiv ita s”, buk an ber art i pen dek ata n ini tid ak bis a dit era pka n. Nam un, tid ak dap at dit ola k lag i bah wa “ob yek tiv ita s” ada lah kai dah yan g man dul dal am mel iha t pos isi tek nol ogi han ya seb aga i dun ia

66

det erm ina si

oby ek-oby ek,

dan

mel upa kan bag aim ana

car a “ob yek -

oby ek” itu had ir seb aga i bag ian dal am dir i “su bye k”, dan mem ber i “su bye k” keb era daa n yan g uni k. 111 Den gan men ggu nak an ana lis is dis kur sus kit a dap at mel amp aui ket erb ata san di kot omi -dik oto mi --- bas is mat eri il-spi rit ual , seb ab -aki bat ser ta fik si-non fik si--- unt uk mem ban gun ker ang ka ana lis is yan g leb ih pek a ter had ap pen gal ama n tek nol ogi s yan g jam ak, ber aga m dan ter aca k dal am ber bag ai are a kes ada ran . Di baw ah, keb utu han aka n mem bangu n kon str uks i met ode tid ak lai n mer upa kan pen jab ara n yan g mer upa kan kon sek uen si lan jut an dar i kep eka an ini .

C. KO NT RU KS I ME TO DE AN AL IS IS
Keb utu han aka n ura ian ten tan g met ode ada lah tak ter ela kan dal am sua tu pen uli san ber lan das kan ana lis is dis kur sus . Da lam hal ini ber gun a unt uk mem ber i pel uan g kep ada pem bac a dal am mem ber ika n

per tim ban gan met odi s, sel ain mem ber ika n kep eka an kep ada pen uli s sen dir i aka n kon sep yan g dib ang un pad a pik ira nny a.

111

Dengan demikian, kita tidak terperangkap pada anggapan yang naif bahwa teknologi sematamata hanya berdimensi materialistik dan berdiri di luar diri “subyek” sebagai “obyek” mandiri. Teknologi tidak lagi sekedar permasalahan bentuk, ragam, inovasi dan arsitektur fungsional yang hanya dapat ditelaah melalui penjelasan-penjelasan teknis tentang sistem dan kerja otonom. Melainkan teknologi juga bisa dikaji sebagai sebagai regulasi dengan aksinya (bersama-sama) dengan “subyek”, sebagai bagian strategi diskursus dengan cara saling menguatkan strategi satu sama lain. Teknologi menjadi dalih dasar yang paling mutlak untuk mentransformasi evolusi manusia dari “biologis” menuju “teknis”. Teknologi diberi keberadaan yang “obyektif” dan membantu “subyek” menyembunyikan dirinya dalam keberadaan yang “non-materiil”.

67

Ter lep as dar i sem ua keb utu han ter seb ut, kon str uks i ata s met ode an ali sa tid ak bis a dip isa hka n dar i sis tem ati ka tek s dan ker ang ka

par adi gma yan g dij adi kan acu an. Leb ih pen tin g lag i ada lah , dis kur sus dis kur sus yan g dik aji itu sen dir i jug a men ent uka n cor ak car a ana lis is yan g aka n dig una kan. Spo nta nit as rel asi yan g ter kon struks i ant ara for mas i dis kur sus -dis kur sus ter seb ut mem ber ika n pol a pad a met ode ana lis a, buk an seb ali kny a. Kar ena itu tug as pen jab ara n met ode buk an bag ian ter pis ah dar i bag ian yan g tel ah kit a bah as di ata s mau pun bab seb elu mny a. Hin gga sin i, seb agi an tug as in i tel ah dia mbi l ali h pad a pen jab ara n seb elu mny a.

1 . Ka i d a h- k a i d a h me t o d e Nam un, unt uk mem ber ika n sua tu gam bar an umu m pen jab ara n yan g leb ih eks pli sit dar i seb elu mny a per lu dil aku kan . Unt uk itu , pen uli s aka n men gac u pad a sej uml ah kai dah-kai dah met ode ana li sis yan g dap at mem per jel as met ode yan g dig una kan . Kai dah -kai dah ter seb ut ant ara lai n;
112

112

Keempat kaidah metode dibawah merupakan penerapan dari karya Michel Foucault tentang seks dan kekuasaan (Ibid 79, op. cit., hal. 120-127). Sub-judul yang tertera di bawah dikutip sama dengan versi terjemahan bahasa Indonesia (kecuali: kata “wacana” yang diadaptasi menjadi “diskursus”), hanya dalam penjelasannya mengalami gradasi makna, walaupun beberapa istilah tetap digunakan karena tidak ada kata pengganti yang tepat. Hal ini dibutuhkan untuk menyesuaikannya dengan konteks kajian yang berbeda. Selain itu juga perlu diingatkan, baik dari Foucault maupun penulis, kaidah-kaidah ini bukan merupakan keharusan metode. Untuk itu bisa disebut sebagai, “resep sikap hati-hati.”

68

a.

Kai dah Ima nen si.

Ant ara dis kur sus-dis kur sus den gan mek ani sme tek nol ogi glo bal , “ob yek ” yan g sat u tid ak ber ada di lua r lai nny a. Dis kur sus -dis kur sus ter seb ut buk an sek edar pem ben ara n ata s mek ani sme yan g ada ata u mek ani sme yan g ber lan gsu ng buk an bas is das ar bag i mun cul nya dis kur sus -dis kur sus . Wal aup un mas ing -mas ing sif atn ya bis a dib eda kan dal am hal per an dan sal ing ter kai t, ked uan ya itu ada dal am pen gal ama n “pu sat yan g tun gga l. yai tu

Pen gala man -pen gal ama n

mun cul

seb aga i

lok al” ,

kon sen tra si per tem uan dis kur sus den gan tek nik -tek nik dal am seb uah kon tek s rua ng dan kla sif ika si pen get ahu an spe sif ik. b. Kai dah Per uba han Ber kel anj uta n. Kaj ian ini tid ak aka n mem ula i ana lis a den gan di sti ngs i-dis tin gsi di man a men gan dai kan ada nya sua tu per an akt or yang tet ap dal am mem ban gun kec end eru nga n mas sal tek nol ogi s. Per an akt or-akt or, sep ert i yan g
113

dib aha s di dep an ter ser ak pad a ber bag ai kal ang an dan gol ong an yan g ber bed a-bed a, bah kan ber ten tan gan sat u sam a lai n. Kar ena nya per an akt or yan g ter str ati fik asi sec ara pas ti dan men eta p tid ak dap at

dit emu kan , dik are nak an bah wa dal am set iap “pu sat lok al” per an akt or ber uba h men gik uti mod ifi kas i dar i sej uml ah tem a sen tra l. 114

113

“pusat lokal” adalah istilah yang digunakan Foucault. Dalam “pusat lokal” terjadi pertemuan antara struktur teknis yang khas dengan pengalaman “subyek” dalam ikatannya dengan struktur tersebut. Sifatnya insidental sekaligus struktural, dialami sekaligus dikonstruksi. Dalam kajian ini “pusat lokal” bisa dianggap sebagai unit analisis. Dalam beberapa bagian hanya disebut dengan “diskursus-diskursus”, namun mekanisme teknis telah diandaikan ada bersama dengannya. 114 “Tema sentral” merupakan slogan-slogan yang muncul pada berbagai periodisasi dan terus dimodifikasi dalam wujud dan aktor berbeda-beda. Sebagai misal: tema liberty, egality dan fraternity yang diusung oleh kaum libertin di Perancis pada abad pertengahan muncul

69

c.

Kai dah Pen gko ndi sia n Gan da. lok al” tid ak mer upa kan lin gku p mik ro dar i “sk ema

“Pu sat

tra nsf orm asi ” 115 seb aga i lin gku p mak ro. Ant ara ked uan ya jug a tid ak hom oge n, art iny a “pu sat lok al” buk an han ya sek eda r pro yek si dip erk eci l dar i “sk ema tra nsf orm asi ”, dan seb ali kny a, “sk ema tra nsf orm asi ” tid ak mer upa kan pro yek si yan g dip erl uas dar i “Pu sat lok al. ” Ked uan ya dil iha t seb aga i “pe ngk ond isi an gan da” , yai tu sat u seb aga i str ate gi dan tek nik tek nik yan g mun cul , dan lai nny a seb agai lan das an bag i man uve rman uve r tak tik dan strat egi aga r ber has il men cap ai tuj uan nya . d. Kai dah Tak tik Pol iva len dal am ber bag ai Dis kur sus . Dal am hal ini per lu diper hat ika n tul isa n Mic hel Fou cau lt di baw ah: “..., jangan membayangkan satu model wacana yang terbagi di antara
wacana yang diterima dan ditolak atau di antara wacana yang mendominasi dan wacana yang didominasi; tetapi bayangkan wacana sebagai unsur-unsur nalar, yang dapat bermain dalam aneka ragam 116 strategi.”

Dal am seb uah dis kur sus , hub ung an pro -kon tra tid ak mer upa kan seb uah rel asi sal ing men iad aka n. Ked uan ya bis a jad i mer upak an sat u bag ian dar i mek ani sme yan g ber lak u. Di sin i dis kur sus tid ak pas if, mel ain kan akt if

kembali dalam slogan kebersamaan, kebebasan dan kebahagian dalam budaya counterculture populer dan juga dimodifikasi sebagai demokrasi oleh pemerintah. Namun, antara bentuk modifikasi satu dengan lainnya tidak lagi memiliki esensi yang sama. Di sini peran “pusat lokal” jauh lebih bermanfaat daripada tema sentral. Sedangkan sama pentingnya untuk di analisis bersamaan dengan “pusat-pusat lokal” adalah bentuk-bentuk modifikasi tersebut (Foucault menyebutnya sebagai “skema transformasi”, selain “mode kolektif” yang hadir sebagai struktur di dalamnya. 115 Penjelasan tentang “skema transformasi” dapat diperoleh pada catatan kaki di atas.
116

Ibid 79, hal. 124.

70

seb aga i sua tu mek ani sme yan g men gol ah be rba gai rag am pem iki ra n yan g mun cul . Dis kur sus men jad i ala t sek ali gus dam pak , ham bat an sek ali gus san dun gan , tit ik per law anan dan tit ik awa l dar i str ate gi yan g

ber law ana n. 117

2 . A r t i f a k d a n s t r a te g i a n a l i s i s Tul isa n men era pka n str ate gi mul ti -ana lis is yan g plu ral unt uk men gan tar pem bac a men gal ami sec ara vir tua l mek ani sme tek nol ogi lay ar dan glo bal seb aga i bag ian kes eha ria n. Seca ra umu m, ada tig a str ate gi ana lis is yan g aka n dit era pka n unt uk men jal ank an met ode ter seb ut: Str ate gi per tam a : mel aku kan ana lis is dis kur sus mel alu i tek s-tek s yan g mun cul dal am ran gka ian beb era pa per iod isa si yan g ber kai tan den gan “pu sat lok al” dan “sk ema tra nsf orm asi ” di man a tek nol ogi lay ar dan tek nol ogi glo bal had ir seb aga i mek ani sme gej ala -gej ala mas sal sep ert i yan g tel ah diu rai kan dal am Bab I. Ter mas uk dal am pen dek ata n ini ada lah kaj ian ety mol ogi , yan g dit aru h dal am cat ata n kak i, di man a men yaj ika n dasar log is dar i sua tu dis kur sus ter ten tu. Pen tin g unt uk dip erh ati kan , kaj ian ety mol ogi yan g dil aku kan tid ak unt uk men gu ngk ap asa l mul a sua tu ist ila h ata u met amo rfo sis bun yi ata u tul isa n dar i sat u kat a sat u ke kat a lai n, mel ain kan leb ih ber gun a dal am mem ber i kan des kri psi rel asi hub ungan ant ara mak na sua tu ist ila h den gan ist ila h lai n

117

Ibid, hal. 125.

71

yan g mas ih dal am sat u tat ana n sis tem lan gue 118. Sel ain itu jug a unt uk mem ber ika n pen jel asa n pen erj ema han sat u ist ila h dar i lan gue bah asa sat u ke lan gue bah asa lai n. Str ate gi ked ua : mel aku kan dig ita l di man a mer upa kan vir tua l ana lis is dis kur sus mel alu i art ifa k inf orm asi sin i, men gen ai dig ita l

sum ber -sum ber dio lah 119. Di

bag aim ana

pen gal ama n

ana lis is

mer upa kan mod el ana lis is yan g men ggu nak an gam bar dan sua ra seb aga i art ifa k yan g rel eva n, dar ipa da sek ada r men gan dal kan tek s ter tul is. Nam un, rel asi ant ara tek s dan gam bar tid ak ber ada dal am pol a fig ure and gro und . Gam bar tid ak mer upa kan fig ur uta ma den gan tek s seb aga i
118

Dalam Bahasa Perancis istilah “bahasa” tidak hanya merupakan istilah yang tunggal seperti dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (language). Untuk pengertian yang sama dengan “bahasa” dan language, dalam Bahasa Perancis dikenal istilah langage, yaitu bahasa dalam pengertian secara lengkap dan menyeluruh. Sedangkan langage dibedakan lagi menjadi dua wujud sebagai langue dan parole. Langue merupakan wujud sosial dari bahasa yang tidak tergantung pada individu, sebaliknya parole bersifat individual (psikis-fisik). Langue dibedakan lagi dalam kajian lingusitik sebagai sinkroni dan diakroni. Lihat skema ini dalam Ferdinand de Saussure, Pengantar Linguistik Umum (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, Cet. 3, Oktober 1996), hal. 185. Walaupun demikian, langue dan parole bukanlah dua obyek yang benar-benar terpisah, melainkan saling terkait dan menunjang satu sama lainnya (Ibid., op. cit., hal. 86). Walaupun bersifat sosial, langue adalah tatanan yang ada dalam setuap individu. Kehadiran langue dalam individu diungkapkan dengan rumus: 1 + 1 + 1 + 1 ... = I (Mode kolektif) Jadi, langue dapat diartikan juga sebagai “mode kolektif” (Ibid., hal. 87). Sedangkan dalam kajian ini, rumus ini diadaptasi menjadi: “pusat lokal” + “pusat lokal” + “pusat lokal” + “pusat lokal” ... = Model Konstruksi Simbolik “+” dalam rumus ini tidak bisa ditafsirkan sebagai akumulasi matematik. “+” dalam kajian ini, berarti peralihan kajian secara diskursif dari satu “pusat lokal” menuju “pusat lokal” berikutnya. Dengan demikian, “I” bukanlah kumulatif similar (“=”) dari “1 + 1 + 1 + 1”. Melainkan “I” merupakan struktur yang hadir dalam setiap “1” atau “pusat lokal”. Sebagai “mode kolektif”, langue: “...hadir secara utuh dalam bentuk guratan yang tersimpan di dalam setiap otak, kira-kira seperti sebuah kamus yang semua eksemplarnya identik, yang akan terbagi di kalangan individu” (Ibid., hal 86-87).

119

Untuk kajian tentang “obyek digital”, baca juga tulisan Alex Galloway, What is Digital studies? (online document: http://rhizome.org/ds/pages/galloway.html). Tulisan ini tidak akan digunakan sebagai referensi dalam tulisan ini, namun pembaca yang beminta bisa menjadikannya sebagai perbandingan metode. Dalam beberapa hal, Digital Studies yang ditawarkan Galloway banyak kemiripan dengan analisis audiovisual yang akan dilakukan penulis, namun pada beberapa terjadi perbedaan pendapat pada beberapa pendirian.

72

pel eng kap nya , ata u tek s jug a tid ak mer upa kan fig ur yan g mem pos isi kan gam bar seb aga i dek ora si bel aka . Gam bar tid ak unt uk men jel ask an ata u dij ela ska n ole h tek s. Ked uan ya mer upa kan seb uah ker ang ka kon str ukt if yan g sej aja r dan dia lam i ber sam a sec ara arb itr asi seb aga i hej ala dal am int ens ion ali tas ke[ tid ak] sad ara n sub yek . Strat egi ket iga , Ura ian ela bor ati f unt uk men gej awa nta hka n ked ua str ate gi di ata s dal am seb uah nar asi yan g men gga mba rka n mek ani sme tek nol ogi lay ar dan glo bal dal am sua tu tat ana n ins tit usi yan g ber lak u. Pad a pen dek ata n ket iga , yan g dil aku kan ada lah men sin tes is ked ua str ate gi per tam a dal am ran gka mem ban gun seb uah kon str uks i mod el hip ote sis ten tan g ker ja tek nol ogi lay ar dan glo bal . Di sam pin g ket iga str ate gi umu m di ata s, jug a aka n dig una kan beb era pa pen dek ata n spe sif ik unt uk men utu pi kek ura nga n-kek ura nga n yan g ada . Dal am hal ini , psi koa nal isi s Fre udi an dan psi koa nal isa Jun g mem ber ika n kon tri busi dal am mem ber ika n mas uka n pad a karak ter ket ida ksa dar an dal am tek nol ogi . Mel alu i str ate gi ini , sim bol -sim bol yan g mun cul seb aga i for masi dar i ins tin g tak sad ar bis a did iag nos is seb aga i gej ala yan g mun cul dan mem ber ika n dun ia vir tua l ika tan lan gsu ng den gan tub uh. Den gan dem iki an, tek nol ogi dia nal isi s mel alu i sim pto msim pto m sim bol ik yan g mer upa kan dor ong an lan gsu ng dar i pol a-pol a

ket ida ksa dar an. Seb aga i lan jut an, pad a bag ian sel anj utnya aka n dim ula i

mem bah as seb uah dis kur sus di man a mun cul ber sam aan den gan lah irn ya bud aya pop ule r dan had ir ber sam a-sam a den gan cit ara sa yan g mew aki li

73

pen gal ama n pri bad iny a, seb elu m akh irn ya aka n kem bal i lag i pad a pen gka jia n leb ih men dal am. Untuk tuj uan itu, set tin g awa l tah un 196 0an di “Ba rat ” tet ap seb aga i per iod e yan g aka n mem buk a dis kus i kita.

74

BA B II I KA JI AN TE OR I

Eri ch Fro mm hid up di ten gah -ten gah per uba han tek nol ogi tah un 196 0-an mer asa kan sec ara sam ar man usi a ser ta hab ita tn ya men gal ami

per eko nst ruk sia n ula ng. “Di ten gah-ten gah kit a ada han tu, ” tul isn ya, “Bu kan han tu kun o sep ert i Kom uni sme ata u Fac ism e, mel ain kan han tu bar u: mas yar aka t yan g dim esi nka n sec ara tot al, dic ura hka n unt uk men ing kat kan pro duk si dan kon sum si mat eri al, dan dia rah kan ole h kom put er-kom put er. ”120 Seb uah tra nsi si dar i “ha ntu ” yan g sat u ke “ha ntu ” lai nny a, dem iki anl ah kin i man usi a ter anc am men uru t nub uat Fro mm. “Ha ntu ” dal am dis kur sus Fro mm lay akn ya “ha ntu ” Kar l Mar x 121, mem ili ki kar akt er sub ver sif . Nam un, “ha ntu ” Fro mm tid ak sek ada r mel anc ark an aks i ser ang an dan pen jaj aha n ke sat u kel as sos ial bel aka , tap i hak ika t “ke man usi aan ” sec ara utu h. Hal yan g mem ban gki tka n ken ang an Fro mm pad a Per ang Dun ia II. 122 Kec ema san ini mel ahi rka n ana log i kla sik di mana Fro mm mer asa kan nya sam ar-sam ar ken ger ian

120

Erich Fromm, Revolusi Harapan, diterjemahkan oleh Kamdani (Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, 1996), hal. 1. 121 Baca juga: Manifesto Partai Komunis, Karl Marx dan F. Engels.
122

Fromm yang keturunan Yahudi Jerman dan pernah melarikan diri dari bangkitnya kekuatan Fasisme Nazi kini menemukan sebuah bentuk Fasisme baru di dunianya yang “aman” dan barusan “bebas” dari sebuah perang besar. Namun ada ketakutan baru yang muncul pada masa itu; perang nuklir atau diktatorisme baru.

75

“ha ntu ” den gan men eka nka n seb uah wuj ud tan pa kep ast ian ben tuk , ses uat u yan g kab ur nam un ter asa nya ta. Dua lit as dal am pen gli hat an. 123 Ket aku tan yan g pal ing men gha ntu i Fro mm ada lah sul itn ya

mem ila h ant ara “ha ntu ” dan man usi a, kac aun ya ide nti fik asi . Mak a men uru t Fro mm, “Re vol usi tah ap ked ua dit and ai: buk an han ya ene rgi hid up saj a yan g ole h dig ant ika nny a, mel ain kan pik ira n lai n, man usi a san g jug a

dig ant ika n

mes in-mes in.” 124 Den gan

kat a

“ha ntu ”

men gga nti kan man usi a tid ak sek ada r fis ik saj a, nam un “me nir u” sel uru h ben tuk dan car a ber pik ir man usi a hin gga ben ar -ben ar men yer upa iny a. Jug a kar ena man usi a men yat u den gan “ha ntu ” dan tid ak dap at

dib eda kan ant ara ked uan ya, mak a pik ira n man usi a dik end ali kan ole h si “ha ntu ”, seh ing ga man usi a mem asu ki duni a rev olu sio ner tan pa mam pu ber pik ir unt uk men olak mau pun men gka ji yan g ada dal am pik ira nny a. Men eri ma apa pun beg itu saj a, men jad i sat uan mes in yan g tid ak mem pun yai ras a dan emo si. Tim bal bal ik pen iru an ini ber pen gar uh pad a man usi a seb aga i sat uan kes ada ran uni ter seb aga i sub yek . Anc ama n dar i mes in -mes in ter dap at “di ri” itu sen dir i, buk an sek ada r pen jaj aha n ata s fis ik dan ali ena si roh sep ert i pad a era kap ita lis me aba d 18. “Di ri” buk an lag i

sat uan lep as man dir i tap i, “pe ras aan -pe ras aan dal am hub ung ann ya

123

Pada kenyataannya bukan Erich Fromm satu-satunya orang yang merasakan kegelisahan serupa. walaupun dalam hal ini sangat mungkin muncul hanya sekedar sebagai trend pendapat intelektual masa itu. Tercatat sejumlah tokoh satu era dengan Fromm seperti Lewis Mumfort, George Orwell, Aldous Huxley, Zhigniew Brzezinski, Herman Kahn, Jacques Ellul serta Herbert Marcuse yang melihat bangkitnya sebuah budaya teknologis baru. Dan seperti Fromm, tokoh-tokoh tersebut mengkhawatirkan perubahan baru itu menuju pada arah munculnya satu kekuasaan baru yang diktator di mana manusia atau publik tidak mempunyai kontrol atasnya. Fromm merangkum komentar-komentar itu dalam satu bukunya berjudul Revolusi Harapan yang ditulis pada tahun 1968. 124 Ibid 120., op. cit., hal. 28.

76

deng an ora ng lai n dia tur ole h ala t -ala t yan g men gko ndi sik an psi kol ogi s dan oba t-oba t biu s, pen ipu an -pen ipu an lai n yan g dia ngg ap mem ber i ben tuk pen gal ama n ins tro pek tif bar u.” Seh ing ga ant ara man usi a dan mes in tim bul rel asi bar u, di man a pos isi man usi a seb aga i: “ba gian dar i mes in, dib eri mak an dan hib ura n yan g cuk up tet api pas if. ” 125 Dar ipa da sek eda r pen iru an, kes eru paa n yan g ide nti k, san g “ha ntu ” ban gki t

ber evo lus i men jad i ses uat u yan g mut lak ben tuk nya dan mer aks asa ket imb ang keb era daan man usi a sen dir i, yai tu “ meg a-mes in” 126.

Kek haw ati ran Fro mm ber ali h sek ara ng, dar i kec ang gun gan kar ena dit iru ese nsi nya men jad i ken ger ian aka n pen jaj aha n dar i yan g leb ih sup eri or. Fro mm kem udi an meram alk an man usi a pad a tah un 200 0 aka n men jad i mak hlu k ham bar dan tak ber per asa an kar ena “me ga-mes in” men gam bil ali h sem ua tug as dan per ana n man usi a bah kan hin gga pad a tah ap kem and iri ann ya. Sep ert i pre dik si lai nny a, kit a men guj i sej auh man a yan g dir ama lka n Fro mm aka n men jad i ken yat aan . Tul isa n Fro mm dib uat pad a tah un 196 8 ber das ark an pro yek si kec ema san ata s kek uas aan tek nol ogi ata s man usi a mas a itu . Sek ara ng, kit a tel ah lew at dua tah un dar i mas a yan g dir ama lka n Fro mm. Kin i saa tny a kit a men guj i sej auh man a tek nol ogi tel ah mun cul seb aga i “ha ntu ” yan g men gan cam

kem anu sia an?

Sem en tar a sem aki n banya k ide yan g men ghu bun gka n

tek nol ogi dan man usi a ber mun cul an dar i mas a itu hin gga saa t kin i, sal ah sat u yan g pen tin g ada lah pah am “ke sad ara n glo bal ”.

125 126

Ibid. Diadaptasi dari istilah megamachine yang dikutip oleh Fromm dari buku karya Lewis Mumfort yang berjudul The Myth of The Machine, ditulis pada tahun 1966. (Ibid., hal. 3-5)

77

A. KE SA DA RA N DA N KE TI DA KS AD AR AN GL OB AL

Men uru t seb uah tek s ten tan g sus una n sya raf ota k, 127 sek ita r 100 mil lia r leb ih neu ron dal am ota k man usi a sal ing ber kon tak mem ban gun

kes ada ran man usi a. Sed ang kan jum lah pop ula si pla net Bum i se men tar a ini men cap ai ang ka 6.2 31. 415 .88 9 jiw a, den gan per tum buh an 1.2 5% set iap tah un
128

,

mer eka

sal ing

kon tak dan

mel alu i

ber bag ai

jar in gan ini

inf orm asi

yan g

dip era nta rai

lis tri k

tek nol ogi ,

kes eru paa n

mem ung kin an bum i dap at dip and ang seb aga i “ot ak rak sas a”. Wal aup un jum lah pop ula si man usi a bel um seb and ing den gan jum lah neu ron pad a ota k, mel alu i tek nol ogi , kin i ked uan ya mem ili ki fun gsi ser upa .

Kem udi an, kes eru paa n ini mel ahi rka n int erp ret asi dan spe kul asi ten tan g evo lus i man usi a men uju tin gka t tot ali tas kesad ara n mas sal yan g tun gga l. Sed ang kan bas isn ya ada pad a jar ing an ele kto mag net is tek nol ogi s bum i yan g men yer upa i sis tem neu ral dar i sebu ah ota k mas sal . Men uru t Arm ahe di Mah zar , 129 tot ali tas kes ada ran tun gga l man usia ini ada lah per wuj uda n dar i ter min al spi rit ual ita s pal ing akh ir sep ert i yan g dir ama lka n di tah un 193 0-an ole h pal eon tol og, yan g jug a seo ran g pas tor Ord o Jes uit Pra nci s, ber nam a Tei lha rd de Cha rdi n seb aga i: “ti tik Ome ga” , yai tu tit ik akh ir pro ses evo lus i sem est a. Ali h-ali h, den gan

127 128

Robert L. Solso, Cognitive Psychology (Boston: Allyn and Bacon, Third Edition, 1991), hal. 40. Data berasal dari The World Factbook 2001, CIA, seperti dikutip oleh Geohive (ttp://www.geohive.com/charts/pop_now.php). Data berlaku untuk tanggal 17-Jun-2002, dengan sehari sebelumnya jumlah populasi manusia di Bumi mencapai angka 6.231.205.019 orang, pertumbuhan perhari sebanyak 210.870 orang. Armahedi Mahzar, Mencari Kesadaran Semesta di Alam Mayantara (Bandung: Online document: http//www.mizan.com/bukudewasa/cyberspirit.htm, 28 Mei 1999).

129

78

lah irn ya kon sep cyb ers pac e130 ter jad i sua tu per kem ban gan pem iki ran bah wa “ti tik Ome ga” Cha rdi n bis a diw uju dkan buk ann ya dal am dis kur sus teo log i kla sik , mela ink an dit emu kan lah ir kem bal i dal am per wuj uda n tek nol ogi s. Pew art aan ide ini dal am ben tuk dis kur sus yan g leb ih int ens if dan pro vok ati f dat ang dari Pet er Rus sel l, pen uli s The Glo bal Bra in pad a tah un 198 2. Men uru t Rus sel l, “We hav e alr ead y not ed tha t the re are , ver y app rox ima tel y, the sam e num ber of ner ve cel ls in a hum an bra in as the re are hum an min ds on the pla net.” 131 Nam un Rus sel l tid ak sek eda r ber hen ti pad a pen yam aan tau tol ogi s. Ber das ark an asu msi ini , Rus sel l mem ban gun arg ume n bah wa ada kes ama an ant ar a car a per tum buh an ota k man usi a den gan jal an man usi a ber evo lus i. Rus sel l ber usa ha unt uk tid ak han ya men ari k kes ama an kua nti tat if, yan g not abe ne sif atn ya sta tis . Kar ena nya dia men cob a men emu kan seb uah “hu kum ” bag i evo lus i mas yar aka t man usi a den gan mer uju k basi s per sam aan gar is sej ara h ant ara kes atu an jar ing an neu ron dal am otak man usi a den gan kes atu an jar ing an kes ada ran antar man usi a dal am sat u pla net . Men uru t Rus sel l, ota k man usi a mas a emb rio men gal ami dua fas e per kem ban gan pen tin g. 132 Pad a tah ap awa l ter jad i led aka n mas sif pad a jum lah sel ota k yan g ber lan gsu ng sel ama mas a del apa n min ggu set ela h kon sep si. Set ela h lim a min ggu , pro ses ini men uru n hin gga fet us mem ili ki

130

“Di antara dua orang yang bercakap-cakap tentunya ada ruang. Ketika kita bercakap-cakap secara lisan, ruang itu tak lain adalah ruang fisik yang tiga dimensi itu. Jika kita bercakapcakap lewat telepon, tentunya ada sejenis ruang juga yang mengantarai kita,” kata Mahzar (Ibid., loc. cit.). “Ruang” itu yang kemudian disebut sebagai Cyberspace. 131 Peter Russell, The Global Brain, Bab 8, Towards a Global Brain (online document: http://www.peterussell.com/GB/globalbrain.html, tahun tidak tercantum). 132 Ibid., op. cit.

79

sel sya raf yan g cuk up bag i kel ang sun gan hid up. Man and ai dim ula iny a tah ap dua , mil iar an sel bar u ter ben tuk , yang seb elu mny a ter iso las i sat u sam a lai n, mul ai sal ing ter kon eks i. Ant ara bag ian ota k yan g sat u den gan lai nny a ter ban gun jar ing an yan g men gik at sel -sel itu men jad i sat u. 133 Kes ada ran mem ula i keber ada ann ya. Rus sel l men gam ati hal ser upa pad a evo lus i mas yar aka t man usi a:

“ For the last few centuries the number of ‘cells’ in the embryonic

global brain has been proliferating. But today population growth is slowing, and at the same time we are moving into the next phase–the linking of the billions of human minds into a single integrated 134 network .”

Pad a tit ik ini , glo bal bra in dis ada ri leb ih dar i sek eda r kes ada ran ter ken dal i. Sel aya kny a sel ota k, jum lah man usi a yan g cuk up unt uk men utu pi seb agi an per muk aan bum i men jad i ter kon eks i, seb uah

kes ada ran bar u deng an tug as uta ma unt uk ber sos ial isa si. 135 Mak sudny a, bum i seb aga i seb uah pla net tel ah ban gki t seb aga i org ani sme bar u yan g seb and ing den gan sis tem sya raf pad a ota k, di man a sem ua mas yar aka t sel uru h dun ia dap at ber -“so sia lis asi ” den gan beb as tan pa ham bat an dan den gan kec epa tan men gag umk an lay akn ya ker ja jar ing an sya raf . Huk um evo lus i mas yar aka t kin i men gik uti huk um per tum buh an bio log is. Rus sel l mem ban gun sua tu pon das i bag i pem iki r-pem iki r

sel anj utn ya unt uk men emu kan sua tu kep astia n sej ara h. Dan , pen opa ng

133 134 135

Ibid. Ibid. Menurut Russell, kesadaran ini hanya bisa diamati sebagai sebuah realitas hanya melalui jarak yang cukup jauh:“This awakening is not only apparent to us, it can even be detected millions of miles out in space. Before 1900, any being curious enough to take a "planetary EEG" (i.e., to measure the electromagnetic activity of the planet) would have observed only random, naturally occurring activity, such as that produced by lightning.” (Ibid., op. cit.)

80

dar i sej ara h bar u uma t man usi a itu tid ak ter let ak pad a dir iny a sen dir i, tap i sen tra lny a ber ada pad a tek nol ogi cyb ers pac e, seb uah ken isc aya an dal am mem baw a man usi a pad a ket erk one ksi aan sec ara utu h: “The mor e com ple x our glo bal tel eco mmu nic ati on capab ili tie s becom e the mor e hum an soc iet y is beg inn ing to loo k lik e a plane tar y ner vou s sys tem .” 136 Ada lah Dou gla s Rus hko ff yan g men duk ung per nya taa n ini . Di kem udi an har i, Rus hko ff mem baw a ide ini dal am buk uny a yan g ber jud ul Cyb eri a (19 94) . Ber bed a den gan Rus sel l yan g meni tik ber atk an ide ten tan g glo bal bra in pad a kes ada ran yan g men yat u, Rushk off

men gun gka p ket ida ksa dar an man usi a ket ika ter kon eks i seb aga i seb uah org ani sme glo bal : “Eac h hum an bei ng is an ind ivi dua l neu ron , but una war e of his con necti on to the glo bal org anism as a who le.”
137

Sif at

dar i ket ida ksa dar an glo bal bra in ada lah parad oks dar i tug asn ya seb aga i mod el “ke sad ara n tun gga l ber sam a”. Jik a glo bal bra in dia ngg ap seb aga i sua tu tin gka t “ke sad ara n” bar u yan g mel iba tka n man usi a sec ara glo bal , seb ali kny a, glo bal brai n — sep ert i kat a Rus hko ff — jus tru buk anl ah sua tu hub ung an yan g

keb era daa nny a dis ada ri sub yek

( una war e) 138 seb aga i sat u kes atu an

org ani s. Jik a sub yek (se bag ai neu ron ) tid ak men yad ari bah wa dir iny a ter kon eks i dal am sat u aru s kes ada ran tun gga l, lal u apa kah denga n

136 137 138

Ibid., op.cit. Douglas Rushkoff, Cyberia, (Online document: www.rushkoff.com, 1994). Hal yang sama sebenarnya juga dianut oleh Russell, walaupun dia berkali-kali menyebutnyebut global brain sebagai tingkat kesadaran yang lebih tinggi dari yang dimiliki manusia pada saat ini. Russel meyakini bahwa kesadaran global hanya bisa diamati dari jutaan mil di angkasa luar (baca kutipan tulisan Russell di catatan kaki no. 135). Atau dengan kata lain, bagi orang yang hidup di planet tersebut, kesadaran global tidak bisa benar-benar disadari secara penuh keberadaannya.

81

dem iki an glo bal bra in mas ih bis a dia ngg ap seb aga i kel anj uta n dar i

evo lus i kes ada ran man usi a?
Men jaw ab per tan yaa n ini , Rus hko ff ber kom ent ar: “As mor e peo ple bec ome con nec ted , mor e fee dba ck and ite rat ion can occ ur, and the Gai an 139 min d can bec ome mor e full y con sci ous.” 140 Sem aki n man us ia mem ben tuk ata u men jad i jar ing an, mak a int era ksi mem baw a man usi a pad a tah apa n dim ana glo bal bra in mer upa kan dim ens i bar u yan g sem aki n “di sad ari ” dan “me nya tuk an” . Seh ing ga ter ban gun sis tim bar u yan g mas sal dan ter atu r, lay akny a koo rdi nas i jar ing an ota k dal am

men jal ank an tug asn ya. Kon eks i men jad i kat a kun ci yan g men jem bat ani dua dun ia; sad ar dan tid ak sad ar. Kon eks i diy aki ni mem ban gki tka n ket ida ksa dar an men jad i ses uat u yan g nya ta, sad ar dan dis epa kat i: “Evo lut ion , the n, dep en ds on hum ani ty” s abi lit y to lin k up to one ano the r and bec ome a glo bal con sci ous nes s.” 141 Dar i sin i, sif at

ket ida ksa dar an glo bal bra in di tra nsf orm asi men jad i sat u cit a-cit a sad ar sep ert i yan g dig amb ark an ole h Rus sel l. Dar i seb uah ket ida ksada ran mas sal , glo bal bra in men jad i cita-cit a yan g dip erj uan gka n sec ara sad ar. Leb ih jau h lag i, glo bal bra in dij aba rka n dal am ide olo gi tot ali sas i kes ada ran ;

“The people you are about to meet interpret the development of the

datasphere as the hardwiring of a global brain. This is to be the final stage in the development of ‘Gaia,’ the living being that is the Earth, for which humans serve as the neurons. As computer programmers and
139

Gaia, adalah istilah untuk “bumi” dalam bahasa Latin. Adalah perwujudan dari sosok yang diyakini sebagai “Dewi Bumi” Yunani. Istilah ini dirujuk oleh Rushkoff dari Gaia hypothesis dari James Lovelock, dimana mendukung keyakinan Russell bahwa planet Bumi sendiri adalah sebuah raksasa organik yang hidup secara biologik. Ibid 137., op.cit. Ibid.

140 141

82

psychedelic warriors together realize that ‘all is one,’ a common belief emerges that the evolution of humanity has been a willful progression toward the construction of the next dimensional home for 142 consciousness”

“All is one ,” dem iki an cit a-cit a Rus hko ff di ata s, yai tu kes atu an tun gga l yan g men jad i tuj uan akh ir evo lus i kem anu sia an bar u. Kes atu an yan g dim aks ud tid ak sek eda r ter dap at pad a kes ada ran saj a, nam un jug a ket ida ksa dar ann ya, seh ing ga fah am ini mem ban gun dun ia “sa dar ” hin gga pad a aka r men tal nya . Sed ang kan Rus sel l men gun gka pka n cit a-cit a ser upa dal am bah asa yan g leb ih eks pli sit : “.. .a sense of one nes s and uni ty is exa ctl y wha t is ref lecte d ini thi s pic tur e of the pla net ... It sym bol ise s the gro win g awa ren ess tha t we are One Hum ani ty, liv ing on One Pla net , and wit h One Com mon Des tin y.”143 Di man a let ak kes ada ran ind ivi du di ten gah-ten gah ban gki tny a kes ada ran glo bal ? Men uru t ide glo bal bra in, kes ada ran ind ivi du buk ann ya len yap , tap i ter aku mul asi dal am sat u kes ada ran tun gga l yan g men yat u den gan pij aka n yan g sam a: “The re are als o par all els bet ween the evo lut ion of the glo bal bra in and the evo lut ion of men tal fun cti ons .” 144 Ata u den gan bah asa lai n Rus sel l men gat aka n kes ada ran dan

ket ida ksa dar an ind ivi du men gal ami evo lus i den gan ban gki tny a glo bal bra in. Jad i buk an ben ih aku mul asi kes atu an dar i pad a kes ada ran -kes ada ran ket ida ksa dar an, pad a per uba han ata upu n jug a dan

pen ana man per sen yaw aan

tapi men tal

mer ata yan g ber imb as

142 143

Ibid.

Kutipan ini berasal dari transkip video sountrack yang berjudul The Global Brain. Untuk mendapatkan transkrip ini bisa mengunjungi website pribadi milik Peter Russell yang beralamat di: http://www.peterussell.com/GB/Gbtext.html 144 Ibid., loc. cit.

83

kes ada ran ind ivi du yan g ter lib at. Sed ang kan , seb uah kes ada ran glo bal yan g awa lny a ter jad i tan pa kes ada ran ind ivi du, per lah an-lah an ban gki t men gat asi kes ada ran -kes ada ran lai nny a dan men jad i sat u kes ada ran utu h. Leb ih pen tin g lag i, glo bal bra in sej ala n den gan per wuj uda n cit acit a hum ani sme bar u dal am ben tuk “ke ber sam aan ” abs olu t yan g sec ara kon tra s men gan dal kan tek nol ogi seb aga i sar ana uta ma (pa dah al bag i Fro mm mis aln ya, tek nol ogi men jad i anti tes is bag i hum ani sme ). Sad ar ata u tid ak, Rus sel l men gam ini hal ini :

“ New technologies, new communication protocols, new software and
other developments will make the net of ten years time as hard to imagine today as laptop computers talking to each other across the 145 globe were twenty years ago.”

Ant ara evo lus i yan g dil and ask an pad a tek nol ogi , dan evo lus i kes ada ran man usi a (ke man usi aan) tid ak bis a dib eda kan lag i. Dal am glo bal bra in , tek nol ogi dan kes ada ran (at aup un ket ida ksa dar an) ada lah sat u kes atu an dal am seb uah cit a-cit a uto pis hum ani sme uni ver sal ver si kon tem por er. Ini men unj ukk an per bed aan pan dan gan , di man a Eri ch Fro mm dan rek an-rek ann ya men gan gga p tek nol ogi seb aga i anc ama n pot ens ial

ter had ap kem anu sia an, sem ent ara Rus sel l dan Rus hko ff men gan gga p tek nol ogi jus tru mer upa kan uns ur uta ma unt uk men cap ai kem anu sia an ide al. Seb ena rny a apa yan g mem bua t ked ua gen era si pem iki ran ini mem bua t jur ang leb ar dal am sik apn ya kep ada tek nol ogi ? Ken yat aan bah wa saa t Eri ch Fro mm men uli s ten tan g kek uas aan meg a -mes in

145

Ibid 131., op. cit.

84

komp ute r yan g dis ebut -seb ut seb aga i sum ber kon tro l uta ma, tek nol ogi kom put er mas ih mer upa kan “ma khl uk” asi ng bag i pub lik , mun gki n ter mas uk Fro mm sen dir i. 146 Wal aup un rev olu si kom put er gen era si

per tam a hin gga gen era si ket iga den gan IC (Int egr ate d Cir cui t ) ter jadi pad a tah un-tah un awal akh ir PD II hin gga per ten gah an tah un 196 0-an, kom put er ter uta ma han ya ban yak dik ena l di kal ang an mil ite r, aka dem isi dan sed iki t dik ena l kal ang an bis nis mel alu i IBM (Int ern ati ona l Bus sin ess Mac hin e). Pad a mas a ini cer ita -cer ita tentan g kom put er leb ih ban yak mer upa kan fan tas i ket imb ang pen gen ala n “se sun ggu hny a” ten tan g fun gsi dan car a ker ja kom put er. Fro mm dan tem an -tem ann ya men gam ati per kem ban gan pes at itu den gan dis ert ai rum or -rum or ser am, sed ang kan di kan tor-kan tor per usa haa n, kom put er leb ih dik ena l dar i nil ai pre tis enya ket imb ang tek nol ogi fun gsi ona l. 147 Kon tra s den gan gen era si Fro mm, Rus sel l dan Rus hko ff yan g mas ih sat u gen era si di baw ah, buk an han ya men gen al kom put er dar i seb uah jar ak len gga ng. Jau h dar i itu , rev olu si mik ro -ele kt ron ik pad a era sel anj utn ya ber has il mer uba h kom put er men jad i tid ak bed a dar i

tek nol ogi pen duk ung keh idu pan seh ari -hari lai nny a, sep ert i; tel evi si, kul kas , sen dok dan lai n-lai n. Ter uta ma dis eba bka n jug a mem ban jir nya PC (Per son al Com put er) pad a pas ara n dun ia yan g tel ah dim ula i sej ak
146

Roger Fidler, menggambarkan betapa pada awal komputer-komputer raksasa berukuran satu ruangan penuh dipublikasikan ke publik menimbulkan reaksi yang beragam dari berbagai kelompok masyarakat. Dengan imajinasi yang berkembang tentang kompleksitas dan kekuatannya, komputer telah menjadi “kuil-kuil baja” hanya karena ukurannya yang raksasa dan terbuat dari baja. Sebagai “kuil”, simbolisme relijius dari komputer diperkuat oleh penampilan operatornya yang bermuka serius dengan jubah putih layak disebut sebagai pendeta teknologi digital. (Baca catatan kaki no. 3, Bagian Pertama dari Mediamorfosis. Memahami Media Baru (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2003), hal. 46. 147 Robert Sobel, IBM: Raksasa dalam Masa Peralihan, diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Rossi Sanusi dan disunting oleh Nin Bakdi Sumanto (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1986). Baca Bagian IV, hal. 303-364.

85

pem buk aan tah un 197 0, dan mun cul nya rev olu si WWW (Wor ld Wid e Web ) men jel ang mil len ium ket iga . Per kem ban gan ara h dan aru s tek nol ogi kom put er dar i era Fro mm yan g ban yak did omi nas i mes in -mes in rak sas a rum it dan eks lus if men uju mik ro -kom put er yan g sed erh ana dan “ra mah ” pad a era per ten gah an 197 0-an, mem ber ika n jur ang cuk up lua s bag i pan dan gan ked ua gen era si men gen ai per an tek nol ogi dan rel asi nya den gan kem anu sia an. ini Nam un, sej auh mana per uba han ten tan g wuj ud dar i seb aga i

tek nol ogi

mem pen gar uhi

pan da nga n

per ann ya

anc ama n ata u seb aga i ala t ban tu uta ma kem anu sia an, hal ini mas ih san gat dir agu kan . Ter uta ma sek ali , ide sep aha m den gan glo bal bra in, di man a tek nol ogi dil iha t seb aga i ala t rea lis asi kem anu sia an, jus tru tel ah ada jau h seb elu m k omp ute r mau pun tek nol ogi inf orm asi lai nny a

mew aba h di sel uru h dun ia. Seo ran g pen uli s fik si ilm iah ter kem uka , yai tu H.G . Wel ls 148, pad a tah un 193 7 mem bay ang kan ada nya sua tu sis tem kon tro l jar ing an

inf orm asi yan g dis ebu tny a seb aga i wor ld bra in 149. Dal am bay ang an Wel ls, wor ld bra in ter dir i dari seb uah pus at inf orm asi yan g men yim pan sel uru h pen get ahu an man usi a dal am sat u sen tra l mem ori rak sas a dan kem udi an

148

Herbert George Wells (1866-1946), penulis berkebangsaan Inggris. Lulus dari London University dengan gelar bidang Biologi pada tahun 1890. Keberhasilannya yang paling utama adalah menggabungkan pengetahuan ilmiahnya dengan visi fantastis melalui sejumlah karya fiksi ilmiah, di antaranya yang paling terkenal adalah; The Time Machine (1895) dan The War of Worlds (1898). Banyak ide-ide Wells yang sampai saat ini masih diulang untuk diperdalam dan berpengaruh terhadap perkembangan sains maupun sosial. Salah satu paham yang dianutnya adalah tentang negara yang dipimpin oleh sejumlah ilmuwan (teknokrasi). 149 Nama ini, mau tidak mau, mengingatkan kita pada nama global brain yang diberikan Peter Russell pada idenya. Namun ada sedikit perbedaan antara keduanya yang akan segera dibahas.

86

men ghu bun gka n set iap ora ng yan g men gak ses nya . 150 “Pu sat Inf orm asi ” ini ter dir i dar i uni t tug as sek ump ula n il muw an pak ar inf orm asi yan g ter lat ih dan den gan mem anf aat kan sem ua tek nol ogi inf orm asi yan g ada pad a era nya , kem udi an men gam bil per an seb aga i pus at per enc ana an pen get ahu an bag i dun ia:

“ In a universal organisation and clarification of knowledge and ideas, in

a closer synthesis of university and educational activities, in the evocation, that is, of what I have here called a World Brain, operating by an enhanced educational system through the whole body of 151 mankind. ”

Mer eka ada lah pih ak yan g men get ahu i seg ala ses uat u yan g ter jad i, mel aku kan pem ila han , kem udi an men ent uka n apa yan g lay ak dan tid ak unt uk did ist rib usi kan kep ada mas yar aka t seb aga i sat u-sat uny a sum ber inf orm asi dan pen get ahu an yan g val id:

“ a World Brain which will replace our multitude of uncoordinated
ganglia, our powerless miscellany of universities, research institutions, literatures with a purpose, national education systems and the like; in that and in that alone, it is maintained, is there any clear hope of a really Competent Receiver for world affairs, any hope of an adequate 152 directive control of the present destructive drift of world affairs. ”

Sin gka t kat a, pus at inf orm asi wor ld bra in ada lah seb uah usa ha dal am ska la mas sal unt uk mem ila h dan mer omb ak sel uru h sal ura n inf orm asi yan g pad a awa lnya sem era wut dan tak tid ak ter kon tro l, unt uk dit ata , dis usu n, dan dia tur kem bal i ses uai den gan kai dah ket era tur an
150

Donald Michie, The Social Aspects of Artificial Intelligence, sebuah artikel yang dikumpulkan dalam sebuah buku yang berjudul Micro-electronics and Society, disusun dan diedit oleh Trevor Jones (London: The Open University Press, Milton Keynes, 1980), hal. 128-129.

151

Wells, H.G., World Brain, 1938, hal. xvi, seperti dikutip oleh W. Boyd Rayward dalam H.G. Wells Idea of a World Brain: a critical Reassessment (Journal of The American Society for Information Science 50, Mei 1999), hal. 557-579. 152 Ibid., loc.cit.

87

ter ten tu

aga r

ter hin dar

dar i

mel eda kny a

jar ing an

inf orm asi

“me nyi mpa ng” dan “me rug ika n” bag i mas yar aka t. Ide Wel ls ini did oro ng ole h pad a ang gap an ter jad iny a ine fis ien si pad a sis tem inf orm asi dan pen did ika n di mas a itu, seh ing ga dip erl uka n: “pre lim ina ry ide as for a fed era l wor ld con tro l of suc h thi ngs as com mun ica tio ns, hea lth , mon ey, eco nom ic adj ust men ts, and the sup pre ssion of cri me." 153 Jad i ada inf orm asi yan g men gga ngg u, men gac auk an, dan mer upa kan kej aha tan , seh ing ga dip erl uka n seb uah lan gka h pen ert iba n unt uk men ata nya

kem bal i pad a jal ur yan g leb ih efi sie n. Ber sam a-sam a den gan tek nol ogi inf orm asi , sek elo mpo k ora ng den gan kew ena nga n dom ina n aka n

mel aks ana kan tuj uan ini , mer eka kem udi an men jel ma men jad i dal am wuj ud yan g met a-tekno bio log is, yai tu: wor ld bra in. Tek nol ogi yan g dip erk ena lka n ole h H.G . Wel ls ini dap at dib ila ng “ra mah ” kar ena dar ipa da sek ada r mem esi nka n manus ia, mes inp un ber upa ya

dim an usi aka n, dan let ak pen yam pur an kem anu sia an dan mes in ini dit eka nka n pad a kon tro l dan dis ipl ini sas i inf orm asi . Hal ini men jad ika n ide H.G . Wel ls men ari k dip erh ati kan , buk an han ya kar ena pah am ini mun cul pad a mas a yan g kur ang ses uai , nam un leb ih dis eba bka n sifa t met a -tek nob iol ogi s ide itu . Kar ena itu , jik a ide ini dib and ing kan de nga n kon sep met a-tek nob iol ogi s lai nny a sep ert i glo bal bra in Rus sel l dan rek an -rek ann ya, mak a dim ung kin kan mel aku kan kaj ian yan g dih ara pka n mem ber ika n gam bar an mod ifi kas i dis kur sus yan g ber lan gsu ng dar i sat u per iod e men uju per iod e ber iku t dal am seb uah “sk ema tra nsf orm asi ”.
153

Ibid.

88

Sep ert i yan g did uga sej ak awa l, wal aup un mem ili ki kes ama an dal am nam a, ter dap at per bed aan men col ok pad a ked uan ya yan g tid ak bis a dia bai kan . Bai k Rus sel l, mau pun Rus hkof f ber ang gap an glo bal bra in mer upa kan sar ana men uju pem beb asa n man usi a dar i ket era sin gan sat u sam a lai n. 154 Ber tol ak bel aka ng den gan ide pem beb asa n, mel alu i wor ld bra in, Wel ls leb ih men eka nka n aka n mis i kon tro l. Kar ena itu , Wel ls sen dir i san gat men yad ari bahw a wor ld brain mem ili ki nua nsa pol iti s: “bri ng all of the sca tte red and ine ffect ive men tal wea lth of our wor ld int o som eth ing lik e com mon und ers tan din g, and int o eff ect ive rea cti on upo n our vul gar eve ryday pol iti cal , soc ial and eco nom ic lif e.” Bed a dar i Wel ls, Rus sel l dan Rushk off ber usa ha men unj ukk an bah wa glo bal bra in mer upa kan sar ana pem beb asa n spi rit ual , cit a-cit a per dam aia n dan kes atu an mis tis den gan “ib u bum i”, ket imb ang kek haw ati ran aka n ine fis ens i inf orm asi dan upa ya reg ula si ter hadap nya . Nam un, perb eda an ini mer upa kan pem isa han dis kri t unt uk

ked uan ya ata u jus tru han ya per mul aan ? Seb aga i seb uah ide ali sas i evo lus i mas yar aka t, ked uan ya dim ula i dar i ran can gan sam a: yai tu ter kon eks iny a sem ua man usi a ole h tek nol ogi dal am sat u jar ing an. Wal aup un sep int as, yan g sat u men gan ut sis tem kon eks i ter pus at dan yan g lai n men awa rka n sis tem kon eks i men yeb ar tan pa pus at. Tet api , ket ika man usi a ter kon eks i sat u sam a lai n, bai k dal am glo bal bra in mau pun wor ld bra in,

keb ang kit an seb uah “ke sad ara n” bar u yan g ber sif at mel am pui kes ada ran

154

Dalam hal ini Rushkoff pernah berkata, “...values of the original Internet community: there is no boss, anyone can participate, and the more contributions from around the world, the better. The object of a rave dance is to join a large group together, at least temporarily, into a single, joyful, coordinated being.” Simak di : Douglas Rushkoff, Electronica. The True Cyberculture, (online document: http://www.rushkoff.com/cgi-bin/columns/display.cgi/e lectronica, May 1999).

89

man usi a dia ngg ap seb aga i hal tak ter ela kan . 155 Kes ada ran int egr al itu dij aba rka n den gan san gat bai k pad a kon sep glo bal bra in mau pun wor ld bra in. Dal am cit a-cit a uto pia yan g tid ak ber bed a den gan All is one yan g dik uma nda ngk an Rus hko ff mau pun unity of min d -nya Russe ll, Wel ls men gga mba rka n cit a -cit a yan g mel and asi lah irn ya wor ld bra in:

“ These innovators, who may be dreamers today, but who hope to
become very active organizers tomorrow, project a unified, if not a centralized, world organ to “pull the mind of the world together”, which will be not so much a rival to the universities, as a supplementary and co-ordinating addition to their educational activities- on a 156 planetary scale ”

Dar i per nya taa n ini , ter sin gka p bah wa kec end eru nga n sen tra lis a si dar i wor ld bra in seb ena rny a tid ak lup ut dar i per hat ian Wel ls. Wel ls

men yad ari ben ar ket erb ata san aka n ide nya ini . 157 Nam un Wel ls men aru h key aki nan bah wa wor ld bra in pad a per kem ban gan sel anj utn ya aka n leb ih mem ber i keb eba san den gan men emu kan ben tuk yan g le bih mud ah

dit eri ma ole h mas sa: “I hop e, for eca sti ng her e, in suc h a per man ent org ani sat ion of kno wle dge , sys tem ati cal ly ass emb led , con tin ual ly

ext end ed and ren ewed and mad e fre ely and eas ily acc ess ibl e to eve ryo ne.” Ber sam a har apa n ter seb ut, Wel ls tet ap pada pen dir ian nya
155

Rayward (Ibid 151), contohnya, menganggap tidak ada perbedaan yang berarti pada kedua ide tersebut. (Ibid 139., op. cit.) 156 H.G. Wells, World Brain: The Idea of a Permanent World Encyclopaedia, (Encyclopédia Française, Agustus, 1937) dapat dibaca di online document: http://sherlock.berkeley.edu/ wells/world_brain.html)
157

Ada yang berpendapat bahwa Wells tidak menyadari bahaya dari pandangannya yang menjurus menuju ke arah fasisme dikarenakan pada saat Wells menulis idenya, Nazi sebagai kekuatan utama Fasisme dunia belum benar-benar muncul sebagai ancaman (Ibid 151., loc. cit). Namun penulis kurang setuju dengan pendapat ini, menurut penulis cita-cita suatu masyarakat yang menyatu secara utuh dan terkontrol secara otomatis bukan semata-mata pandangan yang dianut oleh Fasisme Nazi, tapi juga oleh kaum Liberal maupun Sosialis. Lagipula, ancaman tentang kekejaman Nazi pada awalnya bukan didasarkan pada doktrin totalianisme pada Nazi, tapi lebih tergantung pada cerita-cerita kekejaman Nazi terhadap kaum Yahudi dan invasinya terhadap seluruh Eropa dan Afrika.

90

bah wa wor ld bra in aka n mem baw a man usi a pad a sat u “ke ter atu ran ber sam a”, han ya saj a pen eri maa n yan g dib eri kan sif atn ya “su kar ela ”:

“like a nervous network, a system of mental control about the globe,

knitting all of the intellectual workers of the world through a common interest and common medium of expression into a more and more conscious co-operating unity and a growing sense of their own dignity, informing without pressure or propaganda, directing without 158 tyranny”

Jik a dib and ing kan den gan pen dap at Rus hko ff ten tan g tra nsf orm asi glo bal bra in dar i ket erk one ksi an tid aks ada r men uju kon eks i sad ar, ide Wel ls di ata s men emu kan jal an kel uar nya . Kon tro l ata s inf orm asi ter jad i tid ak den gan pak saa n, mel ain kan seb ali kny a, ber das ark an tra nsf orm asi men ing kat nya kes ada ran unt uk bek erj asa ma dal am kes atu an den gan wor ld bra in 159. Seh ing ga unt uk men cap ai kontr ol mel alu i wor ld bra in , tid ak ada yan g mer asa dik eka ng ole h seb uah kek uas aan dik tat or. Mak sud nya , den gan tek nol ogi wor ld bra in, “su bye k” ata u “in div idu” dal am jum lah bes ar dap at dia rah kan men uju sua tu ket era tur an mas sal tan pa per lu mer asa adany a pem aks aan dar i lua r. Mer eka dia was i mel alu i sua tu mek ani sme , tan pa mer asa keh adi ran sat u “ke sad ara n” rak sas a di bal ik kes ada ran mer eka . Sem ua inf orm asi yan g mer eka ter ima ada lah jal ur yan g “be nar ” dan “ef ekt if” , tid ak per nah ada inf orm asi yan g “ti dak bai k” dan “er osi ” men tal . Den gan dem iki an, sem ua man usi a hid up dal am seb uah uni -rea lit as dan uni-hum ani tas tak ter ban tah kan . Lin ier den gan kea daa n ini , glo bal bra in men awa rka n keb eba san spi rit ual , buk an pen gon tro lan ata s dir i.
158 159

Wal aup un, keb eba san spi rit ual

Ibid 139., op. cit. Sedangkan dalam global brain, semakin sadar individu akan terkoneksi dirinya dengan orang lain, semakin kuat kebersamaan yang muncul.

91

yan g dit awa rka n ter ika t ole h ker ang ka ter ten tu. Wal aup un mil lia ran man usi a ter kon eks i ata s kem aua nny a sen dir i, nam un mer eka tid ak per nah men yad ari ban gki tny a sat u kes ada ran rak sas a, hin gga kem udi an dis ada rka n han ya unt uk sem aki n men gen can gka n ika tan kon eks i

ter seb ut. Per ali han kea daa n kon eks i tid aksad ar men uju kon eks i yan g sad ar tid ak men gan dun g kem ung kin an lai n kec ual i han ya sem aki n kua tny a keb utu han aka n kon eks i dan “ke ber sam aan ” yan g ter jal in ber sam a den gan nya . Seg ala kem ung kin an yang tid ak ses uai ata u mun gki n ber ten tan gan dia bai kan . Hal ini bis a ter lak san a jik a sem ua ora ng mer asa kan ket erk one ksi an sec ara glo bal den gan per asa aan “be bas ”, “ba hag ia” dan “ke ber sam aa n”. Seh ing ga, seg ala ses uat u yan g men unj uk pad a ind ika si ber lai nan ara h den gan top ik ini aka n dis ubl ima si sec ara sad ar mau pun tak sad ar ole h mas sa. Seb aga i con toh , Rus hko ff per nah men gga mba rka n keb ang kit an glo bal bra in seb aga i per uba han pol a evo lu si man us ia yan g seb elu mny a aca k ata u tak ter atu r dar i ser ang kai an sel eks i ala m men jad i pol a yan g leb ih “pa sti ” dan “je las ”. 160 Dal am pan dan gan ini , kei ngi nan unt uk mel aku kan kon tro l ata s jal ann ya sej ara h men uju ses uat u yan g leb ih ter ken dal i san gat ken tar a. Hal ini memb uat glo bal bra in tid ak jau h ber bed a dal am cit a-cit a unt uk mem ben tuk ara h sej ara h yan g pas ti, sep ert i hal nya wor ld bra in, wal aup un sam a -sam a men gan dai kan ada nya “ke beb asa n” dal am ket erl iba tan . Bai k dal am wor ld bra in mau pun glo bal bra in, tid ak ada usa ha untu k mel aku kan kes era gam an fis ik ata u psi kis , yan g ada han ya upa ya mem ber ika n kep ada mas sa seb uah fok us yan g
160

Rushkoff dalam hal ini berkata, “Evolution is seen more as a groping toward than a random series of natural selections. Gaia is becoming conscious.” (Ibid 137., op. cit.)

92

jel as, pas ti dan ter ara h tan pa per asa an ter kek ang ata u ter pak sa sec ara men tal mau pun fis ik. Den gan dem iki an, bai k glo bal bra in mau pun wor ld bra in mena war kan sua tu dun ia bar u, aru s dan ara h inf orm asi yan g tid ak lag i sek eda r men awa rka n “ke beb asa n”, nam un tel ah men jad i “ta kdi r” yan g tid ak per lu dis emb uny ika n di ala m bawah sad ar. Kes atu an ber sam a mem baw a kes ada ran pad a pen gal ama n sej ara h yan g pas ti. Dal am wor ld bra in , reg ula si ata s inf orm asi dan pen get ahu an ter jad i tet api tid ak ada “hu kum an” jel as bag i yan g tid ak sep aha m den gan ara h yan g dit ent uka n. Bis a jad i, hal ini dik are nak an Wel ls yak in bah wa ket ida kse pah ama n tid ak bak al ter jad i jik a sel uru h sup lai ata s inf orm asi tel ah ber has il dim ono pol i. Sed ang kan , pad a glo bal bra in tid ak dit emu kan nya ada nya sua tu dis ipl in yan g tra nsp ara n, nam un sec ara tak sad ar dan ber lah an-la han mas sa glo bal dit unt un pad a seb uah keb ena ran pra -sad ar yan g kem udi an dis ada ri unt uk dikut i ara h ger akn ya. Tid ak dig ena pin ya “ta kdi r” ter wuj udn ya glo bal bra in ber art i mer upa kan

sta gna si dan dek ade nsi bag i sel uru h man usi a, mac etn ya evo lus i dan vak umn ya sej ara h (at au ine fis ien si per ada ban man usi a men uru t wor ld bra in). Kar ena itu , globa l bra in Rus sel l dan Rus hko ff buk an lai n ada lah kel anj uta n dar i per kem ban gan ide Wel ls ten tan g wor ld bra in hin gga dal am for mat yan g tam pak leb ih ber sah aba t dan mut lak sec ara

eks ist ens i dar ipa da seb elu mny a. 161

161

Walaupun tentunya bagi Russell dan Rushkoff yang yakin bahwa idenya adalah awal dari pembebasan umat manusia tidak akan setuju dengan penyandingan ini. Beberapa keadaan tetap menunjukkan bahwa “sentral regulasi informasi” pada world brain yang digambarkan memiliki keberadaan fisik muncul kembali dalam global brain menjadi sosok yang lebih mistis dan spiritual sebagai cyberspace. Ada kontras, sekaligus ada kemiripan. Perpindahan sosok sentral material menjadi virtual bisa dianggap sebagai modifikasi paling maju dari world brain menuju global brain. Penerjemahan cita-cita Wells dalam wujud yang lebih

93

Rin gka sny a, dal am men yor ot keb ang kit an globa l bra in ata u wor ld bra in 162 tid ak bis a dis oro t sem ata-mat a seb aga i seb uah fen ome na yan g han ya ber ada jau h pad a mas a men dat ang , ata u dia ngg ap bel um eks is. Dom ina si ket ida ksa dar an ata s ket erk one ksi an dan “ke sad ara n yan g

ter tun tun ” mem ber ika n sif at ide olo gis dan mit olo gis pad any a, yan g ber art i jug a bah wa dia dib ent uk dar i sat u kem ung kin an dar i ide olo gi ide olo gi lai nny a di sua tu mas a dan dib eri sif at kek ini an. Wal aup un asp ek “ma ter ial ” sep ert i tek nol ogi inf orm asi men gam bil and il yan g tid ak sed iki t di dal amn ya, nam un nub uat tent ang ban gki tny a “ke sad ara n rak sas a” mas sal itu leb ih ban yak mel iba tka n pro yek si ke mas a dep an, sel ain pen gal ama n masa lal u, tan pa mel iba tka n sua tu pen gal ama n “sa at ini ”. Dia [ad a] seb aga i ban gun an kon tru ksi dal am ket ida ksa dar an seb aga i ide olo gi tet api diaku i pad a mem ili ki ata s cir i-cir i pen gal ama n “em pir is” . met a -

Ket ida ksa dar an

sub yek

“me ga -kes ada ran ”

(sa ng

tek nob iol ogi ) ini men jad i gej ala sec ond per son ali ty bag i sub yek , yai tu “ke sad ara n” yan g dia kar kan pad a sua tu ima ji ten tan g tot ali tas bum i tem pat mer ek a ber pij ak. Sua tu pem bau ran “fa kta ” den gan “mi tos ”, seh ing ga bum i yan g bul at buk an lag i sek ada r ber mak na sed erh ana seb aga i “te mpa t ber pij ak umu m unt uk yan g plu ral ”, tap i jug a men jad i
ramah dan bisa diterima, seperti halnya transformasi komputer raksasa dalam satu ruangan yang menetap dan terbatas menuju mini komputer yang jamak, plural dan portable. 162 Secara etymologi global dan world memiliki konsekuensi pemahaman yang berbeda. global berasal dari kata globe yang memiliki arti “bentuk bulat”, dan biasanya mengacu pada ide tentang bentuk bumi yang bulat. Sedangkan kata world atau “dunia”, memliki dasar makna yang sifatnya bisa meluas, hingga bersifat filosofis metafisik ketimbang material kongkret. Namun kalau kita menyelidiki akar kata globe, hal ini juga mengarah sapa pada pemahaman bahwa bentuk bulat adalah bentuk dengan sifat tak terukur secara eksak (diwakili oleh simbol π Seringkali globe ataupun global digunakan juga untuk menggambarkan sesuatu ). yang mutlak, menyeluruh atau tak terbatas: universum (Orang Yunani misalnya, menggambarkan alam semesta atau universe dalam bentuk globe). Jadi globe atau global sendiri memiliki sifat pengertian metafisik, seperti istilah world juga sering digunakan untuk merujuk pada makna bumi secara fisik. Untuk kajian perbedaan diskursus antara keduanya simak di Apendiks B.

94

mek ani sme tek nol ogi pen gga lan gan kes ada ran bar u yan g leb ih mas sal dan suk are la. Ket erl epa san dar i ket era singa n ada lah jug a men eri ma kes ada ran per muk aan bum i yan g men yel uru h, tan pa bat as, dan sal ing ter ika t sat u sam a lai n, dal am sat u keb ula tan yan g sea rah dan sef oku s seb aga i kem ung kin an bag i car a sub yek yan g par sia l unt uk eks is. Sec ond per son ali ty buk an han ya mer upa kan ist ila h unt uk men yeb utk an ada nya sat u kep rib adi an yan g eks is dal am kep rib adi an lai nny a, mel ain kan sua tu int eru psi ata s pen gal ama n rea lit as pri bad i itu sen dir i mel alu i mek ani sme yan g ter pol a “di dal am” dir iny a seb agai “wa rga dun ia” , san g glo bal bra in dal am wuj ud massa lny a. Pad a akh irn ya, “kesa tua n kes ada ran man usi a” se -dun ia

ter gan tun g pad a pol a-pol a ker ja tek nol ogi s yan g sed ang ber lak u. Dan tek nol ogi yan g aka n men gha nta rka n pad a pen gge nap an kaj ian hip ote sis mek ani sme reg ula si “wa rga dun ia” ada lah tek nol ogi lay ar yan g ber bas is pad a kes ada ran gob al .

B. AR KE OL OG I BU MI : LA HI RN YA “W AR GA DU NI A”
“Bu mi itu bul at, ” dem iki an bun yi key aki nan ten tan g tan ah yang kit a pij ak saa t ini : seb uah pla net rak sas a den gan ben tuk bul at. 163 Sej ak Ari sto tel es, Ora ng Yun ani tel ah men gen aln ya, nam un “id e” (at au

“fa kta ”) ini men jad i leb ih pen tin g sej ak dim ula iny a Aba d 15 den gan pel aya ran nya dan Aba d 19 den gan rev olu si ind ust ri. Dan , ket ika mis i
163

Dalam hal ini sekolah, selain lembaga meteorogi dan geofsika, adalah lembaga utama yang paling berperan menanamkan ide ini dalam kesadaran publik. Selain itu, dalam model lain, global brain atau world brain menjadi “pusat lokal” lain yang bekerja dalam “sisi nonformal.”

95

App olo 11 ke bul an pad a tah un 196 9 men gir im gam bar -gam bar fot o “as li” bum i dar i jar ak jut aan mil , ima ji “bu mi yan g bul at” sem aki n ter tan am kok oh tel ah dal am san uba ri pub lik . Seb uah kok oh kes ada ran yan g

seb elu mny a

ter ben tuk

sem aki n

ter tan am

seb aga i

pen gal ama n emp iri s. Kes an “gl oba l” dar i bum i sem aki n utu h ter tan gka p ole h ind era dan eks is dal am pen gal ama n se har i-har i. Fer din and Mag ell an mem ang ber has il mem buk tik an bum i itu bul at, ket ika dia ber lay ar dar i tim ur mel ewa ti Atl ant ik, Pas ifi k dan kem bal i dar i bar at mel alu i Tan jun g Har apa n. Nam un tid ak ada yan g le bih pen tin g bag i Mag ell an dan ora ngora ng Spa nyo l dib and ing den gan pen emu an dae rah kol oni bar u. Dal am hal men yad ari art i pen tin gny a bum i yan g bul at ada lah Phi lea s Fog g 164, sal ah sat u tok oh dar i dar i mas any a (Ab ad 19) yan g bol eh dia ngg ap mew art aka n “mu kji zat ” ini . Phi lea s Fog g mem ula i kis ah men gel ili ng dun ia dal am jan gka wak tu del apa npu luh har i tid ak men gaw ali nya den gan mem oho n ata u mem int a res tu dar i Rat u Ing gri s ata u seb uah spe kul asi yan g kab ur ten tan g mak hlu k-mak hlu k bua s dis ebe ran g lau tan , mel ain kan mem bu at seb uah ran can gan per kir aan eks ak seb aga i ber iku t; 165

Dari London ke Suez via Mont Cenis dan Brindisi, dengan kereta dan kapal uap ............................................................ Dari Suez ke Bombay, dengan kapal api uap......................... Dari Bombay ke Calcutta, dengan kereta api........................
164

7 hari 13 " 3 "

Tokoh dalam novel karya Jules Verne yang berjudul “Around The World in Eighty Days.” Ditulis pada tahun 1873. Menurut Verne, Phileas Fogg tokoh utama cerita ini hidup disekitar tahun 1872. Dia seorang bujangan aristokrat kaya Inggris yang hidup hanya ditemani pelayannya. Jules Verne, Around The World in Eighty Days (Guentenberg Project e-text, etext #103, January 1994). Kutipan di bawah diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh penulis.

165

96

Dari Calcutta ke Hong Kong, dengan kapal api uap ................ Dari Hong Kong ke Yokohama (Jepang), dengan kapal api uap ... Dari Yokohama ke San Francisco, dengan kapal api uap .......... Dari San Francisco ke New York, dengan kereta api ............... Dari New York ke London, kapal api dan kereta api ............... ---Total .......................................................................

13 6 22 7 9

" " " " "

80 hari

Daf tar ini mer upa kan per enc ana an per jal ana n men gel ili ngi dun ia yan g di mul ai dar i ara h tim ur Lon don , dan kem bal i ke tem pat yan g sam a dar i ara h seb ali kny a. Seb aga ima na mes in-mes in pab rik pad a Aba d 19 yan g bek erj a ter atu r dan tep at den gan hit ung an wak tu dan sat uan yan g cer mat , Fog g mey aki ni Bag i Fog g, dan mel aku kan ser upa tid ak unt uk ren can a

per jal ana nny a.

men gel ili ng

dun ia

mem but uhk an

pen get ahu an ata s wil aya h dan bud aya set emp at, tap i cuk up den gan mem per kirak an tek nol ogi yan g hen dak dip aka i dan men ent uka n tit ik koo rdi nat dae rah nya , seh ing ga wak tu bis a dit epa tka n hin gga per -har i, kem udi an dij uml ahk an kes elu ruh ann ya. Dun ia, men uru t kac ama ta Fog g ada lah sat uan jum la h har i, sed ang kan wil aya h yan g aka n dil alu i

dire duk si seb aga i tit ik-tit ik geo gra fis yan g mat ema tis . Fog g (be rsa ma Pas sep art out , pel aya nny a) mem ula i per jal ana n unt uk mem buk tik an key aki nan nya , ber awa l dar i Lon don har i Rab u, 2 Okt obe r, puk ul sem bil an mal am, dit eta pka n aka n kem bal i ke tem pat yan g sam a di rua ng per tem uan Klu b Ref orm pad a Sab tu, 21 Des emb er, puk ul sem bil an mal am jug a ata u tep at del apa n pul uh har i kem udi an. Fog g har us mem bay ar dua pul uh rib u pou nds pad a tem an -tem ann ya jik a ia gag al men cap ai wak tu yan g dit eta pka n ole hny a sen dir i, nam un jik a hal seb ali kny a ter jad i, Fog g mem ena ngk an uan g dal am jum lah yan g sam a. Per jal ana n Fogg tid ak men gan dun g mis i lai n dan tuj uan nya

97

dir edu ksi dal am hal rem eh sep ert i tar uha n. Leb ih men ari k lag i, Fog g ter lib at dal am per mai nan ini buk an kar ena keh end akn ya sen diri

mel ain kan dip icu ole h per bua tan pel aya nny a. Seb aga i seo ran g pri a Ing gri s, Fog g han ya men jag a keh orm ata nny a. Wal aup un tem an -tem ann ya sel alu mem ber ika n kes emp ata n mem bat alk an Fog g han ya tar uha n men jaw ab: sam bil “Qui te

men yat aka n

ket ida kpe rca yaa nny a,

pos sible , on the con tra ry. ” Ket ika key aki nan ini kem bal i dis ang gah , Fog g sem aki n men ega ska n bag aim ana seg ala ses uat u dap at dip erk ira kan

den gan efi sie n, rin gkas sec ara mat ema tis dan sem ua res iko kek eli rua n bis a dic ega h sem ini m mun gki n: “A wel l-use d min imu m suf fices for eve ryt hin g,” lal u Fog g kem bal i men amb ah, Rev olu si “I wil l jum p— den gan

mat hem ati cal ly ”166

Lay akn ya

key aki nan

Ind ust ri

tek nol ogi yan g sed ang ber lan gsu ng pad a Aba d itu 167, beg itu lah yan g diy aki ni Fog g pad a per hit ung an wak tu per jal ana nny a dal am ska la

kem ampua n mes in. Tek nol ogi , sep ert i key aki nan mas a itu , tel ah ber has il mem buk a jal ur sed ang kan tra nsp ort asi inf orm asi men gel ili ngi tel ah gar is ten gah bol a bum i, pad a

dal am

dip asa ng

kab el

tel egr am

sep anj ang lau t Atl ant ik yan g men ghu bun gka n Ame rik a den gan Ero pa. Den gan car a ini Fog g men guj i key aki nan nya aka n kep ast ian wak tu yan g dit eta pka n tek nol ogi , dia men jen gka li per muk aan bum i, buk an han ya den gan mem bua t per kir aan eks ak sam bil dud uk di Lon don saj a.

166 167

Ibid., op.cit. Sejak tahun 1850, di Eropa, terutama Inggris, berlangsung suatu perubahan besar-besaran dalam kehidupan yang kelak disebut sebagai Revolusi Industri. Mesin yang cepat dan teliti dalam bekerja mulai muncul sehingga produksi massal dapat terjadi. Hal ini banyak dibantu oleh berkat teori-teori murni dalam ilmu pengetahuan mulai dikembangkan dan dimungkinkan penerapan dalam teknologi, termasuk dalam hal ini seperti Fisika, Kimia dan Matematika. Ditulis oleh S. C. Burchell dan Pustaka Life Time, ed., Abad Kemajuan: Abad Besar Manusia-Sejarah Kebudayaan Dunia (Jakarta: P.T. Tiara Pustaka, 1986).

98

Pet ual ang an dem i mem per ole h pen gal ama n “em pir is” aka n men gel il ing i per muk aan tek nol ogi . Ken yat aan nya buk an han ya tek nol ogi yan g mem ban tu Fog g bum i, ser ta mem per kua t key aki nan aka n kem amp uan

mem ena ngk an tar uha n ter seb ut. Wal aup un ban yak kej adi an dan kea daa n yan g tid ak ses uai den gan per enc ana an (Fo gg sem pat men ggu nak an ker eta kud a, kap al lay ar, kap al dag ang , ker eta sal ju, bah kan gaj ah, sel ain kap al api uap dan ker eta api yan g dir enc ana kan seb elu mny a), nam un dia ber has il mem ena ngk an tar uha n seb esa r dua pul uh rib u pou nd. Uni kny a, dia tid ak men gel ili ngi bum i sel ama del apa n pul uh har i, tap i dal am del apa n pul uh sat u har i! Fog g ter lam bat 24 jam , nam un ada fak tor khu sus yan g tid ak dis ada rin ya. Dia m-dia m “fa kta oby ekt if” san gat mem ban tun ya, yai tu: bum i itu bul at. Jul es Ver ne 168, pen uli s buk u ini seb aga i Phi lea s Fog g yan g

“se be nar nya ”, men gga mba rka n bag aim ana hal ini bis a ter wuj ud dal am kut ipa n di baw ah ini ;

“In journeying eastward he had gone towards the sun, and the days

therefore diminished for him as many times four minutes as he crossed degrees in this direction. There are three hundred and sixty degrees on the circumference of the earth; and these three hundred and sixty degrees, multiplied by four minutes, gives precisely twenty-four hours-that is, the day unconsciously gained. In other words, while Phileas Fogg, going eastward, saw the sun pass the meridian eighty times, his 169 friends in London only saw it pass the meridian seventy-nine times.”

168

Jules Gabriel Verne atau Jules Verne lahir pada tahun 1828, di Nates, Perancis. Meninggal pada tahun 1905 di Amines. Studi resminya adalah dalam bidang hukum, tapi setelah itu dia putus sekolah karena alasan keuangan. Selanjutnya Verne banyak mempelajari geologi, teknik dan astronomi secara otodidak melalui buku-buku di perpustakaan Paris. Sejak itu Verne banyak menulis buku dengan tema fiksi ilmiah. Karyanya selain Around the World in the Eighty Days antara lain terdiri dari; Five Weeks in the Balloon (1863), From the Earth to the Moon” (1866) dan 20,000 Leagues Under the Sea (1870). 169 Ibid 165., op. cit.

99

Dal am kon tek s ini , bantu an tek nol ogi did uku ng ole h der aja t kem iri nga n bum i yan g mem ben tuk bum i bul at ser ta ara h ber put arn ya te lah

men yel ama tka n Phi le as Fog g dar i keg aga lan . Kar ena itu “bu mi yan g bul at” buk an lag i sek eda r per deb ata n fil oso fis a la Ari sto tel es, nam un tel ah men jad i pen era pan tek nis . Mes ki uns ur ket akt erd uga an aka n pra kte k lap ang an mas ih kua t di sin i, tap i kon sep “bu mi yan g bul at” mer upa kan bag ian dar i tek nol ogi yan g mem ili ki tuj uan ter ten tu. Bum i keh ila nga n uns ur tra nse nde nny a seb aga i bat as dar i pen gli hat an dan pen cer apa n man usi a. Seb ali kny a bum i di ala mi seb aga i oby ek utu h dan ber dir i sen dir i, lep as dar i kes ada ran manu sia , dap at di ama ti vis-a-vis seb aga i pen gal ama n emp iri k. Tid ak be rbe da den gan oby ek -oby ek

lai nny a, bum i jug a bis a dip eca h, dib agi dan dik elo mpo kka n kem bal i dal am sat uan-sat uan , dib ang un kem bal i dal am ker ang ka fun gsi ona l ter ten tu 170. Mak a “bu mi yan g bul at” sem aki n men des ak unt uk tet ap dii nga t, dik ena l, dip ela jar i, dikua sai , dib ena rka n dan kem udi an dif ung sio nal kan . Bul at buk an sek eda r mer asa kan mel alu i tia ng -tia ng kap al di bat as gar is hor iso nta l lau t, buk an sek eda r mat aha ri yan g hil ang di bar at dan mun cul dar i tim ur, jug a buk an han ya seb aga i keb ena ran fil oso fis ten tan g ala m sem est a, tap i bul at yan g ben ar-ben ar “bu lat ” sep ert i yan g dia lam i ole h Phi lea s Fog g. Bum i men jad i ima nen dal am keb ula tan nya sen dir i. Kin i bum i did efi nis ika n sec ara tek nol ogi s, bukan han ya ala m tra sen den . Per wuj uda nny a yan g kas at mat a bis a dit ang gap i seb aga i seb uah kit a

tek nol ogi , di man a “ti rua n”
170

dar i “be ntu k asl i”

bum i dapat

Di sini “bumi” menjadi thing, dikenali, dipetakan dan dipilah-pilah secara geografis, bukan lagi wilayah saklar yang tak dikenal dan banyak menyimpan rahasia . Baca juga Bab II.

100

“sa ksi kan ”. Bum i yan g pad at, utu h dan tun gga l, tid ak lag i dir asa kan sep oto ng-pot ong dal am jan gka uan pen gli hat an yang ter bat as, dia mun cul dal am mod el min iat ur yan g dap at dij ang kau ole h pen gal ama n utu h mel alu i ban gun an kon gkr et seb aga i glo be atau bol a pet a dun ia. Seb aga i glo be, rep res ent asi dar i pen gal ama n “ob yek ” yan g tak bis a dia lam i sec ara utu h dim unc ulk an dalam ga ris lin tan g dan buj ur kem udi an Wal aup un dik ont ruk si han ya kem bal i dal am “ti rua n”, ben tuk glo be yan g leb ih mem ber ika n ter ama ti. sen sas i

seb aga i

pen gal ama n dar i “be ntu k yan g seb ena rny a” dar i bum i tra nse nde n. Dal am art ike l sin gka t di baw ah, kit a men gkaji bag aim ana “bu mi yan g

seb ena rny a” di ala mi mel alu i bum i “ti rua n” yan g dik ont ruk si;
171

Kelereng besar berwarna biru

Bagi antariksawan-antariksawati yang sedang terbang di antariksa, bumi tampak bagaikan kelereng besar berwarna biru. Bentuk bumi yang bulat dapat mereka lihat karena mereka berada di tempat yang jauh sekali. Namun dapatkah engkau melihat bentuk bumi selagi berdiri di atasnya? Lihatlah bola peta dunia. Bola ini adalah model bumi. Di situ diperlihatkan gunung, samudra, danau, sungai, gurun, padang rumput dan hutan. Kebanyakan bola peta dunia bahkan dimiringkan tepat seperti keadaan bumi sebenarnya. Bola peta dunia memperlihatkan bumi sebagaimana adanya — bulat. Dan bola peta dunia memperlihatkan bagaimana bentuk benua yang sebenarnya. Namun bola peta dunia hanya dapat digunakan untuk melihat satu bagian bumi saja. Untuk melihat tempat-tempat yang terletak pada sisi sebaliknya, engkau harus memutarnya. Jika ingin melihat seluruh bumi sekaligus, engkau harus melihat peta. Namun peta tidak akan memperlihatkan bumi sebagaimana adanya. Pemeta merapatkan serta merentangkan bagian-bagian bumi ini apabila menggambar pada peta datar. Dengan demikian bola peta dunia merupakan sarana paling baik untuk melihat bentuk bumi, kecuali kalau engkau mempunyai kapal antariksa.

171

Anonim, Di Mana Letaknya di Bumi?, Bumi dan Antariksa, hastakarya anak-anak, Pustaka Bagaimana dan Mengapa (Jakarta: PT Tiara Pustaka, 1984).

101

Tul isa n ini ber cer ita men gen ai “bo la pet a dun ia” , yan g ole h pen uli sny a diy aki ni seb aga i min iat ur dar i bum i: “Bo la pet a dun ia mem per lih atk an bum i seb aga ima na ada nya ... ” Tid ak han ya dal am

kal ima t ini , “ke sak sia n” sej eni s dit ega ska n ole h pen uli s, mel ain kan kat a sep ert i “se ben arn ya” dan “se bag aim ana ada nya ” men ega ska n “bo la pet a dun ia” mer upa kan koe ksi ste nsi dar i pen ampak an vis ual yan g “ob yek tif ” bag i bum i. Bah kan , pad a ali nea ked ua “ke ben ara n” ini dig amb ark an den gan yak in mel alu i seb uah kal ima t: “ Di sit u dip erl iha tka n gun ung , sam udr a, dan au, sun gai , gur un, pad ang rum put dan hut an.” “me lih at” gun ung , sam udr a, bah kan pad ang rum put Si pen uli s di

ber [ad a]

per muk aan bol a pet a dun ia, wal aup un “gu nun g” ata u “pa dan g ru mpu t” tid ak per nah mel eka t pad a bol a pet a dun ia. Nam un, dia tet ap yak in mel iha t “da nau ”, “pa dan g rum put ” dan “be ntu k ben ua” yan g

“se ben arn ya” , seb aga ima na dia yak in mel iha t “bu mi” yan g “ap a adany a” pad a mod el “pe ta bol a dun ia” . Dal am hal ini , “bo la pet a dun ia” ada lah rep res ent asi seb ena rny a”. Pad a ale nia ter akh ir san g pen uli s men yeb utk an bah wa pet a (da lam ben tuk dat ar) leb ih ber gun a unt uk mel iha t bum i “se car a yan g ben ar -ben ar sem pur na ter had ap “bu mi yan g

men yel uru h”. Ber art i bol a pet a dun ia tidak mam pu mem per lih atk an bum i seb aga i sat uan utu h. Pen uli s art ike l hen dak men gat aka n bah wa “bo la pet a dun ia” leb ih ter bat as dal am pen gli hat an dib and ing den gan pet a dat ar, nam un ket erb ata san pen gli hat an ini buk anl ah seb uah

“ke lem aha n” dal am pen gam ata n. Seb ali kny a, mem ber ika nny a karak ter

102

seb aga i

ben tuk

yan g

leb ih

men yer upa i

“bu mi

yan g

seb ena rny a”

dib and ing kan den gan pet a dat ar. Sec ara fis ik, dia tid ak dir apa tkan ata u dir ent ang kan , seb ali kny a, dia dis aji kan dal am wuj ud “ap a ada nya ” sek ali pun dia ada lah “ti rua n”. Den gan mel iha t “bo la pet a dun ia” di dep ann ya, pen uli s dap at mem bay ang kan dir iny a sep ert i ast ron ut yan g men gam ati bum i dar i jar ak jau h. Bum i, bag i ast ron ut di ant ari ksa , sep ert i “ke ler eng bes ar ber war na bir u,” sam bil ber pik ir dem iki an, pen uli s mel ont ark an per tan yaa n kep ada pem bac a, “Na mun dap atk ah eng kau mel iha t ben tuk bum i sel agi ber dir i di ata sny a?” Per tan yaa n ini men gin gat kan pos isi ant ara kit a den gan bum i, di man a kit a ber ada di ata sny a, nam un tid ak sel alu men yad ari ben tuk dan keb era daa nny a, bed a den gan ast ron ut yan g mel iha t bum i sec ara lan gsu ng sep ert i kel ere ng di dep an mat a. Dal am kes ada ran ini , bum i di ala mi ole h man usi a di ata sny a tid ak seb aga i kel ere ng yan g bir u, tap i seb aga i seb uah ala m yan g di lua r kem amp uan pen gam ata n lan gsu ng. Bum i tid ak bis a dil iha t seb aga i seb uah satua n ket ika kit a men emp el “ta npa jar ak” di ata s per muk aan nya yan g lua s. Sed ang kan bag i ast ron ut di lua r ang kas a, yan g ber dir i pad a sua tu jar ak ter ten tu dar i bum i, buk an han ya dap at mel iha t per muk aan bum i (wa lau tid ak sec ara kes el uru han ), tap i “ba ngu nan ” bum i tam pak seb aga i sat u esen si lay akn ya seb uah kel ere ng. Seb ali kny a, pen gal ama n ser upa dap at dir epl ika si mel alu i “bo la pet a dun ia” , di man a pen gal ama n “em piris ” dan “ob yek tif ” ten tan g kes atu an ese nsi bum i di baw a pad a pen gal ama n art ifi sia l mel alu i seb uah med ium . Pen gal ama n kes atu an ese nsi bum i dip rod uks i kem bal i dal am “bo la pet a dun ia” , seh ing ga pen gam at men gal ami bum i yan g

103

“se ben arn ya” seb aga i oby ek yan g sej aja r den gan “ke ler eng bir u bes ar” , seb aga ima na ast ron out . Sep ert i seb uah “ke ler eng ”, “bo la pet a dun ia” men amp ilk an bum i dal am ben tuk yan g “se ben arn ya” , yai tu sat uan oby ek yan g tun gga l, pad at, mat eri al, mas if dan abs olu t sek ali gus dap at ter jam ah ole h tan gan kos ong . Ber sam aan den gan itu , jug a mem ber ika n fan tas i ten tan g bum i rak sas a yan g “ti dak ter ama ti” . Kar ena itu “bo la pet a du nia ” buk an lag i “pe nir uan ” bum i

“se ben arn ya” dal am hal ben tuk , tap i den gan mer epr odu ksi pen gal ama n jar ak ant ara “su bye k” den gan bum i “se ben arn ya” , bol a pet a dun ia mem ber ika n per aga an bag aim ana bum i seh aru sny a ber [ad a]. Bum i

men jad i rel ati f uku ran nya sep erti dit unj ukk an ole h “bo la pet a dun ia” , dis usu tka n seb aga i oby ek di dep an ata u dil eba rka n seb aga i kes ada ran tra nse nde n ten tan g bumi seb ena rny a 172 dal am pen gam ata n. Sec ara fis ik seb aga i fok us pen gal ama n, dia bis a dip rod uks i dal am ber bag ai uku ran yan g ber bed a. “Bo la pet a dun ia” unt uk kan tor , ber bed a den gan den gan yan g dik hus usk an unt uk kep erl uan ilm iah , se kol ah, kan tor pem eri nta h ata u sek eda r hib ura n dan pen ghi as rua nga n. Seh ing ga pen gal ama n ten tan g bum i yan g “bu lat ” dan “se ben arn ya” ter us

dir epl ika si dal am sit uasi yan g ber bed a dan ber bag ai mac am rua ng ser ta kes emp ata n yan g ber aga m. 173 Mel alu i rep lik asi dan dup lik asi ,

172

Bukan dirapatkan dan dilebarkan secara jarak fisik seperti dalam peta datar, penyusutan dan pelebaran bola bumi adalah bagaimana fokus di arahkan pada satu obyek di luarnya kemudian merasakannya sebagai sebuah kesadaran transenden yang global. Dia adalah polapola “obyek” yang bekerja dalam diri “subyek” sebagai ketidaksadaran. Lihat juga catatan kaki 107, pada hal. 60 tulisan ini. 173 Bola peta dunia atau globe tertua dibuat oleh Martin Behaim di Nürnberg pada tahun 1492. Fungsinya tidak lebih dari sekedar memperlihatkan posisi sebuah tempat. Dan untuk selanjutnya pada Abad tujuhbelas hingga delapan belasan, fungsi globe tidak pernah

104

pen gal ama n pen gal ama n

ten tan g pop ule r

“bu mi dan

yan g mas sal :

seb ena rny a” seb aga i

dip erl uas per mai nan

men jad i mau pun

pem anf aat an leb ih “se riu s”. Bol a pet a dun ia dit eri ma seb aga i bag ian dar i pen gam ata n “ob yek tif ” tan pa dis ang kal lag i, dia dap at dig una kan seb aga i bag ian nav ig asi pen erb ang an mau pun pel unc ura n mis sil ata u

jal ann ya sat eli t. Ter mas uk dal am hal ini , “bu mi” seb aga i oby ek yan g ter obs erv asi , teruk ur, dip ela jar i bah kan dig era kan ses uai den gan

per enc ana an fun gsi ona l. Kek uas aan san g pen gam at yan g ber dir i “di lua r” bum i seb aga i oby ek leb ih lel uas a, bum i men jad i bag ian dar i tek nol ogi kek uas aan sek ali gus dia lam i seb aga i bum i yan g “ob yek tif ”. San g

pen gama t ber ada dal am aru s “me nyu sut ” ata u “me leb arn ya” bol a bum i dal am kon tru ksi pen galam an “bo la pet a dun ia” . Car l Sag an (19 97) mem ber ika n per enu nga n ten tan g bag aim ana pen gal ama n “bu mi yang seb ena rny a” ber la ku dal am keh idu pan seh ari har i. Dal am nov eln ya yan g ber jud ul Con tac t, Ell ie Arr owa y, tok oh uta ma nov el ter seb ut ber ada pad a sit uas i kon tem pla tif yan g men gad irk an pen gal ama n keb era daa n “bo la bum i” dal am kes ada ran nya ;

“Ia (Ellie –pen.)menyentuh tanah di bawahnya; kokoh, membuat

hatinya tenang. Dengan hati-hati ia duduk, memandang ke kiri dan ke kanan, sepanjang pantai danau. Ia bisa melihat kedua sisi air. Bumi tampaknya saja, datar, pikirnya. Sebetulnya bulat. Sebuah bola raksasa... berputar di angkasa... satu putaran sehari. Ia mencoba
berkembang dari sebuah peta dalam model yang unik. Sedangkan pada masa pemerintahan Raja Perancis Louis XIV, globe dibuat dengan ukuran diameter hingga 15 kaki sebagai simbol kejayaan Kerajaan. Hingga pada Abad sembilanbelas, globe yang lebih “serius” fungsinya muncul menandai perbedaan dengan globe-globe lainnya yang pernah dibuat. Globe yang baru tersebut dilengkapi dengan cincin vertikal dan horisontal sebagai alat ukur yang mengindikasikan kesinambungan waktu di seluruh dunia. Mc Graw-Hill Encyclopedia of Science and Technology. an International Reference Work, volume 6 GAB-HYS (USA: Mc Graw-Hill, 1960), hal. 213-215.

105

membayangkan putaran bumi, dengan jutaan manusia melekat di permukaannya, bicara dalam bahasa yang berbeda-beda, mengenakan 174 pakaian aneh-aneh, semua menempel di permukaan bola yang sama ”

Dem iki anl ah, “ke ler eng bes ar ber war na bir u” itu tid ak ter lih at seb aga i “bu lat ” bag i El lie pad a awa lny a. Dia han ya mer asa kan ses uat u yan g kok oh sep ert i tan ah di baw ahn ya, hal ini mem ber ika n ras a ama n 175. Ket ika dia mel iha t gar is dat ar mem bat asi dan au di ked ua sis iny a, ada yan g mem ber ont ak dar i dir i Ell ie. Dia mer asa dit ipu ole h mat any a, “ta mpa kny a saj a, dat ar, ” ben akn ya mem ber ont ak. Ell ie men eka nka n leb ih teg as, “se bet uln ya bul at. ” Per ali han dar i dat ar yan g “ta mpa kny a” men uju bul at yan g “se bet uln ya” dal am bat in Ell ie ada lah per ben tur an per jua nga n ant ara “il usi ” dan “ke nya taa n”. Dal am ilu si “ta m pakny a”, Ell ie ada lah pih ak yan g “di tip u” ole h pen gli hat ann ya, wal au apa yan g dis ebu tny a seb aga i “ti pua n” ada lah pen gam ata n lan gsu ng Ell ie sen dir i pad a gar is pem bat as di dan au. Sed ang kan pad a sit uas i “se bet uln ya” jus tru Ell ie ada lah pih ak yan g akt if men ola k pen gli hat ann ya sen dir i. Den gan kat a lai n, saa t Ell ie mer asa lep as dar i “il usi ” pen gli hat an, dia men eri ma “fa kta ” yan g mun cul dari pen get ahu ann ya seb aga i

“ob yek tiv ita s”, ser ta yan g ter obs erv asi ole h mat a tel anj ang nya seb aga i “su bye kti vit as” . Ked udu kan a nta ra pen gal ama n “ob yek tif ” dan

“su bye kti f” tid ak lag i ter gan tun g pad a keb era daa n sat u “ob yek ” yan g ada di lua r ata u di dal am “su bye k”, tap i mer upa kan jar ak ant ara fok us

174

Carl Sagan, Contact (Kontak), alih bahasa: Andang H. Sutopo (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1997), hal. 17. 175 Sebuah rasa transenden akan penerimaan permukaan tanah sebagai tempat yang kokoh dan tidak memiliki jarak dengan “diri”. Jika kita membayangkan Ellie Arroway sebagai seorang bayi, tanah tempat berpijaknya memberinya kenyamanan rahim seorang ibu.

106

kes ada ran

den gan

pol a-pol a

dar i

“da lam ”

dir iny a

seb aga i

ket ida ksa dar an. Ell ie men ang ga lka n sat u kon tru ksi rea lit as di man a mel iba tka n pen gam ata n lan gsu ng men uju kon tru ksi rea lit as lai n yan g ber asa l dar i “ke sad ara n lai n” di dal am dir iny a, men uju pen gal ama n seb elu mny a ten tan g “bo la rak sas a yan g ber put ar seh ari sek ali ”, di man a dir asa kan oby ekt if. 176 Pad a sat u kes emp ata n, Ell ie dan jut aan man usi a mel eka t di ata s seb uah bol a rak sas a. Wal aup un man usi a mem ili ki bah asa , keb ias aan dan car a ber pik ir ber bed a, nam un: “se mua men emp el di per muk aan bola yan g sam a.” 177 Dal am “re ali tas ” ini , man usi a tid ak dip isa hka n ole h bat as-bat as sep ert i gar is lur us di uju ng dan au, tap i “me nga lam i” seb uah per muk aan bum i yan g sam a. Seb aga ima na jik a ses eor ang melak uka n per jal ana n men gel ili ngi bum i aka n kem bal i pad a tit ik sem ula , dan ora ng lai n aka n men gal ami nya jug a. Mak a, bai k bag i Ell ie mau pun ora ng lai n tid ak ada lag i bat as fis ik yan g ben ar -ben ar bis a mem isa hka n mer eka dar i sat u sam a lai n. Sem uan ya ber kum pul pad a per muk aan bol a yan g sam a, kej adi an sat u tem pat ber pen gar uh ke wil aya h lai n. Ada efe k tim bal bal ik yan g mem bua t ses eor ang pen gar uh itu .
176

mem iliki

sif at

kek ini an

seb aga i

bag ian

dar i

obser vas i

tid ak bis a men ghi nda r sam a sek ali

dar i

Antara konstruksi realitas yang satu dengan lainnya tidak mengandaikan suatu hubungan yang mandiri dan terpisah sebagai pecahan realitas-realitas. Namun, kedua kontruksi berdiri bersama-sama dalam suatu hubungan oposisional yang saling tergantung keberadaannya antara satu dengan lainnya. Mereka didefinisikan masing-masing oleh pasangan arbitrasinya dalam hubungan interaksi. Karena itu ketetapan apakah yang satu adalah “realitas material” sedangkan lainnya adalah “realitas virtual” tidak didasarkan pada satu ketetapan universal dan abadi. Ketetapan itu sifatnya relatif, tergantung pada definisi kategorial masing-masing lawannya. Karena itu keduanya tidak dialami sebagai dua pengalaman terpisah, tapi bersamaan sebagai kesatuan pengalaman oleh “subyek”. Lengkapi penjelasan ini dengan menengok kembali pada kajian di Bab II. 177 Ibid 174., op. cit.

107

Imp lik asi nya , sul it mel epa ska n dir i dar i “fa kta ”: kit a hid up di sat u bol a bum i yan g sam a. Dis kur sus glo bal mul ai dik ons tru ksi , dir aki t dan dip rod uks i dal am ska la lua s ser ta ver si yan g sem aki n lam a sem aki n mel uas . Pad a per muk aan tun gga l, bum i memil iki pen ghu ni “sa h” den gan ber mac am jul uka n sep ert i; “wa rga dun ia” , “wa rga bum i”, “or ang bum i”, “ma nus ia bum i”, glo bal vil lag e dan lai n-lai n. “Sp esie s” bar u yan g men ega ska n bah wa man usi a buk an sat u kel as spe sie s yan g ter pil ah sec ara bio log is, nam un spe sie s yan g ter ika t sat u sam a lai n dal am sat u pla net (da n sat u tat ara n “hu kum ala m”) , dan “ja rak ” yan g men yus ut. 178 Kit a men gal ami kes ada ran ini ber sam a-sam a pen gul ang an bol a dun ia, mun cul ter us dar i ket ida ksa dar an rep rod uks i wuj ud

dal am

“ke ser aga man ” pen gal ama n. Seb uah “ke ser aga man ” pen gal ama n, di man a dis kur sus yan g ada di ala mi dal am ben tuk pem bel aan mau pun per ten tan gan . Bai k dal am per ten tan gan , mau pun pemb ela an, dib utu hka n pem aha man bum i glo bal seb aga i fak ta “ob yek tif ” tak ter ban tah kan . Den gan dem iki an, bum i glo bal mem ili ki sif at “me nda mai kan” dan

“un ive rsa l” dal am dir iny a. Kar ena itu , men ola k jad i “wa rga bum i” buk an ber art i men iad aka n “ke ber ada an” -nya , tet api men ola k mem ili ki pen gal ama n yan g sam a, ber art i pul a men gab aik an “di ri” seb aga i bag ian dar i “pe ndu duk ” bol a bum i. Mak a ora ng yan g men ola k dia ngg ap men gas ing kan dir i dan

mem isa hka n dir i dar i “wa rga bum i” yan g lai n. Hal ini ber bed a den gan ses eor ang ya ng men ola k dir i seb aga i war ga seb uah neg ara , suk u, aga ma
178

“jarak” di sini bukan merujuk pada suatu jarak yang terukur dalam satuan-satuan pengkuran, tapi lebih merupakan “jarak observasi”, atau jarak antara “subyek” dengan “obyek” sebagai kesatuan fenomen-fenomen. Lihat kembali catatan kaki no. 107, 172 dan keseluruhan pembahasan pada Bab II.

108

ata u pen gan ut sua tu ide olo gi ter ten tu, dia bis a men yeb era ng ke sat u pih ak yan g lai n, tap i tid ak dem iki an den gan men ola k dir i seb aga i “wa rga bum i”. Tid ak ada “pi hak lai n” yan g bis a dig una kan unt uk men yeb era ng kel uar dar i tat ana n ini , kec ual i “me nut up mat a”, yan g ber art i kem bal i ke aba d-aba d per pec aha n feo dal di man a “ke sat uan bum i” bel um ter wuj ud. Pih ak yan g sep enu hny a ber dir i seb aga i seb era ng dar i “wa rga bum i” han ya mak hlu k asi ng dar i lua r ang kas a yan g ber per an seb aga i “or ang lai n” ima jin er 179. Tat ana n ini men yeb abk an “du nia bud aya” yan g seb elu mny a

ter bel ah dan eks is dal am dun ia “te rpi lah -pil ah” mem asu ki tak dir bar u yan g tak ter ela kka n 180. Tak dir itu dib ang un dar i “re ali tas ” yan g

dil egi tim asi mel alu i pem bena ran ilm iah mau pun fak ta obs erv asi seh ari har i. Dun ia yan g seb elu mny a dia lam i seb aga i ket erp isa han pen gal ama n, dis atu kan dal am keb ers ama an mut lak yan g buk an lag i did asa rka n

pen yer aga man fis ik sep ert i tuj uan , atr ibu t mau pun sim bol . Seb ali kny a
179

Hal ini bukan penolakan terhadap spekulasi dan teori-teori yang ada tentang makhluk asing cerdas dari planet dan galaksi lain. Yang disorot di sini ialah bagaimana kedudukan konsep tersebut menjadi oposisi biner yang semakin memperkuat kesan menyatu pada “warga dunia” sebagai “makhluk bumi”: baik melalui kisah ancaman invasi, pendudukan atas bumi maupun kunjungan bersahabat dari kedua pihak. Istilah Extra-Terrestrial-Inteligence (ETI) menunjukkan peran “figuran” dari “makhluk-makhluk” asing. Terrestrial merujuk pada “segala sesuatu yang berkaitan dengan bumi.” Sedangkan Extra memiliki makna yang beragam dari “sampingan”, “di luar” atau “figuran”. Karena itu ETI merupakan wujud figur yang perannya bersifat sebagai “pelengkap” dari “masyarakat bumi”. Dia berada “di luar” tapi dekat dengan “masyarakat bumi”, “mirip” tapi “berbeda”. Cocok dengan penggambaran dalam dalam film fiksi ilmiah di mana peran utama selalu dipegang oleh “makhluk bumi”, dan peran sampingan dan figuran diduduki oleh makhluk asing ETI. Perlu dicatat pula, betapa aktifnya setengah Abad terakhir ini, “manusia bumi” memproduksi model-model ETI dalam wujud yang sangat jamak dan beragam, walaupun “fakta” keberadaan ETI masih menjadi perdebatan seru yang melibatkan NASA, militer, CIA, FBI, KGB, para saksi kontak langsung, ilmuwan, kaum agamawan, penulis fiksi ilmiah, dunia hiburan hingga kelompok eksklusif seperti pecinta ETI dan sekte-sekte (Masyarakat Dunia Ketiga berkali menjadi partisipan sampingan). Untuk pertanyaan-pertanyaan tentang ETI dan spekulasi-spekulasi jawabannya baca Contact, karya Carl Sagan (Ibid 174, op. cit.). Sedangkan tentang keyakinan dan saksisaksi mengenai pertemuan dengan ETI dan UFO ikuti karya Nigel Blundell & Roger Boar, Terbesar di Dunia. Misteri UFO (Jakarta: PT Pradnya Paramita, cetakan kedua, 1991). Global brain atau world brain adalah salah satu diskursus yang sangat percaya diri mengumumkan “kemenangan” ini.

180

109

kes era gam an buk an lag i keb utu han

mut lak , sem ua per bed aan

dan

ker aga man itu dit amp ung ole h wad ah yan g dis ebu t “pe rad aba n dun ia” . Wad ah itu tid ak mem ili ki fis ik nya ta nam un mer upa kan sek ump ula n kec end eru nga n ket ida kse tuj uan yan g mer ang kum sem ua seh ing ga Seh ing ga men gh ind ari jik a men ola k

mau pun

per ban tah an.

kec end eru nga n itu , mak a ora ng ter seb ut “me men jar aka n” 181 dir i dal am sua tu pan dan gan cha uvi nis me yan g “se mpi t”. Hal ini buk an ber art i “pe rad aba n uni ver sal ” war ga glo bal men ola k dir i ata u ber opo sis i den gan “bu day a lok al” (wal aup un lok al” pad a awa l-awa lny a seb aga i mem ili ki tam pak tam bah an kem and iri an dem iki an) . waw asa n, rea lit as

Seb ali kny a

“bu day a

dit eri ma tid ak

pen gem ban gan

wad ah,

nam un

sep ert i “pe rad aba n uni ver sal ” yan g mem ili ki rea lit as ilm iah dan ind era (se bag aim ana Ell ie men yan gka l bat as dan au seb aga i “ti dak rii l” dan men eri ma “bu mi bul at” seb aga i “se bet uln ya” ). Tid ak ada ala san bag i “pe rad aba n lok al” men ola k “pe rad aba n bumi” seb aga i rea lit as, kar ena itu yan g sel alu dit eka nka n ada lah men jag a eks ist ens i “bu day a lok al” di ten gah -ten gah “pe rad aba n bum i”. “Pe rad aba n bum i” mel est ari kan

“bu day a lok al” tet ap “ek sis ”, aga r tid ak ter jat uh pad a kes era gam an yan g ben ar-ben ar mut lak . Kar ena itu sec ara per lah an “bu day a lok al” ter us dia dop si ole h “pe rad aba n bum i” seb aga i bag ian dar iny a.

Per bed aan -per bed aan tet ap dip ert aha nka n, tap i tid ak unt uk mem isa hka n war ga
181

bum i

dal am

bat as-bat as

par sia l,

mel ain kan

men gua tka n

Pada dasarnya menjadi “warga bumi” juga berarti memenjara diri dalam satu tatanan tunggal. Kendati mengikat diri dalam satu budaya lokal dianggap juga adalah sebuah “pemenjaraan” dan “pengasingan diri”, yang “melepaskan” diri darinya berarti sebuah pencerahan baru menuju “kebebasan” dari aturan moral tradisional. Bersamaan dengan menjadi “warga bumi” yang bebas seseorang menyerahkan dirinya secara sukarela pada aturan tataran baru yang yang dianggap lebih “bebas”, “riil” dan “ilmiah”.

110

“ke ber sam aan ” itu sen dir i. Seb aga i aki bat nya kit a mer asa ber dir i di “sa tu dun ia” , sek ali gus mer asa tid ak per nah ter kek ang ole h sat u atu ran tun gga l. Kes ada ran aka n had irn ya bum i oby ekt if, bul at, pen uh, dan mut lak men jad i tak dir akh ir yan g “di set uju i” 182 ber sam a seb aga i rea lit as yan g men yat uka n kes ada ran sem ua man usi a. Tat ana n keb ers ama an ini dib ang un dal am ber bag ai dis kur sus ilm iah , pol iti k, eko nom i, sos ial mau pun bud aya . 183 Fak ta (se kal igu s mit os) ini men jad i tre n yan g men ent uka n beb era pa dek ade akh ir ini . Ide ten tan g glo bal isa si pal ing men col ok mew arn ai dis kur sus dan dis kus i yan g mun cul . Ber sam aan den gan itu , sec ara tak sad ar dun ia dalam ide olo gi mem ili ki sat u tem pat ber pij ak, sat u atu ran , sat u uku ran , bah kan sat u kes ada ran mul ai ter ben tuk dal am keh idu pan seh ari -har i sub yek . Dan , hal ini buk an ses uat u yan g sep enu hny a bar u. Pol a-pol a ter seb ut sud ah had ir sej ak rev olu si keb uda yaa n mun cul di era akh ir PD

182

Seperti pernyataan H.G. Wells di atas, world brain sifatnya tidak memaksa tapi diikuti secara sadar. Jadi bukan sebuah dominasi secara memaksa, tapi sifatnya halus dan hegemonis. Walaupun istilah hegemonis sebenarnya kurang tepat untuk menggambarkan keadaan ini, karena dalam hegemoni Gramsci peran kelas penguasa sebagai aktor pelaku dan proletar sebagai “korban” yang “ditipu” sangat penting. Kehadiran “aktor” pelaku hanya menambah rancu pemahaman. Sebab hal ini lebih mirip sebuah “disiplin moral”, di mana tidak ada peran aktor yang “berkuasa” dan “dikuasai”. Hanya kuasa itu yang bekerja sendiri. Walaupun tidak tertutup kemungkinan ada yang diuntungkan dan dirugikan dalam persoalan ini, tapi ini permasalahan yang berdiri sendiri sebagai satu diskursus lain. United Nation (UN) adalah salah satu pihak yang ikut perperan dalam menguatkan. Dalam sebuah brosurnya (2001), UN mengenalkan pendekatan pada pandangan peradaban yang menekankan pentingnya pendekatan diversity di mana menganut paham: “perbedaan dalam universalitas”. Dalam hal ini mereka mendefinisikan diversity sebagai: “...an inherent part of universality, which is an integral feature of the philosophy behind the world organization” (Dikutip dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Tonny, Dialogue Among Civilization or Counciousness Discernment?, Sebuah esai yang ditulis untuk merayakan tahun Dialog antar Peradaban yang dicanangkan oleh UN pada Tahun 2001). Dalam ekonomi, isu globalisasi ekonomi semakin merebak dan meributkan pemimpin di sejumlah negara berkembang dikuatkan melalui WTO (World Trade Organization), IMF (International Monetary Fund) dan World Bank. Tidak seperti pendapat umum yang menganggap globalisasi ekonomi adalah pusat dari globalisasi dunia, dalam kajian ini globalisasi ekonomi merupakan pemanfaatan alternatif yang kreatif atas teknologi layar dan global untuk memindahkan sumber daya dan modal dari wilayah-wilayah Dunia Ketiga untuk kepentingan “lebih krusial” dari “pemerintahan global bersama”, yaitu transformasi dari bentuk sebelumnya: “koalisi kepentingan antara negara-negara untuk perdamaian”.

183

111

II 184 dan mas a per ali han era 60-an men uju 70 -an, nam un cit a -cit a dan pol a-pol a atu ran log isnya dim ula i sej ak Aba d Pen cer aha n dan dik uat kan ole h mas a Rev olu si Indus tri .
185

Kit a kem bal i kep ada ana log i per jal ana n Phi lea s Fog g men git ari bum i, nam un den gan cer ita yan g ber bed a. Bay ang kan Phi lea s Fog g ada lah seo ran g pen gun jun g Tam an Saf ari . Sel ama ber kel ili ng Tam an Saf ari dia men gun jun gi are a har ima u, are a sin ga, are a kij ang dan are a hew an-hew an lai nny a. Set ela h mel ewa ti sem ua are a, Phi lea s Fog g mem ili ki bay ang an Tam an Saf ari seb aga i seb uah kes atu an (se jak awa lpu n Fog g mel iha t tam an itu seb aga i sat u ban gun an utu h dan ber dir i sen dir i, kes ada ran ini dip ert egu h den gan pen gal ama nny a). Nam un sin ga,

har ima u, kij ang dan hew an -hew an lai nny a tid ak men get ah ui ese nsi dar i tan ah ber pij akn ya seb aga i seb uah kes atu an utu h. Kar ena itu han ya Fog g dan pen gun jun g lai nnya yan g tah u art i dan keg una an pen get ahu an itu . Jik a Fog g mer asa sem ua hew an per lu tah u fak ta ini , dia mul ai men gaj ak
184

Selain istilah “Perang Dunia” yang mengingatkan kita pada novel H.G. Wells yang lain (The War of The World, 1904) dan mengesankan kita pada sifatnya yang menglobal (ketika manusia mendapatkan musuh dari planet lain), Perang Dunia II adalah awal antara satu negara dengan negara lainnya mulai saling secara terang-terangan melanggar batas yang mereka setujui sebelumnya. Perang Dunia II, tidak seperti Perang Dunia I yang hanya melibatkan sejumlah negara Eropa saja, benar-benar melibatkan hampir semua negaranegara di dunia. Tidak hanya seperti tentara Jerman yang hanya berkutat di Eropa, Afrika dan Atlantik, serta tentara Jepang yang banyak berkeliaran di Asia-pasifik, tentara sekutu Amerika dan Inggris benar-benar mengepung seluruh dunia. Segera pada saat itu bumi telah menyatu dalam arus satu komando dari tentara sekutu yang muncul sebagai pemenang perang. 185 Ungkapan Liberty, Egality, dan Fraternity yang berasal dari masa-masa awal Revolusi Perancis sebenarnya masih memiliki gaung hingga kini baik dalam bentuk “Hak Asasi Manusia” maupun tatanan politik modern. Pada saat ini juga, manusia mulai menjadi satuansatuan yang sederajat atau dengan demikian dia tidak berada dipusat lagi seperti yang diyakini Abad Pertengahan. Seiring dengan itu, segala sesuatu mulai dicari satuan-satuannya. Dan untuk menjembatani satuan yang satu dengan satuan lainnya, munculnya apa yang disebut sebagai Rasio (perbandingan atas nilai-nilai dalam satu tatanan atau order yang seragam). Dengan cara ini, segala sesuatu (termasuk “bumi” dan “alam”) bisa dileburkan dalam rasio. Sesuatu yang sangat menguntungkan pada saat dimulainya Revolusi Indunstri, yaitu saat di mana ukuran-ukuran yang seragam sangat dibutuhkan untuk membantu pembuatan mesin yang cermat dan cepat. Hal ini juga adalah salah satu faktor yang membantu Phileas Fogg dalam mengelilingi dunia.

112

hew an-hew an lai nny a men gel ili ngi Tam an Saf ari dan mel iha t hew anhew an lai nny a pad a are al yan g ber bed a. Hew an-hew an yan g dia jak ole h Fog g ber kel ili ng mul ai men yad ari ese nsi dar i tem pat nya seb aga i Tam an Saf ari , men yad ari bat as-bat as yan g men gur ung dan men yatak an dir iny a buk an han ya “wa rga are al har ima u” ata u “wa rga are al unt a”, tap i “wa rga Tam an Saf ari ”. Den gan beg itu ,

har ima u tet ap har ima u dan tin gga l di kan dan g har ima u, beg itu jug a war ga lai nny a, nam un mer eka mem ili ki ika tan yan g “ob yek tif ”. Fog g, seb aga i pen unt un jug a men jad i pen entu dan pen ceg ah aga r hew an-hew an tid ak lep as dar i Tam an Saf ari . Kar ena itu Fog g jug a per lu mey aki nka n hew an-hew an kal au di lua r Tam an Saf ari tid ak ada lag i tem pat lai n, kec ual i rua ng ang kas a gel ap dan “ta man -tam an” lai n yan g ter dir i dar i gas dan asap ber acu n. Den gan car a ini Fog g mem baw a hew an itu dal am ren can any a dan men eta pka n bat as-bat as kes ada ran hew anhew an ter seb ut. Car a ser upa bis a dit emu kan pad a mes in ata u tek nol ogi kek uas aan yan g ber bas is pad a “ke sad ara n glo bal ”. Ber bed a den gan rea lit as

met afo ra Ta man Saf ari Fog g, dal am “re ali tas glo bal kit a” (at au “he wan hew an” dal am rea lit as “Ta man Saf ari ”) tid ak per lu men gel ili ngi dun ia sec ara fis ik unt uk men gun jun gi “ar ea-are a” lai nny a, seb ab bum i dal am rea lit as tek nol ogi lay ar aka n “me nyu sut ” dan “me leb ar” lay akny a “bo la pet a dun ia” , dan mem ung kin kan kit a “me ngi tar i” dun ia dal am hit ung an men it ata u jam . Tap i per soa lan ini tid ak ses ede rha na pen gun gka pan nya , seb ab “pe nyu sut an” bum i buk anl ah jar ak sat uan pen guk ura n dan “fi sik tam pak ” sec ara bad ani ah.

113

C. TE KN OL OG I LA YA R DA N PE NG AM AT AN VI RT UA L
Dal am bah asa mau pun pen gal ama n seh ari -har i, dik ena l ber bag ai jen is dan pen ger tia n lay ar (scr een ) yan g ber bed a, sep ert i; lay ar pro yek tor , lay ar pan ggu ng lay ar ele ktr oni k dan seb aga iny a. 186 Lay ar ele ktr oni k dip isa h lag i men jad i laya r ana log dan dig ita l. Ber bag ai jen is lay ar ini men awa rka n pen gal ama n dan sen sas i ber bed a bag i sub yek , dal am hal ini lay ar men jad i med ium bag i “su bye k” men uju sua tu sis tem . “The med ium is the mes sag e,” 187 dem iki an gag asa n Mar sha ll McL uha n men jel ask an jen is med ium yan g dig una kan unt uk men yam pai kan pes an mer upa kan pes an itu sen dir i. Jik a dij aba rka n, mak a jen is med ium yan g ber bed a mem bua t pes an yan g isi nya seb ena rny a “sa ma” men jad i “be rbe da” ket ika dit ang kap pen eri ma pes an. Dit eng ah -ten gah jar ak ant ara

pen gir im pes an dan pen eri ma pes an ter jad i dis tor si pad a med ium . Dis tor si ini seb ena rny a mer upa kan “ru ang ” pem isa h ant ara pen gir im dan pen eri ma, sek ali gus pen ghu bun g ked uan ya. Lay ar seb aga i med ium jug a mem ili ki sif at kon tra dik tif ini . Mak a, pem bah asa n ten tan g la yar dil aku kan den gan tid ak mem bed aka n jen is lay ar ter seb ut, kar ena ada “ke sam aan ” yan g men gik at sem ua pen ger tia n

186

Dalam perbendaharaan bahasa Indonesia tidak ada pemilahan kata “layar” ke dalam beberapa istilah yang berbeda. Sedangkan untuk Bahasa Inggris, “layar” dibedakan dalam beberapa pengertian seperti: screen, curtain dan monitor. Namun, dalam pemakaian bahasa sehari-hari ketiga istilah ini sering tumpah tindih dalam pemakaiannya. Jadi pemakaian istilah “layar” dalam penulisan ini bisa sekaligus mengacu pada pengertian ketiga-tiganya, tanpa harus menggunakan istilah berbeda-beda. Untuk kajian lengkap mengenai ketiga istilah ini, simak pada bagian terpisah di Apendiks A. Sedangkan untuk pemanfaatan lebih lanjut dalam istilah “teknologi layar”, baca catatan kaki no. 74 dan untuk istilah “teknologi” baca bagian Proposisi-Proposisi pada Bab II. Dikutip oleh Neil Postman dalam Menghibur Diri Sampai Mati, Mewaspadai media televisi” (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995), hal. 20.

187

114

lay ar. Dal am pen ger tia n ini , lay ar mer upa kan kon str uks i dis kur sus yan g bek erj a dal am mek ani sme psi kis dan spi rit ual ket imb ang mat eri al. Lay ar menj adi bat as pen gal ama n sen sas i ind era , sek ali gus men gko nek si ind era ind era pad a rea lit as lai n. Lay ar bek erj a seb aga i bag ian dar i kes ada ran . Seb ali kny a, men uru t pan dan gan Tim oth y Lea ry, ada per bed aan sif at ant ara lay ar tel evi si yan g oto rit er den gan lay ar dun ia Int ern et yan g dem okr ati s sif atn ya. 188 Pem aha man sed erh ana dan ini bis a dip aha mi, seb ab tel evi si mem but uhk an “pu sat pen yia ran ” di man a hal yan g tam pil di lay ar sif atn ya ter jad wal dan ter pro gra m seh ing ga mem but uhk an ada nya sat u pus at yan g men eta p sec ara per man en. Ter mas uk dal am hal ini ada lah mas ala h sen sor dan und ang -und ang pen yia ran yan g iku t men ent uka n isi lay ar. Sed ang kan , int ern et mem ung kin kan ora ng sec ara lua s iku t akt if ter lib at men ent uka n isi lay ar. Sif at dar i int ern et tid ak ter pus at, mel ain kan memb eri kan kes an jam ak dan plu ral . Jad i

pan dan gan Lea ry ini men ega ska n ada lay ar yan g sif atn ya men gek ang kes ada ran tet api ada yan g sif atn ya ber law ana n, yai tu mem beb ask an kes ada ran mel aya ng -lay ang dal am dun ia cyb ers pac e. Nam un sej auh man a dik oto mi lay ar ini bis a dit eri ma? Ada kah lay ar yan g mem ber ika n “ke beb asa n” kep ada sub yek sep ert i diy aki ni ole h Lea ry? Jaw aba n unt uk per tan yaa n -per tan yaan ini aka n dij awa b di baw ah nan ti. Sup aya pem bah asa n ten tan g kek uas aan lay ar tid ak ran cu dan mem bin gun gka n, mak a kit a mem u lai dar i sat u jen is lay ar (la yar yan g

188

Anda bisa mengikuti pandangan Leary ini pada tulisannya yang berjudul Chaos & CyberCulture (United Stated: Ronin Publication, 1994) atau sebagian dari bab pertama di domain resmi milik Timothy Leary di; http://www.leary.com/archives/text/index.html.

115

mem beb ask an a la Lea ry seb aga i pem buk a dis kus i) dan kem udi an per lah an-lah an aka n dit ari k pad a pen ger tia n lay ar yan g leb ih lua s. Bag i Tim oth y Lea ry, lay ar mem ili ki kar akt er mut lak dan uni ver sal yan g diw uju dka n dal am “ba has a” sin yal kom put er “0/ 1”. Men uru t Lea ry inf orm asi yan g bia san ya dit eri ma ole h ota k jug a bis a diw uju dka n dal am dun ia tek nol ogi lay ar dig ita l: “Ev ery tin g-ani mal , veg eta ble , miner al, tan gib le, inv isi ble , ele ctr ic-is con ver ted to dig ita l foo d for inf o-sta rv ed bra in. And now , usi ng the new dig ita l app lia nce s, eve ryt hin g tha t the bra in-min d can con cei ve can be rea liz ed in ele ctr oni c pat ter ns .” Pan dan gan Ler ay meg ami ni bah wa mel alu i tek nol ogi lay ar sel uru h keb er[ ada ]an dun ia mat eri al dap at dit erj ema hka n seb aga i sek ump ula n kod e inf orm asi yan g sif atn ya psi kol ogi s. Layar mem ber ika n sua tu jal an bag i kre asi dun ia bar u yan g ter uta ma leb ih mem enu hi keb utu han inf orm asi ota k dar ipa da mat eri . Dan pen gkr eas ian “ru ang bar u” ter seb ut tid ak han ya mem ili ki imp lik asi tek nol ogi s bel aka , mel ain kan mer upa kan kel anj uta n jal ann ya evo lus i spe sie s man usi a. Bag i Lea ry pro ses , fenom ena lay ar buk an tra nfo rma si kem aju an tek nol ogi bel aka sep ert i yan g dik ira ole h umu m. Nam un jau h itu , tek nol ogi lay ar mem buk a bab ak evo lus i bar u bag i man usi a dar i dun ia “te rra riu m” 189 men uju apa yan g dis ebu tny a seb aga i Scr een Lan d ata u “cy ber ia” , 190 yan g seb elu mny a did ahu lui evo lus i dar i dun ia “aq uar ium” 191

189

Terrarium berasal dari Bahasa Latin terra yang artinya “tanah” (bisa juga diartikan “bumi”) dan ium atau ia yang berarti “ruang”. Jadi Terrarium yang dimaksud Leary adalah ruang fisik yang disebut sebagai daratan, atau kesadaran riil obyektif. Cyberia (Berasal dari kata kybernan, bahasa Yunani yang kalau diterjemahkan bisa berarti “mengatur” atau “menuntun”; dan ia yaitu “ruang” dalam Bahasa Latin) pada pengertian tertentu tidak berbeda dengan istilah cyberspace. Namun istilah cyberia memiliki pengertian yang lebih lentur dan mudah diplesetkan. Cyberia bisa juga bisa diplesetkan sebagai Cyber-

190

116

men uju “te rra riu m”. Dan ini mer upa kan jaw aba n evo lus ion er ata s fil oso fis kla sik , di man a per tan yaa n ten tan g dua lism e “tu buh ” dan “pi kir an” did ama ika n dal am dis kur sus yang mel iba tka n ota k dig ita l (dig ita l bra in ), tub uh mat eri al (bod y mat ter) dan lay ar dig ita l (dig ita l scr een ) seb aga i sat u kes atu an for mat yan g dis ebu t tri -bra in :192 “We tri bra in amp hib ian s are lea rni ng how use cyb erw ear (co mpu ter sui ts) to nav iga te aro und our Scr een Lan ds the way we use the har dwa re of our bod ies to nav iga te aroun d the mat eri al -mec han ica l wor ld, and the way we use spa ces hip s and spa ce sui ts to nav iga te aro und the out er spa ce .”
193

Dal am tri k oto mi tri -bra in, man usi a men jad i org ani k amp hib ian

(be ras al dar i bah asa Yun ani , amp hi [ga nda ] dan bio s[hi dup ]), yai tu mak hlu k yan g ber kel ana sec ara beb as men jel aja hi ant ara “du nia mat eri ” den gan cyb ers pac e. Cyb erw are ata u per ang kat kom put er mem ili ki per an yan g set ara den gan tub uh bio log is dal am men unt un “su bye k” ses uai den gan are a jel aja hny a mas ing -mas ing lay akn ya pes awa t lua r ang kas a

[man]ia, yang lebih merujuk kepada pengertian “komunitas virtual”, ketimbang sebagai “ruang yang mengantarai”. Sedangkan ScreenLand, jelas-jelas memiliki konotasi sebagai sebuah “tempat berpijak” (land). Antara “tempat berpijak” dan “komunitas” adalah dua hal yang kerap merupakan eksistensi saling melengkapi, Kehadiran sebuah “komunitas” memiliki asosiasi adanya suatu “tempat berpijak” di mana komunitas itu bertemu. Begitu juga adanya suatu “tempat berpijak” mengandaikan secara tidak langsung pada “siapa yang berada di atasnya”. Asumsi ini tampaknya tetap terbawa dalam memberikan istilah, walaupun cyberia dan ScreenLand sama sekali tidak memiliki lagi suatu ruang spesifik sebagai “tempat berpijak”. 191 Leary merujuk pada keyakinan biologi modern dimana semua makhluk hidup di bumi pada awalnya berasal dari tubuh organis purba bernama “protobion” yang hidup di dalam air. Genesis modern, yakin bahwa makhluk hidup pertama, termasuk nenek moyang manusia, terbentuk dari lautan. Dan bumi pada awal terbentuknya seluruhnya adalah lautan, tanpa permukaan daratan. Aquarium artinya adalah “dunia air”.
192

Komposisi ini tidak harus terdiri dari komponen yang selalu sama. Pada televisi contohnya, tribrain Leary dapat ditafsirkan dalam bentuk lain, yaitu; tubuh material-broadcasting-layar digital. 193 Ibid 188., loc.cit.

117

mem baw a ast ron aut men uju lua r ang kas a. 194 Ket ika cyb erw are set ara den gan tub uh biolo gis , man usi a beb as ber man uve r dal am dunia bar u dan kem bal i lag i ke tub uh bio log isn ya. “Ro h” tid ak lag i han ya ter ika t ole h sat u tub uh, mel ain kan men emu kan wad ah set and ing . Den gan keh adi ran Scr een Lan d, “su bye k” sem aki n ber kua sa kem bal i ata s “di rin ya” , dem iki anlah men uru t Lea ry. Kep ada pem bac any a Lea ry men gaj uka n per tan yaa n pro vok ati f: “Can we eng ine er our sou ls? Can we pil ot our sou ls? ” Kem udi an per tan yaa n ter seb ut dij awa b ole h dir iny a sen dir i:

“The closest you are probably ever going to get to navigating your soul

is when you are piloting your mind through your brain or its external simulation on cybernetic screens. Think of the screen as the cloud chamber on which you can track the vapor trail of your platonic, immaterial movements. If your digital footprints and spiritual fingerprints look less than soulful on the screen, well, just change 195 them. Learning how to operate a soul figures to take time.”

“Ro h” aka n mam pu mem ber ika n ara han pad a dir iny a sec ara “ma ndi ri” beg itu mem asu ki “je nde la” lay ar. Seo lah -ola h, dal am

cyb ers pac e tid ak ada ses uat u yan g men unt unn ya dan sei rin g den gan itu sem aki n dig era kan sec ara tak sad ar pad a jal ur -jal ur yan g sud ah ada seb elu mny a. Lay ar dia nal ogi kan ole h Lea ry seb aga i clo ud cha mbe r, yai tu “ru ang ” yan g sif atn ya kab ur, ter awa ng, tid ak mem bat asi seh ing ga men cip tak an kel elu asaa n yan g bes ar pad a “ro h”. Di sin ila h, pen gal ama n di dep an lay ar tid ak dir asa kan seb aga i per jal ana n yan g men jem uka n dan

194

Karena itu tidak jarang juga penjelajah cyberspace disebut sebagai cybernaut. Seperti halnya astronaut bergerak tanpa berat tubuh dalam ruang hampa udara, para cybernaut melayanglayang bebas “tanpa tubuh” di cyberspace. 195 Ibid.

118

mud ah mem bua t kec ewa , mel ain kan pen uh gai rah dan mel ega kan , sep ert i yan g dia lam i Jef f Zal esk i di baw ah dal am pen galam an

per dan any a men jela jah int ern et. Zal esk i mem ban din gka n pen gal ama n ini den gan pen gal ama n med ita sin ya:

“Pertama kali saya masuk ke web, saya menjelajah tak puas-puasnya.
Dengan gembira saya mengklik dari satu situs ke situs berikutnya. Saya berputar-putar di sepanjang tebing dunia digital. Saya biarkan pikiran dan jari saya membawa diri saya ke mana saja. Ketika melihat jam, saya ternyata telah menggunakan Internet selama dua jam. Menjelajahi web telah menyedot perhatian saya sepenuhnya. Namun, ketika selesai, saya tidak merasa segar dan menghadapi dunia seperti setelah melakukan meditasi. Saya telah menjelajahi web berkali-kali selama 196 dua tahun, dan peng-alamannya masih sama.”

Mel eng kap i

pen gal ama nny a

Zal esk i

membu at

pen gak uan ,

“Da lam

ber bag ai car a, lay ar men ang kap dan mem era s per hat ian say a.” Sec ara fen ome nol ogi s, yan g di ala mi Zal esk i per tam a ket ika dia dud uk di dep an lay ar ada lah men aja mka n kes ada ran pad a ind era -ind era nya sec ara pen uh dan ter pus at pad a lay ar. Hin gga kes ada ran ter fok us han ya pad a bag ian tub uhn ya yan g akti f ter kon eks i pad a la yar , seh ing ga bag ian tub uh lai nny a sec ara oto mat is kur ang akt if. “Say a bia rka n pik ira n dan jar i say a mem baw a dir i say a ke man a saj a,” uja r Zal esk i. 197 Den gan dem iki an “di ri” ter sen tra l pad a ind era -ind era spe sif ik saj a, dan dir i ber ger a k buk an ata s kem aua nnya sen dir i, tap i men gik uti ke man a ara h imp uls ind era wi mem baw any a per gi.

196

Jeff Zalesky, Spiritual Cyberspace. Bagaimana Teknologi Komputer Mempengaruhi Kehidupan Keberagaman Manusia, Bab 10, Cyberspace Yang Suci. (Online document: http://www.mizan.com/bukudewasa/cyberspirit.htm) Ibid., loc. cit.

197

119

Set ela h beb era pa

men it

ter jad i seb uah

pro ses

yan g sec ara

per lah an mem baw a sub yek men jau h dar i tub uh fis ikn ya. Mir ip yan g dik ata kan Joh n Per ry Bar low , “Ti ba-tib a say a tid ak mem ili ki tub uh lag i.” 198 Nam un buk an itu yan g ter jad i. Sub yek tet ap dud uk di dep an

kom put er dan ind era ter ten tu mas ih ber ger ak ata u men gal ami ber sam a sub yek dal am dun ia lay ar, han ya dal am kea daa n ini seb agi an bes ar fun gsi tub uh kur ang akt if ata u tid ak dis ada ri keb era daa nny a. Sti mul asi ini men ing kat an fun gsi ind era -ind era akt if seb aga i aki bat pen aja mka n per hat ian dan kes ada ran . Fun gsi kes ada ran men jad i ter pus at dan tid ak sei mba ng seb aga ima na bia san ya kit a dal am kon dis i sad ar seh ari -har i. Pad a saa t itu “di ri” had ir buk an den gan tub uh, tap i pad a fok us ind era ter ten tu. Han ya saj a fak tor ini buk an yan g pal ing men ent uka n

“hi lan gny a” tub uh sub yek . Ada fak tor pen tin g lai nny a yai tu pro ses sin kro nis asi ant ara “la yar ” dan “ot ak dig ita l” den gan “di ri” sub yek . Sin kro nis asi ter jad i dal am dua tah ap per ist iwa . Yan g per tam a ada lah ser upa den gan gam bar an di ata s, ket ika kon sen tra si sub yek ter pus at pad a ind era -ind era spe sif ik yan g ber kon tak den gan tek nol ogi lay ar, sec ara tid ak sad ar ter jad i kea daa n di man a tek nol ogi laya r men jad i bag ian sub yek yan g sam a rii lny a den gan ind era -ind era tub uh yan g lai n. Dib are ngi hil ang nya kon tak sub yek den gan ind era tub uh kur ang akt if, lay ar men jad i “in der a” yan g dit eri ma ole h ota k bio log is sub yek seb aga i ran gs ang an set ara den gan ind era bi olo gis lai nny a, dan sub yek mer asa kan nya seb aga i bag ian dar i dir iny a. Lay ar men gga nti kan fun gsi tub uh fis ik pad a keh idu pan seh ari-har i, seh ing ga sub yek tidak bis a
198

Ibid.

120

mem bed aka n ant ara

“ke rja

fis ik”

den gan

“ke rja

tek nol ogi

lay ar” .

Ket ika , “di ri” han ya eks is melal ui ind era -ind era di man a fok us kes ada ran ber leb iha n (di man a kon tak ind era ter jad i den gan tek nol ogi lay ar) , “di ri” kem bal i eks is dal am med ium lai n, yai tu lay ar. Kea daa n ini mem baw a sub yek pad a sin kro nis asi sel anj utnya . Sel anj utn ya tin gka t sin kro nis asi mend ala m ter jad i ket ika “di ri” men gad a di dal am lay ar. Dir i ber ada di ant ara sam ude ra sig nal -sig nal inf orm asi yan g ter ola h dan ter pro gra m ole h ota k dig ita l. Ket ika dal am “pe rja lan ann ya” sub yek mer asa had irn ya ses uat u yan g mir ip dir iny a. Dia ber tem u “di ri” lain dal am dun ia lay ar dig ita l. “Di ri” lai n yan g sec ara sin kro n bek erj a ses uai kei ngi nan dan kem aua n sub yek , seh ing ga sub yek tid ak mer asa kan ter anc am. Lam bat lau n dir i sub yek dan “di ri” lai n men gal ami sin kro nis asi di man a fun gsi dan pro gra m tek nol ogi tid ak dib eda kan den gan kes ada ran sub yek . Sem ua ker ja dan aks i yan g “di ri” lak uka n ber sam a “di ri” tek nol ogi s, dir asa kan seb aga i has il dar i

per wuj uda n kem aua nny a sen dir i. Tid ak ada lag i pem isa han ant ara “su bye k” dan “ob yek ”. Sin kro nis asi dan keh adi ran “di ri” lai n yan g mir ip den gan sub yek ber sif at log ik. Kar ena pro gra m dan fun gsi kec erd asa n art ifi sia l dun ia lay ar sem aki n kom ple ks, dan ser ing dia sas osi asi kan den gan kem amp uan dan kec erd asa n man usi a.
199

Ana log i ant ara cara ker ja lay ar dan manus ia

199

Tetsuo Kogawa: “The technology of virtual reality, conceived as an extension of modernism, attempts to reconstruct the body which had been formatted by existing electronic technology. This reconstruction happens through a method of deception. Heretofore, artificial reconstruction of the body had been an attempt to construct an equivalent of the human body: robots, cyborgs, and androids. Virtual reality, however, tries to attain equivalence on the level of the consciousness of existence instead of on the level of physical existence itself.” (Ibid 14, loc. cit.)

121

dig ari ska n ole h Mal col m Pel tu 200 den gan men gac u pad a tuj uh pil ar sis tem pem ros esa n inf orm asi :

TABEL 3.1 Analogi antara tujuh pilar sistem pemrosesan informasi dengan kerja manusia.

Functions Data collection

Examples of computer methods Visual Displays Units (VDUs), cassettes, punched cards and paper tape, Optical Character Reading, sensors Central Processing Unit Software programs Main memory (core, semicon-ductors) Magnetic discs and tapes, microfilm, “floppy” discettes Telecommunications, cables Printers, VDUs, microfilm, voice, graph plotters, process control

Human analogy Eyes, ears, mouth, nose, touch

Processing Processing rules Short-term storage Bulk storage Data transmissionn Output

Brain DNA code, experience, learning Brain Memory Books, microfilm, computer databases Nervous system Writing, graphics, voice

Ser upa den gan man usi a, lay ar mem ili ki ciri-cir i kem amp uan “mi rip ” den gan man usi a, han ya dal am beb era pa hal tid ak bis a men yer upa i man usi a. Nam un, analo gi ini tid ak sea ra h, seb ali kny a, fun gsi ker ja man usi a dis ama kan den gan ker ja tek nol ogi . Stu di psi kol ogi kog nit if akh ir-akh ir ini ber tum pu pad a kes esu aia n pol a-pol a ker ja kog nis i

200

Peltu, Malcolm, Information Technology, ibid 150., op. cit., hal. 33.

122

man usi a den gan kec erd asa n art ifi sia l. 201 Sul it men ola k kem iri pan ini , dan mem isa hka nny a han ya dal am beb era pa gar is fun gsi . Kar ena itu , lin gka ran kes ada ran ter fok us pad a ind era , lay ar dan kec erd asa n art ifi sia l ter jal in dal am sat u pol a kes atu an “di ri” dal am dun ia vir tua l:

“ Munculnya ‘monitor’ - layar bioskop, layar kaca televisi ataupun

monitor computer, melenyapkan perbedaan antara diri sebagai subjek dan dunia sebagai objek. ‘Monitor’ bukan sekadar objek di luar diri kita yang kita sedang lihat. Yang terjadi dalam monitor bukan sesuatu kejadian di luar sana dan diri kita di sini. ‘Monitor’ membawa kita ke dunia luar sama seperti dunia luar masuk ke dalam diri kita. Yang terjadi dalam televisi merupakan manifestasi diri kita, yang terjadi dalam diri kita adalah penjelmaan televisi. Televisi telah menjadi 202 sebuah wujud nyata dari jiwa kita. ”

Nam un apa kah ben ar sub yek beb as dar i tub uh fis ikn ya ketik a dia ber ada di dal am “tu buh dig ita l”-nya . Jaw aba n ata s per tan yaa n ini aka n leb ih di das ark an pad a pen dapat Lea ry di man a man usi a hid up buk an pad a sat u “du nia ” tap i sec ara ber sam aan eks is di “du nia ” lai nny a (Ba ca kut ipa n tul isa n Lea ry di ata s ten tan g manus ia amp hibia n). Dal am met afo ran ya mun gki n dig amb ark an sub yek ber ali h sec ara beb as dar i sat u “du nia ” men uju “du nia ” lai nny a, sep ert i ber pin dah dar i rua nga n sat u ke rua nga n lai n. Tap i sec ara tek nis mau pun psi kis , tid ak
201

Herbert Simon, seorang pemenang Hadiah Nobel, menyatakan: “...within ten years most theories in psychology will take the form of computer programs'. Thus equipped with the laws of human behaviour, telling it which stimulus will produce a desired response, a computer-directed robot should certainly be able to toss off a striking tapestry or two. Or a million...” (Dikutip oleh Alan Roberts dalam Artifice and Inteligence ( Arena Magazine, No.3, February-March 1993). Dapat diakses juga melalui online document: http://eserver.org/cyber/art_intl.txt) Stanley J. Grenz, Etos Posmodern (online document : http://www.sabda.org/publikasi/ereformed/edisi/index.php?isi=edisi&reformed_id=13).

202

123

ses ede rha na itu . Seb ab, yan g ber lan gsung dal am pro ses ter seb ut ada lah tra nsm isi pik ira n dan kes ada ran , buk an fis ik sec ara kes elu ruh an. Kem bal i pad a pen gal ama n Zal esk i, di man a fok us per hat ian ter sed ot sep enu hny a pad a lay ar dan tim bul per asa an tan pa beb an hin gga dua jam ter lew ati tan pa sad ar. Sem ent ara , Zal esk i men gun gka pka n pen gal ama n per tam any a mel aku kan med itasi : “Du a pul uh tah un yan g sil am, ket ika say a unt uk per tam a kal inya men cob a ber med ita si, say a mel eta kka n ban tal di ata s lan tai , lal u duduk ber sil a di ata sny a, dan men utu p mat a.” 203 Apa yang dia lam i kem udi an, dap at dib and ing kan den gan pen gal ama n per tam any a men jel aja hi dun ia vir tua l:

“ Saya ternyata tidak betah, berusaha untuk tetap duduk, tak

melakukan apa-apa kecuali memperhatikan pikiran saya sendiri. Tubuh saya memberontak dan begitu juga kepala saya. Belum sampai satu menit berlalu, saya meloncat seolah-olah disengat oleh lebah. Saya meninggalkan ruangan, menyalakan TV, mematikannya, melangkah lagi. Saya merasa diri saya bagaikan bertebaran seperti halnya bola biliar 204 setelah disodok.”

Sel anj utn ya, hal sam a dia lam i Zal esk i ket ika mem ula i lag i med ita sin ya. Set ela h seb ula n men cob a, Zal esk i ber has il dud uk dia m sel ama lim a men it. Yan g dil aku kan Zal esk i sel ama med ita si ada lah men yad ari

ger aka n dan ker ja tubuh nya sec ara kes elu ruh an. Ber ten tan gan den gan itu , ket ika dia “me lay ang -lay ang ” di dunia dig ita l, ter jad i pro ses ber keb ali kan , ger aka n dan ker ja tub uh men jad i sam ar-sam ar. Bag i Zal esk i, ket ika men ump uka n kes ada ran pad a bad ann ya

203 204

Ibid 184. Ibid

124

sen dir i, dia

mer asa kan

ses uat u yan g bel um per nah

dia lam iny a di

keh idu pan seh ari -har i: “Ha mpi r set iap har i kit a ber ang kat , dar i pag i hin gga mal am, tan pa mem ber i pik ira n ket iga kep ada nap as kit a, ata u leb ih dar i per -hatia n ses aat . Bah kan ket ika ber usa ha, sul it sek ali unt uk tet ap was pad a pad a nap as sel ama leb ih dar i satu men it. Pik ira n, per asaa n, sen sas i fis ik men gge lin cir kan per hat ian .” 205 Imp lis itn ya, “tu buh ” mem ili ki kem and iri an dan “ke sad ara nny a” sen dir i. Dal am kes eha ria n, fok us ata u kon tro l pad a “tu buh ” men gua t dan mer ata sec ara tak men col ok. Ger aka n tub uh bek erj a “ot oma tis ” dan sif atn ya tid ak sad ar. Med ita si mam pu mel uas kan wil aya h “ke sad ara n” ter had ap are al yan g seb elu mny a mer upa kan cak upa n “ke tid aks adara n”, mak a ter jad i “pe mbe ron tak an” ole h tub uh. Seb ali kny a, sel ama

pen jel aja han di ala m vir tua l fok us ke sel uru h tub uh tid ak dit eka nka n, seh ing ga ket ida ksa dar an ban gki t men dom ina si kes ada ran kit a 206. Dua lit as fok us per hat ian ber upa “ke sad ara n” dan imp uls -imp uls “ke tid aks ada ran ” (cyb ers pac e ) dan mew arn ai dun ia per pin dah an kes ada ran Saa t ant ara fok us lay ar

“fi sik ”

(ter rar ium).

per hat ian

men ump uk pad a ind era -ind era yan g iku t men gal ami sin kro nis asi (“d iri ” ter per ang kap dal am ind era dan lay ar) , kon tro l ter had ap ket ida ksa dar an

205

Ibid. Perhatikan kembali apa yang Zaleski lakukan ketika “tubuhnya” memberontak dari fokus perhatiannya yang menguat. Dia meninggalkan ruangan dan menonton televisi. Dengan berdiri dari posisi duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan, fokus atas tubuh dibawa kembali pada titik stabil perhatian pada tubuh di mana ‘ketidaksadaran’ kembali lepas dari ikatan “kesadaran”. Hal ini tidak cukup karena fokus perhatian terlanjur menguat, Zaleski butuh melarikan diri lebih jauh darinya, dan dia menemukannya pada layar televisi. Dengan memfokuskan diri pada layar televisi, proses di mana peristiwa sinkronisasi antara kesadaran dengan layar terjadi, tubuh terlepas sepenuhnya dari fokus perhatian dan “ketidakseimbangan” antara kesadaran dan ketidaksadaran menjadi tuntas. Apa yang terjadi pada proses ini mirip sebuah pendulum yang jika bergerak terlalu jauh ke satu sisi diseimbangkan dengan menggerakkannya ke sisi lain dengan sengaja.

206

125

tub uh mel ema h ser ta dor ong an yan g ada men gua t. Seb ali kny a, fok us ata u kon tro l ket ida ksa dar an yan g berf ung si kua t ket ika med ita si ser ta bek erj a pad a bat as “no rma l” di keh idu pan seh ari -har i, mel ema h.

Seh ing ga, ter jad i pem bal ika n pos isi ant ara fok us kon tro l pad a “re ali tas fis ik” den gan “re ali tas vir tua l” sep ert i for mat dia gra m di baw ah:

BAGA N 3. 1 “S inkronisa si” da n “P emro graman ulang atas keti daks adar an” dala m ar us intera ks i an ta ra “r ea litas fisi k” de ng an “r ea litas vi rt ual” .

Dia gra m di ata s men gga mba rka n, saa t “su bye k” men jel aja hi “du nia vir tua l” tid ak ada pem isa han sec ara teg as ant ara

“ke tid aks ada ran” pad a tub uh dan “ke sad ara n” pad a fok us per hat ian , yan g ter jad i han ya per gan tia n dom ina si ant ara ked uan ya. Pad a “re ali tas lay ar” , ban gki tny a “ke tid aks ada ran ” men yeb abk an “su bye k” mer asa tid ak ber beb an, bah agi a, beb as dan tid ak ada bat as den gan “ob yek ” (li hat pan ah baw ah men unj ukk an di man a sin kro nis asi ter jad i).

126

Kem awa san mel ema h ata u men uru n. Pad a tah ap ini fok us dan per hat ian sad ar men jad i len gah dan mem ung kin kan ter jad iny a “pem rog ama n ula ng kes ada ran ”, yai tu pro ses ket ika “ke sad ara n” dik emb ali kan dar i “rea lit as vir tua l” ke “re ali tas fis ik” , ben tuk pro gra m dan kon str uks i tek nol ogi lay ar ter baw a dan ter tan am di wil aya h ket ida ksa dar an dal am keh idu pan seh ari-har i. Pro ses ini mel ela hka n fis ik dan men tal sep ert i yan g

dir asa kan ole h Zal esk i. Kel ela han ter jad i kare na kon str uks i kes ada ran pra -sin kro nis asi ber usa ha men yes uai kan “di ri” den gan “ba ngu nan ” dun ia di lay ar. Lay ar mem bat asi kes ada ran , dan fok us per hat ian men gik uti ke man a lay ar men gar ahk ann ya. Aki bat nya , men tal ber ger ak ter us

mel iba tka n ker ja sej uml ah ind era , pro ses ini men gur as ene rgi fis ik mau pun men tal . Pro ses -pro ses di ata s ber lan gsu ng tid ak sek eda r den gan int ern et saj a, jug a ter jad i ket ika men ont on tel evi si, men ont on fil m di ged ung bio sko p, men den gar rad io, bah kan saa t memba ca seb uah nov el den gan seri us. Han ya saj a mas ing -mas ing mem ili ki bat as pol a dan tit ik awa l sin kro nis asi yan g ber bed a. Pem aka ian tek nol ogi yan g sif at fok us

kes ada ran nya ter let ak pad a ger ak fis ik (se per ti men gen dar ai mob il ata u sep eda mot or 207), sin kro nis asi ter jad i den gan car a mem pe nga ruh i

kes ada ran , kem amp uan dan fun gsi fis ik den gan car a yan g ber bed a. Pen gen dar a mob il aka n can ggu ng dan mem but uhk an sin kro nis asi ket ika dia men gen dar ai sep eda mot or, beg itu jug a seb ali kny a. Sam a jug a
207

Pada saat mengendari mobil atau sepeda motor, sebenarnya indera-indera yang biasanya berfokus pada “layar” seperti pada cyberspace juga terfokus pada “layar” dalam tipe yang berbeda, bukan karena kesenangan tapi lebih karena kewajiban, seperti halnya rambu-rambu lalu lintas dan struktur jalan. Hanya saja pada contoh di atas bagian ini agak diabaikan untuk memberikan contoh bagaimana sinkronisasi manusia dan teknologi yang terjadi pada tahap fisik saja.

127

den gan

med ium-med ium

tek nol ogi

yan g

ber bed a-bed a

mem beri kan

mod el sin kro nis asi yan g ber bed a pul a 208. Hal ini mem pen gar uhi tah ap sel anj utn ya, yai tu bag aim ana mod el pro gra m dan kon str uk dib ang un dal am ket ida ksa dar an sub yek . Pol a pem rog ram an ula ng ata s ket ida ksa dar an, mod el dan psi kis tek nol ogi yan g ber bed a aka n mem ber ika n pen yes uai an yan g ber bed a pul a pad a ket ida ksa dar an bar u. Hal ini tid ak sam a den gan kon tro l kes ada ran mel alu i pen ana man chi p dal am ota k yan g sif atn ya fis ik dan org ani s, nam un mer upa kan “pe nan ama n” pol a-pol a bar u dal am

ket ida ksa dar an man usi a yan g bers ifa t “ps iki s”. Mel alu i ket ida ksa dar an tek nol ogi s yan g ter ben tuk dar i “re ali tas vir tua l” lay ar, “te kno log i glo bal ” bek erj a den gan car a-car a yan g bel um per nah dir aih seb elu mny a. Ket ika Zal esk i ter sin kro nis asi den gan aru s lay ar, ber sam aan itu pul a ban yak ora ng dar i “be lah an bum i ber bed a” mel aku kan hal ser upa , dan mer eka mem asu ki pro gra m yan g bek erj a mir ip “bo la pet a dun ia” dal am mem ban gun ima ji bum i “tu ngg al” yan g uni ver sal , mes ki dal am ben tuk yan g leb ih “su sut ” di man a set iap ora ng sal ing ter kon eks i. “Pe nyus uta n” ini buk an “ja rak ” mat eri al, nam un sua tu pem bangu nan kon tru ksi “ru ang ” bar u yan g tam pak ter pis ah dar i “du nia mat eri ”. “Ru ang ” bar u itu tid ak per nah dia ngg ap seb aga i “du nia ” yan g ter pis ah, kar ena ima ji dun ia mat eri tet ap men yer tai “ru ang ” ata u “du nia” bar u. Dun ia bar u sem aki n eks is jik a ber gab ung den gan sif at str ukt ur dun ia mat eri al. Seb ali kny a, “ru ang ” bar u jug a mem ili ki str ukt ur ban gun an dan
208

Namun sinkronisasi ini tidak hanya dijalani oleh subyek saja, tapi teknologi juga melakukan penyesuaian wujud sehingga mempelancar proses tersebut, baca tentang “diri” lain dalam realitas virtual pada penjelasan di atas.

128

pro gra m ter sen dir i yan g ber bed a. Dal am “re ali tas vir tua l” ide nti tas men jad i ano nim dan tid ak kon sis ten den ga n “re ali tas fis ik” ,209 tet api kes ada ran bat as “re ali ta s fis ik” tid ak hil ang beg itu saj a. Bat as-bat as itu mun cul dal am for mat dan tuj uan yan g ber bed a. Ide nti tas vir tua l, dom ain neg ara , jen is kel ami n, bah asa yan g ber bed a tet ap “ad a”, wal aup un sif atn ya tid ak pa ral el den gan ken yat aan fis ik dan leb ih mir ip ima jin asi yan g dia kui seb aga i “ba tas -bat as nya ta” . Set iap ber das ark an bat as-bat as ora ng men gkr eas i ide nti tas nya men gik at dia seh ari -har i. sen dir i Seh ing ga

yan g

ket erb ata san sub yek kar ena ide nti tas rel ati f tid ak ter asa , seb ali kny a, bat as-bat as ter seb ut mem per jel as uni ver sal ita s rea lit as vir tua l den gan ber per an seb aga i pem ban din g bag i bat as-batas “du nia mat eri al” . Bay ang kan men ont on ses eor ang Pad a tin gga l wil aya h geo gra fis lay ar, dia men yak si kan ter ten tu dan dan

tel evi si.

keh idu pan

keb ias aan suk u ter asi ng di Afr ika , yan g let akn ya rib uan mil dar iny a sec ara fis ik. Saa t itu , dia mer asa kan sen sas i ber bed a sec ara ber sam aan . Di lay ar tel evi si dap at dil iha t per ist iwa yan g tid ak bis a dia ama ti sec ara mat a tel anj ang , seh ing ga dia mer asa kan ada nya “ke dek ata n rua ng” . Nam un “ke dek ata n rua ng” jug a tid ak mun cul jik a “re ali tas fis ik” yan g mew aki li ket erp isa han jar ak tid ak dis ada ri.
209

Sejak 1996, Negara Bagian Georgia di Amerika Serikat melalui H.B. 1630, sebuah amandemen pada the state’s Computer Systems Protection Act (Hukum Perlindungan Terhadap Sistem Komputer), dapat dimungkinkan bagi seseorang untuk: “knowingly to transmit any data through a computer network [using] any individual name . . . to falsely identify the person . . . transmitting such data.” Wallace sendiri memberikan penegasan atas amandemen ini, menurutnya, “Anonymity and pseudonymity are built into the architecture of the Net.” Lihat: Jonathan D. Wallace, Nameless in Cyberspace Anonymity on the Internet (CATO Institute Briefing Papers, No. 54, 8 Desember 1999), hal 3-4.

129

Sep ert i Ell ie den gan kon tem pla sin ya, di sat u sis i dia sad ar ada nya “ba tas lur us” , nam un kes ada ran ini dik ont ras kan den gan kes ada ran lai n yai tu bum i bul at “ya ng seb etu lny a”. Mak a ket ika “Af rik a” di tel evi si ter asa dek at den gan sub yek apa bil a sub yek men yim pan ing ata n bah wa Afr ika “ya ng seb etu ln ya” let akn ya jau h dar i tem pat nya ber dir i. Nam un “ke dek ata n” te rse but ter asa leb ih rii l dan ter obs erv asi ole h ind eraind era sub yek dar ipa da jar ak Afr ika yan g jau h, ked eka tan “ob yek tif ” dan “un ive rsa l” ini leb ih dit eri ma dar ipa da fak ta ked ua. Hal ini men jad i pro ses ket ida ksa dar an dii nga t ter us wal aup un “Af rik a” dal am laya r tid ak mun cul dal am “re ali tas emp iri s”. Mem ori ini aka n mun cul kem bal i set iap sub yek men gin gat Afr ika . Sep ert i Ell ie yan g men ola k ken yat aan bat as rat a pad a hor iso n dan au yan g dia ama ti den gan mem ori nya ten tan g bum i bul at yan g leb ih “ri il” . Car a sep erti men ont on Afr ika di lay ar ter us ter jad i ket ika kon tak den gan lay ar ber lan gsu ng dal am wak tu kon tin u dan ter us men eru s. Sem aki n kon tak den gan lay ar ser ing ter jad i, ket ida ksa dar an tek nol ogi s ter ben tuk sem aki n kua t dan ter asa rii l. Ket ika “ke dek ata n vir tua l” ter asa nya ta dan kon eks i yan g ter ela bol asi dal am rea lit as sem aki n ban yak , sub yek yan g ter lib at mer asa kan keh adi ran sub yek lai n mengu at: “On the ski n-tis sue pla ne, our lef t bra ins are lim ite d to mec han ica lmat eri al for ms. But in Scr een Lan d our rig ht bra ins are fre e to

ima gin eer dig ita l dre ams , vis ion s, fic tio ns, con coc tio ns, hal luc ina tor y

130

adv ent ure s. All the se scr een sce nes are as rea l as a kic k-in-the -pan ts as far as our bra ins are con cer ned .” 210 Pik ira n set iap ora ng ber pen gar uh pad a pik ira n sub yek lai n (da n ten tu saj a ter dap at pro gra m tek nol ogi s yan g mem ben tuk sem ua pik ira n yan g ter lib at) . Sel anjut nya ter jad i pro ses sep ert i dit unj ukk an ole h bud aya mas sa, sem ua ora ng ber ger ak men gik uti pol a sam a, wal apu n tid ak ser aga m sec ara fis ik. Sub yek sal ing “me nga was i” satu sam a lai n wal aup un tid ak mel iha t wuj ud kon gkr et mas ing -mas ing . Dal am lay ar, rag am imp uls -imp uls ket ida ksa dar an dun ia fis ik dig abu ngk an dal am satu lin gka ran . Kar ena itu , dal am lay ar per tem uan sat u “su bye k” den gan “su bye k/o bye k” lai n ada lah ber tem uny a imp uls imp uls di cyb ers pac e. Di “da lam ”, sub yek men emu kan kes esu aia n ara h dan pol a ant ara imp uls –imp uls “su bye k” lai n den gan imp uls dir iny a. Kar ena pol a ini sif atn ya tid ak mem aks a dan mer upa kan pel epa san (pe mbe bas an) dar i kon tro l sos ial yan g ber lan gsu ng, maka tid ak dir asa kan seb aga i mor ali tas mas yar aka t yan g ter wuj ud pad a sup ere go. Kar ena itu reg ula si yan g ber lan gsu ng dal am pro ses ini tid ak ber ben tuk huk uma n ata u anc ama n, tap i leb ih ber upa pen gas ing an den gan “ke hen dak dir i” ata u pen ola kan ter hadap “re ali tas ”. Yan g dit unt ut pad a keb ers ama an buk an ket aat an, tap i pen yes uai an dir i pad a sat u pol a ara h yan g “ob yek tif ”. Dem iki anl ah tek nol ogi glo bal bek erj a mel alu i lay ar, dan

men gha sil kan pol a yan g cen der ung men uju sat u ara h, nam un sub yek mer asa kan tid ak ada pak saa n dan kec end eru nga n yan g dit ent uka n.
210

Ibid 188., op.cit.

131

Dal am pro ses

ini

yan g ter jad i ada lah

sin kro nis asi 211 (ba ik den gan

tek nol ogi mau pun imp uls -imp uls lai nny a), buk an anc ama n kek uas aan pen gon tro lan man usi a ole h tek nol ogi di man a ked uan ya ada lah rea lit as ter pis ah dan ber had apa n sep ert i yan g dit aku ti ole h Fro mm dan tem antem ann ya pad a era 60 -an. Seb agi an art i “ha ntu ” yan g dis ada ri Fro mm mem ang men jad i tap i ken yat aan “ha ntu ” dal am itu pol a kek uas aan ter uta ma tan pa pad a bad an reg ula si

cyb ers pac e,

had ir

ket ida ksa dar an man usi a. Ket ika Fro mm bic ara ten tan g hum ani sas i ata s mas yar aka t

tek nol ogi s, dia men uli s: “Ko mpu ter har us men jad i men jad i bag ian fun gsi ona l dal am ori ent asi -hid up sis tem sos ial , dan buk an men jad i “ka nke r” yan g men imb ulk an ben can a dan akh irn ya mem bun uh sis tem .” 212 Sel anj ut nya , men uru tny a: jug a dit eta pka n dan rel asi man usi a-tek nol ogi yan g lay ak unt uk

“Ma nus ia

kom put er har us men jad i sar ana

men cap ai tuj uan -tuj uan yan g dit ent uka n ole h ras io dan

keh end ak

man usi a.” 213 Sin gka tny a, rel asi man usi a seb aga i “tu an” dan tek nol ogi seb aga i “bu dak ” har us dit ega ska n kem bal i aga r pos isi ini tid ak ber uba h. Ket ika cyb ers pac e lah ir seb aga i imp uls -imp uls das ar bar u, tuj uan Fro mm men g-hum ani sas i-kan tek nol ogi bol eh dik ata kan “te rwu jud ”. Tap i ber sam aan den gan itu , man usi a tan pa sad ar dib awa ber lah an pad a sat u ara h bar u, lay aknya seo ran g “tu an” yan g mul ai ter pen gar uh ole h “bu dak ” kes aya nga nny a tan pa mer asa dik uas ai. Tid ak ada per an

“su bye k”, ata u “ob yek ” mut lak pad a rel asi ini , man usi a dan tek nol ogi
211 212 213

global atau world brain hanya salah satu dari contoh yang diberikan di atas. Ibid 120., op. cit., hal. 94 Ibid

132

sal ing men yes uai kan dir i dan men gar ahk an mer eka ber sama -sam a pad a ter cip tan ya kom uni tas uto pia bar u did asa rka n pad a “ke ber sam aan ”, “ke beb asa n” dan “ke bah agi aan ”.

133

BA B IV PE MB AH AS AN

A. TE LE TU BB IE S: BA YI TE KN OL OG IS
1. T e l e t ub b i es s eb a g a i b u d a y a p o p u l e r : pergulatan antara

idealisme dan bisnis Tel etu bbi es dib uat atas pes ana n dar i sta siu n tel evi si BBC seb aga i sal ah sat u aca ra fav ori t unt uk ana k kec il ber usi a 2-5 tah un, di man a

akt ivi tas nya leb ih ban yak di dal am rum ah kar ena bel um sek ola h. Ann e Woo d214 dan And rew Daven por t 215 dar i Rag dol l Com pan y Ltd, 216 seb agai pih ak yan g men eri ma ten der dan men gko nst ruk si ran can gan mem bua t Tel etu bbi es sek ola h. Sej ak deb ut per tam a diu mum kan ole h BBC 217 pad a Mar et 199 7, hin gga kin i, Tel etu bbi es tel ah men cap ai 36 5 episo de 218 den gan pan jan g men jad i pro gra m pen did ika n bah asa bag i ana k usi a pra

214

Anne Wood adalah pendiri dan Creative Director dari Ragdoll Company Ltd. Lahir di Spennymoor, Co. Durham, pada tahun 1937. Pernah menjadi guru sastra dan bahasa Inggris untuk anak-anak usia 12-18 tahun. Anne Wood meyakini televisi memiliki peran yang penting sebagai sumber yang membangun imajinasi anak-anak. Selain Teleubbies, Wood juga terlibat dalam serial televisi anak-anak lainnya seperti: Rosie and Jim, Tots TV dan Brum. Asisten produser dan penulis naskah bagi 365 episode Teletubbies. Ragdoll Company Ltd. didirikan oleh Anne Wood pada tahun 1984 di Birmingham, Inggris. Merupakan badan usaha “independen” yang Bergerak di bidang produksi acara anak-anak. British Broadcasting Corporation atau BBC. Bersama dengan CBS (Columbia Broadcasting System), NBC (National Broadcasting Company), ABC (American Broadcasting Company) dan CBC (Canadian Broadcasting Corporation), BBC termasuk lima raksasa dalam bidang penyiaran radio dan televisi di dunia (Naisbitt & Aburdene: Ibid 57., op. cit., hal. 140). Semuanya adalah perusahaan yang berperan penting bagi kepentingan penyebaran budaya populer kepada kalangan publik dunia dalam bahasa Inggris maupun bahasa lainnya melalui “industri acara televisi”.

215 216 217

134

24 men it unt uk tia p epi sod e. 102 sta siu n tel ah mem bel i pro gra m ini , dan men erj ema hka nny a dal am 41 bah asa . Bah kan den gan ban tua n tek nol ogi sat eli t, Tel etu bbi es dap at dis iar kan leb ih dar i 120 neg ara ata u lim a ben ua di sel uru h dun ia. 219 Me ngg ena pi pre sta si ini , sed ere tan

pen gha rga an dit eri ma ole h Tel etu bbi es dar i pub lik neg ara sep ert i Jep ang (19 97) , Jer man (19 98) , Ame rik a (19 99) dan ber bag ai pen gha rga an dar i lem bag a pem eri nta h mau pun swa sta di Inggr is (19 97 -200 1). Sed era tan pre sta si ini men cer min kan sif at uni ver sal Tel etu bbi es seb aga i bud aya pop ana k-ana k yan g dit eri ma den gan tan gan ter buk a di ban yak neg ara ber lat ar bel aka ng bud aya ber bed a. Kar akt er ini buk an han ya sem ata mat a dis eba bka n ole h sik ap pos iti f dan ter buk a dar i “wa rga dun ia” ter hada p seg ala pro duk pop ule r sep ert i Tel etu bbi es. Kes uks esa n ini ter nya ta tid ak ter lep as dar i usa ha kre ato rny a men gkr eas i aca ra yan g dap at men ari k sim pat i ana k -ana k sel uru h dunia . Men uru t And rew Dav enp ort , ker aga man bah asa yan g dig una kan Tel etu bbi es di ber ba gai neg ara tid ak aka n men gub ah isi dan pes an yan g aka n dib awa kan ole h Tel etu bbi es 220. Di Est oni a mis aln ya, Tel etu bbi es dik ena l den gan bah asa set emp at seb aga i Tel etu psu ds. Sed ang kan di Fin lan dia , kee mpa t tok oh uta ma dal am Tel etu bbi es dib eri nam a yan g ber bed a dar i asl iny a. “Ti nky Win ky” diu bah men jad i “Ti ivi Taa vi” , “Di psy ” men jad i “Hi psu ”, “Po ” men jad i “Pa i”, dan han ya “Laa-Laa ”
218

Hal ini menunjukkan bahwa Teletubbies disiapkan untuk ditayangkan setiap hari secara penuh dalam setahun kalender Masehi, yaitu 365 hari. Jadi seperti penggambaran dalam Teletubbies di mana acara dimulai saat matahari terbit dan selesai pada saat matahari tenggelam, satu episode dalam Teletubbies adalah “satu hari” dalam Tubbyland. 219 Online document: http://www.ragdoll.co.uk/teletubbies/progr_teletubbiescoverage.html. Untuk data lengkap bisa dilihat pada Lampiran C. 220 Online document: http://www.ragdoll.co.uk/teletubbies/progr_teletubbies192.html

135

yan g

tet ap

dip ert aha nka n

nam any a

sep ert i

asa lny a.

Ann e

Woo d

mem ber ika n con toh eks tri m lai n rek ons tru ksi ula ng Tel etu bbi es ole h ber bag ai neg ara ber bed a. 221 Ame rik a tid ak se gan -seg an men gga nti sua ra nar ato r yan g seb elu mny a ber log at Ing gri s Bri tis h, den gan war na sua ra yan g ber log at Ing gri s Ame rik a. Di Por tug al, isi cer ita Tel etubb ies dip oto ng-pot ong dan dir aki t ula ng men jad i cer ita bar u. Walaup un

dem iki an, hal ini tid ak men jad i mas ala h bag i Woo d mau pun Dav enp ort . Seb ali kny a Ann e Woo d mal ah men ant ang neg ara -neg ara lai n unt uk mel aku kan hal sam a: “We hop e to enc our age oth er cou ntr ies to mak e the ir own ins ert s and the n we can sho w som e of the m in the Tel etu bbi es pro gra mme s bro adc ast by the BBC and oth er sta tio ns ,” Dem iki an aja kan nya 222. Bis a jad i sik ap fle ksi bel dan ter buk a unt uk ada pta si dal am ben tuk pal ing eks tri m sek ali pun ini ada lah sal ah sat u kun ci suk ses dit eri man ya Tel etu bbi es di pub lik ant arneg ara . Nam un, sik ap ini bis a jug a dit afs irk an sec ara lai n. Den gan tol era nsi ber leb iha n sep ert i ini bis a ber mak na bah wa bag i Rag dol l mau pun BBC men gha lal kan seg ala car a den gan tuj uan sek ada r mem per lua s dan mem per lan car eks pan si pas ar hin gg a tar af int ern asion al. Ked ua kem ung kin an di ata s

sem uan ya sam a mun gki nny a. Ole h kar ena itu , ada dua per spe kti f unt uk men yor ot aka r

keb erh asi lan Tel etu bbi es; Per tam a, sej ala n den gan pen dap at Wood dan Dav enp ort , di man a Tel etu bbi es dan ada lah jen is yan g pro duk yan g di

men gga bun gka n

pen did ika n

ent ert ain men t

sen gaj a

221 222

Ibid., loc. cit. Ibid.

136

kon str uks i dal am sua san a cul tur e fre e, seh ing ga per omb aka n isi dar i Tel etu bbi es tid ak aka n mem pen gar uhi tuj uan yan g ing in dic apa i ole h Tel etu bbi es. Sem ent ara pad a tat ara n arg ume n bel aka ked ua, Tel etu bbi es hak lis ens i

dil iha t dar i kep ent ing an bis nis

yan g pen jua lan

tay ang an dan mer cha ndi se-nya men gal ahk an seg ala -gal any a, ter mas uk isi dan tuj uan yan g ing in dis amp aik an ole h Tel etu bbi es. Bai k dar i per spe kti f per tam a mau pun ked ua, Tel etu bbi es men cer min kan dua lis me kon tra dikt if dar i bud aya pop ule r yan g did isk usi kan pad a Bab I. Dal am

kon tek s yan g leb ih spe sif ik ked ua per spe kti f ter seb ut aka n dib ahas pad a kaj ian di baw ah. Seb aga i mes in bis nis BBC , kes uks esa n Tel etu bbi es tid ak dir agu kan lag i. Di Ind one sia sen dir i, pro duk -pro duk mai nan , pak aia n dan aks eso ri den gan tem a kee mpa t bon eka tub bie s men jam ur, dar i tok o mai nan bes ar sep ert i Kid z Sta tio n mau pun ver si baj aka n yan g dij ual di kak ili ma. BBC per nah mem bua t pen gum uma n res mi unt uk men gan cam pem baj ak

Tel etu bbi es di Ind one sia den gan tun tut an huk um, wal aup un sam pai saa t ini bel um ada sat upu n kas us yan g dia juk an. Dal am kas usu ini , BBC

kur ang ser ius men gel uar kan anc ama n. Hal ini tid ak men ghe ran kan , seb ab dar i pen dap ata n mer kan dis , pen jua lan hak sia r, vid eo dan buk u cer ita saj a, ang ka pen dap ata n Tel etu bbi es sud ah ter gol ong bes ar. Mis aln ya, unt uk seb uah bon eka mai nan den gan lis ens i res mi dar i BBC Tel etu bbi es yan g dij ual di Sin gap ura har gan ya men cap ai 15. 000 , - Dol lar Sin gap ura per bua h. Buk u cer ita nya seb any ak 10 jud ul, dit erb itkan PT Gr ame dia Pus tak a Uta ma den gan hak pen erb ita n dar i BBC Wor ld Wid e Ing gri s, har ga pas ara nny a men cap ai Rp. 7.0 00, - per buk u. Sed ang kan VCD

137

asl i dij ual den gan har ga Rp. 29. 000 ,- per kep ing 223. Leb ih men ari k lag i, ter nya ta his ter ia pad a Tel etu bbi es tid ak did omi nas i kaum ana k-ana k, tap i jug a ora ng dew asa . Sel ain itu , di man a-man a aca ra yan g

men amp ilk an tel etu bbi es men dap atk an sam but an han gat . 224 Sem ua ini ada lah ase t dan keu ntung an eko nom i bag i BBC . Nam un, bai k BBC mau pun Rag dol l sam a-sam a mem ili ki ala san sen dir i unt uk meno lak bah wa keu ntu nga n pen dap at bes ar -bes ara n

ter seb ut mer upa kan tuj uan uta man ya. Bag i Woo d, tan pa men yeb ut ang ka pas ti, seb agi an bes ar pen dap ata n dar i pen jua lan mer cha ndi se dig una kan unt uk men utu pi ang ka bia ya pem bua tan Tel etu bbi es yan g cuk up bes ar. 225 Jaw aba n ini , sem ent ara dap at dit eri ma, men gin gat hin gga kin i bai k BBC mau pun Rag dol l tet ap mer aha sia kan bes ar bia ya yan g dih abi ska n unt uk mem pro duk si Tel etu bbi es. Nam un, jik a jaw aba n res mi ini tid ak jug a dap at men ari k sim pat i pub lik , Woo d dan Dav enp ort tel ah men yus un jaw aba n lai n. Ter uta ma, yan g dit eka nka n di sin i ada lah bah wa Tel etu bbi es mem ang dib uat seb aga i pro duk cul tur e fre e:

“Thr oug h the mag ic of Tub byt ron ic tec hno log y the Tel etu bbi es can mak e the pro gra mme to sui t man y dif fer ent cul tur es aro und the wor ld. Thi s mea ns tha t chi ldr en in any cou ntr y fee l rea lly com for tab le wit h the Tel etu bbi es bec aus e the y spe ak in the ir lan gua ge and sho w asp ect s

223 224

“Oh...Oh...Dunia “Teletubbies”!”, Harian Kompas, Minggu, 6 Mei 2001, hal. 14. Harian Jawa Pos, Senin Legi, 30 April 2001, hal 13. Tulisnya: “GANDRUNG: Boneka Teletubbies yang disiarkan Indosiar benar-benar jadi idola anak-anak.[...] Acara yang digelar Kacang Dua Kelinci bekerjasama dengan Sri Ratu dan JPNN ini mampu membuat anak-anak histeris.” Online document: http://www.ragdoll.co.uk/teletubbies/progr_teletubbies191.html. Untuk data lengkap bisa dilihat pada Apendiks C.

225

138

of loc al lif e in the insert s.” 226 Mer eka se pah am bah wa Tel etu bbi es mem ili ki day a ada pta si ter had ap per bed aan kul tur al dan asp ek lok al, dia mam pu men gik at sem ua per bed aan kul tur al dal am sat u aru s pro gra m. Wal aup un, fak ta kep ent ing an bis nis yan g cuk up men ggi urk an mer upa kan ala san yan g kua t. Beg itu jug a den gan “tu jua n ide al” yan g di ata s ada lah fak tor yang tid ak dap at dia baik an beg itu saj a. Men gin gat , bah wa sam but an pub lik yan g ant usi as men gi sya rat kan bah wa Tel etubb ies mem ili ki pen gar uh li nta s bud aya . Dal am ber bag ai kes emp ata n bis a dik ata kan ked ua tuj uan ter seb ut: bis nis dan ide ali sas i ber jal an ber sam asam a sal ing men unj ang ant ara sat u sam a lai n. Den gan mem ili ki kar akt er lin tas bud aya , Tel etubb ies men jad i leb ih mud ah dij ual . Sed ang kan den gan tuj uan men ger uk keu ntu nga n seb esa r-bes arn ya Tel etu bbi es har us di bua t mud ah dit eri ma ole h ber bag ai ben tuk pas ar yan g ber var ias i 227. Seb agai bud aya pop ule r, ked ua uns ur yan g sep int as ter lih at kon tra dik tif ter seb ut bek erj a sec ara rap i dal am sat u jal ina n. Di sin i lah , dua uns ur kek uat an yan g men duk ung Tel etu bbi es, sel ain fak tor ket iga yan g aka n kit a bah as leb ih lan jut .

226

Online document: http://www.bbc.co.uk/education/information/faq/abroad.shtml. Untuk data lengkap tentang tanya jawab dengan Anne Wood dan andrew Davenport bisa dilihat pada Apendiks C. Menurut Kenichi Ohmae, menghasilkan produk yang universal sekaligus dapat diadaptasi dengan mudah oleh lokal adalah salah satu strategi pemasaran yang berlandaskan perspektif global: “In high school phycics, I remember learning about a phenomenon called diminishing primaries. If you mix together the primary colors of red, blue, and yellow, what you get is black. If Europe says its consumers want a product in green, let them have it. If Japan says red, let them have red. No one wants the average, No one wants the colors all mixed together. Of Course it make sense to take advantage of, say, any technological commonalities in creating the paint. But local managers close to local costumers have to be able yo pick the color.” Baca tulisannya berjudul Managing in a Borderless World, dalam buku berjudul The Evolving Global Economy. Making Sense of the New World Order (Boston: A Harvard Business Review Book, 1995), hal. 274.

227

139

2 . S i n k r o n i s a s i a n ta r a “ d u n i a a n a k -a na k ” d a n “ d u n i a l a ya r ” . Pre ss rel eas e yan g dia dak an BBC pad a tan gga l pub lik 31 Mar et 199 7 unt uk Woo d 228

mem per ken alk an

Tel etu bbi es

Ing gri s,

Ann e

men eka nka n bag aim ana dun ia tel etu bbi es dib ang un sec ara uni ver sal : “The Tel etu bbi es liv e in the lan d whe re tel evi sio n com es fro m, in the lan d of chi ldh ood , in the lan d of nur ser y rhy mes .” 229 Men gac u pad a per nya taa n ini , san gat dit eka nka n hub ung an Tel etu bbi es den gan tel evi si dan ana k-ana k dal am kac ama ta Woo d. Dun ia Tel etu bbi es ada lah dun ia tel evi si, sek ali gus jug a dun ia ana k-ana k yan g nya man 230. Den gan kat a
228

Tinky Winky, Dipsy, Laa-Laa and Po are the Teletubbies, press release dari BBC. Dapat di temukan di website resmi milik BBC, http://www.bbc.co.uk/education/teletubbies/ 229 Online document: http://www.bbc.co.uk/education/information/faq. Untuk data lengkap tentang tanya jawab dengan Anne Wood dan andrew Davenport bisa dilihat pada Apendiks C. 230 Kata “Teletubbies” sendiri terdengar dekat dengan istilah “televisi”. “televisi” berasal dari bahasa Inggris television, yang berasal dari kata tele (Bahasa Yunani untuk menyebut “jauh dari” atau “jarak”) dan vision (Bahasa Inggris yang biasanya diartikan sebagai “melihat”). Dengan kata lain, televisi bisa diartikan sebagai “melihat dalam suatu jarak tertentu (jauh)”. Sedangkan “Teletubbies” memiliki makna yang lebih rumit daripada yang dikira. Seperti halnya kata “televisi”, bagian awal dari kata “Teletubbies” juga berasal dari Bahasa Yunani, yaitu tele. Sedangkan kata keduanya adalah tubbies. Tubbies bisa berasal dari kaya jamak untuk keempat tokoh utamanya yang diberi nama tubby. Jika pengertian “Teletubbies” semata-mata merujuk pada keempat tokoh, istilah ini bisa berarti: “Para tubby (atau tubbies) yang berada pada suatu jarak atau suatu tempat yang jauh”. Kata tubby, dalam definisi kamus Webster memiliki dua makna yaitu: “1. shaped like a tub; 2. fat and short”. Jika mengikuti definisi ini, berarti kata tubby bisa berasal dari kata tub yang bisa berarti beberapa makna antara lain: “1. a round, broad, open, wooden container, usually formed of stave and hoops fastened around a flat bottom; 2. a bucket or tram for carrying coal, ore, etc, in a mine; 3. short for BATHTUB (bak mandi); 4. a slow-moving, clumsy ship or boat. Pada dataran pemahaman ini, “Teletubbies” juga bisa berarti “sebuah daerah yang luas, lebar dan memiliki sifat menampung di mana berada di suatu tempat dengan jarak tertentu (atau jauh).” Atau juga berarti para tubbies adalah makhluk dengan bentuk tubuh “gemuk dan pendek.” Baik definisi satu, dua dan tiga, semuanya sesuai untuk menggambarkan bagaimana keadaan dalam Teletubbies. Pada definisi pertama memberikan pengenal secara sepintas apa itu Teletubbies. Pada definisi kedua, menyinggung karakter dari tubbyland yaitu “tanah lapang yang luas dan berisi banyak hal”. Sedangkan pengertian ketiga menggambarkan karakter umum fisik para keempat tokoh utama. Lebih lanjut lagi penulis menemukan dugaan lain, yaitu bahwa kata tubby atau tubbies bukan sekadar merupakan deviasi dari istilah tub, melainkan juga merujuk pada kata tube yang dekat secara fonem maupun makna. Tube berasal dari istilah tubus (Latin) atau “pipa”. Kata tube dalam Bahasa Inggris bisa berarti sebagai “saluran” maupun “tabung” (kedua kata ini sering digunakan untuk menyebut tabung atau saluran televisi, sedangkan kata “saluran” sering digantikan dengan kata channel, yang menggambarkan perbedaan gelombang transmisi antar stasiun pemancar yang berbeda. Jadi kata “saluran” di sini berbeda dengan kata channel. Lebih tepatnya, “saluran” yang dimaksud di sini adalah medium yang menghubungkan televisi dengan stasiun transmisi). Dan perkembangan istilahnya di Amerika,

140

lai n, Tel etu bbi es men gga mba rka n bag aim ana jik a “du nia tel evi si” (at au tek nol ogi lay ar) ber sen yaw a den gan “du nia ana k” yan g per mea bel , dan has iln ya ada lah kee mpa t tub bie s; Tin ky Winky , Dip sy, Laa -Laa dan Po: “We did thi s by tak ing a tel evi sio n - the mos t mag ica l pie ce of tec hno log y for a chi ld - and it put on the tum my of a sof t toy .” We dev elo ped the cha rac ter s fro m tha t, cre ati ng tec hno log ica l bab ies - the Tel etu bbi es .” 231 Bag i Ann e Woo d par a tub bie s ada lah , “The y are bab ies ,

tec hno log ica l bab ies ... , Lik e chi ldr en, the y als o imi tat e wha t the y hea r, so the y wil l att emp t to spe ak lke the Nar rat or and som eti mes lik e the Voi ce Tru mpe ts. ”232 Jel as bag i kit a bag aim ana dun ia tek nol ogi dal am

Tel etu bbi es tid ak ter pen garuh ole h mod ifi kas i bud aya yan g dil aku kan ter had apn ya. sed ang kan dip eng aru hi Kar ena tek nol ogi usi a 2-5 kul tur al. dip erk ena lka n tah un ada lah ber sif at sub yek uni ver sal , kur ang dun ia

ana k-ana k nil ai-nil ai

yan g ked ua

Dal am

Tel etu bbi es

dis atu kan ole h tek nol ogi lay ar: “Th e voi ce tru mpe ts rep res ent the man y tec hno log ica l dev ice s tha t are a nat ura l par t of a chi ld’ s lif e.” 233 Tek nol ogi ada lah bag ian “al ami ” dar i ana k-ana k yan g ada di lua r ika tan bud aya .

the tube adalah slang word yang digunakan untuk menyebut “televisi”. Jika kata tubby atau tubbies berasal dari kata tube, maka pengertian “Teletubbies” semakin luas. Selain sebagai salah satu acara televisi, istilah “Teletubbies” juga bisa berarti: 1. “saluran” atau “tabung” yang menghubungkan antara dua tempat atau lebih dari suatu jarak; 2. sinonim dari kata “televisi”; 3. “saluran” atau “tabung” dalam “televisi”. 231 Ibid ., loc .cit.
232 233

Ibid. Online document: http://www.bbc.co.uk/education/information/faq/teletubbyland.shtml Untuk data lengkap tentang tanya jawab dengan Anne Wood dan Andrew Davenport bisa dilihat pada Apendiks C.

141

Nam un,

ban yak

kal ang an

tid ak

sep end apa t,

ter uta ma

yan g

men gan gga p tek nol ogi tid ak sel alu net ral sif atn ya, tap i mem pro mos ika n nil ai -nil ai ter ten tu: “In the con tex t of the new edu cat ion out com es, tha t mea ns ope nin g you ng min ds to glo bal bel ief s and val ues. The Tel etu bby wor ld is the ir bes t att emp t to tou ch pre -sch ool ers wit h the see ds of the new ide olo gy .”234 Par a pem imp in sek ule r did uga

ber kom plo t dib ela kan gny a den gan age nda ter sem bun yi: “Our polit ica l, edu cat ion , and med ia lea der s wan t to int rod uce the se inf lue nce s ear ly - bef ore chi ldr en bec ome ‘in doc tri nat ed’ wit h Bib lica l tru ths .” 235 Arg ume n ini diw arn ai ide ten tan g per sai nga n ide olo gi, dan men gam ati Tel etu bbi es seb aga i ala t pol iti s unt uk kep ent ing an pih ak ter ten tu. Pen dap at ini ber tol ak bel aka ng den gan key aki nan pub lik .

Keb any aka n kal ang an pub lik , ter uta ma Ind one sia , mene rim a Tel etu bbi es sem ata-mat a han ya seb aga i ton ton an ana k-ana k yan g rin gan 236. Ang gap an ini mem ang tid ak sep enu hny a kel iru , kar en a for mat Tel etu bbi es sen dir i men unj ukk an cir i-cir i bah wa aca ra ini dituj uka n sem ata-mat a pad a bal ita 237. Nam un per soa lan nya jad i lai n, seb ab Tel etu bbi es mem bawa ser ta nub uat ten tan g bag aim ana rel asi ant ara man usi a dan tek nol ogi

234 235

Kjos, Berit, "Edutainment" How Teletubbies Teach Toddlers, http://www.crossroad.to/index.html, tahun tidak tercantum).

(Online

document:

Ibid., loc.cit. Sebagai data pembanding tentang pandangan-pandangan yang mengkritik Teletubbies, kunjungi juga website yang terdaftar pada berikut ini: [1] http://moose.spesh.com/teletubbies/index.html [2] http://www.geocities.com/EnchantedForest/Dell/7306/ [3] http://www.tangh.demon.co.uk/tubbytoast/index.html [4] http:// members.tripod.com/~tubbies 236 Harian Kompas, Minggu, 6 Mei 2001, Hal. 13 dan 14
237

Anne Wood sendiri berkata, “...from children. All our ideas come from children. 'Ragdoll works for children' is our mission statement because, for everything we do, we watch and observe children: how they play; how they talk; and how they react to the programmes we make.” Lihat Lampiran C.

142

ter ika t dal am jal ina n “ob yek tif ” dan “na tur al” . Dan kar ena nya , jel as ide olo gi ter ten tu eks is di bal ikn ya.

3. Teletubbies di mata publik Indonesia: tarik ulu r antara o r a n g d e w a s a d a n an a k -a n a k . Di Ind one sia , keh adi ran Tel etu bbi es sej ak pen aya nga n per tam any a di Ind osi ar pad a tah un 200 0, men unj ukk an sej uml ah gej ala . Jaw a Pos 238, dal am sal ah sat u kol omn ya, mem uat seb uah Kar nav al di Tam an Sur ya, Sur aba ya. TK Nur ul Ulum Gre sik an, sal ah sat u dar i pes ert a yan g had ir, dir ias lay akn ya par a tub bie s. Kej adi an ini men jad i men ari k, seb ab tid ak sem ua tok oh ana k-ana k dal am tel evi si dia ngg ap ses uai unt uk ana k -ana k, apa lag i dit eri ma ole h lem bag a sek ola h. 239 Per mas ala han ini tid ak bisa dil iha t han ya seb aga i fav our ism kos tum kar nav al bel aka , tet api men cer min kan ada nya pem bau ra n bat as ide nti tas par a sis wa ter seb ut den gan tub bie s. Pos isi sis wa-sis wa par ale l ata u ter jad i sin kro nis asi ide nti tas den gan par a tub bie s. Par adi gma gur u ten tan g sis wa dim edi asi ole h keh adi ran sos ok Tel etu bbi es dal am ben tuk kos tum. Seh ing ga Tel etu bbi es di mat a pub lik Ind one sia mas ih mer upa kan sos ok yan g ama n bag i ana k-ana k. Sek ali gus ter cer min dar i sin i,

kei kut ser taa n ora ng dew asa men gam ini keh adi ran Tel etu bbi es se bag ai bag ian dar i ana k-ana k. Ora ng dew asa men gal ami ken ikm ata n ter sen dir i

238 239

Ada Teletubbies dan Polisi Cengeng, Metropolis (Harian Jawa Pos, 29/9/01), hal. 25. Ambil sejumlah kasus seperti Crayon Shincan, Pokemon, dll. yang muncul di televisi pada waktu yang hampir bersamaan dengan Teletubbies. Tidak seperti Teletubbies, tokoh-tokoh tersebut banyak dikecam oleh media maupun masyarakat sebagai perusak moral anak-anak.

143

mel iha t ana k-ana k dib eri ria san seo lah -olah bag ian dar i Tel etubb ies yan g mun cul di keh idu pan “ny ata ”. Ana k-ana k dan dew asa men ikm ati Tel etu bbi es den gan car any a mas ing -mas ing : “Chi ldr en enj oy the ant ics of the Tel etu bbi es - the y see the ir own wor ld ref lec ted in the sto rie s. Adu lts see m to enj oy the inn oce nt fun .” 240 Ana k-ana k mel iha t “du nia ” -nya ata u “di ri” -nya ber ada dal am Tel etu bbi es (mu ngk in seb aga i bag ian dar i sal ah sat u tub bie s), seba lik nya ora ng dew asa men eri ma Tel etu bbi es seb aga i kes ena nga n yan g pol os, dan mem bay ang kan nya seb aga i bag ian dar i sif at ana k-ana k yan g waj ar dan mas ih dap at dit ole rir . Ken dat i dem iki an, dal am per soa lan ini , Tel etu bbi es mas ih bis a dia ngg ap tid ak ter lal u isti mew a dib and ing tok ohtok oh tel evi si lai nny a yan g jug a ban yak dig and run gi, dan mem ili ki fan s yan g mas ing -mas ing . Seb aga i iko n bud aya pop ule r, “wa jar ” saj a

Tel etu bbu ies dii dol aka n.

GAMBAR 4.1 Anak-anak dan Teletubbies, identifikasi melalui kostum

Men uru t Mon tgo mer y, pol a sem aca m ini tel ah ter ben tuk sej ak sta siu n-sta siu n tel evi si mul ai mel iri k ana k -ana k seb aga i pan gsa pas ar yan g pot ens ial :

240

Online document: http://www.bbc.co.uk/education/information/faq/teletubbyland.shtm

144

“In the last decade, these trends triggered a proliferation of new TV networks aimed at capturing a segment of the hot children”s market, including the controversial classroom news service Channel One, the highly profitable Nickelodeon cable channel, CNN”s Cartoon Channel, 241 and the Fox Children’s Network .”

Nam un ide olo gi dan mit os ter te ntu yan g mem bua t Tel etu bbi es men ari k unt uk dik aji seb aga i seb uah dis kur sus tek nol ogi lay ar,

Tel etu bbi es men gun gka pka n ker ang ka men gen ai “pa ngg ung ” mas yar aka t kon tem por er dal am rel asi nya den gan tek nol ogi lay ar. Tel etu bbi es ada lah aca ra ber bau fik si il mia h deng an nua nsa tek nol ogi yan g ken tal a ser ta dis eba rka n mel alu i tek nol ogi s pul a kep ada pem irs any a den gan tuj uan men gen alk an tek nol ogi kep ada ana k-ana k pad a mas a yan g din i: “Any chi ld gro win g up in the mod ern wor ld has to be fam ili ar wit h new for ms of tec hno lo gy - TV and vid eo gam es are now joi ned by the Int ern et and com put er gam es. ”242 Bag i Tel etu bbi es: ”The tec hno log y is not har mfu l in its own rig ht .”
243

Seb ali kny a, tan ggu ngj awa b mor ali tas ber ada di

tan gan ind ivi du: “com mon sen se tel ls us to che ck wha t mes sag e an ind ivi dua l gam e or websi te is giv ing .” 244 Tel etu bbi es mem ban tu men jad i kon str uks i lan jut gay a pop ule r yan g dap at ker ja

men gun gka p

leb ih

bag aim ana

mek ani sme

tek nol ogi lay ar ber fun gsi seb aga i seb uah pro gra m tay ang an. Kar ena itu pem aha man ata s rel asi yan g ber lak u dal am dis kur sus di dal amn ya aka n mem ber ika n des kri psi pol a-pol a yan g ber lak u, dal am hal ini aka n leb ih

241 242 243 244

Ibid 27., loc. cit. Ibid 233., loc. cit. Ibid Ibid

145

ban yak men era pka n ana lis is ter had ap gam bar (im aji vis ual ), aud io dan sim bol -sim bol yan g mun cul , den gan dii mba ngi ana lis is tek s. Hal ini coc ok sek ali den gan sif at Tel etu bbi es seb aga i dis kur sus yan g had ir mel alu i kot ak tel evi si seb aga i lay ar ser ta med ium , di man a ima ji vis ual dan sua ra ada lah dua ran ah ind era seb aga i med ium kom uni kas i yan g dia lam i sec ara emp iri k dan int era kti f ole h pen ont on 245. Sam pai di sin i, pen uli s ter ing at pad a bet apa pen tin gny a per an lay ar tel evi si yan g ter pas ang pad a per ut par a tub bie s mem ain kan per ana nny a di ten gah -ten gah aca ra. Dal am sua tu kes emp ata n, lay ar ter seb ut dis eba rka n sec ara lua s mel alu i lay ar lai n, yai tu pes awa t tel evi si pen ont on mas ing -mas ing . Dal am Tel etu bbi es, lay ar seb aga i med ium had ir den gan dua car a: seb aga i “su bye k” sek ali gus “ob yek ” dar i pen ont on. Dar i fen ome na “la yar gan da” ter seb ut, kaj ian men gen ai dis kur sus -dis kur sus dal am Tel etu bbi es aka n di mul ai.

245

Perlu disorot di sini pula, Teletubbies adalah generasi baru dari program Interactive Television (ITV) di mana merupakan program TV yang dirancang untuk melibatkan anak-anak dalam dunia televisi secara lebih aktif. Anak-anak tidak hanya duduk diam dan menonton. Adalah Pritchett dan Wyckoff yang mempelopori program ini dalam acaranya berjudul Winky Dink and You, sebuah acara TV anak-anak yang mengajak anak-anak untuk dekat ke layar untuk ikut terlibat dalam jalan cerita. Winky Dink and You pertama kali diputar hari Sabtu pagi, pukul 10 dari 10 Oktober 1953 hingga 27 April 1957, di CBS. Pembawa acaranya yang pertama adalah Jack Berry. Antara tahun 1969 hingga 1973, acara ini muncul kembali dengan format berwarna. Lihat: Eileen Rivera, The Wink that Started Interactive TV. How a 1950s Show got to Interact with the TV (TechTV. Inc., 2002). Untuk online document: http://abcnews.go.com/sections/scitech/TechTV/techtv_winkTV020823.html). Menurut dugaan penulis, sangat mungkin sekali, Teletubbies dipengaruhi oleh acara ini yang dalam banyak segi mendahuluinya. Nama “Tinky Winky”, salah satu tubbies, dirasakan dekat dengan nama “Winky Dinky” (Sebutan umum untuk Winky Dink). Untuk berbagai informasi lain tentang Winky Dink and You kunjungi website berikut ini: Winky Dink and You! (http://www.winkydinkandyou.com/); TVParty (http://www.tvparty.com/requested2.html); Yesterday Land (http://www.yesterdayland.com/popopedia/shows/saturday/sa1355.php); Domain Toon Tracker (http://www.toontracker.com/winky/winky.htm); atau Toonopedia (http://www.toonopedia.com/winkydnk.htm).

146

B. “L AY AR ” DA LA M “L AY AR ”

1 . A n t a r a “j a r a k ” , “ s u b ye k ” d a n “ o b ye k ” . “Di ata s buk it nan jau h, Tel etu bbi es ber mai n-mai n,” dem iki an bun yi kal ima t pem buk a yan g diu lan g ter us men eru s ole h nar ato r pad a tia p epi sod e. Seb aga i kal ima t pem buk a acara dan per ken ala n dir i,

per nyata an ini mer upa kan seb uah car a mem baw a pen ont on pad a dun ia lay ar dal am Tel etu bbi es. Ter uta ma, sep ert i dal am cer ita -cer ita lai nny a, kal ima t pem buk a menen tuk an bag aim ana sua tu cer ita di mul ai dan men unj ukk an bag aim ana car a pen uli s men yaj ika n kon str uks i dun iany a ke had apa n per hat ian pub lik . Tel etu bbi es mem ula i cer ita den gan mem pos isi kan dir iny a “di ata s” dan “ja uh” dari pen ont on. Dia mem bua t jar ak yan g ren gga ng ant ara tub byl and (du nia dal am Tel etu bbi es) den gan pen ont on yan g men yak sik ann ya lew at lay ar tel evi si. Pad a jar ak “ti ngg i” dan “ja uh” , pen ont on dia jak mel iha t tub byl and seb aga i “ob yek pen gli hat an” . 246 Pen ont on mel iha t tub byl and jik a ada jar ak yan g “ja uh” dan “ti ngg i”, buk an ket ika pad a jar ak “re nda h” dan “de kat ”. Tel etu bbi es men gar ahk an pen ont on mer uba h ide umu m yan g men gat aka n sem aki n “re nda h” dan “de kat ”, oby ek aka n sem aki n jel as.
246

Tubbyland adalah perwujudan unitas dari keseluruhan formasi “obyek-obyek” yang ada dalam Teletubbies. Lihat catatan kaki no. 230. Dalam hal ini, tubbyland dapat bermakna juga sebagai “suatu tempat luas yang berada ditempat yang berjarak jauh” atau “tempat atau daerah yang berada dalam tabung atau saluran televisi”. Untuk perbandingan dengan ScreenLand lihat juga catatan kaki no. 190. Dalam kesempatan ini, tubbyland memiliki makna yang mendekati definisi ScreenLand, sekaligus memiliki arti yang mandiri sebagai sebuah formasi simbol-simbol yang muncul dalam acara Teletubbies.

147

Tap i ini buk an pen ola kan ata s “fa kta ” ter seb ut, mel ain kan Tel etu bbi es mem bal ikn ya den gan pen gal ama n bar u yan g ber bed a dar i bia san ya, pen ont on mel iha t tub byl and jus tru dal am pos isi fis ik yan g “ti ngg i” dan “ja uh” dar i Tel etu bbi es ber [ad a]. Keb er[ ada ]an Tel etu bbi es, Ini lah ter seb ut dit eka nka n ole h nar ato r, “In ila h

Tel etu bbi es. ” Ber sam aan den gan

itu , pen ont on

dik ena lka n dan dit unjuk kan pad a keb er[ ada ]an yan g len gka p dal am sat uan . Mula i dar i Tin ky Win ky yan g ber war na ung u dan ter tin ggi kem udi an ber lan jut pad a tub bie s lai nny a ses uai den gan war na dan tin ggi bad an mas ing-mas ing ; Dip sy den gan war na hij au, Laa-laa yan g kun ing dan ter akh ir ada lah Po yan g ber war na mer ah. Keb er[ ada ]an tub byl and dit eka nka n den gan “ob yek -oby ek” di dal amn ya. Keb er[ ada ]an sat uan “ob yek ” mem per kua t pem unc ula n tub byl and yan g “se ben arn ya” ber ada di seb uah dun ia yan g “ja uh” . Tia p per ten gah an epi sod e Tel etu bbi es sel alu ada bag ian waj ib, di man a “ki nci r ang in” 247 tub byland aka n ber bun yi dan ber put ar ken cang, men yeb ark an pec aha n-pec aha n gel omb ang sin ar ke sel uru h tub byl and . Ket ika itu ant ena di kep ala tub bie s dan la yar -lay ar kel abu pad a per ut mer eka men yal a ber gil ira n. Aka n ada sal ah sat u dar i lay ar di per ut tub by men amp ilka n aca ra “la in” yan g “ja uh” dar i tub byl and , sua tu

247

Lebih lengkap tentang “kincir angin ajaib” (the magic windmail), baca pada pembahasan di bawah. Dalam beberapa hal “kincir angin ajaib” adalah suatu model simetris sirkular dengan sebuah pusat dan cabang-cabangnya yang dapat saling menggantikan satu sama lainnya jika berputar. Cabang-cabang mengikuti pusat yang berputar sebagai fokus. Mirip dengan keadaan ini hubungan antara tubbies yang satu dengan lainnya saling sejajar dan dapat digantikan yang satu oleh lainnya tanpa ada perbedaan berarti. Mereka secara acak dan bergiliran ditentukan oleg gelombang yang dipancarkan. Layar siapapun yang menyala bukan masalah penting. Di sini antara tubbies yang satu dengan lainnya bersifat simetris sirkular terhadap “kincir angin ajaib”.

148

“du nia nya ta” yan g mir ip den gan dun ia pen ont on Tel etu bbi es. 248 Isi nya men gki sah kan sek elo mpo k ata u seo ran g ana k dar i ber aga m etn is yan g men ikm ati per mai nan ata u kes ena nga n ber sam a ora ng tua mer eka . Di sin i, Tel etu bbi es buk an lag i aca ra di man a mem unc ulk an seb uah dun ia jau h yan g ber dir i sen dir i, tap i sek ali gus jug a per ant ara pen ont on den gan dun ia lai n di per muk aan bum i yan g ber bed a. Dan hal ini dil aku kan mel alu i lay ar di per ut tub bie s. Ket ika aca ra di lay ar peru t par a tub bie s tib a-tib a mel eba r dan men utu pi sel uru h lay ar tel evi si, pen gli hat an yan g sat u dig ant i den gan pen gli hat an lai nny a. Saa t itu , tub byl and dan par a tub bie s sek ony ongkon yon g len yap dar i pan dan gan pen ont on. Seb ena rny a par a tub bie s tid ak hil ang atau len yap , kar ena aca ra Tel etu bbi es dan tub byl and ser ta isi nya aka n mun cul kem bal i ke pan dan gan pen ont on set ela h tel evi si per ut usa i dip uta r. Leb ih tep atn ya yan g ter jad i ada lah par a tub bie s men gik uti pol a per ila ku pen ont on lai nny a yai tu men ont on pad a lay ar di per ut tem an mer eka , beg itu jug a tub by yan g per utn ya dij adi kan med ium bag i aca ra ter seb ut, dik ata kan , iku t mem per hat ika n dan lay ar di per utn ya sen dir i. ber sam a. Dap at Dun ia

pen ont on

par a tub bie s men ont on

Tel etu bbi es dib uat seo lah-ola h mun cul di sek ita r dun ia pen ont on. “Be rsa ma” pen ont on lai nny a, mer eka mem fok usk an per hat ian nya pad a lay ar. Keh adi ran nya yan g awa lny a seb aga i “ob yek ” kin i jug a men jad i sam a “su bye k” nya den gan pen ont onn ya. Seh ing ga par a tub bie s tid ak
248

Bagian ini disebut dengan istilah insert. Insert dibuat terpisah dari program Teletubbies itu sendiri. Para kreator Teletubbies memanfaat sejumlah tenaga specialist insert director yang tersebar di banyak tempat untuk menyuting kebiasaan-kebiasaan anak-anak yang unik dan menarik. Insert diputar ditengah -tengah acara sebagai bagian program (online document: http://www.bbc.co.uk/education/teletubbies/information/faq/).

149

dis aks ika n lag i ole h “su bye k” lai nny a (pe non ton ), tap i dia “ha dir ” ber sam a-sam a di ant ara “su bye k”. Keb er[ ada ]ny a tid ak lag i dis ada ri ole h “su bye k” seb aga i “ob yek ” sep ert i yan g dit onj olk an di awa l

pem buk aan aca ra. Pad a awa l aca ra jar ak “ja uh” ant ara tub byl and dan pen ont on san gat dit eka nka n, kar ena itu keb er[ ada ]an tub byl and seb aga i “ob yek ” ter lih at dan ter us dip erk uat . Pad a keb er[ ada ]an nya yan g ked ua, jar ak ant ara pen ont on dan tub byl and di-“ti ada ”-kan . Pad a keb er[ ada ]an

ter akh ir, pos isi par a tub bie s men jad i sam a seb aga i pen ont on ata u “su bye k”, bukan lag i “ob yek ” pad a keb er[ ada ]an nya yan g per tam a. Den gan dem iki an tub byl and buk an han ya ton ton an tap i jug a pen ont on. “Ob yek ” sek ali gus “su bye k”, “ja uh” sek ali gus “de kat ”, “di sad ari ” pad a sat u saa t, nam un pad a saa t ber bed a “ti dak dis ada ri” keb er[ ada ]an nya . Dia men jad i isi aca ra tap i men gan tar ai pen ont on pad a aca ra lai nny a mel alu i lay ar pad a per utn ya. Sel anj utn ya timbu l per tan yaa n, bag aim ana men des kri psi kan pol a int era kti f yan g rum it dal am Tel etu bbi es ter seb ut, seb aga i ton ton an hal man a ada lah “ob yek ” per hatia n pen ont on ata u jus tru mer upa kan pro gra m pen dam pin gan yan g ber dir i sej aja r den gan pen ont on? Ken yat aan kon tra dik tif dal am tub byl and mem ber ika n pem aha man bag aim ana med ium bek erj a. Di sin i, tub byl and bis a dia ngg ap seb aga i med ium yan g men gan tar ai “pe ngl iha tan ” den gan “ob yek ”-nya ,

sel aya kny a car a ker ja seb uah lay ar tel evi si. Nam un, tub byl and mem ili ki per an yan g ber bed a den gan med ium bia sa. Pad a med ium umu mny a,

150

ket ika kon tak “su bye k” dan “ob yek ” ber lan gsu ng, sel alu kur ang dis ada ri ata u tid ak per nah mun cul sebag ai “ob yek ” ter sen dir i bag i “su bye k”. Ant ara apa yan g dis aji kan di “da lam ” lay ar, ber bed a den gan med ium itu sen dir i. Seb uah med ium tan pa ses uat u yan g dis amp aik an tid ak aka n men ari k per hat ian . Tid ak ada ora ng yan g rel a men ata p seb uah lay ar tel evi si ata u komp ute r sel ama ber jam-jam tan pa ada “se sua tu” yan g bis a dib eri per hat ian . Dal am kes eha ria n, bah asa ada lah med ium yan g tid ak dis ada ri. Ket ika ses ora ng men yin ggu ng ten tan g see kor sap i, buk an bun yi kat a “sa pi” (se bag ai seb uah fon em dal am Bah asa Ind one sia ) itu sen dir i yan g men jad i men jad i fok us per hat ian mel ain kan , seb uah kon sep dal am bat asa n pik ira nny a yan g ber int era ksi den gan has il pen cerap an plu s per sep sin ya yan g dit uju . Sed ang kan bun yi kat a “sa pi” tid ak

mem ili ki kai tan lan gsu ng den gan sap i itu sen dir i seb agai seb uah wuj ud pen gli hat an ata u sho rt-ter m mem ory . Bah asa seb aga i med ium ber ada di ant ara fok us ter seb ut, tid ak men jad i seb uah “ob yek ” man dir i dan dis ada ri, mel ain kan mer upa kan “du nia ant ara ”. Dem iki anl ah pul a hal yan g ber lak u bag i med ium lai nny a sep ert i hal nya lay ar. Nam un mel alu i ser ang kai an “su bye kti vik asi ” dan “ob yek tiv ika si” tub byl and dap at dih adi rka n seb aga i “me diu m ked ua” set ela h lay ar tel evi si ata u “me diu m per tam a”, di man a mer upa kan pem unc ula n med ium dar i ket ida ksa dar an men uju seb uah med ium bar u yan g dis ada ri nam un tet ap ber fun gsi sep ert i “me diu m per tam a”. Seb aga i “me diu m ked ua” , Tel etu bbi es mun cul seb aga i “ob yek ” yan g ter kes an ter lep as dar i “me diu m per tam a” dan ter lep as tet api tet ap mer upa kan kel anj uta n fun gsi dar iny a. Sin gka tny a, tub byl and ada la h “ob yek ” unt uk

151

“me diu m per tam a”,

dan

seb ali kny a merup aka n “su bye k” sek ali gus

“me diu m ked ua” unt uk dun ia lai nny a yan g dip era nta rai ole h tub byl and . Tub byl and buk an sek ada r ber fun gsi seb aga i pan ggu ng per tun juk kan , nam un jug a men jal ankan tug as seb aga i ala t komun ika si. Dal am hal ini , tub byl and mem ber ika n kes an kep ada pen ont onn ya sua tu hub ung an

rea kti f dan tim bal bal ik tan pa ada nya two way com mun ica tio n lan gsu ng mau pun tid ak lan gsu ng. Seb aga i “me diu m ked ua” , tub byl and men gga bun gka n pen cer apa n dan fok us dar i “su bye k” pen ont on den gan “ob yek -oby ek” di dal amn ya pad a sat u med ium ber sam a. Par a tub bies had ir ber sam a pen ont on seb aga i “su bye k”, sed ang kan pen ont on “ha dir ” di dal am tub byl and mel alu i fok us kes adara n pad a ind era-inder any a yan g ter sin kro nis asi den gan “me diu m per tam a”, unt uk kem udi an dib eri pen gua tan lag i “me diu m ked ua” den gan dun ia seb era ng (ins ert ).

mel alu i kon tak

Tel etu bbi es mem ber ika n per an set ara ant ara “in der a -ind era ” den gan “tu bby lan d” mel alu i pro ses “mu ncu l” seb aga i kes ada ran dan “hi lan g” dal am ket ida ksad ara n pad a aru s “me diu m ked ua” . Kar ena itu tub byl and ada lah “du nia ant ara ”, bil ama na ind era ter jad i sin kro nis asi den gan lay ar. Pad a Tel etu bbi es yan g dis iar kan mel alu i lay ar tel evi si, ter dap at dua ind era yan g dia rah kan unt uk ter fok us ata u akt if bek erj a m ene rim a sin yal -sin yal dar i tel evi si dan Tel etu bbi es, per tam a ada lah ind era pen gli hat an, dan ked ua ada lah ind era pen den gar an. Pem bah asa n

dil anj utk an den gan men gka ji Tel etu bbi es seb aga i bag ian dar i ind era

152

pen gli hat an dan ind era pen den gar an. Seb elu mny a per lu dib aha s jug a top ik bag aim ana “ob yek -oby ek” dal am Tel etu bbi es mun cul dan

dik uat kan seb aga i se bua h fok us men g[a da] . Ant ara “du nia mat eri ” den gan Tel etu bbi es seb aga i “du nia vir tua l”, ind era -ind era men g[a da] ber sam a den gan dun ia “ob yek ”. Rel asi ant ara “su bye k” dan “ob yek ” dip rod uks i kem bal i den gan car a-car a pal ing pri mit if, yai tu ket ika bay i yan g bar u lah ir mul ai ber had apa n den gan ibu nya ter dis kri t di lua r kes atu ann ya den gan kan dun gan seh ing ga ter pak sa men car i int era ksi bar u dal am pol a rel asi “su bye k” dan “ob yek” 249.

2.

Cara

“ ob y e k ”

eksis:

p e n ye s u a ia n

struktur

“inti”

dari

m e r a b a n m e n u j u “b ah a s a n a r a t o r ”

Saa t bay i lah ir, apa yan g pal ing din ant ika n ole h ora ng tua , bid an ata upu n dok ter ada lah tan gis an si bay i yang men and aka n fun gsi par upar u tel ah bek erj a, art in ya bay i itu aka n hid up. Tap i bag i si bay i tan gis an mew aki li per asa an tid ak nya man aki bat “ke hil ang an” kar ena ber pis ah den gan rah im Ibu .

249

Erich Fromm dalam bukunya Masyarakat yang Sehat (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995, hal. 28) pernah menulis: “Nyatalah bahwa kelahiran manusia pada dasarnya adalah suatu tindakan negatif, bahwa ia terlempar dari kesatuan aslinya dengan alam, bahwa ia tidak dapat kembali pada asalnya, mengimplikasikan bahwa proses kelahiran umat manusia sama sekali bukan perkara gampang. Setiap langkah eksistensinya yang baru sungguh menakutkan, karena selalu harus mengorbankan keadaan rasa aman yang relatif sedang dihayati, di mana dunia eksistensinya belum dikuasai... Seorang ibu yang penuh cinta melindungi kita dari kepanikan awal ini...Kita takkan pernah lepas dari dua kecenderungan yang saling berlawanan: pertama, kecenderungan keluar dari rahim, dari bentuk eksistensi hewani ke dalam eksistensi yang lebih manusiawi, dari perhambaan menuju kebebasan; kedua, kecenderungan kembali ke rahim, ke alam, kepada kepastian dan rasa aman.” Walaupun untuk sementara ini dikotomi “individu” dengan “alam” tidak kita gunakan, namun dengan penjabaran berbeda dikotomi serupa hadir di tulisan ini sebagai “subyek” dan “obyek” dalam pengertian tanpa batas yang tetap dan tegas.

153

Ber bed a den gan tan gi san yan g mer upa kan wuj ud per asa an tid ak nya man , mer aba n ata u men goc eh mer upa kan let upa n ras a sen ang dan kep uas an dar i bay i kur ang leb ih tig a bul an set ela h kel ahi ran nya , set ela h mel ewa ti sat u fas e di man a dip enu hi rea ksi tan gis an ata u dia m. Kon sep mer aba n men gen al sep ert i dimak sud kan str ukt ur bah asa ada lah fas e pra -bah asa mor fol ogi yan g tid ak

jel as

ata u

yang

len gka p.

Kes eme naa n bun yi tid ak dal am bat as-bat as atu ran tat a bah asa , tet api leb ih bek erj a ses uai tat ana n imp uls -imp uls ket ida ksa dar an. Ant ara “su bye k” ata u bay i den gan ora ng lai n seb aga i “ob yek ” yan g bag iny a ter asa sam ar, bel um ter jad i pen jem bat an sa tu tat ara n bat as-bat as “um um” yan g dip aha mi ber sam a dan dap at dig una kan unt uk ber kom uni kas i. Jad i, ant ara “or ang dew asa ” den gan “ba yi” ter jad i per bed aan Tel etu bbi es dal am ke pem bah asa an. seb uah Dik oto mi ini lah dia dop si bah asa ole h yan g

dal am

met ode

pem bel aja ran

ber lan das kan pad a kon tru ksi mul til ing ual . “Adu lts spe ak lik e adu lts , chi ldr en spe ak lik e chi ldr en and Tel etu bbi es spe ak lik e Tel etu bbi es,” 250 uja r Dav enp ort . Ant ara ana k-ana k, ora ng dew asa dan Tel etubb ies

mem ili ki car a bic ara nya sen dir i. Wal aup un seo lah-ola h ter pis ah sec ara mul til ing ual , pem bed aan ini tid ak men gan dai kan pem isa han hin gga ter put usn ya kom uni kasi sam a sek ali ant ara ana k-ana k dan ora ng dew asa . Kar ena men uru t Dav enp ort , “chi ldr en und ers tan d a lot mor e abo ut lan gua ge tha t we cre dit the m for .”
251

Hal ini dis eba bka n ole h kar ena

kem amp uan man dir i dar i ana k-ana k: “chi ldr en lea rn dif fer ent voi ces fro m dif fer ent sou rce s.” Mel alu i ber bag ai sum ber yan g ber bed a, ana k250 251

Online document: http://www.ragdoll.co.uk/teletubbies/progr_teletubbies16.html Ibid., loc. cit.

154

ana k mem per lua s gud ang kos aka tan ya sen dir i tan pa ket erg antun gan pad a sat u sum ber . Ana k-anak men iru yan g dan “ak tif ” unt uk mem fok usk an

per hat ian , mem aha mi,

mem asu kka n kat a-kat a seb aga i

bag ian dar i str ukt ur bah asa nya sen dir i. Dik oto mi str ukt ur bah asa buk an sua tu pem isa han mut lak , mel ain kan per bed aan yan g dap at dia tas i den gan pro ses pen yes uai an str ukt ur ant ara bah asa ana k-ana k den gan str ukt ur lai n dis eki tar nya . Pen yes uai an str ukt ura l ini ter jad i kar ena ana k-ana k akt if

men iru kan kem bal i ucapa n-uca pan yan g did eng ar dar i “or ang lai n”. Pen iru an yan g men gan dai kan tid ak ada pen gar uh per bed aan str ukt ur bah asa ter had ap kem amp uan akt if bel aja r bah asa . Seh ing ga, di ant ara str ukt ur bah asa ber bed a, dib ang un ang gap an ana k-ana k mem ili ki

kem amp uan baw aan man dir i, sua tu str ukt ur bah asa uni ver sal org ani s. Pad a str ukt ur “pe rmu kaa n” ter dap at gar is per sam aan uni ver sa l yan g mem ung kin kan ana k-ana k bel aja r car a bic ara ora ng dew asa di “du nia nya ta” , mau pun Tel etu bbi es di “du nia vir tua l”. Ket iga nya buk an lag i kel omp ok bah asa yan g ter pis ah, tap i dii kat tra nsf orm asi “in ti” bah asa sat u men uju “in ti” lai nny a mel alu i pro ses pen iru an. 252 Men uru t Kar l Büh ler ada dua car a ana k-ana k men iru kan bah asa ora ng dew asa ; per tam a, mel alu i pen iru an spo nta n bah asa ora ng lai n, ked ua, pen iru an yan g dil aku kan ana k ses uda h did ikt e. 253 Dal am

Tel etu bbi es, per bed aan ked ua met ode men jad i amb igu . Tid ak ada upa ya

252

Klasifikasi model bahasa dalam dua struktur; “inti” dan “permukaan”, banyak dianut oleh paham Linguistik Nativis yang meyakini adanya sebuah tata bahasa universal yang berlaku secara neural dalam pikiran manusia. F.J. Mönks, A.M.P. Knoers, Siti Rahayu Haditono, Psikologi Perkembangan: pengantar dalam berbagai bagiannya, cet. 10 (Yogyakarta: Gajahmada University Press, 1996., hal. 162).

253

155

mem unc ulk an pen iru an kat a-kat a, tap i ana k-ana k dia lih kan fok usn ya unt uk mer esp on sec ara suk are la. Rep res en tas i keb era daa n pen iru dar i dal am lay ar diw aki li ole h par a tub bie s. Par a tub bie s mem ili ki kos aka ta yan g ter bat as sep ert i ana k-ana k, kem iri pan ini ada lah jem bat an pad a pem ban din gan : “Chi ldren enj oy the ant ics of the Tel etu bbi es - the y see the ir own wor ld ref lec ted in the sto rie s.” Ana k-ana k mer asa kan dun ia pen gal ama nny a dir epr odu ksi dal am Tel etu bbi es ber upa “ke mir ipa n” (res emb lan ce ) 254. Kem iri pan in i mem per mud ah pro ses pen dek ata n yan g leb ih pri bad i kep ada /ol eh ana k-ana k ter had ap dun ia yan g dik ont ruk si dal am Tel etu bbi es. Sel anj utn ya, sep ert i ana k-ana k mas a awa l bel aja r bah asa , par a tub bie s aka n ber bic ara den gan men iru seg ala ses uatu yan g did eng ar dar i sek ita rny a. Ber bed a den gan pro ses pen yes uai an str uktur bah asa di “du nia fis ik” , Tel etu bbi es men awa rka n kep ada ana k-ana k ben tuk “as imi las i” yan g leb ih ram ah. Dalam Tel etu bbi es, sem ua hal yan g “mi rip ” den gan keh idu pan seh ari -har i dik ont ruk si ula ng dal am suatu tat ana n yan g ber bed a. Tid ak ada tan gis an tid ak nya man dal am Tel etu bbi es, han ya ada sua ra mer aba n, taw a dan sua ra yan g sta bil dar i bah asa seo ran g dew asa seb aga i nar ato r. Mak a jad ila h sar ana ban tu ana k-ana k yan g

men gas imi las ika n sua tu pem ben tuk an “is i” bahas a sec ara hal us dan leb ih ber sah aba t: “Chi ldr en lea rn lan gua ge in the rea l wor ld. Thu s as

an aud ien ce the y wan t to lis ten , to pay att ent ion , but wha t the y are

254

Kemiripan sebagai peniruan pada suatu model. Jadi dalam Teletubbies, peniruan bukan hanya dilakukan oleh anak-anak terhadap suatu model. Tapi model sendiri adalah suatu pendekatan pada kemiripan yang ditiru dari anak-anak. Hal ini disebabkan Teletubbies dibuat berdasarkan pengamatan pada perilaku anak-anak. Dikotomi anak sebagai peniru dan model yang berperan sebagai pihak yang ditiru seperti yang ditunjukkan oleh teori belajar sosial (social learning theory) dari Albert Bandura tidak berlaku di dalam Teletubbies.

156

lac kin g, awa y fro m Tel etu bbi es, is inf orm ati on lai d out in a fo rm the y can ass imi lat e.” 255 Ber beda den gan ana k-ana k yan g men gik uti per cak apa n ora ng dew asa dis ert ai keh adi ran fis ik, par a tub bie s men iru pem bic ara an dar i “su bye k” kas at mat a sep ert i nar ato r ata u sua ra dar i cor ong . “Su ara ” yan g dit iru tam pil dal am ben tuk tan pa keh adi ran “su bye k” sec ara lengk ap. Tid ak ada aja kan unt uk par a tub bie s dan pen ont on men gul ang pes an dar iny a. Nam un, ada sua ra mer aba n dan taw a gem bir a dar i tub bie s men gik uti set iap nar asi . Sif atn ya ram ah dan suk are la, ser ta mem ber ika n ken yam ana n dar ipa da anc ama n. Dar i kar akt eri sti k ini, seb uah kea kra ban dit awa rka n. Wal aup un pen iru an ana k-ana k ter had ap yan g diu cap kan par a tub bie s dan nar ato r sep int as ter jad i pad a str ukt ur bah asa “pe rmu kaa n” saj a, nam un pro ses yang ter jad i tid ak han ya itu . Pen iru an buk an sek eda r pad a fon em, mel ain kan keh adi ran da lam str ukt ur ika tan int i. str ukt ur Di baw ah, mor fee m, kas us dim ana ini aka n

men yer tak an dip erj ela s.

Con toh nya , ket ika nar ato r ber kat a, “Su atu har i di tam an tub by mun cul lah ses uat u.” Men gik uti per kat aan ter seb ut, aka n ada “se sua tu” yan g mem ang munc ul di tub byl and . Kem udi an, seo ran g tub by, yai tu Po 256 lew at di tem pat itu den gan sep eda nya . Seg era dia ber hen ti, dan men gam ati “se sua tu” ter seb ut den gan her an dan ber tan ya -tan ya, “A -Oh, apa itu ?” Uja rny a seo lah -ola h ber tan ya pad a ses eor ang yan g tak ter lih at,
255 256

Ibid., loc. cit. Tentang “Po”, baca lebih lanjut di tabel 4.1

157

tat apa nny a di ara hka n ke dep an lay ar, tem pat par a pen ont on ber [ad a]. “It u ben der a,” jaw ab nar ato r. “Oh ... , ben der a! Ben der a!” Ser u Po ria ng men gel ili ng ben da yan g bar u dik ena lny a. Po tid ak men gen al ben da yan g bar u dit eri man ya, han ya dar i nar ato r dia me nde nga rny a ber nam a “be nde ra” . Ber sam aan den gan men gen ali nam a ter seb ut, Po men dad ak “me nge nal ” ben da yan g

dit unj ukk an ole h nar ato r. Sep ert i ben da yan g men dad ak mun cul di tub byl and ole h per int ah nar ato r, kon sep ten tan g ben da itu tib a-tib a ber ada dal am pik iran Po. Kar ena itu , saa t nar ato r ber tan ya kep ada Po, “Si apa yan g har us kib ark an ben der a?” Po seg era men cab ut ben der a itu . Kem udi an nar ato r men eru ska n ara han nya , “Ba gai man a men gib ark an ben der a itu ?” Po sec ara oto mat is men gan gka t ben der a di dep ann ya dan mem ba wan ya di tan gan lal u men ggo yan g-goy ang kan nya . Ber jal an sam bil men yan yik an lag u yan g han ya ber bun yi kal ima t, “Ki bar -kib ar ben der a!” sec ara ber ula ng -ula ng . 257 Ant ara nar ato r den gan Po seo lah ada jem bat an pen ghu bun g. Dar i pen guc apa n nar ato r, Po bel aja r men ama i ben da yan g dit emu iny a. Tap i, yan g mem ban tu Po mem aha mi kon sep ten tan g

“be nde ra” tid ak pad a bah asa yan g dig una kan nar ato r, mel ain kan pad a “ob yek ” yan g mun cul dan had ir sec ara emp iri k bag iny a. Keh adi ran “ob yek ” sep ert i “be nde ra” jug a ber art i pem usa tan sel uru h mak na dan fun gsi ben der a ke dal am sis tem pen get ahu an. Kat a ker ja sep ert i “ki bar ” iku t men jad i pen get ahu an Po saa t nar ator mem unc ulk an “be nde ra” dal am tub byl and dan mem ber iny a nam a, dan Po tah u car a men gib ark an

257

Kasus ini bisa ditemukan pada episode pertama Teletubbies.

158

“be nde ra” ” dal am wak tu ses aat . Tid ak dib utu hkan men iru pen guc apa n fon em sec ara tep at unt uk mem aha mi ide ten tan g “be nde ra” . Seb ab, “ob yek -oby ek” tid ak eks is dal am fon em , mel ain kan , dal am Tel etubb ies dip aha mi seb aga i ran gka ian str ukt ur emp iri s yan g dit uru nka n tan pa mel iba tka n kej ela san fon em. “Ob yek ” dan bun yi bah asa men jad i sat uan yan g ter pis ah sat u sam a lai n. Po saa t itu jug a men gen ali “be nde ra” dal am str ukt ur bah asa nya . Dia aka n men jaw ab, “Oh , ben der a, ben der a,” ket ika tub by lai nny a ber tan ya pad any a, “Apa itu ?” Mer eka men dap at jaw aba n pen gu lan gan kata nar ato r ole h Po, ser ent ak mer eka men gik uti kat a-kat a ter seb ut, “Oh , ben der a. Ben der a.” Sec ara kil at “be nde ra” men jad i bag ian dar i str ukt ur bah asa par a tub bie s, dan sel uru h pen get ahu an yan g ber kai tan den gan “be nde ra” seg era dip aha mi tan pa mel ewa ti pro ses leb ih lan jut , nam un saa t itu jug a had ir dal am pen ger tia n mer eka . Mer eka pun kem udi an tah u bag aim ana “me ngi bar kan : ben der a di tem pat yan g “wa jar ”, sep ert i di tem pat tin ggi dan bis a dis aks ika n ber sam a-sam a, pen get ahu an ter seb ut dip ero leh sec ara oto mat is be git u mer eka

men gen al ist ila h “be nde ra” . Kas us ser upa ter jad i jug a pad a epi sod e lai n di Tel etu bbi es. Ket ika nar ato r ber kat a, “Su atu har i di dun ia tub by, Tel etu bbi es mel iha t awa n ber ger ak, ” mak a ada awa n yan g ber ger ak seb aga i koe ksi ste nsi dar i uca pan san g narat or. Awa n seb aga i “ob yek ” pad a awa lny a buk an sua tu wuj ud man dir i, tet api mer upa kan keb er[ ada ]an yan g men gik uti kat akat a nar ato r dal am ben tuk yan g dap at dio bse rva si. “Ob yek -oby ek”

159

pen erj ema han ula ng dar i str ukt ur bah asa nar ato r tid ak ter ika t pad a “st ruk tur per muk aan ”, tap i mer upa kan “st ruk tur int i” dar i bah asa nar ato r. Sel uru h “be nda ”, “pe ris tiw a”, “wa ktu ” dan “ak si” mun cul men gik uti kat a-kat a nar ato r yan g men dah ulu iny a. Pad a awa lny a,

“ob yek -oby ek” dal am Tel etu bbi es mun cul seb aga i mat eri ali sas i ide -ide na rat or men uju sua tu ben tuk kon gkr et yan g dap at dia mat i sec ara lan gsu ng. Keb er[ ada ]an oby ek-oby ek men gal ami per uba han , ket ika tub bie s men iru uca pan san g nar ato r: “Ei h, awa n ber ger ak. ” Kin i, “aw an

ber ger ak” buk an han ya seb aga i keb er[ ada ]a n sam pin gan . Dia men dapa t pen ega san keb er[ ada ]an nya dar i par a tub bies mel alu i pen iru an ucapa n nar ato r. Seb aga i “ob yek ” yan g men dah ulu i uca pan tub bie s, keh adi ran “aw an” ada lah keb er[ ada ]an yan g leb ih mut lak dar ipa da pen gul ang an uca pan itu sen dir i. Dar i sua tu “ob yek ” ima nen , “aw an ber ger ak” ber tra nsf orm asi men jad i “ob yek ” tra nse nden yan g men dah ulu i ide dan bah asa par a tub bie s. Kar ena itu let ak ide “aw an ber ger ak” buk an lag i pad a str ukt ur per muk aan bah asa nar ato r mau pun par a tub bie s, tet api sek ara ng mer upa kan “ob yek ” emp iri s. Den gan kat a lai n, kin i “ob yek ” dal am Tel etu bbi es menja di man dir i men gat asi ben tuk str ukt ura l bah asa . Seh ing ga, tra nfo rma si str ukt ur bah asa dar i nar ato r ke par a tub bie s buk an pad a sua ra ata u per muk aan lua r bah asa itu , tet api leb ih ter fok us pad a “st ruk tur int i” bah asa seb aga i “ke ben ara n emp iri s” dan

“un ive rsa l” yan g dia lam i ole h ind era pen gli hat an.

160

Keb er[ ada ]an oby ekt if “ob yek-oby ek” dal am Tel etu bbi es buk anl ah kea daa n yan g men eta p, tap i ber lan gsu ng dal am kes ina mbu nga n ant ara nar ato r seb aga i kre ato r “ob yek -oby ek” den gan par a tub bie s seb aga i pen gua t keb er[ ada ]an “ob yek -oby ek” . Jik a nar ato r mel anj utk an

nar asi nya den gan men yeb ut, “Aw an kec il tap i teb al ber ger ak. ” Mak a ked udu kan “ob yek-oby ek” sek ali lag i men gal ami pen def ini sia n ula ng seb aga i ide “su bye kti f” yan g mer upa kan ara han ske nar io nar ato r, unt uk kem udi an dii kut i ole h par a tub bie s: “Aw an kec il tap i teb al, ” yan g sek ali lag i men ega ska n keb er[ ada ]an “ob yek ”. Pro ses ser upa aka n ber ula ng kem bal i dan dij awa b den gan car a yan g sam a ole h par a tub by, “ob yek oby ek” yan g seb elum nya dik uat kan keb er[ ada ]an nya aka n kem bal i

din isb ika n ole h nar ato r, dan kem bal i dik uat kan sec ara emp iri s ole h par a tub bie s unt uk kem udi an dis uby ekt ifi kas i nar ato r lag i dan set eru sny a. Ant ara nar ato r dan par a tub bie s ked uan ya mem ili ki ked udu kan ber bed a dala m pos isi nya ter had ap keh adi ran “ob yek ”, wal aup un

ked uan ya ada lah “su bye k” dal am hub ung an opo sis i ter had apn ya. Jik a nar ato r mel aku kan sub yek tif ika si ter had ap “ob yek ”, mak a par a tub bie s mel aku kan oby ekt ifi kas i ter had apn ya. Bai k sub yek tif ika si dan

oby ekt ifika si, ked uan ya tid ak mer upa kan ese nsi yan g ber dir i sen dir isen dir i. Dal am mel aku kan sub yek tif ika si ter had ap oby ek, nar ato r

mem ber ika n bat asa n bun yi bah asa yan g jel as unt uk men def ini sik an keb er[ ada ]an oby ek, hal man a tid ak dil aku kan ole h par a tub bie s. Par a tub bie s tid ak men guc apk an den gan tep at kat a-kat a nar ato r, tap i

men gul ang nya den gan kat a-kat a yan g mir ip tap i ter den gar aga k ber bed a dal am pen guc apa n. Dev ias i ini mun cul seb aga i ben tuk dar i per iod e

161

mer aba n yan g mer upa kan ide nti fik asi par a tub bie s den gan bayi. Ket ika nar ato r ber kat a, “Uc apk an Hal o!” div erb ali sas i ula ng ole h par a tub bie s buk an seb aga i “Ha lo” , tap i “Ah -Oh” . Beg itu jug a ket ika den gan

pen guc apa n kat a “be nde ra” , yan g mun cul dal am mul ut par a tub bie s ada lah : “be nde lya ”258. Sed ang kan tra nsf orm asi unt uk “ob yek ” tid ak itu sen diri, sam pai sua tu fok us pad a per hat ian

str ukt ura l

han ya

keb er[ ada ]an aka n

pen amp aka n saj a.

Nam un,

mel ewa ti

jan gka , “ob yek ”

men ghi lan g dar i per muk aan per hat ian pen ont on, par a tub bie s mau pun nar ato r. Jik a saa t itu san g nar ato r ber kat a , “La lu ben der a itu

men ghi lan g” dii kut i ole h par a tub bie s yan g men iru , “Ah , men ghi lan g.” Ben der a itu sec ara fis ik aka n len yap dar i pan dan gan . Kin i “ob yek ” tid ak mem ili ki keh adi ran fis ik lag i, tap i dia had ir seb aga i seb uah ran gka i pen get ahu an di dal am pik ir an. “Be nde ra” seb aga i seb uah mor fee m dan sel uru h ide yan g ber kai tan den gan nya tid ak mem ili ki ben tuk fis ik lag i, nam un men ing gal kan jej ak dal am mem ori pen ont on. Di sin ila h

“as imi las i” bah asa ter jad i buk an han ya dal am pen yes uai an pol a fon em, tap i leb ih kep ada pen yes uai an mor fee m , ata u ide den gan ter leb ih dah ulu mem per ole h pen gua tan keb er[ ada ]an mel alu i oby ekt ifi kas i dan sub yek tif ika si. Ken yat aan ini yan g men yeb abk an ken apa par a kre ato r Tel etu bbi es tid ak per nah keb era tan aca ra ini di-dub bin g den gan bah asa yan g

258

Di sini Teletubbies sebagai program belajar bahasa banyak mendapatkan kritikan dikarenakan tidak memberi contoh ucapan bunyi kata yang tepat, namun cenderung kabur dan pelat dalam pengucapannya.

162

ber aga m di set iap neg ara yan g ber bed a pul a. Sem ua ide dan fok us dal am Tel etu bbi es tid ak ter ika t pad a str ukt ur bun yi per muk aan vok al. bah asa yan g sen dir i

ter man ife sta si

dal am

per bed aan

Tel etu bbi es

mem ber ika n jaw aba n ata s per mas ala han ini : “ Tel etu bbi es is for all chi ldr en, man y of whom gro w up spe aki ng mor e tha n one lan gua ge.” 259 Seb aga i mis al, Po bis a ber bic ara dal am bah asa Kan ton dan

men guc apk ann ya den gan bai k lay akn ya bah asa ibu nya . Dia men yan yik an lag u dal am kat a: "Fi-dit , fi-dit , fi -dit !" (ba has a Kan ton unt uk “cepa t”) dan "Mar , mar , man !" (ar tin ya: “la mba t”) . Uni kny a lag i, Po ser ing kal i jug a ber hit ung (1, 2,3 ,4, 5). Seh ing ga akh irn ya, Tel etu bbi es men gik at sej uml ah str ukt ur dal am Bah asa Kan ton : "Ya, yi, sam , sae , mmm ,"

bah asa den gan pol a -pol a ber aga m dal am seb uah jal ina n yan g leb ih uni ver sal . Bel aja r bah asa di dal am Tel etubb ies buk an ber art i han ya men gik uti dan men iru bun yi -bun yi bah asa yan g ber bed a, nam un jug a ber art i, sin kro nis asi ide -ide yan g ada dal am Tel etu bbi es kep ada

pen ont on. Bah asa tid ak lag i mem pun yai tub uh pad a dir iny a sen dir i, mel ain kan sem uan ya ber [ad a] dal am pen amp aka n mau pun pen den gar an: “Tel etu bbi es is aim ed for chi ldr en at cri tic al sta ges of langu age dev elo pme nt, so the pro gra mme con cen tra tes on mus ic, rhy thm s, tem por al and spa tia l rel ati ons , as wel l as rea l chi ldr en tal kin g in the ir own wor ds abo ut the ir own exp eri enc es. This is wha t we fou nd chi ldr en enj oye d wat chi ng ” Kar ena itu , sep ert i seb uah pen cip taa n lag i ata s

259

Online document: http://www.bbc.co.uk/education/teletubbies/information/faq/po.shtml

163

seb uah dun ia bar u, ide -ide dal am Tel etu bbi es dit erj ema hka n ke dal am sat uan -satua n war na dan bun yi yan g dic era p dan dia lam i ber sam a-sam a seb aga i “re ali tas ” emp iri k.

3 . R ep r o d u k s i k e mb a l i d u n i a p e n g l ih at a n d a l a m d u n i a l ay a r

“Pad a mul any a All ah

men cip tak an

lan git

dan

bum i.

Bum i bel um

ber ben tuk dan kos ong : gel ap gul ita men utu pi sam ud era ray a, dan Roh All ah mel aya ng-lay ang di ata s per muk aan air ,” dem iki an isi ale nia per tam a pad a kit ab Kej adi an yan g ber cer ita ten tan g pen cip taa n ala m sem est a. “Ja dil ah ter ang ,” All ah ber kat a kem udi an. “Al lah mel iha t bah wa ter ang itu bai k, lal u dip isa hka n -Nya lah ter ang itu dar i gel ap. Dan All ah men ama i ter ang itu sia ng, dan gel ap itu mal am. Jad ila h pet ang dan jad ila h pag i, itu lah har i per tam a.” 260 Sep ert i kis ah dal am kit ab Kej adi an, dem iki an pul a Tel etu bbi es mem ula i cer ita nya , yai tu ket ika “te ran g” mun cul . Tele tub bie s had ir seb aga i “ob yek ” pen gli hat an ket ika mat aha ri ber waj ah bay i 261 ter bit dan mem anc ark an sin arn ya di tub byl and , dan aca ra dit utu p den gan

men ghi lan gny a mat aha ri di bal ik buk it-buk it. Sep ert i seb uah kat a di kit ab Kej adi an, “te ran g itu bai k,” par a tubb ies han ya mun cul di man a “te ran g” ber ada . Dal am “du nia ter ang ” pen gli hat an mem per ole h

kek uat ann ya. Pen gli hat an men dap atk an cahay a, “du nia ” di dep ann ya
260 261

Dikutip dari Alkitab Terjemaahan Baru  LAI atas izin Lembaga Alkitab Indonesia (Jakarta: 1999). Tentang “matahari berwajah bayi” baca pada bagian khusus di Bab ini yang membahas persoalan ini lebih mendalam.

164

mun cul den gan war na-war na, dan dal am Telet ubb ies , seb uah dun ia bar u war na-war ni mun cul ber sam a cah aya lay aknya pen cip taa n dal am kit ab Kej adi an. Tub byl and pen ont on ada lah dun ia yan g han ya hadir dal am bag i pen gli hat an tub byl and ada lah

saa t cahay a mun cul . Ban gun an

kon tru ksi war na-war na yan g dir anc ang unt uk mem ber ika n pen gli hat an sua san a tip ika l. Dal am tan ya jaw ab yan g dis usu n Ann e Woo d dan And y Dav enp ort , mun cul per tan yaa n sep ert i: “Why are the Tel etu bbi es pur ple , gre en, yel low and red ?”

Woo d dan Dav enp ort men jaw ab: “ We cho se bri ght mod ern col our s to go wit h the tec hno log ica l wor ld of the Tel etu bbi es . The evi den ce is tha t you ng chi ldr en pre fer bri ght col or - and eve ryt hin g in
GAMBAR 4.2 Tinky Winky (kiri bawah), Dipsy (kiri atas), Laa-laa (kanan atas), Po (kanan bawah). Dalam tubbyland, serta komposisi warna yang muncul di dalamnya.

Tel etu bby land is bri ght , hap py and ene rge tic .” Jaw aba n ini ter den gar sam ar, dan kur ang jel as mak sud nya . Dan mer eka seb aga i jug a apa bri ght yan g dim aks ud ole h col our s, tid ak yan g men uru t

mod ern

bis a men jel ask an men gap a war na

mer eka coc ok den gan dun ia tek nol ogi bis a men jad i war na yan g ses uai jug a unt uk ana k-ana k. Dal am hal ini per lu dia juk an seb uah pen dek ata n yan g leb ih tep at unt uk men jel ask an kom pos isi war na -war na yan g mun cul dal am Tel etu bbi es.

165

Sep ert i kit a ket ahu i di ata s, ada emp at war na (un gu, hij au, kun ing dan mer ah) yan g mun cul seb aga i tit ik per hat ian dan

dir epr ese nta sik an ole h kee mpa t tub bie s sec ara ber tur ut, yai tu; Tin ky Win ky, Dip sy, Laa -Laa dan Po (li hat Gam bar 4.2 dan Tab el 4.1 .). Kee mpa t war na itu mun cul ber das ark an sej uml ah per tim ban gan teo rit is ten tan g war na, di antar any a ada lah ten tang teo ri tri chr oma tic , yai tu teo ri yan g ber ang gap an sem ua war na yan g ada dal am pen gli hat an ter dir i dar i tig a war na das ar. Pad a teo ri tri chr oma tic yan g dia juk an ole h Tho mas You ng dan Her man n von Hel mho ltz (18 52) 262, pengl iha tan mat a man usi a mem punya i tig a tip e res ept or den gan tin gka t ber bed a unt uk pan jan g gel omb ang cah aya spe sif ik. Spe sif ika si war na dit emu kan dal am str ukt ur bio log is yan g mat eri al. Sel anj utn ya Hel mho ltz men yeb utk an,

man usi a mem pun yai tig a res ept or yan g s eca ra spe sif ik sen sit if pad a tig a pan jan g gel omb ang , yan g ter dir i dar i; war na mer ah, hij au dan bir u. Pad a teo ri ini , mat a dap at mel iha t war na yan g mem ili ki rag am luas dik are nak an sec ara
GAMBAR 4.3 Percampuran tiga warna dasar

man dir i mat a mel aku kan per cam pur an ter ha -

dap war na ter seb ut. Dar i teo ri ini mun cul ang gap an bah wa ada tig a war na das ar dal am spe ktr um cah aya yan g dib ent uk pro ses pen gli hat an war na-war na lai n sep ert i kun ing , ung u, bir u hij au dan lai n-lai n mel alu i

262

Dala m We iten (1 99 5: ha l. 13 6) .

166

mek ani sme biolo gi yan g ber lan gsu ng di mat a (Li hat gam bar 4.3 ). Teo ri ini sem aki n pop ule r pad a tah un 196 0-an, ket ika Geo rge Wal d

men dem ons tra sik an kep ada pub lik bah wa ada tig a tip e con es 263 pad a mat a. Kon tru ksi war na dun ia Tel etu bbi es ada lah rek ons tru ksi kon sep ini kem bal i ke dal am pen jab ara n ber upa tub byl and . Unt uk jel asn ya

ban din gka n ant ara war na-war na yan g ada pad a gam bar 4.2 den gan gam bar 4.3 . Sel ain tig a war na das ar, Pol a per cam pur an war na pri mer yan g mun cul pad a gam bar 4.3 ter mas uk dom ina n mun cul di Tel etu bbi es. Dala m gam bar 4.2 , ket iga war na das ar sep ert i yan g ter kon sep pad a gam bar 4.3 ter seb ar sec ara mer ata dal am set iap oby ek. Dun ia

pen gli hat an war na den gan det erm ina si bio log is had ir kem bal i dal am dun ia cyb ers pac e den gan det erm ina si tek nik . Bio log i dan tek nik memili ki per an yan g sam a dal am men gha sil kan dun ia pen gli hat an war na -war ni. Kar ena itu , teo ri tri chr oma tic unt uk kom pos isi war na tid ak han ya mer upa kan dom ina si dis kur sus bio log i, mel ainka n jug a mer upa kan bag ian dar i ker ang ka tek nis tel evi si. Gam bar -gam bar yan g dia mbi l mel alu i kam era , dip eca h men jad i tig a war na dasar mer ah, hij au dan bir u. Kem udi an, dim asu kka n ke dal am tig a tabun g kam era ter pis ah dan dip ros es men jad i tig a sin yal ber bed a. Sep ert i hal nya sem ua cah aya yan g dit eri ma ole h mat a dib agi ke dal am tig a war na ses uai teo ri tri kot omi con es . Sin yal-sin yal dar i kam era dip anc ark an mel alu i sat u gel omb ang pen gan tar yan g dit eri ma ole h pes awa t pen eri ma, kem udi an dip isa hka n

263

Saraf reseptor pada mata yang berperan dalam penglihatan berwarna. Di samping cones adalah rod, reseptor mata untuk penglihatan tanpa cahaya (Ibid., op. cit., hal. 130-131)

167

dan dit emb akk an pad a lay ar. Seb and ing den gan pro ses ini , lap isa n ret ina pad a mat a men eri ma siny al dar i res ept or kem udi an mem ula i pro ses ana lis is seb elu m akh irn ya dit eru ska n pad a ota k. Lay ar tel evi si yang dar i jau h ter lih at kea bu-abu an ada lah kum pul an bin tik fos for yan g ter dir i dar i; sep ert iga nya mem anc ark an cah aya sed ang kan sep ert iga nya lag i hij au. mer ah, sep ert iga nya bir u, men eri ma pan jan g

Ket iga nya

gel omb ang ses uai den gan war na mas ing -mas ing . 264 Ant ara pro ses sen sas i pen gli hat an org ani s mat a den gan bin tik-bin tik fos for lay ar mem ili ki met ode kla sif ika si yan g ses uai 265. Pro ses ser upa ter jad i pad a lay ar kea bu -abu an di per ut par a tub bie s, sem ua war na pri mer yan g ada di Tel etu bbi es men yat u di dal am lay ar. Pad a gam bar 4.3 , tit ik tem u di man a war na pri mer ber bau r mun cul war na put ih kea bu -abu an. Den gan dem iki an, bai k lay ar tel evi si mau pun lay ar di per ut tub bie s war na mem ili ki yan g das ar. kes ama an kem amp uan jal an mat a

men cip tak an

sel uru h

dik ena l Sep ert i

den gan hal nya bol a

men gko mbi nas ika n men gol ah kem udi an sem ua

war na -war na war na

men jad i keh adi ran

pen galam an dun ia

pen gli hat an

“fi sik ”, jug a

mem ber ika n

pen amp aka n,

l aya r

mel aku kan hal sam a ket ika men gha dir kan tub byl and di dep an mat a pen ont on.

264

Tentang proses pengolahan visual pada tabung televisi baca tulisan David Carey, Cara Kerja Televisi (Jakarta Pusat: BPK Gunung Mulia, 1979, 1981). 265 Bandingkan analisis ini dengan tabel 3.1 pada Bab III, di mana sistem pengumpulan informasi dalam teknologi informasi berupa layar dan sebagainya bisa dianalogikan dengan fungsi indera-indera yang biologis sifatnya. Hanya saja, penulis tidak melihat perbandingan ini sebagai analogi semata. Karena itu bukan kerja layar televisi yang dibuat meniru proses kerja indera mata, juga tidak berlaku untuk sebaliknya, yaitu terjadi teknologisasi atas konsep tentang proses biologis. Namun kesimpulan yang penting untuk ditarik dari analisis ini adalah bahwa konsep “biologis” dan “mekanik” bukanlah sesuatu yang saling beroposisi, melainkan memiliki pola-pola yang saling menjelaskan satu sama lainnya.

168

Tub byl and ada lah per wuj uda n sin kro nis asi fun gsi mau pun isi ant ara teo ri pen gli hat an bio log is den gan pen gli hat an tek nol ogi s.

Dit amb ahk an den gan sis i gel ap ter ang war na ach romat ic, dun ia mat eri al dic ipt aka n kem bal i “da lam ” lay ar. Han ya saj a, per cam pur an war na pri mer opt ik bio log is sek ali gus tek nol ogi s dal am Tel etu bbi es tid ak per nah hin gga mem bau r sep enu hny a. Tia p-tia p war na sel alu tam pak ber dir i sen dir i dan mas ih dik ena li seb agai sat uan -sat uan . Per mai nan gra das i leb ih ter jad i pad a int ens ita s gel ap-ter ang ach rom ati c. Per wuj uda n war na tri chr oma tic dal am wuj ud kes atu an ter pis ahpis ah bis a dit emu kan dal am kom pos isi war na pad a tub uh par a tub bie s sen dir i. War na -war na das ar dan per sila nga nny a, sep ert i dal am gam bar 4.3 , diw uju dka n dal am sat uan -sat uan kon str uks i yan g dap at ter ama ti. Set iap tub bie s mem ili ki war na kha s yan g mem bed aka n sat u sam a lai n dan tin ggi tub uh yan g ber bed a-bed a pul a. Sec ara kes elu ruh an han ya ada emp at tub bie s di dalam tub byl and . War na dan tin ggi bad an yan g ada ter dis tri bus i sec ara ter atu r dal am sua tu pol a sus una n. Pol a-pol a

pas ang an ter seb ut sek ila s ter kes an aca k dal am aso ias iny a. Tet api ter nya ta ter dap at suatu kor ela si ter atu r, yan g mun gki n dis eng aja dan mun gki n juga tid ak dis eng aja , ant ara “ti ngg i tub uh” par a tub bie s den gan “wa rna ” yan g men jad i cir ikh as mer eka mas ing -mas ing . Unt uk jel asn ya, kai tan dal am pol a ini bis a dia mat i pad a gra fis dan

pen jel asa nny a di baw ah ini :

169

GAMBAR 4.4 Kombinasi warna dalam Teletubbies dibandingkan dengan spektrum warna penglihatan

Spe ktr um war na pad a gam bar di ata s, yan g dir ent ang kan dal am seb uah gar is lur us, ada lah uru tan pan jan g gel omb ang ele ktr oma gne tis yan g dap at dit ang kap ole h mat a bio log is. Di lua r bat as spe ktr um ter seb ut, ter dap at gel omb ang-gel omb ang yan g tak ter tan gka p ole h pen gli hat an “no rma l” . Uru tan spe ktr um itu mem ili ki uru tan seb aga i ber iku t: ung u den gan gel omb ang cah aya ter pen dek (35 0 nan ome ter ), kem udi an hij au (50 0 nan ome ter ), kun ing (60 0 nan ome ter ) dan yan g ter pan jan g ada lah mer ah (70 0 nan ome ter ). 266 Ant ara 350 -700 nan ome ter , ang ka ini men unj ukk an bat as war na-war na yan g dap at dil iha t ole h mat a.

266

Wayne Weiten, Psychology, Themes and Variations, (USA: Brook/Cole Publishing

Company, 1989).

170

Uru tan

pan jan g

gel omb ang

war na

ini

yan g

dig una kan

ole h

Tel etu bbi es unt uk mem ben tuk kom pos isi uru tan par a tub bie s. Tin ky Win ky den gan “pa nja ng” tub uh ter tin ggi mem ili ki war na ung u yan g mer upa kan gel omb ang cah aya ter pen dek , beg itu jug a tub bie s lai nny a ber tur ut-tur ut mem ili ki war na yan g ber keb ali kan ant ara uru tan “p anj ang gel omb ang ” den gan uru tan “ti ngg i tub uhn ya” (li hat gam bar 4.4 ). Uru tan keb ali kan ini bis a dij ela ska n den gan fak ta bah wa tin gka t sen sitiv ita s res ept or pad a mat a unt uk gel omb ang war na ung u leb ih tin ggi dib and ing den gan pan jan g gel omb ang lai nny a. 267 Dan uru tan ter seb ut kem bal i ses uai den gan uru tan “ti ngg i tub uh” par a tub bies , yai tu; dar i hij au, kun ing dan mer ah seb aga i war na den gan tin gka t sen siv ita s ter end ah res ept or mat a. Den gan kat a lai n, war na-war na par a tub bie s ada lah kom pos isi per cam pur an war na tri chr oma tic das ar dit amb ah den gan pen gur uta n ber das ark an bat as pen gli hat an man usi a ber dasar kan

gel omb ang cah aya dan tin gka t sen siv ita s mat a men eri ma cah aya ung u (at au bir u), hij au, kun ing dan mer ah. Den gan dem iki an, kit a men get ahu i das ar pem ber ian war na pad a Tel etu bbi es. Seb aga i per wuj uda n dar i sel uru h das ar -das ar pen gli hat an opt ik, Tel etu bbi es mem pu mem ban gun seb uah “du nia bar u”. Dal am “du nia bar u” itu , sem ua ren tan g war na pen gli hat an mun cul dal am wuj ud yan g ter pil ah-pil ah ses uai per cam pur an das ar tig a war na tri chr oma tic . Ini mem ber ika n uns ur yan g “me nye lur uh” dan “un ive rsa l ” pad a

cyb ers pac e Tel etu bbi es. Dar i sis i bud aya , uns ur pem unc ula n tim pan g han ya pad a seb uah war na bis a men gak iba t pen afs ira n par sia l ata u
267

Ibid.

171

kul tur al.

Mel alu i war na-war na per cam pur an pri mer

dan

mem enu hi

sem ua ren tan g war na yan g ada , hal ini bis a dih ind ari . Da ri war na, Tel etu bbi es hen dak mem ber ika n pen gal ama n “be bas -kul tur al” , sek ali gus mer ang san g pen gli hat an pen ont on den gan for mas i war na lay ar yan g uni ver sal . Wal aup un ber sam aan den gan itu , war na -war na ter seb ut jug a men jad i pem bed a ant ara tub by yan g sat u den gan lai nny a. Kem and iri an mas ing -mas ing war na tet ap dip ert aha nka n dan kom pos isi nya sel alu dij aga aga r tid ak men ghi lan gka n uns ur keu niv ers ala n dar i war na -war na ter seb ut. Per pad uan war na men jad i per soa lan yan g pen tin g di sin i. Nam un, Per lu dij aga pul a aga r kem an dir ian war na-war na dal am

Tel etu bbi es tid ak mer usa k sif at uni ver sal yan g tel ah dib ang un. Ada lah teo ri pro ses opp one nt ten tan g war na yan g sel anj utn ya mem pen gar uhi kom pos isi war na Tel etu bbi es. Ewa ld Her ing (18 78) 268 men yeb utk an bah wa per sep si pad a war na ter gan tung pad a res ept orres ept or yan g mem bua t res pon dal am tig a kel omp ok war na -war na yan g sal ing ant ago nis tik . Tig a kel omp ok war na ant ago nis itu sec ara ber had aphad apa n ter dir i dar i; mer ah ver sus hij au, kun ing ver sus bir u dan hit am ver sus put ih. Kem bal i gam bar 4.2 , kit a bis a mel iha t bag aim ana teo ri opp one nt Her ing dit era pka n pad a Tel etu bbi es. Tub bie s dis usu n den gan pol a war na yan g tid ak sal ing ant ago nis tik . Dip sy ber war na hij au dip asang kan

den gan Laa-Laa yan g ber war na kun ing , seb ali kny a Tin ky Win ky yan g
268

Ibid., hal. 137-138

172

ber war na

ung u

dis and ing kan

den gan

Po

yan g

ber war na

mer ah.

Kec end eru nga n ini tid ak sek eda r dal am sat u con toh , dal am Tel etu bbi es, pol a yan g sam a ter jad i ter us jik a kee mpa t tub bie s dip isa h dal am dua kel omp ok 269. Mod el kompo sis i war na yan g men ghi nda ri pen emp ata n war na ant ago nis tid ak ber lak u unt uk kee mpa t tub bie s saj a, tet api sem ua war na oby ek dik ont ruk si den gan mem per hat ika n aga r tid ak ada war na ant ago nis tik mun cul dal am jar ak dek at. Den gan dem iki an ked eka tan per sep si sat u war na den gan war na yan g lai n bis a dip ert aha nka n

wal aup un tet ap tam pak ber dir i sen dir i seb aga i war na per campu ran pri mer . Pun cak nya , ket ika par a tub bie s sal ing ber pel uka n 270, kee mpa tny a mel ing kar men jad i sat u, lay ar dip eru t mer eka men yat u di ten gah ten gah . Pos isi ini mem ben tuk pol a mir ip lin gka ran per cam pur an pri mer pad a war na tri chr oma tik , yai tu war na-war na sek eli lin gny a men yat u di ten gah dal am per sin ggu nga n war na put ih kea bu-abu an. War na-war na tub uh par a tub bie s yan g ber pel uka n dis usu n den gan pol a mer ah -ung u dan hij au -kun ing . Mel alu i pen yus una n kom pos isi war na yan g tel iti , uns ur

keu niv ers ala n dib ang un dal am pol a war na -war na das ar yan g tam pak man dir i dan plu ral . Pol a-pol a war na dal am tub byl and dis usu n ses uai pol a pen gli hat an
269

opt ik

yan g

dia ngg ap

uni ver sal ,

den gan

dem iki an

Untuk keterangan pembanding, lihat tabel 4.1 di bawah. Dalam tabel dijelaskan bahwa sahabat dekat dari tinky Winky adalah Po dan teman gandeng dari Laa-Laa adalah Dipsy. Pembagian ini, kelihatannya tidak terlalu absolut, sebab selalu ditekankan bahwa relasi antara keempat tubbies adalah saling menyayangi satu sama lain dengan selalu berpelukan bersama-sama. Kebiasaan yang paling sering dilakukan dan disukai oleh semua tubbies tanpa perkecualian. Penjelasan lebih lanjut, lihat pembahasan berikut.

270

173

mem per mud ah sin kro nis asi ant ara pen gli hat an pen ont on den gan gam bar di lay ar. Keb er[ ada ]an Tel etu bbi es jug a men jad i car a-car a pen gli hat an mem ban gun seb uah dun ia bag i dir iny a ser ta “ra mah ” dan “ha nga t” bag i pen ont on. Dar i str ate gi dan tek nik kon str uks i war na ini lah , Tel etu bbi es “me mod ern isasi ” pen gli hat an pen ont onn ya dan mem ula i seb uah pro gra m kea kra ban ant ara man usi a (an ak-ana k mau pun dew asa ) den gan tek nol ogi lay ar dal am seb uah per tem uan di dal am cyb ers pac e. 271

4 . T e k n o l o g i b u n y i-b u n y i Bun yi, dal am Tel etu bbi es, buk an seb uah ese nsi yan g ter cer abu t dar i kes elu ruh an kon str uks i. Bun yi ada lah bag ian yan g sep enu hny a

ber sen yaw a den gan pen gli hat an, buk an se ked ar pel eng kap . Walau pun Tel etu bbi es mer upa kan pro gra m den gan dom ina si gam bar : “.. .the

pro gra mme is so vis ual tha t it can be enj oye d wit h the soun d dow n. Chi ldr en wit h imp air ed hea rin g par tic ularl y enj oy Tel etu bbi es.” 272

271

Hingga pemaparan terakhir tentang warna, masih ada sebuah “teka-teki” yang belum sempat terjawab. Jika pemilihan warna yang mendasari para tubbies berdasarkan teori trichotomi warna, mengapa jumlah keseluruhan tubbies bukan tiga, sesuai dengan tiga primaritas warna (biru, hijau dan merah), melainkan justru empat (ditambah warna kuning). Salah satu alasan bisa dijawab dengan teori opponent, untuk melengkapi relasi antara warna antagonis. Namun jika demikian, seharusnya ada enam orang tubbies (ditambah warna hitam dan putih), karena dalam teori Hering ada enam primaritas warna. Jawaban atas polemik ini ditemukan oleh penulis ada pada teori ketiga tentang primaritas warna, yaitu yang dikemukakan oleh LaddFranklin. Menurut J.P. Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi (Jakarta: PT RajaGrafindo Perkasa, 1997, hal. 96), pada teori Ladd-Franklin terdapat empat primaritas warna yang terdiri dari merah, hijau, kuning dan biru. Dalam teori ini, mata primitif adalah bersifat buta warna (mata yang tanpa cones). Pada selanjutnya terjadi evolusi dari rod menghasilkan cone biru dan kuning. Dari cones tersebut terjadi evolusi berikut, menghasilkan cone merah dan hijau. Tampaknya teori empat primaritas ini yang menjadi alasan munculnya pilihan empat tubbies. Kemungkinan lain adalah bahwa pemilihan jumlah sebanyak empat warna ini dilakukan dengan mengeliminir warna hitam dan putih yang memiliki kesan “muram”, “angker”, “serius” dan “saklar” dan menetapkan warna-warna yang ceria dan tampak beragam. 272 Andrew Davenport, FAQ (online document: http://www.ragdoll.co.uk/teletubbies/progr_

174

Nam un sua ra tid ak per nah ter pis ah pen uh dar i kes elu ruh an pro gra m, sua ra ada lah bag ian utu h dar i pen amp ila n Tel etu bbi es: “As a wri ter , I wri te in the sou nd as a par t of the pro gra mme.” 273 Dal am Tel etu bbi es, pen den gar an bun yi dia lam i seb aga i bag ian dar i pen gal ama n kon tak nya — sel ain ter pus at pad a pen gli hat an — den gan tub byl and . Sel aya kny a kon tru ksi war na -war na dal am Tel etu bbi es, bun yi-

bun yi mem ili ki fun gsi yan g sal ing bek erj asa ma mew uju dka n dun ia tek nol ogi lay ar. Bun yi buk an lat ar pas if ata u sek eda r mel eng kap i keh adi ran “ob yek -oby ek” dal am tub byl and , bun yi mem ili ki kar akt eri sti k ker ja yan g akt if: “Sound is use d in an act ive man ner . Spa ce is lef t for chi ldr en to res pon d. One imp ort ant use of sou nd is so tha t chi ldren can ant ici pat e wha t’s com ing nex t.” 274 Leb ih dar i sek eda r pel eng kap , sua rasua ra sec ara akt if men unt un fok us per hat ian pen ont on lay akn ya lam pu sor ot pan ggu ng men eta pka n per hat ian pad a per tun juk kan . Keh adi ran lam pu sor ot di ten ga h keg ela pan mem ber ika n kon tra s pad a pen gli hat an, beg itu jug a bun yi -bun yia n yan g kon tra s ant ara keb er[ ada ]an bun yi ter ten tu den gan keb er[ ada ]an bun yi lai nny a, sek ali gus pen and a bag i keh adi ran “ob yek ”. Kar ena bun yi buk an kat ego ri yan g ber dir i sen dir i, keh adi ran nya men jad i bag ian eks ist ens ial dar i “ob yek -oby ek” dal am tub byl and . Bun yi dal am Tel etu bbi es mer upa kan ant isi pas i bag i keb er[ ada ]an yan g mun cul set ela hny a: “It is to do wit h mak ing pre dic tio ns fro m clu es in the sou nd

teletubbies18.html).
273 274

Ibid., loc. cit. Ibid.

175

as wel l as fro m wha t a chi ld can see on the scr een .” 275 Dal am hal ini dia jug a ala t unt uk mem ber ika n ras a nya man mel alu i “se la” , seh ing ga sem ua nar asi dal am tub byl and men jad i mudah dik ena l, akr ab, dan leb ih ter ken dal i: “Whe n a chi ld can ant ici pat e acc ura tel y the y get

con fid enc e, and so by the end of a pro gra mme , a chi ld is fee lin g mor e con fid ent bec aus e the y”v e wor ked out for the mse lve s wha t”s goi ng to hap pen .” 276 Tel etu bbi es, pen gli hat an. Bun yi buk an fakt or yan g dis ada ri, sep ert i lam pu sor ot pan ggu ng yan g buk an men jad i fok us per hat ian itu sen dir i. Seb ali kny a, “ob yek oby ek” yan g mun cul ada lah fok us per hat ian uta man ya. Sed ang kan bun yi, wal au mun cul leb ih awa l, tid ak mem ili ki mak na sam a sek ali hin gga mun culny a “ob yek ”. Ter kec ual i sep ert i dal am Cla ssi cal Con dit ini ng, yai tu ket ika ika tan keh adi ran ant ara bun yi bun yi saj a dan sud ah “ob yek ” ter kon dis i sec ara Pen ont on, iku t ber sam a “ob yek-oby ek” dal am lai nny a dal am dan

ter ela bor asi

ber sam a

jal ina n

bun yi

per man en,

men gan dai kan

keh adi ran

“ob yek ”. Nam un, ter ika t mau pun tid ak, bun yi mer upa kan wuj ud mat eri pen gala man yan g tid ak dis ada ri seb aga i fokus . Dit eri ma seb aga i fun gsi pen den gar an yan g tid ak mem ili ki mak na pad a dir iny a sen dir i. Bun yi di tub byl and dib eda kan den gan sua ra mod era tor yan g mem ili ki ika tan str uktur al den gan kon str uks i yan g ada . Tid ak sep ert i sua ra mod era tor yan g mem ili ki nar asi dal am dir iny a, bun yi mun cul dal am wil aya h yan g tid ak men gen al str ukt ur mak na bah asa . Sec ara
275 276

Ibid. Ibid.

176

“al ami ”, bun yi leb ih mir ip den gan kom uni kas i mer aba n pad a bay i, leb ih men dek ati ket ida ksa dar an dal am sua tu ran gka ian ter sen dir i. Ka ren a itu bun yi ada lah ika tan yan g pal ing efe kti f ant ara “du nia fis ik” den gan “du nia vir tua l” unt uk men ari k fok us sek ali gus mer upa kan pen gal ama n yan g lan gsu ng men gge ma di rua nga n tem pat pen ont on be r[a da] .

Ter leb ih lag i, kar akt er tan pa str ukt ur jel asn ya leb ih mem ban tu dal am men unt un eks pre si emo si dar i ana k-ana k pra -sek ola h mau pun ora ng dew asa , ket imb ang yang dil aku kan ole h gam bar mau pun bah asa . Aso sia si pen ont on beb as mem ber ika n int erp ret asi pad a bun yi, mes kip un usa ha men gko nst ruk si bun yi yan g ram ah bag i pen ont on mem pen gar uhi jug a ima ji yan g dib ang un. Seb ali kny a, bun yi -bun yi yan g mun cul dal am Tel etu bbi es buk anl ah sua tu ket ida kte rat ura n. Bun yi-bun yi dal am Tel etu bbi es ter bat as pad a fun gsi nya seb aga i sou nd eff ect . Wal aup un dib eri kes an “al ami ah” den gan tam bah an sua ra bur ung , nam un bun yi yan g mun cul tid ak

mer upa kan sua tu ket ida kse nga jaa n dar i lua r ran can gan . Di lua r bun yibun yi yan g tel ah dia tur , tid ak ada bun yi lai n yan g men gin ter ups i ke dal am tub byl and sel ain dar ipa da yan g tel ah dia tur . Sel ain mus ik, sua ra ter taw a par a tub bie s ser ta “ma tah ari bay i”, sou nd eff ect dan sed iki t tam bah an sua ra bur ung , tid ak ada bun yi lai n. Dil eng kap i den gan

lap ang an pad ang rum put yan g lua s dan ren gga ng den gan kon tra s lan git di ata sny a, tub byl and ada lah dun ia yan g sak lar dan ter iso la si seb aga i sat u ent ita s yan g ber dir i sen dir i. Wal aup un, usa ha mem ber ika n kes an keh adi ran yan g rii l bag i pen ont onn ya tet ap dil aku kan pad a beb era pa bag ian nya , nam un hal ini tid ak dap at men utu p kes an bah wa Tel etu bbi es

177

ada lah wil aya h yan g ben ar -ben ar dik ons tru ksi sec ara man dir i seb aga i sis tem sim bol -sim bol yan g ter pro gra m sec ara khu sus . Sep ert i hal nya war na-war na dan bun yi-bun yi dal am Tel etubb ies yan g san gat ter pil ah gun a men gko nst ruk si sua tu sem est a bar u, kes elu ruh an kon str uks i sim bol sim bol yan g ada dal am Telet ubb ies ber lak u sam a. Kon str uks i sim bol sim bol ter seb ut tid ak bis a dil iha t dar i kac ama ta rii l mau pun tid ak rii l, mel ain kan dib ang un sec ara tel iti den gan men gga bun gka n sen sas i ind era men gen ai ked ua pen ila ian ter seb ut 277.

C. SE ME ST A SI MB OL -SI MB OL
Dun ia Tele tub bie s ada lah dun ia sur eal is, di man a “ob yek -oby ek” mun cul dan men ghi lan g sec ara ses uka hat i dan mis ter ius bag i ras io. Nam un Woo d mem pun yai pen dap at yan g ber bed a. Men uru t Woo d, “‘The

Tel etu bbi es’ dom e is rea l (an d we can fil m ins ide whe n rai n pre ven ts us fro m wor kin g out sid e). The hil ls are rea l, the rab bit s are real, the win dmi ll is rea l, som e of the gra ss and flo wer s are rea l and som e are art ifi cia l. And the Tel etu bbi es are rea l, in the sen se tha t the y run and pla y in Tel etu bby lan d jus t as you see the m on scr een.” 278 Apa yan g ada di dal am Tel etu bbi es bis a jug a dis aks ika n sec ara “fi sik ”. Kes an ini jug a dip erk uat ole h Dav enp ort yan g ber pen dap at sam a: “For us,

277

Lihat kembali catatan kaki no. 96. Dalam hal ini simbol-simbol sama dengan thing . Dan dalam beberapa hal, simbol adalah suatu representasi sejajar dengan suatu sistem lain. Di mana simbol-simbol terkonstruksi bersama sejumlah penafsiran atasnya. 278 Online document: http://www.ragdoll.co.uk/teletubbies/progr_teletubbies19.html

178

Tel etu bby lan d has to be rea l; we bel iev e in it abs olu tel y.” 279 Wal aup un dib and ing Woo d, per nya taa n Dave npo rt ban yak dib umb ui ole h kes an yan g mel ema hka n ang gap ann ya sen dir i 280, ked ua pen dap at ini tid ak kel iru sep enu hny a. Sec ara geo gra fis pro yek “tu bby lan d” ber ada di seb ida ng tan ah lua s ter buk a yan g ter let ak di pin ggi ran des a War wic ksh ire , Ing gri s. Sep ert i kat a Woo d, sem ua oby ek dal am Tel etu bbi es ben ar -ben ar

dib ang un ses uai uku ran “se ben arn ya” den gan tuj uan pen yut ing an fil m. Unt uk pen gge mar Tel etu bbi es ada lay ana n yan g mem ber ika n kes emp ata n ber bic ara den gan “pa ra tub bie s” mel alu i tel epo n ata u sur at. Sed ang kan di Str atf ord , seb uah tok o mil ik Rag dol l men yed iak an min iat ur len gka p tem pat tin gga l par a tub bie s len gka p den gan kon tro l pan el dan Noo-Noo . Dal am hal ini keb er[ ada ]an Tel etu bbi es se bag ai oby ek yan g dis aks ika n den gan mat a dan dir asa kan ind era -ind era lai nny a pad a tub uh seo lah ola h mun cul mel awa n sif atn ya yan g “fi kti f” ber [ad a] dal am lay ar. Nam un men dis kus ika n apa kah Tel etu bbi es itu “fi kti f” ata u

“bu kan ” sti dak aka n mem ber ika n kon tri bus i pem aha man bar u. “Ny ata ” ata u “ti dak ”-nya dun ia Tel etu bbi es mun gki n men ent uka n rea ksi yan g ber bed a pad a tia p pen ont on. Ter leb ih lag i, ber kon sen tra si pad a

pol emi k ini tid ak ses uai den gan tuj uan tul isa n ini , yai tu mem ban gun sua tu mod el yan g men jel ask an mek ani sme ker ja tek nol ogi lay ar. Kar ena ,
279 280

Ibid., loc. cit. Davenport memulai deskripsinya dengan kata “for us...” dan pada menjelang akhir kalimat menggunakan kata “believe...” Kedua kata ini mengisyaratkan sifat subyektif dari pernyataannya sendiri. Pada kata pembuka, Davenport segera membela diri dan mengingatkan pada publik bahwa sifat rill dalam Teletubbies hanya merupakan keyakinan mereka (us) secara pribadi. Dan kemudian meskipun diberi penekanan keterangan “...absolutely” dibelakangnya, kata believe sendiri merupakan istilah yang memperkuat kata pembukanya; yaitu segala omongannya hanya pantas dilihat dalam konteks keyakinan, bukan sesuatu yang empirik secara “fakta”.

179

jaw aba n sal ah sat u dar i alt ern ati f tid ak per nah aka n mem uas kan. Jik a Tel etu bbi es ada lah “fi ksi ”, kit a men emu kan tub byl and seb aga i

kon str uks i ban gun an yan g kit a tem uka n se car a geo gra fis mau pun fis ik. Wal aup un dem iki an, “re ali tas ” Tel etu bbi es di lay ar tid ak kit a temuk an di dun ia “fi sik ”. Jadi Tel etu bbi es leb ih mer upa kan cam pur an dar i “fi ksi ” dan “no nfi ksi ” sek ali gus . Di sis i lai n, ban gun an yan g dik ata kan seb aga i “ny ata ” tid ak mer upa kan pen gga mba ran nai f yan g mem apa rka n apa ada nya sep ert i yan g dig amb ark an bai k di fil m mau pun “ke nya taa n”. Kon struk si di tub byl and ada lah kum pul an pen erj ema han ser ang kai an ide dal am ben tuk fis ik yan g “ny ata ” mau pun “ti dak nya ta”
281

.

“Bu kit ” ata u “le mba h” dal am Tel etu bbi es buk an sek eda r “bu kit ” ata u “le mba h” sel aya kny a yan g ter tan gka p mat a. Sec ara fis ik, tubby lan d terd iri dar i kum pul an gun duk an -gun duk an per muk aan tan ah yan g dis ebu t per buk ita n. Han ya saja gun duk an buk it ter seb ut dis usu n dal am uku ran yan g ham pir sam a sat u sam a lai n dan men imb ulk an kes an ter atu r. Seh ing ga kal au kit a per hat ika n per muk aan nya men yer upa i ge lom ban g amp lit udo . Dal am pen ger tia n ten tan g gel omb ang , ist ila h “bu kit ” dan “le mba h” mun cul sec ara ani mas i seb aga i gar is yan g ber lek uk cem bun g dan cek ung . Dun ia Tel etu bbi es seb aga i kum pul an gel omb ang ada lah cir i dar i tek nol ogi lay ar di man a pen gli hat an, pen den gar an dan gel omb ang pem anc ar
281

ber ada

dal am

sat u

kon sep

yan g

sam a

dan

dap at

Selanjutnya, analisis ini tidak akan berfokus pada Teletubbies sebagai sebuah “fakta” waktu, tempat, kejadian ataupun deskripsi, penjelasan dan pencarian hubungan sebab akibat antara satu variabel dengan variabel lainnya yang berlangsung di dalamnya. Teletubbies bukan merupakan sampel yang merupakan bagian dari satu populasi lebih luas. Tidak akan ada usaha melakukan generalisasi hasil temuan, melainkan yang ada hanyalah mengkonstruksi. Apapun yang akan dibangun dalam kajian ini tidak lebih dari sebuah model yang terdiri polapola di mana membantu memberikan deskripsi metode kerja yang dilakukan oleh teknologi layar untuk mengorganisir kesadaran dalam satu arus melalui jaringan alam taksadar.

180

dip ert uka rka n. Ini adala h cir i uni ver sal dari gel omb ang , sec ara sej aja r dia mem ber i pen gli hatan dan pen den gar an, jug a seb aga i pem ban gun an sat u dun ia lai n. Kon sep ten tan g gel omb ang mer edu ksi sem ua war na dan bun yi dal am ben tuk flu ktu asi yan g memil iki kes tab ila n ben tuk dan dik ena li seb aga i seb uah “ob yek ”. Ken yat aan bah wa gel omb ang tid ak mem pun yai ben tuk man dir i men jad ika nny a mem ili ki pem unc ula n dal am “ob yek ” lai nny a

men yeb abk an dia dapa t dit erj ema hka n dal am ben tuk apa pun . Dal am Tel etu bbi es gel omb ang mun cul seb aga i per [bu kit ]an hij au yan g per mu kaa nny a ber gel omb ang . Ben tuk lai n dar i ge lom ban g dit emu i pad a kin cir ang in yan g ber put ar mem anc ark an gel omb ang dan par tik el cah aya . Kar ena itu gel omb ang ada lah kon sep yan g men yat uka n per bed aanper bed aan dal am satu uku ran yan g dap at dib and ing kan sat u sam a lai nny a. Pen gli hat an dan pen den gar an men jad i ser aga m, beg itu jug a tek nol ogi dan ala m dis atu kan dal am kon sep gel omb ang . Nam un ini buk an bat as ter akh ir ide yan g ber dir i di bal ik kon sep per [bu kit ]an Tel etu bbi es. Ber bed a den gan buk it dal am pen ger tia n

umu m, “bu kit ” di dal am Tel etu bbi es sif atn ya tid ak aca k melai nka n ter tat a rap i. Rum put-rum put ber bun ga jug a ter tata jal an sa nga t yan g tum buh ter atu r dan rap i dan ser aga m. sem ak-sem ak Di sel a-sel a sep ert i ada

per buk ita n ada lai nny a, sif any a

set apa k yan g ber kel ok -kel ok tan pa ada uns ur

nam un

ter tat a

ala mia h.

Tid ak

kes eme raw uta n ata u ana rki sme di dal amn ya. Ber ten tan gan den gan sem ua pen gga mba ran di ata s ada lah

rep res ent asi dar i “al am” di dun ia Tel etu bbi es. “Al am” yan g dal am

181

pen ger tia n seh ari -har i ada lah eks ist ens i yan g ber dir i sen dir i tan pa cam pur tan gan man usi a, tam pil di Tel etu bbi es buk an lag i seb aga i “ke lia ran ” dan “ke tid akt erd uga an” . Seb ali kny a “al am” tam pak ram ah dan tak ber bah aya . Buk it-buk it di Tel etu bbi es men cer min kan sifat itu . Sel ain par a tub bie s sel alu ber mai n di “al am” tan pa mer asa bah aya , ben tuk per [bu kit ]an di Tel etu bbi es men cer ita kan pol a yan g sam a jug a. Ber bed a den gan buk it yan g kit a ken al, di Tel etu bbi es buk it tid ak mem ili ki sif at-sif at tak ter dug a sep ert i se bua h lek uka n taj am, jur ang ata u tan ah yan g ter lal u mir ing per muk aan nya . Sem ua buk it di tub byl and mem ili ki uku ran yan g ham pir ser aga m dan lek uka n ant ara buk it yan g sat u den gan yan g lai n san gat mul us tan pa ada sud ut men gga ngg u. Kum pul an dar i kur va ata u kub ah yan g per muk aan nya hal us tan pa sud ut taj am. Sec ara psi kol ogi s, tid ak ada kek era san dal am pol a ini . Sem uan ya mem ber i ras a ama n dan ant isi pas i yan g men jam in par a tub bie s mau pun sia pa saj a yan g ber dir i di ata sny a. Nam un, par a tub bie s tid ak per nah men jel aja h di dal am “al am” ter seb ut sec ara men yel uru h. Tid ak sat upu n sum ber dar i “al am” yan g men ghi dup i par a tub bie s, seb ab sem ua keb utu han mer eka dip enu hi ole h “ob yek ” lai n yan g ber dir i di [lu ar] “alam” , yai tu tub byt ron ic sup erd ome . Sed ang kan fun gsi “al am” bag i par a tub bie s seb aga i are na ber mai n yan g nya man dan tak ber bah aya . Seb aga i are na ber mai n, “al am” ada lah lat ar yan g kur ang dip erh ati kan par a tub bie s. Tet api , hal ini tid ak ber lak u sam a unt uk sem ua kas us. Seb ab dal am Tel etu bbi es, nar ato r men ent uka n “ob yek ” yan g men jad i fok us par a tub bie s dan pen ont on. Seh ing ga pad a kea daa n ter ten tu “al am” jug a men jad i fok us per hat ian . “Al am” dal am

182

Tel etu bbi es seb aga i lat ar ket imb ang fig ur uta ma, fun gsi ala m yan g “mera wat ” dan men yed iak an sum ber day a man dul dan dig ant ika n ole h “ob yek ” lai n. Seb ali kny a, “al am” sen dir i dit ert ibk an ole h seb uah

kek uat an tak tam pak . Dir edu ksi dal am ket era tur an gel omb ang yan g tek nol ogi s sek ali gus “al ami ah” . Pos isi “al am” dal am Tel etu bbi es mer upa kan tem pat di man a sem ua ber mul a. “Di ata s buk it nan jau h, Tel etu bbi es ber mai n-mai n.” Keb er[ ada ]an nya bag i dun ia pen gli hat an dan pen den gar an men dah ulu i keb er[ ada ]an “ob yek -oby ek” lai nny a di Tel etu bbi es. Kon tra dik sin ya, dia han ya lat ar rak sas a bag i “obye k-oby ek” yan g mun cul di [da lam ]

keb era daa nny a. Keb er[ ada ]an nya mut lak dan tun gga l seb aga i dat ara n lua s tan pa bat as fis ik, tap i “ba tas ” psi kol ogi s dar i par a tub bie s mem bua t ala m han ya bag ian dar i tub byt ron ic sup erd ome . Kar ena itu , dia pat uh dan tun duk pa da sat u tat ara n ber sam a den gan “ob yek -oby ek”

pen gli hat an lai nny a dan bek erj a di baw ah sat u kon sep ter ang kai . Sem ua keb er[ ada ]an di Tel etu bbi es buk an keb er[ ada ]an yan g mun cul seb aga i “ob yek ” yan g dap at dit ili k sec ara pen uh seb aga i

pen gam ata n tun gga l, wal aup un sep int as ter lih at dem iki an. Keb er[ ada ]an mer upa kan ran gka ian dar i ber bag ai dis kur sus yan g dir edu ksi dal am sat u dun ia pen amp aka n ind era-ind era . Tum puk an -tum puk an dsi kur sus dal am Tel etu bbi es mel ahi rka n alu r cer ita . Keb er[ ada ]an mem ili ki sif at

men yel uru h dan par sia l dal am dis kur sus . Sec ara leb ih len gka p ten tan g dun ia tub by aka n kit a bah as di baw ah.

183

1. Tu bb yt ro ni c Su pe rd om e se ba ga i Ra hi m Te kn ol og i
Dar i sem ua oby ek di Tel etu bbi es, ada lah pus at ter pen tin g di tub byl and . Tub byt ron ic sup erd ome 282 ada lah sat u-satunya tem pat par a tub bie s men gga ntu ngk an hid upn ya, Tub byt ron ic man dir i, sup erd ome cam pur rum ah sek ali gus per awa t par a tub bie s. dir iny a sec ara

men jag a tan gan

keb erl ang sun gan Di

tan pa

par a tub bie s.

lua r tub byt ron ic

sup erd ome , par a tub bie s tid ak men dap atkan pera wat yan g bek erj a unt uk mer eka sep ert i yan g dil aku kan mes in -mes in di dal amn ya. Mes ki

282

Istilah “tubbytronic superdome” merupakan dua pasang kata yang masing-masing diterdiri dari gabungan dua istilah. Untuk memkajinya, kita perlu memisahkannya terlebih dahulu baru kemudian menggabungkannya kembali dalam satu pemaknaan yang lebih global. Kata “tubbytronic” berasal dari dua istilah, yaitu tubby dan tronic. Untuk etymologi istilah tubby dan varian pemaknaannya bisa diikuti pada kajian di atas. Sedangkan istilah tronic, menurut dugaan penulis berasal dari istilah electronic (yaitu istilah untuk menggambarkan segala peralatan yang mekanisme kerjanya didasarkan pada karakter dan aksi electron, yaitu salah satu unit partikel atom yang digambarkan fisika mengeliling inti atom). Kata electron (atau negatron) pertama kali dipakai oleh G.J. Stoney pada tahun 1891, dan merupakan model “arus negatif” yang beroposisi terhadap positron (atau proton) sebagai unit partikel positif. Sebagai gabungan penggunaan istilah dengan tube (salah satu bentuk dasar istilah tubby), dalam kamus Webster dikenal istilah electron tube: “a sealed or metal tube completely evacuated or filled with gas at low pressure and having two or more electrodes that control the flow of electrones.” Electron tube juga merupakan salah satu komponen yang ada dalam televisi untuk memisahkan dan kemudian mentransfer electron yang dipancarkan ke sebuah penampilan di layar (New Encyclopedia of Science, volume 14: space-termite [London: Orbis Publishing Limited, 1980], hal. 2005-20012). Dengan kata lain, istilah tubbytronic tidak lain merujuk pada mekanisme kerja komponen dalam televisi, atau juga bisa dianggap sebanding dengan pengertian televisi sebagai teknik kerja elektronis. Sedangkan istilah superdome, merupakan gabungan dari kata super dan dome. Kata dome merupakan perkembangan dari Bahasa Latin: domus (artinya “rumah”); dan Bahasa Yunani: dõma (dapat diterjemahkan secara harafiah sebagai “rumah”, “atap rumah” atau “kuil”). Pada pengertian sekarang bentuk konstruksi geometri atap berbentuk simetris sirkuler dalam wujud kubah: “rounded roof with a circular base.” Atap kubah merupakan model bangunan yang banyak digunakan oleh gereja-gereja Abad Bizantium. Bentuk atap kubah dalam gereja-gereja pada Abad Pertengahan Eropa pada perkembangan selanjutnya banyak diadopsi oleh mesjid-mesjid atau atap stadiun olahraga. Sedangkan istilah super, berasal dari istilah Latin yang bunyinya sama yang berati “di atas” di mana merupakan perkembangan dari istilah Yunani: hyper. Super dalam pengertian kontemporer tidak jauh berbeda dengan pengertian awalnya. Dalam hal ini, super menggambar sesuatu keadaan yang ekstrim di atas atau mengatasi semua keadaan rata-rata. Karena itu, istilah superdome selain menggambarkan bentuk bangunan kubah, juga memiliki konotasi sebagai “suatu sistem yang berdiri di atas segalanya”. Sifat dari superdome adalah “berdiri di atas” dan “saklar seperti sebuah kuil atau gereja”, namun juga berfungsi sebagai sebuah “rumah”. Dibandingkan dengan istilah tubbytronic yang “partikuler” sebagai mekanisme menggorganisir unit partikel electron, sifat dari istilah superdome adalah “universal di atas semua sistem di bawahnya”. Karena itu tubbytronic superdome merupakan gabungan dua karakteristik modus yang saling berkontradiksi namun tergabung sebagai sebuah sistem uniter dalam satu wujud karakteristik konstruksi.

184

“al am” di dun ia tub byl and dig amb ark an sanga t lua s, par a tub bie s tid ak per nah mel ang kah jau h dar i tub byt ron ic sup erd ome . Sej ak awa l aca ra par a tub bie s kel uar dar i tub byt roni c sup erd ome dan kem bal i mas uk ke dal amn ya jik a aca ra usa i. Di dal am Tub byt ron ic sup erd ome ter dap at mes in -mes in pen tin g bag i kel ang sun gan hid up par a tub bie s, yai tu tub byt oas t dan

tub byc ust ard . Ked uan ya dib uat unt uk men gha sil kan kue pen tin g bag i pen yam bun g hid up par a tub bie s. Sed ang kan , unt uk pem ber sih rum ah mer eka mem ili ki Noo-Noo, mes in pen yed ot deb u yan g hid up. Sem ua “ob yek ” dal am kub ah ber ger ak sec ara oto mat is, ter mas uk dal am hal ini ada lah tub byt ron ic sup erd ome itu sen dir i. Beb era pa ben da bek erj a set elah tub bie s men eka n tom bol , nam un lai nny a men unj ukk an seb uah kem and iri an pen uh, bah kan mem ili ki kua lif ika si seb aga i “ma khl uk

hid up” sep ert i Noo -No o. Tub byt ron ic sup erd ome , mem ili ki int eri or ber ben tuk kub ah dan di dal amn ya pen uh per ala tan ele ktr oni k. Dar i lua r, war na per muk aan nya hij au dan ber lum ut sep ert i rum put di ala m tub byl and . Ban gun an ini mem ili ki dua pin tu dan dua jen del a ber ben tuk set eng ah lin gka ran . Sed ang kan bag ian ata sny a ada lub ang yan g dap at dig una kan unt uk mel unc ur ke bag ian dal am ban gun an. Cir i-cir i ini ber bed a den gan sem ua rum ah mod ern yan g per nah kit a jum pai . Tub byt ron ic sup erd ome

dir anc ang dan dib ang un sec ara khu sus unt uk par a tub bie s, tid ak ada kem ung kin an lai n di man a dij adi kan ars ite ktu r yan g dit era pka n sec ara nya man pad a keh idu pan seh ari -har i. Ran can gan nya leb ih ber nua nsa art ist ik dan fan tas tik ket imb ang tek nis . Kub ah itu men jad i per wuj uda n

185

tek nol ogi yan g tam pak “ny ata ” dal am wuj ud fis ik Tel etu bbi es dib and ing lai nny a. Sif atn ya tun gga l, tid ak ada ban gun an ser upa lag i di tub byl and sep ert i jug a par a tub bie s yan g emp at ora ng saj a di tub byl and . Dar i kea daa n ini , dia mun cul seb aga i sat u-sat uny a ban gun an yan g ber ada di tub byl and , dan tem pat tub bie s ter gan tun g sec ara psi kis dan bio logis .

GAMBAR 4.5 Tubbytronic superdome (tampak luar)

Pad a bag ian int eri or, fil oso fis kon tru ksi ban gun an ini ter lih at leb ih jel as. Ata p dan din din g kub ah ter dir i dar i rua s-rua s yan g

men yem pit ke ata s men uju tit ik pus at di atapn ya. Sel anj utn ya dari tit ik ter seb ut men yam bun gka n mas ing -masi ng rua s ke seb uah pil ar yan g di ten gah , mem ben tuk seb uah pol a yan g rad ial . Sem aki n jau h dar i tit ik tem u di pil ar, rua s ter seb ut mak in mel eba r mem ben tuk din din g dan akh irn ya men yat u ke das ar kub ah. Ant ara ata p dan din din g tid ak ada pem isa han , beg itu jug a ant ara din din g dan pon das i. Pem isa han , jus tru ber sif at ver tik al seb aga i sat uan-sat uan rua s din din g. Ter ben tuk lah di dal am kub ah seb uah rua nga n yan g men yat u, den gan seb uah pil ar seb aga i sen tra l dar i ata p, din din g sek ali gus pon das i. Pil ar ter seb ut mer upa kan bag ian ter umi t di dal am tub byt ron ic sup erd ome di man a ban yak lam pu, ala t pet unj uk uku ran dan Tom bol -tom bol dan tun gka i pen gen dal i. Pil ar ter seb ut mer upa kan pus at dar i sel uru h kub ah.

186

Di sek ita r pil ar han ya ada seb uah rua nga n terbu ka sec ara

pen uh dan men gelili ngi pil ar let ak kon tro l pan el tan pa sek at pem isa h yan g mem bat asi ata u mem bag i
GAMBAR 4.6 Bagian dalam kubah tubbytronic superdome

menj adi r uang -r u an g te r pi sah .

War na per muk aan dal am kub ah ber bed a den gan war na hij au lum ut per muk aan lua rny a yan g ser upa “bu kit ” di ant ara per buk ita n tub byl and (ba ndi ngk an gam bar 4.5 den gan gam bar 4.6 ). Leb ih ban yak dom ina si war na abu -abu ter ang met ali k yan g ber bau r den gan war na -war na

per cam pur an das ar sep ert i mer ah, bir u, kun ing , jin gga dan hij au. Per bed aan men col ok ant ara lua r dan dal am ini men cip tak an pem isa han nua nsa dan sit uas i ant ara tub byt ron ic pad a sat u sis i bag ian yan g men yat u den gan “al am” sed ang kan pad a sis i yan g lai n kon tra s dar i lin gku nga nny a. Pad a sis i dal am tub bytro nic sup erd ome , unsur tek nol ogi s tam pak dal am wuj ud fis ik yang ber bed a sec ara kon tra s den gan kar akt eri sti k “al am” di lua r. Seb ali kny a, ben tuk lua rny a yan g ter tan am kok oh

dip erm uka an tan ah di mem ber iny a kes an se bag ai bag ian tak ter pis ahk an dar i “al am” tub byl and . Bah kan tub byt ron ic seo lah -ola h mun cul dar i dal am tan ah tub byl and . Nam un dal am ber bag ai hal tub byt ron ic seb aga i keb er[ ada ]an yan g ber dir i sen dir i dan uni k tid ak ber ika tan den gan “al am” . Buk an “al am” yan g mem fun gsi kan tub byt ron ic, tap i ber ger ak ole h dir iny a sen dir i.

187

Seb aga i sui gen eri s, tub byt ron ic sup erd ome ter ang kai seb aga i kes atu an pol a-pol a str ukt ura l yan g sam a ber lak u jug a unt uk sem ua “ob yek ” di Tel etu bbi es. Tid ak ada rua ng yan g ter ali ena si dar i rua ng lai nny a, sif atn ya “ut uh” dan “me nya tu” ter sen tra l ole h seb uah pil ar seb aga i “pu sat ”. Kar ena itu tub byt ron ic sup erd ome leb ih mir ip seb uah Man dal a yan g dip aka i dal am upa car a Bud dhi sme Tib et dar ipa da seb aga i tem pat tin gga l dal am kon sep “ke seh ari an” . “Di ban gun ” lay akn ya sit us per ing ata n yan g men gga mba rka n key aki nan , sek alig us seb aga i tem pat tin gga l dan mem ili ki kem amp uan kon tro l man dir i pad any a dir iny a. Tub byt ron ic mem ili ki kar ate r rel iji us, dom [in an] , mel ind ung i, mer awa t sek ali gus tek nis 283. Sif atnya sur eal is dan mis ter ius sep ert i hal nya sel uru h “ob yek ” yan g ada di tub byl and, tid ak ada pro ses yan g men gga mba rka n kem unc ula nny a, ataup un ika tan his tor is yan g men jel ask an

keb er[ ada ]an nya . Mew aki li sif at tek nol ogi s, dia ada lah omn ipres ent. Kar ena itu mem bon gkar keb er[ ada ]an nya tid ak mun gki n men gan dal kan des kri pti f “fa kta -fak ta” um um, mel ain kan han ya mun gki n dil aku kan den gan men gob ser vas i kon str uks i pol a -pol a yan g sed ang ter wuj ud sec ara emp iri k, lal u mem beb erk ann ya seb aga i seb uah bag ian str ate gi met ode ker ja. Per hat ika n kem bal i gam bar 4.6 , unt uk men gka ji kon str uks i

sim bol ik yan g be rdi ri di bal ik keb er[ ada ]an tub byt ron ic, per tam a -tam a yan g dib utu hka n adala h men eng ok ke dal am kon str uks i int eri or

tub byt ron ic. Pol a awal yan g aka n dik aji ada lah seb uah mot if yan g

283

Baca juga catatan kaki di atas yang membahas etymologi dri sitilah tubbytronic superdome. Bandingkan juga karter tubbytronic superdome dengan karakter “merangkum”, “melindungi” dan “mengawasi” pada screen, curtain dan monitor, seperti yang dikaji dalam Apendiks A.

188

ber ada di din din g tub byt ron ic. Per hat ika n lin gka ran -lin gka ran kec il sep ert i rel ief yan g men gel ili ngi di sek ita r seb ela h baw ah tem bok dal am tub byt ron ic pad a gam bar 4.6 . Pad a gam bar ter seb ut, ter lih at seb aga i

seb uah lin gka ran kec il men yal a di dal am lin gka ran gel ap yan g leb ih bes ar uku ran nya . Sed ang kan di ant ara ked uan ya ter dap at li ngk ara nlin gka ran kec il yan g ber kel ili ng dal am “ja lur ” mel ing kar yan g dib ent uk ole h ked uan ya.

Untuk skema yang lebih besar dapat dilihat pada gambar 4.7. Pada gambar ini, masing-masing lingkaran tampak memutari sebuah lingkaran lebih besar yang berada di tengah.
GAMBAR 4.7 Pola di dinding tubbytronic

Antara lingkaran

kecil satu dengan lin gka ran lai n tid ak ada ika tan
yan g men yat uka n sec ara lan gsu ng. Bah kan lin gka r-

an itu ter lih at ber dir i sen dir i seb aga i sat uan yan g utu h. Han ya saj a, sem ua ter fok us men gel ili ngi lin gka ran dit eng ahn ya. Mer eka sem ua

mem usa t tan pa ada nya pen gik at yan g lan gsu ng. Pem usa tan sif atn ya tid ak man gas imi las i dan mem bau rka n sat u sam a lai n hin gga ke ben tuk yan g tun gga l, nam un sif atn ya ada lah int egr al sek ali gus ber diri seb aga i ind ivi du ber had ap -had apa n den gan lai nny a. Mas ing -mas ing mas ih ber dir i seb aga i seb uah lin gka ran dan men gel ili ngi lin gka ran lai nny a. Keb ers ama an yan g ter ban gun itu dir ang kum dal am “ru ang ” yan g ber dir i di lua r lin gka ran -lin gka ran ter seb ut dan mer ing kup i sem uan ya. Lin gka ran mak ro mem ber ika n kes an sem ua lin gka ran di” dal am” nya

189

men jad i sat u kes atu an utu h dal am sat u oby ek tun gga l. Ber sam a-sam a den gan lin gka ran yan g ber ada di pus at, dia men gha sil kan rua ng bar u unt uk men yat uka n sem ua lin gka ran kec il ter sebu t tan pa ika tan fis ik dal am sat u ban gun an utu h dan tun gga l. Pol a ser upa jug a had ir dal am dal am kes elu ruh an int eri or

kon str uks i

for mas i

tub byt ron ic sup erd ome . Jik a sel uru h ata p ser ta tub byt ron ic din din g

sup erd ome

dib uka , aka n dit emu kan pol a gra fis sep ert i ber ben tuk pad a gam bar rad ial 4.8 .
GAMBAR 4.8 Pola kerangka kubah tubbytronic superdome dalam grafis datar.

Jik a kem udi an dib and ing kan ant ara gam bar 4.7 den gan

gam bar 4.8 , ked uan ya memper lih atk an seb uah kes ama an for mas i kon str uks i gra fis . Pem ban din gan ini tid ak ber mak sud men jad ika n pol a yan g sat u seb aga i pen iru an dar i pol a lai nny a, nam un kes ama an ant ara ked ua pol a ber sif at des kri pti f. Pad a pol a ata p kub ah, pad a lin gka ran a di man a jug a mer upa kan lub ang ata p tub byt ron ic seb aga i jal an mas uk par a tub bie s, men jad i pus at fok us sep ert i hal nya lin gka ran pus at di dal am gam bar 4.7 Sem ua gar is-gar is pem isa h antar rua s sem aki n men yem pit ber tem u dil ing kar an a pad a lan git -lan git kub ah. Sed ang kan di tia p rua s ter dap at lam pu-lam pu bul at kec il (co cok an den gan gam bar 4.6 ) yan g dal am gam bar 4.8 diw aki li

190

ole h lin gka ran e. Lin gka ran e sep ert i hal nya lin gka ran kec il yan g men gel ili ng pus at pad a gam bar 4.7 , jug a men gel ili ngi lin gka ran leb ih bes ar yai tu di tit ik a. Ant ara tit ik e yan g sat u den gan lai nny a dipi sah kan gar is ant ar rua s-rua s yan g sem uan ya dib ata si ole h lin gka ran bes ar yai tu ben tuk lin gka ran mak ro dar i tub byt ron ic sup erd ome yan g

mem isa hka nny a den gan “al am” dil uar yan g diw aki li tit ik d. Jik a sem ua pol a pad a gam bar 4.7 dan 4.8 kit a sat uka n, has iln y a ada lah ban gun an yan g mel uki ska n ele men -ele men man dir i dal am ben tuk sat uan lin gka ran yan g sem aki n ter fok us pad a lin gka ran pus at dan kem udi an dil ing kup i lag i ole h lin gka ran yan g leb ih bes ar dar i sem uan ya. Pol a ini aka n ter ula ng lag i dal am ska la yan g leb ih bes ar dan lua s dar i seb elu mny a. Kes atu an -kes atu an yan g leb ih kec il men gel ili ngi kes atu an kes atu an yan g leb ih bes ar mem ben tuk satu pol a rak sas a yan g ter us mel aku kan “re pro duk si” den gan car a yan g sam a. Dan uni kny a, ant ara sat uan -sat uan yan g sat u den gan lai nn ya tid ak ada yan g mem ili ki ika tan lan gsu ng, mer eka han ya dif oku ska n pad a sat u tit ik. Ant ara fok us dan sat uan -sat uan yan g men gel ili ngi nya tid ak ada ika tan , nam un sat uan sat uan itu sep ert i “mela yan g” dan “be bas ” tap i tid ak mem isa hka n dir i dar i pus atn ya. Dar ipad a “di ika t”, sat uan -sat uan ter seb ut leb ih mir ip “me ngi kat kan ” dir i pad a fok us hin gga men jad i lin gka ran tra nse nde n yan g men gat asi sem uanya . Nam un pol a-pol a ini buk an ber lan gsu ng di dal am tub byt ron ic saj a, tet api mel uas hin gga ke sel uru h tub byl and . Seb aga i tit ik pus at dar i tub byl and , tub byt ron ic men yat uka n sel uru h “li ngk ara n” buk it -buk it di sek ita rny a dal am sat u fok us. Kem udi an, mem ben tuk “li ngk ara n” kas at

191

mat a yan g men gik at sel uru h tub byl and seb aga i ala m sem est a. Sem est a tub byl and ber ger ak den gan “me nyu su t” pad a sat u fok us, dan “me leb ar” kem udi an dal am kes atu an, dan men gal ami pen yus uta n kem bal i, lal u dil anj utk an pro ses “pe leb ara n” ter jad i ser upa . Ter us men eru s aru s “pe nyu sut an” dal am pol a yan g sam a, kem udi an dan

mer amb at

lay akn ya gel omb ang men yeb ar ke seg ala ara h. Hin gga pad a tah ap ini , kit a men gen al bag aim ana tub byl and dis usu n dan dil uas kan ole h seb uah pol a ser aga m yan g ber ger ak dal am aru s “su sut ” dan “le bar ”. Tap i ala san men gap a “li ngk ara n” seb aga i pol a yan g ter us men eru s mun cul bel um mem per ole h jaw aba n yan g

mem uas kan . Dal am sem est a tub byl and , sec ara kes elu ruh an lin gka ran mun cul seb aga i “sa tua n” ele men ter , sek ali gus ese nsi wuj ud kel uas an. Seb aga i sim bol “ke sat uan ”, lin gka ran dal am sem est a tub byl and

mer upa kan ent ita s yang ber dir i sen dir i tan pa ter ika t. Pa rad oks lin gka ran ini , sam a den gan sif at kon tra dik tif dar i cir i “ob yek ” dan “su bye k” dar i Tel etu bbi es seb aga i “me diu m ked ua” . Jug a sei mba ng den gan pes an “un ive rsa lit as yan g man dir i sec ara par tik ula r” sep ert i kon tru ksi war na dal am Tel etu bbi es. Nam un, kes ama an ini tid ak men jel ask an bag aim ana kon tru ksi ide olo gi ini ber lak u dal am kea daa n yan g leb ih khu sus . Lin gka ran mem ili ki cir i uni k dib and ing den gan ban gun an -ban gun an lai nny a dal am geo met ri. Dia men gga mbark an “ko nti nui tas ” ter us

men eru s tan pa per uba han . Lin gka ran jug a bid ang yan g tid ak mem ili ki sik u-sik u dan mel ing kup i sem ua yan g di dal amn ya seo lah -ola h mem ili ki sif at “ut uh” dan “me lin dun gi” . Dal am kai tan den gan sif at-sif at das ar

192

dar i seb uah

lin gka ran

kit a bis a mem bandi ngk ann ya

den gan

per an

seo ran g “Ib u” (mat ter). Men uru t Car l Gus tav Jun g, arc het ype ten tan g ibu mem ili ki cir i-cir i seb aga i ber iku t:

“...is often associated with things and place standing for fertility and
fruitfulness: the cornucopia, a cave, a tree, a spring, a deep well, or to various vessels such as the baptismal font, or to vessel-shaped flowers like the rose or the lotus. Because of the protection it implies, 284 the magic circle or mandala can be form of mother archetype.”

Sek ila s dar i pan dan gan Jun g, cir i ide olo gi lin gka ran mun cul jug a dal am wat ak arc het ype ibu . Ter uta ma, dal am mod el ves sel (lo ron g) dan cir cle (li ngk ara n) mun cul jug a seb aga i bag ian dar i wuj ud yan g dii nte rpr eta si Jun g seb aga i arc het ype ibu . Ked ua ban gun an ini , lor ong dan lin gka ran , men gga mba rka n “ke lah ira n” dal am wuj ud “ra him ” dan “lo ron g rah im” yan g san gat dek at den gan ide nti fik asi ibu seb aga i seb uah sim bol . Dar i tit ik tol ak teo ri arc het ype Jun g tul isa n ini ber usa ha

mem aha mi tub byt ron ic sup erd ome . Nam un tid ak sel uru h teo ri arc het ype Jun g ini dap at dig ene ral isi r unt uk mem aha mi tub byl and . Seb ali kny a, arc het ype ibu tid ak sep enu hny a had ir dal am tub byl and , nam un

dir epr ese nta sik an dal am had irn ya kon str uk “ra him ” ata u “li ngk ara n” seb aga i wuj ud rel asi pre nat al.
284

ant ara

“ba yi”

dan

“ib u” sel ama

mas a-mas a

Carl Gustav Jung, Four Archetypes: Mother, Rebirth, Spirit, trickster (Great Britain, Thames: Routledge Regan Paul Ltd., 1972).

193

Sep ert i yan g dit unj ukkan dal am set iap epi sod eny a, par a tub bie s sel alu mun cul dan hil ang mel alu i seb uah “lu ban g gel ap” di ata p tub byt ron ic. Pad a gam bar 4.8 dan 4.9 , pos isi lub ang gel ap dit unj uk -

kan tit ik a . Dar i tit ik a, ter dap at sal ura n yan g mel unc ur dan ke lua r dar i dek at kon tro l pan el di dal am tub byt ron ic.
GAMBAR 4.9 Kerangka bangunan tubbytronic superdome dalam grafis tiga dimensi

Ber sam a -sam a tit ik

b

(pi ntu ) dan tit ik c (jend ela ), tit ik a merupakan celah penghubung

antara bagian dalam tubbytronic

sup erd ome den gan “a lam ” di lua rny a (di tun juk ole h tit ik d). “Lu ban g gel ap” bis a ber art i jal an men uju tub byt ron ic sup erd ome bag i par a tub bie s, sep ert i hal nya pin tu ber ben tuk lor ong di din din g baw ah. Bai k lor ong a, b, mau pun c, ket iga nya mer upa kan sis tem tubb ytr oni c aga r tid ak ter iso las i dar i sis tem lua r. tet ap Nam un ber dir i jug a tid ak men yat uka n Tub byt ron ic

sep enu hny a,

mas ing -mas ing

sen dir i.

sup erd ome tet ap ber fun gsi seb aga i kes atuan sis tem yan g mem enu hi keb utu han dan mer awa t par a tub bie s sec ara man dir i. Bang una n yan g ber dir i sen dir i, tap i tidak ter iso lir dar i “du nia lua r”. Car a ker ja dar i tub byt ron ic sup erd ome mem ili ki cir i dan fun gs i lay akn ya rah im ibu . Seb aga i rah im, tub byt ron ic men ghi lan gka n tra uma keh ila nga n rah im yan g dia lam i set iap ind ivi du saa t dil ahi rka n, den gan mem enu hi keb utu han sec ara men eta p. Se bal ikn ya dia tid ak mem ili ki wuj ud “or gan is” dal am pen ger tia n kla sik , tub byt ron ic men gko nst ruk si kem bal i fun gsi dan ciri dar i rah im mel al ui wuj ud tek nol ogi s. Dal am

194

rah im tek nol ogi s, ket erb ata san dar i rah im ibu bio log is yan g sif atn ya tem por al dia tas i den gan ket akt eri kat an wak tu dan keb eba san aks es tak ter bat as. Mel alu i “lu ban g gel ap” , tub bie s “mu ncu l” dan “me ngh ila ng” dal am rah im tek nol ogi s tub byt ron ic set iap saa t mul ai dan ber akh irn ya epi sod e Tel etu bbi es. Pad a dim ens i ini , “lu ban g gel ap” bek erj a lay akn ya vag ina ibu ata u ja lan kel uar bay i dar i rah im, sek ali gus jug a

men gim pli sit kan seb aga i jal an ata u lor ong kem bal i men uju rah im. Ke[ sat u]a n den gan rah im kin i buk an lag i yan g har us dic era ika n seb aga i sya rat lah irn ya “su bye k”, tap i “su bye k” bis a men ikm ati masa-mas a ke[ sat u]a nny a den gan rah im sec ara tak ter bat as aki bat kon eks iny a den gan tek nol ogi dal am tub byt ron ic sup erd ome . Kin i bay i tub bie s ada lah mak hlu k amp hib ian , yan g ber pin dah-pin dah dar i sat u kea daa n men uju kea daa n lai n. Dia “be bas ” ber pin dah , tap i keh adi ran rah im bar u ber art i “ke ter fok usa n” pad a ken ikm ata n bar u mel alu i kon eks i den gan nya . Kon eks i itu ter ika t ant ara par a tub by den gan tub byt ron ic

sup erd ome mel alu i sen tuh an fis ikn ya den gan tom bol -tom bol kon tro l pan el di pus at. “Me nya mbu ng” dan “me mut usk an” kon eks i mel alu i ger aka n sed erh ana sep ert i “me nek an” tom bol mem ber ika n ken ikm ata n aka n kua sa ter had ap “tu buh ” sen dir i dan ses uat u yan g ber ada “di lua r”. Cir i sek sua lit as 285 buk an han ya mun cul dal am kec end eru nga n

285

Seksualitas tidak dipahami secara genital, melainkan merupakan suatu dorongan akan kenikmatan yang dirasakan secara subyektif dengan perantara sebuah obyek yang berada “di luar” dirinya. Hasrat untuk menguasai, menjadi superior, menyatukan dan bertahan hidup merupakan gelombang pasang surut yang dinikmati bersama dengan ketakutan akan kehilangan, ketidakberdayaan, perpisahan parsial dan hasrat menghancurkan diri. Kenikmatan dan hasrat libidinal tidak terikat pada salah satu belaka, melainkan terwujud dalam kondisi naik turun yang bekerja bergantian menghasilkan refleks “menahan” dan “melepaskan” koneksi.

195

“me nde kat i”, “me ndo ron g” dan “me nah an” kon eks i, tet api jug a den gan “me nja uhi ”, “me nar ik dir i” dan “pe lep asa n sem ent ara ” ata sny a. Sep ert i hal nya pos isi bay i den gan put ing bua h dad a ibu nya , pen gua saa n dad a ibu ole h bay i buk an han ya ter let ak pad a pen gu asa an sepe nuh nya , tap i jug a ket ika dia men gal ami ket erp isa han dar iny a. Ket erp isa han men imb ulk an per asa an ada nya ker ind uan aka n seb uah “ob yek ” dal am ked udu kan nya seb aga i “su bye k”: mem ber ika n kes eta raa n den gan dirin ya. Pem enu han kon eks i ata sny a den gan

ken ikm ata n

ter sam bun gny a

kembal i

“ob yek ” di lua rny a yan g dii ngi nka n. Dal am hal ini , put ing dad a ibu men jad i fok us dor ong an ken ikm ata n dan mem ber ika n bay i per asa an “te rar ah” ser ta kua sa ata s tub uhn ya sen dir i di sam pin g den gan

ke[ sat u]a n den gan sosok ibu seb aga i sem est a. Wal aup un seb ena rny a “tu buh ” ket ika itu jus tru men jad i sis tem yan g ter ika t sec ara fis ik den gan dun ia di lua rny a, dan sek ali gus tid ak lag i ber ada dal am kon tro l psi kis . Apa bil a kom ple ks ini ter jad i dal am rah im mak a tom bol -tom bol di kon tro l pan el ber fun gsi sama den gan “ar i-ari ”, yai tu pus at in ter aks i “ba yi tek nol ogi ” Tel etu bbi es den gan rah im “Ib u tek nol ogi s” (mot her of tec hno log y) dal am mem enu hi keb utu han par a tub bie s sec ara otoma tis . Mel alu i kon eks i ini , sem ua keb utu han hid up sep ert i tid ur dan mak an dip enu hi mel alu i int era ksi par a tub bie s den gan tub byt ron ic sup erd ome . Ket ika tub bie s men gam bil jar ak “me mis ahk an” dir i dar i tub byt ron ic sup erd ome dan ber diri seb aga i “su bye k” tid ak men yeb abk an ter lep as sep enu hny a dar i ari-ari tek nol ogi s yan g ada sep ert i hal nya ter jadi pad a kel ahi ran org ani k. Mel ain kan “pe mis aha n” men gis yar atk an pad a

196

ker ind uan aka n ken ikm ata n pen yat uan nya di kem udi an har i den gan “ob yek ” seb aga i seb uah sem est a. Kar ena itu ant ara par a tub bie s den gan tub byt ron ic ika tan sup erd ome ter dap at sua tu

emo sio nal yang

mem bua t mer eka

tid ak per nah mem isa hka n dir i sep enu hny a dar i fok us ter seb ut. Sif at dar i tub byt ron ic sup erd ome tid ak men gua sai , tap i jus tru
GAMBAR 4.10 Para tubbies berada dalam tempat tidur di dalam tubbytronic superdome yang berbentuk kapsul terbuka.

par a tub bie s yan g membu tuh kan ika tan itu . Tub byt ron ic sif atn ya ada lah mer awa t dan

mem ber ika n “ci nta ”-nya pad a par a tub bie s. Hub ung an ant ara ked uan ya leb ih tep at dig amb ark an seb aga i pro ses sin kro nis asi , di man a salin g

ber ada pta si men cip tak an eku ili bri um hom eos tas is. Par a “ba yi tek nol ogi ” tel etu bbi es hid up dalam ren gku han “ib u tek nol ogi ”, dan tub byt ron ic han ya mem per ole h kon tek s mak na fun gsi ona l apa bil a keb era daan par a tub bie s ber [ad a] di sek ita rny a. Seb aga i “ib u te kno log i”, tub byt ron ic sup erd ome mem ili ki

kar akt eri sti k yan g san gat dis esu aik an den gan ben tuk bad an par a tub bie s. Di dal am, sem uan ya di atu r ses uai den gan jum lah dan uku ran par a tub bie s. Bai k per abo tan sed erh ana , sep ert i mej a, kur si, tem pat tid ur dis ink ron kan ben tuk nya ses uai den gan ben tuk fis ik mas ing -mas ing

“pr iba di” par a tub bie s (li hat gam bar 4.1 0). tub byt ron ic sup erd ome men jal ani per an sep ert i rah im seo ran g ibu yan g mem aha mi sel uru h keb utu han lib idi nal bay iny a den gan sem pur na, ken yam ana n dan

197

pen ger tia n yang tid ak aka n dit emu kan par a tub bie s di lua r tub bytro nic sup erd ome . Bil a kem udi an dik ait kan den gan pol a ala m sem est a tub byl and yan g “me nyu sut ” dal am sua tu fok us dan “me leb ar” seb aga i hub ung an glo bal , sin kro nis asi dal am ika tan “ci nta ” ant ara tub bie s dan tubb ytr oni c sup erd ome mer upa kan ika tan bag i ter jad iny a sua tu fok us yan g has iln ya ada lah seb uah “ke ber sam aan ” sem u yan g ter ben tuk ant ara par a tub bie s sen dir i. Pos isi ant ara tub bie s ada lah set ara bag i tub byt ron ic sup erd ome , dan sem uan ya dil aya ni sec ara adi l. Kar ena itu , tub byt ron ic sup erd ome , ber per an seb aga i “fo kus ” ata u “pu sat ” bag i tub bie s, sed ang kan sec ara kes elu ruh an “tu bby lan d” men gik at mer eka dal am sat u sem est a. Se mes ta tub byl and mun cul seb aga i “ba gia n” man dir i nam un tak ter pis ahk an dar i tuy bby tro nic su per dome. Beg itu jug a pos isi seb ali kny a ber lak u sam a unt uk “ob yek ” yan g ada . Ker ang ka ini lah kit a aka n mem ban tu

mem aha mi bag aim ana ked udu kan dan ideol ogi yan g men das ari dan dir epr ese nta si ole h sim bol -sim bol lai n dal am Tel etu bbi es.

2. Meka[orga]nik Seb agai rah im, sem ua tek nol ogi di dal am tub byt ron ic sup erd ome

mer upa kan ke[ sat u]a n den gan ind ukn ya. Per wuj uda n oby ek mun cul seb aga i tub byt oas t, tub byc ust er dan yan g pal ing pen tin g ada lah NooNoo. Tub byt oas t dan tub byc ust er ada lah mes in pen gha sil pas ta dan kue yang mer upa kan kon sum si uta ma par a Tubbi es. Ben tuk nya cen der ung per seg i dan sud utn ya tum pul . Kon tak par a tub bie s den gan dua per ala tan

198

ini mel alu i tom bol . Ber bed a den gan ked ua ala t ini , Noo -Noo mem ili ki kar akt eri sti k ber bed a dal am bek erj a ata upu n fun gsi nya seba gai al at. Dia tid ak men ung gu par a tub bie s men eka n tom bol unt uk men jal ank ann ya, seb ali kny a dia akt if bek erj a seb aga i sat uan tub byt ron ic yan g man dir i. Bag i Noo -Noo , ant ara ker ja mes in pen yed ot deb u dan sif at dan kar akt er org ani sme mem bau r dal am wuj ud fis ik nya ta. Dia mem ili ki dua mata yan g b e r put ar-put ar, bel ala i pan jan g unt uk men ghi sap kot ora n dan deb u, ser ta tub uh ber ben tuk tab ung unt uk men amp ung kot ora n dan deb u yan g dih isa pny a, dil eng kap i pul a”r oda ” oto mat is yan g mem ban tu nya ber pin dah -pin dah tem pat tan pa per lu dib ant u ole h pih ak lai n di lua r dir iny a. Sec ara kes elu ruh an, Noo -Noo mer upa kan ran can gan yan g san gat sin kro n
GAMBAR 4.11

ant ara

seb uah deb u

organis me oto mat is.

den gan Dal am

seb uah fis ik

mes in

Noo-Noo: konseptualisasi dari meka[orga]nik dalam sebuah “subyek’ mandiri

pen yed ot

Noo -Noo ,

dua lis me ant ara mek ani k dan org ani k did ama ika n dal am kon sep oto mat ism e.

Seb aga i per wuj uda n oto mat ism e, Noo-Noo men gis yar atk an ada nya “di ri” yan g mun cul , ber ger ak, ber ope ras i, ber pikir dan bek erj a den gan sis tem kon tro l yan g ber ada di dal amn ya. Dal am hal ini pos isi nya tid ak jau h ber bed a den gan par a tub bie s seb aga i org ani sme . Dan sep ert i par a tub bie s pul a, wal aup un dia mem ili ki kem and iri an seb aga i ele men yan g ber dir i sen dir i, Noo -Noo tidak per nah mem isa hka n dir iny a dar i

tub byt ron ic

sup erd ome . Bed any a,

par a tub bie s bis a men ing gal kan

tub byt ron ic sem ent ara unt uk ber mai n di lua r sed ang kan Noo -Noo tid ak

199

per nah men ing gal kan kub ah. Par a tub bie s sel alu ber mai n, sed ang kan Noo-Noo sel alu seb aga i “pek erj a”. Rel asi ant ara tub bie s den gan Noo -Noo men cer min kan hub ung an yan g mir ip ika tan “tu an” dan “bu dak ”. Dal am men jal ank an fun gsi seb aga i “pe ker ja” , Noo -Noo ada lah ala t ste ril isa si seg ala kot ora n dan sum ber pen yak it yan g mun gki n mun cul di dal am tub byt ro nic sup erd ome . Dia pen jam in kon sep ten tan g

“ke seh ata n” dan “ke ama nan ” unt uk par a tub bie s. Sta bil isa si fun gsi nya ada lah dal am men jag a aga r kea daa n dal am tub byt ron ic sup erd ome tet ap men jad i tem pat ama n bag i par a tub bie s. Kar ena itu seb aga i “bu dak ”, Noo-Noo tida k per nah di baw ah pem eri nta han par a tub bie s, mel ain kan tug asn ya mer awa t dan mem per tah ank an ken ikm ata n par a tub bie s dal am tub byt ron ic sup erd ome den gan men ang kal gan ggu an dar i “lu ar” . Sel ain itu , dal am pos isi “bu dak ”, Noo -Noo tid ak ber bed a den gan par a tub bie s yan g ber lak u seb aga i “tu an” . Ked uan ya ber ada dal am ika tan kes atu an den gan rah im ibu tekno log is. Pem isa han ant ara

ked uan ya dal am dua kat ego ri dis kri t buk an ant ara kon sep yan g sat u seb aga i “me sin ”, sed ang kan lai nny a ada lah “or gan ism e”. Ked ua kon sep ter sebu t ber ada dal am Noo -Noo mau pun par a tub bie s. Par a tub bie s buk an lag i sek eda r org ani sme bel aka , tap i jug a mem ili ki cir i-cir i mek ani k di dal am dir iny a (aut oma ton) sed ang kan Noo -Noo ada lah mes in yan g mem ili ki kem and iri an lay akn ya seo ran g ind ivi du (oto mat is me). 286

286

Humberto Maturana dan Francisco Varela dalam bukunya berjudul Autopoiesis and Cognition: The Realization of the Living, mendefinisikan ulang tubuh organik sebagai autopoiesis, yaitu self-referential, sistem otonom yang memiliki karakter deterministik dan relativistik. Dalam hal ini, tubuh mengikuti suatu kerangka acuan yang disebut sebagai common frame of reference, di mana imaji visual berfungsi layaknya “bahasa” tidak sekedar menyampaikan informasi, namun berperan sebagai wilayah interaksi antara “subyek” dengan sebuah

200

Hub ung an opo sis i ant ara “me sin ” dan “or gan ism e” dal am hal ini men jad i han ya seb uah kea daa n tim bal bal ik yan g mas ih ber ada dal am seb uah are al glo bal , buk an lag i kon sep yan g man dir i, apa lag i ber had ap-had apa n sep ert i yan g dit aku tka n ole h Eri ch Fro mm 287.

3 . I k a t a n f o k u s d a la m e m os i w aj a h “Ob yek ” yan g pal ing awa l mun cul set iap epi sod e Tel etu bbi es sep anj ang 24 men it ada lah seb uah “ma tah ari ”. Sep ert i yan g sud ah dik aji di ata s, mat aha ri mun cul seb aga i “te ran g” yan g mem ber ika n pen gli hat an sad ar aka n keh adi ran war na-war na yan g ber ada dal am lay ar. Dia mun cul seb aga i bag ian dar i pen gli hat an, kon tra dik sin ya dia ada lah “ob yek ” pen gli hat an sek ali gus jug a had ir di dal am “su bye k” seb aga i ker ja pen gli hat an itu sen dir i.

konstruksi acuan bersama (Ibid 13., loc. cit). Bandingkan pandangan ini dengan ide Kobo Abé tentang The mass-produced pattern pada Bab I, hal. 7.
287

Dari berbagai segi, Noo-Noo adalah “hantu” yang paling ditakuti oleh Fromm, wujud pemimikan (mimicry) mesin yang menanding peran fisik maupun psikis seorang manusia. Ironisnya, ketakutan Fromm tidak pernah mendapatkan tanggapan yang sesuai, sebab dalam Teletubbies Noo-Noo tidak memberikan kesan “mengerikan” atau “angker” (Untuk kejelasannya, ikut bagian awal dari Bab III pada tulisan ini). Sebaliknya sosok Noo-Noo cenderung ramah dan humoris. Sebagai “budak”-pun Noo-Noo samasekali tidak menunjukkan sikap gampang kecewa. Tidak ada hantu proletariat dalam dirinya, Noo-Noo memiliki sikap jinak namun kreatif dalam dirinya. Kyoko-Date, “gadis imaji” dalam wujud rancangan digital yang dibuat pada tahun 1996 sebagai pembawa acara (VJ) televisi, adalah sosok yang paling sesuai untuk dibandingkan dengan Noo-Noo. Kaz Hori, wakil presiden HoriPro Inc. (agen Kyoko Date), membandingkan keunggulan Date dengan pembawa acara “manusia” lainnya: “She doesn’t complain about anything, and she doesn’t sick.” Dalam berbagai kesempatan, peran Date menyamai pembawa acara umumnya. Date yang dibayangkan masih berumur enam belas tahun, menjadi salah satu pujaan bagi publik Jepang. Hebatnya lagi, Kyoko Date hanya program awal, sebab untuk ke depan HoriPro berencana mengkreasi seorang manajer virtual untuk Kyoko Date. (Ibid 66., op. cit, hal. 21).

201

Dal am

pos isi

seb aga i

“ob yek ”

tam pak ,

“ma tah ari ” di dal am tub byl and mem ili ki ben tuk bul at den gan war na kun ing kep uti han dil eng kap i den gan Nam un, pan car an ket imb ang cah aya ke sel uru h ara h.
GAMBAR 4.12 Matahari tubbyland

mir ip mat aha ri seh ari -har i

yan g kit a lih at, “ma ta har i” tub byl and mem ili ki waj ah seo ran g bay i yan g men yeb abk ann ya leb ih eks pre sif emo sio nal , dar ipa da sek ada r

mem ber ika n pen cah aya an. Di dal am tub byl and , waj ah bay i ter seb ut ada lah sat u-sat uny a wuj ud yan g mem ili ki eks pre si emo sio nal tid ak dib uat-bua t di ban ding “su bye k/o bye k” lai n yan g ada dal am tub byl and . Dal am kac a mat a pen gli hat an emp iri s, waj ah man usi a yan g had ir dal am dun ia sur eal is Tel etu bbi es sat u-sat uny a han ya ber ada dal am mat aha ri ter seb ut. Kar ena itu dia ada lah keb era daa n tun gga l dal am sem est a Tel etubb ies dim ana tid ak ada ban din gan nya , dan men dap at sor ota n cuk up int ens dal am banya k slo t. Seb aga i wuj ud waj ah bay i, mat aha ri ter seb ut men gam ati dar i ata s seg ala ses uat u yan g ter jad i di dal am tub byl and . Dia buk an han ya bag ian dar i ton ton an, tap i jug a pen onto n. Dal am waj ahn ya yan g “ma nus iaw i” dia mem ber ika n fok us ide nti fik asi ant ara pen ont on den gan dir iny a. Kar ena dia mel aku kan sep ert i yan g dil aku kan par a pen ont on

Tel etu bbi es: mem ber ika n rea ksi emo sio nal ter had ap apa pun yan g ter jad i di dal am Tel etu bbi es. Dia “me mil ih” unt uk mer aba n, ter taw a sen ang , bin gun g ata u sek eda r dia m saj a seb aga i rea ksi nya ter had ap apa yan g

202

ter jad i di baw ahn ya. Tid ak ada rea ksi mur ung , sed ih, tan gis an, ata u kes aki tan dal am kat ego ri rea ksi emo sio nal yan g dim unc ulk ann ya. Art iny a dia memila h sec ara ket at rea ksi emo sio nal yan g lay ak ata u tid ak lay ak unt uk dim unc ulk an. Dia men gua tka n dan men jad ika n emo si yan g lai n men jad i sem aki n “ny ata ” den gan tam pil an waj ah bay i yan g lem but , ber sah aba t, cer ia, sed ang kan emo si lai n yan g “me nyi mpa ng” dar i ciri cir i ter seb ut dit iad aka n dar i pen amp aka n pe non ton . Di sis i lai n, rea ksi “ma tah ari ” mer upa kan emo sio nal pen gua tan yan g tam pil sua san a mel alu i med ium ter had ap

emo sio nal

org ani sme aut oma ton Tel etu bbi es yan g fri gid . Tet api pos isi nya buk an sek eda r pel eng kap dari kek ura nga n, leb ih jau h lag i, dia ada lah acu an pen ont on Tel etu bbi es unt uk mem ber ika n rea ksi emo sio nal yan g ter fok us dan ter sel eks i. Dia seo lah -ola h mem baw a keb er[ ada ]an pe non ton

ber sam a-sam a dal am keh adi ran emo sio nal di dal am lay ar. Pen ont on mer asa kan ada nya sat u “ob yek ” lai n yan g mem ili ki sua ra, eks pre si, waj ah yan g sam a man usi awi den gan dir iny a: “Chi ldr en’ s voi ces are use d in the ins ert s: as soo n as chi ldr en saw the ear ly exp eri men tal ins ert s wit h chi ldr en’ s voi ces in the m, the y loc ked on to the m. Child ren fin d it eas ier to lis ten to oth er chi ldr en and see bab y sha ped thi ngs .”288 Dan mer eka , men jad i leb ih mud ah ter kun ci sec ara fok us pad a pem unc ula n ter seb ut. Ada “pe non ton ” lai n dal am lay ar yan g men unt un par a

pen ont on pad a sua tu kon dis i yan g ses uai den ga n tub byl and .

288

Andrew Davenport, FAQ, Online document: teletubbies17.html

http://www.ragdoll.co.uk/teletubbies/progr_

203

Nam un

hal

ini

tid ak

mem ber ika n

pen ont on

pen gua tan

keb er[ ada ]an dir iny a seb aga i “su bye k”, mel ain kan “su bye k” dih ila ngk an keb er[ ada ]an nya . Seb aga i gan tin ya, keb er[ ada ]an pen ont on dig ant ika n pos isi nya ole h seb uah med ium lai n yan g mem ili ki “ke mir ipa n” den gan dir iny a di dal am tek nol ogi lay ar. Dia tid ak men ung gu rea ksi dar i pen ont on, tap i men gaw ali dan men ent uka n rea ksi emo sio nal yan g lay ak bag iny a sen dir i. Seh ing ga sem ua kej adi an dal am Tel etu bbi es beb as dar i det erm ini sme emo sio nal pen ont on yan g ber ada di lua r, seh ing ga sem ua eks pre si emo si yan g ada dio lah dan dik ont ruk si ole h oby ek yang ada dal am dir iny a sen dir i. Pen ont on dal am hal ini ber per an men yes uai kan emo si den gan rea ksi-rea ksi emo sio nal yan g mun cul dal am oby ek

sen tra lis tik ter seb ut. Wal aup un tid ak ada pak saa n unt uk mel aku kan hal ini , jug a tid ak ada tun tut an unt uk men iru sem ua eks pre si yan g mun cul . Tap i “pe nge rti an” , “em pat i” dan “pe mah ama n” pen ont on ter had ap emo si-emo si “un ive rsa l” yan g mun cul dar i eks pre si bah agi a mat aha ri bay i men gal ami sin kron isa si, seh ing ga pen ont on mem aha mi tel etu bbi es seb aga i hal yan g men yen ang kan saj a. Sel anj utn ya, eks pre si-eks pre si yan g mun cul dal am lay ar dit eri ma ole h pen ont on seb aga i bag ian dar i rea ksi emo si dir iny a ter had ap Tel etu bbi es: “The bab y sun off ers

rea ssu ran ce as it is alway s hap py and wat ches the Tel etu bbi es with the sam e enj oym ent tha t chi ldr en do .” 289 Den gan men gam bil ali h kon tro l sub yek ata s rea ksi emo si

pri bad iny a, dia mem ber ika n “ke sad ara n” bar u pad a cir i-cir i per son ali tas
289

Anne Wood dan Andrew Davenport, Why does Teletubbyland look like it does?, Online document: http://www.bbc.co.uk/education/teletubbies/information/faq/teletubbyland. shtml

204

sub yek

yan g dip ila h,

dik uat kan ,

dih adi rka n dan

dip aha mi

seb aga i

dir iny a. Sep ert i Noo -Noo , dia mem ber ika n ala m pem bau ran tek nol ogi s Tel etu bbi es seb uah “ke man usi aan ” dan kes ada ran bar u yan g tek nol ogi s pad a pen ont on Tel etu bbi es.

4 . “Tuh an” dalam tu b b yland Ber keb ali kan den gan per an waj ah “man usi awi ” yan g dib eri kan ole h mat aha ri bay i, ter omp et sua ra dal am Tel etu bbi es mem ili ki per an yan g ber bed a. Kar ena itu dar i pad a ber wuj ud waj ah seo ran g man usi a ata u bay i, ter omp et mem ili ki wuj ud pen amp aka n yan g tek nol ogi s. Wal aup un dem iki an, seb aga i tekno logi dia dia ngg ap buk an hal yan g asi ng: “The voi ce tru mpe ts rep res ent the man y tec hno log ica l dev ice s tha t are a nat ura l par t of a chi ld”s lif e.” 290

Seb aga i bag ian

tek nol ogi

yan g “al ami ” dar i

keh idu pan ana k-ana k, ter omp et sua ra mem ili ki ben tuk yan g uni k. Gab ung an dar i ben tuk yan g mem anj ang den gan mem bul at di uju ngn ya, men yer upa i sho wer
GAMBAR 4.13 Terompet dalam tubbyland

man di,

sek ali gus

mir ip

cor ong

tel epo n,

ata u

men yer upa i ear pho ne .291 Den gan kat a lai n, wujud dar i ter omp et tubby lan d ada lah kum pul an ben tuk ber bag ai

290 291

Ibid., loc.cit. Namun, dari Anne Wood dan Andrew Davenport, dia lebih sering disebut sebagai ‘terompet’

205

mac am tek nol ogi

yan g bia san ya dij ump ai dal am keh idu pan

rum ah

tan gga . Ber bed a den gan tub byt ron ic sup erd ome yan g fut uri sti k dan tid ak laz im, ter omp et sua ra jus tru kar akt eri sti k yan g “na tur al” , wal aup un jum lah nya tid ak dap at dip ast ika n, tap i “be nda ” sej eni s ini den gan ben tuk yan g ser aga m dap at ber ada di dal am mau pun di lua r tub byt ron ic sup erd ome , yan g ber art i jug a bah wa dia ter seb ar di sel uru h tub byl and . Di lua r tub byt ron ic, ter omp et sua ra mun cul dar i dal am tan ah ke per muk aan buk it, dan tid ak ada bat as eks ak di man a dia mun cul ,

art iny a di tub byl and ter omp et ini bis a mun cul beg itu saj a. Sed ang kan di dal am tub byt ron ic super dom e, dit emu kan ter omp et ter let ak dit eng ahten gah tem pat tid ur par a tub bie s (li hat gamba r 4.1 0, tero mpe t ber ada di ten gah -ten gah , ant ara tem pat tid ur Dip sy dan Laa -Laa ). Kem unc ula nny a yan g aca k di sem ua tem pat , dit amb ah den gan ben tuk tid ak men col ok lay akn ya per kak as har ian , ter omp et tub byl and buk an fok us bag i pen ont on. Keb era daa nny a dis ada ri tap i kur ang men ari k dip erh ati kan . Dia mun cul seb aga i “ob yek ” yan g ber dir i sen dir i dal am tub byl and , sek ali gus mis ter ius . Ber keb al ika n den gan cir i-cir i yan g

dim ili kin ya, ter omp et tub byl and mem ili ki per an yan g ham pir sam a den gan nar ato r. Ter leb ih -leb ih lag i, sep ert i nar ato r, terom pet

mer upa kan sos ok den gan pen eka nan keh adi ran “su ara ” yan g sif atn ya men unt un. Bed any a den gan nar ato r yan g tid ak mem ili ki fis ik tam pak sam a sek ali , dia tet ap mem ili k keh adi ran fis ik, wal au sif atn ya ter bat as. Kar ena itu dib and ing den gan nar ato r yan g mun cul nya seb aga i “su bye k” yan g men gam bil jar ak dar i dun ia tub byl and , ter omp et men gam bil pos isi seb aga i bag ian wuj ud fis ik dar i kon tru ksi tub byl and . Lay akn ya “ob yek -

206

oby ek” lai nny a dal am Tel etu bbi es, dia ber per an seb aga i ton ton an bag i pen ont on Tel etubb ies , ter lih at ini seb aga i “ob yek ” pen gli hat an yan g

ima nen . Kei sti mew aan Tel etu bbi es. Seb aga i seb uah

tid ak dim ili ki “ob yek -oby ek”

lai nny a di

“su bye k”

sep ert i

nar ato r,

keb er[ ada ]an nya

seb aga i bag ian tat ana n dal am tub byl and ter let ak pad a car a bag aim ana dia men unt un kea daa n dal am ran gka ian uru tan per ist iwa . Dia mem ula i aca ra den gan ser uan: “Sa atn ya Tel etu bbi es! Saa tny a Tel etubb ies !

Saa tny a Tel etu bbi es! ” Ata u pad a akh ir aca ra dia mem per ing atk an pen ont on mau pun par a tub bie s: “Sa atn ya ber pis ah! Saa tny a ber pis ah !” Keb er[ ada ]an nya ada lah pen eka nan sek at -sek at wak tu, ber bed a den gan sif at keb ers ama an (uni ty) yan g mun cul dal am Tel etu bbi es, dia

men eka nka n pem isa han “sa at” dal am tub byl and den gan “sa at umu m” lai nny a, “ru ang vir tual” den gan “ru ang mat eri al” . Pad a sis i in i dia mem ber ika n kek hus usa n rua ng bag i tub byl and , sek ali gus men ekank an pos isi yan g sam a pen tin gny a den gan “sa at-saa t” lai nny a. Tub byl and men jad i “ja dwa l” yan g eks ak ada dal am pen gal ama n seh ari -har i. Di sin i mun cul par ado ks, ket ika tub byl and mun cul seb aga i rua ng dan wak tu yan g “kh usu s”, ber sam aan den gan itu dia had ir seb aga i bag ian dar i ren tet an rua ng dan wak tu yan g sam a den gan pen ont on. Dia tid ak dib eda kan lag i dar i “sa atn ya tid ur” , “sa atn ya mak an” , “sa atn ya bek erj a”, “sa atn ya non ton TV” dan “sa at -saa t” la inn ya. Seb aga i

ran gka ian “sa at” dal am sat u har i pen uh, tub byl and men gik at fok us per hat ian pen ont onn ya dal am keb ias aan , pol a, dan pro gra m yan g

207

ter jad wal di dun ia tub byl and . Tub byl and , mun cul dal am kes ada ran pen ont on seb aga i kes atu an rua ng dan wak tu yan g khu sus dan man dir i, sek ali gus men yat u dal am pen gal ama n. Sam a “ob yek tif nya ” den gan

sat uan -sat uan wak tu jam mek ani k dan “su bye kti f” sep ert i hal nya jad wal dan keb ias aan seh ari -har i yan g dis usu n ses eor ang . Sed ang kan ter omp et sua ra dan nar ato r terse but , pad a seg i ini , per ann ya sam a tra nse nde nny a den gan kon sep tuh an yan g dis usu n ora ng Yah udi dal am Alk ita b. Buk an han ya kar ena keb er[ ada ]an nya yan g

abs tra k, nam un per ann ya dal am mem ber ika n spe sif ika si rua ng dan wak tu sam a sep ert i Tuh an Yah udi yan g men eta pka n har i Sab tu ata u Min ggu seb aga i “Sa atn ya har i Tuh an” . Sep ert i Tuh an, ter omp et mau pun nar ato r tid ak han ya ber dir i di “at as” mem ber ika n pem bat asa n-pem bat asa n sat uan rua ng dan wak tu, nam un jug a “be rbi car a” den gan pen ont on dan par a tub bie s. Pen gal ama n ima nen aka n keb era daan ter omp et dan nar ato r

seb aga i “su bye k” yan g had ir di lua r “di ri” par a tub bie s dan pen ont on, mem ber ika n per an kon tra dik tif pad a sif at tra nse nde n dal am kas us seb elu mny a. Sek ara ng dia had ir seb aga i “sa at” , seb aga i bag ian

tub byl and . Sec ara “fi sik ” dia tet ap tid ak ter pis ah dar i pen ont on, mel alu i “su ara ” dia had ir ber sam a dal am “ru ang an mat eri ”. Ber sam asam a den gan tub byl and kin i tid ak lag i dia lam i sec ara “su bye kti f” dal am nar asi , mel ain kan nar asi seb aga i bag ian dar i tub byl and . Tid ak sep ert i seb elu mny a, “ob yektiv ita s” tub byl and buk an dia dak an mel alu i sat uan “sa at-saa t” bel aka , mel ain kan sek ara ng dia mem ili ki sif at tra nse nde n

208

sep ert i “ru ang mat eri ”. Pen ont on seb aga i “su bye k” men jad i bag ian dar i keb er[ ada ]an “ob yek tif ” ter seb ut. Pen gal ama n ima nen ini men unt un penont on -pen ont on Tel etu bbi es men uju tub byl and , men gal ami dun ia “tu bby lan d” seb aga i pen gal ama n sej aja r den gan “du nia mat eri ”. Ked ua car a ker ja nar ato r dan ter omp et ter seb ut, buk an

per bed aan yan g ter pis ah. Ked uan ya mer upa kan sis tem tek nol ogi yan g mem pro duk si mel alu i ser ang kai “fo kus ” dan “ob yek tiv ika si” unt uk

men gha dir kan pen gal ama n, rua ng, “sa at” atau wak tu dal am jum lah tak ter bat as dan dap at dil ipa t gan dak an ter us men eru s. Bag i pen ont on mau pun par a tub bie s, wak tu dan rua ng Tel etu bbi es sif atn ya tid ak mut lak wala upu n dir asa kan “ri il” . Par a tub bie s bis a men gul ang kem bal i set iap ade gan yan g dis uka i dan dii ngi nka n unt uk diu lan g. Jik a mer eka men gat aka n, “La gi! Lagi! Lag i!” Mak a ade gan ata u atr aks i yan g mun cul diu lan g kem bal i sam a per sis sep ert i seb elu mny a. Cir i ini se kal igu s men jad i car a Tel etu bbi es men unj ukk an ker ja tek nol ogi lay ar seb aga i bag ian dar i pen ont on men gal ami dun ian ya: “We hav e som e evi den ce of how chi ldr en res pon d to see ing thi ngs aga in and aga in. A ver y you ng chi ld can use vid eos to rep eat a sec tio n of a pro gra mme ove r and ove r aga in. It’ s par t of Tel etu bbi es” fun cti on to enc our age chi ldr en to bec ome scr een lit era te: it” s goi ng to be a wor ld of scr een s rat her tha n pag es whe n the y gro w up. ”292 Cir i pen gul ang an pen gal ama n vir tua l lay ar buk anl ah ses uat u yan g ber dir i seb aga i fun gsi di lua r car a pen ont on par a tub bie s tap i ada lah bag ian dar i car a dan keb utu han pen ont onn ya:

292

Andrew Davenport, teletubbies17.html

FAQ,

online

document:

http://www.ragdoll.co.uk/teletubbies/

209

“Chi ldr en nee d to loo k at thi ngs muc h mor e tha n adu lts . Our for mat ena ble s the m to lis ten and wat ch; the y nee d to see thi ngs ove r and ove r again . It’ s one of the rul es of pro duc ing the pro gra mme tha t the Tel etu bbi es app ear to pla y spo nta neo usl y, in the way tha t chi ldr en do.” 293 Mel alu i kem udi an pen gul ang an, kem bal i “ob yek -oby ek” dal am sik lus mun cul , hil ang dan

mun cul

yan g

ber tau tan

den gan

keb er[a da] “su bye k” pen ont on dan par a tub bie s. Sed ang kan ant ara par a tub bie s den gan pen ont on mem per ole h jal ur ind ent ifi kas i di ant ara ked uan ya. Sep ert i par a tub bie s, par a pen ont on ket ika mem fok usk an “di ri” pad a “ru ang ” dan “wa ktu ” dal am Tel etu bbi es men tau tka n

keb er[ ada ]an nya den gan keb er[ ada ]aa n “ob yek -oby ek” dal am tub byl and . Wal aup un dem iki an, par a tub bie s tid ak sel alu mun cul seb aga i “su bye k” yan g sej aja r den gan pen ont on, ada kal any a par a tub bie s mun cul seb aga i “ob yek ” ton ton an. Seb aga i “ob yek ” ton ton an, par a tub bie s ada lah kel omp ok sos ial ber cir i tek nol ogi s dal am wuj ud yan g org ani s.

5 . T u b uh , p s i k i s d an t i n g k a h l a k u t u b b i e s Sec ara sos iob iol ogi s, par a Tub bie s ada lah sat uan spe sie s spe sif ik dal am pol a rel asi dan ben tuk tub uh ses uai den gan kon tru ksi sem est a tek nol ogi yan g men g[a da] dal am tel etu bbi es. Wuj udnya ada lah pen era pan mod el amp hib ian mek a[o rga ]ni k dal am fis ik yan g tam pak sec ara ind era wi, ata u dis ebu t jug a seb aga i aut oma ton .

293

Anne Wood, Ibid., loc.cit.

210

Ses uai den gan kat a tub bie s yan g dal am bah asa Ing gri sny a ber art i “ge muk ” dan pen dek” 294, par a tub bie s mem ili ki tub uh yan g tam bun dan cen der ung mel eba r den gan pro pos ion al tub uh mel eba r di per ut dan pin ggu l. Per ban din gan ant ara kep ala , dad a, per ut/ pin ggu l, pah a dan kak i ber ada pad a ras io ant ara 3:2 :4: 3:2 . Sel ain per ut, kep ala ada lah dae rah pal ing men onj ol. Bag ian kep ala mer upa kan tem pat par a tub bie s mel aku kan kon tak sos ial di ant ara mer eka sen dir i, mau pun kon tak dal am ben tuk sin yal -sin yal ele ktr oni s yan g dip anc ark an “ki nci r ang in aja ib” (mag ic win dma il ). Ben tuk kep ala par a tub bie s, bul at, sep aru h ter bun gku s ole h

pak aia n yan g men yat u den gan tan pa ada pem isa han mem bun gku s sel uru h bad an. Waj ah ada lah bag ian yan g ter buk a dan men amp akk an mat a yan g bul at, hid ung , mul ut dan tel ing a. Dib and ing den gan hid ung dan mul ut, mat a dan tel ing a par a tub bie s men dud uki pro por si yan g leb ih lua s. Mul ut tub bie s wal aup un cukup leb ar, tid ak mem ili ki ger ak len tur , ber bed a den gan mat a par a tub bie s yan g mem uta r -mut ar den gan beb as. Dan hid ung ada lah ind era yan g pal ing min or dal am tub bie s ber law ana n den gan uku ran tel ing a tub bie s yan g men yam ai pan jan g kep ala nya . Kec end eru nga n dom ina si mat a dan tel ing a dal am waj ah par a tub bie s, men gga mba rka n pen onj ola n ind era ter ten tu dib and ing ind era ind era lai nny a. Ind era tak til (se ntu h) par a tub bie s jus tru ter bun gku s sel uru hny a ole h lap i san pak aia n yan g han ya ter buk a pad a waj ah. Waj ah, den gan dem iki an, men dud uki sua tu por si yan g pen tin g dal am

294

Lihat kembali catatan kaki no. 230. Dalam pengertian tertentu, “gemuk” dan “pendek” memiliki makna sebagai bentuk lanskap horisontal. Bentuk lanskap horisontal merupakan model bentuk yang biasanya digunakan dalam layar.

211

kes elu ruh an tub uh par a tub bie s, sel ain ant ena dan lay ar di per ut. Waj ah ada lah ala t sos ial isa si par a tub bie s, yan g ber lak u di kal ang an mer eka sen dir i dan ber lak u jug a den gan pen ont on. “Ma ta” dan “te lin ga” , sec ara kha s men unj ukk an sel eks i per hat ian dal am kon tak sos ial ant ara

tub byl and den gan dun ia pen ont on mel alu i tek nol ogi lay ar. Tub byl and , men gik uti pen eka nan sel eks i per hat ian ada lah dun ia yan g dik ontru ksi sec ara spe sif ik mel alu i ran ah “pe ngl iha tan ” dan “pe nde nga ran ”. Seb aga i fun gsi tek nolog i lay ar, dit unj ukk an sec ara lua s pad a kes elu ruh an tub uh para tub bie s. Den gan lay ar di per ut dan ant ena di kep ala , par a tub bie s tid ak ber bed a den gan tel evi si yan g berg era k dan hid up. Sul it mem bed aka n, apa kah par a tub bie s ada lah org ani sme yan g mem ili ki cir i tek nol ogi s ata u tek nol ogi yan g mem ili ki kar akt er biolo gis . Ant ara aut oma ton dan oto mat ism e, sek ara ng tid ak lag i mem ili ki

per ten tan gan di dal am tub uh tub bie s. Kar ena itu tub uh par a tub bie s mem ili ki kem amp uan men jal in kon eks i den gan tek nol ogi -tek nol ogi lai nny a dal am tub byl and . Lay ar di per ut par a tub bie s, ber fun gsi sim etr is den gan ari-ari di per ut bay i jik a ber kon tak den gan ibu nya dal am kan dun gan , dal am hal ini tub byt ron ic ada lah ibu bio log is/ tek nol ogi sny a. Tub bie s men eri ma sin yal -sin yal dar i pem anc ar mel alu i anten any a, sep ert i mes in men eri ma per int ah jar ak jau h. Sed ang kan , pos isi nya seb aga i ind ivi du -ind ivi du yan g ber dir i

sen dir i, par a tub bie s jus tru men amp ilk an mer eka mem ili ki kar akt eri sti k pri bad i yan g kha s dan ber bed a ant ara sat u den gan lai nny a. Mer eka dib eri pem bed a dal am nam a, war na, tin ggi bad an, keb ias aan hin gga

212

sif at-sif at khu sus . Den gan kat a lai n, mer eka mem ili ki “ke pri bad ian ” dal am dir iny a (li hat tab el 1.1 ). Para tub bie s “un ik” seb aga i “in div idu ”, ber bed a den gan pen gam bar an kla sik ten tan g mes in yan g sel alu ser aga m, tid ak mem ili ki ind ivi dua lit as, apa lag i kep rib adi an. Dal am hal ini , sej auh man a per bed aan tub bie s ber lak u seb aga i “ke pri bad ian ” yan g man dir i? Seb aga i con toh , set iap mel aku kan keg iat ann ya par a tub bie s sel alu did ahu lui sua ra nar ato r ada lah fak tor “su bye kti f” yan g mun cul di bal ikn ya. Sua ra nar ato r tid ak han ya men jel ask an apa yan g ter jad i,

mel ain kan jug a men unt un sel uru h aks i par a tub bie s dal am ker ang ka nar ati f. Dal am seb uah epi ode nya , Laa -Laa dud uk di seb uah pad ang rum put . Ket ika sua ra nar ato r men yeb ut, “La a-Laa mem bac a buk u.” Spo nta n Laa -Laa menir u, “La a-Laa sed ang mem bac a buk u” sam bil

men gam bil buk u dan ber lag ak sia p mem bac any a.

TABEL 4.1 Matriks karakteristik perbedaan penampakan wujud fisik, kepribadian, 295 kebiasaan dan pergaulan antara para tubbies. Nama Warna pembeda Urutan tinggi badan Bentuk antena Barang kesukaan Tinky Winky ungu Dipsy hijau Laa-Laa kuning Po merah

1 (tertinggi) Segitiga terbalik Tas Jinjing merah

2 Garis vertikal Topi hitamputih

3 Garis Spiral Bola berwarna jingga

4 (terendah) Lingkaran Scooter berwarna merah dan tambahan warna biru "Fi-dit, fi-dit, fi-dit, fi-dit." dan "Mar, mar, man"

Lagu yang dinyanyikan

"Pinkle winkle, Tinky Winky, pinkle winkle, Tinky Winky"

"Bup-a-tum, bup-a-tum, bup-a-tum"

"Laa-laa-lilaa-laa-li-laali-laa"

295

Data ini disusun dari berbagai sumber dari website internet ditambah dengan observasi langsung penulis dari film.

213

Gerakan yang disukai

Berjalan, berbaris, menari, berguling Pendiam, selalu bersikap “dewasa”, gerakan tubuhnya lebih terkontrol.

Karakter kepribadian

Menari, berjalan dengan gaya santai dan flamboyan Selalu mencoba bersikap “dingin” (cool), walaupun tidak menutupi rasa sayangnya pada para tubbies lainnya.

Menari, memainkan gerakan kaki, menyanyi Penggembira, manja, selalu menanyakan keberadaan tubbies lainnya jika dia sendirian, suka memberi komentar “bagus”, namun kalau sedang berpikir akan mematung diam. Dipsy perempuan Kuning

Menari dan menyanyi

Selalu tampak bersemangat, gembira, penuh antusiasme, membikin kejutan, penuh rasa ingin tahu, suka mengamati tombol-tombol pada kontrol panel.

Teman akrab Jenis kelamin Warna kulit

Po Laki-laki Putih

Laa-Laa Laki-laki Coklat

Tinky Winky Laki-laki Putih

Kee ksi san nya

seb aga i “La a -Laa ” tid ak diten tuk an

kes ada ran

“su bye kti f”n ya. Saa t Laa -Laa ber kat a, “La a-Laa sed ang mem bac a buk u” seb ena rny a “La a-Laa ” yan g dis ebu t ada lah “ob yek ” bag i dir iny a sen dir i. Den gan dem iki an, “Laa-Laa ” yan g akt if mer upa kan kes ada ran ter pis ah dar i kes ada ran “su byekt if” dir iny a, nam un dia kui seb aga i “di rin ya” . Ber sam aan den gan itu , ada kes ada ran lai n yan g dia kui nya seb aga i bag ian dar i kes ada ran dir iny a yan g men ent uka n fok us per hat ian unt uk Laa -Laa . Kar ena itu , bai k Laa-Laa dan par a tub bies lai nny a, wal au mem ili ki kar akt er kha s dal am dir iny a, tap i tet ap ber jal an dal am ke ran gka nar asi yan g men gik at keb er[ ada ]an mer eka dan “ob yek ” lai n dal am sat u jal ina n. Par a tub bie s, dal am kas us ini , ter ika t pad a cir i kar akt eri sti k yan g sam a. Mer eka sem ua gem ar ber pel uka n, mer eka jug a suk a men ari .

214

Mer eka sem ua sel alu bah agi a, tid ak ada permu suh an ant ara mer eka , tid ak ada pen der ita an, kes edi han , dan waj ah mer eka mes ki ram ah sel alu tam pak dat ar -dat ar saj a tan pa gej ola k emo si: “Tel etu bbies are

ext rem ely goo d rol e mod els . The y’r e ver y act ive . The y’r e ver y soc ial ; the y lov e eac h oth er; the y sup por t eac h oth er; the y app roa ch

eve ryt hin g wit h ent hus ias m and wit h cur ios ity ; the y are ext rem ely pos iti ve.” 296 Tid ak ada sif at neg ati f, tid ak men yen ang kan ata u

men yed ihk an dal am dir i mer eka , kar akt er mer eka ber sih tan pa cac at, lug u tan pa kel ici kan . Tid ak ada pro tes atau kec ewa ket ika sal ah sat u dar i mer eka dip ili h sec ara aca k men jad i fok us, yan g lai n iku t

ber gem bir a. Mer eka men ung gu den gan sab ar gil ira n mas ing -mas ing , men gan tri . Mer eka “pr odu k” sem pur na dar i sis tem yan g bek erj a

men yus un tub byl and seb aga i “du nia ide al” . Sem ua pol a kar akt er ber bed a yan g ter seb ar dal am dir i par a tub bie s dik ont ruk si ata s per sam aan kar akt er ini , seh ing ga per bed aan per bed aan ter seb ut tid ak men yim pan g dar i kar akt er sem pur na yan g men gak iba tka n ket ida kte rat ura n ata u kec aca tan . Dan yan g leb ih

pen tin g, di sel uru h tub byl and , han ya ada emp at tub bie s yan g sel uru h keb utu han nya ter cuk upi den gan bai k dal am tub byt ron ic sup erd ome . Kee mpa tny a mem ili ki keu nik an yan g sem u, dan sel alu dal am sat u ika tan dal am keb ias aan “be rpe luk an” . “Be rpe luk an” ada lah keg iat an den gan pen eka nan pad a kes ena nga n, keh ang ata n dan jau h dar i sif at mem aks a. Mem ber ika n ked eka tan fis ik sek ali gus afe ksi , dan men cer min kan

296

Andrew Davenport, FAQ, online document: http://www.ragdoll.co.uk/teletubbies/progr_ teletubbies194.html

215

keh ang ata n. Ter uta ma lag i, dia ada lah ket eri kat an dan ket era ngk aia n dal am sat u jal ina n yan g suk are la dan menyen ang kan . Saa t kee mpa t tub bie s pel uka n ber ama i-ram ai, mer eka mem ben tuk lin gka ran di

ten gah nya di man a mer eka sal ing ber had ap -had apa n. Ant ena di kep ala sal ing men yen tuh sat u sam a lai n, beg itu jug a lay ar di per ut bun cit mer eka . Mer asa kan keh adi ran sat u sam a lai n, buk an “di ri ” yan g

ter pis ah-pis ah, mel ain kan sat uan rea lit as yan g sal ing men gik at. Pen gal ama n pel uka n mel ing kar yan g dil aku kan ber sam a-sam a ada lah kon tru ksi kei khl asa n ind ivi du-ind ivi du ber bed a-bed a unt uk

men jal in kon eks i yan g sal ing men gik at sat u sama lai n. Dia tid ak mem aks aka n keb ers ama an ata u kes era gam an pad a ind ivi du, mel ain kan ind ivi du-ind ivi du dil ahi rka n unt uk men tau tka n sem ua dal am sat u jal ina n seo lah -ola h “ta npa kek uas aan ”. Keb ers ama an par a tub bie s dal am

sim bol “be rpe luk an” , mer upa kan cir i penga lam an yan g men yebab kan keh adi ran “ke sad ara n” lai n dia kui seb aga i kes ada ran dir iny a, tid ak dil iha t seb aga i pem aks aan . “Pa ra tub bie s seo lah -ola h bis a “me nol ak” nar asi yan g dib uat narat or. Pad a set iap akh ir aca ra, Nar ato r men gaj ak par a tub bie s “be rpa mit an” . Den gan ber hit ung , “sat u,” mak a sal ah sat u tub by men gik uti nya , “sat u.” Set ela h itu tub by itu meg hil ang di bal ik sem ak-sem ak. Beg itu jug a unt uk hit ung an “dua”, “tig a” dan “emp at”, ber uru tan tub bie s yan g lai n men gik uti hit ung an itu dan men gik uti jej ak tem an ya. Kej uta n mun cul , ket ika par a tub bie s tib a-tib a mun cul kem bal i dar i bal ik sem ak-sem ak sam bil ter taw a-taw a. Ses aat , apa yan g

din ara sik an ole h nar ato r dit ola k ole h par a tub bie s. Wal aup un dem iki an

216

san g nar ato r tid ak mel aku kan sua tu aks i kek era san pad a par a tub bie s aga r men uru ti nar asi yan g dib uat . Seb ali kny a, nar ato r han ya ber kat a den gan kec ewa , “Oh, tid ak. ..” Mak sud nya , buk an itu yan g dii ngi nka n nar ato r. Nar ato r han ya men unj ukk an ket ida kse tuj uan , has iln ya par a tub bie s sec ara ser ent ak men gik uti kat a nar ato r, “Oh, tid ak. ..” Set ela h itu , nar ato r men ghi tung kem bal i dar i awa l, dan pro ses ser upa ter ula ng kem bal i. Kal i ini par a tub bie s mem aha mi kei ngi nan nar ato r leb ih bai k, dan aca ra pun dit utu p den gan lan car . “Pe mbe ron tak an” kec il dan nak al dit unj ukk an ole h par a tubb ies , ing in men unj ukk an mer eka mem ili ki “ke man dir ian ” dar i mod era tor . Mer eka tid ak men ola k nar ato r ata u ter pak sa men gik uti nar asi dal am Tel etu bbi es, seb ali kny a mer eka men jal ani nya den gan “be bas ” ses uai den gan kei ngi nan nya . Yan g mer eka kha wat irk an ada lah “ke kec ewa an” dar i nar ato r, mer eka ada lah spe sim en yan g sel alu bah agi a tanpa ada pah am pen ola kan . Mer eka hid up unt uk “pe ner ima an” dan keb utu han aka n “ke han gat an” . Sua tu kar akt eri sti k yan g mew arn ai keb uda yaa n mas sa ber bas is tek nol ogi lay ar dan men jad i cir i masy ara kat

kon tem por er.

D. EL AB OR AS I TE M UA N- TE MU AN

Sem est a Tel etu bbi es ber ger ak sec ara rot asi ona k dan spi ral mel alu i dua mod us; Per tam a, mod us ber lan gsu ng den gan men gik at per hat ian

“su bye k” ata s seb uah “ob yek ”, ked uan ya ter sin kro nis asi seb aga i seb uah fok us. Sed ang kan fok us buk anl ah oby ek tun gga l yan g men eta p, nam un

217

ter u dir epr odu sir dal am ber aga m wuj ud. Dal am kea daa n ter fok us, hub ung an ant ara “suby ek” dan “ob yek ” men gal ami pen yusut an.

“Su bye k” tet ap mer asa “ob yek ” seb aga i bag ian yan g ber dir i sen dir i, tet api jug a mer upa kan bag ian dar i dir iny a. “Ob yek ” ber ada dibaw ah pen gaw asa n dan kek uas aan “su bye k”, tap i seo lah -ola h bek erj a sec ara man dir i di lua r kua sa “su bye k”. Seb ali kny a, “su bye k” men gal ami pro ses pen yes uai an, asi mil asi dan sin kro nis asi den gan keb er[ ada ] an oby ek, beg itu jug a den gan “ob yek ” yan g sem aki n har i dit ari k ke dal am

kon str uks i yan g ram ah unt uk “su bye k”. Ked ua , Ket ika rel asi ant ara “ob yek ” dan “su bye k” ber ada dal am ika tan psi kis , ber sam a den gan “su bye k-sub yek ” lai nny a, sem uan ya

mel uas dan men yat u seba gai sem est a tat ana n “ob yek -oby ek” bar u yan g leb ih lua s dan mak ro. Bai k “su bye k-sub yek ” mau pun “ob yek ”, kin i ada lah seb uah kes atu an yan g din ila i seb aga i “ob yek ” mau pun “su bye k” mas sal yan g mut lak dan men yel uru h. Seb aga i “ob yek ”/” sub yek ”,

kes atu an glo bal ter seb ut kem bal i ter ika t pad a sat uan lai n di lua rny a yan g men jad i “ob yek ” fok us, fun gsi nya seb aga i “su bye k” did efi nis ika n ula ng dal am rel asi arb rit asi den gan sat uan opo sis ion al lai n di lua r dir iny a. Pro ses yan g ter jad i pad a mod us per tam a mul ai ter ula ng

kem bal i, kem udi an ber lan jut lag i pad a mod us ked ua, dan ter us men eru s men gal ami “pe nyu sut an” dan “pe leb ara n” sem est a fen ome n. Mel alu i dua mod us mek ani sme ger ak ini , dun ia tek nol ogi lay ar dal am Tel etu bbi es men gik at “du nia mat eri al” di lua rny a yan g

mer upa kan par tik el dar i sif at keb er[ ada ]an nya seb aga i fok us. Kar ena itu , wal au “ob yek-obyek nya ” mem ili ki cir i art ifi sia l, dap at mem baw a

218

pen ont onn ya pad a sua tu kon tru ksi kes ada ran yan g mem ili ki nil ai -nil ai rii l sep ert i; keb aha gi aan , keb ers ama an (un ive rsa lit as) dan keb ebasa n. Nil ai -nil ai ini mem ili ki kar akt er ban gun an ter ika t dal am tek nol ogi kes ada ran mel alu i sin kro nis asi , dir asa kan “ad a” dal am sem est a rel asi “ob yek ” dan “su bye k” tub byl and . Seh ing ga, sin kro nis asi ada lah ger ak men uju “ni hil ist ik” jar ak ant ara “su bye k” dan “ob yek ” fok us. Ger ak ser upa den gan bay i dalam rah im Ibu . Tek nol ogi lay ar sek ara ng ada lah rah im “ib u” bar u, yan g

men ghi lan gka n kon tak kit a den gan rah im pra -sad ar. Dar i ibu bio log is kit a ber ali h pad a “ib u” tek nol ogi dan tid ak mem ili ki ket erb ata san sep ert i sebel umn ya. Dal am tah ap ini sin kro nis asi kem bal i ter jad i, tid ak sec ara ins ede nti l sep ert i pad a kon sep si, tap i dii ngi nka n den gan sen gaj a dan did eka ti tan pa pak saa n. Sek ara ng, tek nol ogi jug a mem ili ki karak ter org ani s dan mer upa kan bag ian dar i pem enu han imp uls -imp uls

ket ida ksa dar an. Dia ber ada dal am ket ida ksa dar an seb aga i bag ian dar i “su bye k”, dan men jad i pem bat as bag i kes ada ran . Bai k apa kah dal am pem bat asa n “ru ang ” dan “wa ktu ” mel alu i pro duk si “sa at” , mau pun dal am pem bat asa n ide olo gis seb aga i pro dus en dar i ken ikma tan ,

uni ver sal ita s mau pun keb eba san . Den gan das ar ker ang ka ini , Tel etu bbi es ada lah pro gra m yan g mem per sia pka n gen era si unt uk men jad i war ga dar i “Du nia Bar u”. Dun ia dal am ker ang ka acu an sep ert i dun ia dal am tub byl and ; pem bau ran ant ara cir i mek ani k dan org ani k dal am mek ani sme oto mat is dan aut oma ton; den gan pen gas ing an aks i dar i tub uh dan jiw a ser ta jiw a dar i tubuh dan aks i; dan lah irn ya bay i -bay i tek nol ogi yan g hau s aka n sos ial isa si, nil ai -

219

nil ai uni ver sal ; ber gem bir a dan bah agi a dalam keb ers ama an sem u; dan ter leb ih-leb ih ket aku tan unt uk dit ola k dan dia sin gka n dar i per gau lan mas yar aka t dun ia ada lah kek uat an yan g men unt unn ya unt uk men eri ma sat u fok us ber sam a. Nam un buk an kom uni kas i int ens sec ara lan gsu ng ant ara mer eka yan g mel ahi rka n keb utu han ter seb ut, mel ain kan mel alu i per hat ian ata u fok us yan g mem ber ika nny a ima jin asi keb ers ama an.

Sel uru h keb ers ama an, keb aha gia an dan keb eba san dal am tub byl and ata u scr een lan d ter let ak pad a int era ksi sec ara ber bar eng an ant ari ndi vid u ket ika fok us mas sal ter jad i: “si nkr oni sas i kolek tif ”. Dan , ket ika nar ato r dal am Tel etu bbi es yang pad a set iap akh ir aca ra sel alu men guc apk an kat a: “Ma tah ari mul ai ten gge lam , Tel etu bbi es ber pam ita n,” fok us ter seb ut kin i len yap dar i pen amp ila n seb aga i

“ob yek ” ter pis ah dan man dir i. Tel etu bbi es seb aga i sal ah “pu sat lok al” mek ani sme ker ja tek nol ogi lay ar had ir seb aga i pol a-pol a dal am

ket ida ksa dar an dan men unt un mer eka sem ua ke ara h seb uah kon tru ksi sej ara h mas a dep an yan g “ob yek tif ”, “pa sti ” dan “na rat if” dir asa kan seb aga i ano mal i rua ng dan wak tu: Tom mor ow com es tod ay 297.

297

Istilah yang terdengar kontradiktif ini sebenarnya merupakan salah satu slogan yang muncul dalam era cyberspace sebagai gambaran tentang anomali waktu yang terjadi akibat koneksi yang terjalin oleh fokus layar di mana “ruang” dan “waktu” bergerak dalam mekanisme penyusutan dan pelebaran kesadaran. Gorillaz, salah satu kelompok musik tekno yang menggunakan tokoh animasi sebagai komposisi anggotanya, pernah menulis sebuah lagu dengan judul Tommorow comes today. Sebagian bait lagu tersebut dikutip di bawah: “Everybody's here with me (we) Got no camerad to see Don't think tomorrow will in this world The camera won't let me go And the verdict doesn't love our soul The digital won't let me go Yeah yeah yeah I'll pay (yeah yeah yeah) When tomorrow Tomorrow comes today” [...]

220

BAB V REFLE KSI

A. LA YA R -LA YA R MI LI K NE GA RA
1 . Pe m i m p i n “ d i d al a m ” l a y a r d a n “ d i b e l a k a n g ” l a y a r Kem bal i pad a kis ah per jal ana n Gol a Gon g men gel ili ng Asi a. Sek ita r akh ir 199 1, Gon g mem asu ki Pat tan i, Tha ila nd, mel alu i jal an dar at dar i Mal aysia. Di Pat tan i Gon g men catat pen gal ama nny a di dal am ged ung bio sko p:

“Setelah pemutaran ekstra dan iklan, tiba-tiba semua penonton berdiri.

Beberapa saat aku bingung juga. Pada ngapain, mereka? Aku pikir ada waktu istirahat seperti di bioskop-bioskop murah di Indonesia. Tapi begitu di layar ada raja mereka, King Rama IX, Bhumipol Abdulyadey, dan Lagu Raja, aku baru paham. Buru-buru aku berdiri, karena 298 penonton di kiri-kananku pada menoleh. ”

Kon tra s den gan saa t-saa t di man a “me ras aka n” dan kea daa n lar ut dal am hir uk pik uk pen ont on di Ind ia, kin i Gon g men gal ami sit uas i yan g ter asa asi ng ole hny a. Di Bio kop Pat tan i, Gon g tid ak men ikm ati sua san a sep ert i pad a bio sko p Ind ia, seb ali kny a yan g mun cul ada lah ke-“bi ngu ng”-an. Dal am “ke bin gun gan ”-nya , Gon g men dap at i pen ont on di sek ita r men ole h pad any a dan men gawas i. Ber bed a den gan pen ont on bio sko p 21 di

298

Ibid 1. op. cit., hal. 30.

221

Ind one sia ata u Ind ia yan g mem bia rka n Gon g mel aku kan tin dak an apa saj a asa l tid ak men gga ngg u per hat ian pen ont on lai nny a, ora ng-ora ng Pat tan i tid ak mem ber ika n alt ern atif pil iha n lai n sel ain men gik uti tat a car a ser imo nia l bak u ter seb ut. Tak ter kec ual i, yan g mer eka tun tut dih orm ati ada lah “Ra ja mer eka ”, yan g tid ak ter mas uk “Ra ja” -nya Gon g. Di bio sko p Ind ia, tid ak ada tun tut an bag i Gon g unt uk men ari dan ber nya nyi ber sam a mere ka. Beg itu jug a, di bio sko p 21, tid ak ada yan g mem aks a Gon g unt uk men yim ak dan men ikm ati set iap ade gan fil m. Pen ont on lai n, dal am hal ini , han ya dih ara pka n jan gan men gga ngg u kon sen tra si pen ont on lai nny a. Seb ali kny a pad a sit uas i ber bed a, yan g dit unt ut oleh pen ont on bio sko p di Pat tan i ada lah seb uah “ti nda kan ” waj ib dan har us dii kut i ole h sua tu aks i lan jut an. Yan g per tam a, “di ri” dan “tu buh ” dib iar kan men gur ung dir i den gan pil iha n-pil iha nny a seb aga i ind ivi du, den gan res iko ter iso las i dar i pub li k. Sed ang kan , pad a kea daa n yan g ked ua, “di ri” dan “tu buh ” dip aks a men gik uti sua tu atu r[an] di man a ada kek uas aan lai n yan g sec ara “ta tap muk a” mem ber ika n

ins tru ksi lan gsu ng. Jad i, ada dua tip e reg ula si mas sa yan g ber bed a, yai tu; per tam a, mas sa yan g ter med ias i sec ara tida ksa dar dan oto mat is ole h seb uah fok us ber upa lay ar. Sed angka n pad a tip e ked ua, mas sa dig era kka n ole h seb uah kek uas aan lai n den gan tun tut an aka n kes era gam an tin dak an. Wal aup un sam a-sam a ter jad i dal am ged ung bio sko p, ked ua tip e

org ani sas i mas sa ter seb ut ber bed a kar akt er ole h kar ena had irn ya sua tu int eve nsi , yai tu fot o “Sa ng Raj a” yan g mun cul di lay ar. Leb ih spe sif ik

222

lag i, tun tut an unt uk “se rag am” ini dik ait kan den gan sat u kek uas aan oto rit as yan g mem aks a. Pem unc ula n seb uah sos ok oto rit as yan g mem ili ki kek uasa an

mem aks a dal am lay ar mem ang buk an seb uah hal yan g bar u. Unt uk Tha ila nd, ser emo nia l ser upa ada lah tra dis i nas ion al. Bag i ora ng asi ng sep ert i Gon g, ser emo nia l ter seb ut dap at men imb ulk an per asa an gag ap, gam ang dan sal ah tin gka h299. Leb ih lua s lag i, pem unc ulan fen ome na ini buk an han ya di Tha ila nd. Di Ind one sia “la gu-lag u waj ib nas ion al” , sep ert i Ind one sia Raya , set iap har i dan rut in dit aya ngk an seb aga i pem buk a sia ran sua tu sal ura n tel evi si dan pad a pen utu p aca ra

dil eng kap i ole h lag u lai nny a 300. Ata u di Ing gri s, pen yan yi pop yan g man ggu ng men utu p acara nya den gan lag u “God Sav e the Que en ” dan per tun juk kan aca ra ola hra ga ant arn ega ra sel alu mem ula i ata u men utu p aca ra den gan lag u keb ang saa n pul a. Fen ome na mun cul nya kek uas aan neg ara dan nas ion ali sme dal am lay ar mem be rik an gam bar an bet apa pen tin gny a tek nol ogi lay ar bag i kep ent ing an sua tu neg ara . Nam un, sej auh man a car a ini efe kti f mem anf aat kan tek nol ogi lay ar seb aga i ala t kon tro l mas ih mer upa kan per tan yaa n bes ar. Ken dat i dem iki an, cir i -cir i ini mem ber ika n dim ens i kek ua saa n neg ara dal am usa han ya men gat ur, men gel ola , dan men gar ahk an mas sa unt uk sua tu kep ent ing an nas ion al,

299

Gong sendiri mendefinisikan perasaan tersebut sebagai: shock culture (Ibid., hal. 29). Berkebalikan dengan layar di bioskop India di mana “batas-batas” perbedaan kultural mendadak terasa lenyap, kehadiran seremonial menghormati sosok Raja di Thailand justru menyebabkan kuatnya kehadiran perbedaan kultural. Ada “Raja mereka” yang harus ikut dihormati oleh seseorang yang bukan rakyatnya. Beberapa televisi swasta berusaha meninggalkan tradisi ini, namun sebagian lainnya bersama dengan TVRI masih melakukan seremoni tersebut.

300

223

ser ta men cip tak an int erv ens i kep ent ing an yan g sep int as di ata s tam pak ber ten tan gan dan ber bed a den gan pol a-pol a dal am tek nol ogi lay ar. Bag i Suk arn o, pre sid en per tam a Ind one sia , di sam pin g ber gun a seb aga i ala t pro pag anda neg ara , lay ar mem lik i fun gsi lai n: “ Kadang-kadang aku duduk seorang diri, atau djuga kalau aku
berhadapan dengan orang-orang jang aku tahu dasarnja munafik (aku tjukup sering bertemu dengan orang-orang demikian) aku bertanya dalam hati: Apa jang membikin mereka membandel dan berkepalabatu? [...] Apakah mereka mengira bahwa bahwa apa-apa jang mereka utjapkan didepan umum itu tidak sampai ketelingaku? Apakah mereka mengira aku tidak membatja koran, tidak mengikuti siaran-siaran Radio dan Televisi? Apakah mereka mereka mengira bahwa apabila mereka main bisik-bisik dan pas-pis-pus dalam pertemuan-pertemuan jang konspiratif, tidak ada diantara jang diajak konspirasi itu jang setia 301 kepada Pemimpin Besar Revolusi, dan melaporkan segala sesuatu. ”

Bag i San g Pem imp in Bes ar Rev olu si Ind one sia , tel evi si, rad io dan kor an ber sam a-sam a den gan lap ora n int eli jen mer upa kan str ate gi pen gaw asa n ger ak-ger ik ter had ap aks i-aks i “ko ntr a-rev olu si” , bai k di rua ng pub lik mau pun yan g tid ak ter sor ot. Ked uan ya mer upa kan kes atu an strat egi pen gaw asa n: med ia pen yia ran unt uk pen gaw asa n pen yia ran dan

per cak apa n di rua ng ter buk a, sed ang kan lap ora n int eli jen mem ant au ger aka n-ger aka n dal am rua ng ter tut up. Dal am kon tek s ini , medi a pen yia ran ala t bag ian dar i str ate gi kon tro l sos ial ole h neg ara . Kar ena nya , med ia har us ber pih ak pad a sal ah sat uny a, men jad i bag ian dar i ide olo gi rev olu sio ner “NA SAK OM” 302 ata u

301

Pidato Amanat Presiden/Panglima Tertinggi Besar Revolusi PROF. Dr. Ir. H. Sukarno pada tanggal 17 Agustus 1964, TAVIP: Tahun Ber-Vivere Pericoloso (Surabaja: Penerbit Fa. GRIP, 1964), hal. 19. Disingkat dari “Nasionalis, Agama dan Komunis”, yaitu trilogi yang dipetakan oleh Soekarno mengenai garis pembeda antargolongan dalam masyarakat Indonesia. Namun, di tengah-

302

224

men jad i ant ek “im per ial is” dan “ko lon ial is” yan g “ko ntr a-rev olu si. ” Med ia diu kur han ya dari sat u seg i, yai tu keb erp iha kan nya . Tid ak dik ena l ada nya med ia yan g “ne tra l” dan “ob yek tif ”, med ia sel alu ber ada dal am kon tek s kep ent ing an kel as dan gol ong an ter ten tu. Dal am kac ama ta ini han ya ada “ka wan ” atau “la wan ”.

2 . D i s k u r s us [b e rb ed a ] t e n t a n g t e k n o l o g i a n t a r a d u a p e r io d e Ada lah ins iat if pem eri nta han Suk arn o pul a, pad a men jel ang pem buk aan Asi an Gam es IV tah un 196 2, unt uk men dis tri bus ika n TV -set Hit am put ih seb any ak 10. 000 uni t kep ada war ga Jak art a (te rut ama pej aba t), den gan tuj uan men disem ina si sia ran dar i TVR I 303. Seb elu mny a, tek nol ogi did omi nas i

inf orm asi

yan g dik ena l pub lik

Ind one sia , leb ih ban yak

sur atk aba r dan Rad io, yai tu RRI yan g lah ir sej ak tan gga l 11 Sep tem ber 194 5 304. Dal am ber bag ai seg i, sem ua sar ana med ia ini tid ak lai n ada la h

tengah hangatnya pertikaian ideologi di era 1959-1965, NASAKOM bersama dengan Manipol (Manifesto Politik ) berubah menjadi garis haluan negara yang wajib didukung. 303 TVRI yang pertama kali dibentuk didorong oleh adanya persyaratan dari Komite Asian Games yang menyatakan bahwa tuan rumah Asian Games wajib memiliki stasiun televisi. Siaran percobaan TVRI pertama kali terjadi pada tanggal 17 Agustus 1962, dengan topik utamanya peringatan upacara kemerdekaan RI dari Istana Merdeka, dan tentu yang paling menarik perhatian adalah pidato tahunan rutin Pemimpin Besar Revolusi. Pemancar dibangun di Senayan dengan kapasitas 1 (satu) Kilowatt. Pemancar permanen yang juga dibangun di senayan dengan kapasitas lebih besar, 10 kilowatt, baru selesai pada tengah malam menjelang pembukaan Asian Games IV, 24 Agustus 1962. Hasil wawancara dengan Alex. L. Zulkanaen, Makna dan Fungsi RRI dan TVRI: Sebuah Penelusuran Historis , dimuat dalam buku berjudul Memotret Telematika Indonesia: Menyongsong Masyarakat Informasi Nusantara, Editor: Sony Yuliar, et al. (Bandung: Pustaka Hidayah, 2001), hal. 89.
304

Selain RRI, juga ada Radio Angkatan Udara yang dikelola oleh personil AURI. Dibandingkan dengan RRI yang kebanyakan menyanyikan lagu pop Indonesia, Radio milik AURI justru lebih banyak menyiarkan lagu pop dari Barat. Kebanyakan lagu yang diputar di Radi Angkatan Udara berasal dari piringan hitam milik anggotanya yang didapatkan ketika bertugas ke luar negeri. Sedang RRI, sebagai radio tunggal milik pemerintah (tanpa adanya media tandingan) kebanyakan disiarkan secara live dari studio, dengan seleksi ketat terhadap artis-artis yang akan tampil. Hal ini disorot oleh A. Tjahjo Sasongko dan Nug Katjasungkana, Pasang Surut

225

alat rev olu si yan g men unj ang per jua nga n neg ara yan g bar u ban gun ter seb ut, yai tu Rep ubl ik Ind one sia . Dal am kac ama ta Sukar no, tek nol ogi inf orm asi tid ak per nah

mun cul seb aga i seb uah oby ek ter sen dir i, apa lag i dib uat keb ija kan yan g men unj ang nya sec ara khu sus . Pad a Kep pre s No. 215 /19 63, TVR I

dis ebu tka n seb aga i: “.. .al at hub ung an mas yar aka t ( mas s com mun ica tio n med ia ) dal am mem bangu n men tal /sp iri tua l dan fis ik dar ipa da Ban gsa dan Neg ara Ind one sia ser ta pem ben tuk an man usi a sos ial is Ind one sia pad a khu sus nya .” 305 TVR I ber sam a lem bag a-lem bag a lai n di baw ah pem eri nta han Suk arn o tid ak lai n ada lah “al at” (too ls) unt uk men duk ung rev olu si Ind one sia 306. Beg itu jug a yan g dia lam i ole h RRI : “Se bag aim ana sud ah umu m ket ahu i, RRI yan g dil ahi rka n mel alu i gag asa n bes ar, bai k di

Musik Rock di Indonesia, dimuat dalam Prisma No. 10 Tahun XX, Oktober 1991 (Jakarta: LP3ES, 1991), hal. 49.
305 306

Ibid., op. cit., hal. 90. Dalam Manifesto Politik (Manipol), Sukarno menggunakan istilah retooling yang kabur artinya untuk mendeskripsikan tugas negara. Retooling menurut Sukarno adalah: “...mengganti sarana-sarana, mengganti alat-alat dan aparatur-aparatur jang tidak sesuai lagi dengan pikiran demokrasi terpimpin, dengan sarana-sarana baru, dengan alat-alat dan aparaturaparatur baru, jang lebih sesuai dengan outlook baru. Retooling berarti djuga menghemat segala sarana-sarana dan alat-alat jang masih dapat dipergunakan, asal alat-alat itu masih mungkin diperbaiki dan dipertadjam kembali.” Lihat dalam: Penetapan Bahan-bahan Indoktrinasi (Bandung: Dua-R, tahun tidak tercantum), hal. 61. Lebih lanjut lagi, H. Ruslan Abdulgani, dalam Rangkaian pidato radio untuk menjelaskan isi Manipol dan Usdek, menjelaskan sebagai berikut: “Kata ‘retooling’ adalah kata yang berasal dari bahasa Inggris, dan asal dari kata ‘tool’. ‘Tool’ adalah alat; dan re-tool berarti mengganti alat jang lama dengan alat jang baru sama sekali; atau menggunakan alat-alat jang lama untuk pekerdjaanpekerdjaan jang sama sekali baru bagi alat-alat lama itu sendiri” (Ibid., op. cit., hal. 212). Perlu diketahui bahwa istilah retooling tidak ada sama sekali dalam kamus bahasa Inggris. Sangat mungkin sekali istilah ini dibuat sendiri oleh Sukarno. Perubahan kata tool yang merupakan kata benda menjadi “retooling” yang merupakan kata kerja aktif merupakan kecenderungan teknologi dalam kacamata Sukarno di mana tidak merupakan sebuah benda atau “obyek” mandiri tanpa kelibatan suatu intervensi dari “kerja subyek”. Dari kutipan-kutipan di atas, terungkap bahwa bagi Pemerintahan Sukarno tidak ada perbedaan posisi antara pejabat aparatur negara sebagai “subyek”, lembaga maupun teknologi yang sama-sama harus berperan secara “benar” dalam Revolusi Indonesia. Ketigatiganya dikategorikan sebagai tool atau “alat” (dalam pengertian “retooling”, yaitu bagian dari suatu kata kerja aktif, bukan “obyek” pasif).Teknologi, dan khususnya teknologi informasi bukanlah sesuatu yang spesifik dan disebutkan secara eksplisit, melainkan secara implisit membaur dalam keseluruhan fungsi kerja negara.

226

era Orl a maupu n Orba tel ah dip erl aku kan han ya seb aga i ter omp et pem eri nta h sem ata .” 307 Kar ena itu , dal am mas a pem eri nta han Dem okr asi Ter pim pin , tek nol ogi sam a sek ali buk an ses uat u yan g per nah dia ngg ap man dir i dan dip erh ati kan sec ara ter pis ah dar i bid ang lai n. Sel uru h sara na dan apa rat neg ara han ya dib agi men jad i dua hal , yan g men duk ung rev olu si ata u kon tra -rev olu si. Unt uk men gat asi sem ua pen yel ewe nga n ter had ap tug as ini , Suk arn o men uli ska n res ep khu sus nya yan g dib eri nam a ret ool ing 308: “Inilah arti dan isi perkataanku mengenai ‘retooling for the future’,
jang tempo haru saja utjapkan dimuka D.P.R. Retooling daripada semua alat-alat perdjoangan ! Dan konsolidasi dari semua alat-alatperdjoangan sesudah retooled ! Retooling badan eksekutif, yaitu Pemerintah, kepegawaian dan lain sebagainja, vertikal dan horizontal. Retooling badan legistatif, jaitu D.P.R. Retooling semua alat-alatkekuasaan Negara, —Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Polisi. Retooling alat-alat produksi dan alat-alat distribusi. Retooling organisasi-organisasi masjarakat, —partai-partai politik, badan-badan sosial, badan-badan ekonomi. Ja, djaga-djagalah, —semuanja akan diretool, semuanja akan direordening dan diherodening, dan memang ada jang sedang diretool.”

Dar i sin ila h, ber mul a pen gga lak an bes ar -bes ara n ber upa nas ion ali sas i ter had ap sel uru h “al at” mil ik “im per ial is” dan “ko lon ial is” , dii kut i kem udi an den gan pe nce kal an bes ara n-bes ara n ter had ap bud aya asi ng yan g dap at men gan cam rev olu si 309 (at au pro duk bud aya neg ara -neg ar a

307 308 309

Ibid 303, op. cit., hal. 88. Tentang arti kata retooling lihat kembali pada catatan kaki No. 306. Kampanye anti neo-kolonialisme-imperialisme sudah di mulai sejak tahun 1959, namun terhadap musik populer Barat belum ada tindakan nyata untuk melakukan pelarangan. Baru pada tahun 1963, musik-musik Barat mulai dikecam oleh pemerintah, dan dalam masyarakat sendiri dimotori oleh organisasi seperti LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Bahkan sejak tahun 1965, RRI menghentikan samasekali memutar lagu-lagu Barat berirama twist, rock’n’roll, musik The Beatles dan lagu-lagu Indonesia yang dipengaruhi ketiga musik Barat tersebut. Sukarno sendiri dalam pidatonya selalu mengecam musik Barat sebagai “lagu-lagu cengeng” dan “ngak-ngik-ngok” yang dianggap kontra-revolusioner yang merusak kepribadian

227

“mu suh ” Rev olu si Indone sia ). Sem ua kea daa n ini bar u ber hen ti beb era pa saa t set ela h ter jad iny a per gan tia n rez im. Mel alu i ser ang kai an kud eta ber dar ah, Jen der al Suh art o kem udi an mun cul seb aga i pem ega ng kua sa, set ela h ter leb ih dah ulu sem ua uns ur pen duk ung Suk arn o dan PKI dil iba s hab is ant ara tah un 196 5-196 6. Set ahu n kem udi an, dis kur sus “Or de Bar u” lah ir den gan mem ber ika n nua nsa “Or de Lam a” ter had ap rez im seb elu mny a. Pem eri nta han Ord e Bar u leb ih mem ili h keb ija kan yan g ter tut up dal am per soa lan pol iti k: tid ak ada per ten tan gan ant ari deo log i, tid ak ada pid ato ber api-api , tid ak mas sa yan g ber kum pul . Dal am set iap pid atony a Suh art o tam pil den gan mem bac a tek s, tid ak sep ert i Suk arn o yan g ber bic ara sec ara spo nta n. Kon tra s den gan Suk arn o yan g ban yak dis ibu kka n den gan aks i kon front asi pol iti k, Suh art o cen der ung men eka n sem ua per gol aka n pol iti k dan ber usa ha men cip tak an “ke ter tib an” , “ke sta bil an” dan “ke amana n”. Per bed aan ini sen gaj a dic ipt aka n, dib eri sif at dis kri t “ba ru” vs “la ma” , seo lah -ola h mem unc ulk an sit uas i yan g leb ih ter atu r dan leb ih mekan is dar ipa da seb elu mny a yan g pen uh per gol aka n 310.

dan budaya nasional Indonesia. Puncaknya pada bulan Juli 1965, tiga personil Koes Bersaudara dijebloskan ke penjara setelah lagu a la the Beatles di sebuah pesta Paskah yang diadakan di Gereja Immanuel, Jakarta. Setelah 100 hari di penjara Glodok, mereka dibebaskan pada bulan September 1965. Kejaksaan Tinggi Jakarta mengancam akan memberikan sangsi tindak pidana subversif apabila lagu a la the Beatles kembali dinyanyikan (Ibid 304., loc. cit., hal. 49-50). Hal yang sama berlaku tidak hanya musik populer Barat saja, tapi film-film Barat juga mengalami nasib berbeda. LEKRA mengambil sikap bersitegang terhadap budayawan-budayawan Manifesto Kebudayaan (yang disebutnya dengan nada mengejek sebagai “Manikebu”) yang cenderung menganut paham “humanisme universal” di mana merupakan kecenderungan yang dianut dunia sastra Barat pada masanya.
310

Untuk kajian tentang perbedaan karakter penggunaan bahasa antara “Orde Lama” dan “Orde Baru”, baca tulisan Virginia Matheson Hooker, Bahasa dan Pergeseran Kekuasaan di Indonesia: Sorotan terhadap Pembakuan Bahasa Orde Baru, dalam kumpulan tulisan berjudul Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru, Yudi Latif dan Idi Subandy Ibrahim, ed. (Mizan Pustaka, 1996), hal. 56-76.

228

Kem udi an, (Re nca na

lah irl ah

pak et

Kab ine t yan g

Pem ban gun an mem usa tka n

Rep eli ta per hat ian

Pem ban gun an

Lim a

Tah un)

pem eri nta h pad a per soa lan -per soa lan yan g leb ih ber aga m dan tek nis sif atn ya, sam bil ber usa ha meng hap usk an ken ang an ten tan g pol iti k

ide olo gi yan g mas ih lek at dal am ing ata n pub lik mas a pem eri nta han Suk arn o. Mun cul pul a saa t itu sek ump ula n tek nok rat : yai tu sek elo mpo k ilm uwa n por os Uni ver sit as Ind one sia . Keb any ak mer eka ada lah alu mni uni ver sit as-uni ver sit as di Ame rik a ata u Ero pa Bar at yan g dir ekr ut dal am pem eri nta han seb aga i pej aba t. Kon on, par a tek nok rat tid ak dia ngk at seb aga i per wak ila n dar i par tai ter ten tu, mel ain kan dia ngk at kar ena kea hli an dan kep aka ran nya dal am bid ang yan g dip ega ng. Ber bed a den gan men ter i era Suk arn o yan g did omi nas i ole h per wak il an dar i par tai , tek nok rat di mas a awa l Ord e Bar u dip ili h ber das ark an kec aka pan tek nis dan men gua sai ilm u yan g dip erl uka n 311. Den gan pol a kab ine t Ord e Bar u ter seb ut, pem eri nta h mem ber ika n kes emp ata n mun cul nya sua tu mod el pem iki ran yan g leb ih mek ani sti s dan tek nis bag i keb ija kan pem eri nta h, den gan dem iki an nua nsa hir uk pik uk pol iti k sem aki n ten gge lam dit eng ah mek ani sme tah una n dan lim a tah una n yan g ter us dij ala nka n tan pa ada gej ola k ber art i.

311

Munculnya Menteri Riset dan Teknologi (disingkat Menristek) pada susunan Kabinet Pelita masa Orde Baru, merupakan penambahan unsur dari Menteri Urusan Research Nasional pada susunan Kabinet Dwikora yang diangkat pada tahun 1964. Penekanannya pada istilah “teknologi” melengkapi suatu konsep yang alpa dalam naskah-naskah maupun struktur pemerintahan Sukarno.

229

3 . D i s k u r s u s t e n ta n g t e k n o l o g i d a l a m A k s e l e ra s i M o d er n i s a s i P e m b a n g u na n 2 5 Ta h un Leb ih dar i itu , ist ila h “te kno log i” mul ai mun cul dal am kes ada ran pub lik seb aga i seb uah “re al ita s” ter lep as dar i ide olo gi mas sal . Seb ali kny a, tek nol ogi , dal am dis kur sus Ord e Bar u, ada lah bag ian dar i pak et

mod ern isa si yan g dic ana ngk an seb aga i tug as Pem ban gun an Nas ion al: “Mod ern isa si tid ak dapat dip isa hka n dar i tek nol ogi , ole h kar ena pad a das arn ya tek nol ogi ada lah has il kar ya pem iki ran men uju har mon isa si ant ara man usi a den gan ala m sec ara
312

leb ih efi sie n unt uk

sem aki n

mem ber ika n has il yang leb ih bes ar.”

“Al at” yan g di mas a Suk arn o

mer upa kan ese nsi yang tak ter pis ahk an dar i tuj uan ide olo gi rev olu si, sek ara ng sec ara ont olo gis mun cul seb aga i kes eja jar an den gan

mas yar aka t yan g mam pu mem ban tu mer eka unt uk sem aki n “ha rmo nis ” den gan “al am” 313. Mun cul dua per mas ala han bes ar ten tan g rel asi tek nol ogi dan ked udu kan man usi a seb aga i kes atu an neg ara -neg ara ; per tam a, tek nol ogi ada lah bag ian dar i kem aju an sej ara h man usi a yan g mem ili ki

312

Ali Moertopo, Mayor Jenderal TNI/AD, Dasar-dasar Pemikiran Tentang Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahun (Jakarta: Yayasan Proklamasi dan Centre for Strategic and International Studies, cetakan 2, Maret 1973), hal. 56. 313 Menurut Isa Ridwan, dalam tulisannya berjudul Ideologi dan Teknologi (dimuat Harian Kompas 7/7/89), hubungan antara ideologi dan teknologi bersifat diskrit. Ideologi secara historis-linear berada di masa lampau, sedangkan teknologi di masa kini. Ideologi cenderung menyuburkan dimensi budaya afektif-mistik sedangkan teknologi secara kognisi kritis. Ideologi adalah ide abstrak, sedangkan teknologi adalah benda. Ketika Ridwan menggambarkan “teknologi di masa kini” seakan-akan yang diacu adalah rezim Orde Baru yang teknis mekanis dan dipertentangkan dengan rezim “Orde Lama” yang dalam suasan afketif-mistiknya kental. Tidak seperti “Orde Baru” yang “modern”, “obyektif” dan “terkontrol” , “Orde Lama” merupakan peninggalan sejarah yang telah usang seperti revolusi yang hiruk pikuk, “subyektifitas” berapi-api dan penuh pidato liar membangkitkan gelora massa. Lihat Max Wilar, Ideologi dan Teknologi, dimuat dalam Majalah Basis XXXIX No 2, 1990, hal. 61-63.

230

pot ens ial ita s

ger ak

yan g

sel ara s

deng an

der ap

maj u

mes in

“mo der nis asi ”. Ked ua, tek nol ogi ada lah “ha sil kar ya” man usi a nam un jus tru men jad i ala t ban tu men jem bat ani man usi a den gan ala mny a. Pad a pan dan gan per tam a, mod ern isa si yan g men jad i tuj uan ham pir sel uru h pem eri nta han neg ara -neg ara di dunia men gha rus kan ada nya per an

tek nol ogi dal am men capai tuj uan ter seb ut. Wal aup un tid ak seb aga i sat u has il akh ir yan g dii ngi nka n dal am ker ang ka cit a-cit a neg ara , dia ada lah mot or pen gge rak men uju vis i ter seb ut: pro ses “Tek nol ogi buk an tuj uan

mel ain kan

aks ele rat or

dal am

mod ern isa si .” 314

Men yor oti

per soa lan ini , seb ena rny a sud ah men jad i kes epa kat an tid ak ter tul is int ern asi ona l, tek nol ogi dia ngg ap seb aga i ala t ban tu pen duk ung yan g pal ing pen tin g dar i cit a-cit a neg ara dan dun ia. Sed ang kan pad a ide ked ua, man usi a tera lie nas i dar i ala m, ser aya men car i med ium yan g men gem bal ika n “ha rmo nis asi ”. Man usi a ter cer abu t dar i “al am” , dan men gga nti nya den gan cit a-cit a bar u sep ert i mod ern isa si mel alu i

tek nol ogi unt uk men gem bal ika n kon tak nya den gan “al am” . Mel alu i “ha rmo nis asi ” ini “al am” mun cul kem bal i dal am ben tuk yan g tel ah dim ode rni sas ika n, ata u den gan kat a lai n dib eri cir i tek nol ogi s. Ken dat i, tek nol ogi sen dir i dip isa hka n sec ara man dir i seb aga i seb uah “ob yek ” ser aya tet ap har us dik eja r dan dik uas ai seb aga i bag ian dar i kep ent in gan “su bye k” neg ara . Den gan men gan dai kan tek nol ogi seb aga i “ob yek ” man dir i dar i “su bye k” ser aya tet ap mer upa kan ala t yan g har us dia dop si dal am sis tem

314

Ibid., op. cit., hal. 57-58.

231

pem eri nta han nya , neg ara-neg ara kem bal i mem per ole h “ge rak maj uny a” dal am sej ara h. Dua lis me ini ber lak u dal am kai dah yan g men gan gga p mas yar aka t man usi a har us men gua sai tek nol ogi seb aga i sal ah sat u sum ber “ob yek tif ” bag i kem akm ura n, seb ali kny a tek nol ogi jug a

men ent uka n str ukt ur mas yar aka t: “Apa bil a tek nol ogi dap at dia ngg ap uni ver sil dal am dan art i car a dap at dig una kan oleh ada lah mas yar aka t fun gsi man apu n, sua tu

pen gat ura n

pen ggu naa nny a

kon dis i

mas yar aka t. ”315 Tek nol ogi , sel aya kny a seb aga i “ob yek ” ber dir i sen dir i, tid ak mem ili ki ide olo gi, dan dap at dit era pka n dal am mas yar aka t tan pa per kec ual ian , dia “ob yek tif ” dan tak be rpi hak . Han ya saj a, tet ap ter gan tun g pad a kon dis i mas yar aka t itu se ndi ri seb aga i “su bye k” yan g men era pka nny a. Kem udi an den gan ber lan das kan pad a pem aha man ini , Ali

Moe rto po, sal ah sat u kon sep tor pem ban gun an Ord e Bar u di Ind one sia 316

315 316

Ibid., op. cit., hal. 56 Menurut Jenderal Soemitro, konsep dari Ali Moertopo seperti yang terangkum dalam bukunya Dasar-dasar Pemikiran Tentang Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahun, diterima oleh Suharto, presiden kala itu, hanya sebagai “menampung angin”, artinya sekedar ditampung namun tidak dianggap benar-benar dilaksanakan. Sedangkan tujuan lainnya, hanya untuk membuat Ali Moertopo senang. Seperti yang diutarakannya kepada Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari ’74 (Jakarta: Pustaka sinar Harapan, 1998), hal. 21. Sedangkan penjabaran konsep-konsep yang sebenarnya dilakukan oleh sekumpulan teknokrat yang dikoordinir oleh Widjojo Nitisastro (Ibid., op. cit., hal. 22). Walaupun demikian, pandangan ini pantas diragukan, karena banyak konsep yang muncul dalam buku tersebut, seperti; keluarga berencana (KB), penggunaan teknologi padat karya dan lain-lain, ternyata muncul kembali pada masa-masa selanjutnya sebagai “program pemerintah” walaupun keikutsertaan Ali Moertopo tidak pernah muncul lagi. Buku tersebut disusun dengan mengikutsertakan sejumlah tokoh CSIS (Centre for Strategic and International Studies), yaitu: Panglaykim, Daoed Joesoef, Soedjati, Harry Tjan Silalahi dan Hadi Soesastro (Ibid., hal. 30).

232

men awa rka n

emp at

ca ra

men gad ops i

tek nol ogi

ke

dal am

sua tu

mas yar aka t, 317 yan g ter dir i dar i: 1. Imi tas i, tek nol ogi ter bar u dip erk ena lka n dan sek ali gus men jad i sho ck-the rap y dal am mer uba h mas yar aka t. 2. Pen yes uai an, den gan mem per tah ank an ben tuk mas yar aka t yan g tra dis ion il dig una kan tekn olo gi yan g se der han a ata u yan g

dis esu aik an den gan tin gka t kem aju an. 3. Rev olu sio ner, mer uba h mas yar aka t ter leb ih dah ulu , set ela h ber has il bar u dib eri tek nol ogi sed erh ana ata u yan g dis esu aik an. 4. Int egr al, den gan mem per ken alk an bai k tek nol ogi mod ern

mau pun yan g dis esu aik an den gan har apa n per uba han dap at ter jad i ber ang sur-ang sur . 318 Bai k dal am str ate gi imi tas i, pen yes uai an, rev olu sio ner mau pun int egr al, men unj ukk an pen gal ih an tek nol ogi mem ili ki kon sek uen si yan g ber mua ra pad a per uba han str ukt ur mas yar aka t sec ara men dad ak, ber lah an-lah an, mau pun gab ung an dar i ked uan ya. Tek nol ogi tid ak lag i sek eda r seb uah “ob yek ” yan g ese nsi nya dan wuj udn ya dit ent uka n kep ent ing an “su bye k” mas yar aka t, seb ali kny a jug a

317 318

Ibid 312., op. cit., hal. 57 Menurut Ali Moertopo, metode integral adalah cara yang paling cocok untuk situasi dan kondisi masyarakat Indonesia, dia dijadikan sebagai bagian dari kebijakan pembangunan Indonesia untuk masa yang akan datang: “Dalam rangka akselerasi modernisasi ini pola kebijaksanaan memilih sistem integral sebagai dasar dengan merencanakan dan memperhitungkan penahapan penggunaan teknologi dilihat dari segi kondisi masyarakatnya.” (Ibid., op. cit.). Dualitas pola integrasi tercermin dalam promosi h-tech melalui industri pembuatan pesawat IPTN, satelit Palapa dan pola ‘penyesuaian’ teknologi berlahan-lahan dalam wacana industri padat karya atau immediate technology.

233

men unt ut pen yes uai an kes ada ran dar i pen ggu nan ya . Mel alu i kon sep si sem aca m ini lah tek nol ogi sep ert i tel evi si dib iak kan sem asa Ord e Bar u. Pad a tah un 196 9, jum lah tel evi si di Indon esi a tel ah mem ben gka k men jad i 65. 000 uni t. Mar et 197 2, uni t tel evi si mem asu ki ang ka 212 .58 0, mel esa t hin gga 1.0 50. 000 uni t pad a tah un 197 8 319. Dal am jan gka wak tu dua tah un kem udi an ang ka ini mem ben gka k hin gga 1.5 00. 000 uni t dan 7.1 32. 462 uni t pad a tah un 198 4320. Tel ebi h lag i, per kem ban gan dun ia tel evi si di mas a Orde Bar u tid ak ber lan gsu ng dal am kua nti tas

kep emi lik an tel evi si per /un it, mel ain kan mel alu i rev isi SK Men pen No. 111 /19 90 ten tan g pen gat ura n sia ran tel evi si, sta siu n tel evi si swa sta mul ai ber mun cul an. Ada 5 sta siu n TV swa sta sem asa Ord e Bar u, nam un kel ima -lim any a dik ena i ket ent uan pen yia ran yan g men gat ur bah wa TVR I sah unt uk men yis ipk an tay ang an nya ke set iap lay ar bil a dip erl uka n, dan sta siu n tel evi si swa sta har us rel a mem ber ika n wak tu dan rua ng sia rny a. Hal yan g sam a ber lak u jug a unt uk tek nol ogi -tek nol ogi lai nny a, Ord e Bar u tet ap mel aku kan “sens or” ket at ter had ap pen ggu naa nny a. Led aka n pem aka ian tek nol ogi sek ali gus dii kut i men gua tny a per an ter sen tra l dar i

319

Pada tahun 1975, televisi merambah pedesaan di Jawa bersama dengan paket program Orde Baru “Listrik Masuk Desa”. Laporan Departemen Penerangan RI melalui sebuah proyek penelitian pada tahun 1977-1978 menyebutkan bahwa pemilik televisi: “rata-rata berasal dari golongan sosial atas yang mempunyai horison pengetahuan lebih luas serta mempunyai kepentingan terhadap berbagai informasi,” yang umumnya terdiri dari pegawai pemerintah, pedagang, tokoh masyarakat/agama dan ABRI. Dibandingkan dengan perokataan, jumlah televisi di desa masih terbatas jumlah pemiliknya yang kemudian melainkan fungsi yang agak berbeda dari televisi, yaitu sebagai simbol status seseorang. Pemerintah ikut menggalakan sosialisasi televisi melalui pnyebaran beberapa televisi yang diletakkan pada tempat-tempat yang dijangkau oleh publik umum. Oleh: W. Hofsteede, Perubahan Sosial dan Budaya Sebagai Akibat Masuknya Televisi di Pedesaan, dalam buku berjudul Pembangunan Masyarakat: Kumpulan Karangan (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991), hal. 72-73. Data ini dapat diperoleh dalam Sikripsi S1, yang ditulis oleh Sonja, berjudul Hubungan Pola Konsumsi Tayangan Televisi Dengan Kecenderungan Berperilaku Agresif dan Prososial pada Siswa-siswa SMU I Dapena Surabaya (Surabaya: tidak diterbitkan, Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, 1997).

320

234

pem eri nta h men jad i seb uah cir i yan g mun cul dom ina n sel ama mas a-mas a usa ha pem eri nta h Ord e Bar u “me mod ern isa si” keh idu pan war gan ya 321:

“Namun dengan berjalannya Orde Baru, proporsi penyebaran TV antara jakarta dan daerah-daerah lainnya berubah dramatis. Jika pada 1966 tercatat 81%TV di Jakarta dan 19% di luar Jakarta, pada 1986 proporsi ini berubah menjadi 19% di Jakarta dan 81% di luar Jakarta. Jumlah total TV yang terdaftar juga meningkat 150 kali pada kurun waktu tersebut. Dengan pola perkembangannya yang demikian, kekuatan para perancang programa acara di Jakarta untuk mempengaruhi wawasan masyarakat pun meningkat secara luar biasa. Pada kurun waktu yang sama pula, tidak terlihat adanya pertumbuhan daerah-daerah dalam mempengaruhi pusat. Dalam program pemancar radio misalnya, daerahdaerah diizinkan untuk mempromosikan programa mereka hanya pendengar lokal.” 322

Kar ena itu , san g pen ggu na tek nol ogi buk an han ya dih ara pka n men yes uai kan dir i den gan ko man do pus at, nam un pad a kes emp atan lai n bis a ber uba h men jad i pot ens i men gha mba t : “Men jad i ken yat aan dal am usa ha mem per ken alk an tek nol ogi bar u sel alu ter dap at ber bag ai

ham bat an. Ham bat an -ham bat an ini dap at ter let ak dal am sis tim sos ial
321

Bukan hanya televisi, pada tahun 1967 muncul radio sawasta pertama di Indonesia, PT Radio Prambors. Radio ini banyak dikelola oleh anak-anak muda yang sekedar menyalurkan hobbynya. Bersamaan dengan boom minyak pada tahun 1970-an, pemerintahan Orde Baru mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar dikarenakan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil minyak terbesar di Dunia mendapatkan keuntungan dari lonjakan harga minyak. Boom minyak memberikan keuntungan terbesar terutama untuk pejabat tinggi negara, militer dan segelintir pengusaha. Dari kelompok yang mendapat keuntungan besar tersebut kemudian lahirlah dan berkembang “kelas menengah kota” yang haus akan budaya maupun teknologi dari luar negeri dan mendapatkan akses terhadap “barang mewah” tersebut dibandingkan dengan pegawai rendahan dan buruh. Kelompok ini muncul sebagai simbol modernisme di masa Orde Baru, generasi muda yang banyak menghabiskan waktunya dengan gaya hidup berhura-hura dan “non-politik”. Pada masa itu di perkotaan mulai tumbuh subur night club, ditambah dengan konsumsi yang haus terhadap “barang-barang modern” seperti motor, stereo set, video dan alat-alat musik. Lengkapnya, gaya hidup Barat yang ditekan habisa-habisan semasa penmerintah Sukarno, mulai diadopsi sebagai bagian gaya hidup dan modernisme. Terjadi peralihan istilah “pemuda” yang sebelumnya berkonotasi politik, menjadi “pemuda” yang gaya hura-hura, a-politik, meniru gaya hidup artis-artis Barat dan menggemari barang-barang “mewah” dan “modern” (Ibid 304., loc. cit., hal.5256). 322 Joshua D. Baker dalam Re-Inveting the Wheel: Sebuah Tinjauan Antropologis terhadap Palapa, termuat bersama artikel lainnya dalam buku Memotret Telematika Indonesia: Menyongsong Masyarakat Informasi Nusantara (Bandung: Pustaka Hidayah, 2001), hal. 282

235

yan g ber lak u, sik ap manus ian ya, pen get ahu an dan ket era mpi lan nya , ata u dal am per ala tan pro duk si tra dis ion al yan g dik ena lka n hin gga saa t ini ”323. Tek nol ogi dip isa hka n sec ara seg ari s den gan typ e mas yar aka t; “te kno log i tra dis ion al ” yan g men gha mba t dan “te kno log i mod ern ” yan g men jad i aks ele rat or pem ban gun an. Tra nsf orm asi tek nol ogi ber art i

per uba han mas yar aka t, den gan mem bag iny a dal am kat ego ri “mode rn” dan “tr adi sio nal ”, kem udi an men gga lak an per ali han dar i “tr adi sio nal ” men uju “mo der n”. Mel alu i ser ang kai an usa ha dar i ter enc ana dar i pus a t, “te kno log i mod ern ” dih ara pka n ber has il “di mas yar aka tka n” dan

“di sos ial isa sik an” . Mas yar aka t yan g pad a awa lny a seb aga i “su bye k” pen ent u bag i tek nol ogi , men jad i han ya men duk ung ata u sal ah sat u fak tor pen era pan yan g dia ngg ap dap at

men gha lan gi

aks ele rat or

mode rni sas i.

Keu niv ers ala n tek nol ogi tid ak lag i dit afs irk an seb aga i sek ada r per ala tan “ob yek tif ” yan g net ral , nam un mer upa kan gar is keb ija kan nas ion al yan g seh aru sny a dii kut i ole h mas yar aka t: “Su har to men ggu nak an sat eli t, pes awa t-pes awa t ter ban g Gar uda sem ua ber mes in jet , jet iza tio n. Dal am dua hal ini dig una kan tek nol ogi yan g ama t can ggi h dem i men jam in sec ara fis ik Waw asa n Nus ant ara . Ini sua tu jas a Suh art o yan g bes ar, tet api eks ses nya ial ah bah wa Suh art o tid ak bol eh dik rit ik. Rak yat tid ak bol eh ber bua t mac am-mac am yan g ber bed a den gan pol a pikir dan

323

Ibid., op. cit.

236

pan dan gan tek nol ogi ,

dia .” 324 dan

Mas yar aka t

men jad i dar i

sam a sal ah

“ob yek nya ” sat u “mo dal

den gan das ar

men jad i

bag ian

pem ban gun an” . Ini ada lah cikal bak al bag i war na dan ara h keb ija kan pem eri nta h Ord e Bar u ke mas a dep an, gar is dan pan uta n unt uk

pem ban gun an yan g ber hal uan pad a “ip tek ” seb aga i dis kur sus set and ing den gan “im tak ” 325: “‘H al itu bag i say a mer upa kan pem bun uha n ter had ap ben ih -ben ih spi rit ual ban gsa nya sen dir i. Suh art o leb ih mem en tin gka n kek uat an fis ik dar ipa da kek uat an spi rit ual ’. Pad aha l kek uat an spi rit ual itu jau h leb ih pen tin g dar ipa da kek uat an fis ik. Ipt ek itu jau h leb ih mem ent ing kan kek uat an fis ik, mak any a kit a mem aha mi, men gap a
326

Hab ieb ie men dap at per ana n yan g beg itu pen tin g dar i Suh art o.”

B. AN TA RA GLO BA LI SA SI DA N ID EN TI TA S NA SI ON AL
1 . M i m p i -m i mp i y an g t e r u s b e r l a n j u t Dor ong an pem enu han has rat aka n tek nol ogi ter us men jad i lia r, wal aup un Ord e Bar u sec ara “re smi ” dia ngg ap ber akh ir. “Bay ang kan... ,” uja r Onn o

324

Soebadio Sastrosatomo, Era Baru – Pemimpin Baru (Jakarta: Pusat Dokumentasi Politik “GUNTUR 49”, Januari 1997), hal. 20. Tentang Kelanjutan pemakaian Satelit dan Industri pesawat terbang sebagai perwujudan doktrin Wawasan Nusantara, baca juga pada pembahasan selanjutnya dalam bagian yang sama dalam Bab ini. 325 Sementara di kalangan intelektual semasa tahun 1989, perkembangan perdebatan tidak hanya berkutat sekitar permasalahan “iptek” dan “imtak”. Mereka (Isa Ridwan, Ignas kleden, Arief Budiman, L. Wilardjo, Farid Ruskanda, F. Budi Hardiman, Max Wilar dan lainnya) memperdebatkan juga permasalahan antara dikotomi “ideologi” dan “teknologi” (Ibid 307., loc. cit., hal. 60). Lihat juga Budi Hardiman, Teknologi Sebagai Ideologi (Ibid., hal. 71-75).
326

Dibandingkan dengan jabatan Menag (Menteri Agama) yang kurang populer, Habiebie yang menmenduduki jabatan Menristek jauh lebih dikenal dan diingat oleh masyarakat Indonesia (Ibid., op. cit.). Baca juga tulisan Anom Surya Putra dan Edy Suhardono yang berjudul: EGovernment: Transisi Teknologi dalam Rule of law/justice, Bagian Ke-tiga dari buku berjudul Pemikiran Transitional atas Transitional Justice, (Surabaya: dipersiapkan untuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia oleh Tim Institut Ilmu Sosial Alternatif [IISA], Edisi Revisi, Juni 2001), hal 32-51.

237

W. Pur bo dar i Ins tit ut Tek nol ogi Ban dun g (IT B), ket ika B.J . Hab ibi e, man tan Men ris tek di kab ine t rez im Ord e Bar u dia ngk at seb aga i Pre sid en sem ent ara men gga nti kan Suh art o yan g men gun dur kan dir i pad a tah un 199 8:

“Alangkah mulianya pekerjaan seorang guru yang mengajar satu juta

murid dalam waktu yang bersamaan; betapa cepatnya ilmu pengetahuan tersebar. Bayangkan jika kita dapat dengan mudah berbincang dengan Presiden B.J. Habibie & para menteri pembantu yang menurut kabar telah menggunakan E-mail; alangkah indahnya hidup ini jika aspirasi rakyat banyak dapat dengan cepat mencapai & bahkan berinteraksi langsung dengan pimpinan tertinggi negara tanpa perlu takut di sensor, di ciduk, di culik oleh aparat BKO. Menjadi seorang exportir ke seluruh penjuru dunia yang berpenghasilan US$ menjadi demikian mudah. Bayangkan - batas antar negara hanya 327 berjarak antara ujung jari anda dengan keyboard!”

Saa t “ba tas ant ar neg ara han ya ber jar ak antar a uju ng jar i and a den gan den gan key boa rd” , mak a jar ak ant ara Pur bo den gan pre sid en yan g dip uja -puj a ole hny a, men jad i tid ak ber art i lag i. Ser ta, dar i “ka bar ” yan g dia den gar bahwa San g Pre sid en dan jaj ara n pej aba t tel ah men ggu nak an e-mai l, sem aki n mer uap-rua pla h mim pi ero tik nya . Dar i ang an-ang an seb uah tek nol ogi mas sal yan g mem ban tu seo ran g gur u mel aya ni “sa tu jut a” sis wa seka lig us, men jad i ang an -aga n ten tan g

pem eri nta h leb ih dem okr ati s den gan men gan dal kan tek nol ogi inf orm asi . Tid ak jel asn ya mak sud nya , apa kah den gan mem ili ki e-mai l mak a seo ran g

327

“Bayangkan

- batas antar negara hanya berjarak antara ujung jari anda dengan keyboard!” kata ini paling menggambarkan keyakinan optimistik pada kemampuan teknologi, menjadikan jarak antara tubuh, keyboard dan bayangan tentang ‘batas negara’ sebagai ketunggalan pengalaman akan kehadiran kesadaran global. (Onno W. Purbo, Pergeseran Paradigma di Era Globalisasi, Institut Teknologi Bandung, sebuah artikel tanpa tahun di domain: http://www.bogor.net/idkf/idkf/aplikasi/pergeseran-paradigma-di-era-globalisasi-08-1998.r tf).

238

pre sid en dan baw aha nny a aka n men jad i tid ak dik tat or lag i atau ada mak sud lai n. Nyata nya , mim pi ero tik sem aca m ini buk an han ya dom ina si per seo ran gan , sif atn ya cen der ung “ma ssa l” dar ipa da “pe rso nal ”. Mim pi itu ber ada dal am jal ina n mor fol ogi “bay ang kan... ”, seb uah fan tas i pen uh god aan aka n ken ikm ata n cit a-cita “mu lia ” di mas a “fi ksi ”: “De nga n ter seb arn ya kno wle dge & kek uas aan pad a rak yat , mak a sec ara sim ult an uan g, kek ayaan & kek uat an eko nom i aka n ber ada la ngs ung pad a mas sa yan g ban yak tid ak lag i ter pus at pad a seg eli nti r pen gua sa & kon glo mer at yan g men yim pan uan gny a di Ban k-Ban k asi ng.”
328

Tekn olo gi

inf orm asi men jad i sum ber bag i pen get ahu an dan kek uas aan bag i rak yat , ter uta ma den gan ter seb arn ya tek nol ogi itu sec ara mer ata dan tid ak ter pus at han ya pad a dom ina si ter sen tra l. Hal ini men sin yal ir, set ida kny a unt uk saa t ini , bah wa dor ong an pem enu han bir ahi tek nol ogi s tid ak ter pus at lag i pad a keb ija kan

pem eri nta h neg ara sem ata . Sei rin g den gan mel eda kny a int ern et pad a akh ir tah un 199 0-an, ber sam aan den gan men gua tny a aru s isu -isu glo bal dan ten gge lam nya seb uah “pu sat rii l” yan g dom ina n pad a mas a Ord e Bar u di ant ara kek alu tan mas sa, Keh aus an aka n tra nsf er tek nol ogi dar i “lu ar” , bai k yan g dil aku kan ole h neg ara , lem bag a pen did ika n, eko nom i mau pun kon sum si mas yar aka t lua s, ter us mem ben gka k di lua r keb ija kan res mi yan g dir anc ang pem eri nta h. Men uru t IDC (In f orm ati on Dat a

328

Ibid., loc. cit.

239

Cor por ati on) , 329 dan a yan g sud ah dib ela nja kan unt uk kep ent ing an TI (te kno log i inf orm asi ) di Ind one sia ter mas uk tin ggi . Pad a tah un 200 0, dip erk ira kan US$ 772 ,9 jut a, nai k dar i US$ 638 ,4 jut a pad a tah un seb elu mny a. 330 Dar i jum lah ini , sek ita r 57, 7% dar iny a ada lah bel anj a per ang kat ker as sep ert i PC dan not ebo ok, dan sek ita r 14, 4% unt uk per ang kat lun ak. Nam un, pro por si ini din ila i mas ih ter bal ik dar i

ked udu kan seh aru sny a, seh ubu nga n den gan per kir aan bah wa pem baj aka n ter had ap sof twa re mem ili ki pan gsa yang jau h leb ih bes ar (di dug a men cap ai 90% ) dar i dat a pen jua lan res mi yan g dij adi kan ruj uka n. Sed ang kan dar i 17 sek tor yan g mel aku kan pen gga lak an bel anj a

tek nol ogi , sek tor pal ing ban yak men gel uar kan uan g ada lah kom uni kas i & med ia (19 ,3% ), dii kut i ole h dis creet man ufa ctu rin g (16 ,9% ), pem eri nta h (12 ,4% ), dan per ban kan (11 ,8% ). Kon dis i ini mel ahi rka n pah am-pah am bar u yan g mer asa tek nol ogi dap at ber per an seb aga i aks ele ras i dem okr ati sas i ata s pem eri nta han sua tu neg ara . Ala t kon tro l bag i kek uas aan neg ara . Mel alu i aru s inf orm asi yan g mem ban jir dar i lua r, dih ara pka n pem eri nta han seb uah neg ara tid ak dap at men utu p-nut upi “re ali tas ” yan g ter jad i. Dan , ber sam aan den gan cit a-cit a “lu hur ” ter seb ut, mer eba kla h pul a sua tu pol a konsu msi

tek nol ogi yan g sem aki n ber naf su. Sit uasi ini tid ak lup ut dar i pen gam ata n pen gam bil keb ija kan neg ara pad a pej aba t pem eri nta han pen gga nti rez im Hab ieb ie
329

yan g sin gkat

itu : “Den gan

ter buk any a sum ber

inf orm asi

Menurut Tabloid Kontan On-line tanggal 9 Oktober, seperti dikutip oleh Yanuar Nugroho dalam tulisannya berjudul Globalisasi, Teknologi Informasi dan Perubahan Sosial, sebuah tulisan dalam format e-text, dapat ditemukan di domain: http://www.unisosdem.org/article _full ver sion.php?aid=240&coid=2&caid=30&auid=4. 330 Sebuah angka yang fantastis untuk negara dengan krisis di bidang ekonomi.

240

mod ern , mas yar aka t Ind one sia tel ah dap at men gik uti per kem ban gan yan g ter jad i di lua r neg ara nya . Seb aga i aki bat nya tun tut an unt uk dap at men ikm ati bar ang dan jas a yan g dip rod uksi den gan tek nol ogi mod ern iku t pul a men ing kat .” 331 Dar i mim pi yan g sat u, ber bua h pad a mim pi yan g lai n, dar i seb uah cit a-cit a “lu hur ” ber ali h pad a has rat bel anj a yan g bes ar tek nol ogi . Tek nol ogi inf orm asi men jad i jen del a yan g mer ang san g ban gki tny a

keb utu han dan har apa n aka n tek nol ogi yan g sem aki n lam a sem aki n can ggi h, mem ika t, dan me-”ma buk ”-kan sep ert i saj ak Yud his tir a di baw ah ini :

MABUK

332

Mabuk oleh jutaan plastik Kepalaku jadi elastis Perut tembus pandang Usus dari selang Mataku fiberglas Bagai mainan bikinan Jepang Aku berjalan sempoyongan Di bawah cahaya gemerlapan Berbagai iklan metropolitan Bagai mainan bikinan Amerika Aku merangkak gemeretak Di bawah perintah kontrak-kontrak Berbunyi tik, tak, kakerlak Aku mabuk Aku mabuk jutaan elektronik Kepalaku penuh kabel listrik Pandangan mataku berbinar-binar
331

Keputusan Menteri Riset dan Teknologi No.2/M/Kp/II/2000, Kebijakan Strategis Pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nasional 2000-2004 (Jakarta: Kantor Menteri Riset dan Teknologi, Februari 2000), hal.10 Dikutip oleh Rachmat Djoko Pradopo dalam tulisannya berjudul Puisi Indonesia Modern Periode 1970-1990 ( Majalah Basis XL, No. 1, januari, 1991), hal. 29-30.

332

241

“E-nam-ju-ta-do-lar E-nam-ju-ta-do-lar..” 1982

2 . Ba h a ya d i b a w ah s e l i m u t d a n “j i m at ” W a w a s a n N u s a n ta r a Di lua r sem ua mim pi -mim pi ter seb ut, di sam pin g key aki nan bah wa tek nol ogi , lay akn ya mod ern isa si, ber jal an “ma ju” tan pa dap at

dih ala ngi , 333 ket aku tan aka n bah aya dan aki bat neg ati f yan g mun cul dar i tra nsf er tek nol ogi tan pa mel iba tka n kem ampua n neg ara unt uk men jad i med iat or, ada lah dis kur sus yan g lah ir ber sam aan den gan keb ele tny a tek nol ogi dia ngg ap seb aga i keb utu han mut lak : “Sem bar ang pes an ata u pro duk kom uni kas i yan g rad io, sam pa i TV, pad a pen dud uk neg ara buk u, kur angmaj ala h

ber kem ban g lew at

fil m,

vid eo-cas set e,

cen der ung men imb ulk an ber bag ai hal tak dii ngi nka n.”334 Mim pi -mim pi men jel ma men jad i anc ama n dal am ben tuk fan tas i ten tan g sit uas i

ber bah aya : “.. .ha rap an-har apa n dan sele ra kon sum tif yan g tak mun gki n dic apa i, sik ap ser ta gay a hid up yan g sam a sek ali tak ada hub ung ann ya den gan sit uas i neg ara itu sen dir i dan leb ih bur uk lag i, jug a men gan cam

333

Mimpi tentang teknologi yang lebih uzur usianya datang dari Tan Malaka dalam bukunya berjudul Madilog (ditulis tahun 1947): “Perhatikan induk mesin itu! Alangkah keras kerjanya! Asap nafasnya berbual-bualan, keringatnya kurasa panasnya. Dengarkan peluit-peluit memberi peringatan, Ke tepi, ke tepi, aku lari! Jangan lariku terganggu! Berapa ribu kilo barang kuangkut, berapa ratus jiwa di belakangku. Perempuan, lelaki, pemuda, pemudi, kanak-kanak dan bayi. Ke tepi, ke tepi, teriakku sekali lagi. Bahaya bagimu adalah noda bagi diriku. Keselamatan semua aku tanggung, jadi mesti kutepati. Satu menit terlambat menghilangkan namaku. Abangku masinis langsung bertanggung jawab. James Watt nama moyangku! Cepat cakap dan aman sentosa inliah semboyanku! Kesempurnaan adalah hari depanku.” Kutipan ini berasal dari edisi yang telah diperbarui (Jakarta: Pusat Data Indikator, cetakan pertama, 1999), hal. 445. Soedjatmoko, Dimensi Manusia dalam Pembangunan. Pilihan Karangan (Jakarta: cet. LP3ES, Jakarta, cetakan keempat, 1995), hal. 76.

334

242

unt uk men ind ih dan men cek ik kre ati vit as kul tur al asl i.” 335 Sep ert i han tu Eri ch Fro mm 336, tek nol ogi men jad i anc ama n sek ali gus keb utu han , kar ena itu dip erl uka n pen jin aka n dal am for mul a leb ih “me mbu mi” aga r neg ara neg ara tid ak ter anc am dar i kec and uan : “Han tu keh amp aan eks ist ens ial yan g nam pak nya men ata p mer eka yan g jug a sep enu hny a ter ben am dal am apa yan g din ama kan keb uda yaa n kos mop oli tan mod ere n, den gan beg ini mun gki n dap at dis ing kir kan ole h sua tu pro ses pem bua han sil ang yan g dip erb aha rui den gan keb uda yaa n-keb uda yaa n ser ta aga ma -aga ma dun ia yan g tra dis ion al.” 337 Kem bal i pad a key aki nan Ord e Bar u di ata s, anc ama n bah aya dar i “ip tek ” itu dij awa b mel alu i “im tak .” Nam un, tek nol ogi dan dam pak neg ati fny a 338 tid ak bis a din ega sik an beg itu saj a. Mel ain kan dib aur kan mel alu i sua tu “ac uan rel igi o-kul tur al” unt uk mem ber ika n: “mot iva si yan g leb ih kua t dan awe t bag i pol a-pol a pem ban gun an yan g ber sif at pri bum i,” ata u dal am bah asa lai n:
339

“Karena ilmu pengetahuan dan teknologi akan mewarnai keseluruhan

corak kehidupan mendatang, mau tidak mau segenap lapisan masyarakat harus dipersiapkan untuk memahami makna dan implikasi kesemuanya bagi kehidupan kita sehari-hari tanpa melupakan kapasitas dan kapabilitas masyarakat setempat (local geniuses) yang memiliki karakteristik tradisional (traditional knowledge). ”

335 336 337 338

Ibid., op. cit. Baca Bab III.

Ibid 334., op. cit., hal. 76-77. “Pertanyaan-pertanyaan mengenai dirinya sendiri, mengenai tujuan-tujuannya dan mengenai cara-cara pengembangannya tidak dapat dijawab lagi oleh ilmu dan teknologi tanpa referensi kepada patokan-patokan mengenai moralitas dan makna serta tujuan hidup manusia, termasuk mengenai yang baik dan yang batil dalam kehidupan manusia moderen.” Dalam: Soedjatmoko, Etika Pembebasan. Pilihan Karangan tentang: Agama, Kebudayaan, Sejarah dan Ilmu Pengetahuan (Jakarta: LP3ES dan Yayasan Obor, cet. kedua, 1985), hal 203. 339 Ibid., op. cit., hal. 76

243

Anc ama n keh ila nga n sua tu jat i dir i dar i “te kno log i uni ver sal ” kem bal i dij awa b den gan tek nol ogi yan g dib eri asp ek “re lig io-kul tur al” , tek nol ogi men jad i anc ama n sek ali gus sol usi 340. Di sin ila h kem udi an pro gra m-pro gra m hi -tec h buk ann ya dih apu s wal aup un dia ngg ap terus

ber pot ens i men gan cam kea sli an

ide nti tas

ban gsa , mel ain kan

did ana i dan dis akl ark an (fet ish ize d) 341 seb aga i bag ian dar i kek uat an ban gsa men gha dap i anc ama n, gan ggu an, ham bat an dan tan tan gan dar i lua r mau pun dal am neg eri :

“Dengan Palapa, saklarisasi artifak-artifak ‘hi-tech’ digabungkan dengan pengaruh militer pada ideologi nasional untuk menghasilkan efek yang menarik: kepercayaan bahwa dengan memiliki satelit, Indonesia akan semakin bersatu dalam cara berpikirnya tentang apa bangsa Indonesia itu. Kesatuan persepsi tentang bangsa ini diberi nama Wawasan Nusantara”

Den gan dem iki an, sat eli t yan g mer upa kan hi -tec h tid ak men jad i “ha l-hal yan g tid ak dii nga nka n”, wal aup un pad a pra kte kny a sat eli t tid ak sek ada r mem per lan car aru s inf orm asi ant arw ila yah dal am neg eri ,

mel ain kan jug a mem per mud ah aks es inf orm asi dar i lua r. Terle bih lag i,

340

Dalam suatu pidato di depan civitas Akademika I.T.S. (Institut Teknologi Surabaya) dalam rangka peringatan Dies Natalis lembaga tersebut, Fuad Hasan (mantan teknokrat di Orde Baru) menyebutkan: “Teknologi sebagai salah satu matra modernisasi makin cenderung ditonjolkan sebagai tolokukur untuk menilai sejauhmana tingkat modernisasi yang telah dicapai oleh suatu masyarakat. Bahkan tidak berlebihan kiranya kalau disimpulkan, bahwa dewasa ini makin menguat kecenderungan glorifikasi terhadap teknologi. Dalam perkembangannya, teknologi secara instrumental telah membuktikan kesanggupannya sebagai perpanjangan manusia, baik untuk dimanfaatkan secara konstruktif maupun digunakan dengan tujuan destruktif” (judul dan angka tahun tidak tercantum). “Ketika kita megatakan bahwa ‘hi-tech’ disakralkan, kita bermaksud menyatakan bahwa sepanjang Orde Baru, teknologi canggih dipandang dengan cara sama sebagaimana layaknya orang melihat jimat. Mereka percaya bahwa jika mereka dapat memilik benda-benda hi-tech maka mereka akan memiliki kekuatan yang luar biasa.” Menurut Joshua D. Baker dalam ReInveting the Wheel: Sebuah Tinjauan Antropologis terhadap Palapa, melalui kepemilikan terhadap teknologi tinggi seperti IPTN (Industri Pesawat Terbang Nasional), Satelit Palapa dan sebagainya, Orde Baru berharap Indonesia dapat segera meloncat dari fase pertanian menuju fase hi-tech yang merupakan ciri pembeda dari negara-negara maju (Ibid 322., op. cit., hal. 275-284).

341

244

sat eli t Pal apa

sam ase kal i buk an

tek nol ogi

yan g dip rod uks i sec ara

man dir i ole h Ind one sia : “Ba gai man apu n, dar i seg i tek nol ogi sat eli t Pal apa buk an mer upa kan ino vas i Ind one sia , tet api ino vas i Ame rik a. Ind one sia han ya mem bel i pro duk jad i —den gan uang yan g seb agi an bes ar dip inj am dar i ban k-bank Ame rik a.” 342 Ses uat u yan g seh aru sny a asi ng dan ber asa l dar i “lu ar” , buk an han ya dit eri ma den gan tan gan ter buk a, mal aha n men jad i bag ian Ind one sia dar i per sep si dan car a pan dan g ban gsa wil aya h, pol iti k,

mel iha t dir iny a seb aga i sat u kes atu an

eko nom i, sos ial , bud aya , per tah ana n dan kea man an yan g ter him pun dal am dok tri n Waw asa n Nus ant ara . Di sin ila h ala san men gap a tek nol ogi tra dis ion al yan g pad a sat u sis i men gha mba t pem ban gun an, pad a kea daa n lai n men jad i “pe nye les ai an” ter had ap mas ala h yan g dit imb ulk an tek nol ogi mod ern . Seb ali kny a,

tek nol ogi mod ern yan g dip erc aya mem bawa man usi a Indon esi a pad a tah ap pem ban gun an mod ern , ket ika dir asa kan mem baw a per mas ala han bar u 343, dis ele sai kan mel alu i sol usi asi mil asi ant ara ide nti tas kul tur al den gan tek nol ogi 344. Tek nol ogi mod ern , mul ai dia dap tas i seb aga i bagia n

342

Ibid., op. cit., hal. 275. Menurut Ir. Willy Moenandir M., gagasan tentang Satelit Palapa bermula dari sebuah konferensi di Jenewa tahun 1971. Adalah Hughes, sebuah perusahaan raksasa pesawat terbang yang menarwakan ide ini kepada Suhardjono, wakil Indonesia, sebelum akhirnya diterima oleh Soeharto. Soeharto menyambutnya secara positif dan memberi nama Palapa sebagai calon satelit pertama Indonesia. Selain pertimbangan ideologis, satelit Palapa diadakan dengan dasar pertimbangan keuntungan ekonomis yang lebih kentala daripada sekadar masalah keuntungan ideologis. Palapa diluncurkan pada bulan Agustus, 1976 di Cape Canaveral, Frolida. (Wawancara dengan Ir. Willy Moenandir M., Ibid., hal. 107-110).

343

“Kerawanan moral dan etis muncul karena kemaksiatan dan munkarat kini juga mengalami massifikasi. Perjudian adalah salah satu contoh yang mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas berhubung dimungkinkannya massifikasi dengan bantuan ala-alat teknologi informasi mutakhir.” D.R. Amien Rais, Dakwah Menghadapi Era Informasi, artikel dalam buku berjudul Demi Kepentingan Bangsa (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hal. 17. 344 “...bagaimana dakwah harus menghadapi massifikasi maksiat dan munkarat? Kita mengenal ungkapan populer yang mengatakan al baqqu bilaa nidhaamin yaghlibhuu al-bathilu bi nidhaamin. Kebenaran tanpa didukung organisasi yang rapi akan dikalahkan oleh kebatilan

245

dar i ide nti tas kul tur al, sam bil sec ara was -was ber usa ha men ceg ah pen gar uh neg ati f yan g dat ang dar iny a. Di sin ila h tek nol ogi buk ann ya sem aki n ten gge lam , mel ain kan sem aki n dir asa kan unt uk dib utuhk an. Tid ak lag i ber mas ala h, apa kah eks pan si tek nol ogi dap at ata u tid ak dap at men jad i anc ama n ide nti tas kul tur al. Pem eri nta han kab ine t pre sid en Gus Dur , con toh nya , pad a akh ir Jan uar i 200 1 lal u men can ang kan pro gra m yan g dis ebu tny a: “Ge rak an Nas ion al Tel ema tik a” dan “Nu san tar a 21” . Dal am pro gra m pe rta ma, ant ara lai n dia mbi l lan gka h seb aga i ber ikut: “Me mas ukk an TI seb aga i

kur iku lum waj ib sej ak Sek ola h Das ar SD. ” Lan gka h ini dii kut i “ja rin g pen gam an” kul tur al mel alu i keb ija kan sep ert i Inp res No .2/ 200 1, yai tu mem bak uka n pen yus una n ist ila h-ist ila h apl ika si kom put er bah asa dal am bah asa dan Ind one sia , akh irn ya

kom put er

Ind one sia

men gan jur kan kep ada Men ris tek dan Men dik nas unt uk: “men ggu nak an apl ika si kom put er ber bah asa Ind one sia dal am mel aks ana kan t uga s dan fun gsi nya yan g dil aku kan mel alu i pen ggu naa n kom put er.” Keb ija kan ini , di sat u sis i mer upa kan usa ha men asi ona lis asi tek nol ogi inf orm asi mel aui jal ur bir okr asi , nam u di pih ak lai n sem aki n men unj ukk an bet apa TI tel ah men jad i sua tu kep ent ing an yan g meram bah hin gga ber bag ai kep en tin gan
dengan organisasi yang rapi. Dewasa ini manusia modern melakukan amar makruf nahi mungkar telah menggunakan teknologi informasi dan komunikasi modern. Mereka benarbenar memanfaatkan secara maksimal penggunaan jasa teknologi canggih.” (Ibid., op. cit., hal. 17-18). Bagi kelompok Islam, teknologi informasi sendiri merupakan senjata yang digunakan “lawan”, sehingga perlu digunakan senjata yang sama untuk melakukan serangan balik. Bukan hanya pada hal-hal yang maksiat dan mungkar, melainkan persaingan antar agama merupakan alasan yang semakin mendesak pentinya mengadopsi teknologi informasi sebagai bagian dari strategi dakwah: “Saudara-saudara kita kaum Nasrani jelas sudah menyiapkan diri dengan baik untuk menyongsong era baru pertelevisian tsb. Bagaimana dengan MUI? Muhammadiyah? NU? ICMI? Dlsb? Inilah salah satu tugas penting dalam era informasi yang harus kita laksanakan bila kita tidak ingin melihat dakwah Islamiyah di Indonesia mengalami keterbelakangan.” (Ibid., hal. 19-20). Dikotomi Iptek dan Imtak tidak lagi terlalu menjulang seperti yang dibayangkan, masyarakat kultural ramai-ramai mengadopsi teknologi informasi sebagai bagian dari strategi menghadapi globalisasi.

246

nas ion al. Den gan mem asu kka n TI ke dal am kur iku lum waj ib sej ak SD, pem eri nta han Gus Dur yan g sin gka t tel ah mem bua t keb ija kan yan g ber pen gar uh bes ar pad a mas a dep an nas ion al, di man a ket erg ant ung an dan keb utu han aka n TI sem aki n dit ana mka n dal am ben ak set iap ind ivi du. TI, tid ak lag i di lua r str ukt ura l pem eri nta han ata u sek ada r fun gsi pen duk ung , mel ain kan mer upa kan ken ica yaa n mut lak . Di lua r dug aan , Gus Dur den gan tra dis i pes ant ren dan kea gam aan yan g kua t ser ta seb elu mny a dik enal seb aga i tok oh aga ma, tet ap saj a men gan dal kan tek nol ogi seb aga i kes atu an str ate gi dal am men did ik mau pun mem ban gun bir okr asi ber akh ir. pem eri nta han nya Len gka pny a, di wal aup un baw ah Orde Bar u tel ah din yat aka n yan g

pem eri nta h

Meg awa ti

men gga nti kan Gus Dur , unt uk per tam a kal i pad a sej ara h ket ata ne gar aan Ind one sia ter bit lah UU No. I8 Tah un 200 2, ten tan g Sis tem Nas ion al Pen eli tia n, Pen gem ban gan , dan Pen era pan Ilm u Pen get ahu an dan

Tek nol ogi 345. Den gan dem iki an, kua tny a has rat aka n pen gua saa n sua tu tek nol ogi yan g ses uai , ber dir i di lua r pol a-pol a kek uas aan ata u

keb ija kan pol iti s seb uah rez im bel aka . Mel ain kan ter us ber tah an sec ara ham pir “pe rma nen ” dar i sat u rez im ke rez im ber iku tny a seb aga i

dor ong an keb utu han yan g mun cul ter us dal am ane ka sim pto m bes ert a sem ua kon tra dik si dan kon fli k-kon fli kny a.

345

Undang-undang (UU) ini tidak benyak memberikan suatu kebijakan baru mengenai teknologi. Dalam berbagai segi, UU tersebut hanya mengesahkan peran ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai sebuah “kekuatan” dan “sumber kemakmuran” yang harus diadopsi oleh negara seperti yang telah dicanangkan pendahulunya: “Ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis adalah berbagai cabang ilmu pengetahuam dan teknologi yang memiliki keterkaitan yang luas dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara menyeluruh, atau berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat, kemajuan bangsa, keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara, pelestarian fungsi lingkungan hidup, pelestarian nilai budaya luhur bangsa, serta peningkatan kehidupan kemanusian.” Lihat Bab I: Ketentuan Umum, pasal 1, poin 3.

247

3 . Ke se j a ja r a n b e rs a m a “ w a r g a d u n i a” Sua san a dil ema tis mun cul pad a sit uas i di man a dor ong an “ob yek tif” dar i sem aki n mas sif nya kes ada ran glo bal aka n tek nol ogi , ber tub ruk an den gan ket aku tan keh ila nga n kep rib adi an “na tur al” yan g dis usu pi kep rib adi an bar u tan pa aka r geo gra fis dan bud aya . Tek nol ogi bek erj a mel alu i jar ing tra nse nde n di lua r rua ng -rua ng kek uas aan neg ara , dan pen gua saa n ata s tek nol ogi dil and asi tuj uan nas ion al yan g ban yak dip eng aru hi Seh ing ga

kek haw ati ran

aka n ket ert ing galan

dar i kem aju an

glo bal .

tek nol ogi , wal aup un dis iny ali r dap at men jad i mom ok bag i kel ang sun gan ide nti tas nas ion al, dia tet ap men jad i pen ent u pos isi nas ion al di dun ia glo bal . Kar ena nya tekno log i tet ap mer upa kan keb utu han men des ak: “.. .pe rlu nya ban gsa Indon esi a unt uk men sej aja rka n dir i dal am dun ia int ern asi ona l dal am men gua sai ilm u pen get ahu an dan tek nol ogi .” 346 Dal am par adi gma “ke sej aja ran ”, Ind one sia aka n dit eri ma seb aga i bag ian mas yar aka t Int ern asi ona l ata u “wa rga dun ia” , buk an neg ara yan g

men gej ar dom ina si pen uh ter had ap ban gs a-ban gsa lai n. Dia men jad i bag ian “wa rga dun ia” yan g “ci nta dam ai” , dan “ke pri bad ian ban gsa ” kin i dih adi rka n dal am “ke sej aja ran ”, “ke set ara an” dan “ke man dir ian ”: “Den gan dem iki an ilm u pen get ahu an dan tek nol ogi aka n men yed iak an duk ung an bag i pem ban gun an nas ion al yan g ber lan gsu ng sec ara

ber kel anj uta n, seh ing ga sec ara nya ta aka n men umb uhk an pem ben tuk an

346

Ibid 331., op. cit., hal. 1.

248

kem and iri an,

ket aha nan

dan

keu ngg ula n

dal am

kai tan nya

den gan

per cat ura n glo bal .”347 “Tu jua n nas ion al” dit emp atk an dal am kon tek s bar u seb aga i

bag ian pen ent uan pos isi dal am mas yar aka t glo bal . Dal am pen ent uan pos isi , “ke sej aja ran ” han ya mem ung kin kan tar ik ulu r kep ent ing an

mel alu i per sai nga n di man a jug a mer upa kan : “kem amp uan ban gsa dal am ber bag ai tan tan gan dan per sai nga n glo bal , men ing kat kan kem akm ura n dan kes eja hte raa n hid up rak yat sec ara nya ta dan ber kel anj uta n den gan tin gka t per tum buh an dan dis tri bus i yan g sec ara pol iti s dan kul tur al dit eri ma ole h sel uru h lap isa n mas yar aka t.”
348

Ant ara tuj uan nas ion al dan

per sai nga n dal am tat ana n kes eta raan glo bal dib eri pen afs ira n bar u seb aga i kec end eru nga n yan g ber jal an lin ier dal am kem aju an tek nol ogi : “Men yed iak an duk ung an ilm u pen get ahuan pen gel ola an dan seg ala tek nol ogi ses uat u unt uk yan g

men gem ban gka n

kem amp uan

mer upa kan kec end eru nga n ata u kep rih ati nan glo bal , ser ta men ing kat kan kom pat ibi lit as pem ban gun an nas ion al den gan per kem ban gan glo bal .” 349 Dal am acu an pem ban gun an ini , tek nol ogi , mau tid ak mau , men eri ma ata u men ent ang , ber sam a-sam a den gan era glo bal isa i, ada lah sua tu tak dir “ob yek tif ” yan g har us ditem puh unt uk tet ap dap at ber tah an dal am per sai nga n glo bal . Keb era daa n tek nol ogi dal am keh idu pan lok al buk an lag i han ya seb uah pil iha n, mel ain kan keh aru san.

347 348 349

Ibid., hal. 6. Ibid., hal. 5. Ibid., hal. 57.

249

Cla ude Lév i-Str aus s mem per hat ika n kec end eru nga n ser upa ter jad i pad a neg ara -neg ara “be rke mba ng” di selur uh dun ia: “Apa yan g

dik elu hka n neg ara -neg ara “ ber kem ban g” dal am per tem uan-per tem uan int ern asi ona l buk anl ah mer eka mer asa dib uat sep ert i ora ng Bar at, nam un jus tru mer eka tid ak dib eri car a-cara yan g cuk up cep at unt uk men yer ap keb uda yaa n Bar at .” 350

C. TE KN OL OG I SE BA GA I KE KU AT AN “O BY EK TI F” PE RA DA BA N
“Tid akk ah kit a lih at ,” tan ya Lév i-Str aus s, “bah wa sel uru h dun ia sec ara pro gre sif tel ah mem inj am tek nik -tek nik Bar at, gay a hid upn ya, hib ura n hib ura nny a hin gga pak aia n -pak aia nny a ?” 351 Dit eri man ya bud aya “Ba rat ” ole h nega ra -neg ara “no n-Bar at” mer upa kan pro ses uni ver sal isa si seb uah per ada ban , wal aup un pad a awa lny a, pem aks aan pen eri maa n bud aya “Ba rat ” ter jad i set el ah bud aya “lo kal ” dip ora k por and aka n ter leb ih dah ulu . Kea daa n ini men gha sil kan sua tu ket imp ang an per ada ban an tar a mod el -mod el “Ba rat ” yan g dit eri ma seb aga i sup eri ori tas ole h

mas yar aka t bud aya lai nny a den gan bud aya mas yar aka t itu sen dir i. 352 Nam un apa kah pen gak uan ata s sup eri ori tas “Ba rat ” ini sif atn ya

kon sen sus , ata u jus tru ada lah has il sua tu pen jaj aha n ole h “Ba rat ”?

350

Claude Lévi-Strauss, Ras & Sejarah, diterjemahkan oleh Nasrullah Ompu Bana (Yogyakarta: LkiS, 2000), hal. 48. Ibid., op. cit., hal. 47. Ibid., hal. 48.

351 352

250

Ked uan ya

dit ola k Lév i-Str aus s:

“Ket ida kse imb ang an

ini

tid ak

mun cul lag i dar i sub jek tiv ita s kol ekt if, ... Inila h fen ome na obj ekt if yan g han ya pen yeb ab-pen yeb ab obj ekt ifl ah yan g dap at men jel ask annya .” 353 Bag i Str aus s, pen gak uan ata s per ada ban “Ba rat ” seb agai yan g pal ing sup eri or tel ah men jad i fen ome na rii l dan dit eri ma sec ara pen uh ole h dun ia: “Ter buk ti sej ak set eng ah aba d yan g lal u, per ada ban Bar at sec ara kes elu ruh an, mau pun lew at beb era pa ele men ter ten tu cen der ung

men jad i kun ci, sep ert i hal nya ind ust ria li sas i, yan g ter seb ar lua s di sel uru h dun ia .” 354 Rev olu si ind ust ri yan g ter jad i pad a Aba d 18 hin gga 19 men gha nta r per ada ban “Ba rat ” pad a sua tu per an dan pos isi yan g uni k dal am hub ung ann ya den gan “no n-Bar at” . Men uru t Str aus s, rev olu si ind ust ri mer upa kan ala san men gap a dib and ing “Ba rat ” sec ara “ke bet ula n” lai nny a. mem ili ki Sep ert i

keu ngg ula n tek nik

per ada ban-per ada ban

rev olu si Neo lit iku m 355 yan g sec ara ser ent ak ter jad i di Yun ani Kun o, Mes ir, Tim ur Ten gah , Lem bah Hin dus tan dan Cin a, rev olu si ind ust ri ber ang kat dar i Ero pa Bar at, Ame rik a Ser ika t, Jep ang , Uni Sov yet dan akh irn ya men yeb ar hingg a ke dae rah -dae rah yan g kin i di seb ut seb aga i

353 354 355

Ibid., hal. 51. Ibid., hal. 48. Revolusi Neolitikum atau biasanya disebut sebagai “zaman batu halus”, adalah suatu periodisasi perkembangan kultural dalam Antropologi yang dideterminasi pada model-model teknik pembuatan peralatan-peralatan didominasi batu-batuan yang lebih “halus” dibanding dengan zaman sebelumnya, Paleolitikum atau “zaman batu kasar”. Diduga merupakan zaman di mana lahirnya sejumlah teknik umum seperti; bertani, beternak, pembuatan gerabah, menenun dll. yang masih banyak dipakai hingga saat kini. Dan peradaban selanjutnya lebih merupakan usaha penyempurnaan belaka dari teknik-teknik yang muncul pada masa itu. (Ibid., hal. 52.)

251

“Du nia Ket iga ”. 356 Mew aki li sif at glo bal dan men yel uru h, tek nol ogi mas a rev olu si ind ust ri mer upa kan pen yem pur naa n pal ing ber has il ter hadap mod el -mod el bud aya rev olu si Neoli tik um, mel alu i sej uml ah per ang kat sep ert i: ari tma tik a, geo met ri dan ilm u-ilm u pen get ahu an yan g tum buh sub ur di “Ba rat ”. 357 Dal am kon tek s ini , Str aus s men emu kan fen ome na “ob yek tif ” dan seb ab -seb abn ya ber ada dal am per ab tek nol ogi , ser ta per ada bab “Ba rat ” seb aga i pen gus ung uta man ya. Buk an sek eda r pen und uka n mel alu i kek uas aan pol iti s, sos ial , bud aya ata upu n eko nom i yan g mem bua t mem bua t “Ba rat ” mun cul seb aga i pus at mod el “ke maj uan ”, mel ain kan mel alu i tek nol ogi , rev olu si ala t-ala t pro duk si yan g sec ara “ob yek tif” dia kui pul a mas yar aka tmas yar aka t lai nny a leb ih “ma ju” dan “be rke mba ng” dib and ing “al at-ala t tra dis ion al” , “Ba rat ” mer eng kuh ked udu kan nya sek ara ng. Ber sam aan , tek nol ogi rev olu si ind ust ri dia ngg ap seb aga i car a ter bai k me mpr odu ksi kem akm ura n. Per lah an -lah an ket ika nas ion -nas ion di Asi a, Afr ika dan Ame rik a Lat in ter ben tuk , ser ta-mer ta tek nol ogi seg era pul a men jad i sar ana bag i men cap ai cit a-cit a nas ion al mer eka . Kar ena itu , ket ika seo ran g etn ogr af dar i “Ba rat ” ber kun jun g ke suk u-suk u mis kin di Brazi l Tim ur dan ber usa ha mel aku kan pen yes uai an, men emu kan pen dud uk asl i men ang isi nas ibn ya yan g jau h dar i tem pat tin gga lny a di “Ba rat ”. Bag i mer eka , “Ba rat ” mer upa kan tem pat yan g leb ih “in dah ” dib and ing kan Brazi l yan g mis kin dan ter tingg al. 358 Ata u

356 357 358

Ibid., hal. 61. Ibid., hal. 59. Ibid., hal. 50.

252

jug a con toh lai n yan g leb ih eks tri m. Seo ran g ant rop olo g dar i Inggr is men dat ang i seb uah des a pel oso k di Afr ika Ten gah unt uk mel aku kan stu di lap ang an ten tan g mas yar aka t tra dis ion al. Ket ika dia diu nda ng unt uk mey aks ika n hib ura n mal am seb aga i pen yamb uta n ata s ked ata nga nny a, dal am pik ira nny a, dia men gir a aka n dis amb ut den gan per tun juk kan tra dis ion al yan g uni k seb aga i keb uda yaa n lok al. Jau h dar i bay ang ann ya, ter nya ta dia han ya dia jak unt uk non ton fil m dar i vid eo ber jud ul : Bas ic Ins tin ct! 359 Mel alu i se mua con toh ini , has rat aka n tek nol ogi dar i “Ba rat ” mer upa kan dor ong an yan g mun cul dan tam pak dar i per ila ku pub lik sec ara lua s, tan pa han ya ter sen tra l pad a tin gka h lak u neg ara dan apa rat nya saj a. Dia dit eri ma seb ahg ai ses uat u yan g uni ver sal mem baw a “ke maj uan” men gad apt asi dan dan “ke mak mur an. ” men era pka n Kep ent ing an dal am unt uk for mat seg era “lo kal ”,

tek nol ogi

mer upa kan has rat tid ak kun jun g pad am. Tek nol ogi mem ili ki kad ar oby ekt ivi tas , neg ara -neg ara “no n-bar at” ber usa ha mem ber ika n sen tuh an lok al (su bye kti f) dan ber har ap bis a mem baw a mas uk fun gsi “ob yek tif ” tek nol ogi tan pa mel iba tka n kar akt eri sti k “su bye kti f” bud aya “Ba rat .” Seb uah har apa n yan g tam pak nya mun gki n ber has il, jik a ang gap an bah wa tra nsf er tek nol ogi tid ak sel alu ber art i asi milas i bud aya dap at dib ukt ika n ben ar. Har lan Cle vel and men ola k gag asa n ini , sam bil men unj ukk an bag i

bah wa tek nol ogi
359

mem ili ki kon sek uen si kul tur al tak

ter ela kan

Anthony Giddens, Runaway World. Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001), hal. 1.

253

per ada ban

yan g

men gad ops iny a

seb aga i

bag ian

keh idu pan

seh ari -

har iny a: “Sat u aba d yan g lal u kek ais ara n Cin a mem bed aka n ant ara ‘Aj ara n Cin a dem i hal -hal yan g ese nsi al’ dan ‘Aj ara n Bar at dem i hal -hal yan g pra kti s.’ Tet api pad a mas a ini , bag aim ana seo ran g pem imp in mem bed aka n yan g pra kti s dan ese nsi al, ter uta ma jik a yan g pra kti s itu beg itu ese nsi al? ”360 Cle vel and men gin gat kan : “Sej umla h bes ar bud aya yan g ber das ar ilm u mun cul dan dii mpo r dal am kem asa n ‘pr aktis ’.” 361 Sem ent ara itu , ese nsi nil ai -nil ai “Ba rat ” men gin tai kes emp ata n unt uk mun cul dan eks is mem pen gar uhi mas sa “pe mak ain ya” . Di sin i ter jad i dil ema bag i neg ara -neg ara ber kem ban g dala m mel aku kan ado psi tek nol ogi . Seb ab, wal aup un tek nol ogi dia ngg ap

“ne tra l” dan “ob yek tif ”, sec ara pri nsi pil : “Yan g mel eka t pad a tek nol ogi mod ern ada lah gag asa n Bar at ten tan g pem bat asa n pem eri nta han ,

ten tan g keb eba san unt uk men emu kan ses uat u dan ber eks per ime n ser ta ber ino vas i, ten tan g hak -hak pek erj a, ten tan g man aje r yan g mem imp in tet api tid ak ber sik ap seb aga i bos s.”362 Tra nsf er ata s tek nol ogi dar i “Ba rat ”, mau tid ak mau , mer upa kan pen eri maa n jug a ter had ap nil ainil ai kul tur al dar i Bar at. Kar ena itu , pen eri maan tek nol ogi rev olu si ind ust ri “Ba rat ”. “Ba rat ”, jug a ber mak na men eri ma nil ai -nil ai sup eri ori tas

360

Harlan Cleveland, Lahirnya Sebuah Dunia Baru. Momen Terbuka Untuk Kepemimpinan Internasional, diterjemahkan oleh P. Soemitro (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, edisi pertama, Mei 1995), hal 18-19. Ibid., op. cit. hal.19. Ibid.

361 362

254

Poi n ini ber mua ra pad a dua pen dap at ber bed a. Di sat u sis i, tek nol ogi dia ngg ap seb aga i uni ver sal , “ob yek tif ” dal am dir iny a. Dan , di sis i lai n, tek nol ogi not aben e tid ak lai n ada lah ala t pro pag and a ideol ogi “Ba rat ” dan car a men guk uhk an sup eri ori tas nya . Pad a sat u kut ub,

tek nol ogi tid ak mem ili ki nil ai pol iti s, tek nol ogi han ya ber art i pro duk si, duk ung an eko nom i, kem akm ura n dan cit a-cit a men uju mas yar aka t ide al. Pada por os lai n, tek nol ogi tid ak lai n ada lah ala t heg emo ni dar i “Ba rat ”, dia “su bye kti f” seb aga i bag ian dar i ide nti tas “Ba rat ”, seb aga i age n yan g men yam pai kan “ke agu nga n”, “ke ung gul an” dan “ke maj uan ” per ada ban “Ba rat " Jik a arg ume n per tam a dit eri ma, pan dan gan tek nol ogi han ya

sek ump ula n ben da-ben da yan g ber dir i sen dir i, tan pa keh adi ran “id e” di dal amn ya jug a har us rel a dit eri ma. Nam un, den gan dem iki an, tek nol ogi dap at dip ert uka rka n sec ara mau pun kul tur al. beb as tan pa ada nya per uba han yan g sos ial dia kui ,

Seb ali kny a,

jik a panda nga n

ked ua

tek nol ogi men jad i cir i dan mil ik mas yar aka t ter ten tu. Sem ata -mat a has il kar ya dan rek aya sa ide olo gis sua tu kel omp ok unt uk kep ent ing an

ter ten tu. Ada “su bye k” mut lak yan g mem ega ng ken dal i sec ara pen uh ata s tek nol ogi . Ked ua pan dan gan ter seb ut sam a-sam a mem baw a per mas ala han

dal am dir iny a sen dir i. Jik a pan dan gan tekno log i itu “ob yek tif ” dan “be bas nil ai” dit eri ma, mak a sep ert i yan g dib aha s seb elu mny a,

men gad apt asi tek nol ogi , ber art i jug a men gad apt asi sik ap, per ila ku dan pen get ahu an yang dip ero leh mel alu i ser ang kai an tin dak an

255

“pe nye sua ian ”

dir i

yan g

ber art i

jug a

bah wa

tek nol ogi

mem ili ki

kar ate ris tik sub yek tif di dal am dir iny a 363. Ter jad i per uba han mas yar aka t ber sam aan den gan mun cul nya sua tu tek nol ogi bar u. Wal aup un lah irn ya tek nol ogi mod ern ber asa l dar i “Ba rat ” dan dia ngg ap mer upa kan bag ian dar i ide nti tas nya , “Ba rat ” sen dir i men gal ami per uba han kul tur al, nil ai mau pun pan dan gan ber sam aan den gan hadir nya tek nol ogi bar u yan g mer eka kre asi kan . Ant ara “Ba rat ” seb elu m rev olu si ind ust ri dan “Ba ra t” yan g dik ena l ses uda hny a buk an lag i str ukt ur mas yar aka t yan g ser aga m dan sam a. Dem iki an pul a, rev olu si tek nol ogi inf orm asi pad a per ten gah an 196 0-an, jug a mem ber ika n per uba han def ini si bag i “Ba rat ” itu sen dir i “Su bye k” “ob yek tif ” men gal ami tek nol ogi , per uba han wal aup un str ukt ura l tek nol ogi ole h tet ap kar ena
364

.

kek uat an sua tu

mer upa kan

str ate gi yan g bis a ber uba h bat as -bat asn ya ole h sua tu aks i dar i “su bye k”. Dis ini lah mun cul sua tu usa ha unt uk mem ber ika n tek nol ogi

kar akt er dan kon tru ksi yan g ber dir i sen dir i: pen gem ban gan ene rgi nuk lir cen der ung

“Dal am ska la mak ro, sen tra lis asi ,

mem per kua t

sed ang kan ben tuk ene rgi yan g leb ih lem but leb ih men dor ong ada nya
363

“Kebudayaan modern teknologi itu kontradiktif. Dalam arti tertentu dia bebas nilai, netral. Bisa dipakai atau tidak. Pemakaiannya tidak mempunyai implikasi ideologis atau keagamaan [...] Akan tetapi sekaligus kebudayaan itu ampuh dalam mewujudkan sistem nilai dan norma yang baru yang dapat amat sangat menentukan sikap hidup nyata seseorang, bahkan sekelompok orang, sebuah masyarakat sebagai keseluruhan. Menghayati kebudayaan teknologis modern berarti mempunyai faham-faham, sikap-sikap, penilaian-penilaian, prioritas-prioritas dan cara-cara berfikir tertentu.” Simak bahsan ini pada Frans Magnis Suseno, Dampak Relativisme Kebudayaan, dimuat dalam Majalah Basis XXXIX-I, Januari 1990, hal. 20. Lihat juga komentar DR. J Verkuyl dalam Etika Kristen: “sungguhlah jika kita manusia, di dalam perkembangan teknik itu merupakan hubungan antara alat dan tujuan, yakni bahwa alat itu akan menjadi tujuan, sehingga teknik itu menjadi suatu berhala, Suatu ‘Moloch’, yang menuntut anak2 kita sebagai korban” (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1992), hal. 96-97. Alat yang netral sekaligus menjadi tujuan sebagai suatu visi. Pergulatan antara alat dan tujuan menjadikan teknologi sebagai “keajaiban” sekaligus “hantu” yang “mengerikan”. 364 “Akan tetapi meskipun kebudayaan teknologi modern jelas sekali ikut menentukan wujud kebudayaan barat, anak itu sudah menjadi dewasa dan sekarang memperoleh semakin banyak masukan non-Barat pula, misalnya dari Jepang” (Ibid., loc. cit., hal. 19).

256

pol a pem ban gun an yang leb ih men dek ati des ent ral isa si. ”365 Set iap mod el tek nol ogi mem ili ki kar akt er kha s dal am dir iny a seb aga i str ukt ur man dir i. Str ukt ur seb uah tek nolog i mem ber ika n wuj ud bag i str ukt ur mas yar aka t. Aka n tet api , sua tu pen era pan kek uas aan yan g kha s aka n mer uba h kar akt er ini :

“ Teknologi dapat dipakai dalam pelbagai cara, dengan konsekuensi

yang berbeda dari distribusi kekuasaan... Di dalam komunikasi elektronik, radio dan televisi cenderung memperkuat sentralisasi, meskipun teknologi yang sama dengan kebijaksanaan yang tepat mengenai programming dan kontrol, digunakan untuk meningkatkan 366 partisipasi rakyat, inisiatif dan pengaruh lokal.”

Dal am hal ini , fun gsi dan ked udu kan tek nol ogi ber uba h ter us men eru s ter ika t pad a sit uas i ter ten tu, dan ter uta ma, ada lah tek nol ogi sek eda r bag ian dar i per enc anaan pen gem ban gan sua tu dae rah : “Kal au kita tak men gin gin kan TV men jad i ala t yan g mem per bes ar gai rah bua t pin dah ke kot a, ia har us dij ina kka n gun a mem enu hi ber bag ai keb utu han par tis ipa si kul tur al di des a.” 367 Kar ena itu dip erl uka n jar ing an dar i ber bag ai kel omp ok unt uk bek erj asa ma dem i: “men gar ahk an tek nol ogi bua t

tujua n-tuj uan sos ial , dan per ana n sen tra l dar i org ani sas i sos ial ser ta pem ban gun an sos ial dal am mod el ini .” Pan dan gan ini men ola k ang gap an Cle vel and bah wa tek nol ogi dan nil ai -nil ai “Ba rat ” ada lah rel asi yan g mut lak , sek ali gus men eri ma bah wa set iap tek nol ogi mem ili ki kar akt eri sti k ter sen dir i. Pan dan gan ini

men eri ma kem ung kin an ada nya nil ai-nil ai ter ten tu yan g dib awa ole h
365 366 367

Ibid 334., op.cit. hal. 181. Ibid., op.cit. Ibid., op.cit., hal. 137

257

tek nol ogi , nam un men ola kny a seb aga i har ga mat i yan g har us dip atu hi. Mel ain kan dia men awa rka n tek nol ogi bis a dit era pka n den gan str ukt ur ter tentu yan g sif atn ya “lo kal ”. Pad a tah ap ini kec end eru nga n ang gap an bah wa tek nol ogi itu ber sif at uni ver sal (bi sa dis esu aik an dan

dia dap tas ika n den gan mud ah pad a nil ai -nil ai kul tur al lai n -lai n) tet ap tid ak bis a dit ola k, wal aup un jug a pen dap at Cle vel and , tek nol ogi

mem baw a tug as ide olo gi ter ten tu jug a mer upa kan arg ume n yan g kua t. Han ya saj a kec end eru nga n Cle vel and aka n keb era daa n sua tu kon sep oby ekt if “Ba rat ” yan g seb aga i bag ian tak ter pis ahk an dar i tek nol ogi tet ap buk anl ah kon se p yan g dap at lan gsu ng dit eri ma kol eks i. Pen uli s men cob a men awa rka n alt ern ati f, di man a “te kno log i” dan “id eol ogi ” ada lah sua tu kon str uks i yan g dap at den gan mud ah dip ert uka rka n dan tid ak man dir i sec ara kon tra dik tif sat u sam a lai n. Seb ali kny a bai k “te kno log i” mau pun “id eol ogi ” ada lah dis kur sus yan g ter us dip rod uks i seb aga i str ate gi sal ing men gua tka n pos isi masin g-mas ing .

D.

PE MB AU RA N

AN TA RA

DI SK UR SU S

“T EK NO LO GI ”

DA N

DI SK UR SU S “A LA M”
Dsi kur sus ten tan g tek nol ogi mem ang lah ir dan ber asa l dar i “Ba rat ”, dia mer upa kan bag ian dar i pro yek rev olu si indu str i. Dal am def ini si awa lny a, dia mer upa kan ter min olo gi yan g men jel ask an seg ala ses uat u dal am nil ai nil ai fun gsi ona l. 368 Kel anj uta nny a, wac ana tek nol ogi dib awa ke dae rah dae rah kol oni seb aga i pak et dar i “ke maj uan ” dan “ta tan an” ( ord er),
368

Howard Dowen-Jones, Teknologi dan Dunia Ketiga, dalam Alan B. Mountjoy, Dunia Ketiga dan Tinjauan Permasalahannya (Jakarta: Bumi Aksara, cet.1, February, 1984), disunting oleh Dr. Prijono Tjiptoherijanto, terjemahan D.H. Gulö.

258

sek ali gus seb aga i bag ian dar i mes in rak sas a kap ita lis me dal am ben tuk ali ena si div isi -div isi bur uh: “The iso lat ed gro up of lab our ers to who m any par tic ula r det ail fun cti on is ass ign ed, is mad e up of hom oge neo us ele men ts, and is one of the con sti tue nt par ts of the tot al

mec hanis m.” 369 Dar i sini, dis kur sus tek nol ogi men jad i dom ina n, dan ter us dip rod uks i, bai k ole h hem isf er yan g men gan gga p tek nol ogi itu net ral , sep enu hny a pos iti f mau pun yan g men gan gga pny a mer usa k. 370 Tek nol ogi men jad i fok us pem bic ara an, dia ngg ap pen tin g sek ali gus

dijad ika n ses uat u yan g ber lan gsu ng di lua r dar i per ist iwa ala m, sek ali gus dia ngg ap ter pis ah seb aga i “ob yek ” di lua r “su bye k”. Kom pro mi dar i kea daa n ini ada lah lah irn ya tri kot omi : Man usia-Ala m-Tek nol ogi . Pad a akh irn ya, per bed aan yan g teg as ant ara “al am” dan tekn olo gi mul ai dir agu kan . Ant hon y Gid den s ber kat a, “Mas yar aka t kit a hid up set ela h ala m ber akh ir .” Tet api , bag i Gid de ns buk an sec ara “fi sik ” ala m men emu i kep una han , mel ain kan :

“ Hal ini mengacu pada fakta bahwa hanya sedikit aspek lingkungan

material di sekeliling kita yang belum dipengaruhi dengan cara tertentu oleh intervensi manusia. Banyak hal yang sebelumnya dipandang alami kini tidak lagi sepenuhnya alami, meskipun kita tidak selalu bisa yakin di 371 mana yang satu berakhir dan yang lain mulai .”

369

Karl Marx, Capital, di sari dari versi online marxist.org, 1999. Berdasarkan versi Inggris yang pertama kali dicetak oleh Progress Publisher, Moscow, 1887. Bagian Keempat, Division of Labour and Manufacture. 370 Tentang teknologi sebagai perusak total: “Tidak mudah mengingkari, manakala seseorang tidak lagi peka terhadap norma-norma yang benar maka mesin-mesin akan cenderung membuat manusia menjadi salah satu komponennya. Manusia menjadi sekrup dari mesin kehidupan. Mesin membuat manusia kasar, brutal, vugal, banyak dan bodoh seperti mesin itu sendiri. Semua itulah yang mempengaruhi ‘kebudayaan’ modern.” Baca tulisan Frithjof Schuon, Transfigurasi Manusia. Refleksi Antrosophia Perennialis (Yogyakarta: Penerbit Qalam, cet. 1, Juli 2002), hal. 45.
371

Ibid 359., op. cit., hal.23

259

Ant ara yan g dis iny ali r seb aga i “se bab -mus aba b ala mia h”, kin i,

tid ak

bis a dib eda kan lag i den gan fen ome na yan g dit eng gar ai seb aga i “pr odu k tek nol ogi s”. Dal am hal ini , kit a mem per tanya kan apa kah gem pa bum i yan g ter jad i mem ang fen ome na geo gra fis per ger aka n ker ak bum i, ata u seb ali kny a dis eba bka n per cob aan nuk lir ter sel ubu ng? Sam a hal nya kit a mem per deb atk an fen ome na pem ana san glo bal , apa kah fak tor rus akn ya ozo n kar ena ind ust ria lis asi pen yeb ab uta man ya, ata u arg ume n bar u: per uba han rea ksi nuk lir dal am mat aha ri yan g men jadi seb ab uta ma. Beg itu jug a fen ome na-fen ome na lai nny a. Pad a ska la leb ih sed erh ana , Mas ano bu Fuk uok a men yeb utk an bah wa man usi a kon tem por er ser ing tid ak bis a mem bed aka n ant ara bah an mak ana n ala mia h dan ola han tek nol ogi per tan ian mod ern mel alu i rek aya sa gen eti ka, ataup un “re kay asa -rek aya sa” yan g leb ih sed erh ana dar i itu . 372 Bah an pan gan has il pen gol aha n gen eti ka di sel uru h dun ia, mel ipu ti ked ela i, jag ung , kap as dan ken tang, men cap ai leb ih dar i 35 jut a hek tar , den gan keb any aka n men yeb ar di Ame rik a Uta ra dan Cin a. 373 Bah an pan gan dip ro duk si dan did ist rib usi kan ber sam a den gan has il tek nol ogi lai n yan g leb ih sed erh ana unt uk did ist rib usi kan seb aga i

kon sum si kes eha ria n. 374

372 373 374

Masanobu Fukuoka, Revolusi Sebatang Jerami. Sebuah Pengantar Menuju Pertanian Alami (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991). Ibid., op. cit., hal. 29 Bagi Fukuoka, pengertian tentang “alam” sendiri merupakan kerancuan besar yang dibuat oleh apa yang disebutnya sebagai “pengetahuan diskriminatif”: “Alam sebagaimana yang dimengerti oleh pengetahuan ilmiah adalah alam yang telah dihancurkan; alam merupakan hantu yang memiliki kerangka, tetapi tidak berjiwa. Alam sebagaimana yang dimengerti oleh pengetahuan filsafat merupakan suatu teori yang diciptakan dari spekulasi manusia, hantu yang berjiwa tetapi tidak berstruktur.” (Ibid., hal. 107-108.) Di sini, “alam” tidak lebih dari sebuah konsep kabur dan tidak memiliki wujud jelas, namun secara oposisional terhadap

260

Bat as pem bed a “te kno log i” dan “al am” tid ak sel alu mun cul sep ert i pen gga mba ran ind ust ria lis asi di atas . Mel ain kan , sis i yan g

kul tur al jug a men gam bil bag ian sep ert i kis ah duk un dal am novel Ayu Uta mi di baw ah ini :

“Juga keterangan bahwa nenek adalah pawang hujan yang amat

ampuh. Eyang adalah salah satu pawang yang paling sering dipakai Presiden untuk acara kenegaraan, ujarnya dengan bangga yang kebanyakan (barangkali kesombongan itu yang membuatnya sedari tadi menjengkelkan). Karena itu desanya telah dialiri listrik sementara desa-desa sekitarnya gelap gulita. Sayang dia menolak telepon. 375 Katanya, terlalu banyak teknologi akan mengurangi ilmunya .”

Paw ang huj an, ada lah ora ng yan g mam pu men gat ur “al am” dan dik are nak an jas any a pad a pem eri nta h, des a asa lny a dib eri had iah lis tri k. Di sin i, tek nolog i ada lah ben da ber har ga bag i pem eri nta h dan war ga des a, kar ena dij adi kan “pe ngh arg aan ” dan mem bua t des a itu leb ih “te ran g ben der ang ” ket imb ang des a lai nny a. Nam un bag i san g paw ang huj an, tek nol ogi yan g dom ina n (banya k) sep ert i tel epo n, jus tru anc ama n kem amp uan nya men gat ur huj an (ilm u). Dal am kon tek s ini , tek nol ogi buk an sek eda r “ha dia h” ata u “ke maj uan ” bag i des a yan g sek ita rny a mas ih gel ap gul ita , wal aup un lis tri k ada lah had iah ata s kem amp uan san g paw ang , tek nol ogi mer upa kan kek uat an seb and in g den gan “il mu” dan bis a mem pen gar uhi keb era daa n san g paw ang sen dir i.

“manusia” dan “teknologi” dia dianggap eksis. Walaupun “alam” dianggap sebagai keberadaan pertama, manusia dan teknologi dianggap sebagai keberadaan lanjutan. Namun, “alam” merupakan konsepsi yang muncul bersamaan dengan keberadaan kedua (manusia) muncul, dan setidaknya semakin kuat oleh oposisi keberadaan ketiga (teknologi) diakui ada.
375

Ayu Utami, Larung, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan Jurnal Kebudayaan Kalam, 2001), hal. 30.

261

Jik a “ilmu ” bis a mem awa ngi

huj an,

tek nol ogi

mem una hka n

kes akt ian itu . Jik a san g paw ang “me ngu asa i” huj an, tek nol ogi ber day a mem bat alk an kem amp uan san g paw ang . Tek nol ogi ada lah kek uat an ber asa l dar i “lu ar” paw ang , nam un mam pu men gin ter ups i kem amp uan yan g ada “da la m” dir iny a. Tid ak sep ert i huj an yan g dik uas ai ole hny a, tek nol ogi ada lah fen ome na di “lu ar” dir iny a yan g mas ih “li ar” ,

mel amp aui kem uja rab an “il mu” . Sep ert i huj an, tek nol ogi mem butuh kan “il mu” lai n unt uk tek nik men gen dal ika nny a. tra dis ion al sep ert i Tid ak asa p sep ert i huj an yan g

dik end ali kan

rok ok, 376

tek nol ogi

mem but uhk an tek nik -tek nik yan g bel um dik uas ai ole hny a. Fen ome na huj an yan g dik ena l ala mia h, kin i sam a den gan tel epo n yan g dik ate gor ika n seb aga i tek nol ogi , ata u jug a mun gki n asa p rok ok. Sek ali gus , tek nologi yan g diy aki ni pem eri nta h dan rak yat des a di ata s, mer upa kan dib ica rak an, sek ali gus “al at” pem ban tu. Tek nol ogi seb aga i “ob yek ” yan g

did isk usi kan , dip rod uks i, dii ngi nka n dan kek uas aan bar u yan g ber dir i “di

dip aka i, tap i lua r”, tid ak

men jad i

dib eda kan dengan “al am” . Seb aga i tek nol ogi yan g bek erj a di lua r “su bye k”, tek nol ogi dia nda ika n ber dir i sen dir i dan ber ger ak oto mat is sek ali gus dap at mem pen gar uhi sis i “da lam ” dar i sub yek . Keh adi ran tek nol ogi di sis i “da lam ” sub yek sec ara psi kol ogi s jug a mun cul dal am alat tes psi kol ogi . Dal am tes psi kol ogi yan g dik ena l seb aga i Hou se-Tre e-Per son Tes t (HT P), men gga mba r oby ek rum ah dan poh on
376

ada lah

bag ian

sis tem

sim bol ik

yan g

diy aki ni

mem ber ika n

Ibid., op.cit, hal. 31. Dalam cerita, sang pawang hujan mengendalikan hujan hanya menggunakan asap rokok.

262

gam bar an men gen ai ked eka tan

ses eor ang den gan

sos ok ora ng tua

(pa ren tal ). “Ru mah” mer upa kan rep rse ntasi dar i ide dan emo sio nal “su bye k” (di rep res ent asi ole h gam bar “ma nus ia” ) ter had ap sos ok Ibu , sed ang kan “po hon ” mer epr ese nta si sos ok bap ak. “Ru mah ” di man a mer upa kan kon str uksi tek nol ogi s kon tra s den gan “po hon ” yan g

dik las ifi kas i seb agai “ob yek ” ala mia h, nam un dal am HTP ked uan ya sej aja r seb aga i “ib u” ata u “ay ah” 377. Tek nol ogi sep ert i rum ah, tid ak dik ena li lag i seb aga i tek nik kon str uks i, wal aup un sub yek tes HTP dib eri ara han unt uk men gga mba rka n rum ah yan g ses uai dal am bay ang ann ya. 378 Nam un “ru mah ” dal am HTP dia ngg ap seb aga i “ib u” yan g sec ara sos ok mem ili ki cir i “al ami ” dal am ing ata n baw ah sad ar seb aga i rah im. Kon sek uen sin ya, tek nol ogi sep ert i “ru mah ” dia ngg ap sej aja r jug a

den gan wuj ud dar i sos ok “ib u”, ter uta ma dal am sif atn ya seb aga i “pe raw at”. Seb aga i “pe raw at” , tek nol ogi rum ah men jal ani fun gsi

lay akn ya “ra him ” seo ran g Ibu . Di sin ila h, tek nol ogi men gam bil per an dom ina n, ter sam ar, sak ral , mer awa t dan tid ak sad ar dal am ker ja yan g mer upa kan bag ian dar i psi kis . Dia san gat “de kat ” den gan “su bye k”, kal au tid ak mau dik ata kan dia mir ip den gan “su bye k” itu sen dir i. Ber sam aan , jug a dik ena l

“su bye k” seb aga i bag ian di lua r dir iny a.

377

Pendiskritan ini banyak dipengaruh asumsi pembagian fungsi rumah tangga antara peran ayah dan ibu. Di mana sebagai laki-laki, ayah dikonotasikan dengan kerakter yang “berada di luar rumah”, sedangkan peran ibu rumah tangga yang selalu “berada di dalam rumah”. Dalam tes ini, sosok “ibu” yang lebih sering ada “di dalam” rumah secara simbolik terikat dengan konstruksi “rumah”. 378 Menggambar sebuah rumah melibatkan aktivitas merancang, mengkrontuksi dan membangun sesuatu dalam ide dalam media yang tampak. Pada hakekatnya dia adalah teknologi arsitektur.

263

E . W A R G A D U N I A D A L A M M E K A NI S M E K E R J A T E K N O L OG I L A Y A R D A N T E K N O LO GI GL O B A L 1 . I ns t i t u s i -i n s t i t u s i r e g u l a s i f o k u s m as s a l Tekno log i seb aga i oby ek fok us sek ali gus sem est a set ara den gan “al am” dal am mem pen gar uhi kes ada ran mer upa kan pri nsi p ker ja tek nol ogi lay ar ata u glo bal mer upa kan seb uah str ukt ur yang jug a bis a dia mat i dal am ins tit usi med ia kom uni kas i mas sa “wa rga dunia ”. Tek no log i lay ar mun cul seb aga i sis tem yan g mer egu las i “mu ncu l” ata u “le nya p” -nya top ik -top ik pem bic ara an dar i kes ada ran ind ivi du -ind ivi du 379. Sec ara ins tit usi ona l, tek nol ogi lay ar ata u glo bal mun cul seb aga i ins tit usi yan g men gka itk an, mem unc ulk an dan men gik at s emu a

dis kur sus -dis kur sus seb aga i sat uan isu yan g men des ak bag i “wa rga dun ia” :

“ Masyarakat dunia, sejauh masih dapat disebut masyarakat, harus
dalam praktek kongkret menangani soal lingkungan berskala global yang kenyataannya memang bukan segala-galanya, tetapi tindakan yang 380 tepat pada waktunya diperlukan oleh jutaan orang .”

Isu -isu mer upa kan med ia bag i mas sa, yai tu ump an yan g dil emp ar unt uk men jar ing fok us-fok us dar i uni t ind ivi du yan g ter seb ar dal am bat asbat as (fro nti er) ant ar neg ara , ban gsa , ide olo gi , aga ma, suk u mau pun
379

“Individu” bukanlah satuan riil material, melainkan suatu strategi untuk memisahkan antara tubuh, jiwa dan perbuatannya: “Satu-satunya bagian tingkah laku seseorang yang dapat dipertanggungjawabkannya kepada masyarakat adalah bagian tingkah laku yang menyangkut orang lain. Dalam bagian yang menyangkut diri sendiri, kebebasannya mutlak. Seorang individu berdaulat atas dirinya sendiri, atas tubuh dan pikirannya sendiri.” Lihat di: John Stuart Mill, On Liberty. Perihal Kebebasan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1996), hal. 14. Dengan demikian “individu” adalah satuan “jiwa” dan “badan”, tanpa kehadiran “perbuatan” yang dapat berpengaruh pada sosial. 380 Ibid 360., op. cit., hal. 256-257

264

kel uar ga. Seb aga i org ani sas i fok us, isu -isu men gik at sec ara “la ngs ung ” per hat ian uni t ind ivi du, mer emb es mel awa ti bat as-bat as ter seb ut dan men jad ika nny a men jad i sem u. Kar ena nya , dis eba rka n. Vita l isu -isu buk an men des ak han ya bag i unt uk dikaj i, dib aha s, nam un dan

mas yar aka t,

ind ivi du

dia nda ika n ber kua sa mem ili h dan men ent uka n. Jad i, isu -isu tid ak dil iha t seb aga i kua sa dar i lua r yan g mem aks a unt uk ind ivi du mem atuhi nya , men ola k,

seb ali kny a,

men awa rka n

ind ivi du

men ent ang ,

men gkr iti k, men eri ma ata u jus tru men gua tka n isu -isu yan g dil emp ar seb aga i sat uan fok us. Ind ivi du dib eba ska n ber fok us pad a isu ter ten tu, dan kur ang mem per hat ika n lai nny a, ata u mer ang kul sem ua isu dal am dis kur sus tun gga l, ter uta ma pen dek ata n kom pre hen sif dit awa rka n

seb aga i jalan “be rmu tu” . Ada spe sia lis asi isu -isu yan g pen gem asa nny a bis a ber var ias i dan plu ral ; dar i yan g tam pak “se riu s” (se per ti yan g dim oto ri ole h tri log i Pem eri nta h - NGO [Non -Gov erm ent Org ani sat ion] Per s dal am ide olo gi per jua nga n ter ten tu, pro duk per und ang an -

und ang an, kon fer ens i, kon gre s -kon gre s, dem ons tra si dan per nya taa n res mi) ata upu n dal am kem asa n “hi bur an” (se per ti tal k sho w fil m, mus ik, aca ra rad io dan aca ra tel evi si) . Dan pem bic ara any a bis a mel ipu ti ran ah bid ang kaj ian yan g lua s dan ber aga m pul a: eko nomi, sos ial , pol iti k, geo gra fi, kep end udu kan , bud aya , aga ma mau pun sai ns. Pen yem pit an fok us indiv idu dal am pro duk var ian kon sen tra si yan g mel uas men gga pai “sega la” per soa lan , men ent uka n pen jar ing an fok us ind ivi du-ind ivi du ke dal am rua ng glo bal tak ter bat as . Sek ali gus ela bor asi

265

var ian dal am wuj ud “ko nse n ber sam a”. Per lua san var ian mun cul dal am top ik-top ik: “an cam an per ang nuk lir ”, “de mok rat isa si pem eri nta h”, “ke ker asa n ter had ap per emp uan ”, “Ha k keb eba san ana k”,

“pe ngh ema tan ene rgi ”, “ke ter tin gga lan Dun ia Ket iga ”, “ke sel ama tan lin gku nga n hid up” , “gl oba lis asi eko nom i”, “gl oba lis asi bud aya ” 381,

“AI DS” , “Te kno log i Infor mas i”, “kl oni ng” dan set ump uk isu -isu lai nny a, mer upa kan “ru ang -rua ng” kon sen yan g dibat asi seb aga i sat uan -sat uan kon sen tra si fok us “be rsa ma” . 382 Antara isu yan g sat u den gan lai nny a tid ak ada jur ang pem isa h, nam un sal ing men yeb era ng, sec ara for mal mau pun isi . Isu

“ke ter tin gga lan Neg ara Ket iga ” den gan mud ah dik ait kan pad a isu-isu lai n sep ert i; dem okr ati sas i”, “Ha k keb eba san ana k”, “Ha k per emp uan ”, “Gl obali sas i eko nom i” dll . Jik a mem bah as isu “ke sel ama tan lin gku nga n hid up” , ter kai t jug a isu ; “ke ter tin gga lan Dun ia Ket iga ”; “gl oba lis asi ”; “de mok rat isa si” ; “an cam an nuk lir ”; dan “in dus tri ali sas i”. Jar ak ant ara isu yan g sat u den gan lai n, wal aup un dib eri bat as kat ego ria l, nam un dap at ber ali h dar i isu yan g sat u ke lai nny a tan pa bat as per man en. Dar i isu -isu yan g ada aka n mun cul var ias i -var ias i yan g bar u, dan leb ih bar u
381

“Globalisasi” dalam hal ini adalah bagian isu-isu yang muncul secara parsial sebagai fokus perhatian. Istilah “globalisasi” baru muncul pada tahun 1980-an sebagai bahan pembicaraan yang sengit. Berbeda dengan “globalisasi”, “teknologi global” adalah rangkaian yang bekerja di luar kesadaran subyek, dia bergerak secara otomatis. Jika “globalisasi” berada sebagai bagian dari fokus, “teknologi global” adalah pola-pola yang mengolah fokus-fokus menjadi satuan raksasa yang tunggal. Globalisasi erat kaitannya dengan “kesadaran” (fokus), sedangkan “teknologi global” terikat dalam jaringan ketidaksadaran dengan semesta teknologis. 382 Di sini, isu-isu adalah satuan yang mengikat peristiwa, kejadian, waktu dan tempat dalam sebuah pengemasan memorial dalam ingatan massal. Keadaan spesifik pada sebuah kasus diabaikan dan diikat dalam satuan yang lebih umum dan tidak terbatas pada tempat dan waktu yang khusus, sehingga dapat direproduksi dan diulang terus menerus kemunculannya selama diinginkan. Dibedakan dari isu-isu spesifik yang tidak memiliki ikatan spesifikasi dan dianggap semata-mata hanya gosip, subyektif, tidak jelas, dan gampang dilupakan, isu-isu global diberi ciri keberadaan yang obyektif, dapat dijadikan kajian, menuntut dibicarakan terus menerus, serta diingat secara global.

266

lag i. Seb ali kny a, ada isu yan g sem aki n ten gge lam , nam un mun cul dal am ben tuk lai n. “Is i” dar i is u sen diri ber uba h-rub ah dalam pen afs ira n dan

pen eta pan tin gka t vit ali tas nya seb aga i fok us, nam un sem ua isu ter seb ut dia ngg ap “pe nti ng” , “be rpe nga ruh ” dan dib aha s, dip iki rka n, dio lah men des ak unt uk dia dop si,

ter us men eru s sec ara “be rsa ma -sam a”.

Sem aki n dib ahas , dij adi kan kon sen tra si fok us, dia dop si, die la bor asi den gan ind ivi du-ind ivi du, isu -isu mun cul seb aga i “ob yek tiv ita s” mas sal . Ter leb ih-leb ih lag i, sif at dar i isu glo bal , sep ert i yan g dis ebu tka n di ata s, tid ak dip eng aru hi ole h rel asi pro dan kon tra ata sny a. Pro dan kon tra ada lah rel asi yan g pal ing “al ami ah” dar i isu , ked uan ya be rad a di dal amn ya, buk an mer upa kan rel asi yan g sal ing mem isa hka n. Kar ena itu , bai k pih ak pro mau pun kon tra , mer upa kan bag ian kes atu an jar ing an dal am ran gka men jad ika n isu seb aga i fok us ber sam a. Isu jus tru

ber kem ban g dal am ali ran dis kur sus pro dan kon tra , dan kar ena nya isu itu sen dir i men jad i “ob yek tif ”. yan g sem aki n Sub yek tiv ika si ata s isu-isu pad a dal am kol eks i

pem bah asa n

men ggl oba l,

ber tum puk

dis kur sus -dis kur sus pro -kon tra , mer upa kan lan gka h ke oby ekt ivi kas i ata s isu itu sen dir i. Isu -isu men amp ung sem ua kaj ian , per hat ian , bah asa n, pen eli tia n, obs erv asi mau pun pen ila ian ata s dir iny a, dia men gik at sem ua ben tuk fok us per hat ian itu dal am tit ik tem u di dep an, lay akn ya lay ar dal am ged ung bios kop. Tek nol ogi lay ar ata u glo bal bek erj a dal am jar ing an ant ara ind ivi du -ind ivi du mel alu i konst ela si isu -isu yan g men jad i fok us “be rsa ma” 383.

383

Sebagai sebuah rangkaian skematis utuh dalam pola relasi ini, lihat gambar 5.1.

267

BAGAN 5.1 Konstruksi model sistem kerja teknologi layar dan teknologi global sebagai penerapan politik internasional.

Fok us ata s isu-isu ter jad i buk an kar ena ada nya pem aks aan unt uk men eri ma isu seb aga i keb ena ran tun gga l yan g abs olu t, tet api

pem fok usa n ter jad i kar ena isu itu dit ola k jug a dit eri ma, dib ica rak an ter us men eru s, dip ela jar i, dib ukt ika n ata upun dis ang gah keb ena ran nya , ber kem ban g mel alu i jar ing an dia lek tik a wacan a-wac ana . Nam un, tid ak ber art i isu -isu sel alu ber hen ti pad a tah ap pem bic ara an saj a, tap i dii kut i pro duk si per ang kat -per ang kat ins tit usi ona l yan g men yer tai nya , bai k dal am ben tuk sep ert i; pla kat , lem bag a, huk um, pet uga s pen ert iba n, sos ok puj aan ata upu n kes epa kat an dia m-dia m. Ada jug a saa tny a isu -isu mun cul seb aga i par ame ter yan g men gaw asi seb aga i mor ali tas bar u:

268

“Dramatisasi permasalahan, kekhawatiran dan kebutuhan manusia

melalui TV. Bila sejumlah hal yang dengan jelas ditonton oleh berjutajuta orang, hal itu menjadi tidak dapat diabaikan —suatu peperangan, ketidakadilan, matinya burung-burung laut. TV menjadi...suatu mesin kesadaran moral, mesin simpati dan toleransi, melampaui batas-batas 384 sosial dan geografis .”

Seb aga i “me sin kes ada ran mor al” , ala t bantu kem anu sia an, tek nol ogi lay ar men jad ika n isu -isu bag ian dar i kes ada ran sub yek tif , lah ir seb aga i bag ian dar i dir i “su bye k” 385. Kar ena itu , dal am mem bic ara kan isu -isu , ber art i har us men yad ari kesad ara n lai n yan g had ir: “Mak a sia pa pun yan g ber kom uni kas i dal am sua tu kri sis, yan g mem ili ki rel eva nsi

int ern asi ona l har us sad ar aka n kha lay ak glo bal.”386 Lah irn ya “ke sad ara n mor al” , ada lah kes ada ran aka n keh adi ran “khal aya k glo bal ” di man a isu isu dib ica ra kan dan dip erd eba tka n. Ada lah “tu gas ” tek nol ogi lay ar men gha dir kan “kh ala yak glo bal ” mel alu i fok us pad a isu -isu .

Mem bin cangk an isu -isu glo bal , jug a ber mak na mem baw a kes ada ran glo bal seb aga i bag ian [da lam ] dir iny a. Kar ena itu , tan pa mel alu i neg ara , mas yar akat ata u bat as geo gra fis yan g sem aki n har i sem aki n sem u, kin i, ind ivi du men jad i fok us dar i reg ula si tek nol ogi mor al glo bal .

384

John Platt, seorang futuris, seperti dikutip oleh Harlan Cleveland (Ibid 360, op.cit., hal. 1718). John McConnell dalam 77 Theses on the Care of the Earth menggambarkan bagaimana “kesadaran moral global” memiliki pengaruh yang lebih besar dari kekuasaan atau otoritas suatu negara: “That constraints and requirements for Earth care will then permeate society and provide our global conscience with moral authority and influence greater than that of national governments” (online document: http://www.earthsite.org/) Hans-Juergen Bucher, Crisis communication dan internet. Risiko dan kepercayaan dalam suatu media global, editor: Lukas S Ispandriarno, Thomas Hanitzsch dan Martin loeffelholz, dalam Media-Militer-Politik. Crisis communication: Perspektif Indonesia dan Internasional (Yogyakarta: Friederich Ebert Stiftung dan Galang Press, cet. 1, 2002).

385

386

269

Al Gor e, ket ika men jad i sen ato r dan mem imp in del ega si kon gre s Ame rik a Ser ika t di Rio pad a tah un 199 2, men yua rak an mor ali tas glo bal dal am per nya taa nny a:

“Setiap orang di Bumi adalah bagian dari penyebab, ini menyulitkan

usaha untuk menyusun tanggapan yang efektif. Tetapi setiap orang di Bumi juga harus siap menanggung akibat-akibatnya, ini menimbulkan tanggapan yang efektif esensial dan harus bisa dipakai untuk mendapatkan suatu tanggapan — pada saat pola global itu diakui secara 387 luas .”

“Se tia p ora ng di Bum i”, bag i Al Gor e, men jad i “pe lak u” se kal igu s “ko rba n”. Set iap ind ivi du ada lah “su bye k” sek ali gus “ob yek ”. Sek ali gus ind ivi du dibung kam dal am kes end iri ann ya, dan mem bic ara kan isu -isu glo bal sam a den gan mem bic ara kan per bua tan dir i sen dir i. Den gan kat a lai n, “di ri” glo bal menda tan gi ind ivi du dan men gaj akn ya bic ara ten tan g dir iny a sen dir i. Han ya ind ivi du dan “di rin ya” sen dir i dal am ima jin asi tek nol ogi glo bal . Keh adi ran yan g lai n mer upa kan bag ian dar i kehad ira n dir iny a, dal am ben tuk kes ada ran yan g leb ih glo bal seb aga i ora ng-ora ng (war ga ) Bum i. Dal am pki ran nya , set iap isu glo bal , ind ivi du -ind ivi du pro por si mel iha t pri bad iny a jej ak dan

per bua tan nya ,

per asa ann ya,

men gad ops iny a seb aga i bag ian dir i. Sep ert i kom idi put ar, sek elo mpo k ora ng ber ger ak sam a dal am sat u alu nan mer asa kan keh adi ran lai nny a, tap i tid ak ber kon tak sec ara fis ik. Mas ing -mas ing ind ivi du mem uta ri pus at dan kem udi an kem bal i ke tem pat sem ula dia ber ada . Dan , dia mel iha t yan g lai n sam a sep ert i dir iny a.

387

Ibid 360., op.cit., hal. 268

270

Kas us

yan g

ber ada

dal am

jar ak

jau h

dar i

ind ivi du

tid ak

mem pen gar uhi bes ar kec iln ya fok us yan g dib eri kan . Wil aya h kes ada ran lok al dig ant ika n wil aya h dis kur sus -dis kur sus dal am ska la glo bal . Yan g ter jad i kem udi an, ind ivi du-ind ivi du sem akin ter ika t dal am kes ada ran tun gga l tan pa ika tan fis ik di ant ara mer eka sen dir i. Ind ivi du men jad i ter iso lir dar i ind ivi du lai nny a, iro nis nya , dia mer asa ter beb as dar i ika tan lok al dan mem asu ki seb uah “pe rga ula n” yan g leb ih ter buk a den gan “wa rga bum i” lai n. Di man a-man a, sik ap apa tis , acu h tak acu h, dia m, tid ak ped uli ter had ap keh adi ran “kh ala yak glo bal ” dic ap seb aga i bia ng dek ade nsi , kes ewe nan g-wen ang an dan kem ero sot an mor al. Sik ap ter tut up dan men yen diri men jad i “ak ar” dar i pen yak it men tal aso sia l. Kea cuh an ada lah sum ber pen yim pan gan , ata u set ida k-tid akn ya mem bia rka n

pen yim pan gan ter jad i tan pa ada nya tin dakan dar i dir i.388 Seb ali kny a, sik ap ped uli , emp ati k, ter buk a, ase rti f, akt if dik amp any eka n seb aga i sol usi ade kua t bag i “ma sal ah ber sam a”: “Dia log ter us men eru s har us dil aku kan di tin gka t mik ro. Yan g men jad i tuj uan ial ah org ani sas i rak yat bia sa di man a pen duduk set emp at leb ih ban yak ber per an dan buk an seb aga i oby ek tin dak an yan g dia mbi l.. .”389 Isu -isu kem udi an mel ahi rka n tun tut an ber sik ap akt if ber dia log , tan gga p, rea kti f, sup el dan mud ah

388

“Tantangan terbesar dalam proyek demokratisasi teknologi adalah sikap enggan (reluctance) dan apatis masyarakat terhadap pengembangan teknologi walaupun mereka sadar bahwa teknologi berdampak besar bagi kehidupan mereka [...] Sikap ini mucul karena cara pandang mereka dalam melihat diri mereka tidak dalam kerangka sebagai anggota publik (public person) yang seharusnya aktif dan partisipatif, tetapi semata-mata sebagai komponen dalam teknologi, yakni konsumen atau pengguna yang berkonotasi pasif.” Sulfikar Amir, Teknologi Sebagai Stimulasi Demokrasi (Jawa Pos: Selasa, 18/06/2002, online document: http://www.jawapos.com/print/index.php?cat=news&id=83681). J.P. Pronk, Sedunia Perbedaan. Sebuah Acuan dalam Kerjasama Pembangunan Tahun 1990an (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1993), hal. 362.

389

271

“be rga ul” , men jel ma jad i keb utu han sik ap “te rbu ka” . Sem uan ya per lu dib ica rak an, dib ong kar, dik uak , dig era kka n dan dik elu ark an dar i tem pat ter sem bun yi dar i mat a “kh ala yak glo bal” dan dia ngk at seb aga i isu bar u. Ind ivi du-ind ivi du asy ik men ikm ati dir iny a ber ada di man a -man a iku t men gin tip dan mem bon gka r isu -isu yan g ada , nam un mer asa kan ind ivi du lai n men gik uti jej akn ya di bel aka ng sep ert i kom idi put ar. Sem ua ada lah “su bye k” dan “obye k”, sal ing men gaw asi dan mer asa dia was i dal am “me sin kes ada ran mor al” . Tid ak per nah ben ar -ben ar ada per an “su bye k” dan “ob yek ” yan g mut lak di dal amn ya. Dal am beb era pa kes emp ata n, kes ada ran sal ing mer asa kan

keh adi ran “kh ala yak glo bal ” men jad i zam an bar u yan g tak ter ela kan sep ert i diu ngk apk an Art hur C. Cla rke di baw ah ini ;

“Kita akan memasuki apa yang dengan tepat disebut Abad Keterbukaan

(the Age of Tranparency). Sebagai sebagian besar orang, banyak bangsa yang tidak suka hidup dalam rumah kaca. Sejauh ini mereka itu mungkin belum sadar bahwa mereka sudah melakukan hal itu ... Ketika Zaman Keterbukaan tiba, kebijaksanaan politik dan militer akan terletak pada kerja sama dengan hal-hal yang tidak mungkin 390 dihindari .”

Cla rke men gin gat kan sem ua ora ng, ketid aks ada ran ada lah lan gka h men uju per ing ata n unt uk men yad ari kea daa n “ob yek tif ” yan g sed ang ber lan gsu ng. Ket ika mem buk a rua ng kes ada ran bar u, yan g ter jad i ada lah pro duk si isu -isu bar u. Lah an unt uk sal ing men gin tip dal am

“ke ter buk aan ” yan g “be bas ”. Set iap ora ng mer asa mel aya ng sep ert i sat eli t men gel ili ng bum i, mel iha t ber sam a ke fok us. Ber lah an -lah an
390

Ibid 360, op. cit., hal. 153.

272

mer eka mer asa kan tid ak lag i ter iso las i sec ara ind ivi du, mer eka lah ir kem bal i seb aga i seb uah kep rib adi an bar u, di saa t itu jug a per asa an sal ing men gin tip ant ara sat u sam a lai n sem aki n kua t. Di ant ara bil ikbil ik hal us dan tra nsp ara n ant ari ndi vid u-ind ivi du ter ben tuk kom ple ks ket aku tan “di int ip” dan keg ema ran “me ngi nti p”, kem udi an aks i tim bal bal ik ini men jad i lin gka ran pem ers atu yan g men gik at sat u sama lai n dal am sua san a glo bal dan mas sal . Dal am hal ini tek nol ogi lah ir seb aga i per ang kat isu itu sen dir i, per ang kat kem aju an ata upu n res iko anc aman. Nam un dal am ska la yan g roh ani ah dan pri vat , tek nol ogi bek erj a mem pro duk si lah an kes ada ran [da n ket ida ksa dar an] glo bal me lal ui pen gge rak kan fok us-fok us. Sep ert i sem est a Tel etu bbi es, kes ada ran met afi sik a tek nol ogi glo bal dan lay ar ada di ran gka ian “pe nyu sut an” fok us dal am isu -isu glo bal dan

“pe leb ara n” seb aga i kha lay ak glo bal .

2 . “ W a r g a d u n i a ” da n c r o w d Kem iri pan cir i-cir i ant ara “wa rga dun ia” dan cro wd , mon ste r rak sas a pem bun uh pad a pem buk aan aba d 20, buk an seb uah keb etu lan bel aka . Sep ert i hal nya “wa rga dun ia” , yan g men gge rak an kek uat an cro wd pad a mul any a ada lah sif atn ya yan g tid aks ada r: “Cro wds , dou btl ess , are alw ays unc onsci ous , but thi s ver y unc ons cio usn ess is per hap s one of the

273

sec ret s of the ir str eng th.” 391 Dal am beb era pa hal ked uan ya mem ili ki sej uml ah per bed aan . ber iku t ini di baw ah aka n dib aha s kar akter ist ik yan g men yat uka n mau pun mem isa hka n kar akt er cro wd dar i “wa rga duni a”. Seb aga i hal nya cro wd, “wa rga dun ia” ada lah sua tu kes ada ran mas sal yan g ter ben tuk kol ekt if. dar i Dan leb urn ya sep ert i ind ivi du ke sua tu pul a, aru s cro wd

ket ida ksa dar an

“wa rga

dun ia”

mer upa kan seb uah kek uat an yan g dap at mer ang kul ber bag ai per bed aan dala m sua tu mom en yan g sam a: “In its ord ina ry sen se the wor d ‘cr owd ’ mea ns a gat her ing of ind ivi dua ls of wha tev er nat ion ali ty, pro fes sio n, or sex , and wha tev er be the cha nce s tha t hav e bro ugh t the m tog eth er .” 392 Bai k Cro wd mau pun “wa rga dun ia” , ked uan ya ber sifat mas sal , plu ral nam un men yat u seb aga i sat u kes ada ran . Ole h Gus tav e Le Bon ,

men yat uny a ind ivi du dal am cro wd dis eja jar kan den gan kon str uks i tub uh fis ik sec ara gen eti s:

“The

psychological crowd is a provisional being formed of heterogeneous elements, which for a moment are combined, exactly as the cells which constitute a living body form by their reunion a new being which displays characteristics very different from those possessed 393 by each of the cells singly .”

Kar ena nya , apa yan g ber lan gsu ng dal am cro wd ada lah mer uba h sam a sek ali cir i yan g ada dal am seo ran g ind ivi du dan mel ebu rny a ke dal am

391 392 393

Gustave Le Bon (1841-1931), The Crowd. A Study of The Popular Mind (Project Guetenberg: http://promo.net/pg). Ibid., op. cit. Ibid.

274

kar akt er mas sa yan g sif atn ya bar u sam a sek ali . Di man a pe rbe daa n kar akt er ant ara ind ivi du den gan cro wd sif atn ya sal ing men iad akan sat u lai nny a: “In the col lec tiv e min d the intel lec tua l apt itu des of the ind ivi dua ls, and in con seq uen ce the ir ind ivi dua lit y, are wea ken ed .” Dib and ing kan den gan kar akt er ind ivi du yan g sad ar, int ele k,

ber tan ggu ngj awa b dan ter kon tro l, cro wd mem ili ki kar akt er pem bed a yan g sif atn ya tid aks ada r, emosi ona l, sem ena -men a dan tid ak

ter kon tro l 394.

Dal am kes emp ata n lai n, cro wd bah kan mun cul seb aga i

seb uah “or gan ism e” bar u den gan kep rib adi an yan g ber bed a sec ara tot al den gan ind ivi du: “Ma ssa buk anl ah tju ma Rak jat dje lat a jan g ber dju tadju ta sad ja. Mas sa ada lah Rak jat dje lat a jan g sud ah ter lul uh mem pun jai sem ang at sat u, kem aua n sat u, roh dan nja wa sat u. Mas sa ada lah ber art i d e e g, d j e l a r d r e n, l u l u h a n.”
395

Ind ivi du keh ila nga n cir i kha sny a ber sam a ban gki tny a “ro h” dan nja wa” yan g “te rlu luh ” itu , did ete rmi nas i dan dis ubv ers i ole h ses uat u “ke sad ara n rak sas a” yan g di lua r kua san ya seb aga i ind ivi du: “He is no lon ger him sel f, but has bec ome an aut oma ton who has cea sed to be gui ded by his wil l.” 396 Sel anj utn ya, dal am cro wd, ind ivi du -ind ivi du mel alu i ser angk aia n tah ap ter ger ak sec ara kol ekt if pad a sua tu aks i-aks i bru tal : “It is in thi s way , for ins tan ce, tha t a hap py exp res sio n, an ima ge opp ort une ly evo ked , hav e occ asi ona lly det err ed cro wds fro m the

394

Ibid. Bandingkan ciri pe mbeda yang dibuat Gustave Le Bon ini dengan kritik terhadap budaya populer di depan (Bab I yang mebahas Ideologi budaya populer), di mana budaya populer dianggap tidak intelektual dibandingkan dengan higher culture yang sifatnya lebih rasional dan inteletktual. 395 Soekarno, Mentjapai Indonesia Merdeka (Djakarta: Departemen Penerangan R.I., 1959), hal. 57. 396 Ibid 391.

275

mos t blo odt hir sty act s.” 397 Dal am hal ini , crowd men jad i ra ksa sa yan g ber ger ak sec ara man dir i dan men gat asi sem ua cir i yan g dia ngg ap ada pad a ind ivi du: “Ma ssa -aks i buk a ‘ve rga der ing -ver gad eri ng ope nba ar jan g ber bar eng am’ . Mas sa-aks i tid ak bis a ‘di per int ahk an’ ora ng, tid ak bis a dip abe rik kan ole h ata u ‘di bik in’ Kar ena itu

pem impi n.. .” 398

ket imb ang seb uah per kum pul an yan g ben ar-ben ar ter org ani sir rap i dan ter [at ur] , cro wd yang dim aks ud ada lah sek eru mun an ora ng yan g

ber ger ak sec ara oto mat is, oto rit er, lia r nam un mud ah ter sug est i ole h seb uah sti mul us yan g tep at unt uk ber gera k dal am aks i yan g ser aga m. Dal am kes emp ata n lai n, sik ap mas sa, ini dit afs irk an seb aga i “se man gat

rad ika l”: mas sa,

“Se man gat nja ‘ap inj a’ mas sa,

kem aua nnj a sam a

mas sa,

keb era nia nnj a sem ang at ata u

buk anl ah

den gan

kem aua nnj a Mar hae n sau t-per sat u, buk anp un sama den gan dju mla hnj a sem ang at ata u kem aua n Mar hae n-mar hae n itu sem uan ja[ ... ] ‘Ap i mas sa’ ini lah mel ahi rka n ‘pe rbu ata n-per bua tan ’ mas sa jan g heb atn ja bis a sen di-sen di mas jar aka t, ja sam pai men gug urk an

men ggo jan gka n

mas jar aka t den gan seg ala sen di -sen di dan ala s-ala snj a.” 399 Wal aup un mem ili ki kes ama an cir i se bag ai aut oma ton dan

mer upa kan “ke sad ara n glo bal ” yan g tam pak man dir i, pad a tit ik ini ter jad i jur ang pem isa h yan g lua s ant ara cro wd den gan “wa rga dun ia” . “Wa rga dun ia” tid ak mem ili ki “ke sat uan aks i”, “ke sat uan roh ”,

“ke sat uan jiw a” ata upu n “ap i mas sa” yan g men yal a-nya la. Ter leb ih lag i, “pe rte mua n” ant ara “wa rga dun ia” tid ak ber kon sen tra si sec ara fis ik di
397 398 399

Ibid. Ibid 395., op. cit., hal. 59. Ibid., hal. 56-57.

276

jal an-jal an, lap ang an ata u ged ung -ged ung , mel ain kan ind ivi du -ind ivi du dud uk den gan ten ang dan khi dma t di dep an lay ar. Dan wal aup un tid ak ada lay ar yan g tam pak , dan ter jad i sua tu per kum pul an, per ger aka n “wa rga dun ia” leb ih ber sif at ter kon sen tra si ke cir i-cir i yan g ind ivi dua l dan asi ng sat u sam a lai nny a:

“ Gambaran secara efisien, otomatis dan efektif dapat diperoleh dari
suasana pelabuhan-pelabuhan udara kota-kota besar di dunia seperti New York, Chicago, Dallas, Tokyo, London, Paris, Frankfurt dan lainlain, Manusia berbondong-bondong digiring di atas ban berjalan melalui lorong-lorong tertentu menuju kamar tunggu; menunggu sambil melihat layar short circuit yang memberitahukan jadwal-jadwal penerbangan. Antara yang bepergian tidak ada yang bicara. Masing-masing baca koran, majalah, atau buku. Tidak ada yang mengumumkan sesuatu. Semua dapat dilihat pada layar TV.” 400

Wal aup un tam pak ber bon don g-bon don g, ber jum lah bes ar, mas sa yan g men ung gu di ban dar a mas ing-mas ing ter paku pad a keg iat ann ya mas ing mas ing . Tid ak ada kes era gam an fis ik mau pun men tal sep ert i yan g ter jad i pad a cro wd di man a mau pun tam pak uni ter dal am Mas sa ber bag ai “wa rga wuj ud dun ia”

pen amp akk ann ya

kes ada ran nya .

ter ali ena si sec ara ind ivi dua l, nam un sal ing ter kon eks i dal am sat u aru s yan g dia tur dib ali k lay ar. Tid ak ada kes era gam an int erp ret asi ant ara sat u den gan lai nny a, wal aup un ter jad i ker aga man int erp ret asi ,

pen yel esa ian mel alu i aks i per tik aia n fis ik “ha us dar ah” dan “ra dik al” buk an sal ura n yan g ses uai den gan mek anism e ker ja “wa rga dun ia” . Per ten tan gan dan per mus uha n ant ar ind ivi du-ind ivi du dio lah mel alu i seb uah mek ani sme komun ika tif . Kes ama an ant ara “war ga dun ia” buk an pad a wuj ud sub tan si fis ik mau pun men tal , mel ain kan had ir dal am pol apol a str ukt ura l seb aga i seb uah mek ani sme yan g men cip tak an sua tu
400

Ibid 15., op. cit.

277

kec end eru nga n-kec end eru nga n

di

man a

men gar ahk an

mas sa

sec ara

ter sul ubu ng. Seb ali kny a, cro wd ata u mas sa-ak si tid ak mem ili ki str ukt ur yan g pas ti dan men eta p, nam un mem ili ki per wuj uda n ger ak fis ik dan men tal yan g sea rah . Ber bed a den gan “wa rga dun ia” yan g (le bih ) ban yak ber bic ara ten tan g ked ama ian dan (ja uh) leb ih maw as dir i, cro wd ada lah mom ok “ha us dar ah” bag i law an -law ann ya. “Wa rga dun ia” sam a sek ali tid ak mem ili ki kar akt er aks i–aks i “ra dik al” ata upu n “ha us dar ah” dan tid ak mem ili ki tek ana n yan g kua t aka n kep ast ian sua tu aks i fis ik dan men tal yan g ser aga m den gan sas ara n yan g jel as. Tid ak ada sas ara n dan ala san ser aga m yan g men gge rak kan “wa rga dun ia” , ter leb ih lag i tid ak ada kew aji ban unt uk ber [ge rak ] ata u ber [ak si] unt uk mer eka . “Wa rga dun ia” hid up ber sam a-sam a dan ber ger ak mem enu hi kec end eru nga n-

kec end eru nga nny a den gan sas ara n ata u ala san yan g plu ral dan ber beda , den gan key aki nan ind ivi du mas ing -mas ing . Wal aup un ber ger ak dal am pol a-pol a yan g sam a, “wa rga dun ia” tid ak mem ili ki kon sen tra si yan g khu sus pad a rua ng dan wak tu yan g lok al dan “ma ter ial ”. Sif at dar i “wa rga dun ia” ada lah mas sal , umu m, men gam ban g dan glo bal , sek ali gus ter ika t dal am sat uan -sat uan yan g tet ap mem isa hka n mer eka seb aga i “in div idu -ind ivi du” . Mer eka man dir i tet api “sa lin g ter gan tun g dal am pol a aks i rea ksi ant ara sat u sam a lai n”, yan g ser ing kal i dik ena l den gan ist ila h int erd epe nde nsi. Seb ali kny a, cro wd yan g dik ena l Gus tav e Le Bon mem ili ki tam pan g ber ing as, oto rit er dan mem aks aka n keh end akn ya den gan anc ama n

kek era san fis ik. Seh ing ga ant ara Aba d 19 hin gga awa l aba d 20, cro wd

278

men jad i ala t pol iti k yan g pal ing dig ema ri ole h kau m Jac obi n Per anc is, bur uh-bur uh kom uni s -sos ial is, kau m ana rki s, dan ter uta ma kau m

Nas ion ali s Asi a unt uk mem per ole h duk ung an pol iti s ata u men jat uhk an law an-law ann ya ata u mer aih kem ena nga n pol iti s. 401 Tak ela k lag i, cro wd yan g dia rah kan dan dip rov oka si ole h sua tu pih ak ter ten tu unt uk

men cap ai sas ara n-sas ara n yan g dib enc i dan ing in dij atu hka n, seg era men jad i mon ste r bag i mus uh -mus uhn ya. Beb era pa con toh keb eri nga san cro wd ata u mas sa sep ert i; pem anc ung an Raj a dan Rat u Per anc is pad a era Rev olu si Per anc is, pem ban tai an Bol shevi k ter had ap kel uar ga raj a Tsa r di Rus ia hin gga pem ban tai an pen duk ung Suk arn o dan sim pat isa n PKI pad a per ali han ke Ord e Bar u di Ind one sia ada lah con toh -con toh

leg end ari s bag aim ana keb iad aba n cro wd ata u mas sa ter jad i. Cro wd dap at ber ger ak sec ara “ot oma tis ” (at au dig era kka n) unt uk men ja tuh kan sua tu kek uas aan dan men gha ncu rka n rez im yan g sud ah sek ara t, den gan kat a lai n, cro wd dap at men cip tak an sua tu pem bar uan sos ial : “Ma ssa -aks i ada lah aks inj a Rak jat dje lat a jan g, kar ena kes eng sar aan , tel ah ter lul uh men dja di sat u dji wa bar u jang rad ika l, dan ber mak sud ‘me mar adj ika n’ ter lah irn ja mas jar aka t bar u!” 402 Den gan dem iki an, Cro wd bis a men jad i sen jat a pol iti k yan g dap at mem ati kan sua tu sis tem , tet api seb ali kny a,
401

Sukarno, pemimpin kaum Nasionalis Indonesia mengancam musuh-musuhnya dengan crowd yang bergerak dengan sugesti darinya: “Neen Meneer, kalian takut akan kebangkitannja massa, kalian takut kepada Rakjat, Rakjat yang tentu sadja beraksi atas andjuranandjuranku untuk ber-massa-aksi!” (Ibid 301, op. cit., hal. 20). Contoh lainnya adalah Tan Malaka, salah satu pemimpin Komunis-Nasionalis yang mengandalkan senjata serupa dengan Sukarno: “Hanya ‘Satu Massa Aksi’, yakni satu massa aksi yang tersusun akan mendapatkan kemenangan di satu negeri berindusteri seperti Indonesia!” Selanjutnya dia berkata: “Bila buruh yang berjuta-juta meletakkan pekerjaannya dengan maksud tertentu, memaksa meminta keuntungan ekonomi dan politik, niscaya kerugian dan kekalutan ekonomi yang ditandai oleh aksi mereka dapat melemahkan kaum penjajah yang keras kepala itu.” Tan Malaka memilih “pemogokan dan pemboikotan” sebagai alat massa aksi yang paling efektif untuk melawan “kaum penjajah”. Lihat tulisan Tan Malaka yang berjudul Massa Aksi (Jakarta: Komunitas Bambu, 2000), hal. 82. 402 Ibid 395., hal. 57.

279

mem ber ika n sum ber kek uat an bag i pih ak yan g did uku ngn ya 403. Den gan kat a lai n, cr owd dap at men gha ncu rka n jug a dap at mel est ari kan sua tu kek uas aan . Seb ali kny a, “wa rga dun ia” seb aga i sal ah sat u tip e cro wd , kal au tid ak bis a dia ngg ap ber bed a sec ara kes elu ruh an, tid ak mem ili ki

pen gel omp okk an yan g ken tal a dal am rel asi dis kri t ant ara pih ak yan g men duk ung ata u men ola k sua tu gag asa n. Tid ak ada “ke ker asa n fis ik” ata u “ra dik al” dal am aks i int era ksi dan kom uni kas i ant ari ndi vid u seb aga i “wa rga dun ia” . Ter uta ma tid ak ada aks i ana rki s dar i “wa rga dun ia” yan g dap at men jat uhk an sua tu oto rit as kek uas aan . Hal ini ban yak

dik are nak an ole h sua tu fak tor yan g tid ak pad a ben tuk cro wd kla sik , yai tu sua tu per kum pul an mas sa yan g tid ak mel iba tka n “fi sik ” mau pun aks i lan gsu ng, mel ain kan ter ben tuk nya “wa rga dun ia” leb ih ban yak ber lan gsu ng mel alu i kes ada ran ant ar ind ivi du yan g sal ing ber kon tak sat u sam a lai n, tan pa mem erl uka n sua tu per tem uan lok ali tas . Imp uls -imp uls dan dor ong an pri mit if yan g men jad i motor pen gge rak bag i cro wd dis alu rka n pad a sua tu rua ng yan g dir asa kan “su bye k” leb ih beb as ber ger ak dan tid ak ber bah aya untuk ora ng lai n. Dal am hal ini tek nol ogi lay ar men jad i kat ars is bag i dor ong an pri mit if cro wd, dan kem udi an men gha sil kan sua tu jen is mas sa yan g leb ih ter kon tro l sec ara fis ik, nam un tet ap akt if dan par tis ipa tif sec ara men tal dal am dis kus i dal am set iap age nda isu -isu glo bal yan g ter us ber mun cul an seb aga i fok us ber sam a.
403

Menurut Gustave Le Bon, Napoleon Bonaparte adalah salah satu pemimpin yang memehami karakteristik dari crowd dan memanfaatkannya untuk memperkuat kekuasaannya ( Ibid. 363). Dalam berbagai contoh, crowd sengaja diciptakan untuk melakukan kampanye politik seperti dalam Pemilu (Pemilihan Umum) di Indonesia.

280

Ind ivi du-ind ivi du men dap atk an rua ng bar u tan pa mer asa har us ter iso lir sec ara psi kolog is, wal aup un keb era daa nny a seb aga i ind ivi du tet ap ter iso lir sec ara lok al dal am ima jin ya seb aga i uni t-uni t man diri . Seb ali kny a, sec ara men tal rel asi ant ara mer eka dir asa kan tid ak lag i ter pis ah dan ter tut up dar i “du nia lua r”. Keb er[ ada ]an psi kis dip isa hka n dar i keh adi ran tub uh dan aks i, sep ert i aksi dia sin gka n dar i psi kis dan tub uh. Ada psi kis yan g ber ger ak tan pa tu buh , dan ada aksi yan g ter ali ena si dar i kes ada ran , ser ta tub uh yan g ber pik ir tan pa psi kis 404. Ket iga nya men jad i sat uan -sat uan yan g ter ali ena si sat u sam a lai nny a. Sec ara tid aks ada r ind ivi du -ind ivi du dij ali n ole h sua tu pro gra m ber sam a den gan tek nol ogi lay ar se bag ai fok us yan g ter asi ng dar i tub uh dan aks iny a sen dir i. Jur ang per bed aan ant ara ciri ind ivi du yan g ras ion al dan beb as den gan cir i cro wd yan g ira sio nal dan men gik at ber has il

dim ini mal kan dal am wuj ud mas sa yan g bar u seb aga i “wa rga dun ia” . Cro wd , yan g ber gerak den gan mel ulu hka n per bed aan ant ara aks i, tub uh dan psi kis dal am per tem uan yan g lok al dan men eta p di[ jin ak] an

kem udi an den gan mel aku kan pem isa han ter had ap ket iga nya , ser aya mem bat asi per sen yaw aan yan g men yel uru h ant ara ket iga nya den gan men awa rka n alt ern ati f per tem uan leb ih gl oba l dan abs tra k. Has iln ya ada lah sua tu pol a-pol a mas sal yan g uni k dan bel um per nah mun cul seb elu mny a, di man a pad a bag ian awa l kit a seb ut seb aga i:

404

Dalam sinkronisasi, tubuh dan psikis dipisahkan dari kerjanya. Kerja teknologi mengambil ahli kerja tubuh dan pikiran. Aksi tidak lagi merupakan kelanjutan kontinum dari tubuh dan psikis melainkan di[antara]i oleh teknologi sebagai medium. Sedangkan tubuh kemudian bergerak secara otomatis mengikuti suatu penyesuaiannya dengan teknologi sebagai mediumnya, dan psikis yang melayang-layang dengan bebas menikmati suatu perhelatan “tanpa keikutsertaan tubuh”. Tubuh “ditinggalkan” kesadaran, bekerja secara mandiri sebagai sebuah “sumber energi” yang bermanfaat untuk bekerja bersama sebagai bagian dari fungsi teknologi.

281

“ke ser aga man yan g tid ak ser aga m” 405. Dal am hal ini mek ani sme ker ja tek nol ogi lay ar dan tek nol ogi glo bal , di sat u sis i mer upa kan str ate gi mel aku kan kon tro l sec ara lan gsu ng mel alu i ket ida ksa dar an ter had ap cro wd, jug a mer upa kan sua tu kre asi rua ng dan wak tu bar u yan g mem ber ika n kes emp ata n pad a ind ivi du unt uk lah ir kem bal i dal am sit uas i di man a impu ls -imp uls pri mit ifn ya men dap at pen yal ura n buk an dal am wuj ud lok al dan ser aga m mel ain kan ter pis ah-pis ah sec ara plu ral dal am aru s yan g glo bal .

3.

Teknologi

l a y ar

dan

teknologi

global

s eb a g a i

r eg u l a s i

l e d a k a n p op u l a s i 406 Tek nol ogi lay ar dan tek nol ogi glo bal mer upa kan mek ani sme di man a cro wd ata u mas sa mer upa kan sal ah sat u sar ana uta ma, sel ain fok us lay ar dan “im aji nas i” yan g dib ang un ind ivi du ten tan g dir iny a seb aga i bag ian sej aja r den gan “wa rga dun ia” . Tek nol ogi lay ar dan tek nol ogi glo bal bek erj a jus tru dal am pop ula si yan g bes ar dan “ru ang fis ik” ter bat as sep ert i yan g dia lam i ole h ban yak neg ara akh ir -akh ir ini . Led aka n jum lah kel ahi ran yan g bes ar den gan ang ka kem ati an ren dah , ada lah ancam an bag i “wa rga dun ia” sek ali gus mer upa kan bag ian dar i tug as dan kek uat an dar i tek nol ogi lay ar dan tek nol ogi glo bal . Men gen ai pol a per kem ban gan
405 406

Baca kembali kajian tentang pola-pola budaya massa di Bab I. Bagian ini hanya merupakan sebuah penyajian bagaimana model teknologi layar dan teknologi global berfungsi secara teknis sebagai alternatif strategi untuk mencapai beberapa tujuan yang kongkret. Karena itu sifatnya tidak akan terlalu mendetail, dikarenakan dibutuhkan literatur, data dan metode analisis yang lebih beragam untuk memperoleh kajian yang mendalam dan lengkap. Hal ini belum bisa dipenuhi oleh tulisan ini. Selain akan membutuhkan kajian yang semakin lama semakin kompleks, untuk saat ini bagian ini membutuhkan waktu dan tenaga yang besar dan tak terbatas. Inilah alasan mengapa bagian ini ikut dilampirkan pada bagian ini, yaitu sebagai pengingat bahwa tidak ada akhir yang absolut dalam mengkaji fenomena seperti teknologi latayar. Waktu terus berjalan, dan apa yang diamati oleh penulis saat ini mungkin tidak akan berlaku sama untuk masa mendatang.

282

kua nti tas pen dud uk, pas ang sur ut per tum buh an pop ula si dar i beb era pa run tut an per iod e yan g ter jad i di baw ah men jad i sal ah sat u con toh :

TABEL 5. 1 Arus fl uk tuas i pert um buha n popula si den gan pembag ia n me nur ut ko ho r/ period isas i di Amer ika se bagai contoh 407 kecender unga n pert um buha n popula si . Kohor (Periodisasi) Pra-Perang Dunia I Perang Dunia I 1920-an Masa Depresi Perang Dunia II Baby boom Baby bust Anak-anak dari generasi baby boom Anak-anak dari generasi baby bust Usia di 2001 88+ 82-87 72-81 62-71 56-61 36-55 22-35 Jumlah ratarata kelahiran per/ tahun 201,000 244,000 249,000 236,000 280,000 426,000 362,000

Tahun kelahiran Sebelum 1914 1914-1919 1920-1929 1930-1939 1940-1945 1946-1965 1966-1979

Ukuran Relatif kecil Relatif kecil Relatif besar Relatif kecil Relatif besar Sangat Besar Relatif kecil Relatif besar

1980-1995

6-21

382,000

1996 on

0-5

344,000

Relatif kecil

Pad a per iod isa si di ata s, bab y boo m yan g ter jad i pad a pas ka Per ang Dun ia II mer upa kan seb uah fen ome na yan g dia lam i ole h buk an han ya

407

Shifts in the population size of various age groups, (online document: http://www12.statcan.ca/english/census01/Products/Analytic/companion/age/population.c fm

283

Ame rik a, nam un sej uml ah neg ara lai nny a dal am cor ak jum lah dan pro pos isi ona l yan g ber bed a ata u ber aga m. Ber bed a den gan tab el 5.1 , dat a pad a tab el 5.2 men yaj ika n pen uru nan tin gka t pro senta se per tum buh an yan g men uru n ter us men eru s sej ak tah un 196 0-200 0, ter kec ual i pad a beb era pa bag ian dae rah .

Men uru t per kir aan , pad a tah un 199 0 pen dud uk dun ia ber jum lah 5,3 mil lia r. Dar i 80% jum lah ter seb ut ada lah ber tem pat tin gga l di neg ara neg ara Asi a dan Afr ika . Per tum buh an pen dud uk per /ta hun ter tin ggi ter cat at ter jad i di dae rah Sub -Sah ara Afr ika . Say ang nya dat a dal am tab el 5.2 tid ak mem ber ika n gam bar an laj u per tum buh an pen dud uk dun ia seb elu m tah un 196 0. Ant ara tah un 195 0-195 5, tin gka t per tum buh an pop ula si dun ia men cap ai ang ka 1,7 9 jut a. Men ing kat pad a ant ara tah un 197 0-197 5 men jad i 1,9 6 jut a jiw a, dan jum lah ini bar u men uru n hin gga 1,7 4 jut a pad a per iod e 198 5-199 0 408. Dat a di baw ah dis usu n den gan per iod isa si sed emi kia n rup a hin gga han ya men unj ukk an sec ara prog res if bah wa: “la ju per tum buh an pen dud uk di sel uru h dun ia ber kur ang sec ara ber ang sur -ang sur ” 409.

408

Data ini diringkas dari tulisan K. Srinivasan, Critical Factors affecting Population Growth in Developing Countries, dalam buku berjudul Population – the Complex Reality. A report of Population Summit of the World’s Scientific Academies (London: The Royal Society, 1994), diedit oleh Sir Francis Graham-Smith, F.R.S., hal. 183. 409 Ibid 389, hal. 18.

284

TABEL 5.2 Pertumbuhan penduduk dunia antara tahun 1960-2000 Kelompok Negara

410

Pertumbuhan penduduk rata-rata setahun (%) 1960-1970 1970-1980 1980-1990 1990-2000 (a) 2,0 1,1 1,0 2,4 2,5 2,5 2,6 2,4 3,2 2,7 1,9 0,9 0,8 1,9 2,5 2,6 3,0 2,3 3,4 2,4 1,8 0,6 0,7 1,4 2,4 1,8 3,1 2,2 3,7 2,2 1,7 0,5 0,6 1,3 2,3 2,3 3,3 2,0 3,2 1,9 2,9

Dunia Negara Maju Eropa Timur (termasuk Uni Soviet) Cina Negara Berkembang lain Afrika Utara Sub-Sahara Afrika Asia Selatan dan Timur (b) Asia barat Amerika Latin

Negara Sedang 2,4 2,6 2,6 Berkembang Catatan: (a) untuk tahun 1990-an atas dasar proyeksi (medium variant) (b) Tidak termasuk Cina

Wal aup un ”pe nur una n” ini sam a sek ali tid ak men unj ukk an bah wa pen dud uk dun ia sem aki n ber kur ang , mel ain kan : “.. . pen dud uk dun ia tah un 199 0 aka n ber tam bah den gan 90 jut a”, bah kan seb elu m tah un 200 0, jum lah pop ula si dun ia aka n ter us mem ben gka k hin gga 6,3 mil lia r jiw a 411, dan 8,1 mil lia r jiw a men jel ang tahun 202 0 412. Art iny a, la ju per kem ban gan jum la h kes elu ruh an kua ntita s pen dud uk dun ia tid ak ter lal u ter pen gar uh ole h pen uru nan laj u pen dud uk yan g men uru n tia p dek ade set ela h 196 0. Yan g pas ti set ela h tah un 196 0, set ela h dia wal i bab y boo m, jum lah pen dud uk dun ia ter us ber tah an di ata s jum lah 3 mil lia r. Hal ini dik are nak an ole h jum lah ang ka kel ahi ran yan g tin ggi ,

410 411 412

Ibid., op. cit., hal. 17. Dikutip sesuai dengan format yanga ada pada literatur rujukan. Ibid. Ibid 402, op. cit.

285

sed ang kan jum lah angka kem ati an yan g sem aki n men uru n ter us ant ara 195 0-199 0 (li hat Tab el 5.3 ).
TABEL 5.3 Kecenderungan jumlah populasi dengan perbandingan angka kelahiran dan 413 angka kematian antara 1950-1990 di berbagai wilayah
ju mlah popu lasi (d alam ju ta ) regi on al ti ng ka t ke la hi ra n ti ng kat Ke mati an

1950

1970

1985

1950 1955 37,5 49,2 42,5 24,6 42,9 19,8 27,6

1970 1975 31,5 46,6 35,4 15,7 34,8 15,7 23,9

1985 1990 27,1 44,7 28,7 15,0 27,8 12,9 19,4

1950 1955 19,7 26,9 15,4 9,4 24,1 11,0 12,4

1970 1975 12,1 19,2 9,7 9,0 12,4 10,4 9,8 8,6

1985 1990 9,8 14,7 7,4 8,7 9,0 10,7 8,1 10,6

Total Dunia Afrika Amerika Latin Amerika Utara Asia Eropa Ocenia

2516,4 222,0 165,9 166,1 1377,3 392,5 12,6

3697,8 361,8 285,7 226,5 2101,9 459,9 19,3

4851,4 552,9 404,3 264,8 2835,2 492,2 24,6

180,0 242,8 277,6 26,3 18,1 18,4 9,2 USSR (a) Catatan: (a) Data ini didasarkan pada saat Uni Sovyet masih berdiri.

Ten tun ya, per tam bah an jum lah pen dud uk ter seb ut tid ak mun gki n dii kut i ole h per tam bah an lua s wil aya h fis ik yan g lay ak tin gga l. Lua s wil aya h lay ak tin gga l fis ik sel alu cen der ung ber sif at kon stan dan

men eta p. Di tam bah lag i, bah wa sel uru h per muk aan dun ia dia sum sik an sud ah ter jen gka li dan ter pet aka n sec ara per man en ata u men eta p. Tid ak ada lag i “ta nah kos ong ” yan g dap at dir ebu t, dik uas ai, die ksp loi tas i dan dia nek sas i unt uk tuj uan men amp ung jum la h pen dud uk dal am sua tu neg ara yan g mer uap . Ger aka n pen dud uk ant arn ega ra dib ata si den gan per atu ran -per atu ran imi gra si yan g ket at. Ant ara bat as wil aya h sat u den gan wil aya h lai n tel ah dip eta kan dan dib ata si seb aga i wew ena ng pem eri nta h sua tu neg ara . Sel uru h permu kaa n dun ia dip eta k-pet aka n
413

Ibid. Tabel ini hanya merupakan bentuk ringkasan dari referensi.

286

men uru t

gar is

bat as

ant arn ega ra.

Den gan

dem iki an

pen yel esa ian

mas ala h pop ula si tid ak bis a dia tas i den gan per pin dah an pen dud uk ata u pen dud uka n wil aya h lai n seb aga i kol oni , dis eba bka n set iap neg ara mem ili ki ked aul ata n, wew ena ng pen uh dan kep ent ing an nas ion al ata s dae rah nya mas ing-mas ing . Seb aga i alt ern ati f, reg ula si ata s pop ula si leb ih dia rah kan pad a usa ha-usa ha yan g int ens if dal am neg ara itu sen dir i, yan g bia san ya dil aku kan mel alu i ala t kon tra sep si. Pad a sis i lai n tek nol ogi layar , men gam bil per an yang aga k ber bed a dal am men gat asi mas ala h ini , ter uta ma den gan mer edu ksi kem ung kin an mun cul nya cro wd yan g

sem aki n bes ar kar ena per tum buh an pop ula si ata u sem aki n sem pit nya rua ng fis ik. tek nol ogi lay ar dan tek nol ogi glo bal men gkr eas i sua tu “ru ang bar u” yan g ber dir i sej aja r den gan rua ng mat eri , di man a pot ens i cro wd ber kum pul sec ara lok al dia lih kan pad a per tem uan kes ada ran yan g sem u. Mel aui rua ng vir tua l, cro wd dik ump ulk an sec ara spi rit ual tan pa mel iba tka n ket erl iba tan fis ik, yan g den gan dem iki an mem ber ika n

ind ivi du kes emp ata n unt uk mel epa ska n dir i sej ena k dar i kepad ata n ant arj ara k fis ik yan g sem aki n lam a sem aki n men yem pit kar ena

per tum buh an pop ula si pen dud uk. Rua ng eks ist ens i “su bye k” dil ipa t gan dak an mel alu i dua jen is rua ng sej ajar yan g dap at dij ela jah i sec ara ber gan tia n. Pad a “duni a vir tua l”, “su bye k” men dap at kes emp ata n

men ump ahk an dor ong an -dor ong an dan ene rgi nal uri ahn ya den gan beb as men jel aja hi alt ern ati f-alt ern ati f fok us yan g ter sed ia, seh ing ga ket ika ber [ad a] kem bal i dal am “du nia mat eri al” , sel uru h dor ong an ter seb ut sem aki n ber kur ang kek uat ann ya seb aga i pen gge rak aks i fis ik. Pem uas

287

aka n keb utu han yan g fis ik org ani k, dig ant ika n ole h pem enu han dor ong an yan g dil aku kan ole h lay ar. Keb utu han aka n mak ana n dan sek sua lit as yan g seb elum nya ber sif at pok ok dap at digan tik an sem ent ara den gan kep uas an yan g dib eri kan ole h lay ar. Den gan dem iki an “pe leb ara n” dal am “du nia vir tua l” tid ak han ya ber art i pel ipa tga nda an rua ng dal am art i kua nti tas , tet api jug a dal am mak na yan g sej aja r dal am mak na peran pem enu han keb utu han -keb utu han pop ula si.

GRAFIK 5.1 Perbandingan antara indeks biaya penggunaan satelit Intelsat dengan indeks biaya hidup di Amerika 414 Serikat, 1965-1985

Dal am beb era pa kes emp ata n, ked udu kan ant ara dua “du nia ” ini tid ak sej aja r. Ser ingka li, keh idu pan dal am “du nia vir tua l” mul ai

dia ngg ap jau h leb ih ent eng , men ghi bur , men yen ang kan dan dam ai men gat asi kea daa n “du nia mat eri al” yan g ser ba pen uh tun tut an ker ja, kur ang mem uas kan dan ter lal u ser ius . Hal ini juga did uku ng ole h bia ya

414

Morgan (1980), dikutip oleh Zulkarimein Nasution, Teknologi Informasi. Dalam Perspektif Latar Belakang & Perkembangannya (Indonesia: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1989), hal. 55.

288

pen ggu naa n mau pun pem ili kan tek nol ogi inf orm asi dar i tah un ke tah un men uru n, sed ang kan bia ya hid up kes eha ria n mel onj ak ter us (li hat gra fik 5.1 ). Kec end eru nga n ini ter us ber lan gsu ng hin gga saa t ini . Sej ak tah un 200 3, paj ak bar ang -barang ele ktr oni k di Indon esi a dic abu t, sed ang kan har ga bah an pok ok ter us men ing kat . She rry Tur kle dal am Lif e on the Scr een (199 5) 415, men cer mat i sej uml ah kas us kec and uan int ern et yan g men gha bis kan seb agi an wak tu har ian nya sec ara on-lin e. Dal am hal ini mul ai muncu l key aki nan bah wa keh idu pan on-lin e leb ih ber mak na

dar ipa da keh idu pan off -lin e. Di man a per an ini seb elu mny a dip ega ng ole h tel evi si yan g ber has il mem bua i mil lia ran man usi a dal am pro gra mpro gra mny a yan g kon sta n had ir set iap har i di dal am rua nga n rum ah dan rua ng pub lik . Per an ini jug a dip ega ng ole h tel epo n, di man a seb agi an rem aja men gha bis kan seb agi an bes ar wak tun ya di tel epo n unt uk sal ing men gob rol san tai den gan tem an ata u pac ar mer eka . Lin gku nga n sek ita r, tem pat tub uhn ya ber sem aya m, men jad i tid ak men ari k lag i unt uk

diu rus 416. Dal am beb era pa kas us, dal am men gambi l kep utu san kes eha ria n ses eor ang dip eng aru hi ole h apa yan g dis aks ika nny a dal am lay ar. Ist ila h sep ert i “as see n on TV ” ata u “as see n on mov ie” mer upa kan kat a-kat a yan g mer ang san g bag i mas yar aka t sek aran g, sek ali gus pan dua n unt uk men emu kan seg ala ses uat u (da ri pro duk rum ah tan gga , per ala tan ker ja, pac ar hin gga ora ng tua ide al) di keh idu pan kes eha ria nny a sep ert i yan g dia tem ui dal am “du nia vir tua l”. Dal am lah an sem aca m ini , di man a dor ong an unt uk men gkonsu msi men gik uti sua tu mod e ter ten tu mak in
415

Lihat artikel berjudul Komunitas Virtual dan Permasalahan Kualitas Hidup, yang merupakan saduran dari tulisan Philip Brey, New Media and The Quality of Life dalam Jurnal Society for Philosophy of Technology, vol. 3, no. 1, 1999 (Ibid 311., op. cit., hal. 247-253). 416 Ibid., hal 251.

289

men gua t har i ke har i, dun ia adv ert isi ng tum buh sub ur. Hal ini sek ali gus mer upa kan ter obo san pas ar yan g pal ing men gun tun gka n unt uk sis tem per eko nom ian Kap ita lis me. Beb era pa dek ade yan g lal u, dun ia per dag ang an dan ind ust ri kap ita lis dih ant ui ter us ole h ram ala n Kar l Mar x yan g men yat aka n bah wa sua tu saa t sis tem Kap ita lis me aka n run tuh ole h beb era pa fak tor

pen yeb ab dar i kar akt ern ya sen dir i, di man a kem amp uan pro duk si mas sal yan g awa lny a mer upa kan kek uat an ind ust ria lis asi yan g men cetus kan sis tem kap ita lis me men jad i sal ah sat u pen ent u. Bar ang -bar ang di tok o aka n ber lim pah an, sed ang kan day a bel i mas yar aka t sem aki n mel ema h. Per tum buh an pen dud uk yan g sem aki n har i ber tam bah men yeb abk an ket imp ang an ant ara kel as bor jui s dan pro let ar sem aki n mel eba r. Jum lah ora ng yan g ter sin gki r dar i kel as pen gua sa ala t pro duk si sem aki n

ber tam bah , yan g ber art i day a bel i dar i mas yar aka t mak in har i mak in men uru n. Sed ang kan kem aju an tek nol ogi men yeb abk an pro duk si bar ang bar ang kom odi tas ter us mel eda k, tan pa dii mba ngi day a bel i yan g mem ada i: “It is no longe r a mer e acc ide nt, tha t cap ita lis t and lab our er con fro nt eac h oth er in the mar ket as buy er and sel ler ”417. Tet api wak tu men unj ukk an bah wa ram ala n dar i Mar x tid ak

ter buk ti, wal aup un Dep res i eko nom i ya ng men imp a Bar at pad a tah un 193 0-an, yan g dii kut i ole h pem boi kot an pem bel ian pro duk Bar at di Asi a, hin gga awa l Per ang Dun ia II sea kan -aka n eko nom i kap ita lis me aka n men emu i aja lny a. Seb ali kny a, sej ak ber akh irn ya Per ang Dun ia II, di man a Ame rik a Ser ika t, Ker aja an Inggr is dan Uni Sov yet mun cul seb aga i

417

Ibid 369, op. cit., bagian 23.

290

pem ena ng

per ang ,

men dad ak

sem ua

per mas ala han

eko nom i

yan g

seb elu mny a dih ada pi mas yar aka t kap ita lis me men dad ak sir na. Sal ah sat u fak tor yan g mun gki n dap at men jaw ab per mas ala han ini , kec ual i kar ena Per ang Dun ia II 418, pen eta pan nil ai mat a uan g yan g tim pan g ant ar a neg ara -neg ara den gan uta ng Bar at dan den gan neg ara Asi a-Afr ika , sis tem pen gik ata n mon ete r rel asi dun ia,

pem ban gun an

ber kal a

“ma sya rak at dun ia” yan g ber ori ent asi pad a “du nia vir tua l” ada lah fak tor yan g san gat pen ing kat an oto mat isa si mem ban tu. pen era pan pro ses -pro ses Kar ena itu : “Revo lus i tek nol ogi ele ktr oni k, bis a ata u ter seb ut

per ala tan pro duk si

pen ing kat an ‘bo om’

mem per tah ank an

keu ntu nga n kar ena bis a men ghe mat /me mot ong bia ya-bia ya pro duk si bar ang-bar ang sec ara ber art i, itu lah seb abnya men gap a bar ang -bar ang ter seb ut bis a dij ual den gan har ga yan g leb ih mur ah dan , den gan dem iki an, aka n mem per bes ar pas ar kon sum en. ” 419 Per mas ala han sel ama ini ada lah dil ema ant ara kep ent ing an sis tem eko nom i kap tal ism e aka n jum lah popul asi yan g bes ar seb aga i sum ber ten aga ker ja mur ah sek ali gus pas ar bag i kom odi tas dih asi lka n, dan aki bat sem aki n bes ar kem ung kin an mun cul nya cro wd dar i jum lah

pop ula si yan g mem ben gka k. Cro wd yan g bes ar den gan ket erb ela kan gan eko nom i yan g men ing kat , mer upa kan sas ara n pro pag and a kom uni sme yan g pal ing efe kti f sel ama mas a per ang din gin 420, sek ali gus jug a

418

Doug Lorimer, Serangan Global Imperialisme dan Kemungkinan Perlawanannya (Jurnal Kiri tahun 1, No. 1, Juli 2000). Menurut Lorimer, perang merupakan alat Kapitalisme Amerika untuk mengatasi masalah pengangguran yang muncul selama Depresi ekonomi. Ibid., loc. cit., hal. 122 “The greater the social wealth, the functioning capital, the extent and energy of its growth, and, therefore, also the absolute mass of the proletariat and the productiveness of its labour, the greater is the industrial reserve army. The same causes which develop the

419 420

291

mer upa kan pas ar yan g pot ens ial unt uk mem asa rka n kom odi tas , dan gud ang unt uk mer ekr ut ten aga ker ja yan g mur ah 421. Den gan

ter ben tuk nya sua tu mas sa pop ula si yan g besar dan men gam ban g, mak a kem ung kin an bur uk tim bul nya ket ida kpu asa n dap at dir eda m sem ini mal mun gki n. Kim Moo dy men cat at bah wa pad a per ten gah an 199 0-an ter jad i pem ogo kan bur uh bes ar-bes ara n di neg ara “Du nia ket iga ”, ant ara lai n: Nig eri a (19 94) , Par agu ay (19 94), Ind one sia (19 94) , Tai wan (19 94) , Bra zil (19 96) , Bol ivi a(1 995 ), Arg ent ina (i9 96) , Ven ezu ela (19 96) , Col omb ia (19 97) dan Ecu ado r(1 997 ). Di Ame rik a sen dir i pem ogo kan bur uh nai k dar i ang ka 195 (19 95) men jad i 237 (19 97)
422

. Nam un, dar i sek ian jum la h

pem ogo kan terse but , tid ak ada ger aka n yan g ben ar -ben ar ber nia t mer uba h kes elu ruh an tat ana n yan g ada . Di sin ila h, tek nol ogi lay ar mem ain kan per ann ya yan g pal ing ber art i. Sel ain seb aga i sar ana pro pag and a ten tan g kem akm ura n

“ob yek tif ” dun ia Bar at yan g mod ern , jug a sek ali gus mel aku kan pro gra m pem bia kan sua tu jen is mas sa yan g wal aup un jum lah nya bes ar nam un ant ipa ti ter had ap keada an sek ita rny a. Per ten tan gan ant ark ela s sos ial did ama ika n dal am la yar . Bur uh-bur uh dan kar yaw an ren dah an yan g men gha bis kan sep aru h dar i kes eha ria nny a di tem pat ker ja men dap atk an

expansive power of capital, develop also the labour-power at its disposal. The relative mass of the industrial reserve army increases therefore with the potential energy of wealth. But the greater this reserve army in proportion to the active labour-army, the greater is the mass of a consolidated surplus-population, whose misery is in inverse ratio to its torment of labour. The more extensive, finally, the lazarus-layers of the working-class, and the industrial reserve army, the greater is official pauperism. This is the absolute general law of capitalist accumulation.” (Ibid 369, bagian 25).
421

Menurut Anthony Brewer, Marx melupakan aspek penjualan produk pada Kapitalisme. Di mana untuk Kapitalis menaikan upah dengan tujuan agar produk yang dijual tetap memiliki konsumen untuk membeli. Simak: Kajian Kritis Das Kapital Karl Marx (Jakarta: Teplok Press, 1999), hal. 114. Hendri Kuok, Krisis Kapitalisme dan Krisis Kaum Buruh (Jurnal Kritik volume 2/Tahun 1, Agustus-September 2000), hal. 104-105.

422

292

sar ana hib ura n dan pel epa s emo si dal am lay ar. Mel alu i lay ar pul a, ber bag ai hib ura n yan g din ikm ati ole h bor jui s, jug a dir asa kan ole h pro let ar sec ara sem u-sem u. Dal am hal ini , mas sa men dap atk an rua ng yan g leb ih men yen ang kan dar i kes eha ria nny a yan g kur ang

men gun tun gka n. Lah irl ah tub uh-tub uh yan g dit ing gal kan ole h jiw a dan aks iny a.

GRAFIK 5.2 Transformasi pemusatan tenaga kerja di Amerika antara 1800-2000423.

Jiw a yan g akt if dal am dia log , nam un pasif dal am tin dak an; cin ta dam ai dan ant i kek era san ; dan ter uta ma men cin tai keb aha gia an hid up yan g dis aks ika n set iap har iny a dal am dun ia lay ar. Tek nol ogi lay ar dal am fas e ini mem ain kan fun gsi dan per an jam ak sek ali gus glo bal dal am “wa rga ter ten tu dun ia” , yai tu sek ali gus seb agai ala t pro pag and a kep ent ing an pen get ahu an pub lik ; med ium pih ak bag i pub lik

sum ber

keb er[ ada ]an

pub lik , tem pat

yan g “be bas ” unt uk int era ksi

sek ali gus reg ula si pop ula si unt uk men ceg ah dan mng ura ngi ter jad iny a cro wd; kom odi tas sek ali gus peran gsa ng pas ar yan g agr esi f ser ta pen cip ta
423

Dikutip dengan adaptasi dari Fidler (2003: hal. 125).

293

ran ah-ran ah ker ja yan g bar u (li hat gar afi k 5.2 ); dll . Iro nis nya , bag i ind ivi du-ind ivi du yan g ber ada di dal am aru s ter seb ut tid ak ada per asa an lai n sel ain mer asa sem aki n har i dun ia sem aki n beb as, pen uh

keb ers ama an dan bah agi a, tan pa ada alt ern ati f wil aya h bar u ter pis ah di lua r “ma sya rak at dun ia” .

294

BA B VI PE NU TU P

A. KE SI MP UL AN
Chu ck Nol an, seo ran g sup erv iso r kur ir jas a pen gir ima n Fed Ex (Fed era l Exp res s), sel alu mem icu baw aha nny a yan g ter dir i dar i lat ar lok ali tas ber aga m unt uk sel alu men epa ti wak tu. Mel esa t dar i sat u tit ik men uju tit ik lai n sec ara glo bal dal am kal kul asi wak tu det il hin gga ke men it dan det ik. Mem anf aat kan sem ua tek nol ogi ter bai k unt uk tuj uan itu ,

men gan tar pak et kir ima n den gan tep at wak tu. Dal am pen gga mba ran ini , Chu ck Nol an, tok oh dal am fil m Cas t Awa y, dia nal ogi kan den gan Phi lea s Fog g. Ber bed a den gan Fog g, per jal ana n Nol an tid ak ber akh ir den gan keg emi lan gan dan kej aya an. Nol an tid ak mem ili ki ist ri yan g ber asa l dar i has il per jal ana nny a ata u mem ena ngk an seb uah tar uha n. Seb ali kny a, dal am kec ela kaa n pes awa t ter ban g yan g men gan tar nya men gir im pak et, Nol an ter dam par di pul au kos ong sel ama emp at tah un leb ih, yan g ber art i kea lpa an dia dar i kha lay ak glo bal . Dal am be rba gai catat an res mi, Nol an telah “ma ti” , dih apu s dar i catat an kep end udu kan dan dij adi kan

ken ang an dar i mas a lal u. Dar i dun ia glo bal yan g ram ai, Nol an ter lem par dal am dun ia yan g hen ing , tid ak ada hew an eks oti k ata u suk u asi ng sep ert i kis ah Rob ins on Cru soe , jug a tid ak ada man usi a Lil iput sep ert i Gul liv er Tra vel . Nol an

295

men gap ung-apu ng dal am kes end iri an yan g ter asi ng di ten gah -ten gah lau tan Pas ifi k lua s, ter kur ung di ant ara omb ak dan kar ang . Mel eng kap i kes end iri ann ya, Nol an ber tah an hid up den gan lin gku nga n yan g dal am ber bag ai seg i ter per angk ap sec ara lok al, wak tu yan g mer aya p tan pa hit ung an ang ka, tid ak ada aku mul asi wak tu yan g mut lak , spe sif ik dal am kea daa n, ser ta leb ih pen tin g lag i ada lah ket iad aan kon tak den gan “ya ng lai n”. Per ali han dar i dun ia yan g sel alu ber ger ak, ber uba h, men gej ar, glo bal nam un mer asa kan keh adi ran “or ang lai n”, men uju dun ia

cen der ung dia m, men eta p, san tai dan tia dan ya “or ang lai n”, pad a sat u sis i ada lah pen gkr ont ras an dia dun ia yan g ber bed a. Di sis i lai n, jug a ber cer ita bag aim ana dun ia yan g sat u had ir dal am kon tek s dun ia lai n

dal am wuj ud yan g “di ses uai kan ”. Nol an tid ak han ya bel aja r mem bua t api dar i kay u, men ang kap ika n den gan tom bak , mem eti k kel apa dar i poh onn ya dan mem ben tur kan nya ke bat u unt uk mem per ole h isi nya , ata u tek nik-tek nik yan g dal am uku ran nor mal ita s kon tem por er dia ngg ap pri mit if. Di lua r itu sem ua, Cas t Awa y men cer ita kan bag aim ana Nol an men ggu nak an bar ang yan g dit emu kan nya ter han yut ber sam a dir iny a unt uk kep erl uan yan g “me nyi mpa ng” dar i keg una an kon tek s “um um” , sep ert i; ber bic ara den gan bol a vol i yan g diber i nam a “Wi lso n”,

men ggu nak an sep atu ice ska tin g unt uk men cab ut gig i ata u gau n mal am ber end a dip aka i seb aga i jar ing ika n. Dal am pul au ter pen cil , sem ua tek nol ogi ber pin dah dar i kon tek s yan g lay ak pad a kes eha ria n mem asu ki jal ina n fun gsi ona l yan g sam ase kal i bar u.

296

Nam a “Wi lso n”, dap at ber mak na seb aga i mer k dag ang bol a vol i pad a kes eha ria n, tap i jug a ber art i nam a seo ran g “te man ” bic ara ter bai k yan g dim ili ki Nol an sel ama mas a pen gas ing ann ya. Nol an mem ber iny a waj ah dar i jej ak dar ah tel apa k tan gan nya men yer upa i waj ah ter sen yum . Kem udi an per lah an -lah an, Nol an mul ai ber bic ara den gan nya ,

“me nde nga r” tan gga pan dar i Wil son dan mem ber i jaw aba n, hin gga lam a kel ama an kom uni kas i ter jal in ant ara ked uan ya. Seb aga i bol a vol i, Wil son tid ak ber bic ara ata u men den gar kat a-kat a Nola n dal am pen ger tia n umu m. Nam un seb aga i rel asi ant ara “su bye k” den gan “ob yek ”, Wil son ada lah keh adi ran “in div idu ” lai n yan g dia nda ika n di lua r dir i Nol an. Keh adi ran Wil son “ob yek tif ” dal am pen gam ata n, tap i jug a “su bye kti f” seb aga i pro yek si Nol an aka n sos ok “or ang lai n”. “Di a” dir asa kan Nol an seh idu p dir iny a, seh ing ga Nol an per lu mem int a maa f jik a “be rsi kap kas ar” ter had apn ya, ata u men ang isi Wil son jik a “me nin gga lka nny a”. Ant ara Nol an dan Wilso n ter jal in rel asi bai k sec ara kog nis i, mau pun emo sio nal . Hal yang tid ak ter jad i jik a Nol an mas ih ber ada di lin gkung an seb elu mny a: Nol an tid ak aka n per nah sem pat ber bic ara den gan seb uah bol a vol i, apa lag i mer ang kul dan men yed ihk ann ya. Bol a vol i seb aga i ben da, ala t, per kak as yan g dal am per mai nan vol i ada lah “po in yan g dip ere but kan ” ber ali h men jad i “te man set ia” . Seb aga i ben da ter bua t dar i kul it yan g dij ahi t jad i sat u bag ian utu h dan dii si ang in di ten gah nya , Wil son buk anl ah fok us. Fok usn ya di dal am ber bag ai sis tem keb utu han , seb aga i “pe rma ina n”, “ol ahr aga ” ata upu n “te man set ia” . Dal am Cas t Awa y, dia had ir seb aga i bag ian dar i dir i

297

Nol an sek ali gus tem an di lua r dir i yan g emp iri k dan mem ili ki wuj ud tam pak . Mel alu i tek nol ogi glo bal dan lay ar, “ke ber sam aan ” ant ara Nol an dan Wil son bis a ber lan gsu ng dal am aja ng main yan g jau h leb ih lua s ser ta mel iba tka n “ob yek tiv ita s” mas sa dan med ian ya. Den gan men jad ika n ind ivi du men eta p pad a “ke sen dir ian nya ”, tek nol ogi glo bal mau pun lay ar jus tru men awa rka n pro gra m kes ada ran mas sal bar u yan g dia lam i seb aga i kem anu ngg ala n bar u dal am dun ia vir tual, men gel abo ras ika n dan

mer eko nst ruk si “du nia

lam a” dal am tat ana n “ad i-mat eri al” . Fok us

per hat ian ind ivi du dii kat sec ara hal us, den gan “ke sad ara n pri bad i”, suk are la dan keb aha gia an men uju sin kro nis asi ber sam a ke

kem anu ngg ala n “ro han iah ”,

sed ang kan tub uh dan aks iny a dit ing gal

ber ger ak dal am dun ian ya sen dir i-sen dir i.. Kem anu ngg ala n “ro han i” ini dal am ber bag ai kes emp ata n kit a ken al seb aga i “pu bli k”, “wa rga dun ia” , “kh ala yak glo bal ”, glo bal vil lag e dan ber bag ai seb uta n lai nny a. Sif at dar i kem anu ngg ala n ini ada lah “me nye lur uh” dan ham pir tid ak mem ber ika n pel ung sam ase kal i bag i ind ivi du unt uk mem isa hka n dir i dar i eks ist ens iny a. Nam un pad a sis i lai n, ben tuk kem anu ngg ala n ini jug a dap at dib eda kan dar i “du nia lua r” den gan did asa rka n pad a kod e bin er, “Sistem
publik dibedakan dirinya dari lingkungannya dengan menggunakan kode biner (binary code) ‘menarik perhatian/tidak menarik perhatian’. ‘Perhatian’ termasuk sistem publik, melainkan 424 ‘tidak menarik perhatian’ termasuk lingkungannya.”
424

Hanitzsch, Thomas, Misi Sosial atau “Mission Impossible”? Tentang otonomi proses produksi berita, dalam Lukas S Ispandriarno, Thomas Hanitzsch & Martin Loeffelholz (eds.) MediaMiliter-Politik. Crisis Communication: Perspektif Indonesia dan Internasional (Jogjakarta: Galang, 2002), hal. 302.

298

Pad a pem aha man ini , pub lik dan int itu si med ia ada lah ger aka n “li ar” ber das ark an kep utu san ira sio nal men yel eks i inf orm asi den gan kri ter ia “pe rha tia n”, kar ena itu tid ak pad a ada kek uas aan ini , dar i lua r yan g ada nya

men gon tro lny a.

Ber sam aan ,

mod el

dia nda ika n

mas yar aka t tra nse nde n ber diri di lua rny a, sed ang kan “pu bli k” han ya seb agi an dar i kes elu ruh an ter seb ut. dia nda ika n seb aga i ses uat u yan g Mas yar aka t dal am mod el ini , “meny elu ruh ”, dib eda kan dar i

keh adi ran pub lik yan g “pa rsi al” . Kec end eru nga n ini did esk rip sik an pad a mod el gra fis sep ert i di baw ah:

BAGAN 6.1 Trikotomi domain sosial dalam pembagian: jurnalisme-publik -masyarakat menurut Luhmann (1999, dalam Hanitzsch, 2002, hal 302).

Kek ura nga n dar i pol a ini , jus tru ada lah pen gak uan bah wa ada nya “ma sya rak at” tra sen den yan g beb as dar i jus tif ika si pub lik , dan

mel upa kan ima jin asi ten tan g “ma sya rak at” jus tru dib ang un mel aui “su bsis tem ”. Ket ika ber bic ara ten tan g rua ng vir tua l pub lik , par adi gma

299

dik oto mi ant ara “si stem-uta ma” dan “su b-sis tem ” har us dit ing gal kan unt uk men ghi nda ri pen deka tan yan g mel iha t ban gun an ins tit usi ona l tek nol ogi lay ar dan glo bal sec ara “bi rok rat is” , dan kem udi an ber aki bat pad a mer uba h rua ng pub lik seb aga i “ob yek ” ter lep as sam a sek ali dar i rel asi “ma ter iil ”. Cac at ide ali sti k ini , jik a tid ak dis ada ri, aka n men gar ah pad a pen gur ung an dir i oto nom isa si yan g mas tur bat if, dan pem isa han rua ng-rua ng ber jen jan g dan ber uju ng pada ras ion ali sas i keb era daa n mas yar aka t, ter uta ma keh adi ran “kh ala yak glo bal ” yan g dim aji nas ika n sec ara “ob yek tif ”. 425 Pad a tri kot omi ini , sek ali gus ter cerm in pem isa han yan g ken tal a pad a mas sa men jad i tig a fun gsi yan g ber dir i sen dir i, lay akn ya ker ja-jiw a-tub uh yan g ter pis ah sat u sam a lai n. Per hat ian (pu bli k) dap at dip isa hka n dar i tub uhn ya (ma sya rak at) , sed ang kan aks i (ju rna lis me) men jad i ala t ker ja yan g berdi ri sen dir i ter org ani sir ole h sua tu lem bag a. Mel alu i mod el mek ani sme ker ja tek nol ogi lay ar dan tek nol ogi glo bal (se per ti yan g dik aji pad a ana lis is dis kur sus glo bal bra in, bud aya pop ule r, Tel etu bbi es dan lai n-lai n), keh adi ran ima jin asi mas yar aka t mer upa kan kel anj uta n dar i pol a -pol a yan g dib ang un ole h tek nol ogi lay ar dal am rua ng pub lik . Tid ak ada pem bag ian eks ak ant ara mas yar aka t dan rua ng pub lik , ked uan ya ber ada dal am tat ana n tek nol ogi s ber ben tuk rel asi “pe mua ian ” dan “pe nyu sut an” sem est a ket ida ksa dar an/ te kno log i.

425

Sebagai masyarakat global yang obyektif, masyarakat menjadi determinisme mencerminkan penampakan ruang publik dan jurnalisme: “... masyarakat yang rukun memperoleh jurnalisme yang damai, sedangkan masyarakat yang kejam akan mendapat jurnalisme yang kejam pula.” (ibid., op. cit., hal. 310). Kemudian, dari fokus perhatian kepada jurnalisme, dengan mudah dialihkan pada dorongan disiplin moralistis kepada “masyarakat”: “Untuk itu memang diperlukan “budaya perdamaian” (culture of peace) yang merupakan tugas bagi seluruh lapisan dan bagian masyarakat – tidak hanya jurnalisme.” (Ibid., op. cit.)

300

Pro ses yan g ber jal an mel alu i rep rod uks i fok us isu -isu dan “pe rha tia n ber sam a” ser ta keh adi ran “ke sad ara n lai n” (sec ond per son ali ty ). Rel asi ant ara man usi a dan tek nol ogi lay ar men jad i ind ivi dua l, int im, sub yek tif sek ali gus mel iba tka n kar akt eri sti k kon tra dik tif yan g mas sal , glo bal , “ob yek tif ” dan non -tek nol ogi s sec ara pen amp aka nny a 426. Tid ak sep ert i pen gga mba ran kla sik ten tan g tek nol ogi , di man a dal am pos isi pil iha n men dom ina si ata u did omi nas i man usi a, rel asi itu ber sif at bio log is dal am dor ongan nar uli ah aka n “ra him ” yan g leb ih aba di, tak ter gan tik an dan leb ih mem uas kan sec ara lib ido . Dar i poi n ini , rua ng pub lik ata u mas yar aka t seb aga i seb uah sin kro nis asi “su bye k” dal am seb uah rah im tek nol ogi s dan rah im tek nolog is seb aga i sem est a yan g

mem enu hi dor ong an aka n “ke ber sam aan ” mel alu i pro duk si rua ng-rua ng roh ani ah tak ter bat as bag i fok us . Kel ahi ran kem bal i “su bye k” dal am rua ng vir tua l, men gan dai kan ada nya keb eba san dar i rua ng mat eri al. Set iap “su bye k” mel aya ng -lay ang tan pa tub uh di rua ng pub lik , dan tub uh dir anc ang kem bal i dal am rua ng ars ite ktu r mek ani k. Sed ang kan mek ani k men gal ami reg ene ras i dal am kar akt eri sti k yan g leb ih org ani k. Pro ses ini men tra nsf er “sa ng oto mat ” men jad i aut oma ton , sed ang kan aut oma ton dip rog ram ter us-men eru s mel alu i sin kro nis asi seb aga i jala n men uju dal am “ot oma tis me” . fun gsi tek nol ogi Ked ua leb ih

pem bau ran

men amp il kan

sin kro nis asi

oto nom seb aga i rah im tek nol ogi s yan g tra nse nde n sek ali gus ima nen :

426

Di sini bentuk pengalaman kultural berbaur dengan keyakinan akan sebuah ruang dan waktu “obyektif”, dalam bentuk keyakinan akan “kemajuan” berupa seperangkat nilai-nilai universal yang menjadi tolak ukur bagi semua budaya. Dalam ciri-ciri ini, budaya popular atau budaya massa menempati representasi yang menampilkan gejala tersebut (Baca kembali Bab. I untuk memperoleh penggambaran tentang cara kerja “budaya populer” dalam membentuk medan massa.

301

mot her of tec hno log y. 427 Den gan dem iki an, fun gsi tek nol ogi s men jad i “al ami ah” ket imb ang “me kan is ”; “me raw at” dan “me nun tun ” darip ada “me ngu asa i”; mem enu hi dan mer egu las i ref lek s-ref lek s bio log is dar ipa da pen akl uka n dan rep res i ata sny a; ser ta, men cip tak an ket era tur an

ter sel ubu ng mel alu i fun gsi -fun gsi nya did ala m ket ida ksa dar an. Ket era tur an, mem aks a, tet api dal am fun gsi tek nol ogi s, “su bye k” tid ak dal am mem ili ki sif at

mem beb ask an

men ent uka n

fpe rha tia nny a,

iku t ter lib at

mem pro duk si

dis kur sus -dis kur sus , yan g

kem udi an ber bal ik mem ber ika n ket erj ali nan str ukt ura l dal am fun gsi di lua r kes ada ran nya . Pen yem pit an fok us dal am isu -isu ada lah sek ali gus car a dis kur sus dib ela h-bel ah, dip ila h kem udi an dit ata kem bal i dal am isu -isu bar u ser ta mem per lua s rua ng ger ak kes ada ran ind ivi du -ind ivi du yan g “me lib atk an” dan “di lib atk an” di dal amn ya. Di sin i, isu -isu

mew aki li rel asi bay i dan ibu dal am pol a “me nja uh” dan “me nde kat ”. Dal am pos isi “me nja uh” isu -isu ada lah sat uan oby ek ber ada dal am jar ak pan dan g “su bye k” yan g ter buk a unt uk dibah as, dik aji , did isk usi kan , dit ola k, did eba tka n dan dit eli ti den gan se ksa ma. Dan ket ika sem uan ya ter jad i, per lah an-lah an isu -isu men jel ma men jad i kek uat an “ob yek tif ” yan g men gik at “su byek-sub yek ” dal am “ru ang fok us ber sam a”. Dal am “ru ang ber sam a” ini , isu -isu tid ak lag i han ya fok us mel ain kan

men gha dir kan ked eka tan psi kol ogi s dal am mod el “kh ala yak glo bal ”.
427

Dalam sebuah komik karya Masahiko Kikuni, seluruh dunia diatur oleh sistem yang dijalankan komputer dan menjadikan pemerintah negara menjadi hanya boneka. Sang sistem, digambarkan sebagai komputer induk yang disebut sebagai, “Ibu negara pemimpin kami” atau mother, dalam bahasa Jepang disebut sebagai okan, atau panggilan ibu secara umum, dibedakan dengan okasan, ibu biologis. Dalam: “Sang Penakluk. Nippon Ichi No Otoko No Tamashi” (Surabaya: Lelaki Notamashi Comic, 2002) Namun, pembedaan ini tidak berlaku untuk istilah di atas. Mother of technology memiliki fungsi sebagai “ibu publik” maupun “ibu biologis” dalam dirinya, terutama sebagai kontruksi ulang dari rahim alam ke dalam bentuk yang lebih publik, biologis sekaligus teknologis.

302

Ant ara “kh ala yak glo bal ” dan “in div idu ” buk an rel asi ant ara “ob yek ” den gan “su bye k”, mel ain kan isu -isu glo bal dan sem ua kep ent ing ann ya eks is ber [ad a] dal am ind ivi du seb aga i dir iny a sen dir i. Di sin i, rel asi ked eka tan ant ara “ba yi tek nol ogi s” dan “ib u tek nol ogi s” ber lan gsu ng dal am kes atu an seb aga i rua ng rah im pub lik , dan per lua san nya kem bal i mel alu i rep rod uks i isu -isu ada lah ger ak spi ral dal am jal ina n tim bal bal ik “me nde kat ” dan “me nja uh” , “me nyu sut ” dan “me mua i”, “si nkr oni sas i” dan “pe mro gra man ”, “me mila h” dan “me nyu sun ”, “su bye kti fik asi ” dan “ob yek tif ika si” , ser ta “me mfo kus ” dan “me ngl oba l”. Rel asi ini

dip rod uks i kem bal i, dip erl uas , hin gga akh irn ya ter ben tuk sem est a yan g ima nen dal am fok us kes ada ran , dan tra nse nde n di lua r kes ada ran (ke tid aks ada ran ) seba gai sat u kes atu an tun gga l, hin gga mem ben tuk rua ng yan g mas sif dan men gan dai kan tid ak ada rua ng lai n di lua rny a. Nam un kes atu an ini tid ak men gak iba t ber sen yaw any a ant ara ind ivi du sat u den gan lai nny a sec ara tot al, mel ain kan dal am ber bag ai kes emp ata n ind ividu tet ap ber ada dal am sua tu bat as -bat as par tik ula r yan g

men gis ola si sat u sam a lai nny a. Ras a keb ers ama an, kon tra sny a, jus tru dih asi lka n den gan par tik ula ris me yan g hadir sec ara ber sam aan dal am sua tu aru s kon str uks i bar u. “Ke beb asa n” dal am hal ini , jug a dip r odu ksi mel alu i sem aki n rel atifn ya jar ak ant ara sek at-sek at ter seb ut, di man a “im aji nas i glo bal ” dih adi rka n jug a. Kar ena nya men gan dai kan per mas ala han tek nol ogi glo bal dan lay ar tid ak

ada nya neg asi , dis kur sus -tan din gan , pen ola kan , ata u

rev olu si di lua rny a. Sem uan ya ked udu kan “pr o” dan “ko ntr a” ima nen dal am men gob yek tiv ika si dan men jus tif ika si keb utu han men des ak aka n

303

tek nol ogi glo bal dan lay ar. Pen gas ing an sep ert i yan g di ala mi Chu ck Nol an pun , tid ak aka n mem baw a ses eor ang ben ar-ben ar ter lep as dar i tek nol ogi glo bal dan lay ar, ter leb ih -leb ih han ya mem enu hi mek ani sme “pe nga sin gan dir i” yan g mem ang ter sed ia seb aga i bag ian mek ani sme per tah ana n dir i yan g dim ili ki mas yar aka t glo bal . Di sin i, mas yar aka t glo bal , men unt ut ada nya kon for mit as, pen yes uai an dir i, gam pan g

bers osi ali sas i, ket erl iba tan , kea kti fan , keter buk aan , “em pat ik” dan men ent ang sik ap yan g cha uvi nis , men utu p dir i, apa tis , pas if, ter kuc il dar i per gau lan dun ia, ser ta “se wen ang -wen ang ”. Mor ali tas glo bal

den gan dem iki an mor ali tas per gau lan dal am pos isi “se tar a”, buk an did asa rka n pad a pen amp aka n men col ok sos ok oto rit as yan g ben ar -ben ar tam pil mem uka u dan kha ris mat ik. 428 Dal am hal ini , tek nol ogi lay ar dan tek nol ogi glo bal ter buk a pad a apl ika si yan g kre ati f unt uk men cipta kan sua tu mas sa (cr owd ) yan g leb ih ter ken dal i, ras a pua sny a ter sal urk an mel alu i lay ar lal u dia rah kan pad a tin dak an kon sum tif dan leb ih sec ara nal uri leb ih cin ta pad a dia log-dia log int ele ktu al dar ipa da sua tu aks i yan g eks tri m. Dar ipa da mem ent ing kan ger aka n-ger aka n pol iti k yan g pen uh kek era san , mas yarakat ini leb ih men yuk ai eks pre si -eks pre si yan g

ber nil ai sen i, men ghi bur , int ele k dan pas ifi s.

428

Kehadiran “sosok sentral” yang dominan dalam bentuk “negara superpower” atau “polisi dunia” adalah sebuah paradoks dalam masyarakat global dan diumumkan secara malu-malu dengan mengajak warga dunia untuk mengamininya. “Kesetaraan” seringkali adalah konsep yang kabur dan hanya menjadi idealisme yang dikejar-kejar oleh negara-negara “berkembang” untuk diterima sebagai bagian dari warga dunia. Dalam tataran ini, teknologi global dan layar adalah kecenderungan-kecenderungan yang diperkuat untuk memperoleh manfaat secara ekonomis, politis, militer maupun ideologis. Namun dia bukanlah “alat” dari sebuah kekuasaan “di luarnya”, melainkan kekuasaan itu ada dalam teknologi itu sendiri dan hanya menjadi “menguntungkan” dalam serangkaian permainan dalam kaidah-kaidah yang berlaku di dalamnya juga. “Sang sosok sentral” dalam hal ini adalah konspirasi yang lahir dan dimungkinkan dari adanya kecenderungan yang lahir dari teknologi-teknologi tersebut.

304

Hin gga pad a tah ap ini , kit a bis a men cob a mem per tan yak an bag aim ana kek uas aan ber lak u di dal am tek nol ogi glo bal dan tek nol ogi lay ar? Kek uas aan tid ak ber ada di lua rnya , mel ain kan ber ada dal am rel asi ber sam a-sam a mer epr odu ksi sem est a dan reg ula si ter had ap fok us lay ar. Kar ena itu , pen gua saa n dom ina n dan men yel uru h ata s ala t-ala t

pen duk ung tek nol ogi lay ar dan glo bal tid ak ber art i aks es lan gsu ng pad a kek uas aan ata s “wa rga dun ia” . Nam un, ser ang kai an kec end eru nga nkec end eru nga n tek nol ogi glo bal dan lay ar yan g men gar ahk an sel uru h per hat ian “wa rga dun ia” pad a “ta kdi r” dan per tum buh an “ev olu si ber sam a”. Kec end eru nga n-kec end eru nga n ter seb ut tid ak mun gki n

dik uas ai sec ara men yel uruh dan mut lak ole h ins tit usi sep ert i apa pun jug a, mel ain kan ter aku mul asi ter us men eru s mel alu i ser ang kai an fok usfok us yan g dip rod uks i. Kar ena itu , ser ing kal i isu -isu yan g mem ung kin kan ada nya usa ha unt uk men gkr eas i seb uah kes emp ata n men cip tak an isu bar u, buk an usa ha sec ara lan gsu ng dar i ind ivi du yan g men ent uka n per uba han isu-isu . Seb ali kny a, sol usi yang men gan jur kan unt uk kem bal i ke sis tem keh idu pan “al ami ah” jug a sam a sek ali tid ak dap at dit era pka n.

Bag aim ana pun jug a pem bat asa n ant ara “al am” dan “te kno log is” kin i tid ak mud ah dik ena li lag i. Lag ipu la, rev olu si bes ar-bes ara n yan g

mer omb ak sis tem yan g ter ban gun tid ak sama sek ali bis a men jam in vis i ten tan g “al am yan g ide al” ter ben tuk . Mal aha n, han ya mem buk a teknol ogi s

kes emp ata n unt uk men gar ah pad a kon str uks i kek uas aan dal am ver si yan g lai n ter buk a leb ar.

305

B. SA RA N- SA RA N
Kar ena itu , buk an mak sud pen uli s unt uk mem bua t seb uah ram ala n, pre dik si ata u pen yel esa ian “fi nal ” unt uk per mas ala han kul tur al yan g mun cul dar i kek uas aan mod el tek nol ogi lay ar dan glo bal . seb aga i Jug a buk an

menaw ark an

per uba han

tan din gan

per law ana n

(re vol usi one r mau pun rea ksi one r) ter had apn ya. Tid ak ada sol usi yan g tun tas dan men yel uru h unt uk per soa lan ini , dan mel aku kan

pem bon gka ran “kr iti s” sec ara dra sti s ata sny a han ya aka n mem per kua t keh adi ran nya sec ara “ob yek tif ”. Wal aup un dem iki an, pen uli s hen dak men awa rka n kem ung kin an-kem ung kin an bar u gun a men gun gka p sec ara leb ih var iat if pol a-pol a glo bal yan g sed ang ber lan gsu ng, tan pa har us “me ndu kun g” mau pun “me ngu tuk ”. Mod el yan g dik ons tru ksi ten tan g mek anis me ker ja tek nol ogi lay ar dan tek nol ogi glo bal sam ase kal i buk an sua tu par adi gma yan g tun tas dan usa i pad a dir iny a sen dir i. Mod el ter seb ut jug a buk an seb uah ala t ker ja yan g tel ah sel esa i dan tin gga l dip rak tek kan pad a ber bag ai bid ang ker ja dan pen get ahu an. Rin gka sny a, mod el ter se but dib ang un seb aga i seb uah kon str uks i yan g sam ar-sam ar dan mas ih membu tuh kan stu di dan kaj ian lan jut an unt uk men gu ji sek ali gus mel eng kap i kek ura nga n yan g dik and ung di dal amn ya. Ada pun sal ah sat u ala san kek ura nga nny a ada lah ket erb atas an lit era tur yan g dim ili ki ole h pen uli s dan ket erb ata san met ode yan g

dip ili h unt uk mel aku kan ana lis is ini . Dal am hal lit era tur , sel ain sul itn ya men dap atk an bah an-bah an yan g dii ngi nkan pen uli s dan kel ang kaa n

306

sum ber , jug a ran ah tip e tek stu al yan g dig una kan unt uk men gka ji mas ih ter gol ong ter bat as pad a art ike l dan buk u saj a. Beb era pa tek s sep ert i ikl an, spa ndu k, pos ter , cor eta n din din g dan ber bag ai sum ber tid ak ter sus un lai nny a mas ih lup ut dar i inc ara n pen uli s. Sel ain itu , beb era pa ana lis is yan g dis iap kan oleh pen uli s tid ak men dap atk an rua ng dal am tul isa n ini , ter kai t den gan ket erb ata san sum ber bia ya, wak tu dan ten aga . Sed ang kan ket erb ata san dal am met ode , ana lis is dis kur sus

wal aup un cuk up jit u dap at mem asu ki wil aya h yan g sel ama ini alp a dal am pem bic ara an te nta ng tek nol ogi inf orm asi dan int era ksi nya den gan

psi kos osi al, mem but uhk an wak tu dan kes abara n yan g pan jan g ser ta tid ak dim ung kin kan unt uk dea dli ne pen uli san yan g sin gka t ini . Sed ang kan keu ngg ula n met ode ini dal am men yaj ika n tra nsf orm asi akt if dar i mas a ke mas a ant ara dis kur sus -dis kur sus , jus tru men jad i bum era ng bag i yan g men gha rap kan sua tu has il aje g dan pas ti aka n sua tu oby ek kaj ian . Out put dar i met ode ini buk an ser ang kai an kes imp ula n ter str ukt ur dan men eta p, mel ain kan kaj ian pan jan g leb ar yan g sul it unt uk dit ari k kes imp ula n sec ara ind ukt if, ber uba h-rub ah dan san gat ter gan tun g pad a per uba han sit uas i men dat ang . Hal ini tid ak men unj ukk an bah wa tul isa n sam ase kal i man dul dal am mem ber ika n pre dik si ten tan g mas a dep an. Pre dik si mun cul sec ara ima nen dan imp lis it dal am ran gka ian kaj ian sec ara kes elu ruh an ber upa kec end eru nga n-kec end eru nga n pot ens ial yan g aka n had ir, nam un buk an seb uah ket eta pan tak dir aka n mas a dep an yan g ter atu r ser ta tak

307

ter ban tah kan . Sek ali lag i, sep ert i yan g tel ah dip eri nga tka n pen uli s, mod el yang dik ons tru ksi tid ak mer upa kan des kri psi rii l ata s kon dis i yan g yan g “ob yek tif ” tet api mer upa kan ran gka ian sej uml ah pen gal ama n yan g dik aji dan dir ang kum sec ara dis kur sif . Mod el dal am hal ini ada lah ran gka ian fen ome n-fen ome n, buk an gen era lis ir ata s sua tu p eri sti wa ata u kon sep . Seb aga i akh ir, unt uk pem bac a yan g kec ewa kar ena out put pad a tul isa n ini tid ak mem ber ika n seb uah kes imu pul an yan g tun tas dan gam bar an eks pli sit ten tan g mek ani sme ker ja tek nol ogi lay ar dan glo bal , pen uli s men awa rka n bah wa ran gka ian mod el yan g ada bis a unt uk dil anj utk an di kem udi an har i men jad i seb uah pen eli tia n yan g leb ih spe sif ik, tek nis , ope ras ion al, lan gsu ng dan leb ih atr akt if dar ipa da yan g dit awa rka n dal am tulis an ini . Pen uli s sen dir i sed ang mer enc ana kan ser ang kai an kaj ian yan g leb ih lua s dan ter per inc i bai k sec ara teo rit is mau pun tek nis ope ras ion al, ter uta ma dal am kaj ian yan g leb ih

dip usa tka n pad a mek ani sme ker ja tek nol ogi lay ar yan g mel iba tka n sec ara lan gsu ng men unt un “su bye k” dal am dun ia vir tua l. Kem ung kin an ket erl iba tan ket ida ksa dar an di dal amn ya, mem ber ika n bob ot per hat ian pen eli ti leb ih lan jut pad a top ik sub lim ina l per cep tio n, yai tu top ik yan g mel iba tka n ker ja ter sel ubu ng lay ar dal am mem ber ika n sug est i sec ara tid aks ada r yan g dap at men gar ah pad a sua tu tin dak an -tin dak an nya ta. Penul is tid ak men yan gsi kan ked eka tan ant ara sub lim ina l per cep tio n den gan mek ani sme kerja lay ar sep ert i yan g sem pat dik aji pad a tul isa n ini .

308

Sin gka t

kat a,

pen uli s

bel um

men dap at

pen gga mba ran

yan g

mem ada i unt uk men det eks i mek ani sme ker ja tek nol ogi lay ar dal am kaj ian -kaj ian yan g leb ih men jan jik an unt uk pen era pan pra kti s. Dan sep ert i yan g tel ah diyak ini ole h pen uli s, kaj ian dal am tul isa n ini tid ak aka n men gun gka p sec ara kes elu ruh an metod e ker ja tek nol ogi ker ja lay ar, tan pa ada nya kaj ian -kaj ian leb ih lan jut . Kaj i an ini han yal ah awa l dar i sua tu kaj ian -kaj ian ber iku tny a yan g leb ih pan jan g dan

mem but uhk an ban yak wak tu dan ten aga .

309

DA FT AR PU ST AK A

Abé, Kobo, The Face of Another, diterjemahkan dari bahasa Jepang oleh E. Dale Saunders (Tokyo: Charles E. Tuttle Company, 1967) Amir, Sulfikar, Teknologi Sebagai Stimulasi Demokrasi (Harian Jawa Pos: Selasa, 18/06/2002. Online document: http://www.jawapos.com/print/index.php?cat= news&id=83681). Anonim, Alkitab Terjemahan Baru (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1999). Anonim, Hastakarya anak-anak. Pustaka Bagaimana dan Mengapa (Jakarta: PT Tiara Pustaka, 1984). Anonim, New Encyclopedia of Science (London: Orbis Publishing Limited, 1980). Berger, Arthur Asa, Tanda-tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer, diterjemahkan oleh M. Dwi dan Sunarto (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, cetakan pertama, 2000). Bertens, K., Filsafat barat Abad XX Inggris-Jerman (Jakarta: Penerbit PT Gramedia, 1983) Blundell, Nigel dan Roger Boar, Terbesar di Dunia. Misteri UFO (Jakarta: PT Pradnya Paramita, cetakan kedua, 1991). B.M., Mursito, Budaya Televisi dan Determinisme Simbolik, (Universitas Sebelas Maret: Online document: http://psi.ut.ac.id/Jurnal/81mursito.htm, tahun tidak tercantum} Brewer, Anthony, Kajian Kritis Das Kapital Karl Marx (Jakarta: Teplok Press, 1999) Brey, Philip, New Media and The Quality of Life (Jurnal Society for Philosophy of Technology, vol. 3, no. 1, 1999). Brouwer, M.A.W., Psikologi Fenomenologi (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1984) _______________, Alam Manusia dalam Cahaya Fenomenologi (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1988). Budiman, Kris, Di depan Kotak Ajaib: Menonton Televisi Sebagai Praktik Konsumsi (Yogyakarta: Galang Press, 2002). Burchel, S. C. dan Pustaka Life Time (eds.), Abad Kemajuan: Abad Besar ManusiaSejarah Kebudayaan Dunia (Jakarta: P.T. Tiara Pustaka, 1986). Cahyono, Heru dan Soemitro, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari ’74 (Jakarta: Pustaka sinar Harapan, 1998). Carey, David, Cara Kerja Televisi (Jakarta Pusat: BPK Gunung Mulia, 1981). Chaplin, J.P., Kamus Lengkap Psikologi (Jakarta: PT RajaGrafindo Perkasa, 1997).

310

Chapman, Chris, Everything you see here is true. Teletubbies – The True Story (Online document: http://www.disinform.co.uk/, 1997) Chesher, Chris, Colonizing Virtual Reality. Construction of the Discourse of Virtual Reality, 1984 -1992. (Online document: http://eserver.org/cultronix/chesher/, tahun tidak tercantum). Cleveland, Harlan, Lahirnya Sebuah Dunia Baru. Momen Terbuka Untuk Kepemimpinan Internasional, diterjemahkan oleh P. Soemitro(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, edisi pertama, Mei 1995). Connors, Michael, The Race to the Intelligent State. Charting the Global Information Economy into the 21st Century (Oxford: Capstone, 1997). Copi, Irving M., Introduction to Logic (New York: Collier MacMillan International Editions, Fifth edition, 1978). Fidler, Roger, Mediamorfosis. Memahami Media Baru (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2003). Fukuoka, Masanobu, Revolusi Sebatang Jerami. Sebuah Pengantar Menuju Pertanian Alami (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991). Foucault, Michel, Power/Konowledge. Selected Interviews and Other Writings 19721977 (NewYork: Pantheon Books, 1980). ______________, Dicipline and Punish. The Birth of the Prison (New York: Vintage Books, 1995). ______________, Seks & Kekuasaan. Sejarah Seksualitas (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1997). Fridolin, Iwan, Cendekiawan & Sejarah Tradisi Kesusastraan Cina (Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1998). Fromm, Erich, Masyarakat yang Sehat (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995). ___________, Revolusi Harapan, diterjemahkan oleh Kamdani, (Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, cetakan pertama, 1996). ___________, Lari dari Kebebasan (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, cetakan pertama, 1997). Galloway, Alex, What is Digital studies? (Online document: http://rhizome.org/ds/pag es/galloway.html, tahun tidak tercantum). Giddens, Anthony, The Third Way. Jalan Ketiga. Pembaharuan Demokrasi Sosial (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1999). ________________, Runaway World. Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001). Gong, Gola, Perjalanan Asia (Jakarta: Pustaka Pembangunan Puspa Swara, 1993).

311

Gorillaz, Tommorow comes today, (Online document: www.gorillaz.com). Graham-Smith, Sir Francis, F.R.S, Population – the Complex Reality. A report of Population Summit of the World’s Scientific Academies (London: The Royal Society, 1994). Grenz, Stanley J., Etos Posmodern (Online document : http://www.sabda.org/publikasi /e-reformed/edisi/index.php?isi=edisi&reformed_id=13,tahun tidak tercantum). Hofsteede, W., Pembangunan Masyarakat: Kumpulan Karangan (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991) Hok Gie, Soe, Catatan Seorang Demonstran (Jakarta: PT. Pustaka LP3ES Indonesia, 1983). ___________, Zaman Peralihan, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, cet keempat, 1999). Hornby, A.S., E. V. Gatenby dan H. Wakefield, The advanced Learner’s Dictionary of Current English (London: Oxford University Press, Second Edition, 1963). Ispandriarno, L. S., Hanitzsch , T. dan Loeffelholz, M. (eds.), Media-Militer-Politik. Crisis Communication: Perspektif Indonesia dan Internasional (Jogjakarta: Galang, 2002). Jones, Trevor (ed.), Micro-electronics and Society (London: The Open University Press, Milton Keynes, 1980). Jung, Carl Gustav, Four Archetypes: Mother, Rebirth, Spirit, trickster (Thames: Routledge Regan Paul Ltd., 1972). _______________, Memperkenalkan Psikologi Analitis, diterjemahkan oleh G. Cremers (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1989). Keputusan Menteri Riset dan Teknologi No. 2/M/Kp/II/2000, Kebijakan Strategis Pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nasional 2000-2004 (Jakarta: Kantor Menteri Riset dan Teknologi, Februari 2000). Kidder, Tracy, The Soul of A New Machine (U.S.A: Penguin Book, 1982). Kikuni, Masahiko, Sang Penakluk. Nippon Ichi No Otoko No Tamashi (Surabaya: Lelaki Notamashi Comic, 2002). Kjos, Berit, "Edutainment". How Teletubbies Teach Toddlers (Online document: http://www.crossroad.to/index.html). Kuok, Hendri. Krisis Kapitalisme dan Krisis Kaum Buruh (Jurnal Kritik volume 2/Tahun 1, Agustus-September 2000). Kogawa, Tetsuo. Toward a Reality of Reference (Tokyo Office: Documentary BOX, no.8, Yamagata International documentary Film Festival, October 3, 1995). Latif, Yudi dan Idi Subandy Ibrahim (eds.), Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru, (Bandung: Penerbit Mizan, 1996).

312

Leary, Timothy, Chaos & CyberCulture (United Stated: Ronin Publication,1994). _____________, The Declaration of Evolution, (Online document: www.leary.com, tahun tidak tercantum). Le Bon, Gustave, The Crowd. A Study of The Popular Mind (Online document: http://promo.net/pg). ______________, Psychology of Revolution (Ibid.) Lenon, John, Imagine, lilik lagu diedit oleh J. S. Arkenberg, Dept. of History, Cal. State Fullerton (Online document: http://www.fordham.edu/halsall/mod/modsbook. html, 1971). Lévi-Strauss, Claude, Ras & Sejarah, diterjemahkan oleh Nasrullah Ompu Bana (Yogyakarta: LkiS, 2000). Lorimer, Doug, Serangan Global Imperialisme dan Kemungkinan Perlawanannya (Jurnal Kiri tahun 1, No. 1, Juli 2000). Mambor, Victor C., Satu Abad “Gambar Idoep” di Indonesia. Bagian I: 1900-1970 dan Bagian II: 1970-2000 (Solo: KUNCI Cultural Studies Center, 1999 dan 2000). Marcuse, Herbert, Manusia Satu-Dimensi, Penerjemah Silverster G. Sukur dan Yusup Priyasudiarja (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, Desember 2000). Marx, Karl, Capital, (Online document: www.marxist.org, 1999). _________, Capital II (Online document: www.marxist.org, 1999) _________, dan F. Engels, Capital III, (Online document: www.marxist.org) _________, dan F. Engels, Manifesto Partai Komunis (Online document: marxist.org) Mc Graw-Hill Encyclopedia of Science and Technology . an International Reference Work, volume 6 GAB-HYS (USA: Mc Graw-Hill, 1960). Mill, John Stuart, On Liberty. Perihal Kebebasan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1996). McClure, Steve, Nippon Pop (Tokyo: Tuttle publishing, 1998). McConnell, John, 77 Theses on the Care of the Earth, (Online document: http://www.earthsite.org/, tahun tidak tercantum). Ming, Andrey, T’ung Shu. Almanak Cina Kuno (Jakarta: Abdi Tanur, 2000). Moertopo, Ali, Mayor Jenderal TNI/AD, Dasar-dasar Pemikiran Tentang Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahun (Jakarta: Yayasan Proklamasi, Centre for Strategic and International Studies, cetakan kedua, Maret 1973). Mönks, F.J., A.M.P. Knoers, Siti Rahayu Haditono, Psikologi Perkembangan: pengantar dalam berbagai bagiannya (Yogyakarta: Cet. 10, Gajahmada University Press, 1996).

313

Montgomery, Kathryn, Children in the Digital Age, (Online document: http://www.prospect.org/print/V7/27/montgomery-k.html, tahun tidak tercantum). Mountjoy, Alan B., Dunia Ketiga dan Tinjauan Permasalahannya, disunting oleh Dr. Prijono Tjiptoherijanto, terjemahan D.H. Gulö (Jakarta: Bumi Aksara, cetakan pertama, February, 1984). Naisbitt, John dan Patricia Aburdene, Ten New Directions For the 1990’s. Megatrends 2000 (New York: Milliam Morrow and Company, Inc., 1990). Naomi, Omi Intan (ed.), Menggugat Pendidikan; Fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999). Nasution, Zulkarimein, Teknologi Informasi. Dalam Perspektif Latar Belakang & Perkembangannya (Indonesia: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1989). Neufeldt, Victoria dan David B. Guralink, Webster’s New World Dictionary. Third College Edition (New York: Prentice Hall, 1991). Nugroho, Yanuar, Globalisasi, Teknologi Informasi dan Perubahan Sosial, (Online document: http://www.unisosdem.org/article _full ver sion.php?aid=240&coid= 2&caid=30&auid=4, tahun tidak tercantum). Ohmae, Kenichi, The Evolving Global Economy. Making Sense of the New World Order (Boston: A Harvard Business Review Book, 1995). Oktosari, Preli, Menyoal Film Kekerasan Di Televisi, (Harian Suara Karya, Sabtu, 18 April 1998, hal. v, kol. 3-8. Pinon, FR. Manuel T, O.P., Ph.D., Fundamental Logic (Manila: Faculty of Phylosophy, University of Santo Thomas, 1973). Purbo, Onno W., Pergeseran Paradigma di Era Globalisasi (Online document: http://www.bogor.net/idkf/idkf/aplikasi/pergeseran-paradigma-di-eraglobalisasi -08-1998.rtf., tahun tidak tercantum). Pradopo, Rachmat Djoko dalam tulisannya, Puisi Indonesia Modern Periode 1970-1990 (Majalah Basis XL, No. 1, januari, 1991). Pronk, J.P., Sedunia Perbedaan. Sebuah Acuan dalam Kerjasama Pembangunan Tahun 1990-an (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1993). Postman, Neil, Menghibur Diri Sampai Mati. Mewaspadai media televisi (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995). Putra, Anom Surya dan Edy Suhardono, E-Government: Transisi Teknologi dalam Rule of law/justice, Bagian Ke-tiga dari buku berjudul Pemikiran Transitional atas Transitional Justice, (Surabaya: dipersiapkan untuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia oleh Tim Institut Ilmu Sosial Alternatif [IISA], edisi revisi, Juni 2001). Rais, Amien, Demi Kepentingan Bangsa (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997).

314

Rayward, W. Boyd, H.G. Wells Idea of a World Brain: a critical Reassessment (Journal of The American Society for Information Science 50, 1999). Rivera, Eileen, The Wink that Started Interactive TV. How a 1950s Show got to Interact with the TV (TechTV. Inc., Online document: http://abcnews.go.com/sections/scit ech/TechTV/techtv_winkTV020823.html., 2002).

Roberts, Alan, Artifice and Inteligence (Arena Magazine, No.3, online document: http://eserver.org/cyber/art_intl.txt, February-March 1993). Roberts, Donalds F., Ph.D., Ulla G. Foehr, Victoria J. Rideout, Mollyann Brodie, Ph.D., Kids& Media, @ the new millenium (A Kaiser Family Foundation Report, November 1999). Rosenbaum, Marcus D., Drew Altman dan koleganya, Survey Shows Widespread Enthusiasm for High Technology (Kaiser Family Foundation, 29 February 2000). Rushkoff, Douglas, Cyberia, (Online document: www.rushkoff.com, 1994). _______________, Electronica. The True Cyberculture, (Online document: http://www .rushkoff.com/cgi-bin/columns/display.cgi/electronica, 1999) Russell, Peter, The Global Brain, (Online document: http://www.peterussell.com/GB/g lobalbrain.html, angka tahun tidak tercantum). Sagan, Carl, Contact (Kontak), diterjemahkan oleh Andang H. Sutopo (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1997). Said, Edward. Orientalism (New York: Vintage books, 1979). Sasongko, A. Tjahjo dan Nug Katjasungkana. Pasang Surut Musik Rock di Indonesia (Jakarta: LP3ES, Prisma No. 10 Tahun XX Oktober 1991). Sastrosatomo, Soebadio. Era Baru – Pemimpin Baru (Jakarta: Pusat Dokumentasi Politik “GUNTUR 49”, Januari 1997). Saussure, Ferdinand de, Pengantar Linguistik Umum (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, cetakan ketiga, Oktober 1996). Schuon, Frithjof. Transfigurasi Manusia. Refleksi Antrosophia Perennialis (Yogyakarta: Penerbit Qalam, cetakan pertama, Juli 2002). Shan, Darren, Cirque du Freak. Mimpi buruk jadi kenyataan..., (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2002). Shifts in the population size of various age groups. (Online docume nt: http://www12.statcan.ca/english/census01/Products/Analytic/companion/age /population.cfm

Sobel, Robert, IBM: Raksasa dalam Masa Peralihan, diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Rossi Sanusi dan disunting oleh Nin Bakdi Sumanto (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1986).

315

Soedjatmoko, Etika Pembebasan. Pilihan Karangan tentang: Agama, Kebudayaan, Sejarah dan Ilmu Pengetahuan (Jakarta: LP3ES dan Yayasan Obor, cetakan kedua, 1985). ___________, Dimensi Manusia dalam Pembangunan. Pilihan Karangan (Jakarta: LP3ES, cet. Keempat, 1995). Soekarno, Mentjapai Indonesia Merdeka (Djakarta: Departemen Penerangan R.I., 1959). ________, Manifesto Politik, Penetapan Bahan-bahan Indoktrinasi (Bandung: Dua-R, tahun tidak tercantum) ________, TAVIP: Tahun Ber-Vivere Pericoloso, Pidato Amanat Presiden/Panglima Tertinggi Besar Revolusi tanggal 17 Agustus 1964 (Surabaja: Penerbit Fa. GRIP, 1964). Solso, Robert L., Cognitive Psychology, (Boston: Allyn and Bacon, Third Edition, 1991). Sonja, berjudul Hubungan Pola Konsumsi Tayangan Televisi Dengan Kecenderungan Berperilaku Agresif dan Prososial pada Siswa-siswa SMU I Dapena Surabaya, Skripsi S1 (Surabaya: tidak diterbitkan, Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, 1997). Stone, Allucquère Rosanne, Will the Real Body Please Stand Up?, pertama kali dipublikasikan dalam sebuah antologi yang berjudul Cyberspace; First Steps, ed. Michael Benedikt, (Cambridge: MIT Press, 1991). Sudirman, Panuti dan Aart van Zoest, Serba-Serbi Semiotika (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1996). Suseno, Frans Magnis, Dampak Relativisme Kebudayaan (Majalah Basis XXXIX-I, Januari 1990). Tan Malaka, Massa Aksi (Jakarta: Komunitas Bambu, 2000) ________, Madilog (Jakarta: Pusat Data Indikator, cetakan pertama, 1999). Tonny, Dialogue Among Civilization or Counciousness Discernment?, (Surabaya: tidak diterbitkan, 2001). _____, Teletubbies: Antara Kekuasaan Teknologi dan Teknologi Kekuasaan (Ibid.). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor I8 Tahun 2002, Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi beserta penjelasannya (Bandung: Citra Umbara Bandung, 2002). Utami, Ayu, Saman (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia [KPG] dan Jurnal Kebudayaan Kalam, 1998). __________, Larung, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia [KPG] dan Jurnal Kebudayaan Kalam, 2001). Verkuyl, J, DR., Etika Kristen. Kebudayaan (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1992).

316

Verne, Jules, Around The World in Eighty Days (Guentenberg Project e-text, etext #103, January 1994). Vonnegut, Kurt, Gempa Waktu (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), cetakan pertama, 2001). Wallace, Jonathan D., Nameless in Cyberspace Anonymity on the Internet (CATO Institute Briefing Papers, No. 54, 8 Desember 1999) Weiten, Wayne, Psychology Themes & Variations (USA: Brook/Cole Publishing Company, Third Edition, 1989). Wells, H.G., World Brain: The Idea of a Permanent World Encyclopaedia, (Encyclopédia Française, Agustus, 1937). Versi digital bisa didapatkan dalam online document: http://sherlock.berkeley.edu/wells/world_brain.html) Wilar, Max, Ideologi dan Teknologi, dalam Majalah Basis XXXIX, No 2, 1990, hal. 60-70. Lihat juga F. Budi Hardiman, Teknologi Sebagai Ideologi, dalam edisi sama, hal. 71-75. Wolfe, T., The Me Decade and The Third Great Awakening (Online document:http://www.warwick.ac.uk/fac/arts/History/teaching/sem17/mede c.html, tahun tidak tercantum).

Yuliar, Sonny, Joshua D. Baker, Leonie T. Wiyati dan Slamet Santoso (eds.), Memotret Telematika Indonesia: Menyongsong Masyarakat Informasi Nusantara (Bandung: Pustaka Hidayah, 2001). Zalesky, Jeff, Spiritual Cyberspace: Bagaimana Teknologi Komputer Mempengaruhi Kehidupan Keberagaman Manusia. (Online document: http://www.mizan.com/ bukudewasa/cyberspirit.htm. Zen, M.T., Sains, Teknologi dan Hari Depan Manusia (Jakarta: Penerbit PT Gramedia, 1981) Zoest, Aart van, Fiksi dan Nonfiksi dalam Kajian Semiotika (Jakarta: Intermasa, 1991).

317

CA TA TA N AK HI R

Bagian ini memuat informasi mengenai teks-teks yang digunakan untuk menyusun tulisan ini. Tidak semua sumber yang mempengaruhi tulisan ikut di cantumkan dalam Daftar Pustaka. Beberapa sumber yang dicantumkan di sini tidak dirujuk secara langsung dalam tulisan. Alasan pencantuman, adalah supaya pembaca yang ingin menelusuri jalan berpikir penulis lebih jauh mencapatkan informasi saluran yang dibutuhkan.

Bab Satu:

Pendahuluan

Abé, Kobo, The Face of Another, Diterjemahkan dari bahasa Jepang oleh E. Dale Saunders (Tokyo: Charles E. Tuttle Company, 1967). Penulis novel ini lahir pada tahun 1924. Kobo Abé banyak dipengaruhi oleh karya Poe, Dostoevsky, Nietzsche, Heiddeger, Jaspers dan Kaffka. Karya pertamanya The Road Sign at the End of the Road dipublikasikan tahun 1951. Sedangkan buku The Face of Another telah dibuat filmnya oleh Teshigahara. Selain itu, karya Robert N. Bellah, Agama Sipil di Amerika, diterjemahkan dalam buku Menggugat Pendidikan; Fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis, disunting dan diterjemahkan oleh Omi Intan Naomi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), merupakan sumber yang berharga bagi penulis untuk memperoleh gambaran ringkas sejarah kebudayaan Amerika pra-1960-an. Untuk model penulisan, saya merujuk pada Clifford Greetz,, Negara Teater. Kerajaan-kerajaan di Bali Abad Kesembilan Belas (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, cetakan pertama, Maret 2000) dan Roland Barthes, Empire of Signs (New York: Hill and Wang, 1983). Kedua tulisan ini merupaka contoh kajian yang melakukan analisis dengan membangun sebuah konstruk model. Sedangkan untuk lagu pembanding Imagine John Lenon, pembaca bisa mengikuti perkembangan lagu pop dengan tema serupa dari We Are the World (Amerika for Africa, tahun 1980-an) dan Heal the World (Michael Jackson, 1990-an). Untuk kajian yang lebih kompleks dan ringkup lebih luas tentang secara bioskop baca tulisan D.N. Rodowick, A Short History of Cinema, bagian pertama dari buku Gilles Deleuze's Time-Machine (Online document: http://www.rochester.edu/College/ FS/Publications/TimeMachine/ShortHistory/html). Untuk informasi tentang Kurt Vonnegut, dia lahir di tahun 1922. Kilgore Trout, tokoh utama dalam Gempa Waktu (yang versi aslinya ditulis 1997) adalah proyeksi sosok dirinya sendiri dan hadir dalam hampir setiap karyanya. Kurt Vonnengut selalu mengkritik keadaan masyarakatnya yang semakin “dekaden” melalui karya-karya sebagai berikut: Mother Night (1961), Cat’s Cradle (1963), Slaugtherhouse-Five (1969), Bluebeard (1987), Hocus Pocus (1990), dan Fates Worse Than Death (1991). Dari rentang tahun ini, dapat dimengerti bahwa Kurt Vonnengut termasuk “generasi tua” yang ikut melihat muncul era baby boom dan berkembangnya teknologi informasi dari tahun 1950-sekarang. Selain teks-teks di atas, juga ada beberapa artikel dari koran dan majalah yang menjadi acuan, antara lain: Harian Kompas: 4/4/03, h. J; Harian Kompas: 26/8/97, hal.

318

1&5, kol. 6-9 & 1-9; F&N Strawberry Soda Pop, Harian Kompas: Senin, 29/4/02, hal. 37; Daya Tarik dan Empati Budaya Pop, Harian Kompas: Minggu, 16 /3/01, hal. 11; dan Majalah TIME edisi khusus 100: 29/3/99. Sedangkan bahan audiovisual, lihat: Good Morning Vietnam (1987).

Bab Dua:

Paradigma dan Metode

Selain Edmund Hussrel dan Michel Foucault, sebagian besar tulisan pada Bab ini dipengaruhi oleh catatan kuliah murid Ferdinand de Saussure, Tullio de Mauro, yang dibukukan dalam Pengantar Linguistik Umum (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, cetakan ketiga, Oktober 1996). Buku tentang metode analisis lingustik yang menurut penulisnya mungkin merupakan metode kajian yang akan masuk sebagai bagian dari psikologi sosial, atau psikologi secara umum (hal. 82). Pada beberapa bagian dari tulisan ini yang membutuhkan konsep singkat tematema psikologi umum penulis menggunakan karya Wayne Weiten, Psychology Themes & Variations (USA: Brook/Cole Publishing Company, Third Edition, 1989), sebuah sumber klasik untuk Pengantar Psikologi. Selain itu, penulis juga menggunakan karya Chaplin, J.P., Kamus Lengkap Psikologi (Jakarta: PT RajaGrafindo Perkasa, 1997).

Bab Tiga:

Kajian Teori

Karya Roger Fidler, Mediamorfosis. Memahami Media Baru (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2003), merupakan referensi yang sangat bermanfaat untuk tulisan ini. Saran dari saya: pembaca dianjurkan untuk membaca keseluruhan buku ini. Kajian panjang lebar yang menelusuri evolusi media dari masa ke masa dengan berbagai variasi merupakan referensi yang memberikan informasi tentang ekses-ekses dari tiap jenis media yang muncul baik secara sosial, ekonomi maupun politis. Untuk sejarah perkembangan komputer yang berkaitan dengan ekonomi, baca tulisan Robert Sobel, IBM: Raksasa dalam Masa Peralihan, diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Rossi Sanusi dan disunting oleh Nin Bakdi Sumanto (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1986). Walaupun secara spesifik, buku ini hanya menyoroti perkembang IBM sebagai sebuah badan usaha, namun secara tidak langsung pertumbuhan teknologi informasi juga muncul sebagai kajian. Sedangkan untuk kajian lebih lengkap mengenai asal usul IC (Integrated Circuit) dan PC (Personal Computer), ikuti studi kasus yang ditulis oleh Tracy Kidder, The Soul of A New Machine (U.S.A: Penguin Book, 1982). Lihat juga sebuah buku kumpulan artikel yang diedit oleh Trevor Jones, Microelectronics and Society (London: The Open University Press, Milton Keynes, 1980). Sebuah buku berisi kumpulan artikel tentang pengaruh teknologi berbasis IC dengan pengaruhnya terhadap sosial. Pada Bab ini direferensi antara lain artikel berikut: Donald Michie, The Social Aspects of Artificial Intelligence dan Malcolm Peltu, Information Technology. Beberapa bagian dari tulisan ini juga dipengaruhi oleh tiga buah film anime Jepang yang antara lain berjudul: Serial experiment Lain, Ghost in the Shell dan Neon Genesis Evangelion. Film yang pertama bertema tentang internet yang banyak dipengaruhi oleh Cyberia Rushkoff, Vannevar Vush dan John C. Lily. Eiri, salah seorang

319

dalam tokoh film tersebut pernah berucap: “Information inside humans is not only what they got by themselves since they had their consciousness. Humans have been connected with their ancestors, and form a human race. And they have received information from their ancestors. But, they are just a data if they are not shared [...] Do you think what you actually are? Human's have been already connected. I just restored them.”. Film kedua, menggambarkan bagaimana sebuah mesin yang dapat hidup dan merasakan dirinya sebagai sebuah organisme. Sedangkan film ketiga, memiliki tema bio-enginering dengan gaya kuasi-relijius, di mana kesatuan antara seorang manusia dengan mesin digambarkan secara spiritual.

Bab Empat:

Pembahasan

Bagian ini banyak dipengaruhi oleh artikel karya saya sendiri, yang ditulis lebih awal, berjudul Teletubbies: Antara Kekuasaan Teknologi dan Teknologi Kekuasaan (2001). Walaupun tidak secara mendasar pengaruhnya. Banyak ide dalam artikel ini tidak sesuai lagi dengan temuan-temuan baru dari penulis, namun, beberapa hasil analisi dikemas ulang dan dimasukan sebagai bagian dari Bab ini. Untuk sumber referensi utama mengenai Teletubbies, dapat diakses melalui dua buah website, antara lain website resmi milik Ragdoll Production Ltd. (http://www.ragdoll.co.uk/teletubbies/) dan website resmi milik BBC http://www.bbc.co.uk/education/information/faq). Data-data tersebut sebagian telah dilampirkan dalam Lampiran C. Sedangkan untuk website sampingan lihat juga website milik PBS. Sedangkan referensi audiovisual, penulis menggunakan 6 episode film Teletubbies dan Kawan-kawan dalam bentuk vcd dan 7 episode lainnya diikuti penulis lewat televisi. Kesemuanya merupakan versi dubbing ke dalam Bahasa Indonesia. Walaupun jumlah ini tidak dapat mewakili 365 episode dari Teletubbies, hal ini tidak berpengaruh pada analisis penulis yang tidak melibatkan isi cerita Teletubbies. Analisis terutama diarakah pada struktur simbolik waktu dan ruang yang ada pada Teletubbies. Lihat juga: Berit Kjos, "Edutainment". How Teletubbies Teach Toddlers (Online document: http://www.crossroad.to/index.html). Website milik kalangan kristen ini tidak hanya mengecam Teletubbies saja, namun hampir semua kebudayaan budaya pop yang sekuler. Untuk Artikel yang berisi sindaran sarkastik pada Teletubbies yang sifatnya sekuler antara lain dari: Chris Chapman, Everything you see here is true. Teletubbies – The True Story (online document: http://www.disinform.co.uk/, 1997); Welcome to the home of the Teletubbies conspiracy site (http://www.mtattersall.demon.co.uk/tu bbies/home.html), website heboh yang sempat diancam tuntutan hukum oleh BBC!; Analisis dan sekaligus satir dari sosok misterius di website: http://moose.spesh.com/tel etubbies/; Baca juga lirik lagu parodi berjudul (I Want To Live Like) The Teletubbies. to the tune of Common People yang ditulis oleh Jill Phythian pada Agustus tahun 1997. Sedangkan Penggunaan Alkitab dalam bagian ini semata-mata untuk memperlihatkan sifat relijius yang muncul dalam Teletubbies. Sumber media massa antara lain; Oh...Oh...Dunia “Teletubbies”!, Harian Kompas: Minggu, 6/5/01, hal. 14; Harian Jawa Pos: Senin Legi, 30/4/01, hal 13; Ada Teletubbies dan Polisi Cengeng, Harian Jawa Pos: 29/9/01, hal. 25.

320

Bab Lima:

Refleksi

Bagian ini meliputi berbagai brosur, artikel, buku yang beragam. Pertimbangan pemilihan sumber terutama dilihat dari periodisasi penulisan. Patut diperkecualikan di sini adalah beberapa data yang digunakan, dicantumkan dengan pertimbangan praktis.

Bab Enam:

Penutup

Satu-satunya komik dalam tulisan ini yang digunakan sebagai bahan analisis adalah karya Masahiko Kikuni, “Sang Penakluk. Nippon Ichi No Otoko No Tamashi” (Surabaya: Lelaki Notamashi Comic, 2002). Komik kategori “dewasa”, selain berisi cerita-cerita vulgar juga banyak memberikan kritik sosial dalam bentuk humor yang surealis. Dalam kasus ini, komik ini dijadikan referensi terutama pada bagian penggambaran tentang sebuah komputer raksasa yang disebut sebagai “Ibu”. Untuk contoh penggunaan kata “Ibu” untuk komputer, lihat juga tetralogi film berjudul Alien. Dalam film tersebut, komputer yang mengatur segala sesuatu dalam kapal disebut dengan nama Mother. Namun pada sekuel akhir film tersebut Alien: Ressurection, komputer induk disebut dengan nama Father. Kontras ini justru memperkuat sifat semesta dari komputer di mana bukan hanya sosok Ibu saja yang diambil alih perannya, namun sosok Ayah juga “ditiru”. Sebagai sumber audiovisual lainnya, lihat: Cast Away (2000).

321

AP EN DI KS A:

KA JI AN E TY M OL O GI A NT AR A IS TI LA H SC RE EN , CU RT A IN , MO NI TO R D AN “L AY AR ”

Dalam perbendaharaan bahasa Indonesia tidak ada pemilahan kata “layar” ke dalam beberapa istilah yang berbeda. Sedangkan untuk Bahasa Inggris, “layar” dibedakan dalam beberapa varian pengertian dan penggunaan seperti: screen, curtain dan monitor. Istilah screen dalam Inggris Modern merupakan kelanjutan bentuk dari istilah skrene pada Inggris Medieval, yang dipakai untuk makna yang sama dengan “alat penyaring” (sieve) dan “tirai” (curtain). Sedangkan istilah ini berasal dari Bahasa Jerman Kuno: screm (Jerman: shrim), yang memiliki makna harafiah sebagai: [1] “melindungi” [2] “menjaga” [3] “mengawasi”. Dengan demikian, antara screen dan curtain memiliki kedekatan pengertian, walaupun pada perkembangannya kedua istilah tersebut memiliki konotasi yang agak berbeda. Curtain sendiri merupakan deviasi dari istilah Latin, yaitu: cortina (secara harafiah dapat diartikan sebagai: [1] “ketel”; [2] “membatasi panggung (circle) sebuah teater”; [3] “tirai”. Sedangkan dalam Bahasa Inggris, curtain antara lain didefinisikan sebagai: “[1] a piece of cloth or other material, sometimes arranged so that it can be drawn up or sideways, hung for decoration, as at a window, or to cover, conceal, or shut off something [2] anythong that covers, conceals, separate, or shut off something [3] that part of a wall between two bastions, gate, etc. [4] an enclosing wall that does not support a roof.” Sedangkan sebagai bagian penggunaan istilah dunia teater, didefinisikan sebagai: “sheet or heavy material to draw or lower across the front of the stage in a theater before and after each screne of a play” (Victoria Neufeldt and David B. Guralink, Webster’s New World Dictionary, [New York: Prentice Hall, Third

322

College Edition, 1991]). Dari serangkaian daftar definisi tersebut, kata curtain memiliki kecenderungan harafiah sebagai sebuah bidang yang memisahkan, membuat jarak, menutupi sesuatu sekaligus juga dapat bersifat sebagai dekorasi, melindungi, memilah, menyaring maupun mengawasi. Dalam sebuah teater, selain memisahkan antara panggung dengan penonton, juga bekerja sebagai pembatas antar babak teater, sekaligus menandakan dimulainya (awal) atau selesainya (akhir) suatu lakon. Karakter dari curtain adalah menghasilkan diferensiasi ruang untuk memberikan kesan adanya dua atau beberapa bidang yang berdiri sejajar saling berhadapan. Untuk menjelaskan persoalan ini, bisa digunakan contoh fungsi tirai pada sebuah jendela. Sebagai aksesoris dalam rumah, tirai (curtain) juga menjadi bidang yang dapat ditutup maupun disibak. Ketika tirai direntangkan maka hubungan antara bagian dalam rumah menjadi terpisah dari bagian luar. Ketika disusutkan, tirai membuka pandangan dari dalam rumah ke luar rumah. Kapan tirai dari ditutup atau dibuka, merupakan pemilahan yang sifatnya semena-mena. Pemilik rumah dapat memutuskan kapan dia ingin melihat ke luar, dan saat dia tidak menghendakinya tirai bisa ditutup. Seperti halnya tirai, dalam suatu teater, curtain juga melakukan pemilahan untuk menjadikan babak yang satu menjadi mandiri dibanding babak lainnya, atau memisahkan keseluruhan permainan dalam teater dengan segala sesuatu di luarnya baik secara ruang (sebagai batas panggung) maupun waktu (sebagai satuan jadwal pementasan yang mandiri dari jadwal-jadwal lainnya). Pada sisi ini, fungsi pembatasan maupun penetapan yang sifatnya “semena-mena” antara batas-batas tersebut merupakan usaha menciptakan satuan-satuan mandiri. Dan batas-batas itu menjaga, mengawasi dan melindungi antara satuan ruang serta waktu yang tercipta agar tetap dipahami sebagai “dunia” yang berdiri sendiri-sendiri. Karakter ini bisa ditemukan juga dalam istilah screen yang beberapa definisinya di kamus Webster terdaftar sebagai berikut: “[1] a) a light, movable, covered frame or series of frame hinged together, serving as portable partition to separate, conceal, shelter, or protect. b) any partition or curtain serving such a purpose [2] anything that functions to shield, protect, or conceal like a curtain (a smoke screen) [3] a coarse mesh of wire, etc., used to sift out finer from coaser

323

parts, as of sand or coal; sieve [4] a system for screening or separating different types of person, etc [5] a frame covered with a mesh, as of wire or plastic, used to keep insects out, serve as a barrrier, etc. As on window [6] a) a flat, reflective or translucent surface, as a matte white sheet or one of beaded vinyl, upon which films, slides, etc. are projected. b) the film industry or art [7] the surface area of a television set, radar receiver, etc. on which ligth pattern are formed [...]” (Ibid.). Pada definisi No. 2, antara screen dan curtain direduksi sebagai segala sesuatu yang sifatnya mengunci, melindungi dan menyembunyikan sesuatu. Pada bagian ini, screen sebagaimana dengan curtain adalah sebuah sistem yang melakukan pemisahan, pemilahan dan pembagian atas berbagai hal untuk menciptakan keberagaman (lihat juga definisi No. 4). Meskipun demikian, baik dalam definisi No. 1a maupun 1b, screen selain memiliki karakter yang sama dengan curtain, juga memiliki fungsi lain yaitu mengikat satuan-satuan tertentu dalam suatu fungsi yang mandiri. Pada definisi 1b, screen merupakan kesatuan kegunaan dari beberapa curtain atau bagian. Curtain, dalam pengertian ini, menjadi bagian-bagian dari screen, walaupun keduanya kadang-kadang memiliki karakter maupun pengertian yang sama. Jadi screen memiliki karakter yang paradoksal dalam dirinya. Pada satu keadaan, screen seperti halnya curtain memiliki fungsi membatasi, sekaligus menciptakan jarak untuk menghasilkan keberagaman waktu dan ruang. Namun pada sisi lain, karakter melindungi, menutupi dan menciptakan jarak dari screen memiliki pengertian yang agak berbeda dengan curtain, di mana sebaliknya memiliki arti mengikat semua pembatasan dalam satu ikatan. Pada pengertian ini, “melindungi”, “menutupi” dan “menciptakan jarak” berarti juga merupakan kamuflase dari pembatasan-pembatasan yang ada sehingga dialami sebagai satu alur. Contoh yang paling tepat adalah potongan-potongan film, di mana ketika digerakan dengan cepat menghasilkan suatu kesan hilangnya patahan-patahan yang ada dan menciptakan suatu kesinambungan yang “utuh”. Baik screen maupun curtain keduanya memiliki kecenderungan sama, yaitu membagi dan memisahkan segala sesuatu dalam keberagaman untuk menciptakan satuan-satuan, dan

324

kemudian diikat lagi dalam satu kesatuan yang lebih luas untuk kemudian dipisahkan lagi dari satuan baru lain “di luarnya” sebagai pembeda. Kemampuan membagi dan menghasilkan satuan-satuan terpisah kemudian merakitnya dalam alur kontinum merupakan fungsi screen dan curtain yang paling bermanfaat dalam dunia industri film maupun televisi. Dalam hal ini screen hadir sebagai sebuah bidang datar di mana berbagai berbagai gambar, cahaya, atau sinyal-sinyal ditangkap dan diproyeksikan sebagai sebuah alur yang terlihat seolaholah bergerak dan “hidup”. Screen melakukan rekonstruksi dari serpihan-serpihan yang ada sehingga tampak menyatu, sekaligus merupakan bidang yang membatasi antara keber[ada]an di permukaannya dengan ruang di luarnya, di mana penonton berada. Kontrasnya, screen juga merupakan bidang di mana indera penonton melakukan kontak dengan penampakan yang muncul sebagai hasil rekonstruksi. Sedangkan pada definisi ketiga, monitor memiliki sedikit kesamaan dengan screen sebagai: “a receiver or speaker, as in the control room of broadcasting studio, for checking the quality of the transmission” (Ibid.) atau “television screen used in a studio to check or select transmission” (A.S. Hornby, E. V. Gatenby and H. Wakefield, The advanced Learner’s Dictionary of Current English, [London: Oxford University Press, Second Edition, 1963]). Monitor, memiliki sifat yang sama dengan screen sebagai sebuah receiver. Walaupun dalam definisi, monitor, berbeda dengan screen, lebih banyak menonjolkan karakter sebagai pengawas dan kontrol saja, tanpa melibatkan fungsi lainnya yang ada dalam definisi screen maupun curtain. Sedangkan bentuk asal istilah monitor dari bahasa Latin, yaitu monere (artinya “memperingatkan”), memiliki kesinambungan harafiah sebagai kontrol dengan pengertian screen dan curtain sebagai “pembatas”, “pencipta jarak”, “pelindung” dan “pengawas”. Baik dalam pengertian screen, curtain maupun monitor, layar muncul sebagai kegiatan aktif yang mengontrol dan mengatur daripada hanya sekadar obyek pasif yang diatur. Sebagai “obyek” pasif, screen dan curtain merupakan bagian dari pertunjukkan. Sebagai aparatus yang aktif, screen, curtain dan monitor muncul sebagai alat seleksi perhatian, pengawasan dan pembatas.

325

Dalam definisi lain, monitor juga dijabarkan sebagai: “schoolboy given authority over his fellows” (Ibid.). Definisi ini menarik, walaupun agak jauh dari pengertian monitor sebagai salah jenis screen atau layar. Namun dapat menggambarkan bagaiaman model pengawasan yang berlangsung dalam monitor. Monitor dalam beberapa hal juga merupakan bidang di mana signal-signal direfleksikan seperti halnya screen. Bedanya, seperti seorang murid yang diberi wewenang mengawasi teman-temannya sendiri, di mana dalam berbagai hal lain tidak jauh dengan murid lainnya, monitor merupakan fungsi dari layar di mana pengawasan adalah keseluruhan dari karakternya. Sebagai sebuah bidang yang sekaligus diawasi, layaknya juga murid tersebut diawasi oleh gurunya, secara penampilan maupun fungsi lainnya monitor memiliki karakteristik yang sama dengan screen maupun curtain. Hal ini menjelaskan, mengapa walaupun screen, curtain dan monitor merupakan suatu fungsi yang sejajar, namun dalam penggunaannya akan menimbulkan konotasi yang berbeda. Namun, dalam pemakaian bahasa sehari-hari ketiga istilah ini sering tumpah tindih dalam pemakaiannya. Jadi pemakaian istilah “layar” dalam penulisan ini bisa sekaligus mencakup fungsi dan karakteristik ketiga istilah di atas, tanpa harus menggunakan variannya. Kata “Layar” sendiri dalam Bahasa Indonesia bisa digunakan untuk menyebutkan “potongan kain lebar yang diikat pada tiang dan digunakan perahu untuk memanfaatkan laju angin”, tetapi juga digunakan untuk menterjemahkan ketiga istilah di atas ke dalam Bahasa Indonesia. Kedekatan kedua pengertian ini, di dasarkan oleh karena “layar” pada bioskop sebagai model yang pertama kali dikenal terbuat dari kain putih lebar, sama dengan layar perahu yang biasanya terbuat dari kain. Pada perkembangan selanjutnya, istilah layar semakin diadaptasi untuk melingkupi ketiga istilah di atas. Muncul kemudian istilah seperti “layar kaca” untuk menyebut “layar” yang tidak terbuat dari kain melainkan kaca seperti pada televisi. Pada klasifikasi lain, “layar” dibedakan juga menjadi “layar emas” dan “layar perak” untuk membedakan antara film yang dibuat khusus untuk ditayangkan di bioskop dengan film yang khusus untuk diputar di televisi.

326

Untuk pemanfaatan lebih lanjut dalam istilah “teknologi layar” seperti yang digunakan dalam skripsi ini, baca catatan kaki no. 69 dan untuk istilah “teknologi” bisa diikuti pada Bab II, bagian yang membahas tentang “proposisi-proposisi”.

327

AP EN DI KS B:
SEK ELU MIT PER BED AAN DAN PER SAM AAN ANT ARA GLO BAL DAN WOR LD

Istilah global didefinisikan antara lain sebagai: “[1] round like a ball; globe-shaped [2] of, relating to, or including the whole earth; worldwide [3] complete or comprehensive. Dari tiga definisi ini, yang pertama mengambil deskripsi tentang bentuk; kedua, berkaitan dengan pengertiannya sebagai benda spesifik, yaitu planet bumi dan seluruh isinya; sedangkan pada definisi ketiga, menggambarkan karakternya sebagai sebuah eksistensi keber[ada]an ontologis sebagai satu kesatuan yang utuh. Sedangkan kata dasar global, yaitu globe (berasal dari istilah Latin, globus atau “bola”) didefinisikan antara lain sebagai berikut: “[1] any round, ball-shaped thing; sphere; specif., a) the earth. b) a spherical model of the earth showing the continent, seas, etc. c) a similar model of the heavens, showing the constellations, etc. [2] anything shaped somewhat like a globe; a) a round glass container, as for goldfish. b) a rounded glass cover for lamp. c) a small, golden ball used as a symbol of authority.” Seperti istilah awalnya, kata globe selalu mengacu pada bangun “bola”, yaitu konstruksi simetris tiga dimensi dari beberapa bidang “lingkaran”, sebagai bentuk yang melatari semua pengertian yang muncul. Namun, konsekuensi dari penggunaan istilah ini, seperti dalam bentuk deviannya: global, lebih dari sekedar arti bentuk yang bulat belaka, walaupun karakter dari bangun “bola” tetap merupakan dasar untuk perluasan maknanya. Bidang 360º dari ketiga dimensi dari “bola” menghasilkan suatu konstruk yang tidak memiliki sudut samasekali, dalam hal ini memberi kesan yang “utuh”, '”menyeluruh” dan “total” pada karakternya. Seringkali “bola” menjadi simbol “keutuhan” dan “absolut”, sehingga juga digunakan oleh raja-raja Eropa sebagai simbol kekuasaannya yang tak terbatas (Lihat definisi 2c di atas).

328

Dalam penggunaan yang lebih luas pada saat ini, kamus Webster mencatat variasi sebagai berikut: [1] globalism, didefinisikan sebagai: “a policy, outlook, etc. that is worlwide in scope”. [2] globalize atau globalization, yaitu: “to make global; esp., to organize or establish worldwide”. [3] global village, yang berarti: “the world regarded as a single community, as a result of mass media, rapid travel.” [4] globate: “round like a ball.” [5] globe trotter: “a person who travel widely about the world, esp.,one who does so for pleasure or sight seeing”. Bahkan digunakan hingga pada penamaan spesies tumbuhan (globe flower) dan hewan (globe fish). Dua istilah terakhir ini, tampaknya digunakan dengan pengertian globe sebagai bentuk “bulat”. Sedangkan untuk kata world, walaupun tidak memiliki makna sebagai bangun “bulat” seperti halnya global, banyak digunakan juga untuk pengertian yang sama antara keduanya. World (berasal dari Bahasa Inggris Tua dalam istilah werold, dapat diterjemahkan secara harafiah sebagai “dunia”, “kemanusiaan”, atau “waktu yang panjang”) didefinisikan sebagai berikut: “[1] a) the planet earth. b) whole universe. c) any heavenly body thougth of hypothetically as inhabited [2] the earth and its inhabitants [3] a) the human race; mankind b) people generaly; the public [4] a) some part of the earth b) some period of history, its society, etc. c) any sphere or domain d) any sphere of human activity e) any sphere or state of existence [5} Individual experience, outlook, etc. [6] a) secular or social life and interest, as distinguished from the religious or spiritual b) people primarily concerned with secular affairs or pursuits [7] a large amount; great deal [8] a star or planet.” Jika kita membandingkan dengan definisi global dan globe, pada definisi No. 1 dan 2 dari istilah world, terdapat kesesuaian makna antara keduanya baik sebagai planet bumi maupun alam semesta. Namun pada definisi ke 3 dan 4, istilah world memiliki konsekuensi perbedaan makna, di mana daripada hanya bersifat “keseluruhan” dan “obyektif”, istilah ini juga memiliki karakter “parsial”. Selain itu, daripada masalah bentuk “bulat”, world melingkupi makna yang lebih tertuju pada keberadaan yang berkaitan dengan “subyek” dan “kemanusiaan”. Begitu juga pada definisi berikutnya, istilah world semakin menjurang perbedaannya dengan istilah global dan globe (kecuali pada definisi No.

329

8). Jadi agak berbeda dengan istilah global yang mendefiniskan keber[ada]an semesta dengan cara meluas, menyebar dan merangkum, istilah world mendefinisikan semesta dengan cara membatasi, membagi-bagi, memisahkan dan partikular. Walaupun ada tumpang tindih pengertian pada beberapa bagian, dan seringkali melingkupi sebuah makna spesifik yang sama. Baik global maupun world, keduanya dipakai untuk menggambarkan bumi dan seluruh isinya, dengan konsekuensi konotasi yang bisa diartikan secara berbeda. Kata world dalam penggunaan kontemporer meliputi istilah berikut [1] world class, digunakan dengan makna: “of the highest class, as in international competition”. [2] worldling, yang berarti sebagai: “a worldly person” [3] Worldly: “a) of or limited to this world; temporal or secural 2) devoted to or concerned with the afairs, pleasure, etc. of this world.” [4] worldly wise: “wise in the ways or affairs of the world; sophisticated”. [5] world power: “a nation or organization large or powerful enough to have a worldwide influence”. [6] world’s fair: “any various expositions at which the arts, crafts, industrial and agricultural products, scientific advances, etc. of various countries of the world are on display. [7] world shaking: “of great significance, effect, or influence; momentous” [8] world soul: “a universal animating principle conceived of as analogous to the soul of a person.” [9] world view: “a comprehensive, esp. Personal, philosophy or conception of the world and of human life. [10] world weary: “weary the world; bored with living” [11] world wide: “extending throughout the world”. Jika membandingkan daftar variasi pemakaian istilah global dan world, maka akan ditemukan tumpangtindih pemakaiannya. Kata worlwide misalnya, sangat dekat sekali dengan istilah globalism, globalize dan globalization. Selain itu pola baru juga menunjukkan bahwa ada kecenderungan baru untuk memberikan nama sebuah lembaga dengan kata world, seperti: World Bank dan World Court yang diikuti oleh kegemaran menggunakan simbol bola dunia sebagai logo. Pemakaian lebih spesifik lagi misalnya pada istilah World War ! dan World War II. Juga tercatat penggunaan istilah seperti World Wide Web (WWW) atau World Trade Centre (WTC).

330

Oxford mencatat juga penggunaan istilah world dalam bentuk kata citizen of the world (warga dunia), yang dapat diterjemahkan sebagai “a cosmopolitan person.” Kata cosmopolitan, bisa diartikan sebagai “[1] common to or representative of all or many parts of the world; not national or local [2] not bound by local or national habits or prejudices; at home in all countries or places [3] having a worldwide distribution, as some plants or animal.” Akar katanya berasal dari istilah Yunani kosmos (“alam semesta” dan “keharmonisan”)dan polis (kota). Sedangkan dalam bentuk Inggrisnya, cosmos, dapat pula berarti: “[1] the universe considered as a harmonious and orderly system [2] harmony; order [3] any complete and orderly system.” Dalam beberapa hal, menurut orang Yunani, kosmos memang memiliki bentuk bulat atau globe. Sedangkan istilah cosmopolitan memiliki kedekatan dengan kata world, terutama world’s fair, sebagai sebuah keadaan yang melukiskan karakteristik multinasional. Dalam hal ini, baik global, world maupun cosmopolitan, adalah istilahistilah yang menggambarkan suatu penyatuan dari beberapa bagian (negara, budaya, peradaban dll.) yang terpecah-pecah dalam suatu pola pandangan yang lebih meluas, menyeluruh, melebar, abstrak dibandingkan dengan bagian yang disatukannya di mana bersifat lokal, terbagi-bagi, terbatas dan partikular. Sedangkan istilah cosmos yang hadir secara implisit dalam pemakaian ketiga istilah tersebut, berpengaruh pada pandangan kontemporer tentang suatu tatanan baru dunia yang lebih aman, damai dan bebas.

331

AP EN DI KS C:
BE BE RA P A AR SI P TE NT AN G T EL ET UB B IE S

1.

P er ke n al an R e sm i T el et u b b i es o l eh B B C d a n Rag d o l l

BBC Site for Teletubbies
Tinky Winky, Dipsy, Laa-Laa and Po are the Teletubbies

Tinky Winky, Dipsy, Laa-Laa and Po are the Teletubbies, stars of a major new daily pre-school television show for BBC2 starting on Monday March 31 1997. A live action series, Teletubbies features four brightly coloured characters who live in a fantasy world linked to reality. BBC Children's Programmes have commissioned Ragdoll Productions (Tots TV, Rosie and Jim) to produce Teletubbies. For the first time BBC Children's Programmes is co-producing a series with BBC Education and BBC Worldwide. Drawing on months of research with its target audience of 2-5 year olds, Teletubbies is a major pre-school initiative, which focuses on learning through the joy of play, helping to prepare children for their forthcoming school life. Teletubbies is designed to make children feel confident, relaxed and ready to learn. Tinky Winky, Dipsy, Laa-Laa and Po live happily together in their own world of childhood fantasy where a baby-faced smiling sun rises each morning, rabbits run over the rolling hills and voice trumpets, which connect them with the real world, name things, count things and sing songs. Hidden under the hills is the tubbytronic superdome where the Teletubbies sleep and play with the technology that supplies their food, tubby custard and tubby toast. A conscientious comic vacuum cleaner, the Noo-noo, shares their living quarters. A magic windmill brings them pictures of children from the real world and two wooden animals, the Lion and the Bear (with voices by Penelope Keith and Eric Sykes), are friendly faces. Anna Home, Head of BBC Children Programmes, says: "From the early days of Watch with Mother, through Bill and Ben to Play School, the BBC has always

332

served its very youngest viewers. Teletubbies is an innovative, high quality entertainment programme for today's generation of pre-school children." Anne Wood, Creative Director of Ragdoll Productions, comments: "We are very proud of Teletubbies, our latest production inspired by the creative world of very young children." Frank Flynn, Head of Commissioning for BBC Schools, said: "Children, parents and teachers will be able to tune in every week day to this unique BBC collaboration that aims to make learning fun."

The Teletubbies Characters:
Tinky Winky is purple and is the largest, gentlest Teletubby. When out walking he likes to sing his own Tinky Winky song. Tinky Winky loves to dance and fall over on his back. He loves all the Teletubbies very much but he's best friends with Po.
Dipsy Tinky Winky

The second largest Teletubby. Dipsy is green and loves to wear his hat as he thinks it gives him style, and style is very important to Dipsy. He loves all the Teletubbies very much but sets himself apart a bit as he tries to be cool. His special song is "Bup-a-tum, bup-a-tum, bup-a-tum".
Laa-Laa

The happiest, silliest and second smallest of the Teletubbies, yellow LaaLaa loves to sing and dance. Her favourite word is 'nice' and Dipsy is her best friend. She adores her ball and enjoys being outside running, jumping and chasing. She stands pigeon-toed when she is thinking and always needs to know where all the other Teletubbies are and will round them up if one of them goes missing. She has her own special "Laa-laa-li-laa, laa-li-laa-li-laa" song.
Po

Po is red and is the smallest Teletubby. She likes to jump up and down to express her feelings of joy, enthusiasm and surprise.

333

Po whizzes around the hills on her scooter and likes to keep an eye on the panel of switches and controls on the central column inside the Teletubbies' house. Po likes to sing her special song "Fi-dit, fi-dit, fi-dit!" and "Mar, mar, man!" which tanslate from Cantonese as 'faster' and 'slower'.
The Noo-noo

The Noo-noo is a comic vacuum cleaner with a mind of her own who is always found inside the Teletubbies' hill home. The Noo-noo tidies up after the Teletubbies, sucking up spilled custard and tubby toast crumbs with his long, wobbly hose. Sometimes he is a little over-conscientious and tidies up the Teletubbies belongings as well. On these occasions a comedy chase occurs until the Noo-noo is persuaded to give them back.
Teletubbyland

Teletubbyland is full of surprises where elements of animation, pantomime and nursery rhyme are used to magical effects. Magical computerised animation conjures up images of one tap dancing teddy bear, animals marching two by two, three ships, a house with four windows or a tree with five birds. The large colourful wooden toys, the Lion and the Bear are a comic duo who, in pantomime style are perpetually engaged in a game of hide-and-seek, in and out of the rolling hills of Teletubbyland. The Lion and the Bear are voiced by Penelope Keith and Eric Sykes, and the Teletubbies love to pretend to be frightened of them.

Making Teletubbies - it's child's play
Months of research went into producing Teletubbies. Creator Anne Wood explains how the series starts and ends with the child. "Like a good book, good television needs to be chosen positively with the needs of children in mind," says Anne Wood of Ragdoll Productions, the company that produces Teletubbies for the BBC. Teletubbies is a bold initiative in pre-school programming. Tinky Winky, Dipsy, Laa-Laa and Po live in a fantasy world of song and image, linked to the real world by the televisions in their tummies. Anne Wood explains that this highly original idea came, "... from children. All our ideas come from children. 'Ragdoll works for children' is our mission statement because, for everything we do, we watch and observe children: how they play; how they talk; and how they react to the programmes we make."

334

Teletubbies is researched with focus groups Ragdoll develops ideas by watching children in their specially designed shop in Stratford-upon-Avon and through seven focus groups involving nursery school children all over the country. Work on Teletubbies started over a year ago and the research is ongoing. "Everything in Teletubbies has been done with love and a sense of fun," explains Anne. "We go to a lot of trouble to show affection in our programmes. Children need to see their experiences reflected back to them as part of discovering who they are. We hope that enjoying Teletubbies will help them work through their own experiences and grow a little."

No strings attached
Teletubbies is different. Carefully scripted, the series features four full-sized costume characters. Unlike other pre-school programmes it doesn't use puppets, but it includes computerised effects and makes extensive use of children. Children have made Anne aware of the technological revolution we are living through and the technological world in which we live. "Children are surrounded by voices that speak to them from all the over the place: from television, videos, radios, toys, CD players - all sorts of announcements - and, of course, other children and adults. But they still have a deep emotional need to be listened to in an environment that they recognise and in which they feel comfortable."
Toytime for Teletubbies

The Teletubby characters were inspired by the idea of a soft toy which a child clings to as emotional support and this was joined to the idea of technology. "We did this by taking a television - the most magical piece of technology for a child and it put on the tummy of a soft toy. We developed the characters from that, creating technological babies - the Teletubbies." Not all children can run around freely so Teletubbyland is deliberately created as a large, green outdoor space. "The indoor shots are filmed inside the Teletubbies' home hill - they are not shot in a studio. The whole thing is real," explains Anne who shivers at the memory of Siberian temperatures in the early months of construction. "The Teletubbies live in the land where television comes from, in the land of childhood, in the land of nursery rhymes."

335

His first word was "Eh-oh!" Andrew Davenport, the co-creator of Teletubbies, has worked closely with Anne developing the characters. Andrew studied Speech Sciences and over the last five years has worked closely with Ragdoll, particularly in his role as writer/performer on Tots TV. "He's a particularly gifted writer for very young children because of his acute ear for their speech," comments Anne. Andrew and Anne compiled a list of the first words and phrases that children make their own and this comprises Teletubbies' own vocabulary. Like children, the Teletubbies also imitate what they hear so they will attempt to speak like the narrator and, sometimes, the voice trumpets. The programme is designed to be interactive, so a lot of space is left in the programme for the children to talk back to the screen. Teletubbies is specifically designed to aid children's speech development. "Children will find the Teletubbies' attempts to speak funny and so they will feel confident about joining in," explains Anne. "Like children coming into the world, the Teletubbies know nothing. Children watching know this: they see the Teletubbies as beings who know less than they do." Lifelong learning, "Again, again!" Lifelong learning Teletubbies is designed to develop thinking skills so that children will be ready for more formal learning. "When they see children in the filmed inserts in the Teletubbies' tummies having experiences that reflect their own, they recognise their experience and the experience of relating to even younger children. They will know what's going to happen, so their joy when it does is part of helping to learn how to make predictions - the critical part of learning." For that reason the insert is shown twice during the episode, a simple televisual equivalent to the repetition of favourite songs and books that every parent knows delights children. Critically, it is learning through the joy of play. "I want children to smile. If they are smiling they are relaxed. If they are relaxed, they will be confident. If they are confident, they will dare to be curious. If they are curious they will grow in confidence. Too often they are harangued to do things before they are ready."
Kids speak out

Teletubbies is resolutely child friendly. Working closely with BBC Education on the filming of the real-life inserts, Anne chose children's voices over a traditional

336

narrator. "If a child in the film is aged three, then that child speaks the commentary. Children watching have to relate to the characters in the programme. We found that when we tried adult narration on the children's films that children watching didn't listen with the same attention as they did when a child was speaking." Besides children, the series uses an orchestra of voices - performers with varying accents such as the voice trumpets, the narrator and the Lion and the Bear (voiced by Penelope Keith and Eric Sykes) which encourage children to listen. "I believe television and video are the most underestimated force in educating our children in the technological age," comments Anne. "It is important to develop children's thinking skills. A child has to be able to develop the capacity to watch and listen at the same time. That's why children go back to favourite tapes and books time and time again. Those who say, 'I never let my child watch TV,' are denying their children an opportunity to learn." Through the window of television We should remember that many little ones spend a great deal of time indoors in small spaces. We may deplore the conditions in which some children live, so we must always remember that television can be a window to other possibilities. The children who have seen Teletubbies have nicknamed it, 'the sun baby's programme' after the smiling, laughing baby-faced sun that rises each day over Teletubbyland - a perfect example of the effect of Anne Wood's clever mix of love and research.

2.

T ab el ta n ya D a v en p o r t
KETERANGAN

j aw a b d a r i A n n e W o o d d an

A n d r ew

NO

ISI TANYA JAWAB

1.

Pertanyaan: Jawaban:

Do you think the Teletubbies help young children? Is it educational? Why? The Teletubbies have tremendous fun living their lives and they reflect a child's own experiences for their enjoyment. This increases children's confidence, something that everybody needs for a happy start in life. Do you watch children watching your programmes? Yes, we do watch children watching Teletubbies and their reactions tell us a lot about the programme. We know it is working when the children watch carefully and respond eagerly. This tells us that they understand the story and will take their own meaning from it. If children are not stimulated by something on screen they simply walk away to play with something else!

2.

Pertanyaan: Jawaban:

337

3.

Pertanyaan: Jawaban:

How did you think of the idea for the Teletubbies? People often ask how we thought of the idea, but Teletubbies is the result of a great many ideas and processes painstakingly worked out over two years. The shortest answer is that we look to our audience for all our ideas - the programme is build out of how children play, how they develop language and what they are naturally interested in. Added to that, we include as much comedy as we can. How do you select the children who are featured in the programmes? Do they know that they're going to be seen on Teletubbies? If so, do they get excited? We call the parts of the programme where children appear on the Teletubbies' tummy screens the 'inserts'. We have a number of specialist insert directors working in different areas of the country who look out for children with a special interest or passion, no matter how simple, that they can demonstrate or 'tell' to the camera. For instance, one director encountered a child who loved washing up. So she filmed the child washing up. The child's enthusiasm speaks for itself on camera. When we showed the insert to children they were absolutely riveted! Children do look forward to being on the programme. Filming can be hard work for very young children, so we do our best to make it fun. How old are the Teletubbies? Will they ever age? The Teletubbies are characters that behave like children aged about one or two. They will never grow older any more than Peter Rabbit, Kermit the Frog, Mickey Mouse or James Bond will age. I am interested in working in television production and would like some advice. It was more a case that television found me than I found television. I was involved in publishing a magazine about books for children and that's where it started. Television companies are looking for people with specific skills and experience so be absolutely certain about which area of television production you want to work in and what skills and experience you have. Then approach the production companies you think are relevant. You can find lists of independent production companies and information about their trade organisation Producers Alliance of Cinema and Television (PACT) in The Media Guide 2000 (a Guardian book published by Fourth Estate at £15.00, ISBN 1 84115 232-3), or look for a copy in your local reference library. On what basis did you compile your list of phrases commonly said by children? I am a graduate student in speech and language pathology, and I am wondering if you consulted any language specialists, linguists or even educators? Also, have there been any objective studies done on the benefit to early language with regards to your show?

4.

Pertanyaan:

Jawaban:

5.

Pertanyaan: Jawaban: Pertanyaan: Anne Wood:

6.

7.

Pertanyaan:

338

Andrew Davenport:

I am also a graduate of speech and language pathology, which I found invaluable when 'designing' the language of the Teletubbies based on features of the emerging speech of a young child. Teletubbies is aimed for children at critical stages of language development, so the programme concentrates on music, rhythms, temporal and spatial relations, as well as real children talking in their own words about their own experiences. This is what we found children enjoyed watching. We did not consult any language specialists, but have met many since the programme aired. I am not aware of any objective studies of the benefits of the programme with regard to speech and language development, though we do hear very positive anecdotal reports from parents and carers, notably of children affected by autism. Sheffield Hallam University conducted a study based on use of the Teletubbies in a classroom situation. The findings were published in 1999. What did you like doing when you were young? Did you watch TV? I ask because, as a mother, I have been very careful to keep my children away from 'unsuitable' programmes - I consider the Teletubbies very 'suitable'. I did not watch TV until I was 14 because nobody in our village could afford a TV set. Not that we noticed the lack - we used to make up our own games and, of course, went to Saturday morning cinema I was lucky enough to grow up with 'Andy Pandy', 'The Woodentops', 'Pogle's Wood', 'The Clangers', 'Blue Peter', 'The World About Us', 'Horizon' and 'Arena', as well as 'Morecambe and Wise' and 'Monty Python'. I had plenty of other interests but television has always been a rich source of information and inspiration. Not all programmes are necessarily good, or 'suitable', especially for young children. Viewing for children always has to be a matter of personal judgement and common sense on behalf of a parent. What do you think of modern technology? Is it harmful or neutral? Any child growing up in the modern world has to be familiar with new forms of technology - TV and video games are now joined by the Internet and computer games. The technology is not harmful in its own right but common sense tells us to check what message an individual game or website is giving. Why are the Teletubbies purple, green, yellow and red? We chose bright modern colours to go with the technological world of the Teletubbies. The evidence is that young children prefer bright colours - and everything in Teletubbyland is bright, happy and energetic. It is also very important to give each Teletubby character their own colour so that they are easily recognised by a young child who is trying to follow the story. Why are the Teletubbies so appealing to people of all ages from 18 months to about 60 years?

8.

Pertanyaan:

Anne Wood:

Andrew Davenport:

9.

Pertanyaan: Jawaban:

10.

Pertanyaan: Jawaban:

11.

Pertanyaan:

339

Jawaban:

12.

Pertanyaan: Jawaban:

13.

Pertanyaan: Jawaban:

14.

Pertanyaan: Jawaban:

15.

Pertanyaan: Jawaban:

16.

Pertanyaan: Anne Wood:

The Teletubbies are designed to behave like happy, energetic toddlers, so of course they are appealing! Children enjoy the antics of the Teletubbies - they see their own world reflected in the stories. Adults seem to enjoy the innocent fun. Of course, we all enjoy the comedy and everybody loves a 'Big Hug'! Why do the Teletubbies have such strange names? The Teletubbies live in a playful world, over the hills and far away. Their names are playful and fun to say. In our experience, children often give extraordinary names to their favourite toy characters. The names might seem 'strange' to some people, but to Teletubbies - or children - they feel just right. Why do you teach little kids 'Eh-oh!' instead of proper English like 'Hello'? This must be the most frequently asked question about the Teletubbies but is also one of the most important in explaining the programme. We never teach children to say 'Eh-oh!' - that's just the way the Teletubbies say it. All the children (and adults) in the programme say, 'Hello'. We do know that children sometimes say 'Ehoh!' when they are mimicking the Teletubbies, but they know very well it's only a game. Children love to play with language - hence nursery rhymes and nonsense verse - and playing with something is by fa r the best way to learn about it. Why haven't the Teletubbies got a dog? We're not sure that a dog would feel very much 'at home' in the technological world of the Teletubbies. A toy dog did appear one day in Teletubbyland. Tinky Winky and Dipsy had a lot of fun making friends with it. The episode is called 'Our Dog Alice'. Why does Po speak Cantonese? Teletubbies is for all children, many of whom grow up speaking more than one language. Po can speak Cantonese and enjoys using this language as well as English. Po sometimes sings this song when she rides her scooter: "Fi-dit, fi-dit, fi-dit!" (fast) and, "Mar, mar, man!" (slow). They are English transcriptions of Cantonese. Po sometimes counts in Cantonese: "Ya, yi, sam, sae, mmm," (1,2,3,4,5). In Britain, at least, there's a recurring view that very young children ought not to be watching television. Is there anything from the success of Teletubbies that may have helped to disprove that argument? I can only speak from experience - and we have a lot of parents writing to say how much their children have benefited from watching Teletubbies. This programme, they say, has made a significant contribution to their children's development. All anyone can do is their best and in order to do best you've got to be able to relax. Television is a perfectly legitimate way for parents and children to relax together. Teletubbies are extremely good role models: they're active; they're social; they love each other; they support each other; they approach everything with enthusiasm and with curiosity; and they are extremely positive. What's more, all the evidence is that when children watch television they are not vegetating: they are dancing with the Teletubbies; they are singing with the Teletubbies; they are answering back and telling the Teletubbies what to do. You were criticised at the time for choosing babyish voices for the Teletubbies. What was the reason for them?

Andrew Davenport:

17.

Pertanyaan:

340

Anne Wood:

Because they are babies - they are technological babies - so, for a dramatic reason, you couldn't get them to speak as adults. Andy and I compiled a list of the words and phrases that children first make their own and this comprises the Teletubbies' own vocabulary. Like children, they also imitate what they hear, so they will attempt to speak like the narrator and, sometimes, like the voice trumpets. Andy is a particularly gifted writer for very young children because of his acute ear for how they speak, which, of course, reflects how they think. Children learn language in the real world. Thus as an audience they want to listen and pay attention, but what they are lacking - away from Teletubbies - is information laid out in a form they can assimilate. We provide a set of voices that children respond to. Adults speak like adults, children speak like children and Teletubbies speak like Teletubbies. Children understand a lot more about language than we credit them for. Children learn different voices from different sources and you can never stop children learning language. You can only inform their imagination. Why does Teletubbyland look like it does? The Teletubbies live in their own world and the rabbits, the baby sun, the windmill and the voice trumpet are just part of the landscape for them. The Teletubbies love the rabbits and enjoy the flowers who sometimes speak. The voice trumpets represent the many technological devices that are a natural part of a child's life. The baby sun offers reassurance as it is always happy and watches the Teletubbies with the same enjoyment that children do. My friend has seen Teletubbies abroad and it's different...Why? Through the magic of Tubbytronic technology the Teletubbies can make the programme to suit many different cultures around the world. This means that children in any country feel really comfortable with the Teletubbies because they speak in their language and show aspects of local life in the inserts. How could you have been so confident that children would love the Teletubbies? What form did your research take? Our ideas develop through watching children in our specially designed Ragdoll shop in Stratford-upon-Avon and through our focus groups, which include individual families across the British Isles. We employ full-time testers, who copy tapes and provide equipment, and our research is non-stop. We film children watching our programmes so that we can learn from their body language and what they talk about. You can tell when their interest has been caught. We positively create opportunities for responses - we are constantly on the receiving end of reactions and they constantly influence what we do. Informal response gathering helped to provide us with the whole structural basis of Teletubbies. It's the way we keep in touch with our audience. There are ways of researching adult responses to programmes. Our way is to study the responses of children and we have to be ingenious with the techniques.

Andrew davenport:

18.

Pertanyaan: Jawaban:

19.

Pertanyaan: Jawaban:

20.

Pertanyaan: Anne Wood:

Andrew Davenport:

341

21.

Pertanyaan: Anne Wood:

Andrew Davenport:

What is the thinking behind the filmed inserts and why are they repeated? Children need to look at things much more than adults. Our format enables them to listen and watch; they need to see things over and over again. It's one of the rules of producing the programme that the Teletubbies appear to play spontaneously, in the way that children do. It's a game that we are playing; children know that it is not real. Children live in the same world as the rest of us, but they perceive it differently. We have some evidence of how children respond to seeing things again and again. A very young child can use videos to repeat a section of a programme over and over again. It's part of Teletubbies' function to encourage children to become screen literate: it's going to be a world of screens rather than pages when they grow up. Children's voices are used in the inserts: as soon as children saw the early experimental inserts with children's voices in them, they locked on to them. Children find it easier to listen to other children and see baby shaped things. We use television as a constructive thing, we can speed things up and we can slow things down. We're just being silly with television, children know that. How did you research the programme? Our ideas develop through watching children in our specially designed Ragdoll shop in Stratford upon Avon, and through our focus groups, which include individual families across the British Isles. We employ full time testers, copying tapes and providing equipment, and our research goes on all the time. We film children watching the programmes so that we can learn from their body language and what they talk about. You can tell when their interest has been caught. The informal response gathering helped to provide us with the whole structural basis of Teletubbies. It's the way we keep in touch with our audience. There are ways of researching adults' response to programmes. Our way is to study the responses of children and we have to be ingenious with the techniques How important is the sound in Teletubbies? It is very important. The way the sound is placed becomes space for a child to predict. It is all to do with anticipating action. The music is specially composed by Andrew McCrorie-Shand to be listened to by children. He has an intuitive understanding of how children hear music. The music is designed to get children to say, 'What's that?’. Sound is used in an active manner. Space is left for children to respond. One important use of sound is so that children can anticipate what's coming next, but the programme is so visual that it can be enjoyed with the sound down. Children with impaired hearing particularly enjoy Teletubbies. It is to do with making predictions from clues in the sound as well as from what a child can see on the screen. When a child can anticipate accurately they get confidence, and so by the end of a programme, a child is feeling more confident because they've worked out for themselves what's going to happen. As a writer, I write in the sound as a part of the programme.

22.

Pertanyaan: Anne Wood:

Andrew Davenport:

23.

Pertanyaan: Anne Wood:

Andrew Davenport:

342

24.

Pertanyaan: Anne Wood:

Andrew Davenport:

25.

Pertanyaan: Anne Wood:

Andrew Davenport: 26. Pertanyaan: Anne Wood:

What was the reaction outside Ragdoll to your early ideas? The first presentations I ever made on the idea were greeted with a kind of stunned silence. Someone in the BBC asked, 'Are these real rabbits?' In the US they thought it looked like a post-nuclear landscape caught in sunshine! Everyone seeing it for the first time was aware they were seeing something completely new. They were all intrigued, but we were very much aware that if it had not come from the company with the reputation of making Tots TV, Rosie and Jim, and Brum, it would never have got as far as it did. Very young children have no problem in identifying with what we have created. To them, it's all perfectly logical. What was your inspiration? It came from a challenge. The BBC already had successful Pre-School programmes, but these were for a higher age group than Teletubbies. The BBC wanted a programme for children younger than anyone had ever dared make before. We perceived the possibility for a different approach. Much had not been addressed before because of the reservations many people have about television for very little children. That was the inspiration and the challenge. Where did the idea for something so innovative come from? Our ideas always come from children. If you make something for children, the first question you must ask yourself is 'What does the world look like for children?' They perceive the world very differently from grown-ups. We spend a lot of time watching very young children, how they play, how they react to the world around them, what they say Teletubbies is a worldwide success because children are the same the world over. They grow, they learn language, and they learn to talk, to think the same, wherever they grow up. How much did the views you were getting differ from those reported by the press from some parents and carers? Totally. Our confidence in the programme came from children watching. We also had a very positive reaction from children to the first showing. What was disconcerting was criticism from those within education about our well-researched educational input. There is a lack of awareness still in Britain about how early learning starts. We had been receiving responses to the programme for longer than it had been on air from children who had been shown the programme. So we had a picture of how it was being perceived that was different to what the papers were reporting. We have structured Teletubbies from a very young child's point of view. When certain things are seen or happen in the programme, such as the windmill turning, children can predict what is going to happen. Likewise, with the voice trumpets: they make sound 'concrete.' The programme directs children to listen: so much of the environment in which children grow up now precludes them learning from listening. Teletubbies actively functions to direct their listening. Where is Teletubbies filmed?

Andrew Davenport: 27. Pertanyaan: Anne Wood:

Andrew Davenport:

28.

Pertanyaan:

343

Anne Wood:

Teletubbies is filmed in the open air on a site in the Warwickshire countryside. The Teletubbies' dome is real (and we can film inside when rain prevents us from working outside). The hills are real, the rabbits are real, the windmill is real, some of the grass and flowers are real and some are artificial. And the Teletubbies are real, in the sense that they run and play in Teletubbyland just as you see them on screen. We use computer generated images for a lot of the special effects such as the animals walking across the hills, water, boats and so on. Filming takes place for six months of the year: it's exhausting hard work. It looks easy, but it's incredibly difficult. In addition to the people on site we have people working on post-production at facilities houses and at Pinewood Studios. It can take up to six months to make one half hour programme: scripting, directing, producing and editing. It is a highly crafted programme. Our performers who work with the Teletubbies have done so well: it's very demanding work. If you are making a fantasy for a child you must work very hard to take it seriously: the colours, sets, voices, which character does what. So many people are involved in making Teletubbies and they care passionately about it. You can't expect a child to take a fantasy seriously if you have any cynical thinking. For us, Teletubbyland has to be real; we believe in it absolutely. How would you answer those people who say merchandising exploits your children? Far from exploiting children, we are creating a fantasy for them to play with. Research indicates that children under seven can play very imaginatively and even more imaginatively as a result of television. You can't ban merchandising. The merchandising industry is part of our age. It's a fact of life that requires us to finance our work from that source. A broadcaster will not provide all of the funds to an independent producer such as Ragdoll to make programmes. The balance has to come from merchandising. We are constantly asked this. Teletubbies enjoys success because it is good. If it were exploitative, it would have died by now. Does Teletubbies differ from one country to another? The voice will change in some cases. The American programmes are longer, with an American voice for the narrator. In some countries, such as Portugal, the inserts are re-made to show local children. We hope to encourage other countries to make their own inserts and then we can show some of them in the Teletubbies programmes broadcast by the BBC and other stations. The programme has to take note of speech patterns around the world. So in Estonia children know it as 'Teletupsuds.' And in the neighbouring country, Finland, whose language is similar, Tinky Winky is Tiivi Taavi, Dipsy is Hipsu, Po is Pai - and Laa Laa stays the same. The essence always stays the same - it's funny in any language. Are your other programmes influenced by the success of Teletubbies? Each concept for a good programme is complete unto itself. Teletubbies won't affect Rosie and Jim. If these concepts have a truth about them, they are so self-evident that they can't be destroyed. Each project really has sufficient strength, a resilience, which prevents it from being influenced or diluted. One thing I have learned: the fewer words the better.

Andrew Davenport:

29.

Pertanyaan: Anne Wood:

30.

Andrew Davenport: Pertanyaan: Anne Wood:

Andrew Davenport:

31.

Pertanyaan: Anne Wood:

344

Andrew Davenport: 32. Pertanyaan: Jawaban:

33.

Pertanyaan: Anne Wood: Andrew Davenport:

The other programmes have always been very strong. What Teletubbies has done is raise their profile and drawn attention to Ragdoll's work. Can we visit Teletubbyland? Teletubbyland is located at a secret spot in the heart of the Warwickshire countryside and as a film set is not open to the public. However the Ragdoll shop in Stratford upon Avon has many Teletubby attractions for young children including a Teletubbies theme room complete with Teletubby control panel, Teletubby slide and Noo-noo ride-on. Children can also talk to the Teletubbies on the phone and write and post them a letter or drawing in their own Teletubby post box. What next? If you are working for children, there is always something new to discover. We are both moving forward to bring something new to our work. One possibility is a feature film - but not of the Teletubbies

Catatan tambahan: Tabel di atas disusun kembali dengan perbaikan berdasarkan naskah yang dipublikasikan melalui domain internet milik BBC Corporation dan Ragdoll Production. Online Document: http://www.bbc.co.uk/education/teletubbies/information/faq/ dan http://www.ragdoll.co.uk/teletubbies/

3.

T el e tu b b i es C o v e ra g e

Teletubbies has been sold to 102 broadcasters in 78 territories and can be seen in 111 countries and is translated into 41 languages. In fact these programmes can be picked up by other territories via satellite increasing the total number of countries which can receive Teletubbies to over 120. Algeria, Antigua & Barbuba, Argentina, Australia, Austria, Bahamas, Bahrain, Barbados, Belgium, Belize, Bolivia, Bosnia, Brazil, Bulgaria, Cayman Islands, Canada, Chad, Chile, China, Colombia, Costa Rica, Croatia, Cuba, Czech Republic, Denmark, Dominican Republic, Djibouti, Dubai, Ecuador, Egypt, Eire, El Salvador, Estonia, Finland, France, Germany, Greece, Grenada, Guadeloupe, Guatemala, Honduras, Hong Kong, Hungary, Iceland, India, Indonesia, Iran, Iraq, Israel, Italy, Jamaica, Japan, Jordan, Kenya, Kuwait, Latvia, Lebanon, Libya, Lithuania,

345

Malaysia, Malta,

Martinique, Mauritania, Mexico,

Montenegro, Montserrat,

Morocco, Myanmar, Netherlands, New Zealand, Nicaragua, Norway, Oman, Panama, Paraguay, Peru, Philippines, Poland, Portugal, Puerto Rico, Qatar, Russia, Saudi Arabia, Serbia, Singapore, Slovakia, Slovenia, Somalia, South Africa, South Korea, Spain, St Kitts - Nevis, St Lucia, St Vincent & the Grenadines, Sudan, Sweden, Switzerland, Syria, Taiwan, Thailand, Trinidad & Tobego, Tunisia, Turkey, United Arab Emirates, United Kingdom, United States, Ukraine, Uruguay, Venezuela, Virgin Islands, Yemen. Online http://www.ragdoll.co.uk/teletubbies/progr_teletubbiescoverage.html document:

4.

T el e tu b b i es A w a rd ed

 2001 Best Pre-school Education Award The Royal Television Society

 2000 The Indies BBC AUDIO CALL Eighth Annual Awards Independent TV Productions

 1999 LIMA Awards (Licensing Industry Mercahandising Awards/USA), 5 categories.

346

 1999 The Indies NICKLEODEON UK CHILDREN'S AWARD Seventh Annual Awards for Independent Television Productions

 1998 CHILDREN'S BAFTA Best Pre-School Programme

 1998 Marketing Society Awards New Product of the Year

 1998 THE Nats CHILDREN'S AWARD Sixth Annual Awards for Independent Television Productions

 1998 VENDOR OF THE YEAR Ravensburger

 1997 PROGRAMMES AWARD Awards of Excellence (Video Rome Entertainment) 'Dance with the Teletubbies' 'Here Come The Teletubbies'

 1997 British Association of Toy Retailers Toy of the Year (Golden Bear)

 1997 AWARD FOR CHILDREN'S ENTERTAINMENT Royal Television Society

347

 1997 CITY OF BIRMINGHAM AWARD Best Midlands Produced Children's Television Production of 1997 (Celebrating a unique contribution to the media industry in the region)

 1997 GRANDPRIZE WINNER PRE-SCROOL EDUCATION CATEGORY 24th Japan Prize International Contest, Tokyo 'Teletubbies - Playing in the Rain'

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.