OGF IMAM DIOSESAN GIRISONTA JANUARI 2013 PENGANTAR Menjadi teman seperjalanan sesama rekan imam di keuskupan masing

-masing, itulah tujuan dari Kursus Spiritualitas Imam Diosesan Indonesia, 24 Januari sampai 1 Februari 2013. Unio Indonesia menghadirkan Rm Kristiyanto pr, akhli spiritualitas dan Rm Zanweh SJ, pakar pendampingan religius serta Bpk. Vincent motivator dan Mgr Blasius, bapa rohani imam praja Indonesia. SATU ROH ANEKA KHARISMA, SATU IMAMAT ANEKA JABATAN 24 imam diosesan dari pelbagai keuskupan duduk belajar, berdiri berjalan mendengarkan dan mengikuti Yesus lebih dekat lagi. Terkumpul dari pelbagai pelosok Indonesia, tersatukan oleh panggilan dan perutusan yang sama. Usia tahbisan rata-rata belia, antara 3 sampai 25 tahun imam. Roh yang satu memperkaya masing-masing pribadi lewat tugas, jabatan dan karya khusus yang diemban, guna mewujudkan imamat Kristus yang menyilahkan para imam berperan serta dalam pengudusan, pengajaran dan penggembalaan kawanan. Mayoritas imam paroki, entah kepala entah rekan. Hal mana, membuat iri imam paroki keuskupan lain yang sudah tanpa rekan, masih harus menggembalakan 3 paroki sekaligus. Ada imam paroki yang sudah diumumkan menyelesaikan tugasnya sejak Mei 2012, tetapi kenyataannya belum ada pengganti sampai saat ini. Ada vicgen, ada rektor Seminari Tinggi, ada dosen, ada staf Seminari Tinggi dan Menengah. Ada pengurus komisi, ada ‘pastor orang sakit/mati’. Ada yang menjabat 7 jabatan sekaligus, sehingga, hidup dari kantor yang satu ke kantor yang lain, dalam sehari; al hasil, terkaget harus bangun pagi, mengejar pesawat, untuk sebuah tugas khusus, sambil lupa menjinjing laptop di meja kerja. Ada yang diperkenalkan sebagai ‘sekpri’ tetapi kenyataannya ‘kj’ alias kurang jelas. Ada pengurus PT, ada ‘misionaris domestik’, ada yang imam ‘all round’: nyalakan lilin di altar sekaligus nyalakan api di belanga untuk makan minum seharian. Wow, betapa hebatnya imam diosesan, serba bisa dan siap pakai. Betapa bervariasinya jabatan dan fungsi, betapa satu Roh kaya melimpahi. Betapa beruntungnya Uskup, memiliki barisan imam seperti ini. Ibarat Jendral, ia memiliki pasukan khusus, lengkap dan terlatih untuk pelbagai lini dan zona, bahkan siap export tapi bukan desersi. DAI SEJUTA CONCERN Menjadi socius itinerarius bagi sesama imam dalam jiarah panjang menjadi imam, nabi dan raja Kristus, bagi Gereja, membuat para imam memiliki sejuta concern, kepedulian atas keadaankeadaan khusus hidup para imam itu sendiri di gereja lokalnya. Hati yang satu itu ternyata sarat oleh keprihatinan mendalam; hati yang satu itu ternyata tergerak oleh pelbagai luka dan duka, harapan dan kecemasan. Dominus flevit. Ya Tuhan menangis, memandang Yerusalem. Apa kata hatimu, imamku? Apa duka laramu, apa gelisah galaumu, imamku?

Misereor super ......

Agar api imamat sahabat2Ku dan sahabatmu itu terus bernyala.....

Ketika ketaatan imamat ditawar oleh keinginan ber’otonomi’ [kayak otonomi daerah saja] pribadi. Ketika paroki dimekarkan, stasi diparokikan, sementara jumlah imam tidak mekar-mekarnya: dulu ada belasan tahbisan setahun, kini 3 sudah banyak. Ketika tugas, jabatan, pekerjaan tumpang tindih, bukan hanya melelahkan raga, tetapi membuat stress, mental moral, spiritual pastoral. Ingin lari, ingin sembunyi. Ketika masalah pribadi, relasi, mis-komunikasi membuat imam tertunduk, menarik diri, hilang dan raib. Ketika dari sekitar 16 imam diosesan yang seharusnya ada, tetapi 5 sudah hilang, pada sesungguhnya adalah imam-imam yang baik. Lebih sial lagi, ketika uskup tidak tahu menahu tentang imam diosesan : bagaimana saya harus mengontrak mereka, tanyanya. Ketika uskup tidak mengenal kekuatan imamnya dan hanya tahu bahwa mereka itu ‘muda usia dan tidak mampu’. Ketika sesama imam harus diberi kwalifikasi baru oleh kuria dengan predikat : non job, non aktif. Ketika ketaatan kepada Uskup bukan hanya menguap tetapi berbalik dalam sikap oposisi. Ketika tawar menawar, tarik ulur, pilih-pilih, like-dislike menjadi dasar kesiapan mengemban tugas imamat. Ketika semangat mengabdi, berbakti, berdedikasi menjadi langka. Ketika cenderung menjadi orang ‘upahan’ atau ‘kontrakan’ dan menanam talenta yang ada. Ketika tidak tumbuh dan berbuah melimpah. Ketika jauh panggang dari api: yang ditahbiskan untuk umat, menjadi kebalikan, umat/gereja untuk imam. Ketika pola hidup menjadi tak teratur, sehingga kematian merenggut hanya karena salah olah, salah atur, salah kebiasaan. Ketika imam tiada gairah untuk ‘duc in altum’; tak mau belajar lagi, menghindari OGF, kurang perduli dengan spiritualitas imam diosesan itu sendiri. Akibatnya kekurangan ‘teladan’ bagi sesama imam, khususnya yang lebih muda. Ketika krisis panggilan membuat ketertarikan pada imam projo makin berkurang belum lagi masih ada keuskupan yang ‘mengarahkan’ para seminaris untuk tidak menjadi imam diosesan. Di lain pihak, para seminaris, para calon imam tidak memiliki semangat ‘tahan banting’, konsumeristik dan tidak bisa jika keinginannya tidak dipenuhi. Ketika kesendirian bertugas, terpisah jarak bahkan tiada sarana komunikasi dengan sesama imam terdekat. Ketika ‘turne/patroli, jalan dinas’ nan panjang, jauh seolah tak berujung, dijemput kesahajaan dan ketertinggalan. Ketika harus jatuh 25 kali dalam sekali jalan sementara Yesus jatuh 3 kali saja. Ketika mengelolah paroki dengan 65 stasi, dan memaksaku harus misa 7 kali dalam sehari

Minggu; ketika melihat umat stasi-stasi yang masih belum mendapatkan pelayanan natal padahal sudah segera memasuki hari Rabu Abu. Imam, bukan saja ‘dai sejuta umat’, tetapi ‘sejuta cocern’. Tanda baik; hatinya merasa, hatinya ber-iba, hatinya tergerak. Tak mati. Suara hatinya berbisik, mendesak dan membuatnya galau, tak tenang tak teduh. Malah berkeluh, berkesah, sambil mengangkat mata, ke Gunung Suci, ke Giri Sonta, dari mana datang pertolongan. Dalam gerimis lembut pekarangan Giri Sonta, dalam cerah pagi menembus sudut-sudut kamar, bias-bias cahaya itu datang, sebagai jawaban permohonan atas seru doa riuh rendah : Veni Sancte Spiritus. Sendengkanlah telinga hati kami, mendengarkan ajaranMu Tuhan, menurut patuh bimbingan cahyaMu. IMAM BERHATI GEMBIRA BAHAGIA Ada sejuta satu alasan untuk bersyukur dan berbahagia, untuk mengagungkan Tuhan, untuk memuliakan, sebab besarlah perbuatan tanganNya. Di tanah Ignatian ini, Allah consolator sungguh dialami, apalagi ketika dibagi-bagikan dari imam yang satu kepada imam yang lain, membuat bara gembira dan kobar syukur menggumpal besar, menyatu padu, bertalu-talu dentangkan sukacita dendangkan madah pujian. Tangan kanan Tuhan bertindak dengan gagah, dalam diri bejana rapuh, made in God ini. Simaklah, betapa imam-imam ini berbahagia oleh panggilannya. Semakin bisingnya kota besar, semakin sibuknya memenuhi tanggung jawab imami, maka berkumpul antar sesama imam diosesan itu menjadi kerinduan. Syukur, uskupku membawa angin segar untuk kebutuhan ini. Syukur uskup mengenal kami secara pribadi. Kendati kami hanya ber-6, pertemuan rutin menjadi oase, menjadi sarana peneguhan bagi kami yang ‘terasing’ di tengah keuskupan kami sendiri. Ketika imam yang senior makin lebih senior dan yang pendatang baru makin banyak, selalu ada imam yang bisa menjembatani dan bisa diterima atas dan bawah. Unio menjadi tali pengikat persaudaraan. Bangga dan bahagia, menjadi imam itu tidak mudah dan kami bisa bertahan dan mau hidup 1000 tahun lagi. Kami dibutuhkan, gereja lokal memerlukan. Umat juga semakin bangga pada kami dan memahami bahwa kami bukan imam kelas 2. Kami bisa leluasa tampil di antara imam-imam tarekat, yang telah lebih dahulu berada dan berpengaruh kuat di keuskupan kami. Umat amat mencintai kami, mensupport kami, bahkan mengupayakan kami berjiarah ke Tanah Suci. Imamat membuat kami boleh mengalami banyak dan berbuat banyak juga. Umat melihat kalau kami bekerja all out, all round. Bahkan, anak-anak merekapun terajak, menjadi imam seperti kami. Kami sendiri tersentuh, karena masyarakat umum juga ikut menghormati, menghargai dan mengenal imamat kami, melalui keterlibatan kami di tengah masyarakat. Bangga dan happy menjadi imam diosesan, bisa berbakti penuh bagi gereja, bagi umat, tidak terbagi dengan kelompok khusus lainku, tidak terbatasi aturan main komunitasku, sekiranya aku bukan imam diosesan. Seperti Paulus, berkalil-kali karam kapal, ditindas, dilempari, dirajam namun senantiasa bersukacita, sekali lagi bersukacita di dalam Tuhan, kami juga tidak kehabisan akal, tidak terjepit mati. Menghadapi rutinitas, perjalanan jarak nan jauh, mendorong kami ber-kreasi, ber-inovasi dalam berpastoral, menjadi imam dan gembala. Menjadi imam yang pesulap, why not; mewartakan Kabar Gembira lewat seni, why not. Menjajagi pastoral pariwisata, why not. Menjadikan sekolah basis pewartaan iman, so pasti. Maka, tiada lagi beban, tiada lagi salib berat, yang ada adalah gemuruh cinta dan kerinduan berbakti. Maaf, misa 7 kali sehari Minggu pun bisa saja dilakukan, asal

umatku bisa merayakan ekaristi, sumber dan puncak hidup beriman mereka. Saya boleh lelah, asal mereka terpuaskan kerohaniannya dan kebutuhannya.

Misa 7 x : kurbanNya kurbanku sulap : dari pengisi waktu, menjadi media pewartaan: imam diosesan harus serba bisa

Syukur dan terima kasih kepada solidaritas imam diosesan, dengan sesama imam diosesananya maupun dengan imam tarekat lainnya. Kita tidak mencari dan membuat diri diikat oleh tempat ‘basah’. Kita bisa mengikuti aturan main yang ada. Kita bisa dengan mudah mendapatkan bantuan tenaga rekan imam di musim natal dan paska. Kita bersyukur juga, ada uskup/keuskupan yang membuka pintu bagi rekan imam untuk berinkardinasi ataupun untuk melewatkan saat-saat berat hidup imamat. Syukur atas kesediaan teman-teman imam projo untuk diutus ke keuskupan lain, memberi diri, juga kendati keuskupan sendiri masih berkekurangan. Syukur untuk kekayaan rohani rekan-rekan imam projo yang mendalam. Syukur kami bisa bertinggal di dalam Kristus dan di dalam gereja lokalnya. Tiada yang lebih indah, dari pada menjadi ‘alter Christus’, menjadi ‘tanda kehadiran Kristus’, living sign of Christ.

two thumbs... thanks forbeing a diocesan priest

Pantaslah, Yesus bersyukur, sebab Allah telah memanggil orang-orang kecil ini, untuk menerima dan ikut melaksanakan karya-karya besarNya. Allah agung dan karyaNya nampak dalam diri rekan-rekan sekerjaNya ini. Allah consolator, Allah motivator, Allah creator. Teruslah berjalan bersama kami, hari-hari ini. Kami tidak meminta Engkau ber-sim-sala-bim seperti Rm Lulus, dengan trik sulapnya, untuk mengangkat habis duri-duri keprihatinan kami, tapi anugerahilah kami daya, kebijaksanaan, serta kerendahan hati mengakrabi dan menyikapi kesemuanyaitu, sehingga kami tidak terjatuhkan ke bawah kaki kuda di depan Damsyik negeri kami, tetapi tetap membuat kami bangun, tegak, siap dituntun untuk urapan baruMu. Veni Sancte Spiritus.
Lembah Giri Sonta 25 Januari 2013 Rm Terry P, pr