You are on page 1of 10

Pengaruh Panduan Terstruktur Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Kecemasan Keluarga Pasien Di Unit Perawatan Kritis RSUP Dr Sardjito

Yogyakarta
RR Sri Arini Rinawati1, Maryana2, Atik Badi'ah3

ABSTRACT
Background: The practice of professional nursing nurse holding a very big responsibility, where nurses are required to carry out his role for 24-hour stand over the patient and his family. Patients with a family who entered the hospital (MRS) will experience feelings of anxiety or anxiety are often called. Feeling anxious or anxiety will be more clearly found in patients and families in MRS in the Critical Care Unit. It so happens because the implementation of the communications are not effective or less well among nurses with patients and their families. Objective: To determine the influence of structured guidance on therapeutic communication nurse on the patient's family anxiety in the critical care unit (IGD, IRI, IRJAN and stroke unit) Sardjito Hospital Yogyakarta Method: The study was conducted in the critical care unit (IGD, IRI, IRJAN and stroke unit) Sardjito Hospital Yogyakarta. The study was quasi experiment, in which the treatment given was the implementation of structured therapeutic communication with the guide, which will be observed and measured anxiety with the families of patients hospitalized during the Pre and Post Test without control design. Results: Our results indicated the significance level p (0.00) < (0.05), which mean H0 rejected it means there is the influence of structured guidance on therapeutic communication nurse on the patient's family anxiety in the critical care unit (IGD, IRI, IRJAN and stroke unit) Sardjito Hospital Yogyakarta. Conclusion: There is the influence of therapeutic communication nurse with a structured guide to family anxiety patients hospitalized patients in critical care units (IGD, IRI, IRJAN and stroke unit) Sardjito Hospital Yogyakarta Key words: guide structured, therapeutic communication, anxiety, critical care

Latar Belakang Praktik keperawatan profesional perawat memegang tanggung jawab yang sangat besar, dimana perawat dituntut untuk melaksanakan perannya selama 24 jam berada disamping pasien dan keluarganya. Pasien bersama keluarganya yang masuk
1. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jurusan Keperawatan 2. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jurusan Keperawatan 3. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jurusan Keperawatan

rumah sakit (MRS) akan mengalami perasaan cemas atau yang sering disebut ansietas. Perasaan cemas atau ansietas ini akan lebih jelas ditemukan pada pasien dan keluarga yang MRS dalam Critical Care Unit. Penelitian menunjukkan bahwa keluarga akan mengalami ansietas dan disorganisasi perasaan ketika anggota keluarganya MRS dengan penyakit kritis

54

CARING; 2012 - 01 (01) : (54-63)

(RR Sri Arini.med /RS. 2) Nampaknya memberi informasi saja tidaklah cukup. Hasil penelitian Saelan (1998). 1998). sehingga sukar bagi para tenaga kesehatan untuk memperbaiki komunikasi.. Pasien yang dirawat dalam Critical Care Unit tidak hanya membutuhkan tehnologi dan terapi tapi juga memerlukan perawatan humanistik dari keluarganya.. salah satunya adalah faktor komunikasi terapeutik perawat.01 (01) : (54-63) 55 .660/Menkes/SK/IX/1987 yang dilengkapi Surat Edaran Dirjen Pelayanan Medik Nomor 105/yan. Perasaan frustasi dan permusuhan dengan staf perawatan pada prinsipnya akan selalu berada bersama pasien dan keluarganya selama 24 jam. pendekatan komunikasi terapeutik. dkk) atau terminal. Menurut SK Menkes No. tidak menutup kemungkinan kondisi yang sama terjadi pula di rumah sakit lain.. ada beberapa keluhan pasien dan keluarganya terhadap pelayanan yang diberikan yang seharusnya bisa diatasi dengan komunikasi terapeutik dari perawat... Hal ini menimbulkan kebingungan dan meningkatkan stress dan kemarahan dalam diri keluarga terhadap staf perawat. 1994). Mereka harus diberitahu dalam cara sehingga dapat mengerti dan mengingatnya. Karena kurangnya umpan balik dalam bentuk pertanyaan dan komentar dari pasien. hal ini yang menyebabkan keluarga dari CARING. Sebuah studi pembahasan tentang tiga puluh lima tipe tipe pasien yang berbeda menunjukkan 8 82 % pasien yang tidak puas (Bart Smet.. Banyak faktor penyebab terjadinya kecemasan atau ansietas dalam diri pasien dan keluarganya selama pasien di rumah sakit. Menurut Ley yang dikutip oleh Bart Smet sbb : 1) Pasien tidak puas dengan aspek komunikasi dari pertemuan klinis. Sebenarnya hal demikian tidak akan terjadi apabila sejak dari pertama kali pasien MRS. Hal ini disebabkan karena kurang disadari pentingnya komunikasi oleh perawat dan rendahnya pengalaman perawat akan teori.. Keluarga akan mengalami ansietas dan disorganisasi perasaan ketika anggota keluarganya mengalami sakit yang harus dirawat di rumah sakit dan ini akan lebih jelas ditemukan di unit perawatan kritis.. menyatakan bahwa dalam hal komunikasi dengan pasien. Beberapa riset menyatakan bahwa komunikasi terapeutik perawat masih kurang baik (Bart Smet. Saelan.Umdik /Raw/I/88 tentang Standar Praktek Keperawatan Kesehatan di Rumah Sakit memenuhi kebutuhan dari komunikasi pasien adalah merupakan salah satu standar intervensi keperawatan. ini disebabkan mereka tidak mampu untuk membangun dukungan bagi klien dan mereka sering terlihat kesulitan bekerja sama dengan perawat. Dari hasil penelitian Saelan tersebut. 2012 . Dari hasil pengamatan penulis di R S U P D R S a r d j i t o Yo g y a k a r t a kecenderungan yang terjadi yaitu nampak pada hubungan interpersonal perawat dengan pasien dan keluarganya ditunjukkan dengan komunikasi antara perawat yang sering tidak terapeutik saat berinteraksi dengan pasien dan keluarganya. 1994.Pengaruh Panduan Terstruktur Komunikasi Terapeutik Perawat. perawat mampu memberikan pengertian dan pendekatan yang terapeutik kepada pasien dan keluarganya yang diwujudkan dengan pelaksanaan komunikasi yang efektif antara perawat dengan pasien dan keluarganya berupa komunikasi terapeutik. Pada umumnya pasien yang datang di unit perawatan kritis ini adalah dalam keadaan mendadak dan tidak direncanakan. konsep dan arti penting komunikasi terapeutik dalam pemberian asuhan keperawatan. dari semua perawat yang diteliti sebanyak 38 orang mendapatkan nilai kurang.

Dalam kaitan antara komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat kecemasan keluarga pasien maka sangat diperlukan solusisolusi yang dapat meningkatkan ketrampilan berkomunikasi perawat dan juga yang dapat menghilangkan berbagai hambatanhambatan terhadap komunikasi terapeutik yang dilaksanakan perawat. Penelitian dilaksanakan di Unit Perawatan Kritis (Instalasi Gawat Darurat /IGD. situasi dan keputusan antara hidup dan mati.. penyegaran dan pelatihan terutama berhubungan dengan upaya untuk mendapatkan pengetahuan. Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen. 1995). sikap dan ketrampilan yang diperlukan (Sullivan.. dimana perlakuan yang diberikan adalah pelaksanaan komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur sebelum dan setelah diberikan komunikasi terapeutik. Dan pada saat demikian perawat kurang atau tidak dapat melaksanakan komunikasi terapeutik yang efektif sehingga keluarga akan terus terpuruk dalam situasi yang demikian dan pada akhirnya asuhan keperawatan yang kita berikan secara komperhensif dan holistik tidak akan tercapai dengan baik.. Instalasi Rawat Jantung/ IRJAN dan Unit Stroke) RSUP DR Sardjito Yogyakarta selama 12 minggu atau tiga bulan (bulan Agustus s. dan rutinitas ruangan. maka penulis tertarik untuk meneliti pengaruh panduan terstruktur pada komunikasi terapeutik perawat terhadap kecemasan keluarga pasien di unit perawatan kritis RSUP DR Sardjito Yogyakarta. Istalasi Rawat Intensif 56 CARING. ketidakpastian hasil.01 (01) : (54-63) . Populasi adalah semua keluarga pasien yang salah satu anggota keluarganya di rawat di Unit Perawatan Kritis (Instalasi Gawat Darurat /IGD . Ketrampilan tersebut harus dipelajari dan dilatih secara terus menerus melalui kemampuan belajar mandiri.d Oktober 2010). Dari pemikiran dan fenomena di atas. kekhawatiran akan biaya perawatan. yang akan diamati dan diukur kecemasan keluarga pasien selama dirawat di ruang perawatan kritis dengan desain penelitian one group pre test dan post test without control desain. Istalasi Rawat Intensif /IRI. Selain itu. Semua stressor ini menyebabkan keluarga jatuh pada kondisi krisis dimana koping mekanisme yang digunakan menjadi tidak efektif dan perasaan menyerah atau apatis dan kecemasan akan mendominasi perilaku keluarga. tidak terbiasa dengan perlengkapan atau lingkungan di unit perawatan kritis. faktorfaktor penghambat komunikasi merupakan faktor yang dapat mengganggu atau sama sekali bisa membuat perawat tidak mampu berkomunikasi secara terapeutik... personel atau staf di ruang perawatan. Ketrampilan berkomunikasi bukan merupakan kemampuan yang kita bawa sejak lahir dan juga tidak akan muncul secara tiba tiba saat kita memerlukannya.. ketidakberdayaan untuk tetap atau selalu berada disamping orang yang disayangi sehubungan dengan peraturan kunjungan yang ketat. 2012 . Solusisolusi ini dapat dijadikan pilihan karena bertujuan membantu tenaga kesehatan profesional (termasuk perawat) memperbaiki penampilan kerja guna memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas. Metodologi. et all.Pengaruh Panduan Terstruktur Komunikasi Terapeutik Perawat. (RR Sri Arini. perubahan pola.. dkk) pasien datang dengan wajah yang sarat dengan bermacam-macam stressor yaitu ketakutan akan kematian. rutinitas yang tidak beraturan..

gejala vegetatif atau otonom. Sebagian besar (40.4 %) adalah pria. CARING. Sebagian besar (37.Pengaruh Panduan Terstruktur Komunikasi Terapeutik Perawat. dkk) /IRI.7%) adalah isteri. Ukuran besar sampel dengan menggunakan program komputer didapatkan 70 sampel.01 (01) : (54-63) 57 . gejala pernafasan. yang dilakukan setelah rancangan panduan terstruktur komunikasi terapeutik perawat selesai.0 %) responden tidak bekerja. gejala gastrointestinal. sedangkan sebagian kecil (1.. gangguan tidur. yaitu suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti. Uji statistik yang akan digunakan adalah dengan program. Uji coba buku panduan terstruktur komunikasi terapeutik juga melihat sejauh mana produk (buku panduan terstruktur komunikasi terapeutik) yang dibuat dapat mencapai sasaran dan tujuan. Instalasi Rawat Jantung/ IRJAN dan Unit Stroke) RSUP DR Sardjito Yogyakarta. gejala somatik. Data dianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon rank test dengan derajat kemaknaan p < 0. (RR Sri Arini.1 %) responden memiliki pendidikan terakhir lulus SMP sedangkan sebagian kecil (2.6 %).50 tahun (41.. Ditunjukkan sebagian besar (68. Hubungan dengan pasien sebagian besar (35. 2012 .. gejala cardiovasculer. Variabel penelitian ini adalah variabel bebas pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dengan menggunakan panduan terstruktur dan variabel terikat kecemasan keluarga pasien di ruang perawatan kritis.4 %) adalah ibu dari pasien. gejala urogenetalia.6 %) responden berjenis kelamin perempuan sedangkan sisanya (31. Penelitian ini menggunakan Purposive sampling.05 artinya ada pengaruh yang bermakna antara dua variabel.. maka H1 diterima.. ketakutan. 2000). gejala sensorik.. Instrumen penelitian menggunakan HRS-A (Hamilton Anxiety Rating Scale) : Perasaan cemas.9 %) tidak tamat SD.. Hasil Penelitian dan Pembahasan Karakteristik Responden Pada Tabel 1. gangguan kecerdasan. Uji validitas dalam penelitian ini dengan uji coba produk (buku panduan terstruktur komunikasi terapeutik perawat di ruang perawatan kritis) merupakan bagian yang sangat penting dalam penelitian pengembangan. Uji coba buku panduan terstruktur komunikasi terapeutik perawat di ruang perawat kritis bertujuan untuk mengetahui apakah buku panduan terstruktur komunikasi terapeutik perawat yang dibuat layak digunakan atau tidak.4 %) dan sebagian kecil umur 20 .3 %) responden adalah pensiunan (PNS/Purnawirawan). perasaan depresi. ketegangan.30 (18. perilaku yang ditunjukkan saat wawancara kepada keluarga pasien. Subyek penelitian ini diambil dari keluarga dari pasien yang sakit dan dirawat di unit pelayanan keperawatan kritis RSUP DR Sardjito Yogyakarta. sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang dikenal sebelumnya (Nursalam.. sedangkan sebagian kecil (4. Umur responden penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar umur responden 41 .

0 %) responden tidak bekerja.4 68.50 tahun (41.7 %) adalah isteri.4 %) adalah pria.6 2. Tingkat kecemasan keluarga pasien Pre test (sebelum dilakukan komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur) Sebelum memberikan perlakuan (intervensi) komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur pada keluarga pasien di ruang perawatan kritis.1 8. Swasta c. Lulus SD c... Hubungan dengan pasien sebagian besar (35. 20 . 5.9 2.6 18.laki b. Sebagian besar (68. Tingkat kecemasan f 1.4 7.1 25. 3. 51 – 60 tahun Tingkat Pendidikan : a. sedangkan sebagian kecil (4.7 37. Wiraswasta d.3 %) responden adalah pensiunan (PNS/Purnawirawan).1 %) responden memiliki pendidikan terakhir lulus SMP sedangkan sebagian kecil (2. Tidak tamat SD b.4 0 2. Saudara dekat Frekuensi (f) 22 48 13 28 29 0 2 18 26 24 0 28 25 6 8 3 22 25 9 2 1 5 6 Prosentase(%) 31. sedangkan sebagian kecil (1. 1.2 67. Laki . 2. Lulus SMA e..7 8. Saudara kandung g.4 4. Pensiunan PNS/Purnawirawan Hubungan dengan pasien a. 2012 . 41 . Tidak bekerja b.Pengaruh Panduan Terstruktur Komunikasi Terapeutik Perawat. Lulus SMP d. Lulus Akademi/PT Pekerjaan : a.. (RR Sri Arini.9 %) tidak tamat SD..30 (18.3 0 40.6 %). 4. Tabel 2.6 40.50 tahun d.6 11. Perempuan Kelompok umur : a. Karakteristik Jenis kelamin : a. 3.9 25. Sebagian besar (37.3 31. PNS/ABRI e. Tidak cemas Ringan Sedang Berat Total 5 47 18 0 70 HRS-A % 7. dilakukan pengambilan data kecemasan pre test (sebelum diberikan komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur) dengan menggunakan alat ukur HRS-A (Hamilton Anxiety Rating Scale).6 %) responden berjenis kelamin perempuan sedangkan sisanya (31. 31 .40 tahun c. Anak b.0 35.9 1.. Ayah e.7 12.1 34.4 35 . Sebagian besar (40.01 (01) : (54-63) .0 41. Ibu f. 4.30 tahun b. Tingkat kecemasan responden pre test (n=70) No.4 %) dan sebagian kecil umur 20 . suami d.7 0 100 58 CARING.4 %) adalah ibu dari pasien.. Karakteristi Responden (n=70) No. Umur responden penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar umur responden 41 .. dkk) Tabel 1. Isteri c.

4. 2012 . dilakukan pengambilan data kecemasan post test dengan menggunakan alat ukur HRS-A (Hamilton Anxiety Rating Scale).0% 31 66.0 % CARING.Pengaruh Panduan Terstruktur Komunikasi Terapeutik Perawat... Tingkat kecemasan responden post test (n=70) HRS-A f 1.7% Total Kriteria cemas pre intervensi Tidak cemas Cemas ringan Cemas sedang Total f % f % f % f % 5 100..7 %) dan tidak cemas sebanyak 24 responden (34. Tidak cemas Ringan Sedang Berat Total 24 46 0 0 70 % 34.0% 14 77.7 0 0 100 Hasil post test (setelah diberikan komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur) menunjukkan bahwa responden (keluarga pasien) yang dirawat di unit perawatan kritis (IGD.. Pengaruh panduan terstruktur komunikasi terapeutik perawat terhadap kecemasan keluarga pasien di unit perawatan kritis RSUP DR Sardjito Yogyakarta.0% 4 22. IRI.0 % 18 100. Hasil uji perbedaan kriteria kecemasan keluarga pasien di ruang perawatan kritis sebelum (pre test) diberikan komunikasi terapeutik oleh perawat dengan panduan terstruktur dan setelah (post test) diberikan komunikasi terapeutik oleh perawat dengan panduan terstruktur dengan alat ukur HRS-A (Hamilton Anxiety Rating Scale) menggunakan uji t-test..0 % 47 100.0 % 70 100. IRI..3 65.8% 46 65. Post test (setelah dilakukan komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur) Setelah memberikan perlakuan (intervensi) komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur pada keluarga pasien di ruang perawatan kritis. No.2% 24 34.0% 16 34. 3.01 (01) : (54-63) 59 . Tingkat kecemasan Tabel 4. (RR Sri Arini. IRJAN dan Unit stroke) RSUP Dr Sardjito Yogyakarta menurut alat ukur HRS-A komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur berada pada tingkat kecemasan ringan 46 responden (65. 2.1 %). dkk) Hasil pre test (sebelum diberikan komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur) menunjukkan bahwa responden (keluarga pasien) yang dirawat di unit perawatan kritis (IGD.3% Cemas Ringan 1 20.. IRJAN dan Unit stroke) RSUP Dr Sardjito Yogyakarta menurut alat ukur HRS-A berada pada tingkat kecemasan ringan sebanyak 47 responden (67.3%). Tabel 3. Uji Perbedaan kriteria kecemasan sebelum (pre test) dan setelah (post test) komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur pada keluarga pasien Tingkatan cemas Kriteria cemas post intervensi Tidak Cemas 4 80..

607 p 0. Sebelum diberi perlakuan komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur....Pengaruh Panduan Terstruktur Komunikasi Terapeutik Perawat.. dkk) Hasil uji perbedaan kriteria kecemasan keluarga pasien sebelum (pre test) diberikan komunikasi terapeutik oleh perawat dengan panduan terstruktur dan setelah (post test) diberikan komunikasi terapeutik oleh perawat dengan panduan terstruktur di unit perawatan kritis (IGD.3 %).05).212 1. rasa takut dan cemas. Kecemasan merupakan suatu respon pertahanan terhadap permasalahan yang dihadapi oleh seseorang sehingga orang tersebut akan lebih waspada atau memberikan perhatian yang lebih terhadap permasalahan yang dihadapi dan ini penting sebagai motivasi untuk penyelesaian masalah. 60 CARING.01 (01) : (54-63) . Mahoney (2007) mengatakan bahwa depresi dan kecemasan berhubungan dengan belum pernah mengalami penanganan psikologis sebelumnya.7 %) dan tidak cemas (34.00 (p<0.212).527 1. Rerata score pre test sebesar 11. IRJAN dan Unit stroke) RSUP Dr Sardjito Yogyakarta menunjukkan tingkatan cemas ringan (65. Tingkat kecemasan pre test (sebelum) dilakukan komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur di unit perawatan kritis (IGD. sedangkan rerata post test 6. IRI....67 (SD=1. IRI. IRI.000 Hasil uji perbedaan rerata kecemasan keluarga pasien sebelum (pre test) diberikan komunikasi terapeutik oleh perawat dengan panduan terstruktur dan setelah (post test) diberikan komunikasi terapeutik oleh perawat dengan panduan terstruktur di unit perawatan kritis (IGD. IRI. p = 0. Sedangkan tingkat kecemasan post test (setelah) dilakukan komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur di unit perawatan kritis (IGD. Tabel 5.947). IRJAN dan Unit stroke) RSUP Dr Sardjito Yogyakarta menunjukkan bahwa terdapat berbedaan yang bermakna secara statistik atau ada pengaruh yang bermakna secara statistik yaitu. IRJAN dan Unit stroke) RSUP Dr Sardjito Yogyakarta yang masuk dalam penelitian ini ketika diukur dengan alat ukur HRS-A (Hamilton Anxiety Rating Scale) tergolong kecemasan ringan (65. (RR Sri Arini. sedangkan kecemasan lainnya diakibatkan karena pengalaman hidup dan hal ini berbeda untuk setiap individu. IRJAN dan Unit stroke) RSUP Dr Sardjito Yogyakarta yang masuk dalam penelitian ini ketika diukur dengan alat ukur HRS-A (Hamilton Anxiety Rating Scale) tergolong kecemasan ringan (67. banyak keluarga pasien di unit perawatan kritis mengalami pikiran yang tidak menentu. Sedangkan uji perbedaan rerata kecemasan keluarga pasien sebelum (pre test) diberikan komunikasi terapeutik oleh perawat dengan panduan terstruktur dan setelah (post test) diberikan komunikasi terapeutik oleh perawat dengan panduan terstruktur di unit perawatan kritis (IGD.67 SD 4.00 6..1%) dan cemas sedang (25. Hal ini ada penurunan dari cemas berat ke cemas ringan dan tidak cemas.00 (SD=4. IRI.7 %). IRJAN dan Unit stroke) RSUP Dr Sardjito Yogyakarta sebagai berikut. 2012 .7 %).947 n 70 70 Z 1. Uji Perbedaan rerata kecemasan keluarga pasien sebelum (pre test) dan setelah (post test) diberikan komunikasi terapeutik oleh perawat dengan panduan terstruktur di unit perawatan kritis Kecemasan Pre test Post test Mean 11.

. 1997).Pengaruh Panduan Terstruktur Komunikasi Terapeutik Perawat. sehingga menjadi penting untuk membuat setiap interaksi berguna bagi keluarga pasien (Hudak & Gallo. takut dan cemas. Sehingga walaupun waktu pertemuan antara perawat dan keluarga relatif sedikit akan tetapi bermakna yaitu menentramkan hati keluarga.. perasaan kehilangan fungsi dan harga diri. Untuk membantu meningkatkan perasaan pengendalian diri pada klien dan keluarga dapat salah satunya dapat melalui pemberian komunikasi terapeutik (Hudak & Gallo. perasaaan terisolasi dan takut mati.. kegagalan membentuk pertahanan.01 (01) : (54-63) 61 .. Hal ini didukung dengan hasil penelitian oleh peneliti yaitu pemberian komunikasi terapeutik perawat dengan panduan terstruktur sangat mempengaruhi penurunan kecemasan keluarga pasien di ruang perawatan kritis. kegagalan membentuk pertahanan.00 (p<0. IRI. sehingga diharapkan dengan waktu yang sedikit tersebut perawat dapat menampilkan bentuk komunikasi terapeutik dengan baik yang ditampilkan dalam bentuk sikap dan tingkah laku yang menyenangkan dan menentramkan hati. hal ini disebabkan karena keluarga sangat membutuhkan adanya penjelasan tentang keadaan anggota keluarganya yang sedang terbaring dan dirawat di unit perawatan kritis. CARING. keluarga pasien di unit perawatan kritis lebih memiliki pemahaman sehingga dapat mengurangi perasaan gelisah.. 1997). dkk) Setelah mendapatkan komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur.. 1997). IRJAN dan Unit stroke) RSUP Dr Sardjito Yogyakarta yaitu untuk menyampaikan segala sesuatu tentang keadaan pasien sesuai dengan wewenangnya. Selama pasien dirawat di ruang perawatan kritis keluarga tidak boleh menunggu dan hanya boleh melihat dari jauh (kaca) pada jam-jam tertentu sehingga disini keluarga sangat membutuhkan informasi yang jelas dan bantuan dari perawat untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. Berdasarkan hasil analisis perbedaan penurunan rerata kecemasan keluarga pasien di unit perawatan kritis pre test (sebelum) dan post test (setelah) diberikan komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur menggunakan alat ukur kecemasan HARS-A (Hamilton Anxiety Rating Scale) yang di uji m e n g g u n a k a n Wi l c o x o n r a n k t e s t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna yaitu p = 0. (RR Sri Arini.05).. Ansietas pada klien dan keluarga yang menjalani perawatan di unit perawatan kritis terjadi karena adanya ancaman ketidak berdayaan kehilangan kendali. Pemberian komunikasi terapeutik ini dapat dilakukan dengan baik apabila didukung oleh pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dengan panduan terstruktur di ruang perawatan kritis (IGD. Untuk membantu meningkatakan perasaan pengendalian diri pada klien dan keluarga dapat salah satunya adalah dengan pemberian komunikasi terapeutik (Hudak & Gallo. perasaan kehilangan fungsi dan harga diri. Hal tersebut disampaikan oleh responden kepada peneliti bahwa mereka sangat senang saat dilakukan komunikasi terapeutik. perasaaan terisolasi dan takut mati. keluarga pasien merasa dihargai sebagai manusia. Komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur mempengaruhi tingkat kecemasan keluarga pasien yang dirawat di unit perawatan kritis (IGD. IRI.. 2012 . Menurut Sugiyono (2002) dijelaskan bahwa Ansietas pada klien dan keluarga yang menjalani perawatan di unit perawatan kritis terjadi karena adanya ancaman ketidak berdayaan kehilangan kendali. Waktu perawat untuk keluarga pasien di ruang perawatan kritis seringkali terbatas karena pekerjaan yang ada. IRJAN dan Unit stroke) RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.

1%).7 %) dan tidak cemas (34. Bagi keluarga pasien yang dirawat di ruang perawatan kritis (IGD. IRI. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan 1.. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. 0274. usia terbanyak 41-50 tahun (41.05). Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti kemungkinan ada sebab lain dari kecemasan keluarga yang tetap tidak dapat terselesaikan hanya dengan komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh perawat. Sardjito Yogyakarta terbanyak cemas ringan (65. Perawat melakukan komunikasi terapeutik dengan keluarga pasien yang dirawat di ruang perawatan kritis menggunakan panduan terstruktur yang telah disusun oleh peneliti . Saran 1. 3 Banyuraden Gamping. (RR Sri Arini. Tatabumi No. Keluarga pasien di ruang perawatan kritis selalu mengingatkan perawat agar dalam melakukan komunikasi terapeutik dengan keluarga pasien menggunakan panduan terstruktur.1%) dan sedang (25.01 (01) : (54-63) . IRJAN dan Unit stroke) RSUP DR Sardjito Yogyakarta. SKM. IRI. IRJAN dan Unit stroke) RSUP DR Sardjito Yogyakarta. M.00 (p<0. yaitu p = 0. dkk) Pemberian komunikasi terapeutik ini dapat dilakukan dengan baik apabila didukung oleh pelaksanaan komunikasi yang efektif dan dengan panduan yang terstruktur. 62 CARING. IRI. 2..Kes Jurusan Keperawatan. Sleman Yogyakarta Telp.. 3. 4. tingkat pendidikan terbanyak lulus SMP (37. Sri Arini Rinawati. Karakteristik keluarga pasien yang dirawat di unit perawatan kritis RSUP DR Sardjito Yogyakarta terbanyak jenis kelamin perempuan (68. pekerjaan terbanyak tidak bekerja (40 %) dan hubungan dengan pasien terbanyak adalah isteri pasien (35. Tingkat kecemasan keluarga sebelum (pre test) diberikan komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur oleh perawat di unit perawatan kritis RSUP DR Sardjito Yogyakarta terbanyak adalah kecemasan ringan (67.7 %). 2. Ada pengaruh panduan terstruktur pada komunikasi terapeutik perawat terhadap kecemasan keluarga pasien di unit perawatan kritis (IGD. Tingkat kecemasan keluarga setelah (post test) diberikan komunikasi terapeutik dengan panduan terstruktur oleh perawat di unit perawatan kritis RSUP DR Korespondensi RR. Bagi perawat di ruang perawatan kritis (IGD.. Jl.7%). IRJAN dan Unit stroke) RSUP DR Sardjito Yogyakarta.6%).4%)....Pengaruh Panduan Terstruktur Komunikasi Terapeutik Perawat..617885.3 %). Masalah biaya perawatan yang memang tidak dikaji oleh peneliti dan juga disebabkan oleh kematangan mental dari masing-masing responden yang berbedabeda sehingga koping mekanisme yang digunakanpun berbeda-beda dan hal ini juga sangat mempengaruhi kecemasan keluarga pasien. 2012 .

Principles and th Practice of Nursing Psychiatric.. et al. Bulan Bintang. (2004).ed. Jakarta : EGC. M. Bandung. Hubungan Terapeutik Perawat Dan Klien. Raja Gravindo Persada. Jakarta Ellis.. at all. St. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Atkinson. Komunikasi Interpersonal dalam Keperawatan Teori dan Praktik. Jakarta..(1999). D. (2001). (2000). (1996).I. (2000). Pengantar Umum Psikologi. Editor : Muchlis. Batam. (RR Sri Arini. Editor : Setiawan.: 51-57). Jakarta : EGC. Mosby Year Book. PT Remaja Rosdakarya. Depkes RI (2000)..Penerbit PT Grasindo. PT. Philadelphia : Lippincott. 2012 . Keperawatan kritis pendekatan holistik. No 1. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM. S. Depkes RI. (2000). http:www. Purwanto. Bandung.M.B. (2004). EGC.. Keliat.. Bart Smet.A.Scott. R. Stuart and Sunden . R.L. (2007). Journal of Critical Care Nurse. B. CV. Alih bahasa : Wijaja Kusuma. Hudak dan Gallo. Alih bahasa : Susi Purwoko. Jakarta. Feb 1996. 4th. EGC Jakarta. Bandung. Rahmat. Mahoney.co. EGC. (2000). Jakarta. (2000). edisi 3 (alih bahasa). (vol 16. (2000). Editor : Ni Luh Gede Yasmin Asih. Jakarta. Psikologi KesehatanI. Buku saku keperawatan jiwa. Metodologi Riset Keperawatan.uk Mulyana. Smith. Stuart and Sunden. Pratiknya. Winning Hypnotherapy P r o g r a m . Craven R dan Himle C. Louis Philadelphia. Stanford conecticut. Nursalam & Siti Pariani. Sarlito. Skala Psikologi. (1999). S.healthyaudio. PT Rermaja Rosdakarya. CARING. Ilmu Komunikasi . (1998). CV Sagung Seto. Psikologi Komunikasi. (2000). Pedoman perawatan psikiatri. W. Furukawa.S. Nurjannah. Suatu Pengantar. Pengantar Psikologi. Hubungan Terapeutik Perawat Klien. Interaksara. Komunikasi untuk Perawat. Alfabeta. (2000). 3 edition. (2000). Yogyakarta.. Penerbit Pustaka Pelajar Yogayakarta. PT. Statistika Untuk Penelitan. Jakarta.01 (01) : (54-63) 63 . H.. Fundamental rd of nursing. Jakarta. (2000).Pengaruh Panduan Terstruktur Komunikasi Terapeutik Perawat. dkk) DAFTAR PUSTAKA Aswar. Volume I Edisi VI. (2002). 5 edition. Meeting the Needs of the Dying Patient's Family. Sugiono. J.F. Clinical Nursing Skill : Basic to Advanced Skill...