You are on page 1of 35

RESUME HASIL PEMERIKSAAN

ATAS
KEGIATAN PENJUALAN, PENGELOLAAN BIAYA, KEGIATAN INVESTASI
DAN
TINDAK LANJUT HASIL PEMERIKSAAN BPK RI SEBELUMNYA
PADA
PT BALAI PUSTAKA (PERSERO)
DI
JAKARTA

Semester: II Tahun Anggaran 2006

A. Gambaran Umum
1. Pendirian Perusahaan
PT Balai Pustaka berdiri pada tanggal 22 September 1917. Perusahaan ini
sebelumnya bernama Commisie voor Indlansche School en Volklectuur yang
dibentuk oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 14 September 1908.
Dalam perjalanannya PT Balai Pustaka banyak mengalami perubahan status dan
fungsi. Pada tanggal 27 Juni 1963 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 42
tahun 1963, Dinas Penerbitan Balai Pustaka berubah status menjadi Perusahaan
Negara (PN). Kemudian pada tanggal 28 Desember 1985 keluarlah Peraturan
Pemerintah Nomor 48 Tahun 1985 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan
Negara (PN) Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka menjadi Perusahaan
Umum (PERUM) Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka.
Selanjutnya pada tanggal 4 November 1996 Pemerintah mengeluarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 66 tahun 1996 tentang Pengalihan Bentuk
Perusahaan Umum (PERUM) Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka menjadi
Perusahaan Perseroan (PERSERO) Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka,
yang kemudian dikukuhkan melalui Akta Notaris Pendirian Perusahaan
Perseroan Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka Nomor 87 tertanggal 30
Desember 1996 oleh Notaris Chufran Hamal, SH di Jakarta, dan disahkan oleh
Menteri Kehakiman melalui Keputusan Nomor C2-1820HT.01.01 Tahun 1997
tanggal 17 Maret 1997.
2. Maksud dan Tujuan Perusahaan
Turut melaksanakan dan menunjang kebijakan dan program Pemerintah di
bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, khususnya di
bidang perbukuan dan multimedia pendidikan dengan menerapkan prinsip-
prinsip pengelolaan perusahaan perseroan.
3. Struktur Permodalan
Modal dasar perusahaan sebesar Rp30.000 juta. Dari jumlah tersebut
modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh sebesar Rp10.000 juta dengan
kepemilikan pemerintah Republik Indonesia sebesar 100%.
4. Kondisi dan perkembangan usaha
a. Audit terakhir atas laporan keuangan tahun buku 2005 oleh Kantor Akuntan
Publik A. Krisnawan dan Rekan dengan pendapat (opini) Wajar Tanpa

1
Pengecualian yang berarti angka-angka yang disajikan dalam laporan
keuangan adalah wajar dan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi umum.
b. Aktiva yang dikelola PT Balai Pustaka per 31 Desember 2004 sebesar
Rp137.511 juta, per 31 Desember 2005 sebesar Rp85.343 juta, dan per 30
Juni 2006 sebesar Rp82.248,97 juta.
c. Realisasi laba (rugi) sebelum pajak tahun 2004, 2005 dan 2006 (s.d.
Semester I) masing-masing sebesar Rp9.976 juta, (Rp26.974 juta), dan
sebesar (Rp14.573 juta).
d. Realisasi penjualan bersih tahun 2005 sebesar Rp17.609 juta atau hanya
9,03% dari RKAP tahun 2005 sebesar Rp195.000 juta. Realisasi penjualan
bersih tahun 2006 (s.d. Semester I) sebesar Rp1.193 juta atau hanya 0,95%
dari RKAP tahun 2006 sebesar Rp125.250 juta.
e. Sesuai SK Menteri BUMN No. Kep-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni 2002,
hasil penilaian terhadap kinerja Perusahaan tahun 2005 yang meliputi aspek
keuangan, aspek operasional dan aspek administrasi diperoleh jumlah skor
24,80 dengan tingkat kesehatan “Tidak Sehat” kategori CCC. Tingkat
kinerja tersebut mengalami penurunan drastis jika dibandingkan dengan
penilaian kinerja tahun 2004 yaitu tingkat kesehatan “Sehat” kategori “A”.

B. Temuan Pemeriksaan
BPK RI telah memeriksa telah memeriksa kegiatan penjualan, pengelolaan
biaya, kegiatan Investasi dan tindak lanjut hasil pemeriksaan tahun buku 2005 dan
2006 (s.d. semester I) dengan hasil sebagai berikut:
1. Pengelolaan Penjualan
Pemeriksaan terhadap pengelolaan penjualan dilakukan terhadap realisasi
penjualan, piutang dagang, uang muka kerja dan pendapatan sewa.
Realisasi penjualan bersih, piutang dagang, uang muka kerja dan
pendapatan sewa tahun 2005 dan 2006 (s.d. Juni) masing-masing sebesar
Rp87.782,59 juta dan sebesar Rp56.004,25 juta atau hanya 41,11% dan 30,04%
dari anggarannya masing-masing sebesar Rp213.540,90 juta dan sebesar
Rp186.432,90 juta.
Pemeriksaan terhadap pengelolaan penjualan dilakukan secara uji petik,
untuk tahun 2005 sebesar Rp26.205,26 juta atau 29,85% dari realisasi sebesar
Rp87.782,59 juta, dan pada tahun 2006 (s.d. Juni) sebesar Rp95.923,21 juta atau
171,28% dari realisasi sebesar Rp56.004,25 juta.
Hasil pemeriksaan terhadap pengelolaan penjualan menghasilkan 7 (tujuh)
temuan mengenai ketidaktaatan terhadap peraturan yang berlaku sebagai
berikut:
a. PT Balai Pustaka tidak dapat bersaing dalam bisnis penerbitan sehingga
penjualan buku tahun 2005 dan 2006 turun secara drastis. Hal tersebut
disebabkan Direksi PT Balai Pustaka tidak proaktif mengikuti perubahan
kurikulum sehingga tidak bisa lulus penilaian Badan Standar Nasional
Pendidikan (BSNP) yang pada gilirannya tidak ada yang mau membeli
produk PT Balai Pustaka.

2
b. Piutang penjualan PT Balai Pustaka per 30 Juni 2006 sebesar Rp39.103,19
juta berpotensi tidak tertagih. Hal tersebut disebabkan penjualan khusus
(proyek) buku-buku pelajaran milik PT Balai Pustaka yang dilakukan oleh
PT Putra Ihsan Pramudita (PT PIP) berindikasi adanya tindak pidana
korupsi. Direksi PT Balai Pustaka memberlakukan perlakuan khusus dalam
penjualan buku umum kepada PT Tony Ananda Maduma (PT TAM) dan
PT PIP.
c. Pemberian uang muka kerja kepada PT Putra Ihsan Pramudita (PT PIP)
sebesar Rp48.533,88 juta tidak sesuai dengan perjanjian pemasaran dan
tanpa persetujuan Dewan Komisaris. Uang muka tersebut berasal dari
pinjaman Bank Mandiri dengan beban bunga dan denda per 30 Juni 2006
sebesar Rp16.526,82 juta. Selain itu PT Balai Pustaka tidak memaksimalkan
pendapatan fee yang diperoleh dari kontrak pengadaan buku. Hal tersebut
disebabkan :
1). Mantan Plt Direktur Utama PT Balai Pustaka memberikan keistimewaan
kepada PT PIP dalam bentuk pemberian uang muka kerja.
2). Direksi PT Balai Pustaka periode sebelumnya lalai karena tidak
mempunyai dasar penilaian dalam menetapkan besaran fee dari kontrak
pengadaan buku yang diperoleh dalam kerjasama pemasaran dengan PT
PIP
Dari kontrak penjualan dengan Proyek Dinas Pendidikan di Jateng dan DIY
sebesar Rp262.198,73 juta baru dibayar Rp224.209,32 juta. Seharusnya
yang menjadi hak PT PIP adalah 90% x (90% x Rp224.209,32 juta) atau
Rp181.609,54 juta, namun pembayaran dari PT BP kepada PT PIP telah
mencapai Rp227.129,89 juta sehingga terdapat kelebihan bayar sebesar
Rp45.520,34 juta.
d. Terdapat Penjualan fiktif buku pelajaran ke Pemda Bojonegoro sehingga
merugikan PT Balai Pustaka sebesar Rp59.423.565,35. Hal tersebut
disebabkan Direktur Pemasaran PT Balai Pustaka periode terdahulu
mempercayai mitra kerja dengan melaksanakan penjualan buku sebelum
kontrak ditandatangani, dan Direksi PT Balai Pustaka tidak tegas meminta
pertanggungjawaban uang muka kerja dan buku-buku yang tidak diretur
kepada mitra kerja.
e. PT Balai Pustaka tidak mengenakan biaya sewa atas buku kamus senilai
Rp3.080,62 juta milik pihak ketiga yang disimpan di gudang PT Balai
Pustaka. Hal tersebut disebabkan Direksi PT Balai Pustaka tidak cermat
dalam membuat perjanjian dengan PT PIP yang tidak memasukkan klausul
hak dan kewajiban masing-masing pihak dalam pengelolaan barang/
persediaan buku titipan dan tidak tegas dalam menyelesaikan masalah
tersebut dengan PT PIP.
f. Persekot/uang muka kerja sebesar Rp3.096,44 juta belum
dipertanggungjawabkan oleh penerima uang muka kerja. Hal tersebut
disebabkan Direksi PT Balai Pustaka lalai meminta pertanggungjawaban
penggunaan uang muka kerja dan lalai menetapkan ketentuan mengenai
pemberian uang muka kerja dan pertanggungjawabannya.
g. PT Balai Pustaka tidak bisa memanfaatkan pendapatan sewa ruangan
kantor senilai Rp277,23 juta. Hal tersebut disebabkan Direksi PT Balai
Pustaka tidak tegas dalam menyelesaikan keterlambatan pembayaran sewa
serta lalai memperpanjang kontrak yang sudah habis masa berlakunya.

3
2. Pengelolaan Biaya
Realisasi beban usaha dan harga pokok penjualan tahun 2005 dan 2006
(s.d. Juni) masing-masing sebesar Rp33.595 juta dan sebesar Rp7.443 juta atau
sebesar 18,91% dan 6,11% dari anggaran masing-masing sebesar Rp177.625
juta dan sebesar Rp121.738 juta.
Pemeriksaan terhadap pengelolaan biaya dilakukan secara uji petik atas
beban usaha dan beban pokok penjualan tahun 2005 sebesar Rp33.216 juta atau
98,87% dari realisasi dan tahun 2006 (s.d. Juni) sebesar Rp7.443 juta atau 100%
dari realisasi.
Pemeriksaan terhadap pengelolaan biaya diketahui bahwa sistem
pengendalian intern sudah ditetapkan cukup baik dan dalam pelaksanaannya
tidak dijumpai ketidaktaatan pada ketentuan yang berlaku.
3. Kegiatan Investasi
Realisasi investasi tahun 2005 sebesar Rp1.426 juta atau hanya 11,17%
dari anggaran sebesar Rp12.770 juta. Sedangkan realisasi investasi tahun 2006
(s.d. semester I) adalah nihil atau 0% dari RKAP tahun 2006 sebesar 200 juta.
Pemeriksaan terhadap kegiatan investasi dilakukan secara uji petik, untuk
tahun 2005 sebesar Rp1.426 juta atau 100% dari realisasi investasi.
Dari hasil pemeriksaan diketahui pengadaan mobil dinas direksi tahun
2004 senilai Rp1.246,00 juta tidak sesuai dengan skala prioritas investasi.
Prioritas utama investasi adalah pengadaan 1 unit mesin sheet 4 warna dan
overhaul beberapa unit mesin. Hal tersebut disebabkan Direksi PT Balai Pustaka
lalai melaksanakan arahan pemegang saham dan saran komisaris dalam
pelaksanaan program investasi yang dilakukan.
4. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan BPK RI sebelumnya.
Pemeriksaan oleh BPK RI pada PT Balai Pustaka yang terakhir
dilaksanakan pada bulan September s.d. Oktober 2004. Berdasarkan hasil
pemeriksaan tindak lanjut atas 6 (enam) temuan dengan status masih dipantau
dan 1 (satu) temuan dengan status belum selesai sesuai surat Auditor Utama
Keuangan Negara V No. 389/S/VII-XV.I/9/2006 tanggal 5 September 2006
diketahui bahwa 1 (satu) temuan telah selesai ditindaklanjuti dan 6 (enam)
temuan masih harus dipantau tindak lanjutnya.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
Penanggung Jawab Audit,

Drs. Bambang Widjajanto
NIP. 240000649

4
HASIL PEMERIKSAAN
ATAS
KEGIATAN PENJUALAN, PENGELOLAAN BIAYA, KEGIATAN INVESTASI
DAN TINDAK LANJUT HASIL PEMERIKSAAN BPK RI SEBELUMNYA
PADA
PT BALAI PUSTAKA (PERSERO)
DI
JAKARTA

Semester: II Tahun Anggaran 2006

A. Gambaran Umum
1. Tujuan Pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan adalah menilai apakah :
a. Kegiatan penjualan, pengelolaan biaya, dan kegiatan investasi telah
dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan mempertimbangkan
prinsip ketaatan, ketertiban terhadap ketentuan yang berlaku.
b. Sistem pengendalian intern yang berlaku dalam perusahaan telah dirancang
dan dilaksanakan secara memadai untuk pengamanan asset perusahaan.
c. Hasil pemeriksaan BPK sebelumnya telah ditindaklanjuti dengan semestinya
sesuai saran yang telah disepakati.
2. Sasaran Pemeriksaan
a. Kegiatan Penjualan,
b. Pengelolaan Biaya,
c. Kegiatan Investasi dan
d. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan.
3. Metodologi Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan secara uji petik terhadap kegiatan yang menjadi sasaran
pemeriksaan yaitu terhadap kegiatan penjualan, pengelolaan biaya dan kegiatan
investasi.
4. Jangka waktu pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan di Jakarta sejak tanggal 15 Agustus s.d 12 Oktober 2006
5. Obyek pemeriksaan
a. Pendirian Perusahaan
PT Balai Pustaka berdiri pada tanggal 22 September 1917. Perusahaan
ini sebelumnya bernama Commisie voor Indlansche School en Volklectuur
yang dibentuk oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 14 September
1908. Dalam perjalanannya PT Balai Pustaka banyak mengalami perubahan
status dan fungsi. Pada tanggal 27 Juni 1963 berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 42 tahun 1963, Dinas Penerbitan Balai Pustaka berubah
status menjadi Perusahaan Negara (PN). Kemudian pada tanggal 28
Desember 1985 keluarlah Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1985
tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Negara (PN) Penerbitan dan
Percetakan Balai Pustaka menjadi Perusahaan Umum (PERUM) Penerbitan
dan Percetakan Balai Pustaka. Selanjutnya pada tanggal 4 November 1996

5
Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 tahun 1996
tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (PERUM) Penerbitan dan
Percetakan Balai Pustaka menjadi Perusahaan Perseroan (PERSERO)
Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka, yang kemudian dikukuhkan
melalui Akta Notaris Pendirian Perusahaan Perseroan Penerbitan dan
Percetakan Balai Pustaka Nomor 87 tertanggal 30 Desember 1996 oleh
Notaris Chufran Hamal, SH di Jakarta, dan disahkan oleh Menteri
Kehakiman melalui Keputusan Nomor C2-1820HT.01.01 Tahun 1997
tanggal 17 Maret 1997.
b. Maksud dan Tujuan Perusahaan
Turut melaksanakan dan menunjang kebijakan dan program
Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya,
khususnya di bidang perbukuan dan multimedia pendidikan dengan
menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan perseroan.
Tujuan Perusahaan adalah:
1) Mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan dan teknologi
melalui buku dan hasil penerbitan serta percetakan lainnya bagi
kepentingan umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan
prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan.
2) Membangun ekonomi dan ketahanan nasional melalui pengembangan
industri perbukuan dan multimedia, dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa dan pengembangan budaya bangsa.
c. Struktur Permodalan
Modal dasar perusahaan sebesar Rp30.000 juta. Dari jumlah tersebut
modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh sebesar Rp10.000 juta
dengan kepemilikan pemerintah Republik Indonesia sebesar 100%.
d. Organisasi Perusahaan
1) Struktur Organisasi
Struktur Organisasi dan Tata Kerja PT Balai Pustaka adalah sebagai
berikut:
a) Direktur Utama membawahi langsung Direktorat Produksi,
Direktorat Pemasaran, Direktorat Keuangan, Satuan Pengawasan
Intern (SPI) dan Sekretaris Perusahaan.
b) Direktur Produksi membawahi langsung Divisi Penerbitan, Divisi
Multimedia, Divisi Percetakan Sekuritas dan Divisi Percetakan
Umum.
c) Direktur Pemasaran membawahi langsung Divisi Penjualan Khusus,
Divisi Penjualan Umum dan Divisi Distribusi.
d) Direktur Keuangan membawahi langsung Divisi Keuangan dan
Divisi Akuntansi.
e) Sekretaris Perusahaan membawahi langsung Bagian Umum, Bagian
SDM, Bagian Perencanaan dan Pengembangan, dan Bagian
Perlengkapan.

6
2) Susunan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi
Komisaris Utama diangkat berdasarkan Keputusan Menteri
BUMN No. KEP-26/MBU/2006 tanggal 28 Februari 2006, sedangkan
para Komisaris diangkat berdasarkan Keputusan Menteri BUMN
No. KEP-231/MBU/2003 tanggal 6 Juni 2003 dengan susunan sebagai
berikut:
Komisaris Utama Drs. Muhammad Tauhid
Komisaris Drs. Marwanto, MA
Komisaris Tuty Asni Munir, SE, MM
Komisaris Dr. H. Umaedi, M.Ed
Susunan Direksi PT Balai Pustaka adalah sebagai berikut:
Plt. Direktur Utama Drs. Teddy Kusnadi, Ak
Direktur Produksi Ir. Mumung Marthasasmita, MM
Direktur Pemasaran Dipl. Ahmad Hertanto, MBA
Direktur Keuangan dan Drs. Teddy Kusnadi, Ak
Adm
Plt. Direktur Utama diangkat berdasarkan Keputusan Menteri BUMN
No. KEP-61/MBU/2004 tanggal 21 Juni 2004. Direktur Produksi,
Direktur Pemasaran dan Direktur Keuangan dan Administrasi diangkat
berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No KEP-231/MBU/2003
tanggal 12 Juni 2003.
Dengan keluarnya Kepmen BUMN No. KEP-97/MBU/2006 tanggal 25
Agustus 2006 tentang pemberhentian dan pengangkatan anggota-
anggota komisaris perusahaan perseroan (persero) PT Penerbitan dan
Percetakan Balai Pustaka, susunan Dewan Komisaris PT Balai Pustaka
berubah menjadi:
Komisaris Utama Drs. Muhammad Tauhid
Komisaris Prof. Dr. Dodi Nandika, MS
Komisaris H. Yahya Umar, Ph.D
Komisaris Ahmad Doli Kurnia, S.Si, MT
Komisaris Independen Dr. Zaim Uchrowi
Sedangkan susunan Direksi PT Balai Pustaka, dengan keluarnya
Kepmen BUMN No. KEP-98/MBU/2006 tanggal 25 Agustus 2006
tentang pemberhentian anggota-anggota direksi dan pengangkatan
caretaker anggota-anggota direksi perusahaan perseroan (persero)
PT Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka, berubah menjadi:
Caretaker Direktur Utama Arydhian B. Djamin
Caretaker Direktur Vera Diyanti
Caretaker Direktur Iwan Lukita

7
e. Kondisi dan Perkembangan Perusahaan Tahun 2004, 2005 dan 2006
(s.d Semester I).
1) Pendapat akuntan atas laporan keuangan, total asset dan laba (rugi)
sebelum pajak untuk tahun 2004 dan 2005 adalah sebagai berikut :
(dalam juta rupiah)
Tahun Pendapat Total Asset Laba (rugi)
Buku Nama Auditor Akuntan (Rp juta) sebelum pajak
(Rp juta)
2004 A. Krisnawan & Rekan WTP 137.511 6.478
2005 A. Krisnawan & Rekan WTP 85.343 (26.719)
Pendapat akuntan atas laporan keuangan PT Balai Pustaka untuk tahun
2004 dan 2005 masing-masing adalah Wajar Tanpa Pengecualian.
2) Perkembangan aktiva dan pasiva PT Balai Pustaka tahun 2004, 2005 dan
2006 (s.d Triwulan II) adalah sebagai berikut:
(dalam juta rupiah)
Tahun Tahun Tahun %
Uraian Asset Perkembangan
2004 2005 2006*)
naik (turun)
1 2 3 4 5 = (3-2) : 2
AKTIVA
Aktiva lancar 128.108 75.566 72.982 (41,01)
Aktiva tetap 8.671 8.785 8.142 1,31
Aktiva lain-lain 732 992 1.124 35,52
TOTAL AKTIVA 137.511 85.343 82.248 (37,94)
PASIVA
Kewajiban Lancar 99.258 76.078 87.444 (23,35)
Kewajiban Lainnya 4.651 5.104 5.084 9,74
Jumlah Kewajiban 103.909 81.182 92.528 (21,87)
Ekuitas
Modal Disetor 10.000 10.000 10.000 0,00
Cadangan umum 17.124 20.880 20.880 21,93
Laba (rugi) tahun lalu - - (26.719) -
Laba (rugi) tahun 6.478 (26.719) (14.441) (512,46)
berjalan
Jumlah Ekuitas 33.602 3.281 (10.280) (90,24)
TOTAL PASIVA 137.511 85.343 58,06 (37,94)

Jumlah aktiva dan pasiva PT Balai Pustaka per 31 Desember 2005 turun
sebesar Rp52.168 juta atau 37,94% dibandingkan jumlah aktiva dan
pasiva per 31 Desember 2004 sebesar Rp137.511 juta. Penurunan
jumlah aktiva dan pasiva tersebut terutama dipengaruhi oleh:
a) Penurunan jumlah aktiva lancar sebesar Rp52.542 juta atau 41,01%
dibandingkan aktiva lancar per 31 Desember 2004. Penurunan
jumlah aktiva lancar ini terutama disebabkan oleh penurunan
piutang dagang.
b) Penurunan jumlah kewajiban lancar sebesar Rp23.180 juta atau
23,35% dibandingkan jumlah kewajiban lancar per 31 Desember
2004 sebesar Rp99.258 juta.
Jumlah ekuitas per 31 Desember 2005 sebesar Rp3.281 juta atau 3,84%
dari jumlah pasiva PT Balai Pustaka, turun sebesar Rp30.321 juta atau
90,24% dari jumlah ekuitas per 31 Desember 2004 sebesar Rp33.602

8
juta. Penurunan jumlah ekuitas terutama disebabkan oleh rugi bersih
tahun 2005 sebesar Rp26.719 juta.
3) Perkembangan usaha PT Balai Pustaka untuk tahun 2004, 2005 dan 2006
(s.d Semester I) adalah sebagai berikut:
(dalam juta rupiah)
Uraian Laba (rugi) Tahun 2004 Tahun 2005 Tahun 2006
Angg. Real. % Angg. Real. % Angg. Real. %
Hasil Penjualan 142.000 285.504 201,06 195.000 17.609 9,03 125.250 1.193 0,95

Harga Pokok Penjualan (112.521) (252.677) 224,56 (156.000) (21.386) 13,71 (105.456) (3.567) 3,38

Laba Kotor 29.479 32.827 111,36 39.000 (3.777) (9,68) 19.794 (2.374) (11,99)
- B. Umum dan administrasi (5.919) (7.193) 121,52 (12.698) (5.832) 45,93 (9.331) (1.627) 17,43
- B. Pemasaran (8.632) (8.770) 101,60 (8.677) (5.531) 63,74 (5.917) (1.730) 29,23
- B. Penyisihan Piutang
(248) (453) 182,66 (250) (846) 338,40 (1.034) (520) 50,29
Dagang
Beban Usaha (14.799) (16.416) 110,93 (21.625) (12.209) 56,46 (16.282) (3.877) 23,81
Laba (Rugi) Usaha 14.680 16.411 111,79 (17.375) (15.985) (92,00) 3.512 (6.251) (177,99)
- Pendapatan lain2 976 1.033 105,84 1.560 1.374 88,06 1.707 442 25,89
- Beban lain2 (5.600) (7.468) 133,36 (7.275) (12.363) 169,94 (5.160) (8.765) 169,86
Pendapatan&beban lain2 (4.624) (6.435) 137,22 (5.715) (10.989) 192,28 (8.323)
Laba ( rugi) sblm Pajak 10.056 9.976 99,20 11.650 (26.974) (231,34) 59 (14.574) (24.701,70)
PPh tahun berjalan (3.008) (3.647) 121,24 (3.480) (30) 0,86 (624) 0 0
Penghasilan (Beban) Pjk
- 148 - - 286 - - 146
Tangguhan
Laba (rugi) bersih 7.048 6.478 91,91 8.180 (26.719) (326,64) 683 (14.441) (21.143,50)

Berdasarkan tabel tersebut diketahui hal-hal sebagai berikut:
a) Penurunan penjualan tahun 2005 yang sangat signifikan, yaitu
sebesar Rp267.895 juta atau 93,83% dibandingkan realisasi
penjualan tahun 2004 sebesar Rp285.504 juta, terutama
disebabkan penurunan “Penjualan Khusus”.
b) Penurunan HPP tahun 2005 seiring dengan penurunan realisasi
penjualannya.
c) Penurunan biaya usaha tahun 2005 terutama disebabkan oleh
penurunan biaya pemasaran.
d) Realisasi rugi bersih tahun 2005 sebesar Rp26.719 juta atau
mencapai minus 326,64% dari anggarannya yang semula laba
sebesar Rp8.180 juta, terutama disebabkan oleh penurunan hasil
penjualan lebih besar dari penurunan beban usaha dan adanya
peningkatan beban lain-lain sebesar 69,94% di atas anggaran.
4) Perkembangan Kinerja Perusahaan
Sesuai SK Menteri BUMN No. Kep-100/MBU/2002 tanggal 4 Juni
2002, hasil penilaian terhadap kinerja Perusahaan tahun 2005 yang
meliputi aspek keuangan, aspek operasional dan aspek administrasi
diperoleh jumlah skor 24,80 dengan tingkat kesehatan “Tidak Sehat”
kategori CCC. Tingkat kinerja tersebut mengalami penurunan drastis
jika dibandingkan dengan penilaian kinerja tahun 2004 yaitu tingkat
kesehatan “Sehat” kategori “A”.

9
B. Temuan Pemeriksaan
BPK RI telah melakukan pemeriksaan terhadap kegiatan penjualan,
pengelolaan biaya, dan kegiatan investasi tahun buku 2005 dan 2006 (sampai
dengan Semester I) dengan hasil sebagai berikut:
1. Kegiatan Penjualan
Pemeriksaan terhadap kegiatan penjualan dilakukan terhadap realisasi
penjualan, piutang dagang, uang muka kerja dan pendapatan sewa.
Realisasi penjualan bersih, piutang dagang, uang muka kerja dan
pendapatan sewa tahun 2005 dan 2006 (s.d. Juni) masing-masing sebesar
Rp87.782,59 juta dan sebesar Rp56.004,25 juta atau hanya 41,11% dan 30,04%
dari anggarannya masing-masing sebesar Rp213.540,90 juta dan sebesar
Rp186.432,90 juta.
Pemeriksaan terhadap kegiatan penjualan dilakukan secara uji petik, untuk
tahun 2005 sebesar Rp26.205,26 juta atau 29,85% dari realisasi sebesar
Rp87.782,59 juta, dan pada tahun 2006 (s.d. Juni) sebesar Rp95.923,21 atau
171,28% dari realisasi sebesar Rp56.004,25 juta.
Hasil pemeriksaan terhadap pengelolaan penjualan menghasilkan 7 (tujuh)
temuan mengenai ketidaktaatan terhadap peraturan yang berlaku sebagai
berikut :
a. PT Balai Pustaka tidak dapat bersaing dalam bisnis penerbitan
sehingga penjualan buku tahun 2005 dan 2006 turun secara drastis
Sistem penjualan PT Balai Pustaka dilakukan melalui 2 (dua) cara
yaitu penjualan umum dan penjualan khusus. Penjualan umum adalah
penjualan buku ke konsumen umum baik melalui toko buku Balai Pustaka
maupun melalui rekanan atau agen. Sedangkan penjualan khusus adalah
penjualan ke instansi pemerintah melalui proyek pemerintah yang diterima
PT Balai Pustaka.
Dalam penerapan kurikulum tahun 1994, buku-buku terbitan PT Balai
Pustaka merupakan buku teks wajib di sekolah, sedangkan buku-buku
terbitan swasta sebagai buku pelengkap. Pada tanggal 10 Juni 2005, terbit
Permendiknas No.5 tahun 2005 tentang Pencabutan Kepmendikbud Nomor
0689/M/1990. Permendiknas tersebut mencabut kewenangan PT Balai
Pustaka dalam mencetak buku teks wajib yang diterbitkan oleh Depdiknas
dan perubahan kebijakan perbukuan nasional yang mensyaratkan bahwa
buku-buku yang menjadi referensi pelajaran untuk siswa adalah buku-buku
yang telah dinyatakan lulus penilaian oleh Tim Badan Standar Nasional
Pendidikan (BSNP). Penerbit swasta maupun PT Balai Pustaka sebelum
menerbitkan buku yang menjadi acuan, terlebih dahulu harus lulus
seleksi/standar dari BSNP. Hal tersebut mempengaruhi penjualan PT Balai
Pustaka, karena sebelumnya lebih 90% penjualan PT Balai Pustaka berasal
dari penjualan khusus ini.
Penjualan PT Balai Pustaka Tahun 2004, 2005 dan 2006 (s.d. semester
I) seperti tabel berikut:
2004 2005 2006*)
1. Penjualan Umum 22.761.019.720 15.949.820.700 1.890.132.450
2. Penjualan Khusus 272.776.553.697 10.255.443.863 95.454.546
Total 295.537.573.417 26.205.264.563 1.985.586.996
*)s.d semester I th 2006

10
Dari data di atas diketahui bahwa penjualan yang secara drastis
menurun adalah penjualan khusus tahun 2005 sebesar Rp10.255.433.863,00
atau turun sebesar Rp262.251.109.834,00 (96%) dibandingkan tahun 2004
sebesar Rp272.776.553.697,00. Penjualan khusus tahun 2006 (s.d semester
I) sebesar Rp95.454.546,00 atau mencapai 0,10% dari anggaran tahun 2006
sebesar Rp95.000.000.000,00.
Hasil pemeriksaan lebih lanjut diketahui hal-hal berikut :
1) Minimnya buku-buku terbitan PT Balai Pustaka yang lulus penilaian
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)
Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan
Menengah Departemen Pendidikan Nasional No. 505/C/Kep/LK/2004
tentang Penetapan Buku yang Terpilih sebagai Buku Pelajaran Pokok
Matematika, Bahasa Indonesia, Sains dan Pengetahuan Sosial untuk
Sekolah Dasar/Ibtidaiyah diketahui dari 4 (empat) seri buku pelajaran
milik PT Balai Pustaka yang dinilai pada tahun 2004, hanya 1 (satu) seri
buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas I s.d. VI yang dinyatakan
lulus penilaian.
Sedangkan untuk penilaian yang dilakukan pada tahun 2005. naskah
buku pelajaran yang dinilai meliputi:
a) Matematika SMP/MTs serta SMA/MA.
b) Bahasa dan Sastra Indonesia SMP/MTs serta SMA/MA.
c) Bahasa Inggris SMP/MTs serta SMA/MA.
Dari 6 (enam) seri buku pelajaran untuk tingkat SMP/MTs serta
SMA/MA tersebut, buku PT Balai Pustaka yang dinyatakan lulus hanya
1 (satu) seri buku pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk
SMA/MA.
Dengan minimnya buku yang lulus penilaian serta jumlah pesaing
untuk satu buku yang mencapai 24 penerbit, maka peluang pasar yang
bisa diperoleh oleh PT Balai Pustaka menjadi semakin kecil.
2) Kondisi mesin cetak/produksi yang sudah ketinggalan
Mesin cetak/produksi yang dimiliki oleh PT Balai Pustaka tergolong
mesin tua, yaitu pengadaan tahun 1970 dan 1980, dan sudah tertinggal
teknologinya yaitu hanya mampu mencetak dengan satu warna saja.
Perusahaan percetakan lain yang menjadi pesaing PT Balai Pustaka pada
umumnya telah memiliki mesin cetak empat warna sesuai tuntutan pasar
saat ini. Menurut Kadiv Penjualan Khusus, beberapa konsumen bahkan
mewajibkan perusahaan yang mengikuti tender cetak harus memiliki
mesin dengan spesifikasi tersebut. Mesin-mesin yang dimiliki oleh PT
Balai Pustaka memiliki keterbatasan antara lain tidak efisien baik dari
sisi kecepatan cetak maupun dari harga pokok produksi. Biaya
pemeliharaan mesin cetak PT Balai Pustaka tahun 2005 sebesar
Rp108.747.571,95.
Dalam RKAP tahun 2004 dan 2005 PT Balai Pustaka telah
menganggarkan untuk investasi mesin cetak empat warna sebesar
Rp5.000.000.000,00 dan overhaul mesin cetak yang dimiliki sebesar
Rp1.000.000.000,00, namun tidak pernah terealisir.
3) Adanya kebijakan PT Balai Pustaka melakukan sub-kontrak atas
proyek-proyek yang diperoleh dari Depdiknas (d/h Depdikbud).

11
Dari proyek cetak buku wajib yang diperoleh, PT Balai Pustaka tidak
pernah mencetaknya sendiri namun melakukan sub kontrak kepada
percetakan lain yang mau mencetak buku-buku tersebut. Atas proyek
tersebut PT Balai Pustaka hanya menetapkan komisi sebesar ±10% dari
nilai kontrak. Dengan kebijakan ini akhirnya mengurangi margin
keuntungan PT Balai Pustaka.
Hal tersebut diatas tidak sesuai dengan :
1) Arahan pemegang saham dalam RUPS pengesahan RKAP tahun 2005
yang menyatakan Direksi diminta terus mengupayakan peningkatan
penjualan buku umum untuk mengurangi ketergantungan perusahaan
terhadap penjualan buku khusus.
2) Anggaran Dasar PT Balai Pustakan yang menyatakan bahwa tujuan
perusahaan adalah memupuk keuntungan berdasarkan prinsip-prinsip
pengelolaan perusahaan.
Hal tersebut mengakibatkan PT Balai Pustaka tidak mampu bersaing
dalam bisnis penerbitan dan tidak mampu memperoleh pendapatan yang
signifikan sesuai anggaran.
Hal tersebut disebabkan :
1) Direksi PT Balai Pustaka tidak proaktif mengikuti perubahan kurikulum
dan lebih mengandalkan ketergantungan perusahaan terhadap penjualan
buku khusus daripada penjualan buku umum.
2) Direksi PT Balai Pustaka tidak cermat dalam mengendalikan materi yang
seharusnya tersaji dalam buku pelajaran sehingga tidak bisa lulus
penilaian yang dilakukan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan
(BSNP).
3) Direksi PT Balai Pustaka lemah dan kurang aktif mencari alternatif
pendanaan investasi mesin.
Direksi PT Balai Pustaka menjelaskan sedang mempelajari kondisi
tersebut dan sedang mempersiapkan kebijakan-kebijakan terutama di bidang
penerbitan dan pemasaran, salah satunya adalah memperkuat pasar di
segmen penjualan umum.
BPK RI menyarankan agar Direksi PT Balai Pustaka lebih aktif untuk
mengikuti perubahan kurikulum dan mengurangi ketergantungan terhadap
penjualan buku khusus. Direksi PT Balai Pustaka agar lebih cermat dalam
mengendalikan materi naskah buku pelajaran dan mengusahakan pencairan
piutang sebagai sumber pendanaan serta mencari alternatif pendanaan
investasi melalui pihak ketiga.
b. Piutang penjualan PT Balai Pustaka per 30 Juni 2006 sebesar
Rp39.103.194.271,00 berpotensi tidak tertagih.
Dari Laporan keuangan PT Balai Pustaka per 30 Juni 2006 diketahui
jumlah piutang dagang PT Balai Pustaka per 30 Juni 2006 sebesar
Rp52.505.543.692,07 Dari jumlah tersebut sebesar Rp44.022.066.230,00
atau 83,84.% adalah piutang dari penjualan khusus, sedangkan sisanya
sebesar Rp8.483.477.462,07 atau 16,16% merupakan piutang penjualan
buku umum.
Hasil pemeriksaan atas piutang penjualan khusus dan umum diketahui
hal-hal berikut :

12
1) Penjualan Khusus
Dari piutang penjualan khusus sebesar Rp50.520.756.047,00
tersebut diantaranya sebesar Rp40.342.874.508,- adalah saldo piutang
penjualan khusus tahun 2003 dan 2004 dari proyek pengadaan buku-
buku PT Balai Pustaka di Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) hasil kerja sama pemasaran dengan PT Putra Ihsan
Pramudita (PT PIP) yang sudah jatuh tempo, dengan rincian sebagai
berikut:
No. Nama Debitur/Proyek Nilai SALDO Sistem Jatuh Pembayaran SALDO
Proyek 31-12-2005 Pembayaran Tempo TH. 2006 per 30-6-2006
1 Diknas KAB. PEMALANG multi years
Kontrak No: 050272/DP/ 2004 26.587.269.100 1.315.042.894 (2004 &2005) 2005 1.271.272.000 43.770.894
2 Diknas KAB.WONOSOBO multi years
Kontrak No: 050/744/2004 21,996.088.885 3.975.634.630 (2004 &2005) 2005 0 3.975.634.630
3 Diknas KAB.BREBES multi years
SPBP No: 027/0470/2004 19,998.676.225 9.999.338.225 (2004 &2005) 2005 0 9.999.338.225
4 Diknas KAB.GROBOGAN multi years
Kontrak No:425.2/1405a/C/2004 36.340.972.490 10.577.910.000 (2004 &2005) 2005 0 10.577.910.000
5 Diknas KAB.TEGAL multi years
(2004,2005
Kontrak No: 050/2023/2004. 36.340.972.490 8.500.000.000 &2006) 2006 5.000.000.000 3.500.000.000
6 Diknas KAB. SLEMAN multi years
Kontrak No: 425.2/886/2004 36.340.972.490 5.974.948.759 (2004 &2005) 2005 0 5.974.948.759
40.342.874.508 6.271.272.000 34.071.602.508

Dari tabel diatas, terdapat 5 (lima) buah kontrak yang saldo
piutangnya besar yaitu:
a) Kabupaten Wonosobo
Kontrak penjualan buku-buku antara PT Balai Pustaka dengan
Dinas Pendidikan Kabupaten Wonosobo (proyek) didasarkan pada Surat
Perjanjian No:050/744/2004 tanggal 11 Februari 2004 tentang
pengadaan buku utama SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK di
Kabupaten Wonosobo dengan nilai kontrak sebesar
Rp21.996.088.885,00. Seluruh buku pesanan proyek tersebut telah
diserahkan sesuai Berita Acara Penyerahan Barang (BAPB) pada
tanggal 22 Desember 2004 yang ditanda tangani oleh kedua belah pihak
Menurut kontrak, pembayaran akan dilakukan secara bertahap, yaitu:
(1) Pembayaran uang muka sebesar Rp4.399.200.000,00 pembayaran
tahap I sebesar Rp2.600.800.000,00 dan pembayaran tahap II
sebesar Rp7.000.000.000,- menggunakan APBD Tahun 2004.
(2) Pembayaran Tahap III (pelunasan) sebesar Rp7.996.088.085,00
menggunakan dana APBD Tahun 2005.
Dari kontrak sebesar Rp21.996.088.085,00, pembayaran yang
sudah diterima oleh PT Balai Pustaka adalah sebagai berikut:
ƒ Tahun 2004 Rp 14.035.465.455,00
ƒ Tahun 2005 Rp 3.984.988.000,00
Total Rp 18.020.453.455,00
Sehingga saldo piutang proyek Wonosobo per 30 Juni 2006 adalah
sebesar Rp3.975.634.630,00 (Rp21.996.088.085,00 –
Rp18.020.453.455,00).

13
Direksi PT Balai Pustaka menjelaskan bahwa proyek ini sedang
dalam tahap penyidikan oleh Kejari Wonosobo karena diduga
mengandung indikasi Tipikor. Saat ini belum ada tersangka yang
ditetapkan. Permasalahan hukum ini menjadi alasan bagi Dinas
Pendidikan Kabupaten Wonosobo untuk menunda pembayaran.
b) Kabupaten Brebes
Kontrak penjualan buku-buku antara PT Balai Pustaka dengan
Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes (proyek) didasarkan pada Surat
Perjanjian No:027/0470/2004 tanggal 11 Maret 2004 tentang pengadaan
buku utama SD/MI, SMP/MTs di Kab. Brebes. Kontrak tersebut sebesar
Rp19.998.676.225,00. Penyerahan barang paling lambat tanggal 12 Juli
2004. Seluruh buku pesanan proyek tersebut telah diserahkan sesuai
Berita Acara Penyerahan Barang (BAPB) pada tanggal 6 Juli 2004 yang
ditanda tangani oleh kedua belah pihak.
Menurut kontrak, pembayaran akan dilakukan secara bertahap,
yaitu:
(1) Pembayaran uang muka sebesar Rp3.999.700.000,- dan pembayaran
tahap I sebesar Rp5.999.638.000,- menggunakan dana APBD Tahun
2004.
(2) Pembayaran Tahap II (pelunasan) sebesar Rp9.999.338.225,-
menggunakan dana APBD Tahun 2005.
(3) Pembayaran Tahap III sebesar Rp10.634.907.640,00 menggunakan
dana APBD Tahun 2005.
Dari kontrak sebesar Rp21.996.088.085,00, total pembayaran yang
sudah diterima oleh PT Balai Pustaka adalah sebesar
Rp9.999.338.000,00, semuanya diterima dalam tahun 2004. Sehingga
saldo piutang proyek Brebes per 30 Juni 2006 sebesar
Rp9.999.338.225,00 (.Rp19.998.676.225,00 – Rp9.999.338.000,00). Hal
ini tidak sesuai dengan rencana yang akan dilunasi menggunakan dana
APBD 2005.
Direksi PT Balai Pustaka menjelaskan bahwa proyek ini sedang
dalam tahap penyidikan oleh Polda Jateng karena diduga mengandung
indikasi Tipikor, dan telah sampai pada tahap penetapan tersangka, yaitu
pemimpin kegiatan proyek tersebut. Permasalahan hukum ini menjadi
alasan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes untuk menunda
pembayaran.
c) Kabupaten Grobogan
Kontrak penjualan buku-buku antara PT Balai Pustaka dengan
Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan (proyek) didasarkan pada Surat
Perjanjian No:425.2/1405a/C/2004 tanggal 23 Maret 2004 tentang
pengadaan buku utama SD/MI, SMP/MTs di Kab. Grobogan dengan
nilai kontrak sebesar Rp36.340.972.490,00. Penyerahan barang paling
lambat tanggal 21 Juli 2004. Seluruh buku pesanan proyek tersebut telah
diserahkan sesuai Berita Acara Penyerahan Barang (BAPB) pada
tanggal 19 Juli 2004 yang ditanda tangani oleh kedua belah pihak.
Menurut kontrak, pembayaran akan dilakukan secara bertahap,
yaitu:

14
(1) Pembayaran uang muka sebesar sebesar Rp7.268.194.000,-,
pembayaran tahap I sebesar Rp1.817.048.000,- pembayaran tahap II
sebesar Rp6.677.859.490,- dan pembayaran tahap III sebesar
Rp5.000.000.000,00 menggunakan dana APBD Tahun 2004.
(2) Pembayaran tahap IV (pelunasan) sebesar Rp15.577.871.000,-
menggunakan dana APBD Tahun 2005.
Dari kontrak sebesar Rp36.340.972.490,00, pembayaran yang
sudah diterima oleh PT Balai Pustaka adalah sebagai berikut:
ƒ Tahun 2004 15.763.101.490,00
ƒ Tahun 2005 9.999.961.000,00
Total 25.763.062.490,00
Sehingga saldo piutang proyek Grobogan per 30 Juni 2006 sebesar
Rp10.577.910.000,00 (Rp36.340.972.490,00– Rp25.763.062.490,00).
Hal ini tidak sesuai dengan rencana yang akan dilunasi menggunakan
dana APBD tahun 2005
Direksi PT Balai Pustaka menjelaskan bahwa proyek ini sedang
dalam tahap penyidikan oleh Polda Jateng karena diduga mengandung
indikasi Tipikor. Saat ini telah ditetapkan beberapa tersangka, salah
satunya adalah mantan Dirut PT Balai Pustaka (Alm. Siswadi).
Permasalahan hukum ini menjadi alasan bagi Dinas Pendidikan
Kabupaten Grobogan untuk menunda pembayaran.
d) Kabupaten Tegal
Kontrak penjualan buku-buku antara PT Balai Pustaka dengan
Dinas Pendidikan Kabupaten Tegal (proyek) didasarkan pada Surat
Perjanjian No:050/2023/2004 tanggal 23 Agustus 2004 tentang
pengadaan buku utama SD/MI, SMP/MTs di Kab. Tegal, dengan nilai
kontrak sebesar Rp35,992.991.600,00.
Menurut kontrak, pembayaran akan dilakukan secara bertahap,
yaitu:
(1) Pembayaran uang muka sebesar sebesar Rp7.198.598.320,- dan
pembayaran tahap I sebesar Rp294.393.280,- menggunakan dana
APBD Tahun 2004.
(2) Pembayaran tahap II sebesar Rp20.000.000.000,- menggunakan
dana APBD Tahun 2005.
(3) Pembayaran tahap III (pelunasan) sebesar Rp8.500.000.000,-
menggunakan dana APBD Tahun 2006.
Dari kontrak sebesar Rp35,992.991.600,00, pembayaran yang
sudah diterima oleh PT Balai Pustaka adalah sebagai berikut:
ƒ Tahun 2004 7.198.598.320,00
ƒ Tahun 2005 20.294.393.280,00
ƒ Tahun 2006 5.000.000.000,00
Total 32.492.991.600,00
Sehingga saldo piutang proyek Grobogan per 30 Juni 2006 sebesar
Rp3.500.000.000,00 (Rp35,992.991.600,00 – Rp32.492.991.600,00).
Direksi PT Balai Pustaka menjelaskan bahwa proyek ini sedang
dalam tahap penyidikan oleh Kejari Tegal karena karena diduga
mengandung indikasi Tipikor.

15
e) Kabupaten Sleman
Kontrak penjualan buku-buku antara PT Balai Pustaka dengan
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman (proyek) didasarkan pada Surat
Perjanjian No:425.2/0886 tanggal 10 Mei 2004 tentang pengadaan buku
utama SD, SMP dan SMA di Kab. Sleman. Kontrak tersebut sebesar
Rp29.820.429.000,00. Penyerahan barang paling lambat tanggal 22
Oktober 2004. Seluruh buku pesanan proyek tersebut telah diserahkan
sesuai Berita Acara Penyerahan Barang (BAPB) yang ditanda tangani
oleh kedua belah pihak.
Menurut kontrak, pembayaran akan dilakukan secara bertahap,
yaitu:
(1) Pembayaran Tahap I sebesar Rp6.050.833.000,00 dan Pembayaran
Tahap II sebesar Rp9.901.528.460,00 menggunakan APBD Tahun
2004.
(2) Pembayaran Tahap III sebesar Rp10.634.907.640,00 menggunakan
APBD Tahun 2005.
Dari kontrak sebesar Rp29.820.429.000,00, pembayaran yang
sudah diterima oleh PT Balai Pustaka adalah sebagai berikut:
ƒ Tahun 2004 11.845.480.241,00
ƒ Tahun 2005 12.000.000.000,00
Total 23.845.480.241,00
Sehingga saldo piutang proyek Sleman per 30 Juni 2006 sebesar
Rp5.974.948.759,00 (Rp29.820.429.000,00 – Rp23.845.480.241,00).
Hal ini tidak sesuai dengan rencana yang akan dilunasi menggunakan
dana APBD tahun 2005.
Direksi dari PT Balai Pustaka menjelaskan bahwa proyek ini
sedang dalam tahap penyidikan oleh Polda DIY karena diduga
mengandung indikasi Tipikor. Saat ini yang telah ditetapkan sebagai
tersangka adalah Pimpinan Kegiatan proyek tersebut. PT Balai Pustaka
belum dapat menagih piutang Proyek karena permasalahan hukum atas
proyek tersebut.
Walaupun hampir semua proyek sedang terjerat masalah hukum,
tapi dalam tahun 2006 masih ada cicilan proyek yang diterima PT Balai
Pustaka yaitu dari Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Tegal masing-
masing sebesar Rp1.271.272.000,00 dan Rp5.000.000.000,00.
Upaya penagihan yang dilakukan oleh Direksi PT Balai Pustaka
yaitu mengirim gugatan wanprestasi kepada Pejabat terkait dengan
proyek pengadaan buku Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes. Namun
sampai dengan saat pemeriksaan berakhir tanggal 12 Oktober 2006
belum diketahui hasilnya. Untuk Kabupaten lainnya belum ada usaha
penagihan.
2) Penjualan Umum
Dalam laporan keuangan PT Balai Pustaka tahun 2006 (s.d.
semester I) saldo piutang penjualan umum yang tercatat pada neraca
adalah sebesar Rp8.235.696.799,25. Dari jumlah tersebut sebesar
Rp5.031.591.763,00 atau 61,09% merupakan piutang penjualan umum
PT Balai Pustaka kepada PT Putra Ihsan Pramudita (PT PIP) dan PT

16
Tony Ananda Maduma/Len Wijaya (PT TAM). Piutang tersebut berasal
dari piutang penjualan buku pada tahun-tahun sebelumnya.
Piutang kepada PT PIP terjadi sejak PT PIP melakukan
pengambilan buku dari PT Balai Pustaka mulai bulan September tahun
2003 sampai dengan Maret tahun 2005 senilai total Rp2.029.178.195,00.
Sampai dengan pemeriksaan berakhir tanggal 12 Oktober 2006, PT PIP
belum pernah melakukan pembayaran, sedangkan dokumen penagihan
atas piutang tersebut juga tidak diperoleh.
Piutang kepada PT TAM per 30 Juni 2006 sebesar
Rp3.002.413.568,00 berasal dari penjualan buku umum sejak tahun
1999 sampai dengan tahun 2005. Jumlah tersebut merupakan sisa
piutang yang belum dibayar tiap tahunnya.. Sampai dengan pemeriksaan
berakhir tanggal 12 Oktober 2006 dokumen penagihan piutang kepada
PT TAM juga tidak diperoleh.
Dari kartu piutang diketahui bahwa meskipun piutang yang telah
lalu belum dilunasi oleh PT PIP dan PT TAM, namun Direksi PT Balai
Pustaka selalu menyetujui untuk penjualan berikutnya
Hasil pemeriksaan menunjukkan piutang PT TAM pada kartu
piutang dicatat sebesar nilai bruto, sedangkan bagian akuntansi mencatat
sebesar nilai netto (nilai bruto dikurangi rabat 45%). Perbedaan tersebut
terjadi karena rabat atas penjualan tersebut belum ditetapkan secara
resmi. Kadiv akuntansi menjelaskan bahwa bagian akuntansi mencatat
dengan rabat 45% atas dasar instruksi lisan dari direksi, tanpa ada
penetapan secara tertulis.
Dari uraian tersebut diatas diketahui bahwa dari saldo piutang dagang
PT Balai Pustaka per 30 Juni 2006 sebesar Rp52.505.543.692,07 terdapat
piutang yang berpotensi macet sebesar Rp39.103.194.271,00 yang terdiri
dari piutang penjualan khusus sebesar Rp34.071.602.508,00 dan piutang
penjualan umum sebesar Rp5.031.591.763,00
Hal tersebut tidak sesuai dengan :
1) Kontrak merupakan kesepakatan yang mengatur hak dan kewajiban dari
masing-masing pihak dan harus ditaati. Setiap kebijakan yang diambil,
sebaiknya dilakukan secara tertulis untuk memudahkan pelaksanaannya.
2) Pasal 22 Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-117/M-MBU/2002
Tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance pada BUMN
yang menyebutkan bahwa Direksi harus menerapkan suatu sistem
pengendalian internal yang efektif untuk mengamankan investasi dan
aset BUMN.
Hal tersebut mengakibatkan :
1) PT Balai Pustaka tidak dapat memanfaatkan dana yang tertanam dalam
piutang macet sebesar Rp39.103.194.271,00.
2) Adanya potensi kerugian negara yang berasal dari penjualan khusus /
proyek buku-buku pelajaran milik PT Balai Pustaka kepada Dinas
Pendidikan Kabupaten di Jateng dan DIY.

17
Hal tersebut disebabkan:
1) Penjualan khusus (proyek) buku-buku pelajaran milik PT Balai Pustaka
yang dilakukan oleh PT PIP berindikasi adanya tindak pidana korupsi.
2) Direksi PT Balai Pustaka memberlakukan perlakuan khusus dalam
penjualan buku umum kepada PT TAM dan PT PIP.
Direksi PT Balai Pustaka menjelaskan sedang mempelajari
permasalahan tagihan tersebut dan terus akan berupaya menyelesaikan
dengan pihak-pihak terkait. Direksi akan memanggil PT TAM dan PT PIP
untuk membicarakan permasalahan tagihan tersebut dan jika PT TAM dan
PT PIP tidak mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan piutang tersebut,
Direksi akan menyelesaikan melalui jalur hukum.
BPK RI menyarankan agar :
1) Menteri BUMN meminta pertanggungjawaban dan mengenakan sanksi
sesuai ketentuan kepada Direksi PT Balai Pustaka periode terdahulu atas
pelaksanaan penjualan khusus / proyek buku-buku pelajaran di Jawa
Tengah dan DIY maupun penjualan buku-buku umum.
2) Direksi PT Balai Pustaka mengkaji untuk menyelesaikan melalui jalur
hukum terhadap penyelesaian piutang PT PIP dan PT TAM.
c. Pemberian Uang Muka Kerja kepada PT Putra Ihsan Pramudita
sebesar Rp48.533.882.452,00 tidak sesuai dengan perjanjian pemasaran
dan PT Balai Pustaka tidak memaksimalkan pendapatan fee yang
diperoleh dari kontrak pengadaan buku
PT Balai Pustaka pada tahun 2003 dan 2004 melaksanakan kegiatan
kontrak pengadaan buku pelajaran dengan Pemerintah Daerah
(Pemda)/Dinas Pendidikan beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah
(Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kontrak-kontrak tersebut
dilaksanakan oleh mitra kerja PT Balai Pustaka yaitu PT Putra Ihsan
Pramudita (PT PIP).
Kerjasama antara PT Balai Pustaka dengan PT PIP tentang pemasaran
buku terbitan PT Balai Pustaka dilaksanakan berdasarkan perjanjian kerja
sama pemasaran sebagai berikut:
No No Perjanjian Tanggal Keterangan
1. No. 012.1/SET/PJ.4.2003 1 April 2003 Kerjasama pemasaran buku terbitan PT Balai
Pustaka di lingkungan dinas pendidikan
daerah Surakarta, Sukoharjo, Wonogiri.
2. No. 023.2/SET/PJ.6.2003 16 Juni 2003 Kerjasama pemasaran buku terbitan BP di
lingkungan dinas pendidikan propinsi Jawa
Tengah dan DIY (Pemalang, Batang, Pati,
Salatiga, Surakarta, Sukoharjo, Wonogiri,
Magelang, Boyolali)
3. No. 50.2/SET/PJ.11.2003 17 Nov 2003 Kerjasama pemasaran buku terbitan PT Balai
Pustaka di lingkungan dinas pendidikan
kabupaten Demak dan Wonosobo.

Hasil pemeriksaan atas pengadaan buku PT Balai Pustaka yang
dilaksanakan oleh PT PIP diketahui hal-hal berikut :
1) Pemberian uang muka kerja kepada PT PIP sebesar
Rp48.533.882.452,00 tidak sesuai dengan perjanjian pemasaran dan
tanpa persetujuan tertulis dari Dewan Komisaris.

18
PT Balai Pustaka pada tahun 2004 telah memberikan uang muka
kepada PT PIP sebagai modal kerja sebesar Rp48.533.882.452,00
dengan tahapan sebagai berikut :
a) Tanggal 8 Oktober 2004 sebesar Rp3.000.000.000,00,
b) Tanggal 13 Oktober 2004 sebesar Rp29.438.377.738,00, dan
c) Tanggal 16 Oktober 2004 sebesar Rp16.095.504.714,00.
Pemberian uang muka kerja kepada PT PIP tersebut dilakukan oleh
Pejabat Plt Direktur Utama PT Balai Pustaka tanpa persetujuan tertulis
dari Dewan Komisaris. Modal kerja tersebut diperoleh dari pinjaman
PT Balai Pustaka kepada PT Bank Mandiri sesuai surat Direksi PT Balai
Pustaka No.060/MK.2/B.8.2004 tanggal 23 Agustus 2004.
Pengembalian pinjaman oleh PT Balai Pustaka akan diangsur dari
pencairan dana-dana proyek yang diterima. Persetujuan pemberian
pinjaman dari PT Bank Mandiri sesuai dengan Surat
No.CBG.CR2/RD5.383/2004 tanggal 30 September 2004 untuk jangka
waktu satu tahun.
Mantan Plt Direktur Utama PT Balai Pustaka menjelaskan bahwa
modal kerja tersebut digunakan untuk pengembangan daerah pemasaran
dengan mempertahankan strategi pemasaran muliyears. Dengan kondisi
banyaknya buku PT Balai Pustaka yang tidak lulus penilaian Badan
Standarisasi Nasional (BSN) maka diperlukan biaya operasional yang
tinggi untuk memasarkan buku-buku tersebut. Sementara itu, mitra kerja
memiliki dana yang terbatas untuk melakukan pemasaran ke daerah
sehingga PT Balai Pustaka meminjam dana ke Bank Mandiri.
Berdasarkan Surat Perjanjian Kerjasama Pemasaran antara
PT Balai Pustaka dan PT PIP, biaya pemasaran tersebut seharusnya
menjadi tanggung jawab PT PIP
PT Balai Pustaka mengalami kesulitan likuiditas untuk membayar
KMK yang sudah jatuh tempo. PT Balai Pustaka baru membayar utang
pokok sebesar Rp10.831.699.216,76 dan membayar bunga sebesar
Rp5.109.834.083,24. PT Bank Mandiri dengan surat
No.SAM.CR2/LWO-I.212/2006 tanggal 7 Agustus 2006, menyatakan
bahwa kredit tersebut telah digolongkan sebagai kredit macet. Total
kewajiban per 30 Juni 2006 adalah sebesar Rp55.695.119.004,45 dengan
rincian sebagai berikut :
a) Sisa pokok pinjaman sebesar Rp39.168.300.000,00.
b) Beban bunga KMK sebesar Rp10.169.379.292,79.
c) Denda keterlambatan pembayaran yang telah menjadi beban
perusahaan sebesar Rp6.357.439.711,66.
2) PT Balai Pustaka tidak memaksimalkan pendapatan fee yang
diperoleh dari kontrak pengadaan buku.
Kontrak-kontrak pengadaan buku pelajaran dengan Pemda/Dinas
Pendidikan beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah (Jateng) dan
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejak tahun 2003 yang diperoleh
PT Balai Pustaka dari hasil kerjasama pemasaran dengan PT PIP adalah
sebagai berikut:

19
No Pemda Nilai Kontrak PPh Psl 22 Kontrak netto Komisi BP Tgl Kontrak Jenis Pembayaran
1 Surakarta 10.875.129.600 163.126.944 10.712.002.656 1.071.200.266 16/04/2003 APBD 2003
2 Sukoharjo 11.967.671.480 179.515.072 11.788.156.408 1.178.815.641 19/05/2003 APBD 2003
3 Wonogiri 7.232.585.500 108.488.783 7.124.096.718 712.409.672 23/06/2003 APBD 2003
4 Batang 8.452.885.110 126.793.277 8.326.091.833 832.609.183 20/10/2003 APBD 2003
5 Magelang 11.845.987.250 177.689.809 11.668.297.441 1.166.829.744 22/10/2003 APBD 2004
6 Salatiga 17.616.655.300 264.249.830 17.352.405.471 1.735.240.547 27/10/2003 multi (2004-2005)
7 Boyolali 18.553.578.010 278.303.670 18.275.274.340 1.827.527.434 18/11/2003 multi (2004-2005)
8 Demak 4.917.809.000 73.767.135 4.844.041.865 484.404.187 28/11/2003 multi (2004-2005)
9 Wonosobo 21.996.088.085 329.941.321 21.666.146.764 2.166.614.676 11/02/2004 multi (2004-2005)
10 Pemalang 26.587.269.100 398.809.037 26.188.460.064 2.618.846.006 02/03/2004 multi (2004-2005)
11 Brebes 19.998.676.225 299.980.143 19.698.696.082 1.969.869.608 11/03/2004 multi (2004-2005)
12 Grobogan 36.340.972.490 545.114.587 35.795.857.903 3.579.585.790 23/03/2004 multi (2004-2005)
13 Sleman 29.820.429.000 447.306.435 29.373.122.565 2.937.312.257 10/05/2004 multi (2004-2005)
14 Tegal 35.992.991.600 539.894.874 35.453.096.726 3.545.309.673 23/08/2004 multi (2004-2005-2006)
262.198.727.750 3.932.980.916 258.265.746.834 25.826.574.683

Dari data di atas diketahui hal-hal sebagai berikut:
a) Nilai seluruh kontrak adalah sebesar Rp262.198.727.750,00 yang
merupakan kontrak tahun 2003 dan 2004.
b) PT Balai Pustaka memperoleh pendapatan total sebesar
Rp25.826.574.683,00 yang berasal dari fee 10% dari total nilai
kontrak netto.
c) Sumber pembayaran yang dilakukan beberapa Pemda adalah APBD
secara multi years yang berarti pembayaran dicicil dalam beberapa
kali anggaran APBD Pemda tersebut.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa berdasarkan perjanjian
kerjasama pemasaran antara PT Balai Pustaka dan PT PIP maka PT
Balai Pustaka memperoleh fee sebesar 10% dari nilai kontrak netto (nilai
kontrak bruto dikurangi PPh). Sedangkan sisanya sebesar 90% dari nilai
kontrak netto tersebut menjadi hak PT PIP.
Mantan Plt Direktur Utama PT Balai Pustaka menjelaskan bahwa
fee tersebut disamakan dengan royalty dengan dasar perhitungan dari
nilai kontrak yang diperoleh sebagai berikut :
• 35% adalah harga pokok produksi.
• 20% adalah buku/alat peraga yang diberikan sebagai bantuan kepada
pemda setempat.
• 10 % adalah biaya revisi buku karena harus memuat kandungan lokal
• 10 % adalah royalty.
• 25 % adalah biaya pemasaran dan operasional mitra.
Dari komposisi biaya tersebut diatas, Plt Dirut PT Balai Pustaka
menyatakan bahwa biaya pemasaran dan operasional mitra sebesar 25 %
tidak dapat dikontrol oleh PT Balai Pustaka.
Penetapan fee sebesar 10 % tersebut tidak mempunyai dasar
apapun. PT Balai Pustaka seharusnya dapat memaksimalkan pendapatan
dari fee yang diperoleh dengan mengurangi prosentase komponen biaya
pemasaran karena PT Balai Pustaka ternyata masih mengeluarkan biaya
pemasaran yang seharusnya menjadi tanggung jawab PT PIP. Biaya
pemasaran yang dikeluarkan oleh PT Balai Pustaka pada tahun 2005 dan
2004 masing-masing sebesar Rp1.222.716.016,00 dan
Rp3.657.079.351,00. Selain itu PT Balai Pustaka pada tahun 2004 telah
memberikan uang muka kepada PT PIP sebagai modal kerja sebesar

20
Rp48.533.882.452,00. Uang muka tersebut digunakan untuk
pengembangan pemasaran PT Balai Pustaka melalui PT PIP.

3) Terdapat kelebihan pembayaran kepada PT PIP sebesar
Rp28.368.333.270,00.
Pembayaran dari Proyek Dinas Pendidikan di Jateng dan Daerah
Istimewa Yogyakarta seharusnya sudah lunas pada bulan Desember
tahun 2005, namun pada saat pemeriksaan berakhir tanggal 12 Oktober
2006, masih terdapat sisa tagihan sebesar Rp37.989.411.508,00 dengan
rincian sebagai berikut:
No Pemda Nilai Kontrak Pembayaran Sisa Piutang
Proyek-BP dari Proyek ke Proyek
1 Surakarta 10.875.129.600 10.875.129.600 0
2 Tegal 35.992.991.600 32.492.991.600 3.500.000.000
3 Sleman 29.820.429.000 23.845.480.241 5.974.948.759
4 Wonosobo 21.996.088.085 18.020.453.455 3.975.634.630
5 Demak 4.917.809.000 1.000.000.000 3.917.809.000
6 Magelang 2.983.210.400 2.983.210.400 0
Magelang 6.847.778.850 6.847.778.850 0
Magelang 2.014.998.000 2.014.998.000 0
7 Pemalang 26.587.269.100 26.543.498.206 43.770.894
8 Sukoharjo 9.968.882.600 9.968.882.600 0
Sukoharjo 1.998.788.880 1.998.788.880 0
9 Grobogan 36.340.972.490 25.763.062.490 10.577.910.000
10 Boyolali 18.553.578.010 18.553.578.010 0
11 Batang 7.269.811.710 7.269.811.710 0
Batang 1.183.073.400 1.183.073.400 0
12 Wonogiri 7.232.585.500 7.232.585.500 0
13 Salatiga 17.616.655.300 17.616.655.300 0
14 Brebes 19.998.676.225 9.999.338.000 9.999.338.225
TOTAL 262.198.727.750 224.209.316.242 37.989.411.508

Dari total penerimaan pembayaran dari proyek Dinas Pendidikan
Jateng dan DIY sebesar Rp224.209.316.242,00 seharusnya yang menjadi
hak PT PIP adalah Rp198.761.558.849,00 (90% x (98,5% x
Rp224.209.316.242,00)). Namun pembayaran dari PT Balai Pustaka
kepada PT PIP telah mencapai Rp227.129.892.119,00. Dengan
demikian terjadi kelebihan pembayaran kepada PT PIP sebesar -
Rp28.368.333.270,00 (Rp227.129.892.119,00 - Rp198.761.558.849,00)
dengan rincian sebagai berikut :

21
No Pemda Pembayaran PPh Psl 22 Penjualan Hak PT PIP Pembayaran Selisih
dari Proyek 1,5% Netto seharusnya PT BP ke PIP Lebih/(kurang)
1 2 3 4=(1,5%x3) 5=(3-4) 6=(90%x5) 7 8=7-6
1 Surakarta 10.875.129.600 163.126.944 10.712.002.656 9.640.802.390 9.403.526.130 (237.276.260)
2 Tegal 32.492.991.600 487.394.874 32.005.596.726 28.805.037.053 31.907.838.641 3.102.801.588
3 Sleman 23.845.480.241 357.682.204 23.487.798.037 21.139.018.234 25.851.514.961 4.712.496.727
4 Wonosobo 18.020.453.455 270.306.802 17.750.146.653 15.975.131.988 19.480.244.072 3.505.112.084
5 Demak 1.000.000.000 15.000.000 985.000.000 886.500.000 3.155.000.000 2.268.500.000
6 Magelang 2.983.210.400 44.748.156 2.938.462.244 2.644.616.020 2.698.350.883 53.734.863
Magelang 6.847.778.850 102.716.683 6.745.062.167 6.070.555.951 6.205.450.727 134.894.776
Magelang 2.014.998.000 30.224.970 1.984.773.030 1.786.295.727 1.318.178.737 (468.116.990)
7 Pemalang 26.543.498.206 398.152.473 26.145.345.733 23.530.811.160 22.947.714.940 (583.096.220)
8 Sukoharjo 9.968.882.600 149.533.239 9.819.349.361 8.837.414.425 8.837.456.569 42.144
Sukoharjo 1.998.788.880 29.981.833 1.968.807.047 1.771.926.342 1.771.926.771 429
9 Grobogan 25.763.062.490 386.445.937 25.376.616.553 22.838.954.897 30.165.148.985 7.326.194.088
10 Boyolali 18.553.578.010 278.303.670 18.275.274.340 16.447.746.906 16.447.702.445 (44.461)
11 Batang 7.269.811.710 109.047.176 7.160.764.534 6.444.688.081 6.444.672.714 (15.367)
Batang 1.183.073.400 17.746.101 1.165.327.299 1.048.794.569 1.048.795.187 618
12 Wonogiri 7.232.585.500 108.488.783 7.124.096.718 6.411.687.046 6.411.683.237 (3.809)
13 Salatiga 17.616.655.300 264.249.830 17.352.405.471 15.617.164.923 15.305.886.998 (311.277.925)
14 Brebes 9.999.338.000 149.990.070 9.849.347.930 8.864.413.137 17.728.800.122 8.864.386.985
TOTAL 224.209.316.242 3.363.139.748 220.846.176.498 198.761.558.849 227.129.892.126 28.368.333.270

Hal tersebut diatas tidak sesuai dengan :
1) Akte Pendirian PT Balai Pustaka yang telah disahkan Menteri
Kehakiman tahun 1997 pasal 11 ayat (4b) yang menyatakan perbuatan-
perbuatan Direksi untuk memberikan pinjaman jangka pendek atas nama
perseroan harus mendapat persetujuan tertulis dari Dewan Komisaris
2) Perjanjian Kerjasama Pemasaran No. 012.1/SET/PJ.4.2003 tanggal 1
April 2003, No. 023.2/SET/PJ.6.2003 tanggal 16 Juni 2003 dan
No.050.2/SET/PJ.11.2003 tanggal 17 Nopember 2003 antara PT Balai
Pustaka dan PT PIP yang menyatakan bahwa :
a) PT PIP bertanggung jawab penuh atas seluruh biaya operasional,
biaya produksi pencetakan, biaya revisi dan royalty pengarang yang
timbul akibat kegiatan pemasaran tersebut.
b) Hak PT PIP adalah sebesar 90% dari kontrak netto
Hal tersebut mengakibatkan :
1) Adanya potensi kerugian negara sebesar Rp48.533.882.452,00 yang
berasal dari pemberian uang muka kepada PT PIP.
2) PT Balai Pustaka menanggung bunga KMK dan denda keterlambatan
pembayaran sampai dengan 30 Juni 2006 masing-masing sebesar
Rp10.169.379.292,79 dan Rp6.357.439.711,66.
3) PT Balai Pustaka tidak dapat memanfaatkan dana sebesar
Rp28.368.333.270,00 yang merupakan kelebihan pembayaran kepada PT
PIP.
4) PT Balai Pustaka tidak dapat memaksimalkan pendapatan dari kontrak
pengadaan buku yang diperoleh.

22
Hal tersebut disebabkan :
1) Mantan Plt Direktur Utama PT Balai Pustaka periode sebelumnya
memberikan keistimewaan kepada PT PIP dalam bentuk pemberian uang
muka kerja.
2) Direksi PT Balai Pustaka periode sebelumnya lalai karena tidak
mempunyai dasar penilaian dalam menetapkan besaran fee dari kontrak
pengadaan buku yang diperoleh dalam kerjasama pemasaran dengan
PT PIP
Direksi PT Balai Pustaka menjelaskan sedang mempelajari pemberian
uang muka tersebut dan akan melakukan rekonsiliasi dengan pihak yang
bersangkutan. Jika dalam pemberian uang muka tersebut ternyata
berdampak merugikan perusahaan, Direksi akan meminta
pertanggungjawaban kepada PT PIP dan dalam hal PT PIP tidak bersedia,
Direksi akan melakukan proses hukum untuk penyelesaiannya.
BPK RI menyarankan agar :
1) Menteri BUMN meminta pertanggungjawaban Direksi PT Balai Pustaka
periode terdahulu atas pemberian uang muka kerja dan kelebihan
pembayaran kepada PT PIP dan kepada yang bersalah agar dikenakan
sanksi sesuai ketentuan.
2) Direksi PT Balai Pustaka meminta pertanggungjawaban PT PIP dan
apabila tidak bersedia agar ditempuh jalur hukum.
d. Terdapat Penjualan fiktif buku pelajaran ke Pemda Bojonegoro
sehingga merugikan PT Balai Pustaka sebesar Rp59.423.565,35
PT Balai Pustaka dengan surat penawaran harga
No.05.09/C/PN.3.2005 dan No.05.14/C/PN.3.2005 tanggal 7 Maret 2005
mengajukan penawaran harga atas buku-buku yang dipesan oleh Pemerintah
Kabupaten Bojonegoro Setelah melalui proses negosiasi, diperoleh
kesepakatan harga total sebesar Rp343.261.000,00 yang tercantum dalam
surat persetujuan harga No.05.16/C/SPH.3.2005 dan 05.11/C/SPH.3.2005
tanggal 15 Maret 2005. Selanjutnya dibuat draft surat perjanjian
pemborongan dan Surat Perintah Kerja antara PT Balai Pustaka dengan
Pemkab Bojonegoro pada tanggal 21 Maret 2005, yang baru ditandatangani
sepihak oleh PT Balai Pustaka. Namun draft surat perjanjian pemborongan
tersebut tidak jadi ditandatangani dan batal diteruskan pelaksanaannya
karena proses penunjukan langsung atas pengadaan buku tersebut dibatalkan
dan diganti dengan tender pengadaan buku. Sampai dengan pemeriksaan
berakhir tanggal 12 Oktober 2006 surat pembatalan ini tidak diperoleh.
Dalam rangka mengikuti proses tender tersebut, PT Balai Pustaka
kemudian mengajukan penawaran baru untuk mengikuti lelang dengan
surat No.29/C/PN.8.2005 dan No.29.1/C/PN.8.2005 tanggal 23 Agustus
2005. PT Balai Pustaka menguasakannya kepada mitra kerja (Sdr.Adi
Yuwono) selaku kuasa PT Balai Pustaka dalam lelang pengadaan buku di
Kabupaten Bojonegoro. Disamping itu, PT Balai Pustaka telah memberikan
uang muka kepada mitra kerja sebesar Rp45.000.000,00.
Meskipun kontrak belum ada, Direksi PT Balai Pustaka dengan surat
tanggal 7 April 2005 telah meminta Kepala Divisi Distribusi PT Balai
Pustaka untuk mengemas semua buku-buku yang dipesan yang berasal dari
stock PT Balai Pustaka dan menambah spesifikasi sesuai dengan permintaan
proyek yaitu menambah sablon dengan kata-kata “Milik Dinas Pendidikan
Pemkab Bojonegoro Tidak Diperdagangkan”. Mitra kerja yaitu Sdr. Adi

23
Yuwono kemudian mengambil dan mengirimkan buku sebanyak 14.765
eksemplar dengan harga pokok senilai Rp93.922.086,80 tersebut ke Dinas
Pendidikan Kabupaten Bojonegoro dengan surat pengantar bukti penyerahan
barang No.086/OP/GB/V/05 dan No.087/OP/GB/V/05 tanggal 2 Mei 2005.
Pada tanggal 18 Januari 2006 diterima retur penjualan dari buku-buku
tersebut yang diterima di gudang PT Balai Pustaka dengan surat retur
No.01/ONP/OP/I/06. Buku yang diretur sebanyak 12.871 eksemplar dengan
harga pokok senilai Rp79.498.521,45, yang berarti tidak semua buku-buku
tersebut diretur. Terhadap buku-buku yang telah dikirim dan tidak diretur
sebanyak 1.894 eksemplar dengan harga pokok senilai Rp14.423.565,35 dan
harga jual senilai Rp54.931.000,00 tersebut bagian akuntansi tidak
mencatatnya sebagai penjualan dan faktur penjualan tidak dikeluarkan.
Berdasarkan laporan persediaan per 30 Juni 2006 diketahui bahwa
buku-buku tersebut masih tersimpan di gudang dan dikategorikan sebagai
barang rusak dan tidak bisa dijual ke pihak lain karena dalam buku-buku
tersebut telah dibubuhi cap sebagai milik Pemda Bojonegoro.
Berdasarkan ketentuan umum, perusahaan dalam melaksanakan
kegiatan pengadaan buku pelajaran harus diikat dengan kontrak atau surat
perintah kerja yang antara lain mengatur hak dan kewajiban dari para pihak
pembuat kontrak dan juga mengatur sanksi-sanksi.
Hal tersebut mengakibatkan PT Balai Pustaka dirugikan sebesar
Rp59.423.565,35 (Rp14.423.565,35 + Rp45.000.000,00) yang berasal dari
harga pokok buku pelajaran yang belum dikembalikan dan pemberian uang
muka kerja kepada mitra yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Hal tersebut disebabkan Direktur Pemasaran PT Balai Pustaka periode
terdahulu mempercayai mitra kerja dengan melaksanakan penjualan buku
sebelum kontrak ditandatangani, dan Direksi PT Balai Pustaka tidak tegas
meminta pertanggungjawaban uang muka kerja dan buku-buku yang tidak
diretur kepada mitra kerja.
Direksi PT Balai Pustaka menjelaskan bahwa proyek ini batal, pihak
manajemen akan meminta pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang
terkait.
BPK RI menyarankan agar :
1) Menteri BUMN meminta pertanggungjawaban Direksi PT Balai Pustaka
periode sebelumnya dan mengenakan sanksi kepada pejabat terkait atas
pelaksanaan penjualan buku pelajaran ke Pemda Bojonegoro.
2) Direksi PT Balai Pustaka meminta pertanggungjawaban kepada mitra
kerja dan apabila tidak bersedia agar ditempuh jalur hukum.
e. PT Balai Pustaka tidak mengenakan biaya sewa atas buku kamus
senilai Rp3.080.617.640,00 milik pihak ketiga yang disimpan di gudang
PT Balai Pustaka.
Berdasarkan Laporan Keuangan PT Balai Pustaka semester I tahun
2006 diketahui terdapat saldo persediaan buku senilai Rp9.891.019.824,88.
Dari hasil pemeriksaan di gudang PT Balai Pustaka, diketahui terdapat
persediaan buku kamus senilai Rp3.080.617.640,00 yang tercatat sebagai
persediaan buku proyek atau milik pihak ketiga yang terdiri dari :
1) Kamus Matematika 281.195 eksemplar senilai Rp1.464.688.516,00
2) Kamus Kimia sebanyak 4.623 eksemplar senilai Rp92.811.348,00
3) Kamus Biologi sebanyak 39.516 eksemplar senilai Rp483.517.776,00

24
4) Kamus Sains sebanyak 100.000 eksemplar senilai Rp1.039.600.000,00.
Buku kamus tersebut merupakan buku milik konsorsium yang
dibentuk oleh PT Putra Ihsan Pramudita (PT PIP) dalam rangka memenuhi
pesanan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kotamadya di Propinsi Jawa
Tengah dan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIY) pada tahun 2003. Kerjasama
antara PT Balai Pustaka dan PT PIP merupakan kerjasama pemasaran buku
terbitan PT Balai Pustaka. Pemenuhan pesanan tersebut sepenuhnya menjadi
tanggung jawab PT PIP. Buku yang telah dicetak oleh konsorsium disimpan
terlebih dahulu di gudang milik PT Balai Pustaka dan kemudian dikimkan
ke daerah. PT Balai Pustaka mencatat buku tersebut sebagai barang titipan
pihak ketiga atau barang proyek. Namun hak dan kewajiban PT PIP dan PT
Balai Pustaka dalam pengelolaan persediaan buku tersebut tidak diatur lebih
lanjut dalam perjanjian.
Buku-buku kamus tersebut diterima di gudang PT Balai Pustaka pada
tahun 2003 dan 2004 dengan rincian mutasi dan saldo per 30 Juni 2006
sebagai berikut :

Tahun Masuk Keluar Saldo Nilai
No. Jenis Buku
Penerbitan (eksemplar) (eksemplar) (eksemplar) (Rp)

1 Kamus Matematika 2003 475.300 194.105 281.195 1.464.688.516,00
2 Kamus Sains 2004 100.000 - 100.000 1.039.600.000,00
3 Kamus Kimia 2004 21.305 16.682 4.623 92.811.348,00
4 Kamus Biologi 2004 72.297 32.781 39.516 483.517.776,00
Jumlah 668.902 243.568 425.334 3.080.617.640,00

Hasil pemeriksaan fisik di gudang PT Balai Pustaka diketahui bahwa
penyimpanan buku-buku kamus tersebut di gudang menggunakan
tempat/ruangan yang cukup luas yang seharusnya dapat digunakan untuk
menyimpan persediaan buku milik PT Balai Pustaka.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa PT Balai Pustaka tidak pernah
mengenakan biaya atas penggunaan gudang untuk menyimpan buku-buku
tersebut kepada PT PIP. Selain itu PT PIP tidak pernah lagi mengurus
persediaan tersebut sehingga pengelolaan atas persediaan buku kamus
tersebut dilakukan oleh PT Balai Pustaka. Sampai dengan pemeriksaan
berakhir tanggal 12 Oktober 2006, PT Balai Pustaka belum pernah
membicarakan penyelesaian masalah tersebut dengan PT PIP.
Kontrak/perjanjian merupakan kesepakatan yang mengatur hak dan
kewajiban dari masing-masing pihak. PT Balai Pustaka seharusnya
mengoptimalkan penggunaan asset perusahaan yang digunakan oleh pihak
ketiga dengan pengenaan biaya sewa.
Hal tersebut mengakibatkan PT Balai Pustaka tidak dapat
memanfaatkan gudang yang digunakan untuk menyimpan buku kamus
milik PT PIP dan tidak dapat mengoptimalkan pendapatan dari asset yang
digunakan oleh pihak ketiga.
Hal tersebut disebabkan Direksi PT Balai Pustaka tidak cermat dalam
membuat perjanjian dengan PT PIP yang tidak memasukkan klausul hak dan
kewajiban masing-masing pihak dalam pengelolaan barang/persediaan buku
titipan dan tidak tegas dalam menyelesaikan masalah tersebut dengan
PT PIP.

25
Direksi PT Balai Pustaka menjelaskan sedang mempelajari
permasalahan ini dan akan diverifikasi dengan dokumen yang ada.
BPK RI menyarankan agar Direksi PT Balai Pustaka segera
menyelesaikan masalah tersebut dengan PT PIP dan dalam pembuatan
perjanjian memasukkan klausul hak dan kewajiban pihak-pihak yang terkait
secara seimbang.
f. Persekot/uang muka kerja sebesar Rp3.096.442.242,80 belum
dipertanggungjawabkan oleh penerima uang muka kerja
PT Balai Pustaka dalam rangka untuk menunjang kegiatan operasional
perusahaan telah memberikan dana berupa persekot kerja kepada pejabat
setingkat kepala seksi ke atas. Pejabat yang bersangkutan wajib
mengajukan permohonan secara tertulis kepada Direktur Keuangan dan
Administrasi yang memuat nilai nominal uang persekot dan alasan
peruntukannya.
Berdasarkan laporan keuangan PT Balai Pustaka Semester I tahun
2006 per tanggal 30 Juni 2006, diketahui jumlah uang muka kerja, piutang
pegawai dan Dana Research & Development (R&D) sebesar
Rp3.096.442.242,80 dengan rincian seperti tabel berikut:
Tgl Uraian Uang Muka Piutang Pegawai Dana R & D
Kerja Dana Motivasi
1. Ahmad Hertanto / eks.Direktur Pemasaran 1.331.412.670,00
2. M. Hidayat / Kasubag Rumah Tangga 583.358.143,80 210.919.410,00
3. Aan Munadi / Kasubag. Kesehatan 500.000,00 105.703.500,00
4. S a r n o / Kasi Pengadaan Bahan 34.758.544,00
5. Djoko Dwinanto / Kadiv Penerbitan 15.000.000,00 318.190.000,00
6. Mumumg Marthasasmita / Eks.Direktur Produksi 3.000.000,00 185.286.000,00
7. Elvis Iskandar / Kasi Promosi 1.550.000,00
8. Supardi / Kadiv Distribusi 36.750.000,00
9. Umi Chamidah, S.Pd. / Kasubag Humas 13.400.000,00 8.950.000,00
10. Zuraini / Kasi Administrasi Penerbitan 5.000.000,00
11. Drs. Teddy Kusnadi, Ak / Eks.Dir Keu / Eks PLT Dirut 200.000.000,00
12. Nurwidiatmo, SH, MM / Kadiv. Penjualan Khusus 500.000,00 2.000.000,00
13. Fazar Bachtiar / Pokja Multimedia 20.350.000,00
14. Para Karyawan Balai Pustaka 6.295.975,00
15. Kas Kecil 1.500.000,00
16. SPPD 12.018.000,00
Total Uang Muka Yang Belum Dipertanggungjawabkan 693.816.687,80 871.212.885,00 1.531.412.670,00
Dana R&D dan dana motivasi penagihan sebesar Rp1.531.412.670,00
merupakan dana yang dialokasikan setiap bulan atau sesuai kebutuhan
sesuai SK Direksi No. 001.2/SET/SK.1.98 tanggal 5 Januari 1998 tentang
pemberian insentif penagihan piutang (dana motivasi penagihan inkaso) dan
pengalokasian Dana R&D atau dana penelitian dan pengembangan
perusahaan. Divisi akuntansi setiap akhir tahun mereklasifikasi uang muka
kerja yang sudah jatuh tempo ke rekening pinjaman pegawai setiap akhir
tahun.
Kebijakan akuntansi yang digunakan PT Balai Pustaka tidak mengatur
pertanggungjawaban persekot/uang muka kerja. Sebenarnya direksi sudah
membuat draft Surat Keputusan Direksi tentang Pemberian Uang Persekot
Kerja dan Tata Cara Pertanggungjawabannya. Namun tidak pernah
ditetapkan secara resmi.
Pelaksanaan dari draft SK Direksi tersebut telah dituangkan dalam
surat pernyataan yang harus diisi oleh setiap pejabat penerima uang muka
untuk setiap transaksi penerimaan uang muka berupa Tanda Terima

26
Persekot Kerja/Uang Muka. Dalam surat pernyataan tersebut telah diatur
mengenai kewajiban pejabat penerima uang muka dan sanksi apabila lalai
mengembalikan uang muka. Walaupun dalam surat pernyataan telah ada
ketentuan sebagaimana dimaksud diatas namun pelaksanaannya tidak sesuai
ketentuan. Uang muka kerja tersebut telah berumur lebih dari 1 (satu) bulan
namun belum dipertanggungjawabkan oleh penerima uang muka kerja.
Hal tersebut tidak sesuai dengan :
1) Pasal 22 Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-117/M-MBU/2002
Tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance pada BUMN
yang menyebutkan bahwa Direksi harus menerapkan suatu sistem
pengendalian internal yang efektif untuk mengamankan investasi dan
aset BUMN.
2) Surat pernyataan penerimaan Persekot Kerja/Uang muka yang
menyatakan uang muka akan dipertanggungjawabkan dalam 1 bulan.
Hal tersebut mengakibatkan PT Balai Pustaka tidak dapat
memanfaatkan uang muka yang belum dipertanggungjawabkan sebesar
Rp3.096.442.242,00.
Hal tersebut disebabkan Direksi PT Balai Pustaka lalai meminta
pertanggungjawaban penggunaan uang muka kerja dan lalai menetapkan
ketentuan mengenai pemberian uang muka kerja dan
pertanggungjawabannya.
Direksi PT Balai Pustaka menjelaskan akan segera menindaklanjuti
dan mengkaji ulang draft Surat Keputusan Direksi tentang Pemberian Uang
Muka dan Tata Cara Pertanggungjawabannya yang selanjutnya akan
ditetapkan dengan SK Direksi secara resmi. Terhadap uang muka kerja
sebesar Rp693.816.687,80 dan Piutang Pegawai sebesar Rp871.212.885,00
akan segera ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Terhadap
persekot kerja Direksi sebesar Rp1.531.412,670 akan diverifikasi dan akan
diminta pertanggungjawaban ke mantan direksi tersebut.
BPK RI menyarankan agar :
1) Direksi PT Balai Pustaka meminta pertanggungjawaban / menagih
kepada karyawan yang bersangkutan dan direksi lama atas sejumlah
dana yang belum dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan yang
berlaku.
2) Direksi PT Balai Pustaka segera menetapkan aturan tentang Pemberian
Uang Muka Kerja dan Tatacara Pertanggungjawabannya.
g. PT Balai Pustaka tidak bisa memanfaatkan pendapatan sewa
ruangan kantor senilai Rp277.226.400,00
PT Balai Pustaka dalam rangka mengoptimalkan penggunaan asset
perusahaan serta memanfaatkan ruangan yang tidak digunakan (idle) telah
menyewakan ruangan kepada pihak ketiga agar dapat mendatangkan
manfaat seoptimal mungkin bagi perusahaan. PT Balai Pustaka membentuk
tim penyewaan ruangan gedung PT Balai Pustaka pada tanggal 5 Januari
2006 dengan Surat Keputusan Direksi No.001.1/SET/SK.1.2006 tentang
pembentukan tim penyewaan ruang gedung PT Balai Pustaka (Persero).
Atas ruangan yang disewakan tersebut PT Balai Pustaka membuat
kontrak atau perjanjian dengan pihak penyewa sebagai berikut:

27
No. Uraian Luas Masa Sewa Nilai Kontrak
(M2) (Tahun) (Rp)
1 Sewa Auditorium oleh PT Brahma 1091,81 M2 3 + l bl 789.691.833,00
Mandika
2. Sewa lantai dasar :
-PT Putra Ihsan Pramudita 168 M2 2 203.280.000,00
-Yayasan Bina Mandiri 122 M2 1 40.260.000,00
3. Sewa Lantai VI
Aminef 722 M2 1 255.588.000,00
4. Sewa Lantai VII
-PKBPII 79 M2 1 20.856.000,00
-CV Petojo JSA (2 kontrak) 118,04 M2 1 51.308.400,00
-PT Tirta PS 241,32 M2 Proses 53.090.400,00
5. Sewa atap :
-PT Indosat 24 M2 5 300.000.000,00
-PT Excelcomindo P 24 M2 5 290.000.000,00
6. Sewa kantin 81 M2 1 19.440.000,00
Total 2.023.514.633,00

Dari hasil pemeriksaan terhadap surat perjanjian maupun bukti-bukti
pembayaran sewa ruangan, diketahui terdapat tiga penyewa yang belum
melakukan pembayaran sewa ruangan yang ditempati yaitu PT Putra Ihsan
Pramudita, Pusat Kajian dan Biro Penelitian Insan Idaman dan PT Tirta
Pratiwi Sejati dengan total nilai sewa sebesar Rp277.226.400,00 dengan
penjelasan sebagai berikut:
1) PT Putra Ihsan Pramudita (PT PIP)
Nilai sewa PT PIP sebesar Rp203.280.000,00. Kontrak sewa lama
sudah berakhir tanggal 3 Januari 2005 namun kontrak perpanjangan baru
dibuat tanggal 4 Juli 2006. PT PIP baru menyerahkan kontrak yang
sudah ditandatangani pada bulan September 2006 atau terlambat 21
bulan. PT Balai Pustaka sudah dua kali melakukan penagihan pada PT
PIP dengan surat No.111/MK.2/B.9.2006 tanggal 22 September 2006
dan No.123/MK.2/B.10.2006 tanggal 5 Oktober 2006. Pada surat
tagihan kedua tersebut sudah ditegaskan bahwa jika PT PIP belum
melakukan pembayaran sampai dengan tanggal 11 Oktober 2006 maka
pihak PT Balai Pustaka akan melakukan penyegelan dan tagihan atas
sewa ruangan akan diproses secara hukum. Namun sampai dengan
berakhir pemeriksaan tanggal 10 Oktober 2006 PT Balai Pustaka masih
belum menerima pembayaran atas kontrak sewa dimaksud.
2) Pusat Kajian dan Biro Penelitian Insan Idaman ( PKBPII)
Nilai sewa PKBPH sebesar Rp20.856.000,00.Kontrak
ditandatangani tgl 9 April 2006 dan sudah pernah dilakukan penagihan
tanggal 19 Juli 2006 namun sampai berakhir pemeriksaan tanggal 10
Otober 2006 belum ada penerimaan atas kontrak sewa dimaksud.
3) PT Tirta Pratiwi Sejati (PT TPS)
Nilai sewa PT TPS sebesar Rp5.090.400,00. Kontrak sewa
ruangan No. 015/SET/PJ.8.2005 tanggal 16 Agustus 2005 dengan masa
sewa satu tahun berakhir tanggal 1 Agustus 2006. Dari kartu piutang
diketahui PT TPS masih menunggak sewa sampai dengan berakhir
pemeriksaan tanggal 10 Oktober 2006 sebesar Rp17.090.400,00.
PT TPS sampai saat ini masih menempati ruangan yang disewa dan
kontrak perpanjangan sewa belum ditandatangani sehingga bagian
inkaso divisi keuangan belum bisa melakukan penagihan atas sewa
tersebut.

28
Hal tersebut tidak sesuai dengan Surat Perjanjian Sewa Menyewa
ruangan Kantor PT Balai Pustaka yang menyatakan setelah jangka waktu
sewa berakhir maka perjanjian perpanjangan sewa menyewa dapat
diperpanjang kembali untuk jangka waktu tertentu dan dengan syarat-syarat,
baik teknis maupun harga/nilai sewa yang akan ditentukan kemudian.
Hal tersebut mengakibatkan PT Balai Pustaka kehilangan kesempatan
memanfaatkan pendapatan dari sewa gedung senilai Rp277.226.400,00
untuk operasional perusahaan.
Hal tersebut disebabkan Direksi PT Balai Pustaka tidak tegas dalam
menyelesaikan keterlambatan pembayaran sewa serta lalai memperpanjang
kontrak yang sudah habis masa berlakunya.
PT Balai Pustaka menjelaskan bahwa akan segera melakukan langkah-
langkah nyata untuk menindaklanjuti hal tersebut. Terhadap penyewa PT
PIP yang belum mebayar sewa ruangan sebesar Rp203.280.000,00 Direksi
akan segera menagih dan apabila sampai dengan bulan Desember belum
diselesaikan maka akan dilakukan penyelesaian dengan jalur hukum.
Kepada PKBPII yang belum membayar sewa ruangan sebesar
Rp20.856.000,00 Direksi akan segera melakukan penagihan yang kedua.
Terhadap PT Tirta Pratiwi Sejati akan segera menagih sewa ruangan untuk
periode 1 Agustus 2005 s/d 31 Juli 2006 sebesar Rp17.090.400,00 dan
segera menyelesaikan perjanjian perpanjangan sewa ruangan untuk periode
berikutnya, yaitu periode 1 Agustus 2006 s/d 31 Juli 2007.
BPK RI menyarankan agar PT Balai Pustaka menagih secara intensif
sewa ruangan yang sudah jatuh tempo. Selain itu perlu dikaji terhadap para
penyewa yang tidak ada itikad baik untuk membayar, agar ditempuh jalur
hukum.
2. Pengelolaan Biaya
Realisasi beban usaha dan harga pokok penjualan tahun 2005 dan 2006
(s.d. Juni) masing-masing sebesar Rp33.595.000.000,00 dan
Rp7.443.000.000,00 atau sebesar 18,91% dan 6,11% dari anggaran masing-
masing sebesar Rp177.625.000.000,00 dan Rp121.738.000.000,00.
Pemeriksaan terhadap pengelolaan biaya dilakukan secara uji petik atas
beban usaha dan beban pokok penjualan tahun 2005 sebesar
Rp33.216.000.000,00 juta atau 98,87% dari realisasi dan tahun 2006 (s.d. Juni)
sebesar Rp7.443.000.000,00 atau 100% dari realisasi.
Pemeriksaan terhadap pengelolaan biaya diketahui bahwa sistem
pengendalian intern sudah ditetapkan cukup baik dan dalam pelaksanaannya
tidak dijumpai ketidaktaatan pada ketentuan yang berlaku.
3. Kegiatan Investasi
Realisasi investasi tahun 2005 sebesar Rp1.426 juta atau hanya 11,17 %
dari anggaran sebesar Rp12.770 juta. Sedangkan realisasi investasi tahun 2006
(s.d. semester I) adalah nihil atau 0% dari RKAP tahun 2006 sebesar 200 juta.
Pemeriksaan terhadap kegiatan investasi dilakukan secara uji petik, untuk
tahun 2005 sebesar Rp1.426 juta atau 100% dari realisasi investasi.
Dari hasil pemeriksaan terhadap pengelolaan penjualan diketahui bahwa
sistem pengendalian intern sudah ditetapkan cukup baik namun dalam
pelaksanaannya masih dijumpai temuan pemeriksaan mengenai ketidaktaatan
terhadap peraturan yang berlaku sebagai berikut:

29
Pengadaan mobil dinas direksi tahun 2004 senilai Rp1.426.000.000,00
tidak sesuai dengan skala prioritas investasi
PT Balai Pustaka (Persero) adalah BUMN yang bergerak di bidang
penerbitan dan percetakan namun mempunyai mesin cetak dalam kondisi yang
tidak memadai yaitu :
No. Mesin Jumlah Tahun Kondisi
Pengadaan
1 Mesin Cetak Offset Sheet Kons. 2 1970 - 1972 55%
2 Mesin Cetak Offset Sheet SORS 1 1980 0%
3 Offset Sheet Satu Warna 4 1981-1982 75%
4 Offset Roll Harris USA 4 1980 -1982 70%
5 Offset Sheet GTO Original Heidelberg 2 1980 60%
6 Offset Sheet 2 Warna Heidelberg Type 2 1982 70%
7 Msn Cetak Emas Cover Merk Gebr-Boeir 2 1982 75%
8 Repro Master RM - 3500 1 1989 20%
9 Mesin Ferforasi Jenis Listrik 6 - 4 unit 0%
10 Spare Part Rotary Numbering Boxes GTO 5 4 - 70%
11 Die Blok Mesin Perforasi sistem 8 Digit - 1998 40%
12 Mesin Risograph, Type GR.3770 1 1995 70%
13 Mesin Nomorator Porporasi Otomatis 1 2002 80%
Kondisi mesin yang sudah tua membutuhkan biaya perawatan tinggi dan
menyebabkan tingginya biaya overhead dan pada akhirnya harga pokok yang
dibebankan ke produk menjadi tinggi.
Menyadari kondisi demikian, maka dalam Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan (RKAP) tahun 2004 dan 2005 PT Balai Pustaka (Persero) telah
menganggarkan untuk melakukan investasi dalam bentuk pembelian mesin
cetak baru yaitu mesin cetak empat warna. Rencana dan realisasi investasi
tahun 2004, 2005 dan 2006 (s.d. semester I) adalah sebagai berikut:
(dalam ribuan rupiah)
Uraian Tahun 2004 Tahun 2005 Tahun 2006
(s.d. Smt I)
Rencana Realisasi Rencana Realisasi Rencana Realisasi
Gedung Percetakan 0 0 3.000.000 0 0 0
Gudang Buku 0 0 750.0000 0 0 0
Mesin (Overhaul) 6.000.000 0 6.000.000 0 0 0
Kendaraan bermotor 0 0 2.820.000 1.426.000 0 0
Inventaris Kantor 1.200.000 607.500 200.000 0 200.000 0
Jumlah 7.200.000 607.500 12.770.000 1.426.000 200.000 0

Rencana investasi dalam bentuk pengadaan mesin cetak dalam RKAP
tahun 2005 yang juga merupakan carry over dari RKAP tahun 2004 dan
merupakan rencana dengan prioritas lebih tinggi dibanding pengadaan
kendaraan dinas, gagal dilaksanakan tahun 2005, dengan alasan kondisi
keuangan perusahaan yang belum memungkinkan
Dalam kondisi perusahaan demikian, pada akhir tahun 2004 PT Balai
Pustaka melakukan investasi pengadaan kendaraan dinas direksi, berupa 1 (satu)
unit Toyota Camry 3.0 v6 A/T tahun 2004 dan 3 (tiga) unit Nissan X-Trail XT
Jeep tahun 2004. Dari hasil pemeriksaan dokumen terkait dengan pengadaan
mobil dinas ini, dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut:
a. Perjanjian pengadaan kendaraan dilakukan tanggal 26 November 2004,
yaitu dengan adanya perikatan “Perjanjian Pembiayaan Dengan Jaminan
Fidusia” No. 01.100.102.00.076255.6, No. 01.100.102.00.076274.2, No.
01.100.102.00.076286.6 dan No.01.100.102.00.076290.4, masing-masing

30
untuk 1 (satu) unit Toyota Camry 3.0 V6 A/T tahun 2004 dan 3 (tiga) unit
Nissan X-Trail XT Jeep tahun 2004.
b. Harga total keempat kendaraan tersebut adalah Rp1.426.000.000,00 yang
dibayar dengan uang muka sebesar Rp494.554.000,00 dan sisanya diangsur
dalam waktu 23 bulan.
c. Pembayaran uang muka maupun cicilan pertama pengadaan kendaraan dinas
tersebut baru terjadi tahun 2005.
d. Pengadaan mobil dinas direksi ini tidak dianggarkan dalam RKAP tahun
2004, tetapi baru dianggarkan dalam RKAP tahun 2005.
e. Walaupun sudah dianggarkan dalam RKAP tahun 2005, tetapi pengadaan
mobil dinas direksi bukan prioritas utama. Prioritas utama investasi dalam
RKAP tahun 2005 adalah pengadaan 1 unit mesin sheet 4 warna dan
overhaul beberapa unit mesin, yang merupakan carry over rencana investasi
tahun 2004 dengan total anggaran sebesar Rp6.000.000.000,00. Investasi
pengadaan mesin cetak ini tidak pernah terealisasi karena alasan
keterbatasan dana, tetapi direksi lebih memprioritaskan pengadaan mobil
dinas direksi.
f. Sampai dengan berakhir pemeriksaan tanggal 12 Oktober 2006 saldo hutang
pembelian kendaraan PT Balai Pustaka adalah sebesar Rp118.138.000,00.
Hal tersebut tidak sesuai dengan arahan pemegang saham pada saat RUPS
pengesahan RKAP tahun 2005 tanggal 19 Januari 2005, yang menyatakan:
a. Pelaksanaan program-program investasi agar memperhatikan skala prioritas
dan sumber pendanaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Apabila sumber
pendanaan berasal dari pinjaman, Direksi agar mencari alternatif pinjaman
yang paling ekonomis.
b. Dalam program pengadaan, Direksi agar selalu menerapkan prinsip
tranparansi dengan memperhatikan asas efisiensi serta berpedoman pada
prosedur dan ketentuan yang berlaku.
Di samping itu, pendapat dan saran komisaris PT Balai Pustaka (Persero)
pada saat RUPS pengesahan RKAP tahun 2005 tanggal 19 Januari 2005 antara
lain menyebutkan, “komisaris meminta direksi agar melaksanakan program
investasi berdasarkan skala prioritas sesuai dengan core bisnis perusahaan serta
dapat dipertanggungjawabkan melalui suatu kajian (feasilility study) yang
akurat, komprehensif dan terperinci.”
Hal tersebut mengakibatkan PT Balai Pustaka mengalami penurunan daya
saing dalam mendapatkan proyek/pekerjaan karena tidak segera melaksanakan
pengadaan 1 unit mesin sheet 4 warna dan overhaul beberapa unit mesin,
sebagaimana dianggarkan dalam RKAP tahun 2004 dan 2005, dan Harga Pokok
Produksi yang dibebankan menjadi tinggi karena tingginya biaya overhead
perusahaan.
Hal tersebut disebabkan Direksi PT Balai Pustaka lalai melaksanakan
arahan pemegang saham dan saran komisaris dalam pelaksanaan program
investasi yang dilakukan.
Direksi PT Balai Pustaka menjelaskan Direksi sedang mempelajari hal
tersebut dan selanjutnya direksi akan memperbaiki Standart Operating
Procedure (SOP) yang berhubungan dengan masalah investasi, sehingga
keputusan investasi yang diambil merupakan keputusan yang tepat untuk
meningkatkan Nilai Tambah (value) perusahaan.

31
BPK RI menyarankan agar
1) Menteri BUMN meminta pertanggungjawaban Direksi PT Balai Pustaka
periode sebelumnya dan kepada yang bersalah agar dikenakan sanksi sesuai
ketentuan.
2) Direksi PT Balai Pustaka agar mempertimbangkan setiap arahan RUPS dalam
pengambilan keputusan investasi. Selain itu agar dikaji ulang untuk investasi
mesin, agar dapat bersaing dalam produksinya, apabila kondisinya telah
memungkinkan.
4. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan BPK RI Sebelumnya.
Pemeriksaan oleh BPK RI pada PT Balai Pustaka yang terakhir
dilaksanakan pada bulan September s.d. Oktober 2004. Berdasarkan hasil
pembahasan tindak lanjut atas hasil pemeriksaan sesuai surat Auditor Utama
Keuangan Negara V No. 389/S/VII-XV.I/9/2006 tanggal 5 September 2006
dapat dikemukakan bahwa dari 10 (sepuluh) temuan pemeriksaan yang termuat
dalam Laporan Hasil Pemeriksaan No. 10/S/VII-XV/01/2005, tanggal 10
Januari 2005, disimpulkan sebanyak 3 (tiga) temuan telah selesai
ditindaklanjuti, 6 (enam) temuan masih dipantau dan 1 (satu) temuan masih
belum selesai.
Dari hasil pemeriksaan tindak lanjut hasil pemeriksaan, atas 6 (enam)
temuan yang masih dipantau dan 1 (satu) temuan yang belum selesai, dapat
dikemukakan hal-hal sebagai berikut:
a. PT Balai Pustaka Tidak Mengenakan Biaya Pelayanan (Service Charge)
Atas Sewa Gedung.
BPK RI menyarankan agar PT Balai Pustaka berupaya meningkatkan
pendapatan dari sewa gedung.
Dari hasil pemeriksaan tindak lanjut diketahui, PT Balai Pustaka telah
mengenakan biaya pelayanan (service charge) kepada para penyewa dan
kewajiban biaya pelayanan ini telah diatur dalam perjanjian sewa-menyewa.
Jumlah penyewa pada tahun 2005 adalah sebanyak 9 (sembilan) penyewa
dengan total nilai kontrak sebesar Rp1.341.200.726,45. Dua penyewa pada
tahun 2006 tidak memperpanjang kontrak yang telah habis masa berlakunya.
Pada tahun 2006 terdapat 4 (empat) penyewa baru sehingga total penyewa
sebanyak 11 penyewa dengan nilai kontrak sebesar Rp2.509.196.422,18
atau naik 87,09% dari nilai kontrak tahun 2005.
Selain itu Direksi PT Balai Pustaka telah membentuk Tim Penyewaan
Ruangan Gedung melalui SK Direksi Nomor 001.1/SK.1.2006 tanggal 5
Januari 2006. Pada tahun 2006 Direksi telah menaikkan tarif sewa ruangan
berkisar 25% sampai dengan 151%, seperti: tarif sewa lahan atap gedung
oleh PT Exelcomindo naik 151,08% dari Rp72.916,67/m2/bulan menjadi
Rp110.164,14/m2/bulan dan tarif sewa auditorium Lodji Mas naik 117,32%
dari Rp10.458,76/m2/bulan menjadi Rp22.727,27/m2/bulan. Sedangkan
rencana Direksi PT Balai Pustaka untuk merenovasi gedung berikut
fasilitasnya, belum/tidak dapat dilaksanakan karena kondisi likuiditas
perusahaan tidak memungkinkan.
Dari uraian di atas, temuan ini telah selesai ditindaklanjuti.
b. Kerjasama PT Giz Cipta Pratama (PT GCP) dengan PT Balai Pustaka
(Persero) berpotensi merugikan perusahaan sebesar Rp821,4 juta.

32
BPK RI menyarankan agar Direksi melakukan penagihan secara intensif
atas piutang tersebut dan dikaji kembali kemungkinan penyelesaiannya
melalui hukum.
Dari hasil pemeriksaan tindak lanjut diketahui, PT Balai Pustaka telah
melakukan upaya penagihan/peringatan kepada PT GCP terakhir melalui
surat Nomor 103/MK.2/B.9.2006 tanggal 12 September 2006 dan Nomor
113/MK.2/B.9.2006 tanggal 22 September 2006, namun dari pihak PT GCP
belum ada penyelesaian. Sampai dengan tanggal 12 Oktober 2006 saldo
piutang PT GCP sebesar Rp779.400.000 (=Rp821.400.000 – 42.000.000).
Dari uraian di atas, masalah ini masih perlu dipantau karena menunggu
pelunasan dari PT GCP sampai dengan akhir Desember 2006.
c. Terdapat potensi kerugian sebesar Rp114,8 juta karena bukti pemotongan
pajak belum diterima dan terdapat kesalahan pencatatan piutang serta
keterlambatan penagihan.
BPK RI menyarankan agar PT Balai Pustaka melakukan penagihan atas
piutang sebesar Rp120 juta ke Pemda Jember.
Sampai dengan saat pemeriksaan berakhir tanggal 12 Oktober 2006,
untuk PPh pasal 22 sudah diterima sebesar Rp55,67 juta dan sisanya sebesar
Rp59,13 juta dikoreksi menjadi kerugian lain-lain pada tahun 2004, terhadap
piutang penjualan sebesar Rp197,04 juta telah dilakukan koreksi pembukuan
pada tahun buku 2004. Sedangkan tentang piutang proyek dinas kabupaten
Jember, belum ada kejelasan. Dari uraian di atas, masalah ini masih perlu
dipantau sampai dengan adanya penyelesaiaan piutang tersebut oleh Direksi
PT Balai Pustaka.
d. PT Balai Pustaka tidak dapat mencairkan cek BCA senilai Rp1.389,3 juta
dari hasil pejualan buku.
BPK RI menyarankan agar Direksi PT Balai Pustaka turut
bertanggungjawab atas adanya pembayaran dengan cek kosong oleh Sdr
Waluyo Laksono dan melaporkan penyelesaiannya kepada pemegang
saham.
Dari hasil pemeriksaan tindak lanjut diketahui, belum ada kemajuan atas
masalah ini. Karena itu masalah ini masih perlu dipantau sampai dengan
adanya penyelesaiaan piutang tersebut oleh Direksi PT Balai Pustaka.
e. Persediaan buku pelajaran pada PT Balai Pustaka menumpuk senilai
Rp9.839,6 juta cenderung tidak dapat dimanfaatkan karena perubahan
kurikulum.
BPK RI menyarankan agar Direksi PT Balai Pustaka
mempertanggungjawabkan kesalahan perencanaan pengadaan buku kepada
Dewan Komisaris dan melakukan inventarisasi terhadap buku yang tidak
dapat dijual lagi dan mengusulkan untuk dihapuskan kepada Dewan
Komisaris.
Dari hasil pemeriksaan tindak lanjut diketahui, persediaan buku yang
sudah dihapusbukukan sampai dengan pemeriksaan berakhir tanggal 12
Oktober 2006 adalah senilai Rp6.400,00 juta. Persetujuan
penghapusbukuan dilakukan oleh pemegang saham dalam RUPS
pengesahan RKAP tahun 2004 dan 2005. Dengan demikian masalah
tersebut masih perlu dipantau sampai dengan adanya keputusan

33
penyelesaian atas sisa persediaan sebesar Rp3.439,6 juta (Rp9.839,6 juta –
Rp6.400,00 juta) yang belum dihapusbukukan.
f. Pembayaran pencetakan buku pesanan Kantor Menteri Negara
Pendayagunaan BUMN sebesar Rp1.424 juta dan penjualan buku Jendela
Iptek dari PT Bangkit Jaya Abadi (PT BJA) sebesar Rp200 juta belum
diterima.
BPK RI menyarankan agar Direksi PT Balai Pustaka meningkatkan
upaya penagihan pembayaran sebesar Rp1.424 juta kepada Kantor Menteri
Negara Pendayagunaan BUMN dan sebesar Rp200 juta kepada PT BJA.
Dari hasil pemeriksaan tindak lanjut diketahui, belum ada kejelasan
pembayaran dari Kementerian BUMN. Sedangkan PT BJA masih
berkeinginan melunasi kewajibannya. Namun sampai dengan pemeriksaan
berakhir tanggal 12 Oktober 2006 belum ada pembayaran dari PT BJA.
Dngan demikian untuk pembayaran buku pesanan Kantor Menteri Negara
Pendayagunaan BUMN sebesar Rp1.424 juta dan penjualan buku Jendela
Iptek masih perlu dipantau.
g. Kerjasama PT Balai Pustaka dengan PT Baranusa Anugrah Sakti (PT BAS)
tidak dilaksanakan sesuai dengan surat perjanjian dan piutang pegawai yang
berasal dari uang muka kerja sebesar Rp189,65 juta belum
dipertanggungjawabkan.
BPK RI menyarankan agar sisa hutang dan biaya operasional dan
promosi pra pemasaran sebesar Rp606,94 juta ditagih kepada PT BAS dan
agar dibuat tata cara pemberian/pertanggungjawaban uang muka kerja
berikut sanksinya.
Dari hasil pemeriksaan tindak lanjut diketahui, pemilik PT BAS
menyatakan perusahaan sudah dibubarkan 6 tahun yang lalu, dengan
menunjukkan akta notaris pembubaran PT BAS, tetapi tidak disertai bukti
pengesahan pendirian dan pembubaran Perseroan dari Menteri Kehakiman.
Sedangkan untuk piutang pegawai yang berasal dari uang muka kerja
sebesar Rp189,65 juta belum dipertanggungjawabkan, tetapi telah dibuat
surat edaran NO. 004/PU/SE.9.2006 tentang “Tatacara pemberian dan
pertanggungjawaban persekot kerja bagi para pejabat PT Balai Pustaka
(Persero).”
Dari uraian di atas, masalah ini masih perlu dipantau sampai dengan
adanya keputusan penyelesaian piutang PT BAS dan piutang pegawai
dilunasi.
Dari hasil pemeriksaan tindak lanjut tersebut diatas dapat disimpulkan 1
(satu) temuan telah selesai ditindaklanjuti dan 6 (enam) temuan masih harus
dipantau tindak lanjutnya.
Berdasarkan UU No 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara, pasal 20 ayat (1) yaitu “Pejabat wajib
menindaklanjuti rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan.”
Hal tersebut mengakibatkan PT Balai Pustaka berpotensi mengalami
kerugian atas beberapa temuan hasil pemeriksaan yang tidak segera
ditindaklanjuti.
Hal tersebut disebabkan Direksi PT Balai Pustaka belum sepenuhnya
berupaya menindaklanjuti Temuan Hasil Pemeriksaan BPK RI dengan
maksimal.

34
Direksi PT Balai Pustaka menjelaskan akan mengusahakan penyelesaian
temuan yang masih dipantau tersebut.
BPK RI menyarankan agar Direksi PT Balai Pustaka menindaklanjuti
temuan secara maksimal.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

35