You are on page 1of 57

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA

HASIL PEMERIKSAAN
SEMESTER II TAHUN ANGGARAN 2006

ATAS
PENDAPATAN DAN BIAYA
TAHUN BUKU (TB) 2005 DAN TB 2006

PADA
PD PEMBANGUNAN SARANA JAYA
DAN
ANAK PERUSAHAAN

DI
JAKARTA

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA IV


PERWAKILAN BPK RI DI JAKARTA

Nomor : 29 /LHP/XIV.3-XIV.3.2/01/2007
Tanggal : 11 Januari 2007
DAFTAR ISI

Hal.
Kesimpulan ……………………………………………………………………………. 1
Hasil Pemeriksaan ……………………………………………………………………... 3
I Gambaran Umum ………………………………………………………………. 3
1. Tujuan Pemeriksaan ………………………………………………………...... 3
2. Sasaran Pemeriksaan …………………………………………………………. 3
3. Metode Pemeriksaan …………………………………………………………. 3
4. Jangka Waktu Pemeriksaan ………………………………………………….. 3
5. Uraian Singkat Mengenai Obyek Pemeriksaan ……………………………… 4
a. Pendirian PD Pembangunan Sarana Jaya dan Anak Perusahaan..……….. 4
b. Tujuan dan Kegiatan PD Pembangunan Sarana Jaya serta anak
perusahaannya……………………………………………………………. 4
c. Total Aset, Laba (Rugi ) dan Opini Auditor Independen………………… 5
d. Perkembangan Aktiva dan Passiva ( Kewajiban dan Ekuitas ) PD
Pembangunan Sarana Jaya dan Anak Perusahaan………………………. 5
e. Perkembangan Hasil Usaha………………………………………………. 7
f. Perkembangan Rasio Keuangan dan Kinerja PD Pembangunan Sarana
Jaya dan Anak Perusahaannya…………………………………………… 9
6. Cakupan Pemeriksaan ………………………………………………….......... 9

II Hasil Pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern ………………………........... 14


PD Pembangunan Sarana Jaya
1. Struktur Organisasi…………………………………………………………... 14
2. Sumber Daya Aparatur…….. ………………………………………………… 15
3. Tata Laksana………………………………………………………………...... 16
a. Kebijakan…………………………………………………………………. 16
b. Pendapatan atas Kegiatan Perusahaan 18
…………………………………….
c. Pembayaran dan Pengeluaran Beban Operasional/Lain-lain 18
Perusahaan. ………………………………………………………………. 19
d. Kerjasama dengan Pihak Ketiga …………………………………………. 19
e. Pengawasan……………………………………………………………….. 20
f. Pencatatan…………………………………………………………………
PT Sarana Wisesa Propertindo: 20
1. Struktur 22
Organisasi……………………………………………… 22
……………. 22
2. Sumber Daya Aparatur………………………………………………………... 23
3. Tata Laksana…………………………………………………………………..
a. Kebijakan 23
………………………………………………………………… 24
b. Pendapatan atas Kegiatan Perusahaan…...……………………………….. 24
c. Pembayaran dan Pengeluaran Beban Operasional/Lain-lain

Perusahaan………………………………………………………………...
d. Pengawasan……………………………………………………………….

i
e. Pencatatan………………………………………………………………...

III Hasil Pemeriksaan Tindak Lanjut …………………………………………….. 25

IV Temuan Pemeriksaan ………………………………………………………….. 26


1. Penetapan Penghasilan Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya Sebesar
Rp459.028.000,00 Tidak Sesuai Ketentuan……………………………... 26
2. Pinjaman Uang Muka Kendaraan Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya
Sebesar Rp458.181.690,00 Tidak Sesuai Ketentuan …………………… 30
3. Pengeluaran Biaya Koordinasi Tidak Dilengkapi Bukti Pendukung Yang
Sah Sebesar Rp368.525.000,00………………………………………….. 31
4. PD Pembangunan Sarana Jaya Belum Melaksanakan Kewajiban
Pembayaran Pajak Bumi Bangunan Untuk Sebagian Aset Tanah Yang
Dimiliki………………………………………………………………….. 34
5. Penerimaan atas Kewajiban dan Denda Pihak Rekanan yang Sudah Jatuh
Tempo Belum Terealisasi Sebesar Rp4.876.557.501,40 Serta Kekurangan
Penerimaan Negara dari PPN sebesar Rp36.555.182,00 dan Kekurangan
37
Penerimaan Daerah dari Pajak Bangunan I sebesar Rp3.935.466,00.……
6. Penerimaan Usaha yang Sudah Jatuh Tempo pada PT Sarana Wisesa
41
Propertindo Belum Terealisasi sebesar Rp184.437.399,00……………….
7. Kewajiban Penyewa Rumah Susun bertingkat yang Sudah Jatuh Tempo
Belum DilunasiSebesar Rp1.170.632.195,00…………………………….. 42
8. Pelaksanaan Pekerjaan Pemagaran Tanah Di Jl. H Naman Kel. Pondok
Kelapa Tidak Sesuai ketentuan…………………………………………… 44
9. Harga Kontrak Pekerjaan Jasa Konsultasi Pada PD Pembangunan Sarana
Jaya Lebih Mahal Sebesar Rp134.334.750,00…………………………… 46
10. Pekerjaan Pembangunan 7 (tujuh) Unit Rumah Tinggal di Pondok kelapa
Residence Oleh PT SWP Dikenakan Denda Keterlambatan Penyelesaian
Pekerjaan Sebesar Rp76.633.450,00……………………………………… 53

ii
KESIMPULAN

Berdasarkan ketentuan Pasal 23 E Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945, Pasal 2 Undang-Undang No.5 Tahun 1973, dan Undang-Undang
No.15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
Negara, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) telah melakukan
pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas Pendapatan dan Biaya Tahun Buku (TB) 2005 dan
TB 2006 pada PD Pembangunan Sarana Jaya dan anak perusahaannya.

Pemeriksaan dilakukan dengan berpedoman pada Standar Audit Pemerintahan


(SAP) Tahun 1995 dan Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) BPK RI Tahun 2002.

Tujuan pemeriksaan adalah untuk menguji dan menilai, apakah informasi


keuangan telah disajikan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, entitas yang
diperiksa telah mematuhi persyaratan kepatuhan terhadap peraturan keuangan tertentu, dan
Sistem Pengendalian Intern (SPI) dari entitas tersebut baik terhadap laporan keuangan
maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara
memadai untuk mencapai tujuan pengendalian.

Sasaran pemeriksaan atas Pendapatan dan Biaya diarahkan pada pengurusan dan
pertanggungjawaban keuangan perusahaan, pengelolaan pendapatan dan piutang,
pengelolaan biaya operasional dan hutang jangka pendek, pembelian barang/
pemborongan pekerjaan/investasi, pemenuhan kewajiban kepada Negara/Daerah, serta
kerjasama dengan pihak ketiga dengan luas cakupan pemeriksaan TB 2005 sebesar
Rp28.817.070.042,10 atau 61,08% dari Realisasi Anggaran sebesar Rp47.179.378.136,24
dan TB 2006 sebesar Rp15.385.660.164,20 atau 64,77% dari Realisasi Anggaran (s.d. Juni)
sebesar Rp23.755.593.626,00.

Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa PD Pembangunan Sarana Jaya dalam


merealisasikan Pendapatan dan Biaya pada TB 2005 dan TB 2006 masih terdapat
kelemahan yang menyebabkan terjadinya penyimpangan terhadap asas ketaatan sebesar
Rp7.964.193.833,40 atau 18,02% dari Realisasi Anggaran Pendapatan dan Biaya yang
diperiksa pada TB 2005 dan TB 2006 (s.d. Juni 2006) sebesar Rp44.202.730.206,30 yaitu:
1. Penyimpangan TB 2005 atas biaya sebesar Rp601.665.875,00 atau 8.01% dari
realisasi anggaran biaya yang diperiksa sebesar Rp7.513.397.469,10 merupakan
temuan berindikasi kerugian sebesar Rp347.420.875,00 dan temuan administratif
sebesar Rp254.245.000,00.

1
2. Penyimpangan TB 2006 (s.d. Juni) atas pendapatan sebesar Rp6.272.117.743,40 atau
50,94% dari realisasi anggaran pendapatan yang diperiksa sebesar
Rp12.311.645.493,00 yang seluruhnya merupakan temuan kekurangan penerimaan
dan atas biaya sebesar Rp1.090.410.215,00 atau 35,47% dari realisasi anggaran biaya
yang diperiksa sebesar Rp3.074.014.671,20 merupakan temuan berindikasi kerugian
sebesar Rp704.123.565,00, kekurangan penerimaan sebesar Rp76.633.450,00 dan
temuan administratif sebesar Rp309.653.200,00.

Penyimpangan tersebut di atas pada dasarnya terjadi karena pelaksanaan Sistem


Pengendalian Intern (SPI) yang kurang efektif, khususnya mengenai prosedur kerja,
penyusunan materi pada Perjanjian Kerjasama dengan pihak kedua dan ketaatan pada
peraturan/ketentuan yang tidak sepenuhnya dilaksanakan baik oleh para Pelaksana maupun
oleh Penanggung Jawab kegiatan Pengelolaan Pendapatan dan Biaya Perusahaan.

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, BPK RI menyarankan agar


kelemahan-kelemahan yang ada diperbaiki, kekurangan penerimaan yang menjadi hak
perusahaan dan pembayaran yang tidak sah yang merugikan perusahaan segera ditagih dan
disetorkan ke kas perusahaan, serta para Pelaksana dan Penanggung Jawab kegiatan
Pengelolaan Pendapatan dan Biaya yang lalai melaksanakan tugas dikenakan sanksi sesuai
dengan ketentuan yang berlaku, dan kebijakan penetapan anggaran Perusahaan supaya
berpedoman pada ketentuan yang berlaku.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Kepala Perwakilan BPK RI
di Jakarta,

Drs. Hadi Priyanto, MM


NIP. 240000961

2
Hasil Pemeriksaan
I. Gambaran Umum
1. Tujuan Pemeriksaan
Untuk menguji dan menilai apakah :
a. Informasi keuangan telah disajikan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
b. Entitas yang diperiksa telah mematuhi persyaratan kepatuhan terhadap peraturan
keuangan tertentu.
c. Sistem pengendalian intern dari entitas tersebut baik terhadap laporan keuangan
maupun terhadap pengamanan atas kekayaan telah dirancang dan dilaksanakan secara
memadai untuk mencapai tujuan pengendalian.

2. Sasaran Pemeriksaan
Untuk mencapai tujuan pemeriksaan tersebut, maka sasaran pemeriksaan diarahkan
pada :
a. Pengurusan dan pertanggungjawaban keuangan perusahaan ;
b. Pengelolaan pendapatan dan piutang ;
c. Pengelolaan biaya operasional dan hutang jangka pendek ;
d. Pembelian barang/pemborongan pekerjaan/investasi;
e. Pemenuhan kewajiban kepada Negara/Daerah ;
f. Kerjasama dengan pihak ketiga.

3. Metode Pemeriksaan
Pemeriksaan pada PD Pembangunan Sarana Jaya akan memberikan suatu penilaian
terhadap pelaksanaan Rencana Kegiatan dan Anggaran Perusahaan (RKAP) dan Sistem
Pengendalian Intern, serta akurasi penyajian informasi keuangan dengan melakukan
pengujian secara uji petik (sampling). Pengujian dilakukan berdasarkan hasil uji
materialitas dan pengujian dengan pendekatan resiko melalui suatu proses pemeriksaan
dokumen, pemeriksaan fisik dan konfirmasi dengan pihak-pihak terkait atas pelaksanaan
kegiatan pengelolaan pendapatan, pengendalian biaya, kerjasama dengan pihak ketiga
dan aktivitas pendukung lainnya.

4. Jangka Waktu Pemeriksaan


Pemeriksaan dilaksanakan berdasarkan Surat Tugas Kepala Perwakilan BPK RI di
Jakarta No.26/ST/XIV.3-XIV.3.2/07/2006 tanggal 27 Juli 2006 selama 25 hari kerja
terhitung mulai tanggal 7 Agustus 2006 sampai dengan tanggal 14 September 2006.

3
5. Uraian Singkat Mengenai Obyek Yang Diperiksa
a. Pendirian PD Pembangunan Sarana Jaya dan Anak Perusahaan
PD Pembangunan Sarana Jaya didirikan berdasarkan Peraturan Daerah
No. 2 Tahun 1982 tanggal 20 Maret 1982 dan disahkan oleh Menteri Dalam Negeri
dengan suratnya No. 532.21-1260 tanggal 30 September 1982.
PD Pembangunan Sarana Jaya merupakan pengalihan Perusahaan Tanah dan
Bangunan (PTB) DKI Jakarta, yang didirikan berdasarkan SK Gubernur No.
Da.1/3/16/1969 tanggal 19 Februari 1969 jo. SK Gubernur No. Da.11/2/31/1972
tanggal 2 Februari 1972.
Sampai dengan saat ini perusahaan memiliki 2 (dua) buah anak perusahaan
yaitu :
1) PT Saranawisesa Propertindo
2) PT Karya Cipta Karsa (Minoritas)
PT Saranawisesa Propertindo didirikan berdasarkan Akta Notaris Misahardi
Wilamarta, SH Nomor 77 tanggal 3 Pebruari 1993 dan telah memperoleh pengesahan
dari Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor C-
918 HT 01.04.TH.1999 tanggal 11 Januari 1999.
Perubahan Anggaran Dasar PT Saranawisesa Propertindo terakhir
ditetapkan dengan Akta Notaris No.35 tanggal 24 September 1998 dengan modal
dasar berupa 3000 lembar saham dengan nilai nominal Rp10.000.000,00 per lembar
atau sebesar 30 milyar. Modal saham yang telah disetor per 31 Desember 2005
sebanyak 2256 lembar senilai Rp22.560.000.000,00 yaitu PD Pembangunan Sarana
Jaya DKI Jakarta sebanyak 2143 lembar senilai Rp21.430.000.000,00 atau sebesar
94.99 % dan YKK PD Pembangunan Sarana Jaya sebanyak 113 lembar saham senilai
Rp1.130.000.000,00 atau sebesar 5,01 %.

b. Tujuan dan Kegiatan PD Pembangunan Sarana Jaya serta anak perusahaannya


PD Pembangunan Sarana Jaya bertujuan untuk membantu dan menunjang kebijakan
umum pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan
membangun perumahan, bangunan bertingkat, kawasan industri berikut prasarana
lingkungan serta fasilitas sosialnya. Usaha yang dilakukan perusahaan antara lain:
1) Pengembangan Lingkungan, yang meliputi:
a) Pelaksanaan pematangan tanah.
b) Pemindahan hak atas tanah.
c) Pembangunan perumahan/gedung yang dilakukan dengan dua cara, yaitu:

4
(1) Dilaksanakan sendiri.
(2) Bekerjasama dengan pihak lain.
2) Pengelolaan Aktiva, yang meliputi:
a) Penyewaan tempat tinggal.
b) Penyewaan ruang kantor.
c) Penyewaan ruang usaha.
Pada mulanya PT Saranawisesa Propertindo bergerak dalam pengembangan
usaha hunian (Apartement) dan kemudian memulai bisnisnya dalam bidang Property
Consultant, Property Developer, Contractor dan Estate Management serta beberapa
proyek pengerukan kali yang ada di daerah Jakarta.

c. Total Aset, Laba (Rugi) dan Opini Auditor Independen


Laporan keuangan PD Pembangunan Sarana Jaya Tahun Buku 2004 dan 2005 telah
diaudit oleh KAP Tasnim Ali Widjanarko dan Rekan dengan opini Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP) dengan uraian sebagai berikut :
(dalam rupiah)
Pendapat
Tahun KAP Total Aset Laba Bersih
Auditor
2004 Tasnim Ali Widjanarko dan
172.363.784.284,69 2.519.232.851,63 WTP
Rekan
2005 Tasnim Ali Widjanarko dan
163.463.178.478,79 3.324.786.362,31 WTP
Rekan

Laporan keuangan PT Saranawisesa Propertindo Tahun Buku 2005 dan 2004


telah diaudit oleh KAP Noor Salim, Nursehan & Sinarahardja dengan opini Wajar
Tanpa Pengecualian (WTP) dengan total aset tahun 2004 sebesar
Rp24.194.439.099,00 dengan rugi sebelum pajak sebesar Rp707.270.371,00
sedangkan tahun 2005 total aset sebesar Rp21.618.942.842,00 dengan laba bersih
sebesar Rp637.758.120,00

d. Perkembangan Aktiva dan Passiva (Kewajiban dan Ekuitas) PD Pembangunan


Sarana Jaya dan Anak Perusahaan
Perkembangan aktiva dan passiva PD Pembangunan Sarana Jaya untuk dua
Tahun terakhir adalah sebagai berikut:

5
Aktiva PD Pembangunan Sarana Jaya
(dalam juta rupiah)
Tahun 2006
Uraian Tahun 2004 Tahun 2005 (s.d Juni 2006) Kenaikan(Penurunan) % Naik (Turun)

1 2 3 4 5=( 3-2) 6=(4-3) 7 =(5:2) 8=(6:3)

3-2 4-3 5:2 6:3


Aktiva Lancar 91.649,46 85.981,89 32.565,80 (5.667,57) (53.416,09) (6,18) (62,12)

Penyertaan - 173,64 19.583,46 173,64 19.409,82 100,00 11.178,20

Aktiva Tetap 56.272,64 52.747,50 43.384,16 (3.525,14) (9.363,34) (6,26) (17,75)


Aktiva Lain-lain 11.238,82 11.654,83 68.392,62 416,01 56.737,79 3,70 486,82

Aktiva Pajak Tangguhan 3.217,19 1.648,95 - (1.568,24) (1.648,95) (48,75) (100,00)

Aktiva KSO 9.985,66 11.256,36 - 1.270,70 (11.256,36) 12,73 (100,00)


JUMLAH AKTIVA 172.363,77 163.463,17 163.926,04 (8.900,60) 462,87 (5,16) 0,28

Dari data tersebut di atas menunjukkan bahwa jumlah aktiva PD Pembangunan Sarana
Jaya pada Tahun Buku 2005 menurun dari Tahun 2004 sebesar Rp 8.900.60 juta atau 5,16%.
Sedangkan Tahun 2006 s.d Juni mengalami kenaikan sebesar Rp462,88 juta dari TB 2005
atau 0,28%.

Pasiva dan Ekuitas PD Pembangunan Sarana Jaya


(dalam juta rupiah)
Uraian Tahun
Kenaikan(Penurunan) % Naik (Turun)
Kewajiban dan Ekuitas 2004 2005 s.d. Juni 2006
1 2 3 4 5 = (3-2) 6=(4-3) 7=(5:2) 8=(6:3)
Kewajiban lancar 52.865,94 47.179,78 45.182,74 (5.686,16) (1.997,04) (10,76) (4,23)
Kewajiban tidak lancar 44.310,13 40.008,33 41.448,82 (4.301,80) 1.440,49 (9,71) 3,60
Hak minoritas 1.049,60 1.081,62 - 32,02 (1.081,62) 3,05 (100,00)
Ekuitas 74.138,10 75.193,44 77.294,48 1.055,34 2.101,04 1,42 2,79
Jumlah 172.363,77 163.463,17 163.926,04 (8.900,60) 462,87 (5,16) 0,28

Dari data di atas menunjukkan bahwa passiva dan ekuitas PD Pembangunan Sarana
Jaya Tahun Buku 2005 menurun dari tahun Buku 2004 sebesar Rp8.900,60 juta atau
sebesar 5,16 %, sedangkan untuk Tahun Buku 2006 sampai dengan bulan Juni terjadi
kenaikan dari Tahun Buku 2005 sebesar Rp462,87 atau sebesar 0,28 %.

6
Perkembangan aktiva PT Saranawisesa Propertindo adalah sebagai berikut:
(dalam juta rupiah)

Tahun 2006
Uraian Tahun 2004 Tahun 2005 (s.d Juni 2006) Kenaikan(Penurunan) % Naik (Turun)

1 2 3 4 5 6 7 8
3-2 4-3 5:2 6:3

Aktiva Lancar 11.318,87 10.402,84 10.508,63 (916,03) 105,79 (8,09) 1,02

Penyertaan 0 0 65,79 0 65,79 0 100,00


Aktiva Tetap 8.192,13 8.067,89 7.856,21 (124,24) (211,68) (1,52) 2,62

Aktiva Lain-lain 2.398,55 3.100,97 2.315,36 702,42 (785,61) 29,28 (25,33)

Aktiva Pajak Tangguhan 1.431,89 47,24 47,24 (1.384,65) 0 (96,70) 0

Biaya Ditangguhkan 852,99 0 0 (852,99) 0 (100,00) 0

JUMLAH AKTIVA 24.194,43 21.618,94 20.793,23 (2.575,49) (825,71) (10,64) (3,82)

Dari data di atas menunjukkan bahwa jumlah aktiva PT Saranawisesa Propertindo


pada Tahun Buku 2005 menurun sebesar Rp2.575,49 juta dibandingkan Tahun Buku
2004 atau sebesar 10,64 %. Sedangkan Tahun Buku 2006 sampai dengan bulan Juni
menurun sebesar Rp825,71 juta dibandingkan Tahun Buku 2005 atau sebesar 3,82 %.
Passiva dan Ekuitas PT Saranawisesa Propertindo
(dalam juta rupiah)
Tahun
Uraian Kenaikan/Penurunan % Naik (Turun)
2004 2005 s.d. Juni 2006
1 2 3 4 5= (3-2) 6=(4-3) 7=(5:2) 8=(6:3)
Kewajiban jangka pendek 3.977,89 552,08 431,62 (3.425,81) (120,46) (86,12) (21,82)
Kewajiban jangka panjang - 144,11 144,11 144,11 0 100,00 0
Kepemilikan minoritas 38,95 35,42 - (3,53) (35,42) (9,06) (100,00)
Ekuitas 20.177,59 20.887,33 20.217,50 709,74 (669,83) 3,52 (3,21)
Jumlah 24.194,43 21.618,94 20.793,23 (2.575,49) (825,71) (10,64) (3,82)

Dari data di atas menunjukkan bahwa jumlah passiva dan ekuitas PT


Saranawisesa Propertindo Tahun Buku 2005 menurun dari Tahun Buku 2004 sebesar
Rp2.575,49 juta atau sebesar 10,64 %. Demikian halnya untuk Tahun Buku 2006
menurun dari Tahun Buku 2005 sebesar Rp825,71 juta atau sebesar 3,82 %.
e. Perkembangan Hasil Usaha
Perkembangan hasil usaha Konsolidasi PD Pembangunan Sarana Jaya dan
anak perusahaannya untuk dua Tahun Buku terakhir adalah sebagai berikut:

7
(dalam juta rupiah)
Tahun 2005 Tahun 2006
Uraian Realisasi s.d
RKAP (Rp) Realisasi (Rp) % RKAP (Rp) %
Juni(Rp)

1 2 3 4 (3:2) 5 6 7 (6:5)
Pendapatan 20.339,00 17.727,17 87,16 24.597,23 13.214,03 53,72
Beban Pokok Penjualan (7.408,84) (7.417,13) 100,11 (10.020,73) (4.678,81) 46,69
Laba (Rugi) Kotor 12.930,16 10.310,04 79,74 14.576,50 8.535,22 58,55
Beban Usaha (8.881,82) (9.814,57) 110,50 (11.029,58) (5.354,64) 48,55
Laba (Rugi) Usaha 4.048,34 495,47 12,24 3.546,92 3.180,58 89,67
Pendapatan Lain-lain 340,14 7.539,11 2.216,47 - - -
Beban Lain-lain (1.660,16) (4.475,48) 269,58 (539,82) (508,10) 94,12
Laba Sebelum Pajak 2.728,32 3.559,10 130,45 3.007,10 2.672,48 88,87
Pajak 380.99 205,90 54,04 - - -
Laba Stlh Pajak 2.347,33 3.353,20 142,85 3.007,10 2.672,48 88,87
Laba (Rugi) anak
perusahaan 447,18 (28,41) N/A 326,80 (431,31) N/A
Laba Bersih 2.794,51 3.324,79 118,98 3.333,90 2.241,17 67,22

Dari data di atas menunjukkan bahwa realisasi laba sebelum pajak PD


Pembangunan Sarana Jaya Tahun 2005 dan 2006 s.d bulan Juni masing-masing
sebesar 130,45 % dan 88,87% dari yang dianggarkan.

Perkembangan hasil usaha PT Saranawisesa Propertindo untuk dua tahun terakhir


adalah sebagai berikut:
(dalam juta rupiah)
Tahun 2005 Tahun 2006
Uraian RKAP Realisasi s.d
Realisasi (Rp) % RKAP (Rp) %
(Rp) Juni(Rp)

Pendapatan 4.330,81 3.283,70 75,82 7.019,56 2.198,84 31,32


Beban Pokok Penjualan (3.292,16) (2.397,51) 72,82 (5.036,87) (1.535,84) 30,49
Laba (Rugi) Kotor 1.038,65 886,19 85,32 1.982,69 663,00 33,44
Beban Usaha (1.260,42) (1.941,80) 154,06 (1.647,14) (885,45) 53,76
Laba (Rugi) Usaha (221,77) (1.055,61) 475,99 335,55 (222,45) N/A
Pendapatan Lain-lain 1.478,40 1.816,17 122,85 519,00 272,79 52,56
Beban Lain-lain (1.055,59) (104,03) 9,86 (804,32) (717,32) 89,18
Laba Sebelum Pajak 201,04 656,53 326,57 50,23 (666.98) N/A
Pajak kini - (32,33) - - -
Pajak tangguh - 10,03 - -
Kepemilikan Minoritas - 3,53 - - -
Laba Bersih 201,04 637,76 317,23 50,23 (666.98) N/A

Dari data tersebut di atas menunjukkan bahwa Realisasi laba sebelum pajak PT Sarana
Wisesa Propertindo Tahun 2005 sebesar Rp656,53 juta sedangkan Tahun 2006 s/d Juni rugi
sebesar Rp666,98 juta.

8
f. Perkembangan Rasio Keuangan PD Pembangunan Sarana Jaya adalah :
No Uraian TB 2005 TB 2006 (sd Juni)
1 ROE 4,46 % 2,90 %
2 ROI 38,05 % 49,74 %
3 Rasio Kas 6,14 % 6,72 %
4 Current Ratio 182,24 % 72,08 %
5 Collection Period 100,49 78,58
6 Inventory Turn Over 3.788,00 1.900,79
7 Total Turn Over (TATO) 10,84 % 8,06
8 Rasio Total Modal Sendiri Terhadap Total Aset 46,00 % 47,15%

Perkembangan Rasio Keuangan PT Saranawisesa Propertindo adalah :


No Uraian TB 2005 TB 2006 (sd Juni)
1 ROE 3.05 % (3,30 %)
2 ROI 14,00 % (8,07 %)
3 Rasio Kas 321,31 % 515,31 %
4 Current Ratio 1.884,29 % 2.434,69 %
5 Collection Period 163,69 287,80
6 Inventory Turn Over 587,26 772,62
7 Total Turn Over (TATO) 15,19 % 20,92 %
8 Rasio Total Modal Sendiri Terhadap Total Aset 96.62 % 192,39 %

6. Cakupan pemeriksaan
Cakupan Pemeriksaan pada PD Pembangunan Sarana Jaya untuk Tahun 2005 dan
Tahun 2006 (s.d. Juni) adalah sebagai berikut:
Realisasi Nilai yang ACR
No. Perkiraaan
(Rp) Diperiksa (Rp) (%)
1 2 3 4 5
Tahun Buku (TB) 2005
I Pendapatan
a. Pendapatan Operasional 17.727.170.842,97 16.509.262.316,00 93,13
b. Pendapatan Non Operasional 7.539.119.098,21 4.794.410.257,00 63,32
Jumlah 25.266.289.941,18 21.303.672.573,00 84,32
II Biaya
a. HPP 7.417.134.041,30 - N/A
b. Beban Usaha 9.814.574.669,33 6.736.219.588,14 68,63
1. Pemasaran 461.026.243,64 115.256.560,91 25,00
2. Pegawai 5.072.835.033,43 5.072.835.033,43 100,00
3. Kantor 495.556.767,00 346.889.736,90 70,00
4. Pemerliharaan 162.839.744,00 97.703.846,40 60,00
5. Penyusutan 598.320.049,19 - N/A
6. Umum 3.023.996.832,07 1.103.534.410,50 36,49
c. Biaya lain-lain 4.681.379.484,43 777.177.880,96 16,60
Jumlah 21.913.088.195,06 7.513.397.469,10 34,29

9
1 2 3 4 5
TB 2006 (s.d Juni)
I Pendapatan
a. Pendapatan Operasional 11.558.570.994,00 10.656.180.711,00 92,19
b. Pendapatan Non Operasional 1.655.464.782,00 1.655.464.782,00 100,00
Jumlah 13.214.035.776,00 12.311.645.493,00 93,17
II Biaya
a. HPP 4.678.812.255,00 - N/A
b. Beban Usaha 5.354.644.887,00 2.938.052.920,70 54,87
1. Pemasaran 67.714.917,00 13.542.983,40 20,00
2. Pegawai 1.947.365.942,00 1.947.365.942,00 100,00
3. Kantor 346.011.534,00 173.005.767,00 50,00
4. Pemerliharaan 138.143.293,00 41.442.987,90 30,00
5. Umum 2.855.409.201,00 762.695.240,40 26,71
c. Biaya lain-lain 508.100.708,00 135.961.750,50 26,76
Jumlah 10.541.557.850,00 3.074.014.671,20 29,16

Dari cakupan pemeriksaan TB 2005 sebesar Rp28.817.070.042,10 atau 61,08%


dari Realisasi Anggaran sebesar Rp47.179.378.136,24 ditemukan penyimpangan atas biaya
sebesar Rp601.665.875,00 atau 8.01% dari realisasi anggaran biaya yang diperiksa sebesar
Rp7.513.397.469,10 merupakan temuan berindikasi kerugian sebesar Rp347.420.875,00 dan
temuan administratif sebesar Rp254.245.000,00.
Sedangkan cakupan pemeriksaan TB 2006 sebesar Rp15.385.660.164,20 atau 64,77%
dari Realisasi Anggaran (s.d. Juni) sebesar Rp23.755.593.626,00ditemukan penyimpangan
atas pendapatan sebesar Rp6.272.117.743,40 atau 50,94% dari realisasi anggaran pendapatan
yang diperiksa sebesar Rp12.311.645.493,00 yang seluruhnya merupakan temuan
kekurangan penerimaan dan atas biaya sebesar Rp1.090.410.215,00 atau 35,47% dari
realisasi anggaran biaya yang diperiksa sebesar Rp3.074.014.671,20 merupakan temuan
berindikasi kerugian sebesar Rp704.123.565,00, kekurangan penerimaan sebesar
Rp76.633.450,00 dan temuan administratif sebesar Rp309.653.200,00.
Rekapitulasi hasil pemeriksaan atas Pendapatan dan Biaya PD Pembangunan Sarana
Jaya TB 2005 dan TB 2006 dimuat dalam daftar pada halaman berikut ini.

10
DAFTAR REKAPITULASI HASIL PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DALAM SEMESTER II TAHUN ANGGARAN 2005

BUMD : PD pembangunan Sarana Jaya dan Anak perusahaan


Tahun Buku : 2005

Rincian Temuan
Total Temuan Yang
No Nama Obrik/Sasaran Jml Jml Nilai yang Ketertiban dan Ketaatan (2 K) Pendapat
Ditemukan Pada Saat
Anggaran/ Realisasi Diperiksa % Indikasi Kerugian Kekurangan Administrasi Jumlah 2 K Kehematan dan Efektivitas Opini Tingkat Pencapaian Usulan Pokok
Pemeriksaan
Asset Cakrik Penerimaan Efisiensi (Pemeriksaan Kinerja Temuan Ikhtisar
atas Lap keu) Pemeriksaan Kinerja Hapsem
Jenis Entitas Jml Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % % sebulan
1 2 3 4 5 6 7=6:5 8 9 10=9:6 11 12 13 =12:6 14 15 16=15:6 17 18 19=18:6 20 21 22=21:6 23 24 25=24:6 26 27 28=27:6 29 30 31 32
Pemeriksaan dengan tujuan tertentu
Tahun 2005
Laporan Laba/Rugi TB 2005 dan 2006
Pendapatan 21.126,32 25.266,28 21.303,67 84,32
Biaya 18.331,81 21.913,08 7.513,40 34,29
Jumlah 39.458,13 47.179,36 28.817,07 61,08 0,00 601,66 2,09% 2 347,42 4,62% 0 0,00 0,00% 1,00 254,24 3,38% 0 601,66 2,09%

I Pendapatan 25.266,28 21.303,67 84,32 0 0,00 0,00% 0 0,00 0,00 0 0,00 0,00% 0 0,00 0,00% 0 0,00 0,00%

1 Penyimpangan Yang Mengganggu Kewajaran


Laporan Keuangan
2 Penyimpangan Terhadap Kriteria/Peraturan Yang
Telah Ditetapkan

II Biaya 21.913,08 7.513,40 34,29 0 601,66 8,01% 2 347,42 4,62% 0 0 0 1 254,24 3,38% 0 601,66 8,01%

1 Penyimpangan Yang Mengganggu Kewajaran Laporan


Keuangan
2 Penyimpangan Terhadap Kriteria/Peraturan Yang
Telah Ditetapkan

1 Penetapan penghasilan Direksi PD PSJ sebesar


Rp284.274.000,00 Tidak Sesuai Ketentuan 1 284,27 3,78%

2 Pengeluaran Biaya Koordinasi Tidak Dilengkapi Bukti


pendukung yang sah sebesar Rp254.245.000,00 1 254,24 3,38%

3 PD PSJ Belum melaksanakan Kewajiban Pembayaran Pajak


Bumi dan Bangunan untuk Sebagian Aset Tanah yang
Dimiliki

4 Harga Kontrak pekerjaan Jasa Konsultansi pada PD PSJ Lebih


Mahal sebesar Rp63.146.875,00 1 63,15 0,84%

11
DAFTAR REKAPITULASI HASIL PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DALAM SEMESTER II TAHUN ANGGARAN 2005

BUMD : PD pembangunan Sarana Jaya dan Anak perusahaan


Tahun Buku : 2006 (Triwulan II)

Rincian Temuan
Total Temuan Yang
No Nama Obrik/Sasaran Jml Jml Nilai yang Ketertiban dan Ketaatan (2 K) Pendapat
Ditemukan Pada Saat
Anggaran/ Realisasi Diperiksa % Indikasi Kerugian Kekurangan Administrasi Jumlah 2 K Kehematan dan Efektivitas Opini Tingkat Pencapaian Usulan Pokok
Pemeriksaan
Asset Cakrik Penerimaan Efisiensi (Pemeriksaan Kinerja Temuan Ikhtisar
atas Lap keu) Pemeriksaan Kinerja Hapsem
Jenis Entitas Jml Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % % sebulan
1 2 3 4 5 6 7=6:5 8 9 10=9:6 11 12 13 =12:6 14 15 16=15:6 17 18 19=18:6 20 21 22=21:6 23 24 25=24:6 26 27 28=27:6 29 30 31 32
Pemeriksaan dengan tujuan tertentu
Tahun 2006
Laporan Laba/Rugi TB 2005 dan 2006
Pendapatan 24.924,03 13.214,03 12.311,65 93,17
Biaya 21.590,13 10.541,55 3.074,11 29,16
Jumlah 46.514,16 23.755,58 15.385,76 64,77 9 7.362,52 47,85% 3 704,12 22,90% 4 6.348,75 53,44% 2 309,65 10,07% 3 7.362,52 47,85%

I Pendapatan 13.214,03 12.311,65 93,17 3 6.272,12 50,94% 0 0,00 0,00 3 6.272,12 50,94% 0 0,00 0,00 3 6.272,12 50,94%

1 Penyimpangan Yang Mengganggu Kewajaran


Laporan Keuangan
2 Penyimpangan Terhadap Kriteria/Peraturan Yang
Telah Ditetapkan

1 Penerimaan atas Kewajiban dan Denda Pihak Rekanan


yang Sudah Jatuh Tempo Belum Terealisasi sebesar
Rp4.876.557.501,40 serta Kekurangan Penerimaan
Negara dari PPN sebesar Rp36.555.182,00 dan
Kekurangan Penerimaan Daerah dari Pajak Bangunan I
sebesar Rp3 935 466 00 1 4.917,05 39,94%

2 Penerimaan Usaha yang Sudah Jatuh Tempo pada PT SWP


Belum Terealisasi sebesar Rp184.437.399,00 1 184,44 1,50%

3 Kewajiban Penyewa Rumah Susun Bertingkat yang Sudah


Jatuh Tempo Belum Dilunasi sebesar Rp1.170.632.195,00
1 1.170,63 9,51%

II Biaya 10.541,55 3.074,11 29,16 6 1.090,40 35,47% 3 704,12 22,90% 1 76,63 0 2 309,65 10,07% 0 1.090,40 35,47%

1 Penyimpangan Yang Mengganggu Kewajaran Laporan


Keuangan
2 Penyimpangan Terhadap Kriteria/Peraturan Yang
Telah Ditetapkan

1 Penetapan Penghasilan Direksi PD Pembangunan Sarana


Jaya Sebesar Rp174.754.000,00 Tidak Sesuai Ketentuan. 1 174,75 5,68%

2 Pinjaman Uang Muka Kendaraan Direksi PD Pembangunan


Sarana Jaya Sebesar Rp458.181.690,00 Tidak Sesuai 1 458,18 14,90%

3 Pengeluaran Biaya Koordinasi Tidak Dilengkapi Bukti


pendukung yang sah sebesar Rp114.280.000,00 1 114,28 3,72%

4 PD PSJ Belum melaksanakan Kewajiban Pembayaran Pajak


Bumi dan Bangunan untuk Sebagian Aset Tanah yang
Dimiliki

6 Pelaksanaan Pekerjaan Pemagaran Tanah di Jl. H. Naman


Kel. Pondok Kelapa Tidak Sesuai Ketentuan 1 195,37 6,36%

7 Harga Kontrak pekerjaan Jasa Konsultansi pada PD PSJ Lebih


Mahal sebesar Rp71.187.875,00 1 71,19 2,32%

9
Pekerjaan Pembangunan 7 (tujuh) Unit Rumah Tinggal di
Pondok Kelapa Residence Oleh PT SWP Dikenakan Denda
Keterlambatan Penyelesaian Pekerjaan Sebesar
Rp76.633.450,00
1 76,63 2,49%

12
DAFTAR REKAPITULASI HASIL PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DALAM SEMESTER II TAHUN ANGGARAN 2005

BUMD : PD pembangunan Sarana Jaya dan Anak perusahaan


Tahun Buku : 2005 dan 2006 (Triwulan II)

Rincian Temuan
No Nama Obrik/Sasaran Jml Jml Nilai yang Total Temuan Yang Ditemukan Ketertiban dan Ketaatan (2 K) Pendapat
Anggaran/ Realisasi Diperiksa % Pada Saat Pemeriksaan Indikasi Kerugian Kekurangan Administrasi Jumlah 2 K Kehematan dan Efektivitas Opini Tingkat Pencapaian Usulan Pokok
Asset Cakrik Penerimaan Efisiensi (Pemeriksaan Kinerja Temuan Ikhtisar
atas Lap keu) Pemeriksaan Kinerja Hapsem
Jenis Entitas Jml Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % Jml Nilai % % sebulan
1 2 3 4 5 6 7=6:5 8 9 10=9:6 11 12 13 =12:6 14 15 16=15:6 17 18 19=18:6 20 21 22=21:6 23 24 25=24:6 26 27 28=27:6 29 30 31 32
Pemeriksaan dengan tujuan tertentu
Tahun 2006
Laporan Laba/Rugi TB 2005 dan 2006
Pendapatan 46.050,35 38.480,31 33.615,32 87,36
Biaya 39.921,94 32.454,63 10.587,41 32,62
Jumlah 85.972,29 70.934,94 44.202,73 62,31 0,00 7.964,19 18,02% 5,00 1.051,55 9,93% 1,00 6.348,75 19,38% 3,00 563,89 7,48% 0,00 7.964,19 18,02%

I Pendapatan 38.480,31 33.615,32 87,36 6.272,12 18,66% 0 0,00 0,00 6.272,12 18,66% 0,00 0,00 0 6.272,12 18,66%

1 Penyimpangan Yang Mengganggu Kewajaran


Laporan Keuangan
2 Penyimpangan Terhadap Kriteria/Peraturan Yang
Telah Ditetapkan

1 Penerimaan atas Kewajiban dan Denda Pihak Rekanan


yang Sudah Jatuh Tempo Belum Terealisasi sebesar
Rp4.876.557.501,40 serta Kekurangan Penerimaan
Negara dari PPN sebesar Rp36.555.182,00 dan
Kekurangan Penerimaan Daerah dari Pajak Bangunan I
sebesar Rp3.935.466,00 1 4.917,05 14,63%

2 Penerimaan Usaha yang Sudah Jatuh Tempo pada PT SWP


Belum Terealisasi sebesar Rp184.437.399,00 1 184,44 0,55%

3 Kewajiban Penyewa Rumah Susun Bertingkat yang Sudah Jatuh


Tempo Belum Dilunasi sebesar Rp1.170.632.195,00
1 1.170,63 3,48%

II Biaya 32.454,63 10.587,41 32,62 0 1.692,07 15,98% 5 1.051,55 9,93% 1 76,63 0 3 563,89 7,48% 0 1.692,07 18,14%

1 Penyimpangan Yang Mengganggu Kewajaran Laporan


Keuangan
2 Penyimpangan Terhadap Kriteria/Peraturan Yang
Telah Ditetapkan

1 Penetapan penghasilan Direksi PD PSJ sebesar


Rp459.028.000,00 Tidak Sesuai Ketentuan 2 459,03 4,34%

2 Pinjaman Uang Muka Kendaraan Direksi PD


Pembangunan Sarana Jaya Sebesar Rp458.181.690,00 1 458,18 4,33%

3 Pengeluaran Biaya Koordinasi Tidak Dilengkapi Bukti


pendukung yang sah sebesar Rp368.525.000,00 2 368,52 3,48%

4 PD PSJ Belum melaksanakan Kewajiban Pembayaran Pajak

Bumi dan Bangunan untuk Sebagian Aset Tanah yang Dimiliki

5 Pelaksanaan Pekerjaan Pemagaran Tanah di Jl. H. Naman Kel.


Pondok Kelapa Tidak Sesuai Ketentuan 1 195,37 4,00%

6 Harga Kontrak pekerjaan Jasa Konsultansi pada PD PSJ


Lebih Mahal sebesar Rp134.334.750,00 2 134,34 1,27%

7
Pekerjaan Pembangunan 7 (tujuh) Unit Rumah Tinggal
di Pondok Kelapa Residence Oleh PT SWP Dikenakan
Denda Keterlambatan Penyelesaian Pekerjaan Sebesar
Rp76.633.450,00
1 76,63 0,72%

13
II. Hasil Pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern (SPI)

Hasil pengujian SPI atas penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan dan atas kegiatan
pengelolaan pendapatan dan pengendalian biaya Tahun 2005 dan Tahun 2006 pada PD
Pembangunan Sarana Jaya adalah sebagai berikut :

1. Struktur Organisasi
Dalam rangka mewujudkan sasaran dan tujuan organisasi tersebut, berdasarkan Peraturan
Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 47 Tahun 2003 tanggal 9 Juni 2003 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Perusahaan Daerah Pembangunan Sarana Jaya Provinsi DKI
Jakarta dan untuk pelaksanaan ditetapkan dengan Surat Keputusan Direksi Perusahaan
Daerah Pembangunan Sarana Jaya Provinsi DKI Jakarta No. 010/Tahun 2005 tanggal 11
Februari 2005 tentang Pembentukan Organisasi Dan Tata Kerja Satu Tingkat Dibawah
Satuan Pengawas Intern Dan Divisi Serta Unit Usaha dilingkungan Kerja Perusahaan
Daerah Pembangunan Sarana Jaya Provinsi DKI Jakarta , PD Pembangunan Sarana Jaya
memiliki struktur organisasi yang terdiri dari Badan Pengawas, Direksi, Unsur Staf dan
Unsur Pelaksana.
a. Badan Pengawas
Badan Pengawas mempunyai tugas mengawasi kegiatan operasional PD
Pembangunan Sarana Jaya, memberikan pendapat dan saran kepada Gubernur
terhadap pengangkatan dan pemberhentian direksi, memberikan pendapat dan saran
kepada Gubernur terhadap program kerja yang dianjurkan oleh Direksi, memberikan
pendapat dan saran kepada Gubernur terhadap laporan keuangan perusahaan, dan
memberikan pendapat dan saran atas laporan kinerja PD Pembangunan Sarana Jaya.
Badan Pengawas paling banyak tiga orang dengan susunan keanggotaan terdiri atas
Ketua, Sekretaris dan Anggota. Badan Pengawas bertanggung jawab kepada
Gubernur.
b. Dewan Direksi
Direksi terdiri dari Direktur Utama, Direktur Umum dan Keuangan, dan Direktur
Pengembangan. Direktur Utama mempunyai tugas memimpin, mengawasi, dan
mengendalikan semua kegiatan PD Pembangunan Sarana Jaya, menyampaikan
Rencana Kerja Lima Tahunan dan RKAP Tahunan kepada Badan Pengawas, dan

14
mengkoordinasikan pelaksanaan secara konsisten, mewakili PD Pembangunan Sarana
Jaya baik di dalam maupun di luar pengadilan.
Direktur Umum dan Keuangan mempunyai tugas menetapkan kebijakan operasional
dan strategi PD Pembangunan Sarana Jaya, yang berkaitan dengan kegiatan bidang
keuangan, akuntansi, perpajakan, umum, hukum dan sistem manajemen informasi,
mengurus dan mengelola kekayaan PD Pembangunan Sarana Jaya, memimpin dan
mengkoordinasikan kegiatan penyusunan RKAP, serta melaksanakan tugas-tugas
lainnya yang diberikan Direktur Utama.
Direktur Pengembangan mempunyai tugas menetapkan kebijakan operasional yang
berkaitan dengan kegiatan perencanaan dan pengendalian usaha serta pengembangan
usaha, pengelolaan dan pemeliharaan aset PD Pembangunan Sarana Jaya , kegiatan
promosi, pemasaran dan perizinan tempat usaha, pembinaan kepada pihak
ketiga/rekanan, pengembangan usaha, pengelolaan kawasan kerjasama, menyusun
perjanjian kerjasama (fungsi aspek legalitas) serta melaksanakan tugas-tugas lainnya
yang diberikan Direktur Utama.

2. Sumber Daya Aparatur


Sampai dengan bulan Juni 2006 PD Pembangunan Sarana Jaya memiliki pegawai
sebanyak 68 orang, atau mengalami penurunan pegawai sebanyak 1 orang dari jumlah
pegawai PD Pembangunan Sarana Jaya per 31 Desember 2005 sebanyak 69 orang.
Sedangkan selama tahun 2005, jumlah pegawai mengalami penurunan sebanyak 10 orang
dari jumlah pegawai pada tahun 2004 sebanyak 79 orang.
Berdasarkan hasil penilaian, Direksi telah memiliki kompetensi dan keahlian yang
memadai dalam merumuskan kebijakan atas pengelolaan dan operasional pada PD
Pembangunan Sarana Jaya, mengendalikan dan melakukan pengawasan atas kebijakan-
kebijakan yang telah ditetapkan. Namun terdapat beberapa hal yang kurang diperhatikan
oleh Direksi, salah satunya adalah Direksi kurang mentaati peraturan yang berlaku bagi
PD Pembangunan Sarana Jaya seperti penetapan penghasilan Direksi tidak melalui
persetujuan ataupun pengesahan dari Gubernur dan sebagian besar aset tanah yang
dimiliki belum didaftarkan ke kantor PBB dan membayar kewajiban PBB.
Selanjutnya dalam pelaksanaan pengelolaan PD Pembangunan Sarana Jaya, Direksi
dibantu oleh Unsur Staf yang terdiri dari satu Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan empat
divisi. Selain itu Direksi dibantu oleh Unsur Pelaksana yang terdiri dari Unit Usaha

15
Kerjasama, Unit Studio Litbang, Unit Rumah Sewa Bertingkat dan Unit Wisma
Perkantoran dan Pertokoan.
Berdasarkan kompetensi dan keahlian menunjukkan bahwa kompetensi dan keahlian
yang diperlukan untuk menduduki suatu jabatan tertentu kurang diperhatikan oleh pihak
manajemen PD Pembangunan Sarana Jaya. Peranan Manajer Divisi Umum dan Hukum
dalam menyusun surat perjanjian yang mengikat dengan pihak lain kurang cermat dan
kurang mentaati peraturan yang berlaku seperti beberapa perjanjian dengan pihak lain
tidak terdapat klausul sanksi (denda) ,selain itu dalam mengelola barang inventaris
perusahaan, Manajer Divisi Umum dan Hukum belum memperhatikan pengendalian yang
baik terlihat lemahnya monitoring atas barang inventaris dengan tidak lengkapnya data
barang inventaris yang tercatat pada buku induk barang inventaris, tidak semua ruangan
memiliki Kartu Inventaris Ruangan dan tidak ada penomoran kode inventaris untuk
barang inventaris hasil pengadaan tahun 2005 dan 2006.
Peranan Manajer Divisi Perencanaan dan Pengendalian Usaha kurang optimal dan kurang
mentaati peraturan yang berlaku dalam melaksanakan tugasnya sebagai divisi yang
melakukan assesment terhadap seluruh studi kelayakan, rencana dan ekspansi usaha
baik yang diajukan atau dilakukan oleh intern perusahaan maupun mitra usaha terlihat
dari beberapa kerjasama pekerjaan fisik dan non fisik yang dilakukan tidak tercapai
tujuannya.

3. Tata Laksana
Kegiatan pengelolaan seluruh aktivitas perusahaan (tata laksana) adalah suatu
kegiatan untuk meyakinkan bahwa kebijakan dan prosedur yang ditetapkan telah sesuai
dengan tujuan dan sasaran organisasi dan untuk meyakinkan bahwa kebijakan dan
prosedur tersebut telah dilaksanakan oleh manajemen dengan sebaik-baiknya. Hal-hal
yang terpenting dalam kegiatan tata laksana adalah sebagai berikut :

a. Kebijakan
PD Pembangunan Sarana Jaya setiap Tahun membuat Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan (RKAP) yang disahkan oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta, sebagai
pedoman dalam pelaksanaan pengelolaan pendapatan dan biaya.
Penyusunan RKAP diusulkan oleh masing-masing area/unit kerja dengan dikoordinir
oleh Divisi Keuangan sebelum Tahun Buku yang bersangkutan. RKAP disusun

16
berdasarkan asumsi dan hasil evaluasi atas pelaksanaan RKAP Tahun buku
sebelumnya, perkembangan ekonomi, kebijakan-kebijakan pemerintah dan daerah.
Setelah dilakukan pembahasan antara Direksi, para Manajer dan Badan Pengawas,
RKAP perusahaan kemudian diusulkan Direksi kepada Gubernur melalui Badan
Pengawas untuk mendapatkan pengesahan.
Untuk Tahun 2005, Gubernur Provinsi DKI Jakarta telah menerbitkan Surat
Keputusan No. 2838 tanggal 31 Desember 2004 tentang RKAP PD Pembangunan
Sarana Jaya Provinsi DKI Jakarta Tahun 2005. Untuk Tahun 2006, Gubernur
Provinsi DKI Jakarta telah menerbitkan Surat Keputusan No. 2434 tanggal 28
Desember 2005 tentang RKAP PD Pembangunan Sarana Jaya Provinsi DKI Jakarta
Tahun 2006.
Dalam setiap RKAP yang diterbitkan, PD Pembangunan Sarana Jaya menetapkan
beberapa hal yang dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan
operasional PD Pembangunan Sarana Jaya, yaitu diantaranya sebagai berikut:
1) Rencana Kerja
Rencana kerja untuk PD Pembangunan Sarana Jaya Tahun 2005 yang terdiri
atas :
a) Pengembangan dan pemeliharaan alat-alat produksi.
b) Melakukan pengembangan lingkungan dengan mendayagunakan serta
mengelola lahan-lahan yang sudah dimiliki, baik dilaksanakan sendiri
maupun kerjasama dengan pihak ketiga.
c) Rencana Tenaga Kerja adalah mengurangi pegawai dari 77 orang menjadi 70
orang.
d) Rencana Kerja Pemasaran akan melakukan pemasaran atas produk-produk
yang akan dijual seperti Perumahan Puri Bintaro, Pulo Jahe dan lain-lain.
e) Rencana kerja organisasi dan manajemen akan dilakukan recruitmen tenaga
profesional dengan sistem outsourcing dan pengembangan pegawai melalui
training serta akan dilakukan Program ISO untuk manajemen.

17
2) Rencana Anggaran
Rencana anggaran meliputi proyeksi Laba (Rugi), Proyeksi Neraca, Proyeksi
Investasi, dan Proyeksi Arus Kas yang dijadikan pedoman dalam melakukan
pengelolaan keuangan PD Pembangunan Sarana Jaya untuk tahun berikutnya.

b. Pendapatan atas Kegiatan Perusahaan


Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang properti, pendapatan pokok PD
Pembangunan Sarana Jaya dan anak perusahaan diperoleh dari Kerjasama Operasi,
Sewa, Penjualan dan Jasa yang diimplementasikan dalam bentuk persewaaan
lahan/gedung/apartemen/kios, Build Operate and Transfer (BOT) dan Kerjasama
Operasi (KSO).
Selain pendapatan pokok, terdapat juga penerimaan yang diterima dari
pendapatan lain-lain yang sebagian besar diperoleh dari pembayaran denda akibat
dari keterlambatan pembayaran atas suatu perjanjian.
Atas implementasi dari Pendapatan Kerjasama Operasi dan Pendapatan Sewa,
terdapat beberapa kelemahan antara lain:
1) Klausul dalam kontrak yang menyatakan kewajiban yang harus diselesaikan pada
masing-masing termin sesuai dengan tanggal jatuh tempo hanyalah merupakan
formalitas terlihat dari sebagian kewajiban rekanan yang telah jatuh tempo belum
terealisasi.
2) Beberapa perjanjian kerjasama tidak mencantumkan klausul denda
keterlambatan. Hal ini akan berdampak pada pembayaran bagi hasil yang
berlarut-larut karena membuka peluang bagi rekanan untuk menunda pembayaran
tersebut.
3) Adanya perubahan atas suatu perjanjian yang hanya dilakukan secara lisan tidak
dituangkan kedalam suatu ikatan baru sehingga kesulitan bagi perusahaan untuk
menuntut kewajiban penyewa.

c. Pembayaran dan Pengeluaran Beban Operasional/Lain-lain Perusahaan


Prosedur Pembayaran dan pengeluaran beban operasional dan pengeluaran
lain-lain PD Pembangunan Sarana Jaya sebagian besar berdasarkan surat keputusan
Direksi. Pada Tahun 2005, perusahaan telah membuat manual mutu tentang Proses
Penerbitan SPMU dan Pengeluaran Kas/Bank.

18
Berdasarkan hasil pengujian terhadap aspek Sistem Pengendalian Intern,
prosedur pembayaran dan pengeluaran beban operasional dan pengeluaran lain-lain
tersebut belum memadai karena terdapat pengeluaran yang tidak sesuai dengan surat
keputusan direksi dan manual mutu pengeluaran Kas/Bank seperti pengeluaran uang
muka pengadaan kendaraan Direksi diakui oleh perusahaan sebagai pinjaman pribadi
Direksi, pertanggungjawaban pengeluaran biaya koordinasi belum didukung dengan
bukti-bukti pihak yang terkait dengan pengeluaran.

d. Kerjasama dengan Pihak Ketiga


Pada umumnya kerjasama dengan pihak ketiga untuk pengadaan barang/jasa
dilakukan dengan metode pemilihan langsung, yaitu diikuti 3 (tiga ) Penawaran dari
penyedia barang/jasa dan diumumkan pada papan pengumuman resmi dilingkungan
PD Pembangunan Sarana Jaya. 3 (tiga ) Penawar dari penyedia barang tersebut salah
satunya selalu anak perusahaan PD Pembangunan Sarana Jaya dan sebagai
pemenang dari penawaran pengadaan barang tersebut.
Kelemahan pelaksanaan kerjasama dengan mengutamakan pemenangnya
anak perusahaan, dalam hal penawaran harga maupun kualitas pekerjaan hanyalah
formalitas serta dalam pelaksanaan pekerjaan pengawasan atas pekerjaan anak
perusahaan kurang optimal sehingga banyak pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi
dan wan prestasi terhadap perjanjian kerjasama yang telah disepakati.
Kelemahan lainnya adalah Acuan Biaya Langsung Personil dan Non Personil untuk
Jasa Konsultan bersifat umum tidak spesifik menjabarkan setiap harga biaya personil
ataupun non personil sehingga evaluasi harga atas nilai kontrak yang diajukan oleh
rekanan tidak dapat dilaksanakan secara optimal.

e. Pengawasan
Untuk memenuhi kebutuhan pengendalian manajemen yang lebih baik,
berdasarkan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 47 Tahun 2003 tanggal 9
Juni 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perusahaan Daerah Pembangunan
Sarana Jaya Provinsi DKI Jakarta, dibentuk suatu Satuan Pengawasan Intern (SPI)
yang dipimpin oleh seorang Kepala yang langsung bertanggung jawab kepada
Direktur Utama. Tugas pokok SPI adalah sebagai berikut :
1) Melakukan pengawasan atas kegiatan-kegiatan PD Pembangunan Sarana Jaya ;

19
2) Melakukan penelaahan atas pelaporan keuangan perusahaan;
3) Menyelenggarakan pengawasan dan pengendalian atas kerja sama dengan pihak
lain;
4) Melaksanakan fungsi sebagai internal audit terhadap unit-unit usaha dan
perusahaan kerja sama.
Berdasarkan temuan-temuan pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa kinerja SPI
belum optimal dalam melakukan kegiatan pengawasan.

f. Pencatatan
Kegiatan pembukuan dilakukan secara terpusat, untuk transaksi yang terjadi pada
masing-masing unit usaha, Kantor Pusat menginput berdasarkan laporan bulanan
yang dibuat oleh unit usaha bukan berdasarkan sumber dokumen sehingga tidak dapat
dilakukan verifikasi dan validasi atas setiap transaksi yang terjadi pada Unit Usaha.

Berdasarkan hasil pemeriksaan atas berbagai aspek dalam penyusunan dan penyajian
laporan keuangan dan terhadap kegiatan pengelolaan pendapatan dan biaya PD Pembangunan
Sarana Jaya, aspek-aspek pengendalian dalam kerangka Sistem Pengendalian Intern telah
dirancang secara memadai, akan tetapi dilaksanakan kurang efektif khususnya mengenai
prosedur kerja, pembukuan, penyusunan dan penyajian informasi keuangan serta pengawasan
atas pelaksanaan pekerjaan. Kelemahan-kelemahan SPI tersebut mengakibatkan terjadinya
berbagai penyimpangan seperti diungkap dalam Bab IV Temuan Pemeriksaan.

Pengujian SPI pada TB 2005 dan Semester I TB 2006 dilakukan pula atas PT Saranawisesa
Propertindo dengan hasil sebagai berikut:
1. Struktur Organisasi
Dalam rangka mewujudkan sasaran dan tujuan organisasi tersebut struktur
organisasi PT Saranawisesa Propertindo (SWP) masih dapat dikatakan sederhana yang
terdiri dari:
1) Dewan komisaris terdiri dari 2 orang, yaitu Komisaris Utama dan Komisaris.
2) Direksi terdiri dari Direktur Utama, Direktur Keuangan, dan Direktur Operasi.
a) Direktur Utama membawahi Direktur Keuangan, Direktur Operasi, dan
keseluruhan perusahaan secara umum.

20
b) Direktur Keuangan membawahi Divisi Keuangan dan Akuntansi dan Divisi
Personalia dan Logistik.
c) Direktur Operasi membawahi Divisi Pengelolaan dan Divisi Teknik.
Adapun tugas dan fungsi unsur Pimpinan Korporasi adalah sebagai berikut :
1) Dewan Komisaris
Dewan Komisaris mempunyai tugas mengawasi kegiatan operasional PT SWP
sebagai anak perusahaan PT Pembangunan Sarana Jaya (PSJ), memberikan pendapat
dan saran kepada pemegang saham terhadap pengangkatan dan pemberhentian
Direksi, memberikan pendapat dan saran kepada pemegang saham terhadap program
kerja yang diajukan oleh Direksi, dan memberikan pendapat dan saran kepada
pemegang saham terhadap laporan keuangan perusahaan dan laporan kinerja
perusahaan.
2) Dewan Direksi
Direksi terdiri dari Direktur Utama, Direktur Administrasi dan Keuangan dan
Direktur Operasional dan Pengembangan. Direktur Utama mempunyai tugas di
antaranya memimpin dan mengendalikan semua kegiatan perseroan, menyampaikan
RKAP Tahunan kepada Dewan Komisaris, mengurus dan mengelola kekayaan
perseroan, menetapkan kebijakan perusahaan (corporate strategy) dan
mengkoordinasikan pelaksanaan secara konsisten serta mewakili PT SWP baik di
dalam maupun di luar pengadilan.
Direktur Keuangan mempunyai tugas memimpin dan mengkoordinasikan
kegiatan penyusunan RKAP, penggalian sumber pendanaan perusahaan serta
pengendalian pengelolaan keuangan, kekayaan perusahaan, pembinaan pegawai, dan
kegiatan administrasi umum dan kehumasan, serta melaksanakan tugas-tugas lainnya
yang diberikan oleh Direktur Utama.
Direktur Operasi mempunyai tugas memimpin dan mengkoordinasikan
kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan/proyek,
pengelolaan dan pemeliharaan aset perseroan, kegiatan promosi, pembinaan kepada
pihak ketiga/rekanan, pengembangan usaha, menyusun perjanjian kerjasama (fungsi
aspek legalitas) serta melaksanakan tugas-tugas lainnya yang diberikan Direktur
Utama.

21
2. Sumber Daya Aparatur
Sampai dengan bulan Juni 2006, PT SWP hanya memiliki pegawai sebanyak 33
orang yang sebagian besar berada di lapangan untuk mengawasi kegiatan usaha.
Berdasarkan hasil penilaian, Direksi telah memiliki kompetensi yang memadai
dalam merumuskan kebijakan atas pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan PT SWP serta
dapat mengendalikan dan melakukan pengawasan atas kebijakan-kebijakan yang telah
ditetapkan oleh Dewan Komisaris. Sebagai perusahaan yang sedang berkembang,
PT SWP masih mengalami kesulitan untuk memperoleh sumber daya yang memadai.
Namun demikian, seluruh posisi manajerial ditempati oleh sumber daya yang relevan
secara latar belakang keilmuannya.

3. Tata Laksana
Kegiatan pengelolaan seluruh aktivitas perusahaan (tata laksana) adalah suatu
kegiatan untuk meyakinkan bahwa kebijakan dan prosedur yang ditetapkan telah sesuai
dengan tujuan dan sasaran organisasi dan untuk meyakinkan bahwa kebijakan dan
prosedur tersebut telah dilaksanakan oleh manajemen dengan sebaik-baiknya. Hal-hal
yang terpenting dalam kegiatan tata laksana adalah sebagai berikut :
a. Kebijakan
PT SWP setiap tahun membuat Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan
(RKAP) yang ditandatangani oleh Direktur Utama dan Dewan Komisaris. RKAP ini
adalah sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengelolaan pendapatan dan biaya
perusahaan.
Penyusunan RKAP diusulkan oleh masing-masing unit kerja dengan
dikoordinir oleh Divisi Keuangan sebelum Tahun Buku yang bersangkutan. RKAP
disusun berdasarkan asumsi dan hasil evaluasi atas pelaksanaan RKAP Tahun Buku
sebelumnya, tingkat suku bunga, perkembangan ekonomi, perkembangan bisnis
properti serta kebijakan-kebijakan pemerintah, daerah, dan induk perusahaan. Setelah
dilakukan pembahasan antara Direksi dan para Manajer, RKAP perusahaan kemudian
diusulkan Direksi kepada Dewan Komisaris melalui RUPS untuk mendapatkan
pengesahan. Direksi melaksanakan RKAP yang sudah disahkan tersebut dengan
melakukan evaluasi dan penyesuaian setiap semester.

22
Dalam setiap RKAP yang diterbitkan, PT SWP menetapkan beberapa hal
yang dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan operasionalnya yang di
antaranya sebagai berikut:
1) Rencana Kerja
a) Melaksanakan pengelolaan persewaan Ruang Usaha Sasenso I dan II dengan
meningkatkan tarif sewa dan service charge.
b) Menyelesaikan proyek yang sedang berjalan dan mendapatkan proyek-proyek
baru yang feasible untuk dilaksanakan.
c) Membangun alat produksi berupa usaha persewaan yang baik serta
menambah fasilitas persewaan untuk meningkatkan daya saing.
2) Rencana Anggaran
Rencana anggaran meliputi proyeksi Laba (Rugi), Proyeksi Neraca, dan
Proyeksi Arus Kas yang dijadikan pedoman dalam melakukan pengelolaan
keuangan PT SWP untuk tahun berikutnya.

b. Pendapatan atas Kegiatan Perusahaan


Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang properti, pendapatan pokok PT
SWP diperoleh dari kerjasama dan pengelolaan aset yang diimplementasikan dalam
bentuk persewaaan ruang usaha dan menjadi kontraktor atas proyek-proyek baik
pemerintah maupun swasta.
Selain pendapatan pokok, terdapat juga penerimaan yang diterima dari
pendapatan lain-lain yang sebagian besar diperoleh dari pembayaran denda akibat
dari keterlambatan pembayaran atas suatu perjanjian atau pekerjaan.
Atas implementasi dari Pendapatan Sewa, terdapat beberapa kelemahan yaitu
tidak dapat dilaksanakannya isi dari perjanjian sewa menyewa, klausul-klausul
perjanjian lebih kepada memenuhi persyaratan secara formal, dan atas setiap
keterlambatan pembayaran kewajiban oleh penyewa tidak pernah ditagihkan denda
keterlambatannya.

c. Pembayaran dan Pengeluaran Beban Operasional/Lain-lain Perusahaan


Prosedur pembayaran dan pengeluaran beban operasional dan pengeluaran lain-
lain yang bersifat rutin pada PT SWP adalah berdasarkan surat Keputusan Direksi.

23
d. Pengawasan
Sebagai perusahaan, PT SWP tidak memiliki Satuan Pengawas Intern atau
Internal Auditor (IA) sehingga proses dan hasil penilaian dan pengawasan atas
pengimplementasian suatu kebijakan atau operasional perusahaan tidak dapat diukur
tingkat keberhasilannya. Selain itu, dengan tidak adanya IA maka perusahaan akan
kesulitan di dalam mengambil keputusan karena tidak adanya pasokan data dan
informasi yang memadai, tepat waktu, dan up to date.

e. Pencatatan
Dalam melakukan pencatatan transaksi keuangan, PT SWP menggunakan
Standar Akuntansi yang berlaku umum dengan pengakuan transaksi secara akrual
penuh.

Kelemahan-kelemahan dalam SPI tersebut mengakibatkan terjadinya berbagai


penyimpangan seperti diungkap dalam Bab IV Temuan Pemeriksaan.

24
III. Hasil Pemeriksaan Tindak Lanjut

PD Pembangunan Sarana Jaya dan Anak Perusahaan telah diperiksa oleh BPK RI
terakhir pada Tahun 2000 dengan 10 temuan dan 25 saran. Dan seluruh saran tersebut telah
ditindaklanjuti oleh PD Pembangunan Sarana Jaya dan Anak Perusahaannya sesuai dengan
saran BPK RI.

25
IV. Temuan Pemeriksaan

Penyimpangan yang ditemukan pada saat pemeriksaan adalah sebesar


Rp7.964.193.833,40 atau 18,02% dari Realisasi Anggaran Pendapatan dan Biaya yang
diperiksa pada TB 2005 dan TB 2006 (s.d. Juni 2006) sebesar Rp44.202.730.206,30
adalah penyimpangan terhadap azas ketaatan, dengan uraian temuan sebagai berikut :
1. Penetapan Penghasilan Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya Sebesar
Rp459.028.000,00 Tidak Sesuai Ketentuan.
Penghasilan Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya pada Tahun 2005 adalah
sebesar Rp782.634.000,00 sementara pada Tahun 2006 (s.d Trw II) adalah sebesar
Rp431.434.000,00. Penghasilan direksi tersebut terdiri dari gaji, tunjangan jabatan,
tunjangan kekaryaan, tunjangan representatif, dan tunjangan kendaraan.
Hasil pemeriksaan atas penghasilan Direksi diketahui bahwa besaran gaji dan
tunjangan Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya Daerah Khusus Ibukota Jakarta
ditetapkan berdasarkan SK Direksi No.049/2002 tanggal 9 Januari 2003 yang setiap
bulannya sebagai berikut :

(dalam rupiah)
Tunjangan Tunjangan Tunjangan
No Jabatan Gaji Total
Jabatan Kekaryaan Representatif
Direktur
1 8.500.000,- 4.500.000,- 5.380.000,- 3.420.000,- 21.800.000,-
Utama
2 Direktur 5.000.000,- 3.000.000,- 4.200.000,- 2.800.000,- 15.000.000,-

SK Direksi No.049/2002 tanggal 9 Januari 2003 tersebut di atas belum


mendapatkan persetujuan ataupun pengesahan dari Gubernur dan hanya
memperhatikan Notulen Rapat Badan Pengawas PD Pembangunan Sarana Jaya DKI
Jakarta tanggal 25 Juli 2002.
Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa penghasilan Direksi tersebut
telah mengalami perubahan dan penambahan walaupun SK yang bersangkutan belum
mendapat persetujuan dari Gubernur, yaitu:
a. Pada tahun 2004, PD Pembangunan Sarana Jaya memberikan tunjangan
kendaraan kepada Direksi yang ditetapkan dalam SK Direksi No.034/2004
tanggal 15 Oktober 2004 tentang Tunjangan Kendaraan Bagi Direksi Perusahaan
Daerah Pembangunan Sarana Jaya DKI Jakarta dengan ketentuan sebagai berikut:

26
1) Direktur Utama diberikan tunjangan kendaraan setiap bulannya sebesar
Rp7.500.000,00.
2) Direktur diberikan tunjangan kendaraan setiap bulannya sebesar
Rp6.500.000,00.
Tunjangan kendaraan tersebut selain pemberiannya dalam bentuk tunai juga
dapat dalam bentuk cicilan mobil pengadaan kendaraan direksi. Hal ini
ditetapkan dalam SK Direksi No027/Tahun 2005 tanggal 18 April 2005 tentang
Pengadaan, Pengurusan dan Pemeliharaan Kendaraan Direksi. Realisasi
tunjangan kendaraan Direksi Tahun 2005 sebesar Rp174.500.000,00 dan Tahun
2006 sebesar Rp123.000.000,00 dengan rincian sebagai berikut :
No Jabatan Tunjangan Kendaraan (Rp)
Tahun 2005
1 Direktur Utama 90.000.000,00

2 Direktur Pengembangan 65.000.000,00

3 Direktur Umum dan Keuangan 19.500.000,00

Sub Jumlah 174.500.000,00

Tahun 2006
1 Direktur Utama 45.000.000,00

2 Direktur Pengembangan 39.000.000,00

3 Direktur Umum dan Keuangan 39.000.000,00

Sub jumlah 123.000.000,00

Total 297.500.000,00

b. Pada Tahun 2005, berdasarkan SK Direksi No.065/Tahun 2005 tanggal 10


Oktober 2005 tentang Perubahan Besaran Tunjangan Operasional
(Representatif) Bagi Direksi dan Pegawai di lingkungan Perusahaan Daerah
Pembangunan Sarana Jaya Provinsi DKI Jakarta, tunjangan operasional
Direksi mengalami kenaikan masing-masing sebesar Rp10.000,00.
Realisasi tunjangan representatif Tahun 2005 dan Tahun 2006 adalah sebesar
Rp161.528.000,00 dengan rincian sebagai berikut :
No Jabatan Tunjangan
Representatif (Rp)
1 2 3
Tahun 2005
1 Direktur Utama 41.526.000,00

27
1 2 3
2 Direktur Pengembangan 34.124.000,00
3 Direktur Umum dan Keuangan 34.124.000,00
Sub Jumlah 109.774.000,00
Tahun 2006
1 Direktur Utama 19.436.000,00
2 Direktur Pengembangan 16.159.000,00
3 Direktur Umum dan Keuangan 16.159.000,00
Sub Jumlah 51.754.000,00
Jumlah 161. 528.000,00

Tunjangan Representatif tersebut diberikan secara tunai kepada Direksi


dalam rangka mendukung segala aktivitas Direksi untuk pengembangan
perusahaan. Pemeriksaan lebih lanjut atas realisasi biaya diketahui bahwa
perusahaan juga mengalokasikan anggaran dalam mendukung aktivitas
Direksi dalam pos yang lain, seperti pos biaya rapat direksi, biaya koordinasi,
biaya jamuan direksi dan lain-lain sehingga perusahaan melakukan
pengeluaran ganda untuk hal-hal yang sifatnya sama.

Berdasarkan informasi dari Manajer Divisi Umum dan Hukum menyatakan


bahwa proses penetapan perubahan dan penambahan penghasilan Direksi tersebut di
atas diawali dengan pengajuan permohonan kepada Badan Pengawas (BP) oleh
Direksi, setelah itu, dibahas dalam rapat BP untuk diusulkan kepada Gubernur
namun sampai akhir pemeriksaan tidak diperoleh data yang mendukung pernyataan
tersebut baik surat permohonan kepada Badan Pengawas maupun Notulen Rapat
pembahasan tentang permohonan penghasilan Direksi dan pengesahan dari Gubernur.
Tim BPK RI hanya memperoleh Surat permohonan persetujuan gaji dan tunjangan
Direksi PD Pembangunan Sarana jaya kepada Badan Pengawas No.569/085.1 tanggal
29 Mei 2006 untuk permohonan usulan kenaikan penghasilan Direksi yang akan
datang.

Hal tersebut di atas tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 2 Tahun 1982 yang telah dirubah
dengan Perda No.1 Tahun 1991 Tentang Perusahaan Daerah Pembangunan Sarana
Jaya Daerah Khusus Ibukota, BAB XIV Pasal 30 ayat (3) yang menetapkan bahwa
Pendapatan dan tunjangan lain untuk anggota Direksi dan pegawai PD Pembangunan
Sarana Jaya ditetapkan oleh Gubernur Kepala Daerah.

28
b. Surat Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 88 Tahun
2003 Tentang Kepengurusan Badan Usaha Milik Daerah Khusus Ibukota Jakarta,
Pasal 10 ayat (2) menetapkan bahwa Besarnya gaji dan tunjangan Direksi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur atas usulan Badan
Pengawas.
c. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 50 Tahun 1999 tentang Kepengurusan Badan
Usaha Milik Daerah Pasal 34, yang menyatakan bahwa Dana Representatif
disediakan dari Anggaran Perusahaan paling tinggi 75 % dari jumlah penghasilan
Direksi dalam 1 (satu) tahun yang diterima pada bulan akhir dan penggunaannya
diatur oleh Direksi secara efisien dan efektif dalam rangka pengembangan BUMD.

Hal tersebut mengakibatkan penghasilan Direksi tidak sah minimal sebesar


Rp297.500.000,00 dan indikasi kerugian keuangan perusahaan sebesar
Rp161.528.000,00 (Rp109.774.000,00 + Rp51.754.000,00) yang disebabkan :
a. Kebijakan Penghasilan Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya yang belum
sepenuhnya mengikuti ketentuan yang berlaku.
b. Badan Pengawas lalai dalam melaksanakan tugas pembinaan dan pengawasan.

Atas permasalahan tersebut Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya


menyatakan tunjangan kendaraan merupakan pengganti fasilitas kendaraan dari
perusahaan yang belum mampu diberikan/diadakan oleh perusahaan, sedangkan
pengesahan gaji direksi dilaksanakan melalui mekanisme RKAP walaupun belum
melalui prosedur pengajuan permohonan tertulis sesuai ketentuan. Selanjutnya
Direksi akan mengembalikan penambahan penghasilan tersebut ke kas perusahaan
sesuai ketentuan yang berlaku.

BPK RI menyarankan agar Gubernur memberikan teguran tertulis kepada


Badan Pengawas dan Direksi atas pelaksanaan penetapan penghasilan Direksi yang
tidak sesuai ketentuan serta memerintahkan Direksi untuk mencabut SK Direksi
No.034/2004 tanggal 15 Oktober 2004 tentang Tunjangan Kendaraan Bagi Direksi
Perusahaan Daerah Pembangunan Sarana Jaya DKI Jakarta, SK Direksi
No.065/Tahun 2005 tanggal 10 Oktober 2005 tentang Perubahan Besaran Tunjangan
Operasional (Representatif) Bagi Direksi dan Pegawai di lingkungan Perusahaan
Daerah Pembangunan Sarana Jaya Provinsi DKI Jakarta dan

29
mempertanggungjawabkan penambahan penghasilan Direksi yang tidak sesuai
ketentuan sebesar Rp459.028.000,00 dengan menyetorkan ke kas perusahaan dan
bukti setor disampaikan kepada BPK RI.

2. Pinjaman Uang Muka Kendaraan Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya


Sebesar Rp458.181.690,00 Tidak Sesuai Ketentuan.

Berdasarkan Laporan Buku Besar PD Pembangunan Sarana Jaya diketahui


jumlah saldo piutang Direksi/pinjaman Direksi posisi Agustus 2006 adalah sebesar
Rp458.181.690,00 dengan rincian sebagai berikut :
No Direksi Tgl & No Bukti Pengeluaran No Cek Nilai (Rp)
1 Direktur Utama/Boy S Hakim 21-10-2004, No MDRI - DE 852608 83.181.690,00
O/04/10/00028
2 Direktur Utama/Boy S Hakim 19-6-2006, No. MDR 7- DQ 395176 75.000.000,00
0/06/00001
3 Direktur Umum/Ir.Indryanto 19-06-2006 MDR 7- DQ 395178 150.000.000,00
0/06/06/00003
4 Direktur Keuangan/DR.Ir.Endang 19-06-2006 MDR 7- DQ 395177 150.000.000,00
SW 0/06/06/00002

Total 458.181.690,00

Hasil pemeriksaan atas Surat Perintah Membayar Uang (SPMU) dan bukti
pendukung lainnya diketahui bahwa direksi (Dirut dan Direktur) mengajukan
pinjaman tersebut berdasarkan SK Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya No.
27/Tahun 2005 tanggal 18 April 2005 tentang Pengadaan, Pengurusan dan
Pemeliharaan Kendaraan Direksi antara lain menyatakan Direksi diberikan pinjaman
tanpa bunga untuk pembayaran uang muka pengadaan kendaraan Direksi yang akan
diperhitungkan dengan Tunjangan Hari Tua Direksi yang bersangkutan. Pinjaman
Direksi tersebut diterima secara tunai (cek) oleh Direksi, sehingga tidak diketahui
apakah telah terjadi transaksi pengadaan kendaraan tersebut.

Berdasarkan konfirmasi kepada Divisi Keuangan dan Divisi Umum dan


Hukum diperoleh penjelasan bahwa dalam rangka melaksanakan kegiatan dan
tugasnya para direksi tersebut umumnya menggunakan kendaraan dinas
operasional perusahaan.

Hal tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta
No.2838/2004 dan No.2434/2005 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan

30
(RKAP) Tahun 2005 dan 2006 yang tidak mengalokasikan anggaran untuk pinjaman
Direksi dalam hal uang muka pengadaan kendaraan Direksi dan tidak sesuai
dengan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

Hal tersebut di atas mengakibatkan pengeluaran uang muka pengadaan mobil


Direksi sebesar Rp458.181.690,00 berindikasi merugikan keuangan perusahaan, yang
disebabkan oleh Direksi yang menyalahgunakan wewenangnya dengan
mengeluarkan SK untuk uang muka kendaraan direksi sebagai pinjaman yang tidak
dianggarkan dalam RKAP.

Atas permasalahan tersebut Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya


menyatakan bahwa pengadaan kendaraan direksi dilakukan dengan pinjaman THT
yang bersangkutan, yang kemudian pada waktu masa akhir masa tugasnya akan
dikurangi dari jumlah yang seharusnya diterima, hal tersebut dengan pertimbangan
perusahaan belum mampu mengadakan kendaraan jabatan direksi. Namun direksi
akan mengembalikan pembayaran uang muka pengadaan kendaraan ke kas
perusahaan sesuai ketentuan.

BPK RI menyarankan agar Direksi mempertanggungjawabkan pinjaman


Direksi untuk uang muka kendaraan Direksi sebesar Rp458.181.690,00 dengan
menyetorkan kembali ke kas perusahaan dengan bukti setor disampaikan kepada
BPK RI dan mencabut SK Direksi No. 27/Tahun 2005 tanggal 18 April 2005 tentang
Pengadaan, Pengurusan dan Pemeliharaan Kendaraan Direksi

3. Pengeluaran Biaya Koordinasi Tidak Dilengkapi Bukti Pendukung Yang Sah


Sebesar Rp368.525.000,00

Dalam RKAP PD Pembangunan Sarana Jaya Tahun Buku 2005 dan 2006
telah dianggarkan Biaya Umum sebesar Rp1.660.417.250,00 dan sebesar
Rp2.595.200.000,00 serta telah direalisasikan masing-masing pada Tahun Buku
2005 sebesar Rp1.096.231.918,00 dan Tahun Buku 2006 (s.d Trw II) sebesar
Rp477.797.045,00.
Biaya umum tersebut antara lain digunakan untuk biaya koordinasi yang
berdasarkan buku besar kas diketahui jumlah realisasi biaya koordinasi pada kantor

31
pusat Tahun Buku 2005 adalah sebesar Rp677.090.015,00 dan Tahun Buku 2006
(s.d. Trw II) adalah sebesar Rp256.160.553,00, sedangkan realisasi biaya koordinasi
Tahun Buku 2005 dan 2006 pada Unit Perkantoran Wisma Pertokoan (UPWP)
adalah sebesar Rp54.258.500,00.
Pemeriksaan secara uji petik atas realisasi biaya koordinasi pada Kantor
Pusat PD Pembangunan Sarana Jaya dan pada Unit Perkantoran Wisma Pertokoan
(UPWP) diketahui bahwa SPJ biaya koordinasi sebesar Rp368.525.000,00 hanya
dilengkapi bukti pertanggungjawaban berupa kuitansi tanda terima yang
ditandatangani oleh pihak intern perusahaan, tidak dilengkapi dengan bukti
pendukung yang sah berupa bukti tanda terima dari pihak ketiga terkait kegiatan
koordinasi, dengan rincian sebagai berikut:

1. Kantor Pusat PD Pembangunan Sarana Jaya.


No No dan Tgl SPMU No Bukti Keluar Uraian Jumlah Yang Menerima
(Rp)
1 2 3 4 5 6
Tahun Buku 2005

1 001/06-01-05 BNI 1-O/05/01/00001 By Koordinasi Perusahaan 85.000.000,00 Divum


2 ---/10-01-05 BNI 1-O/05/01/00002 BY Koordinasi Perusahaan 65.000.000,00 Divum
3 0006/04-01-05 MDR 1-O/01/00004 By Koordinasi dg Instansi Terkait 22.000.000,00 Div Keu & Akunt
4 0572/30-12-05 KOP/05/12/00017 By Koordinasi dg Instansi terkait & 13.000.000,00 Div Rendal
tokoh masyarakat
5 0374/05-12-05 MDR 1-O/05/12/00017 By Koordinasi Perusahaan 10.000.000,00 Divum

6 0423/14-12-05 KOP/05/12/00088 By Koordinasi Perusahaan 13.000.000,00 Manajer Umum &


Hukum
7 0371/05-12-05 KOP/05/12/00043 By Koordinasi Perusahaan 5.000.000,00 Divum
8 0443/15-12-05 KOP/05/12/00089 By Koordinasi Perusahaan 3.300.000,00 Manajer Umum &
Hukum
9 0336/28-11-05 KOP/05/12/00020 By Koordinasi dg instansi terkait 3.500.000,00 Div Keu & Akunt
10 0331/29-11-05 KOP/05/12/00016 By Koordinasi Perusahaan 21.000.000,00 Manajer Umum &
Hukum

Sub Jumlah 240.800.000,00

Tahun Buku 2006

1 028/09-01-06 KOP/06/01/00028 By Koordinasi Perusahaan 15.000.000,00 Ass Manaj Unit


Studio Litbang
2 040/13-01-06 KOP/06/01/00018 By Koordinasi Perusahaan 1.000.000,00 Staf Div Umum &
Hukum
3 053/13-01-06 KOP/06/01/00031 By Koordinasi dg instansi terkait 2.000.000,00 Ass Manj Keu
4 019/06-01-06 KOP/06/01/00009 By Koordinasi dg instansi terkait 2.000.000,00 Kepala SPI
5 205/20-02-06 MDR 1-O/06/02/00040 By Koordinasi Penyerahan Fasos 10.000.000,00 Manj Perenc &
Pengendalian
1 2 3 4 5 6
6 304/08-03-06 MDR 1-O/06/03/00026 By Koordsi dg instansi terkait dlm 10.000.000,00 Manj Perenc &
rngk peny fasos Pengendalian
7 367/21-03-06 MDR 1-O/06/03/00014 By Koordsi dlm rngk kunj kerj 20.000.000,00 Staf Div Umum &
Angg DPR Komisi B Hukum
8 526/20-04-06 MDR 1-O/06/04/00049 By Koordinasi Perusahaan 16.000.000,00 Staf Dirut
9 773/07-06-06 By Koord dlm rngka penyelesaian 12.500.000,00 Yasir
perkara
10 814/13-06-06 By Koordinasi Perusahaan 23.500.000,00 Div Umum &

32
Hukum

Sub Jumlah 112.000.000,00

Jumlah Total 352.800.000,00

2. Unit Perkantoran Wisma Pertokoan. (Gedung Chick).


No Tanggal No. Bukti Jumlah Penerima
Urut (RP)
1 2 3 4 5
Tahun Buku 2005

1. 1/3/2005 1 1.000.000,00 Sry


2 1/3/2005 2 1.500.000,00 Sry
3 2/28/2005 242 750.000,00 Sry
4 3/15/2005 315 2.000.000,00 Swy
5 3/18/2005 330 1.000.000,00 SP
6 4/29/2005 543 700.000,00 Sry
7 5/11/2005 606 2.000.000,00 Swy
8 6/30/2005 804 375.000,00 SP
9 8/4/2005 975 500.000,00 Swy
10 8/26/2005 1064 500.000,00 SP

11 9/14/2005 1147 1.000.000,00 YPL


12 9/14/2005 1148 1.520.000,00 SP
13 9/23/2005 1189 350.000,00 YPL
14 10/25/2005 1298 250.000,00 Sry

Sub Jumlah 13.445.000,00

Tahun Buku 2006

1 1/27/2006 104 250.000,00 Sry


2 2/17/2006 218 1.500.000,00 Sry
3 2/24/2006 243 300.000,00 Jmd
4 5/19/2006 558 130.000,00 Sry
5 5/19/2006 559 100.000,00 Dll

Sub Jumlah 2.280.000,00

Jumlah Total 15.725.000,00

Hal ini tidak sesuai dengan Manual Mutu PD Pembangunan Sarana Jaya yang
ditetapkan tanggal 01-08-05 tentang Proses Penerbitan SPMU dan Pengeluaran
Kas/Bank antara lain menyatakan bahwa pengeluaran harus didukung dengan bukti-
bukti pihak yang terkait dengan pengeluaran.

Masalah ini mengakibatkan pertanggungjawaban keuangan perusahaan


sebesar Rp368.525.000,00 ( Rp352.800.000,00 +Rp15.725.000,00) tidak sah, yang
terjadi karena Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya dan manajer UPWP PD
Pembangunan Sarana Jaya tidak konsisten dalam melaksanakan kebijakan
pengeluaran kas/bank.

33
Atas permasalahan tersebut Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya
menyatakan bahwa masalah biaya koordinasi sebesar Rp368.525.000,00 tersebut
akan ditindaklanjuti dengan verifikasi intern oleh Satuan Pengawas Intern.

BPK RI menyarankan agar Direksi mempertanggungjawabkan biaya


koordinasi dimaksud sebesar Rp368.525.000,00 dengan melengkapi bukti
pendukungnya sesuai dengan Manual Mutu PD Pembangunan Sarana Jaya yang
ditetapkan dengan SK Direksi tanggal 8 Maret 2005 dan apabila tidak dapat
melengkapi bukti tersebut supaya menyetorkan kembali ke kas perusahaan dengan
bukti setor disampaikan kepada BPK RI.

4. PD Pembangunan Sarana Jaya Belum Melaksanakan Kewajiban Pembayaran


Pajak Bumi Bangunan Untuk Sebagian Asset Tanah Yang Dimiliki

Berdasarkan daftar aset diketahui bahwa aset Tanah dan Bangunan PD


Pembangunan Sarana Jaya terdiri dari tanah mentah, tanah matang dan bangunan.
Aset tanah dan bangunan tersebut selain dikembangkan dan dikelola sendiri juga
dikerjasamakan dengan pihak lain.
Hasil Pemeriksaan menunjukkan bahwa PD Pembangunan Sarana Jaya
hanya membayar Pajak Bumi Bangunan (PBB) atas Tanah dan Bangunan yang tidak
dikerjasamakan, sedangkan tanah dan bangunan yang dikerjasamakan dibayar oleh
pihak rekanan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.
Pemeriksaan lebih lanjut atas dokumen Surat Tanda Terima Setoran
(STTS) PBB diketahui bahwa pada tahun 2005 PD Pembangunan Sarana Jaya baru
membayar PBB untuk 10 tanah dan bangunan yang tidak dikerjasamakan, yaitu
sebesar Rp306.884.051,00 sedangkan sebagian besar tanah yang dimiliki belum di
daftarkan ke kantor PBB untuk ditentukan pajak terutangnya yaitu sebanyak 14
tanah dengan rincian sebagai berikut :

34
TAHUN DASAR HUKUM LUAS
PEROLEH
AN KEPEMILIKAN/ TANAH
NO LOKASI PENGUASAAN (M2) PERUNTUKAN KETERANGAN
1 2 3 4 5 6 7
- Instruksi Gub.Prop.DKI
1 Waduk Melati 1996 Jkt. 8.000 Kawasan Dikerjasamakan
Kel.Kebon Melati, No.344 Tahun 1995 super blok dengan partner
- Instruksi Gub.Prop.DKI
Kec.Tnh.Abang Jkt.
Jakarta Pusat No.346 Tahun 1995.
- Instruksi Gub.Prop.DKI
Jkt.
No.346 Tahun 1997.
Tanah sisa yang
2 Rawabilal Lokasi III 1987 Sertifikat HGB No.1826 590
tidak dapat
Jl. Tebet Mas Indah diplanning
Kecamatan Tebet
Jakarta Selatan
Tanah Kantong
3 Pondok Aren 8.940
4 Tanah Tegal Alur 1973 SK.Gub.Prop.DKI Jkt 4.700 PHU Saat ini menjadi
Kel.Tegal Alur, No.D.IV-a.11/2/59/73 lapangan sepak
Kecamatan tanggal 27 Maret 1973 bola
Cengkareng dan SPH dari
Jakarta Barat PT. Abun Setia
Bersatu
5 Tanah Kelapa Dua 1973 SK.Menteri 55.000 Perumahan Saat ini
Wetan Kelurahan Dalam Negeri tanah tersebut
Kelapa Dua Wetan No.SK.80/DA/1973 hak atasnya
Kec.Ciracas, tanggal 2 Mei 1973 jo. dikuasai oleh
Jakarta Timur No.SK.80/DA/1973/A/21 para penggarap.
tanggal 26 April 1978
Perumahan
6 Tanah terletak 1974 Instruksi 2.355 Perumahan Pondok
di Pd.Kelapa Gub.Prop.DKI Jkt. Kelapa Residence
Jakarta Timur No.748 Tahun 1981
Tanah kantong
7 Pondok 1974 Instruksi 25.572 Sebagian besar
Kelapa Jakarta Timur Gub.Prop.DKI Jkt. dikuasai oleh
No.748 Tahun 1981 Pihak Lain
8 Tanah Kaveling 1974 Instruksi 162 Kaveling Saat ini sebagian
Blok B-14 No.2 Gub.Prop.DKI Jkt. Perumahan dikuasai oleh
Jakarta Timur No.748 Tahun 1981 para penggarap
9 Tanah Kaveling 1974 Instruksi 79 Kaveling Kosong
BlokG-11 No.5 Gub.Prop.DKI Jkt. Perumahan
Pd. Kelapa Jak-Tim No.748 Tahun 1981

35
10 Pulo Jahe Jatinegara 1991 Surat Persetujuan Gub 7.985 Kosong
No.3204/-1.1711.5 /
Cakung Jakarta Timur 6/10/94
(Tanah kuping)
Instruksi Gubernur Kaveling
11 Pulo Jahe DPRD 1991 Propinsi 4.153 Perumahan Kosong
Cakung Jakarta Timur DKI Jakarta No.404
Tahun 1994
12 Tanah Kaveling 1974 Instruksi 131 Kaveling Saat ini sebagian
Blok B-14 No.1 Gub.Prop.DKI Jkt. Perumahan dikuasai oleh
Jakarta Timur No.748 Tahun 1981 para penggarap
13 Tanah Sisa Blok D-10 1974 Berita Acara Penyelesaian 271 Tanah sisa yang
Pondok Kelapa tidak bisa
Jakarta Timur Tanggal 29 Januari 2003 terplanning
Tanah Blok R Pulo Instruksi Gubernur Kaveling
14 Jahe Propinsi 1.739 Perumahan
DKI Jakarta No.404 Tahun
Jakarta Timur 1994

Berdasarkan informasi dari Direktur Utama PD PSJ menyatakan bahwa


kewajiban membayar PBB belum dapat dilaksanakan seluruhnya karena tanah yang
dimiliki beberapa diantaranya terdapat sengketa dan posisi tanah yang terpisah-pisah
dengan luas tanah yang kecil.

Hal tersebut tidak sesuai dengan Undang–Undang Pajak Bumi dan Bangunan
Pasal 4 ayat (1), (2) dan (3) tentang Subjek Pajak menyatakan :
a. Yang menjadi subjek pajak adalah orang atau badan secara nyata mempunyai
suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan atau memiliki,
menguasai, dan atau memperoleh manfaat atas bangunan.
b. Subjek Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang dikenakan kewajiban
membayar pajak menjadi Wajib Pajak menurut undang-undang ini.
c. Dalam hal atas suatu objek pajak belum jelas diketahui Wajib Pajaknya, Direktur
Jenderal Pajak dapat menetapkan subjek pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) sebagai Wajib Pajak.

Masalah ini mengakibatkan kekurangan penerimaan negara dari PBB atas


tanah dan bangunan yang belum didaftarkan kekantor PBB oleh PD Pembangunan
Sarana Jaya untuk ditentukan Pajak Terutangnya, yang disebabkan oleh kebijakan
Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya belum sepenuhnya mendukung upaya untuk
pelaksanaan kewajiban pembayaran PBB.

36
Atas permasalahan tersebut, pihak PD Pembangunan Sarana Jaya dhi.
Manajer Keuangan dan Akuntansi menyatakan bahwa terdapat 14 lokasi yang
pembayaran PBB-nya telah dilunasi, dan sisanya belum dilunasi, serta 4 lokasi akan
didaftarkan.

BPK RI menyarankan agar Direksi segera mendaftarkan asetnya kepada


Kantor Pajak Bumi dan Bangunan untuk ditentukan pajak terutangnya dan atas
hutang pajak tersebut supaya dilunasi sesuai ketentuan dengan menyetor ke kas
Negara.

5. Penerimaan atas Kewajiban dan Denda Pihak Rekanan yang Sudah Jatuh
Tempo Belum Terealisasi Sebesar Rp4.876.557.501,40 Serta Kekurangan
Penerimaan Negara dari PPN sebesar Rp36.555.182,00 dan Kekurangan
Penerimaan Daerah dari Pajak Bangunan I sebesar Rp3.935.466,00.

Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang properti, PD Pembangunan


Sarana Jaya senantiasa melakukan beragam upaya untuk mengoptimalkan aset-aset
yang dimilikinya. Kegiatan yang dilakukan untuk menunjang tujuan di atas salah
satunya adalah dengan cara bekerjasama dengan pihak ketiga, yaitu dengan bentuk
kerjasama operasi (KSO) dan kerjasama BOT (Build Operate Transfer) untuk aset
berupa tanah yang akan dikembangkan. Sedangkan untuk aset berupa gedung, bentuk
kerjasama yang dilakukan adalah dengan cara menyewakan bagian dari
gedung/ruangan kepada pihak ketiga yang berminat sesuai dengan perjanjian yang
telah disepakati.
Pemeriksaan lebih lanjut atas kerjasama dimaksud, diketahui hal berikut:
a. Berdasarkan Perjanjian Kerjasama antara PD Pembangunan Sarana Jaya
dengan PT.PKS tanggal 1 April 2004 tentang mal ikan yang menyatakan bahwa
PT PKS berkewajiban untuk membayar dana kompensasi pengelolaan pasar ikan
higienis sesuai dengan tanggal jatuh temponya. Diketahui bahwa PT PKS belum
melunasi kewajibannya sebesar Rp335.966.400,00 yang terdiri dari kewajiban
pokok sebesar Rp290.880.000,00, PPN 10% sebesar Rp29.088.000,00, dan denda
sebesar Rp15.998.400,00.
Hasil konfirmasi yang dilakukan kepada Direktur Utama PT PKS tanggal
28 Agustus 2006 diperoleh informasi bahwa PT PKS belum dapat melunasi

37
seluruh kewajibannya karena harus menyempurnakan bangunan pasar ikan
higienis sesuai dengan fungsi dan keperluannya yang disetujui oleh Departemen
Kelautan dan Perikanan. Selain itu, Direktur Utama PT PKS juga menambahkan
bahwa atas kewajiban sebesar Rp335.966.400,00 tersebut sedang diajukan
permohonan perpanjangan waktu yang sampai dengan pemeriksaan berakhir
belum ada keputusannya.
b. Berdasarkan Akta Kerjasama No. 164 antara PD Pembangunan Sarana Jaya
dengan PT LA tanggal 31 Maret 2003 tentang proyek perumahan di Pondok Aren
yang menyatakan bahwa PT LA berkewajiban untuk melakukan pembayaran
kepada PD Pembangunan Sarana Jaya yang dilakukan setiap bulan sesuai dengan
proyeksi arus kas yang telah disepakati. Diketahui bahwa dari total kewajiban PT
LA per 30 Juni 2006 sebesar Rp7.232.500.000,00 baru sebesar
Rp3.173.582.826,00 yang telah diselesaikan sehingga kewajiban yang belum
diselesaikan sebesar Rp4.058.917.174,00.
Hasil konfirmasi yang dilakukan kepada Direktur Utama PT LA tanggal
29 Agustus 2006 diperoleh informasi bahwa cash flow PT LA yang tidak selalu
sesuai dengan harapan dan selain itu terdapat kendala-kendala seperti penentuan
batas kredit konsumen oleh bank pemberi kredit yang tentu berdampak langsung
pada cash flow perusahaan.
Selain itu, di dalam akta tersebut tidak terdapat klausul sanksi dalam bentuk
denda yang akan dikenakan apabila PT LA tidak dapat melunasi kewajibannya
sesuai dengan tanggal jatuh tempo yang telah disepakati.
c. Berdasarkan SK Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya No. 036/2001 tanggal 20
September 2001 tentang penunjukan PT KCK sebagai pengelola Gedung Sarana
Jaya diketahui bahwa PT KCK belum melunasi kewajiban sebesar
Rp387.045.950,40.
Hasil konfirmasi yang dilakukan kepada Direktur Utama PT KCK tanggal
25 Agustus 2006 diperoleh informasi bahwa PT KCK mengalami kesulitan untuk
melakukan pembayaran karena kondisi likuiditas yang tidak memungkinkan.
d. Kewajiban para penyewa ruang kantor, flat dan kamar pada Unit WPP yang
belum dilunasi per 1 September 2006 sebesar Rp135.118.625,00 yang terdiri dari
kewajiban pokok sebesar Rp119.220.877,00, PPN Sewa sebesar Rp2.553.000,00,
PPN service charge sebesar Rp4.914.182,00, Pajak Bangunan I sebesar

38
Rp3.935.466,00, dan denda sebesar Rp4.495.100,00 yaitu sebagai akibat
kewajiban pokok yang belum dilunasi dan telah melewati masa jatuh temponya.
Hasil wawancara dengan Manajer UWPP diperoleh informasi bahwa para
penyewa di lingkungan UWPP memiliki status ekonomi menengah ke bawah
sehingga kestabilan likuiditasnya masih kecil yang pada gilirannya berdampak
terhadap pembayaran kewajiban sewa.
Dengan demikian jumlah keseluruhan kewajiban para rekanan atau penyewa yang
masih belum dilunasi adalah sebesar Rp4.917.048.149,40 (Rp4.876.557.501,40 +
Rp36.555.182,00 + Rp3.935.466,00 )

Hal tersebut tidak sesuai dengan:


a. Perjanjian Kerjasama antara PD Pembangunan Sarana Jaya dengan rekanan,
yaitu:
1) Perjanjian Kerjasama Perusahaan Daerah Pembangunan Sarana Jaya Daerah
Khusus Ibukota Jakarta dengan PT PKS tentang Pengelolaan Pasar Ikan
Higienis Mina Pejompongan Terletak di Pejompongan Indah Kelurahan
Bendungan Hilir Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat tanggal 1 April 2004
Pasal 3 ayat (1) angka 1.2. huruf c, Pasal 4 angka 1.1. huruf a, Pasal 5 ayat
(2), dan Pasal 9 ayat (1) mengenai kewajiban dan sanksi yang harus
diselesaikan oleh Pihak Kedua berdasarkan perjanjian yang telah disepakati.
2) Akta Perjanjian Kerjasama tentang Pembangunan dan Pengembangan Proyek
Lingkungan Perumahan di Pondok Aren Tangerang antara Perusahaan
Daerah Pembangunan Sarana Jaya Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan PT
LA No. 164 tanggal 31 Maret 2003 Pasal 5 ayat (2) huruf h, dan Pasal 7 ayat
(2) huruf b mengenai jumlah kewajiban yang harus diselesaikan pada masing-
masing termin sesuai dengan tanggal jatuh tempo yang tercantum dalam
perjanjian yang telah disepakati.

b. Perjanjian Sewa Menyewa antara PD Pembangunan Sarana Jaya dhi. UWPP


dengan masing-masing penyewa mengenai kewajiban dan sanksi yang harus di
selesaikan oleh Pihak Kedua berdasarkan perjanjian yang telah disepakati.
c. Keppres No.80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah pada bagian kesebelas, paragraf pertama, Pasal 29 ayat
(1) butir h yang menyatakan bahwa kontrak sekurang-kurangnya memuat

39
ketentuan mengenai cidera janji dan sanksi dalam hal para pihak tidak memenuhi
kewajibannya.

d. Keputusan Direksi tentang Penunjukan PT KCK sebagai Pengelola Gedung


Sarana Jaya, Rawabilal Tebet, Jakarta Selatan
No. 036/2001 tanggal 20 September 2001 Ketetapan Kedua Huruf B huruf e
mengenai kewajiban PT KCK untuk membayar kontribusi kepada PD
Pembangunan Sarana Jaya selama masa pengelolaan yang dilakukan pada
tanggal 5 bulan berjalan.

Kondisi di atas mengakibatkan PD Pembangunan Sarana Jaya tidak dapat


memanfaatkan dana sebesar Rp4.876.557.501,40 atas kewajiban dan denda yang
belum dilunasi dan kekurangan penerimaan negara dari PPN sebesar
Rp36.555.182,00 serta kekurangan penerimaan daerah dari Pajak Bangunan I sebesar
Rp3.935.466,00 yang terjadi karena:
a. Masing-masing rekanan dan/atau penyewa tidak melunasi kewajibannya sesuai
dengan isi perjanjian yang telah disepakati.
b. Masing-masing penanggung jawab atas perjanjian kerjasama dengan rekanan
atau penyewa mengalami kesulitan atau kurang tegas di dalam melakukan
pengawasan dan penagihan atas kewajiban rekanan atau penyewa yang telah
jatuh tempo.
c. Direktur Utama tidak mengambil langkah-langkah kongkrit terhadap rekanan
atau penyewa yang tidak mengindahkan isi perjanjian yang telah disepakati.

Terhadap kondisi di atas masing-masing penanggung jawab mengakui bahwa


masih terdapat sejumlah kewajiban yang belum dilunasi oleh pihak rekanan dan tetap
melakukan penagihan-penagihan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.

BPK RI menyarankan kepada Direksi agar memberikan teguran tertulis


kepada manajer terkait yang menangani kerjasama atas kelalaiannya dan
menginstruksikan untuk menagih kewajiban yang telah jatuh tempo beserta
dendanya, PPN, PB I kepada rekanan dengan menyetorkan ke kas perusahaan, kas
Negara dan kas daerah dengan bukti setor disampaikan kepada BPK RI.

40
6. Penerimaan Usaha yang Sudah Jatuh Tempo pada PT SWP Belum Terealisasi
Sebesar Rp184.437.399,00

Salah satu kegiatan PT SWP sebagai anak perusahaan PD Pembangunan


Sarana Jaya adalah menyewakan aset yang dimilikinya kepada pihak ketiga dengan
tarif dan luasan yang telah ditentukan.
Hasil pemeriksaan atas jadwal dan realisasi pembayaran sewa tahun buku
2005 dan semester I tahun buku 2006 pada Divisi Keuangan PT SWP diketahui
bahwa per tanggal 30 Juni 2006 terdapat tunggakan sebesar Rp184.437.399,00 yang
terdiri dari kewajiban sewa sebesar Rp84.938.850,00 service charge sebesar
Rp36.025.800,00, dan denda atas sewa sebesar Rp63.472.749,00.
Direktur Keuangan PT SWP menjelaskan bahwa timbulnya tunggakan sewa
dan service charge tersebut bukan dikarenakan oleh keengganan penyewa untuk
membayar namun dikaitkan dengan fluktuasi usaha masing-masing penyewa yang
sulit untuk diprediksi. Apabila pengelola gedung menerapkan peraturan secara kaku
dikhawatirkan para penyewa akan mencari tempat lain yang dirasa lebih fleksibel
sekalipun beban sewa yang harus ditanggung lebih besar. Dengan demikian
pengelola gedung mengambil kebijakan agar lebih fleksibel daripada kehilangan
pendapatan sewa akibat ketidakpuasan penyewa.
Mengenai denda keterlambatan, Direktur Keuangan menjelaskan bahwa pada
kenyataannya tidak pernah ditagihkan kepada penyewa yang pada saat membayar
sewa melewati tanggal jatuh tempo. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan
agar penyewa tidak merasa terbebani dan tidak pindah untuk mencari tempat yang
lain.

Hal tersebut tidak sesuai dengan isi setiap Perjanjian Sewa Menyewa antara
PT SWP dengan penyewa yang menyatakan:
a. Pembayaran Biaya Sewa oleh rekanan dilakukan sesuai dengan jadwal dan nilai
yang telah disepakati dalam perjanjian.
b. Apabila Pihak Kedua terlambat membayar Biaya Sewa, maka Pihak Kedua
diwajibkan untuk membayar denda keterlambatan kepada Pihak Pertama sebesar
20/00 (dua permil) per hari dari biaya sewa yang harus dibayar dengan maksimum
keterlambatan 15 hari terhitung sejak tanggal jatuh tempo pembayaran.

41
Masalah ini mengakibatkan PT SWP tidak dapat memanfaatkan dana sebesar
Rp184.437.399,00 sesuai dengan proyeksi yang telah ditetapkan, yang terjadi karena:
a. Masing-masing penyewa tidak melakukan pembayaran kewajiban sesuai dengan
isi perjanjian yang telah disepakati.
b. Pengelola gedung tidak tegas dalam melakukan pengawasan dan penagihan atas
kewajiban pihak ketiga yang telah jatuh tempo.

Atas permasalahan tersebut, Direktur Utama PT SWP mengakui bahwa masih


terdapat sejumlah kewajiban yang belum dilunasi oleh para penyewa. Atas sisa
piutang tersebut PT SWP mengalami kesulitan untuk menagihnya karena sebagian
besar penyewa tersebut sudah putus kontrak, dan dimasa datang akan
menyempurnakan perjanjian sewa menyewa dan sistem pembayarannya. Untuk
piutang yang tidak tertagih tetap akan diupayakan penagihannya.

BPK RI menyarankan agar Direksi memberikan teguran tertulis kepada


manajer pengelola gedung dan memerintahkan untuk menagih kewajiban penyewa
yang telah jatuh tempo termasuk bunga tunggakan dengan menyetorkannya ke kas
perusahaan dan bukti setor disampaikan kepada BPK RI.

7. Kewajiban Penyewa Rumah Susun Bertingkat yang Sudah Jatuh Tempo Belum
Dilunasi Sebesar Rp1.170.632.195,00.

Unit Rumah Susun Bertingkat (URSB) sebagai unit usaha di PD


Pembangunan Sarana Jaya bergerak di bidang penyewaan rumah susun yang terletak
di Penjaringan, Jakarta Utara sesuai dengan Instruksi Gubernur Daerah Khusus
Ibukota Jakarta No. 296 tanggal 11 Oktober 1993 tentang Pembangunan dan
Pengelolaan Rumah Susun Sederhana di Penjaringan Jakarta Utara.
Rumah susun tersebut terdiri dari tiga jenis, yaitu Tipe 18, Tipe 36, dan Tipe
54 serta jenis ruko dengan Tipe 18 yang seluruhnya sebanyak 1.362 unit tersebar di
13 blok. Tarif sewa yang dikenakan kepada masing-masing penyewa hanya sebesar
Rp900,00 per hari, karena mendapat subsidi dari pengelola gedung sesuai SK

42
Gubernur No. 404 Tahun 1988. Adapun untuk blok A, C, E, F, dan G sudah termasuk
fasilitas listrik 220 watt, air 50 m3, dan gas sebanyak 11 kg.
Berdasarkan data dan informasi dari Manajer URSB diketahui bahwa per
tanggal 30 Juni 2006 terdapat kewajiban penyewa sebesar Rp1.170.632.195,00 yang
terdiri dari uang sewa sebesar Rp196.596.900,00, tagihan listrik dari
PT PLN sebesar Rp719.462.610,00, dan tagihan air dari PT PAM sebesar
Rp254.572.685,00.
Timbulnya kewajiban atas listrik disebabkan oleh adanya penambahan daya dari 220
watt menjadi sebesar 460 watt atau penambahan sebesar 240 watt yang menjadi
kewajiban penyewa sesuai dengan pemakaian daya dari masing-masing penyewa
yang sampai dengan pemeriksaan berakhir tagihan listrik sebesar Rp719.462.610,00
tersebut masih belum dilunasi oleh para penyewa. Sedangkan untuk tagihan air,
URSB melakukan pembayaran tagihan kepada PT PAM setelah mendapat uang
pembayaran sesuai dengan jumlah pemakaian dari para penyewa. Sehubungan para
penyewa tidak membayar tagihan air dari PT PAM tersebut, maka URSB tidak dapat
membayarkan tagihan air sebesar Rp254.572.685,00 dimaksud.

Hal tersebut tidak sesuai dengan isi setiap Perjanjian Sewa Menyewa antara
URSB dengan penyewa yang menyatakan Selain berkewajiban untuk membayar
uang sewa, Pihak Kedua diharuskan membayar:
a. Pemakaian Utilitas Listrik.
b. Pemakaian Air PAM.
c. Pemakaian Gas.
Segala Biaya Utilitas dibayarkan sesuai dengan jumlah pemakaian yang sesuai
dengan jumlah meter yang terpakai.

Masalah ini mengakibatkan:


a. PD Pembangunan Sarana Jaya tidak dapat memanfaatkan dana sebesar
Rp196.596.900,00 sesuai dengan proyeksi yang telah ditetapkan.
b. Tunggakan penyewa sebesar Rp719.462.610,00 kepada PT PLN dan sebesar
Rp254.572.685,00 kepada PT PAM dapat menjadi beban PD Pembangunan
Sarana Jaya apabila para penyewa tidak dapat membayar kewajibannya.

43
Hal ini terjadi karena:
a. Para penyewa tidak melaksanakan kewajiban sesuai dengan isi perjanjian yang
telah disepakati.
b. Manajer URSB lalai dengan tidak mengikat kesepakatan baru dengan penyewa
tentang kenaikan daya listrik sehingga kesulitan untuk melakukan pengawasan
dan penagihan atas kewajiban para penyewa khususnya untuk tagihan listrik.
c. Kebijakan Direksi belum mendukung upaya penyelesaian tunggakan para
penyewa.

Terhadap kondisi di atas Manajer URSB mengakui bahwa masih terdapat


sejumlah kewajiban yang belum dilunasi oleh para penyewa dan tetap melakukan
penagihan-penagihan sampai tuntas.

BPK RI menyarankan kepada Direksi agar memberikan teguran tertulis


kepada manajer URSB atas kelalaiannya dalam melaksanakan tugas serta
menginstruksikan kepada manajer tersebut untuk mengikat kesepakatan baru tersebut
kedalam perjanjian bersama dan menagih kewajiban penyewa yang telah jatuh
tempo.

8. Pelaksanaan Pekerjaan Pemagaran Tanah Di Jl. H Naman Kel. Pondok Kelapa


Tidak Sesuai Ketentuan

Pekerjaan pemagaran tanah milik PD Pembangunan Sarana Jaya di Jl H Naman


Kel. Pondok Kelapa senilai Rp195.373.200,00 dilakukan untuk mengamankan aset
perusahaan dari para pemulung dan penyerobot tanah. Pekerjaan tersebut
dilaksanakan oleh PT KCK salah satu anak perusahaan PD Pembangunan Sarana
Jaya secara penunjukan langsung sesuai Kontrak No.001.6/P/1.712.3.
Pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa PT KCK dalam melaksanakan
pekerjaan pemagaran ternyata melakukan kerjasama dengan PT SWP yang juga salah
satu anak perusahaan PD Pembangunan Sarana Jaya. Namun PT SWP pun
mensubkontrakan seluruh pekerjaan pemagaran kepada rekanan yaitu CV PMCS
dengan SPK No.01/SPK-TEK/SK-NMN-P/1/2006.
Kemajuan fisik pekerjaan pemagaran pada tanggal 17 April 2006 dinyatakan
mencapai 59,05% dengan realisasi pembayaran sebesar Rp68.380.620,00 atau 35%

44
dari nilai kontrak. Pihak rekanan memohon penghentian sementara atas pekerjaan
karena adanya klaim dari para penggarap atas tanah, namun PD Pembangunan Sarana
Jaya tidak menyetujui bahkan memperpanjang jangka waktu pekerjaan selama 45
hari sesuai Addendum No.001.9/P/-1.712.3 tanggal 24 April 2006. Pihak rekanan
tetap tidak dapat melanjutkan pekerjaan sehingga kedua belah pihak sepakat
menghentikan pekerjaan sesuai dengan Berita Acara Pemutusan Pekerjaan
No.001.11/P/-1.712.5 tanggal 29 Juni 2006 dengan progress bobot pekerjaan
pemagaran terakhir mencapai 565 m atau 66,55% dari 849 m.
Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik oleh BPK RI tanggal 14 Agustus 2006
diketahui bahwa dari pagar sepanjang 565m, yang sepanjang 15,75m roboh, namun
sebelum berakhir pemeriksaan, rekanan telah memperbaiki pagar yang roboh
tersebut.

Hal tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Presiden No.80 Tahun 2003
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa antara lain :
a. Bagian Ketiga tentang Prinsip Dasar pasal 3 ayat b yang menyatakan efektif,
berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah
ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan
sasaran yang ditetapkan;
b. Lampiran I Bab I. C. a. tentang metode pemilihan penyedia barang/jasa
pemborongan/jasa lainnya dengan cara Penunjukan Langsung;
c. Paragraf Ketiga tentang Persyaratan Penyedia Barang/Jasa pasal 11 ayat (b) dan
(g) menyatakan Penyedia barang/jasa harus memiliki keahlian, pengalaman,
kemampuan teknis dan manajerial untuk menyediakan barang/jasa dan memiliki
sumber daya manusia, modal, peralatan, dan fasilitas lain yang diperlukan dalam
pengadaan barang/jasa;
d. Bagian Kelima Prakualifikasi dan Pascakualifikasi pasal 14 ayat (1), dan(4)
menyatakan Prakualifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan
usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu lainnya dari penyedia barang/jasa
sebelum memasukkan penawaran, dan Prakualifikasi wajib dilaksanakan untuk
pengadaan jasa konsultansi dan pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya
yang menggunakan metoda penunjukan langsung untuk pekerjaan kompleks,
pelelangan terbatas dan pemilihan langsung;

45
e. Paragraf Keempat Hak dan Tanggung Jawab Para Pihak dalam Pelaksanaan
Kontrak Pasal 32 ayat (3) menyatakan Penyedia barang/jasa dilarang
mengalihkan tanggung jawab seluruh pekerjaan utama dengan mensubkontrakkan
kepada pihak lain.

Masalah ini mengakibatkan pekerjaan tersebut masih terbengkalai dan tujuan


pemagaran untuk mengamankan aset PD Pembangunan Sarana Jaya dari pemulung
dan penyerobot tanah tidak tercapai, yang terjadi karena Kebijakan Direksi yang
tidak mengikuti ketentuan yang berlaku.

Atas permasalahan tersebut direksi PD Pembangunan Sarana Jaya menyatakan


bahwa dalam proses pelelangan selanjutnya akan dilakukan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.

BPK RI menyarankan Badan Pengawas memberikan teguran tertulis kepada


Direksi agar membuat kebijakan yang mendukung pelaksanaan pengadaan barang
ataupun jasa secara efisien, efektif, transparan dan akuntabel.

9. Harga Kontrak Pekerjaan Jasa Konsultansi Pada PD Pembangunan Sarana Jaya


Lebih Mahal Sebesar Rp134.334.750,00

PD Pembangunan Sarana Jaya pada TA 2005 dan 2006 mengalokasi


anggaran Belanja Umum yang antara lain digunakan untuk membiayai beberapa
pekerjaan konsultan.
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas dokumen kontrak diketahui bahwa
pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh pihak ketiga, yaitu :
a. Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2000, dilaksanakan oleh PT SI berdasarkan
Surat Perintah Kerja Nomor 001.5/P/1.712.3 tanggal 25 Mei 2005 dengan
addendum I Nomor 008.11/P/1.712.3 tanggal 10 Oktober 2005. Nilai pekerjaan
sebesar Rp104.500.000,00 dengan jangka waktu penyelesaian 120 (seratus dua
puluh) hari. Pekerjaan telah dianggap selesai dan telah dibayar lunas sesuai
SPMU No.0344 tanggal 28 Nopember 2005;
b. Pengenalan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2000, dilaksanakan oleh PT SI
berdasarkan Surat Perintah Kerja Nomor 001.5/P/1.712.3 tanggal 24 Januari

46
2005. Nilai pekerjaan sebesar Rp39.820.000,00 dengan jangka waktu
penyelesaian 30 (tiga puluh) hari kalender. Pekerjaan telah dianggap selesai dan
telah dibayar lunas sesuai SPMU No.0259 tanggal 9 Maret;
c. Jasa Penilaian Gedung Kebayoran Plaza, dilaksanakan oleh PT SPP berdasarkan
Surat Perintah Kerja Nomor 019.11/P/1.712.3 tanggal 23 September 2005. Nilai
pekerjaan sebesar Rp45.000.000,00 dengan jangka waktu penyelesaian 21 (dua
puluh satu) hari kalender. Pekerjaan telah dianggap selesai dan telah dibayar
lunas sesuai SPMU No. 0555 tanggal 27 Desember 2005;
d. Pekerjaan General Audit, Audit Kepatuhan & Evaluasi Kinerja Tahun buku 2004,
dilaksanakan oleh KAP TAW & Rekan berdasarkan Surat Perintah Kerja Nomor
006.9/P/1.712.3 tanggal 14 Juni 2005. Nilai pekerjaan sebesar Rp70.400.000,00
dengan jangka waktu penyelesaian 80 (delapan puluh) hari kalender sejak
dikeluarkannya Laporan Keuangan PD Pembangunan Sarana Jaya Tahun 2004
yang telah disetujui Direksi PD Pembangunan Sarana Jaya. Pekerjaan telah
dianggap selesai dan telah dibayar lunas sesuai SPMU No. 0303 tanggal 22
Nopember 2005;
e. General Audit atas Laporan Keuangan Konsolidasi, Audit Kepatuhan dan
Evaluasi Kinerja PD Pembangunan Sarana Jaya Tahun Buku 2005, dilaksanakan
oleh KAP TAW & Rekan berdasarkan Surat Perintah Kerja Nomor
024.3/P/1.712.3 tanggal 16 Desember 2005. Nilai pekerjaan sebesar
Rp92.400.000,00 dengan jangka waktu penyelesaian 95 (sembilan puluh lima)
hari kalender. Pekerjaan belum selesai dengan pembayaran I (50%) sebesar
Rp43.050.000,00 sesuai SPMU No. 729 tanggal 30 Mei 2006;
f. Penyesuaian Kembali Laporan Keuangan, dilaksanakan oleh KAP TAW &
Rekan berdasarkan Surat Perintah Kerja Nomor 002.4/P/1.712.3 tanggal 19 April
2006. Nilai pekerjaan sebesar Rp26.400.000,00 dengan jangka waktu
penyelesaian 1 bulan kalender. Pekerjaan telah dianggap selesai dan telah
dibayar lunas sesuai SPMU No. 838 tanggal 16 Juni 2006;
g. Business Plan Alat Produksi Pengembangan, dilaksanakan oleh PT YPL
berdasarkan Surat Perintah Kerja Nomor 012.3/P/1.712.3 tanggal 4 Mei 2005.
Nilai pekerjaan sebesar Rp99.550.000,00 dengan jangka waktu penyelesaian 90
(sembilan puluh) hari kalender sejak 4 Mei 2005. Pekerjaan telah dianggap
selesai dan telah dibayar lunas sesuai SPMU No. 843 tanggal 16 Juni 2006;

47
h. Penyusunan Business Plan Alat Produksi Pengelolaan Property, dilaksanakan
oleh PT YPL berdasarkan Surat Perintah Kerja Nomor 025.6/P/1.712.3 tanggal
28 Nopember 2005. Nilai pekerjaan sebesar Rp99.550.000,00 dengan jangka
waktu penyelesaian 90 (sembilan puluh) hari kalender. Pekerjaan telah dianggap
selesai dan telah dibayar lunas sesuai SPMU No. 855 tanggal 16 Juni 2006;
i. Penyusunan Konsep Dan Strategi Pengembangan Kawasan Sentra Primer Tanah
Abang, dilaksanakan oleh PT PS & Associates berdasarkan Surat Perintah Kerja
Nomor 011.8/P/1.712.3 tanggal 30 Mei 2005. Nilai pekerjaan sebesar
Rp110.000.000,00 dengan jangka waktu penyelesaian 45 (empat puluh lima) hari.
Pekerjaan telah dianggap selesai dan telah dibayar lunas sebesar
Rp110.000.000,00 sesuai SPMU No. 086 tanggal 20 Januari 2006.
j. Jasa Konsultansi Public Relation, dilaksanakan oleh PT. KMM berdasarkan Surat
Perintah Kerja Nomor 001.5/P/1.712.3 tanggal 21 Februari 2005. Nilai pekerjaan
sebesar Rp44.000.000,00 dengan jangka waktu penyelesaian 31 (tiga puluh satu)
hari kerja. Pekerjaan telah dibayar untuk angsuran I (50%) sebesar
Rp22.000.000,00 sesuai SPMU No. 0311 tanggal 22 Maret 2005.

Hasil pemeriksaan lebih lanjut terhadap dokumen kontrak dan dokumen


pelaksanaan pada pekerjaan jasa konsultansi tersebut diketahui bahwa terdapat
kemahalan harga pada kontrak yang telah disepakati sebesar Rp134.334.750,00
dengan uraian sebagai berikut:
No. Uraian Volume Selisih Harga Jumlah
Pekerjaan Menurut Menurut Tarif (Rp) Satuan (Rp)
RAB Kontrak SK Kabiro ASP (Rp)
1 2 3 4 5 6 7

I. Sistem manajemen Mutu ISO 9001 : 2000 (PT. SI)

a. Biaya Personil
1 Project Leader S2 5 Bulan 4 Bulan 1 Bulan 8.000.000,00 8.000.000,00
Tenaga Ahli Konsultan
2 S1 5 Bulan 4 Bulan 1 Bulan 7.500.000,00 7.500.000,00
15.500.000,00
b. Biaya Non Personil
1 Transportasi 400.000,00 55.000,00 345.000,00 25 orang 8.625.000,00
2 Alat2 Kantor ATK 400.000,00 Tidak Berlaku 400.000,00 5 orang 2.000.000,00
3 Pelaporan Akhir 85.000,00 82.500,00 2.500,00 5 orang 12.500,00
4 Pelaporan utk 3 orang 35.000,00 22.000,00 13.000,00 5 M/M 195.000,00
5 Diktat, ATK 2 orang 100.000,00 Tidak Berlaku 100.000,00 30 M/M 6.000.000,00
6 Laptop 850.000,00 Tidak Berlaku 850.000,00 2 M/M 1.700.000,00
7 LCD 1.000.000,00 Tidak Berlaku 1.000.000,00 2 M/M 2.000.000,00
20.532.500,00

Jumlah (a + b ) 36.032.500,00

48
II. Pengenalan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2000 (PT. SI)

a. Biaya Personil
1 Project Leader 12.500.000,00 8.580.000,00 3.920.000,00 0,5 M/M 1.960.000,00
2 Tenaga Ahli Konsultan 12.500.000,00 5.720.000,00 6.780.000,00 0,5 M/M 3.390.000,00
5.350.000,00
b. Biaya Non Personil
1 Transportasi 300.000,00 55.000,00 245.000,00 15 orang 3.675.000,00
2 Alat2 Kantor /ATK 1.000.000,00 Tidak Berlaku 1.000.000,00 1 ls 1.000.000,00
3 Pelaporan Akhir 85.000,00 82.500,00 2.500,00 5 M/M 12.500,00
Pelaporan Training 2
4 org 25.000,00 22.000,00 3.000,00 5 ls 30.000,00
5 Laptop 500.000,00 Tidak Berlaku 500.000 ,00 2 unit 1.000.000,00
6 LCD 750.000,00 Tidak Berlaku 750.000 ,00 2 unit 1.500.000,00
7.217.500,00

Jumlah (a + b) 12.567.500,00

III. Jasa Penilaian Gedung Kebayoran Plaza (PT. SPP)

Biaya Personil
1 Alat2 Kantor/ATK 850.000,00 Tidak Berlaku 850.000,00 1 Paket 850.000,00
2 Pelaporan 1.000.000,00 82.500,00 917.500,00 1 Paket 917.500,00
1.767.500,00

IV. Pekerjaan General Audit, Audit Kepatuhan & Evaluasi Kinerja TB 2004 (KAP. T.A.W)

a. Biaya Personil
Tenaga Adm.&
1 Operator Komputer 2.500.000,00 1.031.250,00 1.468.750,00 0.5 M/M 734.375,00

b. Biaya non peronil


Transportasi Lokal
1 Supervisor 80.000,00 55.000,00 25.000,00 29 M/M 725.000,00
2 Tenaga Ahli 70.000,00 55.000,00 15.000,00 55 M/M 825.000,00
ATK, Penjilidan
3 Pelaporan 5.000.000,00 82.500,00 4.917.500,00 1 ls 4.917.500,00
6.467.500,00
Jumlah (a + b) 7.201.875,00

V. Pekerjaan General Audit, Audit Kepatuhan & Evaluasi Kinerja TB 2005 (KAP. T.A. W)

1 2 3 4 5 6 7
a. Biaya Personil
Tenaga Adm.&
1 Operator Komputer 2.800.000,00 1.031.250,00 1.768.750,00 0.5 M/M 884.375,00

b. Biaya non personil


Transportasi Lokal
1 Supervisor 110.000,00 55.000,00 55.000,00 32 M/M 1.760.000,00
2 Tenaga Ahli 100.000,00 55.000,00 45.000,00 52 M/M 2.340.000,00
3 Tenaga Ahli 100.000,00 55.000,00 45.000,00 57 M/M 2.565.000,00
4 Tenaga Ahli 100.000,00 55.000,00 45.000,00 51 M/M 2.295.000,00
ATK, Penjilidan
5 Pelaporan 5.000.000,00 82.500,00 4.917.500,00 1 ls 4.917.500,00

13.877.500,00

Jumlah (a + b) 14.761.875,00

VI. Penyesuaian Kembali Laporan Keuangan TB 2005 (KAP. T.A.W)

49
1 Biaya Non Personil
2 Biaya Overhead Kantor 2.800.000,00 Tidak Berlaku 2.800.000,00 1 unit 2.800.000,00

VII. Penyusunan Business Plan Alat Produksi Pengembangan (PT. YPL)

a. Biaya Personil
1 Ahli Kepala 11.700.000,00 9.900.000,00 1.800.000,00 1 M/M 1.800.000,00
2 Sekretaris 1.500.000,00 1.031.250,00 468.750,00 1 M/M 468.750,00
2.268.750,00
b. Biaya Non Personil
1 Alat2 Kantor/ ATK 750.000,00 Tidak Berlaku 750.000,00 1 ls 750.000,00
2 Pelaporan 250.000,00 82.500,00 167.500,00 1 ls 167.500,00
917.500,00

Jumlah (a + b) 3.186.250,00

VIII. Penyusunan Business Plan Alat Produksi Pengelolaan Property (PT. YPL)
a. Biaya Personil
1 Ahli Kepala 11.700.000,00 9.900.000,00 1.800.000,00 1 M/M 1.800.000,00
2 Sekretaris 1.500.000,00 1.031.250,00 468.750,00 1 M/M 468.750,00
2.268.750,00
b. Biaya Non Personil
1 Alat2 Kantor/ ATK 750.000,00 Tidak Berlaku 750.000,00 1 ls 750.000,00
2 Pelaporan 250.000,00 82.500,00 167.500,00 1 ls 167.500,00
917.500,00

Jumlah (a + b) 3.186.250,00

IX. Penyusunan Konsep & Strategi Pengembangan Kawasan Sentra Primer Tanah Abang (PS&A)

a. Biaya Personil
1 Sekretaris Teknik 3.000.000,00 1.031.250,00 1.968.750,00 1,5 M/M 2.953.125,00
2 Administrasi 2.000.000,00 1.031.250,00 968.750,00 1,5 M/M 1.453.125,00
3 Administrasi 2.000.000,00 1.031.250,00 968.750,00 1,5 M/M 1.453.125,00
4 Administrasi 2.000.000,00 1.031.250,00 968.750,00 1,5 M/M 1.453.125,00
7.312.500,00
b. Biaya Non Personil
1 Sewa Kendaraan 2 buah 3.000.000,00 2.200.000,00 800.000,00 1,5 bulan 2.400.000,00
2 Sewa Kantor 50 m2 120.000,00 Tidak berlaku 120.000,00 1,5 bulan 9.000.000,00
3 Sewa Peralatan 2.000.000,00 Tidak berlaku 2.000.000,00 1,5 bulan 3.000.000,00

4 Sewa Komputer 5 buah 2.000.000,00 Tidak berlaku 2.000.000,00 1,5 bulan 15.000.000,00
5 ATK 2.500.000,00 Tidak berlaku 2.500.000,00 1,5 bulan 3.750.000,00
Sewa Printer Laser 1
6 buah 3.000.000,00 Tidak berlaku 3.000.000,00 1,5 bulan 4.500.000,00
7 Laporan Pendahuluan 500.000,00 22.000,00 478.000,00 2 buku 956.000,00
8 Laporan Akhir 750.000,00 82.500,00 667.500,00 2 buku 1.335.000,00

39.941.000,00

Jumlah (a + b) 47.253.500,00
X. Jasa Konsultansi Public Relation (PT.KMM)

a. Biaya Personil
1. Tenaga Administrasi 2.750.000,00 1.031.250,00 1.718.750,00 1 m/m x 50% 859.375,00
2. Operator Komputer 2.750.000,00 1.031.250,00 1.718.750,00 1 m/m x 50% 859.375,00
1.718.750,00

b. Biaya Non Personil


1. Akomodasi 4.000.000,00 2.200.000,00 1.800.000,00 1 unit x 50% 900.000,00
2. Alat-alat Kantor/ATK 4.000.000,00 Tidak Berlaku 4.000.000,00 1 unit x 50% 2.000.000,00
3. Pelaporan 2.000.000,00 82.500,00 1.917.500,00 1 unit x 50% 958.750,00
3.858.750,00
Jumlah a+b 5.577.500,00

50
Selain itu Surat Perjanjian Kerja (SPK) Jasa Konsultansi tidak mencantumkan
klausul tentang sanksi denda bila pihak konsultan/rekanan tidak memenuhi
kewajibannya.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :


a. Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
barang/jasa Pemerintah menyebutkan, antara lain, pada :
1) Bagian Ketujuh Pasal 7 ayat (c) tentang ruang lingkup Keppres No. 80/2003
termasuk pengadaan barang/jasa untuk investasi di lingkungan BI, BHMN,
BUMN, BUMD, yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan
pada APBN/APBD.
2) Bagian Kelima Pasal 5 tentang etika pengadaan yang menyebutkan bahwa
pengguna barang/jasa, penyedia barang/jasa, dan para pihak terkait dalam
pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika sebagai berikut :
a) Melaksanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggung jawab untuk
mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan
barang/jasa;
b) Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran
keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa.
b. Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 39 Tahun 2002 tentang Ketentuan
Pelaksanaan Kerjasama Perusahaan Daerah Provinsi DKI Jakarta Dengan Pihak
Ketiga, Pasal 8 ayat (1) yang menyatakan bahwa kerjasama dengan pihak ketiga
untuk pengadaan barang/jasa serta infrastruktur (sarana fasilitas perkotaan)
dilakukan oleh Direksi Perusahaan Daerah Sesuai peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
c. Surat Keputusan Kepala Biro Administrasi Sarana Perkotaan Provinsi DKI
Jakarta Nomor 808/1.824.14 Tahun 2004 tentang Acuan Biaya Langsung
Personil dan Non Personil untuk Jasa Konsultan di Provinsi DKI Jakarta yang
menyebutkan bahwa :
a. Harga Satuan Biaya Langsung Personil untuk Ahli Muda S1 setinggi-
tingginya sebesar Rp5.720.000,00;
b. Harga Satuan Biaya Langsung Personil untuk Ahli Utama S1 setinggi-
tingginya sebesar Rp9.900.000,00;

51
c. Harga Satuan Biaya Langsung Personil untuk Ahli S2 setinggi-tingginya
sebesar Rp8.580.000,00;
d. Harga Satuan Biaya Langsung Personil untuk Sekretaris dan Operator
Komputer setinggi-tingginya sebesar Rp1.031.250,00;
e. Biaya Perjalanan Darat maksimum Rp55.000,00/Orang perjalanan;
f. Biaya Sewa Kantor untuk pekerjaan kurang dari 6 bulan tidak berlaku;
g. Biaya Komputer dikeluarkan hanya untuk Software dan Royalty;
h. Biaya Perlengkapan Kantor untuk pekerjaan kurang dari 6 bulan tidak
berlaku;
i. Biaya Laporan Bulanan yang dibenarkan maksimal sebesar
Rp22.000,00/buku;
j. Biaya Laporan Akhir yang dibenarkan maksimal sebesar Rp82.500,00/buku;

Masalah tersebut mengakibatkan kerugian keuangan PD Pembangunan


Sarana Jaya sebesar Rp134.334.750,00, yang disebabkan oleh :
a. Ketua Panitia Pelelangan Pengadaan Barang/Jasa PD Pembangunan Sarana Jaya
tidak cermat dan teliti dalam menilai serta mengevaluasi RAB yang diajukan oleh
konsultan.
b. Kepala Divisi Perencanaan dan Pengendalian tidak optimal dalam melaksanakan
tugas yang menjadi tanggungjawabnya.
c. Direktur Utama PD Pembangunan Sarana Jaya sebagai Penanggung Jawab
Kegiatan kurang melakukan pengendalian.

Atas permasalahan tersebut, pihak PD Pembangunan Sarana Jaya dhi. Panitia


Pelelangan Pengadaan Barang/Jasa menyatakan bahwa untuk proses pengadaan jasa
konsultasi selanjutnya akan mengacu kepada SK Kepala Biro Administrasi Sarana
Perkotaan Provinsi DKI Jakarta No.808/1.824.14 tahun 2004 (sesuai ketentuan yang
berlaku)

BPK RI menyarankan agar:


a. Badan Pengawas memberikan teguran tertulis dan memerintahkan kepada Direksi
untuk mempertanggungjawabkan kemahalan harga sebesar Rp134.334.750,00
dengan menyetorkan ke kas perusahaan dan bukti setor disampaikan kepada BPK
RI.

52
b. Direksi memberikan teguran tertulis kepada Ketua Panitia Pelelangan Pengadaan
Barang/Jasa dan Kepala Divisi Perencanaan dan Pengendalian atas kelalaian
dalam melaksanakan tugas.

10. Penyelesaian Pekerjaan Pembangunan 7 (tujuh) Unit Rumah Tinggal di Pondok


Kelapa Residence Oleh PT SWP Terlambat Belum Dikenakan Denda Sebesar
Rp76.633.450,00

PD Pembangunan Sarana Jaya pada tahun 2005 melakukan kerjasama dengan


PT Saranawisesa Properindo (SWP), sebagai salah satu anak perusahaannya, dalam
rangka Pembangunan tujuh unit Rumah Tinggal di Pondok Kelapa Residence dengan
lokasi proyek ex RSB Pondok Kelapa Jl. H.Miran, Kelurahan Pondok Kelapa
Kecamatan Duren Sawit Jakarta Timur senilai Rp1.461.935.000,00, dengan Surat
Perjanjian Pemborongan Pekerjaan Nomor 014.13/P/1.712.3 tanggal 2 Agustus 2005
dan jangka waktu penyelesaian 135 (seratus tiga puluh lima) hari kalender sejak
tanggal 29 Agustus 2005 sampai dengan tanggal 10 Januari 2006.
Sehubungan dengan kebijakan pemerintah tentang kenaikan harga BBM
maka rekanan mengajukan Addendum eskalasi harga Nomor 014.15/P/1.712.3
tanggal 28 Nopember 2005 sehingga terdapat perubahan nilai kontrak menjadi
Rp1.685.935.900,00.
Berdasarkan pemeriksaan fisik di lapangan tanggal 14 Agustus 2006
diketahui bahwa Proyek Pembangunan Perumahan di Pondok Kelapa tersebut belum
selesai seluruhnya dan belum diserahkan kepada Direktur Utama PD Pembangunan
Sarana Jaya sehingga ada keterlambatan pekerjaan selama 215 (dua ratus lima belas)
hari atau telah melebihi batas maksimum denda keterlambatan pekerjaan dan tidak
ada teguran tertulis kepada rekanan. Berdasarkan konfirmasi ke Manajer Divisi
Usaha diketahui bahwa pekerjaan tersebut terlambat karena adanya perbedaan
spesifikasi bahan terpasang yang harus diganti sehingga pekerjaan tersebut harus
dibongkar untuk dikerjakan kembali dan adanya permintaan konsumen untuk
merubah beberapa desain rumah. Sampai dengan pemeriksaan berakhir, pekerjaan
tersebut belum dapat diselesaikan dan atas keterlambatan itu belum dipungut denda.

Hal tersebut tidak sesuai dengan Pasal 17 ayat (1) Surat Perjanjian
Pemborongan Pekerjaan, No. 014.13/P/1.712.3 tanggal 28 Agustus 2005 yang

53
menyatakan bahwa Apabila PIHAK KEDUA melakukan kelalaian/kesalahan yang
mengakibatkan tidak dapat menyerahkan hasil pekerjaan tepat pada waktunya, maka
terhadap PIHAK KEDUA dikenakan denda sebesar 1%o (Satu permil) untuk setiap
hari keterlambatan dengan setinggi-tingginya denda sebanyak 5% (lima persen) dari
Total Harga Dasar Borongan Pekerjaan untuk keterlambatan yang
berlanjut/berkepanjangan.

Masalah ini mengakibatkan kekurangan penerimaan keuangan PD


Pembangunan Sarana Jaya sebesar Rp76.633.450,00 (5% x Rp1.1.532.669.000,00)
serta Pembangunan Rumah Tinggal di Pondok Kelapa Residence, Kecamatan Duren
Sawit Jakarta Timur tidak dapat segera dimanfaatkan, yang disebabkan oleh :
a. Pengawasan oleh Pemimpin Proyek tidak optimal yang terbukti dari tidak
adanya teguran secara tertulis kepada rekanan yang cidera janji tersebut;
b. Pengendalian oleh Kepala Divisi Usaha masih lemah;

Atas permasalahan tersebut pihak PD Pembangunan Sarana Jaya dhi.


Manajer Divisi Usaha menyatakan bahwa berdasarkan Berita Acara Penagihan
No.014.19/P/-1.712.2 tanggal 21 September 2006 sudah menerima denda
keterlambatan sebesar Rp76.633.450,00

BPK RI menyarankan Direksi memberikan teguran tertulis kepada Pimpinan


Proyek dan Manajer Divisi Usaha atas kelalaiannya dalam melaksanakan tugas.

54