You are on page 1of 180

ASUHAN KEBIDANAN GANGGUAN REPRODUKSI DENGAN KISTA OVARII PADA NY. S DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR.

SOESILO SLAWI DAN NY. E DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH TEGAL

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan

Disusun oleh: DWI ARIYANI NIM : B0009009

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI Jalan Cut Nyak Dhien No. 16 Kalisapu, Slawi 2011

2

PERSETUJUAN

Diterima dan disetujui untuk diajukan dan dipertahankan di depan Tim Penguji dalam Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Mandala Husada, pada:

Hari Tanggal

: :

Pembimbing I

Pembimbing II

ADRESTIA R.N.,SST NIPY. 1987061010058

KUSMIATI S., SH, SST NIP. 196702041988032007

3

PENGESAHAN

Diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi, pada:

Hari Tanggal

: :

Penguji I

Penguji II

ADRESTIA R.N.,S.ST NIPY. 1987061010058

KUSMIATI S., SH, S.ST NIP. 196702041988032007

Mengetahui: Kepala Prodi D-III Kebidanan

SITI ERNIYATI, SST NIPY. 1985020406036

4

MOTTO

Hidup memerlukan pengorbanan. Pengorbanan memerlukan perjuangan. Perjuangan memerlukan ketabahan. Ketabahan memerlukan keyakinan. Keyakinan menentukan kejayaan. Kejayaan pula yang akan menentukan kebahagiaan

Harta yang paling menguntungkan ialah sabar. Teman yang paling akrab adalah amal. Pengawal yang paling waspada ialah diam. Bahasa yang paling manis adalah senyum dan ibadah yang paling indah adalah khusyuk

Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka. - Alexander Graham Bell

5

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah yang Berjudul “Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi dengan Kista Ovarii pada Ny. S di RSUD dr. Soesilo Slawi dan Ny. E di RSUD Kardinah Tegal”. Selama melakukan penelitian maupun penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah Ilmiah ini, penulis banyak mendapat bimbingan, pengarahan, dan bantuan dari berbagai pihak, sehingga penulis mengucapkan terimaksih dan penghargaan kepada: 1. Bapak Risnanto, S.SiT., M. Kes., selaku Ketua STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi. 2. Ibu Siti Erniyati B.P., S.ST., selaku Ketua Prodi D-III Kebidanan STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi. 3. Ibu Adrestia R. N., S.ST., selaku pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan dorongan serta doanya. 4. Ibu Kusmiati Slameto, S.ST., selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan dorongan serta doanya. 5. Seluruh Staf Dosen STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi. 6. Bapak dan Ibu yang senantiasa memberikan doa dan semangatnya. 7. Kakak dan Adik yang senantiasa memberikan doa dan semangatnya. 8. Ny. S dan Ny. E beserta keluarga yang telah bersedia bekerja sama dalam melaksanakan asuhan kebidanan. 9. Rekan-rekan mahasiswi STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi yang telah membantu dalam penyusunan proposal ini.

6

10. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan proposal ini.

Penulis menyadari keterbatasan dalam penyusunan proposal Karya Tulis Ilmiah ini, maka penulis mengharapkan saran dan bimbingan dari berbagai pihak demi perbaikan selanjutnya. Penulis berharap semoga proposal Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi penulis dan pembaca. Akhir kata semoga proposal Karya Tulis Ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan pengembangan ilmu kebidanan umumnya.

Slawi, Juli 2012

Penulis

7

DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................ i Lembar Persetujuan ................................................................................... ii Lembar Pengesahan .................................................................................. iii Motto ........................................................................................................... iv Kata Pengantar ........................................................................................... v Daftar Isi ...................................................................................................... vii Daftar Tabel ................................................................................................ ix Daftar Gambar ............................................................................................ x BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .......................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................... 5 C. Tujuan ....................................................................................... 6 D. Ruang Lingkup .......................................................................... 7 E. Manfaat ..................................................................................... 7 F. Metode Memperoleh Data ........................................................ 8 G. Sistematika Penulisan ............................................................... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori Medis ................................................................. 11 B. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan ............................................ 55 C. Landasan Hukum ...................................................................... 65

8

BAB III TINJAUAN KASUS A. Pengkajian Kasus I ................................................................... 70 B. Pengkajian Kasus II .................................................................. 110

BAB IV BAHASAN ………………………………………………………….

141

BAB V PENUTUP A. Simpulan ……………………………………………………… B. Saran ……………………………………………………………. 152 153

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

9

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Yang lalu ......................... 71 Tabel 3.2. Pemeriksaan Laboratorium ...................................................... 77 Tabel 3.3. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Yang lalu ......................... 111 Tabel 3.4. Riwayat Penggunaan Kontrasepsi ........................................... 112 Tabel 3.5. Pemeriksaan Laboratorium ...................................................... 118 Tabel 4.1 Pemeriksaan Laboratorium …………………………………….. 147 Tabel 4.2 Pemeriksaan Laboratorium …………………………………….. 148 Tabel 4.3 Tabel Rujukan ……………………………………………………. 149

10

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Kista Folikel ........................................................................ 14 Gambar 2.2 Kista Korpus Luteum .......................................................... 16

Gambar 2.3. Kista Teka Lutein ................................................................ 17 Gambar 2.4. Kista Inklusi Germinal ......................................................... 18 Gambar 2.5. Kistadenoma Musinosum ................................................... 27 Gambar 2.6. Kista Ovari Serosum .......................................................... 30 Gambar 2.7. Kista Dermoid ..................................................................... 33 Gambar 2.8. Fibroma Ovarii .................................................................... 35 Gambar 2.9. Tumor Brenner .................................................................... 37 Gambar 2.10. Ovarial Kistektomi ............................................................... 49 Gambar 2.11. Salphingo-Ooforektomi ...................................................... 53

11

DAFTAR LAMPIRAN

1. Jadwal Penelitian 2. Kartu Surat Masuk 3. Lembar disposisi 4. Lembar Konsultasi 5. Surat permohonan izin pengambilan data 6. Surat rekomendasi penelitian

12

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan pada hakekatnya diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang, menyangkut fisik, mental, maupun sosial budaya dan ekonomi. Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan yang menyeluruh, terarah dan berkesinambungan (KepMenKes, 2007; h. 3). Indonesia dengan situasi geografis dimana terdapat 1.300 pulau besar dan kecil, penyebaran penduduk yang belum merata, tingkat sosial ekonomi dan pendidikan belum memadai, sehingga menyebabkan kurang

kemampuan dalam menjangkau tingkat kesehatan tertentu. (Manuaba, 2009; h. 7). Masalah reproduksi di Indonesia mempunyai dua dimensi. Pertama yang laten yaitu kematian ibu dan kematian bayi yang masih tinggi akibat berbagai faktor termasuk pelayanan kesehatan yang relatif kurang baik. Kedua ialah timbulnya penyakit degenaratif yaitu menopause dan kanker (KepMenKes, 2007; h. 3). Masalah kesehatan reproduksi menjadi perhatian dan bukan hanya individu yang bersangkutan, karena dampaknya luas menyangkut berbagai aspek kehidupan dan menjadi parameter kemampuan Negara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat.

13

Dengan demikian kesehatan alat reproduksi sangat erat hubungannya dengan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Anak (AKA) (Manuaba, 2009; h. 7). Sebagai ketetapan yang dimaksudkan dengan kesehatan reproduksi adalah kemampuan seorang wanita untuk memanfaatkan alat reproduksi dan mengatur kesuburannya (fertilitas) dapat menjalani kehamilan dan persalinan secara aman serta mendapatkan bayi tanpa resiko apapun atau well health mother and well born baby dan selanjutnya mengembalikan

kesehatan dalam batas normal (Manuaba, 2009; h. 7). Dengan demikian kesehatan reproduksi merupakan masalah vital dalam pembangunan kesehatan umumnya, karena tidak akan dapat diselesaikan dengan jalan melakukan tindakan kuratif (pengobatan), tetapi jauh daripada itu merupakan masalah masyarakat yang masih dapat diperbaiki (Manuaba, 2009; h. 9). Banyak penyakit yang menyerang sistem reproduksi memiliki efek negatif pada kualitas wanita dan keluarga. Tanda dan gejalanya terjadi menarche lebih awal, periode menstruasi yang tidak teratur, siklus menstruasi yang pendek, paritas yang rendah, dan riwayat infertilitas (Wiknjosastro, 2007; h. 135). Gangguan menstruasi yang sering terjadi pada wanita biasanya dismenorhea, haid yang tidak teratur dengan volume pengeluaran darah yang berlebihan sehingga bisa berdampak anemia. Nyeri yang berlebihan saat haid juga dapat terjadi akibat adanya masa pada organ reproduksi seperti kista atau mioma (Wiknjosastro, 2007; h. 135).

14

Kista adalah setiap rongga atau kantong tertutup, baik normal maupun abnormal, yang dilapisi epitel, biasanya mengandung cairan atau materi semi padat (Dorland, 2008; h. 281). Ovarium adalah suatu organ terdiri atas 2 yang terletak dikiri dan kanan antara uterus dan dinding panggul. Besarnya kurang lebih sebesar ibu jari tangan dengan panjang 4 cm, lebar dan tebalnya kira-kira 1,5 cm (Saroha Pinem, 2009; h. 10) Dalam endokrinologi reproduksi wanita, ovarium memiliki dua fungsi utama, yaitu: fungsi proliferatife (generatif), yaitu sebagai sumber ovum selama masa reproduksi. Di ovarium terjadi pertumbuhan folikel primer, folikel de Graff, peristiwa ovulasi, dan pembentukan korpus luteum. Fungsi sekretorik (vegetative), yaitu tempat pembentukan dan pengeluaran hormone steroid (estrogen, progesterone, dan androgen) (Wiknjosastro, 2007; h. 74). Kista Ovarium adalah kantong tertutup berdinding membran yang berlapis epitel dan cairan atau semi cairan dengan berbagai bentuk, permukaanaya bisa rata, halus, licin, dan ada yang dapat di gerakan ataupun tidak tumbuh di dalam rongga ovarium (Prawiroharjo, 1999; h. 394). Ovarium mempunyai kemungkinan untuk berkembang menjadi kista jinak maupun kista ganas. Pertumbuhan kista ovarium dapat menimbulkan gejala karena ukuran yang besar, terdapat perubahan hormonal, atau terjadi penyulit. Kista jinak ovarium memiliki diameter kecil-kecil dan sering ditemukan secara kebetulan dan tidak menunjukkan gejala klinis yang berarti (Manuaba, 2012; h. 564).

15

Indung telur mengandung sel yang mampu bertumbuh dan berkembang menjadi jaringan abnormal yang besar dalam bentuk jinak dengan konsistensi padat atau kistik. Oleh karena tempatnya di dalam abdomen (perut), gejalanya akan muncul bila kistanya telah besar atau terjadi gangguan lainnya (Manuaba, 2009; 202). Sesungguhnya, sebagian besar kista ovarium adalah non neoplastik. Selama tahun-tahun masa haid, 70% dari kista ovarium yang bukan radang masih berfungsi. Sisanya neoplastik (20%) atau endometrioma (10%) (Hacker, 2001; h. 388). Komplikasi kista jinak kista/ padat mengalami degenerasi keganasan (dengan gejala kista cepat bertambah besar dan pendesakan, pengeluaran cairan dalam perut [asites], dan anak sebar dengan gejala tersendiri). Robekan dinding kista menimbulkan gejala perut sakit mendadak, penderita tampak sakit serius, dan timbunan cairan darah dalam perut (Manuaba, 2009; h. 202). Neoplasma ovarium mempunyai nilai keganasan yang lebih tinggi daripada kista pelvis yang lain, insidensi keseluruhan kira-kira 15%. Setelah menopause, sekitar setengah dari semua kista ovarium bersifat ganas, sementara selama masa bayi dan kanak-kanak, 10 persennnya adalah ganas (Hacker, 2001; h. 388) Kista ovarium sebagian besar jenis (60-75%) jenis epitelial, yang dapat menjadi karsinoma ovarium (95%). Karsinoma ovarium sulit didiagnosis dini dan sebagian pasien datang dalam keadaan stadium lanjut. Berdasarkan pertimbangan dan faktor tersebut, karsinoma ovarium disebut sillent killer karena baru diketahui stadium lanjut (Manuaba, 2008; h. 333-334).

16

Berdasarkan data dari RSUD Dr. Soesilo Slawi tahun 2011 terdapat 28 kasus kista yang terdiri atas 6 kasus pada umur 15-24 tahun, 15 kasus pada umur 25-44 tahun, 6 kasus pada umur 45-64 tahun dan 1 kasus pada umur lebih dari 65 tahun dan berdasarkan data dari RSU Kardinah Tegal tahun 2010/2011 terdapat 90 kasus kista yang terdiri atas 10 kasus pada umur 1524 tahun, 55 kasus pada umur 25-44 tahun, 20 kasus pada umur 45-64 tahun, dan 5 kasus pada umur lebih dari 65 tahun. Jadi dapat dilihat kasus terbanyak terjadi pada umur 25-44 tahun di RSUD Dr. Soesilo juga di RSUD Kardinah tahun 2010/2011. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi pada Ny S dengan Kista Ovarii di RSUD Dr. Soesilo Slawi dan Ny. E dengan Kista Ovarii di RSUD Kardinah Tegal Tahun 2012”.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan data dari RSUD Dr. Soesilo Slawi tahun 2011 terdapat 28 kasus kista yang terdiri atas 6 kasus pada umur 15-24 tahun, 15 kasus pada umur 25-44 tahun, 6 kasus pada umur 45-64 tahun dan 1 kasus pada umur lebih dari 65 tahun dan berdasarkan data dari RSU Kardinah Tegal tahun 2010/2011 terdapat 90 kasus kista yang terdiri atas 10 kasus pada umur 1524 tahun, 55 kasus pada umur 25-44 tahun, 20 kasus pada umur 45-64 tahun, dan 5 kasus pada umur lebih dari 65 tahun. Jadi dapat dilihat kasus terbanyak terjadi pada umur 25-44 tahun di RSUD Dr. Soesilo juga di RSUD Kardinah tahun 2010/2011. Maka perumusan masalah yang penulis ambil

17

yaitu “Bagaimanakah Penerapan Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi pada Ny S dengan Kista Ovarii di RSUD Dr. Soesilo Slawi dan Ny. E dengan Kista Ovari di RSUD Kardinah Tegal?

C. Tujuan Dalam penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini mempunyai dua tujuan yaitu : 1. Tujuan Umum Agar penulis dapat melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita yang menderita Kista Ovari di RSUD Dr Soesilo Slawi dan RSUD Kardinah Tegal melalui proses pendekatan manajemen kebidanan. 2. Tujuan Khusus a. Melaksanakan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan pada kasus ibu dengan Kista Ovarii. b. Menginterpretasikan data dasar pada kasus ibu dengan Kista Ovarii. c. Mengantisipasi diagnosa potensial pada kasus ibu dengan Kista Ovarii. d. Mengantisipasi tindakan segera pada kasus ibu dengan Kista Ovarii. e. Merencanakan asuhan yang menyeluruh pada kasus ibu dengan Kista Ovarii. f. Melaksanakan implementasi secara efesien pada kasus ibu dengan Kista Ovarii. g. Mengevaluasi hasil yang diperoleh pada kasus ibu dengan Kista Ovarii.

18

h. Mendokumentasikan tindakan yang telah dilakukan pada kasus ibu dengan Kista Ovarii. i. Melakukan pembahasan kasus ibu dengan Kista Ovarii dengan melakukan perbandingan antara kasus dan teori yang ada.

D. Ruang Lingkup 1. Sasaran Asuhan Kebidanan ini dilakukan pada Ny. S umur 53 tahun Ab2Ah3 di RSUD Dr Soesilo Slawi Kardinah Tegal. 2. Tempat Pengambilan studi kasus pada Ny. S yaitu di Ruang Kebidanan RSUD Dr. Soesilo Slawi dan Ny. E di Ruang Kebidanan RSUD Kardinah Tegal. 3. Waktu Asuhan Kebidanan pada Ny. S dengan Kista Ovari di RSUD dr. Soesilo Tahun 2012 dilakukan mulai tanggal 6 Februari 2012 sampai 15 Februari 2012 dan pada Ny. E mulai tanggal 15 Februari 2012 sampai 20 Februari 2012. dan Ny. E umur 31 Ab0Ah1 tahun di RSUD

E. Manfaat Penelitian ini diharapakan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak,

diantaranya, yaitu:

19

1. Penulis Menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam melaksanakan asuhan kebidanan tentang Kista Ovarii dan dapat mendeteksi dini kasus Kista Ovari. 2. RSUD dr. Soesilo dan RSUD Kardinah Tegal Meningkatkan kualitas mutu pelayanan dalam memberikan penanganan pada kasus Kista Ovarii. 3. Akademik Memberikan masukan pada institusi untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa memahami tentang Kista Ovarii dan menerapkan penanganan Kista Ovarii sesuai teori. 4. Klien Mendapatkan pengetahuan mengenai penyakitnya dan mendapatkan penanganan yang sesuai dengan standar. 5. Keluarga Klien Mengetahui tentang tanda dan gejala Kista Ovarii dan mampu menangani dalam penanganan selanjutnya setelah pulang ke rumah.

F.

Metode Memperoleh Data 1. Anamnesa Anamnesa adalah pengkajian dalam rangka mendapatkan data pasien dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan, baik secara langsung pada pasien maupun kepada keluarga pasien.

20

2. Pemeriksaan fisik Menurut Eny dan Tri ( 2009; h. 119-122), pemeriksaan fisik ini dibagi menjadi 4 macam, yaitu: a. Inspeksi Inspeksi adalah suatu tindakan pemeriksa dengan menggunakan indera penglihatannya untuk mendeteksi karakteristik normal atau tanda tertentu dari bagian tubuh atau fungsi tubuh pasien. b. Palpasi Palpasi adalah suatu tindakan pemeriksaan yang dilakukan dengan perabaan dan penekanan bagian tubuh dengan menggunakan jari atau tangan. c. Perkusi Perkusi adalah suatu tindakan pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi getaran/ gelombang suara yang dihantarkan kepermukaan tubuh dari bagian tubuh yang diperiksa. d. Auskultasi Auskultasi adalah suatu tindakan pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi yang terbentuk di dalam organ tubuh. Hal ini dimaksudkan untuk mendeteksi adanya kelainan dengan cara membandingkan dengan bunyi normal. 3. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan USG b. Pemeriksaan Rontgen c. Pemeriksaan Darah Lengkap d. Pemeriksaan Patologi Anatomi

21

4. Dokumentasi Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subyek penelitian. 5. Studi Kasus Studi kasus adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal.

G. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan dalam penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini terdiri dari tiga bab, yaitu: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan 1. 2. Tujuan Umum Tujuan Khusus

D. Ruang Lingkup 1. 2. 3. Sasaran Tempat Waktu

E. Manfaat F. Metode Memperoleh Data

G. Sistematika Penulisan

22

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori Medis B. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan C. Landasan Hukum Kewenangan Bidan

BAB III

TINJAUAN KASUS A. Pengkajian Kasus I B. Pengkajian Kasus II

BAB IV

BAHASAN

BAB V

PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

23

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori Medis 1. Kesehatan Reproduksi a. Definisi Kesehatan reproduksi adalah kemampuan seorang wanita untuk memanfaatkan alat reproduksi dan mengatur kesuburannya

(fertilitas) dapat menjalani kehamilan dan persalinan secara aman serta mendapatkan bayi tanpa resiko apapun atau well health mother and well born baby dan selanjutnya mengembalikan

kesehatan dalam batas normal (Manuaba, 2009; h. 7). Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat mental, fisik dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi serta proses reproduksi dan bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan serta dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu

memenuhi kebutuhan spiritual dan material yang layak, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, spiritual memiliki hubungan yang serasi-selaras-seimbang antara anggota keluarga dan antara keluarga dengan masyarakat dan lingkungan (Saroha Pinem, 2009; h. 30).

24

b.

Ruang Lingkup Menurut Mohammad dan Kartono (1998), masalah reproduksi sangat luas, yaitu: 1) 2) 3) Masalah reproduksi Masalah gender dan seksualitas Masalah diinginkan 4) 5) 6) 7) Masalah kekerasan dan perkosaan terhadap perempuan Masalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual Masalah pelacuran Masalah sekitar teknologi yang berkaitan dengan kehamilan yang tidak

2. Kista Ovarii a. Definisi Kista adalah setiap rongga atau kantong tertutup, baik normal maupun abnormal, yang dilapisi epitel, biasanya mengandung cairan atau materi semi padat (Dorland, 2008; h. 281). Kista ovarium adalah kista yang relatif sering di jumpai, kista ini merupakan pembesaran dari indung telur yang mengandung cairan (Manuaba, 2009; h. 202). Kista Ovarium adalah kantong tertutup berdinding membran yang berlapis epitel dan cairan atau semi cairan dengan berbagai bentuk, permukaanaya bisa rata, halus, licin, dan ada yang dapat di gerakan ataupun tidak tumbuh di dalam rongga ovarium

(Prawiroharjo, 1999; h. 394).

25

Kista Ovarium adalah rongga berbentuk kantong yang berisi cairan di dalam jaringan ovarium (Yatim, 2005; h. 17).

b.

Klasifikasi Menurut Wiknjosastro (2009; h. 346-365), di antara tumor-tumor ovarium, ada yang bersifat neoplastik dan ada yang bersifat nonneoplastik. Tumor-tumor neoplastik belum ada klasifikasi yang dapat diterima oleh semua pihak. Hal ini terjadi karena klasifikasi berdasarkan histopatologi atau embriologi belum dapat diberikan secara tuntas berhubung masih kurangnya pengetahuan kita mengenai asal-usul beberapa tumor, dan berhubung adanya kemungkinan bahwa tumor-tumor yang sama rupanya mempunyai asal yang berbeda. Maka atas pertimbangan praktis, tumor-tumor neoplastik dibagi atas tumor jinak dan tumor ganas, dan selanjutnya tumor jinak dibagi dalam tumor kistik dan tumor solid. 1) Tumor Ovarium Nonneoplastik a) Kista Folikel Kista ini berasal dari folikel de Graff yang tidak sampai berovulasi, namun tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang setelah bertumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang lazim, melainkan membesar menjadi kista. Bisa didapati satu kista atau beberapa, dan besarnya biasanya dengan diameter 1-1,5 cm.

26

Kista yang berdiri sendiri bisa menjadi sebesar jeruk nipis. Bagian dalam dinding kista yang tipis terdiri atas beberapa lapisan sel granulosa, akan tetapi karena tekanan di dalam kista, terjadilah atrofi pada lapisan ini. Cairan dalam kista jernih dan seringkali mengandung estrogen; oleh sebab itu, kista kadang-kadang dapat menyebabkan gangguan haid. Kista folikel lambat laun mengecil dan dapat

menghilang spontan, atau bisa menjadi ruptur dan kista menghilang pula. Dalam menangani tumor ovarium timbul persoalan apakah tumor yang dihadapi itu neoplasma atau kista folikel. Umumnya, jika diameter tumor tidak lebih dari 5 cm, dapat ditunggu dahulu karena kista folikel dalam 2 bulan akan hilang sendiri.

Gambar 2.1. Kista Folikel Sumber: Colour Atlas of Gynaecology

27

b) Kista Korpus Luteum Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan menjadi korpus albicans. Kadang-kadang korpus luteum mempertahankan diri (korpus lutein

persistens); perdarahan yang sering terjadi di dalamnya menyebabkan terjadinya kista, berisi cairan berwarna merah coklat karena darah tua. Frekuensi kista korpus luteum lebih jarang daripada kista folikel, dan yang pertama bisa menjadi lebih besar daripada yang kedua. Pada pembelahan ovarium kista korpus luteum memberi gambaran yang khas. Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna kuning, terdiri atas sel-sel luteum yang berasal dari sel-sel teka. Kista korpus luteum dapat menimbulkan gangguan haid, berupa amenorea diikuti oleh perdarahan tidak teratur. Adanya kista dapat pula menyebabkan rasa berat di perut bagian bawah. Perdarahan yang berulang dalam kista dapat menyebabkan ruptur. Rasa nyeri di dalam perut yang mendadak dengan adanya amenorea sering menimbulkan kesulitan dalam diagnosis diferensial dengan kehamilan ektopik yang terganggu. Jika dilakukan operasi, gambaran yang khas kista korpus luteum memudahkan pembuatan diagnosis.

28

Penanganan kista korpus luteum ialah menunggu sampai kista hilang sendiri. Dalam hal dilakukan operasi atas dugaan kehamilan ektopik terganggu, kista korpus luteum diangkat tanpa mengorbankan ovarium.

Gambar 2.2. Kista Korpus Luteum Sumber: Colour Atlas of Gynaecology

c) Kista Teka Lutein Pada mola hidatidosa, koriokarsinoma, dan kadangkadang tanpa adanya kelainan tersebut, ovarium dapat membesar dan menjadi kistik. Kista biasanya bilateral dan bisa menjadi sebesar tinju. Pada pemeriksaan mikroskopik terlihat luteinisasi, akan tetapi seringkali kista sel-sel ini menghilang akibat karena pengaruh atresia. hormon

Tumbuhnya

ialah

29

koriogonadotropin yang berlebihan, dan dengan hilangnya mola atau koriokarsinoma, ovarium mengecil spontan.

Gambar 2.3. Kista Teka Lutein Sumber: Colour Atlas of Gynaecology

d) Kista Inklusi Germinal Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagianbagian kecil dari epitel germinativum pada permukaan ovarium. Tumor ini lebih banyak terdapat pada wanita yang lanjut umurnya, dan besarnya jarang melebihi diameter 1 cm. kista ini biasanya secara kebetulan ditemukan pada pemeriksaan histologik ovarium yang diangkat waktu

operasi. Kista terletak di bawah permukaan ovarium; dindingnya terdiri atas satu lapisan epitel kubik atau torak rendah, dan isinya caiaran jernih dan serus.

30

Gambar 2.4. Kista Inklusi Germinal Sumber: Colour Atlas of Gynaecology

e) Kista Endometrium Kista endometrium atau disebut juga dengan

endometriosis adalah satu keadaan di mana jaringan endometrium yang masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Jaringan ini yang terdiri atas kelenjar-kelenjar dan stroma. Histogenesis Teori histogenesis dari endometriosis yang paling banyak penganutnya adalah teori dari Sampson. Menurut teori ini, endometriosis terjadi karena darah haid mengalir kembali (regurgitasi) melalui tuba ke dalam rongga pelvis. Sudah dibuktikan bahwa dalam darah haid didapati sel-sel

31

endometrium

yang

masih

hidup

ini

kemudian

dapat

mengadakan implantasi di pelvis. Teori lain mengenai histogenesis endometriosis

dilontarkan oleh Robert Meyer. Pada teori ini dikemukakan bahwa endometriosis terjadi karena rangsangan pada sel-sel epitel berasal dari selom yang dapat mempertahankan hidupnya di daerah pelvis. Rangsangan ini akan

menyebabkan metaplasi dari sel-sel epitel itu, sehingga terbentuk jaringan endometrium. Teori dari Robert Meyer

akhir-akhir ini semakin banyak penantangnya. Di samping itu masih terbuka kemungkinan timbulnya endometriosis

dengan jalan penyebaran melalui jalan darah atau limfe, dan dengan implantasi langsung dari endometrium pada saat operasi. Angka Kejadian Endometriosis selama kurang lebih 30 tahun terakhir ini menunjukkan angka kejadian yang meningkat. Angka kejadian antara 5-15% dapat ditemukan antara semua operasi pelvik. Endometriosis jarang didapatkan pada orangorang Negro, dan lebih sering didapatkan pada wanitawanita dari golongan sosio-ekonomi yang kuat. Yang menarik perhatian ialah bahwa endometriosis lebih sering ditemukan pada wanita yang tidak kawin pada umur muda, dan yang tidak mempunyai banyak anak. Rupanya fungsi ovarium secara siklis yang terus menerus tanda diselingi

32

kehamilan,

memegang

peranan

dalam

terjadinya

endometriosis. Patologi Gambaran mikroskopik dari endometriosis sangat

variabel. Lokasi yang sering terdapat ialah ovarium, dan biasanya di sini didapati pada kedua ovarium. Pada ovarium tampak kista-kista biru kecil sampai besar (kadang-kadang sebesar tinju) berisi darah tus menyerupai coklat (kista coklat atau endometrioma) Darah tua dapat keluar sedikit-sedikit karena luka pada dinding kista, dan dapat menyebabkan perlekatan antara permukaan ovarium dengan uteri sigmoid dan dinding pelvis. Kista coklat kadang-kadang dapat mengalir dalam jumlah banyak ke dalam rongga peritoneum karena robekan dinding kista, dan menyebabkan acute abdomen. Tuba pada endometriosis biasanya normal. Pada salah satu atau kedua ligamentum sakrouterinum, pada kavum Douglas, dan pada permukaan uterus sebelah belakang dapat ditemukan satu atau beberapa bintik sampai benjolan kecil berwarna kebirubiruan. Juga pada permukaan sigmoid atau rektum

seringkali ditemukan benjolan yang berwarna kebiru-biruan ini. Sebagai akibat timbulnya perdarahan pada waktu haid dari jaringan endometriosis, mudah sekali timbul perlekatan antara alat-alat di sekitar kavum Douglas itu.

33

Gambaran Mikroskopik Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan ciri-ciri khas bagi endomteriosis yakni kelenjar-kelanjar dan stroma endometrium, dan perdarahan bekas dan baru berupa eritrosit, pigmen hemosiderin, dan sel-sel makrofag berisi hemosiderin. Disekitarnya tampak sel-sel radang dan jaringan ikat, sebagai (jaringan reaksi dari jaringan normal Jaringan

disekelilingnya

endometriosis).

endometriosis seperti juga jaringan endometrium di dalam uterus, dapat dipengaruhi estrogen dan progesteron. Akan tetapi besarnya pengaruh tidak selalu sama, dan tergantung dari beberapa faktor, antara lain dari komposisi

endometriosis yang bersangkutan (apakah jaringan kelenjar atau jaringan stroma yang lebih banyak), dari reaksi jaringan normal di sekitarnya, dan sebagainya. Sebagai akibat dari pengaruh hormon-hormon tersebut, sebagian besar sarangsarang endometriosis berdarah secara periodik. Perdarahan yang periodik ini menyebabkan reaksi jaringan sekelilingnya berupa radang dan perlekatan. Pada kehamilan dapat ditemukan reaksi desidual jaringan endometriosis. desidual Apabila kehamilannya disertai dengan berakhir, regresi reaksi sarang

menghilang

endometriosis, dan dengan membaiknya keadaan. Pengaruh baik dari kehamilan kini menjadi dasar pengobatan

endometriosis dengan hormon untuk mengadakan apa yang

34

dinamakan kehamilan semu (pseudopregnancy). Secara mikroskopik endometriosis merupakan suatu kelainan yang jinak, akan tetapi kadang-kadang sifatnya seperti tumor ganas. Antara lain bisa terjadi penyebaran endometriosis ke paru-paru dan lengan, selain itu bisa terdapat infiltrasi ke bawah kavum Douglasi ke fasia rektovaginal, ke sigmoid, dan sebagainya. Gambaran Klinik Gejala-gejala yang sering ditemukan pada penyakit ini ialah nyeri perut bagian bawah yang progesif dan dekat paha yang terjadi pada dan selama haid (dismenorea); dispareunia; nyeri waktu defekasi, khususnya pada waktu haid; poli dan hipermenorea; infertilitas. Dismenorea pada endometriosis biasanya merupakan rasa nyeri waktu haid yang semakin lama semakin menghebat. Sebab dari dismenorea ini tidak diketahui, tetapi mungkin ada hubungannya dengan vaskularisasi dan perdarahan dalam sarang endometriosis pada waktu

sebelum dan semasa haid. Nyeri tidak selalu didapatkan pada endometriosis walaupun kelainan sudah luas,

sebaliknya kelainan ringan dapat menimbulkan gejala nyeri yang keras. Dispareunia yang merupakan gejala yang sering dijumpai, disebabkan oleh adanya endometriosis di kavum Douglasi. Defekasi yang sukar dan sakit terutama pada waktu haid, disebabkan oleh karena adanya endometriosis

35

pada dinding retrosigmoid. Kadang-kadang bisa terjadi stenosis dari lumen usus besar tersebut. Endometriosis kandung kencing jarang terdapat, gejala-gejalanya ialah gangguan miksi dan hematuria pada waktu haid. Gangguan haid dan siklusnya dapat terjadi pada endometriosis apabila kelainan pada ovarium demikian luasnya sehingga fungsi ovarium terganggu. Ada korelasi yang nyata antara

endometriosis dan infertilitas menurut Rubin kemungkinan untuk hamil pada wanita dengan endometriosis ialah kurang lebih separoh dari wanita biasa. Faktor penting yang menyebabkan infertilitas pada endometriosis ialah mobilitas tuba terganggu karena fibrosis dan perlekatan jaringan di sekitarnya. Pada pemeriksaan ginekologik, khususnya pada pemeriksaan vagino-retro-abdominal, ditemukan pada

endometriosis ringan benda-benda padat sebesar butir beras sampai butir jagung di kavum Douglasi dan pada ligamentum sakrouterinum dengan uterus dalam retrofleksi dan terfiksasi. Ovarium mula-mula dapat diraba sebagai tumor kecil, akan tetapi bisa membesar sampai sebesar tinju. Tumor ovarium seringkali terdapat bilateral dan sukar digerakkan.

36

f) Kista Stein-Leventhal Pada tahun 1955 Stein dan Leventhal meminta perhatian terhadap segolongan wanita muda dengan gejala-gejala infertilitas, amenorea atau oligomenorea sekunder, kadangkadang agak gemuk, sering kali (dalam kurang lebih 50 %) hirsutisme tanpa maskulinisasi, dan dengan kedua ovarium membesar. Ovarium tampak pucat, membesar 2 sampai 3 kali, polikistik, dan permukaannya licin. Kapsul ovarium menebal. Kelainan ini terkenal dengan nama sindrom SteinLeventhal dan kiranya disebabkan oleh gangguan

keseimbangan hormonal. Umumnya pada penderita terdapat gangguan ovulasi; oleh karena endometrium hanya

dipengaruhi oleh estrogen, hyperplasia endometri sering ditemukan. Diagnosis dibuat atas dasar gejala-gejala klinis;

laparaskopi dapat membantu dalam pembuatan diagnosis. Sebagai diagnosis diferensial perlu dipikirkan tumor ovarium yang mengeluarkan androgen; tetapi tumor yang akhir ini umumnya terdapat hanya pada satu ovarium, dan

menyebabkan perubahan suara dan pembesaran klitoris. Perlu disingkirkan pula kemungkinan hyperplasia korteks adrenal atau tumor adrenal; pada sindrom Stein-Leventhal tidak ada tanda-tanda defeminisasi, dan fungsi glandula suprarenalis normal.

37

2) Tumor Ovarium Neoplastik Jinak a) Tumor Kistik (1) Kistoma Ovarii Simpleks Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai, seringkali bilateral, dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis dan cairan di dalam kista jernih, serus dan berwarna kuning. Pada dinding kista tampak lapisan epitel kubik. Berhubung dengan adanya tangkai, dapat terjadi torsi (putaran tangkai) dengan gejala-gejala mendadak. Diduga bahwa kista ini suatu jenis kistadenoma serosum, yang kehilangan epitel kelenjarnya berhubung dengan tekanan cairan dalam kista. Terapi terdiri atas pengangkatan kista dengan reseksi ovarium akan tetapi jaringan yang dikeluarkan harus segera diperiksa secara histologik untuk mengetahui apakah ada keganasan.

(2) Kistoma Ovarii Musinosum Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti. Menurut Meyer, ia mungkin berasal dari suatu teratoma di mana dalam pertumbuhannya satu elemen mengalahkan elemen-elemen lain. Ada penulis yang berpendapat bahwa tumor berasal dari epitel germinativum, sedang penulis lain menduga tumor ini mempunyai asal yang sama dengan tumor Brenner.

38

Gambaran Klinik Tumor lazimnya berbentuk multilokuler; oleh karena itu, permukaan berbagala (lobulated). Kira-kira 10% dapat mencapai ukuran yang amat besar, lebih-lebih pada penderita yang dating dari pedesaan. Pada tumor yang besar tidal lagi dapat ditemukan jaringan ovarium yang normal. Tumor biasanya unilateral, akan tetapi dapat juga dijumpai yang bilateral. Kista menerima darahnya melalui suatu tangkai; kadang-kadang dapat terjadi torsi yang mengakibatkan gangguan sirkulasi. Gangguan ini dapat menyebabkan perdarahan dalam kista dan perubahan degenerative, yang memudahkan timbulnya perlekatan kista dengan omentum, usus-usus dan peritoneum parietale. Dinding kista agak tebal dan berwarna putih keabuabuan; yang terakhir ini khususnya bila terjadi

perdarahan atau perubahan degenerative di dalam kista. Pada pembukaan terdapat cairan lendir khas, kental seperti gelatin, melekat, dan berwarna kuning sampai coklat tergantung dari percampurannya dengan darah. Pada pemeriksaan mikroskopik tampak dinding kista dilapisi oleh epitel torak tinggi dengan inti pada dasar sel; terdapat di antaranya sel-sel yang membundar karena terisi lendir (goblet cells).

39

Sel-sel epitel yang terdapat dalam satu lapisan mempunyai potensi untuk tumbuh seperti srtuktur kelenjar: kelenjar-kelenjar menjadi kista-kista baru, yang menyebabkan kista menjadi multilokuler. Jika terjadi sobekan pada dinidng kista, maka sel-sel epitel dapat tersebar pada permukaan peritoneum rongga perut, dan dengan peritonei. Akibat pseudomiksoma peritonei ialah timbulnya penyakit menahun dengan musin terus bertambah dan menyebabkan banyak perlekatan. Akhirnya, penderita meninggal karena ileus dan/atau inanisi. Pada kista kadang-kadang dapat ditemukan daerah padat, dan pertumbuhan papiler. Tempat-tempat tersebut perlu diteliti dengan seksama oleh karena di situ dapat ditemukan tanda-tanda ganas. Keganasan ini terdapat dalam kira-kira 5-10% dari kistadenoma musinosum. sekresinya, menyebabkan pseudomiksoma

Gambar 2.5. Kistadenoma Musinosum Sumber: Colour Atlas of Gynaecology

40

Penanganan Penanganan terdiri atas pengangkatan tumor. Jika pada operasi tumor sudah besar sehingga tampak banyak sisa ovarium yang normal, biasanya dilakukan pengangkatan ovarium beserta tuba (salpingo-

ooforektomi). Pada waktu mengangkat kista sedapatdapatnya diusahakan mengangkatnya in toto tanpa mengadakan pungsi dahulu, untuk mencegah timbulnya pseudomiksoma peritonie karena tercecernya isi kista. Jika berhubung dengan besarnya kista perlu dilakukan pungsi untuk mengecelkan tumor dari rongga perut. Setelah kista diangkat, harus dilakukan pemeriksaan histologik di tempat-tempat yang mencurigakan

terhadap kemungkinan keganasan. Waktu operasi, ovarium yang lain perlu diperiksa pula.

(3) Kistoma Ovarii Serosum Pada umumnya para penulis berpendapat bahwa kista ini berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal epithelium) Gambaran Klinik Pada umumnya kista jenis ini tak mencapai ukuran yang amat besar dibandingkan dengan kistadenoma musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, akan tetapi dapat pula berbagala karena kista serosum pun

41

dapat

berbentuk

multilokuler,

meskipun

lazimnya

berongga satu. Warna kista putih keabu-abuan. Cirri khas kista ini ialah potensi pertumbuhan papiler ke dalam rongga kista sebesar 50%, dan keluar pada permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning, dan kadang-kadang coklat karena campuran darah. Tidak jarang kistanya sendiri kecil, tetapi permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papilloma). Pada mungkin umumnya dapat dikatakan gambaran bahwa tidak

membedakan

makroskopik

kistadenoma serosum papiliferum yang ganas dari yang jinak, bahkan pemeriksaan mikroskopik pun tidak selalu memberi kepastian. Pada pemeriksan mikroskopik terdapat dinding kista yang dilapisi oleh epitel kubik atau epitel torak yang rendah, dengan sitoplasma eosinofil dan inti sel yang besar dan gelap warnanya. Karena tumor ini berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal epithelium), maka bentuk epitel pada papil dapat beraneka ragam, tetapi sebagian besar epitelnya terdiri atas epitel bulu getar, seperti epitel tuba. Pada jaringan papiler dapat ditemukan pengendapan kalsium dalam stromanya yang dinamakan psamoma. Adanya psamoma biasanya menunjukkan bahwa kista adalah kistadenoma ovarii serosum papilliferum, tetapi tidak bahwa tumor itu ganas.

42

Gambar 2.6. Kista Ovari Serosum Sumber: Colour Atlas of Gynaecology

Perubahan Ganas Apabila ditemukan pertumbuhan papilifer, proliferasi dan stratifikasi epitel, serta anaplasia dan mitosis pada sel-sel, kistadenoma serosum secara mikroskopik

digolongkan ke dalam kelompok ganas. Akan tetapi, garis pemisah antara kistadenoma ovarii papiliferum

yang jelas ganas kadang-kadang sukar ditentukan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa potensi keganasan yang dilaporkan sangat berbeda-beda. Walaupun demikian, dapat dikatakan bahwa 30% sampai 35% dari kistadenoma serosum mengalami perubahan keganasan. Bila pada suatu kasus terdapat implantasi pada peritoneum disertai dengan asites, maka prognosis penyakit itu kurang baik, meskipun

43

diagnosis hispatologis pertumbuhan itu mungkin jinak (hispatologically benign). Klinis kasus tersebut menurut pengalaman harus dianggap sebagai neoplasma

ovarium yang ganas (clinically malignant)

(4) Kista Endometrioid Kista ini biasanya unilateral dengan permukaan licin; pada dinding dalam terdapat satu lapisan sel-sel, yang menyerupai lapisan epitel endometrium. Kista ini, yang ditemukan oleh Sartesson dalam tahun 1969, tidak ada hubungannya dengan endometriosis ovarii.

(5) Kista Dermoid Sebenarnya kista dermoid ialah satu teratoma kistik yang jinak dimana struktur-struktur ektodermal dengan diferensiasi sempurna, seperti epitel kulit, rambut, gigi, dan produk glandula sebasea berwarna putih kuning menyerupau lemak Nampak lebih menonjol daripada elemen-elemen entoderm dan mesoderm. Tentang histogenesis kista dermoid, teori yang paling banyak dianut ialah bahwa tumor berasal dari sel telur melalui proses parthenogenesis.

44

Gambaran Klinik Tidak ada ciri-ciri yang khas pada kista dermoid. Dinding kista kelihatan putih, keabu-abuan, dan agak tipis. Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, dibagian lain padat. Sepintas lalu kelihatan seperti kista berongga satu, akan tetapi bila dibelah, biasanya Nampak satu kista besar dengan ruangan kecil-kecil dalam

dindingnya. Pada umumnya terdapat satu daerah pada dinding bagian dalam, yang menonjol dan padat. Tumor mengandung elemen-elemen ektodermal, mesodermal dan entodermal. Maka dapat ditemukan kulit, rambut, kelenjar sebasea, gigi (ektodermal), tulang rawan, serat otot jaringan ikat (mesodermal), dan mukosa traktus gastrointestinalis, epitel saluran

pernapasan, dan jaringan tiroid (entodermal). Bahan yang terdapat dalam rongga kista ialah produk dari kelenjar sebasea berupa massa lembek seperti lemak, bercampur dengan rambut. Rambut ini terdapat

beberapa serat saja, tetapi dapat pula merupakan gelondongan seperi konde.

45

Gambar 2.7. Kista Dermoid Sumber: Colour Atlas of Gynaecology

Pada kista dermoid dapat terjadi torsi tangkai dengan gejala nyeri mendadak di perut bagian bawah. Ada kemungkinan pula terjadinya sobekan dinidng kista dengan akibat pengeluaran isi kista dalam rongga peritoneum. Perubahan keganasan agak jarang, kirakira dalm 1,5% dari semua kista dermoid, dan biasanya pada wanita lewat menopause. Yang tersering adalah karsinoma epidermoid yang tumbuh dari salah satu elemen ektodermal. Ada kemungkinan pula bahwa satu elemen tumbuh lebih cepat dan menyebabkan

terjadinya tumor yang khas.

46

b) Tumor Solid (1) Fibroma ovarii Semua tumor ovarium yang padat adalah

neoplasma. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa mereka itu semuanya neoplasma yang ganas, meskipun

semuanya mempunyai potensi maligna. Potensi menjadi ganas ini sangat beebeda pada berbagai jenis,

umpamanya sangat rendah pada fibroma ovarii dan sangat tinggi pada teratoma embrional yang padat. Fibroma ovarii berasal dari elemen-elemen fibroblastic stroma ovarium atau dari beberapa sel mesenkhim yang multipoten. Frekuensi Tumor ini merupakan 5% dari semua neoplasma ovarium dan paling sering ditemukan pada penderita dalam masa menopause dan sesudahnya. Gambaran Klinik Tumor ini dapat mencapai diameter 2 sampai 30 cm, dan beratnya dapat mencapai 20 kilogram, dengan 90% unilateral. Permukaannya tidak rata, konsistensi keras, warnanya merah jambu keabu-abuan. Tentang

kepadatan tumor, ada yang konsistensinya memang betul-betul keras yang disebut fibroma durum;

sebaliknya, ada yang cukup lunak dan disebut fibroma molle.

47

Kalau

tumor

dibelah,

permukaannya

biasanya

homogeny. Akan tetapi, pada tumor yang agak besar mungkin terdapat bagian-bagian yang menjadi cair karena nekrosis. Neoplasma ini terdiri atas jaringan ikat dengan sel-sel ditengah-tengah jaringan kolagen. Selain mempunyai struktur fibroma biasa, kadang-kadang terdapat bagianbagian yang mengalami degenerasi hialin. Mungkin pula terdapat elemen-elemen otot polos (fibromioma ovarii). Fibroma ovarii yang besar biasanya mempunyai tangkai, dan dapat terjadi torsi dengan gejala-gejala mendadak. Yang penting ialah bahwa pada tumor ini sering ditemukan sindrom Meigs. Potensi keganasan pada fibroma ovarii sangat rendah, kurang dari 1%.

Gambar 2.8. Fibroma Ovarii Sumber: Colour Atlas of Gynaecology

48

(2) Tumor Brenner Tumor Brenner adalah satu neoplasma ovarium yang sangat jarang ditemukan biasanya pada wanita dekat atau sesudah menopause. Angka frekuensinya ialah 0,5% dari semua tumor ovarium. Menurut Meyer, epitel pulau-pulau dalam tumor berasal dari sisa-sisa sel-sel Walthard yang belum mengadakan diferensiasi. Penyelidikan yang terakhir memberi petunjuk bahwa sarang-sarang tumor Brenner berasal dari epitel selomik duktus Mulleri. Gambaran Klinik Besar tumor ini beraneka ragam, dari yang kecil (garis tengahnya kurang dari 5 cm) sampai yang beratnya beberapa kilogram. Lazimnya tumor unilateral, yang pada pembelahan fibroma, berwarna kuning muda kecil

menyerupai

dengan

kista-kista

(multikistik). Kadang-kadang pada tumor ini ditemukan sindrom Meigs. Mikroskopik gambaran tumor sangat khas, terdiri dari 2 elemen, yakni sarang-sarang yang terdiri atas sel-sel epitel, yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang luas dan padat. Sarang-sarang tadi dapat mengalami degenerasi, sehingga terbentuk ruangan yang terisi sitoplasma; segala sesuatu mirip folikel dalam ovarium.

49

Tumor Brenner tidak menimbulkan gejala-gejala klinik yang khas, dan jika masih kecil biasanya ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan

hispatologik ovarium. Jika menjadi besar, beratnya sampai beberapa kilogram dan dapat memberi gejala seperti fibroma. Meskipun tumor Brenner biasanya jinak, namun telah dilaporkan beberapa kasus tumor jenis ini yang hispatologik maupun klinis menunjukkan

keganasan. Dalam meneliti 402 kasus tumor Brenner, Farrar dan kawan-kawan (1960) menyatakan bahwa 7,5% dari tumor tersebut memproduksi estrogen. Terapi terdiri atas pengangkatan ovarium. Bila ada tanda-tanda keganasan dikerjakan salpingo-ooforektomia bilateralis dan histerektomia totalis.

Gambar 2.9. Tumor Brenner Sumber: Colour Atlas of Gynaecology

50

(3) Maskulinovoblastoma (adrenal cell rest tumor) Tumor ini sangat jarang; dalam kepustakaan dunia hingga kini hanya dilaporkan 30 kasus. Tumor ini biasanya unilateral dan besarnya bervariasi antara 0,516 cm diameter. Tentang asalnya ada beberapa teori; yang mendapat dukungan ialah 2 teori, yang satu menyatakan bahwa tumor berasal dari sel-sel

mesenkhim folikel primordial, yang lain mengatakan dari sel adrenal ektopik dalam ovarium. Pada pembelahan warna permukaan tumor kuning, dan pada pemeriksaan histologik sel-sel disusun dalam stroma, seperi zona glomerulosa dan zona fasikulata pada glandula suprarenalis. Beberapa dari tumor ini menyebabkan gejala

maskulinisasi,

terdiri

atas hirsutisme,

pembesaran

klitoris, atrofi mamma, dan perubahan suara. Terapi terdiri atas pengangkatan tumor bersama ovarium.

c.

Etiologi Penyebab dari Kista Ovarii belum diketahui secara pasti akan tetapi ada faktor yang menyebabkan tumor ovarium, yaitu: a. Faktor genetik b. Wanita yang menderita kanker payudara c. Riwayat kanker kolon d. Gangguan hormonal

51

e. Diet tinggi lemak f. Merokok g. Minum alkohol h. Penggunaan bedak talk perineal i. Sosial ekonomi yang rendah Kista ovarium terbentuk oleh bermacam sebab. Penyebab inilah nantinya yang akan menentukan tipe dari kista. Diantara beberapa kista ovarium, tipe follikuler merupakan tipe kista yang paling banyak ditemukan. Cairan yang mengisi kista sebagian besar berupa darah yang keluar dari akibat perlukaan yang terjadi pada pembuluh darah kecil ovarium. Pada beberapa kasus, kista dapat pula diisi oleh jaringan abnormal tubuh seperti rambut dan gigi (www.blogdokter.com diakses Februari 2012)

d.

Tanda dan Gejala Menurut Wiknjosastro (2009; h. 347-349), banyak tumor ovarium tidak menunjukkan gejala dan tanda, terutama tumor ovarium yang kecil. Sebagian besar gejala dan tanda adalah akibat pertumbuhan, aktivitas endokrin, atau komplikasi tumor-tumor tersebut. 1) Akibat pertumbuhan Adanya tumor didalam perut bagian bawah bisa

menyebabkan pembenjolan perut. Tekanan terhadap alat-alat disekitarnya disebabkan oleh besarnya tumor atau posisinya dalam perut. Misalnya, sebuah kista dermoid yang tidak seberapa besar, tetapi terletak didepan uterus dapat menekan

52

kandung kencing dan dapat menimbulkan gangguan miksi, sedang suatu kista yang lebih besar tetapi terletak bebas di rongga perut kadang-kadang hanya menimbulkan rasa berat dalam perut. Selain gangguan miksi, tekanan tumor dapat mengakibatkan obstipasi, edema pada tungkai. Pada tumor yang besar dapat terjadi tidak nafsu makan, rasa sesak dan lain-lain.

2)

Akibat aktivitas hormonal Pada umumnya tumor ovarium tidak mengubah pola haid, kecuali jika tumor itu sendiri mengeluarkan hormon. Seperti akan diterangkan pada pembicaraan tumor ganas, sebuah tumor granulose dapat menimbulkan hipermenorea, dan arhenoblastoma dapat menyebabkan amenorea.

3)

Akibat komplikasi a) Perdarahan Perdarahan ke dalam kista biasanya terjadi sedikitsedikit, sehingga berangsur-angsur menyebabkan

pembesaran kista, dan hanya menimbulkan gejala-gejala klinik minimal. Akan tetapi, kalau perdarahan terjadi sekonyong-konyong dalam jumlah yang banyak, akan terjadi distensi cepat dari kista yang menimbulkan nyeri perut mendadak.

53

b)

Putaran tangkai Putaran tangkai daapt terjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5 cm atau lebih akan tetapi yang belum amat besar sehingga terbatas gerakannya. Kondisi yang mempermudah terjadinya torsi ialah kehamilan karena pada kehamilan, uterus membesar dapat mengubah letak tumor, dank arena sesudah persalinan dapat terjadi perubahan mendadak dalam rongga perut. Putaran tangkai menyebabkan gangguan sirkulasi meskipun gangguan ini jarang bersifat total. Adanya putaran tangkai menimbulkan tarikan melalui ligamentum infundibulopelvikum terhadap peritoneum parietale dan ini menimbulkan rasa sakit. Perlu hal ini diperhatikan pada

pemeriksaan. Karena dengan akibat pembesaran tumor dan terjadinya dan terjadinya perdarahan didalamnya. Jika putaran tangkai berjalan terus, akan terjadi nekrosis hemoragik dalam tumor, dan jika tidak diambil tindakan, dapat terjadi robekan dinding kista dengan perdarahan intraabdominal atau peradangan sekunder. Bila putaran tangkai terjadi perlahan-lahan, tumor mungkin melepaskan diri dari uterus dan menjadi parasit atau tumor

pengembara.

54

c)

Infeksi pada tumor Infeksi pada tumor terjadi jika dekat pada tumor ada sumber kuman pathogen, seperti appendicitis, diverticulitis, atau salpingitis akuta. Kista dermoid cenderung mengalami peradangan disusul dengan pernanahan.

d)

Robek dinding kista Robek dinding kista terjadi pada torsi tangkai, akan tetapi dapat pula sebagai akibat trauma, seperti jatuh, atau pukulan pada perut, dan lebih sering pada persetubuhan. Kalau kista hanya mengandung cairan serus, rasa nyeri akibat robekan dan iritasi peritoneum segera mengurang. Tetapi, kalau terjadi robekan kista disertai hemoragi yang timbul secara akut, maka perdarahan bebas dapat berlangsung terus ke dalam rongga peritoneum, dan menimbulkan rasa nyeri terus menerus disertai tanda-tanda abdomen akut. Robekan dinding pada kistadenoma musinosum dapat mengakibatkan implantasi sel-sel kista pada peritoneum. Sel-sel tersebut mengeluarkan cairan musin yang mengisi rongga perut dan menyebabkan perlekatan-perlekatan dalam rongga perut. Keadaan ini dikenal dengan nama pseudomiksoma peritonei.

55

e)

Perubahan keganasan Perubahan keganasan dapat terjadi pada beberapa kista jinak, seperti kistadenoma ovarii serosum,

kistadenoma ovarii musinosum, dan kista dermoid. Oleh sebab itu, setelah tumor-tumor tersebut diangkat pada operasi, perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopik yang seksama terhadap kemungkinan perubahan keganasan. Adanya asites dalam hal ini mencurigakan adanya anak sebar (metastasis) memperkuat diagnosis keganasan.

e.

Diagnosis Menurut Wiknjosastro (2009; h. 349-350), apabila pada

pemeriksaan ditemukan tumor di rongga perut bagian bawah dan/ atau dirongga panggul, maka setelah diteliti sifat-sifatnya (besarnya, lokalisasi, permukaan, konsistensi, apakah dapat digerakkan atau tidak), perlulah ditentukan jenis tumor tersebut. Pada tumor ovarium biasanya uterus dapat diraba tersendiri, terpisah dari tumor; dalam hal ini mioma subserosum atau mioma intraligamenter dapat menimbulkan kesulitan dalam diagnosis. Jika tumor ovarium terletak di garis tengah dalam rongga perut bagian bawah dan tumor itu konsistensinya kistik, perlu dipikirkan adanya kehamilan atau kandung kencing penuh. Umumnya dengan memikirkan

kemungkinan ini, pada pengambilan anamnesis yang cermat dan disertai pemeriksaan tambahan, kemungkinan-kemungkinan ini dapat disingkirkan.

56

Tumor-tumor bukan dari yang terletak di daerah pelvis ialah antara lain ginjal ektopik, limpa bertangkai dan tumor dari kolon sigmoideum. Pemeriksaan pielogram intravena dan pemasukkan bubur barium dalam kolom dapat menentukkan ada tidaknya kemungkinan itu. Di Negara-negara berkembang, karena tidak segera dioperasi tumor ovarium bisa menjadi besar, sehingga mengisi seluruh rongga perut. Dalam hal ini kadang-kdang sukar untuk

menentukkan apakah pembesaran perut disebabkan oleh tumor atau asites, akan tetapi dengan pemeriksaan yang dilakukan dengan teliti, kesukaran ini biasanya dapat diatasi. Jika terdapat asites, perlu ditentukan sebab asites. Fibroma ovarii (sindrom Meigs) dan tumor ovarium ganas dapat menyebabkan asites, akan tetapi asites dapat pula disebabkan oleh penyakit lain, seperti sirrosis hepatis. Pemeriksaan bimanual sebelum atau sesudah fungsi asites bisa member petunjuk apakah ia disebabkan oleh tumor ovarium. Pemeriksaan kimiawi cairan dan pemeriksaan histologik sedimen cairan dapat membatu dalam pembuatan diagnosis. Pada tuberculosis peritonei terdapat pula cairan dalam rongga perut, akan tetapi di sini cairan tidak bergerak dengan bebas seperti asites, karena dibatasi oleh perlekatan-perlekatan. Apabila sudah ditentukan bahwa tumor yang ditemukan ialah tumor ovarium, maka perlu diketahui apakah tumor itu bersifat neoplastik atau nonneoplastik. Tumor nonneoplastik akibat

peradangan umumnya dalam anamnesis menunjukkan gejala-

57

gejala kearah peradangan genital, dan pada pemeriksaan tumortumor akibat peradangan tidak dapat digerakkan karena perlekatan. Kista nonneoplastik umumnya tidak menjadi besar, dan diantaranya pada suatu waktu biasanya menghilang sendiri. Jika tumor ovarium itu bersifat neoplastik, timbul persoalan apakah tumornya jinak atau ganas. Tidak jarang tentang hal ini tidak dapat diperoleh kepastian sebelum dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang cermat dan analisis yang tajam dari gejala-gejala yang ditemukan dapat membantu dalam pembuatan diagnosis differensial. Metoda-metoda yang selanjutnya dapat menolong dalam

pembuatan diagnosis yang tepat ialah antara lain: 1) Laparoskopi Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan sifat-sifat tumor itu. 2) Ultrasonografi Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakah tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kemih, apakah tumor kistik atau solid, dan dapat dibedakan pula antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak.

58

3)

Foto Rontgen Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya

hidrotoraks. Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat adanya gigi dalam tumor. Penggunaan foto Rontgen pada pielogram intravena dan pemasukan bubur barium dalam kolon sudah disebut di atas. 4) Parasentesis Telah disebut bahwa pungsi pada asites berguna untuk menentukan sebab asites. Perlu diingatkan bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan kavum peritonei dengan isi kista bila dinding kista tertusuk.

f.

Penatalaksanaan Menurut Wiknjosastro (2009; h. 350-351), dapat dipakai sebagai prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor nonneoplastik tidak. Jika menghadapi tumor ovarium tidak memberi gejala/keluhan pada penderita dan yang besarnya tidak melebihi jeruk nipis dengan diameter kurang dari 5 cm,

kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista korpus luteum, jadi tumor nonneoplastik. Tidak jarang tumor-tumor tersebut mengalami pengecilan secara spontan dan menghilang, sehingga pada pemeriksaan ulangan setelah beberapa minggu dapat ditemukan ovarium yang kira-kira besarnya normal. Oleh sebab itu, dalam hal ini hendaknya diambil sikap menunggu selama 2 sampai 3 bulan, sementara mengadakan pemeriksaan ginekologik

59

berulang. Jika selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan tumor tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar tumor itu bersifat neoplastik, dan dapat dipertimbangkan satu pengobatan operatif. Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Akan tetapi, jika tumornya besar atau ada komplikasi, perlu dilakukan pengangkatan ovarium. Biasanya disertai dengan pengangkatan tuba (salpingoooforektomi). Pada saat operasi kedua ovarium harus diperiksa untuk mengetahui apakah ada keganasan atau tidak. Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi dilakukan pemeriksaan sediaan yang dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli patologi anatomic untuk mendapatkan kepastian apakah tumor ganas atau tidak. Jika terdapat keganasan, operasi yang tepat ialah histerektomi dan salping-ooforektomi bilateral. Akan tetapi, pada wanita muda yang masih ingin mendapatkan keturunan dan dengan tingkat keganasan tumor yang rendah misalnya tumor sel granulose), dapat dipertanggung-jawabkan untuk mengambil risiko dengan melakukan operasi yang tidak seberapa radikal.

60

1)

Ovarial Kistektomi Menurut Manuaba (2005, h. 208) teknik operasi dari Ovarial Kistektomi adalah sebagai berikut: a) b) Dibuat insisi, pada kapsul kista intraovarial. Kista dilepaskan secara tajam dan tumpul sampai dasarnya tampak. c) d) Kista intraovarial dapat dilepaskan seluruhnya. Kapsulnya dijahit berlapis sehingga dapat menjamin homeostatis dengan baik e) Terakhir, dinding kapsul dijahit dapat secara simpul atau secara baseball technic

61

Gambar 2.10. Ovarial Kistektomi Sumber: Dasar-dasar Teknik Operasi

Dilakukan kistektomi dari ovarium normal. Kapsul kista dibuka perlahan sampai mencapai dasar

Kista ovari dalam ovarium. Dasarnya dipotong.

62

Bekas kistektomi dijahit berlapis untuk menghentikan perdarahan

63

2)

Salphigo-Ooforektomi Menurut Manuaba (2005, h. 208) teknik operasi dari Salpingoooforektomi adalah sebagai berikut: a) b) Jalan ureter, dibawah retroperitonial Pembukaan ligamentumlatum sehingga dapat dikenal ureter dan pembuluh darah hipogastrik dan uterina c) Adneksa diangkat sehingga menjauhi ureter dan pembuluh darah dengan mempergunakan Allis dan Babcockclamp d) Ligamentum infudibulopelvikum diklem, dipotong dan dijahit tersendiri sehingga dapat dipastikan perdarahan dapat dikendalikan. e) Teknik opersi ligamentum infundibulopelvikum dapat dilakukan dengan: (1) Jahitan dibiarkan untuk mengendalikan perdarahan (2) Ligamentum infundibulopelvikum diganti pada bekas insersio tuba, diikuti jahitan penutup memperkecil lapangan kasar. (3) Untuk lebih menghaluskan lapangan luka, selanjutnya dapat ditutup dengan ligamentum rotundum.

64

f)

Sebaiknya abdomen dicuci sampai bersih, untuk menghilangkan sisa darah atau fibrin sehingga dapat: (1) Memperkecil kemungkinan perlekatan (2) Mempercepat proses kerja usus (3) Sebagai alat pendingin sehingga dapat menurunkan temperatur (4) Memperpendek hospitalisasi

65

Gambar 2.11. Salphingo-Ooforektomi Sumber: Dasar-dasar Teknik Operasi

Gambar sebuah lubang dibuat pada peritoneum yang telah dilepaskan sehingga dengan pasti ligamentum infundibulopelvikum dapat disisihkan

66

Ligamentum infundibulopelvikum dipotong dan diikat

Ujung tuba fallopi beserta ovariumnya dipotong dan diikat

Dilakukan penutupan peritoneum dengan jahitan jelujur sehingga permukaan kasarnya tertutup

67

B. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan Asuhan kebidanan adalah penerapan fungsi, kegiatan, dan

tanggungjawab bidan dalam pelayanan yang diberikan kepada klien yang memiliki kebutuhan dan/atau masalah kebidanan (kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, keluarga berencana, kesehatan reproduksi, kesehatan reproduksi wanita, dan pelayanan kesehatan masyarakat) (Suryani, 2008; h. 5). Tujuan asuhan kebidanan adalah menjamin kepuasan dan keselamatan ibu dan bayinya sepanjang siklus reproduksi, mewujudkan keluarga bahagia dan berlualitas melalui pemberdayaan perempuan dan keluarganya dengan menumbuhkan rasa percaya diri (Suryani, 2008; h. 5). Manajemen asuhan kebidanan atau yang sering disebut manajemen kebidanan adalah suatu metode berpikir dan bertindak secara sistematis dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik klien maupun pemberi asuhan (Suryani, 2008; h. 96). Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan-temuan, keterampilan, dalam rangkaian/ tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang berfokus pada klien (Suryani, 2008; h. 96).

Langkah dalam Manajemen Kebidanan Manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang berurutan yang dimulai dengan pengumpulan data dasar dan diakhiri dengan evaluasi.

68

1.

Pengumpulan Data Dasar Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi (data) yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara: a. Anamnesis Anamnesis dilakukan untuk mendapatkan biodata, riwayat

menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas, bio-psiko-sosio-spiritual, serta pengetahuan klien. Data Subyektif 1) Biodata, mencangkup biodata pasien/klien. a) Nama Jelas dan lengkap, bila perlu ditanyakan nama pangilan sehari-hari b) Umur Dicatat dalam hitungan tahun. c) Agama Mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap

kebiasaan kesehatan pasien. d) Suku/Bangsa Untuk mengetahui karakteristik budaya. e) Pendidikan Mengetahui tingkat intelektual sehingga dalam memberikan asuhan kebidanan. memudahkan

69

f)

Pekerjaan Mengetahui kemungkinan pengaruh pekerjaan terhadap permasalahan kesehatan klien.

g)

Alamat Mempermudah hubungan bila keadaan mendesak.

h)

Identitas suami Untuk mengetahui identitas suami dan bertanggung-jawab atas dirinya. sikap yang

2)

Keluhan Utama Ditanyakan mengganggu keluhan yang kesehatan sangat dan di rasakam sehingga klien untuk

mendorong

memeriksakannya, misalnya adanya benjoilan di perut bagiah bawah. 3) Riwayat Perkawinan Ditanyakan untuk mengetahui apakah klien sudah berkeluarga atau belum, sebab ini berpengaruh pada kondisi pasien. 4) Riwayat Kesehatan a) Riwayat Kesehatan sekarang Digunakan untuk mengetahui keadaan pasien sekarang yang berhubungan dengan penyakit/masalah klien, seperti adanya benjolan di bagian perut bawah sehingga dapat mengganggu BAB dan BAK.

70

b)

Riwayat Kesehatan Lalu Digunakan untuk mengetahui adanya riwayat penyakit akut, kronis seperti DM, penyakit jantung, hipertensi pada pasien yang dapat menimbulkan komplikasi atau

memperberat keadaan pada waktu memberikan pelayanan, tindakan, sehingga dapat diantisipasi sebelumnya. c) Riwayat Kesehatan Keluarga Digunakan pengaruh untuk mengetahui kemungkinan adanya

penyakit terhadap kesehatan klien, yaitu

keluarga yang pernah menderita penyakit tumor atau penyakit keturunan. 5) Riwayat Obstetri Ditanyakan riwayat haid untuk mengetahu perihal yang berhubungan dengan menstruasi dan apakah kelainan/masalah dalam siklus dan lamanya terjadi gangguan perdarahan misalnya hipermenorea, metroraghia, dysmenore. 6) Riwayat KB Untuk mengetahui kapan, berapa lama, dan jenis kontrasepsi yang pernah digunakan. 7) Riwayat Kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu Untuk mengetahui berapa kali ibu pernah hamil, melahirkan dan apakah ada komplikasinya.

71

8)

Pola Kebutuhan sehari-hari a) Nutrisi Data ini perlu di tanyakan untuk mengetahui pola makan sehari-hari klien karena akan berpengaruh pada status kesehatan. b) Eliminasi Diperlukan untuk mengetahui adanya gangguan dalam pola miksi dan defekasi karena pada penderita kistoma ovarii. c) Istirahat Untuk mengetahui kecukupan istirahat ibu. d) Aktivitas Untuk mengetahui berat ringannya aktivitas ibu sehari-hari e) Personal hygine Untuk mengetahui sejauh mana pasien menjaga

kebersihan diri karena akan berpengaruh pada perawatan luka pasca operasi untuk menghindari infeksi. f) Pola Seksual Untuk mengetahui apakah pasien mengalami gangguan pada hubungan seks.

9)

Riwayat Psikososial Untuk mengetahui tanggapan klien terhadap kondisi yang di alami, saat menjalankan ibadah atau tidak, pengetahuan ibu

72

tentang kondisi yang di alami, mekanisme pemecahan masalah. 10) Lingkungan tempat tinggal Untuk mengetahui ibu tinggal dengan siapa saja dan hewan peliharaan yang dimiliki.

b.

Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, meliputi: 1) 2) Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi) Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan catatan terbaru serta catatan sebelumnya). Data obyektif a) Pemeriksaan Umum (1) Keadaan Umum Untuk mengetahui bagaimana keadaan pasien dilihat secara umum, baik dan buruk. (2) Kesadaran Untuk mengetahui bagimana keadaan tingkat kesadaran pasien, misalnya composmentis (sadar penuh). (3) TTV Tekanan Darah Untuk mengetahui bagiamana tekanana darah, karena akan berpengaruh pada kondisi klien, khususnya dalam persiapan operasi.

73

Suhu Untuk mengetahui keadaan suhu pasien, suhu tubuh yang melebihi 37°C ada kemungkinan menjadi infeksi. Pernafasan Untuk mengetahui frekuensi pernafasan pasien dan mendeteksi apakah ada kelainan atau tidak. Nadi Untuk mengetahui denyut jantung ibu

(4) Berat badan Untuk mengetahui kenaikan berat badan setelah

mengalami pembesaran kistoma (5) Pemeriksaan fisik dan status present Kepala Bentuk kepala, kulit kepala bersih/ tidak,rambut rontok/ tidak. Muka Pucat/ tidak, oedema/ tidak. Mata Conjongtiva pucat/ tidak, sklera kuning,tidak. Hidung Bersih/ tidak , ada stomatitis/ tidak, ada caries/ tidak. Muka Bersih/ tidak, ada stomatitis/ tidak, ada caries/ tidak.

74

Telinga Bersih/ tidak, simetris/ tidak, ada polip/ tidak Leher Adakah pembesaran tyroid atau vena jugularis. Dada Simetris/ tidak, pernafasan teratur/ tidak Perut Nyeri tekanan/ tidak, ada pembesaran hepar/ tidak Genetalia Bersih/ tidak, ada varises/ tidak, ada oedema/ tidak Ekstreminitas Simetris/ tidak, oedema/ tidak, varises/ tidak.

b)

Pemeriksaan Penunjang (1) Laboratorium Pada pemeraiksaan ini yang perlu dikaji adalah darah lengkap meliputi: HB, golongan darah, leukosit, trombosit, glukosa puasa 2 jam, urine, creatine, SGOT, SGPT, bilirubin total. (2) Foto Rontgen Berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya hidrotorak dan mengetahui keadaan jantung, paru dan costa.

75

(3) USG Untuk mengetahui lemak dan batas tumor, kandung kencing, apakah tumor solid atau kistik dan membedakan cairan rongga perut yang bebas dan tidak.

2.

Interpretasi Data Dasar Pada langkah kedua dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian dinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik. Baik rumusan diagnosis maupun masalah, keduanya harus ditangani. Meskipun masalah tidak dapat diartikan sebagai diagnosis, tetapi tetap

membutuhkan penanganan.

3.

Identifikasi Diagnosis/ Masalah Potensial dan Antisipasi Penanganannya Pada langkah ketiga kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis potensial berdasarkan diagnosis/ masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiapsiap mencegah diagnosis/ masalah potensial ini menjadi kenyataan. Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman.

4.

Menetapkan Perlunya Konsultasi dan Kolaborasi segera dengan Tenaga Kesehatan Lain

76

Langkah

keempat

mencerminkan

kesinambungan

proses

manajemen kebidanan. Jadi, manajemen tidak hanya berlangsung selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut dalam persalinan.

5.

Menyusun Rencana Asuhan Menyeluruh Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah atau diagnosis yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.

6.

Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman Pada langkah keenam, rencana asuhan menyeluruh dialkuakn dengan efisien dan aman. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau enggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukan sendiri, namun ia tetap memikul tanggungjawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.

7.

Evaluasi Pada langkah terakhir, dilakukan evaluasi keefektifan asuahan yang sudah diberikan. ini meliputi evaluasi pemenuhan kebutuhan akan bantuan: apakah benar-benar telah terpenuhi sebagaimana diidentifikasi di dalam diagnosis dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.

77

C. Landasan Hukum 1. Menurut Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Pasal 71 a. Kesehatan reproduksi merupakan keadaan secara sehat fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi pada laki-laki dan perempuan. b. Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: 1) 2) 3) c. Saat sebelum hamil, melahirkan dan sesudah melahirkan Pengaturan kehamilan, alat kontrasepsi dan kesehatan seksual Kesehatan sistem reproduksi

Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Pasal 73 Pemerintah wajib menjamin ketersediaan sarana informasi dan sarana pelayanan kesehatan reproduksi yang aman, bermutu, dan terjangkau masyarakat, termasuk keluarga berencana.

Pasal 74 1. Setiap pelayanan reproduksi yang bersifat promotif, preventif, kuratif, atau rehabilitatif, termasuk reproduksi dengan bantuan

78

dilakukan secara aman dan sehat dengan memperhatikan aspekaspek yang khas, khususnya reproduksi perempuan. 2. Pelaksanaan pelayanan kesehatan reproduksi sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tidak bertentangan dengan nilai agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan 3. Ketentuan mengenai reproduksi dengan bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah

2.

Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 369/MenKes/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan. Kompetensi ke-9 yaitu: Melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita/ ibu dengan gangguan sistem reproduksi. Pengetahuan Dasar a. Penyuluhan kesehatan mengenai kesehatan reproduksi, penyakit menular seksuak (PMS), HIV/AIDS. b. Tanda dan gejala infeksi saluran kencing serta penyakit seksual yang lazim terjadi. c. Tanda, gejala dan penatalaksaanan pada kelainan ginekologi meliputi, keputihan, perdarahan tidak teratur dan penundaan haid.

Ketrampilan dasar a. Mengidentifikasi gangguan masalah dan kelainan-kelainan sistem reproduksi.

79

b.

Memberikan pengobatan pada perdarahan abnormal dan abortus spontan (bila belum sempurna).

c.

Melaksanakan kolaborasi dan atau rujukan secara tepat pada wanita atau ibu dengan gangguan reproduksi.

d.

Memberikan

pelayanan

dan

pengobatan

sesuai

dengan

kewenangan pada gangguan sistem reproduksi meliputi keputihan, perdarahan tidak teratur dan penundaan haid. e. f. Mikroskop dan penggunaanya. Teknik pengambilan dan pengiriman sedian papsmear.

Ketrampilan Tambahan a. b. Menggunakan mikroskop untuk pemeriksaaan hapus vagina. Mengambil dan proses pengiriman sedian papsmear.

3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomorn 1464/ MenKes/ Per/ X/ 2012 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan Pasal 9 Bidan dalam menyelenggarakan praktik, berwenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi: a. b. c. Pelayanan kesehatan ibu Pelayanan kesehatan anak Pelayanan berencana kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga

80

Pasal 12 Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 huruf c, berwenang untuk: a. Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana, dan b. Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom

Pasal 13 Selain kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 10, pasal 11, dan pasal 12, bidan yang menjalankan program Pemerintah berwenang melakukan pelayanan kesehatan meliputi: a. Pemberian alat kontrasepsi suntikkan, alat kontrasepsi dalam rahim, dan memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit. b. Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit kronis tertentu dilakukan di bawah supervisi dokter. c. Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang ditetapkan. d. Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan lingkungan. e. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah dan anak sekolah. f. Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas.

81

g.

Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian kondom, dan penyakit lainnya.

h.

Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi.

i.

Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program pemerintah.

82

BAB III TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian Kasus I Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi Pada Ny. S dengan Kista Ovarii

Tanggal/ jam pasien masuk Tanggal/ jam pengkajian Tempat No. Register

: : : :

6 Februari 2012/ 11.00 WIB 6 Februari 2012/ 11.15 WIB RSUD Dr. Soesilo Slawi 243564

H. PENGUMPULAN DATA A. DATA SUBYEKTIF 1. Biodata Nama Umur Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan Alamat : : : : : : : Ibu Ny. S 53 tahun Islam Jawa Tidak tamat SD IRT Tegalandong Suami Tn. T 52 tahun Islam Jawa Tidak tamat SD Wiraswasta Tegalandong

83

2.

Alasan datang Ibu mengatakan ingin mengetahui dan memeriksakan kondisi yang dialaminya saat ini.

3.

Keluhan utama Ibu mengatakan sudah berhenti menstruasi sejak 5 tahun yang lalu, mendadak pada bulan agustus, september, oktober dan nopember tahun 2011 keluar darah seperti menstruasi dan disertai nyeri, kemudian pada bulan desember ibu merasakan ada benjolan sampai sekarang pada perut bagian bawah sebelah kanan dan menimbulkan rasa berat dan nyeri.

4.

Riwayat Obstetri dan Ginekologi a. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Yang lalu Ab2 Ah3

Tabel 3.1. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Yang Lalu
Persalinan Hamil Tgl KeLahir 1 2 3 4 5 6 1994 40 mgg Spontan Dukun 1989 40 mgg Spontan Dukun ABORTUS
Perempuan 2,9 Kg

Nifas Komplikasi Jenis Kelamin
Perempuan

Umur Kehamilan 39 mgg 39 mgg

Jenis Penolong Persalinan Spontan Spontan Dukun Dukun

BB Laktasi Lahir
3,3 Kg 3,5 Kg

Komplikasi ASI -

Ibu

bayi

1982 1985

Meninggal ABORTUS

Perempuan

Laki-laki

3 Kg

ASI

-

ASI

Sumber : Anamnesa pasien

84

b.

Riwayat Haid Menache Siklus/ Lama/ Jumlah Dysmenorhea Flour Albus : 15 tahun : 28 hari/ 5 hari/ 2 x ganti pembalut : tidak : tidak

c.

Riwayat Penggunaan Kontrasepsi Ibu mengatakan tidak pernah menggunakan KB

d.

Riwayat Kesehatan 1) Riwayat Kesehatan Ibu Sekarang :

Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit menurun (Asma, DM, Jantung) dan penyakit menular (TBC, Hepatitis) Yang Lalu :

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menurun (Asma, DM, Jantung) dan penyakit menular (TBC, Hepatitis) 2) Riwayat Kesehatan Keluarga Ibu mengatakan dari pihak keluarga ibu atau suami tidak ada yang menderita penyakit menurun (Asma, DM, Jantung) penyakit menular (TBC, Hepatitis) dan riwayat kembar (gemelli)

85

e.

Pola Kebutuhan Sehari-hari 1) Nutrisi Makan Porsi Jenis keluhan Minum Jenis Keluhan 2) Eliminasi BAB Konsistensi Warna Keluhan BAK Warna Keluhan 3) Istirahat Siang Malam Keluhan 4) Aktivitas : : : : : : : : : : : : ± 2 jam ± 8 jam tidak ada ± 2 jam ± 7 jam tidak ada : : : : : : : Sebelum Sakit 3 x sehari 1 piring tidak ada 4-8 gelas air putih, teh tidak ada : 1 x sehari lembek 1 x sehari agak keras Selama Sakit 3 x sehari 1 piring nyeri perut bagian bawah 4-8 gelas air putih, teh tidak ada

kuning kecoklatan coklat tidak ada 4-6 x sehari kuning jernih tidak ada tidak ada 4-6 x sehari kuning jernih tidak ada

ibu mengatakan melakukan aktivitas sebagai ibu rumah tangga seperti menyapu, mencuci, dan mengepel.

86

5) Personal Higiene : Mandi Membersihkan kelamin : : 2 x sehari setiap sesudah BAK & BAB dan setiap kali mandi Mengganti pakaian dalam 6) Pola Seksual Frekuensi Keluhan : : 1-2 kali dalam sebulan : nyeri saat senggama : 2 x sehari atau setiap kali basah

7)

Data Psikologis Ibu mengatakan merasa cemas dan takut dengan kondisinya saat ini.

8)

Status Perkawinan a) Perkawinan ke: Ibu mengatakan ini perkawinan ke satu

b) Lama perkawinan : Ibu mengatakan lama perkawinan 38 tahun 9) Data Sosial Budaya Ibu mengatakan tidak mengikuti adat kebiasaan di daerah tempat tinggalnya yang bisa mengganggu kesehatannya 10) Ketaatan Beribadah Ibu mengatakan teratur menjalankan sholat lima waktu 11) Data Pengetahuan Ibu Ibu mengatakan tidak mengetahui penyakit yang dideritanya.

87

B. DATA OBYEKTIF 1. Pemeriksaan Umum Kesadaran Keadaan Umum Berat Badan Tinggi Badan Tanda Tanda Vital : : : : : Composmentis Baik 48 Kg 150 cm TD RR N S : 90/60 mmHg : 20 x/menit : 78 x/menit : 36,6 0C

2. Pemeriksaan Fisik a. Kepala b. Rambut c. Mata Conjungtiva Sklera d. Hidung e. Mulut f. Telinga : : : : : : : : : merah muda tidak anemia putih tidak ikterik tidak ada nafas cuping hidung bibir lembab, tidak stomatitis simetris, pendengaran baik tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis h. Ketiak : tidak ada pembesaran kelenjar limfe mesochepal tidak rontok, tidak berketombe

g. Leher

88

i.

Dada Bentuk Mamae

: : : : : tidak ada tidak ada simetris tidak ada massa abnormal

j.

Abdomen

Luka bekas operasi

Pembesaran hati/ limfa : k. Genetalia Vulva/ vagina PPv l. Anus : : : : : :

tidak ada tanda infeksi tidak ada tidak haemorroid

m. Ekstremitas Atas Bawah

simetris, tidak oedema simetris, tidak oedema

3. Pemeriksaan Kebidanan a. Muka b. Mamae c. Abdomen : : : tidak odema tidak ada massa abnormal teraba massa pada perut bagian bawah sebelah kanan, sebesar kepala bayi, dan nyeri saat ditekan d. Genetalia : tidak odema, tidak ada tanda infeksi

4. Pemeriksaan Dalam Tidak dilakukan

89

5. Pemeriksaan Inspekulo Tidak dilakukan

6. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan Laboratorium Tanggal : 9 Februari 2012

Tabel 3.2. Pemeriksaan Laboratorium PEMERIKSAAN HEMATOLOGI HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN

PAKET DARAH LENGKAP Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit DIFF COUNT Eosinofil Basofil Netrofil Limfosit Monosit H 6,70 0,50 L 44,10 H 43,90 4,80 ∞ ∞ ∞ ∞ ∞ 2,00 – 4,00 0–1 50 – 70 25 – 40 2–8 4,4 4,7 13,8 42 89 29 33 270 10^3/ uL 10^6/ uL g/ dL ∞ fL pg g/ dL 10^3/ uL 80 – 100 26 – 34 32 – 36 150 – 400 3,6 – 11,6 3,80 – 5,20 11,7 – 15,5

APTT TEST PT TEST Golongan Darah Rhesus Faktor

H 44,8 11,9 B Positif

Detik Detik

25,5 – 42,1 9,7 – 13,1

90

KIMIA KLINIK Gula Darah Puasa Gula Darah 2 Jam PP Ureum Creatinin Uric Acid Cholesterol Total Trigliserida Bilirubin Total Bilirubin Direk Bilirubin Indirek Total Protein Albumin Globulin SGOT SGPT H 115 122 17,6 0,64 L 1,9 190 57 0,88 0,30 0,58 7,90 4,62 H 3,28 16 L 5 g/ dL g/ dL mg/ dL U/ L U/ L mg/ dL mg/ dL mg/ dL mg/ dL mg/ dL mg/ dL mg/ dL mg/ dL mg/ dL 75,0 – 110,0 < 141 17,1 - 42,8 0,40 – 1,00 2,0 – 7,0 150 – 200 35 – 150,0 0,20 – 1,30 0,1 – 0,3 0 – 0,75 6,7 – 8,2 3,8 – 5,3 1,3 – 3,1 13 – 33 6,0 – 30,0

SERO IMUNOLOGI

HbsAg

Non Reaktif

Non Reaktif

Sumber: Laboratorium RSUD dr. Soesilo Slawi

b. Rontgen Tanggal Jenis : 10 Februari 2012 : Rontgen Thorax

91

c. USG Tanggal Hasil : 10 Februari 2012 oleh dr. Ratna, Sp.OG : Tampak uterus UK 10 x 5,9 x 6,1 cm, kontur dan tekstur dbn tampak massa hipoechoic pada adnexa dektra, UK 15x12x10 tampak cairan intra abdomen. d. Pemeriksaan Patologi Anatomi Tanggal Makro I. : 17 Februari 2012 :

Sebuah jaringan berukuran 6 x 3 x 1,5 cm. Pada penampang tampak jaringan berongga isi kosong. Dinding berwarna abuabu kecoklatan. Tuba yang menempel sepanjang 4 cm, diameter ½ cm.

II.

Cairan sebanyak 5 cc, warna merah keruh (dalam spuit). :

Mikro I.

Sediaan dinding Kista dilapisi epitel thorak bersel goblet dengan inti dibasal dalam batas normal. Subepitel tampak stroma jaringan.

II.

Sediaan apus tdd eritrosit, sel radang MN, PMN dan mesotel dengan inti sel dalam batas normal. Tampak pula sel-sel bulat-thorakal dengan inti dalam batas normal. Sel atipik maupun sel maligna tidak ditemukan

Kesimpulan I. II. Cystadenoma musinosum papiler ovarium Ditemukan sel tumor jinak seperti di atas

(Pseudomyxoma peritonei)

92

I.

INTERPETASI DATA A. DIAGNOSA NOMENKLATUR Ny. S Umur 53 tahun A2Ah3 dengan Kista Ovarii

Data Dasar Subyektif Ibu mengatakan bernama Ny. S umur 53 tahun Ibu mengatakan mempunyai anak hidup 3, pernah keguguran 2 kali dan anak yang meninggal 1 Ibu mengatakan merasa nyeri pada perut bagian bawah sebelah kanan Ibu mengatakan terasa berat pada perut bagian bawah dan menimbulkan ketidaknyamanan Ibu mengatakan merasa cemas dan takut dengan kondisinya

Obyektif Kesadaran Keadaan Umum Berat Badan Tinggi Badan Tanda Tanda Vital : : : : : Composmentis Baik 48 150 TD RR N S : 90/60 mmHg : 20 x/menit : 78 x/menit : 36,6 0C

93

Palpasi

: Terdapat massa sebesar kepala bayi di perut bagian bawah sebelah kanan

PPv USG

: Tidak ada : Tampak uterus UK 10 x 5,9 x 6,1 cm, kontur dan tekstur dbn tampak massa hipoechoic pada adnexa dektra, UK 15x12x10 tampak cairan intra abdomen

B. DIAGNOSA MASALAH Ibu merasa tidak nyaman karena nyeri pada perut bagian bawah dan cemas dengan kondisinya. DS : Ibu mengatakan merasa tidak nyaman dan merasa cemas dengan kondisinya DO : Wajah ibu terlihat menahan sakit dan cemas

C. DIAGNOSA KEBUTUHAN Memberikan penjelasan pada ibu bahwa ketidaknyaman yang dialami karena adanya massa atau tumor dalam perutnya dan memberikan support mental bahwa sakitnya akan hilang setelah dilakukan operasi.

J.

DIAGNOSA POTENSIAL Perdarahan, putaran tangkai/torsi, infeksi pada tumor, robek dinding kista, dan perubahan keganasan.

94

K. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA Kolaborasi dengan dokter Sp.OG untuk pemberian terapi dan operasi Eksplorasi Laparatomi.

L.

RENCANA TINDAKAN 1. Berikan informasi ibu dan keluarga tentang keadaan penyakit ibu dan tindakan yang akan dilakukan. 2. Lakukan inform consent 3. Berikan dukungan mental kepada ibu. 4. Pantau keadaan umum dan tanda-tanda vital meliputi kesadaran, tekanan darah, nadi, suhu dan respirasi. 5. Anjurkan ibu makan-makanan bergizi 6. Anjurkan ibu jaga personal hygiene 7. Anjurkan ibu istirahat cukup 8. Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi. 9. Lakukan persiapan pre operasi

M. IMPLEMENTASI 1. Memberikan dukungan mental pada ibu dengan memberikan informasi kepada ibu dan keluarga bahwa ibu saat ini menderita penyakit kista ovarii yaitu tumor yang ada pada ovarium atau indung telur sehingga menyebabkan pembesaran menyebabkan nyeri. pada perut bagian bawah ibu juga

95

2. Melakukan inform consent pada suami dan keluarga pasien untuk penatalaksanaan operasi dan pemeriksaan lainnya 3. Memotivasi agar ibu yakin akan kesembuhannya dan menganjurkan ibu dan keluarga untuk berdoa demi kelancaran proses pengobatan dan operasi yang akan dijalani ibu. 4. Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu meliputi kesadaran, tekanan darah, nadi, suhu dan respirasi. 5. Menganjurkan ibu makan-makanan bergizi yang mengandung

karbohidrat (nasi, roti, umbi-umbian), protein (telur, daging, tahu, tempe), vitamin dan mineral (buah-buahan dan sayuran) 6. Menganjurkan ibu menjaga personal hygiene yaitu dengan mandi dua kali sehari, gosok gigi dua kali sehari, dan membersihkan alat kelamin setiap habis BAK dan BAB. 7. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup untuk menjaga agar kondisinya stabil sampai siap untuk dilakukan operasi yaitu minimal dua jam pada siang hari dan delapan jam pada malam hari. 8. Melakukan persiapan pre operasi yaitu: a. Melakukan kolaborasi dengan dr. Sp.OG untuk rencana operasi tanggal 11 Februari 2012. b. Melakukan program sesuai advis dokter, yaitu pemberian obat analgetik (asam mefenamat 3x1 500 mg), memantau tetesan infus 20 tetes permenit, menyiapkan darah PRC 2 kolf (500 cc), Golongan Darah B, untuk persiapan post operasi. c. Melakukan kolaborasi dan konsultasi pada dr. Anestesi

96

N. EVALUASI 1. Ibu dan keluarga mengerti informasi yang diberikan mengenai

penyakitnya. 2. Suami dan keluarga telah setuju dengan tindakan operasi dan pemeriksaan penunjang lainnya dan telah menandatangani surat persetujuan medik (inform consent). 3. Ibu merasa lebih tenang dan siap untuk dilakukan perawatan dan tindakan operasi. 4. Keadaan umum Kesadaran TTV TD Nadi RR Suhu : Baik : Composmentis : : 90/ 60 mmHg : 78 x/menit : 20 x/menit : 36,6 0C

5. Ibu bersedia makan makanan yang bergizi. 6. Ibu bersedia menjaga personal higienenya. 7. Ibu bersedia untuk istirahat cukup. 8. Persiapan pre operasi telah dilakukan

97

DATA PERKEMBANGAN 1 Tanggal 7 Februari 2012, Jam 11.00 WIB

Subyek Ibu mengatakan masih nyeri pada perut bagian bawah sebelah kanan Ibu mengatakan terasa berat pada perut bagian bawah dan menimbulkan ketidaknyamanan Ibu mengatakan merasa cemas dengan operasi yang akan dijalaninya.

Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S Palpasi : : : : : : : : 100/70 mmHg 22 x/menit 82 x/menit 36,4 0C Terdapat massa sebesar kepala bayi di perut bagian bawah sebelah kanan PPv USG : : Tidak ada Tampak uterus UK 10 x 5,9 x 6,1 cm, kontur dan Baik Composmentis

98

tekstur dbn tampak massa hipoechoic pada adnexa dekstra, UK 15x12x10 tampak cairan intra abdomen Assesment Ny. S umur 53 tahun A2Ah3 dengan Kista Ovarii

Planing Memantau keadaan umum, kesadaran dan tanda-tanda vital pasien Evaluasi : KU Kesadaran TTV : Baik : Composmentis : TD RR N S : 100/70 mmHg : 22 x/menit : 82 x/menit : 36,4 0C

Memantau tetesan infus RL sejumlah 20 tetes/menit Evaluasi : tetesan infus telah terpantau yaitu 20 tetes/menit

-

Menjelaskan pada ibu bahwa rasa nyeri dan berat pada perut bagian bawah disebabkan karena tumor pada indung telur yang dideritanya. Evaluasi : ibu mengerti penjelasan bidan bahwa kondisinya disebabkan oleh tumor yang ada dalam rahimnya

-

Memberitahu pada ibu cara mengurangi rasa nyeri dengan melakukan teknik relaksasi yaitu dengan cara menarik nafas panjang dari hidung dan dikeluarkan dari mulut. Evaluasi : ibu mengerti cara mengurangi nyeri

-

Menjelaskan pada ibu bahwa keluhan yang dirasakan akan hilang apabila telah dilakukan pengangkatan tumor.

99

Evaluasi : ibu mengerti penjelasan bidan

-

Menjelaskan bahwa ibu tidak perlu takut dan cemas dengan operasi yang akan dijalaninya karena operasi akan berlangsung aman dan menganjurkan ibu dan keluarga untuk berdoa agar proses operasi berjalan lancat tanpa hambatan. Evaluasi : Ibu sudah merasa tenang

-

Menganjurkan ibu tetap mengkonsumsi makan makanan yang bergizi yang mengandung karbohidrat yaitu nasi, roti, umbi-umbian, protein yaitu telur, ikan, tempe dan tahu, vitamin dan mineral yaitu sayur dan buah-buahan Evaluasi : ibu bersedia untuk melakukan anjuran bidan

-

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup agar kondisinya stabil sehingga memenuhi syarat dilakukan operasi pengangkatan tumor. Evaluasi : ibu bersedia untuk istirahat yang cukup

-

Melakukan

kolaborasi

dengan

petugas

laboratorium

untuk

pemeriksaan CA 12-5 untuk mendeteksi adanya keganasan pada tumornya Evaluasi : hasil menunggu

100

DATA PERKEMBANGAN 2 Tanggal 8 Februari 2012, jam 15.00 WIB Subyek Ibu mengatakan masih nyeri pada perut bagian bawah sebelah kanan Ibu mengatakan terasa berat pada perut bagian bawah dan menimbulkan ketidaknyamanan

Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S Palpasi : : : : : : : : 100/70 mmHg 22 x/menit 84 x/menit 36,5 0C Terdapat massa sebesar kepala bayi di perut bagian bawah sebelah kanan PPv USG : : Tidak ada Tampak uterus UK 10 x 5,9 x 6,1 cm, kontur dan tekstur dbn tampak massa hipoechoic pada adnexa dekstra, UK 15x12x10 tampak cairan intra abdomen Baik Composmentis

101

Assesment Ny. S umur 53 tahun A2Ah3 dengan Kista Ovarii Planing Memantau keadaan umum, kesadaran dan tanda-tanda vital pasien Evaluasi : KU Kesadaran TTV : Baik : Composmentis : TD RR N S : 100/70 mmHg : 22 x/menit : 84 x/menit : 36,5 0C

Memantau tetesan infus RL sejumlah 20 tetes/menit Evaluasi : tetesan infus telah terpantau yaitu 20 tetes/menit

-

Memberitahu pada ibu cara mengurangi rasa nyeri dengan melakukan teknik relaksasi yaitu dengan cara menarik nafas panjang dari hidung dan dikeluarkan dari mulut. Evaluasi : ibu mengerti cara mengurangi nyeri

-

Menganjurkan ibu tetap mengkonsumsi makan makanan yang bergizi yang mengandung karbohidrat yaitu nasi, roti, umbi-umbian, protein yaitu telur, ikan, tempe dan tahu, vitamin dan mineral yaitu sayur dan buah-buahan Evaluasi : ibu bersedia untuk melakukan anjuran bidan

-

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup agar kondisinya stabil sehingga memenuhi syarat dilakukan operasi pengangkatan tumor. Evaluasi : ibu bersedia untuk melakukan anjuran bidan

-

Menerima hasil CA 12-5

102

Evaluasi : Hasil CA 12-5  38,23 U/mL Nilai rujukan CA 12-5 ≥ 35 satuan U/mL artinya kista ovarii yang yang diderita pasien tersebut mengarah keganasan.

103

DATA PERKEMBANGAN 3 Tanggal 9 Februari 2012, jam 15.00 WIB Subyek Ibu mengatakan rasa nyerinya mulai berkurang. Ibu mengatakan terasa berat pada perut bagian bawah dan menimbulkan ketidaknyamanan.

Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S Palpasi : : : : : : : : 100/80 mmHg 22 x/menit 82 x/menit 36,6 0C Terdapat massa sebesar kepala bayi di perut bagian bawah sebelah kanan PPv USG : : Tidak ada Tampak uterus UK 10 x 5,9 x 6,1 cm, kontur dan tekstur dbn tampak massa hipoechoic pada adnexa dekstra, UK 15x12x10 tampak cairan intra abdomen Baik Composmentis

Assesment Ny. S umur 53 tahun A2Ah3 dengan Kista Ovarii

104

Planing Memantau keadaan umum, kesadaran dan tanda-tanda vital pasien Evaluasi : KU Kesadaran TTV : Baik : Composmentis : TD RR N S : 100/80 mmHg : 22 x/menit : 82 x/menit : 36,6 0C

Memantau tetesan infus RL sejumlah 20 tetes/menit Evaluasi : tetesan infus telah terpantau yaitu 20 tetes/menit

-

Memberitahu pada ibu cara mengurangi rasa nyeri dengan melakukan teknik relaksasi yaitu dengan cara menarik nafas panjang dari hidung dan dikeluarkan dari mulut. Evaluasi : ibu mengerti cara mengurangi nyeri

-

Menganjurkan ibu tetap mengkonsumsi makan makanan yang bergizi yang mengandung karbohidrat yaitu nasi, roti, umbi-umbian, protein yaitu telur, ikan, tempe dan tahu, vitamin dan mineral yaitu sayur dan buah-buahan Evaluasi : ibu bersedia untuk melakukan anjuran bidan

-

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu minimal 2 jam pada siang hari dan 8 jam pada malam hari, agar kondisinya stabil sehingga memenuhi syarat dilakukan operasi pengangkatan tumor. Evaluasi : ibu bersedia untuk istirahat yang cukup

105

DATA PERKEMBANGAN 4 Tanggal 10 Februari 2012, jam 10.00 WIB Subyek Ibu mengatakan rasa nyerinya mulai berkurang. Ibu mengatakan terasa berat pada perut bagian bawah dan menimbulkan ketidaknyamanan.

Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S Palpasi : : : : : : : : 110/80 mmHg 22 x/menit 84 x/menit 36,4 0C Terdapat massa sebesar kepala bayi di perut bagian bawah sebelah kanan PPv USG : : Tidak ada Tampak uterus UK 10 x 5,9 x 6,1 cm, kontur dan tekstur dbn tampak massa hipoechoic pada adnexa dekstra, UK 15x12x10 tampak cairan intra abdomen Baik Composmentis

Assesment Ny. S umur 53 tahun A2Ah3 dengan Kista Ovarii

106

Planing Memantau keadaan umum, kesadaran dan tanda-tanda vital pasien Evaluasi : KU Kesadaran TTV : Baik : Composmentis : TD RR N S : 110/80 mmHg : 22 x/menit : 84 x/menit : 36,4 0C

Memantau tetesan infus RL sejumlah 20 tetes/menit Evaluasi : tetesan infus telah terpantau yaitu 20 tetes/menit

-

Memberitahu pada ibu cara mengurangi rasa nyeri dengan melakukan teknik relaksasi yaitu dengan cara menarik nafas panjang dari hidung dan dikeluarkan dari mulut. Evaluasi : ibu mengerti cara mengurangi nyeri

-

Menganjurkan ibu tetap mengkonsumsi makan makanan yang bergizi yang mengandung karbohidrat yaitu nasi, roti, umbi-umbian, protein yaitu telur, ikan, tempe dan tahu, vitamin dan mineral yaitu sayur dan buah-buahan Evaluasi : ibu bersedia untuk melakukan anjuran bidan

-

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu minimal 2 jam pada siang hari dan 8 jam pada malam hari agar kondisinya stabil sehingga memenuhi syarat dilakukan operasi pengangkatan tumor. Evaluasi : ibu bersedia untuk melakukan anjuran bidan

107

-

Melakukan pemeriksaan Ultrasonografi Evaluasi : Tampak uterus UK 10 x 5,9 x 6,1 cm, kontur dan tekstur dbn tampak massa hipoechoic pada adnexa, UK 15x12x10 tampak cairan intra abdomen

-

Menganjurkan ibu untuk melakukan puasa yaitu tidak makan dan minum kecuali air putih mulai jam 00.00 WIB sampai operasi akan dilakukan. Evaluasi : Ibu bersedia untuk puasa

-

Melakukan sceren atau pencukuran pada rambut pubis untuk membersihkan dan mempermudah dalam menjalankan proses operasi. Evaluasi : Sceren telah dilakukan

-

Memasang dower kateter untuk mempermudah pengeluaran urine saat operasi berlangsung. Evaluasi : dower kateter telah terpasang

108

DATA PERKEMBANGAN 5 Tanggal 11 Februari 2012, jam 11. 00 WIB Subyek Ibu mengatakan rasa nyerinya mulai berkurang. Ibu mengatakan terasa berat pada perut bagian bawah dan menimbulkan ketidaknyamanan. Ibu mengatakan merasa cemas dan takut akan dioperasi.

Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S Palpasi : : : : : : : : 110/80 mmHg 20 x/menit 82 x/menit 36,5 0C Terdapat massa sebesar kepala bayi di perut bagian bawah sebelah kanan PPv USG : : Tidak ada Tampak uterus UK 10 x 5,9 x 6,1 cm, kontur dan tekstur dbn tampak massa hipoechoic pada adnexa dekstra, UK 15x12x10 tampak cairan intra abdomen Baik Composmentis

Assesment

109

Ny. S umur 53 tahun A2Ah3 dengan Kista Ovarii Pre Operasi Planing Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu untuk persiapan operasi. Evaluasi : KU Kesadaran TTV : TD RR N S : Baik : Composmentis : 110/80 mmHg : 22 x/menit : 80 x/menit : 36,5 0C

Memberikan support mental pada ibu tidak perlu cemas dan takut karena operasi akan berjalan aman bila ibu tenang selama proses operasi dan menganjurkan ibu berdoa kepada Allah SWT agar operasi berjalan dengan lancar. Evaluasi : Ibu sudah merasa tenang dan siap untuk dioperasi

-

Memberikan injeksi ceftriaxone 2 gram per bolus/IV sebelum operasi dilakukan Evaluasi : Injeksi telah diberikan

-

Melakukan kolaborasi dengan dokter Sp.OG dan dokter spesialis anestesi untuk tindakan operasi salphingooforektomi dekstra.

-

Memantau kondisi pasien post operasi meliputi keadaan umum, kesadaran, TTV, jumlah tetesan infus, dan jumlah urine Evaluasi : KU Kesadaran : Lemah : Apatis

110

TTV

: TD RR N S

: 110/80 mmHg : 20 x/menit : 80 x/menit : 36,3 0C

Tetesan infus : lancar 20 tetes/menit Urine : 175 cc

Memberikan injeksi ceftriaxone 1 gram per bolus/IV dan ketorolac secara drip pada infus Evaluasi : injeksi telah diberikan

-

Mengganti cairan infus dengan darah kolf 1 Evaluasi : Darah telah masuk, tidak ada ada alergi

-

Memantau tetesan darah agar lancar dan habis dalam waktu 6 jam Evaluasi : Tetesan darah telah dipantau

111

DATA PERKEMBANGAN 6 Tanggal 12 Februari 2012, jam 16.00 WIB Subyek Ibu mengatakan masih nyeri pada luka bekas operasi Ibu mengatakan belum bisa bergerak dengan bebas hanya bisa sedikit miring.

Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S : : : : : : : 100/70 mmHg 22 x/menit 80 x/menit 36,7 0C Baik Composmentis

Luka operasi : Baik-basah Perdarahan Flatus : Tidak ada : Belum

Assesment Ny. S umur 53 tahun A2Ah3 dengan Kista Ovarii post operasi Salpingoooforektomi H-1

112

Planing Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu Evaluasi : KU Kesadaran TTV : TD : Baik : Composmentis : 100/80 mmHg

RR : 22 x/menit N S : 82 x/menit : 36,6 0C

Luka operasi : Baik-basah Perdarahan : Tidak ada

Memberikan injeksi sesuai program yaitu Ceftriaxone 2 x 1, Ketorolac 3 x 1, Alinamin 1 x 1 dan Vitamin C 1 x 1 Evaluasi : Injeksi telah diberikan

-

Menganjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi dini yaitu dengan miring kiri-kanan dan duduk Evaluasi : Ibu bersedia untuk mobilisasi miring kiri-kanan

-

Memberitahu ibu bahwa ibu belum boleh makan sebelum bisa flatus/kentut Evaluasi : Ibu mengerti bahwa ibu belum boleh makan sebelum bisa kentut

-

Memberitahu ibu untuk menjaga lukanya tetap kering dan tidak boleh terkena air sampai dilakukan pengangkatan jahitan Evaluasi : ibu mengerti dan akan menjaga lukanya tetap kering

113

-

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu minimal 2 jam pada siang hari dan 8 jam pada malam hari agar kondisinya stabil sehingga memenuhi syarat dilakukan operasi pengangkatan tumor. Evaluasi : ibu bersedia untuk istitahat

114

DATA PERKEMBANGAN 7 Tanggal 13 Februari 2012, jam 15.00 WIB Subyek Ibu mengatakan masih nyeri pada luka bekas operasi Ibu mengatakan sudah bisa miring kiri-kanan Ibu mengatakan sudah bisa kentut/flatus

Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S : : : : : : : 110/80 mmHg 22 x/menit 84 x/menit 36,7 0C Baik Composmentis

Luka operasi : Baik-basah Perdarahan Flatus : Tidak ada : Sudah

Assesment Ny. S umur 53 tahun A2Ah3 dengan kista ovarii post operasi Salphingoooforektomi H-2

115

Planing Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu Evaluasi : KU Kesadaran TTV : TD : Baik : Composmentis : 110/80 mmHg

RR : 22 x/menit N S : 82 x/menit : 36,6 0C

Luka operasi : Baik-basah Perdarahan Flatus : Tidak ada : Sudah

Assesment Ny. S umur 53 tahun A2Ah3 dengan Kista Ovarii post operasi Salphingoooforektomi H-3

Planing Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu Evaluasi : KU Kesadaran TTV : TD : Baik : Composmentis : 110/80 mmHg

RR : 22 x/menit N S : 82 x/menit : 36,6 0C

116

Luka operasi : Baik-basah Perdarahan Flatus : tidak ada : Sudah

Memberikan injeksi sesuai program yaitu Ceftriaxone 2 x 1, Ketorolac 3 x 1, Alinamin 1 x 1 dan Vitamin C 1 x 1 Evaluasi : Injeksi telah diberikan

-

Menganjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi yaitu dengan miring kiri-kanan, duduk dan berjalan. Evaluasi : Ibu bersedia untuk mobilisasi miring kiri-kanan

-

Memberitahu ibu bahwa sudah boleh makan dan minum Evaluasi : Ibu mengerti bahwa ibu sudah boleh makan dan minum

-

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu minimal 2 jam pada siang hari dan 8 jam pada malam hari agar kondisinya tetap stabil.

-

Melepas infus dan mengganti terapi injeksi dengan obat oral sesuai dengan advis dokter yaitu Asam mefenamat 3 x 1, Amoxixilin 3 x 1, B Complek 3 x1 Evaluasi : Infus telah dilepas dan obat oral telah diberikan

-

Melepas daur kateter Evaluasi : Dower kateter telah dilepas

-

Menganjurkan ibu menjaga personal hygiene yaitu dengan mandi dua kali sehari, gosok gigi dua kali sehari, dan membersihkan alat kelamin setiap habis BAK dan BAB. Evaluasi : Ibu bersedia menjaga personal hygiene.

117

DATA PERKEMBANGAN 8 Tanggal 14 Februari 2012, jam 14.30 WIB Subyek Ibu mengatakan masih nyeri pada luka bekas operasi Ibu mengatakan sudah bisa miring kiri-kanan dan duduk

Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S : : : : : : : 120/80 mmHg 22 x/menit 84 x/menit 36,7 0C Baik Composmentis

Luka operasi : Baik-mulai kering Perdarahan : Tidak ada

Assesment Ny. S umur 53 tahun A2Ah3 dengan Kista Ovarii post operasi H-3

Planing Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu Evaluasi : KU Kesadaran TTV : TD : Baik : Composmentis : 120/80 mmHg

118

RR : 22 x/menit N S : 82 x/menit : 36,6 0C

Luka operasi : Baik-mulai kering Perdarahan : Tidak ada

Menganjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi yaitu dengan miring kiri-kanan, duduk dan berjalan. Evaluasi : Ibu bersedia untuk mobilisasi miring kiri-kanan, duduk dan berjalan.

-

Menganjurkan ibu tetap mengkonsumsi makan makanan yang bergizi yang mengandung karbohidrat yaitu nasi, roti, umbi-umbian, protein yaitu telur, ikan, tempe dan tahu, vitamin dan mineral yaitu sayur dan buah-buahan Evaluasi : Ibu bersedia untuk makan-makan bergizi

-

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu minimal 2 jam pada siang hari dan 8 jam pada malam hari agar kondisinya tetap stabil. Evaluasi : Ibu bersedia untuk istirahat

-

Menganjurkan ibu menjaga personal hygiene yaitu dengan mandi dua kali sehari, gosok gigi dua kali sehari, dan membersihkan alat kelamin setiap habis BAK dan BAB. Evaluasi : Ibu bersedia menjaga personal higienenya

-

Memotivasi ibu agat minum obat oral yang telah diberikan supaya sakitnya cepat sembuh Evaluasi : Ibu bersedia untuk minum obat oral

119

DATA PERKEMBANGAN 9 Tanggal 15 Februari 2012, Jam 10.00 WIB Subyek Ibu mengatakan masih nyeri pada luka bekas operasi Ibu mengatakan sudah bisa miring kiri-kanan duduk dan berjalan

Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S : : : : : : : 120/80 mmHg 22 x/menit 84 x/menit 36,7 0C Baik Composmentis

Luka operasi : Baik-mulai kering Perdarahan : Tidak ada

Assesment Ny. S umur 53 tahun A2Ah3 dengan Kista Ovarii post operasi H-4

Planing Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu Evaluasi : KU Kesadaran : Baik : Composmentis

120

TTV TD RR N S -

: : 120/80 mmHg : 22 x/menit : 84 x/menit : 36,7 0C

Menganjurkan ibu untuk tetap melakukan mobilisasi yaitu dengan miring kiri-kanan, duduk dan berjalan. Evaluasi : Ibu bersedia untuk mobilisasi miring kiri-kanan, duduk dan berjalan.

-

Menganjurkan ibu tetap mengkonsumsi makan makanan yang bergizi yang mengandung karbohidrat yaitu nasi, roti, umbi-umbian, protein yaitu telur, ikan, tempe dan tahu, vitamin dan mineral yaitu sayur dan buah-buahan Evaluasi : Ibu bersedia untuk makan-makan bergizi

-

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu minimal 2 jam pada siang hari dan 8 jam pada malam hari agar kondisinya tetap stabil. Evaluasi : Ibu bersedia untuk istirahat

-

Menganjurkan ibu menjaga personal hygiene yaitu dengan mandi dua kali sehari, gosok gigi dua kali sehari, dan membersihkan alat kelamin setiap habis BAK dan BAB. Evaluasi : Ibu bersedia menjaga personal higienenya

-

Memotivasi ibu agar minum obat oral yang telah diberikan supaya sakitnya cepat sembuh Evaluasi : Ibu bersedia untuk minum obat oral

121

-

Memberitahu bahwa ibu diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah pulih Evaluasi : Ibu mengerti dan merasa senang karena sudah diperbolehkan pulang

122

B. Pengkajian Kasus II Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi Pada Ny. E dengan Kista Ovarii

Tanggal/ jam pasien masuk Tanggal/ jam pengkajian Tempat No. Register

: : : :

15 Februari 2012/ 10.15 WIB 15 Februari 2012/ 10.30 WIB RSUD Kardinah Tegal 602357

O. PENGUMPULAN DATA C. DATA SUBYEKTIF 5. Biodata Nama Umur Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan Alamat : : : : : : : Ibu Ny. E 31 tahun Islam Jawa SMA IRT Margasari Suami Tn. I 35 tahun Islam Jawa D-III Wiraswasta Margasari

123

6.

Alasan datang Ibu mengatakan ingin mengetahui dan memeriksakan kondisi yang dialaminya saat ini.

7.

Keluhan utama Ibu mengatakan terdapat benjolan sejak 6 bulan yang lalu dan terasa nyeri pada perut bagian bawah sebelah kiri.

8.

Riwayat Obstetri dan Ginekologi f. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Yang lalu Ab0 Ah1

Tabel 3.3. Riwayat Kehamilan dan Persalinan Yang lalu
Persalinan Hamil Tgl KeLahir 1 2005 Kehamilan 39 mgg Persalinan Spontan Bidan Umur Jenis Penolong Ibu bayi Kelamin
Laki-laki

Nifas Komplikasi Jenis BB Laktasi Lahir 3,6 ASI Tidak ada Komplikasi

Tidaka ada

Sumber: Anamnesa Pasien

g.

Riwayat Haid Menache : 15 tahun

Siklus/ Lama/ Jumlah : 28 hari/ 7 hari/ 2 x ganti pembalut Dysmenorhea Flour Albus : ya : tidak

124

h.

Riwayat Penggunaan Kontrasepsi

Tabel 3.4 Riwayat Penggunaan Kontrasepsi
Jenis No. Kontrasepsi Tanggal Oleh Tempat Keluhan Mens. 1 Suntik 2005 Bidan BPS Tidak teratur 2008 Tanggal Oleh Tempat Alasan Mulai Memakai Berhenti/ Ganti cara

Sumber: Anamnesa Pasien

9. Riwayat Kesehatan a. Riwayat Kesehatan Ibu Sekarang :

Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit menurun (Asma, DM, Jantung) dan penyakit menular (TBC, Hepatitis) Yang Lalu :

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menurun (Asma, DM, Jantung) dan penyakit menular (TBC, Hepatitis) b. Riwayat Kesehatan Keluarga Ibu mengatakan dari pihak keluarga ibu atau suami tidak ada yang menderita penyakit menurun (Asma, DM, Jantung) penyakit menular (TBC, Hepatitis) dan riwayat kembar (gemelli)

125

10. Pola Kebutuhan Sehari-hari a. Nutrisi Makan Porsi Jenis keluhan Minum Jenis Keluhan b. Eliminasi BAB Konsistensi Warna Keluhan BAK Warna Keluhan c. Istirahat Siang Malam Keluhan d. Aktivitas : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : ± 2 jam ± 7 jam tidak ada ± 2 jam ± 7 jam tidak ada 1 x sehari lembek kuning kecoklatan tidak ada 3-5 x sehari kuning jernih tidak ada 1 x sehari lembek kuning kecoklatan tidak ada 3-6 x sehari kuning jernih tidak ada 3 x sehari 1 piring tidak ada 4-8 gelas air putih, teh tidak ada 3 x sehari 1 piring nyeri perut bag. bawa 4-8 gelas air putih, teh tidak ada

ibu mengatakan melakukan aktivitas sebagai IRT seperti menyapu, mencuci, dll

126

e. Personal Higiene Mandi Membersihkan kelamin

: : : 2 x sehari setiap sesudah BAK, BAB dan setiap kali mandi

Mengganti pakaian dalam f. Pola Seksual Frekuensi Keluhan :

:

2 x sehari atau setiap kali basah

: ± 2 kali seminggu : nyeri saat senggama

11. Data Psikologis Ibu mengatakan cemas dan takut dengan kondisinya saat ini. 12. Status Perkawinan c) Perkawinan ke:

Ibu mengatakan ini perkawinan ke satu. d) Lama perkawinan : Ibu mengatakan lama perkawinan 7 tahun. 13. Data Sosial Budaya Ibu mengatakan tidak mengikuti adat kebiasaan didaerah tempat tinggalnya yang bisa mengganggu kesehatannya. 14. Ketaatan Beribadah Ibu mengatakan teratur menjalankan sholat lima waktu. 15. Data Pengetahuan Ibu Ibu mengatakan tidak mengetahui penyakit yang dideritanya.

127

D. DATA OBYEKTIF 7. Pemeriksaan Umum Kesadaran Keadaan Umum Berat Badan Tinggi Badan Tanda Tanda Vital : : : : : Composmentis Baik 55 Kg 156 cm TD RR N S : 110/80 mmHg : 20 x/menit : 78 x/menit : 36,5 0C

8. Pemeriksaan Fisik n. Kepala o. Rambut p. Mata Conjungtiva Sklera q. Hidung r. Mulut : : : : : : : : : merah muda tidak anemis putih tidak ikterik tidak ada nafas cuping hidung bibir lembab, tidak stomatitis simetris, pendengaran baik tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis u. Ketiak : tidak ada pembesaran kelenjar limfe mesochepal tidak rontok, tidak berketombe

s. Telinga t. Leher

128

v. Dada Bentuk Mamae w. Abdomen

: : : : : tidak ada tidak ada simetris tidak ada massa abnormal

Luka bekas operasi

Pembesaran hati/ limfa : x. Genetalia Vulva/ vagina PPv y. Anus z. Ekstremitas Atas Bawah : : : : : :

tidak ada tanda infeksi tidak ada tidak haemorroid

simetris, tidak oedema simetris, tidak oedema

9. Pemeriksaan Kebidanan e. Muka f. Mamae : : : tidak odema tidak ada massa abnormal teraba massa sebesar kepalan tangan pada perut bagian bawah sebelah kiri dan nyeri saat ditekan h. Genetalia : tidak odema, tidak ada tanda infeksi

g. Abdomen

10. Pemeriksaan Dalam Tidak dilakukan

129

11. Pemeriksaan Inspekulo Tidak dilakukan

12. Pemeriksaan Penunjang e. Pemeriksaan Laboratorium Tanggal : 15 Februari 2012 Tabel 3.5. Pemeriksaan Laboratorium PARAMETERS WBC RBC HGB HCT MCV MCH MCHC PLT RDW-CV RDW-SD PDW MPV P-LCR DIFFERENTIAL NEUT# LYMPH# [10^3/uL] [10^3/uL] 1,8 – 8 0,9 – 5,2 8,38 5,35 15,4 44,4 83,0 28,8 34,7 369 13,0 39,0 11,5 10,2 26,4 [10^3/uL] [10^6/uL] [g/dL] [%] [fL] [pg] [g/dL] [10^3/uL] [%] [fL] [fL] [fL] [%] NILAI NORMAL M: 4,8 – 10,8 F: 4,8 – 10,8 M: 4,7 – 6,1 F: 4,2 – 5,4 M: 14 – 6,1 F: 12 – 16 M: 42 – 52 F: 37 – 47 79,0 – 99,0 27,0 – 31,0 33,0 – 37,0 150 – 450 11,5 – 14,5 35 – 47 9,0 – 13,0 7,2 – 11,1 15,0 – 25,0

130

MONO# EO# BASO# NEUT% LYMPH% MONO% EO% BASO% Catatan : LED 1 LED 2

[10^3/uL] [10^3/uL] [10^3/uL] [%] [%] [%] [%] [%]

0,16 – 1 0,045 – 0,44 0 – 0,2 50 – 70 25 – 40 2–8 2–4 0–1

5 13

mm/jam mm/jam

M : 0 – 15 F : 0 – 20

TABEL RUJUKAN Status < 2 minggu 2 minggu 2 bulan 6 bulan 1 tahun 2 – 6 tahun 6 – 12 tahun CT BT WBC 10 - 26 6 - 21 6 - 18 6 – 17,5 6 – 17,5 6 - 17 4,5 0 14,5 : 5 (2 – 6 menit) : 3 (1 -3 menit) RBC 3,7 – 6,5 3,9 – 5,9 3,1 – 4,3 3,9 – 5,5 4,1 – 5,3 3,9 – 5,9 4 - 5,2 APTT Gol. Da HGB 14,9 – 23,7 13,4 – 19,8 9,4 - 13 11,1 – 14,1 11,3 – 14,1 11,5 – 13,5 11,5 – 15,5 HCT 47 - 75 41 - 65 28 - 42 31 – 41 33 – 41 34 – 40 35 – 45

: (20 – 40 detik) :A

PT

: (2 – 14 detik)

Sumber: Laboratorium RSUD Kardinah Tegal f. Rontgen Tanggal Jenis g. USG Tanggal : 15 Februari 2012 : 15 Februari 2012 : Rontgen Thorax

Hasil: Uterus tampak, ukuran normal, ekoparenkim normoekoik, endometrium tak membesar, tampak massa kistik bersepta pada parametrium UK 9 x 7,4 cm. h. Pemeriksaan Patologi Anatomi Tanggal Makro : 23 Februari 2012 :

3 potong jaringan bentuk tidak teratur, ukuran terbesar 8 x 3 x 1,5 cm, terkecil 3 x 2 x 1 cm. Pada lamelasi bagian tertentu tampak rongga berisi massa coklat kehitaman. Tampak pula menempel tuba pada jaringan kecil sepanjang 3 cm. Diameter ¾ cm. Mikro :

Kista dilapisi epitel torak selapis yang ulseratif dengan inti sel dalam batas normal. Subepitel tampak stroma dan kelenjar endometrium yang mengalami perdarahan bersebukan makrofag yang mengandung hemosiderin. Dibawahnya tampak stroma ovarii dan corpus albicans. Tuba dalam batas normal. Tidak tampak tanda-tanda keganasan Kesimpulan : Kista endometriotik ovarium.

141

142

P. INTERPETASI DATA D. DIAGNOSA NOMENKLATUR Ny. E Umur 31 tahun A0Ah1 dengan Kista Ovarii

Data Dasar Subyektif Ibu mengatakan bernama Ny. E umur 31 tahun Ibu mengatakan mempunyai anak 1 dan tidak pernah keguguran. Ibu mengatakan terdapat benjolan sejak 6 bulan yang lalu dan terasa sakit pada perut bagian bawah sebelah kiri Ibu mengatakan merasa cemas dan takut dengan kondisinya

Obyektif Kesadaran Keadaan Umum Berat Badan Tinggi Badan Tanda Tanda Vital : : : : : Composmentis Baik 55 Kg 156 cm TD RR N S Palpasi : 110/80 mmHg : 20 x/menit : 78 x/menit : 36,5 0C

: Teraba massa sebesar kepalan tangan pada perut bagian bawah sebelah kiri

PPv

: Tidak ada

143

USG

: Uterus tampak, ukuran normal, ekoparenkim normoekoik, endometrium tak membesar, tampak massa kistik bersepta pada parametrium UK 9 x 7,4 cm

E. DIAGNOSA MASALAH Ibu merasa tidak nyaman karena nyeri pada perut bagian bawah dan cemas dengan kondisinya.

DS

: Ibu mengatakan merasa tidak nyaman dan merasa cemas dengan kondisinya

DO

: Wajah ibu terlihat menahan sakit dan cemas

F. DIAGNOSA KEBUTUHAN Memberikan penjelasan pada ibu bahwa ketidaknyaman yang dialami karena adanya massa atau tumor dalam rahimnya dan memberikan support mental bahwa sakitnya akan hilang setelah dilakukan operasi.

Q. DIAGNOSA POTENSIAL Perdarahan, putaran tangkai/torsi, infeksi pada tumor, robek dinding kista, dan perubahan keganasan.

R. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA

144

Kolaborasi dengan dokter Sp.OG untuk pemberian terapi dan operasi Eksplorasi Laparatomi.

S. RENCANA TINDAKAN 10. Berikan informasi ibu dan keluarga tentang keadaan penyakit ibu dan tindakan yang akan dilakukan. 11. Lakukan inform consent. 12. Berikan dukungan mental kepada ibu. 13. Pantau keadaan umum dan tanda-tanda vital meliputi kesadaran, tekanan darah, nadi, suhu dan respirasi. 14. Anjurkan ibu untuk puasa. 15. Lakukan sceren atau pemotongan rambut pubis. 16. Pasang dower kateter. 17. Anjurkan ibu jaga personal hygiene. 18. Anjurkan ibu istirahat cukup. 19. Lakukan persiapan pre operasi.

T.

IMPLEMENTASI 9. Memberikan dukungan mental pada ibu dengan memberikan informasi kepada ibu dan keluarga bahwa ibu saat ini menderita penyakit kista ovarii yaitu tumor yang ada pada ovarium atau indung telur sehingga menyebabkan pembesaran menyebabkan nyeri. 10. Melakukan inform consent pada suami dan keluarga pasien untuk penatalaksanaan operasi dan pemeriksaan lainnya pada perut bagian bawah ibu juga

145

11. Memotivasi agar ibu yakin akan kesembuhannya dan menganjurkan ibu dan keluarga untuk berdoa demi kelancaran proses pengobatan dan operasi yang akan dijalani ibu. 12. Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu meliputi kesadaran, tekanan darah, nadi, suhu dan respirasi. 13. Menganjurkan ibu untuk melakukan puasa yaitu tidak makan dan minum kecuali air putih mulai jam 00.00 WIB sampai operasi akan dilakukan. 14. Melakukan sceren atau pencukuran pada rambut pubis untuk membersihkan dan mempermudah dalam menjalankan proses operasi. 15. Memasang dauer kateter untuk mempermudah pengeluaran urine saat operasi berlangsung. 16. Menganjurkan ibu menjaga personal hygiene yaitu dengan mandi dua kali sehari, gosok gigi dua kali sehari, dan membersihkan alat kelamin setiap habis BAK dan BAB. 17. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup untuk menjaga agar kondisinya stabil sampai siap untuk dilakukan operasi yaitu minimal dua jam pada siang hari dan delapan jam pada malam hari. 18. Melakukan persiapan pre operasi yaitu: d. Melakukan kolaborasi dengan dr. Sp.OG untuk rencana operasi tanggal 16 Februari 2012. e. Melakukan program sesuai advis dokter, yaitu dengan memantau tetesan infus 20 tetes permenit, menyiapkan darah PRC 2 kolf (500 cc), Golongan Darah A, untuk persiapan post operasi. f. Melakukan kolaborasi dan konsultasi pada dr. Anestesi

146

U. EVALUASI 9. Ibu dan keluarga mengerti informasi yang diberikan mengenai

penyakitnya. 10. Suami dan keluarga telah setuju dengan tindakan operasi dan pemeriksaan penunjang lainnya dan telah menandatangani surat persetujuan medik (inform consent). 11. Ibu merasa lebih tenang dan siap untuk dilakukan perawatan dan tindakan operasi. 12. Keadaan umum Kesadaran TTV TD Nadi RR Suhu : Baik : Composmentis : : 110/ 80 mmHg : 78 x/menit : 20 x/menit : 36,5 0C

13. Ibu bersedia untuk puasa. 14. Sceren telah dilakukan. 15. Dower kateter telah dipasang. 16. Ibu bersedia menjaga personal higienenya. 17. Ibu bersedia untuk istirahat cukup. 18. Persiapan pre operasi telah dilakukan.

147

DATA PERKEMBANGAN 1 Tanggal 16 Februari 2012, Jam 9.00 WIB

Subyek Ibu mengatakan masih nyeri pada perut bagian bawah sebelah kiri Ibu mengatakan terasa sedikit berat pada perut bagian bawah dan menimbulkan ketidaknyamanan Ibu mengatakan merasa cemas dan takut dengan operasi yang akan dijalaninya. Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S Palpasi : : : : : : : 100/70 mmHg 22 x/menit 82 x/menit 36,4 0C : Teraba massa sebesar telur ayam pada perut bagian bawah sebelah kiri PPv USG : Tidak ada : Uterus tampak, ukuran normal, ekoparenkim normoekoik, endometrium tak membesar, Baik Composmentis

148

tampak massa kistik bersepta pada parametrium, UK 9 x 7,4 cm

Assesment Ny. E umur 31 tahun A0Ah1 dengan Kista Ovarii Pre Operasi.

Planing Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu untuk persiapan operasi.

Evaluasi :

KU Kesadaran TTV : TD RR N S

: Baik : Composmentis : 100/70 mmHg : 22 x/menit : 82 x/menit : 36,4 0C

-

Memberikan support mental pada ibu tidak perlu cemas dan takut karena operasi akan berjalan aman bila ibu tenang selama proses operasi dan menganjurkan ibu berdoa kepada Allah SWT agar operasi berjalan dengan lancar. Evaluasi : Ibu sudah merasa tenang dan siap untuk dioperasi

-

Memberikan injeksi Cefotaxime 1 gram per bolus/IV sebelum operasi dilakukan Evaluasi : Injeksi telah diberikan

149

-

Melakukan kolaborasi dengan dokter Sp.OG dan dokter spesialis anestesi untuk tindakan operasi Kistektomi Sinistra. Evaluasi : Kolaborasi telah dilakukan

-

Memantau kondisi pasien post operasi meliputi keadaan umum, kesadaran, TTV, jumlah tetesan infus, dan jumlah urine Evaluasi : KU Kesadaran TTV : TD RR N S : Lemah : Apatis : 100/70 mmHg : 20 x/menit : 78 x/menit : 36,3 0C

Tetesan infus : lancar 20 tetes/menit Urine : 100 cc

Memberikan injeksi Cefotaxime 1 gram per bolus/IV dan ketorolac secara drip pada infus Evaluasi : injeksi telah diberikan

-

Mengganti cairan infus dengan darah kolf 1 Evaluasi : Darah telah masuk, tidak ada ada alergi

-

Memantau tetesan darah agar lancar dan habis dalam waktu 6 jam Evaluasi : Tetesan darah telah dipantau

150

DATA PERKEMBANGAN 2 Tanggal 17 Februari 2012, jam 12.00 WIB Subyek Ibu mengatakan masih nyeri pada luka bekas operasi Ibu mengatakan belum bisa bergerak dengan bebas hanya bisa sedikit miring.

Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S : : : : : : : 110/70 mmHg 22 x/menit 80 x/menit 36,7 0C Baik-basah Tidak ada Belum Baik Composmentis

Luka operasi : Perdarahan Flatus : :

Assesment Ny. S umur 53 tahun A0Ah1 dengan Kista Ovarii post operasi Kistektomi Sinistra H-1

151

Planing Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu Evaluasi : KU Kesadaran TTV : TD : Baik : Composmentis : 110/80 mmHg

RR : 22 x/menit N S : 82 x/menit : 36,6 0C

Luka operasi : Baik-basah Perdarahan : tidak ada

Memberikan injeksi sesuai program yaitu Cefotaxime 2x1, Metronidazol 2x1, Ketorolac 3x1, Kalnex 3x1. Evaluasi : Injeksi telah diberikan

-

Menganjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi dini yaitu dengan miring kiri-kanan dan duduk Evaluasi : Ibu bersedia untuk mobilisasi miring kiri-kanan

-

Memberitahu ibu bahwa ibu belum boleh makan sebelum bisa flatus/kentut Evaluasi : Ibu mengerti bahwa ibu belum boleh makan sebelum bisa kentut

-

Memberitahu ibu untuk menjaga lukanya tetap kering dan tidak boleh terkena air sampai dilakukan pengangkatan jahitan

152

Evaluasi : ibu mengerti dan akan menjaga lukanya tetap kering Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu minimal 2 jam pada siang hari dan 8 jam pada malam hari agar kondisinya stabil sehingga memenuhi syarat dilakukan operasi pengangkatan tumor. Evaluasi : ibu bersedia untuk istitahat

153

DATA PERKEMBANGAN 3 Tanggal 18 Februari 2012, Jam 12.00 WIB Subyek Ibu mengatakan masih nyeri pada luka bekas operasi Ibu mengatakan sudah bisa miring kiri-kanan Ibu mengatakan sudah bisa kentut/flatus

Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S : : : : : : : 120/70 mmHg 22 x/menit 84 x/menit 36,7 0C Baik Composmentis

Luka operasi : Baik-basah Perdarahan Flatus : Tidak ada : Sudah

Assesment Ny. E umur 31 tahun A0Ah1 dengan Kista Ovarii post operasi Kistektomi Sinistra H-2

154

Planing Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu Evaluasi : KU Kesadaran TTV : TD : Baik : Composmentis : 120/80 mmHg

RR : 22 x/menit N S : 82 x/menit : 36,6 0C

Luka operasi : Baik-basah Perdarahan Flatus Assesment Ny. E umur 31 tahun A0Ah1 dengan Kista Ovarii post operasi Kistektomi Sinistra H-3 : Tidak ada : Sudah

Planing Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu Evaluasi : KU Kesadaran TTV : TD : Baik : Composmentis : 100/80 mmHg

RR : 22 x/menit N S : 82 x/menit : 36,6 0C

155

-

Memberikan injeksi sesuai program yaitu Cefotaxime 2 x 1, Metronidazol 2 x 1, Ketorolac 3 x 1, Kalnex 3 x 1. Evaluasi : Injeksi telah diberikan

-

Menganjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi yaitu dengan miring kiri-kanan, duduk dan berjalan. Evaluasi : Ibu bersedia untuk mobilisasi miring kiri-kanan

-

Memberitahu ibu bahwa sudah boleh makan dan minum Evaluasi : Ibu mengerti bahwa ibu sudah boleh makan dan minum

-

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu minimal 2 jam pada siang hari dan 8 jam pada malam hari agar kondisinya tetap stabil. Evaluasi : Ibu bersedia untuk istirahat cukup

-

Melepas infus dan mengganti terapi injeksi dengan obat oral sesuai dengan advis dokter yaitu Asam mefenamat 3 x 1, Ofloxacin 2 x 1, Ranitidin 2 x 1, Escait 1 x 1, Nuliflan 2 x 1, Laxadin syp 3 x 1. Evaluasi : Infus telah dilepas dan obat oral telah diberikan

-

Melepas dower kateter Evaluasi : Dower kateter telah dilepas

-

Menganjurkan ibu menjaga personal hygiene yaitu dengan mandi dua kali sehari, gosok gigi dua kali sehari, dan membersihkan alat kelamin setiap habis BAK dan BAB. Evaluasi : Ibu bersedia untuk menjaga personal higiene

156

DATA PERKEMBANGAN 4 Tanggal 19 Februari 2012, jam 13.00 WIB Subyek Ibu mengatakan masih nyeri pada luka bekas operasi Ibu mengatakan sudah bisa miring kiri-kanan dan duduk

Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S : : : : : : : 120/70 mmHg 22 x/menit 84 x/menit 36,7 0C Baik Composmentis

Luka operasi : Baik-mulai kering Perdarahan : Tidak ada

Assesment Ny. E umur 31 tahun A0Ah1 dengan Kista Ovarii post operasi Kistektomi Sinistra H-4

157

Planing Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu Evaluasi : KU Kesadaran TTV : TD : Baik : Composmentis : 120/80 mmHg

RR : 22 x/menit N S : 84 x/menit : 36,7 0C

Menganjurkan ibu untuk melakukan mobilisasi yaitu dengan miring kiri-kanan, duduk dan berjalan. Evaluasi : Ibu bersedia untuk mobilisasi miring kiri-kanan, duduk dan berjalan.

-

Menganjurkan ibu tetap mengkonsumsi makan makanan yang bergizi yang mengandung karbohidrat yaitu nasi, roti, umbi-umbian, protein yaitu telur, ikan, tempe dan tahu, vitamin dan mineral yaitu sayur dan buah-buahan Evaluasi : Ibu bersedia untuk makan makanan yang bergizi

-

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu minimal 2 jam pada siang hari dan 8 jam pada malam hari agar kondisinya tetap stabil. Evaluasi : Ibu bersedia untuk istirahat cukup

-

Menganjurkan ibu menjaga personal hygiene yaitu dengan mandi dua kali sehari, gosok gigi dua kali sehari, dan membersihkan alat kelamin setiap habis BAK dan BAB. Evaluasi : Ibu bersedia menjaga personal hygiene

158

-

Memotivasi ibu agat minum obat oral yang telah diberikan supaya sakitnya cepat sembuh Evaluasi : Ibu bersedia untuk minum obat oral

159

DATA PERKEMBANGAN 5 Tanggal 20 Februari 2012, jam 12.00 wib Subyek Ibu mengatakan masih nyeri pada luka bekas operasi Ibu mengatakan sudah bisa miring kiri-kanan duduk dan berjalan

Obyek KU Kesadaran TTV TD RR N S : : : : : : : 120/70 mmHg 22 x/menit 84 x/menit 36,7 0C Baik Composmentis

Luka operasi : Baik-mulai kering Perdarahan : Tidak ada

Assesment Ny. E umur 31 tahun A0Ah1 dengan Kista Ovarii post operasi Kistektomi Sinistra H-5

160

Planing Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu Evaluasi : KU Kesadaran TTV : TD RR N S : Baik : Composmentis : 100/70 mmHg : 22 x/menit : 84 x/menit : 36,7 0C

Menganjurkan ibu untuk tetap melakukan mobilisasi yaitu dengan miring kiri-kanan, duduk dan berjalan. Evaluasi : Ibu bersedia untuk mobilisasi miring kiri-kanan, duduk dan berjalan.

-

Menganjurkan ibu tetap mengkonsumsi makan makanan yang bergizi yang mengandung karbohidrat yaitu nasi, roti, umbi-umbian, protein yaitu telur, ikan, tempe dan tahu, vitamin dan mineral yaitu sayur dan buah-buahan Evaluasi : Ibu bersedia unutk makan makanan bergizi

-

Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup yaitu minimal 2 jam pada siang hari dan 8 jam pada malam hari agar kondisinya tetap stabil. Evaluasi : Ibu bersedia untuk istirahat cukup

-

Menganjurkan ibu menjaga personal hygiene yaitu dengan mandi dua kali sehari, gosok gigi dua kali sehari, dan membersihkan alat kelamin setiap habis BAK dan BAB. Evaluasi : Ibu bersedia untuk menjaga personal higyene

161

-

Memotivasi ibu agat minum obat oral yang telah diberikan supaya sakitnya cepat sembuh Evaluasi : Ibu bersedia untuk minum obat oral

-

Memberitahu bahwa ibu diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah pulih Evaluasi : Ibu mengerti dan merasa senang karena sudah diperbolehkan pulang

162

BAB IV BAHASAN

Penulis melaksanakan asuhan kebidanan gangguan reproduksi pada Ny. S dengan Kista Ovarii di RSUD dr. Soesilo Slawi Kabupaten Tegal dari tanggal 6 Februari 2012 sampai 15 Februari 2012 dan pada Ny. E dengan Kista Ovarii di RSUD Kardinah Tegal dari tanggal 15 Februari 2012 sampai 20 Februari 2012 dengan menggunakan pendekatan proses manajemen kebidanan. Menurut Helen Varney (2006; h. 26), alur pikir bidan dalam menghadapi klien menggunakan 7 langkah varney yaitu pengkajian, interpretasi data, diagnosa potensial, antisipasi tindakan segera, intervensi, implementasi dan evaluasi. Berdasarkan pengkajian yang telah penulis lakukan terdapat persamaan atau kesenjangan antara teori dan kasus. Adapun uraiannya sebagai berikut: A. Pengumpulan Data 1. Data Subjektif a. Keluhan Utama Pada kasus Ny. S dengan Kista Ovarii, dari hasil pengkajian pasien mengatakan sudah berhenti menstruasi sejak 5 tahun yang lalu, mendadak pada bulan agustus, september, oktober, dan nopember tahun 2011 keluar darah seperti darah menstruasi dan disertai nyeri, kemudian pada bulan desember ibu merasakan ada benjolan sampai sekarang pada perut bagian bawah sebelah kanan dan menimbulkan rasa nyeri. Ny. S juga mengatakan pernah mengalami gangguan pola eliminasi yaitu pada pola miksi Ny. E mengatakan frekuensi berkemihnya lebih sering dari biasanya, yaitu

163

bila dalam sehari hanya 4-6 kali dalam sehari namun sekarang menjadi 6-10 kali dalam sehari sehingga menimbulkan

ketidaknyamanan. Sedangkan untuk pola defekasi Ny. S tidak merasakan adanya gangguan. Pada kasus Ny. E dengan Kista Ovarii, dari hasil pengkajian pasien mengatakan sejak 6 bulan yang lalu merasakan ada benjolan pada perut bagian bawah sebelah kiri yang semakin lama semakin terasa sakit bila ditekan. Pada teori disebutkan bahwa tanda gejala dari Kista Ovarii adalah akibat pertumbuhan, aktivitas endokrin, atau komplikasi dari tumor-tumor tersebut. Tanda dan gejala dari Kista Ovarii akibat pertumbuhan dapat menyebabkan pembenjolan perut. Tekanan terhadap alat-alat disekitarnya disebabkan besarnya kista atau posisinya dalam perut dapat menekan kandung kencing dan dapat menimbulkan gangguan miksi sedangkan kista yang lebih besar tetapi terletak bebas di rongga perut kadang-kadang hanya menimbulkan rasa berat di perut (Wiknjosastro, 2009; h. 349-350). Selain gangguan miksi, tekanan tumor dapat mengakibatkan obstipasi, edema pada tungkai. Pada tumor yang besar dapat terjadi tidak nafsu makan, rasa sesak dan lain-lain. Tanda gejala Kista Ovarii akibat aktivitas hormonal seperti tumor granulose dapat menimbulkan hipermenorea, dan arhenoblastoma dapat

menyebabkan amenorea. Tanda dan gejala Kista Ovarii akibat komplikasi adalah perdarahan, putaran tangkai yang menimbulkan

164

rasa sakit, infeksi pada tumor, robeknya dinding kista dan perubahan keganasan (Wiknjosastro, 2009; h. 349-350). Dengan demikian terdapat kesenjangan antara teori dan kasus yaitu baik Ny. S ataupun Ny. E tidak mengalami obstipasi dan edema pada tungkai hal ini dikarenakan besarnya kista pada Ny. S dan Ny. E tidak menekan organ tubuh disekitarnya yaitu rektum sehingga tidak menimbulkan obstipasi.

b.

Riwayat Haid Pasien Ny. S mengatakan sudah tidak menstruasi sejak 5 tahun yang lalu. Mendadak pada bulan agustus, september, oktober, dan nopember tahun 2011 keluar darah seperti darah menstruasi dan disertai nyeri. Sedangkan pada pasien Ny. E riwayat menstruasinya nyeri saat haid dan keluar darah haid lebih banyak dari biasanya. Menurut Manuaba (2008; h.389) disebutkan perdarahan terjadi karena gangguan hormon, gangguan kehamilan, gangguan KB, penyakit kandungan dan keganasan genetalia. Menurut Manuaba (1999; h. 55) menyebutkan bahwa akan terjadi gangguan siklus menstruasi yang ditandai dengan jumlah darah yang cukup banyak yang terlihat dari jumlah pembalut yang dipakai dan gumpalan darah yang diakibatkan oleh penyakit kandungan. Menurut Wiknjosastro (2009; h. 347), pada umumnya Kista Ovarii tidak mengubah pola haid, kecuali jika tumor itu sendiri mengeluarkan hormon. Seperti akan diterangkan pada pembicaraan

165

tumor ganas,

sebuah

tumor granulose

dapat

menimbulkan

hipermenorea, dan arhenoblastoma dapat menyebabkan amenorea. Dengan demikian tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus yaitu pada pasien Ny. S mengalami gangguan siklus menstruasi yaitu pada bulan agustus, september, oktober, dan nopember tahun 2011 keluar darah seperti darah menstruasi yang banyak dan disertai nyeri. Sedangkan pada pasien Ny. E riwayat menstruasinya nyeri saat haid dan keluar darah haid lebih banyak dari biasanya.

2.

Data Obyektif a. Pemeriksaan Kebidanan 1) Abdomen Pada kasus Ny. S dengan Kista Ovarii melalui pemeriksaan fisik yaitu palpasi teraba massa pada perut bagian bawah, sebesar kepala bayi dan nyeri saat ditekan. Sedangkan pada pasien Ny. E teraba massa sebesar kepalan tangan pada perut bagian bawah sebelah kiri dan nyeri saat ditekan. Tanda dan gejala dari Kista Ovarii akibat pertumbuhan dapat menyebabkan pembenjolan perut. Tekanan terhadap alat-alat disekitarnya disebabkan besarnya kista atau posisinya dalam perut dapat menekan kandung kencing dan dapat menimbulkan gangguan miksi sedangkan kista yang lebih besar tetapi terletak bebas di rongga perut kadang-kadang hanya menimbulkan rasa berat di perut. Selain gangguan miksi, tekanan tumor dapat

166

mengakibatkan obstipasi, edema pada tungkai. Pada tumor yang besar dapat terjadi tidak nafsu makan, rasa sesak dan lain-lain (Wiknjosastro, 2009; h. 349). Menurut Yatim (2005; h. 20) disebutkan bahwa tanda dari Kista Ovarii terdapat benjolan pada perut lebih dari 5 cm dan menurut Manuaba (2008; h. 391) nyeri perut diakibatkan karena adanya Kista Ovarii, mioma uteri, adenomiosis, endometriosis dan hamil ektopik. Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena pada pemeriksaan palpasi pada abdomen terdapat pembesaran sebesar kepala bayi pada Ny. S dan sebesar kepalan tangan pada Ny. E (benjolan lebih dari 5 cm) dan terdapat nyeri tekan pada perut.

2)

Genetalia Pada kasus Ny. S dengan Kista Ovarii melalui pemeriksaan fisik yaitu inspeksi dengan melihat adanya pengeluaran per vaginam didapatkan hasil tidak ada perdarahan per vaginam. Demikian juga pada kasus Ny. E dengan Kista Ovarii tidak didapatkan perdarahan per vaginam. Menurut Manuaba (2008; h. 389) disebutkan perdarahan di luar siklus menstruasi terjadi karena gangguan hormon,

gangguan kehamilan, gangguan KB, penyakit kandungan dan keganasan genetalia. Menurut Manuaba (1999; h. 55)

menyebutkan bahwa akan terjadi gangguan siklus menstruasi

167

tetapi jumlahnya cukup banyak dan terlihat dari jumlah pembalut yang dipakai dan gumpalan darah yang diakibatkan oleh penyakit kandungan. Tanda dan gejala dari komplikasi Kista Ovarii adalah perdarahan, putaran tangkai yang menimbulkan rasa sakit, infeksi pada tumor, robeknya dinding kista dan perubahan keganasan (Wiknjosastro, 2009; h. 350). Terdapat perbedaan antara teori dan kasus yaitu pada kasus Ny. S dan Ny. E pada saat dilakukan pengkajian, tidak didapatkan adanya perdarahan pervaginam yaitu keluar darah dalam jumlah yang banyak dan membentuk gumpalan.

3)

Pemeriksaan Penunjang a) Ny. S Pada kasus Ny. S dengan Kista Ovarii untuk menegakkan diagnosis dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu

Pemeriksaan Laboratorium, Rontgen dan USG. (1) Pemeriksaan Laboratorium Hb (2) Rontgen Jenis : Rontgen Thorak : 13,8 gr/dL

168

(3) USG Hasil : Tampak uterus UK 10 x 5,9 x 6,1 cm, kontur dan tekstur dbn tampak massa hipoechoic pada adnexa dektra, UK 15x12x10 tampak cairan intra abdomen.

b) Ny. E (1) Pemeriksaan Laboratorium Hb : 15,4 g/dL

(2) Rontgen Jenis : Rontgen Thorak (3) USG Hasil: Uterus tampak, ukuran normal, ekoparenkim normoekoik, endometrium tak membesar, tampak massa kistik bersepta pada parametrium UK 9 x 7,4 cm.

Kista Ovarium adalah

kantong

tertutup berdinding

membran yang berlapis epitel dan cairan atau semi cairan dengan berbagai bentuk, permukaanaya bisa rata, halus, licin, dan ada yang dapat di gerakan ataupun tidak tumbuh di dalam rongga ovarium (Prawiroharjo, 1999; h. 394). Menurut Sukardja (2000; h. 195), pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada kasus Kista Ovarii yaitu dengan melakukan pemeriksaan laboratorium dan USG agar dapat menentukan letak dan besar dari uterus, ovarium dan kandung kemih, apakah tumor itu kistik atau solid serta dapat pula dibedakan antara cairan dalam rongga perut bebas dan yang tidak (Sukardja, 2000; h.195). Menurut Kiewellyn ( 2001; h. 250) pemeriksaan penunjang pada kasus Kista Ovarii yaitu pemeriksaan laboratorium seperti cek Hb dan USG (J.Kiewellyn, 2001; h. 250). Dan menurut Wiknjosastro (2009; h. 350), pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis Kista Ovarii, antara lain:

(a) Laparoskopi Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan sifat-sifat tumor itu. (b) Ultrasonografi Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakah tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kemih, apakah tumor kistik atau solid, dan dapat dibedakan pula antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak. (c) Foto Rontgen Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya, pada kista dermoid kadangkadang dapat dilihat adanya gigi dalam tumor.

Penggunaan foto Rontgen pada pielogram intravena dan pemasukan bubur barium dalam kolon sudah disebut di atas. (d) Parasentesis Telah disebut bahwa pungsi pada asites berguna untuk menentukan sebab asites. Perlu diingatkan bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan kavum peritonei dengan isi kista bila dinding kista tertusuk.

Dengan demikian tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kedua kasus tersebut. Karena pada Ny. S dan Ny. E dilakukan pemeriksaan laboratorium, USG dan Rontgen.

B. Interpretasi Data 1. Diagnosa Nomenklatur a. Ny. S Ny. S Umur 53 tahun A2Ah3 dengan Kista Ovarii

Data Dasar Subyektif - Ibu mengatakan merasa nyeri pada perut bagian bawah sebelah kanan - Ibu mengatakan terasa berat pada perut bagian bawah dan menimbulkan ketidaknyamanan

Obyektif Palpasi : Terdapat massa sebesar kepala bayi di perut bagian bawah sebelah kanan PPv USG : Tidak ada : Tampak uterus UK 10 x 5,9 x 6,1 cm, kontur dan tekstur dbn tampak massa hipoechoic pada adnexa dektra, UK 15x12x10 tampak cairan intra abdomen

b. Ny. E Ny. E Umur 31 tahun A0Ah1 dengan Kista Ovarii

Data Dasar Subyektif - Ibu mengatakan terdapat benjolan sejak 6 bulan yang lalu dan terasa sakit pada perut bagian bawah sebelah kiri

Obyektif Palpasi : Teraba massa sebesar kepalan tangan pada perut bagian bawah sebelah kiri PPv USG : Tidak ada : Uterus tampak, ukuran normal, ekoparenkim normoekoik, endometrium tak membesar, tampak massa kistik bersepta pada parametrium UK 9 x 7,4 cm Pada teori disebutkan bahwa tanda gejala dari Kista Ovarii adalah akibat pertumbuhan, aktivitas endokrin, atau komplikasi dari tumor-tumor tersebut. Tanda dan gejala dari Kista Ovarii akibat pertumbuhan dapat menyebabkan pembenjolan perut. Tekanan terhadap alat-alat disekitarnya disebabkan besarnya kista atau posisinya dalam perut dapat menekan kandung kencing dan dapat menimbulkan gangguan miksi sedangkan kista yang lebih besar tetapi terletak bebas di rongga perut kadang-kadang hanya menimbulkan rasa berat di perut (Wiknjosastro, 2009; h. 349-350).

Selain gangguan miksi, tekanan tumor dapat mengakibatkan obstipasi, edema pada tungkai. Pada tumor yang besar dapat terjadi tidak nafsu makan, rasa sesak dan lain-lain. Tanda gejala Kista Ovarii akibat aktivitas hormonal seperti tumor granulose dapat menimbulkan hipermenorea, dan arhenoblastoma dapat menyebabkan amenorea. Tanda dan gejala Kista Ovarii akibat komplikasi adalah perdarahan, putaran tangkai yang

menimbulkan rasa sakit, infeksi pada tumor, robeknya dinding kista dan perubahan keganasan (Wiknjosastro, 2009; h. 349-350).

2. Diagnosa Masalah a. Ny. S Ibu merasa tidak nyaman karena nyeri pada perut bagian bawah dan cemas dengan kondisinya. DS : Ibu mengatakan merasa tidak nyaman dan merasa cemas dengan kondisinya DO : Wajah ibu terlihat menahan sakit dan cemas

b. Ny. E Ibu merasa tidak nyaman karena nyeri pada perut bagian bawah dan cemas dengan kondisinya. DS : Ibu mengatakan merasa tidak nyaman dan merasa cemas dengan kondisinya DO : Wajah ibu terlihat menahan sakit dan cemas

Kecemasan adalah ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam (DepKes RI, 1990). Long (1999) menyatakan bahwa kecemasan merupakan respon psikologi terhadap stress yang mengandung komponen fisiologi. Perasaan takut atau tidak tenang yang sumbernya tidak dikenali. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik secara fisik atau psikologi (seperti harga diri, gambaran diri, atau identitas diri).

3.

Diagnosa Kebutuhan a. Ny. S Memberikan penjelasan pada ibu bahwa ketidaknyaman yang dialami karena adanya massa atau tumor dalam perutnya dan memberikan support mental bahwa sakitnya akan hilang setelah dilakukan operasi.

b. Ny. E Memberikan penjelasan pada ibu bahwa ketidaknyaman yang dialami karena adanya massa atau tumor dalam rahimnya dan memberikan support mental bahwa sakitnya akan hilang setelah dilakukan operasi.

Pada teori disebutkan interpretasi data meliputi diagnosa nomenklatur, diagnosa masalah dan diagnosa kebutuhan yang ditegakkan di bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur, diagnosa masalah dan diagnosa kebutuhan (Varney, 2006; h. 27). Identifikasi yang benar terhadap diagnosa masalah dan kebutuhan pasien berdasarkan interpretasi yang benar sesuai data-data yang dikumpulkan sehingga ditemukan masalah/ diagnosa yang spesifik (Mufdillah, 2008; h. 76). Pada kasus Ny. S dan Ny. E didalam menginterpretasikan data terdapat diagnosa nomenklatur, diagnosa masalah dan juga diagnosa kebutuhan. Sehingga penulis menyimpulkan bahwa tidak ada

kesenjangan antara teori dan kedua kasus tersebut.

C. Diagnosa Potensial Pada kasus Ny. S diagnosa potensial dari Kista Ovarii adalah perdarahan, putaran tangkai/torsi, infeksi pada tumor, robek dinding kista, dan perubahan keganasan. Demikian juga pada kasus Ny. E diagnosa dari Kista Ovarii adalah perdarahan, putaran tangkai/torsi, infeksi pada tumor, robek dinding kista, dan perubahan keganasan. Pada teori disebutkan diagnosa potensial yang terjadi pada kasus Kista Ovarii yaitu infeksi pada tumor, torsi, ruptur dari kista, supurasi dari kista, perubahan keganasan dan sindrom meigs (Wiknjosastro, 2005: 349). Diagnosa potensial berupa keganasan pada Kista Ovarii terjadi pada Ny. S. hal ini ditandai dengan pemeriksaan CA 12-5 yang hasilnya melebihi dari

batas normal yaitu 38,23 U/mL dari nilai rujukan CA 12-5 ≥ 35 satuan U/mL. Sedangkan pada Ny. E diagnosa potensial berupa keganasan tidak terjadi. Dengan demikian, antara teori dan kasus tidak terdapat kesenjangan karena pada kedua kasus tersebut diagnosa potensial dari Kista Ovarii adalah keganasan pada ovarium.

D. Antisipasi Tindakan Segera Pada kasus Ny. S dan Ny. E dengan Kista Ovarii dilakukan antisipasi dan tindakan segera dengan dilakukan kolaborasi dengan dr. SpOG yaitu dengan memasang infus RL 20 tetes/ menit, pemeriksaan darah lengkap, eksplorasi laparatomi dan pemberian terapi. Menurut Kiewellyn (2001; h. 250) antisipasi tindakan segera yang dilakukan pada kasus Kista Ovarii yaitu dengan melakukan kolaborasi dengan dr. SpOG yaitu pasang infus dan cek Hb (darah). Beberapa data bisa menunjukkan situasi darurat dimana bidan perlu bertindak segera demi keselamatan klien sambil menunggu instruksi dokter yang mungkin memerlukan konsultasi dengan tim kesehatan lain (Mufdillah, 2008: 77). Dengan demikian tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus, karena antisipasi tindakan segera yang telah dilakukan bidan adalah dengan melakukan kolaborasi dengan dr. SpOG untuk pemasangan infus, pemberian laparatomi. terapi, pemeriksaan penunjang, dan operasi eksplorasi

E. Intervensi Intervensi yang dilakukan pada kasus Ny. S dan Ny. E, yaitu: 1. Berikan informasi ibu dan keluarga tentang keadaan penyakit ibu 2. Lakukan inform consent 3. Berikan dukungan mental kepada ibu. 4. Pantau keadaan umum dan tanda-tanda vital meliputi kesadaran, tekanan darah, nadi, suhu dan respirasi. 5. Anjurkan ibu makan-makanan bergizi 6. Anjurkan ibu jaga personal hygiene 7. Anjurkan ibu istirahat cukup 8. Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi dan tindakan operasi eksplorasi laparatomi

Pada kasus Ny. S jenis operasi yang akan dilakukan adalah Salphingoooforektomi dimana pengangkatan ovarium disertai dengan pengangkatan tuba. Hal ini dikarenakan setelah dilakukan pemeriksaan CA 12-5 hasilnya melebihi dari batas normal yaitu 38,23 U/mL dari nilai rujukan CA 12-5 ≥ 35 satuan U/mL yang artinya Kista Ovarii yang diderita Ny. S mengarah keganasan sehingga jenis operasi yang sesuai adalah Salphingo-

ooforektomi. Sedangkan pada kasus Ny. E jenis operasi yang dilakukan adalah Ovarial Kistektomi dimana hanya kista dari ovarium yang diangkat dan ovarium yang normal masih dipertahankan. Hal ini dikarenakan Kista Ovarii yang diderita oleh Ny. E setelah dilakukan pemeriksaan tidak

menunjukkan adanya tanda-tanda keganasan sehingga jenis operasi yang sesuai adalah Ovarial Kistektomi. Menurut Wiknjosastro (2009; h. 350-351), Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Akan tetapi, jika tumornya besar atau ada komplikasi, perlu dilakukan

pengangkatan ovarium. Biasanya disertai dengan pengangkatan tuba (Salpingo-ooforektomi). Pada saat operasi kedua ovarium harus diperiksa untuk mengetahui apakah ada keganasan atau tidak. Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi dilakukan pemeriksaan sediaan yang dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli patologi anatomic untuk mendapatkan kepastian apakah tumor ganas atau tidak. Jika terdapat keganasan, operasi yang tepat ialah histerektomi dan salping-ooforektomi bilateral. Akan tetapi, pada wanita muda yang masih ingin mendapatkan keturunan dan dengan tingkat keganasan tumor yang rendah misalnya tumor sel granulose), dapat dipertanggung-jawabkan untuk mengambil risiko dengan melakukan operasi yang tidak seberapa radikal (Wiknjosastro, 2009; h. 350-351). Pada teori disebutkan rencana tindakan sesuai, namun dalam

perencanaan harus melakukan kolaborasi dengan dr. SpOG karena bukan kewenangan bidan dalam memberikan terapi. Sedangkan pada kewenangan bidan hanya dapat memberikan penyuluhan dan konseling, pemeriksaan fisik, pelayanan dan pengobatan pada keluhan ginekologi yang meliputi keputihan, perdarahan tidak teratur, dan penundaan haid (KepMenKes RI No. 900/ MenKes/ SK/ VII/ 2002).

Kompetensi bidan dalam melakukan asuhan kebidanan pada wanita atau ibu dengan gangguan reproduksi sesuai KepMenKes RI No. 369/ MenKes/ II/ 2007 yaitu penyuluhan kesehatan reproduksi PMS dan HIV/ AIDS, tanda dan gejala serta penatalaksanaan pada kelainan ginekologi meliputi keputihan, perdarahan tidak teratur dan penundaan haid. Dengan demikian, tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus dalam hal penanganan operasi, dimana kasus Kista Ovarii yang mengarah keganasan akan dilakukan operasi Salphingo-ooforektomi dan kasus Kista Ovarii yang tidak mengarah keganasan akan dilakukan operasi Ovarial Kistektomi. Dan tidak ditemukan pula kesenjangan antara teori dan kasus dalam hal kewenangan bidan dalam penanganan kasus Kista Ovarii karena bidan melakukan kolaborasi dengan dr. SpOG dalam penyusunan rencana tindakan dan bidan hanya memberikan penyuluhan dan konseling, dan pemeriksaan fisik pada kasus gangguan reproduksi khususnya kasus Kista Ovarii.

F.

Implementasi Implementasi yang dilakukan pada kasus Ny. S dan Ny. E, yaitu: 1. Memberikan informasi ibu dan keluarga tentang keadaan penyakit ibu 2. Memberikan dukungan mental kepada ibu. 3. Memantau keadaan umum dan tanda-tanda vital meliputi kesadaran, tekanan darah, nadi, suhu dan respirasi. 4. Mengajurkan ibu makan-makanan bergizi

5. Menganjurkan ibu jaga personal hygiene 6. Menganjurkan ibu istirahat cukup 7. Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi dan tindakan operasi eksplorasi laparatomi

Pada kasus Ny. S jenis operasi yang akan dilakukan adalah Salphingoooforektomi dimana pengangkatan ovarium disertai dengan pengangkatan tuba. Hal ini dikarenakan setelah dilakukan pemeriksaan CA 12-5 hasilnya melebihi dari batas normal yaitu 38,23 U/mL dari nilai rujukan CA 12-5 ≥ 35 satuan U/mL yang artinya Kista Ovarii yang diderita Ny. S mengarah keganasan sehingga jenis operasi yang sesuai adalah Salphingo-

ooforektomi. Sedangkan pada kasus Ny. E jenis operasi yang dilakukan adalah Ovarial Kistektomi dimana hanya kista dari ovarium yang diangkat dan ovarium yang normal masih dipertahankan. Hal ini dikarenakan Kista Ovarii yang diderita oleh Ny. E setelah dilakukan pemeriksaan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda keganasan sehingga jenis operasi yang sesuai adalah Ovarial Kistektomi. Menurut Wiknjosastro (2009; h. 350-351), Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Akan tetapi, jika tumornya besar atau ada komplikasi, perlu dilakukan

pengangkatan ovarium. Biasanya disertai dengan pengangkatan tuba (salpingo-ooforektomi). Pada saat operasi kedua ovarium harus diperiksa untuk mengetahui apakah ada keganasan atau tidak. Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi dilakukan pemeriksaan sediaan yang

dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli patologi anatomic untuk mendapatkan kepastian apakah tumor ganas atau tidak. Jika terdapat keganasan, operasi yang tepat ialah histerektomi dan salpingooforektomi bilateral. Akan tetapi, pada wanita muda yang masih ingin mendapatkan keturunan dan dengan tingkat keganasan tumor yang rendah misalnya tumor sel granulose), dapat dipertanggung-jawabkan untuk mengambil risiko dengan melakukan operasi yang tidak seberapa radikal (Wiknjosastro, 2009; h. 350-351). Pada teori disebutkan rencana tindakan sesuai, namun dalam

perencanaan harus melakukan kolaborasi dengan dr. SpOG karena bukan kewenangan bidan dalam memberikan terapi. Sedangkan pada kewenangan bidan hanya dapat memberikan penyuluhan dan konseling, pemeriksaan fisik, pelayanan dan pengobatan pada keluhan ginekologi yang meliputi keputihan, perdarahan tidak teratur, dan penundaan haid (KepMenKes RI No. 900/ MenKes/ SK/ VII/ 2002).

Kompetensi bidan dalam melakukan asuhan kebidanan pada wanita atau ibu dengan gangguan reproduksi sesuai KepMenKes RI No. 369/ MenKes/ II/ 2007 yaitu penyuluhan kesehatan reproduksi PMS dan HIV/ AIDS, tanda dan gejala serta penatalaksanaan pada kelainan ginekologi meliputi keputihan, perdarahan tidak teratur dan penundaan haid. Dengan demikian, tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus dalam hal penanganan operasi, dimana kasus Kista Ovarii yang mengarah keganasan dilakukan operasi Salphingo-ooforektomi dan kasus Kista Ovarii yang tidak mengarah keganasan dilakukan operasi Ovarial Kistektomi. Dan

tidak ditemukan pula kesenjangan antara teori dan kasus dalam hal kewenangan bidan dalam penanganan kasus Kista Ovarii karena bidan melakukan kolaborasi dengan dr. SpOG dalam melaksanakan rencana tindakan dan bidan hanya memberikan penyuluhan dan konseling, dan pemeriksaan fisik pada kasus gangguan reproduksi khususnya kasus Kista Ovarii

G. Evaluasi Pada kasus Ny. S dengan Kista Ovarii didapatkan hasil akhir pada tanggal 15 Februari 2012 yaitu Ny. S dalam keadaan baik dan pasien sudah tidak merasakan nyeri perut bagian bawah, luka bekas operasi tidak ada nanah dan pasien diperbolehkan pulang serta disarankan melakukan kunjungan ulang 1 minggu kemudian untuk memeriksakan keadaanya kembali dan pada kasus Ny. E dengan Kista Ovarii didapatkan hasil akhir pada tanggal 20 Februari 2012 yaitu Ny, E dalam keadaan baik dan sudah tidak merasakan nyeri perut bagian bawah, luka operasi sudah kering dan pasien diperbolehkan pulang serta disarankan melakukan kunjungan ulang 1 minggu kemudian atau bila ada keluhan. Pada kasus Ny. S jenis operasi yang akan dilakukan adalah Salphingoooforektomi dimana pengangkatan ovarium disertai dengan pengangkatan tuba. Hal ini dikarenakan setelah dilakukan pemeriksaan CA 12-5 hasilnya melebihi dari batas normal yaitu 38,23 U/mL dari nilai rujukan CA 12-5 ≥ 35 satuan U/mL yang artinya Kista Ovarii yang diderita Ny. S mengarah keganasan sehingga jenis operasi yang sesuai adalah Salphingo-

ooforektomi. Sedangkan pada kasus Ny. E jenis operasi yang dilakukan adalah Ovarial Kistektomi dimana hanya kista dari ovarium yang diangkat dan ovarium yang normal masih dipertahankan. Hal ini dikarenakan Kista Ovarii yang diderita oleh Ny. E setelah dilakukan pemeriksaan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda keganasan sehingga jenis operasi yang sesuai adalah Ovarial Kistektomi. Menurut Wiknjosastro (2009; h. 350-351), Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Akan tetapi, jika tumornya besar atau ada komplikasi, perlu dilakukan

pengangkatan ovarium. Biasanya disertai dengan pengangkatan tuba Salpingo-ooforektomi). Pada saat operasi kedua ovarium harus diperiksa untuk mengetahui apakah ada keganasan atau tidak. Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi dilakukan pemeriksaan sediaan yang dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli patologi anatomi untuk mendapatkan kepastian apakah tumor ganas atau tidak. Jika terdapat keganasan, operasi yang tepat ialah histerektomi dan Salpingo-ooforektomi bilateral. Akan tetapi, pada wanita muda yang masih ingin mendapatkan keturunan dan dengan tingkat keganasan tumor yang rendah misalnya tumor sel granulosa), dapat dipertanggung-jawabkan untuk mengambil risiko dengan melakukan operasi yang tidak seberapa radikal (Wiknjosastro, 2009; h. 350-351). Setelah Ny. S dan Ny. E dioperasi, dilakukan pemeriksaan Patologi Anatomi dengan sampel kista tersebut dan didapatkan hasil yaitu jenis kista

Ny. S adalah Cystadenoma Musinosum Papiler Ovarium sedangkan jenis kista Ny. E adalah Kista Endometriotik Ovarium. Berdasarkan teori, tindakan untuk memeriksa apakah rencana yang dilakukan benar-benar mencapai tujuan yaitu pasien telah sembuh dari penyakit yang diderita (Varney, 2006; h. 28). Evaluasi merupakan analisis respons pasien terhadap intervensi yang telah diberikan (Hidayat, 2001; h. 57). Dengan demikian, tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus dalam hal penanganan operasi, dimana kasus Kista Ovarii yang mengarah keganasan telah dilakukan operasi Salphingo-ooforektomi dan kasus Kista Ovarii yang tidak mengarah keganasan telah dilakukan operasi Ovarial Kistektomi. Dan tidak ditemukan pula kesenjangan antara teori dan kasus dalam hal evaluasi atau hasil tindakan yang telah dilakukan, karena setelah melakukan asuhan pada kasus Ny. S dan Ny. E dengan Kista Ovarii, pada evaluasi atau hasil tindakan sudah dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan dan hal ini sesuai harapan dari tenaga kesehatan.

BAB V PENUTUP

A. Simpulan Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada kasus Kista Ovarii di RSUD dr. Soesilo Slawi Kabupaten Tegal pada tanggal 6 Februari 2012 sampai 15 Februari 2012, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut, yaitu: 1. Pelaksanaan asuhan kebidanan pada wanita yang menderita Kista Ovarii di RSUD dr. Soesilo Slawi Kabupaten Tegal dapat dilakukan melalui proses pendekatan manajemen kebidanan. 2. Dalam kasus Kista Ovarii, bidan mampu mengkaji secara menyeluruh data subyektif dan data obyektif serta membantu pemeriksaan penunjang sesuai dengan kebutuhan. 3. Dalam penanganan kasus Kista Ovarii, bidan mampu menginterpretasi data yaitu diagnosa nomenklatur, diagnosa masalah, dan diagnosa kebutuhan yang didasarkan pada data dasar. 4. Dalam mengantisipasi diagnosa potensial yang akan terjadi yaitu keganasan, bidan harus mencegah dengan cara pemberian terapi yang sesuai dan mampu merumuskan penanganan segera. 5. Dalam proses antisipasi segera untuk menangani masalah yang dibutuhkan pasien harus sesuai dengan prosedur yang ada, dan bidan melakukan kolaborasi dengan dr. SpOG agar mendapat rencana asuhan yang menyeluruh.

6. Dalam penyusunan rencana yang akan dilakukan guna menangani masalah Kista Ovarii diperlukan persetujuan oleh bidan dan klien. Dalam kasus Ny. S dan Ny. E dengan Kista Ovarii bidan melakukan rencana asuhan secara mandiri yaitu observasi KU, TTV, pasang infus RL, beri support mental, beri KIE dan anjurkan ibu untuk istirahat cukup. Rencana tindakan dengan kolaborasi serta rujukan dengan dr. SpOG yaitu untuk menegakkan diagnosa dan tindakan operasi. 7. Dalam melakukan pelaksanaan rencana yang telah disusun pada intervensi, bidan melakukan tindakan asuhan kebidanan secara mandiri dan kolaborasi dengan dr. SpOG. Dalam hal ini bidan melakukan kolaborasi dengan dr. SpOG, tetapi bidan tetap bertanggungjawab dalam pelaksanaan asuhan bersama. 8. Evaluasi asuhan kebidanan yang diberikan pada Ny. S dengan Kista Ovarii yang memerlukan penanganan sesuai dengan protap yang ada dapat berhasil karena pasien tidak merasakan nyeri perut bagian bawah, tidak ada benjolan dalam perut, dan ibu melakukan aktivitas seperti biasa. Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek. Setelah Ny. S dan Ny. E dioperasi, dilakukan pemeriksaan Patologi Anatomi dengan sampel kista tersebut dan didapatkan hasil yaitu jenis kista Ny. S adalah Cystadenoma Musinosum Papiler Ovarium sedangkan jenis kista Ny. E adalah Kista Endometriotik Ovarium.

B. Saran Berdasarkan tinjauan, pembahasan dan kesimpulan pada kasus Asuhan Kebidanan pada Gangguan Reproduksi dengan Kista Ovarii. Penulis dapat memberikan saran yang diharapkan dapat berguna bagi : 1. Petugas Kesehatan/ Bidan/ Dokter a. Dapat memberikan informasi yang jelas dan akurat kepada klien tentang kondisi yang dialami oleh klien dengan Kista Ovarii. b. Dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan standar

pelayanan dengan cepat dan akurat terhadap kasus gangguan reproduksi khususnya Kista Ovarii agar tercapai pelayanan terhadap kasus Kista Ovarii yang berkualitas dan aman. c. Dapat dijadikan acuan bagi tenaga kesehatan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan, terutama pada kasus Kista Ovarii agar pelayanan yang komprehensif dan aman dapat tercapai. d. Dalam penanganan kasus Kista Ovarii diharapkan dokter Sp.OG melakukan tindakan operasi sesuai dengan teori yang ada, sehingga hak pasien untuk sembuh sempurna tercapai dan meminimalkan kesalahan dalam lingkup praktek kesehatan.

2. Klien dan keluarga a. Klien mengetahui penyakit yang sedang dialaminya yaitu Kista Ovarii, dan menyadari bahwa penyakitnya memerlukan penanganan oleh tenaga kesehatan sehingga tidak menimbulkan komplikasi yang dapat membahayakan klien.

b. Klien dan keluarga dapat mengetahui bahwa dengan pola hidup yang sehat seperti makan makanan bergizi dan seimbang, berolahraga secara teratur, dan menghindari pola hidup yang tidak sehat seperti makan makanan siap saji, merokok dan minum-minuman beralkohol dapat mencegah dari penyakit gangguan reproduksi khususnya Kista Ovarii. c. Diharapkan keluarga mengerti tentang penyakit gangguan reproduksi khususnya Kista Ovarii yang dialami oleh klien sehingga dapat membantu perawatan klien selanjutnya setelah pulang ke rumah. Keluarga juga dapat mengetahui tanda dan gejala dari Kista Ovarii sehingga dapat mengetahui secara dini apabila menemukan tanda dan gejala dari Kista Ovarii tersebut

3. Akademik Diharapkan akademik dapat membantu dalam penyediaan sarana berupa referensi atau buku sumber tentang gangguan reproduksi khususnya tentang Kista Ovarii yang lebih memadai sehingga

mempermudah penulis dan mahasiswa lainnya dalam mencari bahan rujukan untuk pembuatan karya tulis selanjutnya.

4. Penulis Diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam melaksanakan asuhan kebidanan Kista Ovarii dan dapat mendeteksi secara dini kasus Kista Ovarii.

DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro, Hanifa. Ilmu Kandungan. Jakarta: Bina Pustaka; 2009 Derek Llewellyn dan Jones. Dasar-dasar Obstetri & Ginekologi. Jakarta: Hipokrates; 2002 M. Farid Aziz, Andrijono, dan Abdul Bari Saifuddin. Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi. Jakarta: Bina Pustaka; 2006 Ida Bagus Gde Manuaba. Dasar-dasar Operasi Ginekologi. Jakarta: EGC; 2004 James R. Scoot, dkk. Danforth Buku Saku Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Widya Medika; 2002 Chandranita Manuaba, dkk. Gawat Darurat Obstetri-Ginekologi & ObstetriGinekologi Sosial untuk Profesi Bidan. Jakarta: EGC; 2008 Helen Varney, Jan M. Kriebs, dan Carolyn L Gegor. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume 1. Jakarta: EGC; 2006 R. Patel. Lecture Notes: Radiologi. Jakarta: Erlangga; 2007 Errol R. Norwitz dan John O. Schorge. At a Glance Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Erlangga; 2007 Jonathan Gleadle. At Glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta: Erlangga; 2005 Eny Retna dan Tri Sunarsih. KDPK Kebidanan Teori dan Aplikasi. Jogjakarta: Nuha Medika; 2009 Asri Hidayat dan Mufdlilah. Catatan Kuliah Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Mitra Cendekia; 2009 Sudarti dan Afroh Fauziah. Buku Ajar Dokumentasi Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika; 2010 Suryani Soepardan. Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC; 2005 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 369/ MENKES/ SK/ III/ 2007 tentang Standar Profesi Bidan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1464/ MENKES/ PER/ X/ 2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan. _______________, Kista Ovarii. 2012. www.jansen.com _______________, Kista Ovarii. 2012. www.blogdokter.com