P. 1
Jurnal Scientia Februari 2011

Jurnal Scientia Februari 2011

|Views: 481|Likes:
Published by Priyono Haryono

More info:

Published by: Priyono Haryono on Feb 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/09/2014

pdf

text

original

SCIENTIA VOL. 1 NO.

1, 2011 ISSN : 2087-5045

Volume 1, Nomor 1, Februari 2011

ISSN : 2087-5045
Scie ntia, V ol. 1, N o. 1, 2011 ; halaman 1 – 58 ISSN : 2087-5045 Se kolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang

DAFTAR ISI

ANALISA KANDUNGAN FLAVONOID DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI REMPAH TUMBUHAN OBAT SUMATERA BARAT Deddi Prima Putra dan Verawati ISOLATION OF Vibrio parahaemolyticus FROM BEEF MARKETED IN PADANG, IDENTIFICATION TARGETED ON toxR GENE AND AMPLI FICATION OF tdh AND trh GENES ON ISOLATES USING POLIMERASE CHAIN REACTION Eka Fitrianda, Marlina dan M. Husni Mukhtar EFEKT IFITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NENAS (Ananas comosus L.Merr) SEBAGAI ANTIP LAK DALAM PASTA GIGI Fif i Harmely, Henny Lucida dan M. Husni Mukhtar FOR MULASI KRIM E KSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR ( Ipomea batatas.L.)UNTUK PENGOBATAN LUKA BAKAR Farida Rahim, Mimi Aria dan Nurwani P.A PENGARUH PE MBERIAN KALSIUM, VITAMIN D DAN ZAT BESI TERHADAP KADAR KALSIUM SERUM TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) GALUR WISTAR Erina Masri AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL BIJI JINTAN HITAM (Nigella sativa Linn.) TERHADAP TITER ANTIBODI DAN JUMLAH SEL LEUKOSIT PADA MENCIT PUTIH JANTAN Yufri Aldi dan Suhatri PENETAPAN POLA RESISTENSI ANTIBIOTIKA Vibrio parahaemolyticus HASI L ISOLASI DARI CUMI-CUMI (Loligo vulgaris) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serratta) Ria Afrianti, Marlina dan M. Husni Mukhtar AKTIVITAS ANTI INFLAMASI DAR I EKSTRAK ETANOL DAUN BUNGA KEMBANG BULAN (Tithonia diversifolia A. Gray) TERHADAP MENCIT PUTI H BETINA Verawati, Mimi Aria dan Novicaresa M PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR DAN LEMARI PENDINGIN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN PADA DADIH KERBAU DENGAN METODA KJELDAHL Regina Andayani, Revi Yenti dan Wiwit Gustiva PENGARUH PERBANDINGAN ETANOL AIR SEBAGAI PE LARUT EKSTRAKSI TERHADAP PEROLEHAN KADAR FENOLAT DAN DAYA ANTIOKSIDAN HERBA MENIRAN (Phylantus niruri.L.) B.A. Martinus dan Harrizul Riva’i

1 -7

8 -1 3

14-20

21-26

27-34

35-41

42-46

47-52

53-58

59-64

Scientia , Vol. 1, No. 1, Februari 2011 ; halaman 1 – 64, ISSN : 2087-5045 Sekola h Tinggi Farma si Indonesia (STIFI) Perintis Padang

SC IENT IA
JURNAL FARMASI DAN KESEHATAN
TERBIT DUA KALI SE TAHUN SETIAP BULAN FEBRUARI DAN AGUSTUS

D E W AN RE D A KSI
Penanggung Jawab : Prof. H. Syahriar Harun, Apt Dewan Penyunting : Prof.H. Syahriar Harun,Apt Prof.DR.H. Amri Bakhtiar,MS,DESS,Apt Pemimpin Umum : Prof.DR.H. Almahdy, MS, Apt DR.H.M. Husni Mukhtar,MS, DEA, Apt DR.H.M. Husni Mukhtar, MS, DEA, Apt DR.Hj. Marlina, MS, Apt Redaktur Pelaksana : Verawati, M.Farm, Apt Drs. Yufri Aldi, MSi, Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt Drs. B.A. Martinus , MSi Hj. Fifi Harmely, M.Farm ,Apt Sekretariat : Farida Rahim, M.Farm, Apt Afdhil Arel, S.Farm, Apt Revi Yenti, M.Si, Apt Khairul Verawati, M.Farm, Apt Ria Afrianti, M.Farm ,Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt

Penerbit : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang ISSN : 2087-5045 Alamat Redaksi/Tata Usaha STIFI Perintis Jl. Adinegoro Km. 17 Simp. Kalumpang Lubuk Buaya Padang Telp. (0751)482171, Fax. (0751)484522
e-mail : stifi_perintis@yahoo.co.id website : www.stifi-padang.ac.id

dan arterosklerosis.62. hewan.09 µg/ml. The spesieses are Jahe (Zingiber officinale Rosc). The total flavonoid content was measured using colorimetric with alumunium chloride used as complexing agent and quercetin used as standard compound. Rempah tumbuhan obat juga berpotensi besar memerangi sederet panjang penyakit dan masalah kesehatan seperti kanker. Kunyit (Curcuma domestica Val) were 0. 69. Verawati2 Fak. Pada umumnya obat asli Indonesia belum mempunyai data klinik dan penggunaannya hanya berdasarkan pengalaman. Pengolahan obat asli Indonesia masih sederhana dengan menyeduh bahan tumbuhan kering atau segar dengan air panas. The total flavonoid content and antioxidant activity were measured on total ethanolic extract. Pemicu timbulnya penyakit-penyakit tersebut salah satunya adalah akibat radikal bebas (Rungkat. kemudian air seduhan ini diminum. liphofilic fraction and hydrophilic fraction of each species.77 µg/g respectively (quercetin equivalent).08 and 71. sehingga manfaat dan keamanannya dapat dipertanggungjawabkan. 109. Dengan demikian tumbuhan obat asli Indonesia dapat dikembangkan menjadi fitofarmaka (Depkes.21 and 47. while IC50 of ethanolic extract and hydrophilic fraction of pala were 50. IC50 of jahe against 20 µg/ml DPPH were 80. liphofilic fraction and hydrophilic fraction respectively. The total flavonoid content of Jahe (Zingiber officinale Rosc). 2STIFI Perintis Padang ABSTRACT Antioxidant activity and total flavonoid content of five medicinal plant specieses of West Sumatera have been measured. and Pala (Myristica fragrans Houtt). 1981). jantung. Lengkuas (Alpinia Galanga Linn). Makanan seharihari kita mengandung paling tidak satu jenis rempah. Keywords : Antioxidant. Kunyit (Curcuma domestica Val). diabetes melitus. Rempah punya arti lebih dari sekedar penambah rasa hidangan. Flavonoid.98 µg/ml for total ethanolic extract. Reaksi berantai ini dapat menimbulkan kerusakan sel yang berujung pada mutasi sel dan apabila 1 . Oleh karena itu bahan obat asli Indonesia perlu distandarisasi. 1994).85. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 ANALISA KANDUNGAN FLAVONOID DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI REMPAH TUMBUHAN OBAT SUMATERA BARAT 1 Deddi Prima Putra1. Untuk mencapai kestabilan. Radikal bebas adalah senyawa kimia yang mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan. medicinal plants PENDAHULUAN Obat asli Indonesia merupakan obat yang berasal dari tumbuhan. Pala (Myristica fragrans Houut). 19.The examination of antioxidant activity was carried out by spectrophotometry UV-Visible using DPPH reagent. IC50 of ethanolic extract and hydrophilic fraction of kunyit were 68. molekul harus mencari elektron lain sebagai pasangan. 1.67 µg/ml.The result showed that these three plants have highest antioxidant activity. 1 NO. 0.SCIENTIA VOL.35. Rempah-rempah sudah lama dikenal di Indonesia.54. Senyawa ini bersifat tidak stabil dan sangat reaktif. Farmasi Universitas Andalas. atau bahan mineral. Kencur (Kaemferia galanga Linn).

Salah satu sumber antioksidan alam yang terdapat dalam tanaman adalah flavonoid yang bisa ditemukan pada beberapa tanaman dari Famili Zingiberaceae seperti rimpang kunyit (Curcuma domestica.1997). Houtt). secara alami tubuh mempunyai benteng yang dapat mencegah serangan radikal bebas tersebut yaitu enzim (katalase) ataupun antioksidan yang berasal dari luar tubuh yang umumnya berasal dari makanan. botol. Quersetin. rak tabung reaksi. Val). antioksidan dapat menyelamatkan sel-sel tubuh dari kerusakan. labu rotary. 1992. akibat serangan radikal bebas (Karyadi. a. 1 NO. Bahan Sampel rempah-rempah: rimpang kunyit (Curcuma domestica.. dan dari tanaman famili Myristicaceae seperti buah Pala (Myristica fragrans. etanol 96%. spektrofotometri UVVis Pharmaspec 1700 (shimadzu®). Pembuatan ekstrak etanol total (ekstrak total): 5 gram sampel diekstrak dengan 25 ml etanol 96% selama 2 x 24 jam. Antioksidan alam lebih disukai karena efek sampingnya lebih kecil. spatel. 2001. kapas. Linn. heksan 96%. alumunium foil. yang masing-masing diambil dari daerah berbeda yaitu Alahan Panjang Bukittinggi dan Batu Sangkar. timbangan digital. Dengan kata lain. Willd). Rosc). 1. Linn) dan buah pala (Myristica fragrans. rotary Evaporator (BUCHI®). pipet mikro. 2004). Val). METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat Alat yang digunakan berupa seperangkat alat maserasi. pestisida serta radiasi sinar UV (Raharjo. Linn. pipet tetes. Silalahi. DPPH. Houtt) (Rukmana. AlCl3 10%. Natrium asetat 1 M. Radikal bebas dalam kehidupan sehari-hari dapat dijumpai seperti akibat metabolisme yang berlebihan atau berasal dari lingkungan seperti asap rokok.SCIENTIA VOL. tabung reaksi. Aquadest. rimpang jahe (Zingiber officinal. label. 1994. mesin penghalus (Brook Crompton®). Antioksidan dapat berasal dari alam maupun sintetik. Linn). 1999. Pembuatan Ekstrak Sampel Serbuk sampel sebanyak 5 g diekstraksi dengan menggunakan pelarut yang berbeda sehingga diperoleh 3 macam ekstrak. rimpang jahe (Zingiber officinale. polusi udara. Rukmana. Kegunaan utama dari antioksidan adalah menghentikan atau memutuskan reaksi berantai dari radikal bebas dengan cara menyediakan dirinya bereaksi dengan radikal bebas itu sendiri. vial. Youngson. metanol. rimpang kencur (Kaemferia galanga. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 merusak organ yang memiliki fungsi tertentu dapat menimbulkan penyakit degeneratif. 2005). Untuk menanggulangi efek dari radikal bebas ini. rimpang kencur (Kaemferia galanga. 1995). Kemudian 2 . corong. pisau. Aquadest. Rosc). maka dilakukan penelitian untuk menentukan kadar flavonoid total dalam rempah secara kolorimetri dengan menggunakan alumunium klorida sebagai pengompleks dan penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode radikal DPPH (Zhinshen. Molyneux. rimpang lengkuas (Alpinia galang. Erlemeyer berbagai ukuran. Berdasarkan potensi rempah tersebut sebagai obat dan adanya kandungan flavonoid didalamnya. bahan kimia beracun. rimpang lengkuas (Alpinia galanga. Willd).

6 g/ml) di dalam vial. maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental total.2 ml larutan sampel (1 mg/ml. kunyit. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental lipofil. sedangkan IC50 sampel dihitung dengan metoda analisa probit menggunakan finney. HASIL DAN PEMBAHASAN Penentuan Sampel Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH (Molyneux. 80. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental hidrofil.1 ml Na asetat 1M dan 2. kontrol Dengan menggunakan persamaan linear dari data stándar maka dapat dihitung IC50 stándar kuersetin 3 . Sebanyak 2 ml dari larutan ekstrak (1mg/ml) serta larutan standar kuersetin (100. Semakin kecil nilai IC50 maka semakin aktif sampel tersebut sebagai antioksidan. 0. Pembuatan ekstrak etanol setelah heksan (ekstrak hidrofil): ampas dari hasil ekstraksi dengan heksan diekstraksi lagi dengan etanol 96% sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam. Pembuatan ekstrak heksan (ekstrak lipofil): 5 gram sampel diekstrak dengan 25 ml heksan 96% selama 2 x 24 jam. d. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 b. lengkuas dan pala) didapatkan tiga sampel memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi yaitu jahe. Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum DPPH yaitu 517 nm. 0. kontrol – Abs.1 ml AlCl3 10 %.SCIENTIA VOL. Penentuan Total Kandungan Flavonoid c. Campuran larutan dihomogenkan dan dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. 1 NO. 40. 0.8 ml larutan DPPH (20 µg/ml). ditambah 3. Absorban kontrol yaitu DPPH (20 µg/ml) dalam metanol juga diukur. Sampel x 100 % Abs. 10. Campuran dikocok homogen lalu biarkan selama 30 menit. Serapan diukur pada panjang gelombang 415 nm. 50 dan 25 µg/ml) serta larutan stándar kuersetin (0. Aktivitas antioksidan sampel dinyatakan sebagai persentase inhibisi dihitung dengan rumus: Abs. 0. Aktivitas Antioksidan Setelah dilakukan penelitian mengenai analisa kandungan flavonoid total dan aktivitas antioksidan dari tanaman obat dan rempah Sumatera Barat didapatkan hasil bahwa dari 5 macam sampel rempah (jahe. kunyit dan pala. kencur.1.2. 2004). 0.8 ml air suling. 5 µg/ml) ditambah 0. Total kandungan flavonoid sampel dinyatakan sebagai kesetaraan gram kuersetin/100 gram sampel kering. 60. 100. 20. Ketiga rempah ini ditentukan IC50nya yakni konsentrasi sampel yang mampu merangkap radikal DPPH sebesar 50%.4. 1. Kandungan flavonoid total ditentukan dengan metode kolorimetri menggunakan Aluminium klorida.

55 4 .Lipofil 81.Bkt.31 49.Total 32.59 21.Hidrofil 79.97 3 Pala. Nilai IC50 sampel No 1 Nama sample Jahe.12 23.BS.58 58.72 29.61 29.68 Jahe.83 50. 1.Hidrofil 46.Hidrofil 140.04 89.Ap.27 60.93 26.SCIENTIA VOL.Bkt.3 Jahe.72 25.44 Pala.81 36.14 21.Total 90.18 15.Total 97.09 92.BS.BS.4 76.81 Kunyit.Bkt.Ap.38 44.BS.27 Kunyit.4 Jahe.Hidrofil 46.36 49.total 54.Bkt.92 Kunyit.22 39.41 69.54 52.58 58. 1 NO.Hidrofil 47.Ap.51 69.06 63.26 28.Ap.59 65.63 39.82 21.56 Jahe.50 8.Total 74.BS.44 Kunyit.Hidrofil 61.24 32.67 Jahe.96 36.95 57. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Tabel I.BS.89 47.Total 60.45 22.51 Kunyit.09 49.Total Konsentrasi 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 % Inhibisi 52.48 73.72 28.85 43.09 30.Bkt.62 Jahe.76 42.66 2 Kunyit.9 59.98 Jahe.18 43.12 85.Lipofil 57.38 23.Lipofil 68.95 78.Ap.08 35.72 IC50 90.54 17.

69 Pala.62 69. 1.81 36.999. total 3 Pala.70 µg/g diikuti kencur 0. batas kuantisasi 4.67 Aktivitas antioksidan 1g ekstrak setara mg kuersetin (mg) 182.017x dengan koefisien korelasi 0.98 68. Pada pengukuran flavonoid total tiap gram sampel kering setara kuersetin diperoleh kadar flavonoid total dari masing-masing sampel dimana kadar paling tinggi adalah pada ekstrak etanol kunyit 19.442 µg/ml).SCIENTIA VOL. total 2 Kunyit.114942 g/ml. simpangan baku 0.9 248.Hidrofil 81. jahe 0.84 µg/g. batas deteksi – 0.016 + 0.53 113. Aktivitas Antioksidan dari Sampel Setara mg Kuersetin No Nama sampel Nilai rata-rata IC50 aktivitas antioksidan terukur (µg/ml) 80.85 58.47 57.32 106.09 16.216 g/ml.Total 45.82 154.45 Pala. lipofil Kunyit hidrofil Pala.Bkt. maka diperoleh suatu nilai jumlah sampel yang akan memberikan aktivitas antioksidan yang setara dengan 1 mg kuersetin (IC50 kuersetin = 0. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 100 50 25 100 50 25 88.52 µg/g.06 71. Tabel II. hidrofil Kunyit.26 162. 1 NO. 5 . total 1 Jahe. hidrofil Pada pengukuran absorban flavonoid total untuk penentuan kurva kalibrasi kuersetin pada panjang gelombang 415 nm didapat persamaan regresi y = .09 50.21 47.54 µg/g.35 109. lipofil Jahe.92 µg/g.16 Jahe.0106371.0.56 31. lengkuas 0. lipofil Pala. pala 0.39 156.Bkt.8 Keterangan : Ap : Alahan Panjang BS : Batu Sangkar Bkt : Bukittinggi Dari data IC50 sampel dan IC50 stándar kuersetin.

1 NO.52 ± 0.Bkt.05 4. Kandungan Flavonoid total dari ekstrak total sampel Nama Sampel Konsentrasi Flavonid (µg/ml) 10.07 ± 45.Total Rata-rata ± SD Kunyit.39 ± 1.BS.Total Rata-rata ± SD 6 .70 0.71 8.27 ± 2.37 0.BS.AP.Total Jahe.03 9.50 ± 0.13 25.76 0.Total Rata-rata ± SD Kencur.Bkt.41 0.Total Kencur.26 0.Total Kunyit.BS.AP.60 0. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Tabel III.Bkt.85 1.84 0.91 0.AP.Total Lengkuas.09 0.Bkt.Total Pala.27 5.83 9.21 0.Total Rata-rata ± SD Pala.Total Rata-rata ± SD Lengkuas.43 22.Total Kunyit.49 0.Total Lengkuas.54 ± 0.96 4.Bkt.42 4. 1.SCIENTIA VOL.5 8.1 10.078 Jahe.62 8.51 157.66 19.BS.53 9.84 ± 0.Total Kencur.92 ± 0.99 142.64 Kadar Flavonoid tiap 5 g serbuk kering (µg/g) 0.03 11.Total Jahe.BS.14 0.93 0.60 4.02 6.67 124.85 ± 1.70 ± 7.55 71.AP.64 11.

F.. Temulawak Tanaman Rempah Obat.77. Kencur. Rukmana. Rungkat. 0. 2001. R.SCIENTIA VOL. aktivitas antioksidan dan penentuan kadar flavonoid total diketahui bahwa ekstrak yang kadar flavonoidnya tinggi mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi.85. The Journal of Indonesian Medical Association : II (5). Kanisius. Yogyakarta.. Kanisius. Mengcheng and W. J. 26(2). 1995.htm Molyneux. http//www. R. Jadi kemungkinan senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi adalah golongan flavonoid yang terdapat pada ekstrak polar atau fraksi hidrofil terutama pada jahe. Rukmana. Yogyakarta. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa dari 5 tanaman yang berasal dari 3 daerah. 7 . P. The Use of Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. Tecnol. Jakarta. J. Jakarta.. The determination of flavonoid contents in mulberry and their scavenging effects on superoxide radicals. kadar flavonoid yang tinggi terdapat pada kunyit. 1999. diterjemahkan oleh Susi Purwoko. 2004. Food Chem. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Dari data IC50. Ekstrak hidrofilik memberikan aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan ekstrak lipofilik.. 1. 2005.. Resep Sehat dan Umur Panjang. Youngson. Modifikasi Peraturan Perundang – undangan Obat Tradisiona. Silalahi. Radikal Bebas dan Patofisiologi Penyakit. 64: 555559. Jianming. 211-219. E..indomedia. 1981. 1-13. M.com/intisari /1997/juni/antioksidan. 1992. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI. Zhinshen. jahe dan pala setara kuersetin berturut-turut : 19. Tanaman Berkhasiat Antioksidan. Free Radicals and antioxidant Vitamin in Degenerative Disease. T. Jakarta.. Sci.54 g/g terhadap sampel kering. 1994.. R. 1 NO. Proseding Seminar : Senyawa Radikal dalam Sistem Pangan : Reaksi Biomolekuler. Raharjo.. Karyadi. Penebar Swadaya. Antioksidan. Bogor. Antioxidant : Vitamin C dan E For Health.. kunyit dan pala. 0. Dampak terhadap Kesehatan dan Penangkalan. J. 1994.

1 NO. Husni Mukhtar2 STIFI Perintis Padang. Terhadap 40 isolat tersebut dilakukan identifikasi menggunakan metoda Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mengamplifikasi gen toxR. Isolasi dilakukan dengan menggunakan media CHROMagarTM Vibrio. parahaemolitycus telah berhasil diisolasi dari sejumlah sampel daging sapi mentah yang dikoleksi di Pasar Raya Padang. whose production is encoded by the tdh and trh are the important virulence factors for the development of gastroenteritis. tdh. parahaemolyticus. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 ISOLATION OF Vibrio parahaemolyticus FROM BEEF MARKETED IN PADANG. in which the main symptoms include abdominal cramps. namun tidak ada satu isolatpun yang memiliki gen pengkode produksi toksin hemolisin baik tdh maupun trh. Another virulence factor. Therefore. parahemolyticus. trh. parahaemolyticus has also found 8 . V. usually associated with KP negative strains or with urease positive strains (Kelly and Stroh. toxR. Most strains of clinical V. TDH-related hemolysin (TRH). IDENTIFICATION TARGETED ON toxR GENE AND AMPLIFICATION OF tdh AND trh GENES ON ISOLATES USING POLIMERASE CHAIN REACTION 1 Eka Fitrianda1. 2Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRAK Sebanyak 40 isolat V.SCIENTIA VOL. 1997). Key words: Vibrio parahaemolyticus. The main clinical manifestation of infection due to V. Thermostable direct hemolysin (TDH) and the TDHrelated hemolysin (TRH). parahaemolyticus has become one of food contaminant pathogens with the highest prevalence in Asian countries (Pan et al. Based on the Shirai et al (1990) report. dengan metoda yang sama juga dilakukan amplifikasi terhadap gen pengkode produksi toksin hemolisin (tdh dan trh) yang merupakan faktor virulen utama pada bakteri tersebut. V. parahaemolyticus is gastroenteritis. parahaemolyticus hasil isolasi memiliki gen tox-R. Gen toxR merupakan gen yang sangat spesifik pada spesies V. nausea and vomiting. 1. M. molecular epidemiological studies show a close relationship between the hemolysin coding genes in these bacteria (tdh. Although V. parahaemolyticus is one of bacteria actively studied in various parts of the world because of its ability in causing diarrhea. Currently. parahaemolyticus was first isolated in food poisoning outbreak in Japan in early 1950s. Selanjutnya. trh INTRODUCTION V. the genes are referred to as the important virulence coding genes in V. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh V. parahaemolyticus produce major virulence factor namely thermostable direct hemolysin (TDH) and showed βhemolysis activity on Wagatsuma agar (KP positive strains). parahaemolyticus is a marine bacterium that has long been associated with diarrhea after eating raw or not cooked perfectly seafood. some recent researches showed that V. or both) with their ability in causing disease. 1989). Marlina2.

tdh and trh genes is polymerase chain reaction (PCR). parahaemolyticus. Another study conducted by Zulkifli et al (2009) on the cockles collected from rivers in Padang showed similar result. tris-borateEDTA (TBE). GoTaq DNA polymerase. The isolated strains carried hemolysin toxinproducing genes (tdh and trh) which are the major virulence factors of V. the elektrophoresis device. These cultures were inoculated using a needle loop onto surfaces of CHROMagarTM Vibrio previously been poured and allowed to solidify in a petri dish. distilled water. To avoid contamination. centrifugator (Eppendorf Minispin®). V. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 on food samples which are not seafood categories. this is due to the high sensitivity level of this method.5 mM dNTP solution. Sampling The test samples in this study were 15 raw beef samples. parahaemolyticus from beef samples and identified them by examining on their toxR gene. After incubated for 24 hours at 9 . Luria Bertani (LB) Broth.). micro pipette (Eppendorf®). samples were taken in a way directly entered by the merchant into sterile containers. 10X Ex Taq buffer solution. polaroid film. TDH D3: 5'CCACTACCACTCTCATATGC-3’ and TDH D5: 5'GGTACTAAATGGCTGACATC-3' for detection of tdh gene. laminar air flow (Esco®). the test sample. Luria Bertani (LB). 100 bp ladder. 2. The method used to identifying and amplifying tox-R.SCIENTIA VOL. NaCl. 1. Research conducted by Marlina et al (2007) for example. colony counter (Stuart scientific®). Parahaemolyticus AQ4037 (positive control for the toxR and trh genes). V. We also detected their virulent factors coding genes by amplificating tdh and trh genes on these isolates. CHROMagarTM Vibrio (CHROMagarTM). transilluminator. vortex (Mixer® VM-1000). PCR is a major breakthrough in molecular diagnostics. In this study we isolated V. parahaemolyticus AQ3815 (positive control for tdh gene. a blue dye. parahaemolyticus. parahaemolyticus Isolation Each sample (10 gram) was added in to 100 ml Salt Polimixin Broth (SPB) media and incubated at 37°C for 24 hours. incubator (Gallenkamp® ). TRH R2: 5'GGCTCAAAATGGTTAAGCG-3' and TRH R6: 5'CATTTCCGCTCTCATATGC-3' for detection of trh gene. 5X Colorless GoTaq Reaction. agarose. V. MATERIALS AND METHODS Equipments and materials PCR machine (Eppendorf Mastercyclergradient®). Samples were taken from traders in Pasar Raya Padang. and three pairs of primers. rotary shaker incubator (Bigger Bill Digital®). and lately has been widely used to identify genes from different species of bacteria including V. ethidium bromide. 1 NO. has successfully isolated these bacteria from pensi (Corbicula moltkiana prime) collected from lake Singkarak. Eppendorf tubes. immediately stored in containers and taken to the laboratory for testing. Salt Polimixin Broth (SPB). According to Gelfand et al (1998). namely: toxR-4: 5'GTCTTCTGACGCAATCGTTG-3' and toxR-7: 5'ATACGAGTGGTTGCTGTCATG-3' for the detection of toxR gene.

the results 10 . PCR component Component Buffer solutiona 2. the supernatant were removed. 1 ml LB broth culture centrifuged at 12. DNA template preparation Before the amplification of genes using PCR method. The supernatant were the DNA template to be used for amplification of genes by PCR method. Subsequently centrifuged at 12.4d 0. The suspension formed was heated for 10 minutes in boiling water and immediately put into the refrigerator with a temperature of 20ºC for 10 minutes.5d 2.000 rpm for 1 min. parahaemolyticus. tdh and trh genes Identification of toxR.5 mM dNTP Primer 1b Primer 2b Aquadest GoTaq DNA Polymerase DNA Template a Amount(μl) 5. For the detection of tdh and trh genes.SCIENTIA VOL. b Primer pairs are suitable for c each gene.000 rpm for 3 minutes and the supernatant were transferred into a new Eppendorf tube.0 15. The type and amount of each PCR components as shown in table below: Table I. Stage for tdh and trh genes amplification (33 cycles) Stage Predenaturation Denaturation Annealing Extention Elongation Temperatur e ( oC ) 96 94 55 72 72 Time (minute) 5 1 1 2 7 After all of the stages in the PCR process were completed. DNA of control and testing bacteria were extracted using boil cell extraction (BCE) method.5 7 Table III. Stage Predenaturation Denaturation Annealing Extention Elongation Stage for tox-R gene amplification (23 cycles) Temperature ( oC ) 96 94 63 72 72 Time (minute) 5 1 1. parahaemolyticus were done using PCR method. DNA template which had been prepared previously inserted into the Eppendorf tube for PCR machine and combined with other PCR components.0c 2.1 1. Amplification of toxR.0c 17. Each single suspected colony was inoculated into the Luria Bertani (LB) Broth containing 3% NaCl and incubated in a rotary shaker incubator at 37°C for 24 hours. 10x Ex Taq buffer solution for the amplification of toxR gene. purple colonies formed were suspected as colonies of V.0 1. d For the detection of toxR gene Eppendorf tube is then inserted into the PCR machine and amplification was performed using program which is suitable for detection of each gene as shown in table below: Table II. 1. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 37°C. 1 NO.0 1. while the sediment were added with 500 mL sterile distilled water and then suspended using vortex.5 1.0 5x Colorless GoTaq Reaction Buffer for the amplification of tdh and trh genes. tdh and trh genes in V.

The presence of suspected V. parahaemolyticus colonies from 3 of 15 raw beef samples which were examined. 1 NO. From 3 of 15 samples which were examined. toxR gene is a gene that is very specific on the V. tdh and trh amplification product were 368 bp. parahaemolyticus isolates: lane 1-11 were positive toxR isolates. out of total of 40 tested isolates. 11 . 1. parahaemolyticus with a higher level of differentiation compared to TCBS medium (Kudo etal. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 CHROMagar ™ Vibrio is a selective media for identification of V. 251 bp and 250 bp respectively. Figure 2. The PCR method to detect this gene has been reported (Lee et al. Results were then documented by polaroid film. Size estimation of each product was done through comparison with 100 bp ladder. Dileep et al (2003) also states that the detection of toxR gene by PCR method to detect V.SCIENTIA VOL. Electrophoresis result which was observed by UV transilluminator will form separate bands which were distinguished by the number of their base pairs (bp). toxR positive isolates showed 368 bp band in electrophoresis gel. RESULTS AND DISCUSSION We successfully isolated suspected V. lane 12 was positive control. parahaemolyticus colonies on ChromagarTM Vibrio. The size of toxR.5 mL/ml). we successfully isolated 40 suspected V. The 100 bp ladder was used as a marker for determining the size of amplification product. After the electrophoresis process was completed. Identification targeted on toxR gene was performed to all of these isolates using PCR method. Figure 1. 2001). FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 of this amplification were colored using blue dye and then separated along electrophoresis process on 1% agarose gel in 1x TBE. Electrophoresis gel of toxR positive V. In this study. parahemolyticus species. lane 13 was 100 bp ladder. where all of CHROMagar™ Vibrio isolates from cockles gave positive results on testing of toxR using PCR method. parahaemolyticus. agarose gel was stained using ethidium bromide solution (0. all (100%) showed toxR positive results. Suspected V. Electrophoresis was performed at 100 V voltage for 20 minutes use 1x TBE as the mobile phase. 1995) as a very useful method to confirm the presence of this species in samples. parahaemolyticus in samples characterized by the formation of purple colonies on the surface of CHROMAgarTM Vibrio medium. parahaemolyticus is more sensitive than biochemical identification. The same result have been reported by Zulqifli et al (2009).

2007). because V.. Similarly. 2000). Kumar. 2000. Similar results have also found in other study (Marlina et al. 1. parahaemolyticus has been isolated from various places around the world. A study recently conducted by Sujeewa et al (2009) succeeded in isolating V. none of the isolates has tdh or trh gene. and New York (1997 and 1998). Appl Environ Microbiol 66:4649–54. but none of them has tdh or trh gene. parahaemolyticus are tdh and trh. Nishibuchi and I. Dileep. parahaemolyticus isolates carrying tdh gene were isolated from Corbicula moltkiana. 1997). 2009. parahaemolyticus isolates isolated from beef samples marketed in Pasar raya Padang were having toxR gene. Malaysia. Y.SCIENTIA VOL. J. V. only few V. Environmental investigations of Vibrio parahaemolyticus in oysters after outbreaks inWashington. C. parahaemolyticus also been isolated from coastal waters of western United States (Okuda et al. Marlina et al. Indonesia (Zulkifli et al. It makes the results of this research is interesting for further explored. parahaemolyticus was isolated from cockles live in rivers around Padang. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Previously. Karunasagar. parahaemolyticus from seawater in Peninsular. This result suggests that V. a species which lives in lake Singkarak. CONCLUSION All of 40 V. M. parahaemolyticus isolates in this study are not virulent isolates. parahaemolyticus from shrimp samples in Malaysia. V. more than 90% of V. Applicationof polymerase chain reaction for detection of Vibrio parahaemolyticus associated with tropical 12 . 1 NO. 2003. As a result. 2009). parahaemolyticus were isolated from marine waters or food samples from the sea. or is the result of crosscontamination when samples are marketed in the market. Tanil et al (2005) succeeded in isolating V. In contrast. Furthermore. Texas. S. V. parahaemolyticus isolates from clinical samples have tdh or trh gene (DePaola et al.. BIBLIOGRAPHY DePaola. where a number of V. where the overall toxR positive isolates have no tdh or trh gene (Zulkifli et al. parahaemolyticus isolates were isolated in samples which were not derived from the sea environment. parahaemolyticus isolates carrying the virulent genes (tdh or trh). other publication also showed that V. Major virulence factor coding genes in V. W. Generally. 2007). A. Kaysner. parahaemolyticus isolated from nonclinical samples are rarely detected. The presence of these genes are represent the level of pathogenicity of V. studies are necessary to investigate whether the presence of V. These such result also seen in V. Bowers and D. Cook. and they are called virulent isolates. 2009). According to Nishibuchi and Kaper (1995). because V. 2000). However. A. parahaemolyticus in samples is the result of bacterial adaptation capabilities on low-salt environment. parahaemolyticus previously isolated from cockle samples in Padang. The existences of these genes in V. Kumar. parahaemolyticus isolates. H. In this study. V. 40 toxR positive isolates were detected for the present of tdh and trh genes using PCR method. some other studies seem to successfully detect the presence of these virulence genes in environmental samples (Sujeewa et al. parahaemolyticus is a bacteria that normally lives in this habitat (DePaola et al.

1990.. T.. K. M. Napis. 1995. Wang. 2009. H. Gelfand. A. Food-borne disease outbreaks due to bacteria in Taiwan. A. 2007. J. Southeast Asian J Trop Med Public Health. A. 1998. Nishibuchi. 4. Nishibuchi.. M. Characterization of vibrio parahaemolyticus isolated from coastal seawater in peninsular Malaysia.. Janda and M. and C. J. N.Y. Hirayama. Zunita Zakaria. Y. Infect. Detection of tdh and trh genes in Vibrio parahaemolyticus isolated from Corbicula moltkiana prime in West Sumatera Indonesia. Nishibuchi. Napis. S. Radu. Analysis of the Thermostable Direct Hemolysin (tdh) Gene and the tdh-Related Hemolysin (trh) Genes in Urease-Positive Strains of Vibrio parahaemolyticus Isolated on the West Coast of the United States. H. Stroh.. Abbott. 1995. and J. 38:349-355. H. S. 63:2093–2099. Nishibuchi. Lee. S. M.SCIENTIA VOL. 1. J. 35: 1965–1971 Pan. Microbiol. Kumagai. S. Infect. Prevalence of toxic genes of Vibrio parahaemolyticus in shrimps (Penaeus monodon) and culture environment. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 seafoods and coastal environment. J. S. L. Innis. 1997. 1989. 58: 3568–3573. Thermostable direct hemolysin gene of Vibrio parahaemolyticus: a virulence gene acquired by a marine bacterium. 2005. Identification of Vibrio parahaemolyticus isolates by PCR targeted to the toxR gene and detection of virulence genes. M. Pan and C. K. Kqueen. M. D. Takeda. Nakamoto. Journal of Clinical Microbiology. Kaper. Nishibuchi. Immun. M. Immun. Laina. Y. Applied and Environmental Microbiology 61: 1311-1317. M. Nakabayashi. Chen. M. 27: 2820-2822 Lee. B. C. Marlina. A. Academic Press. Kelly. Y. Sninsky. Mutalib. S.F. S.. Okuda. W. 1 NO.R. J. S. and M. 2009. Clin. R. Lesley and A. M. B. T. Maurice and J. Ishibashi. Radu. S. Alitheen. T. and M. Gunsala. N. 1997. Sujeewa. 35: 1260-1262 Shirai. White. J. T. Rahim. New York. Ito. C. S. 1986 to 1995. K. and E. Urease-positif. Southeast Asian J Trop Med Public Health. Yeap. J. A. Norrakiah and M. International Food Research Journal 16: 289296 13 .. Microbiol. Zulkifli. PCR protocols: A guide to methods and amplifications. C. International Food Research Journal 16: 8995 Tanil. Molecular epidemiologic evidence for association of thermostable direct hemolysin (TDH) and TDH-related hemolysin of Vibrio parahaemolyticus with gastroenteritis. H. B. W. Y.. Kanagawanegatif Vibrio parahaemolyticus from patients and the environment in the Pacific Northwest. S. W. K. Sequence of a cloned pR72H fragments and its use for detection of Vibrio parahaemolyticus in shell fish with PCR. L. G. Chien. B. Lett Appl Microbiol 36:423–7. Raha. T. 36 No. Horng. Clin. B. Radu.

M. Proses ekstraksi bromelain dilakukan secara maserasi dalam larutan buffer posfat pH 7. salah satunya adalah bromelain dari nenas (Ananas comosus L. Plak tersusun oleh 80% air dan 20% sisanya terdiri dari beberapa komponen seperti protein 40–50%. The 5% crude bromelain in toothpaste has antiplaque effectiveness that is not significantly different from control (p <0. Plak gigi adalah lapisan lunak yang terbentuk dari campuran sisa-sisa makanan serta bakteri yang diperantarai oleh saliva yang melekat pada permukaan gigi. maka perlu dicari alternatif formula pasta gigi dari bahan alam.0 (Darwis dan Sakara. 1 NO.84 % (F3C). Jika plak tidak dibersihkan. proteolytic activity.05). 1982). 1990.1982). Hasil Survei Kesehatan Nasional 2002 menunjukkan prevalensi gigi berlubang di Indonesia berkisar 60%. Merr) SEBAGAI ANTIPLAK DALAM PASTA GIGI Fifi Harmely1. Keyword: crude bromelain. Merr var. 14 . 2008).SCIENTIA VOL.05) and significantly different from the formula base (p> 0. karbohidrat 13–17% . penderita gigi berlubang jumlahnya tidak sedikit. toothpaste. yang dihitung dari berat kering plak (Wilkinson. Munurut Pakaj (2004). yang berarti dari sepuluh orang enam diantaranya menderita gigi berlubang (Nugraha. 2Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRACT The effectivity of crude bromelain from pineapple steam as antiplaque has been tested using plaque control record methods. maka lama-kelamaan mikroorganisme yang berkontak pada permukaan gigi akan menyebabkan karang gigi (kalkulus) dan menimbulkan karies pada gigi (Cracken. Queen). Husni Mukhtar2 1 STIFI Perintis Padang. antiplaque effectivity PENDAHULUAN Di Indonesia. Hal ini juga dipertegas dengan adanya intruksi oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan untuk menarik seluruh produk pasta gigi untuk anak-anak yang masih mengandung fluorida di atas 500 ppm. lipid 10–14% dan abu 10% serta komponen mineral seperti kalsium dan posfor. Henny Lucida2. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 EFEKTIFITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NENAS (Ananas comosus L. Untuk mencegah kerusakan gigi dibutuhkan suatu zat antiplak dalam pasta gigi yang saat ini erat kaitannya dengan kandungan fluorida. 1. The toothpaste formula was consisted of 5% crude bromelain and 40% abrasive calcium carbonate. Ramli et al. The proteolytic activity was 6. Lapisan lembut ini akan membentuk suatu matriks pada gigi dimana bakteri dapat melekat. Karena pemakaian pasta gigi yang mengandung fluorida mempunyai efek samping tertentu.584 unit/mg equivalent 98. 1990). pasta gigi yang mengandung fluorida tidak cocok untuk anak-anak berusia di bawah 4 tahun.

karbohidrat dan lipid dari makanan. dental plague disclosing gel (Global Care) dan air suling. timbangan analitik (Pioneer™). yang dicatat adalah ada atau tidaknya deposit yang terwarnai pada batas dentogingiva pada empat permukaan (Dalimunthe 2008 ). Pelaksanaan Penelitian Pembuatan Formula Pasta Gigi Bromelain (Lieberman 1989. perlu dilakukan pengujian efektifitas antiplak bromelain kasar dan dibandingkan dengan formula basis dan sediaan pembanding kepada sukarelawan. Berdasarkan hal tersebut. METODE PENELITIAN Alat Alat-alat gelas standar laboratorium (Pyrex®). pemeriksaan gigi sebelum dan setelah pemakaian pasta gigi dilakukan oleh dokter gigi. Untuk pengukuran terlebih dahulu gigi diwarnai dengan perwarna plak (disclosing solution. Dekstran merupakan produk metabolit dari bakteri. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Penggunaan enzim di dalam pasta gigi ditujukan untuk membantu pemecahan protein. bahan tambahan formulasi (Brataco Chemika). 1982). Suatu produk bermerek dagang yang sudah beredar adalah pasta gigi Enzim®. 1. Sebelum perlakuan kepada sukarelawan terlebih dahulu diberikan penjelasan tentang tujuan penelitian dan informasi lain yang terkait dengan pemakaian pasta gigi. adanya zat ini memegang peranan penting dalam membentuk plak pada gigi (Wilkinson. Bahan Bromelain kasar. Wilkinson 1982) Pasta gigi bromelain dibuat dengan konsentrasi bromelain 5% dan abrasive kalsium karbonat 40% seperti terlihat pada tabel di bawah ini: 15 . disclosing gel atau disclosing tablet). lumpang dan alu. bromelain standar (Bernofarm). Sukarelawan Sukarelawan dalam penelitian ini sebanyak 15 orang berumur antara 18–24 tahun dan diminta kesediaannya untuk menggunakan sediaan pasta gigi selama penelitian dengan mengisi blanko dan menandatangani surat pernyataan sebagai sukarelawan. 1 NO. Untuk menilai keadaan plak gigi. spektrofotometer UV-Vis (UVmini1240).SCIENTIA VOL. Metoda yang digunakan untuk pengujian anti plak adalah metoda rekam kontrol plak yang diperkenalkan oleh O’Leary et al dan digunakan untuk memantau kontrol plak pada pasien dan juga banyak digunakan pada klinik– klinik gigi (Dalimunthe 2008). kaca mulut.

sore dan pada malam hari. Parameter yang diamati kemampuan menghilangkan plak setelah menggunakan pasta gigi. Uji Efektifitas Anti Plak Pasta Gigi Bromelain dengan Metode Rekam Kontrol Plak (RKP) (Delimunthe 2008) Pengujian ini dilakukan untuk menilai efek pemakaian pasta gigi sebagai anti plak dengan cara menggunakan pasta gigi 3 kali sehari pada pagi. 1. digerus dan ditambah gliserol diaduk homogen.0 0. Formula pasta gigi bromelain Komposisi Formula Bromelain Kasar Kalsium karbonat Gliserol Larutan sorbitol 70 % Natrium Karboksimetil sellulosa Sakarin Natrium benzoat Natrium lauryl sulfat Oleum menthae piperitae Air suling sampai Basis (g) 40 18 10 1.0 40 18 10 1.1 1 0.1 1 0. Massa 1 ditambahkan ke massa 2 dan diaduk sampai homogen (massa 3). Natrium lauryl sulfat ditambahkan ke dalam massa 3. ditambah bromelain. Untuk pelaksanaan pengujian ini digunakan gel pink tua dental plague disclosing gel yang dipakai sebelum menggunakan pasta gigi dan setelah menggunakan pasta gigi selama 1 minggu.3 100 formula (g) 5. diaduk homogen dan dimasukkan ke dalam massa 3.3 100 Cara Pembuatan Bromelain Kasar Pasta Gigi Na CMC ditabur diatas air panas (15x jumlah Na CMC). Kalsium karbonat digerus.2 0. 16 . Pengujian ini dilakukan terhadap 5 orang panelis untuk setiap formula pasta gigi bromelain dengan syarat panelis tidak menggunakan pasta gigi lain.SCIENTIA VOL.2 0. selanjutnya ditambahkan larutan sorbitol 70 % dan diaduk homogen (massa 2). 1 NO. Sakarin dan natrium benzoat dilarutkan dalam sisa air. diaduk homogen sampai terbentuk massa pasta. digerus homogen. Selama pengamatan akan dipantau oleh dokter gigi sampai selesai perlakuan. tidak menggunakan larutan penyegar mulut atau larutan pencuci mulut lainnya.0 0. Oleum menthae piperitae dimasukkan terakhir. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Tabel I. diaduk sampai homogen dan kemudian dimasukkan ke dalam tube. didiamkan selama 15 menit dan diaduk homogen (massa 1).

2000).90%). Proses pengurangan plak ini terjadi secara fisika dengan persentase penurunan plak yang rendah. 1. pasta gigi bromelain (F3) dan pasta gigi pembanding (P) secara berturut-turut. 8.SCIENTIA VOL. Menurut Hidayah (2000) bromelain dapat memecah ikatan glutamin-alanin dan arginin. Daya anti plak disebabkan adanya kemampuan bromelain untuk mengurangi dan menghilangkan plak yang terbentuk.90% untuk formula basis (F0). Parameternya adalah % RKP sebelum dan setelah perlakukan. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji antiplak pasta gigi bromelain kasar dilakukan selama 7 hari. Dari hasil perhitungan rata-rata persentase Rekam Kontrol Plak (RKP) adalah 3. pasta gigi bromelain kasar dan sediaan pembanding enzim®. lama dan cara menggosok gigi (Ariningrum.alanin yang merupakan asam -asam amino penyusun protein. (Tarigan. 1990). Makanan sangat berpengaruh sekali terhadap jumlah plak yang terbentuk. Setelah skor plak didapat.72%) dan mendekati pasta gigi pembanding (8.72% dan 8. Dugaan lain adalah bromelain dapat memutuskan ikatan protein dari sisa makanan yang menempel pada gigi. Penelitian dilakukan pada gigi tiruan resin akrilik. Proses pengurangan plak juga dipengaruhi oleh frekuensi. Hasil ini memperlihatkan bahwa plak dapat berkurang dengan menggunakan basis pasta yang mengandung abrasif kalsium karbonat dan surfaktan natrium lauril sulfat yang ada dalam formula.04%. Proses pengurangan plak dari pasta gigi bromelain kasar diduga karena kemampuannya untuk memecah atau menguraikan protein saliva disamping juga terjadi secara fisik dengan adanya abrasif dalam pasta. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 rumus perhitungan Plak Indeks : Skor RKP = Jumlah Permukaan gigi dengan plak Jumlahseluruh permukaangigi x 100 % tinggi (8. 1 NO. Pada sediaan uji pasta gigi bromelain diperoleh persentase penurunan (RKP) yang lebih 17 . kemudian dihitung nilai selisih skor plak sebelum dan sesudah pemakaian pasta gigi bromelain dengan menggunakan rumus : Nilai selisih = Skor Plak sebelum – Skor Plak sesudah Analisis Data Untuk menilai efektifitas antiplak bromelain dalam pasta dianalisis menggunakan statistik analisis varian satu arah yaitu antara basis pasta.

1 2.9000 1.9 8.5 X (%) 3.759 Means for groups in homogeneous subsets are displayed.9 62 62 59.0400 8. a.9 66.4 3. N 5 5 5 Subset for alpha = . 1 NO.391 %KV=12.4 57. 1.SCIENTIA VOL.1 60 62 62.3 3 3.9 69. Hasil uji statistik dapat dilihat pada tabel di bawah ini.17 3 P 8. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Tabel II.1 70.626 %KV= 7.000.3 65.6 65.5 Sesudah 62.1 8.5 62.1 70. Hasil uji statistik dengan analisis varian satu arah memperlihatkan terdapat perbedaan yang bermakna antara formula basis (F0) dengan pasta gigi bromelain (F3C) dan pasta gigi pembanding (P) pada p>0.8 59.384 %KV= 15.05 1 2 3.2 56.5 65.1 68.000 .1 60.3 65 62.7200 8.04%± 0.4 8.6 57.3 8.8 9. 18 . Uses Harmonic Mean Sample Size = 5.05.1 7 Χ 3.6 10.3 62. Hasil pengujian efektifitas antiplak pasta gigi bromelain kasar % RKP No 1 Formula F0 Panelis 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Sebelum 65.3 66.55 Keterangan : F0 F3 P X X KV : : : : : Basis pasta gigi formula C konsentrasi abrasif 40% Formula pasta gigi bromelain konsentrasi 5% Pasta gigi pembanding (Enzim®) Nilai selisih Rekam Kontrol Plak (RKP) Rata – rata nilai selisih Rekam Kontrol Plak (RKP) : Koefisien variansi terdapat perbedaan yang bermakna antara pasta gigi bromelain (F3) dengan pasta gigi pembanding (P) pada p<0.7 52.4 61.7 8. dan tidak persentase plak Duncan a perlakuan F0 F3 pembanding Sig.9%± 1.05.1 9.72% ± 0.5 9.1 69.5 69.86 2 F3 8.

L.05) dan berbeda nyata dengan formula basis pada p > 0..SCIENTIA VOL. Wijaya dan Sulistyaningsih. Periodonsia. 2001. Cowson. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Herijulianti. FKG Universitas Sumatera Utara. Sci. Pocher’s Perfumes Cosmetics and Soap. Balsam. 2002. Sasaki T. 1985. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Cosmetics. SASARAN Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan formula pasta gigi dan menguji stabilitas pasta gigi bromelain kasar. edisi IV. Bromelain: a literature review and discussion of its therapeutic applications. London. 75 – 77. 2006.N. Maurer. 1: 405-410 Lachman. 40 : 129134.. E.S. Ngampanya B.. Jakarta.. H. 1982. 1996. Life . Hemisphere Publishing Corp. Hayati.. pharmacology and medical use.S. DAFTAR PUSTAKA Ansel. 219 – 228. 2008. The clinical effect of proteolytic enzyme containing bromelain and trypsin on urinary tract infection evaluated by double blind method. EGC. Butler. J Penel. 2006. Cell Mol. Mutta. Hirose T. R.L Kaning. 1992. A. New York. and M. A. Jakarta. Fakultas Farmasi USD. Charpman and Hall. Herdyastuti. W. 1972. Diterjemahkan oleh S. H. Glider W. 2008. Bromelain.. 19 . Penerbit Universitas Indonesia. 1989. Nugraha. Universitas Indonesia press. Vol III. 2002. Kelly G. Hashimoto Y. 1. A.. 2nd ed. M and Sagarin E. Daliemunthe. Hidayah. 1 NO. S. A. Enzim Bromelain dari Bongkol Nenas sebagai Bahan Pembersih Gigi Tiruan Resin –Akrlirik. T. 19(3) :147153. and S Phongtongpasuk. J.. S. Rev. Suyatmi. Med. A. S.H. New York. Hargrove. Using Bromelain in Pineapple Juice to Investigte Enzym Function. Biochemistry. Diterjemahkan oleh Farida Ibrahim. Medan. Biochem. and E. H. 98.. 2Pattavia ). Ota. Nat. N.V. 1989. S... 58 (9). Clinical and Oral Microbiology. Lincoln. S. Bandung. C. Ojima Y. J. H. Effects of Sucrose Concentration on Crude Bromelain Production of in Vitro Culture of Pineapple ( Ananas comosus var. Sci . Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi.. 1985. Science and Technology. Indriani dan S. Acta Obstet Gynaecol Jpn. Reinvestigation of Fractionation and Some Properties of Proteolitically Active Components of Steam and Fruit Bromelain. Jogjakarta: 1-5.. Lieberman and J. Steptoccus mutans Si Plak Dimana-mana. edisi III.. Isolasi dan Karakterisasi Ekstrak Kasar Enzim Bromelain Dari Batang Nenas (Ananas comosus L. Merr). Vol 1. Cracken. 2000.W. Altern. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa bromelain kasar 5% dalam pasta gigi mempunyai efektifitas antiplak yang tidak berbeda nyata dengan sediaan pembanding (p<0.05. Mori S. Pendidikan Kesehatan Gigi. Artini. and R.

Efficacy and safety of phiogezym-aprotease formulation. Shahid. 1994. Jakarta. USA.. Nenas Budidaya dan Pasca Panen. Daftary and W. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Karies Gigi. Hipokrates.. Assoc Physicians India. Universitas Gadjah Mada Press.SCIENTIA VOL. R.V. Kanisius. Yogyakarta. S. Turakhia. J and R. 1 NO. Apr 50527-31. George Goodwin HC. M.H. R. 2002.113-121.. Khrisna. G.. in septis in chidren. Proses Penghasilan Bromelin Daripada Batang Nenas. 2007. Kundra. Schiess. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Ramli. D. M. edisi V. USP 30/ NF 25 Vol III. Shanbag. Wilkinson. Moore. W. The National Formulary. Yogyakarta. 1. Tarigan.J. 1982. Diterjemahkan oleh S. Voight. P.. Rukmana. S. 1990. Fauzi. Harry’s Cosmetology. 20 . Pertanika 13(1) .K. 1996. N. R. London. Noerono. 1990.

zat besi. Argomedia. polifenol dan umbinya mengandung beberapa senyawa seperti protein. Keywords: Ipomoeae batatas. vitamin B2. flavonoid. Mimi Aria. Virgin coconut oil merupakan minyak yang berasal dari buah kelapa (Cocos nucifera) tua segar yang diperoleh pada suhu rendah (<600C) yang terbentuk setelah santan didiamkan dalam beberapa hari (Setiaji. tested on animals. kalsium. VCO.) UNTUK PENGOBATAN LUKA BAKAR Farida Rahim. 1. Cream formula consisting of 3% ethanolic extract of sweet potato leaves as an active ingredient. fosfor. tanaman holtikultural.05. Hal ini membuat VCO bermanfaat untuk mencegah dan mengobati berbagai gangguan kesehatan. cream type. where the value of F count treatment is smaller than the F table at α 0. dan kontaminan lainnya. skin irritation test and effects on burns. vitamin C (Rukmana. Nurwani Purnama Aji STIFI Perintis Padang ABSTRACT Formulation of cream for treatment of burns has been studied. From the statistical calculation using one-way analysis of variant (ANOVA) we found that sweet potato leaf ethanolic extract-containing cream provide healing on burns. Kandungan dari VCO salah satunya adalah asam lemak rantai tak jenuh yang dapat menghalangi radikal bebas dan mempertahankan sistem kekebalan. Cream bases used in this study were variated with and without Virgin Coconut Oil (VCO). burns PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang memiliki potensi untuk mengembangkan buahbuahan tropis. The results showed that the F1B formula has the fastest healing effect on burns (7 days). The formulas were evaluated for their organoleptic. karbohidrat.1997). 1997. vitamin A. 2006). Banyak sekali tanaman di Indonesia yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara komersil. VCO memiliki sederet manfaat dan khasiat baik untuk medis maupun kosmetika. susunan molekular kecilnya memudahkan penyerapan serta memberi tekstur yang lembut dan halus pada kulit (Hadibroto. 1 NO. bebas dari pestisida. pH. salah satunya digunakan sebagai bahan obat (Rukman. 2006) tanpa proses pemutihan sehingga menghasilkan minyak murni. 21 . 2008). FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 FORMULASI KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR (Ipomoeae batatas L. Bagian tumbuhan ubi jalar yang digunakan adalah daun yang mengandung beberapa senyawa seperti saponin. cream. VCO juga memiliki tekstur krim alami. lemak. The evaluation results showed that ethanolic extract of sweet potato leaves can be formulated in creams which are physicaly stable and provide a healing effect on burns.SCIENTIA VOL. homogeneity. sayur-sayuran dan tanaman pangan. Salah satu jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional adalah ubi jalar (Ipomoea batatas L) dari famili Convolvulaceae. particle size distribution. vitamin B1.

timbangan digital. pipet tetes.1 0. kaca arloji. Ekstrak kental yang diperoleh dievaluasi organoleptis. Fase minyak dipindahkan kedalam lumpang dan ditambahkan fase air (pencampuran dilakukan pada suhu 60oC–70oC). krus porselin. adeps lanae. nipagin. Keterangan : F1A = Krim dengan konsentrasi Ekstrak Etanol daun ubi jalar 3% tanpa VCO F1B = Krim dengan konsentrasi Ekstrak Etanol daun ubi jalar 3% dengan VCO Krim dibuat dengan cara: ekstrak etanol daun ubi jalar 3% dan ditimbang dan digerus dalam lumpang serta ditambahkan sedikit demi sedikit 22 . kandungan kimia. cawan penguap. kelarutan. Krim dipilih karena sediaan ini mempunyai keuntungan diantaranya mudah dioleskan pada kulit. krim dapat digunakan pada kulit dengan luka yang basah. 1.5 1. Formula Krim Ekstrak Etanol daun ubi jalar Nama Bahan Ekstrak etanol daun ubi jalar Basis Krim ad F1A 3% 100 F1B 3% 100 METODE PENELITIAN Bahan yang digunakan adalah daun ubi jalar putih. Selanjutnya digunakan hewan percobaan untuk menguji aktifitasnya dalam pengobatan luka bakar. botol semprot. stamper. rotary evaporator. asam stearat. dan terdistribusi merata. Alat yang digunakan adalah alat-alat gelas standar laboratorium. Tabel II. mortir. nipasol. Tabel I. Virgin Coconut Oil (VCO).5 3 25 0.SCIENTIA VOL. plat tetes. desikator. digerus sampai dingin dan terbentuk masa krim yang homogen. oven. aquadest. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Dari penjelasan di atas dicoba membuat formula ekstrak etanol daun ubi jalar dan Virgin Coconut Oil (VCO) dalam bentuk krim untuk pengobatan luka bakar. Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih. pemeriksaan pH.05 100 F0B 14. Formula Basis Krim Nama Bahan Asam stearat Trietanolamin adeps lanae Paraffin liquidum Virgin Coconut Oil (VCO) Nipagin Nipasol Aquadest ad F0A 14. paraffin liquid. Fase air di panaskan di atas waterbath pada suhu 70oC sampai lebur. kadar abu. corong. botol marserasi.5 1.5 3 5 20 0. lemari pendingin. buret. mudah dicuci setelah dioleskan. kemudian fase minyak dipindahkan dalam cawan penguap. dipanaskan diatas waterbath dengan suhu 70oC sampai lebur. trietanolamin.1 0. waterbath.05 100 Keterangan : F0A = Krim tanpa Virgin Coconut Oil (VCO) F0B = Krim dengan Virgin Coconut Oil Basis krim dibuat dengan cara: Semua bahan yang diperlukan ditimbang. pH meter Inolab. pinset. penetapan kandungan air. 1 NO. batang pengaduk. Ekstrak daun ubi jalar dibuat dengan cara maserasi selama lima hari menggunakan etanol 96%. kertas perkamen. etanol 96%. oven vakum.

1 NO. HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstrak etanol daun ubi jalar dan VCO diformula dalam bentuk krim. pH krim. pemeriksan tipe krim. Pemeriksaan organoleptis terhadap formula basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar tidak menunjukkan adanya perubahan bentuk.) Organoleptis Bentuk Warna Bau Bentuk Warna Bau Bentuk Warna Bau Bentuk Warna Bau I SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK II SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK menjadi pucat hilang. digerus pelan-pelan sampai homogen. distribusi ukuran partikel. Hasil Pemeriksaan Organoleptis (Ipomoea batatas L. warna dan bau. homogenitas. daya tercuci krim dan uji iritasi kulit. dengan konsentrasi ekstrak 3%. spatel tersebut ditempelkan selama 5 detik pada kulit punggung mencit yang sudah dirontokkan bulunya. F1B III SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK Minggu ke IV V SP SP P P BK BK SP SP Hi Hi BK BK SP SP P P BK BK SP SP Hi Hi BK BK VI SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VII SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VIII SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK Keterangan : F0A : Basis krim tanpa Virgin Coconut Oil (VCO) F0B : Basis krim dengan Virgin Coconut Oil (VCO) FIA : Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 3 % tanpa VCO FIB : Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 3 % dengan VCO Hi : Hijau P : Putih SP : Setengah Padat BK : Bau khas 23 . Uji efek luka bakar dilakukan dengan menggunakan hewan percobaan masing-masing 3 ekor untuk tiap kelompok formula. homogenitas. Basis krim dan krim yang dibuat dievaluasi meliputi pemeriksaan organoleptis. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 basis krim ad 100 g. Spatel dibakar dengan nyala api selama 60 detik. pH. Parameter yang diamati adalah hilangnya vesikel dan perubahan warna kulit dari pucat Tabel No 1. Pada kulit yang melepuh atau mengalami luka bakar tersebut dioleskan formula krim secara tipis dan merata 3 kali sehari untuk masing-masing formula. F0B 3. Pada pengujian efek ini digunakan Lanakeloid-E® sebagai pembanding.SCIENTIA VOL. Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar Formula F0A 2. yang dilakukan setiap minggu selama 8 minggu. Pada pemeriksaan homogenitas basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar menunjukkan bahwa semua sediaan telah homogen dan terdispersi merata. III. Evaluasi basis krim dan krim meliputi pemeriksaan organoleptis. F1A 4. 1. tipe krim. Kemudian dilakukan pengamatan setiap hari untuk melihat efeknya sampai terjadi penyembuhan total. pemeriksaan ini dilakukan setiap minggu selama 8 minggu pengamatan.

4.81 7. dimana saponin ini mempunyai kemampuan sebagai pembersih sehingga dapat membantu mempercepat penyembuhan luka terbuka.74 7. Hasil Pemeriksaan pH Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar ( Ipomoea batatas L. Hasil pengamatan distribusi ukuran partikel basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar menunjukan rata-rata ukuran panjang kecil dari 10 µm.50 µm.57 8.04 VI 8. Daun ubi jalar yang digunakan mengandung flavonoid.02 7.56.22 7.17 7.21 7.78 7. FOB memberikan waktu penyembuhan selama 9 hari.65 7.06 III 8.51 7. Formula FOA FOB F1A F1B I 7.0 II 8. Krim ekstrak etanol daun ubi jalar dengan menggunakan basis krim yang mengandung Virgin Coconut Oil (VCO) mampu memberikan efektifitas lebih cepat dibandingkan dengan formula lainnya.84 7. 1 NO.) Minggu ke IV V 8. Tabel IV. sedangkan polifenol 24 .70 7.81 8.991 µm.41 VIII 8.53 7. 3. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Pemeriksaan tipe krim yang dilakukan dengan menggunakan zat warna yaitu metilen blue memperlihatkan penyebaran metilen blue yang merata setelah diteteskan pada selapis krim diatas kaca objek.12 7. pemeriksaan pH dilakukan terhadap basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar dan hasil pemeriksaan pH krim diperoleh pH berkisar antara 7.92 8. FOB = 4.69 No 1. F1A dan Lanakloid-E memberikan waktu penyembuhan 8 hari. F1A = 6. Hasil pemeriksaan uji iritasi pada 5 orang sukarelawan menunjukkan tidak ada satupun formula basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar yang mengakibatkan iritasi pada kulit panelis. Hasil pemeriksaan uji iritasi dilakukan langsung pada manusia dengan cara uji tempel tertutup dimana 0.8095 µm.783 µm.69 7. Hal ini menunjukkan bahwa basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar dapat digunakan untuk penyembuhan luka bakar. Formula yang memberikan waktu penyembuhan paling cepat adalah formula F1B dimana waktu yang diperlukan untuk penyembuhan selama 7 hari.27 8. Setelah 24 jam diamati gejala yang timbul.86 8.48 7. kemudian ditutup dengan kain kasa.61 VII 8.19 7.56 7.78 7. 1. hasil yang didapat masih memenuhi syarat karena dalam literatur dinyatakan ukuran partikel yang stabil secara fisik antara 1. F1B = 4. saponin dan polifenol.15 7.73 7.1 gr sediaan uji dioleskan pada lengan atas bagian dalam dengan luas 4 cm2 . Pada uji efek basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar dan basis krim yang mengandung VCO dan yang tidak mengandung VCO terhadap pengobatan luka bakar. Sedangkan FOA memberikan waktu penyembuhan selama 11 hari. ternyata memberikan variasi waktu penyembuhan. Hasil pemeriksaan pH dilakukan dengan menggunakan alat pH meter inolab.53 7.26 Ratarata 8. Flavonoid yang terkandung didalam daun ubi jalar dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena mempunyai daya antiseptik (Harborne.837 µm. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap 5 orang sukarelawan pada masing-masing formula.SCIENTIA VOL. 1987).98 7.45 Pada pemeriksaan distribusi ukuran partikel diperoleh rata-rata ukuran panjang FOA = 4.26–8.62 7. 2.

Jakarta.. Harbone. Yogyakarta.) dengan basis krim yang mengandung VCO (F1B) memberikan efek penyembuhan luka bakar yang paling cepat yaitu 7 hari.. dimana nilai F hitung perlakuan lebih kecil dari pada F tabel pada α 0. Argomedia redaksi. 2006. Jakarta. Gramedia. Gajah Mada University Press. 1990. polifenol dalam pengobatan berkhasiat sebagai antiseptik yang berfungsi sebagai pelindung pada kulit dan bermanfaat untuk regenerasi jaringan. Y.05.. 1. Skripsi. 2008. Waluyo. Yogyakarta.05 SARAN Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk memformula ekstrak etanol daun ubi jalar dalam bentuk sediaan dan melakukan uji efektifitas farmakologi yang lain. Padang.. Harahap. DAFTAR PUSTAKA Ancel. 1994. 2006. (Ipomoea batatas L. J.. Parameter Pasien Luka Bakar. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. M. Formula krim ekstrak etanol daun ubi jalar (Ipomoea batatas L.S.. H. Metoda Fitokimia Penentuan Cara Modern Menganalisa Tumbuhan.. Dari perhitungan uji statistik analisa variasi satu arah (ANOVA) diketahui bahwa krim ekstrak etanol daun ubi jalar dapat memberikan penyembuhan terhadap luka bakar. Yogyakarta. 1991. 2005. L.C. New York. 1989. Gramedia. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Bebas Segala Penyakit dengan VCO. Dede. Jakarta. Buku Pintar Tanaman Obat. Srikandi.. Dari perhitungan uji statistika analisa variasi satu arah (ANOVA) diketahui bahwa krim ekstrak etanol daun ubi jalar dapat memberikan penyembuhan terhadap luka bakar. 1987. C. Ekstrak etanol daun ubi jalar dan Virgin Coconut Oil (VCO) dapat diformulasi dalam bentuk krim yang stabil secara fisika dan kimia selama 8 minggu penyimpanan. Pharmacologycal Basis of Terapheutic. 1990. Puspa Swara. PT. Penerbit Buku Kedoteran.B. 2005). FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 berkhasiat sebagai adstringen jika dioleskan pada jaringan hidup. 1 NO. Jakarta. and Gilman. M. Goodman. Hadibroto. C. 4. VCO yang digunakan mampu mempercepat penyembuhan luka bakar karena merupakan minyak yang mengandung asam lemak jenuh rantai sedang yang mendukung penyembuhan dan perbaikan jaringan tubuh (Gani et al. Argomedia Pustaka. 8th Edition. alih bahasa oleh Farida Ibrahim. dimana nilai F hitung perlakuan lebih kecil dari pada F tabel pada α 0. 2. 3. Asrahyuni. Herlinawati. Pergamos Press. Penyakit Kulit. PT. M. Fakultas Farmasi.. 1998..). Anief. Penerbit Universitas Indonesia. alih bahasa oleh Kosasih 25 . Ed. Ilmu Meracik Obat. H.SCIENTIA VOL. Jakarta. Farmasetika. Z. Effendi. Formulasi Gel Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar. Diet VCO. Gaja Mada University Press. Gani. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis.. Anief.

S. Willey Intercienci. Syamsuni. Pennsyluania. H. 2006. London. A. Ed.. Yogyakarta. Juanda. http//:etd. 2. Voight. Yogyakarta. Ubi Jalar Budidaya dan Analisis Usaha Tani.F. 1. Mack Publishing Comp. 2006. Mantagha. Jakarta. Yogyakarta. A.Padmawinata. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. New York. Teori dan Praktek Farmasi Industri II. Laporan Penelitian Dosen Muda. B. 2th Edition. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 . A. Lieberman and J. Terbitan ITB. Jakarta. M. Mursito. 1995. Rahim. Luka Bakar Pengetahuan Klinis Praktis. 2009. Remigton Pharmaceutical Science. Membuat VCO Berkualitas Tinggi. Formulation and Fundaction of Cosmetics. 1975. 4th Edition. Padang.S.edu/docs/available/e td-04062006-085455/ unrestricted/padda-dis. Hariana.A. 2005.3. Martin. D.php/infsehat/292-daun-ular-obat-dbdpaling-ampuh-?format=pdf Lachman. Kanisius. Khristianto. 2001. Martin. Y. Universitas Gajah Mada Press.Isu. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. H. Setiaji. Jellinek. 1974. Jakarta...SCIENTIA VOL.J.Noer.. Terapi Minyak Nabati Keampuhan VCO dan 16 Minyak Ajaib. Penebar Swadaya.Pdf. Fundamental of Anatomy and Phsiologi.5. United States of America. Rukmana... Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. New York. F. Cetakan ke-2. Moenajad. USP 30/ NF 25 Volume III.N. Yogyakarta. Physical pharmacy. 2006. Jakarta. Cetakkan ke-1. et al.. 1998. Padda. http://ekasi. Sehat Diusia Lanjut Dengan Ramuan Tradisional. Phenolic Composition And Antioxidant Activity Of Sweet Potatoes. R. Jakarta.. Ed. Ed. 1962. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi.. 15th edition. 2006. Kanisius. Osol. L. R. Formulasi Krim Minyak Kelapa Murni Untuk Penyubur Rambut. F. Easton. Prentice hall International. alih bahasa oleh S.. PT Samindra Utama. 2004. 1995. 2007. 1 NO. Kanisius. Bandung. 26 . Jakarta.. Penebar Swadaya.com/indek. Ubi Jalar Budi Daya dan Pasca Panen. Inc. Penerbit Universitas Indonesia. W. 1997. 2000.Suyami. H. Serial... Lea and Febiger..H. The National Formulary. Philadelphia. B.L Kaning. The Structure and Fuction of the Skin.. alih bahasa oleh S.. 1994. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis..

Lebih kurang 99% dari keseluruhan kalsium tubuh berada di dalam tulang dan gigi. iron protein sulphur and cytocrom P450. Penyakit ini ditandai dengan berkurangnya densitas massa tulang dan kerusakan mikroarsitektur jaringan tulang. The result showed the significant different (p>0. iron PENDAHULUAN Osteoporosis merupakan suatu penyakit sistemik tulang yang salah satunya disebabkan oleh gangguan ketidakseimbangan kalsium. yang ringan Kalsium merupakan komponen mineral utama tulang yang diendapkan pada matriks tulang dalam bentuk kristal hidroksipatit. but calcium blood rate is higher in calcium-vitamin D-iron group. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 PENGARUH PEMBERIAN KALSIUM VITAMIN D DAN ZAT BESI TERHADAP KADAR KALSIUM SERUM TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) GALUR WISTAR Erina Masri STIKES Perintis Padang ABSTRACT Osteoporosis is a bone systemic disease marked with the lessen of bone mass density and then bone will become fragile and breakable. The hydroxylation process requires enzyme of ferrum. Massa tulang yang berkurang akan menyebabkan tulang semakin tipis dan rapuh sehingga mudah patah pada trauma (Suheimi. 2003). Asupan kalsium berperan penting untuk mempertahankan keseimbangan 27 . The giving of calciumvitamin D-iron combination can increase blood calcium rate significantly. 1 NO. Research type was experimental static group comparison with pretest and posttest design. sehingga tulang akan menjadi rapuh dan mudah patah. HK. Tulang terdiri dari matriks organik keras dan diperkuat oleh endapan garam kalsium yang penting untuk proses osteogenesis (Robbins dan Stanley. Vitamin D has strong effect on calcium absorbtion and keeping calcium plasma. Samples were divided in to 5 group iron deficient.25 dihydroxyvitamin D through hydroxylation reaction in liver and kidney. calcium.vitamin D.SCIENTIA VOL.05) of calcium blood rate before an after the treatment in calcium-vitamin D group and calcium-vitamin D-iron group. 1. Two group for control group and 3 group for treatment that giving combining calcium. 1995). Key words: blood calcium. This research was aimed to know the influent of combining calcium. vitamin D. The calcium imbalance disorder can cause osteoporosis. but vitamin D must be change become active form 1. vitamin D and iron to blood calcium rate compared with the control group. calcium-iron and calsium-vitamin D-iron for 14 days.

Proses aktifasi pre vitamin D (25 hidroksivitamin D atau calcidiol) menjadi vitamin D aktif (1. Vitamin D eksogen (makanan) dan endogen bukan bentuk aktif (pre vitamin D) yang mempunyai efek langsung untuk absorpsi kalsium. Penyebab potensial defisiensi kalsium dan demineralisasi tulang adalah karena tidak adanya vitamin D. 1 NO. Vitamin D berfungsi dalam pemeliharaan kalsium plasma (homeostasis) sehubungan dengan hormone paratiroid. di bawah pengaruh hormon-hormon kalsitropik (hormon paratiroid. 1997). vitamin D. 1992). Saluran pencernaan. 25hidroksivitamin D3 1α-hydroxylase (CYP27B1) dan 1α 25-dihydroxyvitamin D3. proses intraselular. Bila kadar kalsium darah turun di bawah normal. 1995). maka intake dan absorpsi kalsium yang adekuat penting untuk menjaga keseimbangan kalsium yang positif (Robbins MD. sehingga vitamin D tersebut harus dirubah melalui serangkaian reaksi di dalam hati dan ginjal menjadi bentuk aktif yaitu 1. Vitamin D mempunyai efek yang kuat dalam mengabsorbsi kalsium dari saluran pencernaan (Guyton dan Hall. Regulasi kalsium akan berpengaruh terhadap berbagai fungsi biologi tubuh termasuk proses ekstraselular. 1997). Kombinasi sitokrom P-450 pada mitokondria renal dengan ferredoksin (iron sulfur protein). NADPH dan ferredoksin reductase akan merubah 25 hidroksivitamin D.jenis dari cytochrome P450 (Sakaki T. Fungsi ini esensial untuk metabolisme tulang dalam jangka panjang dan untuk pemeliharaan fungsifungsi sel dan saraf (Linder M.25dihidroksivitamin D) adalah melalui proses hidroksilasi. Defisiensi Vitamin D dan hipokalsemia dapat menyebabkan konvulsif secara tiba-tiba (Linder. 1. adhesi interselular dan integritas tulang. seperti regulasi sekresi hormonal pembelahan sel dan motilitas sel (Arsana PM. hati dan tulang merupakan organ dan jaringan yang berperan dalam mengatur keseimbangan kalsium di dalam darah. 1992). 2002). tidak adanya kalsium dari makanan dan tingginya tingkat ekskresi kalsium (Linder M. Vitamin D mempunyai efek yang kuat dalam meningkatkan absorpsi kalsium dari saluran pencernaan. Vitamin D dapat memperlambat penurunan densitas tulang. membentuk 1. Oleh karena adanya kalsium yang selalu hilang melalui tinja dan urin. iron sulfur protein dan sitokrom P-450. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 kalsium secara positif sehingga cadangan kalsium tulang tidak diambil untuk menjaga keseimbangan kalsium darah (Cumming.SCIENTIA VOL. 1996). kalsitonin) melalui suatu mekanisme umpan balik yang komplek (Rudijanto A. ginjal. Enzim pokok untuk metabolisme vitamin D adalah vitamin D3 25hydroxylase (CYP27A1). Oleh sebab itu proses hidroksilasi tergantung pada zat besi. 1992). karena vitamin D mampu memelihara kesehatan tulang dengan cara meningkatkan penyerapan kalsium dalam intestin dan mengurangi ekskresi kalsium melalui ginjal. seperti pembekuan darah. enzimenzim tersebut adalah jenis.25dihidroksivitamin D. dimana zat besi dalam enzim tersebut berfungsi untuk transpor elektron dan oksidasi (Deluca.25dihidroksivitamin D (Guyton dan Hall. 2005). 24-hydroxylase (CYP24A1). 1997). Proses hidroksilasi vitamin D tersebut membutuhkan tiga komponen sistem yaitu flavoprotein. tubuh akan mengambilnya dari tulang untuk menjaga keseimbangan kalsium darah tersebut. 28 . 2002). Pengambilan kalsium dari tulang dalam waktu lama akan menyebabkan pengeroposan tulang.

Iron Liquicolor Wiesbaden Germany.SCIENTIA VOL. yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. 2004). Reagen 1 (CaCPC) dicampur dengan Reagen 2 (Ca Liquicolor). tablet besi (Fe2SO4). campuran ini akan berwarna ungu. makanan tikus berupa pelet dan jagung. Kalsium. Kemudian diberikan satu kali sehari selama dua minggu untuk dapat melihat perubahan kalsium serum. 29 . timbangan digital. kandang tikus. vitamin D dan zat besi.25dihidroksivitaminD). timbangan tikus. Kemudian diberi makan rendah zat besi berdasarkan standar AIN (American Institute of Nutrition) tahun 1980 berupa jagung dengan tambahan gula (Medeiros. spectrophotometer. Aquadest. vitamin D 0. P4 diberi kalsium dan zat besi (Fe) dan P5 diberi kalsium vitamin D dan zat besi (Fe).15 mg/ hari. diaduk dan didiamkan selama 5 menit. darah hewan percobaan diambil melalui vena untuk dihitung kadar kalsium sebelum perlakuan (pre test). Vitamin D merk IPI. P4 dan P5). Ca Liquicolor. Pemeriksaan Kalsium Serum Pemeriksaan kalsium berdasarkan metode yang diajukan oleh Moorehead and Briggs. sebelum perlakuan dilakukan penimbangan berat badan hewan percobaan. 1. METODE PENELITIAN Alat Dan Bahan Alat yang digunakan beruapa tempat pemeliharaan tikus. Tahap persiapan meliputi pemilihan dan adaptasi hewan percobaan selama 1 minggu dengan pemberian makanan dan minuman secukupnya. tabung reaksi pyrex 10 ml. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Dengan demikian diduga defisiensi zat besi berpengaruh terhadap aktifasi 25. sentrifuge. P2 diberi kalsium saja P3 diberi kalsium dan vitamin D. Tiap kelompok terdiri dari 8 ekor tikus diletakkan dalam kandang yang terpisah. jarum oral. Reagen bereaksi dengan kalsium dalam suasana alkalis membentuk senyawa yang bewarna ungu tua. kontrol positif (P2) dan 3 kelompok perlakuan (P3. 1 NO. Sebelum intervensi dengan kalsium. Reagen dimasukan ke serum sampel. kemudian masingmasingnya dilarutkan dengan aquadest. mikropipet. vitamin D dan tablet besi digerus. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dibagi dalam dua tahapan. Intensitas wana ungu yang terbentuk berbanding lurus dengan kadar kalsium dan dapat diukur dengan spektrofotometer microlab 300 panjang gelombang 587 nm.09 µg/ hari dan zat besi 0. diamkan selama 10 menit.hidroksivitamin D menjadi bentuk vitamin D aktif (1. yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap metabolisme kalsium. Hewan dinyatakan sehat jika selama pemeliharaan tidak mengalami perubahan berat badan >10% dan secara visual tidak terdapat gejala penyakit. reagensia Ca CPC. Sampel yang berjumlah 40 ekor tersebut dikelompokkan ke dalam 5 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif (P1). Bahan yang digunakan adalah tikus putih galur wistar betina 40 ekor. Dosis kalsium yang diberikan 14.4 mg/hr. spet. Pada tahap pelaksanaan. Setelah dua minggu pada hari ke-15 darah tikus diambil sebanyak 1 ml kemudian disentrifus untuk memperoleh serumnya. kalsium laktat.

49 ± 0.34 ± 0.05) dengan peningkatan yaitu 0.18 pada semua Kelompok P1 (kontrol negatif) P2 (kontrol positif ) P3 (kalsium + vit.193 0.39 8.37 ± 0. Rata-rata kadar kalsium serum sebelum dan setelah intervensi kelompok intervensi Kadar Kalsium (mg/dl) (mean ± SD) Sebelum Sesudah 8.05). 1.10.SCIENTIA VOL.61 ± 0.20 9. Pada kelompok P3 (kalsium + vitamin D) dari hasil uji statistik diketahui terdapat perbedaan yang bermakna ratarata kadar kalsium serum sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok kalsium dan vitamin D (P3) (nilai p= 0. dengan kemaknaan 0.18 8. maka dilanjutkan dengan Post Hoc Test ntuk melihat perbandingan selisih rata-rata kadar kalsium serum antar kelompok (Hastono PS.22 mg/dl setelah intervensi. Setelah itu dilakukan uji anova untuk mengetahui perbedaan rata-rata kadar Hasil Kadar kalsium dihitung dengan rumus . HASIL DAN PEMBAHASAN Data dianalisis dengan uji T test dependen secara komputerisasi untuk melihat perbedaan rata-rata kadar kalsium darah sebelum dan setelah perlakuan.16 8.05 8.000 p<0.008 p < 0.05) rata-rata kadar kalsium sebelum dan sesudah intervensi 30 . D) P4 (kalsium + zat besi) P5 (kalsium + vit.05.208 0.40 ± 0.208 p > 0.070 0.000 n 6 6 6 6 6 Dari tabel 1 diketahui pada kelompok P1 (kontrol negatif) tidak terdapat perbedaan signifikan rata-rata kadar kalsium serum pada pemeriksaan pertama dan kedua (nilai p = 0.5.44 ± 0. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 kalsium antar kelompok perlakuan dengan derajat kepercayaan 95%. Pada kelompok P2 (kontrol positif) juga tidak terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata kadar kalsium sebelum dan sesudah intervensi (nilai p = 0. Pada kelompok P5 (kalsium + vitamin D + zat besi) terdapat perbedaan signifikan (nilai p = 0.008 0.07 p < 0.05) meskipun terjadi peningkatan rata-rata kadar kalsium serum 0. 1 NO.68 ± 0.37 8.25 mg/dl.193 p > 0.05) terjadi peningkatan rata-rata kalsium darah 0.05).70 ± 0. Kalsium (mg/dl)= Abs Test x Kadar standar Abs Std Nilai normal: 8. Jika terdapat perbedaan bermakna antara tiga kelompok perlakuan tersebut (nilai p< 0. Pada kelompok P4 (kalsium + zat besi) tidak terdapat perbedaan yang signifikan (nilai p= 0.5 mg/dL Pengolahan Dan Analisis data Kadar Kalsium Serum Sebelum dan Sesudah Intervensi Tabel I.16 8.23 8.37 ± 0. 2001). D + zat besi) Nilai p 0.60 ± 0.11 8.26 mg/dl.

Tabel II. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 pada kelompok P5 (kalsium + vitamin D + zat besi) dengan peningkatan rata.SCIENTIA VOL. vitamin D. Perubahan kadar kalsium serum paling besar terjadi pada kelompok P5 (Ca + Vitamin D + Fe) yaitu dari 8.40 mg/dl menjadi 9.6 8.000 0.000 0.05 Nilai. P4 (kalsium + zat besi).5 Series14 P5 (Ca+ Vitamin D+ Fe) sebelum perlakuan P5 (Ca+ Vitamin D+ Fe) sesudah intervensi 7 Kelompok1Intervensi Gambar 1. P2 (kontrol positif). P3 (kalsium + vitamin D).7 8.08 0.4 P2 (Kontrol +) sesudah intervensi Series12 P3 (Ca+ Vitamin D) sebelum intervensi P3 (Ca+Vitamin D) sesudah intervensi Series13 P4 (Ca + Fe) sebelum intervensi P4 (Ca+ Fe) sesudah intervensi 8. dimana terjadi 31 .18 1. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok P5 (kalsium vitamin D dan zat besi) terdapat perbedaan ratarata kadar kalsium serum sebelum dan sesudah intervensi.p 0.68 mg/dl setelah intervensi.37 8.49 8.68 9.34 8. yaitu kelompok P1 (kontrol negatif).5 P1 (Kontrol -) sebelum intervensi P1 (Kontrol -) sesudah intervensi Series11 P2 (Kontrol +) sebelum intervensi mg/dl. Perubahan rata-rata kadar kalsium serum setelah intervensi Dari gambar 1 di atas dapat dilihat perubahan rata-rata kadar kalsium serum setelah intervensi pada semua kelompok.000 0. Perubahan rata-rata kadar kalsium serum setelah intervensi dapat dilihat pada gambar berikut : K a d a r K a ls iu m 9 8. 1 NO.37 8.05 sehingga terdapat perbedaan signifikan rata-rata kadar kalsium serum antar semua kelompok perlakuan.98 1.61 8.05) selisih rata-rata kadar kalsium pada kelompok P5 (kalsium.rata kadar kalsium sesudah intervensi 0.44 8. Analisis lebih lanjut Post Hoc Test pada tabel 2 diketahui bahwa terdapat perbedaan bermakna (nilai p<0.000 Dari analisis uji anova diketahui nilai p<0. Perbedaan selisih rata-rata kadar kalsium semua kelompok intervensi dengan kelompok P5 (Kalsium+ vitamin D + Zat Besi) Kelompok Intervensi P1 dan P5 P2 dan P5 P3 dan P5 P4 dan P5 Selisih Rata-Rata (mg/dl) 1.73 10 9.5 8 7. 1. zat besi) dengan semua kelompok.

25 hidroksivitamin D (Deluca. Pada kelompok P2 (kontrol positif) terjadi peningkatan kadar kalsium tetapi tidak sigifikan. 32 . Kelompok P3 dan P5 memiliki perbedaan selisih rata-rata kalsium serum paling kecil yaitu 0. Pada penelitian tersebut dilakukan pemberian iron dextran pada anak. 1 NO. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Heldenberg dan Tanenbaum (2002). Dengan tidak adanya vitamin D maka zat besi kurang berperan dalam peningkatan kadar kalsium. dan kelompok kombinasi kalsium + zat besi (P4).2).anak Israel usia 6 sampai 24 bulan yang menderita anemia defisiensi besi.SCIENTIA VOL. kontrol positif (P2). Hingga saat ini belum ditemukan penelitian lain mengenai pengaruh zat besi terhadap kalsium serum. vitamin D dan zat besi berpengaruh terhadap peningkatan kadar kalsium serum. menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan rata-rata kadar kalsium serum pada pemeriksaan sebelum dan sesudah intervensi (tabel 4. Homeostasis kalsium tidak tergantung pada ketersediaan kalsium dalam diet saja tetapi melibatkan multifaktorial.25dihidroksi vitamin D di hati dan di ginjal yang pada akhirnya dapat meningkatkan kadar kalsium dalam serum. vitamin D dan zat besi.73 mg/dl. Namun kombinasi ini tidak meningkatkan kadar kalsium serum sebaik pemberian kombinasi kalsium. Pemberian zat besi tersebut meningkatkan hemoglobin dan besi serum. Hal ini membuktikan bahwa pemberian kombinasi kalsium. Sebagaimana penelitian New SA (2000) yang menunjukkan pemberian vitamin D saja secara tunggal tidak memberikan perbaikan yang nyata untuk kalsium darah. 1. serta meningkatkan konsentrasi 1. Pemberian vitamin D untuk hasil yang terbaik harus disertai dengan kalsium. Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya bahwa absorbsi kalsium sangat dipengaruhi oleh 1. 1992). Zat besi dalam bentuk ferredoksin (iron sulfur protein) dan sitokrom P-450 berperan dalam proses biosintesis 1. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 peningkatan kadar kalsium serum sebanyak 0. Hal ini dapat disebabkan oleh tidak adanya kalsium dan vitamin D di dalam diet yang akan mengatur homeostasis kalsium sebagaimana teori dan hasil penelitian lain yang telah dijelaskan diatas. Pada kelompok P1 ini hanya diberi makanan standar tanpa kalsium.25-hydroxyvitamin D plasma. Pemberian kalsium pada P2 tampaknya hanya berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan kadar kalsium dalam darah. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Harvey JA.25 dihidroksivitamin D. 1998). Zobitz (1999) yang menyatakan suplementasi kalsium dalam dosis tinggi yang diberikan dalam dosis tunggal tidak akan lebih meningkatkan absorbsi kalsium. Pemberian zat besi pada kelompok P5 diharapkan dapat meningkatkan biosintesis 1. Hasil penelitian pada kelompok kontrol negatif (P1).98 mg/dl. Menurut penelitian oleh New SA (2000) pemberian vitamin D untuk hasil yang terbaik harus dilakukan bersama dengan pemberian kalsium. Dengan demikian nutrisi untuk homeostasis kalsium yaitu kalsium dan vitamin D sudah terpenuhi pada kelompok ini. salah satunya adalah vitamin D (Linder. Hasil penelitian pada kelompok P4 (kalsium dan zat besi) menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata kadar kalsium serum sebelum dan sesudah intervensi.

1997.SCIENTIA VOL. DAFTAR PUSTAKA Arsana. Deluca. vitamin D dan zat besi yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian kalsium tanpa vitamin D tidak dapat meningkatkan absorbsi kalsium dan penambahan zat besi dapat meningkatkan absorbsi kalsium dan kadar kalsium serum melalui perannya dalam aktifasi 1. Guyton. tubuh akan mengambilnya dari tulang untuk menjaga keseimbangan kalsium darah tersebut.25 dihidroksi vitamin D.C. Gangguan mekanisme transport kalsium akan mengakibatkan hipokalsemia (Rudijanto. PB PERKENI Universitas Brawijaya. Am J Clin Nutr. P. Pengambilan kalsium dari tulang dalam waktu lama akan menyebabkan pengeroposan tulang atau osteoporosis (Robbins MD. Philadelphia. 1995). Saran 1. 2002.S.. and M. and J.25 hydroxyvitamin D Concentration. 2. P. 2002. A. Pemberian kalsium harus disertai vitamin D untuk absorbsi kalsium yang maksimal. Am J Clin Nutr.25: 125-133. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar hasil penelitian pada hewan ini dapat diaplikasikan kepada manusia. 33 . Untuk menjaga homeostasis kalsium diperlukan asupan zat besi karena kondisi defisiensi besi berpengaruh terhadap mekanisme absorpsi kalsium oleh vitamin D. Cumming.. Jakarta. 1. WB Sunders Company. 1998. Am J Epidemiol. 1 NO. 7:14. saluran pencernaan dan tulang. Calcium Intake and Fractur Risk: Result from the Study of Osteoporotic Fraktures.25 dihidroksivitamin D merupakan hormon kalsitropik yang memediasi pengaturan transpor kalsium untuk mempertahankan konsentrasi kalsium dalam serum dalam batas normal oleh berbagai mekanisme pengaturan transpor kalsium dalam ginjal. Dose Dependency of Calcium Absorption: A Comparison of Calcium Carbonate and Calcium Citrate. Harvey. 3. 2002). Bila kadar kalsium darah turun dibawah normal. and M. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari penelitian pengaruh pemberian kalsium. J Bone Miner Res. Zat besi berperan dalam biosintesis 1. 2001.25 dihidroksivitamin D. Metabolism of Vitamin D: Current Status.E.G. Kursus dasar Metabolisme kalsium dan Penyakit Tulang. Hastono. 1998. R. Malang. Effect of Iron on Serum 25hydroxyvitamin D and 24. FKM UI. Zobitz.A. 16:4. and Tanenbaum. 1.M.C. 15:5. Modul Analisis Data. Nevitt. 2000. D. Textbook of Medical Fisiology. Hall. Heldenberg. dengan demikian diduga penderita anemia defisiensi besi akan mengalami gangguan absorpsi kalsium yang dalam waktu lama akan menyebabkan osteoporosis. J. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pada pemberian kalsium dan vitamin D yang disertai zat besi.M. maka kadar kalsium serum lebih meningkat daripada kelompok yang diberikan kalsium dan vitamin D saja.

. Stanley. Penyakit Metabolisme Kalsium. 2004. 1. 1999. 1 NO.. Suhaimi. 2002. Robins. Nutritional Factors Influencing the Development and Maintenance of Bone Health throughout the Life Cycle.. dan I. 2003. A..D. 1992.D.SCIENTIA VOL. M. Jakarta Rudijanto. World Congress on osteoporosis.K. EGC. M. Makalah Lengkap Kursus Dasar Metabolisme Kalsium dan Penyakit Tulang. Nutr.A. H. Naskah Lengkap Pertemuan Ilmiah Nasional I Padang. Buku Ajar Patologi II. Iron Deficiency Negatifly Affects of energy intake and Bodyweight. Medeiros. Jakarta. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. PEROSI 34 . 1995. S. J.. M. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Linder. 13:84-93 New. PERKENI. UI Press. Osteoporosis Post Menopouse. Malang.

Rempah berbentuk biji hitam ini telah dikenal ribuan tahun yang lalu dan digunakan secara luas oleh masyarakat India. asma. meningkatkan produksi air susu ibu.01). minyak atsiri.) merupakan tanaman rempah yang telah digunakan sebagai obat tradisional. 1 NO. 2009). steroid. 1983). diabetes. and 14th day were given the extract on 15th day up to 20th day. 200 mg/kg BW can improve the antibody titers and the amount of neutrofil cells. and limfosit cells (P<0. dan Timur Tengah untuk mengobati berbagai macam penyakit. Kandungan kimia dari jintan hitam (Nigella sativa Linn.) ini mengandung nigellienine. Jintan Hitam (Nigella sativa Linn. oleat. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL BIJI JINTAN HITAM (Nigella sativa Linn. leucosit cell PENDAHULUAN Pemakaian obat tradisional masih banyak digunakan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat di Indonesia. The result of the research show that extract at dose 50 mg/kg BW. kanker. memperbaiki saluran pencernaan. menurunkan kolesterol dan meningkatkan kinerja jantung.) seed on antibody titers and amount of leucosit cell of mice have been done. anti bakteri. anti histamin atau anti alergi. Penggunaan jintan hitam sebagai obat atau yang berkhasiat obat adalah pada bagian bijinya. Khasiat dari biji jintan hitam adalah untuk mengobati aneka penyakit seperti menguatkan sistem kekebalan tubuh. 100 mg/kg BW. saponin. The mice which has inducted with anti-gen (Goat Eritrosit 5%) in the 1th. Meski sekarang sudah banyak orang menggunakan obat– obatan modern sebagai pelengkap tetapi obat tradisional masih mempunyai kedudukan khusus dalam masyarakat. Jintan hitam (Nigella sativa Linn. nigellamine-n-oxide. monosit. senyawa golongan alkaloid. 1. Keywords: Nigella sativa. Jenis tanaman ini telah disebut–sebut sebagai tanaman obat dalam perkembangan awal agama Islam (Hendrik. minyak lemak. anti oksidan. dan linolenat (Hendrik. antibody titer. alkaloid isokuinolin. 7th.) merupakan tanaman yang dapat merangsang dan memperkuat sistem 35 .SCIENTIA VOL. menjaga elastisitas kulit. bronkhitis. Pengobatan secara tradisional berdasarkan pada upaya untuk mengembalikan dan memperkuat penyembuhan secara alami (Donatus. Pakistan. anti tumor.) TERHADAP TITER ANTIBODI DAN JUMLAH SEL LEUKOSIT PADA MENCIT PUTIH JANTAN Yufri Aldi dan Suhatri Fakultas Farmasi Universitas Andalas ABSTRACT The research about activity of ethanolic extract of jintan hitam (Nigella sativa Linn. 2009).

1 NO. Mekanisme pertahanan spesifik meliputi sistem imunitas humoral yaitu dengan produksi antibodi oleh sel B dan sistem imunitas seluler oleh sel T. vial. gunting.SCIENTIA VOL. botol maserasi.) dapat menghasilkan efek stimulator pada sistem imun tubuh (Hendrik. menghitung bobot relatif limfa mencit putih jantan dan menghitung jumlah sel leukosit dengan metoda hapusan darah pada mencit putih jantan. 2002). monosit dan magrofag). tabung reaksi. Protein–protein yang terkandung dalam ekstrak jintan hitam (Nigella sativa Linn. kaca objek. 2009). etanol 96%. Sel–sel utama yang terlibat dalam reaksi imun adalah limfosit (sel B. plat tetes. jarum suntik.1993). sel fagosit (neutrofil. rotary evaporator. Bahan Bahan-bahan yang digunakan adalah biji jintan hitam. eusinofil. 1993. lumpang dan alu. Sistem pertahanan ini bersifat adaptif dan didapat. minyak emersi. Sel–sel lain dalam jaringan walaupun bukan merupakan bagian utama dari respon imun juga dapat berperan serta dengan memberi isyarat pada limfosit atau berespon terhadap sitokin yang dilepaskan oleh limfosit atau makrofag (Wahab. 1988). dan aktivitas sel–sel imun tubuh. metanol 36 . Mekanisme pertahanan ini dibagi menjadi dua kelompok fungsional. dan mikroskop. dan sel NK). sel T. sel mast. mutu. Jintan hitam ini diduga bekerja sebagai imunomodulator yaitu yang bekerja dengan cara melakukan modulasi (perbaikan) terhadap sistem imun (Bellanti. METODE PENELITIAN Alat Alat-alat yang digunakan adalah seperangkat alat destilasi vakum. mekanisme pertahanan ini merupakan bawaan (innate immunity) artinya pertahanan tersebut secara alamiah ada dan tidak adanya dipengaruhi secara intrinsik oleh kontak dengan agen infeksi sebelumnya (Bratawijaya. Berdasarkan hal diatas maka peneliti telah melakukan pengujian aktivitas ekstrak etanol biji jintan hitan (Nigella sativa Linn. dan trombosit). timbangan. yaitu pertahanan non spesifik dan spesifik. 1988). FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 imun tubuh manusia melalui peningkatan jumlah. air suling. Sistem imun dapat didefinisikan sebagai suatu proses dan mekanisme pertahanan tubuh atau disebut juga sistem limforetikular. Pertahanan non spesifik meliputi kulit dan membran mukosa. Tizar. dan sitokin. 1. Mekanisme pertahanan ini berperan sebagai garis pertahanan pertama dan menghambat kebanyakan patogen potensial sebelum menjadi infeksi yang tampak (Subowo. gelas ukur. 1993). yaitu menghasilkan reaksi spesifik pada setiap agen infeksi yang dikenali karena telah terjadi paparan terhadap mikroba tersebut sebelumnya. eritrosit kambing. rak tabung reaksi. mediator radang. Bahan terlarut yang disekresi dapat berupa antibodi. NaCl fisiologis.) terhadap sistem imun non spesifik dengan menghitung jumlah antibodi menggunakan metoda titer antibodi. Sistem pertahanan ini sangat efektif dalam memberantas infeksi serta mengingat agen infeksi tertentu sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit dikemudian hari (Tizar. sel–sel jaringan. komplemen. sel asesori (basofil. spatel. Respon imun diperantarai oleh berbagai sel dan molekul terlarut yang diseksresikan oleh sel-sel tersebut.

1 NO. diulangi 3 kali dengan menambahkan 5 ml NaCl fisiologis setiap pengulangan. 200 mg/kg BB. biarkan selama 30 menit.2 ml larutan pada tabung pertama pindahkan kedalam tabung kedua kemudian dikocok dan pipet 0. kontrol positif (II). 1/16 .2 ml larutan dibuang sehingga hasil pengenceran dari serum yaitu ½. dibuang supernatannya. dikocok sampai homogen.2 ml serum. Pada tabung kesepuluh. 200 mg/kg BB dengan berat ekstrak masing-masing 0. kelompok dosis 100 mg/kg BB (IV) dan kelompok dosis 200 mg/kg BB (V). pewarna Giemsa (D6 100-darstadt). dimasukkan larutan NaCl fisiologis 0. ¼. lalu disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 15 menit. diambil darah dengan cara memotong vena bagian leher. heparin (D-34209 Melsungen Germany).2 ml suspensi eritrosit kambing 5% pada hari 1 secara intra peritoneal. Hewan percobaan yang telah diaklimatisasi kemudian disensitisasi (pemberian antigen pertama) dengan 0.1 dan 0.) dengan 50 mg Na CMC yang dikembangkan dengan air panas 1 ml. Suspensi ekstrak diberikan pada hari ke 15 sampai hari ke 20 secara oral dengan dosis 50 mg/kg BB. Penentuan Titer Antibodi Pada hari ke 21 mencit dibunuh. 0. digerus homogen dan dicukupkan volume dengan aquadest sampai volume 10 ml.SCIENTIA VOL. Bagian serumnya disiapkan 10 buah tabung reaksi. Pada tabung pertama ditambahkan 0. diamati penggumpalan 37 . 0. Cara yang sama digunkan untuk dosis 100. 0.85 g. 1/8. kemudian digerus dan ditambahkan kedalam ekstrak yang telah ditimbang. kelompok dosis 50 mg/kg BB (III). Lakukan hal ini sampai pada tabung reaksi kesepuluh. Terhadap ekstrak kental ini dilakukan standarisasi ekstrak seperti kandungan metabolit sekunder dan susut pengeringan. 1/32.2 ml eritrosit kambing lalu dicukupkan dengan NaCl fisiologis hingga volume suspensi 4 ml). 100 mg/kg BB. Setelah didapatkan eritrosit kambing kemudian dibuat suspensi 5% (diambil 0. 1/256. Prosedur Kerja Pembuatan Sampel Biji jintan hitam 1 kg diekstraksi dengan etanol 96% kemudian pelarutnya diuapkan secara vakum sehingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 29.1 ml suspensi eritrosit kambing 5% dimasukkan kedalam masing-masing tabung reaksi tersebut disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 5 menit. 1/64. dan 1/1024. 1 /512.2 ml larutan pada tabung kedua dan dipindahkan kedalam tabung ketiga. Pembuatan larutan uji Larutan uji dengan dosis 50 mg/kg BB dibuat dengan cara mensuspensikan 50 mg ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn. Pembuatan antigen Darah kambing dicuci dengan larutan NaCl fisiologis (1:1) masing–masing sebanyak 5 ml dan di aduk homogen kemudian disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 15 menit. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 murni. Sensititasi Hewan Hewan percobaan terdiri dari 15 ekor yang dibagi atas 5 kelompok yaitu kontrol negatif (I). kemudian dilakukan pembosteran dengan 0.2 ml pada masing-masing tabung. 1 /128.1 ml suspensi eritrosit kambing 5% secara subkutan pada hari ke 7 dan 14. kemudian dikocok sampai homogen. 1.2 gram untuk volume 10 ml.

Perhitungan Jumlah Sel Limfosit pada Limfa HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Angka titer dihitung dengan rumus : 2 Log Pengenceran Menghitung Jumlah Sel Leukosit dari Metode Hapusan Darah Darah segar diteteskan pada gelas objek satu tetes. biarkan 5 menit. Bobot limfa relatif terhadap kontrol dihitung dengan rumus : Ekstrak etanol jintan hitam mengandung metabolit sekunder alkaloid. Aglutinasi yang terjadi dipengaruhi homogen. dan monosit pada perbesaran 1000 X dengan menggunakan minyak emersi (Supandiman. biarkan selama 20 menit. ditambahkan satu tetes larutan Giemsa yang telah diencerkan dengan aquadest (1:20). Angka titer ditentukan dengan pengenceran tertinggi yang masih dapat beraglutinasi dengan eritrosit kambing (Sadikin. 1997). Hitung jumlah sel limfositnya dihitung dibawah mikroskop menggunakan minyak emersi dengan perbesaran 1000 X. Bobot limfa  100% Bobot mencit 2. Angka titer ditentukan pada pengenceran tertinggi dari serum mencit yang masih dapat beraglutinasi dengan sel darah merah kambing (Subowo. sebanyak 20 µl larutan limfa. setelah itu difiksasi dalam metanol selama 2 menit kemudian dibilas dengan aquadest dan kering anginkan. ditimbang bobot relatifnya satu persatu. setelah kering lihat di mikroskop. Angka titer dapat dicari dengan rumus 2 log 4 maka angka titernya adalah 2. Setelah kering ditetesi dengan metanol. lalu keringkan. sehingga menutupi seluruh hapusan darah.4 gerus sampai halus dan 38 . diencerkan dengan pewarna Giemsa denga dapar pospat. Kemudian dihitung jumlah sel eusinofil. 1993). 1 NO. steroid dan saponin dengan nilai susut pengeringan sebesar 27. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 yang terjadi. dengan perbandingan (1:20). kemudian dibilas dengan air suling dan dikeringkan. . preparat yang telah difiksasi.18%. dicuci dengan aquadest. 1998) Pada penelitian ini data yang diperoleh diolah secara analisis statistik dengan menggunakan metode ANOVA satu arah. limfosit. kemudian mencit dibedah dan diambil limfanya. diwarnai dengan cara meneteskan pewarna Giemsa sebanyak 10 tetes biarkan selama 5 menit. Penimbangan bobot limfa relatif Setelah darah mencit diambil untuk pengujian titer antibodi. neutrofil segmen. Penghitungan jumlah sel limfosit Setelah didapatkan bobot relatif limfa. lalu ditipiskan dan diratakan dengan gelas objek lain sehingga diperoleh lapisan darah yang homogen (hapusan darah). 2008). Hasil susut pengeringan ini dijadikan faktor konversi terhadap penimbangan dosis yang akan digunakan. Persen kenaikan sel limfosit dihitung dengan rumus : Jumlah sel limfosit dosis  100% Jumlah sel limfosit kontrol Pengolahan Data (Schefler. lalu diletakkan pada kaca objek dan dibiarkan mengering.SCIENTIA VOL. neutrofil batang. 1. timbang 50 mg limfa kemudian disuspensikan dalam 2 ml larutan dapar pospat pH 7.

00± 2.33± 2. komplek imun dan sebagainya.00 ± 1.34 7. Komplemen yaitu salah satu enzim serum yang berasal dari sistem imun non spesifik yang larut dalam keadaan tidak aktif.33± 2.33± 2.75 30.67± 2. Maka pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 10.22 Limfosit 31.67± 3.67± 2. 1.) Jumlah Sel Leukosit ( x + SD.00± 0.33± 2.41 9. Tabel I. Sedangkan pada kontrol positif aglutinasi terjadi 2log 16 maka angka titernya adalah 4.64 Kelompok 39 .67± 1.67± 1.00± 2. tetapi sewaktu-waktu dapat diaktifkan oleh berbagai bahan seperti antigen.SCIENTIA VOL.) 1 Kelompok I II III IV V log Pengenceran 2 log 4 2 log 8 2 log 16 2 log 64 2 log 256 2 Angka Titer 2 3 4 6 8 2 log Pengenceran 2 log 4 2 log 16 2 log 32 2 log 256 2 log 128 2 Ang ka Titer 2 4 5 8 7 3 log Pengenceran 2 log 4 2 log 16 2 log 32 2 log 128 2 log 256 2 Ang ka Titer 2 4 5 7 8 x 2 3.00 Netrofil Batang 4. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 oleh komplemen.65 37.22 7.33± 1.40 42.47 46.67 4.69 2. monosit dan tidak signifikan terhadap sel eusinofil dan netrofil batang.33± 3.67 ± 0.25 1.87 50.67 7 7.33± 0.02 38.00± 1.33± 0.52 45.67± 2.58 1.67± 0.74 34. Tabel I menunjukkan bahwa dengan peningkatan dosis pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam dapat meningkatkan angka titer antibodi yang merupakan respon imun spesifik.82 2.58 5.00± 1.33± 1.50 11.33± 6. didapatkan pengaruh dosis sangat signifikan terhadap jumlah sel netrofil segmen. 1 NO.88 7. Hasil Perhitungan Sel Leukosit Pada Darah Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan diberi Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella Sativa Linn.75 Monosit 6. Titer Antibodi dari Serum Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan diberi Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella Sativa Linn.76 8.67 x 6 11 14 21 23 Dari hasil uji statistik analisa varian satu arah dan dilanjutkan ke uji berjarak Duncan.34 Netrofil Segmen 55.) dapat meningkatkan jumlah sel leukosit darah yang merupakan sistem imun alamiah (non spesifik) Tabel II.33± 1. limfosit. n = 3 ) Eusinofil I II III IV V 2.

38 125.00±3.47 0.61 72. n = 3 Mencit Limfa 0. dan 200 mg/kg BB dan dapat meningkatkan jumlah limfosit.38±0.59 110.00 26.) Jumlah Sel Limfosit ( x ±SD.33±5.12±0.87 27.10±0.01 0. 1 NO.33±0.01).) dapat meningkatkan titer antibodi pada dosis 50 mg/kg BB. Dari data dapat dilihat bahwa kenaikan bobot limfa relatif juga diikuti dengan kenaikan sel limfosit pada limfa. Tabel III.50 25.) Bobot (g) x ±SD. 1. sedangkan sel eusinofil dan neutrofil batang tidak signifikan.SCIENTIA VOL. Kedua sistem imun diatas berperan penting dalam melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme. dan monosit sangat signifikan (P<0. pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.21 57.67±2.93 % kenaikan sel limfosit terhadap kontrol (+) -103. menurunkan jumlah neutrofil segmen sangat signifikan (P<0.02 0.67±3.33±4.48±0.54±0.53±0.67±5.52 27.01 Bobot Limfa Relatif (%) Kelompok I II III IV V x ±SD. n = 3 ) % kenaikan sel limfosit terhadap kontrol (-) 0.01). dan poliferasi limfosit.16±0.02 0. 40 . diferensiasi. Bobot Relatif Limfa Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan diberi Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.40±0.16 Dari empat parameter yang diamati.). sehingga terjadi pembesaran pada limfa.50±0. 100 mg/kg BB.07 0. Maka penggunaan ekstrak etanol biji jintan hitam sangat efektif untuk meningkatkan sistem imun. Kenaikan sel limfosit dan bobot relatif disebabkan karena pada limfa terjadi.35 121. Jumlah Sel Limfosit dan Persentase Kenaikan Sel Limfosit pada Limfa Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan diberi Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.06 0.69 61. untuk melihat pengaruh antigen dan ekstrak yang diberikan.00 103.00±1.74 129.03 29.50±0.51 70. dapat meningkatkan antibodi yang merupakan sistem imun dapatan (non spesifik) dan jumlah sel leukosit yang merupakan sistem imun alamiah (spesifik).05 0.11±0. n = 3 0. KESIMPULAN Dari penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 16.14±0. Berdasarkan hasil kenaikan bobot limfa relatif maka dilakukan perhitungan sel limfosit pada limfa.17 125.76 Tabel IV.03 0.02 0.42 Kelompok I II III IV V 55. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Penentuan bobot limfa relatif mencit.

Widya Medika. Kedokteran dan Ilmu Bertautan. Pedoman Terapi Haematologi Onkologi. Bellanti. 1983. Sistem Imin. S. dan Julia M. 1993.com. 1993. dkk.. Fakultas Farmasi Gajah Mada. Habbatus Sauda’. edisi ke-6. Edisi 1. 1988. 2008. Jakarta. R. Bratawijaya. Peranan Farmakologi Dalam Pengembangan Obat Tradisional.. Immunologi III. Cetakan ke-1. Imunogi Dasar. K. Imunisasi dan Penyakit Imun. J. Penerbit alumni. Soerapto. Edisi III. Bandung. Imunobiologi.. Tizar. S. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III. Wahab. 1998. 41 . 2004. Pengantar Imunologi Veteriner. 1. Airlangga Universitas Press. dan N. Gajah Mada Press. Antibodies Titers in Rat Immunized Agains Sheep Red Blood Cell (SRBC). C. Jogjakarta. G. 2002. oleh Husin. Diterjemahkan oleh A. Penerbit Angkasa. Subowo. I. Statistika Untuk Biologi. M.google.. Yogyakarta.A... Hendrik. 1993. Pustaka Iltazam. Solo. I.W. 2009. 1 NO. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. M. Penerbit ITB. Subowo. Imunobiologi Klinik. Farmasi.. Bandung.A. Jakarta.SCIENTIA VOL. Surabaya. diterjemahkan oleh Suroso. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 DAFTAR PUSTAKA Donatus. Schefler. Wahab.A. Sadikin. diakses dari http :www. Penerjemah Soehardjo Hardjosworo. Supandiman. Angkasa Bandung. 1997. Jakarta. I. Bandung.

Keywords : Vibrio parahaemolyticus. penetrasi ke dalam mukosa usus. 1980). fakultatif anaerob. 1. keram perut.19 % respectively.5% NaHCO3 dan 0. Antibiotics resistances. penggunaan antibiotika yang tidak diawasi mengakibatkan suatu sifat tidak terganggunya aktivitas sel bakteri pada pemberian antibiotika. seperti pemberian larutan 0. Value of Multiple Antibiotics Resistances (MAR) was 0. Mier 1996).05 %. chloramphenicol. Untuk dapat menimbulkan infeksi. 1996). FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 PENETAPAN POLA RESISTENSI ANTIBIOTIKA Vibrio parahaemolyticus HASIL ISOLASI DARI CUMI-CUMI (Loligo vulgaris) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serratta) Ria Afrianti1. 52. dan siprofloksazin (Doyle.1% KCl ke dalam pembuluh darah (Boyd. 26. Waturangi. Antibiotic resistances were tested on fourty two cultures of Vibrio parahaemolyticus by Krumperman diffusion method toward six kinds of antibiotic. 1989). mual. 0. 2Fakultas Farmasi Universitas Andalas 1 ABSTRACT The characteristics of Vibrio parahaemolyticus resistances were observed from Squid (Loligo vulgaris) and mangrove crab (Scylla serratta) in Padang using differential medium CHROMAgar the Vibrio. Husni Mukhtar2 STIFI Perintis Padang. muntah. 1988).19 %.46. 92. Scylla serratta PENDAHULUAN Vibrio parahaemolyticus adalah bakteri gram negatif. M.86 %. bakteri harus melalui tahap kontak dengan permukaan mukosa usus.38 %. Loligo vulgaris. gentamicin. transduksi ataupun konjugasi selama berlangsungnya pengobatan menggunakan antibiotika (Pelczar et al.19 %. demam (Gerard. berbentuk koma. ampisilin. Sifat ini dikenal dengan istilah resistensi sel bakteri (Ganiswarna. 1 NO.SCIENTIA VOL. Masa inkubasinya 4-96 jam dengan rata-rata 15 jam. Pada serangan akut. sulfametoxazol. tumbuh baik pada medium dengan kadar NaCl 1-8 % sehingga termasuk bakteri halofilik. and tetracycline were 76. Pengobatan dilakukan dengan mengganti cairan elektrolit tubuh yang hilang akibat diare.5% NaCl. 1988. 1982. 19. Barrow 1993. The percentage of Vibrio parahaemolyticus resistances toward ampicillin. erythromycin. Penyakit yang ditimbulkannya adalah gastroenteritis dengan gejala-gejala diare. Tetapi. Marlina2. Gen resistensi dari bakteri yang telah resisten terhadap suatu antibiotika dapat dipindahkan ke bakteri lain melalui mekanisme transformasi. Bakteri yang telah resisten memiliki gen untuk melindungi dirinya dari efek bakterisida suatu antibiotika. 2000). Perkembangan resistensi merupakan proses alamiah yang dilakukan bakteri guna mengembangkan toleransi terhadap keadaan lingkungan yang baru (Pelczar et al. diberikan antibiotika seperti tetrasiklin. 42 . 26. menetap di dalam sel epitel usus dan memperbanyak diri (Postnova. 1995). mempunyai flagela polar.

2004). timbangan digital (Mettler PM 200®). Ditimbang 10 g sampel yang telah dihaluskan kemudian dimasukan dalam erlemeyer dan ditambahkan Salt Poymixin Broth (SPB) hingga 100 ml dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengamati penetapan resistensi bakteri terhadap antibiotika. etanol 70%. Pengambilan sampel Sampel dibeli dari penjual cumicumi dan kepiting di pinggir pantai Purus. hot plate. batang pengaduk. kota Padang. beaker glass.parahaemolticus yang diisolasi dari 43 . Universitas Andalas Padang. khususnya bakteri V. pot salep. spatel. autoklaf. Beranjak dari penelitian tersebut maka dilakukan penelitian mengenai sifat resistensi bakteri V. pinset. Setelah masing-masing pengencean ditanam pada media CHROMAgar™ Vibrio dalam cawan Petri. Biakan dalam cawan Petri akan memberikan koloni ungu yang menandakan adanya bakteri V. jangka sorong. sentrifugator.parahaemolyticus. Media Sampel CHROMagar Vibrio (CHROMagarTM). incubator. selanjutnya 0.1 ml dari pengenceran 10‾1 dimasukan kedalam 0. aquadest steril. 1. lemari pendingin. laminar air flow. kapas lidi. media Mueller Hinton (Merck®). Lalu diinkubasi lagi pada suhu 37°C selama 24 jam. lampu spiritus. 2002). vortex. effendorf. Oleh karena itu.9 ml media SPB dalam tabung ependorf untuk pengenceran 10‾1 .SCIENTIA VOL. Uji resistensi bakteri Vibrio parahaemolyticus terhadap antibiotika Cakram antibiotika yang digunakan dengan konsentrasi yang telah ditetapkan sebagai berikut: Golongan Penisilin Kloramfenikol Eritromisin Antibiotik Ampisilin Kloramfenikol Eritromisin Konsentrasi (µg ) 10 30 10 15 5 30 Aminoglikosida Gentamisin Sulfonamida Tetrasiklin Sulfametoksazol Tetrasiklin Uji resistensi antibiotik dilakukan terhadap beberapa kultur V. parahaemolyticus. disk antibiotika (BBL™). Isolasi bakteri parahaemolyticus Vibrio METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Jarum ose.1 ml sampel induk dimasukan ke dalam 0. water bath. cawan petri. kemudian diidentifikasi di Laboratorium Ekologi Hewan Jurusan Biologi FMIPA. parahaemolyticus yang diisolasi dari sampel Cumi-cumi (Loligo vulgaris) dan kepiting bakau (Scylla serratta) di kota Padang terhadap beberapa antibiotika.9 ml media SPB dalam tabung ependorf untuk pengenceran 10‾2 demikian seterusnya sampai pengenceran 10‾5. 1 NO. media Luria Burtani (LB) broth. Pada penelitian terdahulu telah dilakukan suatu kajian tentang sifat resistensi bakteri Vibrio cholerae yang diisolasi dari feses balita penderita diare dan limbah cair di rumah sakit terhadap beberapa antibiotika (Harta. pipet mikro. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Resistensi sel bakteri terhadap suatu antibiotika yang terjadi di rumah sakit cukup tinggi (Radu. Rotary shaker inkubator. Setelah diinkubasi kemudian dilakukan pengenceran mulai dari 10‾1 sampai 10‾5 dengan cara memipet 0. erlenmeyer. lampu UV.

terapi 44 . kemudian di inkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam.parahaemlyticus resisten terhadap antibiotik ini.parahaemoyticus sebagai spesies vibrio halofilik dan menekan keberadaan spesies lain. 1. Terbentuknya warna ungu menandakan pada kedua sampel yaitu cumi-cumi (L. HASIL DAN PEMBAHASAN Media yang digunakan untuk isolasi bakteri Vibrio parahaemolyticus yaitu media pengaya SPB yang mengandung antibiotik Polymixin B. Analisa Data Persentase resistensi bakteri terhadap antibiotika dihitung untuk setiap jenis antibiotika dengan menggunakan persamaan: Jumlah kultur yang resisten x 100 % Jumlah kultur yang diuji Perhitungan Nilai MAR dengan menggunakan persamaan Krumperman: MAR = x y Keterangan : MAR = Multiple Antibiotics Resistance x = Jumlah bagian yang resisten terhadap antibiotika dari satu kultur yang digunakan y = Jumlah antibiotika yang digunakan Resistensi suatu koloni bakteri terhadap antibiotika dikatakan tinggi jika memiliki nilai Multiple Antibiotics Resistance (MAR)  0. penambahan ini sesuai dengan kadar optimal untuk pertumbuhan V. Kultur pada media SPB ditanam pada medium spesifik CHROMAgar™ vibrio. % Re sistensi Daerah hambatan yang terlihat sebagai wilayah bening disekitar disk antibiotik diukur diameternya dan karakter resistensi dari bakteri tersebut terhadap antibiotik dibandingkan terhadap tabel standard.serratta) ada V. dimana bakteri V.2. Biakan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC.parahaemolyticus. parahaemolyticus akan tetap berlangsung.parahaemolyticus. Walaupun demikian. Pada media SPB harus ditambahkan 3% NaCl yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah V. Disk antibiotik ditaruh hati-hati diatas biakan bakteri dan ditekan perlahan dengan pinset steril supaya benar-benar kontak dengan bakteri. Terapi utama untuk mengatasi dehidrasi pada penyakit gastroenteritis adalah penggantian cairan dan elektrolit baik secara oral maupun secara intravena. Biakan yang telah diremajakan dalam LB broth diambil dengan pipet mikro sebanyak 100 µl dan ditanam pada medium Mueller hinton Agar dengan meratakanya pada permukaan media menggunakan lidi kapas steril. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Scylla serratta dan Loligo vulgaris.vulgaris) dan kepiting bakau (S. dan masih memiliki aktivitas terhadap spesies vibrio. sedangkan pertumbuhan spesies vibrio lainya dihambat. Jarak Disk dengan tepi cawan Petri 15 mm dan jarak antar Disk 24 mm. 1 NO.SCIENTIA VOL. sehingga pertumbuhan V.

Tetrasiklin bersifat bakteriostatika dan bekerja menghambat sintesa protein bakteri pada ribosom yaitu berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi masuknya kompleks tRNA asam amino pada lokasi asam amino (Ganiswara. Resistensi suatu bakteri gram negatif dinyatakan tinggi jika mempunyai nilai Multiple Antibiotics Resistence (MAR) > 0.05% kultur resisten terhadap kloramfenikol. 1 NO.parahaemolyticus resistensi terhadap sulfametoksazol (Handayani. 1995).. antibiotik ini masih peka dengan V. terapi dengan antibiotik dapat mengurangi durasi diare dan ekskresi serta mengontrol penyebaran penyakit ini.SCIENTIA VOL. Dari sekian banyak pola resistensi antibiotika terhadap isolat. 1. ternyata sulfametoksazol mempunyai tingkat resistensi yang tinggi. parahaemolyticus terhadap antibiotik sangat penting untuk pemilihan antibiotik yang tepat (Ganiswara. Y. Gentamisin merupakan senyawa aminoglikosida pilihan utama karena harganya murah dan aktivitasnya yang diandalkan terhadap semua infeksi kecuali terhadap bakteri aerob gram negatif yang paling resisten. Kombinasinya akan berupa efek yang sinergis. Eritromisin termasuk golongan makrolida yang bersifat bakteriostatika tapi dapat juga bersifat bakterisida dalam konsentrasi yang tinggi terhadap organisme yang rentan. pada konsentrasi tinggi kadang-kadang bersifat bakterisid. Dari 45 . namun penggunaan antibiotik ini harus diperhatikan karena memiliki efek samping yang berbahaya yakni dapat menimbulkan nefrotoksik (Goodman & Gilman.19%) terjadi karena proteksi melalui ribosom oleh protein sitoplasma. Sulfametoksazol yang biasanya dikombinasikan dengan trimetoprim merupakan senyawa antibiotika yang efektif secara klinis. Dari hasil diperoleh 92. 1995). Antibiotika ini bekerja menghambat enzim petidil transperase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan peptida pada proses sintesis protein bakteri. Dari hasil yang diperoleh (26. Dari hasil.86% kultur resistensi terhadap sulfametoksazol. 1995). resistensi dapat timbul karena resistensi silang. 2006). Kloramfenikol adalah salah satu obat alternatif untuk diare (Ganiswara. Resistensi dapat timbul karena penyebaran resistensi yang diperantarai oleh plasmid.19%). sehingga hasil pengujian sifat resisten V. Antibiotik ini bersifat bakteriostatik terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Dari hasil. Bakteri V. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 dengan antibiotik juga penting karena dalam beberapa kasus. Ampisilin bekerja dengan menghambat sintesa dinding sel bakteri. Uji resistensi terhadap antibiotik pada penelitian ini menggunakan metode difusi krumpermen karena metoda ini merupakan metoda yang sederhana tetapi efektif memberi informasi untuk pengujian sifat resisten bakteri terhadap beberapa antibiotik. Resistensi pada kloramfenikol dapat muncul bila bakteri mampu membentuk enzim kloramfenikolasetil tranferase yang mampu merusak aktivitasnya. Hal ini berarti antibiotik ini masih dapat digunakan sebagai terapi. 2007). Umumnya bersifat bakteriostatik.38% kultur resisten terhadap antibiotik ini.parahaemolyticus. Timbulnya resistensi terhadap tetrasiklin (26. diperoleh 52.2.19% kultur resisten terhadap antibiotik ini. Dari penelitian ini diperoleh hasil 19. diperoleh 76. namun pada penelitian ini digunakan Sulfametoksazol. Ampisilin merupakan senyawa prototipe golongan aminopenisilin.

27672776 Mier.8 dengan nilai MAR rata-rata adalah 0. ”Keanekaragaman Genetik serta Uji Resistensi Antibiotik Escherichia coli yang Diisolasi dari Feses Farunus spp”. 2007.. 1993. Richardson. California Boyd... R. G. Benjamin. Yuherman and G.05 % kultur resisten terhadap kloramfenikol. P. 1995. Jakarta Pelczar.. H.R.. Medical Microbiology. Jilid II. 1988.38 % resisten terhadap eritromisin. J. dan E. M. Mikrobiologi Kedokteran. Chan.46.parahaemolyticus mempunyai tingkat resistensi yang cukup tinggi terhadap antibiotik yang digunakan. Pepper and C. O..  Nilai Multiple Antibiotics Resistence (MAR) yang diperoleh berkisar antara 0. DAFTAR PUSTAKA Gerard. Cowan and Steel’s Manual for the Identification of Medical Bacteria. PT. UI-Press.hayati. by ELISA”. 5th Ed. C.. Farmakologi dan Terapi. 1996.J. Mar. 1982. 92. 26.parahaemolyticus mempunyai tingkat resistensi terhadap antibiotik yang cukup tinggi. Hal ini menunjukan bahwa bakteri V. New York Ganiswarna. R. Farmakologi Dan Terapi. Rahim. Postnova.3 – 0.S.M. Cambridge Univercity Press. dkk.G. D. F. 1989. Marcell Dekker Inc. 1980. 3rd Ed. S.G.... 26. 83. I. UI-Press. S.. Radu. Jakarta.E. K. Gramedia. 1996.. T. 142.L. 19. S. Gerba. Vincent. ITB.I.SCIENTIA VOL.46.19 % resisten terhadap gentamisin. diterjemahkan oleh Ratna. Microbiol.A. Dasar-Dasar Mikrobiologi.19 % resisten terhadap tetrasiklin. M. Hal ini menunjukan bahwa bakteri V. Foodborne Bacterial Pathogens. Vol 2. Environmental Microbiology. International Thompson Publishing. ”Motility Mutants of Vibrio cholerae 01 have Reduced Adherence in vitro to Human Small Intestinal Epithelial Cells as Demonstrated 46 . Rusul.P.19 % kultur resisten terhadap ampisilin. M. . 52.ipb. http://www. 2002. Jakarta Barrow. Apun. EDISI ke-10. “Molecular Characterization of Vibrio cholerae O1 Outbreak Strain in Miri.86 % resisten terhadap sulfametoksazol. 1 NO.. 169-176 Waturangi. dkk.. 2000. Sarawak (Malaysia)”. and J. G. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 penelitian ini diperoleh nilai MAR ratarata adalah 0. Jakarta KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :  Hasil uji resistensi dari 42 kultur murni V.com Goodman & Gilman. Little Brown and Company. Gomez-duarte and K.parahaemolyticus menunjukkan bahwa 76. Boston Doyle. 1. Acta Tropica.

Novicaresa M. STIFI Perintis Padang ABSTRACT The anti inflammatory effect of ethanolic extract of the kembang bulan (Tithonia diversifolia A. flavonoid. anti-inflammatory. yang digunakan untuk pengobatan tradisional biasanya adalah bagian daun.03 ml. The maximal effect of anti inflammatory was seeen at concentration 5% with the lowest edema volume 0. baik itu tumbuhan asli Indonesia. totally of leucocytes cell on edema and blood. Gray) TERHADAP MENCIT PUTIH BETINA Verawati.5% and 5%. Gray) atau secara tradisional dikenal sebagai Bunga Busuk.Gray) leaves on female white mice has been done topically using modification methode between making edema and granuloma pouch. Tumbuhan yang merupakan bahan baku obat tradisional tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.08 ml. Keywords : Tithonia diversifolia.SCIENTIA VOL. serta polifenol. Daun dari tumbuhan T. Salah satu tumbuhan tersebut adalah bunga kembang bulan (Tithonia diversifolia A. 1. maupun tumbuhan dari luar negeri yang tumbuh dan dikembangkan di Indonesia.Gray) leaves gives topically anti inflammatory effect. Bunga Kipait. diversifolia sebagai sumber zat kimia.5% with edema volume 0. seperti kita ketahui salah satu sebab inflamasi bisa disebabkan oleh bakteri. The result of research showed that ethanolic extract of the kembang bulan (Tithonia diversifolia A. A. edema PENDAHULUAN Tumbuhan adalah gudang bahan kimia yang memiliki berbagai manfaat termasuk untuk obat berbagai penyakit. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 AKTIFITAS ANTI INFLAMASI EKSTRAK ETANOL DAUN KEMBANG BULAN (Tithonia diversifolia. 2002). tanin. 47 . 1 NO. The parameter were observed include edema volume. Selain itu dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa tumbuhan T. Saat ini tanaman obat tradisional masih berperan sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk di bidang kesehatan (Wijaya et al. saponin. It can reduced the edema volume and gives effect on decreasing leucocytes cell on edema and can increased neutrofil cells and limpocyt cells on blood significantly (P<0. Penggunaan tumbuh-tumbuhan sebagai obat tradisional mempunyai keunggulan antara lain dalam hal khasiat yang lebih baik serta efek samping yang lebih kecil dari pada obat berbahan kimia murni. diversifolia ini mengandung senyawa alkaloid. higher than anti inflammatory effect of hidrocortison acetat 2. 1983). Donatus.2010).05). Mimi Aria. The extract was given topically as ointment for 4 days in various concentration: 1%. tapi dapat juga menggunakan kulit akar dan batang. 1995. 2. dari Family Asteraceae (Hanum. Manfaat dari daun. terpenoid. diversifolia aktif sebagai anti bakteri (Dewi. Induction was done by injectioning carragenin 2 %b/v in NaCl fisiologis subcutaneously. Bagian yang dimanfaatkan dari tumbuhan T. Oleh karena itu saat ini banyak para peneliti berusaha untuk mengisolasi senyawa kimia dari tumbuh-tumbuhan tersebut guna dimanfaatkan dalam bidang pengobatan.

etanol 70%. Hewan yang digunakan adalah mencit putih betina dengan berat 20-30 g sebanyak 25 ekor. jarum suntik 1 ml. Penginduksian Udem a.5 kg daun kembang bulan segar dicuci bersih kemudian dilakukan pengeringan tanpa sinar matahari (kering angin). METODE PENELITIAN Alat Alat. Setelah kering dilakukan penyerbukan dengan cara pemblenderan dan dimaserasi dengan etanol 70% selama 3x3 hari dan disaring. maka konsentrasi karagen yang diperoleh adalah 2% . 1. Mulanya dipotong dengan gunting. diare dan digunakan sebagai obat luka dan anti radang (antiinflamasi) (Dalimartha. 1 NO. gelas ukur. dan lain. 1971). Pembuatan Sediaan Uji Ekstrak daun kembang bulan ditimbang sesuai dengan konsentrasi yang akan dibuat lalu digerus halus dalam lumpang. lalu gerus halus dalam lumpang kemudian sedikit demi sedikit ditambah NaCl fisiologis 50 ml sambil digerus homogen.5% b/b. dimana masing–masingnya dibagi menjadi 5 kelompok Pembuatan Larutan Penginduksi Timbang karagen dihitung sebanyak 1 gram.SCIENTIA VOL. air suling. NaCl fisiologis. maka perlu dilakukan penelitian secara ilmiah dengan menguji aktivitas anti inflamasi ekstrak daun T. sehingga bulunya betul-betul hilang dibiarkan selama 24 jam. spidol. 2000). Ekstraksi sampel Sebanyak 1. lumpang dan stamfer. 1962). vaselin flava. diversifolia secara tradisional sebagai anti-inflamasi dan penelitian sebelumnya mengenai antibakteri.lain. kandang hewan. jarum suntik 5 ml. timbangan hewan. Filtrat diuapkan secara vakum sehingga diperoleh ekstrak kental etanol. krim perontok bulu dan hidrokortison asetat (serbuk). Domer.5% b/b dan 5% b/b. Mencit dicukur bulu bagian punggungnya dengan diameter ± 3cm. 2. Sediaan uji terdiri atas 3 macam konsentrasi yaitu 1% b/b. kemudian tambahkan vaselin flava sedikit demi sedikit sambil digerus sehingga didapatkan massa yang homogen.alat yang digunakan yaitu rotary evaporator. alat cukur. diversifolia terhadap mencit putih betina dengan menggunakan metode modifikasi antara metode udem buatan dengan “granuloma pouch” (Gryglewsky. gunting bedah. 48 . botol maserasi. Berdasarkan penggunaan daun T. kembung. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 T. Bahan Bahan yang digunakan yaitu daun kembang bulan. karagen. Parameternya adalah pengukuran volume udem buatan pada bagian punggung mencit putih dan penentuan jumlah sel leukosit pada tempat terjadinya inflamasi dan dalam darah (Winter. 1997. diversifolia secara tradisional biasanya digunakan sebagai obat sakit perut. selanjutnya untuk menghilangkan bulu yang masih tersisa dioleskan krim perontok bulu. Pembanding yang digunakan adalah hidrokortison asetat dengan konsentrasi 2.

068337 1 0. 1 NO.09100 0.08 0.11 0. Hasil pengukuran volume eksudat dari radang punggung mencit putih betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A. Pada kelompok kontrol hanya diberikan vaselin flava saja. sehingga melapisi seluruh lapisan darah. b. Pengukuran volume radang pada hari ke lima eksudat diambil dengan jarum suntik lalu diukur volumenya. Dicuci dengan air suling.40 0.1 0. Pengukuran Dilakukan Parameter yang a.09 0. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 b.07320 0.03000 0.08 0. Penghitungan jumlah sel leukosit dalam hapusan darah dan cairan eksudat.09 0. dikeringkan dan dilihat dibawah mikroskop.06 0.Gray secara topikal Volume eksudat (ml) Konsentrasi (%) 0 0.08 0. limfosit. lalu dikeringkan. dan sel monosit.03 0. Selanjutnya obat diberikan lagi setiap hari selama 3 hari setelah pemberian pertama (obat diberikan selama 4 hari). eusinofil.011402 Perlakuan 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 49 . Pada bahagian punggung yang dicukur disuntikkan dengan udara sebanyak 5 ml secara subkutan sehingga terbentuk kantong udara dan sekaligus disuntikkan juga 0.50 0.05 0.51 0. Analisa Data Untuk menganalisa data hasil penelitian yang diperoleh dari semua parameter akan digunakan analisa variansi (ANOVA) satu arah. Setelah kering ditetesi dengan metanol. Pemberian Sediaan Uji Sediaan uji diberikan dengan cara mengoleskan secara merata pada daerah yang terbentuk kantong udara (daerah yang dicukur) sebanyak 200 mg (dalam bentuk salep) dengan diameter ± 3 cm segera setelah pemberian karagen 2% dalam NaCl fisiologis sebanyak 0.012247 Hidrokortison asetat 2.39 0.05 0. 1. Setelah 24 jam kantong udara terbentuk dihisap udaranya dengan jarum suntik 5 ml sehingga kantong udara tersebut jadi kempes.43200 0.08600 0.01 0.5 0. Ditambahkan satu tetes larutan Giemsa yang telah diencerkan dengan air suling (1 : 20) dan dibiarkan selama 20 menit.013416 2.SCIENTIA VOL. Dihitung jumlah sel neutrofil.085 0.1 ml karagen 2% dalam NaCl fisiologis.04 0. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel I.04 0. dibiarkan 5 menit.2 ml pada tempat yang ada kantong udara tersebut.07 0. c.1 0.11 0. Darah atau cairan eksudat segar ditetesi pada gelas objek satu tetes dan ratakan dengan gelas objek yang lain sehingga diperoleh lapisan darah yang homogen (hapusan darah).15 0.36 0.03 0.2 ml.5 0.056667 5 0. Selanjutnya ditambahkan larutan karagen 2% dalam NaCl fisiologis sebanyak 0.

00 + 2.894 4.894 1.60 + 2.673 8.074 1.894 19.000 Tabel III.20 + 0.40 + 1.80 + 4. Sedangkan pada jumlah sel eosinofil.20 + 0.40 + 4.209 47.20 + 3.643 64.450 34.447 1.Gray secara topikal Jumlah Sel Leukosit ( x ±SD.868 Konsentrasi 0% 1% 2.447 1.80 + 3. secara topikal Jumlah Sel Leukosit ( x ±SD.80 + 4.837 17. sehingga aliran cairan terhenti.447 1.764 42.114 25. dan terjadi pula penghentian migrasi leukosit.80 + 3.80 + 0.5% Neutrofil segmen 34.588 2.588 1.5% 5% Hidrokortison asetat 2.20 + 0.00 + 4.00 + 0. Hasil perhitungan jumlah sel leukosit dari uji statistik dengan analisa varian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun T.Gray. diperoleh suatu korelasi yang menunjukkan hubungan antara volume eksudat (ml) terhadap konsentrasi ekstrak (%).60 + 3. Setelah pemberian ekstrak etanol daun T.535 Eosinofil 1. bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak semakin efektif mengurangi volume edema.673 8.20 + 0. Cairan 50 .00 + 0.894 18.387 22. Dari tiga dosis yang digunakan efek maksimum diberikan oleh dosis konsentrasi 5% yang ditandai dengan kecilnya volume eksudat yang didapatkan.362 17.60 + 0.517 59.00 + 0.128 64.40 + 4.447 Pembahasan Pemberian sediaan uji dengan dosis konsentrasi 1% ternyata telah memberikan efek anti-inflamasi.80 + 1.20 + 2.60 + 0. diversifolia secara topikal sesuai dosis.40 + 5.40 + 3.00 + 2.SCIENTIA VOL. Hasil perhitungan sel leukosit dari eksudat punggung mencit betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.80 + 1.5% Neutrofil segmen 50.60 + 1.5% 5% Hidrokortison asetat 2.924 6. 1.548 1. diversifolia mempengaruhi persentase jumlah sel leukosit.324 30.20 + 2. Ini berarti.000 1.80 + 1.271 70.837 19.60 + 3.80 + 3.01).40 + 0.362 1.924 60.564 76.00 + 0.548 1. n = 5 ) Neutrofil Monosit Limposit batang 1. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Tabel II.40 + 0.20 + 0. Dimana terjadi peningkatan jumlah sel neutrofil segmen dibandingkan dengan kontrol negatif.924 2.20 + 1.278 53. Dari hasil uji analisa varian dapat dilihat bahwa pada konsentrasi zat uji 1%. n = 5 ) Neutrofil Monosit Limposit batang 1. Dimana volume eksudat rata-rata mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan dosis yang diberikan dibandingkan dengan kontrol positif yang hanya menggunakan vaselin flava saja. monosit dan limposit mengalami penurunan yang disebabkan karena pembuluh darah di daerah radang memperoleh permeabelitasnya kembali.60 + 1.60 + 0.80 + 1. baik itu dalam eksudat maupun dalam darah.550 27.40 + 0.828 27.707 29.5% dan 5% terhadap kontrol memberikan perbedaan yang sangat bermakna (p < 0.80 + 4.837 20.80 + 0.80 + 1.80 + 6.894 1.924 1.347 Konsentrasi 0% 1% 2.837 1.643 4.771 Eosinofil 1. 1 NO.000 1.20 + 0.60 + 0.40 + 5.301 2. 2. Hasil perhitungan sel leukosit dari darah mencit putih betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.80 + 2.

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1, FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045
yang sebelumnya telah dieksudasi diserap oleh pembuluh limfa dan sel-sel fagositik mengalami desintegrasi, keluar melalui pembuluh limfe dan dihilangkan dari radang, sehingga persentase jumlah sel leukosit dalam darah kembali mendekati jumlah normal. Sel leukosit yang memegang peranan penting dalam proses fagositosis pada jaringan yang rusak adalah neutrofil dan monosit. Monosit dalam eksudat disebut makrofag yang merupakan sel yang bergerak aktif memberi respon secara kemotaksis, fagosit aktif dan mampu mematikan serta mencerna berbagai agen penyebab inflamasi pada jaringan yang rusak. Eksudat merupakan cairan yang tertimbun dalam jaringan atau ruangan karena bertambahnya permeabelitas pembuluh darah. Hasil perhitungan jumlah sel leukosit pada cairan eksudat radang dan uji statistik dengan analisa varian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun T. diversifolia dapat mempengaruhi jumlah sel leukosit secara bermakna dengan peningkatan dosis dibandingkan dengan kontrol negatif, dimana menyebabkan kenaikan jumlah sel leukosit dalam eksudat radang. Hidrokortison asetat dalam bentuk salep yang digunakan sebagai pembanding yang merupakan salah satu sediaan obat anti inflamasi yang bayak digunakan untuk mengobati reaksi peradangan pada kulit ternyata menunjukkan efek yang hampir sebanding dengan ekstrak daun T. diversifolia pada konsentrasi 1% dapat mengurangi dan menekan derajat inflamasi yang terjadi pada hewan percobaan. Sedangkan efek pada konsentrasi 2,5% terhadap penurunan derajat inflamasi menunjukkan efek yang lebih baik dibandingkan pembanding 2,5%. Ditinjau dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan analisa data secara statistik ternyata ekstrak daun T. diversifolia memberikan efek anti inflamasi melalui kemampuannya menghambat dan mengurangi volume udem pada daerah radang, dan mempengaruhi migrasi serta jumlah sel leukosit pada darah dan eksudat, maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun T. diversifolia memiliki aktivitas sebagai anti inflamasi secara topikal. Dengan bertambahnya konsentrasi ekstrak, semakin bertambah pula aktivitas anti inflamasinya.

KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Ekstrak etanol daun kembang bulan (T. diversifolia) memiliki aktivitas anti inflamasi. Hal ini dilihat dari penurunan volume eksudat pada radang punggung mencit putih betina yang di berikan secara topikal. 2. Pemberian ekstrak etanol daun kembang bulan (T. diversifolia) secara topikal ternyata dapat meningkatkan jumlah sel leukosit baik dalam cairan eksudat maupun dalam darah. DAFTAR PUSTAKA Dalimartha, S., 2000, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Trubus Agriwidya, Jakarta. Dewi, R., 2010, Aktivitas Anti mikroba dari Elephantropus scober L, Tithonia diversifolia A.Gray, Tagetes erecta L, Skripsi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Indonesia, Padang, 258. Donatus. I. A., 1983, Pengembangan Farmakologi Dalam

51

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1, FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045
Pengembangan Obat Tradisional. Oleh Husin, M. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III, Fakultas Farmasi Gajah Mada, Yogyakarta. Domer, F.R., 1971, Animal Experiment in Pharmacological Basis of Therapeutic, Charles C. Thomas Publiser, Springfield, IIIonis, USA. Gryglewsky, J.R., 1997, Some Experimental Models for the Study of Inflamation and Anti Inflamatory Drugs, Departemen of Pharmacology, Copernicus Academy of Medicine, Cracow, Poland. Hanum, I. Fridah and van der Masen, LIG, 2002, Auxiliary Plants, J.Nat.Prod p.297-298. Wijaya, K., S. Dalimartha dan A.S. Wirian, 1995, Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia, Jilid III, Pustaka Kartini, Jakarta. Winter, C.A., Risley, E.A and G.W Nuss, 1962, CarrageninInduced Edema in Hind Paw of Rat Asam Assay For anti Inflamantory Days, Proceding A Society For Experimental Biology and Medicine III,p.544547.

52

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1, FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR DAN LEMARI PENDINGIN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN PADA DADIH KERBAU DENGAN METODA KJELDAHL Regina Andayani1, Revi Yenti2 , Wiwit Gustiva 2 1 Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang 2 STIFI Perintis Padang ABSTRACT The research about the influence of storage time in room temperature and refrigerator on protein consentration of dadih using Kjeldahl method have been done. Fresh milk (A) was put into two bamboo tubes (tube of B and tube of C) until formed dadih. Tube B was kept in room temperature while tube of C was kept in refrigenerator for 2, 4, and 6 days. The research showed that protein concentration of dadih in room temperature and refrigenerator were reduced. Analysis of one ANOVA showed that there was a significance value ( P < 0,05) of protein concentration between 2, 4, and 6 days. t-Test analysis showed that concentration of protein in room temperature and refrigerator were significance difference (P < 0,05) on each days (2, 4, and 6 days). Keywords : Protein, dadih, metode Kjeldahl method PENDAHULUAN Protein dalam tubuh berguna sebagai zat pembangun atau pertumbuhan karena protein merupakan pembentuk jaringan baru dalam tubuh terutama pada bayi, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dan orang yang baru sembuh dari penyakit. Protein juga berfungsi sebagai pengatur dalam metabolisme tubuh. Selain itu protein juga merupakan komponen pembentuk antibodi untuk mempertahankan daya tahan tubuh (Detama, 2004; Grinda, 1986; Almatsier, 2001). Masyarakat lebih banyak mengkonsumsi sumber protein hewani dalam memenuhi kebutuhan protein karena mengandung protein yang tinggi. Salah satu sumber protein hewani yang sering dikonsumsi adalah dadih. Dadih merupakan produk susu fermentasi tradisional khas Minangkabau Sumatra Barat yang proses pembuatannya sangat sederhana. Susu kerbau yang diperah langsung dimasukkan kedalam tabung bambu sebagai wadahnya kemudian ditutup dengan daun pisang, plastik dan ada yang tidak ditutup sama sekali. Kondisi ini didiamkan secara alami selama 2 hari dalam suhu ruang sampai terbentuk gumpalan. Komponen fisika dan kimia bambu yang meliputi sifat permeabilitas, aroma, kadar air, zat warna dan garam anorganik yang terdapat pada jaringan bambu, berperan dalam menentukan mutu dadih (Susilorin et al, 2008; Usman, 2007, Sugianto, 2006). Dadih ini banyak dijual di pasar tradisional namun berdasarkan pengamatan, dadih banyak disimpan di tempat terbuka bahkan terkena cahaya matahari, hal ini akan menurunkan mutu dari dadih tersebut. Berdasarkan hal di atas, maka dilakukan penelitian tentang pengaruh lama penyimpanan pada suhu kamar dan lemari pendingin terhadap kadar protein pada dadih kerbau dengan metoda Kjeldahl sehingga dapat diketahui perubahan kuantitas protein dadih tersebut. Metoda Kjeldahl merupakan metoda yang umum digunakan untuk menentukan kadar

53

CuSO4. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 protein pada makanan (Detama. Metoda xanthoprotein Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air.. pemanas listrik atau pembakar. erlenmeyer 250 ml. seperangkat alat destilasi. De Man. Ninhidrin dan Xanthoprotein. Ambil 1 ml asam nitrat pekat kemudian dipanaskan. aquadest.. gelas ukur. 2004). pipet gondok. tabung bambu dengan panjang 20 cm dan daun pisang. Metoda Biuret Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. seperangkat alat titrasi dan mikroburet. Kemudian dibiarkan selama 2 x 24 jam sampai menjadi dadih. 3. Uji kuantitatif dengan menggunakan metoda Kjeldahl Cara kerja untuk masing-masing sampel sebagai berikut (SNI 01-2891-1992) : a. Tahap Destruksi Ditimbang sebanyak 0. Ninhidrin dan Xanthoprotein Uji kualitatif protein dilakukan pada susu segar dan dadih dengan 54 menggunakan metode Biuret. A. diambil 1 ml sampel tambahkan 1 ml pereaksi Ninhidrin kemudian dipanaskan. 1986. spatel. Labu Kjedhal dipanaskan diatas pemanas listrik . 1. pereaksi ninhidrin.... Reaksi positif ditunjukan dengan terbentuknya endapan putih yang segera menjadi kuning (Grinda. neraca analitik. D. 1995). campuran selenium (serbuk SeO2 . 1. asam klorida p. K2SO4. 2. Uji kualitatif dengan menggunakan metoda Biuret. 1999). Pengolahan sampel Sampel A susu kerbau segar diperiksa kadar proteinnya. Metoda Ninhidrin Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. fenolftalein. A.a (Merck). Sampel tabung B dadih yang disimpan pada suhu kamar dan sampel tabung C dadih yang disimpan pada lemari pendingin. CuSO45H2O). A. indikator campuran (larutan bromocresol green.1% dikocok. 1986). Diambil 1 ml sampel ditambahkan 1 ml NaOH 10%.5 ml H2SO4 pekat. ditambahkan 1 gram campuran selenium dan 12. alkohol). Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru ( Grinda. J. NaOH. Alat Labu Kjeldhal 100 ml. asam nitrat pekat (HNO3) dan asam sulfat (H2SO4). asam borat (H3BO3). T. kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan CuSO4 0.M. kemudian dimasukkan ke dalam 2 buah tabung bambu (tabung B dan tabung C) masingmasingnya 250 ml. natrium tetraborat (Na2B4O7).SCIENTIA VOL.51 gram sampel dimasukkan dalam labu Kjeldahl 100 ml. Masing-masing tabung diperiksa kadar proteinnya pada hari ke 2. larutan merah metil. METODE PENELITIAN Bahan Susu kerbau diambil dari tempat pemerahan susu di daerah Air Dingin Solok pada satu ekor kerbau. 1 NO. ke 4 dan ke 6 setelah menjadi dadih. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna ungu (Robinson.

maka ditambahkan H2O2 30% sebanyak 2 tetes destruksi dilanjutkan sampai didapat cairan jernih kehijauhijauan. Di dalam kondensor uap akan mengalir menuju penampung. Titik akhir ditandai dengan perubahan warna hijau menjadi merah muda. Ujung kondensor dibilas dengan aquadest. Destruksi disini berlangsung selama 2 jam. kemudian ditambahkan 30 ml NaOH 30% dan beberapa tetes indikator PP. Labu destilasi dipasang dan dihubungkan dengan kondensor dan ujung kondensor harus terbenam dalam cairan penampung. Penyulingan diakhiri jika hasil destilasi sudah tak bersifat basa lagi. Hasil akhir destruksi didinginkan kemudian encerkan dan masukkan ke dalam labu ukur 250 ml. Pengolahan Data Penentuan kadar protein dapat dihitung setelah diketahui persentase kadar nitrogen yang terdapat dalam sampel dan dikalikan dengan faktor konversi: (SNI 01-2891-1992).1 N untuk titrasi larutan Blangko (ml) Normalitas HCL Bobot sampel ( gram ) Faktor pengenceran ( 5 kali ) 55 . sebagai penampung gunakan 25 ml asam borat 2% yang telah ditetesi indikator campuran. tepatkan sampai tanda batas.1 N untuk titrasi larutan sampel (ml) Volume HCL 0. %N % protein Keterangan : V1 V2 N W Fp = = = = = (V1 . b. Tahap Destilasi Larutan hasil destruksi dipipet 50 ml dimasukkan kedalam labu destilasi.SCIENTIA VOL. Tahap Titrasi Hasil destilasi dipindahkan dalam erlemeyer. 1 NO.38 = Volume HCL 0. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 mula-mula pada suhu 40oC kemudian suhu dinaikkan secara perlahan-lahan sampai 280oC. 1.014 x fp x 100 W = % N x faktor 6.V2) x N x 0. Kemudian lakukan titrasi dengan HCl 0. dimana sampel diganti dengan aquadest.1 N menggunakan mikroburet. Untuk blangko dilakukan dengan cara yang sama. Setelah destruksi berlangsung selama 30 menit belum didapatkan cairan hijau jernih. Diperiksa dengan kertas lakmus. Kemudian sulingkan selama lebih kurang 10 menit. Destilasi ini dilakukan sebanyak 3 x pengulangan. c.

Anggorodi.007 (P<0. 1986. Ninhidrin dan Xanthoprotein menunjukkan hasil bahwa pada susu segar dan dadih terdapat protein. Pada uji T terdapat perbedaan yang bermakna. dadih yang disimpan pada suhu kamar dan dadih yang disimpan pada lemari pendingin dapat dilihat pada tabel 2. penyimpanan setelah 4 hari diperoleh nilai P yaitu 0. A. Sidarmadji.05).. kadar protein dadih yang disimpan pada suhu kamar dan lemari pendingin pada penyimpanan setelah 2 hari diperoleh nilai P yaitu 0.05) yang berarti kadar protein dadih yang disimpan selama 2. gambar 1 dan gambar 2. 4. Uji Kualitatif Sampel Susu Segar dan Dadih Sampel Susu segar Metoda Biuret Xantoprotein Ninhidrin Biuret Xantoprotein Ninhidrin Hasil Ungu Endapan putih Biru Ungu Endapan putih Biru Pengamatan Ungu Endapan putih Biru Ungu Endapan putih Biru Dadih Penelitian ini menggunakan metoda Kjeldahl karena umumnya metoda ini digunakan untuk penentuan analisis protein pada makanan. Hasil persentase kadar protein pada susu segar.SCIENTIA VOL. untuk menentukan kadar protein dikalikan dengan faktor konversi. Kadar protein yang diperoleh pada susu segar adalah 4.05) dengan nilai tersebut terdapat perbedaan yang bermakna kadar protein dadih pada penyimpanan suhu kamar setelah 2.048 (P<0. 1. Data yang diperoleh juga dilakukan uji statistik dengan anova satu arah dan uji T student. 1994). Hasil uji kualitatif dapat dilihat pada tabel1. untuk susu yaitu 6.5079%.05). Sedangkan kadar protein dadih yang disimpan hari ke 2.000 (P<0. 6 pada lemari pendingin dan suhu kamar mengalami penurunan. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji kualitatif dari susu segar dan dadih dengan menggunakan metode Biuret. Anggorodi. 4 dan 6 hari berbeda secara bermakna. 1 NO. Metoda ini mempunyai kelemahan dimana unsur N yang terdapat pada protein juga ikut teranalisis sehingga kadar protein yang diperoleh adalah kadar protein kasar (Crud protein) dan bukan protein murni (Grinda. Tabel I. 56 . Hasil uji anova satu arah diperoleh nilai P yaitu 0.05) dan penyimpanan setelah 6 hari diperoleh nilai P yaitu 0.002 (P <0.38 (SNI 01-2891-1992. 1994). 1984. 4 dan 6 hari demikian juga dengan penyimpanan pada lemari pendingin juga diperoleh nilai P yaitu 0.000 (P<0. Setelah diketahui persentase nitrogen yang terdapat pada sampel.

5885 0.5608 0. Dadih yang Disimpan pada Suhu Kamar dan Dadih yang Disimpan pada Lemari Pendingin Sampel Sampel A susu segar Setelah menjadi dadih Setelah 2 hari pada suhu kamar Setelah 4 hari pada suhu kamar Setelah 6 hari pada suhu kamar Setelah 2 hari pada lemari pendingin Setelah 4 hari pada lemari pendingin Setelah 6 hari pada lemari pendingin Berat Sampel (gr) 0.0939 4.SCIENTIA VOL.0392 3.9858 ± 0.5829 0.6699 0.0467 4.0581 5 Kadar Protein (%) 4 3 2 1 0 0 hari 2 hari 4 hari 6 hari Lama Penyimpanan Dadih Gambar 1. 1 NO.9240 ± 0.0610 3.0391 ± 0.2741 ± 0.4188 ± 0.7065 0. 1.6331 05888 0. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Tabel II.4509 ± 0.0613 3.6150 0. Grafik kadar protein pada dadih yang simpan pada suhu kamar Gambar 2.5079 ± 0.5914 0.0357 3.6019 0.5358 % Protein 4.468 0. Persentase Kadar Protein pada Susu Segar.0842 2.6190 %N 0. Grafik kadar protein pada dadih yang disimpan dalam lemari pendingin 57 .7562 ± 0.5797 0.6603 0.5408 0.

Penerbit Liberty.. SNI 01-2891-1992. 1987). S. Sawitri. Bandung. Departemen Perindustrian. De Man. A. Vol 5.. Kimia Makanan. Gramedia. 2006. UI Press. Fleet dan M Wooton. Semakin lama waktu penyimpanan maka kadar protein pun semakin menurun... Dadih yang disimpan pada lemari pendingin lebih tinggi kadar proteinnya dari pada dadih yang disimpan pada suhu kamar.. Budi Daya 22 Ternak Potensial. Tetapi pada kenyataannya orang lebih banyak mengkonsumsi dadih dari pada susu segarnya disebabkan karena aroma susu yang khas dapat menimbulkan rasa mual maka perlu dibuat susu fermentasi sehingga terjadi perubahan fisik dan kimiawi susu. A. 2008. pada mekanisme perubahan tersebut biasanya akan menghasilkan air dan secara otomatis konsentrasi protein dalam produk fermentasi akan menurun (Bucle etal. Jakarta. Pusat Standarisasi Industri. 1995. Cara Uji Makanan dan Minuman. R. Jakarta.. No 2. D. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. H. 1986. Jakarata. Y. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Penerbit Institut Teknologi Bandung. Pada data yang didapat terlihat bahwa susu segar kerbau mempunyai kadar proteinnya lebih tinggi dari pada dadih. KESIMPULAN DAN SARAN Kadar protein dadih sangat dipengaruhi oleh lama dan tempat penyimpanan.. E. Detama. Penerbit Penebar Swadaya. 1984. 2001. Bandung.. litbang deptan. dan Zurriyati. 2004). Sudarmadji. Grindra. Ilmu Pangan. Yogyakarta. No 2. J. T. 2007. Vol 2. Penerbit Dian Rakyat. Sisriyenni. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. hal ini disebabkan karena dadih pada suhu kamar mudah terkontaminasi dengan mikroorganisme lain selain bakteri penghasil asam laktat sehingga dapat mempengaruhi kadar protein. . Susilorini. Zurriyati. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Dari data dan grafik yang didapat terlihat jelas bahwa semakin lama penyimpanan maka kadar protein semakin menurun. Pengolahan Dadih Sebagai Makanan Probiotik Spesifik Sumatera Barat. M. Usman. streptococcus dan lactococus aktif melakukan proses proteolitik dan lepolitik menjadi substansi yang bisa dimanfaatkan oleh bakteri misalnya energi. E.. glukosa dan galaktosa (Sisriyenni. Robinson. Susu Kerbau Fermentasi Mampu Menurunkan Kolesterol. Penerbit ITB. Ed. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. 2004. Jilid I. 58 DAFTAR PUSTAKA Almatsier. II. Buckle. Kajian kualitas dadih susu kerbau didalam tabung bambu dan tabung plastik. A. 2004. Jurnal Natur. A. M. T. Jakarta. Anggorodi. Edwards. Biokimia I . Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penurunan kadar protein ini terjadi karena selama proses fermentasi.VI. D. bakteri asam laktat. K. 1. Penerbit PT.SCIENTIA VOL.. Ilmu Makanan Ternak Umum. 1999. Sugianto. Muharlien. Artikel. Ed. G. 1 NO. Gramedia Pustaka Utama. Prinsip Dasar Ilmu Gizi . Tidak semuanya orang dapat mencerna susu dengan baik karena gangguan pencernaan yang timbul setelah mengkonsumsi susu karena tidak terpecahnya laktosa (gula susu) menjadi komponen-komponen sederhana yang dapat diserap oleh tubuh yaitu monosakarida. 1994. 1987. Jakarta. lactobacillus. Jakarta.

2 Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRAK Effect of ethanol:water ratio as extraction solvent on obtaining of extractive material. limonene. phenolic content and antioxidant activity in Phyllanthus niruri L. 80:20. Satyanarayana. 4-metoxy-norsecurinine. lignan (phyllanthine. lupeol). 2006). lintretalin. bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi. nirphylline. 1. niruri. 1988. phenolic content and antioxidant activity (p<0. alkaloid (norsecurinine. 1 NO.. etnosecurinina. antioxidant. 2005). Obat-obatan yang terbuat dari bahan alam dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu. peluruh dahak. Herba meniran mengandung senyawa flavonoid (quarcetin. terpen (cymene. extraction. Results revealed that ethanol:water ratio gave significant effect on extracted material. Harrizul Riva’I2 STIFI Perintis Padang.A. 70:30. astragalin.) 1 B. Jamu adalah ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis. the best result was obtained by ethanol:water ratio 60:40 as extraction solvent for Pyhllanthus niruri L. peluruh haid. The ethanol:water ratio tested were 100:0. herbs have been investigated. nitretalin. 1987).05). Herba meniran berkhasiat membersihkan hati. Martinus1 . tanin. 1986. sedangkan obat herbal yang terstandar adalah yang sudah lulus uji pra klinis. menerangkan penglihatan dan penambah nafsu makan (Heyne. Sementara fitofarmaka adalah suatu sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik. quercitrin.SCIENTIA VOL. phyltetralin. hyllochrysine). Keywords : Phyllanthus niruri L. Salah satu bahan baku simplisia yang akan dipakai untuk membuat fitofarmaka ini adalah herba meniran (Phyllanthus niruri L. 60:40 and 50:50. niruriside). phenolic PENDAHULUAN Pengembangan bahan obat alam meliputi pengembangan budidayanya sehingga menghasilkan simplisia dengan kualitas yang unggul serta pengembangan cara produksi dan bentuk-bentuk sediaan dari obat-obat tradisional. pereda demam. isoquercitin. damar. physetinglucosid). dan fitofarmaka. dan mineral terutama kalium (Joshi. peluruh kencing. herbs to obtain phenolic compound which has antioxidant activity. rutine. hypophyllanthine. anti radang. nirathin. obat herbal terstandar. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 PENGARUH PERBANDINGAN ETANOL:AIR SEBAGAI PELARUT EKSTRAKSI TERHADAP PEROLEHAN KADAR FENOLAT DAN DAYA ANTIOKSIDAN HERBA MENIRAN (Phyllanthus niruri L.) (Nurkhasana. Than. Among the ethanol:water ratio tested. 59 .

aquadest. 1978.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) p. Pengambilan sampel % Ekstraktif = Berat Ekstrak x 100% sekali diaduk. lalu ditambahkan metanol sampai tanda batas kemudian dipipet 17. dalam botol meserasi yang berwarna gelap.SCIENTIA VOL. corong. 2007) Ditimbang 5. maserat dipisahkan dan sisanya dimaserasi lagi beberapa kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. Pembuatan Ekstrak Sampel herba meniran (5 g) yang telah diserbuk direndam dengan 50 mL etanol-air dengan perbandingan 100:0.3 g Na2CO3 dilarutkan dalam aquadest sampai 50 mL. 2004).). biarkan selama 24 jam.a (Merck). Identifikasi Sampel Identifikasi sampel dilakukan di Herbarium Universitas Andalas (ANDA) dengan nomor koleksi FT-001. Penentuan Kadar Ekstraktif Larutan Sampel Dari larutan sampel dipipet sebanyak 10 mL. pipet mikro. cairan atas diambil kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40 0C dan ditimbang. 60:40. 70:30. aduk hingga homogen. 1996) Ditimbang 10 mg DPPH masukkan dalam labu ukur 100 mL. sampai cairan terakhir tidak berwarna. Natrium Carbonat (Merck).1-diphenyl-2picrylhydrazyl) 35 µg/mL (Keinanen. Bahan – bahan Bahan yang digunakan adalah tanaman herba meniran (Pyllanthus niruri L. gelas ukur. aluminium foil. masukkan dalam cawan penguap yang sudah ditara. erlenmeyer. DPPH (1. metanol p. labu ukur. reagen Fenol folin-Ciocalteu (Merck). sebelum dianalisa ekstrak dilarutkan dengan campuran etanol dan air suling sama banyak (1:1) dalam labu ukur 50 mL (Harbone. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 METODE PENELITIAN Alat – alat Alat yang digunakan adalah Rotary Evaporator (RVO6-ML kika werke). batang pengaduk. Semua maserat dikumpulkan. dibersihkan kemudian dikeringanginkan sampai kering kemudian diserbuk. spektrofotometer UV-Visible mini 1240 (Shimadzu®). Uapkan larutan sampel di water bath. 1 NO. Larutan Natrium Karbonat 1 M (Mosquera.a (Merck). Blender. Badan Pengawasan Obat. 50:50. 80:20. sampel yang akan dianalisa adalah bagian tumbuhan meniran yang berada di atas tanah (Pyhlanthus niruri L. Hitung kadar ekstraktif sampel. b. etanol p. 1. lalu tambahkan metanol sampai Sampel diambil di sepanjang jalan Bypass Padang. Kertas saring Whatman No. timbangan digital analitik (Denver Instrument Company). spatel. diendaptuangkan. beaker glass.a (Merck). Larutan DPPH (1. Berat Sampel Pembuatan Reagen a. pipet gondok. diamkan selama dua hari.).5 mL larutan DPPH dimasukkan dalam labu ukur 50 mL. kemudian keringkan dalam oven pada suhu 105 0C selama 1 jam kemudian setelah dingin ditimbang. asam galat. cawan penguap.1. sambil sekali- 60 .

80 mg/mL. Larutan asam galat 5 mg/mL (Sigma. biarkan selama 30 menit ditempat yang gelap. Larutan induk asam galat (5 mg/mL) dipipet sebanyak 1 ml ke dalam labu ukur 50 mL lalu diencerkan dengan campuran metanol dan air suling (1:1) sampai tanda batas. diencerkan dengan campuran metanol:aquadest (1:1) dalam labu ukur 50 mL sampai tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi 25. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV-Visible pada panjang gelombang 400-800 nm. Uji Aktivitas Antioksidan Sampel dengan Metoda DPPH (Mosquera.75. Masing-masing ke dalam vial larutan DPPH larutan sampel dengan 50.5.5 mL kemudian dicampur dengan 5 mL pereaksi Folin-Ciocalteu yang sudah diencerkan 1:10 dengan aquadest. 2006) a. 0. Dipipet 0. tambahkan 5 mL reagen fenol FolinCiocalteu yang telah diencerkan dalam air suling 1:10 dan ditambahkan 4 mL natrium karbonat 1 M. Penentuan Kadar Senyawa Fenolat Total Dengan Metoda Folin-Ciocalteu Larutan sampel dipipet 0.25. kemudian ditambahkan 5 mL pereaksi Folin-Ciocalteu yang sudah diencerkan 1:10 dengan aquadest dan 4 ml larutan natrium karbonat 1M. Penentuan Kadar Senyawa Fenolat Dengan Metoda Folin-Ciocalteu (Mosquera. diukur serapan maksimum pada panjang gelombang maksimum dengan spektorfotometer UV-Visibel yang akan memberikan komplek warna biru. 2007.Pourmorad. Kemudian dipipet 0. Pourmorad. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 tanda batas sehingga diperoleh larutan konsentrasi 35 µg/mL. b. 1 dan 1. Pemeriksaan IC50 Larutan Sampel Dibuat konsentrasi 40. Masingmasing konsentrasi larutan dipipet 0. 1.5 mL etanol 96% lalu ditambahkan dengan air suling sampai tanda batas. 75. masukkan dalam vial dan ditambahkan 2 mL campuran air suling dan metanol (1:1). 2005) Ditimbang 0. Campuran 61 . 1 NO.5 mL ekstrak herba meniran kemudian dimasukkan kedalam vial. dilakukan 3x pengulangan sehingga kadar fenolat yang didapat ekivalen dengan mg asam galat /g berat ekstrak kental herba meniran. b.SCIENTIA VOL. Pembuatan Asam Galat Kurva Kalibrasi diukur serapan dengan spektrofotometer UV-Visibel dan dibuat kurva kalibrasi sehingga persamaan regresi liniernya dapat dihitung. 70. ditambahkan 4 mL larutan natrium karbonat 1 M biarkan selama 15 menit.125 g asam galat dimasukkan dalam labu ukur 25 mL. kocok homogen. Didiamkan selama 15 menit. Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Asam Galat.25 mL.5 mL dan diencerkan dengan etanol:air suling (1:1) dalam labu ukur 25 mL sampai tanda batas. 2006) a. 0. 50. 60. 100 dan 125 µg/mL asam galat. dibiarkan selama 15 menit. 2007.5 mL dan dimasukkan ke dalam vial. kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang 400-800 nm dengan spektrofotometer UV-Visebel. Sebanyak 4 mL larutan DPPH 35 µg/mL dipipet. c. dipipet sebanyak 2 mL lalu tambahkan 4 mL 35 µg/mL. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum DPPH Dari larutan induk asam galat dipipet 0. ditambahkan 2.

1.04 dan 0. Hitung % inhibisi dengan menggunakan rumus : % inhibisi  Abs.03. kontrol  Abs.SCIENTIA VOL. sehingga diperoleh persamaan regresi liniernya. Penentuan IC50 Larutan Pembanding Asam Galat Dibuat larutan pembanding asam galat dengan konsentrasi 1. 0. Abs Sampel : Serapan sampel ditambah DPPH dikurangi dengan serapan sampel blanko (sampel+metanol-air) tanpa DPPH pada panjang gelombang maksimum. kontrol Keterangan : Abs Kontrol : Serapan larutan radikal DPPH dengan metanol-air (tanpa ekstrak) pada panjang gelombang maksimum. Lalu dibuat kurva antara konsentrasi larutan sampel dan % inhibisi. Pengolahan Data Secara Anova satu arah Data hasil penelitian akan diuji secara statistik menggunakan Analisa Variansi (Anova) satu arah. 4. dan 5 µg/mL dengan cara memipet 0. Sebanyak 2 mL masing-masing dipipet dan dimasukkan ke dalam vial lalu tambahkan 4 ml larutan DPPH 35 µg/mL. IC50 larutan sampel adalah konsentrasi larutan sampel yang memberikan inhibisi sebesar 50% yang dapat dihitung menggunakan persamaan regresi linier yang telah diperoleh.05 mL larutan induk asam galat (5 mg/mL) yang kemudian dilarutkan dengan campuran metanol dan air (1:1) dalam labu ukur 50 mL sampai tanda batas. 3. IC50 asam galat adalah kosentrasi larutan pembanding asam galat yang memberikan inhibisi sebesar 50% yang dapat dihitung menggunakan persamaan regresi linier yang telah diperoleh. 0. 1 NO. Campuran dihomogenkan dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. sampel x 100% Abs.01. a. 62 .02. Kadar fenolat total yang diperoleh dari beberapa konsentrasi pelarut ekstraksi etanol diuji dengan Analisa Variasi (Anova) satu arah. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV Visible pada panjang gelombang maksimun. Persentase inhibisi masingmasing dihitiung lalu buat kurva antara konsentrasi larutan pembanding asam galat dan % inhibisi sehingga diperoleh persamaan regresi liniernya. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV Visible pada panjang gelombang maksimun. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 dihomogenkan dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. 2. 0.

FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 HASIL DAN PEMBAHASAN Pada perhitungan ekstraktif dari sampel herba didapatkan ekstrak dengan terbesar dari perbandingan etanol:air (60:40) yaitu sebesar seperti terlihat pada tabel I. 2004. dimana persamaan regeresi linear yang didapat adalah y = 0.205 9.561±0.170 Kadar fenolat total ( x ±SD.SCIENTIA VOL. Persentatse Kadar Ekstraktif dan Fenolat Total Herba Meniran Perbandingan pelarut 100:0 80:28 70:30 60:40 50:50 % Kadar ekstraktif ( x ±SD.588 53.17 46. Tabel I. Monografi Ekstrak Tumbuhan 63 . n = 3) 8.122 15.01±0.54%.65 51.733±0.477 Metoda yang digunakan untuk penentuan aktifitas antioksidan adalah dengfan penagkapan radikal DPPH.44 43.21 No 1 2 3 4 5 KESIMPULAN Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa pemakaian pelarut dengan berbagai perbandingan dapat mempengaruhi perolehan kadar ekstraktif. Jumlah total fenolat dari tiap sampel bervariasi dengan kadar tertinggi diperolah pada perbandingan pelarut etanol:air (60:40). Aktifitas antioksidan yang berasal dari tanaman seringkali dihubungkan dengan kandungan fenolat totalnya. Data ini menunjukkan bahwa pelarut pengekstraksi dengan sistem perbandingan tersebut kemungkinan paling tepat untuk herba meniran. Total fenolat dari sampel dinyatakan sebagai kesetaraan dengan mg asam galat per gram sampel kering. terlebih dahulu dibuat kurva kalibrasi dari sederet konsentrasi standar asam galat. Tabel II.161 16. antioksidan biasanya adalah asam fenolat dan flavonoid.120 55. dapat dilihat pada tabel I. Senyawa-senyawa fenolat telah dilaporkan memiliki aktifitas antioksidan karena sifat redoksnya. Daya antioksidan dapat ditentukan dari nilai IC50 yaitu konsentrasi senyawa antioksidan yang memberikan inhibisi terhadap radikal DPPH sebesar 50%. Nilai IC50 yang semakin rendah menunjukkan daya antioksidan yang semakin kuat.04±0. Hasil Penentuan IC50 sampel herba meniran No 1 2 3 4 5 Perbandingan pelarut 100:0 80:28 70:30 60:40 50:50 IC50 (mg/ml) 50. Nilai IC50 terendah didapatkan dari perbandingan pelarut (60:40) sepeti terlihat pada tabel II.213 12.4±0. kadar meniran jumlah pelarut 16. 1. n = 3) 38.654±0..090 37.997. Perbandingan pelarut etanol:air sebagai pengekstraksi yang paling baik untuk sampel herba meniran adalah 60:40. seperti Untuk menentukan kadar fenolat total.0158 + 0.006384x dengan koefisien korelasi 0.666 51. Tipe senyawa fenolat yang memiliki aktifitas DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan. Sampel dengan pelarut pengekstraksi ini memperlihatkan suatu korelasi dimana kadar fenolat total tertinggi memberikan daya antioksidan yang paling kuat.20±0. 1 NO.140±0. kadar fenolat total dan aktifitas antioksidan dari herba meniran.54±0.258±0.82 42.

1-4 (2006). Yaned M Correa. N. Dilip. 49. Gawad and W. pp.. Isolation and Structure (x-ray analysis) of Entnorsecurinine. a new antioxidant Flavone Sulfonic Acid from Phyllanthus niruri. vol 102(5) : 631-634. Hal 82. 64 . 2006.Soediro. F. J. 1986. Terbitan kedua. B. Metoda Fitokimia: Penuntun Cara Menganalisis Tumbuhan.. Kriteria dan Tatalaksana Pendaftaran Obat Tradisional.1384. 1 NO. an alkaloid from Phyllanthus niruri. 2005. Tumbuhan Berguna Indonesia. Keinanen. Antioxidant Activity.SCIENTIA VOL. Phenol and Flavonoid contents of some selected Iranian medical plants.. Agric.05. No: HK. Naturforsch. 4.Sigma –aldrich. Hardeland. African Journal of Biotechnology. pp. 1142-1145. Mem Inst Oswaldo Cruz. Prosiding Persidangan Antarabangsa Pembangunan Aceh. Joshi.O. 5 (11). J. Bahan Obat Alam Sumber Pendapatan Pembangunan. ITB. Diterjemahkan oleh K. Hosseinimerh and N. M.com. received November 2. Jakarta.Padmawinata dan I. Pelletier. Sigma Prod No F-9252. Z. cetakan ke-1. Effect of Sampel Preparation Method on Birch (Betula Pendula Roth) Leaft Phenolics. 44:2724-2727. UKM Bangi. 61b. vol.41. Vol. Antioxidant Activity of Twenty five Plants from Colombian Biodiversity. Nurkhasanah. Heyne. Diana C Buitrago and Jaime Nino. Titto. 1987. H. 1996. Niruriflavone. Poeggeler. Jakarta Mosquera M. Yayasan Sarana Wana Jaya. B. 2007. Finland. S. 26-27. 2006. and R.00. diambil dari http://www. S. diakses : tgl 5 Februari 2005 Than N. Pourmorad. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. J. 2004 Harbone. Laatsch. Hal 86-89. no. Rio de Janeiro. Badan POM Republik Indonesia.. 614-620.Shahabimajd. Fosto. and H. J. Bandung. jilid II. B. S. R. 1. Food Chem. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Obat Indonesia. Sigma-Aldrich.. Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. 1978. Journal of Natural Products. K. Folin&Ciocalteu’s Phenol Reagent.

ditambah literatur pendukung yang relevan d. Naskah diketik menggunakan komputer.id (khusus softcopy) . 1. Tabel dan gambar harus diberi judul dan keterangan yang jelas 6. tahun. Hasil dan Pembahasan f. Nama penulis ditulis lengkap dengan gelar dan lembaga/instansi tempat penulis bekerja 9. Abstrak tidak lebih dari 250 kata yang diketik dengan jarak 1 spasi. kutipan dari jurnal dengan susunan : nama penulis. penerbit. Naskah & softcopy dapat dikirimkan ke : Alamat : Jl. judul buku (tulis miring). Adinegoro/Simp. 4. judul jurnal (ditulis miring). nomor halaman) 5. maka abstrak ditulis dalam bahasa Inggris. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Redaksi berhak merubah naskah tanpa mengurangi isi dan maksud naskah 7. sebaliknya bila naskah dalam bahasa Indonesia. 1 NO.SCIENTIA VOL. Bila naskah dalam bahasa Inggris. Kalumpang Km. Pada bagian akhir naskah dicantumkan riwayat hidup penulis 10. Naskah akan dikembalikan jika dilengkapi perangko secukupnya 8. Daftar Pustaka (kutipan dari buku dengan susunan : nama penulis. 2. Metoda Penelitian e. kota terbit.co. Redaksi berhak menolak naskah yang kurang layak untuk dipublikasikan. Naskah 1 rangkap beserta softcopy (dalam bentuk CD) dikirim ke redaksi. volume. baik berupa review maupun sintesis. 17 Lubuk Buaya Padang-25173 e-mail : stifi_perintis@yahoo. FEBRUARI 2011 ISSN : 2087-5045 Petunjuk Penulisan Pada Jurnal Scientia 1. Abstrak c. Sistematika penulisan disusun sebagai berikut : a. Pendahuluan : berisi latar belakang masalah. maka abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia. dengan jumlah halaman maksimal 10 halaman kertas ukuran kuarto (A4) dengan spasi ganda. nama lengkap penulis dan lembaga b. Naskah belum pernah dan tidak akan pernah dipublikasikan pada media lain. Judul. Naskah berupa hasil penelitian atau karya ilmiah dari bidang Ilmu Farmasi dan Kesehatan. judul artikel. Kesimpulan atau saran g. tahun. 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->