31

BAB IV PEMBAHASAN Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas makanan adalah faktor higiene penjamah. Tingkat higiene penjamah yang rendah dapat mempengaruhi terjadinya kontaminasi pada makanan. Menurut Kepmenkes RI (2003), untuk meningkatkan kualitas higiene penjamah makanan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan makanan, maka penjamah makanan harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Kepmenkes RI, yaitu mencuci tangan sebelum dan sesudah mengolah dan menyajikan makanan, menggunakan sarung tangan, celemek, masker, penutup kepala dan tidak boleh menggunakan perhiasan seperti cincin yang berukir, gelang dan jam tangan saat melakukan kegiatan penanganan makanan.11 Kebiasaan mencuci tangan yang dilakukan sebelum dan sesudah mengolah makanan dengan sabun sangat membantu mencegah penularan bakteri dari tangan ke makanan.12 Sentuhan tangan merupakan penyebab yang paling umum terjadinya pencemaran, mikroorganisme yang melekat pada tangan akan berpindah ke makanan.13 Celemek merupakan pelindung kontaminasi dari pakaian ke makanan. Masker digunakan untuk mencegah percikan ludah, melalui percikan ludah akan menjadi sumber pencemaran yang diperantarai oleh udara, pada saat pengolahan penjual tidak dibenarkan berbicara karena percikan ludah bisa jatuh ke makanan. Perhiasan seperti cincin berukir, gelang tangan, termasuk jam tangan tidak boleh digunakan saat mengolah makanan, hal ini akan menyebabkan kotoran akan menumpuk pada sela-sela perhiasan, sehingga menyebabkan makanan tersebut dapat terkontaminasi.12 Berdasarkan hasil obesrevasi pada rumah makan di BSSK II Pekanbaru didapatkan penjamah makanan di rumah makan X: 5 orang tidak menggunakan sarung tangan, celemek, masker, dan penutup kepala dan 4 orang penjamah makanan tidak mencuci tangan sebelum menyajikan makanan dimana sebelumnya penjamah makanan tersebut baru membersihkan meja makan. Terdapat 2 orang penjamah makanan yang memakai perhiasan seperti cincin dan jam tangan saat mengolah makanan.

32

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala seksi pengendalian resiko lingkungan wilayah kerja BSSK II Pekanbaru, observasi lapangan dengan pengamatan langsung untuk mengidentifikasi beberapa permasalahan yang ada sehingga dapat diidentifikasi penyebab masalah kurangnya pembinaan hygiene penjamah makanan dalam mengolah dan menyajikan makanan di bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Penyebab masalah tersebut yaitu kurangnya pengetahuan dan kesadaran penjamah makanan mengenai hygiene dalam mengolah dan menyajikan makanan, penyuluhan mengenai hygiene dalam mengolah dan menyajikan makanan tidak dilakukan secara rutin dan tidak mencakup seluruh rumah makan, belum tersedianya media informasi mengenai hygiene dalam mengolah dan menyajikan makanan, kurangnya ketersediaan dana untuk optimalisasi pelaksanaan kegiatan pembinaan hygiene penjamah makanan, dan kurangnya jumlah tenaga dari seksi PRL yang bertugas dalam pembinaan higiene penjamah makanan di BSSK II Pekanbaru Alternatif pemecahan masalah yang telah diberikan sesuai Plan of Action (PoA), yaitu melakukan penyuluhan pada tiap rumah makan mengenai higiene penjamah makanan dalam mengolah dan menyajikan makanan, menyampaikan surat rekomendasi kepada koordinator seksi pengendalian resiko lingkungan wilayah kerja BSSK II Pekanbaru, dan membuat media informasi berupa leaflet dan poster tentang higiene penjamah makanan dalam mengolah dan menyajikan makanan. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran penjamah makanan mengenai hygiene dalam mengolah dan menyajikan makanan diatasi dengan mengadakan penyuluhan kepada penjamah makanan mengenai hygiene dalam mengolah dan menyajikan makanan pada rumah makan di BSSK II Pekanbaru. Menurut Ravianto, penyuluhan dan atau pelatihan penyehatan makanan merupakan tahap tingkat pendidikan non formal yang apabila direncanakan dengan baik akan dapat mengubah dan meningkatkan pengetahuan seseorang, sikap dan praktik yang baik.14 Surat rekomendasi untuk seksi PRL mengenai usulan untuk melakukan penyuluhan mengenai hygiene penjamah makanan secara rutin dan mencakup seluruh penjamah makanan dengan tujuan rekomendasi ini adalah agar pembinaan

33

yang dilakukan oleh petugas KKP dapat dilakukan secara maksimal. Menurut Poerwadarminta, pembinaan adalah suatu proses pembelajaran yang dilakukan secara sadar, terencana, teratur dan terarah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan subjek dengan tindakan pengarahan dan pengawasan untuk mencapai tujuan.15 Salah satu upaya pembinaan mengenai higiene penjamah makanan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penyuluhan secara rutin terhadap seluruh penjamah makanan yang ada di BSSK II Pekanbaru. Untuk mengatasi belum adanya media informasi mengenai higiene penjamah makanan dalam mengolah dan menyajikan makanan, maka dibuatlah media informasi berupa leaflet sebanyak 30 lembar dan poster sebanyak 1 lembar tentang higiene penjamah makanan dalam mengolah dan menyajikan makanan. Pemilihan poster sebagai media sosialisasi berdasarkan teori yang menyatakan bahwa poster adalah salah satu media yang sempurna dalam menyampaikan media informasi. Pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain fasilitas seperti poster, brosur dan media informasi lainnya. Pengetahuan merupakan hasil tahu seseorang yang terjadi setelah melakukan penginderaan terhadap objek tertentu melalui mata dan telinga. Menurut Notoadmodjo pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain fasilitas seperti poster, brosur dan media informasi lainnya.16 Dalam pelaksanaan kegiatan ini masih terdapat kendala yaitu ada beberapa penjamah makanan tidak ikut dalam sosialisasi secara langsung dikarenakan ramainya pengunjung dan ada yang sedang tidak bekerja. Hal ini diatasi dengan cara memberikan leaflet kepada penjamah makanan yang ada untuk dapat diberikan kepada penjamah makanan yang lain. Ada salah satu rumah makan yang tidak kooperatif saat dilakukan penyuluhan dimana awalnya mereka menolak untuk ikut dalam penyuluhan. Hal ini diatasi dengan menjelaskan tujuan dan pentingnya penyuluhan ini.

34

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful