P. 1
Peyimpulan Tidak Langsung Induktip

Peyimpulan Tidak Langsung Induktip

|Views: 132|Likes:
Published by Ardner Anaitsir

More info:

Published by: Ardner Anaitsir on Feb 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/07/2013

pdf

text

original

Poespoprodjo, Logika Ilmu Menalar, Remadja Karya, Banduung, 1989.

Penyimpulan langsung induksi adalah suatu bentuk penalaran yang menyimpulkan suatu proposisi umum dari sejumlah proposisi khusus yang berbentuk ‘S ini adalah ‘P (subyek ini adalah predikat). Induksi mungkin berupa suatu proses seerhana, dan seketika itu juga trselenggara lewat suatu pandangan (insight), tetapi mungkin pula berupa suatu peruses yang panjang yang sangat sukar berbelit-belit, mencakup analisis bertahap (gradual analysis) kecermatan pandangan (insight), proses trial and error sebagaimana apabila ilmuan terlibat dalam penemuan hhukum alam atau dalam masalah ilmu ilmiah yang begitu berseluk-beluk seperti misalnya masalah social. Dengan induksi kesimpulan yang dicapai selalu berupa generalisasi (pengumuman). Seperti misalnya: ‘air kotor menyebabkan penyakit kulit’, ‘bahkan kuliah pergiruan tinggi setiap minggu butuh dipelajari ;ebih mendalam dari bahan pelajaran sekolah menengah,’, ‘sejarah luar negri lebih bonafid dar pada sejarah dalamneger’. Setip generalisasi induktif diperoleh hanya sesudahnya pengamatan bahwa beberapa atau banyak kejadian berakhir dengan hasil yang sama, maka kemudian si pengamat ‘yakni’ bahwa di waktu yang akn datang, suatu kejadian yang sama juga akan berakhir dengan hasil yang sama. Setiap orang menggunakan enalaran induktif, maka induksi dalam kenyatan sering tampil dalam perjalanan hidup kita. Terkadang seseorang hendak membuktikan kebenaran atua ketidakbenaransuatu generaslisasi induktif. Tetapi tidak jarang pula dala kehidupan sehari-hari kita tersandung pada generalisasi semacam itu. Manakala kita akan membuat generalisasi induktif, biasanya perosesnya sebagai berikit: seorang mahasiswa yang mengikuti ujian dosen B hanya mempelajari bahan yang diberikan di rang kuliah (jadi tiak mempelajari bahan buku wajib), tidak lulus. Pada kesempatan berikutnya ia juga hanya mempelajari bahan yang diberikan di ruang kuliah, tidak lulus. Pada kesempatan berikutnya begitu lagi, dan tidak lulus. Dengan kegagalannya tiga kali berturut-turut, ia sudah dapat membuat generalisasi induktif:” saya tidak dapat lulus pada ujian dosen B apabila saya hanya mempelajari bahan yang diberikan di dalam ruang kuliah.” Saying, ‘kebijaksanaannya ‘ dating terlambat, tapi masih dapat berarti bagi

kebanyakn politikus jahat’ atau ‘sarjana lulusan luar negri lebih bonafid . Misalnya orang hendak berkata: suku sunda suka menari. tetapi mungkin perlu juga lebih dicermati sehingga tidak menjadi generalisasi ceroboh seperti misalnya . suku jawa itu ‘nerimo’. sedikit saja hal-hal yang khas seringkali sudah cukup untuk membuat suatu generalisasi induktif yang sehat. tetapi dalam kenyatannya bagaimana penalaran induktif berlangsung: atas dasar hal-hal yang khusus yang dialmti. sah. Terkadang beberapa hal kongkret individual sudah dapat membuat generalisasi induktif yang sehat. Misalnya setetes air yang dirasakan sudah dapat menentukan rasa air yang terdapat di dalam seluruh gelas. tadi pagi juga ia menangis sesudah membaca berita kecelakaan pesawat yang menyebabkan sejumlah keluara tewas bersama. Sehat-tidaknya suatu generalisasi induktif tentu saja tergantung pada halhal yang khusus yang dibutuhkan untuk mendukungnya. meskipun banyak generalisasi yang seperti itu tidak berumur pamjam. suku minamg berjiwa dagang. Hal di atas merupakan contoh yang sangat sederhna. Generalisasi induktifnya mungkin benar. sesudahnya mengamati hal-hal khusus. sore hari ini tadi rika menangis sewaktu ia mendengar bahwa farida tidak diterima perguruan tinggi negeri. Demikianlah manakala seseorang. Meskipun demikin perlu segera dicatat bahwa suatu generalisasi yang telah dibuat mungkin hany berlaku untuk batas waktu tertentu karena kondisi-kondisinya berubah. Adakalanya suatu hal atau peristiwa sudah cukup membuat generalisai induktif yang sehat. membuat suatu generalisasi mengetahui atau tidak mengetahui. Misalnya: kemarin rika menangis sewaktu melihat cerita yang menyedikan di televise. seseorang dapat menyimpulkan suatu generalisasi yang ia pikirkan akan dapat ditrapkan pada semua hal-hal khusus yang semacam di saat yang akan dating. Kesimpulannya: rika sangat peka terhadap kisah yang menyedihkan. ia telah menggunakan induksi. Didalam hal-hal yang sederhana dan tidak berselukbeluk. Suatu waktu anda harus mengamati sejumlah besar hal-hal khusus sebelum anda dapat mencapai suatu generalisasi induktif yang benar.mahasiswa lain.

premis-premisnya semuanya benar. Begitu pengetahuan maju dan sebab serta akibat dipelajari maka suatu generalisasi empiris menjadi generalisasi yang diterangkan. Induksi Dann Metode Ilmiah. Adalah pakta bahwa penicillin akan menyembuhkan beberapa bentuk penyakkit kelamin. terdapat suatu generalisasi empiris mengatakan bahwa suatu hubungan universal yang ada adalah begini atau begitu. tidaklah secara otomatis membawa akibat dan kebenaran kesimpulan. kesimpulan benar manakala premis-premisnya benar.daripada sarjana dalam negeri’sebagaimana tersebut di atas. Induksi Tidak Lengkap Dan Hakikat Kesimpulannya. Jenis induksi tidak lengkap inilah yang biasa kita perolehdan jumpai.tidak memberikan jaminan bagi kebenaran kesimpulannya. misalnya. ilmu adalah ilmu manakala berupa penalaran induktif. Semuanya berupu generalisasi-generalisasi induktif. Induksi erat sekali berhubungan dengan metode ilmiah (scientific method). Pada suatu penalaran yang baik. sesuai dengan sifatnya. Apabila diammati hakikatnya. Tapi pada induksi tidak lengkap kesimpulannya bersikap tidak lebih dari ‘mungkin betul’ manakala premis-premisnya benar. Penalaran induktif. Meskipun. Jika kejdian-kejadiannya tidak semua diamati dan diambil suatu kesimpulan umum. Alasanya sederhana: keterbatasan manusia. Pengetahuan sehari-hari dan ilmu-ilmu positif empiris banyak memerlukan induksi. Induksi lengkap diperoleh manakala seluruh kejadian khususnya telah diselidiki dan diamati. Bahkan tercipta kerangka pikiran. Kesimpulan penalaran induktif tidak 100% pasti. Selalu saja mungkin terdapat atau trpikirkan sesuatu yang tidak sebagai mana yang diamati. Hal ini tentu saja tidak benar. Tetappi jarang sekali kita dapat memperoleh induksi yang lengkap. Disinilah letak perbedaan deduksi dan deduksi. Induksi adalah dasar metode ilmiah. maka diperoleh induksi tidak lengkap. Pengamatan ilmiah terhadap hal-hal kongkrit individyal menjurus pada penemuan pakta-pakta dan teori serta hipotesis-hipotesis yang merupakan asumsi-asumsi. Tetapi hanya . kesimpulan merupakan satu konsekuensi logis dari premis-premisnya.

anda mengamati fakta-faktanya. Mungkin sebagai hasil pengujian pertama anda. Itulah sebabnya mengapa kita menaruh kepercayaan pada system berfikir yang dikenal sebagai ‘metode ilmiah’. Begitulah cara proses ilmuan mencari kebenaran. Manusia-manusia dari masyarakat seperti itu akann lebih percaya pada otoritas dan mengabaikan pengalaman sendiri. Langkah 2: selidiki IQ sejumlah besar orang yang tidak mempunyai jidat lebar dan pertimbangkan hasilnya. Menurut pengalaman sejarah sebagai salah satu bentuk utama penalaran. Ia tidak peduli apakah kebenarannya menyenangkan atau tidak menyaenangkan.hipotesis manakala bahwa dosis tinggi vitamin C akan mengurangi kemungkinan terserang pilek. Pertama-tama. maka anda telah membuktikan bahwa pernyataan tersebut yidak sah. (manakala korelasinya kecil atau tidak ada korelasi diantara kedua factor tersebut. Langkah 3: selanjutnya anda harus pula memeriksa sejumlah orang dengan IQ . membuat hipotesa lain. Masyarakat yang terlalu berat pada otoritas. dan menguji serta mennguji kembali. lankah ketiga anda menguji hipotesa secara tuntas. Langkah 1: slidiki IQ (Intelligence Quotient) sejumlah besar orang yang memiliki jidat yang lebar. anda harus membuat pengamatan lebih lanjut. Tetapi apabila angkanya terdapat hubungan tertentu antara jidat lebar dan intelejesi tinggi. induksi tidak tampil dengan mudah. dapat anda peroleh suatu kesimpulan yang benar. Dalam hal ini tidak pernah dibuat suatu generalisasi factual. maka anda harus melanjutkan pengujian secara tuntas). Misalnya anda bermaksud menguji teori seorang karyawan yang mengatakan bahwa orang dengan jidat lebar memiliki intelejensia tinggi. amat sulit memahami eksperimentasi induktif. Penalaran ilmuan seringkali disebut ‘dingin’ karena ia tahu bahwa ilmuan harus tidak peduli terhadap tarikan atau dan desakan emosi manakala ia mau menemukan kebenaran. Apabila kesimpulnnya salah maka anda harus memulai seluruh prisesnya kembali. manakala pengujian anda menunjukan bahwa hipotesanya salah. Namun demikian. berikutnya anda membuat hipotesa guna menjelaskan fakta-faktanya. dan aganya tidak pernah ada. dan memlainya kembali serta memulainya kembali.

Deduksi selalui dijiwai induksi. Dalam peroses memperoleh ilmu pengetahuan. ke tingkat ang universal. Begitulah ilmu pembuktian. hal. hakekat sesuatu. Yang terjadi dalam abstraksi ialah: dengan melepaskan sift-sift yang konkret. Dalam peroses itu akal budi menyimpulkan pengetahuan yang ‘umum’ atau universal dari pengetahuan yang ‘khusus’ atau particular. Dengan induksi kita mengangkat barang atau hal yang individual yang trtentu. kita menentukan inti. Deduksi dipandang lebih penting untuk latihan dan perkembangan pikiran. Keduanya selalu bersama-sama dan saling memuat. 1983. induksi biasanya mendahului deduksi. Sugeng Astanto. Sedangkan dalam logika biasanya deduksilah yang terutama dibicarakan terlebih dahulu. (ingt lah akan perbedaan antar keputusan ‘niversal’ dan ‘umum’ Bab IV). Induksi dan deduksi selalu berdampingan. Jangan menjadi peragu yang sinis. OFM Lanur. Logika Selayang Pandang. Hal ini terjadi dengan ‘absttraksi’. Kanisius. kajadian yang konkret serta individual. yakni kesimpulan anda diteliti dengan seksama lewat bukti-bukti (evidensi) yang memadai.Dasar-dasar Logika. Pertimbangan terhadap kelompok-kelompok tersebut dan terhadap kelompok-kelompok pengendali (control group) bertujuan memastikan apakah ada atau tidak ada hubungan antara jidat lebar dengan intelegensi tinggi. Belajarlah dari apa yang diuraikan atas bahwa anda menerima kesimpulan berdasarkan bukti-bukti (evidensi) yang telah diuji. Kita memperoleh pengertian yang umum tentang barang. Alex. PT Bumi . induksi tidak dapat ada tanpa deduksi. dan janga sekali-kali anda menerima kesimpulan yang tidak mempunyai bukti-bukti. Sri Andiani. Surajiyo.tinggi yang tidak berjidat lebar . Penyimpulan yang tidak langsung induksi adalah suatu peroses yang tertentu. 38. Langkah 4: pemeriksaan yang harus dibuat untuk melihat apakah sejumlah sama dari orang-orang denag IQ rendah punya jidat lebar atau punya jidat yang sukar dikualipikasikan. Inilah dasar induksi sebagaimana digunakan dalam ilmu pengetahuan.

Akan tetapi sebelum mencicicpinya.59-63. Si pedagang menawarkan apel ketig. Kita perhatikan apel itu dan terbukti bahwa apel itu keras dan hijau. Ini suatu induksi yang tepat. hijau. karena yang itupun pasti masam. jakarta 2006. dan seketika itu kita beritahukan. “pertama-tama. Kita telah menemukan bahwa dua kali pengalaman sift keras dn hijau pada pael itu selalu bersama-sama dengan sifat masam. Itupun keras. adalah sebuah induksi. yaitu peruses peningkatan dari hal-hal yang bersifat individual kepada yang bersifat universal. Apel 2 keras dan hijau adalah masam. sedangkan kesimpulannya adalah proposisi universal yang berlaku secara umum. Apel 1 keras dan hijau adalah masam. seperti lain-lainnya yang telah kita cicicpi. Maka induksi dalam halini disebut generalisasi. Thomas Henri Huxley (1825-1895) dalam soekadijo (1994)menerangkan induksi dengan contoh sebagai berikut. Kita ambl sebuah yang lain. Huxley menjelaskan proses Induksi it sebagai berkut. kita memperhatikannya dan terbukti yang itu pun keras dan hijau. Induksi tersebut sesuai dengan definisi aristoteles. bila ditemui sifat keras dan hijau. penalaran di atas menurut Huxley adalah sebagai berikut. dan ketika mencicicpinya. Kita ambil sebuah.” Kalou dirmuskan secara formal. dan masam.aksara.” Jalan pikiran si calon pembeli sehingga ia sampai pada kesimpulan untuk toda membeli apel. terbukti itu masam. Disini premisnya berupa prposisi-proposisi singular. Semua apelkeras dan hijau adalah masam. akan tetapi sudah cukup dijadikan dasar induktif. . kita telah melakukan kegiatan yang disebuti induksi. dan itu diperkuat dengan peristiwa yang kedua. Memang itu dasar yang amat semppit. Kedua pakta itu digeneralisasikan dan kita percaya akan berjupa rasa masam pada apel. Demikianlah pada peristiwa yang pertama. “anggaplah kita mengunjungi warumg buah-buahan karena ingin membeli apel. bahwa kita tidak menghendakinya.

karena kesimpulan penalaran induktif tidak . Pikiran tidak mempersoalkan benar tidaknya fakta. Proposisi dasar menunjukan fakta. Syarat-syarat generalisai Penalaran yang menyimpulkan sesuatu kesimpulan bersifat umum dari premis-premis yang berupa proposisi empiris itu disebut generalisais.Dari contoh-contoh diatas dapat diketahui cirri-ciri induksi. duakali dijumpai apel yang masam dalam kondisi keras dan hijau. hijau dan masam. dapat diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang sama terpenuhi.” Dalam contoh di atas. Kesimpulan itu hanya suatu harapan. yaitu sebagai berikut. itulah yang diobserpasi dan dirumuskan di dalm premis-premis itu. kita menyimpulkan maka dapat diharapkan apel itu akan masam rasanya. Premispremisnya hanya mengatakan bahwa apel yang keras. Perinsip yang jadi dasar penalaran generalisasi dapat dirumuskan “sesuatu yang beberapa kali terjadi dalam kondisi tertentu. premis-premis dari induksi adalah proposisi empiris yang lansung kembali pada suatu obserpasi indra atau propoosisi dasar. Bahwa apel 1 itu keras. akan tetapi hanya dapat menerimanya. 3. artinya pengertian induksi menurut pengalaman biasanya cocok dengan obserpasi indra atau tidak seharusnya cocok. kesimpulan penalaran induksi itu lebih luas darpada apa yang dinyatakan di dalam premis-premisnya. hanya indralah yang dapat menangkapnya. kesimpulan induksi itu memiliki kredibikitas rasional. 1. Maka ketika melihat apel ketiga memenuhi kondisi keras dan dan hijau. apel 1 dan 2. yaitu obserpasi yang dapt diuji kecocokannya denga tangkapan indra. Krediblitas rasional disebut probabilitas. Probabilitas itu didukung oleh pengalaman. hijau dan masamitu hanya dua. 2.

Kalau dikatakan “semua A adalah B”. Apel 1 keras. dan rasanya masam. 2. Semua apael yang keras dan hijau rasanya masam. Semua apel keras dan hijau. Apel 2 sampai dengan 15 keras. 1. Apel 2 keras. Maka hasil usaha analisis dan rekontruksi penaran induksi itu hanya berupa berupa ketetuan mengenai bentuk induksi yang menjamin kesimpulan dengan probabilitas setinggi-tingginya. Generalisasi menuruut soekadiijo (1994) harus memenuuhi tiga syarat sebagai berikut. rasanya . 3. Yang ada hanya kesimpulan dengan probabilitas terendah atau tinggi. Jadi. 3. Bentuk Generalisasi Induksi.mengandung nilai kebenaran yang pasti. proposisi itu berlaku untuk setiap dan semua subjek yang memenuhi kondisi A. Tinggi rendahnya probabilitas kesimpulan itu dipengaruhi oleh sejumlah factor yang disebut factor probabilitas. dalam induksi. dan rasanya masam. maka proposisi itu harus benar. Apel ini keras. hijau. suatu peluang. tidak ada kesimpulan yang mempunyai nilai kebenaran yang pasti. dan rasanya masam. Apel 1 keras. Apel 3 keras. Untuk mengetahui factor probabilitas. hijau dan rasanya hijau. akan tetapi hanya berupa suatu probabilitas. hijau. Yang dimaksud dengan dasar pengandaian di sini adalah dasr yang disebut contrary to-facts conditionals atau unfulfilled conditionals. Generalisasi harus dijadikan dasar pengandaian. artinya tidak boleh terbatas dalam ruang dan waktu. hijau. berapapun jumlah A. rasanya asam. Generalisasi harus tidak terbatas secara sepasio-temporal. hijau. harus berlaku dimana saja dan kapan saja. 2. dan rasanya masam. dan rasanya masam. hijau. dapat dibandingkan beberapa bentuk generalisasi induksi sebagai berikut ini 1. Semua apel yang hijau dan keras. Generalisasi harus tidak terbatas secara numerik. Artinya generalisasi tidak boleh terikat dalam jumlah tertentu.

Makin besar jumlah factor analogi di dalam premis. jelas kesimpulan induksi (3) lebih tinggi probabilitasnya. hijau. hijau. besar. Factor persamaan seperti ini disebut . baru saja dipetik. Enam generalisasi induksi di atas kesimpulannya sama. hijau. Semua apel keras dan hijau. benjol. Makin besar jumlah pakta yang dijadikan dasar penalaran induksi. kecil. 2.masam. Soekadijo (1994) berpendapat faktor-faktor probabilitas itu adalah sebagai berikut : 1. 5. Apel 1 keras. dan masam. 4. benjol. hijau. dari korea. hijau kecil. sidah disimpan selama sebulan. kecil. rasanya masam. Yang meyebabkan perbedaan probabilitas itu adalah factor pribabilitas. Apel 2 keras. dan benjol. Kalau membandingkan premis-premis induksi (2) dan (4). Pada induksi (4) faktir persamaan itu ada 4 : keras. maka di antara premis induksi (2) ada factor yang sama di antara apel 1. hijau. 6. dan masam. dan masam. Apel 3 keras. rasanya masam. besar. Semua apel keras dan hijau rasanya masam. Induksi (1) premisnya hanya mengenai satu fakta saja dan kita cenderung untuk meragukan kebenaran kesimpulannya. Kesimpulan itu berbeda-beda kredibilitas rasionalnya atau probabilitasnya. kecil. yaitu keras dan hijau. Kita lebih dapat menerima kebenarannya daripada kebenaran kesimpulan induksi (2). rasanya masam. 2. Semua apel yang keras dan hijau. hijau. hijau. keras. dari batu. Apel 2 keras. hijau. artinya probabilitisnya rendah. benjol. Apel 1 hijau. dan masam. Apel 1 keras. karena induksi (3) premis-premisnya menunjuk 15 fakta. benjol. Kalau kesimpulan dari induksi (3) dibandingkan dengan kesimpulan (2). dan masam. dan 3. makin tinggi probabilitas kesimpulannya dan sebaliknya. Apel 2 keras. Apel 3 keas. dan masam. kecil. makin rendah probabilitas kesimpulannya dan sebaliknya. rasanya masam. yaitu semua apel keras dan hijau rasanya masam. dan masam. Apel 3 keras. benjol. sedangkan induksi (2) hanya 3 fakta.

Sebaliknya kesimpulan penalaran (5) lebih tinggi probabilitasnya daripada penalaran (6). Dengan adanya tambahan dua factor analogi (kecil dan benjol) itu probabilitasnya menurun. Karena adanya faktor disanalogi ini. pada umunya semakin besar populasi yang ditunjuknya. Kesimpulan (4) belum tentu akan benar kalau diterapkan kepada apel keras. Ini terbukti kalau kita membandingkan penalaran (4) dan (6). besar. makin tinggi probabilitas kesimpulannya dan sebaliknya. yaitu benjol. benjol. dan kecil. Meskipun kesimpulan penalaran (6) dapat diterpakan untuk semua apel keras. Makin besar jumlah factor yang dianalogikan di dalam premis. 4. kesimpulan penalaran (6) lebih tinggi probabilitasnya daripada kesimpulan penalaran (4). Jadi. hijau.analogi. karena jumlah faktor disanaloginya lebih besar. Semakin sedikit faktor analogi yang terdapat dalam generalisasi atau proposisi. hijau. terbukti kesimpulan penalaran (4) lebih lemah atau lebih rendah probabilitasnya. 3. sedangkan kesimpulan penalaran (5) akan tetap saja probabilitasnya. besar. dan berasal dari Korea. Premis-premis penalaran (6) masing-masing mengandung sebuah factor yang berbeda di antara premis yang satu dengan yang lain. Hubungan antara faktor analogi dan disanalogi secara umum dapat dikatakan: populasi yang ditunjuk oleh generalisasi tidak boleh memiliki anggota yang tidak sesuai dengan adanya faktor analogi dan disanalogi di dalam prenis. Senakin luas kesimpulannya semakin rendah probabilitasnya dan sebaliknya. Kalau probabilitas ke dua penalaran itu dibandingkann. dan kecil. sebuah generalisasi atau proposisi. Faktor yang menyebabkan perbedaan ini disebut faktor disanalogi. pada umumnya senakin luas semakin besar populasi yang ditunjuknya. serta sudah disimpan seblan. Semakin sedikit faktor analogi di dalam generalisasi atau proposisi. akan tetapi premis-premisnya tidak mengatakan apa-apa andaikata apel itu dari Korea dan sudah disimpan ssatu bulan. semakin besar kemungkinannya generalisasi atau proposisi .

semua mempunyai kepala. Induksi sempurna Jika keputusan itu merupakan penjumlahan dari keputusan khusus. 2. Jalan pikiran dari putusan yang khusus kepada putusan yang umum ini disebut induksi. Misalnya: dari masing-masing mahasiswa pada suatu pakultas. gajah. dari satu pengalaman saja orang mungkin mempunyai pengetahuan. Induksi yang tidak sempurna ini ada dua macam dilihat dari sifat yang dimilikinya dalam kekuatan keputusan yang ternyata:  Dalam ilmu alam (sciences) keputusan yang . 2005. Lintang Pustaka. Dalam buku logika filsafat berfikir.itu tidak sesuai lagi kalau anggotanya ada yang meniliki faktor analogi lebih daripada yang disebut di dalam generalisasi atau proposisi. singa. tentu saja mengenai yang satu ini. Yogyakarta. diketahui bahwa ia warga negara indonesia. Penalaran ini diawali dengan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khusus dan terbatas dalam mennyusun argumentasi dan akhirnya dengan pernyataan yang bersifat umum. Maka dapat diadakan keputusan (umum): semua mawasiswa fakunlas itu warga negara indonesia. itulah yang dinamakan induksi yang tidak sempurna. Ediyono Suryono. 110. Pengetahuan khusus ini dapat juga tercapai berulang kali dan kemudian dijadikan landasan oleh manusia untuk pengetahuan yang lebih luas wilayahnya. melainkan seakan-akan loncatan dari yang khusus kepada yang umum. Misalnya: kambing. kerbau. Induksi tidak sempurna Jika dari induksi ada keputusan umum yang bukan merupakan pejumlahan. Logika. Penyimpulan tidak langsung induksi Adalah penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual yang nyata (khusus) menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Ada dua macam induksi: 1. rusa. maka yang demikian itu di namakan induksi sempurna. sehingga berlaku lebih umum.

maka keumuman hal-hal yang kena pengaruh manusia itu juga tidak mutlak dan tidak dapat dipastikan sebelumnya. Kalau ada perinsipnya hokum alam tidak ada kekecualiannya. Selalu ada kemumgkinan lain. hokumhukum pada ilmu social selalu ada kemungkinan kekecualiannya. mutlak jadi tak ada kecualinya. Ilmunya kami sebut ilmu social serta objek penyelidikannya mungkin trpenngaruhioleh kehendak manusia. Oleh karena itu manusia mempunyai daya memilih dan sebab itu bertindak atau tidak bertinda.  Jika ilmu mempunyai objek yang terjadinya bias kena pengaruh dari manusia yang sedikit banyaknya dapat menentukan kejadian-kejadian yang menjadi pandangan ilmu. maka lalu lain pula halnya. Tidak ragu-ragu ilmu berani meramalkan tentang pembekuan air itu. tetapi tindakan mutlak umum. Ada juga semacam hokum terdapat pada tindakan manusia.tercapai melalui induksi tidak sempurna ini berlaku umum. baik secara induktif maupun . Hukum air mengenai pembekuannya itu tak mengizinkan pengecualiannya. untuk proses penalaran selanjutnya. jadi ada kekecualian. malahan mungkin berrtindak lain dang rangsanagan alam sekitarnya dan alamnya sendiri. Kesimpulan yang bersikap umum ini mempunyai dua keuntungan sebagai berikut: • • Bersifat ekonomi Terdapat deduktif.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN . bahkan merupakan dasar dari metode ilmiah.Induksi sangat erat hubungannya dengan metode ilmiah ( scientific method).

Penyimpulan tidak langsung induksi 2. Logika Selayang Pandang. 4. jakarta 2006. Sugeng Astanto. PT Bumi . 110. Ediyono Suryono. Banduung. 1983. Remadja Karya. aksara. OFM Lanur.59-63. Poespoprodjo. Lintang Pustaka. Logika Ilmu Menalar. 3. Alex. Sri Andiani. Kanisius. 38. Surajiyo. 1989.Dasar-dasar Logika. Logika. Yogyakarta.DAFTAR PUSTAKA 1. 2005.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->