You are on page 1of 136

www.rajaebookgratis.

com

www.rajaebookgratis.com

BIDADARI BIDADARI SURGA TERE LIYE Penulis Novel Best Seller Hafalan Shalat Delisa & Moga Bunda Disayang Allah 1 EMPAT PENJURU "PULANGLAH. Sakit kakak kalian semakin parah. Dokter bilang mungkin minggu depan, mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti malam. Benar-benar tidak ada waktu lagi. Anak anakku, sebelum semuanya terlambat, pulanglah...." Wajah keriput nan tua itu menghela nafas. Sekali. Dua kali. Lebih panjang. Lebih berat. Membaca pesan itu entah untuk berapa kali lagi. Pelan menyeka pipinya yang berlinang, juga lembut menyeka dahi putri sulungnya, wanita berwajah pucat yang terbaring lemah di hadapannya. Mengangguk. Berbisik lembut: "Ijinkan, Mamak mengirimkannya, Lais.... Mamak mohon...." Pagi indah datang di lembah itu. Cahaya matahari mengambang di antara kabut. Embun menggelayut di dedaunan strawberry. Buahnya yang beranjak ranum nan memerah. Hamparan perkebunan strawberry terlihat indah terbungkus selimut putih sejauh mata memandang. Satu bilur air mata akhirnya ikut menetes dari wanita berwajah redup yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Mereka berdua bersitatap satu sama lain, lamat-lamat. Lima belas detik senyap. Hanya desau angin lembah menelisik daun jendela. Ya Allah, sungguh sejak kecil ia menyimpan semuanya sendirian. Sungguh. Demi adik-adiknya. Demi kehidupan mereka yang lebih baik. Ia rela melakukannya. Tapi, sepertinya semua sudah usai. Waktunya sudah selesai. Tidak lama lagi. Sudah saatnya mereka tahu. Sudah saatnya.... Perempuan berwajah pucat di atas ranjang berusaha tersenyum, dengan sisa-sisa tenaga. Sedikit terbatuk, bercak darah merah mengalir dari sela bibir bersama dahak. Bernafas sesak. Semakin kesakitan. Namun sekarang muka tirusnya mengembang oleh sebuah penerimaan. Ia perlahan mengangguk. Tangan tua itu demi melihat anggukan putri sulungnya, tanpa menunggu lagi gemetar menekan tombol ok. Message transmitted. Maka! Dalam hitungan seperjuta kedipan mata. Melesat Berpilin. Berputar. Seketika saat tombol ok itu ditekan, jika mata bisa melihatnya, bak komet, bagai anak panah, macam rudal berkecepatan tinggi, 203 karakter SMS itu berubah menjadi data binari 0-1-0-1! Menderu tak-tertahankan menuju tower BTS (base transmitter station) terdekat. Sepersekian detik lagi lantas dilontarkan sekuat tenaga menuju satelit Palapa C-2 ratusan kilometer di atas sana, berputar dalam sistem pembagian wilayah yang rumit, bergabung dengan jutaan pesan, suara, streaming gambar, dan data lainnya dari berbagai sudut muka bumi (yang hebatnya tak satupun tertukar-tukar), lantas sebelum mata sempat berkedip lagi, pesan tersebut sudah dilontarkan kembali ke muka bumi! Pecah menjadi empat. Bagai meteor yang terbelah, pecahan itu berpendar-pendar sejuta warna menghujam ke empat penjuru dunia. Empat nomor telepon genggam! Tak peduli di manapun itu berada. Tak peduli sedang apapun pemiliknya. Kabar itu segera terkirimkan. Melesat mencari empat nomor telepon genggam yang dituju.

www.rajaebookgratis.com

Pulanglah anak-anakku! Untuk pertama dan sekaligus untuk terakhir kalinya, kakak kalian membutuhkan kalian — 2 BULAN YANG TERBELAH "HADIRIN yang kami hormati, tiba saatnya kita mengundang ke atas panggung, seseorang yang sudah kita tunggu-tunggu sejak tadi. Seseorang yang seolah-olah akan —maaf — membuat lima profesor sebelumnya terasa membosankan dan membuat mengantuk—" Tertawa. Ruangan besar itu buncah oleh tawa. ".... Banyak sekali catatan hebat yang dimilikinya, tapi anehnya, meski banyak, sekarang kita sama sekali tak perlu menyebut satupun. Ah, bukan karena akan merepotkan membaca daftar super-panjang itu, tapi buat apa lagi, semua sudah hafal, bukan? Jadi buat siapapun di ruangan besar ini, siapapun di antara lima ratus peserta Simposium Fisika Intemasional ini yang tidak mengenal sosoknya. Yang, oh, betapa malangnya peserta itu—" Tertawa lagi. "Buat peserta malang itu, saya akan memperkenalkan pembicara utama simposium kita hanya dengan memperlihatkan cover sebuah majalah: Science!" Dengan sedikit dramatis, moderator simposium fisika itu sengaja mengangkat tinggi-tinggi majatah yang dimaksud. "Inilah jurnal ilmu-pengetahuan terkemuka di dunia. Yang memiliki reputasi paling hebat di antara sejenisnya. Lihatlah edisi bulan ini, edisi terbaru! Terpaksa menurunkan laporan tidak lazim, utuh sebanyak 49 halaman, hmm, itu bisa dibilang hampir seperempat tebal majalah ini.... Kenapa saya sebut tidak lazim? Karena laporan ini sungguh tak biasa bagi banyak ahli fisika yang kebanyakan sekuler. Apalagi untuk konsumsi publik di negara-negara Barat sana. Judul penelitiannya adalah: 'Pembuktian Tak Terbantahkan Bulan Yang Pernah Terbelah'. Kepala-kepala menyeruak. Berebut ingin melihat lebih jelas. "Penelitian yang amat mengesankan, mengingat hari ini, ketika kehidupan sudah begitu tidakpedulinya dengan fakta-fakta dalam agama, pembicara utama kita siang ini justru datang dengan sepuluh bukti bahwa bulan memang pernah terbelah 1.400 tahun silam dalam hasil penelitian mutakhirnya. Bukan main. Lengkap tak terbantahkan, sebagai salah satu mukjijat Nabi penutup jaman. Benar-benar terbelah dua seperti kalian sedang membelah semangka, bukan penampakan sihir, apalagi ilusi mata seperti yang dituduhkan dan dipahami banyak orang sejak dulu. Lantas setelah dibelah, dua potongan bulan tersebut disatukan kembali, seperti bulan yang biasa kita lihat sekarang. Itu benar-benar pernah terjadi!" Moderator itu berhenti sejenak. Membiarkan ruangan besar dipenuhi sensasi yang diinginkannya. Terpesona. Ingin tahu. Rasa kagum Sejenis itulah. "Well, meski kalau dipikir-pikir sebenarnya pembuktian hebat atas bulan yang pernah terbelah itu tidak terlalu mengejutkan kita, bukan? Hanya soal waktu dia akan membuktikannya. Mengingat profesor muda kita adalah orang pertama di negeri ini yang berkali-kali menulis di jurnal paling prestisius dunia itu. Mendapat pengakuan dari berbagai institusi penelitian dunia, dan selalu konsisten berusaha membuktikan berbagai transkripsi dan sejarah religius dari sisi ilmiahnya...." Muka-muka yang memadati ruang konvensi besar itu terlihat semakin bercahaya oleh antusiasme. Seperti anak kecil yang dijanjikan mainan baru. Atau seperti anak kecil yang melihat penuh rasa ingin tahu toples penuh gula-gula. Menunggu tak sabaran moderator yang terus ngoceh tentang fakta yang sebenamya mereka sudah tahu semua. Termasuk jurnal itu. Tadi pagi dibagikan gratis ke seluruh peserta. ".... Namanya terdaftar dalam 100 peneliti fisika paling berbakat di dunia. Dan tidak berlebihan jika mantan koleganya di Princenton University berandai-andai dia akan menjadi salah-satu kandidat kuat penerima nobel fisika beberapa tahun ke depan. Jadi buat peserta yang tidak sempat mengenalnya secara langsung, hari ini setelah enam bulan berusaha menculiknya dari jadwal laboratorium yang tidak masuk-akal, dari berbagai penelitian yang

. Lantas melangkah sigap menuju podium. terpesona oleh kecantikan remaja. putri sulungnya yang berumur sembilan tahun. meski dengan begitu banyak publisitas selama ini. Profesor Da-li-mun-te!" Tepuk-tangan bak dikomando menggema bagai dengung lebah. 'long live friendship'. Well." Akhirnya gadis di podium menyadari ruangan mulai gerah. hari ini dia datang dengan istrinya yang terlihat cantik." Satu-dua peserta sengaja mulai berdehem (lebih keras). Dengan langkah panjang-panjang." Lima menit berlalu. berikan sambutan yang paling meriah. Masa kecil yang begitu mengesankan. sistematis dan kaku. . tersenyum lebar tidak-sensitif.. Eskpresi wajahnya meski santun menyenangkan seperti yang dibilang moderator cerewet itu. Rambutnya tersisir rapi mengkilat. profesor kebanggaan kita." Gadis moderator itu tersenyum lebar. Gumam keberatan. yang menarik ternyata bukan hanya wajah profesor ini yang terlihat santun menyenangkan.. Bertuliskan. Sedikit bersemu merah. Hampir seluruh peserta simposium meski tertarik. "Keluarga yang hebat meski tidak menyukai publisitas. profesor muda kita tetap hidup dengan segala romantisme bersama keluarga kecilnya. yang sedang trend di anak muda.. Perkebunan strawberry yang indah. 'Safe The Planet!' Minggu-minggu ini. ternama.. Lihatlah... Gelang itu macam gelang karet yang bertulisan 'solidarity forever'." ". baik.. "Karena saya pikir kalian sedikit mulai tak-sabaran mendengar perkenalan yang sebenarnya amat penting dari saya." ".. dan apalah namanya yang serba serius dan menuntut banyak waktu itu... Perkenalan di kontes fisika.. Profesor kita sudah membuat kincir air setinggi lima meter saat ia masih kanak-kanak. Intan menjadi ketua panitia 'Earth Day' di sekolah. sisa gurat masa kecil yang tidak selalu beruntung. Berdiri.. berbisik lembut ke istrinya. Meski 'gelang karet' gaya anak muda di tangan kanan membuatnya terlihat lebih kasual. menggdeng. soal wajah dan kepribadian yang santun menyenangkan? Kalian tahu. Profesor kita mengejar hingga ke Bandara. baiklah. baris kedua dari depan itu ikut balas tersenyum. Matanya tajam memandang. terlihat amat senang membuat seluruh peserta simposium menunggu tak sabaran kalimat-kalimat perkenalannya." Wajah-wajah terlipat. bukan celoteh moderator.rajaebookgratis. kalian tahu.. Hari ini Profesor Dalimunte mengenakan kemeja krem.... Rahangnya kokoh. Itu gelang pemberian Intan. layar LCD raksasa di depan plenary hall menayangkan paras cantiknya... di tengah kesibukannya sebagai peneliti.. hari ini dengan bangga kami hadirkan sosok yang sebaliknya memiliki wajah dan kepribadian santun menyenangkan ini...com serius.www. maka dengan senang hati saya akan menceritakan bagian tersebut. ". haha. "Ada yang berminat mendengar kisah indah pertemuan mereka?" Moderator menyeringai lebar.. Wanita cantik berkerudung yang duduk di sebelah sang Profesor. inilah salah-satu profesor fisika termuda... peserta simposium mulai jengkel ". yang pernah ada di negeri ini.. untuk tidak bilang sebenarnya sedikit tidak matching dengan busana rapinya. Mereka jauh-jauh datang dari berbagai universitas ternama ke ruangan besar itu jelas-jelas ingin mendengarkan paparan mutakhir temuan fisika. Rapi seperti biasa. sebenamya terlihat keras mengiris.. 'united for all'. Pemuda berumur 37 tahun itu tersenyum lebar. Penuh rasa ingin tahu. hadirin. Tersenyum. pakar.. Melepas genggaman mesra. Mereka belum pernah melihat istri sang Profesor.... "Ah-ya..... Mengangguk anggun. selamat siang Nyonya!" Muka-muka tertoleh... "Baiklah karena kalian memaksa." "Masa kecil yang penuh perjuangan. Baik.. Menikmati posisinya sebagai 'penguasa' jadwal acara.

ajakan diskusi.. Ternyata tidak. dan kaku. Lebih mendesak untuk disampaikan. Itu tidak mungkin terjadi!" Profesor Dalimunte dengan muka serius menunjuk slide gambar bulan terbelah dua di layar LCD raksasa depan ruangan. karena hari ini saya memutuskan untuk tidak membicarakan penelitian yang sudah dimuat dengan baik oleh jurnal populer yang selama ini sekuler dan diskriminatif. Bukan tentang bulan.. 'Science'.. ya Ummi." Profesor Dalimunte mengusap wajahnya yang sedikit berkeringat..000 perak. bukan—" Tertawa. Pelan mengetuk-ngetuknya... ada banyak penelitian yang justru mencoba membuktikan kalau itu semua keliru. Kalian bisa membaca sendiri seluruh buktinya di majalah tersebut. serius. ". Tepukan mereda. kolega dan staf saya di laboratorium dengan senang hati membalas e-mail pertanyaan. Jadi ijinkanlah saya untuk memulai langsung topik kita hari ini—" Wajah-wajah terlihat semakin antusias. kalian tahu persis. saya akan menyajikan pembuktian fakta religius penting lainnya. "Baik. Ini lima belas menit yang penting. ada banyak pekerjaan di laboratorium. dan superlengkapnya. Salah-satu mukjijat Nabi penutup jaman.www. Intan memang keras kepala soal proyek "Safe The Planet" -nya. Nanti uangnya buatbeli tong sampah yang bakal dikirim ke daerah-daerah korban bencana alam. terima-kasih atas perkenalan yang hebat. Termasuk ke Eyang Lainuri (malah seminggu lalu mengirimkan selusin gelang ke perkebunan strawberry buat tukang-tukang kebun). kau membuatku terlihat sedikit lebih manusiawi. Berdehem. belum lagi dengan segala tenggat waktunya. Satu gelang bernilai sumbangan 5. Kalian tahu. Ruangan besar itu ramai oleh tawa. Anne. saya tidak terlalu menikmati dikelilingi puluhan wartawan dengan kameranya. Menatap antusias ke depan.. Semua popularitas ini. "Tapi seperti yang saya bilang tadi. "Pertama karena saya hanya punya waktu lima belas menit untuk memenuhi segala keingintahuan kalian. Di samping itu. setidaknya dengan kalimat terakhir itu. Seperti yang telah kalian baca di jurnal tersebut bulan dibelah dua sudah menjadi fakta religius ratusan tahun silam. Ada banyak perdebatan. lihatlah satu gelang juga terpasang rapi di leher hamster belang miliknya. tapi isu yang lebih besar. untuk kedua kalinya maafkan saya. buat apa coba di pedalaman indah nan sederhana itu penduduknya pakai gelang? Ah.. Takut benar ada fakta terucap yang terselip di ingatan dan lalai di catat takut benar terlihat sebagai orang paling bodoh dalam ruangan simposium fisika internasional tersebut. Peserta konvensi perlahan duduk kembali. "Tapi terima kasih atas sentuhan keluarganya: profesor muda kita tetap hidup dengan segala romantisme bersama keluarga kecilnya.. Keajaiban itu memang pernah terjadi! — Bagaimana mungkin ada satu potongan translasi religius yang keliru? Kitab suci keliru? Hadist yang salah? Sungguh lelucon yang tidak lucu.com Memaksa siapa saja mengenakan gelang itu. Saya harap itu cukup setelah hampir enam bulan kalian menunggu kesempatan ini.rajaebookgratis. Meski saya pikir kau agak berlebihan dengan menceritakan bagian romantisme pertemuan itu. tersenyum..Hari ini sesuai kesepakatan dengan panitia simposium lima menit setiba saya di sini.. Ya. pesan... karena kalian akan menjadi orang pertama yang . Profesor Dalimunte memperbaiki speaker di atas podium. dan jika masih ada pertanyaan. panjang. sebelumnya maafkan saya untuk dua hal... "Hadirin. Tangan-tangan wibuk menggenggam pulpen bersiap mencatat. atau apapun dari kalian. Anne!" Dalimunte menganggukan kepala kepada moderator. meski yang bayar lima ribu perak. Makanya Intan sibuk benar berpromosi. Perubahan topik ini sebenarnya kabar baik bagi kalian. pertama-tama. Bukan seperti daftar penelitian yang kulakukan sepanjang tahun: sistematis. profesor fisika juga manusia biasa.

berita-berita tersebut boleh dibilang mirip satu sama lain. saya tidak akan membahas soal mirip tidaknya. Nuklir misalnya! Ingat kasus Nagasaki dan Hiroshima. Penyerbuan. maka akan menemukan berbagai translasi religius menulis begitu. "Pernahkah dari kita bertanya tentang detail kabar tanda-tanda hari akhir? Hari kiamat? Membacanya? Mendengamya? Pasti pernah. bagaimana mungkin begitu banyak sumber dalam berbagai riwayat sahih terpercaya justru menyebutkan peperangan besar itu akan dilakukan dengan pedang. pertanyaannya jika semua teknologi senjata tadi tidak digunakan saat pertempuran akhir jaman. "Kita semua tahu. Atau jangan-jangan dua tiga ratus tahun ke depan manusia malah sudah bisa membuat koloni pertama di Mars! Janganjangan maksud peperangan tersebut adalah peperangan antar planet. dengan tangan? Jika kalian berkesempatan membaca. Penelitian fisika terbaru kami hanya bertujuan memaparkan fakta ilmiahnya—" "Salah satu berita yang membuat kita tercengang adalah kabar peperangan besar. lantas ke manakah ilmu pengetahuan yang telah diakumulasi beratus-ratus tahun oleh . yang dikenal beberapa agama lain dengan sebutan Armageddon.. Amat menarik. Lima ratus ahli fisika dari berbagai penjuru dunia.. Karena salah satu diantara kita mungkin pernah melipat dahi. Dulu dia belajar dari guru terbaiknya.. maka tidak peduli dari kitab suci agama manapun. perang dunia ke-2. translasi itu sama sekali tidak menyinggung soal senjata-senjata pemusnah massal... atau ribuan tahun lagi. Menarik.rajaebookgratis." Slide bergerak cepat. Nah.. maaf.com mendengarkan progress penelitian terbaru kami: Badai Ekktromagnetik Antar Galaksi menjelang hari kiamat. itu urusan pakar. Lima ratus undangan. Wajah-wajah dalam ruang besar nampaknya tidak terlalu keberatan dengan perubahan topik yang mendadak tersebut. Maka. sepertinya kemungkinan-kemungkinan yang saya sebutkan tadi amat berlebihan. Kita tidak bisa membayangkan akan secanggih apa teknologi senjata saat itu? Jadi jika benar-benar terjadi Armageddon. Pertempuran satu lawan satu. apa susahnya melepas dua tiga rudal berhulu nuklir jutaan kiloton ke daerah musuh? Selesai sudah. Jangan-jangan Ya'juj dan Ma'juj yang dikurung di suatu tempat oleh Dzulkarnen itu. sejauh ini belum ada buktinya. Dua kali tembak. Dan setidaknya bagi siapapun yang masih mempercayai janji hari akhir tersebut.www. Pertempuran hebat. Kabar peperangan besar tersebut sepertinya memang akan sesederhana itu. Meski tidak terlalu menyukai publisitas. yang hingga hari ini kita tidak tahu di mana lokasi tembok penjaranya justru datang dari planet lain. tapi heberapa peserta simposium yang datang dari sekutu negara bersangkutan tidak terlalu berkeberatan dengan kalimat itu. Benar-benar sesederhana itu... Biar mereka yang menjelaskan kalau sebenarnya kabar tersebut bersumber dari satu muasal. selesai sudah! Bagaimana mungkin di akhir jaman nanti orang-orang seolah lupa menggunakan teknologi hebat itu? Apalagi hari kiamat mungkin baru terjadi ratusan tahun. Penguasaan wilayah. dia amat terlatih untuk urusan mengendalikan massa seperti ini... ahli agama yang relevan. Ahya. Buru-buru mencoret judul catatan di atas kertas. Profesor Dalimunte tersenyum lebar menatap sekitar dengan rileks.. Masuk akal bukan—" "Tetapi ternyata tidak. lebih asyik melihat layar LCD raksasa di depan. Sekarang memunculkan sebuah translasi kitab suci. Terlepas dari bagaimana menafsirkan berbagai translasi religius ini... pertanyaan bodohnya adalah: lantas di mana teknologi nuklir hari ini? Di mana senjata pemusnah massal? Satelit? Senjata kimia? Bioteknologi? "Bagi semua yang pemah mendengar cerita tentang tanda-tanda akhir jaman. bukankah seolah-olah masa itu kembali ke masa-masa pertempuran konvensional? Berita tentang ulatulat yang dikirimkan dari langit? Keluarnya dua pasukan jahat yang menghabiskan seluruh air sungai yang mereka lewati? Pepohonan yang menyembunyikan bangsa Yahudi— maaf jika ini terlalu detail—" Dalimunte tersenyum. Saya menyimpulkan demikian: sesederhana itu.

Mengesankan melihatnya membanjiri peserta simposium dengan berbagai pertanyaan. Bukankah kepercayaan itu sebuah rasionalitas ilmiah? Seperti halnya bulan yang terbelah. Atau mungkin tidak akan pemah tahu. seorang manusia. bagaimana mungkin kita tidak mewarisi teknologi hebat sahabat Nabi Sulaiman tersebut setelah ribuan tahun berlalu? Bagaimana mungkin tidak ada penjelasannya dan kita sekadar mempercayai kalau itu kondisi luar biasa. kita saja yang belum tahu. Ruangan besar simposium fisika itu lengang. di masamasa berikutnya kembali meluncur ke titik terendahnya. kemajuan teknologi itu persis seperti siklus naik turun. Nah.. kita juga akan kehilangan senjata-senjata hebat yang ada sekarang dalam pertempuran besar itu. manusia menguasai teknologi-teknologi hebat. Itu sesuai dengan kabar dari berbagai translasi religius ini. bencana alam. disadari atau tidak. bahkan tidak bisa memindahkan fisik sebutir telur dengan apapun itu wahana dan caranya. ".. Terus menyajikan dengan cepat berbagai slide. A kuadrat sama dengan B kuadrat plus C kuadrat. jadi sama sekali tidak mengherankan jika saat dunia menjelang masa senjanya. peradaban manusia justru sedang kembali ke titik apaadanya?" Dalimunte diam sejenak. jawabannya adalah: Ya! Jika kita ibaratkan. Jaringan telekomunikasi. ada fakta religius yang tertulis indah di kitab suci: Salah seorang sahabat Nabi Sulaiman. Tentu saja ada penjelasan masuk akal atas transfer fisik kursi tersebut. Tapi tidak untuk teknologi memindahkan fisik sebuah benda. Spektakuler! Anda tidak akan pernah menemukan kemampuan teknologi sehebat itu hari ini! Belum.. termasuk pertanda dari berbagai kitab suci lainnya.. malah mungkin pernah memiliki rumus sederhana seperti rumus phytagoras untuk menjelaskan bagaimana memindahkan kursi ke tempat lain.. mungkin karena peperangan. Karomah. Mengikuti siklusnya. Keajaiban. Seperti roda yang berputar. dan akan dibuktikan dengan serangkaian penelitian ilmiah kami. maka peradaban manusia persis seperti roda. Terus berrputar. pernah bisa memindahkan dalam sekejap sepotong kursi dari satu titik ke titik lainnya yang berjarak ratusan kilometer sebelum mata sempat berkedip! Seorang manusia. harus ada penjelasan ilmiahnya. Dan dunia kembali ke peperangan dengan tangan. saat itu. peradaban manusia kembali lagi ke titik terendahnya.rajaebookgratis. manusia pernah menguasai berbagai teknologi hebat tersebut. "Apakah seolah-olah kemajuan ilmu pengetahuan seperti siklus naik turun? Hadirin. dengan pedang. Ada suatu masa. atau karena entahlah..com manusia? Apakah seolah-olah kemajuan ilmu pengetahuan seperti siklus naik turun? Apakah ketika hari kiamat tiba. Kita yang amat bangga dengan kemajuan peradaban. hanya suara pulpen menggores kertas yang terdengar. maksud saya Solomon buat hadirin yang mengenalnya dengan nama itu. Masa-masa silam. Sama seperti dengan beberapa peserta yang tidak tahu. masamasa itu. Saya garis bawahi. Transfer data. yang aktornya lantas seolah-olah ketinggalan kaki. lantas entah oleh apa. kecuali di film-film. Jika kita ingin berpikir sejenak. Beberapa peserta simposium yang tidak terlalu mengerti transkripsi religius yang terpampang di layar raksasa LCD menandai besar-besar catatannya (berjanji dalam hati: nanti akan dicari tahu penjelasannya). Itu benar-benar masuk akal. atau telinga—" Dalimunte menyeringai. Naik turun.www. Ruangan itu sejenak ramai oleh tawa. mungkin saja karena peradaban. siapa bilang ribuan tahun silam manusia masih primitif? Masih boddoh? Tidak mengenal teknologi telepon selular? Internet? Penerbangan ke bulan. atau malah sama sekali tidak mengerti tentang mukjijat bulan terbelah oleh Nabi penutup jaman di majalah 'Science' sebelumnya... Peperangan konvensional. entah lima ratus peserta itu mengerti atau tidak. dan sebagainya? "Ingat. masalahnya kenapa kita tidak mewarisi penjelasan penting tersebut? Jawabannya.. tangan.. Internet dan sebagainya.. ketika kemajuan ilmu pengetahuan mencapai puncaknya.Maka pertanyaan pentingnya sekarang . Kita sejauh ini hanya bisa bangga dengan kode binari. lupa.Analog dengan hal itu. Lantas. Menatap seluruh ruangan. Tapi entah oleh apa ilmu pengetahuan itu kemudian musnah..

Dua detik. mendekat.30 di sini.. ingin tahu. Tidak peduli. si moderator yang cerewet buru-buru bangkit dari kursinya. Informiamo i signori pesseggeri che e tra Giacarta e Roma .rajaebookgratis. Bersiap menjelaskan progress penelitiannya. menunggu penjelasan apa yang akan disampaikan profesor muda di depan mereka. Pukul 19. coba bertanya apa yang sedang terjadi. cemas. Siapa? Menelan ludah. Kembali menunjuk slide yang terpampang di layar LCD raksasa. Apalagi kilau blitz kamera wartawan yang sejak tadi rakus membungkus tubuhnya. Seketika. Namun: ada apa? Apa yang sedang terjadi? Wajah Dalimunte seketika mengeras. Lantas dengan suara amat lemah berkata pendek di depan speaker. Terdiam lagi satu detik.. Dalimunte sudah turun dari podium. Sedikit terburu-buru meraih telepon genggam. Speaker di pesawat memperdengarkan suara merdu sang pramugari yang lembut menyapa penumpang: ". Vaereo atterera tra 5 minuti all'aeroporto di Roma. Dalam hitungan detik Dalimunte sudah menggenggam tangan istrinya yang berkerudung biru.. Tidak peduli dengung suara lebah. yang lazimnya dinonaktifkan dalam situasi simposium seperti ini. Pelan menurunkan kembali tangannya yang memegang pointer layar LCD. Dalimunte gemetar menekan tombol open. Meninggalkan berlarik tanya dari lima ratus peserta simposium internasional fisika itu. yang selalu stand-by apapun alasannya. Mamak tak pandai benar berbicara lewat HP.www. Tidak peduli beberapa koleganya juga ikut mendekat. Tidak peduli kalau Anne. "Maaf. Gagap membaca kalimatnya. Menyeka dahi yang berkeringat. Meraih gelas besar di hadapannya. Menggigit bibir. Saat Dalimunte telah meletakkan kembali gelasnya. listrik. Sejenak. Cukup sampai di sini— " Kalimat yang membuat seluruh ruangan simposium itu riuh. Berbisik dengan suara bergetar. Lima detik. Mati—" Dalimunte sengaja berhenti mendadak.. lab dan lain-lain. Tapi entah kenapa. Ini ganjil sekali. Yang membuat berbagai peralatan elektronik. Signore e signori. Siapa? Keliru. Kenapa harus dengan SMS? Jika penting bukankah bisa langsung menelepon? Itu berarti Mamak Lainuri yang mengirimkan. Si prega di allaciare di cinture di skurezza. SMS.dua teguk. sebentar—" Dalimunte tersenyum tanggung ke peserta simposium.com adalah: oleh apa? Oleh apa kita akan kehilangan ilmu pengetahuan dan berbagai teknologi canggih tersebut? Kemana menguapnya akumulasi ilmu pengetahuan yang hebat itu? Inilah poin terpenting penelitian Badai Etektromagnetik Antar Galaksi yang akan menghantam planet ini sebelum hari kiamat. Telepon genggam di saku celananya mendadak bergetar. Dia punya dua telepon genggam. Setetah terdiam sejenak menatap layar HP. selalu merasa aneh. Satu untuk urusan kampus. tidak berfungsi lagi. Membiarkan rasa haus ingin tahu menggantung di langit-langit ruangan. Malam hari. Gaduh. Tersenyum. jawaban atas pertanyaan itu. Bagaimana dengan gelombang elektromagnetik tadi? 3 TITIPAN KAOS BOLA PESAWAT AIRBUS 3320 milik maskapai penerbangan Italiano Sky itu melesat membelah pesisir Eropa. Dalimunte malah mendadak terdiam. Seruan-seruan kecewa. Membasahi kerongkongannya. Lantas melangkah keluar dari ruangan. SMS itu terbuka. Meminum seteguk . dan kemajuan teknologi lainnya seolah 'membeku'. Bergegas. "Maaf. Satu lagi untuk urusan keluarga. Bukan dari siapa tepatnya pertanyaan Dalimunte barusan. Hanya ada enam orang yang tahu nomor telepon genggam urusan keluarganya. saat semua peserta bersiap menunggu gagasan hebat.

lebar dan bentuk perawakan tubuh. 6. yang satu di sebelah kiri. Yang satu beramur 34 tahun (Wibisana). Selain itu." Wibisana tertawa kecil lagi.. yang satunya (Ikanuri) 33 tahun. "Anak itu memang pintar membuat orang lain susah. Ikanuri menguap. yang satu baretnya di sebelah kanan. Rambut.. Sementara Ikanuri sudah sibuk merapikan kemeja biru yang dikenakannya. Bagian itu kenangan masa kecil favorit mereka. Miniatur Colloseum. dia lebih dominan dalam urusan apapun dibanding Wibisana. Bergumam dalam hati. Senior & Seniorita. kan? Titipannya kali ini benar-benar akan merepotkan.." Ikanuri menerima kertas pesanan tersebut dari Wibisana. Kaos bola Materazzi. Bedanya. Miniatur Menara Miring. Haha. "Kau mimpi apa?" Wibisana tertawa melihat wajah Ikanuri yang mengernyit.. Makanya orang-orang justru berpikir Ikanuri-lah yang menjadi kakak. menggosok matanya. bagaimana mungkin 'sigung kecil' itu tidak tahu kalau Zidane sudah tidak main bola lagi di Juventus? Lagipula Zidane sudah lama pindah ke liga Spanyol. Ekspresi wajah. Wibisana tertawa lebih lebar. bukan? Sudah pensiun pula sejak piala dunia. "Sudah sampai?" Wibisana mengangguk. sempat atau tidak membeli semuanya. ikut membungkuk. Entahlah. Perbedaan waktu Jakarta dan Roma—" "Bangun. jelas-jelas ia anak perempuan. Anak-anak mereka . Ikanuri!" Wibisana menyikut lengan adiknya. terpisahkan sebelas bulan. Wajah mereka berdua mirip sekali.. Jadi seperti sepasang kembar kalau mereka berdiri berjajar. Demi mendengar celetukan adiknya. nyaris 99. Membungkuk memasang tali sepatu. meski Ikanuri lebih muda. 3. "Ini apa?" Wibisana mendorong pelan laptop di atas tatakan meja. Kaos bola Totti. 2. "Biasa! Mimpi dikejar-kejar Kak Lais pakai sapu lidi! Sialan. yang tempat duduknya ekstra sempit buat penerbangan jarak jauh. Menariknya.rajaebookgratis.www. apalagi kaos kaos bola ini. biasa titipan Juwita! Kau bacalah!" "Papa. Kaos bola Del Piero. kali ini ia berhasil memukul pantatku! Sakit sekali — " Ikanuri menjawab seadanya. Mendaftar semua pesanan ini. menghentikan membaca daftar panjang di kertas tergulung itu. Jago pura-pura merajuk. Mungkin tidak semua akan bisa kubelikan. olok-olok masa lalu yang menyenangkan untuk diingat. mengambil kertas yang tidak sengaja jatuh dari saku kemeja Ikanuri saat memasang tali sepatu. apalagi kembar identik.99% mirip. anaknya. nyengir. Ikutan nyengir. ia mengirimkan daftar pesanannya ke Delima lewat email. termasuk tinggi. 4.. Nyengir lebar. agar bisa rileks tidur di kursi penerbangan kelas ekonomi. "Haha. Spagheti.. Juwita seminggu terakhir sengaja benar membuka buku pintarnya tentang Italia. Harap kenakan sabuk pengaman Anda. 1.com vi sono sette ore di differenza. Bahkan bekas luka kecil di dahi. questi sono i miei desideri. Tadi sengaja dilepas. Padahal mereka sedikit pun tidak kembar. mirip benar dengan tabiat buruk ayahnya waktu kecil. pesawat akan segera mendarat di Bandara Roma lima menit lagi. Ikut tertawa. 5. Buat apa coba Juwita titip kaos bola. meski telah berkali-kali diingatnya. berusaha mengusap-usap matanya yang sedikit merah. Pura-pura mengusap punggungnya. "Oo itu —. Pizza. "Kau tahu. 8. Pandai menipu... 7." Ikanuri mengusap rambut. melipatnya. Matanya. Wibisana pasti juga mengantongi daftar puluhan pesanan yang sama dari Delima. Tidak adalah kaosnya di sini—" "Mana pula anak itu akan peduli." "Kalau begitu. Mereka berdua hanya lahir di tahun yang sama. Kaos bola Zidane. bersiap-siaplah melihat wajah sok merajuknya saat kau nanti pulang!" Wibisana nyengir lebar. Bukankah kemarin Juwita bilang.

sejak kecil memang inilah yang mereka miliki. Sebenarnya perangai Delima-Juwita memang copy-paste perangai ayah-ayah mereka berdua waktu kecil dulu. 'kerja-keras'. Pesawat Boeing kapasitas dua ratus penumpang itu bersiap meluncur ke landasan bandara. Dua detik berlalu.. Kakak-beradik yang selalu bisa saling mengandalkan. percaya atau tidak. Sejak kecil Ikanuri dan Wibisana sudah kompak. Lima menit berlalu. "Kau sudah selesaikan revisi presentasinya?" Wibisana mengangguk mantap.com yang berumur enam tahun itu mirip benar ayahnya masing-masing. Siapa yang . datang dari negeri Panda. "Biar aku saja yang menghubungi mereka!" Ikanuri yang melihat Wibisana mengeluarkan HP-nya.www. Perlahan menekan tombol ON. burung besi berukuran jumbo itu mendarat dengan mulus di landasan. Berusaha mengusir pegal. Delima dan Juwita. Bersiap turun setelah penerbangan belasan jam. Menggerak-gerakkan badan. Kita akan memberikan lebih banyak keuntungan dibandingkan perusahaan dari China itu!" Ikanuri mengangguk kecil. Ini perjalanan bisnis yang penting. Saling bersitatap satu sama lain. Tidak terpisahkan. Siapa? Ikanuri dan Wibisana menelan ludah. pesaing mereka (juga pesaing pengusaha-pengusaha lokal lainnya). memarahi mereka. Satu untuk urusan keluarga. Italiano Silsilia itu pasti akan menjemput kita. paling sial kita nyasar lagi di negeri orang. Memasukkan kertas pesanan gadis kecilnya ke saku. haha. Gemerlap lampu kota Roma terlihat indah dari bingkai jendela. Bahkan. Satu untuk urusan bisnis. Menawan. Juga bergetar di saat bersamaan HP milik Wibisana. tempat. Di samping tentang teriakan 'kerja-keras'. Keras kepala. Tetapi sebelum dia melakukannya. Penumpang yang seratus persen sudah terjaga bergegas menurunkan tas-tas dari bagasi. Yeah.. dan penghulu yang sama. Mereka sejak kecil selalu berdua.. 'kerja-keras' yang selalu diocehkan Kak Laisa saat galak melotot sambil memegang sapu lidi. "Kali ini. petinggi pabrik itu tidak akan menolak. Bandel. penumpang dari Indonesia memang bebal bin bandel soal beginian. Tadi saat keberangkatan. Lantas menekan phonebook. "Yap. Ikanuri dan Wibisana lebih dari 'kembar'. SMS. Menyalakannya. Hari ini mereka berangkat ke Roma bersama-sama. Mereka hanya punya modal nekad. Jadi meski tidak kembar secara biologis." Ikanuri tertawa. Dengan istri dan satu gadis kecil usia enam tahun masing-masing. maskapai yang mereka naiki bukan maskapai domestik kelas kampung yang cuek dengan standar internasional keamanan penerbangan. Nekad. membiarkan penumpang lain bergegas turun duluan. Ikanuri dan Wibisana menikah di hari. Mereka lupa. Menyelesikan tender hak pembuatan sasis salah-satu mobil balap tersohor produksi Italia. "Mereka berjanji menjemput di bandara. Sebenarnya dibandingkan pesaing raksasa industri China itu mereka tidak ada apa-apanya. Sekarang saja rumah mereka berseberangan jalan. HP untuk urusan keluarganya keburu bergetar duluan. Delima dan Juwita juga lahir di hari yang sama. menunggu dua telepon genggamnya booting. galak sekali pramugari pesawat menyuruh penumpang mematikan HP. Kalau tidak. meski sering sekali justru sibuk bertengkar saat sedang bermain bersama. Wibisana melipat laptopnya. ikut mengeluarkan dua telepon genggam miliknya. Menepuk-nepuk saku kemeja. Keberangkatan ini juga pakai acara pinjam uang Mamak Lainuri segala. bukan?" Wibisana duduk kembali. Itu juga HP urusan keluarga. Kompak urusan beginian. Seperti biasa. China. Ah. Dua-duanya dikeluarkan. tenang saja. Pembicaraan besok pagi di salah satu kedai kopi elit dekat Piazza de Palozzo akan menentukan rencana ekspansi pabrik kecil milik mereka. Pabrik butut itu tak lebih dari bengkel modifikasi mobil.rajaebookgratis.

Pemandangan luas menghampar begitu memesona. Mengarahkan binokuler masingmasing ke arah yang ditunjuk gadis satunya barusan. ketinggian 3150 meter dpl (di atas permukaan laut). sejak ingusan. Tebaran halimun yang indah. Dingin dan sukarnya trek terjal pegunungan bukan masalah. Bukankah seumur-umur Mamak tidak pernah mengirimkan SMS. per Jakarta.. Satu detik. "Batu besar arah jam dua belas! Batu besar cokelat—" "Batu besar? Cokelat?" "PKAAAK!" Lenguh suara nyaring itu sempurna sudah memecah hening puncak Semeru. Sungguh pemandangan yang hebat. Mukanya seolah tidak peduli dengan dinginnya pagi. mengesankan melihatnya. "Mana? Di mana?" Dua rekannya. Dan seperti sontak diperintahkan. Dingin." Gadis itu berbisik antusias ke teman-teman di belakangnya. Bukan dari siapa pertanyaan tepatnya Ikanuri dan Wibisana barusan. Tangan yang memegang teropong binokuler berkekuatan zoom 25 kali itu sedikit gemetar. mereka berbarengan melangkah mendekati pramugari.. Keliru. mendongak. Tangan Ikanuri dan Wibisana sedikit terburu-buru menekan tombol open. Bagai membelah halimun. SMS? Ini pasti Mamak Lainuri. dengan pakaian sama tebalnya bertanya lagi sambil beringsut mendekat. malah menyeringai oleh senyum senang. Mamak tak mahir benar. Bagai menguak kabut. C'e un volo per Jakarta questa sera?" Apa ada…penerbangan kembali ke Jakarta. ini pasti penting sekali.00. Angin mendesing lembut.. Lima detik. Senyap. . Mata hitam indahnya bercahaya. Terdiam. Hanya karena terbiasa dan antusiasme tak terbilanglah yang membuat gadis berumur 34 tahun itu tetap bertahan dari tadi shubuh persis di tubir kawah Semeru. berusaha mengendalikan volume suaranya. dan mereka berdua diantaranya. Samudera Indonesia memperelok landsekap. mengelepak pelan oleh deru angin pagi. Lantas bersitatap lemah satu sama lain lagi. Membuat wajah-wajah sontak tertoleh. "Mana? Di mana?" "Lima belas meter dari bibir kawah. Suhu menjejak 4 derajat celcius di atas sini... Membiru. dengan usia tidak beda. "Arah pukul dua belas! Arah pukul dua belas!" Gadis itu tiba-tiba berseru tertahan. Putih membungkus puncak Semeru. Dinding dekat batu cokelat! Batu cokelat.www.. Berbaris. Tengger. Seperti serdadu.com mengirimkan SMS? Hanya ada enam orang yang tahu nomor itu. Ia menguasai medan sulit seperti ini sejak kedl. Jaket tebal yang membungkus. pagi justru sedang beranjak meninggi. Ia sudah lama menunggu kesempatan ini. cemas. Jika Mamak yang kirim. Yang lain pasti selalu menelepon jika ada urusan penting. Udara berkabut. slayer besar tak membantu banyak. Lupa sudah dengan koper-koper.. Mendorong-dorong penumpang lain. cowok-cewek. Dulu. Pukul 06. topi lebar. bukan yang hitam. Lupa dengan segalanya. Menggigit bibir. Dua detik. Wajah cantik itu amat bersemangat. terlihat terbentang nun jauh di sana.rajaebookgratis. Tapi lebih tepat: ada apa? Apa yang terjadi? Wajah mereka berdua mendadak mengeras. Menggunakan HP-nya saja. Empat gunung di sekitarnya terlihat menjulang tinggi. Rambut panjangnya menjuntai.. Ikanuri terbata berkata: "Il Volo. malam ini juga? 4 PENGUASA ANGKASA DUA PULUH RIBU kilometer dari langit malam kota Roma yang cemerlang oleh cahaya. Bersikutan. Gunung Bromo.. Berdiri diam di antara sibuknya gerakan 198 penumpang beranjak turun. Lupa sudah dengan janji pertemuan bisnis yang penting. Brrr.. Gagap membaca kalimat-kalimatnya. besok pagi. Merbabu. Di sini. ia belajar langsung dari jagonya. Uap mengepul dari kawah Semeru.

mungkin juga F-14 menderu melesat. meski riang.www. Lantas bagai seorang ballerina sejati. Paruh yang terjulur. Proyek konservasi jangka panjang. Yashinta meraih kamera SLR di tas pinggangnya. ia juga koresponden foto National Geographic. desisnya senang. Ber-pkak.. Wajahnya semakin antusias. Akhirnya! Seratus ribu dollar Amerika untuk konservasi mereka. Berbinar-binar senang. "Terbang! Ada yang terbang. Selain peneliti dari lembaga penelitian dan konservasi nasional di Bogor. Pagi ini. Merekalah penguasa langit sejati. Sempurna seperti sedang menyibak gumpalan putih kabut. Sepakat soal varian baru tersebut setelah melihatnya lebih jelas dengan binokuler masing-masing. Menghempaskan pantatnya ke bebatuan. Tapi alap-alap (kawah). Senyum riang itu tak kunjung lepas dari wajah memerahnya. melepas teropong binokuler dari wajahnya. Saat itulah. Awal yang baik dari riset berbulan-bulan ke depan untuk memetakan perangai dan tingkah-laku alap-alap kawah varian baru. sebelah kiri!" Gadis yang duduk paling depan. Mengumpulkan foto-foto alam yang indah dan insightfull untuk majalah itu. pkak lemah. seekor burung alap-alap kawah gunung. Di atas. Terpesona. Dan sedetik sebelum tubuhnya seakan-akan hendak menghantam dinding kawah. Yashinta nama gadis itu. yang membungkuk di tubir kawah Semeru itu berseru semakin tertahan. Yang mampu terbang hingga ke ketinggian pesawat terbang. sudah mendarat sempurna. "PKAAAK!" Alap-alap kawah itu terbang melesat seolah hendak menghujam ke dinding dekat gumpalan batu cokelat. Membuka lensa kamera. Bukan elang. Binokuler ditangannya bergerak gesit. Gerakan tubuh alap-alap kawah itu persis bagai pesawat tempur yang menyerbu. Burung yang hidup di tempat tertinggi di dunia. Begitu anggun. God! Akhirnya. Rambut panjangnya bergerak anggun.rajaebookgratis. Terlihat amat senang. bagai pesawat falcon. sayapnya terlipat ke belakang. Tiga ekor anaknya menyembul dari dalam sarang. Warna emas itu. Dua temannya ikut mengangguk-angguk beberapa detik kemudian. Zoom in." "Di mana? Di mana?" "Arah pukul delapan. kecepatannya berkurang dalam hitungan sepersekian detik. Mode: full zoom in. sumpah tidak ada yang mengalahkan Peregrin. setelah berkutat seminggu di puncak Semeru. Ini. Ini akan jadi foto yang hebat. Thanks. Di tempat paling eksotis di seluruh muka bumi. Binokulernya mendesing.. Di atas.com "PKAAAK!" Sekali lagi membuncah pagi." Gadis yang duduk paling depan itu tertawa lebar. Lega.4 .. Team leader kelompok penelitian kecil burung dan mamalia endemik. pemandangan yang menakjubkan. Menghela nafas. mereka akhirnya berhasil menemukan sarang burung langka tersebut.. ini berarti Gold Level untuk bantuan penelitian kita. Positif! Tidak salah lagi! "Ya Allah! Itu jelas-jelas Peregrin varian baru! Jenis baru. begitu mulus. Sungguh pertunjukan atraksi alam yang spektakuler. Bicara soal kecepatan dan manuver terbang. Sarangnya! Tiga orang yang mengawasi dari sisi lereng seberangnya melotot melalui binokuler. Sungguh.. Sekarang ia bisa melihat bulu leher Peregrin yang kemerah-merahan seperti menatapnya dari jarak sedepa saja. sekejap.. Bukan garuda. Bukan main. Teropong model canggih itu berdesing oleh perintah auto focus. dengan bentang sayap berukuran 45 cm. Bersiap mengambil foto induk Peregrin yang sedang memberi sarapan tiga anaknya. saat Yashinta sibuk mengarahkan lensa 600/6. Ikut tertawa lega. Persis di atas mereka. inilah sang penguasa kawah gunung. Bisa jadi photo cover majalah. Kuku-kuku kaki tajam induk alap-alap kawah itu menggenggam mangsa yang baru didapatnya pagi ini. Bukan pula Rajawali. Perfecto! Gadis yang duduk di depan menggigit bibir.

Yashinta berlarian menuruni lereng terjal. Mana boleh Intan ijin sekolah. kertas gambar. hilang sudah senyum riang itu.com mm. lensa dengan kemampuan merekam tahi lalat di pipi soseorang dari jarak seratus meter.. tapi ada apa? Apa yang terjadi? S-M-S? Itu pasti Mamak. Sambil jalan.. 5 AKU HARUS PULANG. Merasa terganggu. yang selalu ia bawa kemanapun pergi. meski jarak mereka nyaris lima puluh meter dengan sarang alap-alap kawah. Yang berdengking adalah HP satelit urusan keluarga.. meski apa daya ekspresi mukanya jadi terlihat aneh. mengangguk.. Intan lagi sibuk. lagi tanggung. sambil terisak menangis. Sengaja melakukannya pelan-pelan." Gadis kecil yang gigi atasnya sedang tanggal satu itu malas memberesi tas. Bentar lagi juga bel!" "Sekarang. Ia harus segera pulang! Itu pasti Kak Laisa! Itu pasti Kak Laisa! Yashinta menyeka matanya yang mendadak basah. Pulang. buku-buku. "Intan harus pulang. Menjemput putri mereka persis di tengah pelajaran melukis—favorit Intan. tersenyum mengangguk. Mana boleh bersuara saat mereka mengamati burung. Menelan ludah.. Bukankah Mamak tidak pernah menggunakan HP-nya? Tidak pernah terbiasa? Yang lain pasti selalu menelepon... Tidak peduli. Terganggu. Tidak peduli tatapan terperangah dua temannya. jangankan soal sepenting ini. Intan! Tadi Ummi sudah bicara sama Headmaster Miss Elly! Intan boleh ijin selama diperlukan— " "Yee. meluncur menuruni cadas bebatuan secepat kakinya bisa. sayang. SEKARANG! "ADUH..www. "Ssst!" Menyeringai mengingatkan. Yashinta nyengir. Yashinta dengan tangan bergetar menurunkan kamera canggih SLR-nya. Kenapa pagi ini tiba-tiba Mamak mengirimkan SMS? Sedikit terburu-buru Yashinta menekan tombol oke. maaf. Tiba-tiba jantung gadis itu berdetak lebih kencang. Menjelaskan. telepon genggam satelit yang ada disaku celana gunungnya mendadak berdengking-dengking.. Lihatlah. Teman-teman kelasnya sibuk menoleh. lantas berbisik lemah. soal Intan pilek sedikit saja langsung boleh ijin tiga hari. Besok kan Intan mau keliling bawa-bawa gelang karet ke Pasar Induk bareng teman-teman. crayon. Mereka baru saja tiba di sekolah alam itu. "Memangnya kita mau kemana sih. menonton. pensil di atas mejanya. Dalimunte yang berdiri di belakang. Tidak masalah. Gumpalan kabut yang membungkus puncak Semeru mendadak membungkus sepi. Seketika. Yashinta sudah bergegas turun dari tubir kawah. Tidak peduli dua ekor Peregrin lainnya dengan anggun terbang mendekat ke sarang di batu cokelat. "Aku harus pulang! Aku harus pulang!" Senyap. induk burung itu mendadak menoleh. Mi? Mendadak benar!" . sembarangan memasukkan peralatan ke dalam ransel. bukan itu pertanyaan tepatnya. Headmaster Miss Elly yang apa daya nge-fans berat sama Profesor Dalimunte. Mi!" Gadis kecil itu menyeringai sebal. Intan kan lagi ngurus Safe The Planet! Mana lagi seru-serunya. Apalagi pemandangan hebat dari puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. penggaris. Rusuh sejenak bicara dengan kepala sekolah." "Kan bisa tunggu bentar. buru-buru meraih HP-nya.. Seketika hilang sudah wajah menggemaskan kemerahan terbakar cahaya matahari pagi di puncak Semeru itu. Terbata membaca pesan 203 karakter tersebut. Ummi. Kedua temannya menoleh.. Bergegas.rajaebookgratis. menyeka dahi.. Dari siapa? Ah-bukan. Berusaha membuat nyaman teman-teman Intan.

Kak Laisa yang suka mengejar-ngejarnya dengan sapu lidi. penerbangan kemanapun dari Italia sudah penuh sejak seminggu lalu! Minggu ini final Liga Champion. Padahal sejak setahun terakhir mana pernah coba Ummi bantu-bantu beres kamarnya. Ini juga gaya favorit Ikanuri waktu kecil dulu kalau menipu guru di kelas (ketahuan bolos). Kapok. please?" . "Perkebunan strawberry!" Dalimunte yang menjawab. Lantas. Intan kan sudah besar. Sakit tangan. Ikanuri sudah insyaf. Penerbangan apapun. "Gelang karetnya kelupaan! Intan kan mesti bawa gelang karet buat Eyang! Biar pamanpaman yang ngurus kebun bisa pake gelang. guru kelas 5-nya (dua tahun terakhir Intan loncat kelas dua kali). sebentar-" "Apa sayang?" Langkah Ummi ikut terhenti. Dalimunte untuk ke sekian kalinya melirik jam di pergelangan tangan. Wajah malasnya tadi langsung sirna. senang atas idenya. Ah. Bisul. Sakit kaki-lah. Ini final Liga Champion—" "Solo due biglietti?" "Questa e la finale di Calcio—" "Sepak bola sialan! Kenapa pula semua orang sibuk menonton 22 orang berebut satu bola! Kenapa mereka tidak dikasih 22 bola juga saja!" Ikanuri memotong kalimat gadis itu. Mengerti benar maksud Kak Laisa yang suka berteriak. Sok memelas sakit (malas sekolah). tanpa diminta memimpin berjalan di depan Dalimunte dan Ummi sambil melambaikan tangan ke teman-temannya. Sok memelas sakit (malas bantu Mamak Lainuri). berkali-kali tertipu soal ini. bisa sendiri. meremas rambutnya. "Mi displace. Berhenti sejenak. tapi sekarang ekspresi itu benar-benar jujur. Mendesah.www. Membawa kanvas lukisnya. questo e molto importante!" Wajah Ikanuri terlihat memelas. langsung maju ke depan.rajaebookgratis. Atau ketahuan mencuri uang di kelpeh plastik Mamak Lainuri.com Gadis kecil berumur sembilan tahun itu memasukkan crayon biru terakhirnya ke dalam tas. tertawa kecil. Lagipula sejak puluhan tahun silam. Pamitan ke Miss Ani. pendek. Mendekati teman-temannya yang masih sibuk menonton. Bahkan panu pun bisa jadi alasan Ikanuri. tutti i voli dall'italia sono pieni da una settimana fa! Questa settimana c'e la finale di Champions League!. 'kerja keras!' "Bisa tolong cek jadwal penerbangan maskapai lainnya. biar mereka pakai dua gelang setiap tangannya!" Ia nyengir. why nan avete due posti per noi? Any flight. Ini penting sekali! Dua tiket saja!" "Senior tidak mengeri. Teringat kaos bola titipan putrinya. Ia malah tidak perlu ditunggu lagi. Sakitnya si bisa macam-macam. Sok memelas sakit (malas ngurus kebun). "Come on. Maaf. Senior! Seluruh jadwal penerbangan penuh dari Roma!" "Ayolah! Bagaimana mungkin kalian tidak punya dua kursi untuk kami? Di kelas apapun. Semoga belum terlambat. 'kerja keras!'. "HORE!!" Intan mendadak malah semangat menyeret tas sekolahnya yang berat itu. Sok bego tidak mengerti. "EYANG LAINURI?" Mata hitam gadis kecil itu membulat. Menoleh ke wajah Ummi yang seperti tidak sabaran ikut membantu berberes-beres. Dulu Ikanuri jagonya soal menipu orang lain dengan wajah sok memelas. "Eh. Memaki. mengusap lehernya. Dalimunte mengangguk. 'kerja keras!'.

Menunjuk lima orang yang bergerombol diruang tunggu.. "Aku harus pulang!" "Iya. "Ada apa. Satu kata. Lengang sejenak. Senior. akhimya menahan langkahnya. Senior. mereka lima belas menit meluncur dengan kecepatan tinggi non-stop dari puncak Semeru. kakinya konsentrasi penuh menjejak trek yang sempit dan berbahaya. gadis berambut panjang itu demi mendengar seruan dengan intonasi setengah memohon. Asal hari ini juga—" "Maaf. 6 BERANG – BERANG YANG LUCU "YASH! BERHENTI SEBENTAR. Hm. tahu!" Tersengal-sengal. Hosh.www. Gadis itu diam sejenak.. malam ini digelar pertandingan final Liga Champion di Roma. Gila. Capai. menganga di kiri kanan mereka. kan tidak semua orang seatletis kamu naik-turun gunung! Kalau keseleo. Maaf—" Gadis penjaga itu mencoba ikut bersimpati. Perancis! Mau??" Perancis? Rona kabar baik itu seketika padam. Yashinta (yang sedikitpun tidak tersengal) memperbaiki posisi peralatan di ransel berukuran semi carrier-nya. mahal sekali harganya. Juga negara-negara di sekitar. "Trims. dari Paris. Vienna. tangan. Juga tidak buat. Jadi seluruh penerbangan ke kota-kota di Italia penuh. sebenarnya turun dari gunung jauh lebih berbahaya dibandingkan naiknya— apalagi dengan stamina yang terkuras habis waktu mendakinya. Berusaha tersenyum ke gadis penjaga loket biro perjalanan di Bandara Roma yang sejak tadi berkalikali tersenyum tanggung menghadapi seruan-seruan Ikanuri. Tidak ada lagi tiket tersisa. Sakramen Agung. Yashinta." Menekan-nekan keyboard komputernya. tapi ada apa?" Yashinta tidak menjawab.. pengganti keringat. Ergh. Mengeluarkan botol 500 mili minuman berion.. tapi lalai sedetik saja. "Jadi apa yang harus kami lakukan?" Ikanuri bertanya putus-asa.. saya bisa melakukan reservasi penerbangan dari bandara lain. Austria juga penuh. kami tahu kau harus pulang. Hosh.. Yash. Benar-benar full. Wibisana dan Ikanuri menelan ludah. Kedua rekannya membungkuk memegangi perut. Tadi sudah saya bilang. Mata.. Wajah Ikanuri sedikit cerah oleh kemungkinan baik tersebut. Uap mengepul dari mulut. Mereka hari ini juga ingin ke Jakarta. menoleh. ia malah menurunkan ranselnya. Senior. Angin pagi . Paling dekat. Bukan hanya soal keseleo. YASH!!" Dua rekan Yashinta patah-patah menuruni bebatuan gunung ketinggian 3000 meter dpl. satu tarikan nafas. TUNGGU — " Terus menuruni bebatuan. Bagi kebanyakan orang yang mengerti. ditambah pula ini musim kunjungan ke Vatikan. "Kalau Senior mau. "Yash. "YASH. Hosh. Anda lihat rombongan di sana! Rombongan kedutaan negara Anda. Berpegangan ke salah satu batu besar. setengah sebal itu. "Percuma. sih?" Teman cowoknya bertanya setelah berhasil mendekat.." Masih tersengal. Mengetikkan sesuatu. Yashinta tidak menoleh.com Wibisana yang berdiri agak dibelakang Ikanuri menyibak maju ke depan. Melemparkannya ke dua rekannya yang masih tersengal. Mengencangkan syal di leher. Benar-benar celaka. Tidak buat mereka.. bukan dari Italia. "Dari mana? Verona? Milan? Tidak masalah. Jurang terjal.rajaebookgratis.

maka mereka seperti berbeda umur dua-tiga tahun saja. Selebihnya bekerja mencari rotan. Terselip disana-sini. Tangkas yang satunya. disini penduduk menanam sawah tadah hujan. sepanjang malam. Tidak juga malam. Sungai yang jernih. YASH!" Suara nyanyian puluhan burung memenuhi langit-langit hutan. Ya Allah. kukang. Ada sebelas puncak gunung setinggi 1.rajaebookgratis. "Seberapa jauh lagi? Lima menit? Sepuluh menit?" kecipak-kecipak.. Di tengah hutan ini ada puluhan cabang anak sungai kecil seperti ini. jangkrik. Gumpalan halimun. yang membuat kampung itu seperti sempurna terpisah dari rimba. damar. Tidak siang. Deretan gunung-gunung kecil. Dua puluh lima tahun silam. Menelisik di sela-sela kuping. Ya Allah. Membelai anak rambut. Satu perkampungan paling banyak terdiri dari 30-40 rumah panggung. paling bawah. Terasa begitu menyenangkan. Di sini juga angin selalu bertiup menyenangkan. Tapi sepanjang hari. Tapi karena perawakan yang lebih besar sepertinya tidak akan tumbuh normal. Berjauhan satu sama lain. Lembah Lahambay. Persis di tengah-tengah bukit barisan yang membentang membelah pulau. bukan bercocok-tanam dengan sawah irigasi. "Masih—" Tubuh gendut dan gempal yang lima belas senti lebih tinggi dibandingkan anak kecil di belakangnya menjawab pendek. Terpencil dari manapun. Bebatuan licin menyembul dari permukaan sungai.500-2.. Bahkan seolah-olah kalian bisa menangkap berkas cahaya itu.www. dan apa saja yang laku di kota kecamatan. yang berjalan di depan. Kak? Lima menit? Sepuluh menit?" Gadis kecil yang berumur enam tahun bertanya lagi sambil melepas daun yang tersangkut di rambut. "Masih jauh. Paling dekat terpisah satu kilometer. Mereka sejak setengah jam lalu menelusuri hutan. Kecipak-kecipak. Namanya. apa yang sebenarnya terjadi? Berpilin. Kak?" Kaki-kaki kecil itu menjejak air anak Mingai setinggi mata-kaki. ini sama persis seperti di lembah itu. Dua jam perjalanan dari kota kecamatan terdekat. menerabas sela-sela putihnya kabut. Untuk menuruni dinding cadasnya saja sudah sulit bukan main. Mereka hanya berharap pada siklus kebaikan langit. Mereka lahir disebuah lembah indah yang sempurna dikepung hutan belantara. hingga belakangan menjual burung. celakanya posisi kampung itu tetap lebih tinggi dari manapun. "Masih jauh! Dan kau jangan sampai terpeleset. Berputar.com bertiup pelan. Kedua anak perempuan itu sebenarnya berbeda umur cukup jauh. Angin selalu berhembus lembut membelai anak-anak rambut. Menatap langit pagi yang membiru. Lembah itu. Sama persis. sebaliknya yang lebih kecil tumbuh lebih cepat. Mengiris membusai perih di mata. " Masih!" . Perkampungan mereka terletak paling tepi. berbatasan langsung dengan hutan rimba. ada sekitar empat perkampungan radius sepuluh kilo di Lembah Lahambay. Sungai besar yang ada di bawah kampung terpisah oleh dinding cadas setinggi lima meter. Terlemparkan. Yashinta mengusap dahinya. yang kecil baru enam tahun. berjalan sambil menebas ujung-ujung semak belukar yang menjuntai ke batang sungai. Membuatnya seperti mengambang.. Yashinta mengusap ujung-ujung matanya. "Masih jauh. Tidak pagi. Kenangan-kenangan itu kembali sudah.000 meter dpl di kawasan lembah itu. Tapi meski disekitar kampung banyak terdapat sungai. menghalangi mereka. Maka tidak seperti desadesa yang lazimnya dekat dengan hutan (yang otomatis berarti dekat dengan sungai). Yang besar sudah sekitar enam belas tahun. Burung-burung berhamburan dengan suara ramai saat dua anak itu membelah jalanan setapak rimba. Rasa haru itu menelisik lagi hatinya. kumbang hutan. Cahaya pagi menerobos sela dedaunan.

atau apa saja penduduk lembah tersebut. Maka tak kunjung henti setiap malam Yashinta merajuk ingin ke sana. "Hati-hati. sambil nyengir. Jadi wajar sajalah melihat dua anak perempuan merambah hutan di pagi buta. Atau mungkin pula akhirnya lelah dengan bujukan adiknya. apa coba lucunya!" Satu lagi kepala anak lelaki menyusul. Terkentut-kentut membawa hasil kebun. Satu-satunya akses dari kota kecamatan ke lembah itu hanyalah jalan bebatuan selebar tiga meter. Tadi selepas shalat shubuh jamaah. Asap putih mengepul dari dapur. "Yang keren tuh lihat Harimau. ada dua mobil starwagoon tua yang sering bolak-balik ke kota kecamatan. Adiknya selalu saja suka bertanya. Meski kemudian Kak Laisa benar-benar menyesal menceritakan apa yang dilihatnya kepada Yashinta. Pertanda kehidupan sudah dimulai. Menceritakan itu ke Yashinta sama saja dengan mengundang masalah. tidak mempedulikan kedua kakaknya. hutan. Yash. Itu baru lucu. Terbiasa dengan kehidupan terpencil. Bergegas melepas mukena kumalnya. melewati jalanan buruk. Bisa sabar dikit kenapa! Lembah Lahambay selalu terbungkus kabut di pagi hari. Tidak bosan-bosannya. Kak Laisa tidak sengaja menemukan tebat (bendungan) yang dibuat berang-berang.www. harimau. Lais! Jaga adikmu!" Mamak Lainuri berkata tajam dari bingkai pintu. Itu pesan Mamak tadi sebelum berangkat. Malah anak-anknya ada enam. "Yash. Pemandangan lumrah di lembah ini! Anak-anaknya tumbuh dan akrab dengan kehidupan sekitar.com Laisa nama kakaknya. pagi ini Laisa memutuskan mengajak Yashinta untuk melihat langsung. kan sudah besar. Kompak seperti biasa. Juga caping anyaman di kepala. Kemarin aku dan Ikanuri sempat lihat satu di atas Gunung Kendeng—" "Ah-ya. Lucu-lucu banget— " "Iya. Benar. berdinding anyaman bambu. Naik turun. Waktu paling baik melihat berangberang adalah pagi hari. Mukanya terlihat jahil. Wajah mereka berdua mirip benar. "Biarin! Pokoknya lucu!" Yashinta cemberut. Sebulan lalu saat Kak Laisa membantu Mamak mengumpulkan damar jauh di tengah hutan. selepas belajar mengaji Juz'amma dengan Mamak. persis saat perkampungan masih gelap. Di desa atas. Berulangkali. apalagi dengan menambahinya dengan kalimat: lucu sekali melihatnya. Itu pertanyaan yang ke dua puluh sepanjang perjalanan mereka.rajaebookgratis. Malah pakai "menit-menitan" segala. yang penduduknya lebih maju dan lebih berada. Mak! Tidak perlu dijaga!" Yashinta yang justru menjawab. Kabar yang membuat Yashinta langsung berseru riang tak henti selama lima menit. Jengkel. Kelas? Itu bahasa yang lebih halus untuk menyebut bangunan jelek beratap seng karatan. Melukis langit-langit lembah. satu kilometer dari kampung mereka. Lucu sekali melihatnya. Lebih banyak. Mereka terbiasa dengan semua keterbatasan. berlantai semen pecah-pecah. Kak? Harimau beneran?" . Memasang sepatu bot butut miliknya. meski seadanya. Menarik-narik baju gombyor Kak Laisa. menyeringai nakal ke arah Yashinta. Semakin pagi semakin baik. "Apa sih serunya lihat berang-berang? Gitu-gitu saja! Mana ada coba lucunya" Satu kepala anak lelaki menyembul dari belakang Mamak. Bagaimana tidak seadanya? Hanya ada satu guru untuk semua kelas. ketika kehidupan di rumahrumah mulai menyeruak sejak kumandang adzan shubuh dari surau. Hebatnya di sana ada lima ekor anak berang-berang yang sedang berenang. Di desa atas juga ada sekolah dasar. Kak Laisa akhirnya bilang akan menemani Yashinta pergi melihat berang-berang. kali ini menjawab dengan nada sebal. "Iya.

Yashinta benar. Lihatlah. Hiruk-pikuk burung memenuhi atas kepala semakin ramai. Menyeruak ke depan. Yashinta tanpa banyak bicara ikut. ranting-ranting. Sibuk bicara. . "Jangan berisik!" Mendesis. Jaga adikmu. Lima belas meter. Nyengir. Ingin tahu segalanya. Dan pulang segera. Tidak pantas menjadikan 'harimau' sebagai bahan bergurau. dan tanah liat. Mana anak berang-berangnya? Yang ada hanya dua ekor burung Meninting. Kedua anak lelaki itu kompak tertawa. Dengking uwa (semacam monyet) dari kejauhan menimpali. Tangkas menjejak rumput yang masih berbilur kristal embun. Nyamuk besar-besar berdesing di atas kepala.www. Mereka sejak lima belas menit tadi sudah turun dari jalan setapak. Wajah Yashinta sudah merah saking antusiasnya. semakin lama semakin lebat. berkicau. Kalau sudah begini. Kak Laisa melangkah mengendap-endap menaiki tepi sungai. Memperhatikan tempat yang ditunjuk Kak Laisa. Dan tentu saja memberi kode: jangan berisik. Ingin tahu. Ia melapas caping anyamannya (kepalanya gerah) lantas merangkak mengintip dari balik batang besar itu. Yashinta manyun sebentar. "Lais berangkat. Kak?" "Ssst—" Kak Laisa menghentikan langkahnya. Menyuruh dua sigung nakal itu diam. Tubuhnya meski terlihat kecil dan ringkih. Kak Laisa meucubit lengannya. Kak?" Kak Laisa tidak menjawab. Ada yang berdengking. Hari ini banyak pekerjaan di ladang!" Gadis tanggung berumur enam belas tahun itu mengangguk. Yashinta nyengir lebar. Mendelik menyuruhnya tetap di belakang. Yashinta yang sedikit kaget karena Kak Laisa berhenti mendadak. tidak kalah atletisnya dibanding Kak Laisa yang gendut dan gempal. Yang sekarang dipenuhi dedaunan. memegang lengan Kak Laisa dari belakang. Adik terkecil mereka benar-benar tipikal anak yang suka penasaran. "Di depan sana—" Kak Laisa berbisik. Seperti biasa mudah sekali menggoda Yashinta. Matanya membulat. meski baru enam tahun. di belakang Kak Laisa. menyusuri sungai kecil berbatu-batu itu. tidak perlu dijelaskan dua kali. Menghilangkan suara kecipak kaki di atas air. Tapi Mamak Lainuri tidak suka gurauan mereka. Assalammualaikum—" "Waalaikumsalam. Mereka sudah berjalan hampir satu jam. ia sudah cukup besar untuk urusan ini. deh. Tentu saja mereka tadi hanya bergurau. "Masih jauh. Bertanya ingin-tahu. ikut melakukannya. " Wibisana! Ikanuri!" Mamak Lainuri mendesis. Mana? Mana? Mana? Suara getas ranting patah terdengar. Tapi Kak Laisa malah menahan kepalanya. Yashinta mengerti. Sarang laba-laba. "Masih jauh. Loncat-loncat. Yushinta langsung ngintil mengikuti. Menyusuri jalan setapak yang kadang ada. meski tidak penting. Mengembangkan sayap indah hitam bergaris-garis putih milik mereka. bernyanyi. Bendungan dari batang roboh yang persis melintang di tengah sungai. Jangan pernah cerita sesuatu ke Yashinta. Seperti orkestra. Itu burung si penggosip.com Gerakan tangan Yashinta yang sedang mengenakan tas kecilnya terhenti. kadang hilang di tengah hutan. bahkan ada yang seperti ngoceh tanpa henti. Mak. Sibuk bercengkerama di atas bebatuan.rajaebookgratis. Kan tidak sengaja. Saling menggoda. Hutan. Juga ikut mendekam di balik sebatang pohon besar. Kuak suara ayam hutan. Kak Laisa melanjutkan langkahnya pelan-pelan. berang-berang itu pasti sudah dekat. Merangkak lebih hati-hati. Memang ada bendungan tiga-lima meter di depan mereka. Lais. Sigap melangkah menuruni anak tangga.

"Ada apa. Uap mengepul dari inang sungai. Jadi tidak ada yang terganggu. Menyaksikan sendiri lima anak berang-berang berenang. Jadi Yashinta bisa melihat hingga ke bebatuan dasarnya. SMS itu amat mencemaskan. Terpesona. Ia tidak ingin menganggu kesenangan adiknya. Laisa hendak menarik tasnya. Membesar. mencegah. Untung seruan itu tidak terlalu keras.com Saat Yashinta siap mengeluh ke Kak Laisa sekali lagi. saling bercengkerama. "Aku harus pulang!" Yashinta menjawab pendek.. Permainan cahayanya dari sela dedaunan yang memantul di beningnya air bendungan terlihat memesona. Juga menyingkir sekumpulan udang yang sedang berjemur di bonggol kayu. membiarkan. Menatap datar kedua temannya yang nafasnya sudah kembali normal. . Meneruskan langkah. Kepalanya celap-celup. Dingin angin pagi menyergap lereng Gunung Semeru. Bertanya man-na anak berangberangnya.rajaebookgratis. Cahaya yang menembus kabut terlihat menawan. Menyentuh wajah Kak Laisa yang pagi itu tersenyum tipis. Splash— Aih! Mata Yashinta langsung melotot. urung. Splash— Yashinta berseru tertahan. Kak Laisa memang jarang tersenyum. Splash. Menyeringai cemberut. Akhirnya hanya tersenyum tipis. ia harus pulang segera. Kicau ramai burung-burung. Satu-dua jahil mengejar ikan-ikan kecil yang banyak berkeliaran di sela-sela mereka. Itu sungguh hanya ada dalam mimpi berjuta orang. menoleh ke arah Kak Laisa yang nyengir galak. atau juga sepanjang minggu ini sejak Yashinta menyebalkan selalu merajuk minta diantar. Dua ekor kepiting yang tadi nangkring di pinggir kolam sungai segera menyingkir. Celap-celup. menaikkan kembali ransel ke pundaknya.. ingin melihat lebih dekat. Sekali lagi dicubit Kak Laisa. Benar-benar pagi yang indah di Lembah Lahambay. Gadis kecil itu mendekap sendiri mulutnya. Begitu dekat. deh! Kata siapa anak berang-berang tidak lucu? Yashinta sekarang saking gemasnya malah sudah merangkak keluar dari balik batang. Begitu nyata. tidak peduli dengan lima anak berang-berang. Itu sungguh senyum pertamanya sepanjang pagi ini. Kenangan itu kembali bagai tontonan audio-visual dari layar teve LCD sejuta pixels.. Ah. Naik turun. Yash?" Teman ceweknya bertanya lagi. persis dari bibir kolam bendungannya. Berang-berang itu terus berkejaran di beningnya air kolam. Menyisakan burung Meninting yang terus cuek berloncatan da atas batu. Tapi demi melihat ekspresi muka Yashinta yang begitu sumringah. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Terlebih tiba-tiba semuanya terasa ganjil. Ada apa? Yashinta menyeka matanya yang basah. Kak Ikanuri dan Kak Wibisana salah seratus persen. Pagi yang indah.. Bukan main. Pelan terdengar suara kecipak dari pohon roboh di tengah-tengah bendungan. Bergegas. Mulut Yashinta terbuka. Yang ia tahu.. Sungai itu jernih. Sesak. Splash. Splash— Itu suara berang-berang ke lima yang meluncur ke dalam kolam bendungan buatan mereka. Matahari pagi semakin terik. Menyaksikannya dari jarak sepelemparan batu saja. Tepatnya belum. lima anak berang-berang itu meluncur anggun. Seolah ia bisa menyentuhnya. Suara lenguh uwa terdengar dari kejauhan.. Yashinta menarik nafas pelan.www.

"Ada kartu ATM. nanti pasti ditanya kalau nggak dibawa!" Dalimunte menelan ludah mendengar nama Kak Laisa. sayang—" Ummi membujuk. dia baru menyadari laptop miliknya tertinggal. please…. Dan kali ini Dalimunte benar benar mendesis mengkal. Sibuk.. ABI.www. ya?" "Nggak mau!" Intan melotot. Dengan muka mengeras.. Mi? Rio.. mana boleh. Wak Laisa tidak akan nanya. Beruntung sebelum seisi rumah diobrak-abrik Intan.. bukankah tadi ia juga sudah periksa tempat ini." Mobil sport itu berbalik arah lagi. "Tas Ummi! Tas tangan Ummi tertinggal!" Dalimunte mendesis sebal. Bi!" Dalimunte benar-benar mendesis sebal. Wak Laisa kan suka banget sama hamster belang Intan. Ummi.. Maskapai itu saja harus disubsidi pemerintah daerah setempat agar bisa terus beroperasi. Kota itu terhitung terpencil jika dilihat dari sisi jumlah penumpang angkutan udara. Tanpa ampun. "Ditinggal saja ya. Ummi berseru tertahan. gadis kecil berumur sembilan tahun itu berseru-seru.. ikut sibuk membantu.. Kalau mereka terlambat. Sibuk menyeka-nyeka mulutnya. dia terpaksa memutar kembali setir. pesawat yang sudah dipesan staf lab-nya. Sayang. semuanya di sana! Harus diambil. Naik turun tangga.. Rio. Lari keluar." Intan. Gadis keril itu berlarian berteriak. bahkan catatan kesehariannya. Mencari hamster belang putrinya. Tidak banyak jadwal penerbangan ke kota provinsi itu.com 7 ITU BENAR-BENAR JAUH LEBIH PENTING "RIO... langsung disambar Intan. credit card.. "Ditinggal saja ya. take-off.. "Nanti Ummi titip tetangga sebelah buat ngurus. Lima belas menit. Biasanya si belang suka tiduran di bawah ranjang. Ummi menghela nafas. nomor kontak. setengah memaksa. ranjang. Bi! Kan di tas ada gelang karet 'Safe The Plane' Intan. kemana. hamster belang itu dengan cueknya nongol di dapur. Berlenggak-lenggok bak model. maka baru besok ada penerbangan yang sama. Saat tiba di gerbang tol. Sembunyi di mana. Eh.rajaebookgratis. "Rio. Melongok ke balik kursi. Baru tiba di jalan besar. Dalimunte mengusap wajah. kok—" "Nggak bisa. Rusuh sejenak mencari tas tangan Ummi (yang sebenarnya tergeletak di meja ruang depan). mencari di halaman. mobil sport itu kembali meluncur keluar. mobil sport itu kembali meluncur keluar. karena kaki Intan tersangkut tas sekolahnya sendiri persis mau masuk rumah.please. Kuncir rambutnya yang berpita biru bergoyang. sih?" Intan balik lagi ke dalam rumah. RIO. tas sekolah Intan ketinggalan. Sepuluh menit.. Bi!" Ummi setengah membujuk. Mobil sport itu berbalik arah lagi.. "UMMI. Rio. Seluruh hidupnya ada di situ. meja. Satu jam lagi. baru tiba di tikungan depan komplek perumahan. Keras kepala. Tidak ada. giliran Intan yang berseru panik. Berlarian menaiki tangga lagi. "Yee. Dalimunte mencengkeram setirnya erat-erat. juga sama seperti Intan. agenda. kartu identitas... Lagian kalau ditinggal yang kasih makan belang siapa. sih?" Intan terus berseru-seru sambil menarik selimut tempat tidurnya. Menyeringai. Demi melihat ekspresi itu.. apa saja. Melirik jam di pergelangan tabgan untuk ke sekian kali. Kali ini tidak sulit menemukannya. "Tas sekolah Intan. "Harus diambil. lemari. Aduh. hasil penelitian. HAMSTER-NYA SUDAH DAPAT!" Mobil sport keluaran terbaru itu melesat keluar dari gerbang rumah setelah Intan duduk manis di kursi belakang.. Maka .. kehabisan kalimat berikutnya.

. Mencoba untuk lebih rileks. yang tersisa hanya wajah merah bin bete Dalimunte. Albertino. Kami harus segera kembali ke Jakarta. kami sekarang ada di stasiun kereta! Roma Termini. malah kadang campur bahasa Indonesia. tersenyum tanggung melihat ekspresi wajah putrinya." "Kau dengar? Tidak usah ditunggu. "Tung-tong-teng-tong. Ada gunanya juga setelah setengah jam terakhir terburu-buru.com setengah jam kemudian saat mobil sport itu benar-benar berada di atas jalan tol menuju bandara. Ummi yang justru tidak kuasa menahan tawa melihat kaki suaminya yang menginjak pedal gas dan kopling... sandal Abi malah ketukar-tukar.. Dalimunte hanya berdehem tanggung... tentu saja kami tidak naik kereta dari Jakarta. APA? Tidak! Tentu saja tidak.. "Albertino. Tidak bisa. Dalimunte akhirnya ikutan nyengir. Harap segera menuju peron nomor 7. Panggilan terakhir untuk penumpang Kereta Lokal Chievo3000. Pagi ini juga. dengan rendah hati meminta maaf. pertemuan besok batal! Batal! BATAL! Kau dengar? Apa? Ah. sih. janga marah. Menyeret kopernya. Albertino.." Intan mendekap mulut. Penumpang bisa melapor ke loket penjualan tiket kami untuk fullrefund.. sialan—" Ikanuri memaki. "Tidak. Perancis lewat Pegunungan Alpen. "Andaikata Kak Laisa ada di sini. Kami sekarang di stasiun kereta Roma! Apa? Bukan bandara. Tidak." "Ini semua gara-gara sepak-bola sialan itu. Kemungkinan longsor. Lihat. Ya! Ya! Pertemuan itu batal —Hallo? Kau mendengarnya. papan elektronik yang bertuliskan angka 9 (peron tujuan Paris.. Swiss) sudah di depan mereka." Intan nyengir sambil memeluk hamster belangnya... Kereta ekspres menuju Swiss Benin nomor 12 dibatalkan karena alasan cuaca buruk.00) sono pregati di recarsi velocemente al binario 9. Menahan tawa. "Abi. mereka tidak terlalu terlambat. si. pakai terburu-buru berangkatnya... bah!" Ikanuri bersungut-sungut.. Sekarang juga.rajaebookgratis. Kau masih menunggu di bandara? BANDARA? Tidak.. Lima belas menit lagi pesawat itu take-off. saya mendengar suara Anda.www. Albertino? BATAL!" Belepotan Ikanuri menjelaskan lewat telepon genggamnya. Albertino—" "Teng-tong-teng-tong. . Kami harus pulang malam ini juga ke Jakarta.. tapi tetap berisik oleh suara teng-tong-teng speaker pengumuman... Seluruh staf dan manajemen Trenitalia. Bagaimana mungkin?—" "Teng-tong-teng-tong. Meski sekejap kemudian melirik lagi jam di pergelangan tangannya. siamo arivati a Roma half hour fa.. campur-campur. "Sinyalnya terputus—" Ikanuri menelan ludah." Roma Termini (stasiun kereta api pusat) itu meski terhitung sepi. Saya harus kembali sekarang juga ke Jakarta. Anda tidak mengerti.. What? NO! Assolutamente no! like i told you. Wibisana yang berlari-lari kecil di sampingnya menoleh. Albertino. Ummi menyeringai kecil. Warna-warni (mana suaminya masih pake kaos kaki segala). ya! Kan yang terakhir tertinggal laptop Abi.. memperlamban langkah kaki. Tertawa kecil.. Campur Inggris. atau meminta klaim kamar hotel jika memutuskan untuk menunggu kereta besok pagi.. Manyun. kau pasti sudah dipukulnya dengan sapu lidi berkali-kali!" Wibisana menarik nafas pendek. "Si. karena orang-orang sibuk menonton pertandingan final sepak bola. "Bi. masih ada waktu lima menit lagi.. kau dengar? Ya? Ya? Albertino. Satu karena dia bersama Wibisana sedang terburu-buru membawa ranselnya mencari peron nomor 9. Ya Allah.. tuh.I passeggeri del treno Eurostar (diretto a Paris dslle ore 10. Dua karena bahasa Italianya jauh dari lancar. Albertino. Intan benar. Tidak bisa.. Sesuai janji kami sudah tiba di Roma setengah jam lalu.. Badan metereologi meramalkan akan turun hujan lebat di selatan Swis.

"Indonesia. Benarlah adigum itu. Soal perjalanan menggunakan kereta api. Meneriaki taksi terburu-buru.. Kabin kereta yang nyaman.rajaebookgratis. ini justru digelar persis di tengah-tengah perempatan jalan. Senior—" Wibisana menyerahkan tiket ke penjaga. "Selamat menikmati Eurostar. Semuanya amat memadai. Ikanuri dan Wibisana tak terlalu mendengarkan tawa riang penjaga itu. ngebut menuju stasiun kereta. menghabiskan masa pensiun.. ini lewat mana. Wibisana tertawa kecil. tim sepakbola negara Anda tidak terlalu bagus. "Ah saya mengerti. tapi tidak untuk menyaksikan pertandingan final Liga Champion Juventus-Manchester United. "Aca. Persis setengah jam lagi Final Piala Champion di Stadion Olimpico.. Mengerti kalau Wibisana sedang bergurau soal masa kecil dulu. Semoga nyaman. gara-gara final itu. Senior—" Ikanuri menarik travel-binder. hei?" Sopir India itu juga ikutan panik dengan teriakan-teriakan Ikanuri. di mana-mana ada konsentrasi massa yang bersiap nonton bareng lewat layar teve raksasa. nah yang itu baru full-booked!" Penjaga itu tertawa lebar. bagi penduduk Roma. Mending nontonnya di lapangan.. berusaha lebih santai. Memutuskan ke Paris dengan menumpang kereta ekspres lintas negara. Mengejar kereta malam. aca. Wibisana akhirnya memutuskan untuk segera ke Paris. "Paspor dan Visanya. Eurostar. mengembalikan tiket ke Wibisana. "Kau sudah tiga kali memaki setengah jam terakhir. Senior? Ah. kalian jauh-jauh dari Indonesia. sepak bola sudah jadi agama. Mereka akhirnya tiba di depan pintu gerbong kereta.www. penduduk kota Roma sudah dari tadi duduk manis di stadion atau depan teve masing-masing. saya tahu Pulau Bali. Senior. Memaksa sopir taksi (yang keturunan India itu) untuk terburu-buru. benua Eropa nomor satu. itu berarti sembilan kali pukulan sapu lidi —" Ikanuri nyengir. Kecuali jadwal kereta setelah selesai pertandingan. Itulah pilihan terbaik yang ada. Ke sanalah. berlibur. "Tiketnya. tapi di sini beda. Asal kalian tahu. Setelah berpikir lima belas detik di depan gadis penunggu counter biro perjalanan. Itu sama saja menyisir seperempat kota Roma dengan kecepatan tak kurang 70 mil per-jam. tidak menarik untuk ditonton. sudah membawa koper masuk. bukan?" Wibisana dan Ikanuri mengangguk. Tidak banyak cakap menyerahkan dokumen perjalanan. "Jika sempat suatu saat saya hendak ke sana. Jadi. Mencari nomor kabin mereka. Wajahnya masih tegang sejak dari bandara tadi. Beruntung jalanan lengang. terpaksa taksi berputar-putar mencari jalan yang perempatannya tidak vorbodden.. Melangkah di sepanjang lorong. Senior?" Penjaga itu berbasa-basi. sedikit bingung dengan kalimat kakaknya barusan. senior. Ikanuri kali ini benar-benar menggeleng tidak peduli.com Tadi keluar dari Bandara Roma amat terburu-buru. Malas bicara. Cantik. Pintu otomatis kereta berdesis terbuka nyaris tanpa suara. Terus melangkah." Ikanuri mendesis sebal. malam ini kami hanya punya tujuh penumpang…. Sialnya. bisa sekalian jadi hotel tempat beristirahat. Ikanuri dan Wibisana terburu-buru.. kalian cukup menumpang kereta lintas negara. untuk mengililingi Eropa. bukan? Kalau sampai Kak Laisa tahu. Melihat interior . meski lengang. "Dipukul Kak Laisa berkali-kali? Maksudmu?" Ikanuri balik bertanya. Lampu peron berpendar-pendar menawan. meski tadi sebenarnya di pintu gerbang stasiun juga sudah diperlihatkan kepada petugas imigrasi. Wah. buruan periksa tiketnya. Tanpa perlu repot melewati pemeriksaan paspor dan visa setiap kali melintasi perbatasan. Di sini.

dia menyusun ulang balok-balok itu. Tidak mudah mengangkatnya. Tersenyum senang melihat pekerjaannya. Tidak kehabisan akal. Dengan demikian. Kali ini jauh lebih sulit. mengalirkan air sungai ke atas. Wibisana menutup pintu kabin. Andai saja situasinya lebih baik. Kincir dari batang bambu itu benar-benar seadanya. Hatihati kincir itu diletakkan di atas susunan balok bambu.www. Dia akan berlari ke tubir cadas sungai. Celananya basah. Setengah jam berlalu. Lantas beranjak ke tepi sungai. pelan melemparkan kopernya ke kursi. Berhasil! Anak kecil itu menyeringai lebar. Menyangkutkan ujung-ujungnya di salah satu pohon besar lima meter di atas cadas. Bajunya juga basah. Jauh dari kokoh. Herhenti sejenak. Masih perlu setidaknya empat kincir lagi hingga akhirnya tiba di atas cadas sana. Menyeka keringat. Jatuh. Tumpah saat tiba di putaran tertingginya. Melewati setidaknya dua ibukota negara-negara eksotis Eropa. Tinggal memperbaiki posisinya. teringat telepon yang terputus barusan. Gesit. 8 KAU ANAK LELAKI ANAK KECIL berumur dua belas tahun itu sedang sibuk menyusun balok-balok bambu di pinggir sungai yang mengalir deras. Sekali. Dia melangkah ke pinggir sungai. Lupakan soal kesepakatan bisnis itu. meski mereka butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan kesempatan tersebut. disusun kembali. Kali ini benar-benar lebih sulit memasangkan kincir kedua yang tersandar di dinding cadas. Terpaksa dipampas lagi dengan golok. butuh waktu setidaknya dua belas jam untuk tiba di Paris. Mukanya serius. Dia beranjak memasang pondasi balok-balok bambu berikutnya di dinding cadas. Mulutnya sedikit terbuka. dua kali.com kereta. Anak itu menghela nafas lega. Bukan dengan kincir raksasa yang selama ini selalu dianggap solusi terbaiknya. Menurut gadis penjaga counter tadi. Berhenti sejenak. Selepas pulang sekolah. Itu benar-benar jauh lebih penting. Sedikit belepotan tanah liat cadas sungai. Berat. Tapi lupakan! Lupakan soal pertemuan di Piaza de Palozzo besok pagi. Dan bumbung kosong bambu yang dibuat sedemikian rupa mulai berputar. Cadas itu keras untuk dihantam meski dengan ujung bambu runcing sekalipun. mereka segera menyadari. Pulang segera ke Lembah Lahambay jauh lebih penting. Kapan saja ada waktu luang. Selepas membantu Mamak Lainuri dan Kak Laisa di ladang. Kakinya sedikit bergetar membawa kincir yang lumayan besar untuk anak dua belas tahun seumurannya. Itu bisa diurus nanti-nanti. Ikanuri menghela nafas. mungkin ini bisa jadi perjalanan hebat. Juga memikirkan hal yang sama. Terampil tangannya mengikatkan tali rotan. Mengerjakan proyek rahasianya jadi bagaimanalah akan kokoh dan baik bentuknya. Arus air sungai yang deras membuatnya semakin sulit melangkah. tiga kali. Cahaya matahari pagi yang meninggi menyinari Wajahnya. berkali-kali. Memukul ujung bambu dengan batu agar melesak lebih dalam ke tepi sungai. Berkali-kali ujung bambunya penyok. Kepalanya terus berpikir. Tapi itulah usaha terbaiknya. setidaknya dia bisa membuktikan air-air ini bisa dibawa ke atas dengan lima kincir bersambung. Sekali lagi tersenyum . Perancis. Bajunya penuh oleh licak lumpur. jika masih sempat. setidaknya kereta ini lebih dari cukup untuk beristirahat setelah penerbangan belasan jam. pondasi sederhana di dinding cadas sungai itu akhirnya jadi. Matahari sudah benar-benar tinggi ketika ia berhasil meletakkan kincir itu di pondasi dinding cadas. anak kecil itu mengambil tali rotan yang telah disiapkannya.rajaebookgratis. Jika produsen itu belum keburu memilih partner bisnis dari China. Mengambil kincir yang tersandar di cadas batu setinggi lima meter. Akhirnya satu kincir terpasang sudah. Kincir itu mulai bergerak pelan mengikuti arus air. Sudah seminggu terakhir dia sembunyi-sembunyi membuatnya. pagi ini dia harus menyelesaikan dua di antaranya. Lantas pelan-pelan menarik kincir itu ke atas. bisa menjadi trip perayaan atas suksesnya kesepakatan bisnis dengan produsen mobil balap itu.

butuh waktu sepuluh menit di pertigaan itu hingga akhirnya dia berani memutuskan untuk ikut membolos. Dia memang sudah tak sabar menunggu waktu senggang menyelesaikan pekerjaan yang sudah direncanakan dan dikerjakannya berbulanbulan. Bahkan Yashinta yang sepanjang perjalanan pulang tadi hatinya berbunga-bunga. terdesak. Dalimunte hanya diam. Tadi pagi sih mereka bertiga pamitan ke Mamak. Tadi pagi saja.rajaebookgratis. terdengar gemerisik dedaunan diinjak dari jalan setapak mulut rimba. Dia meski terkadang bosan sekolah.ee. Menyelesaikan kincir airnya. Saat itulah. Meniru kelakuan dua adik lelakinya yang memang jago ngarang kalau sudah ketahuan salah begini.www. Ternyata perhitungannya keliru. Tapi baru tiba di pertigaan jalan bebatuan selebar tiga meter itu. saat asyik menikmati sejuknya arus deras sungai. Dia pikir akan cukup waktu mengerjakan kincir-kincir ini sebelum Kak Laisa kembali. "BUKANNYA kau seharusnya ada di sekolah. Makanya memutuskan bolos sekolah. Ikanuri dan Wibisana sudah kabur duluan. muncul dari gerbang jalan setapak hutan belantara." "Bagus sekali! Pilek. "Sejak kapan kau berani bolos sekolah. apalagi jika Kak Laisa tidak ada. nama anak kecil berumur dua belas tahun itu seketika gagap. Dalimunte sakit. turun ke anak sungai yang mengalir deras. menuju sekolah di desa atas. dia pikir Kak Laisa dan Yashinta bakal lama lihat berangberangnya. menyergap. Dalimunte mencicit Aduh. Tetap menunduk.. ikut-ikutan takut mendengar seruan Kuk Laisa. melangkah mendekat. "DALIMUNTE! APA YANG KAU KERJAKAN DI SINI?" Tanpa tedeng aling-aling teriakan itu meluncur. tangkas menyambar ranting yang kebetulan hanyut di dekat kakikaki mereka. saat dia sekalian menyelam di sungai sedalam pinggang itu. Berdiri mengkerut di belakang Kak Laisa. berarti Ikanuri dan Wibisana juga bolos!" Kak Laisa bertanya menyelidik. dan tentu saja ranting itu gunanya buat menunjuk-nunjuk dada Dalimunte. hah?" Kak Laisa menghardik. "KAU ANAK LELAKI DALIMUNTE! Anak lelaki harus sekolah.. Selama ini sedikitpun tidak tersedia waktu yang cukup untuk menyelesaikan kincir-kincirnya. Seram benar melihat tampangnya. Dalimunte meringis. Berusaha membersihkan muka dan tubuh yang kotor. sembarang mengarang. tapi tidak pernah membolos. Dalimunte sebenamya jauh lebih nurut. Mengkal karena yang diteriaki sejak tadi malah menunduk bengong. meski ada Kak Laisa sekalipun Ikanuri dan Wibisana rajin bolos. naik starwagoon tua yang kebetulan lewat ke kota kecamatan. Kak!" Anak lelaki itu menyeringai. Dali? Apa yang kau lakukan di sini?" Kak Laisa mendesis galak. pilek tapi kau main air!" Kak Laisa menukas tajam. Lantas melangkah ke sungai yang mengalir jernih. Lebih kencang. sepanjang hari harus ke ladang. "Kalau kau bolos. Lebih berani melawan. pilek. "Apa yang kau kerjakan di sini? JAWAB!" Kak Laisa menghardik lagi.. memakai seragam. Hari ahad juga begitu. Semakin dekat. Padahal pertemuan di Balai Desa dilakukan besok pagi. Dalimunte.com riang melihat pekerjaannya. Mumpung Kak Laisa pagi ini tidak ada di rumah untuk mengawasi. "Errgh. Mengangkat kepala. Akan jadi apa kau jika tidak sekolah? Pencari kumbang di hutan sana seperti orang lain di kampung ini? Penyadap damar? Kau mau menghabiskan seluruh masa depanmu di kampung ini? Setiap tahun . "Ee. Lepas sekolah dia langsung keladang. Soal itu tidak usah ditanya lagi. Kak Laisa bersama Yashinta. menusuk dadanya lebih keras. "APA YANG KAU KERJAKAN DI SINI?" Dalimunte membisu. "BOHONG! Sakit apa?" Kak Laisa melotot. Menelan ludah.

Tanpa perlu di teriaki dua kali. mengikuti Dalimunte dari belakang. hinggap di dahi Yashinta— "Nanti Yashinta kasih minyak urut—" Yashinta berbisik pelan. Menangis. dan yang paling kecil. Matahari semakin terik. Membantu Kak Laisa.rajaebookgratis. . berjalan tiga ratus meter lagi baru akan tiba di perkampungan. Terasa menyenangkan. tapi melihat muka Kak Laisa yang merah padam macam kumbang membuat niatnya urung. Atap seng yang sudah karatan dari rumah-rumaah panggung penduduk terlihat berbaris.com berladang dan berharap hujan turun teratur? Setiap tahun berladang hanya untuk cukup makan! Kau mau setiap tahun hanya makan ubi gadung setiap kali hama belalang menyerang ladang? Hah. Dia tahu. mau jadi apa kau. Seadanya. Kak?" Yashinta yang berjalan dibelakang Dalimunte berbisik pelan. "KAU DENGAR KATAKU?!" Dalimunte terisak. Tentu saja dia tahu. Kalau Kak Ikanuri dan Kak Wibisana yang dimarahi. Dalimunte hanya mengangguk. Menyeka matanya yang tiba-tiba panas. Membantu Mamak. Yashinta buru-buru melangkah. Dalimunte mengangguk lagi. Mengerti benar Kak Laisa mengorbankan seluruh masa kanak-kanak dan remajanya agar bisa membantu Mamak setiap hari tanpa lelah demi adik-adiknya sekolah. Menggigit bibir. Caping anyaman Yashinta bergerak-gerak. Yang paling ujung. Dalimunte?" Yashinta yang berdiri di belakang Kak Laisa ikut tertunduk. Yashinta ingin menyela. perih. itulah rumah mereka. Kak Lais keliru. Dalimunte melangkah pelan. Kak Dalimunte selalu baik. Mereka memang bandel. Yashinta memainkan caping anyamannya pelan-pelan. Mamak sudah bekerja keras demi mereka. Tangannya terasa pedas. Dia tidak sedang main air. Kak Laisa berjalan sepuluh meter di belakang mereka. Hilang sudah semua kesenangannya setelah melihat anak berang-berang. Senyap. Kak Laisa sekarang menatap tajam Yashinta. Suka membuatkan Yashinta mainan. Masih mengawasi galak.www. berusaha mensejajari langkah kakaknya. Tapi dia tidak bisa menjelaskannya. Sungguh — "KAU BENAR-BENAR TIDAK TAHU MALU! MAU JADI APA KAU KALAU BESAR NANTI??" Tidak. Tapi kalau Kak Dalimunte yang dimarahi? Kan. "Anak berang-berangnya ketemu?" Dalimunte bertanya pelan. Tapi hatinya tertusuk lebih sakit. "Sakit. Sungguh dia tidak bolos demi sesuatu yang percuma. Kak Lais. rusukan ranting Kak Laisa di dada terasa sakit sekali. Dikejauhan suara elang mengitari rimba terdengar gagah. "Kau tahu! Mamak setiap hari ke ladang! Setiap sore ke hutan mencari damar! Mengumpulkan uang sepeser demi sepeser agar kalian bisa sekolah! Lantas apa yang kau berikan sebagai rasa terima kasih? BOLOS SEKOLAH!! BERMAIN AIR??" Dalimunte tertunduk dalam-dalam. tapi hatinya lebih sakit lagi. Sakit. Tiba di hamparan semak belukar. Yang dipukul menyeka hidungnya yang kedat. yang paling tua. "Lucu?" Yashinta mengangkat dua jempolnya. Giliran Yashinta yang mengangguk. "PULANG! PULANG SANA!!" Kak Laisa keras memukul lengan Dalimunte dengan ranting. Dali mengerti benar. Dali tidak sedang bermain air. menyusuri inang sungai. berair. Menuju tepi sungai. Angin lembah membuat ujung-ujung semak bergoyang. Kampung mereka terpisah dari hutan oleh cadas setinggi lima meter itu. membujuk Kak Laisa agar berhenti. Satu bunga rumput terbang. Menaiki tangga dari kayu setinggi lima meter itu. mengambil bunga rumput di dahinya. mengangguk. Dalimunte menyeka matanya. Yashinta tidak terlalu sedih.

Ah. Hamster belang itu sekarang pasti mendekam gelisah di ruang kargo pesawat. "Abi masib marah gara-gara hamster Intan. Berkereketan. Berjalan keliling kebun bersama Eyang Lainuri. Ah. Ikanuri dan Wibisana. tanpa bercakap-cakap lagi. meski kemudian meringis lagi. putrinya suka sekali menyelundupkan hamster dalam saku bajunya. Lihatlah. Hari ini. Langsung disambar kincir air yang kedua. "Sakit gigi. "Kamu sekarang bawa gelang karetnya. seharusnya dia bisa lebih rileks sekarang. Dalimunte mengusap wajahnya. air itu naik lagi. mengeluarkan satu gelang. entah dengan apanya. "Bawa. Dan Kak Laisa dengan segala pengorbanannya. Bi?" "Abi minta satu lagi—" Intan tertawa. menikmati benar menjadi kakak-kakak bagi Juwita dan Delima (maksudnya menikmati merintah-merintah mereka). Lolos di pintu pemeriksaan. Apalagi Intan. Berlarian di dalam pesawat yang sedang terbang persis di atas lautan.. mengeduk saku celananya.rajaebookgratis. meski Dalimunte tidak sempat menyaksikannya sendiri. mengambil tas sekolah di bawah kakinya.. Pondasinya bergetar. Maka hebohlah pesawat itu saat hamster belangnya ternyata menyelinap turun. Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak.. deh!" Dalimunte tersenyum tipis.com "Top banget. mereka sudah duduk nyaman di atas pesawat. Naik terus ke atas. Tumpah. Anak-anak terbaik dari Lembah Lahambay. Tersadarkan dari kenangan. berputar seiring arus air sungai memutarnya. Dalimunte dengan kincr airnya. kenapa Abi tiba-tiba jadi pendiam?" Intan menarik ujung kemeja Dalimunte. "Abi bayar dulu lima ribu!" Dalimunte tertawa kecil. Tapi pelan mulai berputar. "Bi. lengannya yang tadi dipukul terasa perih. Kincir air yang kedua itu lantas bergerak pelan. Menatap keluar jendela pesawat. Berkumpul bersama yang lain. Anak-anak yang mengukir indahnya perjuangan hidup. Seharusnya perjalanan ini menyenangkan. Memangnya kenapa. bertanya lembut. Yashinta dengan berang-berangnya. Matahari hampir tiba di puncaknya. Mereka hampir setiap dua bulan sekali berkunjung ke perkebunan strawberry Mamak Lainuri. Dari kincir pertama. mengeluarkan tas tangannya. Menikmati masakan Wak Laisa. ya?" Dalimunte perlahan menggeleng. hari ini garis kehidupan masa depan mereka yang cemerlang sudah dimulai. meski belum satupun yang menyadarinya. Tentu saja tidak. ikut Tante Yashinta melihat berang-berang di pagi buta. Dalimunte hendak mengambil dari tangan putrinya. Terik membakar lembah. Tapi Intan tidak melepaskan gelangnya. lembut mengusap kuncir rambut putrinya. Tersenyum. Loncat. atau yang lebih seru Iagi. sayang?" Dalimunte merubah posisi duduknya. berputar terus. Tumpah. Dulu.000 kaki. Dan itu selalu menjadi perjalanan yang menyenangkan. kincir airnya ternyata sempurna bekerja. garis kehidupan sederhana dan apa adanya milik mereka mulai menjejak masa-masa depan yang gemilang. Hamparan awan menggumpal putih nremenuhi sekeliling. Kak lisa terus melotot di belakang. Mereka berada di ketinggian 30. lantas masuk ke salah satu kotak makanan yang dibawa pramugari untuk penumpang. yee?" Nyengir lebar. Ummi!" Ummi ikut tertawa. Air itu perlahan bergerak naik. "Minta sama. Masih butuh tiga kincir air lainnya di cadas itu. kosong. Menjulurkan gelang itu. .www.

Gemuk meski gempal. Ummi tersenyum simpul. dan lebih banyak lagi rasi yang tidak memiliki nama. menunggu rumah. Bagaimana mungkin kalimat itu tidak serius? 9 CRAYON 12 WARNA ANGIN MALAM bertiup lembut. ada Pisces. Mengangguk. mengusap lembut rambut putrinya." "Wak Laisa sakit. Kak Laisa selalu sigap dan disiplin menghadapi rutinitasnya. Sibuk dengan keseharian. Dalimunte menelan ludah. "Eh. hingga sore benar-benar ribut. maka mereka berbaik hati menunda penerbangan. sayang. bagi putrinya kunjungan ini mungkin tidak jauh berbeda dengan kunjungan-kunjungan sebelumnya. Di sana ada Taurus. Jadi mana bisa sakit? "Bukannya sebulan lalu Wak Laisa sehat walafiat. Mana bisa sakit? Lah. Teringat sesuatu. Dalimunte menatap datar wajah putrinya yang amat ingin tahu. Ladang itu tidak jauh hanya satu kilo dari . Seharusnya pesawat itu sudah take-off lima belas menit lalu. sudah sejak dulu Kak Laisa memang sedikit pucat. Abi saja tidak kuat gendong Intan naik tangga kayu cadas sungai. Sok berpikir. apalagi salah satu petinggi maskapai itu sama persis dengan Headmaster Miss Elly. Soal pucat. Gemintang menunjukkan berjuta formasinya. mungkin besok pagi. Hari ini. Malam beranjak datang. Langit terlihat cerah.www.. Benar-benar serius. Jadi mana mungkin Kak Laisa sakit? Tapi SMS dari Mamak Lainuri pasti serius. Mi?" "Mendadak apanya?" "Kita pulang! Kenapa mendadak benar? Orang kalau mau hujan saja ada gunturgeledeknya. Hanya Wak Laisa yang kuat gendong. "Sakit? Mana bisa Wak Laisa sakit?" Mata Intan membesar. setelah sejak maghrib tadi terdengar riuh oleh hardikan-hardikan. Gayanya sudah seperti orang dewasa saja. bahkan sejak mereka masih kecil dulu. Masakan kesukaan Intan: rebung bakar!" Intan nyengir. Tapi kolega peneliti Dalimunte yang mengerti situasinya berbaik hati menelepon kantor pusat maskapai penerbangan tersebut dari lab. Ia belum pernah diajak-ajak ke ladang… Kata Mamak ia masih terlalu kecil. Sebulan lalu Wak Laisa memang terlihat sehat. Tidak pernah sakit. pakar fisika ngetop seperti Profesor Dalimunte sudah seperti selebritis saja. Kak Laisa setiba di rumah panggung langsung menyiapkan bekal makanan seadanya. Cepat atau lambat Intan akan tahu. Tidak pernah mengeluh. Tadi siang. setelah menghela nafas. Hanya suara burung hantu dari kejauhan yang menghias malam. "Tapi mengapa mendadak benar.com Tadi mereka amat terlambat datang di bandara. Toh. boleh jadi pula nanti malam.. Itulah yang Abi juga tidak mengerti. Gemini. kemudian menyusul Mamak Lainuri di ladang bersama Dalimunte —yang tetap lebih banyak berdiam diri setelah dimarahi di sungai tadi. Menyelisik sela-sela dinding anyaman bambu. Kan. Wak Laisa tuh terlihat tambun. Hanya sedikit pucat. ditingkahi derik jangkrik bernyanyi.. Dokter bilang mungkin minggu depan. penumpang lain tidak berkeberatan setelah tahu yang naik ke pesawat terakhir adalah Profesor Dalimunte. Tapi ia masih sibuk bekerja. ada Leo. fans berat Profesor Dalimunte. sayang—" Dalimunte yang menjawab.rajaebookgratis.. Bi?" Intan menggaruk rambutnya.. Ummi sudah telepon Eyang Lainuri kalau kita mau datang? Biar Eyang masak yang banyak. sedikit pun tidak percaya. Rumah panggung kecil itu akhirnya lengang.

. Mamak sebenarnya tidak suka marah. Dalimunte entah mengerjakan apa dengan kertas-kertas besar diujung tikar satunya. kasus bolos itu sudah biasa.. Tapi hari ini tidak. Lampu canting besar di dinding kerlap-kerlip. Mamak bertanam padi. membantu tauke desa atas menjual sayur-mayur di sana. kan?" Yashinta bertanya sekali lagi. kan?" Yashinta mendadak menghentikan gerakan tangannya. menghabiskan dua jam sebelum maghrib mencari damar. Ah. Mereka pulang sambil tersenyum lebar membawa bungkusan dari kota. Kalau sebaliknya. Pulang sebelum lembah gelap. atau gagal panen karena busuk. Bagaimanalah Mamak akan sempat marah? Mamak sudah terlanjur lelah dengan jadwal harian. Yashinta nanti boleh sekolah.lewat jalan itu lebih cepat. "Apa?" Kak Laisa yang sibuk dengan anyaman bertanya balik. dan anak-anaknya langsung mengerti.rajaebookgratis. Tapi sore ini Mamak tidak dapat menahan marah. Kak Lais. Menjelang ashar Mamak Lainuri. membuat gula aren. berani sekali ikut menumpang mobil starwagoon tua ke kota kecamatan. dan kali ini dua sigung nakal itu menurut barulah ruang tengah rumah panggung itu terasa lebih lega. Terdiam saat Mamak menoleh. itu katanya jalan pintas menuju kota kecamatan. Mereka sekali dua saling berbisik pelan.". Bisa urung tanam. Musim ini kabar baik. rotan." ". Shalat maghrib! lantas makan bersama di hamparan tikar. menganyam topi pesanan. Malam beranjak matang. Membaca. atau apalah. saat nugal (masa tanam) hujan turun. Melotot.www. ".. Tapi apa yang dilakukan mereka seharian ini? Mereka baru pulang setelah yang lain selesai shalat maghrib.. Ikanuri dan Wibisana. Menu yang terhitung istimewa buat keluarga miskin mereka. Ikanuri dan Wibisana belajar di atas tikar pandan.iya. meski suka bolos.. tapi Mamak tidak peduli. Nanti. setelah Dalimunte mengajak Ikanuri dan Wibisana shalat di surau. Ikanuri. menoleh ke Kak Laisa. Mamak sudah mendapatkan laporan Kak Laisa soal kejadian tadi siang. nanti Yashinta boleh sekolah. bisa celaka. Terlanjur marah. Lebih banyak berdiam diri. "Eh. hujan justru berkurang. jadi wajah Mamak terlihat marah sepanjang sore. Tapi itu tidak cukup membantu suasana. entah benaran membaca atau hanya pura-pura agar tidak kena marah lagi. upah kerja seharian.. Bukan karena Dalimunte. setelah anak-anaknya tidur baru bisa istirahat. Kak Laisa dan Kak Dalimunte pulang. Mamak dan Kak Laisa pasti lebih repot lagi mencari uangnya. Tentang mau jadi apa mereka? Sekolah! Sekolah jauh lebih penting daripada bekerja. dan Wibisana sekaligus bolos sekolah.com kampung. Selama ini. baru lepas isya. Kak Laisa dan Mamak duduk di sebelah Yashinta. Lebih banyak berdiam diri.aku dengar dari pemburu harimau di kota kecamatan tadi.. menyiapkan keperluan ladang. menanak nasi. . hujan datang teratur. Biasanya Mamak langsung ke hutan. saat akan panen seperti sekarang. Bangun jam empat shubuh.. rajutan atau apalah. ragu-ragu. Seperti tetangga lainnya. ". Ikanuri dan Wibisana paling hanya bermain-main ke manalah. Ia teringat kata-kata Kak Laisa tadi siang di sungai bawah cadas. "Eh...." Yashinta asyik menggambar berang-berangnya tadi pagi. Maksudnya. Sudah bebal dua sigung itu diceramahi Tetapi lebih karena baru selepas maghrib Ikanuri dan Wibisana pulang ke rumah. Maka kena omellah Ikanuri dan Wibisana. Kalian tidak akan jadi apa-apa kalau bodoh sepertiMamak! Kalian pikir hidup susah itu menyenangkan? Hanya karena menyadari adzan isya akan segera berkumandang dari suraulah omelan Mamak akhirnya terhenti.. Padahal Kak Laisa masak ikan asap. Lantas berangkat ke ladang. kalau ia sekolah. Itupun setelah menyelesaikan anyaman. Menyuruh mereka ambil wudhu. Lepas isya.

Wibisana dan Ikanuri tidur di ruang tengah. Ikanuri lupa —" Entah kenapa Ikanuri tiba-tiba bangkit dari belajarnya. Malam itu.www. Yashinta tanpa perlu diperintah dua kali.. Asyik. Beranjak membereskan pensil dan kertas gambar. "Buka saja—" Ikanuri nyengir. Mengusap jidatnya. . kan jarang-jarang Kak Laisa tersenyum. Dalimunte. "Memangnya asyik sekolah?" Tapi karena mereka berdua malam ini lagi alim. beralaskan kasur butut.com "Sekolah! Lepas panen ladang musim ini Yashinta masuk sekolah!" Mamak Lainuri yang menjawab. Andai saja ia bisa membelikan putri bungsunya crayon warna. Ikanuri dan Wibisana juga melirik selintas. Di tengah gemerlap sejuta bintang di angkasa sana. Sekejap terdiam memegang kotak berwarna itu. Saatnya tidur.. Ikanuri dan Wibisana otomatis akan nyeletuk sama seperti tadi pagi. Sudah hampir pukul 21. Kak Laisa kan anak perempuan. meski lantas sok serius kembali lagi ke buku. "CRAYON 12 WARNA—" Yashinta tertawa lebar. Yashinta sudah tersenyum riang. ternyata ia juga akan sekolah. Beneran? Yashinta menyeringai. Hanya ada satu kamar di rumah panggung itu. di tengah sejuknya angin malam menilisik lubang. setelah sepanjang malam mengkal melihat ulah anak lelakinya. "Kak Laisa. asyik. Mamak. "Buat. Pakai tikar pandan dan sarung. Kak Laisa dan ia tidur di kamar. Meski hanya dengan pensil. Ikanuri ikut tertawa. Tersenyum. Mamak menghela nafas pelan. Ikut tersenyum. Yashinta memang berbakat melukis. Lantas berseru senang sekali. "Ah-iya. deh! Bagus. KAK!" Ah. Lima berang-berang itu terlihat begitu nyata. berbisik-bisik. malam itu. Juga Kak Laisa. Mengangguk. Satu detik. Ikanuri mengambil bungkusan kecil dari kota kecamatan tadi. Yashinta menguap. Mamak Lainuri setelah seharian bekerja. Mamak Lainuri juga beranjak mendekat melihat gambar Yashinta. Lantas menyerahkannya ke Yashinta. Matanya membulat. Biasanya. akhirnya bisa tersenyum lebar. mereka hanya sibuk belajar. Semua menoleh. Kak Laisa menoleh. Sejurus. Yashinta!" " Apa-an?" Yashinta bertanya sambil menguap.rajaebookgratis. Langkah Yashinta tertahan. kalau bicara soal sekolah begini. Entah membuat apa. Menyeringai sambil menyodorkan kertas gambarnya. tetap konsentrasi menganyam. membuka ikatan kantung plastik kecil. Yashinta berpikiran pendek. "TERIMAKASIH. gambarnya tetap bagus. Makanya ia tidak sekolah. Ia tidak tahu kalau sebenarnya Kak Laisa yang memutuskan mengalah untuk tidak sekolah agar adik-adiknya bisa sekolah. Mamak mengangguk selintas. Kalau anak perempuan? Lihat.00. Kak Laisa bilang anak lelaki harus sekolah. meneruskan menganyam.. Jadi dipikirkan sepanjang hari.-lubang dinding. lihat gambar berang-berangnya. Dua detik. menyimak. Meneruskan membaca buku. Dalimunte masih sibuk dengan kertas-kertasnya. Tadi kan. Seperti tidak percaya. Sejak dulu Yashinta sudah minta dibelikan. Sementara. kan?" Yashinta menghentikan gerakan tangannya lagi. Yashinta menyeringai senang.

Perasaan Oom Ikanuri dan Oom Wibisana nurutnya hanya sama Wak Laisa. mencret Wak Laisa paling juga sudah sembuh. Dulu waktu Intan masih kecil. Suara kokok ayam hutan terdengar dari kejauhan. Itulah kenapa kemarin dia nekad bolos. Wak Laisa paling sakit perut atau mencret-mencret. "Oom Ikanuri? Oom Wibisana juga pulang. Juga kabar Kak Laisa dan Mamak Lainuri di perkebunan strawberry. Makanya Intan suka dengan pelajaran itu di sekolah. Dalimunte menguap sekali lagi. Seperti kesepakatan minggu lalu. Tante Yashinta yang suka ngajarin melukis. dan dia belum tahu apa yang sedang dilakukan adik-adiknya. minyak tanahnya hampir habis. Juga lenguh pagi uwa. Ah. Teringat ada hal penting yang harus dikerjakannya hari ini. perbaikan jalan bebatuan selebar tiga meter itu. Masih bisa menemani Intan jalan-jalan di kebun strawberry. Teringat sesuatu. Menyalakan telepon genggam. hal-hal kecil. Wak Burhan mengumandangkan adzan shubuh. "Kalau begitu Delima dan Juwita juga datang. Dalimunte menggosok-gosok mata. Orang dewasa tuh rumit. ya? Kenapa pula coba tampang Abi tegang begini sejak tadi dari sekolah. Dulu. bakal ada pertemuan rutin tahunan di balai kampung. Meraba tasnya. Ia bisa memaksa mereka berdua memakai empat gelang karet "Safe The Planet". Untung ada Wak Laisa yang belain. Asyik menyimak pembicaraan. deh.. tidak bakal serius ini. Dalimunte mengeluarkan HP dari sakunya.rajaebookgratis. dingin. Bagaimana mungkin dia belum menghubungi mereka satu pun? Sejak menerima SMS di konferensi fisika. suara Wak Burhan yang tanpa speaker dari surau terdengar menggema di perkampungan bawah Lembah Lahambay. masak air enau. Sebenarnya juga bagi seluruh penduduk kampung. Intan jago kok bikin minuman itu. Meski sedikit nyengir ketika kemudian membayangkan Oom Ikanuri dan Oom Wibisana. melangkah mengambil kopiah. mereka bersamasama datang ke balai kampung. Obor itu . Pagi ini penting baginya. Menarik bantal. dia ingin melakukannya sendiri sebelum pertemuan kampung dilakukan. dinginnya semakin terasa menusuk tulang. Dulu pernah hamster belang Intan disembunyikan di tong belakang perkebunan. Dalimunte terkantuk-kantuk menarik sarung adik-adiknya. 10 PERTEMUAN DI BALAI KAMPUNG PAGI BERIKUTNYA datang lagi. perambah hutan dari luar lembah yang semakin sering masuk. Pasti mereka lagi-lagi suka jahil ngerjain Intan. Lihat-lihat foto yang indah. Ummi berjalan di belakang. waktu Babak masih ada.. Intan sibuk mikir sambil memperhatikan Abi yang menunggu nada sambung. Membicarakan soal panen ladang-ladang mereka. Meski sudah sepuh. Kalau begitu ia bisa lihat-lihat kamera keren Tante Yashinta. Sekarang? Kata Abi tadi kan Wak Laisa lagi sakit. Mamak sejak jam empat tadi sudah sibuk di dapur.. Tapi Dalimunte semangat shalat di surau. Jadi tidak ada yang belain Intan kalau lagi dikerjain Oom Ikanuri dan Oom Wibisana. Itu berarti tiga jam berlalu. Asyik. Musim kemarau. Horee!" Intan tertawa lebar. Cemas karena Wak Laisa sakit? Lah? Kan dikasih oralit. "Bangun Ikanuri! Wibisana!" Yang dibangunkan hanya menggeliat sebal. Brr..www. Kerlip lampu canting semakin lemah. Urusan ini benar-benar membuatnya tak sempat berpikir panjang. Asyik. sedikit terhuyung berdiri. Ditemani Kak Laisa. Beberapa tetangga membawa obor bambu menuju surau. Lantas menutupkannya ke kepala. Antrian penumpang keluar dari pintu garbarata membuat langkah terhenti. kan?" Dalimunte yang mendorong koper sepanjang lorong garbarata pesawat mengangguk pelan. perselisihan antar tetangga (jika ada). Babak-lah jadi wakil di pertemuan. Jalanan kampung masih gelap..com "Abi. Tante Yashinta juga pulang. Bi?" Dalimunte mengangguk lagi.

Perbaikan jalan bebatuan tiga meter itu diputuskan hanya dalam hitungan menit. setelah memastikan semua warga hadir. dan sebagainya. Memaki. Sudah disiapkan sejak semalam oleh pemuda kampung. "Kakak bawa apa. Usul-usul. Satu dua kalimat tidak penting. paling berbilang enam-tujuh orang. cadangan padi selalu penting. "Biasa. Tapi perlakuan perambah hutan itu memang mencemaskan. Separuh dari hutan di Lembah Lahambay itu adalah kawasan taman nasional. saling membelakangi punggung. Kalimat-kalimat keberatan. Sepakat melaporkan soal itu ke polisi hutan kota kecamatan. dan tanpa ampun mulai menebangi pohon-pohon raksasa. kukang. Dan satu-satunya peserta anak kecil. Berapa kaleng yang harus disetorkan setiap rumah untuk cadangan padi kampung. hari ini sekolah libur. mereka tega membawa senso (gergaji mesin) besar. Daerah konservasi. Dalimunte nyengir melihat posisi aneh itu. Selepas Kak Laisa meneriaki Ikanuri dan Wibisana bangun agar shalat shubuh. Mengancam. Beres. benar-benar hanya nasi yang digoreng plus potongan cabai dan bawang merah. Meski lima kaleng itu benar-benar akan mengurangi penghasilan ladang mereka yang tidak luas. Warga kampung diam memperhatikan. melihat kertas-kertas yang dipegang Dalimunte. Kursi-kursi bambu berjejer rapi. Ikanuri dan Wibisana masih tertidur. Seperti keranjang aneh penangkap udang. Usul-usul lagi. Dan satu bakat besar milik Dalimunte (meski untuk yang ini tidak semua penduduk lembah tahu). Setuju.www. atau binatang dilindungi lainnya. Lebih banyak lagi waktu dihabiskan untuk membahas soal perambah hutan dari daerah lain. sesudah sarapan nasi goreng. . Wak Burhan. Ahad pagi. Apa saja. di sekolah Dalimunte dikenal sebagai anak yang paling pintar. yang masih terhitung saudara Mamak Lainuri (dan juga warga kampung lainnya) menengahi. Lagipula desa-desa sekitar mereka juga menolak memperbaikinya. Tertawa menggoda. menuju kertas-kertasnya yang ditumpuk di atas meja. Hanya lokasi-lokasi tertentu yang dibolehkan diolah. biar selepas acara. Lima belas menit penuh seruan-seruan. agar perambah hutan tidak semakin sembarangan masuk membawa truktruk yang akan mengangkuti kayu gelondongan hasil jarahan. mereka membicarakan soal kesepakatan lumbung kampung. dengan kaki-kaki menyilang. Mereka berdua selama ini juga suka jahil merusak kertas-kertas atau apa saja yang dikerjakan Dalimunte. Satu dua usul lagi. meski penduduk setempat sendiri kadang juga melanggarnya dengan menangkapi uwa. Mamak Lainuri menyeka dahi. Per-kepala atau per-hasil panen. sih?" Yashinta bertanya. penemu. Dalimunte tidak mempedulikan. Dua tahun silam saat ladang mereka terkena hama belalang. ya. Siapapun di lembah itu tahu persis. Wak Burhan. Balai kampung itu sudah ramai saat mereka tiba. Seruan-seruan marah makin ramai. sesepuh kampung berdehem. Keputusannya adalah: Menunggu. Menciptakan alat-alat yang aneh. mengetukkan palu dari bonggol bambu. Setidaknya panen kali ini semoga masih ada sisa buat membeli seragam sekolah buat Yashinta. Mereka sudah terlalu repot dengan kehidupan sehari-hari untuk ditambahi memperbaiki jalan sepanjang duapuluh kilometer itu. Pertama. mereka beramai-ramai berangkat ke balai kampung.com sekalian juga penerangan di surau. Pertemuan rutin warga kampung. malas membangunkan lagi. Paling juga bawa peta harta karun—" Ikanuri dan Wibisana nyengir. Dalimunte.rajaebookgratis. Diam-diam melakukannya di sela-sela membantu Mamak di ladang. segera memulai pertemuan. Menunggu pemerintah kota berbaik hati sajalah. Pertemuan sengaja dilakukan sepagi mungkin. mereka masih sempat bekerja di ladang. lumbung kampung memastikan perut anakanaknya tetap kenyang. Tidak banyak peserta shalat shubuh. dia suka sekali mengutak-atik sesuatu. meski sekolah ini benar-benar seadanya. alat panjang penyadap damar. Sekembali dari surau.

Buat apa kertas-kertas itu? Penduduk lain menunggu. "Ergh. Wak Burhan sekarang menatap seluruh balai kampung. Tersenyum penuh penghargaan sekali lagi ke arah Yashinta. Bukannya sudah selesai? Mamak Lainuri mengernyitkan dahi. anak-anak Lainuri tumbuh berbeda dengan yang lain.. eee. Atau melihat sigung berkejaran. Apa yang ingin kau sampaikan. Sumbangan rutin buat acara besar (Maulid. "Baik. Katakan sajalah. Dalimunte menekuk ibu jari kakinya.com Membicarakan perselisihan batas ladang.. Baiklah. menyikut bahu Dalimunte yang duduk di sebelahnya. hanya pria dewasalah yang bicara. "Ee. beberapa kertas berjatuhan. Jadwal pengajian mingguan. amat gugup dengan tatapan penduduk lainnya. tapi karena sudah kadung. Tidak. tiba-tiba Dalimunte mengangkat tangannya. Ikanuri dan Wibisana yang sejak tadi hanya jahil tertawa-tawa saling berbisik menganggu dan sibuk berkomentar terhenti cengirannya. ini semua mudah. Dalimunte menaikkan tangannya lebih tinggi. Rajin shalat berjamaah di surau. mengeluarkan sirih dari mulut. meraih pentungan dari bongkol bambu. saat penduduk kampung menggeliat santai karena pertemuan sudah selesai." Dalimunte menelan ludah. sepakat memberikan tanda baru untuk setiap batas kebun. Atau melihat pohon salak hutan. Dalimunte. Hanya mata Yashinta yang membesar penuh rasa ingin tahu. Menatap Kak Laisa. Muka-muka tertoleh. bersiap menutup pertemuan. Mamak Lainuri masih mengernyitkan dahi. Sisanya menonton. kau ingin menyampaikan sesuatu Dalimunte?" Wak Burhan meletakkan palu bonggol kayunya. "Ya. Dan beberapa masalah kecil lainnya. maaf kalau—" Dalimunte mengusap dahinya. Yashinta hanya ingin tahu. Wak Burhan tersenyum. Lantas sedikit tersenyum tanggung demi melihat wajah adiknya. Kami akan mendengarkan!" Wak Burhan mengangguk mantap padanya. maaf kalau. saat mereka beranjak merapikan baju yang terlipat. iya Wak.rajaebookgratis. Lengang sejenak. Dalimunte patah-patah mengumpulkannya. adiknya dengan bola mata membulat penuh rasa ingin tahu balas menatapnya. Saat itulah. Sepertinya sudah selesai. Saking gugupnya. sudah sejak seminggu lalu meniatkan diri. Tersenyum tipis. Maka meluncurlah penjelasan itu— . "Ergh. tumbuh menjadi anak-anak yang bisa diandalkan.. Kak Laisa yang merasa ganjil. sebentar—" Dalimunte dengan tangan sedikit bergetar membawa kertas-kertasnya ke depan. "Masih ada?" Wak Burhan bertanya sekali lagi. Lihatlah. Gotong-royong perbaikan tangga kayu di cadas setinggi lima meter sungai. Kak Laisa menatap lebih bingung. Awalnya ragu-ragu. Tapi siapa bilang dia masih anak ingusan umur dua belas tahun. Yashinta sedikitpun tidak merasa ganjil dengan Dalimunte yang tiba-tiba berdiri di tengah balai kampung. Dalimunte?" Wak Burhan tersenyum lebih lebar. Masih anak-anak.www. pertemuan tahunan itu meski diikuti oleh seluruh penduduk kampung. Sejak Babak mereka meninggal. "Kau tidak perlu gugup begini. Tidak ada lagi yang hendak melaporkan sesuatu. Isra Mi'raj). menatap Mamak Lainuri. Itu janggal sekali. Dia mengenal sekali anak Lainuri yang satu ini. Muka-muka bingung. Dalimunte menelan ludah. "Masih ada yang ingin dibicarakan?" Dua jam berlalu sejak tadi pagi. Menatap Yashinta. maka sambil menggigit bibir. Ekspresi yang sama seperti setiap kali Yashinta diajak melihat anggrek hutan raksasa.

baru tiga detik kemudian terdengar di seberang sana. suara hujan semakin deras. Dalimunte melangkah cepat menuju lobi depan bandara. bukan? Apa? Oo Terakhir aku ditelepon Yashinta tadi malam. Sama sekali tidak ada sinyal. Kami di SWISS. "Mematikan HP? Tidak mungkin ia sudah di pesawat. "Aku sudah hampir sepuluh kali menghubungi telepon genggam satelit Yashinta. SUARANYA PUTUS-PUTUS. Tidak. Tujuh jam berikutnya dihabiskan dengan perjalanan darat menuju Lembah Lahambay. mencemaskan hal-hal kecil. dan Ummi mereka sudah dalam perjalanan ke sana. Jadi kalian bicara sekarang. "Apa? Hallo? YASHINTA? Aku tidak tahu. putus-putus. Dalimunte menelan ludah mendengar nama Kak Laisa disebut Ikanuri. apalagi dibandingkan kau! DIA AKAN BAIKBAIK SAJA. Dalimunte? Aku sejak sejam lalu berusaha menelepon. sambil menelepon. Apa? Tentu tidak. Sementara di sini. Kami tidak berangkat dari Roma. Dengan jeda waktu bicara lama pula. Apa? Sialan. Dalimunte melipat dahinya lebih lebal. Terpaksa berangkat dari Paris. Terpaksa tiga kali ganti kendaraan. Seharusnya dua-tiga jam lagi tiba di bandara. Sepakbola sialan ini membuat semua penerbangan dari kota-kota di Italia penuh hingga dua hari ke depan. PARIS. bukan ITALIA. Ia menginap di punggung lereng Semeru. Akhirnya justru kau yang menghubungi sekarang. DALIMUNTE! APA? Oo-Juwita. Dalimunte!" Ikanuri berteriak.com "HALLO! HALLO! PROFESOR—" Ikanuri terdengar berteriak di seberang sana. akses ke sana jauh lebih mudah. "Kau kemana saja. Sama. Dia juga sudah tiga kali mengontak HP Yashinta tadi. terlihat amat cemas. "Tidak. Dalimunte. bukan SWISS—" Suara gemuruh hujan terdengar dari latar suara Ikanuri. Dalimunte—" Kedua kakak-beradik itu (satu di Italia. Swiss. Sekarang tidak lagi. Sama sekali tidak ada. Perjalanan Jakarta menuju ibukota provinsi ini hanya butuh satu jam. . Hallo? Hallo? Ya. Meningkahi berisiknya suara krsk telepon genggam. Bah. Kami akan terbang dari Paris. Satu kali lagi menumpang angkutan pedesaan terbuka menuju kota kecamatan. Hallo? Hallo? Tidak.rajaebookgratis. "Kami persis di pegunungan Alpen. Delima. DALIMUNTE!" Pembicaraan itu terdiam sejenak. Anak itu dua kali lebih atletis dibandingkan Kak Laisa. pesawat— Kau sudah di mana?" Sinyal sambungan langsung internasional itu payah. satu di sini) mengernyit berbarengan. Ya ampun. sejak perkebunan strawberry punya cabang pabrik pengalengan di kota provinsi. Tidak ada sinyal. ini benar-benar sialan semua urusan ini— Ada longsor yang menimbun jalan kereta! SWISS. Tanahnya memenuhi jalanan kereta. Juga sebaliknya. jika semua tanah sialan ini berhasil dibersihkan. Ada tebing yang longsor. Tidak ada sinyal. Dengan penerbangan besok pagi. APA? HALLO? TIDAK TAHU! Aku tidak tahu! Tentu saja ia baik-baik saja. kau dengar? Aku sejak tadi menelepon kau. Kenapa pula kau persis seperti Mamak.www. Mobil jemputan perkebunan strawberry sudah menunggu sejak tiga jam lalu. Dali. sejak kapan kau memattkan HP urusan keluarga?" "Tadi di pesawat—" "Apa? Hallo? Oo. Kau sudah dijemput di bandara?" Ikanuri entah untuk ke berapa kalinya memaki. Di sini sedang hujan deras. Terakhir naik starwagoon tua itu menuju perkampungan. Satu kali menumpang bus ke kota kabupaten. PROFESOR. Dalimunte. Kelu. Dulu itu menjadi perjalanan yang menantang.

memberikan kode jalan ke sopir. Kau tahu tidak ada yang sekolah hingga kelas enam di sini selain kau. Bukan karena gurauan Ikanuri soal penelitiannya. Dalimunte mengangguk mantap. Bukan hanya mengurus soal bulan yang terbelah. Wibisana dan Ikanuri berdua memang sejak kecil kompak sudah suka mengganggu 'penelitian-penelitiannya'. meski masih gugup... Mamak dulu juga sudah bilang itu benar dalam cerita-ceritanya lepas Shubuh. Sedikit terpesona." "Secara tepat? Bah." Tertawa. Dali?" Salah seorang pemuda bertanya. Tidak besar!" Dalimunte menjawab cepat. Putrinya sudah duduk rapi memeluk si belang. jadi naik nggak?" Intan berseru memanggil dari dalam mobil. Bertanya. Profesor. Dalimunte! Sebesar apa kincir yang harus kita buat agar bisa mengangkat air dari sungai bawah cadas? Kau harusnya tahu itu. Itu satu paket dengan gagdet canggih Yashinta. Dalimunte mengusap wajahnya sekali lagi. apa yang sering kubilang dulu? Kau seharusnya sudah menemukan alat agar kami bisa pindah kemana saja dalam sekejap.. bertanya. Dalimunte terdiam karena memikirkan sesuatu. Apa dia harus cek GPS (global positioning system) agar tahu posisi Yashinta? Tapi kalau HP satelitnya saja mati. apalagi GPS-nya. dia jauh lebih tenang sekarang. Menyembunyikan alat-alatnya. Ya Allah. Setelah lima menit menjelaskan kertas-kertasnya dengan terbata-bata. Baik. "Dengan pipa-pipa—" . "Lantas bagaimana pula kau akan memastikan air itu bisa dialirkan sejauh satu kilometer ke ladang-ladang kita?" Yang lain berseru. beranjak menghempaskan pantat di jok mobil. beberapa penduduk menyeringai. Dengan intonasi sedikit berbeda. bertambah satu lagi hal mencemaskan. "Tidak besar. Dalimunte mengangguk sekali lagi. dengan. tak perlu kau buktikan—" Ikanuri mencoba bergurau. Sopir perkebunan strawberry juga sejak dari tadi menunggu. Yashinta! Kemana pula adik bungsunya itu? Ganjil sekali HP satelitnya tidak ada sinyal. "Tapi kita akan membuat lima kincir air. aku dan Wibisana akan berusaha segera tiba di sana. lebih banyak sangsinya.. "Itu lima meter tingginya. secara tepat menurutmu itu apa. sebelum menutup sambungan internasional. memotong. itu kan sudah jelas pasti benar. Cemas. Dalimunte. membuatnya bertingkat! Tidak besar!" "Mustahil! Itu tidak mudah dilakukan—" Pemuda yang lainnya menimpali. Mengangguk. "Baik. kita bisa mengangkat air sungai itu dengan kincir-kincir itu..www. Juga ikutan merasa ganjil setelah menyebut nama Kak Laisa. Lengang. Dalimunte menghela nafas. "Abi.rajaebookgratis." Pemuda itu berseru sedikit putus-asa. Jika kau tiba tujuh jam lagi bilang Mamak. Dalimunte setelah menghela nafas untuk kesekian kalinya. memecah lengang setelah Dalimunte selesai menunjukkan gambar-gambarnya. 11 LIMA KINCIR ANGIN "MAKSUDMU. dengan disusun secara tepat. "Bagaimana kau akan memastikan kincir-kincir itu bisa bergerak bersamaan? Menyusunnya agar bisa sesuai satu sama lain? Memasangnya di cadas batu?" "Ergh.com "Kau sudah menelepon Mamak di kampung?" Ikanuri setelah ikut terdiam sebentar. Ya ampun.. "Lantas membuatnya mengairi ladang-ladang kita?" Bertanya lagi. Bahkan kincir-kincir itu bisa sekalian digunakan sebagai pembangkit listrik. Terdiam.

Tidak ada yang menjamin itu akan berhasil. penduduk kampung seolah sudah pasrah dengan takdir cadas lima meter itu. kita bisa membuatnya yang lebih bagus. Benar! Itu akan membuang-buang tenaga jika gagal! Tapi jika berhasil? Kita sudah bertahun-tahun hanya menggantungkan nasib ladang kita. aku sudah membuat dua kemarin. Berseru dengan suara lantang sekali. Menatap sekitar mencari dukungan. Mata-mata serempak memandang ingin tahu. menelan ludah. berusaha menurunkan intonasi suaranya. Dalimunte bilang lima kincir air! Bukan kincir raksasa—" "Apa bedanya? Siapa yang akan menjamin itu berhasil?" "Tidak ada. Sia-sia. Seruan-seruan semakin ramai terdengar.. hidup kita. Sama sekali tidak terlihat gugup. Berusaha menjelaskan.com "Pipa-pipa? Itu pasti mahal membuatnya. "Siapa yang akan memastikannya akan berhasil. Mata-mata sekarang memandang Kak Laisa. Kak Laisa terlihat begitu yakin dengan setiap kalimatnya. "Tidak! Tidak mahal. Dalimunte mulai ragu dengan idenya. Sepanjang pagi tadi dia hanya memikirkan hanya bilang soat idenya. Sudah saatnya kita . keburu disuruh pulang Kak Laisa. Mereka toh dulu sudah berkali-kali membuat kincir air raksasa. "Kalian tidak mendengarkan dengan baik kalau begitu. Apa susahnya membuat kincir-kincir itu. Dalimunte! Belum lagi kayu-kayu. Pasak besi. Dalimunte menoleh. Tidak ada. Dalimunte menelan ludah. Ingin tahu. Dan percuma saja. Dia tidak tahu itu." Mengeluh. Sisanya terserah Wak Burhan. Balai kampung itu ramai kembali oleh seruan-seruan. Gadis tanggung berumur enam belas tahun itu dengan berani justru 'galak' membalas tatapan penduduk lainnya yang jelas-jelas lebih tua dan lebih besar darinya. Tertunduk.. dia tidak menyangka akan ada banyak pertanyaan. Idenya akan mubazir.. "Ergh. air sungai tidak cukup kuat untuk memutarnya. Rel pemutar! Mana cukup uang kas kampung. Wak Burhan hanya diam. Tidak ada yang menanggapinya serius. hanya dengan pipa bambu—" "Bambu? Omong-kosong! Kincir air itu tidak akan cukup kuat. "Itu akan membuang-buang tenaga. tertunduk." Seruan-seruan sangsi terdengar. Dalimunte seketika terdiam. kampung kita. melangkah ke depan.. Lebih galak. dari kebaikan hujan. Lais— " Pemuda yang tadi menyahut. Membuat dengung lebah terdiam. lebih kokoh. dan tidak ada hasilnya. Gerakan tangannya terhenti. Dalimunte perlahan mengumpulkan kertas-kertas.. "Kita bisa melakukannya. "Tentu saja kincir-kincir itu bekerja!" Seseorang tiba-tiba berseru. terlalu besar. seruan ragu-ragu semacam ini. Mana sempat lihatnya. Jangan-jangan kincirnya malah roboh duluan tidak cukup kokoh dihantam arus deras sungai. Dia kenal sekali intonasi suara itu. "Tidak ada yang akan membuang-buang tenaga..rajaebookgratis. Kak Laisa! Kak Laisa sudah berdiri dari duduknya. Jogar—" Kak Laisa menukas cepat. Ternyata — "Kau sudah buat dua? Lantas apa kincirnya bekerja?" Pemuda yang lain mendesak." Kak Laisa berseru. Seketika. Jika Dalimunte bisa membuat dua dengan bambu seadanya. Babak-babak kita dulu pernah membuatnya. Sudah ada di sungai bawah cadas—" Dalimunte mencoba meningkahi keramaian setelah terdiam sebentar. Lais? Kita dulu pernah membuat kincir besar itu. cadas itu terlalu tinggi!" Salah satu orang tua memotong. Persis seperti selama ini. LIMA KINCIR AIR.www.

Yashinta yang pertama kali mengangkat tangannya. Lantas Mamak Lainuri. dan akhirnya pemuda-pemuda itu. Tiga puluh detik berlalu. tidak ada yang hendak mengacungkan tengan. Muka gadis kecil enam tahun itu menyeringai menggemaskan seperti biasa. Amat meyakinkan. Lihatlah. Itu masuk akal. Ia melakukannya berkali-kali sepanjang umurnya. Seruan-seruan terdengar lagi dibalai kampung. Dua detik. meski sekarang anggukan-anggukan kecil mulai bermunculan. Wibisana. Begitu tenang. tapi semua orang tahu. Menyikut bahu Dalimunte yang berdiri di sampingnya. Tidak pernah! Kak Laisa sama gugupnya seperti dia. "Baik. . Ikanuri. Adik-adiknya berhak atas masa depan yang lebih baik dibandingkan dirinya. Sungguh tidak. Sekarang siapa yang setuju dengan usul Dalimunte?" Kak Laisa berseru dari tengah-tengah balai kampung. Tidak ada salahnya mencoba kincir-kincir air itu. Sia-sia. Lima kincir bertingkat.com membuat irigasi sendiri untuk ladang-ladang itu. Sedetik. Tetapi Kak Laisa tidak akan pernah membiarkan adik-adiknya kecewa. Berpuluh-puluh tahun sejak kincir raksasa itu gagal dibuat tidak ada lagi yang memikirkan bagaimana caranya mengangkat air sungai dari bawah cadas. Bukan adikadiknya.www. Menatap tajam. sejak babak pergi. Dan tidak hanya hari itu Laisa melakukannya. menghentikan dengung lebah untuk kedua kalinya. hingga orang tua. Dalimunte mungkin tidak akan pernah tahu. Begitu tenang. Orang-orang menoleh. itu adalah ia. Anggukan dan seruan 'kenapa tidak' sekarang ramai keluar dari mulut penduduk. bukan?" Laisa menatap sekitar. Lebih ramai dibanding saat membicarakan perambah hutan tadi. sambil tersenyum ke arah Yashinta. "Tidak ada salahnya. Sekali lagi! Tertawa lebar dengan ide lima kincir air itu. keberanian itu muncul begitu saja. Urusan ini tidak selancar yang dibayangkannya. seruan-seruan sangsi. Dalimunte mengigit bibir. sama gentarnya bicara di tengah-tengah balai kampung itu. hidupnya amat sederhana. Menghela nafas. Lagipula Laisa akhirnya mengerti kenapa Dalimunte bolos sekolah kemarin. Hari itulah. Seruan-seruan ragu-ragu. Maka demi rasa sesal telah memukul lengan Dalimunte. Kak Laisa tertawa lebar. terus ibu-ibu kampung lainnya. Begitu yakin. Belajar langsung dari Kak Laisa yang entah bagaimana caranya menguasai benar hal tersebut. Muka-muka masih saling bersitatap satu-sama-lain. Bagi Laisa. Demi keempat adik-adiknya. Memang dia yang memulai ide lima kincir air tersebut. Jika harus ada yang kecewa dan malu. Hari itulah saat Dalimunte menyadari sesuatu. Sekali lagi.rajaebookgratis. "Siapa yang setuju dengan usul Dalimunte?" Kak Laisa bertanya tegas. karena Kak Laisa-lah ide itu akhirnya dikerjakan. Tidak akan pernah membiarkan adiknya merasa malu. Memberikan energi yang luar biasa. takut-takut (entah ia mengerti atau tidak urusan itu). Wak Burhan menyusul. meski Kak Laisa terlihat amat yakin dengan idenya. "Sampai kapan kita harus mengalah atas cadas lima meter itu! Sampai kapan?" Penduduk justru saling bersitatap. Mereka akan mencobanya. Semasuk akalnya seperti kita berharap benih di ladang tumbuh saat musim penghujan! —" Kak Laisa berkata lantang dan cepat. Ide lima kincir air itu percuma. lega. Dalimunte belajar satu hal: bagaimana bicara yang baik di hadapan orang banyak. Dalimunte menggigit bibir. Tetap lengang. Begitu yakin. ikut megangkat tangan dengan mantap.

Masinis itu malah santai menonton siaran live sepak bola JuventusManchester United dari teve mungilnya. Kereta beranjak melintasi perbatasan Swiss. Karena sebal. Kereta itu kereta express. meski kabin itu amat lega dan nyaman. Kereta ekspres itu berhenti persis di tengah hutan. petugas berseragam yang melayani penumpang kabin kereta (macam pramugari di pesawat terbang) berteriak dari pintu gerbong dengan toa. Tidak bisa tidur. Gadis itu mengernyit. Kejadian ini berkah baginya. Ikanuri dan Wibisana memutuskan turun dari kereta. "Kau sudah telepon Yashinta lagi? Tersambung?" Wibisana mengangguk. Malam ini. mana boleh berhenti sembarangan macam kereta di Indonesia. Bah! Percuma juga mereka taktis dan gesit kalau melakukannya dengan bodoh. ingin melihat langsung pekerjaan pembersihan rel. Tapi hujan yang turun semakin deras.rajaebookgratis. Segera mencari tahu. atau entahlah yang penting bisa mencegah longsoran baru. dia jelas tidak boleh menonton saat menjalankan kereta. "Kenapa pula di situasi sepenting ini HP anak itu dimatikan?" Ikanuri mendengus jengkel. tim tanggap darurat kepolisian dan pasukan militer Swiss dari kota terdekat tiba di lokasi. "Juwita dan Sekar sudah tiba di mana?" Ikanuri bertanya. menjawab mengkal seruan itu ( dengan bahasa Indonesia pula). baru saja bersih lima meter. tidak mengerti. tebing itu longsor lagi.com 12 BAGI MEREKA URUSAN INI SEDERHANA "DALIMUNTE sudah di mana?" "Sudah naik mobil jemputan perkebunan strawberry. Siapa pula yang mau hujan-hujanan di luar dengan suhu nyaris nol derajat celcius. Apalagi. siete pregati di rientrare nelle carrozze. sudah. "epiu confortevole dentro— " Gadis itu membujuk lagi. Aneh. dinding tebing itu longsor lagi setelah mereka berhasil memindahkan separuh tumpukan lumpur di atas rel. kereta hanya berpenumpang tujuh orang. Tidak peduli. Diberikan konstruksi penahan. per favore? Senior. "Sebentar Lagi—" Ikanuri yang bete sejak tadi. Dan segera pula menyumpahnyumpah (Ikanuri) saat tahu masalahnya. Masinis berbaik hati meminjami dua jaket hujan besar. Mereka terbilang taktis dan gesit. Ada sekitar dua peleton pasukan di sana." Ikanuri memasukkan telepon genggam ke saku. Saat sedang berusaha menelepon Yashinta. please?" Gadis berambut pirang. Baru dibersihkan rel keretanya. Ada apa? Ikanuri dan Wibisana beranjak keluar dari kabin. tidak tersambung. Kalau begini urusannya. mendesis sebal. Menatap putus asa puluhan petugas kepolisian dan pasukan militer yang seliweran membersihkan rel kereta. Ikanuri menoleh. Mereka baru tiga jam dari Roma. Bisa tidak sih mereka berpikir jenius seperti Dalimunte! sepuluh persen saja dari otak hebat Dalimunte. Lebih banyak. Merapatkan jaket hujan yang dikenakan. Membawa alat-alat berat untuk membersihkan tanah liat yang menumpuk sepanjang lima belas meter. masih butuh berjam-jam lagi kereta ini bergerak. Terus menggeleng. Hanya butuh setengah jam sejak longsoran itu terjadi.www. dan Dalimunte kereta tiba-tiba berhenti. Mamak Lainuri. sebaiknya kalian segera masuk kembali ke gerbong. Lihatlah. . Dinding tebing itu harusnya di tahan dulu. Di depan Sana belasan lampu sorot berkekuatan ribuan watt menerangi lokasi longsoran tebing. Penumpang yang lain sibuk tidur di kabin masing-masing. bersama Kak Cie Hui dan Intan. "Signori. membuat pekerjaan semakin sulit.

dong? Payah nih!" Delima nyengir. Kak Intan sudah sampai. Disuruh-suruh jual ke teman-teman di sekolah." Ikanuri mengeluh sekali lagi. sedikitpun merasa tidak berdosa dengan celetukannya. "Mi. Tante Yashinta sudah di mana?" "Nggak tahu. Ummi Delima memasukkan telepon genggamnya ke tas tangan.. "Terus yang Ummi tahu apaan. . Berbisik. Repot sekali Juwita dan Delima mendorong sepeda BMX mereka keluar dari lobi kedatangan bandara. Empat jam setelah Dalimunte dan keluarganya mendarat di bandara kota provinsi. asyik buat keliling kebun strawberry bareng Eyang Lainuri dan Wawak Laisa!" Karena rumah mereka berseberangan halaman. "Tidak akan terjadi apa-apa. Tidak mau kalah. sayang—" "Tante Yashinta juga pulang. Wibisana menepuk-nepuk bahu Ikanuri. Membantu memotong tali rafia.. Siapa pula yang mau dipaksa-paksa pakai gelang karet norak itu. Delima—" Ummi melotot. Mi. Harusnya iya—" "Abi kapan tibanya dari Itali. bersitatap satu sama lain. Membiarkan saja putriputri tunggal mereka membawanya. Perkebun strawberry mengirimkan jemputan kijang kapsul.com "Lima menit lalu mereka bilang sudah di bandara. Berdoalah. Orang mereka berharapnya kak Intan juga bawa sepeda. Tadi meski Ummi mereka berdua memaksa buruan. Mi?" "Ummi nggak tahu. otomatis yang lainnya juga ikutan bawa. belum?" Delima bertanya. Ikanuri—" "Semoga kita tidak datang terlambat. Yang Ummi tahu Kak Intan pasti bawa gelang 'Safe The Planet'-nya" Jasmine. istri Wibisana." Wibisana menjawab. kedua anak nakal usia enam tahun itu justru kompak memaksa membawa sepeda BMX spesialis trek gunung masing-masing. "NGGAK MAU! Juwita harus bawa sepeda! Kan. sayang. Kak Laisa akan baik-baik saja. Ikanuri. jadi dua sepeda itu terpaksa diikat diatas mobil." Hujan turun semakin deras. Ditanyain tiap hari lewat telepon dan email. Kita akan tiba tepat waktu. Tersenyum. Dua gadis kecil itu menyeringai. Wulan.www. "Eh. Itu benar-benar keluhan tertahan. giliran Jasmine. istri Ikanuri. Keretanya masih terjebak badai—" "Eh. Jadi terlihat sedikit mencolok saat dua anak perempuan berumur enam tahun itu mendorong sepedanya dari counter pengambilan bagasi bandara. maka jika yang satu membawa sepeda. "Semoga kita bukan yang terakhir tiba. Ummi Intan. idih.. "Tidak tahu. Barusan menelepon Cie Hui. menunggu jadwal penerbangan dua jam lagi. kan asyik bisa bertiga keliling kebun strawberry bareng Eyang atau Wawak. pasti Kak Intan maksamaksa lagi makai gelang itu. Delima justru sibuk bertanya. beserta anak-anak mereka. ia sibuk membantu sopir mengikat sepeda. di mobil jemputan perkebunan—" Wulan. Delima. Juwita dan Delima tiba di sana.rajaebookgratis. Badai semakin kencang. Juwita dan Delima memutuskan untuk tidak banyak berdebat lagi. kan?" "Nggak tahu. Kak Intan bawa sepeda juga. nggak?" Juwita yang bertanya ke Umminya. "Mi. "Masih di perjalanan." "Tentu tidak. Ummi Juwita tertawa kecil. Perasaan baru dua minggu lalu mereka dikirimi satu kotak. Wak Laisa emang sakitnya apaan sih. Mi?" "Nggak tahu.

Juwita dan Delima pun sejak separuh perjalanan akhirnya lebih banyak tertidur. Menyaksikan monyet yang berani bergelantungan di tepi-tepi hutan. Namun lepas satu pekan. Apa salahnya mencoba (lagi). tapi setelah lelah bergotong-royong seperti ini. Kota-kota kabupaten. Perkebunan karet.www. Melingkari bukit barisan. sok rajin belajar. Lelaki dewasa. membantu. Membuat sekitar ramai oleh teriakan (juga tangisan setelah satu sama lain bertengkar). mulai dari orang tua hingga pemuda tanggung. toh Kak Intan biasanya ngusir mereka dari kursi strategis itu. Wajah-wajah yang mengangguk-angguk mendengarkan penjelasannya. Saling memegangi jidat. Padang rumput meranggas. makan sepiring nasi yang masih mengepul terasa nikmat nian walau tanpa lauk. beserta semen dan keperluan pondasi lainnya. Maka sesiang itu. ia membantu mengangkut bebatuan dengan keranjang rotan. Persawahan. terampil melubangi ruas bambu. 13 KAU BUKAN KAKAK KAMI OMELAN MAMAK LAINURI malam itu hanya mempan seminggu. tidak banyak bicara. Bedanya. mereka belajar dari guru terbaiknya: Abi-nya yang sering kasih contoh di rumah. juga teh panas. Ikanuri dan Wibisana memang rajin sekolah. Dalimunte sibuk membentangkan kertas-kertas miliknya. memakunya dengan pasak besi. anak-anak kecil lainnya sibuk 'menonton' di pinggir sungai sambil bermain-main. Semak-belukar. penduduk kampung bergotong-royong membuat lima kincir air di pinggir cadas sungai. Kota-kota kecamatan. bakal pondasi kincir. Anak-anak kecil lainnya juga sibuk mengumpulkan pasir. Juwita dan Delima tertidur dengan wajah polos. Pohon bambu. padahal percuma juga mereka rebutan sekarang. Perkebunan kelapa sawit. tidak banyak bertingkah. Semua bekerja. Lelah bertengkar di atas mobil. tabiat lama mereka kembali lagi. Sungai-sungai yang meliuk. Asyik benar duduk di atas bebatuan sambil menyantap makan siang. Apalagi mereka mengerjakan kincir air itu langsung di pinggir sungai bawah cadas. Yang sedikit besaran. Hutan-hutan lebat. Beserta pula makan siang. Sebenarnya ganjil sekali melihatnya. Itu semua sebenarnya pemandangan yang menarik. Naik turun lembah. lihatlah. mobil kedua melesat menuju perkampungan Lembah Lahambay. Pedesaan. ngeles. setengah hari menghabiskan waktu di hutan. Jika pun tidak ikut bekerja. Ahad ini seluruh penduduk kampung 30-40 atap rumah itu berkumpul di pinggir sungai. lancar ngajinya. Lah. Lebih parah malah. patuh dengan Kak Laisa selama seminggu terakhir. . membelinya di kota kecamatan. Satu-dua babi liar yang nekad menyeberangi jalan aspal. Bagi mereka. menebang belasan batang bambu besar-besar.rajaebookgratis. sibuk menjelaskan bagan konstruksi yang telah dibuatnya. Dua gadis kecil itu benar-benar menyerupai Ikanuri dan Wibisana waktu kecil. hanya dengan sayur terong dan sambal terasi. shalat di surau. Membuat 'pipapipa'.com Imbalannya lengan Delima dicubit. Setengah jam berlalu. Jika sudah sampai sejauh ini. mereka lebih jago bicaranya. Meringis. Melewati hampir tiga ratus kilo perjalanan. seperti kesepakatan pekan lalu. Tak terkecuali Yashinta. maka tak ada lagi yang sibuk bertanya apa semuanya akan berhasil. Setengah hari lagi dihabiskan untuk memotong-motong. sayang tidak untuk situasi saat ini. tubuh kecil Dalimunte terselip di antara belasan lelaki dewasa lainnya. Bertengkar soal siapa yang akan duduk di tengah-tengah Eyang dan Wawak Laisa pas makan malam. Melaksanakan ide Dalimunte. Wak Burhan dua hari lalu juga memutuskan menggunakan uang kas warga kampung. Meski seadanya. Sementara ibu-ibu dan gadis tanggung membantu meyiapkan kue-kue kecil macam serabi. Terlatih. setidaknya tak kurang satu jengkal diameternya. mengikatnya dengan tali rotan. urusan ini sederhana. Ahad berikutnya. putri salju.

duduk membuat kelompokkelompok di atas bebatuan. hanya bertanya apa kedua anak itu sakit? Pulang? Tidak enak badan? Mamak hanya tersenyum tipis.rajaebookgratis. Di dekat cadas Yashinta sedang tertawa bersama teman sepantarannya. "Tidak ada. "Ee. uap mengepul dari dandang besar penanak nasi. Bikin malu keluarga saja!" Mamak Lainuri mendesis sebal. segera bergegas meletakkan ceret air yang digunakannya untuk mengisi gelas-gelas. juga yang lain. "Jangan-jangan mereka ikut starwagoon ke kota lagi. Menyesal kemungkinan soal starwagoon itu. dan mereka berdua entah kabur kemana. Muka Mamak yang sedang membawa piring-piring plastik kentara sekali jengkel. kau lihat Ikanuri dan Wibisana?" Mamak bertanya pelan. bergotong-royong. Di sisi lain. mengambil belasan bambu berikutnya. Lais" "Ee.. semua penduduk kampung berkumpul di sini. Percuma. Kemungkinan itu benar-benar membuat Mamak marah. Tidak pernah ada di keluarga kita yang berpangku tangan saat orang lain sibuk bekerja—" Mamak mengomel tertahan. Lantas beranjak menyeberangi sungai. Memperbaiki bebat kain di kepala. "Nanti. Dalimunte tersenyum senang. jumlah potongan bambu yang dibutuhkan. Laisa menelan ludah. Mengangguk dalam hati. Menatap sekitar. Dan jelas Laisa keliru kalau membayangkan urusan kali ini sesederhana itu. Lepas dzuhur kalau tidak kelihatan juga ekornya. apalagi dengan Dalimunte. tadi salah satu tetangga sebelah rumah sempat bertanya di mana Ikanuri dan Wibisana. kincir bambu itu terlihat kokoh. Juga tidak ada di antara anak-anak lainnya. Meski begitu.www. . "Ee. bebatan batang rotan. Bila perlu seret saja dua sigung bebal itu kemari—" Mamak menahan marah. Mak?" Laisa menoleh. Beberapa lelaki dewasa terpaksa masuk lagi ke hutan. Tidak ada Ikanuri dan Wibisana. Mak!" Muka Mamak mendadak memerah. atau hanya pulang sebentar ke rumah disuruh Dali ambil sesuatu—" Laisa menelan ludah. Apa tidak kapok juga keduanya setelah diomelin minggu lalu. Dengan pasak besi.. melepas gagang pelepah nyiur. mengangguk. Mana mau mereka disuruh-suruh begitu. Melepas kain celemek butut. kau cari mereka. Berkeliling. Mencoba membuat Mamak lebih nyaman. "Kau cari sekarang. Shalat dzhuhur. Tidak ada. "Apa perlu Lais cari. Istirahat hingga satu jam ke depan.. Mak?" Mamak Lainuri berpikir cepat. Bagi Mamak urusan ini sensitif sekali. Disandarkan di dinding cadas sungai. Lihatlah. Sementara penduduk kampung berkumpul di pinggir sungai. basah kuyup. tempat yang pertama kali harus diperiksa adalah rumah. bukannya tadi ada di sana.. Pertanyaan itu tidak serius. Lais. Laisa tidak perlu diperintah dua kali. Kalimat itu keliru. menunjuk kelompok anak lelaki tanggung yang asyik membuat pipa-pipa. Sebal. kalau dengan Laisa saja mereka berdua enggan menurut. Siapa tahu mereka berdua sedang tidur mendengkur di bale bambu. Bagaimana pula ia tak marah. Menjelang dzuhur. tadi ada di sana.com "Lais. Dalimunte masih sibuk menunjuknunjuk kincir air yang mulai berbentuk. Dasar tak tahu malu. menyeka dahinya. Kemana pula Ikanuri dan Wibisana sekarang. dua kincir air selesai. "Mak. Mak. Sejauh ini rancangan Dalimunte hanya keliru satu hal. Beberapa selepas makan beranjak ke surau. ada satu yang terpeleset di air saat membawa keranjang pasir. Ia sama sekali tidak punya ide di mana Ikanuri dan Wibisana berada." "Benar-benar sigung bebal! Kemana pula mereka pergi ketika semua sedang sibuk bekerja. Wak Burhan menyuruh mereka makan siang. Ikanuri dan Wibisana belum kelihatan juga—" Laisa berbisik ke Mamak.

Baiklah. penduduk kampung sudah sejak tadi meneruskan pekerjaan. Angin tidak akan membuat cabangnya bergoyang sedemikian rupa. Angin lembah bertiup lembut. Tidak ada juga di jembatan gantung desa satunya lagi. Laisa tidak menemukan Ikanuri dan Wibisana saat tiba di rumah sepuluh menit kemudian. Tinggal sepelemparan batu. Tidak lazim. Tidak tinggi benar. Maka tubuh gemuk dan gempal Laisa beranjak menuruni anak tangga rumah panggung. Mereka tidak ada di Curug Cuak (air terjun). menimpa Wibisana yang sudah turun duluan. Jika sudah dua-tiga kali mereka menanam padi. Laisa mendekat. di kejauhan lembah. Matahari siang. Harapan satu-satunya. Setengah jam lagi berlalu. celanaku tersangkut—" GEDEBUK! Ikanuri yang bergegas turun dari pohon mangga malah terjatuh. tanpa sengaja sudut matanya yang terlatih menangkap gerakan dedaunan pohon mangga kebun Wak Burhan. saat Laisa mulai putus asa.rajaebookgratis. Meneruskan langkah kaki. Batang padi merekah oleh bilur-bilur buahnya yang montok. Starwagoon tua itu juga terparkir rapi di halaman rumah pemiliknya. Saat itulah. Jangan-jangan dua sigung itu sudah kembali ke pinggir sungai? Laisa mendesis jengkel. karena mereka sudah tiba di dahan terendah. Mungkin mereka bermain-main di desa atas. Menyelidik. Sudah pukul tiga. biasanya diganti dengan kopi atau lada. Menatap tajam pohon mangga yang sedang ranumranumnya berbuah. hanya satu meter. Baik. "IKANURI! WIBISANA!" . Laisa menghela nafas sedikit lega. Apa saja yang hasilnya bisa dijual di kota kecamatan. Mamak menyuruhnya mencari. Matahari sudah tergelincir dari puncaknya.www. "Cepat. Tidak ada di tempat biasa mereka mancing. Sebulan lagi mereka panen bersama. "Sebentar. Tidak ada. itu membantu banyak di tengah terik matahari awal musim kemarau. Daunnya yang rimbun seperti dipenuhi benjol-benjol buah yang besarbesar. Laisa mendengus sebal. dua anak nakal itu sudah kembali ke pinggir sungai setelah berpuas diri bermain. satu kilo berjalan. ia akan kembali ke sana sambil menyelusuri jalan yang berbeda dari berangkatnya tadi. Dahan pohon itu bergoyang-goyang lagi. Percuma. Laisa menelan ludah. Laisa melangkah semakin cepat. sungai dengan cadas lima meter itu bagai "tembok besar" membuat kampung mereka seolah terpisah dari hutan rimba. Satu jam berlalu. Dan tidak ada uwa atau monyet yang sampai di sini. Memutuskan untuk memeriksa tempat kedua anak itu suka bermain-main. Laisa dan penduduk kampung terlatih sekali membaca jam dari gerakan matahari dan bayangan pepohonan." "Sebentar. Ikanuri dan Wibisana tidak ada di pondok rumbia ladang mereka. Atau diseling dengan jagung dan sejenisnya.com Tidak ada. Ikanuri dan Wibisana tidak ada di desa atas. sia-sia. Wak Burhan mengumandangkan adzan. akhirnya ia bisa melihat bayangan yang membuat pohon itu bergerak.. Penduduk kampung lembah itu umumnya berladang. Siapa tahu dua anak itu tiduran di pondok rumbia ladang padi mereka. Tapi itu membuat pelarian mereka gagal total. tinggal lima belas meter. Ikanuri yang sibuk mengaduh selama lima detik.. Dari surau. "Kak Laisa! Ada Kak Laisa! Cepat turun. Ikanuri—" Berbisik tertahan. Di pinggir sungai. Laisa menyeka keringat yang mengucur semakin deras. Kebun penduduk terlihat menguning. Laisa menyeka keringat di leher. terik membakar lembah." Suara itu ikut tertahan. Tidak ada. kehilangan keseimbang saat buru-buru. Melewari kebun-kebun penduduk. memberikan waktu yang cukup bagi Laisa untuk mengenali siapa. Itu artinya cari sampai dapat. Tidak ada kata kembali ke pinggir sungai itu tanpa Ikanuri dan Wibisana.

www. Kita lagi menghitung jumlah buahnya. Berusaha menyembunyikan bukti kejahatan "APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?" "Ergh. Wibi?—" Ikanuri menjawab cepat. aku tidak melihat apa-apa. "Eee. seadanya bin ngarang. Kalian ikut denganku ke pinggir sungai." Kak Laisa menelan ludah. Laisa semakin dekat. kalian justru di sini. tapi dia tetap tidak beranjak berdiri. khas Ikanuri. Ikanuri meringis. .rajaebookgratis. Kalau Mama tahu.. Tertahan. "Katakan apa ini? Apa yang kau lihat?" Kak Laisa menunjuk dua-tiga buah mangga hampir ranum yang tergeletak di ujung kaki mereka.. Menatap jerih Kak Laisa yang mendekat. "Kalau Mamak tahu kalian mencuri lagi. Tidak sakit. PULANG!" Tusukan ujung dahan itu semakin kencang. bener Kak. Tidak pernah! Mau jadi apa kalian. Ada berapa gitu—" "DIAM!!" "Err. "PULANG KATAKU! SEKARANG!!" "TIDAK MAU!" Ikanuri entah apa yang sedang ada di kepalanya.com Persis seperti radio yang tiba-tiba disetel kencang-kencang. tiba-tiba berteriak tidak kalah kencangnya. "Ya. benar begitu kan. Mereka beringsut mundur. tangannya cepat mematahkan salah satu ujung dahan semak belukar. Memberikan perintah. kalian pasti dihukum tidak boleh masuk rumah malam ini. "Berani sekali kalian mencurinya. Laisa berseru galak. Terjatuh dari saku celana. TIDAK ADA. menatap galak. Memangnya ada apaan—" Kak Laisa benar-benar jengkel." Kak Laisa berseru marah. Ikanuri dan Wibisana bungkam. "AYO. sekarang—" Laisa melotot. Wibisana tidak kalah begonya ikut mengangguk. hah? MAU JADI APA??" Kak Laisa mendesis. hanya berpura-pura saja. gerakan Ikanuri dan Wibisana tertahan pohon mangga di belakangnya. Dia sudah kebal dipukul Kak Laisa. Apa yang akan dibilang Wak Burhan kalau dia tahu! APA COBA!?" Diam. "Kalian tidak pernah jera. dengan wajah sama sekali merasa tidak berdosa. ya kan Wibi?" "Ya. berusaha mengendalikan diri. Menepis kasar ujung dahan di dadanya. kita sedang memeriksa pohon mangga Wak Burhan. "Pulang. semakin dekat. Melawan. BERANI SEKALI Tidak ada di keluarga kita yang menjadi pencuri meski hidup kita susah.. Mereka berdua terdiam. "Apa yang kalian lakukan sepanjang siang? Main-main di Curug Cuak? Lantas pulang mencuri mangga Wak Burhan Tidak tahu malu. ya. Ikanuri dan Wibisana tersedak. Kalau Mamak tahu Ikanuri dan Wibisana ternyata justru sedang mencuri saat orang lain sibuk bekerja? Itu benar-benar akan jadi marah besar. Menusuk nusukkan ujung dahan itu ke dada Ikanuri. kami tidak melihat apa-apa. Ikanuri dan Wibisana tetap bungkam seribu bahasa. Berlari mendekat. Ada seratus sembilan puluh—" "DIAM!! Kalian benar-benar tak tahu malu! Semua orang bekerja di cadas sungai. Ikanuri meringis. Ikanuri dan Wibisana tahu persis apa yang akan terjadi. Ujung dahan di tangan Laisa sudah terarah sempurna ke dada mereka berdua. Kak. ee. MENCURI MANGGA!" Kak Laisa semakin galak.

Menatap punggung adik-adiknya yang menghilang dari balik semak belukar. Menahan tangis. karena toh selama ini Ikanuri selalu berani melawan. Ya Allah.Gadis tanggung berumur enam belas tahun itu mendekap wajahnya. "Kami tidak mau pulang. Laisa meremas pahanya kencang-kencang. disusul oleh Wibisana (yang tertunduk dalam-dalam. "Hentikan Ikanuri. Beranjak berdiri. hitam pekat. Sempurna jatuh terduduk. Hentikan. Kau pendek! Pendek! Pendek!" Kali ini kalimat Ikanuri benar-benar bak roket yang ditembakkan tiga kali di lubang yang sama.www. Berkali-kali. KAU BUKAN KAKAK KAMI. tidak seperti Dalimunte dan Yashinta. "A-pa. Tangannya yang mencengkeram ranting bergetar. suaranya seperti dibatukan udara. Ikanuri. Seekor elang melenguh di atas sana. hah?" Ikanuri tanpa rasa iba bertanya bengis. Kau tidak seperti kami. lurus. Lantas beranjak melangkah dari bawah pohon mangga dengan seringai penuh kemenangan. Lebih kencang. Wajah anak berumur sepuluh tahun itu mengeras. apa yang . Mendesing menjauh mendengar keributan. "Kenapa? Kenapa kau diam? Kau marah kami mengatakan itu. Bukan karena Ikanuri melawannya. Aku mohon — " "Jelek! Jelek! Pendek! Pendek!" Ikanuri tertawa lepas. Membuat lubang besar itu menganga lebar-lebar.." Laisa berkata dengan suara bergetar. apa yang barusan dikatakan adiknya. malah.com "APA KAU BILANG? AYO. Ia tak kuasa lagi menahan sedih di hati.. A-pa yang kau katakan?" "Kau bukan Kakak kami! Kenapa pula kami harus nurut" Ikanuri mengatakannya sekali lagi. sedikit merasa ganjil dengan teriakan kasar Ikanuri). jangan pernah! Itu akan membuat mereka kehilangan teladan." Laisa berseru. Laisa terperangah. Rambut kau gimbal. Sesak. Kalimat itu benar-benar membungkam waktu. Laisa sempurna membeku. aku mohon. kenapa pula kami harus menurut!" Ikanuri mendesis tak kalah galak. Berdebum. Meningkahi isak tertahan. Kau bukan Kakak kami. Apa ia sungguh tak salah dengar? Laisa gemetar. Nafasnya sesak seketika..rajaebookgratis. Tapi karena itu benar! Ya Allah. Seekor jangkrik di batang pohon mangga berderik. Selaksa senyap di bawah pohon mangga.. Lebih lantang. Ya Allah. tidak seperti kami.. dan kalian akan dihukum tidak boleh masuk rumah selama seminggu. Dua ekor burung pipit terbang rendah di bawah pohon mangga itu. Laisa menelan ludah. yang putih. Melawan semakin berani.. jangan pernah buat aku menangis di depan adik-adikku. Laisa sudah jatuh terduduk.Matanyat iba-tiba berair. Kau bukan Kakak kami. Tidak seperti kami. Tidak mau. terbata. "Kami tidak akan lagi menurut.. Bukan! Bukan! BUKAN!" Ikanuri berseru amat puas. Berusaha mengalihkan rasa sakit di hati ke rasa sakit di tubuhnya. Pelan. atau kau kuadukan pada Mamak. jangan pernah. "LIHAT! Kulit kau hitam. "Kau jelek! Jelek! JELEK!" "Hentikan Ikanuri—" "Pendek! Pendek!" "Hentikan. terlepas. PULANG!" "TIDAK MAU!" Ikanuri melotot. "Kau bukan kakak kami!" "Hentikan Ikanuri.. Terdiam.

Wajah Kak Laisa yang menangis saat itu.rajaebookgratis. Kesibukan di pinggir sungai itu memang berhenti ketika mereka beramai-ramai beranjak pulang. Tapi Ikanuri tidak tidur. Meski pondasinya sudah siap. Hanya tangis tertahan yang terdengar.. Benar-benar celaka. Berganti pakaian. sejak dinding seadanya dipasang. adik-adiknya yang bebal. Pondasinya dibiarkan dulu kering. wajah Kak Laisa sekarang seperti mengukir sempurna di bayangan jendela kereta. Masinisnya berusaha membayar dua jam waktu yang terbuang di pegunungan Alpen. Ya Allah. Semua pengorbanan itu.. jadi nyaman tidur di kursi panjang berhadapannya. Belum terpasang. Ikanuri tersedan. mereka memberikan saran konstruksi darurat untuk menahan laju longsoran berikutnya. Tapi benar-benar hingga malam hari. Indah. Lembah mulai remang. Lihatlah. beberapa insinyur dari dewan terdekat akhirnya tiba di lokasi dengan helikopter. Kesibukan penduduk Lembah Lahambay hari itu ternyata tidak berhenti saat senja tiba. Cukup untuk ahad ini. Ikanuri tersungkur. Perancis. Sepuluh menit lagi Eurostar akan tiba di perbatasan tanah bekas kekuasaan Kaisar Louis. Wibisana memutuskan tidur.30 dini hari di sini. Tertahan. Wajah Kak Laisa yang seperti tak percaya mendengar dia mengatakan kalimat-kalimat menusuk itu. Wak Burhan. Semua. Wibisana menggeliat. Lubang-lubang pondasi sudah dituangi cor semen. Hujan sejak lima belas menit lalu juga sudah berhenti. para orang tua. Hanya sesekali cahaya lampu yang berasal dari rumah pedesaan kecil pedalaman Swiss terlihat. Kereta ekspress Eurostar melesat membelah perbatasan Swiss-Perancis. Tergugu. Menjelang maghrib setelah dipotong istirahat shalat ashar. Di luar terlihat gelap. Lazimnya diisi berempat. . Ikanuri terisak pelan. Satu jam berlalu. kereta ekspress itu bisa kembali melesat menuju Paris. Kunang-kunang— Ya Allah. menyeringai lega melihat pekerjaan mereka. Tetapi kesibukan lainnya mendadak menyusul.. jadwal gotong-royong berikutnya. dia jahat sekali. Dia benar-benar tidak tahan lagi Menangis terisak. Senyap. Pohon cemara tinggi-tinggi sudah tertinggal di belakang. merubah posisi tidurnya. Lebih ramai dari sebelum-sebelumnya. Ia bukan Kakak mereka.. karena mereka hanya berdua.. Siap menjemput malam. Jahat! Dua puluh lima tahun silam. Menatap kosong keluar melewati jendela kereta. ia justru sedang sibuk menyeka ujungujung matanya. wajahnya yang selalu melindungi mereka. Mandi. Mengembalikan semua kenangan. lima kincir itu baru akan dipasang minggu depan. Jalan kereta yang meliuk melangkahi pegunungan sudah lama digantikan oleh hamparan tanah luas. Membiarkan Ikanuri yang sejak kereta berjalan lagi tadi tetap terjaga. jika ada yang bertanya siapa yang paling penting dalam hidupnya. Setelah untuk ketiga kalinya tebing itu longsor lagi saat dibersihkan. Lelah. Hamparan padang rumput. ia tidak bisa tidur sejak kereta jalan lagi. Kejadian itu tidak akan pernah terlupakan. Juga hanya tangis tertahan yang terdengar di sini. Perkebunan anggur. Pukul 03.com dikatakan adiknya benar sekali. Menjejak batangan baja relnya. beristirahat. Kabin itu luas. 24 jam. Seperti kerlip kunang-kunang dari kejauhan. 14 PENGUASA GUNUNG KENDENG CELAKA. Maximum speed. lima kincir air itu sudah berderet rapi di dinding cadas sungai. Seperempat abad lalu. Wak Burhan menghentikan gotong-royong. Seluruh penduduk lembah itu juga tahu.www. pemuda dewasa. Ia bukan kakak mereka. Ia bukan siapa-siapa bagi mereka. Tidak akan.. Senyap. Wajahnya yang tersenyum. Kecepatan super tinggi. Jika ada yang bertanya: Siapa? Maka itu sungguh adalah Kak Laisa.

Semua orang juga tahu. cemas. memotong kalimat Mamak. Pukul 19. dan justru lari menghindar saat disuruh pulang. "Belum pulang bagaimana. Menatap siluet hutan rimba dengan nafas bergetar. Mamak hendak melapor. "Sejak kapan?" Wak Burhan menyemburkan sirihnya. SEKARANG!" Wak Burhan menyemburkan ludah sirinya. Kemana pula dua anak nakalnya pergi? Adzan isya. kampung mereka berada di dekat hutan rimba. suruh kumpul di balai. Ikanuri dan Wibisana ternyata tidak pulang-pulang. Wak—" "Sekarang sudah hampir setengah sembilan. Menyeka luruh sisa-sisa tangis. "Apa yang harus kulakukan. tadi siang mereka bermain-main di ladang—" Laisa menjawab patah-patah. Di seberang cadas sungai. tegang. "Belum. jingga membungkus lembah. Cemas." Mamak menelan ludah. Pukul 20. Tidak ingin orang tahu kalau Ikanuri mengatakan kalimat kasar itu. Bang?" Wak Burhan bergumam. Melangkah cepat ke rumah Wak Burhan. "Ee. Tetapi keliru. wajahnya mengeras. malam-malam begini ada sejuta mara bahaya mengintai. Lainuri?" "Belum pulang. Ini benar-benar mencemaskan. dawai kecemasannya sudah berdenting terlalu tinggi. Pemuda dewasa saja berpikir dua kali kalau harus mencari kumbang . Tegang sekali. Serius sekali.com Laisa setelah hampir setengah jam menangis di bawah pohon mangga beranjak kembali ke pinggir sungai. berjanji dalam hati akan menghukum dua sigung itu nanti malam. Mamak Lainuri menatap cemas dari bingkai jendela depan yang masih terbuka. Kak Laisa. Sementara Yashinta sejak tadi hanya dudukduduk saja di pinggir sungai selepas asyik mengejar capung air bersama teman-temannya. Bang! Ikanuri dan Wibisana belum pulang ke rumah!" Mamak mengusap wajahnya. Lepas shalat isya. Berhitung dengan cepat. Mamak mengomel. ikut denganku ke balai pertemuan!" Ini serius. Mamak Lainuri akhirnya menyererah. Dan sedikit pun tidak kelihatan tanda-tanda batang hidung Ikanuri dan Wibisana. Juga saat mereka sudah bersiap-siap shalat berjamaah. di hutan rimba sana. Dua anaknya belum pulang. "Dan kau Lainuri. Lainuri. Seperti membaca mantra sajalah. Mereka bermain-main di ladang. "Ya Allah. yang meski hatinya masih bagai buah tersayat-sayat sejak kejadian tadi sore ikut ke rumah Wak Burhan. BUNYIKAN BEDUK DI SURAU! Panggil seluruh pemuda kampung. "Sejak tadi siang—" "Ada yang tahu tadi siang anak itu kemana?" Wak Burhan menyambar obor di depan pintunya." Wak Burhan menyimak gerakan bulan malam ketiga belas di atas sana. Ia menyambar obor di depan pintu. Lembah sempurna gelap. Dua sigung itu tetap tidak kelihatan batang hidungnya. saat orang-orang pulang dari surau. Berusaha senormal mungkin saat bilang ke Mamak kalau Ikanuri dan Wibisana tidak mau nurut. "LAIS. Lantas berseru cepat. denting kecemasan itu mulai tumbuh. Laisa yang berpikir Ikanuri dan Wibisana setelah pergi meninggalkan dirinya akan kembali ke rumah itu keliru. Lepas maghrib. amat tegang. Sejengkel apapun ia dengan Ikanuri dan Wibisana. Ia tidak ingin menceritakan pertengkaran itu. Senja mulai turun. Serba salah.00. "Dan belum pulang?" Wak Burhan memotong lagi.www. tadi siang. Mamak semakin cemas. Juga Mamak yang sudah berencana membuat aturan main baru di rumah saat mengomel nanti malam. Keliru.rajaebookgratis. Meneruskan pekerjaan memberesi peralatan masak.30.

"Dua orang mencari ke desa atas. Mata yang tajam. Golok. Tegang. Hanya dalam waktu lima belas detik. ke desa atas.. Rahang kokoh. Wajahnya pucat oleh perasaan gentar.. yang lain ikut aku.com masuk jauh-jauh ke dalam sana. Mamak Lainuri sudah sejak tadi hanya terduduk di kursi bambu. semua kembali ke sini. Kerlip cahaya obor membasuh wajah tuanya. Mereka berkumpul di balai kampung. Ke kanan. Masih tegap sekali. Kentongan bambu telah di pukul ramai-ramai. Pencarian hingga dinihari. "Kak. Cahaya obor rombongan pencari yang bergerak terlihat mulai menjauh. Semoga adik-adiknya tidak kenapa-napa. Sekejap. Semoga mereka. Tidak ada yang ingin meninggalkan anak-anaknya di rumah setelah mengerti maksud bunyi kentongan tadi. Wak Burhan yang waktu itu lebih muda. Bahkan ia masih terlalu kecil untuk ingat banyak kejadian. "Satu jam dari sekarang. Mereka biasanya hanya merambah dekat-dekat dengan cadas sungai. Mamak semaput. Pencarian itu dimulai. Beduk masjid melenguh kencang. ikut merasakan ketegangan yang segera meninggi. Yashinta memeluk lutut. Kakinya yang berlari terasa berat sekali. Di atas kursi-kursi bambu Saling bersitatap ketakutan. Kita harus melakukannya—" Kepala-kepala mengangguk. Wak Burhan berdiri di tengah-tengah balai kampung. Membawa obor. Balai kampung ramai kembali. Ya Allah. Seruan-seruan kecil setuju. Masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang sedang terjadi.www. gentar. Semoga mereka hanya bermain di desa atas. Bertalu-talu. Membawa golok. Jika Ikanuri dan Wibisana tidak ditemukan juga.. Tubuh tercabik-cabik bersimbah darah. balai kampung tetap ramai. Benar-benar rusuh.. Ada yang menaiki lembah. Dan hasilnya? Mamak Lainuri jatuh pingsan lagi. Dua orang mencari ke desa seberang. seluruh rombongan akan dipecah dua. Seluruh penduduk membawa anggota keluarganya ke sini. Umur Wak Burhan sudah berbilang tujuh puluh." Wak Burhan membagi kelompok-kelompok dengan cepat. Seperti tergambar jelas di depannya. Meski nyaris separuh penduduk kampung mencari Ikanuri dan Wibisana. Ke kiri. Wajah-wajah cemas.. Dalam situasi serius seperti ini. kita harus menyusuri hutan rimba. Dalimunte yang terlalu kecil untuk ikut rombongan pencari duduk tertunduk di dekatnya. tapi dia masih gagah. Ketakutan. kedut wajahnya terlihat amat mengesankan. Kumis melintang. Semua penduduk kampung keluar. Mereka mengenali ramai bunyi kentongan itu. . Terakhir terdengar dipukul delapan tahun silam.. Disingkirkan jauh-jauh. memutuskan untuk tidak mau pulang. Laisa menggigil. Kau dan temantemanmu ke Curug Cuak.. Bangkai korban sang siluman memenuhi pelupuk matanya. Orang-orang yang membawa obor. Dua anak kecil? Laisa tidak perlu diteriaki dua kali. Kerlapkerlip. Sahut-menyahut. Dipegangi oleh ibu-ibu lainnya.rajaebookgratis. Hilang sudah lelah tadi siang. langsung berlari menuruni anak tangga. Membawa tombak. Apa saja senjata yang bisa dibawa. Laisa berusaha menyeka keringat di wajah Mamak. Ya Allah... Tombak. Menyeberangi ladang-ladang. ia seperti bisa melihat kejadian delapan tahun silam. Itupun harus berombongan. Mereka bermalam di balai kampung bersama-sama. Dengan tangan gemetar. juga dengan cepat memberikan perintah. Atau entah pergi ke manalah. Ya Allah! Wajah robek tak berbentuk.. kenangan masa lalu itu serentak menyergapnya. saat bulan berada persis di atas gunung Kendeng. Makanya penduduk kampung amat segan padanya. apa Ikanuri dan Wibisana baik-baik saja?" Laisa mengangguk pelan ke arah Dalimunte.

Ia sungguh cemas. Mereka pasti enggan pulang gara-gara dibilang akan dihukum tidak boleh masuk rumah. Kalimat Wak Burhan. tidak jauh. Tetap dalam rombongan. Waktu itu umurnya baru delapan. itulah nama seram menakutkan harimau Gunung Kendeng.rajaebookgratis. Lantas dua rombongan bergerak meninggalkan bangunan. Uhu burung hantu. harus tidur di bale bambu. Meringkuk di atas kursi bambu balai kampung. Hening. Apakah ia harus menceritakan pertengkarannya ke Mamak? Tidak. ." Balai kampung itu terdiam.. Malam beranjak matang. Yashinta masih di kandungan. Sebelum itu. Tapi kalau terjadi kenapa-napa dengan Ikanuri dan Wibisana? Ya Allah. Satu jam berlalu. Tapi entah apa pasalnya.. Gelisah melihat sekitar.. semoga tidak. Lembah itu mulai hening. Tegang. babak mereka pergi — Malam itu yang mereka tahu Babak hanya bilang hendak mencari kumbang bersama dua temannya ke hutan rimba seberang cadas. jangan ada satupun yang terpisah—" Wak Burhan berkata dengan intonasi suara tegas tanpa kompromi.. Rombongan pencari satu per satu kembali. Dua temannya panik. Babak mereka dibawa pulang dari hutan persis saat semburat jingga pagi tiba. Itu tidak perlu. delapan tahun silam. Ikanuri dan Wibisana dua tahun. Dari tadi ia tidak bisa memejamkan mata.. Kelompak lelaki dewasa yang sudah terbagi menjadi dua rombongan tersebut.. Tak kuasa mengangguk. rombongan mereka terpisah." Mamak Lainuri yang sudah siuman mengeluh tertahan. Babak diterkam penguasa rimba. Semoga mereka hanya bermalam di desa atas. cari sampai dapat. Ini pasti gara-gara ia tadi siang mengancam adik-adiknya. Periksa seluruh semak belukar. Gemerlap bintang di atas entah kenapa pelan mulai diselimuti gumpalan awan hitam. Setelah hutan rimba.com Laisa menggigit bibir. Muka yang robek tak berbentuk. Dalimunte empat. Suara jangkrik berderik pelan mereda... Kali ini Laisa hanya diam membeku. Nama itu akhirnya tersebutkan sudah. mengangguk "Saat pijar matahari pagi terlihat di kejauhan. Sang siluman mungkin masih mencari korban berikutnya. kalimat terakhir Wak Burhan bukan lagi perintah mencari orang yang masih hidup. Pastikan kalian mengenali bercak darah. Tubuh yang tercabik-cabik itu dibawa pulang.. sang siluman. Mengusap wajahnya berkali-kali. Seruan-seruan terhenti. Rombongan membawa obor itu menghilang di tengah gelapnya hutan rimba seberang cadas lima belas menit kemudian. Sang Siluman. Setelah pencarian enam jam tanpa henti. dan jelas tidak bisa dilakukannya. Hasilnya kosong— Maka benar-benar tegang sudah balai kampung itu.. jangan sampai ada yang terpisah dari rombongan. Masuk ke dalam hutan rimba. Ya Allah… Ini semua salahnya. Tidak ada yang mengerti. Ia menyaksikan sendiri dengan mata-kepalanya. Hari itu. "Hati-hati. Laisa sudah menggigil ketakutan. "Kak. Menelan ludah. Bercak darah…. Mencekam.. Sementara Yashinta di sebelahnya sudah jatuh tertidur. melemah. Melapor. Delapan tahun.. Wak Burhan memberikan instruksi dua-tiga kalimat lagi. segera melapor. "Hati-hati. Menyisakan ketegangan yang meninggi. bagaimana mungkin mayat Babak justru ditemukan jauh sekali dari cadas sungai. Sudah pukul 22. Seperti menambah tinggi tingkat kecemasan. Pulang. jangan sampai ada yang tertinggal.www.. saat merah terlihat menyemburat membungkus lembah. Bukankah Babak seperti penduduk lainnya amat hafal dengan hutan itu? Bagaimana mungkin babak malah tersasar jauh ke sana? Seruan-seruan ganjil terdengar. Cemas. apa Ikanuri dan Wibisana baik-baik saja?" Dalimunte bertanya mencicit.00. kita berkumpul lagi di sini. Suara uwa menghilang. Sudah tak bernafas. bawah rumah.

demi adik-adik mereka. membawa tombak panjang peninggalan Babak. karena istrinya sudah kapan tahun meninggal..rajaebookgratis. Dan entah mengapa akhirnya kesadaran itu ditanamkan di kepalanya. entah apakah dua sigung nakal itu menyadarinya atau tidak. besoknya ditemukan sudah dengan tubuh tercabik-cabik. Tapi. Orang dewasa di kampung itu mengerti benar. Kerlapkerlip. hanyut di sungai deras dengan wajah berbilur cakaran.com Semua orang tahu tentang pemikat sang siluman. Diikuti langkah Dalimunte. Tak apalah. Salah satu penduduk kampung yang tidak pulang-pulang hingga malam hari. "Aku ikut—" "TIDAK!! Kau tetap di sini. Lantas mengangguk. Laisa mendadak ingat sesuatu. Bergegas. Ya Allah.. Yang membuat Wak Burhan tinggal sendirian hingga hari ini. Lihatlah wajah Kak Lais. Hanya delapan kilo jika melewati gunung itu. Dulu. Menggigit bibir. kalau Ikamuri dan Wibisana sampai berani masuk ke dalam hutan rimba.www. Sejurus. Hanya berputar-putar saja di satu titik. sumpah. menjaga Mamak dan Yashinta—" "Aku ikut!" Dalimunte menjawab tegas. Wajah tegang itu dibasuh cahaya obor yang dibawanya. ya Allah. Laisa menggigit bibir. Entah menjawab apa.. Laisa menoleh. bertanya cemas ke sekian kalinya. Ia ingat pernah mendengar pembicaraan Ikanuri dan Wibisana beberapa hari lalu setelah kejadian starwagoon tua itu. Tak apalah adiknya ikut. Wajahnya dipenuhi ekspresi penghargaan. Laisa tahu di mana harus mencari adiknya. waktu Laisa masih kecil. ia dua kali melihat kejadian serupa. Cepat berlari ke dalam rumah. Ia sama sekali tidak mendengarkan pertanyaan Dalimunte.adiknya malam ini? Kemana Ikanuri dan Wibisana? Kemana. Sudah delapan tahun berlalu kejadian mengenaskan itu tidak terjadi lagi di lembah mereka. Mukanya menyeringai oleh buncah cemas tak tertahankan. wajah yang selalu berani dalam hidupnya. Laisa gemetar seketika saat benar-benar baru menyadari adiknya dulu. hendak kemana?" Dalimunte memotong. Siapa yang akan lupa lima belas tahun silam saat anak tunggal Wak Burhan yang berumur dua puluh empat tahun ditemukan keesokan paginya. Keberanian? Tentu saja dia takut.. Tercekat.. Mereka berdua pasti memutuskan kabur dari rumah. Membuat siapa saja yang berani merambah wilayahnya di malam hari akan tersesat di dalam hutan. "Kak.. pergi ke kota kecamatan. penguasa Gunung Kendeng." Ikanuri dan Wibisana langsung menuju ke jantung sarang Siluman. hanya Ikanuri dan Wibisani yang menganggap wanti-wanti tentang . pencarian mereka malam ini akan berakhir sama— Juga Wak Burhan. Suara kakinya membuat lantai rumah panggung mereka berderak. "Aku ikut kemana pun Kak Laisa pergi malam ini—" Tegas sekali Dalimunte berkata. Ia tahu di mana adiknya berada malam ini. Kenangan buruk itu membungkus kepalanya. "Kak Lais. Berpikir cepat. lantas tanpa disadarinya sudah masuk ke dalam perangkap sang siluman. tolong. Dali tidak akan pernah takut lagi. Dali tidak takut mesti harus memasuki daerah terlarang itu. Lima menit lalu Laisa memutuskan juga mencari adiknya. Menatap adiknya sejenak. Melihat wajah itu. Ya Allah.. dia tahu kakaknya akan pergi ke Gunung Kendeng. Lantas melangkah menuruni anak tangga. Jalan pintas. Wajah yang selalu melindungi.. Laisa menelan ludah. dia sudah keluar lagi.. apa Ikanuri dan Wibisana baik-baik saja—" Dalimunte pelan menyentuh lengan Laisa. "Jalan pintas terdekat menuju kota kecamatan sebenarnya melalui Gunung Kaideng. sekali ini tolong baiklah dengan kami. Kemana adik-. Ia tahu. Ia tahu. Berdiri. Hendak kemana? Pertanyaan Dalimunte barusan menyadarkan Laisa tujuan sebenarnya Ikanuri dan Wibisana.

Karena mereka harus memastikan setiap semak-belukar bersih ditelusuri.rajaebookgratis. Karena mereka langsung menuju satu titik. Pukul 02. meski janji itu bagai embun yang segera sirna oleh cahaya matahari pagi. dan tumbuhan berduri lainnya. dimanapun saat ini dua sigung nakal itu berada. Khas sekali. Cepat! Ia harus buru-buru. menghilang. Seketika. Juga Melesat. Dalimunte demi melihat kakaknya berdiri. Terlalu penat setelah kerja seharian. kakaknya. Menyeberangi sungai. Laisa terus maju dengan kecepatan tinggi. berlari dengan anak. Gunung Kendeng. dengan cepat mengikuti. Eurostar melesat dengan kecepatan tinggi " Apa yang sedang kau pikirkan. Golok di tangan Laisa tangkas memotong semak belukar yang menghalangi langkah. Pukul 02. Tidak ada selain desau burung malam yang terbang berderak. Suara itu membuat diam binatang hutan. .. kakinya apalagi. Semoga belum. Ya Allah.. Tidak ada. ia benar. Hanya membiarkan. mereka membutuhkan dia. Ikanuri?" "Tidak.. Kosong. dengan ikut berdiri. Mamak Lainuri yang masih semaput tidak bisa bicara hanya menatap kosong mereka berdua. 15 KAKAK TIDAK AKAN TERLAMBAT GERBANG perbatasan Perancis. Hanya deru roda kereta menghujam batangan baja. Tidak ada selain babi hutan yang melintas. menangkap kumbang. Laisa berhenti sejenak. "Kau barusan menangis?" "Tidak!" "Kau menangis — " "TIDAK. Semoga adik-adiknya belum kenapa-napa. Ingatlah dua minggu lalu mereka malah memperolokolok Yashinta soal berang-berang yang lucu.00. Adik-adiknya.30. Gerakan Laisa dan Dalimunte jauh lebih cepat. "Ada apa. Tapi dipatahkan oleh manusia. Kak?" Dalimunte mendekat. Masuk ke gerbang hutan rimba.anaknya. Berteriak-teriak memanggil. Patah. Benar... Sudah sejak dua jam lalu jalan setapak yang biasa digunakan penduduk mencari damar. Maka bergeraklah dua obor itu menuruni cadas sungai. Golok di tangan Laisa galak membabat ujung-ujung semak di depan yang menghalanginya.com harimau Gunung Kendeng itu lelucon.www. Penat dengan segenap kecemasan. pepohonan semakin lebat. Rombongan lelaki penduduk kampung terus menyisir rimba belantara. Semakin masuk ke dalam hutan.. Melihat kakaknya berlari pulang ke rumah mengambil obor dan golok.. ia harus buru-buru. Tidak ada warga di balai kampung yang bisa mencegah. tangannya gemetar. Jantungnya berdetak amat kencang." Senyap sejenak. Tapi rasa cinta yang besar itu membungkus segenap ketakutan. Mereka harus menerabos semak belukar. Empat jam berlalu.. Itu bukan karena uwa. rotan. Semoga belum terlambat. Ikanuri dan Wibisana baru saja melewati gunung ini. Jarang sekali ada penduduk yang merambah hingga ke atas gunung. Jalan setapak hanya ada di tempat-tempat biasa merek menyadap damar. mencari rotan. Meski harapan itu kecil. Bagi mereka harimau-lah yang lucu. Laisa kalap. terganggu. ikut melihat ke depan. belalai rotan. Langit semakin kelam. mendekatkan obor ke ujung dahan salah satu pohon kecil.. Memperhatikan semak di depannya.. Menyusul Ikanuri dan Wibisana. Sejauh ini kosong.. Laisa menggigit bibir. Aku tidak menangis—" Jawaban itu serak. Laisa menelan ludah. dan sebagainya. Tidak apa-apa.. bukan karena binatang liar. pergerakan mereka lamban.

Berusaha menyeka matanya. Biarlah.. Ikanuri dan Wibisana memutuskan kabur ke kota kecamatan. Ya Allah." Suara Wibisana terputus. lantas mengulang pertanyaan itu dengan segenap perasaan.rajaebookgratis. Kak Laisa tidak akan pernah terlambat. sejak seluruh kenangan itu buncah kembali memenuhi memori kepalanya.. meski tanpa bantuan obor dan golok.www. Lebih banyak lagi perkebunan anggur.. Setelah berdebat sebentar.. demi kita adik-adiknya. Biarlah Wibisana melihatnya menangis. Hilang ditelan suaranya sendiri yang bergetar. Ikanuri menyeka matanya. Wibisana menatap datar wajah adiknya. usai bertengkar dengan Kak Laisa. Tertunduk menatap keluar jendela. Kak Laisa pasti juga mengadu kalau mereka sudah menghinanya soal bukan kakak kami itu. Berusaha mengendalikan dirinya. kalau begitu lebih baik mereka kabur saja. Terisak lebih kencang. Pasti segera ketahuan. Melangkah pasti. Bintang-gemintang dan bulan malam tiga-belas membuat perjalanan mereka mudah dilakukan. Mereka tidak ingin kabur ke desa atas. Maka Ikanuri tergugu menyeka pipinya. Susah sekali menyembunyikan perasaan hati. pemburu. pelan. Bisa jadi dihukum selama seminggu. dan pelarian mereka diketahui. Mengenang semua itu membuatnya benar. Selepas dari pohon mangga Wak Burhan. Jadi mereka pasti disuruh tidur di bale bambu bawah rumah. saat pertama kali Mamak berlari ke rumah Wak Burhan. Cahaya lampu rumah-rumah pinggiran Perancis terlihat.. Sejak tadi. Sekalian.. Menatap wajah sendu Ikanuri lamat-lamat. "Kita tidak akan terlambat. Terlalu lambat. Pukul 20. "Kau tahu. Ikanuri. Desau suara pendingin kabin terdengar pelan. Artinya mungkin baru besok siang tiba di sana. Kereta ekspress Eurostar itu terus melesat menuju Paris! Itu benar sekali. kenapa?" Ikanuri menggeleng. Kau tahu.. karena tidak mungkin melewati pinggiran sungai tempat orang-orang sedang bekerja membuat kincir. Di luar Sana masih gelap. di kota kecamatan dua minggu lalu. tidak akan. masih bisa disusul oleh starwgoon yang berangkat pagi-pagi buta. "Aku hanya takut. Mereka tahu jalan pintas itu dari percakapan orang-orang. Agak sedikit lambat. Berangkatlah dua kakak-adik nakal itu. Wibisana menelan ludah... mereka berdua baru setengah jam perjalanan dari gerbang masuk ke dalam hutan rimba. Ikanuri menoleh. Tepat waktu. memutari desa. Sejak tadi dia menangis. Ikanuri dan Wibisana memang akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah. Karena malam itu sempuma sudah Laisa menunaikan janjinya.benar tersentuh.. Ada dua puluh kilo jika mereka harus berjalan lewat jalan batu lebar tiga meter itu. kenapa?" Wibisana tersenyum getir. . "Ka-re-na. Gunung Kendeng. Matanya berkaca-kaca lagi. terdiam sejenak. Kak Laisa tidak pernah sedetik pun datang terlambat dalam hidupnya untuk kita. Ikanuri dan Wibisana mengambil jalan pintas.00. Karena Kak Laisa tidak pernah datang terlambat untuk kita. Dia tidak bisa berpura-pura lagi. Kak Laisa tidak pernah mengingkari janji-janjinya.com Hening lagi. Wibisana menelan ludah. Menepuk lembut bahu Ikanuri..... Menggantung di langit-langit kabin. Susah. Maka tanpa berpikir panjang.. Ikanuri. Wibisana ikut tertunduk. semua terasa sesak. "Kita tidak akan terlambat. Tidak pernah. malah tanpa sengaja membuat Wibisana terbangun dari tidurnya.. Tidur di luar selama seminggu itu sama saje dengan mengusir mereka.." Ikanuri hanya diam. Mereka berpikir pendek: Kak Laisa pasti mengadu ke Mamak tentang mencuri mangga. Takut terlambat tiba—" Ikanuri berkata pelan.. Tak terlambat sedetik pun.

Begitu-begitu saja.00 saat rombongan pencari mulai masuk ke hutan rimba. "RRRRR-" Mata-mata itu terlihat menakutkan dari balik semak. Salah perhitungan. senyap yang datang tiba-tiba. Hanya kerlip kunang-kunang. Sekali dua beristirahat. Semakin masuk ke dalam. Langit gelap. Apa yang sedang terjadi? Ada apa? Wahai. hei. SEMPURNA LENGANG.00. Mematahkan batang semak belukar yang besar. Awan mendung yang menutupi langit membuat rimba gelap seketika. Mereka masih jauh dari kota kecamatan. Pukul 24. Laisa dan Dalimunte sudah dekat sekali. Awan hitam menutupi berjuta bintang dan bulan. Pertanda kehadiran kekuasaan besar yang mengendalikan sebuah tempat. cukup sudah untak membuat jantung mereka berdetak lebih kencang. itu berarti pertanda ada maut besar yang mengintai. semakin lama semakin mengeras.00 saat Laisa dan Dalimunte menyusul. Percuma. Wahai.com Pukul 22. pekat. tapi itu tidak membantu banyak. Sedikit saja suara gerakan di sekitar. berusaha mempersenjatai diri. mereka berdua semakin menyadari ini semua keliru.. mereka sempurna kembali lagi ke titik semula. Bersitatap dengan cahaya mata redup. Saat itulah. Dan.rajaebookgratis. lima belas detik kemudian. mulai mengkerut ketakutan saat menyadari setiap lima belas menit mereka berjalan. mereka hanya menyibak dan mematahkan semak-belukar dengan tangan untuk memudahkan langkah. sempurna sudah keduanya mengkerut takut. bukankah ini pertanda sang siluman mengeluarkan jerat pamungkasnya? Pukul 02. puncak Gunung Kendeng pun belum terlihat. Tiga harimau dewasa sebesar anak sapi mendekat. ketika cahaya matahari memudahkan menentukan arah. Ikanuri dan Wibisana tersengal. Dua anak kecil yang meski amat ringan menganggap semua perkataan orang. Gerungan maut sang siluman. Semak belukar itu pelan bergoyang. hening. bukankah mereka pernah (sebenarnya sering) mendengar kisah tentang harimau Gunung Kendeng yang dulu setiap tahun mencari tumbal? Hei. Cemerlang.. Ikanuri dan Wibisana saling menoleh. Saat itu. bukankah Babak juga salah satu dari tumbal itu. Mereka tertahan di punggung Gunung Kendeng.www. Suasana hutan yang mendadak lengang terasa amat ganjil. mereka memutuskan untuk bertahan di Sana. Cemas. jangankan kota kecamatan. Ganjil sekali. Ikanuri mulai mengeluh. Tetapi pukul 02. Menggampangkan masalah. masalah mereka mulai serius. Benar-benar keliru. kalian seharusnya lima kali lebih takut saat di sekitar kalian mendadak senyap. Berputar-putar. Seperti ada yang jahil menekan mati tombol volume derik jangkrik dan serangga lainnya. cemas. Tubuh mereka mulai gemetar. Menunggu besok. Mereka terlalu menganggap sepele banyak hal. Setelah hampir dua jam hanya bolak-balik di tempat yang sama. jelas-jelas masih anak kecil. Ikanuri dan Wibisana benar-benar dalam masalah. Ini semua menakutkan. suara gerung pelan itu terdengar menggantung di langit-langit hutan rimba. Apalagi tidak ada lagi jalan setapak. Bukan takut saat mendadak ada suara teriakan atau cekikikan. Kembali lagi ke titik semula. Berjalan semakin cepat. lantas tersibak. Wibisana mengusap dahinya yang berkeringat. Hanya nafas cepat mereka yang menderu. Ikanuri dan Wibisana tersesat.. Semakin mendekat. Bersitatap satu sama lain. Dan itu benar. Mengerikan. Tanpa golok. Berkilauan kuning legam dengan loreng . Wajah mereka pucat oleh perasaan gentar. Hei. Berdiri kaku. Awalnya pelan. Bahkan angin pun seolah takut berdesau. Ikanuri dan Wibisana berdiri saling membelakangi punggung. "RRRRR-" Ikanuri dan Wibisana seperti sudah mati rasa. Terkencing-kencing.30 mendadak hutan di sekitar mereka lengang.

Gemetar Dalimunte masuk ke dalam lingkaran. tanpa berpikir panjang. Amat menakutkan. Ekor mereka bergerak. patah-patah menarik tubuh membeku Ikanuri dan Wibisana ke luar. Situasinya semakin mencekam. Lais pergi— "RRRRR-" "Dali. perasaan melindungi adikadiknya membuat Laisa menyeruak. sedetik terpana menyaksikan pemandangan di depannya. Tidak masalah. Tiga harimau itu mundur satu langkah. Satu meter lebih dekat. CEPAT! Bawa adik-adikmu lari!" Kak Laisa membentak.. bilang Mamak. Harimau-harimau kembali bersiap.. taring. Gerungan terdengar semakin keras. mengukur bagaimana cara terbaik menerkam Ikanuri dan Wibisana. "RRRRR-" Harimau -harimau itu menggerung lagi.. malam ini harimau-harimau ini membutuhkan mangsa. Menahan terkaman. Waktu benar-benar berjalan lambat... Ia tahu. Gerakan tubuh harimau terbesar itu terhenti. Menggigil. menerobos ke tengah kerumunan. Ia tahu.www. maafkan Lais—" Kak Laisa berkata dengan suara semakin serak. tertimpa cahaya obor Kak Laisa. Wajah. mengkilat. Ia sungguh gentar. untuk tidak bilang seperti terhenti. Tiga harimau itu mengambil posisi baru. bawa adik-adikmu lari. Empat mangsa lebih baik dari dua. Sementara wajah Kak Laisa terus bersitatap dengan harimau-harimau itu. Saat harimau terbesar yang berada paling dekat bersiap meloncat. bilang Mamak. Maka biarlah ia yang menggantikan adik-adiknya. Laisa mohon. Mengacung-acungkan obornya ke depan.com hitam. Tumbal.. Kerlap-kelip. Mereka tidak punya waktu lagi. Ikanuri dan Wibisana membeku sudah. Wibisana. "Dali. Pergi dari sini! PERGI!" Kak Laisa mendorong Ikanuri dan Wibisana yang pucat pasi di belakangnya.. Mencoba menahan mereka dengan obor yang teracung. bilang Mamak. Aroma kematian menggantung pekat di langit-langit hutan. Siapa pula yang tidak akan jerih melihat tiga ekor harimau dari jarak dua meter tanpa penghalang? Tapi perasaan itu. yang sedetik baru tiba di sana. "Dali. "Puyang tidak boleh memakan mereka. tidak boleh—" Kak Laisa mencicit. Hanya soal kapan— Hanya soal detik— Saat Ikanuri dan Wibisana hampir jatuh pingsan. nekad masuk ke kematian. Tubuh mereka yang hampir sebesar anak sapi itu terlihat lebih jelas. Panik. Sedikit jerih melihat obor Laisa. Sepuluh detik. Laisa terus menatap tiga ekor harimau itu. ketakutan. . entah apa yang ada di kepalanya. Suaranya parau. "RRRR-" "Pergilah Ikanuri. "TIDAK! TIDAK BOLEH!" Terhenti. LARI!!" Kak Laisa berseru panik. "RRRRR-" "Dali. Dalimunte yang menatap ketakutan dari balik semak mendecit. Tiga ekor harimau itu berhitung dengan situasi. Tidak bisa menggerakkan tubuh lagi. Menjaga segala kemungkinan. "RRRRR-" Lima detik. Berhitung dengan situasi baru. Ia sungguh ketakutan. Saat itulah Kak Laisa menunaikan janjinya. seperseribu detik langsung loncat dari balik semak. "TIDAK! PUYANG TIDAK BOLEH MEMAKAN MEREKA!" Kak Laisa. cambang. Menelan ludah. Satu detik. berkali-kali mengibas-ngibaskan obornya.. Kulit yang tebal. sungguh menakutkan. Mukanya terlihat begitu tegang. Tinggal lima meter.rajaebookgratis.

Salah seorang penduduk kampung yang berburu di dalam hutan tidak sengaja masuk ke wilayah terlarang.com waktunya sudah selesai. Biarlah begitu. melangkah di atas tubuhtubuh mereka yang terjerambab. yang bersitatap dengan mata Laisa. mereka harus kabur sesegera mungkin dari situ. Alkisah. pemburu itu malah menombak seekor anak harimau. Cerita itu juga dikisahkan ke anak-anak agar mereka tidak sejahil dan segampang Ikanuri dan Wibisana yang bebal justru melintasi sarang harimau. Bersiap.. Ekor harimau yang paling besar. tiba-tiba bergoyang. tunggang langgang menarik tubuh Ikanuri yang sempat terjatuh. sekelompok harimau yang tersisa mengambil belasan anak-anak kecil dari kampung secara diam-diam sebagai ganti-rugi. 16 SEJUTA KUNANG-KUNANG BAGI penduduk di lembah itu.. Memberikan perintah. legenda tentang harimau Gunung Kendeng selalu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Maka rusaklah perjanjian tersebut. sang siluman entah oleh kekuatan apa mendadak mengurungkan niatnya menerkam tubuh pasrah Laisa. Wahai. ratusan tahun silam bangsa harimau dan manusia hidup damai berdampingan. Begitu saja— Lima detik. Tiga detik? Tidak ada yang bergerak. manusia dan harimau di lembah dan gunung terus saling menyerang. Ia sudah pasrah. Penduduk lembah tidak mengganggu mereka. harimau juga sebaliknya. harimau kemudian disebut sang siluman.www. Itu perjanjian tak tertulis para leluhur. Kepala-kepala menakutkan itu terangkat siap menerkam. harimau terbesar setelah sekali lagi menggerung lebih keras. kenapa? Kenapa belum ada satu pun harimau yang menerkamnya? Dua detik. Harimau itu menggerung keras. Nyawa ditukar nyawa. Yang pasti sejak hari itu. Hingga pada suatu ketika. kata-kata puyang (atau kakek) disematkan kepada . di lembah dan gunung itu. Pergi. yang paling menakutkan. Senyap. Tapi penduduk kampung menolak. Ia sudah siap. Mereka menolak menyerahkan pemuda yang melakukan kesalahan tersebut. Dalimunte yang terjerambab di semak belukar setelah berlari sepuluh langkah bersama adik-adiknya menatap kosong tiga harimau yang melewati mereka. apa yang telah terjadi? Keajaiban itu! Hanya kuasa Allah yang tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi malam itu. Seperseribu detik berlalu. Suatu malam. Dua harimau lainnya mengikuti. Atas kejadian itu. Laisa menggigit bibir. Tetap begitu. Bertahun-tahun tidak ada yang tahu ke mana anak-anak itu menghilang. Lebih banyak lagi harimau yang mati terbunuh. karena mencuri sembunyisembunyi anak kecil. Entah apa pasal. Atau setidaknya membuat anak-anak yang susah disuruh tidur dan banyak merengek segera beranjak naik ke atas dipan. Kelompok harimau gunung memutuskan balas dendam. Suara gerungan itu tiba di puncaknya. Sementara Dalimunte yang sedikit pun tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Kak Laisa.. masa-masa berdamai itu berakhir oleh sebuah kejadian. Laisa dengan mata bercahaya. perlahan melangkah mundur. Biar ia yang menahan mereka sementara adikadiknya berlari.rajaebookgratis. Lima belas detik. Sebagian bilang mereka berubah jadi harimau. Tapi hei. Sejak hari itu juga. Menunggu. buncah oleh air mata menatap ke depan. Hening. Lima detik berlalu. Sebagian yang lain bilang dijadikan tumbal. Maka terjadilah pertikaian. Seluruh tubuhnya gemetar. Kelompok harimau meminta ganti rugi. Mungkin dulu sengaja dibuat begitu agar penduduk kampung tidak berani merambah wilayah berbahaya tersebut. memutar tuhuhnya.

. ia tersenyum amat tulus sambil menatap wajah adik-adiknya di remang semburat merah langit." Dalimunte menyeka ingusnya. di luar lembah kita.rajaebookgratis. "Ikanuri. Wibisana. Kepala Dalimunte tertunduk. Belum lagi harga kulit dan taring mereka yang mahal.www.. bekerja keras.. sementara adikadiknya lurus. yakinlah. mereka tiba di gerbang hutan seberang dinding Kerlip kunang-kunang lebih ramai di sini. Tapi karena ia ingin buru-buru pulang. Bukan karena hanya demi Mamak yang sepanjang hari terbakar matahari di ladang. Satu kunang-kunang berdesing di depan mereka. Wibisana.. saat Wak Burhan dan penduduk kampung masih sibuk dan mulai putus asa mencari Ikanuri dan Wibisana. "Lihatlah! Kunang-kunang yang indah—" Ikanuri dan Wibisana mengangkat kepalanya. Perambah hutan membuat mereka mulai tersingkir.. Kalian akan memiliki kesempatan itu. tak terlalu lama menanggung cemas. agar Mamak tak terlalu lama menunggu... Dalimunte. dan bekerja keras. Sejak delapan tahun silam.... Tapi meskipun begitu.. Terbang berkelompok. Laisa menuntun adik-adiknya." Dalimunte sudah menangis pelan. Ikanuri dan Wibisana yang mulai bisa bernafas normal melangkah tertunduk di depan. kalian harus selalu bekerja keras.. menjelang matahari pagi akhirnya terbit. Betapa indahnya kehidupan di luar sana. Tombak Dalimunte juga entah tercecer di mana. dengarkan Kakak.. Ujung tangannya masih berkedut sekali dua. Dalimunte. karena dengan itulah janji kehidupan yang lebih baik akan berbaik hati datang menjemput. Terjatuh. Langkah adik-adiknya di depan ikut terhenti. Perangkap besi. Beriringan.. ia berkulit hitam.. "Ikanuri. Obor sudah padam.. Beranjak pulang ke sarang. suatu saat nanti kalian akan melihat betapa hebatnya kehidupan ini. Wibisana. Langkah Laisa terhenti. Harimau Gunung Kendeng. diburu oleh kelompok-kelompok pemburu profesional dari kota provinsi. populasi harimau di Gunung Kendeng sebenamya semakin terdesak. "Suatu hari nanti.. Tidak ada penduduk yang menganggapnya serius..com harimau. Sisa perasaan gentarnya tadi saat tiga harimau itu bersiap menerkam. Tapi Ikanuri. Laisa meneguhkan hati.." Kak Laisa terdiam sebentar. Tidak sengaja padam saat kejadian seru tadi. sebelum masanya datang. bekerja keras. kalian harus rajin sekolah. Masih disampaikan kepada anak-anak hanya agar mereka mengerti kalau gunung itu berbahaya. pulang.. Legenda itu tinggal cerita belaka. Menatap cahaya mereka yang indah. ia berambut gimbal. Tinggal sebutan.. "Suatu hari nanti. Laisa tidak banyak bicara. Setelah sepotong lereng gunung tempat tiga harimau tadi bersiap menerkam Ikanuri dan Wibisana kembali ramai oleh derik jangkrik.. Bukan karena itu. Mereka berjalan pelan. semua penduduk mengerti benar berapa pun jumlahnya sekarang harimau tetaplah binatang berbahaya. Tidak ada yang sempat memikirkannya.. sungguh kalian akan melihat berjuta kerlip cahaya lampu yang jauh lebih indah di luar sana. membujuk kakinya agar berjalan senormal mungkin. ramai kembali oleh serangga malam. Menjelang larik jingga muncul di ufuk sana. Karena legenda itu mewariskan pemahaman bahwa harimau yang ada di puncak gunung sekarang tidak lain adalah kakek-kakek (anak-anak) mereka dulu yang dicuri. nama-nama. wajahnya sungguh kontras dengan mereka. Setengah jam berlalu dari kejadian hebat itu. Kakinya masih sering gemetar menopang tubuh. Dengan bedil.. "Tapi sebelum hari itu tiba. Sementara masih banyak sekali pertanyaan yang menyesaki kepala Dalimunte." Berkata pelan. rajin belajar. Kakak berjanji akan melakukan apapun demi membuat semua ini terwujud. sementara adik-adiknya putih.

www. Menyesalinya sepanjang hidup. anakku — " Senyap. Wibisana tiga puluh tujuh. Ikanuri—" Wibisana mendekap bahu adiknya. Dua puluh lima tahun berlalu. Lihatlah! Menara Eiffel terlihat cemerlang. Kereta eskpress Eurostar itu melesat membelah indahnya kota Paris. Amat mengerti segalanya— Juga di sini Ikanuri juga benar-benar menangis.. Ikanuri justru tersedan lebih keras..com "Kelak kalian akan melihat kerlip cahaya yang lebih indah. Dia mengerti. Meski Kak Laisa sebenarnya sudah memaafkan detik itu juga di bawah pohon mangga tersebut.. Mengambil HP di saku.. Biarlah mereka akan menelepon lagi. Wibisana mengerti. Ya Allah. Tidak pernah. Sebentar. kalian bisa bicara sekarang. . "Silahkan. Tidak pernah. terlihat begitu mempesona. Kejadian itu lebih seperempat abad silam berlalu.. tukang jahil. Dia tidak bisa menahan lagi perasaan itu. Kak Laisa menunaikan seluruh janjinya." Suara renta Mamak terdengar." Dalimunte sudah terisak. "Assalammualaikum. ketika takdir kehidupan yang lebih baik menjemput keluarga sederhana mereka di Lembah Lahambay. Mereka tidak ingin membangunkan Kak Laisa.. bahkan dia tidak pernah meminta maaf soal itu. Dua kali." Wibisana menelan ludah suaranya bergetar. Tidak ingkar sekalipun. Kak Laisa tidak pernah marah soal itu sedikitpun.. Itu benar sekali. Suara Mamak yang bertanya pada dokter terdengar samar-samar. Bahkan Kak Laisa tidak pernah mengungkit-ungkitnya lagi. Kak Laisa masih tertidur (atau begitulah yang dokter bilang).. kata Mamak. Penghujung tahun begini. "Kau tahu. Pagi datang menjelang. Dokter mengaktifkan handsfree. Kak Laisa. Berusaha mengendalikan diri. Ikanuri. bebal. karena itulah dia merasa bersalah sekali. Semburat merah muncul di angkasa.. Tadi berkali-kali mereka menelepon ke perkebunan strawberry. Mak?—" "Sudah.. Tangannya yang satu lagi masih mendekap bahu Ikanuri. Pak Wibisana." Wibisana mengusap bahu adiknya. agar Kak Laisa bisa bicara meski sambil terbaring... Kak Laisa tidak pernah datang terlambat untuk mereka. Kabut pagi menambahinya. Suara tunggu itu bernyanyi satu kali. Umurnya sekarang tiga puluh enam.. Dan melihatnya tertunduk menangis sungguh menyedihkan. Ya Allah. waktu itu aku mengatakan Kak Laisa bukan kakak kita. Ibu Laisa masih dalam kondisi kritis.. "Kak Lais sudah bangun. kalian akan lebih terharu saat melihat seseorang yang selama dikenal nakal. Syahdu. Kerlip berjuta lampu kota Paris yang tersaput selimut salju putih tak mau kalah.. Kau tahu. Tolong sambungkan sekali Iagi ke Mamak—" Ikanuri menyeka matanya.. Seperti sejuta kunang-kunang. Ikanuri mendekap wajahnya. Handsfree. tapi jangan lama-lama. Mendekap wajahnya. Menyeruak berpendar-pendar. Pelan menekan nomor HP Mamak Lainuri. Bagainiana jika mereka terlambat dan tidak ada waktu lagi? "Tolong. Seperti kalimat Kak Laisa pagi itu. Membuat gemeriap lampu kota yang belum dimatikan terlihat begitu menawan. Tidak sedikit pun. menenangkan. atau apalah tiba-tiba menangis. Tapi dia selama ini tidak pernah merasa harus meminta maaf.rajaebookgratis. Silahkan. Sungguh. Kau tahu itu!" Ikanuri tersedak. Menara Eiffel bagai pohon natal raksasa. berusaha tersenyum. Pak Ikanuri..—" Dokter berkata dari seberang. "Kak Laisa tidak pernah marah dengan itu. "Waalaikumussalam. "Sudahlah. Wahai.

Beramai-ramai. masalah terbesamya air deras sungai tidak cukup kuat memutarnya. Wajah mereka tegang. Sejak shubuh mereka sudah berkumpul di pinggir cadas. Benar-benar kecuali tangis. air dari bumbungnya tumpah persis di atas cadas setinggi lima meter. tinggal satu meter lagi. Tapi kincir air yang ketiga justru berputar lebih cepat. Menatap wajah Lainuri yang berdiri bersama ibu-ibu kampung lainnya. Lantas pelan. Menyusunnya dengan posisi lebih condong. .com Ikanuri dan Wibisana justru terdiam. Kincir mereka kokoh. Tertawa lebih keras. Kincir air kedua sedikit bergetar membawa air terus berputar. "Benar! Kita pasti berhasil!" "Bukan main. Yang membuat penduduk semakin yakin. Percuma mereka punya jagoan pintar macam Dalimunte. Penuh. Tinggal satu kincir lagi. sambil membawa air di ujung-ujung bumbungnya. Satu-dua anak kecil malah bertepuk-tangan. lebih mudah digerakkan. Seruan-seruan senang. Menyeka keringat di dahi. pondasinya kuat. "NAIK! NAIK! NAIK!" Seruan penduduk kampung semakin meriah. Pinggir sungai itu buncah sudah oleh tawa-gembira. Membuat kincir-kincir tersebut proporsional mengecil hingga ke atas. Menatap wajah Dalimunte yang tertawa-tawa. Bumbung bambu pertamanya menerima tumpahan air dari kincir keempat. Wak Burhan menghembuskan nafas lega. Tepuk-tangan "Bah! Apa kubilang! Kita pasti berhasil!" Beberapa pemuda saling memukul lengan. Perhitungan Dalimunte sejauh ini tepat. bangkit dari air sungai sedalam pinggang. Tumpah. sejauh ini air itu sudah naik empat meter. "I-ka-nu-ri?" Terbatuk. Kincir kedua pelan. Engkau sungguh baik ya. Kincir kelima berderak sebentar. tertawa. Hari ini seluruh kampung bersuka-cita. Lantas tumpah persis di puncak kincir. Terus naik. Wajah Lainuri yang tersenyum lebar. Naik ke atas. "Itu kau di sana. Dia juga membuat klahar bantalan pemutarnya jauh lebih licin dengan gemuk yang dibeli Wak Burhan dari kota kecamatan. Rabb. mulai ikut berputar. "NAIK! NAIK! NAIK!" Seruan semakin ramai. kau hebat Dali!" Yang lain mengangkat tubuh kecil Dalimunte. "NAIK! NAIK! NAIK!" Kincir keempat bergerak meyakinkan. Mengisi bumbung bambu kincir kedua. "Kak Lais—" Bergetar. Juga Dalimunte. bergotong-royong memasang kincir-kincir di atas pondasinya. Benar. Wak Burhan yang berdiri di depan kerumunan melepas topi anyaman rotan. mulai ikut berputar. Meski seringai yakin mulai terpancar di sana-sini.Pemuda-pemuda itu basah kuyup. pertanyaan terbesarnya adalah apa cukup kekuatan air-air yang terus mengalir ke atas itu untuk memutar lima kincir air? Dulu saat mereka membuat kincir raksasa. kincir pertama yang terbenam di air sungai berderak mulai berputar mengikuti arus. "NAIK! NAIK! NAIK!" Penduduk kampung berseru-seru. Naik. Satu minggu berlalu. Macam nonton kumedi putar di kota kecamatan. Pondasinya di dinding cadas bergetar. Ikanuri seketika kehabisan kata-katanya. Tertawa lebih lebar. kecuali tangis. Tidak akan ada yang salah. Menelan ludah.Terpeleset bebatuan. Dan akhirnya. "CBYUR!"Terjatuh. Dalimunte sudah menghitung kemungkinan itu. Membuat nafas tertahan. Mengaraknya ke tengah sungai. Saat ikatannya dilepas.www. Susunannya tepat. Mengisi bumbung kincir ketiga. konstruksinya baik.rajaebookgratis. Ikanuri?—" Samar suara Kak Lais terdengar dari speaker telepon genggam.

rajaebookgratis. bisa mengerti binatang lain. mungkin tak akan pernah terlupakan. dikelilingi ibu-ibu yang berusaha memberikan minum.com Menatap wajah Laisa yang tersenyum lebih lebar. dalam kondisi tertentu. Malah ada yang menduga mungkin karena Laisa mewarisi Jurus Pesirah. Diperlukan 76 batang bambu untuk mencapai . Juwita. Naik turun Gunung Kendeng bukan urusan mudah. habis memangsa babi liar. Menjelang senja. mulai berangsur pulang setelah lelah menelusuri hutan rimba. semakin ngaco seruan-seruan penduduk. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Perasaan. Pagi ini. Atau mungkin pula harimau itu takut melihat mata melotot Laisa. Tidak perlu menunggu musim penghujan. Hanya Dalimunte yang bisa memberikan penjelasan lebih masuk akal. Meski baru seminggu lalu dia seperti kembali melihat hantu masa lalunya. Menatap wajah Ikanuri dan Wibisana. Harimau itu mengerti. Mereka juga lelah. Sehingga mereka. tapi apalagi yang harus dilakukannya? Ia tidak punya pilihan selain melindungi adik adiknya. dua kali helaan nafas. Tapi itu tidak terjadi. ia hanya bilang ia juga takut malam itu. Satu patah. lantas menatap terpesona pada Wak Laisa. binatang meski tidak memiliki akal-pikiran tapi mereka memiliki insting. ilmu silat mengendalikan harimau yang konon dulu pernah dikuasai leluhur mereka. kabar baik memenuhi langitlangit lembah. Kata Dalimunte pada suatu kesempatan saat mereka berkumpul. mungkin harimau itu lagi sakit gigi. Itulah yang terjadi malam itu. kenapa tiga harimau itu urung menerkam Laisa. Laisa tidak banyak berkomentar. dan Delima terdiam. Harimau yang paling besar. bukankah minggu lalu saat Laisa galak berseru-seru soal ide lima kincir di balai. meski tidak seintens manusia dalam menerjemahkan perasaannya. Dengan begitu. Itu pun setelah Dalimunte sudah sekolah di kota provinsi. Tertawa-tawa. mereka langsung bisa mengolah tanah lagi. Engkau sungguh pemurah. Berteriak menyuruh mereka mulai bekerja. tahu kerabatnya sedang dalam bahaya. Saat mereka benar-benar putus-asa. ladang-ladang mereka mulai bisa diairi. saat bersiap melaporkan kejadian itu ke polisi di kota kecamatan. Kecemasan kembali terulangnya kejadian delapan tahun silam tidak terbukti. sakit. Sekarang. Rabb. Mungkin berpuluh-puluh tahun ke depan tetap dikenang penduduk kampung. Laisa dan Dalimunte terbata menceritakan apa yang terjadi. Betapa Kak Laisa siap mengorbankan hidupnya demi adik-adiknya. yang paling menakutkan. Tidak sempat berpikir panjang. dan sebagainya. meski selintas. ia akhirnya tahu betapa Kak Laisa mencintai adik-adiknya. Maka cerita mereka hingga kapanpun. Hari ini mereka harus menyelesaikan sambungan pipa-pipa bambu sepanjang satu kilo. Semakin dibicarakan. lepas panen bulan depan. apalagi harimau itu. Ikanuri dan Wibisana justru ditemukan sudah berbaring kelelahan. ikut menyirami Dalimunte dengan air. Ikut berteriak-teriak riang meski mereka tidak mengerti benar. Tujuh puluh tahun tinggal di kampung itu. Lantas memutuskan pergi. nah. Mereka bisa menyayangi anak-anaknya. meski sekejap. saat tiba di balai kampung. Dengan begitu. Entahlah. Wajah Yashinta yang berdiri dengan teman-teman sepantarannya. Satu dua bilang mungkin harimau itu sudah kenyang. bisa mengerti komunikasi perasaan dengan mahkluk yang tidak sejenis dengannya. saat matahari bersiap menghujam di balik puncak Gunung Kendeng. Benar-benar melupakan kejadian heboh seminggu lalu.www. dari tatapan matanya ke Kak Laisa. pemuda kampung saja jerih melihatnya. berdasarkan bukubuku yang dibacanya. nasib mereka berada di tangan mereka sendiri. Satu dua berseru. melindungi sarangnya. Itu penjelasan Dalimunte kepada Intan yang beranjak sekolah dan sibuk bertanya saat mereka berkumpul bersama mengenang kejadian itu di perkebunan strawberry. tidak pernah Wak Burhan merasakan antusiasme hidup yang begitu hebat. pipa-pipa bambu sudah tersambung rapi. apalagi dalam situasi buruk seperti itu. Wak Burhan memasang topinya. mulai tenggelam dengan kecintaannya atas bukubuku. Dua sigung bebal itu bersama anak-anak tanggung lainnya ikut melompat ke inang sungai. naluri. Dan itu lebih dari cukup untuk membuat Intan. Satu dua bilang harimau itu mungkin takut dengan obor api.

www.rajaebookgratis.com

ladang. Seperti tarian ular, air bening yang mengalir melewati pipa bambu membasahi ladang-ladang mereka. Bukan main, ini semua benar-benar kabar baik. Wak Burhan setelah puas menatap air tumpah membanjiri ladang-ladang mereka, beranjak mengajak penduduk kampung pulang. Lembah mulai remang. Saatnya beristirahat. Esok masih panjang, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Dan malam ini, perjalanan panjang itu telah dimulai dengan perasaan lega. Menyenangkan. Hanya Ikanuri dan Wibisana yang merasa ganjil selepas pulang dari ladang. Karena tadi siang Wak Burhan menyuruh mereka memetik habis buah mangga di ladangnya. Membagi-bagikannya ke penduduk kampung yang sedang gotong-royong. "Sayang, yang besar-besar minggu lalu rontok dimakan kelelawar harusnya itu jatah Yashinta—" Wak Burhan tersenyum memberikan sekantong buah mangga ke Yashinta. Ikanuri dan Wibisana hanya saling lirik, merasa bersalah— 17 YASIN YANG DIBACAKAN MOBIL KIJANG itu pelan masuk ke halaman rumah. Rumput yang terpotong rapi menghampar bagai beludru. Pohon duku, jeruk, durian, dan kakao yang dibonsai berbaris rapi. Minggu-minggu ini buahnya masih terlalu muda untuk dipetik, tapi melihatnya sudah cukup menyenangkan. Rumah panggung itu terlihat terang. Belasan lampu neon bersinar lembut. Ramai. Beberapa penduduk terlihat duduk berkerumun di kursi bambu yang tersusun di depannya. Juga di teras. Mereka serempak berdiri saat mobil jemputan kebun strawberry itu mulai memasuki halaman rumah. Tidak. Tentu saja itu bukan rumah panggung paling kecil, paling reot, paling jelek di ujung lembah. Itu masih rumah yang lama, masih di lokasi yang sama, tapi sekarang sudah bertambah tiga kali lipat ukurannya, sudah berdiri kokoh, beratap genteng. Meski masih sama dinding kayunya, sudah berdiri asri. Halamannya yang sejak dari dulu sudah luas, sekarang dipenuhi bebungaan dan pohon-pohon bonsai. Rumah panggung itu juga terlihat modern dengan instalasi listrik dan rangkaian ornamen kaca warna-warni. Kampung itu sejak dua puluh tahun silam pelan tapi pasti memang berubah jadi lebih baik. Lebih maju. Hari ini, seluruh rumah-rumah di Lembah Lahambay berjejer rapi, dengan sanitasi dan halaman yang rapi. Jika kalian sempat datang ke sana, kalian seperti melihat deretan bangunan villa-villa dari kayu di lembah yang amat indah. Itu tentu termasuk rumah tua Mamak Lainuri. Tidak ada lagi hamparan semak belukar. Juga ladang-ladang padi tadah hujan di sekitar kampung. Apalagi kebun mangga Wak Burhan. Yang ada, sejak memasuki lembah radius dua kilo meter, hanya perkebunan strawberry yang membentang luas. Hijau sepanjang mata memandang. Buah merah yang beranjak ranum terlihat mengundang, bergelantungan, meski senja yang beranjak malam membuat remang sekitar. Kebun-kebun itu separuhnya milik penduduk kampung, yang bentuk dan susunannya dibuat sedemikian rupa agar sama seperti separuh lainnya, milik Kak Laisa. Berbaris. Polybag pohon strawberry terlihat seperti lajur-lajur tentara yang berbaris rapi. Jalan setapak yang sudah diaspal melingkari kebun-kebun. Memudahkan untuk mengangkut buah strawberry saat panen tiba. Juga menjadi trek mengasyikkan, naik turun lembah mengelilingi perkebunan. Satu bangunan besar terlihat di tengah hamparan hijau perkebunan. Itu gua penyimpanan sementara sebelum buah strawbeery dibawa ke kota provinsi. Lampu-lampu bangunannya bersinar redup. Malam ini, lima truk milik gudang berjejer, besok pagi-truk itu berangkat ke pusat pengalengan. Orang-orang yang tadi duduk di kursi bambu beranjak mendekat. Mengerubungi mobil jemputan perkebunan. Dalimunte membuka pintu mobil. Melangkah turun. "Akhirnya kau tiba, Dali —" Orang-orang berseru, memeluknya.

www.rajaebookgratis.com

Dalimunte menelan ludah. Menatap wajah-wajah bersimpati itu. Balas memeluk. Dia mengenalinya. Amat mengenal. Mereka adalah tetangga-tetangga kampung. Satu dua terhitung teman sepermainan masa kecil. Mereka seperti sedang bersiap. Bukan. Bukan bersiap menyambutnya. Bersiap untuk urusan lain. Dalimunte sekali lagi menelan ludah "Ayo, kalian jangan menghalangi Dali, biarkan dia masuk—" Seorang lelaki setengah baya berkata tegas, menyeringai, menyuruh kerumunan menyingkir. Itu Bang Jogar, pemuda yang paling banyak bertanya soal urusan lima kincir air dulu di balai kampung. Umurnya sekarang lima puluh. Kepala kampung (jika lembah indah itu masih layak disebut kampung). Wak Burhan sudah meninggal sepuluh tahun silam. Bang Jogar dipilih dengan suara bulat oleh penduduk menjadi penerus. Kerumunan tetangga menyibak. Memberikan jalan. "Ayo, Dali. Mamak Lainuri sudah menunggu kau dari tadi—" Dalimunte mengangguk, "Apa Kak Laisa baik-baik-baik saja?" "Aku tidak tahu, Dali. Dokter lebih tahu urusan itu kan tahu, abang-abangmu ini di kampung mana pernah sekolah hingga kelas enam kecuali kau dan anak-anak kami sekarang," Bang Jogar tertawa, bergurau, mencoba menghibur Dalimunte yang cemas. "Tapi terakhir kali aku atas, lima menit lalu, Laisa sudah siuman. Kata Mamak Lainuri, Laisa sempat bicara dengan Ikanuri dan Wibisana lewat telepun, Hei! Kalian bantulah koper-koper Dalimunte dari mobil. Jangan macam anak uwa, sibuk menonton saja. Atau seperti kubilang tadi, ikut mengaji yasin di surau sana!—" Bang Jogar meneriaki pemuda-pemuda tanggung di kursi bambu, Cie Hui, istri Daiimunte membantu Intan, yang baru bangun tidur, turun dari mobil. Intan menggendong ransel sekolahnya, menyeka anak rambut dari kening. Tadi sempat tertidur di mobil. Dibangunkan Abi persis masuk areal perkebunan strawberry. Si belang sudah loncat saat pintu mobil dibuka. Hamster itu amat familiar dengan areal perkebunan. Setiap dua bulan mereka pulang, si belang selalu ikut. Malah menurut Oom Ikanuri, si belang punya pacar hamster liar lembah. Ah, pasti Oom Ikanuri ngibul, kan Oom Ikanuri memang suka bohong. Dalimunte beranjak menaiki anak tangga, diikuti Cie Hui dan Intan (yang masih menguap). Menghela nafas tertahan, masuk ke ruang depan. Ruangan yang dulu menjadi tempat dia, Ikanuri dan Wibisana tidur bertiga. Dengan sarung beralaskan tikar pandan, bersama angin malam yang menembus dinding berlubang. Dalimunte menatap sekitar, beberapa ibu-ibu dan anak gadis tetangga berkerudung rapi, duduk di tepi-tepi ruangan, melingkar membaca yasin bersama-sama. Kebiasaan setempat jika ada urusan seperti ini. Di surau kampung yang sekarang berubah menjadi masjid kecil tapi megah, lelaki dewasa juga bersama-sama membaca yasin. Suara mereka terdengar hingga sini. Dalimunte menelan ludah untuk kesekian kalinya. Jika sudah sampai membaca yasin agar yang sakit dimudahkan urusannya, berarti sakit Kak Laisa serius sekali. Menghela nafas pelan. Terus melangkah menuju kamar Kak Laisa. Wajah-wajah terangkat, melihat rombongan. Tersenyum kepada Intan yang menoleh ke sana ke mari. Intan hanya nyengir membalas tatapan itu, berpikir pendek, ramai betul lagi ada kendurian, ya? Apa yang sebenamya terjadi? Dalimunte mengusap wajah. Bagaimana mungkin semua tiba-tiba jadi terlihat sendu seperti ini? Bukankah satu bulan lalu saat mereka pulang bersama, jadwal berkumpul rutin mereka, Kak Laisa terlihat sehat-sehat? Tertawa-tawa menggendong Intan, Juwita dan Delima bergiliran menuruni dinding cadas sungai. Berkeliling kebun strawberry dengan sepeda BMX. Mengawasi gudang penyimpanan. Bahkan Kak Laisa masih sempat-sempatnya mencari sendiri umbut (ujung rotan) di hutan untuk membuat masakan surprise bagi mereka. Menu favorit Yashinta, Ikanuri dan Wibisana, dan juga ponakannya.

www.rajaebookgratis.com

Kak Laisa tak sedikitpun terlihat sakit. Riang meladeni Intan, Juwita dan Delima yang bertengkar memperebutkan foto Tante Yashinta. Galak meneriaki Ikanuri dan Wibisana yang selalu saja jahil entah melakukan apa kepada anak-anak. Meladeni Ikanuri dan Wibisana yang masih saja suka mengganggu Kak Laisa dengan celetukan-celetukan. Tertawa. Bermain kembang api bersama anak-anak kampung. Membuat langit lembah bercahaya oleh gemerlap nyala kembang api. Membakar jagung di halaman rumah bersama tetangga-tetangga. Kak Laisa tidak berubah sedikit pun, persis seperti melihat foto masa lalunya, hanya saja sekarang piguranya terlihat kecokelatan. Umurnya sekarang empat puluh tiga. Tapi ia masih sama disiplinnya, terus bekerja keras mengurus kebun, mengurus Mamak, mengurus pabrik pengalengan, mengurus sekolah di lembah, mengurus apa-saja. Melakukan banyak hal. Masih sama atletisnya, masih dengan tubuh gemuk tapi gempalnya. Padahal kalau Kak Laisa ingin duduk-duduk santai, tidak masalah. Pabrik itu punya belasan pekerja. Warga dari kampung atas dan seberang. Juga turut bekerja di perkebunan beberapa insinyur pertanian lulusan institut pertanian kota provinsi. Sekarang? Ya Allah, bagaimana mungkin seluruh rumah terlihat seperti sedang bersiap melepas kepergian seseorang. Yasin yang dibacakan? Warga yang berkumpul? Dalimunte menggigit bibir, sakit apa sebenarnya Kak Laisa? Dalimunte tidak tahan lagi, bergegas masuk ke kamar Kak Laisa. Terhenti. Langkahnya terhenti seketika persis di bawah bingkai pintu. Lihatlah! Ya Allah, apa maksud semua ini? Kamar Kak Laisa penuh dengan peralatan medis. Selang infus, belalai-belalai plastik. Layar bertuliskan garis-garis hijau. Alai-alat bantu lainnya. Tabung oksigen. Masker. Kaki Dalimunte bergetar. Matanya mencari di sela-sela peralatan medis yang pasti didatangkan dari rumah-sakit kota provinsi. Mata Dalimunte akhirnya menemukan sosok itu. Menatap nanar tubuh besar (tapi pendek) itu. Yang terbaring lemah di atas ranjang. Mamak Lainuri duduk di sebelahnya, menoleh karena mendengar seruan-seruan dari luar. Mamak bertanya lirih. Siapa yang telah tiba? Dalimunte— Dalimunte justru sudah terpaku bersitatap dengan mata redup Kak Laisa. 18 MEYIMPANNYA SENDIRIAN YASHINTA mematut-matut di depan cermin. Menyeringai sendiri. Tersenyum amat lebar. Lihat. Ayo lihat, Yash pagi ini mengenakan seragam merah-putih. Mamak membelikan dari kota kecamatan. Sebenarnya baju itu dibeli di pasar loak, baju bekas, tapi itu tidak penting. Yash juga tahu, kok. Hatinya sedang senang. Semalam berkali-kali terbangun. Pukul sepuluh, sebelas, dua belas, satu, dua, tiga, sampai Kak Laisa mendengus jengkel, karena setiap kali Yashinta terbangun, ia menarik-narik baju gombyor Kak Laisa, berisik bertanya jam berapa sekarang. Menunggu pagi seperti menunggu waktu seribu bulan, tak sabaran. Maka saat akhirnya kokok ayam hutan akhimya terdengar dari kejauhan, Yashinta semangat langsung mandi di sungai. Ini hari pertama sekolahnya. Bukan main. Rasanya susah dijelaskan. Lihatlah muka imut Yashinta bersenandung riang. Memasukkan buku tipis ke dalam tas, pensil yang sudah diraut, penggaris bambu. Crayon 12 warna dari Kak Ikanuri dan Kak Wibisana. Lantas sudah duduk rapi di meja makan. Siap untuk sarapan. Ikanuri dan Wibisana hanya nyengir melihat kelakuan Yashinta. Bagi mereka tingkah Yashinta mirip sekali dengan mahkluk planet lain. Mana ada coba penduduk bumi yang semangat seperti adiknya berangkat sekolah. Tapi Dalimunte tidak, dia tersenyum lebar, menyeringai membesarkan hati Yashinta, yang justru saat sudah siap berangkat bersamasama malah gugup, mendadak sakit perut.

Kejadian di puncak Gunung Kendeng sedikit banyak membuat mereka sungkan dengan Kak Laisa. Mamak meski terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada istilah berleha-leha. Kempat adik-kakak itu menuruni lereng landai kebun. Yashinta jelas mewarisi ketekunan dan kecerdasan Dalimunte. belajar membuat anyaman bambu. Setelah dipotong zakat. Mendekat "Mak. apalagi mereka. tangannya tetap gesit menyiangi rumput di sela-sela batang jagung. Meski masih sering membantah. Musim kemarau tiba di minggu-minggu puncaknya. Menurunkan daun pisang di atas kepalanya. tapi soal itu benar-benar penting baginya. Wibisana dan Dalimunte. Sekali dua malah tanpa disuruh pergi ke hutan mengumpulkan kayu bakar dan rotan. Meski kerjaannya di sana hanya belajar di bawah pondok. ikut membantu. Mamak Lainuri tak kurang dapat empat puluh kaleng padi. . dan anyaman rotan selama ini. Lebih keras bekerja. "HUUUU! HUUUU!!" "HUUUU!" Mamak membalas teriakan Dalimunte. Sejauh ini ponten pelajarannya bagus-bagus. bukan tidak peduli dengan pertanyaan Yashinta. "Siapa?" Mamak bertanya pendek. sisanya masih lumayan. Terlalu lama terpanggang terik matahari. justru bertanya padii Ikanuri.www. Yash—" Yashinta yang pertama kali melapor. yang seluruhnya dijual ke kota kecamatan. mengerjakan PR. "Tahu. tanpa menoleh. juga delapan belas kaleng untuk persediaan beras mereka selama setahun.rajaebookgratis. Berjalan pelan-pelan mengiringi Ikanuri dan Wibisana. Dengan suara seperti pekikan burung. Ditambah tabungan Mamak dari menjual damar. kan? Ihhh. gula aren. uangnya cukup sudah untuk membayar biaya sekolah Yashinta. Dalimunte duduk di kelas enam. Sekolah lanjutan di kota kecamatan. Shalat dzhuhur (Dalimunte yang jadi imam). Mengambil arit yang tergeletak di dekat Kak Laisa. Kak?" Yashinta nyengir. siapa—" Ikanuri melangkah tidak peduli. Yang berarti akan lebih banyak lagi uang yang diperlukan. Itu berarti setahun lagi Mamak harus memikirkan kelanjutan sekolah Dalimunte. Yashinta sudah boleh ikut ke ladang sekarang. mereka jauh lebih menurut. Menanaminya dengan jagung. Sementara Ikanuri dan Wibisana kelas empat. teriakan seperti itu lazim. Mereka berempat berbelok. tubuh gendut tapi gempalnya terlihat semakin hitam.com Panen bersama sebulan lalu sukses besar. Kak Laisa dan Mamak sedang membersihkan gulma di pojokan ladang. Tidak percuma Kak Laisa saban hari mengejar-ngejar mereka dengan sapu lidi teracung dan berteriak-teriak "Kerja keras!" "Kerja keras!" "Kerja keras!" Dua sigung nakal itu sudah jarang bolos sekolah. kemudian Dalimunte meneriaki Ikanuri dan Wibisana agar buruan menyusul Mamak. Daun pisang yang tadi diambilkan Dalimunte percuma. masih sering melawan. perjalanan pulang dari kampung atas tetap menyiksa wajah. Di Lembah Lahambay. siapa. masih sering kabur disuruh mengerjakan sesuatu. Sudah rajin membantu Mamak di Ladang. Subur. apa saja. tadi ada guru baru di sekolah. Ikanuri. juga padi cadangan untuk lumbung kampung. rotan. bukan tabiat iseng bin kenakalan Ikanuri dan Wibisana. Beruntung kehidupan di kampung jauh lebih baik sejak irigasi lima kincir air dibuat. Lah. Batang jagung sudah setinggi kepala. Siang itu panas membakar lembah. Lebih lama menyadap damar di hutan. dengan air yang terus mengalir. Tiba di rumah panggung mereka menghabiskan makan siang yang telah disiapkan Kak Laisa sebelum berangkat ke ladang tadi pagi. Begitu juga dengan Kak Laisa. Mamak melambaikan tangan dari kejauhan. Yashinta menyeka keringat di dahi tidak hanya sekali. harimau saja ngeri lihat Kak Laisa melotot. "Eh. Ini bulan ketiga sekolahnya. Beruntung pula perangai Ikanuri dan Wibisana juga ikutan membaik sejak kasus itu. maksudnya dia memang tidak peduli dengan siapa guru baru tadi. Untuk saling memberitahu posisi. Ikanuri dan Wibisana mulai mengerti arti tanggung jawab. Tahun ini. Lepas panen. Mamak langsung menggarap lagi ladang mereka.

Tidak boleh ada yang menangis. Rombongan burung layang-layang terbang pulang ke sarang.rajaebookgratis." Yashinta. Saatnya pulang. Kak! Artistik—" Wibisana tertawa. "Ikanuri. Kak Laisa membantu berbenah-benah. iya. Lembah itu hening. Tanpa sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi penduduk kampung. Yashinta mengangguk. "KKN itu dari mana ya. Membuat tulisan: Ika-Wibi Keren. menyenangkan. luas gulma yang berhasil dibersihkan Kak Laisa. Gurunya dari KKN. Gerah. nanti-nanti bakal dipangkas juga semuanya. Langit terlihat merah. Lebih tak jelas lagi apa gunanya mereka. kedua sigung nakal itu seperti membuat lajur-lajur di atas gulma.. benar apanya. Keluar bersama dahak. Mereka berjalan beriringan. Dulu-dulunya juga pernah ada pejabat entah dari mana yang datang ke Lembah. Mamak mengangguk. membawa kertas. tersendat. Sengaja membuat huruf nama-nama mereka. Wibisana. Nanti-nanti maksudnya minggu depan. mengancam. kan?" Ikanuri nyengir. hanya nanya-nanya. Dali. menebas rumputnya yang benar!" Kak Laisa mendelik. "Sudah benar. memotong kalimat Dalimunte. Dengan enggan dua sigung nakal itu membersihkan huruf-huruf nama mereka. Yaah. Musim kemarau ini entah sampai kapan. Asyik bermainmain dengan arit. "Lagian biar nyeni. nafasnya sedikit tersengal. Ada bercak darah di sana. Sejak tadi dia dan Wibisana tidak medengarkan percakapan. Kak Laisa melotot. jemari tangannya gemetar mengusap bibir perempuan umur empat puluh tiga tahun yang terbaring lemah di atas ranjang. Lihat. Teduh di bawah batang jagung. menatap tajam Ikanuri dan Wibisana. Katanya ada rombongan mahasiswa dari kota provinsi. Dua hari terakhir kenapa pula badannya terasa tidak enak.com "Ada yang KKN-" "Eh. Kelelawar mengepakngepakkan sayap bersiap memulai ritual malamnya. kan hanya bergurau. Posko mahasiswa itu ada di kampung atas. Kak Laisa melotot. tapi beberapa dari mereka juga akan melakukan beberapa proyek KKN di kampung bawah. Kak?" Yashinta duduk menjeplak di sekitaran mereka. Seminggu dua minggu. Yashinta asyik meneruskan anyaman rotannya. jadi ia tidak perlu sendirian di pondok yang terletak di tengah-tengah ladang. Seminggu lalu Wak Burhan juga bilang soal itu. Menyeka keringat yang mengucur tambah deras. Jarang-jarang ada pendatang dari kota di lembah itu. Menyimpannya di pondok. Tetapi Yashinta terlanjur asyik meneruskan anyamannya. Keringat mengucur semakin deras dari dahinya. satu jam berlalu. atau setelah panen jagung. ia mengerti. masih lebih banyak dibandingkan luas Kak Ikanuri dan Kak Wibisana dijumlahkan. Yash?" Kak Laisa bertanya. "Kenapa Kak Lais tidak bilang?" Dalimunte menangis.. Mak. "Kau baik-baik saja. Menggendong keranjang berisikan sayur-mayur. Yashinta berkali-kali batuk lagi. Sambil sesekali memperhatikan Kak Laisa yang tangkas membersihkan gulma. sambil berusaha mensejajari langkah Kak Laisa. Mamak menyuruh Dalimunte memberesi perlengkapan. dikalikan dua pula. Ikanuri dan Wibisana menelan ludah. "Tidak. Dulu pernah ada Mahasiswa yang juga KKN.www. KKN. entahlah. Ia sudah lancar. seperti bonsai berbentuk huruf di tamantaman. . Biasanya tidak selama ini. tapi program mereka kebanyakan hanya penyuluhan dan ceramah.." Kak Laisa berkata pelan.Sekali dua terdengar batuk. Matahari mulai tenggelam di balik Gunung Kendeng. Angin bertiup pelan. lazimnya diseling hujan deras yang sedikit mendinginkan lembah. Tubuhnya terlihat lekat.

"Kak Lais bekerja sepanjang hari membantu Mamak demi kami. Mamak mengusap rambut Dalimunte. seseorang yang amat dihargai sepanjang hidupnya berbaring lemah di hadapannya. kau amat membanggakan Kakak—" Kak Laisa terbatuk pelan. terus ada darah pula keluar dari bibirnya. Hanya tangis tertahan di ruangan itu. Kak Lais selalu mengalah. anakku.. Pagi itu. Semakin tergugu. demi kami—" Kalimat Dalimunte terhenti. Ia sedih. Sejak tiga puluh tahun silam. Dulu saja. Lihatlah. menatap dengan mata bercahaya.. Ia tidak tahu kenapa ikut menangis. Dalimunte memeluk pinggang Mamak. Biar Lais yang berhenti sekolah... waktu kecil ia sudah mengerti. "Kak Lais selalu menyimpannya sendirian. Sejak Laisa mulai mengerti arti tanggung-jawab. tidak ada yang boleh menangis dengan semua kabar baik itu. Dali tidak tahan—" "Kemarilah.. "Ingat kata Kakak dulu saat kau berangkat sekolah di kota provinsi. Kak Laisa tetap berusaha tersenyum menyuruhnya tidakk menangis. kalau kelihatannya sudah begini itu artinya serius sekali. kau akan menemukan tempat-tempat baru. dia tak kuasa melanjutkan hanya bisa mencium jemari tangan yang terkulai lemah itu. Senyap. sedih sekali melihat Wak Laisa yang kuat menggendongnya naik turun cadas sungai." Dalimunte tidak bisa menahan lagi perasaannya. Bahkan Kak Lais menyimpan semuanya sendirian selama ini. Lihat. Hari itu. Mamak ikut menyeka sudut matanya. Pukul empat shubuh. Berbagai kenangan masa lalu berdesing memenuhi kepalanya... Laisa mendekatinya dari belakang. tapi Dali tidak tahan lagi." Putri sulungnya tersenyum tulus.. Wajah keriput berumur enam puluh tahun itu terlihat amat sendu. Mak. Intan ikutan menyeka pipinya. sejak kami masih nakal suka membantah—" Dalimunte tergugu. teman-teman baru. Kelas empat Umur Dalimunte tujuh tahun. tidak ada yang boleh menangis. sekarang pucat pasi. Lagipula Lais anak perempuan. Cemas... Bagaimana mungkin dia tidak akan menangis? Lihatlah. Juga hari ini." Mamak berbisik lirih dari belakang. "Lais tahu Mamak tidak punya cukup uang untuk membeli seragam baru Dali.. Bingung. tidak peduli dingin. tetap sama seperti dulu.. selama itu.rajaebookgratis.com "Kau anak lelaki. Di keluarga ini anak lelaki tidak boleh menangis" "Tapi kenapa Kak Lais menyimpannya sendirian. Aduh.. Cie hui. tidak ada yang boleh menangis—" "Ta-pi. Lais!" Mamak menatap tajam Laisa.. Menggeleng.. Intan menggigit bibir.. Buat apa Lais sekolah . Kak Lais bahkan menerobos hujan deras. Memberikan janji-janji yang selalu ditunaikan. Memberikan perlindungan. "Dali…. Ia-lah yang paling tahu urusan ini. Kak Lais mempermalukan diri demi kami. kau akan belajar banyak. Mamak ingat sekali. "Biar. Dalimunte menyeka darah itu dengan jemarinnya.www.. Bahkan hingga saat ini. Biar Lais yang berhenti sekolah.. Ia keliru. Kenapa Kak Laisa tidak bilang kalau selama ini sakit? Ya Allah. Mengubur cita-citanya sendiri demi adikadiknya.. bergerak saja susah di atas ranjang.. Saat Mamak sibuk memasak gula enau. Sejak kami kecil. Dahak sekali lagi keluar bersama darah. jemari tangan menggigil demi kami.. mendekap Intan yang entah mengapa juga ikut tertunduk. Dokter perkebunan yang sejak sebulan lalu merawat Kak Laisa menatap dengan mata berkaca-kaca. Hei. "Kau harus terus sekolah. demi kami. berbisik menenangkan. Sudah setahun Dalimunte tertunda sekolah karena Mamak tidak punya uang. Umur Laisa saat itu sebelas tahun. ternyata Wak Laisa sakitnya tidak sekadar mencret-mencret. ketika tubuhnya terlihat amat lemah.. Wak Laisa batuk lagi. Saat yang lain masih tertidur lelap.

Mandiri. Sejak sore tadi awan hitam berarak memenuhi langit. Lais membantu Mamak mencari uang saja.. tiba di desa atas kakinya yang gemetar tidak bisa diajak melangkah. Wajah yang sekarang terlihat amat lelah. Dalimunte terpaksa menggendongnya pulang. Penyakit yang disimpannya sendiri sejak sepuluh tahun silam. Akhirnya pesan 203 karakter itu terkirimkan. Laisa. hanya Mamak yang tahu). Rombongan mahasiswa KKN dari kampung atas datang. Mengompres.. Karena ia tidak ingin merepotkan adik-adiknya. tubuhnya tidak kuasa lagi bertahan.. meski dengan semua spirit itu. Apa saja yang lazim dilakukan penduduk lembah unruk meredakan panas dan batuk. Tapi yang pergi ke balai hanya Laisa. Mamak sungguh tidak akan kuasa membesarkan anak-anaknya tanpa bantuan putri sulungnya. Mulai shubuh itu. Laisa tidak pernah menyesali keputusannya. Mengajari adikadiknya tentang disiplin. Yashinta malah sudah tidak masuk sekolah dua hari. Tidak. Meski tetapberusaha tersenyum didepan adiknya. Sepanjang hari terpanggang terik matahari di ladang. Mamak menjagai Yashinta yang gering. Tidak mengeluh.www. satu bulan yang lalu. Ada pertemuan di balai.. Semua kesulitan hidup masa kecil itu.. Ia melakukannya dengan tulus... Tertawa mengajak mereka melakukan banyak hal. Membuat ramuan dedaunan.com tinggi-tinggi. Dalimunte yang menangis— 19 BIARKAN KAKAK SENDIRIAN DUA HARI selepas Yashinta pulang batuk-batuk dari ladang. kanker itu sudah menjalar ke mana-mana. Akhirnya setelah dua bulan kemarau menggantang lembah. Dalimunte. Batuk-batuk Yashinta dua hari lalu di ladang ternyata serius. Malam ini. Satu bulan terbaring tidak berdaya. Tidak henti. Wajah yang sekarang terlihat amat lelah. Menatap dengan yakin dan mengerti benar apa yang telah dikatakannya. Sayangnya. Kalah. Angin malam menderu kencang. Mamak tahu persis satu hal. Dengan begitu nanti Ikanuri dan Wibisana juga bisa sekolah. juga perawat-perawat Kak Laisa satu bulan terakhir bertahan tidak memberitahu adik-adiknya hingga tadi pagi. Juga Yashinta. Laisa yang bersumpah membuat adikadiknya sekolah menjadikan sumpah itu seperti prasasti di hatinya. Menganyam rotan hingga larut malam. Laisa membantunya melaluinya dengan wajah bergeming. Terbaring lemah karena kanker paru-paru stadium IV. Mamak yang menunggui Yashinta. Rebusan. Udara lembah terasa dingin. Dua hari berlalu. hujan nampaknya akan turun. Ketika ia merasa waktunya sudah tiba. percuma. Biarlah Dalimunte yang sekolah. Maka didatangkanlah dokter dari kota provinsi (yang juga sepuluh tahun terakhir diam-diam merawatnya. Wajah yang tidak banyak mengeluh. Setiap kali kunjungan dua bulanan. Sepuluh tahun kanker itu seolah tak kuasa menggerogoti fisiknya. Hari pertama sakit. Setelah Mamak membujuknya. Fisiknya tidak kuasa lagi.rajaebookgratis. Bangun jam empat membantu memasak gula aren.. Ikanuri dan Wibisana. Laisa tetap riang menyambut anak-anak. balai kampung ramai dipenuhi oleh penduduk. bukan dia. Itu pula yang membuatnya bisa bertahan selama ini. sepanjang tahun. sakit Yashinta semakin parah. seluruh energi dari penerimaan jiwa atas pilihan hidup yang hebat itu berakhir sudah. yang berhak merepotkan itu adik-adiknya. Wajah yang menatap Dalimunte yang sedang memeluk pinggang Mamak. Sejak lepas shalat isya. gadis kecil itu tetap memaksa berangkat. Meski semangat hidupnya masih tinggi. Sejak kematian Babak diterkam harimau. Juga peralatan medis. pertanda bakal turun hujan lebat . Tubuhnya panas. Kerja keras." Putri sulungnya menyentuh lengannya.. Tugasnya hampir usai. Bagi Laisa. Bergantian mereka menunggui. jatuh pingsan.

"Yash masih wakit. Mengangkat tangannya berkali-kali. Membentangkannya lebar-lebar. Juga ada jadwal penyuluhan. Wak Burhan kalau bisa malas memberikan jadwal untuk penyuluhan yang satu ini. Wak Burhan tak butuh waktu semenit untuk mengetukkan palunya. Setidaknya janji ada penganan kecil dan sekoteng hangat setiap jadwal penyuluhan sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka hadir. Di depan sana berjejer enam orang mahasiswa yang dua hari ini sibuk disebut-sebut warga kampung. Lima belas menit tepat. Mengesankan melihat kakak-kakak mahasiswa itu. penjelasannya selesai. Dua mahasiswa berikutnya menjelaskan tentang kemandirian ekonomi. Mengambil tempat duduk bersama adik-adiknya. Yang bisa dimanfaatkan warga setempat untuk berobat. Dua mahasiswa lainnya. Kesempatan kredit. Bicara soal sanitasi.00. Pukul 22. ingin minta tolong periksa Yashinta yang sedang sakit. Pengolahan tanah. Memuji-muji penduduk kampung yang telah membuatnya. demi melihat penduduk kampung sudah tidak terlalu memperhatikan. Meyakinkan. Pertemuan usai. itu mimpinya enam tahun silam. Dalimunte menjadi orang yang paling tertarik atas rancangan itu. Lagipula jika ia sekolah. Rotasi tumbuhan. Dua mahasiswa itu berunding. Apalagi dijanjikan ada bantuan soal dinamo. siapa yang akan membantu Mamak mencari uang buat adikadiknya? Wak Burhan mengetukkan palu bonggol bambu. Jadwal mereka sudah penuh. Ia sudah mengubur cita-cita itu dalam-dalam. peralatan instalasi. Wak Burhan mengetuk palu. Mengenakan jaket kuning. Mereka biasanya beranjak tidur pukul sembilan. Bilang ada posko kesehatan di kampung atas. bertanya. Wak Burhan mengetuk palu. Mengangguk. cowok-cewek. malam Selasa. Malam beranjak matang. Laisa menelan ludah.www. Minggu depan mereka mulai bergotong-royong. Ah. Nah. Meski program KKN yang satu ini tidak sekongkret listrik. Lampu-lampu. kerlap-kerlip. Wak—" Laisa menjawab pendek. yang ini benar-benar membuat penduduk kampung pusing. Enam mahasiswa ini berbicara lantang. kabel-kabel. Bahkan Dalimunte saja yang sejak tadi antusias mendengarnya. Usianya sudah tujuh belas sekarang. Lais?" Wak Burhan bertanya. Kesempatan yang lebih lapang. Akses modal. Penduduk Lembah mengangguk-angguk. Bermimpi melihat dunia luar yang lebih luas. Angin yang menerobos membuat cahaya obor bergoyang. Proyek KKN listrik kincir air itu disetujui. percaya diri menatap sekitar. dan lainnya dari universitas. Jadi mahasiswa terakhir. Laisa berusaha mendekati mahasiswa wanita yang bicara terakhir. menguap lebar-lebar.rajaebookgratis. ternyata tidak ada jadwal penyuluhan untuk yang satu ini. Kincir air itu bisa dijadikan generator listrik. Pemeriksaan kesehatan. Wak Burhan bilang cukup seminggu sekali. lantas sama seperti Dalimunte dulu. tapi penduduk kampung bisa menerimanya.com "Mamak kau tidak datang. pertemuan dimulai. Balai kampung itu sudah ramai. Laisa menatapnya lamat-lamat. yang lebih besar dibanding Lembah Lahambay ini. dia juga membawa kertas-kertas. Kabar baik. sudah larut untuk ukuran penduduk lembah. Penduduk kampung juga terpesona. Lepas pertemuan. Sebenarnya sih. Salah satu dari tiga mahasiswa lelaki bicara soal konstruksi kincir air. Tapi karena di luar guntur berkali-kali . Simpan-pinjam. Tegas. Bibit yang digunakan. Bicara tentang listrik. Yang wanita terlihat cantik dan cerdas. sudah amat terlambat untuk melanjutkan sekolah kelas empatnya. Dulu ia pernah bermimpi menjadi seperti ini. Koperasi. mungkin berasal dari fakultas pertanian. Yang lelaki terlihat gagah dan pintar. bicara soal ladang-ladang mereka. dengan demikian setiap malam Kamis dan Sabtu ada penyuluhan pertanian di balai kampung. Obor-obor membuat ruangan terang-benderang. Tersenyum lebar. hanya sempat bicara lima belas menit. Mahasiswa Universitas kota besar dari seberang pulau. Posyandu. Lantas mengangguk. Lantas ujung-ujungnya: jadwal penyuluhan. Kebersihan.

Suhu badannya tidak turun-turun. Tidak peduli tubuhnya basah-kuyup. "Ternyata mereka tidak hanya melakukan penyuluhan-penyuluhan seperti yang KKN dulu. Kak Laisa berteriak tambah panik. Mamak bersandar di dindig." Laisa melapor setiba di rumah. Menetes di dalam rumah. mengirimkan bilurbilur air. Menampung tetesan air.www. Dali!" Laisa menyuruh Dalimunte. Kak Laisa mendadak berseru-seru. apa yang sedang terjadi. Sudah mengantuk. Dalimunte mencicit melihatnya. Mamak langsung terbangun juga Dalimunte. Apa saja yang terpikirkan olehnya.rajaebookgratis. Mengompres. menyisakan putih. Tidak peduli malam yang gelap gulita. saat Ikanuri dan Wibisana yang terjaga ikut mendekat dan bergumam jerih. Mengganti air kompres. Ada apa dengan Yashinta. Mengibas-ngibaskan rambut. tubuh Yashinta menggelinjang. Panik. Sekali. Mamak juga sudah tertidur. Lantas diikuti oleh tatapan bingung Mamak. Berusaha memberikan ramuan. petir berkali-kali menyambar. Kak Laisa sudah berlari menghambur ke tengah derasnya hujan. Jantungnya berdetak kencang. tapi setelah mendekat malah menjauh lagi. Angin menderu kencang. Tidur. yang setengah terkantuk. Kak Laisa berlarian menaiki lembah. enam mahasiswa KKN itu sudah terlanjur bergegas kembali ke kampung atas. masuk ke dalam rumah. Mencelupkan kain. Tidak peduli. Terpeselet. Dia tidak tega melihat Yashinta yang terus mengerang. Guntur . Mamak hanya mengangguk selintas. Percuma. suhu Lembah Lahambay bisa mencapai delapan derajat celcius. Gemuruh. Panik. Ikanuri dan Wibisana sudah beradu punggung di ruang depan. Kak Laisa menendang pintu depan. saat Dalimunte sudah lelap tertidur. terdengar kesakitan. "Kau juga tidur.Terkantuk menunggui Yashinta yang tidur sambil mengerang. Kompres kain yang membungkus dahi Yashinta seperti sia-sia. Mamak berusaha menyeka keringat yang mengalir deras dari leher Yashinta. Laisa buru-buru mengambil baskom dan kain. membuat perabotan berderak. "Yashinta. Meski lebih banyak bingungnya. mengenakan jas hujan besar dan payung. Ikut tegang. entah apa yang akan dilakukannya. Dua kali. takut. Hanya Dalimunte yang berdiri di depan pintu kamar. Satu dua tampias." Kak Laisa mengambil posisi di sebelah Yashinta. Pukul 24. Mak. Terbangun. Mak?" Mamak mengangguk. Ya Allah. Tidak peduli tetes air hujan bagai kerikil batu yang ditembakkan dari atas. Lihatlah. Dingin membungkus hingga ujung kaki. Di luar hujan deras terdengar membuncah atap seng. "Mamak sebaiknya tidur. Terlihat amat lelah. Musim kemarau begini.00. Kejang. Apa yang harus ia lakukan? Tidak ada dokter di sini. Memerasnya. Matanya mendelik. biar Lais yang jaga sekarang. Berdebam. Kak Laisa mendadak berlari ke ruangan depan. Dalimunte menelan ludah. berusaha memejamkan mata. di malam hari. Hujan turun semakin deras. Panas. Berusaha mendekat. Tidak ada. Mak! YASHINTA!" Mamak Lainuri berusaha memegangi tubuh Yashinta. Kak Laisa berlari sekuat kakinya ke kampung atas. tidak mengerti harus melakukan apa. mata Yashinta semakin mendelik. Maka di tengah deru angin yang semakin menggila.com menyalak. mereka juga bergegas kembali ke rumah panggung. saat tubuh Yashinta semakin tidak terkendali. Meletakkannya di dahi Yashinta lagi. Saat Mamak semakin bingung. Lagipula Ikanuri dan Wibisana memaksa pulang buruan. persis tengah malam. Petir menyalak. lantas sekali dua batuk. Memperhatikan Yashinta dengan wajah sedikit cemas. "Masih panas. Bergelung. setengah terjaga mendekat. Hujan deras turun persis mereka tiba di halaman. beringsut ke ruangan depan.

Kak Laisa yang selalu berusaha terlihat semua baik-baik saja. Menyentuh dahi Wak Laisa. meski dia baru menyadarinya belasan tahun kemudian. dan peralatan medis..com menggelegar. Cemas. Salah satu dari penduduk kampung bawah yang tadi dua tiga kali bertanya. Intan menyeringai. sepertinya Ibu Laisa harus ditinggal istirahat. maaf Pak Dalimunte. Dia tahu banyak urusan ini. Ikut membersihkan darah dari pipi Wak Laisa. memberikan kode gerakan tangan ke dokter.. sesesak apapun rasanya. akhirnya ikut tersenyum. Kepala kampung atas yang ikut terbangun berbaik hati meminjamkan starwagoon tuanya. Duduk tertunduk. jangan banyak bicara dulu—" Laisa yang perlahan kembali terkendali menggeleng. Ia ingin terus terjaga menunggu adikadiknya pulang satu per satu. Ia ingin menatap wajati mereka satu persatu. Hujan turun semakin deras. Mereka pasti bisa membantu. Ia ingat kakak-kakak mahasiswa tadi menyebut-nyebut soal obat dan dokter. Wak Laisa pasti nanya. tadi langsung loncat dari mobil. Menggedor pintu rumah kepala kampung atas. batuk. ingin mendengar Intan bercerita. "Eh. Dalimunte sudah bisa duduk lebih tenang.. Biar. Dalimunte menatap wajah lelah itu. Intan meraih kotak tissue. sayang?" Intan menoleh ke Ummi. "Safe The Planet".. Memasang wajah tidak percaya. Tidak pernah. Malam itu. Tidak ada salahnya.rajaebookgratis. Waktunya terbatas.. Mobil hanya bisa dipakai hingga batas ladang-ladang. Laisa untuk kesekian kalinya tiba tepat waktu. ia mengenali Laisa. Ingat. hanya Wak Laisa yang mau (dan benar-benar niat) pakai dua gelang. Intan melangkah mendekat "Wawak sakit. Tuh. Ia ingin Intan tahu kalau Wawak-nya baik-baik saja. Wak Laisa tersenyum lagi. Sesakit apapun. Wawak baik-baik saja. Laisa berusaha tertawa mendengar celetukan Intan. Baiklah. Yang membuat Intan ikutan pias. Kalau tidak panas. Ia ingat. Dokter menelan ludah. Berdengking. Kak Laisa yang tidak pernah menangis di depan adik-adiknya. Mahasiswa itu mengangguk. Pasti nyari pacarnya yang dibilang Oom Ikanuri —" Tertawa kecil. Mobil itu segera meluncur. tersenyum. Tidak banyak yang bisa dilakukannya lagi. Ia harus segera. Kakak-kakak mahasiswa itu berbaik hati menerobos . kan. Mahal sekali harganya. sepatu bot. memeriksa peralatan. tuh kan. Takut. kenapa tubuh Wak Laisa dipenuhi infus? "Yang sakit apanya?" Intan bertanya macam dokter saja.. Ia ingin bicara.www. Terpaksa berjalan lima ratus meter. Wawak pasti bohong. Memperlihatkan dua gelang karet. Membuat garis hijau di layar peralatan medis terputus-putus. Intan menyentuh lembut lengan Wak Laisa. hanya tertawa? Dokter melangkah. Bagai bisa melihatnya kebali dari pendaran cahaya Lampu neon. Tidak panas. Mendongak. Terbata-bata bilang tentang sakit Yashinta. Cahaya lampu neon bersinar lembut. "Eh. tubuh tambun tapi gempal itu bergerak-gerak tertahan. sayang. ya?" Laisa menggeleng. juga tidak panas. Intan menelan ludah. Kenapa Wak Laisa jadi semaput? Kan. Biarlah mereka berada di kamar ini. "Kemari. Wajahnya yang kesakitan. Abi saja ogah." Laisa memanggil pelan Intan. lantas berkata ragu-ragu. Melihat kembali tetes air dari tubuh Kak Laisa yang membuat ruangan depan tergenang. Laisa pelan mengangkat lengannya. "Si belang mana. berhitung sejenak. Berdiskusi sebentar dengan Mamak dan Dalimunte. mendekat. Tanpa pikir panjang langsung menyambar jas hujan. meniru Eyang. hanya beli doang. Dia ingat sekali kejadian malam itu.

Atau juga karena dia terlalu banyak sesak mengenang masa kecil itu. Tadi hampir satu jam ia mendaki lembah untuk tiba di kampung atas. Normalnya hanya setengah jam. lantas hinggap di pohon. kakinya menghantam tunggul Batang kayu yang sudah mati. Rasa sakit yang sebenarnya membuat Laisa menitikkan air mata. Kak Laisa yang duduk di dapur. Mata kaki itu terlihat merah. Aku baik-baik saja. Biasanya mereka berdua sibuk minta berhenti setiap kali melihat apalah. Ia harus maju terus.com hujan. Tapi Laisa menggigit bibirnya kencang-kencang. Atau karena kelelahan. Bengkak. menahan rasa sakit yang teramat sangat. Air hujan dari tubuh Kak Laisa tergenang di sekitarnya. Membasahi lantai papan. Seperti ditusuk seratus sembilu saat berusaha dijejakkan ke tanah. Lancar. tapi di tengah jalan tadi. kurang tidur. Pernah Juwita dan Delima membuat rombongan dari kota provinsi terhenti total hanya gara-gara mereka melihat ada burung kwao yang melintas di depan mobil. Lantas menyuntikkan sesuatu. Yashinta mulai lebih terkendali. Tapi Kak Laisa tidak pernah mengeluh. 20 KAU HARUS TETAP SEKOLAH! "DALIMUNTE baru saja tiba di perkebunan strawberry.lari kecil mengikuti langkah kakak-kakak mahasiswa didepannya menuruni lembah. Terbatuk pelan. Bahkan jika tidak tersamarkan oleh air yang masih menetes dari rambutnya. Kesakitan. Tinggalkan aku. Memar malah (esok lusa baru tahu kalau tulang mata kakinya bergeser). Wajah Kak Laisa meringis. kakak-kakak mahasiswa tahun terakhir di fakultas kedokteran itu segera mengurus Yashinta.. Yashinta menunggu pertolongan di rumah.rajaebookgratis. Guntur menggelegar di luar sana. Swiss semalam. Tubuhnya yang tanpa pelindung apapun menggigil." Wibisana menghela nafas." Wibisana memasukkan telepon genggamnya ke saku. dia sungguh bisa melihat Kak Laisa mengeluarkan air mata.www. Mengusir rasa sakit di kaki. Kerongkongannya sedikit sakit. Tidak kurang tiga puluh . Jelas perjalanan akan lebih lancar jika kedua putri mereka sudah tertidur. bertengkar. Memeriksa Yashinta dengan cepat. Layar raksasa penunjuk jadwal dan status penerbangan di langit-langit gedung ultramodern Paris International Airport memamerkan kecanggihannya. Ia menyeringai galak. setelah belasan jam tanpa jeda melanglang buana. "Jasmine dan Wulan juga sudah tiba di kota kabupaten. Membuka peralatan medisnya. Ia mencengkeram pahanya. Tidak pernah. dekat pintu belakang sejak tiba. Laisa menyadari Dalimunte yang memperhatikannya. Sibuk berteriak-teriak. Tidak akan pernah. Jika tidak tersamarkan oleh gigilan kedinginan. Malam itu Dalimunte akhirnya mengerti satu hal: Kak Laisa tidak akan pernah menangis di depan adik-adiknya. Dalimunte menatap lamat-lamat Kak Laisa. Ikanuri mengangguk. Ikanuri mengusap wajah lelahnya. Basah. Ini mungkin gara-gara kehujanan di Pegunungan Alpen. terus mendaki lembah. Kedinginan. Laisa mengikuti dari belakang. Perjalanan mereka tidak banyak masalah. Dalimunte mengigit bibir. Memaksa Abi mereka menangkap burung itu. Lepas lima menit. Dalimunte menelan ludah. Memaksa kakinya melupakan rasa sakit. tidak mau mendengarkan penjelasan kalau tinggi pohonnya saja hampir dua puluh meter. Mereka datang tepat waktu. Kak Laisa yang meringkuk memegangi kakinya. Maka sama sulitnya saat ia berlari. menyuruh Dalimunte kembali ke ruang depan. Sementara hujan deras terus membuncah atap seng.. Kata Jasmine. Juwita dan Delima tertidur di mobil. Sakit sekali. Badan itu kuyup. dia bisa melihat Kak Laisa yang gemetar menahan rasa nyilu di kakinya yang dipaksa terus berjalan menuruni lembah. perlahan membalik badannya.

Mereka shalat shubuh di kabin kereta. Departure 07. lagi?" Ikanuri bertanya.. Hijau. Dan tentu saja juga bukan soal materi dan sebagainya. Kuning. dengan generator yang terpasang.45.rajaebookgratis. Lebih dari itu. ." menelan ludah. lelah tentu saja. Tapi dia tidak mengantuk atau lapar. Kincir air itu berfungsi ganda. dengan mahkluk angkasa di dalamnya (ini celetukan Ikanuri yang asal ngarang saat pertama kali melihat bohlam lampu di surau). Merah. Bermasalah. setelah nyaris sepuluh jam tidak berhasil menghubungi Yashinta.www. seharusnya mereka masih punya waktu untuk sarapan. Sesuatu yang berguna. Nah. Moskow. dia akhirnya ikut cemas. California. Ya! Goughsky.com baris jadwal penerbangan terpampang otomatis di layar tersebut. Kesejahteraan penduduk.35. sekarang sekaligus menjadi pembangkit tenaga listrik. Tadi kereta Eurostar tiba di stasiun Gare de Nord. Dalimunte belajar banyak dari kakak-kakak mahasiswa Semakin menyukai membuat sesuatu. Hongkong.30. Maka terang-benderanglah lembah tersebut. Bukan. Mengusap wajah sekali lagi. Ikanuri melirik jam di pergelangan tangan.45. WNI keturunan Uzbekistan itu kolega Yashinta di lembaga konservasi. Lantas langsung meluncur menuju bandara. Departure 07. Bukan soal pendidikan. Tiga tahun terakhir.. Tidak ada nada sambung? Selama itu kah? Kemana pula anak itu di waktu sepenting dan semendesak ini? Apa masih di puncak Semeru? Mengamati alap-alap kawah? Tidak mungkin sinyal telepon genggam satelitnya tidak menjangkau daerah tersebut. instalasi listrik pertama akhirnya terpasang di rumah-rumah kayu. Lantas kemana anak ini hingga telepon genggamnya tidak aktif? Kehabisan baterai? Tidak mungkin. Ah.40.. Berpendar-pendar. toh meski tetap di lembah. "Kau sudah menelepon Yashinta. Kak Laisa sungguh tetap bisa melakukan hal-hal besar. Dan sebaliknya. akses atas kesempatan. Segera check-in. Arrive 07. Riyadh. Dua bulan setelah kejadian sakit Yashinta. toh. Ia selalu membawa baterai cadangan. Kenapa tidak terpikirkan sejak tadi? Semua kepanikan ini membuat kepala mereka tumpul. masih satu setengah jam lagi jadwal penerbangan mereka. Dia penat itu benar. Kalau pun tidak. meski terhenti oleh longsoran itu selama dua jam). Seperti melihat pesawat UFO mendarat. di mana ada Yashinta. Tapi perutnya tidak lapar. meski tidak sekolah Kak Laisa tetap seperti tahu segalanya. Paris pukul 05. Delay 07. di situ juga ada Goughsky. Kak Laisa bahkan berhasil merubah wajah seluruh lembah. pendidikan anak-anak. karena jelas Kak Laisa boleh menguasai seluruh Lembah Lahambay dengan perkebunan strawberry-nya. Departure 07. Masih lama. Bukan pula soal kesempatan melakukan hal-hal besar. Wibisana mengangguk. Display yang mengagumkan. anak itu rela menukarkan nyawa untuk memastikan di mana Yashinta sekarang Wibisana buru-buru menarik HP dari saku celana. "Tetapi. Sebenarnya inilah urusan paling pelik dari hubungan kakak-adik yang mengesankan tersebut.30 (hanya terlambat setengah jam. saat itulah mereka menyadari jika Kak Laisa semakin 'tertinggal' dibelakang. tetap tidak ada nada sambungnya…. janji-janji kesempatan lebih besar di luar Lembah Lahambay tiba. Yashinta pendaki gunung profesional. "Kau sudah telepon Goughsky?" Ikanuri teringat Wibisana seperti tersadarkan. Bukan main. Bogor. Mereka kompak tidak hanya urusan konservasi. Jakarta. Menikmati sepotong donut dan segelas kopi gaya Perancis. Singapore. Meski sayangnya enam bulan terakhir hubungan mereka berantakan. Saat kehidupan lebih baik datang menjemput. Anak-anak yang selama ini hanya terbiasa dengan lampu canting dan ribuan larik kunang-kunang mengerjapngerjap menatap bohlam lampu belasan watt. Goughsky pasti tahu di mana Yashinta. Ikanuri menghela nafas panjang. Departure 07. Mahasiswa KKN itu membuktikan kalau bantuan dari kampus tidak omong-kosong. Menumpang subway ParisBandara.40.

. lembayung jingga tenggelam di balik Gunung Kendeng. kebun strawberry itu gagal total. lihat. karena justru dengan beginilah kita akhirnya berkesempatan memiliki uang yang cukup buat sekolah Dali di kota kecamatan tahun depan. Kabut buram menggantung di mata Kak Laisa.. Iklimnya tepat. Langit mulai gelap. Keputusan besar. Senja membungkus ladang. Aku tahu. Menghela nafas pelan.... Tidak susah menyiapkan polybag. menggenggam lengan Mamak.. Selepas mahasiswa KKN itu pulang ke kota provinsi. Tetapi Laisa keliru. yang justru menambah senyap suasana.. .rajaebookgratis. namun mengurus ratusan polybag bukan pekerjaan gampang.. dan Yashinta putus sekolah karena mengganti tanaman di kebun. Mak. ijinkan Lais menanam buah itu. Satu dua burung layang-layang terbang menerobos bilur air hujan. Laisa bahkan menggambar banyak petunjuk dari kakak-kakak mahasiswa. Separuh lagi buahnya busuk saat diangkut ke kota kecamatan untuk dibawa ke kota provinsi. hingga menjualnya ke kota kecamatan.. terendam. Tertunduk. bukan? Hanya Yashinta yang berseru-seru riang. sepertinya lebih mudah mengurus polybag-polybag ini daripada menyiangi gulma setiap hari. Bagaimanalah? Aduh. Amat pelan. Laisa membujuk Mamak untuk mulai menanam strawberry di kebun mereka. Lembah mereka cocok untuk menanam strawberry. Meski Mamak sekalipun tidak menyalahkannya. Tubuh gempal dan pendek itu basah. Wibisana. Melenguh. Kosong dengan batang strawberry yang layu. Ikanuri dan Wibisana nyengir. melihat gambar-gambar buah strawberry sepertinya buah merah ranum mereka akan lucu-lucu. Aku ingin melakukannya." Laisa memperlihatkan buku tulis butut sisa sekolahnya tujuh tahun silam. Kata kakak-kakak itu. Ikanuri. Dan tanahnya subur. "Aku tidak akan membiarkan Dalimunte. Lihat. Ketinggiannya baik. Dalimunte tidak banyak berkomentar. Gerimis membasuh lembah. Maka. Tubuh Laisa yang hanya setinggi dada Mamak terlihat bergerak-gerak antusias. Meyakinkan. Dan amat beresiko. Meski ia memiliki pengetahuan bagaimana menanam strawberry. Laisa berbinar-binar memperllihatkan angka-angka. Laisa menggeleng." Laisa menoleh. Tidak mudah. separuh kebun akhirnya ditanami dengan strawberry setelah panen jagung berikutnya. Laisa nyaris menghabiskan satu minggu untuk membujuk Mamak. Lais. Suhunya tepat. tapi sungguh aku tidak ingin itu terjadi. situasi jadi amat muram. Panen jagung sisa setengah lahan mereka juga ternyata buruk. Biarkan saja. Separuh batangnya mati oleh musim penghujan. harus didatangkan dari negara lain pula.. buah strawberry mahal sekali di supermarket kota provinsi. menyeka wajahnya yang berkeringat. kalau aku gagal. Tetapi menanam strawberry di lembah ini? Bahkan Mamak baru kali itu mendengar ada buah yang bernama strawberry. Lantas sedikit ragu-ragu menyerahknn daun pisang. Dalimunte melangkah mendekat. Kak Laisa belakangan lebih banyak menghabiskan waktu memandangi separuh kebun yang dipenuhi polybag hitam. atau padi. "Mamak menyuruh Kakak pulang. Perhitungan keuntungan yang lebih besar dibanding menanam jagung. Delapan bulan berlalu. Sendirian di tepi ladang.com Tapi lebih banyak lagi yang dipelajari Kak Laisa.www. "Laisa sudah mencatatnya.. Laisa berdiri mematung. Ilustrasi-ilustrasi seadanya. "Kita tidak pernah menanamnya. Lais mohon. Sudah basah." Mamak menatap lamat-lamat wajah sulungnya. Itu terjadi saat Dalimunte menjelang ujian akhir. karena Mamak tak kuasa melarang Laisa. bibit-bibit. Ia selalu yakin dengan Laisa. Sungguh tidak mudah. Mak! Kakak-kakak itu bilang banyak hal. Tulisan-tulisan yang jelek dan kecil. mereka bisa putus sekolah kehabisan bayaran." Kak Lais.

Dali!" Laisa memotong suara adiknya.. SUNGGUH—" "DIAM!" Suara Kak Laisa bergetar. "Dali tidak ingin sekolah.. kakak berjanji akan melakukannya Sungguh—" Laisa mengenggam lengan adiknya.rajaebookgratis. paling lambat tahun depan kau harus kembali sekolah.. "Kata Mamak. antara terdengar dan tidak. Begitu anggun di garis horizon lembah. Menunduk. Dali bahkan lebih suka bekerja di kebun membantu Mamak. Sungguh — " Dalimunte berkata serak.. Tapi kau harus terus sekolah. mereka hanya punya uang buat Yashinta yang mulai masuk kelas dua. Dali tidak harus membuat Kakak susah—" "kau bicara apa. "Kau tetap sekolah Dali!" Dalimunte terisak. Dali tidak suka sekolah. Dalimunte membuang ingusnya. Mamak minggu lalu sudah bilang. Dali tidak ingin membuat Kak Lais sedih.. Dalimunte-lah yang paling mudah terharu. Tubuh Laisa tidak akan tumbuh lagi. Dali juga bisa. Tertunduk dalam-dalam.. bahkan Ikanuri dan Wibisana sudah lebih tinggi dari Laisa. Kau dengar kakak. Menatap kegagalannya. maka kalian akan menduga. dan Ikanuri serta Wibisana yang menginjak kelas lima. Dalimunte sudah lebih tinggi darinya sekarang. Tapi kalimat itu terdengar hambar. tidak sekarang." Laisa berbisik pelan memecah sedan.. Tak ingin lihat Mamak kerja keras dipanggang matahari. menggigit bibirnya. gara-gara dia harus sekolah Kak Laisa harus bekerja sepanjang hari di ladang. berkata dengan suara serak. maka Mamak akan punya tahun depan. Dali juga tidak senang sekolah. dan Yashinta terus sekolah." Dalimunte berkata pelan. justru Laisa lah yang menjadi adik dari Dalimunte. sebenarnya kalau kalian tidak terbiasa dengan pemandangan ini. Mereka berdiam diri lagi. Kenapa hanya Kak Laisa yang bekerja keras. membantu Kakak. .. mengusap matanya.. "Tidak tahun ini. Berdiri di sebelah Kak Laisa. Apalagi ongkos Dalimunte bolak-balik ke kota kecamatan. Hanya gerimis yang terus membasuh dinginnya tanah... "Sebenamya.com Dari tadi siang ia di kebun.. Lihatlah. Setahun berlalu sejak kincir air dibuat. Laisa menoleh.. ikut menatap kebun mereka. tidak setegas seperti biasanya. Dali tidak ingin sekolah—" "kau harus tetap sekolah!" Laisa memotong sekali lagi kalimat adiknya. Rinai air hujan tumpah bersama rinai kesedihan di hati Dalimunte. kakak bisa mencobanya lagi tahun depan. Lengang tiga menit. agar Ikanuri. Tapi tidak untuk Dalimunte yang akan melanjutkan sekolah di kecamatan. Dia membuang ingus. Membiarkan tubuhnya basah seperti Kak Laisa. Sengaja belum pulang meski adzan maghrib sebentar lagi terdengar. "Kakak tahu. Tidak mesti sekolah. Onggokan kantongkantong plastik hitam. Ia tidak ingin menangis di depan Dalimunte. Bagaimanalah? Untuk membayar uang pangkal saja tidak ada. Dali? Kakak. Seekor elang melintas rendah.. Jadi Kakak tidak usah sedih. Dari lima bersaudara. Ia amat enggan pulang. Dali.. Wibisana.. Bagaimana mungkin ia bisa menjanjikan itu? "Dali tidak ingin sekolah. Pinjam buku. "Jika Mamak tidak punya uang tahun ini.. Lihattah.. Menggigit bibirnya.. Hari ini Dalimunte menerima hasil ujian sekolahnya. kau dengar kakak. "Dali kan bisa belajar dari mana saja." Laisa menelan ludah. Senyap. Berusaha menahan serak di kerongkongan.. Dalimunte ikut melepas daun pisang dikepalanya. Padahal mereka hanya berjarak enam tahun satu sama lain. sebenarnya.www. Dali juga mau.

Memercikkan bulir air yang menggelayut di ujung-ujung daunnya. Ikanuri dan Wibisana yang memang malas sekolah dengan sukarela menawarkan diri berhenti. Yashinta yang masih kecil. Senyap... Kak Laisa menanami kembali seluruh kebun mereka dengan strawberry. Laisa tersenyum lebar mendengarnya. sukses atau gagal seluruhnya. siapa paling pandai. Mak. ada solusi yang lebih baik agar Dalimunte tetap bisa melanjutkan sekolah di kota kecamatan. menyebut namanya saja mereka susah.. Pembicaran senja ini menanamkan semangat baru. kan. Kak Laisa langsung melotot galak. ia belajar banyak dari kesalahannya." Membuat ruang depan rumah kayu butut itu lengang. samil berjalan menyusuri jalan setapak yang sekarang licak oleh lumpur. kita pulang—" Kak Laisa pelan menarik tangan Dalimunte. Ikanuri dan Wibisana ber-yaa kecewa. setelah hari-hari terpanggang matahari saat menyiapkan polybagpolybag baru. anak laki kan harus sekolah. Laisa tahu apa yang harus Laisa lakukan sekarang. Tidak sekarang. Yash kan anak perempuan. Kebun mereka terlihat amat berbeda dibandingkan yang lain. Yash. Dalimunte selalu memiliki kesempatan untuk kembali sekolah. kali ini malah membiarkan seluruhnya ditanami. tetap Dalimunte yang menunda sebentar sekolahnya. Jadi kepalang tanggung. Wak Burhan yang mencoba menasehati Laisa juga mengalah. Mamak membiarkan Laisa kembali menanami ladang mereka dengan strawberry. Dalimunte pelan menyebutkan angka.rajaebookgratis. "Belajar dari kesalahan. Empat bulan berlalu. adiknya. "Berapa nilai rata-rata ujian akhirmu?" Laisa bertanya. Tetapi gerimis ini menumbuhkan satu pemahaman baru baginya. apalagi Dalimunte ikut mendukung. maka mereka tidak akan pemah kembali lagi. Ujung-ujung semak bergoyang terkena gerakan mereka.com "Ayo. berkata pelan sambil memainkan crayon 12 warnanya.. Biar Yash yang berhenti. menerpa anak rambut.. Laisa benar. Tadi sepanjang hari ia benarbenar bersalah atas keputusannya mengganti tanaman di ladang delapan bulan silam. mengejar-ngejar Ikanuri dan Wibisana yang masih saja bandel bolos sekolah. Kak Laisa menelan ludah. (dan lagi-lagi mengejar-ngejar Ikanuri dan Wibisana yang tidak kapok-kapoknya bolos sekolah) lepas musim penghujan yang dulu . Tidak. berusaha mengimbangi langkah gesit kakaknya di depan. tahun depan dia akan kembali melanjutkan sekolah di kota kecamatan. 21 PERKEBUNAN STRAWBERRY SEBENARNYA dengan segala keterbatasan Mamak. bagaimana mungkin lembah ini ditanami stober? Stowber? Beri-beri? Ah. Sekali dua sigung nakal itu berhenti sekolah. Satu dua tetangga menatap ganjil. Ikut prihatin. Sepanjang ia terus bekerja keras demi adik-adiknya. maka ia akan menjawabnya dengan bangga itulah Dalimunte. malam itu juga menawarkan diri berhenti. Tentu saja urusan ini berbeda dengan dirinya dulu. memasukkan pupuk kandang ke dalam polybag. Mamak pelan mengusap wajahnya. Jika ada yang bertanya siapa paling pintar di dunia ini. Seharian Laisa pergi ke kebun karena tidak kuasa menunggu Dalimunte di rumah membawa kabar kelulusannya seperti Mamak dan yang lain." Mamak tidak kuasa mencegah niat bulat sulungnya. "Biar Kak Dali saja yang sekolahh. Kesempatan itu pasti akan datang. tersenyum tulus. membersihkan gulma dan hama. Tapi demi mendengar kalimat itu.www. meneriaki Ikanuri dan Wibisana yang sibuk mencuri mangga. Solusi terbaik. Benang sari bunga belukar luruh. Laisa tetap keukeuh memesan bibit strawberry ke universitas tempat kakak-kakak KKN dulu. Tidak.

Kabar baik itu akhirnya tiba di Lembah Lahambay. berdiri di sebelah Kak Laisa. Malah membawa-bawa kertas... Seekor elang terbang berputar di tengah larik bulir hujan. Satu tahun berlalu. "Kalau Dali sekolah minggu depan.." Dali menunduk. Sekalian membeli banyak barang keperluan. Juga baju baru buat Mamak dan Kak Laisa. yang selalu gombyor. Kakak-kakak dari kota provinsi berbaik hati mengirimkan truk pengangkut. bahkan Kak Laisa baru pulang saat adzan magrhib terdengar. Sepatu baru buat Ikanuri dan Wibisana. Usia Kak Laisa sekarang sudah menjelang dua puluh tahun. kerja keras. Seragam baru buat Yashinta. Kau akan membantu banyak Mamak dengan semua itu. tetap tidak akan habis saking bagusnya panen kebun mereka.." Laisa menoleh. "Berjanjilah—" Dalimunte mengangguk. menggigit bibir. Mengusap ujung-ujung matanya. "Mamak menyuruh Kakak pulang. Bagaimanalah Dali bisa membantu?" "Kau tetap bisa membantu. hari-hari dihabiskan dengan kerja keras. Dalimunte terdiam. Sukses besar. seminggu setelah menerima surat dari Laisa. Dengan belajar sungguh-sungguh. Mamak melepas dekapan kepala Dalimunte. Dengan nilai-nilai yang baik.rajaebookgratis. Ikanuri dan Wibisana? Standarlah. dan pengharapan.." Kak Laisa menggenggam lengan adiknya. "Kemarilah. Mencurahkan seluruh perhatian ke kebun satu hektar itu. kebesaran buatnya. Dicatat satu persatu perpohon.. "Kau tetap bisa membantu. Dali setiap shubuh harus menumpang starwagoon.www. buah-buah merah ranum mulai bermunculan dari batang-batangnya. Adiknya mengulurkan payung. "Kau sudah pulang dari kota kecamatan?" Dalimunte mengangguk mantap. Belum pernah mereka melihat buah seindah itu. Jadi tak ada lagi buah yang busuk ketika tiba di kota provinsi. pagi-sore di kebun. kerja keras. Kak Laisa juga.. Senja itu. Ikut tersenyum. mengambil perannya saat buah merah ranum strawberry siap dipanen. Dali. berarti Dali tidak bisa bantu Mamak dan Kak Lais lagi. Batang-batang strawberry bergoyang lembut oleh hujan. Meski Ikanuri dan Wibisana mencuri buah-buah itu hingga sepuluh kilo setiap hari selama dua tahun. Empat ratus pohon strawberry merekah subur dari kantong-kantong plastik hitam. Satu dua buah sisa panen seminggu lalu masih menggelantung... Menghabiskan sore selepas sekolah dengan menghitungi satu demi satu buahnya. Menatap wajah Dalimunte yang sekarang lima belas senti lebih tinggi darinya. Terlihat merah ranum. kabar baik itu akhirnya tiba." Kak Laisa berkata ringan. Dan Mamak akhirnya tersenyum lebar. dan Yashinta sembilan tahun. baru pulang lepas magrhib. Empat bulan berlalu lagi. Kemilau kristal air menambahi kesan indahnya. Wibisana sebelas (baru lewat sepuluh). Dengan gentong-gentong besar dari tanah yang banyak dijual di kota kecamatan. telaten merawat satu demi satu batangnya. Kemari. gerimis kembali membasuh lembah indah tersebut. Ikanuri sebelas (hampir dua belas). selama ini membeli barang loakan. Sudah lama sekali Mamak tidak punya baju baru. tersenyum lebar melihat Dalimunte melangkah mendekat.com menggenangi polybag. Bukan main. Langit mulai gelap. Dalimunte yang sekarang punya waktu lebih banyak membantu Mamak dan Kak Laisa. "Tapi. Ia menyiapkan teknologi pengalengan sederhana.." Kak Laisa berkata lirih. Yashinta yang paling girang. Dalimunte empat belas. mereka juga sibuk mencuri buah-buah strawberry yang mulai matang. Dali. Membuat seluruh penduduk kampung tercengang. Satu tahun penuh kerja keras. berpegangan ke pagar kebun. Tadi dia dan Mamak mendaftar sekolah.. .

satu dua juga mulai menanami kebun mereka dengan strawberry. Tetap sama seperti dua puluh tahun silam. Luas kebun itu mekar menjadi lima kali lipat. Dan seperti halnya remaja tanggung. menjelang ujian akhir di sekolah lanjutan pertamanya.www. Umur mereka empat belas. Dali. Meski Kak Laisa tidak mengerti. Dalimunte tujuh belas. Kak Laisa tetap tidak berubah. Masa-masa ketika akhirnya Dalimunte menyadari satu hal.. Bersitatap satu sama lain. Dalimunte mulai mengenal kata cinta dan romantisme.. Intan beringsut naik ke atas ranjang besar.Itu semua karena Kakak. Mulai memperkerjakan remaja tanggung tetangga rumah untuk merawat batang-batang strwaberry. Penuh penghargaan. Menatap wajah Dalimunte yang selalu antusias menjelaskan penelitiannya. Tiga tahun berlalu sejak panen pertama... lantas terbatuk... Anak yang manis dan juga pandai seperti ayahnya.. Mamak dan Kak Laisa dengan keleluasaan uang yang ada mulai membeli lahan-lahan di dekat kebun mereka.. .rajaebookgratis. Bahkan dalam kondisi yang menyedihkan.. Usia Kak Laisa dua puluh tiga tahun. Sementara Yashinta sudah menjejak kelas enam sekolah dasar. Meski Kak Laisa tidak paham sedikitpun. mencoba peruntungan. Beranjak melewati masamasa remaja tanggung. Tersenyum. Lima belas detik.. "Lihatlah. Siapa yang paling pandai di keluarga kita? Siapa yang paling pintar? Kau. bekerja keras. Semua itu. Bukan menangis seperti ini— " Kak Laisa tertawa kecil... Wak Burhan dan tetangga lainnya. karena semakin ke sini apa yang dikerjakan Dalimunte semakin rumit baginya. itu semua sungguh karena kakak. membantu Mamak kembali duduk di kursi." Dalimunte mengusap ujungujung matanya. kau selalu menepati janjimu. Dan yang lebih penting. Dalimunte. Bercak darah mengalir lagi... 22 GADIS TUA TIGA TAHUN berlalu sejak panen pertama kebun strawberry yang sukses besar. Yang tentang apa?—" Kak Laisa terbatuk. Semua itu seharusnya membuat kau tersenyum. tapi ia selalu ingin mendengar apa yang sedang dilakukan Dalimunte.com Dalimunte beranjak mendekat ke ranjang Kak Laisa. tidak perlu disuruh-suruh kerja di kebun karena mereka baru pulang saat starwagoon itu kembali ke lembah menjelang senja. bersungguh-sungguh. Berusaha mengendalikan emosi. Dalimunte mengangguk perlahan. "Maukah kau menceritakan penelitian terbarumu pada Kakak? Biar Kakak mendengarkan. tapi mereka tidak setelaten Kak Laisa. "Kau." Kak Laisa mengenggam lengan "Kau punya istri yang cantik. Cie Hui. Kelas satu. Babak pasti bangga padamu. Intan lembut menghapusnya. Prospek sekolah di kota kecamatan benar-benar membuat perangai Ikanuri dan Wibisana berubah banyak.. Ikanuri dan Wibisana juga beranjak remaja. kau sungguh adik yang amat membanggakan. Selalu ingin mendengar apa yang sedang dikerjakannya.. Belajar. Terus menggenggam lengan Dalimunte dengan sisa-sisa tenaga." Kak Laisa menatap Dalimunte lamat-lamat. Apa yang sedang dilakukannya. sudah sekolah di kota kecamatan. Kak Laisa tersenyum tulus. Kak Laisa yang semakin tertinggal di belakang. Itu artinya mereka bisa naik starwagoon setiap hari tanpa perlu diteriaki Mamak lagi. Pelan menarik nafas. Dan kau. Serba tanggung. ". Biar lebih leluasa membersihkan setiap kali bercak darah keluar dari bibir.

Ingin tahu keributan yang sedang terjadi. Berserakan. Berkali-kali berusaha menghindar. tetap tumbuh menjadi remaja tanggung dengan segala dunianya. Ia kalah sebelas poin dari juara ketiga (yang berasal dari sekolah lanjutan atas). Dali?" Dalimunte tersenyum. "IKANURI. Dasar Dalimunte.com Tubuhnya bongsor. lebih penting: Kak Laisa. mengangguk. Tapi kesadaran itu mendatangkan pemahaman yang lebih besar. Berusaha membenahi. Pyar! Rakitan alat fermentasi buah strawberry itu roboh seketika. Dipadati oleh berbagai peralatan hasil rakitan. Kak Laisa mengerjap-ngerjap terpesona. Kak Laisa selalu peduli dengan apa yang dikerjakannya.www. Berseru sambil menarik kuncir rambut Yashinta. Amat merah. Hari-hari itu Dalimunte menyadari sesuatu. Rakitan Dalimunte toh sudah selesai dinilai. ikut-ikutan nyeletuk. Tiga tahun berlalu.. Sementara Mamak rambutnya sudah mulai beruban. Cie Hui teman sekelasnya di kota kecamatan. "Bisakah kau menjelaskan ini sebenarnya apa. Ikanuri dan Wibisana entah dari tadi pagi menghilang kemanalah. semakin terbukalah semuanya. Kak Laisa bersama-sama yang lain berangkat ke kota provinsi. Mereka berdiri lama di depan rakitan Dalimunte. tidak peduli sepintar apapun dia. Seketika muka Dalimunte yang pias memerah. "Apa kau menyukainya?" Kak Laisa bertanya saat mereko berdua di kebun strawberry beberapa hari kemudian. "Emangnya kakak sudah boleh pacaran. Dengan segala perasaan-perasaan itu. Rambut panjangnya dikuncir rapi.. Mukanya merah padam. WIBISANA. meski kadang tidak terlalu mengerti apa yang sebenarnya Dalimunte jelaskan. karena terpanggang matahari saat mengurus kebun strawberry. Percuma. Ikanuri dan Wibisana yang jahil terus menggodanya soal Cie Hui. Melihat satu demi satu stand yang dipenuhi peralatan peserta lomba. Bahkan Yashinta yang selama ini tidak pernah jahil. Tangan Yashinta yang berusaha memukul tangan jahil Ikanuri malah menghantam rakitan Dalimunte. Ikut mendengarkan. Kerusakan akibat kenakalan Ikanuri dan Wibisana tidak berakibat fatal. Tapi sepanjang perjalanan pulang. Wajah-wajah pengunjung lainnya tertoleh. Yashinta menggandeng Mamak. Kulit Mamak legam seperti Kak Laisa. Kulitnya kuning langsat. Dalimunte pias melihat rakitannya roboh. ya?" Membuat Mamak ikut tertawa. Wajah keturunannya juga merekah merah. Tapi sebelum Dali sempat menjelaskannya. Yashinta dan Mamak berdiri mendekat. Ia terlihat amat berbeda di rumah panggung yang mulai diperbaiki di sana sini. . sekarang lebih tinggi dibandingkan Kak Laisa. Cinta pertamanya. Seorang gadis remaja tanggung dari kerumunan pengunjung ikut jongkok. Dia memang menyukai Cie Hui sejak pertama kali mengenalnya. Dalimunte mulai merasakan cinta monyet itu. Dan Dalimunte sontak kehabisan kata. Ikut membantu membenahi serakan logam dan kayu. semakin digoda. kau tidak perlu menjawabnya" Kak Laisa tersenyum simpul. Gadis tanggung berbilang enam belas tahun itu tersenyum manis. Setahun terakhir. tersipu. Gedung serba guna universitas kota provinsi itu ramai oleh pengunjung. Dibantu Yashinta setelah mengaduh kaget dan menimpuk Ikanuri dan Wibisana dengan gumpalan tisu.rajaebookgratis. "Cie Hui? Kau. Melihat Dalimunte mengikuti lomba karya ilmiah. Lihatlah. Selalu bertanya. Ikanuri dan Wibisana mendadak masuk ke dalam stand. Ingin tahu. kau juga datang?" Berkata terbata. beserta Kak Laisa berjalan mengelilingi gedung. Yashinta tumbuh menjadi gadis kecil yang amat manis. Muka Dalimunte langsung merah padam. bisa nggak sih kalian sehari saja tidak nakal?" Kak Laisa mendesis marah. Dalimunte seperti anak-anak lain. "Kakak hanya memastikan. hari itu Mamak. Meneruskan memotong ranting-ranting batang strawberry yang menguning.

Ia berkali-kali mengalaminya. Kelas tiga. Hamparan kebun strawberry itu lengang. Ia tidak akan sekolah di sini. Kak Laisa yang sekarang sudah berumur dua puluh tiga tahun tapi belum menikah. Yash mohon. Di sini pula Ikanuri dan Wibisana sekolah. tersinggung dengan tatapan petugas. Gadis tua. Tidak ada yang boleh menghina kakaknya. Laisa menelan ludah. Apalagi wajah Yashinta yang amat manis... Lembut menatap wajah adiknya. "Harus orang tua atau wali murid yang menandatangani. Dalimunte menelan ludah. Lihatlah. TIDAK MAU!" Yashinta merajuk. Beberapa pekerja sibuk mengurus batang-batang strawberry Beberapa menyusun polybag baru. Beasiswa. Itulah isi percakapan tetangga selama ini. Dibandingkan dengan adiknya. "Yashinta marah dengan orang di dalam tadi?" Yashinta diam. Pelan. Ia baru saja mengantar Yashinta mendaftar sekolah di kota kecamatan. Soal tatapan mata seperti ini. Matanya melotot. Menyiapkan bibit. Kalimat-kalimat seperti ini. Yashinta mengerti benar soal beginian. Tadi semangat sekali berangkat menumpang truk angkutan strawberry. "Yash tidak mau sekolah di sini. "Bagaimana mungkin ia kakakmu?" Petugas itu menatap keheranan. Setahun lagi berlalu. Ketika formulir pendaftarannya akan ditandatangani Kak Laisa. Apakah Kak Laisa pernah jatuh cinta sepertinya? Apakah Kak Laisa tidak terganggu dengan bisikbisik itu? Inilah sebenarnya urusan paling pelik yang menyergap hubungan mengesankan kakakadik di lembah indah itu. Mamak dulu juga menikah di umur segitu.. 23 JANGAN HINA KAKAKU "KAK LAIS bilang aku bisa sekolah di mana saja. bukan pembantu yang mengantar—" "Ia kakakku—" Yashinta yang menjawab." Yashinta mulai menangis. jangan paksa Yash. la bisa sekolah di mana saja ia mau. Berbagai percakapan tetangga. Aku tidak mau sekolah di sini. Gadis tua.www. Tidak. Memasukkan pupuk kandang. lomba karya ilmiah.. "Kakakmu? Kalian sungguh berbeda. Yashinta yang bongsor sejengkal lebih tinggi dibanding Kak Laisa. Tertunduk. dan nampaknya belum ada tanda-tanda akan segara menikah.rajaebookgratis. Amat tidak lazim. itu memberikan kesempatan meneruskan sekolah di sekolah lanjutan atas terbaik kota provinsi. Meski tidak juara. Itu istilah yang disematkan ke perempuan yang lepas dua puluh belum juga menikah di Lembah Lahambay. "Ia kakakku—" Yashinta menjawab ketus. . Sedangkan Dalimunte sudah melanjutkan sekolah di kota provinsi. Melempar formulir pendaftarannya. Meski umurnya baru dua belas tahun. Dalimunte menatap lamat-lamat punggung Kak Laisa.. "Yash marah?" Yashinta mengangguk. Di lembah itu. Bersitatap satu sama "YASH TIDAK MAU SEKOLAH DI SINI!" Laisa tidak mengendurkan cengkeramarmya. Baiklah-" Maka Yashinta merajuk. Bagaimanalah ia tidak akan marah. petugas itu kasar menegur. Tetapi Kak Laisa sudah dua puluh tiga.com Apakah Kak Laisa pernah jatuh-cinta sepertinya? Kesadaran itu mencungkil berbagai potongan dialog yang dulu dianggap Dalimunte biasa-biasa saja.. Semangat melihat hamparan luas halaman sekolah lanjutan pertama itu. rata-rata anak gadis menikah di usia delapan belas. berlari ke luar ruangan pendaftaran. tapi bukan di sini. Laisa mencengkeram lengannya. Menggigit bibimya. Gadis tua. Ia lebih pend. Kak Laisa memang lebih mirip seseorang yang disuruh mengantar. Sekarang giliran Yashinta.

www.rajaebookgratis.com

"Yash seharusnya tidak marah. Yash seharusnya terbiasa" Kak Laisa duduk di sebelah. Ikut bersandarkan kursi panjang. Menghela nafas. Mendekap bahu adiknya. Yashinta hanya diam. Meletakkan tas barunya. Minggu lalu, dan juga minggu-minggu lalunya, waktu ia bermain-main bersama anak tetangga di lembah, beberapa remaja tanggung juga seringkali menunjuk-nunjuknya. Berbisik. Tertawa. Yash tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka pasti senang membanding-bandingkan ia dengan Kak Laisa. Maka marahlah Yashinta. Melempar mereka dengan butiran tanah. Berteriak-teriak. Membuat Wak Burhan yang kebetulan lewat terpaksa turun tangan. "Mereka menghina Kak Lais, Wak!" Yashinta mengadu marah. Wak Burhan mengusap rambut panjang Yashinta. Tersenyum bijak. Sejak dulu, anak-anak kampung memang suka memperolok-olok Laisa. Hanya saja karena Yashinta masih terlalu kecil sajalah, hingga Yashinta tidak menyadarinya. Remaja-remaja tanggung itu sedang senang-senangnya rumpi. Mengolok-olok. Laisa yang berbeda dengan anak-anak Mamak Lainuri lainnya. Laisa yang berbeda dengan penduduk kampung lainnya. Bahkan sekali-dua meski dengan intonasi berbeda orang dewasa di lembah itu juga suka membicarakan Laisa yang belum menikah-menikah juga, Wak Burhan malah juga pernah berkunjung, berbicara dengan Mamak Lainuri soal kenapa Laisa belum menikah. "Yash seharusnya terbiasa. Lihat, Ikanuri dan Wibisana terbiasa. Dalimunte juga terbiasa—" "Tapi mereka menghina Kak Lais!" Yashinta memotong. " Mereka hanya merasa heran—" "Mereka menghina. Yash tidak suka. Pokoknya Yash tidak suka. Yash tidak mau sekolah di sini!" Yashinta menjawab ketus. Laisa tersenyum. Suka atau tidak, mau atau tidak, Yashinta harus membiasakan diri. Seperti Ikanuri dan Wibisana yang tidak peduli dengan olok-olok itu. Atau seperti Dalimunte yang memang tidak pernah mendengarkan sedikitpun olok-olok tersebut. Karena tidak ada gunanya. Tidak ada manfaatnya. Adiknya Yashinta harus (segera) terbiasa.... 24 PERNIKAHAN SEPUH MALAM ITU, rumah panggung mereka ramai. Kak Laisa baru saja menyelesaikan renovasi rumah. Sekarang rumah panggung reot seadanya itu berubah menjadi bak villa indah. Masih berlapis kayu, tapi sekarang tanpa lubang-lubang. Atapnya digantikan genteng, sudah tak tampias lagi. Hamparan halaman ditanami beludru rumput dan bonsai pepohonan. Perkebunan strawberry mereka sekarang sudah puluhan hektar, memenuhi separuh lembah hingga cadas lima meter sungai. Tidak ada lagi lima kincir bambu di sana. Sekarang digantikan dua pasang kincir bertingkat-tingkat dari batangan aluminium dan pondasi beton yang lebih kokoh. Ada banyak hal besar yang dikerjakan Kak Laisa tiga tahun terakhir. Seiring majunya perkebunan strawberry, Kak Laisa juga merenovasi sekolah seadanya di kampung atas. Jalanan selebar tiga meter itu juga sudah di aspal tipis. Memudahkan truk-truk pengangkut buah strawberry berlalu-lalang. Malam itu, Dalimunte yang sudah kuliah di institut teknologi ternama luar pulau, mudik. Kejutan. Benar-benar kejutann, Dalimunte pulang bersam Cie Hui. Gadis keturunan yang dulu mereka lihat di kota provinsi. Umur Dalimunte sudah dua puluh satu tahun, sudah bukan remaja tanggung lagi. Ikanuri dan Wibisana beranjak delapan belas, sudah di tahun terakhir sekolah lanjutan atas kota kabupaten. Mereka masih suka menggoda Dalimunte soal Cie Hui, tapi konteksnya jauh berbeda. Bukan lagi gurauan remaja tanggung atau anak-anak. Lagipula

www.rajaebookgratis.com

Ikanuri dan Wibisana lebih asyik menghabiskan waktu di bengkel. Mereka memang menyukai mengotak-atik mesin. Cinta sekali dengan mobil. Beruntung Kak Laisa berbaik hati membelikan starwagoon tua, dengan janji mereka tetap akan meneruskan kuliah di kota provinsi tahun depan. Yashinta tumbuh menawan. Gadis kecil itu sekarang sudah lima belas. Setahun lagi harus melanjutkan sekolah di kota kabupaten. Ia tetap sekolah di kota kecamatan yang dulu pernah dibencinya. Meski tidak kunjung terbiasa, Yashinta mengalah. Bisik-bisik tetangga soal fisik Laisa juga sebenarnya jauh berkurang karena meski dengan segala keterbatasannya, fakta Laisa melakukan banyak hal untuk lembah, anak-anak yang bersekolah, bantuan menanam strawberry di kebun-kebun, membuat kehidupan lembah jauh lebih baik. Jadi penduduk kampung walau tetap membicarakan Laisa yang hingga usia dua puluh tujuh tahun tetap belum menikah, intonasinya lebih karena prihatin. Ingin membantu mencari jalan keluar. "Cepat atau lambat juga akan datang, Mak!" Itu jawaban ringan Kak Laisa setiap kali Mamak mengajak membicarakannya (atau jika ada tetangga yang berbaik hati bertanya). "Lihat, Wak Burhan besok akan menikah untuk kedua kalinya. Padahal umurnya sudah delapan puluh! Cepat atau lambat giliran Laisa pasti akan tiba pula, bukan?" Kak Laisa tertawa. Itu benar, besok Wak Burhan akan menikah dengan janda tua dari desa atas. Umur calon istri Wak Burhan berbilang enam puluh tahun, sudah bercucu sebelas. Malam itu, mereka ramai-ramai berkumpul di rumah untuk menyiapkan keperluan acara besok. Wak Burhan masih terhitung kakak sepupu Mamak. Jadi rumah panggung mereka jadi tempat 'mempelai perempuan' bersiap-siap. Yashinta ditemani Cie Hui memasang hiasan-hiasan janur. Penduduk kampung itu sibuk. Minggu-minggu selepas lebaran, memang waktu yang tepat melangsungkan hajat besar. Pernikahan. Mamak dan ibu-ibu lainnya menyiapkan hidangan besok. Dalimunte dan pemuda lainnya menyiapkan panggung acara. Kak Laisa ikut mengerjakan banyak hal. Jelas ia sudah terbiasa menangani tatapan ingin tahu. Menanggapi ibu-ibu tetangga yang menggodanya, "Jadi kapan Lais akan menyusul?" Laisa hanya tersenyum simpul. Setiap kali ada pernikahan di lembah itu, Laisa selalu membantu mengerjakan banyak hal. Terbiasa dengan kalimat prihatin, gurauan, bahkan bisik-bisik tetangga. Menjawab dengan senyuman, kalimat ringan, atau ikut tertawa. Tapi apakah Laisa seringan itu menghadapi fakta bahwa ia belum menikah-menikah juga? Dalimunte tahu persis jawabannya. Seperti malam itu, saat semua jatuh tertidur kelelahan lepas menyiapkan keperluan acara besok. Larut malam. Bintang Indah bertebaran di angkasa. Cerah. Lembah itu berpendar-pendar oleh cahaya bohlam lampu di bawah dan cahaya bintang di langit. "Kak Lais belum tidur?" Laisa menoleh, tersenyum. Dalimunte melangkah, mendekat. Laisa berdiri di depan bingkai jendela yang dibuka lebar-lebar. "Bulan yang indah, bukan?" Kak Lais menunjuk ke atas. Dalimunte mengangguk. Menelan ludah. Dia tahu, Kak Laisa tidak menghabiskan waktu setengah jam dini hari seperti ini hanya untuk menikmati menatap rembulan. Bersenyap seorang diri pukul dua pagi. Tentu ada banyak hal yang sedang dipikirkannya. Kalimatkalimat tetatngga. Usianya yang sebentar lagi tiga puluh. Entahlah. Tapi Kak Laisa selalu ingin terlihat semua baik-baik saja di depan adik-adiknya. Sejak setahun lalu, Dalimunte ingin sekali menanyakan hal tersebut. "Apakah kau menyukai Cie Hui?" Kak Laisa justru yang mendahuluinya bertanya. Muka Dalimunte memerah. Tersipu. "Ergh, maksud Kak Lais?" "Kata Yashinta tadi, Cie Hui bilang kalian tidak pacaran. Hanya teman dekat—"

www.rajaebookgratis.com

Kak Laisa tertawa kecil. "Aneh, bukan? Bagaimana mungkin gadis itu mau bermalam di sini tanpa hubungan penting di antara kalian?" Dalimunte nyengir, mengusap wajahnya yang semakin memerah. Benar. Mereka belum sekalipun bilang soal perasaan itu. Mereka amat dekat, itu benar. Tapi ikrar saling suka itu belum terucap. Bagaimana dia akan melakukannya jika Kak Laisa belum? "Cie Hui gadis yang cantik. Ia juga baik. Ia mudah sekali akrab dengan Mamak dan Yashinta." Kak Laisa bergumam, menatap wajah Dalimunte yang salah-tingkah, "Dali, kau seharusnya tidak membuat Cie Hui menunggu lama—" 25 KAU TIDAK HARUS MENUNGGU TETAPI DALIMUNTE kali ini memutuskan untuk bebal. Dalimunte tidak mendengarkan kata-kata Kak Laisa. Dalimunte benar-benar membuat Cie Hui menunggu lama, terlalu lama malah. Tujuh tahun berlalu. Dan dia belum juga mengatakan perasaan itu. Meski hampir setiap pulang ke Lembah Lahambay, Cie Hui ikut serta. Bahkan gadis keturunan yang sekarang sudah berkerudung itu sudah dianggap Mamak menjadi anggota keluarga. Lulus dari institut teknologi ternama itu, Dalimunte melanjutkan sekolah di universitas terbaik di Amerika. Mendapatkan beasiswa selama tiga tahun untuk menyelesaikan jenjang doktor ilmu fisikanya. Masa-masa itu bahkan Cie Hui lebih banyak lagi menghabiskan waktu di perkebunan strawberry. Menginap lama di sana. Ikut membantu Kak Laisa dan Mamak mengurus kebun. Dua tahun sejak pulang dari Amerika, dan memutuskan bekerja di laboratorium institut teknologi ternama, Dalimunte tetap tak kunjung mengatakan perasaannya. Cie Hui hanya bilang, "Kami hanya teman biasa, Mak!" setiap kali Mamak atau Yashinta bertanya kapan. "Apa sebenarnya yang kau tunggu, Dali?" Itu juga pertanyaan berkali-kali yang disampaikan Kak Laisa setiap dua bulan jadwal Dalimunte dan yang lain pulang ke lembah. Dan Dalimunte hanya diam, tidak menjawab. Tentu saja Dalimunte amat menyukai Cie Hui. Cinta pertamanya. Tetapi urusan ini tidak mudah. Pelik. Dia sungguh tidak akan pernah bisa mengambil keputusan sepenting itu sebelum Kak Laisa menikah. Tabu sekali di lembah itu jika ada adik yang mendahului kakaknya menikah. Melintas. Akan menjadi gunjingan seumur hidup. "Kau tidak harus menunggu aku, Dali!" Laisa menggenggam erat lengan Dalimunte. Malam itu, malam yang kesekian mereka berdiri di lereng lembah, menatap bintang-gemintang. Di antara ribuan polybag strawberry. Malam itu, umur Kak Laisa sudah tiga puluh tiga tahun, Dalimunte dua puluh tujuh. Janji kehidupan yang lebih baik di luar lembah sudah sepenuhnya tiba. Dan kehidupan di lembah sendiri sudah jauh lebih baik dibandingkan masa kanak-kanak mereka. Mereka selepas isya tadi, habis melakukan syukuran besar di rumah. Lulusnya Ikanuri dan Wibisana. Akhirnya, dua sigung nakal itu menyelesaikan kuliahnya. Warga kampung berkumpul. Tidak ada lagi wajah-wajah suram habis bekerja seharian, pakaian seadanya, dan semacam itu seperti mereka sering berkumpul di balai kampung dulu. Kehidupan di lembah jauh lebih baik sekarang. "Kami lulus sarjana saja itu sudah menjadi keajaiban dunia ke delapan dan ke sembilan. Jadi jangan paksa kami untuk ambil S2 seperti Dalimunte — " Ikanuri tertawa saat Kak Laisa menyuruh mereka melanjutkan sekolah lagi. Dan itu benar, beberapa minggu kemudian dari kelulusan universitas kota provinsi, dua sigung itu lebih memilih sibuk dengan hobi kecil mereka dulu. Membongkar-bongkar mesin mobil. Mereka sekarang punya bengkel besar di kota provinsi. Kak Laisa yang memberikan modal.

Menghabiskan waktu dengan kegiatan mendaki gunung. Dalimunte hanya menunduk. Dali—" Kak Laisa menghela nafas panjang. Melihat infus. Hasil jepretan kameranya sudah ribuan lembar. menyelami lautan. sebelah rumah. Saling dorong saat masuk kamar. Malam ini ia jug a pulang. Memecah lenyap. Punya pekerjaan hebat di ibukota. Tetapi dua sigung kecil itu seketika terdiam saat melihat ke dalam kamar. adil. Mobil jemputan kedua tiba di Lembah Lahambay. kan?" Juwita dan Delima hanya nyengir. Menginventarisir satwa di dalamnya. selama ini ia bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di sini dibandingkan di rumah orang tuanya di kota kecamatan. Bagaimana mencari uang agar adik-adiknya tidak putus sekolah. Bak Wo Jogar turunkan dua-duanya serempak. Dulu Kak Laisa menghabiskan malam dengan berpikir tentang sekolah adik-adiknya. bukan?" Tertawa. Bertengkar soal sepeda BMX mereka. Malam sudah amat larut. Juwita dan Delima berteriak-teriak ribut saat turun. Tetangga yang sedang berkumpul di beranda rumah panggung berkerumun. Belum menikah di usia tiga puluh tiga tahun saja cukup sudah membuat tetangga banyak bertanya. Mencintai kehidupan sekitar. "Kau sudah cukup umur Dali. Kehabisan akal. dengan rambut tergerai panjang. mereka bertengkar soal sepeda siapa yang duluan harus diturunkan. Lihatlah. Ummi mereka berdua menghela nafas. "Nah. Bagaimanalah? Dulu Kak Laisa bahkan tega mempermalukan diri sendiri agar adik-adiknya tidak mendapat malu. Bagaimanalah dia sekarang sampai hati mendahului Kak Laisa? Justru mempermalukan Kak Laisa? Itu akan jadi aib besar di lembah. ikut berseru meningkahi seruan kedua sigung kecil tersebut. Sekarang? Dalimunte menghela nafas pelan. Mereka lagi-lagi berisik saat naik ke rumah panggung. Membantu Mamak yang setiap hari terpanggang matahari di ladang. tangan kekarnya mengangkat kedua sepeda itu sekaligus dari atas mobil. Gadis itu juga tumbuh dengan pemahaman yang baik atas hidup. Tahun kedua di jurusan Biologi universitas ibukota. Apa yang sekarang Kak Laisa pikirkan? Usianya? Kesendiriannya? "Berjanjilah kau tidak akan membuat Cie Hui menunggu lebih lama lagi.www. Dali—" Suara Kak Laisa kembali memecah sepi. Satu-dua-tiga-. Umurnya sekarang dua puluh. Dan Dalimunte tahu persis itu. Mengulang kalimatnya. itu saja dengan berhari-hari menghabiskan waktu di hutan rimba dekat lembah. Yashinta amat atletis untuk urusan ini. Ia bahkan dua kali lebih atletis dibanding Kak Laisa. "Lihat.. Cie Hui amat menyukaimu. Ribut soal siapa yang duluan salaman dengan Eyang Lainuri dan Wawak Laisa. Dulu waktu mereka kecil." Bang Jogar tertawa. Setiap kali ia pulang. Berjanjilah. Mendorong masuk sepeda mereka ke garasi. terlihat seperti bidadari di rumah panggung itu.Dalimunte hanya menatap senyap hamparan kebun strawberry. Tidak mempedulikan tatapan tetangga yang sedang mengaji yasin. lihat. Kak Laisa bekerjakeras di masa kecilnya demi adik-adiknya. Pukul dua pagi. Gara-garanya sepele. Dalimunte ikut tertawa kecil. ikut bingung mencari solusinya. Mendekap pinggang Dalimunte yang tiga jengkal lebih tinggi darinya. belalai. Kak Laisa tidak pernah sekalipun mendapat bagian untuk merasakan bahagia dalam hidupnya.. Kak Laisa juga suka melakukannya. berusaha melerai.com Sementara Yashinta benar-benar tumbuh menjadi gadis yang menawan. apalagi jika adik-adiknya melintas. Bilang terima kasih (setelah dicubit Ummi masingmasing). Dia selalu menemani Kak Laisa menghabiskan malam setiap kali pulang ke lembah. Menatap pemandangan lembah yang indah. Urung menanyakan hal penting tersebut. Cantik luar biasa. dan peralatan medis . mata hitam indah dan tubuh tinggi semampai. menelan ludah.rajaebookgratis. "Kau tidak harus menunggu aku. Yashinta. Kau tahu. Semerbak wangi perkebunan di malam hari menyergap ujung hidung. Amat kontras dengan Kak Laisa. konservasi alam.

selama ini yang ada juga Intan galak mengusir mereka jauh-jauh! 26 MELINTAS WAKTU BERLALU.. .. Mamak juga lelah setelah hampir seminggu senantiasa terjaga menemani Kak Laisa. Mana pernah coba Intan mau memberikan posisi duduk ke adikadiknya. Lebih lirih. Intan masih duduk di atas ranjang. Dalimunte menggeleng. berusaha untuk mengerti apa yang sedang dijelaskan Dalimunte. Ayah memaksaku memilih. "Ayah memaksaku menikah segera.. Sementara Intan pelan melambaikan tangannya ke Juwita dan Delima agar mendekat.. Benar-benar rusuh perkebunan itu. Cie Hui datang ke perkebunan strawberry sambil menangis." Gadis manis berkerudung lembut itu menangis di pangkuan Kak Laisa. malam ini untuk pertama kalinya rukun. "Ikanuri dan Wibisana sudah di Paris. "Apakah Kak Lais akan baik-baik saja?" Jasmine mengulang pertanyaan serupa. Suster menyiapkan beberapa suntikan dan obat.rajaebookgratis. Ketiga gadis kecil itu. Dokter memeriksa ulang panel panel peralatan. Kak Lais tahu.. Menggigit bibir. Juwita dan Delima malah takut-takut melangkah masuk. Bang Jogar menyuruh beberapa pemuda tanggung membawa plastik tambahan masuk. Benar-benar terdiam. Laisa akhirnya jatuh tertidur. Menatap wajah wawak-nya yang meski pucat pasi.com lainnya. Perjodohan. Aku sudah bilang ke Dalimunte. Bersimpuh di pangkuan Mamak dan Kak Laisa. Kak Lais. "Apakah Kak Lais akan baik-baik saja?" Wulan sambll mendekap kepala Juwita (yang mendadak alim) bertanya lirih. Ia awalnya berusaha mendengarkan dengan sungguh-sungguh. "Aku sudah bilang. Keluarga Cie Hui di kota kecamatan memutuskan untuk menjodohkan Cie Hui dengan kerabat mereka di China.. Tapi. Menatap sekitar penuh tandatanya. "Aku tidak tahu—" Dalimunte menelan ludah. Cie Hui. tapi ia tetap tidak bisa mengambil keputusan. Aduh.. Jika Dalimunte tidak—" Cie Hui terisak mengadu. tadi sempat telepon—" Dalimunte mengangguk. kenapa jadi begini? Kalau begini mana ada coba acara keliling perkebunan pakai sepeda BMX. Memberikan kursi.. tapi fisiknya semakin lemah. Jika Dalimunte tidak ingin menikah denganku. Jatuh tertidur saat Dalimunte menceritakan penelitian Elektromagnetik Antar Galaksi satu jam lalu. Menelan ludah.. Menyilahkan mereka mendekat ke ranjang besar tersebut. di keluarga kami tidak ada anak gadis yang belum menikah hingga usiaku. Dalimunte menyalami Jasmine dan Wulan..www. konsentrasinya menghilang. Hening sejenak. Enam bulan selepas syukuran syukuran Ikanuri dan Wibisana. Jika Dalimunte bisa keukeuh bertahan menunggu Kak Laisa menikah bertahun-tahun lagi. tapi ada yang tidak bisa. duduk bertiga di atas ranjang besar Wak Laisa.. Balapan dengan Wawak Laisa? Lupa dengan pertengkaran mereka barusan. Sementara Cie Hui memijat kaki Mamak yang juga rebahan di kursi panjang dekat ranjang. Dan urusan Dalimunte-Cie Hui berubah serius sekali. Siapa yang lebih dulu menyalami Wak Laisa? Wak Laisa sedang tidur. sebelah Wak Laisa.. begitu tenang dalam tidumya.

"Kau naik pesawat pertama dari sana. Yashinta memeluk Mamak. Sungguh. Kakak baik-baik saja. Apalagi kepada Dalimunte yang sejak kecil menurut. Dalimunte tertunduk dalam-dalam. "Kau tidak perlu menunggu Kakak Dali!" Kak Laisa Berkata tegas. Sama sekali tidak perlu. Cie Hui masih menenangkan diri di kamar. "Kakak tidak pernah meminta kalian menunggu. Ikanuri dua puluh lima. " Kalian sudah cukup umur untuk mengambil kesempatan berikutnya. kematian.www." Kerabat Cie Hui mengalah. Bahkan sejak kecil dulu Kak Laisa selalu berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan adikadiknya. Buat apa kau memikirkan apa yang dipikirkan orang atas Kakak-mu." Kak Laisa memecah senyap. dengan suara pelan tertahan. yang sejatinya mungkin tidak pernah ada. Suara bilur air hujan membasuh rumput. Memutuskan berhenti sekolah demi mereka sekolah. Ikanuri dan Wibisana mengusap wajahnya. Kak Laisa menatap wajah adik-adiknya satu persatu. Wibisana hampir duapuluh enam. Ini kali pertama mereka membicarakan masalah yang supersensitif tersebut bersama-sama. Tidak menghabiskan hidup hanya menjadi pencari kumbang dan damar di rimba" Suara Kak Laisa bergetar. DALI! Malam ini juga kau sudah harus tiba di perkebunan strawberry! KAU DENGAR?" Sudah lama Kak Laisa tidak berkata setegas itu di hadapan adik-adiknya. Ruang depan yang dulunya dipakai Dalimunte. Tidak pernah. "Aku tidak akan menikah—" "Dengarkan Kakak bicara. Tampan dan cantik. Seperti yang Kakak impi-impikan. bahkan Kakak sudah bilang enam tahun lalu agar kau tidak membuat Cie Hui menunggu terlalu lama—" Dalimunte menelan ludah. dan Yashinta dua puluh dua. "Semua akan baik-baik saja! Bilang ke Kokoh. Giliran—" "Aku tidak akan menikah sebelum Kakak menikah. Itulah masalahnya. Kalian sudah tumbuh begitu dewasa. Sudah lebih dari cukup umur untuk menikah. Lihatlah. Bekerja keras.. Menatap tajam Dalimunte.." Dalimunte menyeka ujung-ujung mata. Buat apa kau memikirkan kekhawatiran. hujan gerimis membasuh lembah. Malam itu. utusan keluarganya dari kota kecamatan memaksa pulang. matanya mulai berair. kalian tumbuh dan memiliki kesempatan lebih besar dibandingkan lembah ini. Karena Cie Hui sudah dianggap seperti anggota keluarga di rumah panggung itu. genteng. Juga Ikanuri dan Wibisana. membuat yang lain semakin tertunduk. Yang lain sudah menunggu sejak sore tadi. Ikanuri dan Wibisana tidur beralaskan tikar pandan itu senyap. Kelahiran. Yashinta juga ikut pulang dari kota provinsi. Di luar gerimis mulai menderas. jodoh semua sudah ditentukan.rajaebookgratis. Tadi sore. rasa cemas. Apa lagi yang kalian tunggu? Dali. kau sudah dua puluh delapan. Dali!" Kak Laisa menatap tajam. Dalimunte yang terakhir tiba di rumah. Dan semuanya tetap baik-baik saja. Mereka tertunduk. "Kau tidak perlu menunggu Kakak. "Dalimunte. Semua berkumpul. tunggu hingga malam ini berakhir." Dalimunte memotong. Hanya karena Kak Laisa bilang. . Hanya perasanperasaan. semua terlihat baik-baik saja. Lamat-lamat. "Buat apa kau memikirkan apa yang dipikirkan orang atas pernikahan kau. dan langsung diajak bicara. Meneleponnya langsungke laboratorium. bebatuan terdengar sakral menyenangkan.com Siang itu juga Kak Laisa menyuruh Dalimunte pulang ke Lembah Lahambay. Perintah itu juga menyebar ke yang lain.. Pelan menghela nafas. Masing-masing memiliki jadwal.

Kau mencintainya. Mamak tahu. Mamak akhirnya tak kuasa menahan tangis. Menyisakan senyap di ruang depan rumah panggung. Malam itu pembicaraan tersebut berakhir sia-sia. "Boleh aku bergabung—" Laisa menoleh. Membanting pintu keras-keras.. Berlari menerabas hujan. Yashinta. Menciumi wajah Kak Laisa (yang matanya juga berkaca-kaca).. kau akan kehilangan Cie Hui selamanya. Merah ranum." Kak Laisa berkata serak. Bolehkah Dali bertanya sesuatu?" . Cie Hui menangis menuruni anak tangga. Ya Allah. Ia tidak ingin membicarakan keributan enam jam lalu.com "Jangan paksa Dali menikah. ia sungguh tidak pernah sampai hati membentak adik-adiknya. "Apakah Kak Laisa marah?" Laisa menggeleng. Dalimunte tetap tak kuasa mengambil keputusan. Kalau dua sigung nakal itu saja ikut tersentuh secara emosional dalam urusan ini. Dua kakak adik itu berdiri bersisian. Memeluk Kak Laisa dan Yashinta erat-erat. Menatap datar Dalimunte yang mendekat. Keluar dari kamamya. Mengangguk.. Perjodohan itu akan terjadi." "Tidak ada yang memaksamu! TIDAK ADA! Tapi jika kau tetap keras kepala. "Boleh. saat hujan menderas. Jangan paksa Dali. 27 SESEDERHANA ITU PUKUL EMPAT dini hari. "Maafkan Dali yang keras kepala—" Dalimunte berkata pelan. Menatap hamparan pohon strowberry yang sedang berbuah. Akhirnya setelah nyaris enam jam hujan deras itu terhenti. Tubuhnya menggigil menahan sesak perasaan. Sementara Dalimunte hanya tertunduk diam seribu bahasa.. Harapan itu benar-benar sirna. Tidak ada. Cie Hui juga amat mencintai kau dan keluarga kita! Kau akan membuat semuanya binasa dengan segala kekeras-kepalaan dan omong-kosong melintas itu. malah berseru tertahan soal betapa keras kepalanya Dalimunte. Ia tidak bisa memaksa Dalimunte. Dali—" Tertawa kecil..www. Laisa menoleh. Malam itu. Senyap sejenak. "Dali tidak akan menikah sebelum —" "Kau jangan membantah kakak. DALI!" Suara Laisa yang meninggi tersedak diujungnya. Malam itu. Tidak.. Menatap gemerlap cahaya bintang dan bulan separuh. jadi amat tidak adil jika dia mempermalukan Kak Laisa dengan melintas. Yang lain sudah jatuh tertidur di kamar. Lantas lari masuk kamar. Itu tangisan pertama sejak Babak dulu meninggal. Ikanuri dan Wibisana mengantar Cie Hui pulang ke kota kecamatan. Mengalahkan akal sehat atas pendidikan hebat yang diterimanya selama ini Kak Laisa sudah melakukan banyak hal untuk mereka. Mereka bukan kanak-kanak lagi seperti dulu. di antara suara guntur menggelegar.rajaebookgratis. Tahu betapa Kak Laisa menanggung separuh beban keluarga ini sejak kecil. Betapa Dalimunte tega membuat Mamak dan Kak Laisa menangis. apalagi yang lain. Awan hitam menggumpalnya habis sudah menumpahkan air. Tubuh gempal Laisa hanya sedada tinggi Dalimunte. Sejenak diam. Dia terlalu menghargai Kak Laisa. Amat mengharukan melihatnya.. Mengangguk. Ikanuri dan Wibisana tidak bicara banyak selepas pulang dari kota kecamatan.. Yashinta sudah menangis sambil memeluk Mamak. Bergetar. enam jam lalu di ruang tengah rumah.. Cie Hui kembali ke kota kecamatan membawa pusara hatinya. Lantas tersenyum.. Laisa sendirian berdiri di lereng kebun strawberry.. Minggu-minggu ini panen besar. "Aku tidak akan memukulmu dengan rotan. Menggenggam erat lengan Dalimunte.

Kau yang sudah jadi peneliti fisika hebat di Ibukota... Penduduk lembah yang semakin makmur.rajaebookgratis.. melambaikan tangannya. Pengalengan buah di kota provinsi.. Ah. tetapi mereka melakukannya karena mereka peduli dengan kita..... Ia saja sekarang pasti telah membuat puluhan teman mahasiswanyajatuh hati. "Apakah. Fasilitas sekolah yang semakin baik. Kehidupan mereka yang lebih baik dengan perkebunan strawberry ini. "Memikirkan apa?" "Umur Kak Lais? Pemikahan? Kesendirian? Pernahkah Kak Lais memikirkan diri sendiri. Sekarang usiaku tiga puluh empat tahun. Dulu memang mengganggu sekali mendengar pertanyaan tetangga. Kakak tidak pernah merasa kesepian. Tidak akan ada lampulampu. Masa lalu yang indah— Kakak juga memikirkan tentang hari ini. . namun itu bukan masalah. Ayahnya pintar. tentu saja sekali dua datang. apa yang sebenarnya Kak Lais pikirkan setiap kali berdiri di sini menatap langit dan lembah?" Dalimunte bertanya pelan. Yashinta yang amat mencintai lingkungandan konservasi entahlah. Satu dua menyampaikan rasa peduli itu dengan cara yang tidak baik... "Hanya itu? Sesederhana itu?" Dalimunte menelan ludah. aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa anak-anak Ikanuri dan Wibisana nanti. Melihat anak-anak lembah berkesempatan sekolah.. jodoh ada di tangan Allah. Kalau Yashinta itu jelas sudah. Semua kejadian-kejadian itu.. "Apa.com Laisa mengangguk. "Dali. Kabur naik starwagoon tua. Tapi buat apa Kakak membuang-buang waktu memikirkan tersebut. Dali yang buat. Tiga harimau itu. maka rumah panggung ini akan segera ramai. Itu sudah lebih dari cukup. Mungkin dalam urusan ini.." Kak Laisa tersenyum tulus. Anak-anaknya akan tampan dan cantik. Dali. Kau tahu." Laisa tertawa.... Anak-anak yang pintar. apakah Kak Lais tidak pernah memikirkan yentang itu saat berdiri sendirian di sini?" Dalimunte menelan ludah.. Kakak tidak seberuntung dibandingkan dengan memiliki adik-adik yang hebat seperti kalian. aku juga sering memikirkan umur. pasti anaknya jauh lebih pintar. "Kau tahu. kalian sejak kecil dulu sudah amat membanggakan Mamak dan Kakak. Tapi apa yang Kakak harus lakukan? Itu semua ada di tangan Allah.. tidak akan ada perkebunan strowberry sekarang.. Laisa tersenyum.www... Kau benar. dengan sisa waktu yang mungkin tidak sedikit lagi.. apakah masih berkesempatan melakukan banyak hal di lembah ini. Dali. tatapan mata itu. Ikanuri dan Wibisana yang ambisius sekali dengan bengkel mobilnya. Kau tahu. Sebenarnya dulu lebih sering datang.. tentang masa lalu kita. Ladang jagung kita. Tentang masa depan kita... kalau kau menikah. Hidup Kakak sudah amat indah tanpa perlu memikirkan hal-hal itu. Yashinta yang selalu memaksa minta diantar melihat sesuatu di hutan. kehidupan warga kampung yang lebih baik... Kalau kalian satu persatu mulai berkeluarga. Berkesempatan membuat Mamak dengan keseharian di perkebunan. Dengan segala kesempatan hebat.. Perkebunan strowberry Mamak. perkebunan ini akan ramai oleh celoteh anak-anak—" Hening lagi sejenak. kincir air itu.. Melihat kalian tumbuh dewasa. Kakak juga memikirkan tentang masa depan. Lihat. Tentang hari ini. Yang lebih penting aku pikirkan. Dan Mamak yang terlihat bahagia menghabiskan waktu di kebun kita. "Banyak hal—" "Banyak?" "Ya. Mamak yang tidak pernah mrmbayangkan kehidupan kita akan sebaik ini.. Kakak juga mengenang Ikanuri dan Wibisana yang suka bolos. Bagaimana mungkin Kakak akan kesepian dengan kehidupan seindah ini... seperti yang Kakak bilang dulu... Tanpa itu... berkesempatan melihat kalian melakukan hal-hal hebat di luar sana.. Itu sudah amat membahagiakan Kakak.

Dari tadi Ikanuri gatal menjitak kepala Yashinta yang berisik protes. "Maaf. Perkebunan kelapa sawit. Sekarang Wibisana yang mengemudikan mobil. Dalimunte mengeluh tertahan. Melesat menuju kota provinsi. "Apalagi yang harus aku pikirkan.rajaebookgratis. Sungai-sungai yang meliuk. Kak. Kak Laisa memang seringan itu menanggapi segala keterbatasan hidupnya. Dali? Bukankah kehidupan di lembah ini hanya sesederhana itu?" Dalimunte terdiam. Ikanuri yang sialnya masih mengenakan sarung mengeluarkan gumam tak jelas. Ya Allah. Pohon bambu. Mamak menunggu di rumah.www. sayang tidak untuk situasi saat ini. . Perkebunan karet. maka berakhirlah semuanya. Mereka berangkat ke China hari ini juga —" Itu jawaban dari seberang telepon saat Dalimunte bertanya ke kediaman Cie Hui di kota kecamatan. Tegang. Kak Laisa yang duduk di belakang." Pembantu rumah Cie Hui menjelaskan terbata-bata. Ini mah siput saja lebih cepat!" Mereka sudah tertinggal empat jam di belakang. Dalimunte mengusap wajahnya berkali-kali. Kak Laisa tidak pernah sekalipun berkeberatan dengan takdir kehidupannya. adikadiknya jauh lebih penting. "Cepat. Yashinta berteriak-teriak menyuruh Ikanuri lebih cepat lagi. Padang rumput meranggas. Satu dua babi liar yang nekad menyeberangi jalan aspal. Ikanuri dan Wibisana yang masih menguap diteriaki agar segera menyiapkan mobil. di tengah-tengah Yashinta dan Ikanuri malah sepanjang jalan sibuk memisahkan tangan-tangan mereka (yang sibuk bertengkar). Urusan ini benar-benar celaka. Katanya nih mobil sudah dimodifikasi macam mobil balap. Pertanyaan itu. pernikahan. Rasa putus asa yang besar karena menunggu bertahun-tahun itu berubah menjadi kebencian sekarang. Dia sungguh telah membuat kesalahan besar. Apalagi memikirkan tentang sebutan gadis tua yang disandangnya. Mereka harus segera menyusul. Maka rusuhlah perkebunan sepagi itu.dalam di hati Dalimunte. Bagi Kak Laisa. Dia keliru.. Menyaksikan monyet yang berani bergelantungan di tepi-tepi hutan. Semakbelukar. jika sampai Cie Hui menaiki pesawat yang membawanya ke ibukota. Persawahan. Mengusap wajahnya. 28 ROMANTISME STRAWBERRY PEMBICARAAN dini hari itu membuat perubahan besar. Rumah keluarga Cie Hui di kota kecamatan kosong.. ternyata sederhana sekali jawabannya. Melingkari bukit barisan. Jadi tidak ada cara untuk mengontak Cie Hui yang sedang menuju bandara. Pusara yang sama juga akan tertanam dalam. Dalimunte memutuskan untuk menikah. Hutan-hutan lebat. Tersinggung dengan teriakan Yashinta. justru Nona Cie Hui yang memaksa agar perjodohan itu segera dilangsungkan. Sungguh keliru. Celaka. Panik sudah.com Kak Laisa tertawa. Akhirnya setelah menatap begitu lama wajah Kak Laisa yang tersenyum amat tulus. ikut merasa sedih. Naik turun lembah. pertanyaan yang selalu dia ingin sampaikan. lantas terus menuju ke China. Bahkan Kak Laisa sedikitpun tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Melewati hampir tiga ratus kilo perjalanan. Kota-kota kecamatan Pedesaan. Hari itu. Nak Dali. Berlima mereka memadati mobil modifikasi bengkel Ikanuri dan Wibisana tersebut.. Lebih cepat. teknologi telepon genggam belum ada. Yashinta bergegas menyiapkan segala sesuatu. Kota-kota kabupaten. "Keluarga Cie Hui sudah berangkat ke kota provinsi. Itu semua sebenarnya pemandangan yang menarik. Memaksa mereka berangkat segera dini hari tadi.

Sesak. Bertanya rusuh tentang jadwal penerbangan. mereka benar-benar terlambat. Inilah romantisme yang (selalu) diceritakan moderator cerewet di konvensi internasional itu. Di majalah-majalah. Nak" Koh Acan. Dia juga tidak tahu nomor telepon ke sana.. Kak Laisa tersenyum lebar. Yashinta tertunduk. Menyisakan lengang di balik kaca tebal ruang tunggu. melepas topi putih kupluk di kepalanya.. Tidak peduli sekitar. Berdiri mematung di depan pintu pesawat. meski tadi pagi ia sendiri yang meminta perjodohan itu dipercepat. setengah sebal. Pesawat itu menderu lepas landas. Lima menit. Urusan ini ternyata berakhir menyedihkan.. Melompat memeluk Dalimunte. Menangis. Menuju langit yang membiru. Kaca itu kedap suara. Dua petugas yang menjaga pintu pemeriksaan terlihat bingung menghadapi seruan-seruan memaksa Yashinta. Ia sungguh amat menyukaimu.. Kak Laisa mendekap sedih pinggang Dalimunte. Sia-sia. Gadis keturunan itu berlari keluar dari garbarata. Bersiap berangkat.. Berlarian menuju ruang tunggu bandara.. "Da-li—" Itu suara Cie Hui. Ikanuri sekarang benar-benar menjitak kepala Yashinta. Menangis. Tidak bisa melakukannya. Dalam gerakan lambat sepersejuta detik yang amat mengharukan. seolah dunia milik berdua... 'Dali akan menyusul. Terpaksalah perjalanan itu terhenti hampir setengah jam tintuk mengganti ban. Jadwal penerbangan ke ibukota hanya ada satu kali dalam sehari. menyeka ujungujung matanya. Dalimunte mengangkat kepalanya. Mereka tidak akan bisa mengejar Cie Hui lagi. Kak Laisa ikut menoleh. Wajah tegang memohon Dalimunte. "Ya ampun. "Da-li—" Suara itu memanggil tertahan. Papa'. Memaksa masuk pintu check-in.. bagaimana mungkin Kak Ikanuri dan Wibisana bisa bikin mobil balap kalau hasil modifikasinya hanya begini?" Yashinta mengeluh setengah kecewa. Dalimunte menatap kosong pesawat yang mulai berputar menuju runaway. Itu prosedur yang tidak bisa dilanggar dengan alasan apapun.rajaebookgratis. juga konvensi-konvensi lainnya. Memukul-mukulnya.. Ikanuri dan Wibisana bergumam kecewa. "Kau tahu.www. Memberitahukan kalau dia sudah bisa mengambil keputusan. Inilah romantisme Strawberry cinta Dalimunte dan Cie Hui. Sungguh sesak rasanya. Lima belas menit hening. Berteriak memanggil. Wajah mengeras Ikanuri dan Wibisana. Di koran-koran yang banyak menulis tentang Profesor Dalimunte. Hanya berbisik berkali-kali di dalam garbarata. Dalimunte masih sempat melihat Cie Hui bersama Koh Acan dan istrinya berjalan di balik kaca tebal menuju garbarata prsawat. Tidak kuasa.. Cie Hui berseru. Nak!" Dalimunte dan Cie Hui sudah berpelukan. Cie Hui sudah masuk kedalam garbarata. Mata Dalimunte berkaca-kaca. Percuma. Kali ini Kak Laisa tidak berhasil memaksa petugas pintu boarding mengijinkan mereka menerobos masuk ke landasan pacu bandara. Mereka berjalan beriringan melewati pintu masuk menuju ruang tunggu... "Cie—" Dali seketika kehabisan kata-kata. dua puluh kilometer menjelang kota provinsi. Dalimunte tetap menatap kosong langit. Memberitahukan kalau dia bersedia menikah. Dan saat mereka akhirnya tiba di bandara. Kembali ke perkebunan strawberry. akhirnya berhasil mcmbujuk petugas. Dali akan menyusul.com Sial. Kak Laisa membimbing Dalimunte. "Ia amat menyukaimu. Berhasil. ban mobil meletus. Muslim keturunan itu menghela nafas panjang. tapi ta tidak kuasa untuk melangkahkan kakinya ke dalam pesawat. Beranjak pulang. Kak Laisa seperti biasa dengan tatapan mata. Tapi mereka tiba di bandara sudah amat terlambat... ayah Cie Hui ikut melangkah mendekat. Semua ini terasa menyakitkan. .

Tidak terhitung kolega Dalimunte darii bukota. di kota yang lebih besar. Ramai bermain-main di hamparan rumput rumah. juga remaja tanggung lainnya yang sibuk membantu selepas pulang sekolah. Di tengah . Mengejar ambisi besar mereka: pembuat spare-part mobil balap. Saat itu dia belum mendapatkan gelar profesor. Tidak buat Laisa yang telah melakukan banyak hal untuk lembah mereka. bolak-balik. tetap tidak ada yang tahu seberapa sepi hidup Kak Laisa. Dan seperti biasa. setnua orang tahu. Percuma. Menghela nafas. karena meski jadwal pulang bersama yang lain hanya dua bulan sekali. Tetapi ada yang sedikit berbeda dibandingkan dengan banyak pernikahan di lembah tersebut sebelumnya. tapi berbagai penelitian yang dilakukannya telah membuat Dalimunte terkenal. Dalimunte dan Cie Hui menangis lama memeluk Kak Laisa. kota kabupaten. Penduduk empat desa di Lembah Lihambay ramai memenuhi kursi-kursi. Seperti selama ini. Halaman luas rerumputan itu dipasang dua tenda besar. Dalimunte memutuskan untuk melibatkan diri seperti Wak Burhan. Di salah satu kursi undangan bahkan duduk rapi Bupati setempat. Urusan ini tidak pantas dibicarakan. Dalimunte selepas pulang ke ibukota juga sibuk mencarikan jodoh buat kakaknya. Jadi pernikahan itu berlangsung 'sebagai mana mestinya'. sebagian besar malah mulai terbiasa. Wak Burhan beberapa hari sebelum acara berlangsung meminta penduduk kampung untuk tidak membicarakan soal melintas. minggu-minggu depan ia mulai menyiapkan ujian tugas akhir kuliahnya. hingga kota provinsi. Ikanuri dan Wibisana kembali ke kota provinsi seminggu setelah pernikahan. Dan memberikan berbagai kesempatan bagi anak-anak lembah lainnya untuk belajar dan bermain yang tidak pernah ia dapatkan waktu kecil. semuanya terlihat baik-baik saja. Hanya Wak Burhan yang masih terus sibuk mencarikan Laisa Jodoh. Tidak sibuk menggoda Kak Laisa soal kapan ia akan menikah juga.com 29 PERNIKAHAN PERTAMA PERNIKAHAN Dalimunte . Dalimunte dan Cie Hui menghabiskan masa-masa bulan madu di perkebunan strawberry.www. anak-anak tetangga. Dalimunte dan Cie Hui terlihat amat bahagia. Kak Laisa juga sering kali menghabiskan malam dengan bermain kembang api bersama mereka. Semua itu seperti menjadi kesia-siaan besar. Juga tamu-tamu dari kota kecamatan. Membuat yang lain terdiam. Yashinta juga segera kembali ke kota provinsi. penduduk setempat juga sudah jauh berkurang menggoda Laisa. Bedanya. Meski tidak ada yang jahil membicarakannya. Pernikahan yang meriah. Mendirikan taman bacaan. berbisik ribuan kata maaf (lebih lama dibanding saat bersimpuh di pangkuan Mamak). Sering berpergian. Lepas pernikahan Dalimunte. Mereka sekarang lebih banyak prihatin. Mengurus perkebunan yang semakin luas.rajaebookgratis. memulai kemball kesibukan di laboratorium. mereka semakin sibuk dengan bengkel modifikasi mobil. Menjadikan mereka petani cluster dari bisnis tersebut.Cie Hui berlangsung satu bulan kemudian. baru lepas satu bulan kemudian mereka kembali ke ibukota. meski saat selesai ijab-kabul. Tapi di luar seluruh kegiatan hebat tersebut. Kak Laisa juga kembali menyibukkan diri dengan pembangunan pusat pengalengan baru di kota provinsi. Kak Laisa dan Mamak Lainuri mungkin tidak akan pernah kesepian. Mulai melibatkan penduduk kampung atas dan kampung-kampung lainnya. melintas macam ini sungguh di luar kebiasaan kampung. di keluarga itu sudah terjadi pernikahan pertama. Meninggalkan Kak Laisa dan Mamak Lainuri di perkebunan strawberry. Kali ini dia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Berencana membangun pabrik kecil di luar pulau. perkebunan itu tetap ramai oleh pekerja. tapi kenyataan ia sudah dilintas Dalimunte tetap fakta hidup yang harus diterimanya. Entahlah apa yang sejatinya dipikirkan Kak Laisa. sekali dua malah mengorbankan jadwal di laboratorium. kenalan Kak Laisa dalam bisnis perkebunan strawberry.

Dari sisi materi. "Tapi maksudku. kesempatan Kak Laisa untuk mendapatkan jodoh tetap lebih besar di sini. dan segalanya. Enam bulan berlalu.. adiknya saja gagah seperti kau!" Itu jawaban yang hebat. kenapa pula temannya tersebut mesti berpura-pura ada jadwal acara mendadak. Apalagi yang kurang!" Dalimunte sedikit tersinggung. Tetapi Dalimunte sungguh keliru. Benar-benar kabar baik. Dan dari sisi keturunan.www.rajaebookgratis. Menjadi keluarga yang jujur meski keadaan sulit. semuanya berkat kerja keras Kak Laisa. juga kesalehan memperbaiki kehidupan lembah. Dalimunte membenci ukuran-ukuran relatif yang ada di kepala orang ketika mencari jodoh. Dalimunte mengajak salah satu temannya. dan sekarang memutuskan untuk menikah lagi. di jadwal pulang dua bulanan mereka. sambil tersenyum lebar dan penuh penghargaan. Lihat. respon yang diharapkannya sungguh jauh dari baik. juga saleh dalam hubungan dengan manusia. tiga puluh lima tahun. Sekarang calon jodoh Kak Laisa tersebut malah lebih dikenal sebagai salah-satu penceramah agama terkenal di ibukota. Dalimunte sudah mengenalnya sejak masih tingkat pertama kuliah dulu. Fasih benar bicara soal mencari jodoh bukan dilihat dari wajah dan kecantikan pasangan. Perkebunan strawberry Kak Laisa membentang nyaris dua ribu hektar. Saleh dalam hubungan dengan Allah. Aktivis masjid kampus. Statusnya duda. tapi keluarga mereka terhormat. Lihatlah. Dalimunte menyebutkan Kak Laisa sebagai salah satu pilihan yang baik. Sebenamya respon yang ada tidak jauh beda dengan jodoh-jodoh yang dibawa Wak Burhan selama ini tetapi mengingat latar belakang pemahaman agama kakak kelasnya. Tepatnya kakak kelas waktu dia kuliah di institut teknologi ternama dulu. "Kakakmu pasti secantik yang ia lakukan selama ini. ketika malam itu akhirnya mereka tiba di rumah panggung. Usianya sepantaran dengan Kak Laisa. semua orang tahu. Cepat sekali proses itu terjadi. Tapi Dalimunte lebih membenci kenyataan bahwa: terkadang betapa munafiknya manusia dalam urusan ini..com amat keterlaluannya warga ibukota dalam menilai tampilan fisik dan materi. Kak Laisa masuk tiga dari empat kriteria utama yang disebutkan Nabi dalam memilih jodoh. Meski Kak Laisa selalu bilang ini perkebunan Mamak. ceramah di manalah hari ini. Dalimunte tertawa riang. tentang Lembah Lahambay. Jelas Kak Laisa salehah. Kak Laisa memang bukan turunan raja atau bangsawan ternama. Malam itu ruangan depan rumah panggung entah mengapa terasa gerah. setidaknya cantik adalah menarik hati" Dalimunte sudah terlanjur membanting pintu mobil. tidak pernah meminta-minta. "Bukankah Kak Laisa 'cantik' seperti yang kau sebutkan selama ini dalam ceramahceramahmu. Harus dijemput dengan baik. bahkan kakak kelasnya merasa tidak perlu melihat foto-foto Kak Laisa. Jelas Kak Laisa lebih baik dari gadis lain. pekerja keras. atau melakukan hal buruk lainnya. Ritus ibadah yang baik dan ihklas. ketika untuk pertama kali mantan kakak kelasnya di institut teknologi itu melihat Kak Laisa. Sejak dulu Babak mengajarkan tentang harga diri keluarga. Kakak mentor. Dia tidak membenci kenalannya tersebut secara personal. Berbuat baik dengan . tapi dari "kecantikan hati". Istri kenalan Dalimunte tersebut meninggal tanpa anak tiga tahun lalu. meski lembah sedang menjelang musim penghujan. berkata ketus esok pagi saat menyuruh salah satu sopir perkebunan mengantar kenalannya tersebut kembali lebih dini ke kota provinsi. Kak Laisa selalu pandai mensyukuri nikmat Allah dalam bentuk yang lengkap. Hanya mendengar apa yang dilakukan Kak Laisa. Mungkin jodoh Kak Laisa terselip di sini. Sungguh jika ada yang ingin menilai secara objektif. Karena Daiimunte amat yakin bahwa kakak kelasnya itu tidak akan menilai seseorang dari tampilan wajah dan fisik. berdusta. mengajarkan tentang menjaga nama baik keluarga lebih penting dibandingkan soal kalian turunan siapa. dia merasa sudah menemukan pengganti mendiang istrinya yang tepat.

Semburat jingga tipis menghias garis horizon lembah. ajak adik-adikmu!" Cie Hui berkata pelan. ada yang mengerti hakikat kisah tersebut.www. Kata dokter .rajaebookgratis. Tertidur di kursi sebelah ranjang. "Kau tahu.PERJODOHAN "INTAN. Itu salahnya! 30 PERJODOHAN . Turun dari tempat tidur. Ada tiga tempat tidur yang berjejer di dalamnya. menatap gumpalan awan tipis yang menutupi bintang-gemintang dan purnama. Tidur. besok disambung lagi. Dalimunte yang menggantikan berjaga. kenapa kenalanmu itu tetap datang meski telah melihat foto-foto. tertipu tampilan mutut. mereka tidak akan pernah menjadi keluarga yang baik. masih tetap sibuk saling melempar bantal sebelum tidur ) Shubuh sekali lagi datang di Lembah Lahambay. Merasa tenteram —" Kak Laisa berkata pelan. Dia tahu. Dia juga tahu persis kalimat bijak kalau: ketika salah satnnya justru memutuskan untuk bersabar atas pasangan yang tidak beruntung dari tampilan wajah dan fisik tersebut. Intan tak perlu disuruh dua kali. Cie Hui menyuruh mereka beranjak tidur. Malam ini ia bisa tidur lebih baik. Dalimunte hanya diam. Sudah seminggu terakhir kurang tidur menunggui Kak Laisa bersama dokter dan perawat. tapi karena Intan. Bukankah selama ini juga perjodohan yang dilakukan Wak Burhan bernasib sama. menggamit tangan Juwita dan Delima. dan juga sebaliknya. Seperti biasa. Wawak Laisa menggantinya dengan tiga ranjang kecil. Kamar terluas di rumah panggung perkebunan strawberry. Juwita dan Delima sibuk bertengkar saat tidur. "Kakak tidak sakit hati?" Dalimunte berusaha melepas senyap di hatinya. Mengusir rasa sesalnya atas kejadian ini. Dali. Dalimunte menunduk. Kak Laisa tidak banyak berkomentar atas kejadian semalam dan tadi pagi. Tidakkah hari ini. Dalimunte sudah mulai sibuk dengan berbagai penelitian tentang transkripsi religius. Dali?" Kak Laisa melambaikan tangan. tidak proporsional. Eyang Lainuri dibimbing Wulan dan Jasmine beranjak ke kamar. Pengajian Yasin di ruang depan dan surau dihentikan.com tetangga sekitar. Yang dijodohkan mundur teratur setelah melihatnya (satu dua malah kasar segera pergi dari rumah). menatap lamat-lamat wajah Kak Laisa. Satu dua tetangga juga mulai pamit. Dulu hanya satu ranjang besar. maka surga menjadi balasan buatnya. Penduduk kampung yang duduk-duduk di kursi halaman bertahan beberapa jam lagi. Semalam. sibuk saling memukul guling. Kakak?" Kak Laisa tersenyum. yang meminta bercerai karena fisik dan wajah pasangannya tidak menenteramkan hatinya—" Laisa tetap berkata ringan. Eyang Lainuri terlalu lelah. Tahun-tahun itu. Masing-masing satu (yang tetap saja percuma. lantai dua. Dalimunte menelan ludah. Jadi kenapa harus mempersoalkan kecantikan? Bukankah itu hanya ada di urutan keempat? "Keluarga yang baik hanya dapat terjadi ketika suami merasa senang menatap istrinya. "Kenapa harus sakit hati. Malam beranjak semakin tinggi. lepas satu jam menunggui Wawak Laisa yang tertidur. dan sebagainya. Kesalehan mulut. mengenggam lengan Dalimunte. Seperti biasa mereka menghabiskan sepertiga malam terakhir dengan berdiri di lereng perkebunan strawberry. Itu kamar mereka bertiga. Dalimunte saja yang terlalu naif berharap banyak atas kenalannya tersebut. jadi bagaimana mungkin dia tidak tahu berbagai kisah tersebut. Dalimunte hanya diam. menganggapnya kejadian lazim berikut. Bukankah kau juga tahu kisah tentang sahabat Nabi. Bang Jogar menyuruh mereka pulang saat menjelang tengah malam. jika suami merasa tersiksa melihat wajah dan fisik istrinya. Dalimunte menunggui Wak Laisa di kamar. "Tetapi yang membuat Kakak bingung.

mengalah. . biasanya Wak Laisa ikut mereka. Tapi pagi ini mereka bangun tepat waktu seperti yang lain. bergelung dibalik selimut.www. Wak Laisa shalatnya gimana?" Juwita bertanya pelan sambil melipat mukena. Digendong Ummi masing-masing ke kamar besar di lantai dua. paling susah membangunkan Juwita dan Delima. Proses itu diulang lagi. Semoga akhimya jodoh kakak datang. Tidak ada lagi suara keras Wak Burhan. Tentu Juwita sedikit kesulitan bagaimana membayangkan shalat seperti itu. Menurut saat diajak Intan ke kamar mandi. Menatap bangga Yashinta yang begitu cantik dengan toga wisudanya. Mencari seseorang yang dia pikir cukup baik dan memadai untuk Kak Laisa. Biasanya setiap jadwal pulang. Lihatlah. Hari itu resmi sudah menjadi harinya Yashinta. dan yang lain sudah duduk menunggu. Shubuh yang menyenangkan. Hanya soal waktu. Dalimunte. Wajah-wajah basah. Wak Laisa baik-baik saja. Dalimunte tidak patah arang meski perjodohan dengan kakak kelasnya gagal total. ya?" Juwita melipat dahi. Dalimunte. Ia lulus dengan predikat cumlaude." Kak Laisa hanya mengangguk." " Emangnya boleh. Sekarang Wak Laisa kan sakit parah? Shalatnya pasti susah. Tetap sia-sia.. Sekarang giliran Yashinta yang lulus dari kuliah S1-nya. Memperlihatkan foto. Dibalut infus dan belasan belalai plastik. Wak Laisa ternyata shalat sambil duduk. Menjelaskan Kak Laisa dengan baik dan lengkap Memperlihaikan foto.com selepas memeriksa seluruh status peralatan pukul sepuluh malam. Kabar baik berikutnya di lembah indah mereka. Berjejer. Terhenti. Cie Hui menyerahkan tiga mukena kecil. Belum ada hasil Proses itu selalu terhenti. sementara Juwita dan Delima sudah jatuh tertidur. saat beranjak ke kamar perawatan Wak Laisa. Intan hanya menguap sok mengerti. Dan akan lebih susah lagi membayangkan bagaimana sulitnya Kak Laisa shalat dengan kondisi tubuh yang amat menyedihkan. "Wak Laisa shalat sambil berbaring. Enam bulan berlalu. Ketiga gadis kecil itu sudah kembali dari kamar mandi. dan trik macam Abi nya dulu. dan Wibisana duduk di kursi baris terdepan. Tetapi mereka benar-benar terkejut. Sudah sejak lama pula penduduk kampung dan anak-anak tidak perlu lagi membawa obor ke surau. sayang. Wudhu. menaruh bantal di kepala. Semua fungsi tubuhnyn terkendali. Bercerita apa saja. Enam bulan berlalu lagi. Mencari seseorang yang dia pikir cukup baik dan memadai untuk Kak Laisa. Bersandarkan bantal-bantal. Di surau entahlah siapa yang sedang mengumandangkan adzan. Mereka selalu saja pura-pura tidur. Dan tidak banyak bicara saat mengenakan mukena (tidak jahil saling tarik. Ikanuri. selesai shalat. "Ummi. Dali tidak perlu memaksakan diri mencarikan jodoh buatnya. Kali ini Dalimunte memutuskan untuk tidak mengajak yang bersangkutan ke Lembah Lahambay sebelum memastikan banyak hal. Namun sepertinya semua upaya Dalimunte akan sia-sia. terbaik. Siang itu Mamak Lainuri. Wajah itu pucat. terlihat lemah. Terhenti. "Kakak sendiri yang bilang jodoh itu di tangan tangan Alloh. Cie Hui.rajaebookgratis. Wak Laisa shalat shubuh sambil duduk. Dalimunte memulainya dengan mencari seseorang yang dia pikir cukup baik dan memadai untut Kak Laisa. Menjadi wakil wisudawan saat memberikan sambutan. Jadi biarkan Dali terus berusaha. Menjelaskan siapa sebenarnya Kak Laisa dengan baik dan lengkap. berisik). Matanya terlihat begitu damai. Shalat shubuh. dan sedikit gemetar. tapi matanya. Selepas kejadian malam itu.. Jasmine mengangguk. Meski kemudian pelan menghela nafas. berjejer di sebelah Eyang. Membiarkan Dalimuinte yang justru semakin hari semakin terlihat semangat. Kan. Biasanya juga selepas shalat Wak Laisa suka bercerita tentang sahabat-sahabat Nabi. Udara pagi terasa sejuk. Mamak Lainuri. Kak Laisa meski sekali dua bilang.

Yang demi Yash. Menciumi rambut gimbal Kak Lais. namun memberikan pemahaman ke Yash tentang menjalani hidup dengan rileks dengan indah" Gadis itu tertawa.. Saat itu tidak ada yang tahu... Lihatlah. "Untuk Kak Dalimunte yang selalu menjadi teladan. dulu memutuskan berhenti sekolah. ia tiba di penghujung sambutannya.. Ikanuri nyengir... demi Kak Dalimunte. Kecintaannya atas alam tumbuh subur sejak melihat anak berang-berang tersebut........" Gadis cantik itu mulai tersendat. Apakah mereka akan tetap sibuk mencari perhatian jika wajah dan fisiknya seperti Kak Laisa? Omong-kosong. Ia mendapatkan beasiswa penelitian konservasi ekologi. mengajar. dan Yashim tumbuh menjadi gadis yang cantik menawan. kalau bertahun-tahun terakhir Yashinta amat membenci kelakuan teman lelakinya sibuk mencari perhatian.. menyeka matanya. Yash!" atau seruan ragu-ragu dari wajah merah mereka.. Tapi Mamak dan Kak Laisa ikut tertawa.. Hari ini.. Lebih keren dibanding berang-berang.." Yashinta terdiam. Untuk Kak Ikanuri dan Kak Wibisana yang meski nakal. Tidak ada yang tahu siapa sesungguhnya Kak Laisa. tertawa kecil melihat Yashinta yang masih mememeluk Kak Laisa..rajaebookgratis. kami tidak akan pernah melihat Kak Laisa berdiri di sini. yang setiap malam berdoa buat Yash dan kami. "Ah-ya. .. Dan sejak kecil Yashinta sudah belajar dari guru terbaiknya soal mengenal alam. Dalimunte menyikut dua sigung yang tidak kecil lagi itu.com "Untuk Mamak. Kami.... Melangkah turun. bekerja keras. selalu dimarahi Mamak.. mengajarkan tentang ketekunan.. dengan wajah sok serius Mengangguk-anguk." Yashinta terbata. Sungguh. Yashinta bukan gadis kecil berkepang umur enam tahun lagi.... Terima kasih karena Kak Lais dulu telah mengajak Yash melihat lima anak berang-berang itu... tapi bagi kami. Memeluk Kak Laisa dan Mamak erat-erat. Kak Laisa-lah yang selalu berdiri di sini. "Dan untuk Kak Laisa. "Yap! Bisa jadi lebih lebih mengharu biru dari ini kalimat-kalimatnya. Harimau ini. mengajarkan proses belajar." Aula besar itu lengang... boleh aku minta nomor teleponmu?" Yashinta hanya melotot. Apa perannya datam cerita yang disebutkan Yashinta. "Buat kenangan terakhir. tidak perah datang terlambat buat kami. Mereka tidak benarbenar menyukai dirinya. Untuk Kak Laisa yang selalu menepati janji.. pasti tadi juga disebut-sebut. Menggantung di langit-langit ruang wisuda. Kak Laisa mengusap pipinya yang basah. "Terima kasih. "Untuk Kak Laisa yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi kami.www. Saat ini umurnya sudah dua puluh empat. dan. kan. demi kami semua. "Dan.. Berang-berang itu selalu penting baginya. menggenggam tangan Kak Laisa yang duduk di sebelahnya.. ada banyak sekali teman lelaki Yashin yang pura-pura mengajak foto bersama.." Dan Yashinta tidak kuasa lagi melanjutkan kalimatnya. bahkan beasiswa itu ditawarkan saat Yashinta masih menulis tugas akhir kuliah Sl-nya. Sedikit berlari menuju kursi Mamak dan Kak Laisa... Menatap wajah Kak Laisa yang juga menangis tertahan melihat Yashinta berdiri di panggung Wisuda. dari hati yang menjadi saksi langsung atas masa lalu tersebut. lepas prosesi wisuda itu." Wibisana menimpali. Yashinta akan melanjutkan studi S2-nya di Eropa. Yang selalu mengajarkan makna kata bekerja keras. Maka sempurna sudah kalimat Yashinta membuat yang lain tersentuh.. Benar-benar terlupakan masa-masa delapan belas tahun silam... Enam bulan kenudian. Tersendat Dalimunte yang tahu kalimat apa yang akan disampaikan Yashinta sekarang... Tapi ucapan itu amat tulus. Yang doanya mungkin saja telah membuat langit diaduk-aduk. "Kalau dulu kita yang mengajak Yash ngelihat anak harimau di Gunung Kendeng.

com Menyukai apa-adanya.. ?sudah! Tiketnya sudah diurus staf pabrik. Aku sudah menduganya dari dulu!" 31 ISTRI KEDUA "HALLO PROFESSOR. Ikanuri dan Wibisana. Maka hewan-lah sejatinya perangai mereka. aku akan pakai mobil modifikasi bengkel di sana saja. Seperti seekor lebah tertarik atas indahnya kelopak bunga. keramaian mulai berkurang. Dasar sialan. anak-anak di keluarga ini berhasil menyelesaikan sekolah tingginya. Wibisana memaksakan diri mampir ke salah satu kedai fast-food bandara. lupa dirapikan. meski tidak ada lagi badai seperti di Pegunungan Alpen Swiss.rajaebookgratis.. Tentu saja aku sekarang ikut cemas. Itu bahkan sudah termasuk waktu yang dibutuhkan untuk bertengkar. Dia juga kebetulan sedang di sekitar Semeru. Jangan bilang Kak Laisa kalau HP Yashinta tidak bisa dihubungi. Wajah mereka kuyu.. bilang Mamak kami akan tiba nanti malam. "Tidak.. Berebutan. Sudah siang. Jika tidak ada delay. Semua berkumpul. Apa? Oh. Semoga tidak. Seperti seekor rubah yang tertarik pasangannya karena bau tubuhnya. Mereka hanya menyukai tampilan fisik dan wajah. ketiga anak-anak nakal itu pasti bisa menghabiskan menu ini dalam sekejap.. Meriah... Bolak-balik melangkahi perbedaan waktu hampir belasan jam membuat pusing kepala.Sarjana. Professor—" Ikanuri tetap saja harus berteriak-teriak.. berkata lebar. Dali.. Kak Laisa sama seperti saat kelulusan Dalimunte. anak-anak yatim.. Transit sebentar. merayakan kelulusan Yashinta di hamparan halaman rumah pangung. Aku tidak tahu.. yang sejak kecil ditinggal Babak karena mati diterkam harimau sekarang sudah besar-besar. Meletakkan tas laptop dan barang bawaan sembarang di sekitar meja makan. satu menit. BELUM! Apa? Aku sudah puluhan kali menelepon HP satelit Yashinta. Makanan terhampar. Menepuk bahu Dalimunte berkali-kali. meski mereka tetap tidak berselera makan. Ya? Lebih cepat. Hingga pukul sembilan ketika anak-anak mulai lelah berlarian. Mengundang tetangga. Ya Allah. Lihatlah. Biar dia yang mencari kemana anak itu. Tidak pernah terbayangkan. belum lagi teng-tong-teng pengumuman. Menebar senyum. Yashinta pasti . Matahari tiba di garis tertingginya. kurang istirahat. Bising lalulalang penumpang sudah macam deru hujan deras saja. Kemana pula anak ini sekarang. Dalimunte malah lulusan S3. dan Intan. Meja-meja panjang tersusun rapi. Kalau saja ada Juwita.. Wak Burhan yang terlihat paling bahagia. Merusak bio-ritme.. sekolah luar negeri. Beruntung. mungkin menjelang tengah malam.. Kami berangkat ke Ibukota provinsi sore ini juga. Apa? Semoga tidak. Profesor! Ikanuri mengusap dahi.. Kau tidak boleh bilang. Menelan ludah. Lima belas menit lagi langsung ke Jakarta. Aroma kue itu cukup mengundang. "Tadi aku sudah menelepon Goughsky.. Ya.. Apa? Jemputan? Tidak usah.. Pelayan mengantarkan kue donut besar-besar. Habis shalat dhuzhur. Malah salah satu kaki celana panjang Ikanuri tergulung sembarangan. Kursi-kursi dipenuhi wajah riang. Sedikit sebal dengan intonasi suara Dalimunte. kami sudah di Singapore. " Aku sudah menduga. Setelah hampir sehari semalam tidak menyentuh makanan. doktor. Kemeja berantakan. Tetangga satu persatu beranjak pulang. ketika malam beranjak matang.. Sambil menunggu pesawat berikutnya.www. bit lag pula. itu akan membuatnya berpikiran yang tidak-tidak.. Rambut semrawut. berpendidikan. Jangan. Itu lebih cepat. Wibisana yang sedang menatap adiknya bicara via telepon genggam dengan Dalimunte di perkebunan strawberry mengalihkan tatapan. Delima. Menatap Mamak dan Kak Laisa dengan tatapan kagum dan hormat. semalam. Perkebunan strawberry malam itu terang benderang.. Ruang tunggu bandara internasional Singapore itu ramai. Mereka ahirnya tiba setelah penerbangan non-stop dua belas jam: Perancis-Singapore. tidak ada yang terlalu memperhatikan tatapan benci Yashinta.

." Ikanuri meletakkan telepon genggam di atas meja. ANAK ITU SUDAH MENDAKI 27 GUNUNG DI SELURUH DUNIA . Kesempatan baik? " Kau sungguh-sungguh?" Dalimunte bertanya sekali lagi." Maka Dalimunte segera kembali ke ibukota. Tapi butuh tiga bulan untuk meyakinkan. Kolega riset Dalimunte di laboratorium itu tersenyum tulus.. sepelemparan batu dari rumah Dalimunte dan Cie Hui. "Sudah menjadi kodrat manusia hidup berkeluarga. Senyumnya terhapus.. bilang Mamak dan Kak Laisa kami paling telat akan tiba malam ini. Keputusan itu diambil.com baik-baik saja. penjelasan yang baik. "Kalau Kakakmu tidak berkeberatan. Pagi tadi sudah bisa shalat Shubuh sambil duduk. itu bisa menjadi jalan keluar yang bijak. Bagaimana mungkin mereka selama ini tidak tahu? Umur Laisa hampir empat puluh (tepatnya tiga puluh tujuh tahun) ketika akhirnya kesempatan baik itu datang." Mamak memperbaiki tudung kepala (setelah terdiam lama). sedetik kemudian dia akhimya bisa tersenyum. "Apa kata Dali?" Wibisana bertanya. Menjadi istri kedua.. sudah beristri.. mungkin itu jalan keluar yang baik semua urusan ini. "Kau tahu.. Dalimunte tahu persis kalau rekan kerjanya tersebut sedang mencari istri kedua. Dali. calon jodoh Kak Laisa kali ini. Dia berfikir lebih baik berbicara dengan kolega risetnya lebih dulu. Rekan kerjanya 100% tidak keberatan meski telah melihat foto Kak Laisa. Dan kabar baik itu benar-benar tiba.. memastikan kolega risetnya tidakberkeberatan dulu dengan tampilan wajah dan fisik Kak Laisa. "Apa kubilang. maka lebih mudah membicarakannya lebih lanjut dengati Laisa.. Wibisana melepaskan kue donut yang dipegangnya." Wak Burhan menghela nafas. Setelah berbicara banyak dengan Cie Hui. lega. Kak Laisa menjadi istri kedua? Sungguh awalnya Dalimunte tidak bisa membayangkan. Istriku juga sudah melihat foto dan bio-data Laisa. la akan baik-baik saja—" "Tapi kata dokter." Ikanuri menelan ludah. yang memiliki masalah dengan rahim dan kesuburan. Istri pertamanya juga tidak keberatan. memberikan kesempatan kepada suaminya untuk menikah lagi. kanker paru-parunya sudah stadium IV . Istriku? Nah inilah yang sedikit menjadi masalah. dan kabar buruknya hingga hari ini belum mendapatkan anak juga. justru istrikulah yang menyarankan aku menikah lagi. "Kak Laisa sudah membaik.. SEMUA BAIK-BAIK SAJA! Baiklah. "Kau bicarakan dulu baik-baik dengan Laisa. Dali. Kolega Dalimunte tersebut. Kak Laisa akan baik-baik saja. Jika ada alasan yang baik. Umurnya juga sudah empat puluh.Stadium IV? Itu berarti tak ada lagi kemungkinan untuk operasi. Itu kunjungan ketiga Dalimunte ke rumah mereka yang asri. ketiga atau keempat tidak selalu pilihan yang buruk seperti yang dibayangkan banyak orang ini. Istrinya. ada sedikit kemajuan. hingga akhimya menyebutkan nama Kak Laisa ke rekan kerjanya tersebut. Terdiam. diam-diam juga bicara dengan Wak Burhan dan Mamak saat jadwal rutin pulang dua bulan sekali." Wibisana ikut tersenyum. Dokter bilang." Rekan kerja Dalimunte menatap lamat-lamat wajah istrinya yang duduk di sebelahnya. Tetapi lihatlah. bukan? Allah membolehkan seorang lelaki memiliki empat istri dalam waktu bersamaan jika dia bisa berlaku adil. Mamak hanya bisa bilang ya. "Tentu saja.. Sampaikan dengan baik-baik. Meski wajahnya terlihat kusut dan cemas.www.. Kau berlebihan. Mereka sudah menikah lima belas tahun.rajaebookgratis. Itu akan jadi pilihan yang baik dalam urusan ini—" Tersenyum.. . Jika semuanya baik. tentu karena ada alasan baiknya Allah menyimpan banyak sekali rahasia dalam sebuah pernikahan.

Menjilat.. ya?" Wak Laisa mengangguk. Hamster belang itu mengangkat-angkat kepalanya. dan sebal karena buah strawberry tidak mudah digigit.. Semoga ia memberi kesempatan padaku untuk belajar dalam proses sulit ini... Dibantu anak gadis tetangga lainnya. "Yee. buat kalian—" Intan melotot. demi mendengar kalimat hebat tersebut. Tetangga masih berkumpul.." Maka Dalimunte. Meski keras kepala. Kak Intan ngapain pula bawa gelang-gelang ini? Juwita dan Delima hampir berseru berbarengan saat Intan kembali sambil membawa nampan air minum ( dengan beberapa gelang "Safe The Planet"-nya). terus nyubit perut. segera kembali ke perkebunan strawberry.. menatap Wak Laisa yang ikut tersenyum. Mereka belum mengaji yasin lagi. menyerahkan dua gelang. Intan duduk di sebelah Wak Laisa. Eyang Lainuri duduk di kursi tengah ruangan. dan aku sudah berjanji kepada istriku. Nanti kan sembunyi-sembunyi bisa dilepas. selalu membantah. semangat yang tinggi selalu memberikan kekuatan. akan membuat pernikahan-pernikahan kami bahagia. Jika saja ia bisa melahirkan anak-anak kami.. jika ada alasan yang baik. Aku sungguh tidak pernah bisa membayangkan harus menikah lagi—" Pasangan itu saling menggenggam tangan. Mending ngalah." Mulut Juwita kumur-kumur protes. kedua . Dalimunte tersenyum menatapnya. Bilang kepada Mamak dan Laisa. Akan menjadi suami yang adil. Berjinjit. "Wawak haus? Intan ambilin minum buat Wawak. sekaligus menyelesaikan masalah Kak Laisa. Menyelesaikan masalah keluarga mereka. Menjelaskan kepada Kak Laisa tentang: posisi istri kedua. kami akan datang memperkenalkan diri minggu depan. Tapi daripada nanti Kak Intan marah-marah. Lah. Dali. kehadiran tiga sigung kecil ini juga membuat Kak Laisa kembali merasa kuat. Pagi ini ia merasa lebih kuat (seperti dulu. Dulu meski bandel. Wak Burhan benar. "Aku akan mencintai Laisa dengan baik. Orang dibayar lima ribu saja mereka tetap tidak mau pakai. "Nih. Meski amat susah membayangkan harus membagi cintaku. "Wawak sudah mendingan?" Sejenak Juwita menolehkan kepala.com "Aku mencintai isteriku. Cemas menunggu kabar sakitnya Laisa. Menonton kelakuan Rio.rajaebookgratis. Wulan dan Jasmine ada di ruang belakang. Delima ikut-ikutan malas menerimanya. melangkah keluar ruangan. Laisa mengangguk. Kedua kaki depannya memegang erat-erat buah strawberry matang. ini justru disuruh bayar lima ribu.. Mereka bahkan menghentikan aktivitas sehari-hari. meski entah hingga kapan).. Menggigit. Juwita dan Delima benarbenar mirip kedua ayahnya. Bosan jadi pusat perhatian.www. "Mending gratis. Sekarang menyelesaikan bagian penting berikutnya... Juga juwita dan Delima. menyisakan ruang yang cukup buat berempat. Ia sungguh pilihan yang baik.. Gadis kecil sembilan tahuti ini turun. hamster belang Intan. juga Dalimunte. hamster itu melempar buah strawberry sembarangan. Semoga ia tidak keberatan menjadi istri kedua. lantas dengan cuek loncat turun dari tempat tidur. melihat kelakuan Ikanuri dan Wibisana sungguh memberikan semangat hidup baginya. tertawa. Kak Laisa yang berbaring bersandarkan bantal tertawa kecil. Kami akan melamar Laisa. Ranjang besar itu besar. Cie Hui. meski fisiknya sakit. tidak selalu poligami itu buruk. mengurus dapur dan sebagainya. Lucu sekali melihatnya sibuk menaklukkan buah merah tersebut. Kabar membaiknya Laisa membuat situasi rumah sedikit riang> Cie Hui memutuskan membuat makan besar. Ini mungkin jalan keluar yang baik. Isttriku menyetujuinya. Amat mencintainya. Tetangga sekitar yang berkumpul sejak dua hari lalu pasti tidak sempat masak di rumah.

. Langsung ke pokok permasalahan. mereka sudah lima belas tahun menikah." Kak Laisa memotong lembut. Lengang. Semuanya berkumpul... Hanya menelepon saat mereka ramai duduk di beranda rumah panggung. Meski dengan intonasi suara yang lebih baik.www. Umurnya empat puluh. namun apa? "Dia sudah menikah. Terhenti sejenak. apakah Kak Laisa bersedia jadi istri kedua?" Dalimunte bertanya ragu-ragu.. Berakhlak baik. Hamparan buah strawberry terlihat remang di bawah cahaya rembulan. memegang lengan adiknya.. Hanya soal bagaimana mereka menunjukkannya saja yang sedikit berbeda dengan anak-anak lain... Istrinya yang meminta dia menikah lagi. Maksud Dali. Jadi kenapa adiknya harus merasa amat sungkan.. Istrinya juga sudah setuju.rajaebookgratis. Entahlah apa yang dipikirkan Kak Laisa.. Urusan ini tentu saja tidak mudah. istrinya juga berjanji akan menerima Kak Laisa dengan baik. Lebih jelas. Dali. Jodoh yang baik. mereka sudah melihat foto dan bio-data Kakak.. Nakal. Namun. Bukan pula sekali dua ini mereka melakukan pembicaraan di lereng perkebunan strawbery saat malam tiba di penghujungnya.. Kebersamaan di rumah hanya ada lepas maghrib. Maka dua sigung kecil itu juga sibuk mencari perhatian.." "Katakan saja. Jika ada seseorang yang tetap bersedia menikah walau telah melihat foto-foto Kakak.. menatap wajah adiknya lamat-lamat. bahkan helaan nafas Dalimunte saat bicara... Mamak setiap hari sibuk bekerja. Namun kenapa?" Kak Laisa bertanya sekali lagi. Maksud Dali. dan sekarang tabiat jahil mereka sempurna diwarisi oleh Juwita dan Delima. namun. Sekali lagi hanya lengang. itupun dengan wajah-wajah lelah. Jadwal pulang dua bulanan mereka.. Saleh. Ikanuri dan Wibisana sejak dulu memang beda. dan istrinya tidak bisa mengandung. Apakah harga diri Kak Laisa terganggu dengan pertanyaan itu? Setelah sekian lama tidak mendapatkan . Dalimunte ikutan terdiam. Entah apa yang sedang berkecamuk di kepalanya. Maksud Dali. Ia amat mengenal intonasi... Hanya terdengar suara burung hantu di kejauhan. Setelah tertahan. Dia teman riset Dali di lab. penjelasan itu akhirnya meluncur bagai bebat air yang jebol. Kak Laisa hanya tepekur. Dali..." Dalimunte menelan ludah.com sigung kecil itu membuat masa kecil dan remajanya yang sulit dan penuh kerja keras. Dan sungguh tidak ada keputusan malam itu. "Katakan saja. Bukan sekali dua ini mereka membicarakan urusan perjodohan.. keluarga yang bahagia. Tidak bertanya lagi. Dari keluarga yang baik. Sayangnya. Tertunduk menatap ribuan polybag strawberry yang membentang luas memenuhi lereng lembah. Juga dirinya.. Mereka hanya menuntut perhatian. Mereka benar-benar keluarga yang menyenangkan. Kak Laisa tersenyum. mimik muka." Dalimunte menghela nafas.. Istri kedua? Apakah ada wanita di dunia ini yang dengan mudah memutuskan menjadi istri kedua? Meski dengan banyak alasan bijak. "Dali yakin dia pilihan yang baik. "Dia sudah menikah. yang masih kuliah di Belanda..... Dia berjanji akan mencintai Kak Laisa dengan baik.... Mereka sejak dulu. selalu menjadi adik-adik yang baik. Tingginya hanya sedada Dalimunte. Namun.. kecuali Yashinta. dan apapun dari Kakak. Deskripsi yang penuh informasi dalam satu tarikan nafas itu terhenti. 32 KODRAT MANUSIA "JIKA ada seseorang yang tidak mempermasalahkan usia.. menjadi berwarna dan berisik sepanjang hari.

" Kabar baiknya. Dan juga tidak malam-malam berikutnya saat jadwal pulang. Musim penghujan tahun kapan. Istri muda (istri kedua) Wak Burhan yang dulu menikah di . mereka mengisi sembarang kolom tanggal lahir. Tapi Dalimunte melarang. bukan? " Dalimunte tertawa kecil. Itu benar-benar tidak lazim..rajaebookgratis. Wak Burhan juga meski dulu amat yakin bahwa solusi yang baik bagi Laisa dalam urusan ini adalah menjadi istri kedua juga tidak bisa membantu banyak. Tanpa proses.. Wak Burhan meski menikah dua kali.. Wak Burhan meninggal saat sujud shalat shubuh di surau. Gadis tua saja sudah menjadi aib. Menelan ludah.. Dalimunte. mengenang masa-masa lalu itu. menelan ludah. Mereka hanya ingat si anu lahir saat musim tanam tahun kapan. Dilintas adiknya menikah pula. menatap langit cerah.. selalulalai untuk mencatat tanggal lahir. "Kata Mamak tadi sebenarnya tidak ada yang tahu berapa persis umur Wak Burhan. Jadi aku bisa menunggu kabar baik dari Kak Laisa beberapa bulan lagi." Tersenyum.. Meski bukan jadwal rutin seharusnya. setelah sekian lama ditolak baik secara halus atau kasar sekalian. rekan riset Dalimunte tidak terlalu mendesak.. Ikanuri dan Wibisana yang akhirnya tahu masalah itu dari Dalimunte juga diam. Tidak ada yang mencatat detail hingga hari dan bulan. Urusan ini jelas-jelas tidak lazim di Lembah Lahambay. Tanpa sakit. Dan sekarang satu lagi status baru Kak Laisa: istri kedua. waktu mereka mendaftar sekolah dulu. Mamak pun tidak tahu. Semua penduduk lembah tahu. Aku tidak tahu berapa lama lagi. musim paceklik. "Bagaimana Mamak akan tahu? Mamak saja tidak tahu kapan tahun lahirnya sendiri? Juga tanggal lahir kita. Dali.. pilihan yang tersedia baginya ternyata hanya istri kedua? Ya Allah? Hanya lengang. Kau tahu. Bergurau.www. Wak Burhan meninggal. Itu kunjungan ke sekian kali Dalimunte ke keluarga itu. "Wak Burhan terlihat senang sekali tahun-tahun terakhir meski hidup sendiri. Tidak hanya persiapan dirinya sendiri. Kali ini bersama Cie Hui. Di usia 88 tahun. Berkali-kali bilang ke anak-anak yang belajar ngaji di surau soal pentingnya sekolah. Empat bulan berlalu. Yashinta sedang melakukan riset S2-nya. Mamak dan kebiasaan penduduk lembah. Nisan itu hanya sembarang menulis tahun lahir.. Dalimunte. Laisa memang harus memikirkannya matang-matang. karena pasti adik terkecil mereka akan menolak mentah-mentah pilihan tersebut. tapi ia juga harus mempersiapkan diri bagaimana tetangga sekitar akan menilainya.. Mamak tak kuasa membantu Dalimunte memberikan penjelasan kepada Kak Laisa. Ternyata Wak Burhan yang suara kerasnya selalu menghias Lembah Lahambay sudah meninggal. Membuat jamaah bingung karena imam mereka tidak kunjung bangkit untuk duduk tasyahud akhir. Itu benar. Dalimunte terpaksa berbohong kepada rekan risetnya saat dia mulai meminta jawaban. Ikanuri dan Wibisana pulang lagi ke lembah satu minggu kemudian. "Tak masalah. Yashinta yang sejak kecil dulu amat dekat dengan Wak Burhan (karena sering mengadu soal Kak Laisa) ingin memaksakan diri pulang. dan seterusnya.com jodoh. Dalimunte sengaja tidak memberitahu Yashinta.. "Kak Laisa membutuhkan waktu lama untuk memutuskan.." Kak Laisa memecah sunyi lereng perkebunan. kami berdua memerlukan waktu hampir lima tahun. Bagaimana tetangga sekitar akan menilainya? Dalimunte terdiam lama. hampir menghabiskan hidupnya sendiri. Tidak ada keputusan malam itu. 'Biar kalian bisa jadi Oom Dalimunte yang hebat. Dia bangga sekali dengan penghidupan pang baik di lembah. Proses kematian yang indah.. untuk tiba di keputusan menikah lagi. Jadwal bicara mereka penghujung malam. Dia juga bangga sekali denganmu.. Sering masuk tipi' — " Kak Laisa tersenyum.

buat apa kau mencemaskan apa yang akan dinilai orang lain.." "Lantas. Allah amat baik kepada kita. Dalimunte takut menyinggung perasaan Kak Laisa. Butuh berkali-kali menyakinkan Kak Laisa kalau pernikahan itu justru karena permintaan istri pertama.. Dali. menjadi istri kedua tidaklah selalu buruk. Dali. Kak Laisa menoleh. Sudah hampir lima bulan mereka tidak membicarakan perjodohan itu.. Dalimunte akhirnya memutuskan untuk membicarakan hal tersebut. Dalimunte yang berdiri di sebelahnya menoleh. Malam ini mungkin tidak membicarakan hal itu setelah kematian Wak Burhan.. jika ada alasan baiknya.www.. aku selalu merasa. Kak Laisa enggan menyakiti perasaan istri pertama calon perjodohan ini.. yang selalu diucapkan setiap kali bertandang ke rumah... mereka juga akan menjadi bagian yang tepat bagi keluarga kita.... Dingin... Wak Burhan dulu pernah bilang. Kau tahu Dali. Kakak sungguh sudah merasa cukup dengan semua itu.." Malam itu setelah bicara hingga shubuh. apakah Kak Laisa khawatir dengan penilaian tetangga sekitar?" Setelah berdiam diri satu sama lain.. Mungkin Wak Burhan benar. "Tentu tidak. Bukankah dulu Kakak pernah bilang: buat apa kau memikirkan apa yang dipikirkan orang lain.. Allah benar-benar baik kepada kita. Anak satu-satunya dari istri pertama juga meninggal di usia muda. sudah menjadi kodrat manusia untuk berketuarga. Tentu saja bukan itu masalahnya. berkeluarga..rajaebookgratis. memiliki teman hidup'.. Dia juga pernah mendengar kalimat itu dari Wak Burhan. Sungkan. Kakak tidak ingin proses itu justru mengganggu kebahagiaan yang sudah ada. Menghela nafas. "Apakah. Mendengar apa yang telah kalian lakukan. Menatap wajah Dalimunte lamat-lamat. Tapi itu tidak pernah menjadi sebuah kewajiban. aku pikir itu bukan masalah besar lagi. Saat adzan terdengar dari surau (entahlah siapa yang mengumandangkan adzan tersebut sekarang). Bukan karena sebutan istri kedua itu." Kak Laisa mendadak terhenti.. Keluarga kita. ergh. terdiam lagi. Istrinya juga mengijinkan. Diterkam penguasaGunung Kendeng... 'Meski terlahir sendiri. Namun jika perjodohan itu harus datang. memiliki tempat untuk berbagi. Dia pilihan yang baik buat Kak Laisa. maksud Dali. Allah sudah amat baik dengan memberikan kalian. "Aku ingat sekali kata-katanya. Dan Dali yakin sekali. Kakak sungguh merasa cukup dengan semua ini.. "Apakah Kakak tetap menginginkan menikah? Tentu saja. Umurku hampir empat puluh tahun... . "Setiap kali menatap hamparan perkebunan strawberry ini.. Tetapi Kakak tidak mau pernikahan itu menganggu kebahagiaan yang telah ada. bercakap-cakap dengan Mamak. kan.. Mungkin benar sudah menjadi kodrat manusia untuk menikah.. Bukan pula karena cemas apa yang akan dipikirkan tetangga." Kak Laisa menghela nafas. Akhirnya keputusan itu diambil... Membiarkan angin pagi menelislk rambut gimbalnya. setiap kali mendengar kabar kalian.." Kak Laisa diam sejenak.com usia tujuh puluhan sudah meninggal lima tahun silam. Perkebunan ini. Dalimunte akhirnya mengerti mengapa begitu lama keputusan itu terbelengkalai. adik-adik yang hebat.. Malam ini? Dalimunte ikut menghela nafas panjang. jika memang tak ada lelaki yang menyukai tampilan wajah dan fisik. apakah Kak Laisa enggan dengan sebutan istri kedua? Maksud Dali. mengapa Kak Laisa tidak kunjung mengambil keputusan? Setidaknya untuk bilang ya atau tidak. Keterbatasan ini "Ah. Dali. Dali. Mungkin ini saat yang tepat. Setelah sekian lama jodoh itu tidak pernah datang. Aku merasa. Sejak lama aku sudah bisa menerima kenyataan jika memang menjadi takdirku hidup sendiri.

ketiga dan berikutnya lebih banyak diam (meski tetap merajuk). wajahnya yang memerah tak bisa menyembunyikan perasaan Dua minggu sejak kematian Wak Burhan. Memahami cara berpikir masing- . Kak Laisa berkali-kali memperbaiki kerudungnya. Bagaimanalah Kak Laisa akan menjadi istri kedua? Ya Allah. Membuat suasana tegang mencair dengan cepat. sayang. Mereka sekarang sudah memiliki bengkel besar di kota seberang pulau. Menceritakan banyak hal. Dalimunte menyerahkan foto . Mamak hanya tersenyum simpul... di hati paling dalam istri pertama proses ini mungkin akan menyakitinya karena ia tetap manusia yang memiliki perasaan. Rekan riset Dalimunte hanya datang seorang diri. bengkel yang di kota provinsi diurus orang kepercayaan Mereka. "Kalau Yash tidak suka. Rekan risetnya pilihan yang tepat.. Dia sama sekali tidak mempersalahkan tampilan wajah dan fisik Kak Laisa.www. "Aku akhirnya mengerti bagaimana Dalimunte bisa menjadi ahli fisika yang hebat. apalagi sekarang. Melontarkan humor dan pujian yang baik. Siang ini rombongan dari ibukota akan tiba. bukan?" Tertawa. Meski ia berusaha menyembunyikannya dengan menyibukkan diri. Dan akhirnya menangis tersedu saat Kak Laisa sendiri yang menjelaskan keputusan itu. Mungkin inilah solusi terbaik buat dua masalah yang bersisian. Telepon pertama penuh dengan rajuk keberatan. Justru berjalan menyenangkan. Memahami visi dan misi berkeluarga masing-masing. Pertemuan itu tidak semenakutkan yang dipikirkan Laisa. Menjawab banyak pertanyaan. kalau Yash tidak setuju — " Yashinta yang menelepon dari apartemennya di Belanda menyeka pipi. Dan kebersamaan sepanjang siang (bersama-sama dengan yang lain) itu sudah menjadi proses perkenalan yang baik. Tapi kau tidak lagi masih dipukul Laisa dengan rotan. Mengenggam jemari Laisa. Yang lain juga pulang. Tentu saja. memastikan semua baik-baik saja. Menghabiskan makan siang. Rekan Dalimunte pandai menempatkan diri dalam urusan tersebut. Berkali-kali merapikan pakaian.f oto dan profile rekan risetnya. semakin sibuk dengan penelitian tahun terakhir S2-nya. Telepon kedua. "Bagiku kau secantik apa yang kau kerjakan untuk lembah ini. Ah. Kakak akan membatalkannya.com Sungguh tak akan ada yang tersakiti. apakah Kak Laisa harus melemparkan harga dirinya? Merendahkan martabatnya menjadi istri kedua? Dalimunte bahkan sampai marah menjelaskan banyak alasan. tidak sesulit yang dicemaskan Laisa. 33 AKU AMAT MENCINTAINYA KAK LAISA terlihat gugup sepanjang pagi (bahkan sebenarnya sejak semalam). Mengelilingi perkebunan strawberry. Terlalu lemah untuk melakukan perjalanan jauh. Sungguh. Dalimunte benar. Tapi ia menyempatkan menelepon berkali-kali. tulisan dan apalagi pakaian. Selepas pembicaraari penting shubuh itu. dua kijang kapsul jemputan pengalengan buah strawberry itu tiba. Berbisik. Hari ini penting bagi keluarga mereka. inilah kesempatan terbaik Kak Laisa. Ikanuri dan Wibisana lebih dulu pulang. Istrinya sakit. kesalehan seseorang memang tidak bisa diukur dari tampilan mulut. Lais. semua akan baik-baik saja. Menjelang dzhuhur. Lantas Laisa mengangguk. Lais!" Menatap penuh penghargaan. Shubuh itu akhirnya keputusan penting itu berhasil diambil. mempersilahkan mereka segera datang untuk saling berkenalan. Dan urusan sepanjang siang itu berjaian lancar. Cie Hui juga membantu banyak Kak Laisa. tapi kasus ini amat berbeda. Ia tidak akan pernah membantah Kak Lais. dalam banyak kasus. Dulu tidak.rajaebookgratis. Mereka shalat dzhuhur sebelum melakukan pembicaraan. Ia amat gugup. Yashinta tetap tidak bisa pulang. Menenangkan. sudah dua hari mual dan muntah. Juga foto istri pertamanya.

ternyata istri rekan riset Dalimunte sedang hamil muda.www. Hari ini aku datang memperkenalkan diri secara langsung.. perangai. Maka memang tidak perlu lagi pembicaraan formal. Yang sungguh membuat semua kebahagiaan sesaat itu lenyap tak berbekas. Aku sungguh ingin meneruskan proses ini. Tidak ada. aku merasa amat diterima di keluarga ini. Anemia. Juga yang lain.. Kata dokter ia hanya lelah dan terlampau banyak pikiran. Tapi bukan soal sakitnya yang merusak rencana.. tapi aku berjanji. Hanya Kak Laisa yang berdiri di daun pintu. Apa adanya. Buncah jadi satu. menjalani prosesnya dengan indah dan baik.. Selepas shalat isya. Gugup rekan kerja Dalimunte mendengar berita itu. Dari rumah sakit ibukota. Tapi kesunyian lembah mendadak robek oleh telepon dini hari. Dan aku berharap Laisa bisa memberikan kesempatan untuk melakukannya. Mengalir. Kak Laisa untuk pertama kalinya tidak menghabiskan penghujung malam dengan berdiri di hamparan perkebunan. Rasa senang. Lebih tersipu lagi.. Kak Laisa memberanikan diri melirik rekan kerja Dalimunte. Kak Laisa akhirnya berkesempatan merasakan romantisme perasaan itu. Menatap wajah Kak Laisa sambil tersenyum. Entahlah.. kabar baiknya sedang alim. Cahaya lampunya menghilang di tikungan Sana. Kabar baik itu. Semuanya berjalan santai. sekaligus ingin mengenal secara langsung.. Malam itu. Gugup membangunkan Dalimunte. tidak pernah sekalipun terlintas untuk menikah lagi.. menatap kosong mobil yang dikemudikan Ikanuri membelah lengangnya shubuh Lembah Lahambay. Meski berusaha untuk tetap terkendali seperti selama ini. Bersitatap satu sama lain. Malam itu sepertinya kabar baik itu benar-benar tiba.. Tidak ada yang berpikir tidak-tidak." Rekan kerja Dalimunte memberikan hadiah dari istrinya untuk Laisa. . Gugup menjelaskan kabar bahagia tersebut ke Mamak dan Kak Laisa.. rekan riset Dalimunte akhirnya menyampaikan maksud dan tujuannya dengan serius. Hanya perlu istrirahat total selama sebulan. ia pasti akan lebih senang dariku.. muka tersipu dan memerah tidak bisa menyembunyikan perasaan Kak Laisa. Terus terang.. Kak Laisa tersenyum malu. Sekali dua. penyakit kebanyakan ibu-ibu lainnya. Ikanuri dan Wibisana. Dalimunte hanya tersenyum lega. Ia tertidur lelap di kamarnya.. aku akan belajar banyak bagaimana membagi cinta dengan adil. Mamak Lainuri juga tersenyum bahagia.. Kalau saja istriku bisa datang. sambil memandang hamparan perkebunan strawberry yang remang oleh cahaya lampu. "Laisa mungkin sudah mendengar beberapa hal tentang aku. "Aku amat mencintai istriku. Tetapi Allah ternyata memiliki rencana lain. Awalnya tidak ada yang memikirkan kalau kabar bahagia itu akan memiliki banyak implikasi penting. Memerah mukanya. agar bisa naik pesawat siang ini yang menuju ibukota. seiring dengan menghilangnya cahaya mata Kak Laisa yang merekah bahagia dua puluh empat jam terakhir. Ikanuri dan Wibisana menawarkan diri segera mengantar ke kota provinsi." Malam itu sepertinya urusan benar-benar akan berjalan sesuai yang direncanakan.. lepas menghabiskan makan malam di depan. jika urusan ini berjalan sesuai yang direncanakan.rajaebookgratis.com masing. mereka tidak sibuk menggoda Kak Laisa yang tersipu.. Kondisinyn memburuk. ternyata bagai pisau bermata dua. Memutuskan pulang segera ke ibukota. Yang membuat semuanya mendadak berubah haluan seratus delapan puluh derajat adalah saat dokter memeriksa secara menyeluruh. Kabar bahagia yang mereka tunggu selama lima belas tahun akhirnya tiba. sudah tahu beberapa tabiat... Rasa cemas. Seperangkat kain bordiran. Istri rekan kerja Dalimunte yang sudah dua hari terbaring lemah dilarikan ke rumah sakit dua jam lalu.

Dalimunte 33. Cie Hui mengandung. maka ia tidak akan menikah lagi. Mamak? Entahlah. Biar ia bisa mencium segarnya udara lembah. Ia jelas-jelas mewarisi kecerdasan Dalimunte. Bulan sabit tergantung elok di antara bintang-gemintang. Membersihkan harapan-harapan yang terlanjur datang. dan Yashinta 27. "Apakah Kak Laisa kecewa?" Dalimunte tertunduk. "Biar ia menjadi anak lembah ini. Membuat rumah panggung itu buncah oleh kebahagiaan. Rekan kerjanya memutuskan berhenti dari lab.www. Kesempatan baik itu? Dalimunte mengusap wajah kebasnya. Mereka juga pindah dari perumahan asri yang hanya sepelemparan batu dari rumah Dalimunte "Aku merasa amat bersalah." Itu kalimat terakhir saat rekan kerjanya pulang tadi sore. menenangkan. Minggu-minggu ini harusnya menjadi saat yang menyenangkan bagi seluruh warga kampung. Dali—" Dalimunte tertunduk lama sekali. Dan jelas bukan maunya kenapa kabar baik tentang kehamilan tersebut justru tiba persis saat dia di titik serius untuk menikah lagi (dengan Kak Laisa). Apa yang dibilang berkali-kali oleh rekan kerja Dalimunte? Ia amat mencintai istrinya. "Mungkin tidak. Mencium jemari Mamak. Diantar sopir perkebunan. 34 ANGGOTA BARU KELUARGA LAISA BENAR. Jika saja istrinya bisa mengandung anak-anaknya. Lulusan terbaik. meski juga ." Laisa menjawab pelan. menenggang perasaan Kak Laisa.. Kabar baik kedua adalah: Yashinta akhirnya menyelesaikan pendidikan masternya. Ini semua bukan salahnya. Dali. Setahun berlalu. Maafkan bila proses ini telah menyakiti hatinya. Mamak hanya ingat.. Entahlah apa yang sedang berkecamuk di kepalanya. Biar ia bisa menjejakkan kakinya di embun rerumputan. Malam ini. Rekan kerja Dalimunte amat menyesal. kesibukan dan waktu akan membuatnya terlupakan.. tapi dia sungguh tidak bisa melakukannya. waktu dan kesibukan perlahan akan mempu membuatnya melupakan harapan-harapan yang terlanjur tumbuh. Menatap Kak Laisa penuh rasa sesal. Wibisana hampir 31... Perjodohan yang urung itu merubah banyak hal. Usianya sekarang menjejak 39.rajaebookgratis. kabar baik tetap datang silih berganti.. Itu menjadi berita besar Lembah mereka. Esok lusa. Meski isterinya mendesak untuk tetap meneruskan rencana tersebut... Meminta maaf sungguhsungguh saat tadi siang kembali berkunjung. Meski suara itu sebenarnya sedikit berbeda dari biasanya. Serak." Begitu kata Cie Hui riang. Maka sudah seminggu ini mereka pulang ke perkebunan. Dali. "Kakak sudah terbiasa. Minggu-minggu ini panen besar strawberry. Ikanuri 30. Sekali lagi bilang Laisa. Cumlaude.. satu bulan sejak kunjungan rekan kerja Dalimunte ke perkebunan strawberry. "Tidak ada yang perlu dimaafkan—" Kak Laisa menggenggam erat lengan Dalimunte. Dia sama sekali tidak menyangka akan seperti ini jalan ceritanya." Dalimunte menggigit bibir. Sejenak melupakan berbagai riset mutakhir Dalimunte di laboratorium. Bergetar. Setahun berlalu. tidak ada yang tahu persis berapa usia Mamak Lainuri sekarang.com "Sungguh maafkan. lahir pas masa-masa pemberontakan revolusioner. Menunggu hari H. di antara berbagai proses perjodohan Kak Laisa yang berjalan menyakitkan. Menjadi hari berpesta bagi Lembah Lahambay. Jadi biarkan aku pergi. Mungkin yang kali ini butuh waktu cukup lama. Sekarang sudah sembilan bulan. Satu bulan yang berjalan menyedihkan. maafkan aku. Entahlah apa yang persisnya ada di kepala Kak Laisa sekarang. Dalimunte dan Cie Hui memutuskan untuk melahirkan di Lembah Lahambay. menggeleng. Dengan hamilnya istrinya. Ternyata kesempatan terbaiknya itu juga berakhir menyedihkan. dia tidak akan pernah tega untuk menikah lagi.

rajaebookgratis. Tanpa kepastian. kenapa Yash tidak dikenalkan sekalian?" Yashinta menyela. Dengan syal sewarna Yashinta mirip sudah dengan putri-putri negeri bersalju. suku cadang. Maka mereka membuat calon pasangannya menunggu selama tujuh tahun terakhir ini. "Waktu Kak Ikanuri dan Kak Wibisana wisuda dulu. Bukan hanya soal wajah dan tampilan . Ikanuri dan Wibisana datang bersama Wulan dan Jasmine. Jadi setelah sekian lama rasa rindu itu menggumpal. Lihatlah. Kak Laisa juga sudah sering bertanya kapan mereka akan menikah. Karena mereka tidak datang hanya berdua. Tertawa (sebenarnya menahan rasa harunya). Lebih lama dibandingkan Dalimunte dan Cie Hui. berpelukan. dua sigung yang dulu amat bebal. menggelengkan kepala. Ikanuri dan Wibisana amat tertutup soal ini. Banyak sekali potongan romantisme Dalimunte dan Cie Hui. Dalimunte mengacak-acak rambut adiknya. Maka lebih tercengang lagi saat ikanuri dan Wibisana bilang mereka sudah saling mengenal sejak masih kuliah. Tidak ada yang pernah menyangka. Wibisana hanya mengangkat bahu. Kuncir rambut panjangnya bergoyang-goyang. Sama seperti saat menasehati Dalimunte dulu. dan selalu melawan Kak Laisa. bertahun-tahun terakhir berkutat dengan masalah: tidak akan menikah sebelum Kak Laisa menikah. gadis itu terlihat begitu cantik saat keluar dari pintu kedatangan. dua sigung nakal itu bahkan telah membuat calon pasangan masing-masing menunggu lebih lama dibandingkan Cie Hui. Singapore dan Jakarta) dari Belanda. tapi kesamaan diantara mereka melebihi kembar identik. Dua sigung itu akhirnya memutuskan memperkenalkan Wulan dan Jasmine. Sedikit berlari menghambur ke Mamak.www. Ikanuri memegang stir mobil modifikasi hanya tertawa kecil. Namun sejak kejadian perjodohan yang urung itu. Mengenakan sweater hijau. mendekat. Bagaimana mungkin Kak Laisa akan dilintas untuk yang kedua dan ketiga kalinya? Itu benar-benar akan menyakiti perasaan Kak Laisa. Pesawat dari kota seberang pulau. Calon pasangan mereka yang mulai serius memaksa. Mereka berdua masih sepupu satu sama lain. Bisnis dan kehidupan mereka sudah amat matang. Bahkan tanpa kesempatan sedikitpun untuk mengenal keluarga di perkebunan strawberry. Membuat Dalimunte. Berpendidikan. mereka merencanakan untuk mulai membuat pabrik spare-part. tidak perlu— " Berbeda dengan Dalimunte yang kisah cintanya diketahui massal satu keluarga (juga satu lembah). Dua sigung nakal itu juga pulang. Ikanuri dan Wibisana meski bukan saudara kembar. Berjalan bersisian di pintu kedatangan bandara. Bahkan orang tua masing-masing juga ikutan meminta kepastian. Beberapa tahun terakhir. Cantik. dan Yashinta tercengang. Wajahnya sedikit memerah di terpa matahari terik. Benar-benar kebetulan yang menyenangkan. "Kalian tidak memberitahu kami soal hubungan kalian sudah selama itu?" Dahi Dalimunte terlipat. hari ini. Mereka tidak langsung berangkat meski Yashinta sudah tiba. Saat itu tidak ada yang tahu. Ikanuri dan Wibisana sudah punya bengkel besar di kota seberang pulau. Lihatlah. benar-benar kejutan. Hanya telepon.com mewarisi tabiat keras-kepala Ikanuri dan Wibisana. Sementara Kak Laisa menemani Cie Hui di perkebunan. Menangis. Wulan dan Jasmin tipikal gadis yang menyenangkan. Benar-benar kejutan saat dua sigung tersebut keluar dari pintu kedatangan. yang membawa Ikanuri dan Wibisana. Dua tahun lebih Yashinta tidak pulang.Maka perjalanan enam jam menuju perkebunan benar-benar menjadi tidak terasa. "Kalian tidak perlu menunggu kakak. keras kepala. Dikenalkan pun tidak. Hari ini tiba di kota provinsi setelah penerbangan transit (Hongkong. Mamak dan Dalimunte menjemput di bandara.Mamak. Masih menunggu setengah jam lagi. Dari keluarga yang terhormat. Kejutan. Malah menurut Ikanuri beberapa waktu lalu. pertemuan ini amat mengharukan.

Intan membuat rumah panggung itu lebih ramai. lupakan soal popok dan sebagainya itu. bersiap menjitak. Dan berbagai kesamaan lainnya. Dibantu Wibisana. Hampir saja Bidan menyerah. Berebutan menggendong. Maka seperti sudah mengerti saja. "Ini pasti gara-gara Yash terlalu banyak tertawa. mobil balap modifikasi itu pelan memasuki hamparan perkebunan strawberry. Dalimunte berseru jengkel. Menyampaikan perasaan di hari yang sama." Ikanuri berlarian menghidupkan mobil. dulu dia tidak seharusnya menunggu begitu lama untuk menikah. Meski di sana-sini bercampur dengan ketegangan. jadi benar-benar terperanjat saat Cie Hui merintih kesakitan. menciumi wajah merah cucu tersayang. Kesanalah mereka bergegas membawa Cie Hui. Intan. Tidak sabaran. Senja tiba. lereng itu sekarang mudah saja didaki. Mamak meski tidak pernah bilang. Tersenyum riang sambil memperbaiki tudung kepala. bernyanyi keras-keras di depan pintu rumah Wulan dan Jasmine saat menyatakan perasaan). seperti biasa ramai. bayi perempuan itu akhirnya nongol begitu saja. Ikanuri meneriaki Wulan dan Jasmine untuk menyiapkan peralatan bayi (yang sudah disiapkan Kak Laisa beberapa hari lalu). Penuh seruan jahil nan menggoda Yashinta. sudah ada puskesmas. Gemas. Meski cerdas dan banyak akal. kalau lagi dicuekin. Sejak kecil Intan memang sudah terlihat bakatnya. Keras kepala.com fisik yang sama (hanya dibedakan bekas luka di pelipis). berisik. selalu merindukan menimang cucu-cucunya. Dan seperti biasa. bayi kecil itu akan mulai sibuk menangis keras-keras. Sengaja benar. Dan jelas tidak seperti wakru Yashinta sakit dulu. Tapi lihatlah. bayi itu menendangnendang kuat. Cie Hui melahirkan di hari kelima mereka berkumpul. di kampung atas (jika masih layak disebut kampung). Dalimunte terhuyung menggendong Cie Hui.www. Hampir saja menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit di kota kabupaten untuk operasi caesar. Teriakannya setiap pagi (atau setiap minta susu) membuat rusuh yang lain. Mengenal Wulan dan Jasmine di hari yang sama. Penjelasan-penjelasan. Panik. bermain gitar. meronta. Ternyata masih ada ya—" Yashinta nyengir. Setelah dua jam berkutat dengan bukaan tujuh. Satu minggu berjalan meriah. Itu nama pemberian Kak Laisa. Dalimunte tidak pernah melihat Mamak sebahagia ini. Dalimunte menghela nafas dalam. Cemas. tangan Ikanuri terangkat. Lebih hidup. tidak akan ada wanita di dunia ini yang menyukai Kak Ikanuri dan Kak Wibisana. wajahnya seperti lebih muda sepuluh tahun. Intanl. Menghabiskan waktu bersama di hari yang sama. Kak Laisa benar. Ramai oleh celetukan Yashinta. Intan benar-benar menguasai perhatian seluruh anggota keluarga. Mereka sedang makan malam. Lebih cepat lima hari dari jadwal. Seperti sengaja membuat yang lain bete. menggoda. cerita asmara mereka juga mirip. Cerita-cerita itu membuat perjalanan menuju perkebunan strawberry ramai. . anaknya jadi tak sabaran ingin keluar. Membuat cair seluruh ketegangan. Seruan Kak Laisa yang senang melihat Wulan dan Jasmine. Lahir setelah keras kepala tidak mau keluar-keluar juga. lengkap dengan dokter dan bidan. Rambut Mamak sudah memutih.rajaebookgratis. Buat apa pula coba popok bayi saat ini? Maka malam itu juga mobil balap modifikasi Ikanuri dan Wibisana melesat keluar dari halaman rumah panggung. Tidak seperti waktu Yashinta dulu sakit parah. Cie Hui sudah amat kesakitan. Di kejar orang tua Wulan dan Jasmine di hari yang sama (karena mereka jahil bergaya pemuda benua amerika latin. Dan Rusuh. "Dulunya Yash pikir. langit jingga. Langsung menangis kencang. Suka mencari perhatian.

Tapi di penghujung shubuh. Tetapi kedua sigung itu hanya mengangguk. Senyap. Menjawab banyak pertanyaan. Yang justru sebenarnya malah menutupi masalah besar mereka berdua. Melihat paradoks tersebut. Tidak bisa mengerti mengapa Dalimunte yang jenius dan amat rasional bisa jadi sekeras kepala itu? Seolah-olah melemparkan seluruh akal sehat yang dimilikinya.rajaebookgratis. tahu!" Nyengir. "Siapa pula yang akan menunggu Kak Lais? Kita hanya belum siap saja. Bagaimanalah mereka ekan membuat Kak Laisa dilintas untuk yang kedua dan ketiga kalinya sekaligus? Ya Allah. Apa lagi yang kalian harus siapkan?" Kak Laisa ikut tertawa. Enam bulanberlalu. Membuat mereka tidak pernah memiliki gambaran masalah yang utuh. Dua sigung nakal itu tetap tidak bisa mengambil keputusan. menyaksikan Kak Laisa yang tersenyum riang menggendong Intan. dengan melihat sendiri semua kenyataan itu (menyaksikan kebahagiaan Mamak saat menggendong Intan). Segala keburukan mereka kepada Kak Laisa. Wulan dan Jasmine sekarang juga ikut pulang. juga ikut mendesak. Adik mereka belum merasakan sendiri betapa semua ini tidak mudah. Penuh tawa. Memiliki rumah. seperti Dalimunte yang suka menemani berdiri di lereng perkebunan. . dan sebagainya. "Susah amat sih? Semakin lama tidak ada kepastian. maka dua sigung itu makin ringkih dengan keputusan. Jadi enam bulan berlalu. Tidak setelah menyadari Kak Laisa mengorbankan seluruh masa kecil dan renajanya untuk mereka. nanti semakin banyak dosanya. yang terjadi hanya percakapan penuh gurauan. menyasikan sendiri Kak Laisa yang berdiri di lereng lembah. meski dengan semua pemahaman tersebut. meski Kak Laisa bilang ia memang baik-baik saja tapi mereka tidak akan tega melakukannya. Mereka berdua membuat Wulan dan Jasmine menunggu lebih lama lagi. Ikanuri dan Wibisana sempurna mengulang kejadian sebelumnya. soal melintas. Dulu waktu kasus Dalimunte. mereka berdua sebenarnya tidak habis pikir bagaimana mungkin Dalimunte harus menunggu begitu lama hingga akhirnya mengambil keputusan. Padahal setiap jadwal pulang dua bulanan. meski Kak Laisa terlihat baik-baik saja. Mereka tidak memiliki mekanisme berbicara serius dengan Kak Laisa. Kak Lais sok ditunggu sih!!" "Usia kalian sudah lebih dari tiga puluh tahun. Apa yang selama ini dirasakan Kak Laisa? Apakah yang sesungguhnya Kak Laisa rasakan? Ikanuri dan Wibisana tidak seberuntung Dalimunte dalam urusan ini. Ikanuri dan Wibisana lagi-lagi hanya menimpali sambil bergurau. Mereka juga dulu begitu sebal saat harus mengantar malam-malam Cie Hui yang menangis pulang ke kota kecamatan. Memberikan banyak penjelasan. meriah. Kak Laisa tidak hanya sekali mengajak bicara Ikanuri dan Wibisana. Sendirian. Tetap tidak ada kepastian. Enam bulan lagi berlalu. kembali bertanya serius. Makan malam. Ikanuri dan Wibisana hanya menatap datar Yashinta. Sudah memiliki pekerjaan yang baik. tapi tetap tidak ada hasilnya. Sudah berkali-kiili. Setiap pulang dua bulanan. Menjadi bagian anggota keluarga. Dalimunte akhirnya melibatkan diri dalam urusan tersebut. Membawa Intan mengelilingi perkebunan strawberry. Nyengir. lantas berkata ringan. jawaban-jawaban ngarang.www. kok. Begitu sulitkah untuk mengambil keputusan melintas Kak Laisa? Sekarang mereka sesungguhnya paham ternyata urusan itu memang tidak mudah.com 35 PERNIKAHAN KEDUA DAN KETIGA SAYANGNYA. Mengenalkannya dengan tetangga lain. Ikut menghabiskan hari di perkebunan strawberry. Justru sibuk mengingat-ingat masa lalu. Segala kebaikan Kak Laisa kepada mereka. tentang tidak usah menunggu. Tanpa kemajuan yang berarti. Yashinta dalam satu dua pembicaraan di ruang depan. Sudah matang. Tetap tidak ada tanda-tanda hubungan mereka akan melangkah ke tahapan yang lebih serius.

Segera pulang. Kalian harus segera pulang. Ke kebun. Membersihkan gulma. masanya belajar berjalan.. dan denting kecemasan. Intan sudah benar-benar bisa berjalan ketika akhirnya Ikanuri dan Wibisana berhasil mengambil keputusan penting tersebut.. Muka menggemaskan itu menyeringai. Bergegas terbang langsung ke Jakarta. Dan mereka sudah memiliki enam nomor penting untuk keluarga.. Sejenak.www. Berangkat dengan pesawat pertama. Ikanuri melotot sebal. Nanti-nanti bisa diurus. Menganyam anyaman rotan. Apalagi Kak Laisa. Kaki-kaki kecil Intan sedikit bergetar menopang tubuhnya. sekarang saja Kak Wulan dan Kak Jasmine sudah tidak bisa ikut ke perkebunan. bayi kecil itu mendadak duduk kembali begitu saja.. Seolah-olah hendak berjalannya tadi hanya tepu-tepu. 'kecewa' (meski kemudian tertawa). Memasak gula aren. Dalimunte terpaksa bergegas meninggalkan konvensi fisika di Kuala Lumpur. Sehari dua sudah membaik dengan sendirinya. Membuat sebal kolega penelitiannya dari Inggris.. berseru memberikan semangat Yang lain ikut tertawa. Yashinta yang sedang menyelam di Kepulauan Kaimana.. Perlahan mulai berdiri. Selalu sehat. siapa yang akan memandu mereka? "Mamak sakit keras." Yashinta tertawa. Karena secara teknis. Mata hitam besar Intan mengerjap-ngerjap. Maka mereka tidak perlu menunggu dua kali. Sok-jadi pusat perhatian. Mereka tiba di bandara kota provinsi hampir bersamaan. Kabar dari Kak Laisa mengkhawatirkan. Jadi kalau guide-nya pulang. tangannya seperti biasa terangkat... Teknologi telepon genggam sudah tiba di lembah mereka. Usia Intan hamir setahun. Tentu saja bukan karena Wulan dan Jasmine akan dijodohkan orang tua mereka masing-masing. Ikanuri langsung mengemudikan mobil balap modifikasi yang diantar karyawan bengkelnya. melupakan kalau presentasinya penting sekali untuk karir penelitiannya (dia baru saja mendapatkan gelar profesor). Menunjuk Intan yang sejak tadi duduk menatap sekitar. Menuju rumah sakit kota . Saat usia Ikanuri dan Wibisana hampir tiga puluh lima tahun. Sejak kecil Intan memang sudah begitu.. Lebih banyak seruan tertahan.. Mata besar beningnya menatap sekeliling." Hanya itu kalimat terbata Kak Laisa. Mulutnya terbuka. Tang-ting-tung! Intan manis. Sembuh. Bukan. Pulang. Siang itu. Papua juga pulang. yang sudah pandai berlari. Ikutan duduk jongkok di sebelah Yashinta. eh.. Yashinta yang menjadi guide riset tentang konservasi terumbu karang. Bagaimanalah? Bukankah Mamak tidak pernah sakit selama ini? Mamak yang terlihat selalu kuat. bukan?" Tertawa. Bagaimanalah Mamak sekarang sakit keras? Itu enar-benar mencemaskan.. Membuat yang lain terdiam. Menoleh. Malam itu Wulan dan Jasmine memang tidak bisa ikut pulang ke perkebunan.com "Atau menunggu Kak Wulan dan Kak Jasmine dijodohkan seperti Kak Cie Hui dulu? Hatihati loh. Tetap mengerjakan banyak hal.rajaebookgratis. ayo. Lupakan soal tender suku cadang salah satu perusahaan otomatif lokal. Perhatian di beranda berpindah. "Ayo. Paling juga dulu-dulu hanya demam biasa. Kaki Intan bersiap melangkah. Membuat percakapan soal Ikanuri dan Wibisana terlupakan. Pulang. Kak Laisa terbata menelepon adik-adiknya.. sini sama Tante Yash. "Eh. Mamak dan Cie Hui juga ikut tertawa mendengar gurauan Yashinta. Mereka harus segera pulang. Ikanuri dan Wibisana juga segera meninggalkan pekerjaan di bengkel mereka. Nyengir lebar. Waktu itu. Ada acara keluarga. " Aduh mau belajar jalan ya? Sini sayang. lihat!" Yashinta berseru. Dan seperti mengerti benar kalau ia sedang menjadi pusat perhatian. ayo jalan. Wajah Mamak berseri-seri. lihat.. Hanya perlu di kerok dan berbekam.. Memberikan semangat.. Transit sebentar menjemput Cie Hui dan Intan.

gemetar mendekat. ia terlampau lelah dengan perjalanan jarak jauh. Dokter yang merawat Mamak ternyata mengenali Profesor Dalimunte. Senyap. mereka sungguh saling mencintai karena Engkau. Mengangguk. Yashinta menciumi jemari Mamak. Apalagi kalau bukan untuk membuat bau tak sedap itu menguar di ruangan rawat Eyangnya. berseru cemas. Kalian akan menangis karena perasaan lega yang luar biasa. rasa lega dan kebahagiaan itu dekat sekali dengan tangis.. bertanya cemas. Dan Yashinta menangis lagi. di depan pintu ruang rawat Mamak. Ya Allah. menelan ludah.l Menerobos pintu paviliun. Rona muka Mamak tenteram. Ada penginapan karyawan di sana. Intan mendadak menangis kencang-kencang. Wajah Mamak dengan rambut berubannya terus terbayang di jendela pesawat. a-pa. Tersedu. Beristirahat. Dan begitu takut kehilangan satu sama lain. Lihatlah. Satu jam berlalu.rajaebookgratis. Belum pernah mereka merasa begitu dekat dalam keluarga.. Dan Kak Laisa menyuruhnya istirahat. Yashinta meski tidak mau meninggalkan Mamak.. Memeluk Kak Laisa. Hanya Cie Hui yang sibuk mengendalikan Intan (yang seperti biasa berseru-seru senang setiap kali melihat Wak Laisa dan Eyang Lainurinya. tapi Kak Laisa benar. "Masa kritis Mamak sudah lewat. Kak Laisa tersenyum. Gemetar berusaha meraih jemari Mamak. menjelang malam ikut menyusul.. sudah mulai membaik—" Terlihat sekali bagaimana ekspresi wajah empat kakak beradik itu berubah. Penerbangan langsung dari Sorong. Takut kehilangan. Dalimunte ikut mendekat. Ia tadinya sungguh takut. Menenangkan. Mamak terbaring lemah di atas ranjang. Dalimunte mendekap kepala adiknya. berusaha mengendalikan nafas. Sibuk mencari perhatian. membimbing adiknya duduk di kursi.. tidak peduli apakah yang dilihatnya lagi sehat atau lagi sakit) "A-pa. Dalimunte langsung mendekap Ikanuri dan Wibisana. hela nafas Mamak sudah terkendali. Mamak baik-baik saja?" Yashinta bertanya gugup. meski memaksa tetap menunggui. . Wajah itu masih pucat. Sejenak tidak mempedulikan Intan (yang teganya) malah puf di saat-saat penting tersebut Membuat bau tidak sedap dalam mobil balap Ikanuri. Berdiri terdiam. Duduk di kursi plastik yang diberikan perawat. Kalau kau juga jatuh sakit. menenangkan. Menghela nafas panjang. Berlarian sepanjang koridor. Terlupakan. Gadis kecil itu sibuk protes. Dalimunte. Mengganti popok Intan yang super bau.Kata dokter Mamak sudah terkendali. Ikanuri dan Wibisana kehilangan kata-kata. Menyisakan Laisa.. Menggerak-gerakkan pantatnya.com provinsi dengan kecepatan tinggi. tertawa lebar. Menatap wajah Mamak yang tertidur pulas. Tersenyum lega. bahkan menawarkan ruang rawat terbaik di rumah sakit itu saat melakukan pemeriksaan jam sembilan tadi. Begitu mencintai satu sama lain. Cie Hui membawa Intan ke pengalengan strawberry di kota provinsi. Ikanuri dan Wibisana di ruang rawat Mamak. "Mamak akan baik-baik saja Yash. Wahai. Seperti tidak pernah bertemu bertahun-tahun lamanya. Mamak dirawat di sana. Pucat.www. Bagaimana tidak? Yashinta harus menanggung rasa cemas sejak dua belas jam lalu. Ikanuri dan Wibisana ikut menyeka matanya yang berkacakaca. Dan langkah-langkah mereka terhenti. Menatap wajah Mamak yang sedang tertidur.. kau hanya akan menambah masalah—" Sejak dulu Yashinta selalu menurut dengan Kak Laisa. Yashinta malah menangis. Yashinta menyeka pipinya. Yashinta yang pertama kali menghambur. padahal mereka baru saja pulang sebulan yang lalu. Kak Laisa yang duduk menunggui berdiri melihat adik-adiknya datang. Dua belalai plastik membalut lengan. Membuatnya mengaduh berkali-kali dalam perjalanan. Mendekapnya ke pipi. Peralatan medis yang berdesis pelan.. Transit sebentar di Jakarta. saat menatap biru lautan..

www.. Ikanuri dan Wibisana ikut tersenyum. Wibisana. Sakit radang hatinya membaik dengan cepat "Bagaimana mungkin Mamak sakit? Sakit hati pula. Tidak mengerti apa yang sebenarnya hendak disampaikan Kak Laisa. tetap saja wajah imutnya menggemaskan. Wibisana. Dengan kebaikan Allah.. Menghabiskan hari tuanya di perkebunan strawberry.. Mamak pulang dari rumah sakit setelah dirawat empat hari lagi. menduga. Malam itu. Ikanuri dan Wibisana kembali ke kota seberang pulau seminggu kemudian. sempat disaksikan oleh Mamak.... Dua sigung yang tidak kecil lagi itu mengangkat kepala. Langsung meminang Wulan dan Jasmine.rajaebookgratis... Menarik kursinya mendekati Ikanuri dan Wibisana. Mereka juga tidak mengerti apa yang hendak dikatakan Kak Laisa. "Kita memang tidak akan pernah tahu." Kak Laisa tertawa Mengingat kejadian saat Intan nangis kencang-kencang tadi. sebagai anak-anaknya.. Aku juga tidak sepintar Profesor Dalimunte yang terkenal itu. Juga Ikanuri dan Wibisana. Kalian tidak seharusnya menunggu Kakak.. Meski lelah. Aku tidak memiliki gunung harta seperti Kak Laisa dengan ribuan hektar kebun strawberry-nya. Kak Laisa perlahan memperbaiki selimut Mamak. tapi wajah Mamak sudah segar saat kembali. meski tadi membuat suster ngomel-ngomel.. Ruangan itu hening lagi. Ibu... adalah kebahagiaan terbesar yang tidak pernah dibayangkan Mamak.. Tapi kalimat-kalimat itu menusuk." Ikanuri bergurau. Tidak pernah bisa menebak. Meski masih lemah. sama-sama hiperbolik (meski menyentuh). Intan. Tetapi kalau kalian tetapkeras kepala menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terjadi.." Kak Laisa terdiam sejenak. Bukankah selama ini Mamak selalu bahagia.. Kakak berkali-kali bilang. "Ikanuri.. Begitu damai.com Ruangan rawat inap itu hening. tentu saja Mamak akan segera sembuh. Tersenyum. Hanya menyisakan desis suara pendingin ruangan... Esok lusa Mamak akan tetap bersama kita... Siap atau tidak. begitu tenang. Membuat yang lain tertawa. "Kalau kalian tetap keras kepala menunggu Kakak." Kak Laisa berkata lembut menyentuh lengan adik-adiknya.. meski kami bandel dan nakal? Ada-ada saja.." Ikanuri dan Dalimunte menahan nafas. Kepergian dari anggota keluarga yang kita cintai? "Ikanuri. Dengan cara yang sama pula. Lantas menatap wajah-wajah kusut adiknya. Anak-anak kalian sungguh akan membuat suasana terlihat berbeda. suka atau tidak. Mamak sekarang tertidur nyenyak.. maka kalian mungkin akan kehilangan kesempatan membuat Mamak semakin bahagia di masa tuanya.. Mamak tahun-tahun terakhir amat bahagia nienghabiskan masa tuanya di perkebunan strawberry. Dalimunte tidak bisa tidur. Terima kasih banyak telah membesarkan putri kalian hingga menjadi begitu cantik. Menatap Kak Laisa yang sekarang persis duduk di depannya. "Ayah. Karena Mamak sudah amat bahagia dengan hidupnya. Kalau kalian ingin pernikahan kalian masih sempat dilihat langsung Mamak. segeralah menikah. Tertunduk. "Lihatlah.. tidak baik membuat Wulan dan Jasmine menunggu terlalu lama... Menatap Kak Laisa.. Apa yang dulu sering Kakak katakan? Pernikahan kalian akan membuat rumah panggung kita lebih ramai.. bukan... Lihatlah." Dalimunte mengusap wajahnya. keputusan penting tersebut akhirnya diambil Pernikahan kedua dan ketiga di keluarga itu terjadi sebulan kemudian. Mereka lagi-lagi melakukannya di saat yang bersamaan.. salah-satu dari anggota kelarga yang amat kita dntai pasti akan pergi. saat Wibisana yang bicara dengan calon mertuanya). Dengan segenap .. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok lusa. Menatap tulus wajah adik-adiknya.. aku tidak bisa menjanjikan banyak hal buat putri kalian.. Hati yang terlanjur mencintai Wulan (jasmine. Tetapi aku punya hati. begitu babagia. Memiliki kalian. begitu menawan. Tetapi suatu hari nanti.

"Tidak. Jangan beritahu mereka. Kak Laisa tidak ada di rumah.iin. Ikanuri dan Wibisana memutuskan untuk menikah di hari yang sama. ijinkanlah aku meminangnya. Memarut kelapa. ayam. Tidak ada bungkusan belanjaan. Dalimunte sebenarnya sudah hendak menegur. tetap tersenyum menyapa (dan disapa yang lain). Membuat yang lain tertawa. Bagaimana mungkin mereka harus melihat aku sakit di hari sepenting ini—" Kak Laisa tersenggal menarik nafas. Dalimunte akhirnya menunjuk Bang Jogar menjadi saksi. Ikanuri dan Wibisana siangnya juga mencari Kak Laisa. Selalu Kak Laisa yang belanja. dengan suara berbeda.www. Mengiris buncis.com rasa. Menyelak ibu-ibu dan anak gadis tetangga yang sedang duduk berbaris. tapi urung. Gulai opor mengepul. Ia tahu persis. saat matahari tumbang di barat sana. bertanya tentang siapa saksi pernikahan mereka besok Tidak ada. suara yang bergetar. Itulah gejala pertama sakitnya Kak Laisa yang paling terlihat. Sibuk membuat gerbang janur kuning. Gemetar memanggil Mamak itulah gejala pertama sakitnya Kak Laisa yang paling terlihat. Tidak ada yang tahu kalau Kak Laisa tadi pagi terbatuk berkali-kali di kamar mandi. terpaksa manyun satu sama lain karena baru tahu kalimat indah calon menantu mereka fotokopi satu sama l.. yang setahun terakhir sudah menjadi kepala kampung.rajaebookgratis. senja membungkus lembah. Di tenda-tenda juga tidak ada. Mamak menatap sulungnya lamat-lamat. tidak ada barang-barang bawaan. Malah Bang Jogar yang meski tampangnya serius. bertanya. "Biar. Ibu. Tubuhnya melemah. Mak. Tapi kebahagiaan yang melingkupi rumah panggung atas pernikahan 'kembar' Ikanuri dan Wibisana membuatnya seperti kejadian biasa-hiasa saja.. "Kakak kalian sedang ke kota kabupaten. menyiapkan makanan buat acara besok. Menggenggam tangan Laisa erat-erat. sibuk meneriaki anak muda yang sedang mendirikan tenda-tenda. Jangan. Bahkan Dalimunte yang sedang bicara soal detail acara besok lalai untuk mengenali ada yang ganjil.sempatnya menyuruh mereka membuat tiga patung harimau dari janur di depan gerbang halaman rumput. Meski besoknya saat keluarga mereka saling bercerita. Mamak yang akhirnya menjawab. Bang Jogar. Bercak darah keluar bersama dahak. Menyusun pot-pot bonsai. Pagi-pagi di tengah semua kesibukan. Muka Kak Laisa terlihat pucat sekali. mukanya pucat. Urung saling menyombong. Mata Mamak yang keriput berdenting air mata. Di Lembah Lahambay. Melangkah masuk ke halaman. Membuat terlupakan. Bang Jogar sengaja hendak mengenang masa lalu itu. Kebahagiaan dan kesibukan sepanjang hari membuat semuanya terbungkus kabut.. sempat. ada rombongan pembawa panci di belakangnya. Sore harinya. Bertingkat. menyiapkan keperluan pernak-pernik acara.. Di cari di bawah panggung tidak ada.." Membuat orang tua Wulan dan Jasmine berkaca-kaca (rumah mereka hanya berjarak dua blok). Mamak hendak memanggil Dalimunte. biar aku berjalan sendiri—" Berbisik lemah pada sopir pengalengan strawberry. dan perlengkapan lainnya — " Ikanuri dan Wibisana hanya mengangguk. Batang pisang disusun rapi. 36 SAKIT PERTAMA KALAU saja ada yang memperhatikan.. lembah indah mereka. Kak Laisa baru pulang dari kota kabupaten.. ingin lewat.. itu biasa terjadi. membeli kekurangan bumbu dapur.. Sejak sulungnya masih belasan . Ayah. Ini akan mengganggu kebahagiaan Ikanuri dan Wibisana. Dalimunte sempat berpapasan dengan Kak Laisa di beranda rumah.

Dok.." Laisa menggeleng. Intan menyeringai riang. Lais—" "Tidak usah. maka mungkin energi itu bisa membuat terang benderang seluruh Lembah Lahambay. Kak Laisa tertawa lebar. Mereka tidak boleh melihat aku sakit. memaksa seluruh bagian tubuhnya menurut. Laisa mulai membaik.. Ketika sendi mata kakinya bergeser. Tidak sekarang. Membuat sopir pabrik pengalengan yang mengantar bingung tujuh keliling. Berseru lirih di senyapnya mobil membelah jalanan menuju perkebunan. dengan semangat sembuh yang sungguh mengagumkan. Duduk di beranda depan. Yang selalu membelanya.. Mulai melibatkan diri di berbagai riset. Dalimunte kembali ke ibukota lepas satu minggu dari acara pernikahan. Ia sih tidak mengerti kalau dada itu maksudnya lambaian perpisahan. Mak. Ikanuri dan Wibisana menghabiskan masa bulan madu mereka di perkebunan strawberry.com tahun. Di sana ia benar-benar menikmati memiliki Wawak dan Eyang yang baik hati. "Da-da-" Dan kemudian menangis kencang-kencang di mobil. membuat kue kecil-kecil bersama tetangga. jika kalian bisa melihatnya seperti nyala api. Tapi Dalimunte dan Cie Hui hanya tertawa. Ia pulang sore itu juga. melambaikan tangan ke Wawak dan Eyangnya. Dikiranya hanya da-da doang. Sudah punya . Dengan muka masih pucat. "Aku harus pulang.. Pagi itu Laisa mengalah...www. Tidak ada pilihan lain. Itu juga doanyna di Gunung Kendeng.. ketika kakinya bengkak menghantam tungul kayu. tapi pesan Laisa di mobil sebelum mereka turun membuat dia takut melakukannya. Urung memanggil Dalimunte.. gugup.. Memaksa balik kembali ke perkebunan strawberry.. "Tapi kau harus segera ke dokter..Marwa. menyeka bercak darah di baju Laisa. Besok Ikanuri dan Wibisana menikah.. program perlindungan.rajaebookgratis. hingga mengurangi perhatian ke istri masing-masing. maka Laisa bersungguh-sungguh dengan sumpahnya. akhirnya diam-diam berangkat ke kota kabupaten. Lais. Lihatlah darah ini. menatap getir bercak darah di baju Laisa." Mamak menelan ludah. karena ia terlalu lemah. Itu juga doa Laisa ketika menerobos hujan badai saat Yashinta sakil. Kuatkanlah kaki Laisa seperti kaki Bunda Hajra demi anaknya Ismail. Menggunakan sisa-sisa tenaganya. Ia juga sudah menjadi koresponden foto majalah National Geographic. gemetar hendak menelepon Dalimunte. "Ya Allah. Mamak tertunduk. Dua jam dirawat di ruang Gawat darurat. aku mohon. Satu kue untuk Intan. Mereka akan bertanya-tanya kalau aku tidak ada di rumah. Ia sudah bekerja di lembaga konservasi. Baru selepas itu kembali ke kota seberang pulau... dan sebagainya tentang alam sekitar. Diantar sopir pengalengan strawberry. Yashinta pulang dua hari kemudian. Energi pengorbanan itu sungguh luar biasa (untuk tidak mengharukan). Mengusir fakta kanker paru-paru stadium satu. hamba mohon kokohkanlah kaki Laisa seperti kaki Bunda Hajra saat berlarian dari Safa. Itulah doa yang paling disukai Laisa. Sejak sulungnya bersumpah untuk selalu terlihat baik-baik saja di hadapan adikadiknya.. Ke rumah sakit.. Bogor. Dan bukankah ia selalu ada ketika adik-adiknya perlu selama ini? "Kau harus ke dokter. Laisa benar-benar memaksa tubuhnya menurut. ke kampung atas. Satu kue masuk toples." Satu titik air mata mengalir di pipinya... Mengurus bengkel.. meski hamba begitu jauh dari wanita-wanita mulia pilihanmu. Doa-doa itu mengukir langit. Dengan tubuh masih lemah. Sempat pingsan di ruang ICU. Kak Laisa memberikan modal tambahan untuk mulai membangun pabrik suku cadang mereka. meski ia nakal minta ampun. Malam itu Kak Laisa sudah kembali riang bersama yang lain. Intan duduk manis di pangkuannya. Sejak kecil Intan selalu paling semangat pulang ke lembah.. bagaimana mungkin aku tidak di sana?" Laisa menggeleng tegas saat Dokter memaksanya untuk dirawat inap. Berpesan agar mereka tidak terlalu sibuk dengan bengkelnya.

Setahun selepas pernikahan Ikanuri dan Wibisana. Mungkin saja Kak Laisa sudah benar-benar terbiasa. Beruntung. Menyisakan Kak Laisa dan Mamak. Kak Laisa mulai enggan menanggapi pembicaraan perjodohan dengan Dalimunte. Juga yang lain. Dalimunte 37. Dengan berita kanker paruparu stadium satu yang ia tutup rapat-rapat kecuali dengan Mamak. termasuk telepon genggam satelit dan kamera dengan lensa super zoom-nya. Juga tidak ada lagi yang menilai Kak Laisa dilintas untuk kedua dan ketiga kalinya sekaligus merupakan aib besar. Dia penipu. Ia seperti sudah mengubur dalam-dalam keinginan untuk menikah. Dan terlalu lainnya. Mulai mengajak bicara Mamak. Usianya sudah 55 tahun. Tapi tiga tahun terakhir intensitasnya tidak setinggi sebelumnya. bilang merasa tertarik dengan Kak Laisa. Menikah hanya untuk menguras harta istrinya. rumah panggung itu kembali sepi (dalam artian yang berbeda). Dalimunte awalnya sudah tidak suka dengan orang itu. seolaholah bisa menerima keterbatasan Kak Laisa apa adanya. proses itu terus mengalir seperti air. warga baru lembah. berbeda sebelas tahun dengan Kak Laisa. Apalagi meski Kak Laisa tidak terlalu bersemangat menanggapinya. Dalimunte tetap berusaha mencarikan jodoh buat Kak Laisa. lantas setelah enam bulan berinteraksi dengan penduduk lembah. . Buronan. Polisi dari kota provinsi menangkapnya. Entahlah apa ending seperti ini kabar baik atau kabar buruk bagi Kak Laisa. pindah untuk mencari ketenangan di lembah. Semakin hari semakin dekat. Kedok orang tersebut terbuka sebelum semuanya terlanjur kadung. lagi-lagi kejadian menyakitkan itu terulang. Wibisana 34. Sudah dua kali menipu di tempat lain. Dan pelan tapi pasti rencana pernikahan itu mulai serius. Apakah memang sesederhana yang selalu ia sampaikan kepada Dalimunte: Ia sudah terbiasa dengan kesendiriannya. dan Yashinta 31 tahun. Yang pasti sejak kejadian tersebut. Terlalu banyak kebetulan. Yashinta malah terus terang kasar menyatakan keberatannya di depan orang tersebut. Mereka sudah terbiasa. penuh perhatian. Setelah yang lain kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sebenarnya kekhawatiran Ikanuri dan Wibisana soal melintas berlebihan. Dan celakanya.www. Entahlah apa yang sesungguhnya berkecamuk di kepala Kak Laisa di tengali sepinya malam. Menatap bulan dan gemintang di Lembah Lahambay. bertanya pada Dalimunte. kan?" Intan yang duduk di ranjang besar menoleh. Kak Laisa belakangan sepertinya tidak lagi terlalu bersemangat menanggapi pembicaraan tersebut. Kak Laisa didekati seseorang.. Tidak sibuk bisik-bisik. Tidak ada yang tahu.rajaebookgratis. Kak Laisa seolah sudah bersiap menerima kalau ia memang ditakdirkan hidup sendirian selamanya. pernikahan kembar itu berjalan normal. Melupakannya. Di tengah senyapnya lereng perkebunan strawberry. Semua terlihat terlalu sempurna. mengaku pensiunan dini tentara. Hanya tersenyum. maka benar-benar tidak ada yang tahu apa yang selalu Laisa pikirkan saat menatap tangit penghujung malam. Seseorang yang terlihat begitu baik. Tidak ada lagi tetangga yang sibuk bertanya kapan Kak Laisa akan menikah saat pernikahan kembar itu berlangsung. Tetangga kampung sudah menerima kenyataan itu.com berbagai gagdet canggih. Jadi meski tak ada Wak Burhan yang mengingatkan. Tante Yash ikut pulang. 37 KAU ADIK TERSAYANG "ABI. Tapi mereka tidak bisa mencegah proses itu. Tidak berkomentar. Apalagi Mamak (yang mengingatkannya pada masa lalu). Tinggal di kampung mereka. Hari-hari itu. Perjodohan yang gagal lagi. usia Kak Laisa sudah 43. meski dengan konteks berbeda. Ikanuri menjelang 35. Pura-pura tertarik dengan Kak Laisa hanya untuk menguasai perkebunan strawberry.

. Beringsut mendekat. meski makannya di kamar Wak Laisa. Tentu saja ia tahu. Mereka masih berkumpul di bawah panggung.com Dalimunte yang sedang berbicara dengan dokter tentang kondisi terakhir Kak Laisa mengangguk seadanya. Dalimunte yang masih berdiri di depan dokter terdiam.www. Membasahi tubuh mereka yang sejak tadi sore berusaha tidur. Suaranya sedikit serak. Mukanya terlihat sekali sebal. Sudah sampai di mana? Menelan ludah. Tentu saja Laisa tahu. adik terkecilnya. Juwita dan Delima sih dari tadi ingin ikut-ikutan. Dua sigung nakal itu lagilagi bolos sekolah. Tidak hanya sibuk. Menatap Intan lamat-lamat. Dua sigung bebal itu malah asyik bermain ke kota kecamatan. "Yeee. Hujan gerimis turun sejak maghrib. Sok ngatur.rajaebookgratis. Kedekatan adik-kakak itu sungguh menembus batas-batas akal sehat. juga tidak membaik. Apa yang hendak dikatakan Kak Laisa? Apa maksud kalimat Kak Laisa baru saja. Matanya yang tadi terpejam. Batuknya masih. pastilah kita lebih tinggi dibanding tubuh pendeknya. terus ngomel. tanpa kabar pasti di mana posisinya. Bagaimana tidak? Lima belas jam ]alu. Malam beberapa bulan setelah kejadian di Gunung Kendeng itu. Setelah lebih sehari semalam. Kak Laisa sengaja menahan diri sejak kemarin untuk bertanya di mana Yashinta sekarang. "Tante Yash masih di jalan.. Deru angin lembah membawa rinai air. Semoga Laisa terus membaik. sayang —" Kak Laisa yang justru menjawab. dua tiga tahun lagi. "Kenapa sih ia harus sibuk lapor Mamak. Itulah kenapa dia tidak bertanya ke Dalimunte di mana Yashinta. tapi setelah siang. "Sudah sampai di mana.. Ia sepanjang pagi bisa duduk bersandarkan bantal.. Bah!" Wibisana yang berdiri di sebelahnya hanya diam. nyengir. tapi satu dua menjelang malam kembali ke rumah masingmasing. Laisa berusaha mengangguk. ia baru saja membangunkan adiknya.. Menelan ludah sekali lagi. tapi cemas apakah kali ini mereka akan berhasil atau gagal total. sih? Kok nggak ada kabar-kabarnya seperti Oom Ikanuri dan Oom Wibisana?" Intan bertanya lagi. Lihat. Kak Laisa. Malam tiba untuk ke sekian kalinya di lembah itu. "Ia bukan kakak kita!" Ikanuri berbisik kasar. Lebih serius. "Kenapa ia harus sibuk melarang-larang... padahal Mamak. Dalimunte mengusap wajahnya. Kondisi Wak Laisa tidak memburuk.. Dia tahu persis. Juga bercak darah yang ikut keluar. Menyuruh mereka menyingkir.." Ikanuri bergelung. Karena Laisa tahu persis di mana Yashinta saat ini. Sudah makan malam. Tidak cakap apapun. Terdiam. Malam itu Ikanuri dan Wibisana dihukum tidur di bale bambu bawah rumah panggung. "Emangnya Wak Laisa tahu? Kan Wawak sejak tadi tidur. perlahan terbuka. "Pendek! Hitam! Jelek!" Puas sekali Ikanuri mendesis. ingin tahu. Mereka sudah shalat berjamaah (kecuali Juwita dan Delima yang memaksa ikut shalat gaya duduk Wawak Laisa). Membelai lembut dahi Yashinta yang cemerlang. berada sekarang.. karena lelah. Intan telaten membersihkan dengan tissue. Hanya tertunduk. Siang itu Bang Jogar menghentikan membaca yasin di surau dan beranda rumah..'" Intan menyeringai. Begitu masing-masing berdoa dalam hati. Dalimunte kali ini benar-benar menoleh ke putrinya. Tersenyum. orang yang paling ingin tahu di mana Yashinta sekarang jelas adalah Kak Laisa. Menghampar sembarang di lantai. kembali tiduran. Yang penting tetap bersama. Tersengal. tapi Kak Intan melotot. . Abi kok malah melamun?" Intan berseru. tepatnya saat ia shalat shubuh sambil duduk tadi pagi. Gerimis membasuh lembah. dan Dalimunte sibuk mengurus kebun strawberry..

Mendengkur. Rambut gimbalnya. Mendesis. Menimpuk Kak Ikanuri dengan bongkahan tanah. Ia pendek. Desisan yang membuat Yashinta membeku.rajaebookgratis. Kepakan sayapnya terlihat elok. Mulut Kak Laisa yang sedikit terbuka. berjalan memutari belukar itu. Di sekitar tubuh itu. Hingga tiba di semak-semak. Bagai pesawat tempur F-16.com Desisan yang membuat langkah Yashinta terhenti. Melintas kabut yang menutupi lereng terjal Semeru. Menderu membelah senyap. Kak Laisa sungguh berbeda. Berhenti. Tertidur. Tapi mulutnya bungkam. Suaranya mendesis. Apa benar Kak Laisa bukan kakak mereka. dua ekor bajing juga ikut mendekat. Malam itu ingin sekali Yashinta langsung bertanya pada Mamak. yang lebih besar dibandingkan penguasa Gunung Kendeng. biar tidak kedinginan di luar.Tidak akan ada bedanya. Lihatlah. Tapi ada hal lain yang membuatnya lebih sesak: Ia bukan kakak kita. Satu meter dari tanah basah lereng Semeru. memperlihatkan gigi-gigi besar. Ia merangkak mendekati Kak Laisa. membuatnya bungkam selama puluhan tahun. yang menyimpulkan spesies langka itu sudah punah di rimba Semeru seperti sebuah kesia-siaan besar. bertanya pada Kak Dalimunte. Berlari lagi kesana-kemari. tidak proporsional. jelek. Menerabas pucuk-pucuk pohon. ke atas. menatap ke bawah. Kak Ikanuri jahat. Kemudian loncat menuruni dahan kayu satu demi satu. Malam itu Yashinta akhirtiya tahu satu fakta yang akan ia simpan seumur hidupnya. Ikut menatap tubuh yang tergolek lemah itu. anggun mendarat. Yashinta menelan ludah. sih?" Intan bertanya ingin rahu. Ekornya bergerak-gerak. Malam itu saat yang lain sudah jatuh tertidur (termasuk dua sigung nakal di bawah rumah). Tidak pada Mamak. tapi segera menutup mulutnya. Tidak pada Kak Dalimunte. Wajah dengan kulit hitam. Berhenti. Hidung pesek. Dan. Lembut jemari Yashinta mengusap wajah Kak Laisa. Saat itu usia Yashinta delapan tahun. Hitam. Menatap ke tubuh yang terbanting. Urung memberikan selimut. Nafasnya tersengal. Kepala mereka naik turun. "Tapi Tante Yash sekarang sudah di mana. apa maksud kata-kata Kak Ikanuri barusan. Jahat sekali. Wak? Kok nggak nyampe-nyampe. Yashinta masih terjaga. Kak Laisa tetap menjadi kakaknya. tidak sadarkan diri di atas belukar. Di manakah Yashinta? Seekor peregrin melenguh. Ketakutannya atas kemungkinan jawaban tersebut.. tapi sekarang terdengar seperti cicitan iba.. Ingin rasanya Yashinta berteriak. berhenti tepat sebelum menghantam salah satu dahan. Pernah ia hampir terlepaskan bertanya pada Wak Burhan. Perfecto. Tapi bagaimann mungkin Kak Laisa bukan kakaknya? Dan Yashinta entah oleh kekuatan apa. Tubuh yang tidak sadarkan diri selama dua puluh jam terakhir.www. ya Allah. Lantas bagai ballerina sejati. tidak pernah kuasa menanyakan soal itu kepada yang lain. Yashinta berlari masuk ke dalam kamar. Membandingkan wajah itu dengan wajahnya melalui cermin peraut pensil.Bahkan memutuskan untuk tidak akan pernah bertanya. sejak sekecil itu sudah amat menghargai Kak Laisa. seekor harimau jawa. Berlari kesana-kemari. Bagaimanalah kalau itu semua benar? Bagaimanalah kalau Kak Laisa memang bukan kakaknya? Yashinta. Mata Wak Laisa sudah kembali terpejam. Yashinta tidak pernah kuasa bertanya. . Yang ditanya tidak menjawab. Menghina Kak Laisa seperti itu. siapa bilang tidak ada lagi harimau jawa di Gunung Semeru? Penelitian itu. Apapun jawabannya. Berhenti sejenak. Peregrin itu melenguh lagi. Tidak pada dua kakaknya yang nakal itu. Kepalanya bergoyang-goyaitg. Yashinta saat itu sembunyi-sembunyi hendak mengantarkan selimut buat kakaknya. Gemetar Yashinta kembali menaiki anak tangga.. sudah bisa mengerti banyak hal.

kebaikan dengan sesama. Mata kakinya yang bergeser setelah menghajar tunggul kayu di lereng lembah. Lantas tubuhnya mental. Ya! Kak Laisa-lah yang membangunkan Yashinta dari pingsannya. Tidak melihat saat Yashinta jatuh. Berlarik-larik seperti lukisan. Burung berkicau bagai orkestra. Pertolongan mahasiwa kedokteran yang sedang KKN itu tepat waktu. Lantas berpulang lagi. Yashinta menangis. mampu membuat manusia menembus batas-batas akal sehat itu." . Batuknya berkurang. setetah rekor mendaki 27 gunung di seluruh dunia dengan seluruh stamina fisik yang luar biasa. karena lagi-lagi persendian itu bergeser. Dua puluh jam lamanya. membuatnya tersiksa hampir sebulan. Yashinta dengan muka luka. Tapi itu bukan dengkuran bahaya. Tetapi Kak Laisa belum. Seketika tak sadarkan diri. tergolek tak berdaya. Lupa memperhatikan jejak kaki Yashinta sudah tidak ada lagi di jalan setapak. Tapi Kak Laisa tidak mau membicarakan kejadian malam-malam di tengah hujan Itu ia sudah kembali sibuk. menghujam masuk ke dalam lembah menganga. Tubuhnya mengejang. Ia tahu kalau kaki Kak Laisa begitu karena memaksakan diri malam-malam menjemput mahasiswa KKN di kampung atas.com RRR. Dalimunte hanya diam. Terjepit. Yang dua puluh jam lalu bergegas menuruni lereng terjal Semeru demi mendengar kabar Kak Laisa sakit keras. kakinya terperosok ke batuan ringkih. elok melihatnya. Begitu saja yang dilakukan harimau besar itu dua puluh jam terakhir. Dua rekan penelitinya terus saja turun sambil mengomel soal betapa cepatnya kaki Yashinta. Seperti induk melihat anaknya terluka. Yashinta kehilangan keseimbangan.rajaebookgratis. Nahas. Jatuh lagi. Makanya butuh waktu sebulan untuk sembuh total. Telepon genggam satelit itu sudah sejak lima belas detik lalu jatuh menghajar bebatuan. Ya Allah. hingga keajaiban itu terjadi. Matanya berair. hanya Wak Burhan yang pernah tahu sejatinya apakah penduduk Lembah Lahambay pernah memiliki kemampuan mengendalikan binatang liar. kaki patah. Kak Laisa tetap memaksakan diri bekerja di kebun. Seperti seekor penjaga. Dua rekan penelitinya tertinggal dua ratus meter di belakang. Kak Laisa menggigit gumpalan baju. Itu dengkuran penuh rasa iba. Tubuh itu adalah Yashinta. Bagaimanalah? Persendian itu dipaksa kembali ke tempat semula. rasa berserah diri yang tinggi kepada kuasa langit. Ditembus sinar matahari. Sekali. Uwa di kejauhan sibuk berteriak. Dua kali. Ilmu Pesirah itu. Panasnya mereda. Muka pucatnya kembali memerah. Yash?" "He-eh. Tapi ia tidak berteriak. Diurut berkali-kali oleh Wak Burhan. Benar-benar ngeri melihat Kak Laisa diurut. Menatap tubuh yang tergolek lemah. Satu minggu kemudian gadis kecil itu malah sudah bisa kembali sekolah. Lupa memperhatikan dahan kayu yang patah. Hingga kecintaan pada saudara karena Allah. Bagai burung tanpa sayap. Sangkut-menyangkut di ranting pohon. Berkali-kali tubuhnya menghantam dahan-dahan kayu. Kabut putih mengambang. ritual ibadah yang penuh pemaknaan. 34 tahun. Jatuh lagi. dua puluh jam lalu. Terus jatuh berdebam Semakin dalam. Batu itu merekah. "Kau benar kuat mengangkat segitu. Pagi datang menjelang di Lembah Lahambay. Tidak ada yang tahu. Meningkahi desis jangkrik dan ribuan serangga lainnya. Dua sigung kecil itu saja yang selama ini tidak peduli dengan Kak Laisa ikut jerih melihatnya. Gadis manis. proses bersyukur yang indah. Pecah berhamburan. Meski kakinya belum sembuh benar. Dan gadis cantik itu tergolek tak berdaya di atas rumput. Sangkut di semak belukar. Sempurna terputus dari hingar-bingar dunia. Menghantam rerumputan dangkal.www. Yashinta kecil berangsur-angsur sembuh. Lantas meluncur ke dasar lembah.

Mengelap darah. Adiknya seketika pingsan.. Percuma. Tubuh kedl Yashinta terhuyung. Dan dalam gerakan lambat yang mengerikan.. Tidak peduli rasanya amat sakit. Dua belas potong umbut rotan itu berhamburan.. Melempar bawaan di pundaknya. Yash?" "He-eh." Kak Laisa menangis. Kak Laisa semakin gugup." Yashinta mengangguk lagi. Gadis kecil itu reflek menghindar. Saling sahut. Bisa juga dijual ke kota kecamatan. Sayang... pelipis adiknya berdarah.. Kak Laisa pagi ini mengajak Yashinta mencari umbut rotan di pinggir hutan. YASH!" Tubuh adiknya. Sekalian melihat lima anak berang-berang itu lagi. Tapi lukanya besar. Melepas bebat kain di kepala. Luka. Yashinta berseru kaget. Yashinta mulai ikut bersenandung. Berdebum. Yash. Tangannya patah-patah merengkuh Yashinta. Menggigit bibir. Semakin lama. Harus meniti jembatan kayu kecil untuk menyeberanginya. Ketakutan itu tiba-tiba mencengkeram jantungnya. Bisa disayur. Robek. Harganya lumayan mahal. hanya pelipis. bangun—" Gemetar Kak Laisa memeriksa seluruh tubuh Yashinta. "YASH. Cairan merah itu menggenangi sungai. Dan kesanalah tubuh kecil itu terhujam. Membuat garis panjang. Tubuhnya yang melintir terjatuh dari atas jembatan. hanya sejengkal. tapi perlahan kakinya mulai mantap menyusuri jalan setapak. Yashinta kembali bersenandung.. Kak Laisa kakinya kan masih sakit. Sebentar lagi ia juga terbiasa kok dengan berat ini.. Gemetar meraih tubuh adiknya yang basah. "YASH!" Kak Laisa berseru tertahan. Tinggi jembatan itu hanya satu meter. Kodok itu cueknya justru loncat ke perut Yashinta. Menggendong ke tepi sungai Tidak peduli persendian mata kakinya bergeser lagi. Darah kembali mengucur deras. dua belas potong umbut rotan di pundaknya semakin terasa ringan. Biar beban Kak Laisa banyak. Tidak .. "Yash. "Kau minggu depan mau ikut Kakak lagi ambil umbut rotan?" "He-eh. Tuh kan. ya Allah. Di potong potong sepanjang enam jengkal. Yashinta kuat kok. Tadi seru sekali melihat kembali berang-berangnya. seekor kodok yang sedang mematung di jembatan kayu itu tiba-tiba loncat.rajaebookgratis. Sebenarnya Yashinta tidak terlalu yakin apa ia cukup kuat mengangkat dua belas potong umbut rotan itu..com Yashinta mengangguk. Lihatlah. Kakak mohon." Yashinta langsung menjawab. Terhuyung. "YASH! YA ALLAH!" Kak Laisa pias sudah. Kak Laisa ikut tertawa. Berpegangan kokoh ke ranting semak belukar. Ia sungguh lebih takut dibandingkan saat kejadian di Gunung Kendeng lalu. Tersadarkan dari pemandangan itu. Tidak ada yang luka. Kak Laisa pias. merengkuh dua belas batang umbut rotan (ujung rotan yang masih muda). Dua ekor bajing berlarian di dahan-dahan tinggi. kepala Yashinta menghantam bebatuan. Masalahnya air sungai di bawah dangkal. Nyengir. Suara burung semakin ramai menjemput pagi. Kecipak suara air mengalir di sungai kecil terdengar menyenangkan. jadi ia memutuskan mengangkut segitu. Aduh. Lantas mulai melangkah. Kak Laisa benar-benar takut. Celaka! Kakinya kehilangan keseimbangan. Ini semua salahnya.. Gemetar menuruni jembatan. Kak Laisa yang berjalan di belakangnya tersenyum. Dipenuhi bebatuan pula. Mereka tiba di anak sungai yang lebih lebar. masih dibebat kain. "Kau benaran kuat. Awalnya bergetar.www. Tertawa. "Yash. bangunlah. Sungguh pias.

Sekarang sedang ngebut . Menciumi rambut basah adiknya. Ya Allah. Cahaya indah itu menguar di atas tubuh Yashinta. Intan yang terakhir digendong masuk kamar. mencium kening Yashinta lembut Senyap." Kalimat itu begitu ihklas terucap. Tubuh Yashinta mulai dingin. Ya Allah.. Jika Engkau menginginkannya. Tubuh Laisa ciut oleh perasaan takut. Kemudian senyap. lantai dua. Juga Mamak dan yang lain. Digendong Ummi masing-masing masuk kamar besar.. tidak membaik.com seharusnya mengajak Yashinta yang baru sembuh dari sakit ikut mencari umbut rotan sekalian melihat anak berang-berang.www. juga tidak memburuk. Tidak seharusnya ia membiarkan Yashinta menggendong lebih banyak potongan umbut rotan. biarkan Lais saja. Dalimunte masih terjaga. RRR. Kakak menunggu di rumah.. Yashinta berseru terbata "Kak Lais... "Yash. Kak Laisa jatuh tertidur.. ya Allah.. Oleh rasa sayang yang tak terhingga. suaranya mendecit penuh permohonan. "Yash. "Bangunlah adikku.. seperti bisa menatap siluet indah yang sedang mengungkung tubuh Yashinta. Kabut mengambang. "Ya Allah. Tubuh itu semakin dingin. bagaimanalah ini? Apa yang harus ia lakukan? Menggendong Yashinta pulang? Ya Allah." Lantas sekejap kemudian sirna. "Lais mohon. Harimau besar itu menghentikan putarannya. Kemilau tiada tara. jangan ambil adik Lais...rajaebookgratis. Dua bajing yang juga mengawasi tempat itu ikut terdiam Naik turun. Kata dokter.?" 38 MAAFKAN KAMI TENGAH malam kedua di lembah sejak SMS dari Mamak. Lereng Gunung Semeru hening. "Lais mohon. bahkan meski untuk urusan sepele saat mengajak Yashinta mandi di sungai cadas. karena mereka lima belas menit lalu baru saja lapor sudah tiba di kota kecamatan. Juwita dan Delima meski tadi ngotot bilang ingin menunggu Abi-Abi mereka (Ikanuri dan Wibisana) tiba. Burung peregrin itu melenguh lemah. Seperti parade yang turun membelah kabut. Apa yang akan ia bilang ke Mamak? Lais jaga adikmu. Menghilang. Buru-buru diangkat. tapi tubuh kanak-kanak mereka terlanjur lelah. biarkan Lais saja. celingak-celinguk kepalanya terhenti. Menatap tubuh Yashinta yang tergolek di atas belukar. kenapa jemari adiknya semakin dingin. Semburat cahaya matahari pagi yang menerobos dedaunan menyinari tubuh itu. kondisinya tetap status quo. Darah semakin banyak keluar. Mamak selalu berpesan begitu. Telepon genggam Dalimunte berdengking. Mengerjap-ngerjap.... siapa pula yang tengah malam begini menghubunginya.. Lais mohon. Lantas terdiam. Menatap siluet indah yang sedang mendekat.. Tubuh yang sudah dua puluh jam pingsan itu pelan membuka mata." Siluet cahaya itu membungkuk.... jangan ambil adik Lais — " Kak Laisa kalap memeluk tubuh adiknya. Menggerung pelan.. Harimau itu sekarang mematung. Ya Allah. Tidak mungkin Ikanuri dan Wibisana. Suaranya mencicit. Amat gentar.... Mengambang turun."Kak Laisa tersungkur sudah..." Kak Laisa panik menciumi pipi adiknya. Ekornya berkibas pelan. Tadi malam berjaganya harimau itu membuat seekor beruang gunung mengurungkan niat mencabik-cabik tubuh tak berdaya Yashinta.

Mr dan Mrs Yoko mengijinkan helikopternya dibawa ke Lembah Lahambay—" Goughsky herjanji. Ikanuri langsung menghambur ke ranjang Kak . Ternyata yang menelepon WNI keturunan Uzbekistan itu. Langsung setelah mendapatkan perawatan. ia sendiri yang datang ke posko pendakian. Tidak mengerti.. Ikanuri dan Wibisana sudah masuk ke dalam ruangan. Dia bertahan hidup selama tiga puluh enam jam tanpa air minum sekalipun. Hanya lelah. Siang malam. Kak Dali—" Pelan saja Goughsky melapor. Langkah kaki yang berderak menaiki anak tangga kayu. Tim SAR setempat diturunkan. Melewati Cie Hui. dengan tubuh terluka. terlalu lelah. Apalagi dua rekan Yashinta justru bingung saat tahu Yashinta belum tiba di posko awal pendakian Gunung Semeru. dengan kaki patah. Menyusuri semua kemungkinan. Pintu-pintu yang dibanting. Ketegangan itu mencair. Wulan dan Jasmine. tertatih dengan tongkat seadanya di tangan. sebelum Mamak benar-benar ingin bertanya. Langsung ke pokok pembicaraan.. Menutup pembicaraan. Jasmine. Menghentikan pencarian.... Yashinta memaksa kakinya berjalan delapan kilometer... Sejak Ikanuri dan Wibisana mengontak Goughsky tiga puluh enam jam lalu dari Paris. Ingin tahu apa yang membuat wajah Dalimunte berubah sedemikian rupa. Hujan deras disana. Terlambat saat turun dari Gunung Semeru. Karena Dalimunte selalu bilang Yashinta masih di perjalanan. Dalimunte menghembuskan nafas lega.. memeriksa lembah. Dua puluh empat jam berlalu. bahkan Mamak. Melaporkan kondisi terakhir. "Aku akan segera membawa Yashinta pulang ke perkebunan.rajaebookgratis. saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.. Menelepon Dalimunte. Ditemukan? Cie Hui melipat dahi. mereka akhirnya menemukan telepon genggam satelit Yashinta yang remuk..com secepat mobil balap itu bisa melaju ke perkebunan strawberry. Berusaha menepati janji. Yashinta akan segera pulang. Wulan. Langsung jatuh pingsan. Dan sekejap. Ya Allah... memegang lengan suaminya. Goughsky segera meluncur turun.. "Kami menyebar belasan orang mencarinya. pelipis berdarah.. membuat Dalimunte berseru tertahan. Mamak menatapnya. Yashinta datang sendiri dengan tubuh luka. Dan lima menit yang lalu. Juga Cie Hui. Goughsky yang sama hafalnya dengan Yashinta jalur pendakian Semeru memimpin pencarian. "Yashinta baik-baik saja. Sebentar lagi helikopter milik Mr dan Mrs Yoko tiba.. "Ada apa?" Cie Hui bertanya." Dalimunte sudah tidak mendengarkan detail lagi.. Ya Allah.. Kabar adiknya ditemukan selamat membuatnya lega bukan main. Tapi meski pelan. Yashinta sudah ditemukan — " Dalimunte berbisik pelan. Saat kami mulai putus-asa... Beruntung Mamak tidak mendengarkan. Hanya seekor peregrin dan dua ekor bajing yang sibuk memperhatikan. mendadak terdengar suara derum mobil di luar. Dengan wajah cemas Ikanuri bahkan tidak mempedulikan Dalimunte yang berdiri di depan kamar. kecemasan atas nasib Yashinta meninggi. Kalau tidak akan timbul banyak sekali pertanyaan. andaikata Kak Dali bisa melihat energi sebesar itu.www. Beruntung pula." Dalimunte menelan ludahnya. "Yashinta. Apakah Yashinta yang telepon? Goughsky. Seruan Bang Jogar. tiba sebelum tengah malam. Menyusuri jalan setapak. "Yashinta sudah ditemukan. tapi tidak ada tubuh Yashinta di atas belukar itu. Penerbangan juga banyak di cancel. Setengah berlari. betapa terkejutnya Tim SAR yang berjaga di posko awal pendakian. Menutupi fakta kalau sudah 36 jam tdepon genggam satelit Yashinta putus kontak. sia-sia.

Tidak mengenal keluarganya. satu-satunya kerabat Mamak (karena Mamak Lainuri yatim piatu sejak usia sebelas tahun). 25 tahun. Karena sejak saat itu pertumbuhan Laisa mulai tidak normal. Ikanuri langsung bersimpuh. Si kecil Laisa. duda dengan seorang bayi berusia enam bulan. Saraf bicara. kemampuan berpikir. mengungkit masa lalu Laisa bukanlah bagian yang menyenangkan. Membuat nestapa Mamak jadi sempurna. Mereka tidak mengenal baik pemuda tersebut. kehilangan tanah dan perabotan.. Matanya berkaca-kaca. Hanya wajahnya saja yang terlihat tampan menyenangkan. gemetar menciumi tangan Kak Laisa. Sungguh ia sesak menahan kalimat itu. Dan yang paling menderita atas tabiat buruk tersebut adalah Laisa. Seolah bayi itu darah dagingnya sendiri. Dia menghilang begitu saja setelah Mamak jatuh miskin.. mendengar.. Kalimat yang tertahan seperempat abad lebih. dengan melanggar janjiku kepada keluarga mereka. Lagi pula keputusan menikah . Kak Lais.. Tetapi tidak adil jika kalian tidak tahu ceritanya. Sungguh sejak di kereta ekspress Eurostar dia takut tak sempat lagi mengatakannya.com Laisa. Mesti merawat bayi yang bukan darah dagingnya pula. Dan tidak ada juga yang kuasa memperbaiki keputusan yang terlanjur dibuat. Laisa terselamatkan. Mamak yang pulang dari kebun amat terkejut melihat Laisa sudah membiru. Meski bayi montok dan lucu itu harus membayar mahal sekali. Mengerti betapa Kak Laisa tulus melakukan semuanya. Sedangkan yang bertugas menjaga justru tertidur dengan mulut bau minuman keras di samping ranjang. Apalagi untuk mengerti utuh semua kisah ini. Bayi berumur enam bulan tersebut pernah jatuh ke dalam baskom air saat berumur sembilan bulan. Mamak sebenarnya mewarisi tanah cukup luas dan banyak perabotan dari orang-tuanya yang meninggal saat banjir bandang di sungai cadas lima meter.www.. Wajahnya juga terlihat sedikil tidak proporsional. ijinkanlah aku menceritakannya. Terendam. Tapi semuanya tergadai satu persatu oleh tabiat judi suaminya. Dan dia seketika menangis— "Maafkan Ikanuri. Melakukan apa saja. Suka memukul Berteriak. Maka. Sudah kehilangan suami. Padahal saat itu Kak Laisa masih tertidur. Mamak Lainuri sebenamya menikah dua kali. Menurut bisik-bisik tetanga konon istri pertamanya dulu meninggal juga karena ulahnya. Dan ajaib. Dan kerjanya hanya mabuk di kota kecamatan Berjudi di lapak-lapak pasar. Tapi badan Laisa tumbuh lebih pendek dibanding teman seusianya. Maafkan Ikanuri yang dulu selalu bilang Kak Laisa bukan kakak kami— ?" Dan Ikanuri tersungkur sudah. Lelaki itu 24. Kak Laisa bukan kakak mereka. 39 BAYI YANG DITINGGAL PERGI TERUS-TERANG. amat berkeberatan dengan pernikahan itu. Ayah yang saat Laisa berumur dua tahun justru tega pergi begitu saja dari lembah tersebut. Entahlah mengapa Mamak amat menyukai pemuda itu (duda dengan bayi enam bulan pula). Wak Burhan. Maka rusuhlah kampung mereka. Saat umurnya baru enam belas tahun.. Menyedihkan sekali melihat bayi kecil itu ditinggal pergi. Tapi itu 180 derajat kontras dengan kelakuannya. Tapi Mamak menyayangi bayi kecil itu seperti anaknya sendiri. Tidak ada yang tahu kemana. Amat cemas Mamak melakukan apa saja untuk menyelamatkan bayi mungil itu. dan sebagainya memang tumbuh normal. Wajahnya buncah sudah oleh rasa sesal. Pernikahan pertama. Tapi tidak ada yang bisa mencegah pernikahan tersebut. Tersedu. itu mewarisi ayahnya.rajaebookgratis. Ikanuri benar. duda dengan bayi mungil itu memperlakukan Mamak sama seperti memperlakukan istri pertamanya. Sedikitpun tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga mereka. Sungguh maafkan Ikanuri. Pernikahan yang keliru. Kecemasan Wak Burhan benar. Soal rambut gimbal dan kulit hitam. Kasar. dengan lelaki pendatang di kampung atas.

Babak mereka sekarang. Yashinta jelas bisa mengambil kesimpulan sendiri kalau Kak Laisa memang bukan kakak mereka. Meski hidup mereka tidak berubah. menyusul Ikanuri dengan jarak hanya sebelas bulan. Perlahan mengerti apa yang sedang terjadi. membersihkan. Yashinta. ini kalau Laisa bukanlah siapasiapa di rumah panggung tersebut. Sungguh maafkan Ikanuri. Hanya bayi yang ditinggal pergi.Mamak menikah untuk kedua kalinya dengan pemuda kampung atas. Sedangkan dua sigung nakal tersebut menjadikan itu alasan untuk membantah. Semua penduduk Lembah Lahambay tahu persis kisah ini. Maafkan Ikanuri yang dulu selalu bilang Kak Lais bukan kakak kami — " Ikanuri masih tersungkur. Anggukan yang menjadi janji sejati. Mamak tidak pernah menganggap Laisa orang lain. kabar baik itu tiba. Kak Laisa membuka matanya. Saat Laisa berumur enam tahun. Kak Laisa terbatuk. Dua tahun kemudian Wibisana. Mamak sudah menangis di pelukan Dalimunte. adiknya yang paling nakal. dan Yashinta enam tahun. Ikanuri dan Wibisana. Cie Hui buru-buru mendekat. Tersenyum. kau bantu Mamakmu menjaga adik-adik hingga Babak pulang dari mencari kumbang—" Laisa kecil mengangguk mantap sekali.. Sayang. Janji seorang kakak. adiknya yang paling keras kepala. Maka yatimlah anakanak tersebut. Maka dengan kehidupan yang semakin susah di lembah. Babak sempat mengusap rambut Laisa yang saat itu baru berumur sepuluh tahun. "Maafkan Ikanuri. Dalimunte yang beranjak besar tahu fakta tersebut dari bisik-bisik tetangga.. Berlarian di sela-sela buah merah-ranum menggoda. Ikanuri delapan. Tudung kepalanya lepas. tetap susah. Seekor elang melenguh di garis cakrawala Gunung Kendeng. Langit membiru. Memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian jatuhnya Laisa ke dalam baskom air. Lihatlah. lahirlah Dalimunte. Ikanuri dan Wibisana juga masih terlalu kecil untuk mengerti.rajaebookgratis. Yang membuatnya tumbuh cacat. meraih tissue. Kak Laisa membuka matanya. Mereka terlalu berbeda. Babak bisa menerima Mamak apa adanya. Ikanuri dan Wibisana sudah tiba. Mamak tidak pernah mengungkit-ungkit kisah suram tersebut. tidak menurut. Kepalanya sedikit terangkat. Sekarang mendapatkan kembali cinta terpendamnya. Anak-anak yang lucu..www. Mengerjap-ngerjap.. masa-masa bahagia itu terputus saat Yashinta masih dalam kandungan. Babak mereka diterkam sang penguasa Gunung Kendeng. Ia yang berusia enam belas tahun. dan terakhir ditutup dengan lahirnya si bungsu yang manis. Dalimunte dua belas. baginya sulung di keluarga itu adalah Laisa. Bahunya naik . Bedanya. Juga bisa menerima si kecil Laisa dengan baik. Karena Babak ternyata tidak pernah pulang-pulang. tapi kehidupan berkeluarga mereka berjalan normal. Bercak darah itu mengalir. Kak Lais. Pemuda yang dulu amat patah hati melihat Mamak menikah dengan orang lain. tersedu. Dalimunte tidak ambil pusing.com dulu juga keputusannya sendiri. Menangis penuh rasa sesal. Meski saat ia mulai sekolah di kota provinsi. Tadi ia baru saja bermimpi saling berkejaran dengan adik-adiknya di hamparan kebun strawberry. bahkan dalam banyak waktu terlihat cukup bahagia. sedang tersungkur menciumi tangannya. Wibisana hampir sembilan. "Lais. Mamak memutuskan bertahan hidup. Tiga tahun hidup sesak. Menggemaskan. Rambut putihnya terlihat. Janda miskin. Mamak yang jarang sekali menangis. Juga Babak mereka semasa hidup. Malam sebelum kejadian Babak diterkam harimau. Amat menyenangkan.. Mamak yang berdiri meneriaki di lereng atas. Yashinta saja yang terlalu takut bertanya yang tidak pernah tahu detailnya.

Bagi Mamak. tahun 1960 virus flu bermutasi lagi.. Lagipula. melihat adik-adiknya bersimpuh penuh penyesalan. dan sumber penyakit jahat lainnya selalu datang dari hewan liar. Lihatlah... meski seluruh dunia bersumpah membantahnya. Jadi bagaimana mungkin kau akan membuktikan bahwa virus. Sebagai ahli biologi. Semua masa lalu itu. 2010.. Tidak seharusnya ia menutupi kenyataan itu.. Tangan Kak Laisa gemetar mengangkat kepala adiknya..... Kau tahu.. bakteri. Bercak darah itu mengalir. Membawa virus flu yang lebih mematikan. tersinggung "Juga Ebola. tapi mereka.. Miss Headstone — " Pria tinggi. "Sungguh. . yang menewaskan 100 juta orang." Kak Laisa ikut menangis. lima puluh tahun dari 1960-an.. Masa-masa yang seharusnya ia isi dengan penjelasan. melihat semua ini seperti mengembalikan seluruh kenangan hidupnya. Kak Laisa yang berjanji akan membuatnya terus sekolah. Dan kamar itu menyisakan tangis dua sigung nakal yang mengeras. awal abad 21 nanti. empat puluh. Dia yang melihat Kak Laisa bekerja keras terpanggang matahari di kebun jagung demi mereka. bukan adik-adiknya.. dengan siklus penyakit flu empat puluh tahunan tersebut... Janji sejuta kunang-kunang. saat adik-adiknya mengerti. kekar.. Ikut menangis.. Dan perlakuan sebaliknya Kak Laisa kepada mereka.www. ratusan juta meninggal. dan itu kemungkinan besar dari unggas. Malam di lereng Gunung Kendeng. maafkan Wibisana." "Aku tahu itu—" Yashinta menukas... Ya Allah. Tersenyum." Dan kamar Kak Laisa sempurna sudah menyisakan desau sepotong kisah suram masa lalu itu.. "Kakak selalu memaafkan kalian..com turun menahan rasa sesak.. dan tampan itu menyeringai. Aku berani bertaruh. tidak peduli seberapa baik kehidupan mereka sekarang... Dan berarus-ratus penyakit mematikan lainnya. meski dunia bersaksi untuk menyangkalnya. konservasi dan sebagainya aku pikir kau pernah diajarkan soal itu di bangku kuliah. terlihat begitu menikmati perdebatan tersebut.. mematikan jutaan orang di seluruh dunia. Perlakuan buruk mereka kepada Kak Laisa. Adik-adik yang membanggakan. Mata itu menatap begitu tulus. jelas-jelas semua ini mengembalikan kenangan masa kecil mereka. Mengangkat tangannya. virus flu pertama kali yang menyerang dunia tahun 1918. mereka amat menghargai Kak Laisa.. tidak akan pernah bisa dipisahkan dari kehidupan mereka.. Bagi Ikanuri dan Wibisana. mengembalikan seluruh kejadian di sungai cadas lima meter. Wibisana ikut bersimpuh di samping Ikanuri. dan bisa jadi mengulang tragedi tahun 1918.. "Kau tahu. juga akan terjadi mutasi flu dari hewan liar lainnya. Terbatuk. Bagaimana mungkin Kak Laisa bukan kakak mereka dengan: semua itu? Dalimunte tahu persis kalau adik-adiknya suka bilang kalimat menyakitkan itu. Dan Wibisana menambah senyap suasana. bertahun-tahun saat sudah sekolah di kota provinsi. tapi dia tidak pernah kuasa untuk menegur.. Kak Laisa yang tidak pernah datang terlambat. HIV/AIDS yang berasal dari kera hutan pedalaman Afrika. Yang boleh malu dan sakit itu Kak Laisa.rajaebookgratis. 40 PRIA UZBEK "SEMUA VIRUS. dan semua penyakit jahat itu tidak berasal dari hewan liar. Kakak selalu memaafkan kalian. Ikanuri dan Wibisana belum mengerti. Bagi Dalimunte." Goughsky nama pemuda itu. Lebih dari siapapun. mereka selalu menjadi adik-adik yang baik bagi Laisa. bakteri.. Janji kesempatan yang lebih besar di luar lembah. Masa-masa keliru. itu jelas mutasi virus flu dari hewan liar. mungkin 2008. Kamar itu menyisakan isak tertahan.

ayahnya Uzbekistan." Yashinta mendelik ke arah pemuda sialan itu. kemarin kami baru saja menyetujui salah satu proyek penelitiannya.. Haha. tidak fair. pemuda ini pasti juga berkepentingan dengan dana dari Mr dan Mrs Yoko." "Kalian? Kalian sudah memutuskan? Sudah memberikan dana itu ke orang lain?" Yashinta menelan ludah." Yashinta menjawab cepat berusaha mengendalikan diri. terlalu mencintai terkadang membuat kita berpikir tidak rasional. melambaikan tangan "Sudah! Sudah. mungkin untuk membiayai proyek sialan miliknya. Goughsky. Goughsky. ikut berbicara. Termasuk minggu-minggu ini saat menghadiri pertemuan aktivis di London.. Tersenyum lebar ke arah Mr dan Mrs Yoko. aku kan tidak bilang mereka penjahatnya. Wajah cantiknya memerah. Mencari waktu yang tepat. Yash sayang.. "Aku tahu kalau semua penyakit itu dari hewan liar. Mencari pendanaan untuk proyek konservasi dan penelitian flora-fauna langka di Indonesia. sehingga selalu otomatis bilang tidak untuk fakta yang menjelek-jelekkan mereka. "Kau tetap akan mendapatkan dana konservasimu. "Well. Sejak bekerja menjadi peneliti lingkungan hidup. Entah mengapa..com Mereka sedang berdiri di ramainya gala dinner yang diadakan institusi donor (pemberi dana) konservasi alam terbesar dunia. tapi bukan berarti mereka penjahatnya!" Yashinta mendesis sebal. Kau tahu. Kau jangan membuat Yashinta marah. Yashinta sering terlibat dalam acara seperti ini. Kami tahun ini memutuskan untuk mendanai dua proyek penelitian ekologi sekaligus. Melangkah menuju meja hidangan. Jadi jelas. Apa yang ia cemaskan tadi terbukti. pemuda itu Goughsky. Mrs Yoko yang sudah beruban tertawa. Dan entah apa pasalnya mereka sudah berdebat soal mutasi genetik virus penyakit mematikan dari hewan liar ke manusia. mengintervensi mekanisme mutasi virus tersebut dengan polusi produk kimia. "Tentu saja my sweetheart. industri yang berlebihan. tapi manusialah yang mengganggu keseimbangan alam. sayang. Biar perdebatan menyebalkan seperti ini dilanjutkan para pria.. Yashinta mengatupkan rahang. kau saja yang terlalu mencintai hewan-hewan itu. bukankah dari tadi di sini memang tidak ada yang bilang hewan-hewan itu penjahatnya?" Goughsky nyengir lebar sekali.. Seratus ribu dollar.. "Kau mungkin lupa namanya. dia memang terkadang menjengkelkan seperti itu. kerusakan hutan. Berusaha tetap sopan menggandeng Mrs Yoko.. "Kau memang terlalu mencintai hewan-hewan itu. Mencari perhatian di depan pasangan ini. Hanya bilang fakta kalau semua virus itu berawal dari hewan liar. tiba-tiba ikut mendekat. kita mengambil sesuatu untuk mengganjal perut.. Awalnya hanya Yashinta yang berbicara dengan Mr dan Mrs Yoko.rajaebookgratis. "Goughsky benar.. "Aku setuju kalau virus dan bakteri itu berasal dari mereka. pemuda sialan ini. membicarakan tentang konservasi elang jawa. Hush! Mari. Di convention center salah satu hotel mewah London. Dasar penjilat. keras kepala. Indonesia. .. my darlingl" Mr Yoko tertawa kecil. kan? Pemuda sialan itu akan mengambil dana penelitiannya. menengahi.. Come on. Penelitian yang hebat. Dan pemuda sialan ini tiba-tiba ikut masuk dalam pembicaraan. perubahan iklim. my dear-" "Bukan itu maksudku. ibunya dari negaramu. bukan hewan-hewan liar itu penjahatnya!" "Well." "Kalian? Kalian sudah mengenalnya?" Yashinta mengambilkan piring buat Mrs Yoko. Jangan diperpanjang lagi. Siapa pula pemuda ini yang mengganggu rencananya.www. tidak mau mendengarkan kalimat orang lain dengan baik—" Goughsky mengangkat bahunya.. kapitalisme dan sebagainya. Ia sejak kemarin merencanakan memberikan proposal konservasi elang jawa itu secara personal ke Mr dan Mrs Yoko. salah-satu pendiri institusi donor raksasa itu.

. Yashinta sejak kecil Sudah keras kepala. Apalagi di bawah supervisinya. maka seterusnya ia akan memaksa diri untuk tidak suka. ia lebih banyak makan hati. Maka setahun terasa bagai seabad bagi Yashinta. Berbagai peralatan didatangkan. Bercampur jadi satu. Mr dan Mrs Yoko sengaja memberikan dana konservasi buat mereka berdua karena proyek mereka bersisian.rajaebookgratis. Andaikata proyek ini tidak penting. Pertemuan pertama yang jauh dari mengesankan. seolah-olah menganggap dirinya peneliti kemarin sore." Mrs Yoko tertawa. Lega. Bertengkar mulu tiap hari. Proyek itu dimulai segera sekembalinya mereka dari pertemuan di London. dari berbagai universitas sekitar. Andaikata Mr dan Mrs Yoko bukan orang penting. Juga petugas Taman Nasional. apalagi saat Goughsky dengan ringannya bilang. Nah. ganteng gini setiap hari malah diajak ribut Yash. Ia akan selalu melaporkan kemajuan program kepadaku." Rekan peneliti lokal yang cewek seringkali menggoda Yashinta. Benci melihat kelakuan mereka yang sibuk mencari perhatian. Celakanya. Menurut. Apakah mereka akan tetap sibuk mencari perhatian jika wajah dan fisiknya seperti Kak Laisa? Bah! Mereka hipokrit sejati. Yashinta tidak terlalu suka bergaul dengan teman-teman lelakinya. Memangnya kenapa? Yashinta mendesis sebal dalam hati. Itulah masalahnya. Mereka didukung oleh sebelas peneliti lokal. "Kalau tidak salah.. Malah bagi Yashinta amat menyebalkan. eh belakangan malah jadi suami istri. Goughsky kakak kelasmu di Belanda. melambaikan tangan. Yang sialnya. kebencian Yashinta bertumpuk-tumpuk sudah.www. saling melengkapi: tentang pemetaan dan konservasi elang jawa. temanku juga begini nih dulu. "Lu gila ya. Maka Yashinta benar-benar meledak saat tahu hal tersebut. Dan penyakit orang keras kepala adalah jika sejak awal ia tidak suka.. Mereka selalu bertengkar di basecamp Selalu berdebat. Basecamp konservasi dibangun di Taman Nasional Gunung Gede. Itu pertemuan pertama Yashinta dengan Goughsky. entah mengapa ternyata diikuti dengan pertemuan-pertemuan lebih menyebalkan berikutnya. Tidak perlu digabungkan dengan pemuda sok pintar dihadapannya! Tapi hingga makan malam itu usai. Berusaha terus tersenyum. Harusnya disayang-sayang.. Tidak rasional. Seringkali perdebatan (pertengkaran) mereka sebenarnya karena . institusi terkait. Dan entahlah. Yashinta diberitahu saat sedang makan malam di rumah Mr dan Mrs Yoko. bukan? Terpisah tiga tahun? Jadi aku pikir dia lebih pantas menjadi leader proyek ini. Tahu kalau Goughsky ikut diundang saja sudah membuat Yashinta mengkal. Gadis cantik itu dalam kasus tertentu malah membenci kolega lelaki. sayang—" Mrs Yoko mengangguk setuju.. "Miss Headstone ini akan jadi sekretaris proyek yang baik. Tapi di meja makan itu seperti tak ada yang memperhatikan raut merah padam keberatan Yashinta. Sudah dari dulu Yashinta ingin menimpuk pemuda setengah bule setengah melayu itu dengan gumpalan tanah (sama seperti ia menimpuk anak-anak nakal dulu). ditambah tingkah Goughsky yang suka mentertawakan. Yashinta masih bisa mengendalikan diri. Yashinta ikut tertawa." Yashinta tidak ingin bekerja satu tim dengan pemuda Uzbek sialan ini. Meski ia kesal sekali melihat gaya Goughsky didepannya.com Mendanai peneliti yang penuh semangat seperti kalian. Mr Yoko. Mengangguk. maka suka atau tidak suka.." Tertawa. Ia bisa mengurus proyek risetnya sendirian. menyeringai kepadanya seperti sedang menghadapi anak kecil yang bandel dan keras kepala. dan penduduk setempat. Bercampur sisa-sisa perasaan sebal. meski tawanya sedikit kebas. Memangnya kenapa kalau dia lebih senior dibandingkan dirinya. Menyeringai. Andaikata. Dan karena Yashinta di bawah komando Goughsky. Bukankah pernah dibilang sebelumnya. "Tahu nggak sih. yang harus belajar lebih banyak.

Kak Laisa yang melihatnya tertawa. "Apa?" Yashinta menoleh. Bahkan dalam banyak kasus Yashinta sendiri yang mencari-cari masalah. Goughsky. saat kembali ke basecamp. Yashinta selalu mengeluhkan siapa lagi kalau bukan Goughsky. Ada sepuluh menara seperti itu di Taman Nasional Gunung Gede. Meniru ulah tantenya kalau lagi gemas dan mencubit pipi tembamnya. Terkadang meneriaki Yashinta. Memegang kedua pipi tantenya. Wulan. Dan Goughsky. Berseru. Meski suaranya juga pelan. Ingin menunjukkan ketidak sukaannya. Tempat yang paling tepat untuk mengintai elang jawa. Goughsky juga tipikal pemuda yang menyenangkan. Sama seperti Cie Hui. Dekat dengan penduduk setempat lokasi basecamp. "Hush. dan yang pasti amat sabar. suaranya pelan. Hal-hal kecil. Merasakan sejuknya. Miss Headstone—" Yashinta berseru sebal. yang dijawab teriakan pula. Miss Headstone. tidak perlu diteriaki. Maka jadilah setiap dua bulan sekali. Jadi siapa pula yang peduli dengan suara mengkal Yashinta? Toh yang lain menganggap keluhan Yashinta tidaklah seserius itu. Pemuda Uzbek itu juga alim. Juga Cie Hui.MASA BERBAIKAN "BAGAIMANA kabar bayi-bayinya?" Goughsky bertanya.. Dibangun dengan dana dari Mr dan Mrs Yoko. sejak kecil Yash sudah terbiasa shalat malam bersama Kak Lais dan Mamak. Dan Goughsky. di jadwal pembagian tugas mengintai mereka tertulis: Goughsky & . Menyeruak di tengah-tengah rimba. Tidak sibuk mencari perhatian. masing-masing berjarak seratus meter. hanya Goughsky yang bisa sabar dengannya.com kesalahan Yashinta. "Dan bule sialan itu selalu bilang. Bagaimana akan serius? Yashinta meski wajahnya sebal. Tertawa lagi menatap wajah Ikanuri yang serius sekali saat mengatakan itu. "Iiihhh!" Sok mengerti apa itu gemas. Wulan dan Jasmine sedang hamil tua. biar tidak mengganggu pengamatan. Yang lain sudah mengkal sejak tadi. Sengaja menekan-nekannya. dan Jasmine yang duduk melingkar di ruang depan rumah panggung.. siang ini. Berdua berdiri di atas menara intai setinggi dua belas meter. Kalau saja Yashinta mau menghitung perdebatan mereka.. tapi setiap pulang selalu saja sibuk dan merasa berkepentingan untuk menceritakan kelakuan Goughsky. kalian jangan banyak tertawa. Yang lain tertawa. Jadi tidak aneh jika Yashinta banyak melupakan detail yang lebih besar. Yashinta bahkan tidak menyadari kalau Goughsky berbeda sekali dengan tipikal teman lelaki yang dikenalnya selama ini.' Bah! Bukan dia saja yang lulus cumlaude di Belanda.rajaebookgratis. Intan persis meniru kelakuan Yashinta. sok alim. Ia sebal sekali. Lihatlah. Seperti betapa tampannya Goughsky. setelah cuti dua minggu yang menyenangkan di perkebunan. Ruang tengah itu dipenuhi banyak energi bahagia. "Ia bahkan hingga sekarang tetap memanggilku. Goughsky.. Sok paling pintar!" Intan yang sekarang sudah tiga tahun cuek berlenggak-lenggok di depan tantenya yang sedang bete. Menghirup udara segar lembah untuk pertama kalinya. saat jadwal pulang ke lembah. 'Memangnya kau tidak diajarkan itu di bangku kuliah? Memangnya dosenmu tidak pernah bilang itu? Memangnya.. Membuat Yashinta mengomel dalam hati. Masa yang begitu dibilang benci? 41 MASA . tapi intonasinya tetap ketus. suka bergurau. ergh. menirukan intonasi suara Goughsky dengan jijik. Sengaja. Dia yang selalu meneriaki rekan kerjanya untuk shalat. Menginjak rerumputan yang berembun. di atas kanopi pepohonan. Menyuruh istrinya diam. nanti bayinya keluar mendadak seperti Kak Cie" Ikanuri yang baru bergabung duduk di ruang tengah rumah panggung pura-pura marah.. Wulan dan Jasmine juga ingin anak-anak mereka di lahirkan di perkebunan. maksudnya bukan itu. Bahkan sedikit marah jika rekan peneliti lokal cewek lainnya bergenit-genit ria dengannya.www. Mencubit pipi tantenya. mentang-mentang muslim Uzbek.

. Sejak kecil ia terlatih di hutan.. "Baik!" Yashinta menjawab pendek. Ia tidak perlu diajari soal itu. beberapa kolega peneliti melambai-lambaikan tangan. kan? Anak Profesor Dalimunte kalau tidak salah. menilainya anak kecil yang keras kepala. bukan?" "Bagaimana kau tahu?" Yashinta melipat dahinya. Mengacungkan jempol. menara 9. makan siang. Bulan depan sudah mulai masuk ke fase lebih penting. Dari kejauhan terlihat seekor burung terbang rendah. mengulang pertanyaan. Tersenyum. Itu bukan elang jawa. lantas kalian mencocokkannya dengan gambar di buku—" Yang lain sih tertawa. Goughsky menghela nafas. Intan. dan selalu tersenyum saat bicara. Goughsky tertawa pelan. Kesempatan melihat mereka terbang di langit hanya beberapa detik. mengangkat bahu.. asyik mendengarkan Goughsky dengan tatapan terpesona. Sejak kapan mahkluk setengah bule setengah melayu ini bertanya soal pribadi? Sambil tersenyum pula? Yashinta mendesis sebal dalam hati. dan kita tidak mau menjadi orang paling tolol karena ragu-ragu apakah itu elang jawa atau bukan. Mulai dari pemetaan area konservasi. "Ssst!" Goughsky menyuruhnya diam. Yashinta ingat sekali. Mengenali ciri-ciri fisik elang jawa dengan sempurna. sarapan. bukannya kau sendiri yang sering menceritakan mereka? Keluarga di lembah indah itu? Sibuk bercerita saat makan malam.. Menyeringai. pertama kali menara itu didirikan. Tahu apa coba mahkluk setengah bule ini soal rimba? . Goughsky memberikan latihan tentang insting. Lihatlah. Nihil. Berlatihlah mengenali objek dengan baik. Tentu saja aku tahu—" "Tapi. Menyelidik. sosialisasi kepada penduduk setempat. aku tidak tahu mengapa kau sebenci itu kepadaku.com Yashinta. Belajar langsung dari ahlinya. Yashinta hanya menatap sebal. Penelitian mereka sudah separuh jalan. Sudah berhasil menginventarisir jumlah populasi elang langka tersebut. bagaimana menemukan elang-elang itu: "Kita tidak menemukan mereka.. hingga kemungkinan mengembang biakkan burung itu di luar ekosistem hutan ini. Yang bagi Yashinta tatapan itu sama saja seperti kemarin-kemarin: merendahkan." Yashinta memotong. "Apa kabar bayi-bayinya?" Goughsky tersenyum. tapi aku tidak bercerita untukmu. Hingga sore.. Merekalah yang akan menemukan kita. Itulah tabiat keras kepala. Kecuali kalian bisa menyuruh elang itu untuk pose di langit sana. Membuat yang lain pekak mendengarnya. Goughsky hanya tertawa. Teropong-teropong terangkat. Juga milik peneliti di menara lainnya. "Loh. Laisa sejak awal sengaja memberikan nama-nama batu permata ke mereka!" "Kau tahu dari rnana anak Kak Dali bernama Intan?" Yashinta benar-benar melipat dahinya. tidak ada satupun elang jawa yang teramati dari menara 9.. Memasang teropongnya. menatap Yashinta lamat-lamat. Di mana saja. "Dari mana kau tahu Kak Laisa? Kak Dali? Intan?" Yashinta melepas teropongnya.. Jadi mudah ditebak. Bagaimana akan dapat? Jika Yashinta hanya sibuk menyumpah-nyumpah dalam hati. dari beberapa menara di kejauhan. Itu pasti kerjaan rekan peneliti lokal yang bertugas menyusun jadwal. "Pasti salah satu nama anak itu Delima. Aku tadi kan hanya bertanya baik-baik. Membawa beberapa pasangan ke kebun binatang yang lebih maju misalnya. seperti biasa ngotot. Terlihat jelas wajah puas mereka dari teropong. Sengaja benar. jelas-jelas sejak dulu Goughsky selalu peduli dengan anggota timnya. "Yash. Menyiapkan system perlindungan. "Yang memberikan nama pasti Laisa. Bukan.www. apa kabar bayi Ikanuri dan Wibisana? Kau tidak perlu ketus. Bertanya sekali lagi.. Sudahlah. bukan?" "Siapa pula yang ketus?" Yashinta menyergah. Kembali menyapu langit hutan Gunung Gede.rajaebookgratis.

www.rajaebookgratis.com

"Tentu saja aku tahu, aku dibesarkan di hutan salju Uzbekistan. Sendirian. Yatim piatu. Menghadapi kerasnya belantara. Umur dua belas tahun aku harus berkelahi dengan beruang salju raksasa. Memitingnya dengan tangan ini." Goughsky tertawa menjelaskan, sambil menunjukkan lengannya yang kekar. Saat itu mereka sedang menemukan jejak beruang di lereng Gunung Gede. Menjawab pertanyaan kolega peneliti lokal yang bertanya itu jejak apa. Yang lain lagi-lagi terpesona. Dan Yashinta lagi-lagi menatap sebal. Itu pasti bohong. Bule sialan ini sengaja memancing-mancing emosinya, karena semalam di basecamp, Yashinta menceritakan kejadian Kak Laisa dan tiga harimau di Gunung Kendeng. Mahkluk setengah-setengah ini pasti tidak mau kalah dengannya. Mengarang cerita-cerita menyebalkan itu. "Hati-hati, Yash! Itu sarang landak, biasanya ada sisa durinya." Goughsky sigap menarik lengan Yashinta. "Aku tahu!" Yashinta yang melamun, menjawab pendek. Menarik kakinya yang terlanjur melangkah. Senja membungkus lereng Gunung Gede. Garis horizon terlihat merah. Kabut turun melingkupi. Dingin. Mereka beriringan berjalan menuju basecamp. Kembali dari menara 9. Yashinta memperbaiki syal di leher. Menyibak belukar di sebelahnya. Menghindari sarang landak itu. Berdiam diri sepanjang jalan. Diam-diam berpikir. Yang itu sebenarnya ia tidak tahu. Bahkan Yashinta tidak yakin apakah Kak Laisa bisa mengenali sarang landak hanya dengan melihat selintas di tengah remang senja seperti ini? Melirik ke belakang Goughsky terlihat melangkah santai. Mata birunya terlihat indah di remang senja. Yashinta buru-buru menoleh ke depan lagi. Kemajuan proyek konservasi elang jawa mereka sejauh ini menggembirakan. Mr dan Mrs Yoko datang di bulan ke sembilan. Kunjungan selama seminggu. Langsung membawa helikopter pribadi mereka. Pasangan itu terlihat senang memperhatikan foto-foto, peta area konservasi, rencana program sosialisasi, dan sebagainya. "Kemajuan yang baik, very well.... Awalnya aku cemas kalian akan lebih sering bertengkar dibandingkan mengerjakan proyek ini, my dear." Mrs Yoko menyentuh lembut lengan Yashinta. "Tidak. Tentu saja kami tidak sibuk bertengkar. Kalian tahu, Yash ternyata bisa diandalkan.... Ia bisa menjadi sekretaris proyek yang baik. Ia pandai sekali kalau urusan catat-mencatat." Goughsky yang menjawab. Sambil tertawa. Yashinta ikut tertawa. Dua bulan terakhir, meski ia masih sering bertengkar dengan Goughsky, sering menjawab ketus, tapi ia mulai terbiasa. Seperti batu yang terkena tetesan air, keras kepalanya mulai bisa berlubang dengan sabaaaarnya Goughsky. Jadi ia hanya ikut tertawa dengan gurauan pemuda Uzbek itu. Tidak sibuk mendesis sebal dalam hati. Dan itu bermula dua bulan lalu, saat jadwal pulang rutin dua bulanan Yashinta ke perkebunan strawberry, bule itu berbaik hati mengantarnya ke bandara. Menyerahkan dua ukiran kayu sebelum ia melangkah menuju pintu keberangkatan. "Aku membuatnya sendiri—" "Tidak mungkin!" Yashinta memotong. Bagaimana mungkin mahkluk setengah-setengah ini bisa mengukir kayu seindah ini. Dengan masing-masing bergambar beruang salju sedang bermain. Pohon-pohon cemara. Bukankah ia tidak pernah melihat Goughsky melakukan kerajinan tangan itu selama di basecamp. "Aku membuatnya saat kalian masih sibuk mendengkur tidur shubuh-shubuh. Terserah Yash sajalah. Percaya atau tidak," Goughsky tertawa, mengangkat bahu,

www.rajaebookgratis.com

"Berikan ke Delima dan Juwita, hadiah dariku. Dari paman setengah-setengahnya.... Kalau kau tidak keberatan, bisikkan ke telinga-telinga kecil mereka, selamat datang di dunia yang indah." Sejak saat itu, Yashinta sedikit banyak menyadari beberapa hal. Cerita-cerita hebat masa kecil Goughsky benar. Ayahnya yang bekerja di Siberia, salah-satu teknisi pengeboran ladang minyak di sana. Sebelumnya, ayah Goughsky pemah kerja di pengilangan minyak Arun, Aceh, makanya menikah dengan wanita Indonesia. Sayang, tragedi badai salju menghabisi komplek ladang minyak di Siberia. Meninggalkan Goughsky yang baru berumur enam tahun. Yatim piatu. Dibesarkan kerabat di pinggiran hutan salju. Makanya pemuda Uzbek iiu jauh lebih tangguh dan tahu lebih banyak tentang kehidupan liar dibandingkan Yashinta. Cerita soal memiting beruang salju raksasa itu benar adanya. Fase sosialisasi proyek kepada penduduk lokal juga membuat Yashinta menyadari sisi lain Goughsky. Pemuda bule itu memang tidak sok akrab, sok alim, dan sok sebagainya. Penduduk yang suka sekali menangkapi elang jawa itu jauh lebih menyukai Goughsky dibandingkan peneliti lokal lainnya. Mereka lebih menurut dengan kalimat-kalimat pemuda Uzbek itu. Yang meski saat memberikan penyuluhan, intonasi melayunya masih terdengar agak ganjil. Dan yang lebih penting lagi, tentu saja Yashinta mulai menyadari kalau mahkluk setengah-setengahnya itu cukup tampan. Menatap mata birunya.... Jadi sejak itu, Yashinta dan Goughsky mulai terlihat rukun, membuat rekan peneliti lokal lainnya lebih sering menggoda, "Kalian sejak kapan pacaran?" Maka Yashinta akan melotot marah. "Apa kubilang dulu? Bertengkar sekarang, bersenang-senang kemudian!" Kalau yang ini, Goughsky ikutan melempar spidol. Membuat yang lain semakin semangat menggoda. Seminggu berlalu, Mr dan Mrs Yoko kembali ke London dengan setumpuk progress report, Yashinta baru tahu, saat Goughsky kuliah di Belanda, Mr dan Mrs Yoko-lah yang menjadi sponsor, sekaligus menjadi anak angkat pasangan tersebut. Jadi tidak mungkin Goughsky sibuk mencari perhatian untuk mendapatkan dana penelitian kepada keluarga kaya itu. Justru sebenarnya, Goughsky lah yang merekomendasikan keluarga Yoko untuk mendanai penelitiannya, Memasuki bulan-bulan terakhir proyek konservasi mereka, kedekatan Yashinta dan Goughsky sudah sedemikian rupa berubah. Tidak ada lagi seruan-seruan sebal. Teriakanteriakan marah. Jawaban-jawaban ketus. Bagaimana tidak? Saat Goughsky harus presentasi ke London, Yashinta justru uring-uringan di basecamp, Bosan. Tidak seru. Tidak ada yang jahil dan mengajaknya bertengkar. Selama dua minggu tidak ada yang menatapnya seperti anak kecil keras kepala. Tidak ada yang mentertawakannya. Benar-benar tidak ada. Terasa sepi. Ah, si bungsu keluarga Lembah Lahambay, yang dulu muka imut menggemaskan miliknya begitu riang menatap berang-berang mandi di sungai, yang suka sekali berlarian di lereng lembah, akhimya jatuh cinta. Maka tersipu malulah Yashinta saat kolega peneliti lokal bilang, "Gough, selama kau pergi dua minggu.... Kau tahu, ada yang selalu berdiri di menara 9 malam-malam, menatap bulan lamat-lamat, berharap menemukan wajahmu." Yashinta menimpuk rekan kerjanya dengan sepatu. 42 BIDADARI - BIDADARI SURGA "KAU ada di Four Seasons Hotel, Miss Headstone. Kamar suite terbaik yang kami miliki. Aku manajer hotel ini, ada yang bisa kubantu?"

www.rajaebookgratis.com

Goughsky nyengir, menatap wajah lebam Yashinta. Wajah yang mulai sadar. Matanya mengerjap-ngerjap. Menatap sekitar. Ingin tahu. Di mana ia sekarang? Seperti biasa, Si Mata Biru nya yang duduk di sebelah lebih dulu mengendalikan situasi. Menjelaskan sambil bergurau. Yashinta berusaha duduk. Sakit. Semua bagian tubuhnya terasa sakit. Tapi ia bisa beranjak duduk. Kaki kirinya di gips. Tulangnya ternyata hanya retak, tidak patah. Luka di badannya sudah dikeringkan. Menyisakan gurat lebam membiru hampir di sekujur tubuh. Kepalanya di bebat kain, ada dua luka di sana. Jadi rambut panjangnya yang indah tertutupi. Lima belas menit Goughsky tiba di posko awal, helikopter milik Mr dan Mrs Yoko, yang sedang ada urusan bisnis di Indonesia juga tiba. Pasangan paruh baya itu kebetulan sedang berada di sekitar Gunung Semeru. Berbaik hati mengirimkan helikopter. Jadi tubuh pingsan Yashinta bisa segera dilarikan ke rumah sakit kota provinsi terdekat. Mendapatkan pertolongan pertama. "Kau sama sekali tidak terllhat cantik lagi, Miss Headstone." Goughsky nyengir amat lebar. Bahkan tertawa. Membantu Yashinta duduk bersandarkan bantal-bantal. Yashinta tidak menjawab.Tubuhnya masih mengumpulkan tenaga. Kalau sedikit sehat, ia otomatis akan mendelik, menyahut ketus, pura-pura marah. Ia sedang membiasakan diri menatap ruang rawatnya yang terang benderang. Matanya silau setelah pingsan dua puluh jam. Berjalan menyeret kakinya selama dua belas jam. Kemudian pingsan lagi enam jam. Di luar sana semburat merah mulai terlihat, Pagi datang menjelang. "Jam berapa sekarang?" "05.30, masih sempat untuk shalat shubuh—" Yashinta memejamkan mata. Mengangguk. Kepalanya masih terasa nyeri. Berusaha mengingat kejadian dua hari terakhir. SMS dari Mamak. Bergegas turun dari puncak Semeru. Kakinya yang menginjak batuan getas. Jatuh, Menghajar dahan-dahan. Entahlah.... ia lupa. Yang Yashinta ingat ia justru sedang bermimpi setelah itu. Duduk seharian melihat anak berang-berang bermain di sungai. Celap-celup. Puas sekali. Membuatnya lupa waktu. Hingga Kak Laisa menepuk bahunya. Mengajak pulang. Cahaya-cahaya itu. Ia yang siuman. Tubuhnya yang terasa sakit. Kakinya yang patah. Mengigit bibir, berjuang untuk keluar dari lembah tempat ia jatuh. Melangkah tertatih dengan bantuan dua tongkat kayu di tangan. Turun. Ia harus bergegas. Kak Laisa menunggu di perkebunan mereka. Kak Laisa? "Kak Lais?" Yashinta menoleh ke Goughsky. "Baik.... Kak Lais baik-baik saja. Lima belas menit lalu Profesor Dalimunte menelepon, Kak Laisa baik-baik saja, Kau tahu, saat Profesor Dalimunte menelepon, tiga monster sibuk menyela, sibuk berteriak kapan kau tiba. Mereka seperti lupa kalau Wawak mereka sedang sakit keras." Yashinta tertunduk, menghela nafas, sedih. Bagaimanalah? Dengan gips di kaki, dengan tubuh lemah seperti ini, bagaimanalah ia bisa segera pulang. Kak Laisa pasti menunggunya.... Kak Laisa yang selalu ada ketika ia butuh. Sekarang? Saat Kak Laisa sakit keras dan membutuhkan adik-adiknya? Tubuh Yashinta bergetar menahan sesak. Ia menangis tertahan. "Kau jangan menangis, Yash." Goughsky menelan ludah. Meski dia tipikal pemuda yang suka bergurau, Goughsky amat perasa. Tak tahan melihat orang lain menangis. Mengingatkan ia dengan masa-masa yatimpiatu. Apalagi yang menangis, Miss Headstone tersayangnya ini. "Aku harus pulang, Gough. Harus segera pulang.... Tapi kaki ini.... Ya Allah—" "Kau akan segera pulang, Yash. Pagi ini juga. Aku berjanji, paling lambat kita tiba di Lembah Lahambay sebelum siang berakhir" Goughsky berkata mantap. "Bagaimana? Bagaimana caranya?" "Kalau Wawak sakit gini, nggak asyik! Kemarin nggak ada yang nemenin kita keliling perkebunan. Padahal Delima sudah bawa sepeda BMX!"

Di luar semburat merah semakin terang. Tentu saja semua itu hasil dari proses yang baik. Saling sombong telapak tangan siapa yang paling indah. gadis kecil enam tahun itu mengurut kaki kanan Wak Laisa." Juwita. Tidak mengerti soal kristal-kristal itu? Begini. kalau proses 'meniru' itu keliru. lantas mengambil kesimpulan. Duduk berkeliling memenuhi kamar Kak Laisa. Keluhan Delima pagi ini tentang kelanjutan cerita dari Wawaknya adalah warisan mekanisme belajar Mamak tersebut. Shalat malam bersama . karena sudah terlanjur menjelaskan bagian yang ini. Masa kanak-kanak adalah masa 'peniru'. harusnya Wak Laisa bisa ngelanjutin cerita sebulan lalu. Dengan segala keterbatasan lembah dan kehidupan miskin. kalian mencari tangkai rumput yang lembut. napa. Berkilau diterpa cahaya matahai pagi.. "Yeee. Dari situlah imajinasi mereka terbentuk. menghentikan gerakan tangannya. Ikanuri dan Wibisana sudah jauh lebih tenang. kalian juga berhak tahu jawaban bagaimana sebenamya Mamak mendidik anak-anaknya hingga menjadi begitu cerdas dan membanggakan. Emang nggak boleh!" Delima mendesis sebal dalam hati. Mamak akan menyempatkan diri lima belas menit hingga setengah jam bercerita." Itu keluhan pertama Delima. tentang keteladanan manusia. Persis sekali ulah Ikanuri dulu waktu kecil. saat bicara dengan Mamak yang usianya hari itu sudah tujuh puluh tahun (meski masih terlihat gagah). Menyuruh adik-adiknya diam. Cie Hui membantu. Laisa sejak umur dua belas tahun. Kata dokter tadi. Dan proses bercerita itu dilengkapi secara utuh dengan teladan. "Kan kalau Wawak sehat. tentang keteladanan hewan dan alam liar (dongeng-dongeng). Mereka baru saja selesai shalat shubuh. Mereka bisa melihatnya langsung di alam sekitar. Tidak ada anak-anak di dunia yang instant tumbuh seketika menjadi baik. Membuat lukisan dengan kristal embun." Itu keluhan kedua Delima. Bersungut-sungut. Ahklak yang baik. mengambil embun dengan tangkai rumput. Berdisiplin. sekalian membenahi posisi infus dan belalai plastik. Lembah mereka. negeri-negeri ajaib. gagang rumput teki misalnya. Saat aku berkesempatan mampir di lembah indah mereka. terbiasa bangun jam tiga shubuh. Celakalah. mengaji bersama. Berusaha memperbaiki duduknya. Menatap anak-anak mereka yang sejak tadi sibuk protes. Mengeluh. ranum. Orang nanya gitu doang. Kerja keras. sahabat Rasul.. meski penat karena dua jam memasak gula aren di dapur. Mamak tidak bisa memberikan mekanisme pendidikan canggih selain bercerita. anakanak yang keliru meniru justru bisa tumbuh tidak terkendali. Tumbuh dengan karakter yang kuat.www. Nah. Jangan sampai pecah. Selepas shubuh. aku mengerti satu hal: bercerita. 'saudara kembar'-nya (mereka lahir dihari yang sama) menimpali. Embun menggantung di buah strawberry yang memerah.. "Kan setelah cerita. Tidak ada gambar-gambar. Membuat kristal-kristal di telapak tangan. Kemudian diletakkan di telapak tangan. keluarga. Laisa tersenyum. Juga tidak ada televisi. Meneruskan mengurut kaki Wak Laisa. "Kalian jangan banyak tanya. Sok mengerti apa yang dokter bilang. Lantas pelan-pelan mengambil embun menggelayut di daun." Intan yang duduk di samping Wak Laisa dengan tissue di tangan menyergah. "Iya.com Delima. Tentang Nabi-Nabi. "Wawak sakit apa sih? Sudah dua hari kok nggak sembuh-sembuh?" Delima bertanya. Ia menunggu cerita-cerita itu. menilai. Lingkungan. dan sebagainya.rajaebookgratis. Teladan yang salah. dan sekitar akan membentuk watak mereka. Wak Laisa nemenin kita jalan-jalan di lereng. Wak Laisa nggak boleh banyak bicara dulu. seusai shalat bersama. Mengurut kaki kiri Wak Laisa. Mereka memperhatikan. karena Mamak tidak bisa membelikan mereka buku cerita. Contoh yang keliru. Juwita juga sudah bawa sepeda.

rajaebookgratis. Bidadara-Bidadara Surgi!" . "Hm. menghabiskan penghujung malam ditemani Dalimunte Bersyukur atas kehidupan mereka. Menimpa wajah Mamak. Diam saja napa. Dulu Yashinta dengan pedenya akan menyela Mamak. Dan niscaya aromanya memenuhi ruang antara keduanya. Pasti tetap lebih cantik Yash. Kalau Abi yang cerita. Meski dialah yang paling bandel belajar mengaji dulu. biar Eyang terus cerita. saat kabut masih mengambang di atas hamparan merah ranum buah strawberry.www.. membersihkan bercak darah. maka Yashinta kecil saat usianya menjejak belasan tahun. Menimpa wajah anak-anak. Eyang sama jagonya dengan Wak Laisa kalau bercerita. Saat cerita-cerita. Tidak seru. Memangnya wangi bidadari itu seperti apa. Kak Laisa sekali lagi tertawa kecil.. Lihatlah Ikanuri dan Wibisana.. "Horee!" Delima berseru senang. seandainya kita bisa mengukurnya seperti timbangan beras. Apakah dengan cerita dan teladan itu maka kelakuan ansk-anak bisa dikendalikan? Belum tentu. Dan sesungguhnya kerudung di atas kepalanya lebih baik daripada dunia seisinya (Hadits Al Bukhari). Eyang tersenyum mendekat. lantas membantu di dapur. Seperti pagi ini. teladan. Menimpa wajah Kak Laisa yang terlihat begitu damai.. kan?" Andaikata ada seorang wanita penghuni surga mengintip ke bumi. kebanyakan ngarangnya. "Pagi ini biar Eyang yang cerita. gadis kecil itu melihat Mamak dan Kakak-kakaknya." Dengan teladan yang ada di depan mata. Suara dan tartil-nya lebih baik. "Lais." Intan mendelik galak. jika ada Ikanuri.. berbagai kejadian itu berhasil memberi sekali saja pengertian. Mereka baik lagi cantik jelita. bidadari atau Delima?" Delima menyela. Waktu itulah yang sering digunakan Kak Laisa untuk berdiri di lereng lembah. "Nyebutnya bidadara. Saat perkebunan strawberry memberikan janji kehidupan yang lebih baik. Ikanuri jauh lebih pandai mengaji. Kebiasaan yang terus ada hingga mereka tumbuh besar. Memperbaiki tudung rambutnya.. Shalat maiam salah satunya. maka mereka akan berubah. Menatap hamparan perkebunan. maka otomatis ia ikut.com Mamak." Suara Eyang memutus wajah-wajah cemberut Delima dan Juwita. "Eyang. maka yang menjadi imam shalat bukan Dalimunte. Melanjutkan cerita Laisa ke anak-anak sebulan yang lalu. meski kemudian tersengai. saat semburat matahari mulai menerabas jendela kamar Kak Laisa yang dibuka lebar-lebar. Membuat Kak Laisa tertawa. cantikan mana. Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al Waqiah: 22). ia akan senang sekali. "Berisik. Mamak bercerita tentang: bidadari-bidadari surga. (Ar Rahman: 70).. Mamak dan Kak Lais tentu saja tak perlu lagi memasak gula aren selepas shalat malam. Anak-anak menoleh. Jangan dibandingkan Abi mereka. shalat malam yang baik seharga seluruh dunia dan seisinya. Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Pagi itu. Pagi itu. tidak perlu disuruh-suruh untuk shalat malam. Eyang?" Delima sibuk menyela lagi. Sejak kecil Mamak mengajarkan ritus agama yang indah kepada mereka. dua sigung itu tetap saja nakal tapi pemberontakan masa kecil mereka memang khas ulah anak kecil yang butuh proses untuk mengerti. Ikut mendengarkan cerita. Intan meraih tissue. Dulu Yashinta juga suka sekali memotong cerita. Mak?" Dan biasanya Ikanuri yang kesal cerita Mamak dipotong terus menjawab asal.. Naik ke atas ranjang besar Wak Laisa. Andaikata di sini ada Yashinta. itu cerita favoritnya waktu kecil. niscaya dia menerangi ruang antara bumi dan langit. "Bidadari itu kan untuk perempuan? Kalau untuk anak laki nyebutnya apa. "Wuih? Keren..

"Tetap memanggilmu. berbuat baik. Mereka sedang duduk di ruang depan rumah panggung. bayi lebih senang tidur di ayunan kain." Yashinta menukas cepat. "Sudah sehari kau pulang. Membuat imajinasi mereka terbang. seolaholah adalah telur yang tersimpan dengan baik (Ash-Shaffat: 49). Wulan. Tapi Mamak sudah memasang dua ayunan dari kain. Yashinta menyeringai. sejak kapan cqba Kak Laisa macam Kak Ikanuri. Mengangkat bahu.www. Ikutan menggodanya. Bukannya semua terlihat biasa-biasa saja. Kanak-kanak selalu memberikan respon yang sama atas mekanisme ini. Tetap sok tahu. Seperti lembayung senja. dengan sungging senyum dan satu kalimat doa: Ya Allah. Sebelum semuanya benar-benar terlambat. Membuat Cie Hui. Helikopter itu melesat dengan cepat. ada pemahaman arti berbagi. jadikan Lais salah satu bidadari-bidadari surga.. Tidak sekarang.rajaebookgratis. Tapi semakin ia rnembantah dan menghindar.com Tidak dulu. Tetapi waktunya tinggal sedikit lagi. Mahkhluk setengah-setengah itu. Kak Laisa memejamkan matanya. 'Miss Headstone'? 'Miss Headstone'!" Kak Laisa menirukan intonasi Yashinta selama ini saat mengulang kata-kata ini. cara-cara pedesaan lebih menyenangkan. Eyang terus bercerita hingga lima belas menit ke depan. Di dalamnya diberikan bantalbantal lembut. Melotot kepada Kak Laisa. Delima dan Juwita yang baru enam bulan tertidur lelap di ayunan.. Yash!" Kak Laisa memainkan matanya. Baru terhenti saat Delima yang tidur di ayunan merengek. "Ya. Kak Laisa jatuh tertidur. Lagipula di lembah. "Dia tetap menyebalkan. dan selalu bersyukur yang bisa diselipkan. "Ada apa ini? Ada sesuatu yang kami tidak tahu?" Ikanuri yang baru melangkah masuk dari pintu depan bertanya. Mereka baru pulang dari acara syukuran kecil di rumah Bang Jogar.. Diiringi Wibisana dan Dalimunte. Membuat ruang depan rumah panggung dipenuhi tawa. Wulan dan Jasmine sebenarnya membawa box bayi.. "Apanya?" "Kau tidak sibuk lagi — " Muka Kak Laisa terlihat jahil. Menahan tawa. "Sibuk apanya?" Yash yang sedang memangku Intan bingung. semakin ia menunjukkan perasaannya.. tidak ada apa-apa.. Mengancam Kak Laisa dan yang lain agar berhenti bertanya. Sementara ratusan kilometer dari arah barat. kan Yash?" Malam itu menyenangkan menggoda Yashinta. Goughsky yang sok pintar. Yashinta harus tiba di perkebunan strawberry. Sebelum matahari tenggelam.. Hanya menunggu Yash. kok. Beramai-ramai. dan tanpa mereka sadari.. Hanya bertanya kabar rekan kerja Yash di Gunung Gede. "Tidak ada apa-apa. disambung dengan tali. Suara Mamak berkata lembut terngiang di telinganya: bidadari-bidadari surga." Kak Laisa tertawa. . Menggoda.. dibandingkan kotak. Pagi semakin tinggi. Tiga monster kecil ini memberikan energi tambahan untuk bertahan lebih dari 48 jam. Menjuntai dari atap ruang depan. Cepat sekali muka Yashinta memerah. adiknya tersayang. Ia pagi ini benar-benar merasa lelah. kok!" Yashinta menjawab sebelum yang lain membuka mulut. Berkali-kali menghindar. tapi kau tidak sibuk Lagi bilang Goughsky yang menyebalkan. Kebetulan lagi di lembah. Kata Mamak. dan Jasmine ikut tertawa. Bahkan Mamak ikut tertawa. Goughsky yang sok tahu. Melihat Yash salah tingkah. Berusaha mengalihkan perhatian dan muka merah padam dengan memainkan tangan Intan. 43 ROMANTISME MATA BIRU "ADA yang berubah darimu.

. akhirnya Goughsky ikut pulang ke Lembah Lahambay. Saat berjalan dengan Kak Laisa. "Wah. akrab dengan Ikanuri dan Wibisana. saat berjalan bersisian dengan Kak Laisa menemani Intan mengelilingi lereng perkebunan. Beruntung Intan mendekati mereka.www. dan kami semua bisa berkenalan langsung dengan mahkluk setengah-setengah itu. deh!" Enam bulan kemudian. Kak?" Yashinta yang segera tahu kemana arah bicara pura-pura tidak mengerti. atau IkanuriWibisana dengan Wulan-Jasmine. bahkan sejak pandangan pertama di London. Berdiri membiarkan Intan yang sudah empat tahun berjalan sendiri tidak tahu arah. Mengerti benar menempatkan diri di hadapan Mamak. Entah hendak bilang apa. Memenuhi kantong-kantongnya.. Yang celakanya. Mereka tidak saling mengungkapkan perasaan secara langsung. Wajah cantik itu kebas. "Tentu saja aku tahu. malu-malu menyampaikan undangan itu. Hanya satu yang keliru. buahnya besal-besal. Membantu Yashinta lebih santai. Mereka tahu batas-batasnya. Goughsky mengangguk. meski matanya terlihat sekali bercahaya. Memetik buah-buah strawberry. Goughsky sudah menjadi 'paman' yang hebat buat Intan. Mamak. Ajaklah dia ke lembah ini. Wajahnya yang menjawab. berseru. Si mata biru itu menyetujui ide Kak Laisa. Dia sudah mengenal dengan baik keluarga ini dari cerita-cerita Yashinta di basecamp. Semakin tersipu. Membaca banyak penelitiannya... . memutus pembicaraan. "Tante. kan. Tapi bukankah perasaan itu tidak selalu harus dikatakan? Cara menatap. ternyata Profesor punya adik sekeras kepala kau!" Tertawa. melewati jalur-jalur batangstrawberry. Tante. Yash. Pada berisik. ada yang mau ketemu dengan calon mertua!" Goughsky ikut tertawa lebar. Saat Kak Laisa bilang tentang: apalagi yang kalian tunggu. Kakak ingin melihat mata birunya. sih. "Kau menyukainya?" "Menyukai apaan sih. Kantong Intan sudah penuh semua. Bahkan di bagian dunia manapun. cara bertutur sungguh cermin dari isi hati. Aku sudah mengenal Profesor Dalimunte ketika kuliah di Belanda. Tangisan Delima menyelamatkannya. Pria Uzbek itu seperti biasa cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.com "Tuh. Jadilah itu kunjungan pertama Goughsky.. Jadi saat Yashinta malu-malu mengajaknya.. "Kau menyukai Goughsky?" Muka Yashinta langsung tersipu. ditimpa cahaya matahari pagi. Lagipula sama seperti kakak-kakaknya. apalagi yang kau tunggu? Umurmu sudah 33 tahun. menggendong Intan di bahu. "Kalau begitu. yang mukanya sepanjang hari memerah. Menjawab gurauan Kak Laisa dengan baik. Dan sebelum senja tiba. Apakah itu seindah yang sering kau ceritakan!" Yashinta terbatuk pelan. Yashinta tidak menjawab. Yang aku tidak tahu dan benar-benar tidak menduga selama ini. Esok hari... Yang membuat kunjungan itu menjadi kacau-balau. Goughsky mengangguk mantap. Tante dan Wawak pegang sepaluh. kau sudah terhitung 'gadis tua' seperti Kakak!" Kak Laisa tersenyum. Dan keluarga itu juga sudah mengenal baik dirinya juga melalui cerita-cerita Yashinta di perkebunan setiap pulang.. Kabar ikut pulangnya Goughsky ke perkebunan membuat basecamp ramai oleh seruan.. "Akan menyenangkan sekali jika Kakak. Yashinta masih saja tersipu malu. Kak Laisa memegang lengan Yashinta lembut. kunjungan yang ditunggu-tunggu Kak Laisa.." Yashinta buru-buru melangkah mendekati ayunan. Dan cepat nyambung bicara dengan Dalimunte. Urusan mereka sama seperti Dalimunte dan Cie Hui. Yashinta tidak mengenal proses pacaran. ternyata justru sekaligus menjadi kunjungan terakhir Goughsky. Berusaha menunduk. Dia menyukai Yashinta.rajaebookgratis.

" Ruang depan itu senyap. Apa yang dulu Kakak sering bilang? Kau tidak usah menunggu Kakak. Menyeka pipinya. Menatap Yashinta yang entah mengapa justru diam seribu bahasa.. Lantas menoleh ke arah Yashinta... "Kau menyukainya atau tidak?" Kak Laisa mendesak. Menuruni anak tangga. gadis itu mendadak berdiri. "Apa bedanya.. Cie Hui menggenggam jemari Dalimunte. Lima belas detik senyap. Ikanuri dan Wibisana sih nyengir lebar. seperti dua sigung nakal itu.. Tahu sekali. bertanggung-jawab... dan saling menyukai. Bingung. Mamak menatap wajahGoughsky lamat-lamat. Urusan ini benar-benar tidak akan mudah seperti Dalimunte. bangkit berdiri. Sudah lebih dari siap untuk berkeluarga. Aku sungguh mencintainya. pandai membawa diri.. Melangkah keluar. Karena dia amat yakin Yashinta juga menyukainya. Memegang lengan Yashinta yang duduk menjeplak di lembabnya tanah.. terharu..... Bintang-gemintang. Bilang sebelum menyampaikannya ke Mamak!" Yashinta memotong. tidak pernah kubayangkan.Yashinta tetap diam seribu bahasa. Sesak atas kerinduan memiliki ayah.... Ia tidak melarang.. Karena Kakak lah yang memintanya melakukannya segera.. Bahkan Intan yang tadi sibuk merengek minta dibuatkan ukiran beruang salju juga diam. Sisanya bisa dicari saat menjalani pernikahan.... Wangi semerbak perkebunan menyergap hidung. "YASH!" Goughsky terkesiap. apalagi yang mereka tunggu? Maka malam itu Goughsky melakukan kesalahan fatal. itu sudah cukup. hendak mengejar. ibu.. Biar ia yang mengajak bicara Yashinta. Yash. kakak.. Dan celakanya.. ketika mereka berkumpul di ruang depan rumah panggung.. Sejak dulu. adik.. Saat Goughsky mengatakan kalimat. sebuah keluarga. ijinkan aku memperistri Yashinta. kan? Bukan soal bilang dulu masalahnya hingga kau lari begitu saja dari ruang depan?" Yashinta diam kembali. melewati pintu depan. bagi Mamak. kau sepatutnya marah pada Kakak. Menyeka matanya yang basah..www.rajaebookgratis. Sekali ia mengambil keputusan. lumayan.. Yash? Kau jelas menyukai Goughsky. Bertahun-tahun hidup tanpa keluarga. Goughsky yang tidak terlalu paham masalahnya justru akan membuat semuanya menjadi puing tidak terselamatkan.com Goughsky menyetujui ide Kak Laisa." . Mamak. Gadis itu sejak kecil amat keras kepala. "Kakak tahu sekali apa yang kau pikirkan. Ijinkan. tapi juga tidak menyuruh. Malam ini. Kak Laisa menyeka pelupuk matanya. Tidak mengerti. seperti menemukan kembali makna keluarga yang utuh. Mereka sudah lebih dari dewasa.. tapi masih saktian kalimat mereka dulu waktu melamar Wulan dan Jasmine.... ijinkan aku belajar kata-kata itu. Berlarian menuju lereng perkebunan.Tersenyum. Tanpa bicara terlebih dahulu dengan Yashinta. Sekarang semua menoleh ke arah Yashinta. Goughsky meminang Yashinta. Kak Laisa tahu betul itu. Tentu saja Kak Laisa tahu permasalahannya. aku sejak kecil tidak pemah belajar dengan baik arti kasih sayang keluarga.. sambil menyentuh takjim lengan Mamak. Bukan itu masalahnya. Baru sehari di sini. Menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan—" "Tapi harusnya Goughsky bilang ke aku.. "Kalau kau marah Goughsky tidak bilang dulu. Bulan sabit seperti digelantungkan menghias langit. Bagaimanalah jalan cerita berubah jadi seperti ini? Ada apa dengan Miss Headstone-nya? "Biar.. Yashinta keras kepala... Biar aku yang menyusulnya!" Kak Laisa menahan lengan Goughsky. Sepanjang calon pasangan mereka berakhlak baik. Mamak menunggu anggukan dari Yashinta..Yashinta hanya diam. ijinkan aku menjadi bagian dari keluarga ini. urusan perjodohan tergantung anak-anaknya.. "Kau menyukainya?" Kak Laisa bertanya tegas. "Umurku enam tahun saat Ayah-Ibu pergi ditelan badai salju. maka butuh waktu lama melunakkannya. Membuat rasa suka itu menjadi kebencian.

Membuat Kak Laisa tertunduk dalam.. "Kau tidak perlu menunggu Kakak? Ya Allah.. menjadi penghalang kebahagiaan mereka. Ada tiga truk di sana. Rekan-rekan peneliti di basecamp urung menggodanya saat tiba..... Itu sungguh bukan keputusan mudah. apa aku harus selalu menjadi penghalang pernikahan adik-adikku. Bahkan mungkin Kakak ditakdirkan tidak akan pernah menikah...www. Semua ini memang benar-benar sederhana baginya.. "Tidak ada yang tahu kapan Kakak akan menikah. Tetapi pembicaraan di lereng perkebunan itu tidak berguna. Ikanuri dan Wibisana... Meski tahu secara utuh apa yang ada di kepala Kak Laisa. Memutuskan keluar dari proyek konservasi. "Kau sudah 33 tahun.. Semua itu benar-benar sederhana baginya. Menatap wajah adiknya lamat-lamat. Lais sungguh ihklas dengan tegala takdirMu." Yashinta tetap diam. "Maafkan aku yang tidak mengerti situasinya.. tidak membuat Yashinta berubah pikiran sedikitpun.... Bilang betapa ia juga amat . Berjejer. apa aku harus selalu menanggung penjelasan ini kepada mereka. Sungguh. Dengan semua yang telah dilakukan Kak Laisa demi mereka." Suara Kak Laisa serak. Untuk pertama kalinya.. tapi penjelasan Profesor Dalimunte membantu banyak. Aku sungguh mencintaimu. Ia merasa cukup dengan segalanya.. Kalimat penjelasan... "Maafkan aku yang tidak mengajakmu bicara lebih dulu.." Suara Kak Laisa menghilang di ujungnya. Kau harusnya tahu persis itu. Yashinta belum mengalami sendiri betapa susahnya memutuskan untuk menikah.. Besok pagi.. Wajah lelah dan kusut Goughsky menjelaskan banyak hal. Sudah saatnya menikah—" "Aku tidak akan menikah sebelum Kak Lais menikah!" Yashinta memotong. Lihatlah. maka sempurna sudah Kak Laisa dilintas oleh seluruh adik-adiknya. Tidak pantas.." Goughsky menatap bulan yang mulai penuh. Apalagi dengan fakta menikahnya Yashinta. Juga dingin di hati. Lebih banyak diam.Menatap hamparan perkebunan. Rasa sepi. " Yashinta menggigit bibir. aku akan tetap menunggu. kalimat seperti itu meluncur dari mulut Kak Laisa.... Dan Yashinta seketika menangis tertahan. "Yash. melintas Kak Laisa. setelah Dalimunte. entah bagaimana aku harus melukiskan perasaan tersebut karena teramat besarnya cinta ini. Bagaimanalah? Kalau saja ia tidak menahan diri.. berapa kali lagi Kakak harus bilang hingga kau akhirnya mengerti?" "Yash tidak akan menikah... Suaranya serak. Menggigit bibir.. Memeluk Kak Laisa erat-erat. Yashinta hanya diam.. Mereka berdua sempat bicara sebentar di malam sebelum kepulangan Yashinta ke Bogor. Adiknya yang sekarang mulai terisak.. Lais sungguh ihklas dengan semua keterbatasan ini.. Getir.. Merapatkan syal di leher. Goughsky yang mendapatkan penjelasan dari Kak Laisa dan Dalimunte pulang lebih dulu.. Yashinta tiba tiga hari kemudian.. Menyisakan kerlip lampu gudang pengalengan. malam itu ia justru hanya mengeluh telah menjadi penghalang jalan kebaikan adikadiknya.. Tapi mati-matian menahan diri.. Apa yang dulu dibilang Ikanuri benar. pelan mendesah ke langit-langit. Kerinduan. " Ya Allah. Biarlah seluruh bukit dan seisinya menjadi saksi.. Ya Allah.. Tidak ada yang tahu. Matanya sembab.rajaebookgratis. Kau mungkin benar. Ia dari tadi ingin sekali menatap wajah si mata birunya. Meski mungkin aku tidak akan pernah mengerti.com Kak Laisa mendekap lembut bahu adiknya.. tidak pantas mendahului Kak Laisa menikah. dari tadi ia sudah menghambur di pelukan mahkluk setengah-setengahnya. Kesendirian.. Kak Laisa yang selalu menganggap Yashinta sebagai adik tersayangnya.... Keras kepala.." Gadis itu memotong keras kepala. Langsung mengemasi barang-barang. Ya Allah. Sepenuh hatinya. Mengusir rasa dingin di kulit. Yash.... Yash. Tapi setiap kali harus mengalami ini.. Senyap.

com mencintainya. Apalagi saat Kak Laisa bilang soal cairan di ketiak.. Gemetar meletakkannya di bale bambu. Sampai mati.www. akhirnya tidak kuasa mengalahkan fisik yang semakin lemah. . Aku akan selalu menunggumu. saat ada hewan buas lain yang mengincar anak-anaknya. mengorbankan seluruh hidupnya demi adik-adiknya. itu menjadi racun mematikan. Tidak kuasa melihat jejak Yashinta di mana-mana. Goughsky juga berhenti dari proyek konservasi elang mereka. Ia selalu tngin terlihat baik-baik saja. Dan mungkin kebijakan seperti itulah yang dimiliki Kak Laisa. mengusapkannya ke seluruh tubuh. Konservasi alap-alap kawah. Jika dua cairan ketiak kukang digabungkan. Yashinta tertunduk. Belajar langsung dari alam liar. Hanya tinggal masa transisi sebelum diserahkan kepada petugas Taman Nasional Gunung Gede. Dua hari lalu. Juga beberapa reporter senior National Geographic. cemas. pernikahan. Yashinta memutuskan untuk memulai proyek sendiri. Yash!" Goughsky yang berdiri di sebelahnya mengulurkan sesuatu. Bagaimanalah ia akan melintas? Setelah begitu banyak kebaikan Kak Laisa? Kenangan-kenangan itu melintas di kepalanya. "Itu milik Ibu-ku. Hubungan ini tidak akan berhasil. Kak Laisa yang menggendongnya pulang dari jembatan kayu. maka lebih baik ia mundur. Satu-satunya yang tersisa di rumah kami saat badai salju itu pergi.. Yash!" Tertawa melihatnya ketakutan saat seekor kukang melompat. Kak Laisa yang mengajarinya tentang alam. Kak Laisa menolak dirawat di rumah sakit.. "Itu kukang. Kalimat terakhir yang diucapkarmya di lereng waktu itu menjelaskan betapa lelahnya Kak Laisa. Kabar baiknya proyek mereka sudah selesai di bulan kedua belas. ia terjatuh di lereng perkebunan. dan suster yang didatangkan dari sana. Kak Laisa sejak pembicaraan di lereng itu tidak banyak lagi membujuk Yashinta. Tersuruk-suruk sambil menangis.. Tetapi energi yang hebat itu. Lebih baik mereka saling menjauh. Yang akan membunuh ular atau pemangsa lain saat memakan tubuhnya. induk kukang akan mengambil cairan di ketiak kiri dan kanannya. bahkan prof esor biologi di sana tidak tahu fakta tentang kukang tersebut. "Kau tahu? Saat ada ular pemangsa yang mengancam sarangnya. Yashinta menelan ludah. "Kaubawa ini.. Tidak ada yang tahu kalau Kak Laisa bolak-balik ke rumah sakit kota provinsi. Di tandu pulang.. Itu pembicaraan mereka enam bulan lalu.. setelah bertahan selama seminggu dengan infus dan belalai plastik. Hingga kapanpun. yang mewarisi kebijakan alam Lembah Lahambay yang tahu. Semakin ganas. menjadikannya satu. dokter..rajaebookgratis. Kanker paru-paru nya sudah stadium III. kecintaan atas adik-adiknya. Enam bulan sebelum SMS Mamak terkirimkan. Pergi ke Gunung Semeru. Susah payah Kak Laisa menyembunyikan penyakit itu di hadapan adik-adiknya. Berbisik. Hanya orang seperti Kak Laisa. induk kukang akan habis-habisan mempertahankan sarang. Kau tahu apa gunanya pengorbanan itu? Agar anak-anaknya tetap selamat. Seuntai kalung. Induk kukang mati bersama dengan pemangsanya!" Saat itu Yashinta kecil hanya tertawa. Sebulan yang lalu. "Kakak mohon. berhiaskan delima. Menunggu hingga kapanpun.. Kak Laisa yang berteriak-teriak memanggil Mamak.." Dan Yashinta sudah menangis terisak. rasa cukup dan syukur atas hidup dan kehidupan. Peregrin. SMS itu terkirimkan. jadi peralatan. Jika mereka tidak bisa bergerak ke fase komitmen. Membuat Mr dan Mrs Yoko berteriak-teriak tidak mengerti. bangunlah Yash" Kak Laisa yang bahkan tulus menukar nyawanya demi kesalamatan adik-adiknya. Dan ketika ia mati. Tapi ia tidak akan pernah bisa melintas Kak Laisa. sekarat. Tapi saat kuliah di Belanda. Meminum obat berkali-lipat dosis normal menjelang jadwal pulang dua bulanan mereka. Menunggu. Dia sudah amat lelah.

Sakit kakak kalian semakin parah. Pertama kali singgah. Suara orang mengaji di surau terdengar. Sungguh begitulah hidup ini. lantas menekan pedal gas. Sibuk melaporkan ponten masing-masing. yang lebat mengelilingi lembah.. Rumahrumah semi permanen yang asri. di senja itu akhirnya tiba (sesungguhnya ada lima sms yang terkirimkan. Dari atas bukit ini. Aku menolehkan kepala ke garis cakrawala. Senang. Membalas salam hangatnya. Menderu. Benar-benar tidak ada waktu lagi. meluncur menuju rumah panggung itu.. pulanglah. aku baru saja memetik satu buah strawberry mereka. Dan Mamak sambil tersenyum akan bilang. Lebih bising. Tentu saja. Buah strawberry terlihat merah di seluruh tepian perkebunan.. Nanti akan bilang ke Mamak Lainuri. bagianku tidak terlalu penting di keluarga ini. aku tersenyum. Tere. Meski derumnya lembut." Keluarga yang menyenangkan. Menunggu saat adzan maghrib setengah jam lagi.. Seperti mengalir bersama angin lembah yang segar. Tapi ada yang lebih menderu lagi. Tidak peduli. Si bungsu dari Lima bersaudara. Menjadi saksi urusan ini. Aku menghela nafas panjang.www. Satu jam lalu. Hamparan perkebunan strawberry sejauh mata memandang. Begitu terpesona melihat lembah mereka. Dari atas bukit ini kalian bisa melihat kanopi pepohonan. Berdiri sejenak di atas bukit tertinggi Lembah Lahambay. Lantas apa peranku dalam cerita ini? Aku hanya saksi hidup. Susah. Belum halal di makan kalau belum bilang.. Meski mungkin sore ini. Langit terlihat merah. anakku." 44 PERNIKAHAN TERAKHIR SENJA datang untuk ke sekian kalinya di lembah indah itu.. akan mengakhiri kisah hidupnya. suka atau tidak suka. Awan-awan putih terlihat memerah.. Kau bagian dari keluarga ini. Jalan selebar tiga meter yang sekarang beraspal mulus. Datang. Aku lembut memetiknya satu. helikopter itu mendekat. Juwita dan Delima duduk melingkar di ranjang besar Wak Laisa. siap atau tidak. Lihatlah.. satu untukku). Menunggui bersama yang lain.. melambaikan tangan. Tidak peduli meski seseorang itu anggota keluarga yang amat kita cintai.. mungkin besok pagi. Bermalam di rumah Mamak Lainuri. Satu dua lampu rumah mereka mulai menyala. Terbang rendah dengan kecepatan penuh.. Pergi. Memasukkan buah itu ke saku jaket. Aku yang menerima SMS dari Mamak Lainuri dua hari lalu. Selalu hanya memakan satu butir buah strawberry setiap kali datang ke sini. "Kau aneh sekali. Buah yang besar. Sibuk . Menciumnya lekat-lekat. Kerlip kuning yang menawan. Dokter bilang mungkin minggu depan. boleh jadi pula nanti malam. Di batasi kawasan hutan konservasi. begitu terpesona melihat kehidupan mereka. Dan menjadi sahabat baik keluarga itu. waktu yang berputar akan mengambil seseorang. Begitu terpesona melihat apa yang telah dilakukan keluarga ini demi kehidupan yang lebih baik bagi penduduk lembah.rajaebookgratis. Membawa anggota terakhir keluarga mereka. Seekor elang melenguh di kejauhan. Seperti villa-villa indah. Menghidupkan mesin. Anakanakku sebelum semuanya terlambat. Aku tersenyum lebar. Hanya turis yang pernah mampir. Kembali menaiki motor besarku. empat desa yang terdapat di lembah itu terlihat berjejer rapi.. Turis yang selalu singgah dengan ransel besar di punggung.. tapi amat bertenaga. Memarkir motor besarku di jalanan. saat Intan. sibuk bercerita tentang sekolah masing-masing (Wak Laisa yang meminta mereka bercerita). ranum menggoda. Tersenyum.com "Pulanglah. Dan selalu saja merasa wajib untuk bilang sudah memetiknya. Ayat-ayat itu terdengar menyenangkan. menuliskan kembali kisahkisah masa kecil mereka yang indah. Mungkin pula jika mereka mengijinkan. Di batasi oleh sungai besar dengan cadas setinggi lima meter itu. Bersamaan dengan lampu jalanan. sore ini sempurna merah..

Mengagetkan yang lain. Bergegas belarian di atas anak tangga. "Jangan. Meluncur menjemput ke gudang pengalengan. Cemas. Tertawa. berusaha menarik tangan putrinya.com melaporkan soal 'Safe The Earth'. Peralatan medis berdengking. Maka rusuh dokter mengembalikan kesadaran Laisa. Hamster belang Intan tiba-tiba ikut loncat ke ranjang. "RIO JAHAT!" Intan berteriak sambil menangis. Mata gadis itu sembab. Setengah jam berlalu. Masih merasa amat bersalah. pelan membuka matanya saat Yashinta menyenruh lembut jemari kakaknya. Menatap wajah sulungnya lamat-lamat. Mamak bangkit dari duduknya. Yashinta datang dengan digendong Ikanuri dan Wibisana. Tidak bisakah helikopter ini terbang lebih cepat. Mendesah berkali-kali. sejak dari rumah sakit ia menangis. Terisak sudah. Lantas mendarat di halaman gudang pengalengan. Wajah yang tetap tak sadarkan diri. Grafik hijau itu putus-putus. Membawanya menaiki anak tangga. Wulan.www. . Ikanuri dan Wibisana menuruni anak tangga. Eyang Lainuri duduk di sebelah ranjang. Tertatih-tatih. Membukanya lagi di beranda depan. Juwita dan Delima sekarang duduk di pojok kamar. Takut-takut Mereka amat gentar melihat Wak Laisa-nya yang mendadak kejang-kejang. nafas Kak Laisa kembali normal. Tidak sabaran dengan kecepatan maksimal helikopter. helikopter itu tiba. Dan entah dengan kekuatan apa. terlanjur loncat dan kabur duluan saat Intan masih bersikukuh hendak menghukumnya. Membuat Mamak menoleh. Maka tidak seperti yang lain. Semua ini gara-gara hamster belang miliknya. rusuh pula yang lain membujuk Intan agar diam. Menderu. membujuk agar ia meletakkan kembali hamster belangnya. Menyibak daun pintu. Mamak langsung mendekap Yashinta erat-erat. sayang. Menatap resah hamparan biru lautan. bersiap melemparkannya lewat jendela. Suara baling-balingnya sampai lebih dulu. Yashinta didudukkan kembali di kursi roda. Berjanji dalam hati akan menghukumnya besok lusa. Apalagi Yashinta. Mamak mengerti hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan Laisa. kaget sekecil itu membuatnya tersengal. meski tetap tak sadarkan diri. "Itu Yashinta — " Dalimunte berkata pelan. dan Jasmine yang tidak tahu apa kabar Yashinta selama 48 jam terakhir. Yashinta amat takut.. Saat itulah. situasi berangsur-angsur terkendali. Akhirnya adik bungsu mereka tiba. Takut. Menangis. "Rio Jahat. Mereka bahkan menangis bingung.. Berkali-kali terhenti. diantar Goughsky. Menyisakan senyap di kamar Kak Laisa Mamak membimbing kursi roda Yashinta mendekati ranjang Kak Laisa. Melihat Dalimunte yang berteriak cemas. Empat ratus meter dari rumah panggung. Intan ikut bergabung duduk di pojok kamar. Goughsky melipat kursi dorongnya. Ummi! Rio bikin Wawak pingsan! Intan benci!" Gadis itu tidak mendengarkan. Sama seperti Dalimunte. Tidak sempat melihat seksama tubuh putri bungsunya yang lebam. Menghidupkan mobil modifikasi mereka. Tapi bagi Laisa yang sudah lelah. Tidak sempat bertanya kenapa Yashinta datang dengan kaki mengenakan gips.. wajah Kak Laisa yang terukir di gumpalan awan. mereka sudah tahu Yashinta akan datang dengan helikopter. membelai lembut jemari Kak Laisa yang mulai membiru. Kursi dorong itu tiba di daun pintu kamar. Usia Mamak saat itu sudah tujuh puluh sekian. Kak Laisa yang pingsan selama satu jam terakhir. Menerobos kamar. Menghela nafas lega. Mencengkeram hamstemya.rajaebookgratis. Menyeka pipinya yang basah. Dokter segera mengambil alih urusan. yang datang terburu-buru. Hamster belang itu juga urung dilempar. Menelan ludah. Abi mereka yang berlarian mendekat. Siapa? Itu suara apa? Juga Cie Hui. Jangan dilempar—" Cie Hui berusaha membujuk.

tangannya bergetar. Menjawab pelan." Meraih tangan Kak Laisa... meski itu sama saja dengan keluarnya bercak darah yang lebih banyak.. merawat satu persatu batang strawberry." Yashinta memegang lembut tangan Kak Laisa. ini Wibisana. "Mamak. Wibisana di sini—" Wibisana ikut duduk di sebelahnya... Gemetar menciumi jemari kakaknya yang pendekpendek. Mengusap kepala adiknya yang terbungkus perban. terima kasih atas segalanya. "Ya Allah. Kesadarannya sudah habis.. "Kak Lais—" Yashinta berseru tertahan. Dalimunte mendekat. Yash. Memperbaiki tudung rambutnya..... Di mana dua sigung itu?" Kak Laisa berusaha tertawa kecil... Matanya hanya melihat gelap. Mereka menatap amat sedih wajah Wawak yang meski matanya terbuka. Menciumi tangan yang legam.. "Dali di sini. Dia tahu. "Dali. Suaranya antara terdengar dan tidak. Yash? Kau ti-ba?" Percuma. Kak." Nafas Kak Laisa tersengal. apalagi saat Kak Laisa memanggilnya pelan. membantu Mamak memasak gula aren. Menyentuh jemari Kak Laisa.." "Kak Lais-" "Yash.. Intan menyeka matanya yang basah. "Intan. Itu Yash? Kau sudah tiba.. tapi tidak bisa melihat apa-apa lagi. duduk di sebelah Yashinta. "Ikanuri. Biarlah Laisa sempurna di kelilingi orang-orang yang amat dicintainya dan mencintainya di penghujung waktunya. "Kau pulang bersama si mata biru mu?" Yashinta mengangguk. Di mana Dali—" Kak Laisa lemah memanggil Dalimunte. Wibisana.." Intan menarik tangan adik-adiknya mendekat. Kak. dengan segala takdirmu. tidak akan ada lagi keajaiban itu.." Ikanuri menghambur.. "Ini. "Yash-" "Yash di sini. Kak Laisa tersenyum... Menyaksikan Yashinta menangis sudah membuatnya sesak. Tapi urung.. "Mendekat. Mendekat kemari. Duduk di sebelah Dalimunte. Lais sungguh ihklas dengan segala keterbatasan ini. Merasakan pipi adiknya yang berlinang air mata. Yashinta mendekatkan mukanya. Tapi pemahaman itu datang dengan cepat......" Kak Laisa menciumi tangan Mamak.. Tersenyum. Naik ke atas ranjang. Meraba wajah Dalimunte. yang dulu sering terpanggang matahari. "Ya Allah. karena kau menggantinya dengan adik-adik yang baik.. .. "Saya di sini...rajaebookgratis.." Kak Laisa berbisik. Tangan Kak Laisa mengusap wajah tiga monster kecil itu. Tidak normal. Menciumi tangan Kak Laisa sambil menangis.www.. meski membuka mata.com "Kak Lais—" Serak Yashinta memanggil kakaknya..." Suara Dalimunte parau." Kak Laisa mendesah pelan. Satu dua. Mamak mengelapnya dengan lembut.. Dokter ingin bilang ke Dalimunte agar Kak Laisa dibiarkan sendiri dulu. Juwita dan Delima masih takut-takut... Delima. Karena.... Jemari yang dulu setiap hari membersihkan gulma. Juwita. Mamak sudah kehilangan kata-kata.. Ia ingin mereka semua ada di sampingnya sekarang. Terima kasih.. Kak. Membiarkan Kak Laisa meraba. "Ikanuri di sini.. Kak. menyentuhkannya ke wajah.. Kak Laisa sudah tidak bisa melihat lagi... Melihnt wajah adiknya dengan ujung-ujung jari.. "Yash? .. Tangisnya mengeras.

biar Kak Laisa masih sempat menyaksikan betapa cantiknya mempelai wanita. Menggigit bibir menahan rasa sesak menyaksikan semua ini sejak masuk kamar tadi. Dalimunte mengangguk. Mereka baik lagi cantik jelita. Bang Jogar dan salah satu penduduk kampung lainnya menjadi saksi. seolah-olah adalah telur yang tersimpan dengan baik (Ash-Shaffat: 49). Yashinta tertunduk. Menerobos atap rumah. "Aku akan selalu mencintaimu. Sungguh senja itu wajah Kak Laisa terlihat begitu bahagia. Seperti sejuta pelangi jika kalian bisa melihatnya. Lembut menjemput." Yashinta tersedu." Berbisik.. turun dari langit-langit kamar. lebih sibuk mengendalikan perasaan. Sekarang—" Kak Laisa tersengal. Senja itu. "Biar.. Ketika Mamak menciumi kening bungsunya memberikan kecupan selamat.. Sekali lagi. Saat Yashinta menangis tersedu. Duduk di sebelah Yashinta. Dua sigung itu tertunduk menatap wajah Kak Laisa. Yash.rajaebookgratis.. "Menikahlah.. Mungkin seperti itulah wajah bidadari surga. Yash. Pernikahan terakhir di lembah indah mereka. Saat itulah cahaya indah memesona itu turun membungkus lembah. Menoleh ke Dalimunte. Lebih emosional dibandingkan yang lain. Berpendar-pendar jingga. Menoleh ke Ikanuri dan Wibisana. lantas mengambang di atas ranjang. Bagai parade sejuta kupu-kupu bersayap kaca... Kelepak elang yang melengking sedih... Dalimunte yang menjadi wali pernikahan. Mamak mengangguk pelan. biar Kak Laisa masih sempat melihat betapa bahagianya kau.. Biar. Menciumi jemari kakaknya. Semua perasaan ini. Di sambut lenguhan penguasa Gunung Kendeng yang terdengar di kejauhan.com "Menikahlah. Menggigit bibir. Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al Waqiah: 22). Seusai Goughsky mengucap ijab-kabul. Lantas melangkah mantap. Suara Mamak berkata lembut saat kisah itu diceritakan pertama kali terngiang di langit-langit ruangan: bidadari-bidadari surga. Bagaimanalah ini? Bagaimanalah? Yashinta patah-patah menoleh ke Mamak. Kak Laisa tersenyum untuk selamanya. Dan Yashinta gemetar mengangguk. dua sigung itu tidak memperhatikan. Menoleh ke arah Goughsky.. meyakinkan. Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. (Ar Rahman: 70). Goughsky menyeka matanya.. Menyibak adik-kakak yang duduk berjejer. Terisak.www. seorang bidadari sudah kembali di tempat terbaiknya Bergabung dengan bidadari-bidadari surga lainnya. menyeka hidung. . Kembali. Lima menit kemudian pernikahan itu dilangsungkan. Saat yang lain buncah oleh perasaan entahlah. mendekat. Cahaya matahari senja menerabas indah bingkai jendela kamar. Nafasnya benar-benar tidak terkendali lagi. Yash—" Kak Laisa tersenyum. Pemuda Uzbek itu mengusap wajahnya.