P. 1
79975308 Penatalaksanaan Hipoglikemia Pada Diabetes Melitus

79975308 Penatalaksanaan Hipoglikemia Pada Diabetes Melitus

|Views: 209|Likes:
Published by Ellen Siska Susanti

More info:

Published by: Ellen Siska Susanti on Feb 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/01/2015

pdf

text

original

Penatalaksanaan Hipoglikemia pada Diabetes Melitus

Dibuat oleh: Wirdasari,Modifikasi terakhir pada Fri 22 of Jul, 2011 [07:28 UTC] Abstrak Hipoglikemia merupakan salah satu komplikasi akut diabetes melitus dan merupakan faktor penghambat utama dalam mencapai sasaran kendali glukosa darah. Bila terdapat penurunan kesadaran pada penyandang diabetes, harus selalu dipikirkan kemungkinan terjadinya hipoglikemia. Hipoglikemia pada diabetes paling sering disebabkan oleh penggunaan obat sulfonilurea dan insulin. Hipoglikemia akut menunjukkan gejala dan Triad yang meliputi: a) keluhan yang menunjukkan adanya kadar glukosa plasma yang rendah; b) kadar glukosa plasma yang rendah (<3 mmol/L hipoglikemia pada diabetes), dan c) gejala mereda setelah kadar glukosa plasma meningkat. Hipoglikemia harus segera mendapat pengelolaan yang memadai. Diberikan makanan yang mengandung karbohidrat atau minuman yang mengandung gula berkalori atau glukosa 15-20 g melalui intravena. Perlu dilakukan pemeriksaan ulang glukosa darah 15 menit setelah pemberian glukosa. Untuk penyandang diabetes yang tidak sadar, sementara dapat diberikan glukosa 40% intravena sebagai tindakan darurat, sebelum dapat dipastikan penyebab menurunnya kesadaran. Telah dilaporkan kasus seorang wanita berusia 61 tahun yang datang ke IGD RSUD dalam keadaan tidak sadar. Pasien merupakan penyandang diabetes yang menjalani pengobatan dengan obat glibenklamid yang diminum sejak 3 bulan yang lalu. Pemeriksaan glukosa darah sewaktu sebesar 40 mg/dl. Dilakukan pemasangan infus dekstrosa 10% dan diinjeksikan bolus D40% 50 ml sebanyak 2 flakon. Pasien kemudian sadar dan GDS ulang sebesar 108 mg/dl. Kata kunci: Hipoglikemia; Diabetes melitus Kasus Seorang wanita berusia 61 tahun datang dalam keadaan tidak sadar. Pasien merupakan penyandang diabetes yang menjalani pengobatan dengan obat glibenklamid yang diminum sejak 3 bulan yang lalu. Obat tidak diminum teratur oleh pasien. Sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh mual dan cepat lelah. Nafsu makan berkurang dan pasien tidak meminum obat glibenklamid. Pada pagi saat hari masuk rumah sakit, pasien mengeluh mual dan lemas. Pasien lalu minum obat untuk gula dan hanya makan sedikit nasi. Setelahnya, pasien bertambah lemas, keringat dingin, gemetar, lalu tak sadarkan diri. Keluarga lalu melarikan pasien ke rumah sakit. Pasien pernah menggunakan obat gula yang disuntikkan 3 kali sehari sebelum makan selama 5 hari, setelah itu menggunakan glibenklamid. Pasien mengeluh penglihatan kabur, sering kesemutan pada tungkai dan sering gatal-gatal pada badan. Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 3 tahun yang lalu, tidak memiliki riwayat sakit jantung atau alergi obat. Tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit gula. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 217/139 mmHg, nadi 84 kali/menit, respirasi 18 kali/menit, temperatur 36,6°C dengan penurunan kesadaran. Pemeriksaan fisik umum dalam batas normal. Pemeriksaan GDS 40 mg/dl. Diagnosis Pasien didiagnosis hipoglikemia pada penderita diabetes melitus Terapi Jalan napas pasien dipastikan aman, kemudian diberikan O2 2 liter/menit. Diperiksa kadar glukosa darah sewaktu (40 mg/dl), kemudian dipasang jalur intravena dengan infus dekstrosa 10% 6 jam per kolf. Diinjeksikan bolus D40% 50 ml sebanyak 2 flakon intravena, pasien kemudian sadar. Pemeriksaan GDS ulang = 108 mg/dl. Obat hipoglikemik dihentikan sementara. Pasien diberikan obat diltiazem 3x1 tablet. Diskusi Hipoglikemia adalah keadaan dimana kadar glukosa darah < 60 mg/dl atau < 80 mg/dl dengan gejala klinis. Hipoglikemia merupakan komplikasi akut dari diabetes, selain ketoasidosis diabetikum, dan koma hiperosmolar hiperglikemik non ketotik. Hipoglikemia menjadi faktor penghambat utama dalam mencapai sasaran kendali glukosa darah normal atau mendekati normal. Hipoglikemia pada diabetes melitus dapat terjadi karena kelebihan obat/dosis obat (terutama insulin atau obat hipoglikemik oral), kebutuhan tubuh akan insulin relatif

mengingat dampaknya yang fatal atau terjadinya kemunduran mental bermakna pada pasien. rentan terhadap hipoglikemia sekitar 2 jam sesudah makan sampai waktu makan yang berikutnya dan pada malam hari. dan perubahan dosis). Oleh karena otak hanya menyimpan glukosa (dalam bentuk glikogen) dalam jumlah yang sangat sedikit. Hipoglikemia akibat sulfonilurea dapat berlangsung lama. Gejala dan tanda klinis hipoglikemia tergantung pada stadiumnya. Faktor utama mengapa hipoglikemia menjadi penting dalam pengelolaan diabetes adalah ketergantungan jaringan saraf terhadap asupan glukosa yang terus-menerus. komplikasi DM. dan mungkin dianggap sebagai keluhan-keluhan pusing (dizzi spell) atau serangan iskemia yang sementara (transient ischemic attack). Pasien diabetes anak. dan kesulitan menghitung sementara. dan kegiatan jasmani yang berlebihan. penggunaan oba sistemik lainnya (penghambat adrenergik . sulit bicara. b) kadar glukosa plasma yang rendah (<3 mmol/L hipoglikemia pada diabetes). sampai kematian. waktu pemakaian terakhir. bibir. Pasien diabetes yang mendapat pengobatan terutama insulin atau sulfonilurea. remaja. koma. Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh penggunaan obat sulfonilurea dan insulin. Terkadang diperlukan waktu yang cukup lama untuk pengawasannya (24-72 jam atau lebih. Hipoglikemia akibat sulfonilurea tidak jarang. Dari anamnesis dapat digali riwayat penggunaan preparat insulin atau obat hipoglikemik oral (dosis terakhir. sebelum dapat dipastikan penyebab menurunnya kesadaran. rasa lapar dan mual. penurunan kesadaran. dan c) gejala mereda setelah kadar glukosa plasma meningkat. paska persalinan). Hipoglikemia akut menunjukkan gejala dan Triad Whipple yang merupakan panduan klasifikasi klinis hipeglikemia. atau berkeringat lebih menonjol dan biasanya mendahului keluhan dan gejala disfungsi serebral yang disebabkan oleh neuroglikopeni seperti gangguan konsentrasi atau koma. didapatkan rasa lemah. Bila terdapat penurunan kesadaran pada penyandang diabetes. Gangguan (interruption) asupan glukosa yang berlangsung beberapa menit menyebabkan gangguan fungsi sistem saraf pusat (SSP) dengan gejala gangguan kognisi. dan usia lanjut rentan terhadap hipoglikemia. harus selalu dipikirkan kemungkinan terjadinya hipoglikemia. terutama sulfonilurea yang bekerja lama seperti glibenklamid. Perlu dilakukan pemeriksaan ulang glukosa darah 15 menit setelah pemberian glukosa. Pada stadium simpatik. diaphoresis. Pada usia lanjut respon otonomik cenderung turun dan sensitifitas perifer epinefrin juga berkurang. intensitas keluhan otonomik cenderung berkurang atau menghilang yang menunjukkan kegagalan progresif aktivasi sistem saraf otonomik. Pada stadium parasimpatik didapatkan penurunan tekanan darah. lesu. Lebih lanjut disarankan agar sulfonilurea yang bekerja lama tidak digunakan pada pasien DM tipe 2 yang berusia lanjut. Pada anak dan usia lanjut. Glukosa merupakan bahan bakar metabolisme yang utama bagi otak. asupan makanan yang tidak adekuat dimana jumlah kalori atau waktu makan yang tidak tepat. jumlah asupan gizi. terutama pada pasien dengan gagal ginjal kronik). keluhan dan gejala yang terkait dengan gangguan sistem saraf otonomik seperti palpitasi. perbaikan kesadaran pada DM usia lanjutsering lebih lamban dan memerlukan pengawasan yang lebih lama. Pada stadium gangguan otak ringan. lama menderita DM.yang menurun (gagal ginjal kronik. Pada pasien diabetes lama. Hipoglikemia pada usia lanjut merupakan suatu hal yang harus dihindari. sasaran kendali glikemia sebaiknya tidak terlalu ketat dan oleh sebab itu dosis insulin perlu disesuaikan. Pada stadium gangguan otak berat didapatkan ketidaksadaran dengan atau tanpa kejang. Diberikan makanan yang mengandung karbohidrat atau minuman yang mengandung gula berkalori atau glukosa 15-20 g melalui intravena. sementara dapat diberikan glukosa 40% intravena terlebih dulu sebagai tindakan darurat. hati). Triad tersebut meliputi: a) keluhan yang menunjukkan adanya kadar glukosa plasma yang rendah. Untuk penyandang diabetes yang tidak sadar. riwayat jenis pengobatan dan dosis sebelumnya. Anak umumnya tidak dapat mengenal atau melaporkan keluhan hipoglikemia dan kebiasaan makan yang kurang teratur serta aktivitas jasmani yang sulit diramalkan. Pada pasien diabetes yang relatif masih baru. sehingga harus diawasi sampai seluruh obat diekskresi dan waktu kerja obat telah habis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pucat. bingung. tremor. fungsi otak yang normal sangat tergantung dari asupan glukosa sirkulasi. didapatkan keringat dingin pada muka. Keluhan hipoglikemia pada usia lanjut sering tidak diketahui. dll). atau gemetar pada tangan. Glukagon diberikan pada pasien hipoglikemia berat. defisit neurologik fokal transien. . Hipoglikemia harus segera mendapat pengelolaan yang memadai. waktu makan terakhir. adanya penyakit penyerta (ginjal.

Jika GDS > 100 mg/dl sebanyak 3 kali berturut-turut. kortison dosis tinggi. sementara dapat diberikan glukosa 40% intravena sebagai tindakan darurat. harus selalu dipikirkan kemungkinan terjadinya hipoglikemia. dipertimbangkan pemberian antagonis insulin seperti adrenalin. Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh penggunaan obat sulfonilurea dan insulin. Pada pasien. Diberikan makanan yang mengandung karbohidrat atau minuman yang mengandung gula berkalori atau glukosa 15-20 g melalui intravena. Bila terdapat penurunan kesadaran pada penyandang diabetes. jika GDS > 200 mg/dl maka dipertimbangkan untuk menurunkan kecepatan drip dekstrosa 10%.9%. perlu dilakukan pengawasan kadar glukosa darah sampai obat glibenklamid diekskresi sepenuhnya oleh tubuh. karena sulfonilurea yang memiliki kerja panjang sehingga dapat menyebabkan episode hipoglikemia berulang. Jika GDS > 200 mg/dl. pemantauan GDS dilakukan setiap 2 jam dengan protokol sesuai di atas. Hipoglikemia merupakan komplikasi akut dari diabetes. Jika pasien belum sadar dengan GDS sekitar 200 mg/dl. jika GDS < 100 mg/dl maka ditambahkan bolus dekstrosa 40% 25 ml intravena. Glibenklamid yang dikonsumsi pasien merupakan golongan sulfonilurea yang sering menimbulkan hipoglikemia. tanda dini hipoglikemia. Obat hipoglikemik dihentikan sementara. Untuk menghindari timbulnya hipoglikemia pada pasien perlu diajarkan bagaimana menyesuaikan penyuntikan insulin dengan waktu dan jumlah makanan (karbohidrat). pemantauan GDS dilakukan setiap 4 jam dengan protokol sesuai di atas. sebelum dapat dipastikan penyebab menurunnya kesadaran. Pada pasien diberikan infus dekstrose 10% dam injeksi bolus D40% 50 ml sebanyak 2 flakon yang meningkatkan GDS dari 40 mg/dl menjadi 108 mg/dl dan gejala-gejala hipoglikemia menghilang. Perlu dilakukan pemeriksaan ulang glukosa darah 15 menit setelah pemberian glukosa. pasien merupakan penderita diabetes melitus tipe 2 yang selama ini mendapat terapi glibenklamid. Pada kasus ini. Pada stadium lanjut (koma hipoglikemia atau tidak sadar dan curiga hipoglikemia).Pada stadium permulaan (sadar). diberikan larutan dekstrosa 40% sebanyak 2 flakon (=50 ml) bolus intravena dan diberikan cairan dekstrosa 10% per infus sebanyak 6 jam per kolf. dilakukan sliding scale setiap 6 jam dengan regular insulin. glukosa darah dipertahankan sekitar 200 mg/dl dan dicari penyebab hipoglikemia. kurangnya asupan makanan menyebabkan hipoglikemia terjadi pada pasien ini. Hipoglikemia akut menunjukkan gejala dan Triad Whipple yang merupakan panduan klasifikasi klinis hipeglikemia. Untuk penyandang diabetes yang tidak sadar. pertimbangkan mengganti infus dengan dekstrosa 5% atau NaCl 0. diberikan gula murni 30 gram (sekitar 2 sendok makan) atau sirup/permen gula murni (bukan pemanis pengganti gula atau gula diet/gula diabetes) dan makanan yang mengandung karbohidrat.5-2 g/kgBB iv setiap 6-8 jam dan dicari penyebab lain penurunan kesadaran. jika GDS < 100 mg/dl ditambahkan bolus dekstrosa 40% 25 ml intravena. GDS kemudian diperiksa setiap 1 jam setelah pemberian dekstrosa 40%. Glukosa darah sewaktu dipantau setiap 1-2 jam. . diberikan hidrokortison 100 mg per 4 jam selama 12 jam atau deksametason 10 mg iv bolus dilanjutkan 2 mg tiap 6 jam dan manitol 1. jika GDS 100-200 mg/dl maka tidak perlu diberikan bolus dekstrosa 40%. Bila hipoglikemi belum teratasi. pengaruh aktivitas jasmani terhadap kadar glukosa darah. ditambahkan bolus dekstrosa 40% 50 ml secara intravena. Bila sebelumnya pasien tidak sadar. Jika GDS < 50 mg/dl. Kesimpulan Hipoglikemia adalah keadaan dimana kadar glukosa darah < 60 mg/dl atau < 80 mg/dl dengan gejala klinis. atau glukagon 0. Hipoglikemia harus segera mendapat pengelolaan yang memadai. Selain konsumsi glibenklamid. Jika GDS > 100 mg/dl sebanyak 3 kali berturut-turut. Glukosa darah sewaktu diperiksa. Jika GDS > 100 mg/dl sebanyak 3 kali berturut-turut. dan cara penanggulangannya. jika GDS < 50 mg/dl maka ditambahkan bolus dekstrosa 40% 50 ml intravena.5-1 mg iv/im.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->