You are on page 1of 4

PENDIDIKAN NASIONAL

YANG BERMORAL

Kenapa jiwa sportivitas sudah harus ditanamkan sejak
usia remaja, atau malah usia yang lebih dini?

Ada tiga alasan yang saya pikir cukup relevan:

1. Penanaman nilai-nilai pada usia dini lebih mudah
dibandingkan pada usia dewasa, sehingga diharapkan di
kemudian hari jiwa sportivitas telah menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari karakter seorang remaja (khususnya remaja
Indonesia).

2. Penanaman jiwa sportivitas merupakan bagian dari
pengembangan karakter positif seorang remaja itu sendiri.
Remaja dengan jiwa sportivitas tinggi lebih mampu
menghadapi tantangan kehidupan di masa yang akan datang,
lebih mandiri, lebih disiplin, lebih dewasa, serta mampu berpikir
terbuka dan obyektif terhadap segala permasalahan yang
dihadapinya.

3. Boleh diyakini atau tidak, tapi jiwa sportivitas yang
memasyarakat akan semakin meningkatkan kualitas dari
masyarakat itu sendiri. Efek positifnya tidak hanya akan
dirasakan oleh individu, tapi juga oleh lingkungan yang lebih
luas.

Satu hal lagi yang perlu diingat adalah belajar mengembangkan
jiwa sportivitas pada remaja dalam segala bidang mencangkup
berbagai aspek kehidupan nyata yang dilalui sehari-hari.

Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita semua
untuk menanamkan jiwa sportivitas. Bahkan mungkin tidak
hanya kita fokuskan pada remaja, tapi akan lebih baik bila kita
pun mulai mengintrospeksi diri sendiri...

Apakah kita sudah memiliki jiwa sportivitas dalam diri kita
masing-masing?

Bila sudah, mari kita tingkatkan! Bila belum, tidak ada kata
terlambat untuk berubah demi sebuah perbaikan yang
menguntungkan diri kita dan juga orang lain di masa yang akan
datang.
PERLU PENDIDIKAN YANG BERMORAL
Kita sebagai Generasi Muda sangat perihatin dengan keadaan
generasi penerus atau calon generasi penerus Bangsa Indonesai saat
ini, yang tinggal, hidup dan dibesarkan di dalam bumi republik ini. Untuk
menyiapkan generasi penerus yang bermoral, beretika, sopan, santun,
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan
hal-hal yang memungkin hal itu terjadi walaupun memakan waktu lama.

Pertama, melalui pendidikan nasional yang bermoral (kami tidak
ingin mengatakan bahwa pendidikan kita saat ini tidak bermoral, namun
kenyataanya demikian di masyarakat). Lalu apa hubungannya
Pendidikan Nasional dan Nasib Generasi Penerus? Hubungannya
sangat erat. Pendidikan pada hakikatnya adalah alat untuk menyiapkan
sumber daya manusia yang bermoral dan berkualitas unggul. Dan
sumber daya manusia tersebut merupakan refleksi nyata dari apa yang
telah pendidikan sumbangankan untuk kemajuan atau kemunduran
suatu bangsa. Apa yang telah terjadi pada Bangsa Indonesia saat ini
adalah sebagai sumbangan pendidikan nasional kita selama ini.

Di pendidikan tingkat menengah sampai dasar, sama parahnya,
setiap awal tahun ajaran baru. Para orang tua murid sibuk mengurusi
NEM anaknya (untungsnya, NEM sudah tidak dipakai lagi, entah apalagi
cara mereka), kalau perlu didongkrak supaya bisa masuk sekolah-
sekolah favorit. Kalaupun NEM anaknya rendah, cara yang paling
praktis adalah mencari lobby untuk memasukan anaknya ke sekolah
yang diinginkan, kalau perlu nyuap. Perilaku para orang tua seperti ini
(khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari
anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan.
(makanya tidak aneh sekarang ini banyak oknum pejabat jadi penipu
dan pembohong rakyat). Dan banyak lagi yang tidak perlu saya
sebutkan satu per satu dalam tulisan ini.

Kembali ke pendidikan nasional yang bermoral (yang kami
maksud adalah pendidikan yang bisa mencetak generasi muda dari SD
sampai PT yang bermoral. Dimana proses pendidikan harus bisa
membawa peserta didik kearah kedewasaan, kemandirian dan
bertanggung jawab, tahu malu, tidak plin-plan, jujur, santun, berahklak
mulia, berbudi pekerti luhur sehingga mereka tidak lagi bergantung
kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan
pendidikannya.Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini
dengan kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional.
Kalau perlu bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk
pembangunan. Sehingga negara lain tidak seenaknya mendikte Bangsa
ini dalam berbagai bidang kehidupan.

Dengan kata lain, proses transformasi ilmu pengetahuan kepada
peserta didik harus dilakukan dengan gaya dan cara yang bermoral
pula. Dimana ketika berlangsung proses tranformasi ilmu pengetahuan
di SD sampai PT sang pendidik harus memiliki moralitas yang bisa
dijadikan panutan oleh peserta didik. Seorang pendidik harus jujur,
bertakwa, berahklak mulia, tidak curang, tidak memaksakan kehendak,
berperilaku santun, displin, tidak arogan, ada rasa malu, tidak plin plan,
berlaku adil dan ramah di dalam kelas, keluarga dan masyarakat. Kalau
pendidik mulai dari guru SD sampai PT memiliki sifat-sifat seperti
diatas. Negara kita belum tentu morat-marit seperti ini.

Kedua, Perubahan dalam pendidikan nasional jangan hanya
terpaku pada perubahan kurikulum, peningkatan anggaran pendidikan,
perbaikan fasilitas. Misalkan kurikulum sudah dirubah, anggaran
pendidikan sudah ditingkatkan dan fasilitas sudah dilengkapi dan gaji
guru/dosen sudah dinaikkan, Namun kalau pendidik (guru atau dosen)
dan birokrat pendidikan serta para pembuat kebijakan belum memiliki
sifat-sifat seperti diatas, rasanya perubahan-perubahan tersebut akan
sia-sia. Implementasi di lapangan akan jauh dari yang diharapkan Dan
akibat yang ditimbulkan oleh proses pendidikan pada generasi muda
akan sama seperti sekarang ini. Dalam hal ini saya tidak berpretensi
menyudutkan guru atau dosen dan birokrat pendidikan serta pembuat
kebijakan sebagai penyebab terpuruknya proses pendidikan di
Indonesia saat ini. Tapi adanya oknum yang berperilaku menyimpang
dan tidak bermoral harus segera mengubah diri sedini mungkin kalau
menginginkan generasi seperti diatas.

Dengan contoh yang kami dapatkan, kami ingin memberikan
gambaran bahwa pendidikan nasional kita telah berlaku tidak adil dan
membuat perbedaan diantara peserta didik. Sehingga generasi muda
kita secara tidak langsung sudah diajari bagaimana berlaku tidak adil
dan membuat perbedaan. Jadi, pembukaan kelas unggulan atau kelas
akselerasi hanya akan membuat kesenjangan sosial diantara peserta
didik, orang tua dan masyarakat. Yang masuk di kelas unggulan belum
tentu memang unggul, tetapi ada juga yang diunggul-unggulkan karena
KKN. Yang tidak masuk kelas unggulan belum tentu karena tidak unggul
otaknya tapi karena dananya tidak unggul. Begitu juga kelas akselerasi,
yang sibuk bukan peserta didik, tapi para orang tua mereka mencari
jalan bagaimana supaya anaknya bisa masuk kelas tersebut.

Kalau mau membuat perbedaan, buatlah perbedaan yang bisa
menumbuhkan peserta didik yang mandiri, bermoral. dewasa dan
bertanggungjawab. Jangan hanya mengadopsi sistem bangsa lain yang
belum tentu cocok dengan karakter bangsa kita. Karena itu, pembukaan
kelas unggulan dan akselerasi perlu ditinjau kembali kalau perlu
hilangkan saja.

Harapan
Dengan demikian, apabila kita ingin mencetak generasi penerus
yang mandiri, bermoral, dewasa dan bertanggung jawab.
Konsekwensinya, Semua yang terlibat dalam dunia pendidikan
Indonesia harus mampu memberikan suri tauladan yang bisa jadi
panutan generasi muda. jangan hanya menuntut generasi muda untuk
berperilaku jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku
santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan
kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.

Oleh : 1. Anteng Wiji P/04
2. Wulandani W.L/42