You are on page 1of 27

Perkembangan Wajah

ANGGOTA : FAKHIROTUZ ZAKIYAH PRIMADYTA ANDRI W A. A. I PUSPITA SARI D AYU PRATIVIA Y RACHEL MARCELIA H VARINA ZATA NABILAH NILA KHURININ JUNTI ROSA VERYANI MALUN NASRUDIN

Oleh: KETUA: ANJAYANI SRI UTAMI (121610101096) SCRIBER PAPAN: BIMASAKTI WAHYU(121610101074) SCRIBER MEJA: LAURA WILLY (121610101081)

(121610101084) (121610101086) (121610101087) (121610101077) (121610101071) (121610101089) (121610101091) (121610101093) (121610101095)

Skenario 3
Learning

Mapping

Objectives

Kesimpulan

Skenario 3
Seorang ibu muda umur 28 tahun datang ke dokter spesialis kandungan dan kebidanan untuk memeriksakan kehamilannya. Ibu ini hamil anak pertama dan selalu merasa kekhawatiran yang sangat atas kehamilannya. Pada saat diperiksa keadaan janinnya si dokter mengatakan pada si ibu usia kehamilannya berjalan 3 minggu dan si ibu harus menjaga kehamilannya dan harus selalu menjaga asupan makanannya untuk pertumbuhan dan perkembangan si janin agar nantinya ketika si janin lahir dalam keadaan sehat. Kemudian si ibu bertanya sama si dokter pada usia kehamilan 3 minggu sudah terjadi pertumbuhan apa saja dan apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janinnya?

Learning Objectives
1. Mengetahui proses pertumbuhan dan perkembangan wajah 2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan wajah 3. Mengetahui kelainan-kelainan pada proses

pertumbuhan dan perkembangan wajah

1. Mengetahui proses pertumbuhan dan perkembangan wajah


1. Pertumbuhan dan Perkembangan Wajah 2. . Pertumbuhan dan Perkembangan Palatum 3. Pertumbuhan dan Perkembangan Mata 4. Pertumbuhan dan Perkembangan Rongga Hidung 5. Pertumbuhan dan Perkembangan Telinga 6. Pertumbuhan dan Perkembangan Gigi

7. Pertumbuhan dan Perkembangan Maksila 8. Pertumbuhan dan Perkembangan Mandibula 9. Pertumbuhan dan Perkembangan Pipi dan Bibir 10. Pertumbuhan dan Perkembangan Lidah

1. Pertumbuhan dan Perkembangan Wajah


Perkembangan wajah bergantung dari lima fasial process disebut juga dengan prominences yang terbentuk pada minggu ke-4 yaitu single frontonasal process, sepasang maxila process,sepasang mandibula process, Proses-proses ini kemudian menjadi pusat pertumbuhan dan perkembangan dari wajah. Perkembangan wajah dimulai pada minggu ke-4 dan kemudian akan dilengkapi di minggu ke-12,saat periode fetal. A. Embrio umur 3 minggu Terdapat bulatan yang menonjol yang terbentuk oleh forebrain merupakan bagian terbesar dari wajah. Bagian ini ditutupi oleh lapisan ektoderm dan sebuah lapisan tipis mesodem.Di bawah bulatan yang menonjol tersebut, terdapat sebuah alur yang dalam,yaitu alur mulut primitive, yang disebut stomatodeum.Perubahan pertama yang signifikan didalam perkembangan wajah disebabkan oleh poliferasi cepat dari lapisan mesoderm.

B. Embrio umur 4 minggu Pada akhir minggu ke-4 mulai tampak tonjol-tonjol wajah yang terutama dibentuk oleh mesenkim yang berasal dari krista neuralis dan terutama dibentuk oleh pasangan lengkung faring pertama.Tonjol maksila dapat dikenali disebelah lateral stomatodeum dan tonjol mandibula disebelah caudal stomatodeum.Prominensia Frontonasalis yang dibentuk oleh proliferasi mesenkim disebelah ventral vesikel otak, merupakan tepi atas stomatodeum. Disisi kanan dan kiri prominensia frontonasalis, muncul penebalan-penebalan setempat dari ektoderm permukaan,yaitu placode nasal(olfaktorius). C. Embrio umur 5 minggu Placode-placode hidung tersebut mengalami invaginasi membentuk lubang hidung.Dalam hal ini, palcode hidug ini membentuk suatu rigi jaringan yang mengelilingi masing-masing lubang dan membentuk tonjol hidung.tonjoltonjol yang berada ditepi luar lubang adalah tonjol hidung lateral dan yang berada di tep dalam adalah tonjol hidung medial.

Embrio umur 6 dan 7 minggu


Tonjol maksila semakin bertambah besar ukurannya .Serentak dengan itu,tonjol ini tumbuh ke arah medial ,sehingga mendesak tonjol hidung ke arah garis tengah.Selanjutnya, celah antara tonjol hidung medial dan tonjol hidung maksila hilang, dan keduanya bersatu sehingga terbentuklah bibir atas.Tonjol hidung lateral tidak ikut dalam pembentukan bibir atas.Bibir bawah dan frahang bawah dibentuk dari tonjol mandibula yang menyatu di garis tengah.Pada minggu ke-6 medial nasal process berkurang mata masih berada di tepi wajah tapi pada minggu ke-7 mata sudah berada di permukaan depan wajah. Embrio minggu 8 sampai 12 Kelopak mata berada di permukaan depan wajah jaraknya relatif berkurang dan ukuran mandibula mengecil.Sampai pada minggu ke-12 kelopak mata tertutup, Nostrils tertutup oleh lapisan epitel.Hubungan maksila dan mandibula normal.

2. Pertumbuhan dan Perkembangan Palatum


A. Palatum Primer

Palatum primer dibentuk oleh inter maxillary segment ( fusi dari prosesus nasalis medialis). Intermaxillary segment berkembang kea rah medial dan caudal membentuk palatum primer, septum nasi, dan philtrum. Intermaxilla yang merupakan bagian dari keseluruhan palatum.
B. Palatum sekunder Selama minggu ke-6 periode prenatal, bilateral maxillary prosesus membentuk kedua palatal shelves. Kedua palatal shelves tersebut akan memanjang ke arah satu sama lain dan berdifusi membentuk secondary palatal. Secondary palate 2/3 bagian dari palatum durum, palatum mole, dan uvula. Median paltina suture pada orang dewasa adalah bukti penggabungan kedua palatal shelves ini.

3. Pertumbuhan dan Perkembangan Mata


Mata dibentuk mulai usia 22 hari . Awalnya yang terbentuk adalah lekuk mata pada bagian kanan dan kiri otak depan. Jadi , dari samping di sisi kanan dan kiri wajah kita lah mata ini terbentuk untuk kemudian akan bergerak menuju ke depan pada usia tertentu intrauterin . Awalnya hanya berbentuk lekukan akan berkembang lagi dan lagi menjadi bentukan kantong-kantong ke arah luar yang dinamakan gelembung mata. Gelembung ini akan tumbuh hingga menempel pada lapisan ektoderm dan akan memicu atau merangsang terjadinya invaginasi . Diantara gelembung mata dan lapisan ektoderm ini terdapat bagian yang dinamakan plakoda mata. Setelah terjadi invaginasi selanjutnya akan terbentuk atau tumbuh menjadi piala mata yang terdiri dari dua lapisan atau rangkap (lapisan luar dan dalam) . Kedua lapisan ini mula-mula terpisah oleh ruangan yang disebut ruang intraretina . Tapi ruang itu segera menghilang dan kedua lapisan jadi semakin melekat . Setelah itu terjadi juga invaginasi pada inferior piala mata yang akan membentuk fissura koroidea . Pada minggu ke-7 bibir-bibir fissura koroidea bersatu dan mulut piala mata menjadi lebih bulat. .

Bersamaan dengan peristiwa tersebut , sel-sel ektoderm permukaan yang semula menempel pada gelembung mata mulai memanjang dan membentuk plakoda lensa . Pada minggu ke-5 , gelembung lensa lepas dari ektoderm permukaan dan selanjutnya terletak dalam mulut piala mata. Menjelang akhir minggu ke-7 serabutserabut lensa primer mencapa dinding depan gelembung lensa untuk kemudian lensa akan berkembang .

Pembentukan retina, iris dan corpus cilliare akan terbentuk juga dari lapisan luar piala mata yang berkembang menjadi pigmen-pigmen dari retina . 4/5 bagian belakang mata akan berkembang menjadi nervus optikus , sedangkan 1/5 nya yang terdiri dari suatu lapisan tebal akan membentuk lapisan dalam iris , retina dan corpus cilliare.
Setelah mata tersebut mengalami berbagai perkembangan mulai minggu ke-3 yang berada di samping otak depan maka mata tersebut akan bergesser ke depan membentuk suatu wujud yang sudah menyerupai mata pada usia kehamilan 7 minggu

4. Pertumbuhan dan Perkembangan Rongga Hidung


Dimulai pada 6 minggu iu, sebagai proses invaginasi pada nasal placode sebagai dasar lekukannya. Lalu, terbentuklah nasal pit. Lekukan semakin meluas membentuk saccus nasalis (sn yang masih belum berhubungan dengan cavum oris karena masih dipisahkan oleh membrana oro nasal). Embrio berumur 7 minggu iu, membrana oro nasl pecah,hingga terjadilah hubungan antara nasi dan cavum oris (Batas hubungan cavum nasi dan cavum oris di belakang palatum primer disebut Primititive Choanae). Palatum sekunder kanan dan kiri selesai berfusi dengan septum nasi maka terbentuklah cavum nasi yang sempurna. Dengan demikian batas hubungan cavum nasi dan cavum oris kini di belakang palatum sekunder dan disebut definitive chonchae. Selama minggu ke-6, lubang hidung makin bertambah dalam, sebagian karena tumbuhnya tonjol-tonjol hidung yang ada disekitarnya dan sebagian lagi karena lubang ini menembus kedalam mesenkim dibawahnya. Mulamula membrana oronasalis memisahkan kedua lubang hidung tadi dari rongga mulut primitif, melalui foramina yang baru terbentuk, yakni koana primitif, koana ini terletak disisi kanan dan kiri garis tengah dan tepat dibelakang palatum primer. Kelak, dengan terbentuknya palatum sekunder dan berkembangnya rongga-rongga hidung primitif lebih lanjut, koana pada peralihan antara rongga hidung dan faring.

5. Pertumbuhan dan Perkembangan Telinga


Telinga terdiri dari tiga bagian yang asalnya berbeda namun meimiliki fungsi sebagai satu kesatuan. Telinga dalam berasal dari gelembung telinga. Gelembung telinga melepaskan diri dari ectoderm permukaan dalam perkembangan minggu keempat. Gelembung telinga terbagi menjadi satu unsure ventral yang membentuk sacculus dan ductus cochlearis, dan satu unsure dorsal yang membentuk utriculus, canalis semicircularis dan ductus endolymphaticus. Struktus epitel yang terbentuk dikenal sebagai labirin membranosa. Kecuali ductus cochlearis yang akan membentuk organ corti. Telinga tengah terdiri atas cavum tympani dan tuba auditiva, dilapisi dengan epitel yang berasal dari endoderm dan berasal dari kantong faring pertama. Tuba auditiva menghubungkan cavum tympani dengan nasofaring. Tulang-tulang pendengaran yang menghantarkan getaran-getaran suara dari membrane tympani ke fenestra ovalis, berasal dari lengkung faring pertama (malleus dan incus) dan lengkung faring kedua (stapes). Meatus acusticus externus berkembang dari celah faring pertama dan dipisahkan dari cavum tympani oleh membrane tympani. Gendang telinga terdiri atas selapis epitel ectoderm, selapis tengah mesenkim, dan selapis epitel endoderm yang berasal dari kantong faring pertama. Daun telinga berkembang dari enam buah tonjol mesenkim yang terletak di sepanjang lengkung faring pertama dan ke-2.

6. Pertumbuhan dan Perkembangan Gigi


Bentuk wajah tidak hanya ditentukan oleh perluasa sinus-sinus paranasal, tetapi juga ditentukan oleh pertumbuhan mendibula dan maksila untuk mempersiapkan gigi geligi. Kurang lebih menjelang perkembangan minggu ke-6, lapisan dasar epitel yang melapisi rongga mulut membentuk bangunan yang berbentuk huruf C, yaitu lamina dentis, disepanjang rahang atas dan bawah, lamina dentis selanjutnya menghasilkan sejumlah tunas gigi, masing-masing 10 buah pada setiap rahang, yang membentuk primodia unsur ektoderm gigi geligi. Segera permukaan dalam tunas-tunas tersebut melakukan invaginasi, sehingga menghasilkan, tahan tudung perkembangann gigi. Tudung ini terdiri atas suatu lapisn luar, epitel gigi luar, suatu lapisan dalam, epitel gigi dalam, dan sebuah inti tengan dari jaringan anyaman longgar, reticulum stellatum. Mesenkim, yang berasal dari krista neuralis dan terletak pada lekkan tersebut, membentuk papila dentalis.

7. Pertumbuhan dan perkembangan maksila


Proses osifikasi dimulai kearah posterior membentuk procesus zygomaticus ossis maxillaries.

Kemudian kearah ventro cranial membentuk procesus frontalis osis maxillaries.

Kearah caudal membentuk procesus alveolaris osis maxillaries.

Kearah medial membentuk procesus palatinus ossis maxillaries.

8. Pertumbuhan dan Perkembangan Mandibula


Pertumbuhan dan Perkembangan Mandibula Pada saat pre natal, tulang kartilago dari branchial arch pertama yang disebut Meckels cartilage membentuk rahang bawah. Saat minggu ke-6 masa kehamilan, pertumbuhan dari tulang kartilago ini meluas sebagai batang hyaline cartilage yang dilapisi oleh kapsul fibroselular dari otic capsule hingga midline, tempat dimana mandibula bersatu. Di minggu 6, bagian lateral dari Meckels cartilage mengalami kondensasi dari mesenkim pada suatu daerah yang dibentuk dari saraf alveolar inferior, incisor, dan mental branches. Pada 7 minggu osifikasi, dibentuk tulang pertama dari mandibula. Dari pusat osifikasi, formasi tulang menyebar cepat dari anterior menuju midline dan dari posterior menuju titik dimana saraf mandibula dibagi menjadi lingual dan cabang alveolar inferior. Ramus mandibula dikembangkan oleh osifikasi secara posterior menuju mesenkim dari branchial arch pertama. Pertumbuhan mandibula lebih lanjut dipengaruhi oleh 3 kartilago sekunder (kartilago kondilar, kartilago koronoid, kartilago symphyseal)

9. Pertumbuhan dan Perkembangan Pipi dan Bibir


Perkembangan pipi dan bibir terjadi saat prominensia bersatu untuk membentuk wajah selama bulan ke-2 embrio. Bibir terjadi dalam dua perkembangan yaitu bibir atas dan bibir bawah. Pada bibir atas terbentuk dari prosesus medial nasal dan dua maksilaris. Sedangkan bibir bawah terjadi melalui kedua processus mandibularis, dimana prominensia mandibularis arkus pharyngeus tumbuh ke medial dibawah stomodeum dan menyatu di garis tengah. Pada pembentukan pipi melalui kedua processus maksilaris berupa pipi atas dan kedua processus mandibular membentuk pipi bawah. Dan akhirnya prominensia maksilaris meluas ke medial untuk membentuk pipi dan menutupi premaksila kemudian menyatu pada garis tengah.

10. Pertumbuhan dan Perkembangan Lidah


Lidah mulai tampak pada mudigah berumur sekitar 4 minggu dalam bentuk dua tonjolan lidah lateral dan satu tonjolan medial, yaitu tuberculum impar. Ketiga tonjolan ini berasal dari lengkung faring pertama. Sebuah tonjolan medial kedua, yaitu copula atau eminentia hypobranchialis, dibentuk oleh mesoderm lengkung ke-2, ke-3, dan sebagian ke-4. Akhirnya, sebuah tonjolan medial ketiga, yang dibentuk oleh bagian posterior lengkung ke-4, menandakan perkembangan epiglottis. Tepat di belakang tonjolan ini adalah aditus laryngis, yang diapit oleh tonjolan tonjolan aritenoid. Tonjol tonjol ini tumbuh melampaui tuberculum impar dan keduanya saling menyatu, sehingga membentuk dua pertiga bagian depan lidah atau corpus linguae. Oleh karena selaput lendir yang membungkus corpus linguae itu berasal dari lengkung faring pertama, maka persarafan sensorisnya berasal dari ramus mandibularis nervus trigeminus. Dua pertiga bagian depan atau badan lidah tersebut dipisahkan dari sepertiga bagian belakang lidah oleh suatu alur berbentuk huruf V, yaitu sulcus terminalis. Bagian belakang atau akar lidah berasal dari lengkung faring ke2, ke-3, dan sebagian dari lengkung ke-4. Epiglotis dan bagian paling belakang lidah dipersarafi oleh nervus laryngeus superior, yang menandakan bahwa organ organ ini berkembang dari lengkung ke-4. Beberapa otot lidah mungkin berdiferensiasi in situ, tetapi kebanyakan berasal dari mioblas yang berasal dari somit somit oksipital. Dengan demikian, susunan otot lidah dipersarafi oleh nervus hypoglossus.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN WAJAH


A. Herediter (keturunan) B. Lingkungan 1. Trauma a. Trauma prenatal b. Trauma postnatal 2. Agen fisis a. Prematur ekstraksi gigi susu

b. Makanan
3. Kebiasaan buruk a. Mengisap jempol dan mengisap jari

b. Menjulurkan lidah
c. Mengisap dan menggigit bibir

d. Posture e. Menggigit kuku f. Kebiasaan buruk lain 4. Penyakit a. Penyakit sistemik b. Penyakit endokrin

c. Penyakit-penyakit lokal (Penyakit nasopharingeal dan gangguan pernapasan,penyakit periodontal , tumor, karies )
5. Malnutrisi

C. Faktor Ibu
D. Gangguan perkembangan oleh sebab yang tidak diketahui

MACAM-MACAM KELAINAN PADA WAJAH SAAT PROSES PEMBENTUKANNYA


Berdasarkan patogenesisnya, Effendi (2006) dalam Neonatologi IDAI membedakan kelainan kongenital sebagai berikut: 1. Malformasi, proses kelainan yang disebabkan oleh kegagalan atau ketidaksempurnaan dari satu / lebih proses embriogenesis. Hal itu terjadi karena perkembangan awal dari jaringan / organ berhenti, melambat / menyimpang sehingga terjadi kelainan struktur yang menetap. Akibatnya hilanglah sebuah struktur atau perubahan-perubahan konfigurasi normal.. 2. Disrupsi, menyebabkan perubahan morfologi struktur organ setelah pembentukannya dan kerusakan terjadi karena terjadi kesalahan dalam prosesnya.

3. Deformasi, terbentuk karena ada tekanan mekanik yang abnormal sehingga mengubah bentuk, ukuran atau posisi sebagian dari tubuh yang semula normal.
4. Displasia, kerusakan pada struktur akibat fungsi sel abnormal. Pada displasia terdapat penyimpanan biokimia dalam sel, mengenai kelainan produksi enzim / sintesis protein, dan sebagian besar mutasi gen.

ANOMALI DIGEORGE Gangguan ini mencakup sindrom velokardiofasialis dan conotruncal anomalies face syndrome. Semua kelainan ini merupakan bagian dari suatu spektrum yang disebut sindrom delesi 22q, yaitu delesi pada lengan panjang kromosom nomor 22. Penderita Anomali DiGeorge lengkap mengalamidefisiensi imunologis, hipokalsemia, dan prognonsi buruk. SINDROM GOLDENHAR Kelainan ini mencakup sejumlah kelainan kraniofasial yang biasanya mengenai maksila, os temporale, dan os zigomatikum, yang menjadi kecil dan datar. ANKILOGLOSSIA (tongue-tie) Menunjukkan bahwa lidah tidak bebas dari dasar mulut. Dalam keadaan normal, terjadi banyak degenerasi sel, dan jaringan yang tersisa hanyalah frenulum, yang mengikat lidah pada dasar mulut. Dalam bentuk ankiloglossia yang paling umum terjadi, frenulum memanjang terus hingga ujung lidah. CELAH WAJAH MIRING

Ditimbulkan oleh gagalnya tonjol maksila untuk menyatu dengan tonjol hidung lateral pasangannya. Apabila hal ini terjadi, ductus nasolacrimalis biasanya terbuka dan tampak dari luar.

KATARAK KONGENITAL

Suatu keadaan dimana lensa menjadi keruh selama kehidupan dalam rahim. Sekalipun kelainan ini biasanya ditentukan secara genetik, pada tahun 1941 Gregg melihat bahwa anak anak dari ibu yang menderita campak Jerman (rubella) pada kehamilan antara minggu ke-4 dan ke-7 sering menderita katarak. Akan tetapi, apabila sang ibu dijangkiti setelah kehamilan minggu ke-7, lensa terhindar dari kerusakan, tetapi anaknya sering tuli akibat kelainan pada koklea.
MIKROFTALMIA Suatu keadaan dimana mata terlalu kecil, dan volume bola mata dapat berkurang sampai dua pertiga dari keadaan normal. Biasanya kelainan ini dihubungkan dengan cacat mata lainnya. Mikroftalmia kerapkali disebabkan oleh infeksi dalam rahim oleh sitomegalovirus atau toksoplasmosis. ANOFTALMIA Suatu keadaan dimana bola mata tidak ada sama sekali dan tidak dapat ditemukan sisa sisa bola mata kecuali dengan pemeriksaan histologik. Anoftalmia biasanya disertai cacat lain yang berat pada tengkorak dan otak. .

KOLOBOMA IRIDIS Bisa terjadi kalau penutupan fissure koroidea tidak terjadi. Normalnya, fissure ini menutup selama perkembangan minggu ke-7. Apabila hal ini terjadi, akan terdapat suatu celah. Sekalipun celah seperti ini biasanya hanya terletak di iris dan dikenal sebagai koloboma iridis, celah ini dapat meluas ke dalam corpus ciliare, retina, koroid, dan nervus opticus. Malformasi ini merupakan kelainan mata yang sering ditemukan dan kerapkali terlihat bersamaan dengan cacat mata lainnya. Koloboma kelopak mata juga bisa terjadi. AFAKIA KONGENITAL Tidak ada lensa dan aniridia (tidak ada iris) adalah anomaly yang jarang ditemukan dan disebabkan oleh gangguan pada induksi dan pembentukan jaringan yang bertanggung jawab atas pembentukan struktur struktur ini. SIKLOPIA Mata tunggal dan sinoftalmia (mata menyatu) mencakup suatu spectrum cacat yang memperlihatkan mata yang menyatu sebagian atau seluruhnya. Cacat ini disebabkan oleh hilangnya jaringan di garis tengah mendekati kehamilan ke-19 sampai 20, yang mengakibatkan kurang berkembangnya otak depan dan tonjol frontonasalis, cacat ini selalu berhubungan dengan cata cacat kepala seperti holoprosensefali yang memperlihatkan menyatunya hemisfer otak sebagian atau seluruhnya.

KESIMPULAN
Dari pembahasan yang mengacu pada skenario ini dapat diperoleh kesimpulan bahwa perkembangan wajah tidak hanya terjadi pada masa post-natal tetapi pada masa pre-natal . Perkembangan wajah akan mengalamai proses yang paling pesat di minggu ke-3 yang disebutkan pada skenario ini . Maka dari itu pada minggu ini juga merupakan minggu-minggu paling rawan terhadap suatu kelainan. Selama proses perkembangan tentu saja dipengaruhi oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Dimana faktor-faktor trsebut yang akan berperan pada berhasil tidaknya dan atau sempurna tidaknya proses pembentukan wajah pada calon janin ini. Ketidakberhasilan atau ketidaksempurnaan selama proses pembentukan wajah ini akan menimbulkan berbagai kelainan bawaan dan ada beberapa diantaranya yang berkaitan dengan gigi dan mulut . Sebagai calon dokter gigi nantinya, maka sangat penting mempelajari hal ini karena berkaitan dengan penatalaksanaan pasien pada bumil nantinya . Jika menghadapi pasien bumil maka seorang doter gigi harus paham dan mengurangi atau tidak memberikan obat-obat atau bahan kimia yang akan mempengaruhi perkembangan janinnya.