P. 1
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL KONSEP BERAT RINGAN BENDA MELALUI PEMBELAJARAN LANGSUNG ANAK TUNARUNGU SDNINKLUSISURABAYA

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL KONSEP BERAT RINGAN BENDA MELALUI PEMBELAJARAN LANGSUNG ANAK TUNARUNGU SDNINKLUSISURABAYA

|Views: 214|Likes:
Published by Alim Sumarno
Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : DWI RAHMAN TRIALIS,
http://ejournal.unesa.ac.id
Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : DWI RAHMAN TRIALIS,
http://ejournal.unesa.ac.id

More info:

Published by: Alim Sumarno on Feb 12, 2013
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2013

pdf

text

original

1 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL KONSEP BERAT RINGAN BENDA MELALUI PEMBELAJARAN LANGSUNG ANAK TUNARUNGU SDN INKLUSI SURABAYA

Drs. Suparkun
Dosen Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, UNESA

Dwi Rahman Trialis
Prodi Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, UNESA ABSTRAK Kemampuan mengenal konsep berat ringan benda adalah kesanggupan atau kecakapan anak mengetahui rancangan barang, zat, atau segala sesuatu yang banyak tekanannya kalau ditimbang (dibawa dsb) dan yang enteng tidak berat. Apabila mengenal konsep berat ringan benda mengalami kesulitan maka akan menghambat kemampuan dalam kegiatan sehari-hari, ia tidak bisa membedakan benda yang berat dan benda yang ringan. Anak tunarungu adalah anak yang mengalami hambatan pada pendengarannya sehingga menyebabkan anak kesulitan dalam berkomunikasi dan memahami konsep dalam kehidupan sehari-hari. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana meningkatkan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda anak tunarungu SDN Inklusi Surabaya dengan menggunakan pembelajaran langsung ?” Penelitian ini dilakukan pada anak tunarungu kelas I SDN Inklusi Sambikerep I Surabaya yang mengalami kesulitan dalam mengenal konsep berat ringan benda, sehingga anak tidak dapat membedakan bearat ringan benda. Oleh karena itu dibutuhkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda yaitu melalui pembelajaran langsung. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan desain penelitian tindakan kelas model Hopkins (dalam Arikunto, 2006). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi dan metode tes. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis refleksi berdasarkan siklus-siklus. Dari temuan penelitian menunjukkan adanya peningkatan mengenal konsep berat ringan benda. Skor hasil penilaian ditunjukkan dari hasil penelitian berdasarkan siklus-siklus. Siklus II > I, siklus II hasil penilaian meningkat 41% sedangkan siklus I sebesar 14%. Kata kunci : konsep berat ringan benda, anak tunarungu, pembelajaran langsung. PENDAHULUAN Dalam penulisan jurnal yang perlu dijelaskan dalam penelitian ini antara lain : (1) Permasalahan penelitian. Pendidikan memberikan manfaat yang besar dalam memajukan suatu bangsa. Karena dengan melalui pendidikan untuk kehidupan suatu bangsa dapat terangkat harkat dan martabatnya. Pendidikan perlu diikuti oleh setiap warga negara tanpa terkecuali salah satunya adalah warga negara Indonesia. Adapun salah satu warga negara yang memerlukan layanan pendidikan adalah anak tunarungu. Dwidjosumarto (dalam Somantri, 2006) mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan anak tunarungu adalah anak yang tidak atau kurang mampu mendengar suara. Ketunarunguan dibedakan menjadi dua kategori yaitu tuli (deaf) dan kurang dengar (low of hearing). Tuli adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengarannya tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar, baik dengan maupun tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aids). Anak tunarungu yang mengalami kesulitan terutama dalam mengenal konsep berat ringan benda dikarenakan ada gangguan pada pendengarannya, sehingga dalam prestasi akademik anak tunarungu cenderung tertinggal dibandingkan dengan anak normal. Dalam kamus umum bahasa Indonesia (2011) dijelaskan bahwa kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti kuasa melakukan sesuatu, sedangkan arti dari kata kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, untuk melakukan sesuatu. Dan mengenal berasal dari kata tahu dan teringat kembali, sedangkan arti kata mengenal adalah ingat atau mengetahui. Selanjutnya pengertian berat adalah besarnya gaya yang dialami benda akibat gaya tarik bumi pada benda tersebut. Berat tergantung dimana benda berada. Jadi berat berubah-ubah sesuai dengan tempatnya”. http://harisok.blogspot.com/2010/04/pengertian-massa.html. Diakses tanggal 10 Oktober 2012. Lebih lanjut sebagaimana dalam kamus umum bahasa Indonesia (2011) dijelaskan bahwa ringan adalah enteng tidak berat, jadi ringan adalah sesuatu yang menpunyai bobot enteng tidak berat.

2
Oleh karena itu bila dirangkaikan beberapa pengertian kata-kata tersebut di atas maka yang dimaksud dengan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda adalah kesanggupan atau kecakapan anak dalam mengetahui rancangan pada barang, zat, atau segala sesuatu yang banyak tekanannya kalau ditimbang (dibawa dsb) dan barang, zat, atau segala sesuatu yang enteng tidak berat dan dapat berubah-ubah sesuai dengan tempatnya. Berdasarkan studi pendahuluan melalui observasi selama belajar di SDN Inklusi Surabaya peneliti menemukan anak tunarungu di kelas I yang berjumlah 4 anak mengalami kesulitan dalam mengenal konsep berat ringan benda. Hal ini terlihat ketika dalam pembelajaran di kelas, masing-masing anak tunarungu mengalami kesulitan dalam membedakan konsep berat ringan benda. Berpijak dengan permasalahan tersebut, maka peneliti berusaha mencarikan solusi yang dapat membantu meningkatkan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda melalui pembelajaran langsung. Menurut Arend (1997) mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang untuk menunjang proses belajar anak yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedur yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Pembelajaran langsung memiliki keunggulan yang meliputi : 1) dengan pembelajaran langsung, guru mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh anak, sehingga dapat mempertahankan dan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh anak, 2) merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan ketrampilan-ketrampilan yang eksplisit kepada anak yang berprestasi rendah sekalipun, 3) untuk membangun pembelajaran dalam bidang studi tertentu, 4) guru dapat menunjukkan bagaimana suatu permasalahan dapat didekati, bagaimana informasi dianalisis, bagaimana suatu pengetahuan dihasilkan, dan 5) pembelajaran langsung (terutama kegiatan demonstrasi) dapat memberikan tantangan untuk mempertimbangkan kesenjangan antara teori (hal yang seharusnya) dan observasi (kenyataan yang terjadi). Http://ekagurunesama.blogspot.com/2012/06/kelebihan-modelpembelajaran-langsung.html, diakses, 27 Juni 2012. Berpijak dari permasalahan di atas maka, pembelajaran mengenal konsep berat ringan benda diberikan pada anak tunarungu SDN Inklusi Surabaya menggunakan pembelajaran langsung. Dengan diterapkannya pembelajaran langsung dapat meningkatkan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Peningkatan Kemampuan Mengenal Konsep Berat Ringan Benda Melalui Pembelajaran Langsung Anak Tunarungu SDN Inklusi Surabaya”. (2) Wawasan dan pemecahan masalah. Dalam penelitian ini masalah yang ditemukan adalah tentang peningkatan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda pada anak tunarungu kelas I SDN Inklusi Sambikerep I Surabaya masih rendah dalam hal mengukur dan membandingkan berat ringan benda. Untuk perbaikan tingkat kemampuan konsep berat ringan benda pada anak tunarungu dapat dilakukan melalui pembelajaran langsung. Pembelajaran dilakukan dalam 2 kali pertemuan dan setiap kali pertemuan membutuhkan waktu 60 menit dan dilakukan melalui beberapa siklus. Adapun langkah-langkah pembelajaran langsung adalah sebagai berikut : a. Mengumpulkan benda-benda di lingkungan kelas dan mengenalkan nama-nama benda seperti : buku, pensil, bolpoin, spidol, penggaris, sapu, sulak, vas bunga dll. b. Guru mendemonstrasikan cara mengukur dan membandingkan berat ringan benda-benda di lingkungan kelas. Anak diminta menyebutkan nama-nama benda di lingkungan kelas satu persatu. d. Anak diminta mengukur dan membandingkan berat ringan benda secara bergantian. e. Guru memberikan pujian kepada anak yang aktif ketika pembelajaran berlangsung. Rumusan dan Tujuan Penelitian. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah : “ Bagaimana meningkatkan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda anak tunarungu SDN Inklusi Surabaya dengan menggunakan pembelajaran langsung ?” Adapun tujuan penelitian yang telah dilaksanakan adalah untuk mendeskripsikan tingkat kemampuan mengenal konsep berat ringan benda anak tunarungu SDN Inklusi Surabaya dengan menggunakan pembelajaran langsung. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Menambah pengetahuan, wawasan, dan pengalaman yang berkaitan dengan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda anak tunarungu, dan sebagai tindak lanjut dalam proses belajar mengajar. 2. Bagi Guru Dari hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dan masukan oleh para guru di sekolah tersebut untuk mencoba menggunakan pembelajaran langsung yang digunakan peneliti dalam meningkatkan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda dan juga dapat diterapkan pada materi lain. 3. Bagi Anak

c.

3
Sebagai proses untuk memperbaiki sikap anak terhadap pembelajaran matematika, karena dalam proses belajar mengajar lebih menarik dan bisa meningkatkan kemampuan anak tunarungu pada materi yang lain, bila pembelajaran dilakukan dalam suasana yang menyenangkan. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan desain model Hopkins (dalam Arikunto, 2006) yang digambarkan suatu proses yang meliputi aspek perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Menurut Wiraatmaja (dalam Arikunto, 2006) mengungkapkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh sekelompok guru untuk mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran dan melihat pengaruh nyata dari upaya tersebut. Berpijak dari penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian Tindakan Kelas adalah suatu upaya untuk meningkatkan kualitas bidang pendidikan dengan memberikan suatu tindakan yang dalam pelaksanaannya sangat memperhatikan proses dan hasilnya. B. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian tindakan kelas ini dalam bentuk siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Empat tahapan ini dapat digambarkan dalam bentuk spiral tindakan kelas adaptasi dari Hopkins (dalam Arikunto, 2006). Tehnik Pengumpulan Data Di dalam suatu peneltian selalu ada kegiatan pengumpulan data dengan menggunakan berbagai metode yang telah ditentukan yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan. Dalam penelitian ini menggunakan tehnik pengumpulan data sesuai dengan judul penelitian yang akan diteliti, yaitu menggunakan : 1. Observasi Dalam penelitian ini untuk mengetahui secara rinci tentang kejadian-kejadian yang sedang berlangsung sebelum diberikan suatu perlakuan dan sesudah diberikan perlakuan sehingga data yang diperoleh akurat dan relevan peneliti menggunakan metode observasi. Menurut Sugiono (2010) mengungkapkan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan. Lain halnya pendapat yang dikemukakan oleh Arikunto (2002:133), mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan observasi adalah kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera. Dari pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa observasi adalah suatu kegiatan yang menggunakan seluruh alat indra untuk mengamati dan memperhatikan suatu kejadian yang sedang berlangsung. Sedangkan yang diobservasi dari penelitian ini adalah hasil belajar yang berkaitan dengan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda melalui pembelajaran langsung. 2. Dokumentasi “Dokumentasi mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya”. (Arikunto, 2002). Teknik ini bertujuan untuk memperoleh data berupa gambar atau foto mengenai kemampuan mengenal konsep berat ringan benda melalui pembelajaran langsung. C. Teknik Keabsahan Menurut Iskandar (2010), mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan keabsahan data adalah konsep penting yang diperbaharui dari konsep validitas dan realitas. Salah satu teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan yaitu menggunakan teknik triangulasi. Menurut Moleong (dalam Iskandar, 2010) mengungkapkan bahwa penelitian yang menggunakan teknik triangulasi dalam pemeriksaan melalui sumbernya. Artinya membandingkan atau mengecek ulang derajat kepercayaan. Suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda. Untuk menjamin dan mengembangkan validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini digunakan teknik triangulasi data (sumber) yaitu mengumpulkan data sejenis dari sumber yang berbeda. Hal ini digunakan untuk cross chek terhadap kondisi setiap anak agar diperoleh data valid. Dengan teknik triangulasi data diharapkan dapat memberikan inspirasi yang lebih tepat sesuai kebutuhan anak sebenarnya. Sumber data dalam penelitian tindakan kelas ini terdiri dari beberapa sumber, yaitu : Anak, untuk mendapatkan data tentang hasil belajar dan aktivitas anak selama proses belajar mengenal konsep berat ringan benda. 2. Guru, untuk melihat peningkatan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda melalui pembelajaran langsung dan hasil belajar anak dalam mengenal konsep berat ringan benda dalam proses belajar mengajar. 3. Teman sejawat, dimaksudkan sebagai sumber data untuk melihat implementasi PTK secara komprehensif dari sisi anak dan guru.

1.

4
Berkaitan dengan teknik keabsahan data dalam penelitian ini peneliti mengadakan observasi pada saat anak melakukan kegiatan mngenal konsep berat ringan benda dalam proses pembelajaran, mengadakan diskusi dengan guru untuk membandingkan kemajuan atau perkembangan anak berkaitan dengan kemampuan anak dalam mengenal konsep berat ringan benda dengan melihat hasil belajar dan hasil observasi proses belajar. Selain itu juga, berdiskusi dengan teman-teman sejawat untuk menguji dan menjejaki hasil penelitian, peningkatan anak dalam mengenal konsep berat ringan benda. D. Teknik Analisa Data Pengelolaan data dari hasil pengumpulan data disesuaikan dengan jenis permasalahan yang dikaji. Problem dalam penelitian ini adalah untuk melihat perubahan pemberian tindakan pembelajaran langsung guna memperbaiki dan meningkatkan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda anak tunarungu. Untuk menemukan tingkat keberhasilan pemberian tindakan pada anak tunarungu di SDN Inklusi Surabaya, maka peneliti menargetkan tingkat keberhasilan yang harus dicapai oleh masing-masing anak adalah 80%. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis refleksi berdasarkan siklus-siklus. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penyajian data hasil tindakan siklus ini dan pembahasan akan diuraikan dengan mengacu pada rumusan masalah yang telah diajukan. Paparan hasil penelitian dan pembahasan adalah sebagai berikut : A. Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan desain penelitian tindakan kelas model Hopkins (dalam Arikunto, 2006) berdasarkan siklus-siklus. Sesuai dengan penelitian yang telah dilaksanakan dan berdasarkan temuan penelitian. Peneliti telah melaksanakan tindakan sebanyak 2 siklus karena dalam siklus kedua dirasa sudah ada peningkatan untuk kemampuan mengenal konsep berat ringan benda anak tunarungu SDN Inklusi Surabaya. Pada kegiatan ini sebelum memberikan pembelajaran langsung peneliti terlebih dahulu memberikan latihan soalsoal yang berhubungan dengan materi mengenal konsep berat ringan benda. Adapun hasil penelitian adalah sebagai berikut : 1. Hasil Observasi dan Hasil Belajar Tahap Persiapan Sebelum peneliti memberikan tindakan kepada anak melalui pembelajaran langsung, terlebih dahulu peneliti mengukur kemampuan awal anak. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan mengenal konsep berat ringan benda sebelum diberikan pembelajaran langsung. Dalam hal ini masing-masing anak diberikan soal yang berhubungan dengan materi. Selama anak mengerjakan soal, peneliti mulai melihat, mengobservasi, dan menilai kemampuan awal yang dimiliki oleh masing-masing anak. Untuk BM kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai cukup, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai cukup, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai cukup pula. Untuk RY kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai kurang, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai cukup, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai cukup pula. Adapun untuk AG kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai kurang, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai kurang, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai cukup. Dan untuk AB kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai kurang, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai cukup, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai kurang. Adapun hasil belajar yang diperoleh masingmasing anak adalah sebagai berikut : Untuk BM mendapat nilai 50, untuk RY mendapat nilai 50 pula, sedangkan untuk AG mendapat nilai 40, dan untuk AB mendapat nilai 30 pada kemampuan awal mengenal konsep berat ringan benda. Adapun hasil penilaian yang diperoleh masing-masing anak dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. 1 Rekapitulasi Penilaian Kemampuan Awal Anak Nilai (%) RY AG 1 1 2 1 2 5 40% 2 4 33%

No Aspek Yang Dinilai 1 Pemahaman konsep 2 Mengukur dan membandingkan berat ringan benda 3 Membedakan berat ringan benda Jumlah Skor yang diperoleh Nilai = skor maksimum Keterangan : item

BM 2 2 2 6 50%

AB 1 2 1 4 33%

x 100 %

: Aspek yang dinilai ( 3 )

5
skor 100% : Kriteria maksimal penilaian terhadap setiap item ( 1 – 4 ) : Prosentase

Pelaksanaan Tindakan Pertemuan 1 Siklus I “Pembelajaran Langsung” Proses Kegiatan Pembelajaran Langsung Dalam pertemuan ini peneliti memberikan masing-masing anak soal yang sesuai dengan materi. Sebelum anak mengerjakan soal terlebih dahulu peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran mengenal konsep berat ringan benda dan mendemonstrasikan cara-cara mengukur dan membandingkan berat ringan benda dengan satuan tidak baku pada benda-benda di lingkungan kelas seperti : buku, pensil, bolpoin, kotak pensil, spidol, rautan, tas, penghapus, bola, vas bunga, sapu, tempat sampah, sulak, topi, sepatu, sekrok. Setelah peneliti mendemonstrasikan cara-cara mengukur dan membandingkan berat ringan benda dengan satuan tidak baku, langkah selanjutnya anak disuruh maju satu per satu secara bergantian menirukan cara-cara mengukur dan membandingkan berat ringan benda dengan satuan tidak baku sesuai dengan contoh yang telah diberikan. Hasil Observasi Kemampuan Mengenal Konsep Berat Ringan Benda Anak Melalui Pembelajaran Langsung Ketika pembelajaran langsung mengenal konsep berat ringan benda ini berlangsung, peneliti mulai mengamati dan mengobservasi anak pada pemahaman konsep berat ringan benda, mengukur dan membandingkan berat ringan, serta membedakan berat ringan benda. Dari penilaian tersebut dapat dilihat hasilnya yaitu untuk BM kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai cukup, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai baik, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai cukup pula. Untuk RY kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai cukup, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai cukup, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai cukup pula. Adapun untuk AG kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai cukup, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai kurang, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai cukup. Dan untuk AB kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai kurang, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai cukup, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai cukup. Adapun hasil penilaian yang diperoleh masing-masing anak dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.2 Hasil Penilaian Pembelajaran Langsung Pertemuan 1 Siklus I Nilai (%) RY AG 2 2 2 1 2 6 50% 2 5 42%

No Aspek Yang Dinilai 1 Pemahaman konsep 2 Mengukur dan membandingkan berat ringan benda 3 Membedakan berat ringan benda Jumlah Skor yang diperoleh Nilai = skor maksimum Keterangan : item skor 100%

BM 2 3 2 7 58%

AB 1 2 2 5 42%

x 100 %

: Aspek yang dinilai ( 3 ) : Kriteria maksimal penilaian terhadap setiap item ( 1 – 4 ) : Prosentase

Refleksi Pertemuan 1 Siklus I Seusai pertemuan pertama, peneliti bersama guru kelas berdiskusi tentang pelaksanaan tindakan pada pertemuan pertama tentang aktivitas anak mengenal konsep berat ringan benda dalam pemecahan masalah dengan memanfaatkan pembelajaran langsung. Dari hasil diskusi dibenarkan oleh guru kelas bahwa kemampuan anak masih sedikit yang mengalami peningkatan. Hal tersebut diakibatkan anak masih belum memahami tentang pembelajaran langsung sebagai pembelajaran untuk menyelesaikan soal mengenal konsep berat ringan benda. Dan dalam mengerjakan soal anak selalu meminta bantuan pada peneliti. Sehubungan dengan pembelajaran mengenal konsep berat ringan benda bagi subyek terteliti dirasa belum cukup diberikan pada pertemuan 1 siklus I, maka pembelajaran dilanjutkan pada pertemuan 2 dengan model pembelajaran yang sama tetapi soalnya berbeda. Tabel 4.3 Observasi Guru Mengenal Konsep Berat Ringan Benda Melalui Pembelajaran Langsung Pertemuan 1 Siklus I Hasil 2 3

No

Aspek yang diobservasi

1

4

6
1 Persiapan : Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan anak 2 Pelaksanaan : Mendemonstrasikan ketrampilan atau mempresentasikan pengetahuan Membimbing pelatihan 3 Evaluasi : Mengecek pemahaman dan memberi umpan balik berupa : test tulis 4 Pembahasan : Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan Jumlah Skor yang diperoleh Nilai = skor maksimum Keterangan : item skor 100%

v v v v v 11

x 100 %

55%

: Aspek yang dinilai ( 5 ) : Kriteria maksimal penilaian terhadap setiap item ( 1 – 4 ) : Prosentase

Pelaksanaan Tindakan Pertemuan 2 Siklus I “Pembelajaran Langsung” Proses Kegiatan Pembelajaran Langsung Dalam pertemuan ini sebelum anak mengerjakan soal terlebih dahulu peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran mengenal konsep berat ringan benda dan mendemonstrasikan cara-cara mengukur dan membandingkan berat ringan benda dengan satuan tidak baku pada benda-benda di lingkungan kelas seperti : buku, pensil, bolpoin, kotak pensil, spidol, rautan, tas, penghapus, bola, vas bunga, sapu, tempat sampah, sulak, topi, sepatu, sekrok. Setelah peneliti mendemonstrasikan cara-cara mengukur dan membandingkan berat ringan benda dengan satuan tidak baku, langkah selanjutnya anak disuruh maju satu per satu secara bergantian menirukan caracara mengukur dan membandingkan berat ringan benda dengan satuan tidak baku sesuai dengan contoh yang telah diberikan. Hasil catatan lapangan menunjukkan bahwa tingkat keaktivan anak tunarungu SDN Inklusi Surabaya mengalami sedikit peningkatan yang positif ketika peneliti memberikan pembelajaran tentang mengenal konsep berat ringan benda menggunakan pembelajaran langsung dalam pemecahan masalah. Aktivitas ini ditunjukkan ketika guru menjelaskan tahap-tahap penyelesaian soal mengenal konsep berat ringan benda dengan menggunakan pembelajaran langsung. Anak menunjukkan aktivitas belajar yang cukup pada saat diberi pembelajaran mengenal konsep berat ringan benda, anak mengikuti dan memperhatikan contoh yang ditunjukkan peneliti dan melihat contoh pembelajaran langsung, tapi masih ada beberapa anak masih binggung dalam menggunakan pembelajaran langsung serta proses mengerjakannya. Hasil Observasi Kemampuan Mengenal Konsep Berat Ringan Benda Anak Melalui Pembelajaran Langsung Seperti pada pertemuan pertama ketika pembelajaran langsung mengenal konsep berat ringan benda ini berlangsung, peneliti mulai mengamati dan mengobservasi anak pada pemahaman konsep berat ringan benda, mengukur dan membandingkan berat ringan, serta membedakan berat ringan benda. Dari penilaian tersebut dapat dilihat hasilnya yaitu untuk BM kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai baik, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai baik, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai cukup. Untuk RY kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai cukup, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai cukup, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai baik. Adapun untuk AG kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai cukup, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai baik, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai cukup. Dan untuk AB kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai cukup, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai cukup, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai cukup pula. Adapun hasil penilaian yang diperoleh masing-masing anak dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.4 Hasil Penilaian Pembelajaran Langsung Pertemuan 2 Siklus I Nilai (%) RY AG 2 2

No Aspek Yang Dinilai 1 Pemahaman konsep

BM 3

AB 2

7
2 Mengukur dan membandingkan berat ringan benda 3 Membedakan berat ringan benda Jumlah Skor yang diperoleh Nilai = skor maksimum Keterangan : item skor 100% 3 2 8 67% x 100 % 2 3 7 58% 3 2 7 58% 2 2 6 50%

: Aspek yang dinilai ( 3 ) : Kriteria maksimal penilaian terhadap setiap item ( 1 – 4 ) : Prosentase

Refleksi Pertemuan 2 Siklus I Selesai pertemuan kedua, peneliti bersama guru kelas berdiskkusi tentang pelaksanaan tindakan pada pertemuan 2 tentang aktivitas anak mengenai konsep berat ringan benda pada indikator menggunakan pengukuran dan perbandingan berat ringan benda dalam pemecahan masalah dengan menggunakan pembelajaran langsung. Dari hasil diskusi dibenarkan oleh guru kelas bahwa kemampuan anak dalam mengenal konsep berat ringan benda masih sedikit yang mengalami peningkatan. Dapat dikatakan penelitian pada siklus I belum berhasil, sehingga peneliti merasa perlu untuk merevisi rencana untuk tahap berikutnya pada siklus II ini antara lain : *Mengenalkan pembelajaran langsung pada penyelesaian soal mengenal konsep berat ringan benda dalam pemecahan masalah. *Menerangkan kembali satu persatu cara kerja dengan pembelajaran langsung pada penyelesaian soal mengenal konsep berat ringan benda dalam pemecahan masalah. *Melakukan penyelesaian soal mengenal konsep berat ringan benda dalam pemecahan masalah. *Memberikan reward / hadiah bagi anak yang mendapatkan hasil baik. Tabel 4.5 Observasi Guru Mengenal Konsep Berat Ringan Benda Melalui Pembelajaran Langsung Pertemuan 2 Siklus I Hasil 2 3 v v v v v 13

No Aspek yang diobservasi 1 1 Persiapan : Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan anak 2 Pelaksanaan : Mendemonstrasikan ketrampilan atau mempresentasikan pengetahuan Membimbing pelatihan 3 Evaluasi : Mengecek pemahaman dan memberi umpan balik berupa : test tulis 4 Pembahasan : Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan Jumlah Skor yang diperoleh Nilai = skor maksimum Keterangan : item skor 100%

4

x 100 %

65%

: Aspek yang dinilai ( 5 ) : Kriteria maksimal penilaian terhadap setiap item ( 1 – 4 ) : Prosentase

Pelaksanaan Tindakan Pertemuan 1 Siklus II “Pembelajaran Langsung” Proses kegiatan pembelajaran langsung Hasil catatan lapangan menunjukkan bahwa tingkat keaktivan anak mengalami peningkatan yang positif ketika peneliti memberikan pembelajaran mengenal konsep berat ringan benda menggunakan pengukuran dan perbandingan berat benda dalam pemecahan masalah.

8
Aktivitas ini ditunjukkan ketika guru menjelaskan tahap-tahap penyelesaian mengenal konsep berat ringan benda dengan menggunakan pembelajaran langsung. Anak menunjukkan aktivitas belajar yang cukup pada saat diberi pembelajaran mengenal konsep berat ringan benda, anak mengikuti dan memperhatikan contoh yang ditunjukkan peneliti dan melihat contoh pembelajaran langsung, tapi masih ada beberapa anak masih binggung dalam menggunakan pembelajaran langsung serta proses mengerjakannya. Hasil Observasi Kemampuan Mengenal Konsep Berat Ringan Benda Anak Melalui Pembelajaran Langsung Ketika pembelajaran langsung mengenal konsep berat ringan benda ini berlangsung, peneliti mengamati dan mengobservasi anak pada pemahaman konsep berat ringan benda, mengukur dan membandingkan berat ringan, serta membedakan berat ringan benda. Hasil pengamatan dalam belajar mengajar menunjukkan ada peningkatan yang positif terhadap aktivitas anak. Dari penilaian tersebut dapat dilihat hasilnya yaitu untuk BM kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai baik, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai sangat baik, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai baik. Untuk RY kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai baik, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai baik, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai baik pula. Adapun untuk AG kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai baik, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai baik, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai baik. Dan untuk AB kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai cukup, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai baik, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai baik pula. Aktivitas anak pada prtemuan 1 siklus II cukup tinggi dan dengan semangat anak mengerjakan soal mengenal konsep berat ringan benda dengan menggunakan pembelajaran langsung. Adapun hasil penilaian yang diperoleh masing-masing anak adalah sebagai berikut : Tabel 4.6 Hasil Penilaian Pembelajaran Langsung Pertemuan 1 Siklus II Nilai (%) RY AG 3 3 3 3 3 9 75% 3 9 75%

No Aspek Yang Dinilai 1 Pemahaman konsep 2 Mengukur dan membandingkan berat ringan benda 3 Membedakan berat ringan benda Jumlah Skor yang diperoleh Nilai = skor maksimum Keterangan : item skor 100%

BM 3 4 3 10 83%

AB 2 3 3 8 67%

x 100 %

: Aspek yang dinilai ( 3 ) : Kriteria maksimal penilaian terhadap setiap item ( 1 – 4 ) : Prosentase

Refleksi Pertemuan 1 Siklus II Selesai pertemuan pertama, peneliti bersama guru kelas berdiskkusi tentang pelaksanaan tindakan pada pertemuan pertama tentang akifitas anak mengenai mengenal konsep berat ringan benda pada indikator pada pengukuran dan perbandingan berat benda dalam pemecahan masalah dengan menggunakan pembelajaran langsung. Dari hasil diskusi dibenarkan oleh guru kelas bahwa anak tunarungu SDN Inklusi Surabaya mengalami peningkatan yang cukup baik dalam pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran langsung sebagai proses penyelesaiannya. Hal tersebut dikarenakan anak sudah bisa memahami cara penggunaan pembelajaran langsung untuk menyelesaikan soal mengenal konsep berat ringan benda meskipun terkadang salah dalam jawaban. Dapat dikatakan peningkatan aktivitas anak cukup baik pada pertemuan 1 siklus II. Data 4.7 Observasi Guru Mengenal Konsep Berat Ringan Benda Melalui Pembelajaran Langsung Pertemuan 1 Siklus II Hasil 2 3

No Aspek yang diobservasi 1 1 Persiapan : Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan anak 2 Pelaksanaan : Mendemonstrasikan ketrampilan atau mempresentasikan pengetahuan

4 v

v

9
Membimbing pelatihan 3 Evaluasi : Mengecek pemahaman dan memberi umpan balik berupa : test tulis 4 Pembahasan : Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan Jumlah Skor yang diperoleh Nilai = skor maksimum Keterangan : item skor 100% v v v 14

x 100 %

70%

: Aspek yang dinilai ( 5 ) : Kriteria maksimal penilaian terhadap setiap item ( 1 – 4 ) : Prosentase

Pelaksanaan Tindakan Pertemuan 2 Siklus II “Pembelajaran Langsung” Proses kegiatan pembelajaran langsung Hasil catatan lapangan menunjukkan bahwa tingkat keaktivan anak mengalami peningkatan yang positif ketika peneliti memberikan pembelajaran mengenal konsep berat ringan benda dalam pemecahan masalah. Anak menunjukkan aktivitas yang tinggi saat diberi pembelajaran mengenal konsep berat ringan benda dengan menggunakan pembelajaran langsung mengenal konsep berat ringan benda, anak mengikuti dan memperhatikan contoh yang ditunjukkan peneliti dalam pembelajaran langsung. Peneliti menilai tingkat aktivitas anak dengan memberi kriteria-kriteria seperti pada pemahaman konsep berat ringan benda, mengukur dan membandingkan berat ringan, serta membedakan berat ringan benda cukup tinggi. Aktivitas anak pada prtemuan 1 siklus II cukup tinggi dan dengan semangat anak mengerjakan soal mengenal konsep berat ringan benda dengan menggunakan pembelajaran langsung. Hasil Observasi Kemampuan Mengenal Konsep Berat Ringan Benda Anak Melalui pembelajaran Langsung Hasil pengamatan dalam belajar mengajar menunjukkan ada peningkatan yang positif terhadap aktivitas anak. Dari penilaian tersebut dapat dilihat hasilnya yaitu untuk BM kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai baik, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai sangat baik, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai sangat baik. Untuk RY kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai baik, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai sangat baik, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai baik pula. Adapun untuk AG kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai baik, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai baik, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai sangat baik. Dan untuk AB kemampuan pemahaman konsep mendapat nilai baik, mengukur dan membandingkan berat ringan benda mendapat nilai sangat baik, sedangkan untuk membedakan berat ringan benda mendapat nilai baik pula. Aktivitas anak pada prtemuan 2 siklus II cukup tinggi dan dengan semangat anak mengerjakan soal mengenal konsep berat ringan benda dengan menggunakan pembelajaran langsung. Anak menunjukkan aktivitas yang tinggi dan dengan semangat anak mengerjakan soal mengenal konsep berat ringan benda dengan menggunakan pembelajaran langsung yang ditunjukkan pada tabel sebagai berikut : Tabel 4.8 Hasil Penilaian Pembelajaran Langsung Pertemuan 2 Siklus II Nilai (%) RY AG 3 3 4 3 3 10 83% 4 10 83%

No Aspek Yang Dinilai 1 Pemahaman konsep 2 Mengukur dan membandingkan berat ringan benda 3 Membedakan berat ringan benda Jumlah Skor yang diperoleh Nilai = skor maksimum Keterangan : item

BM 3 4 4 11 92%

AB 3 4 3 10 83%

x 100 %

: Aspek yang dinilai ( 3 )

10
skor 100% : Kriteria maksimal penilaian terhadap setiap item ( 1 – 4 ) : Prosentase

Refleksi Pertemuan 2 Siklus II Selesai pertemuan kedua, peneliti bersama guru kelas berdiskusi tentang pelaksanaan tindakan pada pertemuan pertama tentang aktivitas anak mengenal konsep berat ringan benda pada pengukuran dan perbandingan berat benda dalam pemecahan masalah dengan menggunakan pembelajaran langsung. Dari hasil diskusi dibenarkan oleh guru kelas bahwa kemampuan anak mengenal konsep berat ringan benda mengalami peningkatan yang cukup baik dalam pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran langsung sebagai proses penyelesaiannya. Hal tersebut dikarenakan anak sudah bisa memahami cara penggunaan pembelajaran langsung untuk menyelesaikan soal mengenal konsep berat ringan benda, dan anak terlihat antusias dan bersemangat dalam pembelajaran mengenal konsep berat ringan benda. Dapat dikatakan peningkatan aktivitas anak baik pada pertemuan 2 siklus II. Data 4.9 Observasi Guru Mengenal Konsep Berat Ringan Benda Melalui Pembelajaran Langsung Pertemuan 2 Siklus II Hasil 2 3

No Aspek yang diobservasi 1 1 Persiapan : Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan anak 2 Pelaksanaan : Mendemonstrasikan ketrampilan atau mempresentasikan pengetahuan Membimbing pelatihan 3 Evaluasi : Mengecek pemahaman dan memberi umpan balik berupa : test tulis 4 Pembahasan : Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan Jumlah Skor yang diperoleh Nilai = skor maksimum Keterangan : item skor 100% 2.

4 v v

v v

v 16

x 100 %

80%

: Aspek yang dinilai ( 5 ) : Kriteria maksimal penilaian terhadap setiap item ( 1 – 4 ) : Prosentase

Hasil Dokumentasi Dokumentasi dalam penelitian ini adalah gambar kegiatan anak di kelas I SDN Inklusi Sambikerep I Surabaya. Tujuan penggunaan metode dokumentasi latihan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda dengan menggunakan pembelajaran langsung ini adalah untuk memberikan penjelasan tentang pelaksanaan kegiatan mengenal konsep berat ringan benda pada penelitian (gambar kegiatan anak disajikan dalam lampiran). B. Pembahasan 1. Upaya meningkatkan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda Anak tunarungu adalah anak yang mengalami hambatan pada pendengarannya sehingga menyebabkan anak kesulitan dalam berkomunikasi dan memahami konsep dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang dikemukakan oleh Salim (dalam Somantri, 2006) mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagaian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya. Ia memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus untuk mencapai kehidupan lahir batin yang layak. Dengan diberikannya pembelajaran langsung pada anak tunarungu diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda. Hal ini sesuai dengan penyataan yang dikemukakan oleh Suryanti dkk (2008) mengungkapkan bahwa pemikiran mendasar dari pembelajaran langsung adalah bahwa anak belajar secara selektif, mengingat dan menirukan tingkah laku gurunya. Atas dasar pemikiran tersebut hal penting yang harus diingat dalam menerapkan pembelajaran langsung adalah menghindari menyampaikan pengetahuan yang terlalu komplek.

11
Dari temuan penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran dalam siklus I menghasilkan skor yang rendah yaitu 62,5% untuk BM, 54% untuk RY, 50% untuk AG, dan 46% untuk AB. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan anak mengenal konsep berat ringan benda masih rendah. Hal tersebut diakibatkan anak masih belum memahami tentang pembelajaran langsung sebagai pembelajaran untuk menyelesaikan soal mengenal konsep berat ringan benda. Dalam siklus I peneliti mengalami kegagalan dari apa yang telah direncanakan. Adapun kegagalan yang dirasa dalam siklus ini adalah : a. Rendahnya kemampuan mengenal konsep berat ringan benda yang dimiliki anak. b. Seringnya anak meminta bantuan dalam mengerjakan tugas karena anak merasa kesulitan dalam mengenal konsep berat ringan benda. Berpijak dari kegagalan-kegagalan yang terjadi dalam siklus I maka peneliti berusaha mengadakan perencanaan kembali dan melakukan perbaikan terhadap pelaksanaan pembelajaran langsung dalam pemberian tindakan pada siklus II. Pemberian tindakan siklus II dilakukan beberapa perbaikan, antara lain : 1. Mengenalkan pembelajaran langsung pada penyelesaian soal mengenal konsep berat ringan benda menggunakan pengukuran dan perbandingan berat benda dalam pemecahan masalah. 2. Menerangkan kembali satu persatu cara kerja dengan pembelajaran langsung pada penyelesaian soal mengenal konsep berat ringan benda menggunakan pengukuran dan perbandingan berat ringan benda dalam pemecahan masalah. 3. Melakukan penyelesaian soal mengenal konsep berat ringan benda menggunakan pengukuran dan perbandingan berat ringan benda dalam pemecahan masalah. 4. Memberikan reward / hadiah bagi anak yang mendapatkan hasil baik. Dengan adanya perbaikan dalam siklus II, hasil yang dicapai cukup memuaskan. Perubahan nilai observasi kegiatan yang dicapai masing-masing anak pada siklus II > siklus I (87,5% > 62,5%) untuk BM, (79% > 54%) untuk RY, (79% > 50%) untuk AG, dan (79% > 46%) untuk AB. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda melalui pembelajaran langsung dan anak mampu menyelesaikan soal sendiri tanpa bantuan kepada peneliti. 2. Peningkatan Kemampuan Mengenal Konsep Berat Ringan Benda Anak Tunarungu Dengan mengacu pada teori yang dikatakan oleh Van Parreren (dalam Suirman, 2008) mengungkapkan bahwa belajar konsep pada dasarnya adalah mengabstraksikan sesuatu obyek baik benda atau kejadian maupun orang berdasarkan ciri yang dimilikinya terlebih dahulu kemudian mengenal konsep berat ringan benda.. Maka dengan melihat hasil temuan penelitian yang menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda melalui pembelajaran langsung dari keadaan sebelum diberikannya tindakan sampai dengan keadaan setelah siklus II. Adapun rekapitulasi hasil penilaian kemampuan mengenal konsep berat ringan benda siklus I dan siklus II adalah sebagai berikut : Tabel 4.10 Rekapitulasi Perkembangan Kemampuan Mengenal Konsep Berat Ringan Benda Siklus I dan Siklus II Skor % No 1 2 3 4 Rata-rata Nama Subyek BM RY AG AB Pra Siklus 50% 42% 33% 33% 39% P1 67% 50% 42% 42% Siklus I P2 75% 58% 58% 50% Rata2 62,5% 54% 50% 46% 53% P1 83% 75% 75% 67% Siklus II P2 92% 83% 83% 83% Rata2 87,5% 79% 79% 79% 80%

Dari tabel 4.10 di atas menunjukkan bahwa kemampuan mengenal konsep berat ringan benda anak sebelum diberikan tindakan sangat minim. Hal ini ditunjukkan dengan pencapaian nilai yang sangat rendah yaitu 50% untuk BM, 42% untuk RY, 33% untuk AG, dan 33% untuk AB. Setelah pemberian tindakan pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 12,5% untuk BM, 12% untuk RY, 17% untuk AG, dan 13% untuk AB. Dan pada siklus II meningkat sebesar 35% untuk BM, 35% untuk RY, 45% untuk AG, dan 45% untuk AB. Berdasarkan nilai yang dicapai pada siklus I dan siklus II bahwa kemampuan mengenal konsep berat ringan benda anak tunarungu SDN Inklusi Surabaya dapat meningkat melalui pembelajaran langsung. Peningkatan ini

12
bukanlah untuk selamanya tetapi hanya untuk sementara jika kemampuan mengenal konsep berat ringan benda anak dilatih secara berulang-ulang akan mendapatkan hasil yang optimal. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan yang telah dijabarkan pada bab IV dapat dipaparkan simpulan dan saran sebagai berikut : A. Simpulan 1. Pembelajaran langsung merupakan salah satu pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda anak tunarungu di SDN Inklusi Surabaya. 2. Pembelajaran langsung untuk meningkatkan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda anak tunarungu dapat ditindaklanjuti dan diaplikasikan di SDN Inklusi Surabaya. 3. Tingkat keberhasilan dalam upaya meningkatkan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda anak tunarungu tergantung pada intensitas pelaksanaan latihan yang dilakukan secara berulang-ulang. Dalam penelitian tindakan ini terjadi peningkatan kemampuan mengenal konsep berat ringan benda anak yang ditunjukkan dalam siklus I dan siklus II. Kemampuan mengenal konsep berat ringan benda yang dicapai BM 50% (pra siklus) menjadi 87,5% pada siklus II, untuk RY 42% (pra siklus) menjadi 79% pada siklus II, untuk AG 33% (pra siklus) menjadi 79% pada siklus II, dan untuk AB 33% (pra siklus) menjadi 79% pada siklus II. Dengan demikian kegiatan pembelajaran telah mencapai KKM yang ditentukan oleh sekolah yaitu 80%. B. Saran Berkaitan dengan simpulan penelitian ini, ada beberapa saran yang dapat disampaikan sebagai berikut : a. Bagi guru, agar aktivitas anak tunarungu SDN Inklusi Surabaya meningkat, sebaiknya temuan penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan oleh guru kelas, dengan melaksanakan pembelajaran langsung sebagai proses menyelesaikannya untuk memperbaiki sikap anak terhadap pelajaran matematika. b. Bagi peneliti, penggunaan pembelajaran langsung dapat dijadikan sebagai tindak lanjut dalam kegiatan belajar mengajar yang akan membuat proses pembelajaran semakin menarik bagi anak tunarungu, karena anak lebih menikmati pembelajaran bila dilakukan dalam suasana keceriaan. DAFTAR PUSTAKA Abdul Majid, 2007, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guna. Bandung : Remaja Rosdakarya. Akhmad Sudrajat. 2009, Modul KKG/MGMP,Media Pembelajaran http:akhmadsudrajat.wordpress.com, diakses, 10 September 2012 Asri, Budiningsih. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta Rineka Cipta Azhar Arsyad. 2007. Media Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada BSNP. 2006. Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Dokumen I dan II) SDLB. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Budiyanto. 2010. Modul Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) SDLB. UNESA Djaelani, Haryono. 2008. Matematika Kelas I Sekolah Dasar. Surakarta : Putra Nugraha Eka. 06.2012. Kelebihan Model Pembelajaran Langsung http://ekagurunesama.blogspot.com, diakses, 27 Juni 2012 Hari. 04.2010. Pengertian Massa http://harisok.blogspot.com, diakses, 15 Oktober 2012

Poerwadarminta, W.J.S. 2011. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur. 2011. Pendidikan Inklusif Sebuah konsep Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Diprovinsi Jawa Timur. Surabaya : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

13

Rahardja, Djadja, dkk. 2010. Pengantar Pendidikan Luar Biasa (Ortopedagogik). Surabaya : UNESA Sadjaah, Edja, dkk. 1995. Bina Bicara, Persepsi Bunyi Dan Irama. Bandung : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Suharsini Arikunto, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara Somantri, Sutjihati. 2006. Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta : Aditama Sugiyono. 2010. Statistik Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta Suryanti, Bambang Yulianto, 2008. Model-Model Pembelajaran Inovatif Surabaya : UNESA Press Somad P. dan Hernawati, Tati. 1996. Ortopedagogik Anak Tunarungu. Bandung : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif berorientasi Konstruktivistik : Jakarta : prestasi Pustaka Publisher

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->