You are on page 1of 4

Konstruksi Tahan Gempa

STRUKTUR KUAT ATAP RINGAN

Indonesia berada di daerah kepulauan yang diapit oleh 2 jalur pegunungan, yaitu
sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania. Aktivitas 2 jalur pegunungan ini dengan
lipatan, patahan, dan rekahannya menjadikan Indonesia salah satu negara yang amat

sangat rawan gempa bumi. Hingga kini belum hilang rasa terkejut kita mendengar
gempa-gempa besar yang terjadi di Indonesia, baik itu yang terjadi di Bantul, Nias,
Bengkulu, Aceh, dan Padang yang berakibat ambruknya sejumlah besar bangunan
rumah tinggal dan sarana-saran umum lainnya. Kedatangan gempa memang tidak bisa
dihindari, namun kita akan sangat bijaksana bila mampu mengantisipasi dampak dari
terjadinya gempa tersebut, khususnya terhadap rumah tinggal kita. Bagaimanakah
paduan material dan konstruksi yang tepat menjadikan rumah kita tidak mudah roboh?
Gempa di beberapa daerah seperti Bantul dan Nias memporakporandakan ratusan
rumah dan bangunan. Pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di telinga, mengapa
rumah2 itu begitu mudah roboh?

Seluruh rumah yang ambruk itu biasanya merupakan bangunan yang tidak memiliki
struktur baik. Tipikal rumah semacam itu biasanya dibangun oleh tukang-tukang
setempat yang tidak memiliki pengetahuan dasar konstruksi. Rumahpun sekedar
dibangun asal berdiri tanpa memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan
penghuninya. Ciri khasnya, rumah tidak memiliki rangka bangunan yang baik dan
terencana. Bangunan tidak memiliki tiang kolom, sloof (balok pondasi), dan ringbalk
(balok pengaku).
Umumnya rumah2 itu hanya berdinding susunan bata yang ditumpuk dan tidak diikat
dengan konstruksi yang kaku. Konstruksi seperti ini hanya kuat menerima daya tekan
tapi tidak kuat menerima gaya tarik. Akibatnya ketika gempa, susunan bata tidak bisa
menerima goncangan momen inersia berupa percepatan gravitasi di dalam tanah.
Otomatis pertemuan susunan bata yang menumpu
itu menjadi retak, terdorong ke bawah dan ambruk. Bangunan-bangunan di kawasan
Bantul itu tidak memiliki unsur penahan gempa. Misalnya bangunan rumah tembok
bata tidak memiliki kolom dan balok beton yang saling berhubungan, sehingga
membentuk bingkai yang menahan perubahan bentuk. Sementara itu, bangunan
dengan konstruksi kayu serta sambungan balok kolom dan rangka atap juga tidak
mempunyai pengekang yang cukup kuat untuk menahan perubahan bentuk itu.
Ini sangat berbeda dengan rumah yang memiliki struktur baik. Pada prinsipnya,
rumah baik dan kokoh selalu memiliki rangka struktur. Setelah itu terpenuhi, dinding
hanya berperan sebagai pengisi/ penutup dan pemisah ruang luar dengan ruang dalam.
Agar benar-benar kuat, rangkaian dinding pengisi itu harus diikatkan ke kolom, balok
pondasi dan balok pengikat atas.
Mengingat pentingnya kekuatan konstruksi, membangun rumah membutuhkan sebuah
rangka bangunan yang baik. Rangka merupakan rangkaian dari pondasi yang
ditempatkan di atas atanah keras. Kedalaman pondasi cukup 100 cm dengan luas bak
pondasi 80 x 80 cm. Ukuran ini cukup untuk rumah sederhana satu lantai dan dua
lantai. Pada bagian atas pondasi kemudian ditempatkan sloof sebagai pengikat
sekaligus penghubung pondasi dengan kolom dan dinding rumah.
Selain pondasi dan sloof, struktur bangunan juga mesti ditunjang dengan kolom
sebagai elemen pemikul beban bangunan, sekaligus pengikat dinding agar tak mudah
roboh. Kolom inipun harus ditambatkan ke sloof pondasi, dan bagian atasnya mesti
disatukan menggunakan ringbalk. Struktur yang demikian ini membuat bangunan
kaku dan kuat. Perkuatan rangka pada sloof menjadikan rangka kuat dan mampu
mendistribusikan beban bangunan atau getaran gempa
Konstruksi kuat itu juga bisa diciptakan dengan pembuatan denah yang baik. Denah
tata letak ruang yang simetris dan sederhana memiliki daya tahan lebih baik. Denah
simetris memudahkan penempatan sistem struktur dan pendistribusian beban yang
merata.
Pada denah simetris harus tergambar kolom pengikat atas. Misalnya pamjang denah
12 m dan tinggi plafon 3,5 m, maka tiap jarak 3,5 m harus ditempatkan kolom.
Namun ketentuan di atas bisa disesuaikan dengan jenis rangka, kondisi tanah, serta
beban bangunan.
Konstruksi yang juga cocok dan bisa diaplikasikan adalah konstruksi baja dan kayu
yang didesain baik. Pilihan lain adalah menggunakan konstruksi beton. Konstruksi ini
menjadikan suatu bangunan amat kuat, asal pembuatannya benar dan materialnya
tepat. Konstruksi/ struktur baja juga dapat dipakai untuk membuat rumah terbangun
lebih cepat, sifat baja sendiri dapat menerima gaya tarik yang baik sehingga mampu
menyeimbangkan getaran gempa. (Dari berbagai sumber)

TIPS SETELAH GEMPA: Mengecek Bagian Yang Rusak

Bagi Anda yang telah memiliki rumah dengan konstruksi kuat dan benar, mungkin
saja goyangan gempa masih merusakkan beberapa bagian rumah.

Untuk meyakinkan diri, lakukan pengecekan pada:
-Konstruksi Atap
Lihatlah bagian luar dan dalam atap. Jika konstruksi berupa kayu, pastikan tidak ada
kayu yang retak atau patah. Pastikan juga posisi konstruksi kayu itu tidak bergeser.
Jika konstruksi bergeser atau rusak, segeralah perbaiki agar tidak ambruk.
-Plafon
Amati konstruksi plafon dan penutupnya. Yang rusak atau retak, segeralah diperbaiki.
Plafon yang rusak bisa segera ambruk dan menimpa bagian di bawahnya.
-Dinding
Bagian ini juga rawan dan berpotensi mencederai. Telitilah apakah ada dinding yang
miring, bergeser, atau retak. Jikan Anda menemukannya, segeralah perbaiki. Jika
dinding rumah miring, jalan terbaik adalah membongkarnya dan memperbaiki
strukturnya agar tegak kembali. Untuk dinding retak, amatilah apakah jenis retakan
itu. Jika memiliki potensi bahaya, sebaiknya dibongkar dan disusun ulang.
-Lantai
Bagian ini memiliki potensi bahaya paling kecil. Kerusakannya mungkin amat ringan.
Perbaikan bisa dilakukan setelahAnda memperbaiki bagian2 lain yang lebih penting.

MENGATASI Bagian Rumah Rawan Patah

Dinding dan atap merupakan bagian bangunan yang rawan terhadap kerusakan. Untuk
mencegah kerusakan pada dua elemen bangunan itu, lakukan hal berikut:
-Mengatasi kerusakan dinding: Perkuat bagian sambungan anatara dinding, kolom,
dan balok dengan cara memasang angkur di anatara dinding dengan balok dan kolom.
-Mengatasi kerusakan atap: Untuk atap dengan rangka kayu, pasanglah angkur pada
setiap ikatan rangka. Tambahkan pengekangan dengan menambahkan pelat baja pada
setiap sambungan.

Referensi: Dari berbagai sumber