TUGAS TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL HEWANI

PENGARUH LAMA PENGASAPAN TERHADAP KUALITAS DAN KOMPOSISI DHA IKAN BANDENG

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 2 (KELAS G) MONIQUE (6103008001) DEBORA K. (6103008077) OZORA Y. (6103008143) NOVIANITA (6103008045) HANY S. (6103008116) JOSHUA I. P. S. (6103008022)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA SURABAYA 2011

dan strukturnya padat dengan duri-duri halus (Anonymous 1. 2007). bertujuan untuk mendapatkan produk ikan asap yang spesifik antara lain warnanya coklat. Ikan bandeng merupakan salah satu komoditi perikanan yang mudah rusak karena kandungan gizinya yang cukup tinggi. Ikan mudah sekali mengalami kerusakan baik secara kimiawi atau mikrobiologi. dan mineral. Ikan memiliki kandungan gizi yang lengkap. Bandeng termasuk ikan bertulang keras. Setelah cukup besar. bau dan rasanya spesifik (Kahoni. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar terdiri atas perairan sehingga Indonesia kaya akan hasil perikanan.BAB I PENDAHULUAN 1. Ikan merupakan salah satu komoditi hewani yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Ikan bandeng merupakan salah satu komoditi perikanan yang mengandung protein cukup tinggi sehingga sering digolongkan sebagai bahan pangan sumber protein. 2007). karbohidrat. ikan bandeng dijual dalam keadaan segar atau beku. terutama daging dan ikan. dagingnya berwarna putih susu. Sebagaimana bahan mentah lainnya.1. bila tidak mendapat penanganan yang sesuai. seperti protein. dicegah. Salah satu metode pengawetan adalah pengasapan. maka dilakukan pengawetan Dalam pengawetan. dihindari atau dihentikan sehingga daya guna pangan dapat dipertahankan (Anonymous2. Untuk mencegah hal ini terjadi. perubahan-perubahan yang sifatnya merusak atau merugikan dihambat. Salah satu jenis ikan yang mudah mengalami kerusakan adalah ikan bandeng. Ikan bandeng berkembang biak dan tumbuh dengan cepat. sehingga perlu diolah lebih lanjut agar dapat memperpanjang umur simpannya. lemak. ikan akan mengalami penurunan mutu sehingga masa simpannya tidak lama. . 1991). Pengasapan adalah salah satu usaha pengawetan bahan makanan tertentu. vitamin. Ikan bandeng disukai sebagai makanan karena rasanya gurih. rasa daging netral (tidak asin seperti ikan laut) dan tidak mudah hancur jika dimasak.

1. Bahan -bahan yang terkandung dalam asap memiliki sifat bakteriolitik (membunuh bakteri).Ikan asap dapat memperpanjang masa simpan ikan. Tujuan y Mengetahui pengaruh lama pengasapan terhadap kualitas dan komposisi DHA ikan bandeng. Pengasapan dapat menyebabkan turunnya kadar air dalam suatu bahan pangan. Oleh karena itu. sementara asam yang mudah menguap yang terdapat di dalam asap dapat menurunkan pH bahan sehingga dapat memperlambat pertumbuhan mikroorganisme pada produk.2. perlu dilakukan pengendalian terhadap proses pengasapan ikan bandeng sehingga dihasilkan ikan bandeng asap yang berkualitas baik.3. serta dapat meningkatkan rasa dan flavor yang khas serta warna yang lebih menarik. Rumusan Masalah y Bagaimana pengaruh lama pengasapan terhadap kualitas dan komposisi DHA ikan bandeng? 1. .

karena hampir semua asam amino esensial terdapat pada daging ikan.2007) Menurut Garnida (2001). Hasil pencernaan ini menyebabkan daging menjadi sangat lunak sehingga merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan mikroorganisme. Bahkan dibandingkan dengan sumber protein hewani lainnya ikan merupakan komoditi yang paling cepat membusuk. Hasil penangkapan ikan di Indonesia sangat besar jumlahnya namun tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai seperti ruang pendingin dan pembekuan sehingga dapat berdampak pada semakin meningkatnya kerusakan pada ikan segar. Tinjauan Umum Ikan Ikan adalah salah satu hasil perikanan di Indonesia yang berlimpahlimpah mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut. Demikian pula bila ditinjau dari nilai gizi proteinnya. 66 ± 84 % air dan bahan organik lain sebesar 0. e Kandungan protein ikan sangat tinggi dibandingkan dengan protein hewan lainnya. kelemahan ikan.1. . Ikan merupakan salah satu bahan pangan sumber prot in hewani. dengan asam amino essensial sempurna. ikan m udah sekali mengalami kerusakan. Selain itu daging ikan yang mengandung sedikit sekali tenunan pengikat (tendon) menyebabkan daging ikan sangat mudah dicerna oleh enzim autolisis. Dilihat dari segi gizinya yang kaya akan protein. diantaranya tubuh ikan memiliki kadar air tinggi (80%) dan pH tubuh mendekati netral merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri pembusuk maupun mikroorganisme lain. 1 -3 % glikogen (karbohidrat). Secara umum daging ikan terdiri dari 15 ± 24 % protein.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 -22 % lemak.8 ± 2 %. Dari data ini terlihat bahwa ikan mengandung protein dalam jumlah tinggi. 0. protein daging ikan mempunyai nilai cerna dan nilai biologis yang tinggi (relative lebih tinggi dibandingkan dengan daging hewan ternak) (Anonimus3.

00 mg 6.2. Ada bermacam-macam pengawetan ikan. Komposisi Kandungan Zat pada Ikan Bandeng per 100 gr No. menggunakan ikan yang masih segar. Tabel 2. Karbohidrat 0. dan pendinginan ikan (Buckle et al.00 mg 10.A 0. Jenis Keterangan 1. .C 74.00 gr 5.00 mg 150.00 SI 8. Vit. Kalsium 20.2. Vit.05 mg 9. Ikan Bandeng Ikan bandeng merupakan salah satu komoditi perikanan yang mengandung protein cukup tinggi sehingga sering digolongkan sebagai bahan pangan sumber protein. Besi 2. pemindangan.00 kal 2.1. Oleh sebab itu.00 gr 11. Kalori 129. Vit.. Ikan bandeng mudah rusak karena kandungan gizinya yang cukup tinggi. Lemak 4. serta garam yang bersih. antara lain dengan cara penggaraman. pengasapan. Untuk mendapatkan hasil awetan yang bermutu tinggi diperlukan perlakuan yang baik selama proses pengawetan seperti menjaga kebersihan bahan dan alat yang digunakan. 1987).80 gr 4. Fosfor 150. Air BDD 80 % Sumber: Direktorat Gizi DepKes RI (1996) Ikan bandeng cepat mengalami proses pembusukan. pengeringan.00 gr 3. Adanya bakteri dan perubahan kimiawi pada ikan bandeng mati menyebabkan terjadinya proses pembusukan. ikan bandeng perlu diawetkan agar dapat memperpanjang umur simpan ikan serta meningkatkan nilai gizi dan nilai cerna dari ikan tersebut. peragian.1. sehingga tidak memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang biak.B1 0.00 mg 7. Protein 20. Pengawetan ikan bandeng bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan. Komposisi kandungn zat ikan bandeng per 100 gram bahan dapat dilihat pada Tabel 2.

ditujukan untuk mendapatkan produk ikan asap yang spesifik antara lain : warnanya coklat. berbagai jenis produk ikan asap diperoleh dengan menggunakan masing-masing proses dalam bermacam-macam tingkat. terdapat dua cara pengasapan. 2. Pengeringan dan pengasinan berfungsi untuk mengawetkan ikan dengan mengurangi aktivitas air (Aw). bau dan rasanya spesifik. Memberi rasa dan aroma yang khas. (1987). yaitu pengasapan panas dan pengasapan dingin. Menurut Murniyati dan Sunarman (2000). terbentuknya lapisan dari protein pada bagian luar ikan dan memberikan rasa yang khas pada produk ikan. naiknya kadar garam. Menurut Buckle et al.2. sementara asam yang mudah menguap yang terdapat pada asap dapat menurunkan pH permukaan ikan dan memperlambat pertumbuhan mikroorganisme (Anonimous4. Bahan-bahan asap mempunyai sifat membunuh bakteri. 1997). Tujuan pengasapan ikan adalah sebagai berikut: 1. . Pengasapan panas dengan suhu 65-80rC sebenarnya merupakan usaha pemanggangan ikan (barbecuing) secara perlahan-lahan. naiknya kadar garam dan tertinggalnya bahan-bahan pembentuk asap pada permukaan ikan. juga suatu kulit atau lapisan tipis yang terbentuk. 1983). tertinggalnya bahan-bahan pembentuk asap pada permukaan ikan. Pengasapan yang dilakukan menyebabkan sifat-sifat kimiawi dan komposisi ikan berubah karena pengasapan tersebut (Hadiwiyoto.3. Mengawetkan ikan (banyak dilakukan di negara-negara yang belum atau sedang berkembang dengan memanfaatkan bahan-bahan alam berupa kayu yang melimpah dan murah). ikan juga menjadi matang. pengasapan ikan merupakan cara pengawetan ikan dengan menggunakan asap yang berasal dari pembakaran kayu atau bahan organik lainnya. Proses pengasapan menyebabkan turunnya kadar air. Berdasarkan suhu yang digunakan untuk pengasapan. Tinjauan Umum Pengasapan Pengasapan adalah salah satu usaha pengawetan bahan makanan tertentu. sedangkan pengasapan menyebabkan turunnya kadar air. Pada proses pengasapan selain menyerap asap. terutama daging dan ikan. Rasa ikan ini sangat sedap dan berdaging lunak.

Metode pengasapan dapat menghasilkan ikan dengan daya simpan selama beberapa hari. nitrogen. suhu diatur antara 40-50rC dan lamanya pengasapan dapat beberapa hari sampai dua minggu. Beberapa substansi organik juga terdapat dalam fase uap atau cairan tergantung atas kondisi sekelilingnya. lebih baik diasapi dengan pengasapan panas daripada pengasapan dingin (Moeljanto. Jenis kayu yang keras (non resinous) atau sabut dan tempurung kelapa digunakan untuk menghasilkan asap. Pada pengasapan dingin. ikan akan menyerap banyak asap dan menjadi kering sebab terjadi penguapan air terus-menerus. Selama pengasapan. Komposisi asap dapat dilihat pada Tabel 2.2. Senyawa-senyawa itu adalah alkohol alifatik.tetapi tidak tahan lama kecuali bila disimpan pada suhu ruangan rendah. Fase dispersi asap sebagian besar terdiri atas substansi kimia yang sangat kompleks. karbondioksida dan berbagai hidrokarbon. 1991). aldehida. hidrogen. cair dan gas yang terdispersi dalam medium gas (udara). Fase dispersi gas tersebut merupakan campuran hasil pembakaran kayu yang terdiri dari oksigen. Asap dari kayu yang lunak sering mengandung zat-zat yang menyebabkan bau yang kurang baik pada hasil asapan. 1992). serta asam-asam organik termasuk berupa furfural. keton. Metode pengasapan dingin dapat menghasilkan ikan dengan masa simpan 2-3 minggu hingga beberapa bulan. asap merupakan tipe aerosol yaitu campuran yang kompak antara fase-fase padat. Hal ini disebabkan oleh kadar air dalam daging ikan masih tinggi. . Bila dipakai kayu keras. Menurut Kahoni (1991). Ikan-ikan yang akan segera dimakan. formaldehida dan fenol yang merupakan bahan pengawet yang sudah dikenal (Naruki. maka bagian selulosenya akan terurai menjadi senyawa senyawa yang lebih sederhana.

komponen asap yang berperan penting dalam pembentukkan cita rasa dan warna produk yang diasapi adalah: a. HCHO 0. 1969 dalam Kahoni (1991) Menurut Naruki (1991).12 2. Formaldehida. Komposisi Utama Asap Hasil Pembakaran Kayu % berat % berat No Komponen basah kayu kering kayu 1. Menurut Kahoni (1991). Senyawa karbonil Senyawa karbonil tertentu.Tabel 2. HCHO 0. pengasapan ikan mempunyai fungsi sebagai berikut : 1. b.57 3.71 6.96 7. Aldehida-aldehida tinggi 0. Fenol juga berfungsi memberikan efek bakteriostatik serta sebagai antioksidan yang mencegah perubahan oksidatif pada produk yang diasapi. Resin 4. Golongan keton 0. Fenol Berperan khusus dalam pembentukan citarasa khas (smoky flavor). Pembentukan warna ini terjadi karena adanya reaksi antara senyawa karbonil dengan gugus amino. Gugus amino diperoleh dari protein bahan yang telah terdenaturasi akibat perlakuan-perlakuan selama pengasapan.2. Metil alcohol 0.38 5.07 10. berperan dalam pembentukan warna pada pengasapan. Air 4.21 Sumber : Zaitsev et al. seperti glikolik aldehid dan metil-glioksal. Memberikan efek keempukan pada ikan asap karena terjadi ya kombinasi n penggunaan suhu tinggi dan kelembaban relatif yang tinggi. Warna coklat yang paling intens terbentuk dari reaksi antara tiga molekul glikolik aldehid dengan satu molekul amino etanol membentuk 1-hidroksietil3-hidroksimetil-pirolaldehid-2 atau C8H11NO3. Tar (terpisah. misalnya karena adanya panas.67 4.81 9. Asam format. Fenol juga berperan dalam pembentukan warna karena reaksi antara senyawa fenol dengan aldehid tak jenuh membentuk senyawa coklat koniferialdehid dan sinapaldehid. . tidak larut) 8. Asam asetat dan asam-asam tinggi lainnya 1. Fenol 0.

Mengurangi residu nitrit pada pengasapan daging ikan yang mengalami curing dengan menggunakan suhu tinggi. basa-basa organik. didinginkan atau dibekukan sewaktu masih dalam keadaan segar. Proses pengasapan ikan dapat dilihat pada diagram alir di bawah ini (Murniyati. metil quaiakol. mkresol. p-kresol. 8. Memberikan sifat antioksidan terhadap proses oksidasi lemah yang disebabkan oleh komponen fenol serta komponen-komponen lain dalam asap seperti alkohol. Proses pengasapan menyebabkan turunnya kadar air. Fenol merupakan komponen flavor yang utama yang dapat digunakan sebagai indeks kualitas pada pengasapan. 6. 5. Memberikan flavor yang spesifik karena terdapatnya fenol. dan asam-asam organik. Memberikan rasa spesifik asap. Pada ikan yang diasap terlebih dahulu harus melalui proses pengerjaan awal. . yang biasa dilakukan orang di Indonesia umumnya. antara lain sebagai berikut : penggaraman (pengasinan) pengeringan pemanasan.2. semuanya dilakukan dalam ruang asap. pengeringan. naiknya kadar garam dan tertinggalnya bahan-bahan pembentuk asap pada permukaan ikan. pengeringan dan pemanasan. quaiakol. 2000). 7. metil eter pirogalol serta asam-asam karboksilat. 3. 4. Memberikan efek antiseptik dan germisida yang disebabkan terdapatnya kombinasi proses-proses pengasapan. fenol dan resin. Menurut Buckle (1987). Memberikan warna yang menarik karena terjadinya reaksi antara asam-asam amino dalam daging ikan dengan asap. Sama halnya dengan pengeringan ikan melalui cahaya matahari maupun menggunakan cara ³diangin-angin´ (memakai udara atau alat mekanis). Memberikan kenampakan yang mengkilap (glossy) karena terdapatnya asap pada permukaan daging ikan yang tertutup oleh aldehid. karbonil. pemanasan dan pengasapan. Memberikan efek pengeringan karena penggunaan suhu tinggi. 9. Ikan yang akan dilakukan pengasapan harus dipilih ikan yang berkualitas baik.

Ikan segar q Dressing (pembuangan isi perut. insang. pembuatan fillet. dsb) q Pencucian dengan air bersih q Penggaraman q Pencucian dan penirisan q Pengasapan . pembelahan.

Hasil pengujian organoleptik diperoleh rata-rata sifat organoleptik ikan sebesar 8.1.3 untuk tekstur ikan. perut. Penelitian dilakukan terhadap variasi waktu pengasapan terhadap ikan bandeng. Pengujian organoleptik ikan segar dilakukan dengan parameter kesegarannya adalah kondisi mata. 7. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ikan yang digunakan dalam proses pengasapan masih segar/baik. insang dan tekstur ikan.3 untuk kondisi mata. Waktu pengasapan dapat berpengaruh pada sifat organoleptik ikan bandeng. 8.BAB III PEMBAHASAN Salah satu parameter penting dalam melakukan pengasapan adalah waktu pengasapan. Analisa Sensoris terhadap Ikan Segar Ikan yang digunakan dalam proses pengasapan harus dipilih ikan mentah yang segar dan harus memenuhi standar mutu ikan untuk menghasilkan ikan asap yang berkualitas.1. dan juga kandungan asam lemak dalam ikan. 3. analisa proksimat ikan bandeng asap. Pemilihan ikan yang digunakan untuk pengasapan sangat penting karena berpengaruh pada mutu dan keamanan ikan asap yang dihasilkan. Pengujian organoleptik ini dilakukan oleh 10 orang panelis. Ikan pada fase setelah pra-rigor akan mengalami beberapa perubahan yaitu perubahan tekstur .2 untuk kondisi perut dan 8.7 untuk kondisi insang. Pengasapan dilakukan selama 3 jam dan 5 jam. Analisa Sensoris dan Organoleptik Tabel 3.

t i i ji l t i l ti t t li t ti t t .43 l t l l t j .i t l i t li i j i l i i i t l i t i l l i i i t l i i i i l ti t t il i t ti it i i j t t l i it j i l i i i t j i i t t ili i t i i i t t l i l i t l i ti t t j 8. j il i i l i i l l i il t j t t ili t i l j ¤¡   ¥¡   ¤¡   £¡   ¤¡   ¥¡   ¤¡     ¤¡     ¢¡     £¡   £¡   i l ti . ti l ji ji i i ti il l l ti t l ti il ji .t t l j l t j t j t .

Senyawa fenolik yang terbentuk yaitu guaiacol. .4. Panelis lebih menyukai ikan dengan pengasapan 5 jam dibandingkan dengan 3 jam karena kenampakan warna ikan yang lebih coklat dan aroma yang dihasilkan lebih kuat.69 sedangkan ikan bandeng dengan pengasapan selama 5 jam sebesar 8. Dalam pembahasan ini ikan yang diamati berasal dari daerah Semarang. 2004).9-9.4.8.78.59-1. tekstur sebesar 9.3. 3. Data tersebut dapat diterima sekalipun kandungan lemak sampel lebih rendah. 2.6dimetoksifenol yang berpengaruh pada pembentukan aroma yang spesifik dengan rasa smoky yang enak. Pengasapan ikan menghasilkan senyawa fenolik yang berpengaruh pada warna ikan dan aroma ikan.Tabel 3. Organoleptik terhadap Ikan dengan Lama Pengasapan 5 jam Rata-rata penilaian panelis terhadap kenampakan ikan sebesar 9.2. Analisis Proksimat Hasil analisis proksimat dan referensinya dapat dilihat pada Tabel 3. Rata-rata senyawa fenolik pada ikan bandeng dengan pengasapan selama 3 jam sebesar 1. 1973 dalam Swastawati. rasa sebesar 7. tidak adanya jamur dan lendir sebesar 9 dengan rata-rata keseluruhan sebesar 8.4 (Pearson and Tauber. 4 metil-guaiacol. namun hal ini tergantung pada cuaca di mana ikan ditangkap. aroma sebesar 8.

Data tersebut menunjukkan lama pengasapan dapat menyebabkan pengurangan komposisi asam lemak secara umum.3. Ini berarti lama pengasapan berpengaruh terhadap pengurangan kandungan asam lemak omega-3 pada ikan. sehingga dapat disimpulkan bahwa A dan B berbeda nyata. Analisa Proksimat Keterangan: Ikan A (lama pengasapan 3 jam) Ikan B (lama pengasapan 5 jam) 3.5.00. Analisa Kandungan Asam Lemak Tabel 3. Komposisi DHA berkurang sangat tajam sekitar 86.4. asam lemak yang dibahas akan lebih fokus pada komposisi DHA. Kandungan Asam Lemak dalam Ikan Bandeng Asap Asam lemak omega-3 diketahui lebih baik daripada Docosahexaenoic acid (DHA) dan Eicosapentaenoic acid (EPA).Tabel 3. Nilai F dari ANOVA adalah 9090169. Semakin lama waktu pengasapan.5 menunjukkan hasil kandungan asam lemak dalam produk.46% atau 104. Hasil SPSS menunjukkan nilai F 13617986 dan p < 0.01. Dalam pembahasan ini. Tabel 3.79 mg/100 g selama proses pengasapan.7 dengan p < 0. semakin rendah komposisi EPA dan .

DHA. . Dengan demikian perlu mempertimbangkan lama waktu pengasapan untuk meminimalkan kehilangan nutrisi pada ikan.

Pengasapan juga dapat menyebabkan pengurangan dan mungkin degradasi nutrisi ikan termasuk asam lemak omega-3. komposisi proksimat. . dan kandungan DHA ikan bandeng asap.BAB IV KESIMPULAN Lama waktu pengasapan memberi pengaruh terhadap nilai organoleptik.

Daftar Komposisi Bahan Makanan. 1991. Pendinginan. Ikan.com/get/DDP-knnr/SNI_01-272922006_Persyaratan_. (AP8 377-AP8 385). Jakarta: Bhratara Karya Aksara.ac. Swastawati. Tauber. 1983.A. 2007. Ilmu Pangan (Diterjemahkan oleh : Hari Purnomo dan Adiono).fao. Avi Publishing Company. Yogyakarta: Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Naruki.235. Proceeding of JSPS International Seminar on Traditional Fisheries Technology in Asain Region. UGM Pearson. Ikan Sebagai Sumber Protein.235. Wotton.2729.104/search?q= cache:wm18GgF1QwJ:wapedia. A.com/2007/11/pemanfaatan-konsentrat-proteindan. Yogyarakrta : PAU Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada. 1996. dan Sunarman. Available at : http://anhakim. 2003. 1991. and F. dan Pengawetan Ikan. 1992.2-2006.104/search?q =cache:WyKztmUbUB4J:digilib. 1987. 1973.14. Bahan Tambahan Pangan. Bandeng. Garnida. Jakarta : UI Press. Available at: http://www.a Fleet dan M. Ikan Segar-Bagian 2:Standar Bahan Baku SNI 01.org/docrep/ S8620E/ S8620 E0a. Yogyakarta : Liberty Kahoni. 2007. Connecticut.itb. 2006. Pengaruh Tekanan dan Lama Pemasakan Pada Pembuatan Ikan Mas Presto (Cyprinus caprio L). Teknik Pengolahan Ikan Bandeng (Chanos chanos forskal) Segar Tanpa Duri di Malang. dan Telur. S. 2007. F. H.4shared. Edwards. Pengawetan dan Pengolahan Hasil Perikanan .html (1 Mei 2011). Inc. Tranggono. (22 April 2011). A. 2000.mobi/id/Bandeng+bandeng+adalah&hl=id &ct=clnk&cd=5&gl=id (23 April 2011) Anonymous 2. The effect of different concentration of salt and smoking duration to the quality and shelflife of milkfish.. Kimia dan Teknologi Pengolahan Daging.php%3Fid%3Djiptummgdl-res-1997-khusnul-1263bandeng+bandeng+adalah&hl=id&ct=clnk&cd =9&gl=id (23 April 2011) Anonimus3. Buckle. A.htm. dan Sumaryadi. R. Badan Standar Nasional. Titi Surti and Eka Purwaningsih. G. S. K.DAFTAR PUSTAKA Anonymous 1.id/go. . Himpunan Makalah Seminar Hasil Teknologi Pangan (9-10 Oktober 2001) Semarang: Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia. Jakarta : Penerbit Swadaya Murniyati. Hadiwiyoto.bi. Hasil-hasil Olahan Susu.blogspot. Westport. Direktorat Gizi DepKes RI. http://www. 1997.html (22 April 2011) Anonymous4. Moeljanto. Available at: http://72.14.W. Yogyakarta : PAU Pangan & Gizi UGM. 2001. Processed Meats. S. Y. Kimia dan Teknologi Pengolahan Ikan. Pembekuan. Nana Sutisna Achyadi. Pengasapan. 1991. Second Edition.Available at: http://72. Daging.M. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful