P. 1
Vindy Nugraha Siampa

Vindy Nugraha Siampa

|Views: 240|Likes:

More info:

Published by: Vindy Nugraha Siampa on Feb 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2015

pdf

text

original

CLEFT PALATE (PALATOSCHISIS

)

I. PENDAHULUAN Cleft palate atau palatoschisis merupakan kelainan kongenital pada wajah dimana atap/langitan dari mulut yaitu palatum tidak berkembang secara normal selama masa kehamilan, mengakibatkan terbukanya palatum sampai ke daerah cavitas nasalis, sehingga terdapat hubungan antara rongga hidung dan mulut. Oleh karena itu pada palatoschisis, anak biasanya tersedak pada waktu minum dan suaranya sengau.1 Celah (cleft) ini dapat melibatkan sisi lain dari palatum dan dapat meluas dari bagian depan mulut ke arah tenggorokan, seringkali cleft juga melibatkan bibir. Cleft palate tidak terlihat sejelas cleft lip karena berada di dalam mulut. Cleft palate bisa saja merupakan satu-satunya kelainan pada seorang anak, atau bisa saja berhubungan dengan cleft lip atau sindroma lainnya. Pada kebanyakan kasus, bila salah satu anggota keluarga menderita cleft maka anggota keluarga yang lain juga memiliki kemungkinan menderit cleft palatum ketika lahir. 2 Kelainan ini terjadi karena gangguan pada kehamilan trimester pertama yang menyebabkan terganggunya proses tumbuh kembang janin. Faktor-faktor obatan, infeksi virus, radiasi, stres pada masa kehamilan, trauma dan faktor genetik.3 Cleft palate dapat menyebabkan banyak masalah dan merupakan suatu tantangan khusus untuk komunitas medis. Sehingga diperlukan suatu perawatan yang khusus pada pasien-pasien dengan cleft palate. Masalah pada penderita cleft ini sudah muncul sejak penderita lahir. Derita psikis yang dialami keluarga dan kelak dialami pula oleh penderita setelah menyadari dirinya berbeda dengan yang lain. Secara fisik, adanya celah akan membuat kesukaran minum karena daya hisap yang kurang dan banyak yang tumpah atau bocor ke hidung, gangguan pada penampilan, dan gangguan bicara berupa suara yang sengau. Penyulit yang juga mungkin terjadi adalah infeksi telinga tengah (otitis media), gangguan pendengaran, serta gangguan pertumbuhan gigi dan rahang. 3,4 Rencana terapi yang akan diberikan pada pasien dengan cleft palate berfokus pada dua bidang, yaitu; perkembangan berbicara dan perkembangan wajah. Isu yang paling kontroversial dalam pengelolaan cleft palate ini adalah waktu dalam melakukan intervensi bedah, perkembangan bicara setelah berbagai prosedur bedah, dan efek dari operasi pada yang diduga dapat menyebabkan terjadinya kelainan ini adalah akibat kekurangan nutrisi, obat-

perkembangan wajah. Tujuan utama dari intervensi bedah adalah pasien dapat berbicara secara normal, meminimalkan gangguan pertumbuhan, dan membangun sfingter velopharyngeal yang kompeten. 5 II. EPIDEMIOLOGI Secara keseluruhan, insiden cleft palate dengan atau tanpa cleft lip adalah 1 kasus dalam 1000 kelahiran hidup. Insiden cleft palate bervariasi diantara ras, dengan angka tertinggi di kalangan Indian Amerika, yaitu 3,6 kasus per 1000 kelahiran hidup, dan tingkat terendah pada ras Afro-Amerika, dengan 0,3 kasus per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan cleft secara keseluruhan, 20% adalah cleft lip saja (18% unilateral, 2% bilateral), 50% cleft lip dan palate (38% unilateral, bilateral 12%), dan 30% adalah cleft palate saja. Insiden cleft palate (tanpa cleft lip) adalah 1 kasus per 2000 kelahiran hidup. Cleft submukosa lebih sering terjadi, dengan angka kejadian 1 kasus per 1200 - 2000 pasien, tergantung pada populasi penelitian. Uvula bifida terjadi pada 1 dari 80 pasien dan sering terjadi pada cleft palate.4 Tidak ada predileksi ras untuk cleft palate, dengan kejadian yang sama di antara semua ras. Meskipun bibir sumbing dan langit-langit (CLP) terjadi lebih sering pada laki-laki, namun cleft palate lebih umum terjadi pada wanita. 4 III. EMBRIOLOGI DAN ANATOMI • Embriologi Palatum Secara embriologis, pembentukan wajah terjadi pada minggu ke-5 sampai dengan minggu ke-10. Pada saat minggu ke-5, dua tonjolan akan tumbuh dengan cepat, yaitu tonjolan nasal medial dan lateral. Tonjolan nasal lateral akan membentuk alae hidung, sedangkan tonjolan medial akan membentuk (1) bagian tengah hidung, (2) bagian tengah bibir atas, (3) bagian tengah rahang atas, serta (4) seluruh langit-langit primer. Secara simultan, tonjolan maksila akan mendekati tonjolan nasal lateral dan medial akan tetapi tetap tidak menyatu karena dipisahkan oleh suatu lekukan yang jelas. 6, 7.8 Selama dua minggu berikutnya, terjadi perubahan bermakna pada wajah. Tonjolan maksila terus tumbuh kearah medial dan menekan tonjolan nasal kearah midline. Selanjutnya terjadi penyatuan tonjolan-tonjolan nasal dengan tonjolan maksila di sisi lateral. Jadi bibir bagian atas dibentuk oleh dua tonjolan nasal dan dua tonjolan maksila.
7,8 6,

Gambar 1. Perkembangan embriologi pembentukan wajah Dikutip dari kepustakaan no.6

Tonjolan yang menyatu di bagian medial, tidak hanya bertemu di daerah permukaan, tetapi terus menyatu sampai dengan bagian yang lebih dalam. Struktur yang dibentuk oleh dua tonjolan yang menyatu ini dinamakan segmen intermaksilaris. Bagian ini terdiri dari (1) bagian bibir yang membentuk philtrum dan bibir atas, (2) komponen rahang atas yang mendukung empat gigi insisif, dan (3) komponen palatum yang membentuk segitiga palatum primer. Dibagian atas, segmen intermaksila menyatu dengan septum nasal yang dibentuk oleh prominence frontal. 6,7,8 Perkembangan palatum (palatogenesis) melibatkan koordinasi proses-proses dasar perkembangan. Edelman (1983) menggunakan istilah proses-proses dasar (primary processes) untuk menunjuk kejadian-kejadian yang menjadi landasan bagi berlangsungnya perkembangan, yang terdiri dari: pembelahan sel, migrasi sel, interaksi dan adesi sel,

Densitas sel yang lebih rendah mendorong pembelahan sel yang lebih giat sehingga pertumbuhan aspek oral menjadi lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan aspek nasal menyebabkan ujung-ujung bilah menjadi tumbuh seperti mendaki.8. Selain hialuronan. Hialuronan adalah senyawa yang sangat polar dengan kemampuan mengikat air hingga ratusan kali lebih besar daripada berat molekulnya. Kemampuan bilah palatum tumbuh mendaki disebabkan oleh daya ungkit diri (intrinsic shelves elevating force) yang terbentuk di bilah palatum oleh berbagai faktor terutama akumulasi spesifik hialuronan secara regional di bilah palatum. dan kematian sel (apoptosis). 2) pertumbuhan seperti mendaki (shelves elevation). 3) pertumbuhan horizontal (horizontal shelves growth).9 Ferguson (1988) membagi palatogenesis ke dalam 4 tahap. kolagen tipe I juga turut membangun daya ungkit diri bilah palatum dengan cara mengorganisasi diri dalam bentuk berkas memanjang dari dasar hingga ujung bilah. Dengan demikian perubahan konsentrasi hialuronan yang kecil saja di suatu wilayah jaringan dapat menimbulkan perubahan keseimbangan osmosis yang besar. Sintesis hialuronan di bilah palatum distimulasi oleh EGF dan TGFP1.9 Pada tahap ini distribusi hialuronan di bilah palatum lebih banyak di aspek oral daripada di aspek nasalnya. 6. 9 Palatum sekunder terbentuk dari pertumbuhan dua tonjolan maksila yang disebut palatine shelves/processus palatina lateral. yaitu 1) pertumbuhan awal bilah palatum (initial palatal shelvas growth). Pada tahap berikutnya ujung-ujung bilah palatum akan tumbuh naik seperti mendaki hingga menempatkan diri di atas punggung lidah yang sedang berkembang. 9 Akumulasi hialuronan yang lebih tinggi di aspek oral bilah palatum memicu hidrasi dan pembengkakan wilayah setempat sehingga densitas sel di wilayah tersebut menjadi lebih rendah. Proses tumbuh horizontal melibatkan aktivitas pembelahan . Setelah itu bilah palatum yang kini sudah menempati posisi di atas lidah akan tumbuh saling mendekat secara horizontal dari kedua arah hingga terjadi kontak antara kedua ujungnya. 9 Tahap pertumbuhan mendaki hanya membutuhkan waktu yang singkat yaitu beberapa menit hingga jam. Pada awalnya pertumbuhan bilah terjadi secara vertikal dengan kedua ujung bilah mengarah ke dasar mulut.diferensiasi sel. Keseluruhan kejadian tersebut juga terminate secara spesifik pada tahap-tahap tertentu dari palatogenesis. 7. dan 4) fusi (palatal fusion).

Degradasi MEE menyebabkan lapisan mesenkim dari kedua arah dapat tumbuh membentuk struktur sinambung. 6. Terdapat beberapa pendapat tentang degradasi anyaman epitel MEE. 6 Kontak antara 2 ujung palatine shelves memicu serangkaian proses yang diarahkan pada keberhasilan fusi palatum membentuk struktur berkesinambungan yang kokoh menutup sempurna langit-langit mulut. yaitu di aspek oral. palatine shelves telah memiliki struktur histologi. Kemudian di bagian anterior terjadi penyatuan dengan palatum primer. pada titik pertemuan ini terjadi foramen incisivum. Demikian juga telah dapat dibedakan epitel di 3 wilayah. nasal dan medial (Medial Edge Epithelium/MEE).9 Gambar 2. Sebelum kontak terjadi.8. yaitu melalui kematian sel . yaitu jaringan mesenkim sebagai struktur tubuh palatine shelves dan jaringan epitel melapisi sisi luarnya.sel dan sintesis senyawa matriks ekstrasel. karena setelah anyaman terbentuk sel-selnya dengan segera terdegradasi. Perkembangan embriologi pembentukan palatum Dikutip dari kepustakaan no.7. Kontak terjadi antar MEE dari kedua tonjolan yang segera diikuti oleh pembentukan anyaman epitel. Usia anyaman epitel tersebut ternyata sangat singkat.

(apoptosis) atau melalui migrasi sel ke aspek oral dan nasal bilah atau melalui transdiferensiasi epitel menjadi mesenkim.9 Kunci yang berperan dalam transdiferensiasi MEE adalah Transforming Growth Factor-β3 (TGF-β3). Yamada (1983) mengemukakan bahwa agar transdiferensiasi epitel ke mesenkim dapat berlangsung dibutuhkan 3 syarat. yakni (1) degradasi membrana basalis.9 Selain growth factor. (1999) melaporkan bahwa mencit TGF-β3 yang knockout ternyata lahir dengan cacat celah langit-langit. Pendapat yang umum diterima saat ini adalah bahwa kemungkinan ketiga kejadian tersebut berakhir dalam fusi palatine shelves tetapi pada wilayah epitel yang berbeda. dan (3) tersedianya ruang antarsel yang lebih longgar. senyawa matriks ekstrasel hialuronan diperkirakan turut berperan dalam transdiferensiasi MEE.6. (2) pelonggaran tautan sel. Taya.8 • Anatomi Palatum mulutnya selalu bercelah (celah langit-langit fisiologis). Pada percobaan invitro ternyata celah tersebut dapat distimulasi menutup melalui pemberian .7. Demikian juga telah dilaporkan bahwa pada palatum ayam yang secara normal sel-selnya tidak mengekspresikan TGF-β3 kondisi langit-langit TGF-β3. dkk. 9 Pada saat yang sama. septum nasal akan tumbuh kearah bawah dan bergabung dengan permukaan atas palatum yang baru terbentuk. Kemudian palatine shelves dan palatum primer akan saling bertemu dan saling menyatu pada minggu ke-7 dan ke-10 masa pertumbuhan embrio. 6.

uvula berperan dalam mengangkat bagian terbesar velum selama konstraksi . m. Processus horizontalis memberikan kontribusi pada aspek posterior dari palatum durum dan menjadi lantai dari choana. levator veli palatini. mulai dari bentukan sederhana pada hard palate (palatum durum) sampai bentuk yang komplit dari alveolus. dan m. uvula. m. Ketiga otot yang mempunyai konstribusi terbesar terhadap fungsi velopharyngeal adalah m. Anatomi palatum Dikutip dari kepustakaan no. ossa palatina dan pterygoideus plate adalah bagian dari palatum sekunder. Sedangkan struktur yang terletak dibagian posterior dari palatum primer yang meliputi sepasang maxilla. 5 Bagian-bagian dari tulang palatum merupakan sebuah struktur yang simetris dan berdasarkan embriologinya dibagi menjadi palatum primer dan sekunder. palatopharyngeus. Otot yang melekat pada palatum Dikutip dari kepustakaan no. alveolus dan bibir. Os palatina terdiri dari processus horizontalis dan processus piramidalis. levator veli palatini. Sedangkan processus piramidalis memanjang secara vertikal untuk berkontribusi pada dasar orbita. m. Tingkat keparahan dari cleft pada tulang palatum bervariasi. Os palatina terletak di bagian posterior dari maxilla dan lamina pterygoideus. 1. 5. palatoglosus dan m. uvula. tensor veli palatini. Premaxilla.10 Gambar 4.Gambar 3.5 M.11 Terdapat enam otot yang melekat pada palatum yaitu m. m. yang merupakan bagian anterior dari incisive foramen merupakan bagian dari palatum primer. m. constrictor pharyngeus superior. constriktor pharyngeus superior.

n. palatopharyngeus berfungsi menggerakkan palatum kearah bawah dan kearah medial. 2 . Fungsi utama otot ini menyerupai fungsi m. palatum juga .m. Vaskularisasi terutama berasal dari a. Sedangkan a. tensor veli palatini.cavum dentis. tensor timpani yaitu menjamin ventilasi dan drainase dari tuba auditiva. 15 . yang berperan dalam pembentukan venom nasal dengan membiarkan aliran udara yang terkontrol melalui rongga hidung. levator veli palatine mendorong velum kearah superior dan posterior untuk melekatkan velum kedinding faring posterior. nasalis posterior septi. palatina major. 14 m. 11 .5 Gambar 5. 7 .uvula. palatoglossus terutama sebagai depressor palatum. 19 . 18 – n. Otot yang terakhir adalah m.palatinus medius. M. Selain itu. 10 .palatinus anterior.m. 1. dilakukan oleh m. 5 . tensor veli palatine.tonsilla palatina.constrictor pharyngis superior.pterygoideus medialis. 17 n. 12 . 8 . 11 1 .gll.m.otot ini.n. 9 m.buccinator. palatina minor lewat melalui foramen palatina minor. Pergerakan dinding faring ke medial.n.palatoglossus. nasopalatinus dan a.palatinae. otot ini tidak berperan dalam pergerakan palatum. trigeminus cabang maxilla yang membentuk pleksus yang menginervasi otototot palatum. Inervasi palatum berasal dari n.palatopharyngeus. 3 . 4 m. 13 . Anatomi palatum Dikutip dari kepustakaan no. constriktor pharyngeus superior yang membentuk velum kearah dinding posterior faring untuk membentuk sfingter yang kuat.lingua. M.m. M. palatina mayor yang masuk melalui foramen palatina mayor.m. 6 .a. palatina minor dan m. lingualis.masseter. 16 . stylogiossus. palatinus posterior.

12 IV. sehingga dengan demikian sangat rentan terhadap pengaruh yang berasal dari faktor lingkungan serta genetik. 1.4. dengan pengecualian m. 6 Celah palatum baik primer atau sekunder dapat bersifat komplit (unilateral atau bilateral) atau tidak komplit. sedangkan palatum mole (sebagian besar terdiri dart otot) berfungsi sebagai barier yang dinamis diantara mulut dan hidung.mendapat inervasi dari nervus cranial VII dan IX yang berjalan disebelah posterior dari pleksus. tergantung pada tingkatan dari fusi yang terjadi selama perkembangan embrio. n. FAKTOR RISIKO Pembentukan wajah dikoordinasikan oleh peristiwa morfogenetik yang kompleks dan adanya ekspansi proliferatif yang cepat. yang secara intermiten akan membuka atau menutup (katup) sehingga dapat menjalankan fungsi berbicara dan saluran napas. 13 Bibir atas akan terbentuk lebih awal dari pada palatum. dan memungkinkan terjadinya peningkatan insiden malformasi pada wajah. Katup velopharyngeal memfasilitasi dalam proses menelan dan merupakan tempat produksi suara khususnya untuk semua vokal dan konsonan dalam bahasa inggris. Dan pembentukan . PATOFISIOLOGI Dasar embriologi dari cleft palate adalah kegagalan dari massa mesenchymal baik yang berasal dari prominences maksila atau dari prominences nasalis medial untuk bertemu dan menyatu satu sama lain. Celah yang terjadi pada palatum sekunder terjadi dibagian posterior foramen incisive.6 V.5 • Fungsi Palatum Bagian keras dari palatum sekunder (palatum durum) berfungsi sebagai suatu partisi yang statis diantara rongga mulut dan hidung pada saat makan. dan ng. dan merupakan hasil dari kegagalan massa mesenchymal pada processus palatine lateral untuk menyatu satu sama lain dan dengan septum nasi. Celah pada daerah palatum primer terjadi pada bagian anterior dari foramen incisive dan merupakan hasil dari kegagalan massa mesenchymal pada processus palatine lateral untuk menyatu dengan processus palatina media. Jenis-jenis celah yang terlihat dalam praktek klinis dapat membantu seseorang untuk lebih memahami tentang perkembangan embriologi dari palatum.

Dalam hal ini. celah-celah ini masih dapat muncul pada beberapa kasus. orang tua. Mekanisme biologis dari penyatuan antara kedua sisi. elemen tertentu dapat juga menjadi faktor pendukung dalam menghasilkan anak-anak yang terpengaruh. hadirnya sebuah gen yang diidentifikasi sebagai MTHFR 677TT bersama dengan diet asam folat yang rendah dapat mengarah pada peningkatan celah orofasial. Sebagai tambahan bagi faktor-faktor ini. seringnya dalam kombinasi dengan satu atau lebih faktor-faktor lingkungan. dan ketidakseimbangan gizi. maxillar prominence. ataupun sanak saudaranya memiliki riwayat yang sama. dan mandibular prominence). polusi lingkungan. 14 • Faktor Genetik Faktor genetik diyakini diperhitungkan pada beberapa kelainan. Cleft lip dan cleft palate juga dapat terjadi sebagai akibat dari paparan virus atau bahan kimia selama janin berada dalam kandungan. Ada 2 dua tipe utama dari celah bibir dan palatum pada orang-orang kulit putih. Juga terdapat beberapa bukti bahwa variasi gen maternal dan/atau janin bersama dengan maternal yang merokok dapat mengarah pada terjadinya celah oral pada janin. Juga terdapat indikasi bahwa bahkan dengan asupan asam folat yang sesuai. Proses ini sangat rentan terhadap zat-zat yang bersifat toksik. Faktor genetik lainnya yang dapat mempengaruhi munculnya celah orofasial termasuk kemampuan maternal untuk mempertahankan konsentrasi Zn . yang dapat mengkode untuk varian transforming growth factor-alpha (TGF-a). Kemungkinan munculnya cleft akan lebih besar pada bayi yang baru lahir jika saudara kandung. cleft lip dan cleft palate mungkin merupakan bagian dari kondisi medis lainnya. tidak terlihat memiliki etiologi gen utama untuk celah oral. 14 Penyebab potensial lainnya mungkin berhubungan dengan tindakan medikasi yang dilakukan si ibu selama proses kehamilan. dan bagaimana mereka saling menyatu dan melekat merupakan mekasime yang cukup kompleks dan tidak jelas meskipun penelitian ilmiah secara intensif telah dilakukan. Tipe kedua sifatnya multifaktorial. Banyak ahli berpendapat bahwa terjadinya suatu cleft merupakan suatu kombinasi dari faktor genetik dan lingkungan.palatum merupakan langkah terakhir dari penyatuan seluruh lobus-lobus embrionik wajah (frontonasal prominence. 13 Pada kebanyakan kasus. penyebab terjadinya cleft lip dan cleft palate belum sepenuhnya diketahui. Tipe pertama dikontrol oleh gentunggal. Pada orang Asia. Dalam situasi lainnya. Beberapa obat dapat menyebabkan terjadinya cleft lip dan cleft palate.

Sebagai tambahan. Sebuah studi mengindikasikan bahwa riwayat keluarga untuk kasus celah. Hanson 1984. janin dengan celah oral lebih mungkin terkena penyakit jantung kongenital. Lammer 1985). Wyszynski 1996. kokain atau ekstasi. aspirin. Zackai 1975). Feldman 1977. Isotretionin (accutane) telah diidentifikasi sebagai faktor penyebab potensial untuk celah oral (Benke 1984. Kallen 2003. urutan kelahiran. dan glukokortikoid selama trimester pertama telah diperkirakan (Kallen 2003). bagaimanapun penyakit-penyakit ini lebih mungkin dihubungkan dengan sebuah sindroma dibadingkan dengan celah tersendiri. Sebagai tambahan. ibuprofen. Rosenberg 1983). Hubungan antara asupan maternal berupa sulfasalazin. 2 Maternal yang merokok telah dihubungkan dengan celah bibir dan palatum pada keturunannya. sistem pencernaan bagian atas dan anomali muskuloskeletal lainnya berada pada peningkatan resiko untuk mendapatkan celah bibir dan/atau celah palatum. usia maternal saat kelahiran. naproksen. juga merokok. 2 Jenis kelamin janin mempengaruhi resiko celah oral. Janin yang lahir dengan malformasi lainnya seperti keterlibatan sistem pernapasan. trimetadion. Hanson 1976. valproat. mata. dimana wanita berada pada resiko lebih besar untuk celah palatum sendiri. termasuk pseudoefedrin. Pengobatan antikonvulsi seperti fenobarbital. Diazepam (valium) dan bendektin tidak ditemukan dapat meningkatkan angka kejadian celah oral (Mitchell 1981. Meadow 1970. dan dilantin telah tercatat meningkatkan insiden celah bibir dan/atau celah palatum (Ardinger 1988. Aminopterin (obat kanker) juga telah dihubungkan pada perkembangan celah oral (Warkany 1978). Pria lebih sering dibanding wanita untuk mendapat celah bibir dengan atau tanpa celah palatum. 2 • Faktor Lingkungan Asupan maternal dari obat-obatan vasoaktif. Malformasi lainnya yang dihubungkan dengan celah termasuk defek sistem pernapasan. terdapat bukti bahwa mungkin saja ada . Ketika nutrien-nutrien ini tidak dimetabolisme dengan tepat maka kerusakan pada sintesis dan transkipsi DNA dapat muncul. Kemampuan maternal untuk mempertahankan tingkat vitamin B6 dan B12 yang sesuai dan kemampuan fetus untuk memanfaatkan nutrien ini juga dilihat sebagai faktor dalam perkembangan celah oral. amfetamin.(zinc) sel darah merah dan konsentrasi mio-inositol (sebuah gula alkohol heksa hidrosisikloheksan). telah dihubungkan dengan resiko lebih tinggi untuk celah oral. Holmes 2004. telinga. maternal yang merokok pada trimester pertama dan konsumsi alkohol selama kehamilan tidak menjelaskan perbedaan jenis kelamin.

telah dilaporkan meningkatkan angka kejadian celah bibir (Cordier 1997). Hassler 1986. jumlah kasus dalam studi tersebut kecil. Pemaparan maternal terhadap bahan kimia laboratorium umumnya tidak dilihat sebagai sesuatu yang penting. Munger 1996. dan pengukuran terhadap pemaparan timah hanya berdasarkan catatan sensus (Irgens 1998). dimana bahwa penggunaan besi kelihatannya dimenhidrinat (sebuah efek proteksi obat anti mual atau muntah) lebih sering terjadi diantara subjek ibu-ibu memiliki melawan kondisi ini (Czeizel 2003). 2 Pemaparan pekerjaan maternal terhadap glikol-eter. Shaw 1999. Pemaparan terhadap larutan organik seperti xylen. 2 Kortikosteroid. Shaw 1996. Wyszynski 1996). Wyszynski 1996). Pekerjaan maternal termasuk bagian pelayanan seperti pekerja salon. timah. Lammer 2004). studi lainnya gagal menemukan hubungan antara pestisida dengan resiko terjadinya celah oral (Shaw 1995. Kebiasaan minum alkohol juga dapat meningkatkan resiko celah oral (Lorente 2000. pertanian. baik digunakan secara topikal maupun sistemik memiliki hubungan dengan peningkatan resiko pembentukan celah orofasial (Edwards 2003. Sebuah studi menemukan dengan celah palatum. dilihat sebagai faktor pendukung untuk peningkatan malformasi puncak neuron pada keturunan. Lorente 2000. toluen dan aseton juga telah dilaporkan meningkatkan angka kejadian defek ini (Holmberg 1982. bagaimanapun. sebuah bahan kimia yang ditemukan dalam beragam produk domestik dan industri. Sebuah studi menemukan angka kejadian celah oral lebih rendah diantara keturunan wanita yang pernah mengalami hiperemesis gravidarum ("morning sickness" berat) (Czeizel 2003). termasuk pembentukan celah orofasial (Wennborg 2005). Clarren 1978. Streissguth 1980. namun pemaparan terhadap larutan organik. Fallin 2003. Garcia 1998. khususnya benzen. 2 Tinggal dekat dengan tempat limbah berbahaya tidak terlihat meningkatkan resiko . Pradat 2003).interaksi kuat antara variasi gen tertentu dari maternal dan/atau janin dengan merokok yang dapat menyebabkan celah oral pada janin (Hwang 1995. Wyszynski 1996). Kafein tidak dihubungkan dengan kejadian celah oral (Rosenberg 1982). dan asam alifatik telah dilaporkan meningkatkan angka kejadian celah oral (Bianchi 1997. Bagaimanapun. dan perusahaan kulit atau sepatu. begitu juga pemaparan terhadap pestisida. Tetapi dalam beberapa penelitian lainnya tidak menemukan adanya hubungan ini (Meyer 2003). Satu studi gagal menemukan hubungan antara pemaparan pekerjaan orangtua terhadap timah dengan resiko celah oral. Werler 1991).

Munger 1997. Penggunaan multivitamin pada maternal telah menemukan pengurangan yang bermakna dalam resiko celah palatum dan pengurangan yang tidak bermakna untuk resiko celah bibir (Werler 1999). 2. 2 Beberapa celah orofasial dapat terdiagnosa dengan USG prenatal. Sebagai hasilnya. ibu-ibu dengan genotipe MTHFR 677TT atau MTHFR 1298CC dan asupan folat rendah ternyata meningkatkan resiko untuk celah bibir dengan atau tanpa celah palatum diantara keturunan mereka (Jugessur 2003. baik unilateral maupun bilateral. Malek 2003. rujukan kepada ahli bedah plastik tepat dilakukan dalam upaya untuk konseling dalam usaha menghilangkan ketakutan. DIAGNOSA Terbentuknya celah pada palatum biasanya terlihat selama pemeriksaan bayi pertama kali. Gambaran penggunaan asam folat oleh maternal telah ditemukan mengurangi resiko defek pembuluh saraf.untuk kejadian celah bibir dan palatum (Croen 1997). juga vitamin A (Mitchell 2003). namun tertutupi oleh garis mulut yang lembut dan kokoh. 2 VI. tidak juga pemaparan pekerjaan orang tua terhadap daerah magnetik 50 Hz (Blaasaas 2002). pertanyaan telah diajukan tentang apakah ada efek proteksi yang sama untuk defek lahir lainnya. Diagnosa antenatal untuk celah bibir. 2 Telah diduga bahwa nutrisi memainkan peranan dalam manifestasi celah oral. Satu pengecualian adalah celah submukosa dimana terdapat celah pada palatum. Ketika diagnosa antenatal dipastikan. Vitamin B dan zinc juga telah dilaporkan mengurangi resiko celah oral (Munger 1997. termasuk celah oral. Munger 2004. 8 . Shaw 1995. Mulinare 1995. Krapels 2004). van Rooij 2003). Sebagai tambahan. dimana studi lain gagal menemukan efek seperti itu (Hays 1996). Beberapa ambigu studi-studi tersebut mungkin dapat dijelaskan oleh studi baru-baru ini yang menemukan bahwa resiko celah oral dapat dikurangi hanya dengan dosis tinggi konsumsi asam folat pada waktu pembentukan bibir dan palatum (Czeizel 1999). Beberapa studi tidak mampu menemukan bukti meyakinkan efek pemaparan klorinasi air dan klorinasi hasil tambahan (Hwang 2002 and 2003). Beberapa studi telah melaporkan penurunan angka kejadian celah bibir dan palatum dengan penggunaan asam folat (Czeizel 1996. Shaw 2002. Celah palatum tersendiri tidak dapat didiagnosa pada pemeriksaan USG antenatal. Tolarova 1995). namun tidak terdapat skrining sistemik untuk celah orofasial. dapat diungkinkan dengan menggunakan USG pada usia gestasi 18 minggu.

khususnya jika celah tersebut dihubungkan dengan kondisi genetik. proses makan akan tetap berjalan etektii. sehingga dapat terjadi refluks partikel makanan ke cavum nasi.8 Temuan Klinis Gejala patologis pada cleft palate dapat berupa masalah pada airway (jalan napas). Posisi tengkurap merupakan lagkah awal dalam mengantisipasi terjadinya obstruksi jalan napas. Celah pada atap mulut membuat bayi kesulitan menghisap cukup susu melalui puting. tersedak atau susu keluar dari hidung ketika diberi makan. secara umum mekanisme menelan masih dalam batas normal. Beberapa bayi juga memiliki masalah dengan tersumbat. bayi dengan celah bibir dan palatum dan bayi dengan celah palatum tersendiri biasanya memiliki masalah. perkembangan berbicara yang abnormal. 2. jika susu atau susu formula dapat dikirim ke bagian belakang tenggorokan anak. 10 Oleh karena itu. infeksi telinga yang berulang. • Masalah Jalan Pernapasan Bayi dengan Pierre Robin atau kondisi lain dimana cleft palate yang diamati dalam hubungannya dengan micrognathia atau retrognathic mandibula mungkin dapat menjadi sangat rentan terhadap terjadinya obstruksi jalan napas. Meskipun anak dengan cleft palate dapat membuat gerakan menghisap dengan mulut. tes genetik mungkin membantu menentukan perawatan terbaik untuk seorang anak. 2 Adanya hubungan antara cavum oris dan cavum nasi dapat mengganggu mekanisme menghisap dan menelan yang terjadi secara normal pada bayi dengan cleft palate. gangguan pendengaran dan distorsi pertumbuhan wajah. Oleh karena itu. 10 • Kesulitan Makan Bayi dengan celah bibir saja biasanya tidak memiliki banyak masalah ketika makan.Setelah lahir. anak-anak dengan cleft palate mungkin perlu untuk memakai palatum buatan agar dapat membantu mereka mendapatkan nutrisi yang adekuat . kini sudah ada dot dan botol yang khusus dibuat untuk mempermudah pemberian makan pada bayi dengan celah. Pemeriksaan genetik juga memberi informasi pada orangtua tentang resiko mereka untuk mendapat anak lain dengan celah bibir atau celah palatum. Pemberian ASI biasanya tidak berhasil kecuali jika produksi ASI banyak. Bagaimanapun. kesulitan ketika makan dan penyerapan nutrisi. Namun. namun adanya cleft palate mencegah anak dari menghisap secara adekuat. Walaupun demikian.

dengan prosedur bedah minor untuk mengalirkan cairan keluar. 2.10. dokter dapat memasukkan tabung kecil kedalam gendang telinga untuk mengalirkan cairan dan membantu mencegah infeksi. kehilangan pendengaran tidak perlu menjadi permanen. Selain itu. Masalah anatomi yang dihubungkan dengan celah dapat menambah cairan didalam telinga tengah.14 Jika diterapi dengan tepat pada masa bayi dan anak-anak. untuk beberapa kasus. seorang dokter spesialis.14 • Masalah Berbicara Anak-anak dengan cleft lip atau cleft palate dapat juga memiliki kesulitan dalam berbicara. 14 • Masalah Gigi Anak-anak dengan celah (cleft) lebih rentan terhadap ukuran gigi yang lebih besar dari rata-rata dan lebih sering hilang. dan kehilangan pendengaran dapat menjadi permanen. Kebanyakan anak-anak dengan celah palatum membutuhkan tabung telinga. 10. 2. 10. 2. jumlahnya lebih.14 Semua anak dengan celah palatum seharusnya memeriksakan telinga mereka setidaknya setahun sekali. atau terjadi perubahan letak sehingga memerlukan perawatan gigi dan ortodontik. Anak-anak ini memiliki suara yang tidak jelas. bayi menjadi demam dan telinganya sakit.sampai tindakan pembedahan dilakukan. anak- . Tidak semua anak-anak memiliki masalah seperti ini dan pembedahan mungkin dapat memperbaiki masalah ini secara keseluruhan. 2. yang disebut speech pathologist. perkembangan berbicara mungkin dipengaruhi oleh hilangnya pendengaran. terjadi malformasi. Cairan yang bertambah di dalam telinga tengah juga dapat menyebabkan kehilangan pendengaran ringan sampai sedang. 14 • Masalah Pendengaran Bayi dengan celah palatum lebih sering memiliki infeksi telinga berulang dibanding anak-anak lainnya. selalu dapat diterapi dengan obat-obatan atau. dan kata-katanya mungkin sukar untuk dimengerti. Jika cairan di telinga terdeteksi. akan bekerja sama dengan anak tersebut untuk mengatasi kesulitan dalam berbicara. dimana suara yang dikeluarkan berasal dari suara hidung (sengau). pada beberapa kasus. Untuk beberapa kasus yang lain. Jika cairan terinfeksi. Pada kasus yang persisten. Jika tidak ditangani dengan baik.

Post-alveolar cleft (cleft palate saja. soft median. atau submucous cleft) 2. Alveolar adalah tulang yang berada diatas gusi sebagai tempat melekat gigi. dokter gigi umumnya dapat mengatasi masalah ini dengan sukses. yang mana dibagi berdasarkan jauhnya celah (misalnya. Empat dari beberapa skema yang dapat diterima seperti dibawah ini. termasuk dokter gigi anak (untuk perawatan rutin). Suatu defek yang terjadi pada alveolus dapat (1) menggeser atau memutar gigi permanen. 1.Defek yang terjadi pada the soft palate (palatum molle) sampai ke alveolus. biasanya juga melibatkan salah satu sisi bibir (cleft komplit unilateral) d) Kelompok IV . 2 VII. (2) menghalangi munculnya gigi permanen. sebagai berikut: a) Kelompok I . Klasivikasi menurut Veau 15 Sistem klasifikasi menurut Veau membagi celah bibir dan langit-langit menjadi 4 kelompok: a)Kelompok I . Anak biasanya akan menerima perawatan berkelanjutan dari tim ahli.14 Untungnya.anak dengan cleft palate sering mengalami defek pada alveolar. 1/3. KLASIFIKASI Beberapa skema klasifikasi telah dirancang dalam 70 tahun terakhir ini untuk celah bibir dan langit-langit.Defek hanya terjadi pada soft palate (palatum molle) b)Kelompok II .Defek yang melibatkan hard palate (palatum durum) dan soft palate (palatum molle) c)Kelompok III . soft palate saja. jika dibutuhkan. 1/2).Cleft komplit bilateral . spesialis ortodonti (untuk reposisi gigi menggunakan pesawat gigi) dan seorang bedah mulut (untuk mereposisi segmen rahang atas. Klasifikasi menurut Davis and Ritchie 15 Membagi celah bibir dan langit-langit ke dalam 2 kelompok. dan memperbaiki celah pada gusi).Celah pada bagian anterior sampai ke alveolus (unilateral. 2. Masalah-masalah ini biasanya dapat di perbaiki dengan melakukan tindakan bedah mulut. atau bilateral cleft lip) b) palate dan hard palate. dan (3) mencegah terjadinya pembentukan alveolar. namun hanya ada beberapa saja yang secara klinis dapat diterima. Kelompok II .

15 a) Area 1 dan 4 . Sistem Klasifkasi menurut Kernahan dan Stark 15 Sistem ini menggambarkan suatu grafik skema klasifikasi yang menggunakan konfigurasi . Klasifikasi menurut Kernahan dan Stark (R = right. 15 3. yang mana dapat dibedakan menjadi 9 area.Hard palate (palatum durum) .Bibir b) Area 2 dan S . Gambar 8.Alveolus c) Area 3 dan 6 . Klasifikasi cleft lip dan palate dari Veau Dikutip dari kepustakaan no. L = left) Dikutip dari kepustakaan no. seperti yang diterangkan oleh gambar berikut.Gambar 7.Palatum yang berada diantara alveolus dan foramen incisive (palatum primer) d) Area 7 dan 8 .Y.

5 menggambarkan bagian dasar hidung kiri Persegi No.e) Area 9 . Persegi No. Semua struktur ini menggambarkan struktur prepalatal. Klasifikasi Kernahan modifikasi Millard Dikutip dari kepustakaan no. 1 menggambarkan bagian dasar hidung kanan.Soft palate (palatum mole) Sistem ini telah dimodifikasi oleh Millard yang juga mamasukkan deskripsi mengenai ujung nasal dan dasar nasal (lihat gambar di bawah). Segitiga No. 4 menggambarkan palatum durum bagian anterior sampai pada foramen incisive pada sebelah kanan. 16 a Segitiga No.3 menggambarkan alveolus kanan. Persegi No. 9 dan No. Struktur dari palatum terdiri dari persegi No. 7 menggambarkan alveolus kiri Persegi No. a a a a Lingkaran No.6 menggambarkan bibir sebelah kiri. 11 yang menggambarkan palatum molle. 2 menggambarkan bibir sebelah kanan. Persegi No. 8 menggambarkan palatum durum yang berlawanan pada sisi kiri. 10 yang mana menggambarkan palatum durum dan persegi No. Gambar 9. Persegi No. 13 menggambarkan premaxilla 18 . 12 menggambarkan bagian posterior dinding pharyngeal Lingkaran No.

asupan gizi yang cukup dilihat dari keseimbangan berat badan yang dicapai dan usia yang memadai. melibatkan berbagai unsur antara lain. 17 • Pada tahap sebelum operasi yang dipersiapkan adalah ketahanan tubuh bayi menerima tindakan operasi. Hb lebih dari 10 gr % dan usia lebih dari 10 minggu. ahli Ortodonti. atau keduanya] c) Kelompok III .4. tahap sewaktu operasi dan tahap setelah operasi. dengan pembagian lebih lanjut untuk menunjukkan kasus unilateral atau bilateral. ahli Bedah Plastik. 1 Ada tiga tahap dalam penanganan cleft orofacial. Misalnya memberi minum harus dengan dot khusus dimana ketika dot dibalik susu dapat memancar keluar sendiri dengan jumlah yang optimal artinya tidak terlalu besar sehingga membuat bayi tersedak atau terlalu kecil sehingga membuat asupan gizi menjadi tidak cukup. soft palate (palatum molle). Setiap spesialisasi punya peran yang tidak tumpang-tindih tapi saling saling melengkapi dalam menangani penderita cleft palate secara paripurna. jika dot . ahli THT untuk mencegah dan menangani timbulnya otitis media dan kontrol pendengaran. menggunakan kerangka embrio untuk membagi cleft kedalam 3 kelompok.Cleft yang terjadi pada palatum sekunder [hard palate (palatum durum). jika bayi belum mencapai rule of ten ada beberapa nasehat yang harus diberikan pada orang tua agar kelainan dan komplikasi yang terjadi tidak bertambah parah.Defek yang terjadi pada bibir atau alveolus b) Kelompok II .Berbagai kombinasi dari cleft yang menyangkut palatum primar dan sekunder VIII. seperti berikut ini: a)Kelompok I . Patokan yang biasa dipakai adalah rule of ten meliputi berat badan lebih dari 10 pounds atau sekitar 4-5 kg . serta speech therapist untuk fungsi bicara. dan Anestesiologis. Klasifikasi dari International Confederation of Plastic and Surgery 15 Reconstructive Sistem klasifikasi yang digunakan oleh The International Confederation of Plastic and Reconstructive Surgery. Terdapat 2 tujuan pada perbaikan celah palatum selama masa bayi. yaitu tahap sebelum operasi. dan (2) untuk perbaikan muskulus levator dengan tujuan untuk menormalkan fungsi berbicara. PENANGANAN Penanganan kecacatan pada celah bibir dan celah langit-langit tidaklah sederhana. yaitu (1) membuat penutupan kedap yang komplit pada palatum sekunder untuk pemisahan kavitas oral dan nasal.

Terdapat 3 kategori utama. dan (3) salah satu dari kedua teknik tersebut di atas dengan reaproksimasi otot palatum secara langsung.10 . Operasi untuk langit-langit (palatoplasty) optimal pada usia 18 .9 tahun bekerjasama dengan dokter gigi ahli ortodonsi. sudah ada mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang salah. koreksi untuk gusi dilakukan pada saat usia 8 . fungsi bicara tetap terganggu seperti sengau dan lafalisasi beberapa huruf tetap tidak sempurna.5. (2) penutupan palatum dengan pemanjangan palatum.dengan besar lubang khusus ini tidak tersedia bayi cukup diberi minum dengan bantuan sendok secara perlahan dalam posisi setengah duduk atau tegak untuk menghindari masuknya susu melewati langit-langit yang terbelah. yaitu (1) penutupan palatum sederhana.20 bulan mengingat anak aktif bicara usia 2 tahun dan sebelum anak masuk sekolah. Bila gusi juga terbelah (gnatoschisis) kelainannya menjadi labiognatopalatoschisis. • Selanjutnya adalah tahap setelah operasi. Operasi yang dilakukan sesudah usia 2 tahun harus diikuti dengan tindakan speech terapi karena jika tidak. Banyaknya penderita bibir sumbing yang datang ketika usia sudah melebihi batas usia optimal untuk operasi membuat operasi hanya untuk keperluan kosmetika saja sedangkan secara fisiologis tidak tercapai. biasanya dokter bedah yang menangani akan memberikan instruksi pada orang tua pasien misalnya setelah operasi bibir sumbing luka bekas operasi dibiarkan terbuka dan tetap menggunakan sendok atau dot khusus untuk memberikan minum bayi. pada saat ini yang diperhatikan adalah soal kesiapan tubuh si bayi menerima perlakuan operasi. penatalaksanaanya tergantung dari tiap- tiap jenis operasi yang dilakukan. tindakan speech teraphy pun tidak banyak bermanfaat. setelah operasi suara sengau pada saat bicara tetap terjadi karena anak sudah terbiasa melafalkan suara yang salah. hal ini hanya bisa diputuskan oleh seorang ahli bedah. Teknik perbaikan yang akan dilakukan berbeda-beda tergantung dari apakah cleft tersebut hanya merupakan suatu bentuk cleft palate saja atau merupakan bagian dari cleft lip/palate unilateral atau bilateral. 17 Terapi Pembedahan Teknik pembedahan yang digunakan untuk menutup cleft palate sangat luas. 4. • Tahapan selanjutnya adalah tahapan operasi.

tulang hamulus dapat di patahkan untuk memudahkan penutupan cleft. Sedangkan kerugiannya adalah bahwa teknik ini tidak menambah ukuran panjang dari palatum. 10 a Palatal Lengthening / V-Y Pushback 18 Inkompetensi velopharyngeal relatif sering terjadi setelah dilakukan palatoplasty baik itu oleh karena adanya insufisiensi mobilitas dari palatum mole atau karena panjang dari palatum yang telah diperbaiki inadekuat untuk mencapai dinding pharyngeal posterior. sehingga menyebabkan cleft pada palatum primer maupun sekunder tidak menutup. Teknik ini menggunakan teknik flap bipedikel mukoperiosteal yang dibuat dengan menginsisi sepanjang sisi dari mulut di tepi dari cleft dan sepanjang alveolar posterior dari tuberositas maxillaris ke bagian anterior dari cleft. 4 Selain tersebut diatas. Untuk menambah ukuran panjang anteroposterior dari palatum . Teknik pembedahan menurut Von Langenbeck Dikutip dari kepustakaan no.19 Kelebihan dari teknik ini adalah bahwa pada teknik ini tidak memerlukan banyak intervensi pembendahan dan cukup sederhana. beberapa kekurangan dari teknik ini termasuk terjadinya fistula anterior dan hasil suara yang tidak bagus karena adanya pemendekan dari palatum molle. Flap kemudian diarahkan ke medial dengan mempertahankan arteri palatine dan menutupnya di dalam lapisan. Obstruksi jalan napas pada saat tidur juga menjadi masalah yang signifikan pada teknik ini. 5.4 Gambar 10. Jika perlu.10.• Teknik Pembedahan a The Von Langenbeck Procedure Teknik ini diperkenalkan oleh von Langenbeck dan merupakan operasi cleft palate yang tertua dan masih digunakan sampai saat ini.

sehingga dapat meningkatkan kemampuan velopharyngeal. Teknik palatoplasty Veau-Wardill-Kilner atau V-Y pushback berasal dari modivikasi teknik von Langenbeck. berbagai macam variasi flap mucoperiosteal yang dilakukan pada palatum durum telah dijelaskan dalam literatur. Modifikasi ini memungkinkan lebih banyak kemajuan flap daripada teknik von Langenbeck dan memungkinkan pemanjangan bagian posterior dari palatum. Teknik palatoplasty Veau-Wardill-Kilner pushback dapat digunakan untuk perbaikan pada celah inkomplit dari palatum durum. Inti dari teknik ini adalah pada V . Bagaimana pun. . modivikasi ini melibatkan diseksi yang luas. Teknik palatoplasty Wadrill-Kilner pushback menawarkan perbaikan jangka panjang yang signifikan untuk kemampuan berbicara khususnya untuk bunyi sengau.Y untuk memperpanjang palatum molle. 18 Pedicle superior dipisahkan meninggalkan flap mucoperiosteal pada kedua sisi dari cleft berdasarkan pada pedicle palatum posterior yang paling besar. flap mucoperiosteal kemudian dapat didekatkan secara langsung atau pada penutupan V . Teknik ini dapat digunakan untuk menambah ukuran panjang dari palatum.Y insisi dan penutupan pada palatum durum. Teknik Palatal Lengthening / V-Y Pushback Dikutip dari kepustakaan no.pada saat palatoplasty. Gambar 11. Teknik pushback memiliki keunggulan dalam hal pamanjangan dari palatum dan reposisi dari musculus levator pada suatu posisi yang lebih menguntungkan. Desain flap pada teknik ini mirip dengan teknik palatoplasty von Langenbeck. Kemudian pada ujung anterior yang bebas.

Pada tulang palatum yang terbuka dimana flap mucoperiosteal berasal memberikan efek buruk pada pertumbuhan midfacial pada pasien-pasien cleft palate. Kemudian. pada teknik ini terdapat beberapa kelemahan. Veau menekankan pentingnya sebuah jahitan yang melingkar untuk menarik musculus levator secara bersamaan.18 Janusz Bardach pertama kali mendeskripsikan teknik two flap palatoplasty ini pada tahun 1967. Teknik asli two-flap palatoplasty Bardach hanya dapat digunakan untuk menutup celah yang relatif sempit dengan melepaskan flap mucoperiosteal dari tepi cleft. Braithwaite dan Kriens lebih meningkatkan teknik ini. Sebuah studi prospektif terkontrol yang dilakukan oleh Marsh et al. Teknik ini juga meningkatkan terjadinya fistula pada cleft palate komplit daripada teknik lainnya karena hanya terdiri dari satu lapis mukosa hidung dibagian anterior. bagaimana pun. Mereka menekankan kehati-hatian dalam melakukan pembedahan pada posisi musculus levator yang abnormal dan perlunya untuk membebaskan levator palatini dari bagian ujung posterior palatum durum untuk mengembalikan levator sling dan memungkinkan terjadinya penutupan di midline akibat dari bebasnya tekanan. a Two-flap Palatoplasty 10. Sedang yang lain. a Intravelar Veloplasty 10. Generasi baru dari ahli bedah cleft berfokus pada anatomi dan fisiologi dari sfingter velopharyngeal.18 Prosedur mereposisi musculus levator atau veloplasty intravelar selama palatoplasty merupakan metode yang paling sering digunakan untuk mencapai kemampuan velopharyngeal. Pada awal abad 20. Victor Veau pertama kali mendeskripsikan "cleft muscles" dan menganjurkan konsep tentang re-approximasi midline musculus levator palatini. dari sisi ke sisi. beberapa modifikasi dari teknik ini melibatkan diseksi yanglebih luas dan extensi dari sayatan yang mengalami relaksasi di sepanjang tepi alveolar . menemukan bahwa tidak ada perbedaan antara intravelar veloplasty dan teknik sisi ke sisi yang konvensional terhadap inkompetensi velopharyngeal.Namun. setelah dilakukan pengkajian berulang selama beberapa tahun. telah menemukan diseksi musculus levator yang lebih radikal dan Baling tumpang tindih pada pasien cleft palate yang memberikan hasil yang lebih baik secara fungsional dalam kompetensi velopharyngeal dan fungsi otologi.

flap mukoperiosteal dari segmen medial dapat digeser melintasi cleft dan menutup tepat di belakang batas alveolar. bukan pemanjangan dari velar. Two-flap palatoplasty juga mempunyai efek yang minimal pada pertumbuhan maxillofacial karena adanya area yang terbatas dari tulang yang mengalami denudasi pada palatum durum ketika flap mukoperiosteal dielevasi. beberapa penulis percaya bahwa untaian otot dalam palatum molle. Teknik two-flap palatoplasty Dikutip dari kepustakaan no. Namun. hampir dapat dihilangkan dengan menggunakan teknik ini. Dengan teknik ini. tidak diperlukan lagi penambahan luas flap mucoperiosteal . merupakan faktor penting untuk berbicara secara adekuat. Morris dan kawan-kawan mencatat bahwa 80% dari pasien yang diterapi dengan metode ini fungsi velopharyngealnya berkembang dalam batas normal. Gambar 12. Adanya fistula pada bagian anterior palatum durum.sampai tepi dari cleft sehingga terjadi penutupan karena bebasnya tegangan. a Furlow Double Opposing Z-Palatoplasty 18 Teknik Z-plasties ini dilakukan dengan membalikkan secara bergantian dari flap nasal dan oral dan mereposisi m. 10 Pada cleft komplit unilateral. levator veli palatine dalam bagian posterior dari flap yang dimobilisasi. meskipun 51 % diantaranya diperlukan terapi wicara. Keterbatasan dari teknik ini ialah pada teknik ini tidak dapat menambah panjang palatum yang diperbaiki untuk menghasilkan produksi suara yang normal.

sekitar umur 4-6 bulan dan kemudian perbaikan palatum durum dilakukan pada usia 12-15 tahun. palatum molle dapat diperpanjang bersamaan dengan reorientasi otot palatum.dari palatum durum. Dia menduga bahwa metode ini akan . 18 a Two-Stage Palatoplasty atau Velar Closure-Delayed Hard Palate Closure Adanya masalah dengan pertumbuhan maxilla telah membawa beberapa ahli bedah untuk melakukan pendekatan dengan teknik two-stage dalam palatoplasty dengan protokol yang berbeda yang ditujukan pada perbaikan awal palatum molle. Teknik ini telah menunjukkan keberhasilan yang dini baik dalam hal produksi suara maupun dalam hal pertumbuhan tulang midfacial. dimana jarak yang dilalui Z-plasties mungkin berlebihan. Schweckendiek memperkenalkan sebuah protokol two-stage palatoplasty yaitu penutupan yang lebih awal untuk palatum molle dan penundaan penutupan pada palatum durum untuk memungkinkan terjadinya pembentukan maxilla secara normal. Masalah mungkin dapat ditemukan ketika teknik ini digunakan untuk menutup suatu cleft palate yang sangat luas. Gambar 13. Schweckendiek mensyaratkan perbaikan palatum molle dilakukan pada saat yang bersamaan dengan perbaikan cleft lip. Teknik Furlow Double Opposing Z-Palatoplasty Dikutip dari kepustakaan no. Pada saat yang sama. yang diikuti dengan penundaan perbaikan palatum durum. Furlow Z-palatoplasty efektif untuk penutupan primer dari suatu cleft submucosa dan sebagai koreksi sekunder dari insufisiensi velopharyngeal marjinal.

tuli. 1 Perawatan setelah dilakukan operasi. dan kelainan pertumbuhan gigi. dan usia 9 .4. gangguan bicara. Berikan antibiotik selama tiga hari.4 tahun untuk melatih bicara benar dan miminimalkan timbulnya suara sengau. . KOMPLIKASI 1. Orang tua pasien juga bisa diberikan edukasi seperti. Selain itu dapat menyebabkan gangguan psikososial. posisi tidur pasien harusnya dimiringkan/tengkurap untuk mencegah aspirasi bila terjadi perdarahan. Perko kemudian memodifikasi protokol two-stage palatoplasty ini untuk melakukan perbaikan palatum molle pada usia 18 bulan dan melakukan penundaan untuk penutupan palatum sampai umur 5-6 tahun.memungkinkan terjadinya pertumbuhan maxilla dan produksi suara yang normal.6 tahun. tidak boleh makan/minum yang terlalu pangs ataupun terlalu dingin yang akan menyebabkan vasodilatasi dan tidak boleh menghisap/menyedot selama satu bulan post operasi untuk menghindari jebolnya daerah post operasi. Komplikasi post operatif yang biasa timbul yakni: a) Obstruksi Jalan Nafas Seperti disebutkan sebelumnya. sudah ada mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang salah. 1 IX. Pendekatan serupa juga dilakukan oleh Rohrick dkk. biasakan setelah makan makanan cair dilanjutkan dengan minum air putih. segera setelah sadar penderita diperbolehkan minum dan makan makanan cair sampai tiga minggu dan selanjutnya dianjurkan makan makanan biasa. karena setelah operasi suara sengau masih dapat terjadi suara sengau karena anak sudah terbiasa melafalkan suara yang salah.17 Anak dengan palatoschisis berpotensi untuk menderita flu.10 tahun spesialis bedah plastik melakukan operasi bone graft pada celah tulang alveolus seiring pertumbuhan gigi caninus. Pada usia anak 8 . yang mendukung perbaikan dua tahap yang labih awal dari palatum sehingga menghasilkan penutupan secara komplit dari cleft pada usia 15-18 bulan. Jaga higiene oral bila anak sudah mengerti.9 tahun ahli ortodonti memperbaiki lengkung alveolus sebagai persiapan tindakan alveolar bone graft. Bila setelah palatoplasty dan Terapi wicara masih didapatkan suara sengau maka dilakukan pharyngoplasty untuk memperkecil suara nasal (nasal escape) biasanya dilakukan pada usia 4 . Bila anak yang masih kecil. 18 Terapi wicara mulai diperlukan setelah operasi palatoplasty yakni pada usia 2 . obstruksi jalan nafas post operatif merupakan komplikasi yang paling penting pada periode segera setelah dilakukan operasi. otitis media.

penutupan fistula anterior maupun posterior yang persisten seharusnya dicoba tidak lebih dari 6 . yakni pada mereka yang volume darah totalnya rendah. Insidennya telah dilapornya cukup tinggi yakni sebanyak 34%. flap jaringan seperti flap lidah anterior bisa dibutuhkan untuk melakukan penutupan. Oleh karena itu. c) Fistel palatum Fistel palatum bisa timbul sebagai komplikasi pada periode segera setelah dilakukan operasi. Untuk menjaga dari kehilangan darah post operatif. terutama supply ke anterior merupakan alasan utama gagalnya penutupan dari fistula. Obstruksi jalan nafas bisa juga menjadi masalah yang berlarut-larut karena perubahan pada dinamika jalan nafas. Pada beberapa instansi. Saat ini. ketika supply darah telah memiliki kesempatan untuk mengstabilkan dirinya. Karena kayanya darah yang diberikan pada palatum.Keadaan ini timbul sebagai hasil dari prolaps dari lidah ke orofaring saat pasien masih ditidurkan oleh ahli anastesi. perdarahan yang terjadi mengharuskan untuk dilakukannya transfuse. Penempatan Intraoperatif dari traksi sutura lidah membantu dalam menangani kondisi ini. Suatu fistel pada palatum dapat timbul dimanapun sepanjang sisi cleft. prosthesis gigi bisa digunakan untuk menutup defek yang ada dengan hasil yang baik. Jika metode penutupan sederhana gagal. terutama pada anak-anak dengan madibula yang kecil. Pasien dengan gejala diharuskan untuk terapi pembedahan. b) Perdarahan Perdarahan intraoperatif merupakan komplikasi yang potensial terjadi.12 bulan setelah operasi. area palatum yang mengandung mucosa seharusnya diberikan avitene atau agen hemostatik lainnya. dan beratringannya cleft telah dikemukanan bahwa hal tersebut berhubungan dengan resiko timbulnya fistula. Injeksi epinefrin sebelum di lakukan insisi dan penggunaa intraoperatif dari oxymetazoline hydrochloride dapat mengurangi kehilangan darah yang bisa terjadi. pembuatan dan pemliharaan dari trakeotomi perlu sampai perbaikan palatum telah sempurna. Hal ini bisa berbahaya pada bayi. . banyak centre menunggu sampai pasien menjadi lebih tua (paling tidak 10 tahun) sebelum mencoba untuk memperbaiki fistula. Sedikitnya supply darah. Fistel cleft palate post operatif bisa ditangani dengan dua cars. atau hal tersebut dapat menjadi permasalahan yang tertunda. Pada pasien yang tanpa disertai dengan gejala. Penilaian preoperatif dari jumlah hemoglobin dan hitung trombosit sangat penting.

trauma yang tak disengaja dari anak yang aktif dimana sensasi pada bibirnya dapat berkurang pascaoperasi. Hal ini dapat terjadi akibat kontaminasi pascaoperasi. PROGNOSIS Meskipun telah dilakukan koreksi anatomis. Sebanyak 25% pasien dengan cleft palate unilateral yang telah dilakukan perbaikan bisa membutuhkan bedah orthognathic. h) Abnormalitas atau asimetri tebal bibir Hal ini dapat dihindari dengan pengukuran intraoperatif yang tepat dari jarak anatomis yang penting lengkung. Bila hal ini terjadi. dimana pada saat tersebut perbaikan jaringan parut dapat dilakukan tanpa membutuhkan anestesi yang terpisah. g) Malposisi Premaksilar Malposisi premaksilar seperti kemiringan atau retrusion. Salah satu efek negatifnya adalah retriksi dari pertumbuhan maksilla pada beberapa persen pasien. Palatum yang diperbaiki pada usia dini bisa menyebabkan berkurangnya demensi anterior dan posteriomya. atau tingginya yang abnormal.d) Midface Abnormalities Penanganan Cleft palate pada beberapa instansi telah fokus pada intervensi pembedahan terlebih dahulu. anak tetap menderita gangguan bicara sehingga diperlukan terapi bicara yang bisa diperoleh disekolah. tetapi jika anak . X. f) Wound Infection Wound infection merupakan komplikasi yang cukup jarang terjadi karena wajah memiliki pasokan darah yang cukup besar. ini tidak jelas. yang dapat terjadi setelah operasi. LeFort I osteotomies dapat digunakan untuk memperbaiki hipoplasia midface yang menghasilkan suatu maloklusi dan deformitas dagu. apakah hal tersebut merupakan perbaikan ataupun efek dari cleft tersebut pada pertumbuhan primer dan sekunder pada wajah. Kontrofersi yang cukup besar ada pada topik ini karena penyebab dari hipoplasia. dan inflamasi lokal yang dapat terjadi akibat simpul yang terbenam. anak dibiarkan berkembang hingga tahap akhir dari rekonstruksi langitan. e) Wound Expansion Wound expansion juga merupakan akibat dari ketegangan yang berlebih. yakni penyempitan batang gigi.

The nose and mouth. [cited 2 october 2012]. Jakarta. Sagung seto.html 2 october 2012]. Torn DDS. RN. 3. Patel. 12. P. Cleft palate in Kryger.edu/anatomy/anatomumanual/nose. [online].//www.//www. Fakultas matematika dan Ilmu pengetahuan alam Universitas Sumatera Utara. p: 185-7. Available from http. 5. 2011. August 2000. Cleft lip and palate in Thorne. Berder PL. Available from: http. [cited 2 october 2012]. Lippincott Williams & Wilkins philadelphia. p.com/ langit. Gambaran histologi transdiferensiasi epitel pediactric nursing.com/ 2009.medscape. [cited 2 october 2012]. [online] 8 octber 20011. et al. 1may Hopper. 6.com/ Grabb and smith’s plastic surgery – 6th ed. reconstructuve surgery for cleft palate. Plastic surgery for cleft palate. Charles H. Cleft palate. Cleft lip and palate. 28 august 2008. 2009.medscape. p: 268-72 8. Practical Plastic Anonymous. Craniofacial. Arumsari A. et al. [online] 3 september Marzoeki. [cited 2 october 2012]. July 15. Budiani DR. p: 242-9 9. teknik pembedahan celah bibir dan langitWiet. Pravin K. [cited 2 october 2012]. Anonymus. Available from: http.wikipedia. [cited 2 october 2012] Elverne M. 2004.medicinenet.info/ 2. Genetics of cleft lip and palate. Available from: http. Majalah PABMI: 2004.com/ . palatum sekunder mencit (musmusculus).//emedicine. djohansyah. 11. Orofacial cleft (cleft lip and cleft palate).//emedicine. [online].4 DAFTAR PUSTAKA 1.1. Zol B and Sisco M.1-2 June 16 2010 [cited 2 october 2012]. 216-8 7. cleft palate repair. Gregory J. Witt PD. Kasim A. Ningrum.//www. Richard A. Available from http.klikpdf. Bagian bedah mulut fakultas kedokteran gigi UNPAD.wordpress. [online].//ningrumwahyuni. Bandung.emory.com/ Available from: http//en. 1-10 10. [online].medscape. 4. [online] 8 pebruary 2009 Surgery. et al. 2002. Margulis A. [cited Cleft lip and palate.berbicara lambat atau hati-hati maka akan terdengar seperti anak normal. Journal of Hutahean S.emedicine. USU digital library. [online]. Available form: http.//www.org/ 14. USA: 2007. et al. Embriogenesis celah bibir dan langit-langit akibat merokok selama kehamilan. et al. Available from: http. MSN. 13.

Palatoplasty: evolution and controversies. 2007 . Penanganan celah bibir (cleft lips) bibir sumbing [cited 2 october 2012]. Tewfik TL. (cheiloschisis) dan celah langit-langit (cleft palate/palatoschisis). Chang gung university college of medicine.//koranindonesiasehat. Canada. [online]. 17. http.com/ Leow AM. The modified striped Y-A systematic classification for cleft Indonesian children.medscape. Manitoba. [online] 2 december 2009 18. Taipe. Cleft lip and palate and mouth and pharynx deformities.com/ Elsahy NI. 15 june 2011 [cited 2 october 2012]. Lo LJ.wordpress. Available from: http. Winnipeg.15. Available from. lip and palate. Craniofacial center and department of plastic and reconstructive surgery.//emedicine. Taoyuan. 16.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->